<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lamrimnesia.org/</link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Sep 2026 11:47:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.14</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>Lamrimnesia</title>
	<link>https://lamrimnesia.org/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Di Balik Validasi Diri &#8211; Membaca Emosi Lewat Psikologi Buddhis</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/09/14/validasi-psikologi-buddhis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2026 11:46:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10583</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bagaimana membedakan validasi emosi yang sehat dan yang berbahaya? Berikut penjelasannya dari sudut pandang psikologi Buddhis.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/validasi-psikologi-buddhis/">Di Balik Validasi Diri – Membaca Emosi Lewat Psikologi Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/validasi-psikologi-buddhis/">Di Balik Validasi Diri &#8211; Membaca Emosi Lewat Psikologi Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kalimat yang terdengar baik, tetapi bisa menjebak</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Perasaanmu valid.&#8221;</em><br><em>&#8220;Kamu berhak merasa begitu.” </em><br><em>&#8220;Nggak apa-apa marah.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Kalimat-kalimat ini telah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari, muncul di sesi terapi, unggahan media sosial, hingga percakapan antar teman. Seringkal kalimat-kalimat tersebut memang berdampak menyembuhkan karena melawan kebiasaan lama yang mengajarkan kita untuk menahan, menyangkal, atau merasa malu atas apa yang dirasakan.</p>



<p>Namun, ada satu celah yang jarang dibahas: validasi dapat disalahpahami sebagai izin untuk “berhenti berpikir lebih jauh”. Celah ini tidak hanya dialami oleh awam, tetapi kadang juga terjadi dalam proses terapi itu sendiri. Pada titik tersebut, psikologi modern sebenarnya sedang menyentuh hal yang telah dipetakan secara sangat detail oleh psikologi Buddhis ribuan tahun sebelum istilah &#8220;validasi&#8221; muncul. Tanpa pemetaan tersebut, validasi rentan bergeser dari alat penyembuhan menjadi alat pembenaran.</p>



<h2 id="h-apa-yang-sebenarnya-divalidasi">Apa yang sebenarnya divalidasi?</h2>



<p>Ini pertanyaan pertama yang sering terlewat: ketika kita mengatakan &#8220;perasaanmu valid,&#8221;, perasaan mana yang dimaksud?</p>



<p>Psikologi Buddhis membedakan dua lapisan yang sering kita anggap sebagai satu paket.</p>



<p>Lapisan pertama adalah sensasi paling dasar: rasa menyenangkan, tidak menyenangkan, atau netral, yang muncul begitu saja saat kita mengalami sesuatu, bahkan sebelum kita sempat berpikir. Sensasi ini murni, otomatis, dan tidak terhindarkan, seperti rasa panas yang tidak menyenangkan saat menyentuh air mendidih. Sebenarnya, tidak ada yang perlu &#8220;divalidasi&#8221; pada lapisan ini karena ia belum menjadi sebuah cerita, melainkan baru sebatas sinyal mentah.</p>



<p>Dalam psikologi Buddhis, sensasi dasar ini disebut <em>vedanā</em>.</p>



<p>Mengapa <em>vedanā </em>ini istimewa? Karena ia selalu ada, tetapi ia sendiri tidak bersifat baik maupun buruk.</p>



<p>Psikologi Buddhis memetakan pikiran dengan cara yang berbeda dari kebiasaan kita: setiap momen kesadaran bukanlah satu benda tunggal, melainkan selalu disertai oleh sejumlah &#8220;unsur&#8221; yang muncul bersamaan, semacam bahan-bahan yang hadir dalam setiap pengalaman. <em>Vedanā </em>adalah salah satu unsur yang selalu hadir tersebut. Tidak ada satu pun momen sadar, sekecil apa pun, yang berlangsung tanpa disertai nuansa senang, tidak enak, atau netral.</p>



<p>Karena selalu hadir dalam seluruh jenis pengalaman, baik saat kita berbuat baik maupun buruk, <em>vedanā </em>tidak membawa muatan etis secara bawaan. Rasa senang yang muncul saat menolong orang lain dengan tulus dan rasa senang saat memuaskan keinginan yang merugikan, keduanya sama-sama berupa sensasi &#8220;senang&#8221;. Namun, nilai etis keduanya jelas berbeda.</p>



<p>Perbedaannya bukan terletak pada <em>vedanā</em>-nya, melainkan pada unsur yang menyertainya saat itu: niat, kesadaran, dan faktor mental lainnya. <em>Vedanā </em>ibarat wadah netral yang &#8220;meminjam&#8221; warna dari isi yang menyertainya.</p>



<p>Hal inilah yang membedakan <em>vedanā </em>dari &#8220;emosi&#8221; sebagaimana lazimnya kita pahami.</p>



<p>“Emosi”, seperti marah, cemas, kecewa, atau benci, bukan lagi sekadar sinyal mentah. Emosi adalah sinyal mentah yang telah diberi label dan cerita di atasnya. Marah bukan sekadar &#8220;rasa tidak enak&#8221;; ia telah memiliki arah, target, serta dorongan untuk menjauh atau menyerang.</p>



<p>Jadi, ketika psikologi modern menyatakan &#8220;marahmu valid,&#8221; yang sedang divalidasi bukanlah sensasi mentah tersebut, melainkan sebuah paket yang jauh lebih kompleks, beberapa langkah setelah sinyal mentahnya muncul.</p>



<p>Mengapa hal ini penting? Karena sebagian besar nasihat untuk &#8220;memvalidasi perasaan&#8221; seharusnya berhenti di lapisan pertama: mengakui bahwa reaksi tersebut manusiawi, bukan aib, dan tidak perlu direpresi. Itu adalah langkah yang benar dan sehat.</p>



<p>Masalah muncul ketika validasi diam-diam merembet ke lapisan kedua: seolah-olah karena sinyal mentahnya sah, cerita dan dorongan tindakan yang menyertainya otomatis ikut sah.</p>



<p>Kedua hal tersebut tidak sama, dan psikologi Buddhis sangat tegas soal ini. Rasa tidak nyaman yang muncul begitu saja bersifat netral secara moral, tetapi kebencian yang tumbuh di atasnya adalah persoalan lain.</p>



<p><em>Baca lebih lanjut tentang &#8220;anatomi&#8221; pikiran dalam psikologi Buddhis <a href="https://play.google.com/store/books/details/Citta_Cetasika_Mengenal_Batin_dari_Kacamata_Buddhi?id=3-ejEAAAQBAJ&amp;hl=en-US&amp;pli=1">di sini</a>.</em></p>



<h2>Marah boleh diakui, tetapi bukan berarti &#8220;baik&#8221;</h2>



<p>Poin ini sering membingungkan, sehingga perlu dipilah secara perlahan.</p>



<p>Dalam psikologi Buddhis, kebencian, yaitu dorongan untuk menjauhkan, menyerang, atau menyakiti yang tumbuh dari rasa tidak nyaman, selalu dianggap sebagai racun batin, tanpa pengecualian. Tidak ada bentuk kebencian yang &#8220;sehat&#8221; atau &#8220;netral.&#8221; Oleh karena itu, jika &#8220;validasi marah&#8221; diartikan sebagai &#8220;marah itu baik dan sah untuk dituruti,&#8221; pemahaman tersebut tidak sejalan dengan psikologi Buddhis.</p>



<p>Namun, ini bukan berarti validasi dalam psikologi modern otomatis keliru. Validasi klinis jarang bermaksud mengklaim bahwa &#8220;kemarahan itu baik.&#8221;. Validasi lebih sering bermakna &#8220;wajar kamu merasa begini mengingat apa yang kamu alami.&#8221;. Fungsi utamanya adalah menolak represi dan penyangkalan, bukan memberikan izin untuk bertindak atas dasar amarah tersebut.</p>



<p>Mengakui bahwa kebencian sedang muncul tanpa menghakimi diri sendiri (&#8220;aku jahat karena marah&#8221;) justru merupakan langkah yang sehat.</p>



<p>Masalah baru timbul ketika pengakuan tersebut melompat menjadi pembenaran untuk menuruti dan membesarkannya.</p>



<p>Dengan demikian, ada dua sikap yang perlu dibedakan:</p>



<ul><li><strong>Mengakui kehadiran kemarahan tanpa menyangkalnya: </strong>sehat dan memang diperlukan.</li><li><strong>Mengesahkan kemarahan sebagai sesuatu yang layak dituruti </strong>(&#8220;Aku berhak marah, jadi wajar aku meledak&#8221;): bermasalah, karena sikap ini bukan lagi sekadar mengakui, melainkan telah memberi restu pada racun batin.</li></ul>



<p><em>Baca juga: <a href="https://lamrimnesia.org/2026/08/07/welas-asih-mengasihani-diri/">Apakah Aku Sedang Mengasihi atau Mengasihani Diriku?</a></em></p>



<h2>Bukan soal ada-tidaknya, melainkan soal seberapa besar</h2>



<p>Satu hal lagi yang sering disederhanakan secara berlebihan adalah anggapan seolah-olah ketidaksukaan terbagi rapi menjadi dua jenis: yang &#8220;boleh&#8221; (misalnya sekedar lelah atau tidak cocok) dan yang &#8220;tidak boleh&#8221; (misalnya benci atau ingin menyakiti). Padahal, kenyataannya lebih menyerupai sebuah spektrum.</p>



<p>Ketidaksukaan ringan (seperti lelah membela seseorang atau tidak <em>sreg </em>dengan caranya) dan kebencian penuh yang ingin menyakiti sebenarnya berasal dari akar yang sama: dorongan untuk menjauh dari sesuatu yang terasa tidak nyaman. Yang satu jauh lebih halus daripada yang lain, tetapi &#8220;lebih halus&#8221; tidak berarti &#8220;tidak ada sama sekali.&#8221;</p>



<p>Hal ini penting diakui secara jujur, bukan agar kita bersikap keras pada diri sendiri, melainkan agar kita tidak terburu-buru melabeli ketidaknyamanan kecil sebagai &#8220;bukan kebencian,&#8221;, padahal bisa jadi itu adalah bibit yang sama yang belum membesar.</p>



<p>Titik ideal yang dituju oleh psikologi Buddhis adalah keseimbangan batin (<em>upeksha</em>): kondisi yang mampu melihat ketidakcocokan secara jernih tanpa dorongan untuk menjauhkan atau menyakiti. Namun, hal ini perlu dipahami sebagai arah latihan, bukan kondisi yang bisa langsung diasumsikan sudah kita miliki hari ini.</p>



<p>Bagi kebanyakan orang yang masih berlatih, ketidakcocokan yang dirasakan hampir selalu menyisakan sedikit &#8220;warna&#8221; ketidaksukaan. Hal tersebut bukanlah sebuah kegagalan, melainkan titik awal yang jujur untuk terus dilatih.</p>



<p>Di mana pun posisi kita dalam spektrum tersebut, prinsip utamanya tetap sama: baik membiarkan kekesalan membesar tanpa kendali maupun melakukan represi (berpura-pura tidak ada ketidaknyamanan dengan terus mencari pembenaran bagi orang lain demi menghindari kekesalan sendiri) adalah dua kekeliruan yang setara beratnya. Keduanya hanya berbeda arah: satu membesarkan emosi, satu lagi menutupinya.</p>



<h2>Dua cara keliru yang sama-sama merugikan</h2>



<p>Di sinilah letak jebakannya, yang hadir dalam dua bentuk berlawanan:</p>



<p>Wajah pertama: represi yang menyamar jadi “pemahaman”. Bayangkan seseorang yang selalu, secara otomatis, punya alasan untuk membela siapa pun yang menyakitinya. <em>“Dia pasti nggak bermaksud begitu.”; “Mungkin dia lagi capek.”. </em>Kalimat ini terdengar bijaksana, bahkan terdengar seperti sebuah proses <em>reappraisal </em>(menilai ulang sebuah situasi dengan cara pandang yang lebih luas), teknik terapi yang memang terbukti efektif: mengganti cara pandang yang keliru dengan cara pandang yang lebih akurat.</p>



<p>Namun, ada tes sederhana untuk membedakan <em>reappraisal </em>asli dari represi yang menyamar, yaitu <strong>urutan waktunya</strong>:</p>



<ul><li><strong><em>Reappraisal </em>yang sehat </strong>terjadi setelah kita mengakui reaksi jujur terlebih dahulu: <em>&#8220;Aku kesal, lalu aku berpikir ulang: apakah benar dia bermaksud begitu?&#8221;</em></li><li><strong>Represi </strong>terjadi ketika alasan pembenaran muncul sebelum kita sempat merasakan apa pun. Akibatnya, di kemudian hari kita bahkan tidak bisa menunjuk dengan pasti apa yang membuat kita lelah atau enggan menghadapi sesuatu. Datanya telah &#8220;diedit&#8221; sebelum sempat diproses.</li></ul>



<p>Ini bukan sekadar hipotestis, melainkan pola yang sangat umum. Seseorang bisa saja terus-menerus kehilangan semangat bekerja tanpa tahu penyebabnya. Ketika ditelusuri, ternyata setiap ada momen yang mengganggu, pikirannya secara refleks langsung membenarkan orang lain tanpa memberi ruang bagi dirinya untuk mengakui: <em>&#8220;Aku tidak suka ini. Aku lelah.&#8221; </em>Ironisnya, kebiasaan ini sering dikira sebagai tanda kedewasaan spiritual atau psikologis, padahal ia lebih dekat pada penghindaran yang berkedok pengertian.</p>



<p>Wajah kedua: validasi yang membiarkan racun tumbuh. Bentuk kedua ini lebih jarang dibahas, tetapi sama berbahayanya: menganggap bahwa karena perasaan itu “valid”, maka membiarkannya membesar, bahkan menurutinya menjadi tindakan, juga otomatis dibenarkan. “Aku berhak marah, jadi wajar aku meledak.”</p>



<p>Di sinilah validasi berhenti menjadi alat penyembuhan dan berubah menjadi izin bagi kebencian untuk tumbuh tanpa kendali. Dari rasa tidak nyaman yang sekilas, ia berubah menjadi cerita yang kita ulang-ulang, menjadi kebencian yang menetap, menjadi tindakan yang menyakiti.</p>



<h2>Titik temu yang sehat: mengakui tanpa membesarkan</h2>



<p>Jalan tengah yang ditawarkan psikologi Buddhis sebenarnya sederhana untuk dipahami, meski membutuhkan latihan untuk dijalani: <strong>akui rasa tidak nyamanmu sejujur-jujurnya, sekecil apa pun, sebelum terburu-buru dibenarkan atau dialihkan. Namun, begitu diakui, jangan biarkan ia otomatis membesar menjadi kebencian atau tindakan yang menyakiti.</strong></p>



<p>Ini adalah dua langkah berbeda yang keduanya harus ada:</p>



<ul><li><strong>Beri ruang terlebih dahulu: </strong>sebelum mencari alasan untuk membenarkan orang lain dan sebelum terburu-buru memaksa berpikiran positif, berhenti sejenak dan akui apa yang sebenarnya dirasakan. Ini bukan bentuk <em>self-indulgence </em>(memanjakan diri), melainkan pengumpulan data yang jujur yang dibutuhkan agar langkah berikutnya menjadi efektif.</li><li><strong>Baru pilih responnya: </strong>setelah diakui, barulah kita memiliki ruang untuk memilih: apakah reaksi awal ini akurat atau berlebihan? Apakah perlu disampaikan, atau cukup dilepaskan? Di sinilah <em>genuine reappraisal </em>(penilaian ulang yang jujur), bukan yang menyamar, bisa benar-benar bekerja.</li></ul>



<p>Ketidaksukaan yang jujur terhadap sesuatu, keinginan untuk menetapkan batasan (<em>boundaries</em>), serta rasa lelah karena terus-menerus membela orang lain, semuanya boleh diakui tanpa rasa bersalah, sebagaimana yang diajarkan di dalam psikologi modern. Perspektif Buddhis tidak menolak itu, namun mengajari kita untuk menganalisisa lebih jauh. Ia mungkin masih mengandung sedikit warna yang sama dengan kebencian, hanya jauh lebih halus dan belum sampai pada dorongan menyakiti atau menjauhkan secara aktif.</p>



<p>Bedanya ada pada soal seberapa besar ia dibiarkan tumbuh, serta apakah kita jujur mengakuinya atau justru terburu-buru menutupinya.</p>



<h2>Validasi sebagai bentuk menerima karma yang sudah matang</h2>



<p>Ada satu lapisan yang lebih dalam, yang mungkin menjadi jawaban paling mendasar atas pertanyaan: &#8220;apa sebenarnya yang perlu divalidasi?&#8221;</p>



<p>Psikologi Buddhis memandang bahwa hasil dari tindakan masa lalu (<em>karma</em>) justru matang dan dirasakan tepat di titik <em>vedanā </em>ini. Rasa senang, tidak enak, atau netral yang muncul begitu saja adalah buah yang sudah matang, bukan sesuatu yang masih bisa dinegosiasikan atau dihindari ketika ia tiba.</p>



<p><em>Baca lebih lanjut tentang hukum karma</em> <em><a href="https://books.google.co.id/books/about/Karma_Akibatnya.html?id=OZiWDwAAQBAJ&amp;redir_esc=y">di sini.</a></em></p>



<p>Dengan demikian, &#8220;menerima&#8221; atau &#8220;memvalidasi&#8221; dalam pengertian yang paling dalam bukanlah berarti sekaedar setuju dengan cerita atau makna yang kita tempelkan padanya. Menerima berarti mengakui bahwa sensasi tersebut, apa pun rasanya, memang sedang terjadi dan telah &#8220;selesai diputuskan&#8221; sebelum kita sempat bereaksi.</p>



<p>Di sinilah letak pemaknaan paling matang terhadap konsep penerimaan (<em>acceptance</em>) yang sering dibicarakan dalam psikologi modern: bisakah kita menerima ketidaknyamanan yang menghampiri kita, sebagai buah yang memang sedang matang saat itu, tanpa terburu-buru menambahkan cerita, penolakan, atau kebencian di atasnya?</p>



<p>Menambahkan lapisan penolakan ibarat memanah diri sendiri untuk kedua kalinya. Rasa sakit yang pertama tidak terhindarkan, tetapi rasa sakit kedua yang kita tambahkan lewat penolakan dan kebencian sepenuhnya bersifat opsional. Jika kita mampu menerima buah yang matang itu apa adanya tanpa panah kedua, kita dapat melangkah maju secara &#8220;lebih bersih&#8221; karena tidak ada residu baru yang kita tambahkan ke dalam prosesnya.</p>



<h2>Dua teknik yang saling melengkapi</h2>



<p>Penting untuk ditegaskan bahwa seluruh penjelasan ini bukan berarti teknik-teknik regulasi emosi dalam psikologi modern itu keliru. Alur regulasi emosi yang dikenal sebagai <em>emotion timeline</em>, yaitu: <strong>Kejadian → Penilaian → Emosi → Respons</strong>, sebenarnya sejalan dengan pemetaan psikologi Buddhis, hanya saja menggunakan istilah yang berbeda: kejadian bertemu indra, diberi label dan makna oleh pikiran, muncul nuansa rasa (<em>vedanā</em>), baru kemudian disusul dorongan bertindak.</p>



<p>Teknik menilai ulang (<em>reappraisal</em>) yang diajarkan dalam berbagai program regulasi emosi, termasuk program <em>Cognitively-Based Compassion Training </em>(CBCT) yang dikembangkan di Emory University, bekerja tepat pada titik &#8220;penilaian&#8221;. Teknik ini mengganti cara pandang yang sempit atau keliru dengan perspektif yang lebih luas dan akurat sebelum emosinya membesar. Ini adalah teknik yang valid dan terbukti efektif, selama ia benar-benar melakukan penilaian ulang, bukan bentuk penghindaran sebelum sempat merasakan.</p>



<p>Di sisi lain, ada pula teknik yang bekerja pada titik berbeda: bukan dengan mengganti isi penilaiannya, melainkan dengan melatih jeda tepat setelah sensasi mentah (<em>vedanā</em>) muncul, apa pun isi penilaiannya, agar tidak otomatis meluncur menjadi cerita dan kebencian yang membesar.</p>



<p>Kedua teknik ini tidak saling meniadakan, melainkan bekerja pada titik yang berbeda dalam alur yang sama. Yang terpenting bagi siapa pun yang mempelajarinya adalah menyadari pada momen mana ia melakukan &#8220;penilaian ulang&#8221;: apakah itu penilaian ulang yang jujur, ataukah cara halus untuk melompati tahap mengakui perasaan yang sebenarnya.</p>



<h2>Pentingnya kejelasan di ruang terapi dan kelas kontemplatif</h2>



<p>Ketegangan sering kali muncul ketika seseorang merasa nasihat terapisnya (<em>&#8220;Kamu berhak tidak suka, tidak perlu membela dia terus&#8221;</em>) bertentangan dengan nilai yang dipelajari di kelas meditasi atau spiritual (<em>&#8220;Jangan berpikir buruk tentang orang lain&#8221;</em>). Padahal, keduanya bukanlah pertentangan sungguhan.</p>



<p>Ketegangan tersebut terjadi karena dua istilah yang tampak mirip di permukaan: &#8220;berpikir buruk&#8221; dan &#8220;memiliki batasan yang jujur&#8221; sebenarnya berada pada tingkatan yang berbeda. Yang satu berkaitan dengan kejujuran pada diri sendiri, sedangkan yang lain berkaitan dengan membiarkan kebencian menetap dan tumbuh.</p>



<p>Tanpa kejelasan ini, seseorang dapat terjebak memilih satu dari dua kekeliruan yang sama-sama merugikan: menjadi pribadi yang menekan seluruh ketidaknyamanannya demi terlihat &#8220;baik&#8221; dan &#8220;tidak berpikir buruk&#8221;, atau menjadi pribadi yang membenarkan setiap ledakan emosinya atas nama &#8220;validasi diri.&#8221;</p>



<p>Jika dibaca berdampingan, psikologi modern dan psikologi Buddhis justru saling melengkapi celah masing-masing. Psikologi modern sangat baik dalam memberikan izin untuk merasakan, sehingga kita bisa terhindar dari apa yang sering disebut sebagai <em>spiritual bypass</em>, yaitu represi yang menyamar jadi kedewasaan spiritual, seperti yang sudah kita lihat tadi. Di sisi lain, psikologi Buddhis sangat presisi dalam memetakan kapan perasaan itu perlu dihentikan sebelum menjadi racun, hal yang jarang ditegaskan setajam ini dalam konsep validasi ala psikologi modern.</p>



<p>Menggunakan salah satu tanpa yang lain dapat mengubah validasi dari alat pemulihan menjadi jalan pintas untuk menghindar dari diri sendiri, atau sebaliknya, menjadi pembenaran untuk melukai orang lain.</p>



<p>Penulis: Johnson Khuo</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/validasi-psikologi-buddhis/">Di Balik Validasi Diri – Membaca Emosi Lewat Psikologi Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/validasi-psikologi-buddhis/">Di Balik Validasi Diri &#8211; Membaca Emosi Lewat Psikologi Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Pelita di Kalantara&#8221;: Mentransformasikan Luka Menjadi Kekuatan di Pesta Literasi NDBF 7.0</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/09/14/ndbf-7-0-pelita-di-kalantara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2026 10:22:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[ndbf 7.0]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10581</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di tengah krisis global dan ketidakpastian zaman, NDBF 7.0 merangkul berbagai komunitas dan seniman akar rumput Bandung guna merawat harapan dan memperkuat solidaritas.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/ndbf-7-0-pelita-di-kalantara/">“Pelita di Kalantara”: Mentransformasikan Luka Menjadi Kekuatan di Pesta Literasi NDBF 7.0</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/ndbf-7-0-pelita-di-kalantara/">&#8220;Pelita di Kalantara&#8221;: Mentransformasikan Luka Menjadi Kekuatan di Pesta Literasi NDBF 7.0</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Kita sudah terbiasa akan luka dan kalah. Yang kini bisa kita pikirkan dan lakukan adalah bagaimana mentransformasikan luka-luka kolektif itu menjadi kekuatan dan cahaya bagi sekitar untuk melanjutkan perjuangan.” -Cholil Mahmud, Efek Rumah Kaca</p>



<p>Di tahun ketujuhnya, pesta literasi Nusantara Dharma Book Festival yang diinisiasi oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (Lamrimnesia) untuk pertama kalinya diselenggarakan di Kota Bandung. Pesta literasi ini berlangsung di Nara Park pada 12-16 Agustus 2026.</p>



<p>Kita tengah berada di ambang kehancuran—konflik geopolitik, krisis kemanusiaan, krisis pangan, dan ketidakpastian global. Berangkat dari keresahan itu, NDBF 7.0 hadir mengusung tema “Pelita di Kalantara: Menjadi Cahaya di Zaman Peralihan”. “Kalantara” sendiri merupakan kata rekaan, tersusun dari “Kala” yang berarti waktu dan “antara” yang berarti ruang. Di kalantara, siklus zaman lama sudah mendekati akhir, sementara zaman baru belum sepenuhnya lahir.&nbsp;</p>



<p>Untuk membangun kembali solidaritas dan minat literasi masyarakat di zaman peralihan, NDBF 7.0 merangkul berbagai komunitas literasi dan kemanusiaan di wilayah Bandung, seniman, serta akademisi untuk berbagi pengetahuan seputar literasi, aktivisme sosial, dan seni. Rangkaian acara pesta literasi ini diisi dengan beragam acara mulai dari bazar buku, bedah buku, <em>talkshow</em>, <em>workshop</em>, hingga penampilan seni.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10593" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-1200x801.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Bazar buku NDBF 7.0 yang berlangsung dari tanggal 12-16 Agustus 2026.</em></figcaption></figure>



<h1 id="h-meramu-pangan-lokal-membaca-sejarah-dan-memerdekakan-tubuh"><strong>Meramu Pangan Lokal, Membaca Sejarah, dan Memerdekakan Tubuh</strong></h1>



<p>“Ketahanan pangan bukan hanya tentang bertahan secara fisik, tetapi juga spiritualitas. Spiritualitas mewujud dalam welas asih, empati. Di kalantara, kita menjadi menghadapi segala ketidakpastian dengan solidaritas.” –Fajar, <em>Founder</em> Lab Pangan</p>



<p>Pesta literasi pada 15 Agustus dibuka dengan <em>workshop</em> Lab Pangan dan Gelanggang Olah Rasa bertajuk “Dapur Akhir Zaman: Hadapi Apokalips dengan Senyuman”. Di sini, peserta diajak berpikir kreatif bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga cara menanam dan meramban bahan pangan liar yang ada di sekitar untuk ketahanan pangan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-1024x682.jpeg" alt="" class="wp-image-10594" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-1024x682.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-768x512.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-1536x1023.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-1200x800.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-600x400.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e.jpeg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Workshop “Dapur Akhir Zaman: Hadapi Apokalips dengan Senyuman” bersama Lab Pangan di NDBF 7.0.</em></figcaption></figure>



<p>Lab Pangan berdiri tahun 2020 di masa Covid-19. Sang <em>founder</em>, Fajar, menuturkan bahwa Lab Pangan bermula dari obrolannya bersama kawannya yang merasa kala itu tak berdaya dan tak bisa melakukan banyak aktivitas selain memasak. Kecintaan Fajar pada dunia memasak lantas menggerakkannya untuk menggalang donasi, memasak, dan mengantarkan makanan langsung ke rumah kawan-kawan yang sedang menjalani isolasi mandiri. Menariknya, nama Lab Pangan sebenarnya hanyalah sebuah plesetan jenaka dari kata “lapangan”—mengingat meja makan pertama mereka dulunya adalah meja tenis meja yang diletakkan persis di sebuah lapangan. Lokasi studio dapur ini terletak di samping Tahura (Taman Hutan Raya), Bandung.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-1024x682.jpeg" alt="" class="wp-image-10595" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-1024x682.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-768x512.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-1536x1024.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-2048x1365.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-1200x800.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-600x400.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Fajar, founder Lab Pangan.</figcaption></figure>



<p>Dalam <em>workshop</em> bertajuk “Dapur Akhir Zaman” di NDBF 7.0, Lab Pangan berbagi pengetahuan mengenai berbagai bahan pangan liar, cara meramban, dan resep mengolah bumbu yang tahan lama. Peserta diajak bereksperimen langsung meramu dan mencicipi asinan <em>apocalypse </em>“Segar di Saat Genting”, urap sebagai menu makanan besar yang bahan utamanya berasal dari daun pakis dan jantung pisang, dipadukan dengan kacang hijau sebagai sumber tenaga. Selain itu, berbagai resep lainnya juga diberikan seperti cara membuat cuka dari batang cabai, sambal terasi bubuk, dan <em>basa genep </em>(bumbu dasar) kering.</p>



<p>Diskusi seputar ketahanan pangan tersebut berlanjut ke sesi berikutnya, Ngerujak “Ngerumpi Bijak”: Gotong Royong di Zaman Peralihan” bagian I yang mengupas kedaulatan pangan dari perspektif masyarakat adat dan akademisi. Di awal, seluruh peserta diajak untuk bersama-sama membaca artikel berjudul “Di Bawah Pohon Sukun” karya jurnalis Kompas sekaligus penulis buku “Masyarakat Adat dan Ketahanan Pangan”, Ahmad Arif. Sesi diskusi ini juga menghadirkan Lab Pangan, Wahu Waste Hub, serta Kang Triyana dari Kampung Adat Cireundeu.</p>



<p>Dalam perspektif masyarakat adat, Kampung Adat Cireundeu, misalnya, punya pengetahuan dari leluhur yang hingga kini tetap lestari mengenai ketahanan pangan. Mereka bisa mengubah tanaman beracun menjadi obat, seperti yang terdapat dalam singkong, serta tidak menjadikan nasi sebagai makanan pokok.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-1024x682.jpeg" alt="" class="wp-image-10596" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-1024x682.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-768x512.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-1536x1024.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-2048x1365.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-1200x800.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-600x400.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Kang Triyana Santika, pemandu wisata Dewi Tapa Kampung Adat Cireundeu.</em></figcaption></figure>



<p>Ahmad Arif memaparkan bahwa ketergantungan kita pada beras adalah warisan kolonial untuk mendegradasi pangan lokal seperti singkong, talas, dan sukun sebagai makanan kelas rendah; sebuah fenomena yang disebut gastrokolonialisme. Menghadapi ancaman krisis pangan di masa depan, dekolonialisasi pola makan dan menjaga keseimbangan alam menjadi kunci utama. Jika kita menjaga alam, maka alam pun akan menjaga kita.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-1024x682.jpeg" alt="" class="wp-image-10597" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-1024x682.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-768x512.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-1536x1024.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-2048x1365.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-1200x800.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-600x400.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Ahmad Arif, Jurnalis Kompas dan Penulis Buku “Masyarakat Adat &amp; Kedaulatan Pangan&#8221;.</em></figcaption></figure>



<p>Sesi selanjutnya beralih pada bedah buku “Indonesia di Mata India” bersama Guru Besar ITB, Iwan Pranoto, dan Irfan Pradana Putra dari Komunitas Aleut. Diskusi ini menyoroti lawatan Rabindranath Tagore ke Hindia-Belanda dan pertemuannya secara diam-diam dengan Soekarno. Iwan menekankan bahwa Tagore menolak gagasan India Raya yang menempatkan Indonesia sebagai “adik India” yang inferior. Sebaliknya, Tagore mengibaratkan Indonesia sebagai pohon beringin yang tumbuh besar dari benih India dengan karakter sendiri.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-1024x684.jpeg" alt="" class="wp-image-10598" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-1024x684.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-768x513.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-1536x1025.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-1200x801.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-600x401.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0.jpeg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Bedah buku “Indonesia di Mata India” bersama Iwan Pranoto dan Irfan Pradana dari Komunitas Aleut di NDBF 7.0.</em></figcaption></figure>



<p>Setelah itu, ada <em>workshop</em> Gerak Tari bersama Hot Mamah Dance Club. Dibentuk tiga tahun lalu dengan latar belakang anggota yang beragam, kelompok ini hadir untuk mendobrak konstruksi sosial yang menuntut perempuan untuk selalu tampil sempurna. Kegiatan diawali dengan diskusi yang dipantik oleh gagasan dari buku berjudul “Bebas dari Ketakutan”. Dalam keseharian, tanpa sadar tubuh kerap terbelenggu oleh aturan-aturan sosial, sementara ada banyak kualitas welas asih dalam diri yang tidak digunakan. Seperti Arya Tara yang merupakan representasi welas asih dan keberanian, Hot Mamah Dance Club menjadi wujud nyata bagi kualitas tersebut; akan selalu ada teman yang bisa memberikan pengetahuan dan tidak lagi peduli akan kesempurnaan, apalagi sampai takut karena tidak bisa mencapainya.</p>



<p>Sementara sesi gerak tari berlangsung, para peserta diajak bergerak bersama untuk memerdekakan tubuh dan menemukan kembali cahaya kekuatan kolektif bahwa sendirian kita rapuh, tetapi bersama-sama kita menjadi kuat.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10599" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-1200x801.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Workshop Gerak Tari bersama Hot Mamah Dance Club di acara NDBF 7.0.</em></figcaption></figure>



<p>Di malam hari, acara diisi dengan <em>workshop</em> “Jala Suara: Eksperimen Meditasi Suara Berbasis Improvisasi dan Partisipatif” bersama Monica Hapsari &amp; Lavenir Choir. “Jala Suara” ada atas pengamatan sang seniman bahwa tidak semua individu punya keberanian yang sama dalam “bersuara” dan suara-suara yang terpendam itu akan menjadi “sumbatan” yang berpengaruh pada fisik dan mental.&nbsp;</p>



<p><em>Workshop</em> ini merupakan sebuah eksperimen jalinan meditasi suara partisipatif yang menyatukan beragam suara individu melalui olah vokal sederhana, repetitif, dan mengutamakan latihan konsentrasi, bukan berdasarkan keahlian teknik bernyanyi. Berlangsung selama 2 jam, peserta diajak mengambil bagian dalam sebuah komposisi melalui pola napas ritmik sederhana, harmonisasi suara, dan tautan adu rasa. Berbagai suara yang bertemu menjadi satu kolektif itu bertujuan untuk membangkitkan kesadaran bahwa setiap suara adalah esensial dan berarti.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-1024x684.jpeg" alt="" class="wp-image-10600" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-1024x684.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-768x513.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-1536x1025.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-2048x1367.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-1200x801.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-600x401.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Workshop Jala Suara bersama Monica Hapsari &amp; Lavenir Choir.</em></figcaption></figure>



<p>Kemeriahan acara puncak NDBF 7.0 malam pertama ditutup dengan pertunjukan tradisi Reak oleh<em> Bandung Thimoer Art of Reak</em>. Berdiri pada tahun 2022, komunitas ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan melestarikan warisan leluhur, yakni Reak, tanpa kehilangan akar tradisinya. Seni tradisi yang terancam punah tersebut sampai kini masih bisa ditemukan di wilayah Bandung Timur. NDBF 7.0 menghadirkan Reak sebagai bentuk penghormatan akan nilai-nilai tradisi leluhur dan para seniman akar rumput Reak yang terus berupaya melestarikannya.&nbsp;</p>



<p>Hidup di kalantara, Reak menjadi salah satu pengingat manusia untuk kembali kepada tanah dan bumi yang dipijak, kepada nilai-nilai kemanusiaan yang kian hilang ditelan zaman.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10601" width="780" height="521" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-1200x801.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 780px) 100vw, 780px" /><figcaption><em>Penampilan seni tradisi Reak oleh Bandung Thimoer Art of Reak.</em></figcaption></figure>



<h1><strong>Dari Ruang Sunyi, Kedukaan, hingga Jaringan Solidaritas Warga</strong></h1>



<p>Hari kedua dibuka dengan SACCA (Sahabat Baca), yaitu kegiatan baca senyap bersama. Kali ini, para peserta diajak membaca bersama komunitas Baca di Bandung yang rutin mengadakan kegiatan baca bersama di tempat umum di kota Bandung.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-1024x684.jpeg" alt="" class="wp-image-10602" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-1024x684.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-768x513.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-1536x1025.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-2048x1367.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-1200x801.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-600x401.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Silent reading bersama komunitas Baca di Bandung.</em></figcaption></figure>



<p>Acara berlanjut dengan bedah buku <em>“Storied Companions”</em> bersama Yulita Anggelia selaku psikolog dan Mira, profesional dan <em>caregiver </em>yang memiliki pengalaman langsung mendampingi suaminya yang berjuang melawan kanker hati. Dari sudut pandang psikologi, Yulita memaparkan bahwa kedukaan adalah proses bertahap yang memerlukan ruang untuk dirasakan, bukan ditekan. Di tengah rasa ketidakberdayaan, harapan adalah lampu yang harus dinyalakan agar individu bisa beradaptasi dan terus bergerak maju.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-1024x684.jpeg" alt="" class="wp-image-10603" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-1024x684.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-768x513.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-1536x1025.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-2048x1367.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-1200x801.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-600x401.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Bedah buku “Storied Companions” di acara NDBF 7.0.</em></figcaption></figure>



<p>Berikutnya ada talkshow “Dari Buku Menjadi Bunyi: ‘Matilah Kau Mati’ &amp; Seni Menyalakan Cahaya di Zaman Peralihan”, yang menghadirkan Cholil Mahmud, Knogg, dan Monica Hapsari. Diskusi tersebut fokus pada proses kreatif penggarapan karya sastra yang diterjemahkan menjadi musik seperti “Matilah Kau Mati” oleh Efek Rumah Kaca, <em>soundtrack</em> film yang diadaptasi dari novel Leila S. Chudori berjudul “Laut Bercerita”. Cholil, bersama putranya Angan Senja, mengangkat narasi penculikan aktivis 1998 dalam novel Leila Chudori menjadi komposisi musik. Lagu ini menjadi refleksi atas luka dan penantian yang ditransformasikan menjadi kekuatan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-1024x684.jpeg" alt="" class="wp-image-10604" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-1024x684.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-768x513.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-1536x1025.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-2048x1367.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-1200x801.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-600x401.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Talkshow “Dari Buku Menjadi Bunyi: “Matilah Kau Mati” &amp; Seni Menyalakan Cahaya di Zaman Peralihan”.</em></figcaption></figure>



<p>Sesi sore menghadirkan <em>workshop</em> “Meditation in Motion” yang dipandu oleh Marintan Sirait. Marintan adalah seorang seniman performans dan perupa yang artistiknya berfokus pada relasi tubuh, ruang, alam, dan kesadaran melalui pendekatan somatik.&nbsp;</p>



<p>Di tengah bisingnya zaman, manusia kerap terasing dari raga dan lingkungan sekitar. Berpijak dari buku “Latihan Batin Laksana Sinar Mentari” karya Namkha Pel yang membahas praktik latihan welas asih warisan Nusantara, <em>workshop </em>ini mengajak peserta untuk kembali terhubung dengan napas, tanah, diri sendiri, serta menumbuhkan keberanian untuk berwelas asih.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10605" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-1200x801.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Workshop “Meditation in Motion” bersama Marintan Sirait.</em></figcaption></figure>



<p>Masih serangkai, sesi tersebut dilanjutkan dengan <em>“Meditative Tea Sharing” </em>oleh SoulFree Herb Tea. Kegiatan ini diisi dengan berbagi ilmu tentang teh dari tanaman herbal untuk membangkitkan kejernihan pikiran, energi, dan meregulasi stres. Karena kandungan dari bahan alami yang baik untuk keseimbangan sistem saraf, aneka produk teh yang diramu SoulFree Herb Tea bisa dikonsumsi sesuai kebutuhan, seperti meditasi, bekerja, pun ketika ingin bersantai bersama teman. Setelah bincang-bincang tentang teh, momen kontemplatif tersebut ditutup dengan meditasi singkat bersama seluruh peserta.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-1024x684.jpeg" alt="" class="wp-image-10606" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-1024x684.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-768x513.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-1536x1025.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-2048x1367.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-1200x801.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-600x401.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>“Meditative Tea Sharing” oleh SoulFree Herb Tea.</em></figcaption></figure>



<p>NDBF malam hari kembali mengadakan <em>talkshow</em> Ngerujak “Ngerumpi Bijak”: Gotong Royong di Zaman Peralihan bagian II yang melibatkan BandungBergerak, Growing Sisters, Aksara Rembaka, dan Wilwatikta Foundation. Kegiatan ini merupakan sesi bertukar wawasan antarkomunitas dalam menghadapi krisis global.</p>



<p>Mengamati isu masifnya pembredelan berita, kekerasan HAM, hingga akses pendidikan yang tidak merata, BandungBergerak hadir sebagai media alternatif untuk mewadahi jurnalisme warga yang dipinggirkan. Setiap bulannya, BandungBergerak mengadakan “Kelas Liar” bagi warga dari latar belakang apapun untuk bergabung dalam bedah diskusi menyoal krisis-krisis yang tengah terjadi saat ini. Lahir dari keresahan akan sirkulasi relasi antara lingkungan akademik dan komunitas akar rumput yang tidak terhubung, program tersebut diharapkan dapat menjadi penyambung banyak pihak untuk bisa bersuara, bergerak, dan berbarengan memikirkan cara-cara untuk bertahan di tengah ketidakwarasan rezim dan dunia saat ini.</p>



<p>“Kami tidak ingin berhenti pada sekadar teks berita. Kami juga ingin menjangkau suara kelompok marjinal yang tidak pernah disentuh secara mendalam. Oleh karena itu, <em>tagline</em> kami adalah <em>‘Bercerita dari pinggir.’</em>” -Nida, Pengelola Program dan Komunitas BandungBergerak</p>



<p>Meski berada pada bidang yang berbeda, Growing Sisters sebagai komunitas yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, Aksara Rembaka sebagai komunitas literasi anak dan sosialisasi berkelanjutan, serta Wilwatikta Foundation sebagai yayasan beasiswa pendidikan dan sosial berbasis Buddhis—juga punya tujuan yang selaras, yakni ruang yang memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk bisa bertumbuh dan berdaya.</p>



<p>Sesi bincang tersebut membahas bagaimana sistem membuat kita terus merasa kurang dan tidak lagi punya kesadaran untuk bergotong-royong. Jika berkaca pada kondisi sekarang, kita tidak bisa selalu memandang semua persoalan berakar dari diri sendiri. Ada sistem yang berpengaruh besar dalam kehidupan kita. Berbagai persoalan yang kini kita alami terjadi secara sistematis. Sayangnya, kesadaran akan hal itu dihempaskan. Di tengah ketidakterhubungan dunia saat ini dan sistem gagal memperbaiki kualitas hidup rakyat, yang kita butuhkan adalah sekitar. Kita butuh solidaritas untuk bisa bergerak keluar dari krisis, sebab kita tidak bisa pulih dan bergerak secara sendirian.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-1024x684.jpeg" alt="" class="wp-image-10607" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-1024x684.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-768x513.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-1536x1025.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-2048x1367.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-1200x801.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-600x401.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Ngerujak “Ngerumpi Bijak”: Gotong Royong di Zaman Peralihan bersama komunitas BandungBergerak, Growing Sisters, Aksara Rembaka, dan Wilwatikta Foundation.</em></figcaption></figure>



<p>Rangkaian acara NDBF 7.0 ditutup oleh penampilan musik dari Tigapagi, sebuah kelompok ansambel. Mereka banyak mengeksplorasi musik dengan notasi-notasi musik tradisi seperti Sunda, Jawa, dan Bali. Pada penampilannya malam itu, Tigapagi menyanyikan beberapa lagu dari album “Rukiah’s Suites”. Album “Rukiah’s Suites” sendiri terinspirasi dari “Tandus”, kumpulan puisi sastrawan Sunda, Siti Rukiah Kertapati. Pada masanya, Rukiah aktif dalam pergerakan dekade-dekade awal kemerdekaan hingga ia mengalami persekusi politik setelah peristiwa kelam ‘65. Penampilan Tigapagi sebagai penutup malam itu membangunkan kembali ingatan kita akan sejarah tersebut yang kini kembali terulang.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10608" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-1200x801.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>ndbf<em>Penampilan Tigapagi di NDBF 7.0.</em></figcaption></figure>



<p>Menutup seluruh rangkaian NDBF 7.0, ada satu persamaan yang dibawa oleh setiap pembicara: mentransformasikan luka menjadi kekuatan. Di tengah sistem yang tidak adil dan tidak memanusiakan, komunitas adalah benteng pertahanan terakhir sekaligus ruang rawat yang memastikan kita tidak berjalan sendirian dalam gelap.</p>



<p>Perubahan besar bisa dimulai dengan penguatan diri sendiri, kemudian bergerak secara kolektif, saling menyadarkan, dan terus bergotong royong. Di zaman peralihan ini, meramu luka dan gelisah menjadi cahaya, serta menghidupkan harapan lewat aksi nyata adalah tugas yang harus kita emban bersama.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/ndbf-7-0-pelita-di-kalantara/">“Pelita di Kalantara”: Mentransformasikan Luka Menjadi Kekuatan di Pesta Literasi NDBF 7.0</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/ndbf-7-0-pelita-di-kalantara/">&#8220;Pelita di Kalantara&#8221;: Mentransformasikan Luka Menjadi Kekuatan di Pesta Literasi NDBF 7.0</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nusantara Dharma Book Festival 7.0: Pelita di Kalantara Tawarkan Literasi &#038; Seni Sebagai Cahaya di Zaman Peralihan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/08/20/ndbf-7-bandung-liputan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2026 09:47:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10541</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kota Bandung terpilih menjadi tempat diselenggarakannya acara Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) ke-7. Acara yang diinisiasi oleh Yayasan Pengembangan dan Pelestarian Lamrim Nusantara (Lamrimnesia) ini berlangsung di Nara Park Bandung pada 12–16 Agustus 2026. NDBF tahun ini berkolaborasi dengan berbagai komunitas untuk bersama-sama secara bergotong royong untuk membangkitkan kesadaran nilai-nilai kemanusiaan, kearifan lokal, keberlangsungan hidup [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/08/20/ndbf-7-bandung-liputan/">Nusantara Dharma Book Festival 7.0: Pelita di Kalantara Tawarkan Literasi & Seni Sebagai Cahaya di Zaman Peralihan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/08/20/ndbf-7-bandung-liputan/">Nusantara Dharma Book Festival 7.0: Pelita di Kalantara Tawarkan Literasi &#038; Seni Sebagai Cahaya di Zaman Peralihan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kota Bandung terpilih menjadi tempat diselenggarakannya acara Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) ke-7. Acara yang diinisiasi oleh <a href="http://lamrimnesia.org">Yayasan Pengembangan dan Pelestarian Lamrim Nusantara</a> (<a href="http://instagram.com/lamrimnesia">Lamrimnesia</a>) ini berlangsung di Nara Park Bandung pada 12–16 Agustus 2026.</p>



<p>NDBF tahun ini berkolaborasi dengan berbagai komunitas untuk bersama-sama secara bergotong royong untuk membangkitkan kesadaran nilai-nilai kemanusiaan, kearifan lokal, keberlangsungan hidup dan nilai spiritual di tengah ancaman krisis, ketidakpastian global, wabah hingga kerusakan alam tidak terkendali. Acara ini mendapatkan apresiasi dari Dirjen Bimas Buddha Provinsi Jawa Barat, NDBF 7.0 dapat menjalin kolaborasi lintas agama sesuai dengan misi kementerian agama menjalin kerukunan umat beragama dalam menghadapi berbagai persoalan.</p>



<p>Sepanjang 12-16 Agustus 2026, Lamrimnesia merangkul 20+ penerbit lokal Bandung dan sekitarnya guna menghidupkan kembali ekosistem literasi masyarakat luas di masa krisis. Pada akhir pekan 15–16 Agustus 2026, acara semakin meriah dengan kehadiran berbagai komunitas, akademisi, seniman, dan praktisi berbagai bidang yang turut berbagi wawasan untuk mengurai persoalan dari luar dan dalam diri.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10572" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-684x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10575" width="513" height="768" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-684x1024.jpg 684w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-200x300.jpg 200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-768x1150.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-1026x1536.jpg 1026w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-1368x2048.jpg 1368w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-150x225.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-450x674.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-1200x1797.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-600x898.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-scaled.jpg 1710w" sizes="(max-width: 513px) 100vw, 513px" /><figcaption>Bazar Buku NDBF 7.0 berlansung pada 12-16 Agustus 2026</figcaption></figure></div>


<p>Gelaran hari Sabtu, 15 Agustus 2026 dibuka lokakarya strategi makan enak di tengah ombang-ambing krisis dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di alam sekitar bersama Lab Pangan, sebuah <em>open kitchen </em>di ruang seni Gelanggang Olah Rasa. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi tentang ketahanan hidup yang telah dibangun sejak lama oleh leluhur kita bersama Lab Pangan, Kampung Adat Cireundeu, Wahu Waste Hubs, dan jurnalis sains &amp; penulis buku “Masyarakat Adat dan Kedaulatan Pangan” Ahmad Arif. Selanjutnya, ada bedah buku &#8220;Indonesia di Mata India &#8211; Kala Tagore Melawat ke Indonesia&#8221; guna mengetahui hubungan lintas budaya yang berjalan ribuan tahun yang dipandu oleh Guru Besar ITB Iwan Pranoto dan penulis dari Komunitas Aleut Irfan Pradana Putra. </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10558" width="768" height="512" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Lokakarya &#8220;Dapur Akhir Zaman&#8221; bersama Lab Pangan <a href="https://www.gelanggangolahrasa.id/">Gelanggang Olah Rasa</a></figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10555" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Perwakilan Wahu Waste Hubs dan Kampung Adat Cireundeu, penulis Ahmad Arif, dan tim Lab Pangan tukar wawasan tentang pangan dan lingkungan di zaman peralihan dalam Ngerujak (Ngerumpi Bijak) bagian I</figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10554" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Bedah buku &#8220;Indonesia di Mata India &#8211; Kala Tagore Melawat ke Nusantara&#8221; bersama Iwan Pranoto dan Komunitas Aleut</figcaption></figure></div>


<p>Sore hari, peserta diajak mengekspresikan diri dan menggali potensi di tengah ketakutan dengan menari bersama Hot Mamah Dance Club. Sebelum menari, para mamah bersama peserta lokakarya juga mengulik ketakutan yang mereka alami sambil berkenalan dengan Arya Tara, sosok feminin dalam peradaban kuno Nusantara yang melambangkan potensi welas asih &amp; kebijaksanaan yang diulas dalam buku “Bebas dari Ketakutan”.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10559" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10560" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Menari di Kalantara bersama Hot Mamah Dance Club</figcaption></figure></div>


<p>Ketika malam tiba dan suasana semakin syahdu, seniman Monica Hapsari dan Lavenir Choir memandu lokakarya bernyanyi sekaligus saling mendengarkan, melepas beban, juga memancarkan kasih sayang untuk negeri kita dan semua makhluk. Rangkaian acara hari itu lalu ditutup dengan pertunjukan seni tradisi reak dari Bandung Thimoer Art of Reak, dipandu oleh Anggi Nugraha yang memaparkan bagaimana seni tradisi bukanlah hiburan semata, tapi juga media penyemaian dan pelestarian nilai luhur yang diwariskan dari zaman ke zaman.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10561" width="768" height="512" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10562" width="768" height="512" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Jala Suara bersama Monica Hapsari &amp; Lavenir Choir</figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10567" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10565" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Pertunjukan Seni Tradisi Bandung Thimoer Art of Reak</figcaption></figure></div>


<p>Selanjutnya, pada 16 Agustus 2026, NDBF dibuka dengan baca senyap bersama komunitas Baca Di Bandung. Selanjutnya, psikolog Yulita Anggelia dan <em>caregiver </em>Mira Dewi Kania berbagi pengalaman sambil membedah buku &#8220;Storied Companion&#8221; yang mengurai lika-liku menghadapi ketidakpastian dan kehilangan. Personil band Efek Rumah Kaca Cholil Mahmud hadir bersama putranya, Angan Senja (Knogg), untuk mem-<em>breakdown </em>bagaimana <em>soundtrack </em>film “Laut Bercerita” yang berjudul “Matilah Kau Mati” digubah dari kisah dan puisi dari karya Leila S. Chudori tersebut. </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10553" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>SACCA (Sahabat Baca) bersama komunitas Baca Di Bandung</figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10568" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10569" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>,Bedah buku &#8220;Storied Companions&#8221; bersama Yulita Anggelia, M.Psi. dan Mira Dewi Kania</figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10551" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Cerita pembuatan soundtrack film &#8220;Laut Bercerita&#8221; bersama Cholil Mahmud, Knogg, Monica Hapsari, dan Yushua Adiputra</figcaption></figure></div>


<p>Lokakarya bernuansa gerak tubuh kembali diadakan pada sore hari, yaitu <em>meditation in motion </em>bersama seniman senior Marintan Sirait. Usai meditasi gerak, SoulFree Herb menyajikan teh herbal dari bahan-bahan alami yang diracik berdasarkan ilmu warisan leluhur yang berkhasiat untuk kesehatan sistem syaraf. Rangkaian acara ini menuntun peserta untuk menjalin kembali hubungan dengan diri sendiri, satu sama lain, dan alam sekitar. </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10549" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10548" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Meditation in Motion &amp; diskusi buku &#8220;Latihan Batin Laksana SInar Mentari&#8221; bersama Marintan Sirait, founder<em> </em><a href="https://www.instagram.com/dalemwangi.artspace/">Dalemwangi Artspace</a> &amp; <a href="https://www.jendelaide.org/">Jendela Ide Indonesia</a></figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10550" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Tim <a href="https://www.instagram.com/soulfreeherb/">SoulFree Herb</a> menyeduh teh dengan racikan warisan leluhur yang dapat meningkatkan ketajaman fokus sekaligus menenangkan sistem syaraf</figcaption></figure></div>


<p>Setelah itu, pada malam hari, perwakilan komunitas Aksara Rembaka, BandungBergerak, Growing Sisters, dan Wilwatikta Foundation yang aktif berkarya di bidang pengembangan diri, literasi, dan sosial duduk semeja dengan hadirin sambil menikmati rujak<em> </em>dan bertukar wawasan mengenai pentingnya hidup berkomunitas di tengah krisis. </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10545" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10543" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Ngerujak (Ngerumpi Bijak) bersama <a href="https://bandungbergerak.id/">BandungBergerak</a>, <a href="https://www.instagram.com/wilwatiktafoundation/">Wilwatikta Foundation</a>, komunitas<a href="https://www.pikiran-rakyat.com/dari-perempuan/pr-0110401062/menemukan-makna-di-balik-perbedaan-perempuan-bandung-belajar-bahasa-isyarat-dari-hati-ke-hati"> Growing Sisters</a>, dan <a href="https://lynk.id/aksararembakaid">Aksara Rembaka</a> tentang apa yang bisa dilakukan bersama untuk saling mendukung di zaman peralihan</figcaption></figure></div>


<p>Seluruh rangkaian NDBF akhirnya ditutup dengan pertunjukan <em>band</em> Tigapagi yang memadukan karya sastra ritme musik khas Sunda, dan aransemen musik modern.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-1024x683.jpg" alt="Nusantara Dharma Book Festival 7.0 menghadirkan seniman, pegiat literasi, dan komunitas kota Bandung untuk bertukar inspirasi menhadapi krisis di peralihan zaman." class="wp-image-10571" width="768" height="512" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10546" width="768" height="512" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Penampilan band <a href="https://www.youtube.com/@Tigapagimusic">Tigapagi</a></figcaption></figure></div>


<p>“Sebuah festival memang tidak dapat mengubah keadaan dunia tetapi di sini kita bersama-sama untuk menyadari dan menyiapkan langkah untuk lebih peka terhadap yang ada di sekitar kita,” ungkap Monica Hapsari, seniman yang memandu salah satu lokakarya di NDBF..</p>



<p>Sepanjang acara NDBF 7.0 para peserta diajak bersama-sama membangun kembali kehidupan yang lebih sadar, adaptif, dan penuh welas asih di tengah kekacauan zaman yang tak bertepi. Festival ini dapat menjadi momen refleksi betapa pentingnya literasi serta urgensi membangun kebersamaan dan kepekaan dalam menghadapi tantangan krisis.</p>



<p>Informasi mengenai Nusantara Dharma Book Festival dapat diikuti di Instagram <a href="http://instagram.com/dharmabookfest">@dharmabookfest</a>.</p>



<p><strong>Narahubung:</strong></p>



<p>Satriya Ramadani &#8211; +6281392044520</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/08/20/ndbf-7-bandung-liputan/">Nusantara Dharma Book Festival 7.0: Pelita di Kalantara Tawarkan Literasi & Seni Sebagai Cahaya di Zaman Peralihan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/08/20/ndbf-7-bandung-liputan/">Nusantara Dharma Book Festival 7.0: Pelita di Kalantara Tawarkan Literasi &#038; Seni Sebagai Cahaya di Zaman Peralihan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Aku Sedang Mengasihi atau Mengasihani Diriku?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/08/07/welas-asih-mengasihani-diri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2026 08:00:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[self-compassion]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10532</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di mana batas antara self-compassion dan self-pity? Buddhisme memberi definisi jelas kapan kita sedang mengasihi diri sendiri atau mengasihani diri sendiri!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/08/07/welas-asih-mengasihani-diri/">Apakah Aku Sedang Mengasihi atau Mengasihani Diriku?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/08/07/welas-asih-mengasihani-diri/">Apakah Aku Sedang Mengasihi atau Mengasihani Diriku?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<h2 id="h-memahami-garis-tipis-antara-self-compassion-dan-self-pity">Memahami Garis Tipis antara <em>Self-Compassion</em> dan <em>Self-Pity</em></h2>



<p>oleh Johnson Khuo</p>



<p>Di tengah kehidupan yang penuh tekanan, semakin banyak orang mulai belajar untuk memperlakukan dirinya sendiri dengan lebih baik. Konsep <em>self-compassion</em> atau welas asih kepada diri sendiri pun semakin dikenal sebagai salah satu fondasi kesehatan mental dan kesejahteraan batin. </p>



<p>Namun, di balik popularitasnya, muncul sebuah risiko yang sering luput disadari: <em>self-compassion</em> kerap disalahpahami sebagai <em>self-pity</em> atau mengasihani diri sendiri. Keduanya sama-sama melibatkan perhatian terhadap penderitaan diri sendiri, sehingga sekilas tampak serupa. Padahal, meskipun berangkat dari titik yang sama, keduanya bergerak ke arah yang sangat berbeda. Yang satu membantu kita menghadapi penderitaan hingga akhirnya terbebas darinya. Yang lain justru membuat kita semakin melekat pada penderitaan, hingga tanpa sadar menjadikannya sebagai identitas.</p>



<p>Mari kita mencoba menelusuri garis tipis yang membedakan keduanya. Menariknya, psikologi modern, khususnya konsep <em>self-compassion</em> dari Dr. Kristin Neff, ternyata memiliki titik temu yang mendalam dengan ajaran Buddhis, mulai dari Lamrim hingga Vajrayana. Walaupun menggunakan bahasa dan pendekatan yang berbeda, keduanya mengarah pada transformasi batin yang sama: melepaskan identitas sebagai <strong>&#8220;aku yang kurang&#8221;</strong>, lalu bertumbuh menuju batin yang utuh, bebas, dan siap memberi.</p>



<h2 id="h-self-pity-ketika-penderitaan-menjadi-identitas"><em>Self-Pity</em>: Ketika Penderitaan Menjadi Identitas</h2>



<p><em>Self-pity</em> muncul ketika perhatian kita sepenuhnya terserap pada penderitaan pribadi. Kita merasa bahwa luka kita begitu besar sehingga tanpa sadar mulai melihat diri sebagai korban utama dari keadaan.Kita mulai berkata:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku sudah terlalu banyak berkorban.&#8221;</em><br><em>&#8220;Kenapa hidup selalu tidak adil kepadaku?&#8221;</em><br><em>&#8220;Orang lain seharusnya memperlakukanku dengan lebih baik.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Lama-kelamaan rasa sakit tidak lagi menjadi sebuah pengalaman. Ia berubah menjadi identitas. Dari identitas inilah muncul berbagai tuntutan yang halus: dunia seharusnya berubah, orang lain seharusnya lebih memahami kita, keadaan seharusnya lebih berpihak kepada kita.</p>



<p>Ironisnya, semakin kita mencoba mengisi kekosongan itu dari luar, semakin kosong pula rasanya. Karena yang sebenarnya terluka bukan keadaan di luar, melainkan cara batin memandang dirinya sendiri.</p>



<h2 id="h-self-compassion-memberi-ruang-tanpa-tenggelam"><em>Self-Compassion: </em>Memberi Ruang Tanpa Tenggelam</h2>



<p>Sebaliknya, <em>self-compassion</em> bukan berarti mengabaikan rasa sakit, juga bukan berarti memaksa diri untuk &#8220;tetap kuat&#8221;. </p>



<p>Dr. Kristin Neff menjelaskan bahwa self-compassion terdiri dari tiga komponen:</p>



<ul><li><strong><em>Self-kindness</em></strong>: memperlakukan diri sendiri dengan kelembutan.</li><li><strong><em>Common humanity</em></strong>: menyadari bahwa penderitaan adalah bagian dari pengalaman semua manusia.</li><li><strong><em>Mindfulness</em></strong>: melihat dan mengakui rasa sakit sebagaimana adanya, tanpa menyangkal ataupun membesar-besarkannya.</li></ul>



<p>Artinya, ketika sedang terluka, kita boleh berkata kepada diri sendiri:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Ya, ini memang berat.&#8221;</em><br><em>&#8220;Tidak apa-apa kalau hari ini aku sedih.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku akan menemani diriku melewati ini.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Memberi ruang bagi emosi bukanlah kelemahan. Justru di sanalah penyembuhan dimulai.</p>



<h2 id="h-paradoks-self-compassion"><strong>Paradoks <em>Self-Compassion</em></strong></h2>



<p>Di sinilah letak paradoks yang sering kali tidak disadari. Kita memberi welas asih kepada diri sendiri <strong>bukan supaya segera merasa lebih baik</strong>, melainkan <strong>karena saat ini kita memang sedang merasa buruk.</strong> Perbedaannya tampak kecil, tetapi sesungguhnya sangat mendasar.</p>



<p>Ketika hati sedang terluka, tentu kita ingin rasa sakit itu segera hilang. Namun, bila kita mempraktikkan <em>self-compassion</em> dengan tujuan tersembunyi agar cepat nyaman kembali, kita tanpa sadar sedang melawan pengalaman yang sebenarnya sedang terjadi. Welas asih berubah menjadi alat untuk memanipulasi emosi. Padahal <em>self-compassion </em>tidak pernah dimaksudkan untuk menghapus penderitaan secepat mungkin. Ia mengundang kita berkata:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Ya, ini memang menyakitkan.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku tidak perlu berpura-pura kuat.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku akan tetap hadir untuk diriku sendiri justru karena ini menyakitkan.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Di sinilah paradoks itu bekerja. Ketika kita berhenti melawan rasa sakit, justru ruang penyembuhan mulai terbuka. Sebaliknya, ketika kita menggunakan <em>self-compassion</em> sebagai cara agar &#8220;cepat tidak sakit&#8221;, kita masih berada dalam resistensi. Seperti ungkapan yang sering dikutip dalam psikologi:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><strong><em>What we resist, persists.</em></strong></p><cite>Yang kita tolak akan bertahan.</cite></blockquote>



<p>Karena itu, saat melakukan latihan <em>self-compassion</em>, meletakkan tangan di dada, menarik napas perlahan, atau melakukan latihan <em>soothing</em> (menenangkan) lainnya, perhatikan niat yang muncul. Apakah kita sedang berkata:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Aku tidak suka dengan perasaan yang tidak mengenakkan ini.”</em><br><em>&#8220;Aku perlu segera tenang.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Ataukah:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Bisakah aku menerima bahwa ini memang menyakitkan?&#8221;</em><br><em>&#8220;Bisakah aku tetap hadir untuk diriku sendiri karena ini menyakitkan?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Perbedaannya sangat halus, tetapi di sanalah kualitas latihan kita ditentukan. <em>Self-compassion</em> bukanlah teknik untuk menghilangkan rasa sakit. Ia adalah keberanian untuk tetap membuka hati ketika rasa sakit hadir. <strong><em>The only way out is through</em></strong> &#8211; satu-satunya jalan keluar adalah menjalaninya.</p>



<h2 id="h-painkiller-atau-pengobatan-akar"><em>Painkiller</em> atau Pengobatan Akar?</h2>



<p>Perbedaan antara <em>self-compassion</em> dan <em>sel-pity</em> dapat diibaratkan seperti perawatan gigi. Ketika gigi mengalami infeksi, dokter biasanya memberikan obat anti nyeri dan anti radang terlebih dahulu. Obat-obatan ini sangat penting karena membantu meredakan nyeri, mengurangi peradangan, dan membuat kondisi pasien cukup stabil untuk menjalani perawatan selanjutnya. Namun, obat itu sendiri bukanlah penyembuhan. Setelah rasa sakit mereda, dokter tetap harus menangani akar masalahnya.</p>



<p>Demikian pula dengan batin. Memberi ruang kepada diri sendiri adalah &#8220;obat anti nyeri&#8221; yang dibutuhkan. Namun, setelah batin mulai stabil, kita perlu mulai bertanya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Apa akar penderitaanku?&#8221;</em><br><em>&#8220;</em>Mindset <em>apa yang membuat pola ini terus berulang?&#8221;</em><br><em>&#8220;Apa yang perlu kulihat dengan lebih jernih?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Bila kita terus-menerus hanya menikmati rasa nyaman sebagai &#8220;pasien yang sedang membutuhkan ruang&#8221;, kita dapat terjebak dalam bentuk <em>self-compassion</em> yang semu. Yang awalnya merupakan obat perlahan berubah menjadi tempat tinggal.</p>



<h2 id="h-garis-tipis-yang-menentukan-realisasi-kerugian-samsara">Garis Tipis yang Menentukan: Realisasi Kerugian Samsara</h2>



<p>Dalam latihan Lamrim terdapat sebuah perenungan penting mengenai <strong>kerugian samsara</strong>. Salah satu tanda bahwa perenungan ini mulai benar-benar terealisasi bukanlah seberapa banyak kita memahami teorinya, melainkan apakah kita mampu <strong>menyeberangi sebuah garis tipis dalam cara memandang kehidupan.</strong></p>



<p>Di satu sisi garis itu, kita masih berpikir:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku kecewa karena orang ini tidak memenuhi harapanku.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan.&#8221;</em><br><em>&#8220;Seharusnya hidup tidak seperti ini.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Perasaannya nyata. Penderitaannya pun nyata. Namun, ketika pemahaman tentang kerugian samsara mulai meresap, kita perlahan mampu menyeberang ke sisi yang lain.</p>



<p>Di sisi ini kita memahami:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Selama aku dan semua makhluk masih berada dalam samsara, tidak mungkin siapa pun mampu memenuhi seluruh harapanku. Begitu pula aku tidak akan selalu mampu memenuhi harapan orang lain.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Peristiwanya sama. Orangnya sama. Keadaannya pun mungkin tidak berubah. Yang berubah adalah cara batin memandangnya.</p>



<p>Pemahaman ini bukan berarti menjadi pasif atau membenarkan perlakuan yang salah. Sebaliknya, kita mulai melepaskan tuntutan bahwa dunia <strong>harus</strong> sesuai dengan keinginan kita agar kita bisa bahagia. Di sinilah penerimaan mulai lahir. Bukan penerimaan yang pasif, melainkan penerimaan yang tenang. <em>Sumeleh. Nrimo.</em> Pasrah dalam arti yang sehat.</p>



<p>Menariknya, di sinilah psikologi modern dan Lamrim bertemu. Kristin Neff mengatakan bahwa <em>self-compassion</em> berarti berhenti melawan rasa sakit dan hadir bersamanya. Lamrim mengatakan bahwa kedamaian lahir ketika kita berhenti menuntut samsara menjadi sesuatu yang tidak mungkin ia berikan. Bahasanya berbeda. Namun, arah transformasinya sama.</p>



<h2 id="h-melepaskan-beban-agar-batin-dapat-terangkat">Melepaskan Beban agar Batin Dapat Terangkat</h2>



<p>Bayangkan sebuah balon udara yang ingin terbang. Balon itu memiliki daya angkat yang besar. Kemampuan untuk memberi, mengasihi, dan berbuat baik sebenarnya sudah ada di dalam dirinya. Namun, balon itu masih membawa karung-karung pasir yang berat. Karung-karung itu berisi pikiran seperti:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku kurang diperhatikan.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku sudah terlalu banyak berkorban.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku belum mendapatkan apa yang pantas kuterima.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Semakin berat beban yang dibawa, semakin sulit balon itu terangkat. Demikian pula dengan batin kita. Selama energi kita terus dihabiskan untuk menghitung apa yang belum kita terima, merasa diperlakukan tidak adil, atau mempertahankan identitas sebagai korban, kemampuan untuk memberi menjadi semakin kecil. Padahal kemampuan untuk memberi sebenarnya tidak pernah hilang. Ia hanya tertutup oleh beban yang masih kita genggam.</p>



<p>Melalui latihan <em>self-compassion</em> yang disertai kebijaksanaan, sedikit demi sedikit kita mulai melepaskan karung-karung pasir itu. Bukan dengan memaksa diri menjadi orang yang lebih baik, tetapi dengan berhenti menggenggam apa yang selama ini membebani hati. </p>



<p>Ketika beban itu mulai berkurang, sesuatu yang menarik terjadi. Kita tidak perlu memaksa diri menjadi murah hati. Batin dengan sendirinya menjadi lebih ringan. Dan dari keringanan itulah muncul kemampuan untuk memberi.</p>



<h2 id="h-mengapa-menerima-terasa-sangat-sulit">Mengapa Menerima Terasa Sangat Sulit?</h2>



<p>Sering kali, menerima bukanlah sesuatu yang sulit secara intelektual. Yang sulit adalah konsekuensinya. Selama kita masih memandang diri sebagai pihak yang terluka, pihak yang kurang, atau pihak yang membutuhkan, kita masih memiliki alasan untuk berkata:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku belum bisa.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku masih butuh waktu.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku berhak diberi kesempatan.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku belum mendapatkan apa yang seharusnya kuterima.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Namun, ketika penerimaan benar-benar terjadi, sesuatu mulai bergeser. Identitas sebagai korban perlahan runtuh. Bersamaan dengan itu, muncul identitas baru:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;<strong>Aku sudah cukup.</strong>&#8220;</em></p></blockquote>



<p>Dan ketika batin mulai merasa cukup, fokus kita pun berubah. Bukan lagi:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Apa lagi yang bisa kuterima?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Melainkan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Apa yang bisa kuberikan?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Kita tidak lagi berkata:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Mengapa aku tidak punya waktu untuk ikut retret?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Tetapi mulai bertanya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Bagaimana aku menggunakan waktu yang ada untuk memberi manfaat?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Kita tidak lagi sibuk memikirkan kesempatan yang belum diberikan. Kita mulai melihat kesempatan yang sudah ada di depan mata untuk bekerja, melayani, dan berkontribusi. Pada titik ini, memberi tidak lagi terasa sebagai pengorbanan. Ia menjadi ekspresi alami dari batin yang penuh.</p>



<p>Mungkin inilah alasan mengapa penerimaan terasa sangat menantang. Bukan karena menerima itu sendiri sulit, melainkan karena “penerimaan” meruntuhkan identitas lama sebagai <strong>pihak yang membutuhkan</strong>, lalu mengundang kita memasuki identitas baru sebagai <strong>pihak yang sudah cukup dan siap memberi</strong>.</p>



<p>Dan mungkin, tanpa kita sadari, justru peralihan identitas inilah yang paling sering kita takuti.</p>



<h2 id="h-dari-ordinary-perception-menuju-divine-pride">Dari <em>Ordinary Perception</em> Menuju <em>Divine Pride</em></h2>



<p>Dalam Vajrayana, transformasi ini dilakukan dengan cara yang jauh lebih radikal. Selama ini kita hidup dalam apa yang disebut <strong><em>ordinary perception</em></strong> (persepsi biasa). Kita memandang diri sebagai:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku korban.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku kurang.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku belum cukup.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku membutuhkan dunia untuk melengkapiku.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Lama-kelamaan cerita-cerita itu menjadi identitas. Kita bukan lagi sekadar mengalami luka. Kita menjadi orang yang terluka.</p>



<p>Vajrayana mengajak kita melakukan sesuatu yang sangat berbeda. Bukan memperbaiki identitas lama sedikit demi sedikit, tetapi berhenti mengidentifikasi diri dengannya. Inilah yang disebut latihan <strong><em>divine pride</em></strong>.</p>



<p><em>Divine pride</em> bukan berarti merasa lebih hebat daripada orang lain, bukan pula berfantasi menjadi dewa. Ia adalah latihan untuk mengenali hakikat batin yang sejak awal telah memiliki potensi Buddha: utuh, penuh kebijaksanaan, dan penuh welas asih.</p>



<p>Dari sudut pandang ini, arah batin berubah secara mendasar. Bukan lagi:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku kurang.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Melainkan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku utuh.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Bukan lagi:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku membutuhkan.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Melainkan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku sudah cukup.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Bukan lagi:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Siapa yang akan mengisi kekuranganku?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Melainkan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Bagaimana aku dapat memberi manfaat bagi makhluk lain?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Inilah sebabnya seorang praktisi Vajrayana berlatih memandang dirinya sebagai Istadewata. Bukan untuk menciptakan ego baru, tetapi untuk melatih batin melepaskan identitas lama yang terus-menerus merasa kurang.</p>



<p>Pendekatan Lamrim menempuh jalan yang lebih bertahap. Vajrayana melompat langsung ke identitas yang tercerahkan. Namun, keduanya memiliki tujuan yang sama: membebaskan batin dari identitas sebagai korban.</p>



<h2 id="h-penutup"><a></a><strong><em>Penutup</em></strong></h2>



<p><em>Self-compassion</em> dan <em>self-pity</em> sama-sama dimulai dari rasa sakit. Namun, keduanya berakhir di tempat yang sangat berbeda. <em>Self-pity</em> membuat penderitaan menjadi identitas. <em>Self-compassion</em> mengizinkan kita merasakan penderitaan, hadir bersamanya, memahami akarnya, lalu perlahan melepaskan apa yang mengikat batin.</p>



<p>Pada akhirnya, penyembuhan bukanlah tentang menjadi orang lain. Penyembuhan adalah melepaskan identitas yang selama ini kita genggam, melepaskan keyakinan bahwa kita selalu kurang, melepaskan tuntutan bahwa dunia harus memenuhi semua harapan kita dan perlahan menyadari bahwa ketika batin berhenti berperang dengan kenyataan, ia menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya. Bukan sekadar rasa nyaman, melainkan rasa utuh.</p>



<p>Dari keutuhan itulah lahir welas asih. Dari welas asih lahirlah kebijaksanaan. Dan dari kebijaksanaan, muncul dorongan alami untuk memberi.</p>



<p>Mungkin inilah makna terdalam dari <em>self-compassion.</em> Bukan menjadikan diri kita pusat dari welas asih. Melainkan membebaskan diri dari apa pun yang menghalangi hati kita untuk mengalirkan welas asih tersebut kepada diri sendiri dan kepada semua makhluk.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/08/07/welas-asih-mengasihani-diri/">Apakah Aku Sedang Mengasihi atau Mengasihani Diriku?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/08/07/welas-asih-mengasihani-diri/">Apakah Aku Sedang Mengasihi atau Mengasihani Diriku?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Kedua 2026</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/08/06/yppln-triwulan-kedua-2026/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2026 06:17:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10520</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ini dia aktivitas pelestarian &#038; pengembangan Buddha Dharma oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Dharma April-Juni 2026!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/08/06/yppln-triwulan-kedua-2026/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Kedua 2026</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/08/06/yppln-triwulan-kedua-2026/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Kedua 2026</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Terima kasih dan turut bermudita atas dukungan dari 188 Dharma Patron, 220 Dharma Patriot, dan para Sahabat Lamrimnesia yang berkontribusi selama triwulan kedua tahun 2026! Ini dia aktivitas pelestarian dan pengembangan Dharma yang telah kita lakukan bersama:</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/1-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10522" width="576" height="1024" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/1-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/1-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/1-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/1-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/1-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/1-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/1-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/2-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10523" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/2-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/2-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/2-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/2-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/2-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/2-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/2-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/3-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10524" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/3-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/3-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/3-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/3-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/3-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/3-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/3-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/5-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10526" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/5-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/5-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/5-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/5-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/5-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/5-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/5-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/6-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10527" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/6-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/6-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/6-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/6-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/6-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/6-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/6-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/6.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/7-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10528" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/7-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/7-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/7-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/7-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/7-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/7-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/7-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/7.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/8-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10529" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/8-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/8-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/8-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/8-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/8-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/8-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/8-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/8.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>


<p>Mau ikut melestarikan dan mengembangkan Buddhadharma di Nusantara? <br>Yuk bergabung menjadi Dharma Patron dan Dharma Patriot Lamrimnesia!</p>



<p>Untuk bergabung, hubungi kami di Lamrimnesia Info – +685 2112 2014 2</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/08/06/yppln-triwulan-kedua-2026/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Kedua 2026</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/08/06/yppln-triwulan-kedua-2026/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Kedua 2026</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Welas Asih untuk Dunia yang Luka, Sebuah Ulasan Film &#8220;Wisdom of Happiness&#8221;</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/08/04/wisdom-of-happiness/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2026 06:32:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama XIV]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10511</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kita mendambakan bahagia, tapi yang kita berikan kepada sesama justru derita. Wisdom of Happiness, sebuah dokumenter perjalanan panjang Dalai Lama XIV untuk memperjuangkan negerinya dan kemanusiaan.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/08/04/wisdom-of-happiness/">Welas Asih untuk Dunia yang Luka, Sebuah Ulasan Film <em>“Wisdom of Happiness”</em></a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/08/04/wisdom-of-happiness/">Welas Asih untuk Dunia yang Luka, Sebuah Ulasan Film &lt;em&gt;&#8220;Wisdom of Happiness&#8221;&lt;/em&gt;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em>Sebuah potret peradaban tak tertandingi menjulang tinggi. Gedung-gedung pencakar langit berhias cahaya mewah, sains dan teknologi melaju pesat, hidup kian kemilau. Kita hidup di puncak kemegahan, menyatu dalam sebuah etalase yang disebut kemajuan. Di saat yang sama, ingar-bingar itu membuat manusia semakin terperosok dalam kekacauan.&nbsp;</em></p>



<p>Dengan jubah merahnya, seorang guru yang amat dihormati karena welas asihnya muncul di layar kaca. Ingatan masih berkelindan bagaimana sang guru kala itu, Dalai Lama ke-14, seakan duduk di hadapan penonton secara langsung.&nbsp;</p>



<p><em>“Wisdom of Happiness”, </em>film dokumenter yang mengisahkan perjalanan spiritual, perjuangan, dan pesan-pesan kedamaian dari Dalai Lama ke-14, seorang pemimpin spiritual Tibet yang juga pernah menjadi pemimpin negara. Dokumenter garapan Barbara Miller dan Philip Delaquis itu tayang pertama kali tahun 2024 dan kembali diputar pada akhir Juni 2026 lalu menjelang peringatan <em>World Tibet Day</em> pada tanggal 6 Juli, bertepatan dengan ulang tahun Dalai Lama ke-14.</p>



<p>Ketentraman batin menjadi tema besarnya. Alih-alih dibawa melambung jauh ke kehidupan mendatang sebagaimana yang terdapat dalam Buddhisme, Dalai Lama justru menarik topik itu ke kehidupan saat ini. Berbagai isu penting yang saling terhubung diangkat dalam film itu, yaitu perjuangan Tibet meraih pembebasan, pendidikan, krisis alam, hingga kesetaraan gender. Ketika mata teduh itu disorot, film dimulai.</p>



<h2 id="h-dalai-lama-dan-perjuangan-tibet"><strong>Dalai Lama dan Perjuangan Tibet</strong></h2>



<p>Film dibuka dengan potret Dalai Lama kecil, sebuah jejak masa kecil bocah usil yang sering membuat ayahnya kesal, kedekatannya dengan ibunya yang penuh belas kasih, hingga masa suka-dukanya belajar di biara. Saat itu, ia harus pisah dari orang tuanya dan dibesarkan di Lhasa, ibukota Tibet, dengan tata cara kehidupan biara yang keras. Layaknya anak-anak lain, Dalai Lama kecil selalu mencari ibunya ketika dimarahi guru. Baru saja kenangan itu diceritakan, kondisi memilukan ditampilkan. Kelaparan, penindasan, dan pembantaian adalah kondisi Tibet yang mewakili kekacauan dunia sekarang.</p>



<p>Cina pertama kali menginvasi Tibet pada tahun 1948 dengan maksud menguasai seluruh wilayah Tibet dan menjadikannya negara komunis. Berdasarkan Perjanjian Tujuh Belas Pasal tahun 1951 (perjanjian antara pemerintah pusat Cina dengan pemerintah Tibet tentang langkah-langkah pembebasan Tibet secara damai), Cina berjanji tidak akan mengubah sistem politik Tibet, status, fungsi, dan wewenang Dalai Lama, akan menghormati kepercayaan dan budaya rakyat Tibet. Nyatanya, perjanjian itu dilanggar. Biara-biara dihancurkan, rakyat Tibet menjadi korban kerja paksa, tanah mereka dirampas, hingga etnosida digalakkan. Sampai saat ini, mereka masih hidup dalam represi.</p>



<h2><strong>Melawan dengan Welas Asih</strong></h2>



<p>Pada 9 Maret 1959, pecahlah aksi pemberontakan rakyat Tibet yang dikenal sebagai Pemberontakan Lhasa. Seluruh rakyat bersatu melindungi Dalai Lama dari ancaman penculikan sekaligus melakukan protes terhadap penindasan yang berlangsung di Tibet. Situasi berbahaya memaksa Dalai Lama harus lari ke pengasingan, India. Kala itu, hatinya dipenuhi rasa cemas, sedih, dan kacau karena harus meninggalkan rakyatnya yang berjuang.</p>



<p>Di tengah remuk redam negerinya, Dalai Lama memilih jalan perlawanan tanpa kekerasan. Tidak mudah untuk teguh di pilihan itu melihat bagaimana hak-hak hidup rakyatnya dirampas. Namun, membalas darah dengan darah bukan jalan keluar. Bagi Dalai Lama, kekerasan akan semakin menjauhkan dunia dari perdamaian dan hanya menciptakan siklus penderitaan baru. Pertanyaannya, bisakah penindasan benar-benar ditebas tanpa harus mengangkat senjata sama sekali?</p>



<p>Represi selalu memancing kita untuk bertarung di gelanggang amarah, membuat kita tak ubahnya seperti penindas. Kita menjadi asing dengan cinta kasih dan hilang kedamaian. Di saat manusia sedang berduka hebat akibat penindasan, welas asih adalah bentuk perlawanan tertinggi. Ia lahir dari kemarahan yang menolak diam ketika penindasan terjadi. Pikiran yang berwelas asih adalah pikiran yang tangguh; sebuah fondasi manusia untuk bangkit, mengatasi, dan melewati masa-masa terpuruk.&nbsp;</p>



<h2><strong>Alam, Cermin Kehancuran Manusia</strong></h2>



<p>Manusia dan alam ibarat satu tubuh; saling bergantung. Rentetan badai, kekeringan ekstrem, dan berbagai kerusakan alam hari ini tak lain adalah pantulan dari kemanusiaan kita yang babak belur karena saling menghancurkan.</p>



<p>Luka yang diderita rakyat Tibet mewakili luka di seluruh belahan bumi. Kehancuran itu menjalar ke alam. Tibet, dengan salju lebatnya adalah jantung ekologis bagi seluruh Asia. Wilayah ini menjadi sumber mata air utama yang mengalirkan kehidupan ke sungai-sungai besar Asia, seperti di India, Bhutan, Bangladesh, Nepal, dan Pakistan. Sayangnya, di bawah dominasi eksploitatif Cina yang diperparah oleh pemanasan global, perannya sebagai penyeimbang ekosistem kini menyusut hingga berdampak buruk pada seluruh kehidupan.</p>



<h2><strong>Kemilau Peradabannya, Terkubur </strong>Kemanusiaannya</h2>



<p>Layaknya prinsip dasar fisika kuantum, asumsi pribadi dan fakta sering kali berlawanan. Dengan ilmu pengetahuan modern yang didukung berbagai penelitian objektif, kita bisa belajar menghadapi fakta dan persepsi pribadi dengan jernih. Sains juga membuktikan betapa menakjubkannya otak manusia merancang kehidupan yang lebih baik. Kini kita semua menggantungkan harapan pada kemajuan itu demi satu tujuan: kebahagiaan.</p>



<p>Kemajuan peradaban modern yang menawarkan beribu kenyamanan dan hidup serba praktis tengah kita nikmati bersama. Di balik itu, ada harga mahal yang harus dibayar. Persaingan begitu beringas, manusia terjerumus dalam budaya konsumtif dan tamak. Demi memuaskan hasrat yang selalu ingin ‘lebih’, kita tidak lagi ragu merusak kehidupan makhluk lain.&nbsp;</p>



<p>Kerusakan itu ditelanjangi di film itu. Manusia cerdas secara intelektual, tetapi miskin empati. Batin tentram begitu sulit diraih, pendidikan merosot jadi sekadar ajang adu otak dan otot, manusia kini bagai robot tanpa perasaan. Sebuah pandangan menarik kemudian ditawarkan: sains dan Buddhisme perlu dipadukan. Ketika sains berambisi menaklukkan dunia luar lewat kemajuan teknologi, Buddhisme hadir menyentuh ruang terdalam manusia untuk menambal kekosongan batin. Jika otak dan batin berjalan seimbang, krisis kemanusiaan perlahan bisa diatasi.</p>



<h2><strong>Perempuan dan Kekuatan Welas Asihnya</strong></h2>



<p>Perempuan punya peran sentral dalam menciptakan kedamaian. Kita sudah sering menjumpai selebaran, buku, dan berbagai aksi memperjuangkan kesetaraan gender. Nyatanya, hingga hari ini ketimpangan itu masih subur. Masih banyak perempuan yang tidak mendapatkan hak setara dalam pendidikan, pekerjaan, bahkan kebebasan berpikir.</p>



<p>Dunia saat ini didominasi oleh pemimpin laki-laki yang kerap mengedepankan ego dan unjuk kekuatan otot. Mereka lebih sering mengabaikan perasaannya sendiri yang berdampak buruk pada gaya kepemimpinannya. Kekerasan, penindasan, pembantaian, kehancuran—inilah kenyataan yang tersaji di depan mata hingga hari ini.</p>



<p>Ada anggapan keliru yang terlanjur mengkristal di masyarakat bahwa kepekaan perempuan adalah sebuah kelemahan. Padahal, hal itu yang membuat perempuan memiliki cinta kasih melimpah dan naluri merawat kehidupan. Dunia butuh lebih banyak perempuan di kursi pemimpin untuk mewujudkan perdamaian dan kebahagiaan sesama tanpa harus melakukan kekerasan.&nbsp;</p>



<p>Dalam Buddhisme, ada sosok Arya Tara yang mewakili energi feminin dan dianggap sebagai ibu dari segala Buddha. Lahir dari air mata Awalokiteshwara (perwujudan Boddhisatwa welas asih tanpa batas yang mampu mendengar tangisan dunia) karena melihat penderitaan makhluk tak kunjung berakhir, Arya Tara hadir untuk memberikan pertolongan dengan cepat. Di tengah dunia carut-marut dan pembantaian terus terjadi di siang bolong, bukankah kita sangat membutuhkan kehadiran banyak sosok seperti Tara?</p>



<h2><strong>Pengetahuan Kuno tentang Batin Damai</strong></h2>



<p>Sebuah pertanyaan perlu dijawab bersama: Kita semua mendambakan kebahagiaan, tapi mengapa yang kita berikan kepada sesama&nbsp; justru penderitaan?&nbsp;</p>



<p>Kita sibuk menuntut dunia damai, tetapi batin sendiri hampa. Alih-alih membenahi batin, manusia lebih suka lari dari riuh masalah. Sayangnya, tindakan itu hanya akan menciptakan kerusakan baru bagi diri sendiri dan sekitar.</p>



<p>Dalai Lama memberikan sebuah pengetahuan kuno tentang batin damai yang kini terasa asing. Tarik napas mendalam, tahan dan diam sejenak, rasakan semua hal baik lewat udara kehidupan itu, lalu hembuskan segala bising di kepala pelan-pelan. Hasilnya tentu tidak muncul dengan cepat sebab pelatihan batin membutuhkan waktu. Sebulan, mungkin juga bertahun-tahun.</p>



<p>Film kembali menyoroti wajah Dalai Lama. Di balik kerutannya, terpancar keteguhan dan perjuangan panjang. Wajahnya seakan merangkum semua kelembutan yang terus ia berikan di tengah kehancuran dunia. Dan di ujung film itu, wajah sang guru perlahan menghilang, meninggalkan welas asihnya untuk kita semua.</p>



<p><em>Artikel ini pertama kali diterbitkan di <a href="https://kumparan.com/nantinankasih/welas-asih-untuk-dunia-yang-luka-sebuah-ulasan-film-wisdom-of-happiness-27tUH17tsYI">Kumparan</a></em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/08/04/wisdom-of-happiness/">Welas Asih untuk Dunia yang Luka, Sebuah Ulasan Film <em>“Wisdom of Happiness”</em></a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/08/04/wisdom-of-happiness/">Welas Asih untuk Dunia yang Luka, Sebuah Ulasan Film &lt;em&gt;&#8220;Wisdom of Happiness&#8221;&lt;/em&gt;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mencari ‘Aku’ Ketika Tak Ada Lagi yang Harus Dibuktikan: Mengurai Duka Lewat Empat Kebenaran Arya</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/07/28/empat-kebenaran-arya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2026 15:24:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[dukkha]]></category>
		<category><![CDATA[Empat Kebenaran Arya]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi menengah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10492</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Takut melambat, takut menjadi biasa-biasa saja, takut nilai diri menjadi kecil. Inilah duka! Melalui Empat Kebenaran Arya, Buddha mengurai siklus penderitaan setiap makhluk dan cara mengakhirinya.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/28/empat-kebenaran-arya/">Mencari ‘Aku’ Ketika Tak Ada Lagi yang Harus Dibuktikan: Mengurai Duka Lewat Empat Kebenaran Arya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/28/empat-kebenaran-arya/">Mencari ‘Aku’ Ketika Tak Ada Lagi yang Harus Dibuktikan: Mengurai Duka Lewat Empat Kebenaran Arya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di perlombaan yang tak pernah usai, ada batin yang menderita setiap hari. Ketika layar dimatikan, ketika tepuk tangan tak lagi terdengar, ketika panggung tak menyisakan penonton, ada pertanyaan yang pelan-pelan merayap naik: Di sepanjang pencapaian yang sudah diraih, mengapa lega begitu semu? Siapakah ‘aku’ jika semua bagian dalam diri dilepaskan dan tidak ada yang harus dibuktikan?</p>



<p>Dari luar, segala pencapaian dan kesuksesan begitu mengagumkan. Benar bahwa ia buah dari kerja keras dan kedisiplinan, tampak pantas bagi orang-orang yang tahu persis ke mana arah tujuannya. Namun dari dalam, kadang rasanya seperti hidup di bawah langit-langit hampa. Belum sempat menikmati pencapaian itu, muncul tuntutan lainnya yang harus dikejar supaya pengakuan dari orang lain tidak redam.</p>



<p>Apa yang diraih rasanya bukan lagi sebuah prestasi, tetapi sebuah keharusan. Begitu hal itu terjadi, istirahat mulai terasa seperti sesuatu yang tidak pantas didapatkan. Hari di mana tubuh butuh diam sejenak terasa seperti sebuah kegagalan.&nbsp;</p>



<p>Kita mengganti tekanan itu dengan kata ambisi, dorongan, kedisiplinan. Kadang kata-kata itu cocok, kadang juga ia menyembunyikan ketakutan. Takut melambat, takut menjadi biasa-biasa saja, takut akan nilai diri terasa lebih kecil karena semuanya diukur berdasarkan hal-hal yang dapat diakui banyak orang. Dan karena pencapaian itu terlihat, ia menjadi tempat termudah untuk mencari pengakuan bahwa keberadaan kita penting dan unggul.&nbsp;</p>



<p>Begitu banyak aspek kehidupan modern yang tanpa sadar menuntut manusia untuk terus menerjemahkan nilai diri ke dalam kotak yang bisa dipahami oleh orang lain ketimbang memahami apa yang dirasakan dan dibutuhkan diri sendiri. Akibatnya, kita hidup tanpa rasa puas, tidak realistis, melihat segala sesuatu sebagai kompetisi, dan kecenderungan menyiksa diri sendiri. Semua yang dianggap motivasi dan ambisi berubah menjadi penderitaan.&nbsp;</p>



<p>Jauh sebelum peradaban menuntut kita untuk berlari tanpa henti, dengan terang Buddha melihat siklus penderitaan yang diciptakan oleh batin manusia sendiri. Melalui Empat Kebenaran Arya, Buddha membedah penderitaan yang membelenggu setiap makhluk beserta cara mengakhirinya.</p>



<h2 id="h-pemutaran-roda-pertama-dharma-empat-kebenaran-arya"><strong>Pemutaran Roda Pertama Dharma: Empat Kebenaran Arya</strong></h2>



<p>Dalam Buddhisme, Empat Kebenaran Arya (disebut <em>cattāri ariyasaccāni</em> dalam bahasa Pali dan <em>catvaryāryasatyāni</em> dalam bahasa Sanskerta) merupakan ajaran utama yang pertama kali dibabarkan Buddha setelah mencapai pencerahan. <em>Arya</em> secara harfiah bermakna “yang mulia”. Seorang Arya adalah ia yang membaktikan diri di jalan spiritual, berhasil melihat fakta kehidupan apa adanya secara sadar, dan bangkit membebaskan diri dari jerat penderitaan.</p>



<p>Meski dibabarkan ribuan tahun silam, menyandingkan ajaran ini dengan realitas sosial masa kini adalah relevan untuk membedah permasalahan manusia modern. Seperti yang diurai dalam buku “Memahami Duka dan Terbebas Darinya: Sebuah Ulasan atas Empat Kebenaran Arya”<em>,</em> ajaran ini hadir supaya manusia menyadari betapa menipunya segala suka dan duka yang ada di muka bumi ini. Jika ilusi kita tentang fenomena duniawi tidak segera disadari, maka pembebasan penuh dari penderitaan itu tidak akan tercapai. Di dalam empat kebenaran itu memuat kebenaran tentang duka sebagai hakikat kita di alam <em>samsara</em>, kebenaran tentang asal-mula duka, kebenaran tentang lenyapnya duka, dan kebenaran jalan menuju lenyapnya duka.</p>



<h2><strong>Duka: dari Akar Hingga Cara Menghentikannya</strong></h2>



<p>Seseorang tidak akan bisa sembuh jika ia tidak tahu dan berusaha mencari tahu apa yang membuatnya sakit. Itu saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan mencari pengobatan yang tepat untuk rasa sakitnya. Begitu pun dengan duka atau penderitaan.</p>



<p>Untuk mengakhiri duka, yang pertama harus dilakukan adalah memahami duka itu sendiri. Caranya dengan menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak kekal dan menyakitkan. Dalam konteks sosial di mana dunia berisi ajang adu performa, semuanya berubah begitu cepat dan kita dituntut untuk harus selalu bisa mengikuti perubahan itu. Segala tuntutan dan standar sosial membawa manusia pada persaingan yang begitu kuat dan obsesi untuk selalu mendapatkan segalanya. Jika terus terbawa arus, kita tidak lagi bisa mengenali diri sendiri. Pada akhirnya, yang didapatkan hanyalah penderitaan berupa kelelahan batin.</p>



<p>Dijelaskan dalam buku “Memahami Duka dan Terbebas Darinya: Sebuah Ulasan atas Empat Kebenaran Arya” bahwa setelah memahami duka, kita perlu untuk mencari tahu sebab duka yang sebenarnya. Kebenaran kedua ini menegaskan bahwa penderitaan yang dirasakan tidak mungkin muncul begitu saja, pasti ada sebabnya. Sering menyalahkan keadaan luar, nyatanya rasa sakit paling perih justru diciptakan oleh kemelekatan di dalam diri sendiri. Ada kehausan untuk harus selalu melampaui ekspektasi dan keengganan untuk gagal. Penderitaan lahir dari keyakinan keliru bahwa nilai diri baru ada ketika kita bisa terus menghasilkan sesuatu yang bisa dijamah mata dan diakui banyak orang.&nbsp;</p>



<p>Ketiga, kebenaran tentang terhentinya duka, yaitu kesadaran bahwa penderitaan bisa dihentikan ketika sebabnya sudah ditemukan. Alih-alih terus mengikuti ego demi mencari kepuasan sesaat, justru nafsu atau kehausan harus dilenyapkan sampai ke akarnya untuk bisa bebas dari penderitaan. Dengan begitu, berbagai tuntutan sosial itu pun tidak lagi membuat kita terbawa arus dan tersiksa oleh keharusan selalu tampil sempurna.</p>



<p>Keempat, kebenaran tentang jalan menuju terhentinya duka melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan. Inti kebenaran keempat ini adalah mengajarkan kita untuk melatih segala tindak-tanduk dengan kesadaran penuh. Pikiran diajarkan untuk hadir seutuhnya di saat ini tanpa menghakimi diri sendiri. Ketika napas dirasakan, ketika kehidupan itu diresapi, jalan keluar dari penderitaan perlahan sedang dibangun.</p>



<h2><strong>Penderitaan Itu Ada untuk Melatih Batin yang </strong><strong><em>Eling</em></strong></h2>



<p>Membaca buku “Memahami Duka dan Terbebas Darinya: Sebuah Ulasan atas Empat Kebenaran Arya” menuntun pada pemahaman bahwa gangguan luar, masalah, atau penderitaan itu akan selalu ada dalam kehidupan ini. Karena gangguan luar itu pasti ada, maka fokus utamanya terletak pada bagaimana kita melatih batin untuk memahami akar masalah, merespons, dan mencari jalan keluarnya. Rasa sakit, cemas, dan lelah yang terus menggerogoti bukanlah hukuman dari luar, tetapi akibat dari tangan sendiri yang terlalu erat menggenggam ilusi tentang hal-hal duniawi.&nbsp;</p>



<p>Saat semua atribut, gelar, dan pencapaian itu dilepaskan, yang tersisa hanyalah diri yang penuh celah dan rasa takut untuk melihat diri sendiri. Namun, itu semua harus dihadapi. Dari situ, kita bisa mulai belajar melihat bahwa hidup tidak melulu tentang pencapaian besar. Hidup juga memberi ruang untuk hari-hari yang biasa saja dan dengan segala ketidaksempurnaannya.</p>



<p>Kesadaran ini kemudian dapat menjadi pemantik untuk menumbuhkan kualitas bajik dalam diri. Tidak hanya untuk mengantarkan diri pada kondisi bebas seutuhnya, tetapi juga membuka ruang untuk merangkul mereka yang mengalami derita yang sama.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/28/empat-kebenaran-arya/">Mencari ‘Aku’ Ketika Tak Ada Lagi yang Harus Dibuktikan: Mengurai Duka Lewat Empat Kebenaran Arya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/28/empat-kebenaran-arya/">Mencari ‘Aku’ Ketika Tak Ada Lagi yang Harus Dibuktikan: Mengurai Duka Lewat Empat Kebenaran Arya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Demon Slayer Membuka Pintu Baru untuk Memahami Amarah</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/07/15/demon-slayer/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2026 04:56:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[demon slayer]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10467</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Menangis selagi memukul, menghancurkan tanpa membenci. Menelisik kisah Gyōmei Himejima dalam Demon Slayer, apa sebenarnya makna kekerasan berlandaskan welas asih?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/15/demon-slayer/"><em>Demon Slayer</em> Membuka Pintu Baru untuk Memahami Amarah</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/15/demon-slayer/">&lt;em&gt;Demon Slayer&lt;/em&gt; Membuka Pintu Baru untuk Memahami Amarah</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Diterjemahkan dari <a href="https://rubinmuseum.org/demon-slayer-opens-new-doors-to-understanding-wrath/?fbclid=PAT01DUASxsbFleHRuA2FlbQIxMABzcnRjBmFwcF9pZA81NjcwNjczNDMzNTI0MjcAAaczR23hcnXUWOmn_rINrg91GXASGaWB2PeDXOWJ1EWS9UM-DoYtd6ZfKoaY2Q_aem_HxTLWYz6th86qLR9XH_wJg"><em>“Demon Slayer Opens New Doors to Understanding Wrath”</em></a> oleh Ronald S. Green, Rubin Museum&nbsp;</p>



<h2><strong>Amarah, Duka, Kekerasan, dan Etika Buddhis dalam Serial Anime Populer</strong></h2>



<p>Dalam banyak tradisi dan filsafat, amarah selalu diidentikkan dengan amukan, kehancuran, dan kegagalan moral. Namun dalam perspektif Buddhis, khususnya tradisi Mahayana dan Vajrayana, amarah bisa dipahami dengan cara yang berbeda, yaitu sebagai sebuah bentuk energi welas asih. Perwujudan sosok-sosok penuh amarah sebagaimana yang tampak pada Vajrapani dan Achala justru menggunakan senjata untuk menebas ketidaktahuan batin dan melindungi para praktisi dari hasrat egois mereka sendiri. Lebih dari sekadar meluapkan kemarahan yang tak terkendali, amarah semacam ini digunakan dengan niat yang bijaksana untuk menyingkirkan rintangan menuju pembebasan batin. Cara pandang baru ini memicu sebuah pertanyaan moral mendasar: Bisakah kekerasan dilandasi oleh rasa kasih sayang?</p>



<p>Salah satu ilustrasi paling kentara dan memicu kompleksitas moral dari pertanyaan ini justru muncul di luar naskah-naskah Buddhis tradisional, misalnya dalam budaya populer Jepang modern. “<a href="https://www.gramedia.com/products/demon-slayer-kimetsu-no-yaiba-01"><em>Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba</em></a><em>”,</em> serial manga dan anime karya Koyoharu Gotōge yang rilis perdana pada tahun 2016, dengan cepat mencuri perhatian dunia berkat penceritaan, visual, dan kedalaman maknanya yang memikat. Serial ini telah menjadi sebuah fenomena budaya besar dan mendapatkan berbagai penghargaan karena berhasil membangkitkan kembali industri manga. Pada tahun 2020, film layar lebarnya berjudul “<a href="https://www.imdb.com/title/tt11032374"><em>Demon Slayer: Mugen Train</em></a><em>” </em>bahkan memecahkan rekor sebagai anime sekaligus film Jepang dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa yang melampaui rekor <em>Spirited Away</em> karya Hayao Miyazaki yang bertahan sejak tahun 2021.</p>



<p>Berlatarkan era Taishō (1912–1926), serial ini mengikuti kisah Tanjiro Kamado, seorang anak laki-laki berhati mulia yang keluarganya dibantai habis oleh iblis. Dalam dunia <em>Demon Slayer,</em> iblis adalah seorang manusia yang berubah menjadi predator yang mempunyai kekuatan supranatural dan bertahan hidup dengan menggunakan energi manusia. Dari seluruh keluarga Tanjiro, hanya adiknya, Nezuko, yang selamat dari pembantaian. Celakanya, ia berubah menjadi iblis. Tanjiro pun bergabung dengan Korps Pembasmi Iblis untuk membalaskan dendam keluarganya sekaligus menyelamatkan Nezuko dan umat manusia. Di sinilah dimulai sebuah perjalanan yang penuh kompleksitas moral, kesetiaan, dan pengorbanan diri.&nbsp;</p>



<p>Dari seluruh jajaran karakter, Gyōmei Himejima yang dijuluki Hashira Batu, tampil begitu memukau. Sebagai seorang biksu buta dengan kekuatannya yang tak tertandingi, Gyōmei memadukan ajaran disiplin Buddhis dengan rasa duka dan kejernihan spiritual dalam perannya sebagai pelindung. Sebagai salah satu dari Hashira, sebuah pasukan elit Pembasmi Iblis yang memikul beban pertempuran paling mematikan, kisah hidupnya memicu sebuah pertanyaan paling mendasar baik dalam Buddhisme maupun di <em>Demon Slayer</em>: Apa sebenarnya makna dari penghancuran yang berlandaskan welas asih?</p>



<h2><strong>Gyōmei Himejima: Amarah Tanpa Kebencian</strong></h2>



<p>Diperkenalkan di awal seri sebagai Hashira Batu yang bertubuh raksasa dan pendiam, sekilas Gyōmei tampak stoik nan dingin. Dengan untaian kalung mala, jubah biksu, dan pakaian yang bertuliskan <em>nenbutsu—Namu Amida Butsu,</em> sebuah seruan suci kepada Buddha Amitabha—ia memancarkan nilai-nilai yang selaras dengan ajaran Buddha. Bahkan di tengah sengitnya pertempuran, ia terus merapalkan doa itu dan sering menangis meratapi kawan-kawan seperjuangannya maupun musuhnya, para iblis.</p>



<p>Yang membedakan Gyōmei dari karakter lainnya adalah statusnya sebagai pembasmi iblis terkuat secara fisik sekaligus yang paling ekspresif secara emosional. Ketika pendekar lain membantai iblis dengan amarah yang meledak-ledak atau dendam membara, Gyōmei justru menangis. Ia melakukan tindakan kekerasan, tetapi tanpa rasa senang dan benci sedikit pun. Sebaliknya, aksinya lahir dari rasa duka dan tanggung jawab besar. Sebuah bentuk kepedulian yang begitu kuat yang membawanya pada tindakan nyata. Pun di balik namanya, terkandung makna yang begitu puitis: “Pulau kesedihan yang mengarungi kegelapan.”</p>



<p>Dalam sebuah adegan, Gyōmei mengucapkan kata-kata yang mencerminkan pandangan Buddhis tentang kelahiran kembali dan penderitaan yang disebabkan oleh hukum karma. Ketika merenungkan nasib Tanjiro, dengan penuh keprihatinan ia berujar, “Akan lebih baik jika ia tak pernah dilahirkan,” sebuah ungkapan yang menyiratkan betapa belenggu karma itu menyiksa dan sulitnya mencapai pembebasan. Ia berharap agar mereka yang terbelenggu oleh penderitaan dapat <a href="https://www.tiktok.com/@lamrimnesia_/video/7317970283778821382">terlahir kembali di Tanah Suci yang damai</a>, bebas dari iblis maupun kekerasan.</p>



<p><em>Baca tentang praktik Amitabha </em><a href="https://play.google.com/store/books/details/Praktik_Tanah_Suci_Buddha_Amitabha_Panduan_Meditas?id=XWpvDwAAQBAJ&amp;hl=en-US"><em>di sini.</em></a></p>



<h2><strong>Bodhisatwa Sang Pendengar: Awalokiteshwara di Era Taishō</strong></h2>



<p>Sejumlah komentator menyandingkan sosok Gyōmei dengan Awalokiteshwara (dikenal sebagai Kannon dalam masyarakat Jepang atau Guanyin/Kuan Im di Tiongkok), yaitu perwujudan Bodhisatwa welas asih yang senantiasa mendengar rintihan derita dunia. Keterkaitan di antara keduanya bukan kiasan belaka.</p>



<p><em>Baca juga: </em><a href="https://lamrimnesia.org/2020/08/07/mengapa-kwan-im-berbeda-beda/"><em>Mengapa Kuan Im Berbeda-Beda?</em></a></p>



<p>Gyōmei memang buta. Namun, ia mampu “melihat” dunia lewat suara. Berbekal ketajaman indra pendengarannya, ia memanfaatkannya untuk memahami dunia sekitar, memprediksi pergerakan musuh, dan bertarung. Kemampuannya ini melampaui representasi dari kemampuan manusia super; ia memuat simbolisme naratif yang sangat dalam. Konon, Awalokiteshwara dikisahkan punya kemampuan untuk menyelami segala bentuk penderitaan lewat suara. Begitu pun Gyōmei. Ia selalu mendengar dan meresapinya dengan bijak sebelum bertindak. Amarahnya tidak pernah bersifat reaktif, tetapi emosi yang disaring dengan rasa welas asih.&nbsp;</p>



<p>Melihat akan hal itu, Gyōmei mencerminkan cita-cita luhur sang Bodhisatwa: rela menunda kedamaian atau kebebasan spiritualnya sendiri demi menolong banyak orang. Layaknya Awalokiteshwara yang bersumpah tidak akan menjadi Buddha sebelum semua makhluk di alam semesta ini terselamatkan, Gyōmei pun mengesampingkan istirahat dan menyembuhkan dirinya sendiri demi terus melindungi mereka yang tak berdaya.</p>



<h2><strong>Duka sebagai Energi Moral</strong></h2>



<p>Amarah Gyōmei lahir dari kepingan rasa duka yang bertransformasi. Masa lalunya yang kelam nan traumatis, seperti kehilangan anak-anak yatim piatu yang ia asuh serta ketidakadilan pahit yang diterima ketika ia dituduh sebagai pembunuh mereka—meninggalkan luka batin yang teramat dalam. Alih-alih tenggelam dalam keputusasaan atau dendam kesumat, Gyōmei justru menyalurkan kesedihannya itu ke dalam misi kemanusiaan bersama Korps Pembasmi Iblis.&nbsp;</p>



<p>Proses mengubah penderitaan menjadi tindakan nyata semacam ini punya akar yang kuat dalam psikologi Buddhis. Ajaran Mahayana sendiri menjelaskan bahwa seorang Bodhisatwa merasakan penderitaan orang lain seolah penderitaan itu adalah miliknya sendiri. Dalam Buddhisme Vajrayana, dewa-dewa pelindung sengaja ditampilkan dengan wajah yang menyeramkan sebab amarah mereka adalah wujud welas asih yang begitu dahsyat, mampu menerobos dan menghancurkan segala kesesatan serta bahaya. Air mata Gyōmei mengalir dari sumber kejernihan yang serupa. Setiap kali ia mengangkat senjata, ia melakukannya dengan hati penuh duka. Memikul beban kekerasan itu sendiri supaya orang lain tak perlu mengalaminya dan terselamatkan.</p>



<h2><strong><em>Upaya</em></strong><strong>: Cara yang Tepat dan Tindakan Welas Asih</strong></h2>



<p>Dalam ajaran Buddhisme Mahayana, ada sebuah doktrin yang disebut <em>upaya</em> (cara terampil) yang mengajarkan bahwa boleh saja makhluk yang sudah tercerahkan mengambil tindakan yang tidak biasa bahkan ekstrem selama tindakan itu bisa menyelamatkan makhluk lain menuju pencerahan spiritual. Bahkan dalam sutra yang termasyhur, <a href="https://buddhism.lib.ntu.edu.tw/DLMBS/en/search/search_detail.jsp?seq=360081">Sutra Upayakausalya</a>, dikisahkan seorang <a href="https://lamrimnesia.org/2026/06/15/menyelami-esensi-universal-kehidupan-bodhisatwa-dalam-dongeng-anak-jataka-mala%ef%bf%bc/">Bodhisatwa</a>—sosok penuh welas asih tanpa batas yang berupaya mencari pencerahan sempurna untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan—terpaksa membunuh seorang pembunuh demi menyelamatkan seluruh penumpang kapal. Tindakan ekstrem itu diambil atas dasar welas asih, baik kepada para korban maupun kepada si pelaku kejahatan.</p>



<p>Segala tindakan Gyōmei pun didasari oleh logika ini. Ia tidak menghabisi para iblis untuk meluapkan dendam, tetapi untuk mencegah mereka menimbulkan penderitaan lebih banyak. Bahkan di tengah pertempurannya, doa <em>Namu Amida Butsu </em>terus ia rapalkan. Hal itu menegaskan bahwa tindakannya bukan berlandaskan ego pribadi, tetapi sesuatu yang seutuhnya ia pasrahkan kepada Buddha Amitabha. Sederhananya, ia bertindak atas dasar penyerahan diri dan sumpah suci untuk membebaskan semua makhluk dari lingkaran penderitaan. Amarahnya adalah sebuah instrumen welas asih. Sesuatu yang diasah lewat latihan batin dan dikendalikan oleh rasa duka.</p>



<p><em>Baca penjelasan tentang sumpah Bodhisatwa </em><a href="https://www.instagram.com/orcyworld?igsh=MWd5dmV5OGh6ZWQzYQ=="><em>di sini</em></a><em>.</em></p>



<h2 id="h-amarah-sang-bodhisatwa"><strong>Amarah Sang Bodhisatwa</strong></h2>



<p>Sebagai seorang profesor yang mengkaji Buddhisme dan agama masyarakat Jepang, saya sering menjadikan serial <em>Demon Slayer</em> sebagai medium di kelas untuk membedah ajaran Buddhis. Karakter Gyōmei sering memantik diskusi dan berbagai respons bergejolak dari para mahasiswa.</p>



<p>Setelah menonton adegan di mana Gyōmei bertarung sementara ia sedang berduka, salah seorang mahasiswa bertanya, “Bahkan jika Gyōmei tidak membenci para iblis sekali pun, apakah itu berarti kekerasan bisa lahir dari welas asih?” Yang lainnya menimpali, “Kekuatannya tidak bersumber dari amarah, tetapi dari sesuatu yang jauh lebih besar.”</p>



<p>Berbagai reaksi ini mencerminkan dilema klasik Buddhis tentang kekerasan dan welas asih. Fenomena ini menunjukkan bahwa anime, sama seperti kisah-kisah Buddhis kuno, bisa menjadi ruang bagi imajinasi moral, mengajak penonton merenungkan kembali apa artinya bertindak secara bijaksana di dunia yang penuh penderitaan ini. Gyōmei adalah contoh perwujudan seorang biksu petarung yang bertindak demi sebuah sumpah untuk melindungi. Lewat sosoknya itu, kita bisa melihat bahwa di tengah dunia yang kejam sekalipun, kita tetap bisa bertindak tanpa rasa benci, menangis selagi memukul, berduka selagi melindungi, menghancurkan tanpa harus menjadi kejam, dan mencintai dengan sepenuh jiwa bahkan di titik paling hancur.</p>



<p><strong>Ronald S. Green</strong> adalah seorang profesor bidang studi Kajian Agama dan Asia di Coastal Carolina University. Penelitiannya banyak mengeksplorasi hubungan antara tradisi filsafat Asia dan budaya kontemporer, khususnya dalam film, anime, novel, dan praktik keagamaan masyarakat. Dengan memadukan kajian teks dan penelitian lapangan yang imersif, ia&nbsp; membedah bagaimana tradisi-tradisi kuno tampil dalam wujud wajah baru di masa kini. Cakupan pengajarannya meliputi Buddhisme, Shinto, tradisi meditasi, tradisi populer Jepang, dan metode etnografi untuk mempelajari kehidupan beragama masyarakat Afrika dan Asia di Carolina Selatan.</p>



<p><strong>Noma Bar</strong> adalah seorang desainer grafis, ilustrator, dan seniman yang terkenal dengan gaya minimalisnya yang berani. Karyanya dimuat di Time Out London, BBC, The Economist, dan masih banyak lagi. Ia telah membuat ilustrasi untuk lebih dari seratus sampul majalah dan menerbitkan tiga buku. Bar juga meraih banyak penghargaan, termasuk Gold Clio dan D&amp;AD Yellow Pencil. Pamerannya bertajuk <em>Cut It Out</em> sempat menjadi sorotan di London Design Festival dan masuk nominasi <em>Designs of The Year</em> oleh Design Museum.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/15/demon-slayer/"><em>Demon Slayer</em> Membuka Pintu Baru untuk Memahami Amarah</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/15/demon-slayer/">&lt;em&gt;Demon Slayer&lt;/em&gt; Membuka Pintu Baru untuk Memahami Amarah</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membaca Jika Hidupku Tinggal Sehari, Berhadapan dengan Hati yang Terombang-Ambing</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/07/03/jika-hidupku-tinggal-sehari-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2026 04:56:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[jika hidupku tinggal sehari]]></category>
		<category><![CDATA[kematian dan ketidakkekalan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10446</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Merenungkan kematian itu perlu, tetapi sehatkah jika terus-menerus berpikir bahwa kita akan mati? Jika Hidupku Tinggal Sehari, sebuah buku filsafat Buddhisme yang dibaca dengan penuh benturan batin.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/03/jika-hidupku-tinggal-sehari-2/">Membaca <em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em>, Berhadapan dengan Hati yang Terombang-Ambing</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/03/jika-hidupku-tinggal-sehari-2/">Membaca &lt;em&gt;Jika Hidupku Tinggal Sehari&lt;/em&gt;, Berhadapan dengan Hati yang Terombang-Ambing</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Judul Buku&nbsp; : Jika Hidupku Tinggal Sehari&nbsp;&nbsp;<br>Penulis &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; : Dagpo Rinpoche<br>Ketebalan&nbsp; &nbsp; : v + 142 hlm<br>Penerbit &nbsp; &nbsp; &nbsp; : Saraswati<br>Tahun Terbit: 2017</p>



<p>Bimbang. Membaca buku <em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em> karya Dagpo Rinpoche mau tak mau harus duduk berhadapan dengan kebimbangan batin. Mungkin sebelum masuk pada inti bahasan buku ini, pertanyaan pertama: apa yang dirasakan dan akan dilakukan jika seandainya kita tahu hanya tersisa waktu satu hari bahkan satu jam untuk menjalani hidup ini? Tak ada hari kemarin pun esok, yang ada hanya waktu sekarang.</p>



<p>Tampaknya pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh diri masing-masing. Mungkin juga ia sulit untuk dijawab. Status dalam masyarakat, pekerjaan, relasi, dan kesuksesan materi—semua bayangan dan rancangan masa depan tampak mudah untuk dipikirkan. Hanya saja, waktu yang berjalan begitu cepat tak menyisakan sedikit pun kepastian tentang apa yang akan datang. Semuanya bergerak dinamis, akan habis masanya, atau akan digantikan dengan yang baru. Yang pasti di kehidupan ini hanya ketidakkekalan. Kehidupan yang penuh kemelekatan, ketidakkekalan yang membawa pada titik kematian. Namun dalam Buddhisme, semua itu adalah siklus yang berulang. Kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali. Maka boleh saja berpikir bahwa semua itu bagai jalan tak berujung.&nbsp;</p>



<p><em>Now is now</em>. Sekelebat pikiran itu muncul ketika berhadapan dengan pertanyaan awal di atas. Sebuah filosofi hidup yang multitafsir. Pertama, melihat keberadaan hari ini sebagai hari ini, besok sebagai besok tanpa terbebani oleh masa depan. Atau yang kedua, filosofi itu mengantarkan pada kesadaran yang lebih menyesakkan bahwa detik ini adalah satu-satunya yang nyata, memaksa kita untuk merenung dan mempersiapkan kematian di depan mata. Di antara dua makna itu, mana yang kira-kira lebih tepat? Mungkinkah jawabannya ada di buku <em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em>?&nbsp;</p>



<p>Mungkin juga tidak. Kata ‘mungkin’ ditekankan dalam hal ini sebab menuliskan apa yang dibayangkan dan didapatkan setelah membaca buku ini dipenuhi oleh batin yang terombang-ambing. <em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em> memuat lima pokok bahasan, yaitu <strong>Pendahuluan</strong> sebagai perenungan awal akan hidup, <strong>Kehidupan Manusia yang Berharga, Kematian dan Ketidakkekalan, Mempersiapkan Kematian,</strong> dan <strong>Praktik Pengakuan berdasarkan Sutra Tiga Himpunan</strong>. Buku ini mengajak untuk kembali memaknai kehidupan manusia yang berharga sekaligus mempersiapkan kematian yang bisa datang kapan saja.&nbsp;</p>



<p><em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em> adalah pengingat bahwa terlahir sebagai manusia merupakan keberuntungan yang amat langka dan betapa terbatasnya waktu yang dimiliki. Karena mati itu pasti, merenungkannya dianggap sebagai jalan terbaik untuk bersiap diri. Di samping itu, menghargai hidup bisa dimulai dengan menanamkan motivasi sejak bangun pagi untuk berbuat bajik dan menjalankan satu hari dengan sungguh-sungguh seakan hari itu adalah hari terakhir yang dimiliki, hingga tata cara memurnikan karma buruk yang merintangi praktik Dharma. Sederhananya, buku ini mengajak kita untuk melihat kematian tidak lagi dengan ketakutan dan mempersiapkannya adalah bekal untuk memperoleh kebahagiaan di kehidupan selanjutnya.</p>



<p>Tentu buku ini benar bahwa kematian bisa datang kapan saja dan salah satu cara menghargai kehidupan yang dimiliki saat ini adalah dengan mengingat kematian. Namun, di saat buku ini begitu khusyuk menyuguhkan kiat-kiat mempersiapkan kematian, ada batin yang justru berkelahi ketika membacanya. Sehatkah jika isi kepala terus-menerus dijejali pemikiran bahwa kita akan mati? Sehatkah jika dalam waktu yang terbatas itu hanya diisi oleh perenungan?</p>



<p>Lebih lanjut, buku ini menerangkan bahwa salah satu manfaat mengingat kematian adalah kita akan mati dengan damai dan bahagia. Kalau harus kembali menempatkan batin dan pikiran dengan jujur, rasanya sebagian diri tidak rela untuk menyetujui pernyataan itu. Jika hidup saja diteror oleh keharusan untuk memikirkan kematian setiap saat, bagaimana mungkin kematian itu bisa disambut dengan kelegaan?&nbsp;</p>



<p>Meski secara menyeluruh buku perenungan ini juga ingin memberitahu bahwa antara kesuksesan duniawi dan pencapaian spiritual harus seimbang, serta menjalankan hidup yang ada hari ini dengan sebijak mungkin, tetapi membacanya seakan lebih mengantarkan pada pesimisme dalam melihat kehidupan. Entah karena buku ini memang diperuntukkan untuk lebih melihat kehidupan yang lebih jauh ke depan dan melampaui segala yang bisa direncanakan di kehidupan sekarang atau karena ketidakmampuan diri untuk memahami isinya secara utuh sehingga ada begitu banyak benturan batin yang terjadi.&nbsp;</p>



<p>Terlalu angkuh untuk mengatakan bahwa merenungkan kematian dan segala hal yang sudah dilakukan di hidup ini tidak penting. Di saat-saat tertentu, dialog dengan diri sendiri dan perenungan itu dibutuhkan. <em>Toh,</em> pada akhirnya kita memang tidak kekal di alam semesta ini. Kematian adalah sesuatu yang tak terelakkan. Begitu pula dengan memikirkan cara untuk mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya di kehidupan mendatang. Siapa yang tidak ingin bahagia selamanya? Bahkan makhluk paling kecil pun mendambakan hal itu. Namun sebelum jauh-jauh ke sana, bukankah penting juga untuk lebih dulu bertanya ke diri sendiri apakah selama ini kita sudah benar-benar hidup atau belum? Apakah dengan memikirkan kematian terus-menerus akan membuat kita bisa menjadi lebih hidup? Anggap saja kita sudah punya segudang cara untuk mempersiapkan kematian, tetapi bagaimana dengan cara untuk hidup? Bukan sekadar bernapas, makan, dan melakoni segala aktivitas, tetapi menghidupi diri sendiri. Sudahkah hidup itu dirasakan? Bagaimana mungkin bisa mempersiapkan kehidupan mendatang jika pikiran saat ini hanya berputar pada kematian setiap saat? Antara bersiap mati atau memilih hidup, semua pertanyaan dan keresahan itu hanya mengawang di udara.&nbsp;</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/03/jika-hidupku-tinggal-sehari-2/">Membaca <em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em>, Berhadapan dengan Hati yang Terombang-Ambing</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/03/jika-hidupku-tinggal-sehari-2/">Membaca &lt;em&gt;Jika Hidupku Tinggal Sehari&lt;/em&gt;, Berhadapan dengan Hati yang Terombang-Ambing</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Buku Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2026 10:16:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[catur brahmawihara]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10433</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bagaimana jika seandainya melatih empat kemuliaan batin di tengah krisis adalah cara terakhir untuk bertahan? Bukan tanda pasrah, tetapi cara untuk melawan.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em>, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku &lt;em&gt;Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas&lt;/em&gt;, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Judul Buku  : Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas<br>Penulis         : Dagpo Rinpoche<br>Ketebalan    : iv + 71 hlm<br>Tahun Terbit: 2017</p>



<p>Membicarakan keseimbangan batin di tengah sistem negara korup mungkin terdengar omong kosong. Namun, bagaimana jika seandainya itu adalah cara terakhir untuk bertahan hidup?</p>



<p>Negara yang seharusnya menjadi pelindung rakyat justru hadir sebagai penjajah. Korupsi merajalela, harga bahan pokok dan bahan bakar mencekik warga akibat rupiah melemah, PHK tak kunjung usai, tingginya pengangguran. Negara dalam banyak hal telah absen bahkan menjadi sumber kesengsaraan.</p>



<p>Krisis yang berlapis-lapis sampai hari ini seakan tak menyisakan kabar baik. Membaca berita rasanya hanya menguras sisa kewarasan. Meski di Indonesia sudah akrab dengan slogan “warga jaga warga”, kenyataannya penderitaan berkepanjangan membuat kita bisa kapan saja untuk saling menjatuhkan dan ikut menindas demi bertahan hidup. <em>Toh,</em> sudah tampak jelas dari bagaimana cara kita memperlakukan sesama makhluk sekarang ini, tak terbatas pada manusia saja. Menghakimi sesama warga, diskriminasi terhadap kelompok masyarakat tertentu, menelantarkan bahkan membunuh hewan, ikut merusak lingkungan, dan masih banyak lagi. Empati dan bahu-membahu hanya diperuntukkan bagi segelintir orang dan di permukaan saja.&nbsp;</p>



<p>Inilah ironi menyedihkan dari krisis tak berkesudahan: betapa lantang kita mengutuk segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh sistem negara, tetapi di saat yang sama, kita pun tanpa sadar ikut menindas kaum yang lebih lemah. Penindasan itu akhirnya turun-temurun. Kita sering mengotak-ngotakkan dan mendiskriminasi minoritas, serta melupakan penderitaan bersama demi mengamankan diri sendiri.</p>



<p>Fakta bahwa penderitaan merenggut hak-hak individu juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat secara menyeluruh. Penderitaan sudah membawa kita sampai ke sini, sebuah kerusakan yang entah kapan bisa dibenahi kembali. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain bertarung melawan ketidakadilan dengan semua yang tersisa. Dan karena yang dipertaruhkan adalah kehidupan kolektif, empati dan bahu-membahu itu diperlukan di kemelut seperti sekarang.</p>



<p>Semula, membaca buku karya Dagpo Rinpoche berjudul <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em> di tengah krisis yang terjadi tampak tak ada relevansinya sebab urusan perut lapar dan sistem carut-marut tak bisa dibenahi dengan wejangan spiritual belaka.&nbsp; Namun, berangkat akan hal itu, muncul pikiran berikutnya: bagaimana jika ternyata buku ini<em> </em>dibutuhkan di kondisi sekarang? Menyaksikan dan merasakan sesak, tak terhitung sudah berapa banyak hidup yang dikoyak dan ditindas. Bukankah untuk melawan, tidak hanya perut dan otak yang butuh diberi makan, tetapi juga batin?&nbsp;</p>



<p>Memberi makan batin salah satunya dengan melatih welas asih. Sejatinya, welas asih ada di dalam diri kita. Ketika ketidakadilan terjadi, secara naluri kita terdorong untuk melawan dan menolong. Hal itu karena kita lahir dari kerentanan, kegelisahan batin, dan kebutuhan yang sama. Welas asih muncul akibat dari “kemarahan” yang menolak diam melihat penderitaan sesama. Sadar bahwa perjuangan masih jauh dari selesai, perlawanan pun terus berlanjut. Turun ke jalan, vokal di media sosial, dan menyebar poster “warga jaga warga” seharusnya dilihat sebagai bentuk dari memperjuangkan welas asih. Kendati demikian, welas asih itu masih tak berjalan sebagaimana mestinya di kehidupan kolektif kita. Ia lebih sering dianggap sebagai bentuk pasrah dan kelemahan.</p>



<p>Dalam ajaran Buddha, welas asih termasuk dalam kelompok sifat yang disebut “Catur Brahmawihara”, yang berarti empat kemuliaan tanpa batas. Empat kemuliaan itu meliputi&nbsp; <em>Upeksha</em> (keseimbangan batin), <em>Maitri</em> (cinta kasih tanpa batas), <em>Karuna</em> (welas tanpa batas), dan <em>Mudita</em> (sukacita tanpa batas). Sejalan dengan itu, buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em> memuat panduan dasar memeditasikan empat kemuliaan batin yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh, membawa buku ini ke ruang krisis yang penuh suram adalah penguat bersama untuk membangun kembali solidaritas antarwarga. Ia juga fondasi untuk menumbuhkan rasa empati yang hilang dan cara untuk memperjuangkan hak asasi.&nbsp;</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Upeksha</em></strong><br><em>Selama seseorang tidak memiliki keseimbangan batin dan memiliki klesha kemarahan dan kebencian, maka orang itu masih berada di dalam penderitaan</em>.</p>



<p>Mula-mula, yang harus dikembangkan adalah keseimbangan batin. Tujuannya agar kita bisa melihat semua makhluk setara. Contoh melatih batin yang seimbang bisa dimulai dengan mengesampingkan ego, kemelekatan, dan kebencian. Di keseharian, praktik nyatanya adalah dengan mengendalikan diri untuk tidak marah-marah ketika terjebak kemacetan karena aksi demonstrasi warga. Kita harus menyadari bahwa orang-orang yang turun ke jalan sejatinya sedang berjuang demi menuntut hak hidup kita juga.</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Maitri</em></strong><br><em>Maitri</em> atau cinta kasih adalah kualitas kedua setelah <em>upeksha</em>. Pada langkah ini, kita menempatkan semua makhluk layaknya ibu-ibu kita. Dalam Buddhisme, melihat semua makhluk sebagai ibu-ibu kita lahir dari keyakinan bahwa semua makhluk dalam kehidupan lampaunya pasti pernah menjadi ibu yang penuh cinta dan naluri untuk merawat kehidupan. Ibu juga dipandang sebagai sosok teladan cinta kasih yang universal.&nbsp;</p>



<p>Ciri khas dari <em>maitri</em> sendiri adalah keinginan tulus untuk melihat semua makhluk berbahagia. Di tengah impitan ekonomi, <em>maitri</em> bisa dipraktikkan dengan niat dan secara sadar memilih untuk melariskan dagangan UMKM atau berbelanja di pasar tradisional. Tujuannya untuk memastikan bahwa sesama kelas pekerja, mereka bisa makan dan punya harapan untuk menyambung hidup.&nbsp;</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Karuna</em></strong><br><em>Karuna</em> berarti welas asih. Berbeda dengan <em>maitri,</em> ciri khas <em>karuna</em> adalah batin yang menolak diam ketika melihat makhluk lain menderita. Di tengah krisis, <em>karuna</em> hadir dalam wujud nyata dengan membantu massa aksi yang ditindas atau ditahan ketika aksi di jalan, membantu memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas dan kelompok minoritas di tengah krisis, turut vokal baik secara langsung maupun bersuara di media sosial terkait dampak melemahnya rupiah terhadap kelangsungan hidup seluruh masyarakat, terutama buruh kecil dan petani, dan sebagainya.</p>



<p>Karena berkaitan dengan tatanan sosial atau sistem keadilan, welas asih pada titik ini bersifat universal dan objektif. Sebagai sesama warga dan kelas pekerja yang terkena dampak dari penindasan negara, kita tahu betul bahwa semua makhluk sama menderitanya. Melawan ketidakadilan artinya memperjuangkan welas asih. Tidak peduli suku, agama, jenis kelamin, status sosial, dan orientasi seksual—jika dihubungkan, welas asih dan keadilan punya tujuan yang sama, yakni menghapus penderitaan akibat tindakan semena-mena tanpa tebang pilih.</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Mudita</em></strong><br>Selanjutnya <em>mudita</em>, yaitu sukacita tanpa batas. Dengan turut bersukacita melihat keberhasilan makhluk lain, kita sudah melatih diri untuk membunuh rasa iri dan saling menjatuhkan di masa krisis. Sebagai contoh, turut senang ketika melihat dagangan pedagang kecil ludes terjual atau merasa lega ketika sekelompok massa aksi yang dikriminalisasi akhirnya dibebaskan. Dengan mengapresiasi perjuangan mereka, kita sudah memperkuat napas perlawanan dan merawat kehidupan banyak makhluk.</p>



<p>Pada akhirnya tujuan melatih empat kemuliaan batin adalah agar kebebasan bersama itu bisa diraih dan perpecahan antarwarga akibat konflik horizontal perlahan-lahan bisa diatasi. Namun, praktik kemuliaan batin itu tidak akan pernah utuh jika empati berhenti pada manusia saja. Layaknya manusia, hewan dan tumbuhan juga adalah makhluk yang harus dijaga. Mereka sama-sama ingin mendapatkan ruang hidup yang aman. Sekecil tidak mengusir paksa dan berbuat kasar kepada hewan jalanan, memberi minum dan sisa makanan layak untuk hewan kelaparan, dan tidak merusak alam—kita sudah melatih diri untuk menghormati kehidupan makhluk lain. Menyadari bahwa nyawa makhluk hidup yang paling kecil dan lemah sekali pun sama berharganya dengan nyawa manusia.</p>



<p>Buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em> adalah tamparan untuk kita semua di tengah krisis Indonesia saat ini. Ia seakan menodong kita dengan sebuah pertanyaan: kita membenci penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan negara, tetapi apakah kita sendiri sudah bersikap adil terhadap sekitar? Jawabannya tentu tidak. Tanpa sadar, kita justru melanggengkan represi tersebut. Penderitaan kolektif yang dirasakan sampai hari ini tak pelak menjadikan kita makhluk egois. Karena realitas sosial itu sudah mengeringkan nurani dan empati, maka batin kita perlu dilatih. Bukan untuk memberi toleransi atas ketidakadilan, tetapi sebagai bentuk perjuangan untuk menghapus penindasan.&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em>, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku &lt;em&gt;Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas&lt;/em&gt;, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
