<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>karma - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/karma/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Fri, 21 Nov 2025 10:56:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>karma - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kenalan dengan 4 Sifat Karma</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/11/21/4-sifat-karma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2025 10:56:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10226</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Banyak yang salah kaprah soal karma. Ini penjelasan karma yang sesungguhnya menurut Buddha!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/11/21/4-sifat-karma/">Kenalan dengan 4 Sifat Karma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/11/21/4-sifat-karma/">Kenalan dengan 4 Sifat Karma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Karma adalah pacarku<br>Karma adalah Tuhan<br>Karma adalah angin semilir di rambutku di akhir pekan<br>Karma adalah pikiran yang menenangkan.&#8221;</p><cite>Taylor Swift</cite></blockquote>



<p>Siapa yang sudah sering mendengar penggalan lagu di atas? Siapa yang baru pertama kali dengar? Seperti apa reaksimu? Mungkin ada yang berpikir:<em> kok bisa-bisanya sih menganggap karma sebagai pacar? Apakah Taylor Swift Buddhis? Tapi kayaknya enggak gitu juga deh…</em></p>



<p>Di masyarakat umum, kita mungkin lebih sering mendengar kata “karma” digunakan dalam nuansa yang lebih negatif, misalnya saat seseorang kena celaka, ada yang berceletuk, “Rasain tuh kena karma!” Atau saat ada yang dijahati orang dan tidak bisa membalas, terlontarlah ujaran berikut, “Awas kau kena karma!”</p>



<p>Bagi seorang Buddhis, karma tak seharusnya dipandang sebagai kutukan, apalagi “dimanfaatkan” sebagai balas dendam dari semesta. Karma hanyalah kenyataan hidup yang tak bisa dihindari ataupun diingkari. Dan sama halnya dengan segala hal yang alami di dunia ini, hidup kita akan lebih bahagia kalau kita bisa “berkawan” dengan karma, atau bahkan sampai “pacaran” seperti di penggalan lagu Taylor Swift tadi.</p>



<p>Pertanyaannya: kok bisa “memadu kasih” dengan karma bikin kita lebih bahagia? Kalau memang bisa, bagaimana caranya mengakrabkan diri dengan karma?</p>



<h2><strong>Karma adalah akar semua kebahagiaan</strong></h2>



<p>Struktur Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (Lamrim) menempatkan topik karma di “puncak” latihan motivasi awal, yaitu pada subbab memastikan kebahagiaan di kehidupan mendatang. Kata-kata persisnya adalah “Membangkitkan keyakinan terhadap karma dan akibat-akibatnya, akar dari semua kebahagiaan”.</p>



<p>Kata “akar” digunakan bukan hanya agar kalimatnya terdengar puitis. Kata tersebut ada sebagai penekanan bahwa semua kebahagiaan bisa diraih jika kita meyakini hukum karma. Perlu diingat juga bahwa “yakin” dalam Buddhadharma bukan sekadar keyakinan buta, tapi keyakinan yang berlandaskan pada pemahaman yang menyeluruh terhadap apa yang diyakini.</p>



<p>Dengan kata lain, jika kita benar-benar mempelajari apa itu karma sampai memahami cara kerjanya, kita pasti bisa meraih kebahagiaan apapun yang kita inginkan.</p>



<h2><strong>Sebenarnya karma itu apa sih?</strong></h2>



<p>Kata “karma” umumnya dipakai untuk membicarakan “hukum karma”, yaitu hukum sebab-akibat yang menentukan segala hal di semesta ini. Bahkan setitik debu yang menempel di baju kita pun merupakan akibat dari suatu sebab.</p>



<p>Lebih khususnya lagi, kata “karma” sendiri bisa diartikan sebagai dorongan mental yang mengarahkan kita untuk melakukan suatu tindakan, baik melalui tubuh, ucapan, atau bahkan tindakan mental. Dari sini, karma bisa dipandang sebagai niat ataupun perbuatan yang nanti akan menghasilkan akibat. Kadang kata “karma” dipakai untung merujuk pada akibat dari suatu tindakan.</p>



<p>Karma itu sendiri sangatlah kompleks Hanya seorang Sammasambuddha yang bisa mengetahui secara persis sebab-akibat karma dari suatu fenomena.</p>



<p>Untungnya, kita bisa mulai memahami rumitnya karma dari 4 sifatnya yang sudah dirangkum dalam penjelasan sederhana dalam Lamrim.</p>



<h2><strong>Sifat pertama: karma itu pasti</strong></h2>



<p>Jika kita menanam biji mangga, maka yang tumbuh pastilah mangga, tidak mungkin apel. Begitu juga karma. Suatu tindakan buruk pasti hasilnya tak menyenangkan. Sebaliknya, tindakan baik pasti menghasilkan hal baik pula.</p>



<p>Sifat ini bisa jadi pegangan kita setiap kali ragu-ragu untuk melakukan sesuatu. Kalau itu hal yang bermanfaat dan disadari niat baik, kita bisa yakin bahwa kita akan panen kebaikan dari hal tersebut. Kalaupun kita gagal atau hasilnya tidak sesuai harapan, minimal kita jadi punya tabungan karma baik yang akan menguntungkan kita di masa depan.</p>



<p>Sebaliknya, kita juga tidak perlu buang-buang tenaga untuk membalas atau memaki orang yang semena-mena, baik yang sifatnya personal seperti tukang utang yang lebih galak dari pemberi utang sampai yang masif seperti koruptor dan penjahat perang. Cepat atau lambat, mereka pasti kena imbasnya. Bukan berarti kita tidak perlu mendukung upaya untuk membuat mereka berhenti merugikan orang lain, ya. Tapi kalau memang tidak ada yang bisa dilakukan, keyakinan pada kepastian karma akan melindungi kita dari rasa putus asa akibat “ketidakadilan dunia” dan mencegah kita melukai diri sendiri gara-gara menghujat atau membalas dendam atas dasar kemarahan.</p>



<h2><strong>Sifat kedua: karma berlipat ganda</strong></h2>



<p>Lanjut lagi dengan analogi tanaman, satu biji yang kecil bisa tumbuh jadi pohon besar dan berbuah banyak. Begitu juga dengan karma, satu tindakan kecil bisa menghasilkan akibat yang besar.&nbsp;</p>



<p>Banyak sekali kisah-kisah satu karma buruk kecil berujung pada kelahiran di alam rendah yang mengerikan. Dalam Sutra tentang yang Bijak dan yang Dungu, ada kisah biksu yang terlahir kembali sebagai kera selama ratusan kehidupan karena menghina orang. Ada juga orang yang terlahir kembali menjadi monster laut berkepala delapan belas karena disuruh ibunya mencemooh sesama anggota Sangha.</p>



<p>Sebaliknya, banyak juga kisah tindakan yang sangat kecil menghasilkan kebajikan yang luar biasa besar. Salah satu murid Buddha Sakyamuni selalu memiliki koin emas di tangannya berkat mempersembahkan emas hasil menjual kayu bakar pada Buddha Kasyapa di kehidupan lampaunya. Kera di Sutra tentang yang Bijak dan yang Dungu tadi juga akhirnya terlahir kembali sebagai manusia dalam kondisi yang sangat bajik dan mencapai tingkat kesucian berkat berdana madu kepada Buddha.</p>



<p>Sifat karma yang satu ini adalah <em>reminder </em>buat kita untuk berusaha menghindari karma buruk sekecil apapun karena akibatnya bisa luar biasa berat. Ngeri? Banget. Tapi di sisi lain, kita bisa optimis menghimpun karma baik yang enggak kalah luar biasa besar dari tindakan-tindakan kecil.</p>



<h2><strong>Sifat ketiga: kita tidak akan mengalami akibat karma yang tidak dilakukan</strong></h2>



<p>Kamu mungkin punya tanah yang subur, yang rajin kita rawat dengan pupuk kualitas terbaik, air melimpah. Tapi kok enggak ada yang tumbuh ya? Astaga! Ternyata bijinya belum ada!&nbsp;</p>



<p>Ini sangat sering terjadi di zaman sekarang. Banyak orang kerja keras bagaikan kuda, berharap bisa mencapai financial freedom di umur 30. Pengeluaran ditekan sesedikit mungkin. Makan sendiri pun diirit-irit. Berdana? Boro-boro. Eh ujung-ujungnya bukannya kaya, malah bangkrut karena sakit dan harus keluar banyak uang untuk berobat.</p>



<p>Mungkin ada yang berpikir, “Kan hemat pangkal kaya. Ini udah hemat, kok masih gagal juga? Karma gak adil dong.”</p>



<p>Ternyata selama ini kita salah paham antara sebab dan kondisi. Menurut hukum karma, sebab kelimpahan materi adalah kemurahan hati. Kerja keras, <em>upgrade skill,</em> dan <em>financial planning</em> adalah kondisi yang dibutuhkan agar karmanya bisa berbuah, seperti tanaman yang butuh air, sinar matahari, dan tanah yang subur untuk bisa tumbuh dengan baik. Masalahnya, semua kondisi itu akan sia-sia kalau kita lupa menyiapkan sebab yang sesuai.</p>



<p>Jadi, kalau kita merasa usaha kita tak kunjung membuahkan hasil, kita bisa cek ulang: apakah kita sudah menyiapkan sebab yang sesuai?</p>



<p>Ada satu <em>angle </em>lain tentang sifat karma yang satu ini. Kenapa bisa ada satu orang selamat ketika terjadi kecelakaan yang menewaskan ratusan orang? Kenapa bisa ada satu rumah lolos ketika satu kawasan dilanda bencana?&nbsp;</p>



<p>Umumnya orang akan bilang sebabnya adalah mukjizat luar biasa, tapi sebenarnya ini cuma cara karma bekerja, <em>business as usual. </em>Satu orang yang selamat dari kecelakaan itu mungkin pernah bikin sebab karma yang bikin dia kena musibah, tapi dia enggak punya karma untuk meninggal karena musibah itu.&nbsp;Dari sini kita jadi tahu bahwa kita tidak perlu cemas berlebih soal masa depan. Kalau kita tidak mau kena musibah, ya tinggal jangan bikin sebabnya.</p>



<p>Masalahnya, kita kan enggak tahu ya kita udah bikin karma aja dari kehidupan lampau. Tadi pagi turun dari kasur kaki kanan dulu atau kaki kiri dulu aja kita enggak ingat. Terus gimana dong?</p>



<h2><strong>Sifat keempat: karma yang sudah dilakukan tidak akan hilang begitu saja</strong></h2>



<p>Kenal Arya Maudgalyayana (B. Pali: Moggallana), murid Buddha yang paling sakti? Beliau bisa terbang, punya ilmu kebal, bahkan konon bisa “jalan-jalan” ke neraka, tapi meninggal dikeroyok rampok. Kesaktiannya mendadak “hilang” ketika harus menghadapi buah karma buruk membunuh orang tuanya di kehidupan lampau. Ada juga Arya Nagarjuna, filsuf besar yang konon berumur ratusan tahun, akhirnya meninggal terpenggal karena karma buruk memotong kepala seekor semut.</p>



<p>Dari sifat karma yang satu ini, kita bisa belajar bahwa ada hal-hal tak menyenangkan yang tidak bisa kita hindari. Kita enggak tahu karma apa saja yang sudah kita himpun dari berkehidupan-kehidupan lalu. Misalnya kita punya karma dapat bos toksik, kita lari ke planet Mars pun kita masih kan ketemu bos yang toksik<em> </em>sampai karma buruk kita habis.</p>



<p>Kok kayak takdir? Iya, tapi bedanya konsep karma sama takdir, kita mengalami penderitaan ini dan itu bukan karena ada sosok di atas langit yang sengaja ngerjain kita. Semua yang kita alami sekarang itu ya gara-gara ulah diri kita sendiri di masa lampau.</p>



<p>Tapi, kerennya Buddhadharma adalah kita enggak dibiarkan tenggelam dalam rasa bersalah. Iya, memang masalah kita sekarang itu kita yang bikin sendiri, tapi ketika kita mengalami si masalah itu, satu karma buruk kita sudah berkurang. Bagus kan? Dan kita bisa banget dari sekarang bikin karma baik yang banyak buat mempersiapkan masa depan yang lebih bahagia.&nbsp;</p>



<p>Lagipula, kata-kata persis dari sifat karma yang satu ini adalah “tidak akan hilang begitu saja”, bukan “tidak bisa hilang sama sekali”. Ternyata ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk memurnikan atau melemahkan karma buruk yang terlanjur kita himpun. Praktiknya enggak gampang, jadi tetap lebih baik jangan bikin karma buruk sama sekali. Tapi, ini mengingatkan kita bahwa kita enggak perlu berkecil hati, minder, apalagi putus asa ketika terlanjur bikin karma buruk.</p>



<p>Baca tentang praktik pemurnian karma buruk di <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/07/jalan-keluar-dari-karma-buruk/">sini</a>.</p>



<h2 id="h-sudah-siap-pdkt-dengan-karma"><strong>Sudah siap PDKT dengan karma?</strong></h2>



<p>Percaya enggak percaya, kebanyakan terapi atau <em>healing </em>emosional itu sebenarnya cuma penerapan konsep karma yang dibungkus ulang. Penerimaan diri, misalnya. Gimana caranya kita bisa menerima diri sendiri? Ya, pahami kepastian karma. <em>Manifesting</em>? Aslinya dedikasi karma baik kok. Dasarnya ya dari karma baik bisa berlipat ganda dan enggak akan hilang begitu saja. <em>Be present</em>? Kita bisa hadir sepenuhnya di momen saat ini kalau kita enggak mencemaskan masa depan. Gimana supaya bisa enggak cemas? Ingat kita enggak akan mengalami karma yang tidak kita perbuat plus praktikin purifikasi buat karma yang udah terlanjur lewat.</p>



<p>Setelah tahu sifat-sifat karma, langkah berikutnya adalah belajar tentang jenis-jenis karma yang perlu kita hindari dan kita himpun, macam-macam akibat karma, komponen atau jalan karma, faktor yang menentukan beratnya suatu karma, dan pembahasan khusus tentang karma yang dibutuhkan untuk punya kualitas matang seperti kaya, rupawan, terkenal, dsb. di masa depan.</p>



<p>Ketika kita benar-benar akrab dengan karma dan kita 100% yakin, sampai masuk ke hati, hidup kita akan jadi super damai dan ringan. Kita bakal bisa berdamai dengan masa lalu dan melakukan yang terbaik buat masa depan. Jangkauannya bukan cuma buat satu kehidupan ini saja, tapi sampai kehidupan mendatang, bahkan sampai Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna! Yakin deh, pacar idaman kamu aja enggak bisa menemani kamu dan memberimu rasa aman sampai sejauh itu!</p>



<p>Referensi:</p>



<ul><li><a href="https://www.tokopedia.com/lamrimnesiastore/pembebasan-di-tangan-kita-set-jilid-i-ii-iii-oleh-phabongkha-rinpoche-buku-agama-buddha-1729813382775605075?extParam=ivf%3Dfalse%26keyword%3Dpembebasan+di+tangan+kita%26search_id%3D20251117065526496E05E1AEA0A90B5Q5V%26src%3Dsearch">Pembebasan di Tangan Kita</a> Jilid II karya Phabongka Rinpoche</li><li><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Karma_Akibatnya?id=OZiWDwAAQBAJ">Karma dan Akibatnya</a> karya Guru Dagpo Rinpoche</li></ul><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/11/21/4-sifat-karma/">Kenalan dengan 4 Sifat Karma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/11/21/4-sifat-karma/">Kenalan dengan 4 Sifat Karma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mungkinkah Kebajikan Berlipat Ganda?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/11/22/mungkinkah-kebajikan-berlipat-ganda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Nov 2024 07:57:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9570</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Mengupas faktor-faktor penyebab karma bajik dan karma tak bajik  menjadi berlipat ganda hingga 10 juta kali.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/22/mungkinkah-kebajikan-berlipat-ganda/">Mungkinkah Kebajikan Berlipat Ganda?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/22/mungkinkah-kebajikan-berlipat-ganda/">Mungkinkah Kebajikan Berlipat Ganda?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><strong>Jawabannya</strong> M<strong>UNGKIN</strong></p>



<p>Ada banyak faktor yang menyebabkan karma bajik dan karma tak bajik menjadi berlipat ganda.</p>



<h2 id="h-apa-aja-faktornya">Apa aja faktornya?</h2>



<p>1. Sifat Umum Karma</p>



<p>Salah satu dari 4 sifat umum karma adalah karma berkembang pesat. Tindakan seremeh apa pun bisa berkembang menjadi himpunan karma yang besar. Konsepnya sama seperti menanam benih pohon apel. Benih yang sangat kecil akan bertumbuh menjadi pohon dan menghasilkan buah yang sangat banyak. Begitu juga dengan karma!</p>



<p>2. Penerima</p>



<p>Karma yang ditujukan pada Triratna, para Bodhisatwa, dan anggota Sangha memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan kalau ditujukan untuk penerima lain.</p>



<p>3. Pendukung</p>



<p>Semakin banyak sila yang dijaga, semakin besar kekuatan karma yang dilakukan. Semakin besar pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimiliki, semakin ringan kesalahan yang dilakukan. Begitu juga sebaliknya.</p>



<p>4. Objek</p>



<p>Pemberian Dharma atau ajaran jauh lebih unggul daripada pemberian materi. Pemberian materi yang tertinggi adalah pemberian badan jasmani.</p>



<p>5. Sikap</p>



<p>Ada 2 aspek: intensitas &amp; durasi. Semakin kuat pemikiran di balik sebuah tindakan, baik itu motivasi ataupun faktor mental pengganggu, karmanya akan semakin kuat. Semakin sering &amp; semakin lama suatu tindakan dilakukan, dampaknya juga semakin besar.</p>



<p>6. Waktu</p>



<p>Ada 4 hari di mana Sang Buddha menunjukan kekuatan luar biasa demi kepentingan semua makhluk. Pada hari-hari tersebut, baik kebajikan maupun ketidakbajikan akan berlipat ganda sebanyak 10 juta kali.</p>



<p>Yang terdekat saat ini adalah <a href="https://lamrimnesia.org/2023/11/28/balas-jasa-terindah-untuk-ibu-paling-beruntung/">Lhabab Duchen</a> (tahun ini: 22 November 2024), hari di mana Sang Buddha kembali dari mengajarkan Dharma kepada ibunya &amp; para dewa di Surga Trāyastriṃśa.</p>



<p>Kita bisa mengikuti teladan Buddha untuk melakukan sesuatu untuk orang tersayang dengan menghimpun kebajikan berlipat ganda di hari ini dan melimpahkan jasanya untuk mereka, misalnya dengan chanting Sutra/Mantra, praktik berdana, dan menolong orang yang membutuhkan bantuan. Lakukan dengan motivasi bajik untuk meraih kebahagiaan yang tahan lama bagi diri sendiri dan semua makhluk.</p>



<p>Referensi:</p>



<p> <a href="https://play.google.com/store/books/details?id=OZiWDwAAQBAJ">“Karma dan Akibatnya”</a> karya Guru Dagpo Rinpoche.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/22/mungkinkah-kebajikan-berlipat-ganda/">Mungkinkah Kebajikan Berlipat Ganda?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/22/mungkinkah-kebajikan-berlipat-ganda/">Mungkinkah Kebajikan Berlipat Ganda?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Banyak Bencana di Negeri Ini, Apa yang Bisa Kuperbuat?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/01/02/banyak-bencana-di-negeri-ini-apa-yang-bisa-kuperbuat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jan 2024 08:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir Kalsel]]></category>
		<category><![CDATA[bencana alam 2021]]></category>
		<category><![CDATA[Erupsi Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Erupsi Semeru]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa Sulbar]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Longsor Sumedang]]></category>
		<category><![CDATA[SJ182]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5763</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Indonesia diterpa bencana alam beruntun di awal 2021. Kenapa bencana terjadi dan apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang Buddhis?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/01/02/banyak-bencana-di-negeri-ini-apa-yang-bisa-kuperbuat/">Banyak Bencana di Negeri Ini, Apa yang Bisa Kuperbuat?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/01/02/banyak-bencana-di-negeri-ini-apa-yang-bisa-kuperbuat/">Banyak Bencana di Negeri Ini, Apa yang Bisa Kuperbuat?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Junarsih</p>



<p>Januari, bulan pertama di tahun 2021 ini membuat Indonesia harus lebih sabar dengan berbagai bencana yang ada. Mulai dari pandemi COVID-19 yang sudah ada sejak tahun 2020, pesawat Sriwijaya Air yang jatuh, tanah longsor di Sumedang, banjir di Kepulauan Riau; Sumatera Barat; Kalimantan Selatan; dan Jawa timur, gempa bumi di Majene dan Alor, sampai Gunung Merapi dan juga Semeru yang meletus.</p>



<p><strong>Mengapa Bencana bisa Terjadi?</strong></p>



<p>Tidak ada yang tahu kapan suatu bencana bisa terjadi. Tidak ada juga yang bisa mengetahui secara pasti sebab dari terjadinya suatu bencana. Ada banyak sekali sebab-sebab yang saling bergantung di balik terjadinya suatu fenomena.&nbsp;</p>



<p>Dalam Buddhisme, segala fenomena yang terjadi di dunia dijelaskan oleh suatu hukum, yakni <em>Pañcaniyāmadhamma </em>atau lima hukum alam. Kelima hukum tersebut di antaranya:</p>



<ol><li><strong><em>Utuniyāma</em></strong>, hukum tentang berbagai gejala alam yang bersifat fisik dan anorganik, misalnya cuaca, iklim, terbentuknya tata surya, dsb.</li><li><strong><em>Bijaniyāma</em></strong>, hukum alam seputar tumbuh-tumbuhan dan genetika/penurunan sifat.</li><li><strong><em>Kammaniyāma</em></strong>, hukum sebab-akibat, misalnya perbuatan baik pasti berakibat baik, perbuatan buruk pasti berakibat buruk.</li><li><strong><em>Cittaniyāma</em></strong>, hukum kepastian atau keteraturan kesadaran. Segala jenis proses berpikir saat sadar maupun tidak sadar, kekuatan pikiran, hingga telepati diatur oleh hukum ini.</li><li><strong><em>Dhammaniyāma</em></strong>, hukum tentang sebab-sebab keselarasan dari suatu gejala yang khas, misalnya keajaiban alam saat seorang calon Buddha lahir. Listrik dan gelombang juga termasuk di sini.</li></ol>



<p>Dari kelima hukum alam tersebut jadi mana yang mengatur bencana alam? Jawabannya adalah <em>utuniyāma</em> dan <em>kammaniyāma</em>. Segala bencana yang berkaitan dengan alam seperti gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, dan banjir adalah kinerja dari <em>utuniyāma</em>. Namun, <em>niyama-niyama</em> yang lain juga turut terlibat dalam terjadinya suatu fenomena. Misalnya banjir merupakan akibat dari maraknya aktivitas penggundulan hutan. Karma kolektif dari orang-orang yang tinggal di suatu lokasi juga berpengaruh. Selain itu, ada lagi faktor lain seperti tempat dan waktu yang mendukung. Jadi, setiap kejadian bargantung pada banyak sekali sebab-sebab yang saling berkaitan, termasuk bencana.</p>



<p><strong>Apa yang Harus Kita Perbuat Saat Ini?</strong></p>



<p>Kalau sedang banyak bencana seperti ini, saya jadi teringat waktu masih tinggal di Palu, Sulawesi Tengah. Di sana sering sekali terjadi gempa. Berhubung saat itu saya masih kecil, saya belum tahu harus berbuat apa. Sekarang pun mungkin banyak di antara kita yang merasakan hal yang sama. Berikut ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan untuk menghadapi bencana yang telah terjadi sekaligus mempersiapkan diri untuk kemungkinan bencana di masa mendatang.</p>



<p><strong>1. Merenungkan Ketidakkekalan</strong></p>



<p>Ketika banyak bencana terjadi secara beruntun, sangat wajar jika muncul pikiran, “Bagaimana kalau bencana ini terjadi padaku atau orang-orang yang kusayangi?”</p>



<p>Jika kita tinggal di daerah rawan bencana, kita bisa mempersiapkan diri secara fisik, misalnya dengan mencari tahu tentang bencana yang mungkin terjadi, mempelajari cara evakuasi, dan menyiapkan perbekalan darurat. Namun, persiapan batin juga sama atau bahkan malah lebih penting.</p>



<p>Banyaknya bencana yang terjadi di sekitar kita adalah momen yang paling pas untuk mempersiapkan batin kita untuk menerima perubahan. Buddha mengajarkan bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Nyawa kita, harta benda kita, dan orang-orang yang kita sayangi bisa hilang kapan saja, baik itu karena bencana alam atau kejadian lain. Itu semua bergantung pada karma kita dan orang-orang di sekitar kita.</p>



<p>Saat ini, bencana sudah terjadi di sekitar kita dan tak ada jaminan kita tidak akan mengalaminya. Jika kita sadar akan kemungkinan ini dan bisa menerimanya dengan legowo, ketika bencana benar-benar terjadi, kita tak akan tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut.</p>



<p>Bahkan jika saat ini kita atau orang-orang terkasih telah menjadi korban bencana, merenungkan ketidakkekalan bisa membantu kita untuk lebih menerima keadaan. Lebih jauh lagi, kita juga akan menyadari bahwa penderitaan kita saat ini juga tidak kekal sehingga kita bisa punya semangat untuk bangkit dan berjuang.</p>



<p><em>Baca juga: </em><a href="https://lamrimnesia.org/2020/01/17/mengapa-seharusnya-seorang-buddhis-tulen-tidak-akan-takut-pada-bencana-dunia/"><em>Mengapa Seharusnya Seorang Buddhis “Tulen” Tidak Akan Takut pada Bencana Dunia</em></a></p>



<p><strong>2. Kumpulkan Kebajikan &amp; Dedikasikan</strong></p>



<p>Hanya bersedih saja saat ada bencana alam tidaklah menyelesaikan permasalahan. Meski saat ini kita semua terjebak di rumah masing-masing karena pandemi, masih ada bantuan yang amat sederhana yang bisa kita lakukan untuk mengurangi penderitaan para korban bencana!&nbsp;</p>



<p>Kita bisa melakukan kebaikan apapun dari rumah dan mendedikasikan kebajikan itu untuk para korban bencana. Doakan semoga yang meninggal bisa terlahir kembali di alam yang bahagia dan yang masih berjuang tetap kuat, dapat segera bangkit, dan kembali beraktivitas seperti sedia kala. Dedikasikan juga kebajikanmu untuk Indonesia yang damai, tentram, dan bebas bencana alam.</p>



<p><em>Baca juga: </em><a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/27/benarkah-doa-bisa-terkabul/"><em>Benarkah Doa Bisa Terkabul?</em></a></p>



<p><strong>3. Kirim Bantuan Nyata</strong>&nbsp;</p>



<p>Kalau kita mampu, tentu saja kita harus melakukan sesuatu yang bisa secara langsung membantu para korban bencana. Dalam kondisi pandemi, mungkin sulit bagi kita untuk memberikan dukungan tenaga dengan menjadi relawan di lokasi bencana. Namun, kita masih bisa memberikan dukungan materi.&nbsp;</p>



<p>Dengan menekan satu tombol <em>search </em>di Google, kamu bisa menemukan banyak pos-pos yang bisa menyalurkan bantuanmu untuk bencana-bencana yang terjadi di Indonesia. Jangan lupa cek latar belakang lembaga yang membuka pos donasi, ya!&nbsp;</p>



<p>Untuk memulai, kamu bisa cek pos-pos dana berikut:</p>



<ul><li><a href="https://www.instagram.com/p/CKGC2-wA_gU/?utm_source=ig_web_copy_link">Karuna untuk Peduli Kasih Banjir Sulawesi Utara &#8211; Yayasan Karuna Mitta Wijaya</a>&nbsp;</li><li><a href="https://www.instagram.com/p/CJ3bIO2sWd6/?utm_source=ig_web_copy_link">Bantu Penyintas Erupsi Gunung Merapi &#8211; Human Initiative</a></li><li><a href="https://www.instagram.com/p/CKJTUrbgJ8h/">Open Posko &amp; Donasi Bencana Ekologis Kalsel &#8211; WALHI Kalimantan Selatan</a></li><li><a href="https://sumedangkab.go.id/berita/detail/bantuan-untuk-korban-longsor-terus-mengalir">Donasi Longsor Sumedang &#8211; Pemerintah Kabupaten Sumedang</a></li></ul>



<p>Referensi:</p>



<ol><li><a href="https://dhammacakka.org/?channel=ceramah&amp;mode=detailbd&amp;id=1018">“Energi Semesta dan Kehidupan” oleh Bhikkhu Dhammakaro</a></li><li><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Karma?id=seGMDwAAQBAJ">“Karma” oleh Guru Dagpo Rinpoche</a></li></ol><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/01/02/banyak-bencana-di-negeri-ini-apa-yang-bisa-kuperbuat/">Banyak Bencana di Negeri Ini, Apa yang Bisa Kuperbuat?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/01/02/banyak-bencana-di-negeri-ini-apa-yang-bisa-kuperbuat/">Banyak Bencana di Negeri Ini, Apa yang Bisa Kuperbuat?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bedah Karma: Kenapa Terjadi Diskriminasi?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/03/30/kenapa-terjadi-diskriminasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[volunteer lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Mar 2023 06:45:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[rasisme]]></category>
		<category><![CDATA[stop diskriminasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=8024</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dunia makin terhubung, tapi konflik yang dulunya terselubung makin tampak dari permukaan. Diskriminasi makin terlihat. Banyak orang yang gampang tersulut hanya karena perbedaan suku, ras, ataupun agama. Jika kamu belum pernah mengalami diskriminasi, bersyukurlah. Jika kamu pernah atau sedang mengalaminya, berjuanglah. Semoga coba-coba bedah karma ini bisa membantumu semakin dekat dengan cinta kasih dan welas [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/03/30/kenapa-terjadi-diskriminasi/">Bedah Karma: Kenapa Terjadi Diskriminasi?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/03/30/kenapa-terjadi-diskriminasi/">Bedah Karma: Kenapa Terjadi Diskriminasi?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/volunteer/">volunteer lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="819" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25-819x1024.png" alt="" class="wp-image-8025" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25-819x1024.png 819w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25-768x960.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25-150x188.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25-450x563.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25-600x750.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p>Dunia makin terhubung, tapi konflik yang dulunya terselubung makin tampak dari permukaan. Diskriminasi makin terlihat. Banyak orang yang gampang tersulut hanya karena perbedaan suku, ras, ataupun agama.</p>



<p>Jika kamu belum pernah mengalami diskriminasi, bersyukurlah. Jika kamu pernah atau sedang mengalaminya, berjuanglah.</p>



<p><a></a>Semoga coba-coba bedah karma ini bisa membantumu semakin dekat dengan cinta kasih dan welas asih Buddha yang memandang semua makhluk sebagai yang tersayang, tanpa diskriminasi!</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8026" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8027" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8028" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8029" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/03/30/kenapa-terjadi-diskriminasi/">Bedah Karma: Kenapa Terjadi Diskriminasi?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/03/30/kenapa-terjadi-diskriminasi/">Bedah Karma: Kenapa Terjadi Diskriminasi?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/volunteer/">volunteer lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tahun Baru Imlek: Budaya yang Bisa Jadi Praktik Dharma</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/02/04/tahun-baru-imlek-budaya-yang-bisa-jadi-praktik-dharma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Feb 2022 07:58:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dana]]></category>
		<category><![CDATA[dedikasi]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru imlek 2022]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6761</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Masih banyak yang salah mengira kalau tahun baru Imlek adalah hari raya agama Buddha. Namun, tradisi masyarakat Tionghoa ini tetap bisa jadi ajang buat praktik Dharma lho!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/04/tahun-baru-imlek-budaya-yang-bisa-jadi-praktik-dharma/">Tahun Baru Imlek: Budaya yang Bisa Jadi Praktik Dharma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/04/tahun-baru-imlek-budaya-yang-bisa-jadi-praktik-dharma/">Tahun Baru Imlek: Budaya yang Bisa Jadi Praktik Dharma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Buddhis ya? Ngerayain Imlek dong?” Pernah ditodong pertanyaan seperti itu? Atau barangkali kamu yang sering nanya begitu? Seolah-olah tahun baru imlek merupakan hari raya agama Buddha yang sudah sewajibnya dirayakan seluruh umat Buddha.</p>



<p>Memang banyak umat Buddha yang keturunan Tionghoa dan merayakan tahun baru Imlek. Makanya orang bisa mengira tahun baru Imlek itu hari raya agama Buddha. Padahal, nyatanya tidak demikian. Selain banyak juga umat Buddha Indonesia yang bukan keturunan Tionghoa, tahun baru Imlek juga bukan hari raya keagamaan!</p>



<h4><strong>Sejarah Tahun Baru Imlek</strong></h4>



<p>Perayaan tahun Imlek imlek yang sudah berusia 3500 tahun ini mulanya merupakan ritual menyambut musim semi bagi petani-petani China. Oleh sebab itu, tahun baru imlek juga akrab disebut <em>Xin Jia </em>yang artinya festival musim semi. Dari situ, konsep tahun semakin populer di China. Seiring berjalannya waktu, perayaan tahun baru Imlek yang mulanya hanya ritual pun kemudian berubah menjadi festival rakyat. Tradisi ini mengakar kuat dan terus dipertahankan oleh etnis Tionghoa yang tersebar di seluruh dunia, termasuk Indonesia.</p>



<p>Melihat sejarah tersebut, kita jadi tahu bahwa tahun baru Imlek tidak ada kaitannya dengan agama Buddha, melainkan merupakan sebuah tradisi budaya. Tahun baru Imlek ini dapat dirayakan oleh seluruh masyarakat etnis Tionghoa, terlepas dari apapun agama yang dipeluknya. Namun, meskipun bukan hari raya agama Buddha, terdapat beberapa tradisi hari raya imlek yang bisa jadi praktik Dharma lho!</p>



<h4><strong>Pattidana di Tahun Baru Imlek</strong></h4>



<p>Agama Buddha mengenal praktik Pattidana, yakni pelimpahan jasa kebajikan untuk menolong makhluk yang terlahir di alam menderita agar mendiang dapat terlahir di alam bahagia. Tahukah kamu kisah Arya Moggalana yang melakukan pelimpahan jasa untuk ibunya di alam hantu kelaparan? Beliau memberikan persembahan kepada anggota Sangha dan bersama-sama anggota Sangha melimpahkan kebajikan kepada ibunya. Alhasil, Arya Moggalana pun berhasil membebaskan ibunya yang terlahir sebagai hantu kelaparan. Kebajikan dari doa yang kita lakukan dengan dasar orang lain, membuat orang yang didoakan itu juga mendapatkan kontribusi kebajikan dari kita.</p>



<p>“Jika kita minum air, maka kita harus selalu ingat kepada sumbernya” merupakan peribahasa yang dipegang teguh oleh masyarakat etnis Tionghoa. Artinya, kehidupan yang dijalani saat ini tidak akan ada tanpa leluhur yang mendahului kita. Oleh sebab itu, masyarakat Tionghoa biasa melakukan sembahyang kepada leluhur setiap menjelang tahun baru Imlek sebagai bentuk penghormatan dan ucapan syukur. Umat Buddha pun umumnya akan pergi ke wihara atau berdoa di rumah, menghaturkan berbagai macam persembahan dan mendedikasikan kebajikan agar leluhur mereka terlahir di alam bahagia sejalan dengan praktik Pattidana.</p>



<p>Baca juga: &#8220;<a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/27/benarkah-doa-bisa-terkabul/">Benarkah Doa Bisa Terkabul?</a>&#8220;</p>



<h4><strong>Memberi Angpao, Praktik Dana Paramita</strong></h4>



<p>Tradisi memberi angpao sudah sangat melekat dengan tahun baru imlek. Angpao sendiri melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik. Berbagi angpao di tahun baru Imlek bisa menjadi sarana melatih praktik Dana Paramita.&nbsp;</p>



<p>Dalam Buddhisme, Dana Paramita atau kemurahan hati merupakan salah satu sifat luhur yang harus dikembangkan untuk mencapai Kebuddhaan. Sebenarnya, bentuk dana yang diberikan tidak terbatas pada materi saja. Bentuk dana tertinggi adalah berdana Dharma, namun kita juga bisa berdana hal-hal sederhana, salah satunya berdana senyuman agar bisa membawa aura positif untuk orang di sekeliling kita. Istilahnya, kalau kita belum bisa melakukan hal yang besar, lakukanlah hal kecil dengan jiwa yang besar.&nbsp;</p>



<p>Agar bagi-bagi angpao bisa jadi praktik dana paramita, pastikan kita punya motivasi bajik, yaitu demi menyempurnakan kemurahan hati kita serta memberikan kebahagiaan kepada si penerima. Tak lupa, dedikasikan kebajikannya untuk kehidupan mendatang yang bahagia, pembebasan dari samsara, dan tercapainya penerangan sempurna demi menolong semua makhluk.</p>



<h4><strong>Pertanyaan Intimidatif, Momen untuk Melatih Batin</strong></h4>



<p>Tahun baru Imlek juga merupakan ajang kumpul keluarga. Akan tetapi, pada momen ini, biasanya muncul pertanyaan-pertanyaan sensitif dari sanak keluarga. “Kapan nikah?”, “Kapan lulus?”, “Kapan punya anak?”, dan ragam pertanyaan personal lainnya yang kadang bikin keki. Belum lagi kadang ada saja keluarga yang nggak sengaja bikin komentar yang menyakiti hati demi basa-basi.&nbsp;</p>



<p>Kalau pertanyaan dan komentar itu langsung bikin kita marah atau tersinggung, artinya batin kita masih perlu dilatih. Kita perlu ingat bahwa segala pengalaman tak menyenangkan yang kita alami adalah buat dari karma buruk di masa lampau. Dengan kata lain, kita harus ingat untuk tidak membalas atau membuat karma buruk lain yang sejenis agar tidak mengalaminya lagi di masa mendatang.</p>



<p>Kita juga bisa belajar menempatkan diri kita di posisi orang lain. Kira-kira kenapa mereka bertanya seperti itu? Apa karena sengaja mau menyakiti kita? Atau sekadar ingin tahu kabar dan kebetulan tidak terpikir bahan obrolan lain? Kalau alasannya yang pertama, ya mereka sendiri yang rugi karena sengaja melukai orang lain. Jangan sampai kita balas dengan marah dan membakar habis kebajikan kita sendiri. Kalau cuma basa-basi, tentu tidak ada alasan bagi kita untuk marah pada orang itu.&nbsp;</p>



<p>Satu hal yang pasti, apapun alasannya, pertanyaan intimidatif adalah kesempatan untuk melatih batin kita menjadi lebih sabar. Semakin sering kejadiannya, semakin banyak kesempatan berlatih, batin kita semakin kuat dan kita tak akan lagi gampang tersinggung dengan hal semacam ini!</p>



<p><em>Baca tentang latihan batin khas Nusantara di <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari/">sini</a>.</em></p>



<h4><strong>Jadi, kesimpulannya&#8230;</strong></h4>



<p>Kembali ke topik awal, dapat ditarik benang merahnya bahwa tahun baru Imlek bukanlah hari raya agama Buddha, melainkan adalah tradisi Tionghoa yang bisa dirayakan oleh penganut agama apapun. Meskipun demikian, ada beberapa tradisi tahun baru Imlek bisa kita jadikan kesempatan untuk praktik Dharma. Oleh sebab itu, selamat berpraktik Dharma bagi Buddhis yang merayakan tahun baru Imlek.</p>



<p>Selamat Tahun Baru Imlek! <em>Gong Xi Fa Cai</em>!</p>



<p>Penulis: Devi Riani Atika Sari</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/04/tahun-baru-imlek-budaya-yang-bisa-jadi-praktik-dharma/">Tahun Baru Imlek: Budaya yang Bisa Jadi Praktik Dharma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/04/tahun-baru-imlek-budaya-yang-bisa-jadi-praktik-dharma/">Tahun Baru Imlek: Budaya yang Bisa Jadi Praktik Dharma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita: Karma Ada di Tangan Kita</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/01/07/100-tahun-pembebasan-di-tangan-kita-karma-ada-di-tangan-kita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Jan 2022 03:46:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6687</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam rangka memperingati 100 Tahun Kitab Pembebasan di Tangan Kita, Sahabat Lamrimnesia berkumpul secara virtual untuk buka-bukaan soal karma dan kelahiran manusia yang berharga. Apa saja isinya?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/07/100-tahun-pembebasan-di-tangan-kita-karma-ada-di-tangan-kita/">100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita: Karma Ada di Tangan Kita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/07/100-tahun-pembebasan-di-tangan-kita-karma-ada-di-tangan-kita/">100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita: Karma Ada di Tangan Kita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bagaimana karma bekerja? Apa makna hidup saya sebagai manusia? Dua topik itu dibahas dalam diskusi Dharma di hari pertama perayaan 100 Tahun Kitab “Pembebasan di Tangan Kita” yang diselenggarakan Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN) tanggal 25 Desember 2021 lalu. Kegiatan hari itu dimulai dengan sesi pembacaan buku bersama melalui aplikasi Zoom sejak pagi hingga sore pada 25 Desember. Pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama Stanley Khu, kepala editor YPPLN, dan dimoderatori oleh Yushua Adi Putra dari Lamrimnesia.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>Diskusi dibuka dengan pertanyaan, “Ketika kita sudah tahu tentang hukum karma dan akibatnya, ketika sebuah perbuatan buruk dilakukan apakah hasilnya semakin berat?”</p></blockquote>



<p>Stanley lalu menjelaskan bahwa karma adalah sebuah hukum yang sifatnya impersonal. Ketika kamu berbuat maka kamu menerimanya. Hukum karma akan tetap berjalan dan tak pandang bulu. Karena itu, lebih baik kita tahu konsep kerja hukum karma. Pemahaman tentang hukum karma akan membuat kita memiliki perasaan menyesal ketika melakukan perbuatan buruk. Perasaan menyesal inilah yang akan menjadi penawar dari karma buruk. Sedangkan kalau tidak tahu tentang hukum karma, tidak tahu apa yang baik dan apa yang buruk, bisa jadi kita memelihara pandangan salah yang membuat karma buruk kita semakin berlipat ganda.</p>



<p>Berkaitan dengan salah satu sifat karma yang dijelaskan dalam “Pembebasan di Tangan Kita”, yaitu karma yang diperbuat tidak akan hilang begitu saja, ada pertanyaan tentang ada atau tidak konsep “ahosi karma” (karma yang tidak bisa berbuah). Menjawab ini, Stanley menuturkan bahwa konsep ini merujuk pada keadaan Buddha yang karmanya tak berbuah lagi karena telah berhasil menyingkirkan semua klesha. Sebagai manusia biasa yang masih memiliki banyak klesha, setiap karma yang sudah kita lakukan pasti akan berbuah, tapi kita bisa melemahkan karma tersebut dengan praktik purifikasi.</p>



<p><em>Bagaimana klesha bikin karma pasti berbuah? Baca di </em><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Pratityasamutpada?id=g7CWDwAAQBAJ"><em>sini</em></a><em>.</em></p>



<p>Kelahiran kita sebagai manusia juga tidak lepas dari campur tangan karma. Salah satu peserta menanyakan cara terlahir sebagai manusia dengan <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/26/kamu-manusia-apa-kamu-punya-8-permata-ini/">8 kebebasan</a> dan <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/04/kamu-manusia-cek-keberuntunganmu-di-sini/">10 keberuntungan</a> yang dibutuhkan untuk mempraktikkan Dharma. Sebelum memberikan jawaban langsung, Stanley mengajak peserta untuk memastikan apakah kita benar-benar menginginkan hal tersebut. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah kita puas dengan kehidupan yang dipenuhi oleh dukkha? Dukkha yang dimaksud bukan sekadar penderitaan karena mengalami hal-hal yang tidak kita sukai, tapi juga termasuk kondisi tidak bisa puas yang akan terus kita alami tidak peduli di alam mana kita terlahir.&nbsp;</p>



<p>Jika kita tidak mau terus-terusan mengalami dukkha ini, kita akan tergerak untuk mempelajari ajaran Buddha dan berusaha mempertahankan bentuk kehidupan yang memungkinkan kita untuk mempraktikkannya, yaitu kehidupan sebagai manusia dengan 8 kebebasan dan 10 keberuntungan tadi.</p>



<p>Pembahasan pun berlanjut mengenai kelahiran di alam rendah. Jika kita sudah terlahir di alam rendah, akan sangat sulit untuk kembali terlahir di alam yang lebih tinggi. Kalaupun bisa, kita akan membawa sifat-sifat dari kelahiran sebelumnya. Misalnya jika kita sebelumnya hidup sebagai hewan, lalu berhasil lahir kembali menjadi manusia, kita akan jadi manusia yang berperilaku seperti hewan, tidak bisa mengendalikan diri dan sulit berpikir mandiri. Agar itu tidak sampai terjadi, mumpung kita masih hidup sebagai manusia, kita harus melatih Sila atau disiplin moral dan melatih kebijaksanaan dengan membiasakan diri untuk berpikir sehingga tidak jatuh ke alam rendah di kehidupan berikutnya.</p>



<p>Diskusi ditutup oleh moderator dengan kesimpulan dari berbagai poin yang telah dibahas. Yushua menggarisbawahi pentingnya mengenal diri sendiri, memahami kondisi kita saat ini, dan mengendalikan cara merespon buah karma yang kita alami untuk memastikan kebahagiaan di kehidupan mendatang</p>



<p>&#8212;</p>



<p>Penulis: Martino Liem</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/07/100-tahun-pembebasan-di-tangan-kita-karma-ada-di-tangan-kita/">100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita: Karma Ada di Tangan Kita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/07/100-tahun-pembebasan-di-tangan-kita-karma-ada-di-tangan-kita/">100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita: Karma Ada di Tangan Kita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Buddhis Wajib Melek Isu Kekerasan Seksual</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/12/04/buddhis-kekerasan-seksual/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Dec 2021 16:28:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[#16HAKTP]]></category>
		<category><![CDATA[16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan seksual]]></category>
		<category><![CDATA[pandangan Buddha tentang seks]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6536</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Umat Buddha Indonesia harus berpartisipasi dalam usaha mencegah &#038; menangani kekerasan seksual. Ini dia alasan &#038; caranya.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/12/04/buddhis-kekerasan-seksual/">Buddhis Wajib Melek Isu Kekerasan Seksual</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/12/04/buddhis-kekerasan-seksual/">Buddhis Wajib Melek Isu Kekerasan Seksual</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Suatu hari kamu sedang <em>scroll</em> medsos, lalu kamu melihat pos seseorang yang menceritakan pengalamannya sebagai korban kekerasan seksual. Pelakunya adalah orang terkenal, idola banyak orang. Kejadiannya pun sudah lama, lebih dari dua tahun yang lalu. Apa yang muncul di pikiranmu?</p>



<p>“Kayaknya nggak mungkin deh. Nggak sengaja kepegang aja kali.”</p>



<p>“Jangan-jangan yang bikin pos sengaja cari sensasi. Lagian kenapa baru cerita sekarang coba?”</p>



<p>“Salah sendiri sih suka <em>party</em>, pergaulan bebas. Pasti bajunya kebuka juga, makanya mengundang.”</p>



<p>Contoh-contoh ini menggambarkan aneka prasangka yang harus dihadapi korban kekerasan seksual. Kita dididik untuk bahwa seks adalah sesuatu yang tabu dan harus dihindari. Perempuan secara khusus diajari untuk &#8220;melindungi kesucian&#8221; tubuh mereka agar tidak mengundang perhatian yang tidak diinginkan. Akibatnya, jika ada yang mengalami pelecehan seksual (alias &#8220;perhatian yang tak diinginkan&#8221;), korban dituduh tidak cukup menjaga diri atau bahkan sengaja memancing tindak kekerasaan itu.</p>



<p>Pada tahun 2020, Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak mencatat jumlah kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak mencapai angka tertinggi, yaitu 7.791 kasus. Sampai pertengahan tahun 2021 lalu, kasus yang terjadi di tahun ini sudah menembus angka 3.000. Ini baru kasus yang tercatat. Kemungkinan masih sangat banyak kasus yang tidak dilaporkan atau ditindaklanjuti. Di lingkungan universitas saja, menurut survei Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek, 77% dosen menyatakan ada kekerasan seksual di lingkungan kampus dan 63% di antaranya tidak melaporkan kejadian tersebut.</p>



<p>Selain dari data statistik, kita sendiri bisa melihat berbagai pemberitaan tentang cacatnya penanganan kasus kekerasan seksual di Indonesia. <a href="https://tirto.id/korban-pemerkosaan-akan-alami-trauma-ganda-jika-dinikahi-pelaku-ggjU">Korban perkosaan dipaksa menikahi pelaku</a> terjadi lebih dari sekali. Ada pula kasus ayah memperkosa tiga anaknya sendiri, tapi <a href="https://projectmultatuli.org/kasus-pencabulan-anak-di-luwu-timur-polisi-membela-pemerkosa-dan-menghentikan-penyelidikan/">penyelidikannya sempat dihentikan</a> lantaran pelaku memiliki koneksi dengan penegak hukum. Bahkan baru-baru ini, seorang perempuan ditemukan meninggal di makam ayahnya setelah mendapat tekanan dari keluarga pacar yang memperkosanya. <a href="https://nasional.tempo.co/read/1535696/kasus-bunuh-diri-novia-widyasari-polisi-sebut-r-anggota-polres-pasuruan">Si pelaku perkosaan adalah anggota kepolisian.</a></p>



<p>Sementara itu, berbagai usaha memperbaiki pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di Indonesia menghadapi banyak hambatan. Sebut saja RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) yang tak kunjung diproses. Bahkan Permendikbud no. 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Permen PPKS) yang baru-baru ini diterbitkan <a href="https://tirto.id/ijtima-ulama-mui-minta-nadiem-cabut-revisi-permendikbud-ppks-glh7">mendapat tentangan dari berbagai pihak</a>. Mereka gagal membedakan kekerasan seksual yang merenggut hak dasar seseorang sehingga perlu diatur hukum dengan aktivitas seksual di luar nikah secara umum yang lebih berkaitan dengan nilai budaya &amp; norma kesopanan di masyarakat.</p>



<p>Miris? Tentu saja. Tapi memangnya kita bisa apa? Memang parah tinggal di Indonesia… Eits! Tunggu dulu! Sebagai umat Buddha yang belajar tentang kesalingbergantungan, kita seharusnya bisa menyadari bahwa kita bisa berperan untuk memperbaiki permasalahan kekerasaan seksual di Indonesia. Bagaimana caranya? Yuk kita simak sama-sama!</p>



<h4><strong>1. Tidak melakukan kekerasan seksual</strong></h4>



<p>Kita tentu ingat sila ke-3 dalam Pancasila Buddhis, yaitu menghindari tindakan asusila. Makna harfiah dari &#8220;tindakan asusila&#8221; adalah &#8220;bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat&#8221;. Jadi, tindakan asusila tidak melulu berhubungan dengan seks. </p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/DyA-wDjVGaIvLc-xGSdQ3yMS7rhqY3vNCiwSfPAQglrMJX63cYIPDbgeM8kaidAiojT2h4Fzl_5Sz_O8tBv4lu7trw5dsWQ727x0-6HRSQYJ7KbhRjO-0K8y7RWqJ1MF8Ly1I5Hv" alt=""/><figcaption><a href="https://youtu.be/hJ3saFvQpgQ">Mendikbud: “Nyontek juga tindakan asusila.”</a></figcaption></figure>



<p>Namun, jika kita telusuri sumber-sumber bahasa lain, kita akan menemukan bahwa &#8220;menghindari tindakan asusila&#8221; bukan terjemahan yang tepat untuk sila ke-3 dalam Pancasila Buddhis. Sila ini secara khusus merujuk pada tindakan seksual yang tidak pantas.</p>



<p>Apa yang dimaksud tindakan seksual yang tidak pantas? Ini dirinci dalam penjelasan tentang <em>dasa akusala kamma</em> atau sepuluh karma hitam/tak bajik yang perlu kita hindari untuk memastikan kebahagiaan di kehidupan mendatang. Dalam Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (Lamrim Chenmo), Je Tsongkhapa, merinci kriteria sebuah tindakan seksual digolongkan tidak pantas, beberapa contohnya adalah orang yang tidak pantas dan waktu yang tidak pantas.</p>



<p>Orang yang tidak pantas di sini merujuk pada pasangan orang lain, rohaniwan yang telah melepaskan keduniawian, mereka yang berada di bawah keluarga atau raja (hukum negara), pelacur yang sudah diambil oleh orang lain, dan orang yang masih memiliki hubungan kerabat. Waktu yang tidak pantas adalah saat pasangannya tidak berkenan, sedang menstruasi, dalam periode akhir kehamilan, menyusui, sedang menjaga sila untuk tidak melakukan hubungan seksual, atau di waktu sakit.&nbsp;</p>



<p>Kekerasan seksual merujuk pada tindakan seksual yang dilakukan tanpa persetujuan. Dari sudut pandang Buddhis, ini jelas termasuk tindakan seksual yang tidak pantas karena pasangannya tidak berkenan. Akibatnya bisa berupa kelahiran di alam rendah, pengalaman serupa (menjadi korban atau kecenderungan mengulangi), atau lahir di lingkungan yang kotor. </p>



<p>Sila ke-3 dalam Pancasila Buddhis adalah “pagar” yang melindungi kita dari akibat-akibat tersebut. Dengan memahami apa saja yang termasuk tindakan seksual yang tidak pantas dan secara aktif menghindarinya, kita melindungi diri kita sendiri dari akibat karma buruk sekaligus melindungi orang lain dari penderitaan yang disebabkan oleh tindak kekerasan tersebut.</p>



<p><a href="https://lamrimnesia.org/2018/02/23/saya-berjanji-melatih-diri-menghindari-tindakan-seksual-yang-tidak-pantas-yakin-sudah-mempraktikkannya/"><em>Baca penjelasan cara berlatih menghindari tindakan seksual yang tidak pantas di sini!</em></a></p>



<h4><strong>2. Menghentikan kekerasan di depan mata</strong></h4>



<p>Kalau suatu hari kamu menyaksikan orang diraba di kendaraan umum yang padat, kira-kira apa yang kamu lakukan? Atau saat kamu berjalan di malam hari, kamu mendengar orang menjerit minta tolong dari gang sempit, apa yang kamu lakukan? Kalau kamu tahu ada dosen genit di kampusmu yang memaksa mahasiswa bimbingannya melakukan yang nggak-nggak, beranikah kamu melaporkan?</p>



<p>Secara teori, kita semua tahu bahwa tindakan yang benar adalah memberikan bantuan dan melaporkan kekerasan yang terjadi di depan mata kita. Namun, praktiknya tidak sesederhana itu. Bagi sebagian besar orang, akan ada banyak pertimbangan yang menghalangi tindakan langsung&#8211;takut repot, merasa tidak mampu membantu, atau bahkan takut balik diserang dan ikut menjadi korban.</p>



<p>Semua keraguan itu bisa muncul karena dua kemungkinan. Pertama, kita tidak yakin kita bisa menilai situasi dengan tepat dan menentukan tindakan yang efektif. Kedua, kita masih terlalu sayang pada diri sendiri sehingga tidak rela kehilangan kenyamanan demi menolong orang lain. Dengan kata lain, kita kurang kebijaksanaan dan welas asih.</p>



<p>Jika memang itu keadaan kita sekarang, bukan berarti kita boleh diam saja dan pasrah, tidak berdaya di hadapan berbagai kasus kekerasan yang semakin marak. Kita harus secara aktif berusaha meningkatkan kebijaksanaan dan melatih welas asih agar mampu mengatasi penderitaan kita sendiri dan orang lain. Bukankah itu juga tujuan dari praktik Dharma? Buddha sendiri adalah sosok yang telah sempurna kebijaksanaan dan welas asihnya. Semua yang Beliau ajarkan tujuannya adalah untuk mencapai hal tersebut. Tinggal kita mau berlatih atau tidak.</p>



<p>Semakin banyak kita berlatih, kepercayaan diri kita untuk menolong dan bertindak juga akan meningkat. Kalaupun ternyata gagal, hati kita lebih siap untuk menghadapi dampaknya.</p>



<p><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari/"><em>Baca juga: panduan praktis melatih welas asih ala Guru Suwarnadwipa Dharmakirti.</em></a></p>



<h4><strong>3. Menyikapi Kejadian dengan Empati</strong></h4>



<p>Mengembangkan welas asih adalah praktik yang amat penting dalam Buddhisme. Welas asih sendiri merupakan rasa tidak tahan melihat penderitaan makhluk lain dan disertai keinginan mengurangi penderitaan mereka.</p>



<p>Berangkat dari hal tersebut, sikap menyalahkan korban ketika kita menemui kasus kekerasan seksual jelas harus kita buang jauh-jauh. Sebaliknya, kita seharusnya mencoba memahami penderitaan mereka dan sebisa mungkin berusaha meringankan penderitaan mereka. Atau, kalau kita hanya melihat dari dunia maya dan tidak bisa membantu secara langsung, setidaknya kita tidak menambah penderitaan mereka dengan mencibir, menyalahkan, menyebarkan pos yang mengumbar identitas korban, apalagi sampai merundung lewat komentar-komentar pedas.</p>



<p>Di sisi lain, terbawa emosi karena marah kepada pelaku juga belum tentu merupakan tindakan bijak. Sekadar menghujat tidak banyak mendatangkan manfaat, bahkan kita bisa jadi menambah karma buruk karena bertindak atas dasar kebencian. Daripada membuang waktu dengan melampiaskan kekesalan, lebih baik kita arahkan energi kita untuk mendukung proses hukum kasus tersebut atau usaha-usaha pencegahan dan penangan kekerasan seksual lainnya secara umum.</p>



<p>Mahasiswa bisa bergabung dengan <a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211201172358-12-728605/bem-ui-pecat-anggota-terduga-pelaku-pelecehan-mahasiswi">satgas pencegahan &amp; penanganan kekerasan seksual</a> yang dibentuk di kampus sesuai dengan arahan Permendikbud PPKS yang baru-baru ini disahkan. Banyak juga <a href="https://www.change.org/p/dpr-ri-sahkan-uu-penghapusan-kekerasan-seksual-mulaibicara">petisi</a> dan aksi seputar pendidikan seks, pencegahan, dan penindaklanjutan kekerasan seksual di Indonesia yang amat membutuhkan dukungan kita, entah itu lewat tanda tangan atau sekadar menekan tombol &#8220;<em>share</em>&#8221; di media sosial.</p>



<p><strong>Semua ada hubungannya dengan kita</strong></p>



<p>Maraknya kekerasan seksual dan buruknya pencegahan serta penanganannya di Indonesia bukan sekadar angka statistik, apalagi berita selingan yang tidak ada hubungannya dengan kita. Kita semua bisa menjadi korban, bisa menjadi pelaku, dan bisa menjadi bagian dari solusi untuk memperbaiki keadaan.</p>



<p>Kita bisa berdalih “semua orang mewarisi karmanya sendiri”, tapi kita juga tidak boleh lupa bahwa Buddha mengajarkan kita untuk mengenali semua makhluk sebagai ibu-ibu kita. Ini bukan tipu-tipu Buddha agar kita berperilaku baik saja, tapi memang begitu kenyataannya mengingat kita sudah mengalami kelahiran berulang kali sejak waktu yang tak bermula. Jika setiap hari ada ibu-ibu kita di luar sana yang menderita, masa kita tega diam saja, pura-pura tidak tahu, atau bahkan ikut menghakimi mereka?</p>



<p><em>Tulisan ini dibuat dalam rangka mendukung kampanye </em><a href="https://komnasperempuan.go.id/kampanye-detail/16-hari-anti-kekerasan-terhadap-perempuan"><em>16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan</em></a><em> 25 November-10 Desember 2021.</em></p>



<h4><strong>Referensi:</strong></h4>



<ol><li><a href="https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/catahu-2020-komnas-perempuan-lembar-fakta-dan-poin-kunci-5-maret-2021">Catatan Tahunan Komnas Perempuan Tahun 2020</a></li><li>tirto.id &#8211; “<a href="https://tirto.id/ggjU">Korban Pemerkosaan akan Alami Trauma Ganda jika Dinikahi Pelaku</a>”</li><li>tirto.id &#8211; “<a href="https://tirto.id/glh7">Ijtima Ulama MUI Minta Nadiem Cabut/Revisi Permendikbud PPKS</a>”</li><li>Project Multatuli &#8211; “<a href="https://projectmultatuli.org/kasus-pencabulan-anak-di-luwu-timur-polisi-membela-pemerkosa-dan-menghentikan-penyelidikan/">Tiga Anak Saya Diperkosa, Saya Lapor ke Polisi. Polisi Menghentikan Penyelidikan</a>”</li><li>tempo.co &#8211; “<a href="https://nasional.tempo.co/read/1535696/kasus-bunuh-diri-novia-widyasari-polisi-sebut-r-anggota-polres-pasuruan">Kasus Bunuh Diri Novia Widyasari, Polisi Sebut R Anggota Polres Pasuruan</a>”</li><li>Antara News &#8211; “<a href="https://www.antaranews.com/berita/2492269/komnas-perempuan-banyak-kekerasan-seksual-di-kampus-tak-dilaporkan">Komnas Perempuan: Banyak kekerasan seksual di kampus tak dilaporkan</a>”</li><li>Je Tsongkhapa &#8211; <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/risalah-agung-tahapan-jalan-menuju-pencerahan-lamrim-chenmo-jld-1-2-3/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan Jilid I</a></li><li>Dr. Alexander Berzin &#8211; <a href="https://studybuddhism.com/en/tibetan-buddhism/path-to-enlightenment/karma-rebirth/buddhist-western-views-on-sex">“Buddhist &amp; Western View of Sex”</a></li></ol><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/12/04/buddhis-kekerasan-seksual/">Buddhis Wajib Melek Isu Kekerasan Seksual</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/12/04/buddhis-kekerasan-seksual/">Buddhis Wajib Melek Isu Kekerasan Seksual</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tokyo Tarareba Girls &#8211; Belajar Menghayati Karma dari Gadis Seandainya</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/11/22/tokyo-tarareba-girls-belajar-menghayati-karma-dari-gadis-seandainya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Nov 2021 11:05:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[tokyo tarareba girls]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6524</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dari perjalanan sekumpulan perempuan jomblo usia 30-an menghadapi quarter-life crisis, kita bisa menemukan perspektif baru tentang karma dan dampaknya pada cara memandang dunia.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/11/22/tokyo-tarareba-girls-belajar-menghayati-karma-dari-gadis-seandainya/">Tokyo Tarareba Girls – Belajar Menghayati Karma dari Gadis Seandainya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/11/22/tokyo-tarareba-girls-belajar-menghayati-karma-dari-gadis-seandainya/">Tokyo Tarareba Girls &#8211; Belajar Menghayati Karma dari Gadis Seandainya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Banyak dari kita pasti merasa paham hukum karma. Kalau ada sebab ya pasti ada akibat. Apa yang kita tanam, ya itulah yang kita tuai. Apa susahnya sih? Praktiknya juga gampang. Pokoknya jangan berbuat jahat, banyak-banyak berbuat baik. Kalau udah ngelakuin itu, kita udah sah jadi murid Buddha yang praktikin hukum karma dalam kehidupan sehari-hari.</p>



<p>Tapi apa benar emang segampang itu?</p>



<p>Tafsirnya nggak salah sih. Toh kita memang butuh “panduan” biar nggak bablas merugikan diri sendiri dan orang lain. Tapi, kalau emang fungsi hukum karma cuma sebatas mencegah orang berbuat jahat dan mendorong orang berbuat baik, apa bedanya dengan konsep dosa dan pahala? Apa bedanya pula sama undang-undang atau KUHP?</p>



<p>Belum lagi ada juga yang jadiin karma sebagai bahan ngeles waktu lagi males. “Memang sudah karmanya begitu, apa boleh buat,” katanya. Di situasi yang “menguntungkan”, karma kadang disamakan dengan takdir&#8211;sesuatu yang sudah tersurat dan tidak dapat diubah. Salah kaprah bahwa Buddhisme adalah ajaran yang pasif dan pesimis pun makin merajalela. Padahal, bukannya ini bertentangan dengan Dharma yang seharusnya bikin kita bahagia?</p>



<p>Kalau direnung-renung lebih lanjut, ada lho fungsi karma yang lebih mendasar dibanding sekadar jadi aturan, apalagi alasan buat kemalasan. Fungsi inilah yang bisa bikin lebih bahagia dan semangat jalanin hidup, tapi emang nggak bisa langsung berasa. Butuh proses dan pengalaman buat bisa sampai ke sana. Nah, walau nggak nyebutin kata “karma” secara langsung, proses dan pengalaman ini saya temukan dalam sebuah komik Jepang berjudul “Tokyo Tarareba Girls”.</p>



<h4><strong>Gadis-Gadis “Seandainya”</strong></h4>



<p>“Tokyo Tarareba Girls” adalah komik karya Akiko Higashimura yang terbit pada tahun 2014-2017. Ceritanya tentang tiga mbak-mbak <em>jones </em>(jomblo ngenes) umur 33 tahun yang ingin bisa menikah sebelum Olimpiade Tokyo 2020. Nah, mbak-mbak ini punya hobi nongkrong di bar sambil mengeluh soal cowok, kerjaan, dan kehidupan pada umumnya. Suatu hari, mereka minum sampai mabuk, volume obrolan pun nggak kekontrol. Saking berisiknya, seorang berondong ganteng yang juga langganan di bar itu melabrak mereka. Dia mengatai mereka perawan tua tukang gosip dan memberi mereka julukan “Tarareba Girls” (<em>tarareba = </em>seandainya, bagaimana kalau&#8230;) karena lebih suka berandai-andai daripada melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah hidup mereka.</p>



<p>Julukan itu menjadi tamparan keras bagi para mbak-mbak ini, terutama si tokoh utama yang bernama Rinko. Saking terguncangnya, Mbak Rinko jadi makin sering mabuk sampai halu melihat cemilannya menakut-nakuti dia dengan lebih banyak “seandainya”, mulai dari seandainya dia nggak nolak cowok yang naksir dia sepuluh tahun lalu, seandainya dia lebih muda dan lebih bisa “menarik” klien, seandainya dia lebih bisa kompromi dengan calon pasangan, pokoknya nggak ada habisnya deh.</p>



<p>Dalam 30 bab komik, kita bisa menyaksikan bagaimana pikiran-pikiran tentang “seandainya…” membuat Rinko dan teman-temannya makin terpuruk. Di satu sisi, mereka jadi ragu dalam membuat keputusan karena kebanyakan pertimbangan. Mereka pun jadi cenderung mengambil keputusan yang menjadi sumber masalah baru. Di sisi lain, mereka juga kesulitan <em>move on</em> karena terus-terusan berpikir seandainya mereka memilih jalan lain. Mereka pun tak kunjung keluar dari samudra kegalauan dan malah makin larut dalam nestapa.</p>



<h4><strong>Dari “Seandainya” jadi “Karena”</strong></h4>



<p>Setelah melalui berbagai kejadian, akhirnya Mbak Rinko mencapai sebuah realisasi yang membuatnya bisa bergerak maju dari keterpurukan. Dia memutuskan untuk berubah dari gadis “seandainya” menjadi gadis “karena”. Alih-alih menyesali masa lalu dan mencemaskan masa depan dengan sejuta pengandaian, dia menyadari bahwa hidupnya bisa jadi lebih baik kalau dia bisa menerima segala hal yang ia alami dengan berpikir, “Karena dulu ini terjadi, maka aku jadi seperti ini.”</p>



<p>Mbak Rinko secara khusus menyatakan bahwa pemikiran “Karena…” ini bukan sekadar alasan untuk tidak melakukan apa-apa saat kemalangan terjadi. Dari penggambaran sang komikus, kita akan melihat bahwa “Karena…” bagi Mbak Rinko adalah bentuk tanggung jawab atas segala hal yang telah dia lakukan.</p>



<h4><strong>“Seandainya”, “Karena”, dan Hukum Karma</strong></h4>



<p>Kita yang Buddhis atau akrab dengan konsep-konsep Buddhis tentu bisa mengenali penalaran Mbak Rinko sebagai bentuk penerapan hukum <a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Karma?id=seGMDwAAQBAJ">karma</a>. Yap, dari komik “Tokyo Tarareba Girls”, saya makin bisa merasakan bahwa hukum karma bukan sekadar sistem moral atau semacam undang-undang yang ada untuk mencegah tindak kejahatan atau menentukan siapa yang masuk surga atau neraka. Hukum karma seharusnya punya fungsi lebih dari itu, yaitu melindungi kita dari penderitaan akibat kemelekatan terhadap masa lalu yang membuat kita terjebak dalam bermacam-macam pengandaian.</p>



<p>Kalau kita sehari-hari cuma menghindari perbuatan jahat dan banyak-banyak berbuat baik, kita belum tentu sudah sepenuhnya memahami dan menerapkan hukum karma dalam hidup kita. Kita mungkin baru bisa dibilang benar-benar mulai memahami karma ketika kita siap bertanggung jawab atas segala hal yang kita lakukan, baik atau buruk, dan senantiasa berusaha sebaik mungkin dengan kondisi yang dihasilkan karma kita di masa lampau beserta segala faktor pendukungnya.</p>



<p>Sebagai contoh, kita mungkin pernah bertanya-tanya, “<em>White lie </em>itu boleh nggak ya? <a href="https://lamrimnesia.org/2018/05/02/tentang-sila-yang-paling-sulit-dilatih-dari-pancasila-buddhis/">Berbohong</a> kan karma buruk, tapi kalau buat kebaikan harusnya jadi karma baik dong.” Namun, orang yang benar-benar yakin pada hukum karma mungkin akan berkata, “Setelah dipikir masak-masak, sepertinya aku perlu berbohong demi kebaikan orang banyak. Mudah-mudahan niat baikku berbuah baik bagi mereka dan diriku, tapi aku tetap siap menerima buah karma buruk dari tindakan berbohong.” Atau kemungkinan lainnya, mereka berpikir, “Aku tidak mau menanggung akibat dari karma buruk berbohong. Kalau memang kejujuranku membawa masalah, aku siap menghadapinya.”</p>



<h4><strong>Berhenti Berandai-Andai Bukan Berarti Kehilangan Harapan</strong></h4>



<p>Ketika Mbak Rinko memutuskan untuk “lulus” dari status gadis “seandainya”, dia juga memutuskan untuk mensyukuri tindakan-tindakan yang membuatnya menjadi seperti sekarang, termasuk tindakan yang nggak terlalu “terpuji” seperti mabuk dan berisik sampai dilabrak berondong. Ketika kita berhenti berandai-andai, kita berhenti memikirkan kesempatan yang sudah lewat ataupun hal yang belum terjadi. Sebuah ruang terbuka dalam otak kita untuk melihat hal-hal baik yang sudah kita miliki. Pemahaman akan hukum sebab-akibat pun membuat kita bisa melihat tindakan yang sudah kita lakukan di masa lalu sebagai sebab bagi hal-hal baik itu, bahkan tindakan yang paling bodoh sekalipun.</p>



<p>Namun, kalau kita bahkan bisa mensyukuri tindakan kita yang paling bodoh, bukankah artinya kita akan berhenti berkembang? Kalau gitu, artinya hukum karma bikin kita “<em>mandek</em>” dong. Terus kalau saat ini kondisi kita emang jelek banget dan nggak ada baik-baiknya, harus pasrah dong? Kan memang itu buah dari karma kita?</p>



<p>Dari titik perubahan Mbak Rinko, nggak banyak diceritakan bagaimana nasibnya setelahnya. Tapi satu hal yang pasti, dia sama sekali nggak terlihat pesimis. Justru sebaliknya, dia terlihat lebih lepas dan bersemangat sejak menerima “hukum karma” dalam hidupnya. Saya bisa bayangin kebebasan dari kecemasan dan penyesalan ditambah energi positif dari rasa syukur bikin Mbak Rinko punya energi lebih untuk menata hidupnya lebih lanjut.&nbsp;</p>



<p>Nggak cuma itu, kita harus ingat satu lagi aspek karma yang superpenting dan nggak boleh kita lupakan. Emang bener karma masa lampau kita menentukan nasib kita sekarang. Tapi itu artinya kita juga bisa membuat karma baru yang bakal menentukan masa depan kita kelak!</p>



<p>Dalam buku “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/bertuhan-beragama-dan-hal-hal-lain-yang-belum-selesai/">Bertuhan, Beragama, dan Hal-Hal yang Belum Selesai</a>”, Y.M. Biksu Bhadra Ruci menjelaskan hukum karma dengan uraian berikut:</p>



<p>“Inilah aspek dari hukum karma yang jarang disorot orang-orang, bahwa manusia tetap memiliki harapan (atau kehendak bebas dan pilihan) meskipun hidup dalam sebuah dunia yang didefinisikan Buddha sebagai berhakikat penderitaan. Dia bisa saja dipasung oleh jalan hidup yang penuh cobaan, tapi tidak sekali pun dia akan mengoper keputusan-keputusan dalam hidupnya kepada sesuatu selain dirinya sendiri.“</p>



<h4><strong>Menghayati Karma Butuh Proses</strong></h4>



<p>Komik “Tokyo Tarareba Girls” nggak cuma menunjukkan cara hukum karma bisa bikin kita lebih bahagia. <em>Wong</em> bagian “bahagia”-nya cuma kelihatan secuprit kok di episode terakhir. Bagi saya, bagian yang paling “menginspirasi” dari komik ini adalah bahwa untuk sampai pada penerimaan seperti yang diraih Mbak Rinko dan teman-temannya, ada proses panjang yang harus dilalui dan proses itu nggak sepenuhnya nyaman. Banyak sengsaranya malah. Meski demikian, tokoh-tokoh dalam cerita ini maju sedikit demi sedikit (kadang mundur sih, tapi habis itu maju lagi) dari jomblo ngenes dengan batin lemah yang terbuai dalam pengandaian sampai siap menerima cara kerja hukum karma untuk tumbuh berkembang dan memulai langkah awal menuju kebahagiaan.</p>



<p>Setelah mencapai “realisasi”, tokoh-tokoh “Tokyo Tarareba Girls” nggak mendadak berhenti berandai-andai sama sekali. Mereka masih suka ngumpul di bar buat gosip dan curhat. Tapi, kalau saya boleh menafsirkan, mereka sekarang nggak cuma berhenti di berandai-andai, tapi juga saling mendukung satu sama lain untuk mensyukuri apa yang telah mereka miliki dan menciptakan sebab-sebab kebahagiaan baru untuk masa depan.</p>



<p>Kita juga tentunya nggak bisa berharap setelah mendengarkan penjelasan tentang hukum karma satu kali, lalu kita merem sebentar, terus tiba-tiba cara pandang kita berubah sepenuhnya dan kita langsung bisa menerima semua hal yang terjadi dalam hidup kita. Ya iyalah, emang kita murid langsung Sang Buddha, dengar satu kalimat bisa langsung jadi arahat?&nbsp;</p>



<p>Saya sendiri merasa masih perlu benar-benar membedah setiap pengalaman dan perasaan saya. Dari situ, baru saya bisa menyadari sebutuh apa saya terhadap pemahaman soal hukum karma ini. Proses ini akan terus berlangsung sampai saya bisa menyimpulkan bahwa, “Ya, aku butuh nerapin hukum karma dalam hidupku.” Setelah itu pun saya mungkin masih harus terus mencari “bentuk” penerimaan saya terhadap hukum karma. Jangan sampai saya “puas” dengan asal nggak membunuh atau mencuri dan banyak-banyak berdana (yang baik buruknya pun nggak terjamin karena motivasinya sekadar “nurut aturan”), apalagi jadiin karma sebagai alasan untuk malas-malasan. Tentunya nggak ada jaminan saya nggak akan lupa dan jatuh lagi ke pola hidup yang lama, tapi namanya juga “Tahapan Jalan Menuju Pencerahan”, ya majunya setahap demi setahap kan?</p>



<p>Semoga kita semua bisa tumbuh dari orang-orang “seandainya” menjadi orang-orang “karena” yang benar-benar menghayati hukum karma dalam hidup kita.</p>



<p>Komik “Tokyo Tarareba Girls” bisa dibaca secara legal di aplikasi <a href="https://inkr.com/title/235-tokyo-tarareba-girls">INKR</a>. Adaptasi serial <em>live action-</em>nya juga bisa disaksikan di <a href="https://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=&amp;esrc=s&amp;source=web&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwj3hbv14qv0AhURzzgGHQkHD-EQFnoECAkQAQ&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.netflix.com%2Fkr-en%2Ftitle%2F81410141&amp;usg=AOvVaw1d4_GGvK7vugLyi3gmgKaL">Netflix</a>.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/11/22/tokyo-tarareba-girls-belajar-menghayati-karma-dari-gadis-seandainya/">Tokyo Tarareba Girls – Belajar Menghayati Karma dari Gadis Seandainya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/11/22/tokyo-tarareba-girls-belajar-menghayati-karma-dari-gadis-seandainya/">Tokyo Tarareba Girls &#8211; Belajar Menghayati Karma dari Gadis Seandainya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Oct 2021 08:49:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi menengah]]></category>
		<category><![CDATA[purifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<category><![CDATA[squid game]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6345</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Gara-gara terjerat utang uang, ratusan orang terjerat dalam permainan mematikan bernama Squid Game. Di dunia nyata, utang karma menjerat kita dalam Samsara Game yang tak kalah menyiksa.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Cumi-cumi, cumi-cumi apa yang paling nyeremin? Jelas Permainan Cumi-Cumi, alias “permainan” paling naik daun di Netflix, Squid Game!&nbsp;</p>



<p>Squid Game adalah serial Netflix yang mengisahkan Seong Gi-Hun yang kesulitan secara finansial dan karena kesulitannya tersebut memutuskan untuk mengikuti permainan bersama dengan 455 pemain lainnya untuk memenangkan uang sebesar 45,6 Miliar Won. Permainannya adalah variasi permainan masa kecil di Korea yang relatif mudah. Hanya saja apabila kalah, taruhannya adalah nyawa. Setiap satu nyawa terbang, maka uang akan bertambah, dan uang tersebut akan menjadi milik pemenang dari seluruh permainan tersebut.&nbsp;</p>



<h4><strong>Kita Semua Punya Utang Karma dan Terancam di Squid Game Bernama Samsara&nbsp;</strong></h4>



<p>Hal yang mendorong para pemain Squid Game untuk mengikuti permainan-permainan mematikan tersebut adalah karena mereka semua terjebak dalam utang yang tidak sanggup mereka bayar. Jadi langsung terpikir, aduh pokoknya gak boleh ngutang deh sama orang! Karena sedikit-sedikit pasti jadi bukit. Dan akhirnya gak bisa terbayarkan lagi. Mereka terjebak dalam utang sampai akhirnya rela mengikuti permainan mematikan, utang dibayar dengan darah, siapa tahu bisa terbebas dari utang walaupun taruhannya itu nyawa… Ngeri banget, ya?&nbsp;</p>



<p>Namun, apa bedanya para pemain Squid Game dengan kita, para makhluk yang terjebak dalam samsara dan memiliki utang karma yang bejibun? Faktanya, saat ini kita masih mondar-mandir dalam samsara untuk membayar utang-utang karma kita. Kita tidak ada bedanya dengan pemain Squid Game. Kita tetap memilih berada dalam permainan samsara ini dengan segala “kesenangan”-nya, seperti pemain Squid Game yang memilih mengikuti permainan untuk kesenangan dalam bentuk uang. Padahal pemain Squid Game tahu taruhannya adalah penderitaan, seperti kita juga tahu samsara inilah penderitaan.&nbsp;</p>



<p>Para pemain Squid Game rela mati untuk membayar utang-utangnya, seperti kita yang terus terjebak dalam lingkaran samsara dan mengalami kematian berulang kali, jatuh ke alam rendah, naik ke alam tinggi, membayar utang karma, dan tidak luput membuat utang karma baru.</p>



<h4><strong>Kita Punya Utang Karma seperti Utang Pemain Squid Game</strong></h4>



<p>Squid Game dan samsara adalah serupa tapi tak sama. Tak terhingga banyaknya makhluk yang mau-mau saja terlarut di dalamnya. Kita sudah lahir dan mati berkali-kali sampai tak terhitung lagi jumlahnya. Artinya karma kita juga tidak terhitung, dan sampai sekarang kita pun membuat utang karma buruk baru dan entah kapan akan “ditagih”. Tiba-tiba jadi terpikir, utang karma buruk berkalpa-kalpa yang harus dibayar satu per satu… Tidak akan bisa dihindari.&nbsp;</p>



<p>Karma itu pasti. Kita percaya atau tidak percaya, karma berlaku untuk semua. Karma itu juga berkembang dengan pesat. Jadi, utang karma bisa ada bunganya! Sekecil apa pun karma, buruk maupun baik, dampaknya bisa berlipat ganda dan salah satu akibatnya berupa kecenderungan mengulangi. Persis kayak menanam satu biji stroberi, hasilnya bisa belasan buah stroberi di satu pohon, dan di setiap buah ada ratusan biji stroberi lagi yang bisa tumbuh jadi tanaman baru. Sebanyak itulah “utang” karma kita bisa berlipat-ganda! Terpikir gak dikejar-kejar oleh rentenir karma tanpa ampun dan ditagih untuk melunasi selama dalam samsara ini?&nbsp;</p>



<p>Dan pastinya, karma tidak hilang begitu saja. Misalnya ketika orang melakukan pencopetan seperti Kang Sae-Byeok di Squid Game. Si gadis Korea Utara yang panjang tangan ini kemudian berdana, lalu berharap karma baik berdana akan menutupi karma buruk pencopetan yang ia lakukan. Eits, bukan begitu cara karma bekerja. Memangnya tukaran kado?</p>



<p>Lantas, bagaimana caranya melunasi utang karma kita yang berdarah-darah ini? Kita sudah pasti menuai apa yang telah kita tabur. Kita juga tidak akan mengalami akibat dari karma yang tidak kita lakukan. Hal buruk yang menimpa kita sekarang bukan tanpa sebab dan tidak datang dengan sendirinya, melainkan disebabkan oleh karma yang kita lakukan sebelumnya. Apalagi kita juga dapat merenungkan sekarang, apakah lebih banyak perbuatan baik atau buruk yang kita lakukan sepanjang kita hidup? Dalam hati sebagian besar dari kita sudah tahu jawabannya, lebih mudah untuk melakukan perbuatan buruk dibanding perbuatan baik karena klesha yang mencengkeram kita. Dan kita juga tahu bahwa timbunan perbuatan buruk hanya akan menyesatkan kita kepada kelahiran kembali di alam rendah. Padahal kini kita punya kelahiran sebagai manusia yang dapat mendorong kita keluar dari lingkaran samsara ini, dan bahkan Kebuddhaan sebagai tujuan akhir.&nbsp;</p>



<p>Jadi, timbunan karma kita begitu besar karena sudah tidak terhitung berapa banyak kita telah lahir dan mati. Begitu banyak pula karma buruk baru yang kita timbun setiap harinya di kehidupan ini. Bagaimana caranya kita bisa keluar dari lingkaran samsara dan mencapai Kebuddhaan? Rasanya hal itu semakin mustahil. Namun, sebenarnya kita sebagai manusia punya potensi untuk menyelamatkan posisi kita yang terdesak ini!</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/dD7GvhFOKlh7anYttegn-Iz0Uu7DfEK8TnHbu26jqL6lSbzM0EpB6W_Y-UsIBbign9eRJtjgWGEDfknqNftIG4n4B1NUjfY12nv-_8W4dSKGq7OVxkh9iWFIXCyLykzy_YVLvws=s0" alt="A picture containing text, person

Description automatically generated"/></figure>



<h4><strong>Untungnya Utang Karma Bisa “Dicicil”</strong></h4>



<p>Kita sudah sadar kalau kita lebih banyak bikin karma buruk dibanding karma baik. Artinya kemungkinan besar kita akan jatuh ke alam rendah, kehilangan kesempatan berharga sebagai manusia ini untuk membebaskan diri dari “utang” berupa hidup di samsara ini.&nbsp;</p>



<p>Gawatnya lagi, kematian itu pasti dan kita gak akan tahu kapan dia akan datang dan memaksa kita pindah ke kehidupan berikutnya. Kesempatan kita untuk mengembangkan kebajikan sebelum karma-karma buruk kita berbuah di kehidupan selanjutnya dapat berakhir dengan mudah tanpa diduga. Siap tidak siap, kematian datang begitu saja menjemput. Bisa besok, bulan depan, bisa 10 tahun lagi. Begitu kematian menjemput, kita gak bisa lari. Kalau utang karma buruk kita masih menggunung seperti sekarang, <em>fix</em> banget alam rendah menanti.</p>



<p>Makanya, mumpung kita masih hidup sebagai manusia hari ini, kita harus “mencicil” pembayaran utang karma tak bajik mulai dari sekarang! Tapi, bagaimana caranya?</p>



<p>Caranya adalah praktik purifikasi! Praktik ini adalah sebuah usaha menetralkan karma buruk yang diajarkan Sang Buddha, khususnya karma yang mendorong ke alam rendah. Mengapa menetralkan? Karena kita tidak dapat serta-merta menghapus semua karma buruk kita. Praktik purifikasi memandulkan karma buruk kita, seperti benih yang dibakar hingga tidak dapat lagi menghasilkan buah, benihnya masih ada tetapi tidak memiliki potensi lagi untuk tumbuh. Tujuan utama dari praktik purifikasi adalah menetralkan karma sehingga tidak lagi menghasilkan efek pematangan, ibarat besi yang ditempa; besi yang masih panas memiliki kemampuan membakar kita, tetapi besi yang sudah didinginkan aman-aman saja kalau dipegang.&nbsp;</p>



<h4><strong>Cara Mencicil Utang Karma Tanpa Ikut Squid Game</strong></h4>



<p>Terdapat beberapa metode purifikasi, tetapi apa pun metode yang kita pilih, dasarnya tetap sama, yaitu menerapkan Empat Kekuatan berikut ini:</p>



<ol><li>Kekuatan penyesalan: penyesalan yang sangat tulus dan mendalam atas perbuatan buruk yang kita lakukan.</li><li>Kekuatan penawar: perbuatan bajik dengan tujuan untuk menetralkan karma buruk.</li><li>Kekuatan menahan diri: kesungguhan untuk tidak mengulangi perbuatan buruk yang sama.</li><li>Kekuatan basis: mengambil perlindungan dan membangkitkan bodhicita.</li></ol>



<p><a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/07/jalan-keluar-dari-karma-buruk/"><em>Baca juga: Jalan Keluar dari Karma Buruk</em></a></p>



<p>Jadi, pertama-tama, sangat penting untuk memulai praktik purifikasi dengan perasaan menyesal yang kuat. Perasaan ini datang dari keyakinan kita terhadap hukum karma, bahwa karma buruk akan menghasilkan penderitaan. Karena kita tidak mau menderita dan ingin bahagia, kita pastinya akan menyesali sebab penderitaan alias karma buruk yang telah kita buat. Kemudian, kita perlu membuat lebih banyak karma baik. Kebajikan ini akan menjadi kekuatan bagi kita untuk bisa mengendalikan batin agar tidak membuat lebih banyak karma buruk</p>



<p>Kita juga perlu membangkitkan tekad tidak mengulangi kesalahan di masa depan. Kalau terlalu sulit dan agak mustahil untuk berhenti sepenuhnya, kita bisa setidaknya berjanji untuk menahan diri dalam batas waktu tertentu. Terakhir, kita mengambil perlindungan dan membangkitkan bodhicita untuk memastikan basis dalam latihan, mengambil perlindungan kepada objek yang tepat sebagai tempat berlindung dan membangkitkan bodhicitta untuk kebahagiaan semua makhluk.&nbsp;</p>



<p>Ada 6 aktivitas bajik yang bisa menjadi penawar utama dalam praktik purifikasi ini, yaitu melafalkan Sutra (khususnya Sutra Penyempurnaan Kebijaksanaan/Prajnaparamita Sutra), merenungkan kesunyataan, melafalkan mantra, membuat gambar Buddha, memberi persembahan kepada Buddha, dan melafalkan nama-nama Buddha.&nbsp;</p>



<p><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/ini-yang-harus-kuperbuat/"><em>Pelajari beragam kekuatan penawar di sini!</em></a></p>



<p>Kita mungkin bertanya, bagaimana melafalkan nama Buddha tertentu memungkinkan memurnikan karma kita? Efek ini sebenarnya berasal dari aspirasi bodhicita yang ditumbuhkan Buddha. Karena mereka telah berikrar untuk menjadi Buddha demi kepentingan semua makhluk, melafalkan nama mereka menjadi salah satu cara untuk membantu semua makhluk memurnikan tumpukan karma negatif. Wah, luar biasa sekali ya welas asih Buddha..&nbsp;</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-KUQTIKNk4n1ZDXJmgugYZsrrmFCY0c2isyXTSuvaY470F5XSU8vcm9f83I0EmRUWkhln6e_O9KhRwCM6e1kq7Z8ErkDwYjitNFt9SdswwgUqsmaf4NCkwT8VVxYcyNlQoDMgnM=s0" alt="A picture containing text, ground, outdoor, person

Description automatically generated"/></figure></div>



<p>Namun, di luar 6 aktivitas bajik ini, segala perbuatan baik yang dilakukan dengan tujuan menetralkan karma buruk juga bisa menjadi kekuatan penawar, misalnya seperti jadi relawan di rumah sakit atau panti jompo.&nbsp;&nbsp;</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Nah teman-teman, setelah kita mengetahui bahwa kita dapat mulai “mencicil” utang karma kita dengan menetralkan mereka, kita harus mulai semangat nih untuk mempraktikkan purifikasi, biar kita tidak harus mengikuti permainan “Squid Game” dalam samsara ini. Jangan contoh Seong Gi-Hun dan kawan-kawannya, ya! Biar makin jelas, baca juga buku-buku tentang karma, praktik purifikasi, dan topik-topik Dharma lainnya. Semangat!</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/WX0Zn13xRD2IyLY9lMgBrm64UnMZKCLANdZyoziflBUoDpjuyXTqasveTIrmgmhCBpvs2Kf7hXbbtubnNxXtEJ15GzKjTVciCblDgfQjO8KLl7pjaWhviIPa1Yp1mQdqLj6S5OI=s0" alt="A picture containing text, person

Description automatically generated"/></figure></div>



<p>Referensi: <br>1. “<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari</a>” &#8211; Guru Dagpo Rinpoche<br>2. “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/ini-yang-harus-kuperbuat/">Ini yang Harus Kuperbuat</a>” &#8211; Y.M. Biksu Bhadra Ruci</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>NDBF 3.0: Kebahagiaan Kini dan Nanti</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/09/06/ndbf-3-0-kebahagiaan-kini-dan-nanti/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2021 11:12:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6261</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Melatih batin bisa membuat kita bahagia, dan bahagia bukan tentang kehidupan saat ini saja, tapi juga di kehidupan mendatang, bebas dari samsara, hingga mencapai Kebuddhaan.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/09/06/ndbf-3-0-kebahagiaan-kini-dan-nanti/">NDBF 3.0: Kebahagiaan Kini dan Nanti</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/09/06/ndbf-3-0-kebahagiaan-kini-dan-nanti/">NDBF 3.0: Kebahagiaan Kini dan Nanti</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Junarsih</p>



<p>Kebahagiaan adalah harta paling berharga yang diriku dan semua makhluk harapkan. Bahagia berjumpa dengan teman lama misalnya, atau bahagia karena telah meraih cita-cita. Tapi, kadang aku merasa hari ini <em>happy </em>banget terus besoknya mendadak <em>mood </em>berubah-ubah. Lantas, kebahagiaan jenis apakah yang sedang kurasakan saat ini? Apa itu benar-benar bahagia?</p>



<p>Ketidaktahuanku tentang jenis kebahagiaan yang sedang kurasakan saat ini mengantarkanku ke sesi NDBF Talk 3.0 dengan narasumber Fery Widjadi (Dharmaduta) yang membahas tentang ‘Rahasia Bahagia’ pada Sabtu (21/8) lalu. Dalam sesi ini Fery menuturkan kalau taraf kebahagiaan kita sejak kecil hingga dewasa itu berbeda-beda. Ia juga mengungkapkan bahwa kita terbiasa untuk mencari kebahagiaan yang berasal dari luar diri. Menurutnya, hal ini membuat kebahagiaan tidak bisa bertahan lama dalam diri kita.&nbsp;</p>



<p>Memang benar apa yang Fery ungkapkan, kebahagiaan karena faktor dari luar diri tidak bisa bertahan lama. Rasa bahagia setelah berjumpa dengan teman lama hanya bertahan saat itu juga, setelahnya rasa bahagia itu hilang secepat kilat. Lantas, sejatinya kebahagiaan itu berasal dari mana?</p>



<h4><strong>Sumber Kebahagiaan</strong></h4>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kebahagiaan yang kita cari itu posisinya bukan sesuatu yang di luar kita. kebahagiaan itu sifatnya internal, bukan eksternal. Kebahagiaan itu bukan ada di fisik, tapi di batin kita,” ujar Fery.</p></blockquote>



<p>Ternyata, kebahagiaan tidak melulu berasal dari luar diri. Kebahagiaan ada dalam batin kita. Aku setuju dengan pernyataan Fery ini. Pasalnya aku pun sering merasa kalau batin tidak bahagia, mau ada konser Justin Bieber di depan mata sekalipun rasanya tidak menyenangkan. Begitu pula sebaliknya kalau batin sedang damai dan bahagia, mau ada Justin Bieber atau tidak aku pun tetap merasa bahagia.</p>



<p>Tapi… Memangnya kebahagiaan hanya dalam kehidupan saat ini saja kah? Tidak, kebahagiaan ada 4 jenis dan tidak melulu bahagia di kehidupan saat ini saja.&nbsp;</p>



<h4><strong>4 Jenis Kebahagiaan</strong></h4>



<p>Dalam acara ini Fery membahas empat jenis kebahagiaan, yaitu: kebahagiaan kehidupan saat ini, kebahagiaan pada kehidupan mendatang, kebahagiaan karena bebas dari samsara, dan kebahagiaan karena telah mencapai Kebuddhaan.</p>



<p>Wah, ternyata tidak hanya alam kehidupan saja yang banyak jenisnya, tapi kebahagiaan juga. Dan sesi ini menjawab pertanyaanku di awal bahwasannya kebahagiaan yang aku dapatkan saat ini adalah jenis kebahagiaan yang pertama&#8211;kebahagiaan di kehidupan saat ini saja.</p>



<h4><strong>Melatih Batin</strong></h4>



<p>Tak hanya berhenti sampai pada pemahaman tentang sumber dan jenis kebahagiaan, aku menjadi lebih paham bila kebahagiaan itu bisa diperoleh dengan melatih batin.&nbsp;</p>



<p>Fery menjelaskan 3 hal yang bisa dilakukan untuk melatih batin, yaitu: belajar, merenung, dan meditasi.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Supaya kita punya kondisi untuk belajar, merenung, dan meditasi kita butuh karma baik. Selain benih karma dari kehidupan lampau kita tambahi dengan perbuatan baik dengan menjalankan sepuluh jalan karma putih dan menghindari sepuluh jalan karma hitam,” ujarnya.</p></blockquote>



<p>Wah, kalau begitu karma baikku di masa lampau cukup banyak ya, sehingga di kehidupan sekarang bisa merasakan kebahagiaan. Tapi aku tidak boleh bersenang hati dulu, suatu hari semua kebajikanku akan habis. Maka dari itu, aku harus terus memperbanyak kebajikan dengan melatih batin.&nbsp;</p>



<p>Melatih batin ini dilakukan dengan mempraktikkan sepuluh karma jalan putih dan menghindari sepuluh jalan karma hitam seperti yang sudah Fery jelaskan di atas. Sepuluh karma hitam ini di antaranya: membunuh, mencuri, perbuatan seksual yang tidak pantas, berbohong, ucapan memecah belah, berucap kasar, ucapan tidak berguna, keserakahan, niat jahat, dan pandangan salah. Supaya bisa memperbanyak kebajikan, maka aku harus mempelajari tentang kerugian dari sepuluh jalan karma hitam, merenungkannya, kemudian memeditasikannya agar tertanam dalam batin, serta membangkitkan niat dan motivasi untuk menghindari perbuatan tidak bajik tersebut.</p>



<p>Kalau sudah bisa melatih batin dengan cara tersebut, kita bisa membangkitkan motivasi untuk mencapai kebahagiaan tertinggi dengan mencapai Kebuddhaan demi membebaskan semua makhluk dari penderitaan.&nbsp;</p>



<p>Sesi NDBF Talk 3.0 ini membuatku lebih paham bahwa kebahagiaan yang kita peroleh di kehidupan ini adalah buah dari karma baik di kehidupan lampau. Satu lagi yang perlu diingat, kebahagiaan tidak hanya tentang masa kini saja. Kebahagiaan dari luar yang aku peroleh di kehidupan ini bersifat sementara, tetapi bila dari dalam batinku bisa bahagia, maka kebahagiaan itu tidak akan hilang. Yang pasti, bila kita semua bisa belajar, merenung, dan memeditasikan hukum karma, lalu menghindari 10 karma hitam dan mempraktikkan 10 karma putih, kita dapat melatih batin hingga bisa meraih keempat jenis kebahagiaan.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/09/06/ndbf-3-0-kebahagiaan-kini-dan-nanti/">NDBF 3.0: Kebahagiaan Kini dan Nanti</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/09/06/ndbf-3-0-kebahagiaan-kini-dan-nanti/">NDBF 3.0: Kebahagiaan Kini dan Nanti</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
