<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>membangkitkan bodhicitta - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/membangkitkan-bodhicitta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Aug 2024 09:28:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.14</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>membangkitkan bodhicitta - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Road to NDBF 6.0: Mengenal Ajaran “Terima Kasih”, Warisan Cinta Kasih dari Muara Jambi</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Aug 2024 09:11:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[membangkitkan bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[muara jambi]]></category>
		<category><![CDATA[sriwijaya]]></category>
		<category><![CDATA[Suwarnadwipa Dharmakirti]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9238</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kata terima kasih sangat sering kita ucapkan, tapi belum banyak yang tahu bahwa “terima kasih” adalah ajaran warisan Muara Jambi yang punya arti mendalam.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/"><strong>Road to NDBF 6.0: Mengenal Ajaran “Terima Kasih”, Warisan Cinta Kasih dari Muara Jambi</strong></a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/">&lt;strong&gt;Road to NDBF 6.0: Mengenal Ajaran “Terima Kasih”, Warisan Cinta Kasih dari Muara Jambi&lt;/strong&gt;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dosen dan aktivis Buddhis mengungkap rahasia dan makna mendalam dari “terima kasih” dari sejarah Muara Jambi, pada <em>talkshow </em>“Terima Kasih: Unconditional Love Ajaran Klasik dari Muara Jambi”.Acara yang diselenggarakan pada Sabtu, 27 Juli 2024 di Savasana coffee &amp; event space, Yogyakarta ini merupakan bagian dari <em>pre-event</em> Nusantara Dharma Book Festival, festival literasi besutan Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara yang akan digelar Oktober 2024.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="TERIMA KASIH: Ajaran Unconditional Love dari Muara Jambi - Road to NDBF 6.0" width="708" height="398" src="https://www.youtube.com/embed/CAuIn5qz_DM?start=2&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<h2 id="h-sejarah-muara-jambi-guru-suwarnadwipa">Sejarah Muara Jambi &amp; Guru Suwarnadwipa</h2>



<p>Dr. Hastho Bramantyo, Dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha Syailendra, memulai obrolan dengan mengulik masa lalu Muara Jambi sebagai universitas besar pada zaman Sriwijaya. Universitas ini dipimpin oleh guru bernama Guru Suwarnadwipa Dharmakirti yang tidak hanya tersohor di Nusantara, tapi juga sampai luar negeri.&nbsp;</p>



<p>Pada masa itu, Guru Suwarnadwipa adalah orang terakhir yang bisa mengajarkan ilmu rahasia dalam agama Buddha yang bisa menghasilkan cinta tanpa syarat kepada semua makhluk. Demi ajaran ini, cendekiawan besar Guru Atisha Dipankara dari India untuk belajar ke Sriwijaya. Beliau melakukan perjalanan selama 13 bulan dan mengenyam pendidikan selama 12 tahun.</p>



<p>Dr. Hastho Bramantyo menegaskan bahwa ajaran Guru Suwarnadwipa ini merupakan warisan spiritual yang masih melekat pada bangsa Indonesia. “Ada pepatah dalam bahasa Jawa, <em>Trahing kusuma rembesing madu</em>, yang artinya silsilah nektar akan merembes sampai keturunannya,” jelasnya. Buktinya ada pada ungkapan “terima kasih” yang berakar dari bahasa Melayu, bahasa “persatuan” Sriwijaya dahulu.</p>



<p>Baca juga: <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">Infografis Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a></p>



<h2>Praktik Terima Kasih Warisan Muara Jambi</h2>



<p>Salah satu latihan yang diajarkan Guru Suwarnadwipa adalah praktik “terima kasih”. Agustino, Direktur Yayasan Pengambangan dan Pelestarian Lamrim Nusantara menjelaskan bahwa sumber tekstual mengenai ajaran ini sangat terbatas karena dulu bersifat rahasia.. Namun, belakangan ajaran ini didokumentasikan di negeri Tibet dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga orang Indonesia di masa kini bisa kembali mempelajarinya. Salah satunya adalah kitab “Latihan Batin Laksana Sinar Mentari” karya Namkha Pel yang menjadi rujukan dalam acara ini.</p>



<p>&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“‘Terima berarti menerima semua penderitaan semua makhluk dan ‘kasih’ berarti memberikan berkah baik kepada semua makhluk,” jelas Agustino.&nbsp;</p></blockquote>



<p>Agustino menjelaskan bahwa kebanyakan orang akan menyalahkan orang lain sebagai penyebab penderitaan atau menyalahkan diri sendiri sehingga merongrong kesehatan mental seseorang. Ini bisa diatasi dengan praktik “terima kasih” dari Muara Jambi.l.&nbsp;</p>



<p>“Kita punya <em>tools</em> untuk benar-benar <em>happy</em> saat kita kesulitan menghadapi cepatnya perubahan,” ujar Agustino di penghujung sesi, “Indonesia patut berbangga karena telah mempunyai <em>tools</em> ini dan dapat dipelajari banyak orang karena sifatnya yang universal. Jika kita ingin belajar s<em>elf love, unconditional love, compassion</em>, inilah jawabannya.”</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Ajaran ini bermanfaat, jadi harus dibagikan ke seluruh dunia,&#8221; pungkas Dr. Hastho Bramantyo.&nbsp;</p></blockquote>



<p>Penjelasan ajaran “terima kasih” dapat dibaca di buku “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari/">Latihan Batin Laksana Sinar Mentari</a>”.&nbsp;</p>



<h2>Tentang Nusantara Dharma Book Festival</h2>



<p><a href="http://ndbf.lamrimnesia.com">Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 6.0</a>, adalah festival literasi tahunan yang diprakarsai oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN). Rutin diadakan sejak tahun 2019, acara ini berkomitmen untuk mempromosikan pentingnya literasi, warisan spiritual Nusantara, dan manfaatnya bagi kesehatan mental melalui bazar buku, bedah buku, seminar, <em>workshop, </em>lomba, dan pentas seni. Tahun ini, NDBF 6.0 akan kembali diselenggarakan pada 2–6 Oktober 2024 di Sangkring Art Space, D.I. Yogyakarta.&nbsp;</p>



<p>Informasi mengenai Nusantara Dharma Book Festival dapat diikuti melalui Instagram <a href="http://instagram.com/dharmabookfest">@dharmabookfest.</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/"><strong>Road to NDBF 6.0: Mengenal Ajaran “Terima Kasih”, Warisan Cinta Kasih dari Muara Jambi</strong></a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/muara-jambi-ndbf/">&lt;strong&gt;Road to NDBF 6.0: Mengenal Ajaran “Terima Kasih”, Warisan Cinta Kasih dari Muara Jambi&lt;/strong&gt;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemimpin Agama Dunia Serentak Menyerukan Ajakan Ini Demi Perdamaian Dunia, Masa Kamu Nggak Ikutan?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/06/21/pemimpin-agama-dunia-serentak-menyerukan-ajakan-ini-demi-perdamaian-dunia-masa-kamu-nggak-ikutan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Jun 2017 07:55:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[#bhinneka]]></category>
		<category><![CDATA[#ilovebhinneka]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[MAKEFRIENDS]]></category>
		<category><![CDATA[membangkitkan bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[merenungkan bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[perdamaian]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3272</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Nasihat kami adalah untuk menjalin pertemanan dengan para pengikut dari semua agama.” Agama sering kali dipandang sebagai kekuatan yang menyebarkan perpecahan di antara orang-orang. Namun, para pemimpin agama terkemuka di dunia berkumpul untuk menawarkan visi yang berbeda tentang bagaimana agama dapat memberikan sumbangsih bagi dunia. Dalam sebuah langkah yang jarang terjadi, para pemimpin agama besar [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/06/21/pemimpin-agama-dunia-serentak-menyerukan-ajakan-ini-demi-perdamaian-dunia-masa-kamu-nggak-ikutan/">Pemimpin Agama Dunia Serentak Menyerukan Ajakan Ini Demi Perdamaian Dunia, Masa Kamu Nggak Ikutan?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/06/21/pemimpin-agama-dunia-serentak-menyerukan-ajakan-ini-demi-perdamaian-dunia-masa-kamu-nggak-ikutan/">Pemimpin Agama Dunia Serentak Menyerukan Ajakan Ini Demi Perdamaian Dunia, Masa Kamu Nggak Ikutan?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><i><span style="font-weight: 400;">“Nasihat kami adalah untuk menjalin pertemanan dengan para pengikut dari semua agama.”</span></i></p></blockquote>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/CGMQsJ0VzAk" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Agama sering kali dipandang sebagai kekuatan yang menyebarkan perpecahan di antara orang-orang. Namun, para pemimpin agama terkemuka di dunia berkumpul untuk menawarkan visi yang berbeda tentang bagaimana agama dapat memberikan sumbangsih bagi dunia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam sebuah langkah yang jarang terjadi, para pemimpin agama besar &#8211; dari Paus Fransiskus  sampai Dalai Lama &#8211; mengeluarkan seruan bersama pada hari Rabu untuk meminta orang-orang mengikuti sebuah nasihat sederhana:  bertemanlah dengan orang-orang dari agama lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Nasihat kami adalah untuk menjalin pertemanan dengan para pengikut dari semua agama.”Ayatollah Sayyid Fadhel Al-Milani, salah satu tokoh Muslim Syiah paling senior di Inggris, mengatakannya dalam sebuah rekaman video.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hubungan perorangan, persahabatan perorangan, dari sinilah kita dapat saling memberikan sebuah tingkatan pengalaman yang lebih mendalam” demikian yang dikatakan Dalai Lama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Paus Fransiskus memilih untuk berbicara tentang persahabatan panjangnya dengan Rabi Argentina, Abraham Skorka, yang juga tampil dalam video tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8220;Kehidupan beragama saya semakin kaya karena penjelasannya, jauh lebih kaya,&#8221;  Fransiskus berkata tentang Skorka. &#8220;Dan saya rasa hal yang sama juga terjadi padanya.&#8221;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8220;MAKE FRIENDS&#8221; (tl: menjalin pertemanan) adalah sebuah prakarsa dari Elijah Interfaith Institue, sebuah organisasi antar agama yang berpusat di Israel dan Amerika Serikat. Dalam siaran persnya, para pengurus mengatakan bahwa misi proyek tersebut adalah untuk melawan gagasan bahwa orang-orang memandang agama lain dengan ketidakpercayaan atau penghinaan, dan bahkan berpotensi untuk mengurangi kekerasan yang dilakukan atas nama agama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rabi Dr. Alon Goshen-Gottstein, pemimpin dari Elijah Interfaith Institute, mengatakan bahwa proyek ini memperkenalkan pandangan teologis baru, yang menegaskan perlunya persahabatan antar agama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8220;Kami tidak dapat menyangkal bahwa di dalam kitab-kitab dari banyak agama, Anda dapat menemukan teks yang tidak terlalu terbuka, bahkan bermusuhan, dengan orang-orang dari agama lain,&#8221; demikian pernyataannya.  &#8220;Oleh sebab itu, ketika para pemimpin penting dunia menyerukan persahabatan, mereka sebenarnya sedang menegaskan cara tertentu untuk mempraktikkan agama sembari menolak cara dari agama lain.&#8221;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">22 pemimpin yang terlibat dalam seruan ini mewakili aneka ragam agama yang luas &#8211; Sikhisme, Buddhisme, Hinduisme, Islam, Yudaisme, dan kristen. Setiap pemimpin memberikan pernyataan pribadi secara khusus untuk tujuan proyek ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat lebih banyak lagi video dari para pemimpin tersebut dalam bahasa yang berbeda-beda, yang bisa ditemukan di  <a href="https://www.youtube.com/channel/UCamEJJXneVhPJMOSjZe6_fA">akun YouTube Make Friends’</a>.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8220;Salah satu hal terindah ketika menghabiskan waktu dengan orang-orang yang berbeda dengan kita adalah kita akan banyak menemukan kesamaan dengan mereka. Ketakutan yang sama, harapan yang sama, kekhaw;atiran yang sama,&#8221; demikian kata Rabi Lord Jonathan Sacks, mantan kepala Rabi Inggris.</span></p>
<p>sumber: <a href="http://www.huffpostbrasil.com/entry/worlds-top-religious-leaders-issue-rare-joint-appeal_us_5942c11ee4b06bb7d2719e8e">Huffpost | </a>diterjemahkan oleh: Sansan Diana | disunting oleh: Stanley Khu</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/06/21/pemimpin-agama-dunia-serentak-menyerukan-ajakan-ini-demi-perdamaian-dunia-masa-kamu-nggak-ikutan/">Pemimpin Agama Dunia Serentak Menyerukan Ajakan Ini Demi Perdamaian Dunia, Masa Kamu Nggak Ikutan?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/06/21/pemimpin-agama-dunia-serentak-menyerukan-ajakan-ini-demi-perdamaian-dunia-masa-kamu-nggak-ikutan/">Pemimpin Agama Dunia Serentak Menyerukan Ajakan Ini Demi Perdamaian Dunia, Masa Kamu Nggak Ikutan?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Makna “Semoga Semua Makhluk Berbahagia”: Mencintai ala Buddhis adalah Memberikan Kebahagiaan yang Sejati</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/02/14/makna-semoga-semua-makhluk-berbahagia-mencintai-ala-buddhis-adalah-memberikan-kebahagiaan-yang-sejati/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2017 05:50:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[cinta kasih]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[membangkitkan bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[metta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2782</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: BESTRELOAD “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia.” Jika kamu seorang Buddhis, pastinya kamu sering mengucapkan kata-kata ini, tapiapakah kamu sudah benar-benar meresapi maknanya? Kamu pastinya menginginkan kebahagiaan selalu hadir dalam hidupmu, segala cara kamu upayakan untuk mencapainya. Namun, kita harus tahu bahwa kebahagiaan juga merupakan hak dari semua orang—semua makhluk. Kita tidak [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/14/makna-semoga-semua-makhluk-berbahagia-mencintai-ala-buddhis-adalah-memberikan-kebahagiaan-yang-sejati/">Makna “Semoga Semua Makhluk Berbahagia”: Mencintai ala Buddhis adalah Memberikan Kebahagiaan yang Sejati</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/14/makna-semoga-semua-makhluk-berbahagia-mencintai-ala-buddhis-adalah-memberikan-kebahagiaan-yang-sejati/">Makna “Semoga Semua Makhluk Berbahagia”: Mencintai ala Buddhis adalah Memberikan Kebahagiaan yang Sejati</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: BESTRELOAD</p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><em>“Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, </em>semoga semua makhluk berbahagia.<em>”</em></p></blockquote>
<p>Jika kamu seorang Buddhis, pastinya kamu sering mengucapkan kata-kata ini, tapiapakah kamu sudah benar-benar meresapi maknanya?</p>
<p>Kamu pastinya menginginkan kebahagiaan selalu hadir dalam hidupmu, segala cara kamu upayakan untuk mencapainya. Namun, kita harus tahu bahwa kebahagiaan juga merupakan hak dari semua orang—semua makhluk. Kita tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa yang menginginkan kebahagiaan bukan hanya kamu, atau orang tuamu, kerabatmu, maupun temanmu, tapi semua, termasuk orang yang berbeda agama denganmu, musuhmu, hewan-hewan, maupun orang-orang yang tidak kamu kenal, semuanya sama-sama ingin bahagia dan tidak menderita.</p>
<p>Cinta sendiri artinya adalah berharap makhluk lain bahagia atau sering disebut sebagai <em>metta</em>, dan welas kasih adalah berharap makhluk lain tidak menderita atau <em>karuna.</em></p>
<p>Membangkitkan cinta kasih yang universal memang butuh waktu, maka itu mulailah dari diri kamu sendiri, lalu secara bertahap kamu dapat memberikan pengaruh ke keluargamu, orang-orang sekelilingmu, dan teman-temanmu.  Coba deh bayangkan, jika semua orang bisa memiliki rasa cinta kasih universal dalam diri mereka, tentunya dunia akan menjadi lebih indah dan damai.</p>
<p><strong>Tapi kamu harus berhati-hati lho, karena perbuatan kamu pada seseorang atas dasar rasa cinta kasih, belum tentu baik baginya. Agar perbuatanmu bisa bermanfaat bagi orang yang kamu cintai, kamu butuh kebijaksanaan.</strong></p>
<p>Coba lihat orang tuamu yang mendidikmu dari kecil, mereka menggunakan berbagai macam cara agar kamu menjadi anak yang baik. Cara-cara yang mereka lakukan padamu tidak semuanya manis kan? Kadang mamamu memarahimu saat kamu bandel, atau memberikan hukuman ketika kamu tidak patuh, tapi semua ini dilakukan atas dasar cinta kasih mereka terhadapmu lho.</p>
<p>Sama halnya di Buddhis, karena kebahagiaan yang ingin kita berikanpada orang yang kita cintai seharusnya bukan kebahagiaan yang sementara saja, tapi berikanlah <em>sumber kebahagiaan </em>pada mereka yang kamu cintai. <em>Sumber kebahagiaan</em> yang sejati berkaitan dengan tiga motivasi utama dalam praktik Buddhadharma, yaitu kebahagiaan di kehidupan mendatang, pembebasan samsara, atau pencerahan sempurna.</p>
<p>Pada artikel singkat ini,  kamu akan mengetahui, bagaimana cara mencintai ala Buddhis. Kamu pasti memiliki <em>list</em> orang yang kamu cintai seperti pacar, orang tua, atau saudara. Lakukanlah hal ini untuk menunjukkan rasa cintamu pada mereka.</p>
<p><strong>Ajaklah orang yang kamu cintai untuk berbuat kebaikan, karena akar dari semua kebahagiaan kita adalah berasal dari hukum karma</strong></p>
<p>Kamu pasti pernah mendengar istilah “untuk membantu orang yang kelaparan, memberikan kail dan mengajarkan memancing tentunya lebih bermanfaat daripada memberikannya ikan.” Ada saatnya orang yang kamu cintai membutuhkan ‘ikan’ langsung, karena kebutuhan setiap orang berbeda, tapi cobalah mulai memberikan pengertian pada mereka bahwa semua hal bahagia yang dirasakan berasal dari karma baik yang telah kamu perbuat, jadi perbuatan-perbuatan baik seperti berdana dan membantu orang lain merupakan sebab-sebab bagi kita untuk mendapatkan kebahagiaan.</p>
<p>Jika mereka masih sulit, kamu bisa mulai dari memberikan contoh atau teladan dalam berbuat baik, kemudian mengajak mereka melakukannya bersama-sama, hal ini seperti ‘mengajarkan memancing’ pada mereka. Setelah melakukan perbuatan baik, pasti ada energi positif yang muncul seperti rasa syukur dan senang yang berbeda dari biasanya, atas hal ini kuatkanlah karma positif ini dengan bermudita cita. Halini akan memberikan mereka semangat untuk kembali berbuat baik ke depannya. Pada tahap ini kamu sudah memberikannya satu tahap menuju kebahagiaan yang sejati.</p>
<p><strong>Mulailah bersama-sama menghilangkan sifat-sifat buruk seperti melekat, rasa benci, dan kurang kebijaksanaan, karena itu semua adalah sumber penderitaan kalian</strong></p>
<p>Sang Buddha mengajarkan pada kita bahwa sumber penderitaan kita adalah kekotoran batin atau <em>klesha</em> (yang utama ada 3 yaitu kemelekatan, kebencian, dan kebodohan), ketika kita bisa menghilangkan klesha sepenuhnya, maka kita telah terbebas dari penderitaan.</p>
<p>Maka dari itu kamu seharusnya mengetahui bahwa ketika kamu mengharapkan orang yang kamu cintai bahagia, kebahagiaan yang sesungguhnya berasal dari dalam diri masing-masing, yaitu dengan  menghilangkan sebab <em>dukkha</em> itu sendiri. Maka itu arahkanlah mereka bersama-sama dirimu melatih diri untuk menghilangkan <em>klesha</em> ini.</p>
<p>Mungkin kamu merasa kalau menghilangkan <em>klesha</em> itu “ketinggian”, tapi ingatlah bahwa Dhamma itu indah pada awal, pertengahan, dan akhir, di saat kamu belajar dan dalam proses menghilangkan klesha itu sendiri, kamu akan mendapatkan kebahagiaan. Menghilangkan klesha tidak serumit kelihatannya, cukup mulai dari menghilangkan sifat-sifat buruk seperti pelit, iri hati, benci, mulai dari yang kasar dulu, setahap demi setahap batinmu akan menjadi lebih stabil, barulah kamu menghilangkan yang halus. Ingat: jangan lupakan diri kamu sendiri, karena kamu baru bisa menolong orang lain saat dirimu sudah tertolong</p>
<p><strong>Cinta kasihmu membuatmu sudah memiliki niat untuk menolong orang lain pada jalan Dhamma, tapi rasanya kok sangat sulit ya? Kamu butuh kapasitas.</strong></p>
<p>Pada saat kamu merasakan hal ini, di sini kamu bisa membangkitkan motivasi tertinggi di Buddhis yaitu menjadi Buddha untuk menolong semua makhluk. Mungkin semua makhluk terlalu jauh bagimu, tapi coba mulailah dari pacarmu dan orang tuamu, apakah kamu sudah bisa menolong mereka? Saya sendiri menyuruh mama saya untuk ke vihara saja sulit.</p>
<p>Saya juga terinspirasi oleh perkataan seorang guru:</p>
<blockquote class="modern-quote full"><p>“Misalnya ibumu mata duitan, kamu mau menolong ibumu, jadi kamu kasih dia duit, itu bukan menolong, Itu malah mempertebal kemelekatan ibumu. Kamu sama saja mendorong Ibumu ke neraka”</p></blockquote>
<p>Cobalah bayangkan jika kita memiliki kualitas seorang Buddha, tentunya kita bisa menolong mereka dengan cara yang mahir dan tepat sasaran. Coba kamu baca riwayat hidup Sang Buddha, beliau mengucapkan beberapa kata saja sudah membuat orang-orang mencapai tingkat <em>Arahat</em>, artinya sudah bebas dari penderitaan. Maka dari itu, bayangkan deh kalau kamu saat ini jadi Buddha, kamu akan memberikan kebahagiaan sejati bagi orang tuamu, pacarmu, teman-temanmu. Sayangnya, kamu belum mencapai kapasitas itu kan? Maka itu mulailah bangkitkan motivasi untuk meraih hal tersebut. Dari situ, setahap demi setahap kamu dapat mengembangkan kapasitasmu menjadi orang yang lebih baik. Dalam prosesnya toh kamu juga dapat menolong banyak orang. Ingat, Dhamma itu indah pada awal, proses, dan akhir.</p>
<p>Maka dari itu “<em>Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta</em>“ yang kamu ucapkan mulai saat ini jangan hanya di mulut saja, tapi bangkitkanlah pemahaman yang benar, sikap yang benar dan motivasi yang benar untuk mengaplikasikannya di kehidupanmu. Ingatlah cinta kasih dan kebijaksanaan harus berjalan beriringan, tanpa kebijaksanaan pertolonganmu bisa salah sasaran, tanpa cinta kasih kamu bahkan tidak akan mulai menolong.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/14/makna-semoga-semua-makhluk-berbahagia-mencintai-ala-buddhis-adalah-memberikan-kebahagiaan-yang-sejati/">Makna “Semoga Semua Makhluk Berbahagia”: Mencintai ala Buddhis adalah Memberikan Kebahagiaan yang Sejati</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/14/makna-semoga-semua-makhluk-berbahagia-mencintai-ala-buddhis-adalah-memberikan-kebahagiaan-yang-sejati/">Makna “Semoga Semua Makhluk Berbahagia”: Mencintai ala Buddhis adalah Memberikan Kebahagiaan yang Sejati</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengubah Niat Jadi Motivasi</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/01/23/mengubah-niat-jadi-motivasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2017 09:12:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[membangkitkan bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2754</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Thupten Jinpa Bagaimana kita memotivasi diri kita untuk hidup benar demi aspirasi yang terbaik? Membingkai hari-hari kita di antara pengaturan niat dan dedikasi penuh sukacita, bahkan seminggu sekali, dapat mengubah cara kita hidup. Ini merupakan pendekatan tujuan dari kesadaran diri, niat sadar, dan upaya terfokus – tiga hadiah berharga dari praktik kontemplatif – di [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/01/23/mengubah-niat-jadi-motivasi/">Mengubah Niat Jadi Motivasi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/01/23/mengubah-niat-jadi-motivasi/">Mengubah Niat Jadi Motivasi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh <a href="http://www.penguinrandomhouse.com/books/315667/a-fearless-heart-by-thupten-jinpa/">Thupten Jinpa</a></p>
<p>Bagaimana kita memotivasi diri kita untuk hidup benar demi aspirasi yang terbaik?</p>
<p>Membingkai hari-hari kita di antara pengaturan niat dan dedikasi penuh sukacita, bahkan seminggu sekali, dapat mengubah cara kita hidup. Ini merupakan pendekatan tujuan dari kesadaran diri, niat sadar, dan upaya terfokus – tiga hadiah berharga dari praktik kontemplatif – di mana kita mengambil tanggung jawab untuk pikiran dan tindakan kita dan mengambil alih diri kita dan kehidupan kita. Buddha mengatakan, &#8220;Anda adalah musuh Anda sendiri / dan Anda pun penyelamat Anda sendiri. &#8221;</p>
<p>Sang Buddha melihat: pikiran, emosi, dan tindakan kita adalah sumber utama dari penderitaan kita. Tapi di sisi lain, pikiran, emosi, dan tindakan kita dapat menjadi sumber sukacita dan kebebasan kita. Hidup, sebisa mungkin, dengan niat yang sadar adalah langkah pertama dari transformasi ini. Jadi, kedua latihan berikut dalam niat dan dedikasi adalah langkah pertama untuk kejelasan dan kohesi dalam hidup kita, pekerjaan kita, dan hubungan kita dengan orang lain.</p>
<p>Tidak hanya itu, ketika aspirasi kita meliputi kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain, perbuatan kita dan kehidupan kita secara keseluruhan memperoleh tujuan yang lebih besar dari keberadaan kita masing-masing.</p>
<p>Dalam bahasa Inggris sehari-hari, kita sering menggunakan istilah niat dan motivasi secara bergantian, seolah-olah mereka berarti hal yang sama; tapi, ada perbedaan penting: kesengajaan. Motivasi kita untuk melakukan sesuatu adalah alasan di balik perilaku itu, sumber keinginan kita dan dorongan untuk melakukannya. Kita mungkin lebih atau kurang menyadari motivasi kita. Psikolog mendefinisikan motivasi sebagai proses yang &#8220;Merangsang, menopang, dan mengatur perilaku manusia dan hewan.&#8221; Sederhananya, motivasi adalah apa yang merangsang kita. Untuk beberapa orang, hal itu mungkin ketenaran; bagi orang lain, mungkin uang, kegembiraan atau kesenangan, seks, pengakuan, loyalitas, layanan, rasa memiliki, keamanan, keadilan, dan sebagainya. Kekuatan motivasi berkembang melalui siklus saling menguatkan dari keinginan dan penghargaan – ketika sesuatu yang kita lakukan dihargai, kita ingin melakukannya lagi; jika kita melakukannya lagi, kita dihargai lagi, dan ingin melakukannya lebih lagi &#8230;</p>
<p>Niat, di sisi lain, selalu disengaja, suatu artikulasi tujuan sadar. Niat selalu bersifat sadar; motivasi, seperti dikatakan Freud, tidak perlu disadari bahkan oleh orang yang memilikinya. Kita perlu niat untuk tampilan yang lama. Kita menetapkan dan menegaskan kembali niat yang terbaik untuk menjaga kita mencondongkan diri ke arah yang benar untuk dituju. Tapi, kita perlu motivasi untuk menjaga kita dalam jangka panjang. Jika niat kita adalah untuk lari maraton, akan ada waktu ketika jam alarm berbunyi untuk sepuluh mil berjalan sebelum bekerja, atau di tengah-tengah berjalan, ketika kita akan bertanya kepada diri sendiri dengan cukup masuk akal, &#8220;Mengapa saya melakukan hal ini? &#8220;Kita perlu jawaban yang baik, inspirasi untuk membuat kita melewati halangan tersebut. Sadar atau tidak sadar, motivasi adalah soal ‘mengapa’, dan juga percikan di balik niat.</p>
<p>Anda bisa melakukan  niat ini – pengaturan latihan ini di rumah, hal pertama di pagi hari jika itu cukup nyaman. Anda juga bisa melakukannya di bus atau kereta bawah tanah selama perjalanan Anda. Jika Anda bekerja di kantor, Anda bisa melakukannya ketika duduk di meja Anda sebelum memulai hari. Anda hanya perlu dua sampai lima menit tanpa gangguan. Tradisi Tibet merekomendasikan pengaturan niat kita dan memeriksanya dengan motivasi ketika kita mengawali hari, duduk meditasi, dan sebelum melakukan aktivitas penting apa pun. Niat kita menetapkan ke arah mana kita akan menuju. Seperti musik, niat dapat memengaruhi suasana hati, pikiran, dan perasaan kita – pengaturan niat di pagi hari mengatur keselarasan kita untuk satu hari itu.</p>
<p>Latihan: Mengatur Niat</p>
<p>Pertama, temukan posisi duduk yang nyaman. Jika bisa, duduk di atas bantal di lantai atau di kursi dengan telapak kaki Anda menyentuh tanah, yang memberi Anda perasaan membumi. Jika Anda suka, Anda juga bisa berbaring telentang, idealnya pada permukaan yang tidak terlalu lembut. Setelah Anda telah menemukan postur tubuh Anda, santaikan tubuh Anda sebanyak yang Anda bisa, jika perlu dengan beberapa peregangan, terutama bahu dan punggung Anda. Kemudian, dengan mata tertutup jika itu membantu Anda untuk fokus, ambil 3-5 tarikan napas dalam-dalam, diafragma atau perut, setiap tarikan napas masuk ke perut, mengisi tubuh dengan napas dari bawah ke atas, ibarat mengisi botol dengan air. Kemudian, dengan embusan yang panjang dan lambat, usir semua udara dari batang tubuh. Jika membantu, Anda dapat mengeluarkan napas dari mulut Anda. Tarik napas &#8230; dan buang napas &#8230;</p>
<p>Setelah Anda merasa tenang, renungkan pertanyaan-pertanyaan berikut: &#8220;Apa yang sangat bernilai bagi saya? Apakah di dalam hati yang paling dalam saya berharap untuk diri sendiri, untuk orang yang saya cintai, dan untuk dunia?&#8221;</p>
<p>Renungkan pertanyaan-pertanyaan ini dan lihat apakah ada jawaban yang datang. Jika tidak ada jawaban yang spesifik di permukaan, jangan khawatir. Kita mungkin butuh beberapa saat untuk membiasakan diri, karena ketika mengajukan pertanyaan, kita biasanya mengharapkan untuk mendapat jawaban langsung. Kita harus percaya bahwa pertanyaan itu sendiri ada manfaatnya, bahkan (atau terutama) ketika kita tidak memiliki jawaban. Jika dan ketika jawaban datang, akui bahwa ia timbul dan tinggal dengan pikiran serta perasaan yang mungkin terbawa.</p>
<p>Pada akhirnya, kembangkan satu set tertentu dari pengalaman sebagai niat sadar Anda, untuk hari ini, misalnya. Anda bisa berpikir, &#8220;Hari ini, semoga saya lebih menyadari tubuh, pikiran, dan kata-kata saya dalam interaksi saya dengan orang lain. Semoga saya, sejauh yang saya bisa, menghindari menyakiti orang lain dengan sengaja. Semoga saya berhubungan dengan diri saya sendiri, orang lain, dan dengan peristiwa di sekitar saya dengan kebaikan, pemahaman, dan sikap tak menghakimi. Semoga saya menggunakan hari saya dengan cara yang selaras dengan nilai-nilai saya lebih dalam.&#8221;</p>
<p>Dengan cara ini, aturlah keselarasan untuk hari ini.</p>
<p>Setelah kita menjadi lebih akrab dengan pengaturan niat, kita bisa melakukan latihan ini dalam satu menit atau kurang. Itu berarti kita bisa menemukan peluang di siang hari untuk memeriksa niat kita. Dokter yang telah mengambil pelatihan kasih sayang, misalnya, telah menggunakan waktu yang dibutuhkan untuk mencuci tangan mereka di antara pasien-pasien yang datang silih berganti untuk kembali ke niat mereka, dan melaporkan bagaimana hal ini membuat mereka merasa lebih terpusat dan hadir untuk pasien berikutnya. Kita bahkan juga dapat melantunkan beberapa bait yang punya makna mendalam, misalnya Doa 4 Kemuliaan Tak Terbatas:</p>
<p>Semoga semua makhluk mencapai kebahagiaan dan sebab-sebabnya</p>
<p>Semoga semua makhluk terbebas dari penderitaan dan sebab-sebabnya.</p>
<p>Semoga semua makhluk tidak pernah lepas dari sukacita yang bebas dari penderitaan.</p>
<p>Semoga semua makhluk menetap dalam ketenangan batin, bebas dari bias, keterikatan, dan keengganan.</p>
<p>Praktik pengaturan niat  dipasangkan, dalam tradisi Tibet, dengan latihan kontemplatif lain yang disebut dedikasi. Peran dari latihan ini adalah untuk melengkapi lingkaran seutuhnya. Di pengujung hari, atau meditasi, atau upaya lain yang telah kita buat, kita berhubungan kembali dengan niat yang kita atur di awal, merefleksikan pengalaman kita dalam menerangi niat kita dan bersukacita dalam apa yang telah kita capai. Ini seperti mengambil saham di pengujung hari. Ini memberi kita kesempatan lain untuk terhubung dengan aspirasi kita secara lebih mendalam.</p>
<p>Latihan: Membuat Dedikasi</p>
<p>Di pengujung hari, misalnya, sebelum Anda pergi tidur atau saat Anda berbaring di tempat tidur sebelum tidur, renungkan hari Anda.</p>
<p>Meninjau secara singkat peristiwa hari ini(termasuk percakapan signifikan, suasana hati dan aktivitas mental lainnya) dan rujuk kembali semangat pengaturan niat di pagi hari. Lihat berapa banyak keselarasan yang ada di antara keduanya. Sangat penting untuk tidak terjebak dalam rincian dari apa yang Anda lakukan dan tidak lakukan. Idenya bukanlah untuk menghitung skor, tetapi untuk melakukan survei secara luas untuk melihat sinergi antara niat Anda dan kehidupan Anda hari itu.</p>
<p>Apa pun yang terjadi dengan pikiran dan perasaan Anda dari peninjauan ini, tetaplah berdiam dengannya. Tidak perlu untuk mendorong mereka pergi jika mereka memiliki kualitas negatif; atau memahami mereka jika mereka tampak positif. Biarkan saja mereka apa adanya.</p>
<p>Akhirnya, pikirkan sesuatu dari hari ini yang Anda rasa baik – bantuan yang Anda berikan ke tetangga Anda, telinga empatik yang Anda pinjamkan kepada rekan yang berada dalam kesulitan, tidak kehilangan kesabaran di toko obat ketika seseorang memotong antrian. Kemudian, bersukacitalah karena semua hal ini. Jika tidak ada hal baik yang terjadi, tetaplah bersukacita karena kenyataan bahwa Anda sudah memulai hari Anda dengan menetapkan niat sadar.</p>
<p>Buat latihan ini secara singkat; 3-5 menit adalah waktu yang baik. Jika Anda biasanya membaca sebelum tidur, Anda bisa menyisihkan 3-5 menit waktu membaca anda untuk dedikasi. Jika kebiasaan Anda adalah menonton TV, bisakah Anda mengurangi waktu menonton selama 3-5 menit? Atau mungkin Anda bisa pergi ke suatu tempat yang tenang selama jeda iklan? Bersukacita di pengujung hari, bahkan semata karena upaya yang telah kita buat, adalah hal penting. Ini memberi kita sesuatu yang positif untuk dibawa ke hari berikutnya dan membantu kita memanfaatkan motivasi dalam pelayanan niat kita.</p>
<p>Kadang-kadang, bagaimanapun, sangatlah membantu untuk melakukan tinjauan secara lebih terfokus. Kita menetapkan niat untuk menjadi ramah terhadap diri kita sendiri. Sebagai gantinya, di pengujung hari, dedikasi kita mungkin menghasilkan perhatian khusus kepada kebaikan-kebaikan yang telah kita tunjukkan di hari itu.</p>
<p>Sekarang, ketika kita melakukan seperti penilaian yang ditargetkan, kebanyakan dari kita akan menemukan bahwa kita tertinggal jauh. Kita akan melihat kesenjangan antara niat dan perilaku kita, antara aspirasi kita dan kehidupan kita yang sebenarnya. Ketika ini terjadi, penting untuk tidak menyalahkan diri sendiri dengan penilaian negatif dan kritik diri. Kita hanya perlu mengakui perbedaan dan memutuskan untuk mencoba lagi keesokan harinya. Kesadaran ini sendiri akan membantu kita menjadi lebih perhatian pada hari berikutnya, membuka peluang untuk membawa pikiran kita sehari-hari dan tindakan ke dalam keselarasan yang lebih dekat dengan tujuan kita.</p>
<p><strong><b>Bagaimana Niat Menjadi Motivasi</b></strong></p>
<p>Adalah penting untuk menetapkan niat, dan apa niat yang kita atur. Namun, seperti yang diketahui oleh siapa pun yang pernah mencoba untuk menjaga resolusi Tahun Baru, menetapkan niat yang benar-benar tulus dan baik dan mencoba menerapkannya adalah dua hal yang berbeda. Kita mungkin ingin berwelas asih dan peduli terhadap orang lain, dan mengatakan hal ini untuk diri kita sendiri di pagi hari, namun nyatanya kita menemukan diri kita di sore hari sudah agak lebih mementingkan diri sendiri, dan dalam posisi menghakimi. Hubungan antara niat sadar kita, di satu sisi, dan motivasi yang tidak begitu sadar yang mendorong pikiran dan tindakan kita, di sisi lain, menjadi kompleks. Tapi, dengan kesadaran terus-menerus dan refleksi, kita dapat, dari waktu ke waktu, membawa motivasi kita lebih sejalan dengan niat kita.</p>
<p>Dalai Lama pernah menyarankan cara yang mudah untuk memeriksa motivasi kita, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada diri kita sendiri:</p>
<p>Apakah hanya untuk saya atau untuk orang lain?</p>
<p>Untuk kepentingan beberapa orang atau untuk banyak orang?</p>
<p>Untuk saat ini atau untuk masa depan?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan ini membantu memperjelas motivasi kita dengan membawa kesadaran diri yang kritis (kritis dalam artian objektif, cerdas, tidak menghakimi) dalam berhubungan dengan apa yang kita lakukan. Mereka juga membantu mengingatkan kita untuk membawa kasih sayang dalam setiap pikiran dan tindakan kita. Kita bisa mengajukan pertanyaan ini sebelum kita melakukan sesuatu, saat kita melakukannya, atau setelah kita telah melakukannya – akan selalu ada kesempatan lain untuk menetapkan ulang niat kita dan kesempatan lain untuk bertindak sesuai dengan niat itu.</p>
<p>Pertanyaan tentang bagaimana kita memotivasi diri kita untuk mengejar aspirasi kita lebih dalam telah menjadi perhatian utama dalam sejarah panjang psikologi Buddhis. Dalam pemikiran Buddhis, motivasi adalah masalah keinginan, lebih khususnya keinginan untuk bertindak disertai dengan tujuan. Dalam kasus welas asih, ini artinya membuat hubungan emosional dengan welas asih dan bertindak berdasarkan prinsip ini. Kita bisa melakukan ini jika mengetahui manfaat yang kita rasakan dengan menjadi lebih welas asih.</p>
<p>Psikologi kontemporer hanya relatif baru-baru ini menghargai peran emosi dalam memotivasi perilaku kita. Untuk waktu yang lama, teori Barat didominasi oleh teori pilihan rasional, dan emosi dituduh mengaburkan proses daripada menjadi bagian integral dari sistem. Untuk mengartikulasi dimensi ganda dari motivasi kita – kesadaran kognitif dari dan hubungan emosional dengan tujuan kita – psikologi Buddhis menggunakan istilah yang hampir mustahil untuk ditangkap di dalam satu kata pun dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Sanskerta, ia disebut  <strong><em><b><i>shraddha</i></b></em></strong> (<strong><em><b><i>depa</i></b></em></strong> dalam bahasa Tibet), dan memiliki berbagai makna, di antaranya: &#8220;iman,&#8221; &#8220;kepercayaan,&#8221; &#8220;keyakinan,&#8221; &#8220;penghargaan&#8221; dan &#8220;kekaguman&#8221;. <strong><em><b><i>Shraddha</i></b></em></strong> adalah sebuah bentuk kepercayaan, yang kira-kira seperti perasaan terinspirasi untuk bermain gitar ketika Anda melihat bintang rock melakukannya. Kita percaya pada kualitas bintang rock ini, dan sembari menyingsingkan lengan baju, kita juga percaya bahwa kita bisa melakukan hal yang sama.</p>
<p>Bagaimana kita memanfaatkan waduk emosional kita? Kognisi memainkan peran penting, seperti yang tertulis dalam teks-teks Buddhis. Melalui keterlibatan kognitif, seperti melihat manfaat dari sebuah tindakan, kita menghubungkan niat dengan motivasi. Jadi, dalam jaringan sebab-akibat ini, yang penting untuk diperhatikan adalah kaitan antara kesadaran kita terhadap tujuan kita dan mengapa kita akan melakukannya, perasaan kita tentang tujuan, dan keinginan kita atau kehendak untuk mengejar itu.</p>
<p>Kemudian, sekali lagi, bersukacitalah dalam upaya kita – keberanian untuk mencoba, dedikasi untuk tetap meniti jalan yang sama – dan hasil yang membantu mempertahankan motivasi kita dalam jangka panjang. Atau, dengan kata lain, hal-ihwal yang membuat kita ingin terus mencoba dan terus melakukannya. Orang tua yang telah berjuang bersama anak mereka dalam latihan instrumen baru akan menyadari betapa semuanya berubah saat anak mulai menikmatinya. Ini disebut motivasi intrinsik, yang bertentangan dengan motivasi ekstrinsik, misalnya, ketika orang tua menghadiahi anak dengan waktu lebih untuk berlatih dengan instrumennya. Penelitian motivasi sampai hari ini menunjukkan bahwa motivasi intrinsik jauh lebih stabil dan abadi. Proses penetapan niat dan sukacita serta dedikasi mencerminkan bagaimana, dari waktu ke waktu, kita mengubah motivasi ekstrinsik menjadi motivasi intrinsik, dan dengan demikian mempertahankan energi dan tujuan hidup yang benar untuk aspirasi yang terbaik.</p>
<p><em>(Sumber: <a href="https://tricycle.org/trikedaily/turning-intention-motivation/">tricycle.org</a> | diterjemahkan oleh Aditya Padmasari Dali)</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/01/23/mengubah-niat-jadi-motivasi/">Mengubah Niat Jadi Motivasi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/01/23/mengubah-niat-jadi-motivasi/">Mengubah Niat Jadi Motivasi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mau Jadi Orang Baik? Bangkitkan Motivasi Baik!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/01/16/mau-jadi-orang-baik-bangkitkan-motivasi-baik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2017 05:20:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[membangkitkan bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2744</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh GANDHARIKA JAYAWARDHANI &#8220;Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi&#8230;&#8221; Masih ingat syair lagu di atas waktu kita duduk di bangku sekolah? Itulah rutinitas yang kita lakukan setiap hari. Karena dilakukan setiap hari, maka kita pun menghafalnya, ibarat mesin yang kalau ditekan tombolnya langsung menyala dengan urutan kerja sesuai program. Sebenarnya, apakah kita sama [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/01/16/mau-jadi-orang-baik-bangkitkan-motivasi-baik/">Mau Jadi Orang Baik? Bangkitkan Motivasi Baik!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/01/16/mau-jadi-orang-baik-bangkitkan-motivasi-baik/">Mau Jadi Orang Baik? Bangkitkan Motivasi Baik!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh GANDHARIKA JAYAWARDHANI</p>
<p>&#8220;Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi&#8230;&#8221;</p>
<p>Masih ingat syair lagu di atas waktu kita duduk di bangku sekolah? Itulah rutinitas yang kita lakukan setiap hari. Karena dilakukan setiap hari, maka kita pun menghafalnya, ibarat mesin yang kalau ditekan tombolnya langsung menyala dengan urutan kerja sesuai program. Sebenarnya, apakah kita sama dengan robot atau mesin? Beda dong. Tapi kok hidup kita di dunia ini lama-lama menyerupai robot/mesin? Mesin itu kan sudah diprogram, tinggal dinyalakan dan ia akan menyelesaikan tugasnya; tinggal dikasih bahan bakar saja. Mudah, simpel, begitu saja.</p>
<p>Tega benar kalau kita disamakan dengan mesin, ya? Kita mengisi hidup kita dengan rutinitas yang kadang-kadang kita lakukan &#8220;tanpa sadar&#8221;. Ya dilakukan begitu saja! Just do it! Apakah kita pernah meniatkan aktivitas kita dalam satu hari, persis setelah bangun tidur di pagi hari? Saat kita membuka mata, yang umumnya kita ingat adalah mandi atau makan, tapi untuk apa kita melakukan itu semua? Bukankah kalau sekadar demi kebutuhan tubuh ini, kaum hewan juga melakukan hal yang sama?</p>
<p>Pernahkah kita memulai hari kita dengan sebuah motivasi baik? Misalnya, kita bisa merenungkan, “Hari ini saya bisa bangun tidur lagi, masih bernapas. Semoga saya dapat mengisi hari ini dengan penuh arti, semoga saya bisa banyak berbuat kebaikan, semoga saya tidak mudah marah, semoga saya tidak mudah membenci, semoga saya dapat membantu banyak orang, dll.”</p>
<p>Pernahkah kita memulai hari dengan sebuah doa singkat semacam itu? Atau, jangan-jangan kita malah berpikir, “Ah, teori macam apa itu! Saya saja bangun sudah kesiangan, jalanan pasti sudah macet. Sudahlah. Percuma banyak berdoa. Nanti pas ketemu orang yang nyebelin di kantor ya akhirnya marah juga!”</p>
<p>Ketika kita berusaha membangkitkan apa yang kita sebut sebagai motivasi baik di dalam diri kita, sesungguhnya inilah yang akan menjaga kita. Walaupun mungkin kita akhirnya dikalahkan oleh amarah kita, tapi pasti akan sangat beda jika kita memulai hari dengan motivasi baik, karena setidaknya pikiran baik ini akan mengendalikan diri kita agar tidak semudah itu marah, atau kalaupun marah, maka kadarnya tidak begitu dahsyat. Motivasi baik merupakan bahan bakar kita agar kita semangat mengisi hari-hari kita. Kenapa? Karena kita tahu kalau kita sedang melakukan hal baik, hal yang bermanfaat.</p>
<p>Setiap memulai hari, saya menyetel motivasi untuk sukses, untuk jadi orang kaya. Oleh karena itu, setiap hari saya bangun pagi dan bekerja penuh semangat hingga larut malam. Apakah ini salah? Ya sah-sah saja jika mengharapkan diri untuk menjadi kaya dan sukses. Namun, ada hal lain yang bisa kita capai yang jauh melampaui ini. Umpamanya kita sanggup mencapai level 10, lantas kenapa kita harus puas saat kita hanya mencapai level 5? Apakah kita hanya hidup sekali saja di dunia ini? Setelah kematian menjemput, apakah kita akan tetap sukses dan kaya? Level 10 yang saya maksud adalah Kebuddhaan. Kenapa kita terus berkutat membanting tulang, menghabiskan waktu dan energi hanya demi mencapai level 5? Kenapa kita tidak sekalian saja beraspirasi untuk mencapai level 10? Kenapa kita tidak beraspirasi mencapai Kebuddhaan dalam kehidupan saat ini? Kita mungkin berpikir, “Lah kejauhan, nanti kalau jatuh bakal sakit loh.” Tapi, kalau kita tidak berani memiliki cita-cita, tidak berani bermimpi, ya sudah pasti kita akan gagal. Ibaratnya, pertandingan belum mulai dan kita sudah menyerah duluan. Mana mungkin kita bisa mencapai Kebuddhaan kalau kita tidak pernah berpikir ke arah sana, atau memikirkannya sebagai sesuatu yang terlalu tinggi untuk diraih. Ya jelas tidak mungkin! Padahal, Sang Buddha telah mencontohkan kepada kita dengan sangat jelas dan telah menunjukkan jalan melalui Dharma yang beliau ajarkan. Kenapa kita tidak coba menapaki jalan ini – jalan bertahap menuju pencerahan yang diajarkan beliau kepada kita.</p>
<p>Agar keseluruhan hari kita menjadi baik, kita perlu memulainya dengan motivasi baik. Semua tindakan yang kita lakukan hendaknya diwarnai dengan motivasi baik. Jika kita memang sudah terbiasa membangkitkan motivasi baik, maka hal itu sangat bagus. Jika motivasi ini bisa ditingkatkan menjadi lebih baik lagi, maka tentunya akan lebih bagus lagi.</p>
<p>Jadi, apa motivasimu hari ini?</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/01/16/mau-jadi-orang-baik-bangkitkan-motivasi-baik/">Mau Jadi Orang Baik? Bangkitkan Motivasi Baik!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/01/16/mau-jadi-orang-baik-bangkitkan-motivasi-baik/">Mau Jadi Orang Baik? Bangkitkan Motivasi Baik!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
