<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dalai Lama - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/dalai-lama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Oct 2023 08:23:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.17</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>Dalai Lama - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dalai Lama: Kenyataan Tentang Perang</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/10/09/dalai-lama-kenyataan-tentang-perang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Oct 2023 08:23:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=8563</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Menurut Y.M.S. Dalai Lama XIV, otak kita dicuci otak hingga berpikir perang adalah hal wajar. Seharusnya tidak demikian.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/10/09/dalai-lama-kenyataan-tentang-perang/">Dalai Lama: Kenyataan Tentang Perang</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/10/09/dalai-lama-kenyataan-tentang-perang/">Dalai Lama: Kenyataan Tentang Perang</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tidak dapat dipungkiri bahwa peperangan dan institusi militer skala besar adalah sumber terbesar kekerasan di dunia. Tidak peduli tujuannya melindungi diri sendiri atau bersikap proaktif, alasan keberadaan organisasi-organisasi besar nan berkuasa ini semata-mata demi mencabut nyawa makhluk lain. Kita mestinya memikirkan baik-baik mengenai perang di dunia nyata. Kebanyakan dari kita sudah dipengaruhi untuk berpikir bahwa pertarungan militer adalah sesuatu yang keren dan menarik, sebuah kesempatan untuk membuktikan kompetensi dan keberanian. Karena keberadaan pasukan tentara tidak melanggar hukum, kita merasa bahwa perang sah-sah saja terjadi; Secara umum, tidak ada orang yang menganggap perang sebagai kejahatan ataupun merasa bahwa menerima keberadaannya merupakan tindak-tanduk kriminal. Sesungguhnya, kita sudah dicuci otak. Perang tidak pernah keren atau menarik. Perang adalah kegilaan. Intisarinya adalah tragedi dan penderitaan.</p>



<p>Perang layaknya api dalam dunia manusia yang terus menyala dengan jiwa makhluk hidup sebagai bahan bakar. Saya rasa perumpamaan ini tepat dan berguna. Perang modern dilakukan menggunakan jenis api yang berbeda, tapi kita sungguh sudah dibiasakan membicarakan senjata ini dan itu sebagai kecanggihan teknologi yang seru dibahas tanpa mengingat bahwa bila senjata-senjata itu benar-benar digunakan, maka yang akan terbakar adalah manusia sungguhan. Perang juga mirip api dari caranya menyebar. Apabila ada daerah yang melemah, komandannya akan mengirimkan bala bantuan. Ini berarti melempar korban ke dalam kobaran api. Namun, karena kita sudah dikondisikan untuk merasa ini biasa, kita lupa pada penderitaan masing-masing prajurit. Tidak ada prajurit yang ingin terluka, apalagi mati. Tidak ada orang di sekitar mereka yang menginginkan orang tercintanya berada dalam marabahaya. Bila seorang prajurit terbunuh, atau lumpuh seumur hidup, maka setidaknya 5-10 orang di sekitarnya &#8211; keluarga dan teman-temannya &#8211;&nbsp; juga akan menderita. Kita seharusnya merasa ngeri akan luasnya jangkauan tragedi ini, tapi kita terlalu tersesatkan.</p>



<p>Jujur, ketika masih kecil, saya pun tertarik pada gugus militer. Seragamnya terlihat begitu indah dan rapi. Tapi memang beginilah awal mula godaannya. Anak-anak mulai bermain dengan hal-hal yang suatu hari akan membawa bencana bagi mereka. Ada banyak permainan yang lebih seru untuk dimainkan dan ada banyak kostum yang enak dipakai daripada hal-hal yang didasarkan pada pembunuhan sesama manusia. Sekali lagi, bila kita sebagai orang dewasa tidak begitu terbutakan oleh perang, kita akan melihat dengan jelas bahwa mengizinkan anak-anak kita terbiasa dengan permainan perang adalah sesuatu yang demikian mengenaskan. Beberapa mantan prajurit memberitahu saya bahwa ketika mereka menembak orang untuk pertama kalinya mereka merasa sangat tidak nyaman, tetapi lama kelamaan semuanya terasa biasa saja. Dengan cukup waktu, kita bisa terbiasa dengan apapun.</p>



<p>Institusi militer tidak hanya merusak di kala perang. Dari dasarnya, institusi seperti ini adalah pelanggar HAM terbesar, dan korbannya adalah para prajurit yang terus-menerus menderita di bawah penganiayaan. Setelah petinggi memberikan penjelasan berbunga-bunga tentang pentingnya ketentaraan, disiplin, dan pentingnya mendominasi lawan, hak-hak prajuritnya biasanya dipreteli sampai habis. Mereka dipaksa untuk melepas kesadaran pribadi, bahkan hidup mereka. Selain itu, setelah pasukan militer bertambah kuat, ada kesempatan bagi mereka untuk merampas kebahagiaan negeri yang mereka lindungi.</p>



<p>Ada orang-orang yang punya niat merusak di setiap komunitas, dan godaan untuk mendapat otoritas organisasi yang sanggup memenuhi hasrat mereka bisa jadi sulit ditampik. Namun, tidak peduli betapa jahat atau buruknya watak para diktator haus darah yang saat ini menjajah negeri mereka dan mengakibatkan masalah internasional, jelas bahwa mereka tidak mungkin mengancam hidup begitu banyak orang dan merusak hidup sekian banyak orang kalau mereka tidak punya organisasi militer yang diterima dan didukung oleh masyarakat. Selama ada militer yang kuat, selalu ada ancaman individu diktator. Apabila kita menganggap kediktatoran adalah bentuk pemerintahan yang menjijikkan dan merusak, maka kita harus menerima bahwa keberadaan institusi militer kuat adalah salah satu pilar pembentuknya.</p>



<p>Kegiatan militer sangatlah mahal. Mengejar perdamaian melalui kekuatan militer meletakkan beban yang demikian berat bagi masyarakat. Pemerintahan menghabiskan uang dalam jumlah besar untuk senjata nan canggih yang sebenarnya tidak diinginkan oleh siapapun. Tidak hanya uang, segala energi dan kecerdasan manusia yang berharga disia-siakan hanya untuk menyebar ketakutan.</p>



<p>Saya ingin memperjelas bahwa meski saya sangat menolak peperangan, saya tidak meminta orang-orang untuk menerima nasib begitu saja. Kadangkala diperlukan tindakan keras untuk melawan kekerasan semena-mena. Contohnya, jelas bahwa Perang Dunia II memang harus terjadi. Mengutip kata Winston Churchill, perang tersebut menyelamatkan umat manusia dari tirani Nazi Jerman. Dalam pandangan saya, Perang Korea juga tergolong benar, karena hal ini memberi Korea Selatan kesempatan mengembangkan demokrasi. Namun kita hanya bisa menilai apakah sebuah konflik berakar dari fondasi moral yang kokoh setelah waktu berlalu. Contohnya, saat ini kita bisa melihat bahwa menggunakan ancaman nuklir untuk menghalangi eskalasi dalam Perang Dingin ternyata ada benarnya. Demikian pun, sangat sulit untuk menilai hal-hal seperti ini dengan akurat. Perang adalah kekerasan dan kekerasan tidak bisa diprediksi, jadi lebih baik kita menghindarinya dan jangan pernah mengandai-andai kita akan tahu dari awal apakah hasil dari perang tertentu akan baik atau tidak.</p>



<p>Contohnya, dalam kasus Perang Dingin, meski ancamannya mungkin membantu mendorong banyak hal menuju kestabilan, kita tidak mendapat kedamaian sesungguhnya. Empat puluh tahun terakhir di Eropa memang tidak ada perang terjadi, tapi ini bukan perdamaian, namun sekadar harapan semu. Diusahakan bagaimanapun, menjaga perdamaian melalui kekuatan militer hanya bersifat sementara. Selama semua pihak tidak saling mempercayai, keseimbangan kekuatan dapat terdorong dengan mudah. Perdamaian sesungguhnya hanya bisa dicapai dengan dasar saling percaya dengan tulus.</p>



<p>Sumber: <a href="https://www.dalailama.com/messages/world-peace/the-reality-of-war" target="_blank" rel="noreferrer noopener">dalailama.com &#8211; “The Reality of War”</a></p>



<p>Diterjemahkan oleh Lisa Santika Onggrid</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/10/09/dalai-lama-kenyataan-tentang-perang/">Dalai Lama: Kenyataan Tentang Perang</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/10/09/dalai-lama-kenyataan-tentang-perang/">Dalai Lama: Kenyataan Tentang Perang</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dalai Lama: Uluran Bantuan untuk Upaya Pertolongan dan Pemulihan di Turki dan Suriah￼</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/02/09/dalai-lama-uluran-bantuan-untuk-upaya-pertolongan-dan-pemulihan-di-turki-dan-suriah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2023 04:17:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa Turki Suriah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7849</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV mengulurkan bantuan untuk upaya pertolongan dan pemulihan gempa bumi yang melanda Turki dan Suriah.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/09/dalai-lama-uluran-bantuan-untuk-upaya-pertolongan-dan-pemulihan-di-turki-dan-suriah/">Dalai Lama: Uluran Bantuan untuk Upaya Pertolongan dan Pemulihan di Turki dan Suriah￼</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/02/09/dalai-lama-uluran-bantuan-untuk-upaya-pertolongan-dan-pemulihan-di-turki-dan-suriah/">Dalai Lama: Uluran Bantuan untuk Upaya Pertolongan dan Pemulihan di Turki dan Suriah￼</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Thekchen Chöling, Dharamsala, HP, India &#8211; Berduka atas berita yang Beliau terima mengenai gempa bumi yang mengguncang Turki dan Suriah serta mengakibatkan begitu banyak korban jiwa dan luka-luka, Yang Maha Suci Dalai Lama telah mengirim surat ke Direktur Eksekutif World Food Programme.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Saya turut berduka cita kepada semua keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih dan saya berdoa untuk semua pihak yang terdampak tragedi ini,&#8221; tulis Beliau.</p></blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;Namun demikian, kita patut berbesar hati mendengar bahwa selain tim medis yang dikoordinasi PBB, ada banyak negara dan NGO dari seluruh penjuru dunia yang mengirimkan bantuan demi upaya pertolongan dan pemulihan di area bencana.</p><p>Sebagai wujud solidaritas saya dengan warga Turki dan Suriah yang terkena dampak tragedi ini, saya telah meminta Yayasan Gaden Phodrang Foundation Dalai Lama untuk memberikan sumbangan untuk upaya pertolongan dan pemulihan.&#8221;</p></blockquote>



<p>Sumber: <a href="https://www.dalailama.com/news/2023/offering-support-to-rescue-and-relief-efforts-in-turkey-and-syria">dalailama.com</a><br>Diterjemahkan oleh Rakaputra Paputungan</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/09/dalai-lama-uluran-bantuan-untuk-upaya-pertolongan-dan-pemulihan-di-turki-dan-suriah/">Dalai Lama: Uluran Bantuan untuk Upaya Pertolongan dan Pemulihan di Turki dan Suriah￼</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/02/09/dalai-lama-uluran-bantuan-untuk-upaya-pertolongan-dan-pemulihan-di-turki-dan-suriah/">Dalai Lama: Uluran Bantuan untuk Upaya Pertolongan dan Pemulihan di Turki dan Suriah￼</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dalai Lama kepada Pelajar Indonesia: “Gabungkan Kebijaksanaan dan Welas Asih”</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dalai-lama-ndbf/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2021 14:55:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[kebijaksanaan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[NDBF 3.0]]></category>
		<category><![CDATA[Nusantara Dharma Book Festival 3.0]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6183</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalai Lama memberikan solusi untuk kegalauan generasi muda Indonesia, yaitu welas asih &#038; kebijaksanaan di NDBF 3.0</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dalai-lama-ndbf/">Dalai Lama kepada Pelajar Indonesia: “Gabungkan Kebijaksanaan dan Welas Asih”</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dalai-lama-ndbf/">Dalai Lama kepada Pelajar Indonesia: “Gabungkan Kebijaksanaan dan Welas Asih”</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Rabu, 11 Agustus 2021 – Penerima Nobel Perdamaian 1989 Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menjawab pertanyaan pelajar Indonesia tentang cara mengatasi kecemasan dan emosi negatif dalam acara daring “Grand Buddha Goes to School – Heart to Heart Conversation with His Holiness Dalai Lama XIV”.&nbsp;</p>



<p>Beliau “berkunjung” atas undangan Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN/Lamrimnesia) yang bekerja sama dengan komunitas Buddhis Kadam Choeling Indonesia (KCI) untuk berbagi wawasan kepada generasi muda di Indonesia tentang Jataka Mala, karya sastra Buddhis klasik yang terukir di Candi Borobudur.</p>



<p>Acara yang dimulai pukul 10.30 WIB ini dihadiri sekitar 1000 pelajar dari 60 sekolah, universitas, dan organisasi via aplikasi Zoom serta disaksikan lebih dari 2000 penonton umum di Indonesia via situs dan Youtube Lamrimnesia, termasuk perwakilan Y.M. Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera dari Sangha Theravada Indonesia dan Tim Staf Khusus Presiden RI. </p>



<p>Acara ini juga disiarkan dalam 16 bahasa kepada lebih dari 30.000 peserta mancanegara via media sosial resmi Dalai Lama. Acara dimoderatori oleh penulis dan musisi Dewi Lestari. Aktor Morgan Oey juga hadir dan memimpin persembahan mandala untuk memohon pengajaran Dharma.</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV kemudian memberikan pemaparan singkat mengenai nilai-nilai Buddhis secara umum, dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan dari pelajar Indonesia yang mencakup beragam topik seperti pandemi, sejarah dan budaya, toleransi dalam beragama, hingga kecemasan yang umum dialami remaja.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1024" height="576" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-6191" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-1024x576.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-768x432.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-150x84.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-450x253.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-1200x675.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h4><strong>Keharmonisan dalam Beragama</strong></h4>



<p>“Salah satu komitmen saya adalah mendukung keharmonisan beragama,” tutur Y.M.S. Dalai Lama XIV saat membuka sesi, “Semua agama mengandung pesan yang sama, yaitu cinta kasih dan kebaikan hati.”</p>



<p>Dalam penjelasan pembuka, Y.M.S. Dalai Lama XIV secara khusus mengajak umat Buddha di Indonesia untuk aktif mempromosikan semangat persatuan umat manusia dan keharmonisan dalam beragama.&nbsp;</p>



<p>Sehubungan dengan topik ini, Beltran Dano (20) dari Bandung bertanya di sesi tanya-jawab tentang cara umat Buddha yang merupakan minoritas di Indonesia menghadapi tekanan kelompok intoleran dari agama mayoritas. Y.M.S. Dalai Lama XIV mengatakan bahwa umat Buddha memiliki kesempatan yang sangat baik untuk belajar mengembangkan welas asih dan membagikan nilai kebaikan universal dari Buddhadharma kepada orang lain.</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV mencontohkan sahabat-sahabatnya yang bukan Buddhis bisa mendapatkan manfaat dari Buddhisme. Buddhadharma memang mengambil pandangan ilmiah tentang pikiran dan emosi. Tradisi Nalanda secara khusus memuat metode mengurangi emosi negatif dan meningkatkan emosi positif sehingga kita bisa meraih kesehatan batin dan lebih bahagia. Ini bisa bermanfaat bagi siapapun yang tertarik untuk mempelajarinya tanpa perlu membuat komitmen keagamaan. Jadi, sebagai umat Buddha, kita bisa membagikan hal ini dengan saudara-saudara kita yang beragama lain untuk turut menciptakan dunia yang lebih damai.</p>



<p>“Dengan pengetahuan mendalam dipadukan dengan cinta kasih dan welas asih, anda akan mencapai kemajuan dan bisa berbagi dengan saudara sebangsa. Dengan begitu Anda bisa membangun keharmonisan,” pesan Y.M.S. Dalai Lama XIV.</p>



<p><em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/bertuhan-beragama-dan-hal-hal-lain-yang-belum-selesai/">Jelajahi nilai mendasar dalam Buddhisme biar kamu bisa berbagi!</a></em></p>



<h4><strong>Menghadapi Kecemasan Generasi Muda</strong></h4>



<p>Langit Jingga (17) dari Bali bertanya dalam bahasa Tibet tentang cara membantu orang-orang yang merasa cemas dan takut akibat pandemi. Menjawab pertanyaan ini, Y.M.S. Dalai Lama XIV mengingatkan kita tentang ketidakkekalan, bahwa pandemi maupun berbagai permasalahan lain yang sedang terjadi di dunia ini suatu saat akan berakhir. Oleh karena itu, apapun yang terjadi, kita tidak boleh berputus asa dan harus mempertahankan harapan.</p>



<p>“Kalau sampai putus asa, maka di sanalah letak kegagalan yang sebenarnya,” tegas Beliau.</p>



<p>Pertanyaan lain yang sangat relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini datang dari Keenan Avalokita (17). Keenan bertanya tentang cara menyeimbangkan antara menjadi diri sendiri dan berusaha diterima orang lain. Baginya, ini adalah dilema yang bisa membuat dirinya murung dan dicap negatif oleh orang-orang di sekitarnya.</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV menanggapi pertanyaan ini dengan menceritakan sedikit sejarah Tibet dan pengalaman Beliau sendiri sebagai pengungsi dari Tibet yang harus pindah ke negara baru. Beliau mengatakan bahwa selama kita menggunakan kebijaksanaan dan memiliki hati yang penuh welas asih, kita tidak perlu ragu mempertahankan nilai-nilai yang kita anut. Walaupun awalnya orang-orang di sekitar kita memiliki pandangan lain, lama-kelamaan mereka pasti bisa memahami kita dan bahkan mendukung nilai-nilai tersebut.</p>



<p>“Kami orang Tibet adalah orang-orang yang teguh dan berani,” ujar Beliau, “tetapi itu tidak berarti kami menggunakan kekerasan. Semangat Tibet kami adalah keteguhan dan welas asih, kualitas-kualitas yang telah menarik kekaguman bahkan di antara beberapa orang Cina.”</p>



<p><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari/"><em>Ubah kegalauanmu menjadi keberanian &amp; welas asih dengan buku ini.</em></a></p>



<h4><strong>Candi Borobudur dan Candi di Hati Kita</strong></h4>



<p>Indivara Chaesa Putri (16) bertanya kepada Y.M.S. Dalai Lama XIV tentang cara melestarikan Candi Borubudur dan kapan Beliau bisa berkunjung ke sana.&nbsp;</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV mengatakan bahwa Candi Borobudur adalah candi luar biasa. Candi ini memuat ajaran berdasarkan tradisi yang sama dengan yang Beliau anut, yaitu Tradisi Nalanda. Namun, penting bagi kita untuk mengisi “candi” yang ada di dalam diri kita, yaitu batin, dengan cinta kasih dan welas asih. Jika “candi” dalam diri kiri kita kosong, maka candi semegah Borobudur pun juga menjadi candi kosong yang tak bernilai.</p>



<p><em><a href="https://lamrimnesia.org/2021/04/30/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Baca juga: &#8220;Memaknai Borobudur dengan Keyakinan&#8221;</a></em></p>



<h4><strong>Praktik Dharma Dulu dan Kini</strong></h4>



<p>Pertanyaan menarik lainnya datang dari Reyhans Luthfi Hudoyo (19), mahasiswa STABN Sriwijaya Tangerang. Reyhans membandingkan kondisi kita saat ini dengan orang-orang di zaman Sang Buddha yang tampaknya begitu mudah meraih tingkat kesucian hanya dengan sekali mendengarkan pengajaran Dharma, lalu meminta nasihat dari Y.M.S. Dalai Lama XIV tentang cara melatih batin di masa kini.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6193" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-scaled-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV menyatakan bahwa Beliau tidak percaya bahwa tingkat kesucian bisa diraih tanpa upaya. Bahkan Pangeran Siddhartha pun harus berjuang keras selama 6 tahun, baru bisa meraih penerangan sempurna.&nbsp;</p>



<p>Beliau kemudian mengajarkan cara praktik Dharma untuk melatih batin di masa kini yang juga menjawab pertanyaan-pertanyaan berikutnya seputar mengelola ekspektasi dan meraih kedamaian batin di tengah semakin banyaknya distraksi akibat perkembangan zaman.</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV menjelaskan bahwa murid-murid Sang Buddha mulai dari belajar atau mendengarkan pengajaran Dharma, merenungkannya untuk meningkatkan pemahaman, lalu memeditasikannya dengan menerapan <em>samatha&nbsp; </em>(kestabilan batin) dan <em>wipashyana </em>(pandangan mendalam) dalam perenungannya. Dari situ, barulah batin mereka berubah secara mendalam.</p>



<p>Lebih lanjut, Y.M.S. Dalai Lama XIV menjelaskan bahwa sebab penderitaan kita adalah sikap mementingkan sendiri. Ini bisa diatasi dengan memeditasikan kesalingbergantungan yang bisa dipelajari melalui filsafat Madhyamika. Beliau kemudian memberi “tips” melatih batin. Pertama, kita perlu mengendalikan diri agar tidak gampang terseret oleh kesadaran indra. Dari situ, kita bisa melatih kestabilan batin.&nbsp;</p>



<p>Dengan batin yang stabil, kita bisa menggunakan kecerdasan untuk mengamati diri kita sendiri dan mempertanyakan di mana letaknya “aku”. Semakin banyak kita belajar dan berlatih, kita akan bisa melihat kebenaran, bahwa tidak ada “aku” yang berdiri sendiri yang selama ini menjadi akar dari semua emosi negatif seperti kemelekatan dan kecemburuan yang membuat kita menderita.</p>



<p>“Berlandaskan pada aktivitas belajar, setelah belajar kita berdoa, dan mengembangkan kapasitas pribadi kita hingga maksimal, kita semua memiliki kemungkinan untuk mencapai Kebuddhaan,” terang Y.M.S. Dalai Lama XIV</p>



<p><em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product-category/toko-buku-online/buddhis/lamrim/">Mulai praktik belajar, merenung, dan meditasimu dengan panduan lengkap ini.</a></em></p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV juga mengutip tiga ayat dari &#8216;Memasuki Jalan Tengah&#8217; (Madhyamakavatara) karya Chandrakirti berkenaan dengan proses melatih batin dengan Dharma yang telah Beliau jelaskan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Diterangi oleh berkas-berkas cahaya kebijaksanaan,</em><br><em>Bodhisatwa melihatnya sejelas buah amalaki di telapak tangan yang terbuka,</em><br><em>Bahwa ketiga alam di keseluruhannya tidak terlahirkan sejak dari awalnya,Dan melalui kekuatan kebenaran konvensional, ia menempuh perjalanan menuju penghentian.</em><br><br><em>Walau batinnya mampu menetap terus-menerus dalam penghentian,</em><br><em>Beliau juga membangkitkan welas asih untuk para makhluk yang tak memiliki perlindungan,</em><br><em>Melaju maju lebih jauh lagi, Beliau juga bersinar cemerlang melalui kebijaksanaannya,</em><br><em>Semua yang lahir dari ucapan Buddha dan Buddha-Buddha menengah.</em><br><br><em>Laksana para raja angsa menjulang ke depan melampaui angsa-angsa ahli lainnya,</em><br><em>Dengan sayap-sayap putih kebenaran konvensional dan tertinggi yang berkembang lebar,</em><br><em>Didorong oleh kekuatan angin-angin kebajikan, Bodhisatwa akan menyeberangi</em><br><em>Hingga pantai seberang yang unggul, samudra kualitas-kualitas Para Penakluk.”</em></p><cite>&#8220;Memasuki Jalan Tengah&#8221; (<em>Madhyamakavatara</em>) &#8211; Arya Chandrakirti</cite></blockquote>



<p><strong>Pentingnya Bodhicita, Kunci Kebahagiaan Warisan Nusantara</strong></p>



<p>Sebelum mengakhiri sesi, Y.M.S. Dalai Lama XIV mengajak peserta melakukan meditasi welas asih bersama-sama. Beliau kemudian memberikan penjelasan tentang pentingnya bodhicita yang bisa didefinisikan sebagai sikap altruistik yang mementingkan makhluk lain. Bodhicita ini penting bagi kita untuk mengumpulkan kebajikan dan sikap positif. Dengan bodhicita, barulah kita bisa memenuhi tujuan diri kita sendiri dan semua makhluk.</p>



<p>“Kisah luar biasa dalam Jataka muncul dari bodhicita. Dengan bodhicita, kita bisa mengumpulkan kebajikan luar biasa. Dari kebajikan luar biasa, kita bisa menghimpun kebijaksanaan luar biasa. Dari kebajikan dan kebijaksanaan ini, Kebuddhaan bisa dicapai,” terang Y.M.S. Dalai Lama XIV.</p>



<p>Bodhicita inilah yang menggerakkan Bodhisatwa untuk melakukan berbagai aktivitas untuk menolong orang lain dan membangkitkan tekad untuk mencapai Kebuddhaan. Ini sejalan dengan nasihat dari Arya Shantidewa dalam karyanya, “Lakon Hidup Sang Penerang” (Bodhisatwa-caryawatara):</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Seseorang yang tak menukar kebahagiaannya dengan penderitaan makhluk lain pastinya tak akan meraih Kebuddhaan. Bagaimana ia bisa meraih kebahagiaan dalam samsara?</em><br><br><em>Dengan menaiki kereta perang bodhicita, yang menghalau semua perasaan putus asa dan letih, orang berakal mana yang akan patah semangat selagi ia melaju melewati kegembiraan demi kegembiraan?”</em></p><cite>&#8220;Lakon Hidup Sang Penerang&#8221; <em>(Bodhisatwa-caryawatara)</em> &#8211; Arya Shantidewa</cite></blockquote>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV kemudian kembali memberikan tips yang bisa kita terapkan: ketika kita sudah bertekad untuk membantu makhluk lain, melayani makhluk lain, kita bisa membangkitkan tekad seperti Arya Shantidewa:&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Selama angkasa masih ada,&nbsp;</em><br><em>dan selama semua makhluk masih ada,&nbsp;</em><br><em>semoga saya bisa menetap di dunia ini&nbsp;</em><br><em>untuk mengatasi penderitaan semua makhluk.”&nbsp;</em></p><cite>&#8220;Lakon Hidup Sang Penerang&#8221; (<em>Bodhisatwa-caryawatara</em>) &#8211; Arya Shantidewa</cite></blockquote>



<p>Saat mengakhiri sesi, Y.M.S. Dalai Lama memberitahu kita semua bahwa instruksi tentang bodhicita ini merupakan ajaran dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti (B. Tibet: Lama Serlingpa), guru Dharma asal Nusantara yang hidup pada abad X. Guru Atisha Dipamkara, pandit besar dari India yang belakangan mereformasi Buddhadharma di Tibet, secara khusus berlayar ke Indonesia untuk mempelajari ajaran ini dari Guru Suwarnadwipa.</p>



<p><em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/untaian-kelahiran-yang-berharga/">Yuk kenalan dengan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti!</a></em></p>



<p><strong>Pembuka Festival Buku Dharma</strong></p>



<p>“Grand Buddha Goes to School – Heart to Heart Conversation with His Holiness Dalai Lama XIV” merupakan acara pembuka dari rangkaian Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 3.0 yang diselenggarakan oleh Lamrimnesia. Dengan tema khusus “Membaca untuk Meningkatkan Ketangguhan Mental di Kala Pandemi”, NDBF 3.0 menghadirkan bazar buku, seminar, bedah buku, dan <em>workshop </em>yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca generasi muda Indonesia. Seluruh acara diselenggarakan secara daring di situs NDBF &amp; media sosial Lamrimnesia.</p>



<p>&#8212;</p>



<p>“Grand Buddha Goes to School: Heart to Heart Conversation with His Holiness Dalai Lama XIV” adalah acara pertama dalam rangkaian Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 3.0.</p>



<p>Ikuti bazar buku, seminar, bedah buku, dan <em>workshop </em>istimewa lainnya di NDBF 3.0 yang pastinya tak kalah inspiratif dan bisa meningkatkan ketangguhan batinmu di kala pandemi.</p>



<p>Kunjungi <a href="http://ndbf.lamrimnesia.com">ndbf.lamrimnesia.com</a> &amp; ikuti media sosial Lamrimnesia untuk mendapatkan informasi &amp; kabar terbaru seputar NDBF 3.0!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dalai-lama-ndbf/">Dalai Lama kepada Pelajar Indonesia: “Gabungkan Kebijaksanaan dan Welas Asih”</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dalai-lama-ndbf/">Dalai Lama kepada Pelajar Indonesia: “Gabungkan Kebijaksanaan dan Welas Asih”</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dialog Dalai Lama Bersama Siswa-Siswi Indonesia</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dialog-dalai-lama-bersama-siswa-siswi-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2021 08:57:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[NDBF 3.0]]></category>
		<category><![CDATA[Nusantara Dharma Book Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Serlingpa Dharmakirti]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6177</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Rangkuman dialog Y.M.S. Dalai Lama XIV dengan 1000 pelajar Indonesia di Grand Buddha Goes to School, Nusantara Dharma Book Festival 3.0</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dialog-dalai-lama-bersama-siswa-siswi-indonesia/">Dialog Dalai Lama Bersama Siswa-Siswi Indonesia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dialog-dalai-lama-bersama-siswa-siswi-indonesia/">Dialog Dalai Lama Bersama Siswa-Siswi Indonesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Thekchen Chöling, Dharamsala, HP, India &#8211; Pagi ini, Dewi Lestari, seorang penulis dan penyanyi Indonesia, menyambut Yang Maha Suci Dalai Lama XIV untuk berbincang dengan lebih dari 1000 pelajar Indonesia. Tema dialog ini adalah Kisah Jataka atau kisah-kisah kehidupan-kehidupan lampau Sang Buddha, yang tercatat dalam buku “Jataka Mala”, atau “Untaian Kisah Kelahiran”, yang diukirkan di Candi Borobudur. Acara ini adalah pembuka rangkaian Nusantara Dharma Book Festival yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN) bekerja sama dengan komunitas Kadam Choeling Indonesia.</p>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV memulai acara dengan mengucapkan terima kasih kepada seorang aktor Indonesia yang telah membuat persembahan mandala tradisional dan mengucapkan “selamat pagi” kepada para pendengar.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/sehC6hf9kWcMpoUng6ZWXoOXUCgVW6x_xzhVvMxhgfwtBdeIs5xIYPhp_qwBBR7YW1tuuj8tgFi-AP721Xe4uuYy9YW8oDPALLX9RRSB8Hnlw_iMUWc5__pVCFgHlz0kvKfFONiu" alt=""/></figure>



<p>Aktor Indonesia Morgan Oey membuat persembahan mandala tradisional di awal dialog daring Yang Maha Suci Dalai Lama XIV dengan siswa-siswi Indonesia dari kediaman Beliau di Dharamsala, HP, India pada 11 Agustus 2021. Foto oleh Y.M. Tenzin Jamphel</p>



<h4><strong>Agama dan Cinta Kasih Universal</strong></h4>



<p>“Hari ini,” lanjutnya, “Saya menantikan diskusi dengan pemuda-pemudi Indonesia, yang beberapa di antaranya memiliki minat pada agama Buddha. Saya seorang praktisi Buddhis, dan salah satu komitmen saya adalah mempromosikan kerukunan antar umat beragama. Semua tradisi agama kita yang berbeda, entah kita berbicara mengenai agama Hindu, Kristen, Yahudi, Islam, atau Buddha, membawa pesan umum tentang pentingnya cinta kasih. Mereka masing-masing menggunakan pandangan filosofis yang berbeda untuk memperkuat rasa altruisme, kepedulian terhadap orang lain. Beberapa kepercayaan menyatakan adanya Tuhan, sementara yang lainnya fokus pada hukum kausalitas. Tujuan sebenarnya dari semua agama tersebut adalah untuk membantu pengikut mereka menjadi orang yang lebih baik dan lebih berwelas asih.</p>



<p>“Berkenaan dengan Tuhan pencipta, agama Kristen menggambarkannya sebagai makhluk dengan cinta yang tak terbatas. Agama Islam berbicara tentang Tuhan yang pengasih dan penyayang. Yahudi mengacu pada Tuhan yang adil. Jainisme dan Buddhisme di sisi lain tidak memiliki konsep tentang Tuhan pencipta, tetapi keduanya tetap bertujuan untuk melatih manusia menjadi benar-benar welas asih.</p>



<p>“Di India tempat saya tinggal, ada semua agama besar dunia. Dan mereka telah hidup berdampingan secara harmonis selama lebih dari seribu tahun.</p>



<p>“Hari ini, saya senang bertemu saudara dan saudari dari negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Apakah kita menerima agama atau tidak adalah masalah pilihan diri kita pribadi. Kita semua adalah manusia. Kita memperoleh manfaat dari kasih sayang dan perhatian ibu kita dari sejak lahir. Tentu saja, tanpa kasih sayang dan cinta kasihnya, kita tidak akan bertahan.</p>



<p>“Dewasa ini, kita menghadapi masalah-masalah dan konflik-konflik karena kita tidak memiliki rasa persaudaraan yang sepatutnya. Kita mengabaikan nilai-nilai dasar kemanusiaan kita. Kita mencoba untuk menyelesaikan perselisihan dan perbedaan pendapat dengan menggunakan kekerasan. Namun, saya percaya bahwa sebagian besar manusia sudah muak dengan kekerasan dan perang. Konsekuensinya, umat beragama memiliki tanggung jawab untuk mempromosikan cinta kasih. Kita harus hidup bersama di planet ini, jadi kita harus berupaya untuk membuat dunia ini menjadi lebih damai.</p>



<h4><strong>Teladan Jataka Mala</strong></h4>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV mengakui adanya minat khusus beberapa orang Indonesia terhadap 34 kisah Jataka yang menceritakan kehidupan-kehidupan lampau Sang Buddha. Penulisnya, Aryashura, pada mulanya bukan seorang Buddhis, tetapi seorang terpelajar yang cerdas dari tradisi lain. Pada saat itu, para cendekiawan Universitas Nalanda merasa gelisah bahwa ia mungkin akan mengalahkan mereka dalam debat sehingga mereka meminta bantuan Arya Nagarjuna. Beliau mengirim salah satu muridnya yang paling terampil, Aryadewa, yang meyakinkan Aryashura mengenai validitas ajaran Buddha. Selanjutnya, di akhir hidupnya, Aryashura, yang juga seorang penyair terkenal, menggubah &#8216;Untaian Kisah Kelahiran&#8217; ini dengan merdu dalam bahasa Sansekerta.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/NeR6Big1DPjMMpoqTG9299asaSsaofKiXhv43WJEbGZTZLduLD9oyf-R0qz77xivQfs-MUxcWZUFaUCUb3WFsfsMKCbvjFfErSgpES8Jn178EQmfFKVHihQ-AlQyoJlAGa-KBr1J" alt=""/></figure>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV berbicara kepada hadirin virtual selama dialog daring dengan siswa-siswi Indonesia dari kediamannya di Dharamsala, HP, India pada 11 Agustus 2021. Foto oleh Y.M. Tenzin Jamphel</p>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV berkata bahwa kisah-kisah tersebut memang indah untuk dibaca, tetapi terkadang Beliau merasa cerita-cerita itu terlalu dibumbui. Poin penting yang perlu diperhatikan adalah moral cerita, yakni kesempurnaan, kedermawanan, etika, dan kesabaran yang dicontohkan oleh Bodhisatwa. Yang mendasari semua kisah tersebut adalah konsep India kuno tentang “karuna” dan “ahimsa”—welas asih dan tanpa-kekerasan. Tema-tema ini, tutur Beliau, umum untuk sebagian besar agama, tetapi terlepas dari kita mengikuti tradisi suatu agama atau tidak, kita semua harus memiliki hati yang hangat dan welas asih jika kita ingin bahagia.</p>



<p>Menjawab pertanyaan dari hadirin, Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menjelaskan bahwa mengorbankan hidup Anda demi orang lain, seperti yang dilakukan Bodhisatwa dalam beberapa kisah, adalah tindakan bermakna jika menghasilkan manfaat yang nyata. Beliau menambahkan bahwa dibutuhkan kecerdasan dan pikiran yang jernih untuk menilai manfaat apa yang akan didapat dari tindakan tersebut.</p>



<p>Terkait dengan krisis-krisis yang dihadapi dunia saat ini, yaitu pandemi virus corona dan pemanasan global, terdapat beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak negatifnya. Akan tetapi, kita harus berani dan tegas. Kita tidak boleh putus asa atau berhenti mengambil tindakan.</p>



<h4><strong>Candi di Hati Kita</strong></h4>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV mengenang kunjungan Beliau ke Borobudur. Beliau menggambarkan stupa Borobudur sebagai candi yang indah, tetapi menyatakan bahwa yang lebih penting adalah candi batin hati kita tempat kita memupuk welas asih dan cinta kasih. Jika kita menggabungkannya dengan kecerdasan manusia kita yang luar biasa, kita dapat menciptakan dunia yang lebih bahagia, tidak hanya melalui doa, tetapi dengan melakukan tindakan nyata.</p>



<h4><strong>Kejujuran &amp; Kasih Sayang yang Menginspirasi</strong></h4>



<p>Beliau mendapat pertanyaan mengenai cara menghadapi hal-hal negatif dan menyarankan untuk berpegang pada prinsip-prinsip moral kejujuran dan kasih sayang. Beliau menyebutkan mengenai kesulitan yang Beliau hadapi dalam hidup-Nya sendiri, di Tibet dan kemudian sebagai pengungsi, tetapi mengungkapkan bahwa Beliau terus berlatih sesuai dengan Tradisi Nalanda yang diperkenalkan oleh Shantarakshita di Tibet.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kami orang Tibet adalah orang-orang yang teguh dan berani,” ujar Beliau, “tetapi itu tidak berarti kami menggunakan kekerasan. Semangat Tibet kami adalah keteguhan dan welas asih, kualitas-kualitas yang telah menarik kekaguman bahkan di antara beberapa orang Cina.”</p></blockquote>



<h4><strong>Tibet, Indonesia, dan Guru Dharma Nusantara</strong></h4>



<p>Seorang pemuda mengajukan pertanyaan tentang hubungan antara Indonesia dan Tibet dalam bahasa Tibet. Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menjawab bahwa guru India, Atisha Dipamkara, berlayar dari India ke Sumatra untuk belajar tentang bodhicita dengan seorang guru bernama Dharmakirti. Pada waktu itu, Atisha menerima undangan untuk mengunjungi Tibet tempat Beliau menghabiskan sisa hidupnya. Dharmakirti dikenang oleh orang Tibet hari ini sebagai Lama Serlingpa, Guru dari Pulau Emas (Suwarnadwipa). Yang Maha Suci Dalai Lama XIV berkomentar bahwa mengingat perjalanan Atisha yang ekstensif, saat ini jauh lebih mudah untuk bertukar pandangan dan berbagi pengetahuan satu sama lain.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/QUvcHHNp632XiiF5LXC9cYoDLHBQGgERo6VGiw3B6quU7K5AjIaJ1crEugquw_v-BW-x2sI2QF70oEaDY4jkPX9x_ayPCYKFL-43Te967RZEOyDz4ze-xGiTmAvCzgBAvV2M9RWU" alt=""/></figure>



<p>Seorang peserta audiensi virtual mengajukan pertanyaan kepada Yang Maha Suci Dalai Lama XIV selama dialog daring dengan siswa-siswi Indonesia dari kediaman Beliau di Dharamsala, HP, India pada 11 Agustus 2021. Foto oleh Y.M. Tenzin Jamphel</p>



<h4><strong>Kiat Buddhis Menghadapi Ekstremisme</strong></h4>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV tidak mengatakan mana dari &#8216;Kisah Jataka&#8217; yang menurut Beliau paling menginspirasi. Poin kuncinya, tegas Beliau, adalah mengakui kesatuan kemanusiaan; untuk menyadari bahwa kita semua adalah sama sebagai manusia. Dari sudut pandang praktis, kita semua bergantung satu sama lain dan kita dapat melayani satu sama lain atas dasar hal itu.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Saya orang Tibet, yang tinggal di India. Saya menganggap setiap manusia yang saya temui seperti saudara atau saudari bagi saya. Berkelahi tidak ada gunanya dan merugikan diri sendiri. Kita harus menemukan cara untuk hidup berdampingan dan hidup bersama dalam damai.”</p></blockquote>



<p>Diundang untuk mengomentari mengenai cara sebuah komunitas minoritas menghadapi ekstremisme, Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menyetujui bahwa di antara orang-orang yang terisolasi di masa lalu, mungkin terasa tepat untuk berbicara mengenai satu kebenaran dan satu agama. Namun hari ini, situasinya telah berubah dan kita semua mengetahui adanya berbagai tradisi agama serta banyaknya aspek mengenai kebenaran.</p>



<p>Salah satu kualitas Buddhisme adalah bahwa Buddhisme mengambil pandangan ilmiah tentang pikiran dan emosi kita serta mampu menjelaskan cara-cara untuk mencapai kedamaian pikiran. Tradisi Nalanda memuat metode-metode untuk mengurangi emosi negatif dan meningkatkan emosi positif. Psikologi Buddhis dapat bermanfaat bagi siapa saja yang tertarik untuk menjelajahinya tanpa harus membuat komitmen keagamaan apa pun. Hal ini, tegas Yang Maha Suci Dalai Lama XIV, adalah salah satu cara Buddhisme dapat berkontribusi untuk menciptakan dunia yang lebih damai.</p>



<h4><strong>Praktik Dharma Dulu dan Kini: Belajar, Merenung, Meditasi</strong></h4>



<p>Menanggapi pengamatan bahwa tampaknya lebih mudah untuk mencapai realisasi pada zaman Sang Buddha, Yang Mulia menyatakan bahwa Beliau tidak percaya siapapun menjadi tercerahkan secara spontan ketika mereka mendengarkan Sang Buddha. Beliau menunjukkan bahwa Sang Buddha sendiri telah menghabiskan enam tahun dalam meditasi yang ketat sebelum mencapai Kebuddhaan. Beliau menjelaskan bahwa orang-orang mendengarkan yang Buddha katakan, dan merenungkannya untuk meningkatkan pemahaman mereka. Kemudian, mereka memeditasikan hal yang telah mereka pahami, menerapkan konsentrasi dan pandangan mendalam, yang pada gilirannya memungkinkan mereka mengubah batin.</p>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menyarankan bahwa Jalan Tengah (Madhyamaka) adalah cara yang ampuh untuk mengurangi pandangan salah. Pikirkan tentang bagaimana kita memikirkan &#8216;tubuhku&#8217;, &#8216;ucapanku&#8217; dan &#8216;pikiranku&#8217;, kata Beliau, dan kemudian tanyakan pada diri sendiri di mana &#8216;aku&#8217; yang memiliki fitur-fitur ini. Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menegaskan bahwa Beliau bertanya pada diri Beliau sendiri letak &#8216;aku&#8217; setiap hari dan tidak dapat menemukan diri yang independen dan ada secara inheren. Hal ini memiliki efek yang kuat untuk mengurangi kemarahan dan kemelekatan Beliau. Beliau mengutip tiga ayat dari “Memasuki Jalan Tengah” (Madhyamakavatara) Chandrakirti yang mengingatkan bahwa Beliau berada di jalur yang benar.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Diterangi oleh berkas-berkas cahaya kebijaksanaan,</em><br><em>Bodhisattva melihatnya sejelas buah amalaki di telapak tangan yang terbuka,</em><br><em>Bahwa ketiga alam di keseluruhannya tidak terlahirkan sejak dari awalnya,</em><br><em>Dan melalui kekuatan kebenaran konvensional, ia menempuh perjalanan menuju penghentian. 6.224</em></p><p><em>Walau batinnya mampu menetap terus-menerus dalam penghentian,</em><br><em>Beliau juga membangkitkan welas asih untuk para makhluk yang tak memiliki perlindungan,</em><br><em>Melaju maju lebih jauh lagi, beliau juga bersinar cemerlang melalui kebijaksanaannya,</em><br><em>Semua yang lahir dari ucapan Buddha dan Buddha-Buddha menengah. 6.225</em></p><p><em>Laksana para raja angsa menjulang ke depan melampaui angsa-angsa ahli lainnya,</em><br><em>Dengan sayap-sayap putih kebenaran konvensional dan tertinggi yang berkembang lebar,</em><br><em>Didorong oleh kekuatan angin-angin kebajikan, Bodhisatwa akan menyeberangi</em><br><em>Hingga pantai seberang yang unggul, samudra kualitas-kualitas Para Penakluk. 6.226”</em></p><cite><em>Madhyamakavatara &#8211; Arya Chandrakirti</em></cite></blockquote>



<h4><strong>Semua Punya Benih Kebuddhaan</strong></h4>



<p>Ditanya mengenai cara menanggapi orang-orang yang gagal memenuhi harapan kita, Yang Maha Suci Dalai Lama XIV mengungkapkan bahwa Sang Buddha menjelaskan bahwa semua makhluk hidup memiliki sifat Buddha. Tubuh jasmani ini adalah sesuatu yang tidak begitu penting, kata Beliau, adalah batinlah, yang penting. Di dalam batin terdapat berbagai tingkat kesadaran. Oleh karena setiap orang memiliki sifat Kebuddhaan, maka pada akhirnya semua orang dapat mencapai Kebuddhaan.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/hUjrWfrY947pyjAtGRqiCI4KLxW-hHi-B21jecMJyBm0Ut2ZB252hHLnWdobxNTvaolmVR3W5lho6dpOE2tYtzBOtOwapOKczsfL-s6ZXZmFJp9xIqhOerwj3kAxi8EaCZY1Laf2" alt=""/></figure>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menjawab pertanyaan dari hadirin virtual selama dialog daring dengan siswa-siswi Indonesia dari kediaman Beliau di Dharamsala, HP, India pada 11 Agustus 2021. Foto oleh Y.M. Tenzin Jamphel</p>



<p>Dewi Lestari tertarik untuk mengetahui hal yang bisa kita lakukan untuk tetap segar dan tajam seperti Yang Maha Suci Dalai Lama XIV. Beliau menjawab bahwa kita menghabiskan banyak waktu teralihkan oleh hal-hal indrawi, namun di sisi lain, kita sebenarnya juga bisa memperhatikan kesadaran mental kita dan mendapatkan pengalaman tentang sifat batin. Saat kita mengembangkan ketenangan dan konsentrasi, menjadi lebih mudah untuk mengajak batin untuk menganalisis letak &#8216;aku&#8217; dan yang dimaksud sebagai emosi-emosi negatif. Seiring dengan kita mengembangkan kekuatan batin, kita akan mencapai kedamaian pikiran yang lebih kokoh. Dan saat kita memperoleh pengalaman batin yang lebih dalam pada tingkatan yang lebih subtil, batin yang jernih akan terwujud. Batin halus dari sifat Kebuddhaan itulah yang pada akhirnya menjadi batin Sang Buddha.</p>



<h4><strong>Bahagia Berasal dari Bodhicita</strong></h4>



<p>Diundang untuk memberikan beberapa nasihat terakhir, Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menyoroti kesempatan khusus yang dimiliki pendengar Beliau untuk berbagi gagasan tentang cinta kasih, yang merupakan sesuatu yang kita semua butuhkan. Dengan cara yang sama, kita semua membutuhkan welas asih dan pengampunan dan dengan mendorong pengembangan kualitas-kualitas ini, kita dapat berkontribusi untuk menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan penuh welas asih. Potensi welas asih adalah kesamaan yang dimiliki semua manusia. Ini adalah dasar untuk bisa saling menghormati dan belajar dari satu sama lain.</p>



<p>Dewi Lestari mengucapkan terima kasih kepada Yang Maha Suci Dalai Lama XIV yang secara spontan meminta hadirin untuk bergabung dengan Beliau dalam meditasi welas asih selama satu menit. Setelah itu, Beliau memuji kebajikan dari kebangkitan batin bodhicitta dan manfaatnya yang luar biasa. Kita butuh welas asih untuk bisa membantu orang lain, tutur Beliau. Kita membutuhkan welas asih untuk memurnikan negativitas kita dan mengumpulkan energi positif. Semua perbuatan altruistik yang dijelaskan dalam Jataka Mala berakar dari bodhicita, yakni aspirasi untuk mencapai Kebuddhaan demi membantu makhluk lain.</p>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV mengutip syair-syair dari <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lakon-hidup-sang-penerang/">“Lakon Hidup Sang Penerang” (Bodhisatwa-caryawattara)</a> oleh Shantidewa, yang memuji praktik menyamakan dan menukar diri sendiri dengan orang lain.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Seseorang yang tak menukar kebahagiaannya dengan penderitaan makhluk lain pastinya tak akan meraih Kebuddhaan. Bagaimana ia bisa meraih kebahagiaan dalam samsara? 8/131</em></p><p><em>Dengan menaiki kereta perang bodhicitta, yang menghalau semua perasaan putus asa dan letih, orang berakal mana yang akan patah semangat selagi ia melaju melewati kegembiraan demi kegembiraan? 7/30”</em></p></blockquote>



<p>Beliau menambahkan bahwa ketika Anda bertekad untuk melayani orang lain, Anda akan dapat mengikuti aspirasi besar Shantidewa:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Selama ruang bergeming dan dunia bertahan, semoga aku hidup untuk menghalau kesengsaraan dunia. 10/55”</em></p></blockquote>



<p>Sumber: “<a href="https://www.dalailama.com/news/2021/in-conversation-with-indonesian-students">In Conversation with Indonesian Students</a>” &#8211; dalailama.com</p>



<p>Diterjemahkan oleh Shierlen Octavia</p>



<p>&#8212;</p>



<p>“Grand Buddha Goes to School: Heart to Heart Conversation with His Holiness Dalai Lama XIV” adalah acara pertama dalam rangkaian Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 3.0.</p>



<p>Ikuti bazar buku, seminar, bedah buku, dan <em>workshop </em>istimewa lainnya di NDBF 3.0 yang pastinya tak kalah inspiratif dan bisa meningkatkan ketangguhan batinmu di kala pandemi.<br>Kunjungi <a href="http://ndbf.lamrimnesia.com">ndbf.lamrimnesia.com</a> &amp; ikuti media sosial Lamrimnesia untuk mendapatkan informasi &amp; kabar terbaru seputar NDBF 3.0!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dialog-dalai-lama-bersama-siswa-siswi-indonesia/">Dialog Dalai Lama Bersama Siswa-Siswi Indonesia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dialog-dalai-lama-bersama-siswa-siswi-indonesia/">Dialog Dalai Lama Bersama Siswa-Siswi Indonesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gimana Caranya Jadi Business Leader yang Sukses?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/10/06/gimana-caranya-jadi-business-leader-yang-sukses/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2020 04:14:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bedah buku]]></category>
		<category><![CDATA[bedah buku lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Business leader]]></category>
		<category><![CDATA[cara menjadi sukses]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[leader]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5620</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sekarang bikin usaha sendiri makin gampang. Siapa pun bisa jadi pebisnis. Tapi apakah semua bisa jadi business leader yang sukses? Lebih jauh lagi, kalau sudah jadi pebisnis sukses, apakah kita bisa jadi bahagia? Keraguan-keraguan itu biasa muncul ketika kita berkeinginan memulai bisnis atau karir yang baru. Jangankan pas mau mulai deh, pas udah menjalankan pun [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/06/gimana-caranya-jadi-business-leader-yang-sukses/">Gimana Caranya Jadi Business Leader yang Sukses?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/10/06/gimana-caranya-jadi-business-leader-yang-sukses/">Gimana Caranya Jadi Business Leader yang Sukses?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sekarang bikin usaha sendiri makin gampang. Siapa pun bisa jadi pebisnis. Tapi apakah semua bisa jadi business leader yang sukses? Lebih jauh lagi, kalau sudah jadi pebisnis sukses, apakah kita bisa jadi bahagia?</p>



<p>Keraguan-keraguan itu biasa muncul ketika kita berkeinginan memulai bisnis atau karir yang baru. Jangankan pas mau mulai deh, pas udah menjalankan pun masih bisa kepikiran.</p>



<p>Akhiri keraguan itu dengan mengikuti</p>



<p>Seri Leadership Lamrimnesia<br>Becoming A Successful Business Leader<br>Bedah Buku Online “The Leader’s Way” karya Y.M.S. Dalai Lama XIV dan Laurens Van Den Muyzenberg</p>



<p>bersama</p>



<p>DR. (H.C.) SUDHAMEK AWS<br>Chairman Garuda Food</p>



<p>Jumat, 23 Oktober 2020<br>19.00 &#8211; 21.00 WIB<br>ONLINE via ZOOM</p>



<p>Pendaftaran:<br><a href="https://forms.gle/wK93yUTdDJZzyGZY9" target="_blank" aria-label="undefined (buka pada tab baru)" rel="noreferrer noopener">https://forms.gle/wK93yUTdDJZzyGZY9</a><br>paling lambat 21 Oktober 2020</p>



<p>Buku “The Leader’s Way” berisi dialog antara Y.M.S. Dalai Lama XIV dan Laurens Van Den Muyzenberg mengenai business leader tingkat dunia yang nggak cuma berhasil membangun bisnis yang menguntungkan, tapi juga membawa kebahagiaan bagi dirinya sendiri dan orang banyak.</p>



<p>Buku luar biasa ini akan dibawakan Pak Sudhamek, pebisnis yang merintis usahanya dari nol hingga menjadi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Beliau juga pernah menjadi anggota Komite Ekonomi &amp; Industri Nasional (KEIN), Dewan Penasihat Presiden RI dalam urusan ekonomi dan industri periode 2016-2019 dan sekarang menjadi anggota Dewan Pengarah Badan Ideologi Pancasila (BPIP) periode 2017-2022. Tidak hanya itu, Beliau juga aktif dalam kegiatan sosial dan memperoleh penghargaan &#8220;Most Generous People in Indonesia 2018&#8221; dalam Philanthropy Award 2018!</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="830" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/10/WhatsApp-Image-2020-10-05-at-3.42.57-PM-830x1024.jpeg" alt="" class="wp-image-5621" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/10/WhatsApp-Image-2020-10-05-at-3.42.57-PM-830x1024.jpeg 830w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/10/WhatsApp-Image-2020-10-05-at-3.42.57-PM-600x740.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/10/WhatsApp-Image-2020-10-05-at-3.42.57-PM-243x300.jpeg 243w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/10/WhatsApp-Image-2020-10-05-at-3.42.57-PM-768x947.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/10/WhatsApp-Image-2020-10-05-at-3.42.57-PM-150x185.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/10/WhatsApp-Image-2020-10-05-at-3.42.57-PM-450x555.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/10/WhatsApp-Image-2020-10-05-at-3.42.57-PM.jpeg 1038w" sizes="(max-width: 830px) 100vw, 830px" /></figure>



<p>Jangan lewatkan kesempatan untuk jadi business leader yang sukses dan bahagia ini! Ayo daftar sekarang juga!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/06/gimana-caranya-jadi-business-leader-yang-sukses/">Gimana Caranya Jadi Business Leader yang Sukses?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/10/06/gimana-caranya-jadi-business-leader-yang-sukses/">Gimana Caranya Jadi Business Leader yang Sukses?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Y.M.S. Dalai Lama Sebut Rasisme Sebagai Penyebab Kematian George Floyd dalam Ceramah Virtual tentang Welas Asih</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/05/30/y-m-s-dalai-lama-sebut-rasisme-sebagai-penyebab-kematian-george-floyd-dalam-ceramah-virtual-tentang-welas-asih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2020 04:57:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Black Lives Matter Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[George Floyd]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Rasisme Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4947</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>(CNN) Y.M.S. Dalai Lama mengecam kematian George Floyd di Minnesota dan menuding diskriminasi dan rasisme sebagai penyebabnya. Sang pemimpin Tibet yang kini dalam pengasingan tersebut memberikan ceramah secara virtual kepada pengikutnya dalam webcast yang diadakan pada Jumat pagi dari rumah-Nya di Dharamsala, India. &#8220;Kita saksikan di kanal berita, di media, mengenai diskriminasi atas dasar warna [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/30/y-m-s-dalai-lama-sebut-rasisme-sebagai-penyebab-kematian-george-floyd-dalam-ceramah-virtual-tentang-welas-asih/">Y.M.S. Dalai Lama Sebut Rasisme Sebagai Penyebab Kematian George Floyd dalam Ceramah Virtual tentang Welas Asih</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/30/y-m-s-dalai-lama-sebut-rasisme-sebagai-penyebab-kematian-george-floyd-dalam-ceramah-virtual-tentang-welas-asih/">Y.M.S. Dalai Lama Sebut Rasisme Sebagai Penyebab Kematian George Floyd dalam Ceramah Virtual tentang Welas Asih</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>(CNN) Y.M.S. Dalai Lama mengecam kematian George Floyd di Minnesota dan menuding diskriminasi dan rasisme sebagai penyebabnya.</p>



<p>Sang pemimpin Tibet yang kini dalam pengasingan tersebut memberikan ceramah secara virtual kepada pengikutnya dalam webcast yang diadakan pada Jumat pagi dari rumah-Nya di Dharamsala, India.</p>



<p>&#8220;Kita saksikan di kanal berita, di media, mengenai diskriminasi atas dasar warna kulit atau agama yang terjadi akhir-akhir ini, yang bahkan berujung pada pembunuhan, juga ada pula sebagian orang yang berbangga karena dapat membunuh orang lain.</p>



<p>Sang pemimpin spiritual Tibet tersebut menambahkan, &#8220;Baru kemarin saya tonton dari berita TV, di suatu tempat di Minnesota, atau di suatu tempat di Amerika, seorang berkulit hitam terjatuh ke bawah mobil, dan tim kepolisian … dan dia malah mendorongkan lututnya ke leher orang berkulit hitam tersebut.&#8221;</p>



<p>&#8220;Jadi karena adanya [sikap]membeda-bedakan inilah, hal-hal seperti rasisme terjadi.&#8221;</p>



<p>Reaksi protes internasional timbul semenjak tersebarnya sebuah video yang menampilkan seorang petugas polisi Minneapolis berlutut di atas leher Floyd saat penangkapannya. Floyd tidak bersenjata dan telah diborgol, dan sempat merintih mengatakan ia tidak bisa bernapas beberapa saat sebelum kematiannya.</p>



<p>Ceramah Y.M.S. Dalai Lama adalah bagian dari acara pengajaran dan pemberdayaan mengenai praktik Awalokiteshwara. Acaranya berlangsung selama dua hari dan dilanjutkan hari Sabtu ini. Sang pemimpin spiritual tersebut acap kali mengadakan sesi pengajaran sejenis, yang biasanya dilaksanakan di depan para pengikutnya maupun pengunjung, namun pelaksanaan secara langsung tersebut ditiadakan semenjak adanya wabah virus korona yang melanda seluruh dunia.</p>



<p>Sumber: <a href="https://amp.cnn.com/cnn/2020/05/29/world/dalai-lama-george-floyd-trnd/index.html?__twitter_impression=true">CNN</a></p>



<p>Diterjemahkan oleh Rakaputra Paputungan</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/30/y-m-s-dalai-lama-sebut-rasisme-sebagai-penyebab-kematian-george-floyd-dalam-ceramah-virtual-tentang-welas-asih/">Y.M.S. Dalai Lama Sebut Rasisme Sebagai Penyebab Kematian George Floyd dalam Ceramah Virtual tentang Welas Asih</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/30/y-m-s-dalai-lama-sebut-rasisme-sebagai-penyebab-kematian-george-floyd-dalam-ceramah-virtual-tentang-welas-asih/">Y.M.S. Dalai Lama Sebut Rasisme Sebagai Penyebab Kematian George Floyd dalam Ceramah Virtual tentang Welas Asih</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pesan Waisak dari Y. M. S. Dalai Lama XIV</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/05/08/pesan-waisak-dari-y-m-s-dalai-lama-xiv/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 May 2020 04:34:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[nalanda]]></category>
		<category><![CDATA[Pesan Waisak]]></category>
		<category><![CDATA[waisak]]></category>
		<category><![CDATA[Waisak 2020]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4904</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sebuah kebahagiaan besar bagi saya untuk menyapa saudara dan saudari Buddhis di seluruh dunia yang hari ini tengah merayakan hari Waisak (Buddha Purnima). Buddha Shakyamuni lahir di Lumbini, mencapai pencerahan di Bodhgaya, dan wafat di Kushinagar pada 2600 tahun yang lalu. Namun, saya percaya ajaran Beliau bersifat universal dan bahkan tetap relevan hingga kini. Setelah [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/08/pesan-waisak-dari-y-m-s-dalai-lama-xiv/">Pesan Waisak dari Y. M. S. Dalai Lama XIV</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/08/pesan-waisak-dari-y-m-s-dalai-lama-xiv/">Pesan Waisak dari Y. M. S. Dalai Lama XIV</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sebuah kebahagiaan besar bagi saya untuk menyapa saudara dan saudari Buddhis di seluruh dunia yang hari ini tengah merayakan hari Waisak (Buddha Purnima).</p>



<p>Buddha Shakyamuni lahir di Lumbini, mencapai pencerahan di Bodhgaya, dan wafat di Kushinagar pada 2600 tahun yang lalu. Namun, saya percaya ajaran Beliau bersifat universal dan bahkan tetap relevan hingga kini. Setelah mencapai pencerahan, Sang Buddha yang tergerak oleh rasa kepedulian-Nya yang tinggi untuk membantu sesama kemudian menghabiskan sisa waktu-Nya sebagai biksu dan membagikan pengalamannya ke siapa pun yang ingin mendengarkannya. Baik pandangan Beliau mengenai hukum sebab-musabab yang saling bergantungan maupun nasihat Beliau untuk tidak menyakiti seorang pun dan membantu siapa pun yang mampu kita bantu; keduanya menitikberatkan pengamalan dogma hidup tanpa kekerasan. Hal tersebut tetap menjadi pendorong paling mujarab bagi kebaikan di dunia saat ini karena rasa welas asih yang diwujudkan tanpa kekerasan adalah bentuk pelayanan kita bagi semua makhluk.</p>



<p>Di dunia yang semakin saling bergantung, kemakmuran dan kebahagiaan kita bergantung pada banyak orang. Sekarang ini, ujian-ujian yang tengah kita jalani mewajibkan kita untuk menerima kesatuan umat manusia. Walau ada perbedaan-perbedaan kecil di antara kita, semua orang pada dasarnya sama-sama mengharapkan kedamaian dan kebahagiaan. Pengamalan ajaran Buddhis memang diperoleh dari melatih batin kita melalui meditasi. Namun, upaya pelatihan ketentraman batin kita dalam mengembangkan sifat-sifat penyayang, welas asih, murah hati, dan kesabaran, belum efektif tanpa adanya pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.</p>



<p>Akhir-akhir ini, komunitas-komunitas Buddhis yang beragam di dunia hanya memiliki pemahaman samar mengenai keberadaan satu sama lain dan tidak memiliki kesempatan untuk menghargai persamaan yang kita miliki. Namun kini, siapa pun yang tertarik dapat berkenalan dengan hampir seluruh khazanah Buddhis yang berkembang di daratan-daratan yang berbeda. Terlebih lagi, kita yang mengamalkan dan mengajarkan tradisi-tradisi Buddhis ini kini dapat saling menemui dan saling belajar dari satu sama lain.</p>



<p>Sebagai biksu Buddhis Tibet, saya memposisikan diri sebagai ahli waris tradisi Nalanda. Metode belajar-mengajar ajaran Buddhis di Universitas Nalanda yang berlandaskan akal dan logika menjadi titik puncak perkembangan ajaran ini di India. Untuk menjadi penganut Buddhis di abad ke-21, penting bagi kita untuk terlibat dalam pembelajaran dan analisis ajaran-ajaran sang Buddha sebagaimana yang dilakukan oleh mereka di sana, ketimbang bertumpu pada iman semata.</p>



<p>Dunia telah berubah banyak semenjak waktu hidup Sang Buddha. Ilmu pengetahuan modern telah mengembangkan pemahaman mendalam mengenai dunia fisik. Di sisi lain, ilmu Buddhis telah mencapai pemahaman yang terperinci dan personawi mengenai cara kerja pikiran dan emosi, bidang yang masih relatif baru bagi ilmu pengetahuan modern. Karena itu, masing-masing memiliki pengetahuan penting untuk melengkapi satu sama lain. Saya percaya bahwa penggabungan kedua pendekatan ini memiliki potensi besar untuk mencapai temuan-temuan yang dapat memperkaya kesehatan fisik, emosi, dan sosial kita semua.</p>



<p>Sebagai umat Buddha, kitalah yang menjunjung ajaran Sang Buddha, tetapi pesan Sang Buddha juga relevan dalam interaksi kita dengan seluruh umat manusia. Kita perlu mendukung pemahaman antaragama dengan menggarisbawahi bahwa semua agama bertujuan mewujudkan kebahagiaan bagi semua orang. Juga, dalam masa krisis yang tengah menerpa dunia ini, saat kita menghadapi ancaman terhadap kesehatan kita dan kita merasakan kesedihan akan keluarga dan teman yang telah meninggalkan kita, kita harus berfokus pada hal-hal yang menyatukan kita sebagai satu keluarga besar umat manusia. Oleh karena itu, kita perlu saling mengulurkan tangan dengan penuh welas asih karena hanya dengan bersatu dan mengkoordinasi tanggapan global kita dapat mengatasi cobaan-cobaan baru yang tengah kita hadapi. Dalai Lama</p>



<p>Sumber: <a href="https://www.dalailama.com/news/2020/vesak-message-from-his-holiness-the-dalai-lama">Dalailama.com</a><br>Diterjemahkan oleh Rakaputra Paputungan<br>Disunting oleh Silvi Wilanda</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/08/pesan-waisak-dari-y-m-s-dalai-lama-xiv/">Pesan Waisak dari Y. M. S. Dalai Lama XIV</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/08/pesan-waisak-dari-y-m-s-dalai-lama-xiv/">Pesan Waisak dari Y. M. S. Dalai Lama XIV</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengakhiri ‘Kata Orang’ Tentang Perempuan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/04/21/mengakhiri-kata-orang-tentang-perempuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2020 09:04:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Kartini 2020]]></category>
		<category><![CDATA[klesha]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4883</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Shierlen Octavia Kata orang-orang, laki-laki adalah makhluk dari Mars dan perempuan adalah makhluk dari Venus. Masyarakat juga sering kali menganjurkan kita untuk berlaku seperti perempuan dan berpikir laiknya laki-laki (act like a lady, think like a man). Disadari atau tidak, hal-hal seperti ini membuat kita menciptakan palung untuk memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Akhirnya, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/21/mengakhiri-kata-orang-tentang-perempuan/">Mengakhiri ‘Kata Orang’ Tentang Perempuan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/21/mengakhiri-kata-orang-tentang-perempuan/">Mengakhiri ‘Kata Orang’ Tentang Perempuan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><strong>oleh Shierlen Octavia</strong></p>



<p>Kata orang-orang, laki-laki adalah makhluk dari Mars dan perempuan adalah makhluk dari Venus. Masyarakat juga sering kali menganjurkan kita untuk berlaku seperti perempuan dan berpikir laiknya laki-laki (<em>act like a lady, think like a man</em>). Disadari atau tidak, hal-hal seperti ini membuat kita menciptakan palung untuk memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Akhirnya, kita pun memiliki banyak stereotipe yang berujung pada ekspektasi kita mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang, keberadaan stereotipe ini membuat perempuan seakan lebih lemah atau punya lebih banyak kekurangan dibandingkan laki-laki.&nbsp;</p>



<p>Seakan tidak cukup memperburuk situasi, media—tempat kita banyak mendapatkan informasi, mulai dari televisi, koran, media sosial, radio, dan lain sebagainya banyak mendorong kita untuk membentuk persepsi tertentu mengenai perempuan. Sinetron misalnya, sering kali menggambarkan tokoh perempuan sebagai tokoh yang sangat emosional—selalu menangis saat ditindas oleh tokoh antagonis, ibu mertua yang selalu pemarah dan menaruh dendam pada sang tokoh utama perempuan yang bak malaikat berhati rapuh. Intinya selalu perempuanlah yang menggebu-gebu saat mengekspresikan emosi. Tak ayal, kaum hawa kemudian dilabeli sebagai kelompok yang lebih emosional dibandingkan kaum adam, apalagi ketika PMS mulai melanda (atau demikian menurut kebanyakan pria). Ada lagi ‘bisik-bisik tetangga’, yang digambarkan melalui berita-berita <em>infotainment, </em>dengan wanita yang kerap kali menjadi pembawa acara lengkap dengan sinetron yang selalu menyuguhkan para perempuan yang menggosip soal keburukan tokoh penting dalam alurnya. Makanya perempuan kedapatan lebih sering bergosip dibandingkan laki-laki.</p>



<p>Berlanjut kepada stereotipe umum lainnya, yakni mengenai standar kecantikan. Entah kita sadari atau tidak, kecantikan selalu mewujud sebagai seorang perempuan langsing, berkulit putih, tinggi semampai, dan berwajah tirus. Hal ini bisa kita saksikan bersama dalam berbagai tayangan iklan produk <em>skincare </em>yang mencari model sesuai ciri di atas yang kemudian dibesar-besarkan oleh <em>beauty pageant </em>yang menjadi impian para wanita. Maka tak heran ketika perempuan sangat mempermasalahkan soal perubahan angka di timbangan atau khawatir berlebih ketika harus bepergian tanpa kosmetik. Namun, bukan hanya media yang terus kita jadikan kambing hitam. Banyak pula pandangan dalam budaya setempat yang membuat wanita harus selalu menyesuaikan standar yang dipunyai masyarakatnya. Label ‘jomblo’, ‘perawan tua’, ‘gak laku-laku’, sering menjadi momok bagi perempuan kebanyakan perihal status hubungan. Perempuan yang tak berpasangan misalnya, akan selalu ditanyai oleh anggota keluarga besar dalam momen kebersamaan keluarga soal pacar. Apalagi kalau usianya sudah menyentuh kepala dua. Ketika memasuki kepala tiga namun masih berstatus lajang, wanita mulai dilihat sebagai ‘perawan tua’ dan harus segera dicarikan pasangan karena usia primanya untuk menikah akan lewat begitu saja jika tak dicarikan lelaki. Kaum selebritas akan terus dikejar wartawan ketika masih melajang di usia dewasa, atau bahkan ketika baru saja putus dengan pacarnya di usia 30-an. Akhirnya, tak sedikit perempuan yang sudah kalut ketika di usia 20-an masih sendiri tanpa ada gandengan. Hal ini membuat pemikiran bahwa perempuan sangat ‘berlebihan’ ketika berbicara soal hubungan romantis menjadi tidak aneh.</p>



<p>Ada lagi ide mengenai laki-laki sebagai ‘pemburu’ (<em>hunter</em>) dan wanita sebagai ‘pengumpul’ (<em>gatherer</em>) sebagai kepercayaan di waktu dulu yang kemudian bertransformasi menjadi ide bahwa ‘perempuan sangat suka berbelanja’ di masa kini (karena perempuan suka mengumpulkan barang). Hal ini tidak sepenuhnya keliru, sebab ada faktor sejarah yang bermain dalam hal ini. Pemikiran ini awalnya bermula dari timbulnya konsumerime masyarakat Amerika pada tahun 1920an (Young-Eisendrath, 2011). Toko-toko yang sebelumnya tidak didekor dengan apik, gelap, dan tidak menarik, disulap menjadi tempat glamor yang kini dinamakan toko serba ada (toserba). Di sanalah untuk pertama kalinya, wanita yang kerap kali dibungkam mulutnya untuk beropini diajak untuk tidak hanya sekadar membeli barang, tetapi juga membuat pilihan. Lebih dari itu, mereka ditanyai pendapat soal hal yang mereka inginkan! Untuk pertama kalinya dalam sejarah besar dunia, wanita diperbolehkan untuk mempraktikkan hak atas ‘kebebasan’nya di toserba dan mereka diperbolehkan untuk berbelanja apa saja. Atas dasar hal tersebut, kesenangan akan kebebasan berpendapat melalui berbelanja diteruskan ‘turun temurun’ kepada para wanita hingga di masa modern ini. Meskipun demikian, stereotipe seperti ini tidaklah mendefinisikan wanita seutuhnya.</p>



<p>Tidak seluruhnya dari stereotipe di atas menandakan ketidakbenaran mengenai perempuan. Dalam hal emosi sebagai contoh, adalah betul bahwa perempuan bisa jadi lebih emosional terutama ketika mengalami PMS karena adanya perubahan biologis dalam tubuhnya. Secara khusus, hal ini terjadi karena ketika periode menstruasi, kadar estrogen dan progesteron yang berubah akan mempengaruhi kadar serotonin, yakni hormon yang mengatur emosi seseorang (Watson, 2018). Rata-rata perempuan juga lebih banyak berbicara dibandingkan rata-rata pria, dengan perempuan bisa berucap hingga 20.000 kata per hari sementara lelaki 7.000 kata (Aponte, 2019) meskipun pada penelitian yang sama disebutkan bahwa perbedaan tersebut lebih berhubungan dengan status dibandingkan dengan gender.</p>



<p>Banyak pula penelitian yang menyebutkan bahwa perempuan memang lebih perasa dibandingkan lelaki karena secara fisiologis, wanita lebih baik dalam merespons penderitaan yang dirasakan orang lain (Christov-Moore &amp; Iacoboni, 2019). Kecenderungan perasa ini bahkan berpotensi menjadi sebuah keunggulan karena <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/24/praktik-penyempurnaan-welas-asih/">mempermudah perempuan mengembangkan welas asih</a>. Hal ini bahkan menjadi salah satu dasar bagi pernyataan Y.M.S. Dalai Lama XIV tentang pentingnya perempuan dalam tatanan masyarakat abad 21.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;Saya memanggil seluruh perempuan generasi masa depan untuk menjadi ibu dari revolusi welas asih yang amat sangat dibutuhkan abad ini. Kalian punya peran istimewa dalam menciptakan dunia yang lebih baik. Perempuan lebih berempati dan sensitif, lebih bisa merasakan perasaan orang lain. Pelajarilah sejarah dan kalian akan melihat bahwa laki-lakilah yang bertanggung jawab atas kekacauan dan kehancuran.&#8221;</p><cite><a href="https://web.facebook.com/DalaiLama/posts/10157115628442616?__xts__%5B0%5D=68.ARDTh3L3sh0KPFlZlDeeNy2acdNJD6eXyDwY3xkt2-t2eSlQHq8KdwnqrUpL1Khx3JbgNb85HI8ep3zokmjt9xdDLXt1sBRaVu_9FYy7bGv0FWD0EjxT8JAMgFsW0eMup1Fu6OoniHF5E1gfzb3CS5ill2wHfvOh-zpHHZl8fpDhygEnz86GAd9yH9zTULKfMprIu0vghDfZvu11AQMNXio6R5pam-ft4c-DwV8kVxBLwz3qY5eDdfDEDZz-ThqNktRiMzef_Ya1L7xtdPKbowyaLn69E3bAqE0Zv7Hw1QxXP6_OFUbQ00htVgaFC1-ONKGyHpeZTFe6ay26&amp;__tn__=-R">Y.M.S. Dalai Lama XIV</a></cite></blockquote>



<p>Terlepas dari faktor-faktor tersebut, Buddha sebenarnya pernah menjelaskan penyebab timbulnya perilaku-perilaku tersebut, bahkan lama sebelum artikel ini maupun penelitian lainnya dituliskan di dunia. Buddha berkata, adalah pikiran kita sendirilah yang membentuk perilaku, bahkan sifat kita. Bisa saja ada teman laki-laki kita yang sangat suka berbelanja, ketika di sisi lain, ada teman perempuan yang senangnya berdiam diri di rumah mengerjakan hal lain. Di belahan dunia lain, ada pula laki-laki yang lebih empatik, dan ada pula perempuan yang teramat cuek soal perasaan. Saat ini, banyak pembawa acara <em>infotainment</em> laki-laki menghiasi layar kaca dan perempuan yang berkarier sebagai pilot, yang notabene dikait-kaitkan sebagai pekerjaan maskulin. Oleh karena itu, dibandingkan dengan penyebab-penyebab di atas, klesha kita—kemelekatan, kebencian, ketidaktahuan batin—yang membelenggu kitalah yang banyak berperan terhadap terjadi dan ‘dibenarkan’-nya stereotipe-stereotipe tersebut. Saat wanita dicap lebih meledak-ledak dalam hal emosi, sesungguhnya hal ini tak terlepas dari sulitnya diri kita dalam mengendalikan klesha kemarahan dan kebencian dalam diri kita. Ketika kita sulit menghentikan diri saat berbelanja ke mall, lagi-lagi kegagalan kita akan pengendalian klesha kemelekatan dan keserakahanlah yang membuat baik perempuan maupun laki-laki, terus menerus mempertahankan kebiasaan buruk tersebut. Kecemasan dan rendahnya kepercayaan diri dengan status lajang karena merasa harus mengikuti apa kata masyarakat berakar dari pandangan salah mengenai ‘mayoritas selalu benar’ misalnya, yang menuntun entah perempuan maupun laki-laki untuk buru-buru mencari pasangan atas dasar ‘asalkan ada’ belaka.</p>



<p>Disadari atau tidak dan suka atau tidak, kita memiliki delusi bahwa mengikuti keinginan klesha akan membawa kita pada kebahagiaan. Kita merasa memuaskan hasrat dengan mengejar sebab-sebab di luar diri kita (contoh: berbelanja banyak barang agar merasa bahagia) akan membawa kita kepada kebahagiaan sejati. Akan tetapi, selalu sebab-sebab dalam dirilah—cara berpikir dan melihat berbagai hal—yang merupakan sebab kebahagiaan yang utama. Kita bisa merasa bahagia bahkan ketika lawan bicara kita begitu menyebalkan. Kita bisa tetap merasa cukup, bahkan ketika kita tidak membeli barang-barang yang kita inginkan di mall. Kita bisa merasa cantik, bahkan ketika wajah kita tidak sebening selebriti Korea Selatan. </p>



<p>Kendati demikian, adalah sebuah perjalanan panjang dan penuh lika-liku bagi kita untuk mengesampingkan berbagai stereotipe gender di masyarakat. PR ini memang harus dikerjakan bersama dalam masyarakat melalui usaha-usaha untuk memeperlakukan manusia sebagaimana adanya, bukan dari jenis kelamin semata. Namun, sebagai seorang individu, tetap ada hal yang bisa kita lakukan, yakni dengan berjuang mengendalikan pikiran dan klesha kita pribadi. Dagpo Rinpoche pernah berkata dalam salah satu ceramahnya bahwa melalui tubuh manusia yang berharga ini, kita memiliki potensi besar untuk mencapai apa pun yang kita tetapkan bagi diri sendiri. Namun, tak pernah ada hasil istimewa dari potensi tersebut jika kita tidak berusaha. Berjuang untuk mengurangi klesha dan mengembangkan faktor-faktor mental bajiklah yang pada akhirnya akan mampu mematahkan stereotipe-stereotipe tersebut, sebab sekali lagi—bukan karena Anda adalah laki-laki atau perempuan yang akan membenarkan pernyataan di atas, namun usaha Anda dalam menaklukkan batin Anda sendirilah yang akan membuktikan kebenarannya.</p>



<p>Sumber:<br>Pengenalan Batin &amp; Faktor-Faktor Mental oleh Guru Dagpo Rinpoche<br>Aponte, C. (2019). Do women really talk more than men?: What is the evidence? <em><a href="https://www.psychologytoday.com/us/blog/marriage-equals/201910/do-women-really-talk-more-men">Psychology Today.</a></em><br>Christov-Moore, L. &amp; Iacoboni, M. (2018). Sex differences in somatomotor representations of others’ pain: A permutation-based analysis. <em>Brain Structure and Function, 224, </em>937-947.<br>Watson, S. (2018). How to deal with premenstrual mood swings. <em><a href="https://www.healthline.com/health/pms-mood-swings#why-it-happens">Healthline. </a></em><br>Young-Eisendrath, P. (2011). Ladies, love to shop? I know why! <em><a href="https://www.psychologytoday.com/us/blog/living-love/201112/ladies-love-shop-i-know-why">Psychology Today.</a></em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/21/mengakhiri-kata-orang-tentang-perempuan/">Mengakhiri ‘Kata Orang’ Tentang Perempuan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/21/mengakhiri-kata-orang-tentang-perempuan/">Mengakhiri ‘Kata Orang’ Tentang Perempuan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Y. M. S. Dalai Lama XIV: Kita Perlu Welas Asih untuk Melawan Virus Corona</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/04/15/y-m-s-dalai-lama-xiv-kita-perlu-welas-asih-untuk-melawan-virus-corona/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2020 10:27:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[corona]]></category>
		<category><![CDATA[COVID]]></category>
		<category><![CDATA[COVID-19]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4870</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kita semua memiliki tanggung jawab untuk mempraktikkan welas asih dan memberikan bantuan.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/15/y-m-s-dalai-lama-xiv-kita-perlu-welas-asih-untuk-melawan-virus-corona/">Y. M. S. Dalai Lama XIV: Kita Perlu Welas Asih untuk Melawan Virus Corona</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/15/y-m-s-dalai-lama-xiv-kita-perlu-welas-asih-untuk-melawan-virus-corona/">Y. M. S. Dalai Lama XIV: Kita Perlu Welas Asih untuk Melawan Virus Corona</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em>Tulisan ini disusun oleh Y. M. S. Dalai Lama XIV untuk diterbitkan di <a href="https://time.com/5820613/dalai-lama-coronavirus-compassion/">Time Magazine</a> &#8211; 14 April 2020</em> .</p>



<p>Terkadang sahabat-sahabat saya meminta bantuan saya untuk memecahkan permasalahan di dunia dengan &#8220;kekuatan sakti&#8221;. Saya selalu jelaskan bahwa Dalai Lama tidak memiliki kemampuan ajaib. Jika punya, saya tidak akan merasakan sakit kaki atau radang tenggorokan. Kita semua sama sebagai umat manusia, dan kita merasakan ketakutan yang sama, harapan yang sama, dan ketidakpastian yang sama pula.</p>



<p>Dari sudut pandang Buddhis, setiap makhluk yang berakal pasti merasakan penderitaan dan takdir penyakit, usia lanjut, dan kematian. Tapi sebagai manusia, kita memiliki kemampuan menggunakan pikiran kita untuk mengalahkan amarah, rasa panik, dan keserakahan. Beberapa tahun terakhir, saya menitikberatkan ajaran &#8220;perlucutan emosi&#8221;: usaha melihat setiap hal secara realistis dan murni, tanpa dibingungkan oleh rasa takut ataupun angkara. Jika sebuah masalah dapat diselesaikan, kita harus berupaya menemukan solusinya; jika tidak, kita tidak perlu membuang waktu dengan memikirkannya.</p>



<p>Kita sebagai Buddhis percaya bahwa seluruh dunia saling bergantung satu sama lain (interdependen). Inilah mengapa saya sering membahas tentang tanggung jawab universal. Wabah virus corona yang mencekam ini telah menunjukkan bahwa apa yang terjadi ke satu orang saja dapat segera berdampak ke semua makhluk yang lain. Tapi ia juga menjadi pengingat bahwa tindakan yang bijaksana atau konstruktif &#8211; misalkan bekerja di rumah sakit maupun menerapkan penjagaan jarak sosial &#8211; dapat menolong banyak orang.</p>



<p>Semenjak berita-berita mengenai virus corona di Wuhan mulai bermunculan, saya senantiasa berdoa untuk saudara dan saudari saya di Tiongkok dan di seluruh dunia. Kini, kita dapat melihat bahwa tidak ada orang yang kebal terhadap virus ini. Kita semua mencemaskan orang-orang terdekat kita dan masa depan kita, baik dalam ranah ekonomi global maupun rumah kita masing-masing. Tetapi doa saja tidak cukup.</p>



<p>Krisis ini menunjukkan bahwa kita harus menunaikan tanggung jawab sesuai kemampuan kita. Kita harus menggabungkan keberanian yang sedang ditunjukkan para dokter dan perawat dengan ilmu pengetahuan empiris demi membalikkan keadaan dan melindungi masa depan kita dari ancaman sejenis.</p>



<p>Di masa yang penuh ketakutan ini, penting bagi kita untuk memikirkan cobaan &#8211; dan potensi &#8211; jangka panjang yang ada bagi seluruh dunia. Foto-foto Bumi yang diambil dari luar angkasa membuktikan bahwa tidak ada batasan di planet tempat tinggal kita ini sehingga kita semua bertanggung jawab menjaganya dan bekerja untuk mencegah perubahan iklim dan ancaman lainnya. Pandemi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kita hanya dapat melewati ujian besar yang tengah kita hadapi melalui tindakan-tindakan global yang dikoordinasi bersama.</p>



<p>Kita juga harus ingat bahwa tidak ada seorang pun yang terbebas dari penderitaan. Marilah kita ulurkan tangan bagi mereka yang tidak memiliki tempat tinggal, sumber daya, atau keluarga untuk melindungi mereka. Krisis ini juga menjadi pengingat bahwa kita tidak terpisahkan dari satu sama lain &#8211; walau kita hidup terpisah. Karenanya, kita semua memiliki tanggung jawab untuk mempraktikkan welas asih dan memberikan bantuan.</p>



<p>Sebagai seorang Buddhis, saya percaya pada prinsip ketidakkekalan. Virus ini pun akan berlalu, sebagaimana saya telah menyaksikan perang dan ancaman dahsyat lainnya berlalu semasa hidup saya, dan kita akan mendapat kesempatan untuk kembali menjalin komunitas global seperti yang telah kita lakukan berulang kali sebelumnya. Saya sepenuh hati berharap semua orang dapat menjaga diri dan tetap bersikap tenang. Di masa yang penuh ketidakpastian ini, penting bagi kita untuk tidak kehilangan harapan dan kepercayaan pada semua upaya pemulihan yang tengah dilaksanakan oleh begitu banyak pihak.</p>



<p><em>Diterjemahkan oleh Rakaputra Paputungan.</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/15/y-m-s-dalai-lama-xiv-kita-perlu-welas-asih-untuk-melawan-virus-corona/">Y. M. S. Dalai Lama XIV: Kita Perlu Welas Asih untuk Melawan Virus Corona</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/15/y-m-s-dalai-lama-xiv-kita-perlu-welas-asih-untuk-melawan-virus-corona/">Y. M. S. Dalai Lama XIV: Kita Perlu Welas Asih untuk Melawan Virus Corona</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Buat Apa Agama di Hadapan Virus Corona?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/04/14/buat-apa-agama-di-hadapan-virus-corona/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2020 11:04:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[coronavirus]]></category>
		<category><![CDATA[COVID]]></category>
		<category><![CDATA[COVID-19]]></category>
		<category><![CDATA[Dagpo Rinpoche]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[sains]]></category>
		<category><![CDATA[virus corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4852</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Orang-orang di seluruh dunia bertahan menghadapi wabah COVID-19 dengan berbagai cara. Salah satu hal yang paling banyak dilakukan adalah menuangkan pikiran di media sosial. Pikiran ini tertuang tidak hanya dalam bentuk tulisan, tapi juga dengan cara-cara kreatif seperti parodi lagu, ilustrasi, sampai meme-meme lucu. Isinya beragam, mulai dari curhatan ketakutan, protes ke pemerintah, sampai yang [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/14/buat-apa-agama-di-hadapan-virus-corona/">Buat Apa Agama di Hadapan Virus Corona?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/14/buat-apa-agama-di-hadapan-virus-corona/">Buat Apa Agama di Hadapan Virus Corona?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p> Orang-orang di seluruh dunia bertahan menghadapi wabah COVID-19 dengan berbagai cara. Salah satu hal yang paling banyak dilakukan adalah menuangkan pikiran di media sosial. Pikiran ini tertuang tidak hanya dalam bentuk tulisan, tapi juga dengan cara-cara kreatif seperti parodi lagu, ilustrasi, sampai meme-meme lucu. Isinya beragam, mulai dari curhatan ketakutan, protes ke pemerintah, sampai yang bernada positif dan mengajak orang untuk melihat sisi baik dari permasalahan ini. <br>Salah satu jenis &#8216;pemikiran&#8217; yang lumayan sering saya lihat di medsos adalah sindiran terhadap agama. Salah satu contohnya adalah ilustrasi berikut:</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="720" height="538" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/WhatsApp-Image-2020-04-09-at-09.48.12.jpeg" alt="" class="wp-image-4853" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/WhatsApp-Image-2020-04-09-at-09.48.12.jpeg 720w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/WhatsApp-Image-2020-04-09-at-09.48.12-600x448.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/WhatsApp-Image-2020-04-09-at-09.48.12-300x224.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/WhatsApp-Image-2020-04-09-at-09.48.12-150x112.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/04/WhatsApp-Image-2020-04-09-at-09.48.12-450x336.jpeg 450w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption> <em>Maksudnya pemuka agama kudu berhenti sembahyang dan ikut ngoprek-ngoprek virus, gitu?</em> </figcaption></figure></div>



<p>Ilustrasi ini hanyalah salah satu dari sekian banyak cuapan yang mengatakan bahwa di saat wabah, agama tidak ada gunanya, sains adalah satu-satunya harapan untuk menemukan obat yang bisa mengakhiri pandemi COVID-19. Bahkan ada yang menyindir lebih jauh lagi dengan mengatakan bahwa sekarang semua menumpukan harapan pada ilmuwan, tapi setelah wabah berakhir semua &#8216;penghargaan&#8217; hanya akan dihaturkan kepada &#8216;Tuhan&#8217;.</p>



<p>Sebagai seorang (yang mengaku) Buddhis, saya agak bingung. Kok rasanya ada yang salah, ya?</p>



<p><strong>Siapa bilang agama dan sains bertentangan</strong>?</p>



<p>Saya tidak bisa bicara soal agama lain, tapi <strong>Buddha tidak pernah sekali pun mengatakan bahwa berdoa di mulut saja cukup dan bisa menyelesaikan semua permasalahan.</strong> Buddha mengajarkan karma dan <a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Pratityasamutpada?id=g7CWDwAAQBAJ">kesalingbergantungan</a>, bahwa terjadinya sesuatu bergantung pada banyak sekali faktor, mulai dari yang kasar sampai yang subtil. Jika kita ingat poin ini, bahkan dengan pemahaman paling kasar sekali pun, kita seharusnya bisa melihat bahwa usaha para ilmuwan dan doa banyak orang sama-sama merupakan bagian penting dalam mengakhiri wabah. </p>



<p>Wabah penyakit yang melanda seluruh dunia adalah buah dari karma buruk kolektif orang banyak. Sebaliknya, berakhirnya wabah tentu merupakan buah dari karma baik orang banyak pula. Dengan memahami Buddhadharma, kita dapat menghindari karma buruk kolektif yang dapat menjadi penyebab wabah dan mengumpulkan sebab-sebab bajik yang mendatangkan kebahagiaan di kehidupan ini maupun kehidupan mendatang. Pencegahan dan pengobatan yang didapat dari penerapan sains adalah penanganan wabah dari sisi eksternal, tapi penanganan ini efektif atau tidak tetap bergantung pada perlindungan internal, yaitu praktik Dharma kita.</p>



<p class="has-text-align-right"><em>Baca penjelasan tentang cara kerja hukum karma <a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Karma?id=seGMDwAAQBAJ">di sini</a>. </em></p>



<p><strong>Pemuka agama juga berperan penting.</strong></p>



<p>Kembali ke ilustrasi sindiran di awal tulisan ini, mana mungkin kita mengharapkan pemuka agama untuk alih profesi menjadi peneliti virus atau pembuat vaksin? Kecuali mereka memang sarjana ilmu kedokteran atau mikrobiologi, itu lain cerita.</p>



<p>Selain kesehatan fisik, ada satu hal yang amat penting dan tidak boleh diabaikan dalam masa pandemi COVID-19 ini, yaitu kesehatan mental. Jutaan manusia di seluruh dunia, baik yang terkena penyakit maupun tidak, pasti terdampak secara mental oleh wabah ini. Kepanikan dan kekhawatiran secara alami muncul seiring dengan semakin mendesaknya tuntutan untuk mengubah pola hidup. Okelah, karantina wilayah mungkin bisa membatasi penyebaran virus, tapi berapa banyak orang yang jadi stres gara-gara kesulitan beradaptasi? Di beberapa negara yang menerapkan karantina, terjadi <a href="https://www.theguardian.com/society/2020/mar/28/lockdowns-world-rise-domestic-violence">peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga</a>. Di belahan dunia lain, banyak juga yang mengabaikan instruksi untuk tinggal di rumah karena tidak tahan dikarantina. Parahnya lagi, tidak sedikit berita tenaga medis dan orang dalam pengawasan (ODP) yang dipersekusi karena masyarakat ketakutan dan tidak bijak dalam menyikapi wabah. Belum lagi <em>panic buying</em> menyebabkan kelangkaan barang pokok sehingga banyak yang tercekik di masa pandemi ini. Ini semua tentu tidak membantu terhadap usaha penanganan pandemi, bahkan bisa memperparah. Ketika ilmuwan akhirnya berhasil menemukan vaksin untuk virus corona, mungkin hampir seluruh umat manusia sudah musnah gara-gara kerentanan batin yang berdampak pada kegagalan pengendalian penyebaran penyakit.</p>



<p>Lantas, apa yang bisa &#8216;menjaga&#8217; kesehatan batin orang-orang di masa pandemi ini? Jelas Dharma adalah jawabannya. Dharma mengajarkan kita cara mengelola batin dan menyikapi situasi sulit, bahkan menggunakan situasi itu untuk membuat batin kita makin berkembang sehingga bisa &#8216;menampung&#8217; makhluk lain dan tidak hanya memikirkan diri sendiri. Di sinilah peran penting guru-guru Dharma yang menyemangati kita semua untuk terus melatih batin dan melakukan kebajikan. Para guru Dharma juga tentunya tidak berpangku tangan selagi para ilmuwan berjuang lalu mengabaikan jasa mereka setelah obat ditemukan seperti yang disindir orang-orang di internet. Bahkan sekarang pun para guru terus bekerja untuk &#8216;menjaga&#8217; batin orang banyak sambil memberikan penghargaan kepada semua pihak yang berjasa dalam menghadapi pandemi sesuai dengan peran mereka masing-masing!</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;Dari posisi saya yang seadanya, saya ingin berpartisipasi dalam usaha ini. Usia saya, 88 tahun, mencegah saya untuk berperan aktif dan melakukan tindakan konkret seperti yang saya inginkan. Namun, sebagai seorang Lama, sebagai seorang praktisi Buddhis, saya berdoa dengan intens agar penyebaran virus corona segera berhenti secepat mungkin di seluruh dunia&#8230;&#8221;</p><cite> Y. M. Guru Dagpo Rinpoche, 8 April 2020  </cite></blockquote>



<p>Guru Dagpo Rinpoche adalah salah satu guru Dharma yang aktif memberikan pesan dukungan di masa wabah COVID-19. Dalam <a href="https://web.facebook.com/DagpoRinpoche.id/photos/a.1688858941260585/2071119443034531/?type=3&amp;theater">pesan terbaru Beliau</a>, Rinpoche berterima kasih ke semua pihak, mulai dari tenaga medis, perawat, petugas kebersihan, seniman, sampai warga negara biasa yang sudah berperan dengan menaati aturan <em>lockdown</em> demi melawan COVID-19. Di usia 88 tahun, Rinpoche memang tidak bisa memberikan bantuan secara fisik. Namun, sebagai seorang Lama yang berpengaruh di Prancis dan di seluruh dunia,<a href="https://web.facebook.com/DagpoRinpoche.id/posts/2050839111729231?__xts__[0]=68.ARCjb1MBdj724s-0pUe64BDdDmQK0Fv5uG6-9t7bEPhG1b1iZ73vnvP_Gk1F9oVs8ior9hqBGg2m9l3LFiVAMKW4lBcF-KAu5VDOqWXD58_FKOCMUvVyri79mhE2h2uJDHDtDriY5Yfr95gohJDZ_Av5HzfmCYnO22hHPj4XIhSHKpDT6yznp0Ar_yxv25qNv0vrZy8cWRdlxbmslBA_b8kq9fZoIiGRSlcpeH7TEOWaQZ-pEroCDtVNcMrXebs1vLMlblUIzgMyOxxL4R20e63PoF3N7uoKEeKhZR4LcnKprKuCC6bpFrSfutlhAUQSMeZxA8nyWaI0SboC3E7TyTqW&amp;__tn__=-R."> Beliau membimbing kita agar bisa menghadapi wabah dengan sikap batin yang tepat</a> sesuai dengan Dharma sekaligus menyemangati kita semua untuk tidak menyerah dan memancarkan welas asih di setiap kesempatan<a href="https://web.facebook.com/DagpoRinpoche.id/posts/2050839111729231?__xts__[0]=68.ARCjb1MBdj724s-0pUe64BDdDmQK0Fv5uG6-9t7bEPhG1b1iZ73vnvP_Gk1F9oVs8ior9hqBGg2m9l3LFiVAMKW4lBcF-KAu5VDOqWXD58_FKOCMUvVyri79mhE2h2uJDHDtDriY5Yfr95gohJDZ_Av5HzfmCYnO22hHPj4XIhSHKpDT6yznp0Ar_yxv25qNv0vrZy8cWRdlxbmslBA_b8kq9fZoIiGRSlcpeH7TEOWaQZ-pEroCDtVNcMrXebs1vLMlblUIzgMyOxxL4R20e63PoF3N7uoKEeKhZR4LcnKprKuCC6bpFrSfutlhAUQSMeZxA8nyWaI0SboC3E7TyTqW&amp;__tn__=-R">.</a></p>



<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV juga merupakan salah satu pemuka agama yang berperan aktif di masa pandemi ini. Dalam salah satu <a href="https://www.instagram.com/p/B-Y5EhrAy03/">pesan terbuka</a> Beliau. Y. M. S. Dalai Lama mendorong semua pihak untuk memberi bantuan pada orang-orang yang kehilangan mata pencaharian karena wabah COVID-19. Mungkin banyak sekali warganet yang menyerukan hal serupa di medsos mereka, tapi dorongan ini tentu punya kekuatan berbeda jika dikeluarkan dalam bentuk surat terbuka dari salah satu tokoh Buddhis paling berpengaruh sekaligus pemenang nobel perdamaian yang dihormati oleh pemimpin-pemimpin dunia.</p>



<p>Jadi, peran dokter, tenaga medis, dan ilmuwan memang penting untuk melindungi tubuh kita dari COVID-19.  Namun, di saat yang sama, Buddhadharma dan tokoh-tokoh agama juga memiliki peran yang amat penting dalam menjaga kesehatan mental orang banyak yang amat rentan selama para ilmuwan dan pihak-pihak lain yang memiliki kemampuan khusus berjuang mencari cara mengatasi pandemi ini. Tanpa Dharma dan guru-guru Dharma yang membimbing kita untuk menjaga batin kita selama pandemi berlangsung, usaha para ilmuwan tentunya akan sia-sia karena kemanusiaan keburu tumbang karena rasa takut, cemas, dan sikap mementingkan diri sendiri membuat kita saling menghancurkan satu sama lain.</p>



<p><strong>Wahai kaum rebahan, jangan gabut!</strong></p>



<p>Ilmuwan punya peran, pemuka agama punya peran, lalu bagaimana dengan kita? Kita tidak punya kemampuan untuk meneliti virus atau merawat orang sakit. Kita juga mungkin tak punya cukup kebijaksanaan ataupun kharisma untuk menolong orang lain secara mental. Kita punya uang seadanya, sudah kita danakan untuk pengadaan APD bagi tenaga medis dan bantuan sembako untuk pekerja sektor informal. Sekarang tinggal rebahan di rumah biar nggak kena virus atau menyebarkan virus ke orang lain. Santai-santai aja pun ternyata kita udah berjasa untuk menangani pandemi COVID-19! Asal nggak keluar rumah, kita bebas melakukan apa saja!</p>



<p>Eits&#8230; Nggak gitu, lho, Bambank&#8230;</p>



<p>Rebahan di rumah saja nggak cukup untuk mengatasi wabah COVID-19. Ingat hukum karma, setiap tindakan pasti ada akibatnya. <strong>Segala hal yang kita lakukan selagi rebahan di rumah juga akan berdampak pada perkembangan pandemi! </strong>Kalau kita mainan medsos sepanjang hari, marah-marah di status, menyebarkan berita-berita yang nggak jelas kebenarannya, mengutuk orang-orang yang kita anggap &#8216;kurang baik&#8217; seperti pemerintah yang kurang gercep atau orang kaya yang pake APD buat ke supermarket justru menambah sebab terjadinya wabah. Semakin banyak orang yang nggak menjaga batin dari emosi negatif, semakin banyak pula <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/09/takut-covid-19-sampai-panic-buying-apa-penyebabnya-menurut-karma/">sebab-sebab karma buruk</a> kolektif yang akan membuat perjuangan para pahlawan COVID-19 yang melakukan aksi nyata jadi sia-sia!</p>



<p>Selagi di rumah, kita masih bisa melakukan <strong>menciptakan sebab-sebab berakhirnya wabah</strong> sesuai dengan hukum karma, yaitu mengumpulkan kebajikan. Dengan memperkaya batin dengan <a href="https://www.instagram.com/stories/highlights/17849890543998250/">membaca buku-buku Dharma</a>, menerapkan hidup berkesadaran dengan menganalisis setiap emosi yang muncul, menerapkan penawar terhadap emosi negatif, dan melakukan berbagai kebajikan seperti bermeditasi, membaca sutra-sutra, melafalkan mantra, atau membuat persembahan dan mendedikasikannya untuk berakhirnya pandemi dan kebahagiaan semua makhluk, kita secara aktif menciptakan sebab-sebab terhentinya wabah virus corona dan mendukung usaha berbagai pihak untuk menemukan vaksin dan obat. Kita juga bisa memberikan bantuan untuk usaha-usaha yang bertujuan untuk menjaga batin orang banyak di masa pandemi lewat <a href="https://lamrimnesia.org/jadi-relawan/">tenaga</a> maupun <a href="https://web.facebook.com/lamrimnesia/photos/a.1752346688326894/2674782846083269/?type=3&amp;theater">materi</a>. Ilmuwan, tenaga medis, pegawai pemerintah, petugas kebersihan, <em>driver</em> ojek, dan begitu banyak orang lain bekerja mati-matian di luar sana, masa kita tega biarin mereka berjuang sendiri dan gabut di rumah?</p>



<p>Sama halnya dengan Buddha tidak bisa mencuci dosa-dosa kita dengan air, tapi mengajarkan Dharma agar kita bisa menolong diri kita sendiri, Guru Dagpo Rinpoche dan tokoh-tokoh agama lainnya sudah memberikan bimbingan. Kita sendirilah yang bisa menentukan apakah kita mau dibimbing dan menjalankan anjuran mereka untuk menjaga batin, mengembangkan welas asih, dan terus berdoa dan melakukan kebajikan di rumah atau mau santai-santai sambil saling sindir di media sosial. </p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/14/buat-apa-agama-di-hadapan-virus-corona/">Buat Apa Agama di Hadapan Virus Corona?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/14/buat-apa-agama-di-hadapan-virus-corona/">Buat Apa Agama di Hadapan Virus Corona?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
