<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>nalanda - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/nalanda/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Dec 2020 07:11:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>nalanda - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Liputan: Belajar Matematika Ala Sriwijaya-Nalanda</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/12/14/liputan-belajar-matematika-ala-sriwijaya-nalanda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2020 07:11:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[FMIP ITB]]></category>
		<category><![CDATA[Iwan Pranoto]]></category>
		<category><![CDATA[matematika]]></category>
		<category><![CDATA[Mengembalikan Budaya Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[nalanda]]></category>
		<category><![CDATA[sriwijaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5732</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Belajar itu sepanjang hayat, tidak ada putusnya. Sampai tua pun kita masih harus belajar karena ada hal-hal baru setiap harinya. Bedanya, kalau sekarang itu ego sangat ditinggikan ketika belajar.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/14/liputan-belajar-matematika-ala-sriwijaya-nalanda/">Liputan: Belajar Matematika Ala Sriwijaya-Nalanda</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/12/14/liputan-belajar-matematika-ala-sriwijaya-nalanda/">Liputan: Belajar Matematika Ala Sriwijaya-Nalanda</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Junarsih</p>



<p>Di mana bilangan tertua? Dan dari mana bilangan tua itu berasal? Inilah pertanyaan saya sampai akhirnya saya dikabari salah seorang teman untuk menonton <em>live streaming </em>“Mengintip Matematika Sriwijaya-Nalanda” di akun Youtube<em> </em><a href="https://www.youtube.com/watch?v=_rBZCb5o5Jo">Jaya Suprana Show</a> bersama Iwan Pranoto pada Selasa (8/12). Pak Iwan adalah penulis buku &#8220;Mengembalikan Budaya Belajar&#8221; yang juga berprofesi sebagai guru besar matematika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung (ITB).</p>



<p>Pak Iwan mengawali dengan penjelasan tentang awal mula hancurnya kampus Nalanda di India. Biara Nalanda yang dihuni oleh biarawan yang tak mengenal kekerasan dengan mudah diserang dan dihanguskan oleh serangan dari Turki yang dipimpin oleh Bakthiar Kilji. Nalanda sendiri memiliki hubungan yang erat dengan Sriwijaya. Bisa dikatakan kalau kita mempelajari Sriwijaya sama dengan mempelajari Nalanda, begitu pula sebaliknya. Seperti dalam catatan I-Tsing, pendidikan di Sriwijaya tidak berbeda dengan Nalanda. Studi Nalanda tidak akan lengkap bila tidak belajar di Sriwijaya, jadi Nalanda dan Sriwijaya itu saling melengkapi.&nbsp;</p>



<p>Karena zaman dahulu banyak orang India melakukan pelayaran menuju Indonesia untuk belajar di Sriwijaya, banyak terjadi pertukaran budaya, misalnya makanan. Saat itu, nenek moyang kita tidak hanya menyerap budaya tapi juga mengembangkannya sambil tetap mempertahankan budaya lokal. Jadi, sulit bagi kita untuk menemukan sesuatu yang asli dari makanan atau budaya yang lain karena memang sudah sejak zaman dahulu tradisi dan budaya kita itu berasimilasi dengan bangsa lain. Dapat dikatakan bahwa budaya itu maju ke depan mengikuti perkembangan zaman, jadi sulit untuk menemukan yang asli.</p>



<p>Lebih lanjut, Pak Iwan membicarakan tentang asal mula bilangan. Pada abad ke 7, sistem nilai berbasis sepuluh dilihat dari sistem tempat terdapat di prasasti Kedukan Bukit di Sumatra dan prasasti Trapang Prei di Kamboja. Di kedua prasasti tersebut sama-sama dituliskan “tahun 604 tahun <em>saka”</em>.&nbsp;</p>



<p>“Saat abad ke-9, tidak bisa dibilang bahwa bilangan nol itu berasal dari India, karena saat itu pedagang Arab sudah masuk ke sub benua India. Kalau bilangan nol berdasar nilai nilai tempat berbasis sepuluh itu dari India tidak ada bukti yang kuat,” ujar Pak Iwan. Bukti yang kuat tentang keberadaan bilangan nol itu hanya ada ada di Sumatera dan Kamboja. Prasasti Kedukan Bukit yang memuat bilangan tersebut kini disimpan di Museum Nasional Jakarta.</p>



<p>Berdasarkan bukti prasasti yang berasal dari Sumatra ini, saya menjadi tahu bahwa puncak peradaban Nusantara adalah bukan pada masa Majapahit, melainkan sudah dimulai sejak masa Sriwijaya. Pada masa Sriwijaya sudah dikenal bilangan yang akhirnya bisa dipelajari hingga kini. Belajar itu sepanjang hayat, tidak ada putusnya. Sampai tua pun kita masih harus belajar karena ada hal-hal baru setiap harinya. Bedanya, kalau sekarang itu ego sangat ditinggikan ketika belajar. Berbeda dengan zaman dahulu, “Kalau dulu pengetahuan berkembang di mana itu kita suka semua. Tapi kalau sekarang <em>kan </em>tidak, semua ya harus ada di kita gitu. Melihat itu ego jadi besar daripada dulu,” jelas Pak Iwan.&nbsp;</p>



<p>Banyak hal yang bisa saya pelajari dari webinar ini, mulai dari belajar itu penting untuk dibagikan kepada orang lain. Sebenarnya paling penting itu kita belajar sejarah, karena di sana kita bisa belajar tentang asal mula sesuatu agar tidak terjadi salah tafsir dan kita belajar untuk bijak dengan memetik pengalaman berharga dari masa lampau.</p>



<p>&#8212;</p>



<p><em>Gali lebih banyak ilmu seputar pembelajaran di Sriwijaya dan Nalanda dari karya Pak Iwan yang berjudul “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/mengembalikan-budaya-belajar/">Mengembalikan Budaya Belajar</a>”.</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/14/liputan-belajar-matematika-ala-sriwijaya-nalanda/">Liputan: Belajar Matematika Ala Sriwijaya-Nalanda</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/12/14/liputan-belajar-matematika-ala-sriwijaya-nalanda/">Liputan: Belajar Matematika Ala Sriwijaya-Nalanda</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pesan Waisak dari Y. M. S. Dalai Lama XIV</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/05/08/pesan-waisak-dari-y-m-s-dalai-lama-xiv/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 May 2020 04:34:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[nalanda]]></category>
		<category><![CDATA[Pesan Waisak]]></category>
		<category><![CDATA[waisak]]></category>
		<category><![CDATA[Waisak 2020]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4904</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sebuah kebahagiaan besar bagi saya untuk menyapa saudara dan saudari Buddhis di seluruh dunia yang hari ini tengah merayakan hari Waisak (Buddha Purnima). Buddha Shakyamuni lahir di Lumbini, mencapai pencerahan di Bodhgaya, dan wafat di Kushinagar pada 2600 tahun yang lalu. Namun, saya percaya ajaran Beliau bersifat universal dan bahkan tetap relevan hingga kini. Setelah [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/08/pesan-waisak-dari-y-m-s-dalai-lama-xiv/">Pesan Waisak dari Y. M. S. Dalai Lama XIV</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/08/pesan-waisak-dari-y-m-s-dalai-lama-xiv/">Pesan Waisak dari Y. M. S. Dalai Lama XIV</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sebuah kebahagiaan besar bagi saya untuk menyapa saudara dan saudari Buddhis di seluruh dunia yang hari ini tengah merayakan hari Waisak (Buddha Purnima).</p>



<p>Buddha Shakyamuni lahir di Lumbini, mencapai pencerahan di Bodhgaya, dan wafat di Kushinagar pada 2600 tahun yang lalu. Namun, saya percaya ajaran Beliau bersifat universal dan bahkan tetap relevan hingga kini. Setelah mencapai pencerahan, Sang Buddha yang tergerak oleh rasa kepedulian-Nya yang tinggi untuk membantu sesama kemudian menghabiskan sisa waktu-Nya sebagai biksu dan membagikan pengalamannya ke siapa pun yang ingin mendengarkannya. Baik pandangan Beliau mengenai hukum sebab-musabab yang saling bergantungan maupun nasihat Beliau untuk tidak menyakiti seorang pun dan membantu siapa pun yang mampu kita bantu; keduanya menitikberatkan pengamalan dogma hidup tanpa kekerasan. Hal tersebut tetap menjadi pendorong paling mujarab bagi kebaikan di dunia saat ini karena rasa welas asih yang diwujudkan tanpa kekerasan adalah bentuk pelayanan kita bagi semua makhluk.</p>



<p>Di dunia yang semakin saling bergantung, kemakmuran dan kebahagiaan kita bergantung pada banyak orang. Sekarang ini, ujian-ujian yang tengah kita jalani mewajibkan kita untuk menerima kesatuan umat manusia. Walau ada perbedaan-perbedaan kecil di antara kita, semua orang pada dasarnya sama-sama mengharapkan kedamaian dan kebahagiaan. Pengamalan ajaran Buddhis memang diperoleh dari melatih batin kita melalui meditasi. Namun, upaya pelatihan ketentraman batin kita dalam mengembangkan sifat-sifat penyayang, welas asih, murah hati, dan kesabaran, belum efektif tanpa adanya pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.</p>



<p>Akhir-akhir ini, komunitas-komunitas Buddhis yang beragam di dunia hanya memiliki pemahaman samar mengenai keberadaan satu sama lain dan tidak memiliki kesempatan untuk menghargai persamaan yang kita miliki. Namun kini, siapa pun yang tertarik dapat berkenalan dengan hampir seluruh khazanah Buddhis yang berkembang di daratan-daratan yang berbeda. Terlebih lagi, kita yang mengamalkan dan mengajarkan tradisi-tradisi Buddhis ini kini dapat saling menemui dan saling belajar dari satu sama lain.</p>



<p>Sebagai biksu Buddhis Tibet, saya memposisikan diri sebagai ahli waris tradisi Nalanda. Metode belajar-mengajar ajaran Buddhis di Universitas Nalanda yang berlandaskan akal dan logika menjadi titik puncak perkembangan ajaran ini di India. Untuk menjadi penganut Buddhis di abad ke-21, penting bagi kita untuk terlibat dalam pembelajaran dan analisis ajaran-ajaran sang Buddha sebagaimana yang dilakukan oleh mereka di sana, ketimbang bertumpu pada iman semata.</p>



<p>Dunia telah berubah banyak semenjak waktu hidup Sang Buddha. Ilmu pengetahuan modern telah mengembangkan pemahaman mendalam mengenai dunia fisik. Di sisi lain, ilmu Buddhis telah mencapai pemahaman yang terperinci dan personawi mengenai cara kerja pikiran dan emosi, bidang yang masih relatif baru bagi ilmu pengetahuan modern. Karena itu, masing-masing memiliki pengetahuan penting untuk melengkapi satu sama lain. Saya percaya bahwa penggabungan kedua pendekatan ini memiliki potensi besar untuk mencapai temuan-temuan yang dapat memperkaya kesehatan fisik, emosi, dan sosial kita semua.</p>



<p>Sebagai umat Buddha, kitalah yang menjunjung ajaran Sang Buddha, tetapi pesan Sang Buddha juga relevan dalam interaksi kita dengan seluruh umat manusia. Kita perlu mendukung pemahaman antaragama dengan menggarisbawahi bahwa semua agama bertujuan mewujudkan kebahagiaan bagi semua orang. Juga, dalam masa krisis yang tengah menerpa dunia ini, saat kita menghadapi ancaman terhadap kesehatan kita dan kita merasakan kesedihan akan keluarga dan teman yang telah meninggalkan kita, kita harus berfokus pada hal-hal yang menyatukan kita sebagai satu keluarga besar umat manusia. Oleh karena itu, kita perlu saling mengulurkan tangan dengan penuh welas asih karena hanya dengan bersatu dan mengkoordinasi tanggapan global kita dapat mengatasi cobaan-cobaan baru yang tengah kita hadapi. Dalai Lama</p>



<p>Sumber: <a href="https://www.dalailama.com/news/2020/vesak-message-from-his-holiness-the-dalai-lama">Dalailama.com</a><br>Diterjemahkan oleh Rakaputra Paputungan<br>Disunting oleh Silvi Wilanda</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/08/pesan-waisak-dari-y-m-s-dalai-lama-xiv/">Pesan Waisak dari Y. M. S. Dalai Lama XIV</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/08/pesan-waisak-dari-y-m-s-dalai-lama-xiv/">Pesan Waisak dari Y. M. S. Dalai Lama XIV</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membangkitkan Kembali Lintasan Peradaban Sriwijaya-Nalanda</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Aug 2017 05:20:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[nalanda]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sriwijaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3658</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanggal 8 Agustus 2017 lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bersama majalah Historia menyelenggarakan seminar bertajuk “Membangkitkan Kembali Lintasan Peradaban Sriwijaya-Nalanda” di gedung Kemendikbud RI, Jakarta. Acara ini dibuka oleh menteri luar negeri RI ke-15 dan anggota tim penasihat Nalanda University in India, Dr. Hassan Wirajuda, dan diisi oleh Dr. Andrea Acri dari Nalanda-Sriwijaya [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/">Membangkitkan Kembali Lintasan Peradaban Sriwijaya-Nalanda</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/">Membangkitkan Kembali Lintasan Peradaban Sriwijaya-Nalanda</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanggal 8 Agustus 2017 lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bersama majalah Historia menyelenggarakan seminar bertajuk “Membangkitkan Kembali Lintasan Peradaban Sriwijaya-Nalanda” di gedung Kemendikbud RI, Jakarta. Acara ini dibuka oleh menteri luar negeri RI ke-15 dan anggota tim penasihat Nalanda University in India, Dr. Hassan Wirajuda, dan diisi oleh Dr. Andrea Acri dari Nalanda-Sriwijaya Center dan Prof. Agus Munandar dari Universitas Indonesia.</p>
<p>Seminar ini dibuka dengan <i>keynote speech </i>dari Dr. Hassan Wirajuda. Beliau menjelaskan sekilas tentang hubungan dekat antara Biara Universitas Nalanda dengan Kerajaan Sriwijaya sejak abad V Masehi. Beliau mengutip sebuah disertasi yang menyebut Atisha Dipankarasrijnana, penyusun teks akar lamrim <i>Bodhipatapradipa</i> dan reformis Buddhisme Tibet, pernah mengatakan bahwa mempelajari Buddhadharma tidaklah lengkap jika tidak belajar di Sriwijaya. Beliau juga mengatakan bahwa kini di situs reruntuhan Nalanda, khususnya di kompleks biara pertama yang dapat dikunjungi, kita dapat menemukan penanda yang menjelaskan bahwa kompleks biara tersebut merupakan sumbangan dari Raja Balaputradewa dari Sriwijaya.</p>
<p>“Nenek moyang kita itu biasa memberi,” kata Beliau.</p>
<p>Dr. Andrea Acri, peneliti dari Nalanda-Sriwijaya Centre sekaligus dosen di Nalanda University in India, membabarkan hasil risetnya mengenai hubungan intelektual antara Sriwijaya dan Nalanda. Selama ini, hubungan antarnegara atau kerajaan dalam sejarah yang diakui hanya yang bersifat materi seperti perdagangan atau pemberian upeti. Namun, berdasarkan bukti-bukti sejarah yang ada, ditemukan bahwa keterikatan antara Sriwijaya dan Nalanda melebihi sekedar materi. Ada pertukaran ilmu dan pemikiran serta hubungan religius, terbukti dengan adanya pertukaran pelajar filsafat Buddha, karya-karya sastra yang mirip namun memiliki ciri khas masing-masing negara, kesamaan tokoh istadewata serta detail arsitektur yang ditemukan di kedua negara. Menurut Dr. Acri, hubungan ini dapat dijadikan basis untuk mempererat hubungan Indonesia dan India di era ini dan membangkitkan kembali kerja sama intelektual yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu.</p>
<p>Terakhir, Prof. Agus Munandar membahas makna Kerajaan Sriwijaya di Nusantara. Peran Sriwijaya di Nusantara dapat dirangkum menjadi 5 poin: sebagai kerajaan maritim pertama di Nusantara, kerajaan pertama berlandaskan agama Buddha sekaligus salah satu pusat perkembangan agama tersebut, cikal-bakal nasionalisme yang terlihat dari penggunaan bahasa Melayu kuno dalam salah satu prasasti peninggalannya, satu-satunya kerajaan yang tercatat di dua sumber dari jauh (India dan Cina), serta pendukung kesenian bergaya Syailendra. Khususnya pada poin kedua, ditekankan bahwa Buddhadharma di Sriwijaya bukan hanya agama impor yang diikuti begitu saja oleh penduduk, melainkan menjadi sebuah ilmu filsafat yang dipelajari secara mendalam dan dikembangkan lebih jauh. Ini diperkuat oleh keberadaan kompleks biara Muaro Jambi, sebuah biara universitas dengan sistem serupa dengan Biara Universitas Nalanda yang merupakan pusat pendidikan agama Buddha terbesar pada zamannya. Dalam sistem tersebut, biksu-biksu menjadi filsuf yang mempelajari, merenungkan, dan memeditasikan Buddhadharma sehingga menghasilkan karya-karya yang membantu membawa pencerahan bagi orang banyak. Sistem yang sama ini dibawa kembali ke Tibet oleh Guru Atisha setelah berguru kepada Swarnadwipa Dharmakirti, pangeran Sriwijaya yang akhirnya menjadi guru Buddhis agung. Dengan kata lain, pengaruh Sriwijaya dalam hal pengembangan Buddhadharma amat penting dan tak tergantikan serta menjangkau amat jauh, melebihi India, Cina, hingga mencapai Tibet.</p>
<p>Seminar ini sungguh membuka wawasan mengenai betapa besarnya bangsa kita sejak zaman dahulu kala. Kita juga jadi mengetahui banyak sekali bukti yang mendapat penegasan bahwa Buddhadharma merupakan bagian dari warisan Nusantara. Sahabat-sahabat sedharma wajib berbangga akan fakta ini! (KC)</p>
<p>Foto-foto:</p>
<p>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/img-20170816-wa0005/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0005-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0005-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0005-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0005-336x336.jpg 336w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/img-20170816-wa0007/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0007-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0007-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0007-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/IMG-20170816-WA0007-336x336.jpg 336w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/p_20170808_144039/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_144039-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_144039-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_144039-scaled-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_144039-scaled-336x336.jpg 336w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/p_20170808_151337/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_151337-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_151337-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_151337-scaled-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_151337-scaled-336x336.jpg 336w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/p_20170808_135055/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_135055-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_135055-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_135055-scaled-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_135055-scaled-336x336.jpg 336w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
<a href='https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/p_20170808_154135/'><img width="150" height="150" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_154135-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" loading="lazy" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_154135-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_154135-scaled-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/08/P_20170808_154135-scaled-336x336.jpg 336w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>
</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/">Membangkitkan Kembali Lintasan Peradaban Sriwijaya-Nalanda</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/08/17/membangkitkan-kembali-lintasan-peradaban-sriwijaya-nalanda/">Membangkitkan Kembali Lintasan Peradaban Sriwijaya-Nalanda</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>History of Nalanda #2 &#8211; Para Cendekiawan Agung</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-2-para-cendekiawan-agung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Mar 2017 19:36:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[guru spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[historyofnalanda]]></category>
		<category><![CDATA[india]]></category>
		<category><![CDATA[jasmerah]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[nalanda]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2872</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Pekan lalu kita sudah berkenalan dengan Biara Nalanda, institusi pendidikan Buddhis terbesar dan tertua yang telah menghasilkan banyak cendekiawan agung dengan peran besar dalam menjaga Buddhadharma di dunia ini. Siapa saja tokoh-tokohnya? Yuk kita berkenalan dengan mereka!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-2-para-cendekiawan-agung/">History of Nalanda #2 – Para Cendekiawan Agung</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-2-para-cendekiawan-agung/">History of Nalanda #2 &#8211; Para Cendekiawan Agung</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone wp-image-2874 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n.jpg" alt="" width="960" height="678" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n.jpg 960w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n-600x424.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n-300x212.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n-768x542.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n-150x106.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17021934_1933114363583458_4975579604158744284_n-450x318.jpg 450w" sizes="(max-width: 960px) 100vw, 960px" /></p>
<p>Pekan lalu kita sudah berkenalan dengan Biara Nalanda, institusi pendidikan Buddhis terbesar dan tertua yang telah menghasilkan banyak cendekiawan agung dengan peran besar dalam menjaga Buddhadharma di dunia ini. Siapa saja tokoh-tokohnya? Yuk kita berkenalan dengan mereka!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-2-para-cendekiawan-agung/">History of Nalanda #2 – Para Cendekiawan Agung</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/history-of-nalanda-2-para-cendekiawan-agung/">History of Nalanda #2 &#8211; Para Cendekiawan Agung</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
