<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>triratna - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/triratna/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Thu, 25 Apr 2024 04:55:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>triratna - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Apr 2024 04:31:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Berlindung]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh cinta]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[Tiratana]]></category>
		<category><![CDATA[Tisarana]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9040</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sikap yang kita muncul saat sedang jatuh cinta itu sama seperti sikap yang harus kita timbulkan sewaktu kita berlindung (Tisarana) kepada Triratna. Triratna telah memiliki segala kualitas terunggul dan amat mahir menolong kita terbebas dari samsara. Hal ini seharusnya membuat kita kagum dan hormat kepada Triratna. Selanjutnya, kita juga seharusnya menjadi bersemangat setiap kali mengingat kualitas-kualitas agung Triratna beserta manfaat-manfaat yang kita peroleh dari melakukan Tisarana. Dengan demikian, seperti orang yang jatuh cinta, bukankah wajar apabila seharusnya kita juga ingin menyenangkan Triratna?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Selama kita hidup sebagai manusia, rasanya paling tidak kita pernah sekali merasakan jatuh cinta. Entah karena tingkah sang dambaan hati yang lucu, wajahnya yang rupawan, ataupun sekadar karena terlanjur nyaman. Meskipun terlihat bervariasi, namun jatuh cinta ini seringkali berawal dari <strong>kekaguman</strong> kita kepada seseorang. Lalu, ketika kita jatuh cinta pun rasa-rasanya kita jadi<strong> lebih ceria</strong> dalam menjalani hari. Kita juga jadi <strong>bersemangat</strong> setiap kali membicarakannya dan rela melakukan apapun agar dapat menyenangkannya.</p>



<p>Ternyata, setelah dipikir-pikir lagi, sikap yang kita muncul saat sedang jatuh cinta itu sama seperti sikap yang harus kita timbulkan sewaktu kita berlindung (Tisarana) kepada Triratna. Argumen ini bukan tanpa alasan, ya. Apabila kita renungkan dengan lebih mendalam, Triratna telah memiliki <strong>segala kualitas terunggul dan amat mahir menolong kita terbebas dari samsara.</strong> Hal ini seharusnya membuat kita<strong> kagum dan hormat </strong>kepada Triratna. Selanjutnya, kita juga seharusnya <strong>menjadi bersemangat </strong>setiap kali mengingat kualitas-kualitas agung Triratna beserta manfaat-manfaat yang kita peroleh dari melakukan Tisarana. Dengan demikian, seperti orang yang jatuh cinta, bukankah wajar apabila seharusnya kita juga ingin menyenangkan Triratna?</p>



<p>Salah satu cara untuk menyenangkan Triratna adalah dengan menjaga Tisarana melalui praktik sila-sila Tisarana yang penuh kesadaran dengan konsisten. Nah setelah sebelumnya terdapat penjelasan tentang sila-sila penghindaran, dalam kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas terkait sila-sila penguatan, yang merupakan kelanjutan dari sila-sila pribadi berdasarkan risalah Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan. Berikut adalah sila-sila penguatan Tisarana.</p>



<ol><li><strong>Menganggap Semua Bentuk yang Melambangkan Buddha sebagai Buddha yang Sebenarnya</strong><br>Seperti kita yang melihat foto orang yang kita sayangi sebagai bentuk yang nyata, berharap seolah-olah ia ada di hadapan kita saat ini, demikian juga dengan sila penguatan Tisarana yang pertama. Seseorang yang telah Tisarana kepada Buddha harus menganggap semua bentuk fisik yang melambangkan Buddha sebagai Buddha yang sebenarnya. Hal ini mencakup rupang yang rusak atau yang bentuknya kurang sempurna, maupun yang dibuat dari bahan yang kurang berkualitas.<br><br>Banyak dari kita yang lebih tertarik kepada rupang yang terbuat dari logam atau rupang yang berasal dari India karena lebih perlente dan seolah-olah lebih mampu untuk membangkitkan keyakinan. Di sisi lain, kita cenderung menghindari rupang yang terbuat dari tanah liat dan bahkan membuang rupang yang telah rusak dan hancur, karena dianggap kurang menarik dan hanya mampu untuk membangkitkan sedikit keyakinan. Padahal keyakinan adalah aspek internal yang seharusnya dibangkitkan oleh diri sendiri, bukan bergantung kepada bentuk dari objek eksternal. Terlebih lagi menurut Guru-Guru Lamrim terdahulu, tindakan membuang rupang dari rumah seseorang sama saja dengan membuang kebajikan itu sendiri.</li></ol>



<ol start="2"><li><strong>Menghormati Bahkan Satu Huruf Tulisan sebagai Permata Dharma</strong><br>Ketika kita mendapatkan <em>chat</em> via WhatsApp maupun kartu ucapan ulang tahun dari orang yang kita sayangi, pastinya kita akan memperhatikan pesan tersebut dengan penuh penghayatan, mulai dari kata per kata atau bahkan sampai memperhatikan huruf dan tanda bacanya dengan detail. Demikian juga dengan sila penguatan Tisarana yang kedua ini, yakni kita harus menghormati setiap huruf sebagai Permata Dharma. Mengapa? Sebabnya, tanpa satu huruf tersebut, kita tidak akan mungkin untuk belajar Dharma sama sekali.<br><br>Meskipun terdengar mudah, nyatanya kita akan sangat mudah menemukan pelanggaran sila ini dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kita mungkin sering meletakkan buku di lantai, melangkahi buku sewaktu terburu-buru, menggunakan ludah di tangan untuk membalik halaman buku yang lengket, dsb. Padahal, tindakan ini merupakan bentuk tindakan yang tidak menghormati Dharma. Dikatakan juga dalam buku ‘Pembebasan di Tangan Kita’ Jilid II, bahwa sikap tidak menghormati Dharma dan Guru Dharma merupakan penyebab seseorang untuk menjadi bodoh secara intelektual pada kehidupan-kehidupan yang akan datang.</li></ol>



<ol start="3"><li><strong>Menghormati Bahkan Sepotong Kain dari Jubah Seorang Biksu sebagai Permata Sangha</strong><br>Pada umumnya, kita pasti pernah mengajak orang yang kita sayangi untuk menghabiskan waktu bersama ke tempat-tempat yang kita anggap menarik. Uniknya, terkadang kita turut menyimpan berbagai memento untuk mengingat dan menghargai momen tersebut, seperti menyimpan tiket bioskop, foto, aksesoris, dsb. Barang-barang itu kemudian akan begitu kita hargai dan jaga dengan penuh. Nampaknya, hal ini mirip dengan sila penguatan Tisarana yang ketiga. <br><br>Pada sila ini, kita harus memperlakukan Sangha dengan sangat hormat. Tidak hanya kepada sosoknya semata, tetapi juga menghormati bahkan sepotong kain merah atau kuning dari jubah Sangha yang terjatuh ke tanah maupun potongan kain dengan warna yang menyerupai jubah Sangha. Mengapa demikian? Sebabnya, sila ini membantu kita untuk mengingat kembali dan menyadari perbedaan utama antara Sangha dengan umat awam, yaitu dalam aspek jumlah sila yang diambil. Tentunya, kita harus menghormati Sangha, karena Sangha telah berkomitmen untuk melatih diri dengan cara mengambil sila yang jauh lebih banyak daripada kita.</li></ol>



<p><strong>Penutup</strong><br>Meskipun terlihat sederhana, penerapan sila-sila Tisarana, khususnya sila-sila penguatan, dalam kehidupan sehari-hari ini tidak mudah, lho!! Setelah membaca penjelasan singkat di atas, mungkin juga akan timbul pertanyaan di dalam diri sendiri, seperti “Apakah kita mampu melaksanakan sila-sila Tisarana secara konsisten dengan kesadaran penuh? Apakah kita mampu mengeluarkan usaha dalam Tisarana sama besarnya atau bahkan lebih besar daripada saat kita berjuang mendapatkan cinta?”&nbsp;</p>



<p>Apabila memang dirasa belum mampu, janganlah berkecil hati. Sebagai langkah awal, kita dapat mulai melatih membiasakan diri menerapkan sila-sila penguatan Tisarana yang telah disebutkan sebelumnya setahap demi setahap. Perlu diingat juga bahwa selayaknya kita yang jatuh cinta (seperti di film-film), tidak semua ekspresi cinta perlu dibuktikan dalam bentuk yang mewah maupun meriah, justru hal-hal sederhana yang konsisten merupakan sebuah perwujudan cinta yang sesungguhnya dan tentunya lebih romantis, bukan?</p>



<p>Referensi:<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Apr 2024 04:11:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Berlindung]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[Sila-Sila Berlindung]]></category>
		<category><![CDATA[Sila-Sila Tisarana]]></category>
		<category><![CDATA[Tiratana]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<category><![CDATA[umat Buddha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9018</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam bahasa Inggris, kalimat “Buddham saranam gacchami” diterjemahkan sebagai ‘I go to the Buddha for refuge’.Terjemahan tersebut jika diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Aku pergi berlindung kepada Buddha’. Kata “pergi” ini penting karena menunjukan makna bahwa kita memerlukan sebuah aksi aktif untuk mencapai perlindungan. Berdasarkan Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, untuk menjaga agar Tisarana kita menjadi aksi nyata dan tidak menjadi ‘omon-omon’ semata, seorang praktisi harus menjalankan sila-sila Tisarana.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="wp-block-quote"><p>Buddham saranam gacchami,<br>Dhammam saranam gacchami,<br>Sangham saranam gacchami.</p></blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>I go to the Buddha for refuge,<br>I go to the Dhamma for refuge,<br>I go to the Sangha for refuge.</p></blockquote>



<p>Dalam bahasa Inggris, kalimat “<em>Buddham saranam gacchami</em>” diterjemahkan sebagai ‘<em>I <strong>go to</strong> the Buddha for refuge</em>’.Terjemahan tersebut jika diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Aku <strong>pergi </strong>berlindung kepada Buddha’. Ya, ada kata “pergi” dalam terjemahan tersebut, berbeda dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang biasa kita temui, yaitu “Aku berlindung kepada Buddha”.</p>



<p>Meskipun tampak sepele, namun hilangnya kata “pergi” menimbulkan miskonsepsi yang signifikan terhadap konsep Tisarana yang pernah kita pelajari di sekolah maupun vihara selama ini. Kata “pergi” ini penting karena menunjukan makna bahwa kita memerlukan sebuah aksi aktif untuk mencapai perlindungan, bukan hanya ‘omon-omon’ semata, lebih-lebih supaya terlihat sebagai seorang Buddhis saja.</p>



<p>Sebenarnya, tanpa perlu kita beri rayuan maupun janji-janji manis, Sang Buddha telah memiliki welas asih yang tidak terbatas dan tidak berubah kepada semua makhluk. Selain itu, Sang Buddha juga mampu berada di mana saja dan kapan saja. Berdasarkan hal itu, tentu saja Sang Buddha jelas selalu mau dan mampu untuk memberikan perlindungan kepada kita serta semua makhluk. Namun, layaknya matahari yang senantiasa bersinar namun tak mampu menembus goa gelap; perlindungan Sang Buddha juga tidak dapat kita peroleh jika kita tidak mengarahkan usaha kita sendiri untuk pergi berlindung.</p>



<p>Lebih spesifik lagi, dalam kaitannya dengan Tisarana, aspek ‘aksi’ inilah yang membedakan hasil akhir dari Tisarana seorang Buddhis. Berdasarkan Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, untuk menjaga agar Tisarana kita menjadi aksi nyata dan tidak menjadi ‘omon-omon’ semata, seorang praktisi harus menjalankan sila-sila Tisarana. Nah, dalam kesempatan kali ini, mari kita bahas sedikit sila-sila penghindaran, yang merupakan bagian dari sila-sila pribadi seorang praktisi yang sudah mengambil perlindungan!</p>



<ol><li><strong>Tidak Menyatakan Perlindungan kepada Objek Selain Sang Triratna</strong><br>Ketika seseorang telah memahami alasan untuk Tisarana, mengenali kualitas-kualitas terunggul Sang Triratna, dan memahami manfaat-manfaat dari Tisarana; maka akan sangat aneh apabila ia juga menyatakan perlindungan kepada objek-objek dengan kualitas yang lebih rendah, seperti dewa-dewi duniawi, naga, dan makhluk-makhluk halus kuat lainnya. Perlu diperhatikan kembali bahwa <strong>kita boleh </strong>saja untuk berdoa dan memberikan persembahan kepada mereka, terutama jika kita membutuhkan bantuan dalam mempraktikkan Dharma. Namun, kita <strong>tidak boleh</strong> menyatakan perlindungan kepada mereka, karena ketika kita memegang dua objek Tisarana yang berbeda, maka kita akan menghancurkan nilai Tisarana kita pada Sang Triratna dan mengeluarkan kita dari komunitas Buddhis.</li><li><strong>Tidak Menyakiti Makhluk Lain</strong><br>Apabila memang kita benar bersungguh-sungguh menyatakan Tisarana kepada Sang Triratna, maka sudah sewajarnya kita meneladani kualitas Sang Buddha yang selalu memancarkan welas asih kepada semua makhluk. Terlebih lagi berdasarkan hukum karma, salah satu akibat dari membunuh atau menyakiti makhluk lain adalah terlahir di alam menderita, sesuatu yang amat kita takuti. Oleh karena itu, jangan dengan sengaja menyakiti makhluk lain, bahkan melalui tindakan seperti meminta pajak berlebihan kepada sesama manusia maupun memaksa hewan untuk membawa beban berlebih.</li><li><strong>Tidak Bergabung dengan Non-Buddhis</strong><br>Untuk menjaga keyakinan dan meningkatkan Tisarana, kita dianjurkan untuk tidak bergaul dengan orang-orang yang meragukan kebenaran Sang Triratna dan hukum karma, serta dengan orang-orang yang mengkritik bahwa ajaran-ajaran yang kita pelajari selama ini merupakan karangan yang dibuat oleh para biksu maupun guru yang licik. Sila ini menjadi sangat penting, khususnya bagi kita yang belum memiliki keyakinan yang kokoh, karena apabila kita tetap bergaul dengan mereka, ditakutkan kita akan terpengaruh oleh pemahaman salah yang mereka miliki. Sila ini juga sesuai dengan salah satu bait dalam Mangala Sutta, yaitu:</li></ol>



<p class="has-text-align-center">“Tak bergaul dengan orang-orang dungu,<br>bergaul dengan para bijaksana,<br>dan menghormat yang patut dihormat,<br>itulah berkah utama.”</p>



<p><strong>Penutup</strong><br>Tisarana telah menjadi salah satu hal yang umum dalam kehidupan umat Buddha. Namun apabila kita dapat meluangkan waktu sejenak untuk melihat keseharian kita, mari renungkan pertanyaan ini: Apakah kita telah melakukan Tisarana dengan baik dan benar? Apakah Tisarana kita telah menjadi aksi yang aktif dan bukan hanya ‘omon-omon’ saja? Jika memang kita masih belum melaksanakan Tisarana dengan maksimal, maka lekaslah bergerak saat ini juga! Sebabnya,Tisarana tidak akan pernah memberikan hasil apabila tidak ada aksi nyata untuk meraihnya. Pertama-tama, yuk latih diri untuk menjalani sila-sila yang telah disebutkan di atas!</p>



<p>Referensi:<br>Terjemahan Tisarana dalam bahasa Inggris dalam halaman accesstoinsight.org<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Siapakah Buddha? Buddha Adalah Kita!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/06/16/siapakah-buddha-buddha-adalah-kita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2020 10:22:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Cara Mejadi Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4961</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Shierlen Octavia Ketika mendengar kata “Buddha”, hal apa yang pertama kali terlintas di benak kita? Jawabannya mungkin akan sangat beragam sebab kata “Buddha” pun sesungguhnya menyandang banyak makna, tergantung dari perspektif yang kita gunakan. Ada yang mengingat Buddha sebagai Pangeran Siddhartha, ada yang lalu mengingat arti kata Buddha, yaitu “yang tersadarkan”. Kemudian, ada pula [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/06/16/siapakah-buddha-buddha-adalah-kita/">Siapakah Buddha? Buddha Adalah Kita!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/06/16/siapakah-buddha-buddha-adalah-kita/">Siapakah Buddha? Buddha Adalah Kita!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Shierlen Octavia</p>



<p>Ketika mendengar kata “Buddha”, hal apa yang pertama kali terlintas di benak kita? Jawabannya mungkin akan sangat beragam sebab kata “Buddha” pun sesungguhnya menyandang banyak makna, tergantung dari perspektif yang kita gunakan. Ada yang mengingat Buddha sebagai Pangeran Siddhartha, ada yang lalu mengingat arti kata Buddha, yaitu “yang tersadarkan”. Kemudian, ada pula yang mungkin mengingat Buddha sebagai sebuah kualitas—benih yang disebut-sebut ada di dalam diri setiap makhluk hidup. Meskipun begitu, hingga 2000-an tahun berlalu, Buddha yang kita tahu masihlah Buddha Shakyamuni seorang dan tak pernah barang sekali pun kita mendengar ada nama Buddha lain yang hidup di dunia modern. Kalau semua orang punya benih Kebuddhaan, kok sampai sekarang belum ada Buddha yang baru? Benarkah pernyataan bahwa kita memiliki benih Kebuddhaan?</p>



<p>Sebelum membahas mengenai benar atau tidaknya pernyataan di atas, kita mengetahui dengan pasti bahwa sosok Buddha yang dikenal oleh khalayak umum adalah sesosok manusia bernama Siddhartha Gautama yang terlahir sebagai seorang pangeran di Kerajaan Kapilawastu beribu tahun yang lalu. Sama seperti masa sekarang, Buddha di zaman dulu tidak terdiri dari banyak orang yang bisa kita temukan di mana-mana, lalu kita sapa dengan santai layaknya bertemu kawan lama. Kelangkaan ini bahkan tergambarkan dalam sebuah kejadian dalam kehidupan Buddha Shakyamuni. Dahulu kala, ketika Buddha tengah berdiam di Kota Āpana, ada seorang guru Brahmana bernama Sela yang kala itu mendengar kata “Buddha”. Ketika mendengarnya, Beliau berkata, “Sungguh jarang mendengar kata ‘Buddha, Buddha’ di dunia ini”. Akan tetapi, sebenarnya yang lebih jarang lagi adalah munculnya seorang Buddha. Hal ini karena untuk menjadi Yang Tersadarkan, kita harus menyempurnakan parami selama masa hidup yang amat sangat panjang.</p>



<p>Mengetahui hal tersebut, mungkin akan timbul keraguan di hati kita mengenai kebenaran Buddha dalam wujud kualitas—benih Kebuddhaan di dalam diri kita. Soalnya, kemungkinan kita untuk menjadi seorang Buddha rasanya sama mustahilnya seperti kemungkinan monyet akan bertelur. Setelah 2564 tahun lamanya kita mati lalu terlahir, lalu mati dan terlahir dalam siklus kehidupan yang tak terhitung, hingga kini kita masih saja manusia biasa yang terjebak di lingkaran samsara. Itu baru sebagian kecil dari perjalanan para bakal Buddha untuk mencari obat dari lahir, tua, sakit, dan mati yang lamanya lebih dari 550 kisah Jataka yang pernah dikisahkan oleh Buddha. Dibutuhkan empat asankheyya dan seratus ribu kalpa lamanya hingga Buddha yang kini kita kenal dengan nama Buddha Shakyamuni bisa mencapai kesempurnaan, dengan catatan bahwa satu kalpa saja setara dengan belasan juta tahun.</p>



<p>Meskipun tampak mustahil, jikalau kita pikir-pikir lebih jauh, sosok Buddha Shakyamuni sesungguhnya tidaklah jauh berbeda dengan kita. Pertama, Beliau mulanya adalah manusia yang sama seperti kita. Kedua, Beliau menyadari bahwa hidup dalam samsara tidak membawa kebahagiaan sejati dan bertekad untuk keluar darinya. Dalam hal ini, kita pun sama. Kita mengetahui dari Beliau betapa jahanamnya samsara, lengkap beserta dengan jalan untuk mengakhirinya. Ketiga, kualitas yang Beliau miliki pun pada dasarnya kita miliki. Sebagai contoh, kita memiliki kualitas wirya (<em>viriya</em>), yang secara ringkas diartikan sebagai kualitas semangat walaupun tentunya belum kokoh dan tak dapat digentarkan seperti Buddha. Artinya dalam hal ini, hanya satu hal yang membedakan kita dengan Beliau: Buddha sudah menyempurnakan kualitas tersebut sementara kita masih dalam perjalanan untuk sampai ke sana.</p>



<p>Berbeda dengan kita yang kadang naik kadang surut dalam upaya mencapai Kebuddhaan, para Buddha pendahulu tidak pernah patah semangat dan selalu gencar dalam praktiknya. Pengetahuan paripurna tentang kehidupan yang kini kita terima sebagai Dharma berasal dari pencapaian Beliau, hasil dari rentetan uji coba yang tak jarang menemui kegagalan dan hambatan. Beliau telah melalui tak terhitung banyaknya kehidupan, dan tak ada satu pun dari kehidupan yang Beliau jalani berlalu dengan sia-sia. Dari Jataka dan kitab-kitab, kita tahu bahwa selalu ada usaha yang diberikan di dalamnya untuk menolong semua makhluk. Hal ini merupakan salah satu kualitas yang sangat patut dikagumi, sebab tak pernah ada sejarah Buddha membeda-bedakan antara satu makhluk dengan yang lainnya. Buddha menolong siapa saja, baik yang merugikan maupun menguntungkannya. Bahkan Buddha mengasihi Dewadatta yang berulang kali mencoba membunuhnya sama seperti mengasihi anak kandungnya sendiri!</p>



<p>“Yah, bedalah antara kita dan Buddha, Buddha ‘kan selalu terlahir jadi makhluk-makhluk agung. Kita <em>mah </em>cuma remah-remah rengginang.”</p>



<p>Jika kita berpikir seperti itu, kita mungkin lupa atau belum pernah dengar kata Buddha yang satu ini: Buddha pernah menganalogikan jumlah kisah hidup yang Ia ceritakan dan jumlah pengalaman-Nya yang sebenarnya sebagai semangkuk air laut dan samudra. Hal yang kita kira sudah kita ketahui dengan jelas sesungguhnya bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan keseluruhan perjuangan Beliau. Semangkuk kisah luar biasa tentang keagungan Buddha bisa ada berkat satu samudra perjuangan-Nya jatuh bangun melawan klesha di enam alam kehidupan yang mungkin tak jauh berbeda dengan apa yang kita lalui.</p>



<p>Mengetahui hal ini, tentunya tidak mengherankan apabila banyak kitab yang menyebutkan bahwa Buddha adalah sosok sempurna. Kesempurnaan yang dimiliki Buddha bukan hanya ongkos mulut semata. Beliau memiliki empat jenis tubuh (Svabhavakaya, Jnana-dharmakaya, Sambhogakaya, dan Nirmanakaya). Sambhogakaya Buddha yang terdiri dari 32 tanda utama dan 80 tanda sekunder eksis bukan untuk pertunjukan teatrikal belaka. Tubuh fisiknya tersebut memungkinkan Beliau untuk bertindak dengan ahli—tidak hanya memberikan apa yang kita butuhkan, tetapi juga yang kita inginkan. Sebagai manusia biasa, kita sering kali gagal untuk memenuhi salah satu dari keduanya. Saat kita bisa memberikan yang orang lain butuhkan, kita gagal memberikan yang mereka inginkan. Begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, Buddha, mampu mencerahkan banyak orang dengan masing-masing keinginan dan tingkat pemahaman yang berbeda, hanya dengan mengucapkan satu kalimat yang sama.</p>



<p>Buddha berawal dari eksistensi-Nya sebagai manusia. Pernyataan ini saja sesungguhnya sudah memberikan petunjuk bahwa Kebuddhaan adalah potensi terbesar yang bisa kita wujudkan sebagai manusia, terlepas dari ras dan suku kita, bahasa yang kita gunakan, latar belakang keluarga yang kita miliki, kaya atau miskin—apapun itu. Tidak pernah kita temukan dalam satu bagian dari kitab mana pun yang menyebutkan misal: orang Indonesia tidak bisa jadi Buddha karena ia tidak mengerti bahasa Pali; atau orang miskin tidak bisa menempuh jalan Kebuddhaan. Hal tersebut karena tidak ada kondisi apa pun yang sebenarnya mengekang kita untuk menjadi Buddha dengan tubuh manusia, kalau bukan diri kita sendiri yang memang tidak menghendakinya. Buddha sendiri, sang revolusioner agung yang membawa makna sejati dari hakikat kehidupan ini pun berkata bahwa seseorang tidak menjadi mulia karena dilahirkan dalam keluarga tertentu. Beliau menjadi mulia karena perilakunya. Oleh sebab itu, adanya kesempatan untuk berperilaku seperti yang telah diajarkan guru kita, Buddha, adalah yang sebab nilai kehidupan kita sebagai manusia menjadi berharga.</p>



<p>Keagungan Sang Buddha ini mungkin bisa membuat kita berkecil hati di hadapan Beliau. Akan tetapi bagi saya, Buddha justru memberikan secercah harapan. Menurut saya, Buddha dan kita ibarat bunga yang sudah mekar dan benih bunga yang baru akan tumbuh. Benih bunga memiliki kualitas-kualitas yang nantinya akan tumbuh menjadi bunga. Karena masih berbentuk benih, maka kita tidak bisa melihat kelopak, putik, atau mahkota bunganya. Akan tetapi, kita tahu bahwa ketika kita berusaha menyiram, memupuk, dan menyingkirkan hama yang bisa merusaknya, benih tersebut akan berkembang menjadi bunga yang cantik lengkap dengan kelopak, putik, mahkota, dan bagian lainnya yang semula tak bisa kita lihat. Kondisi kita saat ini juga demikian. Kita masih diliputi hama bernama klesha dan kita jarang menyiram diri kita dengan air yang bernama perbuatan bajik. Makanya, kita merasa Buddha adalah sesuatu yang teramat sangat jauh dan berjarak dengan diri kita. Padahal, jika kita renungkan baris-baris sebelumnya, kita tahu bahwa kita tidak kekurangan kualitas yang juga dimiliki Beliau sebelum mencapai Kebuddhaan. Kita tidak perlu merasa iri pada Pangeran Siddharta yang sudah berhasil apalagi merasa tidak mampu.</p>



<p>Meskipun sulit, dari sini kita tahu bahwa pada dasarnya manusia pasti memiliki modal untuk menjadi seorang Buddha. Kita bisa melihat usaha-usaha luar biasa dari para ilmuwan zaman dahulu yang mesti gagal bahkan hingga ribuan kali sebelum berhasil menemukan banyak hal yang kini menyokong kehidupan manusia. Hal ini adalah sebuah pertanda baik dan bahan bakar bagi kita untuk meyakini bahwa kelahiran kita sebagai manusia memiliki potensi tak terbatas yang bisa melesat jauh, seminimal-minimalnya bahkan bisa seperti para ilmuwan itu. Oleh karena itu, biarpun jalan yang kita lalui sudah pasti akan menjadi jalan yang panjang dan sulit, namun usaha mencapai Kebuddhaan yang lengkap sempurna tidaklah mustahil, apalagi sia-sia.</p>



<p>Sama seperti kalimat guru Brahmana bernama Sela pada zaman Buddha, nama “Buddha” mungkin jarang terdengar di sekitar kita. Akan tetapi, kita, dari 7,61 milyar manusia di muka bumi ini, masih bisa mendengar kata “Buddha”. Tak hanya itu, kita juga amat beruntung bisa memperoleh Dharma dan semangat Kebuddhaan dari seorang guru yang sudah mencapai tingkatan Buddha—yang menjadi sebab bagi munculnya Buddha itu sendiri di dalam diri kita. Buddha telah berpesan bahwa kerajaan terbesar yang dapat ditaklukkan oleh seorang manusia sebenarnya terletak di dalam diri kita sendiri. Jika kita dapat menguasai kerajaan ini seutuhnya, niscaya kebahagiaan sejati yang melampaui ruang dan waktu akan menjadi milik kita selamanya. Pertanyaan yang tersisa hanya satu: seberapa besar keinginan kita mencapai Kebuddhaan untuk menolong semua makhluk dan usaha kita untuk mewujudkannya?</p>



<p>Referensi:</p>



<p>1.&nbsp; &nbsp; &nbsp; “Kitab Komentar <em>Buddha-Nature</em>: Mahayana-Uttaratantra-Shastra” oleh Dzongsar Jamyang Khyentse Rinpoche</p>



<p>2.&nbsp; &nbsp; &nbsp; “Riwayat Agung Para Buddha” Jilid I oleh Tipitakadhara Mingun Sayadaw</p>



<p>3.      “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">Pembebasan di Tangan Kita</a>” Jilid II oleh Phabongkha Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/06/16/siapakah-buddha-buddha-adalah-kita/">Siapakah Buddha? Buddha Adalah Kita!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/06/16/siapakah-buddha-buddha-adalah-kita/">Siapakah Buddha? Buddha Adalah Kita!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hei, Bambank, Buddha di Altar Bukan Cuma Patung Pajangan!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/05/12/hei-bambank-buddha-di-altar-bukan-cuma-patung-pajangan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 May 2020 09:30:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Berhala]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhist]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<category><![CDATA[waisak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4895</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD Ada stigma yang beredar di masyarakat Buddhis maupun non-Buddhis Indonesia: bahwa umat Buddha itu menyembah patung, menyembah berhala, atau hanya menghormati sosok. Coba kita lihat stigma ini secara ringkas. Non-Buddhis menganggap umat Buddha menyembah patung atau berhala karena dianggap tidak memiliki sosok yang disebut Tuhan. Ada lagi yang berpendapat “Buddhisme itu cuma filsafat, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/12/hei-bambank-buddha-di-altar-bukan-cuma-patung-pajangan/">Hei, Bambank, Buddha di Altar Bukan Cuma Patung Pajangan!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/12/hei-bambank-buddha-di-altar-bukan-cuma-patung-pajangan/">Hei, Bambank, Buddha di Altar Bukan Cuma Patung Pajangan!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD</p>



<p>Ada stigma yang beredar di masyarakat Buddhis maupun non-Buddhis Indonesia: bahwa umat Buddha itu menyembah patung, menyembah berhala, atau hanya menghormati sosok.</p>



<p>Coba kita lihat stigma ini secara ringkas. Non-Buddhis menganggap umat Buddha menyembah patung atau berhala karena dianggap tidak memiliki sosok yang disebut Tuhan. Ada lagi yang berpendapat “Buddhisme itu cuma filsafat, jadi sebetulnya tidak membutuhkan sosok pemujaan”. Untuk kasus umat Buddha sendiri, biasanya beda istilah saja. Karena tidak mau dianggap “menyembah berhala” ataupun “menyembah patung”, beberapa orang menyatakan bahwa pemujaan kepada patung Buddha merupakan cara untuk mengingat jasa dan ajaran Beliau; tapi ujung-ujungnya, sosok Buddha dianggap sebagai sekadar ‘kenangan’ yang masih tersisa.</p>



<p>Kalau kita mundur selangkah dan membandingkan kedua pendapat ini, kita mungkin bisa menemukan kesamaan. Ternyata baik Buddhis maupun non-Buddhis sama-sama melihat rupang Buddha sebagai benda mati yang mentok-mentok hanya punya fungsi estetis, tak ada bedanya dengan foto atau lukisan yang kita pajang di rumah!</p>



<p>Apakah memang demikian seharusnya kita memaknai perlambang tubuh Buddha? Mari kita sama-sama merenung…</p>



<p>Jika seseorang non-Buddhis dan menganggap bahwa umat Buddha menyembah patung, kita bisa maklum. Toh mereka belum pernah mempelajari ajaran Buddha secara mendalam. Namun, di internet kita bisa melihat orang-orang yang mengklaim bahwa umat Buddha “asli” tidak peduli ada patung atau tidak, tidak menganggap perlambang tubuh Buddha memiliki nilai dan makna, sehingga tidak masalah kalau rupang dihancurkan atau diperlakukan sembarangan. Parahnya lagi, tidak sedikit umat Buddha yang mengamini klaim tersebut!</p>



<p>Buddhisme memang tidak mengenal konsep “Tuhan” sebagai pencipta dan asal muasal segalanya (kausa prima), tidak seperti agama Samawi yang lebih dikenal masyarakat luas. Ini merupakan salah satu perbedaan mendasar yang membuat kita tidak bisa memaknai berbagai hal yang menjadi ciri khas Buddhisme dengan cara yang sama dengan agama lain, termasuk dalam kasus ini: penggunaan rupang Buddha. Jadi, terlalu dini bagi orang yang belum pernah mendalami filsafat Buddhis untuk menerka-nerka cara seorang Buddhis seharusnya memaknai rupang Buddha hanya dengan apa yang terlihat oleh mata dan lantas menyebarkan terkaannya seolah-olah itu adalah benar.</p>



<p>Di sisi lain, umat Buddha sendiri juga seringkali menganggap Buddha sudah ‘meninggal’, hanya meninggalkan ajaran saja di dunia. Pola pikir demikian meninggalkan sebuah lubang besar di hati kita&nbsp;karena <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/tisarana-gerbang-memasuki-ajaran/">Triratna</a> sudah tidak lengkap lagi, hanya tertinggal Ratna Dharma dan Ratna Sangha. Lubang inilah yang rawan diisi oleh klesha keragu-raguan dan bisa menjadi alasan utama orang-orang mulai banyak berpindah agama, mempertanyakan manfaat dari belajar Buddhadharma, dan merasa terpaksa kalau harus ke wihara dan sejenisnya.</p>



<p>Ketika seorang Buddhis yang seperti ini mendengar seseorang berkata bahwa Buddhis menyembah berhala, dia akan mulai berpikir, “Hmm… Benar juga, ya…” Rasa minder pun muncul dan membuat orang ini menimbang antara berpikir untuk pindah agama atau menciptakan seribu satu alasan untuk menjustifikasi tindakan “menghormati patung Buddha” yang sesuai dengan logika filsafat non-Buddhis. Dari respons kedua ini, muncullah pandangan atau asumsi bahwa seorang Buddhis tidak peduli jika patung Buddha dihancurkan atau diinjak, bahwa bagi seorang Buddhis pun Buddha hanya ‘orang bijak yang dikagumi’ dan perlambang wujudnya ibarat foto kakek buyut kita atau foto pemenang hadiah Nobel semata.</p>



<p>Sebelum berpikir untuk pindah agama atau melakukan cocoklogi seperti di atas, mungkin ada baiknya kita melakukan sedikit usaha lebih untuk mencari tahu: bagaimana seharusnya umat Buddha memaknai patung Buddha? Apakah ada penjelasannya di dalam kitab-kitab? Saya mencoba mengumpulkan penjelasan-penjelasan itu dan akan membagikannya melalui tulisan ini. Tapi sebagai pembuka, satu ungkapan bagi Anda yang hanya menganggap rupang Buddha merupakan patung/simbol biasa: <strong>SAYANG SEKALI BAMBANK!</strong></p>



<p>Singkatnya, kita itu punya akses untuk mendapatkan perlindungan yang tak terbatas dari sosok Buddha. Menganggap suatu figur Buddha sebagai Buddha yang sebenarnya akan meningkatkan keyakinan, dan keyakinan berbanding lurus dengan usaha kita menerapkan ajaran Beliau. Semakin besar keyakinan kita, maka semakin baik pula kita menerapkan apa yang Beliau ajarkan, dan semakin besar pula manfaat yang kita dapat.</p>



<p>Jadi, jika bisa mendapatkan manfaat yang lebih besar, kenapa harus tidak percaya? Sebelum menarik kesimpulan, alangkah baiknya jika kita mencari lebih banyak ilmu di luar apa yang kita kira kita sudah tahu. Caranya, dengan menilik argumen-argumen yang berdasarkan kitab suci dan teks-teks yang telah diverifikasi guru-guru besar Buddhis.</p>



<p><strong>Jadi, inilah kenapa umat Buddha bukan hanya menyembah patung:</strong></p>



<p><strong>1.</strong> &nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Kemampuan Buddha yang tak terbatas: tubuh Dharmakaya Buddha berada dalam objek apa pun ketika kita bisa menganggapnya demikian.</strong></p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Sejauh mana kebijaksanaan menjangkau, sejauh itu pula jangkauan tubuh fisik Tathagatha.”</em></p><cite>&#8211; <em>Sutra Which Reveals the Inscrutable Mystery of the Tathagata</em> (dikutip dari Pembebasan di Tangan Kita Jilid II)</cite></blockquote>



<p>Banyak Sutra-sutra yang menjelaskan bahwa Buddha memiliki lebih dari satu tubuh. Riwayat Agung Para Buddha karya <em>Tipitakadhara</em> Mingun Sayadaw menjelaskan bahwa Buddha memiliki tubuh Rupakaya dan Dharmakaya. Sumber-sumber lain seperti Abhisamayalamkara karya Arya Maitreya juga menjelaskan bahwa ada 4 tubuh Buddha, yaitu Nirmanakaya, Sambhogakaya, Svabhavivakaya, dan Dharmakaya. Dikatakan bahwa Dharmakaya Buddha merupakan tubuh kebenaran yang tidak bisa dijelaskan, karena telah melampaui konsep, dualisme, dan seluas angkasa. Inilah salah satu aspek Buddha yang dapat dikenali sebagai ‘sifat’ <strong>Ketuhanan.</strong></p>



<p>Kualitas Buddha yang sudah sempurna dan memiliki banyak tubuh tersebut memiliki 10 kekuatan, 4 keberanian, 6 kebijaksanaan, dan 18 kualitas. Singkatnya, pencapaian Buddha merupakan pencapaian yang sudah maksimal dan kemampuan Beliau tak terbatas. Jadi, aspek-aspek tersebut memungkinkan Buddha untuk mematangkan batin para makhluk yang tak terhingga banyaknya. Dengan kualitas-kualitas yang tak terkira itu, kehadiran Buddha yang sesungguhnya saat kita memberikan penghormatan kepada patung atau gambar Buddha tentu bukan merupakan hal yang tidak mungkin.</p>



<p>Arya Shantidewa juga pernah mengatakan, “Dalam kegelapan ini, keinginan memuja Buddha atau ketika kita benar-benar sudah memuja beliau merupakan aktivitas Buddha, dan kita telah mendapatkan berkah dari Buddha.”</p>



<p><strong>2.</strong> &nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Bisa atau tidaknya kita melihat Buddha tergantung karma.</strong></p>



<p>Pada dasarnya, kita harus memahami bahwa kemampuan kita dalam memersepsikan objek adalah bergantung pada kemampuan kita memersepsikan apa yang ada di sekitar kita. Hal ini amatlah bergantung pada <a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Karma?id=seGMDwAAQBAJ">karma</a> dan klesha kita.</p>



<p>Sebagai contoh, seekor anjing tidak bisa membedakan air mineral dan air comberan. Keduanya sama-sama air yang bisa mereka minum. Manusia tentu tidak akan berlaku sama; mereka akan membuang air comberan dan minum air mineral. Demikian pula, sang anjing pun tidak akan bisa memahami betapa emas adalah barang yang sangat bernilai, sedangkan manusia akan melihat emas sebagai sesuatu yang sangat berharga dan akan menyimpannya sebaik mungkin. Dengan logika yang sama, kitab-kitab suci menjelaskan bahwa simbol tubuh Buddha yang kita lihat dalam bentuk yang terbuat dari tanah liat, tembaga, dan material lainnya sebenarnya akan bisa dirasakan sebagai tubuh emanasi Buddha yang&nbsp; unggul pada saat batin kita telah mencapai kondisi konsentrasi arus Dharma (<em>dharmasrota samadhi</em>) di Marga Penghimpunan. Lalu ketika kita mencapai tingkat Bodhisatwa pertama, simbol-simbol tubuh Buddha tersebut pun akan bisa terlihat sebagai Sambhogakaya yang sebenarnya dari seorang Buddha. Jadi, ini adalah kasus yang sama dengan perbedaan antara manusia dan anjing dalam melihat, mencerap dan mengidentifikasi emas. Buddha pada dasarnya ada di sana, namun batin kitalah (yang dipengaruhi oleh karma dan klesha kita masing-masing) yang tidak sanggup melihat, mencerap, dan mengidentifikasinya.</p>



<p>Oleh karena itu, adalah sangat penting bagi kita untuk berlatih mulai sekarang untuk menganggap berbagai simbol seperti rupang dan lukisan sebagai apa yang sesungguhnya mereka representasikan, yakni Sang Buddha itu sendiri.</p>



<p><strong>3.</strong> &nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Memandang figur/simbol Buddha sebagai Buddha yang sesungguhnya merupakan kebajikan yang luar biasa.</strong></p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Ini adalah poin Latihan yang harus dipraktikkan: memperlakukan wujud-wujud Buddha sebagai objek yang harus dihormati – seolah-olah mereka adalah Buddha yang sebenarnya.”</em></p><cite>-Je Tsongkapha (dikutip dari “Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan” Jilid I)</cite></blockquote>



<p>&#8220;Yang Arya Sariputra bisa menjadi satu dari dua murid unggul Sang Buddha karena karma Beliau yang di kehidupan sebelumnya memandang figur Buddha dalam kekaguman dan berpikir, ‘Betapa saya ingin bertemu langsung dengan sosok menakjubkan ini’”. Di dalam Saddharmapundarika Sutra juga dijelaskan, &#8220;Bahkan mereka yang memandang figur para Sugata yang dilukis di dinding dengan batin yang terganggu sekali pun pada akhirnya akan bertemu sepuluh juta Buddha”. Cuplikan sutra ini menjelaskan tentang manfaat dari melihat simbol-simbol Buddha. Jika bahkan seseorang yang memandang suatu figur Buddha dalam keadaan batin yang marah pun bisa mendapatkan manfaat-manfaat seperti itu, tentu saja kita akan mendapatkan manfaat yang lebih ketika memandang figur tersebut dengan sikap penuh hormat.</p>



<p><strong>4.</strong> &nbsp; &nbsp; &nbsp; <strong>Tidak hanya menyembah, kita juga beraspirasi mencapai tingkatan Buddha.</strong></p>



<p>Tujuan Buddha mencapai penerangan sempurna dan mengajar adalah agar semua makhluk bisa terbebas dari penderitaan dan mencapai tingkatan yang sama seperti Beliau. Esensi dari Kebuddhaan adalah tercapainya kesempurnaan dalam welas asih (<em>perfection of compassion</em>) dan kesempurnaan kebijaksanaan (<em>perfection of wisdom</em>). Pencapaian ini telah dicapai oleh orang-orang di masa lalu dan bisa pula dicapai oleh orang-orang di masa yang akan datang.</p>



<p>Dengan merenungkan sosok Buddha, kita bisa menghimpun kebajikan yang sangat besar. Kita bisa menyadari bahwa kita memiliki benih Kebuddhaan dalam diri kita. Kita tidak perlu iri pada sosok yang datang 2500 tahun yang lalu karena kita juga memiliki potensi yang sama. Jadi, kita tidak harus menunggu nabi yang datang beberapa tahun lagi (Uttaratantra hal 206)<strong>. Dalam sumber yang sama, </strong>jika diibaratkan sebuah jendela kaca, bisa kita katakan bahwa jendela kaca ini bersih. Namun, jendela ini telah dikotori oleh debu-debu dari luar. Ketika jendela ini dibersihkan, maka ia akan kembali pada sifat awalnya. Ini sama seperti Kebuddhaan yang secara <em>default </em>sudah ada dalam diri kita, namun untuk menemukannya kita mesti menghilangkan kotoran batin terlebih dulu. Kita bisa merenungkan dan menyadari ini semua ketika kita melihat sosok Buddha, baik dalam bentuk rupang atau gambar. Tekad yang bangkit dalam diri kita untuk menjadi penolong semua makhluk seperti Sang Buddha akan menjadi kebajikan yang luar biasa besar sekaligus sebab bagi pencerahan kita.</p>



<p><strong>Penutup</strong></p>



<p>Dengan melihat kualitas-kualitas dari Sang Buddha, guru agung kita, seorang Buddhis seharusnya memperlakukan patung atau simbol Buddha selayaknya patung atau simbol ini adalah Buddha sendiri. Kita harus berbangga hati dan tidak minder jika dibandingkan dengan agama-agama lain, apalagi sampai terbawa tuduhan atau interpretasi dangkal yang tidak didasari oleh pemahaman sesungguhnya akan filsafat atau kitab-kitab Buddhis.</p>



<p>Namun, perlu diingat bahwa esensi ajaran Buddha adalah untuk mengembangkan batin. Buddha mengajar sejatinya adalah untuk mengubah diri kita menjadi lebih baik. Saran saya, kita sebagai umat Buddha harus senantiasa melihat ke dalam batin dan bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya sudah benar-benar memiliki keyakinan terhadap Buddha?” Setelah itu, kita harus lanjut bertanya, “Apakah saya memiliki dasar bagi keyakinan tersebut?” Ini mungkin bisa menjadi titik awal untuk menumbuhkan keyakinan yang kokoh terhadap Buddha, keyakinan yang tidak dengan mudahnya digoyang karena kemudahan dan kesenangan yang bersifat sementara.</p>



<p>Saya akan menutup artikel ini dengan salah satu pernyataan dari teman saya, “Orang akan berhenti mengatakan umat Buddha menyembah berhala ketika kita sebagai umat sendiri juga mampu memosisikan Buddha di posisi yang sepantasnya dan selayaknya.&#8221;</p>



<p>Referensi:<br>1. &#8220;<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">Pembebasan di Tangan Kita</a>&#8221; oleh Phabongkha Rinpoche<br>2. &#8220;The Tibetan Book of The Dead&#8221; oleh Padmasambhava, ditemukan oleh Karma Linga, diterjemahkan oleh Gyurme Dorje, disunting oleh Graham Coleman dan Thupten Jinpa<br>3. &#8220;<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/risalah-agung-tahapan-jalan-menuju-pencerahan-lamrim-chenmo-jld-1-2-3/">Risalah Agung Tahapan Jalan menuju Pencerahan</a>&#8221; oleh Je Tsongkhapa<br>4. &#8220;Uttaratantra&#8221; oleh Dzongsar Khyentse Rinpoche<br>5. Taisho Tripitaka</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/12/hei-bambank-buddha-di-altar-bukan-cuma-patung-pajangan/">Hei, Bambank, Buddha di Altar Bukan Cuma Patung Pajangan!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/12/hei-bambank-buddha-di-altar-bukan-cuma-patung-pajangan/">Hei, Bambank, Buddha di Altar Bukan Cuma Patung Pajangan!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Umat Buddha Menyembah Berhala?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/05/06/apakah-umat-buddha-menyembah-berhala/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 May 2020 08:35:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Berhala]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<category><![CDATA[waisak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4900</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Chatresa7 Jawabannya ya. Umat Buddha memang menyembah berhala. Kenapa bisa begitu? Karena kita tidak mengenal siapa itu Buddha. Apa yang Beliau lakukan? Bagaimana cara Buddha menolong kita? Jika kita sebagai umat Buddha tidak mengetahui ini maka bisa dikatakan ya, kita umat Buddha menyembah berhala. Sebuah fakta yang pahit namun kalau jujur dikatakan, pantas saja [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/06/apakah-umat-buddha-menyembah-berhala/">Apakah Umat Buddha Menyembah Berhala?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/06/apakah-umat-buddha-menyembah-berhala/">Apakah Umat Buddha Menyembah Berhala?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Chatresa7</p>



<p>Jawabannya ya.</p>



<p>Umat Buddha memang menyembah berhala. Kenapa bisa begitu? Karena kita tidak mengenal siapa itu Buddha. Apa yang Beliau lakukan? Bagaimana cara Buddha menolong kita? Jika kita sebagai umat Buddha tidak mengetahui ini maka bisa dikatakan ya, kita umat Buddha menyembah berhala. Sebuah fakta yang pahit namun kalau jujur dikatakan, pantas saja beberapa orang mengatakan kita sebagai umat Buddha sembah berhala. Karena memang kita tidak mengetahui apa dan siapa itu Buddha dan hanya ikutan orang di sebelah untuk “menghormati” Buddha.</p>



<p>Apakah mengetahui siapa itu Buddha akan mampu membuat perbedaan? Tentu saja jawabannya iya. Dengan mengenali sosok Buddha, apa yang sudah Buddha lakukan, dan bagaimana cara Buddha akan menolong kita, tentu pengetahuan kita tentang Buddha bertambah. Hal ini juga akan berpengaruh cukup besar bagi kita umat Buddha. Dengan adanya pengetahuan tersebut, kita sebagai umat Buddha akan mampu memberikan penghormatan kepada Buddha dengan benar dan akan mampu dengan tegas mengatakan bahwa “Saya tidak menyembah berhala, namun saya meneladani Buddha dan memberikan penghormatan yang sebaik dan sepantasnya kepada Buddha.”.</p>



<p>Lalu apa itu yang dimaksud dengan berhala? Makna berhala di KBBI adalah: patung dewa atau sesuatu yang didewakan yang disembah dan dipuja. Jadi jelas sudah kalau Buddha itu kita anggap berhala belaka jika kita hanya ikut-ikutan orang sebelah untuk memuja atau menyembah patung Buddha. Ini berarti kita juga memposisikan Buddha jauh di bawah idola kita. Karena fakta sehari-hari kita lebih kepo dan mengetahui detail tentang idola kita dibandingkan Buddha.</p>



<p>Singkatnya orang akan berhenti mengatakan umat Buddha menyembah berhala ketika kita sebagai umat sendiri juga mampu memposisikan Buddha ke posisi yang sepantas dan selayaknya. Jujur dikatakan sebagian besar umat Buddha kalau ditanya tentu akan bingung memposisikan Buddha itu bagaimana? Apakah cukup sebagai salah satu dewa? Salah satu penasihat kaisar langit? Satu-satunya yang bisa tangkap Sun Go Kong? Tentu saja bukan seperti itu. Kalau kita sebagai umat Buddha sendiri tidak punya pengetahuan yang baik tentang Buddha, maka keyakinan kita juga tidak akan kuat, dan bila keyakinan ini tidak kuat maka ketika ada orang mengatakan kita menyembah berhala, kita hanya bisa tersenyum malu-malu atau malah marah kepada orang itu dan menghasilkan karma buruk.</p>



<p>Pada Waisak tahun ini, kita harus bisa memanfaaatkan waktu yang ada untuk merenungkan dan bertanya kepada diri sendiri. Apa arti Buddha bagi diri kita selama ini? Baik dari segi arti kata itu sendiri maupun Buddha historis. Tanya kepada diri sendiri, dan coba posisikan diri sebagai pangeran Siddhartha. Apakah kita mampu dan dengan teguh mengambil pilihan-pilihan yang pangeran Siddhartha lakukan? Apakah kita berani untuk mencari jalan menuju pencerahan dengan meninggalkan semua harta, kuasa dan keluarga? Renungkan dengan baik hal ini, dan juga renungkan sebenarnya apa yang Buddha lakukan untuk menolong kita. Apakah kita merasakan pertolongan dari Buddha selama ini?</p>



<p>Ketika kita menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu pada diri kita, kita mungkin akan menemukan bahwa sebenarnya pemahaman kita akan Sang Buddha hanya sampai kulitnya saja. Kita tidak mengenal siapa Buddha sesungguhnya, kualitas apa saja yang Buddha miliki, dan sejauh apa kebijaksanaan dan welas asih yang telah Sang Buddha raih. Kita kita menyadari hal itu, alangkah baiknya kita mulai sungguh-sungguh mencari tahu tentang <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/12-aktivitas-agung-sang-begawan/">siapa itu Buddha</a> dan <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/tisarana-gerbang-memasuki-ajaran/">membangun kembali keyakinan kita dari dasar</a>. Saat itu, barulah kita bisa benar-benar menghormati Sang Buddha sebagai lebih dari sekadar ‘berhala’.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/06/apakah-umat-buddha-menyembah-berhala/">Apakah Umat Buddha Menyembah Berhala?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/05/06/apakah-umat-buddha-menyembah-berhala/">Apakah Umat Buddha Menyembah Berhala?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Kenali Diri, Awal dari Praktik Dharma</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/24/ilr-2017-kenali-diri-awal-dari-praktik-dharma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2017 00:01:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3809</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kita ini orang seperti apa? Kita perlu membangkitkan motivasi bajik agar praktik Dharma kita membawa hasil yang baik, kira-kira demikian pesan Biksu Bhadra Ruci saat membuka rangkaian acara Indonesia Lamrim Retreat 2017. Namun, bagaimana caranya kita bisa membangkitkan motivasi tersebut? Motivasi seperti apa yang perlu kita bangkitkan? Jawabannya ada di hari pertama retret, 23 Desember [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/24/ilr-2017-kenali-diri-awal-dari-praktik-dharma/">ILR 2017: Kenali Diri, Awal dari Praktik Dharma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/24/ilr-2017-kenali-diri-awal-dari-praktik-dharma/">ILR 2017: Kenali Diri, Awal dari Praktik Dharma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Kita ini orang seperti apa?</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita perlu membangkitkan motivasi bajik agar praktik Dharma kita membawa hasil yang baik, kira-kira demikian pesan Biksu Bhadra Ruci saat membuka rangkaian acara Indonesia Lamrim Retreat 2017. Namun, bagaimana caranya kita bisa membangkitkan motivasi tersebut? Motivasi seperti apa yang perlu kita bangkitkan? Jawabannya ada di hari pertama retret, 23 Desember 2017. Motivasi untuk praktik Dharma dapat kita temukan dari sifat dasar ajaran Buddha, yaitu melihat ke diri sendiri. Kita ini orang seperti apa? Apakah kita membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain? Atau jangan-jangan kehadiran kita menyusahkan orang-orang di sekitar kita? Coba direnung-renungkan, lalu putuskan untuk tidak menyia-nyiakan kelahiran kita sebagai manusia yang amat berharga dengan menjadi orang yang lebih baik dan bermakna dari diri kita sekarang. ‘Lebih baik’ seperti apa tergantung dari hasil perenungan kita. Itulah yang bisa mendorong kita untuk memulai belajar dan mempraktikkan Dharma.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah membangkitkan motivasi, kita bisa mulai mempelajari Lamrim, sebuah metode belajar Buddhadharma yang menarik intisari dari semua ajaran Buddha dalam tahapan-tahapan menuju pencerahan. Lamrim ini juga berasal dari bangsa kita sendiri, dapat ditelusuri hingga ke Guru Swarnadwipa Dharmakirti dari Sriwijaya. Dengan mempelajari Lamrim, kita bukan lagi sekedar ‘umat biasa’ yang hanya sembahyang kepada Buddha di saat butuh, melainkan orang yang betul-betul menapaki jalan bertahap untuk mencapai pencerahan seperti Sang Buddha sendiri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Biksu Bhadra Ruci membacakan bait-bait awal dari teks “Baris-Baris Pengalaman” karya Je Tsongkhapa. Teks ini juga dikenal sebagai ‘Lamrim Kecil’ karena mencakup keseluruhan Lamrim dalam bait-bait singkat hasil dari pengalaman spiritual Je Tsongkhapa sendiri. Bait-bait pertama ini berisi pujian dan penghormatan terhadap kualitas Sang Buddha dan guru-guru Dharma agung lainnya, sesuai dengan bab pertama Lamrim, yaitu keagungan sumber ajaran untuk memastikan sumber Dharma yang terpercaya. Biksu Bhadra Ruci menjelaskan bagian tersebut dengan situasi yang sering kita jumpai sehari-hari, misalnya mencari jalan dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">google maps.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Ketika menuju tempat baru hanya dengan mengandalkan </span><i><span style="font-weight: 400;">google maps,</span></i><span style="font-weight: 400;"> kadang petanya bisa keliru sehingga kita tersesat. Demikian pula untuk urusan spiritual, kalau kita tidak menyelidiki kepada siapa kita belajar, tentu batin kita akan tersesat. Karena itu penting sekali untuk mengetahui sumber ajaran yang akan kita terapkan untuk mengembangkan batin kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sumber ajaran atau guru seperti apakah yang bisa kita andalkan? Pertama kita lihat apakah orang-orang yang mempraktikkan ajaran tersebut bisa mencapai realisasi seperti sang guru. Buddha mengajarkan Dharma lebih dari 2500 tahun yang lalu, banyak yang mempraktikkan ajaran beliau telah menemukan kebahagiaan sejati. Begitu pula Je Tsongkhapa yang mengajarkan kembali Dharma Sang Buddha melalui Lamrim, sejak beliau parinirwana 600 tahun yang lalu, telah banyak guru-guru yang mencapai realisasi spiritual dengan mengandalkan karya-karya beliau. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua, apakah guru tersebut hidup sesuai dengan apa yang beliau ajarkan? Ada anekdot: seorang guru mengajak pengikutnya pergi ke surga, tapi guru ini sendiri tidak mau ke surga. Bagaimana mungkin ajaran dari sumber seperti ini bisa dipercaya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian, Biksu Bhadra Ruci menjelaskan lebih lanjut keagungan guru-guru yang disebut dalam teks Baris-Baris Pengalaman, khususnya Buddha Sakyamuni. Sebagai umat Buddha, tentunya kita harus khatam riwayat Sang Buddha dan merenungkannya. Kita bisa melihat riwayat Buddha digambarkan dengan begitu agung di relief Lalitawistara yang terukir di Candi Borobudur. Beliau adalah anak raja, berpendidikan tinggi, mahir dalam segala ilmu, tapi sudahkah kita benar-benar yakin pada Beliau? Atau jangan-jangan kita lebih yakin pada ucapan peramal atau makhluk yang tak tampak?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di akhir sesi, kita semua diajak untuk merenung, seberapa besar kita yakin pada Sang Buddha dan guru-guru Dharma. Belajar Dharma memiliki implikasi yang besar, tidak hanya di kehidupan ini tapi juga untuk memastikan nasib kita di kehidupan selanjutnya. Sudahkah kita belajar dari sumber yang tepat? Ingat kembali keagungan Sang Buddha dan kebaikan yang telah dicapai berbagai praktisi Dharma. Bandingkan dengan diri kita, kenali sejauh mana keyakinan kita. Kenali pula seperti apa kondisi dari kita saat ini, masalah apa saja yang kita alami. Dari mengenali diri sendiri dengan cara-cara tersebut, kita akan menemukan langkah selanjutnya yang harus kita ambil dalam praktik Dharma kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8212;</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran Dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 bersama Biksu Bhadra Ruci dapat diikuti melalui livestreaming.<br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry  (082163276188)</i></b></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Foto-Foto:</p>
<p><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-3816 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-1024x683.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-scaled-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09056-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /></p>
<p><figure id="attachment_3814" aria-describedby="caption-attachment-3814" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3814 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-1024x684.jpg" alt="" width="702" height="469" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-scaled-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0572-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3814" class="wp-caption-text">Sesi pengajaran Dharma diawali dengan ritual 6 Praktik Pendahuluan sesuai tradisi dari Guru Swarnadwipa Dharmakirti</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3813" aria-describedby="caption-attachment-3813" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3813 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-1024x682.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-1024x682.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09139-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3813" class="wp-caption-text">Peserta ILR 2017 yang 70% terdiri atas anak muda mendengarkan sesi pengajaran dari Biksu Bhadra Ruci</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3811" aria-describedby="caption-attachment-3811" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3811 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-1024x683.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-scaled-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09093-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3811" class="wp-caption-text">Peserta ILR 2017 berkesempatan praktik langsung pengumpulan kebajikan melalui persembahan pelita</figcaption></figure></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/24/ilr-2017-kenali-diri-awal-dari-praktik-dharma/">ILR 2017: Kenali Diri, Awal dari Praktik Dharma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/24/ilr-2017-kenali-diri-awal-dari-praktik-dharma/">ILR 2017: Kenali Diri, Awal dari Praktik Dharma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
