<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>samsara - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/samsara/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 Apr 2026 03:35:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>samsara - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Review Musikal Chicago &#8211; Merenungkan Komedi Tragis Samsara</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/04/16/review-buddhis-chicago-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2026 03:35:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[review film Buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10296</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bagi Buddhis, drama musikal Chicago tidak memberikan solusi atau harapan, tapi memaparkan kenyataan samsara untuk direnungkan.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/04/16/review-buddhis-chicago-indonesia/">Review Musikal Chicago – Merenungkan Komedi Tragis Samsara</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/04/16/review-buddhis-chicago-indonesia/">Review Musikal Chicago &#8211; Merenungkan Komedi Tragis Samsara</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ada cerita yang memberikan harapan, menunjukkan bagaimana suatu masalah bisa terpecahkan, bagaimana suatu cita-cita bisa dicapai. Tapi ada juga cerita yang hanya menunjukkan kenyataan apa adanya, kadang dengan sedikit hiperbola, yang menyadarkan kita bahwa kita sedang tidak baik-baik saja dan harus membulatkan tekad untuk mengubah keadaan. Itulah “Chicago”, sebuah cerita yang menunjukkan tragedi dan komedi dalam samsara.</p>



<p>“Chicago” merupakan salah satu drama musikal Broadway paling populer sepanjang masa. Pada 8–12 April 2025, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, drama musikal ini dipentaskan di Indonesia dalam bahasa Indonesia oleh pemain dan kru orang Indonesia pula. Walau lagu-lagunya tetap menggunakan bahasa Inggris, ADPRO dan Jakarta Art House berhasil mengadaptasi dialog “Chicago” ke dalam bahasa Indonesia, lengkap dengan berbagai referensi terhadap guyonan dan pengalaman yang &#8220;Indonesia banget&#8221;.</p>



<h2><strong>Ceritanya Tentang Apa Sih?</strong></h2>



<p>Cerita &#8220;Chicago&#8221; sendiri mengisahkan Roxie Hart dan Velma Kelly, narapidana pembunuhan yang berebut simpati masyarakat agar bisa divonis bebas dari hukuman gantung. Mereka sama-sama &#8220;dituntun&#8221; oleh seorang pengacara andal bernama Billy Flynn yang siap menghalalkan segala cara untuk memastikan kliennya lolos dari jerat hukum, termasuk mengarang cerita bohong dan memanipulasi pers.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-2.png" alt="Foto dari penampilan &quot;We Both Reached for the Gun&quot; dalam Chicago the Musical by ADPRO &amp; Jakarta Arthouse " class="wp-image-10299" width="720" height="480" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-2.png 720w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-2-300x200.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-2-150x100.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-2-450x300.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-2-600x400.png 600w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption>Roxie &amp; Billy sukses membangun citra di hadapan pers dalam lagu “<em>We Both Reached for the Gun</em>”<br>Sumber: <a href="https://www.metrotvnews.com/read/KZmCQJm2-teater-musikal-nasional-diyakini-dapat-menembus-pasar-global">metrotvnews.com</a></figcaption></figure></div>


<h2 id="h-nafsu-dan-ilusi"><strong>Nafsu dan ilusi</strong></h2>



<p>Cuplikan pendek di atas harusnya cukup menggambarkan dunia macam apa yang disajikan oleh Chicago: sebuah dunia penuh nafsu dan ilusi. Nafsu duniawi melatarbelakangi lingkaran setan cinta, kekerasan, dan ambisi yang melatari cerita ini. Ilusi melanggengkan upaya pengejaran nafsu tersebut sekaligus menjadi mesin penggerak plot dari awal sampai akhir. Di dunia Chicago, pelaku pembunuhan bisa bebas jika berhasil mengarang cerita sensasional yang memukau media. Benar dan salah ditentukan oleh seberapa mahir sang narapidana dan pengacaranya menarik simpati. Gara-gara itu, hukuman mati yang menjadi aturan bahkan tidak pernah benar-benar dijatuhkan. Sekalinya terjadi, yang menjadi korban adalah seseorang yang tak bersalah, tapi tidak bisa membela diri karena keterbatasan bahasa.</p>



<p>Dalam kisah Chicago, nafsu dan ilusi bergandengan tangan menciptakan kebingungan. Karena nafsu terhadap cerita sensasional yang menggugah emosi, para wartawan dan juri dengan mudah menilai Roxie dan entah berapa banyak narapidana lainnya tak bersalah. Kalaupun ada yang tidak tertipu, mereka tidak peduli karena nafsu akan kehebohan tadi. Roxie sendiri senang menjadi narapidana karena mendapatkan banyak perhatian. Ketika ia dinyatakan bebas, ia malah sedih karena <em>spotlight</em> sudah meninggalkannya dan berpindah ke orang lain. Baik dan buruk menjadi kabur, penderitaan pun dikira kebahagiaan.&nbsp;</p>



<p><em>Cari tahu bagaimana nafsu keinginan, ketidaktahuan, dan faktor mental negatif lainnya mengecoh batin kita </em><a href="https://play.google.com/store/books/details/Citta_Cetasika_Mengenal_Batin_dari_Kacamata_Buddhi?id=3-ejEAAAQBAJ&amp;gl=US"><em>di sini</em></a><em>.</em></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image.png" alt="Foto dari penampilan &quot;Roxie&quot; dalam Chicago the Musical by ADPRO &amp; Jakarta Arthouse " class="wp-image-10297" width="675" height="449" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image.png 900w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-300x200.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-768x511.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-150x100.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-450x300.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-600x399.png 600w" sizes="(max-width: 675px) 100vw, 675px" /><figcaption>Roxie merayakan status bintang yang didapat sejak menjadi narapidana<br>Sumber: <a href="https://highend-magazine.okezone.com/read/chicago-the-musical-jakarta-2026-sukses-hadirkan-standar-internasional-dalam-bahasa-indonesia-7yy1q1">Highend Magazine</a></figcaption></figure></div>


<p>Konyol? Pasti. Namun, fenomena ini bukan hanya dongeng di atas panggung. Kebingungan yang sama meliputi kehidupan kita sehari-hari. Semua tahu bahwa di Indonesia berlaku <em>no viral no justice. </em>Selain itu, entah sudah berapa kali kejadian ada kasus yang viral, “pelaku”-nya dirundung habis-habisan, lalu gantian “korban”-nya yang dirundung karena ada sisi lain yang baru terungkap. Siapa yang benar? Siapa yang salah? Makin dicari makin tak jelas. Lalu, setelah waktu dan energi kita habis disedot untuk mencari tahu benar-salah yang tak bisa didefinisikan secara pasti, semua menghilang tanpa jejak. Sudah ada kehebohan baru yang menuntut perhatian kita.</p>



<h2><strong>Cermin untuk refleksi</strong></h2>



<p>Jika direnungkan lebih dalam lagi, kita mungkin akan menemukan kebingungan yang lebih mendasar. Seperti Roxie yang gagal melihat kebahagiaan dari kebebasan karena mengejar lampu sorot media, kita juga sering gagal melihat kebahagiaan yang sudah ada karena mengejar kesenangan lain yang sesungguhnya bikin menderita. Kita mungkin tidak bercita-cita jadi penyanyi idola, tapi kita haus validasi dari kolega, atasan, teman-teman, atau orang tua kita. Kita mati-matian berusaha menjadi “baik” di mata mereka: dengan mengejar penghasilan sebesar-besarnya, pangkat setinggi-tingginya, <em>posting</em> di media sosial, berburu makanan viral.&nbsp;</p>



<p>Saking banyaknya yang kita kejar, kita lupa untuk benar-benar mencari tahu apa yang benar-benar kita butuhkan. Persis seperti yang diceritakan dalam Chicago, validasi eksternal bisa hilang kapan saja dalam sekejap. Ketika kita kehilangan itu semua, apa yang tersisa?</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“And it&#8217;s good, isn&#8217;t it? Grand, isn&#8217;t it? </em><br><em>Great, isn&#8217;t it? Swell, isn&#8217;t it? </em><br><em>Fun, isn&#8217;t it? But nothing stays…”</em></p><cite>Lagu &#8220;Nowadays&#8221; dari &#8220;Chicago&#8221;</cite></blockquote>



<p></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-1024x682.png" alt="Foto dari penampilan &quot;Nowadays&quot; dalam Chicago the Musical by ADPRO &amp; Jakarta Arthouse " class="wp-image-10298" width="768" height="512" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-1024x682.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-300x200.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-768x512.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-150x100.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-450x300.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-1200x800.png 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1-600x400.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/04/image-1.png 1280w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Roxie (Putri Indah Kamila) &amp; Velma (Gallaby) dalam pertunjukan penutup yang menegaskan pesan tentang ketidakkekalan samsara<br>Sumber: <a href="https://highend-magazine.okezone.com/read/chicago-the-musical-jakarta-2026-sukses-hadirkan-standar-internasional-dalam-bahasa-indonesia-7yy1q1">Highend Magazine</a></figcaption></figure></div>


<p>&#8220;Chicago” tidak menjawab pertanyaan itu. Lakon ini hanya menunjukkan bagaimana para tokoh menyadari fenomena ini dan masih berputar di dalamnya. Tidak ada yang kekal, hidup memang begini adanya, mau bagaimana lagi? “Chicago” tidak memberikan harapan akan masa depan yang lebih baik atau kebahagiaan yang lebih tahan lama. Yang menawarkan harapan seperti itu adalah Buddha!</p>



<h2><strong><em>Nothing stays, so?</em></strong></h2>



<p>Lebih dari 2500 tahun lalu, Siddhartha Gautama telah menguraikan sifat keberadaan kita di dunia ini: diperbudak nafsu dan tenggelam dalam ilusi. Beliau juga sudah memberikan <a href="https://lamrimnesia.org/2019/06/14/lamrim-in-a-nutshell/">panduan langkah demi langkah</a> untuk mengurai ilusi itu: sebuah proses yang tidak mudah, memakan waktu lama, tapi terbukti menghasilkan kebahagiaan yang tidak hilang ketika segala hal lain terurai dalam kefanaan dunia.</p>



<p>Masalahnya, kita sudah tenggelam dalam ilusi nafsu bukan hanya puluhan atau ratusan tahun, melainkan berkehidupan-kehidupan, sejak waktu tak bermula, berkali-kali lipat melebihi umur bumi tempat tinggal kita. Saking lamanya, kita ibarat penghuni penjara yang sudah begitu lama di penjara dengan tingkat keamanan paling tinggi, sampai-sampai kita lupa ada kehidupan di luar penjara. Menyadari kekonyolan kondisi kita yang diperbudak oleh validasi eksternal ibarat celah di dinding penjara yang teramat tebal. Meski celah itu teramat kecil, ada seberkas cahaya yang masuk dan menyadarkan kita bahwa ada dunia yang sangat berbeda di luar sana, dunia yang mungkin lebih bahagia.</p>



<h2><strong>Komedi Tragis yang Menggugah</strong></h2>



<p>Adnan Production dan Jakarta Arthouse menyajikan pementasan “Chicago” yang sangat apik dari segala sisi. Orang-orang yang familiar dengan doktrin Buddhis mungkin sudah paham tentang <a href="https://play.google.com/store/books/details/Memahami_Duka_dan_Terbebas_Darinya_Sebuah_Ulasan_A?id=oqOqDwAAQBAJ&amp;hl=en_NZ">konsep samsara, ketidakkekalan, penjara nafsu, dan sebagainya.</a> Namun, akting, musik, latar, aransemen, dan keseluruhan aspek lakonnya berpotensi membawa komedi tragis samsara masuk ke tataran rasa, bukan pengetahuan saja. Pertunjukan ini sangat berpotensi menjadi bahan renungan untuk membulatkan tekad kita membebaskan diri dari delusi yang memenjara batin kita.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/04/16/review-buddhis-chicago-indonesia/">Review Musikal Chicago – Merenungkan Komedi Tragis Samsara</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/04/16/review-buddhis-chicago-indonesia/">Review Musikal Chicago &#8211; Merenungkan Komedi Tragis Samsara</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sukses di Tempat Kerja Ala Sang Buddha</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/03/14/sukses-di-tempat-kerja-ala-sang-buddha/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2022 04:46:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Kesuksesan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Legowo]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[Tempat Kerja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6829</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Buddha berkarir agar bebas dari penderitaan. Begitu pula kita bisa meniti karir dan meraih kesuksesan yang bebas dari segala penderitaan dengan bekerja sambil mementingkan orang lain.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/03/14/sukses-di-tempat-kerja-ala-sang-buddha/">Sukses di Tempat Kerja Ala Sang Buddha</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/03/14/sukses-di-tempat-kerja-ala-sang-buddha/">Sukses di Tempat Kerja Ala Sang Buddha</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Jumat (25/2), Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN) menggelar bedah buku “Menjadi Buddha di Tempat Kerja” dengan tajuk “Top Executive x Young Researcher: Reach The Real Success” via aplikasi Zoom. Acara ini diisi oleh dua orang narasumber, yaitu Rudiyanto Tan, direktur Sampoerna Kayoe dan Shierlen Octavia, peneliti utama Workplace Mental Health Study UI &amp; Wellcome Trust Foundation (UK).&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Buku ‘Menjadi Buddha di Tempat Kerja’ ini memberikan berbagai inspirasi kita tentang pola pikir Buddhis di tempat kerja sehingga menjadikan aktivitas kerja kita menjadi satu praktik latihan batin untuk kita menjadi orang lebih baik,” ujar Rudiyanto mengawali pembahasan.</p></blockquote>



<p>Rudiyanto mengatakan kalau buku ini memiliki tiga bagian besar, yaitu cara individu menjadi lebih baik, cara menjalin hubungan baik dengan teman kerja dan pimpinan, dan cara menciptakan tempat kerja yang nyaman. Berdasarkan buku tersebut, ia memaparkan empat hal yang perlu dilakukan sebagai seorang pekerja, yaitu motivasi dan tujuan, menerima hidup dengan <em>legowo</em>, orientasi bekerja untuk diri sendiri dan orang lain, serta melatih faktor mental positif untuk mengatasi klesha (kotoran batin).&nbsp;</p>



<p>Pertama, Rudiyanto mengklasifikasi orang dalam sebuah matriks berdasar motivasi dan tujuan dalam bekerja. Orang yang berada di matriks kanan adalah orang yang berpikir tentang kebajikan apa yang dapat dilakukan di tempat kerja untuk banyak orang. Sedangkan orang yang berada di matriks kiri lebih mementingkan motivasi untuk memperoleh uang, kekuasaan, dan reputasi.</p>



<p>Kedua, ada banyak fenomena dalam hidup yang tidak bisa dikendalikan termasuk keberhasilan dan kegagalan. Menurut Rudiyanto, kumpulan orang di matriks kiri tidak bisa menerima kegagalan secara <em>legowo</em>. Biasanya mereka akan menyalahkan orang lain ketika gagal, tidak mau dikritik, dan ingin dipandang apabila berhasil mengerjakan proyek. Lain halnya dengan orang yang di matriks kanan yang bisa menerima kegagalan secara <em>legowo. </em>Mereka akan mengakui kesalahan apabila berbuat salah, mau memperbaiki kesalahan, dan menerima kritik serta saran dari orang lain.&nbsp;</p>



<p>Ketiga, direktur Sampoerna Kayoe menuturkan agar kita bekerja tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga orang lain. Menurutnya, pemimpin yang senang melayani orang lain pasti lingkungan kerjanya juga menyenangkan. Sikap pemimpin yang senang melayani orang lain akan berpengaruh terhadap kinerja para staf. Mereka jadi bekerja lebih baik dan terinspirasi untuk mementingkan orang lain.&nbsp;</p>



<p>Keempat, ia bercerita bahwa bila satu tim berhasil mengerjakan proyek dan berhasil untuk kepentingan banyak orang, kemungkinan akan ada satu anggota yang merasa tidak dianggap karena sudah berkorban demi proyek tersebut. Perasaan tidak dianggap ini adalah klesha yang harus diatasi agar tidak menimbulkan amarah yang berujung pada hubungan tidak baik dengan sesama anggota tim.</p>



<p>Di akhir pemaparannya, Rudiyanto berharap agar kita menjadi seperti orang-orang di matriks sebelah kanan yang bekerja tidak hanya fokus pada diri sendiri, tapi juga orang lain. Latihan spiritual dengan membuang klesha juga diperlukan untuk mendukung datangnya kesuksesan.</p>



<p>Kemudian pembahasan dilanjutkan oleh sang peneliti muda, Shierlen Octavia. Ia mengawali dengan pertanyaan tentang pernahkah para Sahabat Lamrimnesia merasakan cemas, pusing, dan tidak mampu saat bekerja. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Shierlen menuturkan bahwa kita harus membayangkan diri kita sebagai Buddha.&nbsp;</p>



<p>“Buddha meski seorang pertapa, tapi Beliau punya karir. Sebenarnya kalau kita lihat, Buddha itu anak CEO kerajaan, tinggal di istana, dan melihat 4 peristiwa penting (orang sakit, meninggal, tua, pertapa), dan kita di tempat kerja sama seperti Buddha melihat berbagai peristiwa.”</p>



<p>Lantas apa yang bisa dipelajari dari Buddha? Lebih lanjut, Shierlen menuturkan kalau kita bisa berganti karir yang membuat tidak menderita, mencari mentor yang bisa membimbing kita ke jalan yang benar, mengenali diri sendiri, dan menjalani apa yang sudah dipilih. Menurutnya, agar bisa menjalani kehidupan kerja dengan baik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu menerapkan jalan tengah dalam pekerjaan, belajar mengolah hal buruk, dan pemaknaan kesuksesan dalam bekerja.</p>



<p>Pertama, menerapkan jalan tengah. Shierlen memaparkan bahwa sering kali kita tidak memahami apa yang kita inginkan dan sering ditipu klesha kita sendiri. Seringkali kita melakukan hal-hal yang keliru, maunya bekerja sendiri tanpa mengandalkan orang lain, atau malah terlampau mengandalkan orang lain. Biasanya kita juga antara terlalu rajin atau terlalu malas saat bekerja. Jadi, sebaiknya kita bekerja dengan mengambil jalan tengah, tidak malas, tapi juga jangan sampai kerja berlebih agar hasilnya maksimal.</p>



<p>Kedua, belajar mengolah buruk. Saat tahu ada hal yang tidak bisa dikendalikan, misalnya keamanan pekerjaan, maka kita harus bisa mengendalikan kemampuan untuk mengamankan pekerjaan dengan cara tidak bergosip dan bekerja secara maksimal, menyemangati orang lain, mengakui kesalahan, dan meningkatkan kemampuan diri. Bisa jadi ada hal buruk lain, yaitu bos yang suka marah-marah. Menurut Shierlen, untuk menghadapi bos yang suka marah, kita harus menganggapnya seperti ibu yang teguh. Seperti ibu yang bisa tegas dan galak untuk mencegah anaknya terjerumus dalam hal-hal buruk, bisa jadi atasan kita memarahi kita karena alasan yang sama.</p>



<p>Ketiga, pemaknaan kesuksesan saat bekerja. Shierlen mengatakan bila hidup harus selaras dengan nilai dan kehidupan. Kita juga perlu membedakan nilai dan tujuan. Nilai itu contohnya seperti bertanggung jawab, menghormati, dan melayani orang lain, sedangkan tujuan misalnya kaya, dapat promosi jabatan, dan dihormati orang lain. Menurutnya, kesuksesan saat bekerja adalah saat kita bisa bekerja sesuai nilai, berkontribusi, dan memaksimalkan potensi dalam bekerja. Dengan demikian, tujuan pun bisa didapat seiring waktu.&nbsp;</p>



<p>Di akhir pemaparannya, Shierlen berpesan agar kita tidak menyamakan uang dengan kebahagiaan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>”Penelitian ini bilang bahwa pendapatan yang tinggi bisa membeli kepuasan hidup, tapi tidak dengan kebahagiaan hidup,” pungkasnya.</p></blockquote>



<p>Seusai pemaparan oleh kedua narasumber, ada sebuah pertanyaan salah satu peserta yang menarik dan sekaligus mewakili judul buku “Menjadi Buddha di Tempat Kerja”, yakni tentang praktik Buddhis apa yang diandalkan oleh kedua narasumber dalam bekerja.</p>



<p>Shierlen mengatakan bahwa tidak ada praktik Buddhis yang spesifik. Namun, saat belajar tentang bodhicita dan bertemu bos yang tidak baik, ia jadi berpikir bahwa orang itu kurang kasih sayang sehingga menjadi orang yang tidak baik. Terlebih lagi, ia juga berpikir bahwa bisa saja si bos ini adalah ibu kita di kehidupan lampau, sehingga tidak baik bila membalas perbuatan si bos dengan hal yang tidak baik juga.</p>



<p>Rudiyanto menyadari satu hal bahwa lingkungan kerja adalah tempat yang menantang dan bisa memancing pikiran negatif muncul.&nbsp; Karena itu, menurutnya tempat kerja adalah tempat untuk melatih batin agar mawas sehingga klesha tidak muncul. Harapannya, kedepannya bila ada masalah, batin positif dahulu yang muncul.&nbsp;</p>



<p>Dari pemaparan kedua narasumber, bisa disimpulkan bahwa ternyata Buddha juga berkarir sebagai Guru Besar yang menuntun kita pada bebasnya penderitaan. Sepatutnya kita juga menjalani karir yang tidak menyebabkan penderitaan untuk diri sendiri dan orang lain. Semoga apa yang kita lakukan saat bekerja dengan bertanggung jawab dan dengan batin positif dapat membuat kita dan semua orang bebas dari penderitaan.</p>



<p>Penulis: Junarsih</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/03/14/sukses-di-tempat-kerja-ala-sang-buddha/">Sukses di Tempat Kerja Ala Sang Buddha</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/03/14/sukses-di-tempat-kerja-ala-sang-buddha/">Sukses di Tempat Kerja Ala Sang Buddha</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cinta Ternoda Klesha, Deritanya Tiada Akhir</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/02/17/cinta-ternoda-klesha-deritanya-tiada-akhir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2022 10:32:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi menengah]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<category><![CDATA[valentine buddhis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6807</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Konon cinta deritanya tiada akhir. Dari sudut pandang Buddhis, cinta belum menderita. Namun, seringkali cinta kita ternoda klesha dan menjadi sebab penderitaan tiada akhir di samsara.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/17/cinta-ternoda-klesha-deritanya-tiada-akhir/">Cinta Ternoda Klesha, Deritanya Tiada Akhir</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/17/cinta-ternoda-klesha-deritanya-tiada-akhir/">Cinta Ternoda Klesha, Deritanya Tiada Akhir</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Hari Valentine tak lepas dari kisah-kisah romantis antara sepasang kekasih yang tersebar dalam film, buku novel, drama Korea, bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Pastinya kita tidak asing dengan kalimat berikut ini:&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Aku cinta kamu, nggak mau kehilangan kamu.” </p></blockquote>



<p>Romantis sekali, bukan? Kalau seseorang yang kita sukai menyampaikan itu kepada kita, tidakkah kita melayang, merasakan kupu-kupu dalam perut, dan kepikiran sepanjang malam?&nbsp;</p>



<p>Jatuh cinta atau kasmaran pada awalnya bagai memakan gulali yang begitu manis, cukup sesuap dua suap, atau satu buah gulali. Lama kelamaan, rasa gulali itu tidak akan selezat pada kali pertama menyuap. Setelahnya, kenyataan kembali menarik kita ke tanah, di saat kita sudah terbang melayang.</p>



<p>Namun, perasaan kasmaran yang penuh dengan euforia tersebut kadang-kadang membuat kita kecanduan. Walau kenyataan telah menampar&#8211;entah saat ditolak atau doi “berubah” dari bayangan kita&#8211;kita masih memburu rasa kasmaran tersebut, ingin perasaan indah itu selalu ada. Dan bagaimana jika perasaan itu kelebihan batas; karena menginginkan perasaan itu selalu ada, harus selalu bersama dengan dia, hingga kesal dan marah apabila dia bisa saja meninggalkan kita, bahkan merasa terancam dengan kemungkinan kehilangan dia? Kalimat “Aku cinta kamu, nggak mau kehilangan kamu,” malah menjadi bumerang. Tidak ingin kehilangan adalah hal yang mustahil terjadi karena bertemu dan berpisah adalah hal yang mutlak terjadi dalam lingkaran samsara ini.&nbsp;</p>



<p>Makanya kita harus berhati-hati. Perasaan kita ini dapat berangsur membuat hubungan menjadi beracun, istilahnya “<em>toxic relationship”. </em>Istilah ini pertama kali digunakan oleh Lillian Gllas dalam bukunya, Toxic People (1995). Gllas menggunakan &#8220;<em>toxic relationship</em>&#8221; untuk menggambarkan hubungan yang dibangun di atas konflik, persaingan, dan kebutuhan seseorang mengendalikan orang lain. <em>Toxic relationship</em> memiliki banyak jenis. Cairo West Mag mencontohkan di antaranya terjadi kebohongan, manipulasi, memanfaatkan, peremehan, pengkhianatan, atau ketidakpercayaan.</p>



<p>Sudah beredar banyak kasus mengenai <em>toxic relationship</em> yang begitu menakutkan. Banyak pula film-film yang menggambarkan potret <em>toxic relationship </em>seperti film Posesif, Story of Kale, dan lain sebagainya. Kasus-kasus yang paling parah bahkan menimbulkan korban jiwa. Seperti yang terjadi baru-baru ini, seorang guru meninggal dibunuh mantan suaminya yang ingin rujuk tetapi ditolak. Pelaku mengaku merasa cemburu karena korban dikabarkan dekat dengan laki-laki lain, sampai-sampai ia nekat menusuk mantan istrinya di depan sekolah hingga tewas.&nbsp;</p>



<p><em>Baca juga: “</em><a href="https://lamrimnesia.org/2018/03/06/menghadapi-fenomena-pelakor-dengan-welas-asih/"><em>Menghadapi Fenomena Pelakor dengan Welas Asih</em></a><em>”</em></p>



<h4><strong>Klesha Hasrat</strong></h4>



<p>Kita dapat melihat bagaimana perasaan kasmaran di awal dapat berangsur menjadi tragedi. Hal itu terjadi karena rasa tertarik yang berlebihan terhadap keindahan dan kenikmatan, sehingga muncul rasa melekat terhadapnya. Celakanya, banyak yang menganggap itu adalah cinta. Dalam Buddhisme, kita mengenal fenomena ketertarikan dan keinginan memiliki yang begitu kuat ini sebagai salah satu klesha atau kotoran batin, yaitu hasrat.&nbsp;</p>



<p>Kita perlu mengetahui bahwa klesha, baik itu klesha hasrat, kemarahan, kesombongan, ketidaktahuan, ataupun keraguan, tidak hanya merugikan kita dalam kehidupan ini dengan menimbulkan luka batin dan luka fisik. Lebih parahnya lagi klesha-lah yang menyebabkan kita terus terjebak dalam lingkaran samsara untuk waktu tak berujung. Dengan kata lain, kita bakal lahir-mati berulang kali dan lagi-lagi mengalami derita cinta tiada akhir. Kok bisa?</p>



<p>Klesha dan karma adalah yang memunculkan dukkha. Klesha mendorong kita untuk mengumpulkan karma yang suatu saat akan mendatangkan akibat. Selama kita masih punya klesha, kita pasti masih harus terlahir kembali untuk mengalami buah dari karma itu. Lain ceritanya kalau kita sudah mengatasi klesha seperti para arahat dan Buddha. Karena klesha sudah tidak ada, karma cuma akan jadi benih mandul di dalam tanah yang tidak bisa tumbuh. Ia pun tidak bisa terus-terusan menyebabkan penderitaan baru.</p>



<p>Klesha hasrat sendiri timbul ketika kita merasa objek-objek seperti kekayaan, tubuh orang lain, makanan dan minuman, bahkan pasangan, dan seterusnya, menarik dan kita tidak ingin terpisahkan darinya. Begitu dia sudah muncul, kita jadi ingin selalu berhubungan dengan objek tersebut; nafsu keinginan kita tumbuh semakin kuat dan hasrat semakin sulit untuk diatasi.&nbsp;</p>



<p>Hasrat yang kuat mendorong kita mulai mengumpulkan karma baik melalui pikiran, ucapan, ataupun tindakan. Mulai dari berkhayal tentang si dia, menelepon atau kirim <em>chat</em> setiap lima menit sekali, atau ekstremnya seperti kasus pembunuhan guru yang diceritakan tadi. Dan karena karma berlipat ganda dengan pesat dan salah satu akibatnya adalah kecenderungan mengulangi, kita pun terjebak dalam hasrat yang makin menggebu-gebu dan melakukan lebih banyak tindakan atas dasar hasrat itu sampai ke kehidupan-kehidupan berikutnya.</p>



<p>Hasrat itu sebenarnya sangat menipu. Contohnya ketika kita jatuh cinta, kita melihat pasangan kita begitu sempurna, sehingga kita tidak ingin berpisah dengan dia dan kesenangan yang ditimbulkan olehnya. Padahal pastinya pasangan kita tidaklah sempurna. Jika memang dia memiliki semua kualitas baik seperti yang kita bayangkan, maka setiap orang pasti juga merasakan hal yang sama terhadap dia. Namun, tentu tidak demikian. Hanya kitalah yang melekat terhadapnya. Parahnya lagi, karena hasrat membuat kita merasa “senang”, kita jadi gagal membangkitkan rasa muak terhadap samsara dan terjebak terus dalam kelahiran berulang.</p>



<h4><strong>Mengatasi Hasrat yang Meracuni Hubungan</strong></h4>



<p>Klesha hasrat ini sangat sulit untuk diatasi. Jika klesha lain ibarat noda pada kain, hasrat itu noda minyak yang mudah meresap dan sulit untuk dibersihkan. Artinya, batin kita seperti meresap ke dalam objek, dan akibatnya, akan sangat sulit untuk memisahkan batin dengan objek.&nbsp;</p>



<p>Dalam buku Pembebasan di Tangan Kita Jilid 3, klesha hasrat dapat diatasi dengan&nbsp; mempraktikkan meditasi kejelekan, misalnya merenungkan gambar mayat dalam berbagai tahap pembusukan. Tujuannya adalah menyadarkan diri kita bahwa objek apapun yang kita hasrati itu sebenarnya tidak kekal.</p>



<p>Saat kita terobsesi kita terhadap kualitas baik yang dimiliki oleh orang lain, khususnya objek yang kita lekati, bisa saja hanya merupakan hasil kerja klesha hasrat kita. Ketika kenyataan ternyata tidak sesuai dengan “kacamata” klesha Hasrat kita, kita tidak perlu kecewa, marah, hingga merugikan orang lain atau bahkan menghilangkan nyawa orang lain akibat klesha hasrat kita yang menggebu-gebu. Makanya kita perlu melakukan berbagai upaya untuk menyadarkan diri kita terhadap realita, bahwa si dia yang kita “cintai” bisa dan akan terus berubah, sama dengan segala hal di dunia ini.</p>



<p>Setelah kita menyadari hal tersebut, kita tidak akan lagi terobsesi ingin memiliki orang itu, juga tidak kecewa berlebih saat dia berbeda dari apa yang kita harapkan. Klesha hasrat kita akan berkurang dan dari situ, barulah kita bisa benar-benar mencintai dia, yaitu dengan tulus mengharapkan dan memberikan kebahagiaan untuknya.</p>



<p>Selain itu, kita perlu menyadari melihat bahwa di dunia ini ada begitu banyak makhluk yang sama-sama berharga dan berhak bahagia. Dengan kata lain, kita juga bisa melatih cinta kasih yang lebih besar, yaitu cinta kasih bagi semua makhluk yang tanpa syarat.&nbsp;</p>



<p>Penulis: Victoria</p>



<p><strong>Referensi</strong>:</p>



<p>“Pembebasan di Tangan Kita” Jilid II oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Memahami_Duka_dan_Terbebas_Darinya?id=oqOqDwAAQBAJ">Memahami Dukkha dan Terbebas Darinya</a>” oleh Guru Dagpo Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/17/cinta-ternoda-klesha-deritanya-tiada-akhir/">Cinta Ternoda Klesha, Deritanya Tiada Akhir</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/17/cinta-ternoda-klesha-deritanya-tiada-akhir/">Cinta Ternoda Klesha, Deritanya Tiada Akhir</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Oct 2021 08:49:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi menengah]]></category>
		<category><![CDATA[purifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<category><![CDATA[squid game]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6345</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Gara-gara terjerat utang uang, ratusan orang terjerat dalam permainan mematikan bernama Squid Game. Di dunia nyata, utang karma menjerat kita dalam Samsara Game yang tak kalah menyiksa.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Cumi-cumi, cumi-cumi apa yang paling nyeremin? Jelas Permainan Cumi-Cumi, alias “permainan” paling naik daun di Netflix, Squid Game!&nbsp;</p>



<p>Squid Game adalah serial Netflix yang mengisahkan Seong Gi-Hun yang kesulitan secara finansial dan karena kesulitannya tersebut memutuskan untuk mengikuti permainan bersama dengan 455 pemain lainnya untuk memenangkan uang sebesar 45,6 Miliar Won. Permainannya adalah variasi permainan masa kecil di Korea yang relatif mudah. Hanya saja apabila kalah, taruhannya adalah nyawa. Setiap satu nyawa terbang, maka uang akan bertambah, dan uang tersebut akan menjadi milik pemenang dari seluruh permainan tersebut.&nbsp;</p>



<h4><strong>Kita Semua Punya Utang Karma dan Terancam di Squid Game Bernama Samsara&nbsp;</strong></h4>



<p>Hal yang mendorong para pemain Squid Game untuk mengikuti permainan-permainan mematikan tersebut adalah karena mereka semua terjebak dalam utang yang tidak sanggup mereka bayar. Jadi langsung terpikir, aduh pokoknya gak boleh ngutang deh sama orang! Karena sedikit-sedikit pasti jadi bukit. Dan akhirnya gak bisa terbayarkan lagi. Mereka terjebak dalam utang sampai akhirnya rela mengikuti permainan mematikan, utang dibayar dengan darah, siapa tahu bisa terbebas dari utang walaupun taruhannya itu nyawa… Ngeri banget, ya?&nbsp;</p>



<p>Namun, apa bedanya para pemain Squid Game dengan kita, para makhluk yang terjebak dalam samsara dan memiliki utang karma yang bejibun? Faktanya, saat ini kita masih mondar-mandir dalam samsara untuk membayar utang-utang karma kita. Kita tidak ada bedanya dengan pemain Squid Game. Kita tetap memilih berada dalam permainan samsara ini dengan segala “kesenangan”-nya, seperti pemain Squid Game yang memilih mengikuti permainan untuk kesenangan dalam bentuk uang. Padahal pemain Squid Game tahu taruhannya adalah penderitaan, seperti kita juga tahu samsara inilah penderitaan.&nbsp;</p>



<p>Para pemain Squid Game rela mati untuk membayar utang-utangnya, seperti kita yang terus terjebak dalam lingkaran samsara dan mengalami kematian berulang kali, jatuh ke alam rendah, naik ke alam tinggi, membayar utang karma, dan tidak luput membuat utang karma baru.</p>



<h4><strong>Kita Punya Utang Karma seperti Utang Pemain Squid Game</strong></h4>



<p>Squid Game dan samsara adalah serupa tapi tak sama. Tak terhingga banyaknya makhluk yang mau-mau saja terlarut di dalamnya. Kita sudah lahir dan mati berkali-kali sampai tak terhitung lagi jumlahnya. Artinya karma kita juga tidak terhitung, dan sampai sekarang kita pun membuat utang karma buruk baru dan entah kapan akan “ditagih”. Tiba-tiba jadi terpikir, utang karma buruk berkalpa-kalpa yang harus dibayar satu per satu… Tidak akan bisa dihindari.&nbsp;</p>



<p>Karma itu pasti. Kita percaya atau tidak percaya, karma berlaku untuk semua. Karma itu juga berkembang dengan pesat. Jadi, utang karma bisa ada bunganya! Sekecil apa pun karma, buruk maupun baik, dampaknya bisa berlipat ganda dan salah satu akibatnya berupa kecenderungan mengulangi. Persis kayak menanam satu biji stroberi, hasilnya bisa belasan buah stroberi di satu pohon, dan di setiap buah ada ratusan biji stroberi lagi yang bisa tumbuh jadi tanaman baru. Sebanyak itulah “utang” karma kita bisa berlipat-ganda! Terpikir gak dikejar-kejar oleh rentenir karma tanpa ampun dan ditagih untuk melunasi selama dalam samsara ini?&nbsp;</p>



<p>Dan pastinya, karma tidak hilang begitu saja. Misalnya ketika orang melakukan pencopetan seperti Kang Sae-Byeok di Squid Game. Si gadis Korea Utara yang panjang tangan ini kemudian berdana, lalu berharap karma baik berdana akan menutupi karma buruk pencopetan yang ia lakukan. Eits, bukan begitu cara karma bekerja. Memangnya tukaran kado?</p>



<p>Lantas, bagaimana caranya melunasi utang karma kita yang berdarah-darah ini? Kita sudah pasti menuai apa yang telah kita tabur. Kita juga tidak akan mengalami akibat dari karma yang tidak kita lakukan. Hal buruk yang menimpa kita sekarang bukan tanpa sebab dan tidak datang dengan sendirinya, melainkan disebabkan oleh karma yang kita lakukan sebelumnya. Apalagi kita juga dapat merenungkan sekarang, apakah lebih banyak perbuatan baik atau buruk yang kita lakukan sepanjang kita hidup? Dalam hati sebagian besar dari kita sudah tahu jawabannya, lebih mudah untuk melakukan perbuatan buruk dibanding perbuatan baik karena klesha yang mencengkeram kita. Dan kita juga tahu bahwa timbunan perbuatan buruk hanya akan menyesatkan kita kepada kelahiran kembali di alam rendah. Padahal kini kita punya kelahiran sebagai manusia yang dapat mendorong kita keluar dari lingkaran samsara ini, dan bahkan Kebuddhaan sebagai tujuan akhir.&nbsp;</p>



<p>Jadi, timbunan karma kita begitu besar karena sudah tidak terhitung berapa banyak kita telah lahir dan mati. Begitu banyak pula karma buruk baru yang kita timbun setiap harinya di kehidupan ini. Bagaimana caranya kita bisa keluar dari lingkaran samsara dan mencapai Kebuddhaan? Rasanya hal itu semakin mustahil. Namun, sebenarnya kita sebagai manusia punya potensi untuk menyelamatkan posisi kita yang terdesak ini!</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/dD7GvhFOKlh7anYttegn-Iz0Uu7DfEK8TnHbu26jqL6lSbzM0EpB6W_Y-UsIBbign9eRJtjgWGEDfknqNftIG4n4B1NUjfY12nv-_8W4dSKGq7OVxkh9iWFIXCyLykzy_YVLvws=s0" alt="A picture containing text, person

Description automatically generated"/></figure>



<h4><strong>Untungnya Utang Karma Bisa “Dicicil”</strong></h4>



<p>Kita sudah sadar kalau kita lebih banyak bikin karma buruk dibanding karma baik. Artinya kemungkinan besar kita akan jatuh ke alam rendah, kehilangan kesempatan berharga sebagai manusia ini untuk membebaskan diri dari “utang” berupa hidup di samsara ini.&nbsp;</p>



<p>Gawatnya lagi, kematian itu pasti dan kita gak akan tahu kapan dia akan datang dan memaksa kita pindah ke kehidupan berikutnya. Kesempatan kita untuk mengembangkan kebajikan sebelum karma-karma buruk kita berbuah di kehidupan selanjutnya dapat berakhir dengan mudah tanpa diduga. Siap tidak siap, kematian datang begitu saja menjemput. Bisa besok, bulan depan, bisa 10 tahun lagi. Begitu kematian menjemput, kita gak bisa lari. Kalau utang karma buruk kita masih menggunung seperti sekarang, <em>fix</em> banget alam rendah menanti.</p>



<p>Makanya, mumpung kita masih hidup sebagai manusia hari ini, kita harus “mencicil” pembayaran utang karma tak bajik mulai dari sekarang! Tapi, bagaimana caranya?</p>



<p>Caranya adalah praktik purifikasi! Praktik ini adalah sebuah usaha menetralkan karma buruk yang diajarkan Sang Buddha, khususnya karma yang mendorong ke alam rendah. Mengapa menetralkan? Karena kita tidak dapat serta-merta menghapus semua karma buruk kita. Praktik purifikasi memandulkan karma buruk kita, seperti benih yang dibakar hingga tidak dapat lagi menghasilkan buah, benihnya masih ada tetapi tidak memiliki potensi lagi untuk tumbuh. Tujuan utama dari praktik purifikasi adalah menetralkan karma sehingga tidak lagi menghasilkan efek pematangan, ibarat besi yang ditempa; besi yang masih panas memiliki kemampuan membakar kita, tetapi besi yang sudah didinginkan aman-aman saja kalau dipegang.&nbsp;</p>



<h4><strong>Cara Mencicil Utang Karma Tanpa Ikut Squid Game</strong></h4>



<p>Terdapat beberapa metode purifikasi, tetapi apa pun metode yang kita pilih, dasarnya tetap sama, yaitu menerapkan Empat Kekuatan berikut ini:</p>



<ol><li>Kekuatan penyesalan: penyesalan yang sangat tulus dan mendalam atas perbuatan buruk yang kita lakukan.</li><li>Kekuatan penawar: perbuatan bajik dengan tujuan untuk menetralkan karma buruk.</li><li>Kekuatan menahan diri: kesungguhan untuk tidak mengulangi perbuatan buruk yang sama.</li><li>Kekuatan basis: mengambil perlindungan dan membangkitkan bodhicita.</li></ol>



<p><a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/07/jalan-keluar-dari-karma-buruk/"><em>Baca juga: Jalan Keluar dari Karma Buruk</em></a></p>



<p>Jadi, pertama-tama, sangat penting untuk memulai praktik purifikasi dengan perasaan menyesal yang kuat. Perasaan ini datang dari keyakinan kita terhadap hukum karma, bahwa karma buruk akan menghasilkan penderitaan. Karena kita tidak mau menderita dan ingin bahagia, kita pastinya akan menyesali sebab penderitaan alias karma buruk yang telah kita buat. Kemudian, kita perlu membuat lebih banyak karma baik. Kebajikan ini akan menjadi kekuatan bagi kita untuk bisa mengendalikan batin agar tidak membuat lebih banyak karma buruk</p>



<p>Kita juga perlu membangkitkan tekad tidak mengulangi kesalahan di masa depan. Kalau terlalu sulit dan agak mustahil untuk berhenti sepenuhnya, kita bisa setidaknya berjanji untuk menahan diri dalam batas waktu tertentu. Terakhir, kita mengambil perlindungan dan membangkitkan bodhicita untuk memastikan basis dalam latihan, mengambil perlindungan kepada objek yang tepat sebagai tempat berlindung dan membangkitkan bodhicitta untuk kebahagiaan semua makhluk.&nbsp;</p>



<p>Ada 6 aktivitas bajik yang bisa menjadi penawar utama dalam praktik purifikasi ini, yaitu melafalkan Sutra (khususnya Sutra Penyempurnaan Kebijaksanaan/Prajnaparamita Sutra), merenungkan kesunyataan, melafalkan mantra, membuat gambar Buddha, memberi persembahan kepada Buddha, dan melafalkan nama-nama Buddha.&nbsp;</p>



<p><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/ini-yang-harus-kuperbuat/"><em>Pelajari beragam kekuatan penawar di sini!</em></a></p>



<p>Kita mungkin bertanya, bagaimana melafalkan nama Buddha tertentu memungkinkan memurnikan karma kita? Efek ini sebenarnya berasal dari aspirasi bodhicita yang ditumbuhkan Buddha. Karena mereka telah berikrar untuk menjadi Buddha demi kepentingan semua makhluk, melafalkan nama mereka menjadi salah satu cara untuk membantu semua makhluk memurnikan tumpukan karma negatif. Wah, luar biasa sekali ya welas asih Buddha..&nbsp;</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-KUQTIKNk4n1ZDXJmgugYZsrrmFCY0c2isyXTSuvaY470F5XSU8vcm9f83I0EmRUWkhln6e_O9KhRwCM6e1kq7Z8ErkDwYjitNFt9SdswwgUqsmaf4NCkwT8VVxYcyNlQoDMgnM=s0" alt="A picture containing text, ground, outdoor, person

Description automatically generated"/></figure></div>



<p>Namun, di luar 6 aktivitas bajik ini, segala perbuatan baik yang dilakukan dengan tujuan menetralkan karma buruk juga bisa menjadi kekuatan penawar, misalnya seperti jadi relawan di rumah sakit atau panti jompo.&nbsp;&nbsp;</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Nah teman-teman, setelah kita mengetahui bahwa kita dapat mulai “mencicil” utang karma kita dengan menetralkan mereka, kita harus mulai semangat nih untuk mempraktikkan purifikasi, biar kita tidak harus mengikuti permainan “Squid Game” dalam samsara ini. Jangan contoh Seong Gi-Hun dan kawan-kawannya, ya! Biar makin jelas, baca juga buku-buku tentang karma, praktik purifikasi, dan topik-topik Dharma lainnya. Semangat!</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/WX0Zn13xRD2IyLY9lMgBrm64UnMZKCLANdZyoziflBUoDpjuyXTqasveTIrmgmhCBpvs2Kf7hXbbtubnNxXtEJ15GzKjTVciCblDgfQjO8KLl7pjaWhviIPa1Yp1mQdqLj6S5OI=s0" alt="A picture containing text, person

Description automatically generated"/></figure></div>



<p>Referensi: <br>1. “<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari</a>” &#8211; Guru Dagpo Rinpoche<br>2. “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/ini-yang-harus-kuperbuat/">Ini yang Harus Kuperbuat</a>” &#8211; Y.M. Biksu Bhadra Ruci</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Dec 2017 06:01:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[anatta]]></category>
		<category><![CDATA[anicca]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[dukkha]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3877</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Samsara adalah penderitaan. Hal tersebut adalah tema besar dari sesi retret yang diberikan oleh Biksu Bhadra Ruci pada tanggal 30 Desember 2017. Entah terlahir di alam rendah maupun alam tinggi, kelahiran merupakan sebuah penderitaan. Parahnya, kita selalu berpikiran bahwa kita tidak mungkin terjatuh ke alam rendah. Salah satu bukti bahwa kita hampir pasti terlahir di [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Samsara adalah penderitaan. Hal tersebut adalah tema besar dari sesi retret</span> <span style="font-weight: 400;">yang diberikan oleh Biksu Bhadra Ruci pada tanggal 30 Desember 2017. Entah terlahir di alam rendah maupun alam tinggi, kelahiran merupakan sebuah penderitaan. Parahnya, kita selalu berpikiran bahwa kita tidak mungkin terjatuh ke alam rendah. Salah satu bukti bahwa kita hampir pasti terlahir di alam rendah adalah dengan melihat batin. Lihatlah sifat klesha</span> <span style="font-weight: 400;">apa yang paling dominan dan dekat dengan kehidupan keseharian kita. Salah satu cara pertama untuk menghindari kelahiran di alam rendah adalah dengan mengembangkan rasa takut terhadap hal tersebut. Sangat penting untuk kita sadari bahwa ketika pertama kali dilahirkan, jam menuju kematian kita sudah ditekan dan kita hanya menunggu jam itu berbunyi. Setelah itu, kita perlu paham betul dan yakin bahwa kelahiran sebagai manusia merupakan kelahiran yang paling berharga. Oleh sebab itu tidak tepat jika dikatakan bahwa agama Buddha adalah agama yang pesimis. Topik mengenai kematian harus dijadikan motivasi bagi kita untuk mempertahankan kelahiran tersebut. Kematian bukanlah topik yang harus dihindari karena dengan merealisasi hal tersebut, kita bisa menghargai kelahiran kita. Hal ini karena jika kita tidak bisa melihat kelahiran dan kematian sebagai penderitaan, maka akan sulit untuk membangkitkan rasa menolak samsara. Samsara pada dasarnya amat sulit untuk kita tolak sebab batin kita selalu pergi dan melekat pada suatu obyek dan fenomena yang bersifat netral, misalnya uang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika tiba waktunya ajal menjelang, cobalah bayangkan hal apa yang sebenarnya kita takutkan? Kita acap kali takut akan meninggalkan hal-hal yang saat ini berada bersama dan menjadi milik kita. Kita memikirkan harta, sahabat, sanak keluarga, dan segudang hal lainnya yang berharga bagi kita. Padahal saat mati, hal apa yang bermanfaat bagi kita? Seperti biasanya, Biksu Bhadra Ruci memberikan sebuah perumpamaan untuk menjawab hal tersebut. Manusia ibarat memiliki empat orang istri. Ketika mengantar kepergian kita, istri pertama hanya mengantar peti mati kita hingga ke depan pintu. Sementara istri kedua kita mengantar hingga perempatan jalan menuju kuburan. Untunglah istri ketiga mengantar hingga kita tiba di kuburan. Namun, hanya istri keempatlah yang benar-benar mengikuti hingga kita masuk ke dalam kuburan. Melalui kisah di atas, istri pertama adalah harta dan materi yang selama ini kita kejar. Istri kedua adalah teman-teman yang kita tinggalkan. Istri ketiga merupakan perlambang dari keluarga kita, entah itu ayah, ibu, istri atau suami, anak, dan sanak saudara yang dekat dengan kita. Tak ada satupun dari mereka yang mampu membagi dan menanggung beban kematian kita. Hanyalah istri keempat, yaitu karma dan kebajikan kitalah yang akan menemani kita bahkan hingga kehidupan-kehidupan berikut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kaitannya dengan samsara, Biksu Bhadra Ruci mengajak kita untuk merefleksikan hal apa yang sebenarnya membuat kita tidak sadar akan kepastian kematian dan masih terlena dalam samsara. Selama ini, kita selalu berpikir bahwa kita takut akan kondisi yang tidak aman. Kita khawatir kita tidak punya cukup uang untuk menghidupi kita dalam beberapa hari atau beberapa tahun ke depan. Apakah benar demikian? Sebab jikalau kita memang takut akan kondisi yang tidak aman, kita seharusnya lebih takut mati dan jatuh ke neraka dibandingkan memikirkan kondisi keuangan kita saat ini. Kita takut tidak bisa hidup dengan nyaman dibandingkan dengan kehilangan rasa aman. Kita takut kita tidak bisa mendapatkan makanan enak, tempat tinggal nyaman ber-AC. Kita takut tidak bisa memenuhi tuntutan jasmani yaitu tuntutan dari “aku”. Kita sangat takut tidak bisa melayani ego kita. Dengan kata lain, kita tidak memiliki keyakinan yang teguh terhadap hukum karma, Triratna, dan bahkan pada segala hal yang kita praktikkan. Selama ini kita terbelenggu oleh karma dan klesha yang merantai skandha.</span> <span style="font-weight: 400;">Jika tanaman bisa tumbuh dengan bantuan pot, maka tempat tumbuh karma kita terletak pada perasaan. Kita butuh pembebasan, yaitu kondisi di mana kita telah terlepas dari belenggu tersebut. Perasaan pembebasan tersebut diibaratkan Biksu Bhadra Ruci seperti saat Indonesia merdeka dari imperialisme penjajah.  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk bisa mengembangkan rasa muak terhadap samsara, kita perlu memahami kerugian samsara. Secara umum, samsara memiliki arti mengembara. Samsara bukanlah kondisi yang akan membawa kita kepada kebahagiaan sejati. Bahkan dalam bahasa Indonesia, kata sengsara diserap dari kata samsara. Agar bisa memperoleh kebebasan dari penjara, narapidana harus terlebih dahulu berkeinginan untuk bebas. Hal ini karena ketika rasa tersebut timbul, maka narapidana akan mencari segala macam cara untuk bisa segera terbebas dari hal tersebut. Begitu pula halnya dalam memperjuangkan kebebasan dari samsara. Kita harus pertama kali mengembangkan rasa muak terhadap samsara. </span><span style="font-weight: 400;">Seperti kata Je Tsongkhapa, </span><b>kita tidak dapat mencapai aspirasi terbebas dari samsara tanpa merenungkan dukkha.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">aspirasi untuk bebas dari samsara datang dari mengetahui kerugian samsara. Untuk mengetahui kerugian samsara, </span><b>kita perlu menelusuri sebab dukkha dan menapaki jalan untuk menghentikan hal tersebut.</b><span style="font-weight: 400;"> Hal ini mirip dengan kondisi kita ketika kita sakit. Saat sakit, kita perlu memahami dan mempelajari sebab-sebab penyakit tersebut dan mencari obat yang tepat untuk menyembuhkan penyakit. Ironisnya, tidak mudah memahami penderitaan samsara oleh karena rasanya yang nikmat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seringkah kita berpikir bahwa terlahir di alam surga lebih menyenangkan dibandingkan terlahir sebagai manusia? Padahal ketika tiba waktunya karma kebajikan telah kita habiskan di alam surga, kita akan dengan segera terjatuh ke alam rendah. Jika kita bisa naik, maka akan sangat mudah untuk terjun bebas ke bawah. Hal ini merupakan sebuah contoh untuk menjelaskan cacat samsara karena harus </span><b>jatuh dari status tinggi ke status rendah</b><span style="font-weight: 400;">. Banyak sekali kita menemukan orang-orang yang mula-mula kaya kemudian jatuh miskin kemudian merasa menderita dan tidak dapat menerima kenyataan. Contoh seperti ini menunjukkan bahwa keadaan kita saat ini bisa dengan mudah berubah pada tiap momen yang berlalu. Kondisi ini terus berulang kali terjadi dan jika yang kita rasakan hanya perasaan lelah tanpa rasa kapok, tidak akan ada perubahan yang bisa terjadi dalam diri. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cacat lainnya dalam samsara adalah karena sifatnya yang </span><b>penuh ketidakpastian</b><span style="font-weight: 400;">. Dalam satu waktu, kita mungkin terlahir bahagia namun di kali lain hidup bisa berubah menjadi sangat menyengsarakan. Sebagai contoh, hubungan kita dengan orang tua, teman, musuh, dan lainnya bisa saling berkebalikan dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya. Pada suatu masa, istri yang sangat kita sayangi bisa terlahir sebagai ikan yang kita makan dan musuh yang sangat kita benci bisa terlahir sebagai putra yang kita timang-timang sepanjang hari. Samsara juga cacat karena tidak memberikan kepuasan. Ketika kita mendapatkan 1 Rupiah, kita menginginkan 10 Rupiah. Namun saat kita mendapatkan 10 Rupiah, kita tetap tak bisa merasa puas. Kita terus menerus menginginkan hal yang lebih setiap kali mendapatkan sesuatu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita juga </span><b>tidak memiliki teman sejati</b><span style="font-weight: 400;"> selama di samsara. Tepat ketika kita bangun hingga tertidur, lahir dan mati, manusia selalu menjalani semuanya sendirian. Pada akhirnya, dikatakan dalam teks <a href="http://store.lamrimnesia.com/product/lakon-hidup-sang-penerang/">Lakon Hidup Sang Penerang (<em>Bodhisatwa-caryawattara</em>)</a> apalah guna orang-orang tercinta yang hanya bisa merintangi?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di samping itu, </span><b>kita juga harus meninggalkan tubuh kita berulang kali</b><span style="font-weight: 400;">. Tak peduli telah berapa kali terlahir sebagai dewa di surga, kita harus mengalami kelahiran lagi di tempat-tempat seperti neraka. Kita telah terlahir selama tak terhingga jumlahnya di setiap alam kehidupan, namun tak ada satupun yang mampu membawa kita kepada sesuatu yang berkelanjutan. Tak ada satupun obyek yang tidak pernah kita miliki sebelumnya dalam samsara. Namun lagi-lagi, tak ada satupun dari hal tersebut yang mampu kita andalkan. </span></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Saking banyaknya kelahiran telah kita lalui, bahkan samudra-samudra di dunia tak mampu menampung air mata yang tumpah karena patah hati. Masih maukah kita jatuh cinta dan patah hati berulang kali dan terjebak dalam samsara tiada akhir?</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal penting yang tak boleh luput untuk direnungkan adalah fenomena lahir, tua, sakit, dan mati. Kita sering kali tidak merasa bahwa hal-hal tersebut merupakan penderitaan sebab kita buta. Kita tidak sadar bahwa hal tersebut adalah masalah bagi diri kita. Kita sering mengejar sesuatu yang semu tanpa memahami betul konsep dan karakter hal-hal yang kita kejar. Persepsi dan realita yang kita alami kerap kali memiliki jarak yang jauh sehingga kita selalu menderita dan dikecewakan. Akan tetapi, kita tidak sadar bahwa kita terus dikecewakan sehingga kita terus mengejar hal tersebut bagaikan kuda yang mengenakan kacamata kuda dengan batang yang digantung sayuran di depan matanya. Ia akan terus mengejar sayuran yang ada di depannya tanpa mengetahui bahwa harapan untuk mendapatkannya tak akan pernah tercapai. Lebih dari itu, perasaan senang yang selama ini kita anggap merupakan kebahagiaan pada akhirnya bukanlah kebahagiaan. Hal ini dikarenakan kondisi yang bisa membuat kita merasakan perasaan senang tersebut tidak ajeg. Saat kita duduk terlalu lama di atas bantal duduk, kita merasa pegal kemudian pindah ke sofa. Namun ketika kita beranggapan bahwa kita merasa nyaman duduk di sofa, mulai timbullah masalah lainnya seperti merasa panas dan lain sebagainya. Ketika timbul rasa senang, maka sudah dapat dipastikan ketidaksenangan akan mengikuti. Lantas di mana lagi rasa senang yang tadinya kita rasakan berada? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berjuanglah dengan sungguh-sungguh dalam mencapai kebebasan samsara di tengah kehidupan yang mengelabui kita dalam segala kenikmatannya. Biksu Bhadra Ruci mengingatkan kita mengenai bagaimana samsara dengan mudahnya menjebak kita bagaikan kukusan bertingkat enam. Kita hanya bisa terus naik, turun, naik, turun, berputar, tanpa pernah bisa benar-benar keluar dari kukusan tersebut. Lihat dan pahamilah esensi samsara dan kehidupan. Ketika tiba saatnya kita bisa merasakan muak terhadap kekayaan dan segala jenis tipu muslihat kebahagiaan samsara, saat itulah kita bisa yakin bahwa kita telah menolak samsara dan meniti jalan menuju kebahagiaan sejati.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.<br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry (082163276188)</i></b></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Welas Asih</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Oct 2017 12:11:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[keluar dari samsara]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3715</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Kyabje Lama Zopa Rinpoche Dikutip dari seminar tentang cara mengembangkan welas asih dan menawarkan pelayanan yang sempurna kepada orang lain, diberikan oleh Kyabje Lama Zopa Rinpoche di Kasih Hospice, Selangor, Malaysia, pada tanggal 14 Mei 2006. Disunting oleh Sandra Smith. Menundukkan Kemarahan Membawa Damai Selamat malam. Maaf. Selamat sore. Waktu saya bercampur aduk. Saya [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">oleh: Kyabje Lama Zopa Rinpoche</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Dikutip dari seminar tentang cara mengembangkan welas asih dan menawarkan pelayanan yang sempurna kepada orang lain, diberikan oleh Kyabje Lama Zopa Rinpoche di Kasih Hospice, Selangor, Malaysia, pada tanggal 14 Mei 2006. Disunting oleh Sandra Smith.</span></i></p>
<p><strong>Menundukkan Kemarahan Membawa Damai</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selamat malam. Maaf. Selamat sore. Waktu saya bercampur aduk. Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada semua orang karena telah datang ke sini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anda berada di sini untuk belajar tentang welas asih dan untuk membantu dunia. Ada dorongan yang luar biasa, ada kebutuhan besar untuk membantu makhluk hidup yang tidak memiliki kebahagiaan dan yang terus-menerus menderita. Mereka sangat membutuhkan bantuan Anda. Terima kasih banyak untuk orang-orang yang datang ke sini, yang niatnya adalah untuk memberi manfaat kepada orang lain dan untuk belajar tentang cara melakukannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya harus meminta maaf atas kebiasaan saya untuk datang terlambat. Semua sudah lama menunggu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama, saya ingin menyebutkan apa yang telah dibaca, apa yang saya dengar, tentang dunia yang penuh dengan bencana atau penderitaan, dunia dengan begitu banyak masalah. Apakah welas asih kita dapat melakukan sesuatu untuk membantu? Itulah yang saya dengar. Saya ingin menyebutkan ini untuk memulai sesi kali ini. Sesuatu yang logis. Sangat logis.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dikatakan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Bodhicaryawatara</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Lakon Hidup Bodhisatwa) karya guru besar India, Shantidewa, bahwa jika Anda ingin menutupi seluruh dunia dengan karpet kulit, jika Anda ingin menutupi semua semak duri yang tumbuh di dunia ini, takkan ada cukup kulit untuk menutupinya agar Anda bisa berjalan dengan kaki telanjang tanpa terluka sedikit pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi, jika Anda memakai sepatu kulit, maka ke mana pun Anda pergi, ke bagian dunia mana pun yang Anda kunjungi, semak duri takkan bisa melukai kaki Anda. Jika Anda mengenakan sepatu yang memiliki sol kulit, duri takkan bisa melewati sepatu untuk melukai kaki Anda. Ke mana pun Anda pergi, duri takkan menembus masuk ke dalam kaki Anda.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, jika batin Anda berhasil ditundukkan atau dijinakkan – maka kemarahan, ketidaktahuan, kemelekatan, keinginan, pikiran yang tidak puas, dan semua sikap negatif yang menyamar dan mengganggu – maka takkan ada lagi musuh di dunia; Anda tak dapat lagi menemukan musuh di dunia. Ketika kemarahan, khayalan, dan sikap negatif yang menyamar dan mengganggu dihilangkan, takkan ada tempat di mana Anda bisa menemukan musuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tanpa menjinakkan pikiran Anda dengan melatih hati yang baik, belas kasih untuk orang lain, tentu saja, kemarahan muncul. Tanpa menjinakkan pikiran, dengan khayalan ini, maka tidak masalah berapa banyak musuh luar yang Anda bunuh, tidak pernah selesai. Tidak ada akhir, tidak ada akhir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada dasarnya, jika Anda membunuh satu orang yang merugikan Anda, maka teman-temannya akan menjadi musuh Anda. Mereka menjadi musuh bagi Anda. Lalu, teman-teman mereka akan menjadi musuh bagi Anda. Kemudian, dari sana, seluruh masyarakat, ratusan, puluhan ribu orang, populasi seluruh negara akan menjadi musuh Anda.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada umumnya, dalam perang, ratusan ribu orang terbunuh, meski biasanya konflik hanya dimulai antara dua orang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita hanya berbicara tentang kehidupan ini, masalah dalam kehidupan ini. Efek yang Anda dapatkan dari membunuh musuh sebenarnya jauh lebih buruk daripada itu. Anda ingin memiliki kedamaian abadi, tapi Anda lebih banyak merasakan bahaya dari orang lain. Bahkan jika Anda tidak menerima kerugian sekarang, tahun ini, Anda akan menerimanya nanti, di tahun-tahun lainnya. Mereka akan membahayakan Anda. Mereka akan memendam dendam dan Anda akan mendapat bahaya nanti.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, berhubung ada kesinambungan dari arus kesadaran, kesadaran akan tetap eksis bahkan setelah tubuh Anda hancur atau berhenti berfungsi. Kita bisa mengingat apa yang kita lakukan kemarin, kita bisa mengingat seperti apa kehidupan kita kemarin karena ada kesinambungan dari arus kesadaran dari hari kemarin sampai hari ini. Dari tahun lalu hingga saat ini, ada kesinambungan dari arus kesadaran. Kesadaran tahun lalu berlanjut, dan kesadaran hari ini merupakan kesinambungan dari itu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah sebabnya kita bisa mengingat tahun lalu dan masa kecil kita. Beberapa orang bahkan punya kejernihan batin untuk bisa mengingat momen paling awal dari kelahiran mereka. Kebanyakan orang tidak bisa mengingatnya, tapi beberapa orang bahkan bisa mengingat momen ketika mereka pertama kali keluar dari kandungan ibu mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beberapa orang bahkan bisa mengingat momen ketika mereka berada di rahim ibu – ini adalah orang-orang yang memiliki batin yang sangat jernih, yang tidak terpengaruh oleh banyak kotoran batin, yang memiliki batin yang sangat berkembang. Mereka yang memiliki batin seperti ini bisa mengingat proses konsepsi di rahim ibu. Mereka ingat saat-saat ketika mereka berada di rahim ibu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sama halnya, mereka bisa mengingat kehidupan lampau mereka. Sebelum kesadaran terjadi di rahim ibu, mereka sudah punya ingatan. Mereka ingat di mana mereka dan apa yang mereka lakukan di masa lalu. Mereka yang memiliki batin seperti ini – orang-orang dengan kewaspadaan yang tinggi – dapat melihat masa lalu dan masa depan, tidak hanya pengalaman mereka sendiri, tapi juga pengalaman orang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, tanpa menundukkan emosi negatif seperti amarah, kita akan terus-menerus merasakan bahaya dari orang lain di masa depan. Apa yang kita lakukan dalam kehidupan ini akan menghasilkan konsekuensi panjang yang akan kita alami dalam rangkaian kehidupan mendatang. Dalam ratusan, ribuan kehidupan, kita akan mengalami kerugian dari orang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita hanya memikirkan satu kehidupan ini saja, kita sama sekali tidak akan memiliki kedamaian. Artinya, bahkan jika kita tidak menerima bahaya dari orang lain, semata memikirkan kehidupan saat ini takkan menghasilkan kedamaian dan kebahagiaan batin. Batin kita akan merasa bersalah dan tidak bahagia. Ini terutama terjadi saat kematian datang menjemput. Ketika saat itu tiba, kita akan merasa bahwa kita memiliki kehidupan yang sangat menyedihkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, Shantidewa menasihati kita untuk mengembangkan welas asih, kesabaran, dan kualitas positif lainnya. Ketika batin kita telah dijinakkan atau ditundukkan, ketika kemarahan dan emosi negatif lainnya ditundukkan, ini sama seperti menghancurkan semua musuh sekaligus.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini bisa menjadi bahan renungan kita. Musuh dibuat oleh batin kita. Musuh berasal dari batin kita. Label &#8220;musuh&#8221; berasal dari kemarahan kita. Saat kita marah, label &#8220;musuh&#8221; pun muncul.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat kemarahan muncul, kita melihat seseorang sebagai musuh. Tapi, begitu kita merenungkan dan memunculkan welas asih, kesabaran, dan kualitas positif sejenis kepada orang itu, maka kemarahan kita pun lenyap dalam satu jentikan jari. Orang itu bukan lagi musuh; kita tidak melihat orang itu sebagai musuh pada momen berikutnya. Dengan kesabaran, kita melihat orang itu sebagai yang paling baik, sosok yang paling berharga. Kita merasa orang itu sangat berharga dalam hidup kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan orang yang tidak meyakini reinkarnasi atau hukum karma juga akan mengiyakan poin ini. Dengan melatih kualitas-kualitas positif terhadap orang yang kita sebut musuh, kita dapat mengurangi kemarahan kita padanya; kita dapat mengembangkan lebih banyak kesabaran, lebih banyak welas asih padanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian, terhadap keluarga, pasangan, dan anak-anak kita, kita dapat mengembangkan lebih banyak welas asih, bersikap lebih sabar lagi pada mereka. Kita bisa membuat kemarahan kita semakin berkurang. Ia akan berkurang tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun setelahnya. Dalam 6-7 tahun, kita mungkin hampir takkan pernah marah lagi. Bahkan jika kemarahan muncul, ia hanya akan berlangsung 2-3 detik dan kemudian hilang. Ia tidak berlangsung lama seperti sebelumnya. Ia sangat jarang muncul, dan tidak bertahan lama. Ia muncul selama beberapa detik, lalu lenyap.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita akan memiliki hubungan yang sangat baik, harmonis, dan damai dengan keluarga kita, dengan teman-teman kita. Ada begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tidak marah pada orang lain. Alih-alih marah kepada mereka, kita memiliki kesabaran dan pikiran positif, pikiran yang bahagia. Kita memiliki pikiran yang sehat, pikiran yang damai dan bahagia. Kita memunculkan semua kualitas positif ini, dan kita mengembangkan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bukan saja kita tidak menyakiti orang lain, tapi kita juga menguntungkan mereka. Melalui batin yang positif, kesabaran dan (terutama) welas asih pun muncul. Bukan saja kita tidak menyakiti orang lain, kita akan membantu mereka dengan penuh welas asih. Jadi, alih-alih merugikan orang lain, kita menguntungkan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah yang terjadi. Kita membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan bagi keluarga kita. Dan karena kita tidak marah, kita tidak menyakiti orang lain, dan mereka tidak marah kepada kita. Kita tidak menyebabkan mereka marah kepada kita, kita tidak menyebabkan mereka menyakiti kita. Kita tidak menyebabkan mereka menciptakan karma negatif karena kita, terhadap kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sama halnya, kita akan membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup kita. Kita membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan bagi kehidupan anggota keluarga, suami atau istri, atau anak-anak, atau siapa pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu saja, semua orang menginginkan itu. Kita semua ingin keluarga kita mencintai kita, bahagia bersama kita. Kita tidak ingin ada yang marah kepada kita, menyakiti kita, memperlakukan kita dengan buruk, atau mengkritik kita. Kita tidak menginginkan semua itu. Kita tidak ingin keluarga kita merasa tidak bahagia, memiliki pikiran negatif, marah kepada kita dan terlibat dalam karma negatif, yang semua itu harus mereka tanggung akibatnya. Kita tidak ingin mereka menanggung penderitaan dalam bentuk apa pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak hanya itu. Terhadap semua manusia di negara tempat kita berada, kita juga tidak marah kepada mereka; kita tidak menyakiti mereka. Dengan hati yang baik, dengan kesabaran, jutaan orang di negara kita akan menerima begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan dari diri kita, dari kesabaran kita, dari welas asih kita. Semua manusia di dunia ini, dan semua makhluk lainnya, termasuk binatang, tidak akan menerima bahaya dari kemarahan kita. Semua makhluk tidak akan mendapat bahaya dari kita. Mereka akan menerima begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan dari kita. Tiadanya bahaya adalah kedamaian.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan jika kita tidak terlibat dalam pelayanan tambahan atau memberi manfaat kepada orang lain, ketiadaan amarah adalah kedamaian dan kebahagiaan yang akan mereka terima dari kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita berbicara melampaui konteks kehidupan di dunia ini, maka bisa dikatakan bahwa makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya di dunia-dunia yang lain juga tidak akan mendapat bahaya dari kita jika kita mengembangkan kesabaran dan welas asih. Jika kita berhenti menyakiti orang lain dengan mengembangkan pikiran yang sabar dan berwelas asih, maka dari kehidupan ke kehidupan, makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya akan menerima kedamaian dan kebahagiaan dari kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, semua kedamaian dan kebahagiaan inilah yang bisa kita hasilkan, yang dimulai dari keluarga kita, kemudian negara kita, kemudian dunia ini, dan akhirnya semua makhluk hidup di seluruh alam semesta. Kita bisa menawarkan ini karena kita melatih kesabaran dan welas asih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang tertentu yang memiliki kemarahan terhadap kita, yang merugikan kita, takkan kita balas dengan kemarahan yang sama jika kita mengembangkan kesabaran dan welas asih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siapa yang membantu kita mengembangkan kualitas yang luar biasa dan tak ternilai ini di dalam diri kita? Siapa yang membantu kita mengembangkan kualitas ini sehingga akhirnya kita bisa memberi kedamaian dan kebahagiaan bagi semua makhluk hidup? Mereka yang memiliki kemarahan terhadap kita, yang menyiksa kita, yang merugikan kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka memberi kita kesempatan dan membantu kita untuk menghasilkan kualitas yang tak ternilai ini di dalam batin, sehingga kita akhirnya dapat menawarkan semua kedamaian dan kebahagiaan ini kepada makhluk hidup lain yang tak terhitung jumlahnya dari kehidupan ke kehidupan. Oleh karena itu, mereka sangat berharga. Tidak ada ucapan terima kasih yang dapat mengungkapkan perasaan syukur kita atas hal ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tak perlu berbicara tentang kehidupan mendatang. Dalam kehidupan saat ini saja, kita dapat menawarkan begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan melalui kesabaran dan welas asih kepada keluarga dan negara kita dan seluruh dunia. Kita bisa membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan kepada mereka. Itu sangat luar biasa. Itu akan mencapai tujuan hidup kita. Itulah arti sebenarnya dari kehidupan, sesuatu yang membuat hidup menjadi berharga.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semuanya karena kebaikan dari orang yang telah marah kepada kita, yang merugikan kita. Karena kemarahan dan tindakan buruk mereka, kita diberi kesempatan untuk melatih batin kita, untuk melatih kesabaran dan welas asih, untuk menawarkan begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan kepada dunia, kepada makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya katakan sebelumnya bahwa tiadanya bahaya itu sendiri adalah kedamaian dan kebahagiaan. Kemudian selain itu, kita menawarkan pelayanan kepada orang lain, jadi ada tambahan kebahagiaan dan kedamaian. Ini semua karena kebaikan musuh kita. Oleh karena itu, melatih batin dengan orang tersebut membantu kita memiliki kedamaian dan kebahagiaan dalam keluarga dan kehidupan kita. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua ini adalah jawabannya. Inilah yang bisa kita lakukan untuk membantu dunia. Semuanya berasal dari pihak kita, yang tidak ingin membahayakan dunia dan penghuninya terlebih dahulu. Mulai satu per satu, dengan satu manusia atau dengan binatang yang paling dekat dengan kita. Dari sini, kita bisa berkembang lebih dan lebih, untuk membawa kebahagiaan kepada orang lain, untuk tidak menyakiti orang lain, dan untuk memberi mereka kebahagiaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk melakukan semua itu, kita perlu mengubah batin  kita. Kita perlu mengubah kemarahan menjadi kesabaran, menjadi welas asih bagi orang lain. Apa yang dikatakan Shantidewa sangat benar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalau kita tidak memiliki kemarahan, maka ke mana pun kita pergi – Timur atau Barat, di rumah atau di luar, di kantor, ke mana pun kita pergi &#8211; kita tidak dapat menemukan musuh. Sebaliknya, dengan memiliki kemarahan, kita akan menemukan musuh di mana pun kita berada. Bahkan di pusat meditasi, bahkan di sebuah biara, bahkan di dalam gua sekali pun, kita akan menemukan musuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika kita memiliki kemarahan terhadap seseorang, kita melihat orang itu sebagai sosok yang sangat tidak diinginkan. Kita tidak menyukai orang itu; ia adalah seseorang yang tidak ingin kita lihat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi pada momen berikutnya, ketika kita memikirkan kebaikan orang itu – yang telah memungkinkan kita untuk melatih kesabaran dan welas asih – kita akan melihatnya dengan cara yang benar-benar berlawanan dari sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang ini sebelumnya tidak diinginkan; kita tidak ingin melihatnya. Ia tidak diinginkan. Tapi sekarang, ia adalah orang yang paling berharga dan paling baik. Tidak ada ucapan terima kasih yang cukup untuk membalas kebaikannya. Ia lebih baik daripada seseorang yang memberi kita satu miliar dolar atau satu juta dolar. Kebaikan miliknya berbeda. Kebaikannya adalah sesuatu yang kita rasakan sangat mendalam di hati kita. Sekarang, ia menjadi sangat berharga; ia adalah seseorang yang harus kita miliki dalam hidup kita. Kita merasa sangat berbeda dari sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang, kita bisa melihat bahwa tidak ada musuh; tidak ada musuh yang ada secara inheren. Orang lain tidak berubah. Kitalah yang mengubah batin kita; orang lain tidak berubah. Masih ada kemarahan orang itu di sana. Jika tidak, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk melatih kesabaran. Jika batin orang lain berubah terhadap kita, jika ia menghentikan kemarahannya, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kesabaran kita. Jadi sebenarnya, di mana pun kita berada, kita tidak memiliki musuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika teman-teman kita tidak marah kepada kita, jika teman-teman kita mencintai kita, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk melatih kesabaran dengan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua makhluk hidup datang dalam tiga cara: baik sebagai teman, musuh, atau orang asing. Makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya adalah musuh, atau orang asing, atau teman. Jika makhluk hidup adalah orang asing, maka juga tidak ada kesempatan untuk melatih kesabaran dan menenangkan kemarahan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pikirkan, &#8220;Di negara ini, di dunia ini, di antara makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya – mereka yang tercerahkan dan belum tercerahkan, mereka yang terbebas dari penderitaan dan tidak terbebas dari penderitaan, para makhluk biasa – mereka yang memiliki kemarahan terhadap saya adalah satu-satunya yang memberi saya kesempatan untuk mengembangkan batin saya, untuk menguntungkan semua makhluk hidup di seluruh dunia. Inilah satu-satunya pihak yang memungkinkan saya menjinakkan batin saya.&#8221;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, orang ini menjadi sangat berharga. Ketika kita melihat kebaikan musuh, kita tidak ingin musuh menderita; kita ingin membebaskan musuh dari penderitaan. Welas asih pun muncul untuk musuh kita. Ini hanya satu contoh. Jika kita bisa mengembangkan welas asih kepada musuh kita, maka akan mudah untuk mengembangkannya kepada orang asing atau teman. Akan sangat mudah untuk mengembangkan welas asih kepada mereka. Yang paling sulit adalah mengembangkan welas asih kepada musuh.</span></p>
<p><em>diterjemahkan oleh: Deny Hermawan</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Umat Buddhis Ambisius?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/04/03/apakah-umat-buddhis-ambisius/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Apr 2017 11:37:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan samsara]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3080</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh: Ven.Thubten Chodron (18 Juni 2011) Saat pertama kali seseorang memulai praktik Dharma, seringkali mereka bertanya: “Menurut Buddhisme, kemelekatan adalah sikap yang mengganggu. Jika saya mengurangi kemelekatan saya, apa yang akan terjadi pada ambisi saya? Apakah saya akan menjadi lesu dan menjadi kurang termotivasi untuk melakukan apapun? Apa yang akan terjadi pada karir saya?” Demikian [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/04/03/apakah-umat-buddhis-ambisius/">Apakah Umat Buddhis Ambisius?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/04/03/apakah-umat-buddhis-ambisius/">Apakah Umat Buddhis Ambisius?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh: Ven.Thubten Chodron (18 Juni 2011)</p>
<p>Saat pertama kali seseorang memulai praktik Dharma, seringkali mereka bertanya: “Menurut Buddhisme, kemelekatan adalah sikap yang mengganggu. Jika saya mengurangi kemelekatan saya, apa yang akan terjadi pada ambisi saya? Apakah saya akan menjadi lesu dan menjadi kurang termotivasi untuk melakukan apapun? Apa yang akan terjadi pada karir saya?” Demikian pula, mereka akan bertanya: “Apakah ambisi diperlukan saat kita mengerjakan acara terkait Dharma dan melakukan kerja relawan di pusat Dharma? Bagaimana kita memastikan positifnya usaha kita?”</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang sangat bagus, dan untuk menjawabnya kita harus membedakan antara ambisi yang konstruktif dan destruktif. Ambisi, sama seperti hasrat, memiliki dua aspek, bergantung pada motivasi dan objek yang dituju.</p>
<p>Ambisi negatif mengejar kesuksesan dan kenikmatan duniawi dengan motivasi yang egois. Ambisi positif mencari tujuan yang bermanfaat melalui salah satu dari tiga tingkat motivasi Dharma: untuk memiliki kelahiran yang baik di masa mendatang, untuk terbebas dari penderitaan karena kelahiran berulang-ulang, dan untuk mencapai pencerahan sempurna demi membantu semua makhluk dengan cara yang paling efektif.</p>
<p>Ketika membicarakan halangan pertama pada praktik Dharma sejati &#8211; kemelekatan pada kebahagiaan saat ini saja &#8211; Buddha berbicara mengenai hasrat atau ambisi untuk memiliki harta, uang, ketenaran, pujian, penerimaan oleh pihak lain dan kenikmatan indrawi seperti makanan, musik dan hubungan seksual. Karena hasrat kita begitu kuat untuk mendapatkan kenikmatan yang kita pikir akan diberikan hal-hal tersebut, kita sering menyakiti, memanipulasi, atau menipu orang lain agar kita dapat mendapatkan kenikmatan tersebut. Bahkan, meskipun kita berusaha mendapatkan hal-hal tersebut tanpa menyakti makhluk lain secara langsung, batin kita masih terkunci pada kondisi jangka pendek: mencari kebahagiaan dari orang lain dan objek eksternal yang tidak dapat memberikan kita kebahagiaan sejati. Oleh karenanya, waktu yang seharusnya kita gunakan untuk mengembangkan cinta kasih, welas asih, dan kebijaksanaan malah dialihkan untuk mencari sesuatu yang tidak dapat memuaskan kita pada jangka panjang. Untuk mendapatkan kebahagiaan sejati, kita harus mengurangi ambisi tersebut terlebih dahulu, melihatnya sebagai kerugian &#8211; karena ia menciptakan masalah dalam hubungan kita dengan orang lain dan menanam jejak karma negatif pada arus batin kita &#8211; dan kedua, menyadari bahwa hal-hal yang dikejar oleh ambisi duniawi tidak dapat menghasilkan kebahagiaan jangka panjang. Kita tahu bahwa ada banyak sekali orang kaya dan terkenal yang hidupnya diliputi kesedihan dan menderita karena masalah emosional dan alkoholisme.</p>
<p>Seiring dengan upaya kita mengurangi ambisi duniawi, akan muncul ruang di batin kita untuk bertindak dengan welas asih dan kebijaksanaan. Hal ini adalah ambisi positif. Welas asih &#8211; aspirasi agar semua makhluk terbebas dari penderitaan &#8211; dapat menjadi motivator yang kuat pada setiap tindakan. Welas asih dapat menggantikan amarah yang selama ini memotivasi kita saat kita melihat ketidakadilan sosial, dan menginspirasi kita untuk bertindak menolong orang lain. Selain itu, ambisi konstruktif yang dijiwai dengan kebijaksanaan mampu menilai secara cermat akibat jangka panjang dan pendek dari tindakan kita. Secara ringkas, melalui latihan yang konsisten, kekuatan dari ambisi egois kita untuk kenikmatan duniawi akan berubah menjadi kekuatan untuk mempraktikkan Dharma dan bermanfaat bagi makhluk lain.</p>
<p>Sebagai contoh, andaikan ada seseorang bernama Sam yang sangat melekat pada reputasinya. Dia ingin orang-orang berpikir baik tentang dia dan berbicara baik mengenai dia, tidak karena dia memang peduli pada mereka, namun karena dia ingin mereka memberikan dia sesuatu, untuk melakukan sesuatu bagi dirinya, dan untuk memperkenalkan dia pada orang-orang terkenal dan berkuasa. Dengan motivasi ini, dia berbohong, menutupi kekurangannya, berpura-pura memiliki kelebihan yang tidak dia miliki, atau memiliki interaksi yang sesungguhnya palsu. Atau, dia bahkan dapat melakukan sesuatu yang tampak baik, seperti berbicara baik mengenai seseorang, namun tujuan sebenarnya adalah untuk memenuhi keinginan egoisnya saja.</p>
<p>Jika dia berhenti dan merenungkan, “Apa hasil dari sikap dan tindakan tersebut? Apakah mencapai apa yang dituju ambisiku benar-benar membawa kebahagiaan bagiku?” Sam akan menyadari bahwa sebenarnya dia menciptakan lebih banyak masalah bagi dirinya dan orang lain melalui penipuan dan manipulasi yang ia lakukan. Meskipun pada awalnya dia dapat membodohi orang-orang, pada akhirnya dia akan gagal dan mereka akan menemukan motif dasar dari semua tindakannya, dan kehilangan kepercayaan padanya. Kalaupun dia berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan dan awalnya menikmatinya, hal tersebut tidak akan benar-benar memuaskannya dan malah akan memberikannya masalah baru. Selain itu, dia juga menciptakan karma negatif yang menjadi sebab dari masalah di masa depan. Dengan merenung seperti ini, ambisi duniawi yang ia miliki akan berkurang dan akan ada tempat untuk berpikir secara jernih. Dengan merenungkan kesalingbergantungan yang ia miliki dengan semua makhluk, Sam akan mengerti bahwa kebahagiaannya dan orang lain tidaklah terpisahkan. Bagaimana mungkin dia berbahagia jika orang-orang di sekitarnya menderita? Bagaimana mungkin dia memerhatikan kebahagiaan orang lain jika dia mengabaikan kebahagiaannya sendiri? Setelahnya, dia akan dapat terlibat dalam berbagai kegiatan dengan motivasi yang lebih baru dan realistis, serta memerhatikan dirinya sendiri dan orang lain.</p>
<p>Seiring upaya kita meninggalkan ambisi duniawi, kita dapat mengerjakan tugas dan karir kita menggunakan motivasi baru. Dengan ambisi duniawi, kita melekat pada gaji dan semua yang kita ingin beli melalui gaji itu, serta selalu mencemaskan reputasi kita di tempat kerja dan bagaimana mendapatkan promosi yang kita inginkan. Saat kita menyadari bahwa perolehan hal-hal tersebut takkan membuat kita berbahagia selamanya ataupun memberikan makna bagi hidup kita, maka kita dapat merasa rileks. Perasaan ini bukanlah sebuah kemalasan, karena saat ini terdapat ruang dalam batin kita untuk sikap yang lebih altruistik dan tujuan jangka panjang yang memotivasi kerja kita. Sebagai contoh, setiap pagi sebelum berangkat kerja, kita dapat berpikir, “Saya ingin menawarkan pelayanan pada klien dan kolega saya. Tujuan saya bekerja adalah untuk memberikan manfaat bagi mereka dan memperlakukan mereka dengan kebaikan dan hormat.” Bayangkan bagaimana lingkungan kerja kita akan berubah jika ada satu orang saja – kita – yang bertindak dengan niat tersebut!  Kita dapat juga berpikir, “Apa pun hal yang terjadi hari ini &#8211; bahkan saat saya mendapatkan kritik atau sedang stres &#8211; Saya akan menggunakannya untuk mempelajari batin saya dan mempraktikkan Dharma.” Kemudian, jika hal yang tidak menyenangkan terjadi pada saat kerja, kita dapat memerhatikan batin kita dan mencoba memberikan penawar Dharma pada emosi negatif seperti amarah. Jika kita tidak berhasil mendamaikan batin kita saat hal itu terjadi, kita dapat mengevaluasi apa yang telah terjadi dan menerapkan penawar Dharma ketika tiba di rumah, yakni dengan melakukan meditasi untuk melatih kesabaran. Dengan cara ini, kita dapat merasakan bahwa melepas ambisi duniawi akan membuat kita lebih baik, lebih rileks, sehingga kita pun menjadi lebih efisien dalam pekerjaan kita. Dan yang menarik, hal-hal tersebut adalah kualitas yang akan membawa kita pada reputasi yang lebih baik, dan bahkan promosi, meskipun kita tidak menginginkannya secara langsung!</p>
<p>Terkadang, jika kita tidak berhati-hati, ambisi duniawi kita seringkali bercampur dengan kegiatan Dharma. Sebagai contoh, kita dapat tergoda untuk menjadi seseorang yang penting di mata guru spiritual kita, dan menjadi cemburu atau bahkan bersaing dengan sesama murid untuk mendapatkan perhatian guru kita. Bisa saja kita ingin menjadi seseorang yang berpengaruh di pusat studi Dharma, sehingga semua hal yang berlangsung  berjalan sesuai dengan ide kita dan kita pun mendapatkan kredit atas segala sesuatu yang dicapai. Kita bisa saja ingin memiliki banyak rupang Buddha, buku Dharma, dan potret guru spiritual kita yang indah dan mahal sehingga kita bisa memamerkannya pada teman-teman Buddhis kita. Kita dapat juga ingin memiliki reputasi sebagai meditator yang baik atau seseorang yang telah mendapatkan banyak inisiasi dan menyelesaikan beberapa retret.</p>
<p>Dalam kasus ini, meskipun objek-objek dan orang-orang di sekitar kita terkait dengan Buddhisme, motivasi kita tidaklah berlandaskan Buddhisme. Apa yang terjadi adalah ambisi duniawi yang sama, hanya saja menjadi lebih mematikan karena semua itu justru berfokus pada objek Dharma. Sangatlah mudah untuk terperangkap pada jebakan ini. Kita berpikir bahwa dengan bekerja di kelompok dharma, pergi ke sesi pengajaran, atau memiliki objek Buddhis, kita telah mempraktikkan Dharma. Hal ini tidaklah sesederhana itu. Motivasi untuk mendapatkan reputasi, kepemilikan dan berbagai hal untuk mendapatkan kebahagiaan saat ini akan mengotori tindakan kita. Kita harus berulang kali memerhatikan motivasi kita sehingga kita dapat membedakan apakah motivasi kita termasuk ke dalam kategori duniawi atau Dharma. Seringkali, kita mendapatkan motivasi yang bercampur: kita memang memedulikan Dharma dan ingin melayani orang lain, namun kita juga ingin usaha kita dinilai, dihargai, dan mendapatkan pengakuan atau remunerasi sebagai imbalannya. Adalah hal yang normal jika motivasi kita tercampur seperti ini, karena kita memang belum mencapai pencerahan. Jika kita menyadari bahwa motivasi kita telah tercampur atau ternoda oleh keinginan duniawi, maka kita perlu merenungkan kerugiannya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dan segera mengembangkan salah satu dari tiga motivasi Dharma.</p>
<p>Tujuan praktik kita bukanlah untuk terlihat berpraktik Dharma, tetapi untuk mempraktikkannya secara nyata. Mempraktikkan Dharma berarti melakukan transformasi batin kita. Hal ini terjadi dalam batin kita. Patung, buku, pusat studi Dharma, dan semua yang terkait adalah hal-ihwal yang menolong kita dalam mewujudkan ini. Semua itu adalah alat yang menolong kita untuk membuat tujuan kita menjadi nyata; mereka bukanlah praktik itu sendiri. Oleh karenanya, untuk berkembang di sepanjang jalan ini, kita harus selalu menyadari batin dan perasaan internal kita dan memeriksa apakah mereka mencari ambisi dan hasrat duniawi yang bersifat egois dan sempit. Jika ternyata memang demikian, kita dapat mengubah mereka menjadi ambisi dan hasrat positif untuk tujuan yang lebih mulia, seperti kebahagiaan orang lain, pembebasan dari kelahiran kembali, dan pencerahan sempurna seorang Buddha. Dengan terus-menerus melakukan hal ini, manfaat yang diraih oleh diri kita dan orang lain niscaya akan semakin nyata.</p>
<p><em>(Sumber: <a href="http://thubtenchodron.org/2011/06/ambition-motivation/">thubtenchodron.org</a> | diterjemahkan oleh Andri Kurnia)</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/04/03/apakah-umat-buddhis-ambisius/">Apakah Umat Buddhis Ambisius?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/04/03/apakah-umat-buddhis-ambisius/">Apakah Umat Buddhis Ambisius?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Mengatasi Kecemburuan Dalam Hubungan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2016/12/02/cara-mengatasi-kecemburuan-dalam-hubungan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2016 00:00:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[dukkha dan proses samsara]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2598</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh Dr. Alexander Berzin Kecemburuan membuat kita takut akan ditinggalkan oleh teman dan pasangan, mengganggu hubungan dan menyebabkan kita kehilangan kedamaian pikiran. Jika kita semakin cemburu dan posesif, kita semakin mendorong orang lain untuk menjauh. Dengan memahami bahwa kita mampu mencintai begitu banyak hal dan orang, maka kita dapat mengatasi kecemburuan. Mencintai orang lain tidak [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/12/02/cara-mengatasi-kecemburuan-dalam-hubungan/">Cara Mengatasi Kecemburuan Dalam Hubungan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/12/02/cara-mengatasi-kecemburuan-dalam-hubungan/">Cara Mengatasi Kecemburuan Dalam Hubungan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em>Oleh Dr. Alexander Berzin</em></p>
<p>Kecemburuan membuat kita takut akan ditinggalkan oleh teman dan pasangan, mengganggu hubungan dan menyebabkan kita kehilangan kedamaian pikiran. Jika kita semakin cemburu dan posesif, kita semakin mendorong orang lain untuk menjauh. Dengan memahami bahwa kita mampu mencintai begitu banyak hal dan orang, maka kita dapat mengatasi kecemburuan. Mencintai orang lain tidak akan mengurangi cinta pasangan terhadap kita maupun sebaliknya. Hal ini bahkan akan memperkayanya.</p>
<p><b>Cemburu vs Iri Hati</b></p>
<p>Kecemburuan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Jika kita masih lajang dan merasa cemburu pada pasangan yang kita lihat atau tertarik pada orang yang sudah berpasangan, sesungguhnya ini adalah iri hati. Kita berharap kita-lah yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian tersebut atau kita menginginkan hubungan cinta seperti itu. Dalam kedua contoh ini, kita iri akan sesuatu yang tidak kita miliki, dan hal ini dapat menimbulkan perasaan serba kekurangan dan masalah kepercayaan diri.</p>
<p><b>Kecemburuan dalam hubungan</b></p>
<p>Rasa cemburu yang muncul ketika menjalani sebuah hubungan bahkan lebih mengganggu. Fokusnya bukan pada milik orang lain, melainkan pada pasangan, teman, atau orang ketiga; kita takut akan kehilangan hubungan khusus ini karena munculnya pihak ketiga. Kita menjadi tidak toleran terhadap persaingan maupun kemungkinan perselingkuhan. Sebagai contoh, kita cemburu jika pasangan bercanda atau menghabiskan banyak waktu dengan orang lain. Bahkan seekor anjing dapat merasakan kecemburuan jenis ini ketika bayi yang baru lahir tiba di rumah. Kecemburuan jenis ini mengandung unsur kebencian dan permusuhan serta rasa tidak aman dan keraguan yang kuat.</p>
<p>Jika merasa tidak aman, kita akan mulai cemburu ketika pasangan atau teman sedang bersama orang lain. Hal ini muncul karena kita tidak yakin dengan nilai diri kita sendiri dan meragukan rasa cinta orang lain kepada kita, sehingga kita jadi tidak percaya pada pasangan. Kita takut akan ditinggalkan. Ketakutan ini bisa muncul meskipun pasangan atau teman tidak menghabiskan waktu dengan orang lain sama sekali.</p>
<p><b>Mengatasi Kecemburuan</b></p>
<p>Untuk mengatasi kecemburuan, kita perlu merenungkan bahwa batin kita mampu mencintai semua orang – ini adalah salah satu aspek sifat Kebuddhaan. Menegaskan fakta ini dapat membantu kita mengatasi kecemburuan dengan cara melihat bahwa mencintai satu orang bukan berarti tidak mencintai orang lain. Lihat saja diri kita sendiri: kita mampu membuka batin terhadap begitu banyak hal dan manusia (<b>lihat artikel: Apa itu Cinta?</b>). Dengan hati yang terbuka, kita memiliki cinta untuk pasangan, teman, anak, hewan peliharaan, orang tua, negara, alam, Tuhan, hobi, dan lain sebagainya. Di dalam hati kita terdapat ruangan bagi mereka semua karena cinta tidaklah eksklusif. Kita mampu mengatasi dan berhubungan dengan semua objek cinta kita dengan sempurna, menunjukkan perasaan kita pada setiap objek dengan cara yang sesuai. Tentu saja wujud cinta dan perhatian kita terhadap anjing berbeda dengan wujud cinta pada istri, suami, atau orang tua kita!</p>
<p>Jika kita dapat memiliki hati yang terbuka, maka pasangan atau teman kita pun demikian. Hati setiap orang memiliki kemampuan untuk mencintai begitu banyak hal dan orang – bahkan terhadap seluruh dunia. Tidaklah adil dan realistis bila kita berharap atau bahkan mendesak agar cinta mereka hanya untuk kita semata dan tidak untuk sahabat atau minat lain. Apakah kita sebegitu merendahkan mereka sehingga menganggap tak ada ruang di hatinya untuk kita dan orang lain? Apakah kita ingin menghalangi kemampuan mereka untuk merealisasikan sifat Kebudhaan dan meraih kebahagiaan terbesar dalam hidup? (<b>Silakan baca lebih lanjut tentang sifat kebuddhaan</b>)</p>
<p>Di sini kita bukan berbicara tentang perselingkuhan secara seksual. Permasalahan monogami dan perselingkuhan seksual adalah hal yang sangat rumit dan mendatangkan banyak persoalan lain. Jika pasangan seksual kita berselingkuh atau menghabiskan banyak waktu dengan orang lain – terutama bila kita telah menikah atau memiliki anak kecil – bersikap cemburu, benci, dan posesif bukanlah emosi yang baik. Kita harus menghadapi situasi ini dengan pikiran jernih. Memaki pasangan atau membuat mereka merasa bersalah jarang membuat mereka mencintai kita.</p>
<p><b>Membuka hati kita untuk cinta</b></p>
<p>Ketika kita mengira bahwa cinta dan persahabatan hanya dapat dilakukan dengan satu orang semata, kita akan merasa bahwa cinta dari orang itu (pasangan atau teman) saja yang berarti bagi kita. Bahkan jika ada banyak orang lain yang mengasihi kita, kita cenderung mengabaikan hal itu dan berpikir, “mereka tidak masuk hitungan”. Dengan terus-menerus membuka hati kita pada sebanyak mungkin orang lain dan menerima cinta yang dilimpahkan orang lain (teman, keluarga, hewan peliharaan, dsb) untuk kita pada saat ini, masa lalu, dan masa mendatang, akan menolong kita untuk merasa aman secara emosional. Hal ini akan membantu kita mengatasi keterikatan terhadap seseorang yang kita anggap sebagai objek utama cinta kita.</p>
<p>Sifat maha tahu dan maha pengasih berarti memikirkan semua orang dalam hati dan pikiran kita. Meskipun demikian, ketika seorang Buddha fokus pada atau sedang bersama dengan satu orang, dia akan memusatkan seluruh perhatiannya terhadap orang tersebut. Artinya, mencintai semua orang tidak mengurangi cinta kita pada masing-masing individu. Kita tidak perlu takut bahwa membuka hati kepada banyak orang membuat hubungan pribadi kita jadi kurang menarik atau menyenangkan. Kita menjadi tidak terlalu melekat dan bergantung pada satu hubungan saja untuk merasa puas. Kita mungkin menghabiskan lebih sedikit waktu pada masing-masing individu, akan tetapi kita sepenuhnya terpusat pada orang tersebut. Hal yang sama berlaku untuk cinta orang lain kepada kita saat dilanda cemburu, kita mengira bahwa cinta mereka akan berkurang karena mereka juga mencintai orang lain.</p>
<p>Tidaklah realistis bila berpikir bahwa satu orang merupakan pasangan kita yang sempurna, “belahan jiwa” yang saling melengkapi dalam segala hal dan saling berbagi seluruh aspek kehidupan. Pemikiran ini berasal dari mitologi Yunani kuno yang diceritakan Plato bahwa pada mulanya kita adalah satu kesatuan yang dibagi menjadi dua. Separuh jiwa kita ada di luar sana, dan cinta sejati terjadi bila kita bertemu dan bersatu dengan sang belahan jiwa. Meski mendasari romantisme khas Barat, mitos ini tidaklah mengacu kepada kenyataan. Sama halnya dengan percaya bahwa pangeran tampan berkuda putih akan datang menyelamatkan kita. Kita memerlukan hubungan saling mencintai dengan banyak orang agar dapat saling berbagi tentang ketertarikan dan kebutuhan kita. Hal ini terjadi baik dalam diri kita, maupun pasangan atau teman. Kita tidak mungkin memenuhi segala keinginan mereka, sehingga mereka juga perlu berteman dengan yang lain.</p>
<p><b>Ringkasan</b></p>
<p>Ketika seseorang memasuki kehidupan kita, akan berguna bagi kita untuk memandangnya laksana burung liar indah yang hinggap di jendela kita. Karena takut ia akan terbang ke jendela orang lain, kita mengurungnya di dalam sangkar. Sang burung akan menderita, kehilangan keceriaannya, dan bahkan bisa mati. Seandainya, tanpa perasaan posesif, kita membiarkan burung itu terbang bebas, kita dapat menikmati saat menyenangkan ketika burung itu sedang bersama kita. Bila ia terbang dengan kehendaknya sendiri, dia akan kembali jika ia merasa aman bersama kita. Dengan menerima dan menghormati hak pasangan dan teman kita untuk berteman dengan orang lain, maka hubungan kita dengannya akan menjadi lebih sehat dan tahan lama.</p>
<p>(<em>Sumber:<a href="http://studybuddhism.com/en/buddhism-in-daily-life/how-to/how-to-deal-with-jealousy-in-relationships"> Study Buddhism</a></em> | <em>Diterjemahkan oleh Tim Hendera</em>)</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/12/02/cara-mengatasi-kecemburuan-dalam-hubungan/">Cara Mengatasi Kecemburuan Dalam Hubungan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/12/02/cara-mengatasi-kecemburuan-dalam-hubungan/">Cara Mengatasi Kecemburuan Dalam Hubungan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jalan Tengah Stres</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2016/09/29/jalan-tengah-stres/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2016 09:33:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[keluar dari samsara]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan samsara]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://localhost/smartmag/?p=2338</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh Judy Lief Hidup penuh dengan hal yang membuat stres. Walau banyak orang menyatakan bahwa kehidupan modern jauh lebih menekan daripada zaman dahulu, saya merasa sangsi. Makhluk hidup selalu harus berjuang demi keberlangsungan hidup, pangan, dan papan. Selalu ada tekanan untuk menemukan pasangan dan meneruskan keturunan. Anda dapat mengatakan bahwa pertanyaan tentang penderitaan, atau tekanan, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/jalan-tengah-stres/">Jalan Tengah Stres</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/jalan-tengah-stres/">Jalan Tengah Stres</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em>Oleh Judy Lief</em><b></b></p>
<p><aside class="sc-pullquote alignright">Apakah stres harus selalu dihindari? Dapatkah kita produktif saat stres? Apa gejala dan penangkal stres? Guru Buddhis Judy Lief menjelaskan stres dan pendapat ajaran Buddha tentangnya.</aside></p>
<p>Hidup penuh dengan hal yang membuat stres. Walau banyak orang menyatakan bahwa kehidupan modern jauh lebih menekan daripada zaman dahulu, saya merasa sangsi. Makhluk hidup selalu harus berjuang demi keberlangsungan hidup, pangan, dan papan. Selalu ada tekanan untuk menemukan pasangan dan meneruskan keturunan.</p>
<p><span id="more-2338"></span></p>
<p>Anda dapat mengatakan bahwa pertanyaan tentang penderitaan, atau tekanan, dan bagaimana menyikapinya sungguh pokok dalam Buddhisme. Inilah pertanyaan yang mendorong Buddha memulai perjalanannya, dan sepanjang perkembangannya ajaran Buddha telah mempelajari topik ini dari segala lapisan dan sudut pandang.</p>
<p>Bak peneliti medis, cendekiawan dan praktisi Buddhisme telah mendaftar detail-detail sindrom ini untuk mengobati gejalanya dan menemukan penangkalnya yang terampuh.</p>
<p>Jadi, apa itu stres dan bagaimana pendapat ajaran Buddhisme tentang cara menyikapinya? Bagaimana seharusnya kita bereaksi terhadap stres? Apakah kita harus selalu menghindarinya atau bisakah kita tetap produktif selagi mengalaminya? Sejauh apa stres berakar dalam kehidupan, atau semuanya hanya ciptaan kita sendri? Apa saja gejalanya dan apa pula penangkalnya?</p>
<p><b>Perasaan tertekan</b></p>
<p>Perasaan stres dapat dianggap sebagai sekelompok sensasi tak mengenakkan. Kita bisa jadi merasakan stres dalam bentuk tekanan, kekhawatiran, atau perasaan takut pada ruang tertutup. Kadang ada begitu banyaknya tantangan yang menghadang hingga kita seolah merasa tenggelam. Kita merasa tak sanggup, terkuasai oleh semuanya seperti kapal karam. Stres menyudutkan kita seolah tiada jalan keluar. Kita membatu, serasa tercekik oleh kekhawatiran yang membuncah. Saat stres, rasanya tak ada udara. Tak ada ruang. Tak ada kebebasan atau kesegaran. Dalam pengaruh stres, apa yang sebelumnya mudah bisa menjadi seperti mustahil dan ke manapun kita menoleh, rasanya tak ada jalan keluar. Dalam stres kita merasa kalut, seolah kita tengah ditarik hingga hampir putus.</p>
<p>Saat kita merasa tertekan, badan kita terasa tegang seolah menyusut. Secara mental, pemikiran kita semakin kaku dan tak mengalir luwes. Secara emosional, kita resah dan takut. Sedikit saja gangguan dapat membuat kita meledak penuh amarah. Bisa jadi pula kita malah menarik dan menutup diri. Kita lupa cara bernapas, seolah-olah seluruh badan kita adalah segumpal rasa sakit yang berdenyut-denyut.</p>
<p>Saat anda mulai memikirkan segala hal yang dapat membuat anda tertekan, anda tak akan berhenti. Awalnya mungkin persoalan yang dekat seperti kebutuhan membayar sewa atau mencari pekerjaan. Hanya dengan membaca koran, daftar itu bisa dengan cepat bertambah dengan masalah dunia seperti kelaparan, perang, kelebihan populasi, dan kerusakan lingkungan. Kita bahkan bisa menggunakan rasa resah dan tertekan yang kita rasakan terhadap masalah dunia ini sebagai semacam sertifikat bukti bahwa kita peduli, punya empati, dan sensitif.</p>
<p>Ketika kita mengalami stres, kita berusaha mencari seseorang atau sesuatu untuk disalahkan. Kita mengasumsikan bahwa pasti ada faktor luar yang menyebabkan kita merasa seburuk ini, dan bila kita menghilangkan faktor ini maka segalanya akan baik-baik saja. Jika memang ada faktor luar yang berlaku, kita memang bisa menghilangkannya begitu saja. Kita bisa berhenti menemui orang yang mengesalkan kita atau berhenti menyetujui hal yang dapat membuat kita berada di situasi tak mengenakkan. Tetapi, banyak situasi yang tak bisa kita apa-apakan, tak peduli betapapun situasi semacam itu menekan kita.</p>
<p><b>4 Macam Harapan dan Rasa Takut</b></p>
<p>Ada banyak peta dan geografi stres dalam ajaran Buddhis. Karena dianggap penting untuk berkomitmen melakukan apapun yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan taraf hidup semua makhluk, kita harus paham bagaimana kita sering menjebak diri dalam berlapis-lapis tekanan yang tak perlu, dan bagaimana kita mulai bisa keluar dari jebakan ini.</p>
<p>Untuk memulai, kita harus melihat apa yang melandasi tekanan emosional. Tekanan emosional digambarkan sebagai pola pikir yang mengakar. Karena terlalu banyak pikiran inilah kita membuat situasi tertekan semakin buruk. Dalam kebingungan kita, bukannya mengubah situasi atau sikap, kita malah menuang minyak ke dalam api.</p>
<p><i>Adalah satu hal untuk menyadari apa yang ingin kita tarik dan buang, dan adalah hal lain untuk menjadi terobsesi agar semua hal berjalan sesuai keinginan dan menjadi takut apabila terjadi hal yang berbeda.</i></p>
<p>Secara klasik, hal ini dijelaskan sebagai siklus harapan dan rasa takut yang tiada akhir, yang mendominasi kehidupan sehari-hari kita dari satu momen ke momen yang lain, dari awal hingga akhir. Filsuf Buddhis Nagarjuna menjelaskan harapan dan rasa takut dalam apa yang dinamainya 8 fokus duniawi: harapan untuk kebahagiaan dan rasa takut akan penderitaan; harapan untuk ketenaran dan rasa takut akan ketidakberartian; harapan untuk pujian dan rasa takut akan kecaman; serta harapan mendapat untung dan rasa takut akan kerugian. Singkatnya, tanpa berkesudahan, kita menghabiskan hidup setengah mati berusaha menahan sebagian hal dan membuang hal lain.</p>
<p>Anda mungkin bertanya: apa salahnya memilih kebahagiaan daripada kesedihan atau memilih pujian daripada kecaman? Bukankah yang kita inginkan memang mengejar kebahagiaan? Bukankah jelas bahwa untung lebih baik daripada rugi? Adalah satu hal untuk menyadari apa yang ingin kita tarik dan buang, dan adalah hal lain untuk menjadi terobsesi agar semua hal berjalan sesuai keinginan dan menjadi takut apabila terjadi hal yang berbeda. Masalahnya, harapan selalu bertalian erat dengan pasangannya, rasa takut. Mustahil satu hal muncul tanpa hal yang lain. Ketika kita terperangkap dalam siklus harapan dan rasa takut ini, kita selalu tegang sehingga bahkan pengalaman terbaik kita pun dihantui rasa waswas.</p>
<p><b>Kebahagiaan vs. Penderitaan</b></p>
<p>Dalam bentuk pertama harapan dan rasa takut, kita memandang segala sesuatu dalam bentuk kebahagiaan dan penderitaan, kesenangan dan kepedihan. Kita mengharapkan kebahagiaan, namun begitu mendapatkannya, muncullah rasa takut kehilangan. Karena rasa takut ini, kita berusaha menggenggam kebahagiaan begitu eratnya hingga kebahagiaan itu sendiri berubah menjadi sebentuk kepedihan. Begitu penderitaan muncul, pikiran positif macam apapun tak bisa mengusirnya. Semakin kita mengharapkan sebaliknya, semakin sengsaralah kita.</p>
<p><b>Ketenaran vs. Ketidakberartian</b></p>
<p>Dalam bentuk kedua harapan dan rasa takut, kita terobsesi pada ketenaran dan takut akan ketidakberartian diri. Kita berlomba-lomba mencapai puncak, lapar akan penghargaan, dan begitu kita tak mendapatkannya kita merasa kesal dan gampang tersinggung. Ketika kita menyadari betapa keras kita harus berusaha agar terlihat sebagai seorang yang istimewa, ketakutan kita akan ketidakberartian meningkat. Di belakang topeng ketenaran, kita menderita karena merasa diri kita kosong dan kesepian.</p>
<p><b>Pujian vs. Kecaman</b></p>
<p>Dalam bentuk yang ketiga, kita terobsesi pada pujian dan takut akan kecaman. Kita harus terus-menerus disemangati atau kita mulai meragukan nilai diri. Ketika kita tak memburu pujian, kita sibuk menutupi kesalahan kita agar tak ketahuan. Namun, tak pernah ada cukup pujian untuk memuaskan kita, dan kita tak pernah bebas dari perasaan ingin lebih. Hanya jika kita sempurnalah baru kita bisa terus-menerus mendapatkan pujian, namun sekalipun berusaha menggapainya, kita tak pernah berhasil meraihnya. Satu kesalahan kecil saja dapat memicu ketakutan kita lagi.</p>
<p><b>Untung vs. Rugi</b></p>
<p>Akhirnya, dalam jenis terakhir kita terobsesi pada untung-rugi. Kita menginvestasikan harapan tinggi pada tiap situasi, dan mengharapkan apabila terjadi peningkatan, maka kondisinya akan tetap demikian. Begitu menggodanya harapan ini hingga kita melupakan bagaimana mudahnya situasi dapat berbalik. Baru saja kita merayakan kesuksesan diri, kita jatuh terpuruk dan sekali lagi dicengkeram ketakutan. Harapan kita hancur dan kita takut kalau kita akan terus, terus jatuh. Secara sinambung,, segala sesuatu terlihat penuh harapan di satu detik dan musnah di detik berikutnya, dan apapun yang terjadi, kita merasa khawatir.</p>
<p>Siklus harapan dan rasa takut ini memenuhi pikiran kita dan merampas tenaga kita. Tak peduli apapun yang terjadi, kita merasa hal yang lebih baik atau berbeda dapat terjadi. Tak peduli seperti apapun kita, kita merasa bisa jadi lebih baik atau berbeda. Tak pernah ada yang cukup baik, sehingga kita tak pernah merasa tenang.</p>
<p><b>6 Pola Stres</b></p>
<p>Cara lain memandang stres adalah melalui anekdot 6 tingkat alam. 6 alam ini adalah alam dewa, alam asura (musuh kaum dewa), alam manusia, alam binatang, alam setan kelaparan, dan alam neraka. Mereka mewakili dunia pengalaman yang kita bentuk dari ketidakacuhan kita, yang kita tinggali dalam rasa takut. Mereka mewakili dunia yang penuh jerih-payah, dan tak peduli seberapa kerasnya kita berjerih-payah, kita tak pernah mendapatkan yang kita inginkan. Dikatakan bahwa kita berpindah dari satu dunia ke dunia lain terus-menerus dan sulit melepaskan diri. Setiap alam punya fokus, bentuk stres,  dan pola harapan-rasa takut masing-masing. Meski kita terperangkap dalam salah satu alam ini, tetap ada cara melepaskan diri dari kemelekatan yang menjerat dan menyebabkan stres dan penderitaan kita.</p>
<p><b>Alam Dewa dan Tekanan untuk menjadi Perfeksionis</b></p>
<p>Alam dewa merujuk ke dunia yang penuh keadaban. Alam ini penuh kebahagiaan spiritual, kesenangan material, atau kepuasan psikologis. Kebanggaan dan ketidakacuhan adalah bahan dasarnya, sehingga anda dapat larut dalam ilusi ‘semuanya serba-aku’. Berada dalam alam ini bak mimpi yang jadi nyata. Namun ketika anda mendapat segala yang anda impikan, anda cemas segalanya akan lenyap. Anda mungkin membangun persembunyian, entah dalam bentuk pusat retret spiritual, komunitas tertutup, atau dunia imajinasi. Namun, untuk tetap mempertahankan pulau kesempurnaan yang demikian, anda harus menutup mata dari penderitaan. Anda harus menutup hati karena tak ingin merusak suasana yang melingkupi anda atau merasakan hal tak mengenakkan barang sedikit pun, seperti apa pun itu. Oleh karenanya, anda tak mengacuhkan segala sesuatu yang mengancam kondisi kesenangan ini.</p>
<p><i>Semakin anda perhatian pada cacat dalam rencana, semakin luas sudut pandang anda. Dengan pemikiran yang lebih lapang, pola pikir mengejar segala sesuatu larut menjadi ketidakberartian.</i></p>
<p>Rasanya seolah alam ini stresnya sedikit sekali, tetapi di bawah permukaan kebanggaan spiritual dan kedamaian, mengalirlah sungai ketakutan. Anda harus menggenggam diri anda erat-erat untuk memperpanjang pengalaman istimewa anda dan menghalanginya berkurang. Anda berharap pengalaman transendental anda akan terus berlanjut, tapi juga takut anda tak mampu bertahan. Masalahnya, begitu anda menciptakan area terlindung dan memagarinya, entah secara harfiah atau psikologis, anda tak hanya harus berjuang mempertahankannya, namun stres juga akan muncul karena anda tahu pengalaman anda adalah sesuatu yang dibuat-buat, tidak nyata. Namun, ada masa ketika anda melepas usaha itu dan muncullah sesuatu yang baru. Semakin anda perhatian pada cacat dalam rencana, semakin luas sudut pandang anda. Dengan pemikiran yang lebih lapang, pola pikir mengejar segala sesuatu larut menjadi ketidakberartian.</p>
<p><b>Alam Asura dan Tekanan untuk Mengadu Kehebatan</b></p>
<p>Alam asura ditandai dengan iri hati, ketergesaan, dan jiwa kompetitif. Dalam alam ini, anda tak pernah puas dengan apa yang anda miliki jika anda melihat ada yang punya lebih. Anda berjuang sepanjang waktu, takut berhenti barang sejenak, takut posisi anda akan dilampaui seseorang. Anda hanya dapat mengukur diri sendiri dalam perbandingan dengan orang lain di depan dan di belakang.</p>
<p>Ini bagaikan lari di mesin <i>treadmill</i>, namun anda tak bisa berhenti. Anda terus berlomba dan melihat segala sesuatu sebagai urusan menang-kalah. Terbakar kecemburuan, anda terkungkung dalam jiwa kompetitif, terjebak dalam pacuan pencapaian tanpa jeda.</p>
<p>Jika anda terus terobsesi kesuksesan dan kegagalan, menang dan kalah, gerakan anda akan terbatasi dan dipenuhi tekanan. Namun, ada kalanya apa yang anda lakukan sudah jelas, dan segalanya menjadi lebih mudah dan efektif. Hal ini memberi anda kesempatan mengintip kemungkinan-kemungkinan lain dalam melakukan sesuatu, cara-cara lain untuk bekerja lebih terampil dan dengan usaha lebih sedikit.</p>
<p><b>Alam Manusia dan Tekanan karena Kurangnya Kepercayaan Diri</b></p>
<p>Alam manusia adalah alam hasrat dan kebutuhan akan hubungan. Anda merasa tak utuh dan selalu mencari cara mengisi kekosongan itu. Ketika merasa kesepian, anda berusaha menghubungkan diri dengan orang lain, namun begitu hubungan terbentuk, anda merasa terperangkap dan kecewa. Ketika anda menemukan seseorang yang bisa ‘nyambung’, anda mempertimbangkan apakah anda bisa menemukan orang yang lebih baik. Apapun yang anda lakukan, anda merasa ada sesuatu yang lebih baik yang anda lewatkan.</p>
<p>Di alam manusia, anda terpacu oleh kebutuhan dan kehendak. Anda mengkhawatirkan sosok anda dalam pandangan orang lain dan terobsesi pada ketenaran anda. Walau anda membentuk hubungan-hubungan dengan aneka kepentingan, tak ada yang stabil. Anda selalu merasa tak aman, pikiran anda melompat dari satu hal ke hal lain. Di atas semua itu, anda terlalu banyak berpikir, sehingga segalanya semakin rumit. Di alam manusia, anda tak lagi merasa utuh dan takut pada kerentanan diri anda.</p>
<p>Jika anda kerap mencari pengakuan dari luar, anda akan terus dirundung perasaan tertekan. Namun, dari waktu ke waktu, ada saatnya pemahaman spontan terpercik dalam diri anda. Pemahaman ini begitu jelasnya sehingga anda tak lagi butuh pengakuan dari luar. Anda menemukan bahwa anda tak perlu selalu meragukan diri sendiri. Anda dapat menghargai apa yang anda rasakan meski anda tahu mungkin ada hal yang lebih bagus di luar sana.</p>
<p><b>Alam Hewan dan Tekanan karena Kebiasaan</b></p>
<p>Di alam hewan, anda membentuk kebiasaan yang membosankan dan rutin, namun anda kekurangan imajinasi untuk melakukan hal di luar itu dan takut berubah. Anda terpaku pada cara anda dan merasa terancam dengan usulan baru. Anda mungkin mendapat inspirasi untuk berubah sesekali, namun kemalasan dan kelembaman menghentikan anda. Anda tak ingin terjebak, tapi tetap saja anda melakukan hal yang sama berulang-ulang. Anda dipenuhi ketidakacuhan dan takut mencoba hal yang berbeda dari biasanya, meski hal yang biasanya ini kurang memuaskan. Anda menciptakan birokrasi yang penuh peraturan dan prosedur tak jelas.</p>
<p>Seseorang dalam alam ini mungkin terlihat tenang dan mapan, namun ini bukanlah kemapanan yang sesungguhnya. Ini bak bantal pelindung yang melindungi mereka dari energi dan intensitas kehidupan. Keterjebakan dalam alam hewan kadang bisa terasa nyaman, namun rasa itu kemudian akan menjadi berat dan menekan, dan anda takut bahwa hal ini takkan pernah berubah.</p>
<p>Stres dalam alam ini tidak tajam, namun tumpul. Kebiasaan badan dan pikiran anda terasa padat dan liat. Ada energi yang membekukan pemikiran. Sekalipun segalanya terasa sesak, kadang terasa ada bukaan dan sesuatu yang tajam menembusnya. Anda mulai mengerti sengsaranya perasaan ini, yang diperkuat oleh perasaan negatif dan kehilangan yang dimunculkan oleh ketidakacuhan anda pada hal-ihwal di sekeliling anda.</p>
<p><b>Alam Setan Kelaparan dan Tekanan karena Tak Pernah Merasa Puas</b></p>
<p>Di alam setan kelaparan, anda mau lebih, lebih banyak lagi, tapi tak pernah merasa puas. Tak peduli betapa banyaknya kekayaan bertimbun, anda tetap merasa miskin. Selalu ada uang lebih yang harus didapat, lebih banyak kekuatan, lebih banyak pengaruh yang bisa anda raih. Jika anda tak bisa bergaul dengan yang terbaik dan terhebat, anda merasa kosong. Anda ditopang keserakahan dan selalu merasa lapar. Tanpa segala harta anda yang mengiringi, anda merasa telanjang, sehingga anda terus menambah lebih banyak lagi. Ada kesenangan dalam memiliki segala yang paling baik dan banyak, namun tak ada titik perhentian dan tak ada kepuasan yang sebenarnya, tak peduli seberapa banyaknya hal-ihwal yang telah anda kumpulkan.</p>
<p>Di alam setan kelaparan, ada kontras kuat antara kemiskinan di dalam dan kekayaan di luar. Kebutuhan memuaskan kelaparan di dalam dapat mendominasi hidup anda, tapi anda dapat keluar dari pola ini dan menyeimbangkan keadaan di dalam dan di luar diri, sehingga penghargaan yang anda berikan pada kekayaan di luar diimbangi dengan pengertian terhadap kekayaan di dalam.</p>
<p><b>Alam Neraka dan Tekanan karena Pertikaian Tiada Henti</b></p>
<p>Di alam neraka, anda selalu diliputi amarah. Anda membuat musuh di mana-mana, dan anda selalu bertengkar. Anda selalu resah, defensif, siap menyalak. Anda takut jika anda bersantai, anda akan terancam atau dihancurkan, sehingga anda selalu menyerang lebih dulu. Diri anda seolah panas bagai bara atau beku bagai es. Dipenuhi kebencian, anda menciptakan konflik dan pertikaian dalam berbagai skala. Anda ketakutan dan dipenuhi kepedihan seperti tikus yang tersudut, dan anda hanya bisa terus menyerang.</p>
<p>Campuran rasa benci, pedih, dan marah ini membuat kita sulit bernapas. Melihat dunia dalam pengertian aku vs. mereka, siapapun yang tak setuju dengan anda akan langsung menjadi musuh anda. Kemarahan dan keinginan bertikai ini terus tumbuh. Namun, ada kalanya anda terlepas dari neraca ekstrim ini. Anda keluar dari medan pertempuran dan menikmati perasaan apapun yang anda alami.</p>
<p><b>3 Pelaku</b></p>
<p>Mesin penggerak segala jenis stres ini terdiri dari 3 pelaku: keterpakuan pada ego, kemelekatan emosional, dan kebiasaan rutin. Jika anda merenungkan amarah anda, kemiskinan mental, jiwa kompetitif, dan keserakahan, anda akan menemukan ketiganya di sana. Jika anda menyelidiki siklus harapan-ketakutan yang anda rasakan, akan anda temukan bahwa merekalah penyebabnya.</p>
<p>Tiga serangkai ini bak mafia internal yang menuntut uang keamanan tiap hari. Begitu kita lupa diri dan hanya akrab dengan keakuan yang dinamakan ‘saya’, ’aku’, atau ’diri saya’, kita mengeluarkan segala negativitas kita – segala hasrat, ketidakacuhan, kebencian, dll. Begitu semua energi ini terlepas, kita mulai melakukan hal bodoh dan riskan. Kita menuai konsekuensi dari hal yang kita lakukan, dan siklusnya akan dimulai dari awal lagi karena kita akan bereaksi dengan cara yang riskan pula.</p>
<p>Pada dasarnya, sampai kita bisa menembus akar penopang-penopang utama dari stres yang kita alami dalam kehidupan, kita akan terus terlempar dari harapan ke rasa takut dan siklus 6 alam. Tingkat stres kita akan pasang-surut sehingga kita akan mengalami masa baik dan buruk, namun selalu akan ada stres yang bersembunyi dalam segala hal yang kita lakukan.</p>
<p><b>Stres dan Perkembangan</b></p>
<p>Mengenal stres tak hanya sekadar untuk mengurangi stres kita dan menjadi santai. Stres dalam jumlah tertentu dibutuhkan untuk berkembang, dan terkadang kita harus sengaja memosisikan diri kita di situasi yang akan membuat kita tertekan. Mudah sekali mencampuradukkan antara kepuasan atau kedamaian dengan kedamaian-semu dari kelembaman dan ketakutan untuk berubah. Guru besar seperti Nagarjuna dan Sakya Pandita mengatakan bahwa untuk belajar kita harus mendorong diri sendiri, dan untuk berkembang kita harus melepaskan diri dari kemudahan. Menurut Nagarjuna, ”Jika anda ingin kemudahan, korbankanlah pembelajaran. Jika anda ingin belajar, korbankanlah kemudahan.” Sakya Pandita menulis, ”Saat belajar, mereka yang bijak akan menderita; Tanpa memaksakan diri, mustahil menjadi bijak”. Kenyataannya, tak ada yang namanya hidup yang bebas stres. Hidup adalah pergerakan, dan pergerakan diliputi tekanan. Tanpa stres, takkan ada jalan, kebijaksanaan, dan pencapaian. Ironisnya, tanpa stres, kita tak bisa merasa nyaman.</p>
<p><i>Menurut</i> <i>Nagarjuna, ”Jika anda ingin kemudahan, korbankanlah pembelajaran. Jika anda ingin belajar, korbankanlah kemudahan”.</i></p>
<p>Chögyam Trungpa Rinpoche mendorong murid untuk mencari ‘sisi tajam’ dari sebuah pengalaman. Semua ini menunjukkan bahwa meski stres biasanya menjadi halangan, ia dapat pula menjadi katalis pertumbuhan. Trungpa Rinpoche secara rutin memosisikan muridnya di luar zona nyaman mereka dan mendorong mereka melakukan hal yang sama atas inisiatif sendiri. Ia terutama sekali mengkritik pendekatan yang selalu mencari kenyamanan (memakai baju longgar yang nyaman, berdiam di rumah ber-AC, atau menerima segala sesuatu begitu saja). Ia mengajarkan bahwa ketidaknyamanan bukan sesuatu yang mesti dianggap menyebalkan, melainkan justru sebagai pengingat tentang pentingnya menjaga disiplin berkelanjutan.</p>
<p>Kita tak hanya harus membiarkan diri kita kadang-kadang tertekan, namun juga harus bisa membiarkan orang lain belajar dengan cara yang sama. Sulit melihat seseorang bergumul sendiri tanpa merasa khawatir dan ingin membantu. Seringkali, anda memang harus membantu. Tapi, realitas tak selalu semudah itu. Contohnya, saya dengar bahwa bila anda merasa kasihan pada kupu-kupu yang tengah berusaha melepaskan diri dari kepompongnya, dan anda ingin memudahkannya dengan membantunya keluar, kupu-kupu ini akan keluar sebagai sosok yang lemah dan mungkin sekali mati. Kupu-kupu butuh stres yang akan mendorongnya keluar sendiri untuk menjadi kuat dan mengeringkan sayap-sayapnya. Sama halnya, seorang tukang kebun ulung memberitahu saya bahwa ketika menanam tumbuhan muda, akan lebih baik bila tak memberinya penopang. Ia berkata bahwa apabila si tunas harus bertahan dari angin dan cuaca, akarnya akan menjadi lebih kuat dan sehat. Dengan contoh ini, sekali lagi, ada pengakuan bahwa perkembangan membutuhkan stres atau rasa sakit. Bunga dalam rumah kaca atau anak yang terlalu dimanja tak punya keterampilan yang cukup untuk bertahan hidup.</p>
<p><b>Jalan Tengah Stres</b></p>
<p>Jelaslah bahwa stres dalam jumlah tertentu adalah bagian alami kehidupan, namun seberapa banyak dan stres seperti apa? Bagaimana kita bisa menangani sesuatu yang menantang namun tak berlebihan?</p>
<p>Tradisi Buddhis mengakui realitas stres dan ketidaknyamanan. Penggambaran tentang stres, kepedihan, dan penderitaan yang mengiringi kita baik secara individual maupun kolektif dari awal sampai akhir adalah sesuatu yang realistis (meski tak membuat nyaman). Ajaran sederhana dari kebenaran agung yang pertama, kebenaran tentang penderitaan, mungkin justru yang paling sulit dimengerti dan diterima. Kita terus mengira bahwa dengan memperbaiki ini-itu, mengubah ini-itu, kita dapat menghindarinya. Kita terus berpikir bahwa kalau saja kita lebih pintar, lebih cantik, lebih kaya, lebih berkuasa, tinggal di suatu tempat lain, lebih muda, lelaki, perempuan, lahir di keluarga lain – dan lain sebagainya – maka keadaan akan berubah. Tapi, keadaan akan tetap sama; segala sesuatu akan tetap seburuk sekarang juga! Karena tidak realistis bila mengharapkan kehidupan yang bebas stress, dan hal inipun memang tak baik juga, lebih masuk akal untuk belajar menghadapi stres yang akan muncul.</p>
<p>Dalam mengatasi stres kita harus mempertimbangkan kondisi yang tengah dihadapi dan bagaimana kita akan menyikapinya. Kadang kita bisa menghilangkan sebab dan kondisi yang membuat kita stres, tapi kadang tidak demikian. Karena itu, penting untuk bisa membedakan antara keduanya. Jika kita bisa mengubah situasi kita jadi lebih baik, kita harus melakukannya. Tak ada gunanya meratapi apa yang tak bisa kita ubah. Dalam situasi ini, kita harus mengubah sikap.</p>
<p><i>Jika pengalaman kita memang demikian adanya, kita dapat melihat bahwa dunia tak sedang berusaha menzalimi kita, dan tak pula mengonfirmasi perbuatan kita. Semuanya hanya hasil dari pertalian sebab dan kondisi.</i></p>
<p>Kita harus bisa realistis dan jujur pada diri sendiri sehingga takkan menahan diri saat berbuat sesuatu, sementara di sisi lain, kita juga takkan melakukan sesuatu yang sia-sia. Dalam memandang situasi eksternal, kita tak perlu menutupi masalah atau memandang dunia dengan secara naif. Namun, anda juga tak perlu melarutkan diri dalam segala permasalahan dunia yang anda temukan di berita, atau terpaku pada segala keburukan yang anda temui di kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Ketika seseorang bertanya pada guru besar Kamboja, Mahagosananda, ihwal caranya mempertahankan keceriaan dan ketenangannya dalam rezim Khmer Merah yang kejam dan mengerikan, ia tersenyum dan berkata, ”Hidup itu ada naik-turunnya”. Ada ajaran mendalam dalam pernyataan ini. Jika kita bersikap begitu, kita bisa melepas harapan-harapan besar kita tentang bagaimana seharusnya hidup kita berjalan. Kita akan jadi lebih bebas dalam menyikapi apapun yang kita hadapi. Jika pengalaman kita memang demikian adanya, kita dapat melihat bahwa dunia tak sedang berusaha menzalimi kita, dan tak pula mengonfirmasi perbuatan kita. Semuanya hanya hasil dari pertalian sebab dan kondisi.</p>
<p>Sikap ini berbeda dari sikap pasif atau keterputusan dalam artian sikap acuh tak acuh, kepasrahan, dan fatalisme yang negatif. Sebaliknya, sikap ini membentuk interaksi cerdas dengan dunia, yang tak sekadar reaktif, yang realistis dan tak mengawang-awang. Meminjam ujaran dari Guru besar Mahayana, Shantideva, “Ketika anda bisa berbuat sesuatu, maka lakukanlah. Kenapa harus cemas? Ketika anda tak punya kemampuan atau situasi tak mendukung untuk berbuat apapun, kenapa cemas?” Khawatir dan stres takkan membantu siapapun.</p>
<p><b>Melatih Batin dan Hati</b></p>
<p>Yang saya sukai dari Buddhisme adalah kepraktisan dan optimismenya. Anda mungkin jenis orang yang gampang sekali mengalami stres, atau bisa jadi berkulit lebih tebal, atau bahkan tak sadar dengan keadaan sekitar. Yang jelas, anda takkan terjebak stres hanya karena terlahir dengan stres. Tak peduli di titik mana anda mulai, anda bisa memperbaiki hubungan anda dengan stres ke arah yang lebih baik. Hal ini tak bisa terjadi dengan sekadar berharap atau berpura-pura menjadi orang lain, tapi hanya dengan melatih batin dan membuka hati.</p>
<p><i>Tak peduli di titik mana anda mulai, anda bisa memperbaiki hubungan anda dengan stres ke arah yang lebih baik. Hal ini tak bisa terjadi dengan sekadar berharap atau berpura-pura menjadi orang lain, tapi hanya dengan melatih batin dan membuka hati.</i></p>
<p>Perkakas utama untuk melatih jiwa adalah praktik pikiran berkesadaran. Melalui praktik ini, anda belajar menenangkan pikiran dan menjinakkannya. Selagi anda memusatkan pikiran pada napas, anda menjadi semakin akrab dengan pikiran anda sendiri. Pikiran menjadi lebih kokoh, seolah beratnya bertambah dan tak lagi mudah goyah oleh terpaan-terpaan ringan. Amat menenangkan untuk tahu bahwa di tengah segala kerusuhan yang berlangsung dalam hati, dalam naik-turunnya kehidupan, selalu ada yang stabil dan bisa diandalkan terkait batin anda. Ketika keadaan menjadi sulit dan stres mulai mengambil alih diri anda, anda dapat menarik kekuatan dari dalam.</p>
<p>Bersama dengan pikiran berkesadaran, ada pula cara melatih hati agar menjadi lebih terbuka dan penuh welas asih. Praktik welas asih menarik anda dari diri sendiri dan mengingatkan anda tentang orang lain. Ketika anda merasa tekanan menghimpit dan menarik diri anda, anda bisa melawan godaan untuk menutup diri. Anda dapat melihat keadaan sekitar dan, melalui welas asih, meraih sudut pandang yang lebih luas.</p>
<p>Stres bertambah kuat ketika pikiran anda melayang dan tak stabil, dan semakin terasa ketika anda terpaku pada diri dan masalah-masalah anda sendiri. Praktik pikiran berkesadaran dan welas asih memberi anda jalan mengatasi permasalahan semacam ini. Tidaklah realistis untuk mengharapkan hidup yang bebas stres, namun ada kemungkinan besar untuk mengubah cara anda menyikapinya. Stres memunculkan kebiasaan buruk di dalam batin dan hati. Daripada menganggapnya sebagai musuh, anggaplah stres sebagai guru, dan bersyukurlah padanya.</p>
<p><em>(Sumber: Lionsroar.com | diterjemahkan oleh Lisa Santika Onggrid)</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/jalan-tengah-stres/">Jalan Tengah Stres</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/jalan-tengah-stres/">Jalan Tengah Stres</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
