<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bodhicitta - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/bodhicitta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Aug 2024 09:28:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>bodhicitta - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Road to NDBF 6.0: Mengenal Ajaran “Terima Kasih”, Warisan Cinta Kasih dari Muara Jambi</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Aug 2024 09:11:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[membangkitkan bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[muara jambi]]></category>
		<category><![CDATA[sriwijaya]]></category>
		<category><![CDATA[Suwarnadwipa Dharmakirti]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9238</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kata terima kasih sangat sering kita ucapkan, tapi belum banyak yang tahu bahwa “terima kasih” adalah ajaran warisan Muara Jambi yang punya arti mendalam.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/"><strong>Road to NDBF 6.0: Mengenal Ajaran “Terima Kasih”, Warisan Cinta Kasih dari Muara Jambi</strong></a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/">&lt;strong&gt;Road to NDBF 6.0: Mengenal Ajaran “Terima Kasih”, Warisan Cinta Kasih dari Muara Jambi&lt;/strong&gt;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dosen dan aktivis Buddhis mengungkap rahasia dan makna mendalam dari “terima kasih” dari sejarah Muara Jambi, pada <em>talkshow </em>“Terima Kasih: Unconditional Love Ajaran Klasik dari Muara Jambi”.Acara yang diselenggarakan pada Sabtu, 27 Juli 2024 di Savasana coffee &amp; event space, Yogyakarta ini merupakan bagian dari <em>pre-event</em> Nusantara Dharma Book Festival, festival literasi besutan Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara yang akan digelar Oktober 2024.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="TERIMA KASIH: Ajaran Unconditional Love dari Muara Jambi - Road to NDBF 6.0" width="708" height="398" src="https://www.youtube.com/embed/CAuIn5qz_DM?start=2&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<h2 id="h-sejarah-muara-jambi-guru-suwarnadwipa">Sejarah Muara Jambi &amp; Guru Suwarnadwipa</h2>



<p>Dr. Hastho Bramantyo, Dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha Syailendra, memulai obrolan dengan mengulik masa lalu Muara Jambi sebagai universitas besar pada zaman Sriwijaya. Universitas ini dipimpin oleh guru bernama Guru Suwarnadwipa Dharmakirti yang tidak hanya tersohor di Nusantara, tapi juga sampai luar negeri.&nbsp;</p>



<p>Pada masa itu, Guru Suwarnadwipa adalah orang terakhir yang bisa mengajarkan ilmu rahasia dalam agama Buddha yang bisa menghasilkan cinta tanpa syarat kepada semua makhluk. Demi ajaran ini, cendekiawan besar Guru Atisha Dipankara dari India untuk belajar ke Sriwijaya. Beliau melakukan perjalanan selama 13 bulan dan mengenyam pendidikan selama 12 tahun.</p>



<p>Dr. Hastho Bramantyo menegaskan bahwa ajaran Guru Suwarnadwipa ini merupakan warisan spiritual yang masih melekat pada bangsa Indonesia. “Ada pepatah dalam bahasa Jawa, <em>Trahing kusuma rembesing madu</em>, yang artinya silsilah nektar akan merembes sampai keturunannya,” jelasnya. Buktinya ada pada ungkapan “terima kasih” yang berakar dari bahasa Melayu, bahasa “persatuan” Sriwijaya dahulu.</p>



<p>Baca juga: <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">Infografis Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a></p>



<h2>Praktik Terima Kasih Warisan Muara Jambi</h2>



<p>Salah satu latihan yang diajarkan Guru Suwarnadwipa adalah praktik “terima kasih”. Agustino, Direktur Yayasan Pengambangan dan Pelestarian Lamrim Nusantara menjelaskan bahwa sumber tekstual mengenai ajaran ini sangat terbatas karena dulu bersifat rahasia.. Namun, belakangan ajaran ini didokumentasikan di negeri Tibet dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga orang Indonesia di masa kini bisa kembali mempelajarinya. Salah satunya adalah kitab “Latihan Batin Laksana Sinar Mentari” karya Namkha Pel yang menjadi rujukan dalam acara ini.</p>



<p>&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“‘Terima berarti menerima semua penderitaan semua makhluk dan ‘kasih’ berarti memberikan berkah baik kepada semua makhluk,” jelas Agustino.&nbsp;</p></blockquote>



<p>Agustino menjelaskan bahwa kebanyakan orang akan menyalahkan orang lain sebagai penyebab penderitaan atau menyalahkan diri sendiri sehingga merongrong kesehatan mental seseorang. Ini bisa diatasi dengan praktik “terima kasih” dari Muara Jambi.l.&nbsp;</p>



<p>“Kita punya <em>tools</em> untuk benar-benar <em>happy</em> saat kita kesulitan menghadapi cepatnya perubahan,” ujar Agustino di penghujung sesi, “Indonesia patut berbangga karena telah mempunyai <em>tools</em> ini dan dapat dipelajari banyak orang karena sifatnya yang universal. Jika kita ingin belajar s<em>elf love, unconditional love, compassion</em>, inilah jawabannya.”</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Ajaran ini bermanfaat, jadi harus dibagikan ke seluruh dunia,&#8221; pungkas Dr. Hastho Bramantyo.&nbsp;</p></blockquote>



<p>Penjelasan ajaran “terima kasih” dapat dibaca di buku “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari/">Latihan Batin Laksana Sinar Mentari</a>”.&nbsp;</p>



<h2>Tentang Nusantara Dharma Book Festival</h2>



<p><a href="http://ndbf.lamrimnesia.com">Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 6.0</a>, adalah festival literasi tahunan yang diprakarsai oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN). Rutin diadakan sejak tahun 2019, acara ini berkomitmen untuk mempromosikan pentingnya literasi, warisan spiritual Nusantara, dan manfaatnya bagi kesehatan mental melalui bazar buku, bedah buku, seminar, <em>workshop, </em>lomba, dan pentas seni. Tahun ini, NDBF 6.0 akan kembali diselenggarakan pada 2–6 Oktober 2024 di Sangkring Art Space, D.I. Yogyakarta.&nbsp;</p>



<p>Informasi mengenai Nusantara Dharma Book Festival dapat diikuti melalui Instagram <a href="http://instagram.com/dharmabookfest">@dharmabookfest.</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/"><strong>Road to NDBF 6.0: Mengenal Ajaran “Terima Kasih”, Warisan Cinta Kasih dari Muara Jambi</strong></a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/">&lt;strong&gt;Road to NDBF 6.0: Mengenal Ajaran “Terima Kasih”, Warisan Cinta Kasih dari Muara Jambi&lt;/strong&gt;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Spirit Doll &#038; Krisis Kasih Sayang</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/01/27/spirit-doll-krisis-kasih-sayang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2022 09:32:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6740</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kenapa orang mau piara spirit doll? Kenapa nggak adopsi anak atau hewan peliharaan? Ini dia pembahasan fenomena spirit doll dari kaca mata Buddhis.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/27/spirit-doll-krisis-kasih-sayang/">Spirit Doll & Krisis Kasih Sayang</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/27/spirit-doll-krisis-kasih-sayang/">Spirit Doll &#038; Krisis Kasih Sayang</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="577" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-577x1024.jpg" alt="" class="wp-image-6835" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-577x1024.jpg 577w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-scaled-600x1065.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-768x1364.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-865x1536.jpg 865w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-1153x2048.jpg 1153w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-150x266.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-450x799.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-1200x2131.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/03/Artikel-Spirit-Doll-Krisis-Kasih-Sayang-01-scaled.jpg 1442w" sizes="(max-width: 577px) 100vw, 577px" /></figure>



<p>Bisa menyayangi tanpa risiko ditolak. Katanya, bisa juga berkomunikasi dengan dunia lain dan minta pertolongan duniawi. Mendengar hal ini, siapa yang tidak tertarik mengadopsi <em>spirit doll?</em></p>



<p>Terlepas dari motif mengikuti tren atau “latah” karena melihat para <em>influencer </em>mulai mengadopsinya, fenomena adopsi <em>spirit doll </em>belakangan menjadi sesuatu yang sangat hangat diperbincangkan. Fenomena ini menarik untuk dibahas–bukan kontroversi benar-salahnya, melainkan alasan yang melandasi fenomena ini. Apa yang membuat seseorang memperlakukan “bayi” boneka layaknya makhluk hidup? Hal apa yang membuat memilih merawat boneka, bukan bayi manusia atau hewan peliharaan?</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/yB2u0DDP35PIlejv7AHDHZr3viUNcuNKJawCRJJPKr8cZf5Q0AqU_fcMj2yGUfDLqUMxrSnMilcnDP5NPQ3cL7XTDpoQ6QKNdqVxUiEv1DC1lbhcACoQcZGJ1dMt6RyIpTrKX6EO" alt=""/></figure>



<p class="has-text-align-center"><em>Ivan Gunawan dan dua “anak”nya</em><br><em>Sumber foto: Kompas.com</em></p>



<h4><strong>Kebutuhan Emosional Dasar</strong></h4>



<p>Sebelum membahas pertanyaan tersebut, penting bagi kita untuk mengetahui kebutuhan emosional dasar yang kita butuhkan sebagai manusia. Sejak lahir, semua makhluk hidup memiliki kebutuhan untuk bisa mengasihi dan dikasihi. Kita semua paham betul bahwa biarpun hal ini terdengar mudah, sebagian besar orang tidak memperoleh kasih sayang yang diharapkan, dan sebaliknya tidak mampu memberikan kasih sayang kepada orang lain. Orang tua yang cuek, teman-teman yang menjaga jarak, pasangan yang memberikan cinta bersyarat, serta budaya ketimuran yang tak jarang membuat kita merasa <em>awkward </em>ketika mengungkapkan perasaan menjadi tembok untuk saling bertukar kasih. Akibatnya, tidak sedikit orang yang merasa kesepian.</p>



<h4><strong>Sudah Berusaha, Tapi&#8230;</strong></h4>



<p>Ada pula orang yang sudah berusaha untuk menyayangi seseorang dengan sepenuh hati dan jiwa, namun tidak mendapat balasan dan bahkan mungkin memperoleh penolakan. Untuk sebagian orang yang mengalami hal ini, penolakan menjadi pengalaman yang menyakitkan. Banyak yang memutuskan untuk menarik diri, tapi perasaan ingin disayang dan menyayangi yang secara naluriah dimiliki setiap manusia tetap ada.</p>



<p>Berhubungan dengan manusia menelurkan risiko–risiko ditolak, dikhianati, disalahkan, dan masih banyak lainnya. Tidak hanya dengan manusia, bahkan hewan pun bisa memberikan reaksi yang tidak diharapkan. Ketika kita berusaha menyenangkan kucing peliharaan kita misalnya, kucing kita tetap bisa galak dan mencakar kita tanpa ampun. Ego kita berpendar seolah memberikan sinyal: “Aku sudah memberikan cinta tak bersyarat lho! Kenapa aku malah mendapatkan perlakuan seperti ini? Sungguh tidak adil!”.&nbsp;</p>



<h4><strong>Cinta yang “Pasti Berbalas”</strong></h4>



<p>Berbeda dengan makhluk hidup, <em>spirit doll </em>tidak rewel. Ia juga tidak bisa beraktivitas sendiri layaknya ayah, ibu, kakak, adik, dan pacar kita. Lebih lanjut, pengadopsi juga diyakinkan bahwa <em>spirit doll </em>akan “merespons” pemilik dengan positif. Memberikan kasih sayang dengan merawat, mengajak bicara, memeluknya tidak akan membuat kita merasa tertolak. Mengapa? Sebab <em>spirit doll </em>tidak akan merespons kita dengan penolakan.&nbsp;</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/qGL4mriJoJGPy3JzF2jYZDNa-x94mij8J7USMWUsSHJC_B4xezuv44IJcL-BAopxmR5pZo006YooKmmS7VjnzH3--IGh7gyCARWiLI7MdqHTY0Gp-S_ADfxuWK0LRyP83Ka5H3uE" alt=""/><figcaption><em>Testimoni para </em>adopter spirit doll <em>di media sosial</em></figcaption></figure></div>



<p>Selain menyayangi, kita juga bisa dengan bebas melakukan hal apapun terhadapnya tanpa dibebani tanggung jawab. Ketika berhubungan dengan orang lain, kita sering kali harus mengorbankan sesuatu. Akan tetapi, bisa saja tanpa disadari kita malah membuat orang tersebut menderita. Akhirnya, alih-alih merasa bahagia, kita malah merasa bersalah dan merasa tidak pantas menyayangi orang lain. Beda halnya dengan “mengasuh” <em>spirit doll, spirit doll </em>tidak akan merasa sakit atau kecewa dengan perlakuan yang kita berikan. Jika motivasi kita memiliki “<em>spirit doll”, </em>adalah seperti ini, bukankah artinya kita hanya sedang menghindar dari ketakutan dan kecemasan kita akan krisis kasih sayang?</p>



<p>Pertanyaannya: benarkah kebahagiaan sesungguhnya bisa kita peroleh dengan semata memuaskan diri untuk bisa diterima dan melindungi ego dari penolakan? Sebagian orang percaya bahwa jika kita berwelas asih kepada orang lain, kita akan dimanfaatkan dan yang terburuk–dikhianati. Padahal, welas asih yang sesungguhnya justru membebaskan kita dari hal-hal tersebut.&nbsp;</p>



<h4><strong>Yang sebenarnya kita butuhkan adalah&#8230;</strong></h4>



<p>Welas asih mengingatkan kita akan pengalaman bersama kita sebagai makhluk hidup. Misalnya, jika aku tidak ingin menderita, maka dia dan kamu pun sama halnya tidak ingin menderita. Kita sadar bahwa orang yang menyakiti kita atau tidak bisa melihat kebaikan kita pun sebenarnya merasa sakit. Mereka sakit karena klesha mengikat mereka sehingga menyakiti orang lain.</p>



<p>Welas asih menyadarkan kita bahwa kebahagiaan sebenarnya bukan terletak pada penghindaran rasa sakit dan kesedihan. Toh rasa sakit tidak bisa dihindari selama kita masih berada di samsara. Kebahagiaan bisa dirasakan ketika hal-hal ini tidak lagi mengganggu kita. Kita bisa tetap menyadari penderitaan yang kita rasakan, sambil di sisi lain tetap berupaya untuk peduli terhadap orang lain.</p>



<p>Welas asih bukan berarti membenarkan perbuatan jahat orang lain. Welas asih membantu kita berdamai dengan ketakutan dalam diri kita–ketakutan ditolak, dikhianati–yang juga dimiliki oleh semua orang, tak terkecuali mereka yang menyakiti kita. Berhubung ketakutan ini ada dalam diri setiap orang (walau bentuk dan intensitasnya bisa beragam), tidak akan tercipta titik temu jika tak ada pihak yang lebih dulu memulai untuk melawan ketakutan itu dan melatih welas asih.</p>



<h4><strong>Saatnya Kita Bercermin</strong></h4>



<p>Fenomena adopsi <em>spirit doll </em>ini sebenarnya tidak seharusnya dijadikan sebagai senjata untuk menyerang pihak tertentu. Malah, fenomena ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita untuk meningkatkan kualitas batin kita. Fenomena hanyalah fenomena. Ia datang dan pergi seiring berlalunya waktu. Baik atau tidaknya hal ini, hanya kita masing-masinglah yang bisa menilainya dalam diri kita. Kita tidak bisa melihat dengan jelas batin orang lain seperti mengetahui sejelas-jelasnya motivasi seseorang dalam mengadopsi <em>spirit doll. </em>Meskipun bisa jadi dilandasi oleh motivasi yang tidak murni, siapa yang tahu kalau-kalau orang-orang yang mengadopsi <em>spirit doll </em>sebenarnya punya niat melatih welas asih?&nbsp;</p>



<p>Beruntungnya, biarpun kita tidak bisa melihat batin orang lain, kita bisa dengan jelas melihat batin kita. Fenomena ini justru jadi penanda bagi kita untuk kembali bercermin:</p>



<ol id="block-17a90999-9d3a-4609-b9d6-2b78e6ea7b2a"><li>Apakah saat ini kasih sayang yang kita berikan kepada orang lain masih bersifat pamrih?</li><li>Apakah ego kita takut disalahkan ketika kasih sayang kita disalahartikan oleh orang lain?</li><li>Apakah saat ini masih sulit bagi kita untuk meruntuhkan ego ketika kasih sayang yang diberikan tidak berbalas?</li><li>Apa yang masih menghalangi kita dari melatih welas asih?</li></ol>



<p>Selain jadi penanda, fenomena <em>spirit doll</em> ini mungkin bisa juga jadi pengingat bagi kita untuk berupaya belajar menerima hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Misalnya, belajar menerima penolakan dari gebetan atau menerima kesalahan yang pernah kita perbuat kepada anak atau sanak saudara kita ketika kita berusaha peduli. Kemudian, kita bisa perlahan-lahan berlatih untuk berwelas asih kepada orang di sekitar kita. Misalnya, dengan menanyakan kabar, mendengarkan ketika pihak lain tengah berbicara, atau memberi hadiah sederhana. Dengan begitu, kita mungkin akan menyadari bahwa welas asih yang sesungguhnya bisa berarti mencintai orang lain tanpa merasa takut. Bagaimana menurutmu?</p>



<p>Penulis: Shierlen Octavia</p>



<p>Referensi:&nbsp;<br>“Hati Tanpa Gentar” &#8211; Thupten Jinpa, Ph.D</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/27/spirit-doll-krisis-kasih-sayang/">Spirit Doll & Krisis Kasih Sayang</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/27/spirit-doll-krisis-kasih-sayang/">Spirit Doll &#038; Krisis Kasih Sayang</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Dharma dari Pohon</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/01/10/belajar-dharma-dari-pohon/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2022 04:55:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6692</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Hidup selaras dengan alam adalah bagian dari ajaran Buddha. Menanam pohon dan memelihara hutan bisa jadi praktik Dharma karena memberi manfaat bagi banyak makhluk. DI Hari Pohon Sedunia ini, yuk belajar Dharma dari pohon!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/10/belajar-dharma-dari-pohon/">Belajar Dharma dari Pohon</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/10/belajar-dharma-dari-pohon/">Belajar Dharma dari Pohon</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tahukah Sahabat? Saat ini kita sedang krisis ruang terbuka hijau! Jumlah hutan di Indonesia terus berkurang karena deforestasi atau penebangan hutan dan kebakaran hutan. Di kota-kota juga pohon semakin jarang terlihat. Padahal, kita butuh hutan dan pohon demi memperoleh oksigen, sumber air, sumber pangan, dan habitat bagi berbagai jenis makhluk hidup. Selain itu, kita juga bisa belajar Dharma dari pohon, lho!!&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>



<h4><strong>Belajar Dharma dari Pohon</strong></h4>



<p>Belajar Dharma semakin mudah di masa kini berkat teknologi yang semakin maju. Kita bisa baca buku Dharma di Google Play Books, aplikasi Kabar Dharma, atau menggunakan berbagai website. Tapi tanpa teknologi pun, kita bisa juga belajar Dharma melalui tanaman yang tumbuh di sekitar kita. Buddha sangat sering memberi nasihat dengan pepohonan sebagai perumpamaan. Kita pun bisa belajar darinya.</p>



<p>Misalnya, dalam Dhammapada syair 377, Buddha berkata,</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>”S<em>eperti tanaman Vassika (pohon melati yang merambat) menggugurkan bunga-bunganya sendiri yang layu kering, begitu pula hendaknya engkau, O Bhikkhu, membuang nafsu dan dendam.</em>”</p></blockquote>



<p>Meski syair tersebut ditujukan kepada para biksu di masa Buddha Sakyamuni, kita sebagai umat awam juga bisa mempelajari, merenungkan, dan mempraktikkan makna yang tersirat dari ucapan Buddha ini.&nbsp;</p>



<p>Dengan mengamati tanaman, manusia dapat memahami perlunya membuang segala hal buruk dalam diri. Seperti pohon melati rambat yang tumbuh seraya menggugurkan bunganya sendiri ketika sudah layu dan kering, manusia juga perlu membuang keserakahan, kesombongan, dan kebencian dalam diri agar dapat terus tumbuh hingga meraih pencerahan tertinggi.</p>



<p>Tak hanya membuang keburukan dalam diri, dalam Dhammapada syair 162, Buddha juga mengajarkan agar kita tidak menjadi benalu yang merugikan makhluk lain:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“<em>Orang yang berkelakuan buruk adalah seperti tanaman menjalar maluva yang melilit pohon sala. Ia akan terjerumus sendiri, seperti apa yang diharapkan musuh terhadap dirinya</em>.”</p></blockquote>



<p>Kita memang makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa makhluk lain, tapi janganlah kita menjadi benalu, cuma mengambil tapi tidak pernah memberi. Kita tetap harus menjadi manusia yang bisa berdiri sendiri dan berguna untuk banyak makhluk. Siapapun yang menjadi benalu bagi orang lain sama saja menjerumuskan diri sendiri dalam penderitaan.</p>



<h4><strong>Hai, Buddhis, yuk Tanam Pohon!</strong></h4>



<p>Pohon yang amat bermanfaat ini ternyata terus berkurang dari hari ke hari akibat kebakaran dan penebangan hutan. Kalau sampai habis, bagaimana nasib kita? Bisa-bisa bumi semakin panas, bencana alam makin sering berdatangan, sumber makanan menipis, dan 80% keanekaragaman hayati kehilangan habitat.</p>



<p>Agar kita tidak sampai kehilangan hutan dan pepohonan, kita harus mulai menanam pohon dan memelihara hutan dari sekarang!</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>Buddha juga pernah berkata dalam Vanaropa sutta (SN 1:47), “<em>mereka yang membangun taman atau hutan, orang-orang yang membangun jembatan, tempat untuk minum dan sumur; mereka yang memberikan tempat tinggal. bagi mereka, jasa selalu meningkat pada siang dan malam hari. Mereka adalah orang-orang yang menuju ke surga, mantap dalam Dharma, memiliki moralitas</em>.”</p></blockquote>



<p>Dalam kutipan Sutta tersebut, Buddha sangat menganjurkan kita untuk membangun hutan dan taman, tentunya termasuk menanam pohon. Dengan melakukan hal tersebut, berarti kita memberi manfaat kepada makhluk lain dan mementingkan keberlangsungan hidup mereka. Ini termasuk praktik Dharma.&nbsp;</p>



<p>Kita bisa ikut menanam pohon dan melestarikan hutan dari sekarang. Kebetulan banget, tanggal 10 Januari diperingati sebagai Hari Sejuta Pohon Sedunia! Selain menanam sendiri, kita juga bisa cari-cari lembaga yang punya program penanaman pohon atau reboisasi hutan.</p>



<p>Di Hari Sejuta Pohon Sedunia ini, ayo kita ramai-ramai menjaga alam dengan menanam lebih banyak pohon. Pohon yang kita tanam dan rawat ini akan menghasilkan oksigen demi kelangsungan hidup penghuni bumi. Burung, ulat, semut, dan berbagai makhluk hidup lainnya akan memperoleh tempat tinggal. Bahkan kita bisa mengingatkan orang lain dengan Dharma, bahwa kita lahir sebagai manusia yang berharga yang bisa memberikan berjuta manfaat bagi semua makhluk!</p>



<p>Penulis: Junarsih</p>



<h4><strong>Referensi:</strong></h4>



<p>Tirto.id<strong> &#8211; “</strong><a href="https://tirto.id/10-januari-memperingati-hari-tritura-dan-hari-sejuta-pohon-sedunia-f82S">10 Januari Memperingati Hari Tritura dan Hari Sejuta Pohon Sedunia</a>”</p>



<p>Forestdigest.com<strong> </strong>&#8211; “<a href="https://www.forestdigest.com/detail/1438/luas-hutan-indonesia">Mengapa Data Luas Hutan Berbeda-beda</a>”</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/10/belajar-dharma-dari-pohon/">Belajar Dharma dari Pohon</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/10/belajar-dharma-dari-pohon/">Belajar Dharma dari Pohon</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dialog Dalai Lama Bersama Siswa-Siswi Indonesia</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dialog-dalai-lama-bersama-siswa-siswi-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2021 08:57:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[NDBF 3.0]]></category>
		<category><![CDATA[Nusantara Dharma Book Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Serlingpa Dharmakirti]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6177</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Rangkuman dialog Y.M.S. Dalai Lama XIV dengan 1000 pelajar Indonesia di Grand Buddha Goes to School, Nusantara Dharma Book Festival 3.0</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dialog-dalai-lama-bersama-siswa-siswi-indonesia/">Dialog Dalai Lama Bersama Siswa-Siswi Indonesia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dialog-dalai-lama-bersama-siswa-siswi-indonesia/">Dialog Dalai Lama Bersama Siswa-Siswi Indonesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Thekchen Chöling, Dharamsala, HP, India &#8211; Pagi ini, Dewi Lestari, seorang penulis dan penyanyi Indonesia, menyambut Yang Maha Suci Dalai Lama XIV untuk berbincang dengan lebih dari 1000 pelajar Indonesia. Tema dialog ini adalah Kisah Jataka atau kisah-kisah kehidupan-kehidupan lampau Sang Buddha, yang tercatat dalam buku “Jataka Mala”, atau “Untaian Kisah Kelahiran”, yang diukirkan di Candi Borobudur. Acara ini adalah pembuka rangkaian Nusantara Dharma Book Festival yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN) bekerja sama dengan komunitas Kadam Choeling Indonesia.</p>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV memulai acara dengan mengucapkan terima kasih kepada seorang aktor Indonesia yang telah membuat persembahan mandala tradisional dan mengucapkan “selamat pagi” kepada para pendengar.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/sehC6hf9kWcMpoUng6ZWXoOXUCgVW6x_xzhVvMxhgfwtBdeIs5xIYPhp_qwBBR7YW1tuuj8tgFi-AP721Xe4uuYy9YW8oDPALLX9RRSB8Hnlw_iMUWc5__pVCFgHlz0kvKfFONiu" alt=""/></figure>



<p>Aktor Indonesia Morgan Oey membuat persembahan mandala tradisional di awal dialog daring Yang Maha Suci Dalai Lama XIV dengan siswa-siswi Indonesia dari kediaman Beliau di Dharamsala, HP, India pada 11 Agustus 2021. Foto oleh Y.M. Tenzin Jamphel</p>



<h4><strong>Agama dan Cinta Kasih Universal</strong></h4>



<p>“Hari ini,” lanjutnya, “Saya menantikan diskusi dengan pemuda-pemudi Indonesia, yang beberapa di antaranya memiliki minat pada agama Buddha. Saya seorang praktisi Buddhis, dan salah satu komitmen saya adalah mempromosikan kerukunan antar umat beragama. Semua tradisi agama kita yang berbeda, entah kita berbicara mengenai agama Hindu, Kristen, Yahudi, Islam, atau Buddha, membawa pesan umum tentang pentingnya cinta kasih. Mereka masing-masing menggunakan pandangan filosofis yang berbeda untuk memperkuat rasa altruisme, kepedulian terhadap orang lain. Beberapa kepercayaan menyatakan adanya Tuhan, sementara yang lainnya fokus pada hukum kausalitas. Tujuan sebenarnya dari semua agama tersebut adalah untuk membantu pengikut mereka menjadi orang yang lebih baik dan lebih berwelas asih.</p>



<p>“Berkenaan dengan Tuhan pencipta, agama Kristen menggambarkannya sebagai makhluk dengan cinta yang tak terbatas. Agama Islam berbicara tentang Tuhan yang pengasih dan penyayang. Yahudi mengacu pada Tuhan yang adil. Jainisme dan Buddhisme di sisi lain tidak memiliki konsep tentang Tuhan pencipta, tetapi keduanya tetap bertujuan untuk melatih manusia menjadi benar-benar welas asih.</p>



<p>“Di India tempat saya tinggal, ada semua agama besar dunia. Dan mereka telah hidup berdampingan secara harmonis selama lebih dari seribu tahun.</p>



<p>“Hari ini, saya senang bertemu saudara dan saudari dari negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Apakah kita menerima agama atau tidak adalah masalah pilihan diri kita pribadi. Kita semua adalah manusia. Kita memperoleh manfaat dari kasih sayang dan perhatian ibu kita dari sejak lahir. Tentu saja, tanpa kasih sayang dan cinta kasihnya, kita tidak akan bertahan.</p>



<p>“Dewasa ini, kita menghadapi masalah-masalah dan konflik-konflik karena kita tidak memiliki rasa persaudaraan yang sepatutnya. Kita mengabaikan nilai-nilai dasar kemanusiaan kita. Kita mencoba untuk menyelesaikan perselisihan dan perbedaan pendapat dengan menggunakan kekerasan. Namun, saya percaya bahwa sebagian besar manusia sudah muak dengan kekerasan dan perang. Konsekuensinya, umat beragama memiliki tanggung jawab untuk mempromosikan cinta kasih. Kita harus hidup bersama di planet ini, jadi kita harus berupaya untuk membuat dunia ini menjadi lebih damai.</p>



<h4><strong>Teladan Jataka Mala</strong></h4>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV mengakui adanya minat khusus beberapa orang Indonesia terhadap 34 kisah Jataka yang menceritakan kehidupan-kehidupan lampau Sang Buddha. Penulisnya, Aryashura, pada mulanya bukan seorang Buddhis, tetapi seorang terpelajar yang cerdas dari tradisi lain. Pada saat itu, para cendekiawan Universitas Nalanda merasa gelisah bahwa ia mungkin akan mengalahkan mereka dalam debat sehingga mereka meminta bantuan Arya Nagarjuna. Beliau mengirim salah satu muridnya yang paling terampil, Aryadewa, yang meyakinkan Aryashura mengenai validitas ajaran Buddha. Selanjutnya, di akhir hidupnya, Aryashura, yang juga seorang penyair terkenal, menggubah &#8216;Untaian Kisah Kelahiran&#8217; ini dengan merdu dalam bahasa Sansekerta.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/NeR6Big1DPjMMpoqTG9299asaSsaofKiXhv43WJEbGZTZLduLD9oyf-R0qz77xivQfs-MUxcWZUFaUCUb3WFsfsMKCbvjFfErSgpES8Jn178EQmfFKVHihQ-AlQyoJlAGa-KBr1J" alt=""/></figure>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV berbicara kepada hadirin virtual selama dialog daring dengan siswa-siswi Indonesia dari kediamannya di Dharamsala, HP, India pada 11 Agustus 2021. Foto oleh Y.M. Tenzin Jamphel</p>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV berkata bahwa kisah-kisah tersebut memang indah untuk dibaca, tetapi terkadang Beliau merasa cerita-cerita itu terlalu dibumbui. Poin penting yang perlu diperhatikan adalah moral cerita, yakni kesempurnaan, kedermawanan, etika, dan kesabaran yang dicontohkan oleh Bodhisatwa. Yang mendasari semua kisah tersebut adalah konsep India kuno tentang “karuna” dan “ahimsa”—welas asih dan tanpa-kekerasan. Tema-tema ini, tutur Beliau, umum untuk sebagian besar agama, tetapi terlepas dari kita mengikuti tradisi suatu agama atau tidak, kita semua harus memiliki hati yang hangat dan welas asih jika kita ingin bahagia.</p>



<p>Menjawab pertanyaan dari hadirin, Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menjelaskan bahwa mengorbankan hidup Anda demi orang lain, seperti yang dilakukan Bodhisatwa dalam beberapa kisah, adalah tindakan bermakna jika menghasilkan manfaat yang nyata. Beliau menambahkan bahwa dibutuhkan kecerdasan dan pikiran yang jernih untuk menilai manfaat apa yang akan didapat dari tindakan tersebut.</p>



<p>Terkait dengan krisis-krisis yang dihadapi dunia saat ini, yaitu pandemi virus corona dan pemanasan global, terdapat beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak negatifnya. Akan tetapi, kita harus berani dan tegas. Kita tidak boleh putus asa atau berhenti mengambil tindakan.</p>



<h4><strong>Candi di Hati Kita</strong></h4>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV mengenang kunjungan Beliau ke Borobudur. Beliau menggambarkan stupa Borobudur sebagai candi yang indah, tetapi menyatakan bahwa yang lebih penting adalah candi batin hati kita tempat kita memupuk welas asih dan cinta kasih. Jika kita menggabungkannya dengan kecerdasan manusia kita yang luar biasa, kita dapat menciptakan dunia yang lebih bahagia, tidak hanya melalui doa, tetapi dengan melakukan tindakan nyata.</p>



<h4><strong>Kejujuran &amp; Kasih Sayang yang Menginspirasi</strong></h4>



<p>Beliau mendapat pertanyaan mengenai cara menghadapi hal-hal negatif dan menyarankan untuk berpegang pada prinsip-prinsip moral kejujuran dan kasih sayang. Beliau menyebutkan mengenai kesulitan yang Beliau hadapi dalam hidup-Nya sendiri, di Tibet dan kemudian sebagai pengungsi, tetapi mengungkapkan bahwa Beliau terus berlatih sesuai dengan Tradisi Nalanda yang diperkenalkan oleh Shantarakshita di Tibet.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kami orang Tibet adalah orang-orang yang teguh dan berani,” ujar Beliau, “tetapi itu tidak berarti kami menggunakan kekerasan. Semangat Tibet kami adalah keteguhan dan welas asih, kualitas-kualitas yang telah menarik kekaguman bahkan di antara beberapa orang Cina.”</p></blockquote>



<h4><strong>Tibet, Indonesia, dan Guru Dharma Nusantara</strong></h4>



<p>Seorang pemuda mengajukan pertanyaan tentang hubungan antara Indonesia dan Tibet dalam bahasa Tibet. Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menjawab bahwa guru India, Atisha Dipamkara, berlayar dari India ke Sumatra untuk belajar tentang bodhicita dengan seorang guru bernama Dharmakirti. Pada waktu itu, Atisha menerima undangan untuk mengunjungi Tibet tempat Beliau menghabiskan sisa hidupnya. Dharmakirti dikenang oleh orang Tibet hari ini sebagai Lama Serlingpa, Guru dari Pulau Emas (Suwarnadwipa). Yang Maha Suci Dalai Lama XIV berkomentar bahwa mengingat perjalanan Atisha yang ekstensif, saat ini jauh lebih mudah untuk bertukar pandangan dan berbagi pengetahuan satu sama lain.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/QUvcHHNp632XiiF5LXC9cYoDLHBQGgERo6VGiw3B6quU7K5AjIaJ1crEugquw_v-BW-x2sI2QF70oEaDY4jkPX9x_ayPCYKFL-43Te967RZEOyDz4ze-xGiTmAvCzgBAvV2M9RWU" alt=""/></figure>



<p>Seorang peserta audiensi virtual mengajukan pertanyaan kepada Yang Maha Suci Dalai Lama XIV selama dialog daring dengan siswa-siswi Indonesia dari kediaman Beliau di Dharamsala, HP, India pada 11 Agustus 2021. Foto oleh Y.M. Tenzin Jamphel</p>



<h4><strong>Kiat Buddhis Menghadapi Ekstremisme</strong></h4>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV tidak mengatakan mana dari &#8216;Kisah Jataka&#8217; yang menurut Beliau paling menginspirasi. Poin kuncinya, tegas Beliau, adalah mengakui kesatuan kemanusiaan; untuk menyadari bahwa kita semua adalah sama sebagai manusia. Dari sudut pandang praktis, kita semua bergantung satu sama lain dan kita dapat melayani satu sama lain atas dasar hal itu.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Saya orang Tibet, yang tinggal di India. Saya menganggap setiap manusia yang saya temui seperti saudara atau saudari bagi saya. Berkelahi tidak ada gunanya dan merugikan diri sendiri. Kita harus menemukan cara untuk hidup berdampingan dan hidup bersama dalam damai.”</p></blockquote>



<p>Diundang untuk mengomentari mengenai cara sebuah komunitas minoritas menghadapi ekstremisme, Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menyetujui bahwa di antara orang-orang yang terisolasi di masa lalu, mungkin terasa tepat untuk berbicara mengenai satu kebenaran dan satu agama. Namun hari ini, situasinya telah berubah dan kita semua mengetahui adanya berbagai tradisi agama serta banyaknya aspek mengenai kebenaran.</p>



<p>Salah satu kualitas Buddhisme adalah bahwa Buddhisme mengambil pandangan ilmiah tentang pikiran dan emosi kita serta mampu menjelaskan cara-cara untuk mencapai kedamaian pikiran. Tradisi Nalanda memuat metode-metode untuk mengurangi emosi negatif dan meningkatkan emosi positif. Psikologi Buddhis dapat bermanfaat bagi siapa saja yang tertarik untuk menjelajahinya tanpa harus membuat komitmen keagamaan apa pun. Hal ini, tegas Yang Maha Suci Dalai Lama XIV, adalah salah satu cara Buddhisme dapat berkontribusi untuk menciptakan dunia yang lebih damai.</p>



<h4><strong>Praktik Dharma Dulu dan Kini: Belajar, Merenung, Meditasi</strong></h4>



<p>Menanggapi pengamatan bahwa tampaknya lebih mudah untuk mencapai realisasi pada zaman Sang Buddha, Yang Mulia menyatakan bahwa Beliau tidak percaya siapapun menjadi tercerahkan secara spontan ketika mereka mendengarkan Sang Buddha. Beliau menunjukkan bahwa Sang Buddha sendiri telah menghabiskan enam tahun dalam meditasi yang ketat sebelum mencapai Kebuddhaan. Beliau menjelaskan bahwa orang-orang mendengarkan yang Buddha katakan, dan merenungkannya untuk meningkatkan pemahaman mereka. Kemudian, mereka memeditasikan hal yang telah mereka pahami, menerapkan konsentrasi dan pandangan mendalam, yang pada gilirannya memungkinkan mereka mengubah batin.</p>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menyarankan bahwa Jalan Tengah (Madhyamaka) adalah cara yang ampuh untuk mengurangi pandangan salah. Pikirkan tentang bagaimana kita memikirkan &#8216;tubuhku&#8217;, &#8216;ucapanku&#8217; dan &#8216;pikiranku&#8217;, kata Beliau, dan kemudian tanyakan pada diri sendiri di mana &#8216;aku&#8217; yang memiliki fitur-fitur ini. Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menegaskan bahwa Beliau bertanya pada diri Beliau sendiri letak &#8216;aku&#8217; setiap hari dan tidak dapat menemukan diri yang independen dan ada secara inheren. Hal ini memiliki efek yang kuat untuk mengurangi kemarahan dan kemelekatan Beliau. Beliau mengutip tiga ayat dari “Memasuki Jalan Tengah” (Madhyamakavatara) Chandrakirti yang mengingatkan bahwa Beliau berada di jalur yang benar.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Diterangi oleh berkas-berkas cahaya kebijaksanaan,</em><br><em>Bodhisattva melihatnya sejelas buah amalaki di telapak tangan yang terbuka,</em><br><em>Bahwa ketiga alam di keseluruhannya tidak terlahirkan sejak dari awalnya,</em><br><em>Dan melalui kekuatan kebenaran konvensional, ia menempuh perjalanan menuju penghentian. 6.224</em></p><p><em>Walau batinnya mampu menetap terus-menerus dalam penghentian,</em><br><em>Beliau juga membangkitkan welas asih untuk para makhluk yang tak memiliki perlindungan,</em><br><em>Melaju maju lebih jauh lagi, beliau juga bersinar cemerlang melalui kebijaksanaannya,</em><br><em>Semua yang lahir dari ucapan Buddha dan Buddha-Buddha menengah. 6.225</em></p><p><em>Laksana para raja angsa menjulang ke depan melampaui angsa-angsa ahli lainnya,</em><br><em>Dengan sayap-sayap putih kebenaran konvensional dan tertinggi yang berkembang lebar,</em><br><em>Didorong oleh kekuatan angin-angin kebajikan, Bodhisatwa akan menyeberangi</em><br><em>Hingga pantai seberang yang unggul, samudra kualitas-kualitas Para Penakluk. 6.226”</em></p><cite><em>Madhyamakavatara &#8211; Arya Chandrakirti</em></cite></blockquote>



<h4><strong>Semua Punya Benih Kebuddhaan</strong></h4>



<p>Ditanya mengenai cara menanggapi orang-orang yang gagal memenuhi harapan kita, Yang Maha Suci Dalai Lama XIV mengungkapkan bahwa Sang Buddha menjelaskan bahwa semua makhluk hidup memiliki sifat Buddha. Tubuh jasmani ini adalah sesuatu yang tidak begitu penting, kata Beliau, adalah batinlah, yang penting. Di dalam batin terdapat berbagai tingkat kesadaran. Oleh karena setiap orang memiliki sifat Kebuddhaan, maka pada akhirnya semua orang dapat mencapai Kebuddhaan.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/hUjrWfrY947pyjAtGRqiCI4KLxW-hHi-B21jecMJyBm0Ut2ZB252hHLnWdobxNTvaolmVR3W5lho6dpOE2tYtzBOtOwapOKczsfL-s6ZXZmFJp9xIqhOerwj3kAxi8EaCZY1Laf2" alt=""/></figure>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menjawab pertanyaan dari hadirin virtual selama dialog daring dengan siswa-siswi Indonesia dari kediaman Beliau di Dharamsala, HP, India pada 11 Agustus 2021. Foto oleh Y.M. Tenzin Jamphel</p>



<p>Dewi Lestari tertarik untuk mengetahui hal yang bisa kita lakukan untuk tetap segar dan tajam seperti Yang Maha Suci Dalai Lama XIV. Beliau menjawab bahwa kita menghabiskan banyak waktu teralihkan oleh hal-hal indrawi, namun di sisi lain, kita sebenarnya juga bisa memperhatikan kesadaran mental kita dan mendapatkan pengalaman tentang sifat batin. Saat kita mengembangkan ketenangan dan konsentrasi, menjadi lebih mudah untuk mengajak batin untuk menganalisis letak &#8216;aku&#8217; dan yang dimaksud sebagai emosi-emosi negatif. Seiring dengan kita mengembangkan kekuatan batin, kita akan mencapai kedamaian pikiran yang lebih kokoh. Dan saat kita memperoleh pengalaman batin yang lebih dalam pada tingkatan yang lebih subtil, batin yang jernih akan terwujud. Batin halus dari sifat Kebuddhaan itulah yang pada akhirnya menjadi batin Sang Buddha.</p>



<h4><strong>Bahagia Berasal dari Bodhicita</strong></h4>



<p>Diundang untuk memberikan beberapa nasihat terakhir, Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menyoroti kesempatan khusus yang dimiliki pendengar Beliau untuk berbagi gagasan tentang cinta kasih, yang merupakan sesuatu yang kita semua butuhkan. Dengan cara yang sama, kita semua membutuhkan welas asih dan pengampunan dan dengan mendorong pengembangan kualitas-kualitas ini, kita dapat berkontribusi untuk menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan penuh welas asih. Potensi welas asih adalah kesamaan yang dimiliki semua manusia. Ini adalah dasar untuk bisa saling menghormati dan belajar dari satu sama lain.</p>



<p>Dewi Lestari mengucapkan terima kasih kepada Yang Maha Suci Dalai Lama XIV yang secara spontan meminta hadirin untuk bergabung dengan Beliau dalam meditasi welas asih selama satu menit. Setelah itu, Beliau memuji kebajikan dari kebangkitan batin bodhicitta dan manfaatnya yang luar biasa. Kita butuh welas asih untuk bisa membantu orang lain, tutur Beliau. Kita membutuhkan welas asih untuk memurnikan negativitas kita dan mengumpulkan energi positif. Semua perbuatan altruistik yang dijelaskan dalam Jataka Mala berakar dari bodhicita, yakni aspirasi untuk mencapai Kebuddhaan demi membantu makhluk lain.</p>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV mengutip syair-syair dari <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lakon-hidup-sang-penerang/">“Lakon Hidup Sang Penerang” (Bodhisatwa-caryawattara)</a> oleh Shantidewa, yang memuji praktik menyamakan dan menukar diri sendiri dengan orang lain.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Seseorang yang tak menukar kebahagiaannya dengan penderitaan makhluk lain pastinya tak akan meraih Kebuddhaan. Bagaimana ia bisa meraih kebahagiaan dalam samsara? 8/131</em></p><p><em>Dengan menaiki kereta perang bodhicitta, yang menghalau semua perasaan putus asa dan letih, orang berakal mana yang akan patah semangat selagi ia melaju melewati kegembiraan demi kegembiraan? 7/30”</em></p></blockquote>



<p>Beliau menambahkan bahwa ketika Anda bertekad untuk melayani orang lain, Anda akan dapat mengikuti aspirasi besar Shantidewa:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Selama ruang bergeming dan dunia bertahan, semoga aku hidup untuk menghalau kesengsaraan dunia. 10/55”</em></p></blockquote>



<p>Sumber: “<a href="https://www.dalailama.com/news/2021/in-conversation-with-indonesian-students">In Conversation with Indonesian Students</a>” &#8211; dalailama.com</p>



<p>Diterjemahkan oleh Shierlen Octavia</p>



<p>&#8212;</p>



<p>“Grand Buddha Goes to School: Heart to Heart Conversation with His Holiness Dalai Lama XIV” adalah acara pertama dalam rangkaian Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 3.0.</p>



<p>Ikuti bazar buku, seminar, bedah buku, dan <em>workshop </em>istimewa lainnya di NDBF 3.0 yang pastinya tak kalah inspiratif dan bisa meningkatkan ketangguhan batinmu di kala pandemi.<br>Kunjungi <a href="http://ndbf.lamrimnesia.com">ndbf.lamrimnesia.com</a> &amp; ikuti media sosial Lamrimnesia untuk mendapatkan informasi &amp; kabar terbaru seputar NDBF 3.0!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dialog-dalai-lama-bersama-siswa-siswi-indonesia/">Dialog Dalai Lama Bersama Siswa-Siswi Indonesia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dialog-dalai-lama-bersama-siswa-siswi-indonesia/">Dialog Dalai Lama Bersama Siswa-Siswi Indonesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2021 05:40:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[guru Dharma Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Suwarnadwipa Dharmakirti]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[peninggalan]]></category>
		<category><![CDATA[peradaban Hindu Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[prasasti kerajaan Sriwijaya]]></category>
		<category><![CDATA[serlingpa]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5843</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di zaman peradaban Hindu-Buddha dulu, ternyata ada guru Dharma Nusantara yang berdampak pada perkembangan Buddha Dharma dunia lho! Beliau adalah Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Kerajaan Sriwijaya. Apa ajarannya?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-576x1024.jpg" alt="Infografis Guru Suwarnadwipa Dharmakirti (Lama Serlingpa), Guru Dharma Nusantara dari Kerajaan Sriwijaya yang bercorak Buddha" class="wp-image-5850" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-scaled-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-768x1366.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-1152x2048.jpg 1152w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-1200x2134.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-scaled.jpg 1440w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure>



<p>oleh Junarsih</p>



<p>Untuk mengingat Guru Besar Buddhis di Nusantara pada zaman Sriwijaya, yakni Suwarnadwipa Dharmakirti, Lamrimnesia menyelenggarakan bedah buku <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/untaian-kelahiran-yang-berharga/">&#8220;Untaian Kelahiran yang Berharga&#8221;</a> pada Jumat, 29 Januari 2021. Kedua narasumber sekaligus penulis buku, Nayaka Sangha Agung Vajrayana SAGIN Y.M Lobsang Gyatso Sthavira dan Kepala Editor YPPLN Stanley Khu memaparkan dengan jelas tentang Sriwijaya dan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti. Lebih dari 124 orang mengikuti acara ini via aplikasi Zoom.</p>



<p>Nakapala sebagai moderator menyampaikan sedikit pengantar untuk mengawali acara. “Sekilas hari ini kita akan membedah buku Untaian Kelahiran yang Berharga. Buku ini berisi tentang riwayat tokoh-tokoh yang berjuang dalam mempraktikkan Dharma yang mampu menjadi rujukan kita untuk menumbuhkembangkan keyakinan dan mengikuti teladan mereka. Dan salah satu tokoh tersebut adalah Guru Suwarnadwipa Dharmakirti.” tuturnya.</p>



<h4><strong>Buddhisme Mahayana di Sriwijaya</strong></h4>



<p>“Pada suatu ketika di masa lampau, ada Kerajaan Sriwijaya. Ia terletak di Pulau Sumatera.&nbsp; Kerajaan ini pernah berjaya sebagai sebuah peradaban, sebagai pusat dari tradisi filosofis besar yang kita kenal sebagai Buddhisme,” tutur Stanley Khu mengawali pemaparan Sriwijaya zaman dulu.</p>



<p>Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Buddhisme adalah sistem pemikiran dan moralitas yang diajarkan oleh Buddha Sakyamuni. Buddhisme mulanya adalah sebuah gerakan spiritual yang menawarkan alternatif dari Brahmanisme di India yang kemudian bergerak menuju kawasan Asia, terutama di Asia Tenggara serta Asia Timur seperti China, Korea, dan Jepang. Melalui jalur Asia Tenggara, kemudian Buddhisme sampai di Sumatera termasuk kawasan perdagangan Internasional di Sriwijaya.</p>



<p>“Terdapat aktivitas keagamaan yang intens selama era perdagangan yang hiruk-pikuk di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara,” Stanley Khu menambahkan. Pernyataan ini didukung oleh pendapat Nicolaas Johannes Krom, seorang filsuf barat, bahwa kalau dilihat dari kondisi geografis Nusantara, terdapat hubungan erat antara Buddhisme dan perdagangan.&nbsp;</p>



<p>“Menurut sejarahnya, Buddhisme di Asia Tenggara mendapat pengaruh yang berubah-ubah dari Asia Selatan. Misal pada abad ke-3 dan ke-4 mendapat pengaruh dari Antrapadesh, Sri Lanka. Sedangkan pengaruh Mahayana dari sisi Timur Laut India di daerah Bihar itu sangat kentara pada periode abad ke-7 sampai ke-10.” jelas Stanley Khu. Abad ke-7 sampai ke-10 ini adalah periodenya Sriwijaya sehingga tradisi Mahayana sangat kental di Sriwijaya. Kemudian pada abad ke-11, Buddhisme di Asia Tenggara mendapat pengaruh dari Asia Selatan, tepatnya dari Tamil Nadu, Dinasti Chola yang menginvasi Sriwijaya.</p>



<p>Catatan yang membuktikan Sriwijaya memiliki tradisi Mahayana terdapat dalam Prasasti Talang Tuo yang ditemukan di Palembang dan dibuat pada tahun 684M. Singkat isi dari prasasti tersebut adalah harapan para penguasa agar semua kebun, telaga, dan bendungan dapat berkontribusi untuk kesejahteraan semua makhluk, semoga bodhicita atau batin pencerahan tumbuh dalam diri setiap makhluk, dan semoga semua makhluk mencapai pencerahan. “Prasasti ini juga membuktikan hubungan Buddhisme di Nalanda dan Sriwijaya,” imbuh Stanley Khu. Di Nalanda sendiri terdapat asrama untuk menampung biksu-biksu dari Nusantara.</p>



<p>“Dari sedikit gambaran ini, entah karena mentalitas atau psikologi, kita nggak tahu, Asia Tenggara maritim atau lautan cenderung lebih mudah menyerap kebudayaan baru dan menerima perubahan,” ujarnya. Hal ini dibuktikan dengan masuknya Islam dan kolonialisme yang juga tidak melalui banyak pergolakan.&nbsp;</p>



<p>“Pulau Jawa menyaksikan perkembangan tradisi ini selama masa Dinasti Syailendra,” tutur Stanley Khu. Pada masa Dinasti Syailendra kita bisa melihat kekayaan budaya dilihat dari kemegahan monumen yang dibangun pada era itu, seperti Candi Borobudur, Candi Sewu, dan Candi Plaosan.</p>



<p>Lalu apa karakteristik dari Dinasti Syailendra? Corak utama dari dinasti ini adalah orientasi Internasional Nusantara dari para penguasanya. Misalnya sebuah inskripsi dari Ratu Boko bertarikh tahun 792 yang mewartakan bahwa terdapat wihara untuk biksu-biksu Sinhala yang diberi nama Abhayagiri. Di Sri Lanka sendiri, di tempat bernama Anuradhapura memang dulu ada wihara dengan nama serupa, yakni Abhayagiri. Di wihara ini, ajarannya tergolong unik karena merupakan sinkretisme dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Tantrayana. Sifat plural mereka ini menimbulkan pergesekan dengan komunitas lain sehingga mereka harus mencari tempat lain. Kalau ingin berpindah mereka bisa mencari tempat lain di Srilanka, tetapi mereka malah pergi ke Jawa untuk memenuhi undangan dari Dinasti Syailendra untuk menetap ke Jawa.&nbsp;</p>



<h4><strong>Sriwijaya Itu Apa Sebenarnya?</strong></h4>



<p>“Apa itu Sriwijaya?” Stanley Khu menjelaskan dengan nada seperti bertanya. Sriwijaya adalah kerajaan kota berbasis perdagangan yang kemakmurannya berdasarkan penguasa dalam mengontrol pengiriman barang di sepanjang Selat Malaka sehingga menjadi titik ini sebagai transit bagi para kaum pedagang dari wilayah Nusantara lain dan dari Semenanjung Melayu. Layaknya Islam setelah berabad-abad kemudian, Buddhisme bisa menyebar dengan apik di sepanjang jalur perdagangan.</p>



<p>Sistem pemerintahan Sriwijaya memiliki struktur yang longgar, jadi mau pindah ibukota di mana saja tetap bisa. Kekuatan militernya tidak terlalu kuat, sedangkan di bidang administratif sangat kuat. Sriwijaya dinamai sebagai Suwarnadwipa oleh orang Inda karena mereka bisa menemukan emas di sana.</p>



<p>Perputaran ilmu pengetahuan luar biasa terjadi di Sriwijaya dibuktikan dengan datangnya biksu China untuk belajar di sana. Biksu China bernama Yi-Jing berlayar menuju Sumatera dengan tujuan untuk belajar gramatika dan tata berperilaku di Sriwijaya. Dalam diari Yi-Jing, beliau meninggalkan China pada tahun 671 dan menuju Sumatera dengan kapal kepunyaan raja Sriwijaya. Yi-Jing belajar di Sriwijaya selama enam bulan. Kegiatan Yi-Jing di Sriwijaya ini juga menjadi contoh lain orientasi internasional para penguasa Sriwijaya.&nbsp;</p>



<p>“Penguasa Sriwijaya mengutus Yi-Jing menuju kerajaan lain yang namanya Melayu. Lalu dari sana YI-Jing menuju Kedah tempat ia menantikan angin. Karena dulu kan nggak ada pesawat, jadi pulang-pergi harus naik kapal dan menunggu angin yang akan meneruskan perjalanannya ke India. Karena ia di Sriwijaya hanya untuk belajar, konon katanya belajar gramatika dan tata cara berperilaku,” imbuh Stanley Khu. Pendidikan filsafat Buddhis yang yang lengkap pada masa itu ada di India seperti Nalanda dan Vikramasila, jadi Yi-Jing harus meneruskan perjalanannya menuju India. Kurang lebih 17 tahun Yi-Jing menghabiskan hidupnya di Nalanda. Yi-Jing juga membawa kitab yang konon mengandung lima ratus ribu bait ajaran menuju Sriwijaya.</p>



<p>Kesan positif yang didapat Yi-Jing selama tinggal di Sriwijaya membuatnya menganjurkan peziarah China untuk belajar di Sriwijaya sebelum bertolak ke India. Yi-Jing tetap belajar di Sriwijaya setelah pulang dari India selama 7 tahun terhitung sejak tahun 688-695M sebelum akhirnya ia pulang ke China.</p>



<p>“Dalam diarinya, Yi-Jing juga mencatat ada lima guru Buddhis yang tersohor seantero dunia. Dan yang menarik, ada satu orang dari Sriwijaya. Namanya Sakyakirti. Secara historis kita memang tidak menemukan catatan tentang guru ini,” Imbuh Stanley Khu.</p>



<p>“Selanjutnya kita membahas tentang geopolitik Sriwijaya. Sebenarnya Sriwijaya ini kisah apa sih? Ya kisah geopolitik. Pada masa lampau, jalur-jalur dagang di Asia akan berujung pada tempat kecil bernama Selat Malaka. Dalam catatan perjalanan Tommy Perez setelah Portugis menginvasi Malaka tahun 1511, terdapat ungkapan bahwa siapapun yang mampu menguasai Selat Malaka akan memegang tenggorokan Venesia, Italia. Kelihatannya tidak begitu nyambung, tetapi seluruh barang-barang sebelum masuk ke Eropa harus ditampung dulu di Malaka. Selat Malaka ini pendek sekali, diapit oleh dua samudera, yakni Samudera Pasifik di sebelah Timur dan Samudera Hindia di sebelah Barat, juga diapit oleh Semenanjung Melayu dan Pulau Sumatera di sisi lain.</p>



<p>Karena selat ini merupakan selat terpendek di dunia, ia pun menjadi jalur maritim alternatif dan paling sibuk pada zaman dulu. Saat itu, selat ini dikuasai oleh hanya satu kerajaan, yaitu Sriwijaya, berbeda dengan sekarang Selat Malaka dibagi menjadi tiga kawasan, yakni Indonesia, Singapura, dan Malaysia.</p>



<p>“Lokasi Sriwijaya yang strategis, terdapat banyak hal yang bisa dibahas terkait eksistensinya. Pasti banyak risalah, sumber pustaka, sumber historis! Sayangnya bukan begitu kasusnya. Pengetahuan tentang Sriwijaya ironisnya baru muncul pada abad ke-20,” ujar Stanley Khu. Baru setelah seribu tahun kerajaan ini eksis saat seorang sarjana Prancis, George Coedes menyusun ulang bukti adanya Sriwijaya. Beruntungnya ada beberapa prasasti yang menjadi bukti peradaban Sriwijaya di Sumatera, salah satunya adalah Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang pada tahun 1920 dan bertarikh 683. Tulisan dalam prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Tua serta ditemukan beberapa kosa kata Sanskerta yang berbunyi &#8220;Sriwijaya&#8221;.</p>



<p>Bukti eksistensi Sriwijaya lebih banyak ditemukan pada sumber sejarah dari Tiongkok, bukan dari India meski ada hubungan cukup kental antara Nalanda dan Sriwijaya. Hal ini dikarenakan Tiongkok memiliki pengarsipan sejarah yang lebih baik dibanding India. Namun, nama Sriwijaya di Tiongkok bisa berubah-ubah karena di Tiongkok sendiri sering terjadi pergantian dinasti yang masing-masing menggunakan kata berbeda untuk menyebut Sriwijaya.</p>



<h4><strong>Siapakah Suwarnadwipa Dharmakirti?</strong></h4>



<p>“Indonesia adalah tempat suci yang dikagumi banyak orang, tidak hanya India, tapi juga Tibet,” tutur Y.M Lobsang Gyatso Sthavira mengawali giliran untuk menguraikan tentang Mahaguru Suwarnadwipa Dharmakirti.&nbsp;</p>



<p>“Nama lain Guru Suwarnadwipa Dharmakirti adalah Serlingpa Chokyi Dragpa dalam tradisi Lamrim.”</p>



<p>Lebih lanjut, Beliau menjelaskan bagaimana Guru Suwarnadwipa merupakan keturunan dari Dinasti Syailendra. Pada saat itu, Sriwijaya sangat didominasi oleh Hindu. Namun, sebagai seorang anak raja (pangeran), Beliau mempromosikan Buddhisme dan menganjurkan rakyat untuk berlindung pada Triratna.</p>



<p>Kemudian, pangeran menuju Bodhgaya, India, tempat Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung yang lengkap dan sempurna. Di Bodhgaya, banyak makhluk bijaksana yang memiliki kualitas baik seperti cendekiawan dan praktisi meditasi yang berkumpul. Pangeran menumbuhkan rasa hormat serta sujud pada satu di antara pada makhluk bijaksana tersebut, yakni Guru Maha Sri Ratna. Lalu pangeran menemani sang Guru selama tujuh hari, tetapi pada hari ke-8 pangeran kehilangan sosok Guru Maha Sri Ratna. Akhirnya pangeran tidak sengaja tertidur dan bermimpi bertemu dua penyanyi cilik yang melantunkan syair berikut:</p>



<p>“<em>Setelah meninggalkan keluarga, pelayan, dan aneka kebahagiaan di negeri sendiri. Satu akibat yang marak tak dapat menelusuri di manakah gerangan orang yang dicari. Sejak lama kehilangan ataukah cepat kehilangan. Keturunan murni mulia tapi miskin kebijaksanaan</em>.”</p>



<p>Saat terbangun, Guru Maha Sri Ratna sudah berada di hadapan pangeran. Setelah memberikan penghormatan, pangeran mempersembahkan mandala sebagai simbol persembahan semesta raya sambil memohon supaya diterima sebagai murid. Setelah menerima persembahan, Guru Maha Sri Ratna menahbiskan pangeran sebagai biksu. Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, Serlingpa Chokyi Dragpa adalah nama yang diberikan Guru Maha Sri Ratna kepada pangeran.</p>



<p>Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dikenal dengan ajaran bodhicita. Ajaran inilah yang mengundang keingintahuan Guru Atisha Dipamkara Srijnana untuk menuju Sriwijaya dari India dengan berlayar selama 13 bulan dan belajar kurang lebih 12 tahun di Sriwijaya.&nbsp;</p>



<h4><strong>Keistimewaan Suwarnadwipa Dharmakirti</strong></h4>



<p>Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta bertanya pada Y.M Lobsang Gyatso Sthavira tentang keistimewaan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dalam hal ibadah dan pelayanan umat dibanding guru lainnya pada zaman tersebut.</p>



<p>Y.M. Lobsang Gyatso Sthavira menyatakan bahwa Beliau belum menemukan catatan spesifik mengenai ibadah dan pelayanan umat pada masa Guru Suwarnadwipa. Namun, berdasarkan teks yang ada, diketahui bahwa Beliau adalah pangeran Buddhis yang memegang pandangan filosofis <em>citramata</em>, jadi kemungkinan besar praktik Beliau adalah Prajnaparamita (Penyempurnaan Kebijaksanaan). Kalau Beliau melakukan pelayanan pada umat, kemungkinan sama seperti yang kita temukan di teks Guru Shantidewa, yaitu <em>Bodhisatwa-caryavatara</em> (Lakon Hidup Sang Penerang/Bodhisatwa) karena teks itulah yang diturunkan dari Guru Swarnadwipa ke Guru Atisha.&nbsp;</p>



<p>Selain itu, ada pula praktik atau pelayanan itu dulunya bersifat rahasia dan tidak mudah diperoleh, yaitu praktik <em>lojong </em>(latihan batin) atau <em>tonglen </em>(praktik terima kasih) yang bertujuan untuk mengembangkan welas asih, khususnya bodhicita. Dengan berlandaskan pada bodhicita serta sejalan dengan posisi Beliau sebagai pangeran yang mengayomi negaranya, pelayanan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti diberikan secara menyeluruh untuk semua rakyat. Sifat welas asih Beliau melampaui perbedaan suku, agama dan ras.&nbsp;</p>



<p><em>Apa yang diajarkan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti di Sriwijaya? Baca ulasannya dalam buku </em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari/"><em>“Latihan Batin Laksana Sinar Mentari”</em></a><em> karya Namkha Pel!</em></p>



<p>“Jadi kalau sudah belajar bodhicita maka sikap intoleran tidak akan berkembang, dan semuanya menjadi toleransi,” imbuh Y.M Lobsang Gyatso Sthavira. Sifat welas asih inilah membuat Guru Suwarnadwipa Dharmakirti tetap membimbing semua makhluk untuk mencapai kebahagiaan tertinggi dan kedamaian yang sesungguhnya meskipun ada yang berlaku tidak baik terhadapnya.&nbsp;</p>



<p>Y.M Lobsang Gyatso Sthavira juga berpesan agar semua umat Buddha, baik itu romo pandita ataupun umat awam, untuk meneladani Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dengan menolong semua yang membutuhkan tanpa pilih kasih. Kita seharusnya menolong mulai dari yang paling menderita dahulu, bukan berdasarkan yang seagama dulu. “Kalau kita kan masih punya ego, jadi harus belajar Madhyamika supaya pandangannya gak pilih-pilih. Atau belajar bodhicita, menyamakan diri kita dengan orang lain sama persis, makhluk lain juga sama, ingin bahagia, tidak ingin menderita, ini yang harus direalisasikan,” imbuh Y.M Lobsang Gyatso Sthavira.&nbsp;<br></p>



<p><em>Artikel ini pertama kali dterbitkan di </em><a href="https://buddhazine.com/suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/"><em>Buddhazine.com</em></a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ingin Cerdas &#038; Bijaksana? Yuk Kenalan Dulu dengan Arya Manjushri!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/04/26/ingin-cerdas-bijaksana-yuk-kenalan-dulu-dengan-arya-manjushri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2020 05:42:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicita]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisattva]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[cerdas]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[manjushri]]></category>
		<category><![CDATA[manjusri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4889</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Silvi Wilanda Siapa sih yang nggak ingin jadi cerdas? Kadang kita ketemu berita tentang anak-anak jenius yang masih kecil sudah lulus kuliah, ada juga orang-orang yang masih muda udah bikin penemuan-penemuan luar biasa. Saat itu kita mungkin berandai-andai, “Andai aku terlahir jenius…” Tapi di sisi lain, ada juga orang-orang jenius yang kejeniusannya malah dipakai [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/26/ingin-cerdas-bijaksana-yuk-kenalan-dulu-dengan-arya-manjushri/">Ingin Cerdas & Bijaksana? Yuk Kenalan Dulu dengan Arya Manjushri!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/26/ingin-cerdas-bijaksana-yuk-kenalan-dulu-dengan-arya-manjushri/">Ingin Cerdas &#038; Bijaksana? Yuk Kenalan Dulu dengan Arya Manjushri!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Silvi Wilanda</p>



<p>Siapa sih yang nggak ingin jadi cerdas? Kadang kita ketemu berita tentang anak-anak jenius yang masih kecil sudah lulus kuliah, ada juga orang-orang yang masih muda udah bikin penemuan-penemuan luar biasa. Saat itu kita mungkin berandai-andai, “Andai aku terlahir jenius…” Tapi di sisi lain, ada juga orang-orang jenius yang kejeniusannya malah dipakai untuk bikin hal-hal yang merugikan orang banyak. Saat itu kita lalu berpikir, “Ah, untung aku nggak pintar-pintar amat, hehehe…”</p>



<p>Kecerdasan otak itu berbahaya kalau nggak dibarengi dengan kebijaksanaan dan welas asih. Namun, punya kecerdasan otak jelas bisa sangat mempermudah hidup kita. Kita nggak cuma butuh kecerdasan untuk sekolah atau kerja, tapi melatih batin dan menolong orang banyak pun lebih mudah kalau kita punya kecerdasan. Memahami Dharma pun membutuhkan kecerdasan. Lihat saja guru-guru besar Buddhis dari masa ke masa. Arya Nagarjuna, Je Tsongkhapa, Guru Dagpo Rinpoche, Y.M.S. Dalai Lama XIV… Mereka semua cerdas luar biasa kan? Apa sih rahasianya?</p>



<p><a href="https://www.kadamchoeling.or.id/jadilah-umat-buddha-abad-21-nasihat-yang-maha-suci-dalai-lama-xiv-untuk-umat-buddha-indonesia/">Saat menyapa umat Buddha dari Indonesia yang berkunjung ke kediaman Beliau, Y.M.S. Dalai Lama XIV bercerita bahwa Beliau menjadi cerdas berkat mantra Arya Manjushri.</a> Siapa sih Arya Manjushri itu? Yuk simak di tulisan berikut!</p>



<p>&#8212;</p>



<p>Arya Manjushri merupakan perwujudan dari kualitas tercerahkan kebijaksanaan Buddha di tiga masa (lampau, sekarang, dan masa yang akan datang). Umumnya, Beliau dikenali sebagai seorang Arya Bodhisatwa, yaitu makhluk yang memiliki semangat Bodhicita, yakni aspirasi untuk menjadi tercerahkan sepenuhnya (Kebuddhaan) demi kepentingan semua makhluk. Dalam situasi tertentu, Beliau dapat muncul sebagai Buddha yang lengkap dan sempurna, sebagai salah seorang Putra Penakluk, praktisi yang sedang dalam tahapan belajar, atau bahkan makhluk biasa di keenam alam kehidupan. Melalui berbagai perwujudan ini, Arya Manjushri menolong semua makhluk dengan karakteristik dan kualitas yang berbeda-beda. Arya Manjushri sering digambarkan berdampingan dengan Arya Awalokiteshwara dan Arya Wajrapani karena ketiganya merupakan Bodhisatwa pelindung. </p>



<p>Nama “Manjushri” sendiri berarti &#8220;Keagungan Lembut&#8221; (“<em>Gentle Splendor</em>”). Beliau juga dikenal dengan nama, “Manjughosha”, berarti &#8220;Lantunan Lembut&#8221; (“<em>Gentle Melody</em>”). Manjushri juga sering disebut &#8220;Yang Terlihat Muda&#8221; (“<em>Youthful</em>”), “Manjushri Yang Muda” (“<em>Manjushri</em>, <em>Still a Youth”</em>), dan “Pangeran Manjushri” (<em>Manjushri Prince</em>) karena pertama kali muncul dalam wujud pemuda berperawakan 16 tahun, juga karena melambangkan kesadaran primordial yang selalu muda dan tak lekang oleh waktu.&nbsp;</p>



<p>Lambang wujud Arya Manjushri yang paling khas adalah pedang menyala yang dia pegang tinggi-tinggi di tangan kanan dan tangkai teratai yang diatasnya terdapat buku di tangan kiri. Pedang melambangkan kemampuan pikirannya untuk memotong belenggu yang mengikat makhluk pada siklus penderitaan. Nyala api dalam ikonografi Buddhis mewakili transformasi ketidaktahuan menjadi kebijaksanaan. Sedangkan buku mewakili kesempurnaan kebijaksanaan. Untuk itu, merenungkan Manjushri dapat meningkatkan kecerdasan, baik kecerdasan biasa, ketajaman mental, hingga kebijaksanaan transenden.</p>



<p>Arya Manjushri juga memiliki kaitan dengan Indonesia, lho! Ini ditandai dengan adanya bangunan Manjushrighra atau yang kini dikenal sebagai Candi Sewu di Jawa Tengah dan adanya arca Manjushri yang ditemukan di Candi Jago. Sekarang arca tersebut berada di Museum Ethnology Berlin dan duplikatnya terdapat di Museum Nasional Jakarta.</p>



<p>Dalam berbagai sutra, dijabarkan bahwa Arya Manjushri telah mematangkan batin banyak makhluk. Dengan bimbingan Arya Manjushri, jangankan menjadi cerdas dan bijak, mereka bahkan jadi membangkitkan Bodhicita! Dalam Sutra Pertobatan Ajatashatru, Buddha Shakyamuni membabarkan salah satu kehidupan lampau Arya Manjushri. Ketika terlahir sebagai seorang biksu, Beliau memberikan makanan kepada seorang anak pedagang kecil untuk dipersembahkan kepada Buddha. Bodhicita bangkit dalam diri si anak dan ia menjadi Buddha Shakyamuni di kemudian hari. Selain itu, dalam Sutra yang sama, dikatakan juga bahwa Arya Manjushri membimbing Pangeran Ajatashatru yang memiliki karma buruk sangat berat karena telah membunuh orang tuanya sendiri hingga dapat membangkitkan Bodhicita.</p>



<p>Perenungan kualitas Manjushri dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya merenungan perwujudan fisik Manjushri, merenungkan ajaran Manjushri, melafalkan nama Manjushri, ataupun dengan melafalkan mantra Manjushri. Praktik-praktik Bodhisatwa Manjushri ini dapat membantu kita membersihkan ketidaktahuan dan pikiran kita yang penuh delusi serta meningkatkan keterampilan belajar kita, baik dalam berdebat, menulis, ingatan, dan kebijaksanaan. Bahkan, praktik-praktik tersebut dapat mengarahkan diri kita untuk melihat, menerima ajaran, dan memperoleh wawasan spiritual dari Manjushri itu sendiri jika dilakukan dengan sungguh. Praktik-praktik ini diyakini juga akan memberikan diri kita perlindungan dan kebebasan dari kelahiran kembali di alam rendah. Secara khusus, pelafalan mantra Manjushri, yakni “Om A Ra Pa Tsa Na Dhih” diyakini dapat memberikan kecerdasan. Hal ini didukung oleh penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Deepika Chamoli Shahi mengenai efek pelafalan mantra Manjushri bagi kecerdasan.</p>



<p>&#8212;</p>



<p>Nah, sekian penjelasan singkat tentang Bodhisatwa Manjushri. Menarik bukan? Sebagai perlambang kebijaksanaan Buddha, nggak heran kalau kita mengandalkan Beliau untuk mengembangkan kecerdasan dan kebijaksanaan. Ini tentunya harus dibarengi dengan usaha nyata seperti banyak membaca, merenung, dan bermeditasi. Jika kita berlatih secara rutin, perlahan tapi pasti kita pasti bisa bijaksana dan cerdas seperti Bodhisatwa Manjushri.</p>



<p>Selamat berlatih!</p>



<p><strong>Daftar Pustaka:</strong></p>



<p>“Garland of Jewels: The Eight Great Bodhisattvas” oleh Y. M. Jamgon Mipham</p>



<p>“Bebas dari Ketakutan.” oleh Y. M. Thubten Chodron</p>



<p>“Riset Membuktikan, Mantra Manjushri Tingkatkan Kecerdasan Kognitif” oleh Deny Hernawan (<em><a href="https://buddhazine.com/riset-membuktikan-mantra-manjusri-tingkatkan-kecerdasan-kognitif/">buddhazine.com</a>.</em>)</p>



<p>“The Signification Of Bodhisattva Manjushri In Mahayana Buddhism.” oleh D. M. Meshram</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/26/ingin-cerdas-bijaksana-yuk-kenalan-dulu-dengan-arya-manjushri/">Ingin Cerdas & Bijaksana? Yuk Kenalan Dulu dengan Arya Manjushri!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/26/ingin-cerdas-bijaksana-yuk-kenalan-dulu-dengan-arya-manjushri/">Ingin Cerdas &#038; Bijaksana? Yuk Kenalan Dulu dengan Arya Manjushri!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Sampai Jumpa Pejuang Spiritual!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2018/01/11/ilr-2017-sampai-jumpa-pejuang-spiritual/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[dharmapatriot]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jan 2018 09:50:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[pejuang]]></category>
		<category><![CDATA[retreat]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3892</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Berakhir sudah rangkaian acara Indonesia Lamrim Retreat yang telah berlangsung sejak 22 Desember 2017 hingga menyambut tahun baru 2018 pada tanggal 1 Januari 2018 kemarin. Usai sudah pembabaran Baris-Baris Pengalaman karya Je Tsongkhapa selama 11 hari 10 malam yang berlangsung di Prasadha Jinarakkhita oleh Biksu Bhadra Ruci. Dimulai dari pembangkitan motivasi bajik untuk mulai belajar [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/01/11/ilr-2017-sampai-jumpa-pejuang-spiritual/">ILR 2017: Sampai Jumpa Pejuang Spiritual!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/01/11/ilr-2017-sampai-jumpa-pejuang-spiritual/">ILR 2017: Sampai Jumpa Pejuang Spiritual!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/dharmapatriot/">dharmapatriot</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berakhir sudah rangkaian acara Indonesia Lamrim Retreat yang telah berlangsung sejak 22 Desember 2017 hingga menyambut tahun baru 2018 pada tanggal 1 Januari 2018 kemarin. Usai sudah pembabaran Baris-Baris Pengalaman karya Je Tsongkhapa selama 11 hari 10 malam yang berlangsung di Prasadha Jinarakkhita oleh Biksu Bhadra Ruci. Dimulai dari pembangkitan motivasi bajik untuk mulai belajar dan praktik Dharma, sumber keagungan ajaran, kelahiran manusia yang berharga, perenungan terhadap kematian, dukkha, pembangkitan rasa muak akan samsara, hingga pembulatan tekad bodhicitta. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi ulasan dan diskusi setiap malamnya bersama dengan para peserta dan anggota Sangha.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sesi terakhir dalam Indonesia Lamrim Retreat dibuka dengan memantapkan keyakinan dengan merenungkan seluruh pengajaran selama 10 hari ke belakang. Dalam retret ini, kita telah mengenali kerugianan, keuntungan, dan ketertarikan kita pada berbagai hal di dunia melalui perenungan. Dari situ kita telah membuat sebuah langkah yang baik untuk mengawali praktik Dharma. Kemudian, kita belajar tentang berbagai motivasi dalam praktik Dharma  yang sesuai dengan kapasitas diri kita masing-masing dan membangkitkannya dalam batin. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam praktik Dharma, kita perlu membangkitkan keyakinan yang kuat dengan mengenali bahwa sumber ajaran tersebut memiliki silsilah yang langsung dan otentik dari Buddha Shakyamuni sendiri. Setelah memahami akan hal ini, kita butuh merenungkan kelahiran kita sebagai manusia yang berharga dan harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin agar kita tidak terjatuh ke alam rendah dan terus menerus terjebak dalam lingkaran kelahiran di samsara. Oleh karena itu kita mulai belajar untuk menolak jerat samsara dengan merenungkan bahwa sesungguhnya seluruh kenikmatan yang kita rasakan pada intinya merupakan dukkha yang disebabkan oleh banyaknya karma dan klesha atau kotoran batin yang memperkuat ego kita. Kita perlu melatih diri untuk mengurangi rasa ingin selalu dinomorsatukan dan merasa diri paling penting. Setelah perasaan muak tersebut muncul, timbullah sebuah pemikiran bahwa jika kita mengalami penderitaan di alam samsara, maka pastilah orang tua kita juga mengalami hal yang serupa. Kemudian jika kita mengingat jumlah kelahiran kita yang tak terbatas, semua makhluk juga pastilah pernah menjadi ibu-ibu kita di kehidupan yang lampau. Saat muncul rasa iba tersebut, muncullah sebuah aspirasi ingin membebaskan semua makhluk dari penderitaan tiada ujung tersebut. Untuk melihat penjelasan mendetail dari setiap topik, telah dirilis berita harian mengenai sesi pengajaran setiap harinya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk menumbuhkan tidak hanya sekedar pengetahuan tetapi juga perasaan pada hati kita, para peserta retret bersama-sama mengucapkan bait-bait perlindungan terhadap Triratna dan membangkitkan bodhicitta, yaitu tekad untuk menolong semua makhluk. Biksu Bhadra Ruci juga meringkas materi yang telah dibabarkan dari awal hingga penghujung sesi dan membacakan bait-bait dalam Baris-Baris Pengalaman. Dengan senantiasa diajak untuk berpikir, merenung, dan merasakan penderitaan makhluk lain yang merupakan ibu-ibu kita dari kelahiran yang berjumlah tak terhingga, kita diajak untuk memantapkan aspirasi untuk mencapai pencerahan sempurna. Kita juga selalu diminta untuk mengingat dan mengulang janji tersebut setiap harinya untuk semakin memperkuat motivasi tersebut. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tiada pencapaian yang bisa diperoleh tanpa perjuangan. Sama halnya ketika kita begitu menginginkan tercapainya cita-cita yang kita miliki di dunia ini, realisasi spiritual merupakan sesuatu yang patut kita tuju. Bersemangatlah dalam mengembangkan batin dan melangkah bersama komunitas yang baik. Sampai kita semua berjumpa lagi dengan batin yang lebih bajik dan bijak, para pejuang spiritual!</span></p>
<p>Foto-Foto:</p>
<p><figure id="attachment_3896" aria-describedby="caption-attachment-3896" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3896 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-1024x577.jpg" alt="" width="702" height="396" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-1024x577.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-scaled-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-768x433.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-1536x866.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-2048x1154.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-150x85.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-450x254.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSCF2158-1200x676.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3896" class="wp-caption-text">Persembahan mandala, bagian dari praktik pendahuluan yang mengawali sesi terakhir Indonesia Lamrim Retreat 2017</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3895" aria-describedby="caption-attachment-3895" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3895 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-1024x683.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-scaled-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/DSC00482-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3895" class="wp-caption-text">Acara diakhiri dengan persembahan khatag atau selendang putih kepada Biksu Bhadra Ruci selaku pembimbing retret. Setelah dipersembahkan, khatag dikalungkan kembali kepada peserta retret.</figcaption></figure></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/01/11/ilr-2017-sampai-jumpa-pejuang-spiritual/">ILR 2017: Sampai Jumpa Pejuang Spiritual!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/01/11/ilr-2017-sampai-jumpa-pejuang-spiritual/">ILR 2017: Sampai Jumpa Pejuang Spiritual!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/dharmapatriot/">dharmapatriot</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Yuk Jadi Bodhisatwa Zaman Now!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/11/29/yuk-jadi-bodhisatwa-zaman-now/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Nov 2017 04:27:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berbagi Dharma]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lakoh hidup sang penerang]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[promosi dharma]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3726</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Seperti apa sih hidup seorang Bodhisatwa? Pertanyaan itu menjadi salah satu bahasan dalam sharing dharma di Vihara Buddhasena Bogor pada tanggal 26 November 2017. Dalam sharing dharma ini, upasaka Hendra Wijaya, S. Kom. membedah buku “Lakon Hidup Sang Penerang” karya Shantidewa, sebuah kitab spiritual klasik tentang latihan yang harus dilakukan siapapun yang ingin mencapai pencerahan. [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/11/29/yuk-jadi-bodhisatwa-zaman-now/">Yuk Jadi Bodhisatwa Zaman Now!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/11/29/yuk-jadi-bodhisatwa-zaman-now/">Yuk Jadi Bodhisatwa Zaman Now!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Seperti apa sih hidup seorang Bodhisatwa? Pertanyaan itu menjadi salah satu bahasan dalam <em>sharing </em>dharma di Vihara Buddhasena Bogor pada tanggal 26 November 2017. Dalam <em>sharing </em>dharma ini, upasaka Hendra Wijaya, S. Kom. membedah buku “Lakon Hidup Sang Penerang” karya Shantidewa, sebuah kitab spiritual klasik tentang latihan yang harus dilakukan siapapun yang ingin mencapai pencerahan. Bedah buku dilakukan dua kali, pertama di kebaktian pemuda yang dihadiri oleh 69 orang muda-mudi Buddhis dan kedua di kebaktian umum yang dihadiri oleh 83 orang.</p>
<p><strong>Praktik Dharma Ala Bodhisatwa Zaman <em>Now</em></strong></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p>“Kelahiran sebagai manusia sangatlah langka, ibarat kura-kura buta yang lehernya muncul di permukaan laut melewati cincin emas yang terombang-ambing di tengah ombak.”</p></blockquote>
<p>Di kebaktian pemuda yang berlangsung pukul 7.30 pagi, Kak Hendra mengajak muda-mudi Buddhis Bogor dan mahasiswa dari berbagai universitas seperti UI, Universitas Pancasila, dan Universitas Gunadarma yang menghadiri acara tersebut untuk berpraktik dharma ala Bodhisatwa zaman <em>now. </em>Caranya pertama-tama adalah menetapkan Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna sebagai tujuan, lalu menggunakan kelahiran manusia yang amat berharga dan mempraktikkan dharma. Kelahiran sebagai manusia sangatlah langka, ibarat kura-kura buta yang lehernya muncul di permukaan laut melewati cincin emas yang terombang-ambing di tengah ombak, maka dari itu sangatlah sayang jika digunakan hanya sebatas agar bisa jadi kaya atau makmur di kehidupan ini, padahal sangatlah mungkin tubuh manusia ini digunakan untuk mencapai pencerahan sempurna.</p>
<p><strong>Mati Sukses Sebagai Bodhisatwa</strong></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><strong>“</strong>Amatlah penting untuk senantiasa menyetel motivasi untuk mencapai kebuddhaan sebelum melakukan setiap tindakan bajik.”</p></blockquote>
<p>Di kebaktian umum pukul 11.30, Kak Hendra memberi tips untuk mati sukses sebagai Bodhisatwa. Beliau mengingatkan bahwa apapun tradisi Buddhis yang kita ikuti, baik Therawada, Mahayana, ataupun Tantrayana, semua bertujuan untuk menjadi Buddha, baik Srawaka Buddha, Pratyeka Buddha, maupun Sammasambuddha. Dalam praktik tersebut, amatlah penting untuk senantiasa menyetel motivasi untuk mencapai kebuddhaan tersebut sebelum melakukan setiap tindakan bajik, lalu mendedikasikan kebajikan yang telah dilakukan untuk terwujudnya tujuan tersebut.</p>
<p>Dengan berpegang pada tips-tips tersebut, Kak Hendra mengajak semua hadirin untuk meresapi petunjuk praktik Bodhisatwa dalam buku “Lakon HIdup Sang Penerang”. Buku ini berisi sajak-sajak tentang cara menjadi seorang Bodhisatwa. Setiap baitnya dapat direnungkan dalam meditasi analitis sehingga pembaca akan mendapatkan inspirasi tentang praktik dharma seperti apa yang bisa dilakukan sehari-hari. Buku ini bisa dibaca hingga habis dalam waktu yang singkat, bisa pula dibaca dari bait-bait tertentu sesuai dengan suasana hati dan situasi hidup kita.</p>
<p><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3728 aligncenter" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58.jpeg" alt="" width="1052" height="780" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58.jpeg 1052w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-600x445.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-300x222.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-1024x759.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-768x569.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-150x111.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-450x334.jpeg 450w" sizes="(max-width: 1052px) 100vw, 1052px" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>“Bedah buku ini sangat baik karena dari tidak membaca akan jadi berminat membaca dan yang tidak sempat membaca seolah-olah seperti sudah membaca,” kata Viriyanti, salah satu peserta bedah buku.</em></p>
<p><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3729 aligncenter" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28.jpeg" alt="" width="1280" height="960" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28.jpeg 1280w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-600x450.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-300x225.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-1024x768.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-768x576.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-150x113.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-450x338.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-1200x900.jpeg 1200w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>Penyerahan buku &#8220;Lakon Hidup Sang Penerang&#8221; karya Shantidewa dan buku dharma gratis &#8220;Catur Brahmawihara&#8221; karya Dagpo Rinpoche dari Lamrimnesia untuk Vihara Buddhasena</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Ingin ada bedah buku dharma juga di sekolah atau viharamu?<br />
</em><em>Hubungi:<br />
</em><em>Call Center Lamrimnesia<br />
</em><em>Hp/wa: +62812 2281 6044<br />
</em><em>Fb/ig: Lamrimnesia<br />
</em><em>Email: info@lamrimnesia.org</em></p>
<p><em>Dapatkan buku “Lakon Hidup Sang Penerang” karya Shantidewa di store.lamrimnesia.org</em></p>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/11/29/yuk-jadi-bodhisatwa-zaman-now/">Yuk Jadi Bodhisatwa Zaman Now!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/11/29/yuk-jadi-bodhisatwa-zaman-now/">Yuk Jadi Bodhisatwa Zaman Now!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Welas Asih</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Oct 2017 12:11:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[keluar dari samsara]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3715</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Kyabje Lama Zopa Rinpoche Dikutip dari seminar tentang cara mengembangkan welas asih dan menawarkan pelayanan yang sempurna kepada orang lain, diberikan oleh Kyabje Lama Zopa Rinpoche di Kasih Hospice, Selangor, Malaysia, pada tanggal 14 Mei 2006. Disunting oleh Sandra Smith. Menundukkan Kemarahan Membawa Damai Selamat malam. Maaf. Selamat sore. Waktu saya bercampur aduk. Saya [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">oleh: Kyabje Lama Zopa Rinpoche</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Dikutip dari seminar tentang cara mengembangkan welas asih dan menawarkan pelayanan yang sempurna kepada orang lain, diberikan oleh Kyabje Lama Zopa Rinpoche di Kasih Hospice, Selangor, Malaysia, pada tanggal 14 Mei 2006. Disunting oleh Sandra Smith.</span></i></p>
<p><strong>Menundukkan Kemarahan Membawa Damai</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selamat malam. Maaf. Selamat sore. Waktu saya bercampur aduk. Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada semua orang karena telah datang ke sini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anda berada di sini untuk belajar tentang welas asih dan untuk membantu dunia. Ada dorongan yang luar biasa, ada kebutuhan besar untuk membantu makhluk hidup yang tidak memiliki kebahagiaan dan yang terus-menerus menderita. Mereka sangat membutuhkan bantuan Anda. Terima kasih banyak untuk orang-orang yang datang ke sini, yang niatnya adalah untuk memberi manfaat kepada orang lain dan untuk belajar tentang cara melakukannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya harus meminta maaf atas kebiasaan saya untuk datang terlambat. Semua sudah lama menunggu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama, saya ingin menyebutkan apa yang telah dibaca, apa yang saya dengar, tentang dunia yang penuh dengan bencana atau penderitaan, dunia dengan begitu banyak masalah. Apakah welas asih kita dapat melakukan sesuatu untuk membantu? Itulah yang saya dengar. Saya ingin menyebutkan ini untuk memulai sesi kali ini. Sesuatu yang logis. Sangat logis.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dikatakan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Bodhicaryawatara</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Lakon Hidup Bodhisatwa) karya guru besar India, Shantidewa, bahwa jika Anda ingin menutupi seluruh dunia dengan karpet kulit, jika Anda ingin menutupi semua semak duri yang tumbuh di dunia ini, takkan ada cukup kulit untuk menutupinya agar Anda bisa berjalan dengan kaki telanjang tanpa terluka sedikit pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi, jika Anda memakai sepatu kulit, maka ke mana pun Anda pergi, ke bagian dunia mana pun yang Anda kunjungi, semak duri takkan bisa melukai kaki Anda. Jika Anda mengenakan sepatu yang memiliki sol kulit, duri takkan bisa melewati sepatu untuk melukai kaki Anda. Ke mana pun Anda pergi, duri takkan menembus masuk ke dalam kaki Anda.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, jika batin Anda berhasil ditundukkan atau dijinakkan – maka kemarahan, ketidaktahuan, kemelekatan, keinginan, pikiran yang tidak puas, dan semua sikap negatif yang menyamar dan mengganggu – maka takkan ada lagi musuh di dunia; Anda tak dapat lagi menemukan musuh di dunia. Ketika kemarahan, khayalan, dan sikap negatif yang menyamar dan mengganggu dihilangkan, takkan ada tempat di mana Anda bisa menemukan musuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tanpa menjinakkan pikiran Anda dengan melatih hati yang baik, belas kasih untuk orang lain, tentu saja, kemarahan muncul. Tanpa menjinakkan pikiran, dengan khayalan ini, maka tidak masalah berapa banyak musuh luar yang Anda bunuh, tidak pernah selesai. Tidak ada akhir, tidak ada akhir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada dasarnya, jika Anda membunuh satu orang yang merugikan Anda, maka teman-temannya akan menjadi musuh Anda. Mereka menjadi musuh bagi Anda. Lalu, teman-teman mereka akan menjadi musuh bagi Anda. Kemudian, dari sana, seluruh masyarakat, ratusan, puluhan ribu orang, populasi seluruh negara akan menjadi musuh Anda.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada umumnya, dalam perang, ratusan ribu orang terbunuh, meski biasanya konflik hanya dimulai antara dua orang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita hanya berbicara tentang kehidupan ini, masalah dalam kehidupan ini. Efek yang Anda dapatkan dari membunuh musuh sebenarnya jauh lebih buruk daripada itu. Anda ingin memiliki kedamaian abadi, tapi Anda lebih banyak merasakan bahaya dari orang lain. Bahkan jika Anda tidak menerima kerugian sekarang, tahun ini, Anda akan menerimanya nanti, di tahun-tahun lainnya. Mereka akan membahayakan Anda. Mereka akan memendam dendam dan Anda akan mendapat bahaya nanti.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, berhubung ada kesinambungan dari arus kesadaran, kesadaran akan tetap eksis bahkan setelah tubuh Anda hancur atau berhenti berfungsi. Kita bisa mengingat apa yang kita lakukan kemarin, kita bisa mengingat seperti apa kehidupan kita kemarin karena ada kesinambungan dari arus kesadaran dari hari kemarin sampai hari ini. Dari tahun lalu hingga saat ini, ada kesinambungan dari arus kesadaran. Kesadaran tahun lalu berlanjut, dan kesadaran hari ini merupakan kesinambungan dari itu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah sebabnya kita bisa mengingat tahun lalu dan masa kecil kita. Beberapa orang bahkan punya kejernihan batin untuk bisa mengingat momen paling awal dari kelahiran mereka. Kebanyakan orang tidak bisa mengingatnya, tapi beberapa orang bahkan bisa mengingat momen ketika mereka pertama kali keluar dari kandungan ibu mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beberapa orang bahkan bisa mengingat momen ketika mereka berada di rahim ibu – ini adalah orang-orang yang memiliki batin yang sangat jernih, yang tidak terpengaruh oleh banyak kotoran batin, yang memiliki batin yang sangat berkembang. Mereka yang memiliki batin seperti ini bisa mengingat proses konsepsi di rahim ibu. Mereka ingat saat-saat ketika mereka berada di rahim ibu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sama halnya, mereka bisa mengingat kehidupan lampau mereka. Sebelum kesadaran terjadi di rahim ibu, mereka sudah punya ingatan. Mereka ingat di mana mereka dan apa yang mereka lakukan di masa lalu. Mereka yang memiliki batin seperti ini – orang-orang dengan kewaspadaan yang tinggi – dapat melihat masa lalu dan masa depan, tidak hanya pengalaman mereka sendiri, tapi juga pengalaman orang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, tanpa menundukkan emosi negatif seperti amarah, kita akan terus-menerus merasakan bahaya dari orang lain di masa depan. Apa yang kita lakukan dalam kehidupan ini akan menghasilkan konsekuensi panjang yang akan kita alami dalam rangkaian kehidupan mendatang. Dalam ratusan, ribuan kehidupan, kita akan mengalami kerugian dari orang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita hanya memikirkan satu kehidupan ini saja, kita sama sekali tidak akan memiliki kedamaian. Artinya, bahkan jika kita tidak menerima bahaya dari orang lain, semata memikirkan kehidupan saat ini takkan menghasilkan kedamaian dan kebahagiaan batin. Batin kita akan merasa bersalah dan tidak bahagia. Ini terutama terjadi saat kematian datang menjemput. Ketika saat itu tiba, kita akan merasa bahwa kita memiliki kehidupan yang sangat menyedihkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, Shantidewa menasihati kita untuk mengembangkan welas asih, kesabaran, dan kualitas positif lainnya. Ketika batin kita telah dijinakkan atau ditundukkan, ketika kemarahan dan emosi negatif lainnya ditundukkan, ini sama seperti menghancurkan semua musuh sekaligus.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini bisa menjadi bahan renungan kita. Musuh dibuat oleh batin kita. Musuh berasal dari batin kita. Label &#8220;musuh&#8221; berasal dari kemarahan kita. Saat kita marah, label &#8220;musuh&#8221; pun muncul.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat kemarahan muncul, kita melihat seseorang sebagai musuh. Tapi, begitu kita merenungkan dan memunculkan welas asih, kesabaran, dan kualitas positif sejenis kepada orang itu, maka kemarahan kita pun lenyap dalam satu jentikan jari. Orang itu bukan lagi musuh; kita tidak melihat orang itu sebagai musuh pada momen berikutnya. Dengan kesabaran, kita melihat orang itu sebagai yang paling baik, sosok yang paling berharga. Kita merasa orang itu sangat berharga dalam hidup kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan orang yang tidak meyakini reinkarnasi atau hukum karma juga akan mengiyakan poin ini. Dengan melatih kualitas-kualitas positif terhadap orang yang kita sebut musuh, kita dapat mengurangi kemarahan kita padanya; kita dapat mengembangkan lebih banyak kesabaran, lebih banyak welas asih padanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian, terhadap keluarga, pasangan, dan anak-anak kita, kita dapat mengembangkan lebih banyak welas asih, bersikap lebih sabar lagi pada mereka. Kita bisa membuat kemarahan kita semakin berkurang. Ia akan berkurang tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun setelahnya. Dalam 6-7 tahun, kita mungkin hampir takkan pernah marah lagi. Bahkan jika kemarahan muncul, ia hanya akan berlangsung 2-3 detik dan kemudian hilang. Ia tidak berlangsung lama seperti sebelumnya. Ia sangat jarang muncul, dan tidak bertahan lama. Ia muncul selama beberapa detik, lalu lenyap.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita akan memiliki hubungan yang sangat baik, harmonis, dan damai dengan keluarga kita, dengan teman-teman kita. Ada begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tidak marah pada orang lain. Alih-alih marah kepada mereka, kita memiliki kesabaran dan pikiran positif, pikiran yang bahagia. Kita memiliki pikiran yang sehat, pikiran yang damai dan bahagia. Kita memunculkan semua kualitas positif ini, dan kita mengembangkan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bukan saja kita tidak menyakiti orang lain, tapi kita juga menguntungkan mereka. Melalui batin yang positif, kesabaran dan (terutama) welas asih pun muncul. Bukan saja kita tidak menyakiti orang lain, kita akan membantu mereka dengan penuh welas asih. Jadi, alih-alih merugikan orang lain, kita menguntungkan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah yang terjadi. Kita membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan bagi keluarga kita. Dan karena kita tidak marah, kita tidak menyakiti orang lain, dan mereka tidak marah kepada kita. Kita tidak menyebabkan mereka marah kepada kita, kita tidak menyebabkan mereka menyakiti kita. Kita tidak menyebabkan mereka menciptakan karma negatif karena kita, terhadap kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sama halnya, kita akan membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup kita. Kita membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan bagi kehidupan anggota keluarga, suami atau istri, atau anak-anak, atau siapa pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu saja, semua orang menginginkan itu. Kita semua ingin keluarga kita mencintai kita, bahagia bersama kita. Kita tidak ingin ada yang marah kepada kita, menyakiti kita, memperlakukan kita dengan buruk, atau mengkritik kita. Kita tidak menginginkan semua itu. Kita tidak ingin keluarga kita merasa tidak bahagia, memiliki pikiran negatif, marah kepada kita dan terlibat dalam karma negatif, yang semua itu harus mereka tanggung akibatnya. Kita tidak ingin mereka menanggung penderitaan dalam bentuk apa pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak hanya itu. Terhadap semua manusia di negara tempat kita berada, kita juga tidak marah kepada mereka; kita tidak menyakiti mereka. Dengan hati yang baik, dengan kesabaran, jutaan orang di negara kita akan menerima begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan dari diri kita, dari kesabaran kita, dari welas asih kita. Semua manusia di dunia ini, dan semua makhluk lainnya, termasuk binatang, tidak akan menerima bahaya dari kemarahan kita. Semua makhluk tidak akan mendapat bahaya dari kita. Mereka akan menerima begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan dari kita. Tiadanya bahaya adalah kedamaian.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan jika kita tidak terlibat dalam pelayanan tambahan atau memberi manfaat kepada orang lain, ketiadaan amarah adalah kedamaian dan kebahagiaan yang akan mereka terima dari kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita berbicara melampaui konteks kehidupan di dunia ini, maka bisa dikatakan bahwa makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya di dunia-dunia yang lain juga tidak akan mendapat bahaya dari kita jika kita mengembangkan kesabaran dan welas asih. Jika kita berhenti menyakiti orang lain dengan mengembangkan pikiran yang sabar dan berwelas asih, maka dari kehidupan ke kehidupan, makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya akan menerima kedamaian dan kebahagiaan dari kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, semua kedamaian dan kebahagiaan inilah yang bisa kita hasilkan, yang dimulai dari keluarga kita, kemudian negara kita, kemudian dunia ini, dan akhirnya semua makhluk hidup di seluruh alam semesta. Kita bisa menawarkan ini karena kita melatih kesabaran dan welas asih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang tertentu yang memiliki kemarahan terhadap kita, yang merugikan kita, takkan kita balas dengan kemarahan yang sama jika kita mengembangkan kesabaran dan welas asih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siapa yang membantu kita mengembangkan kualitas yang luar biasa dan tak ternilai ini di dalam diri kita? Siapa yang membantu kita mengembangkan kualitas ini sehingga akhirnya kita bisa memberi kedamaian dan kebahagiaan bagi semua makhluk hidup? Mereka yang memiliki kemarahan terhadap kita, yang menyiksa kita, yang merugikan kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka memberi kita kesempatan dan membantu kita untuk menghasilkan kualitas yang tak ternilai ini di dalam batin, sehingga kita akhirnya dapat menawarkan semua kedamaian dan kebahagiaan ini kepada makhluk hidup lain yang tak terhitung jumlahnya dari kehidupan ke kehidupan. Oleh karena itu, mereka sangat berharga. Tidak ada ucapan terima kasih yang dapat mengungkapkan perasaan syukur kita atas hal ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tak perlu berbicara tentang kehidupan mendatang. Dalam kehidupan saat ini saja, kita dapat menawarkan begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan melalui kesabaran dan welas asih kepada keluarga dan negara kita dan seluruh dunia. Kita bisa membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan kepada mereka. Itu sangat luar biasa. Itu akan mencapai tujuan hidup kita. Itulah arti sebenarnya dari kehidupan, sesuatu yang membuat hidup menjadi berharga.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semuanya karena kebaikan dari orang yang telah marah kepada kita, yang merugikan kita. Karena kemarahan dan tindakan buruk mereka, kita diberi kesempatan untuk melatih batin kita, untuk melatih kesabaran dan welas asih, untuk menawarkan begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan kepada dunia, kepada makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya katakan sebelumnya bahwa tiadanya bahaya itu sendiri adalah kedamaian dan kebahagiaan. Kemudian selain itu, kita menawarkan pelayanan kepada orang lain, jadi ada tambahan kebahagiaan dan kedamaian. Ini semua karena kebaikan musuh kita. Oleh karena itu, melatih batin dengan orang tersebut membantu kita memiliki kedamaian dan kebahagiaan dalam keluarga dan kehidupan kita. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua ini adalah jawabannya. Inilah yang bisa kita lakukan untuk membantu dunia. Semuanya berasal dari pihak kita, yang tidak ingin membahayakan dunia dan penghuninya terlebih dahulu. Mulai satu per satu, dengan satu manusia atau dengan binatang yang paling dekat dengan kita. Dari sini, kita bisa berkembang lebih dan lebih, untuk membawa kebahagiaan kepada orang lain, untuk tidak menyakiti orang lain, dan untuk memberi mereka kebahagiaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk melakukan semua itu, kita perlu mengubah batin  kita. Kita perlu mengubah kemarahan menjadi kesabaran, menjadi welas asih bagi orang lain. Apa yang dikatakan Shantidewa sangat benar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalau kita tidak memiliki kemarahan, maka ke mana pun kita pergi – Timur atau Barat, di rumah atau di luar, di kantor, ke mana pun kita pergi &#8211; kita tidak dapat menemukan musuh. Sebaliknya, dengan memiliki kemarahan, kita akan menemukan musuh di mana pun kita berada. Bahkan di pusat meditasi, bahkan di sebuah biara, bahkan di dalam gua sekali pun, kita akan menemukan musuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika kita memiliki kemarahan terhadap seseorang, kita melihat orang itu sebagai sosok yang sangat tidak diinginkan. Kita tidak menyukai orang itu; ia adalah seseorang yang tidak ingin kita lihat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi pada momen berikutnya, ketika kita memikirkan kebaikan orang itu – yang telah memungkinkan kita untuk melatih kesabaran dan welas asih – kita akan melihatnya dengan cara yang benar-benar berlawanan dari sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang ini sebelumnya tidak diinginkan; kita tidak ingin melihatnya. Ia tidak diinginkan. Tapi sekarang, ia adalah orang yang paling berharga dan paling baik. Tidak ada ucapan terima kasih yang cukup untuk membalas kebaikannya. Ia lebih baik daripada seseorang yang memberi kita satu miliar dolar atau satu juta dolar. Kebaikan miliknya berbeda. Kebaikannya adalah sesuatu yang kita rasakan sangat mendalam di hati kita. Sekarang, ia menjadi sangat berharga; ia adalah seseorang yang harus kita miliki dalam hidup kita. Kita merasa sangat berbeda dari sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang, kita bisa melihat bahwa tidak ada musuh; tidak ada musuh yang ada secara inheren. Orang lain tidak berubah. Kitalah yang mengubah batin kita; orang lain tidak berubah. Masih ada kemarahan orang itu di sana. Jika tidak, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk melatih kesabaran. Jika batin orang lain berubah terhadap kita, jika ia menghentikan kemarahannya, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kesabaran kita. Jadi sebenarnya, di mana pun kita berada, kita tidak memiliki musuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika teman-teman kita tidak marah kepada kita, jika teman-teman kita mencintai kita, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk melatih kesabaran dengan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua makhluk hidup datang dalam tiga cara: baik sebagai teman, musuh, atau orang asing. Makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya adalah musuh, atau orang asing, atau teman. Jika makhluk hidup adalah orang asing, maka juga tidak ada kesempatan untuk melatih kesabaran dan menenangkan kemarahan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pikirkan, &#8220;Di negara ini, di dunia ini, di antara makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya – mereka yang tercerahkan dan belum tercerahkan, mereka yang terbebas dari penderitaan dan tidak terbebas dari penderitaan, para makhluk biasa – mereka yang memiliki kemarahan terhadap saya adalah satu-satunya yang memberi saya kesempatan untuk mengembangkan batin saya, untuk menguntungkan semua makhluk hidup di seluruh dunia. Inilah satu-satunya pihak yang memungkinkan saya menjinakkan batin saya.&#8221;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, orang ini menjadi sangat berharga. Ketika kita melihat kebaikan musuh, kita tidak ingin musuh menderita; kita ingin membebaskan musuh dari penderitaan. Welas asih pun muncul untuk musuh kita. Ini hanya satu contoh. Jika kita bisa mengembangkan welas asih kepada musuh kita, maka akan mudah untuk mengembangkannya kepada orang asing atau teman. Akan sangat mudah untuk mengembangkan welas asih kepada mereka. Yang paling sulit adalah mengembangkan welas asih kepada musuh.</span></p>
<p><em>diterjemahkan oleh: Deny Hermawan</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
