<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BWCF 2020 - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/bwcf-2020/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Nov 2020 08:19:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.12</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>BWCF 2020 - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>BWCF 20 &#8211; Cerita Relief Borobudur: Menilik “Komik” Terbesar di Dunia</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-20-cerita-relief-borobudur-menilik-komik-terbesar-di-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2020 08:16:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[Borobudur Writers & Cultural Festival]]></category>
		<category><![CDATA[BWCF 2020]]></category>
		<category><![CDATA[karmavibhangga]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[lalitavistara]]></category>
		<category><![CDATA[relief]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5703</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Memahami relief Borobudur berarti memahami Dharma sekaligus kebudayaan leluhur kita. Mari kita lestarikan!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-20-cerita-relief-borobudur-menilik-komik-terbesar-di-dunia/">BWCF 20 – Cerita Relief Borobudur: Menilik “Komik” Terbesar di Dunia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-20-cerita-relief-borobudur-menilik-komik-terbesar-di-dunia/">BWCF 20 &#8211; Cerita Relief Borobudur: Menilik “Komik” Terbesar di Dunia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Vioni Wilanda</p>



<p>Apa yang terlintas di otakmu ketika mendengar “Candi Borobudur”? Tentunya pikiran kita akan menjawab kalau Candi Borobudur adalah Candi Buddhis terbesar di dunia dan itu benar banget! Tapi kamu tahu nggak alasan kenapa candi yang terletak di Jawa Tengah ini bisa disebut sebagai candi terbesar di dunia? Itu dikarenakan Candi Borobudur memiliki 1.545 stupa, 1.472 stupika (stupa yang berukuran kecil), 72 stupa berlubang, dan 1 stupa puncak. Wah! Banyak banget, kan? Oh ya, Mahacandi Borobudur ini juga disebut sebagai komik gigantik karena 2.672 reliefnya yang teruntai bagai komik gigantik berisi banyak cerita bernilai moral, spiritual, dan kultural lho!</p>



<p>Nah, dalam rangka mengenal Candi Borobudur lebih jauh, saya berkesempatan untuk menambah wawasan kita dengan mendengarkan penjelasan mengenai relief Borobudur dalam acara Borobudur Writers &amp; Cultural Festival (BWCF), tepatnya di sesi Bedah Buku Cerita Relief yang berlangsung pada tanggal 22 November 2020 secara <em>online</em>. Acara BWCF sendiri diselenggarakan oleh Samana Foundation untuk kesembilan kalinya dengan tema “Bhumisodhana: Ekologi dan Bencana dalam Refleksi Kebudayaan Nusantara”.&nbsp;</p>



<p>Bedah buku dibawakan oleh Drs. Handaka Vijjananda, Apt. yang merupakan pendiri dari Ehipassiko Foundation. Beliau sangat mahir dalam menjelaskan isi dari ke-5 buku karya Bhikkhu Anandajoti yang berjudul: “Gandavyuha”, “Avadana”, “Lalitavistara”, “Jataka”, dan “Karmavibhanga”. Bhikkhu Anandajoti sendiri merupakan seorang penerjemah kitab suci Buddhis bahasa Pali &amp; Sansekerta yang lahir pada tahun 1953 sekaligus fotografer situs Buddhis di Asia Selatan &amp; Tenggara.</p>



<h5>Ikonografi Borobudur</h5>



<p>Pak Handaka memulai sesi bedah buku ini dengan menjelaskan ikonografi Borobudur. Beliau memaparkan dengan jelas dan rinci terkait lantai-lantai di Borobudur yang berjumlah 10 ini, terhitung dari lantai 0 sampai dengan lantai 9. Dan ternyata 10 lantai di Borobudur ini didasari oleh 10 tataran Dasabhumika Sutra, lho! Berlanjut ke pembahasan berikutnya yairu mengenai ikon-ikon relief di Borobudur, Beliau menjelaskan bahwa ada relief yang berwujud berbagai jenis makhluk, fauna maupun flora. Di dalam ikon relief flora, ditemukan 31 relief Kalpataru (pohon pengabul harapan). Kita juga dapat menjumpai relief 9 kapal dan relief 9 Stupa dan chatra (payung) di dinding-dinding candi.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/S7bLEEJooBD3YDHb4dAWhk6F8KsmPz9MUOAOxWdtCXFFMaOHEdEE3298w00hKgHJEqU_uvP0cbF5l9ZF5HWohlRKSJwzgKg2nZPqjkVntDxAMGYgxxzWAQvQ-U4EIc1taN-WuUcE" alt=""/><figcaption><em>Penampang Candi Borobudur</em><br><em>(Sumber: BWCF 2020)</em></figcaption></figure></div>



<h5>Potret Kehidupan Sehari-Hari di Jawa Kuno</h5>



<p>Selanjutnya Pak Handaka menyampaikan penjelasan panel relief-relief di Candi Borobudur. Pertama yaitu relief Karmavibhangga yang bercerita mengenai hukum karma yang digambarkan dalam bentuk kehidupan masyarakat Jawa kuno. Misalnya seperti relief orang-orang yang membayar pajak, akibat karma buruk di neraka, kegiatan menjaring ikan, dan tentunya masih banyak lagi. Relief selanjutnya yaitu relief Lalitawistara mengenai riwayat Buddha Gautama dari lahir sampai pertama kali memutar roda Dharma. Total relief Buddha Shakyamuni yang berada di Borobudur berjumlah 25 relief. Ketiga adalah relief Jataka yang berisi kisah kehidupan lampau Sang Buddha dalam menyempurnakan paramita demi mencapai pencerahan demi semua makhluk. </p>



<p><em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/sutra-bijak-dan-dungu/">Kisah epik Sang Buddha dan murid-muridnya juga bisa dibaca di sini!</a></em></p>



<p>Lalu ada Relief Avadana yang mengisahkan himpunan legenda epik dari kisah kehidupan lampau Buddha Shakyamuni. Lalu yang terakhir adalah relief Gandavyuha yang menggambarkan perjalanan pencarian pencerahan, mulai dari perjalanan Sudhana mencari sosok guru spiritual, Maitreya yang menyingkap Dharmadhatu, perbuatan bajik Maitreya, dan lain-lain.    </p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/QSGyiR5OhqR6_PLTKa5b3fz96P1I9X9FBA2QP1Bl4HzwLy-C68OPNXGacvrjpE8yETYJSABeVuVYTM7WF2lIrqqxaD8iiSCrgBUjEyKAmcr4Avoj4p2fGAwHQ4lgPoJZQ-3cRMo3" alt=""/><figcaption>Relief Karmawibhangg<em>a</em><br>(Sumber: BWCF 2020)</figcaption></figure></div>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/EEwO0ui-hJsVLcMvRpc9s-JP77NIMn2bK3o1fIyuoAueW77Z9NdI4PgZURoHuW6UWqDNeecavW51Zxf1pJtPCGirUr6-6fqGfjkGJ7-5MO_kC_t_6sy3JheRw9yPgYB19fRTt0Li" alt=""/><figcaption>Relief Lalitawistara<br>(Sumber: BWCF 2020)</figcaption></figure></div>



<p>Dalam dua jam saja, banyak banget yang bisa kita pelajari dari acara bedah buku ini. Rasanya pun nggak seperti membedah suatu buku, melainkan menjelajahi tiap sudut dari Candi Borobudur. Asyik banget pokoknya! Lalu Pak Handaka menutup acara ini dengan sedikit pesan. Beliau mengatakan kalau kita berkunjung ke Candi Borobudur, mohon agar tetap menjaga candi ini. Pengunjung diharapkan tidak bersandar di dinding relief agar reliefnya tidak terkikis. Sudah banyak relief yang terkikis dan stupa yang hilang. Jika kita tidak bisa memperbaikinya, setidaknya jangan merusaknya. Mari kita jaga dan lestarikan candi Buddhis terbesar di dunia ini!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-20-cerita-relief-borobudur-menilik-komik-terbesar-di-dunia/">BWCF 20 – Cerita Relief Borobudur: Menilik “Komik” Terbesar di Dunia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-20-cerita-relief-borobudur-menilik-komik-terbesar-di-dunia/">BWCF 20 &#8211; Cerita Relief Borobudur: Menilik “Komik” Terbesar di Dunia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BWCF 2020 &#8211; Jiwa di Balik Ragam Flora Relief Borobudur</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-jiwa-di-balik-ragam-flora-relief-borobudur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2020 07:52:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[baca relief]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[Borobudur Writers & Cultural Festival]]></category>
		<category><![CDATA[BWCF 2020]]></category>
		<category><![CDATA[candi borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[flora]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5700</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Relief Borobudur adalah sumber pengetahuan ekologis sekaligus inspirasi untuk berkarya sepenuh hati demi semua makhluk.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-jiwa-di-balik-ragam-flora-relief-borobudur/">BWCF 2020 – Jiwa di Balik Ragam Flora Relief Borobudur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-jiwa-di-balik-ragam-flora-relief-borobudur/">BWCF 2020 &#8211; Jiwa di Balik Ragam Flora Relief Borobudur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Samantha J.</p>



<p>Pandemi COVID-19 membuat pola hidup kita semua berubah drastis. Laju kehidupan yang serbacepat bahkan sempat melambat. Perubahan ini memberi kita kesempatan untuk mengamati hal-hal yang biasanya tidak kita sadari, salah satunya adalah ekologi. Virus yang merebak di seluruh dunia seolah merupakan panggilan Ibu Bumi pada kita, “anak-anak” yang terlampau larut dalam pencarian materi sehingga nyaris durhaka pada Sang Ibu yang telah memberikan kehidupan. Mungkin ini yang melatarbelakangi pemilihan tajuk “Bhumisodhana: Ekologi dan Bencana dalam Refleksi Kebudayaan Nusantara” sebagai tema Borobudur Writers &amp; Cultural Festival 2020. </p>



<p>Bagian dari acara ini yang ingin saya ceritakan juga merupakan sesuatu yang biasanya luput dari perhatian saya dan jutaan wisatawan maupun pencari Dharma yang mengagumi relief di Candi Borobudur kebanggaan bangsa kita, yaitu webinar baca relief bertema “Relief Flora di Candi Borobudur” bersama Dr. Destario Metusala &amp; Drs. Handaka Vijjananda, Apt. di hari kedua Borobudur Writers &amp; Culture Festival (BWCF) 2020, tanggal 21 November lalu. </p>



<h5>Dharma pohon &#8211; Flora dari sudut pandang Buddhis</h5>



<p>Webinar dimulai dengan pemaparan dari Pak Handaka seputar pentingnya tumbuh-tumbuhan, khususnya pohon, dalam Buddhadharma. Berbagai peristiwa penting dalam riwayat hidup Buddha Shakyamuni seperti kelahiran Beliau, meditasi pertama, pencapaian penerangan sempurna, hingga parinirwana terjadi di bawah naungan pohon. Dalam ajaran Buddha, tanaman dianggap sebagai benda hidup yang bernafas meski tak memiliki kesadaran. Aturan dalam Winaya Pitaka pun melarang perusakan pohon. </p>



<p>Sang Buddha sendiri sangat sering memberikan pengajaran Dharma dengan kiasan tanaman atau pohon. Jadi, dalam Buddhadharma, pohon dan aneka tanaman lainnya bukan hanya sumber kehidupan, tapi juga sumber kebijaksanaan yang harus dihormati dan dipelihara dengan sepenuh hati.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/kvQS7DO9zjGd1b4yVBt-d70qWdw_kY4KBhkgTolG_TlB-kPRSqvTycLn32sWSWUsunEU0fsL72lcgCwTNiN61YAcNKllEIlvH1Mmr2rsdvizlXbY5KHQwq9WDRhaCiI8Z-RmK7wW" alt=""/><figcaption>Kiasan pohon dalam kitab Dharma “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lakon-hidup-sang-penerang/">Lakon Hidup Sang Penerang</a>” (<em>Bodhisattva-caryavatara</em>) karya Arya Shantidewa<br>(Sumber foto: BWCF 2020)</figcaption></figure></div>



<h5>Relief Candi Borobudur: Potret Kebijaksanaan, Potret Keanekaragaman</h5>



<p>Webinar kemudian dilanjutkan oleh Dr. Destario yang menjelaskan hasil penelitiannya seputar flora dalam relief Candi Borobudur, khususnya bagian Sutra Lalitawistara yang menggambarkan riwayat Buddha Shakyamuni mulai dari kelahiran Beliau sebelumnya di alam dewa hingga pembabaran Dharma pertama kepada lima pertapa. Ternyata terdapat tidak kurang dari 84 spesies flora dapat ditemukan di relief Lalitawistara! </p>



<p>Setiap spesies tumbuhan ini diukir dengan sangat rinci dengan mengacu pada bentuk tanaman asli. Kerincian dan ketepatan inilah yang memungkinkan para peneliti mengidentifikasi setiap ukiran flora dengan cara yang kurang lebih sama dengan mengidentifikasi tanaman sungguhan di masa modern, baik dari bentuk batang, bentuk daun, jumlah dan arah tumbuh daun, buah, dan lain-lain. Bahkan tak hanya jenisnya yang beragam, setiap tanaman pun digambarkan dalam berbagai fase. Misalnya tanaman seroja digambarkan tidak hanya dalam bentuk mekar seperti yang umumnya ditemui, tapi juga dalam kondisi kelopak yang sudah gugur. Penempatan jenis tanaman juga menyesuaikan dengan adegan yang digambarkan. Pepohonan di adegan berlatar istana memiliki jenis yang berbeda dengan pepohonan di latar perkampungan rakyat jelata. Selain beberapa jenis flora yang secara khusus disebutkan dalam kitab Lalitawistara, dapat disimpulkan juga bahwa tumbuh-tumbuhan yang diukir dalam relief merupakan penggambaran yang cuku akurat mengenai keanekaragaman flora di Jawa kuno saat relief tersebut dibuat.</p>



<p>Keanekaragaman flora merupakan kekhasan yang bisa jadi hanya ada di relief Candi Borobudur. Banyak bangunan kuno lain yang memiliki relief yang tak kalah indah, misalnya Angkor Wat di Thailand, tapi flora yang ada dalam relief-relief tersebut hanya berfungsi sebagai dekorasi yang cenderung monoton karena hanya terdiri atas satu jenis. Dari temuan ini, Dr. Destario dan tim menyimpulkan bahwa leluhur kita yang membangun Candi Borobudur memandang keanekaragaman sebagai keindahan. Karena itulah mereka dengan telaten mengukir begitu banyak jenis flora dalam mahakarya yang menjadi persembahan tertinggi mereka kepada para Buddha sekaligus dana Dharma untuk semua orang yang kelak akan membaca relief-relief tersebut.</p>



<h5>Persembahan Tertinggi, Kerja Sepenuh hati</h5>



<p>Relief Candi Borobudur memang dapat disebut sebagai komik raksasa. Namun, relief ini bukan komik biasa. “Komik” di dinding Candi Borobudur merupakan penggambaran visual dari berbagai Sutra-Sutra Buddha yang mengandung kebijaksanaan adiluhung. Pak Handaka juga sempat memaparkan bahwa relief ini memungkinkan peziarah mancanegara memahami ajaran Buddha di Nusantara yang kala itu merupakan salah satu pusat Buddhadharma dunia tanpa terhalang tembok bahasa. Sesungguhnya sah-sah saja jika seniman-seniman pembuat relief ini hanya menggambarkan tanaman yang mudah dibuat berdasarkan ingatan, tapi mereka mengerahkan usaha ekstra dalam mengamati alam di sekitar mereka dan menangkapnya seakurat mungkin dalam bentuk ukiran batu tanpa kehilangan gaya artistik. Sebagai ilustrator amatir, saya pun merasa tertampar karena malas mencari referensi dan puas dengan <em>template</em> yang disediakan oleh aplikasi. Padahal mengamati detail alam bisa dilakukan dengan mudah tanpa perlu beranjak dari tempat duduk!</p>



<p>Para seniman relief Borobudur tentu tidak berpikir, “Ah, ukir seadanya saja, <em>toh ndak </em>ada yang ngerti,” melainkan dengan sepenuh hati membaktikan diri dalam mengukir dana tertinggi mereka yang berbentuk Dharma dalam bentuk rangkaian ukiran raksasa panel demi panel. Usaha tentu tidak mengkhianati hasil. Berkat kerja keras mereka, selain mendapatkan pengetahuan ilmiah seputar keanekaragaman flora di Jawa kuno, kita yang hidup di zaman modern yang serba instan dan miskin spiritualitas bisa mendapatkan inspirasi dari para seniman Jawa kuno untuk berkarya dengan sepenuh jiwa demi semua makhluk yang tak terhingga banyaknya.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-jiwa-di-balik-ragam-flora-relief-borobudur/">BWCF 2020 – Jiwa di Balik Ragam Flora Relief Borobudur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-jiwa-di-balik-ragam-flora-relief-borobudur/">BWCF 2020 &#8211; Jiwa di Balik Ragam Flora Relief Borobudur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BWCF 2020 &#8211; Menuju Candi Borobudur Digital</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-menuju-candi-borobudur-digital/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2020 07:38:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[Borobudur Writers & Cultural Festival]]></category>
		<category><![CDATA[BWCF 2020]]></category>
		<category><![CDATA[digitalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[pelestarian budaya]]></category>
		<category><![CDATA[virtual]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5696</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Digitlasiasi budaya bukan sekadar proses perekaman, melainkan proses membangun cerita dan berbagi ide untuk dipelajari bersama.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-menuju-candi-borobudur-digital/">BWCF 2020 – Menuju Candi Borobudur Digital</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-menuju-candi-borobudur-digital/">BWCF 2020 &#8211; Menuju Candi Borobudur Digital</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Junarsih</p>



<p>Samana Foundation kembali menyelenggarakan Borobudur Writers and Cultural Festival selama lima hari pada tanggal 19-23 November 2020. Banyak peserta dari seluruh penjuru negeri mengikuti acara yang tahunan yang kini berpindah ke ranah digital ini. Sehubungan dengan &#8220;perpindahan&#8221; ini, ada satu topik bahasan yang unik pada sesi Ceramah Umum 2 yaitu “Digitalisasi Candi Borobudur sebagai Kerja Ontologis” bersama Dr. Fadjar Ibnu Tufail, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, pada Sabtu (22/11).</p>



<p>“Digitalisasi adalah membuat dunia secara digital,” tutur Dr. Fadjar Ibnu Tufail mengawali ceramah. Jadi, digitalisasi merupakan penangkapan suatu objek untuk membuat dunia secara digital yang bisa mengubah relasi antara manusia dengan dunia nyata. Kata “ontologi” yang menjadi tema ceramah ini berasal dari bahasa Yunani: <em>onto</em> berarti “ada” dan <em>logos</em> artinya “ilmu”. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang keberadaan suatu hal.</p>



<p>Dr. Fadjar Ibnu Tufail mengatakan bahwa ontologi dikaitkan dengan siapa dan bagaimana letak kita di dunia ini dengan bantuan teknologi digital. Maksudnya adalah siapa saja yang berkaitan dengan suatu hal, misal tempat, dapat diketahui melalui proses digitalisasi untuk membuat dunia sebagai pengalaman. Jadi, tema digitalisasi candi dijadikan sebagai kerja ontologis bertujuan untuk mengetahui tentang keberadaan candi melalui proses digitalisasi.</p>



<h5>Mengungkap sisi yang tersembunyi</h5>



<p>Pada ceramah ini, Dr. Fadjar Ibnu Tufail lebih menekankan pada ontologi digital dan tradisi. Salah satunya adalah proses visualisasi relief Karmawibhangga di Candi Borobudur. Kita semua tahu bahwa relief ini tersembunyi di bawah candi, tetapi bisa ditampilkan secara virtual dengan visualisasi transparan. Dengan visualisasi ini, tidak hanya relief tersembunyi yang dapat diketahui, tetapi juga susunan tanah bagian dalam candi Borobudur dapat dilihat. Selain itu, berkat kemajuan teknologi, kita juga bisa melihat suatu bangunan bukan hanya dari satu sisi saja, melainkan bisa dari segala sisi.</p>



<p>Dr. Fadjar Ibnu Tufail juga mengatakan bahwa Youtube sebagai ranah pengalaman ontologi tradisi, di mana dunia yang dibentuk berdasarkan proses digital dengan sentuhan nilai dari lingkungan sekitar. Banyak sekali ragam budaya dan tradisi dari berbagai daerah dalam acara Ruwat Rawat Borobudur seperti jaran kepang, topeng ireng, dan berbagai atraksi lainnya yang direkam dan diunggah ke Youtube. Sebagian tarian yang ditampilkan dibuat berdasarkan kisah yang ada di relief Candi Borobudur. Ini adalah bukti bahwa Candi Borobudur sudah selayaknya kita rawat dan lestarikan karena mengandung begitu banyak nilai yang dapat berevolusi menjadi berbagai bentuk kesenian lain yang dapat dipelajari melalui berbagai media, termasuk Youtube.&nbsp;</p>



<p>Di sisi lain, kita harus menyadari bahwa proses digitalisasi sebagai kerja ontologis menampilkan objek hanya dalam jangka waktu tertentu. Objek yang asli akan berubah seiring dengan kondisi alam, sedangkan objek yang direkam akan tetap utuh seperti pertama kali objek itu diambil. Hal ini dapat berguna dalam dunia arkeologi untuk membantu memperkirakan bagian bentuk suatu candi dari situs yang mungkin tak lagi utuh di kemudian hari. </p>



<h5>Digitalisasi lebih dari sekadar merekam</h5>



<p>Pada akhir ceramahnya, Dr. Fadjar Ibnu Tufail menyampaikan bahwa digitalisasi bukan sekadar proses perekaman, melainkan proses membangun alur cerita yang baru untuk dipahami bersama. Pada akhir ceramahnya, Hal imi dikarenakan proses digitalisasi dapat menyimpan objek dalam jangka waktu yang lama dan bisa dipelajari di hari kemudian. </p>



<p>Dari webinar ini, kita bisa mengambil makna bahwa sebenarnya proses digitalisasi sebagai kerja ontologis ini bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah dengan memotret maupun merekam segala aktivitas yang dilakukan kemudian diunggah pada <em>platform </em>media sosial<em> </em>seperti Instagram, Facebook, maupun Youtube. Namun, segala aktivitas yang kita rekam harus kegiatan yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Hal ini memungkinkan kita untuk meningkatkan kreativitas dan memberi ide baru bagi orang lain untuk belajar bersama.</p>



<p>Proses digitalisasi juga bisa membantu kita untuk mengingat kejadian yang terjadi di masa lalu untuk dijadikan sebagai bahan pembelajaran di masa mendatang karena kita merekam seluruh urutan kejadian sehingga menjadi cerita baru. Misal kita merekam tradisi suatu daerah setiap tahunnya. Dari sana kita bisa belajar bahwa tradisi setiap tahun selalu memiliki inovasi, seperti jenis makanan dan baju yang dikenakan, sehingga bisa membangun persepsi kita dalam melihat dunia lain yang sebelumnya tidak pernah kita ketahui.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-menuju-candi-borobudur-digital/">BWCF 2020 – Menuju Candi Borobudur Digital</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-menuju-candi-borobudur-digital/">BWCF 2020 &#8211; Menuju Candi Borobudur Digital</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BWCF 2020 &#8211; Bhūmiśodhana: Bersih Diri Bersih Lingkungan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-bhumisodhana-bersih-diri-bersih-lingkungan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2020 07:21:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[Borobudur Writers & Cultural Festival]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[BWCF 2020]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[purifikasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5689</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bhūmiśodhana (menyucikan bumi) dari pandemi dan aneka bencana lainnya dapat dilakukan dengan membersihkan diri dari dalam.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-bhumisodhana-bersih-diri-bersih-lingkungan/">BWCF 2020 – Bhūmiśodhana: Bersih Diri Bersih Lingkungan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-bhumisodhana-bersih-diri-bersih-lingkungan/">BWCF 2020 &#8211; Bhūmiśodhana: Bersih Diri Bersih Lingkungan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Silvi Wilanda</p>



<p>Jumat tanggal 20 November 2020 lalu, Dr. Hudaya Kandahjaya, seorang budayawan serta peneliti asal usul Candi Borobudur berkenan untuk membagikan ilmunya lewat ceramah umum “Bhūmiśodhana: Pandangan Agama Buddha Tentang Manusia dan Lingkungan” dalam Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2020. Ceramah umum ini diselenggarakan sejak pukul 10.00 hingga 12.00 WIB secara daring melalui aplikasi Zoom. Topik ceramah umum ini sendiri selaras dengan tema BWCF ke-9, yaitu “Bhūmiśodhana, Ekologi dan Bencana dalam Refleksi Kebudayaan Nusantara”.</p>



<p>Ceramah umum dibuka dengan pembedahan kata dari<em> </em><em>bhūmiśodhana</em> yang berasal dari kata <em>b</em><em>hū </em>atau <em>bhūmi</em> yang berarti “bumi” atau “tanah” dan kata <em>śodhana </em>yang berasal dari akar kata <em>śudh</em> berarti “membersihkan” atau “menyucikan”. Oleh karena itu, secara harfiah ungkapan <em>bhūmiśodhana</em> atau <em>bhūśodhana</em> berarti “membersihkan atau menyucikan bumi”. <em>Bhūmiśodhana</em> juga dapat dimaknai sebagai ritual pembersihan dan pengeramatan dalam rangka pembangunan tempat atau objek suci.&nbsp;</p>



<p>Dilihat dari manfaatnya, mempraktikkan <em>bhūmiśodhana</em> tidak hanya dapat membuat kenyamanan bagi para dewa dan banyak makhluk, namun juga bagi diri sendiri. Bagi penulis sendiri, hal ini selaras dengan tahapan pertama dari <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/permata-hati/">Enam Praktik Pendahuluan</a> dalam Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (<em>Lamrim</em>), yaitu praktik bersih-bersih ruangan yang ingin kita gunakan untuk melakukan praktik Dharma. Praktik ini ditujukan untuk menghormati Triratna dan makhluk suci lainnya yang datang ketika kita berpraktik sekaligus upaya yang sering dimaknai sebagai pembersihan diri dari karma buruk.  </p>



<h5>Membersihkan diri adalah langkah awal membersihkan lingkungan</h5>



<p>Selain melakukan pembersihan lingkungan (eksternal), Buddhaguhya, seorang cendekiawan Buddhisme abad ke-7, menyatakan bahwa penting sekali bagi praktisi Buddhis untuk melakukan pembersihan diri (internal). Bahkan, menurut Beliau, pembersihan internal jauh lebih penting dibanding dengan pembersihan eksternal. Hal ini disebabkan karena segala fenomena eksternal bersifat tidak nyata dan juga tergantung oleh pembersihan internal. Jika diri (internal) kita bersih, maka seyogyanya lingkungan (eksternal) juga akan bersih. Untuk melakukan pembersihan diri, seseorang perlu menempuh Jalan Kesucian (<em>Visuddhimagga</em>) dalam tradisi Theravada atau melakukan pengakuan kesalahan (<em>papasodhana/papadesana</em>) dan ritual tobat Puja Tiada Tara (<em>anuttarapuja</em>) dalam tradisi Mahayana.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="576" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/11/WhatsApp-Image-2020-11-24-at-18.19.05-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-5691" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/11/WhatsApp-Image-2020-11-24-at-18.19.05-1024x576.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/11/WhatsApp-Image-2020-11-24-at-18.19.05-600x338.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/11/WhatsApp-Image-2020-11-24-at-18.19.05-300x169.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/11/WhatsApp-Image-2020-11-24-at-18.19.05-768x432.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/11/WhatsApp-Image-2020-11-24-at-18.19.05-150x84.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/11/WhatsApp-Image-2020-11-24-at-18.19.05-450x253.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/11/WhatsApp-Image-2020-11-24-at-18.19.05-1200x675.jpeg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/11/WhatsApp-Image-2020-11-24-at-18.19.05.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Praktik <em>anuttarapuja </em>selaras dengan kitab Bhadracari yang diabadikan di relief Borobudur dan doa Samantabhadrapranidhana yang diadaptasi menjadi Doa Tujuh Bagian dalam praktik pendahuluan dalam Lamrim.<br>(Sumber: BWCF 2020)</figcaption></figure>



<p>Lingkungan atau dunia eksternal ditentukan oleh lima keniscayaan di alam semesta (<em>panca-niyama</em>), yaitu sebab-akibat perbuatan (<em>kamma-niyama</em>), ranah fisik atau anorganik (<em>utu-niyama</em>), ranah organik (<em>bija-niyama</em>), kekuatan batin (<em>citta-niyama</em>), dan ranah Dharma (<em>dhamma-niyama</em>). Dari kelimanya, faktor yang paling utama membentuk lingkungan adalah perbuatan (<em>kamma-niyama</em>). Dalam hal ini, pembersihan diri termasuk dalam faktor keniscayaan <em>kamma-niyama</em>. Hal ini selaras dengan penjelasan Buddhaguhya bahwa pembersihan diri lebih penting dibanding pembersihan lingkungan karena pembersihan lingkungan itu sendiri tergantung pada pembersihan diri.&nbsp;</p>



<p>Tidak hanya terfokus pada hal yang bersifat internal dan spiritual, pembersihan lingkungan juga memerlukan tindakan langsung mengingat selain <em>kamma-niyama</em>, masih ada empat keniscayaan lainnya yang menentukan pembersihan lingkungan. Tindakan langsung yang dapat dilakukan adalah tindakan pencegahan, tindakan penanganan, serta penguasaan berbagai ilmu. Penguasaan berbagai ilmu, di antaranya adalah pengetahuan batin; tata dan komposisi bahasa; logika; penyakit dan pengobatan; seni; matematika; bisnis; teknologi; dan sebagainya. Perlu diingat, penguasaan berbagai ilmu-ilmu ini digunakan untuk menyejahterakan orang lain dan lingkungan, bukan untuk menipu orang lain. Penulis sendiri jadi mengingat berbagai Guru besar Buddhis yang tidak hanya mempelajari pengetahuan Buddhis, tapi juga berbagai ilmu sekuler lainnya bukan untuk tujuan pribadi, namun kesejahteraan banyak makhluk.&nbsp;</p>



<h5>Warisan Welas Asih</h5>



<p>Tindakan menjaga kelestarian lingkungan sudah ada sejak Buddhisme di Nusantara mencapai zaman kejayaan, yaitu pada zaman Kerajaan Sriwijaya. Buktinya adalah ditemukannya Prasasti Talang Tuo yang menceritakan pembangunan taman Sriksetra. Pandangan ekologi serta pembangunan ekosistem untuk kesejahteraan banyak makhluk tertera pada prasasti tersebut. Prasasti ini juga memuat nilai-nilai luhur Buddhis, seperti pengumpulan enam kesempurnaan (<em>paramita</em>) serta empat kediaman luhur (<em>brahmavihara</em>).&nbsp;Pendirian taman sendiri bisa dikatakan sebagai praktik welas asih agung yang memandang semua makhluk setara dengan penuh kasih beserta tekad untuk mempersembahkan kebahagiaan tertinggi untuk semua. Ini juga menjadi bukti bahwa leluhur kita menjunjung pandangan yang bersifat ekosentris (berpusat pada lingkungan), bukan bersifat antroposentris (berpusat pada manusia) yang menjadi penyebab eksploitasi alam yang banyak menimbulkan kerusakan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>Pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, pada saat itulah taman ini yang dinamakan Śrīksetra dibuat di bawah pimpinan Sri Baginda Śrī Jayanāśa. Inilah niat baginda: Semoga yang ditanam di sini, pohon&nbsp;kelapa,&nbsp;pinang,&nbsp;aren,&nbsp;sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula aur, buluh, betung, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan&#8230; semoga mereka menjadi wadah Batu Ajaib, mempunyai kekuasaan atas kelahiran-kelahiran, kekuasaan atas karma, kekuasaan atas noda, dan semoga akhirnya mereka mendapatkan Penerangan sempurna lagi agung.</em></p><cite>Prasasti Talang Tuo (684 M), terjemahan versi &nbsp;George Cœdès</cite></blockquote>



<p><em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/untaian-kelahiran-yang-berharga/">Kenalan dengan Guru Dharma dari Sriwijaya yuk!</a></em></p>



<p>Jadi, benar juga ungkapan “kebersihan adalah sebagian dari iman”. Jika iman (internal) seseorang bersih, maka lingkungannya seyogyanya juga bersih. Kondisi eksternal dipengaruhi oleh kondisi internal. Jadi, berkaca dengan tantangan yang kita hadapi, yakni COVID-19, barangkali kita perlu membersihkan internal kita terlebih dahulu sekaligus melakukan berbagai upaya nyata lainnya, seperti rajin memakai masker dan konsisten melakukan <em>physical distancing</em>.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-bhumisodhana-bersih-diri-bersih-lingkungan/">BWCF 2020 – Bhūmiśodhana: Bersih Diri Bersih Lingkungan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-bhumisodhana-bersih-diri-bersih-lingkungan/">BWCF 2020 &#8211; Bhūmiśodhana: Bersih Diri Bersih Lingkungan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
