<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sejarah - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Nov 2024 10:52:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.17</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>sejarah - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Terima Kasih: Warisan Budaya Tak Benda yang Masih Terkubur</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Nov 2024 19:41:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9534</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ilmu terima kasih warisan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Muara Jambi seharusnya bisa dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui dunia.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/">Terima Kasih: Warisan Budaya Tak Benda yang Masih Terkubur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/">Terima Kasih: Warisan Budaya Tak Benda yang Masih Terkubur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Johnson</p>



<p>Berdasarkan pengertian dari UNESCO, <a href="https://ich.unesco.org/en/home">Warisan Budaya Tak Benda (<em>Intangible Cultural Heritage</em>)</a> adalah merujuk pada tradisi-tradisi dan budaya hidup yang diwariskan secara turun-temurun dari para leluhur kepada generasi-generasi selanjutnya, termasuk namun tidak terbatas pada: transmisi lisan, seni-seni pertunjukan, praktik-praktik sosial, ritual, festival-festival tertentu, pengetahuan, dan berbagai praktik lainnya yang berkaitan dengan lingkungan dan alam semesta, serta termasuk pula pengetahuan dan keahlian-keahlian untuk menghasilkan suatu karya tradisional tertentu. Ribuan karya budaya tak benda telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang dikelola oleh Pemerintah Indonesia. Lebih jauh lagi, bahkan terdapat 13 warisan budaya tak benda tersebut yang telah diakui dan dilindungi oleh UNESCO, antara lain seperti: kesenian wayang, batik, tari Saman, dan sebagainya, di mana jamu merupakan warisan budaya tak benda terbaru yang diakui oleh UNESCO di tahun 2023.</p>



<p>Hingga akhir tahun 2023, tercatat ada 1.941 karya budaya tak benda yang telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang dikelola oleh Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Di tahun 2024 ini pun tercatat ada 272 karya budaya tak benda yang baru yang sedang dalam proses penetapan oleh Kemdikbud.</p>



<p>Terlepas dari semua itu, sayang sekali bahwa hingga saat ini belum ada sama sekali upaya ke arah tersebut untuk apa yang disebut sebagai &#8220;<a href="https://www.youtube.com/live/CAuIn5qz_DM?si=RaDd9Qcu11gwJTOK">ilmu terima kasih</a>&#8221; yang telah diwariskan oleh <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Sriwijaya</a> sejak abad ke-10 Masehi dan masih lestari hingga saat ini.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-683x1024.jpg" alt="" class="wp-image-9537" width="512" height="768" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-683x1024.jpg 683w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-200x300.jpg 200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-768x1152.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-1024x1536.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-1365x2048.jpg 1365w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-150x225.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-450x675.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-1200x1800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-600x900.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/Guru-Suwarnadwipa-Dharmakirti-scaled.jpg 1707w" sizes="(max-width: 512px) 100vw, 512px" /><figcaption>Guru Suwarnadwipa Dharmakirti terlupakan di negeri sendiri, tapi malah diabadikan dalam bentuk lukisan religius Tibet</figcaption></figure></div>


<p>Pada periode sekitar abad ke-10, Sriwijaya menjadi sebuah pusat kebudayaan yang sangat masif di dunia. Musafir-musafir dari berbagai belahan dunia datang dan mampir di Sriwijaya, baik untuk belajar bahasa maupun belajar ilmu-ilmu filsafat dan ilmu keagamaan. Salah satu ilmu pamungkas Guru Suwarnadwipa ketika itu adalah apa yang disebut sebagai instruksi untuk berlatih membangkitkan batin altruistik sejati (bodhicita). Bahkan banyak sekali pandita besar dari India yang datang ke Sriwijaya semata-mata untuk mendapatkan ilmu tersebut dari Guru Suwarnadwipa. Termasuk di antaranya adalah Guru Atisha, seorang pandita besar dari Bengal, India, yang kemudian menjadi sangat terkenal karena membawa ilmu tersebut dan <a href="https://lamrimnesia.org/2020/01/20/dari-mana-datangnya-lamrim/">menyebarkannya secara luas di Tibet</a>.</p>



<p>&#8220;Altruisme&#8221; sendiri sebenarnya adalah sebuah istilah yang cukup baru, yang dipopulerkan oleh seorang filsuf Perancis, Auguste Comte di abad 18 Masehi, sebagai lawan kata dari &#8220;egoisme&#8221;. Istilah tersebut diambil beliau dari kata &#8220;alteri&#8221; dari bahasa Latin yang berarti &#8220;orang lain&#8221;. Jadi altruisme ini merupakan sebuah prinsip untuk mementingkan kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaan diri sendiri. Hingga sekarang, konsep altruisme ini telah menjadi sebuah topik studi yang sangat besar di dalam tataran ilmu psikologi modern.</p>



<p>Meskipun belum dikenal dengan istilah &#8220;altruisme&#8221; ketika itu, prinsip mementingkan kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaan diri sendiri telah diajarkan oleh Buddha sejak abad ke-6 SM. Ini bahkan menjadi topik pelajaran utama yang diajarkan oleh Buddha yakni bahwa: kebahagiaan sejati dikatakan baru bisa dicapai ketika seseorang telah terbebas dari pandangan salah yang lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain. Sekilas terdengar seperti paradoks, bukan?</p>



<p>Namun, dewasa ini, orang-orang baru mulai memahami hal tersebut dan menyebutnya sebagai Paradoks Kebahagiaan, yakni bahwa ketika kita semakin mengejar kebahagiaan untuk diri kita sendiri maka kita akan semakin menderita dan sebaliknya ketika kita berusaha untuk memberikan kebahagiaan kepada orang lain maka justru kita akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih bernilai tinggi dan bertahan lama. Penelitian di tahun 1980 oleh Hunter &amp; Linn menunjukkan bahwa orang-orang yang senang membantu dan berderma cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi dan bahkan memiliki tingkat depresi yang sangat rendah ketika mereka tua. Penelitian-penelitian lebih lanjut (antara lain: Moen et al. 1992, Musick MA &amp; Wilson J., 2003, Otake et al. 2006 dan sebagainya) bahkan menemukan bahwa aktivitas kebaikan hati, misalnya menjadi sukarelawan (<em>volunteerism</em>) dan sebagainya dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan dan kesehatan mental seseorang, menurunkan risiko terkena penyakit, dan bahkan dapat menurunkan tingkat kematian hingga 44%.</p>



<p>Demikian pulalah yang diajarkan oleh Guru Suwarnadwipa dan menjadi harta yang dicari-cari oleh para musafir dunia. Ada dua instruksi utama yang diwariskan oleh Guru Suwarnadwipa, yakni: 1) Instruksi Tujuh Tahap Sebab Akibat, dan 2) Instruksi Menyetarakan serta Menukar Diri. Esensi dari kedua instruksi ini adalah serangkaian tahapan latihan meditatif yang dapat membuat orang memiliki sifat altruistik sejati, yakni: mengambil penderitaan orang lain untuk diri sendiri dan&nbsp; memberikan kebahagiaan diri sendiri kepada orang lain. Kedua aspek <a href="http://2-ubah-hidup-dengan-warisan-spiritual-wellness-sriwijaya/">latihan meditatif</a> inilah yang kemudian tercermin dalam sebuah kata: &#8220;Terima Kasih&#8221; yakni: MENERIMA penderitaan orang lain dan MENGASIHKAN kebahagiaan kita kepadanya.</p>



<p>Konsep berterima kasih juga dapat diamati dalam berbagai budaya dan bahasa di dunia. Sebagai contoh, asal kata &#8220;thank you&#8221; dalam bahasa Inggris dapat ditelusuri hingga ke abad ke-13 dan memiliki korelasi dengan kata &#8220;<em>think/thought</em>&#8221; yang berarti berpikir/pemikiran. Jadi mengucapkan &#8220;thank you&#8221; memiliki konotasi &#8220;saya memiliki pemikiran yang baik untuk Anda&#8221;.&nbsp; Kata &#8220;<em>merci</em>&#8221; dalam bahasa Perancis berasal dari istilah dalam bahasa Latin yang bermakna &#8220;pembayaran dan membalas budi&#8221;. Kata &#8220;<em>grazie</em>&#8221; dalam bahasa Italia dan kata &#8220;<em>gracias</em>&#8221; dalam bahasa Spanyol berasal dari istilah lain dalam bahasa Latin yang bermakna &#8220;bersyukur&#8221;. Kata &#8220;<em>obrigado</em>&#8221; dalam bahasa Portugis juga berasal dari bahasa Latin &#8220;<em>obligo</em>&#8221; yang bermakna &#8220;saya berutang/memiliki suatu kewajiban kepada Anda&#8221;. Kata &#8220;<em>arigato</em>&#8221; dalam bahasa Jepang dapat ditelusuri dari dua kata yang bermakna &#8220;sesuatu yang sulit diperoleh&#8221;, jadi terima kasih dalam bahasa Jepang pada dasarnya mengandung makna bahwa &#8220;Anda telah melakukan sesuatu yang sangat sulit/langka&#8221;.</p>



<p>Semua makna kata berterima kasih yang terkandung secara lintas bahasa di atas pun terangkum secara sangat lengkap di dalam instruksi yang diajarkan oleh Guru Suwarnadwipa. Dalam bahasa yang dipermudah, Guru Suwarnadwipa mengajarkan bahwa:&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>Pertama-tama, berlatihlah menyeimbangkan batin terlebih dahulu dalam melihat tiga jenis orang, yakni:&nbsp; yang kita cintai, yang kita musuhi dan yang tidak kita kenal;<br>Kemudian, kenalilah mereka semua sebagai orang yang telah berjasa sangat besar kepadamu;<br>Ingat kembali apa saja jasa orang-orang tersebut kepadamu;<br>Bangkitkan keinginan untuk membalas jasa mereka;<br>Lihatlah semua orang sebagai orang yang terkasih dan berikanlah kebahagiaan kepada mereka (&#8220;KASIH&#8221; kebahagiaanmu kepada mereka);<br>Kasihanilah mereka dan ambil penderitaan mereka (&#8220;TERIMA&#8221; penderitaan mereka);<br>Jadikan sebagai komitmen pribadi untuk bertanggung jawab terhadap semua orang;<br>Jadikan praktik altruistik ini sebagai praktik utama sehari-hari yang berkesinambungan.&nbsp;</em></p></blockquote>



<p>Semua ini tentu saja merupakan sebuah instruksi latihan yang sangat komprehensif dan harus dilatih secara bertahap dan intensif. Psikologi modern bahkan telah mulai mengadaptasi ilmu kuno ini menjadi berbagai metode untuk mengatasi permasalahan manusia khususnya yang terkait dengan kesehatan mental (<em>mental wellness</em>).</p>



<p>Instruksi ini tercatat dalam karya-karya asli Guru Suwarnadwipa, antara lain di dalam teks yang berjudul <strong>&#8220;Tujuh Poin Latihan Batin&#8221;</strong> yang disusun oleh beliau di tanah Sriwijaya. Lebih lanjut, di abad ke-15, ilmu ini juga pernah tercatat pada sebuah kitab yang berjudul <strong><a href="https://www.tokopedia.com/lamrimnesiastore/latihan-batin-laksana-sinar-mentari-sebuah-instruksi-hati?extParam=whid%3D2964574%26src%3Dshop">&#8220;Latihan Batin Laksana Sinar Mentari&#8221;</a></strong> yang disusun oleh Je Tsongkhapa Lobsang Dragpa dan Namkha Pel di Tibet. Di abad modern ini, ilmu ini juga mulai diadaptasikan ke dunia sekuler oleh Thubten Jinpa, Ph.D. menjadi sebuah program bernama <strong><a href="https://www.compassioninstitute.com/cct/">Compassion Cultivation Training (CCT)</a></strong> di Stanford University, Amerika Serikat, dan telah memberikan manfaat yang luar biasa besar bagi banyak orang.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-9536" width="768" height="512" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/11/HIM_0342-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption><a href="https://www.youtube.com/watch?v=zno6uqXlW2Q&amp;t=21s">Workshop Meditasi &#8220;Terima Kasih&#8221;, Resep Wellness Warisan Sriwijaya di Indonesia World Tourism &amp; Cultural Festival 2022</a></figcaption></figure></div>


<p>Namun, sayangnya, Indonesia sendiri sepertinya belum berhasil menggali kembali harta yang yang masih terkubur ini. Padahal, dipercaya bahwa ilmu inilah yang telah dipraktikkan oleh leluhur bangsa Indonesia sejak dahulu kala sehingga orang-orang Indonesia sampai sekarang pun dikenal sebagai orang yang sangat ramah, murah senyum, suka menolong, dan berbudi luhur.</p>



<p>Tanggung jawab pelestarian warisan budaya tak benda ini tidak hanya terletak pada pundak pemerintah, tapi juga pada komunitas, masyarakat dan juga individu, karena terdapat dua cara untuk melestarikan ilmu seperti ini. Yang pertama adalah pencatatan, penyimpanan dan penetapan secara kelembagaan untuk menjamin keberlangsungan informasi perihal adanya ilmu ini. Yang kedua dan tak kalah penting adalah melestarikannya dalam kesinambungan batin para individu yang mewarisinya, yakni bangsa Indonesia ini sendiri, agar &#8220;ilmu terima kasih&#8221; benar-benar hidup dalam benak dan menjadi watak bangsa yang besar ini.&nbsp;</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/">Terima Kasih: Warisan Budaya Tak Benda yang Masih Terkubur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/03/warisan-budaya-muara-jambi/">Terima Kasih: Warisan Budaya Tak Benda yang Masih Terkubur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bhinneka Tunggal Ika Warisan Buddhis Indonesia</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/09/03/bhinneka-tunggal-ika-warisan-buddhis-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2021 10:14:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Bhinneka Tunggal Ika]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicita]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sriwijaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sutasoma]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6256</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dengan menelusuri Jataka dan bodhicita yang melandasi Kakawin Sutasoma, kita bisa menemukan kembali makna sejati Bhinneka Tunggal Ika, warisan peradaban Buddhis Nusantara.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/09/03/bhinneka-tunggal-ika-warisan-buddhis-indonesia/">Bhinneka Tunggal Ika Warisan Buddhis Indonesia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/09/03/bhinneka-tunggal-ika-warisan-buddhis-indonesia/">Bhinneka Tunggal Ika Warisan Buddhis Indonesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Samantha J.</p>



<p>“Bhinneka Tunggal Ika”, “Kebhinnekaan”, dan “Toleransi” adalah jargon yang banyak muncul ketika kita membahas negara kita tercinta, Republik Indonesia. Apalagi kita baru-baru merayakan Hari Kemerdekaan. Jargon ini semakin sering diulang-ulang. Namun, apakah kita benar-benar tahu maknanya dan menerapkannya dalam keseharian kita?</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/wB7gOPDLsQntF7r1p9CQvFB9EvUV0smqMyofBG7Z_Udkm75GULDqNquhz6kuoux2QIM2u41xthJYL4DP4E47LS8XqbnQG_KN9SjASg9gYUxwBcNffgUIpM-NIUh4NTWlv39-n8eF=s0" alt=""/></figure></div>



<p class="has-text-align-center"><em>Jargon “Kepak Sayap Kebhinnekaan” dari salah satu politisi Nusantara berujung jadi guyonan netizen</em></p>



<p>Agar bisa benar-benar memahami esensi dari “Bhinneka Tunggal Ika”, saya rasa kita tidak seharusnya berhenti pada definisi harfiah “berbeda-beda tapi satu jua”. Toh meski kita sudah dicekoki dengan definisi itu sejak SD sampai sekarang, kenyataannya masih ada yang demo melarang pendirian gereja atau malu-malu beribadah karena “takut menyinggung mayoritas”. Kita perlu mengupas lebih dalam sejarah istilah “Bhinneka Tunggal Ika” itu sendiri dan konsep luar biasa yang melatarbelakanginya; sebuah konsep penting dalam Buddhisme yang dulu merupakan inti praktik penghuni Nusantara zaman dahulu kala, yaitu <strong>bodhicita</strong>.</p>



<h4><strong>Kakawin Sutasoma &amp; Jataka Mala</strong></h4>



<p>Kita semua tahu bahwa ungkapan “Bhinneka Tunggal Ika” berasal dari kitab atau Kakawin Sutasoma. Kitab ini ditulis oleh Mpu Tantular, seorang praktisi Buddhis dari Kerajaan Majapahit yang kala itu utamanya bercorak Hindu. Beliau mengadaptasi kisah-kisah dalam Jataka, salah satu literatur klasik Buddhis yang mengisahkan berbagai kehidupan lampau Sang Buddha saat masih berlatih mengumpulkan paramita sebagai Bodhisatwa.</p>



<p>Kisah jataka bisa ditemukan di berbagai kitab suci Buddhis. Di Kanon Pali atau Tipitaka dari tradisi Theravada, Jataka merupakan bagian dari Khuddaka Nikaya dalam Sutta Pitaka. Secara khusus, kitab Jataka yang dikenal di Nusantara dan dirujuk Mpu Tantular adalah Jataka Mala (Untaian Kisah Kelahiran) karya Aryashura seorang cendekiawan &amp; penyair Buddhis dari Biara Universitas Nalanda. Awalnya Aryashura bukan seorang Buddhis, namun Beliau menjadi yakin dengan validitas Buddhadharma saat bertemu dengan Aryadewa, murid dari filsuf besar dari abad ke-2 M, Arya Nagarjuna, di Nalanda. Aryashura pun mencurahkan seluruh realisasi Dharma sekaligus kepiawaiannya menggunakan kata-kata untuk menyusun Jataka Mala di akhir hidupnya.</p>



<p>Dalam kitab ini, terdapat 34 kisah Bodhisatwa, masing-masing kisah mencakup satu kehidupan Beliau sebagai manusia, hewan, atau makhluk-makhluk lainnya. Di kehidupan tersebut, Sang Bodhisatwa melakukan aktivitas mengagumkan yang melambangkan praktik kemurahan hati <em>(dana), </em>disiplin moral <em>(sila), </em>kesabaran <em>(ksanti), </em>upaya bersemangat <em>(viriya), </em>ketenangan batin <em>(dhyana), </em>dan kebijaksanaan <em>(prajna) </em>demi menolong makhluk lain.&nbsp;</p>



<p>Jataka Mala yang sarat nilai bajik ini sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya Nusantara berabad-abad sebelum Mpu Tantular menjadikannya inspirasi untuk menyusun Kakawin Sutasoma. Buktinya adalah ukiran Jataka Mala di Candi Borobudur yang didirikan sekitar abad ke-9 M dan masih bisa kita lihat hingga hari ini.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/snSP-B2s_PjP3ixJWx_M31DrZ3FSar6EZlhVMjWKAuMvLXVYJstTnZ4RgU_ZWMSbXkPIeBGWqKyVrRuY8lEkk7oIlCSV3L1-2TlpBGajxxkOZ_QJmIc5LSFQXs45jh0XHHZcKUfD=s0" alt=""/></figure></div>



<p class="has-text-align-center"><em>Relief Sutasoma di Candi Borobudur</em></p>



<h4><strong>Sutasoma Jataka</strong></h4>



<p>Mpu Tantular memilih Pangeran Sutasoma dari Sutasoma Jataka sebagai “tokoh utama” dalam kitab yang Beliau susun. Sutasoma Jataka mengisahkan kelahiran Bodhisatwa sebagai Pangeran Sutasoma yang merelakan dirinya ditumbalkan kepada raksasa oleh pemakan manusia bernama Kalmashapada demi menyelamatkan negerinya.</p>



<p>Ketika Pangeran Sutasoma ditangkap oleh Kalmashapada, Sang Pangeran tengah menerima pengajaran Dharma dari seorang Brahmana. Sebelum mempersilahkan Kalmashapada memakan dirinya, Pangeran memohon agar diberi waktu untuk membalas jasa Sang Brahmana yang telah memberinya bait Dharma nan berharga. Kalmashapada yang ingin menguji kejujuran Pangeran Sutasoma pun mengizinkannya pergi. Dia tahu bahwa Pangeran Sutasoma bisa jadi menggunakan kesempatan itu untuk kabur dan sudah siap menyergap, tapi ternyata Pangeran Sutasoma benar-benar kembali menyerahkan diri setelah selesai memberikan persembahan kepada gurunya.</p>



<p>Kejujuran dan keberanian Pangeran Sutasoma begitu menyentuh Kalmashapada sehingga ia tidak langsung memakan Sang Pangeran. Ia malah penasaran dengan ajaran macam apa yang diterima Sang Pangeran dari Brahmana hingga Beliau berani memohon pada raksasa yang terkenal bengis dan mampu menepati janjinya untuk kembali dan menjadi tumbal untuk raksasa.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/KrScun_qT7eatndtyHDNbjq-4xFUc9XaUwHhZ7e8FB5U3qgAkAI85R60qgKIRXhw4IdcSni37z5EE7918XGmY37Jjan_fYgElLsHH_SZ6_Zq_r3cbqON1Goqasv7DbP3ERtxz6J3=s0" alt=""/></figure></div>



<p class="has-text-align-center"><em>Ilustrasi Wayang Sutasoma</em></p>



<p>Dari titik itu, setelah memastikan ketulusan Kalmashapada yang ingin mendengarkan Dharma darinya, Pangeran Sutasoma pun memberikan bait Dharma yang mengubah hidup Kalmashapada. Ia menerima Pangeran Sutasoma sebagai gurunya, menghormatinya, berhenti memakan manusia dan melakukan kejahatan, serta mulai hidup sesuai dengan Dharma.</p>



<h4><strong>Adaptasi Mpu Tantular</strong></h4>



<p>Kisah dalam Kakawin Sutasoma tidak sama persis dengan isi Sutasoma Jataka. Mpu Tantular menggabungkan kisah Pangeran Sutasoma dengan beberapa kisah Jataka lain, misalnya Pangeran Maitribala yang mengorbankan diri menggantikan anak harimau yang hampir dimakan ibunya sendiri. Dalam Kakawin Sutasoma, kejadian ini menjadi bagian dari perjalanan Pangeran Sutasoma. Jadi, Pangeran Sutasomalah yang bertemu harimau betina kelaparan yang hendak memakan anaknya, lalu karena tergerak rasa welas asih yang tak tertahankan, mempersembahkan dirinya untuk dimakan agar anak harimau selamat.</p>



<p>Kisah Pangeran Sutasoma menaklukkan Kalmshapada si Pemakan Manusia dalam Sutasoma Jataka disampaikan kembali dengan sedikit berbeda oleh Mpu Tantular. Beliau mampu menyesuaikan penuturan Beliau agar bisa diterima oleh seluruh masyarakat Majapahit yang waktu itu kebanyakan terdiri atas penganut Buddhisme dan Siwaisme. Pangeran Sutasoma yang mewakili aspek Buddhis dikisahkan berinteraksi langsung dengan raksasa yang memerintahkan Purusada (nama Kalmashapada dalam Kakawin Sutasoma) mengumpulkan pangeran untuk ditumbalkan. Raksasa ini dikisahkan oleh Mpu Tantular sebagai Bhatara Kala dan mewakili aspek Siwaisme.</p>



<p>Kehadiran elemen Buddhisme &amp; Siwaisme dalam Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular inilah yang menyertai kemunculan ungkapan yang belakangan menjadi semboyan negara kita, yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/Qurkp0yyXZFFsiGoLk5a1jJgE4QzKQfVbbu7rili2LwTo77dVOrIk4wLhI6yRknwDfHYyXfXtv4QPcPTsKDUcg-YmGDW04p2fQ7i2xHpEgKny98pme47Kpsw2ptTNLeri8jSW3Ez=s0" alt=""/></figure></div>



<p class="has-text-align-center"><em>Kitab Lontar Sutasoma abad XIV karya Mpu Tantular</em></p>



<p>Ungkapan ini bisa ditemukan dalam Kakawin Sutasoma pada pupuh 139 bait 5:</p>



<p><em>Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa,</em><em><br></em><em>Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,</em><em><br></em><em>Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,</em><em><br></em><strong><em>Bhinnêka tunggal ika</em></strong><em> tan hana dharma mangrwa.</em></p>



<p>Terjemahan:</p>



<p><em>Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.</em><em><br></em><em>Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?</em><em><br></em><em>Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal</em><em><br></em><strong><em>Terpecahbelahlah itu, tetapi satu jugalah itu.</em></strong><em> Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.</em></p>



<h4><strong>Bodhicita, Esensi “Bhinneka Tunggal Ika”</strong></h4>



<p>Jika kita benar-benar memahami Jataka Mala dan Kakawin Sutasoma, kita pasti bisa melihat bahwa ungkapan “Bhinneka Tunggal Ika” dalam bait tentang kaitan Buddha dan Siwa ini membawa pesan yang sama dengan keseluruhan Kakawin Sutasoma maupun Jataka Mala.&nbsp;</p>



<p>Kita tahu Jataka berisi kisah perjuangan Bodhisatwa yang lahir dan mati berulang kali, menjalani ribuan kehidupan demi menyempurnakan diri agar bisa menjadi seorang Buddha demi mengakhiri penderitaan semua makhluk. Nah, apa yang menjadi “bahan bakar” utama yang mendorong Bodhisatwa untuk berjuang sedemikian kerasnya? Bahan bakar itu tak lain tak bukan adalah <strong>bodhicita, </strong>dan bodhicita inilah yang tergambar dari ungkapan “Bhinneka Tunggal Ika”.</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV dalam salah satu pengajaran Dharmanya pada pelajar Indonesia mendefinisikan bodhicita sebagai “sikap altruistik yang mementingkan makhluk lain”. Bodhicita juga dapat dipahami sebagai sebuah tekad luar biasa untuk secara aktif menolong semua makhluk agar bebas dari penderitaan.&nbsp;</p>



<p>Berkat adanya bodhicita, seorang makhluk yang biasa-biasa saja, penuh dengan sikap egois, tamak, dengki, dan berbagai kekurangan lainnya mampu menanggalkan sikap mementingkan diri sendiri dan berjuang menyempurnakan welas asih dan kebijaksanaan hingga menjadi Buddha&#8211;yang tersadarkan&#8211;agar bisa mempersembahkan kebahagiaan tertinggi pada semua makhluk tanpa terkecuali. Ketika telah merealisasikan bodhicita, makhluk itu pun menjadi seorang Bodhisatwa, tokoh utama dalam kisah-kisah Jataka. Dengan bodhicita, mereka sanggup melakukan tindakan dan pengorbanan luar biasa demi kepentingan makhluk lain yang digambarkan dalam Jataka.</p>



<p>Bodhicita ini adalah pintu memasuki Buddhisme Mahayana yang menjadi corak utama peradaban Buddhis Nusantara pada masa kejayaannya. Guru Atisha Dipamkara Srijnana, pandit besar dari India, berlayar selama belasan bulan ke Nusantara demi menerima ajaran tentang bodhicita yang pada masa itu hanya dimiliki oleh Guru Dharmakirti, seorang mahaguru yang berdiam di Suwarnadwipa. Selain Kakawin Sutasoma, banyak peninggalan sejarah lain seperti Prasasti Talang Tuo, Candi Borobudur, dan Kitab Sang Hyang Kamahayanikan yang mengandung konsep bodhicita. Jadi, dapat dikatakan bahwa bodhicita adalah ajaran khas Nusantara yang dipraktikkan oleh leluhur kita pada masa itu.&nbsp;</p>



<p>Kaitan langsung antara bodhicita dan ungkapan “Bhinneka Tunggal Ika” ada pada tahapan pertama cara membangkitkan bodhicita, yaitu melatih keseimbangan batin. “Keseimbangan” di sini artinya adalah memandang semua makhluk setara&#8211;sama-sama tidak mau menderita, sama-sama ingin bahagia, dan sama pentingnya. Mengembangkan bodhicita berarti secara aktif melatih diri untuk memandang semua makhluk, apapun sukunya, agamanya, warna kulitnya, bahkan spesiesnya, sebagai satu dan setara&#8211;sama-sama tidak mau menderita dan ingin bahagia. Bukankah ungkapan “Bhinneka Tunggal Ika” alias “Berbeda-beda tapi Satu Jua” sangat menggambarkan cara pandang tersebut?</p>



<p>Nilai luhur ini tentunya tidak hanya bermanfaat untuk Indonesia yang menjadikan “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai semboyan. Bagi kita sebagai individu, bodhicita mengikis sikap mementingkan diri sendiri yang merupakan akar penderitaan kita. Dengan kata lain, dengan mengembangkan bodhicita, kita akan semakin bahagia. Bagi dunia, ketika semua orang bisa melihat satu sama lain setara dan saling tolong-menolong, perdamaian dunia tentu akan tercipta.</p>



<h4><strong>Praktik Bodhicita, Praktik Bhinneka Tunggal Ika</strong></h4>



<p>Berangkat dari kaitan “Bhinneka Tunggal Ika” dan bodhicita yang baru saja dijabarkan, kita bisa menjawab pertanyaan tentang bagaimana “Bhinneka Tunggal Ika” seharusnya dipraktikkan. Jawabannya bisa kembali kita temukan di Kakawin Sutasoma dan Jataka Mala, yaitu dengan berperilaku seperti Bodhisatwa Sutasoma yang setiap tindakannya berlandaskan pada bodhicita.</p>



<p>Menilik dari sejarahnya, Kakawin Sutasoma adalah kitab pemersatu Nusantara di bawah bendera Majapahit pada masa itu. Kitab ini juga disusun sebagai harapan agar raja pada saat itu dapat memberikan manfaat lahir-batin bagi seluruh rakyatnya, tidak peduli apa agama yang mereka anut. Tidak mengherankan jika sosok Pangeran Sutasoma yang juga merupakan seorang penguasa dipilih secara khusus untuk menjadi teladan bagi para raja.&nbsp;</p>



<p>Selain mementingkan semua makhluk tanpa membeda-bedakan, Pangeran Sutasoma juga dikatakan memiliki 16 kebajikan yang menyerupai 16 fase rembulan, diantaranya berperilaku baik, terpelajar, murah hati, belas kasihan, kesabaran, kesederhanaan, dan sebagainya. Jika raja memiliki semua kualitas ini, tentu kerajaan yang ia pimpin akan sejahtera.</p>



<p>Meski kita bukan seorang raja atau presiden, kita juga merupakan “pemimpin”, setidaknya bagi diri kita sendiri. Lebih jauh lagi, karena Indonesia kini adalah negara demokrasi berkedaulatan rakyat, dapat dikatakan bahwa setiap warga negara punya peran dalam “memimpin” bangsa. Persatuan bangsa kita yang beraneka ragam ini juga tentunya ada di tangan kita sendiri. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak meneladani Pangeran Sutasoma dan menerapkan “Bhinneka Tunggal Ika” sebaik-baiknya.</p>



<p>Jika kita benar-benar ingin mengamalkan “Bhinneka Tunggal Ika” dalam hidup kita, kita harus bisa memandang semua orang yang berbeda-beda sebagai makhluk yang setara, sama-sama tidak mau menderita dan ingin bahagia. Dari situ, kita membangkitkan welas asih dan berempati pada mereka dan tidak melihat mereka sebagai “yang lain”, bahkan pada orang-orang yang tampaknya memusuhi atau mengancam kita.</p>



<p>Tidak berhenti di situ, kita juga harus menggunakan kebijaksanaan kita untuk memahami orang lain, sama seperti Pangeran Sutasoma yang senantiasa memimpin dan menolong orang lain dengan bijak. Ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita kenal atau berbeda dengan kita, kita perlu membuka mata. Adakah kesamaan antara mereka dengan kita? Adakah perbedaannya? Bagaimana cara terbaik untuk berkomunikasi dengan mereka?</p>



<p>Itulah yang dilakukan Pangeran Sutasoma saat berhadapan dengan berbagai situasi sulit&#8211;entah itu berhadapan dengan rakyatnya sendiri, harimau, atau bahkan dengan raksasa yang hendak memakannya. Beliau tidak gentar di hadapan orang yang terang-terangan mengancam dirinya seperti Kalmashapada. Beliau tetap teguh memegang prinsipnya, yaitu menghormati guru yang telah memberikannya Dharma serta menjunjung kepentingan makhluk lain di atas keselamatan dan kenyamanan pribadinya. Beliau juga tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut ataupun benci. Dari situ, Beliau bisa membuat Kalmashapada menghormati dan bahkan belajar darinya.</p>



<p>Kita memang belum menjadi makhluk agung sekelas Pangeran Sutasoma. Namun, dengan welas asih yang tulus, kebijaksanaan memahami perbedaan, dan keteguhan memegang prinsip, kita seharusnya bisa tetap saling belajar dengan orang-orang yang berbeda dengan kita dan menjalin hubungan kokoh yang diwarnai sikap saling menghormati dan menghargai antara satu sama lain. Pangeran Sutasoma saja bisa menjalin hubungan dengan raksasa yang tadinya ingin memakannya, masa kita tidak bisa menjalin hubungan dengan saudara-saudara kita yang hanya beda agama, suku bangsa, atau pendapat di media sosial?</p>



<p>Perbaikan cara pandang yang didorong oleh bodhicita tentunya juga membawa kita pada konsep lain yang tak kalah agung, yaitu <em>ahimsa</em> atau “tanpa kekerasan”. Ketika kita bisa melihat makhluk lain setara dengan diri kita sendiri, kita tentu tidak akan tega melihat mereka menderita, apalagi sampai menyakiti mereka secara langsung. Rasanya akan sama seperti kita menyakiti diri sendiri. Begitu pula Pangeran Sutasoma memilih untuk mengorbankan dirinya untuk dimakan alih-alih berperang. Dengan cara yang sama, ketika kita benar-benar meresapi “Bhinneka Tunggal Ika” sampai ke makna terdalamnya, kita akan berhenti menyakiti siapapun dan bisa hidup damai tanpa kekerasan.</p>



<h4><strong>Cita-Cita yang Belum Terwujud</strong></h4>



<p>Setelah membahas tentang cara “Bhinneka Tunggal Ika” seharusnya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, sekarang saatnya kita kembali ke realita. Apakah semboyan ini sudah benar-benar direalisasikan sebagaimana mestinya?</p>



<p>Meski jargon “toleransi” dan “Bhinneka Tunggal Ika” terus diserukan berulang kali, disertai dengan pertunjukan formalitas seperti parade tari dan baju adat atau kewajiban menggunakan sapaan enam agama di acara resmi, kenyataannya diskriminasi masih ada di sana-sini. Orang-orang Papua masih sering dibatasi aktivitasnya gara-gara label “pemalas”, “pemabuk”, atau “terbelakang”. Orang-orang Tionghoa masih sering dianggap orang asing walau sudah berabad-abad hidup di Indonesia baik dalam perlakuan langsung atau dalam pembuatan dokumen negara. Pendirian rumah ibadah dari agama yang berbeda dengan agama mayoritas setempat dipersulit. Trauma masa lalu pun membuat kelompok minoritas menundukkan kepala dan berpura-pura “sama” dengan mayoritas “toleransi”.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/dms9v8vTWdMaeGT1D15p0V8GN4oRIbnAHS-HoNBrL8XyGDZZRm-kLaitSJjZ6pXS__afaw6ty3ezoyeGjRBEPdFUlumPIjyi_qBRaL0HRZAjzPsXQWCcbB8XO7lPcuqgdG0DYF6r=s0" alt=""/></figure></div>



<p class="has-text-align-center">“Indonesia Nasrani” masuk kategori ras di aplikasi resmi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil </p>



<p>Minimnya pengetahuan terhadap esensi dari “Bhinneka Tunggal Ika” membuat masyarakat Indonesia cenderung menutup-nutupi perbedaan, bukan memahami perbedaan. Buktinya adalah yang terlihat berbeda seperti orang Papua dan orang Tionghoa masih mengalami diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, kelompok minoritas yang memilih untuk menyembunyikan perbedaannya membuat yang mayoritas salah kaprah tentang mereka, atau bahkan makin cemas. Kecemasan inilah yang menjadi bahan bakar bagi kelompok intoleran &amp; ekstremis untuk menyebarkan bibit kebencian dan membenarkan opresi terhadap kelompok lain. Jika keadaannya terus begini, tinggal tunggu waktu saja sampai Indonesia senasib dengan saudara-saudara kita di Afghanistan.</p>



<p>Praktik “Bhinneka Tunggal Ika” di Indonesia masih jauh dari sempurna. Namun, meski masih ada berbagai hambatan dan batasan, secara resmi kita masih memiliki kebebasan berpendapat yang jauh lebih baik dibanding 30 tahun silam. Sudah bukan waktunya kita menundukkan kepala dan membatasi “Kebuddhisan” kita yang sesungguhnya merupakan nilai kebaikan universal warisan nenek moyang kita untuk seluruh bangsa Indonesia. Umat Buddha sebagai penganut paham yang mendasari “Bhinneka Tunggal Ika” seharusnya memiliki tanggung jawab lebih untuk mendalami asal-usul dan makna terdalam di balik semboyan ini, mengamalkannya, dan memperkenalkannya kepada semua orang.</p>



<p>Agar kita bisa melakukan hal itu, kita tentu perlu semakin giat mengembangkan welas asih dan kebijaksanaan dalam diri kita. Jika kita tidak punya welas asih, kita tentu tidak akan tergerak untuk keluar dari zona nyaman demi terwujudnya “Bhinneka Tunggal Ika” di Indonesia. Tanpa kebijaksanaan, kita tentu tidak bisa benar-benar memahami semboyan junjungan kita ini, apalagi memperkenalkannya kepada orang lain. Namun, kita tidak bisa menunggu kedua hal tersebut sempurna baru mulai bertindak. Tidak ada jaminan toleransi palsu yang selama ini kita jaga mati-matian bisa bertahan selama itu!</p>



<p>Kita mungkin belum sekaliber Pangeran Sutasoma, tapi kita perlu berusaha untuk menumbuhkan barang satu persen bodhicita yang Beliau miliki untuk bisa melakukan tindakan “berbahaya” demi banyak makhluk seperti yang Beliau lakukan sambil terus melatih diri hingga mencapai kualitas yang Beliau miliki.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/09/03/bhinneka-tunggal-ika-warisan-buddhis-indonesia/">Bhinneka Tunggal Ika Warisan Buddhis Indonesia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/09/03/bhinneka-tunggal-ika-warisan-buddhis-indonesia/">Bhinneka Tunggal Ika Warisan Buddhis Indonesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membangkitkan Kembali Lintasan Peradaban Sriwijaya-Nalanda</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Aug 2017 05:20:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[nalanda]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sriwijaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3658</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanggal 8 Agustus 2017 lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bersama majalah Historia menyelenggarakan seminar bertajuk “Membangkitkan Kembali Lintasan Peradaban Sriwijaya-Nalanda” di gedung Kemendikbud RI, Jakarta. Acara ini dibuka oleh menteri luar negeri RI ke-15 dan anggota tim penasihat Nalanda University in India, Dr. Hassan Wirajuda, dan diisi oleh Dr. Andrea Acri dari Nalanda-Sriwijaya [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/">Membangkitkan Kembali Lintasan Peradaban Sriwijaya-Nalanda</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/">Membangkitkan Kembali Lintasan Peradaban Sriwijaya-Nalanda</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanggal 8 Agustus 2017 lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bersama majalah Historia menyelenggarakan seminar bertajuk “Membangkitkan Kembali Lintasan Peradaban Sriwijaya-Nalanda” di gedung Kemendikbud RI, Jakarta. Acara ini dibuka oleh menteri luar negeri RI ke-15 dan anggota tim penasihat Nalanda University in India, Dr. Hassan Wirajuda, dan diisi oleh Dr. Andrea Acri dari Nalanda-Sriwijaya Center dan Prof. Agus Munandar dari Universitas Indonesia.</p>
<p>Seminar ini dibuka dengan <i>keynote speech </i>dari Dr. Hassan Wirajuda. Beliau menjelaskan sekilas tentang hubungan dekat antara Biara Universitas Nalanda dengan Kerajaan Sriwijaya sejak abad V Masehi. Beliau mengutip sebuah disertasi yang menyebut Atisha Dipankarasrijnana, penyusun teks akar lamrim <i>Bodhipatapradipa</i> dan reformis Buddhisme Tibet, pernah mengatakan bahwa mempelajari Buddhadharma tidaklah lengkap jika tidak belajar di Sriwijaya. Beliau juga mengatakan bahwa kini di situs reruntuhan Nalanda, khususnya di kompleks biara pertama yang dapat dikunjungi, kita dapat menemukan penanda yang menjelaskan bahwa kompleks biara tersebut merupakan sumbangan dari Raja Balaputradewa dari Sriwijaya.</p>
<p>“Nenek moyang kita itu biasa memberi,” kata Beliau.</p>
<p>Dr. Andrea Acri, peneliti dari Nalanda-Sriwijaya Centre sekaligus dosen di Nalanda University in India, membabarkan hasil risetnya mengenai hubungan intelektual antara Sriwijaya dan Nalanda. Selama ini, hubungan antarnegara atau kerajaan dalam sejarah yang diakui hanya yang bersifat materi seperti perdagangan atau pemberian upeti. Namun, berdasarkan bukti-bukti sejarah yang ada, ditemukan bahwa keterikatan antara Sriwijaya dan Nalanda melebihi sekedar materi. Ada pertukaran ilmu dan pemikiran serta hubungan religius, terbukti dengan adanya pertukaran pelajar filsafat Buddha, karya-karya sastra yang mirip namun memiliki ciri khas masing-masing negara, kesamaan tokoh istadewata serta detail arsitektur yang ditemukan di kedua negara. Menurut Dr. Acri, hubungan ini dapat dijadikan basis untuk mempererat hubungan Indonesia dan India di era ini dan membangkitkan kembali kerja sama intelektual yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu.</p>
<p>Terakhir, Prof. Agus Munandar membahas makna Kerajaan Sriwijaya di Nusantara. Peran Sriwijaya di Nusantara dapat dirangkum menjadi 5 poin: sebagai kerajaan maritim pertama di Nusantara, kerajaan pertama berlandaskan agama Buddha sekaligus salah satu pusat perkembangan agama tersebut, cikal-bakal nasionalisme yang terlihat dari penggunaan bahasa Melayu kuno dalam salah satu prasasti peninggalannya, satu-satunya kerajaan yang tercatat di dua sumber dari jauh (India dan Cina), serta pendukung kesenian bergaya Syailendra. Khususnya pada poin kedua, ditekankan bahwa Buddhadharma di Sriwijaya bukan hanya agama impor yang diikuti begitu saja oleh penduduk, melainkan menjadi sebuah ilmu filsafat yang dipelajari secara mendalam dan dikembangkan lebih jauh. Ini diperkuat oleh keberadaan kompleks biara Muaro Jambi, sebuah biara universitas dengan sistem serupa dengan Biara Universitas Nalanda yang merupakan pusat pendidikan agama Buddha terbesar pada zamannya. Dalam sistem tersebut, biksu-biksu menjadi filsuf yang mempelajari, merenungkan, dan memeditasikan Buddhadharma sehingga menghasilkan karya-karya yang membantu membawa pencerahan bagi orang banyak. Sistem yang sama ini dibawa kembali ke Tibet oleh Guru Atisha setelah berguru kepada Swarnadwipa Dharmakirti, pangeran Sriwijaya yang akhirnya menjadi guru Buddhis agung. Dengan kata lain, pengaruh Sriwijaya dalam hal pengembangan Buddhadharma amat penting dan tak tergantikan serta menjangkau amat jauh, melebihi India, Cina, hingga mencapai Tibet.</p>
<p>Seminar ini sungguh membuka wawasan mengenai betapa besarnya bangsa kita sejak zaman dahulu kala. Kita juga jadi mengetahui banyak sekali bukti yang mendapat penegasan bahwa Buddhadharma merupakan bagian dari warisan Nusantara. Sahabat-sahabat sedharma wajib berbangga akan fakta ini! (KC)</p>
<p>Foto-foto:</p>
<p>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/img-20170816-wa0005/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0005-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0005-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0005-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0005-336x336.jpg 336w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/img-20170816-wa0007/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0007-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0007-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0007-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0007-336x336.jpg 336w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/p_20170808_144039/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_144039-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_144039-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_144039-scaled-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_144039-scaled-336x336.jpg 336w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/p_20170808_151337/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_151337-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_151337-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_151337-scaled-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_151337-scaled-336x336.jpg 336w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/p_20170808_135055/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_135055-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_135055-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_135055-scaled-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_135055-scaled-336x336.jpg 336w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/p_20170808_154135/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_154135-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_154135-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_154135-scaled-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_154135-scaled-336x336.jpg 336w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/">Membangkitkan Kembali Lintasan Peradaban Sriwijaya-Nalanda</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/">Membangkitkan Kembali Lintasan Peradaban Sriwijaya-Nalanda</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 2)</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/07/31/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Jul 2017 09:56:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[#bhinneka]]></category>
		<category><![CDATA[#budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#ilovebhinneka]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3588</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>(Catatan: isi artikel ini merupakan opini dari sudut pandang narasumber non-Buddhis sehingga belum tentu sepenuhnya menggambarkan nilai-nilai Buddhis.) Dua agama dengan pengikut terbesar di Asia Tenggara adalah Islam dan Buddha. Dari total populasi 618 juta orang, 42 persen adalah Muslim dan 40 persen beragama Buddha. Lalu, 25 persen dari 1,6 miliar umat Muslim di dunia [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/07/31/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-2/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 2)</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/07/31/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-2/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 2)</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em>(Catatan: isi artikel ini merupakan opini dari sudut pandang narasumber non-Buddhis sehingga belum tentu sepenuhnya menggambarkan nilai-nilai Buddhis.)</em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dua agama dengan pengikut terbesar di Asia Tenggara adalah Islam dan Buddha. Dari total populasi 618 juta orang, 42 persen adalah Muslim dan 40 persen beragama Buddha. Lalu, 25 persen dari 1,6 miliar umat Muslim di dunia dan 38 persen dari 350 juta umat Buddha di dunia berada di Asia Tenggara. Namun, dialog antara dua agama ini sangat jarang terjadi sekarang ini. Untuk membahas permasalahan ini, anggota staf CRCS, Azis Anwar, mewawancarai Prof. Imtiyaz Yusuf, direktur Center for Buddhist-Muslim Understanding dari Mahidol University, Thailand. Beliau mendapatkan gelar Doktor di Temple University, tempat dia belajar di bawah bimbingan Ismail Raji al-Faruqi. Prof. Yusuf telah banyak menulis catatan ensiklopedia dan artikel-artikel harian, serta menjadi penulis tetap untuk surat kabar “Thai Newspaper”. Beberapa karyanya bisa diakses di akun academia.edu. Selama sesi antara di CRCS dari tanggal 15 Mei sampai 31 Juli, Prof. Yusuf mengajarkan mata kuliah Hubungan Muslim-Buddhis.</span></p>
<p><b>Bisakah Anda memberitahu kami secara singkat tentang sejarah umat Muslim di Thailand? Yang kebanyakan kami dengar hanyalah tentang Muslim Pattani.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Izinkan saya untuk bercerita sedikit tentang Pattani. Konflik Pattani pada dasarnya adalah antara orang Siam dan orang Melayu. Jika Anda pergi ke Pattani hari ini (dan saya tinggal selama 5 tahun di sana), mereka akan mengatakan bahwa mereka adalah orang Melayu yang berada di bawah orang Siam. Konflik terjadi antara dua kerajaan: kerajaan besar Siam dan kerajaan Pattani.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kini, secara historis di Siam, ada imigran Muslim dari Persia, India, dan sebagian Malaysia (Kedah dan Perlis). Saya membagi jenis Muslim di Thailand dengan cara berikut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di bagian selatan (Pattani, Yala, Narathiwat), yang dianeksasi oleh Siam sekitar 100 tahun yang lalu, penduduknya adalah Muslim berbahasa Melayu Thailand Selatan. Mereka mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Melayu dan tidak berbicara bahasa Thailand. Jadi, ada banyak lapisan dalam konflik Pattani: isu identitas etnis (Siam dan Melayu), bahasa (Thailand dan Melayu), dan agama. Masalah Pattani pada dasarnya adalah masalah dua identitas etno-religius.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di bagian selatan, ada orang Melayu; Muslim Thailand. Mereka adalah orang-orang dari Kedah dan Perlis yang bermigrasi ke Thailand karena alasan ekonomi; tidak ada perbatasan pada masa itu, dan mereka tidak memiliki kerajaan. Mereka datang ke Nakhon Sithammarat, Phuket, Phanga, Krabi, dll.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Bangkok, terdapat orang Persia, yang telah berada di sana selama 400 tahun, dari zaman Raja Narai (1633-1656). Juga ada Muslim Cham, yang bermigrasi dari Kerajaan Champa dan bekerja sebagai tentara Raja Chulalongkorn (1868-1910). Di Bangkok, ada daerah yang disebut Makkasan, dekat kedutaan Indonesia, di mana Muslim Makassar setiap tahunnya merayakan hari kelahiran Raja Chulalongkorn, karena dia memberi mereka perlindungan, dan karenanya mereka sangat berterima kasih kepadanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada daerah lain di Bangkok yang disebut Kampong Jawa, di mana orang Jawa bermukim. Jika Anda ingin makan makanan khas Jawa, pergilah ke sana. Anda tahu, salah satu putra Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah, salah satu organisasi Muslim terbesar di Indonesia) tinggal di Masjid Jawa di daerah ini. Orang ini datang bukan sebagai anak kyai; dia datang sebagai pembersih masjid. Perlahan, orang-orang tahu bahwa pria ini adalah putra Ahmad Dahlan. Dia kemudian memengaruhi beberapa pengusaha dan pembaharu Muslim Thailand terkemuka; salah satunya adalah ipar laki-laki saya, yang menerjemahkan Al-quran ke bahasa Thai.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penganut Salafi di Thailand (dan saya telah menulis makalah tentang ini) bukankah penganut Salafi-Wahhabi. Reformasi Salafi muncul di Bangkok pada tahun 1926 seiring dengan kedatangan seorang cendekiawan Muslim Indonesia bernama Ahmad Wahab, yang telah belajar di Mekah sebelum kembali ke Indonesia dan selanjutnya diasingkan ke Thailand. Ahmad Wahab diasingkan ke Thailand oleh otoritas Belanda karena keterlibatannya dengan gerakan reformis Muhammadiyah dan gerakan politiknya di Sarekat Islam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Bangkok, Ahmad Wahab, bersama-sama dengan Muslim Thailand yang berpikiran sama seperti Direk Kulsiriswad dan yang lainnya, membentuk asosiasi Ansorusunnah pada tahun 1930-an dan Jamiyatul Islam pada tahun 1950-an. Pengaruh religius dari kegiatan reformis Ahmad Wahab dalam Islam Thailand diperluas ke bagian utara dan selatan Thailand, yakni di kalangan Muslim berbahasa Thai Chiang Mai dan Chiang Rai di utara, serta Pak Prayoon di Provinsi Phatthalung dan Nakorn Sithammarat di selatan bagian atas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Bangkok, ada juga komunitas Muslim India, yang terdiri dari orang Kerala dan Tamil. Dan mereka juga datang pada zaman Raja Chulalongkorn.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang, mari kita naik lagi, ke timur laut Thailand. Di sini, Anda memiliki Muslim Pathan. Mereka datang dari Afghanistan. Mereka adalah penganut mahzab Hanafi. Mereka adalah pejuang atau tentara yang dibawa ke sana oleh Inggris. Ada banyak usaha peternakan di sana. Sebagian besar industri halal di Thailand ada di tangan Muslim Pathan ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang, kita pergi ke utara, ke Chiang Mai dan Chiang Rai. Di sana, Anda akan menemukan dua jenis Muslim. Mayoritas adalah Muslim Tionghoa yang berasal dari Yunan, bagian selatan Tiongkok. Mereka adalah bagian dari Partai Kuomintang, loyalis Sun Yat Sen, yang melarikan diri ke Taiwan. Saat Mao Tse Tung mulai berkuasa di Tiongkok, orang-orang Muslim ini pertama-tama melarikan diri ke Myanmar, dan kemudian ke Chiang Mai dan Chiang Rai. Mereka juga penganut mazhab Hanafi. Dan mereka adalah yang paling berkembang di antara komunitas Muslim di Thailand. Yang lainnya adalah orang Benggala, yang mencari penghidupan dan bermigrasi dari Bengal ke Myanmar, lalu ke Thailand.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang-orang sering memikirkan Pattani, sementara hanya ada 44% Muslim di Thailand yang tinggal di Pattani. Sisanya tersebar di seluruh negeri. Di parlemen terakhir dari pemilu 2007, kami memiliki 23 anggota parlemen Muslim, dan hanya 11 dari mereka yang berasal dari Pattani.</span></p>
<p><b>Bisakah kita mengatakan bahwa konflik Pattani adalah sebuah pemberontakan?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini adalah pemberontakan, seperti di Kashmir, Papua, Palestina; Dan ini adalah konflik etno-religius. Mereka adalah nasionalis. Mereka ingin identitas Melayu-Muslim mereka dikenali. Ada kaum separatis, tetapi kebanyakan hanya menginginkan otonomi. Pemimpin gerakan ini adalah Haji Sulong yang, pada masa Phibunsongkhram, menyampaikan tujuh tuntutan kepada pemerintah Thailand. Hanya satu dari tujuh tuntutan ini yang terkait dengan agama. Sisanya tentang identitas etnis, bahasa, pemerintahan, administrasi, dan tuntutan politik lainnya.</span></p>
<p><b>Kapan pun ada pemberontakan seperti itu, dengan umat Muslim sebagai gerilyawannya, kelompok teroris seperti Al-qaeda atau ISIS biasanya ikut mengambil keuntungan. Apakah mereka datang ke Thailand?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak, mereka tidak bisa. Banyak orang Barat setelah 9/11 datang mencari teroris atau jihadis di Thailand Selatan, dan mereka tidak menemukan siapa pun. Muslim Pattani tidak menginginkan negara Islam. Mereka sangat jelas tentang ini. Mereka mengatakan: perjuangan kami bersifat nasionalis. Baca narasi mereka. Narasi mereka adalah tentang sejarah kerajaan Pattani masa lalu, bukan tentang negara Islam. Kerajaan Pattani memiliki tujuh perempuan sebagai sultanah (ratu) Pattani. Dalam sebuah negara Islam, bisakah Anda memiliki seorang ratu? Tidak.</span></p>
<p><b>Beralih ke negara di sebelah Thailand, apa persamaan antara kasus Thailand dan isu Rohingya di Myanmar?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada isu Rohingya, pertama-tama, ada unsur rasisme. Orang Rohingya adalah etnis Benggala. Mereka berasal dari Asia Selatan seperti saya, bukan Mongoloid seperti Anda. Myanmar terletak di perbatasan geografis tempat ras Arya berhenti dan ras Mongoloid muncul. Sebagian besar orang Rohingya berasal dari daerah Arakan/Chittagong, yang sekarang merupakan bagian dari Myanmar dan Bangladesh. Mereka bermigrasi ke Myanmar karena alasan ekonomi. Saat datang ke Myanmar, mereka menjadi beban ekonomi. Masyarakat setempat tidak menghendaki kedatangan orang luar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebelumnya, ada sebuah negara bernama Arakan. Negara bagian Arakan berbatasan dengan Chittagong, yang merupakan bagian dari Bangladesh. Tidak ada perbatasan pada masa itu. Ada seorang raja Buddhis Arakan dan ada Muslim Arakan. Mereka tinggal bersama untuk waktu yang lama karena tidak ada batas geografis. Kemudian, seorang raja Buddhis Burma menyerang negara Arakan dan mengalahkan raja Buddhis Arakan itu. Raja Buddhis Arakan ini kemudian melarikan diri ke daerah Benggala, ke Bangladesh (seperti yang kita sebut hari ini). Orang Benggala kemudian membantunya memenangkan takhtanya. Raja Arakan bersimpati pada orang Benggala. Banyak orang Benggala kemudian bermigrasi ke Arakan. Kemudian pedagang Arab masuk. Dan muncullah sebuah kelompok baru di Arakan yang kita kenal sebagai Muslim Arakan. Umat Muslim dan Buddhis hidup berdampingan. Jika Anda meneliti catatan historis pada periode itu, Anda akan mendapati bahwa raja Buddhis memiliki gelar Arab. Koin kerajaannya dibuat dalam bahasa Arab. Dia mengagumi budaya Muslim. Apa yang terjadi kemudian adalah Raja Burma menyerang Arakan lagi dan mengakhiri kerajaannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu, datanglah orang Inggris yang mengendalikan Arakan. Pemerintahan Inggris berakhir dengan kemerdekaan, dan dari sini muncul sebuah masalah: Muslim Arakan berada di bawah tekanan Burma. Burma adalah ras mayoritas di Myanmar. Mereka ingin menguasai semua kelompok etnis di Myanmar, jadi mereka ingin menguasai negara Arakan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebelum merdeka, Muslim Arakan saat itu berpikir bahwa jika mereka berada di bawah orang Burma, mereka akan menjadi tertindas. Maka, pemimpin Muslim Arakan berbicara dengan Muhammad Ali Jinnah, pendiri Pakistan. Ada Pakistan Timur dan Pakistan Barat. Pakistan Timur berada di sebelah Myanmar, yaitu Bangladesh. Pemimpin Muslim Arakan mengatakan bahwa mereka ingin pindah ke Pakistan Timur. Muhammad Ali Jinnah kemudian berbicara dengan Jenderal Aung San, ayah dari Aung San Su Kyi, seorang pemersatu bangsa seperti Sukarno. Jenderal Aung San berkata kepada Ali Jinnah: Tidak, orang-orang ini tidak perlu pergi ke Pakistan; mereka dilindungi oleh Myanmar, yang akan segera merdeka. Sayangnya, Jenderal Aung San terbunuh sebelum kemerdekaan Myanmar. Tentara kemudian mengambil alih Myanmar, dan mereka mengubah nama Arakan menjadi Rakhine. Mereka ingin menghapus identitas historis tentang koeksistensi Buddhis-Muslim.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Myanmar adalah negara yang keras. Selalu ada ketegangan antara Burma dan kelompok etnis lainnya. Tentara menjadikan Buddhisme sebagai identitas nasional. Mereka juga menginginkan Rakhine menjadi Buddhis. Orang Rakhine sebenarnya tidak menyukai orang Burma. Maka, terjadilah perang antara tentara Buddhis Rakhine, yang ingin memisahkan diri dari Myanmar, dengan tentara Burma. Sekarang, mereka telah dicuci otak bahwa negara Arakan adalah negara Muslim, yang sebenarnya tidak benar. Jadi, mereka pun melawan Rohingya. Inilah kemunculan identitas Rohingya. Umat Muslim mulai mengatakan bahwa kami adalah Muslim Arakan, bahwa kami adalah penduduk asli yang sah dari tanah ini, dan bahwa kami adalah Rohingya. Kata &#8220;Rohingya&#8221; akhirnya muncul.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, tentara Burma mengumumkan orang Rakhine sebagai satu-satunya penghuni sah wilayah Rakhine. Hal ini menyebabkan bangkitnya nasionalisme Rakhine melawan orang Rohingya. Kaum nasionalis Rakhine mulai berkata kepada Rohingya: Kamu orang Benggala. Orang Burma membagi dan memerintah tentara; mereka menciptakan konflik antara Buddhis Arakan dan Muslim Arakan. Mereka tidak memberikan status kewarganegaraan kepada orang Rohingya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, ada unsur rasisme, isu sejarah, dan legitimasi kewarganegaraan.</span></p>
<p><b>Bisakah kita menyederhanakan atau merangkum bahwa akar masalah Pattani dan Rohingya lebih berkaitan dengan pembangunan negara-bangsa modern?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ya, bagus sekali. Mereka melewatkan isu pembangunan negara-bangsa. Di Pattani, agama tidak menjadi masalah. Di Myanmar, Buddhisme dieksploitasi oleh orang Burma karena rasisme mereka. Biksu Ashin Wirathu (pemimpin spiritual gerakan anti-Muslim di Myanmar) mengatakan: lindungi ras Burma dari orang Rohingya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya belum memberitahukan hal ini kepada Anda: Inggris membawa banyak orang India ke Myanmar, karena Myanmar adalah bagian dari Kerajaan Inggris. Inggris membawa orang India untuk mengelola pemerintahan kolonial. Sekitar 54% dari populasi Rangoon (kelak disebut Yangon) adalah orang India. Ada dua kerusuhan etnis di Burma – pada tahun 1930 dan 1938 – terhadap orang India. Orang India ini, di antaranya adalah Muslim, adalah pedagang dan pemilik industri tekstil dan pertanian. Orang Burma membenci orang India. Ketika Myanmar mulai merdeka, sekitar 700.000 orang India disuruh kembali. Jadi, ada unsur ini dalam konflik Rohingya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apa yang sekarang dilakukan Wirathu adalah dia secara kolektif menganggap semuanya sebagai Muslim, bahwa semuanya merupakan ancaman bagi Myanmar. Semua dari mereka: kaum Rohingya, Muslim India, Muslim Tionghoa, dan Zarbadi (anak-anak hasil perkawinan antara orang Burma dan Muslim). Inilah rasisme atas nama agama.</span></p>
<p><b>Tampaknya, dalam hal kecenderungan terhadap kekerasan, Buddhisme bukanlah suatu pengecualian.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya memiliki istilah berhak-cipta untuk itu. Saya menyebutnya &#8220;ekstremisme tanpa kekerasan&#8221;. Biarawan tidak menyerang; Mereka tidak terlibat dalam kekerasan. Mereka dilatih untuk tidak melakukan kekerasan. Tapi, orang-orang seperti Wirathu bisa menghasut orang lain untuk melakukan kekerasan.</span></p>
<p><b>Bagaimana umat Buddhis membenarkan hal itu? Maksud saya, seperti dalam Islam, konsep jihad bisa digunakan untuk membenarkan kekerasan.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka tidak bisa. Mereka hanya bisa melegitimasinya dengan alasan nasionalisme. Tidak ada ruang dalam tradisi Buddhis untuk melegitimasi kekerasan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Raja Ashoka, yang diakui sebagai model raja Buddhis tanpa kekerasan, mengatakan bahwa dia akan menggunakan kekerasan untuk melindungi tanah airnya. Jadi, pertahanan itu sah, tapi bukan promosi kebencian, xenofobia ataupun terorisme yang berakar pada ketidakadilan, diskriminasi dan rasisme seperti yang kita lihat sekarang. Saat ini, kita menyaksikan perang agama nasionalis yang memiliki kategori yang berbeda. Artikel terbaru saya di koran Thailand, “The Nation” (yang telah diterbitkan ulang di situs CRCS), membicarakan tentang nasionalisme yang sekarang telah bersifat religius.</span></p>
<p><b>Pertanyaan terakhir, apa yang akan Anda sarankan, khususnya bagi kita di Indonesia, untuk menjembatani kesenjangan antara umat Muslim dan Buddhis?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya sangat menyukai Indonesia. Sebagai seorang muslim, saya bernapas dengan bebas di Indonesia yang demokratis. Indonesia memiliki budaya yang kaya dan merupakan negara demokratis terkemuka; negara Muslim terbesar. Indonesia memiliki peran penting untuk dimainkan: Anda harus mengajar di institusi pendidikan Anda tentang latar belakang budaya historis Anda, yaitu Hindu-Buddha. Anda harus membantu umat Muslim di Asia Tenggara tentang bagaimana cara hidup berdampingan dengan budaya lain. Ini adalah tantangan bagi Anda. Anda harus mempromosikan studi budaya, yang membahas tentang konfigurasi budaya Asia Tenggara, dan Anda harus melakukannya melalui pengetahuan lokal Anda, bukan teori Barat. Anda memerlukan sebuah studi sosial lokal yang dikembangkan untuk Nusantara, untuk hidup berdampingan antara Islam dan agama dan budaya Asia, terutama di ASEAN. Ini akan sangat membantu, dan Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk melakukan itu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Satu hal lagi. Saya bertemu Cak Nun tempo hari; saya diundang, dan menghabiskan 3 jam bersamanya. Dia mengatakan hal yang sangat menarik; Anda bisa meletakkan ini di transkrip Anda nanti. Saya mengajukan pertanyaan: mengapa umat Muslim Indonesia tidak mengenal latar belakang budaya Hindu-Buddha mereka? Dia berkata kepada saya: orang Indonesia adalah Muslim hasil adopsi. Artinya, mereka telah mengadopsi Islam tetapi melupakan identitas budaya Hindu-Buddha mereka. Mereka memiliki begitu banyak ajaran Hindu-Buddha, namun mereka tidak mengetahui isi budaya mereka.</span></p>
<p><b>Seperti?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seperti puasa. Apa arti kata ini? Mereka tidak tahu. Pesantren didasarkan pada model sekolah Buddhis; saya mengatakan ini di suatu tempat di koran saya. Anda memiliki sembahyang, surau, langgar; langgar adalah sebuah kata Hindu dan berarti Pura tempat orang pergi untuk berdoa. Jadi, mereka telah mengadopsi Islam, tetapi berhenti melanjutkan masa lalu mereka sendiri. Ini membuat Anda terlempar dari tanah air. Orang Indonesia harus tetap bertahan di tanah air Indonesia; tanah Prambanan, tanah Borobudur, tanah Sriwijaya.</span></p>
<p><em>Sumber: <a href="http://crcs.ugm.ac.id/news/11085/muslims-dont-study-buddhism-enough-an-interview-with-prof-imtiyaz-yusuf-part-2.html">Muslims Don&#8217;t Study Buddhism Enough: An Interview with Prof. Imtiyaz Yusuf (part 2)</a><br />
diterjemahkan oleh: Sansan Diana | disunting oleh: Stanley Khu</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/07/31/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-2/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 2)</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/07/31/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-2/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 2)</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 1)</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/07/10/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Jul 2017 09:22:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[#bhinneka]]></category>
		<category><![CDATA[#budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#ilovebhinneka]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan dharma]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3452</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>(Catatan: isi artikel ini merupakan opini dari sudut pandang narasumber non-Buddhis sehingga belum tentu sepenuhnya menggambarkan nilai-nilai Buddhis.) Dua agama dengan pengikut terbesar di Asia Tenggara adalah Islam dan Buddha. Dari total populasi 618 juta orang, 42 persen adalah Muslim dan 40 persen beragama Buddha. Lalu, 25 persen dari 1,6 miliar umat Muslim di dunia [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/07/10/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-1/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 1)</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/07/10/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-1/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 1)</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em>(Catatan: isi artikel ini merupakan opini dari sudut pandang narasumber non-Buddhis sehingga belum tentu sepenuhnya menggambarkan nilai-nilai Buddhis.)</em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dua agama dengan pengikut terbesar di Asia Tenggara adalah Islam dan Buddha. Dari total populasi 618 juta orang, 42 persen adalah Muslim dan 40 persen beragama Buddha. Lalu, 25 persen dari 1,6 miliar umat Muslim di dunia dan 38 persen dari 350 juta umat Buddha di dunia berada di Asia Tenggara. Namun, dialog antara dua agama ini sangat jarang terjadi sekarang ini. Untuk membahas permasalahan ini, anggota staf CRCS, Azis Anwar, mewawancarai Prof. Imtiyaz Yusuf, direktur Center for Buddhist-Muslim Understanding dari Mahidol University, Thailand. Beliau mendapatkan gelar Doktor di Temple University, tempat dia belajar di bawah bimbingan Ismail Raji al-Faruqi. Prof. Yusuf telah banyak menulis catatan ensiklopedia dan artikel-artikel harian, serta menjadi penulis tetap untuk surat kabar “Thai Newspaper”. Beberapa karyanya bisa diakses di akun academia.edu. Selama sesi antara di CRCS dari tanggal 15 Mei sampai 31 Juli, Prof. Yusuf mengajarkan mata kuliah Hubungan Muslim-Buddhis.</span></p>
<p><b>Kapan dan bagaimana pertemuan pertama kali antara Muslim dan Buddhis?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya akan mengatakan bahwa Indonesia adalah tanah Buddha. Borobudur, yang dibangun pada abad ke-9 pemerintahan dinasti Sailendra, mencerminkan tradisi Mahayana. Dua tradisi Buddhisme yang masuk ke Jawa adalah Mahayana dan Wajrayana. Therawada tidak masuk ke Indonesia. Therawada datang dari India ke Sri Lanka, Myanmar, Laos, Thailand, dan Kamboja. Tradisi Mahayana masuk ke Indonesia langsung dari Nalanda di India. Raja Sailendra selalu memberikan persembahan kepada universitas Buddhis yang tersohor ini. Dan, coba perhatikan bahasa yang Anda pakai setiap harinya.  Sekarang Anda sedang berpuasa, kan? </span><i><span style="font-weight: 400;">Puasa </span></i><span style="font-weight: 400;">berasal dari kata Sanskerta, yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">upawasa</span></i><span style="font-weight: 400;">. Anda banyak memakai kata-kata yang berasal dari bahasa Sanskerta.  Indonesia memiliki kebudayaan Hindu–Buddha yang kuat. Tetapi sayangnya, orang-orang melupakan atau mengabaikannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang, Anda bertanya kapan pertemuan pertama terjadi.  Ini terjadi pada abad ke-7, ketika umat Muslim datang ke tempat yang disebut Sindh, yang sekarang berlokasi di Pakistan. Mereka datang menjumpai kuil-kuil Buddhis dan para biksu.  Muhammad ibn Qasin (seorang jenderal dari dinasti Umayyad) adalah orang pertama yang datang ke sana. Dia menulis kepada Al-hajjaj ibn Yusuf (seorang gubernur Umayyad): Apa yang harus saya lakukan terhadap orang-orang yang bukan Muslim? Hal pertama yang Al-hajjaj ibn Yusuf katakan adalah: perlakukan mereka sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">Ahl Al-kitab </span></i><span style="font-weight: 400;">(orang-orang kitab; kategori yang secara umum merujuk pada umat Yahudi dan Kristen). Instruksi kedua adalah: jangan serang biksu mereka.  Ketiga: jangan hancurkan kuil-kuil mereka. Keempat: pungut </span><i><span style="font-weight: 400;">jizyah </span></i><span style="font-weight: 400;">dari mereka (</span><i><span style="font-weight: 400;">jizyah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah pajak per kapita bagi laki-laki merdeka yang bukan Muslim sebagai kompensasi atas perlindungan dan pembebasan dari wajib militer). Inilah cara Muslim memperlakukan Buddhis, jauh sebelum orang Barat mengenal Buddha.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tiga sarjana penting Muslim yang bergiat dalam sejarah dan agama komparatif membicarakan sosok Buddha dengan penuh penghargaan. Al-tabari (838-923) melaporkan bahwa patung-patung Buddha dijual di kuil Buddha yang bersebelahan dengan masjid Makh di pasar Bukhara, yang sekarang berlokasi di Uzbekistan. Muhammad ibn ‘Abd Al-karim Al-shahrastani (1086-1153), dalam sebuah bab berjudul Ara’ Al-hind (Pandangan Orang India) dalam kitab klasiknya yang berjudul Al-milal wa Al-nihal (Kitab Aliran Agama dan Filsafat), mempersamakan Buddha dengan tokoh Al-quran, Al-khidr, yakni seorang pencari pencerahan. Rashid Al-din Hamadani (1247-1318) dari kerajaan IIkhanid Persia menulis pengenalan tentang Buddhisme dalam Jami Al-tawarikh (Ikhtisar Kronik) dengan tujuan untuk membuat Buddhisme dapat diterima oleh Muslim.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari abad ke-12 sampai abad ke-15, pertemuan antara Islam dan peradaban Hindu-Buddha di Indonesia, Malaysia, dan Thailand ditandai oleh sesuatu yang bersifat mistis. Pondok pesantren tampaknya juga dipengaruhi oleh tradisi dari kuil-kuil Hindu-Buddha.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beberapa penerjemah Al-quran mengatakan bahwa Buddha disebutkan dalam Al-Quran.</span></p>
<p><b>Dhul-Kifli?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Dhul-Kifli disebutkan di dalam Al-quran dan biasanya ditafsirkan sebagai Nabi Ibrani: Yehezkiel. Tetapi, beberapa pihak menghubungkannya dengan Buddha, karena kata “Kafil” boleh jadi adalah “Kapilawastu”, kota kuno di mana Siddhartha Gautama dilahirkan dan dibesarkan)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dhul-Kifli dan Wat-ini (surah ke-95 dari Al-quran)! </span><i><span style="font-weight: 400;">Wat-tini waz-zaytun; wa turi sinin; wa hadhal-baladi ‘l-amin </span></i><span style="font-weight: 400;">(dengan buah ara dan zaitun; dan dengan gunung Sinai; dan dengan kota teraman (Mekkah). Surah ini lebih penting dari Dhul-Kifli. Terdapat empat simbol dalam surah ini.  </span><i><span style="font-weight: 400;">Az-zaytun</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah Isa (Yesus), </span><i><span style="font-weight: 400;">Sinin</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah Musa. </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-balad al-amin</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah Nabi Muhammad. Bagaimana dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">tin</span></i><span style="font-weight: 400;">? Tidak ada buah ara di Arabia. Di sisi lain, Buddha mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi, sejenis buah ara yang nama lainnya adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">ficus religiosa.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika Anda pergi ke beberapa sarjana, seperti Muhammad Hamidullah (1908-2002, seorang sarjana hukum Islam berkebangsaan India dan pengarang lebih dari 250 buku), mereka berargumen bahwa Buddha disebutkan secara simbolik di dalam Al-quran. Allah mengatakan dalam Al-quran, </span><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Laqad arsalna rusulan min qablika”</span></i> <span style="font-weight: 400;">(Kami telah mengirimkan utusan sebelum Engkau, beberapa Kusebutkan, beberapa tidak Kusebutkan)</span><span style="font-weight: 400;"> (</span><i><span style="font-weight: 400;">lam naqsus ‘alayk, </span></i><span style="font-weight: 400;">mengacu pada QS 40:78).  Dan Allah mengatakan bahwa mereka (para nabi) datang kepada orang-orang yang berbicara dalam bahasa mereka masing-masing.</span></p>
<p><b>Saat ini, Muslim melihat Buddhis melakukan ritual di depan sebuah patung dan beranggapan bahwa mereka adalah penyembah patung tersebut, yang mana dapat dilihat sebagai </b><b><i>syirik</i></b><b> atau pemujaan berhala.  Apa pendapat Anda tentang ini?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua gagasan tentang </span><i><span style="font-weight: 400;">tawhid</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">syirik</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah konsep Islam. Dalam Buddhisme, tidak ada </span><i><span style="font-weight: 400;">syirik</span></i><span style="font-weight: 400;">. Pergilah dan tanyakan kepada umat Buddhis (dan saya telah bertanya kepada mereka berjuta kali): apa yang Anda lakukan ketika memberikan penghormatan pada patung tersebut? Mereka mengatakan: kami memberikan penghormatan pada ajaran Buddha; kami tidak memberikan penghormatan pada patung tersebut. Buddha sendiri mengatakan, ”Aku bukan Tuhan,” dan ini jugalah yang dikatakan oleh Nabi Muhammad. Umat Buddhis tidak menyembah patung atau batu. Gagasan ihwal </span><i><span style="font-weight: 400;">syirik</span></i><span style="font-weight: 400;"> berasal dari konsep monotheistik sebuah agama.  Jadi, Buddhis bukan pemuja berhala. Buddha sendiri menolak dewa-dewa Hindu.</span></p>
<p><b>Umat Buddhis tidak memiliki Tuhan. Benarkah?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Umat Buddhis bukan atheis. Buddha hanya mengatakan bahwa Tuhan tidak penting, bahwa manusialah yang penting.  Beliau berada di India, tempat eksisnya sistem kasta. Jadi, beliau tidak mempermasalahkan konsep Tuhan. Hal yang paling penting adalah menolong sesama manusia yang menderita akibat eksploitasi dari sistem kasta Brahmana. Masalahnya adalah bagaimana Anda menyelamatkan umat manusia. Sekali lagi, Buddha sendiri mengatakan bahwa beliau bukan Tuhan. Beliau adalah seorang pengajar, seorang guru.</span></p>
<p><b>Dalam salah satu makalah Anda tentang Islam dan Buddhisme, Anda membicarakan tentang konsep realitas tertinggi dalam Buddhisme, dan Anda menganggap hal ini sebagai sesuatu yang sejajar dengan konsep Tuhan dalam agama monotheistik.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Buddha mengatakan bahwa ada sesuatu yang Abadi, yang Tak Dilahirkan. Tanpa adanya sesuatu yang Tak Dilahirkan ini, takkan ada apa pun yang bisa eksis.</span> <span style="font-weight: 400;">Inilah yang disebut Dharma, yang bermakna Hukum Abadi, Realitas Tertinggi. Dharma dan Tuhan adalah sama. Allah juga kekal. Dharma bukan sesosok individu. Allah juga bukan sesosok individu. Masalahnya adalah: umat Muslim berpikir bahwa Allah adalah sesosok individu karena mereka terpengaruh oleh tradisi Kristen yang telah mempersonifikasikan sosok Tuhan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah memiliki sifat yang merupakan bagian dari esensi-Nya. Dan sifat-Nya adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">bila kayfa</span></i><span style="font-weight: 400;">; mereka tidak memiliki kualitas yang identik dengan kualitas manusia.  Sekarang, jika Anda melihat Buddhisme, Anda akan menemukan Dharma, Ajaran Abadi yang dipelajari oleh para guru. Dharma adalah Tuhan bagi mereka; sama halnya, Allah adalah Tuhan bagi umat Muslim.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Masalahnya adalah: kita telah mengabaikan studi Buddhisme. Di masa lampau, di Jawa, Muslim dan Buddhis dapat berdialog bersama karena kesamaan antara </span><i><span style="font-weight: 400;">tawhid</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">sunyata</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">tawhid</span></i><span style="font-weight: 400;">, Allah tidak memiliki bentuk. </span><i><span style="font-weight: 400;">Sunyata</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga tidak mempunyai bentuk. Inilah alasan mengapa orang Jawa dapat menjadi Muslim, bukan karena jihad atau alasan lainnya; ada kecocokan antara </span><i><span style="font-weight: 400;">tawhid</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">sunyata</span></i><span style="font-weight: 400;">. Al-quran juga mengatakan tentang </span><i><span style="font-weight: 400;">ummatan wasatan </span></i><span style="font-weight: 400;">(bangsa tengah); syariah Islam adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">wasatiyya </span></i><span style="font-weight: 400;">(menjadi moderat). Buddhisme juga memiliki </span><i><span style="font-weight: 400;">Majjhima-pattipada</span></i><span style="font-weight: 400;"> (jalan tengah).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lebih jauh, Buddhisme yang masuk ke Indonesia adalah aliran Mahayana. Dalam Mahayana, konsep tentang Bodhisatwa sangatlah penting. Bodhisatwa adalah orang yang akan mencapai pencerahan tetapi menunda pencerahannya demi menolong banyak orang. Dalam Islam, ada konsep yang sama: </span><i><span style="font-weight: 400;">al-insan al-kamil</span></i><span style="font-weight: 400;">.  Persamaan lainnya adalah konsep </span><i><span style="font-weight: 400;">Nur Muhammad</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan konsep </span><i><span style="font-weight: 400;">Tathagata</span></i><span style="font-weight: 400;">, Buddha yang tercerahkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, terdapat banyak persamaan. Masalahnya adalah: umat Muslim tidak cukup banyak mempelajari Buddhisme. Muslim memiliki sejarah yang panjang dengan Kristen dan tak ada banyak kedamaian di antara mereka, sementara di sini, di Asia Tenggara, di negara-negara ASEAN, Muslim dan Buddhis menjadi populasi mayoritas, sekitar 40-40 persen, tetapi keduanya tidak saling mengenal satu sama lain. Dalam 900 tahun koeksistensi Islam dan Buddhisme, dari abad ke-12 sampai abad ke-21, dengan sangat menyesal saya katakan bahwa tidak ada satu pun sarjana Muslim di Asia Tenggara yang mendalami Buddhisme.</span></p>
<p><b>Melanjutkan penjelasan Anda, mengapa umat Muslim di Asia Tenggara tidak lagi mempelajari Buddhisme?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sejak masa penjajahan, umat Muslim mengalami masalah perebutan kekuasaan.  Muslim yang memerintah, termasuk di Asia Tenggara, tiba-tiba kehilangan kekuasaan karena direbut oleh Belanda, Inggris, Prancis, dan lainnya. Tradisi untuk mempelajari agama lain tidak dapat berkembang karena ruang tersebut telah hilang, terisi oleh orang asing yang mengacaukan kebudayaan dan institusi pendidikan Muslim. Umat Muslim kemudian tidak lagi mempelajari agama Asia seperti Buddhisme, Shaiwaisme, Konfusianisme, dan Taoisme karena ketiadaan waktu; Muslim kehilangan kekuatan mereka. Buddhis juga kehilangan kekuatan mereka. </span><i><span style="font-weight: 400;">Dhammaraja</span></i><span style="font-weight: 400;"> (raja Buddhis) terakhir di Myanmar (sebagai salah satu kerajaan Buddhis yang penting) telah diasingkan oleh Inggris ke India. </span><i><span style="font-weight: 400;">Dhammaraja</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari kerajaan Buddhis lain juga telah dilengserkan atau diasingkan. Satu-satunya </span><i><span style="font-weight: 400;">Dhammaraja</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang tersisa adalah Thailand; mereka tidak dijajah dan masih memiliki tradisi </span><i><span style="font-weight: 400;">Dhammaraja</span></i><span style="font-weight: 400;">. Thailand adalah negara Buddhis terbesar di Asia Tenggara.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sisi lain, para penjajah membuat agama menjadi identitas etnik. Agama menjadi bersifat etnik.  Jika Anda orang Melayu, maka Anda adalah Muslim.  Jika Anda orang Siam, maka Anda adalah Buddhis. Jika Anda orang Burma, maka Anda adalah Buddhis.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, masalah kita adalah: di satu sisi, studi antar agama telah diabaikan, dan di sisi lainnya, telah terjadi etnifikasi agama. (<em>bersambung</em>)</span></p>
<p><em>Sumber: <a href="http://crcs.ugm.ac.id/news/11079/muslims-dont-study-buddhism-enough-an-interview-with-prof-imtiyaz-yusuf-part-1.html">Muslims Don&#8217;t Study Buddhism Enough: An Interview with Prof. Imtiyaz Yusuf (part 1)<br />
</a>diterjemahkan oleh: Sansan Diana | disunting oleh: Stanley Khu</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/07/10/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-1/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 1)</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/07/10/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-1/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 1)</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>History of Nalanda #2 &#8211; Para Cendekiawan Agung</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-2-para-cendekiawan-agung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Mar 2017 19:36:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[guru spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[historyofnalanda]]></category>
		<category><![CDATA[india]]></category>
		<category><![CDATA[jasmerah]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[nalanda]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2872</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Pekan lalu kita sudah berkenalan dengan Biara Nalanda, institusi pendidikan Buddhis terbesar dan tertua yang telah menghasilkan banyak cendekiawan agung dengan peran besar dalam menjaga Buddhadharma di dunia ini. Siapa saja tokoh-tokohnya? Yuk kita berkenalan dengan mereka!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-2-para-cendekiawan-agung/">History of Nalanda #2 – Para Cendekiawan Agung</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-2-para-cendekiawan-agung/">History of Nalanda #2 &#8211; Para Cendekiawan Agung</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone wp-image-2874 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n.jpg" alt="" width="960" height="678" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n.jpg 960w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n-600x424.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n-300x212.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n-768x542.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n-150x106.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n-450x318.jpg 450w" sizes="(max-width: 960px) 100vw, 960px" /></p>
<p>Pekan lalu kita sudah berkenalan dengan Biara Nalanda, institusi pendidikan Buddhis terbesar dan tertua yang telah menghasilkan banyak cendekiawan agung dengan peran besar dalam menjaga Buddhadharma di dunia ini. Siapa saja tokoh-tokohnya? Yuk kita berkenalan dengan mereka!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-2-para-cendekiawan-agung/">History of Nalanda #2 – Para Cendekiawan Agung</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-2-para-cendekiawan-agung/">History of Nalanda #2 &#8211; Para Cendekiawan Agung</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ayo Rayakan Kembali Ajaran Leluhur!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2016/08/05/ayo-rayakan-kembali-ajaran-leluhur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2016 08:16:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[leluhur]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[warisan budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=460</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanggal 4-7 Agustus ini, Hanacaraka Society mengadakan acara bertajuk Balinese Lontar Exhibition di Sanur, Bali. Acara akan dibuka dengan diskusi panel mengenai asal-usul aksara Bali dan penggunaannya di masa kini. Lontar adalah media pencatatan kuno yang banyak digunakan di Nusantara ketika kertas belum ditemukan. Lontar-lontar yang masih tersisa sekarang seringkali dalam kondisi rusak karena kurangnya [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/08/05/ayo-rayakan-kembali-ajaran-leluhur/">Ayo Rayakan Kembali Ajaran Leluhur!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/08/05/ayo-rayakan-kembali-ajaran-leluhur/">Ayo Rayakan Kembali Ajaran Leluhur!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>
<a href='https://lamrimnesia.org/trololol/'><img width="708" height="472" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2013/01/resized006-1024x682.jpg" class="attachment-large size-large" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2013/01/resized006-1024x682.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2013/01/resized006-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2013/01/resized006-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2013/01/resized006.jpg 1280w" sizes="(max-width: 708px) 100vw, 708px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2016/08/05/ayo-rayakan-kembali-ajaran-leluhur/13909308_10206719078723156_1214830625523530726_o/'><img width="708" height="861" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13909308_10206719078723156_1214830625523530726_o-842x1024.jpg" class="attachment-large size-large" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13909308_10206719078723156_1214830625523530726_o-842x1024.jpg 842w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13909308_10206719078723156_1214830625523530726_o-600x730.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13909308_10206719078723156_1214830625523530726_o-247x300.jpg 247w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13909308_10206719078723156_1214830625523530726_o-768x934.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13909308_10206719078723156_1214830625523530726_o-150x182.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13909308_10206719078723156_1214830625523530726_o-450x547.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13909308_10206719078723156_1214830625523530726_o.jpg 1200w" sizes="(max-width: 708px) 100vw, 708px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2016/08/05/ayo-rayakan-kembali-ajaran-leluhur/13914110_10206719067722881_1442236418840907824_o/'><img width="708" height="472" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13914110_10206719067722881_1442236418840907824_o-1024x682.jpg" class="attachment-large size-large" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13914110_10206719067722881_1442236418840907824_o-1024x682.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13914110_10206719067722881_1442236418840907824_o-600x399.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13914110_10206719067722881_1442236418840907824_o-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13914110_10206719067722881_1442236418840907824_o-768x511.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13914110_10206719067722881_1442236418840907824_o-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13914110_10206719067722881_1442236418840907824_o-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13914110_10206719067722881_1442236418840907824_o-1200x799.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13914110_10206719067722881_1442236418840907824_o.jpg 1280w" sizes="(max-width: 708px) 100vw, 708px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2016/08/05/ayo-rayakan-kembali-ajaran-leluhur/13932688_10206719079843184_4010416412844286733_n/'><img width="708" height="708" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13932688_10206719079843184_4010416412844286733_n.jpg" class="attachment-large size-large" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13932688_10206719079843184_4010416412844286733_n.jpg 850w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13932688_10206719079843184_4010416412844286733_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13932688_10206719079843184_4010416412844286733_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13932688_10206719079843184_4010416412844286733_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13932688_10206719079843184_4010416412844286733_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13932688_10206719079843184_4010416412844286733_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/08/13932688_10206719079843184_4010416412844286733_n-450x450.jpg 450w" sizes="(max-width: 708px) 100vw, 708px" /></a>
Tanggal 4-7 Agustus ini, Hanacaraka Society mengadakan acara bertajuk Balinese Lontar Exhibition di Sanur, Bali. Acara akan dibuka dengan diskusi panel mengenai asal-usul aksara Bali dan penggunaannya di masa kini.</p>
<p>Lontar adalah media pencatatan kuno yang banyak digunakan di Nusantara ketika kertas belum ditemukan. Lontar-lontar yang masih tersisa sekarang seringkali dalam kondisi rusak karena kurangnya edukasi mengenai lontar itu sendiri sehingga menyebabkan pensakralan berlebih. Lontar-lontar ini pun akhirnya dibiarkan melapuk dan tak terawat.</p>
<p>Pameran ini adalah kesempatan yang amat langka bagi kita untuk kembali berkenalan dengan ajaran-ajaran warisan leluhur Nusantara. Jangan sampai ketinggalan ya!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/08/05/ayo-rayakan-kembali-ajaran-leluhur/">Ayo Rayakan Kembali Ajaran Leluhur!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/08/05/ayo-rayakan-kembali-ajaran-leluhur/">Ayo Rayakan Kembali Ajaran Leluhur!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
