<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>coronavirus - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/coronavirus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Sun, 10 May 2020 05:32:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>coronavirus - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kebijaksanaan dari Monster Bernama Corona</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/05/10/kebijaksanaan-dari-monster-bernama-corona/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2020 05:31:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[corona]]></category>
		<category><![CDATA[coronavirus]]></category>
		<category><![CDATA[COVID]]></category>
		<category><![CDATA[COVID-19]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[sifat karma]]></category>
		<category><![CDATA[virus corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4910</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Shierlen Octavia 2 Maret 2020. Hari yang seharusnya tenang, damai, dan mungkin kita bayangkan akan berjalan seperti biasa. Siapa yang bermimpi bahwa di hari tersebut Presiden Jokowi mengumumkan bahwa virus corona sudah masuk ke Indonesia? Terhitung hingga hari ini, sudah lebih dari satu bulan kasus COVID-19 (Coronavirus Disease – 2019) dinyatakan masuk ke Indonesia. [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/10/kebijaksanaan-dari-monster-bernama-corona/">Kebijaksanaan dari Monster Bernama Corona</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/10/kebijaksanaan-dari-monster-bernama-corona/">Kebijaksanaan dari Monster Bernama Corona</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Shierlen Octavia</p>



<p>2 Maret 2020. Hari yang seharusnya tenang, damai, dan mungkin kita bayangkan akan berjalan seperti biasa. Siapa yang bermimpi bahwa di hari tersebut Presiden Jokowi mengumumkan bahwa virus corona sudah masuk ke Indonesia?</p>



<p>Terhitung hingga hari ini, sudah lebih dari satu bulan kasus COVID-19 (Coronavirus Disease – 2019) dinyatakan masuk ke Indonesia. Sejak bulan Januari, virus yang telah merebut perhatian masyarakat karena merenggut nyawa banyak orang di Kota Wuhan ini telah berubah menjadi pandemi. Pandemi ini kini seakan merampas banyak hal dari hidup kita, mulai dari pekerjaan, kebebasan, kesenangan, bahkan waktu berharga bersama sahabat dan keluarga tersayang bagi mereka yang terpaksa mengarantina diri. Seakan belum cukup menjadi masalah, penyebaran COVID-19 juga amat mengganggu ketenangan batin banyak orang sebab hal ini memicu rasa takut, gelisah, cemas, bahkan mungkin tak sedikit dari teman-teman kita yang kemudian menjadi depresi karenanya.&nbsp;</p>



<p>Pada masa-masa seperti ini, pasti ada saatnya kita mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada diri kita mengenai wabah ini: Mengapa semua ini harus terjadi padaku? Mengapa aku harus menjalani rutinitas seperti ini; tidak bisa jalan-jalan ke mall, nonton bioskop, bahkan mudik saja tidak boleh? Apa penyebab dari semua hal ini? Bagaimana bisa virus corona yang digadang-gadang disebabkan oleh negara lain malah mempengaruhi kehidupanku?</p>



<p>Untuk menjawab pertanyaan ini, kita butuh merenungkan sifat-sifat karma. Pertama, <strong>karma bersifat pasti; yang baik hanya akan membuahkan hasil baik, yang buruk hanya akan membuahkan hasil buruk. </strong>Segala ketidaknyamanan yang kita rasakan saat ini—tidak bisa keluar rumah, merasa takut dan gelisah bagi sebagian dari kita yang masih harus pulang pergi kantor, mengalami kenaikan harga barang bahkan kelangkaan barang—tak ayal terjadi karena perbuatan kita sendiri di masa lampau. Kita mungkin tidak eling mengenai seberapa banyak perbuatan buruk yang kita lakukan sehari-hari. Saat pertama kali mendengar berita corona yang terjadi di Wuhan, seberapa banyak dari kita yang melontarkan guyonan kasar dan sumpah serapah terhadap negara Cina? Pernahkah terpikir bagaimana perasaan mereka? Dulu, sebelum ada wabah ini, seberapa sering kita bersikap pelit terhadap orang lain yang membutuhkan bantuan kita? Pernahkah kita mencoba memposisikan diri kita seperti mereka? Kemudian, berapa banyak dari kita yang menyiksa kecoa yang sudah kita anggap layaknya musuh bebuyutan kita dengan berbagai metode sebelum membunuhnya? Pernahkah kita membayangkan seberapa takutnya ia ketika kita melakukan hal tersebut? Perbuatan-perbuatan semacam itulah yang menyebabkan kita saat ini dipenuhi kecemasan akan kesehatan kita, kesehatan orang yang disayang, akan hari esok, akan banyak sekali hal lain yang mendadak berubah karena virus corona. Kita butuh sadar bahwa dunia tempat kita tinggal tidak sedang dalam keadaan baik. Berbagai jalan karma hitam pastinya telah kita lakukan. Yang lebih parahnya, kita dan banyak orang lainnya di dunia melupakan hal sepenting kepastian karma. Tak heran bila saat ini, kita tertimpa musibah besar.</p>



<p>Kedua, <strong>karma berkembang pesat. </strong>Hal-hal buruk yang kita anggap remeh dan tidak mungkin menyakiti kita ternyata benar-benar mengkhianati kita. Sebatang pohon mangga yang besar, kokoh, memiliki banyak ranting dan cabang, tidak datang dari sesuatu yang besar. Ia datang dari biji mangga yang amat kecil, yang disirami terus menerus. Sama halnya dengan karma, setitik karma buruk yang telah kita perbuat akan berkumpul menjadi besar sebagaimana setetes demi setetes air memenuhi ember. Sebagai buah dari hal-hal “sepele” yang kita perbuat; senang akan musibah yang menimpa orang lain akan menuntun kita menuju rasa senang yang lebih besar lagi ketika musibah yang lebih hebat menimpa orang tersebut. Melakukan hal-hal buruk sedikit demi sedikit akan membentuk kebiasaan kita hingga kita tidak perlu lagi dengan sengaja melakukan perbuatan buruk. Akibatnya, kita menjadi orang yang amat pencemas ketika musibah terjadi pada diri kita. Inilah mengapa, tanpa kita sadari, hal buruk yang kita rasa tidak akan membawa kita pada bencana, nyatanya menghadapkan kita pada pandemi yang harus kita tanggung bersama.&nbsp;</p>



<p>Ketiga, kita perlu memahami bahwasanya tidak ada asap tanpa api. Sebagaimana dijelaskan oleh Buddha dan guru-guru besar lainnya, <strong>tidak mungkin karma bisa berbuah tanpa penyebab</strong>. Contoh mudah bagi kita memahami hal ini adalah: bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan uang kalau kita tidak bekerja? Bahkan Buddha yang sudah mengulurkan tangan pun tak akan bisa membantu jikalau kita tidak bertindak dengan menyambut uluran tangan tersebut. Sama halnya dengan wabah COVID-19, peristiwa ini tak mungkin terjadi begitu saja lalu mempengaruhi kehidupan kita. Setelah merenungkan dua poin sebelumnya, pastilah kita telah melakukan penyebab-penyebab timbulnya virus tersebut, dengan lengkap dan mungkin tanpa cacat, hingga kita harus mengalami ketidaknyamanan di masa kini.&nbsp;</p>



<p>Keempat, <strong>karma tidak akan kehilangan kekuatannya untuk berbuah. </strong>Karma yang kita ciptakan tahu betul siapa tuannya. Ia tidak akan mencari tetanggamu atau pacarmu untuk berbuah. Jika tak ada hal tertentu yang kita perbuat, ketika tiba waktunya bagi karma untuk berbuah, ia akan tetap berbuah, bahkan jika ia butuh beribu-ribu kalpa untuk berbuah. Oleh karenanya, meskipun kita tidak merasa melakukan perbuatan buruk di kehidupan saat ini, kita tidak tahu perbuatan buruk apa yang telah kita lakukan di kehidupan sebelumnya. Buktinya adalah kehidupan kita saat ini di samsara dan penderitaan yang harus kita alami karena virus ini.</p>



<p>Selain 4 sifat karma tersebut, penting bagi kita untuk merenungkan ajaran Buddha mengenai ‘kesalingbergantungan’. <strong>Tidak ada satu pun hal di dunia ini yang terkondisi yang mampu berdiri sendiri. Semua hal eksis karena hubungannya dengan hal lain</strong>. Entah kita sadari atau tidak, kita hidup saling bergantung di dunia yang terus menerus berubah ini. Virus corona mengajak kita untuk menyadari bahwa masing-masing dari kita sesungguhnya tak hanya mempengaruhi kehidupan kita pribadi saja, tetapi juga hajat hidup orang lain. Kita bisa melihat bahwa dampak dari keputusan seorang presiden, bisa begitu mempengaruhi kehidupan orang banyak. Keputusan kita seorang untuk mematuhi atau tidak mematuhi peraturan mengenai pencegahan COVID-19, akan mempengaruhi angka penyebaran virus di negara kita. Keserakahan kita untuk menimbun masker dan <em>hand sanitizer, </em>akan membahayakan lebih banyak lapisan masyarakat. Oleh karena itu, menjawab pertanyaan di awal, kemalangan yang kita alami saat ini terjadi karena perbuatan kita bersama di masa lampau.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Biarpun terdengar keji, karma sesungguhnya bersifat sangat adil pada setiap makhluk. Memahami sifat-sifat tersebut secara tidak langsung juga mengajarkan kita bahwa setiap usaha kita akan dihargai oleh si ‘karma’. Artinya, hanya jika kita berbuat sesuatu terhadap bibit karma yang telah kita tanamlah buah karma buruk yang lebih besar lagi bisa kita hentikan. Meskipun ada kalanya kita berbuat buruk karena kecerobohan kita, kita tetap dapat berbuat sesuatu untuk menghentikan atau memperlemah akibat dari karma tersebut. Oleh karena itu, wabah ini pun dapat terhenti jika kita melakukan usaha terhadapnya.&nbsp;</p>



<p>Hanya dengan mempraktikkan 4 cara yang tepatlah kita dapat mempurifikasi karma buruk yang telah kita lakukan hingga menimbulkan bencana ini. Pertama adalah <strong>membangkitkan rasa penyesalan. </strong>Penyesalan yang dimaksud adalah penyesalan yang ditujukan pada karma buruk yang telah kita perbuat. Setelah kita merenungkan kembali penyebab keresahan yang kita rasakan sekarang karena takut tertular virus, misalnya karena sebelumnya kita pernah dengan sengaja menakut-nakuti orang lain, kita harus menumbuhkan rasa penyesalan tulus setelah berbuat demikian. Agar bisa menimbulkan rasa tersebut, kita perlu memeditasikan konsekuensi negatif yang ditimbulkan karenanya; bayangkan bagaimana perasaan tidak nyaman yang kita rasakan saat ini amat mengganggu karena kita pernah melakukan hal itu sebelumnya. Betapa bodohnya aku menyebabkan penderitaan bagiku sendiri?</p>



<p>Sama halnya dengan kita yang akan mencari penawar ketika memakan racun, kita juga harus mencari cara untuk ‘menawar’ karma buruk yang sudah terlanjur dilakukan. Cara yang kedua ini, yakni <strong>menerapkan penawar, </strong>dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan merenungkan Dharma, melafalkan sutra dan mantra, membuat persembahan kepada para Buddha, atau melakukan praktik purifikasi terhadap 35 Buddha. Jika hal ini terdengar asing bagi kita, ingatlah sifat dasar dari aktivitas-aktivitas Buddha yang terdiri dari kebijaksanaan, welas asih, dan kekuatan, serta bagaimana Buddha selalu bekerja untuk semua makhluk. Oeh karena itu, menggantungkan diri terhadap praktik-praktik tersebut menghasilkan kebajikan yang besar. Usaha yang kita lakukan dalam menerapkan penawar tersebut merupakan aktivitas ketika kita menyambut uluran tangan Buddha yang selama ini kita abaikan dengan berbuat buruk.&nbsp;</p>



<p>Meskipun demikian, menyesal dan memohon pertolongan Buddha saja belum cukup untuk mempurifikasi karma buruk yang kita lakukan. Cara ketiga, yaitu <strong>bertekad tidak mengulangi dengan melakukan hal yang sebaliknya, </strong>adalah poin penting yang juga harus kita lakukan. Rasa penyesalan yang telah kita bangkitkan tidak memberi hasil maksimal jikalau kita melakukan perbuatan buruk tersebut kembali di kemudian hari. Dikatakan pula, baru ketika kita melakukan perbuatan yang sebaliknya dari perbuatan buruk tersebut, penyesalan benar-benar terbentuk. Jika selama ini kita sering menakut-nakuti orang lain, berpalinglah dari perbuatan tersebut dan kini berikanlah banyak penghiburan bagi orang lain. Alih-alih membunuh serangga-serangga yang kita benci, bantulah mereka menemukan jalan keluar dari rumahmu.&nbsp;</p>



<p>Keempat, kita harus senantiasa ingat untuk <strong>berlindung kepada Triratna. </strong>Memperteguh keyakinan terhadap Triratna akan semakin meyakinkan kita pula untuk melakukan aktivitas purifikasi, berikut menghindari sebab-sebab buruk lainnya yang mungkin akan mengarahkan kita pada bencana lainnya. Tanamkanlah dalam hati kita bahwa Buddha hidup dan mampu melindungi kita dari bahaya yang mengancam. Dharma sebagai jalan yang ditunjukkan Buddha, memberikan kita penerangan untuk melakukan aktivitas bajik agar kita bisa tetap bahagia dalam kondisi sulit seperti kini dan menciptakan lebih banyak kondisi yang membahagiakan di masa mendatang. Kemudian yakinlah bahwa Sangha sebagai sahabat sejati, adalah mereka yang memiliki aspirasi yang sama denganmu dalam mengembangkan kebajikan dan mempurifikasi ketidakbajikan, yang akan menjadi pembimbingmu untuk selalu mengingat Buddha dan Dharma.&nbsp;</p>



<p>Terakhir, kembangkanlah bodhicita; semangat untuk membantu semua makhluk dalam mencapai Kebuddhaan. Secara konkret, bantulah mereka yang saat ini juga tengah berada dalam masa sulit karena wabah COVID-19, sesederhana mendanakan sedikit dari yang kita punya kepada para pedagang yang tidak bisa mencari nafkah dengan niat membebaskannya dari penderitaan sementara. Sebab hal ini sungguh merupakan sebuah latihan yang amat berharga dalam mempurifikasi ketidakbajikan. Kemudian, doakanlah mereka yang bahkan di tengah krisis seperti ini pun masih harus tetap berjuang untuk merawat pasien tanpa mempedulikan keselamatan mereka sendiri. Mungkin kita berpikir bahwa tak banyak hal yang bisa kita lakukan perihal ini, namun ingatlah kesalingbergantungan yang telah Buddha babarkan. Dengan melakukan peran kita sebaik mungkin, berusaha sekecil apapun itu untuk kepentingan banyak orang, perbuatan kita akan berpengaruh layaknya riak menggerakkan air di sekelilingnya.</p>



<p>Sebagaimanapun buruknya hal yang saat ini mesti kita hadapi, monster bernama corona yang terus menjadi momok selama beberapa bulan ini juga memberikan banyak hal baik bagi kita. COVID-19 tidak hanya memberikan tamparan bagi kita untuk senantiasa merenungkan Dharma, namun juga menata ulang batin kita, membuat kita lebih menyadari hal-hal yang sepatutnya kita lakukan. COVID-19 juga mengajarkan bahwa apapun yang diri kita—sesuatu yang kecil di tengah hamparan manusia yang amat banyak—ini lakukan akan berdampak bagi diri sendiri dan orang lain. Hal ini merupakan sebuah kabar baik sebab ini artinya perbuatan bajik apapun yang kita usahakan akan berdampak pada hal yang bajik pula. Selama setiap dari kita berusaha mengembangkan hati yang baik, mempertahankan sila dengan baik, dan secara aktif melakukan perbuatan bajik, yakinlah bahwa badai hebat yang saat ini kita hadapi pun akan berlalu. Lalu, hal-hal baik akan datang menjemputmu dan banyak orang di dunia.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Referensi:</p>



<ol><li>“Karma dan Akibatnya” oleh Guru Dagpo Rinpoche</li><li>“Jika Hidupku Tinggal Sehari” oleh Guru Dagpo Rinpoche</li><li>“<em>Steps on The Path to Enlightenment</em>” oleh Geshe Lhundup Sopa</li></ol><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/10/kebijaksanaan-dari-monster-bernama-corona/">Kebijaksanaan dari Monster Bernama Corona</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/10/kebijaksanaan-dari-monster-bernama-corona/">Kebijaksanaan dari Monster Bernama Corona</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyumpahi Orang Celaka, Karma Burukkah? &#8211; Jalan Karma Niat Jahat</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/04/20/menyumpahi-orang-celaka-karma-burukkah-jalan-karma-niat-jahat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2020 08:52:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[corona]]></category>
		<category><![CDATA[coronavirus]]></category>
		<category><![CDATA[COVID]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[julid]]></category>
		<category><![CDATA[karma pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[niat jahat]]></category>
		<category><![CDATA[virus corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4880</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Entah udah pekan keberapa sejak COVID-19 masuk Indonesia, kayaknya lebih banyak kabar buruk yang beredar daripada kabar baik. Coba, sudah berapa kali lihat trit di Twitter atau Facebook yang isinya foto tukang timbun masker atau pake APD (Alat Pelindung Diri) lengkap cuma belanja ke supermarket? Belum lagi share-an berita yang disertai caption yang memprotes pemerintah [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/20/menyumpahi-orang-celaka-karma-burukkah-jalan-karma-niat-jahat/">Menyumpahi Orang Celaka, Karma Burukkah? – Jalan Karma Niat Jahat</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/20/menyumpahi-orang-celaka-karma-burukkah-jalan-karma-niat-jahat/">Menyumpahi Orang Celaka, Karma Burukkah? &#8211; Jalan Karma Niat Jahat</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Entah udah pekan keberapa sejak COVID-19
masuk Indonesia, kayaknya lebih banyak kabar buruk yang beredar daripada kabar
baik. Coba, sudah berapa kali lihat trit di Twitter atau Facebook yang isinya
foto tukang timbun masker atau pake APD (Alat Pelindung Diri) lengkap cuma
belanja ke supermarket? Belum lagi <em>share-</em>an berita yang disertai <em>caption
</em>yang memprotes pemerintah atau memprotes orang yang protes ke pemerintah…
Wuih…</p>



<p>Daripada berapa banyak berita buruk yang
kita lihat, sebenarnya ada pertanyaan yang lebih penting: Apa yang kita lakukan
waktu melihat berita buruk itu?</p>



<p>Kalau berita buruk itu bisa berhenti di
kamu atau menggerakkan hatimu untuk menolong orang lain atau berbuat baik, kita
harus bersuka cita. Tapi kalau yang kamu lakukan adalah menekan tombol <em>share
</em>dan ikut-ikutan menyumpahi… Itu tandanya kita harus hati-hati! Sangat
mungkin bahwa alih-alih orang yang kamu sumpahi akan mengalami kemalangan
seperti yang kamu harapkan, malah kamu yang jadi menderita entah di kehidupan
ini atau kehidupan mendatang!</p>



<p>Seperti yang sudah dibahas di artikel
sebelumnya, keinginan untuk menyakiti orang lain atau berharap orang lain
menderita termasuk karma hitam niat jahat. Tanpa kita sadari, karma buruk niat
jahat sangat mudah untuk muncul. Padahal ini merupakan satu dari 10 jalan karma
hitam (<em>akusala kamma</em>) yang bisa menjadi sebab kelahiran di alam rendah
atau memperoleh penderitaan. Tanpa ada orang yang bersikap egois gara-gara
panik COVID-19 pun kita gampang banget menyumpahi yang jelek-jelek di kehidupan
sehari-hari. Ini biasa terjadi saat barang kita dicuri atau saat kita atau
keluarga kita dilukai. &nbsp;Saat itu terjadi,
pemikiran spontan yang muncul adalah mengharapkan orang yang melakukannya
mendapat balasan. Ini juga sering terjadi saat ada ‘<em>public enemy</em>’
seperti pelaku tindak criminal dan koruptor yang ramai diberitakan di televisi
atau medsos, semua orang ramai-ramai membagikan berita dengan nada menghujat
dan mendoakan para pelaku mengalami penderitaan. </p>



<p>Mengharapkan kemalangan menimpa orang lain
adalah salah satu bentuk karma pikiran niat jahat, tapi apa yang membuat karma
niat jahat ini menjadi lengkap? Berikut adalah analisisnya menurut aspek karma:</p>



<ol><li><strong>Dasar</strong>: seseorang atau sesuatu yang kita anggap tidak menarik atau tidak menyenangkan</li><li><strong>Pemikiran,</strong> terbagi tiga:<br>> Identifikasi: objek yang dipikirkan tepat sesuai dengan dasar<br>> Motivasi: niat untuk menyakiti, membahayakan, atau berharap agar objek yang dituju mengalami kemalangan, misalnya mengharapkan orang lain meninggal atau kehilangan sesuatu<br>> Klesha: salah satu dari tiga jenis klesha utama, yaitu kemelekatan, kebencian, dan ketidaktahuan.</li><li><strong>Tindakan:</strong> memiliki keinginan yang lebih kuat agar hal yang buruk menimpa objek yang dituju </li><li><strong>Penyelesaian:</strong> mengambil keputusan bahwa hal buruk tersebut harus benar-benar terjadi atau bertekad mewujudkan hal buruk tersebut.</li></ol>



<p>Suatu niat jahat menjadi sempurna ketika
kita menginginkan orang lain menderita dengan disertai sikap batin berikut ini:</p>



<ol><li>Sikap membenci yang
secara kuat mencengkeram suatu sebab yang membuatmu ingin seseorang menderita,
misalnya ada orang yang pernah melukaimu sehingga kamu sangat membencinya dan
kamu yakin kamu berhak membalasnya karena tindakannya itu;</li><li>Ketidaksabaran atau
tidak tahan dengan penderitaan yang disebabkan orang lain pada dirimu;</li><li>Rasa benci yang amat
kuat karena mengingat dan mengulang-ulang sebab kebencianmu, misalnya
berkali-kali mengatakan dalam hati, “Gara-gara Tengkulak X borong semua masker,
aku jadi nggak kebagian, aku akan mati kena COVID-19 gara-gara dia,” lalu
berkali-kali pula mengingat segala macam penderitaan yang kamu alami karenanya
sehingga rasa bencimu menjadi sangat kuat.</li><li>Pikiran penuh dengki atau
keinginan balas dendam, misalnya berpikir, “Alangkah bagusnya kalau Tengkulak X
kena COVID-19, biar tahu rasa!” Pikiran seperti ini muncul setelah kamu
berkali-kali memikirkan ‘dosa’ Tengkulak X terhadapmu dan merasa kamu berhak
membalasnya atau dia pantas menderita.</li><li>Batinmu sepenuhnya
dikuasai oleh niat jahat, sedikit pun tidak menyadari bahaya niat jahat itu
terhadap dirimu sendiri, tanpa rasa malu atau bersalah sedikit pun, dan sama
sekali tidak punya keinginan untuk menghindari niat jahat tersebut.</li></ol>



<p>Punya lima sikap di atas terhadap penimbun
masker atau penimbun sembako mungkin kasus ekstrem, tapi bukan nggak mungkin
sesuatu yang sangat buruk terjadi pada kita (amit-amit) yang bikin kita
mendendam sampai mengembangkan 5 sikap itu. Keinginan untuk balas dendam atau
mengharapkan orang lain menderita tanpa disertai kelima sikap itu juga termasuk
dalam niat jahat sederhana. Jadi, penting banget bagi kita buat belajar tentang
karma ini, direnungkan, dan dimeditasikan agar melekat di batin kita sehingga
ketika muncul pikiran niat jahat, kita siap menangkap dan menghentikannya saat
itu juga.</p>



<p>Setelah mengetahui proses lengkapnya karma
niat jahat di atas, apa yang bisa kita lakukan? Hal simpel yang bisa dilakukan
pada awalnya adalah memunculkan sikap malu dan takut (<em>hiri</em> dan <em>ottapa)</em>
atau menyesal ketika pikiran niat jahat muncul di batin kita. Perkuat keyakinan
terhadap hukum karma, bahwa penderitaan maupun kebahagiaan orang yang menyakiti
kita sepenuhnya tergantung pada karma mereka dan sebaliknya penderitaan dan
kebahagiaan kita juga bergantung pada karma kita. Kalau kita nggak mau
menderita, tentunya kita harus memperbanyak kebajikan dan menghindari karma
buruk, bukannya menambah karma buruk dengan membiarkan niat jahat berkembang. Ketika
kita sudah bisa menerima penderitaan yang kita alami, kita juga bisa coba merenungkan
apa yang membuat orang lain melakukan sesuatu yang merugikan kita dari sudut
pandang kesalingbergantungan dan membangkitkan welas asih kepada mereka. </p>



<p class="has-text-align-right"><em>Baca cara mengembangkan welas asih ala Awalokiteshwara <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/24/praktik-penyempurnaan-welas-asih/">di sini</a>!</em></p>



<p>Akhir kata, ketika pikiranmu mulai
mendoakan pencuri <em>handphone</em>-mu jatuh miskin dan dipenjara puluhan tahun
atau jempolmu siap menyumpahi penimbun masker kena COVID-19, coba berhenti dan
tarik napas panjang. Lalu, ganti ‘doa jahat’-mu menjadi doa yang baik dan
tulus, misalnya semoga dengan menjual <em>handphone-</em>mu, si pencuri bisa
keluar dari kesulitan keuangan dan bertobat atau semoga penimbun masker bebas
dari rasa panik dan ketakutan akan COVID-19 dan tergerak untuk menyumbangkan
masker timbunannya ke rumah sakit.</p>



<p>Sumber: </p>



<ol><li>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Karma?id=seGMDwAAQBAJ">Karma</a>” oleh Dagpo Rinpoche</li><li>“<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">Pembebasan di Tangan Kita</a>” oleh Phabongkha Rinpoche</li><li>“<em>Steps on The Path to Enlightenment</em>” oleh Geshe Lhundup Sopa </li></ol><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/20/menyumpahi-orang-celaka-karma-burukkah-jalan-karma-niat-jahat/">Menyumpahi Orang Celaka, Karma Burukkah? – Jalan Karma Niat Jahat</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/20/menyumpahi-orang-celaka-karma-burukkah-jalan-karma-niat-jahat/">Menyumpahi Orang Celaka, Karma Burukkah? &#8211; Jalan Karma Niat Jahat</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Buat Apa Agama di Hadapan Virus Corona?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/04/14/buat-apa-agama-di-hadapan-virus-corona/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2020 11:04:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[coronavirus]]></category>
		<category><![CDATA[COVID]]></category>
		<category><![CDATA[COVID-19]]></category>
		<category><![CDATA[Dagpo Rinpoche]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[sains]]></category>
		<category><![CDATA[virus corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4852</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Orang-orang di seluruh dunia bertahan menghadapi wabah COVID-19 dengan berbagai cara. Salah satu hal yang paling banyak dilakukan adalah menuangkan pikiran di media sosial. Pikiran ini tertuang tidak hanya dalam bentuk tulisan, tapi juga dengan cara-cara kreatif seperti parodi lagu, ilustrasi, sampai meme-meme lucu. Isinya beragam, mulai dari curhatan ketakutan, protes ke pemerintah, sampai yang [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/14/buat-apa-agama-di-hadapan-virus-corona/">Buat Apa Agama di Hadapan Virus Corona?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/14/buat-apa-agama-di-hadapan-virus-corona/">Buat Apa Agama di Hadapan Virus Corona?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p> Orang-orang di seluruh dunia bertahan menghadapi wabah COVID-19 dengan berbagai cara. Salah satu hal yang paling banyak dilakukan adalah menuangkan pikiran di media sosial. Pikiran ini tertuang tidak hanya dalam bentuk tulisan, tapi juga dengan cara-cara kreatif seperti parodi lagu, ilustrasi, sampai meme-meme lucu. Isinya beragam, mulai dari curhatan ketakutan, protes ke pemerintah, sampai yang bernada positif dan mengajak orang untuk melihat sisi baik dari permasalahan ini. <br>Salah satu jenis &#8216;pemikiran&#8217; yang lumayan sering saya lihat di medsos adalah sindiran terhadap agama. Salah satu contohnya adalah ilustrasi berikut:</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img width="720" height="538" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/WhatsApp-Image-2020-04-09-at-09.48.12.jpeg" alt="" class="wp-image-4853" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/WhatsApp-Image-2020-04-09-at-09.48.12.jpeg 720w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/WhatsApp-Image-2020-04-09-at-09.48.12-600x448.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/WhatsApp-Image-2020-04-09-at-09.48.12-300x224.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/WhatsApp-Image-2020-04-09-at-09.48.12-150x112.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/WhatsApp-Image-2020-04-09-at-09.48.12-450x336.jpeg 450w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption> <em>Maksudnya pemuka agama kudu berhenti sembahyang dan ikut ngoprek-ngoprek virus, gitu?</em> </figcaption></figure></div>



<p>Ilustrasi ini hanyalah salah satu dari sekian banyak cuapan yang mengatakan bahwa di saat wabah, agama tidak ada gunanya, sains adalah satu-satunya harapan untuk menemukan obat yang bisa mengakhiri pandemi COVID-19. Bahkan ada yang menyindir lebih jauh lagi dengan mengatakan bahwa sekarang semua menumpukan harapan pada ilmuwan, tapi setelah wabah berakhir semua &#8216;penghargaan&#8217; hanya akan dihaturkan kepada &#8216;Tuhan&#8217;.</p>



<p>Sebagai seorang (yang mengaku) Buddhis, saya agak bingung. Kok rasanya ada yang salah, ya?</p>



<p><strong>Siapa bilang agama dan sains bertentangan</strong>?</p>



<p>Saya tidak bisa bicara soal agama lain, tapi <strong>Buddha tidak pernah sekali pun mengatakan bahwa berdoa di mulut saja cukup dan bisa menyelesaikan semua permasalahan.</strong> Buddha mengajarkan karma dan <a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Pratityasamutpada?id=g7CWDwAAQBAJ">kesalingbergantungan</a>, bahwa terjadinya sesuatu bergantung pada banyak sekali faktor, mulai dari yang kasar sampai yang subtil. Jika kita ingat poin ini, bahkan dengan pemahaman paling kasar sekali pun, kita seharusnya bisa melihat bahwa usaha para ilmuwan dan doa banyak orang sama-sama merupakan bagian penting dalam mengakhiri wabah. </p>



<p>Wabah penyakit yang melanda seluruh dunia adalah buah dari karma buruk kolektif orang banyak. Sebaliknya, berakhirnya wabah tentu merupakan buah dari karma baik orang banyak pula. Dengan memahami Buddhadharma, kita dapat menghindari karma buruk kolektif yang dapat menjadi penyebab wabah dan mengumpulkan sebab-sebab bajik yang mendatangkan kebahagiaan di kehidupan ini maupun kehidupan mendatang. Pencegahan dan pengobatan yang didapat dari penerapan sains adalah penanganan wabah dari sisi eksternal, tapi penanganan ini efektif atau tidak tetap bergantung pada perlindungan internal, yaitu praktik Dharma kita.</p>



<p class="has-text-align-right"><em>Baca penjelasan tentang cara kerja hukum karma <a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Karma?id=seGMDwAAQBAJ">di sini</a>. </em></p>



<p><strong>Pemuka agama juga berperan penting.</strong></p>



<p>Kembali ke ilustrasi sindiran di awal tulisan ini, mana mungkin kita mengharapkan pemuka agama untuk alih profesi menjadi peneliti virus atau pembuat vaksin? Kecuali mereka memang sarjana ilmu kedokteran atau mikrobiologi, itu lain cerita.</p>



<p>Selain kesehatan fisik, ada satu hal yang amat penting dan tidak boleh diabaikan dalam masa pandemi COVID-19 ini, yaitu kesehatan mental. Jutaan manusia di seluruh dunia, baik yang terkena penyakit maupun tidak, pasti terdampak secara mental oleh wabah ini. Kepanikan dan kekhawatiran secara alami muncul seiring dengan semakin mendesaknya tuntutan untuk mengubah pola hidup. Okelah, karantina wilayah mungkin bisa membatasi penyebaran virus, tapi berapa banyak orang yang jadi stres gara-gara kesulitan beradaptasi? Di beberapa negara yang menerapkan karantina, terjadi <a href="https://www.theguardian.com/society/2020/mar/28/lockdowns-world-rise-domestic-violence">peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga</a>. Di belahan dunia lain, banyak juga yang mengabaikan instruksi untuk tinggal di rumah karena tidak tahan dikarantina. Parahnya lagi, tidak sedikit berita tenaga medis dan orang dalam pengawasan (ODP) yang dipersekusi karena masyarakat ketakutan dan tidak bijak dalam menyikapi wabah. Belum lagi <em>panic buying</em> menyebabkan kelangkaan barang pokok sehingga banyak yang tercekik di masa pandemi ini. Ini semua tentu tidak membantu terhadap usaha penanganan pandemi, bahkan bisa memperparah. Ketika ilmuwan akhirnya berhasil menemukan vaksin untuk virus corona, mungkin hampir seluruh umat manusia sudah musnah gara-gara kerentanan batin yang berdampak pada kegagalan pengendalian penyebaran penyakit.</p>



<p>Lantas, apa yang bisa &#8216;menjaga&#8217; kesehatan batin orang-orang di masa pandemi ini? Jelas Dharma adalah jawabannya. Dharma mengajarkan kita cara mengelola batin dan menyikapi situasi sulit, bahkan menggunakan situasi itu untuk membuat batin kita makin berkembang sehingga bisa &#8216;menampung&#8217; makhluk lain dan tidak hanya memikirkan diri sendiri. Di sinilah peran penting guru-guru Dharma yang menyemangati kita semua untuk terus melatih batin dan melakukan kebajikan. Para guru Dharma juga tentunya tidak berpangku tangan selagi para ilmuwan berjuang lalu mengabaikan jasa mereka setelah obat ditemukan seperti yang disindir orang-orang di internet. Bahkan sekarang pun para guru terus bekerja untuk &#8216;menjaga&#8217; batin orang banyak sambil memberikan penghargaan kepada semua pihak yang berjasa dalam menghadapi pandemi sesuai dengan peran mereka masing-masing!</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;Dari posisi saya yang seadanya, saya ingin berpartisipasi dalam usaha ini. Usia saya, 88 tahun, mencegah saya untuk berperan aktif dan melakukan tindakan konkret seperti yang saya inginkan. Namun, sebagai seorang Lama, sebagai seorang praktisi Buddhis, saya berdoa dengan intens agar penyebaran virus corona segera berhenti secepat mungkin di seluruh dunia&#8230;&#8221;</p><cite> Y. M. Guru Dagpo Rinpoche, 8 April 2020  </cite></blockquote>



<p>Guru Dagpo Rinpoche adalah salah satu guru Dharma yang aktif memberikan pesan dukungan di masa wabah COVID-19. Dalam <a href="https://web.facebook.com/DagpoRinpoche.id/photos/a.1688858941260585/2071119443034531/?type=3&amp;theater">pesan terbaru Beliau</a>, Rinpoche berterima kasih ke semua pihak, mulai dari tenaga medis, perawat, petugas kebersihan, seniman, sampai warga negara biasa yang sudah berperan dengan menaati aturan <em>lockdown</em> demi melawan COVID-19. Di usia 88 tahun, Rinpoche memang tidak bisa memberikan bantuan secara fisik. Namun, sebagai seorang Lama yang berpengaruh di Prancis dan di seluruh dunia,<a href="https://web.facebook.com/DagpoRinpoche.id/posts/2050839111729231?__xts__[0]=68.ARCjb1MBdj724s-0pUe64BDdDmQK0Fv5uG6-9t7bEPhG1b1iZ73vnvP_Gk1F9oVs8ior9hqBGg2m9l3LFiVAMKW4lBcF-KAu5VDOqWXD58_FKOCMUvVyri79mhE2h2uJDHDtDriY5Yfr95gohJDZ_Av5HzfmCYnO22hHPj4XIhSHKpDT6yznp0Ar_yxv25qNv0vrZy8cWRdlxbmslBA_b8kq9fZoIiGRSlcpeH7TEOWaQZ-pEroCDtVNcMrXebs1vLMlblUIzgMyOxxL4R20e63PoF3N7uoKEeKhZR4LcnKprKuCC6bpFrSfutlhAUQSMeZxA8nyWaI0SboC3E7TyTqW&amp;__tn__=-R."> Beliau membimbing kita agar bisa menghadapi wabah dengan sikap batin yang tepat</a> sesuai dengan Dharma sekaligus menyemangati kita semua untuk tidak menyerah dan memancarkan welas asih di setiap kesempatan<a href="https://web.facebook.com/DagpoRinpoche.id/posts/2050839111729231?__xts__[0]=68.ARCjb1MBdj724s-0pUe64BDdDmQK0Fv5uG6-9t7bEPhG1b1iZ73vnvP_Gk1F9oVs8ior9hqBGg2m9l3LFiVAMKW4lBcF-KAu5VDOqWXD58_FKOCMUvVyri79mhE2h2uJDHDtDriY5Yfr95gohJDZ_Av5HzfmCYnO22hHPj4XIhSHKpDT6yznp0Ar_yxv25qNv0vrZy8cWRdlxbmslBA_b8kq9fZoIiGRSlcpeH7TEOWaQZ-pEroCDtVNcMrXebs1vLMlblUIzgMyOxxL4R20e63PoF3N7uoKEeKhZR4LcnKprKuCC6bpFrSfutlhAUQSMeZxA8nyWaI0SboC3E7TyTqW&amp;__tn__=-R">.</a></p>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV juga merupakan salah satu pemuka agama yang berperan aktif di masa pandemi ini. Dalam salah satu <a href="https://www.instagram.com/p/B-Y5EhrAy03/">pesan terbuka</a> Beliau. Y. M. S. Dalai Lama mendorong semua pihak untuk memberi bantuan pada orang-orang yang kehilangan mata pencaharian karena wabah COVID-19. Mungkin banyak sekali warganet yang menyerukan hal serupa di medsos mereka, tapi dorongan ini tentu punya kekuatan berbeda jika dikeluarkan dalam bentuk surat terbuka dari salah satu tokoh Buddhis paling berpengaruh sekaligus pemenang nobel perdamaian yang dihormati oleh pemimpin-pemimpin dunia.</p>



<p>Jadi, peran dokter, tenaga medis, dan ilmuwan memang penting untuk melindungi tubuh kita dari COVID-19.  Namun, di saat yang sama, Buddhadharma dan tokoh-tokoh agama juga memiliki peran yang amat penting dalam menjaga kesehatan mental orang banyak yang amat rentan selama para ilmuwan dan pihak-pihak lain yang memiliki kemampuan khusus berjuang mencari cara mengatasi pandemi ini. Tanpa Dharma dan guru-guru Dharma yang membimbing kita untuk menjaga batin kita selama pandemi berlangsung, usaha para ilmuwan tentunya akan sia-sia karena kemanusiaan keburu tumbang karena rasa takut, cemas, dan sikap mementingkan diri sendiri membuat kita saling menghancurkan satu sama lain.</p>



<p><strong>Wahai kaum rebahan, jangan gabut!</strong></p>



<p>Ilmuwan punya peran, pemuka agama punya peran, lalu bagaimana dengan kita? Kita tidak punya kemampuan untuk meneliti virus atau merawat orang sakit. Kita juga mungkin tak punya cukup kebijaksanaan ataupun kharisma untuk menolong orang lain secara mental. Kita punya uang seadanya, sudah kita danakan untuk pengadaan APD bagi tenaga medis dan bantuan sembako untuk pekerja sektor informal. Sekarang tinggal rebahan di rumah biar nggak kena virus atau menyebarkan virus ke orang lain. Santai-santai aja pun ternyata kita udah berjasa untuk menangani pandemi COVID-19! Asal nggak keluar rumah, kita bebas melakukan apa saja!</p>



<p>Eits&#8230; Nggak gitu, lho, Bambank&#8230;</p>



<p>Rebahan di rumah saja nggak cukup untuk mengatasi wabah COVID-19. Ingat hukum karma, setiap tindakan pasti ada akibatnya. <strong>Segala hal yang kita lakukan selagi rebahan di rumah juga akan berdampak pada perkembangan pandemi! </strong>Kalau kita mainan medsos sepanjang hari, marah-marah di status, menyebarkan berita-berita yang nggak jelas kebenarannya, mengutuk orang-orang yang kita anggap &#8216;kurang baik&#8217; seperti pemerintah yang kurang gercep atau orang kaya yang pake APD buat ke supermarket justru menambah sebab terjadinya wabah. Semakin banyak orang yang nggak menjaga batin dari emosi negatif, semakin banyak pula <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/09/takut-covid-19-sampai-panic-buying-apa-penyebabnya-menurut-karma/">sebab-sebab karma buruk</a> kolektif yang akan membuat perjuangan para pahlawan COVID-19 yang melakukan aksi nyata jadi sia-sia!</p>



<p>Selagi di rumah, kita masih bisa melakukan <strong>menciptakan sebab-sebab berakhirnya wabah</strong> sesuai dengan hukum karma, yaitu mengumpulkan kebajikan. Dengan memperkaya batin dengan <a href="https://www.instagram.com/stories/highlights/17849890543998250/">membaca buku-buku Dharma</a>, menerapkan hidup berkesadaran dengan menganalisis setiap emosi yang muncul, menerapkan penawar terhadap emosi negatif, dan melakukan berbagai kebajikan seperti bermeditasi, membaca sutra-sutra, melafalkan mantra, atau membuat persembahan dan mendedikasikannya untuk berakhirnya pandemi dan kebahagiaan semua makhluk, kita secara aktif menciptakan sebab-sebab terhentinya wabah virus corona dan mendukung usaha berbagai pihak untuk menemukan vaksin dan obat. Kita juga bisa memberikan bantuan untuk usaha-usaha yang bertujuan untuk menjaga batin orang banyak di masa pandemi lewat <a href="https://lamrimnesia.org/jadi-relawan/">tenaga</a> maupun <a href="https://web.facebook.com/lamrimnesia/photos/a.1752346688326894/2674782846083269/?type=3&amp;theater">materi</a>. Ilmuwan, tenaga medis, pegawai pemerintah, petugas kebersihan, <em>driver</em> ojek, dan begitu banyak orang lain bekerja mati-matian di luar sana, masa kita tega biarin mereka berjuang sendiri dan gabut di rumah?</p>



<p>Sama halnya dengan Buddha tidak bisa mencuci dosa-dosa kita dengan air, tapi mengajarkan Dharma agar kita bisa menolong diri kita sendiri, Guru Dagpo Rinpoche dan tokoh-tokoh agama lainnya sudah memberikan bimbingan. Kita sendirilah yang bisa menentukan apakah kita mau dibimbing dan menjalankan anjuran mereka untuk menjaga batin, mengembangkan welas asih, dan terus berdoa dan melakukan kebajikan di rumah atau mau santai-santai sambil saling sindir di media sosial. </p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/14/buat-apa-agama-di-hadapan-virus-corona/">Buat Apa Agama di Hadapan Virus Corona?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/14/buat-apa-agama-di-hadapan-virus-corona/">Buat Apa Agama di Hadapan Virus Corona?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ceng Beng vs Corona – Menjaga Tradisi di Tengah Wabah COVID-19</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/04/05/ceng-beng-vs-corona-menjaga-tradisi-di-tengah-wabah-covid-19/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2020 04:27:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[cengbeng]]></category>
		<category><![CDATA[corona]]></category>
		<category><![CDATA[coronavirus]]></category>
		<category><![CDATA[COVID]]></category>
		<category><![CDATA[COVID-19]]></category>
		<category><![CDATA[dedikasi]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[tionghoa]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4843</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD Di bulan April ini, orang-orang beretnis tionghoa seharusnya melakukan suatu tradisi tahunan yang disebut sebagai Ceng Beng. Apa itu Ceng Beng? Ringkasnya, Ceng Beng merupakan ritual untuk sembahyang/ziarah ke makam leluhur. Biasa ritual ini dilakukan pada tanggal 5 April, namun karena tahun ini merupakan tahun kabisat, maka mundur 1 hari ke 4 April. [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/05/ceng-beng-vs-corona-menjaga-tradisi-di-tengah-wabah-covid-19/">Ceng Beng vs Corona – Menjaga Tradisi di Tengah Wabah COVID-19</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/05/ceng-beng-vs-corona-menjaga-tradisi-di-tengah-wabah-covid-19/">Ceng Beng vs Corona – Menjaga Tradisi di Tengah Wabah COVID-19</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD</p>



<p>Di bulan April ini, orang-orang beretnis tionghoa seharusnya melakukan suatu tradisi tahunan yang disebut sebagai Ceng Beng. Apa itu Ceng Beng? Ringkasnya, Ceng Beng merupakan ritual untuk sembahyang/ziarah ke makam leluhur. Biasa ritual ini dilakukan pada tanggal 5 April, namun karena tahun ini merupakan tahun kabisat, maka mundur 1 hari ke 4 April. Namun… tak ada yang menduga kalau tahun ini akan ada wabah COVID-19, semua orang dihimbau tinggal di rumah dan menghindari kumpul-kumpul untuk menekan penyebaran virus. </p>



<p>Lah,
berarti nggak bisa Ceng Beng dong! Terus gimana?</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="416" height="621" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/cengbeng.jpg" alt="" class="wp-image-4849" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/cengbeng.jpg 416w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/cengbeng-201x300.jpg 201w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/cengbeng-150x224.jpg 150w" sizes="(max-width: 416px) 100vw, 416px" /><figcaption> <em>Haruskah pasang CCTV di kuburan biar bisa ditayangin di rumah?</em> </figcaption></figure></div>



<p>Berikut
kata beberapa orang tentang Ceng Beng di tengah wabah COVID-19:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kalo kita sih acaranya batal, soalnya kan sekarang gak boleh keluar-keluar dan ngumpul-ngumpul, mungkin nanti kita kumpul-kumpulnya kalo wabah corona ini udah selesai.”</p><cite>Gunawati (59), Ibu Rumah Tangga </cite></blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kebetulan keluarga kami Ceng Beng biasa sembahyang abu di altar rumah kakek, karena dari rumah saya tinggal jalan kaki ke situ, jadi nanti Ceng Beng paling saya sendiri aja yang ngurus altar abu leluhur di situ. Untuk keluarga paling nanti saya fotoin aja kirim ke grup WA, biar mereka sembahyang masing-masing di rumah aja, deh. Hehe…”</p><cite>Suryanandar Djajaputra (69), Pensiunan</cite></blockquote>



<p>Kalau
kita coba bedah esensi dari Ceng Beng itu sendiri dan coba bayangkan reaksi
leluhur kita kalau kita memaksa keluar dan kumpul ramai-ramai di tengah wabah.
Mungkin kita bisa menemukan solusi! Ssst… Ilustrasinya cuma <em>just for fun, </em>ya!
Penulis belom bisa ngobrol lintas alam kehidupan, hihihi…</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="490" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-02-1024x490.png" alt="" class="wp-image-4847" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-02-1024x490.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-02-600x287.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-02-300x144.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-02-768x368.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-02-1536x736.png 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-02-2048x981.png 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-02-150x72.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-02-450x215.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-02-1200x575.png 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-02-1078x516.png 1078w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-02-702x336.png 702w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<ol><li><strong>Kunci dari tradisi Ceng Beng adalah rasa bakti terhadap leluhur dan rasa bakti itu ada di pikiran. </strong><br>Salah satu nilai yang diutamakan pada budaya timur adalah pentingnya keluarga. Kita haruslah berterima kasih kepada leluhur karena tanpa ada mereka, maka keluarga besar yang sekarang ini berkumpul tidaklah ada. Rasa terima kasih yang lebih dalam bisa dikatakan sebagai rasa bakti. Ini semua adalah perasaan, sementara tindakan fisik adalah ‘simbol’ untuk menunjukkan perasaan itu. Jika memang kondisi tidak mendukung, yang terpenting bukanlah fisik yang hadir, namun lebih kepada apakah kita masih mengingat jasa-jasa leluhur kita dan menghormati mereka.</li></ol>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="490" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-03-1024x490.png" alt="" class="wp-image-4846" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-03-1024x490.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-03-600x287.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-03-300x144.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-03-768x368.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-03-1536x735.png 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-03-2048x980.png 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-03-150x72.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-03-450x215.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-03-1200x574.png 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-03-1078x516.png 1078w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-03-702x336.png 702w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure></div>



<ul><li><strong>Tujuan tradisi Ceng Beng adalah untuk menjaga relasi keluarga besar</strong>.<br>Bagi keluarga Tionghoaa yang turun-temurun melakukan tradisi ini, sebetulnya Ceng Beng dirayakan karena setelah seorang sosok kakek/nenek meninggal, maka suatu keluarga besar yang sudah punya keluarga kecil masing-masing akan lebih jarang bertemu, dan salah satu tujuan Ceng Beng adalah ajang berkumpul bagi kerabat yang selama ini jarang berkumpul. Lalu bagaimana saat wabah ini? Kesehatan dan keselamatan orang banyak adalah prioritas utama. Selama satu keluarga besar tetap berkomunikasi dan menjalin relasi yang baik, tidak perlu berkumpul secara fisik. Jauh di mata tapi dekat di hati dong~</li></ul>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="490" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-04-1024x490.png" alt="" class="wp-image-4845" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-04-1024x490.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-04-600x287.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-04-300x144.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-04-768x368.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-04-1536x735.png 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-04-2048x980.png 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-04-150x72.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-04-450x215.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-04-1200x574.png 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-04-1078x516.png 1078w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-04-702x336.png 702w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure></div>



<ul><li><strong><a href="https://sumsel.antaranews.com/foto/452694/anjuran-sembayang-ceng-beng-di-rumah">Pemerintah sudah menghimbau kita untuk #DiRumahAja dan menganjurkan sembahyang Ceng Beng di rumah. </a></strong><br>Sebagai bagian dari masyarakat, tentunya kita tak bisa mengabaikan apa yang sedang terjadi di lingkungan kita. Sebagai warga yang baik, tentunya kita harus sebisa mungkin menaati himbauan untuk tinggal di rumah dan menghindari kumpul-kumpul demi mencegah penyebaran virus corona. Dengan demikian, kita melindungi diri kita sendiri juga melindung orang banyak dari COVID-19. Sebagai gantinya, kita bisa sembahyang Ceng Beng juga bisa dilakukan di rumah. Jika punya foto leluhur, pasang dan susun altar untuk menaruh persembahan seperti yang biasa kita lakukan di makam untuk menjaga tradisi. Jika tidak ada foto, kita bisa tetap melakukan sembahyang di altar Buddha yang didedikasikan untuk leluhur kita.</li></ul>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="490" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-05-1024x490.png" alt="" class="wp-image-4844" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-05-1024x490.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-05-600x287.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-05-300x144.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-05-768x368.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-05-1536x735.png 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-05-2048x980.png 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-05-150x72.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-05-450x215.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-05-1200x574.png 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-05-1078x516.png 1078w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/Cheng-beng-2-05-702x336.png 702w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure></div>



<ul><li><strong>Berbuat kebajikan yang banyak dan melimpahkan jasa pada leluhur bisa dilakukan di rumah.</strong> <br>Ketika ibu Arya Maudgalyayana menderita di neraka, Buddha mengajarkan kepada murid utamanya itu untuk melakukan kebajikan dan mendedikasikan kebajikan itu kepada sang ibu. Alhasil, sang ibu dapat terlahir kembali di alam bahagia. Prinsipnya sama dengan ketika kita berdoa untuk leluhur kita. Kita melakukan kebajikan demi mereka disertai rasa bakti yang tulus agar mereka dapat berbahagia di kehidupan mendatang. Untuk melakukannya, kita tidak harus datang langsung ke makam leluhur kita! Kita bisa melakukan banyak kebajikan di rumah seperti membaca paritta &amp; sutra-sutra, membaca mantra, berdana, dan sebagainya, lalu limpahkan jasa tersebut agar leluhur kita bahagia. </li></ul>



<p class="has-text-align-right"><em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/ini-yang-harus-kuperbuat/">Baca buku ini biar nggak kehabisan ide bajik di rumah!</a></em></p>



<p>Di masa
wabah COVID-19 ini, kita mau tak mau harus mengubah banyak hal dalam hidup
kita. Dulu kita bisa keluar dengan leluasa, sekarang harus tinggal di rumah
aja. Dulu bisa sering-sering berkumpul dengan teman dan keluarga, sekarang
hanya bisa ngobrol di dunia maya. Tradisi yang biasanya rutin kita lakukan tiap
tahun pun harus berubah demi kesehatan dan keamanan orang banyak. Nggak cuma
Ceng Beng, bahkan beberapa perayaan Waisak pun sudah diumumkan akan ditiadakan.
Namun, itu bukan berarti kita meninggalkan semua tradisi bajik dan positif
sepenuhnya hanya karena nggak bisa keluar rumah. Kita juga nggak perlu
mengeluhkan virus corona atau marah pada pemerintah yang melarang kita keluar
rumah. Selama kita bisa memahami esensi tradisi tersebut, kita tetap bisa
menghayatinya walau #DiRumahAja !</p>



<p>Referensi:</p>



<ol><li><a href="http://www.china.org.cn/english/features/Festivals/78319.htm">“Traditional Chinese Festivals”</a> – China.org </li><li><a href="https://www.tionghoa.info/hari-ceng-beng-festival-ching-ming/">“Hari Ceng Beng – Festival Qing Ming”</a> – Tionghoa.net </li><li><a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/27/benarkah-doa-bisa-terkabul/">“Benarkah Doa Bisa Terkabul”</a> – Lamrimnesia.org </li></ol><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/05/ceng-beng-vs-corona-menjaga-tradisi-di-tengah-wabah-covid-19/">Ceng Beng vs Corona – Menjaga Tradisi di Tengah Wabah COVID-19</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/05/ceng-beng-vs-corona-menjaga-tradisi-di-tengah-wabah-covid-19/">Ceng Beng vs Corona – Menjaga Tradisi di Tengah Wabah COVID-19</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Liburan Saat Lockdown Corona</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/03/16/lamrim-lockdown-corona/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2020 04:41:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[corona]]></category>
		<category><![CDATA[coronavirus]]></category>
		<category><![CDATA[COVID-19]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lockdown]]></category>
		<category><![CDATA[social distancing]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4832</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Wabah virus Corona (COVID-19) sudah memakan puluhan ribu korban di seluruh dunia sejak Januari lalu, tapi dampaknya di Indonesia baru benar-benar terasa sekarang. Sejak kasus pertama di Indonesia diumumkan awal bulan lalu, virus terus menyebar dan jumlah pasien terus meningkat hingga mencapai 117 orang per 15 Maret 2020. Kota Wuhan di Tiongkok tempat virus ini [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/03/16/lamrim-lockdown-corona/">Jangan Liburan Saat Lockdown Corona</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/03/16/lamrim-lockdown-corona/">Jangan Liburan Saat Lockdown Corona</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Wabah virus Corona (COVID-19) sudah memakan puluhan ribu korban di seluruh dunia sejak Januari lalu, tapi dampaknya di Indonesia baru benar-benar terasa sekarang. Sejak kasus pertama di Indonesia diumumkan awal bulan lalu, virus terus menyebar dan jumlah pasien terus meningkat hingga mencapai 117 orang per 15 Maret 2020.</p>



<p>Kota Wuhan di Tiongkok tempat virus ini pertama ditemukan sudah dikarantina. <em>Lockdown </em>atau pembatasan aktivitas dan layanan publik dengan berbagai tingkatan juga sudah dilakukan di berbagai negara dari benua Asia hingga Eropa. Berbagai acara besar ditunda atau dibatalkan. Kebijakan ini membuat pola hidup di kota-kota yang menerapkannya berubah drastis. Sekolah-sekolah ditutup dan diganti kelas daring. Orang-orang bekerja dari rumah. Restoran, mal, dan tempat wisata sepi atau bahkan tutup. <em>Social distancing </em>atau mengurangi interaksi sosial digalakkan sebagai solusi untuk menghambat penyebaran virus.</p>



<p>Bagaimana dengan di Indonesia? Pada tanggal 15 Maret, Presiden RI Joko Widodo mengeluarkan himbauan agar masyarakat bekerja dan beribadah dari rumah. Himbauan tersebut disampaikan bersamaan dengan pengumuman mengenai langkah pencegahan dan penanggulangan yang dilakukan pemerintah guna menenangkan masyarakat. Pemerintah DKI Jakarta sudah menutup beberapa tempat wisata seperti Monas, Kota Tua, Ancol, dan sebagainya. Sekolah dan universitas ditutup selama 14 hari ke depan. Sebagian besar perusahaan juga mengizinkan pegawainya untuk bekerja dari rumah. Kebijakan-kebijakan penutupan fasilitas dan pembatalan kegiatan ini serupa dengan <em>lockdown </em>yang dilakukan di negara lain yang memiliki kasus <em>outbreak </em>yang cukup berat.</p>



<p>Respon masyarakat Indonesia terhadap himbauan dan penutupan fasilitas umum tersebut ternyata tidak sesuai dugaan. Orang-orang mulai membuat rencana kumpul-kumpul. Bahkan ada yang membuat rencana liburan ke luar negeri, memanfaatkan jatuhnya harga tiket pesawat akibat wabah Corona. Pembatasan aktivitas yang diharapkan menghambat penularan virus diterjemahkan sebagai liburan panjang yang malah dipakai untuk melakukan tindakan yang menambah risiko. Ini hanya satu dari sekian banyak perilaku ajaib warga +62 (terutama yang kelas menengah ke atas) seperti menimbun masker dan <em>hand sanitizer </em>untuk dijual dengan harga tinggi atau <em>panic buying </em>sehingga toko-toko kebutuhan pokok kehabisan stok. Selain, itu pembatasan sarana transportasi malah membuat orang-orang yang masih harus bekerja di luar berdesak-desakan di dalam bus dan kereta sehingga kemungkinan penularan virus meningkat.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="461" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/03/1584332525895-461x1024.jpg" alt="" class="wp-image-4833" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/03/1584332525895-461x1024.jpg 461w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/03/1584332525895-600x1333.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/03/1584332525895-135x300.jpg 135w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/03/1584332525895-691x1536.jpg 691w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/03/1584332525895-150x333.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/03/1584332525895-450x1000.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/03/1584332525895.jpg 720w" sizes="(max-width: 461px) 100vw, 461px" /></figure></div>



<p>Prinsip pembatasan aktivitas masyarakat di rumah masing-masing adalah membatasi interaksi langsung guna mencegah penularan virus antarmanusia. Simulasi di situs <a href="https://www.washingtonpost.com/graphics/2020/world/corona-simulator/">Washington Post</a> menunjukkan bahwa pembatasan interaksi atau <em>social distancing </em>ini dapat memperlambat laju penularan virus. COVID-19 sendiri memiliki tingkat kesembuhan yang cukup tinggi. Ketika laju penularan diperlambat, ada cukup waktu dan sumber daya untuk merawat pasien yang terinfeksi hingga sembuh dan membangun imunitas masyarakat. Ini mungkin terbukti efektif di Wuhan dan kota-kota lain di negara maju, tapi sulit diterapkan di Indonesia yang masyarakatnya terbiasa dengan gaya hidup komunal. Tanpa hari libur pun orang Indonesia memiliki hasrat yang sangat tinggi untuk berkumpul. Ibu-ibu rutin melakukan kumpul arisan, yang muda biasa mencari waktu untuk <em>hang out </em>bersama teman-teman baik itu di mal atau di warung tetangga. <em>Lockdown </em>selama 14 hari ini ibarat kesempatan rekreasi yang sudah lama ditunggu-tunggu. Banyaknya potensi penyakit yang lebih parah dari COVID-19 juga membuat kebanyakan orang Indonesian percaya diri dengan kekebalan tubuh mereka. Akibatnya, interaksi sosial bertambah alih-alih terjadi <em>social distancing. </em>Sebagian orang bahkan berpotensi membawa masuk virus dari negara-negara rawan. Penularan virus pun semakin cepat dan serius,</p>



<p><strong>Apa yang Harus Kita Lakukan?</strong></p>



<p>Efektif atau tidaknya kebijakan <em>lockdown </em>di Indonesia sebenarnya amat bergantung pada sikap setiap individu. Secara khusus, kita sebagai umat Buddha yang <em>smart </em>seharusnya sudah memiliki “senjata” lengkap untuk menghadapi virus Corona secara personal.&nbsp;</p>



<p>Seorang Buddhis melatih batin agar bisa melihat fenomena sebagaimana adanya dan mengendalikan respon terhadap fenomena tersebut. Dalam konteks Corona, kita bisa mempelajari gejala dan cara penularan virus serta membaca data perkembangan kasus secara objektif. Kita juga tahu bahwa wabah yang melanda begitu banyak orang merupakan buah dari karma buruk kolektif di masa lampau. Dengan demikian, kita tahu bahwa yang perlu kita lakukan pada dasarnya adalah menjaga kesehatan dan melakukan tindakan pencegahan sesuai dengan himbauan yang diberikan.&nbsp;</p>



<p>Seorang Buddhis akan mengenali klesha yang muncul dalam batin kita saat mendengar himbauan <em>lockdown</em>: nafsu keinginan untuk berlibur, rasa girang karena ada kesempatan bermalas-malasan, dorongan untuk menimbun sembako karena takut terisolasi, dan sebagainya. Kita akan menerapkan penawar klesha-klesha tersebut dan dapat mengendalikan diri untuk tetap tinggal di rumah dengan persediaan secukupnya agar <em>lockdown </em>dapat menghambat wabah secara efektif. Waktu luang kita di rumah akan kita gunakan untuk mempurifikasi ketidakbajikan dan memperbanyak aktivitas bajik seperti membaca buku Dharma, merenung dan meditasi, melafalkan mantra, dan sebagainya. Doakan mereka yang terpaksa masih harus beraktivitas di luar agar tidak terjangkit. Terakhir, kita tentunya akan selalu mengingatkan diri untuk menjaga motivasi bajik dan mendedikasikan semua kebajikan yang terkumpul agar wabah COVID-19 di seluruh dunia segera terkendali dan semua yang sakit segera sembuh sehingga dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala.</p>



<p><em>Bingung harus ngapain di rumah? Yuk baca artikel dan buku Dharma berikut untuk memperkaya wawasan dan membantumu mengembangkan batin!</em><br>1. <a href="https://lamrimnesia.org/2020/03/03/panduan-lengkap-buddhis-menghadapi-covid-19/">Panduan Lengkap Buddhis Menghadapi Corona</a><br>2. Buku &#8220;<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari/">Latihan Batin Laksana Sinar Mentari</a>&#8221; oleh Namkha Pel<br>3. Buku &#8220;<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/ini-yang-harus-kuperbuat/">Inilah yang Harus Kuperbuat</a>&#8221; oleh Y.M. Biksu Bhadra Ruci</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/03/16/lamrim-lockdown-corona/">Jangan Liburan Saat Lockdown Corona</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/03/16/lamrim-lockdown-corona/">Jangan Liburan Saat Lockdown Corona</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Panduan Lengkap Buddhis Menghadapi COVID-19</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/03/03/panduan-lengkap-buddhis-menghadapi-covid-19/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2020 10:03:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[corona]]></category>
		<category><![CDATA[coronavirus]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[panduan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4809</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Karma itu pasti dan berkembang pesat.Kamu nggak akan mengalami akibat karma yang nggak kamu perbuat. TAPI&#160;Karma yang sudah kamu lakukan juga nggak akan kehilangan kekuatan untuk berbuah. Jadi, kalau kamu nggak punya karma sakit karena virus Corona, kamu akan baik-baik saja.TAPI kalau kamu emang udah karmanya sakit, Buddha pun nggak akan bisa nolong kamu! BENARKAH [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/03/03/panduan-lengkap-buddhis-menghadapi-covid-19/">Panduan Lengkap Buddhis Menghadapi COVID-19</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/03/03/panduan-lengkap-buddhis-menghadapi-covid-19/">Panduan Lengkap Buddhis Menghadapi COVID-19</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Karma itu pasti dan berkembang pesat.<br>Kamu nggak akan mengalami akibat karma yang nggak kamu perbuat.</p>



<p>TAPI&nbsp;Karma yang sudah kamu lakukan juga nggak akan kehilangan kekuatan untuk berbuah. </p>



<p>Jadi, kalau kamu nggak punya karma sakit karena virus Corona, kamu akan baik-baik saja.TAPI kalau kamu emang udah karmanya sakit, Buddha pun nggak akan bisa nolong kamu!</p>



<p>BENARKAH ITU?</p>



<p><strong>Buddha Nggak Bisa Menolongmu Dari Virus Corona Kalau&#8230;</strong></p>



<ol><li><strong>Kamu hanya doa sambil ngemis minta ditolong Buddha, tapi nggak jaga kesehatan &amp; kebersihan.</strong><br>Ada sebab pasti ada akibat. Daya tahan tubuh lemah dan masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh adalah sebab datangnya penyakit. Kalau kamu suka begadang, jarang minum air, dan kurang konsumsi vitamin, maka daya tahan tubuhmu akan menurun. Kalau kamu nggak cuci tangan sebelum makan atau menyentuh wajah, virus yang mungkin menempel di tanganmu saat beraktivitas akan masuk ke tubuh. BAM! Jatuh sakitlah kamu!</li><li><strong> Kamu suka bunuh serangga dan nggak merasa menyesal sedikit pun.</strong><br>Akibat dari karma hitam membunuh yang lengkap adalah lahir di alam rendah, berumur pendek atau gampang sakit, dan lahir di tempat yang kekurangan obat-obatan atau tidak punya obat yang manjur. Karma ini menjadi lengkap ketika kamu bersuka cita dengan tindakan membunuh itu dan akan berlipat ganda terus-menerus. Kalau kamu sampai kena virus Corona dan obat maupun vaksinnya nggak kunjung ketemu, fiks banget di kehidupan lampaumu atau di kehidupan ini kamu sering melakukan karma hitam membunuh.</li></ol>



<p><strong>Tapi Buddha Bisa Melindungimu dari Virus Corona, Kok!&nbsp;</strong></p>



<p>Entah kapan di kehidupan lampau kita sejak waktu tak bermula, kita pasti pernah melakukan karma yang menyebabkan kita bisa mengalami sakit di kehidupan sekarang. Buddha tidak bisa mencuci &#8216;dosa&#8217; kita dengan air, tapi Beliau menolong kita dengan cara mengajarkan Dharma.</p>



<p><strong><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/tisarana-gerbang-memasuki-ajaran/">Trisarana</a> atau berlindung pada Triratna</strong> (Buddha, Dharma, dan Sangha) bukan sekadar baca bait-bait paritta lalu minta tolong. Dalam kitab &#8220;<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">Pembebasan di Tangan Kita</a>&#8221; Jilid II karya Phabongkha Rinpoche, dijelaskan bahwa cara Trisarana adalah menyatakan keyakinan pada Triratna dengan cara:</p>



<ol><li>Menyatakan keyakinan kita terhadap Buddha sebagai seseorang yang mengajarkan kita bagaimana menemukan Trisarana.</li><li>Menyatakan keyakinan kita pada Dharma sebagai perlindungan yang sesungguhnya,</li><li>Menyatakan keyakinan kita pada Sangha sebagai teman yang membantu kita menemukan Trisarana.</li></ol>



<p>&#8216;Menyatakan&#8217; ini tentunya bukan di mulut saja. Trisarana berarti kamu YAKIN PADA BUDDHA sebagai guru kita, MEMPRAKTIKKAN DHARMA yang Beliau ajarkan, dan mengandalkan KOMUNITAS SANGHA sebagai penuntun praktik Dharmamu. Lebih jauh lagi, Dharma adalah perlindungan yang sesungguhnya karena merupakan kumpulan hal yang harus ditinggalkan dan direalisasikan. Dengan membangkitkan kualitas tersebut dalam batin kita, secara bertahap kita membebaskan diri dari sebagian bahaya samsara.</p>



<p>Salah satu Dharma yang dapat melindungi kita adalah pemahaman akan <a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Karma_Akibatnya?id=OZiWDwAAQBAJ">HUKUM KARMA</a> alias hukum sebab-akibat. Jika kita serius mempelajari Hukum Karma dari buku Dharma dan para guru Dharma/<em>kalyanamitta </em>lalu benar-benar menerapkanya, kita bisa menghindari tindakan penyebab penyakit dan umur pendek sehingga terlindung dari wabah dan melakukan kebajikan yang menghasilkan tubuh yang sehat. Lebih jauh lagi, mempelajari dan merealisasikan Dharma akan membuat kualitas batin kita meningkat. Kita mungkin masih merasakan penderitaan dari sakit fisik, tapi kebijaksanaan dan welas asih yang kita raih dari praktik Dharma akan membuat kita bisa menghadapi penderitaan tersebut dengan tenang. Batin kita pun damai dan bebas dari segala macam klesha yang merupakan sebab sesungguhnya dari segala penderitaan kita. Demikianlah cara Buddha, Dharma, dan Sangha melindungi kita dari segala macam penderitaan samsara, tidak terkecuali wabah virus Corona!</p>



<p>Secara praktis, berikut adalah hal-hal yang bisa kamu lakukan agar terlindung dari wabah COVID-19 sesuai dengan ajaran Buddha:</p>



<ol><li><strong>Awali hari dan setiap aktivitas dengan Trisarana.</strong><br>Renungkan bagaimana Buddha, Dharma, dan Sangha dapat menolongmu, bangkitkan keyakinan, dan lafalkan bait-bait perlindungan. Hal ini akan menjadi pengingat bagimu untuk senantiasa menjaga motivasi bajik dan menjalani setiap aktivitas dengan kesadaran penuh dan sejalan dengan Dharma.</li><li><strong>Hindari penyebab masuknya penyakit/infeksi virus.</strong><br>a. Kurangi kebiasaan yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. b. Perbanyak minum air dan konsumsi vitamin. <br>c. <a href="https://www.youtube.com/watch?v=IisgnbMfKvI">Cuci tangan</a> sebelum makan, hindari menyentuh wajah, dan mandi setelah beraktivitas. <br>d. Sebisa mungkin hindari juga aktivitas di tempat ramai yang nggak <em>urgent </em>seperti nongkrong di mall. Waktu luangmu bisa dipakai untuk baca buku Dharma dan mengumpulkan kebajikan di rumah. <br>e. Kalau merasa tidak enak badan atau mulai flu, istirahat di rumah atau kenakan masker jika harus keluar. </li><li><strong>Jangan panik berlebih dan bersikap egois.</strong><br>Koar-koar yang bikin panik dan menyebarkan berita yang tak jelas asal-usulnya bukan hanya termasuk karma hitam ucapan tak berguna, tapi kamu bisa memperparah kepanikan massal yang bisa memperburuk wabah dan mempersulit pengendaliannya. Kamu juga nggak perlu menimbun masker dan sembako sampai ada instruksi lebih lanjut dari sumber resmi. Pikirkan orang lain yang juga memiliki kebutuhan. Nggak perlu juga mengucilkan orang yang terlihat sedang flu.</li><li><strong>Ikuti berita dan instruksi dari sumber yang terpercaya.</strong><br><a href="https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019">WHO</a> dan <a href="https://www.klikpdpi.com/">Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI)</a> bisa menjadi acuan kamu untuk <em>update </em>info terbaru seputar COVID-19. Berita mungkin lebih cepat mengeluarkan kabar apa saja dari yang penting sampai tak penting, tapi sumber-sumber ini tidak sembarang mengeluarkan informasi dan melakukan penelitian yang lengkap dan menyeluruh sehingga benar-benar bisa kamu andalkan. Ikuti juga instruksi dari <a href="https://www.instagram.com/kemenkes_ri/">Kementerian Kesehatan RI</a> seputar tindakan pencegahan dan penanganan penyakit.</li><li><strong>Hindari karma hitam yang bisa berbuah jadi penyakit atau kesulitan mendapatkan obat.</strong><br>Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, <a href="https://lamrimnesia.org/tag/karma-membunuh/">karma hitam membunuh</a> akan berbuah jadi umur pendek, penyakit, dan kelahiran di tempat yang terkena wabah atau sulit mendapatkan obat yang manjur. Jadi, hindari membunuh dan menyakiti makhluk lain sebisa mungkin. </li><li><strong>Terapkan 4 kekuatan purifikasi.</strong><br>Gimana kalau nggak sengaja atau sudah melakukan di kehidupan lampau? Terapkan 4 kekuatan purifikasi (menyesali tindakan, bertekad tidak mengulangi, melakukan tindakan penawar, berlindung dan membangkitkan Bodhicita, pelajari selengkapnya <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/ini-yang-harus-kuperbuat/">di sini</a>).</li><li><strong>Lakukan sebanyak mungkin kebajikan yang lengkap.</strong><br>Kalau membunuh makhluk lain bikin umur pendek dan sakit-sakitan, menyelamatkan nyawa makhluk lain akan berbuah umur panjang dan tubuh yang sehat. Bangkitkan motivasi bajik dan lakukan hal-hal berikut:<br>a. Jika keluarga atau sahabatmu ada yang sakit, rawat mereka atau beri obat yang mereka butuhkan. <br>b. Alih-alih membunuh dengan baygon, bantu kecoa yang tersesat di kamarmu agar bisa keluar dengan selamat. <br>c. Lakukan juga <em>fangsheng </em>(penyelamatan makhluk hidup) bersama sahabat-sahabatmu.<br>d. Sebagai ganti nongkrong di keramaian, gunakan waktu luangmu untuk baca buku Dharma, melafalkan mantra, baca paritta, atau aneka kebajikan lainnya. </li><li><strong>Lakukan dedikasi dengan batin penuh welas asih.</strong><br>Dedikasikan semua kebajikan yang telah kamu lakukan agar yang sakit segera sembuh, yang sehat terlindung dari penyakit, dan wabah COVID-19 di seluruh dunia segera dapat dikendalikan. Bangkitkan pemikiran tersebut sambil melafalkan bait-bait dedikasi, misalnya doa dedikasi di &#8220;<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lakon-hidup-sang-penerang/">Lakon Hidup Sang Penerang</a>&#8221; bab ke-10.</li></ol>



<p>Referensi:<br>1. &#8220;<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">Pembebasan di Tangan Kita</a>&#8221; Jilid II oleh Phabongkha Rinpoche<br>2. &#8220;<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Karma?id=seGMDwAAQBAJ">Karma dan Akibatnya</a>&#8221; oleh Guru Dagpo Rinpoche<br>3. &#8220;<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/tisarana-gerbang-memasuki-ajaran/">Tisarana: Gerbang Memasuki Ajaran</a>&#8221; oleh Konchog Tenpei Dronme (Gungthang Rinpoche III) <br>4. &#8220;<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/ini-yang-harus-kuperbuat/">Ini yang Harus Kuperbuat</a>&#8221; oleh Y. M. Biksu Bhadra Ruci<br>4. &#8220;<a href="https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/who-china-joint-mission-on-covid-19-final-report.pdf">Report of the WHO-China Joint Mission on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)</a>&#8221; oleh World Health Organization</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/03/03/panduan-lengkap-buddhis-menghadapi-covid-19/">Panduan Lengkap Buddhis Menghadapi COVID-19</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/03/03/panduan-lengkap-buddhis-menghadapi-covid-19/">Panduan Lengkap Buddhis Menghadapi COVID-19</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tips Bajik Untuk Kamu yang Sering Terserang Penyakit</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/01/29/tips-bajik-untuk-kamu-yang-sering-terserang-penyakit/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Jan 2020 11:40:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[coronavirus]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[wuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4721</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Selama hidup sebagai makhluk hidup, kita pasti tidak akan terhindar dari penyakit. Namun, mungkin di antara kita ada yang lebih  rentan terserang penyakit, mengidap penyakit keras, terserang penyakit ringan tapi sering, punya satu penyakit yang nggak sembuh-sembuh, sering jatuh ataupun lecet-lecet. Ini semua adalah buah dari karma membunuh yang kita lakukan di masa lampau atau bahkan kehidupan lampau.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/01/29/tips-bajik-untuk-kamu-yang-sering-terserang-penyakit/">Tips Bajik Untuk Kamu yang Sering Terserang Penyakit</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/01/29/tips-bajik-untuk-kamu-yang-sering-terserang-penyakit/">Tips Bajik Untuk Kamu yang Sering Terserang Penyakit</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Selama hidup sebagai makhluk hidup, kita pasti tidak akan terhindar dari penyakit. Namun, mungkin di antara kita ada yang lebih  rentan terserang penyakit, mengidap penyakit keras, terserang penyakit ringan tapi sering, punya satu penyakit yang nggak sembuh-sembuh, sering jatuh ataupun lecet-lecet. Ini semua adalah buah dari karma membunuh yang kita lakukan di masa lampau atau bahkan kehidupan lampau. </p>



<p>Berikut beberapa tips untuk kamu lakukan kalau kondisi tubuhmu sedang tidak sehat atau sering sakit:</p>



<ol><li><strong>Sadari dan terima bahwa ini semua adalah buah dari karma hitammu</strong>, terutama buah karma membunuh. Kedepannya, kamu harus meningkatkan ingatan dan kewaspadaan untuk tidak membunuh lagi. Hindari juga marah atau mengomel selagi sakit karena akan menghasilkan karma buruk baru.</li><li>Selain rentannya kamu terhadap penyakit merupakan buah dari karma hitam membunuh, coba <strong>periksa pola dan gaya hidupmu. </strong>apakah pola makanmu teratur? Apakah kamu rajin berolah raga? Pola hidup yang tidak sehat juga merupakan sebab langsung bagi timbulnya penyakit. Ingat kelahiranmu sebagai manusia yang sangat berharga, harus dijaga dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.</li><li><strong><em>Fangsheng</em> (melepas makhluk hidup)</strong><br>Melepas makhluk hidup sama saja dengan kamu memberikan nyawa kepada makhluk hidup yang kamu lepas ke habitatnya. Akibat dari menyelamatkan makhluk hidup adalah lahir di alam tinggi dan memiliki umur panjang.</li><li><strong>Bertumpu pada Triratna untuk mengumpulkan kebajikan.</strong><br>Umur yang panjang dan tubuh yang sehat merupakan buah dari karma baik. Selain membuat sebab langsung menghindari pembunuhan, kamu juga bisa menghimpun karma baik yang besar dengan mengandalkan Triratna. Misalnya namaskara kepada Buddha atau melafalkan mantra Buddha atau Bodhisatwa tertentu yang terkait dengan kesehatan seperti Tara Putih.<br><br><em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/bebas-dari-ketakutan/">Cari tahu tentang Arya Tara di sini!</a></em><br><br>Tara putih adalah perwujudan dari Arya Tara yang merujuk pada aktivitas umur panjang. Berdoalah pada Tara sambil melafalkan “Om Tare Tuttare Ture Mama Ayur Punye Dzanam Puktim Kuru Ye Svaha” dengan penuh keyakinan. Niscaya Tara dapat membantumu. Selain Tara, ada mantra terkait Buddha dan Bodhisatwa lain yang membantu meningkatkan kesehatan. Kamu bisa cari tahu di wihara atau dari guru-guru Dharma.</li></ol><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/01/29/tips-bajik-untuk-kamu-yang-sering-terserang-penyakit/">Tips Bajik Untuk Kamu yang Sering Terserang Penyakit</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/01/29/tips-bajik-untuk-kamu-yang-sering-terserang-penyakit/">Tips Bajik Untuk Kamu yang Sering Terserang Penyakit</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
