<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>6 praktik pendahuluan - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/6-praktik-pendahuluan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Feb 2022 08:55:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>6 praktik pendahuluan - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menemukan Kembali Makna Sesajen dan Persembahan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/02/24/menemukan-kembali-makna-sesajen-dan-persembahan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Feb 2022 08:55:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[6 praktik pendahuluan]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Atisha]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Suwarnadwipa Dharmakirti]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Sesajen]]></category>
		<category><![CDATA[warisan budaya]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6813</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Praktik sesajen adalah bentuk ungkapan syukur dan cara berkomunikasi dengan alam sejak zaman leluhur hingga kini. Praktik ini juga ada dalam tradisi Buddhis Nusantara, lho!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/24/menemukan-kembali-makna-sesajen-dan-persembahan/">Menemukan Kembali Makna Sesajen dan Persembahan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/24/menemukan-kembali-makna-sesajen-dan-persembahan/">Menemukan Kembali Makna Sesajen dan Persembahan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Jumat (18/2) Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN) mengadakan Lamrim Talk via aplikasi Zoom dengan tajuk “Apakah Persembahan Sama dengan Sesajen?” bersama Sramanera Guna Sagara sebagai narasumber dan Stiven Piu sebagai moderator.&nbsp;</p>



<p>Sebelum acara dimulai, moderator mengungkapkan terlebih dahulu alasan diselenggarakan acara ini. Stiven menuturkan bahwa pertengahan Januari lalu, kita sempat dihebohkan dengan video viral seorang pria yang menendang sesajen di lokasi erupsi Gunung Semeru. Pria tersebut juga mengatakan kalau sesajen dapat membuat Tuhan murka dan menjadi pemicu erupsi gunung tersebut. Hal ini menyebabkan pria tersebut ditangkap oleh polisi. Banyak pihak yang mengatakan pria ini dianggap tidak menghargai tradisi Indonesia berhubung sesajen sudah menjadi bagian dari budaya Nusantara sejak lama.</p>



<p>Menanggapi peristiwa tersebut, Sramanera Guna Sagara berkata, “Ada sekelompok orang yang protes, nggak terima kejadian ini terjadi. Sebenarnya praktik sesajen ini tidak sesuai dengan apa yang dikatakan pemuda itu.”</p>



<p>Menurut Sramanera, kasus ini menyinggung banyak pihak yang masih peduli dengan budaya, identitas kebangsaan, dan kebhinekaan. Bahkan Beliau juga menambahkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh pria tersebut bisa menyinggung leluhur bangsa Indonesia. Apalagi praktik sesajen yang berlangsung tidaklah seperti yang diungkapkan pria itu.</p>



<p>Terkait dengan ungkapan Sramanera tentang “menyinggung leluhur bangsa Indonesia”, Beliau kemudian menjelaskan bahwa bangsa Indonesia tidak bisa lepas dari praktik persembahan. Sebelum pasar berkembang seperti saat ini, para leluhur mengandalkan alam untuk memperoleh makanan demi menunjang kehidupan. Mereka juga memiliki keyakinan besar terhadap kekuatan alam dan dewa yang telah membantu kehidupan manusia. Karena itu, para leluhur memberikan sesajen sebagai berkomunikasi dengan alam, khususnya untuk mengungkapkan rasa syukur tersebut.&nbsp;</p>



<p>Bagi Sramanera, praktik sesajen untuk mengungkapkan rasa syukur ini adalah bukti bahwa bangsa Indonesia memiliki hati yang baik. Tidak hanya berlaku di masa lampau, praktik seperti ini pun masih bisa kita temui di banyak kebudayaan di Nusantara masa kini, misalnya di Pulau Bali.</p>



<p>Penulis: Junarsih</p>



<h4><strong>Persamaan Persembahan dan Sesajen</strong></h4>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kata sesajen berasal dari bahasa Jawa Kuno. Kata dasarnya adalah saji, yang berarti sesuatu yang dipersiapkan, dipersembahkan dalam bentuk makanan, buah, dan sebagainya. Persembahan sendiri adalah sesuatu yang dihaturkan pada makhluk yang statusnya lebih tinggi,” ujar Sramanera.</p></blockquote>



<p>Persembahan dan sesajen sama-sama disiapkan terlebih dahulu sebelum dihaturkan pada objek penerimanya. Akan tetapi dalam teks Jawa Kuno, “sesajen” lebih umum digunakan dibanding “persembahan” karena tidak ada pembagian untuk leluhur yang posisinya lebih tinggi atau tidak. Lebih lanjut, Sramanera merujuk dua teks Jawa Kuno, Adi Parwa dan Ramayanam, yang membahas sesajen dan persembahan.&nbsp;</p>



<p>Dalam teks Adi Parwa dikatakan: <em>dupadipa suganda vastralangkala sasajening abhiseka</em> yang artinya bahwa dupa, wewangian, pakaian, perhiasan adalah sesajian dalam abhiseka. Sedangkan dalam teks Ramayanam dikatakan: <em>sajining yatna tarumadang sriweksa samidapuspa gandapala </em>berarti kayu sriweksa, kayu bakar, bunga, wewangian, dan buah-buahan adalah sesajian.&nbsp;</p>



<h4><strong>Negeri Tibet Berutang pada Indonesia Perihal Praktik Persembahan</strong></h4>



<p>Ternyata, budaya persembahan di Nusantara juga menyebar sampai ke negeri Tibet. Sramanera menceritakan pada abad ke-11, seorang guru Dharma termasyhur bernama Guru Atisha berangkat dari India menuju Serling (Sumatera saat ini). Di sana, Beliau bertemu dengan Guru Besar Serlingpa Dharmakirti. Selama belajar di Serling, Guru Atisha memperoleh banyak hal, salah satunya adalah pengetahuan tentang praktik persembahan.&nbsp;</p>



<p>Praktik persembahan yang diajarkan Guru Dharmakirti kini dikenal dengan sebutan <em>Jorchoy</em> atau Praktik Pendahuluan, yaitu serangkaian praktik pemurnian dan pengumpulan kebajikan untuk mengawali hari. Guru Atisha belakangan kembali ke India, lalu pergi ke Tibet dengan membawa ajaran praktik persembahan ini dan dipraktikkan hingga sekarang serta menyebar ke seluruh dunia bersamaan dengan menyebarnya Buddhisme Tibet.</p>



<p><em>Cari tahu lebih lanjut tentang praktik persembahan warisan Guru Dharmakirti </em><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Awali_Harimu_Dengan_Ini_Sebuah_Meto?id=je9DEAAAQBAJ"><em>di sini</em></a><em>!</em></p>



<h4><strong>Persembahan yang Dilakukan Seorang Buddhis</strong></h4>



<p>Ajaran praktik persembahan telah ada sejak masa Guru Besar Serlingpa Dharmakirti, sehingga bisa dikatakan bahwa praktik ini juga merupakan bagian dari tradisi Buddhis. Sramanera berpendapat kalau persembahan dalam Buddhis itu sangat luas maknanya dan mudah dilakukan. Misalnya seseorang bisa mempersembahkan waktu dan tenaga untuk beraktivitas demi kepentingan semua makhluk. Bisa juga melalui persembahan makan dan minum.</p>



<p>Sramanera menambahkan bila seorang Buddhis hendak melakukan persembahan, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah membangkitkan motivasi bajik. Dengan motivasi tersebut, praktisi membersihkan ruangan dan tempat untuk melakukan persembahan. Setelah bersih barulah persembahan untuk Guru dan Buddha sebagai ladang kebajikan diletakkan. Selanjutnya, praktisi bisa mulai melantunkan doa-doa seperti Doa Tujuh Bagian serta memanjatkan permohonan.&nbsp;</p>



<p>Permohonan terhadap Guru dan Buddha bertujuan agar kita mencapai kondisi matang untuk praktik Dharma. Saat melantunkan permohonan ini, kita harus memiliki keyakinan bahwa ladang kebajikan benar-benar hadir di hadapan kita. Dengan berkeyakinan penuh saat membuat permohonan, maka praktik persembahan yang kita lakukan akan membuahkan hasil.</p>



<p>Di akhir acara, Beliau menjawab sebuah pertanyaan yang menarik, yaitu berapa lama sebaiknya persembahan dihaturkan di altar. Beliau kemudian berkata, “Kalau bisa ganti dalam tiap berapa menit sekali itu malah sangat bagus. Nggak ada aturan berapa lama persembahan ada di altar. Minimal kita ganti sehari sekali.”</p>



<p>Meski tidak ada aturan baku perihal berapa lama persembahan harus diletakkan di altar, lebih baik bila kita sering menggantinya agar persembahan itu tidak kotor terkena debu. Bagaimanapun juga, hal yang terpenting dari praktik persembahan persembahan untuk Guru dan Buddha adalah keyakinan dan kemurnian objek persembahannya.</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Jadi, praktik sesajen adalah tradisi menyuguhkan aneka benda untuk berkomunikasi dengan alam dan mengungkapkan rasa syukur yang diwariskan oleh leluhur bangsa kita. Sementara itu, persembahan sifatnya lebih khusus karena dihaturkan kepada makhluk yang lebih tinggi statusnya. Dalam Buddhisme, kita bisa mengumpulkan kebajikan dengan menghaturkan persembahan kepada Triratna.</p>



<p>Hal terpenting saat memberi persembahan adalah keyakinan dan motivasi kita untuk bisa praktik Dharma&nbsp; demi mencapai Kebuddhaan sehingga bisa menolong semua makhluk dari penderitaan.</p>



<p>Penulis: Junarsih</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/24/menemukan-kembali-makna-sesajen-dan-persembahan/">Menemukan Kembali Makna Sesajen dan Persembahan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/24/menemukan-kembali-makna-sesajen-dan-persembahan/">Menemukan Kembali Makna Sesajen dan Persembahan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Dec 2017 01:04:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[6 praktik pendahuluan]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[dharmakirti]]></category>
		<category><![CDATA[guru spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[milarepa]]></category>
		<category><![CDATA[ritual]]></category>
		<category><![CDATA[serlingpa]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[swarnadwipa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3841</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Saya sudah praktik Dharma bertahun-tahun, kok hidup saya tidak jadi lebih baik?” Pernahkah kita berpikir seperti itu? Jika ya, bisa jadi penyebabnya adalah kita masih memisahkan praktik Dharma dengan kehidupan duniawi kita. Masih dalam pembahasan bab 3 Lamrim di Indonesia Lamrim Retreat 2017 tentang cara mendengarkan Dharma, kita harus melihat diri sebagai orang yang sakit, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">“Saya sudah praktik Dharma bertahun-tahun, kok hidup saya tidak jadi lebih baik?”</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Pernahkah kita berpikir seperti itu? Jika ya, bisa jadi penyebabnya adalah kita masih memisahkan praktik Dharma dengan kehidupan duniawi kita. Masih dalam pembahasan bab 3 Lamrim di Indonesia Lamrim Retreat 2017 tentang cara mendengarkan Dharma, kita harus melihat diri sebagai orang yang sakit, Dharma sebagai obat penyakit, dan guru Dharma sebagai dokter yang mahir yang mengobati kita. Namun, itu saja tidak cukup. Kita juga harus sadar bahwa kita perlu meminum obat Dharma untuk menyembuhkan penyakit kita. Dengan kata lain, kita harus secara langsung menyatukan Dharma dalam kehidupan sehari-hari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagaimana caranya menyatukan praktik Dharma dengan kehidupan sehari-hari? Pertama-tama kita harus banyak belajar dan memahami semua teori-teori Dharma, baik dari pengajaran langsung dari guru ataupun dari buku-buku. Ini adalah proses studi. Berikutnya, ketika kita menghadapi masalah dalam hidup sehari-hari, gunakan teori yang telah kita pelajari untuk menentukan keputusan atau kesimpulan apa yang harus kita ambil untuk mengatasi masalah tersebut. Ini adalah tahap kontemplasi. Terakhir, kita harus membiasakan batin kita dengan kesimpulan tersebut. Inilah yang disebut meditasi. Ketiga tahapan dalam praktik Dharma&#8211;studi, kontemplasi, dan meditasi&#8211;merupakan cara untuk mengubah batin kita agar sesuai dengan Dharma. Jika kita senantiasa sadar dan menjalankan ketiga praktik tersebut, otomatis ego kita akan berkurang dan batin kita akan semakin berkembang.</span></p>
<p><b>Bertumpu Pada Guru Spiritual</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah melewati tiga bab pertama Lamrim, Biksu Bhadra Ruci lanjut menjelaskan bab keempat, yaitu bagaimana murid dibimbing dengan instruksi yang sesungguhnya. Di sini ada dua bagian:</span><b> bertumpu pada guru spiritual akar dari Sang Jalan</b><span style="font-weight: 400;"> dan </span><b>bagaimana setelah bertumpu murid dibimbing untuk mengembangkan batin</b><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Topik bertumpu pada guru spiritual sendiri dibagi menjadi dua bagian, yaitu sesi meditasi dan di antara sesi meditasi. Yang dimaksud sesi meditasi di sini bukanlah duduk diam di depan altar. Sesi meditasi adalah keseluruhan proses studi, kontemplasi, dan meditasi terhadap topik-topik Lamrim yang kita lakukan dalam aktivitas kita sehari-hari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sesi meditasi dibagi ke dalam tiga poin: pendahuluan, praktik utama, dan kesimpulan. Pendahuluan, atau yang juga dikenal dengan istilah </span><b>6 Praktik Pendahuluan</b><span style="font-weight: 400;">, merupakan ritual yang diwariskan oleh Guru Serlingpa Dharmakirti dari Sriwijaya. Keenam praktik ini adalah:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">membersihkan ruangan dan menyusun simbol tubuh, ucapan, dan batin Buddha di atas altar,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">membuat dan menata persembahan di altar,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">duduk dengan nyaman dalam postur meditasi, trisarana, dan membangkitkan bodhicitta,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">memvisualisasikan ladang kebajikan,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">memanjatkan Doa Tujuh Bagian,</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">memanjatkan permohonan kepada guru-guru silsilah</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Ritual merupakan cara kita berkomunikasi dengan para Buddha. Ritual 6 Praktik Pendahuluan ini merupakan cara untuk mengumpulkan energi positif yang kita butuhkan untuk menempa batin kita dari para Buddha dan guru-guru silsilah Lamrim, hingga guru kita sendiri.</span></p>
<p style="text-align: right;"><a href="http://store.lamrimnesia.com/product/permata-hati/"><i><span style="font-weight: 400;">Temukan penjelasan lengkap 6 Praktik Pendahuluan di buku Permata Hati bagi Mereka yang Beruntung</span></i></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah 6 Praktik Pendahuluan, kita masuk ke </span><b>praktik utama</b><span style="font-weight: 400;">. Bagian ini terdiri atas empat poin, yaitu </span><b>manfaat bertumpu kepada guru spiritual, kerugian tidak bertumpu kepada guru spiritual atau melakukannya dengan tidak benar, cara berbakti kepada guru melalui pikiran, dan cara berbakti kepada guru melalui tindakan.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Guru spiritual itu seperti seorang</span> <span style="font-weight: 400;">konsultan bisnis serba bisa. Agar bisnis kita lancar dan untung besar, kita butuh masukan dari macam-macam konsultan: mulai dari konsultan bisnis, konsultan </span><i><span style="font-weight: 400;">marketing, </span></i><span style="font-weight: 400;">konsultan pajak, dan lain-lain. Guru adalah satu orang dengan semua kemampuan tersebut yang memberi kita petunjuk untuk menjalankan hidup kita agar kita mendapatkan manfaat maksimum. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Guru spiritual mengajak kita melihat bahwa kehidupan kita tidak berlangsung saat ini saja, tapi kita masih akan lahir dan mati berkali-kali setelahnya. Maka dari itu, beliau mengarahkan kita untuk melakukan investasi jangka panjang, yaitu menggunakan kelahiran kita sebagai manusia sekarang untuk menanamkan sebab-sebab kebahagiaan dari masa mendatang, baik itu kebahagiaan dalam bentuk kelahiran di alam tinggi, pembebasan dari samsara, hingga pencapaian Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna. Guru spiritual membimbing kita untuk melatih batin hingga bisa mencapai ketiga tujuan yang sesuai dengan tiga jenis praktisi tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bertumpu pada guru spiritual sendiri merupakan investasi dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">high cost, high risk, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan</span><i><span style="font-weight: 400;"> high gain. </span></i><span style="font-weight: 400;">Kita harus mengorbankan banyak hal untuk bisa bertumpu kepada seorang guru spiritual dengan benar. Jika berhasil, manfaatnya amatlah besar. Sebaliknya, jika kita gagal atau membuat kesalahan, maka kerugiannya juga amatlah besar. Untuk mencegah kesalahan dalam bertumpu pada guru spiritual, amatlah penting bagi kita untuk membangkitkan keyakinan terhadap guru spiritual yang merupakan perwujudan dari Triratna dan semua Buddha serta menyempurnakan sikap mendengarkan Dharma yang telah dijelaskan di bab sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh praktik bertumpu pada guru spiritual yang amat terkenal adalah kisa Milarepa, meditator agung yang mencapai Kebuddhaan dalam satu kehidupan. Beliau awalnya adalah seorang penjahat yang menggunakan ilmu hitam untuk menghancurkan satu desa. Namun, ia bertemu dengan Guru Marpa yang menggemblengnya habis-habisan. Selama belasan tahun Milarepa tanpa lelah melayani Marpa dengan susah-payah&#8211;mulai dari membajak sawah, harus tidur di kandang hewan, bahkan berulang kali membangun dan merobohkan benteng seorang diri dengan tangan kosong. Milarepa tidak pernah mengeluh dan menjalankan tugas dari gurunya dengan rela, hingga akhirnya ia ditugaskan untuk bermeditasi seorang diri di sebuah gua. Milarepa bermeditasi dengan memandang gurunya sebagai Buddha yang sesugguhnya dan akhirnya berhasil mencapai Kebuddhaan dalam satu kehidupan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah Milarepa membayar mahal selama bertumpu pada gurunya? Sudah pasti. Nyatanya ia disiksa habis-habisan selama ia berguru.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah Milarepa mencapai hasil yang amat besar dari investasinya? Ini tak perlu diragukan lagi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kisah Milarepa membuktikan bahwa bertumpu pada guru spiritual benar-benar merupakan investasi </span><i><span style="font-weight: 400;">high risk high gain.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Tak perlu diragukan lagi, bertumpu pada guru spiritual adalah tahapan yang amat penting. Namun, Biksu Bhadra Ruci juga mengingatkan kita agar bisa realistis, tidak terlalu idealis dan tidak terlalu naif dalam mencari guru spiritual. Jangan sampai kita terjebak dalam bayangan hubungan guru-murid yang dramatis seperti dalam riwayat guru-guru besar. Kita harus siap dengan kenyataan bahwa guru spiritual tidak akan hanya menyenangkan kita. Sebaliknya, beliau akan memaksa kita berhadapan dengan hal-hal yang sulit kita terima dan melakukan hal-hal sulit yang tidak kita sukai agar batin kita bisa berkembang dan mencapai realisasi Dharma sejati.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, siapkah kita untuk berinvestasi pada praktik bertumpu pada guru spiritual?</span></p>
<p><em>Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.</em><br />
<em>Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: <strong>Merry (082163276188)</strong></em></p>
<p><strong>Foto-Foto:</strong></p>
<p><figure id="attachment_3844" aria-describedby="caption-attachment-3844" style="width: 2166px" class="wp-caption aligncenter"><img class="wp-image-3844 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994.jpg" alt="" width="2166" height="1446" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994.jpg 2166w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0994-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 2166px) 100vw, 2166px" /><figcaption id="caption-attachment-3844" class="wp-caption-text">Indonesia Lamrim Retreat 2017 di Gedung Prasadha Jinarakkhita dihadiri lebih dari 300 peserta</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3845" aria-describedby="caption-attachment-3845" style="width: 684px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3845 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-684x1024.jpg" alt="" width="684" height="1024" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-684x1024.jpg 684w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-scaled-600x899.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-200x300.jpg 200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-768x1150.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-1025x1536.jpg 1025w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-1367x2048.jpg 1367w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-150x225.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-450x674.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-1200x1798.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1021-scaled.jpg 1709w" sizes="(max-width: 684px) 100vw, 684px" /><figcaption id="caption-attachment-3845" class="wp-caption-text">Mengundang ladang kebajikan, bagian dari 6 Praktik Pendahuluan warisan Guru Serlingpa Dharmakirti</figcaption></figure></p>
<p><figure id="attachment_3851" aria-describedby="caption-attachment-3851" style="width: 2166px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3851 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115.jpg" alt="" width="2166" height="1446" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115.jpg 2166w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_1115-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 2166px) 100vw, 2166px" /><figcaption id="caption-attachment-3851" class="wp-caption-text">Proses pembelajaran Lamrim berbasis pada pembelajaran Dharma, dilanjutkan dengan perenungan dan meditasi sehingga batin kita selaras dengan hasil pembelajaran kita</figcaption></figure></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/27/ilr-2017-melatih-batin-sebuah-investasi-jangka-panjang/">ILR 2017: Melatih Batin, Sebuah Investasi jangka Panjang</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
