<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>buddha - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/buddha/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Thu, 25 Apr 2024 04:55:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>buddha - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Apr 2024 04:31:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Berlindung]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh cinta]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[Tiratana]]></category>
		<category><![CDATA[Tisarana]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9040</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sikap yang kita muncul saat sedang jatuh cinta itu sama seperti sikap yang harus kita timbulkan sewaktu kita berlindung (Tisarana) kepada Triratna. Triratna telah memiliki segala kualitas terunggul dan amat mahir menolong kita terbebas dari samsara. Hal ini seharusnya membuat kita kagum dan hormat kepada Triratna. Selanjutnya, kita juga seharusnya menjadi bersemangat setiap kali mengingat kualitas-kualitas agung Triratna beserta manfaat-manfaat yang kita peroleh dari melakukan Tisarana. Dengan demikian, seperti orang yang jatuh cinta, bukankah wajar apabila seharusnya kita juga ingin menyenangkan Triratna?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Selama kita hidup sebagai manusia, rasanya paling tidak kita pernah sekali merasakan jatuh cinta. Entah karena tingkah sang dambaan hati yang lucu, wajahnya yang rupawan, ataupun sekadar karena terlanjur nyaman. Meskipun terlihat bervariasi, namun jatuh cinta ini seringkali berawal dari <strong>kekaguman</strong> kita kepada seseorang. Lalu, ketika kita jatuh cinta pun rasa-rasanya kita jadi<strong> lebih ceria</strong> dalam menjalani hari. Kita juga jadi <strong>bersemangat</strong> setiap kali membicarakannya dan rela melakukan apapun agar dapat menyenangkannya.</p>



<p>Ternyata, setelah dipikir-pikir lagi, sikap yang kita muncul saat sedang jatuh cinta itu sama seperti sikap yang harus kita timbulkan sewaktu kita berlindung (Tisarana) kepada Triratna. Argumen ini bukan tanpa alasan, ya. Apabila kita renungkan dengan lebih mendalam, Triratna telah memiliki <strong>segala kualitas terunggul dan amat mahir menolong kita terbebas dari samsara.</strong> Hal ini seharusnya membuat kita<strong> kagum dan hormat </strong>kepada Triratna. Selanjutnya, kita juga seharusnya <strong>menjadi bersemangat </strong>setiap kali mengingat kualitas-kualitas agung Triratna beserta manfaat-manfaat yang kita peroleh dari melakukan Tisarana. Dengan demikian, seperti orang yang jatuh cinta, bukankah wajar apabila seharusnya kita juga ingin menyenangkan Triratna?</p>



<p>Salah satu cara untuk menyenangkan Triratna adalah dengan menjaga Tisarana melalui praktik sila-sila Tisarana yang penuh kesadaran dengan konsisten. Nah setelah sebelumnya terdapat penjelasan tentang sila-sila penghindaran, dalam kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas terkait sila-sila penguatan, yang merupakan kelanjutan dari sila-sila pribadi berdasarkan risalah Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan. Berikut adalah sila-sila penguatan Tisarana.</p>



<ol><li><strong>Menganggap Semua Bentuk yang Melambangkan Buddha sebagai Buddha yang Sebenarnya</strong><br>Seperti kita yang melihat foto orang yang kita sayangi sebagai bentuk yang nyata, berharap seolah-olah ia ada di hadapan kita saat ini, demikian juga dengan sila penguatan Tisarana yang pertama. Seseorang yang telah Tisarana kepada Buddha harus menganggap semua bentuk fisik yang melambangkan Buddha sebagai Buddha yang sebenarnya. Hal ini mencakup rupang yang rusak atau yang bentuknya kurang sempurna, maupun yang dibuat dari bahan yang kurang berkualitas.<br><br>Banyak dari kita yang lebih tertarik kepada rupang yang terbuat dari logam atau rupang yang berasal dari India karena lebih perlente dan seolah-olah lebih mampu untuk membangkitkan keyakinan. Di sisi lain, kita cenderung menghindari rupang yang terbuat dari tanah liat dan bahkan membuang rupang yang telah rusak dan hancur, karena dianggap kurang menarik dan hanya mampu untuk membangkitkan sedikit keyakinan. Padahal keyakinan adalah aspek internal yang seharusnya dibangkitkan oleh diri sendiri, bukan bergantung kepada bentuk dari objek eksternal. Terlebih lagi menurut Guru-Guru Lamrim terdahulu, tindakan membuang rupang dari rumah seseorang sama saja dengan membuang kebajikan itu sendiri.</li></ol>



<ol start="2"><li><strong>Menghormati Bahkan Satu Huruf Tulisan sebagai Permata Dharma</strong><br>Ketika kita mendapatkan <em>chat</em> via WhatsApp maupun kartu ucapan ulang tahun dari orang yang kita sayangi, pastinya kita akan memperhatikan pesan tersebut dengan penuh penghayatan, mulai dari kata per kata atau bahkan sampai memperhatikan huruf dan tanda bacanya dengan detail. Demikian juga dengan sila penguatan Tisarana yang kedua ini, yakni kita harus menghormati setiap huruf sebagai Permata Dharma. Mengapa? Sebabnya, tanpa satu huruf tersebut, kita tidak akan mungkin untuk belajar Dharma sama sekali.<br><br>Meskipun terdengar mudah, nyatanya kita akan sangat mudah menemukan pelanggaran sila ini dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kita mungkin sering meletakkan buku di lantai, melangkahi buku sewaktu terburu-buru, menggunakan ludah di tangan untuk membalik halaman buku yang lengket, dsb. Padahal, tindakan ini merupakan bentuk tindakan yang tidak menghormati Dharma. Dikatakan juga dalam buku ‘Pembebasan di Tangan Kita’ Jilid II, bahwa sikap tidak menghormati Dharma dan Guru Dharma merupakan penyebab seseorang untuk menjadi bodoh secara intelektual pada kehidupan-kehidupan yang akan datang.</li></ol>



<ol start="3"><li><strong>Menghormati Bahkan Sepotong Kain dari Jubah Seorang Biksu sebagai Permata Sangha</strong><br>Pada umumnya, kita pasti pernah mengajak orang yang kita sayangi untuk menghabiskan waktu bersama ke tempat-tempat yang kita anggap menarik. Uniknya, terkadang kita turut menyimpan berbagai memento untuk mengingat dan menghargai momen tersebut, seperti menyimpan tiket bioskop, foto, aksesoris, dsb. Barang-barang itu kemudian akan begitu kita hargai dan jaga dengan penuh. Nampaknya, hal ini mirip dengan sila penguatan Tisarana yang ketiga. <br><br>Pada sila ini, kita harus memperlakukan Sangha dengan sangat hormat. Tidak hanya kepada sosoknya semata, tetapi juga menghormati bahkan sepotong kain merah atau kuning dari jubah Sangha yang terjatuh ke tanah maupun potongan kain dengan warna yang menyerupai jubah Sangha. Mengapa demikian? Sebabnya, sila ini membantu kita untuk mengingat kembali dan menyadari perbedaan utama antara Sangha dengan umat awam, yaitu dalam aspek jumlah sila yang diambil. Tentunya, kita harus menghormati Sangha, karena Sangha telah berkomitmen untuk melatih diri dengan cara mengambil sila yang jauh lebih banyak daripada kita.</li></ol>



<p><strong>Penutup</strong><br>Meskipun terlihat sederhana, penerapan sila-sila Tisarana, khususnya sila-sila penguatan, dalam kehidupan sehari-hari ini tidak mudah, lho!! Setelah membaca penjelasan singkat di atas, mungkin juga akan timbul pertanyaan di dalam diri sendiri, seperti “Apakah kita mampu melaksanakan sila-sila Tisarana secara konsisten dengan kesadaran penuh? Apakah kita mampu mengeluarkan usaha dalam Tisarana sama besarnya atau bahkan lebih besar daripada saat kita berjuang mendapatkan cinta?”&nbsp;</p>



<p>Apabila memang dirasa belum mampu, janganlah berkecil hati. Sebagai langkah awal, kita dapat mulai melatih membiasakan diri menerapkan sila-sila penguatan Tisarana yang telah disebutkan sebelumnya setahap demi setahap. Perlu diingat juga bahwa selayaknya kita yang jatuh cinta (seperti di film-film), tidak semua ekspresi cinta perlu dibuktikan dalam bentuk yang mewah maupun meriah, justru hal-hal sederhana yang konsisten merupakan sebuah perwujudan cinta yang sesungguhnya dan tentunya lebih romantis, bukan?</p>



<p>Referensi:<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Apr 2024 04:11:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Berlindung]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[Sila-Sila Berlindung]]></category>
		<category><![CDATA[Sila-Sila Tisarana]]></category>
		<category><![CDATA[Tiratana]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<category><![CDATA[umat Buddha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9018</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam bahasa Inggris, kalimat “Buddham saranam gacchami” diterjemahkan sebagai ‘I go to the Buddha for refuge’.Terjemahan tersebut jika diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Aku pergi berlindung kepada Buddha’. Kata “pergi” ini penting karena menunjukan makna bahwa kita memerlukan sebuah aksi aktif untuk mencapai perlindungan. Berdasarkan Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, untuk menjaga agar Tisarana kita menjadi aksi nyata dan tidak menjadi ‘omon-omon’ semata, seorang praktisi harus menjalankan sila-sila Tisarana.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="wp-block-quote"><p>Buddham saranam gacchami,<br>Dhammam saranam gacchami,<br>Sangham saranam gacchami.</p></blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>I go to the Buddha for refuge,<br>I go to the Dhamma for refuge,<br>I go to the Sangha for refuge.</p></blockquote>



<p>Dalam bahasa Inggris, kalimat “<em>Buddham saranam gacchami</em>” diterjemahkan sebagai ‘<em>I <strong>go to</strong> the Buddha for refuge</em>’.Terjemahan tersebut jika diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Aku <strong>pergi </strong>berlindung kepada Buddha’. Ya, ada kata “pergi” dalam terjemahan tersebut, berbeda dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang biasa kita temui, yaitu “Aku berlindung kepada Buddha”.</p>



<p>Meskipun tampak sepele, namun hilangnya kata “pergi” menimbulkan miskonsepsi yang signifikan terhadap konsep Tisarana yang pernah kita pelajari di sekolah maupun vihara selama ini. Kata “pergi” ini penting karena menunjukan makna bahwa kita memerlukan sebuah aksi aktif untuk mencapai perlindungan, bukan hanya ‘omon-omon’ semata, lebih-lebih supaya terlihat sebagai seorang Buddhis saja.</p>



<p>Sebenarnya, tanpa perlu kita beri rayuan maupun janji-janji manis, Sang Buddha telah memiliki welas asih yang tidak terbatas dan tidak berubah kepada semua makhluk. Selain itu, Sang Buddha juga mampu berada di mana saja dan kapan saja. Berdasarkan hal itu, tentu saja Sang Buddha jelas selalu mau dan mampu untuk memberikan perlindungan kepada kita serta semua makhluk. Namun, layaknya matahari yang senantiasa bersinar namun tak mampu menembus goa gelap; perlindungan Sang Buddha juga tidak dapat kita peroleh jika kita tidak mengarahkan usaha kita sendiri untuk pergi berlindung.</p>



<p>Lebih spesifik lagi, dalam kaitannya dengan Tisarana, aspek ‘aksi’ inilah yang membedakan hasil akhir dari Tisarana seorang Buddhis. Berdasarkan Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, untuk menjaga agar Tisarana kita menjadi aksi nyata dan tidak menjadi ‘omon-omon’ semata, seorang praktisi harus menjalankan sila-sila Tisarana. Nah, dalam kesempatan kali ini, mari kita bahas sedikit sila-sila penghindaran, yang merupakan bagian dari sila-sila pribadi seorang praktisi yang sudah mengambil perlindungan!</p>



<ol><li><strong>Tidak Menyatakan Perlindungan kepada Objek Selain Sang Triratna</strong><br>Ketika seseorang telah memahami alasan untuk Tisarana, mengenali kualitas-kualitas terunggul Sang Triratna, dan memahami manfaat-manfaat dari Tisarana; maka akan sangat aneh apabila ia juga menyatakan perlindungan kepada objek-objek dengan kualitas yang lebih rendah, seperti dewa-dewi duniawi, naga, dan makhluk-makhluk halus kuat lainnya. Perlu diperhatikan kembali bahwa <strong>kita boleh </strong>saja untuk berdoa dan memberikan persembahan kepada mereka, terutama jika kita membutuhkan bantuan dalam mempraktikkan Dharma. Namun, kita <strong>tidak boleh</strong> menyatakan perlindungan kepada mereka, karena ketika kita memegang dua objek Tisarana yang berbeda, maka kita akan menghancurkan nilai Tisarana kita pada Sang Triratna dan mengeluarkan kita dari komunitas Buddhis.</li><li><strong>Tidak Menyakiti Makhluk Lain</strong><br>Apabila memang kita benar bersungguh-sungguh menyatakan Tisarana kepada Sang Triratna, maka sudah sewajarnya kita meneladani kualitas Sang Buddha yang selalu memancarkan welas asih kepada semua makhluk. Terlebih lagi berdasarkan hukum karma, salah satu akibat dari membunuh atau menyakiti makhluk lain adalah terlahir di alam menderita, sesuatu yang amat kita takuti. Oleh karena itu, jangan dengan sengaja menyakiti makhluk lain, bahkan melalui tindakan seperti meminta pajak berlebihan kepada sesama manusia maupun memaksa hewan untuk membawa beban berlebih.</li><li><strong>Tidak Bergabung dengan Non-Buddhis</strong><br>Untuk menjaga keyakinan dan meningkatkan Tisarana, kita dianjurkan untuk tidak bergaul dengan orang-orang yang meragukan kebenaran Sang Triratna dan hukum karma, serta dengan orang-orang yang mengkritik bahwa ajaran-ajaran yang kita pelajari selama ini merupakan karangan yang dibuat oleh para biksu maupun guru yang licik. Sila ini menjadi sangat penting, khususnya bagi kita yang belum memiliki keyakinan yang kokoh, karena apabila kita tetap bergaul dengan mereka, ditakutkan kita akan terpengaruh oleh pemahaman salah yang mereka miliki. Sila ini juga sesuai dengan salah satu bait dalam Mangala Sutta, yaitu:</li></ol>



<p class="has-text-align-center">“Tak bergaul dengan orang-orang dungu,<br>bergaul dengan para bijaksana,<br>dan menghormat yang patut dihormat,<br>itulah berkah utama.”</p>



<p><strong>Penutup</strong><br>Tisarana telah menjadi salah satu hal yang umum dalam kehidupan umat Buddha. Namun apabila kita dapat meluangkan waktu sejenak untuk melihat keseharian kita, mari renungkan pertanyaan ini: Apakah kita telah melakukan Tisarana dengan baik dan benar? Apakah Tisarana kita telah menjadi aksi yang aktif dan bukan hanya ‘omon-omon’ saja? Jika memang kita masih belum melaksanakan Tisarana dengan maksimal, maka lekaslah bergerak saat ini juga! Sebabnya,Tisarana tidak akan pernah memberikan hasil apabila tidak ada aksi nyata untuk meraihnya. Pertama-tama, yuk latih diri untuk menjalani sila-sila yang telah disebutkan di atas!</p>



<p>Referensi:<br>Terjemahan Tisarana dalam bahasa Inggris dalam halaman accesstoinsight.org<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menemukan Kedamaian Waisak bersama KMB Dhammavaddhana BINUS</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/06/16/menemukan-kedamaian-waisak-bersama-kmb-dhammavaddhana-binus/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Jun 2023 03:15:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Binus]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[Inner Peace]]></category>
		<category><![CDATA[Kedamaian]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mindfulness]]></category>
		<category><![CDATA[waisak]]></category>
		<category><![CDATA[Waisak Puja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=8274</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Semua orang mencari kedamaian, padahal hal tersebut berada di dalam diri. Melalui Waisak Puja yang diadakan KMB Dhammavaddhana BINUS University, kita diajak untuk menemukan kedamaian tersebut.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/06/16/menemukan-kedamaian-waisak-bersama-kmb-dhammavaddhana-binus/">Menemukan Kedamaian Waisak bersama KMB Dhammavaddhana BINUS</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/06/16/menemukan-kedamaian-waisak-bersama-kmb-dhammavaddhana-binus/">Menemukan Kedamaian Waisak bersama KMB Dhammavaddhana BINUS</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Mengusung Tema “<em>Beyond The Inner Peace”</em>, Keluarga Mahasiswa Buddhis (KMB) Dhammavaddhana Universitas Bina Nusantara menggelar perayaan Waisak di Auditorium Binus University, Jakarta, pada 11 Juni 2023. Dalam acara ini, para peserta diajak untuk menemukan kedamaian dari dalam diri melalui Dhammatalk bersama biksu dari tiga tradisi, permainan interaktif, dan pertunjukan teater.</p>



<p>Sebanyak kurang lebih 70 peserta dari berbagai kalangan memenuhi auditorium Binus University. Acara dimulai dengan sambutan ketua panitia dan puja bakti untuk memperingati Waisak 2567 BE. Kemudian, acara dilanjutkan dengan Dhammatalk “<em>Finding Your Own Inner Peace</em>” dengan pembicara Y.M. Bhikkhu Ratanadhiro dari Sangha Theravada Indonesia, Y.M. Biksu Tenzin Konchog dari Sangha Vajrayana Indonesia, dan Y.M. Suhu Zhuan Xiu dari Sangha Mahayana Indonesia.&nbsp;</p>



<p>Kedamaian menurut Suhu Zhuan Xiu adalah ketika kita menjadi “kaya” dalam artian mempunyai kemampuan. Saat kita dihadapkan dengan penderitaan, apakah kita memiliki kemampuan untuk menyikapi penderitaan tersebut? Jika ada, berarti kita termasuk “kaya” dan dapat menemukan kedamaian.&nbsp;</p>



<p>Berikutnya, Y.M. Tenzin Konchog menjelaskan bahwa kedamaian mempunyai peranan penting dalam menentukan tujuan hidup. Sebelum akan menjadi atau mencapai apapun, terlebih dahulu kita harus berdamai dengan diri dan ego kita. Jika tidak, kita akan banyak melakukan hal yang sia-sia hanya untuk menambal tangki kebahagiaan kita yang tidak penuh, serta kita akan selalu menuntut orang lain untuk memenuhi harapan dan ekspektasi kita<br>Sebagai umat Buddha, sebagian orang hanya tahu cara melatih batin untuk mencapai kedamaian adalah dengan duduk diam bermeditasi. Y.M. Bhikkhu Ratanadhiro memberikan sudut pandang lain, “Meditasi harus duduk diam tidak bergerak di bawah pohon tujuh hari, itu yang membuat orang takut. Padahal meditasi itu sangat sederhana, kita bisa lakukan di mana saja. Pada saat ini sedang duduk, kita sadar bahwa kita sedang duduk itu salah satu kunci menemukan <em>peace</em>. Saat ini saya sedang apa? seringlah merenungkan kalimat ini dan ini berlaku untuk siapa saja bukan hanya umat Buddha atau anggota <em>sangha</em>. <em>Peace</em> selalu disimbolkan dengan tangan seperti huruf V, <em>victory </em>yang artinya menang melawan diri sendiri.”</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/06/16/menemukan-kedamaian-waisak-bersama-kmb-dhammavaddhana-binus/">Menemukan Kedamaian Waisak bersama KMB Dhammavaddhana BINUS</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/06/16/menemukan-kedamaian-waisak-bersama-kmb-dhammavaddhana-binus/">Menemukan Kedamaian Waisak bersama KMB Dhammavaddhana BINUS</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Buddhis Kirim Peluk Jauh untuk Timnas Sepak Bola Indonesia</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/03/31/peluk-untuk-timnas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[volunteer lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Mar 2023 12:04:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[timnas indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[timnasu20]]></category>
		<category><![CDATA[u20]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=8039</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/03/31/peluk-untuk-timnas/">Buddhis Kirim Peluk Jauh untuk Timnas Sepak Bola Indonesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/volunteer/">volunteer lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="819" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30-819x1024.png" alt="" class="wp-image-8040" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30-819x1024.png 819w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30-768x960.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30-150x188.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30-450x563.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30-600x750.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8041" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8042" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8043" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8044" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/03/31/peluk-untuk-timnas/">Buddhis Kirim Peluk Jauh untuk Timnas Sepak Bola Indonesia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/03/31/peluk-untuk-timnas/">Buddhis Kirim Peluk Jauh untuk Timnas Sepak Bola Indonesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/volunteer/">volunteer lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Analisis Klesha di Balik Film &#8220;The Glory&#8221;</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/03/20/klesha-the-glory/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[volunteer lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Mar 2023 07:02:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[the glory]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7978</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Film “The Glory” mungkin bukan kisah nyata, tapi bullying di sekolah juga bukan hanya terjadi di drama Korea. Data yang dirangkum dalam pos-pos sebelumnya telah menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia juga terancam oleh fenomena bullying. Menyelami tokoh-tokoh dalam film ini bisa menjadi cara untuk bercermin sekaligus berempati. Memahami kondisi batin dan faktor mental pelaku, korban, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/03/20/klesha-the-glory/">Analisis Klesha di Balik Film “The Glory”</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/03/20/klesha-the-glory/">Analisis Klesha di Balik Film &#8220;The Glory&#8221;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/volunteer/">volunteer lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Film “The Glory” mungkin bukan kisah nyata, tapi bullying di sekolah juga bukan hanya terjadi di drama Korea. Data yang dirangkum dalam pos-pos sebelumnya telah menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia juga terancam oleh fenomena bullying. Menyelami tokoh-tokoh dalam film ini bisa menjadi cara untuk bercermin sekaligus berempati.</p>



<p>Memahami kondisi batin dan faktor mental pelaku, korban, maupun pengamat adalah langkah penting untuk mencegah atau menyikapi bullying. Pemahaman <a></a>ini adalah kunci untuk menyadari apa yang terjadi di dalam batin dan segera menerapkan penawarnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="819" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-13-819x1024.png" alt="" class="wp-image-7979" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-13-819x1024.png 819w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-13-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-13-768x960.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-13-150x188.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-13-450x563.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-13-600x750.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-13.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="819" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-14-819x1024.png" alt="" class="wp-image-7980" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-14-819x1024.png 819w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-14-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-14-768x960.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-14-150x188.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-14-450x563.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-14-600x750.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-14.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="819" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-15-819x1024.png" alt="" class="wp-image-7981" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-15-819x1024.png 819w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-15-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-15-768x960.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-15-150x188.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-15-450x563.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-15-600x750.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-15.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="819" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-16-819x1024.png" alt="" class="wp-image-7982" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-16-819x1024.png 819w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-16-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-16-768x960.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-16-150x188.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-16-450x563.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-16-600x750.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-16.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="819" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-17-819x1024.png" alt="" class="wp-image-7983" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-17-819x1024.png 819w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-17-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-17-768x960.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-17-150x188.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-17-450x563.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-17-600x750.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-17.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="819" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-18-819x1024.png" alt="" class="wp-image-7984" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-18-819x1024.png 819w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-18-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-18-768x960.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-18-150x188.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-18-450x563.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-18-600x750.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-18.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/03/20/klesha-the-glory/">Analisis Klesha di Balik Film “The Glory”</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/03/20/klesha-the-glory/">Analisis Klesha di Balik Film &#8220;The Glory&#8221;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/volunteer/">volunteer lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>23 Buku Dharma Sudah Bisa Dibaca di Scribd</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/03/17/buku-dharma-scribd/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Mar 2023 01:47:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[buku dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7925</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Baca buku Dharma makin mudah &#38; makin banyak pilihan! telah tersedia 23 buku Dharma tanpa dipungut biaya di scribd, situs perpustakaan online berisi banyak e-book hingga arsip unduhan yang dibagikan oleh pengguna. Pas lagi nunggu antrean atau bosen pas lagi di perjalanan, bisa banget nih baca buku dharma lewat Scribd. waktumu bisa dimanfaatkan untuk menutrisi [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/03/17/buku-dharma-scribd/">23 Buku Dharma Sudah Bisa Dibaca di Scribd</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/03/17/buku-dharma-scribd/">23 Buku Dharma Sudah Bisa Dibaca di Scribd</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Baca buku Dharma makin mudah &amp; makin banyak pilihan! telah tersedia 23 buku Dharma tanpa dipungut biaya di scribd, situs perpustakaan online berisi banyak e-book hingga arsip unduhan yang dibagikan oleh pengguna.</p>



<p>Pas lagi nunggu antrean atau bosen pas lagi di perjalanan, bisa banget nih baca buku dharma lewat Scribd. waktumu bisa dimanfaatkan untuk menutrisi hati dan pikiran. jadi nggak ada lagi tuh istilah waktu terbuang sia-sia~</p>



<p>Semoga dengan kemudahan ini, Dharma dapat <a></a>menjangkau dan menginspirasi lebih banyak orang. Yuk share informasi ini! Semakin banyak kamu share, semakin besar kebajikanmu karena telah memberikan banyak kemudahan bagi orang lain. <img loading="lazy" height="16" width="16" alt="❤" src="https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/tf3/1.5/16/2764.png"></p>



<p>&#8212;</p>



<p>Setiap bulannya, Lamrimnesia bakal membawakan kabar baik seputar Buddhadharma untuk Sahabat semua! <br>Bagi sahabat yang mau mendukung upaya-upaya ini, yuk gabung jadi Dharma Patron Lamrimnesia~<br>Daftarkan dirimu di Lamrimnesia Care +6285 2112 2014 1</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-1024x1024.jpg" alt="23 Buku Dharma sudah bisa dibaca tanpa dipungut biaya di SCRIBD." class="wp-image-7927" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-1024x1024.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-1024x1024.jpg" alt="" class="wp-image-7928" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-1024x1024.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-1024x1024.jpg" alt="" class="wp-image-7929" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-1024x1024.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/03/17/buku-dharma-scribd/">23 Buku Dharma Sudah Bisa Dibaca di Scribd</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/03/17/buku-dharma-scribd/">23 Buku Dharma Sudah Bisa Dibaca di Scribd</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita: Karma Ada di Tangan Kita</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/01/07/100-tahun-pembebasan-di-tangan-kita-karma-ada-di-tangan-kita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Jan 2022 03:46:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6687</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam rangka memperingati 100 Tahun Kitab Pembebasan di Tangan Kita, Sahabat Lamrimnesia berkumpul secara virtual untuk buka-bukaan soal karma dan kelahiran manusia yang berharga. Apa saja isinya?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/07/100-tahun-pembebasan-di-tangan-kita-karma-ada-di-tangan-kita/">100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita: Karma Ada di Tangan Kita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/07/100-tahun-pembebasan-di-tangan-kita-karma-ada-di-tangan-kita/">100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita: Karma Ada di Tangan Kita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bagaimana karma bekerja? Apa makna hidup saya sebagai manusia? Dua topik itu dibahas dalam diskusi Dharma di hari pertama perayaan 100 Tahun Kitab “Pembebasan di Tangan Kita” yang diselenggarakan Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN) tanggal 25 Desember 2021 lalu. Kegiatan hari itu dimulai dengan sesi pembacaan buku bersama melalui aplikasi Zoom sejak pagi hingga sore pada 25 Desember. Pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama Stanley Khu, kepala editor YPPLN, dan dimoderatori oleh Yushua Adi Putra dari Lamrimnesia.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>Diskusi dibuka dengan pertanyaan, “Ketika kita sudah tahu tentang hukum karma dan akibatnya, ketika sebuah perbuatan buruk dilakukan apakah hasilnya semakin berat?”</p></blockquote>



<p>Stanley lalu menjelaskan bahwa karma adalah sebuah hukum yang sifatnya impersonal. Ketika kamu berbuat maka kamu menerimanya. Hukum karma akan tetap berjalan dan tak pandang bulu. Karena itu, lebih baik kita tahu konsep kerja hukum karma. Pemahaman tentang hukum karma akan membuat kita memiliki perasaan menyesal ketika melakukan perbuatan buruk. Perasaan menyesal inilah yang akan menjadi penawar dari karma buruk. Sedangkan kalau tidak tahu tentang hukum karma, tidak tahu apa yang baik dan apa yang buruk, bisa jadi kita memelihara pandangan salah yang membuat karma buruk kita semakin berlipat ganda.</p>



<p>Berkaitan dengan salah satu sifat karma yang dijelaskan dalam “Pembebasan di Tangan Kita”, yaitu karma yang diperbuat tidak akan hilang begitu saja, ada pertanyaan tentang ada atau tidak konsep “ahosi karma” (karma yang tidak bisa berbuah). Menjawab ini, Stanley menuturkan bahwa konsep ini merujuk pada keadaan Buddha yang karmanya tak berbuah lagi karena telah berhasil menyingkirkan semua klesha. Sebagai manusia biasa yang masih memiliki banyak klesha, setiap karma yang sudah kita lakukan pasti akan berbuah, tapi kita bisa melemahkan karma tersebut dengan praktik purifikasi.</p>



<p><em>Bagaimana klesha bikin karma pasti berbuah? Baca di </em><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Pratityasamutpada?id=g7CWDwAAQBAJ"><em>sini</em></a><em>.</em></p>



<p>Kelahiran kita sebagai manusia juga tidak lepas dari campur tangan karma. Salah satu peserta menanyakan cara terlahir sebagai manusia dengan <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/26/kamu-manusia-apa-kamu-punya-8-permata-ini/">8 kebebasan</a> dan <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/04/kamu-manusia-cek-keberuntunganmu-di-sini/">10 keberuntungan</a> yang dibutuhkan untuk mempraktikkan Dharma. Sebelum memberikan jawaban langsung, Stanley mengajak peserta untuk memastikan apakah kita benar-benar menginginkan hal tersebut. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah kita puas dengan kehidupan yang dipenuhi oleh dukkha? Dukkha yang dimaksud bukan sekadar penderitaan karena mengalami hal-hal yang tidak kita sukai, tapi juga termasuk kondisi tidak bisa puas yang akan terus kita alami tidak peduli di alam mana kita terlahir.&nbsp;</p>



<p>Jika kita tidak mau terus-terusan mengalami dukkha ini, kita akan tergerak untuk mempelajari ajaran Buddha dan berusaha mempertahankan bentuk kehidupan yang memungkinkan kita untuk mempraktikkannya, yaitu kehidupan sebagai manusia dengan 8 kebebasan dan 10 keberuntungan tadi.</p>



<p>Pembahasan pun berlanjut mengenai kelahiran di alam rendah. Jika kita sudah terlahir di alam rendah, akan sangat sulit untuk kembali terlahir di alam yang lebih tinggi. Kalaupun bisa, kita akan membawa sifat-sifat dari kelahiran sebelumnya. Misalnya jika kita sebelumnya hidup sebagai hewan, lalu berhasil lahir kembali menjadi manusia, kita akan jadi manusia yang berperilaku seperti hewan, tidak bisa mengendalikan diri dan sulit berpikir mandiri. Agar itu tidak sampai terjadi, mumpung kita masih hidup sebagai manusia, kita harus melatih Sila atau disiplin moral dan melatih kebijaksanaan dengan membiasakan diri untuk berpikir sehingga tidak jatuh ke alam rendah di kehidupan berikutnya.</p>



<p>Diskusi ditutup oleh moderator dengan kesimpulan dari berbagai poin yang telah dibahas. Yushua menggarisbawahi pentingnya mengenal diri sendiri, memahami kondisi kita saat ini, dan mengendalikan cara merespon buah karma yang kita alami untuk memastikan kebahagiaan di kehidupan mendatang</p>



<p>&#8212;</p>



<p>Penulis: Martino Liem</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/07/100-tahun-pembebasan-di-tangan-kita-karma-ada-di-tangan-kita/">100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita: Karma Ada di Tangan Kita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/07/100-tahun-pembebasan-di-tangan-kita-karma-ada-di-tangan-kita/">100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita: Karma Ada di Tangan Kita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengupas Kontroversi dalam Buddhisme di Perayaan 100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/01/04/mengupas-kontroversi-dalam-buddhisme-di-perayaan-100-tahun-pembebasan-di-tangan-kita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Jan 2022 07:25:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6681</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Apakah Buddha masih ada di dunia? Kenapa ada banyak aliran dalam Buddhisme? Y.M. Biksu Tenzin Konchog mengupas berbagai kontroversi dalam Buddhisme dengan merujuk kitab Lamrim “Pembebasan di Tangan Kita”.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/04/mengupas-kontroversi-dalam-buddhisme-di-perayaan-100-tahun-pembebasan-di-tangan-kita/">Mengupas Kontroversi dalam Buddhisme di Perayaan 100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/04/mengupas-kontroversi-dalam-buddhisme-di-perayaan-100-tahun-pembebasan-di-tangan-kita/">Mengupas Kontroversi dalam Buddhisme di Perayaan 100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Minggu, 26 Desember 2021 – Yang Mulia Biksu Tenzin Konchog membahas berbagai kontroversi dalam Buddhisme dalam acara daring “Debunking Myth About Buddhism”. Pembahasan dilakukan dengan merujuk pada kitab “Pembebasan di Tangan Kita” karya Phabongkha Rinpoche.&nbsp;</p>



<p>Acara ini merupakan bagian dari Perayaan 100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim (YPPLN/Lamrimnesia). Perayaan ini berlangsung selama dua hari, 25-26 Desember 2021, via Zoom dan diikuti oleh 170 peserta. Hari pertama diisi dengan membaca bersama kitab “Pembebasan di Tangan Kita” bagian karma dan kelahiran sebagai manusia yang berharga serta diskusi mengenai kedua topik tersebut. Gelar wicara “Debunking Myth About Buddhism” diselenggarakan di hari kedua.</p>



<h4><strong>Pembebasan di Tangan Kita</strong></h4>



<p>Kitab “Pembebasan di Tangan Kita” sendiri merupakan pemaparan Tahapan Jalan Menuju Pencerahan atau Lamrim, sebuah metode mempelajari Dharma yang mencakup ketiga kendaraan (Theravada, Mahayana, dan Vajrayana) Buddhis sebagai sebuah kesinambungan. Lamrim juga berkaitan erat dengan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti, mahaguru Dharma yang hidup di Nusantara pada abad X.</p>



<h4><strong>Apakah Buddha masih ada? Bukannya sudah Parinirwana?</strong></h4>



<p>“Buddha pasti masih ada,” tutur Y.M. Tenzin Konchog di awal gelar wicara untuk menjawab pertanyaan peserta tentang keberadaan Buddha. Hingga saat ini, ketiga aliran besar agama Buddha masih mempraktikkan Tisarana, dimana salah satu dari tiga objeknya adalah Buddha. Dengan kata lain, hal itu menunjukkan bahwa Buddha masih ada. Jika Buddha tak lagi ada sejak Beliau parinirwana 2500 tahun lalu, tentu praktiknya bukan “Tisarana”, tapi “Dwisarana”.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Meskipun kita melihat atau tidak melihat sesuatu, belum tentu itu benar atau tidak benar,” terang Y.M. Tenzin Konchog, “Karena manusia punya keterbatasan mempersepsikan sesuatu.”</p></blockquote>



<h4><strong>Memahami ragam aliran dalam Buddhisme</strong></h4>



<p>Selanjutnya, Y.M. Tenzin Konchog menjawab pertanyaan seputar aliran dalam agama Buddha. Adanya aliran tersebut sebenarnya menjadi indikasi bahwa ajaran Buddha masih dipraktikkan dan kian berkembang.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Manusia memiliki banyak aspirasi sehingga berkembang juga berbagai cara dan pendekatan untuk menolong semua makhluk,” pungkas Beliau.</p></blockquote>



<p>Lebih lanjut, Y.M. Tenzin Konchog juga mengingatkan bahwa kita perlu memahami Buddhadharma secara lengkap dan menyeluruh agar tidak terpeleset mengkotak-kotakkan beragam aspirasi dalam Buddhisme menjadi sekte terpisah, lalu dibanding-bandingkan. Misalnya aspirasi Theravada yang bertujuan untuk meraih pembebasan pribadi dan berfokus pada penolakan samsara dengan aspirasi Mahayana yang bertujuan membebaskan semua makhluk. Lantas ada yang bilang membebaskan diri sendiri itu egois. Itu bukan cara pandang yang tepat.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Padahal untuk memasuki Mahayana, perlu membangkitkan Bodhicitta. Kita tidak mungkin membangkitkan Bodhicitta tanpa penolakan samsara,” terang Y.M. Tenzin Konchog.</p></blockquote>



<h4><strong>Kembali ke tujuan beragama</strong></h4>



<p>Biksu yang telah mempelajari Lamrim selama 17 tahun ini menekankan bahwa alih-alih mempertanyakan aliran mana yang paling baik dan harus dipilih, seseorang yang serius ingin mempraktikkan Buddhadharma haruslah berangkat dari masalah apa yang mereka alami dan menerapkan penawar untuk masalah tersebut.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Beragama itu bukan untuk menyembah-nyembah Biksu, Buddha, atau Tuhan. Beragama itu untuk mengatasi penderitaan dan menjadi bahagia,” lanjut Y.M. Tenzin Konchog.</p></blockquote>



<h4><strong>Pentingnya proses</strong></h4>



<p>Masuk ke pertanyaan berikutnya, peserta bertanya: lebih efektif mana, berdana untuk orang yang membutuhkan dan berdana untuk persembahan kepada Buddha?</p>



<p>Menanggapi hal itu, Y.M. Tenzin Konchog menegaskan bahwa praktik Dharma tidak bergantung pada penampakan luar. Tidak perlu memperdebatkan tentang apa dan untuk siapa karena hasil dari sebuah praktik bergantung apda prosesnya. Apabila tangan memberi kepada yang membutuhkan, tetapi batinnya mencemooh atau memandang rendah, hal itu bukanlah bentuk kemurahan hati.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Jadi harus jujur, kepada siapa kamu bisa bermurah hati?” ungkap anggota Sangha Vajrayana SAGIN tersebut.</p></blockquote>



<p>Selanjutnya, kurang lengkap apabila diskusi Buddhisme tidak membahas karma. Masyarakat kerap melekatkan konsep karma dengan ajaran Buddha. “Karma itu hukum, bukan takdir,” tutur Y.M. Tenzin Konchog.</p>



<h4><strong>Karma bukan takdir</strong></h4>



<p>Beliau menyarankan untuk terus merenungkan karma, baik dalam keadaan bahagia maupun menderita. Terkadang, kebahagiaan membuat seseorang terlena, lalu lupa bahwa kebahagiaan itu didapat dari himpunan karma di masa lampau. Akibatnya, kebahagiaan itu memicu timbulnya keangkuhan.</p>



<p>Karena karma bukan takdir yang permanen, seseorang tidak seharusnya pasrah begitu saja terhadap masalah yang menimpa. Sikap yang harus dilatih adalah tidak menyerah dan berusaha mengemban tanggung jawab atas akibat dari perbuatan yang telah dilakukan. Inilah yang dapat menjadi basis perkembangan spiritual berikutnya.</p>



<p>Di akhir sesi, Y.M. Tenzin Konchog berpesan kepada seluruh peserta untuk mempelajari Dharma secara lengkap dan bertahap agar tidak terjebak dalam mitos Buddhisme ataupun pandangan salah. Dengan demikian, barulah Dharma bisa bermanfaat bagi batin diri sendiri dan semua makhluk.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Butuh banyak belajar untuk membantu banyak orang,” tutup Beliau.</p></blockquote>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Penulis: Devi Riani Atika Sari</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/04/mengupas-kontroversi-dalam-buddhisme-di-perayaan-100-tahun-pembebasan-di-tangan-kita/">Mengupas Kontroversi dalam Buddhisme di Perayaan 100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/04/mengupas-kontroversi-dalam-buddhisme-di-perayaan-100-tahun-pembebasan-di-tangan-kita/">Mengupas Kontroversi dalam Buddhisme di Perayaan 100 Tahun Pembebasan di Tangan Kita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>NDBF 3.0 &#8211; Sehatkan Mental dengan Psikologi Buddhis</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/08/27/ndbf-3-0-sehatkan-mental-dengan-psikologi-buddhis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2021 11:45:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[abhidhamma]]></category>
		<category><![CDATA[batin dan faktor mental]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6217</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Pemahaman batin dan faktor mental dari Abhidhamma yang diajarkan Sang Buddha dapat membantu kita mengatasi berbagai permasalahan mental dan menangkal sifat buruk.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/27/ndbf-3-0-sehatkan-mental-dengan-psikologi-buddhis/">NDBF 3.0 – Sehatkan Mental dengan Psikologi Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/27/ndbf-3-0-sehatkan-mental-dengan-psikologi-buddhis/">NDBF 3.0 &#8211; Sehatkan Mental dengan Psikologi Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ternyata sifat negatif yang kita miliki bukan bagian yang melekat dengan diri kita. Itulah kunci menjaga kesehatan mental yang disampaikan oleh Dharmaduta &amp; aktivis pendidikan Hendra Wijaya di bincang-bincang <em>online </em>“Mental Bajik dan Tak Bajik &#8211; Ada Hubungannya Loh dengan Kesehatan Mental” dalam Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 3.0 tanggal 20 Agustus 2021 lalu.</p>



<h4><strong>Batin &amp; Faktor Mental: Penjelasan dari “Sucikan Hati &amp; Pikiran”</strong></h4>



<p>Kak Hendra memulai acara dengan mengutip bait terkenal dari Buddha Shakyamuni yang berbunyi:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Hindari perbuatan buruk,<br>perbanyak perbuatan bajik,<br>sucikan hati dan pikiran,<br>inilah ajaran para Buddha.”</p></blockquote>



<p>Kak Hendra menjelaskan bahwa meski dua baris pertama terdengar sederhana, praktiknya kadang tidak semudah itu. Maka dari itu, ada baris ketiga tentang menyucikan hati dan pikiran. Ini memang lebih sulit karena berurusan dengan hal nggak kelihatan, tapi Sang Buddha sudah mengajarkan caranya!</p>



<p>Cara kerja pikiran yang diajarkan Sang Buddha dan dijelaskan oleh Kak Hendra dalam acara ini bisa ditemukan dalam Abhidhamma. Pikiran kita terdiri atas batin utama (cita) yang bersifat netral dan 51 jenis faktor mental (cetasika) yang menyertainya. Ketika indra kita menangkap sesuatu, batin utama kita akan mengenalinya sementara faktor mental kita akan “mengomentari” hal itu sehingga kita bisa merasa senang, tidak senang, atau terdorong untuk melakukan tindakan.</p>



<h4><strong>Jenis-Jenis Faktor Mental</strong></h4>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="576" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-27-at-18.24.00-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-6218" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-27-at-18.24.00-1024x576.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-27-at-18.24.00-600x338.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-27-at-18.24.00-300x169.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-27-at-18.24.00-768x432.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-27-at-18.24.00-150x84.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-27-at-18.24.00-450x253.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-27-at-18.24.00-1200x675.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-27-at-18.24.00.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure></div>



<p>Kak Hendra kemudian menunjukkan berbagai pengelompokan faktor mental. Di antara beberapa kategori ini, yang menjadi perhatian khusus adalah faktor mental tak bajik dan faktor mental bajik. Emosi negatif yang biasa membuat kita menderita seperti kemarahan, kebencian, keragu-raguan, dan kesombongan termasuk dalam faktor mental tidak bajik yang juga dikenal dengan sebutan “klesha”.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Semakin kita mengenali faktor mental ini secara detil, kita bisa mengaplikasikan obat penawarnya,” terang Kak Hendra.</p></blockquote>



<p>Setelah itu, Kak Hendra juga menjelaskan sekilas tentang 11 faktor mental bajik; beberapa contohnya adalah keyakinan, menghargai diri sendiri, dan mempertimbangkan orang lain. Kak Hendra menekankan bahwa semua orang memiliki seluruh faktor mental ini. Jadi, pembunuh paling kejam sekalipun sebenarnya memiliki faktor mental bajik, hanya saja kalah kuat dengan faktor mental tak bajik yang mendorongnya melakukan pembunuhan seperti kebencian atau ketidaktahuan bahwa membunuh bisa mendatangkan penderitaan. Ketika kita memahami klesha apa saja yang dominan dalam diri kita, kita bisa belajar untuk mengatasinya dan berusaha membuat faktor mental bajik jadi lebih mendominasi sehingga kita lebih sehat secara mental.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Tujuan mempelajari faktor mental adalah agar kita tahu bahwa kita punya senjata untuk membalikkan kondisi tidak menyenangkan menjadi kondisi menyenangkan,” kata Kak Hendra.</p></blockquote>



<h4><strong>Fondasi Kebajikan, Fondasi Mental yang Sehat</strong></h4>



<p>Kak Hendra juga menjelaskan 3 hal yang menjadi fondasi untuk mengembangkan faktor mental bajik, yaitu keyakinan, aspirasi, dan <em>wirya </em>atau semangat. Keyakinan yang dimaksud di sini adalah keyakinan bahwa Triratna bisa melindungi kita, bahwa karma itu pasti sehingga perbuatan baik pasti membuahkan hasil yang baik. Dari situ, kita baru bisa punya keinginan untuk berhenti berbuat jahat dan melakukan lebih banyak kebaikan. Di sini, kita perlu membangkitkan aspirasi.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kalau tidak punya aspirasi, kita tidak akan mencapai apa-apa. Kalau punya aspirasi, pasti tercapai, waktunya saja yang belum tahu, tergantung pada usaha kita.”</p></blockquote>



<p>Kak Hendra menambahkan bahwa umat Buddha di Indonesia kurang diajarkan tentang membuat aspirasi ini. Sebagai umat Buddha, kita seharusnya bisa membangkitkan aspirasi untuk mencapai Kebuddhaan demi menolong semua makhluk. Jika belum ingin sampai ke sana, kita bisa beraspirasi untuk bebas dari samsara. Jika masih terlalu jauh juga, setidak-tidaknya kita punya aspirasi meraih kehidupan mendatang yang bahagia.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kehidupan kita sekarang kebanyakan sudah ditentukan oleh karma pelempar kita dari masa lampau. Makanya sekarang kita persiapkan kehidupan yang akan datang dengan lebih bahagia.”</p></blockquote>



<p>Kak Hendra kemudian mengaitkan hal ini dengan kejenuhan yang dirasakan banyak orang selama pandemi. Kita yang masih cukup beruntung untuk bisa tinggal diam di rumah kadang masih saja merasa bosan dan resah karena tidak bisa keluar rumah, tidak bisa bertemu dengan teman-teman, atau tidak bisa jalan-jalan. Kebosanan itu bisa ada karena kurangnya aspirasi bajik dan semangat untuk mewujudkan aspirasi itu. Padahal kalau kita punya aspirasi ini, kita pasti dengan mudah menemukan cara melakukan lebih banyak kebajikan dari rumah, misalnya belajar Dharma lewat buku atau siaran, membaca dan menghafalkan Sutta, hingga ikut kebaktian wihara <em>online.</em></p>



<p><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/"><em>Baca buku ini untuk mendapatkan panduan lengkap mempelajari batin &amp; faktor mental dan praktik Buddhis lainnya!</em></a></p>



<h4><strong>Jangan Takut Pamrih</strong></h4>



<p>Salah satu peserta menanyakan cara membedakan “aspirasi” dengan “pamrih” dalam berbuat bajik. Kak Hendra menjelaskan bahwa jangan sampai keinginan kita untuk melakukan kebajikan yang “sempurna” malah membuat kita batal melakukan kebajikan itu. Kenyataannya memang konsep hadiah &amp; hukuman sebagai motivasi melakukan sesuatu sudah tertanam dalam diri kita sejak kecil, misalnya kita diiming-imingi mainan agar mendapatkan nilai bagus disekolah. Saat kita baru mulai berlatih melakukan kebajikan, tidak apa-apa mulai dengan rasa pamrih asal kita ingat untuk mengalihkan fokus kita pada aspirasi yang lebih penting seperti pencapaian Kebuddhaan demi semua makhluk. Dari situ, semakin sering kita latih, rasa pamrih akan berkurang hingga hilang sepenuhnya.</p>



<p>Kembali ke perihal kesehatan mental, Kak Hendra menyebutkan serangkaian aktivitas yang bisa kita lakukan untuk melatih diri kita. Caranya adalah mulai dari belajar untuk mengatasi ketidaktahuan kita, melakukan analisis dan diskusi, merenung, bermeditasi, kemudian berbagi.</p>



<h4><strong>Trauma dan Sifat Buruk Bisa Diatasi</strong></h4>



<p>Dalam kasus yang lebih berat seperti <em>post-traumatic disorder syndrome </em>(PTSD) yang ditanyakan oleh salah satu peserta, Kak Hendra menjelaskan bahwa kita bisa menggabungkan pemahaman tentang faktor mental dari sudut pandang Buddhis dengan dukungan psikiater atau psikolog klinis untuk menganalisis sebab dari trauma tersebut.&nbsp;</p>



<p>Seringkali sebab trauma yang dialami bukan dari perlakuan yang diterima seperti pukulan atau cacian, melainkan perasaan yang menyertai dalam kejadian itu, misalnya rasa tidak dicintai atau tidak diinginkan. Perasaan-perasaan itu berkaitan erat dengan faktor mental dan bukan hal yang menyatu dengan diri seseorang, ibarat pakaian yang bisa dilepas. Dengan memahami sebab trauma kita dan faktor-faktor mental yang bekerja sehubungan dengan trauma itu, kita pun akan tahu cara melepaskannya.</p>



<p>Contoh lain yang lebih sederhana adalah saat kita merasa diri kita pemarah. Kenyataanya kita tidak marah-marah terus selama 24 jam. Kita baru marah ketika ada sesuatu yang memicu. Kemarahan, sama seperti faktor mental tak bajik lainnya, bisa dipelajari, dicari sebabnya, dan diatasi dengan penawarnya. Begitu pula faktor mental bajik bisa dilatih sehingga makin dominan dan kita makin bahagia.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kita bisa memperoleh ketenangan setelah mempelajari batin dan faktor mental karena kita tahu bahwa segala hal buruk itu tidak menyatu dengan diri kita. Itu semua bisa diatasi,” demikian pesan penutup dari Kak Hendra.</p></blockquote>



<p>&#8212;</p>



<p>NDBF <em>Talk: </em>“Mental Bajik dan Tak Bajik &#8211; Ada Hubungannya Loh dengan Kesehatan Mental” bisa disaksikan di <a href="https://ndbf.lamrimnesia.com/ndbf-talk-seminar-online-mental-bajik-dan-tidak-bajik-ada-hubungannya-loh-dengan-kesehatan-mental/">sini</a>.</p>



<p>Ikuti juga bazar buku &amp; rangkaian acara NDBF 3.0 di ndbf.lamrimnesia.com</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/27/ndbf-3-0-sehatkan-mental-dengan-psikologi-buddhis/">NDBF 3.0 – Sehatkan Mental dengan Psikologi Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/27/ndbf-3-0-sehatkan-mental-dengan-psikologi-buddhis/">NDBF 3.0 &#8211; Sehatkan Mental dengan Psikologi Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dialog Dalai Lama Bersama Siswa-Siswi Indonesia</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dialog-dalai-lama-bersama-siswa-siswi-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2021 08:57:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[NDBF 3.0]]></category>
		<category><![CDATA[Nusantara Dharma Book Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Serlingpa Dharmakirti]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6177</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Rangkuman dialog Y.M.S. Dalai Lama XIV dengan 1000 pelajar Indonesia di Grand Buddha Goes to School, Nusantara Dharma Book Festival 3.0</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dialog-dalai-lama-bersama-siswa-siswi-indonesia/">Dialog Dalai Lama Bersama Siswa-Siswi Indonesia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dialog-dalai-lama-bersama-siswa-siswi-indonesia/">Dialog Dalai Lama Bersama Siswa-Siswi Indonesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Thekchen Chöling, Dharamsala, HP, India &#8211; Pagi ini, Dewi Lestari, seorang penulis dan penyanyi Indonesia, menyambut Yang Maha Suci Dalai Lama XIV untuk berbincang dengan lebih dari 1000 pelajar Indonesia. Tema dialog ini adalah Kisah Jataka atau kisah-kisah kehidupan-kehidupan lampau Sang Buddha, yang tercatat dalam buku “Jataka Mala”, atau “Untaian Kisah Kelahiran”, yang diukirkan di Candi Borobudur. Acara ini adalah pembuka rangkaian Nusantara Dharma Book Festival yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN) bekerja sama dengan komunitas Kadam Choeling Indonesia.</p>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV memulai acara dengan mengucapkan terima kasih kepada seorang aktor Indonesia yang telah membuat persembahan mandala tradisional dan mengucapkan “selamat pagi” kepada para pendengar.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/sehC6hf9kWcMpoUng6ZWXoOXUCgVW6x_xzhVvMxhgfwtBdeIs5xIYPhp_qwBBR7YW1tuuj8tgFi-AP721Xe4uuYy9YW8oDPALLX9RRSB8Hnlw_iMUWc5__pVCFgHlz0kvKfFONiu" alt=""/></figure>



<p>Aktor Indonesia Morgan Oey membuat persembahan mandala tradisional di awal dialog daring Yang Maha Suci Dalai Lama XIV dengan siswa-siswi Indonesia dari kediaman Beliau di Dharamsala, HP, India pada 11 Agustus 2021. Foto oleh Y.M. Tenzin Jamphel</p>



<h4><strong>Agama dan Cinta Kasih Universal</strong></h4>



<p>“Hari ini,” lanjutnya, “Saya menantikan diskusi dengan pemuda-pemudi Indonesia, yang beberapa di antaranya memiliki minat pada agama Buddha. Saya seorang praktisi Buddhis, dan salah satu komitmen saya adalah mempromosikan kerukunan antar umat beragama. Semua tradisi agama kita yang berbeda, entah kita berbicara mengenai agama Hindu, Kristen, Yahudi, Islam, atau Buddha, membawa pesan umum tentang pentingnya cinta kasih. Mereka masing-masing menggunakan pandangan filosofis yang berbeda untuk memperkuat rasa altruisme, kepedulian terhadap orang lain. Beberapa kepercayaan menyatakan adanya Tuhan, sementara yang lainnya fokus pada hukum kausalitas. Tujuan sebenarnya dari semua agama tersebut adalah untuk membantu pengikut mereka menjadi orang yang lebih baik dan lebih berwelas asih.</p>



<p>“Berkenaan dengan Tuhan pencipta, agama Kristen menggambarkannya sebagai makhluk dengan cinta yang tak terbatas. Agama Islam berbicara tentang Tuhan yang pengasih dan penyayang. Yahudi mengacu pada Tuhan yang adil. Jainisme dan Buddhisme di sisi lain tidak memiliki konsep tentang Tuhan pencipta, tetapi keduanya tetap bertujuan untuk melatih manusia menjadi benar-benar welas asih.</p>



<p>“Di India tempat saya tinggal, ada semua agama besar dunia. Dan mereka telah hidup berdampingan secara harmonis selama lebih dari seribu tahun.</p>



<p>“Hari ini, saya senang bertemu saudara dan saudari dari negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Apakah kita menerima agama atau tidak adalah masalah pilihan diri kita pribadi. Kita semua adalah manusia. Kita memperoleh manfaat dari kasih sayang dan perhatian ibu kita dari sejak lahir. Tentu saja, tanpa kasih sayang dan cinta kasihnya, kita tidak akan bertahan.</p>



<p>“Dewasa ini, kita menghadapi masalah-masalah dan konflik-konflik karena kita tidak memiliki rasa persaudaraan yang sepatutnya. Kita mengabaikan nilai-nilai dasar kemanusiaan kita. Kita mencoba untuk menyelesaikan perselisihan dan perbedaan pendapat dengan menggunakan kekerasan. Namun, saya percaya bahwa sebagian besar manusia sudah muak dengan kekerasan dan perang. Konsekuensinya, umat beragama memiliki tanggung jawab untuk mempromosikan cinta kasih. Kita harus hidup bersama di planet ini, jadi kita harus berupaya untuk membuat dunia ini menjadi lebih damai.</p>



<h4><strong>Teladan Jataka Mala</strong></h4>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV mengakui adanya minat khusus beberapa orang Indonesia terhadap 34 kisah Jataka yang menceritakan kehidupan-kehidupan lampau Sang Buddha. Penulisnya, Aryashura, pada mulanya bukan seorang Buddhis, tetapi seorang terpelajar yang cerdas dari tradisi lain. Pada saat itu, para cendekiawan Universitas Nalanda merasa gelisah bahwa ia mungkin akan mengalahkan mereka dalam debat sehingga mereka meminta bantuan Arya Nagarjuna. Beliau mengirim salah satu muridnya yang paling terampil, Aryadewa, yang meyakinkan Aryashura mengenai validitas ajaran Buddha. Selanjutnya, di akhir hidupnya, Aryashura, yang juga seorang penyair terkenal, menggubah &#8216;Untaian Kisah Kelahiran&#8217; ini dengan merdu dalam bahasa Sansekerta.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/NeR6Big1DPjMMpoqTG9299asaSsaofKiXhv43WJEbGZTZLduLD9oyf-R0qz77xivQfs-MUxcWZUFaUCUb3WFsfsMKCbvjFfErSgpES8Jn178EQmfFKVHihQ-AlQyoJlAGa-KBr1J" alt=""/></figure>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV berbicara kepada hadirin virtual selama dialog daring dengan siswa-siswi Indonesia dari kediamannya di Dharamsala, HP, India pada 11 Agustus 2021. Foto oleh Y.M. Tenzin Jamphel</p>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV berkata bahwa kisah-kisah tersebut memang indah untuk dibaca, tetapi terkadang Beliau merasa cerita-cerita itu terlalu dibumbui. Poin penting yang perlu diperhatikan adalah moral cerita, yakni kesempurnaan, kedermawanan, etika, dan kesabaran yang dicontohkan oleh Bodhisatwa. Yang mendasari semua kisah tersebut adalah konsep India kuno tentang “karuna” dan “ahimsa”—welas asih dan tanpa-kekerasan. Tema-tema ini, tutur Beliau, umum untuk sebagian besar agama, tetapi terlepas dari kita mengikuti tradisi suatu agama atau tidak, kita semua harus memiliki hati yang hangat dan welas asih jika kita ingin bahagia.</p>



<p>Menjawab pertanyaan dari hadirin, Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menjelaskan bahwa mengorbankan hidup Anda demi orang lain, seperti yang dilakukan Bodhisatwa dalam beberapa kisah, adalah tindakan bermakna jika menghasilkan manfaat yang nyata. Beliau menambahkan bahwa dibutuhkan kecerdasan dan pikiran yang jernih untuk menilai manfaat apa yang akan didapat dari tindakan tersebut.</p>



<p>Terkait dengan krisis-krisis yang dihadapi dunia saat ini, yaitu pandemi virus corona dan pemanasan global, terdapat beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak negatifnya. Akan tetapi, kita harus berani dan tegas. Kita tidak boleh putus asa atau berhenti mengambil tindakan.</p>



<h4><strong>Candi di Hati Kita</strong></h4>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV mengenang kunjungan Beliau ke Borobudur. Beliau menggambarkan stupa Borobudur sebagai candi yang indah, tetapi menyatakan bahwa yang lebih penting adalah candi batin hati kita tempat kita memupuk welas asih dan cinta kasih. Jika kita menggabungkannya dengan kecerdasan manusia kita yang luar biasa, kita dapat menciptakan dunia yang lebih bahagia, tidak hanya melalui doa, tetapi dengan melakukan tindakan nyata.</p>



<h4><strong>Kejujuran &amp; Kasih Sayang yang Menginspirasi</strong></h4>



<p>Beliau mendapat pertanyaan mengenai cara menghadapi hal-hal negatif dan menyarankan untuk berpegang pada prinsip-prinsip moral kejujuran dan kasih sayang. Beliau menyebutkan mengenai kesulitan yang Beliau hadapi dalam hidup-Nya sendiri, di Tibet dan kemudian sebagai pengungsi, tetapi mengungkapkan bahwa Beliau terus berlatih sesuai dengan Tradisi Nalanda yang diperkenalkan oleh Shantarakshita di Tibet.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kami orang Tibet adalah orang-orang yang teguh dan berani,” ujar Beliau, “tetapi itu tidak berarti kami menggunakan kekerasan. Semangat Tibet kami adalah keteguhan dan welas asih, kualitas-kualitas yang telah menarik kekaguman bahkan di antara beberapa orang Cina.”</p></blockquote>



<h4><strong>Tibet, Indonesia, dan Guru Dharma Nusantara</strong></h4>



<p>Seorang pemuda mengajukan pertanyaan tentang hubungan antara Indonesia dan Tibet dalam bahasa Tibet. Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menjawab bahwa guru India, Atisha Dipamkara, berlayar dari India ke Sumatra untuk belajar tentang bodhicita dengan seorang guru bernama Dharmakirti. Pada waktu itu, Atisha menerima undangan untuk mengunjungi Tibet tempat Beliau menghabiskan sisa hidupnya. Dharmakirti dikenang oleh orang Tibet hari ini sebagai Lama Serlingpa, Guru dari Pulau Emas (Suwarnadwipa). Yang Maha Suci Dalai Lama XIV berkomentar bahwa mengingat perjalanan Atisha yang ekstensif, saat ini jauh lebih mudah untuk bertukar pandangan dan berbagi pengetahuan satu sama lain.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/QUvcHHNp632XiiF5LXC9cYoDLHBQGgERo6VGiw3B6quU7K5AjIaJ1crEugquw_v-BW-x2sI2QF70oEaDY4jkPX9x_ayPCYKFL-43Te967RZEOyDz4ze-xGiTmAvCzgBAvV2M9RWU" alt=""/></figure>



<p>Seorang peserta audiensi virtual mengajukan pertanyaan kepada Yang Maha Suci Dalai Lama XIV selama dialog daring dengan siswa-siswi Indonesia dari kediaman Beliau di Dharamsala, HP, India pada 11 Agustus 2021. Foto oleh Y.M. Tenzin Jamphel</p>



<h4><strong>Kiat Buddhis Menghadapi Ekstremisme</strong></h4>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV tidak mengatakan mana dari &#8216;Kisah Jataka&#8217; yang menurut Beliau paling menginspirasi. Poin kuncinya, tegas Beliau, adalah mengakui kesatuan kemanusiaan; untuk menyadari bahwa kita semua adalah sama sebagai manusia. Dari sudut pandang praktis, kita semua bergantung satu sama lain dan kita dapat melayani satu sama lain atas dasar hal itu.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Saya orang Tibet, yang tinggal di India. Saya menganggap setiap manusia yang saya temui seperti saudara atau saudari bagi saya. Berkelahi tidak ada gunanya dan merugikan diri sendiri. Kita harus menemukan cara untuk hidup berdampingan dan hidup bersama dalam damai.”</p></blockquote>



<p>Diundang untuk mengomentari mengenai cara sebuah komunitas minoritas menghadapi ekstremisme, Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menyetujui bahwa di antara orang-orang yang terisolasi di masa lalu, mungkin terasa tepat untuk berbicara mengenai satu kebenaran dan satu agama. Namun hari ini, situasinya telah berubah dan kita semua mengetahui adanya berbagai tradisi agama serta banyaknya aspek mengenai kebenaran.</p>



<p>Salah satu kualitas Buddhisme adalah bahwa Buddhisme mengambil pandangan ilmiah tentang pikiran dan emosi kita serta mampu menjelaskan cara-cara untuk mencapai kedamaian pikiran. Tradisi Nalanda memuat metode-metode untuk mengurangi emosi negatif dan meningkatkan emosi positif. Psikologi Buddhis dapat bermanfaat bagi siapa saja yang tertarik untuk menjelajahinya tanpa harus membuat komitmen keagamaan apa pun. Hal ini, tegas Yang Maha Suci Dalai Lama XIV, adalah salah satu cara Buddhisme dapat berkontribusi untuk menciptakan dunia yang lebih damai.</p>



<h4><strong>Praktik Dharma Dulu dan Kini: Belajar, Merenung, Meditasi</strong></h4>



<p>Menanggapi pengamatan bahwa tampaknya lebih mudah untuk mencapai realisasi pada zaman Sang Buddha, Yang Mulia menyatakan bahwa Beliau tidak percaya siapapun menjadi tercerahkan secara spontan ketika mereka mendengarkan Sang Buddha. Beliau menunjukkan bahwa Sang Buddha sendiri telah menghabiskan enam tahun dalam meditasi yang ketat sebelum mencapai Kebuddhaan. Beliau menjelaskan bahwa orang-orang mendengarkan yang Buddha katakan, dan merenungkannya untuk meningkatkan pemahaman mereka. Kemudian, mereka memeditasikan hal yang telah mereka pahami, menerapkan konsentrasi dan pandangan mendalam, yang pada gilirannya memungkinkan mereka mengubah batin.</p>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menyarankan bahwa Jalan Tengah (Madhyamaka) adalah cara yang ampuh untuk mengurangi pandangan salah. Pikirkan tentang bagaimana kita memikirkan &#8216;tubuhku&#8217;, &#8216;ucapanku&#8217; dan &#8216;pikiranku&#8217;, kata Beliau, dan kemudian tanyakan pada diri sendiri di mana &#8216;aku&#8217; yang memiliki fitur-fitur ini. Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menegaskan bahwa Beliau bertanya pada diri Beliau sendiri letak &#8216;aku&#8217; setiap hari dan tidak dapat menemukan diri yang independen dan ada secara inheren. Hal ini memiliki efek yang kuat untuk mengurangi kemarahan dan kemelekatan Beliau. Beliau mengutip tiga ayat dari “Memasuki Jalan Tengah” (Madhyamakavatara) Chandrakirti yang mengingatkan bahwa Beliau berada di jalur yang benar.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Diterangi oleh berkas-berkas cahaya kebijaksanaan,</em><br><em>Bodhisattva melihatnya sejelas buah amalaki di telapak tangan yang terbuka,</em><br><em>Bahwa ketiga alam di keseluruhannya tidak terlahirkan sejak dari awalnya,</em><br><em>Dan melalui kekuatan kebenaran konvensional, ia menempuh perjalanan menuju penghentian. 6.224</em></p><p><em>Walau batinnya mampu menetap terus-menerus dalam penghentian,</em><br><em>Beliau juga membangkitkan welas asih untuk para makhluk yang tak memiliki perlindungan,</em><br><em>Melaju maju lebih jauh lagi, beliau juga bersinar cemerlang melalui kebijaksanaannya,</em><br><em>Semua yang lahir dari ucapan Buddha dan Buddha-Buddha menengah. 6.225</em></p><p><em>Laksana para raja angsa menjulang ke depan melampaui angsa-angsa ahli lainnya,</em><br><em>Dengan sayap-sayap putih kebenaran konvensional dan tertinggi yang berkembang lebar,</em><br><em>Didorong oleh kekuatan angin-angin kebajikan, Bodhisatwa akan menyeberangi</em><br><em>Hingga pantai seberang yang unggul, samudra kualitas-kualitas Para Penakluk. 6.226”</em></p><cite><em>Madhyamakavatara &#8211; Arya Chandrakirti</em></cite></blockquote>



<h4><strong>Semua Punya Benih Kebuddhaan</strong></h4>



<p>Ditanya mengenai cara menanggapi orang-orang yang gagal memenuhi harapan kita, Yang Maha Suci Dalai Lama XIV mengungkapkan bahwa Sang Buddha menjelaskan bahwa semua makhluk hidup memiliki sifat Buddha. Tubuh jasmani ini adalah sesuatu yang tidak begitu penting, kata Beliau, adalah batinlah, yang penting. Di dalam batin terdapat berbagai tingkat kesadaran. Oleh karena setiap orang memiliki sifat Kebuddhaan, maka pada akhirnya semua orang dapat mencapai Kebuddhaan.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/hUjrWfrY947pyjAtGRqiCI4KLxW-hHi-B21jecMJyBm0Ut2ZB252hHLnWdobxNTvaolmVR3W5lho6dpOE2tYtzBOtOwapOKczsfL-s6ZXZmFJp9xIqhOerwj3kAxi8EaCZY1Laf2" alt=""/></figure>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menjawab pertanyaan dari hadirin virtual selama dialog daring dengan siswa-siswi Indonesia dari kediaman Beliau di Dharamsala, HP, India pada 11 Agustus 2021. Foto oleh Y.M. Tenzin Jamphel</p>



<p>Dewi Lestari tertarik untuk mengetahui hal yang bisa kita lakukan untuk tetap segar dan tajam seperti Yang Maha Suci Dalai Lama XIV. Beliau menjawab bahwa kita menghabiskan banyak waktu teralihkan oleh hal-hal indrawi, namun di sisi lain, kita sebenarnya juga bisa memperhatikan kesadaran mental kita dan mendapatkan pengalaman tentang sifat batin. Saat kita mengembangkan ketenangan dan konsentrasi, menjadi lebih mudah untuk mengajak batin untuk menganalisis letak &#8216;aku&#8217; dan yang dimaksud sebagai emosi-emosi negatif. Seiring dengan kita mengembangkan kekuatan batin, kita akan mencapai kedamaian pikiran yang lebih kokoh. Dan saat kita memperoleh pengalaman batin yang lebih dalam pada tingkatan yang lebih subtil, batin yang jernih akan terwujud. Batin halus dari sifat Kebuddhaan itulah yang pada akhirnya menjadi batin Sang Buddha.</p>



<h4><strong>Bahagia Berasal dari Bodhicita</strong></h4>



<p>Diundang untuk memberikan beberapa nasihat terakhir, Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menyoroti kesempatan khusus yang dimiliki pendengar Beliau untuk berbagi gagasan tentang cinta kasih, yang merupakan sesuatu yang kita semua butuhkan. Dengan cara yang sama, kita semua membutuhkan welas asih dan pengampunan dan dengan mendorong pengembangan kualitas-kualitas ini, kita dapat berkontribusi untuk menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan penuh welas asih. Potensi welas asih adalah kesamaan yang dimiliki semua manusia. Ini adalah dasar untuk bisa saling menghormati dan belajar dari satu sama lain.</p>



<p>Dewi Lestari mengucapkan terima kasih kepada Yang Maha Suci Dalai Lama XIV yang secara spontan meminta hadirin untuk bergabung dengan Beliau dalam meditasi welas asih selama satu menit. Setelah itu, Beliau memuji kebajikan dari kebangkitan batin bodhicitta dan manfaatnya yang luar biasa. Kita butuh welas asih untuk bisa membantu orang lain, tutur Beliau. Kita membutuhkan welas asih untuk memurnikan negativitas kita dan mengumpulkan energi positif. Semua perbuatan altruistik yang dijelaskan dalam Jataka Mala berakar dari bodhicita, yakni aspirasi untuk mencapai Kebuddhaan demi membantu makhluk lain.</p>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV mengutip syair-syair dari <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lakon-hidup-sang-penerang/">“Lakon Hidup Sang Penerang” (Bodhisatwa-caryawattara)</a> oleh Shantidewa, yang memuji praktik menyamakan dan menukar diri sendiri dengan orang lain.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Seseorang yang tak menukar kebahagiaannya dengan penderitaan makhluk lain pastinya tak akan meraih Kebuddhaan. Bagaimana ia bisa meraih kebahagiaan dalam samsara? 8/131</em></p><p><em>Dengan menaiki kereta perang bodhicitta, yang menghalau semua perasaan putus asa dan letih, orang berakal mana yang akan patah semangat selagi ia melaju melewati kegembiraan demi kegembiraan? 7/30”</em></p></blockquote>



<p>Beliau menambahkan bahwa ketika Anda bertekad untuk melayani orang lain, Anda akan dapat mengikuti aspirasi besar Shantidewa:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Selama ruang bergeming dan dunia bertahan, semoga aku hidup untuk menghalau kesengsaraan dunia. 10/55”</em></p></blockquote>



<p>Sumber: “<a href="https://www.dalailama.com/news/2021/in-conversation-with-indonesian-students">In Conversation with Indonesian Students</a>” &#8211; dalailama.com</p>



<p>Diterjemahkan oleh Shierlen Octavia</p>



<p>&#8212;</p>



<p>“Grand Buddha Goes to School: Heart to Heart Conversation with His Holiness Dalai Lama XIV” adalah acara pertama dalam rangkaian Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 3.0.</p>



<p>Ikuti bazar buku, seminar, bedah buku, dan <em>workshop </em>istimewa lainnya di NDBF 3.0 yang pastinya tak kalah inspiratif dan bisa meningkatkan ketangguhan batinmu di kala pandemi.<br>Kunjungi <a href="http://ndbf.lamrimnesia.com">ndbf.lamrimnesia.com</a> &amp; ikuti media sosial Lamrimnesia untuk mendapatkan informasi &amp; kabar terbaru seputar NDBF 3.0!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dialog-dalai-lama-bersama-siswa-siswi-indonesia/">Dialog Dalai Lama Bersama Siswa-Siswi Indonesia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dialog-dalai-lama-bersama-siswa-siswi-indonesia/">Dialog Dalai Lama Bersama Siswa-Siswi Indonesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
