<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tisarana - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/tisarana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Aug 2024 16:40:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.14</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>Tisarana - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Review Film Yuni (2021): Remaja Hilang Arah, Bisakah Triratna Menuntun?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/08/06/review-buddhis-film-yuni/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Aug 2024 16:39:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[review film Buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[Tisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9251</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Selain mengisahkan persoalan gender, perkawinan anak, dan berbagai isu sosial serius lainnya, film "Yuni" menunjukkan hubungan rumit antara remaja dan tujuan hidup. Apa jawaban Buddhis?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/review-buddhis-film-yuni/">Review Film Yuni (2021): Remaja Hilang Arah, Bisakah Triratna Menuntun?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/review-buddhis-film-yuni/">Review Film Yuni (2021): Remaja Hilang Arah, Bisakah Triratna Menuntun?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Selain mengisahkan persoalan gender, perkawinan anak, dan berbagai isu sosial serius lainnya, film Yuni menunjukkan hubungan rumit antara remaja dan tujuan hidup.</p>



<p>Semasa sekolah, kita terbiasa diatur, entah oleh sekolah, oleh orang tua dan kerabat, atau oleh lingkungan pertemanan kita. Tiba-tiba, ketika masa SMA hampir berakhir, kita dituntut membuat keputusan yang luar biasa besar. Mau kuliah, langsung kerja, atau menikah? Kalau kerja, mau kerja apa? Kalau kuliah, mau di mana, jurusan apa? Keputusan itu seolah-olah akan menentukan nasib kita seumur hidup.</p>



<h2 id="h-katanya-bebas-memilih-tapi">Katanya bebas memilih, tapi&#8230;</h2>



<p>Film “Yuni” menunjukkan dilema ini beserta segala kepelikannya dengan sangat apik. Yuni harus memilih, mau kuliah atau menikah? Orang-orang di sekitarnya menganggap menikah adalah kodrat, tidak peduli betapa banyak pernikahan usia dini dalam komunitas mereka yang kandas atau mengambang di atas kebohongan.&nbsp;</p>



<p>Orang tua Yuni mendukung Yuni untuk membuat keputusan sendiri, meraih kebahagiaannya sendiri. Namun, ketika Yuni mencari dukungan untuk melanjutkan pendidikan, mereka juga tak berani meyakinkan. Sang ibu lebih banyak mendengar kisah sarjana gagal. Ia pun balik bertanya, Yuni sendiri mau jadi apa?</p>



<p>Yuni pun tak bisa menjawab. Sebenarnya dia tahu dia mau jadi apa. Ia ingin bermusik. Namun, mungkin baginya kehidupan dan keyakinan orang-orang di sekitarnya lebih nyata daripada informasi di internet. Cita-citanya adalah jalan yang belum pernah ditempuh oleh siapapun yang ia kenal. Ia tidak pernah menemukan peta yang bisa mengantarkannya meraih cita-cita itu. Alhasil, alih-alih hidup dengan tujuan yang jelas dan melangkah dengan pasti, Yuni berulang kali membuat keputusan atas dasar desakan keadaan. Setiap keputusan itu pun saling menjegal sehingga ia makin jauh dari apa yang ia impikan.</p>



<h2>Stereotipe generasi &amp; krisis tujuan</h2>



<p>Remaja seusia Yuni seringkali dituding labil, suram, tujuan hidup tak jelas. Label-label seperti &#8220;generasi Z&#8221;, &#8220;generasi alpha&#8221;, dan sebagainya membuat kita tanpa sadar menggeneralisasi sekelompok besar manusia yang punya beragam latar belakang, beragam sifat, dan beragam cara memaknai kehidupan. Ketika mereka bertindak impulsif dan tidak bisa menjalani hidup yang terencana (sesuai standar kita), kita menguliahi mereka dengan ucapan, “Kalian harusnya begini, kalian harusnya begitu, nanti kalau sudah kerja, kalian akan rasakan sendiri, bla… bla…, bla…” tanpa berusaha memahami apa yang sebenarnya membuat mereka tersesat dan kebingungan.</p>



<p>Parahnya lagi, bisa jadi kita yang sudah lebih tua&#8211;sudah kuliah, bekerja, ataupun berkeluarga&#8211;ternyata sama tersesatnya dengan mereka!</p>



<p>Krisis tujuan hidup tidak berakhir di penghujung bangku sekolah. Tuntutan untuk segera memutuskan membuat krisis itu tertunda. Krisis itu pun kembali menghantam di usia 20-30-an dalam bentuk <em>quarter life crisis</em> dengan gejala beragam: kehilangan semangat, kecemasan, keragu-raguan, kesepian, dan sebagainya. Kita kira tujuan hidup kita jelas: ada yang ingin menjalani profesi tertentu, mencapai jenjang karir tertentu, ingin berkeluarga, ingin punya properti, dan sebagainya. Namun, saat kita mulai berjuang untuk meraihnya, kita menemukan bahwa ketidakpastian dunia ternyata lebih kuat dibanding usaha kita. Atau kalaupun kita “menang” melawan keadaan, setelah berhasil mencapai tujuan-tujuan itu, kita merasa hampa.</p>



<p>Sama seperti Yuni yang kesulitan menjadi musisi karena tidak tahu jalannya, kita juga kesulitan bahagia karena tidak tahu jalannya.</p>



<p>Namun, berbeda dengan Yuni yang tidak punya teladan ataupun panduan untuk jadi musisi, kita masih punya teladan dan panduan untuk menjadi bahagia. Kita bahkan punya teman yang bisa mendampingi kita, yang berjuang bersama kita untuk meraih kebahagiaan itu.</p>



<h2>Kita punya Triratna</h2>



<p>Buddha dan para guru Dharma adalah teladan yang sudah berhasil meraih kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang mereka raih tidak akan berkurang ketika sudah tercapai atau dihantam badai. Kebahagiaan yang mereka raih melampaui jenjang karir apapun, melampaui harta sebanyak apapun, dan merangkul bukan hanya pasangan hidup, beberapa anak, dan kerabat, tapi semua makhluk.&nbsp;</p>



<p>Dharma adalah panduan meraih kebahagiaan yang terbukti manjur. Langkah-langkahnya jelas. Bahkan ada <a href="https://lamrimnesia.org/apa-itu-lamrim/outline-lamrim/">peta Dharma</a> dilengkapi dengan titik-titik persinggahan yang perlu kita singgahi satu demi satu sehingga jalan panjang menuju kebahagiaan sejati tak terasa begitu panjang. </p>



<p>Ketika kita masih di titik awal, tujuan pertama yang harus kita jangkau adalah kebahagiaan di kehidupan mendatang. Begitu sampai di sana, kita bisa melihat titik singgah selanjutnya, yaitu berakhirnya siklus tumimbal-lahir alias samsara. Ketika sampai di sana, jalan menuju penerangan sempurna terbentang di depan kita. Bahkan ada kendaraan ekspres Vajrayana yang bisa mengantarkan lebih cepat sampai tujuan asal punya ongkos bodhicita yang kokoh.</p>



<p>Terakhir, Film Yuni juga menunjukkan kebersamaan dengan teman-teman yang telah berbagi suka dan duka dengannya sebagai gambaran kebahagiaan. Sama halnya dengan Sangha–komunitas spiritual yang sama-sama mempraktikkan Dharma sang Buddha–yang merupakan <em>support system</em> kita selama mengarungi samsara. Ketika peran Buddha dan Dharma mulai melemah, teman-teman se-Dharmalah yang bisa menjadi pegangan bagi kita. Sangha adalah ruang aman yang menerima kita apa adanya, tanpa penghakiman, sambil menjaga kita untuk tetap menapaki jalan.</p>



<p>Baca juga: <a href="https://play.google.com/store/books/details/Gungthang_Rinpoche_III_TRISARANA?id=BFrxDwAAQBAJ&amp;hl=en_US">Trisarana, Gerbang Memasuki Ajaran</a></p>



<p>Jika kamu <em>relate</em> dengan kegalauan Yuni, merasa tersesat, kebingungan, cemas akan masa depan, atau meragukan jalan yang sedang kamu tempuh, ingatlah bahwa ada Triratna yang bisa selalu kamu andalkan.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/review-buddhis-film-yuni/">Review Film Yuni (2021): Remaja Hilang Arah, Bisakah Triratna Menuntun?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/review-buddhis-film-yuni/">Review Film Yuni (2021): Remaja Hilang Arah, Bisakah Triratna Menuntun?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Apr 2024 04:31:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Berlindung]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh cinta]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[Tiratana]]></category>
		<category><![CDATA[Tisarana]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9040</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sikap yang kita muncul saat sedang jatuh cinta itu sama seperti sikap yang harus kita timbulkan sewaktu kita berlindung (Tisarana) kepada Triratna. Triratna telah memiliki segala kualitas terunggul dan amat mahir menolong kita terbebas dari samsara. Hal ini seharusnya membuat kita kagum dan hormat kepada Triratna. Selanjutnya, kita juga seharusnya menjadi bersemangat setiap kali mengingat kualitas-kualitas agung Triratna beserta manfaat-manfaat yang kita peroleh dari melakukan Tisarana. Dengan demikian, seperti orang yang jatuh cinta, bukankah wajar apabila seharusnya kita juga ingin menyenangkan Triratna?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Selama kita hidup sebagai manusia, rasanya paling tidak kita pernah sekali merasakan jatuh cinta. Entah karena tingkah sang dambaan hati yang lucu, wajahnya yang rupawan, ataupun sekadar karena terlanjur nyaman. Meskipun terlihat bervariasi, namun jatuh cinta ini seringkali berawal dari <strong>kekaguman</strong> kita kepada seseorang. Lalu, ketika kita jatuh cinta pun rasa-rasanya kita jadi<strong> lebih ceria</strong> dalam menjalani hari. Kita juga jadi <strong>bersemangat</strong> setiap kali membicarakannya dan rela melakukan apapun agar dapat menyenangkannya.</p>



<p>Ternyata, setelah dipikir-pikir lagi, sikap yang kita muncul saat sedang jatuh cinta itu sama seperti sikap yang harus kita timbulkan sewaktu kita berlindung (Tisarana) kepada Triratna. Argumen ini bukan tanpa alasan, ya. Apabila kita renungkan dengan lebih mendalam, Triratna telah memiliki <strong>segala kualitas terunggul dan amat mahir menolong kita terbebas dari samsara.</strong> Hal ini seharusnya membuat kita<strong> kagum dan hormat </strong>kepada Triratna. Selanjutnya, kita juga seharusnya <strong>menjadi bersemangat </strong>setiap kali mengingat kualitas-kualitas agung Triratna beserta manfaat-manfaat yang kita peroleh dari melakukan Tisarana. Dengan demikian, seperti orang yang jatuh cinta, bukankah wajar apabila seharusnya kita juga ingin menyenangkan Triratna?</p>



<p>Salah satu cara untuk menyenangkan Triratna adalah dengan menjaga Tisarana melalui praktik sila-sila Tisarana yang penuh kesadaran dengan konsisten. Nah setelah sebelumnya terdapat penjelasan tentang sila-sila penghindaran, dalam kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas terkait sila-sila penguatan, yang merupakan kelanjutan dari sila-sila pribadi berdasarkan risalah Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan. Berikut adalah sila-sila penguatan Tisarana.</p>



<ol><li><strong>Menganggap Semua Bentuk yang Melambangkan Buddha sebagai Buddha yang Sebenarnya</strong><br>Seperti kita yang melihat foto orang yang kita sayangi sebagai bentuk yang nyata, berharap seolah-olah ia ada di hadapan kita saat ini, demikian juga dengan sila penguatan Tisarana yang pertama. Seseorang yang telah Tisarana kepada Buddha harus menganggap semua bentuk fisik yang melambangkan Buddha sebagai Buddha yang sebenarnya. Hal ini mencakup rupang yang rusak atau yang bentuknya kurang sempurna, maupun yang dibuat dari bahan yang kurang berkualitas.<br><br>Banyak dari kita yang lebih tertarik kepada rupang yang terbuat dari logam atau rupang yang berasal dari India karena lebih perlente dan seolah-olah lebih mampu untuk membangkitkan keyakinan. Di sisi lain, kita cenderung menghindari rupang yang terbuat dari tanah liat dan bahkan membuang rupang yang telah rusak dan hancur, karena dianggap kurang menarik dan hanya mampu untuk membangkitkan sedikit keyakinan. Padahal keyakinan adalah aspek internal yang seharusnya dibangkitkan oleh diri sendiri, bukan bergantung kepada bentuk dari objek eksternal. Terlebih lagi menurut Guru-Guru Lamrim terdahulu, tindakan membuang rupang dari rumah seseorang sama saja dengan membuang kebajikan itu sendiri.</li></ol>



<ol start="2"><li><strong>Menghormati Bahkan Satu Huruf Tulisan sebagai Permata Dharma</strong><br>Ketika kita mendapatkan <em>chat</em> via WhatsApp maupun kartu ucapan ulang tahun dari orang yang kita sayangi, pastinya kita akan memperhatikan pesan tersebut dengan penuh penghayatan, mulai dari kata per kata atau bahkan sampai memperhatikan huruf dan tanda bacanya dengan detail. Demikian juga dengan sila penguatan Tisarana yang kedua ini, yakni kita harus menghormati setiap huruf sebagai Permata Dharma. Mengapa? Sebabnya, tanpa satu huruf tersebut, kita tidak akan mungkin untuk belajar Dharma sama sekali.<br><br>Meskipun terdengar mudah, nyatanya kita akan sangat mudah menemukan pelanggaran sila ini dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kita mungkin sering meletakkan buku di lantai, melangkahi buku sewaktu terburu-buru, menggunakan ludah di tangan untuk membalik halaman buku yang lengket, dsb. Padahal, tindakan ini merupakan bentuk tindakan yang tidak menghormati Dharma. Dikatakan juga dalam buku ‘Pembebasan di Tangan Kita’ Jilid II, bahwa sikap tidak menghormati Dharma dan Guru Dharma merupakan penyebab seseorang untuk menjadi bodoh secara intelektual pada kehidupan-kehidupan yang akan datang.</li></ol>



<ol start="3"><li><strong>Menghormati Bahkan Sepotong Kain dari Jubah Seorang Biksu sebagai Permata Sangha</strong><br>Pada umumnya, kita pasti pernah mengajak orang yang kita sayangi untuk menghabiskan waktu bersama ke tempat-tempat yang kita anggap menarik. Uniknya, terkadang kita turut menyimpan berbagai memento untuk mengingat dan menghargai momen tersebut, seperti menyimpan tiket bioskop, foto, aksesoris, dsb. Barang-barang itu kemudian akan begitu kita hargai dan jaga dengan penuh. Nampaknya, hal ini mirip dengan sila penguatan Tisarana yang ketiga. <br><br>Pada sila ini, kita harus memperlakukan Sangha dengan sangat hormat. Tidak hanya kepada sosoknya semata, tetapi juga menghormati bahkan sepotong kain merah atau kuning dari jubah Sangha yang terjatuh ke tanah maupun potongan kain dengan warna yang menyerupai jubah Sangha. Mengapa demikian? Sebabnya, sila ini membantu kita untuk mengingat kembali dan menyadari perbedaan utama antara Sangha dengan umat awam, yaitu dalam aspek jumlah sila yang diambil. Tentunya, kita harus menghormati Sangha, karena Sangha telah berkomitmen untuk melatih diri dengan cara mengambil sila yang jauh lebih banyak daripada kita.</li></ol>



<p><strong>Penutup</strong><br>Meskipun terlihat sederhana, penerapan sila-sila Tisarana, khususnya sila-sila penguatan, dalam kehidupan sehari-hari ini tidak mudah, lho!! Setelah membaca penjelasan singkat di atas, mungkin juga akan timbul pertanyaan di dalam diri sendiri, seperti “Apakah kita mampu melaksanakan sila-sila Tisarana secara konsisten dengan kesadaran penuh? Apakah kita mampu mengeluarkan usaha dalam Tisarana sama besarnya atau bahkan lebih besar daripada saat kita berjuang mendapatkan cinta?”&nbsp;</p>



<p>Apabila memang dirasa belum mampu, janganlah berkecil hati. Sebagai langkah awal, kita dapat mulai melatih membiasakan diri menerapkan sila-sila penguatan Tisarana yang telah disebutkan sebelumnya setahap demi setahap. Perlu diingat juga bahwa selayaknya kita yang jatuh cinta (seperti di film-film), tidak semua ekspresi cinta perlu dibuktikan dalam bentuk yang mewah maupun meriah, justru hal-hal sederhana yang konsisten merupakan sebuah perwujudan cinta yang sesungguhnya dan tentunya lebih romantis, bukan?</p>



<p>Referensi:<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
