<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kebajikan dalam Untaian Doa Bagi yang Beruntung 2020 - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/kebajikan-dalam-untaian-doa-bagi-yang-beruntung-2020/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Wed, 13 Jan 2021 11:05:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.14</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>Kebajikan dalam Untaian Doa Bagi yang Beruntung 2020 - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kebajikan dalam Untaian Doa: Umat Buddhis atau Filsuf Buddhis; Kamu yang Mana?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/01/13/up2020-4-segel-agung-dharma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2021 11:05:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[4 Segel Agung Dharma]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Drepung Tripa Khenzur Rnpoche]]></category>
		<category><![CDATA[Kebajikan dalam Untaian Doa Bagi yang Beruntung 2020]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5753</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>4 Segel Agung Dharma adalah kunci menjadi filsuf Buddhis yang bisa mendapat manfaat penuh dari ajaran Buddha.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/01/13/up2020-4-segel-agung-dharma/">Kebajikan dalam Untaian Doa: Umat Buddhis atau Filsuf Buddhis; Kamu yang Mana?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/01/13/up2020-4-segel-agung-dharma/">Kebajikan dalam Untaian Doa: Umat Buddhis atau Filsuf Buddhis; Kamu yang Mana?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Silvi Wilanda</p>



<p>Pergantian tahun. Sebuah momen yang tidak hanya ditunggu-tunggu, namun juga dimaknai secara sakral oleh banyak orang. Banyak aktivitas-aktivitas khas yang rasanya “wajib” dilakukan, misalnya makan bersama keluarga, menyalakan kembang api, kumpul bareng teman, serta membuat resolusi tahun baru. Ya, banyak cara untuk merayakan momen pergantian tahun, begitu juga halnya dengan Kadam Choeling Indonesia (KCI). Setiap tahunnya, KCI selalu memaknai momen pergantian tahun dengan menghimpun kebajikan dengan melakukan retret penyunyian bersama. Adapun aktivitas kebajikan yang dilakukan adalah puja dan mendengarkan pembabaran Dharma.&nbsp;</p>



<p>Tak terkecuali pada pergantian tahun 2020 menuju 2021, KCI juga kembali mengadakan pengumpulan kebajikan dan siaran pengajaran Dharma “Kebajikan Dalam Untaian Doa Bagi yang Beruntung” secara daring melalui aplikasi Zoom pada 25 Desember 2020 hingga 1 Januari 2021. Acara kali ini terdiri atas puja bersama pada sesi pertama dan kedua serta mendengarkan siaran pembabaran Dharma pada sesi ketiga. Sesi pembabaran Dharma sendiri merupakan tayangan ulang pembabaran topik “Empat Segel Agung” serta “Karma dan Akibatnya” yang pernah diberikan oleh Y.M. Drepung Tripa Khenzur Rinpoche. Tulisan ini secara khusus akan membahas kembali pembabaran Dharma topik “Empat Segel Agung” oleh Y. M. Khenzur Rinpoche melalui kacamata penulis.&nbsp;</p>



<h4><strong>Filsuf Buddhis: Mempelajari Empat Segel Agung&nbsp;</strong></h4>



<p>Rinpoche menjelaskan bahwa Empat Segel Agung merupakan empat pandangan, prinsip, serta filsafat dalam Buddhisme, yang diantaranya adalah sebagai berikut.&nbsp;</p>



<ol><li>Semua fenomena komposit tidak kekal.</li><li>Semua fenomena tercemar memiliki sifat dasar menderita.</li><li>Semua fenomena tidak memiliki aku, sunya dalam eksistensi yang inheren.&nbsp;</li><li>Nirwana adalah kedamaian tertinggi.&nbsp;</li></ol>



<p>Topik Empat Segel Agung merupakan topik yang amat penting dipelajari karena merupakan pandangan mendasar dalam filsafat Buddhis. Suatu ajaran dikatakan sejalan dengan Buddhisme jika ajaran tersebut berpijak pada Empat Segel Agung ini. Seseorang yang memahami dan menerima ajaran Empat Segel Agung tidak hanya dikatakan sebagai seorang Buddhis saja, melainkan juga seorang filsuf Buddhis.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Lebih lanjut, Rinpoche membabarkan perbedaan antara seorang Buddhis dan seorang filsuf Buddhis. Seorang Buddhis merupakan seseorang yang mengambil praktik berlindung (tisarana) kepada Buddha, Dharma, dan Sangha (Triratna). Sedangkan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, seorang filsuf Buddhis merupakan seseorang yang sudah memahami dan menerima topik Empat Segel Agung. Seorang filsuf Buddhis sudah pasti merupakan seorang Buddhis, namun seorang buddhis belum tentu merupakan seorang filsuf buddhis. Seseorang yang mempraktikkan Tisarana belum tentu berpegang pada Empat Segel Agung, sedangkan seseorang yang sudah berpegang pada Empat Segel Agung dengan kuat seyogyanya sudah melakukan praktik berlindung. Dari sini, dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang filsuf Buddhis adalah seseorang yang berada pada tahapan lebih lanjut dibanding seorang yang hanya Buddhis semata. Dengan demikian, topik Empat Segel Agung penting untuk dipelajari agar kita dapat mengembangkan diri ke tahapan yang lebih lanjut, yakni menjadi filsuf Buddhis (tentunya setelah sebelumnya menjadi seorang Buddhis terlebih dahulu dengan mengambil perlindungan kepada Triratna).&nbsp;</p>



<p>Tapi, sebenarnya apa yang dimaksud dengan filsuf buddhis? Mari kita dalami maknanya. Sebelumnya, mari kita bahas dulu arti kata “filsuf”. Menurut KBBI, filsuf adalah 1) ahli filsafat, ahli pikir; 2) orang berfilsafat. Berdasarkan pengertian ini, dapat kita artikan bahwa filsuf buddhis adalah seorang ahli filsafat Buddhis, ahli pikir Buddhis, dan orang yang berfilsafat buddhis. Seorang filsuf Buddhis memiliki pemikiran, cara pandang, dan pemahaman yang berpegang pada prinsip-prinsip dasar buddhis, yaitu Empat Segel Agung.&nbsp;</p>



<p>Mengapa kita perlu menjadi filsuf Buddhis? Untuk menjadi bahagia, tidak cukup bagi kita untuk melakukan praktik-praktik Dharma saja. Kita juga perlu memiliki pola pikir dan cara pandang Buddhis. Bayangkan saja jika kita hanya berdoa kepada Buddha tanpa memahami Dharma yang Beliau ajarkan, tentu akan sia-sia bukan? Padahal Buddha sendiri mengajarkan Dharma agar kita dapat mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan sehingga semakin dekat dengan kebahagiaan sejati. Untuk itu, penting bagi kita memiliki pola pikir dan cara pandang Buddhis agar kita memiliki kacamata yang tepat dalam menjalani hidup dan dapat mengembangkan batin hingga akhirnya bebas dari penderitaan.&nbsp;</p>



<p>Selain itu, seperti halnya dengan mendalami filsafat lainnya, seorang filsuf Buddhis juga mampu kritis dalam menghadapi setiap permasalahan yang dihadapinya dalam kehidupan. Misalnya, ketika kita merasa sedih. Kita bisa menganalisisnya melalui Empat Segel Agung. Misalnya, Segel Agung pertama mengingatkan kepada kita bahwa kesedihan kita bukanlah sesuatu yang kekal sehingga kita memiliki peluang untuk terbebas dari kesedihan. Segel Agung kedua mengingatkan kita bahwa perasaan sedih adalah perasaan yang wajar dan tidak perlu ditolak karena semua fenomena tercemar memiliki sifat dasar menderita sehingga kita bisa menerima penderitaan kita dengan lapang dada.</p>



<h4><strong>Pengalaman Mendengarkan Pembabaran Empat Segel Agung</strong></h4>



<p>Pada sesi pembabaran Dharma, Rinpoche membedah setiap prinsip Empat Segel Agung dengan amat terperinci. Bahkan lebih dari itu, Rinpoche juga membabarkan topik-topik dasar sebagai penunjang bagi para pendengar ajaran untuk memahami topik Empat Segel Agung itu sendiri.&nbsp; Misalnya saat menjelaskan mengenai segel pertama, yakni “semua fenomena komposit tidak kekal”, Rinpoche membedah definisi konsep “fenomena komposit” serta “ketidakkekalan” itu sendiri dengan sangat rinci. Rinpoche juga membahas topik kematian sebagai topik pendukung untuk memahami konsep ketidakkekalan yang telah disebutkan sebelumnya. Selebihnya, penjelasan Rinpoche tidak perlu saya jabarkan lebih lanjut di sini karena bisa dibaca buku transkrip “4 Segel Agung Dharma” yang telah diterbitkan (dan akan diterbitkan ulang) oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara.</p>



<p>Saya sendiri sangat terpukau dengan ketulusan Y.M. Khenzur Rinpoche ketika mengajar. Bagaimana tidak? Agar para pendengar ajaran bisa memahami topik Empat Segel Agung secara tepat dan lebih mendalam, Beliau rela mengajar dengan sangat rinci dan bahkan membahas topik-topik mendasar sebelum sampai pada pembabaran topik utama, yakni topik Empat Segel Agung itu sendiri. Berkat kebaikan hati Rinpoche itulah, saya bisa memiliki pemahaman yang sedikit lebih mendalam terhadap topik Empat Segel Agung. Saya sendiri melihat bahwa Empat Segel Agung merupakan ringkasan dari Lamrim (Tahapan Jalan Menuju Pencerahan) dan Empat Kebenaran Arya. Segel pertama, yakni “semua fenomena komposit tidak kekal”, mendorong kita untuk menyadari bahwa kehidupan kita sekarang ini adalah tidak kekal sehingga perlu membangkitkan ketertarikan pada kehidupan mendatang (motivasi awal Lamrim). Kemudian, segel kedua, yakni “semua fenomena tercemar memiliki sifat dasar menderita”, membuat kita melihat bahwa hakikat dasar setiap bentuk kehidupan adalah penderitaan sehingga mendorong kita untuk meraih pembebasan dari samsara (motivasi menengah dan agung Lamrim). Kemudian segel ketiga, “semua fenomena tidak memiliki aku, sunya dalam eksistensi yang inheren” mendorong kita untuk melihat sang jalan menuju pembebasan (Kebenaran Arya yang ketiga), yakni melalui perenungan akan kesunyataan yang memotong <em>klesha</em> ketidaktahuan, akar utama dari segala penderitaan samsara. Terakhir, segel keempat, “nirwana adalah kedamaian tertinggi”, mendorong kita untuk melihat tujuan yang seharusnya kita raih (Kebenaran Arya yang Keempat).&nbsp;</p>



<p>Selain itu, saya merasa lebih memahami topik Empat Segel Agung melalui mendengar dibanding dengan hanya membaca transkrip. Ketika mendengar secara langsung, kita tidak hanya memahami topik ajaran, namun juga memperoleh rasa akan pemahaman dan pengalaman dari Sang Guru itu sendiri. Hal ini sesuai dengan perkataan Y.M. Biksu Bhadra Ruci yang kurang lebih mengatakan bahwa ketika membabarkan ajaran, Sang Guru tidak hanya menyalurkan pemahaman, namun juga rasa dan pengalaman Sang Guru akan topik tersebut. Namun, jika Anda kemarin melewatkan kesempatan untuk mengikuti retret “Kebajikan Dalam Untaian Doa Bagi yang Beruntung” ataupun ingin mempelajari kembali topik Empat Segel Agung, membaca transkrip juga merupakan tindakan yang bajik.&nbsp;</p>



<p>Jadi, apakah Anda siap untuk menjadi filsuf buddhis dengan memahami lebih mendalam topik Empat Segel Agung?&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/01/13/up2020-4-segel-agung-dharma/">Kebajikan dalam Untaian Doa: Umat Buddhis atau Filsuf Buddhis; Kamu yang Mana?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/01/13/up2020-4-segel-agung-dharma/">Kebajikan dalam Untaian Doa: Umat Buddhis atau Filsuf Buddhis; Kamu yang Mana?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kebajikan dalam Untaian Doa: Pelajaran tentang Karma dan Akibat-Akibatnya</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/01/13/up2020-karma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2021 11:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Drepung Tripa Khenzur Rnpoche]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[Kebajikan dalam Untaian Doa Bagi yang Beruntung 2020]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5750</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Karma dalam ajaran Buddh amatlah rumit, tapi penting dipelajari demi meraih kebahagiaan yang tahan lama.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/01/13/up2020-karma/">Kebajikan dalam Untaian Doa: Pelajaran tentang Karma dan Akibat-Akibatnya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/01/13/up2020-karma/">Kebajikan dalam Untaian Doa: Pelajaran tentang Karma dan Akibat-Akibatnya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh BESTRELOAD</p>



<p>Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara menutup tahun 2020 dengan memfasilitasi siaran pengajaran Dharma dalam acara daring “Kebajikan dalam Untaian Doa bagi yang Beruntung”. Pengajaran Dharma yang disiarkan adalah dari Y.M. Drepung Tripa Khenzur Rinpoche Lobsang Tenpa dengan topik “Empat Segel Dharma” pada tanggal 25-27 Desember 2020 dan “Karma dan Akibat-akibatnya” pada tanggal 28-31 Desember 2020. Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi tentang apa yang saya dapat dalam pengajaran topik “Karma dan Akibatnya”. Mari simak bersama.</p>



<p>Sesi pengajaran dimulai dengan penjelasan definisi. Ada dua aspek yang perlu diketahui saat membahas topik “Karma dan Akibat-akibatnya”, yaitu mengenai “karma” dan “akibatnya”. Karma merujuk pada suatu niat dan tindakan, yang pada akhirnya menjadi suatu sebab. Akibat karma merujuk pada perasaan menyenangkan, tidak menyenangkan, atau netral yang merupakan hasil dari karma. Karma sudah mulai dikumpulkan ketika kita pertama kali membangkitkan niat dan sudah mulai dihasilkan bahkan sebelum niat tersebut diwujudkan. Y.M Khenzur Rinpoche memberikan contoh misalnya namaskara, karma dimulai saat muncul niat yang mendahului tindakan fisiknya (karma mental) dan saat tindakannya betul-betul dilakukan (mencakup karma fisik dan verbal). Jadi, setiap saat kita senantiasa membuat karma yang baru.</p>



<p>Selanjutnya Y.M. Drepung Tripa Khenzur Rinpoche menjelaskan tentang bermacam-macam klasifikasi karma. Cara kerja karma dan akibat-akibatnya merupakan hal yang kompleks. Oleh karena itu, Buddha menjelaskan berbagai jenis “klasifikasi karma” untuk memberikan pemahaman setepat mungkin, misalnya klasifikasi berdasarkan bajik atau tidaknya tindakan, berdasarkan sifat karma yang “melempar” makhluk ke kelahiran berikutnya, dan masih banyak lagi.</p>



<p>Poin penting saat mempelajari topik karma adalah sifat atau karakteristik dari karma dan akibatnya. Karma memiliki empat sifat yaitu:</p>



<p>1. &nbsp; &nbsp; &nbsp; Karma itu pasti: karma yang bajik pasti menghasilkan hal yang positif dan karma tidak bajik pasti menghasilkan hal yang negatif.</p>



<p>2. &nbsp; &nbsp; &nbsp; Karma berkembang dengan pesat: seperti pohon besar yang tumbuh dari biji yang kecil, begitu pula karma yang kecil dapat tumbuh menjadi besar dengan sangat cepat.</p>



<p>3. &nbsp; &nbsp; &nbsp; Kita tidak akan mengalami akibat dari karma yang tidak dilakukan: jika belum menciptakan sebab-sebabnya, kita tidak akan mendapatkan akibat.</p>



<p>4. &nbsp; &nbsp; &nbsp; Karma yang dirampungkan tidak akan sia-sia: artinya ketika karma sudah diperbuat, terkecuali ada klesha atau tindakan lain yang memengaruhi karma tersebut, kita pasti akan mengalami akibatnya.</p>



<p>Apa tujuan mempelajari empat sifat karma dan akibatnya ini? Poinnya adalah karma harus diperhatikan dengan sangat hati-hati, tidak bisa diremehkan. Karma tidak akan hilang dan terus berkembang, jadi bahkan kita harus berhati-hati atas sekecil apapun perbuatan buruk yang kita lakukan karena pasti ada konsekuensi dari tindakan kita.&nbsp; Sangat penting bagi diri kita untuk menanamkan pemahaman dan keyakinan yang kokoh pada hukum karma dan akibat-akibatnya ini karena dengan pemahaman dan keyakinan yang kokoh, kita bisa mengendalikan diri karena yakin akan konsekuensi dari tindakan kita.</p>



<p>Pada dua sesi terakhir, Y.M. Drepung Tripa Khenzur Rinpoche menjelaskan 10 jalan karma hitam dan putih, kriteria beratnya karma, makna puja dan Doa 7 Bagian, serta akibat karma. Topik-topik ini dijelaskan secara terperinci oleh Beliau lengkap dengan contoh dan basisnya. Poin penting yang saya dapatkan adalah ketika telanjur melakukan ketidakbajikan, kita harus berhati-hati dan memastikan karma hitam kita bukan merupakan jalan karma yang lengkap. Sebaliknya dengan karma putih, kita harus memastikan semua aspek jalan karmanya lengkap agar mendapatkan hasil yang lengkap pula.</p>



<p>Jalan karma yang lengkap akan menghasilkan akibat karma yang lengkap, yaitu: akibat yang matang sepenuhnya (menentukan alam kehidupan), serupa dengan penyebabnya (menentukan pengalaman dan perilaku), dan menentukan lingkungan (menentukan lingkungan tempat tinggal). Jadi, jika karma tak bajik yang lengkap akan mendatangkan penderitaan yang lebih besar. Di sisi lain, karma bajik haruslah lengkap agar dapat mendatangkan kebaikan yang maksimal.</p>



<p>Setelah mengetahui poin-poin di atas, kita bisa mengubah cara kita berperilaku dan berpikir pada situasi sehari-hari. Misalnya saat melakukan karma buruk seperti berbohong, kita harus menyadari kesalahan kita dan sungguh-sungguh menyesalinya agar karmanya tidak semakin kuat. Kita juga harus melatih diri mengurangi klesha (kemelekatan, kebencian, dan kegelapan batin) agar tidak melakukan karma buruk yang berat hingga akhirnya bisa berhenti sepenuhnya.</p>



<p>Pada sesi pengajaran terakhir, Y.M. Drepung Tripa Khenzur Rinpoche mengapresiasi para peserta yang menunjukkan ketertarikan pada Dharma, sesuatu yang tidak mudah untuk ditemukan di zaman sekarang ini, Beliau berharap para peserta bisa melanjutkan ketertarikan terhadap Dharma dan terus mempraktikkan Dharma yang telah dipelajari. Rinpoche juga menganjurkan beberapa bacaan pendukung untuk topik karma dan akibatnya, misalnya kitab Lamrim “Pembebasan di Tangan Kita”.</p>



<p>Rinpoche menasihati semua peserta bahwa proses belajar tidak instan. Butuh fondasi dan permulaan yang baik, dimulai dari belajar, yaitu mendengarkan sesi ajaran dengan baik dan mengintegrasikan dengan diri sendiri. Proses ini kita ulangi sampai kondisi kita siap untuk merenungkannya, dan lebih lanjut lagi sampai siap memeditasikannya. Akhir kata, Y.M. Drepung Tripa Khenzur Rinpoche berterima kasih untuk panitia dan pusat Dharma yang telah mempersiapkan agenda pengajaran ini sehingga kita semua bisa berkumpul dan menerima ajaran Buddha. Beliau juga berdoa semoga seluruh peserta bisa berkembang di pusat Dharma masing-masing dan semoga semakin banyak orang bisa mendengarkan ajaran Buddha.</p>



<p>Selama pembahasan topik karma ini, hal-hal yang disampaikan oleh Y.M Drepung Tripa Khenzur Rinpoche sangat jelas dan informasinya bisa melengkapi satu sama lain. Selain mendapatkan poin untuk diterapkan pada kehidupan sehari-hari, setelah mengikuti sesi pengajaran ini, keyakinan saya terhadap hukum karma dan akibatnya semakin kuat. Akhir kata, terima kasih kepada Y.M. Drepung Tripa Khenzur Rinpoche yang telah memberikan pengajaran selama tujuh hari terakhir, semoga semua yang mendengarkan bisa mendapatkan manfaat dan tetap semangat mempraktikkan Dharma.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/01/13/up2020-karma/">Kebajikan dalam Untaian Doa: Pelajaran tentang Karma dan Akibat-Akibatnya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/01/13/up2020-karma/">Kebajikan dalam Untaian Doa: Pelajaran tentang Karma dan Akibat-Akibatnya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kebajikan dalam Untaian Doa 2020: Sudahkah Aku Menghadapi Batinku?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/12/25/up-2020-sudahkah-aku-menghadapi-batinku/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2020 04:49:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[Kebajikan dalam Untaian Doa Bagi yang Beruntung 2020]]></category>
		<category><![CDATA[mengatasi galau]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5741</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ketika keadaan tidak bisa diubah, kita harus belajar untuk menerima, menghadapi, dan hidup berdampingan dengan penderitaan tersebut. Buat apa galau?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/25/up-2020-sudahkah-aku-menghadapi-batinku/">Kebajikan dalam Untaian Doa 2020: Sudahkah Aku Menghadapi Batinku?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/12/25/up-2020-sudahkah-aku-menghadapi-batinku/">Kebajikan dalam Untaian Doa 2020: Sudahkah Aku Menghadapi Batinku?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Lidya Marlina</p>



<p>Sekitar bulan November lalu, ponselku berbunyi. Ada pesan masuk dari Call Center KCI dengan judul “Kebajikan dalam Untaian Doa Bagi yang Beruntung”. Sekilas kubaca pengumuman singkat tersebut. Kadam Choeling Indonesia akan berkolaborasi dengan Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN) untuk mengadakan acara pengumpulan kebajikan dan pengajaran Dharma <em>online </em>pada tanggal 24 Desember 2020-1 Januari 2021. “<em>Oh, retret akhir tahun. Cepat juga ya, tanpa terasa udah hampir Desember lagi aja. Tahun 2020 segera berakhir,</em>” gumamku siang itu.&nbsp;</p>



<p>Ada rasa takjub dan khawatir yang menghampiriku di kala itu; takjub karena tanpa terasa kita semua telah hidup berdampingan dengan COVID-19 selama lebih dari 9 bulan; khawatir karena tidak ada kejelasan kapan kondisi ini akan berakhir. Di samping semua itu, aku bersyukur KCI dan guruku selalu mengusahakan sesi pengajaran Dharma tetap bisa dilakukan secara <em>online</em>. Sekarang, aku tidak perlu khawatir tidak ada kegiatan di akhir tahun dalam kondisi tidak bisa ke mana-mana.</p>



<p>Malam ini, tanggal 24 Desember 2020, acara “Kebajikan dalam Untaian Doa Bagi yang Beruntung” resmi dimulai. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan kulihat sudah hampir 300 peserta yang hadir dalam aplikasi Zoom. Acara dimulai dengan pembukaan oleh Agustino selaku panitia yang menjelaskan jadwal dan rangkaian acara yang akan berlangsung dalam 8 hari ke depan. Secara garis besar, acara ini akan diisi dengan puja bersama pada sesi pagi dan siang, lalu diikuti dengan penayangan siaran pengajaran Dharma oleh Y.M. Drepung Tripa Khenzur Rinpoche dengan topik “Empat Segel Agung Dharma” di malam hari. Di akhir rangkaian acara pada tanggal 1 Januari 2021, akan ada <em>fangsheng </em>(pelepasan dan penyelamatan hewan).</p>



<p>Setelah <em>briefing</em> acara, berikutnya adalah pembangkitan motivasi yang dipandu oleh Y.M. Biksu Bhadra Ruci atau yang akrab dipanggil Suhu. Di awal sesi, Y.M. Suhu mengingatkan kita untuk terus menjaga kesehatan dan tetap <em>stay</em> di rumah karena COVID-19 semakin memburuk di luar sana. “Mungkin Suhu tahu kita sudah enggak betah berlama-lama di rumah kali ya, tahu aja nih,” ujarku dalam batin.&nbsp;</p>



<p>Sesi bersama Y.M. Suhu hari ini cukup singkat, hanya sekitar 45 menit. Namun, Beliau terus menekankan dua poin yang sangat krusial untuk perkembangan batin kita, yaitu <strong>toleransi batin terhadap penderitaan dan pentingnya kehadiran seorang Guru.</strong></p>



<p>Berbicara tentang batin, kita semua menginginkan kebahagiaan dan menghindari penderitaan. Di era sekarang dan ke depannya, penderitaan fisik akan semakin berkurang karena ditunjang oleh perkembangan zaman yang semakin memudahkan hidup manusia, baik itu dalam bentuk internet, kenyamanan AC, maupun akses ke fasilitas kesehatan. Di sisi lain, penderitaan mental akan menjadi semakin dominan. Kita menyadari bahwa diri kita menderita, sering dihadapkan dengan perasaan galau ataupun <em>mood swing</em>. Sudah seharusnya kita mencari penawar atas sebab-sebab penderitaan tersebut dan kenyataannya hanya kita yang mampu mengubah diri ini. Caranya? Berhadapan secara langsung dengan batin kita sendiri.</p>



<p>Namun, ketika keadaan tidak bisa diubah, kita harus belajar untuk menerima, menghadapi, dan hidup berdampingan dengan penderitaan tersebut. Pertanyaannya adalah, <strong><em>“Sudahkah kita belajar menghadapi batin kita sendiri?”</em></strong> Jika kita tidak serius berusaha melatih batin kita, maka hanya usia yang akan bertambah sementara batin kita akan selalu sama. Mendengar paparan Suhu tersebut, aku hanya bisa menunduk diam, bertanya dalam hati, “<em>Sudahkah aku berusaha? Sudahkah aku berubah?</em>”</p>



<p>Y.M. Suhu mengingatkan bahwa awal tahun depan adalah tepat 20 tahun berdiri nya KCI, berawal dari kedatangan Dagpo Rinpoche ke Center Dago. “Perjalanan yang sudah cukup panjang dan tidak gampang,” ujar Y.M. Suhu. Perkembangan batin kita dan Dharma akan sangat bergantung dengan kehadiran guru-guru kita. Kita perlu menyadari bahwa kehadiran seorang Guru sangat penting. <strong>Tanpa seorang Guru, kita bagaikan kapal tanpa mercusuar yang kehilangan arah dan tidak bisa berlabuh.</strong></p>



<p>Y.M. Suhu mengakhiri sesi malam ini dengan mengucapkan, “Selamat ‘retret’, selamat berjuang”.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/25/up-2020-sudahkah-aku-menghadapi-batinku/">Kebajikan dalam Untaian Doa 2020: Sudahkah Aku Menghadapi Batinku?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/12/25/up-2020-sudahkah-aku-menghadapi-batinku/">Kebajikan dalam Untaian Doa 2020: Sudahkah Aku Menghadapi Batinku?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
