<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kelahiran manusia - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/kelahiran-manusia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Dec 2020 03:34:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>kelahiran manusia - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Lebih Langka dari SSR! Nilai Besar Kelahiranmu sebagai Manusia</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/12/02/lebih-langka-dari-ssr-nilai-besar-kelahiranmu-sebagai-manusia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2020 03:34:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran manusia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[nilai besar kelahiran manusia]]></category>
		<category><![CDATA[precious human rebirth]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5708</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kelahiranmu sebagai manusia ternyata lebih bernilai dibanding karakter SSR di game gacha favoritmu. Zhongli mah lewat!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/02/lebih-langka-dari-ssr-nilai-besar-kelahiranmu-sebagai-manusia/">Lebih Langka dari SSR! Nilai Besar Kelahiranmu sebagai Manusia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/12/02/lebih-langka-dari-ssr-nilai-besar-kelahiranmu-sebagai-manusia/">Lebih Langka dari SSR! Nilai Besar Kelahiranmu sebagai Manusia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Untuk kamu yang sering main <em>game</em> yang mengandung unsur <em>gacha </em>(undian), pasti pernah mendengar istilah R, SR, atau SSR. Karakter SSR (<em>Super Super Rare</em>) biasanya sangat sulit didapatkan karena merupakan tingkat kelangkaan yang tertinggi, sehingga pemain yang mendapatkan SSR simpelnya seperti mendapatkan lotere.</p>



<p>Bayangkan saat memainkan <em>game</em> <em>gacha</em> favoritmu, kamu cuma punya 1x kesempatan untuk mendapatkan suatu karakter. Peluang untuk mendapatkan SSR cuma 0,6% dan peluang untuk mendapatkan karakter favoritmu yang SSR adalah 0,012%. Saat ditarik, ternyata langsung dapat! Girang banget dong kamu?</p>



<p>Memang 0,012% adalah peluang yang kecil. Tapi tahukah kamu bahwa peluangmu menjadi manusia dengan <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/26/kamu-manusia-apa-kamu-punya-8-permata-ini/">8 permata kebebasan</a> dan <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/04/kamu-manusia-cek-keberuntunganmu-di-sini/">10 permata keberuntungan</a> ternyata lebih kecil dari itu? Selain peluangnya lebih kecil, nilainya juga jauh lebih besar! Kok bisa? Yuk kita bedah sama-sama!</p>



<h4><strong>Dari segi jumlah makhluk</strong></h4>



<p>Sang Buddha pernah mencolek debu dari tanah dan mengatakan bahwa jumlah yang pergi dari alam tinggi (alam dewa, asura, dan manusia) ke alam rendah (alam binatang, hantu kelaparan, dan neraka) adalah sebanyak jumlah debu yang menutupi bumi, sedangkan jumlah yang ada di ujung jari Beliau adalah yang dari alam rendah ke alam tinggi.</p>



<p>Lebih jauh lagi, dikatakan manusia merupakan yang paling sedikit di antara enam kelas makhluk. Kita mungkin berpikir bahwa ada enam miliar manusia di dunia itu sudah cukup banyak, tapi jika dibandingkan dengan makhluk yang ada di tanah (seperti cacing dan serangga), ternyata kita masih jauh lebih sedikit karena ratusan juta cacing tanah dan serangga bisa ditemukan di ruang yang bahkan tidak dapat memuat sepuluh manusia.&nbsp;</p>



<p>Itu baru cacing dan serangga di darat. Binatang yang di air jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah binatang di tanah. Ya iyalah, bumi ini dua per tiga laut kok! Selanjutnya jumlah hantu kelaparan lebih banyak daripada jumlah binatang. Jumlah makhluk neraka lebih banyak dari jumlah hantu kelaparan.</p>



<h4><strong>Dari segi rentang waktu</strong></h4>



<p>Dikatakan bahwa sedikit sekali jumlah makhluk hidup yang terlahir sebagai manusia dan hidup pada “kalpa terang”, istilah untuk masa seorang Buddha muncul di dunia. Kalpa adalah satuan waktu yang sangat lama, bisa jutaan sampai milyaran tahun. Setiap kalpa terang hanya terjadi setelah puluhan ribu kalpa gelap. Setiap kalpa terang terdiri dari 80 kalpa perantara, yang mana Para Buddha muncul hanya pada 20 kalpa perantara terakhir. Selama waktu ketika manusia berdiam di dunia, usia akan berkurang dan meningkat dalam 20 siklus berdurasi sama dengan usia maksimal 80.000 tahun dan usia minimal 10 tahun. Buddha tidak muncul ketika usia manusia masih terlalu panjang dan hanya muncul pada siklus ketika usia manusia berkurang.</p>



<p>Bisa lahir di masa sekarang saat ajaran Buddha masih ada di dunia seperti kita sekarang ini jelas merupakan hal yang luar biasa. Kalpa ini hanya terjadi sekali setiap puluhan ribu kali jutaan tahun, lho. Kalaupun lahir di kalpa ini, masih lebih besar kemungkinan lahir di periode ketika ajaran Buddhadharma telah menghilang dan menunggu Buddha yang selanjutnya (Maitreya) muncul di dunia. Jika demikian, nggak ada bedanya periode tersebut dengan kalpa gelap. Jadi, kita bisa jadi manusia sekarang dan bisa ketemu Dharma merupakan kejadian yang benar-benar langka!</p>



<h4><strong>Dari segi penyebabnya</strong></h4>



<p>Dilihat dari aspek karma, kehidupan kita sebagai manusia sekarang ini tidak lepas dari berbagai gabungan sebab dan kondisi. Untuk memperolehnya pertama kita harus menginginkannya, artinya tubuh manusia ini merupakan hasil dari kumpulan doa-doa yang kita panjatkan sebelumnya. Kita bisa jadi bikin banyak kebajikan, tapi kalau kita nggak dedikasikan dengan sungguh-sungguh untuk jadi manusia, ada kemungkinan kita lahir jadi naga yang kaya raya, anjingnya Paris Hilton, atau jadi dewa umur panjang yang sepanjang umurnya hanya bisa menghabiskan kebajikan tanpa bikin kebajikan baru.</p>



<p>Tidak hanya itu, sebab utama menjadi manusia adalah dengan mempertahankan paling tidak satu sila/disiplin moral yang <strong>murni. </strong>Murni artinya tanpa cacat atau cela. Tentu saja mempertahankan sila yang murni bukan sesuatu yang mudah. Faktor-faktor seperti kelalaian, tidak tahan, ataupun berbagai aspek lain, sangat-sangat mungkin membuat kita melanggar sila.</p>



<p>Doa dan sila adalah syarat minimum, tapi tanpa ada kebajikan lain yang menjadi pendukung, bisa saja kita tidak mendapatkan kondisi yang sekarang nikmati. Misalnya kita tidak pernah melatih kemurahan hati dengan praktik dana, alhasil kita menjadi manusia yang serba kekurangan dan ujung-ujungnya tidak bisa belajar Dharma karena seluruh waktu harus dicurahkan untuk banting tulang menyambung hidup. Ataupun misalnya kita memiliki karma buruk membunuh, bisa jadi kita mati muda bahkan sebelum bertemu dengan Buddhadharma.</p>



<h4><strong>Ternyata Kehidupan Kita SSSSSSSSR</strong></h4>



<p>Secara matematis, peluang untuk terlahir menjadi manusia dengan 18 permata lebih kecil dari peluang kita mendapatkan karakter SSR favorit kita di <em>game</em> <em>gacha. </em>Peluang mendapatkan kelahiran seperti yang kita miliki ini sangat mendekati 0, benar-benar sangat langka dan sangat sulit untuk ditemukan. Tidak heran jika para guru Dharma mengatakan bahwa kelahiran kita sebagai manusia dengan 18 permata sekarang ini cuma kita dapatkan saat ini saja, karena sama sekali tidak ada jaminan bahwa di masa depan kita bisa mendapatkannya kembali.</p>



<p>Akun <em>game</em> dengan banyak karakter SSR mungkin bisa dijual senilai beberapa juta, tapi kelahiran manusia dengan 18 permata milyaran kali lebih bernilai. Selain bernilai besar karena langka, kelahiran ini juga manfaatnya luar biasa karena bisa membuat kita kembali meraih kehidupan mendatang yang bahagia, bebas dari penderitaan samsara, atau bahkan mencapai Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna sehingga bisa menolong semua makhluk.</p>



<p>Gagal memanfaatkan kelahiran sebagai manusia dengan 18 permata ini ibarat seorang yang pergi ke pulau yang penuh dengan permata, namun pulang dengan tangan kosong karena sibuk menari dan bernyanyi di sana. Lantas, bagaimana cara memanfaatkannya? Tentunya dengan melatih batin kita sesuai dengan Dharma&#8211;kurangi sifat dan perilaku buruk, perbanyak sifat dan perilaku baik. Latihan ini merupakan proses seumur hidup yang gampang-gampang susah, tapi <a href="https://lamrimnesia.org/apa-itu-lamrim/outline-lamrim/"><em>walkthrough</em> alias panduannya sudah tersedia</a>. Keputusan mau “memainkannya” atau nggak ada di tanganmu!</p>



<p>Sebagai latihan permulaan, coba amati pikiranmu waktu lihat teman pamer SSR baru. Kalau kamu nggak tergarami alias sirik dan bisa menyelamati temanmu dengan tulus, artinya kamu sudah mulai menghargai nilai besar kelahiranmu sebagai manusia dengan 18 permata! Kalau belum ya nggak apa-apa, kamu bisa mulai latihan dari sekarang. Selamat mencoba!</p>



<h5>Referensi:</h5>



<p>1. <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">“Pembebasan di Tangan Kita”</a> oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p>2. “Steps on the Path to Enlightenment” oleh Geshe Lhundup Sopa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/02/lebih-langka-dari-ssr-nilai-besar-kelahiranmu-sebagai-manusia/">Lebih Langka dari SSR! Nilai Besar Kelahiranmu sebagai Manusia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/12/02/lebih-langka-dari-ssr-nilai-besar-kelahiranmu-sebagai-manusia/">Lebih Langka dari SSR! Nilai Besar Kelahiranmu sebagai Manusia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kamu Manusia? Cek Keberuntunganmu di Sini!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/11/04/kamu-manusia-cek-keberuntunganmu-di-sini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2020 11:08:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran manusia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[precious human rebirth]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5655</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kamu nggak perlu menang lotere atau punya jutaan subscriber untuk merasa jadi orang paling beruntung sedunia. Kalau kamu bisa baca artikel ini, hampir pasti kamu punya 10 keberuntungan tak ternilai yang jauh lebih berharga dibanding hoki tujuh turunan!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/04/kamu-manusia-cek-keberuntunganmu-di-sini/">Kamu Manusia? Cek Keberuntunganmu di Sini!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/11/04/kamu-manusia-cek-keberuntunganmu-di-sini/">Kamu Manusia? Cek Keberuntunganmu di Sini!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Samantha J.</p>



<p>Pernah nggak ketemu orang yang hoki banget? Sering dapat <em>giveaway, </em>main <em>game </em>selalu dapat SSR, lagi jalan tahu-tahu ketemu artis idola dan dapat foto bareng… Sementara kamu ngumpulin bungkus permen karet Y*SAN aja huruf “N”-nya nggak pernah ketemu. Atau mungkin pernah terlintas di pikiranmu, Youtuber-Youtuber itu kok beruntung sekali, cuap-cuap depan kamera saja bisa punya <em>subscriber</em> jutaan dan jadi kaya raya.<em> </em>Sedih nggak? Atau mungkin iri?</p>



<p>Kamu nggak perlu menang lotere atau punya jutaan <em>subscriber</em> untuk merasa jadi orang paling beruntung sedunia. Kalau kamu bisa baca artikel ini, hampir pasti kamu punya 10 keberuntungan tak ternilai yang jauh lebih berharga dibanding hoki tujuh turunan. Nggak cuma satu lho, ada SEPULUH! Sepuluh keberuntungan ini juga satu paket dengan <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/26/kamu-manusia-apa-kamu-punya-8-permata-ini/">8 kebebasan</a> yang sudah kita bahas di artikel ini. Jadi, total kita punya 18 permata kelahiran sebagai manusia yang nilainya jauh di atas kekayaan orang paling kaya di dunia.</p>



<p>Nah, sebelumnya kan kita sudah bahas tentang 8 kebebasan. Sekarang, yuk kita ulas 10 keberuntungan yang kadang nggak kita sadari ini! Kesepuluh keberuntungan ini bisa dikelompokkan jadi dua, 5 yang berkaitan dengan diri sendiri dan 5 yang berkaitan dengan orang lain.</p>



<h4><strong>Lima keberuntungan yang berkaitan dengan diri sendiri:</strong></h4>



<ul><li>Menjadi seorang manusia</li><li>Lahir di negeri pusat</li><li>Memiliki indra-indra yang berfungsi dengan baik</li><li>Memiliki kapasitas spiritual (misalnya: tidak melakukan 5 karma buruk berat)</li><li>Memiliki keyakinan pada Tripitaka</li></ul>



<p>Keberuntungan-keberuntungan ini merupakan cara lain memandang delapan kebebasan yang sebelumnya sudah dibahas. Kita sering berharap kejatuhan rezeki nomplok sampai-sampai lupa bahwa fakta kita bisa menjadi manusia saja merupakan keberuntungan yang luar biasa. Apalagi disertai dengan berbagai keberuntungan lainnya: lahir di negeri yang ada Dharma serta memiliki indra yang memadai untuk belajar, merenung, dan bermeditasi. Di antara begitu banyak makhluk yang tak terhingga jumlahnya, kita bisa menjadi satu dari segelintir yang memiliki semua keberuntungan ini. Luar biasa banget, kan?</p>



<p>Tidak melakukan lima karma buruk sangat berat (<em>panca garuka kamma</em>) ternyata juga merupakan sebuah keberuntungan yang istimewa. Secara sengaja membunuh ayah, membunuh ibu, membunuh arahat, melukai Buddha, dan memecah-belah Sangha menjamin kelahiran kembali di alam rendah. Tindakan-tindakan ini akan sangat menghambat praktik spiritual kita. Jika kita pernah melakukan salah satu dari kelima karma buruk itu, akan sangat sulit bagi kita untuk bisa menarik manfaat penuh dari kelahiran kita sebagai manusia.</p>



<p>Selain itu, bisa menumbuhkan keyakinan terhadap ajaran Buddha juga merupakan sebuah keberuntungan yang luar biasa. Pemahaman dangkal terhadap hukum karma dan kesalingbergantungan saja bisa membantu menghadapi berbagai permasalahan seperti kecemasan, krisis kepercayaan diri, pengelolaan emosi, dan sebagainya serta menjadi “rem” yang mencegah kita melakukan tindakan-tindakan yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Jadi, beruntung banget kan kalau kita bisa memiliki keyakinan terhadap Dharma?</p>



<h4><strong>Lima keberuntungan yang berkaitan dengan orang lain:</strong></h4>



<ul><li>Berada pada masa munculnya Buddha</li><li>Berada pada masa Dharma dibabarkan oleh Buddha</li><li>Berada pada masa Buddhadharma masih dipertahankan</li><li>Berada pada masa Buddhadharma masih diteruskan</li><li>Adanya kebaikan hati dari orang lain sehingga masih bisa menerima ajaran Buddha</li></ul>



<p>Sahabat pasti pernah baca tentang langkanya kehadiran seorang Buddha. Seorang Sammasambuddha hanya muncul di masa yang disebut “kalpa terang”. Masa ini hanya terjadi sekali setelah beberapa puluh ribu “kalpa gelap”. Bahkan di kalpa terang yang terdiri atas 80 kalpa perantara, Sammasambuddha baru muncul hanya sesaat di 20 kalpa perantara terakhir, tepatnya ketika usia manusia tidak terlalu panjang atau terlalu pendek.</p>



<p>Munculnya Buddha di sini bukan berarti Buddha muncul secara fisik seperti saat Siddhartha Gautama hidup sekitar 2500 tahun yang lalu. Kita bisa tahu ada yang sosok agung yang disebut “Buddha” saja berarti kita hidup di masa Buddha muncul. Ada masa lain saat tak seorang pun pernah mendengar kata “Buddha” dan masa itu jauh lebih panjang dibanding masa yang kita tinggali saat ini. Jadi, kita bisa lahir sebagai manusia di masa sekarang ini jelas merupakan keberuntungan luar biasa.</p>



<p>Nah, keberuntungan kita nggak berhenti sampai di situ. Di masa hidup kita ini, Buddha muncul DAN membabarkan Dharma. Bisa lahir di masa Buddha muncul saja sudah sangat beruntung, tapi saat itu belum tentu Buddha mengajar. Kalaupun Buddha mengajar, belum tentu ajaran tersebut bisa bertahan dan sampai ke kita. Sejak kelahiran Buddha Shakyamuni hingga kini, sudah banyak sekali peradaban-peradaban Buddhis yang bangkit dan runtuh. Biara Universitas Nalanda yang merupakan pusat pembelajaran Buddhadharma terbesar pada masanya habis dibakar. Di negara kita sendiri, tradisi Buddhis dari masa Sriwijaya pun sulit sekali dicari jejaknya. Jadi, beruntung banget kan kita masih bisa kenal dan belajar Dharma sampai hari ini?</p>



<p>Keberuntungan berikutnya adalah Dharma diteruskan dari generasi ke generasi. Poin ini secara khusus merujuk pada keberadaan Sangha monastik yang secara khusus mendedikasikan seluruh hidup mereka untuk mempelajari dan mendalami Dharma serta mewariskannya ke generasi berikutnya. Waktu zaman Sriwijaya dulu, ada ribuan biksu yang tinggal dan belajar di Bumi Nusantara ini. Namun, sejak peradaban Hindu-Buddha mengalami kemunduran, kita sempat memasuki masa tanpa Sangha monastik sama sekali hingga akhirnya Y.M. Biksu Ashin Jinarakkhita ditahbiskan pada tahun 1953. Beruntung banget kan kita bisa lahir setelah itu, saat anggota Sangha dan wihara-wihara sudah banyak di Indonesia?</p>



<p>Keberuntungan terakhir adalah adanya kebaikan orang lain sehingga kita bisa menerima ajaran Buddha. Kebaikan seperti apa? Contohnya adalah kebaikan orang-orang yang mendirikan wihara, mencetak buku Dharma, berdana untuk kebutuhan hidup Sangha, dan sebagainya. Kalian yang membaca dan membagikan tulisan ini pun bisa jadi merupakan bagian dari keberuntungan ini lho!</p>



<h4><strong>Beruntung Buat Apa?</strong></h4>



<p>Siapa sih yang nggak mau hoki tujuh turunan? Kadang kita sampai rajin cek ramalan astrologi atau konsultasi ke ahli fengshui agar kita jadi orang yang beruntung. Meski begitu, kita mungkin nggak pernah benar-benar memikirkan buat apa kita jadi “beruntung”. Bisa jadi ini bukan sesuatu yang perlu dipikirkan karena dampaknya jelas. Dalam konteks duniawi, kalau kita beruntung, semua aktivitas yang kita lakukan akan berjalan lancar, bisa sukses dengan usaha minimal, bisa mengumpulkan barang-barang yang kita inginkan, dan sebagainya.&nbsp;</p>



<p>Bagaimana dengan sepuluh keberuntungan yang kita miliki dengan kelahiran kita sebagai manusia ini? Kita sudah beruntung bisa jadi manusia, lahir di negeri pusat, bisa belajar Buddhadharma, dan sebagainya. Lalu buat apa? Tentunya untuk memastikan kita bisa mengubah nasib kita di samsara!</p>



<p>Sebelumnya kita sudah membahas bahwa kita punya 8 kebebasan yang memungkinkan kita untuk melepaskan diri dari penderitaan dan meraih kesempurnaan. Namun, 8 kebebasan ini tidaklah cukup. Sepuluh keberuntungan ini adalah hal-hal yang kita butuhkan agar kita bisa melatih diri kita di jalan Dharma, sedikit demi sedikit mengikis ketidaktahuan kita, kemelekatan kita, kemarahan kita, dan segala hal yang membuat kita menderita selama berkehidupan-kehidupan sejak waktu tak bermula. Di saat yang sama, bisa bertemu dengan Dharma memungkinkan kita untuk menumbuhkan kemurahan hati, disiplin moral, kesabaran, welas asih, kebijaksanaan, dan sifat-sifat baik lainnya yang akan membuat kita berbahagia di kehidupan mendatang, lepas dari samsara, atau bahkan meraih Kebuddhaan dan memberi manfaat kepada semua makhluk.</p>



<p>Kalau manfaat 18 permata ini belum terbayang jelas, kamu bisa cari sendiri <a href="https://www.instagram.com/p/CFo1FgVgEsP/">cerita orang-orang yang merasa hidupnya berubah menjadi lebih baik berkat Buddhadharma</a>. Kamu akan sadar bahwa Buddhadharma benar-benar bisa mengubah hidup seseorang jadi lebih baik di kehidupan ini dan membawa kita ke kebahagiaan sejati dalam jangka panjang.</p>



<p>Setelah baca ocehan penulis yang satu ini, coba renungkan lagi. Lebih beruntung mana, kamu atau para Youtuber dan pemenang lotere?</p>



<h5>Referensi:</h5>



<p>1. <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">“Pembebasan di Tangan Kita”</a> oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p>2. “Steps on the Path to Enlightenment” oleh Geshe Lhundup Sopa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/04/kamu-manusia-cek-keberuntunganmu-di-sini/">Kamu Manusia? Cek Keberuntunganmu di Sini!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/11/04/kamu-manusia-cek-keberuntunganmu-di-sini/">Kamu Manusia? Cek Keberuntunganmu di Sini!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kamu Manusia? Apa Kamu Punya 8 Permata ini?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/10/26/kamu-manusia-apa-kamu-punya-8-permata-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2020 02:37:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran manusia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5643</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sekarang kita nggak bebas beraktivitas karena COVID-19. Segala macam ketidakbebasan sehari-hari ini bisa bikin kita lupa bahwa kita masih punya kebebasan yang jauh lebih penting dan berharga. Kebebasan seperti apa sih itu?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/26/kamu-manusia-apa-kamu-punya-8-permata-ini/">Kamu Manusia? Apa Kamu Punya 8 Permata ini?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/10/26/kamu-manusia-apa-kamu-punya-8-permata-ini/">Kamu Manusia? Apa Kamu Punya 8 Permata ini?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD</p>



<p>Coba bayangkan jika ada seseorang yang ketemu sebongkah emas, tapi karena tidak mengerti bahwa emas itu mahal, dia buang begitu saja emas itu ke tong sampah. Padahal jika dijual, dia tidak perlu lagi bekerja seumur hidupnya. Perumpamaan ini sama seperti jika kamu, yang seorang Buddhis tidak mengerti bahwa hidup kita ini sangat berharga.</p>



<p><em>Kenapa berharga? Kok rasanya biasa saja ya?</em> Makanya baca artikel ini sampai kelar, ya!</p>



<p>Pertama-tama, kenyataan bahwa kamu bisa membaca artikel ini, membuktikan bahwa kamu adalah manusia dengan 8 kebebasan dan 10 keberuntungan (atau biasa disebut 18 permata). Di kesempatan ini, penulis mau cerita tentang 8 kebebasan dulu. Sepuluh keberuntungan akan dibahas di artikel selanjutnya. Yuk kita mulai!</p>



<h3><strong>Delapan Kebebasan</strong></h3>



<p>Dalam hidup, kita pasti pernah merasa nggak bebas. Waktu kecil kita nggak bebas main ke mana-mana karena orang tua melarang. Waktu sekolah dan kuliah kita nggak bebas main sesuka hati karena harus belajar. Setelah lulus dan terjun ke masyarakat, kita nggak bebas karena harus menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sekarang kita nggak bebas beraktivitas karena COVID-19. Segala macam ketidakbebasan sehari-hari ini bisa bikin kita lupa bahwa kita masih punya kebebasan yang jauh lebih penting dan berharga. Kebebasan seperti apa sih itu?</p>



<p>Ada 8 kebebasan yang berkaitan dengan kelahiran kita sebagai manusia. Kebebasan-kebebasan ini bisa dikelompokkan jadi dua dengan rincian sebagai berikut:</p>



<h5><strong>4 kebebasan yang berhubungan dengan kelahiran di alam lain</strong></h5>



<ul><li>Bebas dari kelahiran sebagai makhluk neraka:&nbsp;</li><li>Bebas dari kelahiran sebagai hantu kelaparan:&nbsp;</li><li>Bebas dari kelahiran sebagai binatang:</li><li>Bebas dari kelahiran sebagai dewa berumur panjang.</li></ul>



<p>Semua kebebasan ini kamu pasti sudah punya. Kalau ada yang kurang, pasti kamu nggak bisa baca artikel ini! Sadar nggak sadar, segala macam permasalahan kita sehari-hari bikin kita <em>take our human life for granted. </em>Coba deh bayangkan kalau kita terlahir di neraka, disiksa terus-terusan dalam waktu yang sangat lama. Sekarang kita kesandung dikit aja bisa menjerit, apalagi kalau dibakar selama puluhan kalpa? Begitu juga kalau kita lahir jadi setan kelaparan. Skip makan siang aja bikin nggak nyaman, pusing, nggak bisa mikir, apalagi kalau jadi setan kelaparan yang mulutnya cuma seukuran lubang jarum? Ada makanan di depan mata pun nggak bisa makan karena makanannya langsung berubah jadi api.&nbsp;</p>



<p>Kita kadang berandai-andai bisa jadi kucing atau anjing peliharan kita yang hidupnya santai, goleran sepanjang hari, makanan disediain, nggak usah capek kerja atau belajar. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, cuma sebagian kecil hewan yang hidupnya se-”makmur” itu. Sebagian besar hewan harus berjuang di alam liar, berkompetisi dan bahkan saling memakan untuk bisa hidup. Bahkan hewan peliharaan pun nggak punya kebebasan karena bergantung sama tuannya. Kalau anjingmu lapar, dia bisa mencoba menarik perhatianmu, tapi kalau kamu nggak kasih ya dia nggak bisa makan. Kalau dia goleran sepanjang hari nggak ngapa-ngapain, itu juga bukan karena dia maunya begitu, tapi otak dan tubuh fisiknya nggak punya kemampuan untuk melakukan aktivitas lain yang lebih bermakna.</p>



<p>Terus kenapa jadi dewa berumur panjang dianggap nggak bebas? Bukannya enak jadi dewa? Eits, tunggu dulu… Coba dipikir-pikir lagi. “Kenikmatan” yang kita rasakan di alam dewa berasal dari kebajikan kita. Makin nikmat, makin banyak kebajikan yang terpakai. Nah, selagi tabungan karma baik kita terpakai terus-menerus, apakah kita ingat untuk bikin karma baik baru? Kita tenggelam dalam kenikmatan dan kalaupun muncul pikiran bajik untuk memikirkan makhluk lain, semua makhluk di sekitar kita adalah dewa juga yang nggak butuh pertolongan. Kalau makhluk di alam rendah nggak bebas karena terkekang oleh penderitaan, sama saja di alam dewa kita akan “terkekang” oleh kenikmatan. Secara khusus, dewa berumur panjang konon hanya memiliki 2 bentuk pikiran:“Saya terlahir sebagai dewa” saat lahir dan “saya telah meninggalkan alam dewa ini” saat mati. Kamu akan berdiam dalam konsentrasi terpusat bagaikan tidur selama ribuan tahun dan selama itu pula kamu menghabiskan karma baikmu tanpa ada kesempatan melakukan karma baik baru. Coba bayangkan sendiri deh, bebas nggak itu?</p>



<h5><strong>4 kebebasan berhubungan dengan kelahiran manusia</strong></h5>



<ul><li>Bebas dari kelahiran di tempat terpencil yang tidak ada baca-tulis sama sekali.</li><li>Bebas dari tempat yang tidak ada ajaran Buddha.</li><li>Bebas dari disabilitas yang bisa membuatmu tidak bisa belajar.</li><li>Bebas dari pandangan salah:</li></ul>



<p>Setelah melihat 4 kebebasan yang ini, kamu mungkin sudah lebih paham kebebasan macam apa yang dimaksud. Delapan permata kebebasan dari kelahiran sebagai manusia yang kita miliki saat ini merujuk pada kebebasan untuk praktik Dharma! Lebih tepatnya lagi, ini semua adalah kebebasan yang memungkinkan kita untuk melatih diri di kehidupan ini agar dapat “bebas” menentukan masa depan kita. Dengan delapan kebebasan ini, kita tahu dan mampu mengatur hidup kita agar dapat meraih kebahagiaan di kehidupan mendatang, pembebasan dari penderitaan samsara, atau bahkan Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna.</p>



<p>Dengan lahir jadi manusia, kita bebas dari penderitaan di alam-alam lain. Namun, itu saja nggak cukup. Sebagai manusia pun kita masih nggak bebas dari karma dan klesha (faktor mental pengganggu) yang kita bawa dari kehidupan lampau. Akibat dari karma yang kita miliki membuat kita mengalami pengalaman tertentu dan cenderung melakukan tindakan tertentu. Jika lebih banyak buruknya daripada baiknya, kita bakal terus terjebak untuk jatuh berkali-kali di lubang yang sama.&nbsp;</p>



<p>Empat kebebasan yang berhubungan dengan kelahiran manusialah yang menjamin kita bertemu dengan Dharma sehingga bisa mengambil kendali atas hidup kita dan meraih kebebasan yang sesungguhnya. Coba bayangkan kita lahir di hutan atau gurun pasir yang masih primitif, belum ada aksara dan terisolasi dengan dunia luar. Suku pedalaman biasanya memang punya kearifannya tersendiri, tapi apakah itu cukup? Untuk bertahan hidup saja kita harus berjuang setengah mati. Kita juga nggak kenal dunia luar, jadi pengetahuan kita sangat terbatas. Kita bakal mengira hidup yang kita jalani adalah satu-satunya cara untuk hidup. Kita jadi nggak bebas karena kita nggak punya pilihan. Secara khusus, kita juga nggak punya kesempatan untuk mengenal Buddhadharma. Kita nggak kenal dengan hukum karma, ketidakkekalan, kesalingbergantungan, bodhicita… Pokoknya keseluruhan Dharma yang seharusnya bisa membuat kita sadar bahwa segala masalah hidup kita sebenarnya ada jalan keluarnya.</p>



<p>Saat ini sebagian besar dari pembaca artikel ini tinggal di Indonesia. Artinya sebagian besar sudah terbebas dari kelahiran di tempat terpencil dan tidak ada Buddhadharma. Namun, masih ada hal-hal lain yang bisa mengekang kita sehingga tidak bisa belajar dan praktik Dharma. Kita perlu bebas dari disabilitas yang membuat kita tidak bisa belajar, misalnya gangguan mental yang parah. Ada jenis-jenis gangguan mental tertentu yang merusak kemampuan berpikir kita sehingga kita tidak bisa memproses informasi dengan benar. Jika kita nggak bebas dari itu semua, artinya kita nggak punya kebebasan berpikir!</p>



<p>Selain itu, kita juga perlu bebas dari <a href="https://lamrimnesia.org/2020/06/13/wahai-netizen-mahabenar-waspadai-jalan-karma-pandangan-salah/">pandangan salah</a>, misalnya nggak percaya pada hukum karma dan tumimbal lahir. Ada lho orang yang nggak percaya karma. Gara-gara itu, mereka nggak ragu-ragu ngejahatin orang karena yakin nggak bakal mengalami akibat apapun. Nah, kalau sudah parah banget pandangan salahnya, mau Buddha hadir di depannya pun dia nggak akan percaya! Coba bayangkan kamu jadi orang yang seperti itu. Sepanjang hidupmu, kamu akan terjerat dalam ketidakbajikanmu sendiri dan setelah meninggal, kamu akan terjerat oleh kelahiran di alam rendah.</p>



<h3><strong>Delapan Kebebasan, Delapan Permata</strong></h3>



<p>Saat kamu merasa terkekang dan nggak bebas, baik itu karena COVID-19, masalah keluarga, masalah keuangan, atau masalah-masalah lainnya, coba deh belajar lebih lanjut tentang 8 kebebasan ini dari buku atau guru Dharma, lalu benar-benar renungkan. Dijamin efeknya bakal <em>mindblowing</em> banget. Kamu akan sadar bahwa walau kamu nggak bebas bertindak sesuka hati di saat ini, kamu masih punya kebebasan yang nggak terbatas untuk membentuk masa depanmu. Delapan kebebasan ini memberimu kesempatan untuk bertemu Dharma yang akan mengubah cara pandangmu terhadap dunia. Dengan Dharma, <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari">kamu bisa mengubah kesulitan yang menjeratmu menjadi sebab-sebab bagi kebahagiaan bagi dirimu dan banyak orang.</a> Karena itulah 8 kebebasan ini diibaratkan permata yang amat berharga dan tak ternilai. Hebatnya lagi, selain 8 kebebasan ini, kamu masih punya 10 permata lagi yang akan kita bahas sama-sama di artikel berikutnya!</p>



<p>Setelah baca ocehan penulis di atas, coba tanya pada dirimu sendiri. Kalau ada yang memberimu tawaran untuk menukar satu saja dari 8 kebebasan itu dengan berlian seukuran kepalamu, kamu terima nggak?</p>



<h5>Referensi:</h5>



<p>1. <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">“Pembebasan di Tangan Kita”</a> oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p>2. “Steps on the Path to Enlightenment” oleh Geshe Lhundup Sopa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/26/kamu-manusia-apa-kamu-punya-8-permata-ini/">Kamu Manusia? Apa Kamu Punya 8 Permata ini?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/10/26/kamu-manusia-apa-kamu-punya-8-permata-ini/">Kamu Manusia? Apa Kamu Punya 8 Permata ini?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kalau Buddha Bikin Resolusi Tahun Baru, Isinya Apa, Ya?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2018/01/08/kalau-buddha-bikin-resolusi-tahun-baru-isinya-apa-ya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[dharmapatriot]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jan 2018 11:00:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[2018]]></category>
		<category><![CDATA[bijaksana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran manusia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3885</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh: Toni Bernhard J.D. Ajaran Sang Buddha berhasil diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan sekitar lima abad lamanya. Ajaran-ajarannya kemudian diabadikan dalam sekumpulan tulisan yang kita sebut sebagai ceramah-ceramah Buddha. Dalam menyajikan resolusi-resolusi ini, saya mencoba menuliskan kata-kata beliau tersebut melalui sisi pandang orang pertama; tidak lupa juga mengadaptasi gaya tulisan supaya tulisan ini [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/01/08/kalau-buddha-bikin-resolusi-tahun-baru-isinya-apa-ya/">Kalau Buddha Bikin Resolusi Tahun Baru, Isinya Apa, Ya?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/01/08/kalau-buddha-bikin-resolusi-tahun-baru-isinya-apa-ya/">Kalau Buddha Bikin Resolusi Tahun Baru, Isinya Apa, Ya?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/dharmapatriot/">dharmapatriot</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh: Toni Bernhard J.D.</p>
<p>Ajaran Sang Buddha berhasil diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan sekitar lima abad lamanya. Ajaran-ajarannya kemudian diabadikan dalam sekumpulan tulisan yang kita sebut sebagai ceramah-ceramah Buddha. Dalam menyajikan resolusi-resolusi ini, saya mencoba menuliskan kata-kata beliau tersebut melalui sisi pandang orang pertama; tidak lupa juga mengadaptasi gaya tulisan supaya tulisan ini lebih mudah dibaca dan diterapkan sebagai resolusi menyambut tahun baru. Isi tulisan ini tetap sesuai dengan ceramah-ceramahnya.</p>
<p><strong>Resolusi Buddha:</strong></p>
<p><strong>1. Saya tidak akan mempercayai apapun hanya karena saya telah mendengarnya dan dirumorkan banyak orang. Saya tidak akan mempercayai apapun hanya karena diajarkan oleh guru-guru dan orang-orang tua. Tetapi setelah melalui observasi dan analisis, ketika saya memahami sendiri bahwa sesuatu, jika dijalankan dan dipraktekkan, akan membawa saya menuju kebaikan dan kebahagiaan sekali untuk selamanya, saya akan menerimanya dan hidup sesuai dengannya.</strong></p>
<p>Ini adalah kutipan pendek dari ceramah terkenal yang disebut <em>Kalama Sutta</em>. Sang Buddha menyuruh kita untuk bertanggungjawab atas kehidupan kita sendiri – untuk mengecek sendiri segala sesuatu (bahkan termasuk ajaran-Nya) dan tidak langsung menerimanya mentah-mentah. Barulah jika kita sudah memutuskan bahwa menjalankan dan menghayati sesuatu akan menguntungkan bagi semua makhluk, yuk hidup sesuai hal itu!</p>
<p><strong>2. Sebelum berbicara, saya akan merenungkan apakah apa yang akan saya katakan itu benar, baik, dan bermanfaat.</strong></p>
<p>Tiga hal ini disarikan dari pedoman yang diberikan Buddha dalam Ucapan Bijaksana. Berikut penjabaran lebih lanjut tentang ketiga aspek ini dalam buku saya, <em>How to Be Sick:</em></p>
<p>Membuat semua ucapan kita benar, baik, dan bermanfaat memang merupakan sebuah perintah yang cukup sulit untuk dijalankan, tetapi kita dapat mengatur niatan untuk menjaga ketiga kualitas tersebut dalam pikiran sebelum kita membuka mulut&#8230; Saya menemukan bahwa seringkali mudah untuk memenuhi dua dari kriteria tersebut, tetapi mungkin tidak tiga-tiganya sekaligus. Contohnya, mungkin benar bahwa seorang teman telah tidak menyapa dalam waktu satu bulan, tetapi akankah bermanfaat jika kita langsung mengkonfrontasinya tentang itu? Sebelum mengirimkan sebuah surel “Kenapa sih kamu tidak ada kabar selama ini?”, jika kita mengganti niatan konfrontasi dengan niatan bertanya (“Bagaimana kabarnya?”), maka komunikasi tersebut dapat saja menjadi baik dan bermanfaat. Bisa saja teman tersebut tidak berkabar karena dia sedang mempunyai banyak pekerjaan atau masalah keluarga, sehingga memberikan kita kesempatan untuk menjawab dengan welas asih dan dukungan alih-alih ego pribadi.</p>
<p><strong>3. Kebencian tidak akan pernah berakhir dengan kebencian; kebencian berakhir dengan ketidakbencian. Ini adalah kebenaran sejak zaman dulu. Saya tidak akan ikut serta dalam kebencian.</strong></p>
<p>“Kebencian tidak akan pernah berakhir dengan kebencian; kebencian berakhir dengan ketidakbencian” adalah kutipan yang sangat terkenal dari <em>Dhammapada</em>. Kita mungkin merasa mudah saja untuk setuju dengan separuh pertama, tetapi paruh kedua cenderung lebih sulit direalisasikan. Contohnya Nelson Mandela yang dikurung selama 27 tahun dalam penjara sebelum akhirnya dibebaskan tanpa menyimpan rasa getir atau kemarahan, justru beliau keluar dengan penuh lapang dada. Itulah yang membuatnya dapat banyak menyembuhkan luka-luka di Afrika Selatan dan menginspirasi orang-orang di seluruh dunia untuk mengikuti jalan kedamaian.</p>
<p><strong>4. Apapun yang terus saya kejar dengan pikiran dan renungan saya akan menjadi kecenderungan kesadaran saya, sehingga saya akan mengawasi pikiran dan cara-caranya dengan penuh perhatian.</strong></p>
<p>Di butir ini, Sang Buddha mengajarkan kita untuk waspada terhadap pikiran karena setiap pikiran kita bisa menimbulkan konsekuensi. Kita mungkin tidak dapat mengontrol pikiran yang tiba-tiba muncul di benak kita, tetapi kita bisa belajar untuk tidak sembrono bertindak berdasarkan pikiran-pikiran tersebut &#8212; apalagi jika akibatnya akan membawa keburukan bagi kita sendiri atau orang lain. Contohnya, jika orang lain mendapatkan sesuatu yang sangat kita inginkan, rasa iri mungkin langsung terbesit di hati; tetapi dengan latihan mental, kita dapat belajar untuk cukup mengobservasinya sebagai fakta alih-alih terus “menguber” hal tersebut – misalnya dengan mengarang pikiran negatif seperti “ih dia nggak pantas mendapatkannya; akulah yang pantas!”</p>
<p>Hal ini justru akan memperkuat iri hati yang dirasakan hingga menjadi “kecenderungan kesadaran” dan kita bisa terjerumus menjadi seorang penuh iri hati yang ujungnya mengantarkan diri kita sendiri pada penderitaan dan ketidakbahagiaan.</p>
<p><strong>5. Saya tidak akan memikirkan tentang kesalahan orang lain atau apa yang telah atau belum mereka lakukan. Alih-alih, saya akan memikirkan tentang apa yang saya sendiri telah atau belum lakukan.</strong></p>
<p>Resolusi ini sudah cukup jelas.</p>
<p><strong>6. Sebagaimana batu kokoh bergeming terhadap terpaan angin, saya juga akan bergeming terhadap pujian maupun celaan</strong></p>
<p>Beberapa pengikut Buddha mengejek seorang bhiksu karena postur tubuhnya pendek. Ketika Sang Buddha mendengar bahwa bhiksu tersebut tidak menunjukkan kemarahan apapun, beliau menyatakan bahwa bhiksu tersebut tetap bergeming baik terhadap pujian maupun celaan, seperti sebuah batu.</p>
<p>Dalam ceramah lainnya, Sang Buddha menyatakan bahwa akan selalu ada pujian dan celaan di dunia ini, jadi saya menginterpretasikan perumpamaan batu tersebut sebagai bahwasannya apa yang penting bagi kita adalah reaksi dan respon kita terhadap pujian dan celaan yang kita dapat. Akankah kita terlempar kesana kemari oleh angin yang timbul dari perkataan-perkataan orang, atau akankah kita tetap bergeming dan menyadai bahwa pujian dan celaan bukanlah yang akan membawakan kedamaian dan kebahagiaan bagi kita?</p>
<p><strong>7. Saya akan mengembangkan dan membina pikiran saya.</strong></p>
<p>Sang Buddha berkata, “Sama seperti pohon balsam yang paling lunak dan liat dari semua pohon, dengan cara yang sama, Aku tidak melihat segala sesuatu apapun, yang ketika dikembangkan dan dibina, dapat selunak dan seliat pikiran.” Ini kabar baik! Hal ini berarti bahkan ketika kita tidak dapat meringankan penderitaan fisik, kita dapat terus mengembangkan dan membina pikiran kita untuk meringankan penderitaan mental.</p>
<p>Para ahli saraf sering merujuk pada plastisitas otak. Hal ini sama dengan yang disebut Buddha sebagai “lunak dan liat”. Karena otak kita teramat sangat liat, kita dapat belajar untuk menjaga benak kita dari pikiran atau emosi negatif sebelum mereka berkembang dan akhirnya terwujud dalam ucapan atau tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Kita juga dapat belajar untuk membina pikiran dan emosi yang lembut juga menyembuhkan, seperti welas asih dan kebaikan.</p>
<p>Sebagai manusia kita memiliki kemampuan unik untuk mengembangkan dan membina pikiran kita. Saya sendiri juga telah membuat resolusi di tahun baru ini untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini untuk berkembang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Sumber: <a href="https://www.psychologytoday.com/blog/turning-straw-gold/201112/new-year-s-resolutions-the-buddha-might-have-made">https://www.psychologytoday.com/blog/turning-straw-gold/201112/new-year-s-resolutions-the-buddha-might-have-made </a></em></p>
<p><em>diterjemahkan oleh: Elvan Adiyan Wijaya | disunting oleh: Raka</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/01/08/kalau-buddha-bikin-resolusi-tahun-baru-isinya-apa-ya/">Kalau Buddha Bikin Resolusi Tahun Baru, Isinya Apa, Ya?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/01/08/kalau-buddha-bikin-resolusi-tahun-baru-isinya-apa-ya/">Kalau Buddha Bikin Resolusi Tahun Baru, Isinya Apa, Ya?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/dharmapatriot/">dharmapatriot</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghargai Kehidupan sebagai Manusia yang Sangat Berharga</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/02/03/menghargai-kehidupan-sebagai-manusia-yang-sangat-berharga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2017 19:18:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran manusia]]></category>
		<category><![CDATA[precious human rebirth]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2769</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dr. ALEXANDER BERZIN &#124; Ketika kita berupaya berpraktik meditasi, kita bukan hanya duduk dan mulai bermeditasi dengan pikiran yang gelisah dan berkeliaran ke sana kemari dengan tidak tenang. Sebab, bila kita tidak menenangkan pikiran sedikit sebelum mulai bermeditasi, semua sesi meditasi biasanya akan habis dengan pengembaraan mental tentang apa yang mengkhawatirkan kita, yang menyibukkan kita, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/03/menghargai-kehidupan-sebagai-manusia-yang-sangat-berharga/">Menghargai Kehidupan sebagai Manusia yang Sangat Berharga</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/03/menghargai-kehidupan-sebagai-manusia-yang-sangat-berharga/">Menghargai Kehidupan sebagai Manusia yang Sangat Berharga</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dr. ALEXANDER BERZIN | Ketika kita berupaya berpraktik meditasi, kita bukan hanya duduk dan mulai bermeditasi dengan pikiran yang gelisah dan berkeliaran ke sana kemari dengan tidak tenang. Sebab, bila kita tidak menenangkan pikiran sedikit sebelum mulai bermeditasi, semua sesi meditasi biasanya akan habis dengan pengembaraan mental tentang apa yang mengkhawatirkan kita, yang menyibukkan kita, atau hal-hal yang harus dilakukan: Ayo lalui sesi ini secepatnya, sebab saya masih ada janji atau saya harus mengantar anak-anak ke sekolah, atau apa saja. Mereka akan bangun sebentar lagi・- itu tekanan-tekanan yang mungkin terjadi. Jadi kita perlu menenangkan diri sejenak dan biasanya metode yang digunakan adalah memusatkan diri pada pernapasan. Kemudian, proses sesungguhnya dari meditasi akan bergantung pada kerja-kerja yang dilakukan sebelumnya.</p>
<p>Ada banyak jenis meditasi. Meditasi sendiri berarti melatih atau membiasakan pikiran kita pada sesuatu: pada suatu cara berpikir, pada cara tertentu untuk merasakan, pada pemahaman tertentu, sesuatu seperti itu. Jadi, bila kita akan melakukannya dengan jenis realisasi tertentu, pertama kita perlu mendengarkan; kita perlu mempelajarinya, mencari informasi sebagaimana adanya. Dengan demikian, kita memperoleh apa yang disebut kesadaran yang membedakan yang muncul dari mendengarkan. Kita akan bisa membedakan satu poin tertentu dengan poin lainnya, kenyataan dengan apa yang bukan kenyataan. Ayo kita coba sesuatu yang sangat mendasar dari pelajaran Buddha, Lamrim – tahapan jalan bertingkat – sesuatu tentang kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga.</p>
<p>Kita sudah mempunyai kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga, jadi kita perlu mempelajari definisinya. Apa definisi kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga? Kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga adalah kehidupan yang dipenuhi dengan apa yang saya sebut sebagai jeda-jeda dari situasi-situasi yang sangat sulit yang bisa kita alami. Karena kita tidak berada dalam situasi itu, kita memiliki jeda; ini adalah jeda sementara, temporer, semacam rehat dari itu semua. Ini bukan berarti kita bebas darinya selamanya; kita hanya mendapatkan rehat sementara dari segala jenis situasi teramat sulit dan kita memiliki banyak sekali kesempatan. Itulah kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Ada daftar delapan belas hal yang menjadi sumber bagi kita untuk mendapatkan jeda atau mendapatkan kesempatan yang memperkaya hidup kita.</p>
<p>Mendapatkan satu dari mereka bisa berarti kita memiliki jeda dari satu jenis situasi mengerikan yang membuat kita tidak memiliki waktu luang untuk belajar dan berpraktik. Ini digambarkan melalui berbagai alam keberadaan. Apakah kita menerimanya secara harfiah atau tidak, itu urusan lain, namun kita bisa membayangkan Baghdad dan merenungkan betapa beruntungnya kita yang kampung halamannya bukan Baghdad, yang tidak berada di sana. Saya tinggal di Berlin, memiliki beberapa mahasiswa senior yang memiliki pengalaman merasakan perang di masa kecil. Mereka ingat seperti apa rasanya menjadi anak-anak di bunker, di ruang bawah tanah rumah, tidur di gudang bawah tanah yang lembab dengan dua puluh atau tiga puluh orang lainnya. Bukan hanya tidur, tetapi juga benar-benar ketakutan ketika mendengar bom-bom dan pesawat melintas di atas kepala. Dan juga seperti apa di masa setelah perang. Kita tahu dan bisa lihat gambar kota-kota ini dan semua tampak seperti Hiroshima setelah perang; maksud saya, benar-benar terbakar dan hancur dibom. Salah satu mahasiswa wanita menceritakan betapa bertahun-tahun sebagai anak kecil mereka harus hidup di tempat pengungsian, di ruangan yang padat bersama sekitar dua puluhan orang lainnya. Orang saling mencuri makanan, toilet tidak berfungsi; ada tiga puluh orang dan airnya tidak mengalir, jadi bagaimana menyiram toilet bekas pakai tiga puluh orang? Mereka terpaksa berbagi satu toilet tanpa air. Kenyataannya, ini sangat-sangat mengerikan.</p>
<p>Demikian pula, orang-orang di Baghdad mengalami hal serupa; orang-orang di Bosnia juga; orang-orang di Rwanda pun sama. Ini terjadi secara berkala di dunia kita, dan pada titik tertentu, giliran kita bisa jadi tiba. Dan betapa indahnya karena kita memiliki jeda dari itu semua.</p>
<p>Kita mungkin mengalami sedikit dari itu – 9/11, tetapi ini tidak dapat dibandingkan dengan Perang Dunia II. Kita tidak memiliki pengalaman kampung halaman kita dibom dan dibakar. Inilah jeda yang kita miliki. Inilah kebaikan yang kita miliki. Dan kita memiliki kesempatan untuk mengikuti apa pun yang kita inginkan dengan bebas.</p>
<p>Inilah definisi dari kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Kita mungkin hanya mendengar kata-kata dan tidak benar-benar mengetahui apa maksudnya. Katakanlah kita mendengar kata 徒ehidupan sebagai manusia yang sangat berharga・dan kita tidak benar-benar tahu definisinya. Jadi kita tak tahu apa makna sesungguhnya. Kita hanya mendapatkan gagasannya, ide dari kata-kata tanpa makna mendalam yang berkaitan dengannya. Dan kita mungkin menduga – ada dugaan di sini – bahwa ini benar, tetapi kita tidak benar-benar memahaminya. Saya menganggap ini benar, karena guru saya mengatakan demikian. Saya menghargai guru saya, jadi oke, saya bisa sedikit terbuka. Itulah langkah pertama – Kita harus mendengarkan, mendapatkan informasi – dari kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga.</p>
<p>Langkah kedua adalah kita harus berpikir tentang itu. Kita harus merenungkannya, merenungkan maknanya. Dan ini berarti memikirkan dalam cara yang logis. Apa definisi kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga dan kenapa ia berharga? Seperti misalnya, saya lahir sebagai manusia dan saya tinggal di lingkungan yang damai – lingkungan yang relatif damai – bukan di wilayah perang. Ini adalah lingkungan yang sangat berharga untuk berpraktik dan merealisasikan Dharma. Jadi, saya bebas dari keberadaan di wilayah perang – inilah urutan sebab akibatnya, inilah logikanya: bebas dari keberadaan di wilayah perang dan lepas dari ketakutan dari kehidupan di bunker atau sejenis kamp pengungsian, tempat semua orang saling mencuri dan jorok – bebas dari itu semua adalah kesempatan yang sangat berharga untuk berpraktik dan belajar. Dan kita perlu meyakini kenapa ini berharga: karena kita bebas dari kesulitan-kesulitan. Dan kita harus benar-benar yakin bahwa urutan sebab akibat membuktikan tesis kita dengan logika. Bebas dari berbagai situasi buruk membuktikan bahwa kita memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga dan banyak kesempatan yang bisa digunakan.</p>
<p>Jadi kita harus berusaha mencernanya dan berpikir. Inilah proses keseluruhan dari merenungkan: Apa yang akan terjadi bila saya ada di salah satu dari wilayah-wilayah perang ini? Apa yang akan terjadi bila saya tahu bahwa musuh akan menjatuhkan bom di kota saya dalam beberapa hari dan mungkin aliran air diputus, dan saya tinggal di gurun yang sangat panas, dan siapa yang tahu kapan habisnya air? Jadi, kita mulai mengisi bak mandi. Lupakan soal cuci-mencuci sekarang; isi bak mandi. Kita isi semua panci dan wajan sebanyak mungkin sebab mungkin nanti tidak ada lagi air. Dan lupakan soal keluar dan membeli air kemasan dalam botol. Kita mungkin tertembak. Jadi, cobalah bayangkan seperti apa kondisinya. Berapa banyak lilin yang harus kita beli di luar? Sebab, pasti listrik akan padam. Dan sekarang harga lilin akan dua puluh kali lipat lebih mahal ketimbang sebelumnya, bahkan mungkin seratus kali lipat. Jumlahnya pun terbatas. Bayangkan pula antriannya dan pertengkaran di dalamnya. Beberapa orang kaya datang dan ingin membeli semua lilin. Bagaimana perasaan kita dalam situasi ini? Bayangkan seolah-olah ini nyata adanya.</p>
<p>Saya mendapati hal ini sangat menyentuh, sebab saya mempunyai banyak materi di portal tentang dialog Buddha-Islam yang saya ikuti. Dan saya mendapatkan surat elektronik dari seseorang yang mengatakan dia datang dari negara Muslim dan sudah menjadi seorang Buddhis, dan mungkin dia satu-satunya Buddhis di negerinya. Itu sangat berbahaya, sebab berganti agama sangat tidak diterima di masyarakatnya. Namun, dia mendapati materi-materi itu sangat menginspirasi, sangat indah, terutama tentang cara menjelaskan Buddhisme dari sudut panjang Islam. Dia juga menawarkan untuk menerjemahkan artikel-artikel di portal tersebut ke dalam bahasa Arab. Saya bilang, Luar biasa, hebat!・Saya tanya dia, Dari mana asalmu, di mana kamu tinggal?・Dia menulis balik, Baghdad.・Itu membuat saya sangat, sangat tersentuh.</p>
<p>Ini mungkin sekitar dua atau tiga minggu sebelum Perang Irak dimulai. Saya pun berhubungan melalui surat elektronik dengan lelaki ini. Kami bertukar surel, dan dia menulis kepada saya sekitar dua jam sebelum bom mulai berjatuhan, sebelum perang dinyatakan, dan dia masih mengatakan, Jangan khawatir, kami sudah terbiasa dengan hal-hal ini.・Dan maksud saya, itu tengah malam; lelaki ini pasti terjaga sepanjang malam. Setiap orang benar-benar ketakutan: Kapan bom-bom mulai dijatuhkan?・Mampukah kita mencoba tidur dengan mengetahui bahwa setiap menit sirene tanda bahaya bisa menyala dan kita mungkin tidak memiliki bunker di rumah? Jadi, apa yang akan kita lakukan: bersembunyi di bawah tempat tidur? Apa yang akan kita lakukan? Apakah bak mandinya sudah benar-benar penuh? Mungkin masih ada panci lain yang bisa saya isi air? Mengerikan! Untuk saya, ini jauh lebih nyata, sebab sekarang saya mengenal seseorang yang berada di sana, yang benar-benar menghadapi pengalaman mengerikan ini. Dia hanya lelaki miskin dan lugu, hanya seorang mahasiswa. Apakah dia akan bisa mengikuti ujiannya, menyelesaikan kuliahnya, dan melanjutkan hidupnya?</p>
<p>Jadi, kita melakukan ini dalam meditasi, dalam perenungan kita. Sekarang ini sedikit lebih nyata untuk kita. Betapa beruntungnya kita bebas dari itu semua, memiliki jeda dari itu semua dan tidak berada di dalamnya sekarang. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi setidaknya saat ini kita bisa bersyukur! Ini adalah sejenis fiuh!, seperti beban yang diangkat dari pundak ketika mengetahui bahwa kita bebas dari hal-hal tersebut. Dan kemudian kita berpikir: 溺aksud saya, bila saya berada dalam situasi itu, kesempatan seperti apa yang saya punya untuk bisa belajar, bisa berpraktik?・Tentu, jika kita praktisi yang sangat terlatih, mungkin kita bisa tetap berpraktik, tetapi faktanya kita masih pemula. Dan tentu tidak dengan dua puluhan orang yang berdesakan di satu ruangan dan semuanya ketakutan. Tidak ada kesempatan bagi praktik.</p>
<p>Jadi, kita bersandar pada urutan sebab akibat ini: karena saya bebas dari semua itu, saya memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Dan kita mendapatkannya melalui pemahaman yang inferensial (berdasarkan fakta dan argumen), kesimpulan – berdasarkan urutan sebab akibat. Ini bukan hanya soal memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga, tetapi memiliki kehidupan sebagai manusia yang berharga karena kita bebas dari situasi-situasi sulit tertentu. Landasannya adalah sebab; ada alasan untuk itu. Ini pernyataan yang valid, bukan sekadar pernyataan biasa. Jadi, kita memiliki ide yang merupakan gagasan yang penuh makna.</p>
<p>Ada perbedaan antara ide yang berupa kata-kata kosong dan ide yang berupa gagasan penuh makna. Jadi kita bisa fokus meyakini kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga dengan gagasan yang penuh makna. Ini menghasilkan cara yang valid untuk megetahui dan ada keyakinan: saya sudah memikirkannya dalam-dalam. Ada beberapa alasan untuk memahami ini, bukan hanya sekadar berpikir dan percaya: ini benar! Ini keyakinan: ini benar, saya benar memiliki kehidupan sebagai manusia yang berharga, saya tak bimbang soal ini. Tentu, kita bisa menyesali diri sendiri: Betapa malangnya saya! &#8211; untuk alasan apa pun. Tapi kemudian kita bisa melihat: sebuah televisi yang rusak bukanlah kondisi yang parah; ini tidak terlalu parah, tidak terlalu parah.</p>
<p>Ketika suatu kali kita meyakini sesuatu, maka inilah kesimpulan dari proses perenungan – cara yang valid untuk mengetahui apa yang mendasar dalam urutan sebab akibat. Kita pun menuju tahapan sesungguhnya yang disebut sebagai meditasi. Di sini, apa yang ingin kita lakukan adalah mencerna, membiasakan diri dengannya, benar-benar menjadikannya bagian dari keseluruhan cara hidup kita, memadukannya dengan kehidupan kita. Dan ada dua perbedaan langkah yang ada di sini. Yang pertama biasanya disebut sebagai meditasi analitis – saya tidak menemukan istilah yang memadai. Istilah yang lebih saya suka adalah meditasi pemahaman (discerning meditation), mencoba memahami sesuatu. Itulah bagian analitisnya.</p>
<p>Jadi, ada yang dinamakan meditasi pemahaman, dan yang kedua adalah apa yang saya sebut sebagai meditasi stabilisasi. Dalam meditasi pemahaman, kita memiliki beberapa langkah. Faktor-faktor mental yang akan terlibat dalam proses ini adalah dua faktor mental utama. Yang pertama disebut deteksi kasar, demikian saya menyebutnya, dan kedua adalah ketajaman subtil. Di beberapa konteks ini bisa berarti investigasi dan meneliti. Deteksi kasar ini misalnya dalam kasus mengoreksi satu halaman dan secara sepintas menemukan kesalahan. Kita tidak mencari rincian yang detail, melainkan hanya sekadar menginvestigasi apakah sesuatu perlu dikoreksi atau tidak. Kita menginvestigasi: oh ya, perlu dikoreksi; dan kemudian, ketajaman subtil tadi akan meneliti lebih lanjut poin per poin dan memperbaikinya. Ini yang akan kita gunakan, setidaknya di beberapa aspek dari meditasi pemahaman.</p>
<p>Apa yang perlu kita periksa adalah diri kita sendiri. Kita telah mempelajari definisi dari kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga, dan sudah mengerti, menginvestigasi: apakah saya benar memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga itu? Bagaimana saya bisa mendapatkannya, apa saja aspek-aspeknya, apakah ini cocok dengan saya? Dan kita menginvestigasi secara kasar dan mendeteksi kebebasan kita dari wilayah perang, kebebasan kita dari kungkungan ketakutan atau kelaparan atau sakit atau jenis-jenis situasi yang sangat sulit. Dan walaupun kita setiap kali mengalami penderitaan dan mengalami ketakutan dan dihantui, tetapi berapa skala untuk mengetahui seberapa buruk itu terjadi? Dan pada akhirnya, kita memahami bahwa diri kita bebas dari berbagai jenis situasi yang menyedihkan. Apakah kita benar-benar menyukainya? Ya! Sekarang kita mampu memahami bahwa kita memang memiliki kebebasan itu. Kita tidak berada di wilayah perang; kita tidak terus-menerus berada di situasi yang tak menyenangkan.</p>
<p>Sekali lagi, itulah langkah pertamanya. Langkah berikut adalah menuju urutan sebab akibat lagi. Bukan untuk mendapatkan pemahaman, tetapi untuk bisa membangkitkan pemahaman valid yang berasal dari bukti dan argumentasi. Ini yang kita ingin lakukan: Ok, saya sudah memahami berdasarkan bukti dan argumentasi, saya sudah memiliki kebebasan dari kehidupan di wilayah perang. Sekarang kita lanjut sesuai urutan sebab akibat: dengan demikian saya memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga.</p>
<p>Jika seseorang bebas dari keberadaan di wilayah perang, ia memiliki kehidupan yang sangat berharga. Kita bebas dari keberadaan di wilayah perang, jadi kita memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Dengan urutan sebab akibat ini, kita mendapatkan kesimpulan valid bahwa kita memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Ini menjadi proses dalam melakukan meditasi yang berdasarkan fakta dan argumentasi. Dan kita harus aktif melalui proses ini. Jadi, ini bisa disebut proses mental verbal.</p>
<p>Itu hanya sebagian saja. Bagian sesungguhnya dari yang kita inginkan adalah bagian nonverbal. Apa yang ingin kita lakukan adalah memahami, secara aktif memahami diri kita sendiri memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga; untuk memahami itu, untuk mengerti, dan membedakannya – yakni membedakan kesadaran yang muncul dari meditasi. Dan kita kemudian fokus di situ. Dengan pemahaman aktif – yaitu meditasi pemahaman.</p>
<p>Kemudian, masih ada meditasi stabilisasi. Caranya, kita hanya fokus pada kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga tanpa secara aktif memahami semuanya secara rinci, tanpa memahami ini dan itu. Ini sejenis perasaan bahwa kita memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga, dan kita tenggelam di dalamnya; inilah stabilisasi. Inilah apa yang kita cari: konsentrasi sempurna. Kita sepenuhnya yakin bahwa kita mampu melihatnya dan memahami maknanya secara valid, dan sekarang kita mencoba merasakannya, tenggelam dalam konsentrasi itu. Dan tentu saja akan perlu waktu sejenak untuk menenggelamkan diri dan waktu sejenak lainnya untuk menghasilkan perbedaan.</p>
<p>Apa yang selalu saya tunjukkan kepada orang-orang adalah bahwa kemajuan ini tidak linear: ia tidak akan selalu membaik setiap kali kita bermeditasi. Samsara secara umum bersifat naik turun. Jadi, akan selalu ada naik turun sampai kita mencapai pembebasan – menjadi Arhat atau makhluk yang terbebaskan. Sebelum itu, akan selalu ada naik turun. Terkadang kita merasa ingin meditasi, kadang-kadang tidak. Terkadang semua berjalan baik, kadang-kadang tidak. Seperti kata Serkong Rinpoche: Tidak ada yang istimewa.・Tidak ada yang istimewa soal itu – tidak ada yang mengherankan. Jadi tidak ada alasan untuk merasa kecewa. Hari ini kita merasa malas bermeditasi – ya, lalu kita perlu memiliki yang disebut keteguhan-seperti-baja: kita terus bermeditasi, terus melakukannya. Renungkan seperti ini: Saya tidak suka ini, jadi saya perlu lebih disiplin.・Sebab, tentu saja, kita tidak akan menyukainya, dan jika ia tidak berlangsung terlalu baik hari ini, kita lihat saja besok seperti apa. Tidak ada kritik soal ini, alami saja; dalam beberapa hari mungkin akan menjadi lebih baik. Ini sangat gamblang. Lagipula, apa yang kita harapkan? Ini toh samsara. Jadi, kita fokus saja seperti itu.</p>
<p>Sekarang, catat bahwa ketika kita berbicara tentang meditasi pemahaman dan stabilisasi, tahapan ini masih konseptual, masih soal gagasan terkait apa makna kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Dan inilah ide tentang kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga, sesuatu yang mewakili pemikiran-pemikiran kita melalui perkataan ataupun perasaan. Sangatlah penting untuk memiliki ide dalam bentuk perkataan ataupun perasaan.</p>
<p>Dan sekarang, kita bertanya, Bagaimana pemahaman intuitif seperti ini sesuai dengan karakteristik pemahaman intelektual Barat kita?・Sesungguhnya, keduanya sangat cocok. Apa yang kita sebut sebagai pemahaman intelektual adalah gagasan verbal melalui perkataan. Dan pemahaman intuitif berfokus pada perasaan atau gambaran mental. Akan tetapi, intinya, keduanya adalah konseptual dan keduanya bisa menjadi akurat maupun tidak akurat. Intelektualitas bisa benar dan bisa juga tidak. Perasaan bisa berupa perasaan akurat atau sepenuhnya aneh dan janggal.</p>
<p>Jadi, yang paling penting adalah keduanya, terlepas dari apa sebutan kita terhadapnya. Mereka perlu didampingi dengan pemahaman yang benar dari makna kata-kata ataupun dari makna perasaan. Lebih jauh, agar mampu mencerna pemahaman itu, kita perlu berkonsentrasi padanya dengan keyakinan. Bila kita mampu berkonsentrasi padanya dengan keyakinan total yang sebenar-benarnya, kita bisa menyebutnya sebagai pemahaman mendalam, atau keberanian memahami dalam terminologi Barat. Kemudian, ketika pemahaman mendalam ini diiringi dengan emosi konstruktif/membangun – seperti penghargaan pada kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga ini selaku faktor mental – maka kita bisa menyatakan bahwa kita secara emosional tergerak oleh pemahaman kita sendiri. Dan kita bisa membawa transformasi. Itu bisa menghasilkan transformasi.</p>
<p>Kemudian, bila kita ingin mengubah pemahaman konseptual menjadi pemahaman nonkonseptual, kita harus tahu terlebih dulu apa maknanya. Sebab, banyak orang hanya menyamakan konseptual dengan intelektual, yang mana tidak selalu benar. Kita bisa mempunyai, seperti saya katakan, satu perasaan yang mewakili sesuatu. Hanya karena ini bukan verbal bukan berarti ini bukan konseptual. Demikian pula, pemahaman nonkonseptual adalah satu pemahaman yang fokus pada sesuatu yang tidak melalui medium gagasan. Kita tidak harus bersandar pada urutan sebab akibat – itu yang pertama. Kita bisa memahami sesuatu yang saat ini harus kita bangun terlebih dulu melalui urutan sebab akibat &#8211; saya memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga, karena saya bebas dari ini dan itu, atau situasi menyedihkan ini dan itu.・Artinya, kita bisa memiliki pemahaman konseptual yang tidak berdasarkan urutan sebab akibat. Kita tidak harus melalui urutan sebab akibat – kita meraih pemahaman begitu saja. Kita bisa saja hanya berpikir &#8211; 鉄aya memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga・- dan pemahaman beserta keyakinan pun serta-merta hadir. Karena kita sudah bekerja melalui urutan sebab akibat sebelumnya, kita tidak harus melaluinya lagi. Namun, kita masih perlu melalui ide kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Itu semacam konsepnya; baik verbal, perasaan, atau apa pun.</p>
<p>Nonkonseptual adalah tanpa gagasan. Tetapi, apakah ia mudah dipahami? Bagaimana mengetahui kalau ia mudah dipahami? Apakah perbedaannya? Apa yang menjadi terang? Betapa terang perasaan ini, betapa terang pemahaman memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Dan sekali lagi, untuk mampu memahami apa yang kita sudah tahu, apa artinya menjadi terang, apa makna gelap? Kita harus mampu mengenali semua ini dalam pengalaman kita. Jadi, mempelajari faktor-faktor mental dan jalan pengetahuan sangatlah relevan bagi kemajuan spiritual kita serta bagi pemahaman kita atas pengalaman sehari-hari.</p>
<p>Sumber: studdybudhism.org | Diterjemahkan oleh Nina Susilo</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/03/menghargai-kehidupan-sebagai-manusia-yang-sangat-berharga/">Menghargai Kehidupan sebagai Manusia yang Sangat Berharga</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/03/menghargai-kehidupan-sebagai-manusia-yang-sangat-berharga/">Menghargai Kehidupan sebagai Manusia yang Sangat Berharga</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pandangan Buddha Tentang Ras</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2016/11/25/pandangan-buddha-tentang-ras/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2016 07:00:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran manusia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2600</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Biksu hutan dari Thailand, Thanissaro, mendiskusikan 4 pelajaran dari Sutta Nipata yang baru diterjemahkannya. Oleh Emma Varvaloucas Biksu hutan Thanissaro adalah penerjemah produktif kitab Pali, kumpulan lengkap ajaran Buddha masa awal. Than Geoff, panggilannya di kalangan siswa dan teman, baru-baru ini mencetak terjemahannya atas Sutta Nipata (“Kumpulan Kajian”). Terdiri atas 72 sutta, Sutta Nipata berisi [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/11/25/pandangan-buddha-tentang-ras/">Pandangan Buddha Tentang Ras</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/11/25/pandangan-buddha-tentang-ras/">Pandangan Buddha Tentang Ras</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Biksu hutan dari Thailand, Thanissaro, mendiskusikan 4 pelajaran dari <i>Sutta Nipata</i> yang baru diterjemahkannya.</p>
<p><i>Oleh </i><a href="http://tricycle.org/author/emmavarvaloucas/"><i>Emma Varvaloucas</i></a></p>
<p>Biksu hutan Thanissaro adalah penerjemah produktif kitab Pali, kumpulan lengkap ajaran Buddha masa awal. Than Geoff, panggilannya di kalangan siswa dan teman, baru-baru ini mencetak terjemahannya atas <i>Sutta Nipata</i> (“Kumpulan Kajian”). Terdiri atas 72 sutta, <i>Sutta Nipata</i> berisi beberapa syair sahih paling terkenal (contohnya yang mungkin pernah Anda dengar adalah <i>Metta Sutta</i>) dan menyajikan pandangan Buddha tentang topik semacam rasisme dan perbedaan kelas. Terlepas dari umur naskahnya, bahasannya sungguh sesuai dengan kondisi sosial-politik saat ini.</p>
<p>Di bawah ini, sang biksu menjawab 4 pertanyaan singkat tentang <i>Sutta Nipata.</i></p>
<p><b>Adakah sutta tertentu dalam </b><b><i>Sutta Nipata</i></b><b> yang tidak terkenal, namun layak diketahui?</b></p>
<p>Mungkin bagian terpenting <i>Sutta Nipata</i> adalah <i>Atthaka Vagga</i>, sebuah kompilasi 16 puisi tentang ketidakmelekatan. Namun, ada permata terpendam dalam kompilasi lainnya juga. ‘Mata Panah (3.8)’ adalah pernyataan kuat akan perlunya mengatasi duka, dan ‘Tongkat Terangkul (4.15)’ dimulai dengan visi dunia yang membawa Siddhartha muda mencari pencerahan. Seperti yang tertulis, dia melihat orang-orang menggelepar seperti ikan yang mendesak satu sama lain di kubangan kecil, dan tak ada suatu apapun di dunia yang tidak diklaim oleh manusia. Setiap kali saya membaca kalimat itu, saya memikirkan kala salmon sampai pada tempat peraduan mereka di sungai yang tak lebih dari satu inci dalamnya, bersikeras melampaui salmon lain yang sudah mati, sementara di sekeliling sekumpulan beruang bersiap menyerang. Terlepas dari segala usaha itu, pada akhirnya mereka akan mati jua.</p>
<p><b>Anda menyatakan bahwa benang merah antara sutta-sutta dalam Sutta Nipata adalah reaksi terhadap budaya India kuno, kala Brahmanisme menjadi tradisi agama yang mendominasi. Bagaimana Anda menggambarkan hubungan Buddha dengan para Brahmana dan bentuk kepercayaan mereka, dan bagaimana kompilasi ini mendukung pendapat itu?</b></p>
<p>Kita tahu dari teks lain bahwa kaum Brahmana di zaman Buddha terobsesi pada keakuan. Apakah ‘diri sejati’ lepas dari hidup-mati, dan bila iya, bagaimana memastikan ‘diri sejati’ ini tetap berlanjut? Kita juga tahu dari bagian lain teks bahwa menurut Buddha, ini adalah pertanyaan yang salah karena malah menghambat pencarian jawaban atas pertanyaan yang menurutnya lebih penting: bagaimana mengakhiri penderitaan dan memastikan bahwa kita bisa meraih pembebasan. Sutta Nipata menyentuh topik ini sedikit sekali. Di sini, para Brahmana digambarkan hanya dipersatukan oleh kepercayaan bahwa mereka lebih baik daripada orang lain, dan Buddha membahas panjang lebar bahwa seseorang tidak dapat dinilai hanya berdasarkan latar belakang keluarga dan status sosial, namun seharusnya berdasarkan tindakan mereka.</p>
<p><b>Hal ini tampaknya sesuai sekali dengan isu rasisme dan kesenjangan kelas yang masih kita hadapi saat ini. Bagaimana kita dapat menerapkan pendirian Buddha dari masa India lampau ke kondisi modern saat ini?</b></p>
<p>Dua ajaran Buddha mengenai rasisme dan kesenjangan kelas masih sangat bisa diterapkan sekarang. Pertama adalah poin yang baru saja saya sampaikan: asal usul dan status sosial tidak mempengaruhi kebaikan atau keburukan seseorang. Baik atau buruknya manusia tergantung pada apa yang mereka lakukan, dan begitulah semestinya mereka dinilai&#8211; bukan dari warna kulit mereka. Dalam kalimat indah di <i>Vasettha Sutta</i> (3.9), Buddha menyebutkan bahwa Anda bisa mengenali sosok hewan yang umum dari warna atau coraknya, sementara standar yang sama tidak berlaku bagi manusia. Tidak ada tanda fisik yang bisa menyatakan apakah seseorang bisa dipercaya atau tidak. Jika Anda mengukur kebaikan atau keburukan seseorang dari penampilannya, Anda merendahkan martabat manusia -diri Anda dan orang lain- seperti hewan.</p>
<p>Ajaran lain tak begitu mudah ditangkap tapi sama pentingnya. Ada sebuah sutta renungan tentang tubuh yang judulnya menarik, yaitu Kemenangan (1.11). Sutta itu menjabarkan daftar panjang hal yang menjijikkan dari tubuh manusia, dan diakhiri perkataan,”Siapakah yang berpikir, dengan badan semacam ini, untuk menghina atau menjauhi manusia lain; apa itu kalau bukan buta namanya?” Jika kamu merasa kulit putih sungguh istimewa, bayangkan seonggok kulit putih begitu saja. Semestinya itu cukup untuk mengurungkan pikiran tentang superioritas ras.</p>
<p><b>Dalam prakata Anda untuk kompilasi ini, Anda menekankan pentingnya mengerti konteks sejarah dalam membaca naskah kuno, terutama karena banyak sabda sang Buddha yang bisa terasa kontradiktif atau ambigu jika seseorang hanya mengandalkan makna denotatifnya. Bagaimana jika seorang awam ingin membacanya?</b><b><br />
</b><b><br />
</b>Dalam naskah Buddhis, makna utuh selalu berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan ini: sejauh apa ajaran ini dapat membantu mengatasi penderitaan? Ketika Anda dihadapkan pada tafsir berbeda atas sebuah naskah, pertanyaan yang sama tetap berlaku. Apakah tafsir ini membantu atau menghambat seseorang mengatasi penderitaan? Cendekiawan dapat menunjukkan kecocokan tafsir dari sebuah naskah berdasarkan posisinya dalam sejarah atau kaitannya dengan naskah lain, namun hanya karena dia lebih terpelajar bukan berarti dia lebih mampu daripada orang awam dalam menjawab kedua pertanyaan itu. Anda harus ingat bahwa naskah semacam kitab Pali tidak dimaksudkan untuk dipelajari sendiri. Idealnya, Anda mempelajarinya dengan komunitas guru, kalangan Sangha yang sudah menerapkan ajaran itu, sehingga Anda mendapat gambaran bagaimana menerapkannya dalam hidup Anda. Meski demikian, Anda belum tentu mengerti makna seutuhnya dari sebuah ajaran sampai Anda menemukan apa yang dapat mengakhiri penderitaan pribadi Anda. Hal ini membutuhkan lebih dari sekadar teknik ilmiah. Yang Anda butuhkan adalah kejujuran, ketulusan, dan standar tinggi dalam menemukan apa yang sesuai.</p>
<p><i>Sutta Nipata adalah naskah kelima dalam Khuddaka Nikaya (“Antologi Pendek”), yang merupakan antologi kelima dalam Sutta Pitaka, satu dari tiga ‘keranjang’ utama kitab Pali. Anda dapat membaca Sutta Nipata dan terjemahan lainnya dari Biksu Thanissaro secara gratis di accesstoinsight.org</i></p>
<p><em>(Sumber: tricycle.org | diterjemahkan oleh Lisa Santika Onggrid)</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/11/25/pandangan-buddha-tentang-ras/">Pandangan Buddha Tentang Ras</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/11/25/pandangan-buddha-tentang-ras/">Pandangan Buddha Tentang Ras</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Caranya Menonton “Inside Out” kemudian Berbicara tentang Emosi pada Anak-Anak</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2016/09/29/bagaimana-caranya-menonton-inside-out-kemudian-berbicara-tentang-emosi-pada-anak-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2016 16:26:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[dukkha dan proses samsara]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran manusia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://localhost/smartmag/?p=2334</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh Melissa Myozen Blacker Membicarakan emosi kepada anak-anak kita tak selalu mudah, namun animasi Pixar Inside Out yang terkenal mungkin bisa membantu. Film ini bukanlah film Buddhis secara khusus, namun di dalamnya terdapat penjelajahan kebenaran yang penting tentang sifat-sifat ke-aku-an dan perasaan yang mencerminkan ajaran Buddhis. Selain itu, anak-anak serta orang tua akan menikmatinya. Inside [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/bagaimana-caranya-menonton-inside-out-kemudian-berbicara-tentang-emosi-pada-anak-anak/">Bagaimana Caranya Menonton “Inside Out” kemudian Berbicara tentang Emosi pada Anak-Anak</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/bagaimana-caranya-menonton-inside-out-kemudian-berbicara-tentang-emosi-pada-anak-anak/">Bagaimana Caranya Menonton “Inside Out” kemudian Berbicara tentang Emosi pada Anak-Anak</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em>Oleh Melissa Myozen Blacker</em></p>
<p><aside class="sc-pullquote alignright">Animasi terkenal Inside Out akan menyenangkan hati anak-anak sekaligus mengajari mereka menghargai perasaan yang mereka miliki, bahkan perasaan yang sulit diterima sekalipun. Melissa Myozen Blacker memberikan saran bagi orang tua untuk menontonnya bersama anak-anak.</aside><br />
<span id="more-2334"></span></p>
<p>Membicarakan emosi kepada anak-anak kita tak selalu mudah, namun animasi Pixar <i>Inside Out</i> yang terkenal mungkin bisa membantu. Film ini bukanlah film Buddhis secara khusus, namun di dalamnya terdapat penjelajahan kebenaran yang penting tentang sifat-sifat ke-aku-an dan perasaan yang mencerminkan ajaran Buddhis. Selain itu, anak-anak serta orang tua akan menikmatinya.</p>
<p><i>Inside Out</i> didasarkan pada hasil kerja dua orang pakar emosi yang menjadi konsultan film ini: Dacher Keltner merupakan salah satu direktur <i>Greater Good Science Center</i>, sementara Paul Ekman adalah penulis yang bekerjasama dengan Dalai Lama dalam <i>Emotional Awareness</i>.</p>
<p>Penulis sekaligus sutradara Pete Docter mengidentifikasi 5 jenis perasaan dasar – sedih, gembira, marah, jijik, dan takut atau terkejut – dan menjadikan mereka tokoh berwarna-warni yang bekerja menjalankan serangkaian pusat kontrol yang mewakili pikiran Riley, sang tokoh utama. Film ini menunjukkan bahwa sosok diri adalah gabungan dari perasaan, kenangan, serta pemikiran yang saling bekerja sama untuk membentuk ilusi kepribadian yang beragam. Dalam film ini, semua emosi dianggap setara dan penting untuk membentuk sosok manusia yang sehat.</p>
<p>Anak-anak anda tentunya akan membicarakan film ini dengan anda. Pertama-tama, anda mungkin membutuhkan sedikit waktu agar pesannya meresap dahulu. Anda bisa menanyakan pertanyaan berikut pada diri anda sendiri (atau pasangan anda, jika diinginkan) :</p>
<ul>
<li><i>Bagaimana perasaan dasar ini muncul dalam kehidupan saya?</i></li>
<li><i>Apakah ada yang saya hargai secara khusus?</i></li>
<li><i>Adakah yang saya hindari?</i></li>
<li><i>Dapatkah saya melihat pentingnya tiap perasaan ini?</i></li>
</ul>
<p>Kebanyakan dari kita cenderung mengabaikan perasaan marah, takut, sedih, dan jijik, dan lebih mengutamakan perasaan positif seperti kegembiraan. Kita melawan atau menghindari aneka perasaan ini karena kita tak mengerti gunanya. Namun, tak memberikan ruang bagi aneka perasaan ini dapat mengakibatkan pelampiasan yang tanpa sadar, kaku, dan berbahaya.</p>
<p>Menghargai perasaan-perasaan ‘negatif’ berarti mengerti bahwa mereka bisa menghasilkan hal positif. Contohnya, memberi ruang pada amarah memungkinkan kita melihat ketidakadilan dengan jelas dan menyikapinya dengan tujuan. Rasa takut dan jijik menuntun kita mengenali bahaya dan menghindari hal buruk.</p>
<p>Kesedihan mungkin adalah perasaan terpenting yang harus dihadapi dengan penuh kesadaran. Dalam film ini, kesedihan berperan sebagai sarana pendewasaan bagi kepribadian Riley. Ia mewarnai kenangan indah dengan kesadaran akan perubahan dan kehilangan, sehingga Riley dapat kembali hidup dengan keterbukaan, rasa ingin tahu, dan semangat. Kesedihan dan kegembiraan bekerja sama untuk menghasilkan kepribadian yang utuh.</p>
<p><i>Inside Out</i> dengan sangat jelas membedakan rasa sedih dan tertekan. Pada satu titik, tokoh Kegembiraan dan Kesedihan tak dapat memasuki ruang kontrol. Tanpa kesetimbangan kedua perasaan dasar ini, Amarah, Ketakutan, dan Kejijikan menjadi panik sampai-sampai mereka pun tak lagi dapat mengendalikan ruang pikiran Riley. Akibatnya, Riley jatuh tertekan, sebuah keadaan apatis dan putus asa, karena dia tak lagi terhubung dengan semarak kecerdasan dan hubungan emosional.</p>
<p>Setelah mempertimbangkan pesan dalam film dengan hidup anda sendiri, anda siap menggunakannya sebagai cara membicarakan emosi pada anak-anak. Dalam pembicaraan semacam ini, lebih baik biarkan mereka memiliki inisiatif. Setelah menonton, anda dapat menanyakan apa yang mereka sukai atau tidak sukai dari film ini.</p>
<p>Jika anak-anak anda masih sangat kecil, mereka mungkin berkata bahwa mereka menyukai ceritanya yang seru dan jenaka, atau merasakan ikatan dengan salah satu tokoh. Anda dapat mengajak mereka bermain peran dengan meminta mereka menirukan kepribadian bermacam perasaan. Memerankan Amarah, Ketakutan, Kejijikan dapat sangat melegakan. Tugas anda adalah menerima perasaan-perasaan ini sebagai sebuah bentuk kewajaran, bahkan menarik. Pelajaran yang dapat dipetik adalah: semua yang dirasakan anak anda adalah normal.</p>
<p>Dengan anak-anak yang lebih besar, anda dapat membicarakan pertanyaan yang sebelumnya telah anda tanyakan ke diri sendiri. Selain itu, anda juga dapat bertanya:</p>
<ul>
<li><i>Perasaan mana yang paling kuat dalam hidupmu?</i></li>
<li><i>Adakah perasaan yang kamu hindari?</i></li>
<li><i>Apa yang terjadi ketika kamu melakukannya?</i></li>
<li><i>Apakah kamu, seperti Riley, mencoba terlihat biasa saja dan ceria ketika merasa sedih, marah, jijik, atau takut? Bagaimana rasanya?</i></li>
</ul>
<p>Hidup Riley dalam film cukup sulit. Dia merasakan perubahan, kehilangan, keputusasaan, dan rasa malu. Anda dapat menanyakan anak yang lebih tua apakah dia pernah punya pengalaman yang sama. Ada kemungkinan anda akan mendengar kisah mengejutkan dari sekolah atau pergaulan mereka. Berusahalah untuk mendengarkan dengan perhatian dan kasih sayang, tanpa berusaha memperbaiki atau memberi saran pada anak anda.</p>
<p>Pelajaran terakhir dari <i>Inside Out</i> adalah bahwa kegembiraan dan kesedihan muncul sebagai pasangan. Mereka membantu kita terhubung satu sama lain dengan rasa cinta dan pengertian. Catatlah keengganan yang anda, anak anda, atau pasangan anda miliki terhadap perasaan-perasaan dasar ini. Ingatlah bahwa membiarkan semua orang merasakan apa yang mereka rasakan tanpa menyikapinya dengan gegabah akan melegakan seluruh anggota keluarga.</p>
<p>(<em>Sumber: Lionsroar.com</em> | <em>diterjemahkan oleh Lisa Santika Onggrid</em>)</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/bagaimana-caranya-menonton-inside-out-kemudian-berbicara-tentang-emosi-pada-anak-anak/">Bagaimana Caranya Menonton “Inside Out” kemudian Berbicara tentang Emosi pada Anak-Anak</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/bagaimana-caranya-menonton-inside-out-kemudian-berbicara-tentang-emosi-pada-anak-anak/">Bagaimana Caranya Menonton “Inside Out” kemudian Berbicara tentang Emosi pada Anak-Anak</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
