<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lamrimnesia.org/</link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Wed, 29 Jul 2026 04:10:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.12</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>Lamrimnesia</title>
	<link>https://lamrimnesia.org/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mencari ‘Aku’ Ketika Tak Ada Lagi yang Harus Dibuktikan: Mengurai Duka Lewat Empat Kebenaran Arya</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/07/28/empat-kebenaran-arya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2026 15:24:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[dukkha]]></category>
		<category><![CDATA[Empat Kebenaran Arya]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi menengah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10492</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Takut melambat, takut menjadi biasa-biasa saja, takut nilai diri menjadi kecil. Inilah duka! Melalui Empat Kebenaran Arya, Buddha mengurai siklus penderitaan setiap makhluk dan cara mengakhirinya.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/28/empat-kebenaran-arya/">Mencari ‘Aku’ Ketika Tak Ada Lagi yang Harus Dibuktikan: Mengurai Duka Lewat Empat Kebenaran Arya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/28/empat-kebenaran-arya/">Mencari ‘Aku’ Ketika Tak Ada Lagi yang Harus Dibuktikan: Mengurai Duka Lewat Empat Kebenaran Arya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di perlombaan yang tak pernah usai, ada batin yang menderita setiap hari. Ketika layar dimatikan, ketika tepuk tangan tak lagi terdengar, ketika panggung tak menyisakan penonton, ada pertanyaan yang pelan-pelan merayap naik: Di sepanjang pencapaian yang sudah diraih, mengapa lega begitu semu? Siapakah ‘aku’ jika semua bagian dalam diri dilepaskan dan tidak ada yang harus dibuktikan?</p>



<p>Dari luar, segala pencapaian dan kesuksesan begitu mengagumkan. Benar bahwa ia buah dari kerja keras dan kedisiplinan, tampak pantas bagi orang-orang yang tahu persis ke mana arah tujuannya. Namun dari dalam, kadang rasanya seperti hidup di bawah langit-langit hampa. Belum sempat menikmati pencapaian itu, muncul tuntutan lainnya yang harus dikejar supaya pengakuan dari orang lain tidak redam.</p>



<p>Apa yang diraih rasanya bukan lagi sebuah prestasi, tetapi sebuah keharusan. Begitu hal itu terjadi, istirahat mulai terasa seperti sesuatu yang tidak pantas didapatkan. Hari di mana tubuh butuh diam sejenak terasa seperti sebuah kegagalan.&nbsp;</p>



<p>Kita mengganti tekanan itu dengan kata ambisi, dorongan, kedisiplinan. Kadang kata-kata itu cocok, kadang juga ia menyembunyikan ketakutan. Takut melambat, takut menjadi biasa-biasa saja, takut akan nilai diri terasa lebih kecil karena semuanya diukur berdasarkan hal-hal yang dapat diakui banyak orang. Dan karena pencapaian itu terlihat, ia menjadi tempat termudah untuk mencari pengakuan bahwa keberadaan kita penting dan unggul.&nbsp;</p>



<p>Begitu banyak aspek kehidupan modern yang tanpa sadar menuntut manusia untuk terus menerjemahkan nilai diri ke dalam kotak yang bisa dipahami oleh orang lain ketimbang memahami apa yang dirasakan dan dibutuhkan diri sendiri. Akibatnya, kita hidup tanpa rasa puas, tidak realistis, melihat segala sesuatu sebagai kompetisi, dan kecenderungan menyiksa diri sendiri. Semua yang dianggap motivasi dan ambisi berubah menjadi penderitaan.&nbsp;</p>



<p>Jauh sebelum peradaban menuntut kita untuk berlari tanpa henti, dengan terang Buddha melihat siklus penderitaan yang diciptakan oleh batin manusia sendiri. Melalui Empat Kebenaran Arya, Buddha membedah penderitaan yang membelenggu setiap makhluk beserta cara mengakhirinya.</p>



<h2 id="h-pemutaran-roda-pertama-dharma-empat-kebenaran-arya"><strong>Pemutaran Roda Pertama Dharma: Empat Kebenaran Arya</strong></h2>



<p>Dalam Buddhisme, Empat Kebenaran Arya (disebut <em>cattāri ariyasaccāni</em> dalam bahasa Pali dan <em>catvaryāryasatyāni</em> dalam bahasa Sanskerta) merupakan ajaran utama yang pertama kali dibabarkan Buddha setelah mencapai pencerahan. <em>Arya</em> secara harfiah bermakna “yang mulia”. Seorang Arya adalah ia yang membaktikan diri di jalan spiritual, berhasil melihat fakta kehidupan apa adanya secara sadar, dan bangkit membebaskan diri dari jerat penderitaan.</p>



<p>Meski dibabarkan ribuan tahun silam, menyandingkan ajaran ini dengan realitas sosial masa kini adalah relevan untuk membedah permasalahan manusia modern. Seperti yang diurai dalam buku “Memahami Duka dan Terbebas Darinya: Sebuah Ulasan atas Empat Kebenaran Arya”<em>,</em> ajaran ini hadir supaya manusia menyadari betapa menipunya segala suka dan duka yang ada di muka bumi ini. Jika ilusi kita tentang fenomena duniawi tidak segera disadari, maka pembebasan penuh dari penderitaan itu tidak akan tercapai. Di dalam empat kebenaran itu memuat kebenaran tentang duka sebagai hakikat kita di alam <em>samsara</em>, kebenaran tentang asal-mula duka, kebenaran tentang lenyapnya duka, dan kebenaran jalan menuju lenyapnya duka.</p>



<h2><strong>Duka: dari Akar Hingga Cara Menghentikannya</strong></h2>



<p>Seseorang tidak akan bisa sembuh jika ia tidak tahu dan berusaha mencari tahu apa yang membuatnya sakit. Itu saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan mencari pengobatan yang tepat untuk rasa sakitnya. Begitu pun dengan duka atau penderitaan.</p>



<p>Untuk mengakhiri duka, yang pertama harus dilakukan adalah memahami duka itu sendiri. Caranya dengan menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak kekal dan menyakitkan. Dalam konteks sosial di mana dunia berisi ajang adu performa, semuanya berubah begitu cepat dan kita dituntut untuk harus selalu bisa mengikuti perubahan itu. Segala tuntutan dan standar sosial membawa manusia pada persaingan yang begitu kuat dan obsesi untuk selalu mendapatkan segalanya. Jika terus terbawa arus, kita tidak lagi bisa mengenali diri sendiri. Pada akhirnya, yang didapatkan hanyalah penderitaan berupa kelelahan batin.</p>



<p>Dijelaskan dalam buku “Memahami Duka dan Terbebas Darinya: Sebuah Ulasan atas Empat Kebenaran Arya” bahwa setelah memahami duka, kita perlu untuk mencari tahu sebab duka yang sebenarnya. Kebenaran kedua ini menegaskan bahwa penderitaan yang dirasakan tidak mungkin muncul begitu saja, pasti ada sebabnya. Sering menyalahkan keadaan luar, nyatanya rasa sakit paling perih justru diciptakan oleh kemelekatan di dalam diri sendiri. Ada kehausan untuk harus selalu melampaui ekspektasi dan keengganan untuk gagal. Penderitaan lahir dari keyakinan keliru bahwa nilai diri baru ada ketika kita bisa terus menghasilkan sesuatu yang bisa dijamah mata dan diakui banyak orang.&nbsp;</p>



<p>Ketiga, kebenaran tentang terhentinya duka, yaitu kesadaran bahwa penderitaan bisa dihentikan ketika sebabnya sudah ditemukan. Alih-alih terus mengikuti ego demi mencari kepuasan sesaat, justru nafsu atau kehausan harus dilenyapkan sampai ke akarnya untuk bisa bebas dari penderitaan. Dengan begitu, berbagai tuntutan sosial itu pun tidak lagi membuat kita terbawa arus dan tersiksa oleh keharusan selalu tampil sempurna.</p>



<p>Keempat, kebenaran tentang jalan menuju terhentinya duka melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan. Inti kebenaran keempat ini adalah mengajarkan kita untuk melatih segala tindak-tanduk dengan kesadaran penuh. Pikiran diajarkan untuk hadir seutuhnya di saat ini tanpa menghakimi diri sendiri. Ketika napas dirasakan, ketika kehidupan itu diresapi, jalan keluar dari penderitaan perlahan sedang dibangun.</p>



<h2><strong>Penderitaan Itu Ada untuk Melatih Batin yang </strong><strong><em>Eling</em></strong></h2>



<p>Membaca buku “Memahami Duka dan Terbebas Darinya: Sebuah Ulasan atas Empat Kebenaran Arya” menuntun pada pemahaman bahwa gangguan luar, masalah, atau penderitaan itu akan selalu ada dalam kehidupan ini. Karena gangguan luar itu pasti ada, maka fokus utamanya terletak pada bagaimana kita melatih batin untuk memahami akar masalah, merespons, dan mencari jalan keluarnya. Rasa sakit, cemas, dan lelah yang terus menggerogoti bukanlah hukuman dari luar, tetapi akibat dari tangan sendiri yang terlalu erat menggenggam ilusi tentang hal-hal duniawi.&nbsp;</p>



<p>Saat semua atribut, gelar, dan pencapaian itu dilepaskan, yang tersisa hanyalah diri yang penuh celah dan rasa takut untuk melihat diri sendiri. Namun, itu semua harus dihadapi. Dari situ, kita bisa mulai belajar melihat bahwa hidup tidak melulu tentang pencapaian besar. Hidup juga memberi ruang untuk hari-hari yang biasa saja dan dengan segala ketidaksempurnaannya.</p>



<p>Kesadaran ini kemudian dapat menjadi pemantik untuk menumbuhkan kualitas bajik dalam diri. Tidak hanya untuk mengantarkan diri pada kondisi bebas seutuhnya, tetapi juga membuka ruang untuk merangkul mereka yang mengalami derita yang sama.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/28/empat-kebenaran-arya/">Mencari ‘Aku’ Ketika Tak Ada Lagi yang Harus Dibuktikan: Mengurai Duka Lewat Empat Kebenaran Arya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/28/empat-kebenaran-arya/">Mencari ‘Aku’ Ketika Tak Ada Lagi yang Harus Dibuktikan: Mengurai Duka Lewat Empat Kebenaran Arya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Demon Slayer Membuka Pintu Baru untuk Memahami Amarah</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/07/15/demon-slayer/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2026 04:56:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[demon slayer]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10467</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Menangis selagi memukul, menghancurkan tanpa membenci. Menelisik kisah Gyōmei Himejima dalam Demon Slayer, apa sebenarnya makna kekerasan berlandaskan welas asih?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/15/demon-slayer/"><em>Demon Slayer</em> Membuka Pintu Baru untuk Memahami Amarah</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/15/demon-slayer/">&lt;em&gt;Demon Slayer&lt;/em&gt; Membuka Pintu Baru untuk Memahami Amarah</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Diterjemahkan dari <a href="https://rubinmuseum.org/demon-slayer-opens-new-doors-to-understanding-wrath/?fbclid=PAT01DUASxsbFleHRuA2FlbQIxMABzcnRjBmFwcF9pZA81NjcwNjczNDMzNTI0MjcAAaczR23hcnXUWOmn_rINrg91GXASGaWB2PeDXOWJ1EWS9UM-DoYtd6ZfKoaY2Q_aem_HxTLWYz6th86qLR9XH_wJg"><em>“Demon Slayer Opens New Doors to Understanding Wrath”</em></a> oleh Ronald S. Green, Rubin Museum&nbsp;</p>



<h2><strong>Amarah, Duka, Kekerasan, dan Etika Buddhis dalam Serial Anime Populer</strong></h2>



<p>Dalam banyak tradisi dan filsafat, amarah selalu diidentikkan dengan amukan, kehancuran, dan kegagalan moral. Namun dalam perspektif Buddhis, khususnya tradisi Mahayana dan Vajrayana, amarah bisa dipahami dengan cara yang berbeda, yaitu sebagai sebuah bentuk energi welas asih. Perwujudan sosok-sosok penuh amarah sebagaimana yang tampak pada Vajrapani dan Achala justru menggunakan senjata untuk menebas ketidaktahuan batin dan melindungi para praktisi dari hasrat egois mereka sendiri. Lebih dari sekadar meluapkan kemarahan yang tak terkendali, amarah semacam ini digunakan dengan niat yang bijaksana untuk menyingkirkan rintangan menuju pembebasan batin. Cara pandang baru ini memicu sebuah pertanyaan moral mendasar: Bisakah kekerasan dilandasi oleh rasa kasih sayang?</p>



<p>Salah satu ilustrasi paling kentara dan memicu kompleksitas moral dari pertanyaan ini justru muncul di luar naskah-naskah Buddhis tradisional, misalnya dalam budaya populer Jepang modern. “<a href="https://www.gramedia.com/products/demon-slayer-kimetsu-no-yaiba-01"><em>Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba</em></a><em>”,</em> serial manga dan anime karya Koyoharu Gotōge yang rilis perdana pada tahun 2016, dengan cepat mencuri perhatian dunia berkat penceritaan, visual, dan kedalaman maknanya yang memikat. Serial ini telah menjadi sebuah fenomena budaya besar dan mendapatkan berbagai penghargaan karena berhasil membangkitkan kembali industri manga. Pada tahun 2020, film layar lebarnya berjudul “<a href="https://www.imdb.com/title/tt11032374"><em>Demon Slayer: Mugen Train</em></a><em>” </em>bahkan memecahkan rekor sebagai anime sekaligus film Jepang dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa yang melampaui rekor <em>Spirited Away</em> karya Hayao Miyazaki yang bertahan sejak tahun 2021.</p>



<p>Berlatarkan era Taishō (1912–1926), serial ini mengikuti kisah Tanjiro Kamado, seorang anak laki-laki berhati mulia yang keluarganya dibantai habis oleh iblis. Dalam dunia <em>Demon Slayer,</em> iblis adalah seorang manusia yang berubah menjadi predator yang mempunyai kekuatan supranatural dan bertahan hidup dengan menggunakan energi manusia. Dari seluruh keluarga Tanjiro, hanya adiknya, Nezuko, yang selamat dari pembantaian. Celakanya, ia berubah menjadi iblis. Tanjiro pun bergabung dengan Korps Pembasmi Iblis untuk membalaskan dendam keluarganya sekaligus menyelamatkan Nezuko dan umat manusia. Di sinilah dimulai sebuah perjalanan yang penuh kompleksitas moral, kesetiaan, dan pengorbanan diri.&nbsp;</p>



<p>Dari seluruh jajaran karakter, Gyōmei Himejima yang dijuluki Hashira Batu, tampil begitu memukau. Sebagai seorang biksu buta dengan kekuatannya yang tak tertandingi, Gyōmei memadukan ajaran disiplin Buddhis dengan rasa duka dan kejernihan spiritual dalam perannya sebagai pelindung. Sebagai salah satu dari Hashira, sebuah pasukan elit Pembasmi Iblis yang memikul beban pertempuran paling mematikan, kisah hidupnya memicu sebuah pertanyaan paling mendasar baik dalam Buddhisme maupun di <em>Demon Slayer</em>: Apa sebenarnya makna dari penghancuran yang berlandaskan welas asih?</p>



<h2><strong>Gyōmei Himejima: Amarah Tanpa Kebencian</strong></h2>



<p>Diperkenalkan di awal seri sebagai Hashira Batu yang bertubuh raksasa dan pendiam, sekilas Gyōmei tampak stoik nan dingin. Dengan untaian kalung mala, jubah biksu, dan pakaian yang bertuliskan <em>nenbutsu—Namu Amida Butsu,</em> sebuah seruan suci kepada Buddha Amitabha—ia memancarkan nilai-nilai yang selaras dengan ajaran Buddha. Bahkan di tengah sengitnya pertempuran, ia terus merapalkan doa itu dan sering menangis meratapi kawan-kawan seperjuangannya maupun musuhnya, para iblis.</p>



<p>Yang membedakan Gyōmei dari karakter lainnya adalah statusnya sebagai pembasmi iblis terkuat secara fisik sekaligus yang paling ekspresif secara emosional. Ketika pendekar lain membantai iblis dengan amarah yang meledak-ledak atau dendam membara, Gyōmei justru menangis. Ia melakukan tindakan kekerasan, tetapi tanpa rasa senang dan benci sedikit pun. Sebaliknya, aksinya lahir dari rasa duka dan tanggung jawab besar. Sebuah bentuk kepedulian yang begitu kuat yang membawanya pada tindakan nyata. Pun di balik namanya, terkandung makna yang begitu puitis: “Pulau kesedihan yang mengarungi kegelapan.”</p>



<p>Dalam sebuah adegan, Gyōmei mengucapkan kata-kata yang mencerminkan pandangan Buddhis tentang kelahiran kembali dan penderitaan yang disebabkan oleh hukum karma. Ketika merenungkan nasib Tanjiro, dengan penuh keprihatinan ia berujar, “Akan lebih baik jika ia tak pernah dilahirkan,” sebuah ungkapan yang menyiratkan betapa belenggu karma itu menyiksa dan sulitnya mencapai pembebasan. Ia berharap agar mereka yang terbelenggu oleh penderitaan dapat <a href="https://www.tiktok.com/@lamrimnesia_/video/7317970283778821382">terlahir kembali di Tanah Suci yang damai</a>, bebas dari iblis maupun kekerasan.</p>



<p><em>Baca tentang praktik Amitabha </em><a href="https://play.google.com/store/books/details/Praktik_Tanah_Suci_Buddha_Amitabha_Panduan_Meditas?id=XWpvDwAAQBAJ&amp;hl=en-US"><em>di sini.</em></a></p>



<h2><strong>Bodhisatwa Sang Pendengar: Awalokiteshwara di Era Taishō</strong></h2>



<p>Sejumlah komentator menyandingkan sosok Gyōmei dengan Awalokiteshwara (dikenal sebagai Kannon dalam masyarakat Jepang atau Guanyin/Kuan Im di Tiongkok), yaitu perwujudan Bodhisatwa welas asih yang senantiasa mendengar rintihan derita dunia. Keterkaitan di antara keduanya bukan kiasan belaka.</p>



<p><em>Baca juga: </em><a href="https://lamrimnesia.org/2020/08/07/mengapa-kwan-im-berbeda-beda/"><em>Mengapa Kuan Im Berbeda-Beda?</em></a></p>



<p>Gyōmei memang buta. Namun, ia mampu “melihat” dunia lewat suara. Berbekal ketajaman indra pendengarannya, ia memanfaatkannya untuk memahami dunia sekitar, memprediksi pergerakan musuh, dan bertarung. Kemampuannya ini melampaui representasi dari kemampuan manusia super; ia memuat simbolisme naratif yang sangat dalam. Konon, Awalokiteshwara dikisahkan punya kemampuan untuk menyelami segala bentuk penderitaan lewat suara. Begitu pun Gyōmei. Ia selalu mendengar dan meresapinya dengan bijak sebelum bertindak. Amarahnya tidak pernah bersifat reaktif, tetapi emosi yang disaring dengan rasa welas asih.&nbsp;</p>



<p>Melihat akan hal itu, Gyōmei mencerminkan cita-cita luhur sang Bodhisatwa: rela menunda kedamaian atau kebebasan spiritualnya sendiri demi menolong banyak orang. Layaknya Awalokiteshwara yang bersumpah tidak akan menjadi Buddha sebelum semua makhluk di alam semesta ini terselamatkan, Gyōmei pun mengesampingkan istirahat dan menyembuhkan dirinya sendiri demi terus melindungi mereka yang tak berdaya.</p>



<h2><strong>Duka sebagai Energi Moral</strong></h2>



<p>Amarah Gyōmei lahir dari kepingan rasa duka yang bertransformasi. Masa lalunya yang kelam nan traumatis, seperti kehilangan anak-anak yatim piatu yang ia asuh serta ketidakadilan pahit yang diterima ketika ia dituduh sebagai pembunuh mereka—meninggalkan luka batin yang teramat dalam. Alih-alih tenggelam dalam keputusasaan atau dendam kesumat, Gyōmei justru menyalurkan kesedihannya itu ke dalam misi kemanusiaan bersama Korps Pembasmi Iblis.&nbsp;</p>



<p>Proses mengubah penderitaan menjadi tindakan nyata semacam ini punya akar yang kuat dalam psikologi Buddhis. Ajaran Mahayana sendiri menjelaskan bahwa seorang Bodhisatwa merasakan penderitaan orang lain seolah penderitaan itu adalah miliknya sendiri. Dalam Buddhisme Vajrayana, dewa-dewa pelindung sengaja ditampilkan dengan wajah yang menyeramkan sebab amarah mereka adalah wujud welas asih yang begitu dahsyat, mampu menerobos dan menghancurkan segala kesesatan serta bahaya. Air mata Gyōmei mengalir dari sumber kejernihan yang serupa. Setiap kali ia mengangkat senjata, ia melakukannya dengan hati penuh duka. Memikul beban kekerasan itu sendiri supaya orang lain tak perlu mengalaminya dan terselamatkan.</p>



<h2><strong><em>Upaya</em></strong><strong>: Cara yang Tepat dan Tindakan Welas Asih</strong></h2>



<p>Dalam ajaran Buddhisme Mahayana, ada sebuah doktrin yang disebut <em>upaya</em> (cara terampil) yang mengajarkan bahwa boleh saja makhluk yang sudah tercerahkan mengambil tindakan yang tidak biasa bahkan ekstrem selama tindakan itu bisa menyelamatkan makhluk lain menuju pencerahan spiritual. Bahkan dalam sutra yang termasyhur, <a href="https://buddhism.lib.ntu.edu.tw/DLMBS/en/search/search_detail.jsp?seq=360081">Sutra Upayakausalya</a>, dikisahkan seorang <a href="https://lamrimnesia.org/2026/06/15/menyelami-esensi-universal-kehidupan-bodhisatwa-dalam-dongeng-anak-jataka-mala%ef%bf%bc/">Bodhisatwa</a>—sosok penuh welas asih tanpa batas yang berupaya mencari pencerahan sempurna untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan—terpaksa membunuh seorang pembunuh demi menyelamatkan seluruh penumpang kapal. Tindakan ekstrem itu diambil atas dasar welas asih, baik kepada para korban maupun kepada si pelaku kejahatan.</p>



<p>Segala tindakan Gyōmei pun didasari oleh logika ini. Ia tidak menghabisi para iblis untuk meluapkan dendam, tetapi untuk mencegah mereka menimbulkan penderitaan lebih banyak. Bahkan di tengah pertempurannya, doa <em>Namu Amida Butsu </em>terus ia rapalkan. Hal itu menegaskan bahwa tindakannya bukan berlandaskan ego pribadi, tetapi sesuatu yang seutuhnya ia pasrahkan kepada Buddha Amitabha. Sederhananya, ia bertindak atas dasar penyerahan diri dan sumpah suci untuk membebaskan semua makhluk dari lingkaran penderitaan. Amarahnya adalah sebuah instrumen welas asih. Sesuatu yang diasah lewat latihan batin dan dikendalikan oleh rasa duka.</p>



<p><em>Baca penjelasan tentang sumpah Bodhisatwa </em><a href="https://www.instagram.com/orcyworld?igsh=MWd5dmV5OGh6ZWQzYQ=="><em>di sini</em></a><em>.</em></p>



<h2 id="h-amarah-sang-bodhisatwa"><strong>Amarah Sang Bodhisatwa</strong></h2>



<p>Sebagai seorang profesor yang mengkaji Buddhisme dan agama masyarakat Jepang, saya sering menjadikan serial <em>Demon Slayer</em> sebagai medium di kelas untuk membedah ajaran Buddhis. Karakter Gyōmei sering memantik diskusi dan berbagai respons bergejolak dari para mahasiswa.</p>



<p>Setelah menonton adegan di mana Gyōmei bertarung sementara ia sedang berduka, salah seorang mahasiswa bertanya, “Bahkan jika Gyōmei tidak membenci para iblis sekali pun, apakah itu berarti kekerasan bisa lahir dari welas asih?” Yang lainnya menimpali, “Kekuatannya tidak bersumber dari amarah, tetapi dari sesuatu yang jauh lebih besar.”</p>



<p>Berbagai reaksi ini mencerminkan dilema klasik Buddhis tentang kekerasan dan welas asih. Fenomena ini menunjukkan bahwa anime, sama seperti kisah-kisah Buddhis kuno, bisa menjadi ruang bagi imajinasi moral, mengajak penonton merenungkan kembali apa artinya bertindak secara bijaksana di dunia yang penuh penderitaan ini. Gyōmei adalah contoh perwujudan seorang biksu petarung yang bertindak demi sebuah sumpah untuk melindungi. Lewat sosoknya itu, kita bisa melihat bahwa di tengah dunia yang kejam sekalipun, kita tetap bisa bertindak tanpa rasa benci, menangis selagi memukul, berduka selagi melindungi, menghancurkan tanpa harus menjadi kejam, dan mencintai dengan sepenuh jiwa bahkan di titik paling hancur.</p>



<p><strong>Ronald S. Green</strong> adalah seorang profesor bidang studi Kajian Agama dan Asia di Coastal Carolina University. Penelitiannya banyak mengeksplorasi hubungan antara tradisi filsafat Asia dan budaya kontemporer, khususnya dalam film, anime, novel, dan praktik keagamaan masyarakat. Dengan memadukan kajian teks dan penelitian lapangan yang imersif, ia&nbsp; membedah bagaimana tradisi-tradisi kuno tampil dalam wujud wajah baru di masa kini. Cakupan pengajarannya meliputi Buddhisme, Shinto, tradisi meditasi, tradisi populer Jepang, dan metode etnografi untuk mempelajari kehidupan beragama masyarakat Afrika dan Asia di Carolina Selatan.</p>



<p><strong>Noma Bar</strong> adalah seorang desainer grafis, ilustrator, dan seniman yang terkenal dengan gaya minimalisnya yang berani. Karyanya dimuat di Time Out London, BBC, The Economist, dan masih banyak lagi. Ia telah membuat ilustrasi untuk lebih dari seratus sampul majalah dan menerbitkan tiga buku. Bar juga meraih banyak penghargaan, termasuk Gold Clio dan D&amp;AD Yellow Pencil. Pamerannya bertajuk <em>Cut It Out</em> sempat menjadi sorotan di London Design Festival dan masuk nominasi <em>Designs of The Year</em> oleh Design Museum.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/15/demon-slayer/"><em>Demon Slayer</em> Membuka Pintu Baru untuk Memahami Amarah</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/15/demon-slayer/">&lt;em&gt;Demon Slayer&lt;/em&gt; Membuka Pintu Baru untuk Memahami Amarah</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membaca Jika Hidupku Tinggal Sehari, Berhadapan dengan Hati yang Terombang-Ambing</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/07/03/jika-hidupku-tinggal-sehari-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2026 04:56:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[jika hidupku tinggal sehari]]></category>
		<category><![CDATA[kematian dan ketidakkekalan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10446</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Merenungkan kematian itu perlu, tetapi sehatkah jika terus-menerus berpikir bahwa kita akan mati? Jika Hidupku Tinggal Sehari, sebuah buku filsafat Buddhisme yang dibaca dengan penuh benturan batin.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/03/jika-hidupku-tinggal-sehari-2/">Membaca <em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em>, Berhadapan dengan Hati yang Terombang-Ambing</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/03/jika-hidupku-tinggal-sehari-2/">Membaca &lt;em&gt;Jika Hidupku Tinggal Sehari&lt;/em&gt;, Berhadapan dengan Hati yang Terombang-Ambing</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Judul Buku&nbsp; : Jika Hidupku Tinggal Sehari&nbsp;&nbsp;<br>Penulis &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; : Dagpo Rinpoche<br>Ketebalan&nbsp; &nbsp; : v + 142 hlm<br>Penerbit &nbsp; &nbsp; &nbsp; : Saraswati<br>Tahun Terbit: 2017</p>



<p>Bimbang. Membaca buku <em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em> karya Dagpo Rinpoche mau tak mau harus duduk berhadapan dengan kebimbangan batin. Mungkin sebelum masuk pada inti bahasan buku ini, pertanyaan pertama: apa yang dirasakan dan akan dilakukan jika seandainya kita tahu hanya tersisa waktu satu hari bahkan satu jam untuk menjalani hidup ini? Tak ada hari kemarin pun esok, yang ada hanya waktu sekarang.</p>



<p>Tampaknya pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh diri masing-masing. Mungkin juga ia sulit untuk dijawab. Status dalam masyarakat, pekerjaan, relasi, dan kesuksesan materi—semua bayangan dan rancangan masa depan tampak mudah untuk dipikirkan. Hanya saja, waktu yang berjalan begitu cepat tak menyisakan sedikit pun kepastian tentang apa yang akan datang. Semuanya bergerak dinamis, akan habis masanya, atau akan digantikan dengan yang baru. Yang pasti di kehidupan ini hanya ketidakkekalan. Kehidupan yang penuh kemelekatan, ketidakkekalan yang membawa pada titik kematian. Namun dalam Buddhisme, semua itu adalah siklus yang berulang. Kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali. Maka boleh saja berpikir bahwa semua itu bagai jalan tak berujung.&nbsp;</p>



<p><em>Now is now</em>. Sekelebat pikiran itu muncul ketika berhadapan dengan pertanyaan awal di atas. Sebuah filosofi hidup yang multitafsir. Pertama, melihat keberadaan hari ini sebagai hari ini, besok sebagai besok tanpa terbebani oleh masa depan. Atau yang kedua, filosofi itu mengantarkan pada kesadaran yang lebih menyesakkan bahwa detik ini adalah satu-satunya yang nyata, memaksa kita untuk merenung dan mempersiapkan kematian di depan mata. Di antara dua makna itu, mana yang kira-kira lebih tepat? Mungkinkah jawabannya ada di buku <em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em>?&nbsp;</p>



<p>Mungkin juga tidak. Kata ‘mungkin’ ditekankan dalam hal ini sebab menuliskan apa yang dibayangkan dan didapatkan setelah membaca buku ini dipenuhi oleh batin yang terombang-ambing. <em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em> memuat lima pokok bahasan, yaitu <strong>Pendahuluan</strong> sebagai perenungan awal akan hidup, <strong>Kehidupan Manusia yang Berharga, Kematian dan Ketidakkekalan, Mempersiapkan Kematian,</strong> dan <strong>Praktik Pengakuan berdasarkan Sutra Tiga Himpunan</strong>. Buku ini mengajak untuk kembali memaknai kehidupan manusia yang berharga sekaligus mempersiapkan kematian yang bisa datang kapan saja.&nbsp;</p>



<p><em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em> adalah pengingat bahwa terlahir sebagai manusia merupakan keberuntungan yang amat langka dan betapa terbatasnya waktu yang dimiliki. Karena mati itu pasti, merenungkannya dianggap sebagai jalan terbaik untuk bersiap diri. Di samping itu, menghargai hidup bisa dimulai dengan menanamkan motivasi sejak bangun pagi untuk berbuat bajik dan menjalankan satu hari dengan sungguh-sungguh seakan hari itu adalah hari terakhir yang dimiliki, hingga tata cara memurnikan karma buruk yang merintangi praktik Dharma. Sederhananya, buku ini mengajak kita untuk melihat kematian tidak lagi dengan ketakutan dan mempersiapkannya adalah bekal untuk memperoleh kebahagiaan di kehidupan selanjutnya.</p>



<p>Tentu buku ini benar bahwa kematian bisa datang kapan saja dan salah satu cara menghargai kehidupan yang dimiliki saat ini adalah dengan mengingat kematian. Namun, di saat buku ini begitu khusyuk menyuguhkan kiat-kiat mempersiapkan kematian, ada batin yang justru berkelahi ketika membacanya. Sehatkah jika isi kepala terus-menerus dijejali pemikiran bahwa kita akan mati? Sehatkah jika dalam waktu yang terbatas itu hanya diisi oleh perenungan?</p>



<p>Lebih lanjut, buku ini menerangkan bahwa salah satu manfaat mengingat kematian adalah kita akan mati dengan damai dan bahagia. Kalau harus kembali menempatkan batin dan pikiran dengan jujur, rasanya sebagian diri tidak rela untuk menyetujui pernyataan itu. Jika hidup saja diteror oleh keharusan untuk memikirkan kematian setiap saat, bagaimana mungkin kematian itu bisa disambut dengan kelegaan?&nbsp;</p>



<p>Meski secara menyeluruh buku perenungan ini juga ingin memberitahu bahwa antara kesuksesan duniawi dan pencapaian spiritual harus seimbang, serta menjalankan hidup yang ada hari ini dengan sebijak mungkin, tetapi membacanya seakan lebih mengantarkan pada pesimisme dalam melihat kehidupan. Entah karena buku ini memang diperuntukkan untuk lebih melihat kehidupan yang lebih jauh ke depan dan melampaui segala yang bisa direncanakan di kehidupan sekarang atau karena ketidakmampuan diri untuk memahami isinya secara utuh sehingga ada begitu banyak benturan batin yang terjadi.&nbsp;</p>



<p>Terlalu angkuh untuk mengatakan bahwa merenungkan kematian dan segala hal yang sudah dilakukan di hidup ini tidak penting. Di saat-saat tertentu, dialog dengan diri sendiri dan perenungan itu dibutuhkan. <em>Toh,</em> pada akhirnya kita memang tidak kekal di alam semesta ini. Kematian adalah sesuatu yang tak terelakkan. Begitu pula dengan memikirkan cara untuk mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya di kehidupan mendatang. Siapa yang tidak ingin bahagia selamanya? Bahkan makhluk paling kecil pun mendambakan hal itu. Namun sebelum jauh-jauh ke sana, bukankah penting juga untuk lebih dulu bertanya ke diri sendiri apakah selama ini kita sudah benar-benar hidup atau belum? Apakah dengan memikirkan kematian terus-menerus akan membuat kita bisa menjadi lebih hidup? Anggap saja kita sudah punya segudang cara untuk mempersiapkan kematian, tetapi bagaimana dengan cara untuk hidup? Bukan sekadar bernapas, makan, dan melakoni segala aktivitas, tetapi menghidupi diri sendiri. Sudahkah hidup itu dirasakan? Bagaimana mungkin bisa mempersiapkan kehidupan mendatang jika pikiran saat ini hanya berputar pada kematian setiap saat? Antara bersiap mati atau memilih hidup, semua pertanyaan dan keresahan itu hanya mengawang di udara.&nbsp;</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/03/jika-hidupku-tinggal-sehari-2/">Membaca <em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em>, Berhadapan dengan Hati yang Terombang-Ambing</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/03/jika-hidupku-tinggal-sehari-2/">Membaca &lt;em&gt;Jika Hidupku Tinggal Sehari&lt;/em&gt;, Berhadapan dengan Hati yang Terombang-Ambing</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Buku Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2026 10:16:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[catur brahmawihara]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10433</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bagaimana jika seandainya melatih empat kemuliaan batin di tengah krisis adalah cara terakhir untuk bertahan? Bukan tanda pasrah, tetapi cara untuk melawan.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em>, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku &lt;em&gt;Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas&lt;/em&gt;, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Judul Buku  : Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas<br>Penulis         : Dagpo Rinpoche<br>Ketebalan    : iv + 71 hlm<br>Tahun Terbit: 2017</p>



<p>Membicarakan keseimbangan batin di tengah sistem negara korup mungkin terdengar omong kosong. Namun, bagaimana jika seandainya itu adalah cara terakhir untuk bertahan hidup?</p>



<p>Negara yang seharusnya menjadi pelindung rakyat justru hadir sebagai penjajah. Korupsi merajalela, harga bahan pokok dan bahan bakar mencekik warga akibat rupiah melemah, PHK tak kunjung usai, tingginya pengangguran. Negara dalam banyak hal telah absen bahkan menjadi sumber kesengsaraan.</p>



<p>Krisis yang berlapis-lapis sampai hari ini seakan tak menyisakan kabar baik. Membaca berita rasanya hanya menguras sisa kewarasan. Meski di Indonesia sudah akrab dengan slogan “warga jaga warga”, kenyataannya penderitaan berkepanjangan membuat kita bisa kapan saja untuk saling menjatuhkan dan ikut menindas demi bertahan hidup. <em>Toh,</em> sudah tampak jelas dari bagaimana cara kita memperlakukan sesama makhluk sekarang ini, tak terbatas pada manusia saja. Menghakimi sesama warga, diskriminasi terhadap kelompok masyarakat tertentu, menelantarkan bahkan membunuh hewan, ikut merusak lingkungan, dan masih banyak lagi. Empati dan bahu-membahu hanya diperuntukkan bagi segelintir orang dan di permukaan saja.&nbsp;</p>



<p>Inilah ironi menyedihkan dari krisis tak berkesudahan: betapa lantang kita mengutuk segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh sistem negara, tetapi di saat yang sama, kita pun tanpa sadar ikut menindas kaum yang lebih lemah. Penindasan itu akhirnya turun-temurun. Kita sering mengotak-ngotakkan dan mendiskriminasi minoritas, serta melupakan penderitaan bersama demi mengamankan diri sendiri.</p>



<p>Fakta bahwa penderitaan merenggut hak-hak individu juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat secara menyeluruh. Penderitaan sudah membawa kita sampai ke sini, sebuah kerusakan yang entah kapan bisa dibenahi kembali. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain bertarung melawan ketidakadilan dengan semua yang tersisa. Dan karena yang dipertaruhkan adalah kehidupan kolektif, empati dan bahu-membahu itu diperlukan di kemelut seperti sekarang.</p>



<p>Semula, membaca buku karya Dagpo Rinpoche berjudul <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em> di tengah krisis yang terjadi tampak tak ada relevansinya sebab urusan perut lapar dan sistem carut-marut tak bisa dibenahi dengan wejangan spiritual belaka.&nbsp; Namun, berangkat akan hal itu, muncul pikiran berikutnya: bagaimana jika ternyata buku ini<em> </em>dibutuhkan di kondisi sekarang? Menyaksikan dan merasakan sesak, tak terhitung sudah berapa banyak hidup yang dikoyak dan ditindas. Bukankah untuk melawan, tidak hanya perut dan otak yang butuh diberi makan, tetapi juga batin?&nbsp;</p>



<p>Memberi makan batin salah satunya dengan melatih welas asih. Sejatinya, welas asih ada di dalam diri kita. Ketika ketidakadilan terjadi, secara naluri kita terdorong untuk melawan dan menolong. Hal itu karena kita lahir dari kerentanan, kegelisahan batin, dan kebutuhan yang sama. Welas asih muncul akibat dari “kemarahan” yang menolak diam melihat penderitaan sesama. Sadar bahwa perjuangan masih jauh dari selesai, perlawanan pun terus berlanjut. Turun ke jalan, vokal di media sosial, dan menyebar poster “warga jaga warga” seharusnya dilihat sebagai bentuk dari memperjuangkan welas asih. Kendati demikian, welas asih itu masih tak berjalan sebagaimana mestinya di kehidupan kolektif kita. Ia lebih sering dianggap sebagai bentuk pasrah dan kelemahan.</p>



<p>Dalam ajaran Buddha, welas asih termasuk dalam kelompok sifat yang disebut “Catur Brahmawihara”, yang berarti empat kemuliaan tanpa batas. Empat kemuliaan itu meliputi&nbsp; <em>Upeksha</em> (keseimbangan batin), <em>Maitri</em> (cinta kasih tanpa batas), <em>Karuna</em> (welas tanpa batas), dan <em>Mudita</em> (sukacita tanpa batas). Sejalan dengan itu, buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em> memuat panduan dasar memeditasikan empat kemuliaan batin yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh, membawa buku ini ke ruang krisis yang penuh suram adalah penguat bersama untuk membangun kembali solidaritas antarwarga. Ia juga fondasi untuk menumbuhkan rasa empati yang hilang dan cara untuk memperjuangkan hak asasi.&nbsp;</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Upeksha</em></strong><br><em>Selama seseorang tidak memiliki keseimbangan batin dan memiliki klesha kemarahan dan kebencian, maka orang itu masih berada di dalam penderitaan</em>.</p>



<p>Mula-mula, yang harus dikembangkan adalah keseimbangan batin. Tujuannya agar kita bisa melihat semua makhluk setara. Contoh melatih batin yang seimbang bisa dimulai dengan mengesampingkan ego, kemelekatan, dan kebencian. Di keseharian, praktik nyatanya adalah dengan mengendalikan diri untuk tidak marah-marah ketika terjebak kemacetan karena aksi demonstrasi warga. Kita harus menyadari bahwa orang-orang yang turun ke jalan sejatinya sedang berjuang demi menuntut hak hidup kita juga.</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Maitri</em></strong><br><em>Maitri</em> atau cinta kasih adalah kualitas kedua setelah <em>upeksha</em>. Pada langkah ini, kita menempatkan semua makhluk layaknya ibu-ibu kita. Dalam Buddhisme, melihat semua makhluk sebagai ibu-ibu kita lahir dari keyakinan bahwa semua makhluk dalam kehidupan lampaunya pasti pernah menjadi ibu yang penuh cinta dan naluri untuk merawat kehidupan. Ibu juga dipandang sebagai sosok teladan cinta kasih yang universal.&nbsp;</p>



<p>Ciri khas dari <em>maitri</em> sendiri adalah keinginan tulus untuk melihat semua makhluk berbahagia. Di tengah impitan ekonomi, <em>maitri</em> bisa dipraktikkan dengan niat dan secara sadar memilih untuk melariskan dagangan UMKM atau berbelanja di pasar tradisional. Tujuannya untuk memastikan bahwa sesama kelas pekerja, mereka bisa makan dan punya harapan untuk menyambung hidup.&nbsp;</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Karuna</em></strong><br><em>Karuna</em> berarti welas asih. Berbeda dengan <em>maitri,</em> ciri khas <em>karuna</em> adalah batin yang menolak diam ketika melihat makhluk lain menderita. Di tengah krisis, <em>karuna</em> hadir dalam wujud nyata dengan membantu massa aksi yang ditindas atau ditahan ketika aksi di jalan, membantu memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas dan kelompok minoritas di tengah krisis, turut vokal baik secara langsung maupun bersuara di media sosial terkait dampak melemahnya rupiah terhadap kelangsungan hidup seluruh masyarakat, terutama buruh kecil dan petani, dan sebagainya.</p>



<p>Karena berkaitan dengan tatanan sosial atau sistem keadilan, welas asih pada titik ini bersifat universal dan objektif. Sebagai sesama warga dan kelas pekerja yang terkena dampak dari penindasan negara, kita tahu betul bahwa semua makhluk sama menderitanya. Melawan ketidakadilan artinya memperjuangkan welas asih. Tidak peduli suku, agama, jenis kelamin, status sosial, dan orientasi seksual—jika dihubungkan, welas asih dan keadilan punya tujuan yang sama, yakni menghapus penderitaan akibat tindakan semena-mena tanpa tebang pilih.</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Mudita</em></strong><br>Selanjutnya <em>mudita</em>, yaitu sukacita tanpa batas. Dengan turut bersukacita melihat keberhasilan makhluk lain, kita sudah melatih diri untuk membunuh rasa iri dan saling menjatuhkan di masa krisis. Sebagai contoh, turut senang ketika melihat dagangan pedagang kecil ludes terjual atau merasa lega ketika sekelompok massa aksi yang dikriminalisasi akhirnya dibebaskan. Dengan mengapresiasi perjuangan mereka, kita sudah memperkuat napas perlawanan dan merawat kehidupan banyak makhluk.</p>



<p>Pada akhirnya tujuan melatih empat kemuliaan batin adalah agar kebebasan bersama itu bisa diraih dan perpecahan antarwarga akibat konflik horizontal perlahan-lahan bisa diatasi. Namun, praktik kemuliaan batin itu tidak akan pernah utuh jika empati berhenti pada manusia saja. Layaknya manusia, hewan dan tumbuhan juga adalah makhluk yang harus dijaga. Mereka sama-sama ingin mendapatkan ruang hidup yang aman. Sekecil tidak mengusir paksa dan berbuat kasar kepada hewan jalanan, memberi minum dan sisa makanan layak untuk hewan kelaparan, dan tidak merusak alam—kita sudah melatih diri untuk menghormati kehidupan makhluk lain. Menyadari bahwa nyawa makhluk hidup yang paling kecil dan lemah sekali pun sama berharganya dengan nyawa manusia.</p>



<p>Buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em> adalah tamparan untuk kita semua di tengah krisis Indonesia saat ini. Ia seakan menodong kita dengan sebuah pertanyaan: kita membenci penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan negara, tetapi apakah kita sendiri sudah bersikap adil terhadap sekitar? Jawabannya tentu tidak. Tanpa sadar, kita justru melanggengkan represi tersebut. Penderitaan kolektif yang dirasakan sampai hari ini tak pelak menjadikan kita makhluk egois. Karena realitas sosial itu sudah mengeringkan nurani dan empati, maka batin kita perlu dilatih. Bukan untuk memberi toleransi atas ketidakadilan, tetapi sebagai bentuk perjuangan untuk menghapus penindasan.&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em>, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku &lt;em&gt;Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas&lt;/em&gt;, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kita Masih Hidup dalam Bayang-Bayang Penjajahan, tetapi Mengapa Begitu Sinis Melihat Trance?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/06/30/fenomena-trance/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2026 13:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[trance]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10395</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sering dipandang sinis oleh peradaban modern, nyatanya trance adalah wujud kecerdasan kolektif masyarakat adat untuk terus terhubung dengan alam dan leluhur.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/06/30/fenomena-trance/">Kita Masih Hidup dalam Bayang-Bayang Penjajahan, tetapi Mengapa Begitu Sinis Melihat <em>Trance</em>?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/06/30/fenomena-trance/">Kita Masih Hidup dalam Bayang-Bayang Penjajahan, tetapi Mengapa Begitu Sinis Melihat &lt;em&gt;Trance&lt;/em&gt;?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em>Ketika kemajuan modern mengikis sisi humanis dan koneksi spiritual, mengapa kita begitu sinis melihat fenomena trance</em> <em>yang sudah dijalankan masyarakat adat turun-temurun? Padahal, ia adalah cara mereka untuk menjaga alam dan wujud dari kecerdasan kolektif yang tidak kita punya.&nbsp;</em></p>



<p>Membahas topik ini mau tak mau menyeret ingatan pada film <em>Para Perasuk</em> garapan Wregas Bhanuteja yang sempat ramai ditonton dan menjadi diskursus para sinefil. Sayangnya, dari sekian banyak perdebatan yang mengitari film itu, mengapa topik <em>trance</em>-nya sendiri nyaris tak nampak dikupas mendalam? Pun sekalinya disebutkan, ia muncul hanya secuil sebatas menceritakan ulang isi film. Rasanya cukup mengusik sekaligus menarik untuk membawa wacana ini ke lanskap lebih luas. Tulisan ini tidak akan mengupas detail konteks film itu dengan segala printilannya. Ia hanya pemantik, sebab muara tulisan ini adalah <em>trance</em>.</p>



<p>Membicarakan <em>trance</em> hari ini mendudukkan kita kembali untuk menilai di titik mana dalam peradaban kita berdiri. Zaman modern seringkali membawa kehidupan manusianya berada di ambang kemajuan sekaligus kemunduran. Kedua hal ini menciptakan pertanyaan mendasar yang berongga besar: “Siapa yang maju dan mundur?” dan “Dalam hal apa modernitas membawa manusia kepada dua pintu tersebut?”—adalah sedikit di antara banyaknya bayang-bayang kegelisahan yang kerap tak disadari. Modernisasi memudahkan kita untuk mengakses berbagai informasi dan membangun relasi lebih luas. Kehidupan masyarakat yang campur-baur mengantarkan setiap individu pada kebebasan mengekspresikan cara hidup. Di sisi lain, pegangan atas makna hidup terasa begitu jauh dan asing. Kita pun menjadi gampang menilai sesuatu tidak lagi relevan dan kolot hanya dengan mata tertutup. Padahal, dengan kemampuan berpikir yang didukung oleh kemajuan ilmu-ilmu modern, rasanya patut untuk kita melihat kembali fenomena sosial dalam masyarakat dengan kejernihan, salah satunya<em> trance</em>.</p>



<p><em>Trance</em> atau kerasukan sudah akrab dengan keseharian kita. Keberadaannya dapat ditemukan di berbagai ritual kelompok masyarakat tertentu. Di film, di media sosial, sampai di ruang-ruang publik. Namun, keberadaan <em>trance</em> di tengah kehidupan modern justru sering disalahpahami dan dipinggirkan. Buru-buru menyimpulkan <em>trance</em> sebagai tontonan mistis atau gangguan psikologis semata adalah kedangkalan sebab <em>trance</em> punya akar sejarah dalam konteks budaya masyarakat adat. Ada pijakan untuk akhirnya bisa membawa wacana ini ke ruang duduk masyarakat luas. Dr. Ravinjay, peneliti ilmu agama dan filsafat Hindu-Buddha, bersama seorang dosen dan antropolog, Stanley Khu, membedah fenomena <em>trance</em> secara komprehensif dan ciamik dengan berbagai perspektif keilmuan. Diskusi kedua ahli itu disiarkan melalui acara <em>Lamrimnesia Talk</em> di Instagram dengan tajuk <em>Trance: Kerasukan, Psikologi, atau Budaya?.</em></p>



<p>Lantas, apa itu <em>trance</em>? Apakah selalu diartikan sebagai kerasukan?</p>



<p><strong><em>Trance </em>dalam Sudut Pandang Ilmu Pengetahuan</strong></p>



<p><em>Trance</em> memiliki banyak definisi. Dalam ilmu psikologi, kondisi <em>trance </em>adalah bagian dari proses hipnosis atau hipnoterapi. Adapun <em>trance</em> berdasarkan levelnya dibagi menjadi dua, yaitu medium (perantara) dan kerasukan.&nbsp;</p>



<p>Dr. Ravinjay membedah fenomena ini ke dalam tiga perspektif. Pertama, perspektif spiritual. Dalam tradisi Hindu dan beberapa aliran Kristen, kerasukan dipahami sebagai kondisi di mana tubuh seseorang diambil alih dan dijadikan wadah oleh entitas lain. Namun, ada perbedaan level kesadaran yang sangat jelas dalam praktiknya. Di Bali, hal ini digambarkan melalui konsep <em>Kerauhan</em> dan <em>Ngiring</em>. <em>Kerauhan</em> umumnya dialami oleh orang awam yang secara tidak sadar kehilangan kendali, menjadikan tubuhnya sekadar wadah kosong bagi entitas luar. Sebaliknya, <em>Ngiring</em> merujuk pada seorang medium, seperti <em>shaman</em> atau praktisi spiritual yang memiliki kapabilitas dan kontrol atas dirinya saat berinteraksi dengan entitas di luar dirinya.&nbsp;</p>



<p>Kedua, dalam perspektif psikologi dan filsafat Timur, <em>Samkhya</em> dan <em>Yoga</em>. Kerasukan terjadi karena adanya ruang untuk entitas lain menguasai tubuh atau saat pikiran seseorang kosong untuk menerima makhluk lain. Contoh paling sederhana untuk menggambarkan kondisi ini adalah saat seseorang sedang melamun. Ketiga, kerasukan dalam perspektif budaya merupakan suatu kebiasaan manusia yang meliputi cara berkreasi dan membangun koneksi dengan para leluhur yang sudah menjadi tradisi turun-temurun.</p>



<p>Sejalan dengan pandangan tersebut, Stanley Khu menyederhanakan definisi kerasukan yang dapat dilihat dalam dua perspektif, yaitu secara intelektual dan spiritual. Kerasukan dalam tafsir antropolog adalah mekanisme sosio-kultural. Artinya, kerasukan biasanya terjadi pada kelompok masyarakat sosio-ekonomi tertentu, seperti seseorang yang punya tekanan hidup kompleks atau justru kebutuhan untuk melampiaskan <em>(secret desire)</em> ketika berhadapan dengan situasi massal tertentu tanpa perlu takut dihakimi. Meskipun dipandang tidak lazim, sebenarnya hampir setiap masyarakat punya wadah untuk fenomena semacam ini.</p>



<p>Selanjutnya, <em>trance</em> dalam perspektif spiritual. Dalam Buddhisme Tibet, terdapat praktik <em>trance</em> dengan level yang lebih terstruktur, bahkan memiliki semacam jenjang karir. Terdapat peramal yang berperan sebagai medium spiritual untuk bisa dirasuki oleh entitas lain. Peramal ini ada yang level lokal, regional, sampai yang berstatus resmi kenegaraan. Yang paling ikonis adalah Orakel Nechung. Perannya tidak hanya sebagai medium, tetapi juga penasihat spiritual tertinggi di pemerintahan.</p>



<p>Menariknya, praktik ini diturunkan layaknya warisan keluarga. Jadi, kalau orang tuanya adalah seorang medium, anaknya juga akan memiliki bakat yang sama. Awetnya tradisi ini sebab ia dijadikan sebagai profesi wajib. Konon, terdapat kepercayaan yang kuat bahwa menolak takdir sakral ini justru akan mendatangkan mara bahaya atau nasib buruk yang tidak diinginkan.&nbsp;</p>



<p>Baik di Hindu maupun Buddha, kerasukan terjadi karena kesadaran diri seseorang sedang tidak aktif<em>. </em>Dalam filsafat Hindu, kondisi ini disebut dengan istilah <em>antahkarana</em>, sementara dalam Buddha disebut <em>kara</em>.&nbsp;Dalam ajaran Buddha, kondisi ini tidak berarti ada dua entitas yang berebut satu tubuh, melainkan satu pihak aktif dan pihak lainnya sedang tidak aktif. Hal ini berkaitan erat dengan filsafat <em>Samkhya</em> dan <em>Yoga</em> di Hinduisme di mana manusia memiliki pelapis ego yang terdiri dari: pembuat ‘aku’, memuat karma, dan ingatan masa lalu, tetapi tidak sepenuhnya melekat. Sementara dalam Buddhisme, lapisan ini dikenal sebagai <em>saṃskāra</em>. Dalam pengertian pasifnya, <em>saṃskāra</em> merujuk pada segala sesuatu yang eksis karena sebab dan kondisi. Dalam pengertian aktifnya, <em>saṃskāra</em> merujuk pada formasi laten yang tertinggal di batin oleh karma, yakni faktor-faktor yang membentuk atau mengondisikan hal-ihwal.</p>



<p><strong><em>Trance</em></strong><strong> sebagai Jembatan Komunikasi Masyarakat Adat dan Leluhur</strong></p>



<p><em>Trance</em> merupakan salah satu instrumen sakral dalam kesenian tradisional dan penganut agama rakyat. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari kolektif hidup masyarakat adat untuk menghormati dan berkomunikasi langsung dengan para leluhur mereka. Ini juga cara yang paling jujur untuk menjaga ekosistem alam bagi seluruh makhluk.&nbsp;</p>



<p>Contoh nyatanya adalah tradisi <em>Perumah Begu</em> pada masyarakat Karo di Sumatera. Tradisi ini adalah ritual pemanggilan arwah seseorang yang sudah meninggal atau cara berkomunikasi dengan leluhur. Masyarakat Karo meyakini arwah leluhur yang turun adalah untuk memberikan petunjuk atau berinteraksi dengan keturunannya. Biasanya entitas yang merasuki tubuh bukanlah dewa-dewa tinggi, seperti Dewa Siwa atau Ganesha di Hindu. Entitas itu adalah sosok leluhur yang secara vibrasi lebih dekat dengan bumi. Leluhur dalam konsep ini memiliki kekuatan yang sama dengan dewa, tetapi lebih terjangkau secara frekuensi bagi manusia.</p>



<p>Di Hindu, <em>trance</em> dan budaya agama rakyat serupa dirangkul dan diwadahi sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman budaya lokal. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengakuan bahwa hubungan antara manusia dan roh leluhur adalah bagian tak terpisahkan dari struktur sosial dan spiritual masyarakat.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Untuk membuka jalan antara dimensi kehidupan manusia dengan dimensi leluhur itu, musik dan tarian adalah elemen tidak bisa dipisahkan dari <em>trance</em>. Dalam konteks ritual, musik instrumen perkusi, seperti drum dan gendang, secara teknis menghasilkan suara yang mampu mengubah level kesadaran manusia. Otak manusia kemudian mengikuti arus frekuensi suara tersebut agar sinkron dengan ritme musik, sehingga seseorang berpotensi untuk kehilangan kendali atas egonya. Inilah mengapa alat musik tradisional selalu menjadi elemen wajib dalam setiap ritual kerasukan.&nbsp;&nbsp;Selain itu, tarian dan gerakan tubuh adalah bentuk meditasi aktif. Gerakan yang repetitif dan penuh simbolisme membantu seseorang sebagai subjek untuk melepaskan kesadaran logisnya. Ketika dikombinasikan dengan suasana sakral, tarian itu menjadi kendaraan bagi jiwa untuk menyeberang ke dimensi lain. Hal ini membuktikan bahwa budaya kita yang multikultural memiliki teknologi spiritual yang sangat canggih untuk mengelola kesadaran manusia.</p>



<p>Baik pemain maupun penonton, <em>trance</em> memiliki makna simbolik dan sakralitas. Praktik itu bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah ruang di mana nilai-nilai sejarah dan sosio-kultural dirawat secara turun-temurun. Melalui gerakan dan simbol-simbol tertentu, masyarakat adat menegaskan kembali identitas mereka dan menjaga keseimbangan antara dunia yang terlihat dan yang tidak terlihat.&nbsp;&nbsp;</p>



<p><strong><em>Trance</em></strong><strong> di Tengah Bisingnya Kehidupan Urban</strong></p>



<p>Bagi masyarakat adat, <em>trance</em> adalah penghubung antara manusia, alam, dan leluhur untuk saling menyampaikan pesan. Namun, bagaimana ia dilihat dalam kacamata masyarakat urban?</p>



<p>Sering dianggap aneh, tidak masuk akal, dan ditertawakan, tetapi diam-diam <em>trance</em> juga dijadikan masyarakat urban sebagai cara <em>check-out</em> psikis atau sekadar tren ikut-ikutan. Di tengah dunia yang menuntut kompetisi dan performa identitas, <em>trance</em> hadir sebagai semacam pelampiasan eksistensial di mana beban sebagai diri sendiri bisa ditanggalkan sejenak. Larisnya konten-konten kerasukan yang tidak jelas asal muasal dan esensinya adalah bukti bahwa <em>trance</em> dijadikan sekadar hiburan dan ajang mencari untung. <em>Trance</em> yang menyimpan nilai-nilai kemanusiaan akhirnya bergeser seolah kualitas manusia bisa diukur memakai algoritma media sosial.</p>



<p>Melihat contoh <em>trance</em> di atas perlu dibandingkan dengan <em>trance</em> pada kesenian <em>Reak</em> yang berasal dari Sunda. <em>Reak</em> bukan sekadar tontonan mistis atau aksi kerasukan massal belaka. Ia merupakan arsip ekologi masyarakat Sunda agraris. Di zaman Bandung Timur masih berupa wilayah persawahan, <em>Reak</em> digunakan sebagai ritual penghormatan kepada Dewi Padi yang merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil alam yang berlimpah. Sayangnya, masifnya pembangunan urban di tahun 70-an sampai sekarang, lahan pertanian tergusur dan hanya menyisakan bangunan-bangunan beton. Makna ruang sakral <em>Reak</em> sebagai perpaduan antara seni, tradisi, alam, dan spiritual pun ikut punah. Kemunduran itu diperparah dengan era Orde Baru yang membatasi ruang-ruang kesenian tradisional dan stigma buruk yang muncul dari sebagian kalangan terhadap <em>Reak</em>. Miris, bukan?</p>



<p>Seperti tradisi leluhur lainnya, <em>Reak</em> identik dengan <em>trance</em> dan sesajen. Dalam konteks ini, <em>trance</em> tidak serta-merta terjadi begitu saja seperti yang terlihat di konten-konten viral media sosial. Ada ilmu dan proses latihan yang panjang dari para senimannya. Tidak hanya olah fisik, tetapi juga spiritual. Salah satu elemen pentingnya adalah sesajen. Sesajen acap kali dilekatkan dengan produk budaya pop, seperti film horor yang identik dengan pesugihan dan tumbal. Padahal, sesajen sendiri pada dasarnya adalah gambaran mikrokosmos dari dunia nyata kita saat ini. Ia adalah penghubung manusia dengan para leluhur dan alam yang melampaui verbal kita.&nbsp;</p>



<p>Para seniman akar rumput <em>Reak</em> terus berusaha menghidupkan kembali kesenian tersebut di tengah bisingnya kehidupan urban dan pergeseran nilai-nilai tradisi lokal yang tak terhindarkan. Jika menyusuri Bandung Timur, <em>Reak</em> masih lestari dalam upacara syukuran ulang tahun. Ia bukan sekadar kesenian, tetapi napas penghidupan masyarakatnya. Pada tahun 2021, berdirilah sebuah yayasan pemajuan kebudayaan dan pemberdayaan perempuan bernama Puspa Karima yang dipelopori oleh Bunga Dessri Nur Ghaliyah. Yayasan ini merupakan wadah bagi para perempuan dari beragam latar belakang untuk ikut memainkan <em>Reak</em>. Siswa, mahasiswa, pekerja, sampai ibu rumah tangga. Usaha ini adalah cara untuk mengembalikan dan mempertegas esensi <em>Reak</em> sebagai tradisi leluhur yang egaliter di mana perempuan dan laki-laki punya tempat yang setara dalam masyarakat. Bayangkan, kita bicara tentang kesetaraan setiap hari dan menganggap tradisi nenek moyang terlalu kolot untuk paham hal-hal seperti itu. Nyatanya, mereka yang hidup dengan tradisi <em>Reak</em> justru sudah lebih lama menjalankan dan paham arti kesetaraan!</p>



<p>Pada akhirnya, memaknai <em>trance</em> seharusnya seimbang antara sudut pandang intelektual dan humanis. <em>Trance</em> hadir sebagai kontra dari pembangunan urban yang diibaratkan sebagai <em>‘progress without soul</em>.<em>&#8216;</em> Kita sering berpikir bahwa kemajuan adalah milik manusia modern, tetapi fakta menunjukkan hal sebaliknya. Dalam keseharian, kita sudah lama mengubur sisi manusiawi kita sendiri dengan sikap tertutup dan berjarak terhadap tradisi masyarakat adat. Peradaban modern yang dipandang lebih maju dan tinggi harus dipertanyakan ulang sebab masyarakat kita sendiri sudah terpapar oleh banyak penjajahan yang mengaburkan identitas kita baik sebagai individu maupun masyarakat multikultural. Jika dibandingkan dengan masyarakat adat yang setiap hari hidup bersama alam, mereka memiliki kecerdasan kolektif untuk terhubung dengan alam dan menyampaikan pesan-pesan leluhur yang tak lekang oleh zaman.&nbsp;</p>



<p>Jadi, bukankah modern yang sering dijunjung tinggi itu lebih pantas disebut kemunduran?</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/06/30/fenomena-trance/">Kita Masih Hidup dalam Bayang-Bayang Penjajahan, tetapi Mengapa Begitu Sinis Melihat <em>Trance</em>?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/06/30/fenomena-trance/">Kita Masih Hidup dalam Bayang-Bayang Penjajahan, tetapi Mengapa Begitu Sinis Melihat &lt;em&gt;Trance&lt;/em&gt;?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Robert Thurman, Seorang Buddhis yang Tak Terlihat Layaknya Buddhis</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/06/19/robert-thurman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2026 03:55:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10389</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Robert F. Thurman, seorang mantan biksu Buddhisme Tibet yang menjadi penghubung bagi Dalai Lama dengan budaya Amerika, serta sosok yang sangat vokal menggaungkan kemerdekaan Tibet.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/06/19/robert-thurman/">Robert Thurman, Seorang Buddhis yang Tak Terlihat Layaknya Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/06/19/robert-thurman/">Robert Thurman, Seorang Buddhis yang Tak Terlihat Layaknya Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><a href="https://archive.nytimes.com/www.nytimes.com/books/98/07/12/specials/thurman-profile.html">Diterjemahkan dari “<em>Robert Thurman Doesn’t Look Buddhist</em>” oleh Rodger Kamenetz, <em>New York Times Magazine </em>1996</a></p>



<p>Prof. Robert F. Thurman, tinggi dan menawan dengan setelan biru tua dan dasi merah-kuning nyentriknya, berjalan ke tengah panggung Carnegie Hall. Ialah seorang mantan biksu Buddha Tibet dan warga New York. Hadir sebagai presiden Tibet House, ia memperkenalkan konser amal tahunan organisasinya itu kepada khalayak ramai. Dengan candaan khasnya, ia menyebut Tahun Baru Tibet sebagai Tahun Tikus Api. Ia memuji seluruh penampil malam itu, di antaranya Michael Stipe dan Emmylou Harris, karena telah menyisipkan sebuah puisi menyentuh hati untuk orang-orang yang sedang berjuang dan menderita. Setelahnya, Thurman meninggalkan panggung. Tampak gugup ia bergandengan tangan dengan penyanyi Natalie Merchant dan Patti Smith. Dadon, seorang penyanyi balada Tibet yang telah diasingkan, menuntun mereka dalam tarian Tahun Baru Tibet. Setelah konser, Thurman bergegas naik ke lantai atas untuk memperkenalkan kepada para wartawan salah satu putrinya, seorang aktris bernama Uma Thurman, dan kepada Harrison Ford, tuan rumah dalam pesta itu. Di sana, Thurman tampil dengan penuh semangat, dikelilingi oleh bintang rock, model, bintang film, dan para donatur Tibet House.</p>



<p>Ketika saya bertanya bagaimana mungkin seorang Buddhis yang kesehariannya dekat dengan aktivitas meditasi bisa berhadapan dengan hiruk-pikuk seperti ini, Thurman menjawab, “Ada stereotip bahwa Buddhisme itu pasif: menanggalkan segala hal duniawi, mengasingkan diri—mati begitu saja.” Ia tertawa sambil menjelaskan tentang bagaimana meditasi juga bisa menghasilkan energi luar biasa. Thurman menikmati segala bentuk kontradiksi dalam hidupnya. Baginya, pencerahan seorang Buddhis adalah “bersabar dengan ketidaknyamanan kognitif, kemampuan untuk hidup dengan indahnya kerumitan hal-ihwal.”&nbsp;</p>



<p>Tampaknya, begitulah jalan hidup Thurman, dipenuhi oleh ketidaknyamanan kognitif. Di samping ia adalah cendekiawan yang sangat dihormati dan menjabat sebagai Profesor Je Tsongkhapa dalam Kajian Buddha Indo-Tibet di Columbia University, Thurman juga bisa tampil layaknya seorang pengkhotbah, dalam hal ini perannya&nbsp; sebagai penyebar ajaran Dharma. Faktanya, kini ia dikenal sebagai tokoh Buddhisme Tibet berpengaruh dan karismatik di Amerika:&nbsp; Ia adalah seorang penerjemah dan penulis yang produktif (<em>“Essential Tibetan Buddhism,”</em> merupakan antologi naskah-naskah penting yang ia terjemahkan dan telah diterbitkan di HarperCollins), yang vokal menggaungkan kemerdekaan Tibet dan menjadi penghubung bagi Dalai Lama dengan budaya Amerika.</p>



<p>Di San Fransisco belum lama ini, dia berbicara selama empat jam sepanjang makan siang sampai suara penyedot debu menyadarkan kami bahwa restoran itu sudah kosong oleh pengunjung. Kami lalu melanjutkan berkeliling kota dengan Mustang merah yang ia sewa, dan ia kembali membahas Dharma, ajaran Buddha, selama tiga jam di California Institute for Integral Studies. Kuliah-kuliah yang ia berikan bak lakon psikologis dengan vokal berlapis. Prof. P. Jeffrey Hopkins dari University of Virginia, kolega Thurman dan sesama penerjemah, menjulukinya sebagai “<em>Red Skelton</em>-nya Buddhisme Tibet.”</p>



<p>Rambut merah bergelombangnya yang menyibak sampai ke belakang kupingnya bak sayap menutupi kepalanya yang besar. Jika diperhatikan, mata kanannya sering bergerak-gerak, sementara yang kiri diam menatap lurus ke depan. Berikan satu pertanyaan dan dengan suara khas Thurman yang sengau dan melengking itu, ia bisa berorasi panjang lebar ke mana-mana. Contohnya ketika membahas Buddha setelah masa pencerahannya: <em>“</em>Ia bagai medan energi yang bergelora. Seluruh tubuhnya berwarna emas. Apa kalian tahu sehelai rambut putih yang ada di bagian mata ketiganya? Layaknya transistor, itu aktif dengan sendirinya dan—zzzzzz—cahayanya memancar ke segala arah.”</p>



<p>Di usianya yang ke-54 tahun, Thurman seakan punya energi semacam itu. Natalie Merchant, sahabat baik di keluarganya, mengenang bagaimana Thurman mampu memindahkan sebuah batu besar sendirian dari kampung halamannya di Woodstock, New York. Putranya, Dechen, juga ingat betul ketika ayahnya memanjat pohon sambil memegang gergaji untuk memotong dahan yang sudah hampir menerobos jendela. “Dulu ia seorang biksu, dan biksu harus mengikrarkan 252 sumpah” kata istrinya, Nena von Schlebrugge-Thurman. Ia adalah bendahara Tibet House. “Dan banyak dari sumpah itu berhubungan dengan keharusan untuk tidak memikirkan diri sendiri dan senantiasa hadir untuk membantu orang lain. Akibatnya, ia punya kebiasaan buruk untuk selalu mengiyakan segala hal. Seluruh keluarga selama bertahun-tahun melakukan berbagai cara agar ia mengurangi kebiasaan itu. Ia sudah jauh lebih baik sekarang.”</p>



<p>Mungkin saja. Terbukti selama dua tahun terakhir Thurman menerbitkan karya terjemahan barunya berjudul <em>The Tibetan Book of the Dead,</em> menulis untuk buku bergambar “<em>Inside Tibetan Buddhism”,</em> dan “<em>Essential Tibetan Buddhism”</em>. Satu buku lagi tentang politik Tibetan sedang dalam proses pengerjaan. Beberapa tahun sebelumnya, ia turut membantu dalam penyelenggaraan pameran seni keliling Tibet dengan tema <em>&nbsp;“Kebijaksanaan dan Welas Asih”</em>.&nbsp;</p>



<p>Thurman mengatakan bahwa ia percaya bahwa ajaran Buddhisme Tibet—sebagaimana yang dipraktikkan Dalai Lama selama hidupnya—dapat membantu umat manusia. Salah satu yang menjadi semangat hidup Thurman adalah Tibet House. Atas permintaan langsung Dalai Lama, ia mendirikannya tahun 1987 bersama aktor Richard Gere dan dua orang lainnya. Sebagai negara yang sedang dijajah, tempat itu berfungsi layaknya kedutaan budaya. Di samping itu, Tibet House juga sedang membangun sebuah museum tanpa dinding yang berisi perpustakaan dan arsip karya seni dan benda-benda ritual yang sewaktu-waktu dapat dikembalikan ke Tibet, serta mensponsori konferensi perdamaian yang akan dihadiri Dalai Lama di California.</p>



<p>Di masa mudanya, Thurman merasa tak perlu banyak ikut campur terkait perjuangan politik Tibet. “Saya pikir bahwa Tibet sudah berbaik hati menjaga ajaran Dharma dari India dan mewariskannya kepada saya,” katanya, “Lalu sekitar 15 tahun yang lalu saya sadar bahwa betapa egoisnya pemikiran tersebut. Saya lalu memutuskan untuk balas budi dengan mencoba membantu menarik perhatian dunia atas ketidakadilan luar biasa yang mereka alami.”</p>



<p>Dengan kecerdasan, keahlian, dan koneksinya dengan orang-orang mentereng, bisa dikatakan Thurman memenuhi kualifikasi untuk mengemban tanggung jawab tersebut. Namun, di masa mudanya, ia menghabiskan waktu bertahun-tahun sebagai biksu yang tidak menikah. Seperti yang ia ceritakan, di usianya 20 tahun kala itu, tekadnya untuk menanggalkan segala hal duniawi sama besarnya dengan keinginannya sekarang untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.</p>



<p>Thurman tumbuh di keluarga penuh romansa dan drama. Ibunya, Elizabeth Farrar, putus kuliah demi mengejar mimpinya sebagai aktris. Ayahnya, Beverley, meninggalkan studi doktoralnya di William and Mary demi menyusul Elizabeth ke New York dan bekerja sebagai editor untuk <em>Associated Press</em>. Augustin Duncan, saudara laki-laki penari Isadora Duncan, rutin mengadakan acara pembacaan naskah drama di rumah keluarga Thurman. Robert dan saudara-saudaranya ikut serta bersama para tamu seperti Laurence Olivier. Di sisi lain, Thurman suka diam-diam membaca komik dan menyembunyikannya di balik buku Shakespeare. Bulan April di tahun terakhir SMA-nya di Phillips Exeter, ia dan seorang temannya kabur untuk bergabung dengan Fidel Castro, seorang gerilyawan masa Revolusi Kuba. Kata Thurman, demi keberlangsungan revolusi, mereka dipulangkan saat tiba di Miami. Gara-gara itu, Thurman pun dikeluarkan dari sekolahnya dan ia harus menunggu setahun di Meksiko sebelum akhirnya diterima di Harvard tahun 1959.</p>



<p>Di tahun yang sama pada musim semi, ia menikahi Christophe de Menil, seorang ahli waris dan kolektor seni. Di akhir musim semi tahun 1961, sebuah besi pencongkel ban meleset menghantam mata kiri Thurman hingga hancur ketika ia sedang mengganti ban mobilnya. Inilah yang menjadi titik baliknya: Thurman tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk minum sampanye mahal dan memandangi lukisan-lukisan mewah. Ia bertekad untuk menemukan jalan spiritualnya. Tekadnya itu terinspirasi dari filsafat Nietzsche dan naskah-naskah Buddha yang ia baca. “Saya sudah siap pergi ke Timur,” katanya. “Tetapi istri saya cemas. Akhirnya, saya melakukan apa yang dilakukan Sang Buddha: meninggalkan istri dan anak saya, lalu pergi ke sana. Memang rasanya sangat menyedihkan, tetapi saya merasa bahwa sebagai seorang ayah sekali pun, apa gunanya hidup jika tidak mencapai pencerahan?”</p>



<p>Keluar dari Harvard dan berkelana menuju India melintasi Turki dan Iran, penampilan Thurman tampak seperti pengemis. Ibunya mengira ia sudah gila, tetapi ayahnya yang sangat mengagumi tokoh spiritual Santo Fransiskus justru membela keputusannya. “Kamu melakukan apa yang selama ini selalu ingin kulakukan,” kata sang ayah.</p>



<p>“Gaya saya memang sudah mirip Santo Fransiskus kala itu,&#8221; renung Thurman. “Satu mata saya bolong, rambut gondrong, dan janggut acak-acakan. Celana saya hitam gombrang khas Afganistan, berbaju kaos oblong berbalut selendang putih dan sandal kulit.” Di India, ia dipekerjakan untuk mengajar bahasa Inggris kepada para <em>tulku</em> di pengasingan, yakni para biksu muda yang diyakini sebagai reinkarnasi tokoh suci Tibet. “Saya merasa seperti di surga, karena begitu saya bertemu orang-orang Tibet, saya tahu bahwa mereka memiliki sesuatu yang saya cari.”</p>



<p>Namun, Thurman harus pulang ke New York karena ayahnya meninggal mendadak. Ia kemudian mengunjungi sebuah biara Buddha di Freewood Acres, New Jersey. Ia bertemu dengan guru spiritual pertamanya, seorang biksu Mongolia berusia 61 tahun bernama Geshe Ngawang Wangyal. Geshe adalah gelar akademis tingkat tinggi untuk biksu. Thurman sangat tersentuh oleh kedalaman yang tenang dari sosok biksu tersebut dan mulai belajar darinya. “Seperti sebuah kelahiran kembali bagi saya,” tuturnya, “Saya bisa berbicara bahasa Tibet dengan fasih hanya dalam 10 minggu.”</p>



<p>Thurman membantu gurunya membangun kuil. Ia rajin bermeditasi. “Saya tidak bilang saya langsung mencapai nirwana—sampai sekarang pun saya tidak tahu apa itu nirwana—tetapi saya merasakan kelegaan yang luar biasa,” katanya. “Saya masih punya banyak sifat egois yang buruk, salah satunya adalah sangat terobsesi untuk menjadi biksu karena saya ingin hidup seperti itu selamanya.”</p>



<p>Meskipun Geshe Wangyal menasihatinya agar tidak mengambil jalan itu, beliau tetap bersedia membawa Thurman bersamanya ke Dharamsala, India. “Karena kamu sangat keras kepala, akan kuberitahu Dalai Lama bahwa kamu ingin menjadi biksu,” kata gurunya. “Siapa tahu dia pikir itu ide yang bagus.”</p>



<p>Di sanalah terjalin sebuah hubungan yang luar biasa. Saat itu Thurman berusia 23 tahun, sedangkan Dalai Lama ke-14 berusia 29 tahun.</p>



<p>“Sebetulnya kamu tidak belajar langsung dengan Dalai Lama,” kata Thurman. “Jika dirimu berada di bawah pengawasannya, beliau akan menugaskan guru-guru yang ia pilih untuk mengajarimu. Beliau ingin bertemu dengan saya dan belakangan saya baru sadar bahwa hal itu bukan untuk memberi saya pengajaran, tetapi karena saya bisa berbahasa Tibet. Pada dasarnya, selama satu setengah tahun itu beliau ingin tahu tentang apa yang sudah saya pelajari selama di Exeter dan Harvard. Kami bertemu seminggu sekali. Setiap kali saya bertanya ‘Bagaimana dengan pemikiran filsafat Buddhisme Mahayana ini?’ Beliau menjawab: ‘Oh, tanyakan ke guru ini atau guru itu tentang hal itu. Sekarang coba jelaskan ke saya apa itu teori Freud? Bagaimana dengan fisika? Ceritakan apa yang kamu tahu tentang sejarah Perang Dunia II?’”</p>



<p>Ditahbiskan langsung oleh Dalai Lama pada tahun 1965, Thurman menjadi orang Barat pertama yang menjadi biksu Buddha Tibet. Ia kembali ke New York dengan kepala botak dan jubah merah marun. “Setelah melihat foto saya ketika masih menjadi biksu, putriku, Uma, berkata, ‘Ayah mirip Henry Miller yang sedang memakai baju perempuan.’” Fase menjadi biksu itu hanya bertahan selama satu tahun. Suatu waktu Geshe Wangyal bertanya pada Thurman apakah dunia benar-benar membutuhkan atau sekadar menginginkan biksu kulit putih. “Beliau meyakinkanku bahwa alternatifnya adalah menjadi biksu Protestan,” kata Thurman. “Seorang profesor, maksudnya.”</p>



<p>Di sebuah pesta di New York, Thurman kemudian bertemu Nena von Schlebrugge, mantan istri Timothy Leary. Menikah pada tahun 1967, kini mereka memiliki empat orang anak dan tinggal di Manhattan, tak jauh dari Columbia. Thurman kembali ke Harvard untuk menyelesaikan studinya dan melanjutkan program pascasarjana di Departemen Kajian Bahasa Sanskerta dan India. “Saya yang mendirikan jurusan Buddhologi di sana” katanya. “Saya hanya menuliskannya di formulir dan mereka bilang, ‘Kami tidak punya jurusan ini di sini, tetapi oke, sepertinya ini bisa dipertimbangkan.’”</p>



<p>Buddhisme Tibet, Zen, dan Theravada adalah yang paling populer di kalangan orang-orang Barat saat ini. Di antara ketiganya, bisa dikatakan Buddhisme Tibet adalah yang tersulit dan paling eksotis, dengan penekanan pada sujud, visualisasi, pemujaan guru, dan yoga istadewata, di mana para praktisi mengidentifikasikan dirinya dengan para istadewata ini sebagai jalan menuju tingkatan kesadaran yang lebih tinggi. Sekarang Buddhisme Tibet terdiri atas empat kelompok utama, di antaranya Geluk, aliran Dalai Lama yang dipandang sebagai aliran yang paling filosofis dan ilmiah.</p>



<p>Kontribusi besar Thurman terhadap pemahaman akan Buddhisme Tibet adalah karya terjemahannya yang berjudul “<em>The Essence of True Eloquence”, </em>karya cendekiawan Je Tsongkhapa dari abad ke-14. Terjemahannya itu diterbitkan dengan tajuk “<em>The Central Philosophy of Tibet</em>”. Thurman kembali ke India pada tahun 1970 untuk mengerjakan proyek tersebut, menghabiskan waktu selama berjam-jam dengan Dalai Lama yang memberikan catatan-catatan pribadinya. Thurman membicarakan aktivitas penerjemahan dalam istilah Tibet <em>lotsawa, </em>yang berarti “mata dunia”, atau jendela untuk melihat dunia yang baru.</p>



<p>Bagi beberapa pengamat, “mata dunia” Buddhisme ini menjadi pembaharu dan berkembang di Barat selama kurun waktu 30 tahun terakhir. Buddhisme Tibet banyak terbantu dengan sumbangsih para profesor pelopor, seperti Thurman dan Jeffrey Hopkins yang dinilai berhasil dalam menjalankan program pascasarjana bidang studi Buddhisme Tibet. Kini, muncul pakar literatur Tibet dari generasi baru dan penerbit-penerbit besar pun secara konsisten memproduksi terjemahan dari teks-teks Dharma Tibet.</p>



<p>Berkat Dalai Lama, ketertarikan masyarakat terhadap ajaran ini meningkat. Para guru Tibet pun turut andil untuk membawa pengaruhnya di dunia Barat, termasuk Chogyam Trungpa yang mendirikan Naropa Institute di Boulder, Colo, dan Sogyal Rinpoche, penulis dari karya populer “<em>The Tibetan Book of Living and Dying”</em>. Kesuksesan <em>Tricycle: The Buddhist Review,</em> sebuah majalah yang membahas ajaran Buddha beserta profil tokoh-tokohnya, juga ikut berkontribusi dalam pergerakan ini.</p>



<p>Namun, setiap pergerakan pasti menimbulkan huru-hara. Donald S. Lopez, seorang profesor Kajian Buddha dan Tibet di University of Michigan dan penulis “<em>Prisoners of Shangri-la”</em>—buku yang membahas pengaruh Buddhisme Tibet di negara Barat, menjadikan katalog jualan J. Peterman sebagai contoh: “Mereka jualan jaket yang diberi nama dukun Tibet. Di baris pertama iklannya bilang: ‘Sudah jelas. Sekarang bukan zamannya lagi batu kristal, tetapi Buddhisme Tibet.’”</p>



<p>Buddhisme Tibet pun menarik hati banyak selebriti, misalnya Richard Gere yang bekerja sebagai anggota dewan International Campaign for Tibet, sebuah kelompok gerakan politik di Washington. Gere sering berkunjung ke Dharamsala dan merupakan murid yang tekun dari Dalai Lama. Meski begitu, di antara selebriti yang datang ke acara penggalangan dana Tibet House, hanya sedikit yang benar-benar merupakan praktisi Buddhis, seperti yang mereka tegaskan. “Hanya karena orang-orang ingin membantu Tibet, bukan berarti mereka semuanya adalah Buddhis”, kata Thurman.</p>



<p>Sebagai seorang cendekiawan, Thurman mengkritik banyaknya pandangan keliru yang populer tentang Buddhisme. Sebagai contoh, ia mengutip sebuah artikel majalah Tricycle yang ditulis oleh Helen Tworkov sekaligus editor majalah tersebut pada tahun 1992. Dalam artikelnya, Tworkov dalam pemahamannya menulis bahwa Buddhisme sangat menekankan ajaran anti-aborsi, tetapi di saat yang sama ia juga memaparkan “Ajaran Dharma bisa dipakai untuk membenarkan dukungan maupun tantangan terhadap aborsi.” Menurut Thurman, “Itu adalah pandangan yang salah. Aborsi itu mengambil nyawa makhluk hidup. Para konservatif sudah benar secara emosi, membunuh janin sama dengan pembantaian massal dan isu ini bukan sesuatu yang abu-abu.”</p>



<p>Kebingungan semacam itu banyak muncul di orang Barat karena mereka melihat Buddhisme tidak jauh-jauh hanya seputar praktik meditasi. “Orang-orang Barat yang anti Kristen atau anti Yahudi berpikir bahwa ajaran Buddha lebih fleksibel karena tidak punya aturan yang ketat,” kata Thurman. “Jelas itu salah. Dalam Buddhisme, fondasi dasar meditasi sendiri adalah sistem moral yang kokoh.”</p>



<p>Pada dasarnya, Buddhisme adalah sebuah sistem pendidikan, Dan sistem biara masih menjadi penemuan terhebat Sang Buddha di bidang sosial. Sistem biara ini memungkinkan pencarian spiritual sebagai alternatif yang sahih dari ambisi militer dan merawat revolusi keagamaan anti-kekerasan di India. Tibet kemudian menjadi pusat pembelajaran terkait kebiaraan dan filsafat ketika Buddhisme berusaha dimusnahkan dalam invasi Muslim di India pada abad ke-8 hingga ke-12.</p>



<p>Menurut Thurmin, puncak kejayaan Buddhisme terjadi pada masa pemerintahan Dalai Lama ke-5 pada tahun 1642, dikenal juga dengan julukan “<em>The </em><em>Great Fifth</em>”. “Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah Buddhisme, pemimpin agama mengemban peran penting dalam negara,” seperti yang ditulis Thurman dalam <em>“Essential Tibetan Buddhism</em>”. Sistem militer perlahan dihapuskan dan selama tiga abad, tercipta kedamaian di sekumpulan masyarakat yang secara sukarela menanggalkan senjatanya. Sebagian akademisi, termasuk Donald Lopez, menilai adanya bahaya dari terlalu mengidealisasikan sejarah Tibet. Meski begitu, Thurman tetap pada pendiriannya. Ia mengatakan bahwa dia yakin pada Dalai Lama saat ini sedang mengangkat ajaran Buddha ke ranah global.</p>



<p>Hubungan yang terjalin antara Thurman dan Dalai Lama begitu hangat dan mendalam. Saya melihat mereka bersama pada tahun 1990 di Dharamsala. Saat itu sedang ada pertemuan antara Dalai Lama dengan para pendeta dan cendekiawan Yahudi. Di saat masyarakat Tibet memperlakukan pemimpinnya dengan penuh hormat, Thurman terang-terangan senang berkelakar, membuatnya tertawa, bahkan berani menyindir seorang guru Buddha itu karena terlalu rendah hati.</p>



<p>Thurman merasa bahwa Dalai Lama yang tidak pernah menggunakan kekerasan dalam perjuangannya untuk Tibet justru melahirkan definisi baru tentang kepahlawanan. Di era senjata nuklir dan perang teknologi sekarang, pahlawan adalah mereka yang punya kekuatan untuk menahan diri tidak meledak dalam kemarahan dan kebencian. Thurman menegaskan, <a href="https://lamrimnesia.org/2023/10/09/dalai-lama-kenyataan-tentang-perang/">“Itulah yang terus digaungkan Dalai Lama untuk dunia ini.”</a></p>



<p>Balik ke acara konser di Carnegie Hall, Thurman memberi pesan yang sangat jelas tentang arti “kepahlawanan yang keren”: “Kita yang mengaku menginginkan perdamaian tidak seharusnya memberikan penghargaan pada kekerasan. Kita harus memberikan penghargaan kepada mereka yang menjadikan perdamaian sebagai jalan sekaligus tujuan mereka.”</p>



<p>Di tengah riuhnya alunan musik pesta malam itu, saya kembali teringat pada sosok pemuda yang berkelana ke India untuk menjadi biksu dengan bertelanjang kaki dan celana gombrang Afganistannya. Dengan jadwalnya yang kini kian padat, mulai dari mengajar, menulis, dan aktif dalam gerakan hak asasi—tidakkah ia merindukan hidup yang sepi nan tenang?</p>



<p>“Ada banyak kualitas dalam dirimu yang tidak akan bisa tumbuh jika kamu hanya bermeditasi jauh dari keramaian…” teriak Thurman. “Kamu harus keluar ke tempat orang bisa mengganggu dan melukaimu. Lalu kamu harus menerima dan bersabar menghadapi luka itu. Seperti yang dikatakan Dalai Lama, jika tidak ada musuh, kamu tidak bisa melatih kesabaran. Dan jika tidak ada orang yang butuh pemberian, kamu tidak bisa melatih kemurahan hati.”</p>



<p>Seorang donatur besar menghampiri dan Thurman balik menyambutnya. “Menjadi seorang Buddhis bukan berarti harus lari dari dunia ini,” dari balik bahunya ia berseru. “Itu berarti…”, dan apapun kalimat selanjutnya yang ingin ia katakan, ia perlahan hilang, seakan tertelan dimakan oleh kerumunan pesta.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/06/19/robert-thurman/">Robert Thurman, Seorang Buddhis yang Tak Terlihat Layaknya Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/06/19/robert-thurman/">Robert Thurman, Seorang Buddhis yang Tak Terlihat Layaknya Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Cabang Lupa Akarnya &#8211; Antara Waisak &#038; &#8220;Interbeing&#8221;</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/06/17/ketika-cabang-lupa-akarnya-antara-waisak-interbeing/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2026 05:44:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[pratityasamutpada]]></category>
		<category><![CDATA[vesak festival 2026]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10379</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Upaya memperkenalkan nilai kebaikan Buddhadharma haruslah diimbangi dengan memperkuat fondasinya dan menyediakan jembatan bagi yang tertarik untuk memahami intisarinya dan melakukan praktik nyata.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/06/17/ketika-cabang-lupa-akarnya-antara-waisak-interbeing/">Ketika Cabang Lupa Akarnya – Antara Waisak & “Interbeing”</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/06/17/ketika-cabang-lupa-akarnya-antara-waisak-interbeing/">Ketika Cabang Lupa Akarnya &#8211; Antara Waisak &#038; &#8220;Interbeing&#8221;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>&#8220;Sebuah pohon tidak perlu mewarnai akarnya agar tampak seperti cabang.&#8221; Namun, itulah agaknya yang sedang terjadi dengan umat Buddha di Indonesia.</p>



<p>Tahun ini, sebuah festival Waisak diselenggarakan di Mal Taman Anggrek dengan mengambil tema &#8220;<em>Interbeing</em>&#8220;, sebuah konsep yang dipopulerkan Thich Nhat Hanh untuk menggambarkan saling ketergantungan segala sesuatu.</p>



<p>Pada poster acara tersebut, istilah &#8220;<em>Interbeing</em>&#8221; diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Indonesia, Mandarin, Korea, Thailand, dan Sanskerta. Untuk Sanskerta digunakan istilah&nbsp;<em>Paraspar Astitva</em>&nbsp;(परस्पर अस्तित्व), yang secara harfiah berarti &#8220;saling keberadaan&#8221; atau &#8220;keberadaan yang timbal balik&#8221;.</p>



<p>Sekilas tampak sebagai penghormatan terhadap akar Asia Buddhisme. Namun, setelah ditelusuri, muncul sebuah kejanggalan. <em>Paraspar Astitva</em> bukan istilah yang dikenal dalam kanon Buddhis klasik. Tidak dalam literatur Pali, tidak dalam Sanskerta. Berbeda dengan <em>pratītyasamutpāda</em>, <em>śūnyatā</em>, atau <em>anātman</em> yang memiliki sejarah panjang dan posisi doktrinal yang jelas.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1024" height="495" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/14-1-1024x495.jpg" alt="" class="wp-image-10383" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/14-1-1024x495.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/14-1-300x145.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/14-1-768x371.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/14-1-150x73.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/14-1-450x218.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/14-1-1200x580.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/14-1-600x290.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/14-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Buddha bukan satu-satunya sosok yang mengajarkan cinta kasih, tapi keunikannya adalah Buddha mengajarkan sistem latihan untuk menumbuhkan cinta kasih yang murni untuk semua orang, bukan &#8220;orang baik&#8221; saja.</figcaption></figure>



<p>Yang tampaknya terjadi adalah sebaliknya: konsep modern &#8220;<em>interbeing</em>&#8221; diciptakan, lalu diterjemahkan balik ke dalam Sanskerta agar terdengar klasik. Sebuah produk kontemporer dipakaikan kostum tradisional.</p>



<p>Padahal, jika tujuannya adalah menggambarkan realitas saling ketergantungan, Buddhisme telah memiliki konsepnya sendiri sejak lebih dari dua ribu tahun lalu: <em><a href="https://play.google.com/store/books/details/Pratityasamutpada_12_Mata_Rantai_yang_Saling_Berga?id=g7CWDwAAQBAJ&amp;hl=en">pratītyasamutpāda</a></em>, salah satu ajaran paling fundamental, bahwa segala fenomena muncul dari sebab dan kondisi yang saling bergantung.</p>



<p>Jika &#8220;<em>Interbeing&#8221;</em>&nbsp;adalah cabang,&nbsp;<em>pratītyasamutpāda&nbsp;</em>adalah akarnya. Namun, akar itu tidak muncul di poster. Yang ditampilkan hanya cabangnya, lengkap dengan terjemahan ke berbagai bahasa, termasuk Sanskerta yang bukan Sanskerta Buddhis.</p>



<p>Ini bukan sekadar permasalahan istilah. Ini adalah gejala dari sebuah kecenderungan yang semakin sering terlihat dalam Buddhisme kontemporer: kemasan yang semakin dipoles, sementara sumbernya semakin jarang dikenali.</p>



<p>Inovasi bukanlah masalah. Dharma memang harus mampu berbicara kepada zamannya. Namun, inovasi yang sehat berfungsi sebagai jembatan menuju akar, bukan pengganti akar!</p>



<p>Jika &#8220;<em>Interbeing</em>&#8221; mendorong seseorang mempelajari pratītyasamutpāda, maka ia telah menjalankan fungsinya. Namun, jika ia berdiri sendiri, perlahan menggantikan konsep yang melahirkannya, maka yang terjadi bukan perkembangan, melainkan pemutusan.</p>



<p>Dalam teks &#8220;Pujian Terhadap Kesalingbergantungan&#8221;,&nbsp;<a href="https://buddhazine.com/mengenal-aspek-je-tsongkhapa-sebagai-seorang-mahasiddha/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Je Tsongkhapa</a>&nbsp;menulis bahwa ketika kesunyataan dipahami sebagai hakikat dari kemunculan bergantungan, maka tidak ada lagi pertentangan antara ketiadaan keberadaan inheren dengan adanya tindakan dan pelaku.</p>



<p>Dengan kata lain,&nbsp;<em>pratītyasamutpāda&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>śūnyatā&nbsp;</em>bukan dua ajaran yang terpisah, melainkan dua sisi dari koin yang sama. Segala sesuatu muncul secara bergantungan karena ia sunya dari keberadaan yang inheren, dan justru karena sunya, maka ia dapat muncul secara bergantungan.</p>



<p>Dari sudut pandang ini, &#8220;<em>Interbeing&#8221;&nbsp;</em>sesungguhnya hanyalah salah satu ekspresi kontemporer dari wawasan yang jauh lebih dalam. Mengangkatnya tanpa menghubungkannya dengan&nbsp;<em>pratītyasamutpāda&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>śūnyatā&nbsp;</em>berisiko membuat kita mengagumi cabang sambil melupakan akar yang menopangnya.</p>



<p>Cara paling aman untuk memasuki pemahaman ini adalah melalui pembelajaran bertahap, sebagaimana diajarkan oleh <a href="https://buddhazine.com/sosok-atisha-penting-untuk-dipahami-oleh-orang-indonesia/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Guru Atisha</a> dan Je Tsongkhapa melalui <a href="https://lamrimnesia.org/2019/06/14/lamrim-in-a-nutshell/">Lamrim</a>, Jalan Bertahap Menuju Pencerahan. Lamrim tidak memotong jalan. Ia justru memastikan bahwa setiap langkah dibangun di atas fondasi yang kokoh, <a href="https://lamrimnesia.org/apa-itu-lamrim/outline-lamrim/">dari akar hingga ke ujung cabang.</a></p>



<p>Buddhisme tidak akan kehilangan relevansinya karena terlalu dekat dengan akarnya. Ia hanya berisiko kehilangan kedalaman ketika cabang-cabang baru tumbuh semakin jauh, sementara fondasi yang menopangnya semakin tidak dikenal.</p>



<p>Karena tanpa akar, yang tersisa hanyalah tampilan.</p>



<p>Penulis: Prawirawara Jayawardhana</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/06/17/ketika-cabang-lupa-akarnya-antara-waisak-interbeing/">Ketika Cabang Lupa Akarnya – Antara Waisak & “Interbeing”</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/06/17/ketika-cabang-lupa-akarnya-antara-waisak-interbeing/">Ketika Cabang Lupa Akarnya &#8211; Antara Waisak &#038; &#8220;Interbeing&#8221;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyelami Esensi Universal Kehidupan Bodhisatwa dalam Dongeng Anak Jataka Mala￼</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/06/15/menyelami-esensi-universal-kehidupan-bodhisatwa-dalam-dongeng-anak-jataka-mala%ef%bf%bc/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2026 05:33:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[Jataka Mala]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10356</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Apa itu Bodhisatwa? Kenapa ia lahir dengan banyak rupa?” Setidaknya dua pertanyaan di atas berkelindan di kepala penulis ketika membaca kisah demi kisah buku anak Jataka Mala. Diterbitkan oleh Penerbit Saraswati pada tahun 2016, buku anak setebal 95 halaman ini berasal dari teks asli berjudul Jātakamālā or A Garland of Birth Stories yang disusun oleh [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/06/15/menyelami-esensi-universal-kehidupan-bodhisatwa-dalam-dongeng-anak-jataka-mala%ef%bf%bc/">Menyelami Esensi Universal Kehidupan Bodhisatwa dalam Dongeng Anak Jataka Mala￼</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/06/15/menyelami-esensi-universal-kehidupan-bodhisatwa-dalam-dongeng-anak-jataka-mala%ef%bf%bc/">Menyelami Esensi Universal Kehidupan Bodhisatwa dalam Dongeng Anak Jataka Mala￼</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" width="340" height="472" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/image-1.jpeg" alt="" class="wp-image-10357" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/image-1.jpeg 340w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/image-1-216x300.jpeg 216w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/06/image-1-150x208.jpeg 150w" sizes="(max-width: 340px) 100vw, 340px" /></figure>



<p><em>“Apa itu Bodhisatwa? Kenapa ia lahir dengan banyak rupa?”</em></p>



<p>Setidaknya dua pertanyaan di atas berkelindan di kepala penulis ketika membaca kisah demi kisah buku anak <em>Jataka Mala</em>. Diterbitkan oleh Penerbit Saraswati pada tahun 2016, buku anak setebal 95 halaman ini berasal dari teks asli berjudul <em>Jātakamālā or A Garland of Birth Stories</em> yang disusun oleh Marie Mesaeus-Higgins dan diterjemahkan oleh Stanley Khu. </p>



<p>Sebagai salah satu kesusastraan kanon Buddhisme, <em>Jātaka</em> merangkum kisah kelahiran lampau Siddhartha Gautama dalam berbagai rupa, mulai dari pengelana, seorang raja, hingga hewan ketika masih menjadi Bodhisatwa, yaitu makhluk yang menempuh perjalanan spiritual panjang demi membebaskan semua makhluk dari penderitaan.</p>



<p>Berasal dari tradisi lisan India, <em>Jātaka</em> (berarti ‘kelahiran’) ditulis dalam bahasa Pali sebagai bagian Kitab Tripitaka. Kisah tersebut juga diabadikan pada 500 panel relief Candi Borobudur, yang bersumber dari <em>Jātaka-mālā</em> versi Āryaśūra dalam bahasa Sanskerta klasik. Melalui keahliannya pada bidang sastra dan filsafat, Āryaśūra menjadi pelopor yang menggunakan bahasa Sanskerta klasik sebagai media penyebaran ajaran Buddha. Warisan ini terus lestari melalui berbagai saduran, seperti buku anak <em>Jataka Mala</em>.</p>



<p>Buku yang ditujukan untuk anak-anak ini memicu sebuah pengalaman membaca yang baru bagi penulis, yaitu pengalaman refleksi personal untuk menempatkan diri bukan sebagai pembaca dewasa yang serba tahu, melainkan sebagai seorang anak yang baru pertama kali belajar mengeja makna tentang kebajikan, kebijaksanaan, dan welas asih tanpa batas.</p>



<p>Melalui tulisan ini, penulis ingin berbagi bagaimana sebuah sastra kanon Buddhis memiliki relevansi nilai-nilai humanisme bagi mereka yang berdiri di luar lingkaran tradisinya. Buku ini mungkin boleh saja dilihat sebagai buku anak, tetapi penulis melihatnya justru lebih dari itu. Sebagai pembaca lintas iman, buku <em>Jataka Mala</em> adalah salah satu bacaan pembuka yang tepat untuk seseorang yang ingin belajar memahami esensi kebajikan dan kebijaksanaan dalam perspektif Buddhisme. Alurnya yang sederhana dan tanpa beban bahasa yang pretensius, ketidaktahuan penulis sebagai orang awam tidak lagi menjadi pembatas, melainkan sebuah kesempatan untuk belajar dari nol.</p>



<p>Kita acap kali dihadapkan dengan beban sosial untuk selalu terlihat paham, kritis, dan analitis terhadap segala hal. Tuntutan teoretis tersebut membuat kita sadar tak sadar membaca sesuatu dengan dahi berkerut seolah-olah setiap teks adalah ujian intelektual yang harus dipecahkan. Dengan buku anak <em>Jataka Mala</em> yang menghadirkan sepuluh untaian kisah kehidupan lampau Buddha, penulis diizinkan untuk menjadi seseorang yang tidak tahu apa-apa dan ketidaktahuan tersebut adalah sesuatu yang tidak apa-apa, sesuatu yang manusiawi.</p>



<p>Bagi penulis, menempatkan diri sebagai pembaca yang setara dengan anak kecil memberikan sensasi membaca yang membebaskan. Di sini, penulis tidak sedang dituntut untuk menganalisis doktrin atau berkutat dengan perbandingan dogma yang kaku. Dengan bahasanya yang membumi, penulis hanya duduk, menyimak, dan membiarkan diri mengikuti alur setiap kisah Bodhisatwa. Terlebih, alih-alih memaksakan diri membaca dengan kacamata orang dewasa atau serba tahu, menjadi layaknya seorang anak yang baru belajar adalah posisi paling tepat untuk mendeskripsikan kapasitas pengetahuan penulis dalam hal ini.</p>



<p>Di salah satu kisahnya, Bodhisatwa menjelma seekor gajah putih yang hidupnya di hutan. Suatu hari ia menemukan sekumpulan manusia kelaparan yang diusir oleh seorang raja dari negerinya. Sifat penyayang dan penolongnya kepada makhluk lain dipancarkan melalui pengorbanannya menjadikan tubuhnya sendiri sebagai makanan untuk para manusia kelaparan tersebut. Jika melihat di kehidupan kita sehari-hari, tentu keteladanan semacam itu sulit untuk diterapkan. Namun, yang bisa dipetik dari Kisah Gajah Putih adalah ketika satu makhluk yang sedang mengalami kesulitan tetap bersedia mengulurkan tangan untuk makhluk lainnya, sejatinya yang ia berikan bukan sekadar bantuan, tetapi cinta kasih yang tulus.  </p>



<p>Selanjutnya adalah Kisah Mahabodhi, yaitu ketika Bodhisatwa dalam salah satu kehidupannya adalah seorang pertapa bernama Mahabodhi. Ia meninggalkan keduniawian dan memilih mengajarkan ilmu pengetahuan selama ia menjadi pengelana. Dengan kecerdasan, penuh belas kasih, dan nilai-nilai kebenaran yang dimilikinya, Mahabodhi menjadi sosok yang dihormati. Selama ia berkelana, Mahabodhi sempat hidup sementara bersama seorang raja untuk mengajarkan kebijaksanaan kepada raja tersebut dalam tugasnya memimpin rakyat. Hal itu lambat laun menimbulkan rasa iri dalam diri para menteri dan penasihat raja. Mahabodhi kemudian difitnah, tetapi ia tidak membalas perlakuan jahat tersebut. Mahabodhi justru memberikan pengajaran kebajikan terakhir tanpa setetes kebencian dan dendam sebelum ia akhirnya kembali ke tempat asalnya. Kisah ini layaknya cermin bagi kita bahwa setinggi apa pun kecerdasan ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang, semua itu tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan prinsip kejujuran, kerendahan hati, dan belas kasih terhadap sesama makhluk.</p>



<p>Menerjemahkan teks <em>Jātaka</em> ke dalam dongeng anak  <em>Jataka Mala</em> adalah bentuk kepedulian literasi yang langka dan bukan hal mudah. Labelnya sebagai buku anak pun secara tidak langsung menjadikan buku ini dapat dinikmati oleh orang awam non-Buddhis. Narasinya mengalir tanpa belitan teori rumit dan bahasa yang sulit dijamah. Dengan berbagai rupa Bodhisatwa, inti pesannya sama, yaitu motivasi untuk menyebarkan kebajikan dan welas asih guna membebaskan semua makhluk dari penderitaan. </p>



<p>Dari contoh kisah di atas, buku ini adalah perenungan tentang apa artinya menjadi manusia di dunia modern yang semakin transaksional. Di zaman sekarang, kita sering hanya mengukur kebaikan dan hubungan terhadap sesama makhluk berdasarkan untung-rugi. Namun, kisah-kisah Bodhisatwa dalam buku ini menyajikan sudut pandang yang berbeda. Sebuah ketulusan murni tanpa batas yang mengutamakan kebahagiaan makhluk lain. Narasi pengorbanannya tidak terasa seperti doktrinasi yang memaksa, tetapi sebuah ajakan untuk siapapun, dari latar belakang iman mana pun untuk merefleksikan kembali kadar kepedulian kita terhadap sesama makhluk hidup.</p>



<p>Pada akhirnya, pengalaman membaca dongeng <em>Jataka Mala </em>meninggalkan refleksi personal bagi penulis sebagai pembaca lintas iman. Nilai-nilai kebajikan yang ditawarkan, seperti kesabaran, kebijaksanaan, kemurahan hati, kejujuran, dan melihat semua makhluk dengan setara adalah bahasa universal yang tidak membutuhkan paspor keagamaan tertentu untuk bisa dipahami. Kisah-kisah kelahiran lampau Buddha tersebut mengajak kita untuk menyadari bahwa merawat welas asih adalah tanggung jawab kita bersama setiap hari untuk merawat kehidupan banyak makhluk.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/06/15/menyelami-esensi-universal-kehidupan-bodhisatwa-dalam-dongeng-anak-jataka-mala%ef%bf%bc/">Menyelami Esensi Universal Kehidupan Bodhisatwa dalam Dongeng Anak Jataka Mala￼</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/06/15/menyelami-esensi-universal-kehidupan-bodhisatwa-dalam-dongeng-anak-jataka-mala%ef%bf%bc/">Menyelami Esensi Universal Kehidupan Bodhisatwa dalam Dongeng Anak Jataka Mala￼</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rahasia Praktik Self-Compassion: Mengubah Trauma Jadi Kekuatan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/05/18/self-compassion-buddhisme/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 May 2026 10:36:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10340</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ini cara bertahap membangun self-compassion atau welas asih pada diri sendiri untuk memulihkan trauma menurut Buddhisme.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/05/18/self-compassion-buddhisme/">Rahasia Praktik <em>Self-Compassion</em>: Mengubah Trauma Jadi Kekuatan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/05/18/self-compassion-buddhisme/">Rahasia Praktik &lt;em&gt;Self-Compassion&lt;/em&gt;: Mengubah Trauma Jadi Kekuatan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam perjalanan spiritual yang kita tempuh, sering kali hambatan terbesar tidak datang dari luar, melainkan dari dalam labirin pikiran kita sendiri. Kita cenderung menjadi kritikus yang paling kejam bagi diri sendiri; menuntut kesempurnaan yang mustahil, menghakimi setiap kegagalan dengan bengis, dan memikul beban trauma masa lalu seolah-olah itu adalah identitas permanen yang tidak bisa diubah.</p>



<p>Namun, dalam tradisi Buddhis, mulai dari jalur Sutra, kurikulum bertahap Lamrim, hingga kedalaman Tantra, terdapat sebuah benang merah yang sangat jelas: <em>self-compassion</em> (welas asih pada diri sendiri) bukanlah bentuk pemanjaan diri atau kelemahan, melainkan fondasi vital bagi transformasi batin yang sejati.</p>



<h1 id="h-fondasi-sutra-dan-lamrim-menghargai-kendaraan-spiritual">Fondasi Sutra dan Lamrim: Menghargai &#8220;Kendaraan&#8221; Spiritual</h1>



<p>Dalam perspektif Lamrim (Tahapan Jalan Menuju Pencerahan), salah satu topik awal yang paling krusial adalah perenungan mengenai <a href="https://lamrimnesia.org/tag/kelahiran-manusia/">Kelahiran Manusia yang Berharga <em>(Precious Human Rebirth)</em></a>. Tubuh dan batin manusia yang kita miliki saat ini bukanlah sekadar tumpukan materi biologis yang muncul secara kebetulan. Keduanya adalah sarana atau &#8220;kendaraan spiritual&#8221; yang sangat langka, sulit didapatkan, dan memiliki potensi luar biasa untuk mencapai pencerahan.</p>



<p>Bayangkan Anda memiliki sebuah kendaraan satu-satunya di dunia, sebuah kapal istimewa yang dapat membawa Anda melintasi samudera penderitaan (<a href="https://play.google.com/store/books/details/Memahami_Duka_dan_Terbebas_Darinya_Sebuah_Ulasan_A?id=oqOqDwAAQBAJ&amp;hl=en-US&amp;pli=1">samsara</a> &#8211; siklus kematian &amp; kelahiran kembali yang tak berujung) menuju pantai kebahagiaan sejati (<a href="https://www.instagram.com/p/DM7qZVtS8RV/">nirwana </a>&#8211; akhir dari siklus &amp; penderitaan). Apakah Anda akan membiarkan mesinnya rusak karena tidak terawat? Apakah Anda akan membiarkan bodinya berkarat atau membiarkan tangki bahan bakarnya kosong hingga mogok di tengah jalan? Tentu tidak.</p>



<p>Begitu pula dengan diri kita. Menjaga kesehatan fisik serta stabilitas mental melalui <em>self-compassion</em> merupakan bentuk tanggung jawab etis agar kita dapat berfungsi optimal dalam belajar Dharma maupun beraktivitas sehari-hari.</p>



<p>Dalam hal ini, <em>self-compassion</em> bermanifestasi secara konkret melalui tindakan disiplin yang mencakup, misalnya:</p>



<ul><li>nutrisi yang bijak: memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuh demi menjaga kesehatan tubuh agar bisa beraktivitas secara optimal;&nbsp;</li><li>keprimaan fisik: berolahraga secara teratur sebagai upaya menjaga &#8220;mesin&#8221; tubuh agar kuat menopang pembelajaran maupun aktivitas kita;&nbsp;</li><li>kesehatan mental melalui resiliensi: membangun ketangguhan batin agar kita memiliki cadangan energi saat menghadapi tekanan hidup yang tak terelakkan.</li></ul>



<p>Tanpa batin yang stabil dan tubuh yang sehat, kita tidak akan memiliki energi yang cukup untuk belajar Dharma, melakukan meditasi yang mendalam, apalagi melayani makhluk lain dengan optimal.</p>



<p><em>Self-compassion</em> adalah cara kita memastikan bahwa &#8220;kendaraan&#8221; ini tetap berada dalam kondisi prima.</p>



<h1>Perspektif Tantra: <em>Divine Pride</em> vs Persepsi Biasa</h1>



<p>Naik ke level yang lebih dalam, yaitu dalam praktik Tantra, konsep <em>self-compassion</em> ini berkaitan erat dengan latihan kebanggaan Istadewata <em>(divine pride)</em>. Ini adalah sebuah praktik canggih di mana seorang praktisi berlatih untuk melihat dirinya bukan sebagai sosok yang terbatas, melainkan sebagai manifestasi dari kualitas tercerahkan para Buddha (Istadewata).&nbsp;</p>



<p>Hambatan terbesar dalam latihan ini adalah persepsi biasa <em>(ordinary perception)</em>. Persepsi biasa adalah kacamata buram yang membuat kita terjebak dalam pandangan keliru yang melihat diri kita sebagai sosok yang &#8220;buruk&#8221;, &#8220;penuh dosa&#8221;, &#8220;cacat secara permanen&#8221;, atau &#8220;korban trauma yang tak berdaya&#8221;. Selama kita masih berkubang dalam narasi negatif ini, mustahil bagi kita untuk membangkitkan <em>divine pride.</em></p>



<p>Bagaimana mungkin kita bisa merasakan martabat seorang Buddha jika di saat yang sama kita masih menghina diri sendiri? Bagaimana kita bisa memvisualisasikan diri sebagai makhluk suci jika batin kita masih dipenuhi dengan kebencian terhadap diri sendiri <em>(self-hatred)</em>?&nbsp;</p>



<p>Di sinilah <em>self-compassion</em> berperan sebagai penawar awal yang membersihkan kotoran persepsi biasa tersebut.</p>



<h1>Elaborasi Langkah Praktis Transformasi</h1>



<p>Untuk menjembatani diri dari persepsi biasa menuju <em>divine pride</em>, kita perlu memahami strategi regulasi dan meditasi analitik secara lebih mendalam:</p>



<h2>1. Mawas Diri &amp; Regulasi Somatik <em>(Help Now! Strategies)</em></h2>



<p>Ketika kita menyadari batin berada di luar kondisi optimal (<em>zone of well-being</em>), baik dalam kondisi <em>hyper-arousal</em> (cemas, marah, panik) maupun <em>hypo-arousal</em> (depresi, mati rasa, lemas), kita membutuhkan intervensi somatik. Regulasi mandiri ini adalah bentuk nyata dari mencintai diri sendiri. </p>



<p>Beberapa strategi praktis yang bisa dilakukan segera, misalnya:</p>



<ul><li>membasuh wajah dengan air dingin atau meminum segelas air hangat untuk memberikan sinyal kepada sistem saraf bahwa Anda aman,</li><li>mendorong tembok dengan tangan sekuat tenaga selama beberapa detik untuk melepaskan energi stres yang terperangkap dalam otot,</li><li>dan teknik-teknik serupa lainnya.</li></ul>



<p>Tujuannya bukan untuk menghilangkan masalah, melainkan untuk mengembalikan batin ke &#8220;zona resiliensi&#8221; agar proses berpikir bijaksana dapat kembali aktif.</p>



<h2>2. <em>Cognitive Reappraisal</em></h2>



<p>Pada dasarnya, ini adalah meditasi analitik untuk mengubah cara pandang yang sempit <em>(narrow-minded view)</em> terhadap suatu kejadian. Kita berupaya melakukan interpretasi ulang menggunakan perspektif yang lebih luas <em>(broader view)</em> guna mengubah respons perilaku <em>(response behavior)</em> dari yang awalnya destruktif menjadi konstruktif. Meskipun demikian, kita perlu berhati-hati. Teknik seperti ini dapat dengan mudah tergelincir menjadi <em>self-talk</em> berupa lamunan yang tidak bermanfaat jika tidak distrukturkan dengan baik.</p>



<h3>Analogi Angsa Raja: Memilih &#8220;Sari Susu&#8221; dalam Pikiran</h3>



<p>Guru Atisha pernah menekankan pentingnya menjadi seperti angsa raja. Dalam legenda kuno, angsa ini mampu memisahkan sari susu murni dari campuran air. Dalam konteks <em>self-talk</em>, &#8220;air&#8221; melambangkan lamunan destruktif, ruminasi kesalahan masa lalu, dan kritik diri yang melumpuhkan. Sebaliknya, &#8220;sari susu&#8221; melambangkan introspeksi yang sehat, pembelajaran dari kesalahan, dan pengenalan akan potensi kebajikan.</p>



<p>Praktik <em>cognitive reappraisal</em> menuntut kita untuk jeli. Ketika pikiran berkata, &#8220;Aku telah gagal total,&#8221; angsa raja dalam diri kita harus bekerja: </p>



<ul><li>buang &#8220;air&#8221; berupa generalisasi buruk tersebut, dan </li><li>ambil &#8220;sari susu&#8221;-nya berupa pelajaran berharga yang bisa dipetik.</li></ul>



<p>Kita harus berhenti membuang waktu pada dialog internal yang hanya menambah beban batin, dan mulai fokus pada meditasi analitik yang membebaskan.</p>



<p>Tiga objek perenungan utama yang paling membantu ketika kita berupaya melakukan <em>cognitive reappraisal</em> dalam rangka menjaga <em>self-compassion</em>:</p>



<ol><li><em>Common humanity</em>: ingatlah bahwa penderitaan adalah sifat alami samsara. Saat Anda merasa gagal, sadarilah bahwa jutaan makhluk juga merasakan hal yang sama. Anda tidak terisolasi dalam kegagalan tersebut. Penderitaan kita biasanya makin terasa berat karena kita menambahkannya dengan lapisan penderitaan kedua, yaitu perasaan terisolasi dan penghakiman diri. Ketika mengalami kegagalan, kita sering kali merasa seolah-olah hanya kita satu-satunya orang di dunia yang mengalami nasib buruk tersebut. Perasaan &#8220;terpisah&#8221; dari kemanusiaan inilah yang kemudian memicu narasi batin yang kejam, di mana kita mulai mencela diri sendiri.</li><li><em>Making Strengths Visible</em>: Otak manusia memiliki &#8220;bias negatif&#8221;. Kita perlu secara sengaja melakukan meditasi mudita atas kualitas baik kita, sekecil apa pun itu, untuk menyeimbangkan persepsi diri.</li><li><em>Be Kind to Yourself</em>: Ini adalah komitmen untuk tidak &#8220;memukul&#8221; diri sendiri saat terjatuh. Jika hari ini Anda belum berhasil bermeditasi atau menjaga kesabaran, katakan: &#8220;Tidak apa-apa, mari pelan-pelan dicoba lagi.&#8221;</li></ol>



<h1>Kedalaman Sunyata: Kunci Tertinggi Transformasi Trauma</h1>



<p>Puncak dari <em>self-compassion</em> dan rahasia utama mengubah trauma menjadi kekuatan terletak pada pemahaman akan sunyata. Mengapa trauma dan kritik diri begitu menyakitkan? Karena kita melihatnya sebagai sesuatu yang &#8220;nyata&#8221;, &#8220;solid&#8221;, dan &#8220;permanen&#8221;.</p>



<p>Kita sering berpikir, &#8220;Saya ADALAH orang yang rusak karena trauma ini.&#8221; Dalam meditasi analitik, kita perlu menemukan bahwa identitas &#8220;diri yang rusak&#8221; hanyalah label yang muncul dari sekumpulan sebab dan kondisi yang saling bergantungan.</p>



<p>Identitas tersebut pada hakikatnya adalah sunya dari keberadaan yang berdiri sendiri. Karena ia sunya, maka ia tidak permanen. Karena ia tidak permanen, maka trauma tersebut tidak memiliki kuasa untuk mendefinisikan Anda selamanya! </p>



<p>Trauma hanyalah sebuah peristiwa yang lewat dalam ruang batin yang luas, bukan warna asli dari batin itu sendiri.Memahami sunyata berarti memahami bahwa kegagalan dan kesalahan Anda tidak bersifat inheren. Anda bukan kegagalan Anda.</p>



<p>Kesadaran akan kesunyataan ini memberikan ruang bagi kemunculan <em>divine pride</em>. Kita menyadari bahwa di balik awan mendung persepsi biasa dan trauma, hakikat batin kita, <em>Buddha Nature</em>, tetaplah murni, tidak ternoda, dan jernih seperti ruang angkasa.</p>



<p><a href="https://lamrimnesia.org/2024/12/05/healing-muara-jambi/">Baca juga: Menggali Kembali Praktik Penyembuhan dari Muara Jambi</a></p>



<h1>Penutup</h1>



<p><em>Self-compassion</em> adalah jembatan emas yang menghubungkan manusia yang terluka dengan potensi sucinya.&nbsp;</p>



<p>Dengan menjaga kendaraan tubuh (Sutra/Lamrim), meregulasi sistem saraf (intervensi somatis), mendisiplinkan pikiran (analogi angsa raja), dan menyadari kekosongan identitas (sunyata), kita tidak lagi melihat trauma sebagai beban, melainkan sebagai bahan bakar untuk menumbuhkan welas asih yang tak terbatas, baik bagi diri sendiri maupun bagi semua makhluk.</p>



<p>Inilah martabat sejati seorang praktisi: berdiri dengan teguh di atas fondasi kasih sayang, menuju pencerahan yang mulia.</p>



<p>Penulis: Johnson Khuo</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/05/18/self-compassion-buddhisme/">Rahasia Praktik <em>Self-Compassion</em>: Mengubah Trauma Jadi Kekuatan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/05/18/self-compassion-buddhisme/">Rahasia Praktik &lt;em&gt;Self-Compassion&lt;/em&gt;: Mengubah Trauma Jadi Kekuatan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Pertama 2026</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/05/11/yppln-triwulan-pertama-2026/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 May 2026 06:09:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Laporan Triwulan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10320</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ini dia aktivitas pelestarian &#038; pengembangan Buddha Dharma oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Dharma Januari-Maret 2026!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/05/11/yppln-triwulan-pertama-2026/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Pertama 2026</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/05/11/yppln-triwulan-pertama-2026/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Pertama 2026</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Terima kasih dan turut bermudita atas dukungan dari 180 Dharma Patron, 62 Dharma Patriot, dan para Sahabat Lamrimnesia yang berkontribusi selama triwulan pertama tahun 2026! Ini dia aktivitas pelestarian dan pengembangan Dharma yang telah kita lakukan bersama:</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/1-1-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10326" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/1-1-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/1-1-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/1-1-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/1-1-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/1-1-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/1-1-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/1-1-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/1-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/2-1-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10327" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/2-1-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/2-1-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/2-1-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/2-1-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/2-1-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/2-1-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/2-1-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/2-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/3-1-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10328" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/3-1-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/3-1-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/3-1-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/3-1-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/3-1-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/3-1-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/3-1-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/3-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/4-1-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10329" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/4-1-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/4-1-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/4-1-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/4-1-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/4-1-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/4-1-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/4-1-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/4-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/5-1-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10330" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/5-1-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/5-1-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/5-1-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/5-1-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/5-1-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/5-1-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/5-1-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/5-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/6-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10331" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/6-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/6-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/6-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/6-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/6-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/6-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/6-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/6.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/7-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10332" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/7-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/7-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/7-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/7-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/7-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/7-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/7-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/7.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/8-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10333" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/8-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/8-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/8-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/8-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/8-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/8-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/8-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/8.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/9-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10334" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/9-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/9-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/9-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/9-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/9-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/9-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/9-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/9.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/10-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10335" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/10-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/10-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/10-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/10-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/10-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/10-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/10-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/05/10.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>


<p>Mau ikut melestarikan dan mengembangkan Buddhadharma di Nusantara?&nbsp;<br>Yuk bergabung menjadi Dharma Patron dan Dharma Patriot Lamrimnesia!</p>



<p>Untuk bergabung, hubungi kami di Lamrimnesia Info – +685 2112 2014 2</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/05/11/yppln-triwulan-pertama-2026/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Pertama 2026</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/05/11/yppln-triwulan-pertama-2026/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Pertama 2026</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
