<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bodhisatwa - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/bodhisatwa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 Jul 2026 04:30:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.12</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>bodhisatwa - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Demon Slayer Membuka Pintu Baru untuk Memahami Amarah</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/07/15/demon-slayer/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2026 04:56:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[demon slayer]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10467</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Menangis selagi memukul, menghancurkan tanpa membenci. Menelisik kisah Gyōmei Himejima dalam Demon Slayer, apa sebenarnya makna kekerasan berlandaskan welas asih?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/15/demon-slayer/"><em>Demon Slayer</em> Membuka Pintu Baru untuk Memahami Amarah</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/15/demon-slayer/">&lt;em&gt;Demon Slayer&lt;/em&gt; Membuka Pintu Baru untuk Memahami Amarah</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Diterjemahkan dari <a href="https://rubinmuseum.org/demon-slayer-opens-new-doors-to-understanding-wrath/?fbclid=PAT01DUASxsbFleHRuA2FlbQIxMABzcnRjBmFwcF9pZA81NjcwNjczNDMzNTI0MjcAAaczR23hcnXUWOmn_rINrg91GXASGaWB2PeDXOWJ1EWS9UM-DoYtd6ZfKoaY2Q_aem_HxTLWYz6th86qLR9XH_wJg"><em>“Demon Slayer Opens New Doors to Understanding Wrath”</em></a> oleh Ronald S. Green, Rubin Museum&nbsp;</p>



<h2><strong>Amarah, Duka, Kekerasan, dan Etika Buddhis dalam Serial Anime Populer</strong></h2>



<p>Dalam banyak tradisi dan filsafat, amarah selalu diidentikkan dengan amukan, kehancuran, dan kegagalan moral. Namun dalam perspektif Buddhis, khususnya tradisi Mahayana dan Vajrayana, amarah bisa dipahami dengan cara yang berbeda, yaitu sebagai sebuah bentuk energi welas asih. Perwujudan sosok-sosok penuh amarah sebagaimana yang tampak pada Vajrapani dan Achala justru menggunakan senjata untuk menebas ketidaktahuan batin dan melindungi para praktisi dari hasrat egois mereka sendiri. Lebih dari sekadar meluapkan kemarahan yang tak terkendali, amarah semacam ini digunakan dengan niat yang bijaksana untuk menyingkirkan rintangan menuju pembebasan batin. Cara pandang baru ini memicu sebuah pertanyaan moral mendasar: Bisakah kekerasan dilandasi oleh rasa kasih sayang?</p>



<p>Salah satu ilustrasi paling kentara dan memicu kompleksitas moral dari pertanyaan ini justru muncul di luar naskah-naskah Buddhis tradisional, misalnya dalam budaya populer Jepang modern. “<a href="https://www.gramedia.com/products/demon-slayer-kimetsu-no-yaiba-01"><em>Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba</em></a><em>”,</em> serial manga dan anime karya Koyoharu Gotōge yang rilis perdana pada tahun 2016, dengan cepat mencuri perhatian dunia berkat penceritaan, visual, dan kedalaman maknanya yang memikat. Serial ini telah menjadi sebuah fenomena budaya besar dan mendapatkan berbagai penghargaan karena berhasil membangkitkan kembali industri manga. Pada tahun 2020, film layar lebarnya berjudul “<a href="https://www.imdb.com/title/tt11032374"><em>Demon Slayer: Mugen Train</em></a><em>” </em>bahkan memecahkan rekor sebagai anime sekaligus film Jepang dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa yang melampaui rekor <em>Spirited Away</em> karya Hayao Miyazaki yang bertahan sejak tahun 2021.</p>



<p>Berlatarkan era Taishō (1912–1926), serial ini mengikuti kisah Tanjiro Kamado, seorang anak laki-laki berhati mulia yang keluarganya dibantai habis oleh iblis. Dalam dunia <em>Demon Slayer,</em> iblis adalah seorang manusia yang berubah menjadi predator yang mempunyai kekuatan supranatural dan bertahan hidup dengan menggunakan energi manusia. Dari seluruh keluarga Tanjiro, hanya adiknya, Nezuko, yang selamat dari pembantaian. Celakanya, ia berubah menjadi iblis. Tanjiro pun bergabung dengan Korps Pembasmi Iblis untuk membalaskan dendam keluarganya sekaligus menyelamatkan Nezuko dan umat manusia. Di sinilah dimulai sebuah perjalanan yang penuh kompleksitas moral, kesetiaan, dan pengorbanan diri.&nbsp;</p>



<p>Dari seluruh jajaran karakter, Gyōmei Himejima yang dijuluki Hashira Batu, tampil begitu memukau. Sebagai seorang biksu buta dengan kekuatannya yang tak tertandingi, Gyōmei memadukan ajaran disiplin Buddhis dengan rasa duka dan kejernihan spiritual dalam perannya sebagai pelindung. Sebagai salah satu dari Hashira, sebuah pasukan elit Pembasmi Iblis yang memikul beban pertempuran paling mematikan, kisah hidupnya memicu sebuah pertanyaan paling mendasar baik dalam Buddhisme maupun di <em>Demon Slayer</em>: Apa sebenarnya makna dari penghancuran yang berlandaskan welas asih?</p>



<h2><strong>Gyōmei Himejima: Amarah Tanpa Kebencian</strong></h2>



<p>Diperkenalkan di awal seri sebagai Hashira Batu yang bertubuh raksasa dan pendiam, sekilas Gyōmei tampak stoik nan dingin. Dengan untaian kalung mala, jubah biksu, dan pakaian yang bertuliskan <em>nenbutsu—Namu Amida Butsu,</em> sebuah seruan suci kepada Buddha Amitabha—ia memancarkan nilai-nilai yang selaras dengan ajaran Buddha. Bahkan di tengah sengitnya pertempuran, ia terus merapalkan doa itu dan sering menangis meratapi kawan-kawan seperjuangannya maupun musuhnya, para iblis.</p>



<p>Yang membedakan Gyōmei dari karakter lainnya adalah statusnya sebagai pembasmi iblis terkuat secara fisik sekaligus yang paling ekspresif secara emosional. Ketika pendekar lain membantai iblis dengan amarah yang meledak-ledak atau dendam membara, Gyōmei justru menangis. Ia melakukan tindakan kekerasan, tetapi tanpa rasa senang dan benci sedikit pun. Sebaliknya, aksinya lahir dari rasa duka dan tanggung jawab besar. Sebuah bentuk kepedulian yang begitu kuat yang membawanya pada tindakan nyata. Pun di balik namanya, terkandung makna yang begitu puitis: “Pulau kesedihan yang mengarungi kegelapan.”</p>



<p>Dalam sebuah adegan, Gyōmei mengucapkan kata-kata yang mencerminkan pandangan Buddhis tentang kelahiran kembali dan penderitaan yang disebabkan oleh hukum karma. Ketika merenungkan nasib Tanjiro, dengan penuh keprihatinan ia berujar, “Akan lebih baik jika ia tak pernah dilahirkan,” sebuah ungkapan yang menyiratkan betapa belenggu karma itu menyiksa dan sulitnya mencapai pembebasan. Ia berharap agar mereka yang terbelenggu oleh penderitaan dapat <a href="https://www.tiktok.com/@lamrimnesia_/video/7317970283778821382">terlahir kembali di Tanah Suci yang damai</a>, bebas dari iblis maupun kekerasan.</p>



<p><em>Baca tentang praktik Amitabha </em><a href="https://play.google.com/store/books/details/Praktik_Tanah_Suci_Buddha_Amitabha_Panduan_Meditas?id=XWpvDwAAQBAJ&amp;hl=en-US"><em>di sini.</em></a></p>



<h2><strong>Bodhisatwa Sang Pendengar: Awalokiteshwara di Era Taishō</strong></h2>



<p>Sejumlah komentator menyandingkan sosok Gyōmei dengan Awalokiteshwara (dikenal sebagai Kannon dalam masyarakat Jepang atau Guanyin/Kuan Im di Tiongkok), yaitu perwujudan Bodhisatwa welas asih yang senantiasa mendengar rintihan derita dunia. Keterkaitan di antara keduanya bukan kiasan belaka.</p>



<p><em>Baca juga: </em><a href="https://lamrimnesia.org/2020/08/07/mengapa-kwan-im-berbeda-beda/"><em>Mengapa Kuan Im Berbeda-Beda?</em></a></p>



<p>Gyōmei memang buta. Namun, ia mampu “melihat” dunia lewat suara. Berbekal ketajaman indra pendengarannya, ia memanfaatkannya untuk memahami dunia sekitar, memprediksi pergerakan musuh, dan bertarung. Kemampuannya ini melampaui representasi dari kemampuan manusia super; ia memuat simbolisme naratif yang sangat dalam. Konon, Awalokiteshwara dikisahkan punya kemampuan untuk menyelami segala bentuk penderitaan lewat suara. Begitu pun Gyōmei. Ia selalu mendengar dan meresapinya dengan bijak sebelum bertindak. Amarahnya tidak pernah bersifat reaktif, tetapi emosi yang disaring dengan rasa welas asih.&nbsp;</p>



<p>Melihat akan hal itu, Gyōmei mencerminkan cita-cita luhur sang Bodhisatwa: rela menunda kedamaian atau kebebasan spiritualnya sendiri demi menolong banyak orang. Layaknya Awalokiteshwara yang bersumpah tidak akan menjadi Buddha sebelum semua makhluk di alam semesta ini terselamatkan, Gyōmei pun mengesampingkan istirahat dan menyembuhkan dirinya sendiri demi terus melindungi mereka yang tak berdaya.</p>



<h2><strong>Duka sebagai Energi Moral</strong></h2>



<p>Amarah Gyōmei lahir dari kepingan rasa duka yang bertransformasi. Masa lalunya yang kelam nan traumatis, seperti kehilangan anak-anak yatim piatu yang ia asuh serta ketidakadilan pahit yang diterima ketika ia dituduh sebagai pembunuh mereka—meninggalkan luka batin yang teramat dalam. Alih-alih tenggelam dalam keputusasaan atau dendam kesumat, Gyōmei justru menyalurkan kesedihannya itu ke dalam misi kemanusiaan bersama Korps Pembasmi Iblis.&nbsp;</p>



<p>Proses mengubah penderitaan menjadi tindakan nyata semacam ini punya akar yang kuat dalam psikologi Buddhis. Ajaran Mahayana sendiri menjelaskan bahwa seorang Bodhisatwa merasakan penderitaan orang lain seolah penderitaan itu adalah miliknya sendiri. Dalam Buddhisme Vajrayana, dewa-dewa pelindung sengaja ditampilkan dengan wajah yang menyeramkan sebab amarah mereka adalah wujud welas asih yang begitu dahsyat, mampu menerobos dan menghancurkan segala kesesatan serta bahaya. Air mata Gyōmei mengalir dari sumber kejernihan yang serupa. Setiap kali ia mengangkat senjata, ia melakukannya dengan hati penuh duka. Memikul beban kekerasan itu sendiri supaya orang lain tak perlu mengalaminya dan terselamatkan.</p>



<h2><strong><em>Upaya</em></strong><strong>: Cara yang Tepat dan Tindakan Welas Asih</strong></h2>



<p>Dalam ajaran Buddhisme Mahayana, ada sebuah doktrin yang disebut <em>upaya</em> (cara terampil) yang mengajarkan bahwa boleh saja makhluk yang sudah tercerahkan mengambil tindakan yang tidak biasa bahkan ekstrem selama tindakan itu bisa menyelamatkan makhluk lain menuju pencerahan spiritual. Bahkan dalam sutra yang termasyhur, <a href="https://buddhism.lib.ntu.edu.tw/DLMBS/en/search/search_detail.jsp?seq=360081">Sutra Upayakausalya</a>, dikisahkan seorang <a href="https://lamrimnesia.org/2026/06/15/menyelami-esensi-universal-kehidupan-bodhisatwa-dalam-dongeng-anak-jataka-mala%ef%bf%bc/">Bodhisatwa</a>—sosok penuh welas asih tanpa batas yang berupaya mencari pencerahan sempurna untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan—terpaksa membunuh seorang pembunuh demi menyelamatkan seluruh penumpang kapal. Tindakan ekstrem itu diambil atas dasar welas asih, baik kepada para korban maupun kepada si pelaku kejahatan.</p>



<p>Segala tindakan Gyōmei pun didasari oleh logika ini. Ia tidak menghabisi para iblis untuk meluapkan dendam, tetapi untuk mencegah mereka menimbulkan penderitaan lebih banyak. Bahkan di tengah pertempurannya, doa <em>Namu Amida Butsu </em>terus ia rapalkan. Hal itu menegaskan bahwa tindakannya bukan berlandaskan ego pribadi, tetapi sesuatu yang seutuhnya ia pasrahkan kepada Buddha Amitabha. Sederhananya, ia bertindak atas dasar penyerahan diri dan sumpah suci untuk membebaskan semua makhluk dari lingkaran penderitaan. Amarahnya adalah sebuah instrumen welas asih. Sesuatu yang diasah lewat latihan batin dan dikendalikan oleh rasa duka.</p>



<p><em>Baca penjelasan tentang sumpah Bodhisatwa </em><a href="https://www.instagram.com/orcyworld?igsh=MWd5dmV5OGh6ZWQzYQ=="><em>di sini</em></a><em>.</em></p>



<h2 id="h-amarah-sang-bodhisatwa"><strong>Amarah Sang Bodhisatwa</strong></h2>



<p>Sebagai seorang profesor yang mengkaji Buddhisme dan agama masyarakat Jepang, saya sering menjadikan serial <em>Demon Slayer</em> sebagai medium di kelas untuk membedah ajaran Buddhis. Karakter Gyōmei sering memantik diskusi dan berbagai respons bergejolak dari para mahasiswa.</p>



<p>Setelah menonton adegan di mana Gyōmei bertarung sementara ia sedang berduka, salah seorang mahasiswa bertanya, “Bahkan jika Gyōmei tidak membenci para iblis sekali pun, apakah itu berarti kekerasan bisa lahir dari welas asih?” Yang lainnya menimpali, “Kekuatannya tidak bersumber dari amarah, tetapi dari sesuatu yang jauh lebih besar.”</p>



<p>Berbagai reaksi ini mencerminkan dilema klasik Buddhis tentang kekerasan dan welas asih. Fenomena ini menunjukkan bahwa anime, sama seperti kisah-kisah Buddhis kuno, bisa menjadi ruang bagi imajinasi moral, mengajak penonton merenungkan kembali apa artinya bertindak secara bijaksana di dunia yang penuh penderitaan ini. Gyōmei adalah contoh perwujudan seorang biksu petarung yang bertindak demi sebuah sumpah untuk melindungi. Lewat sosoknya itu, kita bisa melihat bahwa di tengah dunia yang kejam sekalipun, kita tetap bisa bertindak tanpa rasa benci, menangis selagi memukul, berduka selagi melindungi, menghancurkan tanpa harus menjadi kejam, dan mencintai dengan sepenuh jiwa bahkan di titik paling hancur.</p>



<p><strong>Ronald S. Green</strong> adalah seorang profesor bidang studi Kajian Agama dan Asia di Coastal Carolina University. Penelitiannya banyak mengeksplorasi hubungan antara tradisi filsafat Asia dan budaya kontemporer, khususnya dalam film, anime, novel, dan praktik keagamaan masyarakat. Dengan memadukan kajian teks dan penelitian lapangan yang imersif, ia&nbsp; membedah bagaimana tradisi-tradisi kuno tampil dalam wujud wajah baru di masa kini. Cakupan pengajarannya meliputi Buddhisme, Shinto, tradisi meditasi, tradisi populer Jepang, dan metode etnografi untuk mempelajari kehidupan beragama masyarakat Afrika dan Asia di Carolina Selatan.</p>



<p><strong>Noma Bar</strong> adalah seorang desainer grafis, ilustrator, dan seniman yang terkenal dengan gaya minimalisnya yang berani. Karyanya dimuat di Time Out London, BBC, The Economist, dan masih banyak lagi. Ia telah membuat ilustrasi untuk lebih dari seratus sampul majalah dan menerbitkan tiga buku. Bar juga meraih banyak penghargaan, termasuk Gold Clio dan D&amp;AD Yellow Pencil. Pamerannya bertajuk <em>Cut It Out</em> sempat menjadi sorotan di London Design Festival dan masuk nominasi <em>Designs of The Year</em> oleh Design Museum.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/15/demon-slayer/"><em>Demon Slayer</em> Membuka Pintu Baru untuk Memahami Amarah</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/15/demon-slayer/">&lt;em&gt;Demon Slayer&lt;/em&gt; Membuka Pintu Baru untuk Memahami Amarah</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ingin Cerdas &#038; Bijaksana? Yuk Kenalan Dulu dengan Arya Manjushri!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/04/26/ingin-cerdas-bijaksana-yuk-kenalan-dulu-dengan-arya-manjushri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2020 05:42:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicita]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisattva]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[cerdas]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[manjushri]]></category>
		<category><![CDATA[manjusri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4889</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Silvi Wilanda Siapa sih yang nggak ingin jadi cerdas? Kadang kita ketemu berita tentang anak-anak jenius yang masih kecil sudah lulus kuliah, ada juga orang-orang yang masih muda udah bikin penemuan-penemuan luar biasa. Saat itu kita mungkin berandai-andai, “Andai aku terlahir jenius…” Tapi di sisi lain, ada juga orang-orang jenius yang kejeniusannya malah dipakai [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/26/ingin-cerdas-bijaksana-yuk-kenalan-dulu-dengan-arya-manjushri/">Ingin Cerdas & Bijaksana? Yuk Kenalan Dulu dengan Arya Manjushri!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/26/ingin-cerdas-bijaksana-yuk-kenalan-dulu-dengan-arya-manjushri/">Ingin Cerdas &#038; Bijaksana? Yuk Kenalan Dulu dengan Arya Manjushri!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Silvi Wilanda</p>



<p>Siapa sih yang nggak ingin jadi cerdas? Kadang kita ketemu berita tentang anak-anak jenius yang masih kecil sudah lulus kuliah, ada juga orang-orang yang masih muda udah bikin penemuan-penemuan luar biasa. Saat itu kita mungkin berandai-andai, “Andai aku terlahir jenius…” Tapi di sisi lain, ada juga orang-orang jenius yang kejeniusannya malah dipakai untuk bikin hal-hal yang merugikan orang banyak. Saat itu kita lalu berpikir, “Ah, untung aku nggak pintar-pintar amat, hehehe…”</p>



<p>Kecerdasan otak itu berbahaya kalau nggak dibarengi dengan kebijaksanaan dan welas asih. Namun, punya kecerdasan otak jelas bisa sangat mempermudah hidup kita. Kita nggak cuma butuh kecerdasan untuk sekolah atau kerja, tapi melatih batin dan menolong orang banyak pun lebih mudah kalau kita punya kecerdasan. Memahami Dharma pun membutuhkan kecerdasan. Lihat saja guru-guru besar Buddhis dari masa ke masa. Arya Nagarjuna, Je Tsongkhapa, Guru Dagpo Rinpoche, Y.M.S. Dalai Lama XIV… Mereka semua cerdas luar biasa kan? Apa sih rahasianya?</p>



<p><a href="https://www.kadamchoeling.or.id/jadilah-umat-buddha-abad-21-nasihat-yang-maha-suci-dalai-lama-xiv-untuk-umat-buddha-indonesia/">Saat menyapa umat Buddha dari Indonesia yang berkunjung ke kediaman Beliau, Y.M.S. Dalai Lama XIV bercerita bahwa Beliau menjadi cerdas berkat mantra Arya Manjushri.</a> Siapa sih Arya Manjushri itu? Yuk simak di tulisan berikut!</p>



<p>&#8212;</p>



<p>Arya Manjushri merupakan perwujudan dari kualitas tercerahkan kebijaksanaan Buddha di tiga masa (lampau, sekarang, dan masa yang akan datang). Umumnya, Beliau dikenali sebagai seorang Arya Bodhisatwa, yaitu makhluk yang memiliki semangat Bodhicita, yakni aspirasi untuk menjadi tercerahkan sepenuhnya (Kebuddhaan) demi kepentingan semua makhluk. Dalam situasi tertentu, Beliau dapat muncul sebagai Buddha yang lengkap dan sempurna, sebagai salah seorang Putra Penakluk, praktisi yang sedang dalam tahapan belajar, atau bahkan makhluk biasa di keenam alam kehidupan. Melalui berbagai perwujudan ini, Arya Manjushri menolong semua makhluk dengan karakteristik dan kualitas yang berbeda-beda. Arya Manjushri sering digambarkan berdampingan dengan Arya Awalokiteshwara dan Arya Wajrapani karena ketiganya merupakan Bodhisatwa pelindung. </p>



<p>Nama “Manjushri” sendiri berarti &#8220;Keagungan Lembut&#8221; (“<em>Gentle Splendor</em>”). Beliau juga dikenal dengan nama, “Manjughosha”, berarti &#8220;Lantunan Lembut&#8221; (“<em>Gentle Melody</em>”). Manjushri juga sering disebut &#8220;Yang Terlihat Muda&#8221; (“<em>Youthful</em>”), “Manjushri Yang Muda” (“<em>Manjushri</em>, <em>Still a Youth”</em>), dan “Pangeran Manjushri” (<em>Manjushri Prince</em>) karena pertama kali muncul dalam wujud pemuda berperawakan 16 tahun, juga karena melambangkan kesadaran primordial yang selalu muda dan tak lekang oleh waktu.&nbsp;</p>



<p>Lambang wujud Arya Manjushri yang paling khas adalah pedang menyala yang dia pegang tinggi-tinggi di tangan kanan dan tangkai teratai yang diatasnya terdapat buku di tangan kiri. Pedang melambangkan kemampuan pikirannya untuk memotong belenggu yang mengikat makhluk pada siklus penderitaan. Nyala api dalam ikonografi Buddhis mewakili transformasi ketidaktahuan menjadi kebijaksanaan. Sedangkan buku mewakili kesempurnaan kebijaksanaan. Untuk itu, merenungkan Manjushri dapat meningkatkan kecerdasan, baik kecerdasan biasa, ketajaman mental, hingga kebijaksanaan transenden.</p>



<p>Arya Manjushri juga memiliki kaitan dengan Indonesia, lho! Ini ditandai dengan adanya bangunan Manjushrighra atau yang kini dikenal sebagai Candi Sewu di Jawa Tengah dan adanya arca Manjushri yang ditemukan di Candi Jago. Sekarang arca tersebut berada di Museum Ethnology Berlin dan duplikatnya terdapat di Museum Nasional Jakarta.</p>



<p>Dalam berbagai sutra, dijabarkan bahwa Arya Manjushri telah mematangkan batin banyak makhluk. Dengan bimbingan Arya Manjushri, jangankan menjadi cerdas dan bijak, mereka bahkan jadi membangkitkan Bodhicita! Dalam Sutra Pertobatan Ajatashatru, Buddha Shakyamuni membabarkan salah satu kehidupan lampau Arya Manjushri. Ketika terlahir sebagai seorang biksu, Beliau memberikan makanan kepada seorang anak pedagang kecil untuk dipersembahkan kepada Buddha. Bodhicita bangkit dalam diri si anak dan ia menjadi Buddha Shakyamuni di kemudian hari. Selain itu, dalam Sutra yang sama, dikatakan juga bahwa Arya Manjushri membimbing Pangeran Ajatashatru yang memiliki karma buruk sangat berat karena telah membunuh orang tuanya sendiri hingga dapat membangkitkan Bodhicita.</p>



<p>Perenungan kualitas Manjushri dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya merenungan perwujudan fisik Manjushri, merenungkan ajaran Manjushri, melafalkan nama Manjushri, ataupun dengan melafalkan mantra Manjushri. Praktik-praktik Bodhisatwa Manjushri ini dapat membantu kita membersihkan ketidaktahuan dan pikiran kita yang penuh delusi serta meningkatkan keterampilan belajar kita, baik dalam berdebat, menulis, ingatan, dan kebijaksanaan. Bahkan, praktik-praktik tersebut dapat mengarahkan diri kita untuk melihat, menerima ajaran, dan memperoleh wawasan spiritual dari Manjushri itu sendiri jika dilakukan dengan sungguh. Praktik-praktik ini diyakini juga akan memberikan diri kita perlindungan dan kebebasan dari kelahiran kembali di alam rendah. Secara khusus, pelafalan mantra Manjushri, yakni “Om A Ra Pa Tsa Na Dhih” diyakini dapat memberikan kecerdasan. Hal ini didukung oleh penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Deepika Chamoli Shahi mengenai efek pelafalan mantra Manjushri bagi kecerdasan.</p>



<p>&#8212;</p>



<p>Nah, sekian penjelasan singkat tentang Bodhisatwa Manjushri. Menarik bukan? Sebagai perlambang kebijaksanaan Buddha, nggak heran kalau kita mengandalkan Beliau untuk mengembangkan kecerdasan dan kebijaksanaan. Ini tentunya harus dibarengi dengan usaha nyata seperti banyak membaca, merenung, dan bermeditasi. Jika kita berlatih secara rutin, perlahan tapi pasti kita pasti bisa bijaksana dan cerdas seperti Bodhisatwa Manjushri.</p>



<p>Selamat berlatih!</p>



<p><strong>Daftar Pustaka:</strong></p>



<p>“Garland of Jewels: The Eight Great Bodhisattvas” oleh Y. M. Jamgon Mipham</p>



<p>“Bebas dari Ketakutan.” oleh Y. M. Thubten Chodron</p>



<p>“Riset Membuktikan, Mantra Manjushri Tingkatkan Kecerdasan Kognitif” oleh Deny Hernawan (<em><a href="https://buddhazine.com/riset-membuktikan-mantra-manjusri-tingkatkan-kecerdasan-kognitif/">buddhazine.com</a>.</em>)</p>



<p>“The Signification Of Bodhisattva Manjushri In Mahayana Buddhism.” oleh D. M. Meshram</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/26/ingin-cerdas-bijaksana-yuk-kenalan-dulu-dengan-arya-manjushri/">Ingin Cerdas & Bijaksana? Yuk Kenalan Dulu dengan Arya Manjushri!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/26/ingin-cerdas-bijaksana-yuk-kenalan-dulu-dengan-arya-manjushri/">Ingin Cerdas &#038; Bijaksana? Yuk Kenalan Dulu dengan Arya Manjushri!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Yuk Jadi Bodhisatwa Zaman Now!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/11/29/yuk-jadi-bodhisatwa-zaman-now/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Nov 2017 04:27:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berbagi Dharma]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lakoh hidup sang penerang]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[promosi dharma]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3726</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Seperti apa sih hidup seorang Bodhisatwa? Pertanyaan itu menjadi salah satu bahasan dalam sharing dharma di Vihara Buddhasena Bogor pada tanggal 26 November 2017. Dalam sharing dharma ini, upasaka Hendra Wijaya, S. Kom. membedah buku “Lakon Hidup Sang Penerang” karya Shantidewa, sebuah kitab spiritual klasik tentang latihan yang harus dilakukan siapapun yang ingin mencapai pencerahan. [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/11/29/yuk-jadi-bodhisatwa-zaman-now/">Yuk Jadi Bodhisatwa Zaman Now!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/11/29/yuk-jadi-bodhisatwa-zaman-now/">Yuk Jadi Bodhisatwa Zaman Now!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Seperti apa sih hidup seorang Bodhisatwa? Pertanyaan itu menjadi salah satu bahasan dalam <em>sharing </em>dharma di Vihara Buddhasena Bogor pada tanggal 26 November 2017. Dalam <em>sharing </em>dharma ini, upasaka Hendra Wijaya, S. Kom. membedah buku “Lakon Hidup Sang Penerang” karya Shantidewa, sebuah kitab spiritual klasik tentang latihan yang harus dilakukan siapapun yang ingin mencapai pencerahan. Bedah buku dilakukan dua kali, pertama di kebaktian pemuda yang dihadiri oleh 69 orang muda-mudi Buddhis dan kedua di kebaktian umum yang dihadiri oleh 83 orang.</p>
<p><strong>Praktik Dharma Ala Bodhisatwa Zaman <em>Now</em></strong></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p>“Kelahiran sebagai manusia sangatlah langka, ibarat kura-kura buta yang lehernya muncul di permukaan laut melewati cincin emas yang terombang-ambing di tengah ombak.”</p></blockquote>
<p>Di kebaktian pemuda yang berlangsung pukul 7.30 pagi, Kak Hendra mengajak muda-mudi Buddhis Bogor dan mahasiswa dari berbagai universitas seperti UI, Universitas Pancasila, dan Universitas Gunadarma yang menghadiri acara tersebut untuk berpraktik dharma ala Bodhisatwa zaman <em>now. </em>Caranya pertama-tama adalah menetapkan Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna sebagai tujuan, lalu menggunakan kelahiran manusia yang amat berharga dan mempraktikkan dharma. Kelahiran sebagai manusia sangatlah langka, ibarat kura-kura buta yang lehernya muncul di permukaan laut melewati cincin emas yang terombang-ambing di tengah ombak, maka dari itu sangatlah sayang jika digunakan hanya sebatas agar bisa jadi kaya atau makmur di kehidupan ini, padahal sangatlah mungkin tubuh manusia ini digunakan untuk mencapai pencerahan sempurna.</p>
<p><strong>Mati Sukses Sebagai Bodhisatwa</strong></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><strong>“</strong>Amatlah penting untuk senantiasa menyetel motivasi untuk mencapai kebuddhaan sebelum melakukan setiap tindakan bajik.”</p></blockquote>
<p>Di kebaktian umum pukul 11.30, Kak Hendra memberi tips untuk mati sukses sebagai Bodhisatwa. Beliau mengingatkan bahwa apapun tradisi Buddhis yang kita ikuti, baik Therawada, Mahayana, ataupun Tantrayana, semua bertujuan untuk menjadi Buddha, baik Srawaka Buddha, Pratyeka Buddha, maupun Sammasambuddha. Dalam praktik tersebut, amatlah penting untuk senantiasa menyetel motivasi untuk mencapai kebuddhaan tersebut sebelum melakukan setiap tindakan bajik, lalu mendedikasikan kebajikan yang telah dilakukan untuk terwujudnya tujuan tersebut.</p>
<p>Dengan berpegang pada tips-tips tersebut, Kak Hendra mengajak semua hadirin untuk meresapi petunjuk praktik Bodhisatwa dalam buku “Lakon HIdup Sang Penerang”. Buku ini berisi sajak-sajak tentang cara menjadi seorang Bodhisatwa. Setiap baitnya dapat direnungkan dalam meditasi analitis sehingga pembaca akan mendapatkan inspirasi tentang praktik dharma seperti apa yang bisa dilakukan sehari-hari. Buku ini bisa dibaca hingga habis dalam waktu yang singkat, bisa pula dibaca dari bait-bait tertentu sesuai dengan suasana hati dan situasi hidup kita.</p>
<p><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3728 aligncenter" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58.jpeg" alt="" width="1052" height="780" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58.jpeg 1052w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-600x445.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-300x222.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-1024x759.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-768x569.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-150x111.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.58-450x334.jpeg 450w" sizes="(max-width: 1052px) 100vw, 1052px" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>“Bedah buku ini sangat baik karena dari tidak membaca akan jadi berminat membaca dan yang tidak sempat membaca seolah-olah seperti sudah membaca,” kata Viriyanti, salah satu peserta bedah buku.</em></p>
<p><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3729 aligncenter" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28.jpeg" alt="" width="1280" height="960" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28.jpeg 1280w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-600x450.jpeg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-300x225.jpeg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-1024x768.jpeg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-768x576.jpeg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-150x113.jpeg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-450x338.jpeg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/11/WhatsApp-Image-2017-11-28-at-11.24.28-1200x900.jpeg 1200w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>Penyerahan buku &#8220;Lakon Hidup Sang Penerang&#8221; karya Shantidewa dan buku dharma gratis &#8220;Catur Brahmawihara&#8221; karya Dagpo Rinpoche dari Lamrimnesia untuk Vihara Buddhasena</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Ingin ada bedah buku dharma juga di sekolah atau viharamu?<br />
</em><em>Hubungi:<br />
</em><em>Call Center Lamrimnesia<br />
</em><em>Hp/wa: +62812 2281 6044<br />
</em><em>Fb/ig: Lamrimnesia<br />
</em><em>Email: info@lamrimnesia.org</em></p>
<p><em>Dapatkan buku “Lakon Hidup Sang Penerang” karya Shantidewa di store.lamrimnesia.org</em></p>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/11/29/yuk-jadi-bodhisatwa-zaman-now/">Yuk Jadi Bodhisatwa Zaman Now!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/11/29/yuk-jadi-bodhisatwa-zaman-now/">Yuk Jadi Bodhisatwa Zaman Now!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
