<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kematian dan ketidakkekalan - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/kematian-dan-ketidakkekalan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Jul 2026 05:27:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.14</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>kematian dan ketidakkekalan - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Membaca Jika Hidupku Tinggal Sehari, Berhadapan dengan Hati yang Terombang-Ambing</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/07/03/jika-hidupku-tinggal-sehari-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2026 04:56:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[jika hidupku tinggal sehari]]></category>
		<category><![CDATA[kematian dan ketidakkekalan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10446</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Merenungkan kematian itu perlu, tetapi sehatkah jika terus-menerus berpikir bahwa kita akan mati? Jika Hidupku Tinggal Sehari, sebuah buku filsafat Buddhisme yang dibaca dengan penuh benturan batin.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/03/jika-hidupku-tinggal-sehari-2/">Membaca <em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em>, Berhadapan dengan Hati yang Terombang-Ambing</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/03/jika-hidupku-tinggal-sehari-2/">Membaca &lt;em&gt;Jika Hidupku Tinggal Sehari&lt;/em&gt;, Berhadapan dengan Hati yang Terombang-Ambing</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Judul Buku&nbsp; : Jika Hidupku Tinggal Sehari&nbsp;&nbsp;<br>Penulis &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; : Dagpo Rinpoche<br>Ketebalan&nbsp; &nbsp; : v + 142 hlm<br>Penerbit &nbsp; &nbsp; &nbsp; : Saraswati<br>Tahun Terbit: 2017</p>



<p>Bimbang. Membaca buku <em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em> karya Dagpo Rinpoche mau tak mau harus duduk berhadapan dengan kebimbangan batin. Mungkin sebelum masuk pada inti bahasan buku ini, pertanyaan pertama: apa yang dirasakan dan akan dilakukan jika seandainya kita tahu hanya tersisa waktu satu hari bahkan satu jam untuk menjalani hidup ini? Tak ada hari kemarin pun esok, yang ada hanya waktu sekarang.</p>



<p>Tampaknya pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh diri masing-masing. Mungkin juga ia sulit untuk dijawab. Status dalam masyarakat, pekerjaan, relasi, dan kesuksesan materi—semua bayangan dan rancangan masa depan tampak mudah untuk dipikirkan. Hanya saja, waktu yang berjalan begitu cepat tak menyisakan sedikit pun kepastian tentang apa yang akan datang. Semuanya bergerak dinamis, akan habis masanya, atau akan digantikan dengan yang baru. Yang pasti di kehidupan ini hanya ketidakkekalan. Kehidupan yang penuh kemelekatan, ketidakkekalan yang membawa pada titik kematian. Namun dalam Buddhisme, semua itu adalah siklus yang berulang. Kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali. Maka boleh saja berpikir bahwa semua itu bagai jalan tak berujung.&nbsp;</p>



<p><em>Now is now</em>. Sekelebat pikiran itu muncul ketika berhadapan dengan pertanyaan awal di atas. Sebuah filosofi hidup yang multitafsir. Pertama, melihat keberadaan hari ini sebagai hari ini, besok sebagai besok tanpa terbebani oleh masa depan. Atau yang kedua, filosofi itu mengantarkan pada kesadaran yang lebih menyesakkan bahwa detik ini adalah satu-satunya yang nyata, memaksa kita untuk merenung dan mempersiapkan kematian di depan mata. Di antara dua makna itu, mana yang kira-kira lebih tepat? Mungkinkah jawabannya ada di buku <em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em>?&nbsp;</p>



<p>Mungkin juga tidak. Kata ‘mungkin’ ditekankan dalam hal ini sebab menuliskan apa yang dibayangkan dan didapatkan setelah membaca buku ini dipenuhi oleh batin yang terombang-ambing. <em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em> memuat lima pokok bahasan, yaitu <strong>Pendahuluan</strong> sebagai perenungan awal akan hidup, <strong>Kehidupan Manusia yang Berharga, Kematian dan Ketidakkekalan, Mempersiapkan Kematian,</strong> dan <strong>Praktik Pengakuan berdasarkan Sutra Tiga Himpunan</strong>. Buku ini mengajak untuk kembali memaknai kehidupan manusia yang berharga sekaligus mempersiapkan kematian yang bisa datang kapan saja.&nbsp;</p>



<p><em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em> adalah pengingat bahwa terlahir sebagai manusia merupakan keberuntungan yang amat langka dan betapa terbatasnya waktu yang dimiliki. Karena mati itu pasti, merenungkannya dianggap sebagai jalan terbaik untuk bersiap diri. Di samping itu, menghargai hidup bisa dimulai dengan menanamkan motivasi sejak bangun pagi untuk berbuat bajik dan menjalankan satu hari dengan sungguh-sungguh seakan hari itu adalah hari terakhir yang dimiliki, hingga tata cara memurnikan karma buruk yang merintangi praktik Dharma. Sederhananya, buku ini mengajak kita untuk melihat kematian tidak lagi dengan ketakutan dan mempersiapkannya adalah bekal untuk memperoleh kebahagiaan di kehidupan selanjutnya.</p>



<p>Tentu buku ini benar bahwa kematian bisa datang kapan saja dan salah satu cara menghargai kehidupan yang dimiliki saat ini adalah dengan mengingat kematian. Namun, di saat buku ini begitu khusyuk menyuguhkan kiat-kiat mempersiapkan kematian, ada batin yang justru berkelahi ketika membacanya. Sehatkah jika isi kepala terus-menerus dijejali pemikiran bahwa kita akan mati? Sehatkah jika dalam waktu yang terbatas itu hanya diisi oleh perenungan?</p>



<p>Lebih lanjut, buku ini menerangkan bahwa salah satu manfaat mengingat kematian adalah kita akan mati dengan damai dan bahagia. Kalau harus kembali menempatkan batin dan pikiran dengan jujur, rasanya sebagian diri tidak rela untuk menyetujui pernyataan itu. Jika hidup saja diteror oleh keharusan untuk memikirkan kematian setiap saat, bagaimana mungkin kematian itu bisa disambut dengan kelegaan?&nbsp;</p>



<p>Meski secara menyeluruh buku perenungan ini juga ingin memberitahu bahwa antara kesuksesan duniawi dan pencapaian spiritual harus seimbang, serta menjalankan hidup yang ada hari ini dengan sebijak mungkin, tetapi membacanya seakan lebih mengantarkan pada pesimisme dalam melihat kehidupan. Entah karena buku ini memang diperuntukkan untuk lebih melihat kehidupan yang lebih jauh ke depan dan melampaui segala yang bisa direncanakan di kehidupan sekarang atau karena ketidakmampuan diri untuk memahami isinya secara utuh sehingga ada begitu banyak benturan batin yang terjadi.&nbsp;</p>



<p>Terlalu angkuh untuk mengatakan bahwa merenungkan kematian dan segala hal yang sudah dilakukan di hidup ini tidak penting. Di saat-saat tertentu, dialog dengan diri sendiri dan perenungan itu dibutuhkan. <em>Toh,</em> pada akhirnya kita memang tidak kekal di alam semesta ini. Kematian adalah sesuatu yang tak terelakkan. Begitu pula dengan memikirkan cara untuk mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya di kehidupan mendatang. Siapa yang tidak ingin bahagia selamanya? Bahkan makhluk paling kecil pun mendambakan hal itu. Namun sebelum jauh-jauh ke sana, bukankah penting juga untuk lebih dulu bertanya ke diri sendiri apakah selama ini kita sudah benar-benar hidup atau belum? Apakah dengan memikirkan kematian terus-menerus akan membuat kita bisa menjadi lebih hidup? Anggap saja kita sudah punya segudang cara untuk mempersiapkan kematian, tetapi bagaimana dengan cara untuk hidup? Bukan sekadar bernapas, makan, dan melakoni segala aktivitas, tetapi menghidupi diri sendiri. Sudahkah hidup itu dirasakan? Bagaimana mungkin bisa mempersiapkan kehidupan mendatang jika pikiran saat ini hanya berputar pada kematian setiap saat? Antara bersiap mati atau memilih hidup, semua pertanyaan dan keresahan itu hanya mengawang di udara.&nbsp;</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/03/jika-hidupku-tinggal-sehari-2/">Membaca <em>Jika Hidupku Tinggal Sehari</em>, Berhadapan dengan Hati yang Terombang-Ambing</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/03/jika-hidupku-tinggal-sehari-2/">Membaca &lt;em&gt;Jika Hidupku Tinggal Sehari&lt;/em&gt;, Berhadapan dengan Hati yang Terombang-Ambing</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tragedi SJ-182: Siapkah Kita Menghadapi Kematian dan Menerima Kehilangan?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/01/13/buddhis-pray-for-sj-182/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2021 11:17:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[kematian dan ketidakkekalan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pray for Sriwijaya Air SJ-182]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5756</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kematian seharusnya merupakan topik yang wajar direnungkan dan dibahas. Setiap tragedi adalah pengingat agar kita menerima ketidakkekalan.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/01/13/buddhis-pray-for-sj-182/">Tragedi SJ-182: Siapkah Kita Menghadapi Kematian dan Menerima Kehilangan?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/01/13/buddhis-pray-for-sj-182/">Tragedi SJ-182: Siapkah Kita Menghadapi Kematian dan Menerima Kehilangan?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Nirgundi Jayawardhani</p>



<p>Berita kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 menuai banyak tanggapan. Mulai dari ungkapan duka cita, dukungan terhadap keluarga korban, sampai-sampai <em>dark jokes</em> <em>nyeleneh</em> yang membuat hati miris. Bagaimana dengan umat Buddha? Tanggapan seperti apa yang bisa diberikan seorang Buddhis dalam situasi seperti ini?&nbsp;</p>



<p>Tanggapan terhadap suatu kejadian tentunya bergantung pada masing-masing orang. Namun, satu hal yang pasti, akan sangat baik bila seorang Buddhis bisa mengaitkan setiap fenomena yang ia alami atau temui dengan Dharma. Y.M. Biksu Bhadra Ruci dalam buku “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/bertuhan-beragama-dan-hal-hal-lain-yang-belum-selesai/">Bertuhan, Beragama, dan Hal-Hal yang Belum Selesai</a>”, berujar sebagai berikut.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“<em>Umat Buddhis di Indonesia masih menganggap bahwa diri mereka dan Dharma adalah dua alam yang berbeda. Mereka bisa saja keluar rumah dan bercuap-cuap tentang keagungan sosok Buddha dan Dharma yang beliau ajarkan, lalu kembali masuk ke rumah dan bertingkah seolah-olah Dharma itu tak ada. Hampir tak ada individu yang memperlakukan Dharma sebagai instruksi pribadi dalam rangka melatih kapasitas batin</em>. “</p><cite>Y.M. Biksu Bhadra Ruci</cite></blockquote>



<p>Sama halnya dengan ketika kita melihat berita mengenai kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182, alangkah baiknya jika kita mengaitkan berita tersebut dengan perenungan Dharma. Kita keliru jika menganggap bahwa berita tersebut hanyalah fenomena duniawi dalam keseharian yang tidak ada kaitannya dengan Dharma sama sekali. Praktik Dharma bukan cuma waktu kita duduk meditasi atau melakukan kebaktian. Sebaliknya, justru lewat fenomena-fenomena dalam keseharianlah kita dapat melatih batin kita dengan Dharma. Lantas, topik Dharma apa yang bisa direnungkan terkait berita kecelakaan pesawat tersebut? Tentunya banyak sekali perenungan yang dapat dilakukan, namun yang paling terkait adalah topik mengenai ketmatian dan ketidakkekalan.</p>



<p>COVID-19 sudah mengingatkan kita akan kematian berulang kali tanpa ampun. Setelah sekian lama dan sering terpapar berita COVID-19, bukannya takut, kita malah bosan dan makin berani menganggap sebelah mata momen kematian. Tambahan lagi, hingar-bingar momen tahun baru juga membuat kita semakin lupa bahwa kita, para manusia ini, tidaklah abadi. Kita pastilah mati, tapi entah kapan waktu pastinya. Dua poin ini merupakan<em> double hit</em> yang seharusnya semakin mendorong kita untuk mewaspadai kepastian kematian.&nbsp;</p>



<p>Momen kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182 ini tidak hanya perlu menjadi perhatian bagi para keluarga korban semata, melainkan juga menjadi pengingat bagi seluruh umat manusia di bumi. Bagaimana jika&nbsp; pesawat yang kita tumpangi di masa mendatang juga mengalami kecelakaan? Bagaimana jika ada keluarga kita yang mengalami kecelakaan pesawat di masa mendatang? Bagaimana jika ternyata waktu kematian sudah dekat, merenggut habis kehidupan kita atau kehidupan orang yang kita cintai dari dunia? Bagaimana keadaan kita ataupun orang yang kita cintai setelah kematian? Apakah kita sudah siap menghadapi kematian dan kehilangan? Apakah orang-orang yang kita cintai juga sudah siap menghadapi kematian? Semua pikiran ini yang seharusnya mengisi kepala kita ketika melihat berita duka kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182.</p>



<p>Barangkali, para pembaca merasa pertanyaan-pertanyaan barusan terlalu skeptis, suram, menakut-nakuti, dan tidak etis. Namun, bukankah semua pertanyaan-pertanyaan di atas memang merupakan kemungkinan yang tak dapat dihindari? Kita, orang-orang yang kita cintai, orang-orang yang kita benci, dan bahkan semua makhluk tidak dapat mengelak atau mengulur waktu kematian. Kematian pasti akan datang, tapi tidak tahu kapan. Tidak tahu juga apa yang akan menjadi sebabnya. Mengapa kita masih sibuk membohongi dan meyakinkan diri bahwa kita akan terus hidup? Sang Buddha saja tak dapat menghindari kematian, bagaimana dengan kita? Masihkah kita tidak berani mengakuinya? Masihkah tabu untuk membahasnya?&nbsp;</p>



<p><em>Baca juga: <a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika hidupku tinggal sehari,</a><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/ini-yang-harus-kuperbuat/"> ini yang harus kuperbuat.</a></em></p>



<p>Kematian sungguh suatu topik yang wajar (bahkan harus) direnungkan dan dibahas.&nbsp; Alih-alih mengelak darinya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang jauh di awang-awang, kita semestinya belajar menapak dan menerima ketidakkekalan, menerima kemungkinan kita mengalami kematian. Dengan mulai menerima kematian, kita justru dapat melihat kematian bukan sebagai hal yang tabu atau yang perlu ditakuti lagi, melainkan sebagai hal yang dapat mendorong kita untuk semakin giat untuk melatih diri dalam Dharma.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/01/13/buddhis-pray-for-sj-182/">Tragedi SJ-182: Siapkah Kita Menghadapi Kematian dan Menerima Kehilangan?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/01/13/buddhis-pray-for-sj-182/">Tragedi SJ-182: Siapkah Kita Menghadapi Kematian dan Menerima Kehilangan?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
