<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kematian - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/kematian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Jan 2023 10:53:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>kematian - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Spoiler Alert &#8211; Ini Dia Proses Kematianmu</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2022 07:58:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7067</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Apa sih yang terjadi setelah mati dalam agama Buddha? Ini dia proses kematian yang perlu kita pelajari dan persiapkan dari sekarang.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert – Ini Dia Proses Kematianmu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert &#8211; Ini Dia Proses Kematianmu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Silvi Wilanda</p>



<p>Akhir-akhir ini kematian terasa lebih dekat. Kabar-kabar duka yang jadi sorotan publik seperti Ratu Elizabeth II, Reza Gunawan, dan yang sebelumnya Brigadir Yoshua muncul di mana-mana. Aktivitas pencarian informasi pun menjadi ramai, mulai dari pencarian biografi tokoh tersebut, perannya dalam masyarakat, bagaimana kronologi kematiannya, serta lainnya. Namun, sebenarnya ada satu hal lain yang luput dari pencarian informasi kita, yakni bagaimana proses kematian itu sendiri.&nbsp;</p>



<p>Pernahkah terlintas dalam pikiran kita, kematian itu seperti apa? Bagaimana prosesnya? Ke mana kita pergi setelah mati? Bagaimana kita bisa terlahir kembali? Sebagai umat Buddha yang meyakini hukum karma dan konsep kelahiran kembali, ini adalah hal penting untuk direnungkan dan dimeditasikan. Setelah sebelumnya membahas tentang <a href="https://lamrimnesia.org/tag/kematian/">merenungkan kaitan kematian dengan hidup kita dari berbagai sisi</a>, proses kematian inilah yang seterusnya perlu kita renungkan dalam Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (Lamrim).</p>



<p>Jadi, seperti apa proses kematian itu? Berikut adalah cuplikan <em>spoiler-</em>nya:</p>



<h4><strong>Penyebab Kematian&nbsp;</strong></h4>



<p>Buddha menjelaskan ada 3 sebab utama kematian, yaitu:</p>



<ol><li>Habisnya masa kehidupan kita.</li></ol>



<p>Saat kita terlahir kembali, kita “terlempar” ke kehidupan selanjutnya dengan jangka hidup yang pasti. Seseorang hanya bisa hidup sepanjang jangka hidupnya ini saja, tidak bisa lebih, tapi sangat bisa habis sebelum waktunya. Sebab kedua dan ketiga di bawah ini adalah penyebab bagaimana seseorang bisa meninggal sebelum jangka hidupnya berakhir.&nbsp;&nbsp;</p>



<ol start="2"><li>Habisnya karma baik kita.</li></ol>



<p>Selain jangka hidup, kita juga membutuhkan karma baik untuk dapat tetap melangsungkan kehidupan. Jika karma baik kita habis sebelum jangka hidup kita berakhir, kita bisa meninggal. Untuk itu, penting bagi kita untuk menghemat tabungan karma baik kita dengan menghindari gaya hidup mewah dan rajin melakukan kebajikan.&nbsp;</p>



<ol start="3"><li>Hadirnya kondisi yang tidak menguntungkan.&nbsp;</li></ol>



<p>Selain habisnya karma baik, kematian sebelum jangka hidup berakhir juga bisa disebabkan karena hadirnya kondisi yang tidak menguntungkan. Untuk itu, penting juga mendedikasikan kebajikan kita agar kita terhindar dari sebab kematian ini.&nbsp;</p>



<h4><strong>Pikiran Terakhir Menjelang Kematian</strong></h4>



<p>Saat menjelang kematian, pikiran terakhir kita berupa pikiran baik, buruk, atau netral. Jika pikiran yang muncul adalah pikiran baik, kita akan merasa damai, bahagia, dan seolah-olah melihat cahaya putih. Namun, jika pikiran buruk yang muncul, kita akan merasa takut, khawatir, dan seolah-olah melihat kegelapan. Pikiran terakhir menjelang kematian juga dapat diketahui dari hilangnya panas tubuh. Jika pikiran kita baik, maka panas tubuh akan hilang berangsur-angsur dari kaki hingga ke bagian tengah tubuh. Jika pikiran kita tidak baik, maka panas tubuh akan hilang dari kepala menuju bagian tubuh bawah.&nbsp;</p>



<p>Pikiran terakhir menjelang kematian ini sangat penting karena akan memengaruhi kehidupan kita yang selanjutnya. Jika pikiran terakhir kita buruk, kita akan terlahir di alam rendah. Begitu juga sebaliknya, jika pikiran terakhir kita baik, maka kita akan terlahir di alam bahagia. Meski semua orang ingin memiliki pikiran terakhir yang baik, namun kemungkinan besar pikiran terakhir yang muncul saat menjelang kematian adalah hal yang paling sering kita lakukan. Mengingat kita masih lebih sering melakukan ketidakbajikan, maka sangat mungkin pikiran buruklah yang datang saat kematian tiba.</p>



<p>Untuk itu, penting bagi kita untuk membiasakan diri untuk berpikir bajik, khususnya melatih diri kita untuk mengambil perlindungan kepada Triratna dengan sungguh-sungguh. Saat mengambil perlindungan, kita perlu membangkitkan kengerian akan kelahiran di alam rendah dan keyakinan bahwa Triratna dapat menolong kita. Selain itu, kita juga bisa melatih diri untuk memeditasikan penampakan objek suci, seperti Buddha, Istadewata (Awalokiteshwara/Kwan Im, Arya Tara, Manjushri, dan lain sebagainya), ataupun Guru kita sendiri. Harapannya dengan latihan akan hal ini, kita bisa mengambil perlindungan sekaligus membayangkan wujud suci menjelang kematian tiba.&nbsp;</p>



<h4><strong>Perpisahan Unsur Pembentuk Tubuh</strong></h4>



<p>Saat terlahir, 4 unsur pembentuk tubuh kita (tanah, air, api, dan udara) bersatu dengan arus batin kita. Dalam proses kematian, hal yang sebaliknya yang terjadi. Unsur-unsur tubuh ini berpisah hingga akhirnya batin kita kehilangan dasar fisiknya.&nbsp;</p>



<p>Unsur yang pertama kali akan terpisah adalah tanah. Saat unsur tanah mulai terpisah, tubuh kita akan terasa kehilangan energi dan merasakan sensasi seolah-olah tenggelam ke dalam tanah. Unsur kedua yang akan terpisah adalah air. Saat unsur air mulai terpisah, mulut kita menjadi mengering, bibir atas menjadi keriting, dan lubang hidung terjepit. Unsur ketiga yang terpisah adalah api dengan tanda panas tubuh kita akan menghilang dan warna tubuh kita akan memucat. Unsur yang terakhir terpisah adalah angin dengan tanda kita akan sulit bernapas.&nbsp;</p>



<p>Setiap ada unsur yang terpisah, kita juga merasakan pengalaman internal yang sesuai dengan sifat alami karma yang sedang mempengaruhi kita. Jika karmanya tidak bajik, maka kita akan mendengar atau melihat sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, jika di bawah pengaruh karma bajik, maka kita akan mendengar atau melihat sesuatu yang menyenangkan.&nbsp;</p>



<p>Setelah semua unsur terpisah, kesadaran kasar kita berakhir dan terganti dengan kesadaran halus. Tingkat pertama kesadaran halus dinamakan “penampakan putih”, penglihatan kita sepenuhnya putih seperti langit polos yang hanya disinari cahaya bulan. Tingkat kedua kesadaran halus disebut “peningkatan merah” menyerupai langit musim gugur yang berwarna merah. Tingkat terakhir kesadaran halus disebut “pencapaian hampir hitam”, penglihatan kita gelap penuh seperti langit yang gelap tanpa cahaya apapun.&nbsp;</p>



<p>Kesadaran halus pun pada akhirnya akan hilang dan digantikan kembali dengan kesadaran luar biasa halus yang dinamakan “cahaya jernih kematian”. Pada tahap ini, kita melihat musim semi yang bersih dengan langit biru pekat nan murni yang bebas dari cahaya matahari dan bulan. Dalam terminologi Buddhis, inilah momen kematian yang sesungguhnya.</p>



<p>Saat tahap “cahaya jernih kematian” berakhir, maka proses kelahiran kembali akan dimulai. Proses yang sebaliknya terjadi, yaitu “pencapaian hampir hitam”, “peningkatan merah”, dan selanjutnya. Proses ini bertepatan dengan kelahiran kita di alam bardo terlebih dahulu.&nbsp;&nbsp;</p>



<h4>Kelahiran di Alam Bardo&nbsp;</h4>



<p>Saat berhadapan dengan kematian, kita juga memiliki kemelekatan terhadap diri. Kemelekatan akan diri ini dimiliki oleh semua makhluk, bahkan para Arya sekalipun, hanya saja seorang Arya mampu mengendalikan kemelekatan tersebut. Hanya mereka yang telah mencapai tingkatan Arahat yang mampu menaklukkan kemelekatan terhadap diri ini.&nbsp;</p>



<p>Kemelekatan akan diri ini muncul karena pembiasaan yang sudah terjadi sejak masa kehidupan lampau yang tak terhingga. Kita dihinggapi rasa takut yang amat sangat terhadap kemungkinan bahwa diri kita akan lenyap setelah meninggal nanti. Rasa takut ini kemudian mendorong kita untuk terlahir kembali di alam bardo.&nbsp;</p>



<p>Di alam bardo, kita memiliki bentuk tubuh jasmani yang sama dengan tubuh kita di kehidupan mendatang. Tubuh jasmani tersebut terbentuk dari angin yang sangat halus dan tidak padat seperti tubuh manusia sehingga memungkinkan makhluk bardo untuk lebih mudah bergerak. Misalnya saja, jika makhluk bardo memikirkan suatu tempat, maka tubuhnya akan bergerak menuju arah tempat yang dipikirkannya itu.&nbsp;</p>



<p>Dalam Sutra Barisan Tangkai juga dikatakan bahwa warna tubuh alam bardo menyesuaikan dengan kehidupan mendatangnya. Jika makhluk bardo akan terlahir di neraka, tubuhnya hitam seperti batu bara. Jika akan terlahir sebagai setan kelaparan, tubuhnya seperti air. Jika akan terlahir sebagai manusia atau alam menyenangkan lainnya, tubuhnya akan berwarna emas. Jika akan terlahir sebagai dewa, tubuhnya akan berwarna putih.&nbsp;</p>



<p>Tidak ada waktu minimal makhluk bardo bisa ada di alam bardo. Kapanpun makhluk bardo menemukan tempat untuk terlahir kembali, ia akan segera meninggalkan alam bardo. Biasanya, makhluk bardo cenderung memilih tempat kelahiran selanjutnya sesuai dengan hal-hal yang akrab dan disukainya.&nbsp;</p>



<p>Sedangkan, masa hidup maksimal makhluk bardo di alam bardo adalah 49 hari. Setelah setiap periode 7 hari, makhluk bardo yang tidak menemukan tempat kelahirannya kembali, akan mati untuk kemudian terlahir kembali di alam bardo. Proses ini berlangsung selama 7 kali sehingga total periode hidup makhluk bardo adalah 49 hari. Hal inilah yang mendorong adanya upacara pengumpulan kebajikan selama 49 hari bagi kerabat yang telah meninggal.&nbsp;</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Begitulah kurang lebih bagaimana proses kematian terjadi. Setelah mengetahui <em>spoiler</em>-nya, perasaan apa yang muncul dalam dirimu? Takut? Semakin melekat dengan hidup? Atau biasa saja? Jika takut, kita harus jadikan rasa itu pecutan untuk bisa segera mempersiapkan kematian dengan lebih baik. Jika semakin melekat dengan hidup, kita harus terus merenungkan kematian agar kemelekatan bisa terkikis sedikit demi sedikit. Jika kita merasa biasa saja, kita semakin perlu untuk bergiat diri merenungkan proses kematian. Terlepas dari perasaan yang muncul, kita perlu segera bergegas mempersiapkan kematian kita karena mau tidak mau kita harus mengalami kematian itu, cepat atau lambat.&nbsp;</p>



<p>Referensi:“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari</a>” karya Guru Dagpo Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert – Ini Dia Proses Kematianmu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert &#8211; Ini Dia Proses Kematianmu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenali Sahabat Sehidup Semati yang Sesungguhnya</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/08/26/mengenali-sahabat-sehidup-semati-yang-sesungguhnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2022 03:24:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7007</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Buddhis tak perlu galau kalau nggak ketemu soulmate alias sahabat sehidup semati. Satu-satunya hal yang “pasti” adalah kematian pasti datang dan hanya Dharma yang bisa mendampingi.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/08/26/mengenali-sahabat-sehidup-semati-yang-sesungguhnya/">Mengenali Sahabat Sehidup Semati yang Sesungguhnya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/08/26/mengenali-sahabat-sehidup-semati-yang-sesungguhnya/">Mengenali Sahabat Sehidup Semati yang Sesungguhnya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Akhirnya kita sampai juga ke poin ketiga sekaligus poin terakhir dari perenungan tentang kematian dalam <a href="https://lamrimnesia.org/apa-itu-lamrim/">Lamrim</a>. Poin yang dibahas pada artikel ini adalah tidak ada yang bisa kita andalkan saat kematian tiba kecuali Dharma. Setelah kita menyadari bahwa <a href="https://lamrimnesia.org/2022/06/03/ojol-atau-ajal-mana-yang-datang-duluan/">kematian bisa datang lebih dulu dibanding pesanan ojol</a>, kita harusnya mulai memilah-milah mana yang sebenarnya hal paling penting yang harus kita perjuangkan dari sekarang.&nbsp;</p>



<p>Ketika tiba-tiba malam ini kita mati, setidaknya kita sudah siap dan tidak menyesal karena kita telah mengumpulkan satu hal yang sangat-sangat berguna untuk kita bawa ketika bertemu dengan ‘Raja Kematian’. Apakah itu harta kekayaan kita? Keluarga, teman, dan pacar kita? Atau bahkan mungkin tubuh kita sendiri karena tubuh kita inilah yang selalu menemani kita sejak kita lahir? <em>No, no</em>! Sayangnya, jawabannya bukanlah ketiga hal tersebut. Lah, kenapa begitu? Makanya, yuk simak penjelasannya!</p>



<ol><li><strong>Sekaya apa pun kita, duitnya gak bisa dibawa mati</strong></li></ol>



<p>Selama hidup, kita capek-capek kerja ngumpulin duit buat beli <em>sports car</em> yang keren, <em>gadget</em> keluaran terbaru biar gak ketinggalan zaman, atau tas <em>branded</em> biar bisa tampil lebih percaya diri di depan teman-teman. Namun, setelah mati nanti, apakah semua barang-barang tersebut bisa ikut bersama kita juga? Ya enggak lah. Apakah semua uang yang telah kita kumpulkan selama hidup kita bisa kita bawa saat kematian kita? Tentu juga tidak. Saat kematian tiba, semua harta dan kekayaan yang telah kita simpan ibarat di-<em>reset</em> kembali. Tidak ada satu rupiah pun yang bisa menolong kita di kehidupan berikutnya.</p>



<ol start="2"><li><strong>Kita akan mati dalam kesendirian walaupun teman-teman dan keluarga mengelilingi ranjang kematian kita</strong></li></ol>



<p>Selama ini, kita selalu berpikir bahwa mungkin pacar atau istri kita adalah orang yang paling setia menemani kita sampai kapan pun. Nyatanya, dia tidak akan bisa menolong kita saat ajal kita tiba. Lalu, kita berpikir bahwa sahabat kita mungkin akan lebih setia dibanding pacar kita. Hal ini juga mustahil karena mereka juga tidak akan berdaya saat kita menghadapi proses kematian. Terakhir, kita sangat yakin bahwa orang tua yang telah melahirkan, membesarkan, dan menyayangi kita dengan sepenuh hati tidak akan mengkhianati kita. Sayangnya, hal ini juga sia-sia. Pada akhirnya, tidak ada satu orang pun dari mereka yang bisa mencegah kita dari kematian. Mentok-mentok, mereka cuma bisa berkumpul mengelilingi ranjang kematian kita dengan menggenggam tangan kita sambil menangis. Tetap saja kita akan melewati proses kematian sendirian ditengah kerumunan orang-orang kesayangan kita.</p>



<ol start="3"><li><strong>Bahkan tubuh kita yang sangat setia ini pun tidak bisa menemani kita setelah kematian 🙁</strong></li></ol>



<p>Setelah tidak ada satu barang atau orang pun yang bisa kita percaya untuk menemani kita melewati proses kematian, kita merasa sangat putus asa. Lalu, kita sadar kalau satu-satunya hal yang bisa kita andalkan dalam menghadapi ajal kita adalah diri kita sendiri. Iya, tubuh kita ini yang sudah bersama dengan kita sejak kita dilahirkan ke dunia. Tubuh yang selama ini kita rawat dengan penuh kasih sayang. Tubuh yang selalu kita beri makan ketika ia lapar, yang selalu kita lindungi saat kedinginan atau kepanasan, dan yang selalu kita rawat agar ia tidak sakit. Dengan segala usaha kita, kita sangat yakin bahwa tubuh kita ini juga akan memberikan imbalan yang setimpal kepada kita saat kita meninggal. Namun tampaknya, kita juga tetap dikhianati oleh tubuh ini karena nyatanya ia juga tidak bisa diandalkan untuk menghadapi kematian.</p>



<p>Sebenarnya tubuh kita ini sangat berharga karena melalui tubuh ini, kita bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang berguna untuk mencapai kebahagiaan atau memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Sayangnya, tubuh kita ini memiliki batas waktu. Setelah meninggal, tubuh kita ini akan menjadi tidak berguna sama sekali. Oleh karena itu, selama masih hidup, kita harus memanfaatkan tubuh manusia ini sebaik-baiknya (baca: <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/26/kamu-manusia-apa-kamu-punya-8-permata-ini/">Kamu Manusia? Apa Kamu Punya 8 Permata ini?</a>) karena kita tidak bisa membawa tubuh kita ini ke kehidupan selanjutnya. Jika kita gagal memanfaatkannya, tubuh ini akan benar-benar tidak berguna saat kita sudah terkapar di ranjang kematian.</p>



<p>Jika bukan harta, teman-teman dan keluarga, atau bahkan diri kita sendiri yang bisa kita andalkan untuk menghadapi kematian, terus apa dong? Jawabannya adalah praktik Dharma kita! Mengapa hanya praktik Dharma yang bisa diandalkan? Karena melalui praktik Dharma, ibarat menyiapkan bekal, kita bisa menanam benih-benih berupa karma bajik yang akan mengarahkan kita pada pencapaian kualitas-kualitas baik pada kehidupan selanjutnya. Percaya deh, praktik Dharma pasti tidak akan mengkhianati kita kok! Saat kematian tiba, Dharma inilah yang akan menjadi penunjuk jalan kita.&nbsp;</p>



<p>Sebenarnya, praktik Dharma dan mengingat kematian itu sendiri adalah dua poin yang sangat berhubungan satu sama lain. Akar dari praktik Dharma adalah mengingat kematian. Kematian jugalah yang merupakan salah satu hal yang memacu kita untuk praktik Dharma.</p>



<p>Kita perlu sadar bahwa kematian itu pasti, waktunya tidak pasti, dan hanya Dharma–sahabat sehidup semati kita yang sesungguhnya–yang bisa kita andalkan saat kematian. Ketika kita merenungkan kematian, secara otomatis kemelekatan kita terhadap hal-hal duniawi juga akan berkurang karena kita menyadari betul bahwa tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut yang berguna saat ajal kita tiba selain praktik Dharma. Oleh karena itu, ayo kita mulai praktik Dharma dari sekarang sebelum kita menghadap ‘Raja Kematian’!</p>



<h4><strong>Referensi:</strong></h4>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche<br><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a> oleh Je Tsongkhapa<br><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari: Apa yang Bisa Kuperbuat?</a> oleh Dagpo Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/08/26/mengenali-sahabat-sehidup-semati-yang-sesungguhnya/">Mengenali Sahabat Sehidup Semati yang Sesungguhnya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/08/26/mengenali-sahabat-sehidup-semati-yang-sesungguhnya/">Mengenali Sahabat Sehidup Semati yang Sesungguhnya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ojol atau Ajal, Mana yang Datang Duluan?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/06/03/ojol-atau-ajal-mana-yang-datang-duluan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2022 09:26:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6947</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Belakangan ini banyak banget berita yang mengingatkan kita akan ketidakpastian kematian. Nggak ada jaminan ajal nggak akan menjemput sebelum pesanan ojol datang. Masih mau nunda-nunda persiapan kematian?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/06/03/ojol-atau-ajal-mana-yang-datang-duluan/">Ojol atau Ajal, Mana yang Datang Duluan?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/06/03/ojol-atau-ajal-mana-yang-datang-duluan/">Ojol atau Ajal, Mana yang Datang Duluan?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Masih seputar kematian, artikel ini akan membahas poin kedua dari perenungan tentang kematian, yakni waktu kematian yang tidak pasti. Sebelumnya, kita telah membahas bahwa <a href="https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/">kematian itu pasti datang</a>. Eitsss, tapi nih, walaupun kita udah tahu bahwa kematian itu fix bakal datang, sayangnya kita tidak akan pernah tahu kapan waktu itu akan tiba. Kita tidak akan pernah tahu ajal siapa yang akan tiba duluan, entah itu orang tua kita, teman kita, atau kita sendiri!</p>



<p>Bayangkan, hari ini berjalan seperti hari normal pada biasanya. Tepat pada pukul 12 siang, kita sedang beristirahat dari hiruk-pikuk kerjaan kantor pagi ini. Karena sudah waktunya jam makan siang, kita memutuskan untuk memesan makanan plus segelas kopi kekinian dari tempat favorit kita lewat ojek <em>online</em>. Habis klik <em>order</em>, udah deh kita tinggal nunggu si abang ojeknya datang ke tempat kita. Benar-benar tidak ada yang salah dari momen tersebut. Aktivitas ini berlalu seperti hari-hari sebelumnya.</p>



<p>Namun, selagi menunggu, apakah kita bisa yakin seratus persen bahwa pesanan kita akan tiba duluan dibandingkan ajal kita? Buset, seram juga ya kalo pikiran ini secara <em>random</em> terlintas di otak kita. Kalau mendadak mati hari ini, kita nggak bakal sempat buat ngelakuin semua <em>plan </em>yang udah kita rencanain sebelumnya. Belum sempat jalan-jalan ke luar negeri, belum sempat ngebahagiain orang-orang yang kita sayangi, atau bahkan sekadar ketemuan untuk terakhir kalinya dengan orang-orang terdekat buat <em>say goodbye</em>. Atau mungkin kita juga nggak sempat minta maaf sama orang-orang yang dulu pernah kita sakiti. Itu pastinya akan membuat kita sangat menyesal.&nbsp;</p>



<p>Lebih parahnya lagi, kita juga sama sekali nggak tahu kita bakal terlahir di mana pada kehidupan berikutnya. Mending kalau kita cukup beruntung berkat koleksi karma bajik kita yang mencukupi, jadi bisa terlahir kembali sebagai manusia (baca: <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/02/lebih-langka-dari-ssr-nilai-besar-kelahiranmu-sebagai-manusia/">Lebih Langka dari SSR! Nilai Besar Kelahiranmu sebagai Manusia</a>). Tapi gimana kalau ternyata karma buruk kita lebih banyak? Atau kita lagi stres, atau syok dan nggak terima karena mati mendadak, terus pikiran jadi dikuasai hal-hal negatif saat mati sehingga kita terlempar ke alam rendah? Hiiy… Seram…</p>



<p>Itulah alasan kenapa kita harus banget praktik Dharma dari sekarang! Praktik tersebut akan menjadi bekal bagi kita buat mempersiapkan kehidupan kita selanjutnya.</p>



<p>Namun, karena pikiran kita masih sangat ‘batu’, kita masih aja kepedean. Ah, nanti aja baru mikirin Dharma. Toh gak mungkin kita mati hari ini banget. Aneh-aneh aja sih! Ya kali tiba-tiba kita bisa mati mendadak, padahal pesanan makanan kita aja belum tiba.&nbsp;</p>



<p>Walau seram, kalau dipikir-pikir ulang, ya memang sangat mungkin sekali, loh! Bisa aja tiba-tiba kita kena serangan jantung terus semua seketika <em>lewat</em> begitu aja. Atau bisa jadi karena <em>stroke,</em> gagal ginjal, atau kepleset di tangga terus jatuh kena kepala. Cukup kita <em>list</em> aja semua sebab kematian yang datangnya emang serba mendadak tanpa izin dulu sama kita. Siapa yang tahu, toh?</p>



<p>Makanya, kita perlu banget buat merenungkan tiga poin berikut ini biar kita selalu siap menghadapi waktu kematian yang tidak pasti ini.</p>



<ol><li><strong>Dukun paling sakti pun nggak bisa meramalkan berapa lama sisa hidup kita di dunia ini</strong></li></ol>



<p>Kematian itu akan datang menghampiri siapapun tanpa mengenal umur, jenis, kelamin, jabatan, dan lainnya. Banyak sekali di antara kita yang sangat percaya diri dengan merencanakan segala sesuatu untuk dilakukan sepuluh atau dua puluh tahun kedepan dan berusaha mengejar tujuan itu mati-matian tanpa sadar bahwa mereka bisa saja mati keesokan harinya.&nbsp;</p>



<p>Merencanakan segala sesuatu itu tidak salah loh, ya! Yang salah adalah memperjuangkan rencana tersebut dengan mengerahkan semua energi kita ke arah tersebut tanpa memikirkan apa yang harus kita lakukan jika kematian tiba lima menit lagi.</p>



<p>Waktu kematian tiap seseorang itu memang seperti sebuah misteri. Jika saja kita tahu bahwa kita akan mati di umur delapan puluh tahun, mungkin saja kita bisa membuat sebuah rencana untuk bersenang-senang sepuas mungkin sampai kita berumur enam puluh tahun, lalu berusaha untuk praktikin Dharma dengan niat ‘menghapus dosa’ yang sudah kita lakukan selama enam puluh tahun ke belakang di sisa umur kita yang tinggal dua puluh tahun lagi.&nbsp;</p>



<p>Sayangnya, nggak gitu cara kerjanya kematian. Dia datang pada waktu yang tidak pasti untuk memotivasi kita dalam memanfaatkan waktu setiap saat dengan sebaik-baiknya sehingga tidak ada satu momen pun yang kita sia-siakan dan kelak akan membuat kita menyesal.</p>



<ol start="2"><li><strong>Hal-hal yang bikin makin ‘cepat mati’ lebih banyak dibanding yang bikin panjang umur</strong></li></ol>



<p>Simpelnya, kita itu lebih gampang buat mati dibandingkan memiliki umur yang panjang. Ketika kita naik kendaraan, baik itu motor, mobil, kapal, ataupun pesawat, akan selalu ada potensi berbahaya yang menyebabkan kita mati. Bahkan ketika kita sedang berada di tempat yang paling aman pun seperti di rumah kita, bencana bisa saja mampir dalam bentuk kebakaran, gempa, rumah roboh, dan lainnya.&nbsp;</p>



<p>Aktivitas-aktivitas yang kita anggap sebagai sesuatu yang bisa memperpanjang hidup kita juga bisa menjadi ancaman. Sebut saja makan dan minum. Jika kita salah makan atau minum, atau makan terlalu banyak, atau terlalu sedikit, tentu saja itu akan membawa penyakit baru yang berujung pada mempercepat waktu kematian kita. Ah, sudahlah, mungkin kita sudah bisa menerka-nerka <em>ending</em> dari kisah ini.&nbsp;</p>



<p>Terus, olahraga yang kelihatannya membuat tubuh kita menjadi sehat juga bisa menyebabkan kita cedera yang ujung-ujungnya mempercepat waktu kematian kita. Salah makan obat atau kekeliruan dalam perawatan medis, misalnya, juga dapat menghasilkan akibat yang tidak diinginkan oleh kita semua.&nbsp;</p>



<p>Artinya, faktor-faktor penopang kehidupan itu sangat sedikit sekali dibandingkan faktor-faktor yang dapat menunjang kematian kita. Ternyata, kita itu sebenarnya sangat rentan banget buat mati!</p>



<ol start="3"><li><strong>Tubuh kita itu rapuh banget. Ketusuk duri dikit aja kita udah kelabakan</strong></li></ol>



<p>Tubuh kita itu merupakan kumpulan dari sistem kerja organ yang sangat kompleks. Ketika ada satu bagian saja yang tidak berfungsi dengan baik, itu bisa jadi salah satu penyebab kematian kita. Kelamaan kena sinar matahari aja rasanya kulit kita udah terbakar. Kelamaan di bawah AC dikit aja kita juga udah bersin-bersin. Belum lagi kalau kita ngomongin kanker, tumor, sesak napas, dan sederet penyakit-penyakit berat lainnya.&nbsp;</p>



<p>Satu-satunya alasan kita sekarang masih bisa hidup dengan normal adalah napas yang keluar masuk lewat hidung kita. Ketika napas itu sendiri sudah berhenti bekerja, ah sudahlah, biarkan saja episodenya bersambung ke kehidupan selanjutnya.&nbsp;</p>



<p>Itulah tiga poin tentang ketidakpastian waktu kematian yang harus membuat kita siaga setiap saat jikalau waktu itu datang tiba-tiba di suatu momen saat kita sedang lengah. Jadi, jangan lupa ya untuk mempersiapkan diri kita setiap saat!</p>



<p><strong>Referensi:</strong><br><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche<br><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a> oleh Je Tsongkhapa<br><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari: Apa yang Bisa Kuperbuat?</a> oleh Dagpo Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/06/03/ojol-atau-ajal-mana-yang-datang-duluan/">Ojol atau Ajal, Mana yang Datang Duluan?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/06/03/ojol-atau-ajal-mana-yang-datang-duluan/">Ojol atau Ajal, Mana yang Datang Duluan?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cepat atau Lambat, Nomor Antrean Kematian Kita Pasti Dipanggil</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 May 2022 10:30:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6927</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dharma sang Buddha selalu mengingatkan kita untuk tidak mengingkari kematian yang pasti terjadi. Kita justru diajari cara merenungkan kepastian kematian ini agar hidup ini jadi lebih berarti.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/">Cepat atau Lambat, Nomor Antrean Kematian Kita Pasti Dipanggil</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/">Cepat atau Lambat, Nomor Antrean Kematian Kita Pasti Dipanggil</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Jika sebelumnya kita telah membahas tentang <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/">manfaat mengingat kematian</a>, kita juga harus tahu bagaimana cara mempraktikkannya dengan tepat. Mengingat kematian itu bukan sekadar berpikir, “Oh ya, kayaknya sore ini aku bisa saja mati karena serangan jantung atau tertabrak mobil (amit-amit walaupun sangat mungkin untuk terjadi, <em>like who knows?</em>)”. Mungkin, cara ini bisa jadi langkah awal bagi kita untuk memulai. Namun, ada sudut pandang yang jauh lebih luas dan dalam untuk dipertimbangkan sehingga bisa lebih ‘menampar’ kita dan menyadarkan bahwa bisa saja ajal kita tiba lebih dulu dibandingkan pesanan ojek <em>online</em> kita lima menit yang lalu.&nbsp;</p>



<p>Terus, terus, apa saja sih yang harus kita renungkan? Nah! Secara umum, ada tiga poin besar yang bisa kita pikirkan, loh! Ketiga poin itu adalah:</p>



<ol><li>Kematian itu pasti akan datang, <em>fix</em> pake banget!</li><li>Terus, kapan ya kita bakal mati? <em>Yo ndak tau kok tanya saya</em>. Kita nggak bakal bisa tau kapan kita mati 🙁</li><li>Pas kita mati, ga ada satu pun hal yang bisa kita andalkan, kecuali Dharma</li></ol>



<p>Lalu, setiap poin diatas terbagi lagi menjadi tiga bagian. Jika dijumlahkan, berarti ada sembilan poin yang bisa dan harus banget kita renungkan. Di artikel ini, kita bakal bahas tiga bagian pertama, yaitu yang berhubungan dengan kepastian kematian.&nbsp;</p>



<ol><li><strong>Kematian itu pasti akan datang dan gak bisa dihindari, </strong><strong><em>guys</em></strong><strong>! Udah siap belum?</strong></li></ol>



<p>Nggak peduli sebanyak banyak harta seorang milyuner, setampan atau secantik apa paras artis korea, ataupun seberapa tinggi jabatan para bos-bos besar, ajal pasti datang menjemput. Jelas-jelas kita udah dikasih tahu <em>spoiler</em> dari <em>ending</em> hidup kita. Anehnya, kenapa kita masih santai-santai ya? Padahal kalau dikasih <em>spoiler</em> dari film yang pengen banget kita nonton, kita bisa “naik darah” dan memutuskan untuk nonton sesegara mungkin.&nbsp;</p>



<p>Kita mau lari ke mana pun, nggak ada tempat yang bisa melindungi kita dari kematian. Saat ini, kita hanya sedang menunggu giliran saja untuk dipanggil oleh ‘Raja Kematian’. Hanya saja, kita tidak tahu kita dapat nomor antrean berapa. Sejujurnya, hal ini bisa bikin bingung. Kita harus merasa bahagia atau sedih? Sedih karena kematian pasti akan datang atau bahagia karena kebetulan kita belum girliran? Sebenarnya dua-duanya nggak salah sih&#8230;</p>



<p>Satu hal yang pasti, mau kita betulan mati hari ini atau nggak, berpikir “sangat mungkin bagi kita untuk mati hari ini” sama-sama bermanfaat buat kita. Kemungkinan pertama, kalau kita mati betulan, setidaknya kita nggak kaget lagi dan benar-benar siap menghadapinya. Kemungkinan kedua, kalaupun kita nggak jadi mati hari ini (bisa saja malah besok), kita telah memanfaatkan hari ini dengan baik.&nbsp;</p>



<p>Kalau sebelumnya kita terlalu pelit untuk berdana misalnya, karena ingat bisa mati kapan saja dan harta nggak bisa dibawa mati, kita bisa punya sedikit niat untuk melakukannya. Ini saja sudah membuahkan karma bajik loh, <em>guys</em>! Bakal lebih baik lagi kalau niat tersebut benar-benar dilakukan.&nbsp;</p>



<p>Kalau sebelumnya kita punya banyak musuh atau membenci banyak orang, maka di hari itu, kita akan berusaha untuk memaafkan dan meminta maaf kepada orang-orang yang pernah kita sakiti sebelumnya dan berharap semoga mereka selalu mendoakan segala hal yang baik untuk kita jika kita meninggal di hari itu.&nbsp;</p>



<p><em>See</em>? Tidak ada ruginya kan bila kita merenungkan bahwa kematian itu pasti akan datang, bahkan mungkin hari ini juga. Bisa saja kita mati lima menit setelah selesai membaca artikel ini, satu jam setelahnya, ataupun seterusnya. Atau, kita juga bisa merasa cukup beruntung karena ajal kita belum tiba saat ini berkat karma bajik kita yang masih terus berbuah. Turut bermudita bila memang opsi kedualah yang sedang terjadi pada kita saat ini.</p>



<ol start="2"><li><strong>Gak kayak </strong><strong><em>billing </em></strong><strong>warnet, umur kita gak bakal bisa ditambah, malah berkurang terus</strong></li></ol>



<p>Sadar nggak sih kalau begitu kita lahir ke dunia ini, saat itu juga kita sebenarnya mulai berjalan menuju kematian? Di hari pertama kita lahir saja umur kita sudah berkurang satu hari. Berarti, ungkapan bahwa umur kita selalu berkurang satu tahun di hari ulang tahun kita juga merupakan pernyataan yang valid.</p>



<p>Sadar nggak sih kalau sebenarnya garis batas antara kehidupan dan kematian itu cuma sebatas napas yang kita hirup dan hembus setiap saat? Garis ini tipis sekali. Sebentar saja kita gagal saja untuk menghirup atau menghembus napas, kita sudah mengalami perpindahan fase menuju kematian (beda cerita kalau memang sengaja menahan napas, ya!). Oleh karena itu, kita juga harus sadar bahwa sisa waktu hidup kita akan terus berkurang dan tergerus dengan setiap tarikan napas kita.&nbsp;</p>



<p>Sayangnya, rentang hidup kita tidak bisa diperpanjang, gak kaya <em>billing </em>warnet atau jam karaoke yang tinggal minta tambah waktu ke operator di depan. Bahkan, nggak ada yang benar-benar bisa memastikan bahwa besok pagi kita masih bisa sanggup untuk bangun dari tidur kita malam ini. Namun tampaknya, kita selalu terlalu percaya diri bahwa besok kita masih bisa bangun tidur seperti biasa karena selama ini keadaan normalnya begitu. Kalau kita terus berpikir seperti itu, siap-siap aja dapat kejutan di malam ini ataupun malam-malam berikutnya. Kita nggak akan pernah tahu malam keberapa yang akan jadi malam terakhir kita bisa tidur nyenyak di kasur empuk kesayangan.</p>



<ol start="3"><li><strong>Waktu praktik Dharma gak ada, tapi jalan sama gebetan mah gas terus, bos!</strong></li></ol>



<p>Setelah dibangunkan oleh realita tentang kematian itu pasti, apakah hati kita sudah mulai tergerak untuk melakukan sesuatu? Jika iya, apa sih yang harus kita lakukan? Jawabannya simpel. Ya, praktik Dharma, dong!&nbsp;</p>



<p>Coba kita ingat-ingat lagi jadwal kegiatan kita dalam satu hari penuh. Setiap orang memiliki jatah waktu yang sama dalam satu hari, yakni 24 jam. Mungkin jadwal setiap orang bisa berbeda-beda, tapi kita bisa mengambil contoh dari jadwal kebanyakan orang pada umumnya.&nbsp;</p>



<p>Kita bangun pukul 6 atau 7 pagi. Saat bangun, kita langsung cek HP, <em>scroll-scroll</em> medsos dulu. Lalu, kita bersiap-siap untuk mandi, sarapan, dan berangkat kerja/sekolah (+ les tambahan sepulang sekolah). Dengan asumsi kegiatan <em>nine-to-five</em>, kita menyelesaikan urusan pekerjaan/sekolah seharian dan pulang kembali ke rumah. Di rumah, kita beres-beres, makan, lalu main HP, nonton TV, ngerjain PR atau tugas sekolah/kantor yang belum selesai. Setelah selesai, kita ngantuk dan pergi tidur untuk melanjutkan aktivitas yang kurang lebih sama keesokan harinya.&nbsp;</p>



<p>Dengan alasan kita sudah berusaha keras untuk bekerja/belajar dari hari Senin sampai Jumat, kita memutuskan untuk mengikuti tren kekinian dengan melakukan <em>self healing</em> ala-ala saat <em>weekend</em> tiba. Syukur-syukur kalau lagi <em>mood</em>, kita memutuskan untuk ke wihara saat hari Minggu (atau ikut kebaktian <em>online</em> karena wihara tutup pas PPKM). Jadi, sebenarnya kapan sih kita melakukan praktik Dharma-nya? Kalau dalam sehari kita bisa tidur cukup kurang lebih selama delapan jam (sepertiga dari hari kita), dengan asumsi umur kita hanya 60 tahun, artinya kita sudah menghabiskan waktu selama 20 tahun hanya untuk tidur saja, lho! Sisanya, hari-hari kita pun selalu diisi oleh kegiatan duniawi. Memangnya kita sudah cukup percaya diri kalau tiba-tiba kita mati malam ini?&nbsp;</p>



<p>Saat masih muda, kita berpikir praktik Dharma itu prioritas nomor sekian dibanding rutinitas di atas. Masa muda kan saatnya mengejar semua mimpi-mimpi kita (katanya, sih). Kalau udah tercapai semua, kita bisa menikmati masa tua dengan tenang, pasti bisa fokus praktik Dharma. Ternyata eh ternyata, fisik kita sudah nggak kuat lagi untuk bergerak. Kemampuan untuk belajar juga sudah menurun karena faktor usia. Akhirnya, kita malah menyesali kenapa kita nggak mulai praktik Dharma saat masih muda dulu. Banyak nih yang pengalamannya begini.&nbsp;</p>



<p>Jadi, setelah sadar kalau umur kita ada batasnya, kita juga harus ingat bahwa nggak ada waktu yang lebih tepat buat praktik Dharma selain sekarang! Kalau kita selalu merasa nggak punya waktu buat praktik Dharma, tapi siaga kalau diajak jalan sama gebetan, kita perlu mengecek ulang apa yang sedang terjadi sama diri kita. Bisa jadi karena motivasi kita menjalani hidup ini belum benar-benar kokoh. Untuk mengulik lebih jauh soal “motivasi hidup” ini, silakan baca artikel “<a href="https://lamrimnesia.org/2017/01/23/mengubah-niat-jadi-motivasi/">Mengubah Niat Jadi Motivasi</a>” ya!</p>



<p>Nah, itulah tiga poin yang harus kita renungkan terkait kepastian kematian. Perlu diingat kembali bahwa tujuan dari penulisan artikel atau perenungan poin-poin di atas bukan untuk menakut-nakuti kita (walaupun bisa jadi kita memang perlu agak ditakut-takutin sih, hehe)! Tujuan utamanya adalah hanya untuk mengingatkan bahwa cepat atau lambat, kematian itu pasti akan datang menghampiri kita.&nbsp;</p>



<p>Jadi, apakah kita sudah siap untuk menghadapi hari datangnya kematian, bahkan jika hari itu adalah hari ini?</p>



<p><strong>Referensi:</strong></p>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a> oleh Je Tsongkhapa</p>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari: Apa yang Bisa Kuperbuat?</a> oleh Dagpo Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/">Cepat atau Lambat, Nomor Antrean Kematian Kita Pasti Dipanggil</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/">Cepat atau Lambat, Nomor Antrean Kematian Kita Pasti Dipanggil</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Merenungkan Kematian Selain dengan Kesedihan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/02/08/cara-merenungkan-kematian-selain-dengan-kesedihan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2022 12:42:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6770</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kalau mikirin kematian melulu, kok rasanya jadi sedih, takut, cemas, pesimis… Eits, menurut ajaran Buddha, merenungkan kematian pun ada tekniknya biar bisa bikin kita bahagia, bukan makin merana.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/08/cara-merenungkan-kematian-selain-dengan-kesedihan/">Cara Merenungkan Kematian Selain dengan Kesedihan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/08/cara-merenungkan-kematian-selain-dengan-kesedihan/">Cara Merenungkan Kematian Selain dengan Kesedihan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Selama pandemi, banyak dari kita yang kehilangan kerabat dekat maupun teman. Mungkin banyak di antara kamu semua yang sudah melewati masa-masa sedih itu. Munculnya virus varian baru dan peningkatan kasus belakangan ini pun membuat kita harus siap-siap menghadapi kehilangan yang baru.</p>



<p>Sedih sih, tapi apakah lantas kamu perlu mengubur dalam-dalam memori itu?&nbsp;</p>



<p>Buddhisme memiliki pandangan yang lain tentang kematian. Alih-alih menghilangkan rasa sedih dengan melupakan peristiwa-peristiwa kematian, justru kita diajarkan untuk merenungkannya sesering mungkin. Dalam Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, dijelaskan berbagai kerugian tidak mengingat kematian dan manfaat mengingat kematian. Lebih jauh, kita perlu merenungkan kematian untuk mengembangkan kebijaksanaan berhubung memang begitulah jalannya kehidupan.&nbsp;</p>



<h4><strong>Kenyataan bahwa kematian tidak akan terelakkan</strong></h4>



<p>“<em>Anicca</em> – segala sesuatu yang terbentuk adalah tidak kekal”. Misalnya jasmani manusia yang terbentuk dari darah, daging, tulang, dan sebagainya, akan berubah dari momen ke momen. Artinya tubuhmu setiap momen selalu berubah, entah selnya, ada rambut yang rontok, ada oksigen yang berubah jadi karbon dioksida. Perubahan dari momen ke momen ini disebut juga ketidakkekalan halus. Ketidakkekalan yang lebih kelihatan contohnya adalah kematian ini, karena semua makhluk yang terlahir (artinya terbentuk dari kondisi misalnya menyatunya sperma &amp; sel telur) memang memiliki jangka hidupnya masing-masing.</p>



<h4><strong>Apakah merenungkan kematian membuatmu sedih?</strong></h4>



<p>Merasa sedih saat merenungkan kematian merupakan hal yang wajar. Namun, di balik itu, kesadaran-kesadaran kecil yang didapatkan dari situ justru bisa membuatmu semakin kuat menjalani kehidupan. Kesedihan perlu disalurkan dan diseimbangkan dengan merenungkan kematian menggunakan metode yang tepat. Tujuan akhirnya adalah kamu bisa melihat kematian dan fenomena lainnya sebagaimana adanya.&nbsp;</p>



<h4><strong>Poin-poin perenungan kematian</strong></h4>



<p>Jadi, apa yang harus direnungkan? Berikut adalah 9 poin yang diajarkan oleh Guru Atisha:</p>



<p><strong>Kematian itu pasti</strong>, ada tiga poin yang direnungkan:</p>



<ul><li>Saat kematian datang, tidak ada yang dapat menghalangi</li><li>Usia kita tidak pernah bertambah dan terus berkurang</li><li>Waktu hidup yang digunakan untuk mempraktikkan Buddhadharma sangat sedikit</li></ul>



<p>Dengan merenungkan bahwa kematian itu pasti akan datang dan waktu untuk mempraktikkan Buddhadharma sedikit, maka keyakinanmu bahwa kematian itu pasti akan datang semakin kuat. Kamu juga akan terdorong agar segera bergerak karena tidak memiliki banyak waktu lagi di dunia ini.</p>



<p><strong>Waktu kematian tidak pasti,</strong> ada tiga poin yang direnungkan</p>



<ul><li>Masa hidup manusia tidaklah pasti akibat zaman kemerosotan</li><li>Faktor penyebab kematian sangat banyak, dan penopang kehidupan sangat sedikit</li><li>Tubuh manusia sangatlah rapuh</li></ul>



<p>Dengan merenungkan bahwa kamu bisa mati kapan saja, kamu akan termotivasi untuk mempraktikkan Dharma saat ini juga selagi masih ada kesempatan.</p>



<p><strong>Saat mati, segala hal tidak dapat menolong selain Dharma, </strong>ada tiga poin yang direnungkan</p>



<ul><li>Kekayaan tidak dapat menolong</li><li>Keluarga dan teman-teman tidak dapat menolong</li><li>Tubuh kita tidak dapat menolong</li></ul>



<p>Dengan merenungkan bahwa kekayaan, keluarga dan teman-teman, bahkan tubuh akan ditinggalkan setelah kematian, maka kamu akan mulai memilah mana hal-hal yang menjadi prioritas, mana yang berguna untuk jangka panjang (bahkan sampai kehidupan berikutnya).&nbsp;</p>



<p>Sembulan poin di atas bisa menjadi penyemangatmu untuk mempraktikkan Dharma dengan sungguh-sungguh. Misalnya saat kamu bermalas-malasan atau mengantuk saat meditasi. Dengan mengingat kembali hal-hal di atas, semangatmu akan muncul lagi, seperti mahasiswa yang belajar sangat giat ketika tahu bahwa besok akan ada ujian.&nbsp;</p>



<h4><strong>Memahami kematian, menumbuhkan empati dan kebijaksanaan</strong></h4>



<p>Kunci mengingat kematian tanpa merasa sedih atau duka berlebih adalah kebijaksanaan untuk melihat suatu fenomena sebagaimana adanya. Di satu sisi, kematian memang menyedihkan karena kita kehilangan seseorang yang dicintai. Namun, di sisi lain, mengingat kematian memberikan gairah pada hidup kita, bahwa kita harus melakukan hal ini dan itu sekarang juga sebelum kematian datang.</p>



<p>Teman-teman yang sepenuhnya sadar tentang hal ini setelah kehilangan kerabat dekat dapat melihat betapa naturalnya proses kematian sehingga dapat berempati pada orang lain yang sedang merasakan kedukaan yang sama. Dari situ, merenungkan kematian juga dapat memberikan “kebijaksanaan kecil” berupa pemahaman terhadap ketidakkekalan.&nbsp;</p>



<p>Ketika disatukan dengan 9 poin terkait kematian yang dijabarkan di atas, pemahaman ini akan membuat kita tergerak untuk fokus melatih batin kita agar bisa menghadapi kematian dengan tenang tanpa penyesalan. Kita pun bisa dengan jelas memilah prioritas hidup dan menggunakan sisa waktu yang kita miliki sebaik mungkin untuk mewujudkan kebahagiaan sejati, bukan yang sementara.</p>



<p>Namun, untuk mendapatkan pemahaman itu, jangan tunggu sampai maut menghampiri orang yang kamu kenal. Siapa tahu, ternyata kamu duluan yang didatangi!&nbsp;</p>



<p>Penulis: BESTRELOAD</p>



<h4><strong>Referensi:</strong>&nbsp;</h4>



<p>“<a href="https://dagporinpoche.id/ajaran/tahapan-jalan/menjadi-buddhis/kematian-ketidakkekalan/meditasi-9-poin-kematian/#1551787374402-b0b9b5c7-5285">Meditasi 9 Poin Kematian</a>” &#8211; dagporinpoche.id</p>



<p>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p>“<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a>” oleh Je Tsongkhapa</p>



<p>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari: Apa yang Bisa Kuperbuat?</a>” oleh Dagpo Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/08/cara-merenungkan-kematian-selain-dengan-kesedihan/">Cara Merenungkan Kematian Selain dengan Kesedihan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/08/cara-merenungkan-kematian-selain-dengan-kesedihan/">Cara Merenungkan Kematian Selain dengan Kesedihan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Siapa Sangka Ingat Kematian Bisa Bikin Bahagia?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2022 03:40:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6697</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Orang biasanya menghindari membahas kematian. Tapi, bagi seorang Buddhis, ingat kematian merupakan salah satu kunci kebahagiaan. Kok bisa? Apa manfaatnya mengingat kematian?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/">Siapa Sangka Ingat Kematian Bisa Bikin Bahagia?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/">Siapa Sangka Ingat Kematian Bisa Bikin Bahagia?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Pernahkah kalian melihat jadwal harian orang-orang yang seperti berikut:</p>



<p>6.00 A.M — Bangun</p>



<p>6.10 A.M — Olahraga Ringan</p>



<p>6.30 A.M — Mandi</p>



<p>6.40 A.M — Mikirin Kematian</p>



<p>6.45 A.M — Sarapan</p>



<p>Lah lah sebentar sebentar. Itu kenapa ada satu jadwal yang <em>nyempil</em> ya? <em>What?</em> Mikirin tentang kematian? Ngapain sih? Ada-ada aja deh nih orang.</p>



<p>Selama ini, kematian selalu diidentikkan dengan kesedihan dan kepasrahan. Akibatnya, topik ini selalu menjadi hal yang sangat tabu untuk dibahas, terutama bagi kita sebagai masyarakat Indonesia. Ketika kita ngomongin tentang kematian, orang-orang akan langsung menghindarinya, seolah-olah hal itu bisa langsung menjadi kenyataan dalam beberapa waktu ke depan, atau bahkan hari itu juga. Tapi, banyak orang yang tidak sadar&#8230;&nbsp; Bukankah datangnya kematian merupakan hal yang sangat mungkin?</p>



<p>Terus menerus lari dari kenyataan bahwa kematian suatu waktu akan tiba untuk ‘menyapa’ kita bukanlah sebuah solusi yang bijak. Toh semua orang juga pasti akan mati, bukan? Daripada capek-capek kabur terus, kenapa pola pikirnya nggak kita balik aja? Kita bisa menjadikan kematian sebagai teman kita untuk berlatih dalam praktik spiritual masing-masing.</p>



<p>Kedengarannya sih ngeri-ngeri sedap ya&#8230; Bukannya malah nambah stres kalau kita malah mikirin mati mulu?&nbsp;</p>



<p>Eitsss&#8230; Siapa sih yang bilang gitu? Buktinya, seperti yang telah dibahas pada artikel Lamrimnesia sebelumnya yang berjudul “<a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/tabu-ngomongin-kematian-sampai-kapan-lari-dari-kenyataan/">Tabu Ngomongin Kematian? Sampai Kapan Lari dari Kenyataan?</a>”, masyarakat Bhutan sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia aja secara teratur mengingat kematian lima kali sehari. Iya, <strong>lima kali sehari</strong>, guys! Apa jangan-jangan ini benar-benar merupakan kunci rahasia yang bikin mereka bisa menjadi salah satu negara paling bahagia di dunia? Bisa jadi! Karma Ura, direktur dari <em>Center for Bhutan Studies</em>, menuturkan bahwa orang Barat begitu takut akan kematian karena mereka terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menghindarinya. Ini tidak berarti bahwa masyarakat Bhutan berpura-pura untuk tidak memiliki ketakutan akan kematian. Sebaliknya, mereka belajar untuk menghadapi ketakutan itu dan menerima kenyataan sehingga hal tersebut dapat menetralkan kecemasan mereka.</p>



<h4><strong>Kematian Sebagai Motivasi Hidup</strong></h4>



<p>Megan Brineau, M.A., seorang psikoterapis dari New York, juga merasa bahwa memikirkan tentang kematian membawa manfaat yang cukup mendalam bagi kehidupan seseorang. Praktik tersebut bisa lebih memotivasi kita untuk merasa lebih ‘hidup’. Bayangkan saja apabila kita hidup abadi dan tahu bahwa akan selalu ada hari esok yang menanti. Kita akan selalu merasa punya waktu dan tidak akan merasakan urgensi untuk segera bertindak demi mencapai tujuan-tujuan kita. Selain itu, memikirkan kematian juga membantu kita dalam mengapresiasi momen sekarang dan hidup lebih <em>mindful</em>. Bayangkan saja apabila kita mati besok, pasti kita akan benar-benar memanfaatkan waktu hari ini dengan baik. Pada intinya, mengingat kematian akan membuat kita memilah mana sebenarnya hal yang paling penting dalam hidup kita untuk diprioritaskan. Apakah itu harta? Keluarga? Teman? Karir? Atau mungkin kualitas spiritual?</p>



<h4><strong>Manfaat Mengingat Kematian</strong></h4>



<p>Jika sebelumnya artikel “<a href="https://lamrimnesia.org/2021/03/04/bukan-cuma-tugas-hidup-juga-ada-deadline-nya/">Bukan Cuma Tugas, Hidup Juga Ada Deadline-nya!</a>” udah membahas tentang betapa ruginya kita kalau kita tidak mengingat kematian, maka artikel kali ini akan membahas secara spesifik tentang manfaat yang bisa dirasakan dari mengingat kematian dari sudut pandang Buddhisme. Kitab-kitab Lamrim (Tahapan Jalan Menuju Pencerahan) membeberkan secara detail <strong>enam manfaat dari mengingat kematian:</strong></p>



<ol><li><strong>Manfaat memberikan nilai besar pada praktik kita </strong>&#8211; Coba bayangin kalau besok kita pasti akan mati, maka hari ini kita pasti akan buru-buru baca mantram dan semua skrip doa yang selama ini tidak kita acuhkan selama kebaktian minggu di vihara *ups. Kita akan langsung jadi orang yang baik banget dalam sekejap karena umur kita yang tinggal sehari.</li><li><strong>Manfaat memberikan kekuatan besar pada praktik kita </strong>&#8211; Selama ini kita selalu muluk-muluk berdebat tentang kekosongan, nirvana, dan hal-hal lainnya yang masih jauh di luar jangkauan kita. Bukannya engga boleh sih, tapi kita juga harus sadar apakah hal itu memang benar-benar membawa kita jadi lebih rajin buat praktik Dharma? Kalo masih belum, mending kita ganti topiknya jadi tentang kematian, pasti akan lebih mengena karena kematian emang hal yang paling jelas ada di sekitar kita dan selalu membayang-bayangin kita setiap saat.&nbsp;</li><li><strong>Manfaat karena penting di awal praktik kita </strong>&#8211; Pas ingat kalo mungkin aja nanti sore kita mati (memang sangat mungkin terjadi sih), kita pasti bakalan panik. Jadinya, kita lebih termotivasi buat sesegera mungkin buat bikin kebajikan.</li><li><strong>Manfaat karena penting di pertengahan praktik kita </strong>&#8211; Buat yang sering bikin kebajikan tapi niatnya setengah-setengah, pasti ga bakal fokus selama bikin kebajikannya. Misalnya pas lagi dengerin ceramah Dharma di vihara pas hari Minggu, pasti malah pada sibuk <em>scroll-scroll </em>IG atau Tiktok. Boro-boro dengerin Bhante nya ngomongin tentang apa di depan, eh kita malah sibuk <em>chattingan</em> sama pacar kita yang lagi jauh entah dimana. Kalau disentil sama ‘malaikat pencabut nyawa’ yang tiba-tiba duduk di sebelah kita, kita bakal langsung fokus tuh pasti buat dengerin Dharma-nya.</li><li><strong>Manfaat karena penting di akhir praktik kita </strong>&#8211; Pada akhirnya, kita bakal fokus untuk <em>stay</em> dengerin ceramah Bhantenya sampai selesai deh~. Kita bakal dapet karma baik yang lebih besar karena motivasi dan tindakan kita yang sudah benar dan lengkap.</li><li><strong>Manfaat karena kita dapat menghadapi kematian dengan kegembiraan dan kebahagiaan </strong>&#8211; Karena kita udah terbiasa buat lebih sering-sering mikirin tentang kematian daripada mikirin tentang mantan mulu ~eh, jadinya kita gabakal takut saat kematian itu benar-benar tiba hari itu juga. Dengan begitu, ga bakal ada rasa penyesalan karena kita udah praktik Dharma dengan baik dan benar.</li></ol>



<p>Jadi, sekarang kita tidak perlu kaget lagi ya kalau melihat jadwal harian seperti yang di atas barusan. Ga perlu muluk-muluk. Lima menit sehari saja sudah sangat cukup kok bagi kita untuk merenungkan kematian. Apabila kita sudah semakin terbiasa, mungkin kita bisa mengikuti cara yang dilakukan oleh masyarakat Bhutan, merenungkannya hingga lima kali sehari. Tentu saja itu akan membuat hidup kita menjadi jauh lebih bahagia dan bermakna.&nbsp;</p>



<p>Untuk menutup artikel ini, saya ingin mengutip satu kalimat favorit saya yang dilontarkan oleh Joe dalam film <em>Soul </em>yang diproduksi oleh <em>Walt Disney Pictures</em>:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“<em>I’m just afraid that if I died today, my life would have amounted to nothing.”</em></p></blockquote>



<p>Oh iya, teman Joe yang bernama Twenty-Two juga memberikan satu kutipan yang menginspirasi saya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“<em>Is all this living really worth dying for?</em>”</p></blockquote>



<p>Penulis: Kevin Chow</p>



<p><strong>Referensi:</strong></p>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche<br><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari: Apa yang Bisa Kuperbuat?</a> oleh Dagpo Rinpoche<br><a href="https://www.grunge.com/243731/why-you-should-think-about-death-five-times-a-day/">“Why you should think about death five times a day”</a> oleh Felix Behr<br><a href="https://matadornetwork.com/bnt/want-happy-think-death/">“Want to be happy? Think about death more.”</a> oleh Dayana Aleksandrova<br><a href="https://www.mindbodygreen.com/0-14057/5-reasons-thinking-about-death-will-make-your-life-better.html">“5 Reasons Thinking About Death Will Make Your Life Better”</a> oleh Megan Bruneau, M.A.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/">Siapa Sangka Ingat Kematian Bisa Bikin Bahagia?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/">Siapa Sangka Ingat Kematian Bisa Bikin Bahagia?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bukan Cuma Tugas, Hidup Juga Ada Deadline-nya!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/03/04/bukan-cuma-tugas-hidup-juga-ada-deadline-nya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2021 07:43:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[kerugian tidak mengingat kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5914</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tujuan hidup manusia ibarat tugas, kematian adalah deadline-nya. Inilah cara mengingat kematian menurut ajaran Buddha!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/03/04/bukan-cuma-tugas-hidup-juga-ada-deadline-nya/">Bukan Cuma Tugas, Hidup Juga Ada Deadline-nya!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/03/04/bukan-cuma-tugas-hidup-juga-ada-deadline-nya/">Bukan Cuma Tugas, Hidup Juga Ada Deadline-nya!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD</p>



<h4><strong>Untuk Direnungkan:</strong></h4>



<p>Bayangkan kamu dikasih tugas sama dosen.</p>



<p>Kamu: “<em>Deadline</em>-nya kapan, Pak?”</p>



<p>Dosen: “Ya, pokoknya dikerjakan saja dulu.”</p>



<p>Kamu: “Siap, Pak!” <em>(Asyik, karena gak ada </em>deadline, <em>kerjainnya bisa ntaran aja~)</em></p>



<p>Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berganti, setiap teringat si tugas kamu masih berpikir, “Besok aja, kan belum ada <em>deadline.</em>”</p>



<p>Eh tiba-tiba dosen kirim <em>chat</em>:</p>



<p>Dosen: “Selamat siang, tugas yang saya berikan gimana progresnya? Deadlinenya sore ini ya”</p>



<p>Kamu:&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/02N_bx3GCIVVINpddyLXFyQcWpCaC0MQSWX9nSRBZmy8EAbNeZ1K5NAE6A7vyYsmbrUT8h_ee_b6Q6I_HS7yTSuz2SuEU23SJfUDKQv59j0oKwGhNOdlE4ReOl_yOA" alt=""/></figure>



<p>Sebagian orang yang agak rajin mungkin nggak <em>relate</em> sama cerita di atas, tapi sebagian besar dari kita pasti pernah mengalami. Tanpa sadar, seperti itulah sikap kita terhadap praktik Dharma dan kematian. Secara logika tentu semua orang akan setuju bahwa suatu saat kita pasti mati, tapi kita memilih untuk tidak memikirkannya sama sekali dengan alasan, “Saya tidak akan mati dalam waktu dekat.”</p>



<p>Tanpa sadar, pikiranmu teralihkan pada kegiatan sehari-hari dan rutinitas tak berujung, dengan berpikiran “selalu ada hari esok”. Kamu nggak sadar mungkin saja besok adalah waktumu untuk meninggalkan dunia ini.&nbsp;</p>



<h4><strong>Kesalahan fatal Itu adalah tidak mengingat kematian</strong></h4>



<p>Pada Avatamsaka Sutra bab 4, dijelaskan bahwa kita hidup di periode saat usia manusia berfluktuasi (bisa bertambah dan berkurang). Dalam periode ini, Sang Buddha hanya bisa mengajarkan Dharma ketika usia manusia terus berkurang: dari maksimal usia 80.000 tahun, berkurang terus hingga hanya 10 tahun. Dari kutipan ini&nbsp; saya menyimpulkan bahwa ketika usia manusia lebih dari 80.000 tahun, tidak ada rasa “<em>urgent” </em>untuk melakukan sesuatu yang bermakna karena merasa usia masih panjang. Usia yang terus berkurang pun bisa jadi merupakan indikasi bahwa Dharma diabaikan oleh sebagian besar orang sehingga manusia tidak memiliki cukup karma baik untuk memiliki umur yang panjang.</p>



<p>Artinya, tanpa menyadari ketidakekalan dalam bentuk kematian, seseorang tidak bisa memiliki cukup motivasi untuk berjuang mempraktikkan Dharma. Secara teoritis dan faktual memang seperti itu, sama seperti perumpamaan di atas. Jika kita tidak menyadari bahwa <em>deadline</em> kita semakin dekat, kita akan terus menunda-nunda tugas kita hingga akhirnya lupa sama sekali.</p>



<h4><strong>Memangnya “kematian” itu </strong><strong><em>deadline </em></strong><strong>buat tugas apa sih?</strong></h4>



<p>Pada artikel sebelumnya, kita sudah memahami bahwa <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/02/lebih-langka-dari-ssr-nilai-besar-kelahiranmu-sebagai-manusia/">tubuh manusia yang kita miliki sekarang ini sangat berharga</a>. </p>



<p>Kita bisa mencapai kebahagiaan sejati dan bahkan bisa menjadi seorang Buddha dengan tubuh manusia ini. Caranya adalah melatih batin sesuai dengan Dharma hingga kita mencapai tingkatan Sang Buddha. Akan tetapi, ada “<em>deadline</em>” yang harus kita kejar dalam memaksimalkan manfaat dari tubuh manusia kita, yaitu kematian. Kita bisa mati kapan saja dan kehilangan tubuh manusia yang berharga ini. Padahal, proses melatih batin butuh waktu yang panjang dan sebanding dengan usaha kita. Semakin giat kita berusaha, semakin cepat kita mencapainya.&nbsp;</p>



<p>Poinnya adalah, bisa jadi kita tidak memiliki cukup waktu untuk benar-benar memanfaatkan tubuh manusia yang sangat berharga ini.<strong> </strong>Memikirkan ada <em>deadline</em> kematian yang bisa datang kapan saja akan mendesak kita untuk segera mengerjakan “tugas” kita yang sudah punya tubuh manusia nan berharga ini, yaitu mempraktikkan Dharma.&nbsp;</p>



<p>Nah, apa jadinya kalau kita nggak ingat <em>deadline</em> berupa kematian? Sangat mungkin kita jadi menyia-nyiakan tubuh manusia yang kita miliki dan nggak menggunakannya dengan baik. Dalam kitab-kitab Lamrim (Tahapan Jalan Menuju Pencerahan), kerugian tidak mengingat kematian dibahas secara khusus agar kita dapat dengan merenungkannya dengan mudah. Kerugian-kerugian itu diuraikan menjadi enam poin berikut:</p>



<ol><li><strong>Gagal mengingat Dharma</strong> &#8211; Karena nggak ingat ada <em>deadline,</em> kita pun lupa sama apa yang harus kita lakukan. Kita sibuk mengejar harta, reputasi, dan hal-hal duniawi lainnya yang sebenarnya nggak bisa dibawa mati.</li><li><strong>Gagal mempraktikkan Dharma </strong>&#8211; Walaupun sudah mengingat Dharma, tanpa mengingat kematian, kita akan cenderung menunda-nunda praktik Dharma karena beranggapan bahwa “masih ada besok”</li><li><strong>Tidak mempraktikkan Dharma dengan benar </strong>&#8211; Dharma memang nggak cuma bermanfaat untuk waktu kita mati saja. Namun, kalau kita nggak mengingat kematian, maka motivasi perbuatan bajik yang dilakukan jadi hanya untuk kehidupan saat ini saja atau tercemar <strong>8 angin duniawi (untung, rugi, kenikmatan, kesakitan, ketenaran, reputasi buruk, pujian, dan celaan).</strong></li><li><strong>Tidak mempraktikkan Dharma dengan sungguh-sungguh</strong> &#8211; ketika sudah mempraktekkan Dharma dengan benar, jika tidak benar-benar mengingat kematian, setiap kali merasa lelah kita cenderung berpikir, “Lambat sedikit tidak apa-apa karena masih banyak waktu.” Hasilnya? Ya nggak pol dong praktiknya.</li><li><strong>Mengembangkan karakter yang buruk</strong> &#8211; tidak mengingat kematian menyebabkan kita fokus memuaskan diri di kehidupan ini saja. Kita pun cenderung mengikuti setiap keinginan duniawi dan membiarkan nafsu keinginan, kebencian, ataupun ketidaktahuan menguasai. Pembiaran ini membuat kita membentuk banyak sekali kebiasaan buruk yang berujung pada karma buruk pula.</li><li><strong>Mati dalam keadaan menyesal </strong>&#8211; pada saat kematian itu benar-benar hadir, kita akan akhirnya sadar bahwa selama ini fokus kita pada harta, ketenaran, kekuasaan, dan lainnya tidak ada gunanya sama sekali. Kita nggak cuma gagal memanfaatkan tubuh manusia kita untuk meraih kebahagiaan sejati dengan praktik Dharma, tapi kita juga melakukan banyak hal yang bikin kita nggak bisa lagi punya tubuh manusia di kehidupan yang akan datang. Gimana nggak menyesal?</li></ol>



<h4><strong>Kamu divonis akan mati 2 hari lagi&#8230;</strong></h4>



<p>Coba bayangkan apa yang akan kamu lakukan ketika mengetahui hal tersebut? Yang pasti pemikiran dan perilakumu akan berubah sepenuhnya. Kamu pasti nggak mau lagi melakukan rutinitas yang diulang setiap hari. Kamu akan benar-benar memikirkan hal apa yang paling penting dan wajib kamu lakukan sebelum kamu mati.&nbsp;</p>



<p>Apalagi kalau kamu sudah tahu bahwa tubuh manusiamu berharga dan bisa mengantarkanmu ke tujuan yang mulia, lebih dari sekadar makan enak dan uang banyak. Kamu akan tetap merasakan emosi, tapi semua itu dilandasi dengan sudut pandang yang sangat berbeda. Kamu nggak akan lagi memikirkan untung-rugi materi. Kamu akan melihat segalanya dengan lebih mendalam dan esensial.</p>



<p>Jadi, mengingat kematian merupakan salah satu praktik Buddhis yang seharusnya kita lakukan setiap saat. Pertama karena memang sifat alami kehidupan bahwa segala sesuatu yang terbentuk adalah tidak kekal, kedua karena memang mengingat kematian memberikan manfaat bagi praktik Dharma pribadi kita.</p>



<p>Sumber:</p>



<p><em>What’s Makes You Not a Buddhist</em> karya Dzongsar Jamyang Khyentse Rinpoche</p>



<p>Pembebasan di Tangan Kita Jilid II karya Phabongkha Rinpoche</p>



<p>Avatamsaka Sutra</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/03/04/bukan-cuma-tugas-hidup-juga-ada-deadline-nya/">Bukan Cuma Tugas, Hidup Juga Ada Deadline-nya!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/03/04/bukan-cuma-tugas-hidup-juga-ada-deadline-nya/">Bukan Cuma Tugas, Hidup Juga Ada Deadline-nya!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>The Problem Is You Think You Have Time &#8211; Bedah Buku Dharma &#8220;Jika Hidupku Tinggal Sehari&#8221; di Cetiya Candra Naya</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2018/03/23/the-problem-is-you-think-you-have-time-bedah-buku-dharma-jika-hidupku-tinggal-sehari-di-cetiya-candra-naya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2018 11:38:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berbagi Dharma]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bedah buku]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[yuk baca]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=3987</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Kalau nanti aku mati, aku akan lahir di mana, ya?” Pernahkah kamu berpikir seperti itu? Kalau belum pernah, kamu pasti terpikirkan hal itu saat mengikuti bedah buku Dharma “Jika Hidupku Tinggal Sehari” di Cetiya Candra Naya, Jakarta, tanggal 18 Maret 2018 lalu. Bedah buku Dharma kali ini dipandu oleh Leonard Haryadi dan dihadiri oleh 30 [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/03/23/the-problem-is-you-think-you-have-time-bedah-buku-dharma-jika-hidupku-tinggal-sehari-di-cetiya-candra-naya/">The Problem Is You Think You Have Time – Bedah Buku Dharma “Jika Hidupku Tinggal Sehari” di Cetiya Candra Naya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/03/23/the-problem-is-you-think-you-have-time-bedah-buku-dharma-jika-hidupku-tinggal-sehari-di-cetiya-candra-naya/">The Problem Is You Think You Have Time &#8211; Bedah Buku Dharma &#8220;Jika Hidupku Tinggal Sehari&#8221; di Cetiya Candra Naya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p>“Kalau nanti aku mati, aku akan lahir di mana, ya?”</p></blockquote>
<p>Pernahkah kamu berpikir seperti itu? Kalau belum pernah, kamu pasti terpikirkan hal itu saat mengikuti bedah buku Dharma “<a href="http://store.lamrimnesia.com/product/jika-hidupku-tinggal-sehari/">Jika Hidupku Tinggal Sehari</a>” di Cetiya Candra Naya, Jakarta, tanggal 18 Maret 2018 lalu. Bedah buku Dharma kali ini dipandu oleh Leonard Haryadi dan dihadiri oleh 30 orang remaja dan dewasa muda.</p>
<aside class="modern-quote pull alignleft">“The problem is you think you have time.”</aside>
<p>Dalam bedah buku ini, peserta diajak untuk benar-benar menyadari bahwa tidak ada jaminan sampai kapan kita hidup. Apakah besok kita masih hidup? Tidak ada yang tahu. Kita harus merenungkan manfaat keberuntungan terlahir sebagai manusia, bagaimana cara untuk menjaga kondisi untuk terlahir kembali sebagai manusia, dan mengikis kilesha kita agar tidak terjatuh kedalam rendah. Kita harus memanfaatkan kehidupan kita dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>“Sebagai generasi Buddhis, kita harus tahu bahwa sekarang kita sering terlena dengan kesenangan duniawi dan jarang memikirkan kematian kita. Kita harus mengingat manfaat keberuntungan terlahir sebagai manusia, bagaimana menjaga kondisi kita untuk terlahir sebagai manusia kembali dan berusaha mengikis kilesha agar tidak terjatuh ke alam rendah. Topik ini harus benar-benar diresap, direnungkan, dicermati, dan dipraktikkan dengan membuka paradigma tentang hidup ini seperti apa dan dapat berusaha untuk menjadi lebih baik lagi,” jelas Leonard ketika ditanya mengapa memilih buku “Jika Hidupku Tinggal Sehari” untuk dibedah.</p>
<p><img loading="lazy" class="wp-image-3988 size-large aligncenter" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9208-1024x577.jpg" alt="" width="702" height="396" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9208-1024x577.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9208-scaled-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9208-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9208-768x433.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9208-1536x866.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9208-2048x1155.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9208-150x85.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9208-450x254.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9208-1200x676.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /></p>
<p>Selain mendapatkan Dharma dari acara bedah buku, peserta yang hadir juga mendapatkan buku “<a href="http://store.lamrimnesia.com/product/nutrisi-hati-kumpulan-artikel-yang-membahagiakan/">Nutrisi Hati</a>”, kumpulan artikel membahagiakan hasil terjemahan para Dharma Patriot Lamrimnesia yang mengikuti acara Dharmacamp 2017. Peserta juga bersama-sama mengumpulkan kebajikan dengan menyalakan pelita persembahan untuk para Buddha.</p>
<p><figure id="attachment_3996" aria-describedby="caption-attachment-3996" style="width: 577px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3996 size-large" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9132-577x1024.jpg" alt="" width="577" height="1024" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9132-577x1024.jpg 577w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9132-scaled-600x1064.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9132-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9132-768x1362.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9132-866x1536.jpg 866w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9132-1154x2048.jpg 1154w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9132-150x266.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9132-450x798.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9132-1200x2129.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9132-scaled.jpg 1443w" sizes="(max-width: 577px) 100vw, 577px" /><figcaption id="caption-attachment-3996" class="wp-caption-text">&#8220;Jadi kepikiran, saya harus berbuat baik karena bisa saja besok saya sudah tidak ada lagi.&#8221; -Sally Tanaka, Mahasiswi, Peserta Bedah Buku-</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3994" aria-describedby="caption-attachment-3994" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3994 size-large" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9140-1024x577.jpg" alt="" width="702" height="396" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9140-1024x577.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9140-scaled-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9140-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9140-768x433.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9140-1536x866.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9140-2048x1155.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9140-150x85.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9140-450x254.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/03/DSCF9140-1200x676.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3994" class="wp-caption-text">Menyalakan pelita persembahan, mendoakan kedamaian bangsa.</figcaption></figure></p>
<p>Sampai jumpa di bedah buku Lamrimnesia berikutnya!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/03/23/the-problem-is-you-think-you-have-time-bedah-buku-dharma-jika-hidupku-tinggal-sehari-di-cetiya-candra-naya/">The Problem Is You Think You Have Time – Bedah Buku Dharma “Jika Hidupku Tinggal Sehari” di Cetiya Candra Naya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/03/23/the-problem-is-you-think-you-have-time-bedah-buku-dharma-jika-hidupku-tinggal-sehari-di-cetiya-candra-naya/">The Problem Is You Think You Have Time &#8211; Bedah Buku Dharma &#8220;Jika Hidupku Tinggal Sehari&#8221; di Cetiya Candra Naya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bunuh Diri: Relevansi Sosiologi dan Agama dalam Pencegahannya</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/07/21/bunuh-diri-relevansi-sosiologi-dan-agama-dalam-pencegahannya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Jul 2017 08:26:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[bunuh diri]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3500</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Stanley Khu Menurut salah satu bapak sosiologi asal Prancis, Emile Durkheim, bunuh diri adalah fenomena yang relatif stabil dalam masyarakat. Artinya, bila kita melihat statistik orang yang melakukan bunuh diri tiap tahunnya dalam masyarakat, kita akan menemukan bahwa angka bunuh diri dari tahun ke tahun tidak terlalu fluktuatif. Bahkan, badan kesehatan dunia, WHO, menyimpulkan [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/07/21/bunuh-diri-relevansi-sosiologi-dan-agama-dalam-pencegahannya/">Bunuh Diri: Relevansi Sosiologi dan Agama dalam Pencegahannya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/07/21/bunuh-diri-relevansi-sosiologi-dan-agama-dalam-pencegahannya/">Bunuh Diri: Relevansi Sosiologi dan Agama dalam Pencegahannya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Stanley Khu</p>
<p>Menurut salah satu bapak sosiologi asal Prancis, Emile Durkheim, bunuh diri adalah fenomena yang relatif stabil dalam masyarakat. Artinya, bila kita melihat statistik orang yang melakukan bunuh diri tiap tahunnya dalam masyarakat, kita akan menemukan bahwa angka bunuh diri dari tahun ke tahun tidak terlalu fluktuatif. Bahkan, badan kesehatan dunia, WHO, menyimpulkan bahwa rata-rata 1 juta orang melakukan bunuh diri tiap tahunnya di seluruh dunia. Faktanya, angka bunuh diri lebih stabil ketimbang angka kematian.</p>
<p>Ketika Durkheim meneliti angka bunuh diri di beberapa negara Eropa di penghujung abad ke-19, ia berangkat dengan asumsi bahwa bunuh diri bukanlah fenomena individual, melainkan fenomena sosial. Artinya, ketika seorang individu memutuskan untuk bunuh diri, ada lebih banyak faktor sosial (budaya, agama, gender, pekerjaan, dst) yang berperan daripada faktor seperti kepribadian individu. Dengan kata lain, meskipun bunuh diri adalah tindakan yang bersifat individual dan internal, ia dipengaruhi oleh faktor eksternal atau kehidupan sosial tempat individu hidup di dalamnya. Singkat kata, Durkheim ingin membuktikan bahwa bahkan tindakan paling individual dan internal seperti bunuh diri pun memiliki aspek sosialnya, yang dengan demikian akan menunjukkan kontribusi ilmu sosial seperti sosiologi dalam perkembangan masyarakat.</p>
<p>Di sini, kata kuncinya adalah ‘integrasi’, yang didefinisikan sebagai hubungan sosial yang mengikat individu pada sebuah kelompok sosial, dan ‘regulasi’, yang didefinisikan sebagai tuntutan moral yang dibebankan pada individu ketika ia menjadi anggota dari sebuah kelompok sosial. Setelah meneliti tingkat bunuh diri di antara pengikut agama tertentu, di antara individu yang jomblo dan menikah, dan di antara masa perang dan masa damai, Durkheim pun sampai pada rumusannya yang terkenal. Untuk menjelaskan fenomena bunuh diri, ia menggolongkan bunuh diri ke dalam tiga tipe.</p>
<p>Yang pertama adalah bunuh diri altruistik. Tipe ini disebabkan oleh tingginya tingkat integrasi dalam suatu masyarakat. Contoh yang ekstrem adalah pilot-pilot Jepang di Perang Dunia II yang melakukan <em>kamikaze</em> atau dengan sengaja menabrakkan pesawat mereka ke musuh. Contoh yang tidak ekstrem adalah polisi yang mati dalam tugas. Dalam kasus bunuh diri altruistik, pelaku lebih tepat dikatakan mengorbankan nyawanya ketimbang mencabut nyawanya. Pengorbanan ini tentu saja dilandasi oleh keyakinan bahwa masyarakat tempat ia menjadi anggota menduduki posisi lebih penting ketimbang dirinya sendiri. Dengan kata lain, tindakan bunuh diri dilakukan dengan sukarela sembari mengusung sebuah tujuan yang mulia di dalam benaknya.</p>
<p>Yang kedua adalah bunuh diri fatalistik. Tipe ini disebabkan oleh tingginya tingkat regulasi dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah para budak, tahanan penjara, mahasiswa yang terbebani oleh kuliah, dan karyawan yang terbebani oleh pekerjaan di kantor. Dalam kasus bunuh diri fatalistik, pelaku merasa terjebak dan tercekik di antara berbagai aturan dan disiplin yang berada di sekelilingnya. Ia boleh jadi merasa bahwa tidak ada masa depan yang terbentang di hadapannya karena semua peluang dalam hidup tampaknya telah diputus oleh sistem hukum yang ada, atau ia merasa bahwa kebebasan dirinya sebagai seorang manusia telah direnggut oleh rutinitas dan birokrasi yang ketat. Dengan kata lain, tindakan bunuh diri dilakukan dengan keyakinan bahwa jati dirinya sebagai seorang manusia telah hilang, dan oleh karenanya tak ada lagi alasan untuk hidup di dunia ini.</p>
<p>Yang ketiga adalah bunuh diri egoistik. Tipe ini disebabkan oleh rendahnya tingkat integrasi dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah para jomblo yang merasa kesepian dalam hidup, siswa sekolah yang merasa tak punya teman, orang kaya yang merasa bahwa orang-orang hanya berteman dengan mereka karena kekayaan yang mereka miliki, atau istri yang tidak bisa hamil dan memiliki anak (yang membuat perannya sebagai seorang wanita bersuami dalam masyarakat tak maksimal). Dalam kasus bunuh diri egoistik, pelaku juga merasakan hilangnya jati diri sebagai seorang manusia. Namun, jika jati diri dalam bunuh diri fatalistik hilang karena terserap ke dalam aneka aturan dan norma, jati diri dalam bunuh diri egoistik hilang karena terpisahnya individu dari aturan dan norma yang ada. Artinya, nilai-nilai moral yang biasanya diwariskan oleh masyarakat kepada anggotanya tidak terjadi dalam kasus bunuh diri egoistik. Dengan kata lain, meskipun hidup di tengah-tengah masyarakat, individu tetap merasa resah karena tak punya pegangan hidup, dan karenanya, merasa sendirian. Kesendirian ini, yang ditambah dengan tiadanya nilai-nilai moral yang bisa mengontrol perilakunya, akhirnya membuat individu menjadi depresi dan memutuskan untuk bunuh diri.</p>
<p>Yang keempat adalah bunuh diri anomik. Tipe ini disebabkan oleh rendahnya tingkat regulasi dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah orang-orang yang bunuh diri karena merasa <em>nothing to lose</em>, seperti karyawan kantor yang baru dipecat, orang yang suka ugal-ugalan di jalan raya, dan pecandu narkoba. Dalam kasus bunuh diri anomik, pelaku merasa tak punya pegangan hidup karena memang tidak ada sesuatu yang bisa dijadikan sebagai pegangan (mis: norma, budaya, agama, nilai-nilai moral) dalam masyarakat. Ketika sebuah negara baru saja melewati sebuah bencana alam yang dahsyat atau sebuah revolusi, di mana norma yang lama sudah dilenyapkan sedangkan norma yang baru masih belum ditetapkan, jamaknya akan ada banyak orang yang melakukan bunuh diri anomik (seperti kasus melonjaknya angka bunuh diri di Eropa ketika terjadi Revolusi 1848). Atau, ketika terjadi ledakan ekonomi, individu untuk sementara waktu akan kehilangan norma yang berlaku dalam masyarakat  karena pada waktu itu segala sesuatu tampak mungkin dilakukan; individu tiba-tiba disodori dengan kebebasan dan kesempatan yang selama ini tak pernah dicicipinya. Terakhir, seiring dengan semakin canggihnya perkembangan zaman, angka bunuh diri anomik juga akan semakin tinggi, karena <em>gadget</em> yang datang silih berganti mencabut individu dari realitas tempat interaksi yang bersifat nyata berlangsung. Dengan kata lain, meskipun individu memiliki teman bermain dan hubungan sosial, kesemuan yang mencirikan hubungan tersebut pada akhirnya akan mendorong individu untuk merasakan hilangnya sebuah jati diri dan makna hidup.</p>
<p>Untuk menjelaskan fenomena bunuh diri atau aksi yang menjurus ke bunuh diri di kalangan remaja yang belakangan ini menjadi berita utama di berbagai media massa, kita akan memakai tipe bunuh diri yang terakhir, yaitu bunuh diri anomik, sebagai kerangka konseptualnya.</p>
<p>Belakangan ini, seperti yang kita semua barangkali ketahui, media massa banyak membahas berita tentang sebuah permainan berbahaya yang dinamakan <em>skip challenge,</em> atau <em>pass out challenge</em>, atau <em>choking game</em>, atau <em>space monkey challenge</em>. Dalam permainan ini, individu akan ditekan dadanya sekeras mungkin sampai ia kehabisan napas. Pada kasus tertentu, ia akan menderita kejang-kejang, atau bahkan pingsan. Sebagai tambahan, media massa juga membahas berita tentang permainan yang bahkan jauh lebih berbahaya lagi. Permainan ini ditemukan di Rusia dan kawasan Asia Tengah, dan dinamakan <em>blue whale challenge</em>. Dalam permainan ini, individu tak hanya ditantang nyalinya, namun juga benar-benar diminta untuk mencabut nyawanya. Peserta permainan ini akan berkomitmen untuk melakukan tugas-tugas tertentu dalam kurun 50 hari. Setiap hari, tugas yang diberikan berbeda-beda, mulai dari tidak berbicara seharian, menonton film horor seharian, menyayat badan sendiri, sampai akhirnya di hari ke-50, peserta akan diminta untuk mengakhiri nyawanya. Boleh jadi kita menganggap bahwa siapa pun penemu dan peserta permainan ini adalah orang-orang yang tidak waras, tetapi faktanya, sudah seratusan orang yang meninggal karena memainkannya.</p>
<p>Selain permainan berbahaya di dunia maya, banyak pula <em>public figure</em> yang diidolakan orang banyak juga melakukan bunuh diri karena berbagai alasan. Contoh yang paling anyar adalah vokalis Linkin Park, Chester Bennington. Kepergian Chester Bennington ini terpaut tak jauh dari Chris Cornell, vokalis <em>band</em> Soundgarden yang juga diduga meninggal karena bunuh diri.</p>
<p>Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia yang kita tinggali ini? Apakah kiamat sudah dekat? Hari Pengadilan sudah menunggu kita semua? Tidak juga. Hari kiamat pasti akan tiba suatu saat nanti, tapi tampaknya hari itu masih jauh dari jangkauan kita. Fenomena ganjil yang sedang kita saksikan saat ini, menurut kacamata sosiologi, tak lain daripada gejala anomie, yakni hilangnya sebuah budaya atau sistem nilai yang mengatur perilaku setiap individu dan menjamin keutuhan dalam bermasyarakat. Hilangnya norma tidak melulu berarti sebuah masyarakat sama sekali tidak memiliki norma apa pun untuk dijadikan pegangan. Hilangnya norma, terutama berkaca pada kondisi masyarakat kita saat ini, juga bisa berarti terkesampingkannya nilai lama oleh nilai baru, yang sayangnya belum begitu teruji kemanjurannya dalam mengikat keutuhan masyarakat.</p>
<p>Jika kita memerhatikan kondisi masyarakat kita saat ini, apa yang terlihat adalah sebuah krisis. Saat ini kita memang tidak lebih melarat atau terkungkung daripada beberapa dekade sebelumnya, namun ketika keseimbangan dalam masyarakat kita terganggu oleh nilai-nilai yang asing dan baru, maka kondisi ini bisa kita namakan sebagai krisis. Dengan semakin gencarnya gelombang modernisasi dan globalisasi yang menghantam setiap negara di dunia ini, tak dapat dipungkiri bahwa setiap orang, terutama kaum remaja yang sedang mencari identitas dan jati dirinya, terpapar oleh kesukaran dalam memilih apa yang terbaik bagi hidupnya. Dan memang pilihan di zaman sekarang begitu melimpah, sampai-sampai timbul semacam perasaan kebebasan yang palsu. Orang-orang merasa bebas memilih dan melakukan apa pun yang dianggapnya baik untuk dirinya. Karena merasa bahwa hidupnya adalah sepenuhnya miliknya, mereka terdorong untuk melakukan apa pun, misalnya aneka tantangan yang mempertaruhkan nyawa. Mereka menolak untuk dikontrol oleh nilai dan norma yang dirasanya sudah usang, dan pada akhirnya mereka pun tiba pada tahap ‘lepas kontrol’; artinya, mereka tiba pada suatu perasaan bahwa kontrol atas hidup hanya bisa diraih melalui pertaruhan hidup itu sendiri.</p>
<p>Ini bukan sekadar kecanggihan dari permainan kata-kata. Saat ini, siapa pun bisa melihat bahwa anak-anak dan kaum remaja semakin kehilangan kontrol atas hidupnya. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, mereka hampir tidak perlu menggerakkan anggota tubuhnya untuk mengetahui dan berhubungan dengan dunia luar. Saat ini, melalui <em>gadget</em>, individu bisa berbicara atau bahkan menatap temannya tanpa perlu bergerak keluar dari kamar. Ia bisa menyaksikan pertandingan sepakbola tanpa perlu memasuki lapangan dan berinteraksi dengan orang-orang. Ia bisa mengetahui aneka macam spesies tumbuhan dan binatang tanpa perlu pergi ke tempat penangkaran atau taman nasional. Jadi, seluruh dunia berikut penghuninya kini seolah-olah berada dalam genggaman jari-jari tangannya yang dengan lincah menekan tombol-tombol pada layar. Namun ada satu hal yang luput: manusia lupa bahwa sebagai <em>homo ludens</em> (makhluk yang bermain dengan alam) dan <em>homo faber</em> (makhluk yang bekerja dengan perantara alam), sudah menjadi kodratnya untuk merasakan alam dan berinteraksi dengan sesamanya tanpa perantara apa pun.</p>
<p>Menurut Durkheim, kapasitas manusia untuk merasakan kebutuhan adalah tak terbatas. Maka dari itu, muncullah berbagai aturan, disiplin, dan otoritas untuk menjaga agar kapasitas ini tak kebablasan. Sayangnya, manusia lupa bahwa meskipun sifatnya lebih terbatas, interaksi langsung dengan manusia lainnya adalah sumber dari pemenuhan dirinya sebagai manusia. Di sisi lain, meskipun <em>gadget</em> menawarkan sebuah kemungkinan yang tak terbatas untuk berinteraksi dengan semua manusia yang ada di bawah kolong langit, faktanya manusia mulai menyalahpahami relasinya dengan teknologi: alih-alih melihatnya sebagai alat bantu, saat ini manusia melihat teknologi sebagai sumber nilai yang baru. Dengan kata lain, ia mengidentikkan dirinya dengan teknologi yang dimilikinya, dan merasa mustahil bisa hidup tanpanya.</p>
<p>Buktinya sederhana saja. Di zaman sekarang, pemandangan di sebuah meja di ruang makan atau restoran adalah sebuah pemandangan yang homogen: A dan B akan duduk bersama mengitari sebuah meja dan masing-masing sibuk bercakap-cakap dengan C dan D yang tak berada di dalam ruangan melalui <em>gadget</em> mereka. Kalau misalnya C dan D adalah seseorang yang benar-benar mereka rindukan, atau kalau percakapan yang berlangsung adalah mengenai sesuatu yang penting, tentu lain masalahnya. Namun masalahnya, ketika suatu hari nanti giliran A bertemu C dan B bertemu D di tempat yang terpisah, A akan kedapatan bercakap-cakap dengan B, dan boleh jadi C dengan D. Fenomena ini bukannya tidak diketahui oleh kita semua, dan malahan sudah sering dijadikan sebagai bahan <em>meme</em>. Namun, satu hal yang tidak kita sadari adalah fakta tentang betapa tergantungnya manusia modern pada <em>gadget </em>yang dikantonginya. Sebagai nilai baru yang dipegangnya, <em>gadget</em> tanpa disadari sudah mencabut kefasihan manusia dalam menerapkan nilai lama, persisnya dengan menawarinya sebuah nilai baru yang bisa kita namai ‘kebebasan tanpa batas’. Sehingga, kini manusia tidak lagi paham bagaimana cara menatap lawan bicaranya dengan benar atau mempertahankan sebuah percakapan yang menarik minimal selama 5 menit.</p>
<p>Dalam penjelasannya tentang bunuh diri, Durkheim memang menempatkan bunuh diri anomik dalam posisi yang berbeda dari ketiga tipe bunuh diri lainnya. Menurutnya, bunuh diri anomik berbeda dari tipe lainnya karena ia bukan soal bagaimana individu terikat dengan masyarakat, tapi bagaimana masyarakat mengatur individu. Untuk lebih jelasnya, kita tahu bahwa bunuh diri egoistik berasal dari ketidakmampuan manusia untuk menemukan landasan bagi eksistensi hidupnya. Bunuh diri altruistik terjadi karena manusia menempatkan landasan bagi eksistensi di luar hidup itu sendiri. Bunuh diri fatalistik terjadi karena basis bagi eksistensi terlalu dominan sehingga melenyapkan jati diri manusia. Lalu bagaimana dengan bunuh diri anomik? Tipe ini, seperti yang sudah disebutkan, terjadi karena tiadanya regulasi (atau norma) yang mengikat individu dalam satu kesatuan dengan individu lainnya. Artinya, meskipun individu masih terus menjalin relasi sosial dengan individu lainnya, kesemuan yang mencirikan relasi ini tak memungkinkan terbentuknya sebuah regulasi yang punya kekuatan mengikat. Tiadanya regulasi yang mengikat ini di satu sisi bisa ditafsirkan sebagai sebentuk kebebasan, namun di sisi lain ia juga bisa berarti tersesatnya individu dalam kehidupan bermasyarakat.</p>
<p>Dan Durkheim sendiri memang ada menyebut tentang anomie sebagai sebuah situasi di mana individu terjebak di antara dua sistem nilai yang tidak saling beririsan. Situasi ini tentu saja menimbulkan semacam kegamangan, karena sesuatu yang baru sudah barang tentu mewakili semangat kekinian, sehingga ada daya tarik yang besar untuk mengikutinya. Di sisi lain, sesuatu yang lama akan tersingkir secara perlahan-lahan oleh nilai-nilai yang baru, terlepas dari kemanjurannya yang sudah tahan teruji oleh waktu. Misalnya, seberapa sering kita mendengar seseorang yang memenangkan lotre dan tak lama kemudian jatuh melarat lagi?</p>
<p>Atau, menyangkut topik kali ini, kita bisa melihat bahwa dalam menghadapi kesulitan hidup, kaum remaja saat ini lebih suka mencari solusinya melalui dunia maya ketimbang berkonsultasi dengan keluarga, terutama orang tua mereka. Persisnya dari sinilah muncul aneka solusi yang kita anggap tak waras, misalnya <em>skip challenge</em> atau<em> blue whale challenge</em> yang telah disinggung sebelumnya. Dan sesuai hukum permintaan dan penawaran, solusi-solusi konyol seperti ini otomatis akan semakin bertambah peminatnya. Di dunia ini, ada banyak remaja galau yang berada di persimpangan jalan. Ketika mereka semua bertemu dalam satu komunitas bernama dunia maya dan akhirnya menemukan bahwa mereka semua memiliki masalah yang sama, timbullah keinginan untuk memecahkan masalah ini dengan sebuah solusi baru yang sama-sama dianggap efektif dari sudut pandang mereka yang individualistik dan posisi mereka yang tercabut dari dunia nyata. Pada akhirnya, ketika solusi tersebut telah diterapkan oleh segelintir orang, segelintir yang lain akan merasa terdorong untuk ikut-ikutan, dan dari sini muncullah sebuah efek domino berupa, misalnya, bunuh diri atau aksi yang menjurus ke bunuh diri dalam skala yang viral.</p>
<p>Selain permainan berbahaya di dunia maya, banyak pula <em>public figure</em> yang diidolakan orang banyak melakukan bunuh diri. Baru-baru ini vokalis <em>band </em>Linkin Park, Chester Bennington, meninggal karena bunuh diri tak lama setelah sahabatnya sekaligus vokalis band Soundgarden, Chris Cornell, lebih dulu meninggal karena hal yang sama.</p>
<p>Di sinilah agama dan ritual masuk dan menjalankan perannya dalam masyarakat. Menurut Durkheim, para pemeluk agama tidak pernah melihat agama sebagai sebuah cara berpikir atau pengetahuan yang baru; bagi mereka, agama hanya membantu kita menjalani hidup. Pemeluk yang berkomunikasi dengan Tuhannya tak bermakna bahwa ia telah melihat kebenaran baru; alih-alih, ia hanya menjadi lebih kokoh dalam mengarungi hidup, karena poin utamanya di sini adalah keyakinan bahwa ia telah diselamatkan oleh keyakinan. Tapi ide saja tentunya tak cukup. Kita mesti beraksi dan mengulangi aksi secara sinambung agar efeknya bisa terus diperbarui. Dari perspektif ini, pemujaan menjadi penting.</p>
<p>Siapa pun yang mempraktikkan agama tahu betul bahwa pemujaanlah yang merangsang perasaan damai, senang, dan antusias. Bagi Durkheim, pemujaan adalah pencipta dan pemelihara keyakinan. Keyakinan beragama bersandar pada pengalaman pasti yang punya nilai demonstratif. Realitas yang menjadi sebab objektif, universal, dan abadi dari pengalaman beragama adalah masyarakat, karena ia mampu membangkitkan rasa aman dan memberikan perlindungan, sehingga individu pun menjadi terikat pada pemujaan atasnya. Adalah realitas bernama masyarakat ini yang membentuk individu dan membuatnya bangkit melampaui dirinya. Di sinilah arti penting pemujaan terletak, karena masyarakat tak bisa menebar pengaruh tanpa aksi, sedangkan ia hanya beraksi bila kumpulan individu yang menyusunnya beraksi dalam aksi bersama; dengan kata lain, masyarakat adalah ‘koperasi aktif’. Jadi, aksilah yang mendominasi kehidupan beragama, dengan masyarakat sebagai sumbernya.</p>
<p>Dan karena perasaan kolektif baru menjadi sadar akan dirinya sendiri melalui objek-objek eksternal, maka daya beragama, atau daya manusia, atau daya moral, tidak bisa mengorganisasi diri tanpa mengidentifikasi diri dengan sebuah ritual. Dengan cara inilah mereka meraih hakikat fisik dan berkontak dengan dunia fisik. Dengan kata lain, melalui ritual fisik seperti sembahyang bersama atau pengakuan dosa, agama memungkinkan gairah, sensasi, emosi, dan kebingungan dalam diri individu keluar dan tersalurkan dengan cara ‘tepat’; artinya, sebuah cara yang juga dilakukan oleh individu lain dalam masyarakat dengan gairah, sensasi, emosi, dan kebingungan yang sama. Untuk merekam kesan-kesan yang diterimanya, manusia menyematkan pada ritual aneka nilai dan daya yang boleh jadi tak dikandung oleh ritual tersebut. Tanpa idealisasi seperti ini, masyarakat takkan mampu mencipta dan mencipta ulang dirinya. Dari sini, muncullah sebuah perasaan bahwa kita sebagai individu tidaklah sendirian berada di dunia yang kejam ini; ada orang-orang yang juga mengalami masalah yang sama seperti kita, dan mereka toh baik-baik saja dan tetap berani dalam menjalani hidup. Efek seperti inilah yang coba ditiru oleh dunia maya, dan terbukti gagal total (terbukti dari betapa banyaknya orang yang malah menjadi tidak berani untuk hidup).</p>
<p>Sebagai kesimpulan, tidak ada masyarakat di dunia ini yang abai pada perlunya upaya memelihara dan memperkuat perasaan dan ide kolektif yang menjadi basis bagi kesatuannya. Dan upaya ini hanya bisa diraih melalui berbagai pertemuan, majelis, dan kongregasi tempat setiap individu bisa menegaskan ulang sentimen besama mereka. Oleh karenanya, meskipun agama adalah sistem ide yang bertujuan untuk mengekspresikan dunia, ia juga merupakan sistem praktik yang berorientasi pada aksi. Aksi ini sendiri harus dipahami dan diakui arti pentingnya, karena dengan mengakui aksi yang terkandung dalam ritual, kita juga, seperti kata Durkheim, mengakui bahwa di atas individu ada sesuatu yang bernama masyarakat, yang menjadi tempat individu mencari dan, pada akhirnya, menemukan makna hidupnya sebagai seorang manusia.</p>
<p>Untuk menutup tulisan ini, kita bisa merenungkan fakta berikut. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Durkheim, ditemukan bahwa di antara kaum jomblo dan kaum yang berpasangan, perilaku bunuh diri lebih banyak ditemukan pada kelompok pertama. Fakta ini tentunya menggiring kita untuk bertanya-tanya kenapa kasus bunuh diri dalam kelompok biarawan Katolik dan biksu Buddhis (kecuali mungkin yang sifatnya altruistik) hampir-hampir tak pernah terdengar. Jawabannya, seperti yang sekarang kita ketahui, adalah fakta bahwa meskipun mereka berstatus jomblo, mereka adalah salah satu kelompok manusia dengan ritual terbanyak di dunia ini.</p>
<p>Sumber Rujukan:</p>
<p>Durkheim, Emile. 1995. <em>The Elementary Forms of Religious Life</em>. New York: The Free Press.</p>
<p>Durkheim, Emile. 2002. <em>Suicide: A Study in Sociology</em>. London &amp; New York: Routledge Classics.</p>
<p>Photo by <a href="http://unsplash.com/photos/zt8PJ6LT9Uw?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Hailey Kean</a> on <a href="https://unsplash.com/?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/07/21/bunuh-diri-relevansi-sosiologi-dan-agama-dalam-pencegahannya/">Bunuh Diri: Relevansi Sosiologi dan Agama dalam Pencegahannya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/07/21/bunuh-diri-relevansi-sosiologi-dan-agama-dalam-pencegahannya/">Bunuh Diri: Relevansi Sosiologi dan Agama dalam Pencegahannya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
