<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kebijaksanaan - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/kebijaksanaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Feb 2022 04:54:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>kebijaksanaan - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>LamTalk &#8211; Krisis Batin di Tengah Tren Metaverse &#038; NFT</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/02/10/lamtalk-krisis-batin-di-tengah-tren-metaverse-nft/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Feb 2022 04:54:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[kebijaksanaan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[mata pencaharian benar]]></category>
		<category><![CDATA[metaverse]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[NFT]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6792</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Seperti apa tren Metaverse dan NFT dari sudut pandang Buddhis? Perkembangan teknologi dibarengi hype masyarakat seperti ini adalah alarm bagi kita yang masih menjalani hidup asal hidup tanpa makna berarti.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/10/lamtalk-krisis-batin-di-tengah-tren-metaverse-nft/">LamTalk – Krisis Batin di Tengah Tren Metaverse & NFT</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/10/lamtalk-krisis-batin-di-tengah-tren-metaverse-nft/">LamTalk &#8211; Krisis Batin di Tengah Tren Metaverse &#038; NFT</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Belakangan ini netizen, terutama yang berasal dari kelas menengah, ramai membahas Metaverse dan NFT. Apalagi belum lama ini Indonesia dihebohkan oleh Ghozali, mahasiswa yang meraup milyaran rupiah dari menjual fotonya dalam bentuk NFT. Seolah-olah teknologi baru ini adalah cerminan masa depan yang tak terelakkan dan akan segera mengubah hidup kita secara drastis. Apakah ini baik atau buruk bagi hidup kita? Itulah yang dibahas oleh Stanley Khu, pemerhati antropologi dan kepala penerbit YPPLN, di Lamrimnesia Talk dengan tajuk “Ghozali Everywhere, NFT, dan Metaverse: Is This The Real Life?” tanggal 26 Januari 2022 lalu.</p>



<h4><strong>Bukan Soal Baik atau Buruk</strong></h4>



<p>Stanley membuka sesi dengan menyatakan bahwa sebagai Buddhis, kita tidak bisa menilai sesuatu sebagai sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Namun, kita bisa mengkaji manfaat dan kerugian dari sesuatu bagi diri kita dalam konteks kondisi masyarakat sekarang ini. Begitu pula dengan Metaverse dan kawan-kawannya, pertanyaannya bukan baik atau buruk, melainkan siap atau tidak siap.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Kebanyakan teks dan aliran spiritual menyebutkan bahwa ini adalah zaman kemerosotan. Bisa ditebak jumlah orang yang siap dan tidak siap itu 1:1000,” kata Stanley.</p></blockquote>



<h4><strong>Metaverse: Risiko Memperkokoh Ego</strong></h4>



<p>“Metaverse” merujuk pada teknologi yang memungkinkan kita beraktivitas dan berinteraksi secara langsung di dunia maya. Konon ini bisa menghilangkan batasan jarak dan mempermudah komunikasi antarmanusia. Namun, interaksi dunia maya ini membuat kita memiliki persona alias “diri” yang baru dan beragam. Stanley mencontohkan dirinya sendiri sehari-hari bisa punya kepribadian dan perilaku yang berbeda di Facebook, lalu lain lagi di Twitter. Hal ini bisa memperkokoh delusi kita bahwa ada “diri” yang berdiri sendiri. Dengan kata lain, ego kita semakin kuat.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Di zaman Buddha ‘diri’ ini cuma ada satu. Kita susah-payah diajarkan untuk menanggalkan konsep palsu tentang diri itu. Sekarang “diri”-nya semakin banyak,” ujar Stanley.</p></blockquote>



<p>Bahaya lain yang perlu diwaspadai adalah di dunia maya, kita terbiasa untuk “tidak mau susah”. Kalau tidak nyaman, kita tinggal <em>log out.</em> Ego kita pun semakin terlindungi. Di satu sisi, memang benar hubungan kita makin meluas, kita bisa berkomunikasi dengan banyak orang. Namun, perkembangan hubungan ini jadi tidak ideal karena kita berhenti belajar berkompromi. Belum lagi orang-orang yang bisa mengakses Metaverse sekarang masih terbatas pada kalangan menengah ke atas. Akibatnya, dunia kita akan menjadi semakin homogen. Bisa jadi kita akan makin sulit melihat dan memahami keanekaragaman yang ada di dunia ini.</p>



<p>Sekarang, yang kita perlu lakukan adalah mempersiapkan diri. Ketika berhadapan dengan tren baru seperti Metaverse ini, kita cenderung menilai berdasarkan naluri. Kita bisa dengan mudah melihat “apa yang kita rasa baik”&#8211;kemudahan komunikasi, peluang mata pencaharian, kesempatan menumpangi tren, dan sebagainya. Namun, apa yang sepintas kita kira baik tanpa dipikirkan lebih dalam cenderung bisa menjerumuskan.&nbsp;</p>



<p>Pada akhirnya, mau berhadapan dengan Metaverse atau apapun juga, kita butuh batin yang stabil, yang bisa menentukan prioritas perihal apa yang bermanfaat bagi batin kita dan orang banyak.&nbsp;</p>



<h4><strong>NFT &amp; Mata Pencaharian Benar</strong></h4>



<p>Pembahasan kemudian beralih ke NFT atau “Non-Fungible Token”, sebutan untuk “tanda kepemilikan” atas karya digital yang bisa diperjualbelikan menggunakan <em>cryptocurrency</em>. Konon ini adalah “investasi” model baru yang sangat menguntungkan. Buktinya, seorang mahasiswa berhasil mendapatkan kurang lebih dua miliar rupiah dari mengunggah swafotonya di sebuah platform NFT. Tergiur oleh iming-iming kaya instan, banyak orang ikut-ikutan dengan mengunggah gambar apapun yang mereka punya, mulai dari foto makanan sampai foto KTP.</p>



<p>Berkaitan dengan topik ini, Stanley mengajak kita untuk menilik khotbah Buddha seputar mata pencaharian benar yang tercatat dalam Majjhima Nikaya. Di sana tercantum bahwa salah satu bentuk mata pencaharian yang tidak benar adalah yang berdasarkan pada spekulasi akan masa depan yang tidak pasti. Memang samsara tidak bisa lepas dari ketidakpastian, tapi Stanley berpendapat bahwa “ketidakpastian” dalam hal mata pencaharian yang tidak benar ini adalah ketidakpastian yang lebih spesifik.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Orang-orang berusaha membenarkan dengan mengatakan Ghozali berhasil karena konsistensi (mengunggah foto), tapi mereka sendiri belum tentu percaya. Semua tahu bahwa faktor terbesarnya adalah kebetulan,” kata Stanley.</p></blockquote>



<p>Dunia NFT menawarkan peluang tak terbatas untuk “sukses”. Namun, saking luasnya kemungkinan itu, parameternya juga semakin tidak jelas, praktiknya pun semakin asal-asalan. Inilah bentuk ketidakpastian yang dimaksud dalam jenis mata pencaharian yang tidak benar. NFT mendorong orang untuk semakin meyakini “kepastian” dari ketidakpastian itu.&nbsp;</p>



<p>Karena tergiur oleh iming-iming keuntungan besar, seseorang bisa terdorong untuk menghabiskan waktu untuk coba-coba di dunia NFT. Kalau yang pertama gagal, dia akan coba hal lain karena peluang itu masih terus ada. Meski awalnya punya potensi untuk menjadi seniman, jurnalis, dokter, atau profesi lain, potensi itu gugur lantaran orang itu kehabisan waktu mengejar ketidakpastian dalam NFT.</p>



<p>Parahnya lagi, godaan peluang tanpa batas ini juga bisa membuat kita lupa akan makna bekerja yang sesungguhnya. Bukannya bekerja untuk bahagia, kita malah terpancing bekerja untuk kaya seperti Ghozali. Memang kita butuh uang untuk hidup, tapi uang tidak seharusnya menjadi tujuan hidup. Ibaratnya kita butuh sepatu untuk berlari, tapi kita berlari bukan untuk mendapatkan sepatu.</p>



<p>Sekali lagi, Stanley menekankan bahwa ini tidak berarti NFT itu buruk. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa wahana seperti ini bisa berbahaya. Kembali ke soal mata pencaharian benar, Stanley mengajak kita berpikir, apa yang membuat Buddha menyatakan suatu mata pencaharian itu benar? Mata pencaharian yang tidak benar itu cukup jelas, yaitu yang membahayakan pelakunya dan makhluk lain. Sebaliknya, berarti mata pencaharian yang benar adalah yang membuat kita bahagia. Kita pun perlu bertanya lebih lanjut pada diri kita, anggaplah NFT memang bisa mendatangkan uang, lalu mau diapakan? Apakah banyak uang saja cukup untuk bahagia?</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Apakah seniman boleh berjualan NFT? Boleh-boleh saja. Tapi saat <em>hype</em> semakin merajalela, kita perlu waspada dengan risikonya,” tegas Stanley.</p></blockquote>



<p>Sebagai penutup, Stanley menggarisbawahi pentingnya niat untuk menghadapi segala bentuk teknologi dan tren baru yang membanjiri hidup kita belakangan ini. Kita perlu mengenal diri kita dan bertanya pada diri kita sendiri: apa niat kita melakukan sesuatu? Apakah kita sudah menemukan cara membuat hidup kita bermakna bagi banyak makhluk, atau setidaknya bagi diri kita sendiri?<br></p>



<p><em>Lamrimnesia Talk: “Ghozali Everyday, NFT, dan Metaverse: Is This The Real Life” bisa disaksikan ulang di </em><a href="https://www.instagram.com/tv/CZWxkI4LxOm/?utm_medium=copy_link"><em>IG TV Lamrimnesia</em></a><em>.</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/10/lamtalk-krisis-batin-di-tengah-tren-metaverse-nft/">LamTalk – Krisis Batin di Tengah Tren Metaverse & NFT</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/10/lamtalk-krisis-batin-di-tengah-tren-metaverse-nft/">LamTalk &#8211; Krisis Batin di Tengah Tren Metaverse &#038; NFT</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dalai Lama kepada Pelajar Indonesia: “Gabungkan Kebijaksanaan dan Welas Asih”</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dalai-lama-ndbf/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2021 14:55:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Dalai Lama]]></category>
		<category><![CDATA[kebijaksanaan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[NDBF 3.0]]></category>
		<category><![CDATA[Nusantara Dharma Book Festival 3.0]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6183</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalai Lama memberikan solusi untuk kegalauan generasi muda Indonesia, yaitu welas asih &#038; kebijaksanaan di NDBF 3.0</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dalai-lama-ndbf/">Dalai Lama kepada Pelajar Indonesia: “Gabungkan Kebijaksanaan dan Welas Asih”</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dalai-lama-ndbf/">Dalai Lama kepada Pelajar Indonesia: “Gabungkan Kebijaksanaan dan Welas Asih”</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Rabu, 11 Agustus 2021 – Penerima Nobel Perdamaian 1989 Yang Maha Suci Dalai Lama XIV menjawab pertanyaan pelajar Indonesia tentang cara mengatasi kecemasan dan emosi negatif dalam acara daring “Grand Buddha Goes to School – Heart to Heart Conversation with His Holiness Dalai Lama XIV”.&nbsp;</p>



<p>Beliau “berkunjung” atas undangan Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN/Lamrimnesia) yang bekerja sama dengan komunitas Buddhis Kadam Choeling Indonesia (KCI) untuk berbagi wawasan kepada generasi muda di Indonesia tentang Jataka Mala, karya sastra Buddhis klasik yang terukir di Candi Borobudur.</p>



<p>Acara yang dimulai pukul 10.30 WIB ini dihadiri sekitar 1000 pelajar dari 60 sekolah, universitas, dan organisasi via aplikasi Zoom serta disaksikan lebih dari 2000 penonton umum di Indonesia via situs dan Youtube Lamrimnesia, termasuk perwakilan Y.M. Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera dari Sangha Theravada Indonesia dan Tim Staf Khusus Presiden RI. </p>



<p>Acara ini juga disiarkan dalam 16 bahasa kepada lebih dari 30.000 peserta mancanegara via media sosial resmi Dalai Lama. Acara dimoderatori oleh penulis dan musisi Dewi Lestari. Aktor Morgan Oey juga hadir dan memimpin persembahan mandala untuk memohon pengajaran Dharma.</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV kemudian memberikan pemaparan singkat mengenai nilai-nilai Buddhis secara umum, dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan dari pelajar Indonesia yang mencakup beragam topik seperti pandemi, sejarah dan budaya, toleransi dalam beragama, hingga kecemasan yang umum dialami remaja.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1024" height="576" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-6191" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-1024x576.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-600x338.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-300x169.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-768x432.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-150x84.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-450x253.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3-1200x675.jpg 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/3.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h4><strong>Keharmonisan dalam Beragama</strong></h4>



<p>“Salah satu komitmen saya adalah mendukung keharmonisan beragama,” tutur Y.M.S. Dalai Lama XIV saat membuka sesi, “Semua agama mengandung pesan yang sama, yaitu cinta kasih dan kebaikan hati.”</p>



<p>Dalam penjelasan pembuka, Y.M.S. Dalai Lama XIV secara khusus mengajak umat Buddha di Indonesia untuk aktif mempromosikan semangat persatuan umat manusia dan keharmonisan dalam beragama.&nbsp;</p>



<p>Sehubungan dengan topik ini, Beltran Dano (20) dari Bandung bertanya di sesi tanya-jawab tentang cara umat Buddha yang merupakan minoritas di Indonesia menghadapi tekanan kelompok intoleran dari agama mayoritas. Y.M.S. Dalai Lama XIV mengatakan bahwa umat Buddha memiliki kesempatan yang sangat baik untuk belajar mengembangkan welas asih dan membagikan nilai kebaikan universal dari Buddhadharma kepada orang lain.</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV mencontohkan sahabat-sahabatnya yang bukan Buddhis bisa mendapatkan manfaat dari Buddhisme. Buddhadharma memang mengambil pandangan ilmiah tentang pikiran dan emosi. Tradisi Nalanda secara khusus memuat metode mengurangi emosi negatif dan meningkatkan emosi positif sehingga kita bisa meraih kesehatan batin dan lebih bahagia. Ini bisa bermanfaat bagi siapapun yang tertarik untuk mempelajarinya tanpa perlu membuat komitmen keagamaan. Jadi, sebagai umat Buddha, kita bisa membagikan hal ini dengan saudara-saudara kita yang beragama lain untuk turut menciptakan dunia yang lebih damai.</p>



<p>“Dengan pengetahuan mendalam dipadukan dengan cinta kasih dan welas asih, anda akan mencapai kemajuan dan bisa berbagi dengan saudara sebangsa. Dengan begitu Anda bisa membangun keharmonisan,” pesan Y.M.S. Dalai Lama XIV.</p>



<p><em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/bertuhan-beragama-dan-hal-hal-lain-yang-belum-selesai/">Jelajahi nilai mendasar dalam Buddhisme biar kamu bisa berbagi!</a></em></p>



<h4><strong>Menghadapi Kecemasan Generasi Muda</strong></h4>



<p>Langit Jingga (17) dari Bali bertanya dalam bahasa Tibet tentang cara membantu orang-orang yang merasa cemas dan takut akibat pandemi. Menjawab pertanyaan ini, Y.M.S. Dalai Lama XIV mengingatkan kita tentang ketidakkekalan, bahwa pandemi maupun berbagai permasalahan lain yang sedang terjadi di dunia ini suatu saat akan berakhir. Oleh karena itu, apapun yang terjadi, kita tidak boleh berputus asa dan harus mempertahankan harapan.</p>



<p>“Kalau sampai putus asa, maka di sanalah letak kegagalan yang sebenarnya,” tegas Beliau.</p>



<p>Pertanyaan lain yang sangat relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini datang dari Keenan Avalokita (17). Keenan bertanya tentang cara menyeimbangkan antara menjadi diri sendiri dan berusaha diterima orang lain. Baginya, ini adalah dilema yang bisa membuat dirinya murung dan dicap negatif oleh orang-orang di sekitarnya.</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV menanggapi pertanyaan ini dengan menceritakan sedikit sejarah Tibet dan pengalaman Beliau sendiri sebagai pengungsi dari Tibet yang harus pindah ke negara baru. Beliau mengatakan bahwa selama kita menggunakan kebijaksanaan dan memiliki hati yang penuh welas asih, kita tidak perlu ragu mempertahankan nilai-nilai yang kita anut. Walaupun awalnya orang-orang di sekitar kita memiliki pandangan lain, lama-kelamaan mereka pasti bisa memahami kita dan bahkan mendukung nilai-nilai tersebut.</p>



<p>“Kami orang Tibet adalah orang-orang yang teguh dan berani,” ujar Beliau, “tetapi itu tidak berarti kami menggunakan kekerasan. Semangat Tibet kami adalah keteguhan dan welas asih, kualitas-kualitas yang telah menarik kekaguman bahkan di antara beberapa orang Cina.”</p>



<p><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/latihan-batin-laksana-sinar-mentari/"><em>Ubah kegalauanmu menjadi keberanian &amp; welas asih dengan buku ini.</em></a></p>



<h4><strong>Candi Borobudur dan Candi di Hati Kita</strong></h4>



<p>Indivara Chaesa Putri (16) bertanya kepada Y.M.S. Dalai Lama XIV tentang cara melestarikan Candi Borubudur dan kapan Beliau bisa berkunjung ke sana.&nbsp;</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV mengatakan bahwa Candi Borobudur adalah candi luar biasa. Candi ini memuat ajaran berdasarkan tradisi yang sama dengan yang Beliau anut, yaitu Tradisi Nalanda. Namun, penting bagi kita untuk mengisi “candi” yang ada di dalam diri kita, yaitu batin, dengan cinta kasih dan welas asih. Jika “candi” dalam diri kiri kita kosong, maka candi semegah Borobudur pun juga menjadi candi kosong yang tak bernilai.</p>



<p><em><a href="https://lamrimnesia.org/2021/04/30/memaknai-borobudur-dengan-keyakinan/">Baca juga: &#8220;Memaknai Borobudur dengan Keyakinan&#8221;</a></em></p>



<h4><strong>Praktik Dharma Dulu dan Kini</strong></h4>



<p>Pertanyaan menarik lainnya datang dari Reyhans Luthfi Hudoyo (19), mahasiswa STABN Sriwijaya Tangerang. Reyhans membandingkan kondisi kita saat ini dengan orang-orang di zaman Sang Buddha yang tampaknya begitu mudah meraih tingkat kesucian hanya dengan sekali mendengarkan pengajaran Dharma, lalu meminta nasihat dari Y.M.S. Dalai Lama XIV tentang cara melatih batin di masa kini.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6193" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-scaled-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2021/08/16-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV menyatakan bahwa Beliau tidak percaya bahwa tingkat kesucian bisa diraih tanpa upaya. Bahkan Pangeran Siddhartha pun harus berjuang keras selama 6 tahun, baru bisa meraih penerangan sempurna.&nbsp;</p>



<p>Beliau kemudian mengajarkan cara praktik Dharma untuk melatih batin di masa kini yang juga menjawab pertanyaan-pertanyaan berikutnya seputar mengelola ekspektasi dan meraih kedamaian batin di tengah semakin banyaknya distraksi akibat perkembangan zaman.</p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV menjelaskan bahwa murid-murid Sang Buddha mulai dari belajar atau mendengarkan pengajaran Dharma, merenungkannya untuk meningkatkan pemahaman, lalu memeditasikannya dengan menerapan <em>samatha&nbsp; </em>(kestabilan batin) dan <em>wipashyana </em>(pandangan mendalam) dalam perenungannya. Dari situ, barulah batin mereka berubah secara mendalam.</p>



<p>Lebih lanjut, Y.M.S. Dalai Lama XIV menjelaskan bahwa sebab penderitaan kita adalah sikap mementingkan sendiri. Ini bisa diatasi dengan memeditasikan kesalingbergantungan yang bisa dipelajari melalui filsafat Madhyamika. Beliau kemudian memberi “tips” melatih batin. Pertama, kita perlu mengendalikan diri agar tidak gampang terseret oleh kesadaran indra. Dari situ, kita bisa melatih kestabilan batin.&nbsp;</p>



<p>Dengan batin yang stabil, kita bisa menggunakan kecerdasan untuk mengamati diri kita sendiri dan mempertanyakan di mana letaknya “aku”. Semakin banyak kita belajar dan berlatih, kita akan bisa melihat kebenaran, bahwa tidak ada “aku” yang berdiri sendiri yang selama ini menjadi akar dari semua emosi negatif seperti kemelekatan dan kecemburuan yang membuat kita menderita.</p>



<p>“Berlandaskan pada aktivitas belajar, setelah belajar kita berdoa, dan mengembangkan kapasitas pribadi kita hingga maksimal, kita semua memiliki kemungkinan untuk mencapai Kebuddhaan,” terang Y.M.S. Dalai Lama XIV</p>



<p><em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product-category/toko-buku-online/buddhis/lamrim/">Mulai praktik belajar, merenung, dan meditasimu dengan panduan lengkap ini.</a></em></p>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV juga mengutip tiga ayat dari &#8216;Memasuki Jalan Tengah&#8217; (Madhyamakavatara) karya Chandrakirti berkenaan dengan proses melatih batin dengan Dharma yang telah Beliau jelaskan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Diterangi oleh berkas-berkas cahaya kebijaksanaan,</em><br><em>Bodhisatwa melihatnya sejelas buah amalaki di telapak tangan yang terbuka,</em><br><em>Bahwa ketiga alam di keseluruhannya tidak terlahirkan sejak dari awalnya,Dan melalui kekuatan kebenaran konvensional, ia menempuh perjalanan menuju penghentian.</em><br><br><em>Walau batinnya mampu menetap terus-menerus dalam penghentian,</em><br><em>Beliau juga membangkitkan welas asih untuk para makhluk yang tak memiliki perlindungan,</em><br><em>Melaju maju lebih jauh lagi, Beliau juga bersinar cemerlang melalui kebijaksanaannya,</em><br><em>Semua yang lahir dari ucapan Buddha dan Buddha-Buddha menengah.</em><br><br><em>Laksana para raja angsa menjulang ke depan melampaui angsa-angsa ahli lainnya,</em><br><em>Dengan sayap-sayap putih kebenaran konvensional dan tertinggi yang berkembang lebar,</em><br><em>Didorong oleh kekuatan angin-angin kebajikan, Bodhisatwa akan menyeberangi</em><br><em>Hingga pantai seberang yang unggul, samudra kualitas-kualitas Para Penakluk.”</em></p><cite>&#8220;Memasuki Jalan Tengah&#8221; (<em>Madhyamakavatara</em>) &#8211; Arya Chandrakirti</cite></blockquote>



<p><strong>Pentingnya Bodhicita, Kunci Kebahagiaan Warisan Nusantara</strong></p>



<p>Sebelum mengakhiri sesi, Y.M.S. Dalai Lama XIV mengajak peserta melakukan meditasi welas asih bersama-sama. Beliau kemudian memberikan penjelasan tentang pentingnya bodhicita yang bisa didefinisikan sebagai sikap altruistik yang mementingkan makhluk lain. Bodhicita ini penting bagi kita untuk mengumpulkan kebajikan dan sikap positif. Dengan bodhicita, barulah kita bisa memenuhi tujuan diri kita sendiri dan semua makhluk.</p>



<p>“Kisah luar biasa dalam Jataka muncul dari bodhicita. Dengan bodhicita, kita bisa mengumpulkan kebajikan luar biasa. Dari kebajikan luar biasa, kita bisa menghimpun kebijaksanaan luar biasa. Dari kebajikan dan kebijaksanaan ini, Kebuddhaan bisa dicapai,” terang Y.M.S. Dalai Lama XIV.</p>



<p>Bodhicita inilah yang menggerakkan Bodhisatwa untuk melakukan berbagai aktivitas untuk menolong orang lain dan membangkitkan tekad untuk mencapai Kebuddhaan. Ini sejalan dengan nasihat dari Arya Shantidewa dalam karyanya, “Lakon Hidup Sang Penerang” (Bodhisatwa-caryawatara):</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Seseorang yang tak menukar kebahagiaannya dengan penderitaan makhluk lain pastinya tak akan meraih Kebuddhaan. Bagaimana ia bisa meraih kebahagiaan dalam samsara?</em><br><br><em>Dengan menaiki kereta perang bodhicita, yang menghalau semua perasaan putus asa dan letih, orang berakal mana yang akan patah semangat selagi ia melaju melewati kegembiraan demi kegembiraan?”</em></p><cite>&#8220;Lakon Hidup Sang Penerang&#8221; <em>(Bodhisatwa-caryawatara)</em> &#8211; Arya Shantidewa</cite></blockquote>



<p>Y.M.S. Dalai Lama XIV kemudian kembali memberikan tips yang bisa kita terapkan: ketika kita sudah bertekad untuk membantu makhluk lain, melayani makhluk lain, kita bisa membangkitkan tekad seperti Arya Shantidewa:&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>“Selama angkasa masih ada,&nbsp;</em><br><em>dan selama semua makhluk masih ada,&nbsp;</em><br><em>semoga saya bisa menetap di dunia ini&nbsp;</em><br><em>untuk mengatasi penderitaan semua makhluk.”&nbsp;</em></p><cite>&#8220;Lakon Hidup Sang Penerang&#8221; (<em>Bodhisatwa-caryawatara</em>) &#8211; Arya Shantidewa</cite></blockquote>



<p>Saat mengakhiri sesi, Y.M.S. Dalai Lama memberitahu kita semua bahwa instruksi tentang bodhicita ini merupakan ajaran dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti (B. Tibet: Lama Serlingpa), guru Dharma asal Nusantara yang hidup pada abad X. Guru Atisha Dipamkara, pandit besar dari India yang belakangan mereformasi Buddhadharma di Tibet, secara khusus berlayar ke Indonesia untuk mempelajari ajaran ini dari Guru Suwarnadwipa.</p>



<p><em><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/untaian-kelahiran-yang-berharga/">Yuk kenalan dengan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti!</a></em></p>



<p><strong>Pembuka Festival Buku Dharma</strong></p>



<p>“Grand Buddha Goes to School – Heart to Heart Conversation with His Holiness Dalai Lama XIV” merupakan acara pembuka dari rangkaian Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 3.0 yang diselenggarakan oleh Lamrimnesia. Dengan tema khusus “Membaca untuk Meningkatkan Ketangguhan Mental di Kala Pandemi”, NDBF 3.0 menghadirkan bazar buku, seminar, bedah buku, dan <em>workshop </em>yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca generasi muda Indonesia. Seluruh acara diselenggarakan secara daring di situs NDBF &amp; media sosial Lamrimnesia.</p>



<p>&#8212;</p>



<p>“Grand Buddha Goes to School: Heart to Heart Conversation with His Holiness Dalai Lama XIV” adalah acara pertama dalam rangkaian Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 3.0.</p>



<p>Ikuti bazar buku, seminar, bedah buku, dan <em>workshop </em>istimewa lainnya di NDBF 3.0 yang pastinya tak kalah inspiratif dan bisa meningkatkan ketangguhan batinmu di kala pandemi.</p>



<p>Kunjungi <a href="http://ndbf.lamrimnesia.com">ndbf.lamrimnesia.com</a> &amp; ikuti media sosial Lamrimnesia untuk mendapatkan informasi &amp; kabar terbaru seputar NDBF 3.0!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dalai-lama-ndbf/">Dalai Lama kepada Pelajar Indonesia: “Gabungkan Kebijaksanaan dan Welas Asih”</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/12/dalai-lama-ndbf/">Dalai Lama kepada Pelajar Indonesia: “Gabungkan Kebijaksanaan dan Welas Asih”</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
