<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lamrimnesia.org/</link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Oct 2026 08:55:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.17</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>Lamrimnesia</title>
	<link>https://lamrimnesia.org/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Apa Tolok Ukur Kualitas Pembabar Dharma?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/10/23/tolok-ukur-kualitas-pembabar-dharma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2026 08:32:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10703</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bukan status atau atribut yang dikenakan, apa sebenarnya tolok ukur menilai kualitas pembabar Dharma?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/10/23/tolok-ukur-kualitas-pembabar-dharma/">Apa Tolok Ukur Kualitas Pembabar Dharma?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/10/23/tolok-ukur-kualitas-pembabar-dharma/">Apa Tolok Ukur Kualitas Pembabar Dharma?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="533" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/88486fc1-c631-4514-8ff8-80aa87fbb2e4-2-533x1024.jpeg" alt="" class="wp-image-10705" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/88486fc1-c631-4514-8ff8-80aa87fbb2e4-2-533x1024.jpeg 533w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/88486fc1-c631-4514-8ff8-80aa87fbb2e4-2-156x300.jpeg 156w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/88486fc1-c631-4514-8ff8-80aa87fbb2e4-2-150x288.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/88486fc1-c631-4514-8ff8-80aa87fbb2e4-2-450x864.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/88486fc1-c631-4514-8ff8-80aa87fbb2e4-2-600x1153.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/88486fc1-c631-4514-8ff8-80aa87fbb2e4-2.jpeg 720w" sizes="(max-width: 533px) 100vw, 533px" /><figcaption>Sumber: utas dari @ferdianxlee di Threads</figcaption></figure>



<p>Di salah satu platform media sosial, muncul sebuah konten berupa pertanyaan tentang tolok ukur untuk menilai seberapa “meyakinkan” kualitas seseorang dalam membabarkan Dharma. Apakah dari status, lamanya vassa, popularitas, kepiawaian dalam berbicara, hingga pengetahuan yang luas tentang Dharma? Mana yang bisa jadi patokan?</p>



<h1 id="h-kualitas-pengajar"><strong>Kualitas Pengajar</strong></h1>



<p>Alkisah, ada seorang biksu tua yang hidup pada zaman Buddha. Sang biksu tua baru saja ditahbiskan dan belum memiliki banyak pemahaman tentang Dharma. Suatu hari, tiba gilirannya untuk menerima persembahan dari seorang upasika dan diminta untuk mengajarkan Dharma. Sang biksu tua merasa takut, sebab ia merasa tidak tahu apa-apa tentang Dharma. Sebaliknya, ketika sang biksu tiba di rumah upasika, melihat langkah kaki tenang sang biksu justru membuat upasika sangat gembira dan penuh kekaguman. Ia meyakini bahwa sang biksu tua adalah orang suci yang memiliki kebajikan dan kebijaksanaan yang besar.</p>



<p>Ketika selesai menerima persembahan, upasika itu bersujud dengan rasa hormat mendalam kemudian duduk tanpa berani mendongak ke arah sang biksu. Sang biksu yang tak kuasa melihat hal tersebut hanya bisa mengucapkan satu kalimat, “Kebodohan dan ketidaktahuan adalah sumber penderitaan.” Dengan cepat sang biksu kemudian berlari meninggalkan rumah upasika. Sementara itu, satu kalimat dari sang biksu tua tersebut membuat upasika merenungkannya berulang-ulang hingga ia larut dalam meditasinya dan mencapai tingkat <em>Sotapanna</em>, yakni tingkat pertama dari 4 tingkat kesucian.</p>



<p>Dari kisah di atas, dapat dipahami bahwa kualitas seorang pembabar Dharma tidak selalu bisa dinilai dari seberapa banyak ilmu yang diungkapkan, status, atau atribut yang dikenakan. Kunci utama dari seorang pembabar Dharma yang berkualitas justru terletak pada realisasinya, di mana setiap ajaran dibabarkan bersumber dari hati yang tulus dan selaras dengan tindakan sehari-hari.</p>



<h1><strong>Kesiapan Batin Pendengar</strong></h1>



<p>Tidak hanya itu, pendengar memegang peran kunci yang sama pentingnya dalam memahami Dharma. Terlepas dari siapa pun yang mengajarkan, manfaat ajaran baru bisa dirasakan ketika kita terbebas dari tiga sikap bagai cawan yang cacat, yakni cawan terbalik, cawan kotor, dan cawan bocor.&nbsp;</p>



<p>Dalam mendengarkan ajaran, kita perlu menghindari sikap bagai cawan terbalik. Bayangkan sebuah cawan yang diletakkan dalam posisi terbalik; sederas apa pun air jernih yang dituangkan ke atasnya, tidak akan ada setetes pun air yang berhasil masuk ke dalam wadah. Hal ini persis seperti seseorang yang raganya hadir dalam ruangan, tetapi pikiran dan hati tidak tertuju pada ajaran yang sedang disampaikan.</p>



<p>Kita juga harus menghindari sikap bagai cawan yang kotor. Air jernih nan terbaik sekali pun akan menjadi keruh apabila dituangkan ke dalam cawan yang berdebu atau penuh kotoran. Hal serupa juga berlaku dalam konteks mendengarkan Dharma, di mana ketika seseorang mendengarkan ajaran dengan pikiran yang dipenuhi kesombongan, dorongan untuk terus menghakimi, atau mencari celah kesalahan sang pengajar. Sikap seperti ini justru membuat kita tidak akan bisa memahami ajaran secara utuh.</p>



<p>Terakhir, ajaran yang telah berhasil masuk ke dalam wadah yang bersih tetap tidak akan memberi manfaat jangka panjang jika sikap kita bagai cawan bocor. Pada saat mendengarkan, kita mungkin merasa sangat tersentuh, mengangguk setuju, dan mengagumi nilai-nilai yang dibahas. Namun, tanpa merenungkan, mempelajarinya lebih lanjut, atau mempraktikkannya, inti atau pesan dari ajaran yang telah dibabarkan akan lenyap begitu saja tanpa sisa.</p>



<p>Tanpa disadari, dalam mendengarkan Dharma, mungkin selama ini kita lebih sibuk menilai kualitas sang pengajar dari atribut luarnya sampai kita lupa memeriksa kesiapan batin diri sendiri untuk mendengarkan ajaran. Dharma bisa diresapi bukan saat kita menemukan pembabar yang paling hebat, tetapi saat kita cukup rendah hati untuk belajar dari siapa pun. Kira-kira, mana yang lebih sulit: Menyadari kita sedang meremehkan orang lain atau mengakui diri kita sendiri belum tahu apa-apa?&nbsp;</p>



<p>Referensi:</p>



<ul><li>&#8220;Pembebasan di Tangan Kita” Jilid I &#8211; Cara Mendengarkan Dharma</li><li><a href="https://m.fodizi.tw/fojiaogushi/28879.html">Tripitaka Taisho 雜譬喻經</a></li></ul><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/10/23/tolok-ukur-kualitas-pembabar-dharma/">Apa Tolok Ukur Kualitas Pembabar Dharma?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/10/23/tolok-ukur-kualitas-pembabar-dharma/">Apa Tolok Ukur Kualitas Pembabar Dharma?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tiga Bulan YPPLN Berkarya &#8211; Triwulan Ketiga 2026</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/10/21/yppln-triwulan-ketiga-2026/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2026 14:38:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10689</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ini dia aktivitas pelestarian &#038; pengembangan Buddha Dharma oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Dharma Juli-September 2026!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/10/21/yppln-triwulan-ketiga-2026/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Ketiga 2026</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/10/21/yppln-triwulan-ketiga-2026/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya &#8211; Triwulan Ketiga 2026</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Terima kasih dan turut bermudita atas dukungan dari 168 Dharma Patron, 120 Dharma Patriot, dan para Sahabat Lamrimnesia yang berkontribusi selama triwulan ketiga tahun 2026! Ini dia aktivitas pelestarian dan pengembangan Dharma yang telah kita lakukan bersama:</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/1-17-576x1024.png" alt="" class="wp-image-10699" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/1-17-576x1024.png 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/1-17-169x300.png 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/1-17-768x1365.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/1-17-864x1536.png 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/1-17-150x267.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/1-17-450x800.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/1-17-600x1067.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/1-17.png 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10691" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/3-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10692" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/3-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/3-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/3-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/3-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/3-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/3-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/3-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="1080" height="1920" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/4-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10693" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/4-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/4-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/4-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/4-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/4-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/4-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/4-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/5-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10694" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/5-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/5-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/5-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/5-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/5-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/5-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/5-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/6-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10695" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/6-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/6-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/6-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/6-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/6-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/6-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/6-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/6.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/7-576x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10696" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/7-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/7-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/7-768x1365.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/7-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/7-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/7-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/7-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/7.jpg 1080w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>


<p>Mau ikut melestarikan dan mengembangkan Buddhadharma di Nusantara?&nbsp;<br>Yuk bergabung menjadi Dharma Patron dan Dharma Patriot Lamrimnesia!</p>



<p>Untuk bergabung, hubungi kami di Lamrimnesia Info – +685 2112 2014 2</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/10/21/yppln-triwulan-ketiga-2026/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya – Triwulan Ketiga 2026</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/10/21/yppln-triwulan-ketiga-2026/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya &#8211; Triwulan Ketiga 2026</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kembali Terhubung dengan Diri, Merawat Kepedulian Bagi Sesama Lewat NgeRujak Bersama Lamrimnesia di Unlock Your Potential Festival </title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/10/18/unlock-your-potential-festival/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2026 16:26:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10676</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Hadir di Unlock Your Potential Festival, NgeRujak Lamrimnesia ajak peserta untuk kembali terhubung dengan diri dan bangun welas asih bagi sesama di masa sulit.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/10/18/unlock-your-potential-festival/">Kembali Terhubung dengan Diri, Merawat Kepedulian Bagi Sesama Lewat NgeRujak Bersama Lamrimnesia di <em>Unlock Your Potential Festival </em></a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/10/18/unlock-your-potential-festival/">Kembali Terhubung dengan Diri, Merawat Kepedulian Bagi Sesama Lewat NgeRujak Bersama Lamrimnesia di &lt;em&gt;Unlock Your Potential Festival &lt;/em&gt;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di media sosial, di surat kabar, di realita sehari-hari, berbagai tuntutan dan permasalahan struktural terus terjadi tanpa henti. Ada yang kehilangan keluarga, kehilangan ruang hidup, kehilangan harapan, kehilangan diri sendiri. Pertanyaannya bukan lagi tentang apa yang harus dilakukan agar tidak kehilangan diri di tengah kekacauan, tetapi bagaimana cara untuk tetap terhubung dengan diri sendiri tanpa mengaburkan kepedulian atas segala persoalan di luar sana?</p>



<p>Pada tanggal 2-4 Oktober lalu, digelar acara <em>Unlock Your Potential Festival </em>yang diinisiasi oleh <a href="https://www.instagram.com/kalyanalearningcenter/">Kalyana Learning Center</a>, sebuah pusat kegiatan belajar masyarakat yang menyediakan berbagai program pengembangan diri di Kota Bandung. Acara tersebut menjadi titik temu berbagai individu untuk bisa bergerak, bernapas, dan mengekspresikan diri di tengah kondisi dunia seperti sekarang. Dalam salah satu rangkaian acaranya, NgeRujak (Ngerumpi Bijak) “Di Zaman Begini, Aku Bisa Apa?” bersama Lamrimnesia, para peserta diajak mengambil jeda sejenak untuk kembali mengenal diri sendiri dan merawat kepedulian bagi sesama di ruang hidup sekitar. Mulai dari semangat hidup, mengenal potensi diri, dan bergerak dengan apa yang dimiliki saat ini adalah serangkaian materi yang dibawakan dalam sesi NgeRujak.&nbsp;</p>



<p>NgeRujak sendiri merupakan rubrik siniar Youtube dari Lamrimnesia, sebuah yayasan nonprofit yang bergerak dalam bidang penerbitan buku dan pendidikan berbasis filsafat Buddhis. Melalui rubrik ini, berbagai topik keseharian dibahas dari sudut pandang Buddhisme yang universal untuk saling menguatkan di masa sulit. Meski hadir dalam format digital, sesi ini juga <a href="https://www.kanalperspektif.com/2026/10/kita-akan-menjadi-gaza-catatan-dari-pinggir-ngerumpi-bijak-pesta-literasi-ndbf-7-0.html?page=all">merambah langsung ke ruang masyarakat</a> untuk menghadirkan pengalaman kolektif yang lebih nyata.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11280800-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10677" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11280800-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11280800-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11280800-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11280800-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11280800-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11280800-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11280800-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11280800-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11280800.jpg 1776w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Mengondisikan diri dengan latihan relaksasi napas. Foto: tim dokumentasi Lamrimnesia</figcaption></figure>



<p>Dari hari pertama hingga hari ketiga, sesi NgeRujak di <em>Unlock Your Potential Festival</em> diawali dengan melatih napas. Para peserta duduk dalam posisi yang nyaman, menarik napas perlahan dan mendalam, lalu memusatkan perhatian pada udara yang dihirup. Setelah menahannya beberapa detik, udara diembuskan perlahan sambil mengeluarkan bunyi “hah”. Aktivitas ini diulang beberapa kali dengan tujuan mengondisikan pikiran agar lebih fokus dan tenang. Menarik dan membuang napas seperti ini sebenarnya adalah respons yang secara alami tubuh lakukan saat kita berada di bawah tekanan. Dengan mengaktifkan berbagai indera yang dimiliki selama sesi, peserta diajak untuk merasakan kehadiran diri secara utuh dan menghargai hal-hal berharga yang masih dimiliki saat ini.</p>



<p>Namun, ada satu hal yang terbesit jika menghubungkan latihan napas dengan membaca berita belakangan, sekadar bisa bernapas hari ini nyatanya adalah sebuah privilese. Tidak semua orang dan makhluk lainnya bisa merasakannya, sebab penindasan sistemik di luar sana terus merampas ruang-ruang hidup mereka.</p>



<h1 id="h-mengambil-jeda-untuk-apa"><strong>Mengambil Jeda untuk Ap</strong>a?</h1>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11310300-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10678" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11310300-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11310300-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11310300-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11310300-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11310300-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11310300-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11310300-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11310300-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1002_11310300.jpg 1776w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>NgeRujak hari pertama di <em>Unlock Your Potential Festival</em> dengan materi “Semangat Hidupku ke Mana?” Foto: tim dokumentasi Lamrimnesia</figcaption></figure>



<p>Di tengah banyaknya derita dan derasnya informasi, ada kalanya semuanya terasa terlalu penuh. Kita menjadi kelimpungan dan kehilangan diri sendiri. Sementara, kehadiran diri yang utuh dan seimbang adalah hal yang dibutuhkan untuk kita bisa tetap peduli, bersuara, dan merangkul sesama. Lantas, kita mulai bertanya, “Ketika harapan mulai pergi, apa lagi yang tersisa saat ini?“</p>



<p>Tubuh adalah hal paling realistis yang kita punya ketika harapan-harapan itu meredup. Tubuh itu ada dan menemani kita setiap saat. Ia merupakan instrumen pertama yang bisa digunakan untuk mengenali cara kerja atau potensi dalam diri. Selama latihan napas, dengan tubuh itulah para peserta diajak untuk mengingat momen-momen paling membahagiakan atau hal yang paling dihargai dari hidup dan diri sendiri. Ini adalah cara untuk kembali menemukan jalan menuju kehidupan yang penuh energi, terhubung dengan diri sendiri, dan merawat hal-hal yang bermakna dalam hidup. Kemudian, pertanyaan lainnya muncul, “Jika semua orang sibuk menenangkan dirinya, siapa yang akan punya waktu untuk peduli kepada sekitar?”</p>



<h1><strong>Welas Asih untuk Diri Sendiri dan Sekitar</strong></h1>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1003_12432200-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10679" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1003_12432200-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1003_12432200-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1003_12432200-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1003_12432200-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1003_12432200-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1003_12432200-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1003_12432200-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1003_12432200-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1003_12432200.jpg 1776w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>NgeRujak hari kedua di <em>Unlock Your Potential Festival</em> dengan materi “Potensi Apa yang Kupunya?” Foto: tim dokumentasi Lamrimnesia</figcaption></figure>



<p>Di zaman begini, orang-orang mencari berbagai cara agar tetap bisa waras dan merawat diri. Apakah itu salah? Tidak. Ada kalanya tubuh, pikiran, dan batin memang butuh untuk diistirahatkan sebentar. Bahkan kita semua mendambakan ketenangan, tidak terbatas pada manusia. Hanya saja, cara-cara dan hasil dari ‘kesadaran’ atau ‘ketenangan diri’ yang selama ini ditemukan di masyarakat modern lebih sering menjebak individunya, di mana seseorang tidak lagi peduli dan menarik diri ketika bertemu dengan persoalan yang terjadi di masyarakat akibat dari kecanduan akan ‘ketenangan batin’ itu sendiri.&nbsp;</p>



<p>Sebuah buku berjudul “<a href="https://youtu.be/Cb1NLtEUczk?si=WdaTTbESYhf_gFYB">Hati Tanpa Gentar</a>” sekilas dibahas dalam sesi diskusi. Buku tersebut membahas manfaat dan cara-cara melatih batin untuk berwelas asih dalam kehidupan sehari-hari. Welas asih dimulai dengan mengembangkan rasa peduli terhadap diri sendiri. Tujuannya supaya kita bisa merawat dan mengasihi diri dengan kebaikan, pengertian, serta tidak larut dalam penghakiman diri yang berlebihan, terutama ketika sedang berhadapan dengan masa sulit. Karena kita adalah makhluk sosial yang saling bergantung satu sama lain, kepedulian terhadap diri sendiri itu juga harus meluas ke sekitar. Berwelas asih kepada sekitar adalah cara untuk membangun kembali kehidupan yang seimbang, terhubung, dan saling menguatkan.</p>



<p>Dalam welas asih, terdapat latihan menetapkan niat dan membuat dedikasi. Menetapkan niat atau motivasi bertujuan untuk mengarahkan batin agar setiap tindakan atau aktivitas yang dijalankan selama satu hari bisa memberi kebahagiaan bagi banyak makhluk. Sementara, latihan membuat dedikasi merupakan pelengkap yang merefleksikan kembali tindakan atau aktivitas kita sehubungan dengan niat awal.&nbsp;</p>



<p>Para peserta kemudian bersama-sama mempraktikkan latihan tersebut, diawali dengan latihan napas seperti yang telah dipaparkan, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan reflektif: apa harapan atau hal baik yang ingin diberikan untuk diri sendiri, untuk sekitar, dan untuk dunia?</p>



<p>Dari situ, ada satu hal penting yang selama ini luput dan dimunculkan kembali di sesi NgeRujak sebagai refleksi kritis: mengambil jeda, melatih batin, atau memulihkan diri seharusnya bukan untuk menutup mata dari masalah yang terjadi di luar, tetapi untuk mengisi ulang kewarasan dan energi supaya kita bisa kembali bekerja secara optimal dalam memperpanjang napas kepedulian terhadap sekitar. Antara diri sendiri dan sekitar, keduanya seharusnya berjalan secara beriringan.</p>



<h1><strong>Belajar Mendengarkan</strong></h1>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1004_12104300-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10680" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1004_12104300-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1004_12104300-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1004_12104300-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1004_12104300-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1004_12104300-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1004_12104300-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1004_12104300-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1004_12104300-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/2026_1004_12104300.jpg 1776w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>NgeRujak hari ketiga di <em>Unlock Your Potential Festival</em> dengan materi “Dengan Apa yang Ada, Aku Bisa Apa?” Foto: tim dokumentasi Lamrimnesia</figcaption></figure>



<p>Di samping materi-materi tentang menemukan potensi dan keutuhan diri yang dibawakan, sesi NgeRujak juga mengajak untuk kembali belajar tentang sesuatu yang selama ini penting, tetapi disepelekan: mendengarkan. Kapan terakhir kali kita hadir secara utuh untuk mendengarkan ke dalam dan ke luar?</p>



<p>Mendengarkan dalam konteks ini bukan sebatas mendengarkan orang lain berbicara, tetapi mendengarkan juga adalah belajar memahami apa yang dibutuhkan diri sendiri dan apa yang dibutuhkan di sekitar kita. Kita sering terlalu fokus dengan masalah dalam diri sampai tidak punya waktu atau bahkan tidak ingin mendengarkan penderitaan sesama. Atau dalam kasus lain, ‘mendengar’ terasa sulit karena kita terlalu sering mengkritik diri sendiri sampai lupa bahwa ada banyak potensi positif dalam diri yang bisa digunakan untuk hal-hal bermakna, baik untuk diri sendiri maupun banyak makhluk.</p>



<p>Dengan kegelisahan, pengalaman, dan perspektif yang beragam, sesi NgeRujak membuka ruang bagi para peserta untuk bersama-sama mendengar tanpa menghakimi dan bisa saling terhubung. Kita butuh jeda sejenak untuk mengisi energi, kita punya tubuh untuk mengeksplorasi potensi diri. Namun, ketika bergerak sendirian dan mencari jalan pulang ke diri sendiri terasa berat, kita punya sekitar untuk berbagi, bertahan, dan saling menjaga.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/10/18/unlock-your-potential-festival/">Kembali Terhubung dengan Diri, Merawat Kepedulian Bagi Sesama Lewat NgeRujak Bersama Lamrimnesia di <em>Unlock Your Potential Festival </em></a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/10/18/unlock-your-potential-festival/">Kembali Terhubung dengan Diri, Merawat Kepedulian Bagi Sesama Lewat NgeRujak Bersama Lamrimnesia di &lt;em&gt;Unlock Your Potential Festival &lt;/em&gt;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kita Akan Menjadi Gaza: Catatan dari Pinggir &#8220;Ngerumpi Bijak&#8221; Pesta Literasi NDBF 7.0</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/10/13/ngerumpi-bijak-ndbf-7-0/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2026 15:54:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[ndbf 7.0]]></category>
		<category><![CDATA[ngerujak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10672</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ketika diskusi kolektif di NgeRujak NDBF 7.0 mencari jalan keluar dari krisis global, catatan ini justru menemukan hal lain bahwa kita semua sedang menuju Gaza.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/10/13/ngerumpi-bijak-ndbf-7-0/">Kita Akan Menjadi Gaza: Catatan dari Pinggir “Ngerumpi Bijak” Pesta Literasi NDBF 7.0</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/10/13/ngerumpi-bijak-ndbf-7-0/">Kita Akan Menjadi Gaza: Catatan dari Pinggir &#8220;Ngerumpi Bijak&#8221; Pesta Literasi NDBF 7.0</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Zaman yang menjanjikan beribu kemajuan kini justru membawa kita pada ujung kehancuran. Hidup dalam ketidakpastian kian diperparah oleh munculnya berbagai krisis tak berkesudahan yang dominan diciptakan oleh manusia. Berangkat dari situ, sepanjang 12–16 Agustus 2026 lalu diselenggarakan pesta literasi Nusantara Dharma Book Festival di kota Bandung. Mulai dari bazar buku, <em>talkshow</em>, lokakarya, dan penampilan seni, NDBF 7.0 merangkul berbagai penerbit, komunitas akar rumput, akademisi, dan seniman lokal Bandung untuk bersama-sama bertukar wawasan seputar literasi dan aktivisme sosial. Memasuki tahun ketujuh, tema yang diangkat dalam pesta literasi tersebut adalah “Pelita di Kalantara”.</p>



<p>Kalantara, sebuah istilah rekaan dari ‘kala’ yang berarti waktu dan ‘antara’ yang berarti ruang di antara. Ia adalah ruang peralihan di mana suatu zaman mendekati akhir, sementara zaman baru belum sepenuhnya lahir. Dalam salah satu rangkaian acara NDBF 7.0, <em>talkshow </em>Ngerujak “Ngerumpi Bijak”: Gotong Royong di Zaman Peralihan bersama komunitas BandungBergerak, Aksara Rembaka, Growing Sisters, dan Wilwatikta Foundation, membedah persoalan sistemik yang sedang terjadi yang kemudian menciptakan satu dorongan yang sama: kesadaran akan pentingnya kerja-kerja kolektif dan harapan.&nbsp;</p>



<p>Di panggung NDBF 7.0, komunitas saling bertukar pengetahuan tentang aktivisme sosial di tengah krisis. BandungBergerak, misalnya, membuat program “Kelas Liar”&nbsp; yang dijalankan setiap bulan untuk membuka ruang diskusi menyoal krisis-krisis yang tengah terjadi saat ini bersama warga yang dipinggirkan. Di saat sirkulasi relasi antara lingkungan akademik dan komunitas akar rumput tidak terhubung, “Kelas Liar” diharapkan menjadi penyambung banyak pihak untuk bisa bersuara dan bergerak. Sementara itu, Growing Sisters konsisten merawat ruang aman bagi pemberdayaan perempuan dan dalam salah satu kegiatannya, <em>“When Hands Speak, Hearts Connect,”</em> mereka juga berkolaborasi dengan Komunitas Teman Tuli untuk belajar bahasa isyarat. Adapun Aksara Rembaka sebagai komunitas berbasis pendidikan yang fokus dalam menggerakkan literasi anak dan sosialisasi berkelanjutan, serta Wilwatikta Foundation sebagai yayasan berbasis filsafat Buddhis yang bergerak di berbagai bidang kegiatan sosial, mulai dari penghijauan, donasi sembako, program pendidikan karakter, hingga beasiswa untuk anak-anak kurang mampu.</p>



<p>Di tengah dunia yang limbung dan negara membiarkan warganya bertarung sendirian dengan ketidakpastian, tentu benar bahwa yang dibutuhkan sekarang adalah kesadaran bergotong-royong. Tidak ada individu maupun komunitas yang dapat berdiri sendiri. Dalam menghadapi krisis, ketahanan bukan hanya soal bertahan hidup secara fisik, tetapi juga siasat, pengetahuan, dan solidaritas untuk bisa saling menjaga. Namun sepanjang diskusi tersebut berlangsung, satu pertanyaan pesimis muncul yang kemudian menjadi muara dalam tulisan ini: Kita memikirkan segala cara untuk bisa bertahan bersama, lalu kita berpikir bahwa dengan cara itulah harapan baik akan tetap ada. Persoalannya, meskipun pemimpin terus bergonta-ganti, setiap hari yang diobral hanya janji. Nyatanya, realita di bawah tidak pernah membaik. Jika negara sendiri tetap tidak berbenah, apa yang akan berubah?&nbsp;</p>



<p>Ketika kita tidak secara langsung merasakan hidup dalam ketakutan, nasib buruk, dan penantian, akan mudah untuk berbicara tentang harapan baik. Harapan bisa hadir kapan saja seperti makanan yang selalu tersedia di meja makan kita setiap hari. Namun bagi mereka yang sepanjang hidup berada di ubin ketidakadilan dan pembiaran berkepanjangan, mereka tidak membutuhkan harapan. Jangankan berharap, di tengah gejolak krisis seperti sekarang mereka tidak pernah diberi waktu untuk berduka, merenung, dan mengenang.</p>



<p>Catatan ini bukan bentuk kritik atas usaha kolektif yang coba dilakukan oleh berbagai komunitas untuk saling terhubung dan bertahan, apalagi meremehkannya. Sebab, semua penjabaran di sini pun tidak menawarkan solusi yang lebih baik. Justru berpijak pada diskusi yang telah dilakukan tersebut, ada pengamatan lain yang akhirnya ditemukan dan menjadi muara pembahasan: membaca Indonesia hari ini, memandang masa depan yang sedang berjalan menuju Gaza.</p>



<h2><strong>Membaca Indonesia</strong></h2>



<p>Di Aceh dan Sumatera, air meninggalkan luka dan trauma, hidup dari satu pengungsian ke pengungsian lain adalah kelangsungan hidup mereka. Sementara di wilayah lain, kekeringan ekstrem sudah terjadi dan air bersih pun harus dibeli. Di Nusa Tenggara, warga morat-marit menghitung jumlah sanak-saudara yang tersisa akibat gempa juga tak kunjung diperhatikan negara. Dari kota-kota besar hingga pelosok, anak-anak yang kelaparan dibunuh dengan seompreng makanan beracun. Dari Papua hingga Kalimantan, tanah adat dirampas, karhutla yang merupakan bencana besar peninggalan Soeharto kembali terulang. Pepohonan yang hidup kokoh ribuan tahun, hutan yang menjadi sumber kehidupan banyak makhluk, dalam sekejap berubah menjadi arang dan kabut asapnya menyebar seperti penyakit. Sekolah-sekolah di pedalaman reyot, sekolah-sekolah di kota gedongan menciptakan manusia robot, universitas mengalami kemunduran. Genosida, ia di mana-mana.</p>



<p>Dalam hitungan hari atau minggu, berita adalah hal yang selalu ditunggu oleh mereka yang terdampak langsung, berharap agar dunia tidak diam begitu saja melihat penderitaan. Namun dengan pengabaian yang berkepanjangan, mereka tidak lagi merasa bahwa berita itu penting untuk diikuti. Berita hanya mengabarkan jumlah angka, sementara yang mereka butuhkan adalah pulang ke rumah. Lambat laun kematian menjadi hal yang normal, penantian dan kekhawatiran pun menjadi hal yang biasa. Ribuan orang dibiarkan bertarung dengan cuaca dan nasib buruk tanpa perlindungan. Belum pulih dari trauma, krisis lainnya muncul.&nbsp;</p>



<p>Anehnya, ketika kerusakan terjadi di mana-mana, sering pula kita berlindung di balik kata “bencana alam”. Sekali pun ia memang tak terhindarkan, bencana alam tidak bisa dilihat secara netral. Membicarakan bencana bukan hanya tentang alam, tetapi juga politik. Dalam arena relasi kuasa, ada beberapa hal yang patut dipertanyakan ketika sebuah krisis terjadi: siapa yang punya akses kontrol, siapa yang paling diuntungkan, dan siapa yang sebenarnya paling dan harus bertanggung jawab. Berkaca dari tindakan pemerintah yang acuh dalam penanganan bencana, akses bantuan warga sipil dipersulit dan dibatasi, serta kebijakan-kebijakan yang bersifat populis menunjukkan bahwa sistem negara gagal memperbaiki kualitas hidup rakyat.</p>



<h2 id="h-kita-sedang-menuju-gaza"><strong>Kita Sedang Menuju Gaza</strong></h2>



<p>Sepanjang diskusi berlangsung di malam itu, ingatan saya tidak bisa lepas dari salah satu buku yang pernah saya baca berjudul “<em>A Diary of Genocide</em>: Catatan Pembantaian Palestina 7 Oktober–30 Desember 2023” yang ditulis oleh Atef Abu Saif. Dari hari ke-1 hingga hari ke-85, buku tersebut menyajikan catatan harian sang penulis selama hidup dengan berpindah-pindah kamp pengungsian, akses bantuan internasional dipersulit dan dibatasi, narasi-narasi media global yang turut meminggirkan Palestina, serta terjadi pembiaran atas kebrutalan ekstrem yang dilakukan oleh Israel. Sampai sekarang.&nbsp;</p>



<p>Kekejaman yang dilakukan Israel terhadap Palestina lebih pantas disebut sebagai genosida, bukan perang atau sebatas konflik Palestina-Israel. ‘Perang’ dan ‘konflik’ adalah dua kata yang diplomatis; sebuah bahasa yang sengaja dipilih untuk secara halus menutup fakta yang terjadi di lapangan bahwa kejahatan besar sedang terjadi. Membaca buku <em>“A Diary of Genocide”</em> bertepatan dengan peristiwa banjir bandang yang menenggelamkan Sumatera dan Aceh pada November 2025 menuntun saya untuk melihat serangkaian pola peristiwa yang sama.</p>



<p>Di Gaza, mereka menghitung jam dengan jumlah serangan misil. Di Indonesia, ada orang-orang yang menandai hari-hari dengan jumlah keluarga yang binasa. Di Gaza, mereka belajar lebih banyak tentang ketakutan ketika hujan turun menerbangkan tenda-tenda pengungsian. Di Indonesia, kita melihat hal yang serupa ketika Sumatera dan Aceh dilanda banjir. Kita bisa bertahan tiga, empat, lima hari tanpa makanan, tetapi tidak ada satu pun di antara kita yang sanggup bertahan di bawah hujan semalaman. Di Gaza, anak-anak yang tidur di ranjang dibunuh dengan bom. Di Indonesia, anak-anak yang duduk di kelas dibunuh dengan makanan beracun gratis. Dan untuk sekali lagi, tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan mengapa anak-anak harus dibunuh. Baik Gaza maupun Indonesia, semuanya berubah menjadi noda darah. Membaca Indonesia hari ini rasanya seperti membayangkan bahwa kini kita sedang menuju Gaza. “Gaza tiba di halaman rumah kita, Gaza adalah model masa depan dunia,” pikir saya.&nbsp;</p>



<p>Ambil saja salah satu contoh nyata: program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Sepanjang program ini berjalan, tak terhitung lagi jumlah siswa yang menjadi korban, mulai dari keracunan hingga menyebabkan kematian. Ironisnya, pemerintah terus-menerus merawat penyangkalan, menutup mata dari bukti-bukti gamblang yang tersaji di lapangan. Pembiaran ini memunculkan satu kesimpulan mengerikan: ada upaya sistematis untuk menghapus generasi masa depan kita. Jika hal ini dikaitkan dengan latar belakang militer Prabowo—yang dididik untuk berpikir kalkulatif dan penuh strategi, meski memiliki rekam jejak militer yang buruk—pola ini terasa bukanlah sebuah kebetulan. Hal ini semakin menguatkan pandangan saya bahwa apa yang terjadi di negara ini adalah sebuah genosida terstruktur; persis seperti bagaimana Israel menerapkan taktik militernya secara sistematis dalam kekejamannya di Palestina.</p>



<p>Di negeri yang kian mahir memelihara kelaparan dan kerusakan, Indonesia hari ini adalah Indonesia yang hanya menyisakan latar belakang dengan kabut hitam. Jika di Palestina mereka semua dibunuh oleh tentara-tentara Israel, di sini kita dibunuh oleh negara sendiri. Negara yang sibuk berpesta pora di atas bangkai anak-anaknya, yang tidak pernah ada saat kita membutuhkannya. Dan untuk sekali lagi, kita bisa melihat wajah Israel itu di sosok pemimpin kita sendiri.</p>



<p>Kini, pertanyaannya bukan lagi sebatas berapa lama lagi kita akan bertahan di sini, tetapi mengapa dunia menjadi begitu gila sampai tidak bisa lagi mengucapkan kata “berhenti” dan “cukup”?</p>



<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a href="https://www.kanalperspektif.com/2026/10/kita-akan-menjadi-gaza-catatan-dari-pinggir-ngerumpi-bijak-pesta-literasi-ndbf-7-0.html?page=all&amp;m=1">Kanal Perspektif</a>.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/10/13/ngerumpi-bijak-ndbf-7-0/">Kita Akan Menjadi Gaza: Catatan dari Pinggir “Ngerumpi Bijak” Pesta Literasi NDBF 7.0</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/10/13/ngerumpi-bijak-ndbf-7-0/">Kita Akan Menjadi Gaza: Catatan dari Pinggir &#8220;Ngerumpi Bijak&#8221; Pesta Literasi NDBF 7.0</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Menari, Belajar Menjadi Perempuan yang Bebas dan Merdeka Bersama Hot Mamah Dance Club</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/10/13/hot-mamah-dance-club/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2026 15:17:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[hot mamah dance club]]></category>
		<category><![CDATA[ndbf 7.0]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10660</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ketika perempuan setiap hari dipenjara oleh konstruksi sosial, bagaimana Hot Mamah Dance Club menawarkan ruang aman untuk tubuh perempuan?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/10/13/hot-mamah-dance-club/">Belajar Menari, Belajar Menjadi Perempuan yang Bebas dan Merdeka Bersama Hot Mamah Dance Club</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/10/13/hot-mamah-dance-club/">Belajar Menari, Belajar Menjadi Perempuan yang Bebas dan Merdeka Bersama Hot Mamah Dance Club</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Hidup bersama ayah dan saudara laki-laki yang memenjarakan. Hidup bersama ibu yang tidak pernah mengajarkan tentang bagaimana rasanya menjadi perempuan, tentang tubuh yang akan terus berubah dan dijajah.</p>



<p>Tidak ada satu pun percakapan yang saya ingat di rumah tentang “Ini yang perlu kamu tahu tentang tubuhmu, ini yang akan terjadi pada tubuhmu, ini yang tidak boleh orang lain lakukan pada tubuhmu, ada banyak norma yang membelenggu perempuan dan ini yang bisa kamu lakukan untuk membebaskan dirimu sendiri.” Yang saya ingat hanya “Perempuan harus ini-itu, tidak boleh ini-itu, nanti ini-itu. Perempuan tidak boleh begini karena perempuan, laki-laki boleh begitu karena laki-laki. Perempuan boleh sekolah, tetapi jangan kejauhan. Perempuan boleh bicara, tetapi tidak boleh lebih banyak bicara dari ayah dan saudara laki-laki. Perempuan boleh punya mimpi, tetapi kalau ketinggian mending pulang ke rumah.”</p>



<p>Dengan informasi-informasi yang tidak pernah utuh, tindak-tanduk yang tidak tahu apakah itu bisa ditiru, luka-luka yang tidak pernah dibicarakan di ruang keluarga, saya tumbuh dengan cara mengamati. Pengamatan yang tidak sempurna tentunya. Dari semua kebingungan yang tidak tahu harus diletakkan ke mana, berubah menjadi pertanyaan: Bagaimana rasanya pergi jauh dan lepas dari semua luka menjadi perempuan di rumah?</p>



<p>Di lain waktu, saya melihat sekumpulan ibu-ibu berkebaya dan selendang warna-warni, riasan gonjreng, rambut berkonde pun yang tergerai lengkap hiasan bunga-bunganya, ada pula yang berhijab, disambut antusias oleh para penonton. Hot Mamah Dance Club namanya. Sebuah komunitas perempuan menari yang menjadi wadah dan ruang aman bagi para perempuan untuk berekspresi dan mengeksplorasi tubuh melalui tari tanpa harus memiliki latar belakang di bidang tari. Menelusuri sekilas profil anggotanya, perempuan yang terlibat terdiri dari beragam profesi, mulai dari ahli bahasa, sastrawan, ibu rumah tangga, arsitek, pengusaha, musisi, penata busana, guru, ahli kuliner, <em>influencer</em> otomotif, dan banyak lagi.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/45158e47-7018-41f5-8c27-3766d27a0b5b-1-1024x682.jpeg" alt="" class="wp-image-10667" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/45158e47-7018-41f5-8c27-3766d27a0b5b-1-1024x682.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/45158e47-7018-41f5-8c27-3766d27a0b5b-1-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/45158e47-7018-41f5-8c27-3766d27a0b5b-1-768x512.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/45158e47-7018-41f5-8c27-3766d27a0b5b-1-1536x1024.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/45158e47-7018-41f5-8c27-3766d27a0b5b-1-2048x1365.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/45158e47-7018-41f5-8c27-3766d27a0b5b-1-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/45158e47-7018-41f5-8c27-3766d27a0b5b-1-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/45158e47-7018-41f5-8c27-3766d27a0b5b-1-1200x800.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/45158e47-7018-41f5-8c27-3766d27a0b5b-1-600x400.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>NDBFHot Mamah Dance Club di pesta literasi NDBF 7.0. Foto: tim dokumentasi NDBF 7.0.</figcaption></figure>



<p>Meski komunitasnya sudah beken dan tampil di mana-mana, hari itu pertama kalinya saya bisa menonton penampilan mereka secara langsung di pesta literasi Nusantara Dharma Book Festival 7.0 yang diselenggarakan di Nara Park Bandung.</p>



<p>Sejalan dengan tema NDBF 7.0, “Pelita di Kalantara”—komunitas mamah-mamah tersebut turut memeriahkan acara dengan kegiatan “Menari di Kalantara”. Tujuannya untuk memberikan kesempatan kepada para peserta, khususnya perempuan dalam mengeksplorasi diri dan membebaskan tubuh melalui gerak tubuh.&nbsp;</p>



<p>Diawali dengan sesi bincang-bincang, topik menyoal tubuh perempuan yang sering terpenjara oleh konstruksi sosial itulah yang membawa saya kembali pada ingatan dan pengalaman-pengalaman menjadi perempuan di rumah dan di luar rumah. Sekelindan ingatan yang membuat saya hanya bisa duduk sendirian di tengah riuh dan heboh panggung.</p>



<h2 id="h-tubuh-perempuan-dan-belenggu"><strong>Tubuh Perempuan dan Belenggu</strong></h2>



<p>Di sepanjang sejarah, perempuan selalu mengalami kekerasan simbolik dan fisik. Di rumah, di sekolah, di tempat ibadah, di mana-mana. Berbagai kontrol sosial yang mengekang pun kerap melekatkan perempuan dengan “kemiskinan”. Miskin pendidikan, miskin pilihan, miskin hak atas tubuhnya sendiri. “Apa sebenarnya makna dari perempuan merdeka?” Tanya saya dalam hati di tengah-tengah diskusi.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/26e7e305-349a-477f-b7ef-2e46953a0cb6-1024x682.jpeg" alt="" class="wp-image-10662" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/26e7e305-349a-477f-b7ef-2e46953a0cb6-1024x682.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/26e7e305-349a-477f-b7ef-2e46953a0cb6-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/26e7e305-349a-477f-b7ef-2e46953a0cb6-768x512.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/26e7e305-349a-477f-b7ef-2e46953a0cb6-1536x1024.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/26e7e305-349a-477f-b7ef-2e46953a0cb6-2048x1365.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/26e7e305-349a-477f-b7ef-2e46953a0cb6-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/26e7e305-349a-477f-b7ef-2e46953a0cb6-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/26e7e305-349a-477f-b7ef-2e46953a0cb6-1200x800.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/26e7e305-349a-477f-b7ef-2e46953a0cb6-600x400.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>&#8220;Menari di Kalantara&#8221; bersama Hot Mamah Dance Club di NDBF 7.0. Foto: Tim Dokumentasi NDBF 7.0</figcaption></figure>



<p>Di ruang publik saya belajar tentang kebebasan, tetapi di rumah saya belajar tentang perempuan yang tahu batas. Di ruang kelas saya belajar tentang berani bersuara, tetapi di berita yang saya baca ada perempuan yang dikurung dan dipukul. Di luar rumah saya belajar tentang meyakini mimpi yang saya punya, tetapi di kamar saya belajar untuk harus selalu bisa mengalah bahkan ketika tidak ada yang harus diperebutkan. Di kitab-kitab suci saya mendengar bahwa semua makhluk setara, tetapi di meja makan piring perempuan selalu diisi paling akhir setelah suami, ayah, dan saudara laki-lakinya selesai makan. Di sepanjang sejarah dituliskan semua orang mau memperbaiki dunia, tetapi di dapur tidak pernah ada yang mau membantu perempuan mencuci piring.</p>



<p>Belum cukup, kuasa itu terus bekerja dengan mengendalikan tubuh dan cara perempuan berpakaian. Di saat yang sama, kekerasan terus terjadi dan tidak pernah dibicarakan. Tubuh perempuan selalu diawasi dalam berbagai struktur sosial dan budaya. Tidak ada yang pernah mempertanyakan mengapa mereka begitu lapar dan gelisah akan perempuan. Tidak ada perempuan yang benar-benar merdeka di kehidupan nyata. Tidak ada bedanya menjadi perempuan yang dikurung di kamar dan hidup di luar rumah, pikir saya.</p>



<h2><strong>Apa Itu Keberanian dan Kebebasan Bagi Perempuan?</strong></h2>



<p>Dulu saya berpikir bahwa dengan saya bisa pergi jauh dari rumah artinya saya sudah bebas. Keberanian itu mungkin memang ada, tetapi apakah itu juga berarti bebas? Belakangan saya sadari jawabannya ternyata tidak.&nbsp;</p>



<p>“Bebas dari Ketakutan”, sebuah buku karya Thubten Chodron menjadi pemantik diskusi hari itu. Buku tersebut menyajikan bahasan tentang Arya Tara sebagai sosok pembebas semua makhluk dari penderitaan dan dijuluki sebagai “ibu dari semua Buddha.”&nbsp;</p>



<p>Konon, sebelum menjadi Buddha, Arya Tara adalah seorang dewi bernama Yeshe Dawa. Ia bersumpah untuk mencapai pencerahan dalam tubuh perempuan dan terus terlahir sebagai perempuan demi kepentingan semua makhluk. Di lain kisah, Tara lahir dari air mata Awalokiteshwara, Buddha Welas Asih, yang saat itu meratap karena neraka dipenuhi oleh makhluk-makhluk yang terlahir di sana. Adanya Tara adalah untuk membantu membebaskan semua makhluk dari penderitaan dengan cepat dan tangkas.</p>



<p>Di Nusantara, Arya Tara memiliki “rumah” di Candi Kalasan yang dibangun pada masa kejayaan Kerajaan Mataram Kuno. Arca-arca Arya Tara juga dapat ditemukan di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang pada masa lampau menjadi pusat kekuasaan Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya, serta meluas hingga wilayah Jawa Timur tempat berdirinya beberapa kerajaan besar, seperti Kediri, Panjalu, Singasari, hingga Majapahit. Eksistensi Arya Tara juga beririsan dengan kepercayaan masyarakat agraris di pulau Jawa. Dalam masyarakat petani, Dewi Sri atau Dewi Padi yang merupakan sosok pemujaan agar hasil panen padi selalu berlimpah setiap tahunnya juga diyakini sebagai salah satu perwujudan Dewi Tara.</p>



<p>Selaras dengan <em>workshop</em> gerak tari, secara visual tubuh Arya Tara tampak seperti seseorang yang sedang menari. Kaki kanannya yang terjulur ke depan menunjukkan kesiapannya untuk masuk ke alam para makhluk yang menderita untuk membebaskannya. Tangan kanan yang berada di atas lutut kanannya dengan telapak tangan terbuka yang melambangkan cinta kasih dan perlindungan. Sementara ibu jari dan jari manis tangan kirinya saling menyentuh dan tiga jari lainnya terentang ke atas seperti gerakan menari. Kaki kirinya yang terlipat ke dalam menunjukkan bahwa ia punya kendali penuh atas dirinya sendiri, tidak peduli jika ada yang memuji atau menghakimi. Dengan kualitas-kualitas yang dimilikinya tersebut, Tara menghadapi seluruh penderitaan tanpa rasa takut. Semua kualitas-kualitas Tara itu pula sebenarnya dimiliki oleh setiap orang.&nbsp;</p>



<p>Itu yang saya tuliskan dari apa yang saya ketahui tentang buku itu, tentang diskusi itu. Saya membaca tentang figur-figur perempuan yang kuat, mencoba memahami apa yang membuat mereka berani, lalu menuliskannya seakan tidak ada hal yang menjadi beban di pikiran. Ironinya, saya tetap tidak tahu bagaimana cara keluar dari semua belenggu yang setiap hari saya bawa sampai hari ini. Tidak ada yang bisa saya jadikan petunjuk. Aturan-aturan sosial itu sudah sejak lama merampas hak-hak dan keberanian saya untuk menjadi diri sendiri secara utuh. Saya kelimpungan untuk mencoba melihat potensi dalam diri.</p>



<p>Ada waktu di mana saya merasa asing dengan tubuh saya sendiri, dengan suara saya sendiri. Yang saya punya hanya rasa takut. Takut dengan semua mata yang memandang, takut dengan perubahan yang akan terjadi pada tubuh saya, takut mencoba hal baru, takut bersuara, takut merasakan, takut bermimpi, takut melihat setiap celah dan ketidaksempurnaan dalam diri saya, takut menjadi berani. Bahkan saya takut untuk menuliskan semua ketakutan itu. Menjadi perempuan bagi saya ialah setiap hari hidup bersama penderitaan dan ketakutan. Tidak ada kualitas Arya Tara di dalam diri saya. Saya tidak pernah tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan keberanian dan kebebasan.&nbsp;</p>



<h2><strong>Saya Tidak Ingin Menari, Saya Ingin Duduk Bersama Ketakutan</strong></h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/ce2b6729-67be-480b-9e31-fe15f8ff9163-1024x684.jpeg" alt="" class="wp-image-10663" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/ce2b6729-67be-480b-9e31-fe15f8ff9163-1024x684.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/ce2b6729-67be-480b-9e31-fe15f8ff9163-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/ce2b6729-67be-480b-9e31-fe15f8ff9163-768x513.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/ce2b6729-67be-480b-9e31-fe15f8ff9163-1536x1025.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/ce2b6729-67be-480b-9e31-fe15f8ff9163-2048x1367.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/ce2b6729-67be-480b-9e31-fe15f8ff9163-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/ce2b6729-67be-480b-9e31-fe15f8ff9163-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/ce2b6729-67be-480b-9e31-fe15f8ff9163-1200x801.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/10/ce2b6729-67be-480b-9e31-fe15f8ff9163-600x401.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Para peserta menari di <em>workshop </em>“Menari di Kalantara” bersama Hot Mamah Dance Club. Foto: Tim Dokumentasi NDBF 7.0</figcaption></figure>



<p>Saya masih duduk di tempat paling pinggir. Mengamati tubuh-tubuh yang berlenggak-lenggok, jemari yang tanpa beban bergerak sesuka hati, kaki-kaki yang dengan mudah mengikuti ritme musik. Wajah-wajah itu, hanya ada kegembiraan. Wajah yang seharusnya dimiliki semua perempuan setiap harinya. Tiada takut, tiada was-was, tiada menunduk.&nbsp;</p>



<p>Belum ada keinginan untuk saya ikut menari di hari itu. Saya tidak ingin menjadi berani. Keberanian bagi saya adalah sesuatu yang masih terlalu sulit untuk saya jamah. Saya baru mulai belajar untuk duduk berhadapan dengan ketakutan di dalam diri saya, satu demi satu. Saya baru belajar memahami kemudian mengurainya dengan semua pengamatan saya yang tidak utuh itu.</p>



<p>Saya tidak tahu apa artinya menjadi perempuan yang bebas dan merdeka. Saya tidak pernah diajarkan tentang itu. Saya hanya tahu bahwa saya tidak ingin lagi mengingat warna gincu apa yang cocok untuk bibir saya, mengapa tubuh saya begini, mengapa pakaian saya begitu. Saya ingin melupakan cara-cara untuk menjadi sempurna. Saya hanya ingin menjadi seperti perempuan-perempuan yang menari di hari itu. Tidak tahu bagaimana caranya, tetapi suatu hari saya akan ke sana.&nbsp;</p>



<p>Dari tempat yang paling pinggir itu saya melihat dengan jelas hanya ada tawa. Saya tidak ingat satu demi satu gerakan tubuh yang diperagakan, tetapi samar-samar saya melihat bayangan tentang keberanian. Tentang kekuatan.</p>



<p>Informasi lebih dalam mengenai acara, komunitas, dan buku-buku yang dibahas di Nusantara Dharma Book Festival dapat diikuti di Instagram <a href="https://www.instagram.com/dharmabookfest?stkn=MWZ3ZTJ4anBic2U1YQ==">@dharmabookfest</a>, <a href="https://www.instagram.com/hotmamahdanceclub?stkn=MW13ZGM1cjlydG15bA==">@hotmamahdanceclub</a>, dan <a href="https://www.instagram.com/lamrimnesiastore/">@lamrimnesiastore</a>.</p>



<p>Berita ini pertama kali diterbitkan di <a href="https://bandungbergerak.id/article/detail/1546038475/belajar-menari-belajar-menjadi-perempuan-yang-bebas-dan-merdeka-bersama-hot-mamah-dance-club">BandungBergerak</a>.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/10/13/hot-mamah-dance-club/">Belajar Menari, Belajar Menjadi Perempuan yang Bebas dan Merdeka Bersama Hot Mamah Dance Club</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/10/13/hot-mamah-dance-club/">Belajar Menari, Belajar Menjadi Perempuan yang Bebas dan Merdeka Bersama Hot Mamah Dance Club</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Resonating Earth&#8221; Böseblick Ensemble: Sebuah Kritik atas Antroposentrisme</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/09/28/resonating-earth-boseblick-ensemble/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2026 09:09:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Böseblick Ensemble]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10633</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dengan pendekatan environmental listening dan more-than-human-relations, Böseblick Ensemble mengeksplorasi bunyi alam dan material non-manusia sebagai bentuk refleksi kritis terhadap dominasi antroposentris.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/09/28/resonating-earth-boseblick-ensemble/"><em>“Resonating Earth”</em> Böseblick Ensemble: Sebuah Kritik atas Antroposentrisme</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/09/28/resonating-earth-boseblick-ensemble/">&lt;em&gt;&#8220;Resonating Earth&#8221;&lt;/em&gt; Böseblick Ensemble: Sebuah Kritik atas Antroposentrisme</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dari <em>corona</em>, genosida, krisis iklim, degradasi lingkungan, hilangnya biodiversitas, sampai ke kondisi dunia lainnya yang sedang tidak baik-baik saja, Böseblick Ensemble, sebuah kolektif musik elektronik dan multimedia asal Berlin yang dibentuk tahun 2021, membuka ruang pertukaran antara praktik artistik berbasis suara dan teknologi dengan konteks ekologis serta pengetahuan lokal Bandung pada tanggal 20–21 September 2026. Melalui program seni <em>“Resonating Earth” </em>yang diselenggarakan oleh Jendela Ide Indonesia, Dalemwangi Art Space, dan Goethe Institut Bandung, Böseblick mengajak pegiat dan penikmat seni dari universitas dan komunitas kota Bandung untuk terlibat secara langsung bagaimana praktik mendengarkan suara alam, tubuh, bunyi elektronik dan akustik, material temuan, serta improvisasi dapat membentuk ruang dengar bersama. Kegiatan ini juga turut didukung oleh Lamrimnesia, Kalyana Learning Center, Sesar Lembang Kalcer, dan Bandung Art Month.</p>



<p><em>“Resonating Earth”</em> sendiri merupakan residensi singkat dan laboratorium artistik lintas disiplin yang mengeksplorasi bunyi sebagai medium untuk memahami kembali relasi antara manusia, teknologi, lingkungan, dan kehidupan material non-manusia. Dengan pendekatan <em>environmental listening</em> dan <em>more-than-human-relations</em>, eksperimen yang dilakukan para seniman suara Böseblick merupakan kritik terhadap dominasi antroposentris di mana manusia selalu ditempatkan sebagai entitas paling penting dan utama di alam semesta. Padahal, selama ini manusia tidak pernah hidup terpisah dari jaringan ekologis yang menopang kehidupannya.&nbsp; Alih-alih memandang alam sebagai objek yang pasif, dalam proses kreatif, mereka melihat bahwa alam dan segala material non-manusia memiliki suara dan kehidupan yang selalu berdampingan dengan manusia.&nbsp;</p>



<p>Dari pertemuan antara Berlin dan Bandung ini, berbagai perbedaan material, tubuh, pengalaman, serta cara pandang dan mendengar menciptakan ruang untuk menemukan hubungan dan perspektif baru. Ketiga seniman Böseblick: Alessandra Eramo, Kirsten Reese, dan Ariel Orah bereksperimen memadukan instrumen bunyi dan elemen alam melalui praktik individual mereka yang saling terkoneksi. Bagaimana praktik mendengarkan menjadi sebuah metode untuk membangun pengetahuan ekologis; memahami relasi yang kompleks antara manusia dan lingkungan lewat bunyi; teknologi sebagai perangkat yang memperluas sensitivitas manusia terhadap fenomena dan frekuensi; dan praktik seni yang menyatukan kembali kehidupan manusia dan non-manusia adalah serangkaian pijakan dalam eksperimen artistik mereka.</p>



<h2 id="h-body-memory-sound-ecology-ketika-bunyi-alam-menggerakkan-tubuh-dan-ingatan"><strong><em>Body, Memory, Sound &amp; Ecology</em>: Ketika Bunyi Alam Menggerakkan Tubuh dan Ingatan</strong></h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14580400-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10635" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14580400-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14580400-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14580400-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14580400-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14580400-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14580400-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14580400-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14580400-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14580400.jpg 1776w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Lokakarya <em>“Body, Memory, Sound &amp; Ecology” </em>bersama Alessandra Eramo. Sumber foto: tim dokumentasi <em>Resonating Earth</em></figcaption></figure>



<p>Alessandra Eramo dalam lokakaryanya tentang <em>“Body, Memory, Sound &amp; Ecology”</em> menggunakan pendekatan tubuh, imajinasi, bunyi, dan memori untuk memaknai hubungan manusia dengan alam, terutama relasi dengan air dan sungai. Para peserta diajak untuk mengeksplorasi suara dari dalam diri sendiri melalui olah vokal serta mendengarkan dan merasakan suara-suara di sekitar. Sembari mendengarkan, ingatan tentang sungai digali kembali. Ingatan itu bisa berupa kesan terhadap sungai itu sendiri hingga memori yang bersifat personal. Adanya eksperimen ini menunjukkan bahwa suara bukan sekadar bunyi, tetapi ia juga menyimpan kekuatan yang mampu menggerakkan tubuh.&nbsp;</p>



<p>Salah satu kegiatan yang menarik dalam lokakarya<em> </em>ini adalah semacam pertukaran sekaligus refleksi batin yang berlangsung di Curug Dago. Setelah menyelaraskan diri dengan suasana alam di sana, para peserta dibagi ke dalam dua kelompok; yang satu membawa sebuah batu kali sambil berjalan dan mengeluarkan bunyi dari dalam diri mereka, lalu memberikan batu itu kepada kelompok satunya sebelum mereka bertukar posisi. Mereka ibarat sungai yang membawa memori dalam sedimen-sedimen dari satu titik ke titik lain, saling memberi dan menerima dalam jalinan kesalingbergantungan yang tak terpisahkan. Di sini, peserta diajak untuk kembali belajar mendengarkan, memahami, dan menghargai kehadiran diri, alam, dan satu sama lain.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14241600-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10637" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14241600-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14241600-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14241600-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14241600-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14241600-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14241600-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14241600-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14241600-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_14241600.jpg 1776w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Peserta lokakarya <em>“Body, Memory, Sound &amp; Ecology” </em>di Curug Dago. Sumber foto: tim dokumentasi <em>Resonating Earth</em></figcaption></figure>



<p>Dalam presentasinya, suara-suara yang telah dieksplor para peserta kemudian diterjemahkan ke dalam gerakan tubuh, peniruan bunyi (<em>mimetic sounds</em>), serta dituangkan dalam bentuk gambar maupun tulisan ke atas selembar kertas yang sama. Melalui latihan kolaboratif ini, ritme, struktur, beragam karakter, dan identitas individu melebur menjadi satu-kesatuan suara yang harmonis.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_15101100-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10638" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_15101100-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_15101100-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_15101100-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_15101100-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_15101100-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_15101100-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_15101100-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_15101100-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2026_0921_15101100.jpg 1776w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Menerjemahkan suara ke dalam bentuk gambar oleh peserta lokakarya <em>“Body, Memory, Sound &amp; Ecology.”</em> Sumber foto: tim dokumentasi <em>Resonating Earth</em></figcaption></figure>



<h2><strong><em>Soundscape, Field Recording &amp; Sound Archive</em>: Merekam Bentuk Kehidupan Lain yang Luput dari Pandangan Manusia</strong></h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9628-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10639" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9628-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9628-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9628-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9628-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9628-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9628-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9628-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9628-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9628-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Lokakarya <em>“Soundscape, Field Recording &amp; Sound Archive.” </em>Sumber foto: tim dokumentasi <em>Resonating Earth</em><br></figcaption></figure>



<p>Sementara lokakarya Kirsten Reese tentang <em>“Soundscape, Field Recording &amp; Sound Archive”</em>, pendekatannya berakar pada penyelidikan sosio-ekologis, di mana bunyi diposisikan bukan sekadar objek dengar, tetapi jaringan ekosistem non-manusia yang saling terhubung. Ada tiga poin penting dari presentasi lokakarya kedua ini. Pertama, kita diajak untuk mendengarkan suara alam beserta material non-manusia di sekitar melalui rekaman-rekaman sonik yang dilakukan oleh para peserta. Kedua, manusia dengan air punya ikatan yang tidak terpisahkan, mengingatkan bahwa 70% dari alam semesta dan tubuh manusia tersusun oleh elemen air. Ketiga, karya ini menjadi semacam kritik untuk manusia supaya keluar dari perspektif antroposentris, memperluas cara pandang agar lebih menghargai bentuk-bentuk kehidupan lain di luar manusia yang turut menghidupkan ekosistem.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9590-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10640" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9590-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9590-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9590-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9590-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9590-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9590-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9590-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9590-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/DSCF9590-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Kirsten Reese bersama para peserta lokakarya <em>“Soundscape, Field Recording &amp; Sound Archive.”</em> Sumber foto: tim dokumentasi Resonating Earth</figcaption></figure>



<h2><strong><em>Instrument Building, Waste, Social &amp; Climate Issues</em>: Apa Jadinya Ketika Limbah Bisa Bersuara?</strong></h2>



<p>Di penampilan ketiga, Ariel Orah menyoroti dimensi lingkungan dan sosial yang kerap dipinggirkan dalam diskursus keberlanjutan (<em>sustainability</em>). <em>“Instrument Building, Waste, Sosial &amp; Climate Issues”</em> adalah tema yang dibawa dalam lokakaryanya. Ia bersama para peserta bereksperimen membuat serangkaian alat musik baik dari sampah-sampah maupun material temuan yang ada di sekitar.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8214-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10642" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8214-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8214-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8214-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8214-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8214-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8214-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8214-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8214-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8214-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Aneka sampah yang diinstalasikan menjadi alat musik dalam lokakarya <em>“Instrument Building, Waste, Social &amp; Climate Issues.”</em> Sumber foto: tim dokumentasi <em>Resonating Earth</em></figcaption></figure>



<p>Ketika dimainkan, seketika sederet sampah yang telah disusun dan diinstalasikan itu mengeluarkan paduan bunyi yang membentuk sebuah orkestra. Suara-suara bising, dentuman, serta suasana gelap dan liar yang diciptakan melalui pertunjukan mereka tersebut sekilas mengingatkan pada salah satu grup musik eksperimental asal Indonesia, KUNTARI. Mereka punya kemiripan dalam hal mengeksplorasi dan mengadopsi suara-suara alam dan material non-manusia menjadi musik.</p>



<p>Menyenangkan bisa menyaksikan penampilan Böseblick Ensemble yang turut mengikutsertakan peserta lokakarya dalam proses kreatif mereka. Mendengarkan, merasakan, memberi makna, kemudian mengapresiasi setiap suara yang hadir baik dari dalam diri maupun di sekitar adalah sesuatu yang spiritual. Sepanjang peradaban, manusia adalah makhluk yang paling egois di antara makhluk lainnya. Dan eksperimen yang dilakukan ketiga seniman suara Böseblick merupakan refleksi kritis untuk kita berhenti sejenak dan menyadari bahwa manusia selalu beresonansi bersama kekuatan-kekuatan bumi dan kehidupan material lainnya. Selama ini suara atau bunyi yang diciptakan oleh manusia dipandang sebagai sesuatu yang paling nyata. Tapi, apa jadinya jika ternyata suara itu juga muncul dari sampah-sampah?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8229-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10641" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8229-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8229-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8229-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8229-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8229-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8229-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8229-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8229-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/Copy-of-Copy-of-DSCF8229-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Ariel Orah, seniman suara Böseblick Ensemble. Sumber foto: tim dokumentasi <em>Resonating Earth</em></figcaption></figure>



<p>“Kehancuran adalah makna yang diciptakan oleh manusia. Alam tidak mengenal tentang kehancuran, sebab ia punya konsep waktu dan kehidupan yang melampaui sejarah peradaban manusia. Jadi, kalau pun kehancuran itu terjadi, ia adalah kehancuran yang diciptakan oleh manusia itu sendiri,”&nbsp; terang Ariel Orah.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/09/28/resonating-earth-boseblick-ensemble/"><em>“Resonating Earth”</em> Böseblick Ensemble: Sebuah Kritik atas Antroposentrisme</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/09/28/resonating-earth-boseblick-ensemble/">&lt;em&gt;&#8220;Resonating Earth&#8221;&lt;/em&gt; Böseblick Ensemble: Sebuah Kritik atas Antroposentrisme</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Di Balik Validasi Diri &#8211; Membaca Emosi Lewat Psikologi Buddhis</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/09/14/validasi-psikologi-buddhis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2026 11:46:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10583</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bagaimana membedakan validasi emosi yang sehat dan yang berbahaya? Berikut penjelasannya dari sudut pandang psikologi Buddhis.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/validasi-psikologi-buddhis/">Di Balik Validasi Diri – Membaca Emosi Lewat Psikologi Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/validasi-psikologi-buddhis/">Di Balik Validasi Diri &#8211; Membaca Emosi Lewat Psikologi Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kalimat yang terdengar baik, tetapi bisa menjebak</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Perasaanmu valid.&#8221;</em><br><em>&#8220;Kamu berhak merasa begitu.” </em><br><em>&#8220;Nggak apa-apa marah.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Kalimat-kalimat ini telah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari, muncul di sesi terapi, unggahan media sosial, hingga percakapan antar teman. Seringkal kalimat-kalimat tersebut memang berdampak menyembuhkan karena melawan kebiasaan lama yang mengajarkan kita untuk menahan, menyangkal, atau merasa malu atas apa yang dirasakan.</p>



<p>Namun, ada satu celah yang jarang dibahas: validasi dapat disalahpahami sebagai izin untuk “berhenti berpikir lebih jauh”. Celah ini tidak hanya dialami oleh awam, tetapi kadang juga terjadi dalam proses terapi itu sendiri. Pada titik tersebut, psikologi modern sebenarnya sedang menyentuh hal yang telah dipetakan secara sangat detail oleh psikologi Buddhis ribuan tahun sebelum istilah &#8220;validasi&#8221; muncul. Tanpa pemetaan tersebut, validasi rentan bergeser dari alat penyembuhan menjadi alat pembenaran.</p>



<h2 id="h-apa-yang-sebenarnya-divalidasi">Apa yang sebenarnya divalidasi?</h2>



<p>Ini pertanyaan pertama yang sering terlewat: ketika kita mengatakan &#8220;perasaanmu valid,&#8221;, perasaan mana yang dimaksud?</p>



<p>Psikologi Buddhis membedakan dua lapisan yang sering kita anggap sebagai satu paket.</p>



<p>Lapisan pertama adalah sensasi paling dasar: rasa menyenangkan, tidak menyenangkan, atau netral, yang muncul begitu saja saat kita mengalami sesuatu, bahkan sebelum kita sempat berpikir. Sensasi ini murni, otomatis, dan tidak terhindarkan, seperti rasa panas yang tidak menyenangkan saat menyentuh air mendidih. Sebenarnya, tidak ada yang perlu &#8220;divalidasi&#8221; pada lapisan ini karena ia belum menjadi sebuah cerita, melainkan baru sebatas sinyal mentah.</p>



<p>Dalam psikologi Buddhis, sensasi dasar ini disebut <em>vedanā</em>.</p>



<p>Mengapa <em>vedanā </em>ini istimewa? Karena ia selalu ada, tetapi ia sendiri tidak bersifat baik maupun buruk.</p>



<p>Psikologi Buddhis memetakan pikiran dengan cara yang berbeda dari kebiasaan kita: setiap momen kesadaran bukanlah satu benda tunggal, melainkan selalu disertai oleh sejumlah &#8220;unsur&#8221; yang muncul bersamaan, semacam bahan-bahan yang hadir dalam setiap pengalaman. <em>Vedanā </em>adalah salah satu unsur yang selalu hadir tersebut. Tidak ada satu pun momen sadar, sekecil apa pun, yang berlangsung tanpa disertai nuansa senang, tidak enak, atau netral.</p>



<p>Karena selalu hadir dalam seluruh jenis pengalaman, baik saat kita berbuat baik maupun buruk, <em>vedanā </em>tidak membawa muatan etis secara bawaan. Rasa senang yang muncul saat menolong orang lain dengan tulus dan rasa senang saat memuaskan keinginan yang merugikan, keduanya sama-sama berupa sensasi &#8220;senang&#8221;. Namun, nilai etis keduanya jelas berbeda.</p>



<p>Perbedaannya bukan terletak pada <em>vedanā</em>-nya, melainkan pada unsur yang menyertainya saat itu: niat, kesadaran, dan faktor mental lainnya. <em>Vedanā </em>ibarat wadah netral yang &#8220;meminjam&#8221; warna dari isi yang menyertainya.</p>



<p>Hal inilah yang membedakan <em>vedanā </em>dari &#8220;emosi&#8221; sebagaimana lazimnya kita pahami.</p>



<p>“Emosi”, seperti marah, cemas, kecewa, atau benci, bukan lagi sekadar sinyal mentah. Emosi adalah sinyal mentah yang telah diberi label dan cerita di atasnya. Marah bukan sekadar &#8220;rasa tidak enak&#8221;; ia telah memiliki arah, target, serta dorongan untuk menjauh atau menyerang.</p>



<p>Jadi, ketika psikologi modern menyatakan &#8220;marahmu valid,&#8221; yang sedang divalidasi bukanlah sensasi mentah tersebut, melainkan sebuah paket yang jauh lebih kompleks, beberapa langkah setelah sinyal mentahnya muncul.</p>



<p>Mengapa hal ini penting? Karena sebagian besar nasihat untuk &#8220;memvalidasi perasaan&#8221; seharusnya berhenti di lapisan pertama: mengakui bahwa reaksi tersebut manusiawi, bukan aib, dan tidak perlu direpresi. Itu adalah langkah yang benar dan sehat.</p>



<p>Masalah muncul ketika validasi diam-diam merembet ke lapisan kedua: seolah-olah karena sinyal mentahnya sah, cerita dan dorongan tindakan yang menyertainya otomatis ikut sah.</p>



<p>Kedua hal tersebut tidak sama, dan psikologi Buddhis sangat tegas soal ini. Rasa tidak nyaman yang muncul begitu saja bersifat netral secara moral, tetapi kebencian yang tumbuh di atasnya adalah persoalan lain.</p>



<p><em>Baca lebih lanjut tentang &#8220;anatomi&#8221; pikiran dalam psikologi Buddhis <a href="https://play.google.com/store/books/details/Citta_Cetasika_Mengenal_Batin_dari_Kacamata_Buddhi?id=3-ejEAAAQBAJ&amp;hl=en-US&amp;pli=1">di sini</a>.</em></p>



<h2>Marah boleh diakui, tetapi bukan berarti &#8220;baik&#8221;</h2>



<p>Poin ini sering membingungkan, sehingga perlu dipilah secara perlahan.</p>



<p>Dalam psikologi Buddhis, kebencian, yaitu dorongan untuk menjauhkan, menyerang, atau menyakiti yang tumbuh dari rasa tidak nyaman, selalu dianggap sebagai racun batin, tanpa pengecualian. Tidak ada bentuk kebencian yang &#8220;sehat&#8221; atau &#8220;netral.&#8221; Oleh karena itu, jika &#8220;validasi marah&#8221; diartikan sebagai &#8220;marah itu baik dan sah untuk dituruti,&#8221; pemahaman tersebut tidak sejalan dengan psikologi Buddhis.</p>



<p>Namun, ini bukan berarti validasi dalam psikologi modern otomatis keliru. Validasi klinis jarang bermaksud mengklaim bahwa &#8220;kemarahan itu baik.&#8221;. Validasi lebih sering bermakna &#8220;wajar kamu merasa begini mengingat apa yang kamu alami.&#8221;. Fungsi utamanya adalah menolak represi dan penyangkalan, bukan memberikan izin untuk bertindak atas dasar amarah tersebut.</p>



<p>Mengakui bahwa kebencian sedang muncul tanpa menghakimi diri sendiri (&#8220;aku jahat karena marah&#8221;) justru merupakan langkah yang sehat.</p>



<p>Masalah baru timbul ketika pengakuan tersebut melompat menjadi pembenaran untuk menuruti dan membesarkannya.</p>



<p>Dengan demikian, ada dua sikap yang perlu dibedakan:</p>



<ul><li><strong>Mengakui kehadiran kemarahan tanpa menyangkalnya: </strong>sehat dan memang diperlukan.</li><li><strong>Mengesahkan kemarahan sebagai sesuatu yang layak dituruti </strong>(&#8220;Aku berhak marah, jadi wajar aku meledak&#8221;): bermasalah, karena sikap ini bukan lagi sekadar mengakui, melainkan telah memberi restu pada racun batin.</li></ul>



<p><em>Baca juga: <a href="https://lamrimnesia.org/2026/08/07/welas-asih-mengasihani-diri/">Apakah Aku Sedang Mengasihi atau Mengasihani Diriku?</a></em></p>



<h2>Bukan soal ada-tidaknya, melainkan soal seberapa besar</h2>



<p>Satu hal lagi yang sering disederhanakan secara berlebihan adalah anggapan seolah-olah ketidaksukaan terbagi rapi menjadi dua jenis: yang &#8220;boleh&#8221; (misalnya sekedar lelah atau tidak cocok) dan yang &#8220;tidak boleh&#8221; (misalnya benci atau ingin menyakiti). Padahal, kenyataannya lebih menyerupai sebuah spektrum.</p>



<p>Ketidaksukaan ringan (seperti lelah membela seseorang atau tidak <em>sreg </em>dengan caranya) dan kebencian penuh yang ingin menyakiti sebenarnya berasal dari akar yang sama: dorongan untuk menjauh dari sesuatu yang terasa tidak nyaman. Yang satu jauh lebih halus daripada yang lain, tetapi &#8220;lebih halus&#8221; tidak berarti &#8220;tidak ada sama sekali.&#8221;</p>



<p>Hal ini penting diakui secara jujur, bukan agar kita bersikap keras pada diri sendiri, melainkan agar kita tidak terburu-buru melabeli ketidaknyamanan kecil sebagai &#8220;bukan kebencian,&#8221;, padahal bisa jadi itu adalah bibit yang sama yang belum membesar.</p>



<p>Titik ideal yang dituju oleh psikologi Buddhis adalah keseimbangan batin (<em>upeksha</em>): kondisi yang mampu melihat ketidakcocokan secara jernih tanpa dorongan untuk menjauhkan atau menyakiti. Namun, hal ini perlu dipahami sebagai arah latihan, bukan kondisi yang bisa langsung diasumsikan sudah kita miliki hari ini.</p>



<p>Bagi kebanyakan orang yang masih berlatih, ketidakcocokan yang dirasakan hampir selalu menyisakan sedikit &#8220;warna&#8221; ketidaksukaan. Hal tersebut bukanlah sebuah kegagalan, melainkan titik awal yang jujur untuk terus dilatih.</p>



<p>Di mana pun posisi kita dalam spektrum tersebut, prinsip utamanya tetap sama: baik membiarkan kekesalan membesar tanpa kendali maupun melakukan represi (berpura-pura tidak ada ketidaknyamanan dengan terus mencari pembenaran bagi orang lain demi menghindari kekesalan sendiri) adalah dua kekeliruan yang setara beratnya. Keduanya hanya berbeda arah: satu membesarkan emosi, satu lagi menutupinya.</p>



<h2>Dua cara keliru yang sama-sama merugikan</h2>



<p>Di sinilah letak jebakannya, yang hadir dalam dua bentuk berlawanan:</p>



<p>Wajah pertama: represi yang menyamar jadi “pemahaman”. Bayangkan seseorang yang selalu, secara otomatis, punya alasan untuk membela siapa pun yang menyakitinya. <em>“Dia pasti nggak bermaksud begitu.”; “Mungkin dia lagi capek.”. </em>Kalimat ini terdengar bijaksana, bahkan terdengar seperti sebuah proses <em>reappraisal </em>(menilai ulang sebuah situasi dengan cara pandang yang lebih luas), teknik terapi yang memang terbukti efektif: mengganti cara pandang yang keliru dengan cara pandang yang lebih akurat.</p>



<p>Namun, ada tes sederhana untuk membedakan <em>reappraisal </em>asli dari represi yang menyamar, yaitu <strong>urutan waktunya</strong>:</p>



<ul><li><strong><em>Reappraisal </em>yang sehat </strong>terjadi setelah kita mengakui reaksi jujur terlebih dahulu: <em>&#8220;Aku kesal, lalu aku berpikir ulang: apakah benar dia bermaksud begitu?&#8221;</em></li><li><strong>Represi </strong>terjadi ketika alasan pembenaran muncul sebelum kita sempat merasakan apa pun. Akibatnya, di kemudian hari kita bahkan tidak bisa menunjuk dengan pasti apa yang membuat kita lelah atau enggan menghadapi sesuatu. Datanya telah &#8220;diedit&#8221; sebelum sempat diproses.</li></ul>



<p>Ini bukan sekadar hipotestis, melainkan pola yang sangat umum. Seseorang bisa saja terus-menerus kehilangan semangat bekerja tanpa tahu penyebabnya. Ketika ditelusuri, ternyata setiap ada momen yang mengganggu, pikirannya secara refleks langsung membenarkan orang lain tanpa memberi ruang bagi dirinya untuk mengakui: <em>&#8220;Aku tidak suka ini. Aku lelah.&#8221; </em>Ironisnya, kebiasaan ini sering dikira sebagai tanda kedewasaan spiritual atau psikologis, padahal ia lebih dekat pada penghindaran yang berkedok pengertian.</p>



<p>Wajah kedua: validasi yang membiarkan racun tumbuh. Bentuk kedua ini lebih jarang dibahas, tetapi sama berbahayanya: menganggap bahwa karena perasaan itu “valid”, maka membiarkannya membesar, bahkan menurutinya menjadi tindakan, juga otomatis dibenarkan. “Aku berhak marah, jadi wajar aku meledak.”</p>



<p>Di sinilah validasi berhenti menjadi alat penyembuhan dan berubah menjadi izin bagi kebencian untuk tumbuh tanpa kendali. Dari rasa tidak nyaman yang sekilas, ia berubah menjadi cerita yang kita ulang-ulang, menjadi kebencian yang menetap, menjadi tindakan yang menyakiti.</p>



<h2>Titik temu yang sehat: mengakui tanpa membesarkan</h2>



<p>Jalan tengah yang ditawarkan psikologi Buddhis sebenarnya sederhana untuk dipahami, meski membutuhkan latihan untuk dijalani: <strong>akui rasa tidak nyamanmu sejujur-jujurnya, sekecil apa pun, sebelum terburu-buru dibenarkan atau dialihkan. Namun, begitu diakui, jangan biarkan ia otomatis membesar menjadi kebencian atau tindakan yang menyakiti.</strong></p>



<p>Ini adalah dua langkah berbeda yang keduanya harus ada:</p>



<ul><li><strong>Beri ruang terlebih dahulu: </strong>sebelum mencari alasan untuk membenarkan orang lain dan sebelum terburu-buru memaksa berpikiran positif, berhenti sejenak dan akui apa yang sebenarnya dirasakan. Ini bukan bentuk <em>self-indulgence </em>(memanjakan diri), melainkan pengumpulan data yang jujur yang dibutuhkan agar langkah berikutnya menjadi efektif.</li><li><strong>Baru pilih responnya: </strong>setelah diakui, barulah kita memiliki ruang untuk memilih: apakah reaksi awal ini akurat atau berlebihan? Apakah perlu disampaikan, atau cukup dilepaskan? Di sinilah <em>genuine reappraisal </em>(penilaian ulang yang jujur), bukan yang menyamar, bisa benar-benar bekerja.</li></ul>



<p>Ketidaksukaan yang jujur terhadap sesuatu, keinginan untuk menetapkan batasan (<em>boundaries</em>), serta rasa lelah karena terus-menerus membela orang lain, semuanya boleh diakui tanpa rasa bersalah, sebagaimana yang diajarkan di dalam psikologi modern. Perspektif Buddhis tidak menolak itu, namun mengajari kita untuk menganalisisa lebih jauh. Ia mungkin masih mengandung sedikit warna yang sama dengan kebencian, hanya jauh lebih halus dan belum sampai pada dorongan menyakiti atau menjauhkan secara aktif.</p>



<p>Bedanya ada pada soal seberapa besar ia dibiarkan tumbuh, serta apakah kita jujur mengakuinya atau justru terburu-buru menutupinya.</p>



<h2>Validasi sebagai bentuk menerima karma yang sudah matang</h2>



<p>Ada satu lapisan yang lebih dalam, yang mungkin menjadi jawaban paling mendasar atas pertanyaan: &#8220;apa sebenarnya yang perlu divalidasi?&#8221;</p>



<p>Psikologi Buddhis memandang bahwa hasil dari tindakan masa lalu (<em>karma</em>) justru matang dan dirasakan tepat di titik <em>vedanā </em>ini. Rasa senang, tidak enak, atau netral yang muncul begitu saja adalah buah yang sudah matang, bukan sesuatu yang masih bisa dinegosiasikan atau dihindari ketika ia tiba.</p>



<p><em>Baca lebih lanjut tentang hukum karma</em> <em><a href="https://books.google.co.id/books/about/Karma_Akibatnya.html?id=OZiWDwAAQBAJ&amp;redir_esc=y">di sini.</a></em></p>



<p>Dengan demikian, &#8220;menerima&#8221; atau &#8220;memvalidasi&#8221; dalam pengertian yang paling dalam bukanlah berarti sekaedar setuju dengan cerita atau makna yang kita tempelkan padanya. Menerima berarti mengakui bahwa sensasi tersebut, apa pun rasanya, memang sedang terjadi dan telah &#8220;selesai diputuskan&#8221; sebelum kita sempat bereaksi.</p>



<p>Di sinilah letak pemaknaan paling matang terhadap konsep penerimaan (<em>acceptance</em>) yang sering dibicarakan dalam psikologi modern: bisakah kita menerima ketidaknyamanan yang menghampiri kita, sebagai buah yang memang sedang matang saat itu, tanpa terburu-buru menambahkan cerita, penolakan, atau kebencian di atasnya?</p>



<p>Menambahkan lapisan penolakan ibarat memanah diri sendiri untuk kedua kalinya. Rasa sakit yang pertama tidak terhindarkan, tetapi rasa sakit kedua yang kita tambahkan lewat penolakan dan kebencian sepenuhnya bersifat opsional. Jika kita mampu menerima buah yang matang itu apa adanya tanpa panah kedua, kita dapat melangkah maju secara &#8220;lebih bersih&#8221; karena tidak ada residu baru yang kita tambahkan ke dalam prosesnya.</p>



<h2>Dua teknik yang saling melengkapi</h2>



<p>Penting untuk ditegaskan bahwa seluruh penjelasan ini bukan berarti teknik-teknik regulasi emosi dalam psikologi modern itu keliru. Alur regulasi emosi yang dikenal sebagai <em>emotion timeline</em>, yaitu: <strong>Kejadian → Penilaian → Emosi → Respons</strong>, sebenarnya sejalan dengan pemetaan psikologi Buddhis, hanya saja menggunakan istilah yang berbeda: kejadian bertemu indra, diberi label dan makna oleh pikiran, muncul nuansa rasa (<em>vedanā</em>), baru kemudian disusul dorongan bertindak.</p>



<p>Teknik menilai ulang (<em>reappraisal</em>) yang diajarkan dalam berbagai program regulasi emosi, termasuk program <em>Cognitively-Based Compassion Training </em>(CBCT) yang dikembangkan di Emory University, bekerja tepat pada titik &#8220;penilaian&#8221;. Teknik ini mengganti cara pandang yang sempit atau keliru dengan perspektif yang lebih luas dan akurat sebelum emosinya membesar. Ini adalah teknik yang valid dan terbukti efektif, selama ia benar-benar melakukan penilaian ulang, bukan bentuk penghindaran sebelum sempat merasakan.</p>



<p>Di sisi lain, ada pula teknik yang bekerja pada titik berbeda: bukan dengan mengganti isi penilaiannya, melainkan dengan melatih jeda tepat setelah sensasi mentah (<em>vedanā</em>) muncul, apa pun isi penilaiannya, agar tidak otomatis meluncur menjadi cerita dan kebencian yang membesar.</p>



<p>Kedua teknik ini tidak saling meniadakan, melainkan bekerja pada titik yang berbeda dalam alur yang sama. Yang terpenting bagi siapa pun yang mempelajarinya adalah menyadari pada momen mana ia melakukan &#8220;penilaian ulang&#8221;: apakah itu penilaian ulang yang jujur, ataukah cara halus untuk melompati tahap mengakui perasaan yang sebenarnya.</p>



<h2>Pentingnya kejelasan di ruang terapi dan kelas kontemplatif</h2>



<p>Ketegangan sering kali muncul ketika seseorang merasa nasihat terapisnya (<em>&#8220;Kamu berhak tidak suka, tidak perlu membela dia terus&#8221;</em>) bertentangan dengan nilai yang dipelajari di kelas meditasi atau spiritual (<em>&#8220;Jangan berpikir buruk tentang orang lain&#8221;</em>). Padahal, keduanya bukanlah pertentangan sungguhan.</p>



<p>Ketegangan tersebut terjadi karena dua istilah yang tampak mirip di permukaan: &#8220;berpikir buruk&#8221; dan &#8220;memiliki batasan yang jujur&#8221; sebenarnya berada pada tingkatan yang berbeda. Yang satu berkaitan dengan kejujuran pada diri sendiri, sedangkan yang lain berkaitan dengan membiarkan kebencian menetap dan tumbuh.</p>



<p>Tanpa kejelasan ini, seseorang dapat terjebak memilih satu dari dua kekeliruan yang sama-sama merugikan: menjadi pribadi yang menekan seluruh ketidaknyamanannya demi terlihat &#8220;baik&#8221; dan &#8220;tidak berpikir buruk&#8221;, atau menjadi pribadi yang membenarkan setiap ledakan emosinya atas nama &#8220;validasi diri.&#8221;</p>



<p>Jika dibaca berdampingan, psikologi modern dan psikologi Buddhis justru saling melengkapi celah masing-masing. Psikologi modern sangat baik dalam memberikan izin untuk merasakan, sehingga kita bisa terhindar dari apa yang sering disebut sebagai <em>spiritual bypass</em>, yaitu represi yang menyamar jadi kedewasaan spiritual, seperti yang sudah kita lihat tadi. Di sisi lain, psikologi Buddhis sangat presisi dalam memetakan kapan perasaan itu perlu dihentikan sebelum menjadi racun, hal yang jarang ditegaskan setajam ini dalam konsep validasi ala psikologi modern.</p>



<p>Menggunakan salah satu tanpa yang lain dapat mengubah validasi dari alat pemulihan menjadi jalan pintas untuk menghindar dari diri sendiri, atau sebaliknya, menjadi pembenaran untuk melukai orang lain.</p>



<p>Penulis: Johnson Khuo</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/validasi-psikologi-buddhis/">Di Balik Validasi Diri – Membaca Emosi Lewat Psikologi Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/validasi-psikologi-buddhis/">Di Balik Validasi Diri &#8211; Membaca Emosi Lewat Psikologi Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Pelita di Kalantara&#8221;: Mentransformasikan Luka Menjadi Kekuatan di Pesta Literasi NDBF 7.0</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/09/14/ndbf-7-0-pelita-di-kalantara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2026 10:22:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[ndbf 7.0]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10581</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di tengah krisis global dan ketidakpastian zaman, NDBF 7.0 merangkul berbagai komunitas dan seniman akar rumput Bandung guna merawat harapan dan memperkuat solidaritas.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/ndbf-7-0-pelita-di-kalantara/">“Pelita di Kalantara”: Mentransformasikan Luka Menjadi Kekuatan di Pesta Literasi NDBF 7.0</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/ndbf-7-0-pelita-di-kalantara/">&#8220;Pelita di Kalantara&#8221;: Mentransformasikan Luka Menjadi Kekuatan di Pesta Literasi NDBF 7.0</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Kita sudah terbiasa akan luka dan kalah. Yang kini bisa kita pikirkan dan lakukan adalah bagaimana mentransformasikan luka-luka kolektif itu menjadi kekuatan dan cahaya bagi sekitar untuk melanjutkan perjuangan.” -Cholil Mahmud, Efek Rumah Kaca</p>



<p>Di tahun ketujuhnya, pesta literasi Nusantara Dharma Book Festival yang diinisiasi oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (Lamrimnesia) untuk pertama kalinya diselenggarakan di Kota Bandung. Pesta literasi ini berlangsung di Nara Park pada 12-16 Agustus 2026.</p>



<p>Kita tengah berada di ambang kehancuran—konflik geopolitik, krisis kemanusiaan, krisis pangan, dan ketidakpastian global. Berangkat dari keresahan itu, NDBF 7.0 hadir mengusung tema “Pelita di Kalantara: Menjadi Cahaya di Zaman Peralihan”. “Kalantara” sendiri merupakan kata rekaan, tersusun dari “Kala” yang berarti waktu dan “antara” yang berarti ruang. Di kalantara, siklus zaman lama sudah mendekati akhir, sementara zaman baru belum sepenuhnya lahir.&nbsp;</p>



<p>Untuk membangun kembali solidaritas dan minat literasi masyarakat di zaman peralihan, NDBF 7.0 merangkul berbagai komunitas literasi dan kemanusiaan di wilayah Bandung, seniman, serta akademisi untuk berbagi pengetahuan seputar literasi, aktivisme sosial, dan seni. Rangkaian acara pesta literasi ini diisi dengan beragam acara mulai dari bazar buku, bedah buku, <em>talkshow</em>, <em>workshop</em>, hingga penampilan seni.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10593" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-1200x801.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/6e087380-60cd-4b1b-a788-25d2e3f18fbe-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Bazar buku NDBF 7.0 yang berlangsung dari tanggal 12-16 Agustus 2026.</em></figcaption></figure>



<h1 id="h-meramu-pangan-lokal-membaca-sejarah-dan-memerdekakan-tubuh"><strong>Meramu Pangan Lokal, Membaca Sejarah, dan Memerdekakan Tubuh</strong></h1>



<p>“Ketahanan pangan bukan hanya tentang bertahan secara fisik, tetapi juga spiritualitas. Spiritualitas mewujud dalam welas asih, empati. Di kalantara, kita menjadi menghadapi segala ketidakpastian dengan solidaritas.” –Fajar, <em>Founder</em> Lab Pangan</p>



<p>Pesta literasi pada 15 Agustus dibuka dengan <em>workshop</em> Lab Pangan dan Gelanggang Olah Rasa bertajuk “Dapur Akhir Zaman: Hadapi Apokalips dengan Senyuman”. Di sini, peserta diajak berpikir kreatif bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga cara menanam dan meramban bahan pangan liar yang ada di sekitar untuk ketahanan pangan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-1024x682.jpeg" alt="" class="wp-image-10594" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-1024x682.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-768x512.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-1536x1023.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-1200x800.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e-600x400.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0c8f2f80-c2b3-4a96-934b-f9e0ca038c7e.jpeg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Workshop “Dapur Akhir Zaman: Hadapi Apokalips dengan Senyuman” bersama Lab Pangan di NDBF 7.0.</em></figcaption></figure>



<p>Lab Pangan berdiri tahun 2020 di masa Covid-19. Sang <em>founder</em>, Fajar, menuturkan bahwa Lab Pangan bermula dari obrolannya bersama kawannya yang merasa kala itu tak berdaya dan tak bisa melakukan banyak aktivitas selain memasak. Kecintaan Fajar pada dunia memasak lantas menggerakkannya untuk menggalang donasi, memasak, dan mengantarkan makanan langsung ke rumah kawan-kawan yang sedang menjalani isolasi mandiri. Menariknya, nama Lab Pangan sebenarnya hanyalah sebuah plesetan jenaka dari kata “lapangan”—mengingat meja makan pertama mereka dulunya adalah meja tenis meja yang diletakkan persis di sebuah lapangan. Lokasi studio dapur ini terletak di samping Tahura (Taman Hutan Raya), Bandung.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-1024x682.jpeg" alt="" class="wp-image-10595" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-1024x682.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-768x512.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-1536x1024.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-2048x1365.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-1200x800.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0eefcb07-a382-4ec7-a47f-6c435a312d81-600x400.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Fajar, founder Lab Pangan.</figcaption></figure>



<p>Dalam <em>workshop</em> bertajuk “Dapur Akhir Zaman” di NDBF 7.0, Lab Pangan berbagi pengetahuan mengenai berbagai bahan pangan liar, cara meramban, dan resep mengolah bumbu yang tahan lama. Peserta diajak bereksperimen langsung meramu dan mencicipi asinan <em>apocalypse </em>“Segar di Saat Genting”, urap sebagai menu makanan besar yang bahan utamanya berasal dari daun pakis dan jantung pisang, dipadukan dengan kacang hijau sebagai sumber tenaga. Selain itu, berbagai resep lainnya juga diberikan seperti cara membuat cuka dari batang cabai, sambal terasi bubuk, dan <em>basa genep </em>(bumbu dasar) kering.</p>



<p>Diskusi seputar ketahanan pangan tersebut berlanjut ke sesi berikutnya, Ngerujak “Ngerumpi Bijak”: Gotong Royong di Zaman Peralihan” bagian I yang mengupas kedaulatan pangan dari perspektif masyarakat adat dan akademisi. Di awal, seluruh peserta diajak untuk bersama-sama membaca artikel berjudul “Di Bawah Pohon Sukun” karya jurnalis Kompas sekaligus penulis buku “Masyarakat Adat dan Ketahanan Pangan”, Ahmad Arif. Sesi diskusi ini juga menghadirkan Lab Pangan, Wahu Waste Hub, serta Kang Triyana dari Kampung Adat Cireundeu.</p>



<p>Dalam perspektif masyarakat adat, Kampung Adat Cireundeu, misalnya, punya pengetahuan dari leluhur yang hingga kini tetap lestari mengenai ketahanan pangan. Mereka bisa mengubah tanaman beracun menjadi obat, seperti yang terdapat dalam singkong, serta tidak menjadikan nasi sebagai makanan pokok.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-1024x682.jpeg" alt="" class="wp-image-10596" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-1024x682.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-768x512.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-1536x1024.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-2048x1365.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-1200x800.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/cc692430-9b4a-4b05-b525-f8c4ea0127d3-600x400.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Kang Triyana Santika, pemandu wisata Dewi Tapa Kampung Adat Cireundeu.</em></figcaption></figure>



<p>Ahmad Arif memaparkan bahwa ketergantungan kita pada beras adalah warisan kolonial untuk mendegradasi pangan lokal seperti singkong, talas, dan sukun sebagai makanan kelas rendah; sebuah fenomena yang disebut gastrokolonialisme. Menghadapi ancaman krisis pangan di masa depan, dekolonialisasi pola makan dan menjaga keseimbangan alam menjadi kunci utama. Jika kita menjaga alam, maka alam pun akan menjaga kita.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-1024x682.jpeg" alt="" class="wp-image-10597" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-1024x682.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-768x512.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-1536x1024.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-2048x1365.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-1200x800.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/89e108f3-a923-4c5e-92fc-b7ce4ea1f9e4-600x400.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Ahmad Arif, Jurnalis Kompas dan Penulis Buku “Masyarakat Adat &amp; Kedaulatan Pangan&#8221;.</em></figcaption></figure>



<p>Sesi selanjutnya beralih pada bedah buku “Indonesia di Mata India” bersama Guru Besar ITB, Iwan Pranoto, dan Irfan Pradana Putra dari Komunitas Aleut. Diskusi ini menyoroti lawatan Rabindranath Tagore ke Hindia-Belanda dan pertemuannya secara diam-diam dengan Soekarno. Iwan menekankan bahwa Tagore menolak gagasan India Raya yang menempatkan Indonesia sebagai “adik India” yang inferior. Sebaliknya, Tagore mengibaratkan Indonesia sebagai pohon beringin yang tumbuh besar dari benih India dengan karakter sendiri.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-1024x684.jpeg" alt="" class="wp-image-10598" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-1024x684.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-768x513.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-1536x1025.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-1200x801.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0-600x401.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/11c3f2ec-722c-4082-b50c-4e6163c40ec0.jpeg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Bedah buku “Indonesia di Mata India” bersama Iwan Pranoto dan Irfan Pradana dari Komunitas Aleut di NDBF 7.0.</em></figcaption></figure>



<p>Setelah itu, ada <em>workshop</em> Gerak Tari bersama Hot Mamah Dance Club. Dibentuk tiga tahun lalu dengan latar belakang anggota yang beragam, kelompok ini hadir untuk mendobrak konstruksi sosial yang menuntut perempuan untuk selalu tampil sempurna. Kegiatan diawali dengan diskusi yang dipantik oleh gagasan dari buku berjudul “Bebas dari Ketakutan”. Dalam keseharian, tanpa sadar tubuh kerap terbelenggu oleh aturan-aturan sosial, sementara ada banyak kualitas welas asih dalam diri yang tidak digunakan. Seperti Arya Tara yang merupakan representasi welas asih dan keberanian, Hot Mamah Dance Club menjadi wujud nyata bagi kualitas tersebut; akan selalu ada teman yang bisa memberikan pengetahuan dan tidak lagi peduli akan kesempurnaan, apalagi sampai takut karena tidak bisa mencapainya.</p>



<p>Sementara sesi gerak tari berlangsung, para peserta diajak bergerak bersama untuk memerdekakan tubuh dan menemukan kembali cahaya kekuatan kolektif bahwa sendirian kita rapuh, tetapi bersama-sama kita menjadi kuat.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10599" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-1200x801.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/67e797e3-fef6-4bb6-bf8f-be8b2c96dbcd-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Workshop Gerak Tari bersama Hot Mamah Dance Club di acara NDBF 7.0.</em></figcaption></figure>



<p>Di malam hari, acara diisi dengan <em>workshop</em> “Jala Suara: Eksperimen Meditasi Suara Berbasis Improvisasi dan Partisipatif” bersama Monica Hapsari &amp; Lavenir Choir. “Jala Suara” ada atas pengamatan sang seniman bahwa tidak semua individu punya keberanian yang sama dalam “bersuara” dan suara-suara yang terpendam itu akan menjadi “sumbatan” yang berpengaruh pada fisik dan mental.&nbsp;</p>



<p><em>Workshop</em> ini merupakan sebuah eksperimen jalinan meditasi suara partisipatif yang menyatukan beragam suara individu melalui olah vokal sederhana, repetitif, dan mengutamakan latihan konsentrasi, bukan berdasarkan keahlian teknik bernyanyi. Berlangsung selama 2 jam, peserta diajak mengambil bagian dalam sebuah komposisi melalui pola napas ritmik sederhana, harmonisasi suara, dan tautan adu rasa. Berbagai suara yang bertemu menjadi satu kolektif itu bertujuan untuk membangkitkan kesadaran bahwa setiap suara adalah esensial dan berarti.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-1024x684.jpeg" alt="" class="wp-image-10600" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-1024x684.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-768x513.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-1536x1025.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-2048x1367.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-1200x801.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/5a40b4f3-fe2c-438e-a155-7cdd976d984d-1-600x401.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Workshop Jala Suara bersama Monica Hapsari &amp; Lavenir Choir.</em></figcaption></figure>



<p>Kemeriahan acara puncak NDBF 7.0 malam pertama ditutup dengan pertunjukan tradisi Reak oleh<em> Bandung Thimoer Art of Reak</em>. Berdiri pada tahun 2022, komunitas ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan melestarikan warisan leluhur, yakni Reak, tanpa kehilangan akar tradisinya. Seni tradisi yang terancam punah tersebut sampai kini masih bisa ditemukan di wilayah Bandung Timur. NDBF 7.0 menghadirkan Reak sebagai bentuk penghormatan akan nilai-nilai tradisi leluhur dan para seniman akar rumput Reak yang terus berupaya melestarikannya.&nbsp;</p>



<p>Hidup di kalantara, Reak menjadi salah satu pengingat manusia untuk kembali kepada tanah dan bumi yang dipijak, kepada nilai-nilai kemanusiaan yang kian hilang ditelan zaman.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10601" width="780" height="521" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-1200x801.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/2b2a3241-9844-4f8f-ae04-9d162f9ba053-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 780px) 100vw, 780px" /><figcaption><em>Penampilan seni tradisi Reak oleh Bandung Thimoer Art of Reak.</em></figcaption></figure>



<h1><strong>Dari Ruang Sunyi, Kedukaan, hingga Jaringan Solidaritas Warga</strong></h1>



<p>Hari kedua dibuka dengan SACCA (Sahabat Baca), yaitu kegiatan baca senyap bersama. Kali ini, para peserta diajak membaca bersama komunitas Baca di Bandung yang rutin mengadakan kegiatan baca bersama di tempat umum di kota Bandung.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-1024x684.jpeg" alt="" class="wp-image-10602" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-1024x684.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-768x513.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-1536x1025.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-2048x1367.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-1200x801.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/738e0efd-68cc-4b98-acd0-040eeea771a6-600x401.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Silent reading bersama komunitas Baca di Bandung.</em></figcaption></figure>



<p>Acara berlanjut dengan bedah buku <em>“Storied Companions”</em> bersama Yulita Anggelia selaku psikolog dan Mira, profesional dan <em>caregiver </em>yang memiliki pengalaman langsung mendampingi suaminya yang berjuang melawan kanker hati. Dari sudut pandang psikologi, Yulita memaparkan bahwa kedukaan adalah proses bertahap yang memerlukan ruang untuk dirasakan, bukan ditekan. Di tengah rasa ketidakberdayaan, harapan adalah lampu yang harus dinyalakan agar individu bisa beradaptasi dan terus bergerak maju.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-1024x684.jpeg" alt="" class="wp-image-10603" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-1024x684.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-768x513.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-1536x1025.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-2048x1367.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-1200x801.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/10bf55eb-4311-4006-b995-fa0e3c80c844-600x401.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Bedah buku “Storied Companions” di acara NDBF 7.0.</em></figcaption></figure>



<p>Berikutnya ada talkshow “Dari Buku Menjadi Bunyi: ‘Matilah Kau Mati’ &amp; Seni Menyalakan Cahaya di Zaman Peralihan”, yang menghadirkan Cholil Mahmud, Knogg, dan Monica Hapsari. Diskusi tersebut fokus pada proses kreatif penggarapan karya sastra yang diterjemahkan menjadi musik seperti “Matilah Kau Mati” oleh Efek Rumah Kaca, <em>soundtrack</em> film yang diadaptasi dari novel Leila S. Chudori berjudul “Laut Bercerita”. Cholil, bersama putranya Angan Senja, mengangkat narasi penculikan aktivis 1998 dalam novel Leila Chudori menjadi komposisi musik. Lagu ini menjadi refleksi atas luka dan penantian yang ditransformasikan menjadi kekuatan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-1024x684.jpeg" alt="" class="wp-image-10604" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-1024x684.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-768x513.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-1536x1025.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-2048x1367.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-1200x801.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93918af2-ce2e-4ed7-8afa-35bd182c6e5d-600x401.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Talkshow “Dari Buku Menjadi Bunyi: “Matilah Kau Mati” &amp; Seni Menyalakan Cahaya di Zaman Peralihan”.</em></figcaption></figure>



<p>Sesi sore menghadirkan <em>workshop</em> “Meditation in Motion” yang dipandu oleh Marintan Sirait. Marintan adalah seorang seniman performans dan perupa yang artistiknya berfokus pada relasi tubuh, ruang, alam, dan kesadaran melalui pendekatan somatik.&nbsp;</p>



<p>Di tengah bisingnya zaman, manusia kerap terasing dari raga dan lingkungan sekitar. Berpijak dari buku “Latihan Batin Laksana Sinar Mentari” karya Namkha Pel yang membahas praktik latihan welas asih warisan Nusantara, <em>workshop </em>ini mengajak peserta untuk kembali terhubung dengan napas, tanah, diri sendiri, serta menumbuhkan keberanian untuk berwelas asih.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10605" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-1200x801.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/7a4e619c-11f1-4b0f-8af1-43518cc3d572-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Workshop “Meditation in Motion” bersama Marintan Sirait.</em></figcaption></figure>



<p>Masih serangkai, sesi tersebut dilanjutkan dengan <em>“Meditative Tea Sharing” </em>oleh SoulFree Herb Tea. Kegiatan ini diisi dengan berbagi ilmu tentang teh dari tanaman herbal untuk membangkitkan kejernihan pikiran, energi, dan meregulasi stres. Karena kandungan dari bahan alami yang baik untuk keseimbangan sistem saraf, aneka produk teh yang diramu SoulFree Herb Tea bisa dikonsumsi sesuai kebutuhan, seperti meditasi, bekerja, pun ketika ingin bersantai bersama teman. Setelah bincang-bincang tentang teh, momen kontemplatif tersebut ditutup dengan meditasi singkat bersama seluruh peserta.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-1024x684.jpeg" alt="" class="wp-image-10606" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-1024x684.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-768x513.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-1536x1025.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-2048x1367.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-1200x801.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/0069ef90-6bf4-4c18-8a8b-30f36a66e0b5-600x401.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>“Meditative Tea Sharing” oleh SoulFree Herb Tea.</em></figcaption></figure>



<p>NDBF malam hari kembali mengadakan <em>talkshow</em> Ngerujak “Ngerumpi Bijak”: Gotong Royong di Zaman Peralihan bagian II yang melibatkan BandungBergerak, Growing Sisters, Aksara Rembaka, dan Wilwatikta Foundation. Kegiatan ini merupakan sesi bertukar wawasan antarkomunitas dalam menghadapi krisis global.</p>



<p>Mengamati isu masifnya pembredelan berita, kekerasan HAM, hingga akses pendidikan yang tidak merata, BandungBergerak hadir sebagai media alternatif untuk mewadahi jurnalisme warga yang dipinggirkan. Setiap bulannya, BandungBergerak mengadakan “Kelas Liar” bagi warga dari latar belakang apapun untuk bergabung dalam bedah diskusi menyoal krisis-krisis yang tengah terjadi saat ini. Lahir dari keresahan akan sirkulasi relasi antara lingkungan akademik dan komunitas akar rumput yang tidak terhubung, program tersebut diharapkan dapat menjadi penyambung banyak pihak untuk bisa bersuara, bergerak, dan berbarengan memikirkan cara-cara untuk bertahan di tengah ketidakwarasan rezim dan dunia saat ini.</p>



<p>“Kami tidak ingin berhenti pada sekadar teks berita. Kami juga ingin menjangkau suara kelompok marjinal yang tidak pernah disentuh secara mendalam. Oleh karena itu, <em>tagline</em> kami adalah <em>‘Bercerita dari pinggir.’</em>” -Nida, Pengelola Program dan Komunitas BandungBergerak</p>



<p>Meski berada pada bidang yang berbeda, Growing Sisters sebagai komunitas yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, Aksara Rembaka sebagai komunitas literasi anak dan sosialisasi berkelanjutan, serta Wilwatikta Foundation sebagai yayasan beasiswa pendidikan dan sosial berbasis Buddhis—juga punya tujuan yang selaras, yakni ruang yang memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk bisa bertumbuh dan berdaya.</p>



<p>Sesi bincang tersebut membahas bagaimana sistem membuat kita terus merasa kurang dan tidak lagi punya kesadaran untuk bergotong-royong. Jika berkaca pada kondisi sekarang, kita tidak bisa selalu memandang semua persoalan berakar dari diri sendiri. Ada sistem yang berpengaruh besar dalam kehidupan kita. Berbagai persoalan yang kini kita alami terjadi secara sistematis. Sayangnya, kesadaran akan hal itu dihempaskan. Di tengah ketidakterhubungan dunia saat ini dan sistem gagal memperbaiki kualitas hidup rakyat, yang kita butuhkan adalah sekitar. Kita butuh solidaritas untuk bisa bergerak keluar dari krisis, sebab kita tidak bisa pulih dan bergerak secara sendirian.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-1024x684.jpeg" alt="" class="wp-image-10607" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-1024x684.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-768x513.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-1536x1025.jpeg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-2048x1367.jpeg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-1200x801.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/93e8b4dc-cbf0-464d-98f7-e84cf5e2aae2-600x401.jpeg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption><em>Ngerujak “Ngerumpi Bijak”: Gotong Royong di Zaman Peralihan bersama komunitas BandungBergerak, Growing Sisters, Aksara Rembaka, dan Wilwatikta Foundation.</em></figcaption></figure>



<p>Rangkaian acara NDBF 7.0 ditutup oleh penampilan musik dari Tigapagi, sebuah kelompok ansambel. Mereka banyak mengeksplorasi musik dengan notasi-notasi musik tradisi seperti Sunda, Jawa, dan Bali. Pada penampilannya malam itu, Tigapagi menyanyikan beberapa lagu dari album “Rukiah’s Suites”. Album “Rukiah’s Suites” sendiri terinspirasi dari “Tandus”, kumpulan puisi sastrawan Sunda, Siti Rukiah Kertapati. Pada masanya, Rukiah aktif dalam pergerakan dekade-dekade awal kemerdekaan hingga ia mengalami persekusi politik setelah peristiwa kelam ‘65. Penampilan Tigapagi sebagai penutup malam itu membangunkan kembali ingatan kita akan sejarah tersebut yang kini kembali terulang.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10608" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-1200x801.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/09/91710cfa-1be0-465f-974d-ff156037a2db-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>ndbf<em>Penampilan Tigapagi di NDBF 7.0.</em></figcaption></figure>



<p>Menutup seluruh rangkaian NDBF 7.0, ada satu persamaan yang dibawa oleh setiap pembicara: mentransformasikan luka menjadi kekuatan. Di tengah sistem yang tidak adil dan tidak memanusiakan, komunitas adalah benteng pertahanan terakhir sekaligus ruang rawat yang memastikan kita tidak berjalan sendirian dalam gelap.</p>



<p>Perubahan besar bisa dimulai dengan penguatan diri sendiri, kemudian bergerak secara kolektif, saling menyadarkan, dan terus bergotong royong. Di zaman peralihan ini, meramu luka dan gelisah menjadi cahaya, serta menghidupkan harapan lewat aksi nyata adalah tugas yang harus kita emban bersama.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/ndbf-7-0-pelita-di-kalantara/">“Pelita di Kalantara”: Mentransformasikan Luka Menjadi Kekuatan di Pesta Literasi NDBF 7.0</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/09/14/ndbf-7-0-pelita-di-kalantara/">&#8220;Pelita di Kalantara&#8221;: Mentransformasikan Luka Menjadi Kekuatan di Pesta Literasi NDBF 7.0</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nusantara Dharma Book Festival 7.0: Pelita di Kalantara Tawarkan Literasi &#038; Seni Sebagai Cahaya di Zaman Peralihan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/08/20/ndbf-7-bandung-liputan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2026 09:47:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10541</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kota Bandung terpilih menjadi tempat diselenggarakannya acara Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) ke-7. Acara yang diinisiasi oleh Yayasan Pengembangan dan Pelestarian Lamrim Nusantara (Lamrimnesia) ini berlangsung di Nara Park Bandung pada 12–16 Agustus 2026. NDBF tahun ini berkolaborasi dengan berbagai komunitas untuk bersama-sama secara bergotong royong untuk membangkitkan kesadaran nilai-nilai kemanusiaan, kearifan lokal, keberlangsungan hidup [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/08/20/ndbf-7-bandung-liputan/">Nusantara Dharma Book Festival 7.0: Pelita di Kalantara Tawarkan Literasi & Seni Sebagai Cahaya di Zaman Peralihan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/08/20/ndbf-7-bandung-liputan/">Nusantara Dharma Book Festival 7.0: Pelita di Kalantara Tawarkan Literasi &#038; Seni Sebagai Cahaya di Zaman Peralihan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kota Bandung terpilih menjadi tempat diselenggarakannya acara Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) ke-7. Acara yang diinisiasi oleh <a href="http://lamrimnesia.org">Yayasan Pengembangan dan Pelestarian Lamrim Nusantara</a> (<a href="http://instagram.com/lamrimnesia">Lamrimnesia</a>) ini berlangsung di Nara Park Bandung pada 12–16 Agustus 2026.</p>



<p>NDBF tahun ini berkolaborasi dengan berbagai komunitas untuk bersama-sama secara bergotong royong untuk membangkitkan kesadaran nilai-nilai kemanusiaan, kearifan lokal, keberlangsungan hidup dan nilai spiritual di tengah ancaman krisis, ketidakpastian global, wabah hingga kerusakan alam tidak terkendali. Acara ini mendapatkan apresiasi dari Dirjen Bimas Buddha Provinsi Jawa Barat, NDBF 7.0 dapat menjalin kolaborasi lintas agama sesuai dengan misi kementerian agama menjalin kerukunan umat beragama dalam menghadapi berbagai persoalan.</p>



<p>Sepanjang 12-16 Agustus 2026, Lamrimnesia merangkul 20+ penerbit lokal Bandung dan sekitarnya guna menghidupkan kembali ekosistem literasi masyarakat luas di masa krisis. Pada akhir pekan 15–16 Agustus 2026, acara semakin meriah dengan kehadiran berbagai komunitas, akademisi, seniman, dan praktisi berbagai bidang yang turut berbagi wawasan untuk mengurai persoalan dari luar dan dalam diri.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10572" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9091-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-684x1024.jpg" alt="" class="wp-image-10575" width="513" height="768" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-684x1024.jpg 684w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-200x300.jpg 200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-768x1150.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-1026x1536.jpg 1026w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-1368x2048.jpg 1368w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-150x225.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-450x674.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-1200x1797.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-600x898.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF9006-1-scaled.jpg 1710w" sizes="(max-width: 513px) 100vw, 513px" /><figcaption>Bazar Buku NDBF 7.0 berlansung pada 12-16 Agustus 2026</figcaption></figure></div>


<p>Gelaran hari Sabtu, 15 Agustus 2026 dibuka lokakarya strategi makan enak di tengah ombang-ambing krisis dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di alam sekitar bersama Lab Pangan, sebuah <em>open kitchen </em>di ruang seni Gelanggang Olah Rasa. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi tentang ketahanan hidup yang telah dibangun sejak lama oleh leluhur kita bersama Lab Pangan, Kampung Adat Cireundeu, Wahu Waste Hubs, dan jurnalis sains &amp; penulis buku “Masyarakat Adat dan Kedaulatan Pangan” Ahmad Arif. Selanjutnya, ada bedah buku &#8220;Indonesia di Mata India &#8211; Kala Tagore Melawat ke Indonesia&#8221; guna mengetahui hubungan lintas budaya yang berjalan ribuan tahun yang dipandu oleh Guru Besar ITB Iwan Pranoto dan penulis dari Komunitas Aleut Irfan Pradana Putra. </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10558" width="768" height="512" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF5189-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Lokakarya &#8220;Dapur Akhir Zaman&#8221; bersama Lab Pangan <a href="https://www.gelanggangolahrasa.id/">Gelanggang Olah Rasa</a></figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10555" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7040-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Perwakilan Wahu Waste Hubs dan Kampung Adat Cireundeu, penulis Ahmad Arif, dan tim Lab Pangan tukar wawasan tentang pangan dan lingkungan di zaman peralihan dalam Ngerujak (Ngerumpi Bijak) bagian I</figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10554" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7205-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Bedah buku &#8220;Indonesia di Mata India &#8211; Kala Tagore Melawat ke Nusantara&#8221; bersama Iwan Pranoto dan Komunitas Aleut</figcaption></figure></div>


<p>Sore hari, peserta diajak mengekspresikan diri dan menggali potensi di tengah ketakutan dengan menari bersama Hot Mamah Dance Club. Sebelum menari, para mamah bersama peserta lokakarya juga mengulik ketakutan yang mereka alami sambil berkenalan dengan Arya Tara, sosok feminin dalam peradaban kuno Nusantara yang melambangkan potensi welas asih &amp; kebijaksanaan yang diulas dalam buku “Bebas dari Ketakutan”.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10559" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7587-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10560" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7593-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Menari di Kalantara bersama Hot Mamah Dance Club</figcaption></figure></div>


<p>Ketika malam tiba dan suasana semakin syahdu, seniman Monica Hapsari dan Lavenir Choir memandu lokakarya bernyanyi sekaligus saling mendengarkan, melepas beban, juga memancarkan kasih sayang untuk negeri kita dan semua makhluk. Rangkaian acara hari itu lalu ditutup dengan pertunjukan seni tradisi reak dari Bandung Thimoer Art of Reak, dipandu oleh Anggi Nugraha yang memaparkan bagaimana seni tradisi bukanlah hiburan semata, tapi juga media penyemaian dan pelestarian nilai luhur yang diwariskan dari zaman ke zaman.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10561" width="768" height="512" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7801-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10562" width="768" height="512" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR7784-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Jala Suara bersama Monica Hapsari &amp; Lavenir Choir</figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10567" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7846-1-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10565" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF7824-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Pertunjukan Seni Tradisi Bandung Thimoer Art of Reak</figcaption></figure></div>


<p>Selanjutnya, pada 16 Agustus 2026, NDBF dibuka dengan baca senyap bersama komunitas Baca Di Bandung. Selanjutnya, psikolog Yulita Anggelia dan <em>caregiver </em>Mira Dewi Kania berbagi pengalaman sambil membedah buku &#8220;Storied Companion&#8221; yang mengurai lika-liku menghadapi ketidakpastian dan kehilangan. Personil band Efek Rumah Kaca Cholil Mahmud hadir bersama putranya, Angan Senja (Knogg), untuk mem-<em>breakdown </em>bagaimana <em>soundtrack </em>film “Laut Bercerita” yang berjudul “Matilah Kau Mati” digubah dari kisah dan puisi dari karya Leila S. Chudori tersebut. </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="684" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10553" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8112-1-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>SACCA (Sahabat Baca) bersama komunitas Baca Di Bandung</figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10568" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8192-1-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10569" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8187-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>,Bedah buku &#8220;Storied Companions&#8221; bersama Yulita Anggelia, M.Psi. dan Mira Dewi Kania</figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10551" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8273-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Cerita pembuatan soundtrack film &#8220;Laut Bercerita&#8221; bersama Cholil Mahmud, Knogg, Monica Hapsari, dan Yushua Adiputra</figcaption></figure></div>


<p>Lokakarya bernuansa gerak tubuh kembali diadakan pada sore hari, yaitu <em>meditation in motion </em>bersama seniman senior Marintan Sirait. Usai meditasi gerak, SoulFree Herb menyajikan teh herbal dari bahan-bahan alami yang diracik berdasarkan ilmu warisan leluhur yang berkhasiat untuk kesehatan sistem syaraf. Rangkaian acara ini menuntun peserta untuk menjalin kembali hubungan dengan diri sendiri, satu sama lain, dan alam sekitar. </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10549" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8369-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10548" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8526-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Meditation in Motion &amp; diskusi buku &#8220;Latihan Batin Laksana SInar Mentari&#8221; bersama Marintan Sirait, founder<em> </em><a href="https://www.instagram.com/dalemwangi.artspace/">Dalemwangi Artspace</a> &amp; <a href="https://www.jendelaide.org/">Jendela Ide Indonesia</a></figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10550" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8557-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Tim <a href="https://www.instagram.com/soulfreeherb/">SoulFree Herb</a> menyeduh teh dengan racikan warisan leluhur yang dapat meningkatkan ketajaman fokus sekaligus menenangkan sistem syaraf</figcaption></figure></div>


<p>Setelah itu, pada malam hari, perwakilan komunitas Aksara Rembaka, BandungBergerak, Growing Sisters, dan Wilwatikta Foundation yang aktif berkarya di bidang pengembangan diri, literasi, dan sosial duduk semeja dengan hadirin sambil menikmati rujak<em> </em>dan bertukar wawasan mengenai pentingnya hidup berkomunitas di tengah krisis. </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10545" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8899-1-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-1024x684.jpg" alt="" class="wp-image-10543" width="768" height="513" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-1536x1026.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-2048x1368.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-450x301.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-1200x802.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8895-1-600x401.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Ngerujak (Ngerumpi Bijak) bersama <a href="https://bandungbergerak.id/">BandungBergerak</a>, <a href="https://www.instagram.com/wilwatiktafoundation/">Wilwatikta Foundation</a>, komunitas<a href="https://www.pikiran-rakyat.com/dari-perempuan/pr-0110401062/menemukan-makna-di-balik-perbedaan-perempuan-bandung-belajar-bahasa-isyarat-dari-hati-ke-hati"> Growing Sisters</a>, dan <a href="https://lynk.id/aksararembakaid">Aksara Rembaka</a> tentang apa yang bisa dilakukan bersama untuk saling mendukung di zaman peralihan</figcaption></figure></div>


<p>Seluruh rangkaian NDBF akhirnya ditutup dengan pertunjukan <em>band</em> Tigapagi yang memadukan karya sastra ritme musik khas Sunda, dan aransemen musik modern.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-1024x683.jpg" alt="Nusantara Dharma Book Festival 7.0 menghadirkan seniman, pegiat literasi, dan komunitas kota Bandung untuk bertukar inspirasi menhadapi krisis di peralihan zaman." class="wp-image-10571" width="768" height="512" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/GMHR5958-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-10546" width="768" height="512" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-1200x800.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2026/08/DSCF8055-600x400.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Penampilan band <a href="https://www.youtube.com/@Tigapagimusic">Tigapagi</a></figcaption></figure></div>


<p>“Sebuah festival memang tidak dapat mengubah keadaan dunia tetapi di sini kita bersama-sama untuk menyadari dan menyiapkan langkah untuk lebih peka terhadap yang ada di sekitar kita,” ungkap Monica Hapsari, seniman yang memandu salah satu lokakarya di NDBF..</p>



<p>Sepanjang acara NDBF 7.0 para peserta diajak bersama-sama membangun kembali kehidupan yang lebih sadar, adaptif, dan penuh welas asih di tengah kekacauan zaman yang tak bertepi. Festival ini dapat menjadi momen refleksi betapa pentingnya literasi serta urgensi membangun kebersamaan dan kepekaan dalam menghadapi tantangan krisis.</p>



<p>Informasi mengenai Nusantara Dharma Book Festival dapat diikuti di Instagram <a href="http://instagram.com/dharmabookfest">@dharmabookfest</a>.</p>



<p><strong>Narahubung:</strong></p>



<p>Satriya Ramadani &#8211; +6281392044520</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/08/20/ndbf-7-bandung-liputan/">Nusantara Dharma Book Festival 7.0: Pelita di Kalantara Tawarkan Literasi & Seni Sebagai Cahaya di Zaman Peralihan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/08/20/ndbf-7-bandung-liputan/">Nusantara Dharma Book Festival 7.0: Pelita di Kalantara Tawarkan Literasi &#038; Seni Sebagai Cahaya di Zaman Peralihan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Aku Sedang Mengasihi atau Mengasihani Diriku?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/08/07/welas-asih-mengasihani-diri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2026 08:00:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[self-compassion]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10532</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di mana batas antara self-compassion dan self-pity? Buddhisme memberi definisi jelas kapan kita sedang mengasihi diri sendiri atau mengasihani diri sendiri!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/08/07/welas-asih-mengasihani-diri/">Apakah Aku Sedang Mengasihi atau Mengasihani Diriku?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/08/07/welas-asih-mengasihani-diri/">Apakah Aku Sedang Mengasihi atau Mengasihani Diriku?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<h2 id="h-memahami-garis-tipis-antara-self-compassion-dan-self-pity">Memahami Garis Tipis antara <em>Self-Compassion</em> dan <em>Self-Pity</em></h2>



<p>oleh Johnson Khuo</p>



<p>Di tengah kehidupan yang penuh tekanan, semakin banyak orang mulai belajar untuk memperlakukan dirinya sendiri dengan lebih baik. Konsep <em>self-compassion</em> atau welas asih kepada diri sendiri pun semakin dikenal sebagai salah satu fondasi kesehatan mental dan kesejahteraan batin. </p>



<p>Namun, di balik popularitasnya, muncul sebuah risiko yang sering luput disadari: <em>self-compassion</em> kerap disalahpahami sebagai <em>self-pity</em> atau mengasihani diri sendiri. Keduanya sama-sama melibatkan perhatian terhadap penderitaan diri sendiri, sehingga sekilas tampak serupa. Padahal, meskipun berangkat dari titik yang sama, keduanya bergerak ke arah yang sangat berbeda. Yang satu membantu kita menghadapi penderitaan hingga akhirnya terbebas darinya. Yang lain justru membuat kita semakin melekat pada penderitaan, hingga tanpa sadar menjadikannya sebagai identitas.</p>



<p>Mari kita mencoba menelusuri garis tipis yang membedakan keduanya. Menariknya, psikologi modern, khususnya konsep <em>self-compassion</em> dari Dr. Kristin Neff, ternyata memiliki titik temu yang mendalam dengan ajaran Buddhis, mulai dari Lamrim hingga Vajrayana. Walaupun menggunakan bahasa dan pendekatan yang berbeda, keduanya mengarah pada transformasi batin yang sama: melepaskan identitas sebagai <strong>&#8220;aku yang kurang&#8221;</strong>, lalu bertumbuh menuju batin yang utuh, bebas, dan siap memberi.</p>



<h2 id="h-self-pity-ketika-penderitaan-menjadi-identitas"><em>Self-Pity</em>: Ketika Penderitaan Menjadi Identitas</h2>



<p><em>Self-pity</em> muncul ketika perhatian kita sepenuhnya terserap pada penderitaan pribadi. Kita merasa bahwa luka kita begitu besar sehingga tanpa sadar mulai melihat diri sebagai korban utama dari keadaan.Kita mulai berkata:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku sudah terlalu banyak berkorban.&#8221;</em><br><em>&#8220;Kenapa hidup selalu tidak adil kepadaku?&#8221;</em><br><em>&#8220;Orang lain seharusnya memperlakukanku dengan lebih baik.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Lama-kelamaan rasa sakit tidak lagi menjadi sebuah pengalaman. Ia berubah menjadi identitas. Dari identitas inilah muncul berbagai tuntutan yang halus: dunia seharusnya berubah, orang lain seharusnya lebih memahami kita, keadaan seharusnya lebih berpihak kepada kita.</p>



<p>Ironisnya, semakin kita mencoba mengisi kekosongan itu dari luar, semakin kosong pula rasanya. Karena yang sebenarnya terluka bukan keadaan di luar, melainkan cara batin memandang dirinya sendiri.</p>



<h2 id="h-self-compassion-memberi-ruang-tanpa-tenggelam"><em>Self-Compassion: </em>Memberi Ruang Tanpa Tenggelam</h2>



<p>Sebaliknya, <em>self-compassion</em> bukan berarti mengabaikan rasa sakit, juga bukan berarti memaksa diri untuk &#8220;tetap kuat&#8221;. </p>



<p>Dr. Kristin Neff menjelaskan bahwa self-compassion terdiri dari tiga komponen:</p>



<ul><li><strong><em>Self-kindness</em></strong>: memperlakukan diri sendiri dengan kelembutan.</li><li><strong><em>Common humanity</em></strong>: menyadari bahwa penderitaan adalah bagian dari pengalaman semua manusia.</li><li><strong><em>Mindfulness</em></strong>: melihat dan mengakui rasa sakit sebagaimana adanya, tanpa menyangkal ataupun membesar-besarkannya.</li></ul>



<p>Artinya, ketika sedang terluka, kita boleh berkata kepada diri sendiri:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Ya, ini memang berat.&#8221;</em><br><em>&#8220;Tidak apa-apa kalau hari ini aku sedih.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku akan menemani diriku melewati ini.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Memberi ruang bagi emosi bukanlah kelemahan. Justru di sanalah penyembuhan dimulai.</p>



<h2 id="h-paradoks-self-compassion"><strong>Paradoks <em>Self-Compassion</em></strong></h2>



<p>Di sinilah letak paradoks yang sering kali tidak disadari. Kita memberi welas asih kepada diri sendiri <strong>bukan supaya segera merasa lebih baik</strong>, melainkan <strong>karena saat ini kita memang sedang merasa buruk.</strong> Perbedaannya tampak kecil, tetapi sesungguhnya sangat mendasar.</p>



<p>Ketika hati sedang terluka, tentu kita ingin rasa sakit itu segera hilang. Namun, bila kita mempraktikkan <em>self-compassion</em> dengan tujuan tersembunyi agar cepat nyaman kembali, kita tanpa sadar sedang melawan pengalaman yang sebenarnya sedang terjadi. Welas asih berubah menjadi alat untuk memanipulasi emosi. Padahal <em>self-compassion </em>tidak pernah dimaksudkan untuk menghapus penderitaan secepat mungkin. Ia mengundang kita berkata:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Ya, ini memang menyakitkan.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku tidak perlu berpura-pura kuat.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku akan tetap hadir untuk diriku sendiri justru karena ini menyakitkan.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Di sinilah paradoks itu bekerja. Ketika kita berhenti melawan rasa sakit, justru ruang penyembuhan mulai terbuka. Sebaliknya, ketika kita menggunakan <em>self-compassion</em> sebagai cara agar &#8220;cepat tidak sakit&#8221;, kita masih berada dalam resistensi. Seperti ungkapan yang sering dikutip dalam psikologi:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><strong><em>What we resist, persists.</em></strong></p><cite>Yang kita tolak akan bertahan.</cite></blockquote>



<p>Karena itu, saat melakukan latihan <em>self-compassion</em>, meletakkan tangan di dada, menarik napas perlahan, atau melakukan latihan <em>soothing</em> (menenangkan) lainnya, perhatikan niat yang muncul. Apakah kita sedang berkata:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Aku tidak suka dengan perasaan yang tidak mengenakkan ini.”</em><br><em>&#8220;Aku perlu segera tenang.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Ataukah:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Bisakah aku menerima bahwa ini memang menyakitkan?&#8221;</em><br><em>&#8220;Bisakah aku tetap hadir untuk diriku sendiri karena ini menyakitkan?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Perbedaannya sangat halus, tetapi di sanalah kualitas latihan kita ditentukan. <em>Self-compassion</em> bukanlah teknik untuk menghilangkan rasa sakit. Ia adalah keberanian untuk tetap membuka hati ketika rasa sakit hadir. <strong><em>The only way out is through</em></strong> &#8211; satu-satunya jalan keluar adalah menjalaninya.</p>



<h2 id="h-painkiller-atau-pengobatan-akar"><em>Painkiller</em> atau Pengobatan Akar?</h2>



<p>Perbedaan antara <em>self-compassion</em> dan <em>sel-pity</em> dapat diibaratkan seperti perawatan gigi. Ketika gigi mengalami infeksi, dokter biasanya memberikan obat anti nyeri dan anti radang terlebih dahulu. Obat-obatan ini sangat penting karena membantu meredakan nyeri, mengurangi peradangan, dan membuat kondisi pasien cukup stabil untuk menjalani perawatan selanjutnya. Namun, obat itu sendiri bukanlah penyembuhan. Setelah rasa sakit mereda, dokter tetap harus menangani akar masalahnya.</p>



<p>Demikian pula dengan batin. Memberi ruang kepada diri sendiri adalah &#8220;obat anti nyeri&#8221; yang dibutuhkan. Namun, setelah batin mulai stabil, kita perlu mulai bertanya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Apa akar penderitaanku?&#8221;</em><br><em>&#8220;</em>Mindset <em>apa yang membuat pola ini terus berulang?&#8221;</em><br><em>&#8220;Apa yang perlu kulihat dengan lebih jernih?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Bila kita terus-menerus hanya menikmati rasa nyaman sebagai &#8220;pasien yang sedang membutuhkan ruang&#8221;, kita dapat terjebak dalam bentuk <em>self-compassion</em> yang semu. Yang awalnya merupakan obat perlahan berubah menjadi tempat tinggal.</p>



<h2 id="h-garis-tipis-yang-menentukan-realisasi-kerugian-samsara">Garis Tipis yang Menentukan: Realisasi Kerugian Samsara</h2>



<p>Dalam latihan Lamrim terdapat sebuah perenungan penting mengenai <strong>kerugian samsara</strong>. Salah satu tanda bahwa perenungan ini mulai benar-benar terealisasi bukanlah seberapa banyak kita memahami teorinya, melainkan apakah kita mampu <strong>menyeberangi sebuah garis tipis dalam cara memandang kehidupan.</strong></p>



<p>Di satu sisi garis itu, kita masih berpikir:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku kecewa karena orang ini tidak memenuhi harapanku.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan.&#8221;</em><br><em>&#8220;Seharusnya hidup tidak seperti ini.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Perasaannya nyata. Penderitaannya pun nyata. Namun, ketika pemahaman tentang kerugian samsara mulai meresap, kita perlahan mampu menyeberang ke sisi yang lain.</p>



<p>Di sisi ini kita memahami:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Selama aku dan semua makhluk masih berada dalam samsara, tidak mungkin siapa pun mampu memenuhi seluruh harapanku. Begitu pula aku tidak akan selalu mampu memenuhi harapan orang lain.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Peristiwanya sama. Orangnya sama. Keadaannya pun mungkin tidak berubah. Yang berubah adalah cara batin memandangnya.</p>



<p>Pemahaman ini bukan berarti menjadi pasif atau membenarkan perlakuan yang salah. Sebaliknya, kita mulai melepaskan tuntutan bahwa dunia <strong>harus</strong> sesuai dengan keinginan kita agar kita bisa bahagia. Di sinilah penerimaan mulai lahir. Bukan penerimaan yang pasif, melainkan penerimaan yang tenang. <em>Sumeleh. Nrimo.</em> Pasrah dalam arti yang sehat.</p>



<p>Menariknya, di sinilah psikologi modern dan Lamrim bertemu. Kristin Neff mengatakan bahwa <em>self-compassion</em> berarti berhenti melawan rasa sakit dan hadir bersamanya. Lamrim mengatakan bahwa kedamaian lahir ketika kita berhenti menuntut samsara menjadi sesuatu yang tidak mungkin ia berikan. Bahasanya berbeda. Namun, arah transformasinya sama.</p>



<h2 id="h-melepaskan-beban-agar-batin-dapat-terangkat">Melepaskan Beban agar Batin Dapat Terangkat</h2>



<p>Bayangkan sebuah balon udara yang ingin terbang. Balon itu memiliki daya angkat yang besar. Kemampuan untuk memberi, mengasihi, dan berbuat baik sebenarnya sudah ada di dalam dirinya. Namun, balon itu masih membawa karung-karung pasir yang berat. Karung-karung itu berisi pikiran seperti:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku kurang diperhatikan.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku sudah terlalu banyak berkorban.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku belum mendapatkan apa yang pantas kuterima.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Semakin berat beban yang dibawa, semakin sulit balon itu terangkat. Demikian pula dengan batin kita. Selama energi kita terus dihabiskan untuk menghitung apa yang belum kita terima, merasa diperlakukan tidak adil, atau mempertahankan identitas sebagai korban, kemampuan untuk memberi menjadi semakin kecil. Padahal kemampuan untuk memberi sebenarnya tidak pernah hilang. Ia hanya tertutup oleh beban yang masih kita genggam.</p>



<p>Melalui latihan <em>self-compassion</em> yang disertai kebijaksanaan, sedikit demi sedikit kita mulai melepaskan karung-karung pasir itu. Bukan dengan memaksa diri menjadi orang yang lebih baik, tetapi dengan berhenti menggenggam apa yang selama ini membebani hati. </p>



<p>Ketika beban itu mulai berkurang, sesuatu yang menarik terjadi. Kita tidak perlu memaksa diri menjadi murah hati. Batin dengan sendirinya menjadi lebih ringan. Dan dari keringanan itulah muncul kemampuan untuk memberi.</p>



<h2 id="h-mengapa-menerima-terasa-sangat-sulit">Mengapa Menerima Terasa Sangat Sulit?</h2>



<p>Sering kali, menerima bukanlah sesuatu yang sulit secara intelektual. Yang sulit adalah konsekuensinya. Selama kita masih memandang diri sebagai pihak yang terluka, pihak yang kurang, atau pihak yang membutuhkan, kita masih memiliki alasan untuk berkata:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku belum bisa.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku masih butuh waktu.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku berhak diberi kesempatan.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku belum mendapatkan apa yang seharusnya kuterima.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Namun, ketika penerimaan benar-benar terjadi, sesuatu mulai bergeser. Identitas sebagai korban perlahan runtuh. Bersamaan dengan itu, muncul identitas baru:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;<strong>Aku sudah cukup.</strong>&#8220;</em></p></blockquote>



<p>Dan ketika batin mulai merasa cukup, fokus kita pun berubah. Bukan lagi:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Apa lagi yang bisa kuterima?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Melainkan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Apa yang bisa kuberikan?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Kita tidak lagi berkata:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Mengapa aku tidak punya waktu untuk ikut retret?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Tetapi mulai bertanya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Bagaimana aku menggunakan waktu yang ada untuk memberi manfaat?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Kita tidak lagi sibuk memikirkan kesempatan yang belum diberikan. Kita mulai melihat kesempatan yang sudah ada di depan mata untuk bekerja, melayani, dan berkontribusi. Pada titik ini, memberi tidak lagi terasa sebagai pengorbanan. Ia menjadi ekspresi alami dari batin yang penuh.</p>



<p>Mungkin inilah alasan mengapa penerimaan terasa sangat menantang. Bukan karena menerima itu sendiri sulit, melainkan karena “penerimaan” meruntuhkan identitas lama sebagai <strong>pihak yang membutuhkan</strong>, lalu mengundang kita memasuki identitas baru sebagai <strong>pihak yang sudah cukup dan siap memberi</strong>.</p>



<p>Dan mungkin, tanpa kita sadari, justru peralihan identitas inilah yang paling sering kita takuti.</p>



<h2 id="h-dari-ordinary-perception-menuju-divine-pride">Dari <em>Ordinary Perception</em> Menuju <em>Divine Pride</em></h2>



<p>Dalam Vajrayana, transformasi ini dilakukan dengan cara yang jauh lebih radikal. Selama ini kita hidup dalam apa yang disebut <strong><em>ordinary perception</em></strong> (persepsi biasa). Kita memandang diri sebagai:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku korban.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku kurang.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku belum cukup.&#8221;</em><br><em>&#8220;Aku membutuhkan dunia untuk melengkapiku.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Lama-kelamaan cerita-cerita itu menjadi identitas. Kita bukan lagi sekadar mengalami luka. Kita menjadi orang yang terluka.</p>



<p>Vajrayana mengajak kita melakukan sesuatu yang sangat berbeda. Bukan memperbaiki identitas lama sedikit demi sedikit, tetapi berhenti mengidentifikasi diri dengannya. Inilah yang disebut latihan <strong><em>divine pride</em></strong>.</p>



<p><em>Divine pride</em> bukan berarti merasa lebih hebat daripada orang lain, bukan pula berfantasi menjadi dewa. Ia adalah latihan untuk mengenali hakikat batin yang sejak awal telah memiliki potensi Buddha: utuh, penuh kebijaksanaan, dan penuh welas asih.</p>



<p>Dari sudut pandang ini, arah batin berubah secara mendasar. Bukan lagi:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku kurang.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Melainkan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku utuh.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Bukan lagi:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku membutuhkan.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Melainkan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Aku sudah cukup.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Bukan lagi:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Siapa yang akan mengisi kekuranganku?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Melainkan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Bagaimana aku dapat memberi manfaat bagi makhluk lain?&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Inilah sebabnya seorang praktisi Vajrayana berlatih memandang dirinya sebagai Istadewata. Bukan untuk menciptakan ego baru, tetapi untuk melatih batin melepaskan identitas lama yang terus-menerus merasa kurang.</p>



<p>Pendekatan Lamrim menempuh jalan yang lebih bertahap. Vajrayana melompat langsung ke identitas yang tercerahkan. Namun, keduanya memiliki tujuan yang sama: membebaskan batin dari identitas sebagai korban.</p>



<h2 id="h-penutup"><a></a><strong><em>Penutup</em></strong></h2>



<p><em>Self-compassion</em> dan <em>self-pity</em> sama-sama dimulai dari rasa sakit. Namun, keduanya berakhir di tempat yang sangat berbeda. <em>Self-pity</em> membuat penderitaan menjadi identitas. <em>Self-compassion</em> mengizinkan kita merasakan penderitaan, hadir bersamanya, memahami akarnya, lalu perlahan melepaskan apa yang mengikat batin.</p>



<p>Pada akhirnya, penyembuhan bukanlah tentang menjadi orang lain. Penyembuhan adalah melepaskan identitas yang selama ini kita genggam, melepaskan keyakinan bahwa kita selalu kurang, melepaskan tuntutan bahwa dunia harus memenuhi semua harapan kita dan perlahan menyadari bahwa ketika batin berhenti berperang dengan kenyataan, ia menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya. Bukan sekadar rasa nyaman, melainkan rasa utuh.</p>



<p>Dari keutuhan itulah lahir welas asih. Dari welas asih lahirlah kebijaksanaan. Dan dari kebijaksanaan, muncul dorongan alami untuk memberi.</p>



<p>Mungkin inilah makna terdalam dari <em>self-compassion.</em> Bukan menjadikan diri kita pusat dari welas asih. Melainkan membebaskan diri dari apa pun yang menghalangi hati kita untuk mengalirkan welas asih tersebut kepada diri sendiri dan kepada semua makhluk.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/08/07/welas-asih-mengasihani-diri/">Apakah Aku Sedang Mengasihi atau Mengasihani Diriku?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/08/07/welas-asih-mengasihani-diri/">Apakah Aku Sedang Mengasihi atau Mengasihani Diriku?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
