<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>lamrimretreatid - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/lamrimretreatid/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 Nov 2019 16:17:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.14</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>lamrimretreatid - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>SEALF 2019 &#8211; Menemukan Arti Penting Seorang Guru</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2019/11/18/sealf-2019-menemukan-arti-penting-seorang-guru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Nov 2019 15:50:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Southeast Asia Lamrim Festival 2019]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicita]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[SEALF 2019]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4614</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Beliau tidak mengenalku secara pribadi, namun ketulusan Beliau dalam mengatakan bagaimana Beliau senang melihat kami berpraktik Dharma, kerelaan Beliau dalam membagikan realisasi Beliau mengenai topik yang amat sulit dipahami ini kepada kami&#8211;intinya dalam setiap hal yang Beliau lakukan&#8211;membuatku sadar arti penting seorang guru. oleh Shierlen Octavia Sudah beberapa hari aku bergumul dengan vacuum cleaner. Setiap [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/11/18/sealf-2019-menemukan-arti-penting-seorang-guru/">SEALF 2019 – Menemukan Arti Penting Seorang Guru</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/11/18/sealf-2019-menemukan-arti-penting-seorang-guru/">SEALF 2019 &#8211; Menemukan Arti Penting Seorang Guru</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="wp-block-quote"><p>Beliau tidak mengenalku secara pribadi, namun ketulusan Beliau dalam mengatakan bagaimana Beliau senang melihat kami berpraktik Dharma, kerelaan Beliau dalam membagikan realisasi Beliau mengenai topik yang amat sulit dipahami ini kepada kami&#8211;intinya dalam setiap hal yang Beliau lakukan&#8211;membuatku sadar arti penting seorang guru.</p></blockquote>



<p>oleh Shierlen Octavia</p>



<p>Sudah beberapa hari aku bergumul dengan vacuum cleaner. Setiap sesi review pada malam hari di retret SEALF 2019 berakhir, hal pertama yang aku lakukan selalu mencari vacuum cleaner untuk membersihkan debu-debu dan beras mandala yang tercecer di lantai. Sebagai panitia, tanggung jawab utamaku sebenarnya adalah mempublikasikan rangkaian acara di media sosial, namun aku merasa aku harus memaksimalkan waktuku dan berusaha membantu tim lain menyelesaikan pekerjaannya sesegera mungkin&#8211;agar semuanya bisa cepat beristirahat untuk mendengarkan sesi esok.</p>



<p>Pada hari pertama, pekerjaan membersihkan hall bukan hal yang berat buatku. Namun hari lepas hari, pinggangku yang jarang berolahraga ini sakit juga. Tanganku pegal dan mataku rasanya berat menahan kantuk. Beberapa hari kemudian, timbul ocehan dalam hatiku ketika aku mendorong pipa vacuum cleaner.</p>



<p>&#8220;Melelahkan&#8221;, &#8220;Kapan ini berakhir?&#8221;, &#8220;Merepotkan&#8221;, dan semua kata keluhan yang ada di dalam batinku rasanya berlomba untuk melompat keluar. Aku tidak lagi segembira hari pertama aku membantu. Ada rasa malas dan omelan yang menemani kegiatanku dengan sahabat baruku, si vacuum cleaner. Pokoknya, rasa sukaku dengan kegiatan yang semula kutujukan untuk membantu orang lain mulai berkurang hari demi hari.</p>



<p>Curahan hatiku barusan belum berakhir sampai di sana. Hari ini, 15 November 2019, dengan segala keluhan yang aku rasakan, aku mengeluarkan uneg-uneg, termasuk kelelahanku dengan pekerjaan vacuum cleaner dan lainnya, serta harapanku untuk tidak tertidur selama sesi saat puja berlangsung. Untunglah para Buddha dan Guru mendengarkan permohonanku sehingga aku bisa mendengarkan sesi dengan baik dan bisa merangkumnya di sini.</p>



<ul class="wp-container-2 wp-block-gallery-1 wp-block-gallery columns-1 is-cropped"><li class="blocks-gallery-item"><figure><img width="684" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0055-684x1024.jpg" alt="" data-id="4620" data-link="https://lamrimnesia.org/2019/11/18/sealf-2019-menemukan-arti-penting-seorang-guru/img-20191116-wa0055/" class="wp-image-4620" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0055-684x1024.jpg 684w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0055-600x898.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0055-200x300.jpg 200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0055-768x1150.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0055-150x225.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0055-450x674.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0055.jpg 855w" sizes="(max-width: 684px) 100vw, 684px" /><figcaption>Persembahan alam semesta, permohonan kepada para guru spiritual.</figcaption></figure></li></ul>



<p>Pada pengajaran kali ini, Guru Dagpo Rinpoche menjelaskan bahwasanya, klesha tidak selalu tumbuh dalam diri kita, ada kalanya batin kita bajik sebab kita memang memiliki kemampuan tersebut. Namun, batin yang bajik saja belum cukup. Kita harus mengajak orang lain untuk menumbuhkan batin yang bajik pula dalam dirinya, mulai dari memberikannya materi dengan tulus, berbincang dengan cara yang baik, dan senantiasa mempraktikkan perilaku yang bermanfaat dengan berlandaskan aspirasi orang yang hendak kita tolong. Sebagai contoh, ketika kita ingin membuat seseorang menghentikan perbuatan jahat, kita tidak bisa serta merta menyuruhnya untuk menjauhi tindakan buruk yang selalu dilakukannya. Hal yang seyogianya kita lakukan adalah dengan menjadi temannya, memahami aspirasinya, dan memberikannya nasihat yang sesuai dengan hal yang ingin dicapainya.</p>



<p>Salah satu poin penting yang berikutnya Beliau sampaikan adalah mengenai cara kita untuk menjalankan hal yang selaras dengan yang telah kita nasihatkan pada orang lain. Sontak, hal ini jadi membuatku berpikir mengenai ketulusanku tempo hari dalam berusaha membantu teman-teman panitia yang lain. Rasa-rasanya sangat mudah bagiku untuk menegur teman yang enggan menolong temannya yang lain, namun sulit melihat kesalahan yang ada dalam diri. Sulit melihat bagaimana bantuanku membersihkan hall ditemani vacuum cleaner tidak berlandaskan ketulusan. Hal ini membuatku sadar bahwa toh, pada kenyataannya aku juga tidak baik-baik amat. Batin dan tindakanku belum berjalan selaras seperti yang seharusnya.</p>



<ul class="wp-container-4 wp-block-gallery-3 wp-block-gallery columns-1 is-cropped"><li class="blocks-gallery-item"><figure><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0059-1-1024x684.jpg" alt="" data-id="4623" data-link="https://lamrimnesia.org/2019/11/18/sealf-2019-menemukan-arti-penting-seorang-guru/img-20191116-wa0059-1/" class="wp-image-4623" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0059-1-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0059-1-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0059-1-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0059-1-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0059-1-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0059-1-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0059-1-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0059-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure></li></ul>



<p>Setelahnya, Guru Dagpo Rinpoche kembali melanjutkan sesi dan merampungkan transmisi buku Pembebasan di Tangan Kita dan memberikan transmisi sehubungan dengan batin pencerahan (Bodhicita). Jujur setelah selesai pembacaan, aku tak mengira bahwa sesi kali itu akan berakhir. Aku bahkan masih menantikan sesi siang yang biasanya diadakan pukul 15.00. Namun, rupanya pagi tadi merupakan sesi pengajaran terakhir Beliau dalam SEALF 2019.</p>



<p>Banyak nasihat yang Beliau tinggalkan di akhir. Mulai dari bagaimana Beliau tampak bangga dengan Suhu Bhadra Ruci, yang merupakan teladan terbaik bagiku dalam berproses dari bukan siapa-siapa menjadi seseorang yang luar biasa, yang bisa mengajak orang untuk belajar Dharma dari yang semula bisa dihitung dengan jari hingga sebegitu banyaknya massa yang datang, betapa sumringahnya wajah Beliau saat mengatakan ada begitu banyak orang yang melakukan 6 Praktik Pendahuluan dengan baik bersama-sama, dan bagaimana Beliau senang melihat para peserta yang tertarik belajar Dharma. Tak lupa, Beliau juga berpesan untuk selalu melanjutkan belajar Dharma dan menerapkan seluruh kata yang telah kami dengar dalam batin.</p>



<p>Ketika mendengarkan pesan-pesan Beliau, aku tercekat. Beliau tidak mengenalku secara pribadi, namun ketulusan Beliau dalam mengatakan bagaimana Beliau senang melihat kami berpraktik Dharma, kerelaan Beliau dalam membagikan realisasi Beliau mengenai topik yang amat sulit dipahami ini kepada kami&#8211;intinya dalam setiap hal yang Beliau lakukan&#8211;membuatku sadar arti penting seorang guru. Membuatku selangkah lebih memahami perihal kalimat yang menyatakan bahwa guru akan selalu mencari muridnya, bahkan di tumpukan sampah sekali pun. Hal ini karena bahkan sampai detik ini pun, kalau direnung-renungkan, aku tidak tahu dan tidak paham apa yang bisa Beliau dapatkan dengan datang mengajar ke Indonesia, bertemu aku yang bukan siapa-siapa dan tak ada hubungannya dengan Beliau. Berada dalam momen itu dan memikirkannya, aku merasa tak enak hati karena rasanya belum ada hal apapun yang bisa aku beri untuk Beliau.</p>



<ul class="wp-container-6 wp-block-gallery-5 wp-block-gallery columns-1 is-cropped"><li class="blocks-gallery-item"><figure><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0056-1024x684.jpg" alt="" data-id="4624" data-link="https://lamrimnesia.org/2019/11/18/sealf-2019-menemukan-arti-penting-seorang-guru/img-20191116-wa0056/" class="wp-image-4624" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0056-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0056-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0056-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0056-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0056-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0056-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0056-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/IMG-20191116-WA0056.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure></li></ul>



<p>Aku merasa aku menerima begitu banyak hal selama beberapa hari ini yang mendewasakanku dari Rinpoche. Namun, apa yang bisa Beliau dapat dariku? Nihil. Bahkan cuma membersihkan debu dan beras saja aku sudah mengomel, bagaimana kalau disuruh pergi ribuan mil untuk mengajarkan Dharma pada orang yang bebal sepertiku? Rinpoche tidak pernah meminta apapun dari kami, entah sebagai peserta maupun sebagai panitia. Dan justru karena itulah, dari lubuk hati terdalam, aku merasa malu dengan diriku yang mengeluhkan vacuum cleaner&#8211;hal remeh temeh yang bahkan tidak layak aku bahas kepada orang lain. Padahal, hanya itu hal terbaik yang bisa aku persembahkan buat Rinpoche sebagai &#8220;balasan&#8221; dari kebaikan hati-Nya.</p>



<p>Benar apa kata pepatah. Kita seringkali tak bisa menghargai hal yang ada di depan mata. Baru ketika kehilanganlah, kita bisa menghargainya. Hal itu yang aku rasakan ketika melihat sosok Rinpoche yang kini terasa mulai menjauh karena sesi pengajaran sudah berakhir. Saat dedikasi lamrim dibacakan, entah mengapa aku merasa momen ini akan sangat sulit terulang kembali. Di momen itu, aku menyadari betapa tak bernilainya Dharma dan seorang guru. Ingin rasanya aku memukul kepalaku karena kebodohanku mengeluhkan hal yang tidak penting. Dalam hatiku, biarpun hanya aspirasi kecil, sangat kecil, yang harus kupegang erat agar tidak kabur, kini tumbuh sebuah tekad untuk menjadi murid yang membanggakan Beliau. Pesan akhir yang Beliau sampaikan akan selalu kuingat dalam batin&#8211;tumbuhkan satu saja poin Lamrim dalam batin untuk bisa menolong orang lain.</p>



<p>Aku yakin, siapapun yang punya kesempatan selangka itu untuk bertemu Rinpoche tidak akan punya keraguan mengenai bagaimana Beliau menghargai Dharma dan menyayangi semua orang layaknya buah hati-Nya sendiri. Hal ini kedengarannya absurd dan berlebihan, tapi toh banyak hal ajaib yang kamu percaya memang bisa terjadi selama kita hidup di dunia &#8216;kan? Oleh karena itu, untuk yang kali ini saja, aku memintamu untuk mempercayai kesungguhan hati seorang guru besar. Aku berdoa semoga kebajikanku dan kebajikanmu bisa membawa kita bersama-sama sekali lagi, sekali lagi, dan beribu-ribu &#8220;sekali lagi&#8221; bersua dengan Sang Ayah Laksana Mentari Dharma.</p>



<p>Oh iya, satu hal lagi yang kupanjatkan kala berdoa. Kali berikut aku memegang vacuum cleaner untuk membersihkan hall, semoga tak lagi rasa dongkol yang bersemayam, namun rasa bakti dan terima kasih yang tak seberapa ini yang bisa muncul dalam batinku untuk Guru Dagpo Rinpoche.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/11/18/sealf-2019-menemukan-arti-penting-seorang-guru/">SEALF 2019 – Menemukan Arti Penting Seorang Guru</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/11/18/sealf-2019-menemukan-arti-penting-seorang-guru/">SEALF 2019 &#8211; Menemukan Arti Penting Seorang Guru</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SEALF 2019 &#8211; Menjadi Orang yang Bermanfaat</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2019/11/12/sealf-2019-menjadi-orang-yang-bermanfaat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Nov 2019 10:24:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Southeast Asia Lamrim Festival 2019]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Dagpo Rinpoche]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[SEALF 2019]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4587</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Shierlen Octavia 11 November 2019&#8211;Ini adalah hari pertama pengajaran Southeast Asia Lamrim Festival (SEALF) 2019, sekaligus kali pertama saya mengikuti sesi pengajaran oleh Guru Dagpo Rinpoche. Lebih dari itu, acara ini merupakan penanda perjumpaan saya pertama kali dengan sosok Guru Dagpo Rinpoche, yang bagi para muridnya dikenal sebagai seorang guru sekaligus ayah bagi para [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/11/12/sealf-2019-menjadi-orang-yang-bermanfaat/">SEALF 2019 – Menjadi Orang yang Bermanfaat</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/11/12/sealf-2019-menjadi-orang-yang-bermanfaat/">SEALF 2019 &#8211; Menjadi Orang yang Bermanfaat</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Shierlen Octavia</p>



<p>11 November 2019&#8211;Ini adalah hari pertama pengajaran Southeast Asia Lamrim Festival (SEALF) 2019, sekaligus kali pertama saya mengikuti sesi pengajaran oleh Guru Dagpo Rinpoche. Lebih dari itu, acara ini merupakan penanda perjumpaan saya pertama kali dengan sosok Guru Dagpo Rinpoche, yang bagi para muridnya dikenal sebagai seorang guru sekaligus ayah bagi para umat Buddhis di Indonesia. Jujur saja, jauh sebelum saya bertemu dengan Beliau, sempat timbul sebuah rasa ragu. Memang apa spesialnya seorang bapak di usia delapan puluhan ini selain senyum ramah dan wajah yang amat sumringah di setiap potret dirinya yang kulihat? Namun, setelah melihat langsung sosok Beliau yang datang menemui umat Buddha di Indonesia—yang kalau kita bayangkan sebenarnya tidak berhubungan banyak dengan Beliau dan bahkan tidak memberikan keuntungan apapun baginya jikalau kita mau memakai prinsip untung rugi—saya sadar bahwa pandangan saya keliru. </p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-1024x682.jpeg" alt="" class="wp-image-4590" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-1024x682.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-600x399.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-768x511.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-1200x799.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Peserta SEALF 2019 menyambut kedatangan Guru Dagpo Rinpoche yang telah lama dinanti.</figcaption></figure>



<p>Entah mengapa, kali pertama saya melihat sosok Rinpoche yang berjalan memasuki <em>hall</em>, saya merasa tersentuh dari lubuk hati yang terdalam. Setelah mendengar bagaimana Beliau memiliki berbagai kondisi kesehatan dan rintangan lainnya, kehadiran dan ketulusan beliau sontak membuat saya merasa trenyuh sekaligus bersyukur. Di usia senjanya, Beliau mau hadir dan menemui para umat yang tinggal ribuan mil jaraknya dari tempat tinggalnya untuk mengajarkan kebaikan. Tidak banyak orang yang bisa melakukan hal ini. Jangankan yang sudah berusia lanjut, bahkan mereka yang masih berada di usia muda dan produktif pun belum tentu mau berkorban untuk hal demikian. Hanya dengan melihat sosoknya, saya belajar mengenai bagaimana kita bisa memaksimalkan kehadiran kita untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Pembelajaran mengenai hal ini semakin diperkuat rasanya bagi saya, setelah mendengarkan sesi pengajaran beliau secara langsung.</p>



<p>Jika boleh merangkum dengan satu kata, sesi
pengajaran pada hari ini benar-benar mengajarkan tentang bagaimana caranya
menjadi orang yang bermanfaat. Rinpoche menegaskan bahkan sejak awal bahwa segala
aktivitas yang kita lakukan harus didasari oleh satu pemikiran, yakni motivasi
Bodhicita: tekad mencapai kesempurnaan demi menolong semua makhluk. Dari
aktivitas seremeh bangun pagi, berpakaian, berbicara dengan orang lain, bahkan
bekerja—semuanya haruslah berlandaskan motivasi untuk membuat semua makhluk
bahagia. Rinpoche mencontohkan bahwa kegiatan bekerja yang notabene merupakan
aktivitas untuk menumpuk materi dan harta berlimpah sesungguhnya dapat kita
ubah menjadi aktivitas yang jauh lebih bajik dengan senantiasa menanamkan
motivasi Bodhicita. Berdasarkan motivasi tersebut, kita bisa membuat pekerjaan
sebagai sarana bagi kita untuk mendapatkan kondisi fisik yang sehat agar bisa
membantu lebih banyak orang. </p>



<p>Hal lain yang ditekankan oleh Rinpoche adalah
mengenai pentingnya bagi kita untuk selalu mengamati batin setiap saat dan
menanyakan pertanyaan ini kepada diri kita masing-masing, “Apakah hal yang saya
kerjakan dilakukan untuk kepentingan banyak makhluk ataukah hanya untuk diri
kita sendiri?”. Hanya dengan melakukan aktivitas demi kepentingan makhluk
lainlah, kita dapat benar-benar menghilangkan tidak hanya penderitaan kita hingga
mencapai Kebuddhaan yang lengkap sempurna. </p>



<p>Selama sesi, Rinpoche juga selalu mengingatkan
kita untuk tidak melupakan latihan batin ketika kita dalam kondisi senang,
melainkan senantiasa mengharapkan makhluk lain untuk merasakan hal yang sama. Demi
mencapai kondisi ini, penting bagi kita untuk mengembangkan dan menyempurnakan
enam paramita. Pada sesi kali ini, ada 5 paramita yang dibahas di dalamnya. Paramita
pertama, dana, merupakan niat dalam batin untuk memberi, baik materi, tubuh,
maupun akar kebajikan kita kepada makhluk lain. Hal ini menyadarkan saya bahwa
sempurnanya dana paramita bukan soal nominal, namun dari keikhlasan kita dalam
memberi. </p>



<p>Paramita kedua, sila, merupakan niat untuk
menjaga atau menahan diri dari sepuluh jenis ketidakbajikan. Paramita ketiga,
ksanti, merupakan kemampuan kita dalam menghadapi permasalahan dan bagaimana
kita dapat menahan diri ketika dilukai pihak lain. Hal yang termasuk di
dalamnya adalah sikap kita dalam mempraktikkan Dharma dengan antusias tanpa putus
asa. </p>



<p>Paramita keempat, viriya, merupakan antusiasme
untuk melakukan kebajikan sekaligus sebagai pendorong untuk merampungkan satu
kegiatan. Sebagai contoh, ketika melakukan puja harian atau aktivitas bajik
lainnya, kita perlu merasa bahagia dan bersemangat karena telah bermanfaat bagi
orang lain. Kendati demikian, Rinpoche mengingatkan kita untuk membedakan
antara usaha keras biasa dengan viriya. Bekerja mengumpulkan harta demi
kehidupan ini saja merupakan usaha keras namun bukan viriya karena tidak
disertai dengan antusiasme dalam berbuat bajik. Kita juga sering kali melekat
pada hal yang tidak tepat, misalnya menyukai kegiatan-kegiatan yang tidak
membantu perkembangan batin kita secara berlebihan. Oleh karena itu, sangat
penting bagi kita untuk selalu mawas diri terhadap setiap hal yang kita lakukan
dan batin yang mendasarinya. Paramita kelima, dhyana, merupakan kemampuan kita
untuk bisa berfokus dalam satu hal yang pada akhirnya dapat membawa kita
mencapai realisasi dengan mudah dalam batin. </p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-1024x682.jpeg" alt="" class="wp-image-4589" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-1024x682.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-600x399.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-768x511.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-1200x799.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sesi pengajaran Guru Dagpo Rinpoche di SEALF 2019 dihadiri oleh Sangha monastik dan perumah tangga dari berbagai tradisi.</figcaption></figure></div>



<p>Meskipun baru hari pertama, saya merasa sudah
banyak hal yang saya pelajari dan harus saya renungkan dalam batin. Semoga esok
hari pun bisa menjadi hari yang baik bagi karma bajik saya untuk berbuah
sehingga bisa mendengarkan dan merenungkan ajaran Beliau.</p>


<p><br>
<br>
<!--StartFragment--></p>


<p>Guru Dagpo Rinpoche akan memberikan transmisi dan pengajaran berdasarkan Teks Lamrim Mārga Krama-Vimocana-Hasta (Pembebasan di Tangan Kita) karya Phabongkha Rinpoche pada tanggal 11-18 November 2019. </p>



<p>Untuk mengikuti pengajaran, hubungi:</p>



<ol><li>Lia Erika (+62 815-7025-762)</li><li>Sariputra (+62 877-8254-3387)<br> Internasional:<br> Antonio (+62 812-2433-8208)</li></ol>



<p>Informasi acara juga dapat diakses di <a href="http://lamrimretreat.id/">lamrimretreat.id</a>.</p>


<p><!--EndFragment--><br>
<br>
</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/11/12/sealf-2019-menjadi-orang-yang-bermanfaat/">SEALF 2019 – Menjadi Orang yang Bermanfaat</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/11/12/sealf-2019-menjadi-orang-yang-bermanfaat/">SEALF 2019 &#8211; Menjadi Orang yang Bermanfaat</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Dec 2017 06:01:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[anatta]]></category>
		<category><![CDATA[anicca]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[dukkha]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3877</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Samsara adalah penderitaan. Hal tersebut adalah tema besar dari sesi retret yang diberikan oleh Biksu Bhadra Ruci pada tanggal 30 Desember 2017. Entah terlahir di alam rendah maupun alam tinggi, kelahiran merupakan sebuah penderitaan. Parahnya, kita selalu berpikiran bahwa kita tidak mungkin terjatuh ke alam rendah. Salah satu bukti bahwa kita hampir pasti terlahir di [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Samsara adalah penderitaan. Hal tersebut adalah tema besar dari sesi retret</span> <span style="font-weight: 400;">yang diberikan oleh Biksu Bhadra Ruci pada tanggal 30 Desember 2017. Entah terlahir di alam rendah maupun alam tinggi, kelahiran merupakan sebuah penderitaan. Parahnya, kita selalu berpikiran bahwa kita tidak mungkin terjatuh ke alam rendah. Salah satu bukti bahwa kita hampir pasti terlahir di alam rendah adalah dengan melihat batin. Lihatlah sifat klesha</span> <span style="font-weight: 400;">apa yang paling dominan dan dekat dengan kehidupan keseharian kita. Salah satu cara pertama untuk menghindari kelahiran di alam rendah adalah dengan mengembangkan rasa takut terhadap hal tersebut. Sangat penting untuk kita sadari bahwa ketika pertama kali dilahirkan, jam menuju kematian kita sudah ditekan dan kita hanya menunggu jam itu berbunyi. Setelah itu, kita perlu paham betul dan yakin bahwa kelahiran sebagai manusia merupakan kelahiran yang paling berharga. Oleh sebab itu tidak tepat jika dikatakan bahwa agama Buddha adalah agama yang pesimis. Topik mengenai kematian harus dijadikan motivasi bagi kita untuk mempertahankan kelahiran tersebut. Kematian bukanlah topik yang harus dihindari karena dengan merealisasi hal tersebut, kita bisa menghargai kelahiran kita. Hal ini karena jika kita tidak bisa melihat kelahiran dan kematian sebagai penderitaan, maka akan sulit untuk membangkitkan rasa menolak samsara. Samsara pada dasarnya amat sulit untuk kita tolak sebab batin kita selalu pergi dan melekat pada suatu obyek dan fenomena yang bersifat netral, misalnya uang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika tiba waktunya ajal menjelang, cobalah bayangkan hal apa yang sebenarnya kita takutkan? Kita acap kali takut akan meninggalkan hal-hal yang saat ini berada bersama dan menjadi milik kita. Kita memikirkan harta, sahabat, sanak keluarga, dan segudang hal lainnya yang berharga bagi kita. Padahal saat mati, hal apa yang bermanfaat bagi kita? Seperti biasanya, Biksu Bhadra Ruci memberikan sebuah perumpamaan untuk menjawab hal tersebut. Manusia ibarat memiliki empat orang istri. Ketika mengantar kepergian kita, istri pertama hanya mengantar peti mati kita hingga ke depan pintu. Sementara istri kedua kita mengantar hingga perempatan jalan menuju kuburan. Untunglah istri ketiga mengantar hingga kita tiba di kuburan. Namun, hanya istri keempatlah yang benar-benar mengikuti hingga kita masuk ke dalam kuburan. Melalui kisah di atas, istri pertama adalah harta dan materi yang selama ini kita kejar. Istri kedua adalah teman-teman yang kita tinggalkan. Istri ketiga merupakan perlambang dari keluarga kita, entah itu ayah, ibu, istri atau suami, anak, dan sanak saudara yang dekat dengan kita. Tak ada satupun dari mereka yang mampu membagi dan menanggung beban kematian kita. Hanyalah istri keempat, yaitu karma dan kebajikan kitalah yang akan menemani kita bahkan hingga kehidupan-kehidupan berikut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kaitannya dengan samsara, Biksu Bhadra Ruci mengajak kita untuk merefleksikan hal apa yang sebenarnya membuat kita tidak sadar akan kepastian kematian dan masih terlena dalam samsara. Selama ini, kita selalu berpikir bahwa kita takut akan kondisi yang tidak aman. Kita khawatir kita tidak punya cukup uang untuk menghidupi kita dalam beberapa hari atau beberapa tahun ke depan. Apakah benar demikian? Sebab jikalau kita memang takut akan kondisi yang tidak aman, kita seharusnya lebih takut mati dan jatuh ke neraka dibandingkan memikirkan kondisi keuangan kita saat ini. Kita takut tidak bisa hidup dengan nyaman dibandingkan dengan kehilangan rasa aman. Kita takut kita tidak bisa mendapatkan makanan enak, tempat tinggal nyaman ber-AC. Kita takut tidak bisa memenuhi tuntutan jasmani yaitu tuntutan dari “aku”. Kita sangat takut tidak bisa melayani ego kita. Dengan kata lain, kita tidak memiliki keyakinan yang teguh terhadap hukum karma, Triratna, dan bahkan pada segala hal yang kita praktikkan. Selama ini kita terbelenggu oleh karma dan klesha yang merantai skandha.</span> <span style="font-weight: 400;">Jika tanaman bisa tumbuh dengan bantuan pot, maka tempat tumbuh karma kita terletak pada perasaan. Kita butuh pembebasan, yaitu kondisi di mana kita telah terlepas dari belenggu tersebut. Perasaan pembebasan tersebut diibaratkan Biksu Bhadra Ruci seperti saat Indonesia merdeka dari imperialisme penjajah.  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk bisa mengembangkan rasa muak terhadap samsara, kita perlu memahami kerugian samsara. Secara umum, samsara memiliki arti mengembara. Samsara bukanlah kondisi yang akan membawa kita kepada kebahagiaan sejati. Bahkan dalam bahasa Indonesia, kata sengsara diserap dari kata samsara. Agar bisa memperoleh kebebasan dari penjara, narapidana harus terlebih dahulu berkeinginan untuk bebas. Hal ini karena ketika rasa tersebut timbul, maka narapidana akan mencari segala macam cara untuk bisa segera terbebas dari hal tersebut. Begitu pula halnya dalam memperjuangkan kebebasan dari samsara. Kita harus pertama kali mengembangkan rasa muak terhadap samsara. </span><span style="font-weight: 400;">Seperti kata Je Tsongkhapa, </span><b>kita tidak dapat mencapai aspirasi terbebas dari samsara tanpa merenungkan dukkha.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">aspirasi untuk bebas dari samsara datang dari mengetahui kerugian samsara. Untuk mengetahui kerugian samsara, </span><b>kita perlu menelusuri sebab dukkha dan menapaki jalan untuk menghentikan hal tersebut.</b><span style="font-weight: 400;"> Hal ini mirip dengan kondisi kita ketika kita sakit. Saat sakit, kita perlu memahami dan mempelajari sebab-sebab penyakit tersebut dan mencari obat yang tepat untuk menyembuhkan penyakit. Ironisnya, tidak mudah memahami penderitaan samsara oleh karena rasanya yang nikmat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seringkah kita berpikir bahwa terlahir di alam surga lebih menyenangkan dibandingkan terlahir sebagai manusia? Padahal ketika tiba waktunya karma kebajikan telah kita habiskan di alam surga, kita akan dengan segera terjatuh ke alam rendah. Jika kita bisa naik, maka akan sangat mudah untuk terjun bebas ke bawah. Hal ini merupakan sebuah contoh untuk menjelaskan cacat samsara karena harus </span><b>jatuh dari status tinggi ke status rendah</b><span style="font-weight: 400;">. Banyak sekali kita menemukan orang-orang yang mula-mula kaya kemudian jatuh miskin kemudian merasa menderita dan tidak dapat menerima kenyataan. Contoh seperti ini menunjukkan bahwa keadaan kita saat ini bisa dengan mudah berubah pada tiap momen yang berlalu. Kondisi ini terus berulang kali terjadi dan jika yang kita rasakan hanya perasaan lelah tanpa rasa kapok, tidak akan ada perubahan yang bisa terjadi dalam diri. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cacat lainnya dalam samsara adalah karena sifatnya yang </span><b>penuh ketidakpastian</b><span style="font-weight: 400;">. Dalam satu waktu, kita mungkin terlahir bahagia namun di kali lain hidup bisa berubah menjadi sangat menyengsarakan. Sebagai contoh, hubungan kita dengan orang tua, teman, musuh, dan lainnya bisa saling berkebalikan dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya. Pada suatu masa, istri yang sangat kita sayangi bisa terlahir sebagai ikan yang kita makan dan musuh yang sangat kita benci bisa terlahir sebagai putra yang kita timang-timang sepanjang hari. Samsara juga cacat karena tidak memberikan kepuasan. Ketika kita mendapatkan 1 Rupiah, kita menginginkan 10 Rupiah. Namun saat kita mendapatkan 10 Rupiah, kita tetap tak bisa merasa puas. Kita terus menerus menginginkan hal yang lebih setiap kali mendapatkan sesuatu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita juga </span><b>tidak memiliki teman sejati</b><span style="font-weight: 400;"> selama di samsara. Tepat ketika kita bangun hingga tertidur, lahir dan mati, manusia selalu menjalani semuanya sendirian. Pada akhirnya, dikatakan dalam teks <a href="http://store.lamrimnesia.com/product/lakon-hidup-sang-penerang/">Lakon Hidup Sang Penerang (<em>Bodhisatwa-caryawattara</em>)</a> apalah guna orang-orang tercinta yang hanya bisa merintangi?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di samping itu, </span><b>kita juga harus meninggalkan tubuh kita berulang kali</b><span style="font-weight: 400;">. Tak peduli telah berapa kali terlahir sebagai dewa di surga, kita harus mengalami kelahiran lagi di tempat-tempat seperti neraka. Kita telah terlahir selama tak terhingga jumlahnya di setiap alam kehidupan, namun tak ada satupun yang mampu membawa kita kepada sesuatu yang berkelanjutan. Tak ada satupun obyek yang tidak pernah kita miliki sebelumnya dalam samsara. Namun lagi-lagi, tak ada satupun dari hal tersebut yang mampu kita andalkan. </span></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Saking banyaknya kelahiran telah kita lalui, bahkan samudra-samudra di dunia tak mampu menampung air mata yang tumpah karena patah hati. Masih maukah kita jatuh cinta dan patah hati berulang kali dan terjebak dalam samsara tiada akhir?</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal penting yang tak boleh luput untuk direnungkan adalah fenomena lahir, tua, sakit, dan mati. Kita sering kali tidak merasa bahwa hal-hal tersebut merupakan penderitaan sebab kita buta. Kita tidak sadar bahwa hal tersebut adalah masalah bagi diri kita. Kita sering mengejar sesuatu yang semu tanpa memahami betul konsep dan karakter hal-hal yang kita kejar. Persepsi dan realita yang kita alami kerap kali memiliki jarak yang jauh sehingga kita selalu menderita dan dikecewakan. Akan tetapi, kita tidak sadar bahwa kita terus dikecewakan sehingga kita terus mengejar hal tersebut bagaikan kuda yang mengenakan kacamata kuda dengan batang yang digantung sayuran di depan matanya. Ia akan terus mengejar sayuran yang ada di depannya tanpa mengetahui bahwa harapan untuk mendapatkannya tak akan pernah tercapai. Lebih dari itu, perasaan senang yang selama ini kita anggap merupakan kebahagiaan pada akhirnya bukanlah kebahagiaan. Hal ini dikarenakan kondisi yang bisa membuat kita merasakan perasaan senang tersebut tidak ajeg. Saat kita duduk terlalu lama di atas bantal duduk, kita merasa pegal kemudian pindah ke sofa. Namun ketika kita beranggapan bahwa kita merasa nyaman duduk di sofa, mulai timbullah masalah lainnya seperti merasa panas dan lain sebagainya. Ketika timbul rasa senang, maka sudah dapat dipastikan ketidaksenangan akan mengikuti. Lantas di mana lagi rasa senang yang tadinya kita rasakan berada? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berjuanglah dengan sungguh-sungguh dalam mencapai kebebasan samsara di tengah kehidupan yang mengelabui kita dalam segala kenikmatannya. Biksu Bhadra Ruci mengingatkan kita mengenai bagaimana samsara dengan mudahnya menjebak kita bagaikan kukusan bertingkat enam. Kita hanya bisa terus naik, turun, naik, turun, berputar, tanpa pernah bisa benar-benar keluar dari kukusan tersebut. Lihat dan pahamilah esensi samsara dan kehidupan. Ketika tiba saatnya kita bisa merasakan muak terhadap kekayaan dan segala jenis tipu muslihat kebahagiaan samsara, saat itulah kita bisa yakin bahwa kita telah menolak samsara dan meniti jalan menuju kebahagiaan sejati.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.<br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry (082163276188)</i></b></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-pilih-bahagia-atau-tidak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Dec 2017 05:53:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[happiness]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[LGBT]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3874</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bayangkanlah kegiatan yang sehari-harinya kita lakukan tepat ketika kita bangun pagi hingga terlelap lagi. Momen saat pertama kali kita membuka mata di pagi hari, kita selalu mengorientasikan aktivitas kita kepada sesuatu yang berada di luar kita. Mengingat-ingat PR yang belum dikerjakan jika kita masih bersekolah. Atau mengingat tumpukan pekerjaan yang diberikan atasan jikalau kita sudah [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-pilih-bahagia-atau-tidak/">ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-pilih-bahagia-atau-tidak/">ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bayangkanlah kegiatan yang sehari-harinya kita lakukan tepat ketika kita bangun pagi hingga terlelap lagi. Momen saat pertama kali kita membuka mata di pagi hari, kita selalu mengorientasikan aktivitas kita kepada sesuatu yang berada di luar kita. Mengingat-ingat PR yang belum dikerjakan jika kita masih bersekolah. Atau mengingat tumpukan pekerjaan yang diberikan atasan jikalau kita sudah bekerja. Lalu kapan kita mempunyai waktu untuk fokus pada pengembangan batin dan spiritual kita?</p>
<p>Begitulah kira-kira sepenggal paragraf pembuka yang dikatakan oleh Biksu Bhadra Ruci pada sesi dalam Indonesia Lamrim Retreat pada tanggal 29 Desember 2017. Lebih jauh, Biksu Bhadra Ruci juga mengajak kita untuk kembali melihat realita yang sering terjadi dalam diri kita ketika menjalani kehidupan manusia yang singkat ini. Kita sering kali mengejar materi bahkan rela mati demi hal-hal tersebut. Kita bisa mempertaruhkan nyawa hanya untuk mengejar nilai A dalam pelajaran atau untuk menyenangkan hati atasan. Lantas apa bedanya kita dengan dua ekor ajing yang memperebutkan tulang, mempertahankan teritorinya masing-masing, dan beranak pinak?</p>
<blockquote class="modern-quote full"><p>Tidak ada jaminan bahwa pada kelahiran berikutnya, kita akan kembali terlahir sebagai manusia.</p></blockquote>
<p>Sepenggal kalimat yang dikutip dari teks Bodhicaryawattara tadi mengingatkan kita untuk tak lupa melakukan refleksi terhadap batin kita. Apakah batin kita mampu membendung karma hitam yang telah kita perbuat dari kehidupan masa lampau sampai saat ini sehingga kita yakin bahwa kita bisa terlahir kembali sebagai manusia yang lengkap sempurna?</p>
<p>Setiap saat, karma dan klesha kita terus menghasilkan sesuatu, dengan setiap hasil tersebut pasti akan matang dan berbuah di satu kehidupan maupun kehidupan berikutnya. Salah satu bentuk nyata bahwa karma akan berbuah misalnya terkait pemahaman kita akan teks ini. Kita bisa memahami tulisan-tulisan ini sebab kita telah menanam bibit karma untuk bisa paham sehingga kita bisa mempersepsi paragraf demi paragraf dengan baik. Sebab-sebab di masa lalu menentukan kualitas kehidupan kita saat ini. Dengan pemahaman akan hal ini, bagaimana kita bisa menjamin kelahiran berikut akan sesuai dengan keinginan kita sementara sebab yang kita buat tidak mendukung terjadinya hal tersebut? Sementara ketika ajal menjelang, sifat dan perilaku yang paling dominanlah yang akan menentukan kelahiran kita, yang umumnya bersifat buruk. Ketika tubuh jasmani yang layaknya selembar kertas yang rapuh ini mendekati kematian, kita kebingungan untuk meninggalkan hal-hal yang selama ini berada maupun menjadi milik kita. Saat kita tidak mempersiapkan batin, lalu apa arti kehidupan yang selama ini telah kita jalani? Kita butuh timbunan karma baik untuk bisa memahami hidup, memahami samsara, agar kita bisa serius mengejar spiritual dan merefleksikan batin ini dengan metode yang tepat. Kita butuh merawat diri kita sendiri dan memperjuangkan kehidupan pribadi, sebab selama ini sudah terlalu banyak upaya yang kita lakukan untuk memuaskan sesuatu yang berada di luar kita, menyenangkan atasan kita misalnya. Kita perlu merenungkan kehidupan kita untuk memahami bahwa kebahagiaan sejati yang selama ini selalu kita dambakan adalah dengan menjadi Buddha.</p>
<p>Untuk mencapai hal tersebut, kita perlu menggunakan tubuh jasmani ini sebagai media. Layaknya kapal yang digunakan untuk menyebrang ke pulau yang berada di depan kita, tubuh ini harus senantiasa kita manfaatkan untuk mengembangkan batin dan bukannya menumpuk “sampah” dengan perbuatan buruk! Kebodohan kita akibat tidak menyadari hal ini dikatakan ibarat orang miskin yang menemukan pot emas bertahtakan permata namun dipakai untuk membuang muntah dan digunakan sebagai pispot. Sudah berapa banyaknya detik yang kita habiskan dalam menyia-niyakan potensi menuju Kebuddhaan untuk mengejar materi? Padahal, dengan membuat banyak karma kebajikan, kita sama sekali tidak perlu khawatir jatuh dalam kemiskinan. Dalam hal ini, Biksu Bhadra Ruci menegaskan bahwa bekerja bukanlah sebuah dosa besar. Bekerja merupakan hal yang diperbolehkan, dengan catatan kita tidak terlena di dalamnya. Akan tetapi, kita juga harus menyisihkan waktu untuk praktik Dhamma, misalnya dengan mengingat momen demi momen bahwa pada saat ini, saya tengah menggunakan tubuh manusia yang berharga untuk pengembangan batin. Jangan terus-terusan kita habiskan waktu untuk aktivitas duniawi semata tanpa disertai motivasi bajik, sebab hal ini diibaratkan bagai sekam padi yang ditampi. Tak ada gunanya.</p>
<p>Setiap momen besar yang kita alami diibaratkan Biksu Bhadra Ruci seperti terminal dengan setiap terminal yang kita datangi bersifat tidak pasti. Hal ini sangat mirip dengan batin kita yang selalu berkelana dan berubah-ubah. Kita tidak pernah tahu pasti bagaimana batin kita di masa mendatang. Oleh karenanya kita perlu menjinakkan dan menyebabkan sebab-sebab baik karena hidup yang kita peroleh selama ini merupakan perjuangan dan bukan pemberian. Dengan melanjutkan logika tersebut, inilah salah satu alasan mengapa membunuh merupakan perbuatan yang tidak diperbolehkan. Oleh karena hidup bukanlah pemberian, maka kita tak berhak mengambilnya. Kita pun harus memahami bahwa jika kita saja tidak mau menderita, maka setiap makhluk apapun baik besar, kecil, tampak maupun tak tampak memiliki aspirasi yang sama untuk mendapatkan kebahagiaan. Sayangnya zaman ini, kita sering menemukan orang-orang yang merasa tertekan hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Hal ini tidak mengherankan karena di zaman milenial ini, kita sangat dihimpit oleh tuntutan dan keinginan untuk mencapainya dengan instan. Kita juga sering kali lupa bahwa setiap momen, diri kita selalu berubah dan diri kita yang saat ini merupakan kumpulan sebab tak terhingga yang telah kita kumpulkan sejak dahulu. Biksu Bhadra Ruci mencontohkan konsep ini dengan kisah anak kota dan anak kampung. Anak kota yang terbiasa dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan bagi dia dan dimanjakan sehari-hari, akan kesulitan menghadapi tekanan dan realita kehidupan. Ia akan lebih mudah kehilangan harapan yang mungkin saja berujung pada bunuh diri. Beda halnya dengan anak kampung yang terbiasa menerima realita kehidupan dan tidak mendapatkan kenikmatan terus menerus. Kedua anak ini bisa sangat berbeda akibat sebab-sebab yang telah dihimpun sejak kecil.</p>
<p>Oleh karena dasar itulah, kita butuh berlindung. Kita membutuhkan perlindungan Triratna untuk terus membuka wawasan dan mengubah cara pandang kita menuju adanya harapan untuk bisa mendapat kebahagiaan sejati. Dalam sesi hari ini, Biksu Bhadra Ruci menjelaskan bahwa Buddha adalah obyek yang layak bagi kita untuk berlindung sebab Buddha sendiri sudah bebas dari samsara. Beliau juga mahir membebaskan makhluk yang berada dalam ketakutan layaknya kita yang takut akan kematian dan ketidakpastian. Buddha secara adil dan penuh cinta kasih bertindak untuk kepentingan semua makhluk dan menolong mereka tanpa memandang apakah ia menguntungkan atau merugikan Sang Buddha.</p>
<p>Tidak ada makhluk yang dikutuk, karena pembeda antara aku dan penjahat hanyalah persoalan intensitas dan keberanian.</p>
<p>Kalimat di atas merupakan salah satu bentuk bahwa Buddha menolong siapapun tanpa menghakimi. Apalah bedanya antara kita dan pembunuh? Jika kita katikan dengan pembelajaran-pembelajaran sebelumnya, kita sama-sama memiliki karma dan klesha. Pembunuh memiliki rasa benci, begitupun kita. Pembunuh memiliki rasa tamak, dan begitu pula halnya dengan kita. Hanyalah kadar dan tingkat keberanian kita yang membedakan. Bisa dikatakan, kita bahkan memiliki posisi yang sama dengan dirinya sebab baik kita maupun pembunuh bisa mencapai potensi yang sama untuk menjadi seorang Buddha. Buddha menerima siapapun untuk menjadi muridnya, bahkan pembunuh sekalipun seperti Angulimala.</p>
<p>Akhir-akhir ini kita banyak mendengar isu tentang orang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender), bagaimana mereka dituding melakukan dosa besar melawan kodrat alam dan menyebabkan seluruh bangsa akan tertimpa azab. Buddha tidak pernah mengatakan bahwa Beliau tidak menerima kaum LGBT untuk menjadi umat dan berpraktik Dharma. Lebih lanjut, Biksu Bhadra Ruci menambahkan bahwa LGBT dari sudut pandang Buddhisme ibarat seseorang yang menyukai bakso dan temannya yang menyukai soto.</p>
<blockquote class="modern-quote full"><p>Hanya karena temannya menyukai soto, apakah menyukai bakso kemudian menjadi hal yang salah?</p></blockquote>
<p>Tentunya tidak. Ketika orang-orang dengan orientasi heteroseksual dan homoseksual mempelajari Lamrim, keduanya sama-sama memiliki potensi yang sama untuk mencapai realisasi spiritual. Lantas siapa kita untuk menghakimi bahwa LGBT dan pembunuh lebih buruk daripada kita?</p>
<p>Kita telah disediakan jalan dan tahapan untuk mencapai kebahagiaan maupun ketidakbahagiaan. Untuk mencapai kebahagiaan, kita pun harus senantiasa ingat untuk tidak memboroskan karma baik yang telah kita peroleh. Makanan, air, tempat tinggal yang nyaman, listrik, dan masih banyak hal lainnya yang kita nikmati saat ini. Kesemuanya adalah buah karma baik yang sering kali kita boroskan sehingga ketika tiba waktunya, karma baik kita tidak lagi cukup untuk membuat kita terlahir sebagai manusia, lebih-lebih mencapai kebahagiaan sejati. Pada akhirnya, Buddhisme adalah tentang memilih. Apakah kita ingin bahagia dengan memupuk karma kebajikan atau sebaliknya? Selebihnya hanyalah mengenai bagaimana kita ingin menjalankan dan memaknai kehidupan kita sebagai manusia yang berharga.</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.<br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry (082163276188)</i></b></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-pilih-bahagia-atau-tidak/">ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-pilih-bahagia-atau-tidak/">ILR 2017: Pilih Bahagia atau Tidak?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Dec 2017 01:40:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[guru spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3854</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Keyakinan adalah jembatan untuk meraih apa yang kita inginkan. Begitu juga dalam praktik Dharma, kita harus yakin pada Buddha dan guru yang mengajarkan Dharma, barulah kita bisa serius mempraktikkan Dharma dan mendapatkan manfaatnya. Seorang umat pernah memohon instruksi Dharma kepada guru besar Atisha Dipamkara Srijnana sampai tiga kali. Jawaban Beliau amatlah sederhana: “Yakin, yakin, yakin!” [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Keyakinan adalah jembatan untuk meraih apa yang kita inginkan. </span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu juga dalam praktik Dharma, kita harus yakin pada Buddha dan guru yang mengajarkan Dharma, barulah kita bisa serius mempraktikkan Dharma dan mendapatkan manfaatnya. Seorang umat pernah memohon instruksi Dharma kepada guru besar Atisha Dipamkara Srijnana sampai tiga kali. Jawaban Beliau amatlah sederhana: “Yakin, yakin, yakin!”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keyakinan ini menjadi </span><i><span style="font-weight: 400;">headline</span></i><span style="font-weight: 400;"> di hari kelima Indonesia Lamrim Retreat 2017. Biksu Bhadra Ruci melanjutkan pembahasan poin pertama dari bab 4 Lamrim, yaitu bertumpu kepada guru spiritual, akar dari Sang Jalan. Banyak guru-guru besar yang mencapai pencerahan berkat keyakinan dan bakti mereka kepada guru spiritual mereka. Untuk bisa sampai ke sana, kita harus tahu manfaat-manfaat bertumpu kepada guru spiritual, kerugian tidak memiliki guru spiritual, serta kerugian tidak bertumpu kepada guru dengan benar. Poin-poin tersebut berfungsi untuk menguatkan motivasi kita untuk bertumpu kepada guru spiritual. Setelahnya, barulah kita masuk ke cara berbakti pada guru spiritual melalui pikiran. Poin ini terdiri atas dua bagian: membangkitkan keyakinan kepada guru spiritual dan membangkitkan rasa hormat dengan mengingat kebaikan guru.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan membangkitkan keyakinan kepada guru spiritual adalah meyakini bahwa guru kita adalah Buddha.<strong> Kenapa perlu memandang guru sebagai Buddha?</strong> Itu karena kita ingin untung, tidak mau rugi. <strong>Dengan memandang guru sebagai Buddha yang sesungguhnya, kita akan mendapatkan berkah seorang Buddha pula.</strong> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, <strong>apa mungkin kita melihat guru kita sebagai Buddha?</strong> Untuk itu, kita harus bisa <strong>fokus pada kualitas-kualitas baik guru kita.</strong> Jika kita melihat beliau memiliki kekurangan, kita harus berpikir lagi, apakah benar guru kita memiliki kekurangan tersebut atau kita melihat kekurangan itu karena batasan persepsi kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Dalam berbagai sutra, disebutkan bahwa Buddha akan hadir dalam wujud guru spiritual di zaman kemerosotan. Guru spiritual mewakili para Buddha melakukan aktivitas Buddha, yaitu mengajarkan Dharma kepada kita.</strong> Kita sendiri tidak memiliki cukup karma bajik untuk bisa melihat sosok Buddha yang bercahaya dengan 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan. Karena itu, Buddha hadir dalam wujud manusia yang setara dengan kita sehingga kita dapat menerima ajaran darinya. Meskipun wujudnya manusia, tidak mungkin pula guru spiritual kita merupakan manusia biasa. Mana mungkin Buddha mengandalkan manusia biasa untuk menjalankan aktivitas Beliau?</span></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Buddha tidak bisa mencuci dosa kita dengan air, Buddha juga tidak bisa mengambil penderitaan kita, apalagi memindahkan pemahaman beliau ke otak kita. Cara Buddha menolong semua makhluk adalah dengan mengajarkan Dharma. </span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Buddha selama berkalpa-kalpa berjuang untuk mencapai pencerahan sempurna demi menolong semua makhluk. Apa mungkin Beliau hanya mengajar selama 45 tahun sampai parinirwana, lalu meninggalkan kita semua yang sekarang masih ada di samsara? Tentu tidak begitu. Para Buddha dan Bodhisatwa pasti masih terus bekerja untuk kepentingan semua makhluk. Tapi sekarang kita tidak bisa bertemu Buddha Sakyamuni, lantas bagaimana Beliau bisa mengajarkan Dharma? Jawabannya jelas, Beliau mengajar dalam wujud guru spiritual kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tidak bisa benar-benar melihat guru spiritual sebagai Buddha karena <strong>persepsi kita tidak bisa diandalkan</strong>. Seperti yang telah dijelaskan di hari-hari sebelumnya, kita melihat sesuatu tergantung karma yang kita miliki. Jika kita merasa pacar kita menyebalkan, berarti kita memiliki karma bertemu pacar yang menyebalkan. Jika kita pindah ke planet lain dan pacaran dengan alien, selama kita masih memiliki karma tersebut, kita tetap akan merasa pacar alien kita menyebalkan. Begitu pula dengan persepsi kita terhadap guru spiritual kita. Karma penghalang kita menyebabkan kita melihat guru kita masih memiliki kekurangan. Karena itu, kita makin harus berusaha lebih keras membangkitkan keyakinan terhadap guru dan mempraktikkan Dharma sesuai dengan instruksi beliau untuk mengurangi karma penghalang tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam praktik bertumpu kepada guru spiritual, <strong>seorang murid juga harus memiliki kualitas-kualitas tertentu</strong>. Pertama, seorang murid <strong>tidak boleh berpihak</strong>. Yang dimaksud tidak berpihak adalah tidak keras kepala memegang pandangannya sendiri. Belajar Dharma adalah proses mengubah cara pandang. Jika kita pandangan yang kita miliki saat ini sudah benar, bukankah seharusnya kita sudah mencapai pencerahan? Nyatanya kita belum mencapai pencerahan, karena itulah kita perlu guru yang mengajarkan kita Dharma untuk mengubah cara pandang kita menjadi lebih baik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua, seorang murid juga harus <strong>memiliki kecerdasan</strong> agar dapat memahami Dharma. Banyak orang menganggap Buddhadharma adalah agama kolot dan tidak intelek. Namun, jika memang demikian, mana mungkin Buddhadharma bisa bertahan selama 2500 tahun? Guru-guru besar Buddhis juga diakui sebagai filsuf hebat, bahkan mendahului filsuf barat seperti Plato, Aristoteles, dan lain-lain. Bahkan HH Dalai Lama XIV diakui sebagai tokoh dunia yang diundang untuk berdiskusi di level yang sama dengan ilmuwan-ilmuwan besar. Buddhadharma adalah ajaran yang menggabungkan pemahaman logis dan rasa dari hati. Jika kita tidak cukup cerdas, pasti sulit untuk memahami Dharma, apalagi mempraktikkannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketiga, seorang murid harus<strong> ulet, memiliki rasa hormat yang besar terhadap guru</strong>, dan mau <strong>mendengarkan instruksi guru dengan penuh perhatian</strong>. Biksu Bhadra Ruci menjelaskan bahwa penyebab utama kita gagal membangkitkan keyakinan kepada guru dan Triratna dan gagal mempraktikkan Dharma adalah kemalasan. Kemalasan ini ada tiga jenis: sikap menunda-nunda, beralasan tidak sanggup, atau lebih tertarik pada distraksi yang tak bermanfaat. Jika direnungkan, kita pasti memiliki setidaknya satu dari tiga jenis kemalasan tersebut, atau malah tiga-tiganya. Selama kita tidak berjuang melawan kemalasan tersebut, praktik Dharma kita tidak akan berhasil. Kita tidak akan bisa mengubah batin kita menjadi lebih baik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keyakinan pada guru spiritual merupakan dasar utama ketika kita ingin mengembangkan batin kita berdasarkan metode Lamrim dan keyakinan memang tidak dapat langsung muncul. Hal tersebut merupakan suatu kualitas yang harus kita latih setahap demi setahap. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi apakah kita sudah membuat upaya untuk menumbuhkan keyakinan tersebut?</span></p>
<p><em>Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.</em><br />
<em>Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: <strong>Merry (082163276188)</strong></em></p>
<p><strong>Foto-Foto:</strong></p>
<p><figure id="attachment_3859" aria-describedby="caption-attachment-3859" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3859 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1024x575.jpg" alt="" width="702" height="394" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1024x575.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-scaled-600x337.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-768x431.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1536x863.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-2048x1150.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-150x84.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-450x253.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1200x674.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3859" class="wp-caption-text">Cara kita menyusun persembahan di altar merupakan contoh bukti keyakinan terhadap Triratna.</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3857" aria-describedby="caption-attachment-3857" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3857 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1024x577.jpg" alt="" width="702" height="396" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1024x577.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-scaled-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-768x433.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1536x866.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-2048x1154.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-150x85.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-450x254.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1200x676.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3857" class="wp-caption-text">Mempersembahkan pelita untuk umur panjang guru spiritual, salah satu cara berbakti keapda guru.</figcaption></figure></p>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Dec 2017 01:04:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[6 praktik pendahuluan]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[dharmakirti]]></category>
		<category><![CDATA[guru spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[milarepa]]></category>
		<category><![CDATA[ritual]]></category>
		<category><![CDATA[serlingpa]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[swarnadwipa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3841</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Saya sudah praktik Dharma bertahun-tahun, kok hidup saya tidak jadi lebih baik?” Pernahkah kita berpikir seperti itu? Jika ya, bisa jadi penyebabnya adalah kita masih memisahkan praktik Dharma dengan kehidupan duniawi kita. Masih dalam pembahasan bab 3 Lamrim di Indonesia Lamrim Retreat 2017 tentang cara mendengarkan Dharma, kita harus melihat diri sebagai orang yang sakit, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">“Saya sudah praktik Dharma bertahun-tahun, kok hidup saya tidak jadi lebih baik?”</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Pernahkah kita berpikir seperti itu? Jika ya, bisa jadi penyebabnya adalah kita masih memisahkan praktik Dharma dengan kehidupan duniawi kita. Masih dalam pembahasan bab 3 Lamrim di Indonesia Lamrim Retreat 2017 tentang cara mendengarkan Dharma, kita harus melihat diri sebagai orang yang sakit, Dharma sebagai obat penyakit, dan guru Dharma sebagai dokter yang mahir yang mengobati kita. Namun, itu saja tidak cukup. Kita juga harus sadar bahwa kita perlu meminum obat Dharma untuk menyembuhkan penyakit kita. Dengan kata lain, kita harus secara langsung menyatukan Dharma dalam kehidupan sehari-hari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagaimana caranya menyatukan praktik Dharma dengan kehidupan sehari-hari? Pertama-tama kita harus banyak belajar dan memahami semua teori-teori Dharma, baik dari pengajaran langsung dari guru ataupun dari buku-buku. Ini adalah proses studi. Berikutnya, ketika kita menghadapi masalah dalam hidup sehari-hari, gunakan teori yang telah kita pelajari untuk menentukan keputusan atau kesimpulan apa yang harus kita ambil untuk mengatasi masalah tersebut. Ini adalah tahap kontemplasi. Terakhir, kita harus membiasakan batin kita dengan kesimpulan tersebut. Inilah yang disebut meditasi. Ketiga tahapan dalam praktik Dharma&#8211;studi, kontemplasi, dan meditasi&#8211;merupakan cara untuk mengubah batin kita agar sesuai dengan Dharma. Jika kita senantiasa sadar dan menjalankan ketiga praktik tersebut, otomatis ego kita akan berkurang dan batin kita akan semakin berkembang.</span></p>
<p><b>Bertumpu Pada Guru Spiritual</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah melewati tiga bab pertama Lamrim, Biksu Bhadra Ruci lanjut menjelaskan bab keempat, yaitu bagaimana murid dibimbing dengan instruksi yang sesungguhnya. Di sini ada dua bagian:</span><b> bertumpu pada guru spiritual akar dari Sang Jalan</b><span style="font-weight: 400;"> dan </span><b>bagaimana setelah bertumpu murid dibimbing untuk mengembangkan batin</b><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Topik bertumpu pada guru spiritual sendiri dibagi menjadi dua bagian, yaitu sesi meditasi dan di antara sesi meditasi. Yang dimaksud sesi meditasi di sini bukanlah duduk diam di depan altar. Sesi meditasi adalah keseluruhan proses studi, kontemplasi, dan meditasi terhadap topik-topik Lamrim yang kita lakukan dalam aktivitas kita sehari-hari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sesi meditasi dibagi ke dalam tiga poin: pendahuluan, praktik utama, dan kesimpulan. Pendahuluan, atau yang juga dikenal dengan istilah </span><b>6 Praktik Pendahuluan</b><span style="font-weight: 400;">, merupakan ritual yang diwariskan oleh Guru Serlingpa Dharmakirti dari Sriwijaya. Keenam praktik ini adalah:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">membersihkan ruangan dan menyusun simbol tubuh, ucapan, dan batin Buddha di atas altar,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">membuat dan menata persembahan di altar,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">duduk dengan nyaman dalam postur meditasi, trisarana, dan membangkitkan bodhicitta,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">memvisualisasikan ladang kebajikan,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">memanjatkan Doa Tujuh Bagian,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">memanjatkan permohonan kepada guru-guru silsilah</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Ritual merupakan cara kita berkomunikasi dengan para Buddha. Ritual 6 Praktik Pendahuluan ini merupakan cara untuk mengumpulkan energi positif yang kita butuhkan untuk menempa batin kita dari para Buddha dan guru-guru silsilah Lamrim, hingga guru kita sendiri.</span></p>
<p style="text-align: right;"><a href="http://store.lamrimnesia.com/product/permata-hati/"><i><span style="font-weight: 400;">Temukan penjelasan lengkap 6 Praktik Pendahuluan di buku Permata Hati bagi Mereka yang Beruntung</span></i></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah 6 Praktik Pendahuluan, kita masuk ke </span><b>praktik utama</b><span style="font-weight: 400;">. Bagian ini terdiri atas empat poin, yaitu </span><b>manfaat bertumpu kepada guru spiritual, kerugian tidak bertumpu kepada guru spiritual atau melakukannya dengan tidak benar, cara berbakti kepada guru melalui pikiran, dan cara berbakti kepada guru melalui tindakan.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Guru spiritual itu seperti seorang</span> <span style="font-weight: 400;">konsultan bisnis serba bisa. Agar bisnis kita lancar dan untung besar, kita butuh masukan dari macam-macam konsultan: mulai dari konsultan bisnis, konsultan </span><i><span style="font-weight: 400;">marketing, </span></i><span style="font-weight: 400;">konsultan pajak, dan lain-lain. Guru adalah satu orang dengan semua kemampuan tersebut yang memberi kita petunjuk untuk menjalankan hidup kita agar kita mendapatkan manfaat maksimum. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Guru spiritual mengajak kita melihat bahwa kehidupan kita tidak berlangsung saat ini saja, tapi kita masih akan lahir dan mati berkali-kali setelahnya. Maka dari itu, beliau mengarahkan kita untuk melakukan investasi jangka panjang, yaitu menggunakan kelahiran kita sebagai manusia sekarang untuk menanamkan sebab-sebab kebahagiaan dari masa mendatang, baik itu kebahagiaan dalam bentuk kelahiran di alam tinggi, pembebasan dari samsara, hingga pencapaian Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna. Guru spiritual membimbing kita untuk melatih batin hingga bisa mencapai ketiga tujuan yang sesuai dengan tiga jenis praktisi tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bertumpu pada guru spiritual sendiri merupakan investasi dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">high cost, high risk, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan</span><i><span style="font-weight: 400;"> high gain. </span></i><span style="font-weight: 400;">Kita harus mengorbankan banyak hal untuk bisa bertumpu kepada seorang guru spiritual dengan benar. Jika berhasil, manfaatnya amatlah besar. Sebaliknya, jika kita gagal atau membuat kesalahan, maka kerugiannya juga amatlah besar. Untuk mencegah kesalahan dalam bertumpu pada guru spiritual, amatlah penting bagi kita untuk membangkitkan keyakinan terhadap guru spiritual yang merupakan perwujudan dari Triratna dan semua Buddha serta menyempurnakan sikap mendengarkan Dharma yang telah dijelaskan di bab sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh praktik bertumpu pada guru spiritual yang amat terkenal adalah kisa Milarepa, meditator agung yang mencapai Kebuddhaan dalam satu kehidupan. Beliau awalnya adalah seorang penjahat yang menggunakan ilmu hitam untuk menghancurkan satu desa. Namun, ia bertemu dengan Guru Marpa yang menggemblengnya habis-habisan. Selama belasan tahun Milarepa tanpa lelah melayani Marpa dengan susah-payah&#8211;mulai dari membajak sawah, harus tidur di kandang hewan, bahkan berulang kali membangun dan merobohkan benteng seorang diri dengan tangan kosong. Milarepa tidak pernah mengeluh dan menjalankan tugas dari gurunya dengan rela, hingga akhirnya ia ditugaskan untuk bermeditasi seorang diri di sebuah gua. Milarepa bermeditasi dengan memandang gurunya sebagai Buddha yang sesugguhnya dan akhirnya berhasil mencapai Kebuddhaan dalam satu kehidupan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah Milarepa membayar mahal selama bertumpu pada gurunya? Sudah pasti. Nyatanya ia disiksa habis-habisan selama ia berguru.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah Milarepa mencapai hasil yang amat besar dari investasinya? Ini tak perlu diragukan lagi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kisah Milarepa membuktikan bahwa bertumpu pada guru spiritual benar-benar merupakan investasi </span><i><span style="font-weight: 400;">high risk high gain.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Tak perlu diragukan lagi, bertumpu pada guru spiritual adalah tahapan yang amat penting. Namun, Biksu Bhadra Ruci juga mengingatkan kita agar bisa realistis, tidak terlalu idealis dan tidak terlalu naif dalam mencari guru spiritual. Jangan sampai kita terjebak dalam bayangan hubungan guru-murid yang dramatis seperti dalam riwayat guru-guru besar. Kita harus siap dengan kenyataan bahwa guru spiritual tidak akan hanya menyenangkan kita. Sebaliknya, beliau akan memaksa kita berhadapan dengan hal-hal yang sulit kita terima dan melakukan hal-hal sulit yang tidak kita sukai agar batin kita bisa berkembang dan mencapai realisasi Dharma sejati.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, siapkah kita untuk berinvestasi pada praktik bertumpu pada guru spiritual?</span></p>
<p><em>Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.</em><br />
<em>Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: <strong>Merry (082163276188)</strong></em></p>
<p><strong>Foto-Foto:</strong></p>
<p><figure id="attachment_3844" aria-describedby="caption-attachment-3844" style="width: 2166px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3844 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994.jpg" alt="" width="2166" height="1446" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994.jpg 2166w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 2166px) 100vw, 2166px" /><figcaption id="caption-attachment-3844" class="wp-caption-text">Indonesia Lamrim Retreat 2017 di Gedung Prasadha Jinarakkhita dihadiri lebih dari 300 peserta</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3845" aria-describedby="caption-attachment-3845" style="width: 684px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3845 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-684x1024.jpg" alt="" width="684" height="1024" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-684x1024.jpg 684w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-scaled-600x899.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-200x300.jpg 200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-768x1150.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-1025x1536.jpg 1025w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-1367x2048.jpg 1367w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-150x225.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-450x674.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-1200x1798.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-scaled.jpg 1709w" sizes="(max-width: 684px) 100vw, 684px" /><figcaption id="caption-attachment-3845" class="wp-caption-text">Mengundang ladang kebajikan, bagian dari 6 Praktik Pendahuluan warisan Guru Serlingpa Dharmakirti</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3851" aria-describedby="caption-attachment-3851" style="width: 2166px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3851 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115.jpg" alt="" width="2166" height="1446" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115.jpg 2166w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 2166px) 100vw, 2166px" /><figcaption id="caption-attachment-3851" class="wp-caption-text">Proses pembelajaran Lamrim berbasis pada pembelajaran Dharma, dilanjutkan dengan perenungan dan meditasi sehingga batin kita selaras dengan hasil pembelajaran kita</figcaption></figure></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Kenali Diri, Awal dari Praktik Dharma</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/24/ilr-2017-kenali-diri-awal-dari-praktik-dharma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2017 00:01:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3809</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kita ini orang seperti apa? Kita perlu membangkitkan motivasi bajik agar praktik Dharma kita membawa hasil yang baik, kira-kira demikian pesan Biksu Bhadra Ruci saat membuka rangkaian acara Indonesia Lamrim Retreat 2017. Namun, bagaimana caranya kita bisa membangkitkan motivasi tersebut? Motivasi seperti apa yang perlu kita bangkitkan? Jawabannya ada di hari pertama retret, 23 Desember [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/24/ilr-2017-kenali-diri-awal-dari-praktik-dharma/">ILR 2017: Kenali Diri, Awal dari Praktik Dharma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/24/ilr-2017-kenali-diri-awal-dari-praktik-dharma/">ILR 2017: Kenali Diri, Awal dari Praktik Dharma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Kita ini orang seperti apa?</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita perlu membangkitkan motivasi bajik agar praktik Dharma kita membawa hasil yang baik, kira-kira demikian pesan Biksu Bhadra Ruci saat membuka rangkaian acara Indonesia Lamrim Retreat 2017. Namun, bagaimana caranya kita bisa membangkitkan motivasi tersebut? Motivasi seperti apa yang perlu kita bangkitkan? Jawabannya ada di hari pertama retret, 23 Desember 2017. Motivasi untuk praktik Dharma dapat kita temukan dari sifat dasar ajaran Buddha, yaitu melihat ke diri sendiri. Kita ini orang seperti apa? Apakah kita membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain? Atau jangan-jangan kehadiran kita menyusahkan orang-orang di sekitar kita? Coba direnung-renungkan, lalu putuskan untuk tidak menyia-nyiakan kelahiran kita sebagai manusia yang amat berharga dengan menjadi orang yang lebih baik dan bermakna dari diri kita sekarang. ‘Lebih baik’ seperti apa tergantung dari hasil perenungan kita. Itulah yang bisa mendorong kita untuk memulai belajar dan mempraktikkan Dharma.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah membangkitkan motivasi, kita bisa mulai mempelajari Lamrim, sebuah metode belajar Buddhadharma yang menarik intisari dari semua ajaran Buddha dalam tahapan-tahapan menuju pencerahan. Lamrim ini juga berasal dari bangsa kita sendiri, dapat ditelusuri hingga ke Guru Swarnadwipa Dharmakirti dari Sriwijaya. Dengan mempelajari Lamrim, kita bukan lagi sekedar ‘umat biasa’ yang hanya sembahyang kepada Buddha di saat butuh, melainkan orang yang betul-betul menapaki jalan bertahap untuk mencapai pencerahan seperti Sang Buddha sendiri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Biksu Bhadra Ruci membacakan bait-bait awal dari teks “Baris-Baris Pengalaman” karya Je Tsongkhapa. Teks ini juga dikenal sebagai ‘Lamrim Kecil’ karena mencakup keseluruhan Lamrim dalam bait-bait singkat hasil dari pengalaman spiritual Je Tsongkhapa sendiri. Bait-bait pertama ini berisi pujian dan penghormatan terhadap kualitas Sang Buddha dan guru-guru Dharma agung lainnya, sesuai dengan bab pertama Lamrim, yaitu keagungan sumber ajaran untuk memastikan sumber Dharma yang terpercaya. Biksu Bhadra Ruci menjelaskan bagian tersebut dengan situasi yang sering kita jumpai sehari-hari, misalnya mencari jalan dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">google maps.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Ketika menuju tempat baru hanya dengan mengandalkan </span><i><span style="font-weight: 400;">google maps,</span></i><span style="font-weight: 400;"> kadang petanya bisa keliru sehingga kita tersesat. Demikian pula untuk urusan spiritual, kalau kita tidak menyelidiki kepada siapa kita belajar, tentu batin kita akan tersesat. Karena itu penting sekali untuk mengetahui sumber ajaran yang akan kita terapkan untuk mengembangkan batin kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sumber ajaran atau guru seperti apakah yang bisa kita andalkan? Pertama kita lihat apakah orang-orang yang mempraktikkan ajaran tersebut bisa mencapai realisasi seperti sang guru. Buddha mengajarkan Dharma lebih dari 2500 tahun yang lalu, banyak yang mempraktikkan ajaran beliau telah menemukan kebahagiaan sejati. Begitu pula Je Tsongkhapa yang mengajarkan kembali Dharma Sang Buddha melalui Lamrim, sejak beliau parinirwana 600 tahun yang lalu, telah banyak guru-guru yang mencapai realisasi spiritual dengan mengandalkan karya-karya beliau. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua, apakah guru tersebut hidup sesuai dengan apa yang beliau ajarkan? Ada anekdot: seorang guru mengajak pengikutnya pergi ke surga, tapi guru ini sendiri tidak mau ke surga. Bagaimana mungkin ajaran dari sumber seperti ini bisa dipercaya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian, Biksu Bhadra Ruci menjelaskan lebih lanjut keagungan guru-guru yang disebut dalam teks Baris-Baris Pengalaman, khususnya Buddha Sakyamuni. Sebagai umat Buddha, tentunya kita harus khatam riwayat Sang Buddha dan merenungkannya. Kita bisa melihat riwayat Buddha digambarkan dengan begitu agung di relief Lalitawistara yang terukir di Candi Borobudur. Beliau adalah anak raja, berpendidikan tinggi, mahir dalam segala ilmu, tapi sudahkah kita benar-benar yakin pada Beliau? Atau jangan-jangan kita lebih yakin pada ucapan peramal atau makhluk yang tak tampak?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di akhir sesi, kita semua diajak untuk merenung, seberapa besar kita yakin pada Sang Buddha dan guru-guru Dharma. Belajar Dharma memiliki implikasi yang besar, tidak hanya di kehidupan ini tapi juga untuk memastikan nasib kita di kehidupan selanjutnya. Sudahkah kita belajar dari sumber yang tepat? Ingat kembali keagungan Sang Buddha dan kebaikan yang telah dicapai berbagai praktisi Dharma. Bandingkan dengan diri kita, kenali sejauh mana keyakinan kita. Kenali pula seperti apa kondisi dari kita saat ini, masalah apa saja yang kita alami. Dari mengenali diri sendiri dengan cara-cara tersebut, kita akan menemukan langkah selanjutnya yang harus kita ambil dalam praktik Dharma kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8212;</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran Dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 bersama Biksu Bhadra Ruci dapat diikuti melalui livestreaming.<br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry  (082163276188)</i></b></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Foto-Foto:</p>
<p><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-3816 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-1024x683.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-scaled-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /></p>
<p><figure id="attachment_3814" aria-describedby="caption-attachment-3814" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3814 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-1024x684.jpg" alt="" width="702" height="469" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-scaled-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3814" class="wp-caption-text">Sesi pengajaran Dharma diawali dengan ritual 6 Praktik Pendahuluan sesuai tradisi dari Guru Swarnadwipa Dharmakirti</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3813" aria-describedby="caption-attachment-3813" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3813 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-1024x682.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-1024x682.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3813" class="wp-caption-text">Peserta ILR 2017 yang 70% terdiri atas anak muda mendengarkan sesi pengajaran dari Biksu Bhadra Ruci</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3811" aria-describedby="caption-attachment-3811" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3811 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-1024x683.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-scaled-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3811" class="wp-caption-text">Peserta ILR 2017 berkesempatan praktik langsung pengumpulan kebajikan melalui persembahan pelita</figcaption></figure></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/24/ilr-2017-kenali-diri-awal-dari-praktik-dharma/">ILR 2017: Kenali Diri, Awal dari Praktik Dharma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/24/ilr-2017-kenali-diri-awal-dari-praktik-dharma/">ILR 2017: Kenali Diri, Awal dari Praktik Dharma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Kiat Sukses Mengubah Batin</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/23/ilr-2017-kiat-sukses-mengubah-batin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Dec 2017 00:26:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3779</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sudahkah kita sukses membenahi batin? Itulah pertanyaan yang dilemparkan Biksu Bhadra Ruci saat memberi nasihat pembuka Indonesia Lamrim Retreat 2017 pada tanggal 22 Desember 2017 di gedung Prasadha Jinarakkhita, Jakarta Barat. Sepanjang hidup kita dihabiskan untuk berjuang mencapai kesuksesan&#8211;sukses pendidikan, sukses karir, sukses percintaan&#8211;tapi malam ini kita diajak merenung, apakah kesuksesan-kesuksesan itu bisa mengatasi semua [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/23/ilr-2017-kiat-sukses-mengubah-batin/">ILR 2017: Kiat Sukses Mengubah Batin</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/23/ilr-2017-kiat-sukses-mengubah-batin/">ILR 2017: Kiat Sukses Mengubah Batin</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Sudahkah kita sukses membenahi batin? </span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah pertanyaan yang dilemparkan Biksu Bhadra Ruci saat memberi nasihat pembuka Indonesia Lamrim Retreat 2017 pada tanggal 22 Desember 2017 di gedung Prasadha Jinarakkhita, Jakarta Barat. Sepanjang hidup kita dihabiskan untuk berjuang mencapai kesuksesan&#8211;sukses pendidikan, sukses karir, sukses percintaan&#8211;tapi malam ini kita diajak merenung, apakah kesuksesan-kesuksesan itu bisa mengatasi semua masalah kita?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Biksu Bhadra Ruci mengatakan bahwa segala hal di sekitar kita bukanlah permasalahan. Jika ada bunga berwarna putih di atas meja, semua orang sama-sama melihat bunga berwarna putih. Namun, komentar dari batin kitalah yang membuat bunga tersebut terasa menyenangkan atau tidak menyenangkan. Sama halnya dengan hal-hal lain yang terjadi dalam hidup kita. Agar bisa bahagia, kita tidak bisa mengubah hal-hal yang tidak menyenangkan di luar diri kita, seperti kita tidak bisa mengubah bunga berwarna putih di atas meja, tapi kita masih bisa mengubah batin kita! Itulah tujuan kita belajar Dharma, yaitu mengubah batin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nah, Dharma seperti apa sih yang akan dipelajari di retret ini? Topik yang diangkat di Indonesia Lamrim Retreat 2017 adalah teks lamrim “Baris-Baris Pengalaman” karya Je Tsongkhapa, sebuah kumpulan syair singkat yang mengisahkan pengalaman sang guru dari awal praktik Dharmanya hingga mencapai pencerahan. Retret ini akan membahas keseluruhan teks dengan penekanan pada bait-bait mengenai keagungan sumber ajaran, keagungan Dharma, cara mendengarkan dan mengajarkan Dharma, serta topik karma dan trisarana. Biksu Bhadra Ruci juga menjelaskan bahwa selama mendengarkan Dharma, mungkin logika kita akan sepakat, tapi batin kita seringkali membantah. Saat itulah kita harus merenung, bernegosiasi dengan batin kita hingga kita mampu memahami dan menerima Dharma. Bagaimanapun juga, mana mungkin kita memaksa Dharma diubah? Sebaliknya, Dharma-lah yang akan mengubah kita menjadi lebih baik dan lebih bahagia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Indonesia Lamrim Retreat, kita punya kesempatan belajar dan merenungkan Dharma selama sepuluh hari, dari tanggal 22 Desember 2017 hingga 1 Januari 2018. Apakah itu cukup bagi kita untuk sukses membenahi batin? Belum tentu. Semua tergantung pada motivasi kita. Ibarat membidik target dan menghitung gaya agar peluru tepat kena sasaran, kita perlu membangkitkan motivasi bajik untuk membidik tujuan yang ingin kita dapat. Motivasi bajik inilah yang nantinya akan mendukung kita mencapai hasil yang positif.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi bagaimana, sudah siap untuk sukses membenahi batin?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8212;</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran Dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 bersama Biksu Bhadra Ruci dapat diikuti melalui livestreaming.<br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry  (082163276188)</i></b></p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>Foto-Foto:</strong></p>
<p><figure id="attachment_3782" aria-describedby="caption-attachment-3782" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3782 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF0982-1024x577.jpg" alt="" width="702" height="396" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF0982-1024x577.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF0982-scaled-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF0982-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF0982-768x433.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF0982-1536x866.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF0982-2048x1154.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF0982-150x85.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF0982-450x254.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF0982-1200x676.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3782" class="wp-caption-text">Suasana registrasi ulang peserta Indonesia Lamrim Retreat 2017</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3789" aria-describedby="caption-attachment-3789" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3789 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC08991-1024x577.jpg" alt="" width="702" height="396" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC08991-1024x577.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC08991-scaled-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC08991-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC08991-768x432.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC08991-1536x865.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC08991-2048x1153.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC08991-150x84.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC08991-450x253.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC08991-1200x676.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3789" class="wp-caption-text">Kata sambutan dari Siswanto, ketua panitia ILR 2017</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3785" aria-describedby="caption-attachment-3785" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3785 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09006-1-1024x683.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09006-1-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09006-1-scaled-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09006-1-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09006-1-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09006-1-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09006-1-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09006-1-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09006-1-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09006-1-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3785" class="wp-caption-text">Sambutan dari Wilson, direktur Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN) yang menyelenggarakan ILR 2017</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3783" aria-describedby="caption-attachment-3783" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3783 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1008-1024x577.jpg" alt="" width="702" height="396" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1008-1024x577.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1008-scaled-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1008-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1008-768x433.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1008-1536x866.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1008-2048x1154.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1008-150x85.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1008-450x254.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1008-1200x676.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3783" class="wp-caption-text">Peserta ILR 2017 mendengarkan nasihat dari Biksu Bhadra Ruci untuk mengawali retret</figcaption></figure></p>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/23/ilr-2017-kiat-sukses-mengubah-batin/">ILR 2017: Kiat Sukses Mengubah Batin</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/23/ilr-2017-kiat-sukses-mengubah-batin/">ILR 2017: Kiat Sukses Mengubah Batin</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
