<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>keagungan sumber ajaran - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/keagungan-sumber-ajaran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 May 2024 15:48:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>keagungan sumber ajaran - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Buddhis Butuh Baca Biografi</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/05/21/buddhis-baca-biografi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 May 2024 15:47:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9079</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Baca biografi ternyata merupakan langkah pertama seorang Buddhis menuju pencerahan. Kok bisa?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/05/21/buddhis-baca-biografi/">Buddhis Butuh Baca Biografi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/05/21/buddhis-baca-biografi/">Buddhis Butuh Baca Biografi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Biografi adalah jenis karya sastra yang berisi riwayat hidup seseorang, mulai dari identitas pribadi, tempat kelahiran, informasi latar belakang pendidikan, riwayat pekerjaan, hubungan, kematian, dan lain sebagainya. Dari membaca biografi, kita bisa mendapatkan inspirasi, motivasi, dan bahkan solusi dari pengalaman hidup tokoh yang diceritakan.</p>



<h2 id="h-apa-hubungan-biografi-dengan-buddhis"><strong>Apa hubungan biografi dengan Buddhis?</strong></h2>



<p>Dalam <a href="https://lamrimnesia.org/apa-itu-lamrim/">Lamrim</a>, panduan <em>step by step</em> menuju pencerahan yang berkaitan erat dengan peradaban Buddhis Nusantara, membaca biografi adalah langkah pertama untuk mencapai pencerahan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Tidak hanya kurangnya keyakinan, kebijaksanaan, atau kegigihan yang akan mencegah seorang praktisi untuk memperoleh hasil pencapaian spiritual; ia juga tidak akan memperoleh apapun dari Dharma yang palsu.”</p><cite>Phabongkha Rinpoche, Pembebasan di Tangan Kita Jilid I</cite></blockquote>



<p>Lewat biografi, kita akan mengetahui asal-usul seorang guru dan dari mana beliau mendapatkan ajaran. Kita juga bisa melihat bagaimana sang guru berperilaku, apakah sesuai dengan ajaran tersebut? Terakhir, kita juga bisa mengetahui kualitas dan pencapaian-pencapaian sang guru. Hal ini sangatlah penting karena dari situ kita bisa mengetahui kualitas dan pencapaian apa yang bisa kita raih jika mengikuti ajarannya.</p>



<h2><strong>B</strong>uddhis perlu baca biografi siapa?</h2>



<p><strong>Biografi yang wajib dibaca seorang Buddhis pertama-tama tentunya adalah biografi Buddha Sakyamuni selaku Guru utama. Selanjutnya, seorang Buddhis perlu mengenal tokoh-tokoh penting dari tradisi yang sedang atau hendak dia pelajari. </strong>Praktisi Lamrim, misalnya, dianjurkan untuk mempelajari biografi Buddha Sakyamuni, Guru Atisha Dipamkara Srijnana, dan Je Tsongkhapa. Terakhir, seorang Buddhis perlu mempelajari riwayat guru spiritual pribadinya.</p>



<p>Bab 1 Lamrim “Keagungan Sumber Ajaran” merincikan riwayat Guru Atisha Dipamkara Srijnana, pelopor Lamrim yang merupakan murid dari Mahaguru Buddhis asal Nusantara, <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">Guru Suwarnadwipa Dharmakirti</a>. Di sini, dikisahkan bagaimana Guru Atisha dilahirkan dalam keluarga terhormat, yaitu sebagai pangeran di keluarga kerajaan Benggala, lalu mewarisi ajaran Dharma baik Sutra maupun Tantra dari banyak cendekiawan dan filsuf agung yang diakui oleh institusi pendidikan monastik resmi seperti Nalanda dan Vikramasila. </p>



<p>Perjalanan Guru Atisha ke Sriwijaya pada abad X dan pertemuannya dengan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti juga dijelaskan dengan rinci mengingat sang Guru Dharma Nusantara keturunan Dinasti Shailendra ini merupakan Guru utama Beliau. Dengan kata lain, Lamrim yang dikembangkan dari karya <a href="https://play.google.com/store/books/details/Bodhipathapradipa_Pelita_Sang_Jalan_Menuju_Pencera?id=K5mWDwAAQBAJ&amp;gl=US&amp;pli=1">Guru Atisha, Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan (Bodhipathapradipa)</a>, juga berasal dari Nusantara.</p>



<h2><strong>Biografi adalah sumber inspirasi Buddhis</strong></h2>



<p><span style="font-size: inherit; color: var(--body-color); font-family: var(--text-font);">Lebih dari sekadar informasi, biografi juga menginspirasi</span>. Biografi Buddha Sakyamuni, misalnya, mengisahkan kelahiran bakal Buddha yang penuh pertanda ajaib, kecerdasan dan ketangkasan-Nya yang luar biasa sejak masih beranjak dewasa, hingga welas asih agung yang mendorong Beliau untuk meninggalkan harta, takhta, dan wanita demi mengakhiri penderitaan semua makhluk dan kebijaksanaan sempurna yang Beliau raih. Keren sekali bukan? </p>



<p>Selain membuktikan betapa agungnya seorang Buddha, biografi Buddha Sakyamuni juga menunjukkan seperti apa masa depan yang akan diraih oleh orang yang mengikuti ajaran-Nya. Biografi Buddha dapat membangkitkan rasa kagum yang bisa diubah menjadi semangat mempraktikkan Dharma guna meraih apa yang sang Buddha telah raih.</p>



<h2>Cara Buddhis baca biografi Buddha dan Guru Dharma</h2>



<p>Manfaat di atas tidak dapat diraih jika seorang Buddhis membaca biografi Buddha dan Guru-Guru Dharma secara asal-asalan. Cara pandang yang tepat harus diterapkan sebagaimana diterangkan oleh Guru Dagpo Rinpoche dalam bait berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Dianjurkan untuk tidak membaca riwayat mereka seperti halnya kita membaca sebuah sejarah atau kisah. Kita harus membacanya sebagai satu aspirasi. Artinya, setelah membacanya, kita harus membuat sebuah harapan bahwa kelak kita pun dapat mengikuti teladan guru-guru besar ini.”</p><cite>Guru Dagpo Rinpoche, Sumati Mañjuśrī Maitreya Samudra Śāstra Saṃgraha Jilid I</cite></blockquote>



<p>Tertarik untuk mulai baca biografi Buddha dan Guru-Guru Dharma? Temukan koleksinya di <a href="https://store.lamrimnesia.com/product-category/toko-buku-online/biografi/">sini</a>.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/05/21/buddhis-baca-biografi/">Buddhis Butuh Baca Biografi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/05/21/buddhis-baca-biografi/">Buddhis Butuh Baca Biografi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2021 05:40:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[guru Dharma Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Suwarnadwipa Dharmakirti]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[peninggalan]]></category>
		<category><![CDATA[peradaban Hindu Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[prasasti kerajaan Sriwijaya]]></category>
		<category><![CDATA[serlingpa]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5843</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di zaman peradaban Hindu-Buddha dulu, ternyata ada guru Dharma Nusantara yang berdampak pada perkembangan Buddha Dharma dunia lho! Beliau adalah Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Kerajaan Sriwijaya. Apa ajarannya?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-576x1024.jpg" alt="Infografis Guru Suwarnadwipa Dharmakirti (Lama Serlingpa), Guru Dharma Nusantara dari Kerajaan Sriwijaya yang bercorak Buddha" class="wp-image-5850" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-scaled-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-768x1366.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-1152x2048.jpg 1152w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-1200x2134.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-scaled.jpg 1440w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure>



<p>oleh Junarsih</p>



<p>Untuk mengingat Guru Besar Buddhis di Nusantara pada zaman Sriwijaya, yakni Suwarnadwipa Dharmakirti, Lamrimnesia menyelenggarakan bedah buku <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/untaian-kelahiran-yang-berharga/">&#8220;Untaian Kelahiran yang Berharga&#8221;</a> pada Jumat, 29 Januari 2021. Kedua narasumber sekaligus penulis buku, Nayaka Sangha Agung Vajrayana SAGIN Y.M Lobsang Gyatso Sthavira dan Kepala Editor YPPLN Stanley Khu memaparkan dengan jelas tentang Sriwijaya dan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti. Lebih dari 124 orang mengikuti acara ini via aplikasi Zoom.</p>



<p>Nakapala sebagai moderator menyampaikan sedikit pengantar untuk mengawali acara. “Sekilas hari ini kita akan membedah buku Untaian Kelahiran yang Berharga. Buku ini berisi tentang riwayat tokoh-tokoh yang berjuang dalam mempraktikkan Dharma yang mampu menjadi rujukan kita untuk menumbuhkembangkan keyakinan dan mengikuti teladan mereka. Dan salah satu tokoh tersebut adalah Guru Suwarnadwipa Dharmakirti.” tuturnya.</p>



<h4><strong>Buddhisme Mahayana di Sriwijaya</strong></h4>



<p>“Pada suatu ketika di masa lampau, ada Kerajaan Sriwijaya. Ia terletak di Pulau Sumatera.&nbsp; Kerajaan ini pernah berjaya sebagai sebuah peradaban, sebagai pusat dari tradisi filosofis besar yang kita kenal sebagai Buddhisme,” tutur Stanley Khu mengawali pemaparan Sriwijaya zaman dulu.</p>



<p>Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Buddhisme adalah sistem pemikiran dan moralitas yang diajarkan oleh Buddha Sakyamuni. Buddhisme mulanya adalah sebuah gerakan spiritual yang menawarkan alternatif dari Brahmanisme di India yang kemudian bergerak menuju kawasan Asia, terutama di Asia Tenggara serta Asia Timur seperti China, Korea, dan Jepang. Melalui jalur Asia Tenggara, kemudian Buddhisme sampai di Sumatera termasuk kawasan perdagangan Internasional di Sriwijaya.</p>



<p>“Terdapat aktivitas keagamaan yang intens selama era perdagangan yang hiruk-pikuk di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara,” Stanley Khu menambahkan. Pernyataan ini didukung oleh pendapat Nicolaas Johannes Krom, seorang filsuf barat, bahwa kalau dilihat dari kondisi geografis Nusantara, terdapat hubungan erat antara Buddhisme dan perdagangan.&nbsp;</p>



<p>“Menurut sejarahnya, Buddhisme di Asia Tenggara mendapat pengaruh yang berubah-ubah dari Asia Selatan. Misal pada abad ke-3 dan ke-4 mendapat pengaruh dari Antrapadesh, Sri Lanka. Sedangkan pengaruh Mahayana dari sisi Timur Laut India di daerah Bihar itu sangat kentara pada periode abad ke-7 sampai ke-10.” jelas Stanley Khu. Abad ke-7 sampai ke-10 ini adalah periodenya Sriwijaya sehingga tradisi Mahayana sangat kental di Sriwijaya. Kemudian pada abad ke-11, Buddhisme di Asia Tenggara mendapat pengaruh dari Asia Selatan, tepatnya dari Tamil Nadu, Dinasti Chola yang menginvasi Sriwijaya.</p>



<p>Catatan yang membuktikan Sriwijaya memiliki tradisi Mahayana terdapat dalam Prasasti Talang Tuo yang ditemukan di Palembang dan dibuat pada tahun 684M. Singkat isi dari prasasti tersebut adalah harapan para penguasa agar semua kebun, telaga, dan bendungan dapat berkontribusi untuk kesejahteraan semua makhluk, semoga bodhicita atau batin pencerahan tumbuh dalam diri setiap makhluk, dan semoga semua makhluk mencapai pencerahan. “Prasasti ini juga membuktikan hubungan Buddhisme di Nalanda dan Sriwijaya,” imbuh Stanley Khu. Di Nalanda sendiri terdapat asrama untuk menampung biksu-biksu dari Nusantara.</p>



<p>“Dari sedikit gambaran ini, entah karena mentalitas atau psikologi, kita nggak tahu, Asia Tenggara maritim atau lautan cenderung lebih mudah menyerap kebudayaan baru dan menerima perubahan,” ujarnya. Hal ini dibuktikan dengan masuknya Islam dan kolonialisme yang juga tidak melalui banyak pergolakan.&nbsp;</p>



<p>“Pulau Jawa menyaksikan perkembangan tradisi ini selama masa Dinasti Syailendra,” tutur Stanley Khu. Pada masa Dinasti Syailendra kita bisa melihat kekayaan budaya dilihat dari kemegahan monumen yang dibangun pada era itu, seperti Candi Borobudur, Candi Sewu, dan Candi Plaosan.</p>



<p>Lalu apa karakteristik dari Dinasti Syailendra? Corak utama dari dinasti ini adalah orientasi Internasional Nusantara dari para penguasanya. Misalnya sebuah inskripsi dari Ratu Boko bertarikh tahun 792 yang mewartakan bahwa terdapat wihara untuk biksu-biksu Sinhala yang diberi nama Abhayagiri. Di Sri Lanka sendiri, di tempat bernama Anuradhapura memang dulu ada wihara dengan nama serupa, yakni Abhayagiri. Di wihara ini, ajarannya tergolong unik karena merupakan sinkretisme dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Tantrayana. Sifat plural mereka ini menimbulkan pergesekan dengan komunitas lain sehingga mereka harus mencari tempat lain. Kalau ingin berpindah mereka bisa mencari tempat lain di Srilanka, tetapi mereka malah pergi ke Jawa untuk memenuhi undangan dari Dinasti Syailendra untuk menetap ke Jawa.&nbsp;</p>



<h4><strong>Sriwijaya Itu Apa Sebenarnya?</strong></h4>



<p>“Apa itu Sriwijaya?” Stanley Khu menjelaskan dengan nada seperti bertanya. Sriwijaya adalah kerajaan kota berbasis perdagangan yang kemakmurannya berdasarkan penguasa dalam mengontrol pengiriman barang di sepanjang Selat Malaka sehingga menjadi titik ini sebagai transit bagi para kaum pedagang dari wilayah Nusantara lain dan dari Semenanjung Melayu. Layaknya Islam setelah berabad-abad kemudian, Buddhisme bisa menyebar dengan apik di sepanjang jalur perdagangan.</p>



<p>Sistem pemerintahan Sriwijaya memiliki struktur yang longgar, jadi mau pindah ibukota di mana saja tetap bisa. Kekuatan militernya tidak terlalu kuat, sedangkan di bidang administratif sangat kuat. Sriwijaya dinamai sebagai Suwarnadwipa oleh orang Inda karena mereka bisa menemukan emas di sana.</p>



<p>Perputaran ilmu pengetahuan luar biasa terjadi di Sriwijaya dibuktikan dengan datangnya biksu China untuk belajar di sana. Biksu China bernama Yi-Jing berlayar menuju Sumatera dengan tujuan untuk belajar gramatika dan tata berperilaku di Sriwijaya. Dalam diari Yi-Jing, beliau meninggalkan China pada tahun 671 dan menuju Sumatera dengan kapal kepunyaan raja Sriwijaya. Yi-Jing belajar di Sriwijaya selama enam bulan. Kegiatan Yi-Jing di Sriwijaya ini juga menjadi contoh lain orientasi internasional para penguasa Sriwijaya.&nbsp;</p>



<p>“Penguasa Sriwijaya mengutus Yi-Jing menuju kerajaan lain yang namanya Melayu. Lalu dari sana YI-Jing menuju Kedah tempat ia menantikan angin. Karena dulu kan nggak ada pesawat, jadi pulang-pergi harus naik kapal dan menunggu angin yang akan meneruskan perjalanannya ke India. Karena ia di Sriwijaya hanya untuk belajar, konon katanya belajar gramatika dan tata cara berperilaku,” imbuh Stanley Khu. Pendidikan filsafat Buddhis yang yang lengkap pada masa itu ada di India seperti Nalanda dan Vikramasila, jadi Yi-Jing harus meneruskan perjalanannya menuju India. Kurang lebih 17 tahun Yi-Jing menghabiskan hidupnya di Nalanda. Yi-Jing juga membawa kitab yang konon mengandung lima ratus ribu bait ajaran menuju Sriwijaya.</p>



<p>Kesan positif yang didapat Yi-Jing selama tinggal di Sriwijaya membuatnya menganjurkan peziarah China untuk belajar di Sriwijaya sebelum bertolak ke India. Yi-Jing tetap belajar di Sriwijaya setelah pulang dari India selama 7 tahun terhitung sejak tahun 688-695M sebelum akhirnya ia pulang ke China.</p>



<p>“Dalam diarinya, Yi-Jing juga mencatat ada lima guru Buddhis yang tersohor seantero dunia. Dan yang menarik, ada satu orang dari Sriwijaya. Namanya Sakyakirti. Secara historis kita memang tidak menemukan catatan tentang guru ini,” Imbuh Stanley Khu.</p>



<p>“Selanjutnya kita membahas tentang geopolitik Sriwijaya. Sebenarnya Sriwijaya ini kisah apa sih? Ya kisah geopolitik. Pada masa lampau, jalur-jalur dagang di Asia akan berujung pada tempat kecil bernama Selat Malaka. Dalam catatan perjalanan Tommy Perez setelah Portugis menginvasi Malaka tahun 1511, terdapat ungkapan bahwa siapapun yang mampu menguasai Selat Malaka akan memegang tenggorokan Venesia, Italia. Kelihatannya tidak begitu nyambung, tetapi seluruh barang-barang sebelum masuk ke Eropa harus ditampung dulu di Malaka. Selat Malaka ini pendek sekali, diapit oleh dua samudera, yakni Samudera Pasifik di sebelah Timur dan Samudera Hindia di sebelah Barat, juga diapit oleh Semenanjung Melayu dan Pulau Sumatera di sisi lain.</p>



<p>Karena selat ini merupakan selat terpendek di dunia, ia pun menjadi jalur maritim alternatif dan paling sibuk pada zaman dulu. Saat itu, selat ini dikuasai oleh hanya satu kerajaan, yaitu Sriwijaya, berbeda dengan sekarang Selat Malaka dibagi menjadi tiga kawasan, yakni Indonesia, Singapura, dan Malaysia.</p>



<p>“Lokasi Sriwijaya yang strategis, terdapat banyak hal yang bisa dibahas terkait eksistensinya. Pasti banyak risalah, sumber pustaka, sumber historis! Sayangnya bukan begitu kasusnya. Pengetahuan tentang Sriwijaya ironisnya baru muncul pada abad ke-20,” ujar Stanley Khu. Baru setelah seribu tahun kerajaan ini eksis saat seorang sarjana Prancis, George Coedes menyusun ulang bukti adanya Sriwijaya. Beruntungnya ada beberapa prasasti yang menjadi bukti peradaban Sriwijaya di Sumatera, salah satunya adalah Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang pada tahun 1920 dan bertarikh 683. Tulisan dalam prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Tua serta ditemukan beberapa kosa kata Sanskerta yang berbunyi &#8220;Sriwijaya&#8221;.</p>



<p>Bukti eksistensi Sriwijaya lebih banyak ditemukan pada sumber sejarah dari Tiongkok, bukan dari India meski ada hubungan cukup kental antara Nalanda dan Sriwijaya. Hal ini dikarenakan Tiongkok memiliki pengarsipan sejarah yang lebih baik dibanding India. Namun, nama Sriwijaya di Tiongkok bisa berubah-ubah karena di Tiongkok sendiri sering terjadi pergantian dinasti yang masing-masing menggunakan kata berbeda untuk menyebut Sriwijaya.</p>



<h4><strong>Siapakah Suwarnadwipa Dharmakirti?</strong></h4>



<p>“Indonesia adalah tempat suci yang dikagumi banyak orang, tidak hanya India, tapi juga Tibet,” tutur Y.M Lobsang Gyatso Sthavira mengawali giliran untuk menguraikan tentang Mahaguru Suwarnadwipa Dharmakirti.&nbsp;</p>



<p>“Nama lain Guru Suwarnadwipa Dharmakirti adalah Serlingpa Chokyi Dragpa dalam tradisi Lamrim.”</p>



<p>Lebih lanjut, Beliau menjelaskan bagaimana Guru Suwarnadwipa merupakan keturunan dari Dinasti Syailendra. Pada saat itu, Sriwijaya sangat didominasi oleh Hindu. Namun, sebagai seorang anak raja (pangeran), Beliau mempromosikan Buddhisme dan menganjurkan rakyat untuk berlindung pada Triratna.</p>



<p>Kemudian, pangeran menuju Bodhgaya, India, tempat Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung yang lengkap dan sempurna. Di Bodhgaya, banyak makhluk bijaksana yang memiliki kualitas baik seperti cendekiawan dan praktisi meditasi yang berkumpul. Pangeran menumbuhkan rasa hormat serta sujud pada satu di antara pada makhluk bijaksana tersebut, yakni Guru Maha Sri Ratna. Lalu pangeran menemani sang Guru selama tujuh hari, tetapi pada hari ke-8 pangeran kehilangan sosok Guru Maha Sri Ratna. Akhirnya pangeran tidak sengaja tertidur dan bermimpi bertemu dua penyanyi cilik yang melantunkan syair berikut:</p>



<p>“<em>Setelah meninggalkan keluarga, pelayan, dan aneka kebahagiaan di negeri sendiri. Satu akibat yang marak tak dapat menelusuri di manakah gerangan orang yang dicari. Sejak lama kehilangan ataukah cepat kehilangan. Keturunan murni mulia tapi miskin kebijaksanaan</em>.”</p>



<p>Saat terbangun, Guru Maha Sri Ratna sudah berada di hadapan pangeran. Setelah memberikan penghormatan, pangeran mempersembahkan mandala sebagai simbol persembahan semesta raya sambil memohon supaya diterima sebagai murid. Setelah menerima persembahan, Guru Maha Sri Ratna menahbiskan pangeran sebagai biksu. Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, Serlingpa Chokyi Dragpa adalah nama yang diberikan Guru Maha Sri Ratna kepada pangeran.</p>



<p>Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dikenal dengan ajaran bodhicita. Ajaran inilah yang mengundang keingintahuan Guru Atisha Dipamkara Srijnana untuk menuju Sriwijaya dari India dengan berlayar selama 13 bulan dan belajar kurang lebih 12 tahun di Sriwijaya.&nbsp;</p>



<h4><strong>Keistimewaan Suwarnadwipa Dharmakirti</strong></h4>



<p>Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta bertanya pada Y.M Lobsang Gyatso Sthavira tentang keistimewaan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dalam hal ibadah dan pelayanan umat dibanding guru lainnya pada zaman tersebut.</p>



<p>Y.M. Lobsang Gyatso Sthavira menyatakan bahwa Beliau belum menemukan catatan spesifik mengenai ibadah dan pelayanan umat pada masa Guru Suwarnadwipa. Namun, berdasarkan teks yang ada, diketahui bahwa Beliau adalah pangeran Buddhis yang memegang pandangan filosofis <em>citramata</em>, jadi kemungkinan besar praktik Beliau adalah Prajnaparamita (Penyempurnaan Kebijaksanaan). Kalau Beliau melakukan pelayanan pada umat, kemungkinan sama seperti yang kita temukan di teks Guru Shantidewa, yaitu <em>Bodhisatwa-caryavatara</em> (Lakon Hidup Sang Penerang/Bodhisatwa) karena teks itulah yang diturunkan dari Guru Swarnadwipa ke Guru Atisha.&nbsp;</p>



<p>Selain itu, ada pula praktik atau pelayanan itu dulunya bersifat rahasia dan tidak mudah diperoleh, yaitu praktik <em>lojong </em>(latihan batin) atau <em>tonglen </em>(praktik terima kasih) yang bertujuan untuk mengembangkan welas asih, khususnya bodhicita. Dengan berlandaskan pada bodhicita serta sejalan dengan posisi Beliau sebagai pangeran yang mengayomi negaranya, pelayanan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti diberikan secara menyeluruh untuk semua rakyat. Sifat welas asih Beliau melampaui perbedaan suku, agama dan ras.&nbsp;</p>



<p><em>Apa yang diajarkan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti di Sriwijaya? Baca ulasannya dalam buku </em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari/"><em>“Latihan Batin Laksana Sinar Mentari”</em></a><em> karya Namkha Pel!</em></p>



<p>“Jadi kalau sudah belajar bodhicita maka sikap intoleran tidak akan berkembang, dan semuanya menjadi toleransi,” imbuh Y.M Lobsang Gyatso Sthavira. Sifat welas asih inilah membuat Guru Suwarnadwipa Dharmakirti tetap membimbing semua makhluk untuk mencapai kebahagiaan tertinggi dan kedamaian yang sesungguhnya meskipun ada yang berlaku tidak baik terhadapnya.&nbsp;</p>



<p>Y.M Lobsang Gyatso Sthavira juga berpesan agar semua umat Buddha, baik itu romo pandita ataupun umat awam, untuk meneladani Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dengan menolong semua yang membutuhkan tanpa pilih kasih. Kita seharusnya menolong mulai dari yang paling menderita dahulu, bukan berdasarkan yang seagama dulu. “Kalau kita kan masih punya ego, jadi harus belajar Madhyamika supaya pandangannya gak pilih-pilih. Atau belajar bodhicita, menyamakan diri kita dengan orang lain sama persis, makhluk lain juga sama, ingin bahagia, tidak ingin menderita, ini yang harus direalisasikan,” imbuh Y.M Lobsang Gyatso Sthavira.&nbsp;<br></p>



<p><em>Artikel ini pertama kali dterbitkan di </em><a href="https://buddhazine.com/suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/"><em>Buddhazine.com</em></a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Mana Datangnya Lamrim?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/01/20/dari-mana-datangnya-lamrim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Jan 2020 07:03:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[4w1h]]></category>
		<category><![CDATA[atisha]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4691</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sebelumnya kita telah berkisah tentang apa itu Lamrim, yaitu sebuah metode untuk menelusuri Dharma Sang Buddha yang teramat luas secara urut dan melatih batin hingga kita bisa mencapai berbagai tujuan spiritual, mulai dari meraih kebahagiaan. Tapi dari manakah Lamrim berasal? Di manakah Lamrim berkembang dan di mana saja Lamrim dipelajari? Itulah yang akan kita bahas [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/01/20/dari-mana-datangnya-lamrim/">Dari Mana Datangnya Lamrim?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/01/20/dari-mana-datangnya-lamrim/">Dari Mana Datangnya Lamrim?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p> Sebelumnya kita telah berkisah tentang apa itu Lamrim, yaitu sebuah metode untuk menelusuri Dharma Sang Buddha yang teramat luas secara urut dan melatih batin hingga kita bisa mencapai berbagai tujuan spiritual, mulai dari meraih kebahagiaan. Tapi dari manakah Lamrim berasal? Di manakah Lamrim berkembang dan di mana saja Lamrim dipelajari? Itulah yang akan kita bahas kali ini.</p>



<p><strong>India, Negeri Asal Sang Buddha</strong></p>



<p>Lamrim bersumber dari keseluruhan ajaran Buddha, jadi kita dapat mengatakan bahwa asal-muasal Lamrim berasal dari India, negeri tempat Buddha Shakyamuni dulu membabarkan Dharma. Sejak Sang Buddha memasuki Parinirwana, para anggota Sangha yang menerima langsung ajaran dari Beliau melestarikan dan mewariskan ajaran Buddha kepada generasi selanjutnya. Raja-raja menjaga tradisi Buddhadharma. Utusan-utusan dikirim untuk menyebarkan jalan menuju kebahagiaan sejati ini ke negeri-negeri lain. Salah satu tokoh penting dalam pelestarian Buddhadharma di India dan penyebarannya ke negara-negara lain adalah Raja Ashoka (268-232 M). Beliau tidak hanya menjadikan Dharma sebagai basis pemerintahan dan kehidupan rakyat, tapi juga mengirimkan utusan ke negara lain untuk menyebarkan Dharma secara damai.</p>



<p>Berkat perkembangan dan penyebaran Dharma, semakin banyak orang dari berbagai negara yang tertarik untuk mempelajari Buddhadharma secara mendalam. Di abad V, berdirilah sebuah institusi monastik yang menjadi tempat pembelajaran dan praktik Buddhadharma secara mendalam dan serius, yaitu Biara Universitas Nalanda. Ribuan biksu dari India dan negara-negara lain mempelajari kitab-kitab Sang Buddha dan menyusun kitab-kitab komentar guna memberikan penjelasan praktis yang sesuai dengan perkembangan zaman. Xuanzhang, biksu Tiongkok yang menerjemahkan banyak kitab suci ke dalam Bahasa Mandarin dan diabadikan dalam cerita fiktif Journey to The West, belajar di Nalanda. Ada pula prasasti yang menunjukkan hubungan diplomatis antara penguasa di India dengan Kerajaan Sriwijaya di Nusantara seputar pendirian kompleks asrama untuk pelajar dari Sriwijaya yang hendak menuntut ilmu di Nalanda.</p>



<p>Satu tokoh yang menghubungkan Nalanda dengan Lamrim adalah Guru Atisha Dipankarasrijnana. Guru Atisha merupakan satu dari 17 Pandit Besar Nalanda, sejajar dengan Yang Mulia Shantidewa yang menyusun kitab Lakon Hidup Bodhisatwa (Bodhicaryawatara) dan Naropa yang menjadi guru dari Marpa Sang Penerjemah. Karya Beliau yang berjudul &#8220;Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan&#8221; (Bodhipathapradipa) merupakan cikal-bakal Lamrim. Karya tersebut disusun di Tibet dan dikirim ke India untuk diuji oleh para pandit. Di masa itu, karya yang tidak memiliki kesalahan bahasa maupun makna akan dipersembahkan kepada raja, penulisnya akan menerima penghargaan, dan karya itu dinyatakan layak untuk disebarluaskan. Sebaliknya, karya yang meski ditulis dengan sangat baik tapi memiliki kesalahan makna akan diikatkan pada seekor anjing, lalu anjing tersebut akan dilepas di jalan-jalan kota. Bodhipathapradipa yang disusun oleh Guru Atisha juga melalui proses ini dan para pandit India yang menguji karya tersebut tidak hanya menyatakan karya tersebut bebas dari kesalahan, tapi juga memberikan pujian setinggi-tingginya dan memohon Guru Atisha untuk menyusun ulasan dari kitab tersebut dan mengirimnya kembali ke India.</p>



<p><strong>Akar Nusantara</strong></p>



<p>Di satu titik dalam hidupnya, Guru Atisha menempuh perjalanan laut selama 13 bulan dari India ke Nusantara, tepatnya ke pusat Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatra. Beliau rela melalui itu semua demi bertemu sosok agung yang kemudian menjadi guru utamanya, yaitu Guru Suwarnadwipa Dharmakirti.</p>



<p>Terlahir di keluarga kerajaan yang berkuasa di Sriwijaya, Guru Suwarnadwipa membangkitkan keyakinan yang amat dalam terhadap Triratna sejak kecil hingga akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang biksu. Beliau sempat belajar di India. Salah satu guru Beliau adalah Shantarakshita, pandit besar dari Nalanda dan saudara seperguruan Xuan Zhang, biksu asal Tiongkok yang banyak menerjemahkan kitab suci ke dalam Bahasa Mandarin. Setelah menuntaskan pembelajaran, Guru Suwarnadwipa kembali ke Sriwijaya untuk mengajar ribuan biksu di kompleks pendidikan monastik yang kini kita kenal sebagai Candi Muaro Jambi. Pada masa itu, Muaro Jambi tidak hanya menjadi tempat pembelajaran bagi rakyat Sriwijaya, tapi juga bagi pencari Dharma dari seluruh dunia.</p>



<p>Guru Suwarnadwipa Dharmakirti mewarisi ajaran Buddha yang amat penting dan berharga, yaitu ajaran tentang cara melatih Bodhicita atau batin pencerahan. Ajaran inilah yang dicari oleh Guru Atisha hingga rela menempuh perjalanan laut yang sulit dan tinggal di negeri asing selama 13 tahun. Ajaran ini pun kemudian menjadi elemen penting dalam penyusunan &#8220;Bodhipathapradipa&#8221; dan tak terpisahkan dari Lamrim yang kita pelajari sekarang. Tradisi dan ritual yang dipelajari Guru Atisha di Sriwijaya juga dapat ditemukan dan menjadi bagian penting dalam tahapan praktik Lamrim.</p>



<p><strong>Berkembang di Tibet</strong></p>



<p>Kita semua tahu bahwa Buddhadharma mulai memudar di Bumi Nusantara sejak runtuhnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha seperti Sriwijaya dan Majapahit. Hal yang sama juga terjadi di India bersama dengan keruntuhan institusi monastik karena berbagai hal. Meski demikian, Dharma tetap dilestarikan di negara-negara lain, salah satunya di Tibet.</p>



<p>Buddhadharma masuk dan menyebar di Tibet pada abad VIII bersama dengan kedatangan guru-guru Buddhis agung Shantarakshita dan Padmasambhawa. Pada abad XI, Dharma telah mengalami kemerosotan akibat kesalahpahaman terhadap praktik Sutra dan Tantra. Lebih jauh lagi, Raja Hlalama Yeshe Wo yang memerintah di jalan Dharma dikalahkan disandera oleh raja lain yang bengis dan membenci Dharma. Keponakan sang Raja, Hlatsun Jangchub Wo, telah menyiapkan emas seberat tubuh Raja untuk menebus nyawa pamannya, tapi Raja menyuruh keponakannya menggunakan emas itu untuk mengundang guru Dharma yang mahir dan dapat menolong rakyat Tibet hidup dengan bajik. </p>



<p>Guru Atisha yang telah mewarisi ajaran Bodhicita dari Guru Suwarnadwipa dan menjadi guru Dharma termasyhur diundang ke Tibet oleh Jangchub O untuk mereformasi Dharma di Tibet. Permohonan dari Jangchub O adalah sebagai berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;Yang Mulia yang penuh karuna, tidaklah perlu mengajarkan kami, murid-murid Tibetmu yang tidak patuh, Dharma yang sangat mendalam atau rahasia. Saya memohon padamu untuk membimbing kami dengan instruksi yang mengungkapkan sifat dasar sebab-dan-akibat dari karma. Khususnya, Oh Yang Mulia, saya memohon padamu untuk menjaga kami dalam karunamu dengan mengajarkan Dharma yang Anda sendiri telah kuasai, sesuatu yang mengandung semua ajaran Sutra dan Tantra dari Sang Penakluk&nbsp; beserta dengan ulasannya masing-masing. Lagi pula, ajaran itu harus mengandung jalan yang lengkap tanpa kesalahan, mudah untuk dipraktikkan dan bermanfaat bagi semua orang Tibet.&#8221;</p></blockquote>



<p>&#8220;Bodhipathapradipa&#8221; adalah kitab yang disusun oleh Guru Atisha sesuai dengan permohonan orang-orang Tibet tersebut, sebuah kitab Dharma yang merangkum inti dari seluruh ajaran Buddha dan dikemas dalam urutan praktik yang mudah dipahami. Kitab ini juga dikirim kembali ke India untuk diuji keabsahannya. Di Tibet sendiri ajaran Guru Atisha diwariskan dari guru ke murid dalam silsilah tak terputus hingga akhirnya menginspirasi raja Dharma Je Tsongkhapa untuk menyusun Risalah Tahapan Agung Menuju Pencerahan (Sansekerta: Bodhipathakrama, Tibetan: Lamrim Chenmo). kitab Lamrim yang pertama.</p>



<p>Dari Je Tsongkhapa, Lamrim terus diwariskan turun-temurun. Tradisi Gelug, satu dari empat aliran utama dalam Buddhisme Tibet, yang didirikan oleh murid Je Tsongkhapa menjadikan Lamrim sebagai inti praktik mereka. Guru-guru agung mengembangkan dan menyusun kitab-kitab Lamrim dengan disertai contoh dan pembahasan yang relevan dengan zamannya, sebut saja di antaranya Gomchen Lamrim oleh Gomchen Ngawang Drakpa, Instruksi Lisan Manjugosha karya Y. M. S. Dalai Lama V, atau Pembebasan di Tangan Kita karya Phabongkha Rinpoche. Phabongkha Rinpoche mewariskan Lamrim kepada Trijang Rinpoche, tutor dari Y. M. S. Dalai Lama XIV, yang kemudian mewariskan kembali ajaran tersebut kepada Guru Dagpo Rinpoche yang masih aktif mengajarkan Dharma sampai sekarang. Guru Dagpo Rinpoche sendiri diyakini merupakan kelahiran kembali dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti yang membimbing Guru Atisha. Beliau juga merupakan satu dari sedikit guru Dharma yang menerima transmisi ajaran lengkap yang Beliau terima dari guru-guru Beliau. </p>



<p>Demikianlah setelah lahir di India dan Indonesia, Lamrim benar-benar terwujud, dilestarikan, dan dikembangkan di Tibet.</p>



<p><strong>Mendunia</strong></p>



<p>Tibet merupakan negeri yang tertutup. Akibatnya, tak banyak yang tahu mengenai Buddhadharma yang berkembang di sana. Tradisi Buddhis yang sempat berjaya di Nalanda dan Sriwijaya hidup di Tibet, tapi tak terjamah oleh negara-negara lain.&nbsp; Namun, semua berubah ketika&nbsp;Tiongkok mulai menduduki Tibet pada tahun 1959. Persekusi terhadap masyarakat awam maupun monastik mendorong banyak orang mengungsi meninggalkan Tibet, termasuk para guru-guru besar. Y. M. S. Dalai Lama XIV yang kala itu menjadi pemimpin spiritual dan politik Tibet pun turut mengungsi ke India dan disusul para guru Dharma lainnya. Institusi biara yang dihancurkan di Tibet dibangun kembali di pengasingan di India. Itu merupakan awal dari menyebarnya Buddhadharma dari Tibet ke seluruh dunia.</p>



<p>Fenomena ini membuka kesempatan bagi pencari spiritual yang makin banyak jumlahnya di negara-negara lain, terutama di Eropa dan Amerika, untuk mempelajari Buddhadharma Tibet. Para guru pun diundang ke negara-negara asal mereka dan mendirikan berbagai pusat Dharma. Bersamaan dengan menyebarnya Buddhisme Tibet, Lamrim pun turut menyebar. Guru-guru memberikan pengajaran Lamrim di berbagai negara. Bahkan&nbsp;Y. M. S. Dalai Lama XIV sendiri pergi ke berbagai negara untuk memberikan pengajaran. </p>



<p>Tak dapat dipungkiri bahwa popularitas Buddhisme Tibet membuka kesempatan bagi oknum untuk berpura-pura menjadi seorang guru Dharma, memberikan ajaran palsu, dan mengumpulkan pengikut demi keuntungan materi. Tak sedikit pula &#8220;umat Buddha&#8221; yang hanya tertarik dengan ritual-ritual eksotis tanpa niatan serius untuk mengembangkan batin. Namun, masih banyak guru-guru autentik yang serius dan tulus mengajarkan Dharma di berbagai belahan dunia. Begitu juga dengan murid-murid yang serius ingin mempelajari dan mempraktikkan Dharma. Berkat itu semua, Lamrim dan Buddhadharma di Tibet masih terus tumbuh di seluruh dunia hingga saat ini. </p>



<p>Ada beberapa contoh yang membuktikam bahwa Lamrim kini dipelajari di seluruh dunia. Murid-murid Guru Dagpo Rinpoche mendirikan pusat Dharma di Prancis, Belanda, Malaysia, Indonesia, dan negara lainnya. Ling Rinpoche, kelahiran kembali dari salah tutor senior Y. M. S. Dalai Lama XIV sekaligus guru utama Guru Dagpo Rinpoche, telah memberikan pengajaran di berbagai negara, di antaranya Prancis, Spanyol, Inggris, Amerika Serikat, Kanada, dan Singapura. Geshe Tashi Tsering, seorang guru Dharma asal Tibet lulusan dari Biara Sera yang merupakan salah satu biara utama Gelug, baru saja menerima penghargaan dari Ratu Inggris atas jasa Beliau mengajarkan Dharma di negara tersebut. Kitab-kitab Lamrim juga sudah tersedia dalam Bahasa Inggris. Aktivitas penerjemahan ini nantinya memudahkan negara lain yang asing dengan Bahasa Tibet, Mandarin, atau Sansekerta untuk menerjemahkan kitab-kitab Dharma.</p>



<p><strong>Kembali ke Indonesia</strong></p>



<p>Bersamaan dengan menyebarnya Lamrim ke berbagai negara, sistem pembelajaran Dharma ini juga kembali ke salah satu negara akarnya, yaitu Indonesia. Pada tahun 1989, Guru Dagpo Rinpoche pertama kali datang ke Indonesia dan mengajarkan Lamrim kepada pencari spiritual di Nusantara. Melalui Beliau, umat Buddha Indonesia yang sempat kehilangan koneksi dengan tradisi Buddhadharma yang pernah dimiliki di masa lampau akhirnya menemukan kembali tradisi tersebut melalui Lamrim yang diajarkan oleh Guru Dagpo Rinpoche. Beliau juga tidak datang hanya sekali saja. Kalau dulu Guru Atisha harus melewati perjalanan laut berbulan-bulan demi berguru pada Guru Suwarnadwipa, kali ini Guru Dagpo Rinpoche yang setiap tahun bolak-balik Indonesia Prancis sejak kedatangan Beliau pertama kali demi mengajarkan Lamrim. Beliau juga mendorong kegiatan penerjemahan kitab-kitan Lamrim dan buku Dharma lainnya ke dalam Bahasa Indonesia sehingga bisa dipelajari dengan mudah.</p>



<p><strong>Jadi, Lamrim datang dari mana?</strong></p>



<p>Istilah &#8220;Lamrim&#8221; berasal dari Tibet dan praktiknya pertama kali dikembangkan di sana. Namun, Lamrim juga memiliki akar dari India dan Nusantara. Secara khusus, melalui Guru Suwarnadwipa dan Guru Atisha, Lamrim menyimpan tradisi dan semangat Dharma yang pernah diajarkan di Nusantara. Perkembangan Lamrim di berbagai belahan dunia juga mempermudah akses kita untuk mempelajarinya. </p>



<p>Satu hal yang pasti, ada banyak sekali nilai-nilai Lamrim yang bermanfaat bagi kita semua dari mana pun kita berasal!</p>



<p><strong>Sumber:</strong></p>



<p>Pembebasan di Tangan Kita Jilid I oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p>Kiriman Catatan Praktik Buddhadharma dari Laut Selatan karya Yi Jing </p>



<p>&#8220;<a href="https://www.kompasiana.com/praviravara/58944e0ac423bda0073cf81b/nalanda-dan-sriwijaya-sejarah-bukan-dongeng">Nalanda dan Sriwijaya: Sejarah Bukan Dongeng</a>&#8221; oleh Prawirawara Jayawardhana</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/01/20/dari-mana-datangnya-lamrim/">Dari Mana Datangnya Lamrim?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/01/20/dari-mana-datangnya-lamrim/">Dari Mana Datangnya Lamrim?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Riwayat Buddha Sakyamuni #8 &#8211; Aktivitas Buddha</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/07/07/riwayat-buddha-sakyamuni-8-aktivitas-buddha/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Jul 2017 19:11:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhaindonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[lalitavistara]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[riwayatagungparabuddha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3360</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>. Apa yang dilakukan Sang Buddha setelah mencapai penerangan sempurna? Buddha sendiri mengatakan bahwa kesalahan kita tidak dapat dicuci dengan air. Beliau menolong kita dengan mengajarkan Dharma yang sejati. . Selama 45 tahun, Sang Buddha pergi ke banyak tempat dan melakukan banyak hal untuk menolong banyak makhluk. Yang mana kisah favoritmu? Yuk berbagi di kolom [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/07/07/riwayat-buddha-sakyamuni-8-aktivitas-buddha/">Riwayat Buddha Sakyamuni #8 – Aktivitas Buddha</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/07/07/riwayat-buddha-sakyamuni-8-aktivitas-buddha/">Riwayat Buddha Sakyamuni #8 &#8211; Aktivitas Buddha</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>.<br />
Apa yang dilakukan Sang Buddha setelah mencapai penerangan sempurna? Buddha sendiri mengatakan bahwa kesalahan kita tidak dapat dicuci dengan air. Beliau menolong kita dengan mengajarkan Dharma yang sejati.<br />
.<br />
Selama 45 tahun, Sang Buddha pergi ke banyak tempat dan melakukan banyak hal untuk menolong banyak makhluk. Yang mana kisah favoritmu? Yuk berbagi di kolom komentar!<span class="text_exposed_show"><br />
.<br />
<a class="_58cn" href="https://www.facebook.com/hashtag/dharma?source=feed_text&amp;story_id=1979459222282305" data-ft="{&quot;tn&quot;:&quot;*N&quot;,&quot;type&quot;:104}"><span class="_5afx"><span class="_58cm"></span></span></a></span></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/07/07/riwayat-buddha-sakyamuni-8-aktivitas-buddha/">Riwayat Buddha Sakyamuni #8 – Aktivitas Buddha</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/07/07/riwayat-buddha-sakyamuni-8-aktivitas-buddha/">Riwayat Buddha Sakyamuni #8 &#8211; Aktivitas Buddha</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Serba-Serbi Lamrim 1: Bagaimana dan Mengapa Mengikuti Jalan Buddhis Bertahap</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/05/30/bagaimana-dan-mengapa-mengikuti-jalan-buddhis-bertahap/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 May 2017 11:29:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[#lamrim #lamrimnesia #buddha #buddhism #tripitaka #dhamma #dharma #apaitulamrim]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3261</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Dr. Alexander Berzin Apa itu Lamrim dan Bagaimana Ia Bersumber dari Ajaran Buddha? Jalan bertahap, Lamrim, adalah cara untuk mengakses dan menerapkan dasar ajaran Buddha dalam kehidupan kita. Buddha hidup 2500 tahun yang lalu bersama dengan komunitas biksu, dan kelak, dengan komunitas biksuni. Beliau tak hanya mengajari komunitas biksu/i, tapi juga sering diundang ke [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/05/30/bagaimana-dan-mengapa-mengikuti-jalan-buddhis-bertahap/">Serba-Serbi Lamrim 1: Bagaimana dan Mengapa Mengikuti Jalan Buddhis Bertahap</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/05/30/bagaimana-dan-mengapa-mengikuti-jalan-buddhis-bertahap/">Serba-Serbi Lamrim 1: Bagaimana dan Mengapa Mengikuti Jalan Buddhis Bertahap</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Dr. Alexander Berzin</p>
<p><u>Apa itu Lamrim dan Bagaimana Ia Bersumber dari Ajaran Buddha?</u></p>
<p>Jalan bertahap, Lamrim, adalah cara untuk mengakses dan menerapkan dasar ajaran Buddha dalam kehidupan kita. Buddha hidup 2500 tahun yang lalu bersama dengan komunitas biksu, dan kelak, dengan komunitas biksuni. Beliau tak hanya mengajari komunitas biksu/i, tapi juga sering diundang ke kediaman umat awam untuk dipersembahkan makanan, dan setelahnya, memberikan ceramah.</p>
<p>Buddha selalu mengajar dengan apa yang kita sebut ‘cara terampil’, yang mengacu ke metode pengajaran beliau yang sedemikian rupa sehingga tiap orang bisa meraih pemahaman. Hal ini penting karena pada waktu itu, dan tentu sampai saat ini, terdapat beragam tingkatan kecerdasan dan perkembangan spiritual. Hal ini menyebabkan ajaran Buddha mencakup berbagai topik pada berbagai tingkatan.</p>
<p>Banyak pengikut Buddha dengan ingatan yang luar biasa. Saat itu, tak ada yang tertulis, dan seluruh ajaran diingat oleh para biksu untuk kelak diturunkan secara lisan pada generasi selanjutnya. Pada akhirnya, ajaran dituliskan dan dikenal sebagai sutra. Berabad-abad setelahnya, banyak Guru besar India yang mencoba mengorganisasikan semua bahan ajaran ini dan menulis komentar atasnya. Atisha, salah satu Guru India yang pergi ke Tibet, menciptakan model awal bagi penyajian ajaran yang demikian, Lamrim, pada abad ke-11.</p>
<p>Model awal Atisha menyajikan sebuah metode yang memungkinkan tiap orang mengembangkan diri mereka menjadi Buddha. Membaca sutra secara acak takkan memberikan kita jalan spiritual yang jelas terkait dari mana harus memulai, atau bagaimana mencapai pencerahan. Semua bahan ajaran memang sudah tersedia, namun tak mudah untuk menempatkan mereka dalam susunan yang teratur. Inilah yang persisnya dilakukan Lamrim, dengan menyajikan bahan ajaran secara bertahap. Setelah Atisha, terdapat beragam versi ajaran yang lebih rinci yang ditulis di Tibet. Kita akan mengkaji versi yang ditulis pada abad ke-15 oleh Tsongkhapa, yang mungkin merupakan rincian terbesar dari keseluruhan bahan ajaran. Keistimewaan karya Tsongkhapa adalah bahwa ia mencuplik kutipan dari sutra dan komentar India, sehingga kita dapat memastikan bahwa apa yang beliau tulis bukanlah hasil karangan belaka.</p>
<p>Keistimewaan lainnya adalah karya Tsongkhapa menyajikan tampilan yang amat detail dan logis terkait aneka ragam poin, sehingga kita bisa semakin meyakini kesahihan ajaran berdasarkan logika dan nalar. Ciri khas Tsongkhapa adalah, tak seperti para pengarang sebelumnya yang cenderung melewatkan poin-poin paling sukar, beliau justru mendalaminya. Dari 4 tradisi Buddhisme-Tibet, tradisi yang bersumber dari Tsongkhapa disebut ‘Gelugpa’.</p>
<p><u>Apa Makna Jalan Spiritual, dan Bagaimana Merancangnya?</u></p>
<p>Pertanyaan yang sesungguhnya adalah: bagaimana merancang jalan spiritual? Banyak metode berbeda yang diajarkan secara umum di India. Metode pengembangan konsentrasi, misalnya, terdapat dalam semua tradisi India pada masa Buddha. Metode ini bukanlah sesuatu yang beliau temukan atau buat-buat. Menyangkut tata cara mengembangkan diri, semua orang sepakat bahwa kita harus mencari cara memasukkan konsentrasi dan aneka aspek lainnya ke dalam jalan spiritual kita.</p>
<p>Tentu saja, Buddha punya beragam penjelasan untuk memahami aneka poin terkait cara mengembangkan diri kita, namun apa yang benar-benar spesifik adalah pemahaman Beliau terkait tujuan-tujuan spiritual. Prinsip utama tujuan-tujuan spiritual ini, yang ditempatkan menurut tingkatan yang berbeda-beda, adalah motivasi kita.</p>
<p>Istilah yang dipakai di sini adalah ‘Lamrim’; ‘lam’ bermakna ‘jalan’ dan ‘rim’ merujuk ke tingkatan yang bertahap dari jalan ini. Jalan ini adalah berbagai kondisi batin yang perlu kita kembangkan secara bertahap untuk mencapai tujuan kita. Ini ibarat melakukan sebuah perjalanan; bila kita ingin pergi dari Rumania ke India, maka India adalah tujuan utama kita. Tapi pertama-tama, untuk mencapai India, kita mungkin harus menyusuri Turki, Iran dan seterusnya, sebelum kita sampai di India.</p>
<p><u>Motivasi Spiritual: Memberi Makna pada Hidup Kita </u></p>
<p>Yang bertahap dalam Lamrim biasanya adalah motivasi kita, yang menurut Buddhisme terdiri dari 2 bagian. Motivasi terhubung dengan tujuan tertentu yang kita miliki, ditambah emosi yang mendorong kita untuk mencapai tujuan tersebut. Lebih tepatnya, kita punya alasan kenapa kita ingin mencapai sebuah tujuan, sekaligus emosi yang mendorong kita ke tujuan tersebut.</p>
<p>Hal ini menjadi masuk akal bila kita menengok kehidupan sehari-hari; kita juga punya berbagai tujuan pada berbagai tingkatan dalam hidup kita. Misalnya, kita ingin bersekolah, lalu mendapatkan pasangan hidup, lalu mendapatkan pekerjaan yang baik, dan seterusnya. Emosi positif maupun negatif bisa terlibat dalam semua aktivitas ini, dan kasusnya berbeda dari orang ke orang. Apapun itu, motivasi yang bertahap adalah sesuatu yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari kita.</p>
<p>Demikian pula halnya menyangkut motivasi-motivasi spiritual kita. Ini adalah kondisi-kondisi batin yang sepenuhnya relevan dengan kehidupan sehari-hari kita. Apa yang kita lakukan dengan hidup kita? Memang terdapat ‘level duniawi’, yang di dalamnya mencakup keluarga kita, pekerjaan kita, dan lain-lain. Namun apa yang kita lakukan di level spiritual? Ini juga mempengaruhi bagaimana kita hidup. Penting sekali untuk menjaga agar kedua aspek kehidupan kita ini tak berlawanan atau terpisah satu sama lain, melainkan menyatu dengan harmonis.</p>
<p>Kedua aspek kehidupan ini tak hanya harus harmonis, namun juga mendukung satu sama lain. Kehidupan spiritual kita harus memberi kita kekuatan untuk menuntun kehidupan duniawi kita, selagi kehidupan duniawi kita juga harus menyediakan sumber daya yang memungkinkan kita mempraktikkan kehidupan spiritual kita. Apapun yang kita pelajari melalui Lamrim harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p><u>Menjadi Orang yang Lebih Baik </u></p>
<p>Lantas apa yang kita lakukan dengan praktik Buddhis yang disajikan di sini? Praktik Buddhis secara umum dapat dirangkum dalam beberapa kata. Dalam bahasa yang sederhana, kita sedang berupaya menjadi orang yang lebih baik. Istilah ‘orang yang lebih baik’ dapat terdengar menghakimi, namun sesungguhnya tak ada penghakiman yang disiratkan di sini. Intinya bukan ini. Kita hanya mencoba mengatasi perilaku merusak dan emosi negatif yang kadangkala kita miliki, seperti amarah, keserakahan, sikap egois, dan sebagainya.</p>
<p>Buddhisme bukanlah satu-satunya agama atau filsafat atau praktik yang menyasar tujuan ini. Kristen, Islam, Judaisme, Hinduisme, serta humanitarianisme juga menyasar tujuan yang sama. Kita bisa menemukannya di mana-mana. Metode Buddhis, seperti yang juga bisa kita temukan dalam metode yang lain, dapat membantu kita mencapai tujuan ini dengan menawarkan pendekatan untuk menjadi orang yang lebih baik secara bertahap.</p>
<p>Untuk menjadi ‘orang yang lebih baik’, pertama-tama kita pasti ingin menghentikan perilaku merusak yang bakal mencelakai orang lain. Untuk melakukannya, kita harus melatih kontrol-diri. Pada level yang lebih dalam, begitu kontrol-diri tercapai, kita kemudian berfokus mengatasi sebab-sebab dari sikap merusak kita: amarah, keserakahan, kemelekatan, kecemburuan, kebencian, dan sebagainya. Untuk melakukannya, kita harus paham bagaimana emosi-emosi negatif ini muncul dan bekerja. Dengan cara ini, kita mengembangkan pemahaman tertentu yang dapat mengurangi atau menghilangkan emosi- emosi pengganggu ini.</p>
<p>Lalu, kita bahkan bisa masuk lebih dalam untuk berupaya memahami apa yang sebenarnya melandasi emosi-emosi pengganggu ini dengan mengenali sikap egois dan pemikiran yang hanya memikirkan diri sendiri. Kita biasanya berpikir, “Segalanya mesti sesuai kehendakku.” Bila nantinya yang terjadi tak sesuai kehendak, kita seringkali marah. Meski kita selalu ingin agar segalanya sesuai kehendak kita, tapi kenapa mesti demikian adanya? Sama sekali tak ada jawaban yang masuk akal untuk pertanyaan ini, kecuali fakta bahwa kita memang menginginkannya demikian. Semua orang berpikir dengan pola pikir macam ini, dan sayangnya, semua orang mustahil benar pada saat yang bersamaan.</p>
<p>Secara bertahap seiring waktu, kita akan terus berupaya sampai kita bisa mengatasi sumber masalah paling mendasar ini. Bila dianalisa, sikap egois kita bergantung pada konsep ‘aku’ dan ‘milikku’. Dengan kata lain, konsep ihwal bagaimana kita ada di dunia ini didasarkan pada ide bahwa ‘aku adalah seorang yang istimewa’, seolah-olah kita adalah pusat alam semesta, manusia paling penting yang tak bergantung pada manusia lainnya. Kita harus menyelidiki persepsi ini karena jelas sekali terdapat sesuatu yang amat keliru dan menyimpang tentangnya. Inilah yang persisnya disasar oleh jalan bertahap.</p>
<p><u>Tingkatan Motivasi yang Progresif: Dharma-Ringan </u></p>
<p>Metode yang diajarkan oleh Buddha amat berfaedah bagi tujuan-tujuan ini. Pada dasarnya, kita punya alasan untuk menghindari perilaku merusak dan emosi negatif seperti amarah dan sikap egois. Mungkin alasannya adalah karena kita paham bahwa ketika kita bertindak di bawah pengaruh amarah atau sikap egois, hal ini sama sekali tak menyenangkan dan menimbulkan masalah bagi diri kita dan orang lain. Kita tak menginginkan masalah-masalah ini!</p>
<p>Kita juga bisa mendekati isu ini secara bertahap. Jika aku bertindak dengan cara tertentu, ia menimbulkan masalah dan kesukaran saat itu juga. Misalnya, jika kita bertengkar dengan orang lain dan melukai mereka, kita juga bisa terluka atau masuk penjara. Pada level yang lebih dalam, kita juga bisa melihat dampak jangka panjang dari perilaku merusak kita, karena kita juga ingin menghindari masalah di masa depan, bukan hanya saat ini. Lebih jauh, kita juga ingin menghindarkan keluarga kita, orang tercinta, sahabat, dan masyarakat dari masalah dan kesusahan. Semua ini tercakup dalam batasan jangka kehidupan saat ini. Bahkan, kita bisa berpikir lebih jauh lagi, seperti ingin menghindarkan generasi mendatang dari masalah semisal pemanasan global.</p>
<p>Seluruh motivasi ini tak berarti bahwa kita mengorbankan motivasi lama ketika mengembangkan motivasi baru; alih-alih, mereka terus berhimpun, dan yang lama ditambahkan ke yang baru. Inilah prinsip umum jalan bertahap. Semua yang dijelaskan di atas diberi nama ‘Dharma–Ringan’, yang menyajikan ajaran Buddha – ‘Dharma’ – terkait kehidupan saat ini saja, tanpa sangkut-paut ke kelahiran kembali. Istilah ‘Dharma-Ringan’ dan ‘Dharma-Sejati’ dibuat untuk dianalogikan dengan perbedaan antara ‘Coca-Cola Lite’ dan ‘Coca-Cola dengan gula asli’.</p>
<p><u>Sangsikanlah Kelahiran Kembali demi Fokus untuk Meningkatkan Diri di Kehidupan Saat Ini</u></p>
<p>‘Dharma’ adalah kata Sanskerta yang merujuk ke ajaran Buddha. ‘Ringan’ tak berarti bahwa ada yang salah dengan Dharma, melainkan bahwa Dharma versi ini tak sesejati dan sekuat makna aslinya. Hakikat sejati terdapat dalam Lamrim menurut tradisi Tibet, namun mungkin hal ini terlalu sulit untuk kita cerna pada awalnya. Alasannya, Lamrim berasumsi bahwa kita telah meyakini kelahiran kembali, dan semua topik yang disajikan didasarkan pada premis bahwa kelahiran kembali itu ada. Dari sudut pandang ini, kita mulai berupaya menghindari masalah di dan memperbaiki kehidupan kita yang akan datang.</p>
<p>Jika kita tak meyakini kehidupan mendatang, lantas bagaimana mungkin kita bisa tulus mengembangkan motivasi untuk memperbaikinya? Hal ini mustahil adanya. Jika kita punya pertanyaan terkait kehidupan masa lampau dan masa depan, dan pada akhirnya tak meyakini atau bahkan tak memahaminya, maka kita harus mulai dengan ‘Dharma-Ringan’. Kita harus jujur pada diri sendiri menyangkut apa sebenarnya tujuan kita dalam praktik spiritual.</p>
<p>Kebanyakan dari kita ingin membuat hidup ini menjadi sedikit lebih baik. Dan tujuan ini sepenuhnya sahih. Ini adalah permulaan dan langkah yang sangat penting. Meski begitu, ketika kita berada di level ‘Dharma-Ringan’, penting untuk mengakui bahwa ini adalah ‘Dharma-Ringan’ dan bukan hal yang sejati. Dengan menyamakan keduanya, kita akan merendahkan Buddhisme menjadi sekadar bentuk terapi atau teknik pertolongan-diri. Pandangan ini sangat sempit dan tak adil terhadap Buddhisme.</p>
<p>Bahkan sebelum meyakini kebenarannya, kita juga harus mengakui jika kita tak paham apa itu ‘Dharma-Sejati’. Kita harus berpikiran terbuka dan berpikir, “Aku tak yakin bila apa yang mereka katakan tentang kehidupan mendatang dan pembebasan adalah kebenaran, namun saat ini aku akan berupaya pada level ‘Dharma-Ringan’. Seiring aku berkembang dan belajar dan bermeditasi lebih jauh, mungkin aku akan lebih bisa memahami ‘Dharma Sejati’.” Ini adalah pendekatan yang sangat sahih dan tepat, yang didasarkan pada rasa hormat pada Buddha dan keyakinan bahwa beliau tak sekadar bicara ngawur saat mengajarkan hal tersebut.</p>
<p>Kita juga bisa mengakui bahwa beberapa definisi dan penjelasan kita ihwal kehidupan mendatang dan pembebasan amat mungkin salah, dan bahwa Buddhisme juga takkan menerima definisi atau penjelasan tersebut. Jadi, sesuatu yang kita anggap konyol mungkin juga akan tampak konyol bagi Buddha karena sesuatu ini adalah pemahaman yang keliru. Misalnya, keyakinan bahwa kita adalah roh bersayap yang terbang keluar dari satu tubuh untuk memasuki tubuh lain adalah pandangan yang juga takkan diterima oleh Buddha. Buddha juga menolak ide bahwa kita bisa menjadi Tuhan Yang Maha Kuasa.</p>
<p><u>Manfaat Memikirkan Kelahiran Kembali Sejak Waktu Tak Bermula</u></p>
<p>Sebagian besar metode yang disajikan dalam jalan bertahap ini dapat diterapkan dalam ‘Dharma-Ringan’ atau ‘Dharma-Sejati’. Tapi, terdapat beberapa metode yang benar-benar bergantung pada pemahaman kita akan kehidupan mendatang. Misalnya, agar mampu mengembangkan cinta kasih yang setara pada semua makhluk, salah satu metodenya adalah mengakui bahwa tiap makhluk telah terlahir kembali sejak waktu tak bermula, dan bahwa jumlah makhluk itu bukannya tak terhingga. Dari sudut pandang ini, sangat logis bahwa pada satu titik tertentu, semua makhluk pastilah pernah menjadi ibu dari kita dan semua makhluk lainnya. Kita juga telah menjadi ibu dari semua makhluk lainnya. Seseorang dapat membuktikan logika ini – waktu tak bermula dengan jumlah makhluk yang terhingga – secara matematis. Jika waktu dan jumlah makhluk sama-sama tak terhingga, kita tak dapat membuktikan argumen kita.</p>
<p>Jelas bahwa ini adalah topik yang amat sulit dipahami, apalagi jika kita tak pernah berpikir tentang kelahiran kembali yang tak terhingga. Berdasarkan kelahiran kembali yang tak terhingga, kita bisa memikirkan betapa semua makhluk telah menunjukkan cinta kasih seorang ibu pada kita, lalu menghargai cinta kasih ini, lalu bertekad untuk menjadi orang yang lebih baik dan penuh cinta kasih untuk membalas kebaikan mereka. Terdapat keseluruhan perkembangan yang didasarkan pada hal ini. Sebagian proses ini adalah melihat bahwa benar tidaknya seseorang pernah menjadi ibu kita hanya terkait masalah waktu. Entah apakah kita belum melihat ibu kita selama 10 menit, 10 hari, atau 10 tahun, beliau tetaplah ibu kita. Sama halnya, jika kita belum melihat beliau selama 10 masa kehidupan, beliau tetaplah ibu kita. Ini adalah pemikiran yang sangat bermanfaat jika kita meyakini kelahiran kembali. Tanpa keyakinan ini, semuanya menjadi omong-kosong.</p>
<p>Hal ini berlaku terutama jika kita berpikir tentang nyamuk yang kita lihat, dan bukan melulu manusia. Nyamuk ini adalah ibu kita di kehidupan lampau, berhubung kelahiran kembali bisa mengambil bentuk apapun yang punya aktivitas mental. Kasus ini juga punya versi ‘Dharma-Ringan’-nya, di mana kita melihat bagaimana orang-orang bisa mengantar kita pulang, merawat, dan memberi kita makan. Semua orang dapat melakukan hal tersebut; saat kita bepergian, kita sering menjumpai orang asing yang bersikap sangat manis dan menawarkan keramahannya pada kita. Tak masalah apakah orang tersebut adalah laki-laki atau perempuan; siapapun dapat bersikap bak ibu terhadap kita. Anak kecil pun, jika beranjak dewasa, dapat merawat kita. Versi ‘Dharma-Ringan’ ini sangat bermanfaat (meski sedikit sempit), berhubung sangat sulit untuk berpikir bahwa nyamuk yang kita lihat dapat mengantar kita pulang dan merawat kita layaknya seorang ibu.</p>
<p>Gambaran ini sedikit menunjukkan ihwal bagaimana metode bisa diterapkan pada level ‘Dharma-Ringan’ dan ‘Dharma Sejati’. Keduanya sangat bermanfaat menurut versi mereka masing-masing, namun versi ‘Dharma-Ringan’ sangat terbatas. ‘Dharma Sejati’ membuka semesta kemungkinan yang lebih luas. Terlepas dari level manapun yang kita terapkan, poin utamanya adalah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sedang terjebak kemacetan, atau menunggu antrian panjang, atau ketika sedang marah atau tak sabaran pada orang lain, kita bisa melihat semua makhluk sebagai ibu kita, baik di kehidupan lampau maupun saat ini; hal ini akan membantu meredakan amarah, membantu kita mengembangkan kesabaran. Jika ibu kita mendahului kita dalam antrian, pastinya kita takkan keberatan bila beliau dilayani duluan. Faktanya, kita mungkin sangat senang karena beliau dilayani terlebih dulu. Dengan cara ini, kita bisa mencoba menerapkan pemahaman ini. Kita tak boleh hanya mengembangkan pola pikir ini ketika duduk di atas bantalan meditasi, melainkan mesti menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p><u>Meditasi sebagai Metode untuk Melatih Diri Sendiri</u></p>
<p>Ketika proses Dharma digambarkan sebagai upaya melatih diri sendiri, inilah maknanya. Ketika kita bermeditasi di kamar kita sendiri yang tenang dengan suasana yang terkontrol, kita sedang berupaya membangkitkan jenis-jenis pemahaman ini dan kondisi-kondisi batin yang lebih positif. Kita menggunakan imajinasi kita untuk memikirkan orang lain dan mengembangkan sikap yang membangun terhadap mereka. Meski bukan metode tradisional, amat disarankan untuk melihat foto orang lain dalam meditasi kita. Memang tak ada teknologi foto 2500 tahun yang lalu, tapi sepertinya tak ada masalah bila kita menerapkan teknologi modern dalam proses meditasi.</p>
<p>Begitu kita cukup terbiasa dengan emosi positif tertentu, kita mencoba menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Inilah tujuannya. Memikirkan cinta kasih saat duduk di atas bantalan meditasi tapi setelahnya marah-marah pada keluarga dan kolega bukanlah hasil yang diharapkan. Jadi, kita tak boleh menganggap praktik meditasi kita sebagai pelarian dari kehidupan, di mana kita hanya ingin duduk menenangkan diri sendiri. Pergi ke dunia fantasi dan memikirkan segala hal yang menakjubkan juga adalah pelarian. Praktik meditasi harus berbeda; kita berlatih agar mampu mengatasi masalah-masalah dalam kehidupan.</p>
<p>Latihan adalah kerja keras, dan kita tak boleh membodohi diri sendiri, atau membiarkan diri kita dibodohi oleh iklan yang berkata bahwa latihan itu cepat dan mudah. Mengatasi sikap egois dan emosi merusak lainnya bukan hal yang mudah, karena mereka berasal dari kebiasaan yang tertanam amat dalam. Satu-satunya jalan untuk mengatasi mereka adalah mengubah sikap kita terhadap hal-ihwal dan membebaskan diri kita dari kebingungan yang melandasi emosi-emosi merusak ini.</p>
<p><u>Kesimpulan </u></p>
<p>Praktik Buddhisme bisa dibagi menjadi ‘Dharma-Ringan’ dan ‘Dharma Sejati’. Dengan ‘Dharma-Ringan’, kita ingin meningkatkan kualitas kehidupan kita saat ini dengan melengkapi diri dengan perkakas-perkakas mental untuk menghadapi masalah-masalah kehidupan dengan lebih baik. ‘Dharma-Ringan’ tak keliru, namun seperti Coca-Cola Lite, ‘Dharma-Ringan’ tak senikmat ‘Dharma-Sejati’.</p>
<p>Secara tradisional, ajaran Lamrim tak merujuk ke ide-ide seputar ‘Dharma-Ringan’ yang didiskusikan di atas, karena Lamrim mengasumsikan bahwa kehidupan masa lampau dan masa depan itu ada. Meski begitu, keinginan untuk meningkatkan hidup kita dan menjadi orang yang lebih baik adalah langkah pertama yang penting dalam mempraktikkan ‘Dharma-Sejati’.</p>
<p><em>Sumber: <a href="http://studybuddhism.com/en/tibetan-buddhism/path-to-enlightenment/the-graded-path/introduction-to-the-graded-path">studybuddhism.org</a> | diterjemahkan oleh: Andri Kurnia | disunting oleh: Stanley Khu</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/05/30/bagaimana-dan-mengapa-mengikuti-jalan-buddhis-bertahap/">Serba-Serbi Lamrim 1: Bagaimana dan Mengapa Mengikuti Jalan Buddhis Bertahap</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/05/30/bagaimana-dan-mengapa-mengikuti-jalan-buddhis-bertahap/">Serba-Serbi Lamrim 1: Bagaimana dan Mengapa Mengikuti Jalan Buddhis Bertahap</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>History of Nalanda &#8211; Institusi Pelindung Ajaran Buddha</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Apr 2017 15:40:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3093</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>2500 tahun sejak Buddha parinirwana, ajaran Beliau masih hidup dan memberi manfaat bagi banyak makhluk di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Bertahannya Buddhadharma tidak lepas dari peran sebuah institusi pendidikan raksasa bernama Biara Nalanda. Dengan berkenalan dengan sejarah Nalanda, kita bisa melihat hubungan berbagai tradisi Buddhis dunia seperti India, Sriwijaya, Tibet, Tiongkok, dsb. yang ternyata tak [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/">History of Nalanda – Institusi Pelindung Ajaran Buddha</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/">History of Nalanda &#8211; Institusi Pelindung Ajaran Buddha</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/17458155_1947355268826034_2265245186158006818_n/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17458155_1947355268826034_2265245186158006818_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17458155_1947355268826034_2265245186158006818_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17458155_1947355268826034_2265245186158006818_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17458155_1947355268826034_2265245186158006818_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17458155_1947355268826034_2265245186158006818_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17458155_1947355268826034_2265245186158006818_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17458155_1947355268826034_2265245186158006818_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17458155_1947355268826034_2265245186158006818_n.jpg 960w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/17499303_1947355678825993_8626315753108715732_n/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499303_1947355678825993_8626315753108715732_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499303_1947355678825993_8626315753108715732_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499303_1947355678825993_8626315753108715732_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499303_1947355678825993_8626315753108715732_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499303_1947355678825993_8626315753108715732_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499303_1947355678825993_8626315753108715732_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499303_1947355678825993_8626315753108715732_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499303_1947355678825993_8626315753108715732_n.jpg 960w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/17499404_1947355292159365_585408954578843548_n/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499404_1947355292159365_585408954578843548_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499404_1947355292159365_585408954578843548_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499404_1947355292159365_585408954578843548_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499404_1947355292159365_585408954578843548_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499404_1947355292159365_585408954578843548_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499404_1947355292159365_585408954578843548_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499404_1947355292159365_585408954578843548_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17499404_1947355292159365_585408954578843548_n.jpg 960w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/17523000_1947355728825988_1003459865522352058_n/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17523000_1947355728825988_1003459865522352058_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17523000_1947355728825988_1003459865522352058_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17523000_1947355728825988_1003459865522352058_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17523000_1947355728825988_1003459865522352058_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17523000_1947355728825988_1003459865522352058_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17523000_1947355728825988_1003459865522352058_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17523000_1947355728825988_1003459865522352058_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17523000_1947355728825988_1003459865522352058_n.jpg 960w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/17553595_1947355398826021_4743081837975536507_n/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17553595_1947355398826021_4743081837975536507_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17553595_1947355398826021_4743081837975536507_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17553595_1947355398826021_4743081837975536507_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17553595_1947355398826021_4743081837975536507_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17553595_1947355398826021_4743081837975536507_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17553595_1947355398826021_4743081837975536507_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17553595_1947355398826021_4743081837975536507_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17553595_1947355398826021_4743081837975536507_n.jpg 960w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/17554024_1947355582159336_5402356375378817738_n/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554024_1947355582159336_5402356375378817738_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554024_1947355582159336_5402356375378817738_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554024_1947355582159336_5402356375378817738_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554024_1947355582159336_5402356375378817738_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554024_1947355582159336_5402356375378817738_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554024_1947355582159336_5402356375378817738_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554024_1947355582159336_5402356375378817738_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554024_1947355582159336_5402356375378817738_n.jpg 960w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/17554113_1947355722159322_1376588519558233224_n/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554113_1947355722159322_1376588519558233224_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554113_1947355722159322_1376588519558233224_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554113_1947355722159322_1376588519558233224_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554113_1947355722159322_1376588519558233224_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554113_1947355722159322_1376588519558233224_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554113_1947355722159322_1376588519558233224_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554113_1947355722159322_1376588519558233224_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554113_1947355722159322_1376588519558233224_n.jpg 960w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/17554151_1947355792159315_1584288774713675284_n/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554151_1947355792159315_1584288774713675284_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554151_1947355792159315_1584288774713675284_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554151_1947355792159315_1584288774713675284_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554151_1947355792159315_1584288774713675284_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554151_1947355792159315_1584288774713675284_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554151_1947355792159315_1584288774713675284_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554151_1947355792159315_1584288774713675284_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554151_1947355792159315_1584288774713675284_n.jpg 960w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/17554550_1947355492159345_5009431790801790559_n/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554550_1947355492159345_5009431790801790559_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554550_1947355492159345_5009431790801790559_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554550_1947355492159345_5009431790801790559_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554550_1947355492159345_5009431790801790559_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554550_1947355492159345_5009431790801790559_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554550_1947355492159345_5009431790801790559_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554550_1947355492159345_5009431790801790559_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17554550_1947355492159345_5009431790801790559_n.jpg 960w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/17626596_1947355592159335_1726062881167360237_n/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17626596_1947355592159335_1726062881167360237_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17626596_1947355592159335_1726062881167360237_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17626596_1947355592159335_1726062881167360237_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17626596_1947355592159335_1726062881167360237_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17626596_1947355592159335_1726062881167360237_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17626596_1947355592159335_1726062881167360237_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17626596_1947355592159335_1726062881167360237_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17626596_1947355592159335_1726062881167360237_n.jpg 960w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/17629802_1947355442159350_5562965260252015888_n/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17629802_1947355442159350_5562965260252015888_n-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17629802_1947355442159350_5562965260252015888_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17629802_1947355442159350_5562965260252015888_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17629802_1947355442159350_5562965260252015888_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17629802_1947355442159350_5562965260252015888_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17629802_1947355442159350_5562965260252015888_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17629802_1947355442159350_5562965260252015888_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/04/17629802_1947355442159350_5562965260252015888_n.jpg 960w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
2500 tahun sejak Buddha parinirwana, ajaran Beliau masih hidup dan memberi manfaat bagi banyak makhluk di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Bertahannya Buddhadharma tidak lepas dari peran sebuah institusi pendidikan raksasa bernama Biara Nalanda.</p>
<p>Dengan berkenalan dengan sejarah Nalanda, kita bisa melihat hubungan berbagai tradisi Buddhis dunia seperti India, Sriwijaya, Tibet, Tiongkok, dsb. yang ternyata tak dapat dipisahkan. Kita akan menemukan bahwa semua aliran Buddhis b<span class="text_exposed_show">erasal dari Sang Buddha sendiri, tidak saling bertentangan dan harus dipahami dan dipraktikkan sebagai satu kesatuan.<br />
&#8212;<br />
Jangan lewatkan kedatangan Drepung Tripa Khenzur Rinpoche, filsuf ahli pemangku takhta Drepung, salah satu biara terbesar di Tibet yang membawahi 5.000 biksu, bulan April-Mei 2017 via Lamrimnesia!<br />
Info Lengkap: <a href="http://lamrimnesia.org/KR2017" target="_blank" rel="nofollow noopener">lamrimnesia.org/KR2017</a><br />
Untuk info lebih lanjut, hubungi:<br />
Aprianti +62853-7524-2326<br />
Erlina +62856-4306-1337</span></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/">History of Nalanda – Institusi Pelindung Ajaran Buddha</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/04/07/history-nalanda-institusi-pelindung-ajaran-buddha/">History of Nalanda &#8211; Institusi Pelindung Ajaran Buddha</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>History of Nalanda #3 Nalanda &#038; Sriwijaya, Sejarah bukan Dongeng</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/03/17/history-of-nalanda-3-nalanda-sriwijaya-sejarah-bukan-dongeng/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Mar 2017 06:34:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2963</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Saat berbicara tentang Nalanda, tentu kita harus juga membicarakan hubungannya dengan sejarah Indonesia. Nalanda dan Sriwijaya sama-sama memiliki peran penting dalam perkembangan Buddhisme dunia. Seperti apa hubungannya? Yuk simak di infografis berikut! &#8212; Jangan lewatkan info kedatangan Drepung Tripa Khenzur Rinpoche, filsuf ahli pemangku takhta Drepung, salah satu biara terbesar di Tibet yang membawahi 5.000 [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/17/history-of-nalanda-3-nalanda-sriwijaya-sejarah-bukan-dongeng/">History of Nalanda #3 Nalanda & Sriwijaya, Sejarah bukan Dongeng</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/17/history-of-nalanda-3-nalanda-sriwijaya-sejarah-bukan-dongeng/">History of Nalanda #3 Nalanda &#038; Sriwijaya, Sejarah bukan Dongeng</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-2964 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17353564_1939710699590491_5182375970900156865_n.jpg" alt="" width="480" height="339" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17353564_1939710699590491_5182375970900156865_n.jpg 480w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17353564_1939710699590491_5182375970900156865_n-300x212.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17353564_1939710699590491_5182375970900156865_n-150x106.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17353564_1939710699590491_5182375970900156865_n-450x318.jpg 450w" sizes="(max-width: 480px) 100vw, 480px" /></p>
<p>Saat berbicara tentang Nalanda, tentu kita harus juga membicarakan hubungannya dengan sejarah Indonesia. Nalanda dan Sriwijaya sama-sama memiliki peran penting dalam perkembangan Buddhisme dunia. Seperti apa hubungannya? Yuk simak di infografis berikut!</p>
<p>&#8212;<span class="text_exposed_show"><br />
Jangan lewatkan info kedatangan Drepung Tripa Khenzur Rinpoche, filsuf ahli pemangku takhta Drepung, salah satu biara terbesar di Tibet yang membawahi 5.000 biksu, bulan April-Mei 2017 via Lamrimnesia!</span></p>
<div class="text_exposed_show">
<p>Profil Drepung Tripa Khenzur Rinpoche: <a href="http://rebrand.ly/biografidrepungtripa" target="_blank" rel="nofollow noopener">rebrand.ly/biografidrepungtripa</a></p>
<p>Untuk info lebih lanjut, hubungi:<br />
Aprianti +62853-7524-2326<br />
Erlina +62856-4306-1337<br />
email: events@lamrimnesia.org</p>
</div>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/17/history-of-nalanda-3-nalanda-sriwijaya-sejarah-bukan-dongeng/">History of Nalanda #3 Nalanda & Sriwijaya, Sejarah bukan Dongeng</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/17/history-of-nalanda-3-nalanda-sriwijaya-sejarah-bukan-dongeng/">History of Nalanda #3 Nalanda &#038; Sriwijaya, Sejarah bukan Dongeng</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>History of Nalanda #2 &#8211; Para Cendekiawan Agung</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-2-para-cendekiawan-agung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Mar 2017 19:36:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[guru spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[historyofnalanda]]></category>
		<category><![CDATA[india]]></category>
		<category><![CDATA[jasmerah]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[nalanda]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2872</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Pekan lalu kita sudah berkenalan dengan Biara Nalanda, institusi pendidikan Buddhis terbesar dan tertua yang telah menghasilkan banyak cendekiawan agung dengan peran besar dalam menjaga Buddhadharma di dunia ini. Siapa saja tokoh-tokohnya? Yuk kita berkenalan dengan mereka!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-2-para-cendekiawan-agung/">History of Nalanda #2 – Para Cendekiawan Agung</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-2-para-cendekiawan-agung/">History of Nalanda #2 &#8211; Para Cendekiawan Agung</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone wp-image-2874 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n.jpg" alt="" width="960" height="678" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n.jpg 960w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n-600x424.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n-300x212.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n-768x542.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n-150x106.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n-450x318.jpg 450w" sizes="(max-width: 960px) 100vw, 960px" /></p>
<p>Pekan lalu kita sudah berkenalan dengan Biara Nalanda, institusi pendidikan Buddhis terbesar dan tertua yang telah menghasilkan banyak cendekiawan agung dengan peran besar dalam menjaga Buddhadharma di dunia ini. Siapa saja tokoh-tokohnya? Yuk kita berkenalan dengan mereka!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-2-para-cendekiawan-agung/">History of Nalanda #2 – Para Cendekiawan Agung</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-2-para-cendekiawan-agung/">History of Nalanda #2 &#8211; Para Cendekiawan Agung</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>History of Nalanda #1 Fakta Unik Biara Nalanda</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-1-fakta-unik-biara-nalanda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Mar 2017 19:27:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2858</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Pernah dengar tentang Biara Nalanda? Buddhisme dari berbagai negara seperti Tibet, Tiongkok, bahkan Indonesia dapat ditelusuri asal-muasalnya hingga ke Biara Nalanda, institusi pendidikan Buddhis terbesar dan tertua di dunia. Biara ini juga memiliki hubungan dekat dengan sejarah Indonesia, tepatnya dengan Kerajaan Sriwijaya. Apa Sahabat Lamrimnesia punya fakta-fakta unik lain tentang Nalanda? Yuk berbagi di kolom [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-1-fakta-unik-biara-nalanda/">History of Nalanda #1 Fakta Unik Biara Nalanda</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-1-fakta-unik-biara-nalanda/">History of Nalanda #1 Fakta Unik Biara Nalanda</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone wp-image-2859 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16832165_1930625227165705_70042985363881053_n.jpg" alt="" width="960" height="799" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16832165_1930625227165705_70042985363881053_n.jpg 960w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16832165_1930625227165705_70042985363881053_n-600x499.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16832165_1930625227165705_70042985363881053_n-300x250.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16832165_1930625227165705_70042985363881053_n-768x639.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16832165_1930625227165705_70042985363881053_n-150x125.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16832165_1930625227165705_70042985363881053_n-450x375.jpg 450w" sizes="(max-width: 960px) 100vw, 960px" /></p>
<p>Pernah dengar tentang Biara Nalanda?</p>
<p>Buddhisme dari berbagai negara seperti Tibet, Tiongkok, bahkan Indonesia dapat ditelusuri asal-muasalnya hingga ke Biara Nalanda, institusi pendidikan Buddhis terbesar dan tertua di dunia. Biara ini juga memiliki hubungan dekat dengan sejarah Indonesia, tepatnya dengan Kerajaan Sriwijaya.</p>
<div class="text_exposed_show">
<p>Apa Sahabat Lamrimnesia punya fakta-fakta unik lain tentang Nalanda? Yuk berbagi di kolom komentar!</p>
<p>&#8212;<br />
Jangan lewatkan info kedatangan Drepung Tripa Khenzur Rinpoche, filsuf ahli pemangku takhta Drepung, salah satu biara terbesar di Tibet yang membawahi 5.000 biksu, bulan April-Mei 2017 via Lamrimnesia!</p>
<p>Profil Drepung Tripa Khenzur Rinpoche: <a href="https://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Frebrand.ly%2Fbiografidrepungtripa&amp;h=ATM08LPCSPyWZH0DHG8bgAOLKCLPQPOYwlE8GntjBoiD9NoqyYueYhWU2vXBHW_yBFTQb4v5uXI_3Aqz4TvhatPmj2ZXAp8Pib6DLUdFPSIe_-H6b-uKzuiWUG-mz3RNWl__20M&amp;enc=AZNjr8ZkT5l0I5rs2DZWDhbI-YF79tJe9KjlLlRKPuyaqfJXINAGLXCrk3OYBMwVycTkKYHO1ORaAQmhHVTN72H1Ni02n4Hyv5YtBPUESFD8hmUyZJUpqL73myId9b93kkbORhv1-AOo4Wg9_Ng8mSFr4v_9qJ6qpKxgFq-FSd2NCxO0a5HUWgk0Mq2vevWfSTB5-RjvSdfd_h_JeqTO2vWa&amp;s=1" target="_blank" rel="nofollow noopener">rebrand.ly/biografidrepungtripa</a></p>
<p>Untuk info lebih lanjut, hubungi:<br />
Aprianti +62853-7524-2326<br />
Erlina +62856-4306-1337<br />
email: events@lamrimnesia.org</p>
</div><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-1-fakta-unik-biara-nalanda/">History of Nalanda #1 Fakta Unik Biara Nalanda</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-1-fakta-unik-biara-nalanda/">History of Nalanda #1 Fakta Unik Biara Nalanda</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
