<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>merenungkan bodhicitta - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/merenungkan-bodhicitta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Jul 2020 04:34:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.14</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>merenungkan bodhicitta - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pemimpin Agama Dunia Serentak Menyerukan Ajakan Ini Demi Perdamaian Dunia, Masa Kamu Nggak Ikutan?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/06/21/pemimpin-agama-dunia-serentak-menyerukan-ajakan-ini-demi-perdamaian-dunia-masa-kamu-nggak-ikutan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Jun 2017 07:55:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[#bhinneka]]></category>
		<category><![CDATA[#ilovebhinneka]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[MAKEFRIENDS]]></category>
		<category><![CDATA[membangkitkan bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[merenungkan bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[perdamaian]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3272</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Nasihat kami adalah untuk menjalin pertemanan dengan para pengikut dari semua agama.” Agama sering kali dipandang sebagai kekuatan yang menyebarkan perpecahan di antara orang-orang. Namun, para pemimpin agama terkemuka di dunia berkumpul untuk menawarkan visi yang berbeda tentang bagaimana agama dapat memberikan sumbangsih bagi dunia. Dalam sebuah langkah yang jarang terjadi, para pemimpin agama besar [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/06/21/pemimpin-agama-dunia-serentak-menyerukan-ajakan-ini-demi-perdamaian-dunia-masa-kamu-nggak-ikutan/">Pemimpin Agama Dunia Serentak Menyerukan Ajakan Ini Demi Perdamaian Dunia, Masa Kamu Nggak Ikutan?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/06/21/pemimpin-agama-dunia-serentak-menyerukan-ajakan-ini-demi-perdamaian-dunia-masa-kamu-nggak-ikutan/">Pemimpin Agama Dunia Serentak Menyerukan Ajakan Ini Demi Perdamaian Dunia, Masa Kamu Nggak Ikutan?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><i><span style="font-weight: 400;">“Nasihat kami adalah untuk menjalin pertemanan dengan para pengikut dari semua agama.”</span></i></p></blockquote>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/CGMQsJ0VzAk" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Agama sering kali dipandang sebagai kekuatan yang menyebarkan perpecahan di antara orang-orang. Namun, para pemimpin agama terkemuka di dunia berkumpul untuk menawarkan visi yang berbeda tentang bagaimana agama dapat memberikan sumbangsih bagi dunia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam sebuah langkah yang jarang terjadi, para pemimpin agama besar &#8211; dari Paus Fransiskus  sampai Dalai Lama &#8211; mengeluarkan seruan bersama pada hari Rabu untuk meminta orang-orang mengikuti sebuah nasihat sederhana:  bertemanlah dengan orang-orang dari agama lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Nasihat kami adalah untuk menjalin pertemanan dengan para pengikut dari semua agama.”Ayatollah Sayyid Fadhel Al-Milani, salah satu tokoh Muslim Syiah paling senior di Inggris, mengatakannya dalam sebuah rekaman video.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hubungan perorangan, persahabatan perorangan, dari sinilah kita dapat saling memberikan sebuah tingkatan pengalaman yang lebih mendalam” demikian yang dikatakan Dalai Lama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Paus Fransiskus memilih untuk berbicara tentang persahabatan panjangnya dengan Rabi Argentina, Abraham Skorka, yang juga tampil dalam video tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8220;Kehidupan beragama saya semakin kaya karena penjelasannya, jauh lebih kaya,&#8221;  Fransiskus berkata tentang Skorka. &#8220;Dan saya rasa hal yang sama juga terjadi padanya.&#8221;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8220;MAKE FRIENDS&#8221; (tl: menjalin pertemanan) adalah sebuah prakarsa dari Elijah Interfaith Institue, sebuah organisasi antar agama yang berpusat di Israel dan Amerika Serikat. Dalam siaran persnya, para pengurus mengatakan bahwa misi proyek tersebut adalah untuk melawan gagasan bahwa orang-orang memandang agama lain dengan ketidakpercayaan atau penghinaan, dan bahkan berpotensi untuk mengurangi kekerasan yang dilakukan atas nama agama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rabi Dr. Alon Goshen-Gottstein, pemimpin dari Elijah Interfaith Institute, mengatakan bahwa proyek ini memperkenalkan pandangan teologis baru, yang menegaskan perlunya persahabatan antar agama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8220;Kami tidak dapat menyangkal bahwa di dalam kitab-kitab dari banyak agama, Anda dapat menemukan teks yang tidak terlalu terbuka, bahkan bermusuhan, dengan orang-orang dari agama lain,&#8221; demikian pernyataannya.  &#8220;Oleh sebab itu, ketika para pemimpin penting dunia menyerukan persahabatan, mereka sebenarnya sedang menegaskan cara tertentu untuk mempraktikkan agama sembari menolak cara dari agama lain.&#8221;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">22 pemimpin yang terlibat dalam seruan ini mewakili aneka ragam agama yang luas &#8211; Sikhisme, Buddhisme, Hinduisme, Islam, Yudaisme, dan kristen. Setiap pemimpin memberikan pernyataan pribadi secara khusus untuk tujuan proyek ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat lebih banyak lagi video dari para pemimpin tersebut dalam bahasa yang berbeda-beda, yang bisa ditemukan di  <a href="https://www.youtube.com/channel/UCamEJJXneVhPJMOSjZe6_fA">akun YouTube Make Friends’</a>.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8220;Salah satu hal terindah ketika menghabiskan waktu dengan orang-orang yang berbeda dengan kita adalah kita akan banyak menemukan kesamaan dengan mereka. Ketakutan yang sama, harapan yang sama, kekhaw;atiran yang sama,&#8221; demikian kata Rabi Lord Jonathan Sacks, mantan kepala Rabi Inggris.</span></p>
<p>sumber: <a href="http://www.huffpostbrasil.com/entry/worlds-top-religious-leaders-issue-rare-joint-appeal_us_5942c11ee4b06bb7d2719e8e">Huffpost | </a>diterjemahkan oleh: Sansan Diana | disunting oleh: Stanley Khu</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/06/21/pemimpin-agama-dunia-serentak-menyerukan-ajakan-ini-demi-perdamaian-dunia-masa-kamu-nggak-ikutan/">Pemimpin Agama Dunia Serentak Menyerukan Ajakan Ini Demi Perdamaian Dunia, Masa Kamu Nggak Ikutan?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/06/21/pemimpin-agama-dunia-serentak-menyerukan-ajakan-ini-demi-perdamaian-dunia-masa-kamu-nggak-ikutan/">Pemimpin Agama Dunia Serentak Menyerukan Ajakan Ini Demi Perdamaian Dunia, Masa Kamu Nggak Ikutan?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Doa Dedikasi: Bukan Sekedar Mengemis Berkah</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/03/07/doa-dedikasi-bukan-sekedar-mengemis-berkah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Mar 2017 07:40:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dedikasi]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[merenungkan bodhicitta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2877</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Samantachandra Doa dedikasi membawa banyak manfaat, antara lain menginspirasi kita untuk lebih berusaha mencapai tujuan, mengarahkan buah karma baik, melimpahkan jasa ke orang lain, dan bentuk praktik berbagai topik ajaran Buddha. Di sisi lain, ada stigma dalam masyarakat modern (khususnya penganut paham positivisme yang berkembang di barat) yang menganggap doa sebagai takhayul, tindakan ‘mengemis [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/07/doa-dedikasi-bukan-sekedar-mengemis-berkah/">Doa Dedikasi: Bukan Sekedar Mengemis Berkah</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/07/doa-dedikasi-bukan-sekedar-mengemis-berkah/">Doa Dedikasi: Bukan Sekedar Mengemis Berkah</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Samantachandra</p>
<p>Doa dedikasi membawa banyak manfaat, antara lain menginspirasi kita untuk lebih berusaha mencapai tujuan, mengarahkan buah karma baik, melimpahkan jasa ke orang lain, dan bentuk praktik berbagai topik ajaran Buddha. Di sisi lain, ada stigma dalam masyarakat modern (khususnya penganut paham positivisme yang berkembang di barat) yang menganggap doa sebagai takhayul, tindakan ‘mengemis berkah’ tanpa mau usaha. Doa dedikasi bukanlah doa yang seperti itu. Lantas, bagaimana cara membedakan doa dedikasi kita dari doa yang sekedar meminta-minta?</p>
<p>Dalam kitab lamrim “<em>Pembebasan di Tangan Kita</em>” karya Phabongkha Rinpoche, ada tiga cara utama untuk mendedikasikan kebajikan:</p>
<ol>
<li>berdoa agar ajaran Buddha berkembang dalam batin kita dan batin makhluk lain,</li>
<li>berdoa agar kita dijaga oleh seorang guru spiritual dalam semua kehidupan kita yang akan datang,</li>
<li>berdoa agar kita bisa mencapai pencerahan sempurna.</li>
</ol>
<p>Ketika mempraktikkan dedikasi, kamu haruslah menggunakan salah satu dari tiga cara tersebut. Setiap  ‘permohonan’ yang kita buat ditujukan untuk mencapai salah satu dari 3 poin di atas. Doa seperti ini akan membawa dampak yang besar.</p>
<p>Contoh doa dedikasi yang membawa dampak besar adalah kisah Arya Sariputra. Di kehidupan lampau, beliau senantiasa berdoa agar terlahir menjadi murid Sang Buddha dengan kebijaksanaan teragung. Doa dedikasi beliau terkabul. Hingga sekarang kita mengenal Arya Sariputra sebagai murid utama Sang Buddha yang terkenal akan kebijaksanaannya. Tempat kelahiran beliau pun dipilih untuk mendirikan Biara Nalanda, institusi pendidikan Buddhis terbesar dan tertua yang menjaga Buddhadharma hingga bisa bertahan dari 2500 tahun lalu hingga sekarang.</p>
<p>Jadi, boleh nggak berdoa untuk dapat nilai bagus? Atau berdoa untuk dapat jodoh? Sah-sah saja, kok! Yang penting sebelumnya renungkan dulu, manfaat apa yang akan kita dapatkan dengan nilai bagus dan dapat jodoh. Kecerdasan berarti kita akan lebih mudah memahami Dharma dan mampu menjelaskannya kepada orang lain dengan benar. Punya jodoh berarti ada satu orang yang bisa mendampingi praktik Dharma di kehidupan ini. Keduanya bisa memenuhi syarat dedikasi pertama, yaitu membuat ajaran Buddha berkembang dalam batin kita dan makhluk lain. Begitu pula dengan keinginan-keinginan kita yang lain. Dengan merenungkan manfaat jangka panjang dari keinginan-keinginan tersebut, doa dedikasi kita akan membawa kita selangkah lebih dekat menuju kebahagiaan sejati, yaitu pencapaian Kebuddhaan.</p>
<p><em>Buku &#8220;Pembebasan di Tangan Kita&#8221; karya Phabongkha Rinpoche adalah kitab ulasan terhadap &#8220;Risalah Agung Tahapan Jalan Pencerahan&#8221; atau Lamrim Chenmo, berisi berbagai topik yang disarikan dari seluruh ajaran Buddha dan diurutkan menjadi panduan praktik yang sistematis dan mudah dipahami. Dapatkan kitab ini di <a href="http://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">Lamrimnesia Store</a>.</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/07/doa-dedikasi-bukan-sekedar-mengemis-berkah/">Doa Dedikasi: Bukan Sekedar Mengemis Berkah</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/07/doa-dedikasi-bukan-sekedar-mengemis-berkah/">Doa Dedikasi: Bukan Sekedar Mengemis Berkah</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Benarkah Doa Bisa Terkabul?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/02/27/benarkah-doa-bisa-terkabul/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Feb 2017 10:07:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dedikasi]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[merenungkan bodhicitta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2848</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD “Buddha, semoga aku bisa mengerjakan ujian besok&#8230;” Pernah nggak kamu berdoa seperti itu? Karena kita Buddhis, maka doa baiknya kita tujukan pada objek perlindungan tertinggi yaitu Sang Buddha. Tapi kamu mungkin berpikir, apakah doa ini sebenarnya memiliki efek bagi hasil yang akan kamu capai? Doa atau adalah suatu dialog spiritual yang kita lakukan, bisa [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/27/benarkah-doa-bisa-terkabul/">Benarkah Doa Bisa Terkabul?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/27/benarkah-doa-bisa-terkabul/">Benarkah Doa Bisa Terkabul?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD</p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><i><span style="font-weight: 400;">“Buddha, semoga aku bisa mengerjakan ujian besok&#8230;”</span></i></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Pernah nggak kamu berdoa seperti itu? Karena kita Buddhis, maka doa baiknya kita tujukan pada objek perlindungan tertinggi yaitu Sang Buddha. Tapi kamu mungkin berpikir, apakah doa ini sebenarnya memiliki efek bagi hasil yang akan kamu capai? Doa atau adalah suatu dialog spiritual yang kita lakukan, bisa dalam rangka apapun, </span><b>seperti harapan, mendoakan orang lain, mengucapkan terima kasih, berkeluh kesah, pengakuan, dan lainnya</b><span style="font-weight: 400;">, dilakukan pada objek perlindungan (yaitu Sang Triratna). Ada juga yang menganggap Buddha sudah tidak ada, sehingga doa bisa dipanjatkan sebagai rasa hormat pada jasa-jasa Buddha dan sebagai aspirasi untuk mencapai Ke-Buddha-an, tetapi bagaimanapun doa tersebut tetap valid, dan doa yang kamu panjatkan tetap memiliki kekuatan. </span></p>
<p>Baca juga: <a href="https://lamrimnesia.org/2020/05/26/masih-adakah-buddha-di-dunia-ini/">Masih Adakah Buddha di Dunia Ini?</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kamu bisa tahu mengapa dengan alasan-alasan di bawah ini.</span></p>
<p><b>Doa menginspirasi pikiranmu untuk mencapai yang kamu inginkan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Alasan yang paling sering orang katakan saat menganggap doa tidak memiliki kekuatan adalah “Buat apa berdoa, jika tidak bekerja atau bertindak?”, hal ini ada benarnya, namun kamu harus tahu bahwa pemikiran ini memiliki cacat bahwa menganggap bahwa kamu tidak akan melakukan apa-apa setelah berdoa. Justru berdoa merupakan cara paling ampuh untuk menginspirasi pikiranmu untuk mencapai suatu hal, ingat Buddha berkata “pikiran adalah pelopor”, saat kamu tidak melakukan apa-apa setelah berdoa, itu artinya pikiranmu sendiri yang tidak menginginkan permohonanmu saat doa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu saja untuk mendapatkan sesuatu kamu harus menanamkan sebabnya, ingat hukum karma. Maka dari itu kamu mengenal puja atau paritta pada Buddhis, yang isinya mengulang kata-kata Sang Buddha, hal ini merupakan bentuk karma baik yang dilakukan sebelum kamu mendedikasikan karma baik itu untuk tercapainya doa-doamu. Ritual-ritual ini dilakukan untuk mengurangi kecenderungan batinmu yang biasanya ‘hanya meminta’ saat berdoa agar dibiasakan untuk menanamkan sebab-sebanya juga.</span></p>
<p><b>Doa bisa mengarahkan karma baikmu ke arah tujuan yang kamu inginkan</b></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">“Doa dedikasi dan Karma baik bagaikan kuda dan tali kekang.”</span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan berdoa adalah kamu bisa mengarahkan karma baik yang telah kamu lakukan untuk tujuan-tujuanmu yang kamu inginkan. Sebagai contoh, dalam buku <a href="http://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">Pembebasan di Tangan Kita</a>, terdapat kisah  seseorang yang memiliki akar kebajikan kuat terlahir sebagai brahmana, namun kebajikannya tidak pernah didedikasikan. Saat hampir meninggal orang ini melihat tubuh gajah dan melekat terhadapnya, akhirnya dia terlahir sebagai gajah Dewa Sakra, kelahirannya tidak lebih bermanfaat dibandingkan menjadi seorang manusia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jangan lupa untuk berdoa dengan motivasi tertinggi yaitu menjadi Buddha untuk menolong semua makhluk memiliki kekuatan yang paling besar, namun jika belum bisa kamu juga bisa mengarahkan doamu untuk motivasi awal (kehidupan mendatang lebih baik) ataupun menengah (bebas dari samsara). Apakah dedikasi untuk kehidupan ini bisa? Bisa, namun Buddha mengajarkan bahwa hal tersebut tidak memiliki manfaat yang besar bagi perkembangan batin dirimu. </span></p>
<p><b>Doa memberikan energi untuk membuahkan karma juga bisa melimpahkan jasa baikmu kepada orang lain</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagaimana dengan mendoakan orang lain? Kamu mungkin seringkali bertanya bahwa kita semua memiliki jalan karma sendiri, jadi mendoakan orang lain tentunya tidak memiliki efek. Hal ini keliru, pertama, doa yang kita dedikasikan bagi orang lain semisal ibumu, memberikan energi yang bisa membantu mematangkan karma baik ibumu agar berbuah sesuai dengan dedikasi kita, dikatakan bahwa doa dan harapan yang tulus dapat membantu mematangkan buah-buah karma baik orang yang kamu doakan. Mungkin juga kamu sering mendengar istilah “Doa yang paling manjur adalah Doa Ibu”, hal ini mendukung pernyataan diatas kan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua mendoakan atau dedikasi untuk orang lain merupakan karma baik tersendiri karena kamu memunculkan niat untuk berbuat baik menolong orang lain melalui pikiran, lebih baik lagi jika kamu berdoa untuk orang yang berjasa padamu, hal ini juga merupakan bentuk rasa baktimu terhadap mereka semisal orang tua, guru, maupun Buddha. Kebajikan dari doa yang kamu lakukan dengan dasar orang lain semisal ibumu, membuat ibumu mendapatkan kontribusi kebajikan darimu  juga. Ini adalah dasar dari upacara pelimpahan jasa yang biasa dilakukan pada tradisi Buddhis, dengan sumber inspirasi cerita Yang Arya Moggalana yang melakukan pelimpahan jasa pada ibunya di alam peta.</span></p>
<p><b>Memang berdoa itu sendiri merupakan hal baik, karena kamu bisa mempraktikkan banyak hal dalam berdoa</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Buddhis sendiri juga ada banyak tipe doa, seperti membaca mantra, membaca puja, pengakuan,pelimpahan jasa, doa perlindungan, penghormatan, doa umur panjang, dan banyak lagi. Semuanya memiliki manfaat besar masing-masing bagi batinmu, karena doa sendiri memiliki kekuatan untuk meningkatkan perkembangan spiritualmu. Berdoa pada Buddha juga meningkatkan jejak-jejak berlindung / Trisarana yang kuat dalam hatimu, sehingga kamu akan semakin dekat pada jalan Buddhadharma yang membawamu pada kebahagiaan. Apalagi jika doa ini dilakukan dengan ketulusan, rasa hormat, dan keyakinan dari dalam dirimu, maka doa-doa yang kamu panjatkan bisa semakin kuat dan menjadi sebab-sebab untuk mencapai tujuanmu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, apakah doa bisa terkabul? Ya, tapi terkadang logikamu menghalangi kekuatan doamu karena kamu sibuk berpikir dan berekspektasi. Padahal berdoa adalah urusan hati. Cobalah tanya hatimu yang terdalam, di sana kamu akan menemukan bahwa hati nuranimu masih berada dalam suatu pencarian, yaitu pencarian spiritual, yang mana kamu bisa semakin dekat ke sana dengan berdoa.</span></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/27/benarkah-doa-bisa-terkabul/">Benarkah Doa Bisa Terkabul?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/27/benarkah-doa-bisa-terkabul/">Benarkah Doa Bisa Terkabul?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merenungkan Kemalasan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2016/09/29/merenungkan-kemalasan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2016 09:30:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[merenungkan bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://localhost/smartmag/?p=2336</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh Pema Chödrön Secara tradisional, kemalasan diajarkan sebagai salah satu penghalang pencerahan. Ada bermacam jenis kemalasan. Pertama, ada rasa malas yang didasari kenyamanan. Kita berusaha tak keluar dari zona nyaman. Kemudian, ada pula rasa malas yang didasari hilangnya semangat, yang membuat kita merasa tak termotivasi dan menyerah pada diri sendiri. Ada pula kemalasan yang didasari [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/merenungkan-kemalasan/">Merenungkan Kemalasan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/merenungkan-kemalasan/">Merenungkan Kemalasan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em>Oleh Pema Chödrön</em></p>
<aside class="sc-pullquote alignright">Daripada dikecewakan oleh kemalasan, kita dapat mengenalnya sedalam mungkin, dan belajar dari kemalasan yang tengah kita rasakan.</aside>
<p>Secara tradisional, kemalasan diajarkan sebagai salah satu penghalang pencerahan. Ada bermacam jenis kemalasan. Pertama, ada rasa malas yang didasari kenyamanan. Kita berusaha tak keluar dari zona nyaman. Kemudian, ada pula rasa malas yang didasari hilangnya semangat, yang membuat kita merasa tak termotivasi dan menyerah pada diri sendiri. Ada pula kemalasan yang didasari perasaan tak acuh. Pada titik ini, kita berkeras tak ingin ikut campur dengan urusan pihak lain dan menutup diri.</p>
<p><span id="more-2336"></span></p>
<p><b>Orientasi kenyamanan</b></p>
<p>Orientasi kenyamanan hadir dalam beragam bentuk pula. Dalam tulisan Sogyal Rinpoche, contohnya, dikatakan bahwa di Timur kemalasan hadir dalam bentuk berkumpul-kumpul dengan teman, minum teh, bersantai sepanjang hari. Di Barat, kemalasan justru hadir dalam bentuk ketergesaan. Orang-orang terburu-buru melakukan satu hal ke hal lain, dari sasana olahraga ke kantor ke bar ke pegunungan ke kelas meditasi ke bak cuci di dapur, ke halaman belakang, lalu ke klub malam. Kita terus, terus, terus berusaha mencari kenyamanan dan kemudahan.</p>
<p>Entah kita berlambat-lambat atau terburu-buru, atau di belahan dunia manapun kita berada sekarang, kemalasan dilandasi oleh rasa nyaman dan dicirikan oleh kesengajaan untuk tak peduli. Kita mencari ketidaktahuan, sebuah kehidupan yang tak melukai, tak menyulitkan, tak menimbulkan keraguan ataupun keresahan pada diri. Kita ingin beristirahat dari diri sendiri dan kehidupan yang kita jalani. Melalui kemalasan, kita mengejar rasa lenggang dan lega. Tapi, menemukan apa yang kita cari dengan cara ini ibarat meminum air garam, karena kehausan kita akan kenyamanan dan kemudahan takkan terpuaskan.</p>
<p><b>Kehilangan semangat hidup</b></p>
<p>Kemalasan yang didasari hilangnya semangat hidup dicirikan oleh kerentanan, trauma, dan ketidaktahuan harus berbuat apa. Kita berusaha menjadi diri sendiri namun hasilnya tak memuaskan. Diri kita saat ini tak terasa cukup. Kita mengejar kesenangan namun tak menemukan apapun yang bertahan lama. Kita meminta istirahat, pergi berlibur, belajar meditasi, mendalami ajaran spiritual, atau mendedikasikan banyak waktu merenungi pandangan politik dan filsafat tertentu. Kita telah membantu kaum papa atau menyelamatkan lingkungan atau minum-minum dan mencoba narkotika, namun kita tak juga merasa puas. Kita mencoba dan gagal hingga akhirnya mencapai tempat yang gelap dan menyakitkan. Kita tak lagi ingin bergerak, serasa lebih baik tidur ribuan tahun. Kehidupan kita terasa hampa. Kita begitu putus asa hingga kelu rasanya.</p>
<p><b>Bukan Urusan Saya</b></p>
<p>Ini adalah bentuk ketidakpedulian yang lebih fatalistik dan dingin. Sosok kemalasan yang ini dipenuhi sinisme dan kepahitan. Kita merasa kita sama sekali tak bisa peduli lagi. Kita merasa malas dan dengki di waktu yang sama. Kita merasa dengki pada dunia yang menyedihkan dan mengecewakan ini, pada si A dan si B. Utamanya, kita merasa dengki pada diri sendiri. Kita telah melakukan kesalahan, apapun itu, tapi kesalahan ini begitu besarnya sehingga kita kini merasa bahwa segala sesuatu bukan urusan kita lagi! Kita berusaha melupakannya dengan segala cara. Kita berhenti melakukan banyak hal, karena <i>toh </i>kita tak bisa berbuat banyak. Lagipula, itu bukan urusan kita, <i>kan</i>.</p>
<p><b>Apa yang Harus Dilakukan?</b></p>
<p>Manusia seolah lahir dengan asumsi bahwa kita harus melenyapkan kelemahan kita; sebagai seseorang yang mampu dan berharga, kita harus dapat melampaui kelemahan-kelemahan kita begitu saja. Mungkin, hal yang pantas dilakukan sesuai cara orang dewasa adalah meledakkan kemalasan dengan bom atau menjatuhkannya ke Samudera Atlantik dengan pemberat yang amat besar sehingga Ia takkan lagi muncul, atau mengirimnya ke ruang angkasa sehingga ia akan melayang selamanya dalam kehampaan dan kita takkan pernah perlu berurusan dengannya lagi.</p>
<p>Namun kita perlu menanyakan pada diri sendiri. Dari mana kebahagiaan muncul? Dari mana inspirasi muncul? Kita akan menemukan bahwa mereka tak muncul dari membuang ini-itu, membelah diri sendiri menjadi dua, atau mati-matian melawan sembari menghabiskan tenaga sendiri. Mereka tak muncul dari memandang kemalasan sebagai musuh atau sesuatu yang harus dilampaui. Mereka tak muncul dari upaya merendahkan diri sendiri.</p>
<p>Jalan menuju pencerahan adalah sebuah proses belajar, secara perlahan, untuk mengakrabi ‘halangan-halangan’ yang muncul. Maka dari itulah, daripada dikecewakan oleh kemalasan, kita bisa memperhatikannya lebih dekat dan membangkitkan rasa ingin tahu terhadapnya, sehingga akhirnya kita bisa mengenalnya dengan baik.</p>
<p>Kita dapat bersatu dengan kemalasan, menjadi kemalasan kita sendiri, mengetahui bau dan rasanya dalam badan kita. Perjalanan spiritual adalah proses untuk bisa sungguh-sungguh merasa nyaman pada saat ini. Kita berusaha terhubung dengan momen kelesuan atau hilang semangat ini, dengan momen rasa sakit, penghindaran, dan sikap tak peduli ini. Kita menghubungkan diri dengan semua perasaan ini, kemudian melepasnya. In adalah sebuah latihan. Baik dalam meditasi formal atau dalam siang-malam yang kita lewati, kita dapat berlatih untuk berhenti mengomentari diri sendiri dan menghubungkan diri dengan pengalaman yang dirasakan tanpa tersangkut ke alur ceritanya. Kita bisa meresapi momen saat ini dan membiarkannya pergi.</p>
<p>Kita bisa jadi tengah duduk bermeditasi atau melakukan kebiasaan sehari-hari, dan tiba-tiba saja kita mendengar apa yang sedang diri kita katakan. Yang kita dengar adalah, “Hoi oi, hoi oi, inilah aku, seorang yang gagal. Tiada harapan”. Lihatlah apa yang kita lakukan dan katakan pada diri sendiri, bagaimana kata-kata ini menghilangkan semangat hidup atau mencoba mengalihkan perhatian kita. Kemudian, biarkan kata-kata ini pergi menyentuh hati kita saat ini. Sentuhlah momen keberadaan saat ini, lalu biarkan ia pergi. Beginilah cara kita berlatih. Lagi dan lagi, inilah praktik kita.</p>
<p>Kita memulihkan semangat hidup dengan kejujuran dan kebaikan. Kita tak kabur dari sakitnya kemalasan, namun malah bergerak mendekat. Kita membungkukkan badan pada arusnya, berenang ke arahnya.</p>
<p>Di tengah proses penyatuan diri dengan saat ini, mungkin kita akan tersadarkan bahwa di luar sana ada banyak saudara/i kita yang juga tengah menderita. Dengan mengakrabi rasa sakit dan malas yang kita alami, kita mendekatkan diri dengan mereka semua, mengetahui, dan mengerti bagaimana kita semua terhubung.</p>
<p>Kita duduk di depan televisi, makan keripik, minum bir, merokok. Selama berjam-jam kita hanya duduk diam. Lalu, tiba-tiba kita melihat diri kita sejelas-jelasnya. Kita dapat memilih makan bungkus keripik ke-10 dan menonton sinetron ke-16, atau memahami rasa tertekan dan malas yang kita alami dengan jujur dan terbuka. Kita meresapi perasaan dan merasa nyaman, bukannya terus-menerus menutup diri dan pura-pura tak tahu. Beginilah caranya berlatih.</p>
<p>Bisa jadi kita tengah membuka jendela atau berjalan-jalan keluar, atau duduk dalam diam, namun apapun yang kita lakukan, kita sadar untuk tetap mawas diri, untuk melampaui kata-kata dan rasa tak peduli, untuk sungguh-sungguh merasakan momen saat ini di hati kita, di perut kita, untuk diri sendiri dan jutaan orang yang juga mengalaminya. Kita mulai melatih keterbukaan dan welas asih terhadap momen saat ini. Momen saat ini menjadi tahap yang memulihkan dan menggugah. Seketika itu juga, momen kemalasan menjadi guru pribadi kita.</p>
<p>(<em>Sumber: <a href="http://www.lionsroar.com/start-where-you-arelooking-into-laziness/">Lionsroar.com</a> </em>|<em> Diterjemahkan oleh Lisa Santika Onggrid</em>)</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/merenungkan-kemalasan/">Merenungkan Kemalasan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/merenungkan-kemalasan/">Merenungkan Kemalasan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
