<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>perempuan - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/perempuan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 May 2021 06:51:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.17</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>perempuan - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Liputan Lamrim Talk: “Perempuan Hebat Perempuan Berkarya”</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/05/07/liputan-lamrim-talk-perempuan-hebat-perempuan-berkarya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 May 2021 06:51:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[kartini]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6063</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dengan Buddhadharma, kita bisa jadi perempuan hebat yang berkarya. Simak kisah dari Serlina (pegipegi.com) &#038; Bude Novi!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/05/07/liputan-lamrim-talk-perempuan-hebat-perempuan-berkarya/">Liputan Lamrim Talk: “Perempuan Hebat Perempuan Berkarya”</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/05/07/liputan-lamrim-talk-perempuan-hebat-perempuan-berkarya/">Liputan Lamrim Talk: “Perempuan Hebat Perempuan Berkarya”</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Junarsih</p>



<p><em>Masa sih perempuan bisa berkarya?</em></p>



<p>Sekarang udah bukan zamannya meragukan kemampuan perempuan. Sejak awal juga perempuan memiliki potensi untuk berkarya seperti laki-laki. Perempuan mampu untuk menjadi hebat dan mampu berkarya sesuai kapasitas masing-masing. Dan yang paling penting, Dharma bisa membantu perempuan menunjukkan kehebatannya dan siap berkarya.</p>



<p>Untuk membahas lebih lanjut tentang Dharma dan perempuan hebat, pada Jumat, 23 April 2021 lalu Lamrimnesia kembali mengadakan Lamrim Talk dengan mengundang dua perempuan hebat yang siap membagikan inspirasi untuk perempuan mampu berkarya dan sukses di bidangnya masing-masing. Dua perempuan hebat ini adalah Serlina Wijaya, Chief Executive Officer (CEO) Pegipegi, dan Noviana Kusumawardhani (Bude Novi), seorang pembaca tarot sekaligus penulis.</p>



<p>Singkatnya, Serlina menjelaskan hubungan Lamrim dan karir serta konsep kepemimpinan yang terdapat dalam Kebuddhaan. Pemaparan Serlina kemudian dilanjutkan oleh Bude Novi dengan ungkapan “dunia akan bahagia kalau perempuannya bahagia”. Secara tidak langsung, perempuan adalah akar kebahagiaan dunia. Kalau semua perempuan merasakan kebahagiaan dan ia juga memahami Dharma, bukan hanya kebahagiaan dunia yang tercipta, tapi cinta kasih akan tersebar di seluruh penjuru dunia.</p>



<p>Lalu, poin menarik apa yang bisa kita angkat dari acara ini? Ada dua poin yang berkesan untuk saya sebagai penulis, yakni tentang pemahaman Dharma mengenai konsep cinta kasih dan kebijaksanaan dalam berkarir serta konsep kebahagiaan dengan berteman dengan diri sendiri. Saya yakin, dua poin ini juga bakal bermanfaat untuk Sahabat Lamrimnesia juga!</p>



<h4><strong>Berkarir dalam Dharma</strong></h4>



<p>Belajar Dharma itu bukan sekadar tahu teori habis itu selesai. Tapi, Dharma itu harus dipraktikkan supaya esensinya lebih mengena pada batin kita. Dharma tanpa praktik ibaratnya sayur tanpa garam, hambar, kurang maknyusss.&nbsp;</p>



<p>Dharma pun tidak hanya dipelajari dan dipraktikkan di Biara bersama anggota Sangha, romo pandita, atau guru spiritual secara langsung maupun virtual. Tapi, Dharma juga harus dipelajari dan dipraktikkan setiap saat. Setiap aktivitas juga haruslah dilandasi Dharma. Apalagi kalau kita adalah perempuan yang sedang berkarir baik dengan merintis usaha sendiri atau bahkan bekerja di suatu perusahaan. Tentunya kita harus menerapkan Dharma yang dilandasi cinta kasih dan kebijaksanaan untuk menjalankan aktivitas di toko atau kantor. Kita tidak bisa asal memarahi orang lain hanya karena proyek gagal. Lebih baik kita mencari tahu dahulu penyebab kegagalan proyek tersebut tanpa langsung menyalahkan orang lain. Ini adalah bentuk kebijaksanaan.&nbsp;</p>



<p>Ketika kita bisa mengendalikan diri untuk tidak melontarkan kemarahan pada orang lain, maka kita sudah mempraktikkan salah satu bentuk cinta kasih. Saya sebagai seorang perempuan tidak bisa memenangkan ego sendiri untuk menghancurkan orang lain. Sebaliknya, dengan bekal Dharma, saya bisa lebih memahami orang lain saat bekerja sama. Lebih luas lagi, Dharma tidak hanya dipraktikkan ketika sedang bekerja. Saat bercakap dengan teman sekontrakan, saya usahakan juga berbicara yang baik &#8212; dengan tidak berkata yang kasar dan tidak benar yang bisa menyakiti hati mereka. Dalam hubungan dengan pacar juga harus sambil praktik Dharma. Jangan sampai hanya karena kekasih sedang berbicara dengan teman, saya malah jadi marah-marah tidak jelas. Menjadi bijak dengan mencoba berpikir dengan jernih dan tenang adalah solusinya. Dengan begitu, saya jadi tidak mudah marah meski kekasih sedang berbicara dengan orang lain.</p>



<p>Saya kemudian lanjut memikirkan kira-kira praktik Dharma apa lagi yang bisa saya terapkan sebagai seorang perempuan. Ketika bekerja sebagai penulis, saya punya motivasi untuk bekerja tidak hanya untuk diri sendiri. Tapi tulisan yang sudah diterbitkan di media tidak sekadar memberikan informasi,, tapi juga memberikan manfaat dan pandangan baru terhadap orang-orang yang membacanya.&nbsp;</p>



<h4><strong>Bahagia dengan Berteman Terhadap Diri Sendiri</strong></h4>



<p>Kalau Serlina menggunakan sudut pandang Buddhis, Bude Novi menjelaskan dari sudut pandang umum yang nilainya juga sejalan dengan prinsip Dharma. Kata Bude Novi, kebanyakan perempuan tidak bahagia karena ia tidak berteman dengan dirinya sendiri. Banyak hal yang menjadi penyebab ketidakbahagiaan perempuan, mulai dari harus melakukan hal-hal yang seharusnya merupakan pilihan tapi dianggap sebagai kewajiban, misalnya perempuan harus bisa masak enak, harus menikah, dan harus punya anak. Ketiga hal ini sebenarnya adalah pilihan. Perempuan boleh untuk tidak menikah, tidak masak, dan tidak punya anak.</p>



<p>Namun, karena beban dari masyarakat yang mengharuskan perempuan untuk bisa melakukan tiga hal itu, perempuan jadi tidak bahagia. Kalau perempuan harus bisa masak, tapi dia tidak memiliki bakat, padahal sudah berulang kali mencoba dan tetap saja tidak bisa, gimana dong? Kalau terus dipaksa ya pasti perempuan merasa tidak bahagia. Selain itu, perempuan juga dihadapkan dengan tekanan terhadap standar kecantikan yang ada, baik melalui media sosial, majalah, dan televisi. Kalau perempuan merasa tidak cantik, maka ia akan berusaha melakukan apapun untuk terlihat cantik: menggunakan <em>make up</em> tebal dan bermerk, perawatan kulit di salon, bahkan sampai tidak mau terpapar sinar matahari. Kalau usaha ini tidak membuahkan hasil, perempuan bisa stres, tidak percaya diri, dan akhirnya tidak bahagia.</p>



<p>Jujur saja, kadang saya juga merasa tidak bahagia karena tidak bisa memahami ataupun berteman dengan diri sendiri. Kadang saya merasa iri dengan keberhasilan dan keberhasilan orang lain. Tapi, saya kembali menilik pada diri sendiri, akankah saya selalu merasa iri dengan orang lain hanya karena saya tidak sesuai dengan standar mereka? Jawabannya adalah tidak. Saya berusaha untuk menentukan standar terhadap diri saya sendiri. Kalau tidak bisa secantik model ya sudah, saya tidak akan mendorong diri lebih jauh bila tidak membuat bahagia. Lebih baik saya bersyukur dengan rupa yang sudah dimiliki dan bahagia dengan keadaan ini.</p>



<p>Ketika saya gagal, saya pernah juga merasa tidak bahagia. Kalau dipikir-pikir, mana mungkin saya akan terus terpuruk dan merasa rendah daripada orang lain. Jadi, standar keberhasilan setiap orang itu berbeda-beda. Bisa saja saya gagal hari ini tapi sukses di hari esok. Saat kegagalan datang, ambil waktu untuk istirahat dan sejenak <em>refreshing</em>. Entah jalan-jalan ke sawah, makan makanan favorit, atau bahkan nonton film. Buat diri rileks dulu, baru berpikir lagi untuk menyusun rencana membuat kesuksesan yang baru. Saat kita bisa bangkit, kita akan menemukan kebahagiaan dalam diri dan mudah menentukan tujuan hidup.</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Menjadi perempuan itu tidak rumit, yang rumit hanyalah pikiran kita yang penuh dengan racun-racun standar kehidupan. Standar kecantikan dan tubuh molek kadang membuat perempuan tidak bahagia. Lebih jauh lagi perempuan ditekan dengan standar dari masyarakat yaitu &#8212; harus bisa masak, menikah, dan punya anak. Mau kita bisa masak atau tidak, mau punya anak atau tidak, itu pilihan kita. Perempuan itu hebat, punya banyak bakat. Perempuan itu hebat, mampu berkarya. Dan yang terpenting adalah memahami Dharma. Hidup kita tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Kalau memilih untuk berkarir, maka berkarirlah sesuai potensi dengan menerapkan cinta kasih dan kebijaksanaan dalam berkarya serta jangan iri dengan orang lain. Jangan lupa, bahagialah bersama diri sendiri dahulu supaya kita bisa melakukan apapun dengan senang hati dan bisa membahagiakan orang lain.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/05/07/liputan-lamrim-talk-perempuan-hebat-perempuan-berkarya/">Liputan Lamrim Talk: “Perempuan Hebat Perempuan Berkarya”</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/05/07/liputan-lamrim-talk-perempuan-hebat-perempuan-berkarya/">Liputan Lamrim Talk: “Perempuan Hebat Perempuan Berkarya”</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengakhiri ‘Kata Orang’ Tentang Perempuan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/04/21/mengakhiri-kata-orang-tentang-perempuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2020 09:04:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Kartini 2020]]></category>
		<category><![CDATA[klesha]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4883</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Shierlen Octavia Kata orang-orang, laki-laki adalah makhluk dari Mars dan perempuan adalah makhluk dari Venus. Masyarakat juga sering kali menganjurkan kita untuk berlaku seperti perempuan dan berpikir laiknya laki-laki (act like a lady, think like a man). Disadari atau tidak, hal-hal seperti ini membuat kita menciptakan palung untuk memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Akhirnya, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/21/mengakhiri-kata-orang-tentang-perempuan/">Mengakhiri ‘Kata Orang’ Tentang Perempuan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/21/mengakhiri-kata-orang-tentang-perempuan/">Mengakhiri ‘Kata Orang’ Tentang Perempuan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><strong>oleh Shierlen Octavia</strong></p>



<p>Kata orang-orang, laki-laki adalah makhluk dari Mars dan perempuan adalah makhluk dari Venus. Masyarakat juga sering kali menganjurkan kita untuk berlaku seperti perempuan dan berpikir laiknya laki-laki (<em>act like a lady, think like a man</em>). Disadari atau tidak, hal-hal seperti ini membuat kita menciptakan palung untuk memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Akhirnya, kita pun memiliki banyak stereotipe yang berujung pada ekspektasi kita mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang, keberadaan stereotipe ini membuat perempuan seakan lebih lemah atau punya lebih banyak kekurangan dibandingkan laki-laki.&nbsp;</p>



<p>Seakan tidak cukup memperburuk situasi, media—tempat kita banyak mendapatkan informasi, mulai dari televisi, koran, media sosial, radio, dan lain sebagainya banyak mendorong kita untuk membentuk persepsi tertentu mengenai perempuan. Sinetron misalnya, sering kali menggambarkan tokoh perempuan sebagai tokoh yang sangat emosional—selalu menangis saat ditindas oleh tokoh antagonis, ibu mertua yang selalu pemarah dan menaruh dendam pada sang tokoh utama perempuan yang bak malaikat berhati rapuh. Intinya selalu perempuanlah yang menggebu-gebu saat mengekspresikan emosi. Tak ayal, kaum hawa kemudian dilabeli sebagai kelompok yang lebih emosional dibandingkan kaum adam, apalagi ketika PMS mulai melanda (atau demikian menurut kebanyakan pria). Ada lagi ‘bisik-bisik tetangga’, yang digambarkan melalui berita-berita <em>infotainment, </em>dengan wanita yang kerap kali menjadi pembawa acara lengkap dengan sinetron yang selalu menyuguhkan para perempuan yang menggosip soal keburukan tokoh penting dalam alurnya. Makanya perempuan kedapatan lebih sering bergosip dibandingkan laki-laki.</p>



<p>Berlanjut kepada stereotipe umum lainnya, yakni mengenai standar kecantikan. Entah kita sadari atau tidak, kecantikan selalu mewujud sebagai seorang perempuan langsing, berkulit putih, tinggi semampai, dan berwajah tirus. Hal ini bisa kita saksikan bersama dalam berbagai tayangan iklan produk <em>skincare </em>yang mencari model sesuai ciri di atas yang kemudian dibesar-besarkan oleh <em>beauty pageant </em>yang menjadi impian para wanita. Maka tak heran ketika perempuan sangat mempermasalahkan soal perubahan angka di timbangan atau khawatir berlebih ketika harus bepergian tanpa kosmetik. Namun, bukan hanya media yang terus kita jadikan kambing hitam. Banyak pula pandangan dalam budaya setempat yang membuat wanita harus selalu menyesuaikan standar yang dipunyai masyarakatnya. Label ‘jomblo’, ‘perawan tua’, ‘gak laku-laku’, sering menjadi momok bagi perempuan kebanyakan perihal status hubungan. Perempuan yang tak berpasangan misalnya, akan selalu ditanyai oleh anggota keluarga besar dalam momen kebersamaan keluarga soal pacar. Apalagi kalau usianya sudah menyentuh kepala dua. Ketika memasuki kepala tiga namun masih berstatus lajang, wanita mulai dilihat sebagai ‘perawan tua’ dan harus segera dicarikan pasangan karena usia primanya untuk menikah akan lewat begitu saja jika tak dicarikan lelaki. Kaum selebritas akan terus dikejar wartawan ketika masih melajang di usia dewasa, atau bahkan ketika baru saja putus dengan pacarnya di usia 30-an. Akhirnya, tak sedikit perempuan yang sudah kalut ketika di usia 20-an masih sendiri tanpa ada gandengan. Hal ini membuat pemikiran bahwa perempuan sangat ‘berlebihan’ ketika berbicara soal hubungan romantis menjadi tidak aneh.</p>



<p>Ada lagi ide mengenai laki-laki sebagai ‘pemburu’ (<em>hunter</em>) dan wanita sebagai ‘pengumpul’ (<em>gatherer</em>) sebagai kepercayaan di waktu dulu yang kemudian bertransformasi menjadi ide bahwa ‘perempuan sangat suka berbelanja’ di masa kini (karena perempuan suka mengumpulkan barang). Hal ini tidak sepenuhnya keliru, sebab ada faktor sejarah yang bermain dalam hal ini. Pemikiran ini awalnya bermula dari timbulnya konsumerime masyarakat Amerika pada tahun 1920an (Young-Eisendrath, 2011). Toko-toko yang sebelumnya tidak didekor dengan apik, gelap, dan tidak menarik, disulap menjadi tempat glamor yang kini dinamakan toko serba ada (toserba). Di sanalah untuk pertama kalinya, wanita yang kerap kali dibungkam mulutnya untuk beropini diajak untuk tidak hanya sekadar membeli barang, tetapi juga membuat pilihan. Lebih dari itu, mereka ditanyai pendapat soal hal yang mereka inginkan! Untuk pertama kalinya dalam sejarah besar dunia, wanita diperbolehkan untuk mempraktikkan hak atas ‘kebebasan’nya di toserba dan mereka diperbolehkan untuk berbelanja apa saja. Atas dasar hal tersebut, kesenangan akan kebebasan berpendapat melalui berbelanja diteruskan ‘turun temurun’ kepada para wanita hingga di masa modern ini. Meskipun demikian, stereotipe seperti ini tidaklah mendefinisikan wanita seutuhnya.</p>



<p>Tidak seluruhnya dari stereotipe di atas menandakan ketidakbenaran mengenai perempuan. Dalam hal emosi sebagai contoh, adalah betul bahwa perempuan bisa jadi lebih emosional terutama ketika mengalami PMS karena adanya perubahan biologis dalam tubuhnya. Secara khusus, hal ini terjadi karena ketika periode menstruasi, kadar estrogen dan progesteron yang berubah akan mempengaruhi kadar serotonin, yakni hormon yang mengatur emosi seseorang (Watson, 2018). Rata-rata perempuan juga lebih banyak berbicara dibandingkan rata-rata pria, dengan perempuan bisa berucap hingga 20.000 kata per hari sementara lelaki 7.000 kata (Aponte, 2019) meskipun pada penelitian yang sama disebutkan bahwa perbedaan tersebut lebih berhubungan dengan status dibandingkan dengan gender.</p>



<p>Banyak pula penelitian yang menyebutkan bahwa perempuan memang lebih perasa dibandingkan lelaki karena secara fisiologis, wanita lebih baik dalam merespons penderitaan yang dirasakan orang lain (Christov-Moore &amp; Iacoboni, 2019). Kecenderungan perasa ini bahkan berpotensi menjadi sebuah keunggulan karena <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/24/praktik-penyempurnaan-welas-asih/">mempermudah perempuan mengembangkan welas asih</a>. Hal ini bahkan menjadi salah satu dasar bagi pernyataan Y.M.S. Dalai Lama XIV tentang pentingnya perempuan dalam tatanan masyarakat abad 21.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;Saya memanggil seluruh perempuan generasi masa depan untuk menjadi ibu dari revolusi welas asih yang amat sangat dibutuhkan abad ini. Kalian punya peran istimewa dalam menciptakan dunia yang lebih baik. Perempuan lebih berempati dan sensitif, lebih bisa merasakan perasaan orang lain. Pelajarilah sejarah dan kalian akan melihat bahwa laki-lakilah yang bertanggung jawab atas kekacauan dan kehancuran.&#8221;</p><cite><a href="https://web.facebook.com/DalaiLama/posts/10157115628442616?__xts__%5B0%5D=68.ARDTh3L3sh0KPFlZlDeeNy2acdNJD6eXyDwY3xkt2-t2eSlQHq8KdwnqrUpL1Khx3JbgNb85HI8ep3zokmjt9xdDLXt1sBRaVu_9FYy7bGv0FWD0EjxT8JAMgFsW0eMup1Fu6OoniHF5E1gfzb3CS5ill2wHfvOh-zpHHZl8fpDhygEnz86GAd9yH9zTULKfMprIu0vghDfZvu11AQMNXio6R5pam-ft4c-DwV8kVxBLwz3qY5eDdfDEDZz-ThqNktRiMzef_Ya1L7xtdPKbowyaLn69E3bAqE0Zv7Hw1QxXP6_OFUbQ00htVgaFC1-ONKGyHpeZTFe6ay26&amp;__tn__=-R">Y.M.S. Dalai Lama XIV</a></cite></blockquote>



<p>Terlepas dari faktor-faktor tersebut, Buddha sebenarnya pernah menjelaskan penyebab timbulnya perilaku-perilaku tersebut, bahkan lama sebelum artikel ini maupun penelitian lainnya dituliskan di dunia. Buddha berkata, adalah pikiran kita sendirilah yang membentuk perilaku, bahkan sifat kita. Bisa saja ada teman laki-laki kita yang sangat suka berbelanja, ketika di sisi lain, ada teman perempuan yang senangnya berdiam diri di rumah mengerjakan hal lain. Di belahan dunia lain, ada pula laki-laki yang lebih empatik, dan ada pula perempuan yang teramat cuek soal perasaan. Saat ini, banyak pembawa acara <em>infotainment</em> laki-laki menghiasi layar kaca dan perempuan yang berkarier sebagai pilot, yang notabene dikait-kaitkan sebagai pekerjaan maskulin. Oleh karena itu, dibandingkan dengan penyebab-penyebab di atas, klesha kita—kemelekatan, kebencian, ketidaktahuan batin—yang membelenggu kitalah yang banyak berperan terhadap terjadi dan ‘dibenarkan’-nya stereotipe-stereotipe tersebut. Saat wanita dicap lebih meledak-ledak dalam hal emosi, sesungguhnya hal ini tak terlepas dari sulitnya diri kita dalam mengendalikan klesha kemarahan dan kebencian dalam diri kita. Ketika kita sulit menghentikan diri saat berbelanja ke mall, lagi-lagi kegagalan kita akan pengendalian klesha kemelekatan dan keserakahanlah yang membuat baik perempuan maupun laki-laki, terus menerus mempertahankan kebiasaan buruk tersebut. Kecemasan dan rendahnya kepercayaan diri dengan status lajang karena merasa harus mengikuti apa kata masyarakat berakar dari pandangan salah mengenai ‘mayoritas selalu benar’ misalnya, yang menuntun entah perempuan maupun laki-laki untuk buru-buru mencari pasangan atas dasar ‘asalkan ada’ belaka.</p>



<p>Disadari atau tidak dan suka atau tidak, kita memiliki delusi bahwa mengikuti keinginan klesha akan membawa kita pada kebahagiaan. Kita merasa memuaskan hasrat dengan mengejar sebab-sebab di luar diri kita (contoh: berbelanja banyak barang agar merasa bahagia) akan membawa kita kepada kebahagiaan sejati. Akan tetapi, selalu sebab-sebab dalam dirilah—cara berpikir dan melihat berbagai hal—yang merupakan sebab kebahagiaan yang utama. Kita bisa merasa bahagia bahkan ketika lawan bicara kita begitu menyebalkan. Kita bisa tetap merasa cukup, bahkan ketika kita tidak membeli barang-barang yang kita inginkan di mall. Kita bisa merasa cantik, bahkan ketika wajah kita tidak sebening selebriti Korea Selatan. </p>



<p>Kendati demikian, adalah sebuah perjalanan panjang dan penuh lika-liku bagi kita untuk mengesampingkan berbagai stereotipe gender di masyarakat. PR ini memang harus dikerjakan bersama dalam masyarakat melalui usaha-usaha untuk memeperlakukan manusia sebagaimana adanya, bukan dari jenis kelamin semata. Namun, sebagai seorang individu, tetap ada hal yang bisa kita lakukan, yakni dengan berjuang mengendalikan pikiran dan klesha kita pribadi. Dagpo Rinpoche pernah berkata dalam salah satu ceramahnya bahwa melalui tubuh manusia yang berharga ini, kita memiliki potensi besar untuk mencapai apa pun yang kita tetapkan bagi diri sendiri. Namun, tak pernah ada hasil istimewa dari potensi tersebut jika kita tidak berusaha. Berjuang untuk mengurangi klesha dan mengembangkan faktor-faktor mental bajiklah yang pada akhirnya akan mampu mematahkan stereotipe-stereotipe tersebut, sebab sekali lagi—bukan karena Anda adalah laki-laki atau perempuan yang akan membenarkan pernyataan di atas, namun usaha Anda dalam menaklukkan batin Anda sendirilah yang akan membuktikan kebenarannya.</p>



<p>Sumber:<br>Pengenalan Batin &amp; Faktor-Faktor Mental oleh Guru Dagpo Rinpoche<br>Aponte, C. (2019). Do women really talk more than men?: What is the evidence? <em><a href="https://www.psychologytoday.com/us/blog/marriage-equals/201910/do-women-really-talk-more-men">Psychology Today.</a></em><br>Christov-Moore, L. &amp; Iacoboni, M. (2018). Sex differences in somatomotor representations of others’ pain: A permutation-based analysis. <em>Brain Structure and Function, 224, </em>937-947.<br>Watson, S. (2018). How to deal with premenstrual mood swings. <em><a href="https://www.healthline.com/health/pms-mood-swings#why-it-happens">Healthline. </a></em><br>Young-Eisendrath, P. (2011). Ladies, love to shop? I know why! <em><a href="https://www.psychologytoday.com/us/blog/living-love/201112/ladies-love-shop-i-know-why">Psychology Today.</a></em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/21/mengakhiri-kata-orang-tentang-perempuan/">Mengakhiri ‘Kata Orang’ Tentang Perempuan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/21/mengakhiri-kata-orang-tentang-perempuan/">Mengakhiri ‘Kata Orang’ Tentang Perempuan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perempuan Buddhis Itu&#8230;</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2018/04/23/perempuan-buddhis-itu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2018 15:42:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[harikartini]]></category>
		<category><![CDATA[kartini]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4015</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Selamat Hari Kartini! Yuk teruskan semangat Ibu Kartini untuk belajar dan mengembangkan diri~</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/04/23/perempuan-buddhis-itu/">Perempuan Buddhis Itu…</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/04/23/perempuan-buddhis-itu/">Perempuan Buddhis Itu&#8230;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-4016" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/a.jpg" alt="" width="1280" height="1280" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/a.jpg 1280w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/a-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/a-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/a-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/a-1024x1024.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/a-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/a-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/a-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/a-1200x1200.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /> <img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-4017" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/b.jpg" alt="" width="1280" height="1280" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/b.jpg 1280w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/b-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/b-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/b-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/b-1024x1024.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/b-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/b-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/b-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/b-1200x1200.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /> <img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-4018" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/c.jpg" alt="" width="1280" height="1280" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/c.jpg 1280w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/c-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/c-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/c-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/c-1024x1024.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/c-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/c-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/c-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/04/c-1200x1200.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /></p>
<p>Selamat Hari Kartini!<br />
Yuk teruskan semangat Ibu Kartini untuk belajar dan mengembangkan diri~</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/04/23/perempuan-buddhis-itu/">Perempuan Buddhis Itu…</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/04/23/perempuan-buddhis-itu/">Perempuan Buddhis Itu&#8230;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Selamat Hari Perempuan!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/03/17/selamat-hari-perempuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Mar 2017 06:18:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[#lamrim lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[hariperempuan]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[womansday]]></category>
		<category><![CDATA[womansday2017]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2953</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>&#8220;Kamu jangan cemen ah, kayak cewek aja!&#8221; Dari masa ke masa, kaum perempuan banyak mengalami tekanan, mulai dari ketidakadilan sosial kuno seperti terbatasnya kesempatan pendidikan dan kesempatan kerja, hingga sikap anti terhadap hal-hal berbau feminin di antara sebagian kaum perempuan sendiri. Sang Buddha mengajarkan bahwa semua makhluk setara. Semua berhak dan memiliki kemampuan untuk bebas [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/17/selamat-hari-perempuan/">Selamat Hari Perempuan!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/17/selamat-hari-perempuan/">Selamat Hari Perempuan!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone size-medium wp-image-2954" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17190923_1935925363302358_5101300917087883939_n-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17190923_1935925363302358_5101300917087883939_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17190923_1935925363302358_5101300917087883939_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17190923_1935925363302358_5101300917087883939_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17190923_1935925363302358_5101300917087883939_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17190923_1935925363302358_5101300917087883939_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17190923_1935925363302358_5101300917087883939_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17190923_1935925363302358_5101300917087883939_n.jpg 800w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>&#8220;Kamu jangan cemen ah, kayak cewek aja!&#8221;</p>
<p>Dari masa ke masa, kaum perempuan banyak mengalami tekanan, mulai dari ketidakadilan sosial kuno seperti terbatasnya kesempatan pendidikan dan kesempatan kerja, hingga sikap anti terhadap hal-hal berbau feminin di antara sebagian kaum perempuan sendiri.</p>
<p>Sang Buddha mengajarkan bahwa semua makhluk setara. Semua berhak dan memiliki kemampuan untuk bebas dari penderitaan. Lalat saja bisa pencerahan, apalagi perempuan! Apalagi perempuan m<span class="text_exposed_show">emiliki kelebihan dalam mengembangkan welas asih, salah satu elemen utama yang harus dikembangkan untuk mencapai Kebuddhaan. Kaum perempuan harus bangga menjadi perempuan. Jangan biarkan kata &#8216;perempuan&#8217; terus-terusan jadi ejekan!</span></p>
<div class="text_exposed_show">
<p>Ilustrasi oleh <a class="profileLink" href="https://www.facebook.com/jacinda.yusuf" data-hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=1096494614" data-hovercard-prefer-more-content-show="1">Jacinda Yusuf</a></p>
</div><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/17/selamat-hari-perempuan/">Selamat Hari Perempuan!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/17/selamat-hari-perempuan/">Selamat Hari Perempuan!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
