<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>precious human rebirth - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/precious-human-rebirth/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Dec 2020 03:34:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.14</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>precious human rebirth - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Lebih Langka dari SSR! Nilai Besar Kelahiranmu sebagai Manusia</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/12/02/lebih-langka-dari-ssr-nilai-besar-kelahiranmu-sebagai-manusia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2020 03:34:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran manusia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[nilai besar kelahiran manusia]]></category>
		<category><![CDATA[precious human rebirth]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5708</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kelahiranmu sebagai manusia ternyata lebih bernilai dibanding karakter SSR di game gacha favoritmu. Zhongli mah lewat!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/02/lebih-langka-dari-ssr-nilai-besar-kelahiranmu-sebagai-manusia/">Lebih Langka dari SSR! Nilai Besar Kelahiranmu sebagai Manusia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/12/02/lebih-langka-dari-ssr-nilai-besar-kelahiranmu-sebagai-manusia/">Lebih Langka dari SSR! Nilai Besar Kelahiranmu sebagai Manusia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Untuk kamu yang sering main <em>game</em> yang mengandung unsur <em>gacha </em>(undian), pasti pernah mendengar istilah R, SR, atau SSR. Karakter SSR (<em>Super Super Rare</em>) biasanya sangat sulit didapatkan karena merupakan tingkat kelangkaan yang tertinggi, sehingga pemain yang mendapatkan SSR simpelnya seperti mendapatkan lotere.</p>



<p>Bayangkan saat memainkan <em>game</em> <em>gacha</em> favoritmu, kamu cuma punya 1x kesempatan untuk mendapatkan suatu karakter. Peluang untuk mendapatkan SSR cuma 0,6% dan peluang untuk mendapatkan karakter favoritmu yang SSR adalah 0,012%. Saat ditarik, ternyata langsung dapat! Girang banget dong kamu?</p>



<p>Memang 0,012% adalah peluang yang kecil. Tapi tahukah kamu bahwa peluangmu menjadi manusia dengan <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/26/kamu-manusia-apa-kamu-punya-8-permata-ini/">8 permata kebebasan</a> dan <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/04/kamu-manusia-cek-keberuntunganmu-di-sini/">10 permata keberuntungan</a> ternyata lebih kecil dari itu? Selain peluangnya lebih kecil, nilainya juga jauh lebih besar! Kok bisa? Yuk kita bedah sama-sama!</p>



<h4><strong>Dari segi jumlah makhluk</strong></h4>



<p>Sang Buddha pernah mencolek debu dari tanah dan mengatakan bahwa jumlah yang pergi dari alam tinggi (alam dewa, asura, dan manusia) ke alam rendah (alam binatang, hantu kelaparan, dan neraka) adalah sebanyak jumlah debu yang menutupi bumi, sedangkan jumlah yang ada di ujung jari Beliau adalah yang dari alam rendah ke alam tinggi.</p>



<p>Lebih jauh lagi, dikatakan manusia merupakan yang paling sedikit di antara enam kelas makhluk. Kita mungkin berpikir bahwa ada enam miliar manusia di dunia itu sudah cukup banyak, tapi jika dibandingkan dengan makhluk yang ada di tanah (seperti cacing dan serangga), ternyata kita masih jauh lebih sedikit karena ratusan juta cacing tanah dan serangga bisa ditemukan di ruang yang bahkan tidak dapat memuat sepuluh manusia.&nbsp;</p>



<p>Itu baru cacing dan serangga di darat. Binatang yang di air jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah binatang di tanah. Ya iyalah, bumi ini dua per tiga laut kok! Selanjutnya jumlah hantu kelaparan lebih banyak daripada jumlah binatang. Jumlah makhluk neraka lebih banyak dari jumlah hantu kelaparan.</p>



<h4><strong>Dari segi rentang waktu</strong></h4>



<p>Dikatakan bahwa sedikit sekali jumlah makhluk hidup yang terlahir sebagai manusia dan hidup pada “kalpa terang”, istilah untuk masa seorang Buddha muncul di dunia. Kalpa adalah satuan waktu yang sangat lama, bisa jutaan sampai milyaran tahun. Setiap kalpa terang hanya terjadi setelah puluhan ribu kalpa gelap. Setiap kalpa terang terdiri dari 80 kalpa perantara, yang mana Para Buddha muncul hanya pada 20 kalpa perantara terakhir. Selama waktu ketika manusia berdiam di dunia, usia akan berkurang dan meningkat dalam 20 siklus berdurasi sama dengan usia maksimal 80.000 tahun dan usia minimal 10 tahun. Buddha tidak muncul ketika usia manusia masih terlalu panjang dan hanya muncul pada siklus ketika usia manusia berkurang.</p>



<p>Bisa lahir di masa sekarang saat ajaran Buddha masih ada di dunia seperti kita sekarang ini jelas merupakan hal yang luar biasa. Kalpa ini hanya terjadi sekali setiap puluhan ribu kali jutaan tahun, lho. Kalaupun lahir di kalpa ini, masih lebih besar kemungkinan lahir di periode ketika ajaran Buddhadharma telah menghilang dan menunggu Buddha yang selanjutnya (Maitreya) muncul di dunia. Jika demikian, nggak ada bedanya periode tersebut dengan kalpa gelap. Jadi, kita bisa jadi manusia sekarang dan bisa ketemu Dharma merupakan kejadian yang benar-benar langka!</p>



<h4><strong>Dari segi penyebabnya</strong></h4>



<p>Dilihat dari aspek karma, kehidupan kita sebagai manusia sekarang ini tidak lepas dari berbagai gabungan sebab dan kondisi. Untuk memperolehnya pertama kita harus menginginkannya, artinya tubuh manusia ini merupakan hasil dari kumpulan doa-doa yang kita panjatkan sebelumnya. Kita bisa jadi bikin banyak kebajikan, tapi kalau kita nggak dedikasikan dengan sungguh-sungguh untuk jadi manusia, ada kemungkinan kita lahir jadi naga yang kaya raya, anjingnya Paris Hilton, atau jadi dewa umur panjang yang sepanjang umurnya hanya bisa menghabiskan kebajikan tanpa bikin kebajikan baru.</p>



<p>Tidak hanya itu, sebab utama menjadi manusia adalah dengan mempertahankan paling tidak satu sila/disiplin moral yang <strong>murni. </strong>Murni artinya tanpa cacat atau cela. Tentu saja mempertahankan sila yang murni bukan sesuatu yang mudah. Faktor-faktor seperti kelalaian, tidak tahan, ataupun berbagai aspek lain, sangat-sangat mungkin membuat kita melanggar sila.</p>



<p>Doa dan sila adalah syarat minimum, tapi tanpa ada kebajikan lain yang menjadi pendukung, bisa saja kita tidak mendapatkan kondisi yang sekarang nikmati. Misalnya kita tidak pernah melatih kemurahan hati dengan praktik dana, alhasil kita menjadi manusia yang serba kekurangan dan ujung-ujungnya tidak bisa belajar Dharma karena seluruh waktu harus dicurahkan untuk banting tulang menyambung hidup. Ataupun misalnya kita memiliki karma buruk membunuh, bisa jadi kita mati muda bahkan sebelum bertemu dengan Buddhadharma.</p>



<h4><strong>Ternyata Kehidupan Kita SSSSSSSSR</strong></h4>



<p>Secara matematis, peluang untuk terlahir menjadi manusia dengan 18 permata lebih kecil dari peluang kita mendapatkan karakter SSR favorit kita di <em>game</em> <em>gacha. </em>Peluang mendapatkan kelahiran seperti yang kita miliki ini sangat mendekati 0, benar-benar sangat langka dan sangat sulit untuk ditemukan. Tidak heran jika para guru Dharma mengatakan bahwa kelahiran kita sebagai manusia dengan 18 permata sekarang ini cuma kita dapatkan saat ini saja, karena sama sekali tidak ada jaminan bahwa di masa depan kita bisa mendapatkannya kembali.</p>



<p>Akun <em>game</em> dengan banyak karakter SSR mungkin bisa dijual senilai beberapa juta, tapi kelahiran manusia dengan 18 permata milyaran kali lebih bernilai. Selain bernilai besar karena langka, kelahiran ini juga manfaatnya luar biasa karena bisa membuat kita kembali meraih kehidupan mendatang yang bahagia, bebas dari penderitaan samsara, atau bahkan mencapai Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna sehingga bisa menolong semua makhluk.</p>



<p>Gagal memanfaatkan kelahiran sebagai manusia dengan 18 permata ini ibarat seorang yang pergi ke pulau yang penuh dengan permata, namun pulang dengan tangan kosong karena sibuk menari dan bernyanyi di sana. Lantas, bagaimana cara memanfaatkannya? Tentunya dengan melatih batin kita sesuai dengan Dharma&#8211;kurangi sifat dan perilaku buruk, perbanyak sifat dan perilaku baik. Latihan ini merupakan proses seumur hidup yang gampang-gampang susah, tapi <a href="https://lamrimnesia.org/apa-itu-lamrim/outline-lamrim/"><em>walkthrough</em> alias panduannya sudah tersedia</a>. Keputusan mau “memainkannya” atau nggak ada di tanganmu!</p>



<p>Sebagai latihan permulaan, coba amati pikiranmu waktu lihat teman pamer SSR baru. Kalau kamu nggak tergarami alias sirik dan bisa menyelamati temanmu dengan tulus, artinya kamu sudah mulai menghargai nilai besar kelahiranmu sebagai manusia dengan 18 permata! Kalau belum ya nggak apa-apa, kamu bisa mulai latihan dari sekarang. Selamat mencoba!</p>



<h5>Referensi:</h5>



<p>1. <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">“Pembebasan di Tangan Kita”</a> oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p>2. “Steps on the Path to Enlightenment” oleh Geshe Lhundup Sopa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/02/lebih-langka-dari-ssr-nilai-besar-kelahiranmu-sebagai-manusia/">Lebih Langka dari SSR! Nilai Besar Kelahiranmu sebagai Manusia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/12/02/lebih-langka-dari-ssr-nilai-besar-kelahiranmu-sebagai-manusia/">Lebih Langka dari SSR! Nilai Besar Kelahiranmu sebagai Manusia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kamu Manusia? Cek Keberuntunganmu di Sini!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/11/04/kamu-manusia-cek-keberuntunganmu-di-sini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2020 11:08:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran manusia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[precious human rebirth]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5655</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kamu nggak perlu menang lotere atau punya jutaan subscriber untuk merasa jadi orang paling beruntung sedunia. Kalau kamu bisa baca artikel ini, hampir pasti kamu punya 10 keberuntungan tak ternilai yang jauh lebih berharga dibanding hoki tujuh turunan!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/04/kamu-manusia-cek-keberuntunganmu-di-sini/">Kamu Manusia? Cek Keberuntunganmu di Sini!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/11/04/kamu-manusia-cek-keberuntunganmu-di-sini/">Kamu Manusia? Cek Keberuntunganmu di Sini!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Samantha J.</p>



<p>Pernah nggak ketemu orang yang hoki banget? Sering dapat <em>giveaway, </em>main <em>game </em>selalu dapat SSR, lagi jalan tahu-tahu ketemu artis idola dan dapat foto bareng… Sementara kamu ngumpulin bungkus permen karet Y*SAN aja huruf “N”-nya nggak pernah ketemu. Atau mungkin pernah terlintas di pikiranmu, Youtuber-Youtuber itu kok beruntung sekali, cuap-cuap depan kamera saja bisa punya <em>subscriber</em> jutaan dan jadi kaya raya.<em> </em>Sedih nggak? Atau mungkin iri?</p>



<p>Kamu nggak perlu menang lotere atau punya jutaan <em>subscriber</em> untuk merasa jadi orang paling beruntung sedunia. Kalau kamu bisa baca artikel ini, hampir pasti kamu punya 10 keberuntungan tak ternilai yang jauh lebih berharga dibanding hoki tujuh turunan. Nggak cuma satu lho, ada SEPULUH! Sepuluh keberuntungan ini juga satu paket dengan <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/26/kamu-manusia-apa-kamu-punya-8-permata-ini/">8 kebebasan</a> yang sudah kita bahas di artikel ini. Jadi, total kita punya 18 permata kelahiran sebagai manusia yang nilainya jauh di atas kekayaan orang paling kaya di dunia.</p>



<p>Nah, sebelumnya kan kita sudah bahas tentang 8 kebebasan. Sekarang, yuk kita ulas 10 keberuntungan yang kadang nggak kita sadari ini! Kesepuluh keberuntungan ini bisa dikelompokkan jadi dua, 5 yang berkaitan dengan diri sendiri dan 5 yang berkaitan dengan orang lain.</p>



<h4><strong>Lima keberuntungan yang berkaitan dengan diri sendiri:</strong></h4>



<ul><li>Menjadi seorang manusia</li><li>Lahir di negeri pusat</li><li>Memiliki indra-indra yang berfungsi dengan baik</li><li>Memiliki kapasitas spiritual (misalnya: tidak melakukan 5 karma buruk berat)</li><li>Memiliki keyakinan pada Tripitaka</li></ul>



<p>Keberuntungan-keberuntungan ini merupakan cara lain memandang delapan kebebasan yang sebelumnya sudah dibahas. Kita sering berharap kejatuhan rezeki nomplok sampai-sampai lupa bahwa fakta kita bisa menjadi manusia saja merupakan keberuntungan yang luar biasa. Apalagi disertai dengan berbagai keberuntungan lainnya: lahir di negeri yang ada Dharma serta memiliki indra yang memadai untuk belajar, merenung, dan bermeditasi. Di antara begitu banyak makhluk yang tak terhingga jumlahnya, kita bisa menjadi satu dari segelintir yang memiliki semua keberuntungan ini. Luar biasa banget, kan?</p>



<p>Tidak melakukan lima karma buruk sangat berat (<em>panca garuka kamma</em>) ternyata juga merupakan sebuah keberuntungan yang istimewa. Secara sengaja membunuh ayah, membunuh ibu, membunuh arahat, melukai Buddha, dan memecah-belah Sangha menjamin kelahiran kembali di alam rendah. Tindakan-tindakan ini akan sangat menghambat praktik spiritual kita. Jika kita pernah melakukan salah satu dari kelima karma buruk itu, akan sangat sulit bagi kita untuk bisa menarik manfaat penuh dari kelahiran kita sebagai manusia.</p>



<p>Selain itu, bisa menumbuhkan keyakinan terhadap ajaran Buddha juga merupakan sebuah keberuntungan yang luar biasa. Pemahaman dangkal terhadap hukum karma dan kesalingbergantungan saja bisa membantu menghadapi berbagai permasalahan seperti kecemasan, krisis kepercayaan diri, pengelolaan emosi, dan sebagainya serta menjadi “rem” yang mencegah kita melakukan tindakan-tindakan yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Jadi, beruntung banget kan kalau kita bisa memiliki keyakinan terhadap Dharma?</p>



<h4><strong>Lima keberuntungan yang berkaitan dengan orang lain:</strong></h4>



<ul><li>Berada pada masa munculnya Buddha</li><li>Berada pada masa Dharma dibabarkan oleh Buddha</li><li>Berada pada masa Buddhadharma masih dipertahankan</li><li>Berada pada masa Buddhadharma masih diteruskan</li><li>Adanya kebaikan hati dari orang lain sehingga masih bisa menerima ajaran Buddha</li></ul>



<p>Sahabat pasti pernah baca tentang langkanya kehadiran seorang Buddha. Seorang Sammasambuddha hanya muncul di masa yang disebut “kalpa terang”. Masa ini hanya terjadi sekali setelah beberapa puluh ribu “kalpa gelap”. Bahkan di kalpa terang yang terdiri atas 80 kalpa perantara, Sammasambuddha baru muncul hanya sesaat di 20 kalpa perantara terakhir, tepatnya ketika usia manusia tidak terlalu panjang atau terlalu pendek.</p>



<p>Munculnya Buddha di sini bukan berarti Buddha muncul secara fisik seperti saat Siddhartha Gautama hidup sekitar 2500 tahun yang lalu. Kita bisa tahu ada yang sosok agung yang disebut “Buddha” saja berarti kita hidup di masa Buddha muncul. Ada masa lain saat tak seorang pun pernah mendengar kata “Buddha” dan masa itu jauh lebih panjang dibanding masa yang kita tinggali saat ini. Jadi, kita bisa lahir sebagai manusia di masa sekarang ini jelas merupakan keberuntungan luar biasa.</p>



<p>Nah, keberuntungan kita nggak berhenti sampai di situ. Di masa hidup kita ini, Buddha muncul DAN membabarkan Dharma. Bisa lahir di masa Buddha muncul saja sudah sangat beruntung, tapi saat itu belum tentu Buddha mengajar. Kalaupun Buddha mengajar, belum tentu ajaran tersebut bisa bertahan dan sampai ke kita. Sejak kelahiran Buddha Shakyamuni hingga kini, sudah banyak sekali peradaban-peradaban Buddhis yang bangkit dan runtuh. Biara Universitas Nalanda yang merupakan pusat pembelajaran Buddhadharma terbesar pada masanya habis dibakar. Di negara kita sendiri, tradisi Buddhis dari masa Sriwijaya pun sulit sekali dicari jejaknya. Jadi, beruntung banget kan kita masih bisa kenal dan belajar Dharma sampai hari ini?</p>



<p>Keberuntungan berikutnya adalah Dharma diteruskan dari generasi ke generasi. Poin ini secara khusus merujuk pada keberadaan Sangha monastik yang secara khusus mendedikasikan seluruh hidup mereka untuk mempelajari dan mendalami Dharma serta mewariskannya ke generasi berikutnya. Waktu zaman Sriwijaya dulu, ada ribuan biksu yang tinggal dan belajar di Bumi Nusantara ini. Namun, sejak peradaban Hindu-Buddha mengalami kemunduran, kita sempat memasuki masa tanpa Sangha monastik sama sekali hingga akhirnya Y.M. Biksu Ashin Jinarakkhita ditahbiskan pada tahun 1953. Beruntung banget kan kita bisa lahir setelah itu, saat anggota Sangha dan wihara-wihara sudah banyak di Indonesia?</p>



<p>Keberuntungan terakhir adalah adanya kebaikan orang lain sehingga kita bisa menerima ajaran Buddha. Kebaikan seperti apa? Contohnya adalah kebaikan orang-orang yang mendirikan wihara, mencetak buku Dharma, berdana untuk kebutuhan hidup Sangha, dan sebagainya. Kalian yang membaca dan membagikan tulisan ini pun bisa jadi merupakan bagian dari keberuntungan ini lho!</p>



<h4><strong>Beruntung Buat Apa?</strong></h4>



<p>Siapa sih yang nggak mau hoki tujuh turunan? Kadang kita sampai rajin cek ramalan astrologi atau konsultasi ke ahli fengshui agar kita jadi orang yang beruntung. Meski begitu, kita mungkin nggak pernah benar-benar memikirkan buat apa kita jadi “beruntung”. Bisa jadi ini bukan sesuatu yang perlu dipikirkan karena dampaknya jelas. Dalam konteks duniawi, kalau kita beruntung, semua aktivitas yang kita lakukan akan berjalan lancar, bisa sukses dengan usaha minimal, bisa mengumpulkan barang-barang yang kita inginkan, dan sebagainya.&nbsp;</p>



<p>Bagaimana dengan sepuluh keberuntungan yang kita miliki dengan kelahiran kita sebagai manusia ini? Kita sudah beruntung bisa jadi manusia, lahir di negeri pusat, bisa belajar Buddhadharma, dan sebagainya. Lalu buat apa? Tentunya untuk memastikan kita bisa mengubah nasib kita di samsara!</p>



<p>Sebelumnya kita sudah membahas bahwa kita punya 8 kebebasan yang memungkinkan kita untuk melepaskan diri dari penderitaan dan meraih kesempurnaan. Namun, 8 kebebasan ini tidaklah cukup. Sepuluh keberuntungan ini adalah hal-hal yang kita butuhkan agar kita bisa melatih diri kita di jalan Dharma, sedikit demi sedikit mengikis ketidaktahuan kita, kemelekatan kita, kemarahan kita, dan segala hal yang membuat kita menderita selama berkehidupan-kehidupan sejak waktu tak bermula. Di saat yang sama, bisa bertemu dengan Dharma memungkinkan kita untuk menumbuhkan kemurahan hati, disiplin moral, kesabaran, welas asih, kebijaksanaan, dan sifat-sifat baik lainnya yang akan membuat kita berbahagia di kehidupan mendatang, lepas dari samsara, atau bahkan meraih Kebuddhaan dan memberi manfaat kepada semua makhluk.</p>



<p>Kalau manfaat 18 permata ini belum terbayang jelas, kamu bisa cari sendiri <a href="https://www.instagram.com/p/CFo1FgVgEsP/">cerita orang-orang yang merasa hidupnya berubah menjadi lebih baik berkat Buddhadharma</a>. Kamu akan sadar bahwa Buddhadharma benar-benar bisa mengubah hidup seseorang jadi lebih baik di kehidupan ini dan membawa kita ke kebahagiaan sejati dalam jangka panjang.</p>



<p>Setelah baca ocehan penulis yang satu ini, coba renungkan lagi. Lebih beruntung mana, kamu atau para Youtuber dan pemenang lotere?</p>



<h5>Referensi:</h5>



<p>1. <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">“Pembebasan di Tangan Kita”</a> oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p>2. “Steps on the Path to Enlightenment” oleh Geshe Lhundup Sopa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/04/kamu-manusia-cek-keberuntunganmu-di-sini/">Kamu Manusia? Cek Keberuntunganmu di Sini!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/11/04/kamu-manusia-cek-keberuntunganmu-di-sini/">Kamu Manusia? Cek Keberuntunganmu di Sini!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Percayalah pada Kebaikan Dirimu</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/02/06/percayalah-pada-kebaikan-dirimu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2017 09:00:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[precious human rebirth]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2777</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>&#160; Latihan meditasi bukanlah kegiatan eksotis yang jauh dari jangkauan, melainkan dekat dan mudah, melibatkan hubungan yang intim dengan diri sendiri. Inilah cara mengenal diri sendiri lebih dekat dengan mengamati proses pemikiran kita tanpa merasa malu. Kita seringkali keras terhadap diri sendiri hingga kita menjadi musuh terbesar kita. Meditasi adalah jalan untuk menghentikan pertengkaran batin [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/06/percayalah-pada-kebaikan-dirimu/">Percayalah pada Kebaikan Dirimu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/06/percayalah-pada-kebaikan-dirimu/">Percayalah pada Kebaikan Dirimu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Latihan meditasi bukanlah kegiatan eksotis yang jauh dari jangkauan, melainkan dekat dan mudah, melibatkan hubungan yang intim dengan diri sendiri. Inilah cara mengenal diri sendiri lebih dekat dengan mengamati proses pemikiran kita tanpa merasa malu.</p>
<p>Kita seringkali keras terhadap diri sendiri hingga kita menjadi musuh terbesar kita. Meditasi adalah jalan untuk menghentikan pertengkaran batin tersebut, jalan untuk berteman dengan diri sendiri. Saat itu, mungkin kita akan menemukan bahwa ternyata kita tidak seburuk yang kita kira sebelumnya.</p>
<p>Bila kita melabeli diri sendiri sebagai orang gagal atau musuh, tidak mungkin menggunakan pengalaman pribadi sebagai batu loncatan. Bila kita bersikap seolah ada yang salah dengan diri kita, kita harus terus melihat keluar untuk mencari hal yang lebih baik. Pencarian ini dapat berlangsung terus menerus, tanpa akhir.</p>
<p>Kebalikan dari pendekatan itu, meditasi menghubungkan kita dengan kenyataan, pada kondisi mentah jiwa dan pikiran kita. Tak peduli apa yang ada di sana, kita harus menghadapinya. Ini sama seperti berusaha menjalin hubungan persahabatan jangka panjang dengan seseorang. Dalam proses menjadi sahabat, kamu akan mengetahui hal-hal yang tidak kamu sukai dari seseorang, dan menemui sisi-sisi hubungan yang tidak membuat kamu nyaman.</p>
<p>Mengakui masalah tersebut dan menerimanya seringkali merupakan dasar utama persahabatan jangka panjang. Karena sudah menghadapinya dari awal, kamu tidak terkejut lagi setelahnya. Karena kamu sudah mengetahui yang buruk-buruk, kamu tidak lagi perlu menyembunyikan bagian tersebut dari hubungan kamu. Kemudian kamu dapat membangun sisi lainnya yang positif. Cara ini juga sangat baik untuk membangun persahabatan dengan diri sendiri. Jika tidak, kamu mungkin akan merasa kaget atau tertipu belakangan, ketika kamu menemukan hal-hal yang selama ini kamu sembunyikan dari diri kamu.</p>
<p>Apapun yang ada dalam diri kita adalah sesuatu yang alami, dan merupakan dimensi lain keindahan alam. Orang-orang kadang berusaha begitu keras menghargai alam, dengan mendaki gunung, bersafari mencari jerapah dan singa di Afrika, atau berpesiar ke Antartika.Sebenarnya lebih mudah dan cepat untuk menghargai keindahan alam diri sendiri. Lebih indah daripada flora dan fauna eksotis, lebih menakjubkan, menyakitkan, berwarna, dan membahagiakan.</p>
<p>Meditasi amatlah dekat dengan hidup, sungguh begitu dekat hingga terasa menyebalkan. Meditasi juga menuntut. Bila kamu bertahan, kamu akan mengerti berbagai hal tentang dirimu dan orang lain, dan segalanya akan jadi lebih jelas. Jika kamu berlatih secara rutin dan mengikuti disiplin ini, pengalamanmu mungkin tidak terlalu dramatis, namun kamu akan merasakan pengalaman menemukan diri sendiri. Melalui latihan meditasi yang sederhana kamu dapat melihat ragam warna keberadaanmu. Bila diandaikan, dapat dikatakan bumi mulai berbicara denganmu sehingga kamu tak lagi perlu menunggu langit mengirimkanmu pesan.</p>
<p>Kita seringkali menggunakan pendekatan defensif dalam kehidupan seolah kita akan diserang sewaktu-waktu. Kebanyakan dari kita dimarahi dengan cara yang membuat kita merasa malu pada diri sendiri ketika tumbuh dewasa. Entah itu kritik dari orang tua, guru di sekolah, atau orang lain, hal itu meningkatkan keyakinan bahwa ada yang salah dari diri kita. Kritik sering menghasilkan perasaan terasing, perasaan saya dan kamu, sebuah jurang perbedaan. Kita mempelajari konsep pertahanan diri sejak belia, mengira bahwa pertahanan kuat adalah perlindungan terbaik dari luka lebih jauh.</p>
<p>Kita melanjutkan pendekatan ini hingga dewasa. Baik dalam konfrontasi dengan orang asing di jalan atau argumen dengan pasangan di kamar, kita percaya bahwa kita butuh alasan dan logika bagus untuk menjelaskan dan mempertahankan diri. Kita bertindak seolah kita adalah ahli negosiasi, pengacara bagi diri sendiri.</p>
<p>Dalam psikologi Barat, beberapa pendekatan menekankan pentingnya memperkuat ego untuk meningkatkan kepercayaan diri. Kita mungkin menyalahartikan ini sebagai alasan kita harus meningkatkan posisi diri dengan mengabaikan orang lain. Seseorang dapat menjadi sangat egois dengan sikap seperti ini. Ini seperti seolah kamu mengatakan pada dunia,”Kamu tidak tahu siapa saya? Saya adalah saya. Kalau saya diserang karenanya, ya sayang sekali, saya yang benar.” Kamu merasa benar dalam hal yang kamu lakukan, seolah Tuhan berada di sisimu, atau setidaknya, hukum dan peradilan.</p>
<p>Mungkin kita harus memeriksa ulang asumsi-asumsi ini untuk melihat apa yang sebenarnya bekerja. Kita harus menginvestigasi apakah memang bermanfaat meninggikan diri sendiri, apalagi dengan cara merendahkan orang lain. Kita harus empertanyakan dengan serius apa yang berbahaya dan menguntungkan. Dalam pengalaman saya sendiri, saya merasa menggunakan pendekatan egois dan selalu defensif tidak berguna.</p>
<p>Daripada memperkuat pola pikir ‘saya, saya, saya’ dan menjustifikasi diri sendiri terus menerus, kita harus mendasari diri kita pada sesuatu yang kuat dan tepercaya. Jika kita mempercayai diri sendiri dengan sungguh-sungguh, pertahanan diri terus-menerus tidak dibutuhkan lagi. Mungkin terdengar bagus, tapi apa yang bisa membuat kita percaya pada diri sendiri? Untuk memulai, kita harus melihat ke dalam diri. Apa yang kita cari, apa yang kita lihat? Tanyakan pada dirimu sendiri: Apakah ada sesuatu yang berharga dan layak dipercayai dari saya? Tentu saja ada! Hanya saja, hal itu terdengar begitu sederhana sehingga kita cenderung melewatkan atau melupakannya. Saat kita melihat dalam diri sendiri kita cenderung terpaku pada kecemasan, keresahan dan betapa rapuhnya kita, tetapi perasaan tersebut biasanya dangkal, ada untuk menutupi rasa takut kita.</p>
<p>Carilah. Ada sesuatu yang lain yang jauh lebih besar. Kita ingin. Ingin menunggu, ingin tersenyum, ingin menjadi lebih baik. Kita tidak boleh mengacuhkan potensi itu, sebuah bibit yang kuat dan lembut. Bahkan binatang paling buaspun punya rasa sayang alami terhadap anak-anak mereka. Sifat lembut ini ada pada setiap makhluk. Kita tidak harus merasa malu atau berusaha menyembunyikannya. Kita tidak perlu mengkotak-kotakkan diri sebagai anak nakal, pemeran utama wanita, atau lelaki kuat. Kita mampu menerima dan membina kelembutan dan terutama memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik.</p>
<p>Kita pantas menghargai diri sendiri, punya rasa sayang terhadap diri sendiri, menjaga diri sendiri. Kejujuran, kebaikan, dan apresiasi adalah bakat luar biasa. Di sanalah kita meletakkan kepercayaan kita. Kebenaran ini sungguh hakiki sehingga kita tidak perlu berpura-pura. Hal ini sungguh nyata.</p>
<p>Kita semua mampu mencintai diri sendiri. Kita juga mampu jatuh cinta. Kita mampu mencumbu orang yang kita cintai. Kita mampu mengembangkan tangan untuk bersalaman. Kita dapat menawarkan makanan pada seseorang, menerimanya ke meja kita, mengatakan,”Hai, apa kabar?” Kita mampu melakukan hal-hal sederhana ini. Kita sudah melakukan kebaikan-kebaikan sederhana sejak lama.</p>
<p>Biasanya kita menganggap ini sesuatu yang biasa, dan memang seharusnya begitu bila dipikirkan. Namun, kita mestinya merayakan atau setidaknya mengakui kemampuan kita melakukan tindakan kemurahan hati atau kebaikan. Tindakan tersebut nyata dan pada akhirnya lebih kuat dan transformatif dibanding agresi, obsesi terhadap ego, dan kebencian.</p>
<p>Ketika kamu menghargai dirimu sendiri, kamu menyadari bahwa kamu tidak perlu merasa buruk atau terkutuk. Kamu juga tidak perlu mendandani dirimu dengan tidak alami. Kamu menemukan kebanggan dasarmu, yang datang bersama kelembutan/ Kamu selalu punya sifat ini, namun kamu mungkin tidak mengetahuinya dulu. Kamu tidak perlu menjadi orang yang terobsesi terhadap ego untuk menghargai dirimu. Malahan, kamu akan lebih menghargai dirimu jika kamu sudah bebas dari keburukan egoisme itu, yang sebenarnya terbentuk dari kebencian terhadap diri sendiri.</p>
<p>Hadaplah cermin. Hargai dirimu sendiri. Kamu terlihat indah dalam kesederhanaan. Ketika kamu memilih pakaianmu, menyisiri rambutmu, mandi, kamu memunculkan kesan kebaikan yang utuh dan mendasar, kesadaran, dan kebaikan. Ada pilihan lain dari merasa terkutuk. Kamu sesungguhnya bisa berteman dengan diri sendiri.</p>
<p><em>Tulisan ini diadaptasi dari &#8220;</em>Mindfulness in Action: Making Friends with Yourself through Meditation and Everyday Awareness&#8221; <em>oleh Chögyam Trungpa, </em><em>dengan izin dari Shambhala Publications.</em></p>
<p>Sumber: http://www.lionsroar.com/trust-in-your-goodness/ | Diterjemahkan oleh Lisa Santika Onggrid</p>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/06/percayalah-pada-kebaikan-dirimu/">Percayalah pada Kebaikan Dirimu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/06/percayalah-pada-kebaikan-dirimu/">Percayalah pada Kebaikan Dirimu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghargai Kehidupan sebagai Manusia yang Sangat Berharga</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/02/03/menghargai-kehidupan-sebagai-manusia-yang-sangat-berharga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2017 19:18:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran manusia]]></category>
		<category><![CDATA[precious human rebirth]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2769</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dr. ALEXANDER BERZIN &#124; Ketika kita berupaya berpraktik meditasi, kita bukan hanya duduk dan mulai bermeditasi dengan pikiran yang gelisah dan berkeliaran ke sana kemari dengan tidak tenang. Sebab, bila kita tidak menenangkan pikiran sedikit sebelum mulai bermeditasi, semua sesi meditasi biasanya akan habis dengan pengembaraan mental tentang apa yang mengkhawatirkan kita, yang menyibukkan kita, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/03/menghargai-kehidupan-sebagai-manusia-yang-sangat-berharga/">Menghargai Kehidupan sebagai Manusia yang Sangat Berharga</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/03/menghargai-kehidupan-sebagai-manusia-yang-sangat-berharga/">Menghargai Kehidupan sebagai Manusia yang Sangat Berharga</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dr. ALEXANDER BERZIN | Ketika kita berupaya berpraktik meditasi, kita bukan hanya duduk dan mulai bermeditasi dengan pikiran yang gelisah dan berkeliaran ke sana kemari dengan tidak tenang. Sebab, bila kita tidak menenangkan pikiran sedikit sebelum mulai bermeditasi, semua sesi meditasi biasanya akan habis dengan pengembaraan mental tentang apa yang mengkhawatirkan kita, yang menyibukkan kita, atau hal-hal yang harus dilakukan: Ayo lalui sesi ini secepatnya, sebab saya masih ada janji atau saya harus mengantar anak-anak ke sekolah, atau apa saja. Mereka akan bangun sebentar lagi・- itu tekanan-tekanan yang mungkin terjadi. Jadi kita perlu menenangkan diri sejenak dan biasanya metode yang digunakan adalah memusatkan diri pada pernapasan. Kemudian, proses sesungguhnya dari meditasi akan bergantung pada kerja-kerja yang dilakukan sebelumnya.</p>
<p>Ada banyak jenis meditasi. Meditasi sendiri berarti melatih atau membiasakan pikiran kita pada sesuatu: pada suatu cara berpikir, pada cara tertentu untuk merasakan, pada pemahaman tertentu, sesuatu seperti itu. Jadi, bila kita akan melakukannya dengan jenis realisasi tertentu, pertama kita perlu mendengarkan; kita perlu mempelajarinya, mencari informasi sebagaimana adanya. Dengan demikian, kita memperoleh apa yang disebut kesadaran yang membedakan yang muncul dari mendengarkan. Kita akan bisa membedakan satu poin tertentu dengan poin lainnya, kenyataan dengan apa yang bukan kenyataan. Ayo kita coba sesuatu yang sangat mendasar dari pelajaran Buddha, Lamrim – tahapan jalan bertingkat – sesuatu tentang kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga.</p>
<p>Kita sudah mempunyai kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga, jadi kita perlu mempelajari definisinya. Apa definisi kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga? Kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga adalah kehidupan yang dipenuhi dengan apa yang saya sebut sebagai jeda-jeda dari situasi-situasi yang sangat sulit yang bisa kita alami. Karena kita tidak berada dalam situasi itu, kita memiliki jeda; ini adalah jeda sementara, temporer, semacam rehat dari itu semua. Ini bukan berarti kita bebas darinya selamanya; kita hanya mendapatkan rehat sementara dari segala jenis situasi teramat sulit dan kita memiliki banyak sekali kesempatan. Itulah kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Ada daftar delapan belas hal yang menjadi sumber bagi kita untuk mendapatkan jeda atau mendapatkan kesempatan yang memperkaya hidup kita.</p>
<p>Mendapatkan satu dari mereka bisa berarti kita memiliki jeda dari satu jenis situasi mengerikan yang membuat kita tidak memiliki waktu luang untuk belajar dan berpraktik. Ini digambarkan melalui berbagai alam keberadaan. Apakah kita menerimanya secara harfiah atau tidak, itu urusan lain, namun kita bisa membayangkan Baghdad dan merenungkan betapa beruntungnya kita yang kampung halamannya bukan Baghdad, yang tidak berada di sana. Saya tinggal di Berlin, memiliki beberapa mahasiswa senior yang memiliki pengalaman merasakan perang di masa kecil. Mereka ingat seperti apa rasanya menjadi anak-anak di bunker, di ruang bawah tanah rumah, tidur di gudang bawah tanah yang lembab dengan dua puluh atau tiga puluh orang lainnya. Bukan hanya tidur, tetapi juga benar-benar ketakutan ketika mendengar bom-bom dan pesawat melintas di atas kepala. Dan juga seperti apa di masa setelah perang. Kita tahu dan bisa lihat gambar kota-kota ini dan semua tampak seperti Hiroshima setelah perang; maksud saya, benar-benar terbakar dan hancur dibom. Salah satu mahasiswa wanita menceritakan betapa bertahun-tahun sebagai anak kecil mereka harus hidup di tempat pengungsian, di ruangan yang padat bersama sekitar dua puluhan orang lainnya. Orang saling mencuri makanan, toilet tidak berfungsi; ada tiga puluh orang dan airnya tidak mengalir, jadi bagaimana menyiram toilet bekas pakai tiga puluh orang? Mereka terpaksa berbagi satu toilet tanpa air. Kenyataannya, ini sangat-sangat mengerikan.</p>
<p>Demikian pula, orang-orang di Baghdad mengalami hal serupa; orang-orang di Bosnia juga; orang-orang di Rwanda pun sama. Ini terjadi secara berkala di dunia kita, dan pada titik tertentu, giliran kita bisa jadi tiba. Dan betapa indahnya karena kita memiliki jeda dari itu semua.</p>
<p>Kita mungkin mengalami sedikit dari itu – 9/11, tetapi ini tidak dapat dibandingkan dengan Perang Dunia II. Kita tidak memiliki pengalaman kampung halaman kita dibom dan dibakar. Inilah jeda yang kita miliki. Inilah kebaikan yang kita miliki. Dan kita memiliki kesempatan untuk mengikuti apa pun yang kita inginkan dengan bebas.</p>
<p>Inilah definisi dari kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Kita mungkin hanya mendengar kata-kata dan tidak benar-benar mengetahui apa maksudnya. Katakanlah kita mendengar kata 徒ehidupan sebagai manusia yang sangat berharga・dan kita tidak benar-benar tahu definisinya. Jadi kita tak tahu apa makna sesungguhnya. Kita hanya mendapatkan gagasannya, ide dari kata-kata tanpa makna mendalam yang berkaitan dengannya. Dan kita mungkin menduga – ada dugaan di sini – bahwa ini benar, tetapi kita tidak benar-benar memahaminya. Saya menganggap ini benar, karena guru saya mengatakan demikian. Saya menghargai guru saya, jadi oke, saya bisa sedikit terbuka. Itulah langkah pertama – Kita harus mendengarkan, mendapatkan informasi – dari kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga.</p>
<p>Langkah kedua adalah kita harus berpikir tentang itu. Kita harus merenungkannya, merenungkan maknanya. Dan ini berarti memikirkan dalam cara yang logis. Apa definisi kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga dan kenapa ia berharga? Seperti misalnya, saya lahir sebagai manusia dan saya tinggal di lingkungan yang damai – lingkungan yang relatif damai – bukan di wilayah perang. Ini adalah lingkungan yang sangat berharga untuk berpraktik dan merealisasikan Dharma. Jadi, saya bebas dari keberadaan di wilayah perang – inilah urutan sebab akibatnya, inilah logikanya: bebas dari keberadaan di wilayah perang dan lepas dari ketakutan dari kehidupan di bunker atau sejenis kamp pengungsian, tempat semua orang saling mencuri dan jorok – bebas dari itu semua adalah kesempatan yang sangat berharga untuk berpraktik dan belajar. Dan kita perlu meyakini kenapa ini berharga: karena kita bebas dari kesulitan-kesulitan. Dan kita harus benar-benar yakin bahwa urutan sebab akibat membuktikan tesis kita dengan logika. Bebas dari berbagai situasi buruk membuktikan bahwa kita memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga dan banyak kesempatan yang bisa digunakan.</p>
<p>Jadi kita harus berusaha mencernanya dan berpikir. Inilah proses keseluruhan dari merenungkan: Apa yang akan terjadi bila saya ada di salah satu dari wilayah-wilayah perang ini? Apa yang akan terjadi bila saya tahu bahwa musuh akan menjatuhkan bom di kota saya dalam beberapa hari dan mungkin aliran air diputus, dan saya tinggal di gurun yang sangat panas, dan siapa yang tahu kapan habisnya air? Jadi, kita mulai mengisi bak mandi. Lupakan soal cuci-mencuci sekarang; isi bak mandi. Kita isi semua panci dan wajan sebanyak mungkin sebab mungkin nanti tidak ada lagi air. Dan lupakan soal keluar dan membeli air kemasan dalam botol. Kita mungkin tertembak. Jadi, cobalah bayangkan seperti apa kondisinya. Berapa banyak lilin yang harus kita beli di luar? Sebab, pasti listrik akan padam. Dan sekarang harga lilin akan dua puluh kali lipat lebih mahal ketimbang sebelumnya, bahkan mungkin seratus kali lipat. Jumlahnya pun terbatas. Bayangkan pula antriannya dan pertengkaran di dalamnya. Beberapa orang kaya datang dan ingin membeli semua lilin. Bagaimana perasaan kita dalam situasi ini? Bayangkan seolah-olah ini nyata adanya.</p>
<p>Saya mendapati hal ini sangat menyentuh, sebab saya mempunyai banyak materi di portal tentang dialog Buddha-Islam yang saya ikuti. Dan saya mendapatkan surat elektronik dari seseorang yang mengatakan dia datang dari negara Muslim dan sudah menjadi seorang Buddhis, dan mungkin dia satu-satunya Buddhis di negerinya. Itu sangat berbahaya, sebab berganti agama sangat tidak diterima di masyarakatnya. Namun, dia mendapati materi-materi itu sangat menginspirasi, sangat indah, terutama tentang cara menjelaskan Buddhisme dari sudut panjang Islam. Dia juga menawarkan untuk menerjemahkan artikel-artikel di portal tersebut ke dalam bahasa Arab. Saya bilang, Luar biasa, hebat!・Saya tanya dia, Dari mana asalmu, di mana kamu tinggal?・Dia menulis balik, Baghdad.・Itu membuat saya sangat, sangat tersentuh.</p>
<p>Ini mungkin sekitar dua atau tiga minggu sebelum Perang Irak dimulai. Saya pun berhubungan melalui surat elektronik dengan lelaki ini. Kami bertukar surel, dan dia menulis kepada saya sekitar dua jam sebelum bom mulai berjatuhan, sebelum perang dinyatakan, dan dia masih mengatakan, Jangan khawatir, kami sudah terbiasa dengan hal-hal ini.・Dan maksud saya, itu tengah malam; lelaki ini pasti terjaga sepanjang malam. Setiap orang benar-benar ketakutan: Kapan bom-bom mulai dijatuhkan?・Mampukah kita mencoba tidur dengan mengetahui bahwa setiap menit sirene tanda bahaya bisa menyala dan kita mungkin tidak memiliki bunker di rumah? Jadi, apa yang akan kita lakukan: bersembunyi di bawah tempat tidur? Apa yang akan kita lakukan? Apakah bak mandinya sudah benar-benar penuh? Mungkin masih ada panci lain yang bisa saya isi air? Mengerikan! Untuk saya, ini jauh lebih nyata, sebab sekarang saya mengenal seseorang yang berada di sana, yang benar-benar menghadapi pengalaman mengerikan ini. Dia hanya lelaki miskin dan lugu, hanya seorang mahasiswa. Apakah dia akan bisa mengikuti ujiannya, menyelesaikan kuliahnya, dan melanjutkan hidupnya?</p>
<p>Jadi, kita melakukan ini dalam meditasi, dalam perenungan kita. Sekarang ini sedikit lebih nyata untuk kita. Betapa beruntungnya kita bebas dari itu semua, memiliki jeda dari itu semua dan tidak berada di dalamnya sekarang. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi setidaknya saat ini kita bisa bersyukur! Ini adalah sejenis fiuh!, seperti beban yang diangkat dari pundak ketika mengetahui bahwa kita bebas dari hal-hal tersebut. Dan kemudian kita berpikir: 溺aksud saya, bila saya berada dalam situasi itu, kesempatan seperti apa yang saya punya untuk bisa belajar, bisa berpraktik?・Tentu, jika kita praktisi yang sangat terlatih, mungkin kita bisa tetap berpraktik, tetapi faktanya kita masih pemula. Dan tentu tidak dengan dua puluhan orang yang berdesakan di satu ruangan dan semuanya ketakutan. Tidak ada kesempatan bagi praktik.</p>
<p>Jadi, kita bersandar pada urutan sebab akibat ini: karena saya bebas dari semua itu, saya memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Dan kita mendapatkannya melalui pemahaman yang inferensial (berdasarkan fakta dan argumen), kesimpulan – berdasarkan urutan sebab akibat. Ini bukan hanya soal memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga, tetapi memiliki kehidupan sebagai manusia yang berharga karena kita bebas dari situasi-situasi sulit tertentu. Landasannya adalah sebab; ada alasan untuk itu. Ini pernyataan yang valid, bukan sekadar pernyataan biasa. Jadi, kita memiliki ide yang merupakan gagasan yang penuh makna.</p>
<p>Ada perbedaan antara ide yang berupa kata-kata kosong dan ide yang berupa gagasan penuh makna. Jadi kita bisa fokus meyakini kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga dengan gagasan yang penuh makna. Ini menghasilkan cara yang valid untuk megetahui dan ada keyakinan: saya sudah memikirkannya dalam-dalam. Ada beberapa alasan untuk memahami ini, bukan hanya sekadar berpikir dan percaya: ini benar! Ini keyakinan: ini benar, saya benar memiliki kehidupan sebagai manusia yang berharga, saya tak bimbang soal ini. Tentu, kita bisa menyesali diri sendiri: Betapa malangnya saya! &#8211; untuk alasan apa pun. Tapi kemudian kita bisa melihat: sebuah televisi yang rusak bukanlah kondisi yang parah; ini tidak terlalu parah, tidak terlalu parah.</p>
<p>Ketika suatu kali kita meyakini sesuatu, maka inilah kesimpulan dari proses perenungan – cara yang valid untuk mengetahui apa yang mendasar dalam urutan sebab akibat. Kita pun menuju tahapan sesungguhnya yang disebut sebagai meditasi. Di sini, apa yang ingin kita lakukan adalah mencerna, membiasakan diri dengannya, benar-benar menjadikannya bagian dari keseluruhan cara hidup kita, memadukannya dengan kehidupan kita. Dan ada dua perbedaan langkah yang ada di sini. Yang pertama biasanya disebut sebagai meditasi analitis – saya tidak menemukan istilah yang memadai. Istilah yang lebih saya suka adalah meditasi pemahaman (discerning meditation), mencoba memahami sesuatu. Itulah bagian analitisnya.</p>
<p>Jadi, ada yang dinamakan meditasi pemahaman, dan yang kedua adalah apa yang saya sebut sebagai meditasi stabilisasi. Dalam meditasi pemahaman, kita memiliki beberapa langkah. Faktor-faktor mental yang akan terlibat dalam proses ini adalah dua faktor mental utama. Yang pertama disebut deteksi kasar, demikian saya menyebutnya, dan kedua adalah ketajaman subtil. Di beberapa konteks ini bisa berarti investigasi dan meneliti. Deteksi kasar ini misalnya dalam kasus mengoreksi satu halaman dan secara sepintas menemukan kesalahan. Kita tidak mencari rincian yang detail, melainkan hanya sekadar menginvestigasi apakah sesuatu perlu dikoreksi atau tidak. Kita menginvestigasi: oh ya, perlu dikoreksi; dan kemudian, ketajaman subtil tadi akan meneliti lebih lanjut poin per poin dan memperbaikinya. Ini yang akan kita gunakan, setidaknya di beberapa aspek dari meditasi pemahaman.</p>
<p>Apa yang perlu kita periksa adalah diri kita sendiri. Kita telah mempelajari definisi dari kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga, dan sudah mengerti, menginvestigasi: apakah saya benar memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga itu? Bagaimana saya bisa mendapatkannya, apa saja aspek-aspeknya, apakah ini cocok dengan saya? Dan kita menginvestigasi secara kasar dan mendeteksi kebebasan kita dari wilayah perang, kebebasan kita dari kungkungan ketakutan atau kelaparan atau sakit atau jenis-jenis situasi yang sangat sulit. Dan walaupun kita setiap kali mengalami penderitaan dan mengalami ketakutan dan dihantui, tetapi berapa skala untuk mengetahui seberapa buruk itu terjadi? Dan pada akhirnya, kita memahami bahwa diri kita bebas dari berbagai jenis situasi yang menyedihkan. Apakah kita benar-benar menyukainya? Ya! Sekarang kita mampu memahami bahwa kita memang memiliki kebebasan itu. Kita tidak berada di wilayah perang; kita tidak terus-menerus berada di situasi yang tak menyenangkan.</p>
<p>Sekali lagi, itulah langkah pertamanya. Langkah berikut adalah menuju urutan sebab akibat lagi. Bukan untuk mendapatkan pemahaman, tetapi untuk bisa membangkitkan pemahaman valid yang berasal dari bukti dan argumentasi. Ini yang kita ingin lakukan: Ok, saya sudah memahami berdasarkan bukti dan argumentasi, saya sudah memiliki kebebasan dari kehidupan di wilayah perang. Sekarang kita lanjut sesuai urutan sebab akibat: dengan demikian saya memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga.</p>
<p>Jika seseorang bebas dari keberadaan di wilayah perang, ia memiliki kehidupan yang sangat berharga. Kita bebas dari keberadaan di wilayah perang, jadi kita memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Dengan urutan sebab akibat ini, kita mendapatkan kesimpulan valid bahwa kita memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Ini menjadi proses dalam melakukan meditasi yang berdasarkan fakta dan argumentasi. Dan kita harus aktif melalui proses ini. Jadi, ini bisa disebut proses mental verbal.</p>
<p>Itu hanya sebagian saja. Bagian sesungguhnya dari yang kita inginkan adalah bagian nonverbal. Apa yang ingin kita lakukan adalah memahami, secara aktif memahami diri kita sendiri memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga; untuk memahami itu, untuk mengerti, dan membedakannya – yakni membedakan kesadaran yang muncul dari meditasi. Dan kita kemudian fokus di situ. Dengan pemahaman aktif – yaitu meditasi pemahaman.</p>
<p>Kemudian, masih ada meditasi stabilisasi. Caranya, kita hanya fokus pada kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga tanpa secara aktif memahami semuanya secara rinci, tanpa memahami ini dan itu. Ini sejenis perasaan bahwa kita memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga, dan kita tenggelam di dalamnya; inilah stabilisasi. Inilah apa yang kita cari: konsentrasi sempurna. Kita sepenuhnya yakin bahwa kita mampu melihatnya dan memahami maknanya secara valid, dan sekarang kita mencoba merasakannya, tenggelam dalam konsentrasi itu. Dan tentu saja akan perlu waktu sejenak untuk menenggelamkan diri dan waktu sejenak lainnya untuk menghasilkan perbedaan.</p>
<p>Apa yang selalu saya tunjukkan kepada orang-orang adalah bahwa kemajuan ini tidak linear: ia tidak akan selalu membaik setiap kali kita bermeditasi. Samsara secara umum bersifat naik turun. Jadi, akan selalu ada naik turun sampai kita mencapai pembebasan – menjadi Arhat atau makhluk yang terbebaskan. Sebelum itu, akan selalu ada naik turun. Terkadang kita merasa ingin meditasi, kadang-kadang tidak. Terkadang semua berjalan baik, kadang-kadang tidak. Seperti kata Serkong Rinpoche: Tidak ada yang istimewa.・Tidak ada yang istimewa soal itu – tidak ada yang mengherankan. Jadi tidak ada alasan untuk merasa kecewa. Hari ini kita merasa malas bermeditasi – ya, lalu kita perlu memiliki yang disebut keteguhan-seperti-baja: kita terus bermeditasi, terus melakukannya. Renungkan seperti ini: Saya tidak suka ini, jadi saya perlu lebih disiplin.・Sebab, tentu saja, kita tidak akan menyukainya, dan jika ia tidak berlangsung terlalu baik hari ini, kita lihat saja besok seperti apa. Tidak ada kritik soal ini, alami saja; dalam beberapa hari mungkin akan menjadi lebih baik. Ini sangat gamblang. Lagipula, apa yang kita harapkan? Ini toh samsara. Jadi, kita fokus saja seperti itu.</p>
<p>Sekarang, catat bahwa ketika kita berbicara tentang meditasi pemahaman dan stabilisasi, tahapan ini masih konseptual, masih soal gagasan terkait apa makna kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Dan inilah ide tentang kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga, sesuatu yang mewakili pemikiran-pemikiran kita melalui perkataan ataupun perasaan. Sangatlah penting untuk memiliki ide dalam bentuk perkataan ataupun perasaan.</p>
<p>Dan sekarang, kita bertanya, Bagaimana pemahaman intuitif seperti ini sesuai dengan karakteristik pemahaman intelektual Barat kita?・Sesungguhnya, keduanya sangat cocok. Apa yang kita sebut sebagai pemahaman intelektual adalah gagasan verbal melalui perkataan. Dan pemahaman intuitif berfokus pada perasaan atau gambaran mental. Akan tetapi, intinya, keduanya adalah konseptual dan keduanya bisa menjadi akurat maupun tidak akurat. Intelektualitas bisa benar dan bisa juga tidak. Perasaan bisa berupa perasaan akurat atau sepenuhnya aneh dan janggal.</p>
<p>Jadi, yang paling penting adalah keduanya, terlepas dari apa sebutan kita terhadapnya. Mereka perlu didampingi dengan pemahaman yang benar dari makna kata-kata ataupun dari makna perasaan. Lebih jauh, agar mampu mencerna pemahaman itu, kita perlu berkonsentrasi padanya dengan keyakinan. Bila kita mampu berkonsentrasi padanya dengan keyakinan total yang sebenar-benarnya, kita bisa menyebutnya sebagai pemahaman mendalam, atau keberanian memahami dalam terminologi Barat. Kemudian, ketika pemahaman mendalam ini diiringi dengan emosi konstruktif/membangun – seperti penghargaan pada kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga ini selaku faktor mental – maka kita bisa menyatakan bahwa kita secara emosional tergerak oleh pemahaman kita sendiri. Dan kita bisa membawa transformasi. Itu bisa menghasilkan transformasi.</p>
<p>Kemudian, bila kita ingin mengubah pemahaman konseptual menjadi pemahaman nonkonseptual, kita harus tahu terlebih dulu apa maknanya. Sebab, banyak orang hanya menyamakan konseptual dengan intelektual, yang mana tidak selalu benar. Kita bisa mempunyai, seperti saya katakan, satu perasaan yang mewakili sesuatu. Hanya karena ini bukan verbal bukan berarti ini bukan konseptual. Demikian pula, pemahaman nonkonseptual adalah satu pemahaman yang fokus pada sesuatu yang tidak melalui medium gagasan. Kita tidak harus bersandar pada urutan sebab akibat – itu yang pertama. Kita bisa memahami sesuatu yang saat ini harus kita bangun terlebih dulu melalui urutan sebab akibat &#8211; saya memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga, karena saya bebas dari ini dan itu, atau situasi menyedihkan ini dan itu.・Artinya, kita bisa memiliki pemahaman konseptual yang tidak berdasarkan urutan sebab akibat. Kita tidak harus melalui urutan sebab akibat – kita meraih pemahaman begitu saja. Kita bisa saja hanya berpikir &#8211; 鉄aya memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga・- dan pemahaman beserta keyakinan pun serta-merta hadir. Karena kita sudah bekerja melalui urutan sebab akibat sebelumnya, kita tidak harus melaluinya lagi. Namun, kita masih perlu melalui ide kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Itu semacam konsepnya; baik verbal, perasaan, atau apa pun.</p>
<p>Nonkonseptual adalah tanpa gagasan. Tetapi, apakah ia mudah dipahami? Bagaimana mengetahui kalau ia mudah dipahami? Apakah perbedaannya? Apa yang menjadi terang? Betapa terang perasaan ini, betapa terang pemahaman memiliki kehidupan sebagai manusia yang sangat berharga. Dan sekali lagi, untuk mampu memahami apa yang kita sudah tahu, apa artinya menjadi terang, apa makna gelap? Kita harus mampu mengenali semua ini dalam pengalaman kita. Jadi, mempelajari faktor-faktor mental dan jalan pengetahuan sangatlah relevan bagi kemajuan spiritual kita serta bagi pemahaman kita atas pengalaman sehari-hari.</p>
<p>Sumber: studdybudhism.org | Diterjemahkan oleh Nina Susilo</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/03/menghargai-kehidupan-sebagai-manusia-yang-sangat-berharga/">Menghargai Kehidupan sebagai Manusia yang Sangat Berharga</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/03/menghargai-kehidupan-sebagai-manusia-yang-sangat-berharga/">Menghargai Kehidupan sebagai Manusia yang Sangat Berharga</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
