<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>candi borobudur - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/candi-borobudur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 May 2021 12:04:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.12</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>candi borobudur - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Liputan Lamrim Talk: Morgan Oey Ajak Anak Muda Indonesia Populerkan Nilai Bajik Candi Borobudur</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/05/11/morgan-oey-borobudur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 May 2021 12:04:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[candi borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim talk]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[morgan oey]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6068</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Morgan Oey bicara soal nilai bajik universal di Candi Borobudur dan mengajak anak muda Indonesia untuk turut mempromosikannya.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/05/11/morgan-oey-borobudur/">Liputan Lamrim Talk: Morgan Oey Ajak Anak Muda Indonesia Populerkan Nilai Bajik Candi Borobudur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/05/11/morgan-oey-borobudur/">Liputan Lamrim Talk: Morgan Oey Ajak Anak Muda Indonesia Populerkan Nilai Bajik Candi Borobudur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dari Candi Borobudur, kita bisa belajar untuk menjadi lebih bahagia dengan berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Hal ini dicetuskan aktor Morgan Oey dalam Lamrim <em>Talk </em>Seri Borobudur “Beken Bangunannya, Beken Nilai Bajiknya” yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN/Lamrimnesia) hari Jumat, 30 April 2021. Dalam acara ini, Morgan didampingi oleh Melyana, <em>content creator </em>Lamrimnesia yang belakangan ini banyak membagikan informasi seputar Candi Borobudur.</p>



<p>Sebagai narasumber utama, Morgan bercerita tentang inspirasi dari Candi Borobudur yang berpengaruh dalam kehidupannya sehari-hari serta peran anak muda dalam melestarikan dan mempromosikan nilai bajik candi tersebut.</p>



<h4><strong>Inspirasi Welas Asih Candi Borobudur</strong></h4>



<p>Ketika pertama datang ke Borobudur, Morgan terkesan dengan kemegahan bangunannya. Ia kemudian menelusuri relief yang ada di dinding candi dari bawah sampai atas. Ia menemukan praktik welas asih dan hukum sebab-akibat dari relief riwayat Buddha dan kisah-kisah lain dari kitab suci Buddhis yang bisa menjadi pedoman hidup. Selain itu, ada juga nilai keberagaman yang diwakilkan oleh relief perjalanan Sudhana belajar pada 50+ guru dari berbagai latar belakang.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“<em>That’s what I love about</em> ajaran Buddha yang sangat mengajarkan kita untuk nggak men-<em>judge</em> orang<em>,</em>” komentar Morgan.</p></blockquote>



<p>Morgan bercerita bahwa ia pernah mendengar dan terinspirasi oleh ajaran Buddha sebelum pergi ke Candi Borobudur. Lalu, ketika Morgan melihat poin-poin dalam ajaran Buddha yang dia kenali terukir di relief candi, misalnya momen Pangeran Siddhartha meninggalkan kejayaan duniawinya demi mencari obat bagi penderitaan semua makhluk, muncul rasa takjub yang membuat pesan positif dalam relief tersebut makin merasuk dalam hati.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Sejak kecil, saya diajarkan untuk selalu berbagi kebahagiaan dengan orang yang lebih membutuhkan. Ketika saya ke Candi Borobudur dan melihat ajaran Buddha yang terukir di relief, <em>it makes me complete,</em>” tutur Morgan.</p></blockquote>



<h4><strong>Praktik Welas Asih, Praktik Berbagi</strong></h4>



<p>Morgan kemudian bercerita tentang aktivitasnya di organisasi Indorelawan sebagai penerapan dari sebagian kecil bentuk welas asih yang selama ini ia latih. Dengan visi “mengubah niat baik menjadi aksi baik hari ini”, Morgan bersama Indorelawan menghubungkan organisasi-organisasi sosial dengan orang-orang yang ingin berkontribusi untuk menolong sesama secara sukarela. Salah satu kampanye yang diusung Morgan adalah melakukan minimal 10 jam aksi baik dalam setahun.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Ketika kita berbagi kebahagiaan dengan teman-teman yang membutuhkan, pasti rasa bahagianya itu beda. <em>It’s priceless, </em>nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata, nggak bisa diukur dengan materi juga” ujar Morgan.</p></blockquote>



<p>Praktik welas asih seperti ini amat penting bagi generasi muda masa kini yang sulit bahagia karena terbebani oleh berbagai ekspektasi yang berasal dari ego.</p>



<p>“Dengan ada praktik welas asih yang bisa kita dapat dari nilai kebajikan di Candi Borobudur, sedikit demi sedikit kita bisa belajar mengurangi kadar ego dalam diri kita,” jelas Morgan, “Dengan lebih berempati sama orang, melakukan sesuatu untuk orang sekecil apapun itu, itu mungkin yang sedikit demi sedikit bisa mengikis ego dalam diri yang nantinya akan menjadi ekspektasi dalam hidup kita.”</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Nanti kalau misalnya kita lebih <em>care </em>sama orang, lebih <em>care </em>sama sekitar kita, kita akan bahagia.”</p></blockquote>



<h4>Anak Muda Harus Peduli</h4>



<p>Agar nilai welas asih dan keberagaman yang ada di Candi Borobudur ini bisa sampai ke banyak orang, generasi muda tentu memiliki peran penting.</p>



<p>“Nantinya anak mudalah yang harus menjaga dan merawat Candi Borobudur,” tegas Morgan. Ia kemudian menjelaskan bahwa anak muda Indonesia bisa mulai dari mengenal apa itu Candi Borobudur, sejarahnya, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Setelah kenal, maka barulah akan ada rasa sayang sehingga mereka mau turut menjaga candi tersebut. Kemudian anak muda Indonesia bisa memaksimalkan potensi dunia maya untuk mempopulerkan Candi Borobudur tidak hanya sebagai objek wisata, tapi juga tempat suci umat Buddha dunia yang mengandung nilai-nilai universal.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kita perlu tahu dulu apa itu Candi Borobudur, kenapa ada Candi Borobudur. Rasa penasaran akan timbul. Pelan-pelan kita akan tahu bahwa Candi Borobudur itu ada nilai bajiknya yang bisa kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” terang Morgan.</p></blockquote>



<p>Ada banyak sekali peserta acara yang mengirimkan pertanyaan kepada Morgan seputar Candi Borobudur maupun aktivitas Morgan sehari-hari. Salah satu topik yang banyak ditanyakan adalah pengelolaan candi serta persepsi masyarakat yang masih memandang situs keagamaan tersebut sebagai objek wisata biasa. Akibatnya, banyak terjadi <em><a href="https://lamrimnesia.org/2021/04/27/dilema-beribadah-di-borobudur/">mistreatment</a></em> yang berpotensi merusak Candi Borobudur dan menenggelamkan nilai-nilai bajiknya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Menduduki stupa atau menginjak patung itu di luar akal sehat. Pengelola Candi Borobudur harus lebih tegas menerapkan aturan yang sesuai untuk tempat suci,” kata Morgan, “Sebagai non-Buddhis, kita juga harus menghormati.”</p></blockquote>



<p>Di akhir acara, para pengisi acara menyimpulkan bahwa candi warisan leluhur kita ini tidak hanya memiliki bangunan yang megah dan relief yang indah, tapi juga nilai filosofis yang bisa membuat kita lebih bahagia, yaitu welas asih dan keberagaman. Bisa dibilang bahwa <a href="https://lamrimnesia.org/2021/03/29/borobudur-candi-buddha-tapi-buddha-untuk-semua/">Candi Borobudur adalah simbol dari Bhinneka Tunggal Ika.</a> Karena nilainya universal, umat Buddha maupun bukan boleh datang asal tetap bersikap hormat selayaknya di tempat suci. Agar itu bisa terwujud, anak muda perlu seperti Morgan, bangga dengan Borobudur karena nilai luhurnya serta melestarikan dan peduli terhadap Candi Borobudur, lalu mempromosikan Borobudur dengan karya agar candi ini bisa beken bangunannya sekaligus beken nilai bajiknya.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/05/11/morgan-oey-borobudur/">Liputan Lamrim Talk: Morgan Oey Ajak Anak Muda Indonesia Populerkan Nilai Bajik Candi Borobudur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/05/11/morgan-oey-borobudur/">Liputan Lamrim Talk: Morgan Oey Ajak Anak Muda Indonesia Populerkan Nilai Bajik Candi Borobudur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Borobudur Candi Buddha, tapi Buddha untuk Semua</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/03/29/borobudur-candi-buddha-tapi-buddha-untuk-semua/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2021 10:41:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[candi borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5968</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Menyatakan Candi Borobudur tempat suci umat Buddha bukan berarti umat lain tidak boleh ke sana, tapi justru menyatukan Indonesia &#038; dunia.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/03/29/borobudur-candi-buddha-tapi-buddha-untuk-semua/">Borobudur Candi Buddha, tapi Buddha untuk Semua</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/03/29/borobudur-candi-buddha-tapi-buddha-untuk-semua/">Borobudur Candi Buddha, tapi Buddha untuk Semua</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Madhuvika</p>



<p>Beberapa waktu lalu Menteri Agama menyatakan dukungan untuk menjadikan Candi Borobudur pusat ibadah agama Buddha dunia. Ini jelas merupakan kabar gembira sekaligus bentuk nyata kuatnya Bhinneka Tunggal Ika di indonesia. Meski umat Buddha di Indonesia jumlahnya kurang dari 1%, ternyata kita masih memiliki tempat di hati pemerintah.</p>



<p>Namun, sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya, apakah dengan begitu Candi Borobudur akan menjadi eksklusif bagi umat Buddha saja?&nbsp;</p>



<p>Tentu saja tidak! Malah sebaliknya, dengan Borobudur ditetapkan sebagai pusat ibadah umat Buddha dan makin diangkat nilai-nilai Buddhisnya, justru candi megah warisan leluhur kita ini akan memberi manfaat yang makin besar kepada semua orang. Bukankah Buddha sendiri mengajarkan welas asih universal yang merangkul semua tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agama. Jadi, umat Buddha secara khusus dan bangsa Indonesia secara umum seharusnya merasa bangga memiliki monumen agung yang melambangkan nilai-nilai bajik tersebut.</p>



<p>Kalau masih ada sedikit keraguan atau kekhawatiran soal wacana dari Pak Menag ini, mungkin kita bisa balik bertanya. Apakah perlu kita mengaburkan nilai Buddhis Borobudur agar candi ini bisa bermanfaat bagi semua orang? Yuk kita bahas sama-sama!</p>



<h4><strong>Tekad Seorang Buddha</strong></h4>



<p>Dari sudut pandang historis, adalah fakta bahwa Siddharta Gautama meninggalkan segala bentuk kemewahan demi menolong semua makhluk tanpa terkecuali, tidak peduli apa sukunya, agamanya, rasnya, bahkan spesies dan alam kehidupannya! Itu adalah salah satu elemen kunci yang membuatnya dikenal sebagai seorang “Buddha”. Lantas, bukankah tidak masuk akal kalau menggaungkan nilai-nilai Buddhis yang terkandung dalam Candi Borobudur dianggap mengalienasi 99% warga negara Indonesia hanya karena perbedaan agama?<br></p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/b7bv19jjA9ITk57P_RN4fTj0enLSc-OS5FKptpQUwy-n3KO8yOHJhqA8sHS3bytpbCUNgy8QtDC24jiLqv5fi0IrtRISF-HPQcOGRJ_NSBjHMYiFYvKEtOfUypdQ3g" alt="(Sumber foto: Wikimedia)"/><figcaption><em>Pangeran Siddharta meninggalkan istana untuk menjadi pertapa dalam relief Lalitawistara di Candi Borobudur</em></figcaption></figure>



<p>Buddhisme adalah ajaran universal yang bisa membawa manfaat kepada siapapun. Pernyataan ini mungkin hanya bisa ditolak oleh orang yang sama sekali tidak mengenal ajaran Buddha. Oleh karena itu, mari kita telusuri lebih lanjut: bagaimana nilai Buddhisme bisa jadi milik semua dan bagaimana mengangkat nilai Buddhis Borobudur bisa menambah manfaat monumen ini untuk seluruh bangsa Indonesia, bahkan dunia?</p>



<h4><strong>Sang Buddha dan Ajarannya Bersifat Universal</strong></h4>



<p>Sang Buddha sendiri tidak pernah menyatakan bahwa ajaran yang Ia berikan adalah ajaran-Nya sendiri. Beliau sendiri menyatakan bahwa Beliau hanya menemukan cara kerja “hukum alam” yang bekerja apa adanya. Terlepas dari seseorang percaya atau tidak terhadap apa yang diajarkan Sang Buddha, hukum alam ini akan berjalan sebagaimana mestinya. Contohnya adalah hukum karma atau hukum sebab-akibat dan prinsip ketidakkekalan yang amat sulit disangkal. Ada pula ajaran tentang batin dan faktor mental yang sudah mulai diteliti dan menjadi rujukan di bidang ilmu psikologi. Oleh karenanya, tak sedikit orang yang menerapkan ajaran Buddha sebagai “<em>way of life</em>”. Begitu alamiahnya sebuah ajaran yang menuntun seseorang hidup selaras dengan realitas-realitas di dunia ini.</p>



<p>Secara khusus, Sang Buddha menunjukkan kepada kita semua bahwa tidak ada satu pun makluk hidup yang ingin menderita. Sebaliknya, semua makhluk menginginkan kebahagiaan. Kemudian, Sang Buddha menunjukkan satu-satunya jalan untuk meraih kebahagiaan adalah melatih welas asih: sebuah sikap batin yang menganggap penderitaan makhluk lain sama penting dan berat dengan penderitaan diri sendiri sehingga kita perlu menghindari segala bentuk tindakan yang dapat menyakiti makhluk lain. Sebaliknya, kita harus berusaha melatih diri agar bisa mempersembahkan kebahagiaan bagi semua makhluk. Inilah cara yang ditawarkan oleh ajaran Buddha untuk menghadapi segala macam masalah yang tak terelakkan dan penuh ketidakpastian.</p>



<p>Tapi, apakah ajaran hanya mencakup umat Buddha saja? Tentu tidak, karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ketika Buddha berkata “demi semua makhluk”, kata “semua” di sini benar-benar mencakup semua, bukan hanya yang beragama Buddha saja. Lebih jauh lagi, tak ada satu pun agama di dunia ini yang menyangkal pentingnya cinta kasih dan welas asih terhadap sesama. Bukankah cinta itu indah?</p>



<h4><strong>Nilai Buddhis yang Universal bagi Masyarakat Modern</strong></h4>



<p>Secara logis, segala sesuatu yang bermula pasti akan berakhir. Hidup kita pun ada masanya. Tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk hal tersebut. Namun, yang pasti yang bisa kita lakukan adalah hidup sebahagia mungkin. Untuk mencapai kebahagiaan itu, tentu kita tidak mau hidup kita diwarnai oleh perselisihan. Kita perlu sebuah kehidupan yang damai.&nbsp;</p>



<p>Namun, sayangnya sampai hari ini, kita semua masih diliputi oleh berbagai masalah yang diakibatkan oleh kemarahan, iri hati, dan ketakutan. Masyarakat dunia terpecah ke dalam berbagai kelompok. Lihat saja dalam setahun belakangan, berapa banyak konflik antar golongan yang pecah? Negara-negara pun terus berlomba dan bersaing dalam memperebutkan kekuasaan ekonomi, teknologi, dan peralatan militer yang tentunya mengancam kedamaian dunia. Fakta ini sangat bertolak belakang dengan harapan kita akan dunia yang damai dan bahagia.</p>



<p>Mengapa perpecahan ini bisa terjadi? Jika kita renungkan, kita akan menemukan bahwa konflik ini muncul karena adanya rasa perbedaan antara diri kita dan orang lain. Kita jadi merasa perlu membentengi diri. Dunia seolah terbagi ke dalam kubu-kubu bersaing berebut kebahagiaan yang terbatas jumlahnya sehingga harus saling rampas. Mudahnya penyebaran informasi tentang banyaknya konflik membuat kita semakin was-was, belum lagi ada pihak-pihak yang sengaja memperkuat ego kelompok untuk menghimpun kekuatan dalam persaingan. Kita pun tidak bisa merasakan kedamaian. Kita merasa diri kita lebih penting dari yang lain dan kita harus mati-matian melindungi “kebahagiaan” pribadi yang semua. Kita jadi terus-terusan terusik dengan emosi marah, benci, merasa terancam, takut, dan lain sebagainya.&nbsp;</p>



<p>Hal ini sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha, bahwa sikap mementingkan diri sendiri menghasilkan emosi negatif yang menjadi sumber penderitaan kita.&nbsp;</p>



<p><strong>Seyogyanya Kita Semua adalah Sama</strong></p>



<p>Satu-satunya antidot bagi sikap mementingkan diri sendiri adalah menerapkan welas asih, memandang semua makhluk sama penting dan sama berharganya dengan kita. Buddha mengajarkan kita untuk berlatih, mengubah cara pandang, bahwa penderitaan makhluk lain adalah penderitaan kita juga, sementara kebahagiaan makhluk lain adalah kebahagiaan kita juga. Dengan demikian, ketika kita melihat perpecahan terjadi, kita tidak akan terkurung oleh rasa takut dan melakukan tindakan yang bisa memperparah keadaan. Sebaliknya, kita malah tergerak untuk mencari cara agar bisa meringankan penderitaan semua pihak.</p>



<p>Coba kita ingat kembali masa kecil ketika sedang bermain dengan anak-anak lainnya. Mereka tidak peduli akan perbedaan seperti warna kulit, suku, agama, kaya, dan miskin. Mereka pun mereka bisa bermain dengan penuh tawa dan bahagia. Jauh sekali dengan kondisi kita semua yang selalu memegang cara pandang bahwa ada diri kita yang “berbeda” dari orang lain. Tapi sayangnya kita tidak bisa selamanya menjadi anak kecil. Pikiran kita ternodai oleh berbagai pengalaman buruk yang terjadi seiring kita tumbuh dewasa. Kita jadi merasa bahwa kita tidak mungkin “sama” dengan yang lain. Namun, dari anak-anak ini, kita bisa tahu bahwa sikap welas asih yang tidak membeda-bedakanlah yang merupakan sifat alami kita. Jadi, secara alamiah, kita semua memiliki benih welas asih seperti rasa sayang dan peduli kepada yang lain.</p>



<p>Lebih lanjut, seorang bayi tidak akan bisa bertahan hidup tanpa asuhan dari orang tua dan keluarga. Setelah bertumbuh dewasa, kita tidak bisa lepas dari peran-peran orang sekitar kita untuk hidup seperti para petani yang menghasilkan makanan pokok, para tukang yang membangunkan rumah serta para penjahit yang menghasilkan pakaian untuk kita. Hal ini membuktikan seyogyanya kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Artinya, diri kita dan semua lainnya saling membutuhkan satu sama lain. Dengan cara pandang yang sama, maka adalah sangat logis bahwa kebahagiaan kita juga bergantung pada kebahagiaan orang lain.&nbsp;</p>



<p>Dengan menyadari semua hal ini, kita dapat menciptakan sebuah komunitas manusia yang hidup dengan bahagia. Ibarat sebuah rumah, maka dunia ini adalah sebuah rumah dan yang menghuninya adalah anggota keluarga. Seyogyanya kita ingin yang terbaik dan rasa bahagia selalu hadir di antara keluarga kita.</p>



<p>Perenungan seperti ini merupakan sebagian kecil dari penerapan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak metode-metode lainnya dalam ajaran Buddha untuk mengembangkan welas asih dengan kebahagiaan sejati bagi diri sendiri dan semua makhluk yang bisa diterapkan secara universal. Ilmuwan-ilmuwan sekuler juga telah membuktikan bahwa welas asih merupakan sifat dasar manusia dan menggunakan metode-metode dalam Buddhisme sebagai bahan untuk mengembangkan welas asih tersebut.</p>



<h4><strong>Nilai Buddhis dalam Candi Borobudur</strong></h4>



<p>Ada dua elemen yang membuat sebuah monumen menjadi istimewa. Pertama adalah wujud fisiknya (ukuran, arsitektur, bahan, ornamen, dll.), kedua adalah kisah yang disampaikan oleh bangunan tersebut. Struktur dan relief Candi Borobudur dibangun berdasarkan Sutra-Sutra Buddhis yang membentuk “kisah” dari candi ini.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/C8EEyFHta-UQdvRJsHskcAew99L1zmsjNYo4TCEpMSbZTcyVviskLryR15ke9BzEaHtBdGZIDo1g0UmKxCx_zML9Bug5yMJO4RI6bhIWZv4C--TIGrZnZJDmypLdQQ" alt="(Sumber foto: artserve.anu.edu.au.)"/><figcaption><em>Relief Gandawyuha mengisahkan Putra Sudhana berguru pada orang dari beragam latar belakang demi meraih pencerahan &amp; menolong semua makhluk.</em></figcaption></figure>



<p>Kisah dalam Candi Borobudur adalah kisah perjalanan spiritual sesosok makhluk untuk menyempurnakan sifat-sifat luhur hingga meraih Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna demi menolong semua makhluk. Ya, welas asih universal juga merupakan narasi utama yang membentuk Candi Borobudur.&nbsp;</p>



<p>Penjelasan panjang-lebar tentang cara mengatasi permasalahan dengan welas asih tidak akan sampai pada hati orang-orang tanpa sebuah medium. Candi Borobudur, sebuah monumen raksasa nan megah berhias ratusan panel relief nan rumit dan sarat makna, tentu merupakan medium yang luar biasa untuk menggaungkan semangat welas asih yang merangkul semua makhluk ke seluruh Indonesia, bahkan dunia. Bisa jadi inilah yang ada di pikiran leluhur kita dari dinasti Syailendra ketika membangun Borobudur keping demi keping selama puluhan tahun.<br></p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/LgMZh0ZtNJUnGim215GEZrYOKB_7toe2AMBZscfBirLHbwIeRvqU21xP7G5elz8miw8yHF9f1L5HIy3phl0yN24glzKkLjGSbNgAG6toF6seSv-BpQk_fyAEdkAyWg" alt="(Sumber foto: Britannica.com)"/></figure>



<p>Namun, bagaimana semangat welas asih itu sampai bila kita menceraikan Borobudur dengan statusnya sebagai tempat suci umat Buddha? Tanpa pendekatan filsafat Buddhis, bagaimana kita bisa menghubungkan perjalanan mencapai Kebuddhaan dengan welas asih yang universal? Bukankah amat sayang jika Borobudur hanya dikenal dari sisi fisiknya saja? Batuan akan lapuk dimakan usia. Relief-relief di dinding candi akan semakin memudar. Bagian-bagian candi akan keropos perlahan-lahan. Tanpa “kisah” dari filsafat Buddhis yang membentuk Borobudur, ikon kebanggaan negeri ini hanya akan berjalan menuju kehancuran yang tak terelakkan. Eksistensi nilai Buddhisme yang universal inilah yang akan memungkinkan Borobudur tetap dikenang, dihormati, dan memberi manfaat bahkan ketika bangunannya tak lagi utuh dimakan zaman.</p>



<h4><strong>Borobudur Tetap Milik Semua</strong></h4>



<p>Selama ini, Borobudur memang masih dikelola sebagai objek wisata dan cagar budaya atas dasar kemegahan fisiknya saja, tercerai dari nilai filosofis di balik pendiriannya. Keterlibatan umat Buddha dalam pengelolaan Borobudur terbatas pada segelintir kegiatan spiritual yang ujung-ujungnya juga dijadikan atraksi wisata. Sebagian umat Buddha pun menjadi yang pertama menolak Borobudur sebagai tempat suci dan pasrah menunggu pemerintah menyatakan hal yang sebaliknya. Borobudur menjadi ibarat raga tanpa jiwa. Inilah harga yang harus dibayar ketika nilai Buddhis Borobudur diredam agar menjadi “milik semua”.</p>



<p>Namun, jika kita telusuri lebih lanjut, Candi Borobudur seharusnya bisa memberi manfaat yang lebih besar untuk seluruh bangsa Indonesia jika candi ini benar-benar bisa menjadi pusat ibadah umat Buddha dunia. Menjadikan Borobudur tempat suci umat Buddha tidak berarti umat agama lain tidak bisa berkunjung ke Borobudur atau mendapatkan manfaat dari keberadaannya. Justru Borobudur akan semakin kokoh sebagai simbol “Bhinneka Tunggal Ika” ketika nilai-nilai Buddhisnya diangkat bersamaan dengan kemegahan bangunannya. Masyarakat Indonesia dan dunia akan mendapatkan inspirasi yang tak ada habisnya dari wujud nyata welas asih yang merangkul semua.</p>



<p>Jadi, saudara-saudaraku yang sedharma, janganlah ragu untuk berbangga dan memperkenalkan Borobudur sebagai tempat suci umat Buddha. Borobudur faktanya memang bangunan Buddha, tapi ajaran Buddha memberikan manfaat untuk semua!</p>



<p><strong>Referensi:</strong></p>



<p>CNN Indonesia &#8211; “<a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210129120046-20-599905/menag-ingin-borobudur-jadi-rumah-ibadah-umat-buddha-sedunia">Menag ingin Borobudur Jadi Rumah Ibadah Umat Buddha Sedunia”</a></p>



<p>Timlo.net &#8211; “<a href="https://timlo.net/baca/133511/menko-pmk-minta-penjelasan-kedudukan-candi-borobudur-bagi-umat-buddha-internasional/">Menko PMK Minta Penjelasan Kedudukan Candi Borobudur Bagi Umat Buddha Internasional</a>”&nbsp;</p>



<p>Dalailama.com &#8211; “<a href="https://www.dalailama.com/news/2020/resilience-hope-and-connection-for-well-being">Resilience Hope and Connection for Well-Being</a>”&nbsp;</p>



<p>Dalailama.com &#8211; “<a href="https://www.dalailama.com/news/2020/buddhism-science-and-compassion">Buddhism, Science, and Compassion</a>”&nbsp;</p>



<p>Dalailama.com &#8211; “<a href="https://www.dalailama.com/news/2021/kind-and-compassionate-leadership">Kind and Compassionate Leadership</a>”&nbsp;</p>



<p>Thubten Jinpa, Ph.D. &#8211; <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/hati-tanpa-gentar/">Hati Tanpa Gentar</a></p>



<p>Phabongkha Rinpoche &#8211; <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">Pembebasan di Tangan Kita</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/03/29/borobudur-candi-buddha-tapi-buddha-untuk-semua/">Borobudur Candi Buddha, tapi Buddha untuk Semua</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/03/29/borobudur-candi-buddha-tapi-buddha-untuk-semua/">Borobudur Candi Buddha, tapi Buddha untuk Semua</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Candi Borobudur: Tempat Suci atau Asbak Terbesar di Dunia?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/03/25/candi-borobudur-tempat-suci-atau-asbak-terbesar-di-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Mar 2021 09:48:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[candi borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5952</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Chatresa Jayawardhana&#160; Senin, 22 Maret 2021, Menteri Pariwisata Sandiaga Uno mengatakan akan mengembangkan lima destinasi super prioritas untuk mencapai target 150 triliun rupiah dari turis lokal di Indonesia. Candi Borobudur tentu saja masuk sebagai salah satu dari 5 destinasi super prioritas tersebut. “Yang kami siapkan bukan hanya infrastruktur, tapi juga kami fokuskan ekonomi kreatifnya, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/03/25/candi-borobudur-tempat-suci-atau-asbak-terbesar-di-dunia/">Candi Borobudur: Tempat Suci atau Asbak Terbesar di Dunia?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/03/25/candi-borobudur-tempat-suci-atau-asbak-terbesar-di-dunia/">Candi Borobudur: Tempat Suci atau Asbak Terbesar di Dunia?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Chatresa Jayawardhana&nbsp;</p>



<p>Senin, 22 Maret 2021, Menteri Pariwisata Sandiaga Uno mengatakan akan mengembangkan lima destinasi super prioritas untuk mencapai target 150 triliun rupiah dari turis lokal di Indonesia. Candi Borobudur tentu saja masuk sebagai salah satu dari 5 destinasi super prioritas tersebut. “Yang kami siapkan bukan hanya infrastruktur, tapi juga kami fokuskan ekonomi kreatifnya, atraksi, produk fesyen, kuliner, film, musik dan sebagainya” ucap Sandiaga (Sumber: CNN Indonesia).</p>



<p>Sebagai orang Indonesia, saya tentu sangat mendukung rencana Pak Uno. Namun, apakah itu berarti Candi Borobudur sudah dipastikan murni merupakan tempat wisata? Apakah Borobudur yang seharusnya dapat memberi pengetahuan dan mengajarkan makna welas asih dan kebijaksanaan bagi para pencari spiritual hanya akan menjadi sekedar tempat wisata?</p>



<h4><strong>Pengelolaan Borobudur yang Buruk</strong></h4>



<p>Kita tentu tahu mengelola situs warisan dunia bukanlah hal yang mudah. Kita harus mengapresiasi terobosan-terobosan yang telah banyak dilakukan oleh pihak pengelola. Namun saya sebagai umat Buddha yang merasa bahwa Borobudur memiliki nilai filosofis mendalam bagi umat Buddha seringkali mengalami suatu perasaan campur aduk, yaitu suatu kebahagiaan dan keprihatinan mendalam di saat yang bersamaan.</p>



<p>Kita tahu bahwa Borobudur adalah bangunan religius. Namun, kita juga sering mendengar tentang penggunaan yang tidak sesuai dengan identitas tersebut. Kegiatan hiburan seperti konser musik lebih sering diselenggarakan di Borobudur dibanding aktivitas spiritual keagamaan. Banyak pula wisatawan yang mengabaikan kebersihan, mulai dari membuang puntung rokok, menempelkan permen karet di dinding candi, bahkan sampai ada yang tega buang air kecil di sana. Borobudur bukan gedung pertunjukan, apalagi tempat sampah, tapi ia adalah tempat suci bagi umat Buddha. </p>



<p class="has-text-align-center"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/utC7mg9yJSbejicWZ1YEoTebAd6lwtZ-RbaXF3_HOI0rTc0utBVShc3BpQ_GLCRxgsGW9afPEU-5-9Qp5nNWMVqDYQ0fa19Pp1mkdq2jv14eDf_9E_8Q28O4L-TKcVa_8Agtlnhl" style="width: undefinedpx;"></p>



<p class="has-text-align-left">Sumber Foto: Media Indonesia</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/UzOj447ldw0nDRlZru7zMfej2iP2khG6wj7n28AW2hKzQaoyAVhNYRteg_zNptFvG1_aUmxfB0NSgSOOne-eyc72togExxcZ4WrV3lNNDYXI0ea2vCOBJy9PWUzAv2MgT_JxODP3" alt=""/><figcaption>Sumber Foto: Phinemo</figcaption></figure></div>



<p>P.T. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan &amp; Ratu Boko (TWC) selaku pengelola aktivitas wisata di Borobudur sempat membuat sebuah terobosan baru, yaitu menyediakan sarung untuk menjaga tata cara berpakaian di Borobudur. Namun, sayangnya sarung yang disediakan tidak sesuai kebutuhan.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="alignleft"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/DmKqkzzXVauuk5-j3EE896tvSyayVRAviMOXQsAWXDvDD9HWImlYJ3JMH-GfSx_0O7jIewnTYuSr87OnyPCwBVkBWPXtHtSrpQpTaYcCVeACAPwpmxg2s6q9vGmkEiUnQX9d-S86" alt=""/><figcaption>Sumber Foto: Liputan 6</figcaption></figure></div>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/1tbHB83gUPmomAjXcaHkyyLirfKCP9pkExf-pxVGn6rjaXk044-G59sU2g3O269XegbmY1lVfMDn0jhrwq7EX-LzRT30gT0WZO4jxVqpfvWjJ7ZOwK4Ebp_qDDYUSQ5VEqNVWQlb" alt=""/><figcaption>Sumber Foto: Viva News</figcaption></figure></div>



<p>Kalau badan kita setinggi Maria Sharapova, sarung ukuran 140 x 60 cm dari pengelola Borobudur hanya akan nampak seperti rok tenis yang biasa dia pakai. Apalagi turis asing sering berpakaian seperti ingin ke pantai alih-alih ke tempat suci. Para pengunjung juga dapat memilih paket khusus yang tidak mewajibkan mereka menggunakan sarung. Tidak ada yang bisa salahkan mereka karena dalam benak mereka semua, Candi Borobudur adalah hanya benda mati dan peninggalan sejarah yang sudah tidak aktif dipakai lagi, bukan tempat suci. </p>



<h4><strong>Mengapa ini bisa terjadi?</strong></h4>



<p>Kalau dipikir-pikir, saya bisa mengajukan beberapa kemungkinan yang menyebabkan berbagai masalah dalam pengelolaan dan penggunaan Borobudur.</p>



<ol><li>Pengelolaan Borobudur tidak melibatkan Kementerian Agama</li></ol>



<p>Candi Borobudur dibagi ke dalam beberapa zona. Zona 1 yang meliputi anak tangga pertama batu candi hingga puncak dikelola oleh Balai Konservasi Borobudur. Zona 2 yang meliputi pelataran dari pagar sampai batu pertama candi dikelola oleh P.T. TWC. Selebihnya merupakan zona 3 yang dikelola oleh pemerintah daerah. Pertanyaannya, kemanakah pihak Kementrian Agama yang seharusnya juga ikut dilibatkan dalam pengelolaan Borobudur yang jelas-jelas kita tahu merupakan monumen Buddhis?</p>



<ol start="2"><li><em>Blueprint</em> Borobudur yang terus berubah</li></ol>



<p>Setiap ada pergantian kepemimpinan dalam lembaga pengelola Borobudur, <em>blueprint </em>pengembangannya pun terus berubah. Tanpa visi jangka panjang yang jelas, proses pengembangan Borobudur akan selamanya menjadi proses bongkar pasang yang tidak pernah selesai.&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>



<h4><strong>Filosofi yang hilang dari hati umat Buddha</strong></h4>



<p>Ketika kita memasuki relung-relung relief candi Borobudur, kita perlu mencari jarak yang tepat agar dapat melihat relief tanpa terpotong.&nbsp; Dari sini saya sadar nenek moyang Indonesia telah membuat televisi <em>wide-screen</em> pertama di dunia dan mungkin sekian puluh juta orang turis tidak ada yang menyadarinya. Namun sayangnya para pengunjung Candi Borobudur berlomba-lomba naik ke puncak candi untuk berswafoto ria, lalu turun secepatnya karena panas dan melewatkan relief berharga tersebut. Lebih banyak orang yang datang untuk foto-foto pemandangan di sekitar candi Borobudur daripada merenungkan seluruh kitab suci yang ada di dalam Candi Borobudur. Iya, candi Borobudur adalah kitab suci agama Buddha dalam bentuk 3 dimensi dengan detail pahatan yang luar biasa jelas.&nbsp;</p>



<p><em>Ada sutra apa saja di Borobudur? Tonton </em><a href="https://youtu.be/jglNUiSZMj4"><em>di sini</em></a><em>!</em></p>



<p>Setiap kali ada teman atau orang membujuk saya untuk menjelaskan Candi Borobudur, saya selalu bertanya balik kepada mereka, berapakah waktu yang dirimu sediakan untuk mendengarkan penjelasan Candi Borobudur dari saya? Jika tujuanmu ke Candi Borobudur hanya untuk mengumpulkan bukti digital pernah ke puncak candi Borobudur untuk diunggah ke media sosial maka silahkan pilih orang lain sebagai pemandu. Bagi saya,mencapai puncak Candi Borobudur itu bukan prestasi. Bahkan jumlah anak tangga makam raja-raja Mataram di Imogiri jauh lebih banyak daripada jumlah anak tangga di Candi Borobudur. Orang-orang tahu bahwa makam di Imogiri adalah tempat suci dan bersikap hormat di sana sebagaimana mestinya. Namun, mengapa kita tidak bisa memperlakukan Borobudur sebagai tempat suci juga? Apakah karena minimnya edukasi bahwa candi Borobudur merupakan tempat suci umat Buddha?</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/FRZ1CVGwn9rMFD0JHG7DnWNZ_oQFMet3P4g08c2D-MsRHgc-CkOlqkscLnKKN3Llzp7MLjiIp3paUhP9trKW3Yb75xkJyIELTTJTKdu110bnJBKrIz3S5k6Lkrh1aVS-qPD1J6pW" alt=""/><figcaption>Sumber Foto: Kumparan</figcaption></figure></div>



<h4><strong>Umat Buddha kurang peduli dengan Borobudur?&nbsp;</strong></h4>



<p>Ketika kita melihat Borobudur hanya sebagai tempat wisata, kita seharusnya bisa mulai mempertanyakan “Kebuddhisan” kita. Apakah kita memperlakukan rupang Buddha, kitab suci, dan stupa seperti barang biasa? Apakah keyakinan kita hanya sebatas ucapan saja? Jangan-jangan kita sendiri yang tidak merasa butuh dan perlu peduli terhadap Borobudur. Makanya kita biasa saja ketika pemerintah hanya memberi jatah 5 hari kepada umat Buddha untuk merayakan Waisak dan 360 hari menjadi tempat wisata.&nbsp;</p>



<p>Mengapa kita tidak bisa berbangga hati seperti teman kita yang Nasrani atau Muslim? Teman Nasrani saya pernah mengatakan bahwa Yesus dalam pernah marah besar kepada para umat, pedagang, dan imam besar ketika menyaksikan pintu gerbang Bait Allah dijadikan pasar. Saya juga pernah bertanya kepada teman saya yang Muslim. Katanya jika perlakuan terhadap Borobudur terjadi di Mekkah, tentu saja akan banyak umat Muslim dunia yang protes karena mereka semua tahu dan paham nilai tempat suci tersebut. Lalu apakah candi Borobudur tidak pantas kita sebut sebagai tempat suci agama Buddha sehingga bisa kita biarkan begitu saja?&nbsp;</p>



<p>Mengapa leluhur bangsa kita dulu membangun Borobudur? Apakah mereka berencana menjadikannya tujuan wisata super prioritas yang menghasilkan devisa hingga 150 triliun rupiah? Candi Borobudur dibangun selama 3 periode raja selama lebih dari 200 tahun.&nbsp; Saya rasa <em>mega project </em>yang tidak dapat dilakukan di zaman modern ini mengandung makna dan filosofis yang lebih dari sekedar menjadi devisa negara.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/JqtRijqMP-E2UGSy8g5M3rNuFxE-7jbYjPZpL4gOXDZkWYHGR05JBpAdfqGXTTYcKUhOrI1V41rShFwSR_g_p58FIJ-zIcPx32xJ2bMOGuhxzs3sIgBdOVZZ-DrscfPh5I8Uwqki" alt=""/><figcaption>Sumber Foto: Republika </figcaption></figure>



<p>Mengapa kita tidak pernah melakukan aksi nyata untuk memperjuangkan Borobudur?&nbsp; Kita malah melepas puluhan ribu lampion yang malah berpotensi merusak daripada beribadah dan meneladani kisah Lalitavistara ataupun Gandavyuha. Tampaknya kita perlu melakukan restorasi besar-besaran secara spiritual kepada seluruh orang Indonesia, khususnya umat Buddha!</p>



<p>Apabila umat Buddha Indonesia berargumen bahwa pembiaran ini karena tidak tahu dan bukan karena tidak peduli atau tidak menghargai, bukankah ketidaktahuan adalah hal yang harus kita atasi secara pribadi menurut ajaran Buddha? Saya tidak akan pernah menyalahkan pemerintah, karena pemerintah sebagai eksekutor akan melakukan yang terbaik bagi candi Borobudur. Memang saat ini pemerintah hanya bisa melihatnya sebagai candi penghasil devisa saja karena di antara umat Buddha yang jumlahnya sudah sangat sedikit, hanya segelintir yang bersuara untuk Borobudur.&nbsp;</p>



<p>Meski demikian, kalau umat Buddha mau bersuara, seharusnya Borobudur bisa tetap menjadi tempat suci dengan fungsi pariwisata sebagai fungsi sekunder dan tetap punya nilai ekonomi bagi negara. Gereja Vatikan misalnya, ia masih berfungsi sebagaimana mestinya tempat ibadah, bahkan pusat ibadah umat Katolik sedunia, namun juga bisa berfungsi sebagai tempat wisata yang pantas dan layak dengan berbagai aturan memasuki gereja yang diterapkan dengan ketat. Bahkan beberapa bagian gereja Vatikan tidak boleh difoto dan dipublikasikan. Makanya penjaga Swiss Guard lebih sering difoto dan bahkan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Hal ini tentu bisa diterapkan di Candi Borobudur.</p>



<h4><strong>Makna Borobudur</strong></h4>



<p>Bagi saya pribadi, Candi Borobudur adalah tempat pembelajaran nyata dan hidup, bukan hanya sekian ratus patung mati yang sudah berusia seribu tahun lebih menuju dua ribu tahun kalau selamat. Sadarkah kita sebagai umat Buddha Indonesia bahwa pahatan relief candi Borobudur tak ada duanya? Sang arsitek pasti menginginkan nilai-nilai Buddhisme Nusantara saat itu terekam jelas dan bertahan sangat lama. Seingat saya, dulu pernah ada yang mengatakan awalnya Hotel Manohara dalam kompleks&nbsp; Borobudur dibangun sebagai pusat studi bagi arkeolog, sejarawan, budayawan, dan para biksu untuk berdiskusi dan mempelajari Candi Borobudur. Namun, seiring berjalannya waktu ia menjadi hotel biasa. Begitu juga dengan Candi Borobudur, bila tidak dikembalikan fungsinya sebagai tempat suci, pemerintah hanya akan menggunakannya sebagai tempat wisata saja. Titik.</p>



<h4><strong>Masihkah kita memerlukan Borobudur?</strong></h4>



<p>Saya selalu bertanya kepada diri sendiri dan juga kepada orang-orang yang berdiskusi mengenai Borobudur, apakah kita masih memerlukan candi Borobudur sebagai tempat suci atau rumah ibadah? Bagi saya pribadi jawabannya adalah perlu. Bagaimanapun juga Borobudur merupakan satu-satunya “rumah” atau mandala bagi Panca Tathagata di Indonesia, juga merupakan satu-satunya kitab suci Buddha dalam bentuk tiga dimensi. Ini semua menjadikan Borobudur sebagai sebagai tempat untuk ziarah dan refleksi bagi saya pribadi. Setiap saya melihat relief tersebut, saya diingatkan untuk bertanya pada diri sendiri, sudah sampai tahap manakah saya dalam mempraktikkan ajaran Buddha?</p>



<p>Dalam penutup artikel National Geographic Indonesia edisi Maret 2010, dikatakan bahwa, “Borobudur bukanlah keheningan. Bukan sekumpulan patung Buddha membisu. Sesungguhnya ia sebuah daya, vitalitas, sebuah rangsangan. Mungkin inilah yang merasuki Nieuwenkamp, saat pertama menjejak dataran tinggi Kedu dan itu pula yang hingga kini terus ditawarkan Borobudur bagi mereka yang haus akan pengetahuan.” Ini sejalan dengan kata-kata Y.M. Biksu Bhadra Ruci, ahli ikonografi candi di Nusantara dan pemerhati Borobudur, dalam suatu acara pembahasan Candi Borobudur, “Kalau dirimu hanya melihat Candi Borobudur sebagai bangunan besar, tinggi yang perlu didaki dan foto-foto di puncaknya, maka dirimu hanya akan selalu mendapatkan panas terik dan lelah dari candi Borobudur. Dan ketika ada orang menyebut Candi Borobudur, hanya akan terbayang lelah dan panas terik serta capek dalam batinmu, bukannya tempat suci yang menenangkan dan menggugah batin.”&nbsp;</p>



<p>Lalu, pertanyaan selanjutnya: apa arti Candi Borobudur bagimu, kawan?</p>



<p>Apakah candi Borobudur hanyalah gantungan kunci yang dijual 10.000 rupiah dapat 3 dan bisa ditawar?</p>



<p>Apakah Candi Borobudur adalah asbak belaka?</p>



<p>Ataukah Candi Borobudur adalah monumen suci yang harus kita hormati dan kelola sebagaimana mestinya sebagai seorang umat Buddha?</p>



<p><strong>Referensi:</strong></p>



<ul><li>CNN Indonesia &#8211; <a href="https://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20210322115253-92-620433/sandi-uno-targetkan-dana-turis-lokal-rp150-t-berputar-di-ri/amp?utm_source=twitter&amp;utm_medium=oa&amp;utm_content=cnnindonesia&amp;utm_campaign=cmssocmed&amp;__twitter_impression=true">&#8220;Sandi Uno Targetkan Dana Turis Lokal Rp150 T Berputar di RI&#8221;</a></li><li>Kumparan &#8211; <a href="https://m.kumparan.com/kumparannews/syuting-non-iklan-dan-pakai-drone-di-candi-borobudur-kini-tak-gratis">&#8220;Syuting Non-iklan dan Pakai Drone di Candi Borobudur Kini Tak Gratis&#8221;</a></li><li>Tribun News &#8211; <a href="https://jogja.tribunnews.com/2016/03/22/ini-dia-model-parkour-di-iklan-red-bull-kontroversial?page=2">&#8220;Ini Dia Model Parkour di Iklan Red Bull Kontroversial&#8221;</a></li><li>Kompas.com &#8211; <a href="https://regional.kompas.com/read/2021/01/31/14125291/menag-jadikan-borobudur-rumah-ibadah-buddha-dunia-ganjar-ini-berita">&#8220;Menag Jadikan Borobudur Rumah Ibadah Buddha Dunia, Ganjar: Ini Berita Menggembirakan&#8221;</a></li><li>Kompas.com &#8211; <a href="https://interaktif.kompas.id/baca/candi-borobudur-yang-tersakiti/">&#8220;Sejarah Panjang Candi Borobudur yang Tersakiti&#8221;</a></li><li>Kompas.com &#8211; <a href="https://travel.kompas.com/read/2017/07/04/082400127/jangan.ditiru.kelakuan.buruk.turis.indonesia.di.candi.borobudur?page=all">&#8220;Jangan Ditiru! Kelakuan Buruk Turis Indonesia di Candi Borobudur&#8221;</a></li><li>Detik.com &#8211; <a href="https://news.detik.com/berita/d-1748943/borobudur-terancam-dicabut-sebagai-warisan-dunia-pengunjung-disalahkan">&#8220;Borobudur Terancam Dicabut Sebagai Warisan Dunia, Pengunjung Disalahkan&#8221;</a></li><li>Buddhazine.com &#8211; <a href="https://buddhazine.com/candi-borobudur-tempat-suci-umat-buddha/">&#8220;Candi Borobudur Tempat Suci Umat Buddha&#8221;</a></li><li>Aditya Purnomo Aji &#8211; <a href="https://issuu.com/adityapurnomoa/docs/final_project_presentation_-_aditya">&#8220;Identifikasi Model Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Candi Borobudur&#8221;</a></li></ul><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/03/25/candi-borobudur-tempat-suci-atau-asbak-terbesar-di-dunia/">Candi Borobudur: Tempat Suci atau Asbak Terbesar di Dunia?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/03/25/candi-borobudur-tempat-suci-atau-asbak-terbesar-di-dunia/">Candi Borobudur: Tempat Suci atau Asbak Terbesar di Dunia?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BWCF 2020 &#8211; Jiwa di Balik Ragam Flora Relief Borobudur</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-jiwa-di-balik-ragam-flora-relief-borobudur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2020 07:52:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[baca relief]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[Borobudur Writers & Cultural Festival]]></category>
		<category><![CDATA[BWCF 2020]]></category>
		<category><![CDATA[candi borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[flora]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5700</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Relief Borobudur adalah sumber pengetahuan ekologis sekaligus inspirasi untuk berkarya sepenuh hati demi semua makhluk.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-jiwa-di-balik-ragam-flora-relief-borobudur/">BWCF 2020 – Jiwa di Balik Ragam Flora Relief Borobudur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-jiwa-di-balik-ragam-flora-relief-borobudur/">BWCF 2020 &#8211; Jiwa di Balik Ragam Flora Relief Borobudur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Samantha J.</p>



<p>Pandemi COVID-19 membuat pola hidup kita semua berubah drastis. Laju kehidupan yang serbacepat bahkan sempat melambat. Perubahan ini memberi kita kesempatan untuk mengamati hal-hal yang biasanya tidak kita sadari, salah satunya adalah ekologi. Virus yang merebak di seluruh dunia seolah merupakan panggilan Ibu Bumi pada kita, “anak-anak” yang terlampau larut dalam pencarian materi sehingga nyaris durhaka pada Sang Ibu yang telah memberikan kehidupan. Mungkin ini yang melatarbelakangi pemilihan tajuk “Bhumisodhana: Ekologi dan Bencana dalam Refleksi Kebudayaan Nusantara” sebagai tema Borobudur Writers &amp; Cultural Festival 2020. </p>



<p>Bagian dari acara ini yang ingin saya ceritakan juga merupakan sesuatu yang biasanya luput dari perhatian saya dan jutaan wisatawan maupun pencari Dharma yang mengagumi relief di Candi Borobudur kebanggaan bangsa kita, yaitu webinar baca relief bertema “Relief Flora di Candi Borobudur” bersama Dr. Destario Metusala &amp; Drs. Handaka Vijjananda, Apt. di hari kedua Borobudur Writers &amp; Culture Festival (BWCF) 2020, tanggal 21 November lalu. </p>



<h5>Dharma pohon &#8211; Flora dari sudut pandang Buddhis</h5>



<p>Webinar dimulai dengan pemaparan dari Pak Handaka seputar pentingnya tumbuh-tumbuhan, khususnya pohon, dalam Buddhadharma. Berbagai peristiwa penting dalam riwayat hidup Buddha Shakyamuni seperti kelahiran Beliau, meditasi pertama, pencapaian penerangan sempurna, hingga parinirwana terjadi di bawah naungan pohon. Dalam ajaran Buddha, tanaman dianggap sebagai benda hidup yang bernafas meski tak memiliki kesadaran. Aturan dalam Winaya Pitaka pun melarang perusakan pohon. </p>



<p>Sang Buddha sendiri sangat sering memberikan pengajaran Dharma dengan kiasan tanaman atau pohon. Jadi, dalam Buddhadharma, pohon dan aneka tanaman lainnya bukan hanya sumber kehidupan, tapi juga sumber kebijaksanaan yang harus dihormati dan dipelihara dengan sepenuh hati.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/kvQS7DO9zjGd1b4yVBt-d70qWdw_kY4KBhkgTolG_TlB-kPRSqvTycLn32sWSWUsunEU0fsL72lcgCwTNiN61YAcNKllEIlvH1Mmr2rsdvizlXbY5KHQwq9WDRhaCiI8Z-RmK7wW" alt=""/><figcaption>Kiasan pohon dalam kitab Dharma “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lakon-hidup-sang-penerang/">Lakon Hidup Sang Penerang</a>” (<em>Bodhisattva-caryavatara</em>) karya Arya Shantidewa<br>(Sumber foto: BWCF 2020)</figcaption></figure></div>



<h5>Relief Candi Borobudur: Potret Kebijaksanaan, Potret Keanekaragaman</h5>



<p>Webinar kemudian dilanjutkan oleh Dr. Destario yang menjelaskan hasil penelitiannya seputar flora dalam relief Candi Borobudur, khususnya bagian Sutra Lalitawistara yang menggambarkan riwayat Buddha Shakyamuni mulai dari kelahiran Beliau sebelumnya di alam dewa hingga pembabaran Dharma pertama kepada lima pertapa. Ternyata terdapat tidak kurang dari 84 spesies flora dapat ditemukan di relief Lalitawistara! </p>



<p>Setiap spesies tumbuhan ini diukir dengan sangat rinci dengan mengacu pada bentuk tanaman asli. Kerincian dan ketepatan inilah yang memungkinkan para peneliti mengidentifikasi setiap ukiran flora dengan cara yang kurang lebih sama dengan mengidentifikasi tanaman sungguhan di masa modern, baik dari bentuk batang, bentuk daun, jumlah dan arah tumbuh daun, buah, dan lain-lain. Bahkan tak hanya jenisnya yang beragam, setiap tanaman pun digambarkan dalam berbagai fase. Misalnya tanaman seroja digambarkan tidak hanya dalam bentuk mekar seperti yang umumnya ditemui, tapi juga dalam kondisi kelopak yang sudah gugur. Penempatan jenis tanaman juga menyesuaikan dengan adegan yang digambarkan. Pepohonan di adegan berlatar istana memiliki jenis yang berbeda dengan pepohonan di latar perkampungan rakyat jelata. Selain beberapa jenis flora yang secara khusus disebutkan dalam kitab Lalitawistara, dapat disimpulkan juga bahwa tumbuh-tumbuhan yang diukir dalam relief merupakan penggambaran yang cuku akurat mengenai keanekaragaman flora di Jawa kuno saat relief tersebut dibuat.</p>



<p>Keanekaragaman flora merupakan kekhasan yang bisa jadi hanya ada di relief Candi Borobudur. Banyak bangunan kuno lain yang memiliki relief yang tak kalah indah, misalnya Angkor Wat di Thailand, tapi flora yang ada dalam relief-relief tersebut hanya berfungsi sebagai dekorasi yang cenderung monoton karena hanya terdiri atas satu jenis. Dari temuan ini, Dr. Destario dan tim menyimpulkan bahwa leluhur kita yang membangun Candi Borobudur memandang keanekaragaman sebagai keindahan. Karena itulah mereka dengan telaten mengukir begitu banyak jenis flora dalam mahakarya yang menjadi persembahan tertinggi mereka kepada para Buddha sekaligus dana Dharma untuk semua orang yang kelak akan membaca relief-relief tersebut.</p>



<h5>Persembahan Tertinggi, Kerja Sepenuh hati</h5>



<p>Relief Candi Borobudur memang dapat disebut sebagai komik raksasa. Namun, relief ini bukan komik biasa. “Komik” di dinding Candi Borobudur merupakan penggambaran visual dari berbagai Sutra-Sutra Buddha yang mengandung kebijaksanaan adiluhung. Pak Handaka juga sempat memaparkan bahwa relief ini memungkinkan peziarah mancanegara memahami ajaran Buddha di Nusantara yang kala itu merupakan salah satu pusat Buddhadharma dunia tanpa terhalang tembok bahasa. Sesungguhnya sah-sah saja jika seniman-seniman pembuat relief ini hanya menggambarkan tanaman yang mudah dibuat berdasarkan ingatan, tapi mereka mengerahkan usaha ekstra dalam mengamati alam di sekitar mereka dan menangkapnya seakurat mungkin dalam bentuk ukiran batu tanpa kehilangan gaya artistik. Sebagai ilustrator amatir, saya pun merasa tertampar karena malas mencari referensi dan puas dengan <em>template</em> yang disediakan oleh aplikasi. Padahal mengamati detail alam bisa dilakukan dengan mudah tanpa perlu beranjak dari tempat duduk!</p>



<p>Para seniman relief Borobudur tentu tidak berpikir, “Ah, ukir seadanya saja, <em>toh ndak </em>ada yang ngerti,” melainkan dengan sepenuh hati membaktikan diri dalam mengukir dana tertinggi mereka yang berbentuk Dharma dalam bentuk rangkaian ukiran raksasa panel demi panel. Usaha tentu tidak mengkhianati hasil. Berkat kerja keras mereka, selain mendapatkan pengetahuan ilmiah seputar keanekaragaman flora di Jawa kuno, kita yang hidup di zaman modern yang serba instan dan miskin spiritualitas bisa mendapatkan inspirasi dari para seniman Jawa kuno untuk berkarya dengan sepenuh jiwa demi semua makhluk yang tak terhingga banyaknya.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-jiwa-di-balik-ragam-flora-relief-borobudur/">BWCF 2020 – Jiwa di Balik Ragam Flora Relief Borobudur</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/11/25/bwcf-2020-jiwa-di-balik-ragam-flora-relief-borobudur/">BWCF 2020 &#8211; Jiwa di Balik Ragam Flora Relief Borobudur</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
