<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>buddhisme - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/buddhisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Fri, 28 Feb 2025 13:30:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>buddhisme - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ini Dia Sulitnya Memperjuangkan Hak Umat Buddha atas Tempat Suci Agamanya Sendiri Sendiri</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/02/28/hak-tempat-suci-buddha/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Feb 2025 13:30:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[mahabodhi]]></category>
		<category><![CDATA[tempat suci]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9864</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Setiap komunitas beragama  punya kendali penuh akan tempat suci mereka, kecuali umat Buddha. Seperti apa perjuangan umat Buddha?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/02/28/hak-tempat-suci-buddha/">Ini Dia Sulitnya Memperjuangkan Hak Umat Buddha atas Tempat Suci Agamanya Sendiri Sendiri</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/02/28/hak-tempat-suci-buddha/">Ini Dia Sulitnya Memperjuangkan Hak Umat Buddha atas Tempat Suci Agamanya Sendiri Sendiri</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sejak tanggal 12 Februari 2025, sekitar 100 biksu dari seluruh dunia yang berada di kompleks Mahabodhi &#8211; Bodh Gaya, India memutuskan melakukan aksi damai berupa puasa hingga waktu yang tidak ditentukan. Pada tanggal 22 Februari 2025, kondisi kesehatan beberapa biksu yang melakukan aksi tersebut menurun drastis. Namun, mereka tetap memutuskan untuk melanjutkan aksi puasa tersebut. Beberapa biksu bahkan sudah mempersiapkan tekad untuk meninggal dalam aksi tersebut bila memang tidak dihiraukan. Tujuan aksi ini adalah pengaturan ulang kepengurusan Mahabodhi sehingga lebih mengutamakan para peziarah Buddhis alih-alih fungsi pariwisata dan juga mengembalikan fungsi utama Mahabodhi sebagai tempat suci agama Buddha yang dibangun oleh Kaisar Ashoka. Para biksu juga menuntut penghapusan hukum tahun 1949 mengenai komite kepengurusan bersama Mahabodhi. Pertanyaannya: ada apa dengan kepengurusan komite yang sekarang?</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXd40rEA3xp4SL42WQSfKgtYdcdLsh593DmSv1sB-jhL3Ns8sU4nlBaFx9S8gc0DkUhtFIaNbDiUovYfUs_EXaBQTGoUE7MU5yfkFUFsVmHC_Y3whu79ApnNuWa92EXIJi8ZjB-LhLCg3Jn2DMhBjDQ?key=7idKjHYZDCCi0swR4yZWOshf" alt="" width="800" height="534"/><figcaption>Kuil Mahabodhi, Bodhgaya, India<br>Sumber foto: <a href="http://Pexels.com">Pexels.com</a> oleh Nancy Yu</figcaption></figure></div>


<h2 id="h-mahabodhi-tempat-suci-buddha-tapi">Mahabodhi tempat suci Buddha, tapi&#8230;</h2>



<p>Kuil Mahabodhi dikelola oleh terusan dari sebuah komite yang dibentuk dan dikepalai oleh presiden pertama India pada tahun 1949. Komite tersebut terdiri atas 9 orang perwakilan dari dua kelompok: Hindu dan Buddha. Ya, saya tidak salah ketik. Kini, perwakilan kelompok Hindu yang sekarang mengelola Mahabodhi sudah mengganti beberapa objek pemujaan agama Buddha di kompleks Mahabodhi menjadi objek pemujaan Hindu dan bahkan sudah mengambil alih salah satu wihara beraliran umat Buddhis Tibet diganti menjadi tempat pemujaan Dewa Wisnu. Info terakhir adalah mereka sudah memasang lingga-yoni di depan patung Buddha di dalam kuil utama dan juga melakukan klaim bahwa kompleks tersebut adalah tempat Pandawa dahulu diasingkan sehingga kaum Hindu berhak mengambil alih. Mereka juga memerintahkan petugas keamanan negara bagian agar melarang biksu dan umat Buddha yang terlibat aksi damai untuk bisa masuk ke kompleks Mahabodhi.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img loading="lazy" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdEqalsqqqbrQaS9jRGfrkAmVedaqv6ukgkztGjU6t2aM1OzyuFpLuQBU2M3p9foi5EJDf6QxOUWg6-yeHHPzfz8v4bqXHUjIMsa2HTOShsU-veuzQN2u_i0bQNzQUlfIZqlZ5gVb-eHjORt93CzMg?key=7idKjHYZDCCi0swR4yZWOshf" alt="" width="800" height="533"/><figcaption>Biara Hindu di Bodhgaya<br>Sumber foto: Wikipedia commons oleh Lanasaman</figcaption></figure></div>


<p>Lalu sejak kapan sebenarnya Mahabodhi ini menjadi bahan rebutan? Mari kita kembali ke sejarah India saat negeri ini diserang bangsa Turki. Serangan tersebut membuat biara Nalanda dan Vikramasila terbakar habis. Perpustakaan biara Nalanda terbakar selama 3 bulan lamanya. Serangan bangsa Turki ini juga memberikan dampak kepada lingkungan Mahabodhi. Mahabodhi jelas tidak luput dari serangan dan  terjadi kehancuran cukup parah dan terpaksa ditinggalkan oleh para biksu dan akhirnya terlupakan oleh waktu, hingga akhirnya pada tahun tahun 1590, seorang pertapa Shiwa bernama Gosain Ghamandi Giri mendapatkan izin dari Raja Shah Alam dari kerajaan Mughal untuk mendirikan biara Shiwa terbesar pada masa itu di dekat Mahabodhi. Atas izin raja juga akhirnya Mahabodhi diubah fungsinya menjadi tempat pemujaan Shiwa dan krematorium untuk pengikut Shiwa. Berbagai patung Buddha dan ornamen pun disembunyikan oleh para pengikut Shiwa tersebut. Pada tahun 1880 Inggris akhirnya memutuskan memugar Mahabodhi seperti semula ketika dibangun, namun tidak mempermasalahkan perubahan fungsi bangunan tersebut dari situs suci umat Buddha menjadi situs umat Shiwa.</p>



<h2>Titik balik perjuangan umat Buddha atas tempat suci Mahabodhi</h2>



<p>Pada tahun 1891 biksu asal Sri Lanka bernama Anagarika Dharmapala datang untuk berziarah ke Mahabodhi. Ketika sampai beliau kaget melihat kondisi bangunan Mahabodhi yang tidak terurus dengan baik. Saat itu, hanya ada 4 orang biksu yang tinggal di daerah Mahabodhi untuk berusaha merawat semampunya tanpa bantuan dana atau orang lain. Beliau menjadi lebih kaget ketika mengetahui ada lebih banyak ibadah Hindu dibanding peziarahan Buddhis yang dilakukan di Mahabodhi. Beliau membawa kasus ini ke pengadilan kerajaan Inggris di India dan menuntut agar Mahabodhi dikembalikan ke fungsi utama sebagai tempat suci agama Buddha dan kepengurusannya diserahkan ke komunitas Buddhis. Beliau kalah di pengadilan, tapi kekalahan tersebut menyadarkan komunitas Buddhis seluruh dunia yang berujung pada pembentukan Mahabodhi Society. Mahabodhi society ini sendiri dibentuk oleh Anagarika Dharmapala dengan tujuan untuk merestorasi bangunan dan fungsi dari kuil Mahabodhi agar bisa dijaga dan dilestarikan keaslian bangunan dan fungsi sebagai tempat suci agama Buddha.&nbsp;</p>



<p>Permasalahan klaim ini terus berlangsung hingga saat India merdeka dari Inggris. Presiden pertama India saat itu membentuk komite bersama antara Hindu dan Buddha untuk mengelola bersama kompleks Mahabodhi. Pada awalnya, komite ini terdiri atas 4 orang dari sisi agama Buddha, 4 orang dari sisi agama Hindu, serta 1 perwakilan pemerintah yang netral dan sebagai ketua komite. Namun, kini komposisi ini berubah menjadi 5 orang dari sisi agama Hindu dan 4 orang agama Buddha sementara ketua komite dipilih dari sisi Hindu.</p>



<h2>Janji palsu keadilan untuk pengelolaan tempat suci Buddha</h2>



<p>Permasalahan klaim hak pengelolaan seperti yang memicu aksi para biksu sekarang ini bukan pertama kalinya terjadi. Pada 14 Oktober 1992, hampir seribu biksu dari berbagai belahan dunia sempat melakukan aksi protes damai selama 3 minggu di New Delhi untuk menuntut pemerintah pusat India menindak pengingkaran janji pemerintah negara bagian Bihar (negara bagian tempat Mahabodhi berada) dan juga untuk menunjukkan kekecewaan terhadap pemerintah pusat India yang selalu bungkam terkait persoalan Mahabodhi. Pasalnya, pada tahun 1991, setelah negosiasi dengan pemerintahan negara bagian Bihar, pemerintah setuju untuk mengembalikan pengelolaan Mahabodhi sepenuhnya kepada umat Buddha. Akan tetapi, hal tersebut tidak pernah terealisasi karena tekanan dari pihak Hindu. Pemerintah negara bagian mengatakan tidak bisa berbuat apapun karena kekuatan hukum komite tahun 1949 lebih kuat karena berasal dari pemerintah pusat di New Delhi, India.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img loading="lazy" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXet7Y_eKg2UAMcE6uKeEiwbeNbT2Dvv8LRQV-23t1dWROvsuRsR2OauG-iLrGpUvbw1fPHf0j9NVL5xFxvf8vEnVQkyXiJbP_Poyhf_R2RXboTqaCUfARI5FWwqwe8pywiOuJbhItMMOOLZuzbnlyU?key=7idKjHYZDCCi0swR4yZWOshf" alt="" width="600" height="313"/><figcaption>Kepala Buddha setinggi 1,4 meter ditemukan di Ratnagiri, Odisha<br>Sumber foto: <a href="http://www.insightsonindia.com">www.insightsonindia.com</a></figcaption></figure></div>


<p>Hal ini tentunya menjadi sebuah dilema karena pada waktu yang bersamaan, di negara bagian Jaipur, kota Ratnagiri, tim arkeolog dari salah satu universitas di India menemukan sebuah potongan wajah Buddha setinggi 1,4 meter. Penemuan ini juga disertai oleh penemuan puluhan stupa serta ratusan patung Buddha berbagai ukuran. Kepala tim arkeolog yang menemukan semua ini yakin bahwa penemuan tersebut akan menjadi sebuah permulaan dari sesuatu yang menakjubkan kelak. Beliau juga menambahkan bahwa kepala Buddha setinggi 1,4 meter ini diyakini sebagai kepala dari&nbsp; Buddha Amoghasiddhi sehingga ada kemungkinan situs tersebut merupakan salah satu cetiya Buddhis tradisi Vajrayana.</p>



<p>Penemuan peninggalan Buddhis baru di India ini dapat menjadi pertanda baik dari perjuangan yang dilakukan di Mahabodhi mengingat Buddha Amoghasiddhi dalam paham Vajrayana merupakan simbol dari kesuksesan akan suatu pencapaian. Bagaimanapun juga, Buddhisme tak bisa dipisahkan dari sejarah India. Jadi, merawat dan mengelola peninggalan Buddhis sesuai dengan fungsinya merupakan bagian dari upaya merawat sejarah India. Meski pasti butuh proses panjang dan tidak mudah, penulis yakin pengelolaan Mahabodhi bisa kembali ke tangan umat Buddha asalkan umat Buddha di seluruh dunia terus menghimpun sebab-sebab bajik untuk mewujudkannya.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img loading="lazy" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfVsLu_PQXoRvZVt_IuBQNXEiMLMfFN3lQeo1Darv31-hQjK9AQJUap4i_kesV33OWPpHXKOYG3QWhGcaDMDMl_OMWMUNAH-YaccitAjMduB69hyRQZNiM-ixk9W_TuIQoHf2Q_laRL7Bjkvf0Y1OQ?key=7idKjHYZDCCi0swR4yZWOshf" alt="" width="768" height="512"/><figcaption>Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah<br>Sumber foto: <a href="http://www.smsperkasa.com">www.smsperkasa.com</a></figcaption></figure></div>


<h2>Bagaimana dengan tempat suci Buddha di Indonesia?</h2>



<p>Indonesia sendiri juga tidak lepas dari permasalahan yang sama, umat Buddha di Indonesia selama ini tidak pernah dilibatkan dalam pengelolaan maupun pemeliharaan dan bahkan sisi edukasi peninggalan sejarah yang bercorak agama Buddha. Candi Borobudur sebagai contohnya, baru-baru ini dengan jelas sebuah video beredar di medsos, ada seorang pemandu wisata menyebutkan bahwa candi Borobudur itu bukan candi atau situs keagamaan, melainkan sebuah monumen. Saya tidak tahu bapak tersebut mendapatkan pengetahuan itu dari mana, tetapi di sini yang ingin saya tekankan adalah misinformasi dan misedukasi ini akan tetap terus terjadi dan berulang dikarenakan tidak ada SDM yang mumpuni dari sisi Buddhis yang dilibatkan secara aktif dalam pengelolaan.</p>



<p>Baca juga: <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a></p>



<p>Memang benar selama ini umat Buddha difasilitasi ketika mau beribadah, tapi harus melalui perizinan berlapis dan panjang. Bila dilakukan dalam skala besar tentu saja perizinan tersebut diperlukan, akan tetapi bagaimana dengan <a href="https://lamrimnesia.org/2021/04/27/dilema-beribadah-di-borobudur/">personal yang ingin beribadah</a>? Apakah harus membuat surat resmi juga ke pengelola candi? Begitu juga dengan kondisi aktual sekarang, pengunjung dibatasi jumlahnya untuk alasan preservasi, tapi juga diburu-buru karena hanya diberi waktu 60 menit untuk naik ke candi. Belum lagi pengunjung dibatasi oleh berbagai paket yang ditawarkan pengelola sehingga bila ingin mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang candi Borobudur, mereka harus membayar mahal dikarenakan setiap paket hanya menjelaskan aspek tertentu yang ditawarkan sesuai paketnya. Dengan segala hormat, saya pernah membacakan dan menjelaskan seluruh panel Lalitawistara Candi Borobudur beberapa kali ke teman maupun saudara yang bertanya secara langsung pada setiap relief candi, dan ini perlu waktu paling tidak 2,5 jam.</p>



<p>Baca juga: <a href="https://lamrimnesia.org/2021/03/29/borobudur-candi-buddha-tapi-buddha-untuk-semua/">Borobudur Candi Buddha, tapi Buddha untuk Semua</a></p>



<p>Argumentasinya bisa jadi adalah tidak semua orang mau menyediakan waktu dan mendengar cerita tiap panel relief. Akan tetapi tolong sediakan juga waktu dan tempat bagi kami umat Buddha Indonesia yang ingin melestarikan dan meneruskan pengetahuan akan Candi Borobudur tersebut kepada generasi muda Buddhis Indonesia. Jelas kami membutuhkan waktu lebih banyak dibandingkan turis-turis yang hanya ingin menikmati keindahan secara umum, selfie, dan <em>upload </em>ke medsos dengan bibir monyong.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXe1Wqs0ZPVi4wkHif9UfTQksc4whFBRw6IJdiB5_1WMmL08SF4SZAhhhoO04bF-MVMHIPI2ZuayIZpZERvbpH-pz8PPeD4gz17pBhpKtH9EfN-93434e5Yl0Oo0Gw8is_YR7gUrTxRCdNtx6xSo5uQ?key=7idKjHYZDCCi0swR4yZWOshf" alt=""/><figcaption>Candi Borobudur Membentuk Pola Mandala Besar<br>Sumber foto: <a href="http://www.bumiborobudur.com">www.bumiborobudur.com</a></figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img loading="lazy" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXefqjMWljC5On-pWF6TCvyEiZ_PCSLACIr4FGYIHle_6ArFd4U13euK1Qd8XqAEF0vQ-XQpzNcPLi66y4NuFQtP94dA1THA8E5RSOI-9h30EheG8UGc3V2RrPRH340Ldh2QBxRpxpJQPIKMc4KyAOU?key=7idKjHYZDCCi0swR4yZWOshf" alt="" width="648" height="335"/><figcaption>Candi Sewu Membentuk Pola Mandala Vajradhatu<br>Sumber foto: Wikipedia Commons oleh Gunkarta</figcaption></figure></div>


<p>Candi Borobudur itu adalah mandala Buddha dan memang benar bukan sekedar candi, apalagi sekedar monumen seperti kata bapak pemandu wisata itu. Harap diketahui mandala itu bisa dikatakan sebagai rumah, sehingga ketika kita masuk ke candi Borbudur; maka kita ibarat sedang bertamu ke rumah para Buddha. Sebagaimana kita ketahui, Buddha adalah Guru, junjungan, panutan dan bahkan bisa dikatakan juga orang tua kita. Dengan penjelasan singkat dan sederhana ini, tentu orang paham bahwa kita itu akan bertamu ke Buddha tiap kali ke Candi Borobudur. Jika disampaikan dengan baik, para turis pun pasti paham dan akan berpakaian dan beretika seperti selayaknya tamu yang sopan juga. Candi Sewu juga merupakan mandala Arya Manjushri sehingga setiap kita ke candi Sewu maka pola pikir yang harus diterapkan adalah kita sedang bertamu ke rumah Arya Manjushri. Sesederhana itu, tapi menjadi rumit karena pemegang wawasan tidak didengar, apalagi dilibatkan.</p>



<p>Terakhir saya teringat sebuah kalimat dari seorang bernama Akash Lama yang juga mengikuti aksi damai di Mahabodhi. Beliau berkata, “<em>Setiap komunitas beragama di dunia memiliki kendali penuh akan tempat-tempat suci agama-agama tersebut, terkecuali Buddhis.</em>”.  Di situ saya tersadar bahwa benar adanya pernyataan tersebut. Paling tidak itu yang terjadi di India dan Indonesia sampai saat ini. Sekian dari saya dan semoga tulisan ini bisa membantu menumbuhkan kesadaran atau pengetahuan baru dalam batin anda semua pembaca yang membacanya.</p>



<p>Penulis: Chatresa7</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/02/28/hak-tempat-suci-buddha/">Ini Dia Sulitnya Memperjuangkan Hak Umat Buddha atas Tempat Suci Agamanya Sendiri Sendiri</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/02/28/hak-tempat-suci-buddha/">Ini Dia Sulitnya Memperjuangkan Hak Umat Buddha atas Tempat Suci Agamanya Sendiri Sendiri</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Sep 2024 07:45:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[Keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pilgrimage Tourism]]></category>
		<category><![CDATA[Ziarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6011</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanpa keyakinan, mengumpulkan kebajikan di Borobudur hanya akan jadi slogan kosong belaka</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Samantha J.</p>



<p>Apa yang muncul di pikiran orang-orang ketika mendengar ajakan “Ayo mengumpulkan kebajikan di Borobudur”? Tentu saja kemungkinan terbaiknya adalah menyambut dengan penuh semangat. Namun, tak sedikit juga yang mengeluh. Ada yang mengeluhkan jarak. Ada pula yang mengeluhkan banyaknya wisatawan yang membuat suasana tidak khusyuk. Ada juga yang berpikir begini:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Buat apa ke Borobudur? Ke wihara juga bisa.”</p></blockquote>



<p>Pembahasan ini muncul dalam Lamrim Talk Seri Borobudur bertajuk “Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik”, persisnya dalam pemaparan Johnson Khuo, seorang Dharmaduta, praktisi bisnis, dan pecinta Borobudur.</p>



<p>Sebelum kita bisa mengajak seseorang untuk mengumpulkan kebajikan di Borobudur, kita harus tahu bahwa candi warisan nenek moyang kita itu memiliki satu fungsi yang lebih fundamental, yaitu sebagai situs ziarah untuk membangkitkan keyakinan atau <em>sraddha. </em>Fungsi ini juga berhubungan dengan sebab dari keluhan-keluhan tadi, yaitu kurangnya keyakinan dalam batin kita.</p>



<h4><strong>Ziarah, Praktik yang Diajarkan Sang Buddha</strong></h4>



<p>Dalam Mahaparinibbana Sutta dijelaskan bahwa sebelum Buddha parinirwana, Buddha mengajarkan praktek ziarah ke tempat-tempat tertentu yang bisa membangkitkan keyakinan. Instruksi untuk berziarah juga ada dalam Kanon Sansekerta, salah satunya adalah Sutra Gandawyuha yang mengisahkan peziarahan Sudhana untuk menemui para kalyanamitra yang menunjukkan jalan mencapai Kebuddhaan. Sutra ini juga terukir di Candi Borobudur. Dalam kelas Tantra tertentu, praktisi memiliki kewajiban melakukan ziarah ke situs-situs tertentu. Salah satu situs tersebut bahkan ada di Indonesia, yaitu Candi Bahal.</p>



<p>Johnson juga memaparkan perjalanan tokoh-tokoh Buddhis yang dikenal melakukan peziarahan, mulai dari Raja Ashoka yang berziarah untuk menyebarkan relik Buddha dan mendirikan stupa hingga Biksu Tang Xuanzang yang perjalanannya ke Nalanda menjadi inspirasi bagi hikayat “Perjalanan ke Barat” dan film “Kera Sakti”. Tidak hanya itu, Johnson juga menjelaskan bagaimana Nusantara menjadi salah satu tujuan peziarahan, dibuktikan dengan catatan perjalanan I-Tsing dan riwayat Guru Atisha Dipamkara Srijnana. Bahkan peziarahan Guru Atisha yang mencari guru ke Suwarnadwipa tidak hanya membuatnya meraih kemajuan spiritual yang luar biasa, tapi juga menjadi cikal-bakal Buddhisme Tibet yang berkembang di masa kini.</p>



<p>Kembali pada pembahasan tentang esensi dari praktik ziarah itu sendiri, Johnson menegaskan bahwa kata kunci dari ziarah adalah <strong>keyakinan</strong>. Beliau pun kembali menyebutkan kutipan dari Mahaparinibbana Sutta sebagai berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Inilah tempat yang bisa membangkitkan <strong>keyakinan</strong>… Para biksu, biksuni, upasaka, dan upasika yang penuh <strong>keyakinan</strong>, jika datang ke sini dan berpikir… Jika mereka meninggal di tempat-tempat tersebut, maka mereka akan terlahir di alam surgawi.”</p></blockquote>



<h4><strong>Apa maksudnya KEYAKINAN?</strong></h4>



<p>Ketika menjelaskan cara kerja batin, Sang Buddha mengajarkan tentang faktor mental yang mewarnai batin setiap orang. Ketika faktor mental pengganggu muncul di batin kita, kita akan merasa gelisah. Tindakan yang kita lakukan pun akan menjadi karma buruk yang kemudian membuat kita tidak bahagia. Sebaliknya, jika faktor mental bajik yang muncul, batin kita akan menjadi positif. Tindakan kita pun akan menjadi karma bajik yang mendatangkan kebahagiaan.</p>



<p>Keyakinan (Sansekerta: <em>Sraddha</em>; Pali: <em>Sadha</em>) adalah satu dari 11 faktor mental bajik yang bisa kita kembangkan. Dalam kitab Abidharma-samuccaya, keyakinan didefinisikan sebagai sebuah kepastian, kejelasan, dan pengharapan yang ditujukan pada objek yang memiliki kualitas-kualitas unggul. Keyakinan memiliki fungsi sebagai penyokong aspirasi. Dalan kitab Ratnolka-dharani, keyakinan dijabarkan dengan bait berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Keyakinan adalah pelopor, dan, ibarat seorang ibu, sang penghasil.</em><br><em>Ia menjaga dan meningkatkan segala kualitas unggul.</em><br><em>Ia mengenyahkan keraguan dan membebaskanmu dari keempat sungai besar.</em><br><em>Keyakinan menandakan kota kebahagiaan dan kebajikan.”</em></p></blockquote>



<p>Keyakinan yang dimaksud di sini tentu bukan keyakinan pada sembarang objek, melainkan keyakinan kepada Triratna yang terdiri atas Buddha, Dharma, dan Sangha. Keyakinan di sini juga bukan berarti secara buta meyakini atau memuja Triratna, melainkan yakin yang didasari oleh pemahaman logis dan perasaan yang nyata.</p>



<p>Johnson menjelaskan bahwa dalam Buddhisme, keyakinan terbagi ke dalam tiga tahapan. Pertama adalah yakin karena kagum dengan kualitas eksternal, misalnya karena penampilan Buddha yang luar biasa: rupawan, bercahaya keemasan, dan dihiasi banyak sekali tanda-tanda yang mengagumkan.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/vtIPIHtINbrhl63vFATlSkTG7ch1PSuGfgwUQa-QTtBSHhTIdQLRuILzmmKouwQ5V9uCf8fE6F34PPGkU6vbkgS0pD6KDrYgO5kNCzo6vSneKWBdPCC0vebw6usaHaxRZKeCLncX" alt="Johnson Khuo memaparkan keyakinan sebagai dasar untuk ziarah ke Borobudur"/><figcaption>Sumber: Materi Lamrim <em>Talk </em>“Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik” </figcaption></figure>



<p>Berikutnya adalah yakin karena hasil analisis, misalnya analisis terhadap hukum karma atau sebab-akibat. Kalau tadi kita kagum pada kualitas eksternal yang dimiliki Sang Buddha, kita bisa lanjut mencari tahu sebab dari kualitas itu. Kita pun akan menemukan bahwa kualitas itu merupakan hasil dari sepuluh juta kebajikan yang Beliau kumpulkan karena didorong oleh welas asih-Nya kepada semua makhluk. Kita pun semakin yakin pada Buddha karena paham bahwa Beliau telah berjuang menyempurnakan diri demi kita semua.&nbsp;</p>



<p>Tahapan terakhir dari keyakinan adalah keinginan yang kuat untuk menjadi seperti sosok yang kita yakini. Jadi, kita tidak berhenti pada kagum atau mengidolakan saja, tapi juga membangkitkan tekad untuk mengikuti jejak Sang Buddha untuk menjadi seperti-Nya sesuai dengan apa yang Beliau ajarkan.</p>



<h4><strong>Tanpa keyakinan, tidak ada usaha, tidak ada kebajikan</strong></h4>



<p>Kualitas bajik perlu dikembangkan setahap demi setahap. Tahapan ini dijelaskan Abhidharma-samuccaya &amp; Mahabodhipatakrama. Bermula dari keyakinan, muncullah aspirasi (<em>chanda</em>), yaitu keinginan kuat untuk memiliki kualitas-kualitas dari objek yang kita yakini. Aspirasi ini menghasilkan wirya atau batin yang bersemangat untuk mewujudkan aspirasi bajik. Wirya ini adalah obat dari segala macam kemalasan, baik itu sikap menunda-nunda, teralihkan oleh hal lain yang lebih menarik, maupun rasa tidak mampu. Dengan adanya wirya, kita akan meraih kelenturan (<em>prasrabhi</em>), yaitu kondisi di mana tubuh dan batin kita bisa dengan mudah melakukan berbagai aktivitas bajik sesuai dengan keinginan kita. Dengan demikian, kita pun bisa mengatasi semua halangan dan meraih semua kualitas baik yang kita cita-citakan. Kebajikan dan kebijaksanaan yang kita butuhkan untuk menjadi seperti Sang Buddha bukan lagi sekadar angan!</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/2q0UZdHboL8DkTiGDtQyu7h5mpH9Z5ux0lWfsblBxoBpkYOrzqnBicSG2EuCsCs52CpFrAKJAaqKpyevjnGUQbe6hAduevWv_4HEhP0rWvcowX9JGl-N68IHTEIpIuJiVSO81_5P" alt="Johnson Khuo memaparkan keyakinan sebagai dasar untuk ziarah ke Borobudur"/><figcaption>Sumber: Materi Lamrim <em>Talk </em>“Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik” </figcaption></figure>



<p>Keyakinan sendiri dalam praktiknya memiliki dua aspek, yaitu pemahaman dan perasaan. Kalau kita tidak punya keyakinan, tidak peduli sebanyak apapun keagungan Borobudur yang dijelaskan kepada kita, kita tidak akan merasa tergerak untuk pergi ke sana mengumpulkan kebajikan.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Saya bekerja lima hari seminggu, capek, saya merasa kebutuhan saya lebih terpenuhi dengan rebahan di rumah dibanding ketemu Buddha,” Johnson memberikan contoh, “Kita tidak punya keyakinan bahwa Buddha bisa memberikan solusi. Kita lebih percaya bahwa ranjang kita lebih bisa memberikan solusi, maka kita memilih ranjang. Kita tidak memilih Buddha.”</p></blockquote>



<p>Kita tidak sadar bahwa ranjang kita bukan solusi. Ia hanya bisa memberikan kenyamanan sementara. Kita juga tidak sadar bahwa kenyamanan itu berasal dari kebajikan yang harus kita kumpulkan dengan upaya. Jika kita tidak mengumpulkan cukup karma baik, semahal apapun ranjang yang kita tempati, kita tidak akan bisa beristirahat. Kalaupun kita bisa beristirahat, kita akan kembali merasa lelah saat hari kerja tiba dan diserang oleh berbagai emosi negatif yang membuat kita mengumpulkan lebih banyak sebab penderitaan. Kita perlu mengembangkan kualitas batin hingga terbebas dari samsara seperti yang diajarkan Sang Buddha agar bisa benar-benar berbahagia.</p>



<h4><strong>Ziarah ke Borobudur, upaya membangkitkan keyakinan</strong></h4>



<p>Keyakinan itu perlu dilatih. Agar kita bisa menumbuhkan keyakinan di batin kita, kita membutuhkan bantuan objek-objek eksternal. Karena itulah ada objek-objek suci seperti rupang Buddha, kitab suci, stupa, dan sebagainya. Misalnya dengan melihat rupang Buddha, kita bisa mengingat kualitas-kualitas Buddha, mulai dari kualitas tubuh yang dihiasi 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan, kualitas ucapan yang bisa menjawab pertanyaan semua makhluk dengan satu kata, hingga kualitas batin yang maha tahu dan memiliki welas asih yang sama sekali tidak pilih kasih. Ketika mengingat hal tersebut saat kita melihat sebuah rupang Buddha, kekaguman kita akan tumbuh. Dari situ kita bisa lanjut melakukan analisis hingga membangkitkan tekad untuk mengikuti teladan Buddha. Jadi, objek-objek suci berfungsi untuk membantu kita membangkitkan ketiga jenis keyakinan yang kita butuhkan untuk bisa mengumpulkan kebajikan.</p>



<p>Ziarah juga merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat membantu kita melatih keyakinan dan secara langsung dianjurkan oleh Buddha sendiri. Misalnya ketika kita melihat pohon bodhi tempat Buddha meraih penerangan sempurna di India, kita akan ingat bahwa pencapaian Kebuddhaan yang diraih Pangeran Siddhartha adalah fakta sejarah, bukan dongeng. Kita diingatkan bahwa dulu pernah ada manusia biasa yang mudah marah, mudah iri, dan punya segudang sifat buruk lainnya seperti kita berhasil menaklukkan semua sifat-sifat buruk itu dan meraih tingkat kesucian tertinggi demi kebaikan semua makhluk. Kita pun jadi sadar bahwa kita juga bisa menjadi seperti Beliau. Aspirasi kita akan bangkit dan kita pun akan dengan semangat melatih diri untuk menjadi lebih baik hingga meraih pencapaian yang sama.</p>



<p>Lantas, bagaimana dengan Borobudur? Candi Borobudur sendiri merupakan sebuah ladang kebajikan. Dari sudut pandang Tantra, peneliti dan pakar arkeologi Prof. Noerhadi Magetsari menyatakan bahwa Borobudur adalah sebuah mandala. Namun, umat Buddhis awam pun bisa dengan mudah menemukan aspek-aspek Triratna di Candi Borobudur. Di sana terdapat 504 patung Buddha. Dinding-dinding Candi Borobudur dipenuhi oleh relief Sutra yang dibuat berdasarkan kata-kata Dharma. Di dalam relief tersebut, terdapat tak terhitung banyaknya relief Bodhisatwa yang merupakan Ratna Sangha. Jadi, dapat dikatakan bahwa Candi Borobudur merupakan perlambang Triratna yang lengkap.&nbsp;</p>



<p>Setelah memaparkan hal tersebut, Johnson juga menjelaskan tentang Sila Berlindung atau Tisarana yang dimiliki oleh umat Buddha. Salah satu dari sila-sila yang harus dilatih adalah memandang representasi Triratna sebagai Triratna yang sesungguhnya. Ini berarti terdapat 504 Buddha sungguhan serta Dharma dan Sangha yang tak terhitung banyaknya berdiam di Candi Borobudur. Inilah yang menjadikan Borobudur tempat ziarah yang luar biasa bagi seluruh umat Buddha untuk membangkitkan keyakinan.</p>



<p>Salah satu sosok yang telah membuktikan manfaat dari praktik Sila Berlindung ini adalah Arya Sariputra, murid utama Buddha Shakyamuni. Di salah satu kehidupan lampau-Nya, Beliau melihat lukisan Buddha dan mempersembahkan pelita sambil membangkitkan tekad untuk bisa bertemu Sang Buddha. Konon itu merupakan salah satu sebab utama yang membuatnya menjadi salah satu murid utama Sang Buddha.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/FDOrRhATYcjpzs6jHcpSRRI_UGKl6pgV0egu2T2kueuaGBKCedfURGTv5abcebd6e6EXGP81EmjWqBcwb8Q5vPptRBMeNNssUIc7AoFBVp37W4JJRivyVNfAUukksT6lpnts0_eN" alt="Johnson Khuo memaparkan keyakinan sebagai dasar untuk ziarah ke Borobudur"/><figcaption>Manfaat membangkitkan keyakinan<br>Sumber: Materi Lamrim <em>Talk </em>“Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik” </figcaption></figure>



<p>Kenyataannya, Buddha memang benar-benar hadir di mana-mana, termasuk di Candi Borobudur. Ini dijabarkan secara gamblang dalam kitab-kitab Buddhis. Salah satunya adalah sebuah bait dalam Arya Bhadracarya Pranidhana Raja yang juga terukir di Candi Borobudur itu sendiri.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“..Dengan percaya diri, saya melihat alam semesta ini demikian, seluruhnya dipenuhi oleh para Buddha.”</em></p><p>-Arya Bhadracarya Pranidhana Raja</p></blockquote>



<p>Ketika telah mencapai tingkat kesucian tertentu, seorang praktisi Buddhis akan bisa melihat setiap rupang Buddha sebagai tubuh Buddha yang sesungguhnya. Praktisi yang telah mencapai Marga Akumulasi bisa melihat patung dan lukisan Buddha sebagai tubuh Nirmanakaya yang sesungguhnya. Kemudian, ketika mencapai Marga Penglihatan (mulai dari bhumi Bodhisatwa pertama yang direpresentasikan oleh tingkat pertama Candi Borobudur), sang praktisi akan bisa melihat representasi Buddha sebagai tubuh Sambhogakaya yang sesungguhnya.</p>



<h4><strong>Kondisi Borobudur saat ini</strong></h4>



<p>Anggaplah kita sudah memiliki pemahaman yang tepat tentang pentingnya keyakinan dan fungsi Borobudur untuk membangkitkan keyakinan tersebut. Kemudian, kita datang ke Borobudur untuk melakukan ziarah. Ternyata, saat kita hendak merenungkan kualitas Buddha di Borobudur, orang-orang di sekitar kita malah menduduki stupa, berfoto, menempelkan permen karet, bahkan berpacaran.</p>



<p>Saat ini, Candi Borobudur memang tidak kondusif bagi umat Buddha untuk membangkitkan keyakinan. Di saat yang sama, wisatawan umum pun pasti kesulitan mendapatkan pengalaman unik di Candi Borobudur karena aktivitas yang dikembangkan di sana lebih berorientasi pada hiburan yang sebenarnya bisa didapatkan di tempat lain.&nbsp;</p>



<p>Johnson memaparkan bahwa permasalahan ini seharusnya bisa diatasi jika umat Buddha dilibatkan dalam pengelolaan Borobudur. Mengingat Sila Berlindung yang dipegang umat Buddha, tentu saja tidak akan ada umat Buddha yang bersandar di stupa, apalagi melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fungsi asli Borobudur ataupun berpotensi merusak. Dengan masukan dari umat Buddha, kesakralan maupun keutuhan bangunan candi tentu akan terjaga.</p>



<p>Candi Borobudur sendiri saat ini memiliki tiga pemangku kepentingan: umat Buddha, Indonesia, dan dunia.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kita tidak bisa mengatakan borobudur adalah <em>world heritage</em>, maka kita prioritaskan dunia, terus umat buddha dikesampingkan. Tidak bisa juga kita bilang Borobudur adalah <em>world heritage</em>, indonesia berkorbanlah sedikit demi dunia,” cetus Johnson.</p></blockquote>



<p>Jika kita ingin kebutuhan ketiga pemangku kepentingan Borobudur ini terpenuhi, satu-satunya solusi adalah mengelola Borobudur dengan memakai filosofi Buddhadharma sebagai landasan. Dengan demikian, selain umat Buddha bisa khusyuk berziarah di Borobudur, Indonesia dan dunia pun mendapat manfaat dari terjaganya identitas Borobudur sebagai <em>world heritage </em>yang unik dan tiada duanya. Saat ini, kebanyakan wacana pengelolaan Borobudur yang diberitakan masih belum berkaitan dengan filsafat Buddhis sama sekali&#8211;mulai dari pendirian <em>science park, </em>kampung seni, bahkan yang terbaru adalah trayek balap motor. Kalau ini dibiarkan, Borobudur akan kehilangan identitas dan tak ada bedanya taman rekreasi biasa. Di sinilah kesempatan umat Buddha untuk berkontribusi bagi Indonesia dan dunia.</p>



<h4><strong>Keyakinan yang hilang</strong></h4>



<p>Setelah mendengarkan pemaparan Johnson seputar keyakinan, praktik ziarah, dan Candi Borobudur saya merasa sedang berhadapan dengan sebuah lingkaran setan. Di tengah segala macam perhatian yang mengarah pada Candi Borobudur, umat Buddha termasuk saya sendiri lebih banyak bergeming. Segala narasi tentang Borobudur sebagai “piwulang luhur” dan ajakan untuk mengumpulkan kebajikan dan kebijaksanaan di Borobudur tak membuat kita tergerak karena kurangnya keyakinan membuat kita merasa istirahat di akhir pekan jauh lebih penting dan mendesak. Padahal, kita butuh mengembangkan keyakinan agar bisa memiliki semangat dan melakukan upaya untuk mengatasi segala permasalahan kita sampai ke akar. Untuk membangkitkan keyakinan itu, kita seharusnya bisa melakukan ziarah seperti yang dianjurkan Sang Buddha ke Candi Borobudur yang sudah dibangun susah payah oleh nenek moyang kita untuk tujuan tersebut. Namun, Borobudur saat ini tidak kondusif untuk ziarah dan kita sebagai umat Buddha pun tak banyak melakukan usaha untuk memperjuangkannya, tentu saja karena keyakinan yang hilang dalam batin kita semua. Dengan keadaan seperti ini, bukan kita sendiri yang rugi, tapi Candi Borobudur terancam kehilangan identitasnya dan berubah menjadi <em>theme park </em>biasa. Perjuangan nenek moyang kita mendirikan monumen pengumpulan kebajikan demi kebahagiaan semua makhluk terancam sia-sia karena kurangnya keyakinan kita.</p>



<p>Kemampuan untuk memutus lingkaran setan itu seharusnya ada di tangan kita. Kita bisa mulai dari mempertanyakan sejauh mana keyakinan yang kita miliki terhadap Triratna dan sebutuh apa kita akan karma baik yang baru bisa terhimpun ketika kita memiliki keyakinan tersebut. Kemudian, tanyakan lagi, semampu apa kita membangkitkan keyakinan itu dengan kemampuan diri sendiri yang masih gampang terbuai oleh kesenangan sesaat tanpa mengikuti instruksi Buddha untuk berziarah dan mengandalkan situs suci seperti Candi Borobudur?</p>



<p>Ketika kita bisa melepas kesombongan yang membuat kita merasa tidak membutuhkan bantuan Candi Borobudur ataupun objek-objek suci untuk melatih batin kita, barulah kualitas keyakinan punya ruang untuk tumbuh di dalam diri kita. Setelah itu, barulah kita bisa bicara soal mengumpulkan kebajikan di Candi Borobudur dan bergerak untuk memperjuangkannya.</p>



<p>Lamrim Talk &#8220;Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik&#8221; bisa disaksikan di <a href="https://youtu.be/UuOGS9dcS7w" target="_blank" rel="noreferrer noopener">sini.</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Borobudur Itu Apa Sih?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Sep 2024 12:43:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[chattra]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[mandala]]></category>
		<category><![CDATA[stupa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5976</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Borobudur bukan sekadar tempat wisata. Borobudur adalah sumber inspirasi welas asih untuk Indonesia. Simak penjabarannya!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Junarsih</p>



<p>Siang itu, saat udara sedang dingin-dinginnya, saya sedang berbincang dengan kawan-kawan perihal Candi Borobudur. Kami pun bergiliran memberi pendapat tentang apa sih Borobudur itu. Ada yang bilang kalau Borobudur itu tempat berswafoto yang asyik. Ada yang bilang Borobudur itu tempat wisata yang kalau satu kompleksnya dikelilingi dengan jalan kaki bisa bikin keringat mengucur. Nah, ada pula satu kawan saya yang bilang Borobudur lebih dari sekadar tempat wisata ataupun swafoto, yaitu tempat ibadah umat Buddha. Saya pun ikut berpikir, jangan-jangan Borobudur ini bangunan bersejarah yang sangat sakral!&nbsp;</p>



<p>Daripada kita bertanya-tanya, lebih baik kita bahas bareng-bareng sebenarnya Borobudur itu apa. Jangan sampai kita berhenti mengenal Borobudur hanya sebagai bangunan warisan nenek moyang saja.&nbsp;</p>



<h4><strong>Borobudur Sebagai Kitab Suci Tiga Dimensi (3D)</strong></h4>



<p>Kok Borobudur dibilang kitab suci? Kitab biasanya berbentuk seperti buku dan tebal, mungkin lebih dari 100 halaman. Kita tahu kalau kitab suci agama Buddha itu berupa kumpulan teks yang kalau dikumpulkan mengisi penuh lemari. Borobudur kan bangunan, bukan teks, kok bisa jadi kitab suci?</p>



<p>Sebenarnya, Borobudur bukan sekadar batu yang ditumpuk indah menjadi bangunan bersejarah umat Buddha Nusantara. Tapi, Borobudur adalah sebuah kitab suci 3D yang sangat mewah. Kisah-kisah kehidupan manusia dari sebab dan akibatnya terukir di relief menjadikannya sebagai kitab suci pedoman manusia saat ini.&nbsp;</p>



<p>Berdasarkan informasi dalam buku Kearsitekturan Candi Borobudur yang diterbitkan oleh Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, secara kosmologi Buddhis, Borobudur terdiri atas tiga tingkatan, yaitu <em>Kamadhatu</em>, <em>Rupadhatu</em>, dan <em>Arupadhatu</em>. Tapi, pernyataan ini pernah disangkal dan belum diperbaharui, karena TIGA TINGKATAN ini masih dalam samsara. Padahal, Candi Borobudur adalah sebuah lambang menuju pada Kebuddhaan.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/wIAllV1mQjLbEfeJS7rzdlhvgwguVVj8CP9KouW-jVeNxo9MaaLL_t11OleNiJsxgXIquFz8EDiD4Y77ruJ4u-W8rUX03viyReCLY46JT9xrzHvtvlqL3OnlewqvsvY0xolXx-Ke" alt="Sumber Foto: Sangha Vajrayana Indonesia"/><figcaption>Sutra &amp; Simbol Buddhis di Candi Borobudur</figcaption></figure>



<p>Mari kita ulas dari strukturnya dahulu. Candi ini terdiri atas sepuluh tingkat yang diduga merujuk pada 10 tingkatan Bodhisatwa dalam <strong>Dasabhumika Sutra</strong>, bagian dari Awatamsaka Sutra. De Casparis, seorang peneliti dari Belanda membuat rekonstruksi ulang nama candi ini dari kata “Bhumisambharabhudara” yang berarti “Gunung Akumulasi Kebajikan dalam Sepuluh Tingkat Bodhisatwa” dari Dasabhumika Sutra.</p>



<p>Dalam tradisi Buddhisme Mahayana, terdapat tingkatan kesucian praktisi yang dikenal dengan sebutan “Marga”. Mulai dari marga ke-3, yakni Marga Penglihatan, maka seorang praktisi mulai memasuki 10 tingkatan Bodhisatwa yang disimbolkan dalam 10 tingkatan Borobudur.&nbsp;</p>



<p>Relief yang terukir pada dinding candi ini berdasar dari sutra dalam kitab suci agama Buddha. Pertama adalah <strong>Gandawyuha, </strong>bagian dari Awatamsaka Sutra yang mengisahkan perjalanan Sudhana mencari guru spiritual untuk mencapai Kebuddhaan. Dikisahkan bahwa Sudhana berguru pada 52 orang kalyanamitta dari berbagai kalangan, mulai dari ratu, kapten kapal, wanita penghibur, hingga seorang budak. Semua gurunya memberinya manfaat, sehingga ia sangat berbakti kepada mereka. Hingga akhirnya pada ujung relief Gandawyuha, Sudhana bertemu dengan Bodhisatwa Samantabhadra yang mengajarkan tujuan dari kebijaksanaan tertinggi adalah dengan memberi manfaat pada semua makhluk.</p>



<p>Dua orang guru Sudhana di relief Gandawyuha, Brahmana Jayosmayatana dan Siwa Mahadewa, adalah tokoh dari tradisi Hindu. Kehadiran tokoh ini menyiratkan adanya sinkretisme yang merupakan corak tradisi Tantrayana sejak awal kemunculannya di India. Ada pula tokoh Vasumitra, wanita penghibur yang menjadi guru Sudhana dan dikatakan dalam Gandawyuha mampu menggunakan belaian dan cumbuan sebagai <em>upaya kausalya </em>untuk membimbing para makhluk ke jalan Dharma. Pemilihan Gandawyuha dan kehadiran tokoh-tokoh ini dalam relief Borobudur menunjukkan bahwa Borobudur juga memiliki kaitan dengan tradisi Tantrayana.</p>



<p>Kemudian dalam relief <strong>Sutra Bhadracari</strong> terdapat doa dedikasi agung Bodhisatwa Samantabhadra yang hingga saat ini masih dilantunkan di setiap biara Buddhis di India, Tibet, dan Indonesia. Doa ini untuk membebaskan penderitaan dari semua makhluk dengan mencapai Kebuddhaan. Tentunya doa ini tidak hanya kita memohon pada Buddha, tapi menjadi pondasi semangat kita untuk menolong banyak makhluk.</p>



<p>Lalu ada pula relief sutra Jataka dan Avadana yang mengisahkan perjuangan Bodhisatwa untuk menyempurnakan <strong>paramita </strong>(<strong>sila</strong>-moral, <strong>ksanti</strong>-kesabaran, <strong>wiriya</strong>-semangat, <strong>dhyana</strong>-ketenangan batin, dan <strong>prajna</strong>-kebijaksanaan) di berbagai kehidupan selama berkalpa-kalpa.</p>



<p>Bodhisatwa akan segera menjadi Buddha setelah menyempurnakan paramita dengan terlahir sebagai manusia. Kisah hidup Bodhisatwa sebagai manusia dijabarkan dalam <strong>Sutra Lalitawistara</strong>. Beliau terlahir menjadi Siddharta Gautama dari rahim Ratu Mahamaya dan akhirnya memutuskan mencari jalan keluar penderitaan manusia setelah melihat empat hal&#8211;orang tua, orang sakit, orang mati, dan pertapa. Beliau melakukan banyak hal seperti bertapa di hutan dan menyiksa diri selama 6 tahun hingga akhirnya beliau mencapai penerangan sempurna.</p>



<p>Untuk mencapai Kebuddhaan tentunya tidak terlepas dari praktik mendasar agama Buddha, yakni meyakini <strong>hukum karma</strong> atau hukum sebab akibat. Karena itulah relief <strong>Sutra Karmawibhangga </strong>yang berisi sebab-akibat perilaku manusia menjadi pondasi dari Candi Borobudur. Dari relief tersebut kita bisa memahami bahwa keburukan apapun yang dilakukan dalam ucapan maupun tindakan akan berbuah buruk, begitu pula kebaikan apapun yang kita lakukan akan berbuah manis juga. Bila kita bisa memahami hukum karma, maka kita bisa menjaga pikiran, ucapan, dan tindakan agar tidak merugikan orang lain maupun diri sendiri.&nbsp;</p>



<h4><strong>Borobudur sebagai Stupa</strong></h4>



<p>Ada banyak Stupa yang terpasang di Candi Borobudur. Stupa itu sendiri merupakan objek pemujaan yang populer dalam tradisi Buddhis meski rupang kemudian muncul pada abad II Masehi. Pemujaan Stupa menjadi populer saat Raja Ashoka mendirikan stupa berisi relik Buddha di berbagai tempat. Selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan relik guru-guru agung, stupa juga menjadi perlambang Dharma dan transformasi spiritual. Ketika kita melihat sebuah stupa, kita ibarat sedang melihat batin Buddha yang tercerahkan sekaligus batin tercerahkan yang akan kita capai di masa mendatang.</p>



<p>Sebuah stupa umumnya terdiri atas beberapa komponen, yaitu kubah, yupa, dan chattra. Kubah berfungsi sebagai tempat menyimpan relik. Yupa<em> </em>merupakan simbol pengorbanan. Pengorbanan yang dimaksud ini sesuai dengan penjelasan Buddha dalam <em>Kutadanta Sutta, </em>bahwa pengorbanan terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan kebajikan seperti berdana, melatih sila, meditasi, hingga pengorbanan untuk meraih pencerahan.</p>



<p>Chattra merupakan cakram yang berada di atas stupa sebagai simbol payung seremonial, yang merupakan simbol kebangsawanan India Kuno dan masih digunakan hingga sekarang. Di Thailand, chattra digunakan untuk memayungi raja dalam berbagai upacara kenegaraan. Di Tibet, chattra digunakan untuk memayungi Dalai Lama yang berperan sebagai pemimpin spiritual. Chattra juga merupakan simbol pohon Bodhi tempat Buddha mencapai pencerahan/ Chattra di puncak stupa dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan dan persembahan kepada Buddha yang disimbolkan oleh stupa tersebut.</p>



<h4><strong>Borobudur sebagai Mandala</strong></h4>



<p>Daud Aris Tanudirjo menjelaskan mandala adalah sebuah lingkaran yang penerapannya memiliki makna kontekstual yang berbeda-beda. Pengertian lain tentang mandala juga dikemukakan oleh Grover (1980) saat ia membahas arsitektur Hindu dan Buddhis. Grover berpendapat bahwa mandala adalah bentuk geometris yang paling hakiki dari bentuk dasar lainnya untuk mendirikan bangunan suci para dewa.&nbsp;</p>



<p>Robert A. Thurman menjelaskan mandala sebagai sebuah matriks atau model alam semesta yang sempurna. Mandala menyimbolkan Kebuddhaan sebagai pembebasan dan kebahagiaan tertinggi yang dicapai seseorang yang telah menyatu dengan lingkungannya dalam kesalingbergantungan.</p>



<p>Berbagai sumber sejarah Jawa Kuno juga menunjukkan adanya konsep mandala dalam bangunan Jawa dan Bali. Contohnya adalah Candi Sewu yang disebut sebagai mandala dalam Prasasti Kelurak (782 M) ataupun Gugusan Gunung Kawi di Bali yang disebut “<em>sanghyang mandala ring Amaravati</em>” (Soekmono, 1974).</p>



<p>Pada situs biara Namgyal (kediaman Y.M.S. Dalai Lama XIV), dikatakan bahwa mandala berarti representasi sebagai rumah atau istana suci tempat tinggal Buddha. Meski memiliki bentuk yang indah, mandala memiliki fungsi religius, bukan untuk dikagumi estetikanya saja.</p>



<p>Berdasarkan perspektif filsafat Buddhis sendiri, Candi Borobudur juga dapat dipandang sebagai sebuah mandala mandala yang sempurna, yaitu mandala dengan ukuran asli yang bisa dimasuki oleh praktisi yoga tantra pada masa itu untuk merenung dan bermeditasi.</p>



<p>Mandala memiliki pintu masuk yang unik berupa ujung wajra. Peneliti Caroline Gammon dalam disertasinya menemukan ujung wajra tersebut di pintu utama Borobudur. Dalam Borobudur International Buddhist Conference tahun 2016, pembicara Y.M. Biksu Bhadra Ruci juga menyatakan bahwa Borobudur adalah mandala pencapaian spiritual manusia.</p>



<p>Lebih lanjut, salah satu peneliti Borobudur bernama Stuterheim (1956) mengemukakan bahwa pada zaman dahulu Candi Borobudur merupakan yang tidak boleh dikunjungi sembarang orang. Ia yakin bahwa Borobudur adalah tempat untuk berlatih meditasi bagi para praktisi yang ingin menjadi Buddha di masa mendatang. Jadi, dari uraian di atas, bisa kita simpulkan bahwa Candi Borobudur adalah mandala yang merupakan tempat suci dan tidak bisa dimasuki dengan bebas.</p>



<h4><strong>Bukti Peradaban Buddhis Nusantara</strong></h4>



<p>Kemegahan Candi Borobudur membuatnya menjadi salah satu warisan budaya dunia (<em>World Heritage) </em>nomor C. 592 tahun 1991. Pembangunan Candi Borobudur diketahui pada zaman kejayaan Dinasti Syailendra sekitar abad VIII-IX M berkat sebuah pahatan huruf yang ada di relief <em>Karmawibhangga</em>. Menurut peneliti De Casparis yang mengidentifikasi pahatan ini, gaya pahatan huruf yang terdapat di inskripsi tersebut sama dengan yang ada di prasasti Karang Tengah yang berangka 824 M dan prasasti Kahulunan dari 842 M. Dari situ, dapat disimpulkan bahwa Candi Borobudur dibangun pada masa pemerintah Samaratungga yang memimpin Dinasti Syailendra pada tahun 782-812 M.&nbsp;</p>



<p>Kita tidak bisa mewawancarai pendiri atau perancang Candi Borobudur, tapi tidaklah mengherankan jika ajaran Buddha yang dipilih sebagai basis pendirian Borobudur dan diangkat menjadi ratusan keping relief nan rumit mewakili nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat Nusantara pada masa itu. Borobudur adalah bukti peradaban Buddhis Nusantara yang menjunjung tinggi welas asih yang universal.</p>



<h4><strong>Borobudur sebagai Sumber Inspirasi di Masa Kini</strong></h4>



<p>Buddha mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang ingin menderita, semuanya ingin bahagia. Namun, setahun belakangan ini kalau kita lihat banyak konflik antar golongan terjadi untuk memperebutkan kekuasaan ekonomi, teknologi, bahkan juga militer. Tentunya konflik ini menjadi ancaman kedamaian untuk dunia dan bertolak belakang dengan harapan kita akan kehidupan yang aman, damai, dan bahagia.</p>



<p>Perjuangan Bodhisatwa untuk meraih Kebuddhaan demi semua makhluk yang terukir dalam relief candi beserta simbol-simbol pencerahan dalam setiap elemen Borobudur bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mengikuti jejak-Nya. Kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mulai dari tindakan yang sederhana, seperti menyebarkan cinta kasih melalui pikiran, ucapan, dan tindakan agar tidak menimbulkan pertengkaran dengan sesama. Perlahan-lahan, kita pun bisa belajar memandang semua makhluk dengan kasih sayang.</p>



<h4><strong>Borobudur Sebagai Tempat Suci Umat Buddha</strong></h4>



<p>Borobudur memang bukan termasuk situs yang berkaitan langsung dengan riwayat hidup Buddha Sakyamuni &#8212; Bodhgaya, Lumbini, Sarnath dan Kushinagar. Meski demikian, seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwasannya Borobudur adalah Kitab Suci 3D yang memuat kisah perjalanan Bodhisatwa yang terlahir kembali dalam berbagai wujud hingga beliau terlahir sebagai manusia dan mencapai pencerahan tertinggi beserta simbol-simbol pencerahan itu sendiri. Borobudur juga merupakan mandala yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang karena tempat ini dipergunakan untuk berlatih meditasi para praktisi yang ingin mencapai Kebuddhaan. Bangunan yang memuat KItab Suci 3D dan mandala ini tentu harus kita hormati sebagai sebuah tempat suci.</p>



<p>Dalam acara Borobudur <em>International Buddhist Conference</em> tahun 2016, Y.M. Biksu Pannavaro juga menyatakan bahwa Candi Borobudur layak menjadi objek pemujaan karena memiliki tiga objek pemujaan dalam pandangan Buddhis, yakni relik Guru Agung Buddha dan orang suci; pohon Bodhi (tempat Buddha mencapai pencerahan); serta foto, gambar, ataupun candi yang mengingatkan kita pada Guru Agung Buddha.&nbsp;</p>



<p>Tentu saja ini tidak berarti masyarakat yang tidak beragama Buddha dilarang datang ke Candi Borobudur. Semua boleh dan bahkan sangat dianjurkan untuk berkunjung untuk mengapresiasi keindahan dan menghayati ajaran bajik yang ada di candi ini. Jika umat Buddha menghormati Candi Borobudur dengan melakukan puja bakti. menghaturkan persembahan, dan merenungkan ajaran Buddha, wisatawan umum turut serta menghormati Candi Borobudur dengan berperilaku sopan, menjaga keutuhan dan kebersihan lingkungan, dan pastinya mengembangkan welas asih dan toleransi yang disimbolkan oleh Candi Borobudur.</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Borobudur adalah salah satu warisan budaya Nusantara untuk dunia yang sangat megah dan bukan hanya sekadar kisah biasa. Nilai-nilai kehidupan yang unggul tentang sebab-akibat (relief <em>Karmawibhangga</em>) dan juga kisah perjalan spiritual Sudhana untuk mencapai Kebuddhaan yang terukir dalam reliefnya menjadikannya sebagai Kitab Suci 3D pedoman hidup untuk kita.</p>



<p>Amatlah disayangkan bila mahakarya nenek moyang kita ini hanya menjadi tempat jalan-jalan atau sekadar swafoto. Oleh sebab itu, kita sebagai ahli waris Borobudur harus menghargainya dengan mengubah pandangan kita yang tadinya menganggap Borobudur tak lebih dari sekadar tempat wisata. Borobudur lebih dari itu karena juga merupakan sebuah tempat suci yang dulunya digunakan oleh calon Buddha di masa mendatang. Saat kita sudah bisa memiliki pemikiran bahwa Borobudur adalah tempat suci untuk beribadah, maka kita pasti menjaga perilaku saat mengunjungi candi ini. Dengan demikian, kesakralan candi dan keutuhan bangunan fisiknya pun akan terjaga dengan baik.</p>



<p>Saat ini, memang kondisi Borobudur jauh dari kata ideal. Pengelolaannya belum melibatkan pendekatan filsafat Buddhis dan tak sedikit pengunjung yang bersikap kurang pantas karena memandang Borobudur sebagai objek wisata biasa. Dengan mulai dari diri sendiri, mudah-mudahan kita sebagai umat Buddha bisa menjadi teladan bagi semua orang untuk sama-sama menghormati dan memelihara Candi Borobudur.</p>



<h4><strong>Daftar Pustaka:</strong></h4>



<p>Stutterheim, W.F. 1956. Chandi Barabudur: Name, Form, dan Meaning dalam Studies In Indonesian Archeology. KITLV translation series. Martinus Nijhoff, hal. 3-63.</p>



<p>Daud Aris Tanudirjo &#8211; “<a href="https://docplayer.info/45917901-Borobudur-sebagai-mandala-masa-lalu-dan-masa-kini.html">Borobudur Sebagai Mandala: Masa Lalu dan Masa Kini</a><em>”&nbsp;</em></p>



<p>Youtube Lamrimnesia &#8211; “<a href="https://youtu.be/jglNUiSZMj4">Ayo Puja Bakti ke Borobudur, Tempat Suci Umat Buddha</a>”</p>



<p>Buddhazine.com &#8211; “<a href="https://buddhazine.com/borobudur-adalah-mandala-pencapaian-spiritual-manusia/">Borobudur Adalah Mandala Pencapaian Spiritual Manusia</a>”</p>



<p>Sangha Vajrayana Indonesia &#8211; “<a href="https://sanghakci.wixsite.com/sanghakadamchoeling/single-post/candi-borobudur-adalah-mandala?fbclid=IwAR2HU4qFtrPss_5aNlOYRfeZ1Xur11f_c2v2lOgsmoLnbMgKjyKMtdbO-ps">Borobudur adalah Mandala</a>”</p>



<p>Stanley Khu &#8211; “<a href="https://borobudurwriters.id/situs/perihal-polemik-chattra-sebuah-usaha-memaknai-ulang-filosofi-stupa/">Perihal Polemik Chattra: Sebuah Usaha Memaknai Ulang Filosofi Stupa</a>”</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bedah Karma: Kenapa Terjadi Diskriminasi?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/03/30/kenapa-terjadi-diskriminasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[volunteer lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Mar 2023 06:45:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[rasisme]]></category>
		<category><![CDATA[stop diskriminasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=8024</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dunia makin terhubung, tapi konflik yang dulunya terselubung makin tampak dari permukaan. Diskriminasi makin terlihat. Banyak orang yang gampang tersulut hanya karena perbedaan suku, ras, ataupun agama. Jika kamu belum pernah mengalami diskriminasi, bersyukurlah. Jika kamu pernah atau sedang mengalaminya, berjuanglah. Semoga coba-coba bedah karma ini bisa membantumu semakin dekat dengan cinta kasih dan welas [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/03/30/kenapa-terjadi-diskriminasi/">Bedah Karma: Kenapa Terjadi Diskriminasi?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/03/30/kenapa-terjadi-diskriminasi/">Bedah Karma: Kenapa Terjadi Diskriminasi?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/volunteer/">volunteer lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="819" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25-819x1024.png" alt="" class="wp-image-8025" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25-819x1024.png 819w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25-768x960.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25-150x188.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25-450x563.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25-600x750.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-25.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p>Dunia makin terhubung, tapi konflik yang dulunya terselubung makin tampak dari permukaan. Diskriminasi makin terlihat. Banyak orang yang gampang tersulut hanya karena perbedaan suku, ras, ataupun agama.</p>



<p>Jika kamu belum pernah mengalami diskriminasi, bersyukurlah. Jika kamu pernah atau sedang mengalaminya, berjuanglah.</p>



<p><a></a>Semoga coba-coba bedah karma ini bisa membantumu semakin dekat dengan cinta kasih dan welas asih Buddha yang memandang semua makhluk sebagai yang tersayang, tanpa diskriminasi!</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8026" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-26.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8027" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-27.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8028" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-28.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8029" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-29.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/03/30/kenapa-terjadi-diskriminasi/">Bedah Karma: Kenapa Terjadi Diskriminasi?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/03/30/kenapa-terjadi-diskriminasi/">Bedah Karma: Kenapa Terjadi Diskriminasi?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/volunteer/">volunteer lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>23 Buku Dharma Sudah Bisa Dibaca di Scribd</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/03/17/buku-dharma-scribd/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Mar 2023 01:47:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[buku dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7925</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Baca buku Dharma makin mudah &#38; makin banyak pilihan! telah tersedia 23 buku Dharma tanpa dipungut biaya di scribd, situs perpustakaan online berisi banyak e-book hingga arsip unduhan yang dibagikan oleh pengguna. Pas lagi nunggu antrean atau bosen pas lagi di perjalanan, bisa banget nih baca buku dharma lewat Scribd. waktumu bisa dimanfaatkan untuk menutrisi [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/03/17/buku-dharma-scribd/">23 Buku Dharma Sudah Bisa Dibaca di Scribd</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/03/17/buku-dharma-scribd/">23 Buku Dharma Sudah Bisa Dibaca di Scribd</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Baca buku Dharma makin mudah &amp; makin banyak pilihan! telah tersedia 23 buku Dharma tanpa dipungut biaya di scribd, situs perpustakaan online berisi banyak e-book hingga arsip unduhan yang dibagikan oleh pengguna.</p>



<p>Pas lagi nunggu antrean atau bosen pas lagi di perjalanan, bisa banget nih baca buku dharma lewat Scribd. waktumu bisa dimanfaatkan untuk menutrisi hati dan pikiran. jadi nggak ada lagi tuh istilah waktu terbuang sia-sia~</p>



<p>Semoga dengan kemudahan ini, Dharma dapat <a></a>menjangkau dan menginspirasi lebih banyak orang. Yuk share informasi ini! Semakin banyak kamu share, semakin besar kebajikanmu karena telah memberikan banyak kemudahan bagi orang lain. <img loading="lazy" height="16" width="16" alt="❤" src="https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/tf3/1.5/16/2764.png"></p>



<p>&#8212;</p>



<p>Setiap bulannya, Lamrimnesia bakal membawakan kabar baik seputar Buddhadharma untuk Sahabat semua! <br>Bagi sahabat yang mau mendukung upaya-upaya ini, yuk gabung jadi Dharma Patron Lamrimnesia~<br>Daftarkan dirimu di Lamrimnesia Care +6285 2112 2014 1</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-1024x1024.jpg" alt="23 Buku Dharma sudah bisa dibaca tanpa dipungut biaya di SCRIBD." class="wp-image-7927" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-1024x1024.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335654265_1551348515363654_8459122498930825034_n.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-1024x1024.jpg" alt="" class="wp-image-7928" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-1024x1024.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/335893236_1280651442830016_6647982033240509875_n.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-1024x1024.jpg" alt="" class="wp-image-7929" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-1024x1024.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-450x450.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/336168995_928089601547032_5710982918397974080_n.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/03/17/buku-dharma-scribd/">23 Buku Dharma Sudah Bisa Dibaca di Scribd</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/03/17/buku-dharma-scribd/">23 Buku Dharma Sudah Bisa Dibaca di Scribd</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>A Space for the Unbound: Petualangan Menyelam ke Dalam Batin</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/02/01/a-space-for-the-unbound-petualangan-menyelam-ke-dalam-batin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[AW]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2023 05:56:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[A Space for the Unbound]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ASFTU]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan mental]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[review game Buddhis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7806</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>A Space for The Unbound (ASFTU) karya Mojiken Studio adalah salah satu video game asli Indonesia yang paling ditunggu-tunggu. Selain menarik perhatian pecinta game dalam negeri dengan latar kota kecil di Indonesia era 90-an lengkap dengan pengalaman-pengalaman khas era tersebut, ASFTU juga sudah menyabet berbagai penghargaan internasional. Terlepas dari itu semua, memainkan game ini bagi [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/01/a-space-for-the-unbound-petualangan-menyelam-ke-dalam-batin/">A Space for the Unbound: Petualangan Menyelam ke Dalam Batin</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/02/01/a-space-for-the-unbound-petualangan-menyelam-ke-dalam-batin/">A Space for the Unbound: Petualangan Menyelam ke Dalam Batin</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/alex/">AW</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><a href="https://mojiken.itch.io/a-space" target="_blank" rel="noreferrer noopener">A Space for The Unbound (ASFTU)</a> karya <a href="https://mojikenstudio.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Mojiken Studio</a> adalah salah satu <em>video game </em>asli Indonesia yang paling ditunggu-tunggu. Selain menarik perhatian pecinta <em>game </em>dalam negeri dengan latar kota kecil di Indonesia era 90-an lengkap dengan pengalaman-pengalaman khas era tersebut, ASFTU juga sudah menyabet berbagai penghargaan internasional. Terlepas dari itu semua, memainkan <em>game </em>ini bagi saya merupakan pengalaman istimewa yang sarat nilai Dharma.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" width="1024" height="576" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed.png" alt="" class="wp-image-7807" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-300x169.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-768x432.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-150x84.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-450x253.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-600x338.png 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sumber: <a href="https://esportsnesia.com/game/review-game-a-space-for-the-unbound-game-indo/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">esportsnesia.com</a><br>Anak 90-an, ada yang berhasil menemukan huruf ‘N’ dari permen karet YO*AN?<br></figcaption></figure>



<p>Dalam ASFTU, kita berperan sebagai Atma, pemuda kelas 3 SMA yang “bermimpi” mendapatkan kekuatan untuk menyelami “ruang” batin orang lain. Ketika ia “bangun”, Atma dan pacarnya, Raya, mengalami berbagai kejadian supranatural dan ancaman kiamat yang harus ia hadapi dengan kekuatan barunya itu. Sepanjang permainan, kita bertualang bersama Atma ke dalam batin warga Kota Loka sambil berusaha menguak misteri tentang Raya dan gadis kecil bernama Nirmala yang merupakan teman dekat Atma dalam mimpinya.</p>



<p>Seiring dengan berjalannya cerita, nilai Dharma yang saya temukan lebih dari sekadar “pesan moral” seperti jawaban ujian bahasa Indonesia. Nilai ini disampaikan lengkap dengan “rasa” seputar betapa sulit menerapkannya di dunia nyata beserta alasan mengapa kita tetap harus memperjuangkannya dan apa yang kita butuhkan untuk bisa terus berjuang.</p>



<h4 id="h-semuanya-saling-bergantung"><strong>Semuanya Saling Bergantung</strong></h4>



<p>Saya selalu merasa bahwa semua <em>game </em>naratif, termasuk ASFTU, adalah simulasi <a href="https://dagporinpoche.id/ajaran/tahapan-jalan/menjadi-buddhis/karma-dan-akibatnya/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">hukum karma</a> dan kesalingbergantungan. Dalam permainan seperti ini, pemain memengaruhi apa yang terjadi dalam cerita dengan berbagai macam pilihan tindakan maupun dialog. Kadang pilihan-pilihan ini menjadi sebab yang “berbuah” menjadi percabangan cerita. Kadang pilihan-pilihan ini hanya menimbulkan perubahan-perubahan kecil. Dari situ, pemain jadi terbiasa berpikir bahwa apapun yang dilakukan akan mendatangkan konsekuensi. Dalam ASTFU, pilihan-pilihan kita tidak sampai banyak mengubah alur cerita, tapi cerita tidak akan berlanjut jika kita tidak mengambil langkah tertentu. Dari situ saja kita bisa merasakan langsung bahwa apa yang kita harapkan hanya bisa tercapai jika kita bertindak.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="576" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-1-1024x576.png" alt="" class="wp-image-7808" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-1-1024x576.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-1-300x169.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-1-768x432.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-1-1536x864.png 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-1-150x84.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-1-450x253.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-1-1200x675.png 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-1-600x338.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-1.png 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sumber: <a href="https://indiegamesplus.com/a-space-for-the-unbound-review/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">indiegamesplus.com</a><br>Coba tebak apa akibatnya kalau pemain rajin mengelus setiap hewan yang ditemui.<br></figcaption></figure>



<p>Lebih jauh, ASFTU menunjukkan kepada kita bagaimana pribadi seseorang tidak “jadi” dengan sendirinya, melainkan bergantung pada banyak faktor–orang tua, teman-teman, pengalaman, dan banyak lagi. Inilah yang kita lihat setiap kali melakukan <em>spacedive–</em>sebutan untuk kemampuan Atma memasuki ruang batin orang lain. Selain si pemilik batin, kita akan bertemu dengan orang-orang atau kejadian yang amat membekas sehingga berpengaruh pada diri mereka sekarang.&nbsp;<br><br>Baca juga: <a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Pratityasamutpada?id=g7CWDwAAQBAJ&amp;pli=1" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Pratityasamutpada: 12 Mata Rantai yang Saling Bergantungan</a></p>



<h4 id="h-saling-memahami-kunci-welas-asih"><strong>Saling Memahami, Kunci Welas Asih</strong></h4>



<p>Kita pasti pernah bertemu orang yang kita rasa “aneh” atau “tak masuk akal”.Tak jarang orang-orang seperti ini menjadi bulan-bulanan publik, terlepas dari keanehnya itu baik, buruk, atau biasa saja. Tokoh-tokoh dalam ASFTU juga mengalami hal yang sama sampai pemain masuk ke dalam batin mereka dan melihat apa yang terjadi di dalam. Pemahaman kita terhadap orang itu berdasarkan apa yang kita lihat (dan lakukan) dalam ruang batin para tokoh ini akan menjadi petunjuk untuk membantu mereka.<br>“Saling memahami” di sini juga menjadi elemen kunci untuk mengurai semua konflik. Perjalanan ke dalam batin yang terakhir dalam <em>game </em>ini secara khusus menggambarkan bagaimana memahami orang lain dapat menjadi langkah awal untuk memulihkan luka batin. Menyadari bahwa orang-orang yang pernah menyakiti kita, tidak kita sukai, atau berbeda dengan kita pada dasarnya punya kesamaan dengan kita, yaitu sama-sama ingin bahagia, bisa membantu kita untuk melepaskan kebencian. Dalam permainan ini, kita bisa melihat bahwa ini bukan hanya bisa menolong diri kita sendiri, tapi juga menolong orang lain tersebut.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="295" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-2-1024x295.png" alt="" class="wp-image-7809" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-2-1024x295.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-2-300x86.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-2-768x221.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-2-1536x443.png 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-2-150x43.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-2-450x130.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-2-1200x346.png 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-2-600x173.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-2.png 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tangkapan layar utuhnya tidak saya sertakan supaya tidak <em>spoiler, </em>hehe.</figcaption></figure>



<p>Di dunia nyata, kita tentunya tidak punya kemampuan memasuki batin orang lain. Namun, kita bisa tetap berusaha memahami orang lain dengan berbagai cara. Kita bisa mulai dengan berkomunikasi untuk lebih mengenal orang lain, lalu mencoba untuk menempatkan diri kita di posisi mereka. Pemahaman yang kita dapat bisa kita bawa saat menyelami batin kita sendiri.&nbsp;</p>



<p>Misalnya, ketika kita tidak menyukai seseorang, kita bisa mulai dengan bertanya pada diri kita: kenapa tidak suka padanya? Bagian apa dari dirinya yang tidak kita sukai? Kenapa dia bisa seperti itu? Apakah dia selalu seperti itu? Di sinilah pemahaman kita tentang orang tersebut bisa berguna. Kita akan menemukan bahwa di balik sikapnya yang menyinggung kita, dia hanya sedang berusaha untuk bahagia, sama seperti kita. Kita pun pasti pernah melakukan hal yang sama. Ketika kita bisa melihat kesamaan itu, kebencian kita akan berkurang. Penderitaan kita pun akan berkurang.&nbsp;</p>



<p>Ini merupakan salah satu cara menyetarakan diri kita dengan orang lain yang diajarkan sang Buddha sebagai langkah awal dalam tahapan mengembangkan welas asih universal. Kalau terus dilatih, cara kita memandang dunia akan berubah. Bukan hanya orang yang dekat dan baik pada kita, kita akan merasakan kedekatan dengan semua makhluk, baik yang tak dikenal maupun yang membenci kita. Perasaan ini akan menjadi bahan bakar bagi kita untuk <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">melampaui segala macam kesulitan dan kesedihan dan berjuang sampai bisa meraih kebahagiaan sejati</a>.</p>



<p>Baca juga: <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/hati-tanpa-gentar/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Hati Tanpa Gentar: Berani Berwelas Asih untuk Mengubah Hidup</a></p>



<h4 id="h-pentingnya-dan-sulitnya-bersabar"><strong>Pentingnya dan Sulitnya Bersabar</strong></h4>



<p>Je Tsongkhapa dalam Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan menjelaskan ada 3 jenis kesabaran yang perlu kita sempurnakan untuk mencapai pencerahan (<em>kshanti paramita</em>): kesabaran melawan kemarahan, kesabaran menahan penderitaan, dan kesabaran dalam upaya praktik Dharma.</p>



<p><em>Baca juga: </em><a href="https://books.google.co.id/books/about/Kesabaran_Penawar_Kemarahan.html?id=pAP5DwAAQBAJ&amp;redir_esc=y" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><em>Kesabaran Penawar Kemarahan</em></a></p>



<p>ASFTU menggambarkan kesabaran jenis pertama secara gamblang. Kita kadang sering salah memahami “bersabar” sebagai tindakan instan, menyamakannya dengan sekadar menahan diri untuk tidak bereaksi “marah” secara fisik ataupun verbal. Namun, <em>game </em>ini berhasil menunjukkan bahwa bersabar melawan kemarahan adalah upaya mental aktif yang butuh waktu, dimulai dengan melangkah mundur sambil merenungkan kerugian dari kemarahan itu sendiri.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" width="822" height="271" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed.jpg" alt="" class="wp-image-7812" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed.jpg 822w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-300x99.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-768x253.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-150x49.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-450x148.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-600x198.jpg 600w" sizes="(max-width: 822px) 100vw, 822px" /><figcaption>Amarah adalah racun yang bisa membakar habis kebajikanmu :’(</figcaption></figure>



<p>Langkah selanjutnya adalah memahami bahwa orang lain menyakiti kita karena mereka didorong oleh karma dan <a href="https://www.google.co.id/books/edition/Citta_Cetasika/3-ejEAAAQBAJ?hl=id&amp;gbpv=1&amp;dq=dagpo+rinpoche&amp;printsec=frontcover" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><em>klesha </em>(kotoran batin)</a> mereka. Dalam ASFTU, kita bisa “mengalami” proses ini berulang kali sepanjang permainan melalui mekanisme <em>spacedive. </em>Seperti yang sudah dibahas di bagian sebelumnya, PR kita adalah berlatih melakukan <em>spacedive</em> ke batin kita sendiri untuk mengatasi kemarahan di dunia nyata.</p>



<p>Kesabaran jenis kedua, yaitu kesabaran untuk menahan penderitaan, mungkin bisa menjadi “ringkasan” untuk keseluruhan cerita ASFTU. Ini semakin kentara menuju akhir (dan pastinya sayang kalau di-<em>spoil</em> di sini). Satu lagi kesalahpahaman terkait kesabaran yang “diluruskan” di sini adalah pandangan bahwa bersabar sama dengan bersikap pasif. Seaneh dan sesulit apapun situasi yang dihadapi Atma, ia selalu berusaha mencari jalan keluar. Kita sendiri sebagai pemain mungkin akan lebih dari sekali kesulitan dengan <em>minigame</em> atau <em>puzzle </em>tertentu. Upaya kita untuk tidak berhenti bermain, mencari tahu kenapa kita kesulitan, dan mencari cara untuk menyelesaikannya juga merupakan satu bentuk kesadaran. “PR” kita adalah berupaya untuk menerapkan kesabaran ini ketika penderitaan nyata melanda kita dalam kehidupan sehari-hari.<br><br>Bagaimana dengan kesabaran yang terakhir? Ini kan bukan <em>game </em>Buddhis, mana mungkin ada cerita tentang kesabaran dalam praktik Dharma? Eits, kalau kita berpikir seperti itu, artinya kita yang salah memahami apa itu praktik Dharma. Kita perlu ingat bahwa Buddha mengajari kita untuk meraih kebahagiaan sejati dengan mengubah cara pandang kita, dari yang tercemar menjadi murni dan mampu mencerap semua fenomena sebagaimana adanya. Bab-bab terakhir <em>game </em>ini menunjukkan betapa sulitnya proses tersebut. Kadang kita berjuang mati-matian, tapi hanya mendapatkan sedikit kemajuan atau bahkan gagal sama sekali dan harus mengulang dari awal. Kadang kita buah karma buruk kita begitu berat dan tak bisa kita lawan sehingga kita harus bersabar dan menunggu sebelum bisa kembali melangkah maju. Di perjalanan itu, kita harus mengakui hal-hal yang tidak menyenangkan dan bertemu dengan hal-hal yang terasa menyakitkan.&nbsp;</p>



<p>Tidak berhenti sampai menunjukkan betapa sulitnya mengembangkan batin, ASFTU menunjukkan apa yang akan kita dapat jika kita terus berjuang, yaitu kesempatan untuk berbahagia dan penghargaan atas kelahiran kita sebagai manusia. Bukankah itu juga yang seharusnya kita perjuangkan dengan praktik Dharma?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="319" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-3-1-1024x319.png" alt="" class="wp-image-7813" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-3-1-1024x319.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-3-1-300x93.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-3-1-768x239.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-3-1-150x47.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-3-1-450x140.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-3-1-1200x374.png 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-3-1-600x187.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-3-1.png 1313w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sumber: <a href="https://www.heypoorplayer.com/2023/01/25/a-space-for-the-unbound-review-pc/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">heypoorplayer.com</a><br>“Hadiah” yang bisa kita capai di ujung perjuangan berat seolah disimbolkan dengan pemandangan yang sangat memukau dalam ASFTU<br></figcaption></figure>



<h4 id="h-rasa-dari-keyakinan"><strong>“Rasa” dari Keyakinan</strong></h4>



<p>Abhidhamma menjelaskan bahwa ada 11 faktor mental bajik yang bermanfaat bagi hidup kita. Salah satu faktor mental yang paling penting adalah keyakinan–khususnya keyakinan terhadap Triratna.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Keyakinan adalah pelopor, dan, ibarat seorang ibu, sang penghasil</em><br><em>Ia menjaga dan meningkatkan segala kualitas unggul.</em><br><em>Ia mengenyahkan keraguan dan membebaskanmu dari keempat sungai besar.</em><br><em>Keyakinan menandakan kota kebahagiaan dan kebajikan.”</em></p><cite>Ratnolka dharani</cite></blockquote>



<p>Kita mungkin berpikir, “Aku sudah yakin kok sama Triratna! Buktinya aku sudah ikut upacara Tisarana, punya kartu identitas agama Buddha, rajin ikut kebaktian.” Tentunya yang seperti ini tidak termasuk dalam tiga jenis keyakinan yang perlu kita kembangkan.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" width="800" height="450" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-4.png" alt="" class="wp-image-7814" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-4.png 800w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-4-300x169.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-4-768x432.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-4-150x84.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-4-450x253.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/unnamed-4-600x338.png 600w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption>Sumber: <a href="https://gamedaim.com/review/review-a-space-for-the-unbound/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">gamedaim.com</a><br></figcaption></figure>



<p>Kisah ASFTU bermula dari keyakinan salah satu tokoh terhadap tokoh yang lain. Tokoh itu begitu yakin bahwa sosok yang dia yakini ini bisa menyelamatkannya. Kita bisa menyaksikan keyakinan yang berlandaskan pada obsesi berubah seiring dengan si tokoh melihat welas asih, kesabaran, dan perjuangan tokoh yang dia yakini untuk menolongnya.</p>



<p>Tak sedikit umat Buddha dan “penggemar” Buddhisme yang berpikir bahwa Buddhisme adalah “sains” yang tidak membutuhkan keyakinan. Mereka berpendapat bahwa Buddha sudah mati meninggalkan setumpuk kitab. Mereka berpikir kita hanya perlu mengandalkan diri sendiri untuk memahami Dharma dan menggunakannya untuk berjuang sendiri untuk mencapai pembebasan. Namun, bukankah aneh jika Buddha berjuang selama jutaan kalpa untuk mencapai pencerahan hanya untuk mengajar selama beberapa puluh tahun saja? Di sisi lain, Buddha tidak bisa mencuci dosa kita dengan air atau memindahkan kita ke surga untuk bersenang-senang selamanya.</p>



<p>Baca juga: <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/12/hei-bambank-buddha-di-altar-bukan-cuma-patung-pajangan/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Hai, Bambank, Buddha di Altar Bukan Cuma Patung Pajangan!</a></p>



<p>Di penghujung ASFTU, si tokoh tetap harus berjuang untuk keluar dari penderitaan dengan kemauan dan upayanya sendiri, tapi sosok yang ia yakini selalu hadir meski tak selalu tampak. Sosok itu menjadi sumber kekuatan dan harapan yang membantu si tokoh agar dapat terus berjuang. Bagi seseorang yang kagum pada Buddha dan ingin mengikuti jejaknya, kita mungkin bisa mulai dengan membangun keyakinan seperti ini pada sosok Buddha. Setelah mengetahui segala upaya yang Beliau lakukan demi kepentingan semua makhluk termasuk kita, kita bisa mengandalkan Beliau untuk senantiasa hadir untuk menuntun dan menemani kita di setiap langkah menuju kebahagiaan.</p>



<h4 id="h-penutup"><strong>Penutup</strong></h4>



<p>Ketika dilakukan untuk menyelami batin sendiri, saya menginterpretasikan “<em>spacedive</em>” sebagai proses perenungan, tahapan penting dalam proses belajar, merenung, dan meditasi untuk mengembangkan batin yang diajarkan oleh Raja Je Tsongkhapa. Dalam proses ini, pemahaman Dharma yang diperoleh dari belajar “dipertemukan” dengan pengalaman pribadi dan perasaan yang tersimpan di dalam batin. Dari proses itu, kita akan menemukan kaitan langsung antara Dharma dan kehidupan kita. Kita akan menemukan bagaimana Dharma bisa mengatasi berbagai persoalan yang kita hadapi dan membantu kita untuk menjadi lebih bahagia.&nbsp;</p>



<p>Cuap-cuap saya dalam tulisan ini adalah hasil dari percobaan saya melakukan “<em>spacedive”</em> ke batin saya sendiri setelah memainkan A Space for the Unbound. Kira-kira apa yang akan kamu temukan dari menyelami batinmu?<br><em>Game </em>“A Space for the Unbound” bisa dimainkan di <a href="https://www.nintendo.com/store/products/a-space-for-the-unbound-switch/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Nintendo Switch</a>, <a href="https://store.playstation.com/en-us/concept/10005843">PS4, PS5</a>, dan komputer melalui <em>platform </em><a href="https://store.steampowered.com/app/1201270/A_Space_for_the_Unbound/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Steam</a>.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/01/a-space-for-the-unbound-petualangan-menyelam-ke-dalam-batin/">A Space for the Unbound: Petualangan Menyelam ke Dalam Batin</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/02/01/a-space-for-the-unbound-petualangan-menyelam-ke-dalam-batin/">A Space for the Unbound: Petualangan Menyelam ke Dalam Batin</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/alex/">AW</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>RENT the Musical: Buddhis Berkaca dari Komunitas ODHA</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/12/01/rent-buddhis-odha/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2022 05:07:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[Hari AIDS Sedunia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[ODHA]]></category>
		<category><![CDATA[review film]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7593</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dari komunitas ODHA dalam RENT the Musical, kita bisa belajar tentang mengakui keraguan terhadap Dharma dan pentingnya Sangha. Kalau kamu masih terjebak stigma, ubah dari sekarang di Hari AIDS sedunia!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/12/01/rent-buddhis-odha/">RENT the Musical: Buddhis Berkaca dari Komunitas ODHA</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/12/01/rent-buddhis-odha/">RENT the Musical: Buddhis Berkaca dari Komunitas ODHA</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>Will I lose my dignity?</em><br><em>Will someone care?</em><br><em>Will I wake tomorrow&nbsp;</em><br><em>from this nightmare?</em></p><cite><em>&#8211;</em><a href="https://www.youtube.com/watch?v=CCVJnh1teqk">”Will I”</a> dari RENT the Musical</cite></blockquote>



<p>oleh Samantha J.</p>



<p>Entah sudah berapa ratus kali bait ini terngiang-ngiang di telinga saya sejak pertama kali saya mendengarnya sekitar tujuh tahun yang lalu. Sungguh merupakan keberuntungan luar biasa, saya bisa mendengar bait itu dinyanyikan secara langsung di Indonesia, oleh talenta-talenta Indonesia, dalam pertunjukan <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Rent_(musical)">RENT the Musical</a> dari Teman Musicals di Ciputra Artpreneur tanggal 25-27 November 2022 lalu.</p>



<p>RENT adalah drama musikal karya <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Jonathan_Larson">Jonathan Larson</a> yang pertama kali dipentaskan dalam bentuk pembacaan lantang pada tahun 1993 hingga menjadi salah satu pertunjukan Broadway paling populer yang tayang lebih dari 5.000 kali selama 12 tahun (1996-2008). Pertunjukan ini juga telah dipentaskan di lebih dari 50 negara dan diadaptasi menjadi <a href="https://www.imdb.com/title/tt0294870/">film layar lebar</a>.&nbsp;</p>



<p>Kisah RENT sendiri mengisahkan kehidupan sekelompok seniman muda dari golongan marjinal yang tinggal di daerah kumuh kota New York di bawah bayang-bayang narkoba dan wabah HIV/AIDS. Kisah ini merupakan kombinasi antara adaptasi bebas dari opera legendaris “La Bohème” karya Giacomo Puccini dan <a href="https://www.netflix.com/id/title/81149184">pengalaman pribadi Jonathan Larson</a> yang bergumul dalam kemiskinan selagi berjuang mengejar cita-citanya sebagai penulis dan komposer drama musikal yang “lain dari yang lain” hingga akhirnya meninggal sehari sebelum mahakaryanya dipentaskan di depan umum untuk pertama kali.</p>



<p>RENT merupakan salah satu drama musikal favorit saya yang sudah saya tonton berulang kali karena berbagai alasan. Dalam kesempatan ini, untuk merayakan pementasan pertama RENT di Indonesia sekaligus memperingati Hari AIDS Sedunia, saya ingin secara khusus bercerita tentang bagaimana penggambaran komunitas ODHA dalam drama musikal ini membantu saya menyadari kesalahan saya dalam belajar Dharma dan memahami makna penting komunitas–yang dalam Buddhadharma kita kenali sebagai salah satu dari tiga perlindungan (Tisarana), yaitu Sangha.</p>



<h4 id="h-mengakui-keraguan-terhadap-dharma"><strong>Mengakui Keraguan Terhadap Dharma</strong></h4>



<p>Salah satu adegan paling berkesan dalam RENT adalah ketika para tokoh utama menghadiri <a href="https://www.youtube.com/watch?v=vfOgj3tt8zI">pertemuan Life Support</a>, semacam perkumpulan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dalam kisah ini. Adegan dibuka dengan para peserta pertemuan menyanyikan kalimat afirmasi yang dipotong dengan kehadiran Mark Cohen, salah satu tokoh utama yang bukan ODHA. Mark sendiri datang karena diundang Angel, gebetan baru teman sekamarnya yang sama-sama terjangkit HIV.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-embed-handler wp-block-embed-embed-handler wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Life Support - RENT (2008 Broadway Cast)" width="708" height="398" src="https://www.youtube.com/embed/vfOgj3tt8zI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Mark disambut dengan hangat dan diajak ikut menyanyikan bait afirmasi tadi sebelum akhirnya dipotong oleh salah satu anggota pertemuan yang merasa ragu dengan afirmasi tersebut.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>Afirmasi: “Lupakan sesal atau kau akan melewatkan kehidupan.”</em><br><em>Peserta pertemuan: “T-Cell-ku rendah, aku menyesali hal itu, oke?”</em></p></blockquote>



<p>Pemimpin pertemuan kemudian menuntun orang tersebut untuk berfokus pada apa yang dia rasakan saat ini dan membantunya menggali alasan di balik rasa takut yang menghantuinya meskipun ia sedang “baik-baik saja” secara fisik. Peserta pertemuan itu kemudian mengakui keraguannya dan menyatakan bahwa terlepas dari itu, ia ingin mencoba untuk membuka diri dan memahami apa yang ia tidak ketahui:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Aku merasa yang kau ajarkan ini mencurigakan</em><br><em>karena aku terbiasa mengandalkan logika,</em><br><em>tapi aku mencoba membuka diri pada apa yang tak kuketahui</em><br><em>karena logikanya seharusnya aku sudah mati 3 tahun lalu.”</em></p></blockquote>



<p>Apa kaitannya adegan ini dengan Dharma?&nbsp;</p>



<p>Saya teringat dengan diri saya waktu awal-awal mengenal beragam tradisi Buddhadharma. Hal-hal yang saya rasa “masuk akal” seperti teori-teori tentang dukkha, hukum karma, atau meditasi membuat saya terkagum-kagum dan bangga menjadi Buddhis. Apalagi kalau ketemu berita bertajuk “Sains membuktikan manfaat praktik Buddhis ini!” Wuih… Bangganya bukan main. Tapi lain ceritanya saat bertemu dengan praktik yang “tidak bisa dibuktikan secara ilmiah”. Ketika ditanya orang, saya dengan cepat menjelaskan bahwa itu sekadar “produk budaya” dan bukan praktik Buddhis yang esensial. Apalagi kalau praktik itu berasal dari tradisi lain yang tidak terlalu saya kenal, hanya karena pernah mendengar desas-desus tanpa pernah mencoba mencari tahu lebih lanjut, saya pernah dengan percaya diri bilang bahwa itu bukan praktik Buddhis, melainkan karangan umat yang salah kaprah!</p>



<p>Kalau direnungkan lebih lanjut, sikap saya itu merupakan tanda bahwa saya memiliki keraguan terhadap berbagai praktik Buddhis yang sesungguhnya sudah ada dan dipraktikkan untuk waktu yang sangat lama. Namun, alih-alih ber-<em>ehipassiko </em>dengan mencari tahu tentang asal-usul dan makna praktik tersebut dan mencobanya secara langsung, saya memilih untuk menyangkal kesahihannya. Gara-gara saya tidak mau mengakui dan menghadapi keraguan saya terhadap ajaran Buddha yang “paling logis, paling ilmiah, paling luar biasa”, saya asal menuduh praktik yang tidak cocok dengan saya sebagai bukan Buddhis.</p>



<p>Tindakan saya waktu itu tentunya berbeda sama sekali dengan adegan dalam RENT yang saya ceritakan tadi. Di situ, si peserta pertemuan yang ragu mengakui keraguan dan ketidaktahuannya. Ia juga dengan berani berusaha untuk menantang “logika” otaknya dengan mencoba mengikuti pertemuan tersebut setelah menyadari sendiri bahwa hidup tak selalu berjalan sesuai logika itu.&nbsp;</p>



<p>Saya sendiri termasuk orang yang masih sering merasa bahwa “nyata” menurut logika berarti sesuatu yang tampak dan punya wujud. Ini merupakan logika positivisme versi Barat yang tanpa sadar tertanam dalam pikiran banyak orang, apalagi di negara-negara jajahan Eropa yang dibuat merasa inferior secara intelektual. Padahal, kalau kita benar-benar <em>aware</em> dengan apa yang terjadi pada diri kita dan dunia di sekitar kita, ada banyak sekali kejadian yang tidak sesuai dengan apa yang kita anggap logis.&nbsp;</p>



<p>Sikap <em>keukeuh</em> memegang “logika” pribadi secara khusus sangat berbahaya saat diterapkan pada Dharma Sang Buddha yang kualitas dan cakupannya jauh melampaui jangkauan nalar kita yang masih tertutup kotoran batin yang sudah menumpuk sejak waktu tak bermula. Saat kita membiarkan sikap ini mengarahkan jari telunjuk kita untuk menentukan mana ajaran Buddha dan mana yang bukan, kita bukan hanya akan gagal memahami Dharma secara keseluruhan dan semakin jauh dari pencerahan. Kita juga menciptakan sebab untuk tidak mengenal Dharma di masa mendatang.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Jauh lebih berat adalah kejahatan dari seseorang yang menyangkal Sutra-Sutra dibanding seseorang yang akan menghancurkan semua stupa di Jambudwipa ini.</em><br><em>Jauh lebih berat adalah kejahatan dari seseorang yang menyangkal Sutra-Sutra dibanding seseorang yang akan membunuh Arahat sebanyak butiran pasir di Gangga.”</em></p><cite>-Samadhiraja Sutra</cite></blockquote>



<p>Jadi, banyak baca buku Dharma, rajin ke wihara, ikut banyak ceramah Dharma, atau bersikap alim tidak menjamin kita benar-benar menjadi seorang Buddhis atau praktisi Dharma. Itu semua percuma kalau kita masih “pilih-pilih” ajaran seperti yang saya lakukan dulu (sekarang juga kadang masih suka salah sih). Sebaliknya, kita perlu bersikap seperti peserta pertemuan ODHA dalam RENT tadi yang berani mengakui keraguannya sambil tetap mencoba membuka diri terlepas dari segala ketakutan dan kesulitan yang ia alami. Seorang Buddhis bisa jadi pecandu narkoba, suka mabuk-mabukan, dan ragu dengan ajaran Buddha, tapi yang penting adalah ia menyadari dan mengakui ketidaktahuannya serta mau mencoba membuka diri terhadap Dharma yang baru ia kenal. Jika tidak, Dharma tak akan bermanfaat bagi batinnya.</p>



<h4 id="h-pentingnya-komunitas-pentingnya-sangha"><strong>Pentingnya Komunitas, Pentingnya Sangha</strong></h4>



<p>Mengakui keraguan dan membuka hati tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setiap orang pasti menemui hambatan yang beragam jenis dan beratnya tergantung dengan karma dan pengalaman hidup masing-masing. Tokoh dalam RENT tadi mengalami hambatan untuk memulihkan diri lewat pertemuan Life Support berupa ancaman penyakit mematikan dan ketakutan yang konon umum bagi warga New York dalam kisah itu. Saya sendiri menemukan hambatan berupa kesombongan, kurangnya pengetahuan, dan konsep bawaan dalam upaya memulihkan diri dengan Dharma.&nbsp;</p>



<p>Meski amat beragam, saya rasa hambatan itu bisa diperas sampai sisa intisarinya menjadi bait yang saya kutip di awal tulisan ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-embed-handler wp-block-embed-embed-handler wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Will I? - RENT (2008 Broadway Cast)" width="708" height="398" src="https://www.youtube.com/embed/CCVJnh1teqk?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Akankah aku kehilangan harga diri?</em><br><em>Akankah ada yang peduli?</em><br><em>Akankah kubangun esok hari</em><br><em>dari mimpi buruk ini?”</em></p></blockquote>



<p>Ini adalah lagu paling sederhana dalam seluruh drama musikal RENT. Isinya hanya satu bait diulang-ulang, dinyanyikan awalnya oleh salah satu peserta pertemuan Life Support dan diikuti oleh seluruh tokoh. Ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang sakit, ada yang sehat, ada yang beruntung, ada yang malang, semua berada di tempat dan adegan yang berbeda tapi menyanyikan bait yang sama dengan nada yang sama. Di momen ini, saya bisa merasakan salah satu poin penting yang diajarkan Buddha bahwa semua makhluk pada dasarnya sama, sama-sama menderita dan ingin bebas dari penderitaan itu.&nbsp;</p>



<p>Isi baitnya sendiri seolah mengungkapkan apa yang sesungguhnya dikatakan hati kecil kita saat kita menutup pintu hati, menolak mengakui kekurangan diri dan memilih untuk “kuat” sendiri. Kita takut kehilangan harga diri karena mengandalkan pertolongan orang lain, takut direndahkan karena memiliki kekurangan, merasa tak ada yang peduli sekeras apa pun kita berupaya, juga takut menambah luka akibat penolakan dan kegagalan di atas segala “mimpi buruk” yang kita bawa.</p>



<p>Lebih lanjut, kesamaan itu bisa menjadi dasar untuk berempati dan bersatu menjadi satu komunitas yang saling mendukung, misalnya 6 sahabat yang menjadi tokoh utama maupun orang-orang ODHA yang menghadiri pertemuan Life Support. Dalam komunitas seperti ini, kita tak perlu takut kehilangan harga diri atau karena semua sama-sama mengakui dan memaklumi kekurangan yang dimiliki. Kita juga bisa yakin bahwa ada orang-orang yang peduli dengan keadaan dan kebahagiaan kita, bahwa usaha kita tak akan sia-sia. Kalaupun kita gagal, kita tidak sendirian dan bisa saling menyemangati untuk terus maju selangkah demi selangkah.</p>



<p>Bukan hanya ODHA yang membutuhkan komunitas. Seorang praktisi Dharma juga! Pada dasarnya, yang membedakan komunitas ODHA dengan komunitas Buddhis hanyalah jenis penyakitnya–yang satu fisik, yang satu mental. Bukankah kita semua sama-sama menderita penyakit keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan yang membuat kita menderita sejak waktu yang tak bermula? “Sangha” yang secara harfiah berarti “komunitas” seringkali dianalogikan sebagai perawat bagi kita yang sakit ini. Sama seperti komunitas Life Support adalah ruang aman bagi mereka yang bergumul dengan HIV untuk merawat satu sama lain, Sangha juga merupakan “ruang aman” bagi kita yang bergumul dengan virus klesha untuk saling merawat.</p>



<p>Dari sini, saya jadi semakin menyadari bahwa “berlindung kepada Sangha” lebih dari sekadar menghormati para biksu/biksuni, berdana makanan dan jubah pada mereka, atau “curhat” memohon petunjuk saat ada masalah. Buddha membentuk Sangha secara khusus agar murid-murid-Nya punya komunitas yang saling menerima dan saling mendukung selagi jatuh bangun berjuang memperbaiki batin. Kita pun perlu lebih mengandalkan teman-teman kita sesama Buddhis, hidup dengan mereka dan saling menyemangati alih-alih menghakimi. Kita juga tak perlu gengsi dan menjaga jarak karena merasa kurang mampu berdana, jarang meditasi, atau tidak yakin 100% dengan praktik-praktik Buddhis tertentu. Justru kita perlu mengakuinya agar bisa berkembang menjadi lebih baik. Percaya deh, kalau kita cuma sendiri, pasti perkembangan itu tidak akan pernah terjadi!</p>



<p>Kemudian, sama seperti pemimpin pertemuan Life Support yang menuntun anggotanya untuk menggali akar masalah dan yakin untuk bertahan, kita butuh sosok yang sudah merasakan sendiri manfaat Dharma dan mampu menuntun kita untuk menggali akar penderitaan kita dan menguatkan tekad kita untuk terus mempelajari dan mempraktikkan Dharma sampai benar-benar bebas dari penderitaan itu.&nbsp;</p>



<p>Kalau kita sendiri, pembebasan dan pencerahan ibarat garis <em>finish </em>dalam rute maraton–tidak kelihatan dari titik <em>start</em> tempat kita berdiri. Kita butuh seseorang yang sudah pernah mencapai <em>finish</em> untuk meyakinkan bahwa titik itu benar-benar ada agar kita tak berhenti berlari serta memandu langkah kita agar tak tersesat di perjalanan.</p>



<h4 id="h-nilai-yang-sama"><strong>Nilai yang Sama</strong></h4>



<p>Tentunya agar dapat benar-benar saling menerima dan saling mendukung seperti ini, sebuah komunitas juga harus setidaknya menjunjung nilai yang sama. Dalam RENT, nilai ini saya temukan dalam bait berikut:</p>



<p><em>“Bagaimana caranya menilai hidup seseorang?</em><br><em>Bagaimana dengan cinta?</em><br><em>Nilailah hidupmu dengan cinta!”</em></p>



<p><a href="https://www.instagram.com/p/Ckso1R4pNGx/">Lagu ini</a> merupakan cuplikan dari lagu paling populer dari drama musikal RENT. Lagu ini jugalah yang membuat saya merasa komunitas yang digambarkan dalam kisah ini begitu dekat dengan komunitas Buddhis.</p>



<p>Sekarang ini, masyarakat terbiasa mengukur “nilai” hidup berdasarkan materi–baik itu harta, profesi, reputasi, pasangan, ataupun penampilan fisik. Masyarakat “sepakat” bahwa orang yang tidak cukup kaya, tidak cukup tenar, atau jomlo dianggap “kurang” dibanding orang yang lebih kaya, lebih tenar, atau punya pasangan. Akibatnya, antara orang yang “berpunya” memandang rendah yang lain atau orang yang “kurang” minder dan takut dihakimi. Orang-orang pun terpisahkan oleh jurang yang dibuat oleh hal-hal yang sebenarnya tidak berarti dan tidak bisa dibawa mati. Parahnya lagi, dari jurang itu akan bermunculan segala bentuk racun batin yang membuat kita makin jauh dari Dharma. Kita jadi gampang iri, tak kunjung puas, dan rela merugikan orang lain demi meredam dahaga samsara. Akibatnya, bukannya lega, kita malah menumpuk sebab penderitaan.</p>



<p>Lain halnya kalau kita mengukur “nilai” hidup berdasarkan cinta kasih. <em>Metta</em> atau cinta kasih universal itu gratis dan tidak akan habis dibagi. Jika kita merasa kurang, Buddha sudah mengajarkan cara mengembangkannya. Jika kita melihat orang lain kurang memiliki cinta kasih, kita bisa langsung mengulurkan cinta kepada mereka. Namun, pandangan bahwa “cinta kasih adalah yang terpenting dalam hidup” akan tenggelam oleh tuntutan-tuntutan duniawi yang mengepung kita dalam bentuk iklan, nyinyiran media sosial, atau bahkan keluarga dan teman-teman kita sendiri yang lebih percaya pada materi. Sekali lagi, komunitaslah yang bisa melindungi kita dari semua itu!&nbsp;</p>



<p>Kalau semua orang di sekitar kita sepakat bahwa cinta kasih dan hati yang baik lebih penting daripada harta yang banyak, kita juga bisa fokus melatih cinta kasih sesuai dengan Dharma. Kita juga tak akan terjebak dalam pandangan bahwa ada orang yang lebih “unggul” atau lebih “inferior” sehingga bisa saling menerima, saling menghargai, dan saling mendukung dengan tulus.</p>



<h4 id="h-penutup"><strong>Penutup</strong></h4>



<p>Ini semua hanyalah secuil racauan saya yang begitu terinspirasi oleh komunitas ODHA yang digambarkan dalam sebuah drama musikal. Sebagai penutup, saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk membayangkan: betapa banyak hal yang bisa kita pelajari dengan mengenal dan berinteraksi langsung dengan komunitas ODHA di dunia nyata? Atau komunitas-komunitas lain yang hidupnya berbeda dengan kita, yang belum pernah kita kenal sebelumnya? Atau jangan-jangan kita pun masih banyak belajar dari orang-orang yang kita temui setiap hari!</p>



<p>Satu hal yang pasti, agar bisa belajar dan berkembang, kita butuh kejujuran, kerendahan hati, dan kemauan untuk melepaskan segala bentuk prasangka yang kita yakini. Jika pembaca sama seperti saya yang telah melewatkan bertahun-tahun kesempatan untuk belajar karena kesombongan dan ketidaktahuan, jangan larut dalam sesal dan yakinlah bahwa kita belum terlambat. Selama kita masih hidup dan masih berkesempatan bertemu dengan Buddhadharma, mari mulai untuk berubah dan menapaki jalan menuju pencerahan yang sesungguhnya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“There’s only us, there’s only this.</em><br><em>Forget regret, or life is yours to miss.</em><br><em>No other road, no other way, no day but today.”</em></p><cite>-”Life Support” dari RENT the Musical</cite></blockquote>



<p>—</p>



<p><em>RENT the Musical versi Broadway bisa disaksikan di </em><a href="https://www.youtube.com/watch?v=SjZxT4wWpXI"><em>sini</em></a><em>. Mohon doanya agar pertunjukan di Indonesia juga bisa hadir dalam bentuk video maupun audio 😉</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/12/01/rent-buddhis-odha/">RENT the Musical: Buddhis Berkaca dari Komunitas ODHA</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/12/01/rent-buddhis-odha/">RENT the Musical: Buddhis Berkaca dari Komunitas ODHA</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dharma vs Paham Apokaliptik</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2022 12:39:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[kalideres]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan setelah mati]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7560</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kematian satu keluarga di Kalideres diduga berkaitan dengan paham apokaliptik. Merenungkan ini bisa membantu kita paham mengapa Buddha mengajari kita untuk memikirkan kehidupan mendatang.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Kevin Chow</p>



<p>Belakangan ini, kita banyak disuguhi berita-berita yang membuktikan bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Mulai dari berita pandemi dan perang yang masih berlangsung di kancah global hingga berita di skala nasional berupa bencana alam, kasus pembunuhan polisi, hingga kasus-kasus lainnya yang terkadang membuat kita bertanya-tanya: “Kok bisa gitu ya?”. Untuk kasus-kasus tertentu, kita membaca berita tersebut dan berusaha untuk mencerna apa yang sedang terjadi karena terlihat tidak masuk akal. Mungkin, kita sempat berada di satu titik di mana kita berpikir bahwa apakah ini benar-benar mereka (yang terlibat dalam kasus tersebut) yang tidak beres atau kita sebagai pembaca yang gagal memahami perspektif mereka.&nbsp;</p>



<h4><strong>Misteri Kematian Keluarga di Kalideres </strong></h4>



<p>Sebut saja salah satu kejadian yang masih hangat dan baru terjadi di Kalideres, Jakarta. Dilaporkan bahwa satu keluarga yang beranggotakan empat orang ditemukan tewas di dalam rumah. Berdasarkan otopsi singkat yang telah dilakukan oleh pihak kepolisian, para korban tersebut diduga tewas karena kelaparan dan tidak ditemukan makanan dalam lambung dari seluruh anggota keluarga tersebut. Penyelidikan lebih lanjut menyatakan bahwa keluarga tersebut hidup berkecukupan yang setidaknya mampu menepis anggapan bahwa mereka bunuh diri karena tidak mampu membeli makanan. Tidak ditemukan juga adanya tanda-tanda kekerasan atau tindak kriminal. Hingga saat ini, motif kematian ini masih belum terungkap. Perlu ditekankan disini bahwa penyebab dan motif adalah dua hal yang berbeda.&nbsp;</p>



<p>Seorang Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala menilai bahwa keyakinan apokaliptik bisa menjadi salah satu dugaan akan motif dari dari kasus ini. Dikutip dari <a href="https://www.kompas.tv/article/348465/diduga-penyebab-kematian-satu-keluarga-di-kalideres-kriminolog-ui-sebut-apokaliptik-apa-itu?page=all&amp;_ga=2.31919483.434489381.1669235055-927954307.1665961131">KompasTV</a>, kata “apokaliptik” berasal dari bahasa Yunani ‘<em>apokalyptien</em>’ yang memiliki arti mengungkapkan sesuatu yang jauh. Kata tersebut diserap ke bahasa Inggris menjadi <em>apocalypse</em> atau di bahasa Indonesia apokalips. Berdasarkan <a href="https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/apokalips">Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)</a>, apokalips memiliki dua makna, yakni wahyu; penyingkapan dan kehancuran dunia pada akhir zaman. Secara singkat, pemahaman ini membicarakan persepsi soal kehancuran dunia di akhir zaman. Beberapa contoh penganutnya misalnya sekte <a href="https://www.bbc.com/news/world-asia-35975069">Aum Shinrikyo</a> yang mendalangi serangan gas sarin di Jepang pada tahun 90-an dan kelompok <a href="https://israeled.org/christian-extremists-denied-entry-to-israel/">Concerned Christian</a> asal Amerika Serikat yang sempat dideportasi dari Israel karena dugaan percobaan terorisme.</p>



<h4><strong>Menguji Pemahaman Apokaliptik</strong></h4>



<p>Dari sini, kita akan mulai membahas poin-poin yang cukup menarik dari paham apokaliptik ini dan mengujinya berdasarkan pemahaman Buddhisme yang telah dibahas pada artikel sebelumnya, yaitu <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">keyakinan akan adanya kehidupan mendatang setelah kematian</a>. Koordinator Prodi S2 Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Airlangga (Unair) berpendapat bahwa para pengikut paham apokaliptik ini ingin meninggalkan dunia sebelum adanya penghakiman atau munculnya kiamat. Para penganut paham tersebut berspekulasi bahwa mereka lebih baik mengakhiri hidup dengan “lebih terhormat” sebelum terjadinya kiamat yang dianggap sebagai hukuman dari Tuhan.&nbsp;</p>



<p>Kita semua tahu bahwa cepat atau lambat, kita semua pasti akan menghadapi yang namanya <a href="https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/">kematian</a>. Pertanyaannya adalah apakah mengakhiri hidup kita sendiri karena putus asa akibat perasaan keterbatasan diri dan rasa putus asa terhadap sistem kehidupan yang ada merupakan tindakan yang tepat dan bijaksana? Apakah dengan mengakhiri hidup kita saat ini maka segala sesuatu akan selesai begitu saja dan tinggal menghadapi “penghakiman” dari Tuhan? Jika “penghakiman” dari Tuhan tersebut berbentuk surga dan neraka, apakah kita memiliki kesempatan untuk berpindah alam dari nereka ke surga (begitu juga sebaliknya) setelahnya atau kita akan selamanya berada di salah satu alam tersebut tanpa ada kemungkinan untuk keluar dari sana? Jika memang masa kehidupan kita di salah satu alam tersebut bersifat kekal dan apabila kita jatuh ke alam neraka karena perbuatan jahat kita lebih banyak daripada perbuatan baik yang telah kita lakukan selama hidup kita, apakah berarti semua perbuatan baik yang pernah kita lakukan semasa hidup kita menjadi sia-sia begitu saja karena pada akhirnya kita akan terjatuh dan menderita di alam neraka selamanya tanpa ada kesempatan untuk keluar?&nbsp;</p>



<p>Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat berkaitan erat dengan konsep karma dan pemahaman kita bahwa kehidupan yang kita jalani itu tidak hanya sekali ini saja. Buddhisme percaya bahwa setelah kematian, kita akan terus menjalani kehidupan yang lain secara berulang-ulang apabila kita tidak pernah melakukan sesuatu untuk menghentikan akar dari proses ini. Walaupun kepercayaan-kepercayaan lain juga menyatakan bahwa mereka meyakini adanya kehidupan setelah kematian berupa kelahiran di surga dan neraka, Buddhisme menekankan pada kata kunci “berulang-ulang” yang menyiratkan bahwa kehidupan kita tidak hanya akan berakhir di antara surga atau neraka itu selamanya, melainkan akan ada kehidupan lain lagi setelahnya.</p>



<p>Setidaknya, ini bisa menjustifikasi <a href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">konsep karma</a> yang telah kita pelajari bahwa segala sesuatu yang telah kita perbuat akan selalu menjadi sebab yang akan berbuah pada suatu hasil. Didukung oleh konsep kelahiran yang berulang setelah kematian, kita akan menyadari bahwa setidaknya kita masih diberi kesempatan untuk melakukan suatu tindakan yang akan menjadi sebab untuk berbuahnya karma bajik yang pernah kita pupuk di masa lalu. Mengambil contoh makhluk yang terlahir di alam neraka karena karma buruknya yang lebih banyak, kita tidak bisa serta-merta langsung menghakimi bahwa ia sepenuhnya salah dan semua perbuatan bajik yang pernah ia lakukan semasa hidupnya tidak ada nilainya sama sekali. Dengan adanya kehidupan selanjutnya setelah kelahirannya di alam neraka, setidaknya ia masih diberi kesempatan untuk merasakan buah dari karma bajik sebagai akibat dari perbuatan baiknya di masa lampau.&nbsp;</p>



<h4><strong>Kenapa Pemahaman akan Kehidupan Mendatang Menjadi Sangat Penting?</strong></h4>



<p>Pemahaman yang benar akan kehidupan mendatang menjadi sangat penting bagi kita karena kita jadi termotivasi untuk meninggalkan segala sesuatu yang bersifat tidak bajik dan terus berusaha untuk kebajikan dalam hal apapun yang bisa kita lakukan. Semua itu kita lakukan semata-mata karena kita tahu bahwa segala perbuatan tersebut tidak hanya akan berdampak pada kehidupan saat ini saja, melainkan pada kehidupan kita yang akan datang juga. Paling tidak, pemahaman ini juga akan menyelamatkan kehidupan kita saat ini sehingga kita tidak terjerumus ke paham-paham sesat yang mengaburkan pandangan benar dan logika kita seperti para penganut paham apokaliptik tersebut.&nbsp;</p>



<p>Jadi, kita harus terus belajar sehingga kita bisa semakin mengasah kemampuan kita dalam membedakan mana hal yang benar dan salah sehingga tidak mudah terjatuh ke pandangan yang keliru. Gimana sih cara belajarnya? Salah satunya adalah tentu saja dengan terus belajar Dharma, baik itu dari mengikuti pengajaran Dharma langsung, membaca buku-buku Dharma, atau minimal membaca semua <a href="https://lamrimnesia.org/category/wacana/artikel/">artikel dari Lamrimnesia</a> (setelah baca artikel, cari tahu lebih lanjut, ya!). Jadi, yuk kita bareng-bareng mempelajari, merenungkan, dan mempraktikkan semua Dharma di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari!</p>



<h4><strong>Referensi:</strong></h4>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche<br><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a> oleh Je Tsongkhapa<br><a href="https://www.kompas.com/tren/read/2022/11/15/163000965/apa-itu-apokaliptik-disebut-penyebab-kematian-keluarga-di-kalideres-?page=all">Apa itu Apokaliptik, Disebut Penyebab Kematian Keluarga di Kalideres</a> &#8211; Kompas.com<br><a href="https://www.unair.ac.id/benarkah-kematian-keluarga-di-kalideres-dipengaruhi-paham-apokaliptik-ini-tanggapan-pakar-unair/">Benarkah Kematian Keluarga di Kalideres Dipengaruhi Paham Apokaliptik? Ini Tanggapan Pakar Unair</a> &#8211; unair.ac.id</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2022 07:34:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[alam rendah]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan setelah mati]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7506</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Mau tahu seperti apa rasanya lahir di neraka, hantu kelaparan, atau binatang? Buddha punya jawabannya dan kita perlu merenungkannya. Jangan diabaikan!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Kevin Chow</p>



<p>Pernah ga sih kalian ketemu teman atau orang yang hidupnya YOLO banget gitu? YOLO itu adalah singkatan dari <em>You Only Live Once.&nbsp;</em></p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Eh, kok lu tiap minggu <em>check out</em> keranjang Shopee mulu, sih? Gak ada niat buat hemat gitu?”<br>“Yaelah bro, kita YOLO aja lah. Ngapain hidup harus serius-serius amat, sih.”</p></blockquote>



<p>Orang-orang dengan prinsip seperti ini berpikiran bahwa kita hanya hidup sekali saja. Sebenarnya, slogan ini bisa memiliki makna positif maupun negatif tergantung pada penggunaannya. Pada konteks percakapan sebelumnya, tentu saja ini merupakan contoh pemaknaan YOLO secara negatif, yang artinya ia hanya sibuk berfoya-foya menghabiskan uang untuk membeli sesuatu yang belum tentu berguna. Padahal, uangnya mungkin bisa saja ditabung atau diinvestasikan dan kemudian digunakan untuk hal-hal yang lebih berguna di masa mendatang. Jika kita melihat sudut pandang yang lebih positif, slogan YOLO juga bisa memotivasi kita untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat selama kita masih mampu bernapas untuk membuat hidup kita menjadi lebih bermakna.&nbsp;</p>



<p>Tapi <em>guys</em>, sebelum kita terjun lebih dalam tentang YOLO ini, kita perlu menelusuri keabsahan dari kata-kata gaul ini. Apakah benar bahwa kita hanya hidup sekali saja? Pernahkah kita berpikir bahwa setelah kehidupan ini berakhir, apakah semuanya akan selesai begitu saja? Jika memang begitu adanya, berarti semua perbuatan yang telah kita lakukan di kehidupan ini tidak akan membawa akibat apa pun dong? Terus, kenapa bisa ada orang yang terlahir di keluarga kaya, sedangkan yang lainnya terlahir di keluarga miskin? Lah, siapa dong yang nentuin kalo gitu? Apabila dilanjutkan, akan semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul nantinya. Jika kalian penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kalian bisa menguliknya lebih lanjut di artikel “<a href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a>”.</p>



<h4><strong>Kehidupan Setelah Mati</strong></h4>



<p>Secara singkat, kita (terutama Buddhis) meyakini bahwa hidup tidak hanya sekali saja. Setelah kematian, kita akan dilahirkan kembali ke alam yang lebih tinggi atau alam rendah. Sayangnya, kita tidak bisa dengan bebas memilih untuk dilahirkan ke alam yang mana karena itu semua bergantung pada karma yang telah kita perbuat. Jika selama kehidupan ini kita lebih banyak memupuk karma yang bajik, kita akan memiliki kesempatan untuk terlahir kembali di alam manusia atau pun alam yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika kita lebih banyak mengumpulkan ketidakbajikan, maka kita akan otomatis terjatuh ke alam rendah. Kemungkinan ini menjadikan perenungan akan penderitaan di alam rendah sebagai tahapan penting setelah <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/">merenungkan tentang kematian</a> dalam instruksi Lamrim (Tahapan Jalan Menuju Pencerahan) karena dapat menjadi dorongan kuat untuk melanjutkan praktik Dharma ke tahapan yang selanjutnya.</p>



<h4><strong>Tiga Alam Rendah</strong></h4>



<p>Berbicara tentang alam rendah, Buddhisme mengategorikan alam-alam tersebut menjadi tiga bagian, yakni alam neraka, binatang, dan hantu kelaparan.&nbsp;</p>



<p>Untuk alam neraka sendiri, setidaknya ada empat pembagian lagi, yaitu neraka besar, neraka berdekatan, neraka dingin, dan neraka sebagian. Bahkan jika kita ingin membahas lebih detail lagi, setiap neraka tersebut masih ada pembagiannya lagi loh! Jika teman-teman ingin mengetahui lebih lanjut tentang pembagiannya, bisa dibaca lebih lanjut di buku “<a href="https://play.google.com/store/books/details?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche (hal. 222-248). Satu hal yang pasti, tidak ada satu pun alam neraka yang nyaman untuk ditempati.&nbsp;</p>



<p>Jika kalian pernah merasakan perihnya tersayat oleh pisau atau mungkin tidak sengaja tertusuk oleh jarum, maka kalian bisa membayangkan bahwa penderitaan di alam neraka jauh berkali-kali lipat lebih sakit dibandingkan itu. Mungkin agak sulit jika kita membayangkan diri kita yang sedang dipotong-potong dengan pisau atau dilempar ke dalam tungku besi panas yang penuh dengan kobaran api. Jika kalian pernah menggoreng sesuatu dan tidak sengaja terkena percikan minyak panasnya, nah itulah bagian yang sangat amat kecil dari keseluruhan penderitaan di alam neraka! Bukan, kita bukan sedang membahas cerita tentang psikopat atau semacamnya. Tapi, memang benar begitulah mengerikannya penderitaan di alam neraka.&nbsp;</p>



<p>Di atas neraka, ada alam hantu kelaparan. Secara umum, penghuni alam ini memiliki tiga jenis penderitaan. Yang pertama adalah halangan eksternal untuk mendapatkan makanan/minuman. Misalnya, ketika mereka menemukan mata air saat sedang kehausan, air tersebut tiba-tiba akan hilang saat mereka akan meminumnya. Kemudian, ada yang disebut sebagai halangan internal, contohnya hantu-hantu yang memiliki perut buncit tapi mulut mereka hanya seukuran mata jarum sehingga sangat sulit untuk menyantap makanan. Terakhir adalah penderitaan berupa halangan di dalam makanan/minuman itu sendiri karena apapun yang mereka santap akan berubah menjadi kobaran api.&nbsp;</p>



<p>Nah, selanjutnya kita membahas tentang penderitaan di alam binatang. Kebetulan, para binatang ini tinggal di alam yang sama dengan kita sebagai manusia sehingga kita bisa mengamati dengan jelas bagaimana kehidupan mereka. Syukur-syukur jika kita kebetulan bisa terlahir sebagai anjing atau kucing yang tinggal di rumah keluarga yang kaya sehingga kita bisa mengonsumsi Royal Canin setiap hari. Namun, seberapa besar sih kemungkinan kita bisa terlahir sebagai salah satu dari binatang peliharaan tersebut? Bayangkan jika kita terlahir sebagai ayam yang harus disembelih untuk dikonsumsi, sebagai singa di hutan yang harus saling berburu mangsa untuk bertahan hidup, atau sebagai ikan di perairan lautan dalam yang bahkan kita sendiri tidak tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana. Secara umum, para binatang ini mengalami penderitaan berupa saling memakan satu sama lain, dungu dan bodoh, kepanasan dan kedinginan, kelaparan dan kehausan, serta dieksploitasi.</p>



<h4><strong>Kita Bisa Kena!</strong></h4>



<p>Setelah kita mengetahui semua bentuk penderitaan di alam rendah, kita perlu merenungkan bahwa dengan kondisi kita saat ini, sangat mungkin sekali bagi kita untuk terjatuh ke salah satu dari alam tersebut setelah kita meninggal nanti. Jika kita ingin hitung-hitungan peluang kita untuk terjatuh ke alam rendah ini, cukup ingat kembali kembali aktivitas apa saja yang sudah kita lakukan selama 24 jam terakhir, baik dari pikiran, ucapan, dan perbuatan. Apakah batin kita sudah cukup bajik hari ini atau kita malah sibuk iri dengan kesuksesan orang lain, kesal dengan bos kita yang ngomel terus di kantor, atau bahkan masih menyimpan dendam dengan mantan kita? Ketika aktivitas kita masih didominasi oleh hal-hal yang tidak bajik, sebenarnya itu merupakan sinyal kuat bahwa alam rendah akan menjadi destinasi kelahiran kita selanjutnya.&nbsp;</p>



<p>Kita juga bisa membandingkan jumlah makhluk yang terlahir di alam rendah dan alam manusia. Cukup hitung berapa banyak jumlah semut di satu sarang, tak terhitung! Ada berapa banyak sarang semut di dunia ini? Itu baru jumlah semut. Kita belum menghitung jumlah spesies binatang lainnya yang tak terhingga banyaknya. Apalagi jika kita menambahkan total seluruh makhluk yang terlahir di setiap kategori dari alam neraka hingga hantu kelaparan. Sudah terbayangkan seberapa besar kemungkinan kita untuk terpeleset ke alam rendah tersebut?</p>



<p>Dengan memahami penderitaan di alam rendah, seharusnya kita bisa memunculkan rasa takut yang akan memotivasi kita untuk mengurangi segala aktivitas tidak bajik yang sudah menjadi kebiasaan dalam hidup kita. Mumpung kita masih terlahir sebagai manusia, kita masih memiliki kemampuan untuk menciptakan sebab-sebab yang bajik untuk menghindari kejatuhan terlahir di alam rendah. Apabila kita sudah terlanjur lahir di alam rendah tersebut, akan sangat sulit bagi kita bahkan hanya untuk sekadar memikirkan tentang Dharma karena sepanjang saat kita hanya akan merasakan penderitaan dan penyiksaan tiada akhir.&nbsp;</p>



<p>Jadi, selagi kita masih diberi kesempatan hari ini, yuk kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya karena <em>you don’t only live once</em>!</p>



<h4><strong>Referensi:</strong></h4>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche<br><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a> oleh Je Tsongkhapa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>APRESIASI MENDALAM ATAS KEBAIKAN HATI SANG GURU</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/10/10/apresiasi-mendalam-atas-kebaikan-hati-sang-guru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2022 12:28:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[APRESIASI MENDALAM ATAS KEBAIKAN HATI SANG GURU]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7124</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di Nusantara tempo dulu, terdapat seorang Guru Agung pemegang silsilah ajaran bodhicita yang lengkap dan otentik. Beliau bernama Guru Suwarnadwipa Dharmakirti. Muridnya yang paling terkenal adalah cendekiawan India yang tersohor bernama Atisha Dipamkara Shrijnana. Setelah menerima amerta realisasi dari gurunya, beliau kembali ke India dan pergi ke Tibet untuk mereformasi Buddhisme yang tengah merosot. Sejak [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/10/10/apresiasi-mendalam-atas-kebaikan-hati-sang-guru/">APRESIASI MENDALAM ATAS KEBAIKAN HATI SANG GURU</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/10/10/apresiasi-mendalam-atas-kebaikan-hati-sang-guru/">APRESIASI MENDALAM ATAS KEBAIKAN HATI SANG GURU</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di Nusantara tempo dulu, terdapat seorang Guru Agung pemegang silsilah ajaran bodhicita yang lengkap dan otentik. Beliau bernama Guru Suwarnadwipa Dharmakirti. Muridnya yang paling terkenal adalah cendekiawan India yang tersohor bernama Atisha Dipamkara Shrijnana. Setelah menerima amerta realisasi dari gurunya, beliau kembali ke India dan pergi ke Tibet untuk mereformasi Buddhisme yang tengah merosot. Sejak itulah, tradisi Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (Lamrim) yang juga mengandung kebudayaan dan peradaban Indonesia dimulai di India dan Tibet.</p>



<p>Pada tahun 1989, tradisi agung ini kembali lagi ke Indonesia melalui Guru Dagpo Rinpoche Losang Jampel Jampa Gyatso, seorang guru besar Tibet yang diyakini sebagai kelahiran kembali dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti. Sejak saat itu, beliau secara konsisten datang dan memberikan transmisi serta pengajaran Dharma berbasis Lamrim di Indonesia.&nbsp;</p>



<p>Dalam rangka memperingati Tri Dasawarsa Cipta, Karsa dan Karya Guru Dagpo Rinpoche di Nusantara pada tahun 2019 sekaligus demi menjaga kesinambungan ajaran ini agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang, kitab&nbsp; SUMATI MAÑJUŚRĪ MAITREYA SAMUDRA ŚĀSTRA SAṂGRAHA pun disusun dan diterbitkan.</p>



<p>Kitab ini merupakan kumpulan transkrip pengajaran Guru Dagpo Rinpoche di Indonesia sejak tahun 1989. Walaupun teks-teks Sutra dan Tantra yang Beliau ulas disusun oleh guru-guru besar India dan Tibet dari beberapa abad sebelumnya, Guru Dagpo Rinpoche dengan trampil membabarkannya sesuai dengan konteks dunia masa kini sehingga ajaran dan kebenaran luhur yang terkandung di dalamnya lebih mudah dipahami dan memberi dampak langsung bagi masyarakat.</p>



<p>Hingga saat ini, sebanyak 3 jilid edisi reguler dan 1 jilid edisi khusus kitab SUMATI MAÑJUŚRĪ MAITREYA SAMUDRA ŚĀSTRA SAṂGRAHA telah berhasil diterbitkan. Semua ini adalah berkat berkah dari para guru serta dukungan dari para relawan, donatur, dan pihak-pihak lainnya. <strong>Pada Maret 2024 ini, akan diterbitkan jilid keempat dari kitab SUMATI MAÑJUŚRĪ MAITREYA SAMUDRA ŚĀSTRA SAṂGRAHA.</strong></p>



<h2>Topik</h2>



<ol><li>Karma dan Kelahiran Kembali<ul><li>Karma &amp; Kelahiran Kembali, Bali, 15-17 Feb 1999</li><li>Karma, Bali, 5-10 April 2007</li><li>How to change your karma, Jakarta, 8-9 Januari 2011</li></ul></li><li>Samsara Tak Berawal dan Bagaimana Mengakhirinya<ul><li>Samsara dan 12 Mata Rantai, Malang, 8-12 Januari 2009</li></ul></li><li>Tahu Diri dan Berkembang<ul><li>Batin dan Fungsinya, Red Top Hotel, Jakarta, 11-12 Januari 2005</li><li>Batin dan Faktor Mental, Duta Merlin Plaza, 21-22 Desember 2005</li><li>Batin dan Faktor Mental, Jakarta, 23-25 Maret 2007</li></ul></li></ol>



<h2>Rincian Buku</h2>


<div class="wp-block-image">
<figure class="alignleft size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-723x1024.jpg" alt="" class="wp-image-7125" width="130" height="185" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-723x1024.jpg 723w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-600x850.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-212x300.jpg 212w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-768x1088.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-1084x1536.jpg 1084w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-1446x2048.jpg 1446w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-150x212.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-450x637.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-1200x1700.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan.jpg 1750w" sizes="(max-width: 130px) 100vw, 130px" /></figure></div>


<p>Judul: SUMATI MAÑJUŚRĪ MAITREYA SAMUDRA ŚĀSTRA SAṂGRAHA Jilid 4<br>Penulis: Dagpo Rinpoche<br>Spesifikasi: 148 x 210 mm, xii + 506 halaman, <em>hard cover</em><br>Jumlah Cetak: 500 eksemplar<br>Kategori: buku tak berbayar<br>Jadwal Terbit: Maret 2024<br>Target Penerima: Anggota Sangha, Dharmaduta, dan umat Buddha di seluruh Indonesia</p>



<p></p>



<h2 id="h-anggaran-dan-alokasi-dana"><strong>Anggaran dan Alokasi Dana</strong></h2>



<figure class="wp-block-table is-style-regular"><table><thead><tr><th>Kebutuhan</th><th><strong>Biaya</strong></th><th></th><th></th></tr></thead><tbody><tr><td>Biaya pencetakan &amp; penyaluran 500 buku</td><td></td><td>33.750.000</td><td></td></tr><tr><td>&gt; Biaya Cetak</td><td>33.750.000</td><td></td><td></td></tr><tr><td>Dukungan untuk kegiatan Dharma</td><td></td><td>33.750.000</td><td></td></tr><tr><td>Dukungan untuk biaya operasional &amp; mobilisasi Patriot</td><td></td><td>67.500.000</td><td></td></tr></tbody><tfoot><tr><td><strong>Total kebutuhan dana</strong></td><td></td><td></td><td><strong>135.000.000</strong></td></tr></tfoot></table></figure>



<p>Dana yang diterima akan dialokasikan untuk:</p>



<ul><li>Penerbitan dan Penyaluran Buku Dharma (25%)</li><li>Penyelenggaraan Kegiatan Dharma (25%)</li><li>Biaya Operasional &amp; Mobilisasi Dharma Patriot (50%)</li></ul>



<p>Lamrimnesia memberikan penghargaan tertinggi atas dukungan seluruh Dharma Patron Lamrimnesia. Untuk itu, kami dengan serius memperhitungkan alokasi donasi Anda agar maksimal menyokong seluruh program pelestarian dan pengembangan Dharma dengan manfaat seluas mungkin bagi Nusantara.</p>



<h2>BANTU KAMI!</h2>



<p>Dukung penerbitan kitab SUMATI MAÑJUŚRĪ MAITREYA SAMUDRA ŚĀSTRA SAṂGRAHA Jilid 4 dan aktivitas pelestarian Dharma lainnya dengan menjadi Dharma Patron (donatur) Lamrimnesia!</p>



<ol><li>Pilih paket donasi:<br>Sederhana – sukarela (tambahkan Rp10,-)<br>Welas Asih – Rp800.010,-<br>Bijaksana – Rp4.800.010,-<br>Sampurna – Rp8.800.010,-</li></ol>



<ol start="2"><li>Transfer ke:<br><strong>BCA 0079 388 388</strong> atau <strong>MANDIRI 119 009 388 388 0</strong><br>atau melalui QRIS<br><img loading="lazy" width="1410" height="1509" class="wp-image-8896" style="width: 300px;" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2.jpg" alt="" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2.jpg 1410w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2-280x300.jpg 280w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2-957x1024.jpg 957w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2-768x822.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2-150x161.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2-450x482.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2-1200x1284.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2-600x642.jpg 600w" sizes="(max-width: 1410px) 100vw, 1410px" /><br>A.n. Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara<br>*Tambahkan Rp10,- pada nominal donasi Anda<br></li><li>Konfirmasikan dana ke tautan ini atau kirim bukti transfer ke Lamrimnesia Care (085 2112 20141 1) dengan keterangan “DharmaPatron10”<br></li></ol>



<p></p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/10/10/apresiasi-mendalam-atas-kebaikan-hati-sang-guru/">APRESIASI MENDALAM ATAS KEBAIKAN HATI SANG GURU</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/10/10/apresiasi-mendalam-atas-kebaikan-hati-sang-guru/">APRESIASI MENDALAM ATAS KEBAIKAN HATI SANG GURU</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
