<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>serlingpa - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/serlingpa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Feb 2021 05:59:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.14</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>serlingpa - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2021 05:40:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[guru Dharma Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Suwarnadwipa Dharmakirti]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan sumber ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[peninggalan]]></category>
		<category><![CDATA[peradaban Hindu Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[prasasti kerajaan Sriwijaya]]></category>
		<category><![CDATA[serlingpa]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5843</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di zaman peradaban Hindu-Buddha dulu, ternyata ada guru Dharma Nusantara yang berdampak pada perkembangan Buddha Dharma dunia lho! Beliau adalah Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Kerajaan Sriwijaya. Apa ajarannya?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="576" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-576x1024.jpg" alt="Infografis Guru Suwarnadwipa Dharmakirti (Lama Serlingpa), Guru Dharma Nusantara dari Kerajaan Sriwijaya yang bercorak Buddha" class="wp-image-5850" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-576x1024.jpg 576w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-scaled-600x1067.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-169x300.jpg 169w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-768x1366.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-864x1536.jpg 864w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-1152x2048.jpg 1152w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-150x267.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-450x800.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-1200x2134.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/02/resize-suwarnadwipa-scaled.jpg 1440w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></figure>



<p>oleh Junarsih</p>



<p>Untuk mengingat Guru Besar Buddhis di Nusantara pada zaman Sriwijaya, yakni Suwarnadwipa Dharmakirti, Lamrimnesia menyelenggarakan bedah buku <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/untaian-kelahiran-yang-berharga/">&#8220;Untaian Kelahiran yang Berharga&#8221;</a> pada Jumat, 29 Januari 2021. Kedua narasumber sekaligus penulis buku, Nayaka Sangha Agung Vajrayana SAGIN Y.M Lobsang Gyatso Sthavira dan Kepala Editor YPPLN Stanley Khu memaparkan dengan jelas tentang Sriwijaya dan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti. Lebih dari 124 orang mengikuti acara ini via aplikasi Zoom.</p>



<p>Nakapala sebagai moderator menyampaikan sedikit pengantar untuk mengawali acara. “Sekilas hari ini kita akan membedah buku Untaian Kelahiran yang Berharga. Buku ini berisi tentang riwayat tokoh-tokoh yang berjuang dalam mempraktikkan Dharma yang mampu menjadi rujukan kita untuk menumbuhkembangkan keyakinan dan mengikuti teladan mereka. Dan salah satu tokoh tersebut adalah Guru Suwarnadwipa Dharmakirti.” tuturnya.</p>



<h4><strong>Buddhisme Mahayana di Sriwijaya</strong></h4>



<p>“Pada suatu ketika di masa lampau, ada Kerajaan Sriwijaya. Ia terletak di Pulau Sumatera.&nbsp; Kerajaan ini pernah berjaya sebagai sebuah peradaban, sebagai pusat dari tradisi filosofis besar yang kita kenal sebagai Buddhisme,” tutur Stanley Khu mengawali pemaparan Sriwijaya zaman dulu.</p>



<p>Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Buddhisme adalah sistem pemikiran dan moralitas yang diajarkan oleh Buddha Sakyamuni. Buddhisme mulanya adalah sebuah gerakan spiritual yang menawarkan alternatif dari Brahmanisme di India yang kemudian bergerak menuju kawasan Asia, terutama di Asia Tenggara serta Asia Timur seperti China, Korea, dan Jepang. Melalui jalur Asia Tenggara, kemudian Buddhisme sampai di Sumatera termasuk kawasan perdagangan Internasional di Sriwijaya.</p>



<p>“Terdapat aktivitas keagamaan yang intens selama era perdagangan yang hiruk-pikuk di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara,” Stanley Khu menambahkan. Pernyataan ini didukung oleh pendapat Nicolaas Johannes Krom, seorang filsuf barat, bahwa kalau dilihat dari kondisi geografis Nusantara, terdapat hubungan erat antara Buddhisme dan perdagangan.&nbsp;</p>



<p>“Menurut sejarahnya, Buddhisme di Asia Tenggara mendapat pengaruh yang berubah-ubah dari Asia Selatan. Misal pada abad ke-3 dan ke-4 mendapat pengaruh dari Antrapadesh, Sri Lanka. Sedangkan pengaruh Mahayana dari sisi Timur Laut India di daerah Bihar itu sangat kentara pada periode abad ke-7 sampai ke-10.” jelas Stanley Khu. Abad ke-7 sampai ke-10 ini adalah periodenya Sriwijaya sehingga tradisi Mahayana sangat kental di Sriwijaya. Kemudian pada abad ke-11, Buddhisme di Asia Tenggara mendapat pengaruh dari Asia Selatan, tepatnya dari Tamil Nadu, Dinasti Chola yang menginvasi Sriwijaya.</p>



<p>Catatan yang membuktikan Sriwijaya memiliki tradisi Mahayana terdapat dalam Prasasti Talang Tuo yang ditemukan di Palembang dan dibuat pada tahun 684M. Singkat isi dari prasasti tersebut adalah harapan para penguasa agar semua kebun, telaga, dan bendungan dapat berkontribusi untuk kesejahteraan semua makhluk, semoga bodhicita atau batin pencerahan tumbuh dalam diri setiap makhluk, dan semoga semua makhluk mencapai pencerahan. “Prasasti ini juga membuktikan hubungan Buddhisme di Nalanda dan Sriwijaya,” imbuh Stanley Khu. Di Nalanda sendiri terdapat asrama untuk menampung biksu-biksu dari Nusantara.</p>



<p>“Dari sedikit gambaran ini, entah karena mentalitas atau psikologi, kita nggak tahu, Asia Tenggara maritim atau lautan cenderung lebih mudah menyerap kebudayaan baru dan menerima perubahan,” ujarnya. Hal ini dibuktikan dengan masuknya Islam dan kolonialisme yang juga tidak melalui banyak pergolakan.&nbsp;</p>



<p>“Pulau Jawa menyaksikan perkembangan tradisi ini selama masa Dinasti Syailendra,” tutur Stanley Khu. Pada masa Dinasti Syailendra kita bisa melihat kekayaan budaya dilihat dari kemegahan monumen yang dibangun pada era itu, seperti Candi Borobudur, Candi Sewu, dan Candi Plaosan.</p>



<p>Lalu apa karakteristik dari Dinasti Syailendra? Corak utama dari dinasti ini adalah orientasi Internasional Nusantara dari para penguasanya. Misalnya sebuah inskripsi dari Ratu Boko bertarikh tahun 792 yang mewartakan bahwa terdapat wihara untuk biksu-biksu Sinhala yang diberi nama Abhayagiri. Di Sri Lanka sendiri, di tempat bernama Anuradhapura memang dulu ada wihara dengan nama serupa, yakni Abhayagiri. Di wihara ini, ajarannya tergolong unik karena merupakan sinkretisme dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Tantrayana. Sifat plural mereka ini menimbulkan pergesekan dengan komunitas lain sehingga mereka harus mencari tempat lain. Kalau ingin berpindah mereka bisa mencari tempat lain di Srilanka, tetapi mereka malah pergi ke Jawa untuk memenuhi undangan dari Dinasti Syailendra untuk menetap ke Jawa.&nbsp;</p>



<h4><strong>Sriwijaya Itu Apa Sebenarnya?</strong></h4>



<p>“Apa itu Sriwijaya?” Stanley Khu menjelaskan dengan nada seperti bertanya. Sriwijaya adalah kerajaan kota berbasis perdagangan yang kemakmurannya berdasarkan penguasa dalam mengontrol pengiriman barang di sepanjang Selat Malaka sehingga menjadi titik ini sebagai transit bagi para kaum pedagang dari wilayah Nusantara lain dan dari Semenanjung Melayu. Layaknya Islam setelah berabad-abad kemudian, Buddhisme bisa menyebar dengan apik di sepanjang jalur perdagangan.</p>



<p>Sistem pemerintahan Sriwijaya memiliki struktur yang longgar, jadi mau pindah ibukota di mana saja tetap bisa. Kekuatan militernya tidak terlalu kuat, sedangkan di bidang administratif sangat kuat. Sriwijaya dinamai sebagai Suwarnadwipa oleh orang Inda karena mereka bisa menemukan emas di sana.</p>



<p>Perputaran ilmu pengetahuan luar biasa terjadi di Sriwijaya dibuktikan dengan datangnya biksu China untuk belajar di sana. Biksu China bernama Yi-Jing berlayar menuju Sumatera dengan tujuan untuk belajar gramatika dan tata berperilaku di Sriwijaya. Dalam diari Yi-Jing, beliau meninggalkan China pada tahun 671 dan menuju Sumatera dengan kapal kepunyaan raja Sriwijaya. Yi-Jing belajar di Sriwijaya selama enam bulan. Kegiatan Yi-Jing di Sriwijaya ini juga menjadi contoh lain orientasi internasional para penguasa Sriwijaya.&nbsp;</p>



<p>“Penguasa Sriwijaya mengutus Yi-Jing menuju kerajaan lain yang namanya Melayu. Lalu dari sana YI-Jing menuju Kedah tempat ia menantikan angin. Karena dulu kan nggak ada pesawat, jadi pulang-pergi harus naik kapal dan menunggu angin yang akan meneruskan perjalanannya ke India. Karena ia di Sriwijaya hanya untuk belajar, konon katanya belajar gramatika dan tata cara berperilaku,” imbuh Stanley Khu. Pendidikan filsafat Buddhis yang yang lengkap pada masa itu ada di India seperti Nalanda dan Vikramasila, jadi Yi-Jing harus meneruskan perjalanannya menuju India. Kurang lebih 17 tahun Yi-Jing menghabiskan hidupnya di Nalanda. Yi-Jing juga membawa kitab yang konon mengandung lima ratus ribu bait ajaran menuju Sriwijaya.</p>



<p>Kesan positif yang didapat Yi-Jing selama tinggal di Sriwijaya membuatnya menganjurkan peziarah China untuk belajar di Sriwijaya sebelum bertolak ke India. Yi-Jing tetap belajar di Sriwijaya setelah pulang dari India selama 7 tahun terhitung sejak tahun 688-695M sebelum akhirnya ia pulang ke China.</p>



<p>“Dalam diarinya, Yi-Jing juga mencatat ada lima guru Buddhis yang tersohor seantero dunia. Dan yang menarik, ada satu orang dari Sriwijaya. Namanya Sakyakirti. Secara historis kita memang tidak menemukan catatan tentang guru ini,” Imbuh Stanley Khu.</p>



<p>“Selanjutnya kita membahas tentang geopolitik Sriwijaya. Sebenarnya Sriwijaya ini kisah apa sih? Ya kisah geopolitik. Pada masa lampau, jalur-jalur dagang di Asia akan berujung pada tempat kecil bernama Selat Malaka. Dalam catatan perjalanan Tommy Perez setelah Portugis menginvasi Malaka tahun 1511, terdapat ungkapan bahwa siapapun yang mampu menguasai Selat Malaka akan memegang tenggorokan Venesia, Italia. Kelihatannya tidak begitu nyambung, tetapi seluruh barang-barang sebelum masuk ke Eropa harus ditampung dulu di Malaka. Selat Malaka ini pendek sekali, diapit oleh dua samudera, yakni Samudera Pasifik di sebelah Timur dan Samudera Hindia di sebelah Barat, juga diapit oleh Semenanjung Melayu dan Pulau Sumatera di sisi lain.</p>



<p>Karena selat ini merupakan selat terpendek di dunia, ia pun menjadi jalur maritim alternatif dan paling sibuk pada zaman dulu. Saat itu, selat ini dikuasai oleh hanya satu kerajaan, yaitu Sriwijaya, berbeda dengan sekarang Selat Malaka dibagi menjadi tiga kawasan, yakni Indonesia, Singapura, dan Malaysia.</p>



<p>“Lokasi Sriwijaya yang strategis, terdapat banyak hal yang bisa dibahas terkait eksistensinya. Pasti banyak risalah, sumber pustaka, sumber historis! Sayangnya bukan begitu kasusnya. Pengetahuan tentang Sriwijaya ironisnya baru muncul pada abad ke-20,” ujar Stanley Khu. Baru setelah seribu tahun kerajaan ini eksis saat seorang sarjana Prancis, George Coedes menyusun ulang bukti adanya Sriwijaya. Beruntungnya ada beberapa prasasti yang menjadi bukti peradaban Sriwijaya di Sumatera, salah satunya adalah Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang pada tahun 1920 dan bertarikh 683. Tulisan dalam prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Tua serta ditemukan beberapa kosa kata Sanskerta yang berbunyi &#8220;Sriwijaya&#8221;.</p>



<p>Bukti eksistensi Sriwijaya lebih banyak ditemukan pada sumber sejarah dari Tiongkok, bukan dari India meski ada hubungan cukup kental antara Nalanda dan Sriwijaya. Hal ini dikarenakan Tiongkok memiliki pengarsipan sejarah yang lebih baik dibanding India. Namun, nama Sriwijaya di Tiongkok bisa berubah-ubah karena di Tiongkok sendiri sering terjadi pergantian dinasti yang masing-masing menggunakan kata berbeda untuk menyebut Sriwijaya.</p>



<h4><strong>Siapakah Suwarnadwipa Dharmakirti?</strong></h4>



<p>“Indonesia adalah tempat suci yang dikagumi banyak orang, tidak hanya India, tapi juga Tibet,” tutur Y.M Lobsang Gyatso Sthavira mengawali giliran untuk menguraikan tentang Mahaguru Suwarnadwipa Dharmakirti.&nbsp;</p>



<p>“Nama lain Guru Suwarnadwipa Dharmakirti adalah Serlingpa Chokyi Dragpa dalam tradisi Lamrim.”</p>



<p>Lebih lanjut, Beliau menjelaskan bagaimana Guru Suwarnadwipa merupakan keturunan dari Dinasti Syailendra. Pada saat itu, Sriwijaya sangat didominasi oleh Hindu. Namun, sebagai seorang anak raja (pangeran), Beliau mempromosikan Buddhisme dan menganjurkan rakyat untuk berlindung pada Triratna.</p>



<p>Kemudian, pangeran menuju Bodhgaya, India, tempat Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung yang lengkap dan sempurna. Di Bodhgaya, banyak makhluk bijaksana yang memiliki kualitas baik seperti cendekiawan dan praktisi meditasi yang berkumpul. Pangeran menumbuhkan rasa hormat serta sujud pada satu di antara pada makhluk bijaksana tersebut, yakni Guru Maha Sri Ratna. Lalu pangeran menemani sang Guru selama tujuh hari, tetapi pada hari ke-8 pangeran kehilangan sosok Guru Maha Sri Ratna. Akhirnya pangeran tidak sengaja tertidur dan bermimpi bertemu dua penyanyi cilik yang melantunkan syair berikut:</p>



<p>“<em>Setelah meninggalkan keluarga, pelayan, dan aneka kebahagiaan di negeri sendiri. Satu akibat yang marak tak dapat menelusuri di manakah gerangan orang yang dicari. Sejak lama kehilangan ataukah cepat kehilangan. Keturunan murni mulia tapi miskin kebijaksanaan</em>.”</p>



<p>Saat terbangun, Guru Maha Sri Ratna sudah berada di hadapan pangeran. Setelah memberikan penghormatan, pangeran mempersembahkan mandala sebagai simbol persembahan semesta raya sambil memohon supaya diterima sebagai murid. Setelah menerima persembahan, Guru Maha Sri Ratna menahbiskan pangeran sebagai biksu. Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, Serlingpa Chokyi Dragpa adalah nama yang diberikan Guru Maha Sri Ratna kepada pangeran.</p>



<p>Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dikenal dengan ajaran bodhicita. Ajaran inilah yang mengundang keingintahuan Guru Atisha Dipamkara Srijnana untuk menuju Sriwijaya dari India dengan berlayar selama 13 bulan dan belajar kurang lebih 12 tahun di Sriwijaya.&nbsp;</p>



<h4><strong>Keistimewaan Suwarnadwipa Dharmakirti</strong></h4>



<p>Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta bertanya pada Y.M Lobsang Gyatso Sthavira tentang keistimewaan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dalam hal ibadah dan pelayanan umat dibanding guru lainnya pada zaman tersebut.</p>



<p>Y.M. Lobsang Gyatso Sthavira menyatakan bahwa Beliau belum menemukan catatan spesifik mengenai ibadah dan pelayanan umat pada masa Guru Suwarnadwipa. Namun, berdasarkan teks yang ada, diketahui bahwa Beliau adalah pangeran Buddhis yang memegang pandangan filosofis <em>citramata</em>, jadi kemungkinan besar praktik Beliau adalah Prajnaparamita (Penyempurnaan Kebijaksanaan). Kalau Beliau melakukan pelayanan pada umat, kemungkinan sama seperti yang kita temukan di teks Guru Shantidewa, yaitu <em>Bodhisatwa-caryavatara</em> (Lakon Hidup Sang Penerang/Bodhisatwa) karena teks itulah yang diturunkan dari Guru Swarnadwipa ke Guru Atisha.&nbsp;</p>



<p>Selain itu, ada pula praktik atau pelayanan itu dulunya bersifat rahasia dan tidak mudah diperoleh, yaitu praktik <em>lojong </em>(latihan batin) atau <em>tonglen </em>(praktik terima kasih) yang bertujuan untuk mengembangkan welas asih, khususnya bodhicita. Dengan berlandaskan pada bodhicita serta sejalan dengan posisi Beliau sebagai pangeran yang mengayomi negaranya, pelayanan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti diberikan secara menyeluruh untuk semua rakyat. Sifat welas asih Beliau melampaui perbedaan suku, agama dan ras.&nbsp;</p>



<p><em>Apa yang diajarkan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti di Sriwijaya? Baca ulasannya dalam buku </em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari/"><em>“Latihan Batin Laksana Sinar Mentari”</em></a><em> karya Namkha Pel!</em></p>



<p>“Jadi kalau sudah belajar bodhicita maka sikap intoleran tidak akan berkembang, dan semuanya menjadi toleransi,” imbuh Y.M Lobsang Gyatso Sthavira. Sifat welas asih inilah membuat Guru Suwarnadwipa Dharmakirti tetap membimbing semua makhluk untuk mencapai kebahagiaan tertinggi dan kedamaian yang sesungguhnya meskipun ada yang berlaku tidak baik terhadapnya.&nbsp;</p>



<p>Y.M Lobsang Gyatso Sthavira juga berpesan agar semua umat Buddha, baik itu romo pandita ataupun umat awam, untuk meneladani Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dengan menolong semua yang membutuhkan tanpa pilih kasih. Kita seharusnya menolong mulai dari yang paling menderita dahulu, bukan berdasarkan yang seagama dulu. “Kalau kita kan masih punya ego, jadi harus belajar Madhyamika supaya pandangannya gak pilih-pilih. Atau belajar bodhicita, menyamakan diri kita dengan orang lain sama persis, makhluk lain juga sama, ingin bahagia, tidak ingin menderita, ini yang harus direalisasikan,” imbuh Y.M Lobsang Gyatso Sthavira.&nbsp;<br></p>



<p><em>Artikel ini pertama kali dterbitkan di </em><a href="https://buddhazine.com/suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/"><em>Buddhazine.com</em></a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/infografis-suwarnadwipa-dharmakirti-guru-buddhis-dari-nusantara/">INFOGRAFIS: Suwarnadwipa Dharmakirti Guru Buddhis dari Nusantara</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Dec 2017 01:04:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[6 praktik pendahuluan]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[dharmakirti]]></category>
		<category><![CDATA[guru spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[milarepa]]></category>
		<category><![CDATA[ritual]]></category>
		<category><![CDATA[serlingpa]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[swarnadwipa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3841</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Saya sudah praktik Dharma bertahun-tahun, kok hidup saya tidak jadi lebih baik?” Pernahkah kita berpikir seperti itu? Jika ya, bisa jadi penyebabnya adalah kita masih memisahkan praktik Dharma dengan kehidupan duniawi kita. Masih dalam pembahasan bab 3 Lamrim di Indonesia Lamrim Retreat 2017 tentang cara mendengarkan Dharma, kita harus melihat diri sebagai orang yang sakit, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">“Saya sudah praktik Dharma bertahun-tahun, kok hidup saya tidak jadi lebih baik?”</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Pernahkah kita berpikir seperti itu? Jika ya, bisa jadi penyebabnya adalah kita masih memisahkan praktik Dharma dengan kehidupan duniawi kita. Masih dalam pembahasan bab 3 Lamrim di Indonesia Lamrim Retreat 2017 tentang cara mendengarkan Dharma, kita harus melihat diri sebagai orang yang sakit, Dharma sebagai obat penyakit, dan guru Dharma sebagai dokter yang mahir yang mengobati kita. Namun, itu saja tidak cukup. Kita juga harus sadar bahwa kita perlu meminum obat Dharma untuk menyembuhkan penyakit kita. Dengan kata lain, kita harus secara langsung menyatukan Dharma dalam kehidupan sehari-hari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagaimana caranya menyatukan praktik Dharma dengan kehidupan sehari-hari? Pertama-tama kita harus banyak belajar dan memahami semua teori-teori Dharma, baik dari pengajaran langsung dari guru ataupun dari buku-buku. Ini adalah proses studi. Berikutnya, ketika kita menghadapi masalah dalam hidup sehari-hari, gunakan teori yang telah kita pelajari untuk menentukan keputusan atau kesimpulan apa yang harus kita ambil untuk mengatasi masalah tersebut. Ini adalah tahap kontemplasi. Terakhir, kita harus membiasakan batin kita dengan kesimpulan tersebut. Inilah yang disebut meditasi. Ketiga tahapan dalam praktik Dharma&#8211;studi, kontemplasi, dan meditasi&#8211;merupakan cara untuk mengubah batin kita agar sesuai dengan Dharma. Jika kita senantiasa sadar dan menjalankan ketiga praktik tersebut, otomatis ego kita akan berkurang dan batin kita akan semakin berkembang.</span></p>
<p><b>Bertumpu Pada Guru Spiritual</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah melewati tiga bab pertama Lamrim, Biksu Bhadra Ruci lanjut menjelaskan bab keempat, yaitu bagaimana murid dibimbing dengan instruksi yang sesungguhnya. Di sini ada dua bagian:</span><b> bertumpu pada guru spiritual akar dari Sang Jalan</b><span style="font-weight: 400;"> dan </span><b>bagaimana setelah bertumpu murid dibimbing untuk mengembangkan batin</b><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Topik bertumpu pada guru spiritual sendiri dibagi menjadi dua bagian, yaitu sesi meditasi dan di antara sesi meditasi. Yang dimaksud sesi meditasi di sini bukanlah duduk diam di depan altar. Sesi meditasi adalah keseluruhan proses studi, kontemplasi, dan meditasi terhadap topik-topik Lamrim yang kita lakukan dalam aktivitas kita sehari-hari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sesi meditasi dibagi ke dalam tiga poin: pendahuluan, praktik utama, dan kesimpulan. Pendahuluan, atau yang juga dikenal dengan istilah </span><b>6 Praktik Pendahuluan</b><span style="font-weight: 400;">, merupakan ritual yang diwariskan oleh Guru Serlingpa Dharmakirti dari Sriwijaya. Keenam praktik ini adalah:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">membersihkan ruangan dan menyusun simbol tubuh, ucapan, dan batin Buddha di atas altar,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">membuat dan menata persembahan di altar,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">duduk dengan nyaman dalam postur meditasi, trisarana, dan membangkitkan bodhicitta,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">memvisualisasikan ladang kebajikan,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">memanjatkan Doa Tujuh Bagian,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">memanjatkan permohonan kepada guru-guru silsilah</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Ritual merupakan cara kita berkomunikasi dengan para Buddha. Ritual 6 Praktik Pendahuluan ini merupakan cara untuk mengumpulkan energi positif yang kita butuhkan untuk menempa batin kita dari para Buddha dan guru-guru silsilah Lamrim, hingga guru kita sendiri.</span></p>
<p style="text-align: right;"><a href="http://store.lamrimnesia.com/product/permata-hati/"><i><span style="font-weight: 400;">Temukan penjelasan lengkap 6 Praktik Pendahuluan di buku Permata Hati bagi Mereka yang Beruntung</span></i></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah 6 Praktik Pendahuluan, kita masuk ke </span><b>praktik utama</b><span style="font-weight: 400;">. Bagian ini terdiri atas empat poin, yaitu </span><b>manfaat bertumpu kepada guru spiritual, kerugian tidak bertumpu kepada guru spiritual atau melakukannya dengan tidak benar, cara berbakti kepada guru melalui pikiran, dan cara berbakti kepada guru melalui tindakan.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Guru spiritual itu seperti seorang</span> <span style="font-weight: 400;">konsultan bisnis serba bisa. Agar bisnis kita lancar dan untung besar, kita butuh masukan dari macam-macam konsultan: mulai dari konsultan bisnis, konsultan </span><i><span style="font-weight: 400;">marketing, </span></i><span style="font-weight: 400;">konsultan pajak, dan lain-lain. Guru adalah satu orang dengan semua kemampuan tersebut yang memberi kita petunjuk untuk menjalankan hidup kita agar kita mendapatkan manfaat maksimum. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Guru spiritual mengajak kita melihat bahwa kehidupan kita tidak berlangsung saat ini saja, tapi kita masih akan lahir dan mati berkali-kali setelahnya. Maka dari itu, beliau mengarahkan kita untuk melakukan investasi jangka panjang, yaitu menggunakan kelahiran kita sebagai manusia sekarang untuk menanamkan sebab-sebab kebahagiaan dari masa mendatang, baik itu kebahagiaan dalam bentuk kelahiran di alam tinggi, pembebasan dari samsara, hingga pencapaian Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna. Guru spiritual membimbing kita untuk melatih batin hingga bisa mencapai ketiga tujuan yang sesuai dengan tiga jenis praktisi tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bertumpu pada guru spiritual sendiri merupakan investasi dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">high cost, high risk, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan</span><i><span style="font-weight: 400;"> high gain. </span></i><span style="font-weight: 400;">Kita harus mengorbankan banyak hal untuk bisa bertumpu kepada seorang guru spiritual dengan benar. Jika berhasil, manfaatnya amatlah besar. Sebaliknya, jika kita gagal atau membuat kesalahan, maka kerugiannya juga amatlah besar. Untuk mencegah kesalahan dalam bertumpu pada guru spiritual, amatlah penting bagi kita untuk membangkitkan keyakinan terhadap guru spiritual yang merupakan perwujudan dari Triratna dan semua Buddha serta menyempurnakan sikap mendengarkan Dharma yang telah dijelaskan di bab sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh praktik bertumpu pada guru spiritual yang amat terkenal adalah kisa Milarepa, meditator agung yang mencapai Kebuddhaan dalam satu kehidupan. Beliau awalnya adalah seorang penjahat yang menggunakan ilmu hitam untuk menghancurkan satu desa. Namun, ia bertemu dengan Guru Marpa yang menggemblengnya habis-habisan. Selama belasan tahun Milarepa tanpa lelah melayani Marpa dengan susah-payah&#8211;mulai dari membajak sawah, harus tidur di kandang hewan, bahkan berulang kali membangun dan merobohkan benteng seorang diri dengan tangan kosong. Milarepa tidak pernah mengeluh dan menjalankan tugas dari gurunya dengan rela, hingga akhirnya ia ditugaskan untuk bermeditasi seorang diri di sebuah gua. Milarepa bermeditasi dengan memandang gurunya sebagai Buddha yang sesugguhnya dan akhirnya berhasil mencapai Kebuddhaan dalam satu kehidupan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah Milarepa membayar mahal selama bertumpu pada gurunya? Sudah pasti. Nyatanya ia disiksa habis-habisan selama ia berguru.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah Milarepa mencapai hasil yang amat besar dari investasinya? Ini tak perlu diragukan lagi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kisah Milarepa membuktikan bahwa bertumpu pada guru spiritual benar-benar merupakan investasi </span><i><span style="font-weight: 400;">high risk high gain.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Tak perlu diragukan lagi, bertumpu pada guru spiritual adalah tahapan yang amat penting. Namun, Biksu Bhadra Ruci juga mengingatkan kita agar bisa realistis, tidak terlalu idealis dan tidak terlalu naif dalam mencari guru spiritual. Jangan sampai kita terjebak dalam bayangan hubungan guru-murid yang dramatis seperti dalam riwayat guru-guru besar. Kita harus siap dengan kenyataan bahwa guru spiritual tidak akan hanya menyenangkan kita. Sebaliknya, beliau akan memaksa kita berhadapan dengan hal-hal yang sulit kita terima dan melakukan hal-hal sulit yang tidak kita sukai agar batin kita bisa berkembang dan mencapai realisasi Dharma sejati.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, siapkah kita untuk berinvestasi pada praktik bertumpu pada guru spiritual?</span></p>
<p><em>Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.</em><br />
<em>Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: <strong>Merry (082163276188)</strong></em></p>
<p><strong>Foto-Foto:</strong></p>
<p><figure id="attachment_3844" aria-describedby="caption-attachment-3844" style="width: 2166px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3844 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994.jpg" alt="" width="2166" height="1446" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994.jpg 2166w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 2166px) 100vw, 2166px" /><figcaption id="caption-attachment-3844" class="wp-caption-text">Indonesia Lamrim Retreat 2017 di Gedung Prasadha Jinarakkhita dihadiri lebih dari 300 peserta</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3845" aria-describedby="caption-attachment-3845" style="width: 684px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3845 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-684x1024.jpg" alt="" width="684" height="1024" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-684x1024.jpg 684w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-scaled-600x899.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-200x300.jpg 200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-768x1150.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-1025x1536.jpg 1025w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-1367x2048.jpg 1367w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-150x225.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-450x674.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-1200x1798.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-scaled.jpg 1709w" sizes="(max-width: 684px) 100vw, 684px" /><figcaption id="caption-attachment-3845" class="wp-caption-text">Mengundang ladang kebajikan, bagian dari 6 Praktik Pendahuluan warisan Guru Serlingpa Dharmakirti</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3851" aria-describedby="caption-attachment-3851" style="width: 2166px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3851 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115.jpg" alt="" width="2166" height="1446" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115.jpg 2166w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 2166px) 100vw, 2166px" /><figcaption id="caption-attachment-3851" class="wp-caption-text">Proses pembelajaran Lamrim berbasis pada pembelajaran Dharma, dilanjutkan dengan perenungan dan meditasi sehingga batin kita selaras dengan hasil pembelajaran kita</figcaption></figure></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
