<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>lamrimnesia - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/lamrimnesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Jul 2026 05:27:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.12</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>lamrimnesia - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Buku Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2026 10:16:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[catur brahmawihara]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10433</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bagaimana jika seandainya melatih empat kemuliaan batin di tengah krisis adalah cara terakhir untuk bertahan? Bukan tanda pasrah, tetapi cara untuk melawan.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em>, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku &lt;em&gt;Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas&lt;/em&gt;, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Judul Buku  : Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas<br>Penulis         : Dagpo Rinpoche<br>Ketebalan    : iv + 71 hlm<br>Tahun Terbit: 2017</p>



<p>Membicarakan keseimbangan batin di tengah sistem negara korup mungkin terdengar omong kosong. Namun, bagaimana jika seandainya itu adalah cara terakhir untuk bertahan hidup?</p>



<p>Negara yang seharusnya menjadi pelindung rakyat justru hadir sebagai penjajah. Korupsi merajalela, harga bahan pokok dan bahan bakar mencekik warga akibat rupiah melemah, PHK tak kunjung usai, tingginya pengangguran. Negara dalam banyak hal telah absen bahkan menjadi sumber kesengsaraan.</p>



<p>Krisis yang berlapis-lapis sampai hari ini seakan tak menyisakan kabar baik. Membaca berita rasanya hanya menguras sisa kewarasan. Meski di Indonesia sudah akrab dengan slogan “warga jaga warga”, kenyataannya penderitaan berkepanjangan membuat kita bisa kapan saja untuk saling menjatuhkan dan ikut menindas demi bertahan hidup. <em>Toh,</em> sudah tampak jelas dari bagaimana cara kita memperlakukan sesama makhluk sekarang ini, tak terbatas pada manusia saja. Menghakimi sesama warga, diskriminasi terhadap kelompok masyarakat tertentu, menelantarkan bahkan membunuh hewan, ikut merusak lingkungan, dan masih banyak lagi. Empati dan bahu-membahu hanya diperuntukkan bagi segelintir orang dan di permukaan saja.&nbsp;</p>



<p>Inilah ironi menyedihkan dari krisis tak berkesudahan: betapa lantang kita mengutuk segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh sistem negara, tetapi di saat yang sama, kita pun tanpa sadar ikut menindas kaum yang lebih lemah. Penindasan itu akhirnya turun-temurun. Kita sering mengotak-ngotakkan dan mendiskriminasi minoritas, serta melupakan penderitaan bersama demi mengamankan diri sendiri.</p>



<p>Fakta bahwa penderitaan merenggut hak-hak individu juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat secara menyeluruh. Penderitaan sudah membawa kita sampai ke sini, sebuah kerusakan yang entah kapan bisa dibenahi kembali. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain bertarung melawan ketidakadilan dengan semua yang tersisa. Dan karena yang dipertaruhkan adalah kehidupan kolektif, empati dan bahu-membahu itu diperlukan di kemelut seperti sekarang.</p>



<p>Semula, membaca buku karya Dagpo Rinpoche berjudul <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em> di tengah krisis yang terjadi tampak tak ada relevansinya sebab urusan perut lapar dan sistem carut-marut tak bisa dibenahi dengan wejangan spiritual belaka.&nbsp; Namun, berangkat akan hal itu, muncul pikiran berikutnya: bagaimana jika ternyata buku ini<em> </em>dibutuhkan di kondisi sekarang? Menyaksikan dan merasakan sesak, tak terhitung sudah berapa banyak hidup yang dikoyak dan ditindas. Bukankah untuk melawan, tidak hanya perut dan otak yang butuh diberi makan, tetapi juga batin?&nbsp;</p>



<p>Memberi makan batin salah satunya dengan melatih welas asih. Sejatinya, welas asih ada di dalam diri kita. Ketika ketidakadilan terjadi, secara naluri kita terdorong untuk melawan dan menolong. Hal itu karena kita lahir dari kerentanan, kegelisahan batin, dan kebutuhan yang sama. Welas asih muncul akibat dari “kemarahan” yang menolak diam melihat penderitaan sesama. Sadar bahwa perjuangan masih jauh dari selesai, perlawanan pun terus berlanjut. Turun ke jalan, vokal di media sosial, dan menyebar poster “warga jaga warga” seharusnya dilihat sebagai bentuk dari memperjuangkan welas asih. Kendati demikian, welas asih itu masih tak berjalan sebagaimana mestinya di kehidupan kolektif kita. Ia lebih sering dianggap sebagai bentuk pasrah dan kelemahan.</p>



<p>Dalam ajaran Buddha, welas asih termasuk dalam kelompok sifat yang disebut “Catur Brahmawihara”, yang berarti empat kemuliaan tanpa batas. Empat kemuliaan itu meliputi&nbsp; <em>Upeksha</em> (keseimbangan batin), <em>Maitri</em> (cinta kasih tanpa batas), <em>Karuna</em> (welas tanpa batas), dan <em>Mudita</em> (sukacita tanpa batas). Sejalan dengan itu, buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em> memuat panduan dasar memeditasikan empat kemuliaan batin yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh, membawa buku ini ke ruang krisis yang penuh suram adalah penguat bersama untuk membangun kembali solidaritas antarwarga. Ia juga fondasi untuk menumbuhkan rasa empati yang hilang dan cara untuk memperjuangkan hak asasi.&nbsp;</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Upeksha</em></strong><br><em>Selama seseorang tidak memiliki keseimbangan batin dan memiliki klesha kemarahan dan kebencian, maka orang itu masih berada di dalam penderitaan</em>.</p>



<p>Mula-mula, yang harus dikembangkan adalah keseimbangan batin. Tujuannya agar kita bisa melihat semua makhluk setara. Contoh melatih batin yang seimbang bisa dimulai dengan mengesampingkan ego, kemelekatan, dan kebencian. Di keseharian, praktik nyatanya adalah dengan mengendalikan diri untuk tidak marah-marah ketika terjebak kemacetan karena aksi demonstrasi warga. Kita harus menyadari bahwa orang-orang yang turun ke jalan sejatinya sedang berjuang demi menuntut hak hidup kita juga.</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Maitri</em></strong><br><em>Maitri</em> atau cinta kasih adalah kualitas kedua setelah <em>upeksha</em>. Pada langkah ini, kita menempatkan semua makhluk layaknya ibu-ibu kita. Dalam Buddhisme, melihat semua makhluk sebagai ibu-ibu kita lahir dari keyakinan bahwa semua makhluk dalam kehidupan lampaunya pasti pernah menjadi ibu yang penuh cinta dan naluri untuk merawat kehidupan. Ibu juga dipandang sebagai sosok teladan cinta kasih yang universal.&nbsp;</p>



<p>Ciri khas dari <em>maitri</em> sendiri adalah keinginan tulus untuk melihat semua makhluk berbahagia. Di tengah impitan ekonomi, <em>maitri</em> bisa dipraktikkan dengan niat dan secara sadar memilih untuk melariskan dagangan UMKM atau berbelanja di pasar tradisional. Tujuannya untuk memastikan bahwa sesama kelas pekerja, mereka bisa makan dan punya harapan untuk menyambung hidup.&nbsp;</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Karuna</em></strong><br><em>Karuna</em> berarti welas asih. Berbeda dengan <em>maitri,</em> ciri khas <em>karuna</em> adalah batin yang menolak diam ketika melihat makhluk lain menderita. Di tengah krisis, <em>karuna</em> hadir dalam wujud nyata dengan membantu massa aksi yang ditindas atau ditahan ketika aksi di jalan, membantu memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas dan kelompok minoritas di tengah krisis, turut vokal baik secara langsung maupun bersuara di media sosial terkait dampak melemahnya rupiah terhadap kelangsungan hidup seluruh masyarakat, terutama buruh kecil dan petani, dan sebagainya.</p>



<p>Karena berkaitan dengan tatanan sosial atau sistem keadilan, welas asih pada titik ini bersifat universal dan objektif. Sebagai sesama warga dan kelas pekerja yang terkena dampak dari penindasan negara, kita tahu betul bahwa semua makhluk sama menderitanya. Melawan ketidakadilan artinya memperjuangkan welas asih. Tidak peduli suku, agama, jenis kelamin, status sosial, dan orientasi seksual—jika dihubungkan, welas asih dan keadilan punya tujuan yang sama, yakni menghapus penderitaan akibat tindakan semena-mena tanpa tebang pilih.</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Mudita</em></strong><br>Selanjutnya <em>mudita</em>, yaitu sukacita tanpa batas. Dengan turut bersukacita melihat keberhasilan makhluk lain, kita sudah melatih diri untuk membunuh rasa iri dan saling menjatuhkan di masa krisis. Sebagai contoh, turut senang ketika melihat dagangan pedagang kecil ludes terjual atau merasa lega ketika sekelompok massa aksi yang dikriminalisasi akhirnya dibebaskan. Dengan mengapresiasi perjuangan mereka, kita sudah memperkuat napas perlawanan dan merawat kehidupan banyak makhluk.</p>



<p>Pada akhirnya tujuan melatih empat kemuliaan batin adalah agar kebebasan bersama itu bisa diraih dan perpecahan antarwarga akibat konflik horizontal perlahan-lahan bisa diatasi. Namun, praktik kemuliaan batin itu tidak akan pernah utuh jika empati berhenti pada manusia saja. Layaknya manusia, hewan dan tumbuhan juga adalah makhluk yang harus dijaga. Mereka sama-sama ingin mendapatkan ruang hidup yang aman. Sekecil tidak mengusir paksa dan berbuat kasar kepada hewan jalanan, memberi minum dan sisa makanan layak untuk hewan kelaparan, dan tidak merusak alam—kita sudah melatih diri untuk menghormati kehidupan makhluk lain. Menyadari bahwa nyawa makhluk hidup yang paling kecil dan lemah sekali pun sama berharganya dengan nyawa manusia.</p>



<p>Buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em> adalah tamparan untuk kita semua di tengah krisis Indonesia saat ini. Ia seakan menodong kita dengan sebuah pertanyaan: kita membenci penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan negara, tetapi apakah kita sendiri sudah bersikap adil terhadap sekitar? Jawabannya tentu tidak. Tanpa sadar, kita justru melanggengkan represi tersebut. Penderitaan kolektif yang dirasakan sampai hari ini tak pelak menjadikan kita makhluk egois. Karena realitas sosial itu sudah mengeringkan nurani dan empati, maka batin kita perlu dilatih. Bukan untuk memberi toleransi atas ketidakadilan, tetapi sebagai bentuk perjuangan untuk menghapus penindasan.&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em>, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku &lt;em&gt;Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas&lt;/em&gt;, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyelami Esensi Universal Kehidupan Bodhisatwa dalam Dongeng Anak Jataka Mala￼</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/06/15/menyelami-esensi-universal-kehidupan-bodhisatwa-dalam-dongeng-anak-jataka-mala%ef%bf%bc/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2026 05:33:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[Jataka Mala]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10356</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Apa itu Bodhisatwa? Kenapa ia lahir dengan banyak rupa?” Setidaknya dua pertanyaan di atas berkelindan di kepala penulis ketika membaca kisah demi kisah buku anak Jataka Mala. Diterbitkan oleh Penerbit Saraswati pada tahun 2016, buku anak setebal 95 halaman ini berasal dari teks asli berjudul Jātakamālā or A Garland of Birth Stories yang disusun oleh [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/06/15/menyelami-esensi-universal-kehidupan-bodhisatwa-dalam-dongeng-anak-jataka-mala%ef%bf%bc/">Menyelami Esensi Universal Kehidupan Bodhisatwa dalam Dongeng Anak Jataka Mala￼</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/06/15/menyelami-esensi-universal-kehidupan-bodhisatwa-dalam-dongeng-anak-jataka-mala%ef%bf%bc/">Menyelami Esensi Universal Kehidupan Bodhisatwa dalam Dongeng Anak Jataka Mala￼</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure class="wp-block-image size-full"><img width="340" height="472" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/image-1.jpeg" alt="" class="wp-image-10357" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/image-1.jpeg 340w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/image-1-216x300.jpeg 216w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/image-1-150x208.jpeg 150w" sizes="(max-width: 340px) 100vw, 340px" /></figure>



<p><em>“Apa itu Bodhisatwa? Kenapa ia lahir dengan banyak rupa?”</em></p>



<p>Setidaknya dua pertanyaan di atas berkelindan di kepala penulis ketika membaca kisah demi kisah buku anak <em>Jataka Mala</em>. Diterbitkan oleh Penerbit Saraswati pada tahun 2016, buku anak setebal 95 halaman ini berasal dari teks asli berjudul <em>Jātakamālā or A Garland of Birth Stories</em> yang disusun oleh Marie Mesaeus-Higgins dan diterjemahkan oleh Stanley Khu. </p>



<p>Sebagai salah satu kesusastraan kanon Buddhisme, <em>Jātaka</em> merangkum kisah kelahiran lampau Siddhartha Gautama dalam berbagai rupa, mulai dari pengelana, seorang raja, hingga hewan ketika masih menjadi Bodhisatwa, yaitu makhluk yang menempuh perjalanan spiritual panjang demi membebaskan semua makhluk dari penderitaan.</p>



<p>Berasal dari tradisi lisan India, <em>Jātaka</em> (berarti ‘kelahiran’) ditulis dalam bahasa Pali sebagai bagian Kitab Tripitaka. Kisah tersebut juga diabadikan pada 500 panel relief Candi Borobudur, yang bersumber dari <em>Jātaka-mālā</em> versi Āryaśūra dalam bahasa Sanskerta klasik. Melalui keahliannya pada bidang sastra dan filsafat, Āryaśūra menjadi pelopor yang menggunakan bahasa Sanskerta klasik sebagai media penyebaran ajaran Buddha. Warisan ini terus lestari melalui berbagai saduran, seperti buku anak <em>Jataka Mala</em>.</p>



<p>Buku yang ditujukan untuk anak-anak ini memicu sebuah pengalaman membaca yang baru bagi penulis, yaitu pengalaman refleksi personal untuk menempatkan diri bukan sebagai pembaca dewasa yang serba tahu, melainkan sebagai seorang anak yang baru pertama kali belajar mengeja makna tentang kebajikan, kebijaksanaan, dan welas asih tanpa batas.</p>



<p>Melalui tulisan ini, penulis ingin berbagi bagaimana sebuah sastra kanon Buddhis memiliki relevansi nilai-nilai humanisme bagi mereka yang berdiri di luar lingkaran tradisinya. Buku ini mungkin boleh saja dilihat sebagai buku anak, tetapi penulis melihatnya justru lebih dari itu. Sebagai pembaca lintas iman, buku <em>Jataka Mala</em> adalah salah satu bacaan pembuka yang tepat untuk seseorang yang ingin belajar memahami esensi kebajikan dan kebijaksanaan dalam perspektif Buddhisme. Alurnya yang sederhana dan tanpa beban bahasa yang pretensius, ketidaktahuan penulis sebagai orang awam tidak lagi menjadi pembatas, melainkan sebuah kesempatan untuk belajar dari nol.</p>



<p>Kita acap kali dihadapkan dengan beban sosial untuk selalu terlihat paham, kritis, dan analitis terhadap segala hal. Tuntutan teoretis tersebut membuat kita sadar tak sadar membaca sesuatu dengan dahi berkerut seolah-olah setiap teks adalah ujian intelektual yang harus dipecahkan. Dengan buku anak <em>Jataka Mala</em> yang menghadirkan sepuluh untaian kisah kehidupan lampau Buddha, penulis diizinkan untuk menjadi seseorang yang tidak tahu apa-apa dan ketidaktahuan tersebut adalah sesuatu yang tidak apa-apa, sesuatu yang manusiawi.</p>



<p>Bagi penulis, menempatkan diri sebagai pembaca yang setara dengan anak kecil memberikan sensasi membaca yang membebaskan. Di sini, penulis tidak sedang dituntut untuk menganalisis doktrin atau berkutat dengan perbandingan dogma yang kaku. Dengan bahasanya yang membumi, penulis hanya duduk, menyimak, dan membiarkan diri mengikuti alur setiap kisah Bodhisatwa. Terlebih, alih-alih memaksakan diri membaca dengan kacamata orang dewasa atau serba tahu, menjadi layaknya seorang anak yang baru belajar adalah posisi paling tepat untuk mendeskripsikan kapasitas pengetahuan penulis dalam hal ini.</p>



<p>Di salah satu kisahnya, Bodhisatwa menjelma seekor gajah putih yang hidupnya di hutan. Suatu hari ia menemukan sekumpulan manusia kelaparan yang diusir oleh seorang raja dari negerinya. Sifat penyayang dan penolongnya kepada makhluk lain dipancarkan melalui pengorbanannya menjadikan tubuhnya sendiri sebagai makanan untuk para manusia kelaparan tersebut. Jika melihat di kehidupan kita sehari-hari, tentu keteladanan semacam itu sulit untuk diterapkan. Namun, yang bisa dipetik dari Kisah Gajah Putih adalah ketika satu makhluk yang sedang mengalami kesulitan tetap bersedia mengulurkan tangan untuk makhluk lainnya, sejatinya yang ia berikan bukan sekadar bantuan, tetapi cinta kasih yang tulus.  </p>



<p>Selanjutnya adalah Kisah Mahabodhi, yaitu ketika Bodhisatwa dalam salah satu kehidupannya adalah seorang pertapa bernama Mahabodhi. Ia meninggalkan keduniawian dan memilih mengajarkan ilmu pengetahuan selama ia menjadi pengelana. Dengan kecerdasan, penuh belas kasih, dan nilai-nilai kebenaran yang dimilikinya, Mahabodhi menjadi sosok yang dihormati. Selama ia berkelana, Mahabodhi sempat hidup sementara bersama seorang raja untuk mengajarkan kebijaksanaan kepada raja tersebut dalam tugasnya memimpin rakyat. Hal itu lambat laun menimbulkan rasa iri dalam diri para menteri dan penasihat raja. Mahabodhi kemudian difitnah, tetapi ia tidak membalas perlakuan jahat tersebut. Mahabodhi justru memberikan pengajaran kebajikan terakhir tanpa setetes kebencian dan dendam sebelum ia akhirnya kembali ke tempat asalnya. Kisah ini layaknya cermin bagi kita bahwa setinggi apa pun kecerdasan ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang, semua itu tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan prinsip kejujuran, kerendahan hati, dan belas kasih terhadap sesama makhluk.</p>



<p>Menerjemahkan teks <em>Jātaka</em> ke dalam dongeng anak  <em>Jataka Mala</em> adalah bentuk kepedulian literasi yang langka dan bukan hal mudah. Labelnya sebagai buku anak pun secara tidak langsung menjadikan buku ini dapat dinikmati oleh orang awam non-Buddhis. Narasinya mengalir tanpa belitan teori rumit dan bahasa yang sulit dijamah. Dengan berbagai rupa Bodhisatwa, inti pesannya sama, yaitu motivasi untuk menyebarkan kebajikan dan welas asih guna membebaskan semua makhluk dari penderitaan. </p>



<p>Dari contoh kisah di atas, buku ini adalah perenungan tentang apa artinya menjadi manusia di dunia modern yang semakin transaksional. Di zaman sekarang, kita sering hanya mengukur kebaikan dan hubungan terhadap sesama makhluk berdasarkan untung-rugi. Namun, kisah-kisah Bodhisatwa dalam buku ini menyajikan sudut pandang yang berbeda. Sebuah ketulusan murni tanpa batas yang mengutamakan kebahagiaan makhluk lain. Narasi pengorbanannya tidak terasa seperti doktrinasi yang memaksa, tetapi sebuah ajakan untuk siapapun, dari latar belakang iman mana pun untuk merefleksikan kembali kadar kepedulian kita terhadap sesama makhluk hidup.</p>



<p>Pada akhirnya, pengalaman membaca dongeng <em>Jataka Mala </em>meninggalkan refleksi personal bagi penulis sebagai pembaca lintas iman. Nilai-nilai kebajikan yang ditawarkan, seperti kesabaran, kebijaksanaan, kemurahan hati, kejujuran, dan melihat semua makhluk dengan setara adalah bahasa universal yang tidak membutuhkan paspor keagamaan tertentu untuk bisa dipahami. Kisah-kisah kelahiran lampau Buddha tersebut mengajak kita untuk menyadari bahwa merawat welas asih adalah tanggung jawab kita bersama setiap hari untuk merawat kehidupan banyak makhluk.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/06/15/menyelami-esensi-universal-kehidupan-bodhisatwa-dalam-dongeng-anak-jataka-mala%ef%bf%bc/">Menyelami Esensi Universal Kehidupan Bodhisatwa dalam Dongeng Anak Jataka Mala￼</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/06/15/menyelami-esensi-universal-kehidupan-bodhisatwa-dalam-dongeng-anak-jataka-mala%ef%bf%bc/">Menyelami Esensi Universal Kehidupan Bodhisatwa dalam Dongeng Anak Jataka Mala￼</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/01/27/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2026 06:01:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10250</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam banyak diskursus agama, etika, dan psikologi populer, compassion (welas asih) kerap dipahami sebagai tindakan moral: sesuatu yang baik, luhur, dan seharusnya dilakukan. Kita diajarkan untuk bersikap penuh kasih, berempati, dan membantu sesama, seolah compassion adalah sebuah keputusan rasional yang bisa diambil kapan saja, tanpa keterkaitan dengan kondisi batin dan tubuh kita. Pemahaman ini tampak [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/01/27/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu/">Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/01/27/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu/">Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam banyak diskursus agama, etika, dan psikologi populer, <em>compassion</em> (welas asih) kerap dipahami sebagai tindakan moral: sesuatu yang baik, luhur, dan seharusnya dilakukan. Kita diajarkan untuk bersikap penuh kasih, berempati, dan membantu sesama, seolah <em>compassion</em> adalah sebuah keputusan rasional yang bisa diambil kapan saja, tanpa keterkaitan dengan kondisi batin dan tubuh kita.</p>



<p>Pemahaman ini tampak masuk akal. Berbagai penelitian dalam psikologi positif mendukung gagasan bahwa altruisme dan perilaku menolong berkaitan dengan kebahagiaan dan kesehatan. Orang yang meluangkan waktu, tenaga, atau sumber daya untuk membantu orang lain cenderung melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi. Beberapa studi longitudinal bahkan menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas relawan berkorelasi dengan penurunan risiko kematian, terutama ketika motivasinya benar-benar altruistik—yakni ingin membantu orang lain, bukan sekadar mencari manfaat pribadi.</p>



<p>Singkatnya, menolong orang lain memang baik, bukan hanya secara moral, tetapi juga secara psikologis dan biologis.</p>



<p>Namun, di titik inilah muncul sebuah ironi.</p>



<p>Di balik semua narasi indah tentang <em>compassion</em>, kita sering menjumpai paradoks yang mengganggu:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em><strong>“Orang-orang yang tampak sangat penuh compassion di ruang publik justru mudah marah, pahit, atau tidak sabar di ruang privat.”</strong></em></p></blockquote>



<p>Fenomena ini muncul pada aktivis sosial, pekerja kemanusiaan, guru, tenaga kesehatan, pemuka agama, terapis, relawan, bahkan orang tua yang berjuang keras demi keluarganya.</p>



<p>Secara publik mereka terlihat heroik, tetapi secara personal mereka rapuh. Ada kelelahan kronis, kepahitan, bahkan kemarahan tersembunyi yang tidak sejalan dengan citra moral yang mereka pegang.</p>



<p>Mengapa bisa demikian?</p>



<p>Fenomena ini mengajak kita untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar:</p>



<p>Apakah <em>compassion</em> benar-benar berawal dari moralitas?</p>



<p>Ataukah <em>compassion</em> justru harus berakar pada kondisi tubuh (<em>bodily state</em>) yang teregulasi, sebelum berkembang menjadi nilai, niat, dan tindakan?</p>



<p>Seyogyanya, <em>compassion</em> terlebih dahulu harus mampu menjalankan fungsinya dalam meregulasi tubuh. Barulah kemudian ia dapat berkembang menjadi tindakan moral yang sehat dan berkelanjutan.</p>



<p><em>Compassion</em> seharusnya berakar pada fisiologi sebelum berkembang menjadi aturan etika.</p>



<p>Sebelum menjadi nilai, niat, dan tindakan, <em>compassion</em> perlu bermula sebagai kondisi sistem saraf yang teregulasi di dalam tubuh.</p>



<p>Ketika <em>compassion</em> terintegrasi di tingkat tubuh, tubuh akan:</p>



<ul><li>Memperoleh rasa aman yang benar-benar dirasakan (<em>felt sense of safety</em>);</li><li>Mengaktivasi sistem saraf parasimpatetis, khususnya sistem ventral vagal, yang pada gilirannya membuat napas lebih lembut, otot lebih rileks, dan ritme jantung lebih stabil;</li><li>Memiliki kapasitas untuk tetap hadir bersama penderitaan—baik penderitaan diri sendiri maupun orang lain—tanpa perlu kolaps atau bereaksi secara agresif.</li></ul>



<p>Dalam kondisi ini, <em>compassion</em> muncul secara alami. Ia tidak dipaksakan. Tubuh pun cukup teregulasi untuk menghadirkan keterbukaan.</p>



<p><em>Compassion</em> yang bersifat moralitas semata tanpa melibatkan regulasi tubuh akan berubah menjadi kewajiban.</p>



<p>Ketika <em>compassion</em> diperlakukan hanya sebagai tindakan moral—sesuatu yang seharusnya dilakukan—ia sering kali berujung pada:</p>



<ul><li>Kepahitan dan kelelahan; serta</li><li>Superioritas moral atau agresi tersembunyi.</li></ul>



<p>Bukan karena <em>compassion</em> itu keliru, melainkan karena ia dipaksakan tanpa integrasi pada level tubuh.</p>



<p>Tubuh yang terdisregulasi namun dipaksa menjalankan compassion secara moral sering kali memunculkan:</p>



<ul><li>Mudah tersinggung;</li><li>Mati rasa secara emosional;</li><li>Inkonsistensi (ramah pada orang asing, keras pada orang terdekat);</li><li>Keterbelahan antara “kebaikan publik” dan “kepahitan privat”.</li></ul>



<p>Dalam situasi seperti ini, <em>compassion</em> sesungguhnya digerakkan oleh tekanan superego, bukan oleh kapasitas yang benar-benar terwujud di dalam tubuh.</p>



<p>Ketika <em>compassion</em> hadir sebagai kondisi tubuh yang teregulasi, kita tidak sedang “memutuskan” untuk berwelas asih. Kita mendapati diri kita merespons dengan kepedulian.</p>



<p>Hal ini menyerupai cara seorang ibu atau pengasuh yang tenang secara alami menenangkan bayi yang menangis—bukan karena pertimbangan moral, melainkan karena sistem sarafnya mampu melakukan regulasi bersama antara pengasuh dan bayi.</p>



<p>Kehadiran hormon oksitosin, aktivitas sistem vagal, dan kemampuan mengamati pengalaman tubuh <em>(meta-awareness)</em> berperan sangat penting di sini.</p>



<p><em>Compassion</em> muncul ketika tubuh:</p>



<ul><li>Merasa berdaya;</li><li>Merasa terhubung; dan</li><li>Tidak sedang kewalahan.</li></ul>



<p>Baru setelah <em>compassion</em> hadir sebagai kondisi tubuh yang teregulasi, ia dapat diekspresikan menjadi tindakan atau etika yang nyata ke luar.</p>



<p>Jika <em>compassion</em> tidak dapat diakses secara internal pada level tubuh, ia tidak akan berkelanjutan secara eksternal.</p>



<p>Orang-orang yang kekurangan <em>self-compassion</em> yang terwujud di dalam tubuh sering kali:</p>



<ul><li>Hanya mengetahui “kata-kata yang benar”, dalam arti mampu mengajarkan atau mengkhotbahkan compassion;</li><li>Namun tetap keras, tidak sabar, atau menghukum diri sendiri dan orang-orang terdekat.</li></ul>



<h3 id="h-penting-untuk-diingat-ini-bukan-kemunafikan-melainkan-keterbatasan-sistem-saraf-ini-bukan-kegagalan-moral"><strong>Penting untuk diingat: ini bukan kemunafikan, melainkan keterbatasan sistem saraf. Ini bukan kegagalan moral.</strong></h3>



<p>Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemikiran kognitif untuk menuju ke <em>compassion</em> jika tubuh belum belajar mengenali rasa aman yang menyertainya.</p>



<p>Ini adalah proses internalisasi nilai.</p>



<p><em>Compassion</em> sebagai moralitas baru dapat hadir ketika ia telah berakar di dalam tubuh.</p>



<p>Tindakan moral yang lahir dari kondisi tubuh yang penuh <em>compassion</em>:</p>



<ul><li>Tidak bersifat reaktif;</li><li>Tidak digerakkan oleh ego; dan</li><li>Lebih selaras dengan realitas.</li></ul>



<p>Dengan demikian, etika dan moralitas seharusnya menunggangi fisiologi tubuh—bukan sebaliknya.</p>



<h3 id="h-bagi-mereka-yang-bekerja-dalam-bidang-pengasuhan-kepemimpinan-spiritual-atau-kerja-kemanusiaan-compassion-tanpa-regulasi-tubuh-berisiko-menciptakan-luka"><strong><strong>Bagi mereka yang bekerja dalam bidang pengasuhan, kepemimpinan spiritual, atau kerja kemanusiaan, <em>compassion</em> tanpa regulasi tubuh berisiko menciptakan luka.</strong></strong></h3>



<p>Karena itu, pelatihan <em>compassion</em> seharusnya mencakup:</p>



<ul><li>Literasi sistem saraf;</li><li>Praktik somatik;</li><li>Pengalaman rasa aman, relaksasi, dan kemampuan regulasi bersama; serta</li><li>Belajar merasakan sebelum belajar bertindak.</li></ul>



<p>Di sinilah <strong><em>power of tracking</em></strong> menjadi sangat penting, yaknibkemampuan untuk mengamati:</p>



<ul><li>Apa yang sedang dipikirkan <em>(thoughts)</em>;</li><li>Apa yang sedang dirasakan <em>(emotions)</em>; dan</li><li>Sensasi tubuh (<em>bodily sensations</em>) yang menyertai keduanya.</li></ul>



<p>Singkatnya, <em>compassion</em> tidak seharusnya dipahami semata sebagai kewajiban moral yang harus dicapai, melainkan juga sebagai kondisi tubuh (<em>bodily state</em>) yang teregulasi. Hanya dari kondisi inilah seseorang mampu tetap terbuka terhadap penderitaan tanpa harus mengeras ataupun berpaling.</p>



<h3 id="h-hanya-ketika-compassion-hidup-terintegrasi-di-dalam-tubuh-ia-dapat-berkembang-menjadi-moralitas-tindakan-dan-tanggung-jawab-tanpa-membakar-orang-yang-membawanya"><strong><strong><strong>Hanya ketika <em>compassion</em> hidup terintegrasi di dalam tubuh, ia dapat berkembang menjadi moralitas, tindakan, dan tanggung jawab—tanpa membakar orang yang membawanya.</strong></strong></strong></h3>



<p>Penulis : <em>Johnson Khuo</em> (Co Founder &#8211; Ayurjnana Wellness and Spirit Center)<br>Tulisan ini pertama kali terbit di <a href="https://kumparan.com/johnson-khuo/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu-26d4ZMJi9Rq" target="_blank" rel="noreferrer noopener">kumparan.com</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/01/27/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu/">Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/01/27/ketika-altruisme-moralitas-dan-sistem-saraf-gagal-bertemu/">Ketika Altruisme, Moralitas, dan Sistem Saraf Gagal Bertemu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menggali Kembali Praktik Penyembuhan dari Muara Jambi </title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/12/05/healing-muara-jambi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Dec 2024 11:10:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[meditasi terima kasih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9619</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Melampaui praktik mindfulness, penyembuhan berbasis welas asih yang berakar dari Muara Jambi di Nusantara makin dilirik oleh dunia dan telah terbukti secara ilmiah. Bangsa Indonesia wajib tahu &#038; melestarikan!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/12/05/healing-muara-jambi/">Menggali Kembali Praktik Penyembuhan dari Muara Jambi </a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/12/05/healing-muara-jambi/">Menggali Kembali Praktik Penyembuhan dari Muara Jambi </a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tingginya tingkat stres di masyarakat modern, terutama di daerah perkotaan, telah memicu banyak penelitian mengenai berbagai metode relaksasi mental. Salah satunya adalah meditasi—terutama <em>mindfulness</em>—yang belakangan ini semakin populer di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Namun, para peneliti dan pakar psikologi dunia baru-baru ini mulai mengarahkan perhatian pada pendekatan yang lebih mendalam, salah satunya berakar dari kearifan kuno Indonesia.&nbsp;</p>



<p><em>Wellness coach</em> Johnson mengupas pendekatan tersebut secara rinci dalam webinar “Meditasi Terima Kasih &#8211; Cara Penyembuhan dari Nusantara” oleh, yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN/Lamrimnesia) pada <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/30/healing-ala-muara-jambi/">24 November</a> dan 1 Desember 2024.</p>



<h2 id="h-meditasi-terima-kasih-penyembuhan-berbasis-welas-asih"><strong>Meditasi Terima Kasih: Penyembuhan Berbasis Welas Asih</strong></h2>



<p class="has-text-align-center"><img loading="lazy" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcdq0lCPcyOTMfgknJY5PI9Uwnjb3TEaDaaadrx5e4XIvq52hihBO59yIb73_TvBHoqvnAcdCFRC1QAN9VhqnBpLBDcnkAg7-S7YoP1ljKuRxzBf8nuRFTDJiXKGG0TLoXN04HUKg?key=dN8v2LRM4GOt20TAjW6YS1pH" width="602" height="327"><br><em>Mindfulness</em> adalah metode untuk mencapai kondisi tenang agar batin bisa diarahkan untuk mengembangkan pola pikir tertentu. (Sumber: Dokumentasi Lamrimnesia)</p>



<p>“<em>Mindfulness</em> itu keterampilan dasar. Setelah tercapai, <em>mindfulness </em>ini mau dibawa ke mana? Sudah tahu apa masalah dalam diri kita… <em>What’s next</em>? Kita ubah dengan <em>Lojong,</em>” ungkap Johnson dalam webinar tersebut.</p>



<p>Meditasi Terima Kasih adalah bagian dari Latihan Batin (B. Tibet: <em>Lojong</em>) yang diajarkan oleh Guru Suwarnadwipa Dharmakirti, seorang pangeran dari wangsa Shailendra yang kemudian menjadi biksu dan mengajar<em> </em>di Biara Universitas Muara Jambi pada abad XI. Lojong merupakan latihan untuk mentransformasi batin, mengubah pola pikir yang mementingkan diri sendiri menjadi pola pikir altruistik yang lebih mengutamakan kebahagiaan orang lain.</p>



<p>Di Nusantara, jejak Meditasi Terima Kasih dan <em>Lojong </em>sangatlah minim. Namun, kita bisa menemukannya kembali berkat murid Guru Suwarnadwipa, pandit besar alumni Biara Universitas Nalanda bernama Guru Atisha Dipamkara Srijanana, yang membawa ajaran ini ke India dan Tibet. <em>Lojong </em>berkembang di Tibet dan menyebar ke seluruh dunia seiring dengan penyebaran Buddhisme Tibet di dunia Barat sejak tahun 1959 sampai sekarang.</p>



<p>“Renungkan seberapa besar <em>impact </em>Guru Suwarnadwipa. Beliau mengajar kepada Guru Atisha sampai jadi populer. <em>Such a powerful impact </em>dari Guru Suwarnadwipa, dari Indonesia,” kata Johnson.</p>



<h2><strong>Pendekatan Baru dalam Kesehatan Mental</strong></h2>



<p>Di Barat, mulai ada pergeseran dari praktik berbasis <em>mindfulness </em>yang berfokus pada kondisi pribadi (INTRA-personal) menuju ke praktik berbasis welas asih yang juga melibatkan hubungan antarindividu dan bahkan dengan dunia (INTER-personal). Secara umum, cinta kasih dan welas asih terbukti berdampak positif terhadap kesehatan fisik dan mental, bahkan sampai menurunkan tingkat kematian sebesar 44%. Praktik kebaikan hati memicu produksi hormon serotonin yang memberikan rasa tenang dan bahagia (Berger, Gray, Roth, 2009). Aktivitas kerelawanan memiliki korelasi positif dengan kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan (Musick MA &amp; Wilson J., 2003).</p>



<p>Namun, kerelaan untuk berkorban waktu, tenaga, ataupun materi tidak dapat muncul serta merta. Sebagai metode yang terbukti ampuh menghancurkan ego dan mengembangkan batin altruistik yang penuh welas asih, <em>Lojong</em> beserta Meditasi Terima Kasih pun dipilih sebagai basis bagi Compassion Cultivation Training, program pengembangan diri berbasis welas asih yang dikembangkan di Universitas Stanford, Amerika Serikat.</p>



<p>“Zaman dulu saat ajaran ini benar-benar dipraktikkan, <em>everything’s fine. </em>Sekarang, 1000 tahun kemudian, banyak masalah, depresi, dan seterusnya. Orang-orang mulai kembali mencari kearifan kuno ini,” tukas Johnson.</p>



<h2><strong><em>Reframing </em></strong><strong>Pikiran: Mengubah Cara Pandang terhadap Dunia</strong></h2>



<p>Dalam bahasa ilmiah, yang dilakukan dalam praktik Lojong disebut dengan istilah “<em>reframing</em>”, suatu teknik psikologis yang terdiri atas mengidentifikasi, dan mengubah cara pandang terhadap suatu masalah.</p>



<p>Dampak <em>reframing</em> ini telah diuji dalam berbagai studi. Berdasarkan hasil pemindaian aktivitas otak yang berkaitan dengan emosi (amigdala, <em>anterior insular cortex</em>), respon emosional seseorang terhadap situasi yang memicu stres ternyata dapat diubah dengan secara sengaja menginterpretasikan ulang situasi tersebut dengan cara yang lebih positif.</p>



<p class="has-text-align-center"><img loading="lazy" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeCw5Oguh49ZYkizKn4yqt4DPdHgJELKZhiUmamhE5zoXx7pIDLtx-LSZosfXsbrejYkR_bYxpJ9rKep_SSRBOD20XPdj1qnlsjfhX7u30v0_DincodgK3B-yHwGsN6q1jxNhEelg?key=dN8v2LRM4GOt20TAjW6YS1pH" width="602" height="313"><br><em>Reframing </em>pola pikir melalui <em>Lojong </em>dapat membantu mengurangi gangguan kecemasan</p>



<p>Praktik Meditasi Terima Kasih, secara khusus, berarti &#8220;menerima&#8221; penderitaan orang lain dan &#8220;memberikan&#8221; kebahagiaan kepada mereka dengan setiap tarikan napas. Namun, pertama-tama, praktisi dianjurkan untuk berlatih dengan diri sendiri sebagai objek: terima penderitaan yang dialami apa adanya dan berikan harapan pada diri sendiri mengingat semua hal di dunia ini tidaklah kekal, termasuk penderitaan tersebut. Praktik ini me-<em>reframe</em> cara batin melihat masalah, dari sesuatu yang negatif menjadi positif.</p>



<p class="has-text-align-center"><img loading="lazy" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeeG-95PWS_AVsPdKR16sWl5WVNxpv5Ih3_FL2oMO-QWsYnm-xr2g8r7yE_2OdHBlTtqJpFcraBtyx2ucGsNslqFZQ3_GyjKOGW_jMQSbvo61ZPEfJ1aXna_1yLzvR0Ux0CDDryAg?key=dN8v2LRM4GOt20TAjW6YS1pH" width="602" height="317"><br>Langkah Meditasi Terima Kasih kepada diri sendiri (Sumber: Dokumentasi Lamrimnesia)</p>



<p>“Di teks dikatakan bahwa bila kita langsung memulai <em>Tonglen </em>kepada orang yang kita benci, itu tidak akan berhasil. Kita harus mulai dengan diri kita sendiri,” tutur Johnson.</p>



<h2><strong>Welas Asih dalam Jati Diri Bangsa</strong></h2>



<p>Dalam <em>Lojong</em>, praktisi juga dilatih untuk melihat semua makhluk sebagai setara, tanpa memandang latar belakang pribadi, lalu menumbuhkan cinta kasih dan welas asih terhadap semua orang, yang pada gilirannya memperkuat rasa keterhubungan dan kesejahteraan bersama.</p>



<p class="has-text-align-center"><img loading="lazy" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeBly-sxjhXgiOXPxPOjISDAOVqtQ42LJdIfdoG4A7ovcuDJS3KstPQ1mqRQrQa8WHIYEevrDbtjaTKj-7ipfvb2JqSE6jvU_F1cnwwDGP-Y-_VwLwnc1d1efNifyfIEQobTk53?key=dN8v2LRM4GOt20TAjW6YS1pH" width="602" height="313"><br>Satu dari dua jurus melatih altruisme sejati dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti terdiri atas 7 tahap yang saling terhubung (Sumber: Dokumentasi Lamrimnesia)</p>



<p class="has-text-align-center"><img loading="lazy" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfjv5QXyZNby_0VSXNNec97UbuAafziYre3WfgxCIujOHF420BkY4XhwWJ0-muWux4WqmBi4aBFRfOXmzsG6KYYnvqI6CDUi7CSAMBDcs-9uUOJz35JZIYWGcNmRYFpN1vSNTv0?key=dN8v2LRM4GOt20TAjW6YS1pH" width="602" height="316"><br>Kiat saling mengasihi dalam satu kemanusiaan yang bisa dicapai dengan latihan tersebut (Sumber: Dokumentasi Lamrimnesia)</p>



<p>Mengingat latihan ini pernah menjadi ajaran khas di Muara Jambi abad XI yang kala itu menjadi pusat pendidikan Buddhis dunia, kita kini bisa tahu bahwa leluhur kita melakukan latihan yang sama dan menjunjung nilai yang sama. Tidaklah sulit membayangkan bahwa ungkapan &#8220;terima kasih&#8221; dan nilai-nilai yang identik dengan karakter bangsa seperti ramah-tamah, gotong-royong, dan toleransi terhadap perbedaan merupakan hasil dari latihan batin yang dilakukan oleh nenek moyang, diwariskan kepada anak-cucu, hingga tertanam dalam jati diri bangsa Indonesia.</p>



<h2><strong>Tentang YPPLN (Lamrimnesia)</strong></h2>



<p>Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN/Lamrimnesia), adalah lembaga nirlaba yang didedikasikan untuk melestarikan dan mengembangkan kearifan Nusantara warisan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti.</p>



<p>Kegiatan Lamrimnesia berikutnya adalah Indonesia Lamrim Retreat 2024, acara penyunyian dan pengembangan diri tempat semua orang bisa mencoba pengalaman <em>slow living</em> ala Sriwijaya untuk melepas stres dan membuat hidup lebih berarti. Acara ini akan diselenggarkaan pada 22 Desember 2024–1 Desember 2025 di Prasadha Jinarakkhita, Jl. Kembangan Raya Blok JJ, Kembangan Selatan, Jakarta Barat.</p>



<p>Untuk informasi lebih lanjut mengenai webinar dan lokakarya yang akan datang, ikuti <a href="http://instagram.com/lamrimnesia">media sosial Lamrimnesia</a> atau hubungi Lamrimnesia Care (+6285211220141).</p>



<h2><strong>Narahubung:</strong></h2>



<p>Lamrimnesia Care: +6285211220141&nbsp;<br>Facebook: Lamrimnesia<br>Instagram: Lamrimnesia<br>Tiktok: @lamrimnesia_<br>Email: <a href="mailto:info@lamrimnesia.org">info@lamrimnesia.org<br></a>Situs Web:<a href="http://www.lamrimnesia.org/"> www.lamrimnesia.org</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/12/05/healing-muara-jambi/">Menggali Kembali Praktik Penyembuhan dari Muara Jambi </a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/12/05/healing-muara-jambi/">Menggali Kembali Praktik Penyembuhan dari Muara Jambi </a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dulu Diajarkan Leluhur, Kini Diakui Dunia: Healing ala Muara Jambi</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/11/30/healing-ala-muara-jambi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Nov 2024 05:56:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Suwarandwipa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9603</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Peradaban kuno Nusantara di Muara Jambi menyimpan ilmu rahasia untuk memperkuat kesehatan mental yang baru ditemukan oleh ilmuwan modern belakangan ini.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/30/healing-ala-muara-jambi/">Dulu Diajarkan Leluhur, Kini Diakui Dunia: Healing ala Muara Jambi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/30/healing-ala-muara-jambi/">Dulu Diajarkan Leluhur, Kini Diakui Dunia: Healing ala Muara Jambi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Peradaban kuno Nusantara di Muara Jambi ternyata menyimpan ilmu rahasia untuk memperkuat kesehatan mental yang baru ditemukan oleh ilmuwan modern belakangan ini. Temuan ini dipaparkan secara rinci oleh <em>wellness coach</em> Johnson kepada 70+ hadirin dari beragam latar belakang dalam webinar &#8220;Meditasi &#8216;Terima Kasih&#8217; &#8211; Cara <em>Healing </em>Leluhur Nusantara&#8221; yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN/Lamrimnesia). Webinar ini sendiri merupakan bagian dari Lamrimnesia Talk, program dari Lamrimnesia yang mengulas solusi permasalahan sehari-hari berdasarkan <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/">kearifan Nusantara warisan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Sriwijaya</a>.</p>



<p>Johnson membuka sesi dengan mengulas sejarah, etimologi, dan posisi Meditasi Terima Kasih dalam filsafat Timur. Meski mendunia dengan istilah bahasa Tibet, yaitu &#8220;<em>Tonglen</em>&#8220;, praktik ini sesungguhnya memiliki akar di bumi Nusantara melalui pangeran dan biksu Buddhis asli Sriwijaya yang dikenal dengan nama Guru Suwarnadwipa (B. Tibet: Serlingpa) Dharmakirti yang hidup pada abad XI.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXde1uF4eG4h--bpuxOcmTGlDs841fOjoYa76P_MwcpSyUQTw113cw9xWXVUDxatFd-XK1cjBPGwpX99phtvT-nzQUrkMF4dBLSBH_DYKWuC0rvJMnyYOyj1--mPlW4CBZ-K7w8txA?key=wpeBqcRB8hyLRQUj6DaLzyDh" alt=""/><figcaption><em>Guru Suwarnadwipa Dharmakirti, keturunan wangsa Shailendra yang menjadi biksu dan guru agung, diyakini mengajar di kompleks Muara Jambi pada abad XI</em><br><em>Sumber: dokumentasi pribadi&nbsp;</em></figcaption></figure></div>


<p>Sumber-sumber India dan Tibet mencatat perjalanan pandit lulusan biara universitas Nalanda bernama Atisha Dipamkara Srijnana ke &#8220;Pulau Emas&#8221;–julukan untuk Pulau Sumatra–untuk mencari guru yang bisa mengajarkan serangkaian praktik rahasia dalam ajaran Buddha yang kini dikenal dengan istilah &#8220;<em>Lojong</em>&#8221; (Latihan Batin). Meditasi Terima Kasih sendiri merupakan instruksi khusus bagian dari rangkaian praktik tersebut.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXf73zINkt2GnqNimML8_cNEAnPqQJln9BeuKzYJPT_LgB3ERogpwtTfSX5d2peKoVhJpSgkV2L8vlAHFmPTkcV22wh8O_lpcVWjEM0WO8Ouiu2gBLShwVwpZUmAslws1eH3z2jkRw?key=wpeBqcRB8hyLRQUj6DaLzyDh" alt=""/><figcaption><em>Guru-Guru pendahulu Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dan kitab serta kutipan yang menjadi sumber praktik </em>Lojong<em>; Kitab Jataka dan Sutra Awatamsaka Sutra terukir di relief Candi Borobudur</em><br><em>Sumber: dokumentasi pribadi</em></figcaption></figure></div>


<p>Belakangan, praktik <em>Lojong</em> beserta Meditasi Terima Kasih ini dibawa oleh Guru Atisha ke negeri Tibet dan menjadi populer di sana, lantas dilestarikan sampai hari ini dan menyebar luas sampai ke dunia barat bersamaan dengan persebaran Tibet ke seluruh penjuru dunia yang dimulai pada tahun 1959 hingga sekarang. Tak terhitung pula banyaknya pengikut tradisi Guru Atisha di masa kini yang berziarah ke Muara Jambi karena meyakini di situlah tempat Guru Atisha berguru di kaki Guru Suwarnadwipa selama kurang lebih 12 tahun lamanya.</p>



<p>“Renungkan seberapa besar <em>impact </em>Guru Suwarnadwipa. Beliau mengajar kepada Guru Atisha sampai jadi populer. <em>Such a powerful impact </em>dari Guru Suwarnadwipa, dari Indonesia,” kata Johnson.</p>



<h2 id="h-apa-yang-dilatih-dalam-latihan-batin"><strong>Apa yang dilatih dalam &#8220;Latihan Batin&#8221;?</strong></h2>



<p>Lojong secara keseluruhan yang diajarkan oleh Guru Suwarnadwipa Dharmakirti di Muara Jambi bertujuan untuk mewujudkan altruisme tertinggi dalam batin seseorang. Meditasi Terima Kasih, misalnya, merupakan latihan untuk “menerima” penderitaan makhluk lain dan “memberikan (kasih)” kebahagiaan kepada makhluk lain yang dilakukan dengan setiap tarikan napas. Latihan ini secara langsung menyerang ego sehingga mengubah kondisi batin, dari yang tadinya mementingkan diri sendiri jadi mementingkan orang lain. Dasarnya adalah pemahaman bahwa setiap kebahagiaan yang dimiliki seseorang sesungguhnya berasal dari tercapainya kebahagiaan makhluk lain.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kita kenal istilah ‘<em>manunggaling kawula gusti</em>’,” terang Johnson, “Nah, <em>kawula </em>ini diserang untuk memunculkan <em>gusti.</em>”</p></blockquote>



<p>Johnson secara khusus menggarisbawahi kemungkinan bahwa pandangan inilah yang diajarkan di Muara Jambi selaku salah satu kompleks pendidikan Buddhis terpenting di dunia dan diterapkan oleh leluhur Nusantara pada masa tersebut. Ungkapan &#8220;terima kasih&#8221; dan nilai-nilai yang identik dengan karakter bangsa seperti ramah-tamah, gotong-royong, dan toleransi terhadap perbedaan merupakan hasil dari latihan batin yang dilakukan oleh nenek moyang, diwariskan kepada anak-cucu, hingga tertanam dalam jati diri bangsa Indonesia.</p>



<h2><strong>Ajaran Rahasia yang Terbukti Secara Ilmiah</strong></h2>



<p>Sepintas, Latihan Batin atau <em>Lojong</em> ini terkesan bertolak belakang dengan logika umum yang mendorong individu untuk memprioritaskan kebahagiaan pribadi. Itu jugalah alasan mengapa pada periode Guru Suwarnadwipa mengajar, ajaran ini digolongkan sebagai instruksi rahasia yang diberikan oleh guru kepada murid-murid terpilih. Akibatnya, peninggalan tertulis yang membahas <em>Lojong</em> sangat terbatas dan guru yang dapat mengajarkannya juga teramat langka. Bahkan, pada periode Guru Suwarnadwipa mengajar di Muara Jambi, Beliau merupakan satu-satunya guru di seluruh dunia yang mewarisi dan menguasai <em>Lojong</em> secara lengkap.</p>



<p><em>Lojong</em> baru diajarkan secara luas pada sekitar abad XII, dipelopori oleh cendekiawan Tibet bernama Geshe Chekawa. Sejak saat itu, kitab-kitab yang mengulas <em>Lojong</em> secara rinci mulai disusun dan banyak kitab tersebut mencantumkan nama Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Sumatra dalam kalimat penghormatan maupun kolofon kitab. Dari semua kitab tersebut, salah satunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh tim penerjemah Lamrimnesia dan dapat diakses masyarakat umum, yaitu karya Namkha Pel yang berjudul &#8220;<a href="https://www.youtube.com/watch?v=zvJyH5QQGrs&amp;pp=ygUjbGF0aWhhbiBiYXRpbiBsYWtzYW5hIHNpbmFyIG1lbnRhcmk%3D">Latihan Batin Laksana Sinar Mentari</a>&#8221; dari abad XV.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeBSRdvxSr8KcT9JV2PIt9gYpS5JxQXTUDSUWfWH6yeG_2Kykt4g2-g6l9iBb3WfXcR5QyQxLVHIG11WkyNFIP_BowUr6_djlWBVuX8HIRtlnBaSXIbYQWHD9vFP095jo5i8nSvbQ?key=wpeBqcRB8hyLRQUj6DaLzyDh" alt=""/><figcaption><em>Guru-Guru penerus Guru Suwarnadwipa Dharmakirti</em><br><em>Sumber: dokumentasi pribadi</em></figcaption></figure></div>


<p>Johnson kemudian memaparkan beberapa hasil-hasil penelitian yang membuktikan bagaimana altruisme dapat mendukung kesejahteraan fisik dan mental. Salah satunya adalah temuan bahwa orang-orang yang aktif di bidan kerelawanan terbukti lebih sehat dan bahagia. Orang-orang yang suka berderma juga terbukti memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dan tingkat depresi yang lebih rendah. Praktik kontemplatif seperti <em>Lojong</em>, termasuk Meditasi Terima Kasih, juga baru-baru ini terbukti bermanfaat untuk memberikan rasa aman secara fisik, sosial, dan psikologis serta meningkatkan kebugaran tubuh (<a href="https://psycnet.apa.org/fulltext/2024-37963-001.html">American Psychological Association, 2023</a>).</p>



<p>“Praktik kontemplatif sekarang ini dilirik oleh para psikolog modern karena ini bisa men-<em>trigger parasympathetic nerves kita</em> untuk bekerja, untuk mengambil alih tubuh<em> </em>sehingga kita bisa masuk ke kondisi <em>deep rest</em>, sehingga metabolisme kita bisa bekerja dengan baik,” papar Johnson.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeQTmGLQ7uGdRW6K63-NDfc-uL9IeeKTGKPbYyRdIFYLr3oltFQ8n9e6hw9Ajessh8vx2DCfbz9-VdgfIQUvGohtcK1PKN5DDaRFLoV1HFycbDBwmq074pmmBxDzTB9Xlb5MiCngg?key=wpeBqcRB8hyLRQUj6DaLzyDh" alt=""/><figcaption><em>Cara kerja praktik kontemplatif, termasuk meditasi, untuk meningkatkan kesehatan fisik &amp; mental</em><br><em>Sumber: dokumentasi pribadi</em></figcaption></figure></div>


<p>Jadi, dalam jangka pendek, Meditasi Terima Kasih bermanfaat untuk menyembuhkan tubuh dan pikiran, sementara dalam jangka panjang, praktik ini dapat menumbuhkan sifat-sifat positif yang melandasi kebahagiaan dan keharmonisan di masyarakat. Sehebat itulah cara <em>healing</em> warisan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti yang berasal dari Nusantara.</p>



<p>Lamrimnesia Talk <em>Online</em> “Meditasi Terima Kasih &#8211; Cara <em>Healing</em> Leluhur Nusantara” sesi kedua akan diadakan pada 1 Desember 2024 pukul 19.30. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan bisa diikuti dengan mendaftarkan diri ke <a href="http://bit.ly/MeditasiTerimaKasih">tautan ini</a>. Informasi lebih lanjut: Lamrimnesia Event &#8211; +6285260544069</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/30/healing-ala-muara-jambi/">Dulu Diajarkan Leluhur, Kini Diakui Dunia: Healing ala Muara Jambi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/30/healing-ala-muara-jambi/">Dulu Diajarkan Leluhur, Kini Diakui Dunia: Healing ala Muara Jambi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Dharma Lewat OST Wicked</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/11/28/belajar-dharma-lewat-ost-wicked/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Nov 2024 10:23:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9614</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Belajar Dharma tidak hanya melalui pengajaran dan membaca buku, kita dapat mempelajari Dharma lewat lirik lagu di film Wicked.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/28/belajar-dharma-lewat-ost-wicked/">Belajar Dharma Lewat OST Wicked</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/28/belajar-dharma-lewat-ost-wicked/">Belajar Dharma Lewat OST Wicked</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em style="font-weight: bold;"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">What is this feeling</mark></strong></em><em><strong> </strong>so sudden and new</em><br><em>I felt the moment I laid eyes on you</em><br><em>My pulse is rushing, my head is reeling</em><br><em>My face is flushing, oh, what is this feeling?</em><br><em>Fervid as a flame, <strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">does it have a name?</mark></strong></em></p>



<p>Pernahkah kita berusaha mengenal diri kita &amp; emosi-emosi yang muncul di batin kita sampai sedetail ini? Padahal udah diajarin lho sama Buddha, termasuk mana yang perlu dikembangin, mana yang perlu dilawan, lengkap dengan penawar-penawarnya.</p>



<p>Ketika kita nggak kenal diri kita dan emosi apa yang muncul di batin kita, kita bakal bikin diri kita dan banyak orang menderita. Sebaliknya, kalau kita udah mengenal diri dan bisa mengendalikan batin, kita bisa memberi manfaat ke banyak orang. Sama kayak Elphaba yang bikin kerusakan kalau ngamuk, tapi jadi sakti ketika udah bisa menerima dan mengendalikan diri!</p>



<p>Baca juga: <a href="https://play.google.com/store/books/details/Citta_Cetasika_Mengenal_Batin_dari_Kacamata_Buddhi?id=3-ejEAAAQBAJ&amp;gl=US">Citta &amp; Cetasika</a> dan <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/healing-emotions/">Healing Emotions</a>.</p>



<p></p>



<p><em>One short day,</em><strong><em> </em></strong><em>this</em><strong><em> <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">precious human rebirth</mark></em></strong><br><em>One short day full of so much to do</em><br><em>Every way that you look in the city</em><br><em>There’s something exquisite</em><br><em>you’ll want to visit</em><br><em>Before<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color"> </mark></em><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color"><em>your life’s</em></mark></strong><em> through</em></p>



<p>Kelahiran kita sebagai manusia yang sangat berharga ini seperti satu hari yang singkat di Emerald City. Banyak banget yang menarik untuk dilakukan, tapi waktu kita terbatas karena kematian bisa datang kapan aja. Pastinya kita nggak mau dong pergi sebelum melakukan sesuatu yang berarti?</p>



<p>Seperti Elphaba &amp; Glinda yang datang ke Emerald City dengan tekad untuk mewujudkan cita-cita mereka, kita juga harus manfaatin kelahiran kita sebagai manusia sebaik-baiknya untuk mewujudkan cita-cita penerangan sempurna!</p>



<p>Baca juga: <a href="https://play.google.com/store/books/details?id=Us38DwAAQBAJ">Kemuliaan Kelahiran sebagai Manusia</a>, <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/ini-yang-harus-kuperbuat/">Ini yang Harus Kuperbuat</a>, dan <a href="https://play.google.com/store/books/details?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari</a>.</p>



<p></p>



<p>&#8220;<em>Something has changed within me</em><br><em>Something is not the same</em><br><em>I’m through with playing by the</em><br><strong><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">rules of cyclic existence</mark></em></strong><br><em>Too late for second guessing,</em><br><em>too late to go back to sleep</em><br><em>It’s time to </em><strong><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">trust Triratna</mark></em></strong><em>,</em><br><em>close my eyes, and leap</em><br><em>It’s time to try </em><strong><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">defying samsara!</mark></em></strong></p>



<p>Kita ini jauh lebih beruntung dari Elphaba. Tak perlu bisa sihir dan ketemu Wizard untuk tahu samsara ini “jahat”. Kita juga punya guru yang baik, tulus mikirin kebahagiaan kita, dan sudah duluan menunjukkan penderitaan di balik “baiknya” kenikmatan sesaat.</p>



<p>Elphaba aja bisa ninggalin kesempatan untuk berkuasa dan dipuja-puja demi kebahagiaan kaum yang tertindas. Buddha, Guru kita, sudah melakukannya teladan ini berulang kali, sejak ribuan tahun yang lalu. Kapan kita mulai ikutin teladan Beliau dengan serius berjuang demi kebahagiaan semua makhluk?</p>



<p>Baca juga: <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/12-aktivitas-agung-sang-begawan/">12 Aktivitas Agung Sang Begawan</a>, <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lakon-hidup-sang-penerang/">Lakon Hidup Sang Penerang</a>, dan <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/janji-setia-bodhisatwa/">Janji Setia Bodhisatwa</a>.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/28/belajar-dharma-lewat-ost-wicked/">Belajar Dharma Lewat OST Wicked</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/28/belajar-dharma-lewat-ost-wicked/">Belajar Dharma Lewat OST Wicked</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mungkinkah Kebajikan Berlipat Ganda?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/11/22/mungkinkah-kebajikan-berlipat-ganda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Nov 2024 07:57:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9570</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Mengupas faktor-faktor penyebab karma bajik dan karma tak bajik  menjadi berlipat ganda hingga 10 juta kali.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/22/mungkinkah-kebajikan-berlipat-ganda/">Mungkinkah Kebajikan Berlipat Ganda?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/22/mungkinkah-kebajikan-berlipat-ganda/">Mungkinkah Kebajikan Berlipat Ganda?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><strong>Jawabannya</strong> M<strong>UNGKIN</strong></p>



<p>Ada banyak faktor yang menyebabkan karma bajik dan karma tak bajik menjadi berlipat ganda.</p>



<h2 id="h-apa-aja-faktornya">Apa aja faktornya?</h2>



<p>1. Sifat Umum Karma</p>



<p>Salah satu dari 4 sifat umum karma adalah karma berkembang pesat. Tindakan seremeh apa pun bisa berkembang menjadi himpunan karma yang besar. Konsepnya sama seperti menanam benih pohon apel. Benih yang sangat kecil akan bertumbuh menjadi pohon dan menghasilkan buah yang sangat banyak. Begitu juga dengan karma!</p>



<p>2. Penerima</p>



<p>Karma yang ditujukan pada Triratna, para Bodhisatwa, dan anggota Sangha memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan kalau ditujukan untuk penerima lain.</p>



<p>3. Pendukung</p>



<p>Semakin banyak sila yang dijaga, semakin besar kekuatan karma yang dilakukan. Semakin besar pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimiliki, semakin ringan kesalahan yang dilakukan. Begitu juga sebaliknya.</p>



<p>4. Objek</p>



<p>Pemberian Dharma atau ajaran jauh lebih unggul daripada pemberian materi. Pemberian materi yang tertinggi adalah pemberian badan jasmani.</p>



<p>5. Sikap</p>



<p>Ada 2 aspek: intensitas &amp; durasi. Semakin kuat pemikiran di balik sebuah tindakan, baik itu motivasi ataupun faktor mental pengganggu, karmanya akan semakin kuat. Semakin sering &amp; semakin lama suatu tindakan dilakukan, dampaknya juga semakin besar.</p>



<p>6. Waktu</p>



<p>Ada 4 hari di mana Sang Buddha menunjukan kekuatan luar biasa demi kepentingan semua makhluk. Pada hari-hari tersebut, baik kebajikan maupun ketidakbajikan akan berlipat ganda sebanyak 10 juta kali.</p>



<p>Yang terdekat saat ini adalah <a href="https://lamrimnesia.org/2023/11/28/balas-jasa-terindah-untuk-ibu-paling-beruntung/">Lhabab Duchen</a> (tahun ini: 22 November 2024), hari di mana Sang Buddha kembali dari mengajarkan Dharma kepada ibunya &amp; para dewa di Surga Trāyastriṃśa.</p>



<p>Kita bisa mengikuti teladan Buddha untuk melakukan sesuatu untuk orang tersayang dengan menghimpun kebajikan berlipat ganda di hari ini dan melimpahkan jasanya untuk mereka, misalnya dengan chanting Sutra/Mantra, praktik berdana, dan menolong orang yang membutuhkan bantuan. Lakukan dengan motivasi bajik untuk meraih kebahagiaan yang tahan lama bagi diri sendiri dan semua makhluk.</p>



<p>Referensi:</p>



<p> <a href="https://play.google.com/store/books/details?id=OZiWDwAAQBAJ">“Karma dan Akibatnya”</a> karya Guru Dagpo Rinpoche.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/22/mungkinkah-kebajikan-berlipat-ganda/">Mungkinkah Kebajikan Berlipat Ganda?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/22/mungkinkah-kebajikan-berlipat-ganda/">Mungkinkah Kebajikan Berlipat Ganda?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pesan Umat Buddha untuk Menteri Budaya</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/11/08/pesan-umat-buddha-untuk-menteri-budaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Nov 2024 07:41:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah Buddhis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9545</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dengan adanya menteri budaya, ada banyak yang bisa kita perbaik terkait perawatan warisan budaya Buddhis yang selama ini terbengkalai.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/08/pesan-umat-buddha-untuk-menteri-budaya/">Pesan Umat Buddha untuk Menteri Budaya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/08/pesan-umat-buddha-untuk-menteri-budaya/">Pesan Umat Buddha untuk Menteri Budaya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<h2 id="h-ada-yang-baru-di-kabinet-merah-putih">Ada yang baru di Kabinet Merah Putih!</h2>



<p>Setelah sekian lama disatukan dalam Kemendikbudristek, akhiran Indonesia punya kementerian khusus untuk urusan kebudayaan. Pemekaran kementerian ini tentu menuai pro dan kontra yang perlu dinilai dengan kritis, tapi berhubung Indonesia sangat kaya akan warisan budaya yang sangat beragam, kita tentu berharap setiap aspek kebudayaan Nusantara bisa mendapatkan perhatian lebih dengan adanya kementerian khusus.</p>



<p>Apa urusannya dengan umat Buddha?</p>



<h2>Peradaban Buddhis Nusantara meninggalkan banyak sekali warisan budaya</h2>



<p>Ada banyak sekali situs percandian Buddhis yang menyimpan banyak cerita. Museum di berbagai kota pun menyimpan banyak sekali prasasti dan arca. Itu pun baru sebagian, belum termasuk lebih banyak warisan yang tersebar di mancanegara. Namun, pemahaman maupun manfaat yang bisa didapatkan bangsa ini dari peninggalan tersebut hanyalah seujung jari dibanding potensi yang ada!</p>



<p>Penulis bukan ahli sejarah atau arkeologi, tapi penulis yakin ada langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk menarik potensi penuh dari warisan budaya Buddhis sebagaimana yang diharapkan leluhur kita!</p>



<p>Ini beberapa usulan yang bisa dilakukan:</p>



<h2><em>Update </em>Pengetahuan</h2>



<p>Salah satu koleksi populer Museum Nasional Indonesia ini hingga kini dilabeli sebagai “Bhairava Buddha” dan dikaitkan dengan praktik ritualistik yang mengerikan. Namun, sesungguhnya sudah ada penelitian yang lebih baru dengan rujukan yang lebih luas.</p>



<p>Andrea Acri dan Aleksandra Wenta  dalam <em>“A Buddhist Bhairava? Krtanagara’s Tantric Buddhism in Transregional Perspective”</em> (2022) menunjukkan bahwa arca yang didirikan atas perintah Raja Kertanegara dari Singosari ini sebenarnya menggambarkan sosok Mahakala dalam panteon Buddhis. Sang Raja juga tercatat merupakan sosok yang “tidak lalai, jauh dari mabuk-mabukan, bersemangat menjalankan kebijakan, dan mempraktikkan ajaran Buddha demi kesejahteraan negara”.</p>



<p>Kasus Bhairava Buddha ini hanya satu contoh kecil dari sekian banyak kasus-kasus serupa. Contoh lainnya adalah konsep Tridhatu Candi Borobudur yang masih terpampang di situs pengelola, Kemendikbud, dan tampak di rancangan Museum Nasional yang sedang dikerjakan meski telah ramai disangkal oleh tokoh Buddhis maupun peneliti umum.</p>



<p>Ilmu pengetahuan selalu berkembang, begitu juga temuan mengenai warisan Buddhis di Nusantara. Alangkah baiknya jika ada dukungan untuk mempelajari kembali warisan-warisan ini dan memperbarui informasi yang disampaikan ke masyarakat. Kan malu ya kalau kita ketinggalan info soal warisan bangsa sendiri?</p>



<h2><em>Upgrade </em>Perawatan dan Penataan</h2>



<p>Sedih sekali melihat arca-arca warisan leluhur digeletakkan begitu saja di sembarang pojokan museum.&nbsp;Arca para Buddha dan Bodhisatwa dibuat oleh leluhur kita, diukir dengan keterampilan, keyakinan, rasa bakti, dan harapan agar anak-cucunya terinspirasi untuk mengembangkan welas asih dan kebijaksanaan ketika melihatnya. Bayangkan betapa sedihnya mereka jika tahu bahwa warisan yang mereka tinggalkan disia-siakan begitu saja?</p>



<p>Selain perawatan, penataan arca-arca ini juga seharusnya bisa dikelompokkan dan disusun berdasarkan konteks asal-usulnya sehingga memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai makna yang terkandung di dalamnya. Kita akan bisa belajar lebih banyak tentang betapa hebatnya leluhur kita dan pesan apa yang mereka titipkan lewat warisan ini.</p>



<p>Merawat warisan budaya fisik, baik arca, candi, ataupun kitab-kitab kuno, merupakan bentuk praktik Dharma bagi umat Buddha sekaligus upaya melindungi dan menghormati sejarah bangsa bagi masyarakat yang lebih luas. Alangkah baiknya jika warisan-warisan ini diperlakukan sebagaimana mestinya: candi sebagai tempat ibadah, arca dirawat dan ditempatkan dengan layak. Jangan pakai indikator pariwisata saja!</p>



<h2><strong><em>Upgrade Pendekatan</em></strong></h2>



<p>Semua bisa merasakan bahwa penelitian maupun publikasi arus utama seputar peninggalan peradaban Buddhis cenderung berfokus pada barang fisik. Kita bisa dengan mudah menemukan informasi tentang umur, bahan, dan gaya seni atau arsitektur suatu candi atau arca Buddhis, tapi hampir tidak ada penjelasan mengenai nilai yang dilambangkan olehnya.</p>



<p>Padahal, barang atau bangunan fisik dibuat semata-mata untuk menyampaikan sebuah pesan. Di balik setiap benda, terdapat warisan budaya tak benda berupa cara leluhur kita memandang kehidupan dan nilai-nilai apa yang mereka junjung. Di situlah pelajaran sesungguhnya terkandung!</p>



<p>Khususnya dalam hal warisan Buddhis, suatu candi atau arca umumnya berkaitan dengan sosok Buddha atau Bodhisatwa yang setiap ornamennya melambangkan kualitas tertentu.&nbsp; Sebagai Buddhis, kita tahu bahwa “pemujaan” bukan sekadar meminta-minta, tapi juga pernyataan tekad untuk mencapai kualitas yang digambarkan dengan medium arca, relief, atau bangunan candi.&nbsp;</p>



<p>Pendiri Candi Sewu ingin rakyat meraih kebijaksanaan sempurna seperti <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/26/ingin-cerdas-bijaksana-yuk-kenalan-dulu-dengan-arya-manjushri/">Manjusri</a>. <a href="https://lamrimnesia.org/2021/06/02/liputan-bedah-buku-buddhisme-borobudur-di-mata-tagore/">Borobudur</a> adalah buku cetak 3D yang mengajarkan cara hidup harmonis dengan keberagaman agama, gender, dan status sosial. Kompleks Muara Jambi adalah sekolah yang mewariskan ilmu “Terima Kasih”, sebuah metode <em>healing</em> yang menundukkan ego dan menumbuhkan welas asih tertinggi. Semua pengetahuan ini tidak akan bisa digali jika penelitiannya tidak melibatkan umat Buddha atau referensi kitab Buddhis yang lebih kaya.</p>



<p>Alih-alih menggunakan pendekatan kultural-historis atau arkeologi prosesual yang terbatas oleh ciri fisik dan bukti empirik, penelitian bisa dilakukan dengan pendekatan <strong>arkeologi post-prosesual yang memungkinkan multi-interpretasi dari kelompok marjinal (dalam hal ini, umat Buddha) &amp; merangkul kajian yang lebih bersifat filosofis.</strong> Pendekatan ini bisa diterapkan untuk memperbarui pengetahuan lama maupun melakukan penelitian baru terhadap begitu banyak warisan budaya yang masih terkubur. Tentunya ini hanya bisa dilakukan dengan partisipasi dari banyak pihak &amp; pemangku kepentingan.</p>



<p><strong>Kalau Menteri Budaya yang baru bisa jadi pelopor, <em>fix </em>bakal jadi salah satu menteri paling <em>rizz, +</em>3.000.000 aura!</strong></p>



<p>Referensi:</p>



<ul><li>Andrea Acri, Aleksandra Wenta &#8211;<em> “A Buddhist Bhairava? Krtanagara’s Tantric Buddhism in Transregional Perspective” </em>(2022)</li><li>Johnson &#8211; “<em><a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/">Terima Kasih: Warisan Budaya Tak Benda yang Masih Terkubur</a></em>” (2024) &#8211; lamrimnesia.org</li><li>Stanley Khu &#8211; “<a href="https://borobudurwriters.id/kolom/memasuki-rel-yang-sama-atau-upaya-seorang-outsider-untuk-memahami-pendirian-arkeologi-tentang-pemasangan-chatra-di-borobudur-berdasarkan-disiplin-ilmu-arkeologi/"><em>Memasuki Rel yang Sama, atau: Upaya Seorang Outsider untuk Memahami Pendirian Arkeologi tentang Pemasangan Chatra di Borobudur Berdasarkan Disiplin Ilmu Arkeologi</em></a><em>” </em>(2024) &#8211; borobudurwriters.id</li></ul><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/08/pesan-umat-buddha-untuk-menteri-budaya/">Pesan Umat Buddha untuk Menteri Budaya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/08/pesan-umat-buddha-untuk-menteri-budaya/">Pesan Umat Buddha untuk Menteri Budaya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Harapan untuk Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2024-2029</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/10/20/harapan-untuk-presiden-dan-wakil-presiden-indonesia-2024-2029/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Oct 2024 00:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[presiden indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[wakil presiden indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9563</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dengan adanya presiden dan wakil presiden Indonesia yang baru, semoga harapan-harapan untuk pemimpin Indonesia dapat terwujud.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/10/20/harapan-untuk-presiden-dan-wakil-presiden-indonesia-2024-2029/">Harapan untuk Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2024-2029</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/10/20/harapan-untuk-presiden-dan-wakil-presiden-indonesia-2024-2029/">Harapan untuk Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2024-2029</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<h2 id="h-jadilah-pemimpin-yang-kenal-diri"><strong>JADILAH PEMIMPIN YANG KENAL DIRI</strong></h2>



<p>Semoga engkau kenal betul kelebihan dan kekurangan diri, eling akan apa yang membuat racun batinmu beraksi, mawas diri, ingat untuk berhenti saat dibajak oleh hasrat pribadi, dan buatlah kemurahan hati, kebijaksanaan, dan welas asih bersemi di hati.</p>



<h2><strong>JADILAH PEMIMPIN YANG KENAL NEGERI</strong></h2>



<p>Semoga engkau tak pernah lupa akan nilai yang mendasari bangsa, gotong-royong, bersatu dalam keberagaman, Pancasila bukan jargon belaka. Berbeda tapi satu, bukan dipaksa sama, itulah “<a href="https://lamrimnesia.org/2021/09/03/bhinneka-tunggal-ika-warisan-buddhis-indonesia/">Bhinneka Tunggal Ika</a>”. Kenalilah kebutuhan dan kesulitan setiap lapis masyarakat. Lalu, lewat setiap keputusan yang engkau buat, &#8220;Terima” penderitaan &amp; “kasih” kebahagiaan untuk seluruh rakyat.</p>



<h2><strong>JADILAH PEMIMPIN YANG PUNYA TUJUAN BERMAKNA</strong></h2>



<p>Semoga engkau ingat negara bukan pabrik penghimpun laba yang cukup dibangun fisiknya saja. Teknologi tercanggih sia-sia jika tak didukung manusianya. Dorong berkembangnya insan yang welas asih &amp; bijaksana. Jadikan ia narasi kebangsaan penentu haluan negara.</p>



<h2><strong>JADILAH PEMIMPIN YANG MENJAGA AMANAH LELUHUR BANGSA</strong></h2>



<p>Terukir di Prasasti Kalasan dan peninggalan lain dari masa lampau:</p>



<p>“Raja bagaikan singa minta berulang-ulang kepada raja-raja yang akan datang supaya Pengikat Dharma agar dilindungi oleh mereka yang ada selama-lamanya.”</p>



<p>Semoga engkau hormati pesan leluhur bangsa yang bersusah-payah meninggalkan warisan berharga, seperti <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur</a>, <a href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/">Muara Jambi</a>, dan ratusan candi di mana-mana. Bukan Hindu, bukan Buddha, tapi pengingat akan pentingnya kebajikan yang dititipkan untuk kebahagiaan kita semua di masa depan.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/10/20/harapan-untuk-presiden-dan-wakil-presiden-indonesia-2024-2029/">Harapan untuk Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2024-2029</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/10/20/harapan-untuk-presiden-dan-wakil-presiden-indonesia-2024-2029/">Harapan untuk Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2024-2029</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Sep 2024 07:45:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[Keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pilgrimage Tourism]]></category>
		<category><![CDATA[Ziarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6011</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanpa keyakinan, mengumpulkan kebajikan di Borobudur hanya akan jadi slogan kosong belaka</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Samantha J.</p>



<p>Apa yang muncul di pikiran orang-orang ketika mendengar ajakan “Ayo mengumpulkan kebajikan di Borobudur”? Tentu saja kemungkinan terbaiknya adalah menyambut dengan penuh semangat. Namun, tak sedikit juga yang mengeluh. Ada yang mengeluhkan jarak. Ada pula yang mengeluhkan banyaknya wisatawan yang membuat suasana tidak khusyuk. Ada juga yang berpikir begini:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Buat apa ke Borobudur? Ke wihara juga bisa.”</p></blockquote>



<p>Pembahasan ini muncul dalam Lamrim Talk Seri Borobudur bertajuk “Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik”, persisnya dalam pemaparan Johnson Khuo, seorang Dharmaduta, praktisi bisnis, dan pecinta Borobudur.</p>



<p>Sebelum kita bisa mengajak seseorang untuk mengumpulkan kebajikan di Borobudur, kita harus tahu bahwa candi warisan nenek moyang kita itu memiliki satu fungsi yang lebih fundamental, yaitu sebagai situs ziarah untuk membangkitkan keyakinan atau <em>sraddha. </em>Fungsi ini juga berhubungan dengan sebab dari keluhan-keluhan tadi, yaitu kurangnya keyakinan dalam batin kita.</p>



<h4><strong>Ziarah, Praktik yang Diajarkan Sang Buddha</strong></h4>



<p>Dalam Mahaparinibbana Sutta dijelaskan bahwa sebelum Buddha parinirwana, Buddha mengajarkan praktek ziarah ke tempat-tempat tertentu yang bisa membangkitkan keyakinan. Instruksi untuk berziarah juga ada dalam Kanon Sansekerta, salah satunya adalah Sutra Gandawyuha yang mengisahkan peziarahan Sudhana untuk menemui para kalyanamitra yang menunjukkan jalan mencapai Kebuddhaan. Sutra ini juga terukir di Candi Borobudur. Dalam kelas Tantra tertentu, praktisi memiliki kewajiban melakukan ziarah ke situs-situs tertentu. Salah satu situs tersebut bahkan ada di Indonesia, yaitu Candi Bahal.</p>



<p>Johnson juga memaparkan perjalanan tokoh-tokoh Buddhis yang dikenal melakukan peziarahan, mulai dari Raja Ashoka yang berziarah untuk menyebarkan relik Buddha dan mendirikan stupa hingga Biksu Tang Xuanzang yang perjalanannya ke Nalanda menjadi inspirasi bagi hikayat “Perjalanan ke Barat” dan film “Kera Sakti”. Tidak hanya itu, Johnson juga menjelaskan bagaimana Nusantara menjadi salah satu tujuan peziarahan, dibuktikan dengan catatan perjalanan I-Tsing dan riwayat Guru Atisha Dipamkara Srijnana. Bahkan peziarahan Guru Atisha yang mencari guru ke Suwarnadwipa tidak hanya membuatnya meraih kemajuan spiritual yang luar biasa, tapi juga menjadi cikal-bakal Buddhisme Tibet yang berkembang di masa kini.</p>



<p>Kembali pada pembahasan tentang esensi dari praktik ziarah itu sendiri, Johnson menegaskan bahwa kata kunci dari ziarah adalah <strong>keyakinan</strong>. Beliau pun kembali menyebutkan kutipan dari Mahaparinibbana Sutta sebagai berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Inilah tempat yang bisa membangkitkan <strong>keyakinan</strong>… Para biksu, biksuni, upasaka, dan upasika yang penuh <strong>keyakinan</strong>, jika datang ke sini dan berpikir… Jika mereka meninggal di tempat-tempat tersebut, maka mereka akan terlahir di alam surgawi.”</p></blockquote>



<h4><strong>Apa maksudnya KEYAKINAN?</strong></h4>



<p>Ketika menjelaskan cara kerja batin, Sang Buddha mengajarkan tentang faktor mental yang mewarnai batin setiap orang. Ketika faktor mental pengganggu muncul di batin kita, kita akan merasa gelisah. Tindakan yang kita lakukan pun akan menjadi karma buruk yang kemudian membuat kita tidak bahagia. Sebaliknya, jika faktor mental bajik yang muncul, batin kita akan menjadi positif. Tindakan kita pun akan menjadi karma bajik yang mendatangkan kebahagiaan.</p>



<p>Keyakinan (Sansekerta: <em>Sraddha</em>; Pali: <em>Sadha</em>) adalah satu dari 11 faktor mental bajik yang bisa kita kembangkan. Dalam kitab Abidharma-samuccaya, keyakinan didefinisikan sebagai sebuah kepastian, kejelasan, dan pengharapan yang ditujukan pada objek yang memiliki kualitas-kualitas unggul. Keyakinan memiliki fungsi sebagai penyokong aspirasi. Dalan kitab Ratnolka-dharani, keyakinan dijabarkan dengan bait berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Keyakinan adalah pelopor, dan, ibarat seorang ibu, sang penghasil.</em><br><em>Ia menjaga dan meningkatkan segala kualitas unggul.</em><br><em>Ia mengenyahkan keraguan dan membebaskanmu dari keempat sungai besar.</em><br><em>Keyakinan menandakan kota kebahagiaan dan kebajikan.”</em></p></blockquote>



<p>Keyakinan yang dimaksud di sini tentu bukan keyakinan pada sembarang objek, melainkan keyakinan kepada Triratna yang terdiri atas Buddha, Dharma, dan Sangha. Keyakinan di sini juga bukan berarti secara buta meyakini atau memuja Triratna, melainkan yakin yang didasari oleh pemahaman logis dan perasaan yang nyata.</p>



<p>Johnson menjelaskan bahwa dalam Buddhisme, keyakinan terbagi ke dalam tiga tahapan. Pertama adalah yakin karena kagum dengan kualitas eksternal, misalnya karena penampilan Buddha yang luar biasa: rupawan, bercahaya keemasan, dan dihiasi banyak sekali tanda-tanda yang mengagumkan.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/vtIPIHtINbrhl63vFATlSkTG7ch1PSuGfgwUQa-QTtBSHhTIdQLRuILzmmKouwQ5V9uCf8fE6F34PPGkU6vbkgS0pD6KDrYgO5kNCzo6vSneKWBdPCC0vebw6usaHaxRZKeCLncX" alt="Johnson Khuo memaparkan keyakinan sebagai dasar untuk ziarah ke Borobudur"/><figcaption>Sumber: Materi Lamrim <em>Talk </em>“Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik” </figcaption></figure>



<p>Berikutnya adalah yakin karena hasil analisis, misalnya analisis terhadap hukum karma atau sebab-akibat. Kalau tadi kita kagum pada kualitas eksternal yang dimiliki Sang Buddha, kita bisa lanjut mencari tahu sebab dari kualitas itu. Kita pun akan menemukan bahwa kualitas itu merupakan hasil dari sepuluh juta kebajikan yang Beliau kumpulkan karena didorong oleh welas asih-Nya kepada semua makhluk. Kita pun semakin yakin pada Buddha karena paham bahwa Beliau telah berjuang menyempurnakan diri demi kita semua.&nbsp;</p>



<p>Tahapan terakhir dari keyakinan adalah keinginan yang kuat untuk menjadi seperti sosok yang kita yakini. Jadi, kita tidak berhenti pada kagum atau mengidolakan saja, tapi juga membangkitkan tekad untuk mengikuti jejak Sang Buddha untuk menjadi seperti-Nya sesuai dengan apa yang Beliau ajarkan.</p>



<h4><strong>Tanpa keyakinan, tidak ada usaha, tidak ada kebajikan</strong></h4>



<p>Kualitas bajik perlu dikembangkan setahap demi setahap. Tahapan ini dijelaskan Abhidharma-samuccaya &amp; Mahabodhipatakrama. Bermula dari keyakinan, muncullah aspirasi (<em>chanda</em>), yaitu keinginan kuat untuk memiliki kualitas-kualitas dari objek yang kita yakini. Aspirasi ini menghasilkan wirya atau batin yang bersemangat untuk mewujudkan aspirasi bajik. Wirya ini adalah obat dari segala macam kemalasan, baik itu sikap menunda-nunda, teralihkan oleh hal lain yang lebih menarik, maupun rasa tidak mampu. Dengan adanya wirya, kita akan meraih kelenturan (<em>prasrabhi</em>), yaitu kondisi di mana tubuh dan batin kita bisa dengan mudah melakukan berbagai aktivitas bajik sesuai dengan keinginan kita. Dengan demikian, kita pun bisa mengatasi semua halangan dan meraih semua kualitas baik yang kita cita-citakan. Kebajikan dan kebijaksanaan yang kita butuhkan untuk menjadi seperti Sang Buddha bukan lagi sekadar angan!</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/2q0UZdHboL8DkTiGDtQyu7h5mpH9Z5ux0lWfsblBxoBpkYOrzqnBicSG2EuCsCs52CpFrAKJAaqKpyevjnGUQbe6hAduevWv_4HEhP0rWvcowX9JGl-N68IHTEIpIuJiVSO81_5P" alt="Johnson Khuo memaparkan keyakinan sebagai dasar untuk ziarah ke Borobudur"/><figcaption>Sumber: Materi Lamrim <em>Talk </em>“Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik” </figcaption></figure>



<p>Keyakinan sendiri dalam praktiknya memiliki dua aspek, yaitu pemahaman dan perasaan. Kalau kita tidak punya keyakinan, tidak peduli sebanyak apapun keagungan Borobudur yang dijelaskan kepada kita, kita tidak akan merasa tergerak untuk pergi ke sana mengumpulkan kebajikan.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Saya bekerja lima hari seminggu, capek, saya merasa kebutuhan saya lebih terpenuhi dengan rebahan di rumah dibanding ketemu Buddha,” Johnson memberikan contoh, “Kita tidak punya keyakinan bahwa Buddha bisa memberikan solusi. Kita lebih percaya bahwa ranjang kita lebih bisa memberikan solusi, maka kita memilih ranjang. Kita tidak memilih Buddha.”</p></blockquote>



<p>Kita tidak sadar bahwa ranjang kita bukan solusi. Ia hanya bisa memberikan kenyamanan sementara. Kita juga tidak sadar bahwa kenyamanan itu berasal dari kebajikan yang harus kita kumpulkan dengan upaya. Jika kita tidak mengumpulkan cukup karma baik, semahal apapun ranjang yang kita tempati, kita tidak akan bisa beristirahat. Kalaupun kita bisa beristirahat, kita akan kembali merasa lelah saat hari kerja tiba dan diserang oleh berbagai emosi negatif yang membuat kita mengumpulkan lebih banyak sebab penderitaan. Kita perlu mengembangkan kualitas batin hingga terbebas dari samsara seperti yang diajarkan Sang Buddha agar bisa benar-benar berbahagia.</p>



<h4><strong>Ziarah ke Borobudur, upaya membangkitkan keyakinan</strong></h4>



<p>Keyakinan itu perlu dilatih. Agar kita bisa menumbuhkan keyakinan di batin kita, kita membutuhkan bantuan objek-objek eksternal. Karena itulah ada objek-objek suci seperti rupang Buddha, kitab suci, stupa, dan sebagainya. Misalnya dengan melihat rupang Buddha, kita bisa mengingat kualitas-kualitas Buddha, mulai dari kualitas tubuh yang dihiasi 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan, kualitas ucapan yang bisa menjawab pertanyaan semua makhluk dengan satu kata, hingga kualitas batin yang maha tahu dan memiliki welas asih yang sama sekali tidak pilih kasih. Ketika mengingat hal tersebut saat kita melihat sebuah rupang Buddha, kekaguman kita akan tumbuh. Dari situ kita bisa lanjut melakukan analisis hingga membangkitkan tekad untuk mengikuti teladan Buddha. Jadi, objek-objek suci berfungsi untuk membantu kita membangkitkan ketiga jenis keyakinan yang kita butuhkan untuk bisa mengumpulkan kebajikan.</p>



<p>Ziarah juga merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat membantu kita melatih keyakinan dan secara langsung dianjurkan oleh Buddha sendiri. Misalnya ketika kita melihat pohon bodhi tempat Buddha meraih penerangan sempurna di India, kita akan ingat bahwa pencapaian Kebuddhaan yang diraih Pangeran Siddhartha adalah fakta sejarah, bukan dongeng. Kita diingatkan bahwa dulu pernah ada manusia biasa yang mudah marah, mudah iri, dan punya segudang sifat buruk lainnya seperti kita berhasil menaklukkan semua sifat-sifat buruk itu dan meraih tingkat kesucian tertinggi demi kebaikan semua makhluk. Kita pun jadi sadar bahwa kita juga bisa menjadi seperti Beliau. Aspirasi kita akan bangkit dan kita pun akan dengan semangat melatih diri untuk menjadi lebih baik hingga meraih pencapaian yang sama.</p>



<p>Lantas, bagaimana dengan Borobudur? Candi Borobudur sendiri merupakan sebuah ladang kebajikan. Dari sudut pandang Tantra, peneliti dan pakar arkeologi Prof. Noerhadi Magetsari menyatakan bahwa Borobudur adalah sebuah mandala. Namun, umat Buddhis awam pun bisa dengan mudah menemukan aspek-aspek Triratna di Candi Borobudur. Di sana terdapat 504 patung Buddha. Dinding-dinding Candi Borobudur dipenuhi oleh relief Sutra yang dibuat berdasarkan kata-kata Dharma. Di dalam relief tersebut, terdapat tak terhitung banyaknya relief Bodhisatwa yang merupakan Ratna Sangha. Jadi, dapat dikatakan bahwa Candi Borobudur merupakan perlambang Triratna yang lengkap.&nbsp;</p>



<p>Setelah memaparkan hal tersebut, Johnson juga menjelaskan tentang Sila Berlindung atau Tisarana yang dimiliki oleh umat Buddha. Salah satu dari sila-sila yang harus dilatih adalah memandang representasi Triratna sebagai Triratna yang sesungguhnya. Ini berarti terdapat 504 Buddha sungguhan serta Dharma dan Sangha yang tak terhitung banyaknya berdiam di Candi Borobudur. Inilah yang menjadikan Borobudur tempat ziarah yang luar biasa bagi seluruh umat Buddha untuk membangkitkan keyakinan.</p>



<p>Salah satu sosok yang telah membuktikan manfaat dari praktik Sila Berlindung ini adalah Arya Sariputra, murid utama Buddha Shakyamuni. Di salah satu kehidupan lampau-Nya, Beliau melihat lukisan Buddha dan mempersembahkan pelita sambil membangkitkan tekad untuk bisa bertemu Sang Buddha. Konon itu merupakan salah satu sebab utama yang membuatnya menjadi salah satu murid utama Sang Buddha.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/FDOrRhATYcjpzs6jHcpSRRI_UGKl6pgV0egu2T2kueuaGBKCedfURGTv5abcebd6e6EXGP81EmjWqBcwb8Q5vPptRBMeNNssUIc7AoFBVp37W4JJRivyVNfAUukksT6lpnts0_eN" alt="Johnson Khuo memaparkan keyakinan sebagai dasar untuk ziarah ke Borobudur"/><figcaption>Manfaat membangkitkan keyakinan<br>Sumber: Materi Lamrim <em>Talk </em>“Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik” </figcaption></figure>



<p>Kenyataannya, Buddha memang benar-benar hadir di mana-mana, termasuk di Candi Borobudur. Ini dijabarkan secara gamblang dalam kitab-kitab Buddhis. Salah satunya adalah sebuah bait dalam Arya Bhadracarya Pranidhana Raja yang juga terukir di Candi Borobudur itu sendiri.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“..Dengan percaya diri, saya melihat alam semesta ini demikian, seluruhnya dipenuhi oleh para Buddha.”</em></p><p>-Arya Bhadracarya Pranidhana Raja</p></blockquote>



<p>Ketika telah mencapai tingkat kesucian tertentu, seorang praktisi Buddhis akan bisa melihat setiap rupang Buddha sebagai tubuh Buddha yang sesungguhnya. Praktisi yang telah mencapai Marga Akumulasi bisa melihat patung dan lukisan Buddha sebagai tubuh Nirmanakaya yang sesungguhnya. Kemudian, ketika mencapai Marga Penglihatan (mulai dari bhumi Bodhisatwa pertama yang direpresentasikan oleh tingkat pertama Candi Borobudur), sang praktisi akan bisa melihat representasi Buddha sebagai tubuh Sambhogakaya yang sesungguhnya.</p>



<h4><strong>Kondisi Borobudur saat ini</strong></h4>



<p>Anggaplah kita sudah memiliki pemahaman yang tepat tentang pentingnya keyakinan dan fungsi Borobudur untuk membangkitkan keyakinan tersebut. Kemudian, kita datang ke Borobudur untuk melakukan ziarah. Ternyata, saat kita hendak merenungkan kualitas Buddha di Borobudur, orang-orang di sekitar kita malah menduduki stupa, berfoto, menempelkan permen karet, bahkan berpacaran.</p>



<p>Saat ini, Candi Borobudur memang tidak kondusif bagi umat Buddha untuk membangkitkan keyakinan. Di saat yang sama, wisatawan umum pun pasti kesulitan mendapatkan pengalaman unik di Candi Borobudur karena aktivitas yang dikembangkan di sana lebih berorientasi pada hiburan yang sebenarnya bisa didapatkan di tempat lain.&nbsp;</p>



<p>Johnson memaparkan bahwa permasalahan ini seharusnya bisa diatasi jika umat Buddha dilibatkan dalam pengelolaan Borobudur. Mengingat Sila Berlindung yang dipegang umat Buddha, tentu saja tidak akan ada umat Buddha yang bersandar di stupa, apalagi melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fungsi asli Borobudur ataupun berpotensi merusak. Dengan masukan dari umat Buddha, kesakralan maupun keutuhan bangunan candi tentu akan terjaga.</p>



<p>Candi Borobudur sendiri saat ini memiliki tiga pemangku kepentingan: umat Buddha, Indonesia, dan dunia.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kita tidak bisa mengatakan borobudur adalah <em>world heritage</em>, maka kita prioritaskan dunia, terus umat buddha dikesampingkan. Tidak bisa juga kita bilang Borobudur adalah <em>world heritage</em>, indonesia berkorbanlah sedikit demi dunia,” cetus Johnson.</p></blockquote>



<p>Jika kita ingin kebutuhan ketiga pemangku kepentingan Borobudur ini terpenuhi, satu-satunya solusi adalah mengelola Borobudur dengan memakai filosofi Buddhadharma sebagai landasan. Dengan demikian, selain umat Buddha bisa khusyuk berziarah di Borobudur, Indonesia dan dunia pun mendapat manfaat dari terjaganya identitas Borobudur sebagai <em>world heritage </em>yang unik dan tiada duanya. Saat ini, kebanyakan wacana pengelolaan Borobudur yang diberitakan masih belum berkaitan dengan filsafat Buddhis sama sekali&#8211;mulai dari pendirian <em>science park, </em>kampung seni, bahkan yang terbaru adalah trayek balap motor. Kalau ini dibiarkan, Borobudur akan kehilangan identitas dan tak ada bedanya taman rekreasi biasa. Di sinilah kesempatan umat Buddha untuk berkontribusi bagi Indonesia dan dunia.</p>



<h4><strong>Keyakinan yang hilang</strong></h4>



<p>Setelah mendengarkan pemaparan Johnson seputar keyakinan, praktik ziarah, dan Candi Borobudur saya merasa sedang berhadapan dengan sebuah lingkaran setan. Di tengah segala macam perhatian yang mengarah pada Candi Borobudur, umat Buddha termasuk saya sendiri lebih banyak bergeming. Segala narasi tentang Borobudur sebagai “piwulang luhur” dan ajakan untuk mengumpulkan kebajikan dan kebijaksanaan di Borobudur tak membuat kita tergerak karena kurangnya keyakinan membuat kita merasa istirahat di akhir pekan jauh lebih penting dan mendesak. Padahal, kita butuh mengembangkan keyakinan agar bisa memiliki semangat dan melakukan upaya untuk mengatasi segala permasalahan kita sampai ke akar. Untuk membangkitkan keyakinan itu, kita seharusnya bisa melakukan ziarah seperti yang dianjurkan Sang Buddha ke Candi Borobudur yang sudah dibangun susah payah oleh nenek moyang kita untuk tujuan tersebut. Namun, Borobudur saat ini tidak kondusif untuk ziarah dan kita sebagai umat Buddha pun tak banyak melakukan usaha untuk memperjuangkannya, tentu saja karena keyakinan yang hilang dalam batin kita semua. Dengan keadaan seperti ini, bukan kita sendiri yang rugi, tapi Candi Borobudur terancam kehilangan identitasnya dan berubah menjadi <em>theme park </em>biasa. Perjuangan nenek moyang kita mendirikan monumen pengumpulan kebajikan demi kebahagiaan semua makhluk terancam sia-sia karena kurangnya keyakinan kita.</p>



<p>Kemampuan untuk memutus lingkaran setan itu seharusnya ada di tangan kita. Kita bisa mulai dari mempertanyakan sejauh mana keyakinan yang kita miliki terhadap Triratna dan sebutuh apa kita akan karma baik yang baru bisa terhimpun ketika kita memiliki keyakinan tersebut. Kemudian, tanyakan lagi, semampu apa kita membangkitkan keyakinan itu dengan kemampuan diri sendiri yang masih gampang terbuai oleh kesenangan sesaat tanpa mengikuti instruksi Buddha untuk berziarah dan mengandalkan situs suci seperti Candi Borobudur?</p>



<p>Ketika kita bisa melepas kesombongan yang membuat kita merasa tidak membutuhkan bantuan Candi Borobudur ataupun objek-objek suci untuk melatih batin kita, barulah kualitas keyakinan punya ruang untuk tumbuh di dalam diri kita. Setelah itu, barulah kita bisa bicara soal mengumpulkan kebajikan di Candi Borobudur dan bergerak untuk memperjuangkannya.</p>



<p>Lamrim Talk &#8220;Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik&#8221; bisa disaksikan di <a href="https://youtu.be/UuOGS9dcS7w" target="_blank" rel="noreferrer noopener">sini.</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
