<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>chattra - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/chattra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Sep 2024 05:59:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>chattra - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ada Chattra di Stupa Bali &#8211; Studi Kasus: Goa Gajah</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/09/07/ada-chattra-di-stupa-bali-studi-kasus-goa-gajah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Sep 2024 14:02:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[chattra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9317</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Stupa berchattra di Bali berasal dari era dan peradaban yang sama dengan Candi Borobudur, bukti bahwa Indonesia mengenal stupa berchattra sejak dulu.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/ada-chattra-di-stupa-bali-studi-kasus-goa-gajah/"><strong>Ada Chattra di Stupa Bali – </strong>Studi Kasus: Goa Gajah</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/ada-chattra-di-stupa-bali-studi-kasus-goa-gajah/">&lt;strong&gt;Ada Chattra di Stupa Bali &#8211; &lt;/strong&gt;Studi Kasus: Goa Gajah</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Situs Goa Gajah bertempat di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali. Keberadaan situs ini pertama kali diwartakan oleh L.C. Heyting di buletin arkeologi pemerintah Hindia Belanda, Oudheidkundig Verslag (OV) tahun 1923. Lalu pada tahun 1925, Stutterheim melakukan survei lebih lanjut dan melaporkannya lewat media yang sama. Namun, keduanya belum menuliskan tentang keberadaan stupa.&nbsp;</p>



<p>Stutterheim baru memberitakan keberadaan peninggalan Buddhis dari Goa Gajah secara lebih detil pada karyanya, Oudheiden van Bali, yang terbit pada tahun 1929-1930. Di sana ia menceritakan penemuannya pada tahun 1928 akan sebuah ceruk tersembunyi di tengah tumbuh-tumbuhan lebat, yang di dalamnya terdapat pahatan chattra 13 lapis di permukaan ceruk yang telah runtuh.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeg2RF-tpjb9ld54hIX2_HNUFubGyMT2Tr6SrL8QJuc99JopZHSJAd0TEGhCHW3bzJrBhEKQbnQVBr2K2EkxK8_KqcsWjS6_OI7rAp-3XWqJmCj3qNPtOjng3Ay-uxWpXkaInT4dsg2u8uG-P69jU88msQW9qCj3zjTNhSRdgy5qNQjhnk?key=LEWeXVbAjjDb-BUrZ7KJkg" alt=""/><figcaption><em>Gambar reruntuhan stupa tunggal dengan chattra 13 lapis (sumber: Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Bal</em>i)</figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfYiVPRxeMZp910bFCFu4IvWQV_40pivoy51v4lP8Froxim8jQGsGSG_RsBFKZ7sEVAF9K9rPbkzuQnIMFSg51sFIR7JVgS7NC4HPmMPCmqD82D-xBzczfjI7a7Ml8pgV_WapzbXXxlzyd2CTRuCq2xjytZeQXpYd0k1W7CqBQQ1z3mLA?key=LEWeXVbAjjDb-BUrZ7KJkg" alt=""/><figcaption><em>Gambar reruntuhan stupa bercabang tiga  (sumber: Digital Collections of Leiden University, No. P-045270)</em></figcaption></figure></div>


<p>Setelah dilakukan penelitian lanjutan, diketahui bahwa di bagian selatan situs terdapat dua struktur utama stupa, yakni stupa bercabang tiga dan stupa tunggal. Kesemua stupa tersebut diukirkan lengkap dengan chattranya.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdc2PMbPQp--nEY7-y6isp1H_pSSJmeua9PHn361ROuesUP8K8nAV-BH5LMqJ1QPS4NpEKLcYX9mxDXfoEIwDPWeaE2o0T1L9aF6YntAy4VBr_L-cD0UjHTKFeb0yFzQUqv9SF02I24ovYA4ZwdQaB_59Fmvg95VGeMf9lTgiPLLbEiBw?key=LEWeXVbAjjDb-BUrZ7KJkg" alt=""/><figcaption><em>Gambar rekonstruksi percobaan stupa cabang (sumber: Sridanti, 1985:266)</em></figcaption></figure></div>


<p>Selain itu, ditemukan pula stupa-stupa yang ukurannya lebih kecil di depan pintu masuk goa. Stupa-stupa itu juga memiliki chattra, namun dengan jumlah tingkatan yang lebih sedikit.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcfMgmkwIaVBs1US3sSmY7sbKC-N-SNRfd9MsSZn_uIlFnsMcFvgFG6BVZGvLKiBPM-q-V61_DbZeH_Nb0fPk77P3uKwhVag0dHm5bSH-_0NLnhbQRqRxtiE_FcmpVCyQI-WTyiNBHO4BSDtQrhZGEC6u_-BnFCp2909LEx3KOWQeVi_V0?key=LEWeXVbAjjDb-BUrZ7KJkg" alt=""/><figcaption><em>Stupa di depan goa (sumber: dokumentasi pribadi)</em></figcaption></figure>



<p>Goris, seorang ahli sejarah Bali merujuk kata “antakunjarapada” dari prasasti-prasasti sebagai Goa Gajah. Ia menemukan prasasti Dawan yang berasal dari tahun 975 Masehi dan prasasti Pandak Bandung dari tahun 993 Masehi. Kata “kunja” di dalamnya bermakna gajah. Terdapat pula nama Er Gajah yang bermakna “air gajah” atau “sungai gajah”. Seperti diketahui bahwa situs ini berada di pinggir sungai Petanu dan juga memiliki kompleks petirtaan yang identik dengan air. Prasasti yang dirujuk adalah prasasti raja Marakata dari tahun 1022 M serta prasasti Sri Mahaguru dari tahun 1324 M.</p>



<p>Ada nama lain yang memiliki kata gajah, yakni “Lwa Gajah”. Lwa Gajah muncul dalam teks kakawin Desawarnana (yang lebih dikenal dengan nama Nagarakrtagama) dari tahun 1365 Masehi, pupuh 14 bait 3 dan pupuh 79 bait 3. Desawarnana menyebutkan Lwa Gajah sebagai tempat berdiamnya Boddhadhyaksha. Berdasarkan pernyataan ini diketahui bahwa Lwa Gajah memiliki ciri Buddhis di dalamnya. Hal ini sejalan dengan temuan-temuan yang ada di sana.</p>



<h2 id="h-hubungan-antara-goa-gajah-dan-candi-borobudur"><strong>Hubungan antara Goa Gajah dan Candi Borobudur</strong></h2>



<p>Stupa dari Goa Gajah memiliki ciri payung yang kecil di bawah lalu semakin besar ke atas sampai ke tengah. Kemudian dari tengah menuju ke puncaknya ukuran payungnya semakin kecil. Bentuk chattra seperti ini rupanya dapat ditemukan juga di candi Borobudur.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeAyOhoK_43vGUOYSKeNIkO5j12GKHJE9bhiXHPUqhIQDqqBIK9TbfohzV5QF7qB5DHjFv3-ayzcL9FhcJuDE9sMiRGM43iURcPX1l5ekNnW4iNPwpMrx_fEQH-pPEAdAC6Zn_yk0hUgHKqErGiFE1Jz0KhzE3B-kayk-mqsHacV3DLoCw?key=LEWeXVbAjjDb-BUrZ7KJkg" alt=""/><figcaption><em>Gambar stupa berchattra dari Borobudur, relief 98 dari tingkat 2, tembok dalam (sumber: </em><a href="http://www.photodharma.net/"><em>www.photodharma.net</em></a><em>)</em></figcaption></figure></div>


<p>Selain stupa, ditemukan pula dua buah arca Buddha Amitabha di dekat reruntuhan stupa, dan arca-arca ini kembali memiliki kemiripan gaya dengan arca Borobudur. </p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdMDBCfiHcIhCIugWf57oJesTGmt4YghkuvQ-Iw-6XkxpNnKbNnnW6LULXkg1AaXDbMe36bOSHYmimm_H0EavhHOg4Jcoqlf61Z9Yo9r8GkF-ksm4oJHJSOX2hiccuOmePkeGplOMnKXckWgMyXbwD7nas-YvXblRihSw?key=LEWeXVbAjjDb-BUrZ7KJkg" alt=""/><figcaption>Arca Amitabha di Goa Gajah (sumber: <a href="http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/cagarbudaya/detail/PO2016060300004/pura-goa-gajah">cagarbudaya.kemdikbud.go.id</a>)</figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfeCqzEqV9lAq6CjCaF8TEtuc8AycxHuV5FGivdWODbeXqUiq_FKQUXUdQO0LPvv4GrMgoGvV6ezk2iEn_c0T1LE7DlMJh-6QjMfKIJRcJ_g6ksx-FxO0Uv6ALFlrW4SQqLdj69JSnJkG86lOCjTREJz632JfnjRof6_xMXIb338V1XPiI?key=LEWeXVbAjjDb-BUrZ7KJkg" alt=""/><figcaption>Arca Amitabha di Candi Borobudur (sumber: <a href="https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Borobudur_-_Buddha_Statue_-_033_Dhyana_Mudra,_Amitabha_(11678613655).jpg">Wikimedia Commons</a>)</figcaption></figure></div>


<p><strong><em>Beberapa kesamaan ini adalah sebuah fakta yang sangat penting karena memberikan petunjuk bahwa kedua situs ini ternyata memiliki gaya chattra dan arca yang sejenis/sezaman. </em></strong>Oleh karena itu, sehubungan dengan polemik yang belakangan ini kembali menghangat tentang ada atau tidaknya chattra di stupa utama Candi  Borobudur, barangkali fakta kesamaan ini bisa menjadi sebuah rujukan tambahan. Karena stupa-stupa yang ada di Goa Gajah memiliki chattra, bisa jadi stupa di Candi Borobudur pun memiliki chattra. </p>



<p>Penulis: Y.M. Biksu Yonten Gyatso</p>



<p><em><strong>Artikel ini pertama kali terbit di borobudurwriters.id (2021)</strong></em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/ada-chattra-di-stupa-bali-studi-kasus-goa-gajah/"><strong>Ada Chattra di Stupa Bali – </strong>Studi Kasus: Goa Gajah</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/ada-chattra-di-stupa-bali-studi-kasus-goa-gajah/">&lt;strong&gt;Ada Chattra di Stupa Bali &#8211; &lt;/strong&gt;Studi Kasus: Goa Gajah</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Borobudur Sama Sekali Asing dengan Stupa Berchattra?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/09/07/stupa-berchattra-di-borobudur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Sep 2024 12:58:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[chattra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9297</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Stupa berchattra bukanlah gaya kesenian dari negara tertentu, apa lagi gaya "impor". Buktinya, terdapat banyak penggambaran stupa berchattra di relief Candi Borobudur.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/stupa-berchattra-di-borobudur/">Apakah Borobudur Sama Sekali Asing dengan Stupa Berchattra?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/stupa-berchattra-di-borobudur/">Apakah Borobudur Sama Sekali Asing dengan Stupa Berchattra?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Pada periode 1907-1911, proyek restorasi Candi Borobudur untuk pertama kalinya dilakukan. Proyek tersebut dipimpin oleh Theodoor van Erp, seorang insinyur Belanda. Beliau merekonstruksi ulang tingkatan-tingkatan pada tubuh candi dan juga membangun ulang stupa-stupa Candi yang sudah rusak. Lebih jauh lagi, Van Erp bahkan menemukan kepingan-kepingan batu yang beliau duga merupakan bagian dari sebuah chattra yang seharusnya berada di puncak stupa utama Candi dan kemudian juga merekonstruksi ulang chattra tersebut. </p>



<figure class="wp-block-image"><img src="blob:https://lamrimnesia.org/37077902-fdab-43e0-ab66-2d34b8922d59" alt=""/></figure>



<p>Mengapa Van Erp bisa merekonstruksi ulang chattra di Candi Borobudur? Apa kira-kira yang menginspirasi beliau dan apa yang mendasari pemikiran Van Erp ketika itu? Selain melakukan perbandingan-perbandingan dengan stupa-stupa yang ada di luar negeri, sebenarnya Borobudur sendiri juga menjadi salah satu sumber inspirasi utama beliau dalam upayanya merekonstruksi chattra. Mengapa bisa? Karena relief-relief di Candi Borobudur sebenarnya juga kaya sekali dengan visual-visual stupa yang dipayungi oleh chattra di puncaknya. Kita akan mencoba untuk membahas beberapa di antaranya melalui tulisan ini.&nbsp;</p>



<p><em>Baca juga: <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/chattra-borobudur-buddhis/">Memahami Chattra dan Melerai Sebuah Polemik</a></em></p>



<p>Pertama-tama, mari kita amati galeri pertama (istilah “galeri” di sini merujuk ke tingkatan di Candi), bagian dinding dalam. Di barisan atas dinding dalam ini terdapat rangkaian relief Lalitawsitara sejumlah 120 keping. Kemudian, di barisan bawah dari relief Lalitawistara ini, terdapat rangkaian relief sejumlah 120 keping yang menceritakan berbagai kisah yang diambil dari Awadana seperti Diwyawadana, Awadanasataka dan sebagainya. Keping relief 64 s.d. 88 menceritakan kisah Raja Rudrayana dan Raja Bimbisara ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rajagrha, wilayah kekuasaannya Raja Bimbisara. Sebenarnya ini adalah sebuah kisah yang sangat terkenal karena di sinilah Buddha menyarankan Raja Bimbisara untuk melukiskan wujud beliau di atas selembar kain sebagai hadiah balasan untuk Raja Rudrayana. Lukisan inilah yang telah turun-temurun secara tradisi sampai ke kita saat ini dalam bentuk gambar Roda Kehidupan 12 Mata Rantai dengan Sang Buddha dalam posisi berdiri berada di sisi kanan atas dari Roda Kehidupan tersebut. Pada keping relief yang ke-80 di dalam kisah ini terlihat dua ekor kucing yang sudah terlatih sedang bersembunyi di bawah dua buah stupa. Kedua kucing ini sudah dilatih oleh menteri kerajaan yang jahat untuk menipu Raja Sikhandin, anak dari Raja Rudrayana yang telah membunuh ayahnya sendiri. Kedua stupa ini digambarkan berbentuk bulat, dihiasi dengan rangkaian bunga dan berada di atas dudukan teratai. <strong><em>Setiap puncak kedua stupa ini dihiasi oleh chattra.&nbsp;</em></strong></p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfAVFsu4jpSZuK_KprtihSZmgtSTd4oTVCq44PQbbQ_lf_S-4Cz83DiYtbkVa7qIWgk1TbQaNu4fQOp2eBArCa-qs6eOiQ7sAK7QCdWn4y6UZR5admusxQNm-ohEyoHyRJT_Z_epKNw7Qvx7aHIytPSLGbCcW-PO1rz2ptehLdVRN4vqQ?key=YVc3lceznRBWNkDXc6PRjQ" alt=""/><figcaption><em>Foto: Keping ke-80, galeri 1, dinding dalam, baris atas, Awadana</em></figcaption></figure>



<p>Selanjutnya, keping relief ke-83 dalam kisah ini meggambarkan pembangunan stupa di desa Khara untuk menghormati mangkuk patra Arya Mahakatyayana. Stupa ini juga juga digambarkan berbentuk bulat, dihiasi oleh rangkaian bunga di tengahnya, dan berada di atas dudukan teratai yang berada di atas takhta persegi. <strong><em>Stupa ini pun memiliki sebuah chattra di puncaknya</em></strong>. Digambarkan pula di dalam relief bahwa hujan bunga turun dari langit menyambut pembangunan stupa ini. Di sebelah kiri dan kanan stupa terdapat dupa dengan asap yang membumbung tinggi dan mengapit stupa ini adalah sang kepala desa Khara dan seorang dewi.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfSn4TCOfMN1vu8CNvBYmx4l44zxOv_HrrNzwkQXZzHv0biLBlKeB5YPQFHDQ1NSDFgR0BCi0EPD3H25epY_RITq3JHULz7F4mi7xwyqwCIqv3geh7cG_lRG8VCn9KAJUL9GMN3RdA7saYqTaP9ipdaGCHoBDbxgHAQ0cfMX1WsSV-dpA?key=YVc3lceznRBWNkDXc6PRjQ" alt=""/><figcaption><em>Foto: Keping ke-83, galeri 1, dinding dalam, baris atas, Awadana</em></figcaption></figure></div>


<p>Selanjutnya, keping relief ke-85 menggambarkan pembangunan sebuah stupa untuk menghormati tongkat khakkhara Arya Mahakatyayana. Bentuk stupa ini juga mirip dengan stupa yang ada di keping relief yang ke-83, yakni berbentuk bulat dan <strong><em>memiliki chattra di atasnya</em></strong>.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcphdBrDKKPSTciCtppiFbaYB9fcDSrizHuL9aVFkSpZbNkZ1x5HIGhvas5xBbIDHelp6y7KdXTSoKJO01R2UeQ8tTHVLDLDJtRqGURng5VJoJmJ_7UvtE2EbucRzRSMWyE65qlfeRvvxg45_8FlSQfVXez8lOj1if-4icaJtIN-yO5Dg?key=YVc3lceznRBWNkDXc6PRjQ" alt=""/><figcaption><em>Foto: Keping ke-85, galeri 1, dinding dalam, baris atas, Awadana</em></figcaption></figure></div>


<p>Menutup rangkaian relief Awadana di galeri pertama dinding dalam barisan bawah ini, adalah keping yang ke-120. Sayangnya hingga sekarang, cuplikan kitab yang digambarkan dalam relief ini belum bisa diidentifikasi. Namun, keping relief yang ke-120 ini kembali lagi menggambarkan <strong><em>sebuah stupa berbentuk bulat yang dilindungi oleh sebuah chattra di puncaknya.&nbsp;</em></strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdU9FIOqkbEZX2by06MvctI0ii8WM6_ZQNZq_ribarMXYA9g-_6fMBNonZkM1kOlzSe2QQAVyVh0OOkmAbxjzcO9ppFmybLidhdLdwb1kmjzDhLxX9hc5Jp8G-C78HlemIefWvNeNr4b9_l5bNFO9oWvPgAGjvkyLQqb-Rf1IAZc0B_fA?key=YVc3lceznRBWNkDXc6PRjQ" alt=""/><figcaption><em>Foto: Keping ke-120, galeri 1, dinding dalam, baris atas</em></figcaption></figure></div>


<p>Mari sekarang kita beralih ke rangkaian relief yang berada di bagian langkan luar dari galeri/tingkat pertama Candi Borobudur. Sebanyak 135 keping pertama pada baris atas di bagian ini menceritakan 34 kisah dari Jatakamala karya Aryasura. Secara khusus, keping ke-112 s.d. 115 menceritakan kisah Jataka Sang Gajah Putih yang mengorbankan dirinya dengan cara terjun dari tebing sehingga daging tubuhnya bisa dimakan oleh para pengembara yang sedang tersesat dan kelaparan. Keping ke-115 adalah penutup kisah ini yang menggambarkan para pengembara menghormati sisa tubuh Sang Gajah Putih dengan cara menyimpannya ke dalam sebuah stupa. <strong><em>Stupa ini digambarkan memiliki chattra di puncaknya.&nbsp;</em></strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfuVfA4lc0Dg37KyWOqn4X8FkbMQdyAayLkPDE0J_sCENWJF6c6qzR6PLdD8JhbCp8t4PZkKHmL_qG3KPJ7Fp8en_PDlOav_u0zbeaUMEMsJfItl8txUmW7GglHsyQn5v6tvDZC-5CHy_vixkpSFlMM3J43e_cX8KvSGZxPeJI4GdGUMQ?key=YVc3lceznRBWNkDXc6PRjQ" alt=""/><figcaption><em>Foto: Keping ke-115, galeri 1, langkan luar, baris atas, Jatakamal</em>a</figcaption></figure></div>


<p>Keping yang ke-366 dari rangkaian relief di bagian ini juga sekali lagi menggambarkan <strong><em>sebuah stupa yang memiliki chattra di puncaknya</em></strong>. Keping ini menunjukkan dua orang praktisi, seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang sedang memberikan pemandian kepada stupa tersebut menggunakan kamandalu.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdHkAIcZVtOssvgWbaE4pQwn4OVadG3l7WUBHwT3O7m7jBwC-T_a_vV0qW-GsDn52Cs8uBSjA7-2D_u_qn3atse3mFynqLFyyLnGw8z-wcgfMRJxhgrPoDt2fgKC009poMn9ce3Q9m9_TkMPF2jDSprwsl9hecsrwEQolR8i_425PtVzl0?key=YVc3lceznRBWNkDXc6PRjQ" alt=""/><figcaption><em>Foto: Keping ke-366, galeri 1, langkan luar, baris atas</em></figcaption></figure></div>


<p>Selanjutnya kita beralih ke galeri kedua bagian dinding dalam dari Candi Borobudur yang reliefnya menceritakan kisah-kisah dari Gandawyuha Sutra. Keping ke-45 menggambarkan Sudhana bersama dengan Westhila sedang menghormat kepada sebuah stupa. Yang teramat sangat menarik di sini adalah bentuk stupanya yang sangat unik karena <strong><em>memiliki sebuah chattra yang bertingkat lima</em></strong>. Chattra di tingkat paling bawah berukuran kecil, kemudian yang di tingkat kedua adalah yang paling besar, kemudian semakin naik ke atas semakin mengecil lalu di bagian paling atas dari chattra ini adalah perhiasan permata. Bisa jadi Van Erp merekonstruksi chattra stupa utama Candi berdasarkan gambar relief ini!</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXf76uZ6tsndk8aVYeZ-zTo86XgxZMrz4vo0W1ezkcC_eFr1Q-qGSMBHtJapTqSTY12n6AjXNPbjtZlX4e-xjxBAKfHmLWBfrjLSErqOy-ZbVuWoLx4oxndA9NYSf8gXR3-2qxxQEW3gcaxYxlnupjkQ3thWLx7dl0RR8D62U92vwBtmbFk?key=YVc3lceznRBWNkDXc6PRjQ" alt=""/><figcaption><em>Foto: Keping ke-45, galeri 2, dinding dalam, Gandawyuha</em></figcaption></figure></div>


<p>Selanjutnya, keping ke-96 dari bagian relief ini juga diduga menggambarkan Sudhana dan Westhila sedang menghormati stupa. Stupa ini duduk di atas sebuah takhta yang ditopang oleh singa dan <strong><em>juga dilindungi oleh chattra di bagian puncaknya.&nbsp;</em></strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXf6R-boKw5Zz3aUXMNFVVLi8Uni7fBMJ3LNIQBnvikTx6I6HvsYnYKMJF0y-e6Vyi2igy5Epl-OL28oj137Nk-rO1ZYdAB02i6VhKpJwR-NOIBpuCV8RTxodoGqpJYhDDoCj9FAyj9C5kjb8iSD-RUDWlHKEMdD83PKZ_x7NTBQp6sFJJU?key=YVc3lceznRBWNkDXc6PRjQ" alt=""/><figcaption><em>Foto: Keping ke-96, galeri 2, dinding dalam, Gandawyuha</em></figcaption></figure></div>


<p>Demikian pula keping ke-98, juga diduga masih menggambarkan kisah Sudhana sedang diajak oleh Westhila, sang kalyanamitra, untuk memberikan penghormatan kepada sebuah stupa. Stupa yang ada di relief ini bahkan lebih unik lagi karena <strong><em>memiliki chattra dengan 13 lapisan</em></strong>!</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXc9dDkn4MPOXKbRa1X93QLEylhBrwYuco1K4o2kHInY9YdH-dXeJQ2iImcR_m32TlotkBazxUs4V63BPn2BJKIA5r7b_njOB5D7FJIrpUNHzjL0tnRbthx3BTdEi2CZSDqFyomGuAWQarcZDjUXIWUXJMOR4uQfH-Igud06lhBM9MnZC5Q?key=YVc3lceznRBWNkDXc6PRjQ" alt=""/><figcaption><em>Foto: Keping ke-98, galeri 2, dinding dalam, Gandawyuh</em>a</figcaption></figure></div>


<p>Jadi, kesimpulan apa yang bisa kita tarik dari semua ini? Ternyata Borobudur sendiri sama sekali tidak asing dengan formasi chattra dan stupa. Melihat semua relief ini, terkesan bahwa seakan-akan Borobudur sendiri telah bercerita secara langsung kepada kita dan meminta agar kita benar-benar menyimak tuturan-tuturannya. Relief-relief Borobudur sendirilah yang membuktikan bahwa Borobudur sendiri sebenarnya tidaklah anti-chattra. Jelas Van Erp tidak berimajinasi tanpa dasar ketika beliau merekonstruksi kembali sebuah chattra dengan bentuk tiga tingkat menggunakan serpihan-serpihan batu yang beliau temukan ketika beliau memimpin proyek ekskavasi dan restorasi Candi Borobudur.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" width="646" height="805" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/09/image-1.png" alt="" class="wp-image-9299" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/09/image-1.png 646w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/09/image-1-241x300.png 241w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/09/image-1-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/09/image-1-450x561.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/09/image-1-600x748.png 600w" sizes="(max-width: 646px) 100vw, 646px" /><figcaption>Infografis Chattra di Borobudur dari <a href="https://www.instagram.com/p/COfKLI4NnUc/">Sangha Vajrayana Indonesia</a></figcaption></figure></div>


<p>Sekarang, pertanyaannya adalah: apakah kita akan mengindahkan relief-relief ini dan menuruti kehendak Candi Borobudur untuk bisa paripurna dengan chattra terpasang di puncak stupa utamanya? Apakah kita berkeinginan untuk bisa seperti Sudhana yang memberikan puja bakti kepada stupa Candanaphita yang juga memiliki chattra?</p>



<p>Sumber rujukan:&nbsp;<br>N. J. Krom (1927). <em>Barabudur: Archaeological Description</em>. The Hague: Martinus Nijhoff</p>



<p>Penulis: Prawirawara Jayawardhana</p>



<p><em><strong>Artikel ini pertama kali terbit di borobudurwriters.id</strong></em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/stupa-berchattra-di-borobudur/">Apakah Borobudur Sama Sekali Asing dengan Stupa Berchattra?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/stupa-berchattra-di-borobudur/">Apakah Borobudur Sama Sekali Asing dengan Stupa Berchattra?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memahami Chattra dan Melerai Sebuah Polemik</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/09/07/chattra-borobudur-buddhis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Sep 2024 12:37:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[chattra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9290</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Polemik chattra Borobudur kembali naik ke permukaan menanggapi rencana pemasangan chattra pada bulan September 2024. Seperti apa pandangan Buddhis terhadap chattra?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/chattra-borobudur-buddhis/">Memahami Chattra dan Melerai Sebuah Polemik</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/chattra-borobudur-buddhis/">Memahami Chattra dan Melerai Sebuah Polemik</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dibangun pada kisaran abad 8-9 Masehi oleh Wangsa Syailendra, dengan waktu penyelesaian diperkirakan memakan waktu 75 tahun, kemudian mulai ditinggalkan pada sekitar abad 14-15 Masehi karena satu dan lain hal, Candi Borobudur terkubur oleh waktu selama lebih kurang 4 abad sebelum akhirnya ditemukan kembali pada 1814 oleh Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles dan Hermann Cornelius. Kemudian, pada periode 1907-1911, seorang insinyur Belanda bernama Theodore Van Erp memimpin proses pemugaran Candi Borobudur. Ketika itu, Van Erp menemukan kepingan-kepingan batu yang kemudian direkonstruksi Beliau menjadi sebuah chattra atau payung bertingkat tiga yang diduga oleh Beliau dahulunya pernah terpasang megah di puncak stupa utama Borobudur. Beliau sempat memberanikan diri untuk memasang chattra tersebut. Namun, kemudian Beliau didesak untuk melepasnya kembali karena dianggap tidak memenuhi kriteria-kriteria rekonstruksi arkeologi berupa persentase kombinasi antara batu asli dengan batu yang baru.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Sejak itu, dimulailah polemik pemasangan chattra di Candi Borobudur. Sebagai akibatnya, chattra hasil rekonstruksi Van Erp pun harus bersabar untuk digeletakkan di dalam museum menunggu ketegasan hati para manusia.&nbsp;</p>



<p>Namun, pusaran polemik tersebut selalu berputar di perihal disiplin arkeologi saja tanpa mempertimbangkan sebuah aspek yang sebenarnya tidak kalah pentingnya dalam memugar sebuah situs peninggalan keagamaan. Apakah itu? Yakni, disiplin ilmu dari keagamaan itu sendiri, yang mana filosofi agama tersebutlah yang sebenarnya justru menjadi pondasi dibangunnya situs tersebut pada awalnya.</p>



<p>Mari kita coba menelaah polemik chattra ini dari kacamata yang berbeda kali ini, yakni dari kacamata Buddhisme, yang selama ini hampir tidak pernah dilakukan. Chattra atau payung memiliki catatan sejarah dan dasar filosofi yang sangat mendalam di dalam Buddhisme. Pertama, kita bisa membuka Mucalindasuttam dari Udana II.1 yang menceritakan bahwa pada ketika Buddha baru saja mencapai Pencerahan Sempurna dan belum bergeming dari tempat duduknya di bawah pohon Bodhi, Raja Naga Mucalinda pernah datang dan melingkari tubuh Sang Buddha sebanyak tujuh kali menggunakan ekornya, lalu menegakkan badannya sembari mengembangkan kepalanya di atas Buddha dan memayungi Buddha dari cuaca panas maupun dingin, dari serangga, dari teriknya matahari, dan dari binatang-binatang buas lainnya. Kisah ini bisa dilihat sebagai salah satu cerita paling awal dalam kanon Buddha tentang peran payung sebagai sebuah pelindung.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdcBFTuYub_tYH_g_ldwQ0VCERT3Ot91oxlaIu0JaxkYwPRmTivY1jIYYHsRDfBpDqodP-8JGDq7Drq7Aho3QeZP2QXQ7HOzaalI3ahQ8TEnjMyqdPf0hNMPUtE5cK15CFMb35x9qNfwHCW7el0NbCisg-ufUDOuWL_T4Udqz3jpPomefg?key=oxciMfG4gigakS2eMHtN8A" alt=""/><figcaption>Sang Buddha dipayungi Raja Naga Mucalinda</figcaption></figure></div>


<p>Lalitawistara Sutra adalah sebuah Sutra Mahayana yang sangat populer yang bahkan diukir ke dalam 120 keping relief di badan Candi Borobudur. Sutra ini diajarkan oleh Buddha di Sravasti, Jetavana, Anathapindada, di hadapan sejumlah 12 ribu biksu, berikut 32 ribu Bodhisatwa dan para dewa tingkat tinggi. Di dalam Sutra ini, Buddha menceritakan kembali riwayat hayat Beliau mulai dari sebelum Beliau masuk ke dalam rahim sang Ibunda, Ratu Mahamaya, hingga Beliau mencapai Pencerahan Sempurna dan memutar Roda Dharma untuk pertama kalinya. Di dalam Sutra ini, dapat ditemukan puluhan kali penggunaan kata payung (bahasa inggris: <em>parasol</em>) oleh Buddha. Berikut adalah beberapa di antaranya:</p>



<ol><li>Sebelum turun ke dunia untuk lahir sebagai Pangeran Siddharta, Sang Bodhisatwa berdiam di sebuah istana surgawi yang dihiasi penuh oleh payung-payung indah, panji-panji dan perhiasan lainnya;&nbsp;</li><li>Sesaat sebelum Pangeran Siddharta lahir, sang Ayahanda, Raja Suddhodhana memerintah pasukannya untuk membuat persiapan menyambut kelahiran sang Pangeran dengan menghiasi istananya menggunakan payung-payung surgawi, panji-panji dan deretan pohon palem;&nbsp;</li><li>Ketika Pangeran Siddharta lahir, 10 ribu dewi-dewi surgawi memegang payung dan panji-panji pun hadir menyambutnya; Kemudian sebuah payung besar yang terbuat dari permata berharga dan kipas ekor yak muncul di tengah-tengah angkasa dan 10 ribu dewa-dewa lain juga melayang di angkasa memegang payung-payung putih besar untuk menyambut kelahiran beliau;&nbsp;</li><li>Dalam sebuah kesempatan, Pangeran Siddharta juga pernah memproklamirkan sebagai berikut, “Lihatlah diriku sebagai seorang pemegang payung di tiga dunia,” dan benar-benar kemudian sebuah payung besar muncul dari dalam bumi dan memayungi tiga dunia, menghilangkan penderitaan semua makhluk;&nbsp;</li><li>Ketika Pangeran Siddharta hendak meninggalkan istana pun, Sakra, pemimpin para dewa, hadir bersama dengan pasukan dewanya yang memegang berbagai payung indah, bunga-bunga, panji kemenangan, dan perhiasan lainnya, untuk menyaksikan peristiwa penting tersebut;&nbsp;</li><li>Di penghujung Sutra, Sang Buddha bahkan merangkumkan kualitas-kualitas seorang Buddha kepada Bodhisatwa Maitreya dan salah satu analogi yang digunakan Beliau adalah bahwa, “Buddha memiliki kualitas layaknya seorang anggota keluarga kerajaan karena Buddha adalah sang pembawa payung permata.”&nbsp;</li></ol>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcQYBr3SrxF-4_qAi3G7d2lQau6KMh1ATHVlVgT3emjwAeT-w6Rlb7wQuwjKE9lYgS52sF6vFR61LzC9I_5X6oJQI3OKJsKKzU9cPPqSAT4pTE4qvYI_RUGdkoqSzsG53G-IDXiHT9AnnA-BXuMZXj6bzTa5z172KAxqwgRg9EzJaR8hZ4?key=oxciMfG4gigakS2eMHtN8A" alt=""/><figcaption>Chattra/payung di relief Lalitawistara</figcaption></figure></div>


<p>Mari kemudian kita beralih ke Gandawyuha Sutra yang diukir ke dalam 332 keping relief di badan Candi Borobudur. Secara garis besar, Sutra ini menceritakan kisah seorang pemuda bernama Sudhana yang berkelana demi belajar kepada lebih dari 50 orang guru untuk mengejar pencapaian Pencerahan Sempurna. Uniknya adalah, sang Sudhana sering atau bahkan hampir selalu digambarkan sebagai seorang pemuda yang selalu memiliki sebuah payung yang melindunginya. Oleh karena itu, bisa dibayangkan seberapa sering kata payung muncul dalam Sutra ini dan seberapa sering pula payung muncul dalam relief-relief Gandawyuha di Candi Borobudur.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcw5i5WAEO-vSzvGmTmyoIcI1VWL8t8vGaENyH60rufjL352QYqUR7c2IMkg3G4E4usU2H2NRiigHekXAh4_xW20mKtUZv25LH36-CpryMxA51Kms2XvaOXXD6LdG_v8YlTs60oVWdhwO_7uxQsColF7Ngf8p07c6DgQC2K-EvebAG7Bh0?key=oxciMfG4gigakS2eMHtN8A" alt=""/><figcaption>Chattra memayungi Sudhana di relief Gandawyuha</figcaption></figure>



<p>Bagaimana pula dengan kisah-kisah Jataka dan Awadana yang menempati 720 keping relief di Candi Borobudur? Penggunaan simbol payung dapat ditemukan bertebaran di relief-relief ini. Seringkali di sini dapat kita temukan relief yang menggambarkan para brahmin yang dilindungi oleh payung di atas kepalanya. Kemudian, Kalpawriksha atau pohon pengabul harapan juga adalah salah satu simbol yang paling populer yang bisa ditemukan di sini dan di dalam salah satu relief Sang pohon juga digambarkan dilindungi oleh sebuah payung.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeImOOSicMCaSKZMk3GBBAOOjScPzye7afw9JQU58OeTnmedQ833NEuBJB6aluWnrrejIRS1upLiz_McvVeWVWcVOcKGP8-cGxx5aiDCH5z4WnePn_GD0d4pJSzVZargambvL0FTLefCYAG1FO4Yfgb57ZwUkm3iQYoI8vZsm-uHZdRItU?key=oxciMfG4gigakS2eMHtN8A" alt="click to open a full-size photo (2-7 MB)"/><figcaption>Chattra/payung menaungi Kalpawreksha di relief Borobudur</figcaption></figure>



<p>Bahkan lebih jauh lagi, di dalam Karmawibhangga Sutra yang menghiasi 160 keping relief di kaki Candi Borobudur, diajarkan bahwa salah satu cara menghimpun kebajikan yang luar biasa adalah dengan mempersembahkan payung kepada objek-objek suci. Dikatakan bahwa karma mempersembahkan payung seperti ini akan membawa hasil antara lain berupa: terlahir sebagai orang yang berwibawa, berlimpah kekayaan, bisa terus bersama-sama dengan para Buddha dan Bodhisatwa, serta bahkan hingga bisa membawa pada pencapaian pembebasan.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXccF39cK1BwfRyfBHYu-cRpj6fzTR28VNdrJfnb1iF1TUMWwsqB_dvpGwWgd8kK2YF0HWsrbFudNcyA87JR0ajhSIqzRsS0K_1Q1zEhY60D6Ka0tZFiw7p5n-IQoBQMXXvWZ53UfQ-et0MzC4zox-xiuppI5sqzODq0wtoCt6GJhIjucA?key=oxciMfG4gigakS2eMHtN8A" alt="26 Relief Karmawibhangga 126 - 130"/><figcaption>Persembahan chattra/payung di relief Karmawibhangga</figcaption></figure></div>


<p>Dengan demikian, pemaknaan chattra atau payung dalam filosofi Buddhisme dapat dirangkum menjadi tiga, yakni: sebuah sebuah objek persembahan surgawi, sebagai sebagai pelindung dan juga sebagai penanda anggota keluarga kerajaan.&nbsp;</p>



<p>Lebih jauh lagi, dalam tradisi Vajrayana, mempersembahkan mandala adalah sebuah praktik mendasar. Mandala dimaknakan sebagai alam semesta dan kita diajarkan untuk melatih dana paramita dengan cara mempersembahkan segala sesuatu (yang dilambangkan sebagai alam semesta) kepada Ladang Kebajikan, yakni Triratna. Dalam praktik persembahan mandala ini, salah satu objek yang dihiaskan ke dalam mandala sebelum dipersembahkan adalah sebuah <a href="https://www.instagram.com/p/COSDtJVgOAc/">payung berharga</a> (bahasa Inggris: <em>precious parasol</em>) yang ditemani oleh sebuah panji kemenangan (bahasa Inggris: <em>victory banner</em>). Praktik ini dilakukan setiap hari bahkan hingga detik ini oleh para praktisi Vajrayana.&nbsp;</p>



<p><em>Baca juga: <a href="http://Polemik chattra Borobudur kembali naik ke permukaan menanggapi rencana pemasangan chattra pada bulan September 2024. Seperti apa pandangan Buddhis terhadap chattra?">Borobudur Itu Apa Sih?</a></em></p>



<p>Masih pula dalam tradisi Vajrayana, kita juga mengenal banyak sekali istadewata-istadewata yang membawa payung sebagai salah satu ornamen kebesarannya. Beberapa di antaranya adalah Sitatapatra, Sang Pembawa Payung Putih Yang Agung, ataupun Waisrawana, Pelindung Dharma di sebelah Utara, yang membawa payung sebagai simbol status kebesarannya. Selain itu, ada pula Ibunda Sri Dewi Palden Lhamo, Sang Pelindung Dharma yang menjaga silsilah Y.M.S. Dalai Lama dan juga bahkan pernah dipuja di bumi Nusantara ini di masa lampau. Beliau digambarkan memiliki sebuah payung yang terbuat dari bulu merak yang sangat indah yang melambangkan bawah Beliau berperan sebagai pelindung bagi para makhluk di tiga dunia.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfmP6L3iHJ-M4Q6RkFEfOeAtRkK2025-YPMG0-Rbh53Cr2Ap5eEb2czs1zGC30CaLha_WWQhDyOFGVYQXdc91RZsac1qolWCFeITWzcWRkI-vDcOhm9xqUULzmVgVN_FXVEilPRF8O90hDwCz6unvw7FLT9qMcymNSixots8yQoW24g5sA?key=oxciMfG4gigakS2eMHtN8A" alt=""/><figcaption>Sitatapatra</figcaption></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeSU6BEbwBiUaFIaUx5Gldl0MSwJ-1P15SDHe3yfgOM1HKFq5qZ-Yy-CSgrH7dG6DJFwtihlfhg7iOGYhqRglx4ucVGfjuA2rkm8CMgpfufZAa6mpzm0giqzLSeVVwtNpMXv82EK3kQrUnumZ_SYE_GHZE-coZDF_LyiqwFRdMTRSllhA?key=oxciMfG4gigakS2eMHtN8A" alt="Vaisravana, the Northern Heavenly King | Buddhist art, Thangka painting,  Buddhist traditions"/><figcaption>Waisrawana</figcaption></figure></div>


<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdBIoY3pMsWrLgjhQzqo7XRprD54LMABvFAByChruiyRxrPIXGR7TTtOsZNy_lWgEXx45jm6fANamXCKg0ZIMQxcr8vurgqPEgiI1JYG-_lJFT_g1Gk-rVR-Ckp7fTJscHD84Gs0r1n-qfJoEfDE4GvDnFriHwiuib2EResM1TqHAWbQCI?key=oxciMfG4gigakS2eMHtN8A" alt=""/><figcaption>Payung Bulu Merak Palden Lhamo</figcaption></figure>



<p>Jadi, kesimpulan apa yang bisa ditarik? Pertama, <strong>adalah sebuah fakta bahwa batu-batu serpihan chattra telah ditemukan oleh Van Erp di dalam lokasi Candi Borobudur.</strong> Oleh karena itu, tidak mungkin bahwa di dalam Candi Borobudur tidak ada chattra, karena serpihan batu-batu tersebut pasti pada masa kejayaannya dulu pernah terpasang di suatu tempat di candi. Adalah sebuah fakta pula bahwa bagian puncak dari stupa utama Candi terindikasi memiliki sebuah struktur yang saat ini sudah tidak bisa teridentifikasi lagi. Kedua, dalam filosofi Buddhisme, chattra memang memiliki peran dan makna yang sangat mendalam sebagaimana bisa ditelusuri di relief-relief yang tersebar di seluruh badan Candi. Oleh karena itu, tanpa perlu mengerdilkan disiplin ilmu arkeologi, namun cukup dengan memberikan sedikit ruang interpretasi bagi disiplin ilmu Buddhisme, maka kita seyogyanya bisa mengambil sebuah keberanian untuk melerai polemik berkepanjangan seputar chattra Candi Borobudur dan merekonstruksi pemasangan chattra ini di puncak stupa utama Candi&nbsp; Borobudur. Dengan demikian, umat Buddha secara khususnya dan bangsa Indonesia secara umumnya, sebagai pemilik sah Candi Borobudur, pun akhirnya dapat menikmati sebuah rasa puas karena akhirnya Sang Candi berhasil mencapai status paripurna yang sempurna.&nbsp;</p>



<p>Penulis: Prawirawara Jayawardhana</p>



<p><em><strong>Artikel ini pertama kali terbit di borobudurwriters.id</strong></em>&nbsp;</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/chattra-borobudur-buddhis/">Memahami Chattra dan Melerai Sebuah Polemik</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/chattra-borobudur-buddhis/">Memahami Chattra dan Melerai Sebuah Polemik</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perihal Polemik Chattra: Sebuah Usaha Memaknai Ulang Filosofi Stupa </title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/09/06/chattra-dan-filosofi-stupa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Sep 2024 13:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[chattra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9308</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Apa itu stupa bagi umar Buddha? Apa makna chattra di puncak stupa? Sebelum menjawab pro-kontra chattra Borobudur, mari kita mulai belajar dari dasarnya.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/chattra-dan-filosofi-stupa/">Perihal Polemik Chattra: Sebuah Usaha Memaknai Ulang Filosofi Stupa </a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/chattra-dan-filosofi-stupa/">Perihal Polemik Chattra: Sebuah Usaha Memaknai Ulang Filosofi Stupa </a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam pengertiannya yang paling sederhana, sebuah stupa Buddhis adalah gundukan batu tempat menyimpan relik dan sekaligus penyimbol batin Buddha. Tapi, pengertian sederhana ini berisiko mengalihkan kita dari aspek simbolik dan filosofis stupa, yakni stupa sebagai simbol Dharma dan keadaan tercerahkan seorang Buddha.</p>



<p>Di India masa pra-Buddhis, jasad para raja dan tokoh besar disimpan dalam sebuah gundukan tanah yang sirkuler dan rendah (<em>tumuli</em>), serta dikitari pagar batu untuk menarik batasan jelas antara area sakral dan profan. Dalam <em>Mahaparinibbana Sutta, </em>ketika Buddha ditanya apa yang mesti diperbuat dengan jasadnya ketika dirinya kelak meninggalkan dunia ini, beliau kemungkinan membayangkan <em>tumuli </em>– sebagai purwarupa bagi stupa – saat memberikan jawabannya. Setelah kremasi Buddha, relik beliau dibagi menjadi 8 bagian dan masing-masing disimpan dalam sebuah stupa.<em> </em>Dua pot (<em>kumbha</em>) tempat mengumpulkan relik dan abu sisa kremasi juga diperlakukan dengan cara yang sama. Kelak di kemudian hari, salah satu upaya Ashoka dalam menyebarkan Buddhisme adalah membuka 10 stupa ini dan mendistribusikan isinya ke dalam ribuan stupa baru di seluruh India. Dengan cara inilah pemujaan stupa menjadi populer. Meskipun nantinya muncul pula pemujaan patung Buddha pada abad ke-2 M, stupa tetap menjadi salah satu objek pemujaan paling populer dalam tradisi Buddhis.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdbeyVd6lOeDue6DyRCu2vEYrFRTayufEYAzz85jLHA5X-Dnefl64ng86MATkabJ-wOS1r6g_98LsymnSZJaCsQmAfiygMmBXIniGBj2QQ2S4HRSMVsjmP3cIrVyaH2880XiBBicIvsFFGHTNGBXOd5kPIxk5gIaPGNWvwDuGgqp5cx4g?key=cQCQIDtAYbQ6QuBsNZlfeg" alt=""/><figcaption>Stupa Sanchi</figcaption></figure></div>


<p>Salah satu stupa India periode awal yang masih eksis dan terjaga sampai sekarang adalah stupa di Sanchi, India tengah. Pertama kali dibangun oleh Ashoka, stupa ini terus mengalami pembesaran dan perombakan sampai abad ke-1 M. Empat gerbang masuk (<em>torana</em>) stupa ini dibangun antara kurun abad ke-1 SM dan 1 M untuk menggantikan <em>torana </em>sebelumnya yang terbuat dari kayu. Eksistensi <em>torana </em>secara simbolik menempatkan stupa pada percabangan empat ruas jalan, salah satu prasyarat pembangunan stupa sebagaimana dianjurkan dalam <em>Mahaparinibbana Sutta. </em>Kemungkinan, <em>torana </em>berfungsi untuk menunjukkan keterbukaan dan universalitas ajaran Buddha, yang mengundang semua pihak untuk datang dan membuktikan sendiri kebenaran ajarannya, atau bisa juga sebagai simbol dari cinta yang dipancarkan kepada para makhluk di seluruh penjuru.</p>



<p>Mengitari stupa Sanchi sekaligus menghubungkan keempat <em>torana </em>adalah pagar batu (<em>vedika</em>), yang awalnya juga terbuat dari kayu. <em>Vedika </em>berfungsi untuk menandai batasan dari situs yang didedikasikan bagi stupa sekaligus jalur untuk <em>pradaksina, </em>yang secara harfiah bermakna ‘tetap di kanan’ dan merupakan tindakan menghormati stupa atau objek pemujaan lain dengan cara mengitarinya searah jarum jam sebanyak jumlah tertentu.&nbsp;</p>



<p>Dari jalur pradaksina utama, individu bisa naik tangga ke jalur kedua, juga dipagari <em>vedika, </em>yang dirujuk oleh <em>Divyavadana </em>sebagai undakan (<em>medhi</em>)<em> </em>atau oleh sumber Sinhala sebagai takhta (<em>asana</em>)<em>. Medhi </em>atau <em>asana </em>berfungsi untuk meninggikan badan utama stupa agar tampak layak sebagai objek penghormatan. Di stupa-stupa periode berikutnya, <em>medhi </em>atau <em>asana </em>bahkan digandakan menjadi serangkaian teras untuk semakin meninggikan lagi status terhormat stupa. Teras-teras inilah yang kemungkinan berkembang menjadi atap-atap bertingkat dari stupa model Asia Timur, yang jamak dikenal dengan nama pagoda.</p>



<p>Komponen paling mencolok dari stupa adalah kubah solid yang terdapat di dasarnya, yang berfungsi sebagai tempat menyimpan relik. Rujukan baginya, baik dalam tradisi Sinhala, Sanskerta, dan Tibet, adalah pot (<em>kumbha</em>). Rujukan ini mengingatkan pada <em>Mahaparinibbana Sutta, </em>yang mengatakan bahwa relik Buddha disimpan dalam <em>kumbha </em>sebelum didistribusikan. Jadi, <em>kumbha </em>dalam konteks stupa adalah perpanjangan yang lebih monumental dari <em>kumbha </em>dalam konteks ketika relik Buddha dikumpulkan selepas kremasi. Selain <em>kumbha, </em>kubah stupa juga dirujuk, misalnya dalam <em>Divyavadana, </em>sebagai telur (<em>anda</em>), yang bermakna bahwa ibarat telur yang mengandung potensi pertumbuhan, upaya bakti pada stupa juga akan menjamin pertumbuhan spiritual individu.</p>



<p>Di Stupa Sanchi, juga bisa dilihat keberadaan tiang (<em>yasti</em>) dengan tiga cakram di atasnya. Cakram-cakram ini mewakili payung seremonial (<em>chattra</em>), yang merupakan simbol kebangsawanan India kuno dan masih dipakai sampai sekarang, misalnya di Thailand, untuk upacara yang berkaitan dengan raja. Di Tibet, <em>chattra </em>juga dipakai untuk memayungi Dalai Lama – dalam kapasitasnya sebagai pemimpin agama maupun sekuler – dalam berbagai upacara penting. Jadi, dengan menempatkan <em>chattra </em>di atas stupa, gagasan yang hendak disampaikan adalah kedaulatan Buddha – yang memang berkasta ksatria dan calon raja – berikut ajarannya. Dalam <em>Mahavamsa, </em>turut dikisahkan bagaimana raja Dutthagamani dari Sri Lanka abad ke-2 SM menempatkan <em>chattra </em>kerajaan di atas stupa di Anuradhapura sebagai simbol kedaulatan stupa ini atas Sri Lanka.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter"><img src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfA0jsl0SZusLaXEMDDgtd5Xw0iFH8N_8nHhEvE9-uWXVeBJtb0MCS-Am92PmKlmdh8yH1CGOaeuichpKlPic2MetyiWl0GVIWH8ojBVKHCM-HqexzfkUG7bH8Ev4pW1eHFBD5-to80A0LMzp7YaRE548P6V0cW8chRtCooJw-2d85zltI?key=cQCQIDtAYbQ6QuBsNZlfeg" alt=""/><figcaption><strong>Stupa Anuradhapura</strong></figcaption></figure></div>


<p></p>



<p class="has-text-align-center"><strong><img loading="lazy" width="286" height="295" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdfORFsieXrQet84FIV-6QnfbR8NtSdf-a1hhehneg6qEPqeAl3uBbgxeBzZxUJbxI0-mG88H4wog2yX8M5b3sVghgQJ5M1o5YOOWrWB5vbAhzj0rq03RyJy4Qw98FBjHAeQjzDiA6-5viZKalqcdgaXFcq_kOVcPb0diSt2BRaZeFVDpE?key=cQCQIDtAYbQ6QuBsNZlfeg"></strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong><em>Stupa Shwe Dagon</em></strong></p>



<p>Tiga cakram-payung di Stupa Sanchi bukan model tunggal untuk menyimbolkan <em>chhatra, </em>karena dalam evolusi arsitekturnya jumlah <em>chhatra </em>akan bertambah sebagai penyimbol semakin besarnya kehormatan yang diberikan. Terkadang, penambahan jumlah ini akan menciptakan sebuah model kerucut, seperti yang tampak di stupa di Anuradhapura saat ini. Evolusi lebih lanjut dari model ini bisa dilihat pada Stupa Shwe Dagon di Rangoon kurun abad ke-14 sampai 16, di mana kubah yang berbentuk genta menyatu dengan kerucut di sisi atas, dan berhubung kerucut ini kini tak lagi mengesankan serangkaian cakram-payung, sebuah <em>chhatra </em>besar terpisah yang terbuat dari logam pun ditempatkan di puncaknya.</p>



<p class="has-text-align-center"><img loading="lazy" width="391" height="240" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXc9RTddmN0hKQLbyYOROq6WIyKpp0_HLWOFPhL0UbGAQ9IOQ9_OeleNu3xQAUruv0VhS8lNUI4IFkrEvMj-SETvnLiyYdukK69AoV20WZpXi5-573Jo9BpCRMbtR4NoRoq_1sXnyttP0AezYlKShbw5tXbVRbQ2KEL9wmvfXdBIBJlL_Q?key=cQCQIDtAYbQ6QuBsNZlfeg"></p>



<p class="has-text-align-center"><em>Stupa Amaravati</em></p>



<p>Pada stupa Sanchi, dan juga mayoritas stupa lainnya, ada satu komponen penting yang tidak kelihatan karena tersembunyi oleh evolusi arsitektural. Komponen ini adalah poros/sumbu pada stupa, yang berupa pilar-pilar kayu dan merupakan corak khas stupa-stupa era Ashoka (misalnya Stupa Amaravati), sebelum kelak digantikan oleh pilar batu. Awalnya, poros/sumbu berupa pilar kayu ini ditempatkan di atas kubah stupa, dengan <em>yasti </em>dan <em>chattra </em>sebagai objek terpisah. Tapi,<em> </em>ketika kelak kubah stupa diperbesar, poros/sumbu ini menjadi tertimbun di dalam, dan <em>yasti </em>ditempatkan di atasnya seolah sebagai perpanjangannya.&nbsp;</p>



<p>Dalam <em>Divyavadana, </em>terdapat rujukan pada ‘<em>yupa-yasti’ </em>yang ditanam di puncak stupa, yang menyiratkan bahwa poros/sumbu dikenal dengan nama <em>yupa. </em>Menariknya, <em>yupa </em>juga tercantum dalam Weda untuk merujuk pada pilar kayu tempat binatang diikat untuk dikorbankan kepada para dewa. <em>Yupa </em>dalam Weda juga memiliki bentuk yang sama dengan poros/sumbu berupa pilar batu pada stupa Buddhis Sinhala kuno. Penjelasan bagi kesamaan ganjil ini – yakni antara tradisi pengorbanan binatang dalam Brahmanisme dan tradisi <em>ahimsa</em> dalam Buddhisme – bisa ditemukan dalam asumsi bahwa stupa Buddhis awal kemungkinan dibangun oleh kaum Brahmana yang telah menjadi Buddhis. Buktinya, ekskavasi Stupa Gotihawa, tempat Ashoka menempatkan salah satu pilar legendarisnya, menemukan tulang-belulang binatang di dasar poros/sumbu stupa, yang dulunya menjadi tempat menaruh <em>yupa </em>Wedik. Stupa-stupa Buddhis paling awal tidak memiliki <em>yupa, </em>kemungkinan karena Buddhisme belum cukup berkembang selama kurun abad ke-5 dan 4 SM untuk memungkinkan konversi situs Brahmana menjadi situs Buddhis. Dengan semakin tenarnya Buddhisme, adalah masuk akal bagi stupa untuk dibangun di sekitar <em>yupa </em>Wedik. Inilah yang menjelaskan kenapa stupa di era Ashoka memiliki komponen berupa pilar kayu, sebelum kelak berganti menjadi pilar batu.</p>



<p class="has-text-align-center"><img loading="lazy" width="289" height="428" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfN1OKffoMA90dbmg07DP9YtntRn6lrYM2Wzavxrxk8kFpSlfWO1UVUqZK-Cj3dh7eRKQeV_XxDzGFiGNy7Fj8Txu1iTCanGSwmVf1S9IIu9yJTQp_cNDrPGCsCOGzfBgcruKX2m5aHHyWn7xbHfN3kh31RIKTLVS9wYWnolMcccRsatA?key=cQCQIDtAYbQ6QuBsNZlfeg"></p>



<p class="has-text-align-center"><strong><em>Pagoda Cina</em></strong></p>



<p>Asosiasi <em>yupa </em>Buddhis dengan <em>yupa </em>Wedik juga mengandung makna simbolik tertentu, terutama perihal makna dari ‘pengorbanan.’ Dalam <em>Kutadanta Sutta, </em>Buddha ditanya seorang Brahmana tentang bentuk ‘pengorbanan’ terbaik yang bisa dilakukan individu. Alih-alih merujuk pada ritual berdarah yang dilakukan Brahmana, Buddha menjawab bahwa pengorbanan terbaik adalah melakukan kebajikan seperti berdana, melatih sila, menjalankan meditasi, dan sejenisnya; lebih lanjut, dikatakan bahwa tiap tahapan dalam jalan Buddhis adalah ‘pengorbanan’ untuk meraih tujuan tertinggi: pencerahan. Dalam <em>Milinda-panha, </em>biksu Nagasena yang menjadi salah satu tokoh utamanya dikatakan terlibat dalam banyak aktivitas Dharma, salah satunya adalah “menegakkan <em>yupa </em>Dharma.” <em>Yupa </em>dalam konteks ini dipakai sebagai kiasan bagi Dharma. Dalam konteks Asia Timur, <em>yupa </em>juga merupakan komponen penting bagi pagoda. Buktinya, tidak ada bangunan Cina pra-Buddhis dengan komponen <em>yupa</em>, dan ini membuktikan bahwa <em>yupa </em>di pagoda terinspirasi dari stupa India.</p>



<p>Demikianlah uraian ringkas tentang komponen arsitektural stupa dan penyimbolan filosofis yang dikandungnya. Tapi berhubung isu utama yang hendak diangkat kali ini adalah soal <em>chattra, </em>maka ada baiknya disodorkan lagi beberapa poin tambahan perihal <em>chattra.</em></p>



<p class="has-text-align-center"><img loading="lazy" width="290" height="206" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXf4ydW5PEurPdsa4eHAGqbAgayk_LHr4QhiqH-bMPXC3JK1dobWSVIVUWe8LsJUJ3oNFqvAkhbMBePDWdcgDMK-4RJ0T-A1qAddGs6p8eJCfJ9zi5cRRlsKVBV4AlvcN4MXPR5cDo16MJ8xf0eaOugLkhbBQuKkmnXQGLWd7SpKT2M6CQ?key=cQCQIDtAYbQ6QuBsNZlfeg"></p>



<p class="has-text-align-center"><strong><em>Relief Amaravati</em></strong></p>



<p>Penggunaan <em>chattra </em>sebagai simbol kebangsawanan kemungkinan berasal dari adat kuno di mana raja-raja Asia Selatan duduk di bawah naungan pohon suci, di tengah-tengah rakyatnya, untuk mengurus pemerintahan. Di sini, pohon suci berubah makna menjadi simbol kedaulatan, dan ketika raja mesti berpindah-pindah di wilayah kekuasaannya, fungsi pohon pun digantikan oleh <em>chattra </em>yang lebih fleksibel, yang tak hanya meneruskan simbol kedaulatan dan perlambang status raja tapi sekaligus juga merupakan perpanjangan dari pohon suci. Buktinya adalah sebuah relief abad ke-2 SM dari Amaravati yang melukiskan sebuah stupa dengan sebatang pohon yang dedaunannya berbentuk <em>chattra.</em></p>



<p>Gagasan bahwa <em>chattra </em>adalah perpanjangan dari pohon suci juga ditunjukkan oleh fakta bahwa di Burma, <em>chattra </em>terkadang dipuja sebagai simbol pohon Bodhi, dan pada <em>chattra </em>logam di atas stupa terkadang menggantung dedaunan Bodhi mungil yang terbuat dari kuningan. Jadi, meski secara umum stupa dipuja karena relik yang disimpan di dalamnya, monumen stupa sendiri juga berfungsi sebagai sumber inspirasi karena aneka komponen penyusunnya bersatu-padu sebagai sebuah manifesto spiritual dan filosofis.&nbsp;</p>



<p>Batin tercerahkan Buddha disimbolkan oleh <em>chattra </em>(selaku simbol pohon Bodhi), yang menjulang melampaui dunia para dewa dan manusia. Pelampauan yang disimbolkan <em>chattra </em>ini punya konotasi kebangsawanan, karena Buddhisme sendiri jamak diasosiasikan dengan simbol atau ungkapan seperti ‘takhta’ (kepala biara dalam tradisi Buddhisme Tibet dinamakan pemangku takhta) dan ‘raja’ (sarjana-sarjana terbesar dalam tradisi Buddhisme Tibet, semisal Je Tsongkhapa, lazim dirujuk sebagai raja Dharma).</p>



<p>Simbolisme ini menunjukkan bahwa batin yang tercerahkan muncul dalam dunia melalui proses perkembangan spiritual yang diwakili oleh <em>anda</em> selaku simbol potensi pencerahan. Dharma sendiri, yang diwakili oleh <em>yupa</em>, menyimbolkan jalan yang menuntun kita keluar dari dunia para dewa dan manusia untuk menuju pencerahan, yang diwakili oleh <em>chattra </em>di bagian teratas stupa.</p>



<p>Dalam salah satu tuturan paling populer Buddha, yang ditujukan pada Vakkali, dikatakan bahwa “Dia yang melihat Dharma melihat diriku, dan dia yang melihat diriku melihat Dharma.” Ini sekali lagi menegaskan bahwa stupa (teknisnya: <em>yupa </em>stupa), selaku objek utama pemujaan Buddhis, tidak seharusnya hanya dilihat sebagai tempat menyimpan relik belaka, tapi juga sebagai penyimbol Dharma itu sendiri, atau Buddha dalam wujud Dharmakaya. Penyamaan simbolik antara stupa dan Buddha faktanya tercantum dalam Winaya-winaya awal, di mana stupa memiliki propertinya sendiri (tanah dan objek persembahan yang terpisah), yang menyiratkan bahwa stupa bukan sekadar monumen batu yang mati, tapi juga perpanjangan dari sosok Buddha historis. Dan karena stupa adalah sama dengan Buddha, maka memayunginya dengan <em>chattra, </em>seolah ia adalah makhluk hidup, adalah tindakan yang wajar, dan justru menunjukkan bahwa penghormatan pada Buddha tetap berlangsung bahkan setelah tubuh fisik beliau sudah tidak ada di dunia.</p>



<p>Sebuah studi terbatas di kawasan Ghat Barat – meliputi daerah seperti Bhaja, Ajanta, Aurangabad, Kanheri, dst. – telah berhasil mengidentifikasi keberadaan 15 stupa yang semuanya dilengkapi <em>chattra, </em>baik yang terbuat dari kayu atau batu. Ghat Barat hanya sebuah sampel kecil karena tak lebih daripada satu titik lokasi di ujung barat dataran tinggi Dekkan, dan sama sekali tak bisa dibilang mewakili anak benua India. Namun, poin yang hendak disampaikan di sini adalah: sungguh tidak sulit untuk memahami fakta bahwa <em>chattra </em>adalah keniscayaan bagi eksistensi sebuah stupa, dan sungguh tidak sulit untuk bepergian ke pelosok India mana pun dan menemukan bukti keberadaan <em>chattra </em>– tidak hanya arkeologis, tapi juga historis, sosiologis, antropologis, dan yang paling penting, filosofis –<em> </em>pada sebuah stupa.</p>



<h2>Stupa, chattra, dan Candi Borobudur</h2>



<p>Setelah paparan panjang lebar tentang komponen arsitektural stupa dan makna filosofisnya (bahkan meski tanpa kandungan relik), kini kita bisa beralih ke isu yang lebih kontekstual dan di depan mata: polemik seputar ada atau tiadanya <em>chattra </em>pada Candi Borobudur. Ada banyak pro dan kontra terkait pemasangan <em>chattra </em>di stupa induk Borobudur, dan dalam posisi tulisan ini yang berusaha mewakili pihak yang pro, maka idealnya beberapa poin argumen dari pihak yang kontra akan dijabarkan untuk lantas diselidiki dasar pembenarannya.</p>



<p>Pertama, argumen bahwa pemasangan <em>chattra</em> di Borobudur berisiko melanggar etika pemugaran candi. Maksudnya, berhubung tidak ada bukti yang cukup meyakinkan mengenai keaslian hasil rekonstruksi <em>chattra</em> yang dulu dilakukan Theodoor van Erp, dan berhubung tidak ada rekaman gambar saat Borobudur pertama kali dipugar, maka disimpulkan bahwa pemasangan <em>chattra </em>tidak kontekstual. Kedua, argumen bahwa bentuk <em>chattra</em> stupa di situs-situs Buddhis bervariasi menurut aspek lokalitas. Maksudnya, fakta bahwa tidak ada candi Buddhis di Indonesia yang memiliki <em>chattra </em>kemungkinan besar disebabkan oleh variasi kearifan lokal tiap-tiap kebudayaan, sehingga ketiadaan <em>chattra </em>mungkin valid adanya. Ketiga, argumen bahwa stupa induk Borobudur bukan stupa relik ataupun stupa Tantra. Maksudnya, secara tersirat ingin dinyatakan bahwa berhubung tidak ditemukan relik saat pemugaran Borobudur, tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa stupa induknya adalah stupa relik, dan berhubung Borobudur bukan monumen Tantra, tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa stupa induknya adalah stupa Tantra – dua asumsi ini pada gilirannya menuntun ke kesimpulan bahwa stupa Borobudur kemungkinan adalah makam kosong yang tidak perlu dipayungi chattra. Keempat, argumen bahwa ada atau tiadanya <em>chattra </em>tidak berpengaruh pada ketenaran dan keagungan Borobudur. Maksudnya, Borobudur dalam keadaannya saat ini – tanpa <em>chattra </em>– sudah setenar dan seagung yang bisa dibayangkan dan diharapkan orang-orang.</p>



<p><em>Baca juga: <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/stupa-berchattra-di-borobudur/">Apakah Borobudur Sama Sekali Asing dengan Stupa Berchattra?</a></em></p>



<p>Perihal argumen pertama, bila yang dipermasalahkan adalah keaslian hasil rekonstruksi seorang sarjana asing non-Buddhis, maka ini justru berisiko membuat kita luput dari isu yang jauh lebih penting (bahkan terpenting): bahwa secara historis dan filosofis, sebuah stupa memang sepatutnya dihiasi <em>chattra </em>di atasnya. Dalam stupa Buddhis, <em>chattra </em>adalah simbol dari pohon Bodhi tempat Buddha bernaung ketika berjuang meraih pencerahan. Jadi, stupa sebagai simbol batin tercerahkan Buddha sudah sepatutnya dinaungi <em>chattra. </em>Hasil rekonstruksi van Erp boleh jadi tidak asli atau akurat, tapi apakah fakta ini mesti menuntun kita pada kesimpulan untuk sekalian saja membongkar habis filosofi stupa demi tuntutan etika disiplin keilmuan? Kalaupun memang pemasangan <em>chattra </em>rekonstruksi van Erp dinilai tidak etis, maka tidak menaruh <em>chattra </em>pada sebuah stupa faktanya adalah keputusan yang jauh lebih tidak etis lagi, karena apa yang dipertaruhkan di sini adalah bangunan pemikiran Buddhisme itu sendiri. Andaikan kelak di masa depan temuan baru bakal membenarkan ketidakaslian <em>chattra </em>van Erp, maka <em>chattra </em>lama tinggal diganti dengan yang baru (dan lebih asli). Namun, tidak memasang <em>chattra </em>di Borobudur semata demi menunggu momen akbar itu tiba sungguh merupakan distorsi atas tradisi Buddhisme. Langkah terbaik untuk menengahi isu ini adalah tidak lagi menumpukan keputusan final terkait <em>chattra </em>pada satu pihak saja (ilmuwan/akademisi), tapi juga mulai merangkul dan mendengar aspirasi dari pihak kedua yang sama-sama berkepentingan (atau malah lebih besar kepentingannya) terkait isu Borobudur: umat Buddhis di Indonesia. Misalnya, para pemuka agama Buddha di Indonesia bisa diundang untuk menyampaikan perspektif mereka terkait mesti ada atau tiadanya <em>chattra</em> di Borobudur.&nbsp;</p>



<p>Perihal argumen kedua, bila yang dipermasalahkan adalah variasi stupa-stupa Buddhis menurut aspek lokalitas – sehingga kemudian muncul pembenaran tentang tiadanya <em>chattra </em>di Borobudur – maka ini kembali berisiko mengalihkan kita dari isu yang lebih penting. Bila temuan sejauh ini menyimpulkan bahwa tidak ada candi Buddhis di Indonesia yang memiliki <em>chattra,</em> maka ini tidak lantas membuktikan ketiadaan absolut dari <em>chattra, </em>karena ‘temuan sejauh ini’ tidak lain daripada ‘temuan parsial’ belaka. Hakikat ilmu pengetahuan adalah terus berubah dan berkembang. Apa yang tidak tertangkap oleh pengamatan indrawi – entah karena belum mampu ditangkap indra (dalam kasus ilmu alam semisal fisika) ataupun sudah tidak eksis untuk ditangkap indra (dalam kasus ilmu sosial semisal arkeologi) – tidak serta-merta menuntun pada kesimpulan bahwa tangkapan empirik sejauh ini sudah final sifatnya. Soal apakah Borobudur pada era Shailendra abad ke-9 punya <em>chattra </em>atau tidak mustahil untuk dipastikan mengingat kurangnya data yang memadai. Kekurangan data ini membuka ruang probabilitas yang sama antara dua kemungkinan: Borobudur bisa punya <em>chattra </em>dan bisa juga tidak. Bila peluang dua kemungkinan ini adalah setara, maka solusi terbaiknya adalah berpaling ke aspek filosofis dari stupa alih-alih terus berkubang dalam polemik materialnya. Objek material arkeologis, terutama yang religius, tidak dibuat hanya demi objek itu sendiri. Tanda/lambang tidak pernah sepenuhnya simbolik, tapi senantiasa berkelindan dengan seperangkat nilai tertentu (moral, sosial, eksistensial) yang hendak disampaikan. Sebagai tambahan, relief 127-130 dari <em>Karmavibhanga</em> di Borobudur melukiskan sepuluh manfaat dari mempersembahkan <em>chattra. </em>Di sini, andaikan mayoritas umat Buddhis di Indonesia hendak melakukan persembahan yang sama bagi Borobudur, tidakkah tindakan ini, alih-alih dipandang tidak kontekstual, justru sejalan dengan apa yang diajarkan dalam relief-relief Borobudur?</p>



<p>Perihal argumen ketiga, bila yang dipermasalahkan adalah status dari stupa induk Borobudur – relik, Tantra, atau bukan keduanya – maka ini berisiko menjadi sebuah lompatan logika yang mengandaikan sudah benarnya seperangkat asumsi tertentu tanpa butuh penyelidikan lebih lanjut. Pertama, hanya karena saat pemugaran candi tidak ditemukan relik apa pun, ini tidak lantas bisa langsung diartikan bahwa stupa induk Borobudur tidak memiliki relik. Sejak perampungan Borobudur pada abad ke-9 sampai pemugarannya pada abad ke-20, ada rentang waktu 11 abad yang memustahilkan pemastian apakah ada relik di dalam stupa induk Borobudur atau tidak. Seperti halnya kasus <em>chattra</em>, selalu ada ruang probabilitas untuk memperkirakan bahwa relik pernah eksis pada suatu waktu, sebelum kemudian hilang karena satu dan lain alasan. Kedua, perihal penyangkalan Borobudur sebagai monumen Tantra (sehingga otomatis stupa induknya juga bukan stupa Tantra), sangkalan ini bisa dengan mudah dibantah karena bukti materialnya terpampang jelas. Salah satu deretan relief paling terkenal di Borobudur adalah yang berkisah tentang <em>Gandavyuha Sutra</em>. Kisah ini adalah tentang seorang pemuda bernama Sudhana yang mengunjungi puluhan guru untuk mencari jalan pencerahan. Dari sekian banyak guru yang ditemuinya, setidaknya ada tiga sosok yang menarik untuk dibahas dalam kaitannya dengan konteks kali ini: seorang Brahmana bernama Jayosmayatana, seorang dewa bernama Siwa Mahadewa, dan seorang wanita penghibur bernama Vasumitra. Sosok Jayosmayatana dan Siwa Mahadewa menarik karena status unik mereka sebagai dua guru non-Buddhis yang ditemui Sudhana. Pertemuan ini menyiratkan sebuah sinkretisme, yang tak pelak menjadi salah satu corak paling utama dari tradisi Tantrayana sejak awal kemunculannya di India. Ini ditambah fakta bahwa dewa yang muncul dalam <em>Gandavyuha Sutra</em> bukanlah sembarang dewa, melainkan Siwa Mahadewa sendiri, salah satu tokoh utama dalam tradisi Tantra Hindu. Perihal Vasumitra bahkan lebih menarik lagi, karena dikatakan dalam teks bahwa dia mampu membimbing para makhluk ke jalan Dharma melalui belaian dan cumbuan. Pertanyaannya: di tradisi manakah seseorang pernah mendengar bahwa belaian dan cumbuan bisa digunakan sebagai cara menuntun individu ke jalan Dharma selain dalam tradisi Tantrayana, yang memang dipenuhi simbolisasi sejenis? Patut diingat bahwa belaian dan cumbuan dalam konteks Vasumitra bukanlah aktivitas seksual pembangkit nafsu, dan bertolak belakang dengan kesalahpahaman selama ini, Tantrayana juga bukan pembenaran bagi aktivitas seksual. Belaian dan cumbuan dalam konteks ini sepenuhnya adalah <em>upaya-kausalya </em>yang dengan mahir diterapkan Bodhisatwa untuk membimbing para makhluk. Tapi sekali lagi, di tradisi mana lagi simbolisasi macam ini diajarkan selain dalam tradisi Tantrayana? Jadi, relief <em>Gandavyuha Sutra</em> pada Candi Borobudur tak pelak membuktikan bahwa mandala fisik ini, berikut stupa induknya, adalah monumen Tantra.</p>



<p>Perihal argumen keempat, bila yang dipermasalahkan adalah tidak relevannya <em>chattra </em>bagi status agung Borobudur, maka ini berisiko semakin menjauhkan kita dari isu penting di depan mata. Ada atau tiadanya <em>chattra </em>bukan sekadar soal perbandingan lurusnya dengan ketenaran dan keagungan Borobudur (isu ini mungkin lebih relevan buat sektor ekonomi dan pariwisata!). Sebaliknya, ada atau tiadanya <em>chattra </em>adalah soal penghayatan nilai-nilai dalam ajaran Buddha. Keinginan untuk melihat <em>chattra </em>terpasang di atas stupa induk Borobudur bukanlah aksi cari perhatian ataupun dorongan megalomaniak untuk lebih mengagungkan lagi status Borobudur (inilah asumsi yang tersirat dari argumen keempat!). Umat Buddhis yang mendambakan terpasangnya <em>chattra </em>memunculkan niatan ini bukan karena didorong penampilan superfisial yang tujuan akhirnya hanya demi pemuasan kebutuhan egoistik. Sebaliknya, <em>chattra </em>adalah perwujudan konkret dari nilai-nilai Buddhis, seperti halnya <em>usnisa </em>dan <em>urna </em>Buddha bukan sekadar gundukan di ubun-ubun dan sebuah titik di tengah dua alis mata, melainkan simbol dari tanda-tanda utama seorang makhluk agung yang tercerahkan. Jadi, apabila misalnya dikatakan bahwa stupa induk Borobudur tidak perlu <em>chattra </em>untuk menambah keagungannya, maka konsekuensi logisnya adalah sebuah representasi Buddha tidak perlu <em>usnisa </em>dan <em>urna </em>sebagai perlambang bahwa sosok yang diwakili adalah Buddha, dan kaum biksu juga pada akhirnya tidak perlu perangkat jubah untuk dikatakan biksu (karena tata lakunya sudah lebih dari cukup untuk membayangkan keagungan sosoknya!). Dengan demikian, argumen keempat secara tersirat merupakan usaha pembongkaran atas tradisi kebudayaan ribuan tahun untuk lantas menyajikan sisa-sisa hasil bongkaran sebagai artefak yang standarnya ditentukan secara subjektif.<em> </em>Ada atau tiadanya <em>chattra </em>bukan soal selera ataupun persepsi individual tentang kadar keagungan sebuah objek. Umat Buddhis yang melihat sebuah stupa dinaungi <em>chattra </em>akan memampukan dirinya untuk mengaitkan simbolisasi ini dengan hayat dan aktivitas agung Buddha, yang salah satunya adalah meraih pencerahan di bawah pohon Bodhi. Jadi, apabila <em>chattra </em>selaku simbol pohon Bodhi tidak dipasang di atas stupa, ini sama artinya dengan memandang pencerahan Buddha secara parsial – sebuah pencerahan tanpa pohon Bodhi.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" width="646" height="807" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/09/image-2.png" alt="" class="wp-image-9310" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/09/image-2.png 646w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/09/image-2-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/09/image-2-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/09/image-2-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2024/09/image-2-600x750.png 600w" sizes="(max-width: 646px) 100vw, 646px" /><figcaption>Makna Chattra menurut <a href="https://www.instagram.com/p/CNj23t-ANJH/">Sangha Vajrayana Indonesia</a></figcaption></figure></div>


<p>Sebagai penutup, stupa bukan sekadar tempat menyimpan relik, tapi juga penyimbol Dharma dan transformasi spiritual bagi individu yang menjalankan Dharma, yang tujuan akhirnya tak lain daripada pencerahan. Ini bukan sekadar asumsi yang mengada-ada ataupun usaha pencocok-cocokan, karena dalam kajian semiotika, lazim dipahami bahwa tidak ada tanda/lambang yang murni bersifat simbolik. Dengan demikian, eksistensi <em>chattra </em>pada sebuah stupa bukanlah soal estetika, formalitas, ataupun simbol demi kepentingan simbolik belaka. <em>Chattra</em> ditempatkan di atas stupa karena stupa adalah perlambang batin tercerahkan Buddha, dan pencerahan Buddha mustahil diperoleh tanpa naungan pohon Bodhi, yang dalam konteks stupa disimbolkan oleh <em>chattra. </em>Sebuah stupa tanpa <em>chattra </em>adalah tak ubahnya penihilan dan penyangkalan atas pohon Bodhi, atas situs suci Bodhgaya, dan terutama, atas keseluruhan fondasi ajaran Buddhisme.</p>



<p>Terlepas dari apakah sebuah stupa dalam pengamatan mata telanjang kita saat ini di abad ke-21 memiliki <em>chattra </em>atau tidak, pemahaman yang tepat atas filosofi stupa, dan juga tradisi Buddhisme secara umum, menuntut kita untuk tiba pada kesimpulan bahwa sebuah stupa bukanlah stupa sampai ia dinaungi <em>chattra </em>di atasnya, ibarat pencerahan seorang Buddha bukanlah pencerahan kecuali beliau meraihnya di bawah pohon Bodhi.</p>



<p><strong>Sumber Rujukan</strong></p>



<p>Fogelin, Lars. 2012. “Material Practice and the Metamorphosis of a Sign: Early Buddhist Stupas and the Origin of Mahayana Buddhism.” Dalam <em>Asian Perspectives 51(2). </em>hlm. 278-310.Harvey, Peter. 1984. “The Symbolism of the Early Stupa.” Dalam <em>The Journal of the International Association of Buddhist Studies 7(2). </em>hlm. 67-93.</p>



<p>Penulis: Stanley Khu, S.Ant., M.A</p>



<p><strong><em>Artikel ini pertama kali diterbitkan di borobudurwriters.id (2021)</em></strong></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/chattra-dan-filosofi-stupa/">Perihal Polemik Chattra: Sebuah Usaha Memaknai Ulang Filosofi Stupa </a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/chattra-dan-filosofi-stupa/">Perihal Polemik Chattra: Sebuah Usaha Memaknai Ulang Filosofi Stupa </a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Borobudur Itu Apa Sih?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Sep 2024 12:43:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[chattra]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[mandala]]></category>
		<category><![CDATA[stupa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5976</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Borobudur bukan sekadar tempat wisata. Borobudur adalah sumber inspirasi welas asih untuk Indonesia. Simak penjabarannya!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Junarsih</p>



<p>Siang itu, saat udara sedang dingin-dinginnya, saya sedang berbincang dengan kawan-kawan perihal Candi Borobudur. Kami pun bergiliran memberi pendapat tentang apa sih Borobudur itu. Ada yang bilang kalau Borobudur itu tempat berswafoto yang asyik. Ada yang bilang Borobudur itu tempat wisata yang kalau satu kompleksnya dikelilingi dengan jalan kaki bisa bikin keringat mengucur. Nah, ada pula satu kawan saya yang bilang Borobudur lebih dari sekadar tempat wisata ataupun swafoto, yaitu tempat ibadah umat Buddha. Saya pun ikut berpikir, jangan-jangan Borobudur ini bangunan bersejarah yang sangat sakral!&nbsp;</p>



<p>Daripada kita bertanya-tanya, lebih baik kita bahas bareng-bareng sebenarnya Borobudur itu apa. Jangan sampai kita berhenti mengenal Borobudur hanya sebagai bangunan warisan nenek moyang saja.&nbsp;</p>



<h4><strong>Borobudur Sebagai Kitab Suci Tiga Dimensi (3D)</strong></h4>



<p>Kok Borobudur dibilang kitab suci? Kitab biasanya berbentuk seperti buku dan tebal, mungkin lebih dari 100 halaman. Kita tahu kalau kitab suci agama Buddha itu berupa kumpulan teks yang kalau dikumpulkan mengisi penuh lemari. Borobudur kan bangunan, bukan teks, kok bisa jadi kitab suci?</p>



<p>Sebenarnya, Borobudur bukan sekadar batu yang ditumpuk indah menjadi bangunan bersejarah umat Buddha Nusantara. Tapi, Borobudur adalah sebuah kitab suci 3D yang sangat mewah. Kisah-kisah kehidupan manusia dari sebab dan akibatnya terukir di relief menjadikannya sebagai kitab suci pedoman manusia saat ini.&nbsp;</p>



<p>Berdasarkan informasi dalam buku Kearsitekturan Candi Borobudur yang diterbitkan oleh Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, secara kosmologi Buddhis, Borobudur terdiri atas tiga tingkatan, yaitu <em>Kamadhatu</em>, <em>Rupadhatu</em>, dan <em>Arupadhatu</em>. Tapi, pernyataan ini pernah disangkal dan belum diperbaharui, karena TIGA TINGKATAN ini masih dalam samsara. Padahal, Candi Borobudur adalah sebuah lambang menuju pada Kebuddhaan.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/wIAllV1mQjLbEfeJS7rzdlhvgwguVVj8CP9KouW-jVeNxo9MaaLL_t11OleNiJsxgXIquFz8EDiD4Y77ruJ4u-W8rUX03viyReCLY46JT9xrzHvtvlqL3OnlewqvsvY0xolXx-Ke" alt="Sumber Foto: Sangha Vajrayana Indonesia"/><figcaption>Sutra &amp; Simbol Buddhis di Candi Borobudur</figcaption></figure>



<p>Mari kita ulas dari strukturnya dahulu. Candi ini terdiri atas sepuluh tingkat yang diduga merujuk pada 10 tingkatan Bodhisatwa dalam <strong>Dasabhumika Sutra</strong>, bagian dari Awatamsaka Sutra. De Casparis, seorang peneliti dari Belanda membuat rekonstruksi ulang nama candi ini dari kata “Bhumisambharabhudara” yang berarti “Gunung Akumulasi Kebajikan dalam Sepuluh Tingkat Bodhisatwa” dari Dasabhumika Sutra.</p>



<p>Dalam tradisi Buddhisme Mahayana, terdapat tingkatan kesucian praktisi yang dikenal dengan sebutan “Marga”. Mulai dari marga ke-3, yakni Marga Penglihatan, maka seorang praktisi mulai memasuki 10 tingkatan Bodhisatwa yang disimbolkan dalam 10 tingkatan Borobudur.&nbsp;</p>



<p>Relief yang terukir pada dinding candi ini berdasar dari sutra dalam kitab suci agama Buddha. Pertama adalah <strong>Gandawyuha, </strong>bagian dari Awatamsaka Sutra yang mengisahkan perjalanan Sudhana mencari guru spiritual untuk mencapai Kebuddhaan. Dikisahkan bahwa Sudhana berguru pada 52 orang kalyanamitta dari berbagai kalangan, mulai dari ratu, kapten kapal, wanita penghibur, hingga seorang budak. Semua gurunya memberinya manfaat, sehingga ia sangat berbakti kepada mereka. Hingga akhirnya pada ujung relief Gandawyuha, Sudhana bertemu dengan Bodhisatwa Samantabhadra yang mengajarkan tujuan dari kebijaksanaan tertinggi adalah dengan memberi manfaat pada semua makhluk.</p>



<p>Dua orang guru Sudhana di relief Gandawyuha, Brahmana Jayosmayatana dan Siwa Mahadewa, adalah tokoh dari tradisi Hindu. Kehadiran tokoh ini menyiratkan adanya sinkretisme yang merupakan corak tradisi Tantrayana sejak awal kemunculannya di India. Ada pula tokoh Vasumitra, wanita penghibur yang menjadi guru Sudhana dan dikatakan dalam Gandawyuha mampu menggunakan belaian dan cumbuan sebagai <em>upaya kausalya </em>untuk membimbing para makhluk ke jalan Dharma. Pemilihan Gandawyuha dan kehadiran tokoh-tokoh ini dalam relief Borobudur menunjukkan bahwa Borobudur juga memiliki kaitan dengan tradisi Tantrayana.</p>



<p>Kemudian dalam relief <strong>Sutra Bhadracari</strong> terdapat doa dedikasi agung Bodhisatwa Samantabhadra yang hingga saat ini masih dilantunkan di setiap biara Buddhis di India, Tibet, dan Indonesia. Doa ini untuk membebaskan penderitaan dari semua makhluk dengan mencapai Kebuddhaan. Tentunya doa ini tidak hanya kita memohon pada Buddha, tapi menjadi pondasi semangat kita untuk menolong banyak makhluk.</p>



<p>Lalu ada pula relief sutra Jataka dan Avadana yang mengisahkan perjuangan Bodhisatwa untuk menyempurnakan <strong>paramita </strong>(<strong>sila</strong>-moral, <strong>ksanti</strong>-kesabaran, <strong>wiriya</strong>-semangat, <strong>dhyana</strong>-ketenangan batin, dan <strong>prajna</strong>-kebijaksanaan) di berbagai kehidupan selama berkalpa-kalpa.</p>



<p>Bodhisatwa akan segera menjadi Buddha setelah menyempurnakan paramita dengan terlahir sebagai manusia. Kisah hidup Bodhisatwa sebagai manusia dijabarkan dalam <strong>Sutra Lalitawistara</strong>. Beliau terlahir menjadi Siddharta Gautama dari rahim Ratu Mahamaya dan akhirnya memutuskan mencari jalan keluar penderitaan manusia setelah melihat empat hal&#8211;orang tua, orang sakit, orang mati, dan pertapa. Beliau melakukan banyak hal seperti bertapa di hutan dan menyiksa diri selama 6 tahun hingga akhirnya beliau mencapai penerangan sempurna.</p>



<p>Untuk mencapai Kebuddhaan tentunya tidak terlepas dari praktik mendasar agama Buddha, yakni meyakini <strong>hukum karma</strong> atau hukum sebab akibat. Karena itulah relief <strong>Sutra Karmawibhangga </strong>yang berisi sebab-akibat perilaku manusia menjadi pondasi dari Candi Borobudur. Dari relief tersebut kita bisa memahami bahwa keburukan apapun yang dilakukan dalam ucapan maupun tindakan akan berbuah buruk, begitu pula kebaikan apapun yang kita lakukan akan berbuah manis juga. Bila kita bisa memahami hukum karma, maka kita bisa menjaga pikiran, ucapan, dan tindakan agar tidak merugikan orang lain maupun diri sendiri.&nbsp;</p>



<h4><strong>Borobudur sebagai Stupa</strong></h4>



<p>Ada banyak Stupa yang terpasang di Candi Borobudur. Stupa itu sendiri merupakan objek pemujaan yang populer dalam tradisi Buddhis meski rupang kemudian muncul pada abad II Masehi. Pemujaan Stupa menjadi populer saat Raja Ashoka mendirikan stupa berisi relik Buddha di berbagai tempat. Selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan relik guru-guru agung, stupa juga menjadi perlambang Dharma dan transformasi spiritual. Ketika kita melihat sebuah stupa, kita ibarat sedang melihat batin Buddha yang tercerahkan sekaligus batin tercerahkan yang akan kita capai di masa mendatang.</p>



<p>Sebuah stupa umumnya terdiri atas beberapa komponen, yaitu kubah, yupa, dan chattra. Kubah berfungsi sebagai tempat menyimpan relik. Yupa<em> </em>merupakan simbol pengorbanan. Pengorbanan yang dimaksud ini sesuai dengan penjelasan Buddha dalam <em>Kutadanta Sutta, </em>bahwa pengorbanan terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan kebajikan seperti berdana, melatih sila, meditasi, hingga pengorbanan untuk meraih pencerahan.</p>



<p>Chattra merupakan cakram yang berada di atas stupa sebagai simbol payung seremonial, yang merupakan simbol kebangsawanan India Kuno dan masih digunakan hingga sekarang. Di Thailand, chattra digunakan untuk memayungi raja dalam berbagai upacara kenegaraan. Di Tibet, chattra digunakan untuk memayungi Dalai Lama yang berperan sebagai pemimpin spiritual. Chattra juga merupakan simbol pohon Bodhi tempat Buddha mencapai pencerahan/ Chattra di puncak stupa dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan dan persembahan kepada Buddha yang disimbolkan oleh stupa tersebut.</p>



<h4><strong>Borobudur sebagai Mandala</strong></h4>



<p>Daud Aris Tanudirjo menjelaskan mandala adalah sebuah lingkaran yang penerapannya memiliki makna kontekstual yang berbeda-beda. Pengertian lain tentang mandala juga dikemukakan oleh Grover (1980) saat ia membahas arsitektur Hindu dan Buddhis. Grover berpendapat bahwa mandala adalah bentuk geometris yang paling hakiki dari bentuk dasar lainnya untuk mendirikan bangunan suci para dewa.&nbsp;</p>



<p>Robert A. Thurman menjelaskan mandala sebagai sebuah matriks atau model alam semesta yang sempurna. Mandala menyimbolkan Kebuddhaan sebagai pembebasan dan kebahagiaan tertinggi yang dicapai seseorang yang telah menyatu dengan lingkungannya dalam kesalingbergantungan.</p>



<p>Berbagai sumber sejarah Jawa Kuno juga menunjukkan adanya konsep mandala dalam bangunan Jawa dan Bali. Contohnya adalah Candi Sewu yang disebut sebagai mandala dalam Prasasti Kelurak (782 M) ataupun Gugusan Gunung Kawi di Bali yang disebut “<em>sanghyang mandala ring Amaravati</em>” (Soekmono, 1974).</p>



<p>Pada situs biara Namgyal (kediaman Y.M.S. Dalai Lama XIV), dikatakan bahwa mandala berarti representasi sebagai rumah atau istana suci tempat tinggal Buddha. Meski memiliki bentuk yang indah, mandala memiliki fungsi religius, bukan untuk dikagumi estetikanya saja.</p>



<p>Berdasarkan perspektif filsafat Buddhis sendiri, Candi Borobudur juga dapat dipandang sebagai sebuah mandala mandala yang sempurna, yaitu mandala dengan ukuran asli yang bisa dimasuki oleh praktisi yoga tantra pada masa itu untuk merenung dan bermeditasi.</p>



<p>Mandala memiliki pintu masuk yang unik berupa ujung wajra. Peneliti Caroline Gammon dalam disertasinya menemukan ujung wajra tersebut di pintu utama Borobudur. Dalam Borobudur International Buddhist Conference tahun 2016, pembicara Y.M. Biksu Bhadra Ruci juga menyatakan bahwa Borobudur adalah mandala pencapaian spiritual manusia.</p>



<p>Lebih lanjut, salah satu peneliti Borobudur bernama Stuterheim (1956) mengemukakan bahwa pada zaman dahulu Candi Borobudur merupakan yang tidak boleh dikunjungi sembarang orang. Ia yakin bahwa Borobudur adalah tempat untuk berlatih meditasi bagi para praktisi yang ingin menjadi Buddha di masa mendatang. Jadi, dari uraian di atas, bisa kita simpulkan bahwa Candi Borobudur adalah mandala yang merupakan tempat suci dan tidak bisa dimasuki dengan bebas.</p>



<h4><strong>Bukti Peradaban Buddhis Nusantara</strong></h4>



<p>Kemegahan Candi Borobudur membuatnya menjadi salah satu warisan budaya dunia (<em>World Heritage) </em>nomor C. 592 tahun 1991. Pembangunan Candi Borobudur diketahui pada zaman kejayaan Dinasti Syailendra sekitar abad VIII-IX M berkat sebuah pahatan huruf yang ada di relief <em>Karmawibhangga</em>. Menurut peneliti De Casparis yang mengidentifikasi pahatan ini, gaya pahatan huruf yang terdapat di inskripsi tersebut sama dengan yang ada di prasasti Karang Tengah yang berangka 824 M dan prasasti Kahulunan dari 842 M. Dari situ, dapat disimpulkan bahwa Candi Borobudur dibangun pada masa pemerintah Samaratungga yang memimpin Dinasti Syailendra pada tahun 782-812 M.&nbsp;</p>



<p>Kita tidak bisa mewawancarai pendiri atau perancang Candi Borobudur, tapi tidaklah mengherankan jika ajaran Buddha yang dipilih sebagai basis pendirian Borobudur dan diangkat menjadi ratusan keping relief nan rumit mewakili nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat Nusantara pada masa itu. Borobudur adalah bukti peradaban Buddhis Nusantara yang menjunjung tinggi welas asih yang universal.</p>



<h4><strong>Borobudur sebagai Sumber Inspirasi di Masa Kini</strong></h4>



<p>Buddha mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang ingin menderita, semuanya ingin bahagia. Namun, setahun belakangan ini kalau kita lihat banyak konflik antar golongan terjadi untuk memperebutkan kekuasaan ekonomi, teknologi, bahkan juga militer. Tentunya konflik ini menjadi ancaman kedamaian untuk dunia dan bertolak belakang dengan harapan kita akan kehidupan yang aman, damai, dan bahagia.</p>



<p>Perjuangan Bodhisatwa untuk meraih Kebuddhaan demi semua makhluk yang terukir dalam relief candi beserta simbol-simbol pencerahan dalam setiap elemen Borobudur bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mengikuti jejak-Nya. Kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mulai dari tindakan yang sederhana, seperti menyebarkan cinta kasih melalui pikiran, ucapan, dan tindakan agar tidak menimbulkan pertengkaran dengan sesama. Perlahan-lahan, kita pun bisa belajar memandang semua makhluk dengan kasih sayang.</p>



<h4><strong>Borobudur Sebagai Tempat Suci Umat Buddha</strong></h4>



<p>Borobudur memang bukan termasuk situs yang berkaitan langsung dengan riwayat hidup Buddha Sakyamuni &#8212; Bodhgaya, Lumbini, Sarnath dan Kushinagar. Meski demikian, seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwasannya Borobudur adalah Kitab Suci 3D yang memuat kisah perjalanan Bodhisatwa yang terlahir kembali dalam berbagai wujud hingga beliau terlahir sebagai manusia dan mencapai pencerahan tertinggi beserta simbol-simbol pencerahan itu sendiri. Borobudur juga merupakan mandala yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang karena tempat ini dipergunakan untuk berlatih meditasi para praktisi yang ingin mencapai Kebuddhaan. Bangunan yang memuat KItab Suci 3D dan mandala ini tentu harus kita hormati sebagai sebuah tempat suci.</p>



<p>Dalam acara Borobudur <em>International Buddhist Conference</em> tahun 2016, Y.M. Biksu Pannavaro juga menyatakan bahwa Candi Borobudur layak menjadi objek pemujaan karena memiliki tiga objek pemujaan dalam pandangan Buddhis, yakni relik Guru Agung Buddha dan orang suci; pohon Bodhi (tempat Buddha mencapai pencerahan); serta foto, gambar, ataupun candi yang mengingatkan kita pada Guru Agung Buddha.&nbsp;</p>



<p>Tentu saja ini tidak berarti masyarakat yang tidak beragama Buddha dilarang datang ke Candi Borobudur. Semua boleh dan bahkan sangat dianjurkan untuk berkunjung untuk mengapresiasi keindahan dan menghayati ajaran bajik yang ada di candi ini. Jika umat Buddha menghormati Candi Borobudur dengan melakukan puja bakti. menghaturkan persembahan, dan merenungkan ajaran Buddha, wisatawan umum turut serta menghormati Candi Borobudur dengan berperilaku sopan, menjaga keutuhan dan kebersihan lingkungan, dan pastinya mengembangkan welas asih dan toleransi yang disimbolkan oleh Candi Borobudur.</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Borobudur adalah salah satu warisan budaya Nusantara untuk dunia yang sangat megah dan bukan hanya sekadar kisah biasa. Nilai-nilai kehidupan yang unggul tentang sebab-akibat (relief <em>Karmawibhangga</em>) dan juga kisah perjalan spiritual Sudhana untuk mencapai Kebuddhaan yang terukir dalam reliefnya menjadikannya sebagai Kitab Suci 3D pedoman hidup untuk kita.</p>



<p>Amatlah disayangkan bila mahakarya nenek moyang kita ini hanya menjadi tempat jalan-jalan atau sekadar swafoto. Oleh sebab itu, kita sebagai ahli waris Borobudur harus menghargainya dengan mengubah pandangan kita yang tadinya menganggap Borobudur tak lebih dari sekadar tempat wisata. Borobudur lebih dari itu karena juga merupakan sebuah tempat suci yang dulunya digunakan oleh calon Buddha di masa mendatang. Saat kita sudah bisa memiliki pemikiran bahwa Borobudur adalah tempat suci untuk beribadah, maka kita pasti menjaga perilaku saat mengunjungi candi ini. Dengan demikian, kesakralan candi dan keutuhan bangunan fisiknya pun akan terjaga dengan baik.</p>



<p>Saat ini, memang kondisi Borobudur jauh dari kata ideal. Pengelolaannya belum melibatkan pendekatan filsafat Buddhis dan tak sedikit pengunjung yang bersikap kurang pantas karena memandang Borobudur sebagai objek wisata biasa. Dengan mulai dari diri sendiri, mudah-mudahan kita sebagai umat Buddha bisa menjadi teladan bagi semua orang untuk sama-sama menghormati dan memelihara Candi Borobudur.</p>



<h4><strong>Daftar Pustaka:</strong></h4>



<p>Stutterheim, W.F. 1956. Chandi Barabudur: Name, Form, dan Meaning dalam Studies In Indonesian Archeology. KITLV translation series. Martinus Nijhoff, hal. 3-63.</p>



<p>Daud Aris Tanudirjo &#8211; “<a href="https://docplayer.info/45917901-Borobudur-sebagai-mandala-masa-lalu-dan-masa-kini.html">Borobudur Sebagai Mandala: Masa Lalu dan Masa Kini</a><em>”&nbsp;</em></p>



<p>Youtube Lamrimnesia &#8211; “<a href="https://youtu.be/jglNUiSZMj4">Ayo Puja Bakti ke Borobudur, Tempat Suci Umat Buddha</a>”</p>



<p>Buddhazine.com &#8211; “<a href="https://buddhazine.com/borobudur-adalah-mandala-pencapaian-spiritual-manusia/">Borobudur Adalah Mandala Pencapaian Spiritual Manusia</a>”</p>



<p>Sangha Vajrayana Indonesia &#8211; “<a href="https://sanghakci.wixsite.com/sanghakadamchoeling/single-post/candi-borobudur-adalah-mandala?fbclid=IwAR2HU4qFtrPss_5aNlOYRfeZ1Xur11f_c2v2lOgsmoLnbMgKjyKMtdbO-ps">Borobudur adalah Mandala</a>”</p>



<p>Stanley Khu &#8211; “<a href="https://borobudurwriters.id/situs/perihal-polemik-chattra-sebuah-usaha-memaknai-ulang-filosofi-stupa/">Perihal Polemik Chattra: Sebuah Usaha Memaknai Ulang Filosofi Stupa</a>”</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
