Jataka – Mala

Kisah – kisah kelahiran lampau Pangeran Siddhartha sebelum ia meraih pencerahan dan menjadi Buddha adalah salah satu pilar utama dalam ajaran Buddha, sekaligus juga yang paling inspiratif dan mudah diakses oleh khalayak ramai. Kumpulan kisah ini bisa dinikmati oleh generasi sekarang berkat ketelatenan guru-guru besar di masa lampau yang telah mencatat dan merekam harta karun teladan kehidupan ini dalam berbagai tradisi (sedikit di antaranya yang paling terkenal adalah Jatakamala versi kanon Pali dan versi Aryasura).

Sebagai salah satu mahakarya klasik dalam Buddhisme, Jatakamala edisi pertama bisa ditelusuri jejaknya hingga abad ke-4 SM. Sejak saat itu, keagungan kitab ini telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk pula Indonesia. Inspirasi yang termaktub di dalamnya disajikan dengan gamblang oleh monumen Buddhis teragung di dunia, Borobudur, yang meluangkan tak kurang dari 300-an panil candinya untuk menggambarkan Jatakamala, untuk melukiskan budi pekerti dari sosok agung bernama Buddha.

Dalam konteks ini – Jatakamala sebagai warisan tak ternilai bagi umat manusia – Penerbit Saraswati berupaya memastikan bahwa ajaran yang berharga ini bisa terus lestari sepanjang masa. Buku yang tersaji di hadapan sidang pembaca sekalian adalah upaya rendah hati dari penerbit untuk mencapai tujuan besar ini.

Kisah-kisah yang terdapat dalam buku ini dicuplik dari Jatakamala yang disusun oleh Marie Mesaeus-Higgins, dengan judul asli Jataka Mala Or a Garland of Birth Stories. Versi Mesaeus-Higgins terdiri dari 2 bagian: 30 bab yang menuturkan kumpulan kelahiran lampau Buddha dan 14 bab yang mengisahkan kehidupan Buddha ketika beliau terlahir sebagai Siddhartha. Dalam kesempatan kali ini, penerbit berupaya memilih 10 kisah terbaik dari kelahiran lampau Buddha, kisah-kisah yang secara subjektif dianggap paling inspiratif dan menggugah.

Kisah ke-1, Kisah Burung yang Tidak Bisa Terbakar, mengajarkan bahwa kebenaran pada akhirnya akan selalu menang melawan keburukan. Kisah ke-2, Kisah Kerbau, mengajarkan bahwa penyabar adalah pemenang sejati dalam setiap perhubungan dengan pihak lain. Kisah ke-3, Kisah Rusa-Kuru, mengajarkan bahwa menolong pihak lain harus dilakukan dengan mantap dan tanpa pamrih, dan bahkan dengan risiko bahwa yang ditolong kelak akan membalas air susu dengan air tuba. Kisah ke-4, Kisah Angsa Emas, mengajarkan arti penting persahabatan, bagaimana seseorang bersedia menerjang ajal demi sahabat yang dikasihinya. Kisah ke-5, Kisah Gajah Putih, mengajarkan bahwa pengorbanan adalah nilai tertinggi dalam perikehidupan kita. Kisah ke-6, Kisah Ummadayanti, mengajarkan bahwa kepentingan bersama harus selalu ditempatkan di atas kepentingan pribadi. Kisah ke-7, Kisah Sutasoma, mengajarkan bahwa mereka yang mengejar pengetahuan takkan bisa ditakut-takuti oleh marabahaya macam apa pun. Kisah ke-8, Kisah Maitribala, mengajarkan bahwa anggota tubuh dan nyawa patut untuk dikorbankan demi membuka jalan pertobatan bagi pihak yang jahat. Kisah ke-9, Kisah Mahabodhi, mengajarkan bahwa kebijaksanaan adalah pelita untuk menapaki kehidupan di dunia. Kisah ke-10, Kisah Vessantara, yang merupakan kisah terakhir sekaligus terpanjang, adalah salah satu kisah Jataka yang paling populer. Dalam kisah ini, kita bisa menemukan kualitas kesabaran, kebijaksanaan, pengorbanan, dan yang terpenting, kualitas sebagai manusia biasa. Kualitas terakhir ini seolah ingin mengingatkan bahwa kita, para manusia biasa, juga bisa mengikuti teladan kehidupan Buddha.

Pada akhirnya, nyaris tak perlu dinyatakan bahwa sudah menjadi niat penerbit agar kelak bisa menerbitkan seluruh kisah kelahiran lampau Buddha secara lengkap. Terlepas dari niat ini, penerbit setulusnya berharap bahwa edisi Jatakamala kali ini bisa berkontribusi bagi pemeliharaan dan penyebaran ajaran Buddha, dan semoga sidang pembaca sekalian bisa memetik manfaat, sekecil apa pun itu, dari membaca dan merenungi buku ini

Anda dapat memperoleh buku ini melalui:

Kabar Dharma

Google Play Book

Tokopedia

WhatsApp us