<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sangha - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/sangha/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Thu, 25 Apr 2024 04:55:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>sangha - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Apr 2024 04:31:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Berlindung]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh cinta]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[Tiratana]]></category>
		<category><![CDATA[Tisarana]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9040</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sikap yang kita muncul saat sedang jatuh cinta itu sama seperti sikap yang harus kita timbulkan sewaktu kita berlindung (Tisarana) kepada Triratna. Triratna telah memiliki segala kualitas terunggul dan amat mahir menolong kita terbebas dari samsara. Hal ini seharusnya membuat kita kagum dan hormat kepada Triratna. Selanjutnya, kita juga seharusnya menjadi bersemangat setiap kali mengingat kualitas-kualitas agung Triratna beserta manfaat-manfaat yang kita peroleh dari melakukan Tisarana. Dengan demikian, seperti orang yang jatuh cinta, bukankah wajar apabila seharusnya kita juga ingin menyenangkan Triratna?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Selama kita hidup sebagai manusia, rasanya paling tidak kita pernah sekali merasakan jatuh cinta. Entah karena tingkah sang dambaan hati yang lucu, wajahnya yang rupawan, ataupun sekadar karena terlanjur nyaman. Meskipun terlihat bervariasi, namun jatuh cinta ini seringkali berawal dari <strong>kekaguman</strong> kita kepada seseorang. Lalu, ketika kita jatuh cinta pun rasa-rasanya kita jadi<strong> lebih ceria</strong> dalam menjalani hari. Kita juga jadi <strong>bersemangat</strong> setiap kali membicarakannya dan rela melakukan apapun agar dapat menyenangkannya.</p>



<p>Ternyata, setelah dipikir-pikir lagi, sikap yang kita muncul saat sedang jatuh cinta itu sama seperti sikap yang harus kita timbulkan sewaktu kita berlindung (Tisarana) kepada Triratna. Argumen ini bukan tanpa alasan, ya. Apabila kita renungkan dengan lebih mendalam, Triratna telah memiliki <strong>segala kualitas terunggul dan amat mahir menolong kita terbebas dari samsara.</strong> Hal ini seharusnya membuat kita<strong> kagum dan hormat </strong>kepada Triratna. Selanjutnya, kita juga seharusnya <strong>menjadi bersemangat </strong>setiap kali mengingat kualitas-kualitas agung Triratna beserta manfaat-manfaat yang kita peroleh dari melakukan Tisarana. Dengan demikian, seperti orang yang jatuh cinta, bukankah wajar apabila seharusnya kita juga ingin menyenangkan Triratna?</p>



<p>Salah satu cara untuk menyenangkan Triratna adalah dengan menjaga Tisarana melalui praktik sila-sila Tisarana yang penuh kesadaran dengan konsisten. Nah setelah sebelumnya terdapat penjelasan tentang sila-sila penghindaran, dalam kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas terkait sila-sila penguatan, yang merupakan kelanjutan dari sila-sila pribadi berdasarkan risalah Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan. Berikut adalah sila-sila penguatan Tisarana.</p>



<ol><li><strong>Menganggap Semua Bentuk yang Melambangkan Buddha sebagai Buddha yang Sebenarnya</strong><br>Seperti kita yang melihat foto orang yang kita sayangi sebagai bentuk yang nyata, berharap seolah-olah ia ada di hadapan kita saat ini, demikian juga dengan sila penguatan Tisarana yang pertama. Seseorang yang telah Tisarana kepada Buddha harus menganggap semua bentuk fisik yang melambangkan Buddha sebagai Buddha yang sebenarnya. Hal ini mencakup rupang yang rusak atau yang bentuknya kurang sempurna, maupun yang dibuat dari bahan yang kurang berkualitas.<br><br>Banyak dari kita yang lebih tertarik kepada rupang yang terbuat dari logam atau rupang yang berasal dari India karena lebih perlente dan seolah-olah lebih mampu untuk membangkitkan keyakinan. Di sisi lain, kita cenderung menghindari rupang yang terbuat dari tanah liat dan bahkan membuang rupang yang telah rusak dan hancur, karena dianggap kurang menarik dan hanya mampu untuk membangkitkan sedikit keyakinan. Padahal keyakinan adalah aspek internal yang seharusnya dibangkitkan oleh diri sendiri, bukan bergantung kepada bentuk dari objek eksternal. Terlebih lagi menurut Guru-Guru Lamrim terdahulu, tindakan membuang rupang dari rumah seseorang sama saja dengan membuang kebajikan itu sendiri.</li></ol>



<ol start="2"><li><strong>Menghormati Bahkan Satu Huruf Tulisan sebagai Permata Dharma</strong><br>Ketika kita mendapatkan <em>chat</em> via WhatsApp maupun kartu ucapan ulang tahun dari orang yang kita sayangi, pastinya kita akan memperhatikan pesan tersebut dengan penuh penghayatan, mulai dari kata per kata atau bahkan sampai memperhatikan huruf dan tanda bacanya dengan detail. Demikian juga dengan sila penguatan Tisarana yang kedua ini, yakni kita harus menghormati setiap huruf sebagai Permata Dharma. Mengapa? Sebabnya, tanpa satu huruf tersebut, kita tidak akan mungkin untuk belajar Dharma sama sekali.<br><br>Meskipun terdengar mudah, nyatanya kita akan sangat mudah menemukan pelanggaran sila ini dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kita mungkin sering meletakkan buku di lantai, melangkahi buku sewaktu terburu-buru, menggunakan ludah di tangan untuk membalik halaman buku yang lengket, dsb. Padahal, tindakan ini merupakan bentuk tindakan yang tidak menghormati Dharma. Dikatakan juga dalam buku ‘Pembebasan di Tangan Kita’ Jilid II, bahwa sikap tidak menghormati Dharma dan Guru Dharma merupakan penyebab seseorang untuk menjadi bodoh secara intelektual pada kehidupan-kehidupan yang akan datang.</li></ol>



<ol start="3"><li><strong>Menghormati Bahkan Sepotong Kain dari Jubah Seorang Biksu sebagai Permata Sangha</strong><br>Pada umumnya, kita pasti pernah mengajak orang yang kita sayangi untuk menghabiskan waktu bersama ke tempat-tempat yang kita anggap menarik. Uniknya, terkadang kita turut menyimpan berbagai memento untuk mengingat dan menghargai momen tersebut, seperti menyimpan tiket bioskop, foto, aksesoris, dsb. Barang-barang itu kemudian akan begitu kita hargai dan jaga dengan penuh. Nampaknya, hal ini mirip dengan sila penguatan Tisarana yang ketiga. <br><br>Pada sila ini, kita harus memperlakukan Sangha dengan sangat hormat. Tidak hanya kepada sosoknya semata, tetapi juga menghormati bahkan sepotong kain merah atau kuning dari jubah Sangha yang terjatuh ke tanah maupun potongan kain dengan warna yang menyerupai jubah Sangha. Mengapa demikian? Sebabnya, sila ini membantu kita untuk mengingat kembali dan menyadari perbedaan utama antara Sangha dengan umat awam, yaitu dalam aspek jumlah sila yang diambil. Tentunya, kita harus menghormati Sangha, karena Sangha telah berkomitmen untuk melatih diri dengan cara mengambil sila yang jauh lebih banyak daripada kita.</li></ol>



<p><strong>Penutup</strong><br>Meskipun terlihat sederhana, penerapan sila-sila Tisarana, khususnya sila-sila penguatan, dalam kehidupan sehari-hari ini tidak mudah, lho!! Setelah membaca penjelasan singkat di atas, mungkin juga akan timbul pertanyaan di dalam diri sendiri, seperti “Apakah kita mampu melaksanakan sila-sila Tisarana secara konsisten dengan kesadaran penuh? Apakah kita mampu mengeluarkan usaha dalam Tisarana sama besarnya atau bahkan lebih besar daripada saat kita berjuang mendapatkan cinta?”&nbsp;</p>



<p>Apabila memang dirasa belum mampu, janganlah berkecil hati. Sebagai langkah awal, kita dapat mulai melatih membiasakan diri menerapkan sila-sila penguatan Tisarana yang telah disebutkan sebelumnya setahap demi setahap. Perlu diingat juga bahwa selayaknya kita yang jatuh cinta (seperti di film-film), tidak semua ekspresi cinta perlu dibuktikan dalam bentuk yang mewah maupun meriah, justru hal-hal sederhana yang konsisten merupakan sebuah perwujudan cinta yang sesungguhnya dan tentunya lebih romantis, bukan?</p>



<p>Referensi:<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Apr 2024 04:11:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Berlindung]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[Sila-Sila Berlindung]]></category>
		<category><![CDATA[Sila-Sila Tisarana]]></category>
		<category><![CDATA[Tiratana]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<category><![CDATA[umat Buddha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9018</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam bahasa Inggris, kalimat “Buddham saranam gacchami” diterjemahkan sebagai ‘I go to the Buddha for refuge’.Terjemahan tersebut jika diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Aku pergi berlindung kepada Buddha’. Kata “pergi” ini penting karena menunjukan makna bahwa kita memerlukan sebuah aksi aktif untuk mencapai perlindungan. Berdasarkan Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, untuk menjaga agar Tisarana kita menjadi aksi nyata dan tidak menjadi ‘omon-omon’ semata, seorang praktisi harus menjalankan sila-sila Tisarana.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="wp-block-quote"><p>Buddham saranam gacchami,<br>Dhammam saranam gacchami,<br>Sangham saranam gacchami.</p></blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>I go to the Buddha for refuge,<br>I go to the Dhamma for refuge,<br>I go to the Sangha for refuge.</p></blockquote>



<p>Dalam bahasa Inggris, kalimat “<em>Buddham saranam gacchami</em>” diterjemahkan sebagai ‘<em>I <strong>go to</strong> the Buddha for refuge</em>’.Terjemahan tersebut jika diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Aku <strong>pergi </strong>berlindung kepada Buddha’. Ya, ada kata “pergi” dalam terjemahan tersebut, berbeda dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang biasa kita temui, yaitu “Aku berlindung kepada Buddha”.</p>



<p>Meskipun tampak sepele, namun hilangnya kata “pergi” menimbulkan miskonsepsi yang signifikan terhadap konsep Tisarana yang pernah kita pelajari di sekolah maupun vihara selama ini. Kata “pergi” ini penting karena menunjukan makna bahwa kita memerlukan sebuah aksi aktif untuk mencapai perlindungan, bukan hanya ‘omon-omon’ semata, lebih-lebih supaya terlihat sebagai seorang Buddhis saja.</p>



<p>Sebenarnya, tanpa perlu kita beri rayuan maupun janji-janji manis, Sang Buddha telah memiliki welas asih yang tidak terbatas dan tidak berubah kepada semua makhluk. Selain itu, Sang Buddha juga mampu berada di mana saja dan kapan saja. Berdasarkan hal itu, tentu saja Sang Buddha jelas selalu mau dan mampu untuk memberikan perlindungan kepada kita serta semua makhluk. Namun, layaknya matahari yang senantiasa bersinar namun tak mampu menembus goa gelap; perlindungan Sang Buddha juga tidak dapat kita peroleh jika kita tidak mengarahkan usaha kita sendiri untuk pergi berlindung.</p>



<p>Lebih spesifik lagi, dalam kaitannya dengan Tisarana, aspek ‘aksi’ inilah yang membedakan hasil akhir dari Tisarana seorang Buddhis. Berdasarkan Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, untuk menjaga agar Tisarana kita menjadi aksi nyata dan tidak menjadi ‘omon-omon’ semata, seorang praktisi harus menjalankan sila-sila Tisarana. Nah, dalam kesempatan kali ini, mari kita bahas sedikit sila-sila penghindaran, yang merupakan bagian dari sila-sila pribadi seorang praktisi yang sudah mengambil perlindungan!</p>



<ol><li><strong>Tidak Menyatakan Perlindungan kepada Objek Selain Sang Triratna</strong><br>Ketika seseorang telah memahami alasan untuk Tisarana, mengenali kualitas-kualitas terunggul Sang Triratna, dan memahami manfaat-manfaat dari Tisarana; maka akan sangat aneh apabila ia juga menyatakan perlindungan kepada objek-objek dengan kualitas yang lebih rendah, seperti dewa-dewi duniawi, naga, dan makhluk-makhluk halus kuat lainnya. Perlu diperhatikan kembali bahwa <strong>kita boleh </strong>saja untuk berdoa dan memberikan persembahan kepada mereka, terutama jika kita membutuhkan bantuan dalam mempraktikkan Dharma. Namun, kita <strong>tidak boleh</strong> menyatakan perlindungan kepada mereka, karena ketika kita memegang dua objek Tisarana yang berbeda, maka kita akan menghancurkan nilai Tisarana kita pada Sang Triratna dan mengeluarkan kita dari komunitas Buddhis.</li><li><strong>Tidak Menyakiti Makhluk Lain</strong><br>Apabila memang kita benar bersungguh-sungguh menyatakan Tisarana kepada Sang Triratna, maka sudah sewajarnya kita meneladani kualitas Sang Buddha yang selalu memancarkan welas asih kepada semua makhluk. Terlebih lagi berdasarkan hukum karma, salah satu akibat dari membunuh atau menyakiti makhluk lain adalah terlahir di alam menderita, sesuatu yang amat kita takuti. Oleh karena itu, jangan dengan sengaja menyakiti makhluk lain, bahkan melalui tindakan seperti meminta pajak berlebihan kepada sesama manusia maupun memaksa hewan untuk membawa beban berlebih.</li><li><strong>Tidak Bergabung dengan Non-Buddhis</strong><br>Untuk menjaga keyakinan dan meningkatkan Tisarana, kita dianjurkan untuk tidak bergaul dengan orang-orang yang meragukan kebenaran Sang Triratna dan hukum karma, serta dengan orang-orang yang mengkritik bahwa ajaran-ajaran yang kita pelajari selama ini merupakan karangan yang dibuat oleh para biksu maupun guru yang licik. Sila ini menjadi sangat penting, khususnya bagi kita yang belum memiliki keyakinan yang kokoh, karena apabila kita tetap bergaul dengan mereka, ditakutkan kita akan terpengaruh oleh pemahaman salah yang mereka miliki. Sila ini juga sesuai dengan salah satu bait dalam Mangala Sutta, yaitu:</li></ol>



<p class="has-text-align-center">“Tak bergaul dengan orang-orang dungu,<br>bergaul dengan para bijaksana,<br>dan menghormat yang patut dihormat,<br>itulah berkah utama.”</p>



<p><strong>Penutup</strong><br>Tisarana telah menjadi salah satu hal yang umum dalam kehidupan umat Buddha. Namun apabila kita dapat meluangkan waktu sejenak untuk melihat keseharian kita, mari renungkan pertanyaan ini: Apakah kita telah melakukan Tisarana dengan baik dan benar? Apakah Tisarana kita telah menjadi aksi yang aktif dan bukan hanya ‘omon-omon’ saja? Jika memang kita masih belum melaksanakan Tisarana dengan maksimal, maka lekaslah bergerak saat ini juga! Sebabnya,Tisarana tidak akan pernah memberikan hasil apabila tidak ada aksi nyata untuk meraihnya. Pertama-tama, yuk latih diri untuk menjalani sila-sila yang telah disebutkan di atas!</p>



<p>Referensi:<br>Terjemahan Tisarana dalam bahasa Inggris dalam halaman accesstoinsight.org<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Biksu Indonesia Menjadi Narasumber dalam Konferensi Vinaya Internasional</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/12/02/biksu-indonesia-menjadi-narasumber-dalam-konferensi-vinaya-internasional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2022 11:53:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Konferensi Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[lintas tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7662</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sungguh membanggakan, biksu asal Indonesia menjadi narasumber dalam konferensi Vinaya internasional yang dihadiri Sangha lintas tradisi sedunia!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/12/02/biksu-indonesia-menjadi-narasumber-dalam-konferensi-vinaya-internasional/">Biksu Indonesia Menjadi Narasumber dalam Konferensi Vinaya Internasional</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/12/02/biksu-indonesia-menjadi-narasumber-dalam-konferensi-vinaya-internasional/">Biksu Indonesia Menjadi Narasumber dalam Konferensi Vinaya Internasional</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Y.M. Bhikkhu Dhitisampano Thera dari Sangha Agung Indonesia (SAGIN) menjadi salah satu pembicara dalam 4th International Vinaya Conference yang digelar pada 1-3 Desember 2022 di salah satu dari 3 biara utama tradisi Gelug, yaitu Sera Jey Monastery di Karnataka, India.&nbsp;</p>



<p>Dalam konferensi tiga hari ini, Sangha monastik dari berbagai tradisi Buddhis–India, Thailand, Taiwan, Burma, Bangladesh, dan Tibet–bersama-sama membahas topik “Sanghadisesa” yang berkaitan dengan pelanggaran aturan kebiksuan.</p>



<p>Pemberitaan mengenai konferensi ini dapat disimak di laman Facebook <a href="https://www.facebook.com/sera.jey.1/?_rdc=2&amp;_rdr">Sera Jey Monastery.</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/12/02/biksu-indonesia-menjadi-narasumber-dalam-konferensi-vinaya-internasional/">Biksu Indonesia Menjadi Narasumber dalam Konferensi Vinaya Internasional</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/12/02/biksu-indonesia-menjadi-narasumber-dalam-konferensi-vinaya-internasional/">Biksu Indonesia Menjadi Narasumber dalam Konferensi Vinaya Internasional</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>RENT the Musical: Buddhis Berkaca dari Komunitas ODHA</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/12/01/rent-buddhis-odha/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2022 05:07:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[Hari AIDS Sedunia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[ODHA]]></category>
		<category><![CDATA[review film]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7593</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dari komunitas ODHA dalam RENT the Musical, kita bisa belajar tentang mengakui keraguan terhadap Dharma dan pentingnya Sangha. Kalau kamu masih terjebak stigma, ubah dari sekarang di Hari AIDS sedunia!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/12/01/rent-buddhis-odha/">RENT the Musical: Buddhis Berkaca dari Komunitas ODHA</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/12/01/rent-buddhis-odha/">RENT the Musical: Buddhis Berkaca dari Komunitas ODHA</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>Will I lose my dignity?</em><br><em>Will someone care?</em><br><em>Will I wake tomorrow&nbsp;</em><br><em>from this nightmare?</em></p><cite><em>&#8211;</em><a href="https://www.youtube.com/watch?v=CCVJnh1teqk">”Will I”</a> dari RENT the Musical</cite></blockquote>



<p>oleh Samantha J.</p>



<p>Entah sudah berapa ratus kali bait ini terngiang-ngiang di telinga saya sejak pertama kali saya mendengarnya sekitar tujuh tahun yang lalu. Sungguh merupakan keberuntungan luar biasa, saya bisa mendengar bait itu dinyanyikan secara langsung di Indonesia, oleh talenta-talenta Indonesia, dalam pertunjukan <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Rent_(musical)">RENT the Musical</a> dari Teman Musicals di Ciputra Artpreneur tanggal 25-27 November 2022 lalu.</p>



<p>RENT adalah drama musikal karya <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Jonathan_Larson">Jonathan Larson</a> yang pertama kali dipentaskan dalam bentuk pembacaan lantang pada tahun 1993 hingga menjadi salah satu pertunjukan Broadway paling populer yang tayang lebih dari 5.000 kali selama 12 tahun (1996-2008). Pertunjukan ini juga telah dipentaskan di lebih dari 50 negara dan diadaptasi menjadi <a href="https://www.imdb.com/title/tt0294870/">film layar lebar</a>.&nbsp;</p>



<p>Kisah RENT sendiri mengisahkan kehidupan sekelompok seniman muda dari golongan marjinal yang tinggal di daerah kumuh kota New York di bawah bayang-bayang narkoba dan wabah HIV/AIDS. Kisah ini merupakan kombinasi antara adaptasi bebas dari opera legendaris “La Bohème” karya Giacomo Puccini dan <a href="https://www.netflix.com/id/title/81149184">pengalaman pribadi Jonathan Larson</a> yang bergumul dalam kemiskinan selagi berjuang mengejar cita-citanya sebagai penulis dan komposer drama musikal yang “lain dari yang lain” hingga akhirnya meninggal sehari sebelum mahakaryanya dipentaskan di depan umum untuk pertama kali.</p>



<p>RENT merupakan salah satu drama musikal favorit saya yang sudah saya tonton berulang kali karena berbagai alasan. Dalam kesempatan ini, untuk merayakan pementasan pertama RENT di Indonesia sekaligus memperingati Hari AIDS Sedunia, saya ingin secara khusus bercerita tentang bagaimana penggambaran komunitas ODHA dalam drama musikal ini membantu saya menyadari kesalahan saya dalam belajar Dharma dan memahami makna penting komunitas–yang dalam Buddhadharma kita kenali sebagai salah satu dari tiga perlindungan (Tisarana), yaitu Sangha.</p>



<h4 id="h-mengakui-keraguan-terhadap-dharma"><strong>Mengakui Keraguan Terhadap Dharma</strong></h4>



<p>Salah satu adegan paling berkesan dalam RENT adalah ketika para tokoh utama menghadiri <a href="https://www.youtube.com/watch?v=vfOgj3tt8zI">pertemuan Life Support</a>, semacam perkumpulan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dalam kisah ini. Adegan dibuka dengan para peserta pertemuan menyanyikan kalimat afirmasi yang dipotong dengan kehadiran Mark Cohen, salah satu tokoh utama yang bukan ODHA. Mark sendiri datang karena diundang Angel, gebetan baru teman sekamarnya yang sama-sama terjangkit HIV.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-embed-handler wp-block-embed-embed-handler wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Life Support - RENT (2008 Broadway Cast)" width="708" height="398" src="https://www.youtube.com/embed/vfOgj3tt8zI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Mark disambut dengan hangat dan diajak ikut menyanyikan bait afirmasi tadi sebelum akhirnya dipotong oleh salah satu anggota pertemuan yang merasa ragu dengan afirmasi tersebut.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>Afirmasi: “Lupakan sesal atau kau akan melewatkan kehidupan.”</em><br><em>Peserta pertemuan: “T-Cell-ku rendah, aku menyesali hal itu, oke?”</em></p></blockquote>



<p>Pemimpin pertemuan kemudian menuntun orang tersebut untuk berfokus pada apa yang dia rasakan saat ini dan membantunya menggali alasan di balik rasa takut yang menghantuinya meskipun ia sedang “baik-baik saja” secara fisik. Peserta pertemuan itu kemudian mengakui keraguannya dan menyatakan bahwa terlepas dari itu, ia ingin mencoba untuk membuka diri dan memahami apa yang ia tidak ketahui:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Aku merasa yang kau ajarkan ini mencurigakan</em><br><em>karena aku terbiasa mengandalkan logika,</em><br><em>tapi aku mencoba membuka diri pada apa yang tak kuketahui</em><br><em>karena logikanya seharusnya aku sudah mati 3 tahun lalu.”</em></p></blockquote>



<p>Apa kaitannya adegan ini dengan Dharma?&nbsp;</p>



<p>Saya teringat dengan diri saya waktu awal-awal mengenal beragam tradisi Buddhadharma. Hal-hal yang saya rasa “masuk akal” seperti teori-teori tentang dukkha, hukum karma, atau meditasi membuat saya terkagum-kagum dan bangga menjadi Buddhis. Apalagi kalau ketemu berita bertajuk “Sains membuktikan manfaat praktik Buddhis ini!” Wuih… Bangganya bukan main. Tapi lain ceritanya saat bertemu dengan praktik yang “tidak bisa dibuktikan secara ilmiah”. Ketika ditanya orang, saya dengan cepat menjelaskan bahwa itu sekadar “produk budaya” dan bukan praktik Buddhis yang esensial. Apalagi kalau praktik itu berasal dari tradisi lain yang tidak terlalu saya kenal, hanya karena pernah mendengar desas-desus tanpa pernah mencoba mencari tahu lebih lanjut, saya pernah dengan percaya diri bilang bahwa itu bukan praktik Buddhis, melainkan karangan umat yang salah kaprah!</p>



<p>Kalau direnungkan lebih lanjut, sikap saya itu merupakan tanda bahwa saya memiliki keraguan terhadap berbagai praktik Buddhis yang sesungguhnya sudah ada dan dipraktikkan untuk waktu yang sangat lama. Namun, alih-alih ber-<em>ehipassiko </em>dengan mencari tahu tentang asal-usul dan makna praktik tersebut dan mencobanya secara langsung, saya memilih untuk menyangkal kesahihannya. Gara-gara saya tidak mau mengakui dan menghadapi keraguan saya terhadap ajaran Buddha yang “paling logis, paling ilmiah, paling luar biasa”, saya asal menuduh praktik yang tidak cocok dengan saya sebagai bukan Buddhis.</p>



<p>Tindakan saya waktu itu tentunya berbeda sama sekali dengan adegan dalam RENT yang saya ceritakan tadi. Di situ, si peserta pertemuan yang ragu mengakui keraguan dan ketidaktahuannya. Ia juga dengan berani berusaha untuk menantang “logika” otaknya dengan mencoba mengikuti pertemuan tersebut setelah menyadari sendiri bahwa hidup tak selalu berjalan sesuai logika itu.&nbsp;</p>



<p>Saya sendiri termasuk orang yang masih sering merasa bahwa “nyata” menurut logika berarti sesuatu yang tampak dan punya wujud. Ini merupakan logika positivisme versi Barat yang tanpa sadar tertanam dalam pikiran banyak orang, apalagi di negara-negara jajahan Eropa yang dibuat merasa inferior secara intelektual. Padahal, kalau kita benar-benar <em>aware</em> dengan apa yang terjadi pada diri kita dan dunia di sekitar kita, ada banyak sekali kejadian yang tidak sesuai dengan apa yang kita anggap logis.&nbsp;</p>



<p>Sikap <em>keukeuh</em> memegang “logika” pribadi secara khusus sangat berbahaya saat diterapkan pada Dharma Sang Buddha yang kualitas dan cakupannya jauh melampaui jangkauan nalar kita yang masih tertutup kotoran batin yang sudah menumpuk sejak waktu tak bermula. Saat kita membiarkan sikap ini mengarahkan jari telunjuk kita untuk menentukan mana ajaran Buddha dan mana yang bukan, kita bukan hanya akan gagal memahami Dharma secara keseluruhan dan semakin jauh dari pencerahan. Kita juga menciptakan sebab untuk tidak mengenal Dharma di masa mendatang.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Jauh lebih berat adalah kejahatan dari seseorang yang menyangkal Sutra-Sutra dibanding seseorang yang akan menghancurkan semua stupa di Jambudwipa ini.</em><br><em>Jauh lebih berat adalah kejahatan dari seseorang yang menyangkal Sutra-Sutra dibanding seseorang yang akan membunuh Arahat sebanyak butiran pasir di Gangga.”</em></p><cite>-Samadhiraja Sutra</cite></blockquote>



<p>Jadi, banyak baca buku Dharma, rajin ke wihara, ikut banyak ceramah Dharma, atau bersikap alim tidak menjamin kita benar-benar menjadi seorang Buddhis atau praktisi Dharma. Itu semua percuma kalau kita masih “pilih-pilih” ajaran seperti yang saya lakukan dulu (sekarang juga kadang masih suka salah sih). Sebaliknya, kita perlu bersikap seperti peserta pertemuan ODHA dalam RENT tadi yang berani mengakui keraguannya sambil tetap mencoba membuka diri terlepas dari segala ketakutan dan kesulitan yang ia alami. Seorang Buddhis bisa jadi pecandu narkoba, suka mabuk-mabukan, dan ragu dengan ajaran Buddha, tapi yang penting adalah ia menyadari dan mengakui ketidaktahuannya serta mau mencoba membuka diri terhadap Dharma yang baru ia kenal. Jika tidak, Dharma tak akan bermanfaat bagi batinnya.</p>



<h4 id="h-pentingnya-komunitas-pentingnya-sangha"><strong>Pentingnya Komunitas, Pentingnya Sangha</strong></h4>



<p>Mengakui keraguan dan membuka hati tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setiap orang pasti menemui hambatan yang beragam jenis dan beratnya tergantung dengan karma dan pengalaman hidup masing-masing. Tokoh dalam RENT tadi mengalami hambatan untuk memulihkan diri lewat pertemuan Life Support berupa ancaman penyakit mematikan dan ketakutan yang konon umum bagi warga New York dalam kisah itu. Saya sendiri menemukan hambatan berupa kesombongan, kurangnya pengetahuan, dan konsep bawaan dalam upaya memulihkan diri dengan Dharma.&nbsp;</p>



<p>Meski amat beragam, saya rasa hambatan itu bisa diperas sampai sisa intisarinya menjadi bait yang saya kutip di awal tulisan ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-embed-handler wp-block-embed-embed-handler wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Will I? - RENT (2008 Broadway Cast)" width="708" height="398" src="https://www.youtube.com/embed/CCVJnh1teqk?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Akankah aku kehilangan harga diri?</em><br><em>Akankah ada yang peduli?</em><br><em>Akankah kubangun esok hari</em><br><em>dari mimpi buruk ini?”</em></p></blockquote>



<p>Ini adalah lagu paling sederhana dalam seluruh drama musikal RENT. Isinya hanya satu bait diulang-ulang, dinyanyikan awalnya oleh salah satu peserta pertemuan Life Support dan diikuti oleh seluruh tokoh. Ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang sakit, ada yang sehat, ada yang beruntung, ada yang malang, semua berada di tempat dan adegan yang berbeda tapi menyanyikan bait yang sama dengan nada yang sama. Di momen ini, saya bisa merasakan salah satu poin penting yang diajarkan Buddha bahwa semua makhluk pada dasarnya sama, sama-sama menderita dan ingin bebas dari penderitaan itu.&nbsp;</p>



<p>Isi baitnya sendiri seolah mengungkapkan apa yang sesungguhnya dikatakan hati kecil kita saat kita menutup pintu hati, menolak mengakui kekurangan diri dan memilih untuk “kuat” sendiri. Kita takut kehilangan harga diri karena mengandalkan pertolongan orang lain, takut direndahkan karena memiliki kekurangan, merasa tak ada yang peduli sekeras apa pun kita berupaya, juga takut menambah luka akibat penolakan dan kegagalan di atas segala “mimpi buruk” yang kita bawa.</p>



<p>Lebih lanjut, kesamaan itu bisa menjadi dasar untuk berempati dan bersatu menjadi satu komunitas yang saling mendukung, misalnya 6 sahabat yang menjadi tokoh utama maupun orang-orang ODHA yang menghadiri pertemuan Life Support. Dalam komunitas seperti ini, kita tak perlu takut kehilangan harga diri atau karena semua sama-sama mengakui dan memaklumi kekurangan yang dimiliki. Kita juga bisa yakin bahwa ada orang-orang yang peduli dengan keadaan dan kebahagiaan kita, bahwa usaha kita tak akan sia-sia. Kalaupun kita gagal, kita tidak sendirian dan bisa saling menyemangati untuk terus maju selangkah demi selangkah.</p>



<p>Bukan hanya ODHA yang membutuhkan komunitas. Seorang praktisi Dharma juga! Pada dasarnya, yang membedakan komunitas ODHA dengan komunitas Buddhis hanyalah jenis penyakitnya–yang satu fisik, yang satu mental. Bukankah kita semua sama-sama menderita penyakit keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan yang membuat kita menderita sejak waktu yang tak bermula? “Sangha” yang secara harfiah berarti “komunitas” seringkali dianalogikan sebagai perawat bagi kita yang sakit ini. Sama seperti komunitas Life Support adalah ruang aman bagi mereka yang bergumul dengan HIV untuk merawat satu sama lain, Sangha juga merupakan “ruang aman” bagi kita yang bergumul dengan virus klesha untuk saling merawat.</p>



<p>Dari sini, saya jadi semakin menyadari bahwa “berlindung kepada Sangha” lebih dari sekadar menghormati para biksu/biksuni, berdana makanan dan jubah pada mereka, atau “curhat” memohon petunjuk saat ada masalah. Buddha membentuk Sangha secara khusus agar murid-murid-Nya punya komunitas yang saling menerima dan saling mendukung selagi jatuh bangun berjuang memperbaiki batin. Kita pun perlu lebih mengandalkan teman-teman kita sesama Buddhis, hidup dengan mereka dan saling menyemangati alih-alih menghakimi. Kita juga tak perlu gengsi dan menjaga jarak karena merasa kurang mampu berdana, jarang meditasi, atau tidak yakin 100% dengan praktik-praktik Buddhis tertentu. Justru kita perlu mengakuinya agar bisa berkembang menjadi lebih baik. Percaya deh, kalau kita cuma sendiri, pasti perkembangan itu tidak akan pernah terjadi!</p>



<p>Kemudian, sama seperti pemimpin pertemuan Life Support yang menuntun anggotanya untuk menggali akar masalah dan yakin untuk bertahan, kita butuh sosok yang sudah merasakan sendiri manfaat Dharma dan mampu menuntun kita untuk menggali akar penderitaan kita dan menguatkan tekad kita untuk terus mempelajari dan mempraktikkan Dharma sampai benar-benar bebas dari penderitaan itu.&nbsp;</p>



<p>Kalau kita sendiri, pembebasan dan pencerahan ibarat garis <em>finish </em>dalam rute maraton–tidak kelihatan dari titik <em>start</em> tempat kita berdiri. Kita butuh seseorang yang sudah pernah mencapai <em>finish</em> untuk meyakinkan bahwa titik itu benar-benar ada agar kita tak berhenti berlari serta memandu langkah kita agar tak tersesat di perjalanan.</p>



<h4 id="h-nilai-yang-sama"><strong>Nilai yang Sama</strong></h4>



<p>Tentunya agar dapat benar-benar saling menerima dan saling mendukung seperti ini, sebuah komunitas juga harus setidaknya menjunjung nilai yang sama. Dalam RENT, nilai ini saya temukan dalam bait berikut:</p>



<p><em>“Bagaimana caranya menilai hidup seseorang?</em><br><em>Bagaimana dengan cinta?</em><br><em>Nilailah hidupmu dengan cinta!”</em></p>



<p><a href="https://www.instagram.com/p/Ckso1R4pNGx/">Lagu ini</a> merupakan cuplikan dari lagu paling populer dari drama musikal RENT. Lagu ini jugalah yang membuat saya merasa komunitas yang digambarkan dalam kisah ini begitu dekat dengan komunitas Buddhis.</p>



<p>Sekarang ini, masyarakat terbiasa mengukur “nilai” hidup berdasarkan materi–baik itu harta, profesi, reputasi, pasangan, ataupun penampilan fisik. Masyarakat “sepakat” bahwa orang yang tidak cukup kaya, tidak cukup tenar, atau jomlo dianggap “kurang” dibanding orang yang lebih kaya, lebih tenar, atau punya pasangan. Akibatnya, antara orang yang “berpunya” memandang rendah yang lain atau orang yang “kurang” minder dan takut dihakimi. Orang-orang pun terpisahkan oleh jurang yang dibuat oleh hal-hal yang sebenarnya tidak berarti dan tidak bisa dibawa mati. Parahnya lagi, dari jurang itu akan bermunculan segala bentuk racun batin yang membuat kita makin jauh dari Dharma. Kita jadi gampang iri, tak kunjung puas, dan rela merugikan orang lain demi meredam dahaga samsara. Akibatnya, bukannya lega, kita malah menumpuk sebab penderitaan.</p>



<p>Lain halnya kalau kita mengukur “nilai” hidup berdasarkan cinta kasih. <em>Metta</em> atau cinta kasih universal itu gratis dan tidak akan habis dibagi. Jika kita merasa kurang, Buddha sudah mengajarkan cara mengembangkannya. Jika kita melihat orang lain kurang memiliki cinta kasih, kita bisa langsung mengulurkan cinta kepada mereka. Namun, pandangan bahwa “cinta kasih adalah yang terpenting dalam hidup” akan tenggelam oleh tuntutan-tuntutan duniawi yang mengepung kita dalam bentuk iklan, nyinyiran media sosial, atau bahkan keluarga dan teman-teman kita sendiri yang lebih percaya pada materi. Sekali lagi, komunitaslah yang bisa melindungi kita dari semua itu!&nbsp;</p>



<p>Kalau semua orang di sekitar kita sepakat bahwa cinta kasih dan hati yang baik lebih penting daripada harta yang banyak, kita juga bisa fokus melatih cinta kasih sesuai dengan Dharma. Kita juga tak akan terjebak dalam pandangan bahwa ada orang yang lebih “unggul” atau lebih “inferior” sehingga bisa saling menerima, saling menghargai, dan saling mendukung dengan tulus.</p>



<h4 id="h-penutup"><strong>Penutup</strong></h4>



<p>Ini semua hanyalah secuil racauan saya yang begitu terinspirasi oleh komunitas ODHA yang digambarkan dalam sebuah drama musikal. Sebagai penutup, saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk membayangkan: betapa banyak hal yang bisa kita pelajari dengan mengenal dan berinteraksi langsung dengan komunitas ODHA di dunia nyata? Atau komunitas-komunitas lain yang hidupnya berbeda dengan kita, yang belum pernah kita kenal sebelumnya? Atau jangan-jangan kita pun masih banyak belajar dari orang-orang yang kita temui setiap hari!</p>



<p>Satu hal yang pasti, agar bisa belajar dan berkembang, kita butuh kejujuran, kerendahan hati, dan kemauan untuk melepaskan segala bentuk prasangka yang kita yakini. Jika pembaca sama seperti saya yang telah melewatkan bertahun-tahun kesempatan untuk belajar karena kesombongan dan ketidaktahuan, jangan larut dalam sesal dan yakinlah bahwa kita belum terlambat. Selama kita masih hidup dan masih berkesempatan bertemu dengan Buddhadharma, mari mulai untuk berubah dan menapaki jalan menuju pencerahan yang sesungguhnya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“There’s only us, there’s only this.</em><br><em>Forget regret, or life is yours to miss.</em><br><em>No other road, no other way, no day but today.”</em></p><cite>-”Life Support” dari RENT the Musical</cite></blockquote>



<p>—</p>



<p><em>RENT the Musical versi Broadway bisa disaksikan di </em><a href="https://www.youtube.com/watch?v=SjZxT4wWpXI"><em>sini</em></a><em>. Mohon doanya agar pertunjukan di Indonesia juga bisa hadir dalam bentuk video maupun audio 😉</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/12/01/rent-buddhis-odha/">RENT the Musical: Buddhis Berkaca dari Komunitas ODHA</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/12/01/rent-buddhis-odha/">RENT the Musical: Buddhis Berkaca dari Komunitas ODHA</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih Donatur Kathina 2021</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/12/08/terima-kasih-donatur-kathina-2021/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Dec 2021 04:32:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buku dharma]]></category>
		<category><![CDATA[bulan kathina]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[sabahat Lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[terimakasih donatur 2021]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6542</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Pada bulan Kathina lalu, sahabat-sabahat Lamrimnesia telah menghimpun kebajikan luar biasa dengan berdana kepada 120 anggota Sangha di berbagai tempat di Indonesia.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/12/08/terima-kasih-donatur-kathina-2021/">Terima Kasih Donatur Kathina 2021</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/12/08/terima-kasih-donatur-kathina-2021/">Terima Kasih Donatur Kathina 2021</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Pada bulan Kathina lalu, sahabat-sabahat Lamrimnesia telah menghimpun kebajikan luar biasa dengan berdana kepada 120 anggota Sangha di berbagai tempat di Indonesia. Dana berupa persembahan kebutuhan pokok, jubah, suplemen tubuh berupa 114 pak vitamin, dan suplemen batin berupa 720 buah buku Dharma. </p>



<p>Semoga para anggota Sangha dapat terus sehat lahir batin. Semoga dengan buku-buku Dharma ini, pengetahuan dan realisasi anggota Sangha semakin kaya. Mereka pun bisa berbagi Dharma kepada kita sehingga Buddhadharma dapat terus lestari dan berkembang di seluruh Nusantara. </p>



<p>Laporan dana dan penyebaran paket Kathina dapat dilihat di:</p>



<p><a href="https://drive.google.com/file/d/1OHEUPEA0zDIB0YtDkXnbTmxksvoDbo6G/preview" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Laporan Kathina 2021</a></p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/12/08/terima-kasih-donatur-kathina-2021/">Terima Kasih Donatur Kathina 2021</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/12/08/terima-kasih-donatur-kathina-2021/">Terima Kasih Donatur Kathina 2021</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kathina Puja KMB Dhammavadhana &#8211; Menanam Kebajikan di Hari Kathina</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/11/02/kathina-puja-kmb-dhammavadhana-menanam-kebajikan-di-hari-kathina/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2021 06:49:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dana paramita]]></category>
		<category><![CDATA[Kathina]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6373</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kenapa umat Buddha berdana kepada Sangha di bulan Kathina? Apa manfaatnya &#038; bagaimana tatacaranya? Semua terjawab di Dhammatalk Kathina KMB Dhammavadhana!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/11/02/kathina-puja-kmb-dhammavadhana-menanam-kebajikan-di-hari-kathina/">Kathina Puja KMB Dhammavadhana – Menanam Kebajikan di Hari Kathina</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/11/02/kathina-puja-kmb-dhammavadhana-menanam-kebajikan-di-hari-kathina/">Kathina Puja KMB Dhammavadhana &#8211; Menanam Kebajikan di Hari Kathina</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Minggu, 31 Oktober 2021 &#8211; Keluarga Mahasiswa Buddhis Dhammavadhana Universitas Bina Nusantara (BINUS) menyelenggarakan Kathina Puja &amp; Dhammatalk bertajuk &#8220;Generosity Brings Good Karma&#8221;. Acara diselenggarakan secara daring via aplikasi Zoom dan dihadiri oleh 81 peserta.</p>



<p>Acara dibuka dengan sambutan dari ketua panitia, dilanjutkan dengan puja bakti, Dhammatalk, penayangan liputan Sanghadana &amp; Pattidana yang dilakukan KMB Dhammavadhana, dan ditutup dengan pertunjukan seni serta pengumuman pemenang aneka lomba yang diselenggarakan dalam rangka bulan Kathina.</p>



<p>Dhammatalk yang menjadi puncak kegiatan ini dipandu oleh motivator Ponijan Liaw dengan narasumber 3 orang biksu Sangha, masing-masing mewakili 3 tradisi Buddhis yang paling dikenal di Indonesia. Ketiga narasumber luar biasa tersebut adalah Y.M. Bhikkhu Nyana Suryanadi yang mewakili tradisi Theravada, Y.M. Suhu He Xian yang mewakili Mahayana, serta Y.M. Lobsang Gyatso yang mewakili Vajrayana.</p>



<p>Sepanjang Dhammatalk, ketiga narasumber menjawab beragam pertanyaan seputar praktik berdana, khususnya di bulan Kathina, dan manfaatnya untuk kehidupan. Kathina sendiri merupakan salah satu perayaan penting bagi umat Buddha yang memperingati berakhirnya masa Vassa atau retret musim hujan yang dijalankan oleh Sangha monastik. Y.M. Bhikkhu Nyana Suryanadi pun menjelaskan bahwa bulan ini istimewa karena dana dilakukan kepada komunitas Sangha, bukan hanya individu, di waktu yang tepat, yaitu setelah mereka melakukan praktik intensif selama masa Vassa. Oleh karena itu, kebajikan yang diperoleh dari Kathina dana amatlah besar.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;Ibarat menanam benih unggul di ladang yang subur,&#8221; tutur Beliau.</p></blockquote>



<p>Mengenai barang yang didanakan, Y.M. Suhu He Xian memaparkan bahwa di zaman sekarang, sebaiknya mendanakan barang yang sesuai dengan kebutuhan Sangha. Umat dapat bertanya terlebih dahulu ke pengurus wihara atau dayaka Sangha. Jangan sampai barang yang sama menumpuk dan malah tidak terpakai.</p>



<p>Y.M. Biksu Lobsang Gyatso kebagian menjelaskan niat dan cara berdana yang tepat. Beliau memaparkan bahwa bisa ada 4 jenis niat atau motivasi berdana. Pertama, untuk kepentingan pribadi atau kesenangan di kehidupan saat ini. Kedua, untuk kelahiran di alam bahagia di kehidupan mendatang. Ketiga, untuk mengakhiri penderitaan samsara. Keempat, untuk meraih Kebuddhaan demi membebaskan semua makhluk dari samsara.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;Yang pertama itu bukan motivasi seorang Buddhis,&#8221; kata Y.M. Biksu Lobsang Gyatso, &#8220;Sebisa mungkin kita harus berusaha melatih yang keempat. Itulah praktik Dana Paramita. Bukan hanya untuk yang Mahayana saja, tapi di Sutta Pali juga diajarkan.&#8221;</p></blockquote>



<p>Tata cara berdana sendiri bisa beragam, tergantung dengan tradisi atau tata krama setempat. Satu hal yang pasti, Sang Buddha mengajarkan untuk memberikan dana dengan rasa hormat kepada yang menerima. Begitu pula sebaliknya penerima dana menerimanya dengan hormat pula.</p>



<p>Ketiga narasumber juga menjawab pertanyaan seputar dampak pandemi terhadap Vassa dan Kathina. Y.M. Biksu Lobsang Gyatso mengatakan bahwa pandemi dan penerapan PPKM justru mendukung tradisi Vassa dan praktik spiritual umat Buddha secara umum. Beliau menganjurkan kepada semua peserta untuk mengisi waktu selama dia di rumah dengan mengevaluasi diri dan lebih banyak belajar serta merenungkan Dharma. Mengenai praktik berdana yang dirasa kurang afdol jika tidak dilakukan secara langsung, Y.M. Suhu He Xian pun mengingatkan bahwa offline maupun online bukan masalah, yang penting adalah kualitas kebajikannya.&nbsp;</p>



<p>Kesulitan ekonomi selama pandemi juga tak jadi soal. Ketiga narasumber beserta moderator mengutip beberapa bait dari kitab suci yang menjelaskan bahwa persembahan sekecil apapun bisa mendatangkan manfaat besar jika dilandasi dengan niat bajik dan sikap yang tepat.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;Saat kita punya pikiran senang, itu pun bisa kita persembahkan untuk semua makhluk,&#8221;</p><cite>tutur Y.M. Bhikkhu Nyana Suryanadi.</cite></blockquote>



<p>Dalam sesi tanya jawab, ada pertanyaan mengenai praktik berdana yang dilakukan atas dasar gengsi. Para narasumber dengan mahir menjelaskan bahwa meski yang melakukannya tetap menerima sedikit kebajikan, berdana atas dasar gengsi tidak dianjurkan karena hanya akan memperparah ego si pendana. Memang kadang kita berdana karena terinspirasi saat melihat orang lain berdana. Itu adalah hal yang baik. Namun, kita perlu berhati-hati, jangan sampai kita ikut berdana hanya untuk mengungguli orang tersebut.</p>



<p>Namun, kita juga diingatkan untuk tidak menghalangi atau mencegah orang lain berdana, sekalipun orang itu berdana karena gengsi. Menghalangi orang lain berdana hanya mendatangkan kerugian karena mencegah pemberi melakukan kebajikan, mencegah penerima mendapatkan kebutuhan mereka, serta menumbuhkan kekejian dalam diri orang yang menghalangi.</p>



<p>Sebagai penutup, para narasumber mengulang kembali poin-poin penting dalam pembahasan tentang niat, penerima, tata cara, dan waktu dalam praktik berdana, khususnya Kathina Dana. Tak lupa, mereka juga berpesan agar semua terus melatih&nbsp; dana paramita dalam kehidupan sehari-hari.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/11/02/kathina-puja-kmb-dhammavadhana-menanam-kebajikan-di-hari-kathina/">Kathina Puja KMB Dhammavadhana – Menanam Kebajikan di Hari Kathina</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/11/02/kathina-puja-kmb-dhammavadhana-menanam-kebajikan-di-hari-kathina/">Kathina Puja KMB Dhammavadhana &#8211; Menanam Kebajikan di Hari Kathina</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KATHINA BERSAMA LAMRIMNESIA: BENTUK DANA TERTINGGI UNTUK OBJEK TERTINGGI</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/08/30/kathina-bersama-lamrimnesia-bentuk-dana-tertinggi-untuk-objek-tertinggi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2021 11:27:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bulan kathina]]></category>
		<category><![CDATA[Dana Dharma]]></category>
		<category><![CDATA[kathina dana 2021]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6237</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kenapa dikatakan memberi Dharma adalah bentuk tertinggi dari praktik berdana? Alasannya adalah karena praktek berdana Dharma bisa membebaskan kita dari samsara dan mencapai Nibanna</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/30/kathina-bersama-lamrimnesia-bentuk-dana-tertinggi-untuk-objek-tertinggi/">KATHINA BERSAMA LAMRIMNESIA: BENTUK DANA TERTINGGI UNTUK OBJEK TERTINGGI</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/30/kathina-bersama-lamrimnesia-bentuk-dana-tertinggi-untuk-objek-tertinggi/">KATHINA BERSAMA LAMRIMNESIA: BENTUK DANA TERTINGGI UNTUK OBJEK TERTINGGI</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-30-at-17.14.01-576x1024.jpeg" alt="" class="wp-image-6221" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-30-at-17.14.01-576x1024.jpeg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-30-at-17.14.01-600x1067.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-30-at-17.14.01-169x300.jpeg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-30-at-17.14.01-150x267.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-30-at-17.14.01-450x800.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-30-at-17.14.01.jpeg 720w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure></div>



<p>Kenapa dikatakan memberi Dharma adalah bentuk tertinggi dari praktik berdana? Alasannya adalah karena praktek berdana Dharma bisa membebaskan kita dari samsara dan mencapai Nibanna sedangkan praktek memberi materi dan membebaskan dari rasa takut hanya memberikan manfaat yang sementara.</p>



<p>Lalu bagaimana kita mempraktikkan Dana Dharma yang tertinggi ini? Bagaimana kalau kita tidak punya kemampuan untuk mengajarkan Dharma? Berdana Dharma tidak harus dilakukan dengan mengajarkan Dharma. Segala hal yang berkaitan dengan tujuan untuk menyebarkan Dharma adalah Dana Dharma. Mengajak teman ke wihara untuk mendengar Dharma, memberikan nasihat Dharma kepada teman adalah Dana Dharma juga.</p>



<p>Satu Dana Dharma yang mudah untuk dilakukan adalah Dana Buku Dharma. Kalau kita berdana 100 buku Dharma, dan buku ini di baca oleh 100 umat Buddha atau 100 Biksu, maka manfaat Dana Dharma kita akan menjadi luar biasa. Jika setelah membaca buku Dharma yang kita danakan ini, umat/biksu tersebut membangkitkan rasa menolak samsara yang kuat, bayangkan karma baik yang akan kita peroleh. Jadi, selama buku tersebut masih digunakan, maka kita masih tetap akan mendapatkan karma baik dari berdana buku Dharma tersebut.”</p>



<p>—</p>



<p>Di bulan Kathina ini, Lamrimnesia membuka kesempatan berdana buku Dharma kepada Sangha. Kami berharap dengan buku Dharma ini, para anggota Sangha dapat mendapatkan lebih banyak lagi pengetahuan Dharma dan realisasi yang kelak dibagikan kepada kita.</p>



<p>Jenis paket dan isi paket dapat dilihat di gambar.</p>



<p>Pemesanan dapat dilakukan melalui Call Center Lamrimnesia +628122816044</p>



<p>Dana Kathina ini akan diberikan kepada anggota Sangha, melalui:</p>



<ul><li>Vihara Buddhasena</li><li>Vihara Bodhi Manggala</li><li>Vihara Dhamma Santiloka</li><li>Beji Meditation Centre (PATVDH &#8211; Beji)</li><li>Bodhisatta Buddhist Center</li><li>Supatipanna Sima, PATVDH Rempang-Batam</li><li>Vihara Ratanavana Arama</li><li>Buddhayana Dharmawira Centre</li><li>Pubbarama Buddhist Centre</li><li>Vihara Bodhigiri</li><li>Vihara Bliss Wisdom/ Vihara Dharmasagara Guna Grha</li><li>Vihara Vajrabodhi</li><li>Dharmakirti Temple</li><li>Avalokitesvara Vidya Sasana</li><li>Vihara Virya Paramitha</li><li>Vihara Avalokitesvara (Kwan Im Tong)</li><li>Vihara Amurwa Bhumi Graha</li><li>STIAB Smaratungga (Bhante Sammodhana)</li></ul>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Laporan Kathina Dana Lamrimnesia:</p>



<p><a href="https://drive.google.com/file/d/1OHEUPEA0zDIB0YtDkXnbTmxksvoDbo6G/preview">Laporan Kathina Dana 2021</a></p>



<p>Sarwa Manggalam,<br>Call Center Lamrimnesia<br>Hp/wa: +62812 2281 6044</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/30/kathina-bersama-lamrimnesia-bentuk-dana-tertinggi-untuk-objek-tertinggi/">KATHINA BERSAMA LAMRIMNESIA: BENTUK DANA TERTINGGI UNTUK OBJEK TERTINGGI</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/30/kathina-bersama-lamrimnesia-bentuk-dana-tertinggi-untuk-objek-tertinggi/">KATHINA BERSAMA LAMRIMNESIA: BENTUK DANA TERTINGGI UNTUK OBJEK TERTINGGI</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Siapakah Buddha? Buddha Adalah Kita!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/06/16/siapakah-buddha-buddha-adalah-kita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2020 10:22:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Cara Mejadi Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4961</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Shierlen Octavia Ketika mendengar kata “Buddha”, hal apa yang pertama kali terlintas di benak kita? Jawabannya mungkin akan sangat beragam sebab kata “Buddha” pun sesungguhnya menyandang banyak makna, tergantung dari perspektif yang kita gunakan. Ada yang mengingat Buddha sebagai Pangeran Siddhartha, ada yang lalu mengingat arti kata Buddha, yaitu “yang tersadarkan”. Kemudian, ada pula [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/06/16/siapakah-buddha-buddha-adalah-kita/">Siapakah Buddha? Buddha Adalah Kita!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/06/16/siapakah-buddha-buddha-adalah-kita/">Siapakah Buddha? Buddha Adalah Kita!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Shierlen Octavia</p>



<p>Ketika mendengar kata “Buddha”, hal apa yang pertama kali terlintas di benak kita? Jawabannya mungkin akan sangat beragam sebab kata “Buddha” pun sesungguhnya menyandang banyak makna, tergantung dari perspektif yang kita gunakan. Ada yang mengingat Buddha sebagai Pangeran Siddhartha, ada yang lalu mengingat arti kata Buddha, yaitu “yang tersadarkan”. Kemudian, ada pula yang mungkin mengingat Buddha sebagai sebuah kualitas—benih yang disebut-sebut ada di dalam diri setiap makhluk hidup. Meskipun begitu, hingga 2000-an tahun berlalu, Buddha yang kita tahu masihlah Buddha Shakyamuni seorang dan tak pernah barang sekali pun kita mendengar ada nama Buddha lain yang hidup di dunia modern. Kalau semua orang punya benih Kebuddhaan, kok sampai sekarang belum ada Buddha yang baru? Benarkah pernyataan bahwa kita memiliki benih Kebuddhaan?</p>



<p>Sebelum membahas mengenai benar atau tidaknya pernyataan di atas, kita mengetahui dengan pasti bahwa sosok Buddha yang dikenal oleh khalayak umum adalah sesosok manusia bernama Siddhartha Gautama yang terlahir sebagai seorang pangeran di Kerajaan Kapilawastu beribu tahun yang lalu. Sama seperti masa sekarang, Buddha di zaman dulu tidak terdiri dari banyak orang yang bisa kita temukan di mana-mana, lalu kita sapa dengan santai layaknya bertemu kawan lama. Kelangkaan ini bahkan tergambarkan dalam sebuah kejadian dalam kehidupan Buddha Shakyamuni. Dahulu kala, ketika Buddha tengah berdiam di Kota Āpana, ada seorang guru Brahmana bernama Sela yang kala itu mendengar kata “Buddha”. Ketika mendengarnya, Beliau berkata, “Sungguh jarang mendengar kata ‘Buddha, Buddha’ di dunia ini”. Akan tetapi, sebenarnya yang lebih jarang lagi adalah munculnya seorang Buddha. Hal ini karena untuk menjadi Yang Tersadarkan, kita harus menyempurnakan parami selama masa hidup yang amat sangat panjang.</p>



<p>Mengetahui hal tersebut, mungkin akan timbul keraguan di hati kita mengenai kebenaran Buddha dalam wujud kualitas—benih Kebuddhaan di dalam diri kita. Soalnya, kemungkinan kita untuk menjadi seorang Buddha rasanya sama mustahilnya seperti kemungkinan monyet akan bertelur. Setelah 2564 tahun lamanya kita mati lalu terlahir, lalu mati dan terlahir dalam siklus kehidupan yang tak terhitung, hingga kini kita masih saja manusia biasa yang terjebak di lingkaran samsara. Itu baru sebagian kecil dari perjalanan para bakal Buddha untuk mencari obat dari lahir, tua, sakit, dan mati yang lamanya lebih dari 550 kisah Jataka yang pernah dikisahkan oleh Buddha. Dibutuhkan empat asankheyya dan seratus ribu kalpa lamanya hingga Buddha yang kini kita kenal dengan nama Buddha Shakyamuni bisa mencapai kesempurnaan, dengan catatan bahwa satu kalpa saja setara dengan belasan juta tahun.</p>



<p>Meskipun tampak mustahil, jikalau kita pikir-pikir lebih jauh, sosok Buddha Shakyamuni sesungguhnya tidaklah jauh berbeda dengan kita. Pertama, Beliau mulanya adalah manusia yang sama seperti kita. Kedua, Beliau menyadari bahwa hidup dalam samsara tidak membawa kebahagiaan sejati dan bertekad untuk keluar darinya. Dalam hal ini, kita pun sama. Kita mengetahui dari Beliau betapa jahanamnya samsara, lengkap beserta dengan jalan untuk mengakhirinya. Ketiga, kualitas yang Beliau miliki pun pada dasarnya kita miliki. Sebagai contoh, kita memiliki kualitas wirya (<em>viriya</em>), yang secara ringkas diartikan sebagai kualitas semangat walaupun tentunya belum kokoh dan tak dapat digentarkan seperti Buddha. Artinya dalam hal ini, hanya satu hal yang membedakan kita dengan Beliau: Buddha sudah menyempurnakan kualitas tersebut sementara kita masih dalam perjalanan untuk sampai ke sana.</p>



<p>Berbeda dengan kita yang kadang naik kadang surut dalam upaya mencapai Kebuddhaan, para Buddha pendahulu tidak pernah patah semangat dan selalu gencar dalam praktiknya. Pengetahuan paripurna tentang kehidupan yang kini kita terima sebagai Dharma berasal dari pencapaian Beliau, hasil dari rentetan uji coba yang tak jarang menemui kegagalan dan hambatan. Beliau telah melalui tak terhitung banyaknya kehidupan, dan tak ada satu pun dari kehidupan yang Beliau jalani berlalu dengan sia-sia. Dari Jataka dan kitab-kitab, kita tahu bahwa selalu ada usaha yang diberikan di dalamnya untuk menolong semua makhluk. Hal ini merupakan salah satu kualitas yang sangat patut dikagumi, sebab tak pernah ada sejarah Buddha membeda-bedakan antara satu makhluk dengan yang lainnya. Buddha menolong siapa saja, baik yang merugikan maupun menguntungkannya. Bahkan Buddha mengasihi Dewadatta yang berulang kali mencoba membunuhnya sama seperti mengasihi anak kandungnya sendiri!</p>



<p>“Yah, bedalah antara kita dan Buddha, Buddha ‘kan selalu terlahir jadi makhluk-makhluk agung. Kita <em>mah </em>cuma remah-remah rengginang.”</p>



<p>Jika kita berpikir seperti itu, kita mungkin lupa atau belum pernah dengar kata Buddha yang satu ini: Buddha pernah menganalogikan jumlah kisah hidup yang Ia ceritakan dan jumlah pengalaman-Nya yang sebenarnya sebagai semangkuk air laut dan samudra. Hal yang kita kira sudah kita ketahui dengan jelas sesungguhnya bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan keseluruhan perjuangan Beliau. Semangkuk kisah luar biasa tentang keagungan Buddha bisa ada berkat satu samudra perjuangan-Nya jatuh bangun melawan klesha di enam alam kehidupan yang mungkin tak jauh berbeda dengan apa yang kita lalui.</p>



<p>Mengetahui hal ini, tentunya tidak mengherankan apabila banyak kitab yang menyebutkan bahwa Buddha adalah sosok sempurna. Kesempurnaan yang dimiliki Buddha bukan hanya ongkos mulut semata. Beliau memiliki empat jenis tubuh (Svabhavakaya, Jnana-dharmakaya, Sambhogakaya, dan Nirmanakaya). Sambhogakaya Buddha yang terdiri dari 32 tanda utama dan 80 tanda sekunder eksis bukan untuk pertunjukan teatrikal belaka. Tubuh fisiknya tersebut memungkinkan Beliau untuk bertindak dengan ahli—tidak hanya memberikan apa yang kita butuhkan, tetapi juga yang kita inginkan. Sebagai manusia biasa, kita sering kali gagal untuk memenuhi salah satu dari keduanya. Saat kita bisa memberikan yang orang lain butuhkan, kita gagal memberikan yang mereka inginkan. Begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, Buddha, mampu mencerahkan banyak orang dengan masing-masing keinginan dan tingkat pemahaman yang berbeda, hanya dengan mengucapkan satu kalimat yang sama.</p>



<p>Buddha berawal dari eksistensi-Nya sebagai manusia. Pernyataan ini saja sesungguhnya sudah memberikan petunjuk bahwa Kebuddhaan adalah potensi terbesar yang bisa kita wujudkan sebagai manusia, terlepas dari ras dan suku kita, bahasa yang kita gunakan, latar belakang keluarga yang kita miliki, kaya atau miskin—apapun itu. Tidak pernah kita temukan dalam satu bagian dari kitab mana pun yang menyebutkan misal: orang Indonesia tidak bisa jadi Buddha karena ia tidak mengerti bahasa Pali; atau orang miskin tidak bisa menempuh jalan Kebuddhaan. Hal tersebut karena tidak ada kondisi apa pun yang sebenarnya mengekang kita untuk menjadi Buddha dengan tubuh manusia, kalau bukan diri kita sendiri yang memang tidak menghendakinya. Buddha sendiri, sang revolusioner agung yang membawa makna sejati dari hakikat kehidupan ini pun berkata bahwa seseorang tidak menjadi mulia karena dilahirkan dalam keluarga tertentu. Beliau menjadi mulia karena perilakunya. Oleh sebab itu, adanya kesempatan untuk berperilaku seperti yang telah diajarkan guru kita, Buddha, adalah yang sebab nilai kehidupan kita sebagai manusia menjadi berharga.</p>



<p>Keagungan Sang Buddha ini mungkin bisa membuat kita berkecil hati di hadapan Beliau. Akan tetapi bagi saya, Buddha justru memberikan secercah harapan. Menurut saya, Buddha dan kita ibarat bunga yang sudah mekar dan benih bunga yang baru akan tumbuh. Benih bunga memiliki kualitas-kualitas yang nantinya akan tumbuh menjadi bunga. Karena masih berbentuk benih, maka kita tidak bisa melihat kelopak, putik, atau mahkota bunganya. Akan tetapi, kita tahu bahwa ketika kita berusaha menyiram, memupuk, dan menyingkirkan hama yang bisa merusaknya, benih tersebut akan berkembang menjadi bunga yang cantik lengkap dengan kelopak, putik, mahkota, dan bagian lainnya yang semula tak bisa kita lihat. Kondisi kita saat ini juga demikian. Kita masih diliputi hama bernama klesha dan kita jarang menyiram diri kita dengan air yang bernama perbuatan bajik. Makanya, kita merasa Buddha adalah sesuatu yang teramat sangat jauh dan berjarak dengan diri kita. Padahal, jika kita renungkan baris-baris sebelumnya, kita tahu bahwa kita tidak kekurangan kualitas yang juga dimiliki Beliau sebelum mencapai Kebuddhaan. Kita tidak perlu merasa iri pada Pangeran Siddharta yang sudah berhasil apalagi merasa tidak mampu.</p>



<p>Meskipun sulit, dari sini kita tahu bahwa pada dasarnya manusia pasti memiliki modal untuk menjadi seorang Buddha. Kita bisa melihat usaha-usaha luar biasa dari para ilmuwan zaman dahulu yang mesti gagal bahkan hingga ribuan kali sebelum berhasil menemukan banyak hal yang kini menyokong kehidupan manusia. Hal ini adalah sebuah pertanda baik dan bahan bakar bagi kita untuk meyakini bahwa kelahiran kita sebagai manusia memiliki potensi tak terbatas yang bisa melesat jauh, seminimal-minimalnya bahkan bisa seperti para ilmuwan itu. Oleh karena itu, biarpun jalan yang kita lalui sudah pasti akan menjadi jalan yang panjang dan sulit, namun usaha mencapai Kebuddhaan yang lengkap sempurna tidaklah mustahil, apalagi sia-sia.</p>



<p>Sama seperti kalimat guru Brahmana bernama Sela pada zaman Buddha, nama “Buddha” mungkin jarang terdengar di sekitar kita. Akan tetapi, kita, dari 7,61 milyar manusia di muka bumi ini, masih bisa mendengar kata “Buddha”. Tak hanya itu, kita juga amat beruntung bisa memperoleh Dharma dan semangat Kebuddhaan dari seorang guru yang sudah mencapai tingkatan Buddha—yang menjadi sebab bagi munculnya Buddha itu sendiri di dalam diri kita. Buddha telah berpesan bahwa kerajaan terbesar yang dapat ditaklukkan oleh seorang manusia sebenarnya terletak di dalam diri kita sendiri. Jika kita dapat menguasai kerajaan ini seutuhnya, niscaya kebahagiaan sejati yang melampaui ruang dan waktu akan menjadi milik kita selamanya. Pertanyaan yang tersisa hanya satu: seberapa besar keinginan kita mencapai Kebuddhaan untuk menolong semua makhluk dan usaha kita untuk mewujudkannya?</p>



<p>Referensi:</p>



<p>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; “Kitab Komentar <em>Buddha-Nature</em>: Mahayana-Uttaratantra-Shastra” oleh Dzongsar Jamyang Khyentse Rinpoche</p>



<p>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; “Riwayat Agung Para Buddha” Jilid I oleh Tipitakadhara Mingun Sayadaw</p>



<p>3.      “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">Pembebasan di Tangan Kita</a>” Jilid II oleh Phabongkha Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/06/16/siapakah-buddha-buddha-adalah-kita/">Siapakah Buddha? Buddha Adalah Kita!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/06/16/siapakah-buddha-buddha-adalah-kita/">Siapakah Buddha? Buddha Adalah Kita!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Misteri Buddha Masih Hidup, Sehat, dan Beraktivitas</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/03/04/misteri-buddha-masih-hidup-sehat-dan-beraktivitas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2020 10:36:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[parinibbana]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4822</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Praviravara Jayawardhana Dewasa ini, umat Buddha Indonesia seringkali berpendapat bahwa Buddha sudah parinirvana, bahwa beliau sudah meninggal sehingga Buddha tidak terlibat lagi dalam aktivitas menolong di dunia samsara ini.&#160; Akan tetapi yang perlu disadari adalah, Buddha, sebagai guru para dewa dan manusia dan sekaligus sebagai sumber Dharma yang membawa kebahagiaan kita semua, jelas sekali [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/03/04/misteri-buddha-masih-hidup-sehat-dan-beraktivitas/">Misteri Buddha Masih Hidup, Sehat, dan Beraktivitas</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/03/04/misteri-buddha-masih-hidup-sehat-dan-beraktivitas/">Misteri Buddha Masih Hidup, Sehat, dan Beraktivitas</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Praviravara Jayawardhana</p>



<p>Dewasa ini, umat Buddha Indonesia seringkali berpendapat bahwa Buddha sudah parinirvana, bahwa beliau sudah meninggal sehingga Buddha tidak terlibat lagi dalam aktivitas menolong di dunia samsara ini.&nbsp;</p>



<p>Akan tetapi yang perlu disadari adalah, Buddha, sebagai guru para dewa dan manusia dan sekaligus sebagai sumber Dharma yang membawa kebahagiaan kita semua, jelas sekali bahwa beliau adalah makhluk suci yang amatlah baik dan penuh welas asih sehingga pantas menjadi objek keyakinan dan diperlakukan dengan penuh hormat. Tidak dianggapnya Sang Tathagatha sebagai makhluk suci dan pengkerdilan kualitas sosok Buddha bisa menyebabkan runtuhnya Buddhadharma di indonesia, apalagi apabila keyakinan umat Buddha indonesia terhadap guru utama ajaran ini mulai menurun dan Buddha dianggap tidak lagi mampu menolong dalam aspek-aspek kehidupan manusia sehari-hari.</p>



<p>Ada beberapa argumen untuk mendebat ini:&nbsp;</p>



<p>Pertama, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa untuk mencapai Kebuddhaan, diperlukan usaha penghimpunan dan penyempurnaan kebajikan (paramita) selama sekian asankhyeyya kappa dan sekian ratus ribu kappa. Sungguh suatu usaha yang sangat panjang sekali apabila dibandingkan dengan masa 45 tahun Buddha mengajar. Secara logika ini ibarat seseorang mengumpulkan sekian ratus milyar rupiah untuk membangun sebuah bisnis dan kemudian menutup bisnisnya setelah hanya mendapatkan penjualan sebesar sekian juta. Tentu saja, Buddha tidak demikian.&nbsp;</p>



<p>Kedua, sudah menjadi pengetahuan umum pula, bahwa ketika pertapa Sumedha pertama kali mengucapkan tekad Aditthana, beliau berikrar untuk &#8220;mencapai Kebuddhaan&nbsp;<strong>demi membebaskan semua makhluk hidup dari penderitaan</strong>.&#8221; Pertanyaannya sekarang, apakah kita sudah terbebaskan dari penderitaan? Apakah masih ada makhluk yang menderita di samsara ini? Jika jawabannya masih ada, maka pertanyaan kedua adalah, apakah menurut Anda, Buddha seorang yang menepati ikrarnya atau tidak? Apakah beliau akan berhenti beraktivitas ketika beliau sudah mencapai Kebuddhaan sedangkan di satu sisi, saat ini masih banyak sekali makhluk yang menderita?</p>



<p>Lebih jauh lagi, dalam pengertian umat Buddha di Indonesia secara umum, hanya karma masing-masinglah yang memiliki kemampuan untuk menolong. Namun, ada sebuah aspek yang dilewatkan mereka, yaitu peran serta Buddha dalam proses pertolongan melalui karma tersebut. Benar bahwa kita dilindungi oleh karma kita sendiri, namun ada dua peran Buddha di sana, yaitu: pertama, sebagai energi potensi bajik yang menginspirasi kita untuk berbuat karma baik, dan kedua, sebagai ladang kebajikan, yaitu objek kepada siapa tindakan karma baik itu ditujukan.</p>



<p>Sekarang saatnya kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita pernah merasakan aktivitas Buddha? Apakah kita pernah&nbsp;<em><strong>disentuh&nbsp;</strong></em>oleh Buddha melalui aktivitas-aktivitas beliau yang penuh misteri ini?</p>



<p>Di dalam teks Mahayanottaratantrasastram, terdapat sembilan perumpamaan untuk menjelaskan misteri kualitas aktivitas-aktivitas Buddha yaitu sebagai berikut:&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Seorang Tathāgata laksana Sakra,&nbsp;</em><br><em>Genderang, awan, dan Brahma,&nbsp;</em><br><em>Laksana mentari dan permata mulia,&nbsp;</em><br><em>Gema, langit, dan bumi.&#8221;</em></p></blockquote>



<p>Sakra adalah pemimpin para dewa di Surga Tiga Puluh Tiga. Istananya terletak di puncak Gunung Meru, yang merupakan gunung tertinggi diantara semua gunung di dunia ini dan terletak di tengah-tengah. Ketika pantulan Sakra muncul, tanpa upaya dan tanpa direncanakan, pada tanah lapis lazuli, dewa-dewa lebih rendah yang melihatnya akan berpikir, &#8220;Seandainya aku dapat mencapai tingkat seperti ini.&#8221; Kemudian mereka mengumpulkan penyebab- penyebab untuk mencapai posisi seperti Sakra, sang raja para dewa. Dengan cara demikianlah, ketika seseorang melihat tubuh seorang Buddha dihiasi tanda-tanda utama dan tambahan, pertama-tama ia akan membangkitkan keinginan untuk mencapai tubuh seperti itu, kemudian ia akan mengumpulkan penyebab-penyebab yang akan membantunya untuk mencapainya. Perumpamaan pertama ini mewakili aktivitas tubuh seorang Buddha.</p>



<p>Di dalam Surga Tiga Puluh Tiga terdapat genderang yang disebut Vegadhari yang dihasilkan oleh kebajikan bersama para dewa. Walaupun tidak ada yang menabuhnya, genderang ini bergetar menghasilkan suara yang mengumandangkan empat segel Dharma dan mendorong para dewa untuk mencapai pembebasan. Seperti itu pula Para Buddha menjangkau semua makhluk dengan ucapan yang mengarahkan mereka pada dua tujuan, yaitu alam-alam tinggi dan kebahagiaan tertinggi. Walaupun begitu, ucapan mereka muncul tanpa upaya karena tidak dimotivasi oleh bentuk pemikiran konseptual apa pun. Cara mengajarkan Dharma seperti ini kepada makhluk-makhluk yang beruntung dan berharga mewakili aktivitas ucapan seorang Buddha.</p>



<p>Awan melambangkan aktivitas batin seorang Buddha. Seperti hujan yang turun dari awan dan menyebabkan pohon dapat tumbuh, aktivitas batin seorang Buddha menyebabkan pohon kebajikan tumbuh dalam batin mereka yang mampu ditaklukkan secara spiritual olehnya.&nbsp;</p>



<p>Aktivitas tubuh dan ucapan seorang Buddha menyerupai emanasi-emanasi Brahma. Tanpa meninggalkan kediaman surgawinya, Brahma dengan tanpa upaya memproyeksikan emanasi-emanasinya ke alam-alam dewa kamaloka, dengan tujuan untuk menjauhkan mereka dari kemelekatan. Begitu pula seorang Buddha dengan mudah memproyeksikan emanasi-emanasinya ke dunia untuk mengajarkan Dharma kepada mereka yang layak mendengarkannya. Namun, sambil melakukannya, beliau tetap terserap dalam pengalaman tubuh Dharmanya.&nbsp;</p>



<p>Aktivitas batin seorang Buddha seperti matahari, dalam seketika dan tanpa direncanakan mampu membuka bunga teratai, mematangkan panen tanaman, menutup bunga kumuda yang mekar di malam hari, dan seterusnya. Seorang Buddha menyerupai ini dalam kemampuannya untuk menyinari sekaligus makhluk-makhluk laksana teratai yang tak terhitung banyaknya, mematangkan mereka, dan memandu mereka menuju pembebasan, tanpa perlu berupaya berpikir secara konseptual.&nbsp;</p>



<p>Misteri batin seorang Buddha ibarat permata pengabul harapan berharga yang secara spontan menganugerahkan makanan, pakaian, dan sejenisnya kepada mereka yang memohon sesuatu dengan sepatutnya. Seorang Buddha yang paling langka, berdiam selamanya di samsara, dan secara spontan menganugerahkan Dharma kepada makhluk-makhluk sesuai dengan sifat dan kecendrungan mereka.&nbsp;</p>



<p>Misteri ucapan seorang Buddha serupa seperti gema, di mana keduanya tak berkaitan dengan pemikiran konseptual apa pun (terjadi secara otomatis), tidak dihasilkan dari upaya fisik dan tidak dapat dilacak di lokasi manapun juga baik di dalam maupun di luar.&nbsp;</p>



<p>Misteri tubuh seorang Buddha juga seperti ruang angkasa atau langit, di mana sifat dasar dari keduanya pada dasarnya adalah berbeda dari penampakannya. Demikian pula tubuh Buddha tidak bisa dicerap secara normal dan memiliki sifat dasar yang berbeda dari wujud yang terlihat.</p>



<p>Welas asih seorang Buddha seperti bumi. Seperti halnya bumi adalah tanah tempat tumbuh dan berkembangnya segala jenis tanaman, maka welas asih seorang Buddha juga lah yang menjadi sumber yang menghasilkan dan mengembangkan akar-akar kebajikan semua makhluk hidup.&nbsp;</p>



<p><em><strong><br>Jadi, apakah Anda memang tidak pernah melihat Buddha melalui aktivitas-aktivitas beliau sebagaimana yang digambarkan oleh kesembilan perumpamaan di atas, yaitu aktivitas yang bagaikan Sakra, genderang, awan, Brahma, matahari, permata mulia, gema, langit dan bumi ini?&nbsp;</strong></em></p>



<p>Seorang biksu di dalam salah satu ceramahnya pernah menantang para peserta ceramah untuk memohon sesuatu, apapun yang mereka inginkan, kepada Buddha, apapun itu, untuk membuktikan keberadaan Buddha dan dengan demikian bisa meningkatkan kualitas keyakinan kita kepada Buddha di dalam praktik Trisarana kita. Ini adalah sebuah tantangan yang sepertinya bisa diuji oleh semua orang.</p>



<p>Terakhir, saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah kutipan dari Y.M. Ajahn Chah, sebagai berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>&#8220;Jangan cuma mengutip dan bermain dengan kata-kata saja. Kalau tidak, orang-orang akan berkata seperti ini, &#8220;Buddha ada dalam batinku,&#8221; tetapi perilakunya tidak sesuai, dan mereka tidak pernah benar-benar menjalani atau mencapai apa pun yang sesuai dengan ajaran Buddha&#8230;. Jadi pahamilah bahwa Buddha itu masih hidup&#8230;. Waspadalah! Buddha melihat! Buddha masih hidup untuk mendukung kita menapaki jalan kebenaran secara benar dan berkesinambungan, tetapi kita tidak melihat itu, kita tidak mengetahuinya.&#8221;</em></p></blockquote><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/03/04/misteri-buddha-masih-hidup-sehat-dan-beraktivitas/">Misteri Buddha Masih Hidup, Sehat, dan Beraktivitas</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/03/04/misteri-buddha-masih-hidup-sehat-dan-beraktivitas/">Misteri Buddha Masih Hidup, Sehat, dan Beraktivitas</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SEALF 2019 &#8211; Menjadi Orang yang Bermanfaat</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2019/11/12/sealf-2019-menjadi-orang-yang-bermanfaat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Nov 2019 10:24:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Southeast Asia Lamrim Festival 2019]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Dagpo Rinpoche]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[SEALF 2019]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4587</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Shierlen Octavia 11 November 2019&#8211;Ini adalah hari pertama pengajaran Southeast Asia Lamrim Festival (SEALF) 2019, sekaligus kali pertama saya mengikuti sesi pengajaran oleh Guru Dagpo Rinpoche. Lebih dari itu, acara ini merupakan penanda perjumpaan saya pertama kali dengan sosok Guru Dagpo Rinpoche, yang bagi para muridnya dikenal sebagai seorang guru sekaligus ayah bagi para [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/11/12/sealf-2019-menjadi-orang-yang-bermanfaat/">SEALF 2019 – Menjadi Orang yang Bermanfaat</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/11/12/sealf-2019-menjadi-orang-yang-bermanfaat/">SEALF 2019 &#8211; Menjadi Orang yang Bermanfaat</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Shierlen Octavia</p>



<p>11 November 2019&#8211;Ini adalah hari pertama pengajaran Southeast Asia Lamrim Festival (SEALF) 2019, sekaligus kali pertama saya mengikuti sesi pengajaran oleh Guru Dagpo Rinpoche. Lebih dari itu, acara ini merupakan penanda perjumpaan saya pertama kali dengan sosok Guru Dagpo Rinpoche, yang bagi para muridnya dikenal sebagai seorang guru sekaligus ayah bagi para umat Buddhis di Indonesia. Jujur saja, jauh sebelum saya bertemu dengan Beliau, sempat timbul sebuah rasa ragu. Memang apa spesialnya seorang bapak di usia delapan puluhan ini selain senyum ramah dan wajah yang amat sumringah di setiap potret dirinya yang kulihat? Namun, setelah melihat langsung sosok Beliau yang datang menemui umat Buddha di Indonesia—yang kalau kita bayangkan sebenarnya tidak berhubungan banyak dengan Beliau dan bahkan tidak memberikan keuntungan apapun baginya jikalau kita mau memakai prinsip untung rugi—saya sadar bahwa pandangan saya keliru. </p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-1024x682.jpeg" alt="" class="wp-image-4590" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-1024x682.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-600x399.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-768x511.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14-1200x799.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.14.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Peserta SEALF 2019 menyambut kedatangan Guru Dagpo Rinpoche yang telah lama dinanti.</figcaption></figure>



<p>Entah mengapa, kali pertama saya melihat sosok Rinpoche yang berjalan memasuki <em>hall</em>, saya merasa tersentuh dari lubuk hati yang terdalam. Setelah mendengar bagaimana Beliau memiliki berbagai kondisi kesehatan dan rintangan lainnya, kehadiran dan ketulusan beliau sontak membuat saya merasa trenyuh sekaligus bersyukur. Di usia senjanya, Beliau mau hadir dan menemui para umat yang tinggal ribuan mil jaraknya dari tempat tinggalnya untuk mengajarkan kebaikan. Tidak banyak orang yang bisa melakukan hal ini. Jangankan yang sudah berusia lanjut, bahkan mereka yang masih berada di usia muda dan produktif pun belum tentu mau berkorban untuk hal demikian. Hanya dengan melihat sosoknya, saya belajar mengenai bagaimana kita bisa memaksimalkan kehadiran kita untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Pembelajaran mengenai hal ini semakin diperkuat rasanya bagi saya, setelah mendengarkan sesi pengajaran beliau secara langsung.</p>



<p>Jika boleh merangkum dengan satu kata, sesi
pengajaran pada hari ini benar-benar mengajarkan tentang bagaimana caranya
menjadi orang yang bermanfaat. Rinpoche menegaskan bahkan sejak awal bahwa segala
aktivitas yang kita lakukan harus didasari oleh satu pemikiran, yakni motivasi
Bodhicita: tekad mencapai kesempurnaan demi menolong semua makhluk. Dari
aktivitas seremeh bangun pagi, berpakaian, berbicara dengan orang lain, bahkan
bekerja—semuanya haruslah berlandaskan motivasi untuk membuat semua makhluk
bahagia. Rinpoche mencontohkan bahwa kegiatan bekerja yang notabene merupakan
aktivitas untuk menumpuk materi dan harta berlimpah sesungguhnya dapat kita
ubah menjadi aktivitas yang jauh lebih bajik dengan senantiasa menanamkan
motivasi Bodhicita. Berdasarkan motivasi tersebut, kita bisa membuat pekerjaan
sebagai sarana bagi kita untuk mendapatkan kondisi fisik yang sehat agar bisa
membantu lebih banyak orang. </p>



<p>Hal lain yang ditekankan oleh Rinpoche adalah
mengenai pentingnya bagi kita untuk selalu mengamati batin setiap saat dan
menanyakan pertanyaan ini kepada diri kita masing-masing, “Apakah hal yang saya
kerjakan dilakukan untuk kepentingan banyak makhluk ataukah hanya untuk diri
kita sendiri?”. Hanya dengan melakukan aktivitas demi kepentingan makhluk
lainlah, kita dapat benar-benar menghilangkan tidak hanya penderitaan kita hingga
mencapai Kebuddhaan yang lengkap sempurna. </p>



<p>Selama sesi, Rinpoche juga selalu mengingatkan
kita untuk tidak melupakan latihan batin ketika kita dalam kondisi senang,
melainkan senantiasa mengharapkan makhluk lain untuk merasakan hal yang sama. Demi
mencapai kondisi ini, penting bagi kita untuk mengembangkan dan menyempurnakan
enam paramita. Pada sesi kali ini, ada 5 paramita yang dibahas di dalamnya. Paramita
pertama, dana, merupakan niat dalam batin untuk memberi, baik materi, tubuh,
maupun akar kebajikan kita kepada makhluk lain. Hal ini menyadarkan saya bahwa
sempurnanya dana paramita bukan soal nominal, namun dari keikhlasan kita dalam
memberi. </p>



<p>Paramita kedua, sila, merupakan niat untuk
menjaga atau menahan diri dari sepuluh jenis ketidakbajikan. Paramita ketiga,
ksanti, merupakan kemampuan kita dalam menghadapi permasalahan dan bagaimana
kita dapat menahan diri ketika dilukai pihak lain. Hal yang termasuk di
dalamnya adalah sikap kita dalam mempraktikkan Dharma dengan antusias tanpa putus
asa. </p>



<p>Paramita keempat, viriya, merupakan antusiasme
untuk melakukan kebajikan sekaligus sebagai pendorong untuk merampungkan satu
kegiatan. Sebagai contoh, ketika melakukan puja harian atau aktivitas bajik
lainnya, kita perlu merasa bahagia dan bersemangat karena telah bermanfaat bagi
orang lain. Kendati demikian, Rinpoche mengingatkan kita untuk membedakan
antara usaha keras biasa dengan viriya. Bekerja mengumpulkan harta demi
kehidupan ini saja merupakan usaha keras namun bukan viriya karena tidak
disertai dengan antusiasme dalam berbuat bajik. Kita juga sering kali melekat
pada hal yang tidak tepat, misalnya menyukai kegiatan-kegiatan yang tidak
membantu perkembangan batin kita secara berlebihan. Oleh karena itu, sangat
penting bagi kita untuk selalu mawas diri terhadap setiap hal yang kita lakukan
dan batin yang mendasarinya. Paramita kelima, dhyana, merupakan kemampuan kita
untuk bisa berfokus dalam satu hal yang pada akhirnya dapat membawa kita
mencapai realisasi dengan mudah dalam batin. </p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img loading="lazy" width="1024" height="682" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-1024x682.jpeg" alt="" class="wp-image-4589" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-1024x682.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-600x399.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-300x200.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-768x511.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-150x100.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-450x300.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15-1200x799.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2019/11/WhatsApp-Image-2019-11-11-at-20.23.15.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sesi pengajaran Guru Dagpo Rinpoche di SEALF 2019 dihadiri oleh Sangha monastik dan perumah tangga dari berbagai tradisi.</figcaption></figure></div>



<p>Meskipun baru hari pertama, saya merasa sudah
banyak hal yang saya pelajari dan harus saya renungkan dalam batin. Semoga esok
hari pun bisa menjadi hari yang baik bagi karma bajik saya untuk berbuah
sehingga bisa mendengarkan dan merenungkan ajaran Beliau.</p>


<p><br>
<br>
<!--StartFragment--></p>


<p>Guru Dagpo Rinpoche akan memberikan transmisi dan pengajaran berdasarkan Teks Lamrim Mārga Krama-Vimocana-Hasta (Pembebasan di Tangan Kita) karya Phabongkha Rinpoche pada tanggal 11-18 November 2019. </p>



<p>Untuk mengikuti pengajaran, hubungi:</p>



<ol><li>Lia Erika (+62 815-7025-762)</li><li>Sariputra (+62 877-8254-3387)<br> Internasional:<br> Antonio (+62 812-2433-8208)</li></ol>



<p>Informasi acara juga dapat diakses di <a href="http://lamrimretreat.id/">lamrimretreat.id</a>.</p>


<p><!--EndFragment--><br>
<br>
</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/11/12/sealf-2019-menjadi-orang-yang-bermanfaat/">SEALF 2019 – Menjadi Orang yang Bermanfaat</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/11/12/sealf-2019-menjadi-orang-yang-bermanfaat/">SEALF 2019 &#8211; Menjadi Orang yang Bermanfaat</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
