<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>itsupport - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://lamrimnesia.org/author/itsupport/</link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Sep 2024 07:40:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.14</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>itsupport - Lamrimnesia</title>
	<link>https://lamrimnesia.org/author/itsupport/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Sep 2024 07:45:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[Keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pilgrimage Tourism]]></category>
		<category><![CDATA[Ziarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6011</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanpa keyakinan, mengumpulkan kebajikan di Borobudur hanya akan jadi slogan kosong belaka</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Samantha J.</p>



<p>Apa yang muncul di pikiran orang-orang ketika mendengar ajakan “Ayo mengumpulkan kebajikan di Borobudur”? Tentu saja kemungkinan terbaiknya adalah menyambut dengan penuh semangat. Namun, tak sedikit juga yang mengeluh. Ada yang mengeluhkan jarak. Ada pula yang mengeluhkan banyaknya wisatawan yang membuat suasana tidak khusyuk. Ada juga yang berpikir begini:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Buat apa ke Borobudur? Ke wihara juga bisa.”</p></blockquote>



<p>Pembahasan ini muncul dalam Lamrim Talk Seri Borobudur bertajuk “Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik”, persisnya dalam pemaparan Johnson Khuo, seorang Dharmaduta, praktisi bisnis, dan pecinta Borobudur.</p>



<p>Sebelum kita bisa mengajak seseorang untuk mengumpulkan kebajikan di Borobudur, kita harus tahu bahwa candi warisan nenek moyang kita itu memiliki satu fungsi yang lebih fundamental, yaitu sebagai situs ziarah untuk membangkitkan keyakinan atau <em>sraddha. </em>Fungsi ini juga berhubungan dengan sebab dari keluhan-keluhan tadi, yaitu kurangnya keyakinan dalam batin kita.</p>



<h4><strong>Ziarah, Praktik yang Diajarkan Sang Buddha</strong></h4>



<p>Dalam Mahaparinibbana Sutta dijelaskan bahwa sebelum Buddha parinirwana, Buddha mengajarkan praktek ziarah ke tempat-tempat tertentu yang bisa membangkitkan keyakinan. Instruksi untuk berziarah juga ada dalam Kanon Sansekerta, salah satunya adalah Sutra Gandawyuha yang mengisahkan peziarahan Sudhana untuk menemui para kalyanamitra yang menunjukkan jalan mencapai Kebuddhaan. Sutra ini juga terukir di Candi Borobudur. Dalam kelas Tantra tertentu, praktisi memiliki kewajiban melakukan ziarah ke situs-situs tertentu. Salah satu situs tersebut bahkan ada di Indonesia, yaitu Candi Bahal.</p>



<p>Johnson juga memaparkan perjalanan tokoh-tokoh Buddhis yang dikenal melakukan peziarahan, mulai dari Raja Ashoka yang berziarah untuk menyebarkan relik Buddha dan mendirikan stupa hingga Biksu Tang Xuanzang yang perjalanannya ke Nalanda menjadi inspirasi bagi hikayat “Perjalanan ke Barat” dan film “Kera Sakti”. Tidak hanya itu, Johnson juga menjelaskan bagaimana Nusantara menjadi salah satu tujuan peziarahan, dibuktikan dengan catatan perjalanan I-Tsing dan riwayat Guru Atisha Dipamkara Srijnana. Bahkan peziarahan Guru Atisha yang mencari guru ke Suwarnadwipa tidak hanya membuatnya meraih kemajuan spiritual yang luar biasa, tapi juga menjadi cikal-bakal Buddhisme Tibet yang berkembang di masa kini.</p>



<p>Kembali pada pembahasan tentang esensi dari praktik ziarah itu sendiri, Johnson menegaskan bahwa kata kunci dari ziarah adalah <strong>keyakinan</strong>. Beliau pun kembali menyebutkan kutipan dari Mahaparinibbana Sutta sebagai berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Inilah tempat yang bisa membangkitkan <strong>keyakinan</strong>… Para biksu, biksuni, upasaka, dan upasika yang penuh <strong>keyakinan</strong>, jika datang ke sini dan berpikir… Jika mereka meninggal di tempat-tempat tersebut, maka mereka akan terlahir di alam surgawi.”</p></blockquote>



<h4><strong>Apa maksudnya KEYAKINAN?</strong></h4>



<p>Ketika menjelaskan cara kerja batin, Sang Buddha mengajarkan tentang faktor mental yang mewarnai batin setiap orang. Ketika faktor mental pengganggu muncul di batin kita, kita akan merasa gelisah. Tindakan yang kita lakukan pun akan menjadi karma buruk yang kemudian membuat kita tidak bahagia. Sebaliknya, jika faktor mental bajik yang muncul, batin kita akan menjadi positif. Tindakan kita pun akan menjadi karma bajik yang mendatangkan kebahagiaan.</p>



<p>Keyakinan (Sansekerta: <em>Sraddha</em>; Pali: <em>Sadha</em>) adalah satu dari 11 faktor mental bajik yang bisa kita kembangkan. Dalam kitab Abidharma-samuccaya, keyakinan didefinisikan sebagai sebuah kepastian, kejelasan, dan pengharapan yang ditujukan pada objek yang memiliki kualitas-kualitas unggul. Keyakinan memiliki fungsi sebagai penyokong aspirasi. Dalan kitab Ratnolka-dharani, keyakinan dijabarkan dengan bait berikut:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Keyakinan adalah pelopor, dan, ibarat seorang ibu, sang penghasil.</em><br><em>Ia menjaga dan meningkatkan segala kualitas unggul.</em><br><em>Ia mengenyahkan keraguan dan membebaskanmu dari keempat sungai besar.</em><br><em>Keyakinan menandakan kota kebahagiaan dan kebajikan.”</em></p></blockquote>



<p>Keyakinan yang dimaksud di sini tentu bukan keyakinan pada sembarang objek, melainkan keyakinan kepada Triratna yang terdiri atas Buddha, Dharma, dan Sangha. Keyakinan di sini juga bukan berarti secara buta meyakini atau memuja Triratna, melainkan yakin yang didasari oleh pemahaman logis dan perasaan yang nyata.</p>



<p>Johnson menjelaskan bahwa dalam Buddhisme, keyakinan terbagi ke dalam tiga tahapan. Pertama adalah yakin karena kagum dengan kualitas eksternal, misalnya karena penampilan Buddha yang luar biasa: rupawan, bercahaya keemasan, dan dihiasi banyak sekali tanda-tanda yang mengagumkan.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/vtIPIHtINbrhl63vFATlSkTG7ch1PSuGfgwUQa-QTtBSHhTIdQLRuILzmmKouwQ5V9uCf8fE6F34PPGkU6vbkgS0pD6KDrYgO5kNCzo6vSneKWBdPCC0vebw6usaHaxRZKeCLncX" alt="Johnson Khuo memaparkan keyakinan sebagai dasar untuk ziarah ke Borobudur"/><figcaption>Sumber: Materi Lamrim <em>Talk </em>“Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik” </figcaption></figure>



<p>Berikutnya adalah yakin karena hasil analisis, misalnya analisis terhadap hukum karma atau sebab-akibat. Kalau tadi kita kagum pada kualitas eksternal yang dimiliki Sang Buddha, kita bisa lanjut mencari tahu sebab dari kualitas itu. Kita pun akan menemukan bahwa kualitas itu merupakan hasil dari sepuluh juta kebajikan yang Beliau kumpulkan karena didorong oleh welas asih-Nya kepada semua makhluk. Kita pun semakin yakin pada Buddha karena paham bahwa Beliau telah berjuang menyempurnakan diri demi kita semua.&nbsp;</p>



<p>Tahapan terakhir dari keyakinan adalah keinginan yang kuat untuk menjadi seperti sosok yang kita yakini. Jadi, kita tidak berhenti pada kagum atau mengidolakan saja, tapi juga membangkitkan tekad untuk mengikuti jejak Sang Buddha untuk menjadi seperti-Nya sesuai dengan apa yang Beliau ajarkan.</p>



<h4><strong>Tanpa keyakinan, tidak ada usaha, tidak ada kebajikan</strong></h4>



<p>Kualitas bajik perlu dikembangkan setahap demi setahap. Tahapan ini dijelaskan Abhidharma-samuccaya &amp; Mahabodhipatakrama. Bermula dari keyakinan, muncullah aspirasi (<em>chanda</em>), yaitu keinginan kuat untuk memiliki kualitas-kualitas dari objek yang kita yakini. Aspirasi ini menghasilkan wirya atau batin yang bersemangat untuk mewujudkan aspirasi bajik. Wirya ini adalah obat dari segala macam kemalasan, baik itu sikap menunda-nunda, teralihkan oleh hal lain yang lebih menarik, maupun rasa tidak mampu. Dengan adanya wirya, kita akan meraih kelenturan (<em>prasrabhi</em>), yaitu kondisi di mana tubuh dan batin kita bisa dengan mudah melakukan berbagai aktivitas bajik sesuai dengan keinginan kita. Dengan demikian, kita pun bisa mengatasi semua halangan dan meraih semua kualitas baik yang kita cita-citakan. Kebajikan dan kebijaksanaan yang kita butuhkan untuk menjadi seperti Sang Buddha bukan lagi sekadar angan!</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/2q0UZdHboL8DkTiGDtQyu7h5mpH9Z5ux0lWfsblBxoBpkYOrzqnBicSG2EuCsCs52CpFrAKJAaqKpyevjnGUQbe6hAduevWv_4HEhP0rWvcowX9JGl-N68IHTEIpIuJiVSO81_5P" alt="Johnson Khuo memaparkan keyakinan sebagai dasar untuk ziarah ke Borobudur"/><figcaption>Sumber: Materi Lamrim <em>Talk </em>“Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik” </figcaption></figure>



<p>Keyakinan sendiri dalam praktiknya memiliki dua aspek, yaitu pemahaman dan perasaan. Kalau kita tidak punya keyakinan, tidak peduli sebanyak apapun keagungan Borobudur yang dijelaskan kepada kita, kita tidak akan merasa tergerak untuk pergi ke sana mengumpulkan kebajikan.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Saya bekerja lima hari seminggu, capek, saya merasa kebutuhan saya lebih terpenuhi dengan rebahan di rumah dibanding ketemu Buddha,” Johnson memberikan contoh, “Kita tidak punya keyakinan bahwa Buddha bisa memberikan solusi. Kita lebih percaya bahwa ranjang kita lebih bisa memberikan solusi, maka kita memilih ranjang. Kita tidak memilih Buddha.”</p></blockquote>



<p>Kita tidak sadar bahwa ranjang kita bukan solusi. Ia hanya bisa memberikan kenyamanan sementara. Kita juga tidak sadar bahwa kenyamanan itu berasal dari kebajikan yang harus kita kumpulkan dengan upaya. Jika kita tidak mengumpulkan cukup karma baik, semahal apapun ranjang yang kita tempati, kita tidak akan bisa beristirahat. Kalaupun kita bisa beristirahat, kita akan kembali merasa lelah saat hari kerja tiba dan diserang oleh berbagai emosi negatif yang membuat kita mengumpulkan lebih banyak sebab penderitaan. Kita perlu mengembangkan kualitas batin hingga terbebas dari samsara seperti yang diajarkan Sang Buddha agar bisa benar-benar berbahagia.</p>



<h4><strong>Ziarah ke Borobudur, upaya membangkitkan keyakinan</strong></h4>



<p>Keyakinan itu perlu dilatih. Agar kita bisa menumbuhkan keyakinan di batin kita, kita membutuhkan bantuan objek-objek eksternal. Karena itulah ada objek-objek suci seperti rupang Buddha, kitab suci, stupa, dan sebagainya. Misalnya dengan melihat rupang Buddha, kita bisa mengingat kualitas-kualitas Buddha, mulai dari kualitas tubuh yang dihiasi 32 tanda utama dan 80 tanda tambahan, kualitas ucapan yang bisa menjawab pertanyaan semua makhluk dengan satu kata, hingga kualitas batin yang maha tahu dan memiliki welas asih yang sama sekali tidak pilih kasih. Ketika mengingat hal tersebut saat kita melihat sebuah rupang Buddha, kekaguman kita akan tumbuh. Dari situ kita bisa lanjut melakukan analisis hingga membangkitkan tekad untuk mengikuti teladan Buddha. Jadi, objek-objek suci berfungsi untuk membantu kita membangkitkan ketiga jenis keyakinan yang kita butuhkan untuk bisa mengumpulkan kebajikan.</p>



<p>Ziarah juga merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat membantu kita melatih keyakinan dan secara langsung dianjurkan oleh Buddha sendiri. Misalnya ketika kita melihat pohon bodhi tempat Buddha meraih penerangan sempurna di India, kita akan ingat bahwa pencapaian Kebuddhaan yang diraih Pangeran Siddhartha adalah fakta sejarah, bukan dongeng. Kita diingatkan bahwa dulu pernah ada manusia biasa yang mudah marah, mudah iri, dan punya segudang sifat buruk lainnya seperti kita berhasil menaklukkan semua sifat-sifat buruk itu dan meraih tingkat kesucian tertinggi demi kebaikan semua makhluk. Kita pun jadi sadar bahwa kita juga bisa menjadi seperti Beliau. Aspirasi kita akan bangkit dan kita pun akan dengan semangat melatih diri untuk menjadi lebih baik hingga meraih pencapaian yang sama.</p>



<p>Lantas, bagaimana dengan Borobudur? Candi Borobudur sendiri merupakan sebuah ladang kebajikan. Dari sudut pandang Tantra, peneliti dan pakar arkeologi Prof. Noerhadi Magetsari menyatakan bahwa Borobudur adalah sebuah mandala. Namun, umat Buddhis awam pun bisa dengan mudah menemukan aspek-aspek Triratna di Candi Borobudur. Di sana terdapat 504 patung Buddha. Dinding-dinding Candi Borobudur dipenuhi oleh relief Sutra yang dibuat berdasarkan kata-kata Dharma. Di dalam relief tersebut, terdapat tak terhitung banyaknya relief Bodhisatwa yang merupakan Ratna Sangha. Jadi, dapat dikatakan bahwa Candi Borobudur merupakan perlambang Triratna yang lengkap.&nbsp;</p>



<p>Setelah memaparkan hal tersebut, Johnson juga menjelaskan tentang Sila Berlindung atau Tisarana yang dimiliki oleh umat Buddha. Salah satu dari sila-sila yang harus dilatih adalah memandang representasi Triratna sebagai Triratna yang sesungguhnya. Ini berarti terdapat 504 Buddha sungguhan serta Dharma dan Sangha yang tak terhitung banyaknya berdiam di Candi Borobudur. Inilah yang menjadikan Borobudur tempat ziarah yang luar biasa bagi seluruh umat Buddha untuk membangkitkan keyakinan.</p>



<p>Salah satu sosok yang telah membuktikan manfaat dari praktik Sila Berlindung ini adalah Arya Sariputra, murid utama Buddha Shakyamuni. Di salah satu kehidupan lampau-Nya, Beliau melihat lukisan Buddha dan mempersembahkan pelita sambil membangkitkan tekad untuk bisa bertemu Sang Buddha. Konon itu merupakan salah satu sebab utama yang membuatnya menjadi salah satu murid utama Sang Buddha.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/FDOrRhATYcjpzs6jHcpSRRI_UGKl6pgV0egu2T2kueuaGBKCedfURGTv5abcebd6e6EXGP81EmjWqBcwb8Q5vPptRBMeNNssUIc7AoFBVp37W4JJRivyVNfAUukksT6lpnts0_eN" alt="Johnson Khuo memaparkan keyakinan sebagai dasar untuk ziarah ke Borobudur"/><figcaption>Manfaat membangkitkan keyakinan<br>Sumber: Materi Lamrim <em>Talk </em>“Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik” </figcaption></figure>



<p>Kenyataannya, Buddha memang benar-benar hadir di mana-mana, termasuk di Candi Borobudur. Ini dijabarkan secara gamblang dalam kitab-kitab Buddhis. Salah satunya adalah sebuah bait dalam Arya Bhadracarya Pranidhana Raja yang juga terukir di Candi Borobudur itu sendiri.&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“..Dengan percaya diri, saya melihat alam semesta ini demikian, seluruhnya dipenuhi oleh para Buddha.”</em></p><p>-Arya Bhadracarya Pranidhana Raja</p></blockquote>



<p>Ketika telah mencapai tingkat kesucian tertentu, seorang praktisi Buddhis akan bisa melihat setiap rupang Buddha sebagai tubuh Buddha yang sesungguhnya. Praktisi yang telah mencapai Marga Akumulasi bisa melihat patung dan lukisan Buddha sebagai tubuh Nirmanakaya yang sesungguhnya. Kemudian, ketika mencapai Marga Penglihatan (mulai dari bhumi Bodhisatwa pertama yang direpresentasikan oleh tingkat pertama Candi Borobudur), sang praktisi akan bisa melihat representasi Buddha sebagai tubuh Sambhogakaya yang sesungguhnya.</p>



<h4><strong>Kondisi Borobudur saat ini</strong></h4>



<p>Anggaplah kita sudah memiliki pemahaman yang tepat tentang pentingnya keyakinan dan fungsi Borobudur untuk membangkitkan keyakinan tersebut. Kemudian, kita datang ke Borobudur untuk melakukan ziarah. Ternyata, saat kita hendak merenungkan kualitas Buddha di Borobudur, orang-orang di sekitar kita malah menduduki stupa, berfoto, menempelkan permen karet, bahkan berpacaran.</p>



<p>Saat ini, Candi Borobudur memang tidak kondusif bagi umat Buddha untuk membangkitkan keyakinan. Di saat yang sama, wisatawan umum pun pasti kesulitan mendapatkan pengalaman unik di Candi Borobudur karena aktivitas yang dikembangkan di sana lebih berorientasi pada hiburan yang sebenarnya bisa didapatkan di tempat lain.&nbsp;</p>



<p>Johnson memaparkan bahwa permasalahan ini seharusnya bisa diatasi jika umat Buddha dilibatkan dalam pengelolaan Borobudur. Mengingat Sila Berlindung yang dipegang umat Buddha, tentu saja tidak akan ada umat Buddha yang bersandar di stupa, apalagi melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fungsi asli Borobudur ataupun berpotensi merusak. Dengan masukan dari umat Buddha, kesakralan maupun keutuhan bangunan candi tentu akan terjaga.</p>



<p>Candi Borobudur sendiri saat ini memiliki tiga pemangku kepentingan: umat Buddha, Indonesia, dan dunia.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kita tidak bisa mengatakan borobudur adalah <em>world heritage</em>, maka kita prioritaskan dunia, terus umat buddha dikesampingkan. Tidak bisa juga kita bilang Borobudur adalah <em>world heritage</em>, indonesia berkorbanlah sedikit demi dunia,” cetus Johnson.</p></blockquote>



<p>Jika kita ingin kebutuhan ketiga pemangku kepentingan Borobudur ini terpenuhi, satu-satunya solusi adalah mengelola Borobudur dengan memakai filosofi Buddhadharma sebagai landasan. Dengan demikian, selain umat Buddha bisa khusyuk berziarah di Borobudur, Indonesia dan dunia pun mendapat manfaat dari terjaganya identitas Borobudur sebagai <em>world heritage </em>yang unik dan tiada duanya. Saat ini, kebanyakan wacana pengelolaan Borobudur yang diberitakan masih belum berkaitan dengan filsafat Buddhis sama sekali&#8211;mulai dari pendirian <em>science park, </em>kampung seni, bahkan yang terbaru adalah trayek balap motor. Kalau ini dibiarkan, Borobudur akan kehilangan identitas dan tak ada bedanya taman rekreasi biasa. Di sinilah kesempatan umat Buddha untuk berkontribusi bagi Indonesia dan dunia.</p>



<h4><strong>Keyakinan yang hilang</strong></h4>



<p>Setelah mendengarkan pemaparan Johnson seputar keyakinan, praktik ziarah, dan Candi Borobudur saya merasa sedang berhadapan dengan sebuah lingkaran setan. Di tengah segala macam perhatian yang mengarah pada Candi Borobudur, umat Buddha termasuk saya sendiri lebih banyak bergeming. Segala narasi tentang Borobudur sebagai “piwulang luhur” dan ajakan untuk mengumpulkan kebajikan dan kebijaksanaan di Borobudur tak membuat kita tergerak karena kurangnya keyakinan membuat kita merasa istirahat di akhir pekan jauh lebih penting dan mendesak. Padahal, kita butuh mengembangkan keyakinan agar bisa memiliki semangat dan melakukan upaya untuk mengatasi segala permasalahan kita sampai ke akar. Untuk membangkitkan keyakinan itu, kita seharusnya bisa melakukan ziarah seperti yang dianjurkan Sang Buddha ke Candi Borobudur yang sudah dibangun susah payah oleh nenek moyang kita untuk tujuan tersebut. Namun, Borobudur saat ini tidak kondusif untuk ziarah dan kita sebagai umat Buddha pun tak banyak melakukan usaha untuk memperjuangkannya, tentu saja karena keyakinan yang hilang dalam batin kita semua. Dengan keadaan seperti ini, bukan kita sendiri yang rugi, tapi Candi Borobudur terancam kehilangan identitasnya dan berubah menjadi <em>theme park </em>biasa. Perjuangan nenek moyang kita mendirikan monumen pengumpulan kebajikan demi kebahagiaan semua makhluk terancam sia-sia karena kurangnya keyakinan kita.</p>



<p>Kemampuan untuk memutus lingkaran setan itu seharusnya ada di tangan kita. Kita bisa mulai dari mempertanyakan sejauh mana keyakinan yang kita miliki terhadap Triratna dan sebutuh apa kita akan karma baik yang baru bisa terhimpun ketika kita memiliki keyakinan tersebut. Kemudian, tanyakan lagi, semampu apa kita membangkitkan keyakinan itu dengan kemampuan diri sendiri yang masih gampang terbuai oleh kesenangan sesaat tanpa mengikuti instruksi Buddha untuk berziarah dan mengandalkan situs suci seperti Candi Borobudur?</p>



<p>Ketika kita bisa melepas kesombongan yang membuat kita merasa tidak membutuhkan bantuan Candi Borobudur ataupun objek-objek suci untuk melatih batin kita, barulah kualitas keyakinan punya ruang untuk tumbuh di dalam diri kita. Setelah itu, barulah kita bisa bicara soal mengumpulkan kebajikan di Candi Borobudur dan bergerak untuk memperjuangkannya.</p>



<p>Lamrim Talk &#8220;Ziarah ke Borobudur: Wisata atau Praktik&#8221; bisa disaksikan di <a href="https://youtu.be/UuOGS9dcS7w" target="_blank" rel="noreferrer noopener">sini.</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/07/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Memaknai Borobudur dengan Keyakinan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Borobudur Itu Apa Sih?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Sep 2024 12:43:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[chattra]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[mandala]]></category>
		<category><![CDATA[stupa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5976</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Borobudur bukan sekadar tempat wisata. Borobudur adalah sumber inspirasi welas asih untuk Indonesia. Simak penjabarannya!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Junarsih</p>



<p>Siang itu, saat udara sedang dingin-dinginnya, saya sedang berbincang dengan kawan-kawan perihal Candi Borobudur. Kami pun bergiliran memberi pendapat tentang apa sih Borobudur itu. Ada yang bilang kalau Borobudur itu tempat berswafoto yang asyik. Ada yang bilang Borobudur itu tempat wisata yang kalau satu kompleksnya dikelilingi dengan jalan kaki bisa bikin keringat mengucur. Nah, ada pula satu kawan saya yang bilang Borobudur lebih dari sekadar tempat wisata ataupun swafoto, yaitu tempat ibadah umat Buddha. Saya pun ikut berpikir, jangan-jangan Borobudur ini bangunan bersejarah yang sangat sakral!&nbsp;</p>



<p>Daripada kita bertanya-tanya, lebih baik kita bahas bareng-bareng sebenarnya Borobudur itu apa. Jangan sampai kita berhenti mengenal Borobudur hanya sebagai bangunan warisan nenek moyang saja.&nbsp;</p>



<h4><strong>Borobudur Sebagai Kitab Suci Tiga Dimensi (3D)</strong></h4>



<p>Kok Borobudur dibilang kitab suci? Kitab biasanya berbentuk seperti buku dan tebal, mungkin lebih dari 100 halaman. Kita tahu kalau kitab suci agama Buddha itu berupa kumpulan teks yang kalau dikumpulkan mengisi penuh lemari. Borobudur kan bangunan, bukan teks, kok bisa jadi kitab suci?</p>



<p>Sebenarnya, Borobudur bukan sekadar batu yang ditumpuk indah menjadi bangunan bersejarah umat Buddha Nusantara. Tapi, Borobudur adalah sebuah kitab suci 3D yang sangat mewah. Kisah-kisah kehidupan manusia dari sebab dan akibatnya terukir di relief menjadikannya sebagai kitab suci pedoman manusia saat ini.&nbsp;</p>



<p>Berdasarkan informasi dalam buku Kearsitekturan Candi Borobudur yang diterbitkan oleh Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, secara kosmologi Buddhis, Borobudur terdiri atas tiga tingkatan, yaitu <em>Kamadhatu</em>, <em>Rupadhatu</em>, dan <em>Arupadhatu</em>. Tapi, pernyataan ini pernah disangkal dan belum diperbaharui, karena TIGA TINGKATAN ini masih dalam samsara. Padahal, Candi Borobudur adalah sebuah lambang menuju pada Kebuddhaan.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/wIAllV1mQjLbEfeJS7rzdlhvgwguVVj8CP9KouW-jVeNxo9MaaLL_t11OleNiJsxgXIquFz8EDiD4Y77ruJ4u-W8rUX03viyReCLY46JT9xrzHvtvlqL3OnlewqvsvY0xolXx-Ke" alt="Sumber Foto: Sangha Vajrayana Indonesia"/><figcaption>Sutra &amp; Simbol Buddhis di Candi Borobudur</figcaption></figure>



<p>Mari kita ulas dari strukturnya dahulu. Candi ini terdiri atas sepuluh tingkat yang diduga merujuk pada 10 tingkatan Bodhisatwa dalam <strong>Dasabhumika Sutra</strong>, bagian dari Awatamsaka Sutra. De Casparis, seorang peneliti dari Belanda membuat rekonstruksi ulang nama candi ini dari kata “Bhumisambharabhudara” yang berarti “Gunung Akumulasi Kebajikan dalam Sepuluh Tingkat Bodhisatwa” dari Dasabhumika Sutra.</p>



<p>Dalam tradisi Buddhisme Mahayana, terdapat tingkatan kesucian praktisi yang dikenal dengan sebutan “Marga”. Mulai dari marga ke-3, yakni Marga Penglihatan, maka seorang praktisi mulai memasuki 10 tingkatan Bodhisatwa yang disimbolkan dalam 10 tingkatan Borobudur.&nbsp;</p>



<p>Relief yang terukir pada dinding candi ini berdasar dari sutra dalam kitab suci agama Buddha. Pertama adalah <strong>Gandawyuha, </strong>bagian dari Awatamsaka Sutra yang mengisahkan perjalanan Sudhana mencari guru spiritual untuk mencapai Kebuddhaan. Dikisahkan bahwa Sudhana berguru pada 52 orang kalyanamitta dari berbagai kalangan, mulai dari ratu, kapten kapal, wanita penghibur, hingga seorang budak. Semua gurunya memberinya manfaat, sehingga ia sangat berbakti kepada mereka. Hingga akhirnya pada ujung relief Gandawyuha, Sudhana bertemu dengan Bodhisatwa Samantabhadra yang mengajarkan tujuan dari kebijaksanaan tertinggi adalah dengan memberi manfaat pada semua makhluk.</p>



<p>Dua orang guru Sudhana di relief Gandawyuha, Brahmana Jayosmayatana dan Siwa Mahadewa, adalah tokoh dari tradisi Hindu. Kehadiran tokoh ini menyiratkan adanya sinkretisme yang merupakan corak tradisi Tantrayana sejak awal kemunculannya di India. Ada pula tokoh Vasumitra, wanita penghibur yang menjadi guru Sudhana dan dikatakan dalam Gandawyuha mampu menggunakan belaian dan cumbuan sebagai <em>upaya kausalya </em>untuk membimbing para makhluk ke jalan Dharma. Pemilihan Gandawyuha dan kehadiran tokoh-tokoh ini dalam relief Borobudur menunjukkan bahwa Borobudur juga memiliki kaitan dengan tradisi Tantrayana.</p>



<p>Kemudian dalam relief <strong>Sutra Bhadracari</strong> terdapat doa dedikasi agung Bodhisatwa Samantabhadra yang hingga saat ini masih dilantunkan di setiap biara Buddhis di India, Tibet, dan Indonesia. Doa ini untuk membebaskan penderitaan dari semua makhluk dengan mencapai Kebuddhaan. Tentunya doa ini tidak hanya kita memohon pada Buddha, tapi menjadi pondasi semangat kita untuk menolong banyak makhluk.</p>



<p>Lalu ada pula relief sutra Jataka dan Avadana yang mengisahkan perjuangan Bodhisatwa untuk menyempurnakan <strong>paramita </strong>(<strong>sila</strong>-moral, <strong>ksanti</strong>-kesabaran, <strong>wiriya</strong>-semangat, <strong>dhyana</strong>-ketenangan batin, dan <strong>prajna</strong>-kebijaksanaan) di berbagai kehidupan selama berkalpa-kalpa.</p>



<p>Bodhisatwa akan segera menjadi Buddha setelah menyempurnakan paramita dengan terlahir sebagai manusia. Kisah hidup Bodhisatwa sebagai manusia dijabarkan dalam <strong>Sutra Lalitawistara</strong>. Beliau terlahir menjadi Siddharta Gautama dari rahim Ratu Mahamaya dan akhirnya memutuskan mencari jalan keluar penderitaan manusia setelah melihat empat hal&#8211;orang tua, orang sakit, orang mati, dan pertapa. Beliau melakukan banyak hal seperti bertapa di hutan dan menyiksa diri selama 6 tahun hingga akhirnya beliau mencapai penerangan sempurna.</p>



<p>Untuk mencapai Kebuddhaan tentunya tidak terlepas dari praktik mendasar agama Buddha, yakni meyakini <strong>hukum karma</strong> atau hukum sebab akibat. Karena itulah relief <strong>Sutra Karmawibhangga </strong>yang berisi sebab-akibat perilaku manusia menjadi pondasi dari Candi Borobudur. Dari relief tersebut kita bisa memahami bahwa keburukan apapun yang dilakukan dalam ucapan maupun tindakan akan berbuah buruk, begitu pula kebaikan apapun yang kita lakukan akan berbuah manis juga. Bila kita bisa memahami hukum karma, maka kita bisa menjaga pikiran, ucapan, dan tindakan agar tidak merugikan orang lain maupun diri sendiri.&nbsp;</p>



<h4><strong>Borobudur sebagai Stupa</strong></h4>



<p>Ada banyak Stupa yang terpasang di Candi Borobudur. Stupa itu sendiri merupakan objek pemujaan yang populer dalam tradisi Buddhis meski rupang kemudian muncul pada abad II Masehi. Pemujaan Stupa menjadi populer saat Raja Ashoka mendirikan stupa berisi relik Buddha di berbagai tempat. Selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan relik guru-guru agung, stupa juga menjadi perlambang Dharma dan transformasi spiritual. Ketika kita melihat sebuah stupa, kita ibarat sedang melihat batin Buddha yang tercerahkan sekaligus batin tercerahkan yang akan kita capai di masa mendatang.</p>



<p>Sebuah stupa umumnya terdiri atas beberapa komponen, yaitu kubah, yupa, dan chattra. Kubah berfungsi sebagai tempat menyimpan relik. Yupa<em> </em>merupakan simbol pengorbanan. Pengorbanan yang dimaksud ini sesuai dengan penjelasan Buddha dalam <em>Kutadanta Sutta, </em>bahwa pengorbanan terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan kebajikan seperti berdana, melatih sila, meditasi, hingga pengorbanan untuk meraih pencerahan.</p>



<p>Chattra merupakan cakram yang berada di atas stupa sebagai simbol payung seremonial, yang merupakan simbol kebangsawanan India Kuno dan masih digunakan hingga sekarang. Di Thailand, chattra digunakan untuk memayungi raja dalam berbagai upacara kenegaraan. Di Tibet, chattra digunakan untuk memayungi Dalai Lama yang berperan sebagai pemimpin spiritual. Chattra juga merupakan simbol pohon Bodhi tempat Buddha mencapai pencerahan/ Chattra di puncak stupa dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan dan persembahan kepada Buddha yang disimbolkan oleh stupa tersebut.</p>



<h4><strong>Borobudur sebagai Mandala</strong></h4>



<p>Daud Aris Tanudirjo menjelaskan mandala adalah sebuah lingkaran yang penerapannya memiliki makna kontekstual yang berbeda-beda. Pengertian lain tentang mandala juga dikemukakan oleh Grover (1980) saat ia membahas arsitektur Hindu dan Buddhis. Grover berpendapat bahwa mandala adalah bentuk geometris yang paling hakiki dari bentuk dasar lainnya untuk mendirikan bangunan suci para dewa.&nbsp;</p>



<p>Robert A. Thurman menjelaskan mandala sebagai sebuah matriks atau model alam semesta yang sempurna. Mandala menyimbolkan Kebuddhaan sebagai pembebasan dan kebahagiaan tertinggi yang dicapai seseorang yang telah menyatu dengan lingkungannya dalam kesalingbergantungan.</p>



<p>Berbagai sumber sejarah Jawa Kuno juga menunjukkan adanya konsep mandala dalam bangunan Jawa dan Bali. Contohnya adalah Candi Sewu yang disebut sebagai mandala dalam Prasasti Kelurak (782 M) ataupun Gugusan Gunung Kawi di Bali yang disebut “<em>sanghyang mandala ring Amaravati</em>” (Soekmono, 1974).</p>



<p>Pada situs biara Namgyal (kediaman Y.M.S. Dalai Lama XIV), dikatakan bahwa mandala berarti representasi sebagai rumah atau istana suci tempat tinggal Buddha. Meski memiliki bentuk yang indah, mandala memiliki fungsi religius, bukan untuk dikagumi estetikanya saja.</p>



<p>Berdasarkan perspektif filsafat Buddhis sendiri, Candi Borobudur juga dapat dipandang sebagai sebuah mandala mandala yang sempurna, yaitu mandala dengan ukuran asli yang bisa dimasuki oleh praktisi yoga tantra pada masa itu untuk merenung dan bermeditasi.</p>



<p>Mandala memiliki pintu masuk yang unik berupa ujung wajra. Peneliti Caroline Gammon dalam disertasinya menemukan ujung wajra tersebut di pintu utama Borobudur. Dalam Borobudur International Buddhist Conference tahun 2016, pembicara Y.M. Biksu Bhadra Ruci juga menyatakan bahwa Borobudur adalah mandala pencapaian spiritual manusia.</p>



<p>Lebih lanjut, salah satu peneliti Borobudur bernama Stuterheim (1956) mengemukakan bahwa pada zaman dahulu Candi Borobudur merupakan yang tidak boleh dikunjungi sembarang orang. Ia yakin bahwa Borobudur adalah tempat untuk berlatih meditasi bagi para praktisi yang ingin menjadi Buddha di masa mendatang. Jadi, dari uraian di atas, bisa kita simpulkan bahwa Candi Borobudur adalah mandala yang merupakan tempat suci dan tidak bisa dimasuki dengan bebas.</p>



<h4><strong>Bukti Peradaban Buddhis Nusantara</strong></h4>



<p>Kemegahan Candi Borobudur membuatnya menjadi salah satu warisan budaya dunia (<em>World Heritage) </em>nomor C. 592 tahun 1991. Pembangunan Candi Borobudur diketahui pada zaman kejayaan Dinasti Syailendra sekitar abad VIII-IX M berkat sebuah pahatan huruf yang ada di relief <em>Karmawibhangga</em>. Menurut peneliti De Casparis yang mengidentifikasi pahatan ini, gaya pahatan huruf yang terdapat di inskripsi tersebut sama dengan yang ada di prasasti Karang Tengah yang berangka 824 M dan prasasti Kahulunan dari 842 M. Dari situ, dapat disimpulkan bahwa Candi Borobudur dibangun pada masa pemerintah Samaratungga yang memimpin Dinasti Syailendra pada tahun 782-812 M.&nbsp;</p>



<p>Kita tidak bisa mewawancarai pendiri atau perancang Candi Borobudur, tapi tidaklah mengherankan jika ajaran Buddha yang dipilih sebagai basis pendirian Borobudur dan diangkat menjadi ratusan keping relief nan rumit mewakili nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat Nusantara pada masa itu. Borobudur adalah bukti peradaban Buddhis Nusantara yang menjunjung tinggi welas asih yang universal.</p>



<h4><strong>Borobudur sebagai Sumber Inspirasi di Masa Kini</strong></h4>



<p>Buddha mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang ingin menderita, semuanya ingin bahagia. Namun, setahun belakangan ini kalau kita lihat banyak konflik antar golongan terjadi untuk memperebutkan kekuasaan ekonomi, teknologi, bahkan juga militer. Tentunya konflik ini menjadi ancaman kedamaian untuk dunia dan bertolak belakang dengan harapan kita akan kehidupan yang aman, damai, dan bahagia.</p>



<p>Perjuangan Bodhisatwa untuk meraih Kebuddhaan demi semua makhluk yang terukir dalam relief candi beserta simbol-simbol pencerahan dalam setiap elemen Borobudur bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mengikuti jejak-Nya. Kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mulai dari tindakan yang sederhana, seperti menyebarkan cinta kasih melalui pikiran, ucapan, dan tindakan agar tidak menimbulkan pertengkaran dengan sesama. Perlahan-lahan, kita pun bisa belajar memandang semua makhluk dengan kasih sayang.</p>



<h4><strong>Borobudur Sebagai Tempat Suci Umat Buddha</strong></h4>



<p>Borobudur memang bukan termasuk situs yang berkaitan langsung dengan riwayat hidup Buddha Sakyamuni &#8212; Bodhgaya, Lumbini, Sarnath dan Kushinagar. Meski demikian, seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwasannya Borobudur adalah Kitab Suci 3D yang memuat kisah perjalanan Bodhisatwa yang terlahir kembali dalam berbagai wujud hingga beliau terlahir sebagai manusia dan mencapai pencerahan tertinggi beserta simbol-simbol pencerahan itu sendiri. Borobudur juga merupakan mandala yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang karena tempat ini dipergunakan untuk berlatih meditasi para praktisi yang ingin mencapai Kebuddhaan. Bangunan yang memuat KItab Suci 3D dan mandala ini tentu harus kita hormati sebagai sebuah tempat suci.</p>



<p>Dalam acara Borobudur <em>International Buddhist Conference</em> tahun 2016, Y.M. Biksu Pannavaro juga menyatakan bahwa Candi Borobudur layak menjadi objek pemujaan karena memiliki tiga objek pemujaan dalam pandangan Buddhis, yakni relik Guru Agung Buddha dan orang suci; pohon Bodhi (tempat Buddha mencapai pencerahan); serta foto, gambar, ataupun candi yang mengingatkan kita pada Guru Agung Buddha.&nbsp;</p>



<p>Tentu saja ini tidak berarti masyarakat yang tidak beragama Buddha dilarang datang ke Candi Borobudur. Semua boleh dan bahkan sangat dianjurkan untuk berkunjung untuk mengapresiasi keindahan dan menghayati ajaran bajik yang ada di candi ini. Jika umat Buddha menghormati Candi Borobudur dengan melakukan puja bakti. menghaturkan persembahan, dan merenungkan ajaran Buddha, wisatawan umum turut serta menghormati Candi Borobudur dengan berperilaku sopan, menjaga keutuhan dan kebersihan lingkungan, dan pastinya mengembangkan welas asih dan toleransi yang disimbolkan oleh Candi Borobudur.</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Borobudur adalah salah satu warisan budaya Nusantara untuk dunia yang sangat megah dan bukan hanya sekadar kisah biasa. Nilai-nilai kehidupan yang unggul tentang sebab-akibat (relief <em>Karmawibhangga</em>) dan juga kisah perjalan spiritual Sudhana untuk mencapai Kebuddhaan yang terukir dalam reliefnya menjadikannya sebagai Kitab Suci 3D pedoman hidup untuk kita.</p>



<p>Amatlah disayangkan bila mahakarya nenek moyang kita ini hanya menjadi tempat jalan-jalan atau sekadar swafoto. Oleh sebab itu, kita sebagai ahli waris Borobudur harus menghargainya dengan mengubah pandangan kita yang tadinya menganggap Borobudur tak lebih dari sekadar tempat wisata. Borobudur lebih dari itu karena juga merupakan sebuah tempat suci yang dulunya digunakan oleh calon Buddha di masa mendatang. Saat kita sudah bisa memiliki pemikiran bahwa Borobudur adalah tempat suci untuk beribadah, maka kita pasti menjaga perilaku saat mengunjungi candi ini. Dengan demikian, kesakralan candi dan keutuhan bangunan fisiknya pun akan terjaga dengan baik.</p>



<p>Saat ini, memang kondisi Borobudur jauh dari kata ideal. Pengelolaannya belum melibatkan pendekatan filsafat Buddhis dan tak sedikit pengunjung yang bersikap kurang pantas karena memandang Borobudur sebagai objek wisata biasa. Dengan mulai dari diri sendiri, mudah-mudahan kita sebagai umat Buddha bisa menjadi teladan bagi semua orang untuk sama-sama menghormati dan memelihara Candi Borobudur.</p>



<h4><strong>Daftar Pustaka:</strong></h4>



<p>Stutterheim, W.F. 1956. Chandi Barabudur: Name, Form, dan Meaning dalam Studies In Indonesian Archeology. KITLV translation series. Martinus Nijhoff, hal. 3-63.</p>



<p>Daud Aris Tanudirjo &#8211; “<a href="https://docplayer.info/45917901-Borobudur-sebagai-mandala-masa-lalu-dan-masa-kini.html">Borobudur Sebagai Mandala: Masa Lalu dan Masa Kini</a><em>”&nbsp;</em></p>



<p>Youtube Lamrimnesia &#8211; “<a href="https://youtu.be/jglNUiSZMj4">Ayo Puja Bakti ke Borobudur, Tempat Suci Umat Buddha</a>”</p>



<p>Buddhazine.com &#8211; “<a href="https://buddhazine.com/borobudur-adalah-mandala-pencapaian-spiritual-manusia/">Borobudur Adalah Mandala Pencapaian Spiritual Manusia</a>”</p>



<p>Sangha Vajrayana Indonesia &#8211; “<a href="https://sanghakci.wixsite.com/sanghakadamchoeling/single-post/candi-borobudur-adalah-mandala?fbclid=IwAR2HU4qFtrPss_5aNlOYRfeZ1Xur11f_c2v2lOgsmoLnbMgKjyKMtdbO-ps">Borobudur adalah Mandala</a>”</p>



<p>Stanley Khu &#8211; “<a href="https://borobudurwriters.id/situs/perihal-polemik-chattra-sebuah-usaha-memaknai-ulang-filosofi-stupa/">Perihal Polemik Chattra: Sebuah Usaha Memaknai Ulang Filosofi Stupa</a>”</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/09/06/borobudur-itu-apa-sih/">Borobudur Itu Apa Sih?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sing Penting Yakin</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/02/22/sing-penting-yakin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2023 05:26:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7890</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Apa yang membedakan seorang Buddhis dengan penganut agama lain? Jawabannya adalah Buddhis berlindung pada Triratna alias Tisarana. Tapi berlindung dari apa? Yuk kita simak!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/22/sing-penting-yakin/">Sing Penting Yakin</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/02/22/sing-penting-yakin/">Sing Penting Yakin</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Elvan</p>



<p>Melanjutkan bahasan topik sebelumnya, <em>kan</em> katanya <s>sakitnya karena diguna-guna</s> <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">YOLO itu nggak <em>bener</em> adanya karena habis mati ternyata kita ada kehidupan selanjutnya lagi</a>. Bukan cuma sekali, tapi berulang kali, banyak <em>deh </em>pokoknya. Nah, terus karena nggak ada jaminan bahwa setelah kita mati sekarang itu <em>next</em>-nya kita nggak bakal “turun kasta”, jadi apa yang mesti kita lakukan <em>dong</em>? Jawabannya ya kita harus bisa memastikan kelahiran kembali kita yang selanjutnya itu di alam bahagia. Dalam Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, itu bisa kita capai dengan praktik berlindung atau Tisarana dan meyakini hukum karma. Di sini, kita akan mengupas lebih lanjut terkait berlindung dulu <em>ygy</em>.</p>



<p>Bagi seorang Buddhis, setelah ada pemikiran bahwa ternyata jargon YOLO bukan solusi atas sistematika, retorika, dan problematika kehidupan, maka kita perlu memahami apa itu berlindung kepada Triratna. Istilah lainnya adalah Trisarana (B. Sansekerta: <em>tri </em>= tiga, <em>sarana </em>= berlindung). Berlindung terhadap tiga yang apa? Ya Triratna itu, alias tiga permata, yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Tentunya segala hal harus dimulai dari melihat sebabnya terlebih dahulu, alias motivasinya. Kita makan karena apa? Karena lapar perut, bukan lapar mata ya. Kita minum boba karena apa? Karena lagi <em>pengen </em>hedon, bukan karena lagi <em>ngabisin </em>duit <em>harrom </em>hasil judi bola ya. Jadi, mengulik sebab kita melakukan sesuatu itu penting supaya kita bisa menentukan apakah sesuatu yang akan kita lakukan itu tepat atau tidak, bermanfaat atau tidak. Kalau itu sudah bisa dipastikan, kita juga akan menjalankannya dengan lebih lancar.</p>



<h4 id="h-2-1-sebab-berlindung"><strong>2+1 Sebab Berlindung</strong></h4>



<p>Terkait berlindung ini, sebabnya harus jelas. Kalau dirangkum jadi 1 hal, maka jawabannya adalah sesuai judul artikel ini, <em>sing penting yakin</em>. Kalau dipecah jadi 2 hal, maka jawabannya adalah <strong>yakin</strong> bahwa di kehidupan yang akan datang, kita akan susah “naik kasta” dan jauh lebih mungkin “turun kasta” (dengan kata lain, <strong>takut lahir ke alam rendah</strong>) serta <strong>yakin </strong>bahwa <strong>Triratna ini dapat menolong kita</strong>.&nbsp;</p>



<p>Bagi orang-orang yang sudah ada sedikit benih untuk menapak tilas jejak Buddha, maka yakin-nya <em>nambah </em>1, yaitu <strong>yakin</strong> bahwa lautan <em>samsara </em>ini tak enak, mau “kasta” tinggi ataupun rendah, <strong>dan </strong>melihat bahwa semua makhluk juga sama-sama terjebak di sini. Jadi motivasi yang ini lebih condong pada <strong>welas asih</strong> yang bikin kita ingin mengakhiri penderitaan makhluk lain juga, makanya kita berlindung kepada Triratna yang punya kemampuan itu.</p>



<p>Apapun ceritanya, bukan teh botol So*ro solusinya, melainkan <em>sing penting yakin </em>jawabannya!</p>



<h4><strong>Yakin gimana, Bos?</strong></h4>



<p>Agaknya si keyakinan yang pertama ini (atau lebih tepatnya ketakutan akan terlahir di alam rendah) sudah dibahas panjang lebar pada artikel sebelumnya. Maka yang perlu di-<em>highlight </em>pada artikel ini adalah keyakinan yang kedua, bahwa Triratna dapat menolong kita keluar dari <em>samsara</em>. Kenapa bisa begitu? Jawaban sederhananya <em>sih, </em>ya karena objek perlindungan berupa Triratna ini sudah bebas dari <em>samsara</em>. Ya logikanya kalau “berlindung” direduksi maknanya menjadi “meminta tolong”, maka kita pasti akan meminta tolong untuk suatu hal yang tidak mampu kita lakukan, namun mampu dilakukan orang lain. Contohnya seorang pengacara yang <em>gak ngerti </em>urusan desain akan “meminta tolong” arsitek/desainer interior untuk mendekorasi ruang kerjanya. Tidak mungkin yang dimintai tolong adalah tukang ledeng <em>kan </em>ya.</p>



<p>Hal yang sama juga berlaku untuk sebab berlindung ini. Yang kita mintai tolong haruslah sosok yang ahli di bidangnya. Dengan logika matematika sederhana dapat ditarik kesimpulan bahwa makhluk yang masih dalam <em>samsara</em> ini, untuk keluar dari <em>samsara</em>, ya mesti minta tolong ke yang sudah keluar. Bukan ke yang masih sama-sama <em>nyebur</em>.</p>



<p>Nah, terus <em>gimana </em>bisa memastikan bahwa sosok Triratna ini memang sudah keluar dari <em>samsara</em>, sehingga kita bisa mengandalkan perlindungan-Nya? Tentu kita harus kenalan lebih dekat dulu <em>dong </em>dengan masing-masing bagian dari Triratna ini. Tapi itu akan kita bahas di kesempatan selanjutnya. Ditunggu, ya! Jangan lupa, <em>sing penting yakin</em>.</p>



<p>Referensi:<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche<br>“<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a>” oleh Je Tsongkhapa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/22/sing-penting-yakin/">Sing Penting Yakin</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/02/22/sing-penting-yakin/">Sing Penting Yakin</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tiga Bulan YPPLN Berkarya–Triwulan Keempat Tahun 2022</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/02/20/tiga-bulan-yppln-berkarya-triwulan-keempat-tahun-2022/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2023 05:50:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[2022]]></category>
		<category><![CDATA[Laporan Triwulan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7876</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Terima kasih dan turut bermudita atas dukungan dari 417 Dharma Patron, 85 Dharma Patriot, dan para Sahabat Lamrimnesia yang berkontribusi selama triwulan kedua tahun 2022! Mau ikut melestarikan dan mengembangkan Buddhadharma di Nusantara? Yuk bergabung menjadi Dharma Patron dan Dharma Patriot Lamrimnesia! Untuk bergabung, hubungi kami di Lamrimnesia Care – +685 2112 2014 1</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/20/tiga-bulan-yppln-berkarya-triwulan-keempat-tahun-2022/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya–Triwulan Keempat Tahun 2022</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/02/20/tiga-bulan-yppln-berkarya-triwulan-keempat-tahun-2022/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya–Triwulan Keempat Tahun 2022</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Terima kasih dan turut bermudita atas dukungan dari 417 Dharma Patron, 85 Dharma Patriot, dan para Sahabat Lamrimnesia yang berkontribusi selama triwulan kedua tahun 2022!</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-1_Newsletter-T-04-583x1024.png" alt="" class="wp-image-7879" width="698" height="1226" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-1_Newsletter-T-04-583x1024.png 583w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-1_Newsletter-T-04-171x300.png 171w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-1_Newsletter-T-04-150x263.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-1_Newsletter-T-04-450x790.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-1_Newsletter-T-04.png 595w" sizes="(max-width: 698px) 100vw, 698px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-042-488x1024.jpg" alt="" class="wp-image-7883" width="703" height="1475" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-042-488x1024.jpg 488w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-042-143x300.jpg 143w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-042-768x1610.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-042-732x1536.jpg 732w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-042-977x2048.jpg 977w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-042-150x315.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-042-450x944.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-042-1200x2516.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-042-600x1258.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-042-scaled.jpg 1221w" sizes="(max-width: 703px) 100vw, 703px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-0423-1024x982.jpg" alt="" class="wp-image-7884" width="704" height="675" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-0423-1024x982.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-0423-300x288.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-0423-768x737.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-0423-1536x1473.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-0423-2048x1964.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-0423-150x144.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-0423-450x432.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-0423-1200x1151.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-2_Newsletter-T-0423-600x576.jpg 600w" sizes="(max-width: 704px) 100vw, 704px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-040-1017x1024.jpg" alt="" class="wp-image-7888" width="704" height="709" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-040-1017x1024.jpg 1017w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-040-298x300.jpg 298w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-040-150x151.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-040-768x773.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-040-1526x1536.jpg 1526w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-040-2034x2048.jpg 2034w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-040-450x453.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-040-1200x1208.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-040-600x604.jpg 600w" sizes="(max-width: 704px) 100vw, 704px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-041-1024x591.jpg" alt="" class="wp-image-7887" width="706" height="407" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-041-1024x591.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-041-300x173.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-041-768x443.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-041-1536x886.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-041-2048x1182.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-041-150x87.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-041-450x260.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-041-1200x693.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-041-600x346.jpg 600w" sizes="(max-width: 706px) 100vw, 706px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-0445-822x1024.jpg" alt="" class="wp-image-7886" width="707" height="880" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-0445-822x1024.jpg 822w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-0445-241x300.jpg 241w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-0445-768x956.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-0445-1234x1536.jpg 1234w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-0445-1645x2048.jpg 1645w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-0445-150x187.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-0445-450x560.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-0445-1200x1494.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/Newsletter-2022-3_Newsletter-T-0445-600x747.jpg 600w" sizes="(max-width: 707px) 100vw, 707px" /></figure></div>


<p>Mau ikut melestarikan dan mengembangkan Buddhadharma di Nusantara? <br>Yuk bergabung menjadi Dharma Patron dan Dharma Patriot Lamrimnesia!</p>



<p>Untuk bergabung, hubungi kami di Lamrimnesia Care – +685 2112 2014 1</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/20/tiga-bulan-yppln-berkarya-triwulan-keempat-tahun-2022/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya–Triwulan Keempat Tahun 2022</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/02/20/tiga-bulan-yppln-berkarya-triwulan-keempat-tahun-2022/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya–Triwulan Keempat Tahun 2022</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>JADI DHARMA PATRON, SELAMATKAN MENTAL GENERASI MUDA</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/02/13/jadi-dharma-patron-selamatkan-mental-generasi-muda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2023 12:11:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7853</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Berdasarkan hasil survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), satu dari tiga remaja berusia 10-17 tahun di Indonesia memiliki masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir (per Oktober 2022).</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/13/jadi-dharma-patron-selamatkan-mental-generasi-muda/">JADI DHARMA PATRON, SELAMATKAN MENTAL GENERASI MUDA</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/02/13/jadi-dharma-patron-selamatkan-mental-generasi-muda/">JADI DHARMA PATRON, SELAMATKAN MENTAL GENERASI MUDA</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Berdasarkan hasil survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), satu dari tiga remaja berusia 10-17 tahun di Indonesia memiliki masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir (per Oktober 2022). Jumlah itu setara dengan 15,5 juta remaja di dalam negeri.</p>



<p>Berdasarkan survei <em>online </em>oleh Divisi Psikiatri Anak dan Remaja Fakultas Kesehatan di Universitas Indonesia, 95,4% generasi muda usia 16-24 tahun pernah mengalami gejala kecemasan, 88% pernah mengalami gejala depresi, dan 96,4% menyatakan kurang memahami cara mengatasi stres akibat masalah yang sering mereka alami.&nbsp;</p>



<p>Kondisi ini tentunya sangat mengkhawatirkan mengingat generasi muda merupakan ujung tombak di masa depan yang harus menghadapi begitu banyak tekanan seiring dengan berkembangnya zaman.&nbsp;</p>



<p><strong>Bagaimana kita bisa membantu mereka? </strong><br>Satu hal yang amat dibutuhkan generasi muda dan semua orang yang rentan terhadap permasalahan mental adalah pemahaman tentang cara kerja batin. Pemahaman itu bisa didapat dari salah satu topik Abhidharma, yaitu mengenai cara kerja batin dan faktor mental.</p>



<p>Menanggapi kebutuhan tersebut, Penerbit Padi Emas akan menerbitkan pembahasan topik tersebut oleh dua orang Guru Dharma agung, yaitu Guru Dagpo Rinpoche dan Y.M. Drepung Thrisur Lobsang Tenpa Rinpoche dalam buku berjudul “Citta &amp; Cetasika: Mengenal Batin dari Kacamata Buddhis”. Buku ini akan dibagikan tanpa dipungut biaya kepada generasi muda Buddhis Indonesia.</p>



<p><strong>Rincian Buku:</strong><br>Judul: Citta &amp; Cetasika: Mengenal Batin dari Kacamata Buddhis<br>Penulis: Dagpo Rinpoche dan Drepung Thrisur Lobsang Tenpa<br>Spesifikasi: 148 x 210 mm, +/- 202 halaman, <em>soft cover</em><br>Jumlah Cetak: 2.500 eksemplar<br>Kategori: buku tak berbayar<br>Penerbit: Padi Emas<br>Jadwal terbit: Feb 2023<br>Target Penerima: KMB/pemuda wihara, anggota Sangha, perpustakaan/wihara, donatur, dan peminat umum</p>



<p>Kami membutuhkan kemurahan hati Anda semua untuk mendukung penerbitan dan penyaluran buku ini.</p>



<p>Manfaat mendukung penerbitan dan penyaluran buku ulasan Abhidharma ini antara lain:<br>> Kebajikan dari berdana Dharma<br>“Pemberian ‘Kebenaran’ (Dharma) mengalahkan semua pemberian lainnya.” <br>-Dhammapada Tanhavagga<br><a href="https://lamrimnesia.org/2017/09/05/dana-buku-dharma/"><em>Baca juga: Dana Dharma, Bentuk Dana Tertinggi</em></a></p>



<p>> Menyelamatkan mental generasi muda<br>Pembahasan batin dan faktor mental akan membantu generasi muda dalam mengenali diri &amp; mengembangkan mental yang lebih tangguh</p>



<p>> Melakukan salah satu jenis aktivitas Dharma<br>Memperbanyak teks Dharma merupakan satu dari 10 aktivitas Dharma yang dilakukan oleh praktisi spiritual agung.</p>



<p>> Mendukung berbagai upaya pelestarian Dharma<br>Anda juga mendukung penyelenggaraan kegiatan Dharma, promosi nilai bajik Buddhadharma melalui media sosial ataupun roadshow, dan masih banyak lagi!</p>



<p><strong>Cara Partisipasi:</strong><br>Salurkan dana Anda ke<br><strong>BCA 0079 388 388</strong> atau <strong>MANDIRI 119 009 388 388 0</strong><br>A.n. Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" width="609" height="308" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/xx-01.png" alt="pilihan paket donasi" class="wp-image-7854" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/xx-01.png 609w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/xx-01-300x152.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/xx-01-150x76.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/xx-01-450x228.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/02/xx-01-600x303.png 600w" sizes="(max-width: 609px) 100vw, 609px" /></figure>



<p>Kirim bukti transfer ke Lamrimnesia Care denganketerangan “DharmaPatron1” atau klik tautan <a href="http://lamrimnesia.org/dpatron1">berikut</a>.&nbsp;</p>



<p>Dana yang Anda berikan akan disalurkan untuk kegiatan <strong>S A P A</strong>:<br>– Penerbitan &amp; Penyaluran Buku Dharma (<strong>S</strong> ALUR)<br>– Penyelenggaraan Kegiatan Dharma (<strong>A</strong> JAR &amp; <strong>P</strong> ROMOSI)<br>– Mobilisasi Dharma Patriot &amp; Biaya Operasional (<strong>P</strong> ROMOSI &amp; <strong>A</strong> JAK)</p>



<p>Dengan kebajikan ini, semoga kita dapat menyelamatkan mental generasi muda Indonesia.</p>



<p>Referensi:<br><a href="https://www.ugm.ac.id/id/berita/23086-hasil-survei-i-namhs-satu-dari-tiga-remaja-indonesia-memiliki-masalah-kesehatan-mental">ugm.ac.id</a><br><a href="https://theconversation.com/riset-usia-16-24-tahun-adalah-periode-kritis-untuk-kesehatan-mental-remaja-dan-anak-muda-indonesia-169658">theconversation.com</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/13/jadi-dharma-patron-selamatkan-mental-generasi-muda/">JADI DHARMA PATRON, SELAMATKAN MENTAL GENERASI MUDA</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/02/13/jadi-dharma-patron-selamatkan-mental-generasi-muda/">JADI DHARMA PATRON, SELAMATKAN MENTAL GENERASI MUDA</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dalai Lama: Uluran Bantuan untuk Upaya Pertolongan dan Pemulihan di Turki dan Suriah￼</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/02/09/dalai-lama-uluran-bantuan-untuk-upaya-pertolongan-dan-pemulihan-di-turki-dan-suriah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2023 04:17:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa Turki Suriah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7849</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Yang Maha Suci Dalai Lama XIV mengulurkan bantuan untuk upaya pertolongan dan pemulihan gempa bumi yang melanda Turki dan Suriah.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/09/dalai-lama-uluran-bantuan-untuk-upaya-pertolongan-dan-pemulihan-di-turki-dan-suriah/">Dalai Lama: Uluran Bantuan untuk Upaya Pertolongan dan Pemulihan di Turki dan Suriah￼</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/02/09/dalai-lama-uluran-bantuan-untuk-upaya-pertolongan-dan-pemulihan-di-turki-dan-suriah/">Dalai Lama: Uluran Bantuan untuk Upaya Pertolongan dan Pemulihan di Turki dan Suriah￼</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Thekchen Chöling, Dharamsala, HP, India &#8211; Berduka atas berita yang Beliau terima mengenai gempa bumi yang mengguncang Turki dan Suriah serta mengakibatkan begitu banyak korban jiwa dan luka-luka, Yang Maha Suci Dalai Lama telah mengirim surat ke Direktur Eksekutif World Food Programme.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Saya turut berduka cita kepada semua keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih dan saya berdoa untuk semua pihak yang terdampak tragedi ini,&#8221; tulis Beliau.</p></blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;Namun demikian, kita patut berbesar hati mendengar bahwa selain tim medis yang dikoordinasi PBB, ada banyak negara dan NGO dari seluruh penjuru dunia yang mengirimkan bantuan demi upaya pertolongan dan pemulihan di area bencana.</p><p>Sebagai wujud solidaritas saya dengan warga Turki dan Suriah yang terkena dampak tragedi ini, saya telah meminta Yayasan Gaden Phodrang Foundation Dalai Lama untuk memberikan sumbangan untuk upaya pertolongan dan pemulihan.&#8221;</p></blockquote>



<p>Sumber: <a href="https://www.dalailama.com/news/2023/offering-support-to-rescue-and-relief-efforts-in-turkey-and-syria">dalailama.com</a><br>Diterjemahkan oleh Rakaputra Paputungan</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/09/dalai-lama-uluran-bantuan-untuk-upaya-pertolongan-dan-pemulihan-di-turki-dan-suriah/">Dalai Lama: Uluran Bantuan untuk Upaya Pertolongan dan Pemulihan di Turki dan Suriah￼</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/02/09/dalai-lama-uluran-bantuan-untuk-upaya-pertolongan-dan-pemulihan-di-turki-dan-suriah/">Dalai Lama: Uluran Bantuan untuk Upaya Pertolongan dan Pemulihan di Turki dan Suriah￼</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dharma vs Paham Apokaliptik</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2022 12:39:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[kalideres]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan setelah mati]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7560</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kematian satu keluarga di Kalideres diduga berkaitan dengan paham apokaliptik. Merenungkan ini bisa membantu kita paham mengapa Buddha mengajari kita untuk memikirkan kehidupan mendatang.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Kevin Chow</p>



<p>Belakangan ini, kita banyak disuguhi berita-berita yang membuktikan bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Mulai dari berita pandemi dan perang yang masih berlangsung di kancah global hingga berita di skala nasional berupa bencana alam, kasus pembunuhan polisi, hingga kasus-kasus lainnya yang terkadang membuat kita bertanya-tanya: “Kok bisa gitu ya?”. Untuk kasus-kasus tertentu, kita membaca berita tersebut dan berusaha untuk mencerna apa yang sedang terjadi karena terlihat tidak masuk akal. Mungkin, kita sempat berada di satu titik di mana kita berpikir bahwa apakah ini benar-benar mereka (yang terlibat dalam kasus tersebut) yang tidak beres atau kita sebagai pembaca yang gagal memahami perspektif mereka.&nbsp;</p>



<h4><strong>Misteri Kematian Keluarga di Kalideres </strong></h4>



<p>Sebut saja salah satu kejadian yang masih hangat dan baru terjadi di Kalideres, Jakarta. Dilaporkan bahwa satu keluarga yang beranggotakan empat orang ditemukan tewas di dalam rumah. Berdasarkan otopsi singkat yang telah dilakukan oleh pihak kepolisian, para korban tersebut diduga tewas karena kelaparan dan tidak ditemukan makanan dalam lambung dari seluruh anggota keluarga tersebut. Penyelidikan lebih lanjut menyatakan bahwa keluarga tersebut hidup berkecukupan yang setidaknya mampu menepis anggapan bahwa mereka bunuh diri karena tidak mampu membeli makanan. Tidak ditemukan juga adanya tanda-tanda kekerasan atau tindak kriminal. Hingga saat ini, motif kematian ini masih belum terungkap. Perlu ditekankan disini bahwa penyebab dan motif adalah dua hal yang berbeda.&nbsp;</p>



<p>Seorang Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala menilai bahwa keyakinan apokaliptik bisa menjadi salah satu dugaan akan motif dari dari kasus ini. Dikutip dari <a href="https://www.kompas.tv/article/348465/diduga-penyebab-kematian-satu-keluarga-di-kalideres-kriminolog-ui-sebut-apokaliptik-apa-itu?page=all&amp;_ga=2.31919483.434489381.1669235055-927954307.1665961131">KompasTV</a>, kata “apokaliptik” berasal dari bahasa Yunani ‘<em>apokalyptien</em>’ yang memiliki arti mengungkapkan sesuatu yang jauh. Kata tersebut diserap ke bahasa Inggris menjadi <em>apocalypse</em> atau di bahasa Indonesia apokalips. Berdasarkan <a href="https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/apokalips">Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)</a>, apokalips memiliki dua makna, yakni wahyu; penyingkapan dan kehancuran dunia pada akhir zaman. Secara singkat, pemahaman ini membicarakan persepsi soal kehancuran dunia di akhir zaman. Beberapa contoh penganutnya misalnya sekte <a href="https://www.bbc.com/news/world-asia-35975069">Aum Shinrikyo</a> yang mendalangi serangan gas sarin di Jepang pada tahun 90-an dan kelompok <a href="https://israeled.org/christian-extremists-denied-entry-to-israel/">Concerned Christian</a> asal Amerika Serikat yang sempat dideportasi dari Israel karena dugaan percobaan terorisme.</p>



<h4><strong>Menguji Pemahaman Apokaliptik</strong></h4>



<p>Dari sini, kita akan mulai membahas poin-poin yang cukup menarik dari paham apokaliptik ini dan mengujinya berdasarkan pemahaman Buddhisme yang telah dibahas pada artikel sebelumnya, yaitu <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">keyakinan akan adanya kehidupan mendatang setelah kematian</a>. Koordinator Prodi S2 Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Airlangga (Unair) berpendapat bahwa para pengikut paham apokaliptik ini ingin meninggalkan dunia sebelum adanya penghakiman atau munculnya kiamat. Para penganut paham tersebut berspekulasi bahwa mereka lebih baik mengakhiri hidup dengan “lebih terhormat” sebelum terjadinya kiamat yang dianggap sebagai hukuman dari Tuhan.&nbsp;</p>



<p>Kita semua tahu bahwa cepat atau lambat, kita semua pasti akan menghadapi yang namanya <a href="https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/">kematian</a>. Pertanyaannya adalah apakah mengakhiri hidup kita sendiri karena putus asa akibat perasaan keterbatasan diri dan rasa putus asa terhadap sistem kehidupan yang ada merupakan tindakan yang tepat dan bijaksana? Apakah dengan mengakhiri hidup kita saat ini maka segala sesuatu akan selesai begitu saja dan tinggal menghadapi “penghakiman” dari Tuhan? Jika “penghakiman” dari Tuhan tersebut berbentuk surga dan neraka, apakah kita memiliki kesempatan untuk berpindah alam dari nereka ke surga (begitu juga sebaliknya) setelahnya atau kita akan selamanya berada di salah satu alam tersebut tanpa ada kemungkinan untuk keluar dari sana? Jika memang masa kehidupan kita di salah satu alam tersebut bersifat kekal dan apabila kita jatuh ke alam neraka karena perbuatan jahat kita lebih banyak daripada perbuatan baik yang telah kita lakukan selama hidup kita, apakah berarti semua perbuatan baik yang pernah kita lakukan semasa hidup kita menjadi sia-sia begitu saja karena pada akhirnya kita akan terjatuh dan menderita di alam neraka selamanya tanpa ada kesempatan untuk keluar?&nbsp;</p>



<p>Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat berkaitan erat dengan konsep karma dan pemahaman kita bahwa kehidupan yang kita jalani itu tidak hanya sekali ini saja. Buddhisme percaya bahwa setelah kematian, kita akan terus menjalani kehidupan yang lain secara berulang-ulang apabila kita tidak pernah melakukan sesuatu untuk menghentikan akar dari proses ini. Walaupun kepercayaan-kepercayaan lain juga menyatakan bahwa mereka meyakini adanya kehidupan setelah kematian berupa kelahiran di surga dan neraka, Buddhisme menekankan pada kata kunci “berulang-ulang” yang menyiratkan bahwa kehidupan kita tidak hanya akan berakhir di antara surga atau neraka itu selamanya, melainkan akan ada kehidupan lain lagi setelahnya.</p>



<p>Setidaknya, ini bisa menjustifikasi <a href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">konsep karma</a> yang telah kita pelajari bahwa segala sesuatu yang telah kita perbuat akan selalu menjadi sebab yang akan berbuah pada suatu hasil. Didukung oleh konsep kelahiran yang berulang setelah kematian, kita akan menyadari bahwa setidaknya kita masih diberi kesempatan untuk melakukan suatu tindakan yang akan menjadi sebab untuk berbuahnya karma bajik yang pernah kita pupuk di masa lalu. Mengambil contoh makhluk yang terlahir di alam neraka karena karma buruknya yang lebih banyak, kita tidak bisa serta-merta langsung menghakimi bahwa ia sepenuhnya salah dan semua perbuatan bajik yang pernah ia lakukan semasa hidupnya tidak ada nilainya sama sekali. Dengan adanya kehidupan selanjutnya setelah kelahirannya di alam neraka, setidaknya ia masih diberi kesempatan untuk merasakan buah dari karma bajik sebagai akibat dari perbuatan baiknya di masa lampau.&nbsp;</p>



<h4><strong>Kenapa Pemahaman akan Kehidupan Mendatang Menjadi Sangat Penting?</strong></h4>



<p>Pemahaman yang benar akan kehidupan mendatang menjadi sangat penting bagi kita karena kita jadi termotivasi untuk meninggalkan segala sesuatu yang bersifat tidak bajik dan terus berusaha untuk kebajikan dalam hal apapun yang bisa kita lakukan. Semua itu kita lakukan semata-mata karena kita tahu bahwa segala perbuatan tersebut tidak hanya akan berdampak pada kehidupan saat ini saja, melainkan pada kehidupan kita yang akan datang juga. Paling tidak, pemahaman ini juga akan menyelamatkan kehidupan kita saat ini sehingga kita tidak terjerumus ke paham-paham sesat yang mengaburkan pandangan benar dan logika kita seperti para penganut paham apokaliptik tersebut.&nbsp;</p>



<p>Jadi, kita harus terus belajar sehingga kita bisa semakin mengasah kemampuan kita dalam membedakan mana hal yang benar dan salah sehingga tidak mudah terjatuh ke pandangan yang keliru. Gimana sih cara belajarnya? Salah satunya adalah tentu saja dengan terus belajar Dharma, baik itu dari mengikuti pengajaran Dharma langsung, membaca buku-buku Dharma, atau minimal membaca semua <a href="https://lamrimnesia.org/category/wacana/artikel/">artikel dari Lamrimnesia</a> (setelah baca artikel, cari tahu lebih lanjut, ya!). Jadi, yuk kita bareng-bareng mempelajari, merenungkan, dan mempraktikkan semua Dharma di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari!</p>



<h4><strong>Referensi:</strong></h4>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche<br><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a> oleh Je Tsongkhapa<br><a href="https://www.kompas.com/tren/read/2022/11/15/163000965/apa-itu-apokaliptik-disebut-penyebab-kematian-keluarga-di-kalideres-?page=all">Apa itu Apokaliptik, Disebut Penyebab Kematian Keluarga di Kalideres</a> &#8211; Kompas.com<br><a href="https://www.unair.ac.id/benarkah-kematian-keluarga-di-kalideres-dipengaruhi-paham-apokaliptik-ini-tanggapan-pakar-unair/">Benarkah Kematian Keluarga di Kalideres Dipengaruhi Paham Apokaliptik? Ini Tanggapan Pakar Unair</a> &#8211; unair.ac.id</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tiga Bulan YPPLN Berkarya–Triwulan Ketiga Tahun 2022</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/11/07/tiga-bulan-yppln-berkarya-triwulan-ketiga-tahun-2022/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2022 09:29:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[2022]]></category>
		<category><![CDATA[Laporan Triwulan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7317</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Terima kasih dan turut bermudita atas dukungan dari 426 Dharma Patron, 85 Dharma Patriot, dan para Sahabat Lamrimnesia yang berkontribusi selama triwulan kedua tahun 2022! Mau ikut melestarikan dan mengembangkan Buddhadharma di Nusantara? Yuk bergabung menjadi Dharma Patron dan Dharma Patriot Lamrimnesia! Untuk bergabung, hubungi kami di Lamrimnesia Care – +685 2112 2014 1</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/07/tiga-bulan-yppln-berkarya-triwulan-ketiga-tahun-2022/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya–Triwulan Ketiga Tahun 2022</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/07/tiga-bulan-yppln-berkarya-triwulan-ketiga-tahun-2022/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya–Triwulan Ketiga Tahun 2022</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Terima kasih dan turut bermudita atas dukungan dari 426 Dharma Patron, 85 Dharma Patriot, dan para Sahabat Lamrimnesia yang berkontribusi selama triwulan kedua tahun 2022!</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-011-710x1024.jpg" alt="" class="wp-image-7318" width="506" height="729" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-011-710x1024.jpg 710w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-011-scaled-600x866.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-011-208x300.jpg 208w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-011-768x1108.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-011-1064x1536.jpg 1064w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-011-1419x2048.jpg 1419w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-011-150x216.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-011-450x649.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-011-1200x1732.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-011-scaled.jpg 1774w" sizes="(max-width: 506px) 100vw, 506px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" width="498" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-022-498x1024.jpg" alt="" class="wp-image-7319" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-022-498x1024.jpg 498w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-022-scaled-600x1233.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-022-146x300.jpg 146w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-022-768x1578.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-022-748x1536.jpg 748w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-022-997x2048.jpg 997w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-022-150x308.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-022-450x925.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-022-1200x2466.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-022-scaled.jpg 1246w" sizes="(max-width: 498px) 100vw, 498px" /></figure></div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-033-553x1024.jpg" alt="" class="wp-image-7320" width="503" height="931" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-033-553x1024.jpg 553w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-033-scaled-600x1111.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-033-162x300.jpg 162w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-033-768x1422.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-033-830x1536.jpg 830w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-033-1106x2048.jpg 1106w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-033-150x278.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-033-450x833.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-033-1200x2222.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/11/Newsletter-T3-2022-033-scaled.jpg 1383w" sizes="(max-width: 503px) 100vw, 503px" /></figure></div>


<p>Mau ikut melestarikan dan mengembangkan Buddhadharma di Nusantara? <br>Yuk bergabung menjadi Dharma Patron dan Dharma Patriot Lamrimnesia!</p>



<p>Untuk bergabung, hubungi kami di Lamrimnesia Care – +685 2112 2014 1</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/07/tiga-bulan-yppln-berkarya-triwulan-ketiga-tahun-2022/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya–Triwulan Ketiga Tahun 2022</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/07/tiga-bulan-yppln-berkarya-triwulan-ketiga-tahun-2022/">Tiga Bulan YPPLN Berkarya–Triwulan Ketiga Tahun 2022</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>APRESIASI MENDALAM ATAS KEBAIKAN HATI SANG GURU</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/10/10/apresiasi-mendalam-atas-kebaikan-hati-sang-guru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2022 12:28:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[APRESIASI MENDALAM ATAS KEBAIKAN HATI SANG GURU]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7124</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di Nusantara tempo dulu, terdapat seorang Guru Agung pemegang silsilah ajaran bodhicita yang lengkap dan otentik. Beliau bernama Guru Suwarnadwipa Dharmakirti. Muridnya yang paling terkenal adalah cendekiawan India yang tersohor bernama Atisha Dipamkara Shrijnana. Setelah menerima amerta realisasi dari gurunya, beliau kembali ke India dan pergi ke Tibet untuk mereformasi Buddhisme yang tengah merosot. Sejak [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/10/10/apresiasi-mendalam-atas-kebaikan-hati-sang-guru/">APRESIASI MENDALAM ATAS KEBAIKAN HATI SANG GURU</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/10/10/apresiasi-mendalam-atas-kebaikan-hati-sang-guru/">APRESIASI MENDALAM ATAS KEBAIKAN HATI SANG GURU</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di Nusantara tempo dulu, terdapat seorang Guru Agung pemegang silsilah ajaran bodhicita yang lengkap dan otentik. Beliau bernama Guru Suwarnadwipa Dharmakirti. Muridnya yang paling terkenal adalah cendekiawan India yang tersohor bernama Atisha Dipamkara Shrijnana. Setelah menerima amerta realisasi dari gurunya, beliau kembali ke India dan pergi ke Tibet untuk mereformasi Buddhisme yang tengah merosot. Sejak itulah, tradisi Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (Lamrim) yang juga mengandung kebudayaan dan peradaban Indonesia dimulai di India dan Tibet.</p>



<p>Pada tahun 1989, tradisi agung ini kembali lagi ke Indonesia melalui Guru Dagpo Rinpoche Losang Jampel Jampa Gyatso, seorang guru besar Tibet yang diyakini sebagai kelahiran kembali dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti. Sejak saat itu, beliau secara konsisten datang dan memberikan transmisi serta pengajaran Dharma berbasis Lamrim di Indonesia.&nbsp;</p>



<p>Dalam rangka memperingati Tri Dasawarsa Cipta, Karsa dan Karya Guru Dagpo Rinpoche di Nusantara pada tahun 2019 sekaligus demi menjaga kesinambungan ajaran ini agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang, kitab&nbsp; SUMATI MAÑJUŚRĪ MAITREYA SAMUDRA ŚĀSTRA SAṂGRAHA pun disusun dan diterbitkan.</p>



<p>Kitab ini merupakan kumpulan transkrip pengajaran Guru Dagpo Rinpoche di Indonesia sejak tahun 1989. Walaupun teks-teks Sutra dan Tantra yang Beliau ulas disusun oleh guru-guru besar India dan Tibet dari beberapa abad sebelumnya, Guru Dagpo Rinpoche dengan trampil membabarkannya sesuai dengan konteks dunia masa kini sehingga ajaran dan kebenaran luhur yang terkandung di dalamnya lebih mudah dipahami dan memberi dampak langsung bagi masyarakat.</p>



<p>Hingga saat ini, sebanyak 3 jilid edisi reguler dan 1 jilid edisi khusus kitab SUMATI MAÑJUŚRĪ MAITREYA SAMUDRA ŚĀSTRA SAṂGRAHA telah berhasil diterbitkan. Semua ini adalah berkat berkah dari para guru serta dukungan dari para relawan, donatur, dan pihak-pihak lainnya. <strong>Pada Maret 2024 ini, akan diterbitkan jilid keempat dari kitab SUMATI MAÑJUŚRĪ MAITREYA SAMUDRA ŚĀSTRA SAṂGRAHA.</strong></p>



<h2>Topik</h2>



<ol><li>Karma dan Kelahiran Kembali<ul><li>Karma &amp; Kelahiran Kembali, Bali, 15-17 Feb 1999</li><li>Karma, Bali, 5-10 April 2007</li><li>How to change your karma, Jakarta, 8-9 Januari 2011</li></ul></li><li>Samsara Tak Berawal dan Bagaimana Mengakhirinya<ul><li>Samsara dan 12 Mata Rantai, Malang, 8-12 Januari 2009</li></ul></li><li>Tahu Diri dan Berkembang<ul><li>Batin dan Fungsinya, Red Top Hotel, Jakarta, 11-12 Januari 2005</li><li>Batin dan Faktor Mental, Duta Merlin Plaza, 21-22 Desember 2005</li><li>Batin dan Faktor Mental, Jakarta, 23-25 Maret 2007</li></ul></li></ol>



<h2>Rincian Buku</h2>


<div class="wp-block-image">
<figure class="alignleft size-large is-resized"><img loading="lazy" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-723x1024.jpg" alt="" class="wp-image-7125" width="130" height="185" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-723x1024.jpg 723w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-600x850.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-212x300.jpg 212w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-768x1088.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-1084x1536.jpg 1084w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-1446x2048.jpg 1446w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-150x212.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-450x637.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan-1200x1700.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Sung-Bum-jilid-4-depan.jpg 1750w" sizes="(max-width: 130px) 100vw, 130px" /></figure></div>


<p>Judul: SUMATI MAÑJUŚRĪ MAITREYA SAMUDRA ŚĀSTRA SAṂGRAHA Jilid 4<br>Penulis: Dagpo Rinpoche<br>Spesifikasi: 148 x 210 mm, xii + 506 halaman, <em>hard cover</em><br>Jumlah Cetak: 500 eksemplar<br>Kategori: buku tak berbayar<br>Jadwal Terbit: Maret 2024<br>Target Penerima: Anggota Sangha, Dharmaduta, dan umat Buddha di seluruh Indonesia</p>



<p></p>



<h2 id="h-anggaran-dan-alokasi-dana"><strong>Anggaran dan Alokasi Dana</strong></h2>



<figure class="wp-block-table is-style-regular"><table><thead><tr><th>Kebutuhan</th><th><strong>Biaya</strong></th><th></th><th></th></tr></thead><tbody><tr><td>Biaya pencetakan &amp; penyaluran 500 buku</td><td></td><td>33.750.000</td><td></td></tr><tr><td>&gt; Biaya Cetak</td><td>33.750.000</td><td></td><td></td></tr><tr><td>Dukungan untuk kegiatan Dharma</td><td></td><td>33.750.000</td><td></td></tr><tr><td>Dukungan untuk biaya operasional &amp; mobilisasi Patriot</td><td></td><td>67.500.000</td><td></td></tr></tbody><tfoot><tr><td><strong>Total kebutuhan dana</strong></td><td></td><td></td><td><strong>135.000.000</strong></td></tr></tfoot></table></figure>



<p>Dana yang diterima akan dialokasikan untuk:</p>



<ul><li>Penerbitan dan Penyaluran Buku Dharma (25%)</li><li>Penyelenggaraan Kegiatan Dharma (25%)</li><li>Biaya Operasional &amp; Mobilisasi Dharma Patriot (50%)</li></ul>



<p>Lamrimnesia memberikan penghargaan tertinggi atas dukungan seluruh Dharma Patron Lamrimnesia. Untuk itu, kami dengan serius memperhitungkan alokasi donasi Anda agar maksimal menyokong seluruh program pelestarian dan pengembangan Dharma dengan manfaat seluas mungkin bagi Nusantara.</p>



<h2>BANTU KAMI!</h2>



<p>Dukung penerbitan kitab SUMATI MAÑJUŚRĪ MAITREYA SAMUDRA ŚĀSTRA SAṂGRAHA Jilid 4 dan aktivitas pelestarian Dharma lainnya dengan menjadi Dharma Patron (donatur) Lamrimnesia!</p>



<ol><li>Pilih paket donasi:<br>Sederhana – sukarela (tambahkan Rp10,-)<br>Welas Asih – Rp800.010,-<br>Bijaksana – Rp4.800.010,-<br>Sampurna – Rp8.800.010,-</li></ol>



<ol start="2"><li>Transfer ke:<br><strong>BCA 0079 388 388</strong> atau <strong>MANDIRI 119 009 388 388 0</strong><br>atau melalui QRIS<br><img loading="lazy" width="1410" height="1509" class="wp-image-8896" style="width: 300px;" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2.jpg" alt="" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2.jpg 1410w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2-280x300.jpg 280w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2-957x1024.jpg 957w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2-768x822.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2-150x161.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2-450x482.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2-1200x1284.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2022/10/Untitled-design-2-600x642.jpg 600w" sizes="(max-width: 1410px) 100vw, 1410px" /><br>A.n. Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara<br>*Tambahkan Rp10,- pada nominal donasi Anda<br></li><li>Konfirmasikan dana ke tautan ini atau kirim bukti transfer ke Lamrimnesia Care (085 2112 20141 1) dengan keterangan “DharmaPatron10”<br></li></ol>



<p></p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/10/10/apresiasi-mendalam-atas-kebaikan-hati-sang-guru/">APRESIASI MENDALAM ATAS KEBAIKAN HATI SANG GURU</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/10/10/apresiasi-mendalam-atas-kebaikan-hati-sang-guru/">APRESIASI MENDALAM ATAS KEBAIKAN HATI SANG GURU</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Spoiler Alert &#8211; Ini Dia Proses Kematianmu</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2022 07:58:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7067</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Apa sih yang terjadi setelah mati dalam agama Buddha? Ini dia proses kematian yang perlu kita pelajari dan persiapkan dari sekarang.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert – Ini Dia Proses Kematianmu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert &#8211; Ini Dia Proses Kematianmu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Silvi Wilanda</p>



<p>Akhir-akhir ini kematian terasa lebih dekat. Kabar-kabar duka yang jadi sorotan publik seperti Ratu Elizabeth II, Reza Gunawan, dan yang sebelumnya Brigadir Yoshua muncul di mana-mana. Aktivitas pencarian informasi pun menjadi ramai, mulai dari pencarian biografi tokoh tersebut, perannya dalam masyarakat, bagaimana kronologi kematiannya, serta lainnya. Namun, sebenarnya ada satu hal lain yang luput dari pencarian informasi kita, yakni bagaimana proses kematian itu sendiri.&nbsp;</p>



<p>Pernahkah terlintas dalam pikiran kita, kematian itu seperti apa? Bagaimana prosesnya? Ke mana kita pergi setelah mati? Bagaimana kita bisa terlahir kembali? Sebagai umat Buddha yang meyakini hukum karma dan konsep kelahiran kembali, ini adalah hal penting untuk direnungkan dan dimeditasikan. Setelah sebelumnya membahas tentang <a href="https://lamrimnesia.org/tag/kematian/">merenungkan kaitan kematian dengan hidup kita dari berbagai sisi</a>, proses kematian inilah yang seterusnya perlu kita renungkan dalam Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (Lamrim).</p>



<p>Jadi, seperti apa proses kematian itu? Berikut adalah cuplikan <em>spoiler-</em>nya:</p>



<h4><strong>Penyebab Kematian&nbsp;</strong></h4>



<p>Buddha menjelaskan ada 3 sebab utama kematian, yaitu:</p>



<ol><li>Habisnya masa kehidupan kita.</li></ol>



<p>Saat kita terlahir kembali, kita “terlempar” ke kehidupan selanjutnya dengan jangka hidup yang pasti. Seseorang hanya bisa hidup sepanjang jangka hidupnya ini saja, tidak bisa lebih, tapi sangat bisa habis sebelum waktunya. Sebab kedua dan ketiga di bawah ini adalah penyebab bagaimana seseorang bisa meninggal sebelum jangka hidupnya berakhir.&nbsp;&nbsp;</p>



<ol start="2"><li>Habisnya karma baik kita.</li></ol>



<p>Selain jangka hidup, kita juga membutuhkan karma baik untuk dapat tetap melangsungkan kehidupan. Jika karma baik kita habis sebelum jangka hidup kita berakhir, kita bisa meninggal. Untuk itu, penting bagi kita untuk menghemat tabungan karma baik kita dengan menghindari gaya hidup mewah dan rajin melakukan kebajikan.&nbsp;</p>



<ol start="3"><li>Hadirnya kondisi yang tidak menguntungkan.&nbsp;</li></ol>



<p>Selain habisnya karma baik, kematian sebelum jangka hidup berakhir juga bisa disebabkan karena hadirnya kondisi yang tidak menguntungkan. Untuk itu, penting juga mendedikasikan kebajikan kita agar kita terhindar dari sebab kematian ini.&nbsp;</p>



<h4><strong>Pikiran Terakhir Menjelang Kematian</strong></h4>



<p>Saat menjelang kematian, pikiran terakhir kita berupa pikiran baik, buruk, atau netral. Jika pikiran yang muncul adalah pikiran baik, kita akan merasa damai, bahagia, dan seolah-olah melihat cahaya putih. Namun, jika pikiran buruk yang muncul, kita akan merasa takut, khawatir, dan seolah-olah melihat kegelapan. Pikiran terakhir menjelang kematian juga dapat diketahui dari hilangnya panas tubuh. Jika pikiran kita baik, maka panas tubuh akan hilang berangsur-angsur dari kaki hingga ke bagian tengah tubuh. Jika pikiran kita tidak baik, maka panas tubuh akan hilang dari kepala menuju bagian tubuh bawah.&nbsp;</p>



<p>Pikiran terakhir menjelang kematian ini sangat penting karena akan memengaruhi kehidupan kita yang selanjutnya. Jika pikiran terakhir kita buruk, kita akan terlahir di alam rendah. Begitu juga sebaliknya, jika pikiran terakhir kita baik, maka kita akan terlahir di alam bahagia. Meski semua orang ingin memiliki pikiran terakhir yang baik, namun kemungkinan besar pikiran terakhir yang muncul saat menjelang kematian adalah hal yang paling sering kita lakukan. Mengingat kita masih lebih sering melakukan ketidakbajikan, maka sangat mungkin pikiran buruklah yang datang saat kematian tiba.</p>



<p>Untuk itu, penting bagi kita untuk membiasakan diri untuk berpikir bajik, khususnya melatih diri kita untuk mengambil perlindungan kepada Triratna dengan sungguh-sungguh. Saat mengambil perlindungan, kita perlu membangkitkan kengerian akan kelahiran di alam rendah dan keyakinan bahwa Triratna dapat menolong kita. Selain itu, kita juga bisa melatih diri untuk memeditasikan penampakan objek suci, seperti Buddha, Istadewata (Awalokiteshwara/Kwan Im, Arya Tara, Manjushri, dan lain sebagainya), ataupun Guru kita sendiri. Harapannya dengan latihan akan hal ini, kita bisa mengambil perlindungan sekaligus membayangkan wujud suci menjelang kematian tiba.&nbsp;</p>



<h4><strong>Perpisahan Unsur Pembentuk Tubuh</strong></h4>



<p>Saat terlahir, 4 unsur pembentuk tubuh kita (tanah, air, api, dan udara) bersatu dengan arus batin kita. Dalam proses kematian, hal yang sebaliknya yang terjadi. Unsur-unsur tubuh ini berpisah hingga akhirnya batin kita kehilangan dasar fisiknya.&nbsp;</p>



<p>Unsur yang pertama kali akan terpisah adalah tanah. Saat unsur tanah mulai terpisah, tubuh kita akan terasa kehilangan energi dan merasakan sensasi seolah-olah tenggelam ke dalam tanah. Unsur kedua yang akan terpisah adalah air. Saat unsur air mulai terpisah, mulut kita menjadi mengering, bibir atas menjadi keriting, dan lubang hidung terjepit. Unsur ketiga yang terpisah adalah api dengan tanda panas tubuh kita akan menghilang dan warna tubuh kita akan memucat. Unsur yang terakhir terpisah adalah angin dengan tanda kita akan sulit bernapas.&nbsp;</p>



<p>Setiap ada unsur yang terpisah, kita juga merasakan pengalaman internal yang sesuai dengan sifat alami karma yang sedang mempengaruhi kita. Jika karmanya tidak bajik, maka kita akan mendengar atau melihat sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, jika di bawah pengaruh karma bajik, maka kita akan mendengar atau melihat sesuatu yang menyenangkan.&nbsp;</p>



<p>Setelah semua unsur terpisah, kesadaran kasar kita berakhir dan terganti dengan kesadaran halus. Tingkat pertama kesadaran halus dinamakan “penampakan putih”, penglihatan kita sepenuhnya putih seperti langit polos yang hanya disinari cahaya bulan. Tingkat kedua kesadaran halus disebut “peningkatan merah” menyerupai langit musim gugur yang berwarna merah. Tingkat terakhir kesadaran halus disebut “pencapaian hampir hitam”, penglihatan kita gelap penuh seperti langit yang gelap tanpa cahaya apapun.&nbsp;</p>



<p>Kesadaran halus pun pada akhirnya akan hilang dan digantikan kembali dengan kesadaran luar biasa halus yang dinamakan “cahaya jernih kematian”. Pada tahap ini, kita melihat musim semi yang bersih dengan langit biru pekat nan murni yang bebas dari cahaya matahari dan bulan. Dalam terminologi Buddhis, inilah momen kematian yang sesungguhnya.</p>



<p>Saat tahap “cahaya jernih kematian” berakhir, maka proses kelahiran kembali akan dimulai. Proses yang sebaliknya terjadi, yaitu “pencapaian hampir hitam”, “peningkatan merah”, dan selanjutnya. Proses ini bertepatan dengan kelahiran kita di alam bardo terlebih dahulu.&nbsp;&nbsp;</p>



<h4>Kelahiran di Alam Bardo&nbsp;</h4>



<p>Saat berhadapan dengan kematian, kita juga memiliki kemelekatan terhadap diri. Kemelekatan akan diri ini dimiliki oleh semua makhluk, bahkan para Arya sekalipun, hanya saja seorang Arya mampu mengendalikan kemelekatan tersebut. Hanya mereka yang telah mencapai tingkatan Arahat yang mampu menaklukkan kemelekatan terhadap diri ini.&nbsp;</p>



<p>Kemelekatan akan diri ini muncul karena pembiasaan yang sudah terjadi sejak masa kehidupan lampau yang tak terhingga. Kita dihinggapi rasa takut yang amat sangat terhadap kemungkinan bahwa diri kita akan lenyap setelah meninggal nanti. Rasa takut ini kemudian mendorong kita untuk terlahir kembali di alam bardo.&nbsp;</p>



<p>Di alam bardo, kita memiliki bentuk tubuh jasmani yang sama dengan tubuh kita di kehidupan mendatang. Tubuh jasmani tersebut terbentuk dari angin yang sangat halus dan tidak padat seperti tubuh manusia sehingga memungkinkan makhluk bardo untuk lebih mudah bergerak. Misalnya saja, jika makhluk bardo memikirkan suatu tempat, maka tubuhnya akan bergerak menuju arah tempat yang dipikirkannya itu.&nbsp;</p>



<p>Dalam Sutra Barisan Tangkai juga dikatakan bahwa warna tubuh alam bardo menyesuaikan dengan kehidupan mendatangnya. Jika makhluk bardo akan terlahir di neraka, tubuhnya hitam seperti batu bara. Jika akan terlahir sebagai setan kelaparan, tubuhnya seperti air. Jika akan terlahir sebagai manusia atau alam menyenangkan lainnya, tubuhnya akan berwarna emas. Jika akan terlahir sebagai dewa, tubuhnya akan berwarna putih.&nbsp;</p>



<p>Tidak ada waktu minimal makhluk bardo bisa ada di alam bardo. Kapanpun makhluk bardo menemukan tempat untuk terlahir kembali, ia akan segera meninggalkan alam bardo. Biasanya, makhluk bardo cenderung memilih tempat kelahiran selanjutnya sesuai dengan hal-hal yang akrab dan disukainya.&nbsp;</p>



<p>Sedangkan, masa hidup maksimal makhluk bardo di alam bardo adalah 49 hari. Setelah setiap periode 7 hari, makhluk bardo yang tidak menemukan tempat kelahirannya kembali, akan mati untuk kemudian terlahir kembali di alam bardo. Proses ini berlangsung selama 7 kali sehingga total periode hidup makhluk bardo adalah 49 hari. Hal inilah yang mendorong adanya upacara pengumpulan kebajikan selama 49 hari bagi kerabat yang telah meninggal.&nbsp;</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Begitulah kurang lebih bagaimana proses kematian terjadi. Setelah mengetahui <em>spoiler</em>-nya, perasaan apa yang muncul dalam dirimu? Takut? Semakin melekat dengan hidup? Atau biasa saja? Jika takut, kita harus jadikan rasa itu pecutan untuk bisa segera mempersiapkan kematian dengan lebih baik. Jika semakin melekat dengan hidup, kita harus terus merenungkan kematian agar kemelekatan bisa terkikis sedikit demi sedikit. Jika kita merasa biasa saja, kita semakin perlu untuk bergiat diri merenungkan proses kematian. Terlepas dari perasaan yang muncul, kita perlu segera bergegas mempersiapkan kematian kita karena mau tidak mau kita harus mengalami kematian itu, cepat atau lambat.&nbsp;</p>



<p>Referensi:“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari</a>” karya Guru Dagpo Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert – Ini Dia Proses Kematianmu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert &#8211; Ini Dia Proses Kematianmu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
