<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>catur brahmawihara - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/catur-brahmawihara/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Jul 2026 05:27:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.17</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>catur brahmawihara - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Buku Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iqa Kinanti Nandakasih]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2026 10:16:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[catur brahmawihara]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=10433</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Bagaimana jika seandainya melatih empat kemuliaan batin di tengah krisis adalah cara terakhir untuk bertahan? Bukan tanda pasrah, tetapi cara untuk melawan.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em>, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku &lt;em&gt;Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas&lt;/em&gt;, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Judul Buku  : Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas<br>Penulis         : Dagpo Rinpoche<br>Ketebalan    : iv + 71 hlm<br>Tahun Terbit: 2017</p>



<p>Membicarakan keseimbangan batin di tengah sistem negara korup mungkin terdengar omong kosong. Namun, bagaimana jika seandainya itu adalah cara terakhir untuk bertahan hidup?</p>



<p>Negara yang seharusnya menjadi pelindung rakyat justru hadir sebagai penjajah. Korupsi merajalela, harga bahan pokok dan bahan bakar mencekik warga akibat rupiah melemah, PHK tak kunjung usai, tingginya pengangguran. Negara dalam banyak hal telah absen bahkan menjadi sumber kesengsaraan.</p>



<p>Krisis yang berlapis-lapis sampai hari ini seakan tak menyisakan kabar baik. Membaca berita rasanya hanya menguras sisa kewarasan. Meski di Indonesia sudah akrab dengan slogan “warga jaga warga”, kenyataannya penderitaan berkepanjangan membuat kita bisa kapan saja untuk saling menjatuhkan dan ikut menindas demi bertahan hidup. <em>Toh,</em> sudah tampak jelas dari bagaimana cara kita memperlakukan sesama makhluk sekarang ini, tak terbatas pada manusia saja. Menghakimi sesama warga, diskriminasi terhadap kelompok masyarakat tertentu, menelantarkan bahkan membunuh hewan, ikut merusak lingkungan, dan masih banyak lagi. Empati dan bahu-membahu hanya diperuntukkan bagi segelintir orang dan di permukaan saja.&nbsp;</p>



<p>Inilah ironi menyedihkan dari krisis tak berkesudahan: betapa lantang kita mengutuk segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh sistem negara, tetapi di saat yang sama, kita pun tanpa sadar ikut menindas kaum yang lebih lemah. Penindasan itu akhirnya turun-temurun. Kita sering mengotak-ngotakkan dan mendiskriminasi minoritas, serta melupakan penderitaan bersama demi mengamankan diri sendiri.</p>



<p>Fakta bahwa penderitaan merenggut hak-hak individu juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat secara menyeluruh. Penderitaan sudah membawa kita sampai ke sini, sebuah kerusakan yang entah kapan bisa dibenahi kembali. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain bertarung melawan ketidakadilan dengan semua yang tersisa. Dan karena yang dipertaruhkan adalah kehidupan kolektif, empati dan bahu-membahu itu diperlukan di kemelut seperti sekarang.</p>



<p>Semula, membaca buku karya Dagpo Rinpoche berjudul <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em> di tengah krisis yang terjadi tampak tak ada relevansinya sebab urusan perut lapar dan sistem carut-marut tak bisa dibenahi dengan wejangan spiritual belaka.&nbsp; Namun, berangkat akan hal itu, muncul pikiran berikutnya: bagaimana jika ternyata buku ini<em> </em>dibutuhkan di kondisi sekarang? Menyaksikan dan merasakan sesak, tak terhitung sudah berapa banyak hidup yang dikoyak dan ditindas. Bukankah untuk melawan, tidak hanya perut dan otak yang butuh diberi makan, tetapi juga batin?&nbsp;</p>



<p>Memberi makan batin salah satunya dengan melatih welas asih. Sejatinya, welas asih ada di dalam diri kita. Ketika ketidakadilan terjadi, secara naluri kita terdorong untuk melawan dan menolong. Hal itu karena kita lahir dari kerentanan, kegelisahan batin, dan kebutuhan yang sama. Welas asih muncul akibat dari “kemarahan” yang menolak diam melihat penderitaan sesama. Sadar bahwa perjuangan masih jauh dari selesai, perlawanan pun terus berlanjut. Turun ke jalan, vokal di media sosial, dan menyebar poster “warga jaga warga” seharusnya dilihat sebagai bentuk dari memperjuangkan welas asih. Kendati demikian, welas asih itu masih tak berjalan sebagaimana mestinya di kehidupan kolektif kita. Ia lebih sering dianggap sebagai bentuk pasrah dan kelemahan.</p>



<p>Dalam ajaran Buddha, welas asih termasuk dalam kelompok sifat yang disebut “Catur Brahmawihara”, yang berarti empat kemuliaan tanpa batas. Empat kemuliaan itu meliputi&nbsp; <em>Upeksha</em> (keseimbangan batin), <em>Maitri</em> (cinta kasih tanpa batas), <em>Karuna</em> (welas tanpa batas), dan <em>Mudita</em> (sukacita tanpa batas). Sejalan dengan itu, buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em> memuat panduan dasar memeditasikan empat kemuliaan batin yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh, membawa buku ini ke ruang krisis yang penuh suram adalah penguat bersama untuk membangun kembali solidaritas antarwarga. Ia juga fondasi untuk menumbuhkan rasa empati yang hilang dan cara untuk memperjuangkan hak asasi.&nbsp;</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Upeksha</em></strong><br><em>Selama seseorang tidak memiliki keseimbangan batin dan memiliki klesha kemarahan dan kebencian, maka orang itu masih berada di dalam penderitaan</em>.</p>



<p>Mula-mula, yang harus dikembangkan adalah keseimbangan batin. Tujuannya agar kita bisa melihat semua makhluk setara. Contoh melatih batin yang seimbang bisa dimulai dengan mengesampingkan ego, kemelekatan, dan kebencian. Di keseharian, praktik nyatanya adalah dengan mengendalikan diri untuk tidak marah-marah ketika terjebak kemacetan karena aksi demonstrasi warga. Kita harus menyadari bahwa orang-orang yang turun ke jalan sejatinya sedang berjuang demi menuntut hak hidup kita juga.</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Maitri</em></strong><br><em>Maitri</em> atau cinta kasih adalah kualitas kedua setelah <em>upeksha</em>. Pada langkah ini, kita menempatkan semua makhluk layaknya ibu-ibu kita. Dalam Buddhisme, melihat semua makhluk sebagai ibu-ibu kita lahir dari keyakinan bahwa semua makhluk dalam kehidupan lampaunya pasti pernah menjadi ibu yang penuh cinta dan naluri untuk merawat kehidupan. Ibu juga dipandang sebagai sosok teladan cinta kasih yang universal.&nbsp;</p>



<p>Ciri khas dari <em>maitri</em> sendiri adalah keinginan tulus untuk melihat semua makhluk berbahagia. Di tengah impitan ekonomi, <em>maitri</em> bisa dipraktikkan dengan niat dan secara sadar memilih untuk melariskan dagangan UMKM atau berbelanja di pasar tradisional. Tujuannya untuk memastikan bahwa sesama kelas pekerja, mereka bisa makan dan punya harapan untuk menyambung hidup.&nbsp;</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Karuna</em></strong><br><em>Karuna</em> berarti welas asih. Berbeda dengan <em>maitri,</em> ciri khas <em>karuna</em> adalah batin yang menolak diam ketika melihat makhluk lain menderita. Di tengah krisis, <em>karuna</em> hadir dalam wujud nyata dengan membantu massa aksi yang ditindas atau ditahan ketika aksi di jalan, membantu memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas dan kelompok minoritas di tengah krisis, turut vokal baik secara langsung maupun bersuara di media sosial terkait dampak melemahnya rupiah terhadap kelangsungan hidup seluruh masyarakat, terutama buruh kecil dan petani, dan sebagainya.</p>



<p>Karena berkaitan dengan tatanan sosial atau sistem keadilan, welas asih pada titik ini bersifat universal dan objektif. Sebagai sesama warga dan kelas pekerja yang terkena dampak dari penindasan negara, kita tahu betul bahwa semua makhluk sama menderitanya. Melawan ketidakadilan artinya memperjuangkan welas asih. Tidak peduli suku, agama, jenis kelamin, status sosial, dan orientasi seksual—jika dihubungkan, welas asih dan keadilan punya tujuan yang sama, yakni menghapus penderitaan akibat tindakan semena-mena tanpa tebang pilih.</p>



<p><strong>Memeditasikan <em>Mudita</em></strong><br>Selanjutnya <em>mudita</em>, yaitu sukacita tanpa batas. Dengan turut bersukacita melihat keberhasilan makhluk lain, kita sudah melatih diri untuk membunuh rasa iri dan saling menjatuhkan di masa krisis. Sebagai contoh, turut senang ketika melihat dagangan pedagang kecil ludes terjual atau merasa lega ketika sekelompok massa aksi yang dikriminalisasi akhirnya dibebaskan. Dengan mengapresiasi perjuangan mereka, kita sudah memperkuat napas perlawanan dan merawat kehidupan banyak makhluk.</p>



<p>Pada akhirnya tujuan melatih empat kemuliaan batin adalah agar kebebasan bersama itu bisa diraih dan perpecahan antarwarga akibat konflik horizontal perlahan-lahan bisa diatasi. Namun, praktik kemuliaan batin itu tidak akan pernah utuh jika empati berhenti pada manusia saja. Layaknya manusia, hewan dan tumbuhan juga adalah makhluk yang harus dijaga. Mereka sama-sama ingin mendapatkan ruang hidup yang aman. Sekecil tidak mengusir paksa dan berbuat kasar kepada hewan jalanan, memberi minum dan sisa makanan layak untuk hewan kelaparan, dan tidak merusak alam—kita sudah melatih diri untuk menghormati kehidupan makhluk lain. Menyadari bahwa nyawa makhluk hidup yang paling kecil dan lemah sekali pun sama berharganya dengan nyawa manusia.</p>



<p>Buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em> adalah tamparan untuk kita semua di tengah krisis Indonesia saat ini. Ia seakan menodong kita dengan sebuah pertanyaan: kita membenci penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan negara, tetapi apakah kita sendiri sudah bersikap adil terhadap sekitar? Jawabannya tentu tidak. Tanpa sadar, kita justru melanggengkan represi tersebut. Penderitaan kolektif yang dirasakan sampai hari ini tak pelak menjadikan kita makhluk egois. Karena realitas sosial itu sudah mengeringkan nurani dan empati, maka batin kita perlu dilatih. Bukan untuk memberi toleransi atas ketidakadilan, tetapi sebagai bentuk perjuangan untuk menghapus penindasan.&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku <em>Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas</em>, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2026/07/02/catur-brahmawihara/">Buku &lt;em&gt;Catur Brahmawihara: Praktik Meditasi Empat Kemuliaan Tanpa Batas&lt;/em&gt;, Obat Batin di Tengah Krisis Tak Berkesudahan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/kinanti-kasih/">Iqa Kinanti Nandakasih</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merayakan Waisak dengan Menghadiahkan Buku Dharma untuk umat Buddha di Jawa</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/05/03/2021-caturbrahmawihara-jawa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 May 2021 08:31:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berbagi Dharma]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[budhisme]]></category>
		<category><![CDATA[buku dharma]]></category>
		<category><![CDATA[catur brahmawihara]]></category>
		<category><![CDATA[Dagpo Rinpoche]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[waisak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6034</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Lamrimnesia menyalurkan 1000 buku Dharma berbahasa Jawa setiap tahunnya. Pada tahun ini, Lamrimnesia akan menerbitkan buku Catur Brahmawihara. Catur Brahmawihara (4 Kemuliaan Tanpa Batas) merupakan salah satu topik utama dalam instruksi yang disebut Lamrim, atau tahapan jalan menuju pencerahan.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/05/03/2021-caturbrahmawihara-jawa/">Merayakan Waisak dengan Menghadiahkan Buku Dharma untuk umat Buddha di Jawa</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/05/03/2021-caturbrahmawihara-jawa/">Merayakan Waisak dengan Menghadiahkan Buku Dharma untuk umat Buddha di Jawa</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Lamrimnesia menyalurkan 1000 buku Dharma berbahasa Jawa setiap tahunnya. Pada tahun ini, Lamrimnesia akan menerbitkan buku Catur Brahmawihara. Catur Brahmawihara (4 Kemuliaan Tanpa Batas) merupakan salah satu topik utama dalam instruksi yang disebut Lamrim, atau tahapan jalan menuju pencerahan. Keempat kemuliaan tanpa batas meliputi keseimbangan batin tanpa batas (Upeksha), cinta kasih tanpa batas (Maitri), welas asih tanpa batas (Karuna), dan sukacita tanpa batas (Mudita).&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/QCeiAaIYDHZN8mYvGf0Hc6axmUHYq88olVcQCRMoBro7ET8imnC1seMBadY5adnsSTWlURxJrtpDx00UUaF2n4aCfNO_YrRWDGIjO-NltNgkH8tRCgqMzss13CxuUVt0eX3E9Ia8" alt=""/></figure>



<p>Dukung penyebaran Dharma yang luar biasa ini ke seluruh Nusantara beserta kegiatan pelestarian Dharma lainnya dengan menjadi Dharma Patron Lamrimnesia!</p>



<p>Berikut rincian anggaran YPPLN dalam setahun dalam melestarikan dan menyebarkan Dharma ke seluruh negeri:</p>



<figure class="wp-block-table"><table><tbody><tr><td><strong>PENGELUARAN</strong></td><td></td></tr><tr><td><strong>Operasional dan Mobilisasi Dharma Patriot</strong></td><td></td></tr><tr><td>Mobilisasi Dharma Patriot</td><td>Rp826,250,000,-</td></tr><tr><td>Operasional Kantor</td><td>Rp70,000,000,-</td></tr><tr><td></td><td></td></tr><tr><td><strong>Penerbitan dan Penyaluran Buku Dharma</strong></td><td></td></tr><tr><td>Penerbitan Buku Dharma</td><td>Rp373,000,000,-</td></tr><tr><td>Penyaluran Buku Dharma dan Lain-Lain</td><td>Rp52,500,000,-</td></tr><tr><td></td><td></td></tr><tr><td><strong>Kegiatan</strong></td><td></td></tr><tr><td>Bedah Buku &amp; Stand</td><td>Rp25,600,000,-</td></tr><tr><td>Nusantara Dharma Book Festival</td><td>Rp150,000,000,-</td></tr><tr><td>Indonesia Lamrim Retret</td><td>Rp100,000,000,-</td></tr><tr><td>Merchandise</td><td>Rp10,000,000,-</td></tr><tr><td></td><td></td></tr><tr><td>Total Pengeluaran</td><td>Rp1,607,350,000,-</td></tr></tbody></table></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p></p>



<figure class="wp-block-table"><table><tbody><tr><td><strong>PENDAPATAN</strong></td><td></td></tr><tr><td><strong>Dharma Patron</strong></td><td></td></tr><tr><td>Dharma Patron Rutin*</td><td>Rp640,000,000,-</td></tr><tr><td>Dharma Patron Non Rutin**</td><td>Rp388,350,000,-</td></tr><tr><td></td><td></td></tr><tr><td><strong>Penjualan</strong></td><td></td></tr><tr><td>Penjualan Buku</td><td>Rp340,000,000,-</td></tr><tr><td>Penjualan Merchandise</td><td>Rp15,000,000,-</td></tr><tr><td></td><td></td></tr><tr><td><strong>Kegiatan Dharma</strong></td><td></td></tr><tr><td>Bedah Buku dan Seminar</td><td>Rp4,000,000,-</td></tr><tr><td>Nusantara Dharma Book Festival</td><td>Rp120,000,000,-</td></tr><tr><td>Indonesia Lamrim Retret</td><td>Rp100,000,000,-</td></tr><tr><td></td><td></td></tr><tr><td>Total Pendapatan</td><td>Rp1,607,350,000,-</td></tr></tbody></table></figure>



<p>*Asumsi 533 Dharma Patron Rutin dengan nominal Rp100.000,- per bulan donasi<br>**Asumsi sekitar 1.941 Dharma Patron Non Rutin dengan rata-rata donasi Rp200.000,- per orang</p>



<p>Dibutuhkan 317 Dharma Patron rutin baru dan 1.941 Dharma Patron non rutin di tahun ini untuk mewujudkan cita-cita bajik kami. Jadilah Dharma Patron Lamrimnesia!</p>



<p>Salurkan dana Anda&nbsp; ke:<br><strong>BCA 0079 388 388</strong> atau <strong>MANDIRI 119 009 388 388 0</strong><br>A.n. Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara</p>



<p>Dengan pilihan paket dana:<br>Sederhana – (dana sukarela*)<br>Welas Asih – Rp200.004,-<br>Bijaksana – Rp800.004,-<br>Sampurna – Rp4.800.004,-</p>



<p>*Tambahkan angka Rp4,- pada nominal donasi Anda</p>



<p>Konfirmasikan ke Call Center Lamrimnesia dengan mengirimkan bukti transfer dengan keterangan “DharmaPatron4”<br>atau melalui tautan lamrimnesia.org/dpatron4</p>



<p>Dana yang Anda berikan akan disalurkan untuk kegiatan <strong>S A P A</strong>:<br>– Penerbitan &amp; Penyaluran Buku Dharma (<strong>S</strong> ALUR)<br>– Penyelenggaraan Kegiatan Dharma (<strong>A</strong> JAR &amp; <strong>P</strong> ROMOSI)<br>– Mobilisasi Dharma Patriot &amp; Biaya Operasional (<strong>P</strong> ROMOSI &amp; <strong>A</strong> JAK)</p>



<p>Dukunganmu sangat berarti! Boleh juga bantu share info ini ke sahabat dan kerabatmu. Ditunggu ya!</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/rrNKIlMJtLndald4dEDaDVihbDhgrv20WhsH72RtR1ffH1-5EU43IaEhHyfXHVZmae4seW2Bn7qANvvlhLSDiM_3Q98fIRTI2RV6kqia3t4xfE6kL1-hiwnxBLuUayKRWlG4pvHv" alt=""/></figure><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/05/03/2021-caturbrahmawihara-jawa/">Merayakan Waisak dengan Menghadiahkan Buku Dharma untuk umat Buddha di Jawa</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/05/03/2021-caturbrahmawihara-jawa/">Merayakan Waisak dengan Menghadiahkan Buku Dharma untuk umat Buddha di Jawa</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
