<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>trisarana - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/trisarana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Apr 2024 04:39:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>trisarana - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Apr 2024 04:11:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Berlindung]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[Sila-Sila Berlindung]]></category>
		<category><![CDATA[Sila-Sila Tisarana]]></category>
		<category><![CDATA[Tiratana]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<category><![CDATA[umat Buddha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9018</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam bahasa Inggris, kalimat “Buddham saranam gacchami” diterjemahkan sebagai ‘I go to the Buddha for refuge’.Terjemahan tersebut jika diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Aku pergi berlindung kepada Buddha’. Kata “pergi” ini penting karena menunjukan makna bahwa kita memerlukan sebuah aksi aktif untuk mencapai perlindungan. Berdasarkan Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, untuk menjaga agar Tisarana kita menjadi aksi nyata dan tidak menjadi ‘omon-omon’ semata, seorang praktisi harus menjalankan sila-sila Tisarana.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="wp-block-quote"><p>Buddham saranam gacchami,<br>Dhammam saranam gacchami,<br>Sangham saranam gacchami.</p></blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>I go to the Buddha for refuge,<br>I go to the Dhamma for refuge,<br>I go to the Sangha for refuge.</p></blockquote>



<p>Dalam bahasa Inggris, kalimat “<em>Buddham saranam gacchami</em>” diterjemahkan sebagai ‘<em>I <strong>go to</strong> the Buddha for refuge</em>’.Terjemahan tersebut jika diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Aku <strong>pergi </strong>berlindung kepada Buddha’. Ya, ada kata “pergi” dalam terjemahan tersebut, berbeda dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang biasa kita temui, yaitu “Aku berlindung kepada Buddha”.</p>



<p>Meskipun tampak sepele, namun hilangnya kata “pergi” menimbulkan miskonsepsi yang signifikan terhadap konsep Tisarana yang pernah kita pelajari di sekolah maupun vihara selama ini. Kata “pergi” ini penting karena menunjukan makna bahwa kita memerlukan sebuah aksi aktif untuk mencapai perlindungan, bukan hanya ‘omon-omon’ semata, lebih-lebih supaya terlihat sebagai seorang Buddhis saja.</p>



<p>Sebenarnya, tanpa perlu kita beri rayuan maupun janji-janji manis, Sang Buddha telah memiliki welas asih yang tidak terbatas dan tidak berubah kepada semua makhluk. Selain itu, Sang Buddha juga mampu berada di mana saja dan kapan saja. Berdasarkan hal itu, tentu saja Sang Buddha jelas selalu mau dan mampu untuk memberikan perlindungan kepada kita serta semua makhluk. Namun, layaknya matahari yang senantiasa bersinar namun tak mampu menembus goa gelap; perlindungan Sang Buddha juga tidak dapat kita peroleh jika kita tidak mengarahkan usaha kita sendiri untuk pergi berlindung.</p>



<p>Lebih spesifik lagi, dalam kaitannya dengan Tisarana, aspek ‘aksi’ inilah yang membedakan hasil akhir dari Tisarana seorang Buddhis. Berdasarkan Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, untuk menjaga agar Tisarana kita menjadi aksi nyata dan tidak menjadi ‘omon-omon’ semata, seorang praktisi harus menjalankan sila-sila Tisarana. Nah, dalam kesempatan kali ini, mari kita bahas sedikit sila-sila penghindaran, yang merupakan bagian dari sila-sila pribadi seorang praktisi yang sudah mengambil perlindungan!</p>



<ol><li><strong>Tidak Menyatakan Perlindungan kepada Objek Selain Sang Triratna</strong><br>Ketika seseorang telah memahami alasan untuk Tisarana, mengenali kualitas-kualitas terunggul Sang Triratna, dan memahami manfaat-manfaat dari Tisarana; maka akan sangat aneh apabila ia juga menyatakan perlindungan kepada objek-objek dengan kualitas yang lebih rendah, seperti dewa-dewi duniawi, naga, dan makhluk-makhluk halus kuat lainnya. Perlu diperhatikan kembali bahwa <strong>kita boleh </strong>saja untuk berdoa dan memberikan persembahan kepada mereka, terutama jika kita membutuhkan bantuan dalam mempraktikkan Dharma. Namun, kita <strong>tidak boleh</strong> menyatakan perlindungan kepada mereka, karena ketika kita memegang dua objek Tisarana yang berbeda, maka kita akan menghancurkan nilai Tisarana kita pada Sang Triratna dan mengeluarkan kita dari komunitas Buddhis.</li><li><strong>Tidak Menyakiti Makhluk Lain</strong><br>Apabila memang kita benar bersungguh-sungguh menyatakan Tisarana kepada Sang Triratna, maka sudah sewajarnya kita meneladani kualitas Sang Buddha yang selalu memancarkan welas asih kepada semua makhluk. Terlebih lagi berdasarkan hukum karma, salah satu akibat dari membunuh atau menyakiti makhluk lain adalah terlahir di alam menderita, sesuatu yang amat kita takuti. Oleh karena itu, jangan dengan sengaja menyakiti makhluk lain, bahkan melalui tindakan seperti meminta pajak berlebihan kepada sesama manusia maupun memaksa hewan untuk membawa beban berlebih.</li><li><strong>Tidak Bergabung dengan Non-Buddhis</strong><br>Untuk menjaga keyakinan dan meningkatkan Tisarana, kita dianjurkan untuk tidak bergaul dengan orang-orang yang meragukan kebenaran Sang Triratna dan hukum karma, serta dengan orang-orang yang mengkritik bahwa ajaran-ajaran yang kita pelajari selama ini merupakan karangan yang dibuat oleh para biksu maupun guru yang licik. Sila ini menjadi sangat penting, khususnya bagi kita yang belum memiliki keyakinan yang kokoh, karena apabila kita tetap bergaul dengan mereka, ditakutkan kita akan terpengaruh oleh pemahaman salah yang mereka miliki. Sila ini juga sesuai dengan salah satu bait dalam Mangala Sutta, yaitu:</li></ol>



<p class="has-text-align-center">“Tak bergaul dengan orang-orang dungu,<br>bergaul dengan para bijaksana,<br>dan menghormat yang patut dihormat,<br>itulah berkah utama.”</p>



<p><strong>Penutup</strong><br>Tisarana telah menjadi salah satu hal yang umum dalam kehidupan umat Buddha. Namun apabila kita dapat meluangkan waktu sejenak untuk melihat keseharian kita, mari renungkan pertanyaan ini: Apakah kita telah melakukan Tisarana dengan baik dan benar? Apakah Tisarana kita telah menjadi aksi yang aktif dan bukan hanya ‘omon-omon’ saja? Jika memang kita masih belum melaksanakan Tisarana dengan maksimal, maka lekaslah bergerak saat ini juga! Sebabnya,Tisarana tidak akan pernah memberikan hasil apabila tidak ada aksi nyata untuk meraihnya. Pertama-tama, yuk latih diri untuk menjalani sila-sila yang telah disebutkan di atas!</p>



<p>Referensi:<br>Terjemahan Tisarana dalam bahasa Inggris dalam halaman accesstoinsight.org<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa Hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/03/17/kualitas-triratna/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2024 12:14:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=8956</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Apa hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha? Kenapa umat Buddha menyebutnya Triratna (Tiga Permata) dan berlindung kepadanya? </p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/03/17/kualitas-triratna/">Apa Hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/03/17/kualitas-triratna/">Apa Hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Apa hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha? Kenapa umat Buddha menyebutnya Triratna dan berlindung kepadanya?&nbsp;</p>



<p>Jika seorang Buddhis tidak pernah mempelajari kualitas-kualitas Triratna, cepat atau lambat, ia akan kehilangan alasan untuk berlindung. Saat ada yang lebih ngetren atau mentereng, ia akan dengan mudah pindah keyakinan. Karena itulah memahami kualitas setiap aspek Triratna adalah <a href="https://lamrimnesia.org/2024/02/22/cara-menjadi-buddhis/">syarat wajib seseorang untuk Trisarana</a>. Apa saja kualitas masing-masing Ratna? Apa saja perbedaan di antara mereka? Mari kita ulas secara ringkas.</p>



<h2 id="h-kualitas-buddha"><strong>Kualitas Buddha</strong></h2>



<p><strong>Kualitas tubuh Buddha</strong> tentu sudah sering kita dengar, yaitu terdiri atas 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan seorang makhluk agung. Setiap tanda ini bukan tanda biasa seperti tahi lalat atau warna pada kulit, melainkan buah dari 10 juta kebajikan! Merenungkan hal ini juga penting agar kita jadi punya sebab karma untuk memiliki kualitas tersebut. Dalam Sutra Ratnavali, kita dianjurkan untuk merenungkan bait berikut:</p>



<p>“Andaikan kita menggabungkan semua kebajikan di dunia—termasuk kebajikan para Pratyekabuddha, para Śrāvaka (baik yang sedang dalam latihan maupun yang sudah menyelesaikan latihannya), serta para raja cakravartin. Jumlah ini hanya cukup untuk menghasilkan satu lubang pori-pori pada tubuh Buddha. Jika kita menggabungkan semua kebajikan yang akan menghasilkan semua lubang pori-pori pada tubuh Buddha, seratus kali lipat dari jumlah itu dibutuhkan untuk satu tanda sekunder sang Buddha.”</p>



<p><strong>Ucapan Buddha</strong> juga tak kalah luar biasa. Jika dirinci, total ada 60 kualitas ucapan seorang Buddha. Di antara semua kualitas itu, salah satu yang paling gampang diingat adalah bagaimana satu ucapan saja dari sang Buddha bisa dipahami dalam banyak bentuk berbeda. Jika semua makhluk menanyakan sesuatu di waktu yang sama, Buddha bahkan bisa menghadirkan satu tubuh dan satu ucapan untuk menjawab mereka semua.</p>



<p><strong>Kualitas batin</strong> Buddha dapat dirangkum ke dalam dua aspek, yaitu pengetahuan Buddha dan cinta kasih Buddha. Sang Buddha memiliki pengetahuan yang mampu menyadari semua fenomena yang ada secara konvensional sejelas melihat cangkang buah asam di telapak tangan sambil tetap berada dalam konsentrasi terpusat yang merealisasikan langsung sifat tertinggi semua fenomena. Sementara itu, cinta kasih Buddha begitu besar kepada semua makhluk: tidak terbatas, tidak berubah, hadir setiap saat tanpa jeda.</p>



<p>Selain itu, masih ada lagi kualitas dari <strong>aktivitas Buddha</strong> yang digambarkan dalam 9 perumpamaan. Ringkasnya, seorang Buddha bisa menyelesaikan aktivitas-aktivitas tanpa upaya dan tanpa motivasi. Aktivitas Buddha membawa akibat secara spontan dan tanpa upaya, saat waktu yang tepat tiba, yaitu saat ada batin makhluk yang cukup suci untuk ditaklukkan secara spiritual.</p>



<h2><strong>Kualitas Dharma</strong></h2>



<p>Berhubungan dengan kualitas Buddha, Kualitas Dharma adalah mampu menghasilkan atribut-atribut Buddha, termasuk seluruh kualitas luar biasa di atas.&nbsp;</p>



<p>Sederhananya, tujuan utama Dharma adalah mengendalikan batin kita. Jika seseorang bisa mempraktikkan Dharma dengan tekun, setahap demi setahap, batinnya akan semakin terkendali, ia akan bisa meraih kualitas-kualitas agung Buddha, dan kebahagiaan tentu bisa diraih. Inilah kualitas Dharma yang dapat kita renungkan.</p>



<h2><strong>Kualitas Sangha</strong></h2>



<p>Sementara itu, kualitas Sangha sangat beragam tergantung pada tingkatan kesuciannya. Misalnya, praktisi yang telah mencapai Marga Penghimpunan di kendaraan Śrāvaka telah menolak samsara dan mengabdikan diri untuk mengembangkan 13 syarat pencerahan. Ia juga telah mencapai tiga faktor pertama dari 37 faktor pencerahan. Ia pun bisa memproyeksikan emanasi yang bertindak demi makhluk lain serta mulai mengembangkan kebijaksanaan supernormal.</p>



<p>Sangha yang telah mencapai Marga Persiapan telah memperoleh realisasi konseptual terhadap 16 aspek yang berkaitan dengan Empat Kebenaran Arya. Di Marga Penglihatan, salah satu kualitas Sangha adalah realisasi langsung akan kesunyataan. Pada Marga Meditasi, seorang praktisi secara bertahap meninggalkan 81 bentuk klesha.</p>



<p>Sangha yang telah mencapai tingkatan Arahat punya kualitas yang lebih besar lagi. Ia mampu mengubah banyak objek fisik menjadi lebih sedikit, Ia mampu mewujudkan banyak emanasi dan mengubah penampilan bentuk luar, hingga mampu bepergian ke mana pun ada makhluk yang perlu ditaklukkan secara spiritual.&nbsp;</p>



<p>Seorang Pratyekabuddha telah menghimpun kebajikan selama seratus kalpa. Seorang Bodhisatwa memiliki kualitas bajik yang tak terbatas. Ia mengembangkan pemahaman yang kokoh akan kesunyataan lewat belajar, merenung, dan meditasi serta mengatasi pandangan salah yang menganggap segala sesuatu memiliki eksistensi sejati. Kualitas-kualitas ini terus bertambah sejalan dengan <em>bhumi</em> atau tingkatan yang dicapai sang Bodhisatwa. Beberapa contohnya: mampu memproyeksikan 100 emanasi, melihat masa lalu dan masa depan, mengemanasikan 100 tanah Buddha, hidup selama 100 kalpa.</p>



<p>Kitab “Pembebasan di Tangan Kita” memberikan beberapa contoh sosok yang menggambarkan kualitas Sangha. Arya Ananda, setelah Buddha Sakyamuni parinirwana, menaklukkan sejumlah <em>tirthika </em>(penganut aliran sesat) dan membawa 80 ribu makhluk menuju realisasi Kebenaran. Ada pula kisah Mara menurunkan hujan makanan dan permata serta mendatangkan penari untuk mengganggu praktisi Dharma yang sedang mendengarkan pembabaran Dharma oleh Arya Upagupta. Saat Arya Upagupta mengalungkan bunga pada penari panggilan Mara tersebut, ia tiba-tiba terlihat buruk rupa. Gangguan pun sirna.</p>



<h2><strong>Perbedaan Setiap Ratna</strong></h2>



<p>Setelah mempelajari kualitas masing-masing Ratna, seorang Buddhis juga perlu memahami perbedaan di antaranya. Perbedaan ini dapat dikelompokkan menjadi 6 bagian: perbedaan pada karakteristik pengenalnya; perbedaan pada tindakannya; perbedaan pada sikapnya; perbedaan pada praktiknya; perbedaan yang berkaitan dengan ingatan; dan perbedaan pada bagaimana kebajikan seseorang dapat meningkat.</p>



<figure class="wp-block-table"><table><tbody><tr><td>Perbedaan</td><td>Buddha</td><td>Dharma</td><td>Sangha</td></tr><tr><td>Karakteristik Pengenal</td><td>mencapai pencerahan; sempurna pengetahuannya</td><td>akibat kehadiran Buddha; realisasi tergantung sifat murid</td><td>orang-orang yang mempraktikkan Dharma</td></tr><tr><td>Tindakan</td><td>membabarkan Dharma</td><td>menyebabkan lenyapnya objek yang harus ditinggalkan</td><td>mendorong orang untuk semangat mengejar kebajikan</td></tr><tr><td>Sikap</td><td>ibarat nahkoda; dipuja &amp; dihormati</td><td>ibarat kapal; sesuatu yang harus direalisasikan</td><td>ibarat sahabat seperjalanan; jalin hubungan sepatutnya</td></tr><tr><td>Praktik</td><td>dipuja &amp; dihormati</td><td>direalisasikan</td><td>jalin hubungan</td></tr><tr><td>Ingatan</td><td>kualitas Buddha</td><td>kualitas Dharma</td><td>kualitas Sangha</td></tr><tr><td>Meningkatnya kebajikan</td><td>tergantung 1 orang</td><td>tergantung entitas bukan orang</td><td>tergantung banyak orang</td></tr></tbody></table></figure>



<h2><strong>Penutup</strong></h2>



<p>Memiliki kesempatan untuk mengenal Buddha, Dharma, dan Sangha yang memiliki kualitas bajik luar biasa adalah keberuntungan yang juga luar biasa. Terlebih lagi jika kita dapat membangkitkan keyakinan terhadap mereka. Mari bermudita dan bangkitkan tekad untuk melatih Trisarana supaya kualitas-kualitas agung tersebut tumbuh dalam batin kita!</p>



<p>Referensi:<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche<br>“<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a>” oleh Je Tsongkhapa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/03/17/kualitas-triratna/">Apa Hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/03/17/kualitas-triratna/">Apa Hebatnya Buddha, Dharma, dan Sangha?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Buddha, Tuhan Ada Nggak?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/07/24/tuhan-buddha-ada-nggak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2020 05:40:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Ketuhanan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan dalam agama Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan dalam Buddhisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5230</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ada anggapan di kalangan non-Buddhis yang menyatakan bahwa agama Buddha tidak mengenal Tuhan. Sebenarnya anggapan ini tidak perlu terlalu dipusingkan atau diambil hati, terutama oleh umat Buddha sendiri, karena masing-masing agama tentunya memiliki “Tuhan” masing-masing. Wajar saja jika seseorang menyatakan, “Bagi saya Tuhan itu A, bukan B”, dan seterusnya. Dari sudut pandang tersebut, maka jika [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/07/24/tuhan-buddha-ada-nggak/">Buddha, Tuhan Ada Nggak?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/07/24/tuhan-buddha-ada-nggak/">Buddha, Tuhan Ada Nggak?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ada anggapan di kalangan non-Buddhis yang menyatakan bahwa agama Buddha tidak mengenal Tuhan.</p>



<p>Sebenarnya anggapan ini tidak perlu terlalu dipusingkan atau diambil hati, terutama oleh umat Buddha sendiri, karena masing-masing agama tentunya memiliki “Tuhan” masing-masing. Wajar saja jika seseorang menyatakan, “Bagi saya Tuhan itu A, bukan B”, dan seterusnya. Dari sudut pandang tersebut, maka jika sudut pandang saya agama A, maka pasti saya akan memandang agama B tidak memiliki “Tuhan”, karena bagi saya, sosok “Tuhan-mu” bukanlah Tuhan. Anggaplah ini pandangan bahwa, “Buddhisme tidak memiliki Tuhan <strong>versi satu”</strong>. Secara pribadi saya tidak ambil pusing pada pandangan ini, karena sah-sah saja setiap orang punya kepercayaan yang berbeda.</p>



<p>Namun, tidak sedikit juga yang berpandangan bahwa Buddhisme juga tidak memiliki “Tuhan <strong>versi dua</strong>”. Mereka menganggap bahwa Buddhis hanya sekadar filsafat saja. Ilmu yang mempelajari agama adalah Teologi, asalnya dari kata “theos” yang berarti Tuhan dan “logos” yang berarti keilmuan, jadi keilmuan yang mempelajari Tuhan. Jika agama Buddha sama sekali tidak mengenal Tuhan, berarti Buddhisme tidak termasuk dalam ranah teologi. Kalau begitu, untuk apa ada agama Buddha? Haruskah Buddhisme dicoret dari daftar 6 agama di Indonesia?</p>



<p>Pemikiran seperti inilah yang perlu diluruskan, setidaknya di antara umat Buddha sendiri. Umat Buddha perlu memiliki pengetahuan yang menyokong spiritualitas kita dalam beragama, salah satunya adalah pengetahuan dan pemahaman tentang konsep ‘Ketuhanan’ dalam Buddhisme yang akan kita bahas di sini.</p>



<p><strong>Buddhisme meyakini hukum sebab akibat yang saling bergantung, sehingga menyangkal filosofi sebab tunggal/</strong><strong><em>causa prima</em></strong><strong>/maha pencipta.</strong></p>



<p>Kita sebagai umat Buddha pasti memegang konsep hukum karma atau sebab-akibat. Kita yakin bahwa segala fenomena yang kita alami merupakan akibat dari perbuatan kita sebelumnya. Dulu saya pernah mempertanyakan, “Jika Tuhan maha mengasihi, kenapa ada orang yang dilahirkan penuh penderitaan, kenapa ada yang penuh kebahagiaan? Tuhan pilih-pilih dong?”.&nbsp;</p>



<p>Berangkat dari pemikiran-pemikiran ini, pasti tak sedikit yang mempertanyakan apakah konsep Tuhan ini benar adanya. Bisa jadi ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan bertambahnya popularitas ateisme dan agnotisisme. Sang Buddha menawarkan pandangan yang berbeda. Ada satu sifat dasar alami yang universal yang meregulasi alam semesta ini, yaitu hukum karma. Jadi orang-orang yang penuh kebahagiaan merupakan akibat dari kebaikan yang diperbuatnya di masa lampau, begitu pula sebaliknya penderitaan. Berbagai sebab saling berkaitan dan menghasilkan akibat-akibat yang membentuk fenomena dunia seperti yang kita lihat dan alami sekarang.&nbsp;</p>



<p>Kita bisa jadikan pandemi COVID-19 sebagai contoh. Menurut Buddhisme, pandemi melanda dunia bukan karena Tuhan marah pada umat manusia sehingga menurunkan azab. Ini terjadi karena karma jutaan umat manusia saling terhubung dalam jalinan rumit yang akhirnya menghasilkan akibat berupa pandemi dan segala macam dampaknya. Itu pun dampaknya bisa dibilang tidak sama rata pada setiap orang. Ada yang menderita, ada yang baik-baik saja, semua tergantung karma masing-masing.</p>



<p>“Apakah ini bermakna bahwa Buddhisme tidak mengenal konsep penyebab yang memungkinkan eksisnya alam semesta beserta semua penghuninya?Jawabannya tidak juga karena hukum sebab akibat tetap berlaku. Namun, bagi seorang Buddhis, adalah absurd untuk menyatakan bahwa seisi dunia ini tercipta tanpa sebab atau karena sebab tunggal. Kalau begitu ceritanya, biji jambu bisa membuahkan pisang dan anjing bisa melahirkan kucing! Singkatnya dunia akan menjadi sebuah tempat yang kacau balau tanpa pola dan aturan.“</p>



<p>-Y.M. Biksu Bhadra Ruci</p>



<p>Agama Buddha berpandangan bahwa rantai sebab-akibat yang saling bergantungan merupakan proses yang tanpa awal dan tanpa akhir. Setiap akibat pasti ada sebab yang sebelumnya sesuai hukum karma, dan yang sebelumnya pasti ada sebelumnya lagi sampai waktu yang tak berujung ke masa depan maupun ke masa lampau. Demikianlah eksistensi bumi dan seisinya, bukan diciptakan oleh seorang bapak di atas langit, melainkan hasil dari berbagai sebab yang saling berkaitan dalam proses panjang yang tak bermula.</p>



<p><strong>Konsep Ketuhanan dalam Buddhisme: Nirwana dan Dharmakaya Buddha</strong></p>



<p>Berangkat dari penyangkalan konsep “pencipta” sebagai landasan filosofis, pertanyaan berikutnya adalah: jadi “Tuhan” seperti apa yang diyakini dalam Buddhisme? Buddhisme memiliki konsep yang dapat didefinisikan sebagai sifat “Ketuhanan” itu sendiri. Saya mengutip artikel yang ditulis oleh Bhikkhu Uttamo tentang “Ketuhanan dalam Agama Buddha”, bahwa Nirwana merupakan aspek Ketuhanan agama Buddha. Nirwana adalah pencapaian tertinggi yang telah dicapai oleh Siddharta Gautama yang mencapai tingkat Sang Buddha.&nbsp;</p>



<p>“Jadi, pengertian Nibbana/Nirwana atau Tuhan dalam Agama Buddha adalah “yang tidak terlahirkan”, “yang tidak menjelma”, “yang tidak bersyarat”, “yang tidak kondisi”, “yang tidak terpikirkan”, serta masih banyak kata ‘tidak’ lainnya. Secara singkat, Tuhan atau Nirwana adalah mutlak, tidak ada kondisi apapun juga.” -Y.M. Biksu Uttamo Mahathera</p>



<p>Ini sejalan dengan yang diutarakan pada bait 4 segel Dharma, yaitu “<em>Nirvana is beyond concept</em>”.</p>



<p>Sejalan dengan penjelasan-penjelasan di atas, teks-teks Buddhis lain juga menjabarkan bahwa saat mencapai kesempurnaan paramita, Buddha mencapai tubuh Dharma atau Dharmakaya. Ini merupakan tubuh yang kekal, ada di mana‐mana, bukan realitas perseorangan, esa, bebas dari pasangan yang berlawanan, ada dengan sendirinya. Dharmakaya ini di Indonesia kita kenali dengan sebutan Sanghyang Adi Buddha (Sumber: &#8220;ADI BUDDHA dalam AGAMA BUDDHA INDONESIA&#8221;).&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Jadi, tentu saja umat Buddhis memiliki sosok yang memiliki sifat Ketuhanan. Oleh karena itu, kita perlu menjunjung sosok tersebut dengan penuh hormat melampaui objek-objek lain.</p>



<p><em><a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/12/hei-bambank-buddha-di-altar-bukan-cuma-patung-pajangan/">Baca juga: Hei Bambank, Buddha di Altar Bukan Cuma Patung Pajangan!</a></em></p>



<p>Apakah masih mengambang? Singkatnya Sang Buddha masih ada dan beraktivitas dengan berbagai cara untuk mematangkan batin kita agar bebas dari penderitaan. Tentang bagaimana Buddha bekerja, kita bisa cari tahu lebih banyak di berbagai kitab seperti “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">Pembebasan di Tangan Kita</a>” Jilid II dan Uttaratantra.</p>



<p><strong>Bagaimana Siddhartha Gautama bisa mencapai sifat Ketuhanan?</strong></p>



<p>Pada dasarnya, berbeda dengan agama lain yang percaya pada kekuatan “Tuhan” sebagai objek pemujaan, Buddha Shakyamuni yang lahir dengan nama Siddhartha Gautama merupakan seorang penemu yang bisa melihat “hakikat dunia sebagaimana adanya”, lantas mencapai kesempurnaan seorang Buddha. Sebelum Siddhartha juga masih ada Buddha-Buddha lainnya yang mencapai tingkatan yang sama. Jadi, alih-alih Tuhan sebagai “sosok” yang mengatur semua hal di alam semesta, seorang Buddha bekerja demi menolong semua makhluk untuk menemukan “kebenaran” yang telah Beliau capai. Para Buddha membimbing para makhluk agar bebas dari penderitaan dan bisa mencapai tingkatan yang sama seperti mereka.</p>



<p>Di masyarakat Jawa, terdapat ungkapan “Manunggaling Kawula Gusti”, artinya diri kita menyatu dengan Ilahi. Ya, sebenarnya konsep ini sangat mirip dengan Buddhisme yang menyatakan bahwa setiap makhluk memiliki benih Kebuddhaan. Jadi, kita semua bisa mencapai apa yang dicapai oleh Sang Buddha juga, aspek-aspeknya adalah kesempurnaan kebijaksanaan dan welas asih. Bukan tak mungkin ungkapan ini merupakan warisan peradaban Hindu-Buddha yang hidup di Nusantara dan dilestarikan dalam jiwa masyarakat Jawa.</p>



<p><strong>Buddhisme sebagai Agama</strong></p>



<p>Ketika mendalami Buddhisme, seperti yang kita bisa ketahui dari pengajaran-pengajaran Sang Buddha selama di dunia, konsep asal muasal dunia atau yang biasa dalam ilmu teologi disebut “Tuhan” merupakan hal yang tidak penting untuk dibahas. Pengetahuan Sang Buddha bisa menjawab hal tersebut, namun Beliau memberikan pemaparan yang tercatat dalam “Culamalunkyaputta Sutta” (Kumpulan Sutta Majjhima Nikaya II) sebagai berikut:</p>



<p>“Jika ada orang berkata: ‘Saya tidak akan melaksanakan penghidupan suci di bawah bimbingan Sang Bhagava bila Sang Bhagava tidak menerangkan padamu ‘dunia kekal’, ……. setelah meninggal, Tathagata bukan ada dan bukan tidak ada’; karena hal itu belum diterangkan oleh Sang Tathagata maka orang itu akan mati. Misalnya, ada orang yang terkena panah beracun, lukanya dalam, karena kenalan dan keluarganya membawa seorang dokter operasi, tetapi orang itu berkata: ‘Saya tak mau dokter saya, kedudukannya, aramanya, apakah ia pendek atau tinggi, hitam atau cerah kulitnya, ia tinggal di kota atau di desa …. bentuk panah yang melukai itu. Hal-hal itu belum dapat diketahui, orang itu telah meninggal, demikian pula halnya dengan kamu, Malunkyaputta.”</p>



<p>Jadi fokus utama dari agama Buddha bukanlah teori-teori mengambang tentang Tuhan atau alam semesta karena ujung-ujungnya hal ini tidak terlalu berguna bagi diri sendiri dan tidak cukup membumi untuk dipraktikkan sehari-hari. Hal ini sebenarnya selaras dengan keilmuan teologi modern (Eka Darmaputera Ph.D, 2004)&nbsp; yang menekankan teologi yang kontekstual.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Teologi adalah upaya untuk merumuskan penghayatan iman pada konteks ruang dan waktu tertentu, jadi teologi yang kontekstual, bagi saya adalah teologi itu sendiri”&nbsp;</p><cite>-Eka Darmaputera</cite></blockquote>



<p>Pada akhirnya, agama tidak akan bertahan jika hanya berada pada ide dan konsep saja, tapi harus membumi dan kontekstual. Bahkan Buddhisme kini dianggap sebagai agama yang paling relevan dengan zaman. Pew Research Center di Washington menyatakan bahwa Buddhisme adalah agama masa depan. Bukan hanya omong kosong, hal ini juga selaras dengan pernyataan dari tokoh Buddhis dunia paling dihormati, yaitu Y.M.S Dalai Lama XIV.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Jika ilmu pengetahuan membuktikan bahwa ada kepercayaan di Buddhis yang salah, maka Buddhisme akan berubah.”</p><cite>-Y.M.S. Dalai Lama XIV</cite></blockquote>



<p><strong>Kesimpulan</strong></p>



<p>Jadi, sebagai seorang umat Buddha, kita tidak perlu ciut ketika dianggap tidak bertuhan. Justru Buddhisme menjunjung penalaran yang kuat sehingga keyakinan kita pada Buddha bukanlah keyakinan buta tak berdasar. Secara pribadi, saya sendiri justru semakin yakin bahwa hanya Buddhis yang bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan filosofis dalam yang masih menjadi <em>‘lubang’</em> pada ajaran agama lain, juga memberikan panduan menjalani kehidupan yang bermanfaat. Tentunya keyakinan ini hanya bisa datang dengan upaya proaktif dari diri kita sendiri untuk melakukan <em>ehipassiko </em>(datang, lihat, dan buktikan) dengan benar. Kita perlu melakukan usaha untuk benar-benar menelaah apa yang Buddha ajarkan, bukan menelan mentah-mentah opini yang muncul sepintas atau pilih-pilih ajaran yang bisa membenarkan pemahaman kita yang belum teruji kebenarannya.&nbsp;</p>



<p>Saya berharap artikel ini bisa mengangkat kepala kita semua sebagai umat Buddha Indonesia karena memang ajaran Sang Buddha itu besar dan kita sangat beruntung bisa memiliki jodoh dengan ajaran ini, jadi jangan sia-siakan kesempatan ini.</p>



<p>Tulisan ini terinspirasi dari buku “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/bertuhan-beragama-dan-hal-hal-lain-yang-belum-selesai/">Bertuhan, Beragama, dan Hal-Hal yang Belum Selesai</a>” karya Y.M. Biksu Bhadra Ruci. Jika ada kesalahan dan kecacatan, hal ini semata-mata karena penulis belum bisa menyampaikan dengan tepat gagasan dalam buku tersebut. Atas kekurangan ini saya memohon maaf.</p>



<p>Sumber:</p>



<p>“<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/bertuhan-beragama-dan-hal-hal-lain-yang-belum-selesai/">Bertuhan, Beragama, dan Hal-Hal yang Belum Selesai</a>” karya Y.M. Biksu Bhadra Ruci</p>



<p>“Kumpulan Sutta Majjhima Nikaya II”, diterbitkan oleh Proyek Sarana Kehidupan Beragama Buddha Departemen Agama RI, 1994.</p>



<p>“Ketuhanan dalam Agama Buddha” oleh Bhante Uttamo, diterbitkan di <a href="https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/ketuhanan-dalam-agama-buddha/">samaggi-phala.or.id</a></p>



<p>“Konteks Berteologi di Indonesia” oleh Eka Darmaputera Ph.D</p>



<p>&#8220;ADI BUDDHA dalam AGAMA BUDDHA INDONESIA&#8221; oleh Hudaya Kandahjaya</p>



<p>“Agama Buddha Agama Masa Depan” oleh Komala Somadevi, diterbitkan di <a href="http://buddhazine.com/agama-buddha-agama-masa-depan/">buddhazine.com</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/07/24/tuhan-buddha-ada-nggak/">Buddha, Tuhan Ada Nggak?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/07/24/tuhan-buddha-ada-nggak/">Buddha, Tuhan Ada Nggak?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Siapakah Buddha? Buddha Adalah Kita!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/06/16/siapakah-buddha-buddha-adalah-kita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2020 10:22:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Cara Mejadi Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4961</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Shierlen Octavia Ketika mendengar kata “Buddha”, hal apa yang pertama kali terlintas di benak kita? Jawabannya mungkin akan sangat beragam sebab kata “Buddha” pun sesungguhnya menyandang banyak makna, tergantung dari perspektif yang kita gunakan. Ada yang mengingat Buddha sebagai Pangeran Siddhartha, ada yang lalu mengingat arti kata Buddha, yaitu “yang tersadarkan”. Kemudian, ada pula [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/06/16/siapakah-buddha-buddha-adalah-kita/">Siapakah Buddha? Buddha Adalah Kita!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/06/16/siapakah-buddha-buddha-adalah-kita/">Siapakah Buddha? Buddha Adalah Kita!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Shierlen Octavia</p>



<p>Ketika mendengar kata “Buddha”, hal apa yang pertama kali terlintas di benak kita? Jawabannya mungkin akan sangat beragam sebab kata “Buddha” pun sesungguhnya menyandang banyak makna, tergantung dari perspektif yang kita gunakan. Ada yang mengingat Buddha sebagai Pangeran Siddhartha, ada yang lalu mengingat arti kata Buddha, yaitu “yang tersadarkan”. Kemudian, ada pula yang mungkin mengingat Buddha sebagai sebuah kualitas—benih yang disebut-sebut ada di dalam diri setiap makhluk hidup. Meskipun begitu, hingga 2000-an tahun berlalu, Buddha yang kita tahu masihlah Buddha Shakyamuni seorang dan tak pernah barang sekali pun kita mendengar ada nama Buddha lain yang hidup di dunia modern. Kalau semua orang punya benih Kebuddhaan, kok sampai sekarang belum ada Buddha yang baru? Benarkah pernyataan bahwa kita memiliki benih Kebuddhaan?</p>



<p>Sebelum membahas mengenai benar atau tidaknya pernyataan di atas, kita mengetahui dengan pasti bahwa sosok Buddha yang dikenal oleh khalayak umum adalah sesosok manusia bernama Siddhartha Gautama yang terlahir sebagai seorang pangeran di Kerajaan Kapilawastu beribu tahun yang lalu. Sama seperti masa sekarang, Buddha di zaman dulu tidak terdiri dari banyak orang yang bisa kita temukan di mana-mana, lalu kita sapa dengan santai layaknya bertemu kawan lama. Kelangkaan ini bahkan tergambarkan dalam sebuah kejadian dalam kehidupan Buddha Shakyamuni. Dahulu kala, ketika Buddha tengah berdiam di Kota Āpana, ada seorang guru Brahmana bernama Sela yang kala itu mendengar kata “Buddha”. Ketika mendengarnya, Beliau berkata, “Sungguh jarang mendengar kata ‘Buddha, Buddha’ di dunia ini”. Akan tetapi, sebenarnya yang lebih jarang lagi adalah munculnya seorang Buddha. Hal ini karena untuk menjadi Yang Tersadarkan, kita harus menyempurnakan parami selama masa hidup yang amat sangat panjang.</p>



<p>Mengetahui hal tersebut, mungkin akan timbul keraguan di hati kita mengenai kebenaran Buddha dalam wujud kualitas—benih Kebuddhaan di dalam diri kita. Soalnya, kemungkinan kita untuk menjadi seorang Buddha rasanya sama mustahilnya seperti kemungkinan monyet akan bertelur. Setelah 2564 tahun lamanya kita mati lalu terlahir, lalu mati dan terlahir dalam siklus kehidupan yang tak terhitung, hingga kini kita masih saja manusia biasa yang terjebak di lingkaran samsara. Itu baru sebagian kecil dari perjalanan para bakal Buddha untuk mencari obat dari lahir, tua, sakit, dan mati yang lamanya lebih dari 550 kisah Jataka yang pernah dikisahkan oleh Buddha. Dibutuhkan empat asankheyya dan seratus ribu kalpa lamanya hingga Buddha yang kini kita kenal dengan nama Buddha Shakyamuni bisa mencapai kesempurnaan, dengan catatan bahwa satu kalpa saja setara dengan belasan juta tahun.</p>



<p>Meskipun tampak mustahil, jikalau kita pikir-pikir lebih jauh, sosok Buddha Shakyamuni sesungguhnya tidaklah jauh berbeda dengan kita. Pertama, Beliau mulanya adalah manusia yang sama seperti kita. Kedua, Beliau menyadari bahwa hidup dalam samsara tidak membawa kebahagiaan sejati dan bertekad untuk keluar darinya. Dalam hal ini, kita pun sama. Kita mengetahui dari Beliau betapa jahanamnya samsara, lengkap beserta dengan jalan untuk mengakhirinya. Ketiga, kualitas yang Beliau miliki pun pada dasarnya kita miliki. Sebagai contoh, kita memiliki kualitas wirya (<em>viriya</em>), yang secara ringkas diartikan sebagai kualitas semangat walaupun tentunya belum kokoh dan tak dapat digentarkan seperti Buddha. Artinya dalam hal ini, hanya satu hal yang membedakan kita dengan Beliau: Buddha sudah menyempurnakan kualitas tersebut sementara kita masih dalam perjalanan untuk sampai ke sana.</p>



<p>Berbeda dengan kita yang kadang naik kadang surut dalam upaya mencapai Kebuddhaan, para Buddha pendahulu tidak pernah patah semangat dan selalu gencar dalam praktiknya. Pengetahuan paripurna tentang kehidupan yang kini kita terima sebagai Dharma berasal dari pencapaian Beliau, hasil dari rentetan uji coba yang tak jarang menemui kegagalan dan hambatan. Beliau telah melalui tak terhitung banyaknya kehidupan, dan tak ada satu pun dari kehidupan yang Beliau jalani berlalu dengan sia-sia. Dari Jataka dan kitab-kitab, kita tahu bahwa selalu ada usaha yang diberikan di dalamnya untuk menolong semua makhluk. Hal ini merupakan salah satu kualitas yang sangat patut dikagumi, sebab tak pernah ada sejarah Buddha membeda-bedakan antara satu makhluk dengan yang lainnya. Buddha menolong siapa saja, baik yang merugikan maupun menguntungkannya. Bahkan Buddha mengasihi Dewadatta yang berulang kali mencoba membunuhnya sama seperti mengasihi anak kandungnya sendiri!</p>



<p>“Yah, bedalah antara kita dan Buddha, Buddha ‘kan selalu terlahir jadi makhluk-makhluk agung. Kita <em>mah </em>cuma remah-remah rengginang.”</p>



<p>Jika kita berpikir seperti itu, kita mungkin lupa atau belum pernah dengar kata Buddha yang satu ini: Buddha pernah menganalogikan jumlah kisah hidup yang Ia ceritakan dan jumlah pengalaman-Nya yang sebenarnya sebagai semangkuk air laut dan samudra. Hal yang kita kira sudah kita ketahui dengan jelas sesungguhnya bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan keseluruhan perjuangan Beliau. Semangkuk kisah luar biasa tentang keagungan Buddha bisa ada berkat satu samudra perjuangan-Nya jatuh bangun melawan klesha di enam alam kehidupan yang mungkin tak jauh berbeda dengan apa yang kita lalui.</p>



<p>Mengetahui hal ini, tentunya tidak mengherankan apabila banyak kitab yang menyebutkan bahwa Buddha adalah sosok sempurna. Kesempurnaan yang dimiliki Buddha bukan hanya ongkos mulut semata. Beliau memiliki empat jenis tubuh (Svabhavakaya, Jnana-dharmakaya, Sambhogakaya, dan Nirmanakaya). Sambhogakaya Buddha yang terdiri dari 32 tanda utama dan 80 tanda sekunder eksis bukan untuk pertunjukan teatrikal belaka. Tubuh fisiknya tersebut memungkinkan Beliau untuk bertindak dengan ahli—tidak hanya memberikan apa yang kita butuhkan, tetapi juga yang kita inginkan. Sebagai manusia biasa, kita sering kali gagal untuk memenuhi salah satu dari keduanya. Saat kita bisa memberikan yang orang lain butuhkan, kita gagal memberikan yang mereka inginkan. Begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, Buddha, mampu mencerahkan banyak orang dengan masing-masing keinginan dan tingkat pemahaman yang berbeda, hanya dengan mengucapkan satu kalimat yang sama.</p>



<p>Buddha berawal dari eksistensi-Nya sebagai manusia. Pernyataan ini saja sesungguhnya sudah memberikan petunjuk bahwa Kebuddhaan adalah potensi terbesar yang bisa kita wujudkan sebagai manusia, terlepas dari ras dan suku kita, bahasa yang kita gunakan, latar belakang keluarga yang kita miliki, kaya atau miskin—apapun itu. Tidak pernah kita temukan dalam satu bagian dari kitab mana pun yang menyebutkan misal: orang Indonesia tidak bisa jadi Buddha karena ia tidak mengerti bahasa Pali; atau orang miskin tidak bisa menempuh jalan Kebuddhaan. Hal tersebut karena tidak ada kondisi apa pun yang sebenarnya mengekang kita untuk menjadi Buddha dengan tubuh manusia, kalau bukan diri kita sendiri yang memang tidak menghendakinya. Buddha sendiri, sang revolusioner agung yang membawa makna sejati dari hakikat kehidupan ini pun berkata bahwa seseorang tidak menjadi mulia karena dilahirkan dalam keluarga tertentu. Beliau menjadi mulia karena perilakunya. Oleh sebab itu, adanya kesempatan untuk berperilaku seperti yang telah diajarkan guru kita, Buddha, adalah yang sebab nilai kehidupan kita sebagai manusia menjadi berharga.</p>



<p>Keagungan Sang Buddha ini mungkin bisa membuat kita berkecil hati di hadapan Beliau. Akan tetapi bagi saya, Buddha justru memberikan secercah harapan. Menurut saya, Buddha dan kita ibarat bunga yang sudah mekar dan benih bunga yang baru akan tumbuh. Benih bunga memiliki kualitas-kualitas yang nantinya akan tumbuh menjadi bunga. Karena masih berbentuk benih, maka kita tidak bisa melihat kelopak, putik, atau mahkota bunganya. Akan tetapi, kita tahu bahwa ketika kita berusaha menyiram, memupuk, dan menyingkirkan hama yang bisa merusaknya, benih tersebut akan berkembang menjadi bunga yang cantik lengkap dengan kelopak, putik, mahkota, dan bagian lainnya yang semula tak bisa kita lihat. Kondisi kita saat ini juga demikian. Kita masih diliputi hama bernama klesha dan kita jarang menyiram diri kita dengan air yang bernama perbuatan bajik. Makanya, kita merasa Buddha adalah sesuatu yang teramat sangat jauh dan berjarak dengan diri kita. Padahal, jika kita renungkan baris-baris sebelumnya, kita tahu bahwa kita tidak kekurangan kualitas yang juga dimiliki Beliau sebelum mencapai Kebuddhaan. Kita tidak perlu merasa iri pada Pangeran Siddharta yang sudah berhasil apalagi merasa tidak mampu.</p>



<p>Meskipun sulit, dari sini kita tahu bahwa pada dasarnya manusia pasti memiliki modal untuk menjadi seorang Buddha. Kita bisa melihat usaha-usaha luar biasa dari para ilmuwan zaman dahulu yang mesti gagal bahkan hingga ribuan kali sebelum berhasil menemukan banyak hal yang kini menyokong kehidupan manusia. Hal ini adalah sebuah pertanda baik dan bahan bakar bagi kita untuk meyakini bahwa kelahiran kita sebagai manusia memiliki potensi tak terbatas yang bisa melesat jauh, seminimal-minimalnya bahkan bisa seperti para ilmuwan itu. Oleh karena itu, biarpun jalan yang kita lalui sudah pasti akan menjadi jalan yang panjang dan sulit, namun usaha mencapai Kebuddhaan yang lengkap sempurna tidaklah mustahil, apalagi sia-sia.</p>



<p>Sama seperti kalimat guru Brahmana bernama Sela pada zaman Buddha, nama “Buddha” mungkin jarang terdengar di sekitar kita. Akan tetapi, kita, dari 7,61 milyar manusia di muka bumi ini, masih bisa mendengar kata “Buddha”. Tak hanya itu, kita juga amat beruntung bisa memperoleh Dharma dan semangat Kebuddhaan dari seorang guru yang sudah mencapai tingkatan Buddha—yang menjadi sebab bagi munculnya Buddha itu sendiri di dalam diri kita. Buddha telah berpesan bahwa kerajaan terbesar yang dapat ditaklukkan oleh seorang manusia sebenarnya terletak di dalam diri kita sendiri. Jika kita dapat menguasai kerajaan ini seutuhnya, niscaya kebahagiaan sejati yang melampaui ruang dan waktu akan menjadi milik kita selamanya. Pertanyaan yang tersisa hanya satu: seberapa besar keinginan kita mencapai Kebuddhaan untuk menolong semua makhluk dan usaha kita untuk mewujudkannya?</p>



<p>Referensi:</p>



<p>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; “Kitab Komentar <em>Buddha-Nature</em>: Mahayana-Uttaratantra-Shastra” oleh Dzongsar Jamyang Khyentse Rinpoche</p>



<p>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; “Riwayat Agung Para Buddha” Jilid I oleh Tipitakadhara Mingun Sayadaw</p>



<p>3.      “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">Pembebasan di Tangan Kita</a>” Jilid II oleh Phabongkha Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/06/16/siapakah-buddha-buddha-adalah-kita/">Siapakah Buddha? Buddha Adalah Kita!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/06/16/siapakah-buddha-buddha-adalah-kita/">Siapakah Buddha? Buddha Adalah Kita!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masih Adakah Buddha di Dunia Ini?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/05/26/masih-adakah-buddha-di-dunia-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2020 08:54:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Buddhis Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4938</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Buddha itu siapa sih?” Saat mendapat pertanyaan seperti itu, jawaban apa yang kira-kira akan kita lontarkan? Penggalan pertanyaan di atas mungkin sering kali kita dengar di kalangan masyarakat yang tidak mengenal Buddhisme dan tentu saja hal ini sangat wajar. Ketika kita sebagai umat menjawab, mungkin jawaban kita akan berkisar pada pernyataan bahwa Buddha adalah sesosok [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/26/masih-adakah-buddha-di-dunia-ini/">Masih Adakah Buddha di Dunia Ini?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/26/masih-adakah-buddha-di-dunia-ini/">Masih Adakah Buddha di Dunia Ini?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Buddha itu siapa <em>sih</em>?”</p>



<p>Saat mendapat pertanyaan seperti itu, jawaban apa yang kira-kira akan kita lontarkan?</p>



<p>Penggalan pertanyaan di atas mungkin sering kali kita dengar di kalangan masyarakat yang tidak mengenal Buddhisme dan tentu saja hal ini sangat wajar. Ketika kita sebagai umat menjawab, mungkin jawaban kita akan berkisar pada pernyataan bahwa Buddha adalah sesosok manusia biasa yang mencapai pencerahan sempurna lalu menjadi tokoh pemujaan dalam agama Buddha. Ada pula yang menyamakan sosok Buddha dengan Tuhan pencipta karena jawaban tersebut sepertinya lebih tepat. Rasa-rasanya tidak hanya umat non-Buddhis saja yang bingung dengan ‘siapa sesungguhnya Buddha’, tetapi juga kita yang mengaku sebagai umat Buddhis.</p>



<p>Dalam suasana kalut karena tidak yakin dengan siapa, bahkan apa itu sosok Buddha, beberapa dari kita mungkin akan menjawab bahwa Buddha adalah sosok agung yang telah <em>wafat. </em>Ya, Buddha sudah mati karena selama ini kita belajar bahwa Buddha Shakyamuni telah mencapai parinirwana dan kita tidak lagi bisa melihat Beliau dengan kedua bola mata kita. Meskipun sudah tiada, Beliau terus mendapat pemujaan dari kita, umatnya. Hal ini karena umat Buddha berpegangan pada <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/tisarana-gerbang-memasuki-ajaran/">Tisarana</a> sebagai sebuah basis dari keyakinan yang mereka anut. Seperti yang kita ketahui, Tisarana artinya kita berlindung pada tiga permata yakni Buddha, Dharma, dan Sangha. Artinya, kita yakin bahwasanya Buddha merupakan salah satu perlindungan bagi diri kita yang amat rapuh ini. Oleh karena kepercayaan itulah, kita masih melakukan sembahyang, melafal paritta, dan memberikan persembahan saat hari Uposatha di depan altar Buddha. Kalau dengan pemikiran yang demikian, maka timbul pertanyaan baru yang harus dijawab: apa bedanya <em>almarhum </em>Buddha dengan leluhur kita? Toh kita sama-sama melakukan sembahyang untuk mereka dan membuat persembahan saat <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/05/ceng-beng-vs-corona-menjaga-tradisi-di-tengah-wabah-covid-19/">Ceng Beng</a>.</p>



<p>“Ya, Buddha <em>memang </em>sudah meninggal, namun kita tetap berlindung padanya karena dengan adanya Beliaulah, maka ada Dharma dan Sangha,” begitu mungkin dalih kita. Kalau begitu, mengapa kita harus <em>tisarana, </em>bukannya <em>dwisarana </em>saja? Seharusnya dengan berlindung pada Dharma dan Sangha saja sudah cukup bagi kita untuk terbebas dari lahir, tua, sakit, mati <em>dong</em>? Dalam hal inilah, kita sebagai umat sering kali keliru. Kita dengan yakinnya mengamini bahwa sosok Buddha sudah mati sehingga tidak sepatutnya kita marah saat ada umat lain yang mengatakan bahwa kita adalah penyembah berhala.</p>



<p>Akan tetapi, apakah Buddha benar sudah <em>mati</em>? Sebelum kita tiba pada kesimpulan pertanyaan tersebut, pertama-tama, kita perlu mengetahui terlebih dulu bahwa meskipun Kebuddhaan dicapai dengan tubuh manusia, tubuh Buddha berbeda jauh dengan tubuh kita, manusia biasa. Tubuh seorang Buddha tersusun dari dua hal: pengumpulan kebajikan dan kebijaksanaan yang luar biasa besar. Pengumpulan-pengumpulan tersebut adalah yang selanjutnya kita sebut sebagai “kaya” (tubuh atau dimensi Buddha). Secara umum, tingkat Kebuddhaan sering kali digambarkan terdiri dari dua kaya, yaitu Dharmakaya dan Rupakaya. Pada sutra-sutra Mahayana, tubuh Buddha dikatakan terdiri dari tiga tubuh yakni Dharmakaya dan Rupakaya yang dibagi menjadi dua: Sambhogakaya dan Nirmanakaya. Bahkan ada yang membaginya menjadi empat jenis, yaitu dengan tambahan Swabhawakaya yang merupakan bagian dari Dharmakaya. Secara sederhana, Dharmakaya adalah kualitas kebijaksanaan tertinggi Buddha yang telah merealisasi kesunyataan dengan sempurna dan melampaui konsep.</p>



<p>Rupakaya Buddha, yang secara umum terbagi menjadi Sambhogakaya dan Nirmanakaya, adalah manifestasi Dharmakaya yang mewujud menjadi tubuh fisik Buddha. Dalam berbagai Sutra, Sambhogakaya Buddha adalah tubuh fisik Buddha yang terdiri dari 32 tanda utama dan 80 tanda sekunder yang berdiam di sebuah alam (yang tidak terlalu tepat pula jika kita sebut sebagai alam sebab nirwana adalah kondisi terbebas dari alam kehidupan) bernama surga Buddha Akanistha. Oleh karena itulah, hanya mereka yang telah mencapai level kesucian tertentulah yang dapat melihat Sambhogakaya tersebut sebagaimana tampaknya. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih membumi, salah satu manifestasi Sambhogakaya adalah Buddha Amitabha. Dari satu bagian ini saja, kita bisa menyimpulkan bahwa Buddha masih hidup. Bila diibaratkan, Sambhogakaya layaknya bulan, dan kita yang belum memiliki karma kebajikan berlimpah hanya mampu melihat bayangan dari bulan—yaitu Nirmanakaya. Nirmanakaya merupakan manifestasi Buddha yang mewujud di alam kehidupan untuk menyentuh makhluk secara langsung. Nirmanakaya adalah sosok yang selalu kita sebut dalam setiap Jataka yang kita baca, setiap cerita yang mengisahkan perjalanan Pangeran Siddhartha menjadi seorang Buddha, hingga Buddha Shakyamuni yang mencapai parinirwana. Malah, kematian yang dialaminya sesungguhnya adalah sebuah pertunjukan agung untuk membuat kita memahami bahwa kematian merupakan sesuatu yang tak terelakkan.</p>



<p>Kedua, jika kita memahami kesalingbergantungan, maka seharusnya kita juga meyakini bahwa Buddha masih ada. Sama halnya seperti kita yang beraktivitas—bekerja, sekolah, main—Buddha juga beraktivitas. Akan tetapi, beda dengan aktivitas yang kita lakukan dengan tujuan untuk menyenangkan diri sendiri, aktivitas Buddha sepenuhnya bertujuan membebaskan semua makhluk dari samsara. Selama samsara belum kosong artinya Buddha akan selalu ada. Jikalau Buddha sudah mati, maka kalimat sebelumnya terdengar seperti janji palsu yang dikarang oleh Buddha semasa ‘hidup’. Mengapa disebut sebagai janji palsu? Sebab masih ada banyak sekali makhluk di samsara, namun Buddha sudah tak bisa menolong karena Ia sudah mati. Coba kita bayangkan, saat kita mati, maka siapakah yang beraktivitas? Adakah orang yang melakukan aktivitas tersebut? Tidak ada, bukan? Maka dengan logika yang sama, jika Buddha sudah mati, maka Beliau sudah tidak bisa lagi membebaskan kita <em>dong</em>?</p>



<p>Perihal kontroversi Buddha yang sudah mati vs Buddha masih hidup sesungguhnya tidaklah menguntungkan maupun merugikan Buddha dalam hal apapun. Hal ini karena aktivitas Beliau tidak terbatas dan spontan. Mau kita sadari atau tidak, percayai atau tidak, hingga tulisan ini dimuat pun, Buddha tidak pernah sedetik pun berhenti beraktivitas untuk kita. Aktivitas bajik Buddha sesungguhnya bukanlah sesuatu yang asing. Kita mungkin berpikir bahwa jikalau Buddha benar hidup, maka seharusnya saat ini kita pernah satu atau dua kali menyaksikan pemandangan-pemandangan menakjubkan seperti Buddha terbang atau Buddha berjalan di atas air. Akan tetapi, kita harus mengingat tujuan utama eksistensi Buddha: membawa kita keluar dari samsara. Ketika kematian tokoh dalam drama yang kita tonton mengingatkan kita pada ketidakkekalan, saat itulah Buddha hadir dan memberkahi kita. Jika kita bisa melihat musibah yang kita alami sebagai bentuk karma buruk yang telah berbuah dan memperkuat keyakinan kita akan hukum karma, maka di saat itu pulalah Buddha beraktivitas. Berkah Buddha dapat bekerja dalam diri karena keyakinan kita terhadap hidup atau tidaknya Buddha. Buddha bermanifestasi dalam banyak wujud, namun karma buruk kita begitu tebal sehingga kita hanya bisa melihat guru yang dengan sabar mengajarkan kita Dharma sebagai manusia dan seseorang yang menghibur hati kita sebagai teman belaka. Ingat bahwa Sambhogakaya yang lengkap dengan 32 tanda utama dan 80 tanda sekunder bisa dilihat dengan mata telanjang hanya oleh mereka yang memiliki karma kebajikan yang luar biasa. Kalau kita saja sudah gagal melihat kebajikan yang kita peroleh sebagai bentuk aktivitas Buddha, mustahil kita bisa melihat sosok Buddha betulan.</p>



<p>Pada akhirnya, walaupun tidak berpengaruh bagi Buddha, hidup atau tidaknya Buddha <em>berpengaruh</em> bagi batin kita. Bertisarana secara utuh—meyakini tidak hanya Dharma dan Sangha yang masih ada, tetapi juga Buddha, akan membawa manfaat besar bagi kita. Menghidupkan eksistensi Buddha dalam batin kita, merenungkan kualitas Buddha, kemudian menumbuhkan bahkan sedikit saja aspirasi untuk menjadi Buddha telah membuat kita menghimpun kebajikan yang luar biasa besar dan mempurifikasi karma-karma penghalang-yang telah kita kumpulkan di masa lalu. Jelaslah bahwa melakukan sembahyang pada Buddha berbeda dengan sembahyang pada leluhur. Meyakini bahwa Buddha masih hidup bekerja selayaknya kita percaya bahwa ada udara yang tengah berada di sekeliling kita. Udara tidak kasat mata, tapi toh kita yakin ‘kan kalau dia ada?</p>



<p>Saat ini, kebijaksanaan kita terbatas dan kita hanya bisa memahami sesuatu yang dapat kita persepsikan dengan indra-indra kita. Sebagai contoh, ketika mendengar kata “Buddha”, hal yang terbesit di benak kita pertama kali sering kali adalah sebuah sosok, entah manusia dalam wujud Pangeran Siddharta atau rupang Buddha yang sering kita jumpai di vihara. Di waktu lainnya, kata “Buddha” mengingatkan kita pada suatu tingkatan yang mesti kita capai. Kebijaksanaan kita sering kali hanya mau memercayai sesuatu yang bisa kita lihat, dengar, raba, dan rasa. Oleh karenanya, memahami bahkan satu kata “Buddha” menjadi rumit dan seakan berada di luar jangkauan. Meskipun demikian, hal ini juga menandakan bahwa memahami Buddha tidak sesederhana pemahaman superfisial kita yang menyatakan bahwa “Buddha sudah mati” hanya karena “tubuh”-Nya yang beremanasi sebagai Buddha Shakyamuni dikatakan sudah mengalami parinibbana. Lantas, bagaimana mungkin kita dengan berani mengatakan Buddha sudah tak ada sementara memahami kualitasnya dengan menyeluruh saja adalah hal yang sulit?</p>



<p>Jadi, apakah Buddha masih hidup? Jawabannya simpel saja: Buddha sebenarnya masih hidup, tapi kalau batin kita memutuskan untuk ‘membunuh’ Beliau, maka benarlah pernyataan bahwa Buddha sudah mati.</p>



<p>Referensi:</p>



<ol><li>&#8220;<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">Pembebasan di Tangan Kita</a>&#8221; Jilid II oleh Phabongkha Rinpoche</li><li>&#8220;Kitab Komentar <em>Buddha-Nature</em>: Mahayana-Uttaratantra-Shastra&#8221; oleh Dzongsar Jamyang Khyentse Rinpoche</li></ol><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/26/masih-adakah-buddha-di-dunia-ini/">Masih Adakah Buddha di Dunia Ini?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/26/masih-adakah-buddha-di-dunia-ini/">Masih Adakah Buddha di Dunia Ini?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hei, Bambank, Buddha di Altar Bukan Cuma Patung Pajangan!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/05/12/hei-bambank-buddha-di-altar-bukan-cuma-patung-pajangan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 May 2020 09:30:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Berhala]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhist]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<category><![CDATA[waisak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4895</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD Ada stigma yang beredar di masyarakat Buddhis maupun non-Buddhis Indonesia: bahwa umat Buddha itu menyembah patung, menyembah berhala, atau hanya menghormati sosok. Coba kita lihat stigma ini secara ringkas. Non-Buddhis menganggap umat Buddha menyembah patung atau berhala karena dianggap tidak memiliki sosok yang disebut Tuhan. Ada lagi yang berpendapat “Buddhisme itu cuma filsafat, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/12/hei-bambank-buddha-di-altar-bukan-cuma-patung-pajangan/">Hei, Bambank, Buddha di Altar Bukan Cuma Patung Pajangan!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/12/hei-bambank-buddha-di-altar-bukan-cuma-patung-pajangan/">Hei, Bambank, Buddha di Altar Bukan Cuma Patung Pajangan!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD</p>



<p>Ada stigma yang beredar di masyarakat Buddhis maupun non-Buddhis Indonesia: bahwa umat Buddha itu menyembah patung, menyembah berhala, atau hanya menghormati sosok.</p>



<p>Coba kita lihat stigma ini secara ringkas. Non-Buddhis menganggap umat Buddha menyembah patung atau berhala karena dianggap tidak memiliki sosok yang disebut Tuhan. Ada lagi yang berpendapat “Buddhisme itu cuma filsafat, jadi sebetulnya tidak membutuhkan sosok pemujaan”. Untuk kasus umat Buddha sendiri, biasanya beda istilah saja. Karena tidak mau dianggap “menyembah berhala” ataupun “menyembah patung”, beberapa orang menyatakan bahwa pemujaan kepada patung Buddha merupakan cara untuk mengingat jasa dan ajaran Beliau; tapi ujung-ujungnya, sosok Buddha dianggap sebagai sekadar ‘kenangan’ yang masih tersisa.</p>



<p>Kalau kita mundur selangkah dan membandingkan kedua pendapat ini, kita mungkin bisa menemukan kesamaan. Ternyata baik Buddhis maupun non-Buddhis sama-sama melihat rupang Buddha sebagai benda mati yang mentok-mentok hanya punya fungsi estetis, tak ada bedanya dengan foto atau lukisan yang kita pajang di rumah!</p>



<p>Apakah memang demikian seharusnya kita memaknai perlambang tubuh Buddha? Mari kita sama-sama merenung…</p>



<p>Jika seseorang non-Buddhis dan menganggap bahwa umat Buddha menyembah patung, kita bisa maklum. Toh mereka belum pernah mempelajari ajaran Buddha secara mendalam. Namun, di internet kita bisa melihat orang-orang yang mengklaim bahwa umat Buddha “asli” tidak peduli ada patung atau tidak, tidak menganggap perlambang tubuh Buddha memiliki nilai dan makna, sehingga tidak masalah kalau rupang dihancurkan atau diperlakukan sembarangan. Parahnya lagi, tidak sedikit umat Buddha yang mengamini klaim tersebut!</p>



<p>Buddhisme memang tidak mengenal konsep “Tuhan” sebagai pencipta dan asal muasal segalanya (kausa prima), tidak seperti agama Samawi yang lebih dikenal masyarakat luas. Ini merupakan salah satu perbedaan mendasar yang membuat kita tidak bisa memaknai berbagai hal yang menjadi ciri khas Buddhisme dengan cara yang sama dengan agama lain, termasuk dalam kasus ini: penggunaan rupang Buddha. Jadi, terlalu dini bagi orang yang belum pernah mendalami filsafat Buddhis untuk menerka-nerka cara seorang Buddhis seharusnya memaknai rupang Buddha hanya dengan apa yang terlihat oleh mata dan lantas menyebarkan terkaannya seolah-olah itu adalah benar.</p>



<p>Di sisi lain, umat Buddha sendiri juga seringkali menganggap Buddha sudah ‘meninggal’, hanya meninggalkan ajaran saja di dunia. Pola pikir demikian meninggalkan sebuah lubang besar di hati kita&nbsp;karena <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/tisarana-gerbang-memasuki-ajaran/">Triratna</a> sudah tidak lengkap lagi, hanya tertinggal Ratna Dharma dan Ratna Sangha. Lubang inilah yang rawan diisi oleh klesha keragu-raguan dan bisa menjadi alasan utama orang-orang mulai banyak berpindah agama, mempertanyakan manfaat dari belajar Buddhadharma, dan merasa terpaksa kalau harus ke wihara dan sejenisnya.</p>



<p>Ketika seorang Buddhis yang seperti ini mendengar seseorang berkata bahwa Buddhis menyembah berhala, dia akan mulai berpikir, “Hmm… Benar juga, ya…” Rasa minder pun muncul dan membuat orang ini menimbang antara berpikir untuk pindah agama atau menciptakan seribu satu alasan untuk menjustifikasi tindakan “menghormati patung Buddha” yang sesuai dengan logika filsafat non-Buddhis. Dari respons kedua ini, muncullah pandangan atau asumsi bahwa seorang Buddhis tidak peduli jika patung Buddha dihancurkan atau diinjak, bahwa bagi seorang Buddhis pun Buddha hanya ‘orang bijak yang dikagumi’ dan perlambang wujudnya ibarat foto kakek buyut kita atau foto pemenang hadiah Nobel semata.</p>



<p>Sebelum berpikir untuk pindah agama atau melakukan cocoklogi seperti di atas, mungkin ada baiknya kita melakukan sedikit usaha lebih untuk mencari tahu: bagaimana seharusnya umat Buddha memaknai patung Buddha? Apakah ada penjelasannya di dalam kitab-kitab? Saya mencoba mengumpulkan penjelasan-penjelasan itu dan akan membagikannya melalui tulisan ini. Tapi sebagai pembuka, satu ungkapan bagi Anda yang hanya menganggap rupang Buddha merupakan patung/simbol biasa: <strong>SAYANG SEKALI BAMBANK!</strong></p>



<p>Singkatnya, kita itu punya akses untuk mendapatkan perlindungan yang tak terbatas dari sosok Buddha. Menganggap suatu figur Buddha sebagai Buddha yang sebenarnya akan meningkatkan keyakinan, dan keyakinan berbanding lurus dengan usaha kita menerapkan ajaran Beliau. Semakin besar keyakinan kita, maka semakin baik pula kita menerapkan apa yang Beliau ajarkan, dan semakin besar pula manfaat yang kita dapat.</p>



<p>Jadi, jika bisa mendapatkan manfaat yang lebih besar, kenapa harus tidak percaya? Sebelum menarik kesimpulan, alangkah baiknya jika kita mencari lebih banyak ilmu di luar apa yang kita kira kita sudah tahu. Caranya, dengan menilik argumen-argumen yang berdasarkan kitab suci dan teks-teks yang telah diverifikasi guru-guru besar Buddhis.</p>



<p><strong>Jadi, inilah kenapa umat Buddha bukan hanya menyembah patung:</strong></p>



<p><strong>1.</strong> &nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Kemampuan Buddha yang tak terbatas: tubuh Dharmakaya Buddha berada dalam objek apa pun ketika kita bisa menganggapnya demikian.</strong></p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Sejauh mana kebijaksanaan menjangkau, sejauh itu pula jangkauan tubuh fisik Tathagatha.”</em></p><cite>&#8211; <em>Sutra Which Reveals the Inscrutable Mystery of the Tathagata</em> (dikutip dari Pembebasan di Tangan Kita Jilid II)</cite></blockquote>



<p>Banyak Sutra-sutra yang menjelaskan bahwa Buddha memiliki lebih dari satu tubuh. Riwayat Agung Para Buddha karya <em>Tipitakadhara</em> Mingun Sayadaw menjelaskan bahwa Buddha memiliki tubuh Rupakaya dan Dharmakaya. Sumber-sumber lain seperti Abhisamayalamkara karya Arya Maitreya juga menjelaskan bahwa ada 4 tubuh Buddha, yaitu Nirmanakaya, Sambhogakaya, Svabhavivakaya, dan Dharmakaya. Dikatakan bahwa Dharmakaya Buddha merupakan tubuh kebenaran yang tidak bisa dijelaskan, karena telah melampaui konsep, dualisme, dan seluas angkasa. Inilah salah satu aspek Buddha yang dapat dikenali sebagai ‘sifat’ <strong>Ketuhanan.</strong></p>



<p>Kualitas Buddha yang sudah sempurna dan memiliki banyak tubuh tersebut memiliki 10 kekuatan, 4 keberanian, 6 kebijaksanaan, dan 18 kualitas. Singkatnya, pencapaian Buddha merupakan pencapaian yang sudah maksimal dan kemampuan Beliau tak terbatas. Jadi, aspek-aspek tersebut memungkinkan Buddha untuk mematangkan batin para makhluk yang tak terhingga banyaknya. Dengan kualitas-kualitas yang tak terkira itu, kehadiran Buddha yang sesungguhnya saat kita memberikan penghormatan kepada patung atau gambar Buddha tentu bukan merupakan hal yang tidak mungkin.</p>



<p>Arya Shantidewa juga pernah mengatakan, “Dalam kegelapan ini, keinginan memuja Buddha atau ketika kita benar-benar sudah memuja beliau merupakan aktivitas Buddha, dan kita telah mendapatkan berkah dari Buddha.”</p>



<p><strong>2.</strong> &nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Bisa atau tidaknya kita melihat Buddha tergantung karma.</strong></p>



<p>Pada dasarnya, kita harus memahami bahwa kemampuan kita dalam memersepsikan objek adalah bergantung pada kemampuan kita memersepsikan apa yang ada di sekitar kita. Hal ini amatlah bergantung pada <a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Karma?id=seGMDwAAQBAJ">karma</a> dan klesha kita.</p>



<p>Sebagai contoh, seekor anjing tidak bisa membedakan air mineral dan air comberan. Keduanya sama-sama air yang bisa mereka minum. Manusia tentu tidak akan berlaku sama; mereka akan membuang air comberan dan minum air mineral. Demikian pula, sang anjing pun tidak akan bisa memahami betapa emas adalah barang yang sangat bernilai, sedangkan manusia akan melihat emas sebagai sesuatu yang sangat berharga dan akan menyimpannya sebaik mungkin. Dengan logika yang sama, kitab-kitab suci menjelaskan bahwa simbol tubuh Buddha yang kita lihat dalam bentuk yang terbuat dari tanah liat, tembaga, dan material lainnya sebenarnya akan bisa dirasakan sebagai tubuh emanasi Buddha yang&nbsp; unggul pada saat batin kita telah mencapai kondisi konsentrasi arus Dharma (<em>dharmasrota samadhi</em>) di Marga Penghimpunan. Lalu ketika kita mencapai tingkat Bodhisatwa pertama, simbol-simbol tubuh Buddha tersebut pun akan bisa terlihat sebagai Sambhogakaya yang sebenarnya dari seorang Buddha. Jadi, ini adalah kasus yang sama dengan perbedaan antara manusia dan anjing dalam melihat, mencerap dan mengidentifikasi emas. Buddha pada dasarnya ada di sana, namun batin kitalah (yang dipengaruhi oleh karma dan klesha kita masing-masing) yang tidak sanggup melihat, mencerap, dan mengidentifikasinya.</p>



<p>Oleh karena itu, adalah sangat penting bagi kita untuk berlatih mulai sekarang untuk menganggap berbagai simbol seperti rupang dan lukisan sebagai apa yang sesungguhnya mereka representasikan, yakni Sang Buddha itu sendiri.</p>



<p><strong>3.</strong> &nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Memandang figur/simbol Buddha sebagai Buddha yang sesungguhnya merupakan kebajikan yang luar biasa.</strong></p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Ini adalah poin Latihan yang harus dipraktikkan: memperlakukan wujud-wujud Buddha sebagai objek yang harus dihormati – seolah-olah mereka adalah Buddha yang sebenarnya.”</em></p><cite>-Je Tsongkapha (dikutip dari “Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan” Jilid I)</cite></blockquote>



<p>&#8220;Yang Arya Sariputra bisa menjadi satu dari dua murid unggul Sang Buddha karena karma Beliau yang di kehidupan sebelumnya memandang figur Buddha dalam kekaguman dan berpikir, ‘Betapa saya ingin bertemu langsung dengan sosok menakjubkan ini’”. Di dalam Saddharmapundarika Sutra juga dijelaskan, &#8220;Bahkan mereka yang memandang figur para Sugata yang dilukis di dinding dengan batin yang terganggu sekali pun pada akhirnya akan bertemu sepuluh juta Buddha”. Cuplikan sutra ini menjelaskan tentang manfaat dari melihat simbol-simbol Buddha. Jika bahkan seseorang yang memandang suatu figur Buddha dalam keadaan batin yang marah pun bisa mendapatkan manfaat-manfaat seperti itu, tentu saja kita akan mendapatkan manfaat yang lebih ketika memandang figur tersebut dengan sikap penuh hormat.</p>



<p><strong>4.</strong> &nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Tidak hanya menyembah, kita juga beraspirasi mencapai tingkatan Buddha.</strong></p>



<p>Tujuan Buddha mencapai penerangan sempurna dan mengajar adalah agar semua makhluk bisa terbebas dari penderitaan dan mencapai tingkatan yang sama seperti Beliau. Esensi dari Kebuddhaan adalah tercapainya kesempurnaan dalam welas asih (<em>perfection of compassion</em>) dan kesempurnaan kebijaksanaan (<em>perfection of wisdom</em>). Pencapaian ini telah dicapai oleh orang-orang di masa lalu dan bisa pula dicapai oleh orang-orang di masa yang akan datang.</p>



<p>Dengan merenungkan sosok Buddha, kita bisa menghimpun kebajikan yang sangat besar. Kita bisa menyadari bahwa kita memiliki benih Kebuddhaan dalam diri kita. Kita tidak perlu iri pada sosok yang datang 2500 tahun yang lalu karena kita juga memiliki potensi yang sama. Jadi, kita tidak harus menunggu nabi yang datang beberapa tahun lagi (Uttaratantra hal 206)<strong>. Dalam sumber yang sama, </strong>jika diibaratkan sebuah jendela kaca, bisa kita katakan bahwa jendela kaca ini bersih. Namun, jendela ini telah dikotori oleh debu-debu dari luar. Ketika jendela ini dibersihkan, maka ia akan kembali pada sifat awalnya. Ini sama seperti Kebuddhaan yang secara <em>default </em>sudah ada dalam diri kita, namun untuk menemukannya kita mesti menghilangkan kotoran batin terlebih dulu. Kita bisa merenungkan dan menyadari ini semua ketika kita melihat sosok Buddha, baik dalam bentuk rupang atau gambar. Tekad yang bangkit dalam diri kita untuk menjadi penolong semua makhluk seperti Sang Buddha akan menjadi kebajikan yang luar biasa besar sekaligus sebab bagi pencerahan kita.</p>



<p><strong>Penutup</strong></p>



<p>Dengan melihat kualitas-kualitas dari Sang Buddha, guru agung kita, seorang Buddhis seharusnya memperlakukan patung atau simbol Buddha selayaknya patung atau simbol ini adalah Buddha sendiri. Kita harus berbangga hati dan tidak minder jika dibandingkan dengan agama-agama lain, apalagi sampai terbawa tuduhan atau interpretasi dangkal yang tidak didasari oleh pemahaman sesungguhnya akan filsafat atau kitab-kitab Buddhis.</p>



<p>Namun, perlu diingat bahwa esensi ajaran Buddha adalah untuk mengembangkan batin. Buddha mengajar sejatinya adalah untuk mengubah diri kita menjadi lebih baik. Saran saya, kita sebagai umat Buddha harus senantiasa melihat ke dalam batin dan bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya sudah benar-benar memiliki keyakinan terhadap Buddha?” Setelah itu, kita harus lanjut bertanya, “Apakah saya memiliki dasar bagi keyakinan tersebut?” Ini mungkin bisa menjadi titik awal untuk menumbuhkan keyakinan yang kokoh terhadap Buddha, keyakinan yang tidak dengan mudahnya digoyang karena kemudahan dan kesenangan yang bersifat sementara.</p>



<p>Saya akan menutup artikel ini dengan salah satu pernyataan dari teman saya, “Orang akan berhenti mengatakan umat Buddha menyembah berhala ketika kita sebagai umat sendiri juga mampu memosisikan Buddha di posisi yang sepantasnya dan selayaknya.&#8221;</p>



<p>Referensi:<br>1. &#8220;<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">Pembebasan di Tangan Kita</a>&#8221; oleh Phabongkha Rinpoche<br>2. &#8220;The Tibetan Book of The Dead&#8221; oleh Padmasambhava, ditemukan oleh Karma Linga, diterjemahkan oleh Gyurme Dorje, disunting oleh Graham Coleman dan Thupten Jinpa<br>3. &#8220;<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/risalah-agung-tahapan-jalan-menuju-pencerahan-lamrim-chenmo-jld-1-2-3/">Risalah Agung Tahapan Jalan menuju Pencerahan</a>&#8221; oleh Je Tsongkhapa<br>4. &#8220;Uttaratantra&#8221; oleh Dzongsar Khyentse Rinpoche<br>5. Taisho Tripitaka</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/12/hei-bambank-buddha-di-altar-bukan-cuma-patung-pajangan/">Hei, Bambank, Buddha di Altar Bukan Cuma Patung Pajangan!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/12/hei-bambank-buddha-di-altar-bukan-cuma-patung-pajangan/">Hei, Bambank, Buddha di Altar Bukan Cuma Patung Pajangan!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Umat Buddha Menyembah Berhala?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/05/06/apakah-umat-buddha-menyembah-berhala/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 May 2020 08:35:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Berhala]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<category><![CDATA[waisak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4900</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Chatresa7 Jawabannya ya. Umat Buddha memang menyembah berhala. Kenapa bisa begitu? Karena kita tidak mengenal siapa itu Buddha. Apa yang Beliau lakukan? Bagaimana cara Buddha menolong kita? Jika kita sebagai umat Buddha tidak mengetahui ini maka bisa dikatakan ya, kita umat Buddha menyembah berhala. Sebuah fakta yang pahit namun kalau jujur dikatakan, pantas saja [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/06/apakah-umat-buddha-menyembah-berhala/">Apakah Umat Buddha Menyembah Berhala?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/06/apakah-umat-buddha-menyembah-berhala/">Apakah Umat Buddha Menyembah Berhala?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Chatresa7</p>



<p>Jawabannya ya.</p>



<p>Umat Buddha memang menyembah berhala. Kenapa bisa begitu? Karena kita tidak mengenal siapa itu Buddha. Apa yang Beliau lakukan? Bagaimana cara Buddha menolong kita? Jika kita sebagai umat Buddha tidak mengetahui ini maka bisa dikatakan ya, kita umat Buddha menyembah berhala. Sebuah fakta yang pahit namun kalau jujur dikatakan, pantas saja beberapa orang mengatakan kita sebagai umat Buddha sembah berhala. Karena memang kita tidak mengetahui apa dan siapa itu Buddha dan hanya ikutan orang di sebelah untuk “menghormati” Buddha.</p>



<p>Apakah mengetahui siapa itu Buddha akan mampu membuat perbedaan? Tentu saja jawabannya iya. Dengan mengenali sosok Buddha, apa yang sudah Buddha lakukan, dan bagaimana cara Buddha akan menolong kita, tentu pengetahuan kita tentang Buddha bertambah. Hal ini juga akan berpengaruh cukup besar bagi kita umat Buddha. Dengan adanya pengetahuan tersebut, kita sebagai umat Buddha akan mampu memberikan penghormatan kepada Buddha dengan benar dan akan mampu dengan tegas mengatakan bahwa “Saya tidak menyembah berhala, namun saya meneladani Buddha dan memberikan penghormatan yang sebaik dan sepantasnya kepada Buddha.”.</p>



<p>Lalu apa itu yang dimaksud dengan berhala? Makna berhala di KBBI adalah: patung dewa atau sesuatu yang didewakan yang disembah dan dipuja. Jadi jelas sudah kalau Buddha itu kita anggap berhala belaka jika kita hanya ikut-ikutan orang sebelah untuk memuja atau menyembah patung Buddha. Ini berarti kita juga memposisikan Buddha jauh di bawah idola kita. Karena fakta sehari-hari kita lebih kepo dan mengetahui detail tentang idola kita dibandingkan Buddha.</p>



<p>Singkatnya orang akan berhenti mengatakan umat Buddha menyembah berhala ketika kita sebagai umat sendiri juga mampu memposisikan Buddha ke posisi yang sepantas dan selayaknya. Jujur dikatakan sebagian besar umat Buddha kalau ditanya tentu akan bingung memposisikan Buddha itu bagaimana? Apakah cukup sebagai salah satu dewa? Salah satu penasihat kaisar langit? Satu-satunya yang bisa tangkap Sun Go Kong? Tentu saja bukan seperti itu. Kalau kita sebagai umat Buddha sendiri tidak punya pengetahuan yang baik tentang Buddha, maka keyakinan kita juga tidak akan kuat, dan bila keyakinan ini tidak kuat maka ketika ada orang mengatakan kita menyembah berhala, kita hanya bisa tersenyum malu-malu atau malah marah kepada orang itu dan menghasilkan karma buruk.</p>



<p>Pada Waisak tahun ini, kita harus bisa memanfaaatkan waktu yang ada untuk merenungkan dan bertanya kepada diri sendiri. Apa arti Buddha bagi diri kita selama ini? Baik dari segi arti kata itu sendiri maupun Buddha historis. Tanya kepada diri sendiri, dan coba posisikan diri sebagai pangeran Siddhartha. Apakah kita mampu dan dengan teguh mengambil pilihan-pilihan yang pangeran Siddhartha lakukan? Apakah kita berani untuk mencari jalan menuju pencerahan dengan meninggalkan semua harta, kuasa dan keluarga? Renungkan dengan baik hal ini, dan juga renungkan sebenarnya apa yang Buddha lakukan untuk menolong kita. Apakah kita merasakan pertolongan dari Buddha selama ini?</p>



<p>Ketika kita menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu pada diri kita, kita mungkin akan menemukan bahwa sebenarnya pemahaman kita akan Sang Buddha hanya sampai kulitnya saja. Kita tidak mengenal siapa Buddha sesungguhnya, kualitas apa saja yang Buddha miliki, dan sejauh apa kebijaksanaan dan welas asih yang telah Sang Buddha raih. Kita kita menyadari hal itu, alangkah baiknya kita mulai sungguh-sungguh mencari tahu tentang <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/12-aktivitas-agung-sang-begawan/">siapa itu Buddha</a> dan <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/tisarana-gerbang-memasuki-ajaran/">membangun kembali keyakinan kita dari dasar</a>. Saat itu, barulah kita bisa benar-benar menghormati Sang Buddha sebagai lebih dari sekadar ‘berhala’.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/06/apakah-umat-buddha-menyembah-berhala/">Apakah Umat Buddha Menyembah Berhala?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/06/apakah-umat-buddha-menyembah-berhala/">Apakah Umat Buddha Menyembah Berhala?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Mau Berkah dari Buddha?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/30/ilr-2017-mau-berkah-dari-buddha/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Dec 2017 07:16:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bakti]]></category>
		<category><![CDATA[berkah]]></category>
		<category><![CDATA[blessing]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[guru spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3864</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sebelum berharap berkah dari Buddha, sadarkah bahwa dalam menjalani keseharian, kita sering kali membuang-buang waktu kita untuk hal-hal yang tidak bermanfaat? Padahal, kita sangat merindu-rindukan berkah untuk hadir dalam diri kita? Apakah mungkin bermalas-malasan akan memberikan berkah bagi kita? Hari keenam Indonesia Lamrim Retreat 2017 dibuka oleh Biksu Bhadra Ruci dengan mengajak para peserta untuk [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/30/ilr-2017-mau-berkah-dari-buddha/">ILR 2017: Mau Berkah dari Buddha?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/30/ilr-2017-mau-berkah-dari-buddha/">ILR 2017: Mau Berkah dari Buddha?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebelum berharap berkah dari Buddha, sadarkah bahwa dalam menjalani keseharian, kita sering kali membuang-buang waktu kita untuk hal-hal yang tidak bermanfaat? Padahal, kita sangat merindu-rindukan berkah untuk hadir dalam diri kita? Apakah mungkin bermalas-malasan akan memberikan berkah bagi kita?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hari keenam Indonesia Lamrim Retreat 2017 dibuka oleh Biksu Bhadra Ruci dengan mengajak para peserta untuk merenungkan mengenai bagaimana kita sering menyia-nyiakan kelahiran sebagai manusia yang berharga. Lebih lanjut, hal ini diibaratkan oleh Arya Nagarjuna bagaikan timbunan permata yang disia-siakan dan pada akhirnya tidak bermanfaat. Tubuh kita ibarat permata yang kita sia-siakan dengan tidak menyadari kebebasan dan keberuntungan yang kita miliki. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seberapa sering kita menghabiskan waktu untuk bermalas-malasan dengan melakukan hal yang tak berguna, menunda-nunda pekerjaan, dan berdalih bahwa kita tidak sanggup melakukan suatu hal sebelum benar-benar mencobanya? Hal ini bisa terjadi karena kita masih kurang melihat kualitas diri. Kita tidak bisa membedakan hal yang baik dan yang buruk dalam diri. Kita bahkan tidak mengenali hal-hal apa yang menarik bagi kita. Yang lebih parahnya, batin kita seringkali tidak mampu berkompromi dan masih bersikap seperti anak-anak. Padahal, jasmani kita terus menua sementara kematangan batin tidak mengenal ukuran waktu. Tubuh kita akan mati dengan membawa batin yang tidak matang. Lama-kelamaan, hal-hal tersebut bisa beracun dan menjadi “penyakit” bagi batin. Oleh karena itulah, kita perlu menyadari kualitas diri yang bisa kita capai dengan mencari obat yang tepat untuk menyembuhkan “penyakit” tersebut. Obat tersebut yakni dengan merenungkan Lamrim dengan mengajak diri sendiri bicara pada setiap aktivitas.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Before you do, ask.</span></i></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Untuk merasakan perubahan yang tepat, tanyakanlah dirimu setiap saat. Apa yang kulakukan? </span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk apa aku melakukan hal tersebut? Berapa lama hal tersebut akan memakan waktu kita? Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu diarahkan ke dalam batin kita untuk menumbuhkan rasa bahwa kita butuh untuk berubah dan belajar. Akan tetapi, kita perlu menyadari bahwa dalam proses belajar, kita membutuhkan seorang sosok guru yang mampu menuntun kita. Sama halnya dengan guru di sekolah yang mengajarkan kita untuk membaca huruf-huruf dan aksara hingga kita bisa membaca artikel ini pada saat ini, guru spiritual adalah seseorang yang mampu menuntun kita menuju berkembangnya batin. Mengapa bukan Buddha? Pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa timbunan karma buruk yang kita miliki sehingga kita tak bisa melihat sosok Buddha. Lantas, bagaimana mungkin Buddha bisa secara langsung mendorong kita mencapai realisasi? Dalam hal ini, guru spiritual merupakan jembatan antara diri kita dengan Buddha. Hanyalah karena kebaikan guru spiritual kepada kitalah, saat ini kita mampu bertemu dengan ajaran Dharma. Sebab siapa lagi orang yang mau, rela, dan berkapasitas untuk membimbing diri kita yang bebal ini selain guru spiritual?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena kebaikan luar biasa tersebut, maka kita perlu mengembangkan rasa hormat kita layaknya kita menghormati guru yang telah berjasa menghindarkan kita dari buta huruf. Pengembangan rasa hormat itu tak lain dengan mengingat kebaikan-kebaikan guru spiritual. Pertama, ingatlah bahwa </span><b>guru spiritual kita lebih baik dibandingkan seluruh Buddha</b><span style="font-weight: 400;"> yang pernah ada. Guru dikatakan melebihi Buddha sebab meskipun Buddha telah menyelamatkan banyak sekali makhluk, Buddha tidak bisa menyelamatkan diri kita. Faktanya, saat ini kita masih terjebak dalam samsara. Untuk lebih memahami hal ini, Geshe Potowa memberikan sebuah perumpamaan. Guru merupakan seseorang yang memberikan kita makanan ketika kita merasakan lapar yang amat sangat. Sementara Buddha adalah sosok yang memberikan kita makanan ketika kita berada dalam kondisi yang makmur. Jika kita merenungkan hal ini, kita akan menyadari bahwa guru lebih berharga dibandingkan dengan Buddha dalam hal pertolongan. Kedua, </span><b>ingatlah kebaikan guru spiritual dalam mengajar Dharma</b><span style="font-weight: 400;">. Di zaman di mana Dharma begitu langka untuk dijumpai dan bertemu dengan Buddha dan Bodhisatwa secara langsung merupakan hal yang sulit, hanya guru spiritual kitalah yang mau menunjukkan Dharma, memberitahu kita tentang realisasi, pencapaian, dan menuntun kita secara spiritual. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Poin ketiga yang membantu kita mengembangkan rasa hormat terhadap guru adalah karena </span><b>kebaikan gurulah yang memberkahi batin kita</b><span style="font-weight: 400;">. Begitu banyaknya</span><i><span style="font-weight: 400;"> klesha</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan karma buruk yang telah kita perbuat menyebabkan kita semakin jauh dari Dharma sehingga meskipun berkalpa-kalpa tahun telah berlalu dan para Buddha sudah lahir, kita tidak bisa mencapai realisasi. Namun, karena adanya berkah yang kita terima ketika kita melakukan praktik-praktik seperti memohon kepada guru-guru kita, realisasi spiritual dapat dibangkitkan dalam batin kita. Bayangkanlah ketika ada seseorang yang menyelamatkan narapidana dari penjara, kemudian memberikan orang tersebut kemakmuran. Betapa luar biasa baiknya sang penyelamat! Bukankah hal ini mirip, bahkan tidak sebanding dengan guru kita yang tiada lelah membimbing kita untuk keluar dari alam rendah, membersihkan kita dari perbuatan buruk, dan memberi kemakmuran bagi kita serta mengajarkan kita kebenaran sejati? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal terakhir yang perlu kita ingat dan renungkan adalah kebaikan </span><b>guru menggunakan materi-materi untuk mendekatkan murid-murid kepadanya</b><span style="font-weight: 400;">. Selama ini kita mungkin berpikir bahwa hanya karena upaya kita sendirilah, kita bisa memperoleh berbagai bentuk kesenangan, kebahagiaan, dan ketenaran yang mungkin saat ini kita nikmati. Akan tetapi, ingatlah poin sebelumnya bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">klesha</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau kotoran batin kita begitu kuat dan karma buruk yang kita miliki tak terhingga banyaknya. Seluruh kualitas baik yang saat ini kita miliki tak terlepas dari kebaikan hati guru spiritual. Guru spiritual bisa hadir dan menjelma dalam berbagai bentuk. Untuk lebih memahami hal ini, bayangkanlah bahwa Buddha layaknya bulan yang bersinar di langit dengan banyak sekali tempayan berisi air jernih di dalamnya. Air jernih tersebut memantulkan bayangan bulan yang berada di langit. Hal ini memberikan kita perumpamaan bahwa meskipun hanya ada satu Buddha yang selama ini kita ketahui, Buddha termanifestasi dalam beragam bentuk. Dan salah satunya, adalah guru spiritual kita yang saat ini hadir bersama dengan kita dan membabarkan ajaran agung untuk mendorong perubahan dalam batin kita. Tanpa intervensi guru spiritual, akan sangat sulit bagi kita untuk belajar Dharma. Segala kesuksesan, kebaikan apapun yang kita alami sangat bergantung pada sebab yang mengeluarkan hasil yang baik pula, dengan sebab utama untuk memperoleh hal tersebut adalah bertumpu pada guru spiritual dengan benar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada akhirnya, belajarlah untuk dirimu sendiri demi masa mendatang yang lebih baik. Semakin banyak pencapaian kualitas spiritual yang kita peroleh, di situlah perubahan batin akan kita rasakan. Teruslah berupaya dalam pengembangan batin dan dengan bertumpu pada guru spiritual. </span><b>Bangkitkan keyakinan dan rasa bakti terhadap guru, berbaktilah dengan memberikan persembahan materi, sikap hormat, dan yang paling penting, mempraktikkan instruksi yang diberikan</b><span style="font-weight: 400;">. Sebab hanya dengan hal itulah, kita bisa mendapatkan berkah yang selalu kita nantikan&#8211;bukan berupa materi, harta, ketenaran, maupun segala kenikmatan fisik yang tidak dapat kita bawa pada kehidupan berikut, melainkan sesuatu dalam diri yang meningkat dan berubah lebih baik hari lepas hari.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.<br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry (082163276188)</i></b></p>
<p><strong>Foto-Foto:</strong></p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-3867" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818.jpg" alt="" width="1968" height="1108" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818.jpg 1968w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-1024x577.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-768x432.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-1536x865.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-150x84.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-450x253.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09818-1200x676.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1968px) 100vw, 1968px" /><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-3870" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875.jpg" alt="" width="1968" height="1312" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875.jpg 1968w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09875-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1968px) 100vw, 1968px" /></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/30/ilr-2017-mau-berkah-dari-buddha/">ILR 2017: Mau Berkah dari Buddha?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/30/ilr-2017-mau-berkah-dari-buddha/">ILR 2017: Mau Berkah dari Buddha?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Dec 2017 01:40:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[guru spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3854</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Keyakinan adalah jembatan untuk meraih apa yang kita inginkan. Begitu juga dalam praktik Dharma, kita harus yakin pada Buddha dan guru yang mengajarkan Dharma, barulah kita bisa serius mempraktikkan Dharma dan mendapatkan manfaatnya. Seorang umat pernah memohon instruksi Dharma kepada guru besar Atisha Dipamkara Srijnana sampai tiga kali. Jawaban Beliau amatlah sederhana: “Yakin, yakin, yakin!” [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Keyakinan adalah jembatan untuk meraih apa yang kita inginkan. </span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu juga dalam praktik Dharma, kita harus yakin pada Buddha dan guru yang mengajarkan Dharma, barulah kita bisa serius mempraktikkan Dharma dan mendapatkan manfaatnya. Seorang umat pernah memohon instruksi Dharma kepada guru besar Atisha Dipamkara Srijnana sampai tiga kali. Jawaban Beliau amatlah sederhana: “Yakin, yakin, yakin!”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keyakinan ini menjadi </span><i><span style="font-weight: 400;">headline</span></i><span style="font-weight: 400;"> di hari kelima Indonesia Lamrim Retreat 2017. Biksu Bhadra Ruci melanjutkan pembahasan poin pertama dari bab 4 Lamrim, yaitu bertumpu kepada guru spiritual, akar dari Sang Jalan. Banyak guru-guru besar yang mencapai pencerahan berkat keyakinan dan bakti mereka kepada guru spiritual mereka. Untuk bisa sampai ke sana, kita harus tahu manfaat-manfaat bertumpu kepada guru spiritual, kerugian tidak memiliki guru spiritual, serta kerugian tidak bertumpu kepada guru dengan benar. Poin-poin tersebut berfungsi untuk menguatkan motivasi kita untuk bertumpu kepada guru spiritual. Setelahnya, barulah kita masuk ke cara berbakti pada guru spiritual melalui pikiran. Poin ini terdiri atas dua bagian: membangkitkan keyakinan kepada guru spiritual dan membangkitkan rasa hormat dengan mengingat kebaikan guru.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan membangkitkan keyakinan kepada guru spiritual adalah meyakini bahwa guru kita adalah Buddha.<strong> Kenapa perlu memandang guru sebagai Buddha?</strong> Itu karena kita ingin untung, tidak mau rugi. <strong>Dengan memandang guru sebagai Buddha yang sesungguhnya, kita akan mendapatkan berkah seorang Buddha pula.</strong> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, <strong>apa mungkin kita melihat guru kita sebagai Buddha?</strong> Untuk itu, kita harus bisa <strong>fokus pada kualitas-kualitas baik guru kita.</strong> Jika kita melihat beliau memiliki kekurangan, kita harus berpikir lagi, apakah benar guru kita memiliki kekurangan tersebut atau kita melihat kekurangan itu karena batasan persepsi kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Dalam berbagai sutra, disebutkan bahwa Buddha akan hadir dalam wujud guru spiritual di zaman kemerosotan. Guru spiritual mewakili para Buddha melakukan aktivitas Buddha, yaitu mengajarkan Dharma kepada kita.</strong> Kita sendiri tidak memiliki cukup karma bajik untuk bisa melihat sosok Buddha yang bercahaya dengan 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan. Karena itu, Buddha hadir dalam wujud manusia yang setara dengan kita sehingga kita dapat menerima ajaran darinya. Meskipun wujudnya manusia, tidak mungkin pula guru spiritual kita merupakan manusia biasa. Mana mungkin Buddha mengandalkan manusia biasa untuk menjalankan aktivitas Beliau?</span></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Buddha tidak bisa mencuci dosa kita dengan air, Buddha juga tidak bisa mengambil penderitaan kita, apalagi memindahkan pemahaman beliau ke otak kita. Cara Buddha menolong semua makhluk adalah dengan mengajarkan Dharma. </span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Buddha selama berkalpa-kalpa berjuang untuk mencapai pencerahan sempurna demi menolong semua makhluk. Apa mungkin Beliau hanya mengajar selama 45 tahun sampai parinirwana, lalu meninggalkan kita semua yang sekarang masih ada di samsara? Tentu tidak begitu. Para Buddha dan Bodhisatwa pasti masih terus bekerja untuk kepentingan semua makhluk. Tapi sekarang kita tidak bisa bertemu Buddha Sakyamuni, lantas bagaimana Beliau bisa mengajarkan Dharma? Jawabannya jelas, Beliau mengajar dalam wujud guru spiritual kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tidak bisa benar-benar melihat guru spiritual sebagai Buddha karena <strong>persepsi kita tidak bisa diandalkan</strong>. Seperti yang telah dijelaskan di hari-hari sebelumnya, kita melihat sesuatu tergantung karma yang kita miliki. Jika kita merasa pacar kita menyebalkan, berarti kita memiliki karma bertemu pacar yang menyebalkan. Jika kita pindah ke planet lain dan pacaran dengan alien, selama kita masih memiliki karma tersebut, kita tetap akan merasa pacar alien kita menyebalkan. Begitu pula dengan persepsi kita terhadap guru spiritual kita. Karma penghalang kita menyebabkan kita melihat guru kita masih memiliki kekurangan. Karena itu, kita makin harus berusaha lebih keras membangkitkan keyakinan terhadap guru dan mempraktikkan Dharma sesuai dengan instruksi beliau untuk mengurangi karma penghalang tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam praktik bertumpu kepada guru spiritual, <strong>seorang murid juga harus memiliki kualitas-kualitas tertentu</strong>. Pertama, seorang murid <strong>tidak boleh berpihak</strong>. Yang dimaksud tidak berpihak adalah tidak keras kepala memegang pandangannya sendiri. Belajar Dharma adalah proses mengubah cara pandang. Jika kita pandangan yang kita miliki saat ini sudah benar, bukankah seharusnya kita sudah mencapai pencerahan? Nyatanya kita belum mencapai pencerahan, karena itulah kita perlu guru yang mengajarkan kita Dharma untuk mengubah cara pandang kita menjadi lebih baik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua, seorang murid juga harus <strong>memiliki kecerdasan</strong> agar dapat memahami Dharma. Banyak orang menganggap Buddhadharma adalah agama kolot dan tidak intelek. Namun, jika memang demikian, mana mungkin Buddhadharma bisa bertahan selama 2500 tahun? Guru-guru besar Buddhis juga diakui sebagai filsuf hebat, bahkan mendahului filsuf barat seperti Plato, Aristoteles, dan lain-lain. Bahkan HH Dalai Lama XIV diakui sebagai tokoh dunia yang diundang untuk berdiskusi di level yang sama dengan ilmuwan-ilmuwan besar. Buddhadharma adalah ajaran yang menggabungkan pemahaman logis dan rasa dari hati. Jika kita tidak cukup cerdas, pasti sulit untuk memahami Dharma, apalagi mempraktikkannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketiga, seorang murid harus<strong> ulet, memiliki rasa hormat yang besar terhadap guru</strong>, dan mau <strong>mendengarkan instruksi guru dengan penuh perhatian</strong>. Biksu Bhadra Ruci menjelaskan bahwa penyebab utama kita gagal membangkitkan keyakinan kepada guru dan Triratna dan gagal mempraktikkan Dharma adalah kemalasan. Kemalasan ini ada tiga jenis: sikap menunda-nunda, beralasan tidak sanggup, atau lebih tertarik pada distraksi yang tak bermanfaat. Jika direnungkan, kita pasti memiliki setidaknya satu dari tiga jenis kemalasan tersebut, atau malah tiga-tiganya. Selama kita tidak berjuang melawan kemalasan tersebut, praktik Dharma kita tidak akan berhasil. Kita tidak akan bisa mengubah batin kita menjadi lebih baik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keyakinan pada guru spiritual merupakan dasar utama ketika kita ingin mengembangkan batin kita berdasarkan metode Lamrim dan keyakinan memang tidak dapat langsung muncul. Hal tersebut merupakan suatu kualitas yang harus kita latih setahap demi setahap. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi apakah kita sudah membuat upaya untuk menumbuhkan keyakinan tersebut?</span></p>
<p><em>Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.</em><br />
<em>Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: <strong>Merry (082163276188)</strong></em></p>
<p><strong>Foto-Foto:</strong></p>
<p><figure id="attachment_3859" aria-describedby="caption-attachment-3859" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3859 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1024x575.jpg" alt="" width="702" height="394" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1024x575.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-scaled-600x337.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-768x431.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1536x863.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-2048x1150.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-150x84.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-450x253.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/IMG_3353-1200x674.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3859" class="wp-caption-text">Cara kita menyusun persembahan di altar merupakan contoh bukti keyakinan terhadap Triratna.</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3857" aria-describedby="caption-attachment-3857" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3857 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1024x577.jpg" alt="" width="702" height="396" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1024x577.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-scaled-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-768x433.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1536x866.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-2048x1154.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-150x85.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-450x254.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSCF1299-1200x676.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3857" class="wp-caption-text">Mempersembahkan pelita untuk umur panjang guru spiritual, salah satu cara berbakti keapda guru.</figcaption></figure></p>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/28/ilr-2017-jangan-malas-menumbuhkan-keyakinan/">ILR 2017: Jangan Malas Menumbuhkan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa Kamu sudah Berlindung / Trisarana? Coba jawab pertanyaan-pertanyaan ini dulu!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/02/20/apa-kamu-sudah-berlindung-trisarana-coba-jawab-pertanyaan-pertanyaan-ini-dulu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2017 05:07:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[budhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2800</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD &#124; Kamu pasti sering mendengar istilah berlindung atau Trisarana. Bagaimanapun juga, Trisarana adalah cara untuk menjadi seorang Buddhis. Mungkin kamu juga sudah sering mengucapkan kalimat perlindungan pada Buddha, Dharma, dan Sangha saat membaca paritta di wihara, tapi apakah kamu sudah mendapatkan rasa berlindung yang sesungguhnya seperti apa yang diajarkan Sang Buddha? Di bawah [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/20/apa-kamu-sudah-berlindung-trisarana-coba-jawab-pertanyaan-pertanyaan-ini-dulu/">Apa Kamu sudah Berlindung / Trisarana? Coba jawab pertanyaan-pertanyaan ini dulu!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/20/apa-kamu-sudah-berlindung-trisarana-coba-jawab-pertanyaan-pertanyaan-ini-dulu/">Apa Kamu sudah Berlindung / Trisarana? Coba jawab pertanyaan-pertanyaan ini dulu!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD | Kamu pasti sering mendengar istilah berlindung atau Trisarana. Bagaimanapun juga, Trisarana adalah cara untuk menjadi seorang Buddhis. Mungkin kamu juga sudah sering mengucapkan kalimat perlindungan pada Buddha, Dharma, dan Sangha saat membaca paritta di wihara, tapi apakah kamu sudah mendapatkan rasa berlindung yang sesungguhnya seperti apa yang diajarkan Sang Buddha? Di bawah ini adalah pertanyaan yang berkaitan dengan tahap-tahap yang bisa kamu alami atau renungkan dalam diri masing-masing untuk mendapatkan rasa/<em>sense</em> berlindung yang sesungguhnya.</p>
<p><strong>Apakah kamu merasa dirimu menderita,hidup banyak masalah, dan kesulitan?</strong></p>
<p>Dasar berlindung yang benar adalah ketika kamu takut akan penderitaan-penderitaan yang sedang atau akan kamu alami. Yang paling dekat adalah masalah-masalah yang terjadi sehari-hari di kehidupanmu, tekanan pekerjaan, stres, tugas yang tidak selesai-selesai sampai kadang kamu merasa bahwa kamu tidak tahan lagi. Untuk menghadapi semua hal ini, kamu butuh pegangan, arah, tujuan hidup. Atas dasar inilah kamu bisa berlindung pada Buddha, Dharma, dan Sangha atau yang biasa disebut Trisarana.</p>
<p>Namun, tidak semua orang berada dalam kondisi seperti itu, mungkin ada diantara kamu yang hidupnya adem-adem saja, tidak banyak masalah. Kamu harus merenungkan bahwa Buddha sendiri menjelaskan bahwa sifat esensi dari samsara adalah menderita, kebahagiaan yang kamu rasakan saat ini tidak akan lepas dari ‘perubahan’ yang ujungnya adalah penderitaan.Jika kamu tidak merasakan penderitaan pada hidup ini, maka langkah awal adalah percaya pada karma dan kelahiran kembali.</p>
<p>Ingatlah bahwa ketika kamu sekarang enak-enak di dunia kamu menghabiskan banyak karma baik. Coba renungkan, amatlah sulit menemukan kesempatan untuk berbuat baik, tapi sangat mudah memupuk hal-hal tidak baik seperti kemalasan, rasa iri, dengki. Singkatnya, sangat mudah membuat karma buruk dan sangat mudah membuang-buang karma baik, ketika kamu terlena dalam kebahagiaan di kehidupan ini, jangan lupa ketika karma baikmu habis, alam rendah (neraka, hantu kelaparan, dan binatang) menunggumu. Jika kamu tidak bisa membayangkan alam rendah, coba lihat saja ‘neraka’ di dunia, seperti suku-suku barbar yang saling memotong kepala musuhnya, ataupun penduduk di Afrika yang mati kelaparan, tentunya kamu tidak mau penderitaan ini terjadi padamu kan?</p>
<p>Ketika kamu mulai ada rasa takut dan hatimu berkata, “Saya tidak mau hal itu terjadi!”, bangkitkanlah rasa ini menjadi sebab berlindung atau Trisarana, karena rasa ini akan menjadi dorongan yang menentukan kualitas Trisaranamu. Pada praktik Mahayana, kamu juga bisa menggunakan penderitaan makhluk lain yang juga tak tertahankan yang menjadi dasar bagimu untuk Trisarana.</p>
<p><strong>Apakah kamu telah mengandalkan Buddha, Dharma, Sangha untuk melindungimu dari penderitaan?</strong></p>
<p>Kamu harus renungkan bahwa konsep berlindung sendiri sebenarnya simpel, yaitu seperti saat kamu kehujanan, kamu mencari tempat untuk berteduh, di tempat itulah kamu berlindung, sama juga pada Trisarana, kamu menjadikan Buddha, Dharma, Sangha sebagai tempat kamu melindungi dirimu sendiri dari penderitaan, dan kamu memiliki kepercayaan diri bahwa mereka mampu melindungimu.</p>
<p>Berlindung sendiri merupakan pintu utama kamu menjadi Buddhis,  walaupun Buddha sendiri mengatakan, “Selidiki dulu dengan benar-benar matang sebelum menjadi pengikutku,” pada Upali, seorang penganut kepercayaan lain yang menyatakan ingin menjadi pengikut Sang Buddha. Mendengar hal ini, Upali semakin yakin dan hatinya semakin tulus ingin mengikuti Sang Buddha. Buddha mengatakan hal tersebut karena Beliau mau orang mengikuti ajaran beliau atas dasar penyelidikan yang matang bukan asal ikut-ikutan saja. Hal ini menyiratkan bahwa Dharma yang bersifat universal memang dapat membawa kebaikan bagi semua orang, bahkan yang bukan Buddhis, namun disaat kamu sudah menetapkan hatimu untuk mengikuti Sang Buddha yaitu ketika kamu sudah mengambil perlindungan pada Sang Triratna, maka tekunilah jalan ini dengan tulus dan sungguh-sungguh, karena jalan ini bisa melindungimu dari penderitaan.</p>
<p>Berlindung pada Buddha artinya kamu mempercayakan dirimu pada Beliau sebagai pembimbingmu yang utama, berlindung pada Dharma berarti kamu senantiasa belajar dan melatih diri pada jalan Dharma untuk mengurangi sifat-sifat burukmu, berlindung pada Sangha berarti menghormati mereka dan menjadikan mereka teladan bagi latihanmu.</p>
<p><strong>Apakah kamu mengenali objek-objek Trisarana tersebut secara detil?</strong></p>
<p>Buddha adalah seseorang yang telah mencapai pencerahan sempurna, yang telah menyingkirkan semua keburukan dan memiliki kualitas baik yang sempurna. Buddha telah terbebas sepenuhnya dari penderitaan dan memiliki kemampuan untuk membebaskan makhluk lain atas dasar welas asih dan kebijaksanaan yang tak terbatas. Buddha memiliki tiga tubuh yaitu tubuh emanasi, kenikmatan, dan kebenaran, namun ada beberapa aliran Buddhis yang mengacu pada Buddha Historis saja yaitu Buddha Sakyamuni (Siddharta). Tubuh Buddha memiliki 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan yang mengacu pada kualitas yang Beliau miliki. Dengan mempelajari hal ini kamu bisa terinspirasi untuk melakukan kebajikan yang sama untuk mendapatkan kualitas dan tanda-tanda tersebut.</p>
<p>Dharma memiliki banyak konotasi, namun Dharma yang tertinggi dibagi menjadi dua yaitu Dharma yang direalisasi dan Dharma yang berbentuk kitab-kitab yang tergabung dalam Tripitaka, Dharma yang sejati memiliki kualitas untuk menghasilkan atribut-atribut Buddha.</p>
<p>Sangha yang sebenarnya mengacu pada makhluk yang telah masuk dalam marga penghimpunan atau mencapai tingkat kesucian ataupun tingkatan bodhisatwa, namun secara konvensional Sangha mengacu pada kumpulan Biksu / Biksuni minimal empat orang, secara lebih luas Sangha juga bisa diartikan seluruh komunitas tempat kamu belajar Buddhis, kamu dapat menganggap semuanya sebagai permata Sangha.</p>
<p>Perumpamaan yang sering disebutkan adalah Buddha sebagai dokter, Dhamma sebagai obat, dan Sangha sebagai perawat, kamu adalah pasien mereka.Dengan mengetahui perbedaan mereka, kamu tahu bahwa masing-masing memiliki karakteristik masing-masing, sehingga efek mereka terhadapmu juga berbeda. Misal Buddha menolongmu dengan cara mengajarkan Dharma, Dharma menolongmu karena memberikanmu pengetahuan akan jalan untuk melenyapkan penderitaan, dan Sangha menolongmu dengan cara menjadi lingkungan, teladan yang baik bagimu sehingga kamu bisa mendapatkan sumber-sumber kebahagiaan.</p>
<p><strong>Apakah kamu telah mengambil perlindungan secara formal?</strong></p>
<p>Mengambil perlindungan secara formal artinya kamu sudah berkomitmen untuk melatih diri pada jalan Buddhadharma. Di Indonesia, upacara Trisarana biasa disebut visudhi. Biasanya kamu juga akan diberikan sila-sila Buddhis seperti Pancasila Buddhis yang harus kamu jaga (tidak membunuh, mencuri, berbohong, berbuat asusila, dan mengkonsumsi makanan atau minuman yang melemahkan kesadaran). Mengambil perlindungan formal biasanya dilakukan di depan seorang biksu/biksuni.</p>
<p>Mungkin kamu bertanya-tanya mengapa mengambil perlindungan harus secara formal, toh kamu sendiri merasa kamu juga bisa melakukan tindakan-tindakan di atas sendiri? Trisarana secara formal menanamkan jejak di batinmu bahwa kamu akan menjaga perlindungan tersebut di sepanjang harimu, sehingga dari situ kamu menghimpun karma baik setiap saat, sedangkan jika kamu tidak mengambilnya secara formal, tidak ada apa-apa yang dijaga sehingga tindakan menjaga sila itu baru muncul ketika peristiwa terjadi. Misalnya kamu mengambil komitmen untuk tidak mencuri, sebelum kamu mengambil komitmen itu, ketika tidak ada kesempatan mencuri, kamu tidak membuat kebajikan atau keburukan apapun, namun ketika kamu telah mengambil komitmen tersebut, sejak momen tersebut batinmu bisa terus mengakumulasi karma baik karena komitmen “menghindari pencurian” sudah ada di batinmu setiap saat.</p>
<p><strong>Jika telah mengambil perlindungan secara formal, apakah kamu sudah melatih sila-silanya?</strong></p>
<p>Selain sila-sila Buddhis yang menghindari perbuatan buruk, ada pula sila-sila yang harus dilatih untuk menjaga kualitas Trisarana yang telah kita punya. Hal ini yang menjadi <em>to do list</em> yang harus kamu lakukan ketika kamu sudah memutuskan untuk berlindung. Karena semakin kuat kualitas Trisarana-mu, semakin cepat pula kamu akan mengembangkan kualitas-kualitas baik dalam dirimu.</p>
<ul>
<li><strong>Apakah kamu sudah menghindari sila-sila negatif?</strong></li>
</ul>
<p>Terkait perlindungan pada Buddha, jangan mengikuti makhluk lain, yang memiliki tingkatan spiritual lebih rendah sebagai objek perlindungan maupun pemandumu yang utama.</p>
<p>Pada Dharma, jangan menyakiti atau mengganggu makhluk lain, karena inti dari Dharma adalah cinta kasih.</p>
<p>Pada Sangha, jangan terpengaruh secara negatif oleh pihak-pihak yang memiliki keyakinan berbeda atau bahkan yang bertolak belakang denganmu.</p>
<ul>
<li><strong>Apakah kamu sudah menunjukkan rasa hormat pada Sang Triratna?</strong></li>
</ul>
<p>Terkait perlindungan pada Buddha, adalah dengan menghormati seluruh simbol dan gambar Buddha, anggaplah hal itu sebagai Buddha itu sendiri.</p>
<p>Pada Dharma, hormatilah teks-teks Dharma, letakan teks Dharma pada tempat yang tinggi, jagalah mereka dengan baik dan hati-hati dengan tidak menaruhnya di lantai. Juga tidak membuang teks Dharma, jika kondisinya sudah tidak layak lebih baik dibakar.</p>
<p>Pada Sangha, menghormati bahkan potongan dari jubah seorang Biksu/Biksuni, juga menghormati mereka yang memakai jubah layaknya seorang yang agung.</p>
<ul>
<li><strong>Apakah kamu sudah melakukan enam sila umum berlindung yang harus dilatih?</strong></li>
</ul>
<ol>
<li>Mengingat kualitas masing-masing ratna, bahwa kesemuanya merupakan objek yang unggul sebagai sumber kebahagiaanmu dibandingkan objek-objek lain di luar dirimu seperti minuman dan kesenangan-kesenangan duniawi lainnya, dan mengambil perlindungan pada Sang Triratna berulang kali.</li>
<li>Mempersembahkan bagian pertama dari yang akan kamu makan atau minum pada Triratna, karena  semua hal baik yang kamu dapatkan pada saat ini bersumber dari karma baikmu, dan kamu mendapatkan karma baik karena Trisaranamu. Hal ini juga memberi manfaat yang sangat besar, karena Sang Triratna adalah objek untuk berbuat kebajikan yang unggul.</li>
<li>Mengajak orang lain untuk menjadi Buddhis dan Trisarana, namun jangan memaksa, dan lakukan jika kamu diminta untuk memberi nasehat.</li>
<li>Mengingat manfaat Trisarana dan melakukan doa Trisarana di awal dan akhir harimu.</li>
<li>Melakukan aktivitas apa pun dengan keyakinan pada Sang Triratna, Artinya kita memercayakan diri kita pada Sang Triratna dalam melakukan segala aktivitas baik itu hal besar seperti presentasi proyek besar, sampai hal kecil seperti membaca buku. Dengan memercayakan diri kita pada Triratna, kita yakin bahwa segala urusan jika aktivitas kita berada pada jalan yang ditempuh Sang Triratna (dan dengan motivasi baik), maka segala hal akan berjalan dengan lancar dan aman.</li>
<li>Tidak kehilangan keyakinan pada Sang Triratna atas alasan apapun, baik untuk menyelamatkan nyawamu ataupun hanya sebagai lelucon. Karena efek dari hal ini adalah kamu memutus jodoh karmamu pada Sang Triratna yang merupakan sumber kebahagiaan utamamu.</li>
</ol>
<p>Jadi apakah kamu sudah Trisarana? Ajaran Buddha sudah membawa manfaat bagi banyak orang, sudah banyak juga orang yang berubah menjadi lebih baik, semuanya kembali lagi ke diri kita masing-masing, apakah kita sudah mengikuti jalan ini dengan penuh keyakinan dan ketulusan? Atau masih setengah? Ayo cek lagi Trisaranamu. Kalau belum 100%, yuk kita latih dan kembangkan sama-sama!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/20/apa-kamu-sudah-berlindung-trisarana-coba-jawab-pertanyaan-pertanyaan-ini-dulu/">Apa Kamu sudah Berlindung / Trisarana? Coba jawab pertanyaan-pertanyaan ini dulu!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/20/apa-kamu-sudah-berlindung-trisarana-coba-jawab-pertanyaan-pertanyaan-ini-dulu/">Apa Kamu sudah Berlindung / Trisarana? Coba jawab pertanyaan-pertanyaan ini dulu!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
