<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>karma membunuh - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/karma-membunuh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Mar 2020 04:27:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>karma membunuh - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jalan Karma: Suka Makan Seafood Kepiting, Apakah Termasuk Karma Membunuh?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/02/03/jalan-karma-suka-makan-seafood-kepiting-apakah-termasuk-karma-membunuh/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Feb 2020 05:43:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[ILIB]]></category>
		<category><![CDATA[itslamrimitsbuddhism]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[karma membunuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4766</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sebagai umat Buddha, dulu saya suka bertanya dalam hati. “Kalau makan kepiting fresh itu termasuk membunuh, nggak, ya? Boleh nggak, ya? Apalagi kepiting kan enak itu…” Pada akhirnya pertanyaan itu tidak keluar dari mulut saya. Pertama karena saya takut jawabannya ‘tidak boleh’, jadi lebih baik saya nyaman saja dengan status quo, akhirnya malas mencari tahu. [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/02/03/jalan-karma-suka-makan-seafood-kepiting-apakah-termasuk-karma-membunuh/">Jalan Karma: Suka Makan Seafood Kepiting, Apakah Termasuk Karma Membunuh?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/02/03/jalan-karma-suka-makan-seafood-kepiting-apakah-termasuk-karma-membunuh/">Jalan Karma: Suka Makan Seafood Kepiting, Apakah Termasuk Karma Membunuh?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1024" height="490" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/02/WEB-BANNER-MEMBUNUH-01-1-1024x490.png" alt="" class="wp-image-4768" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/02/WEB-BANNER-MEMBUNUH-01-1-1024x490.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/02/WEB-BANNER-MEMBUNUH-01-1-600x287.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/02/WEB-BANNER-MEMBUNUH-01-1-300x144.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/02/WEB-BANNER-MEMBUNUH-01-1-768x368.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/02/WEB-BANNER-MEMBUNUH-01-1-1536x735.png 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/02/WEB-BANNER-MEMBUNUH-01-1-2048x980.png 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/02/WEB-BANNER-MEMBUNUH-01-1-150x72.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/02/WEB-BANNER-MEMBUNUH-01-1-450x215.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/02/WEB-BANNER-MEMBUNUH-01-1-1200x574.png 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/02/WEB-BANNER-MEMBUNUH-01-1-1078x516.png 1078w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2020/02/WEB-BANNER-MEMBUNUH-01-1-702x336.png 702w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Sebagai umat Buddha, dulu saya suka
bertanya dalam hati. “Kalau makan kepiting<em> fresh</em> itu termasuk membunuh, nggak,
ya? Boleh nggak, ya? Apalagi kepiting kan enak itu…” </p>



<p>Pada akhirnya pertanyaan itu tidak keluar
dari mulut saya. Pertama karena saya takut jawabannya ‘tidak boleh’, jadi lebih
baik saya nyaman saja dengan status quo, akhirnya malas mencari tahu. Kedua
karena saya takut mengundang kontroversi di kalangan umat Buddha. Saya juga
sering berdalih bahwa praktik Dharma seperti melatih sila (tidak membunuh) ini
harus bijaksana juga, harus fleksibel, harus menyesuaikan dengan kondisi, dsb.,
tapi setelah saya belajar lebih jauh, sepertinya pandangan seperti ini hanya
bentuk mekanisme pertahanan pemikiran saya saja. Sebenarnya Dharma sudah banyak
memberikan jawaban jika kita ingin menggalinya lebih jauh. Jadi, pada
kesempatan ini saya akan membahas pertanyaan di atas dengan gamblang.</p>



<p>Definisi membunuh sendiri adalah mengambil nyawa
makhluk lain. Membunuh adalah satu dari sepuluh karma hitam yang bisa
menyebabkan akibat buruk. Suatu aksi membunuh menjadi karma yang lengkap ketika
memenuhi kriteria tertentu. Apa saja hal-hal yang menjadi unsur yang membuat
suatu jalan karma membunuh menjadi lengkap? Dikatakan dalam ulasan-ulasan
Lamrim bahwa jalan karma hitam membunuh yang lengkap haruslah mengandung
keempat unsur di bawah ini. Jika salah satu unsurnya tidak lengkap, maka itu
bukan jalan karma membunuh yang lengkap, tapi masih akan mendatangkan akibat
dari karma yang tak lengkap.</p>



<ol><li>Basis: semua makhluk hidup.
selain diri sendiri. Dikatakan pada <em>Yoga-carya-bhumi </em>karya Arya Asanga
bahwa bunuh diri tidak termasuk jalan karma membunuh yang lengkap.</li></ol>



<ol start="2"><li>Dasar pemikiran, terbagi 3:</li></ol>



<ul><li>Identifikasi: objek yang dibunuh sudah tepat, tidak salah target. Dijelaskan bahwa persepsinya harus tepat, jadi misalnya kita ingin membunuh kucing hitam, tapi ternyata yang terbunuh adalah kucing putih, maka jalan karmanya tidak lengkap.</li><li> Motivasi: motivasinya adalah niat untuk membunuh atau menghabisi nyawa objek yang dituju oleh pikiran kita. </li><li> Klesha: didasari 3 kekotoran batin yaitu kemelekatan, kebencian, atau kegelapan batin. Satu kasus membunuh bisa melibatkan satu, dua, atau bahkan sekaligus tiga klesha. </li></ul>



<ol start="3"><li>Tindakan: tindakan membunuh itu sendiri, bisa dilakukan dengan tangan sendiri atau melalui orang lain. Di dalam kitab dicontohkan bila seorang jendral perang memerintahkan pasukan untuk membunuh pasukan musuh, maka jendral tersebut melakukan pembunuhan sebanyak musuh yang dibunuh oleh prajurit-prajurit bawahannya. </li></ol>



<p>Ada penjelasan bahwa jika seseorang melakukan pembunuhan karena terpaksa, maka jalan karma membunuhnya tidak lengkap. Contohnya adalah membasmi rayap karena akan membahayakan penghuni rumah, atau misalnya seorang prajurit yang diperintahkan membunuh musuh meski dia tidak benar-benar ingin membunuh. Dalam kasus-kasus tersebut, jalan karma membunuhnya tidak lengkap karena tidak ada motivasi dan klesha yang mendasari.</p>



<p>Bagian ini bisa menjawab pertanyaan kita tentang memesan <em>seafood</em> segar di restoran yang baru membunuh hewan yang akan dimasak ketika kita pesan. Ketika kita memesan menu di restoran tersebut, kita menjadi penentu nasib si ikan/udang/kepiting. Pesanan kita adalah ‘perintah’ bagi pihak restoran untuk membunuh. Jadi, meski kita tidak melakukannya secara langsung, kita telah melakukan tindakan membunuh. </p>



<ol start="4"><li> Penyelesaian: makhluk hidup tersebut mati sebagai hasil dari tindakankita. Dalam penjelasan dari Abhidhamma-kosa karangan Vasubandhu, ditambahkan pula bahwa makhluk objek pembunuhan harus mati dulu sebelum subjek yang membunuh agar jalan karmanya lengkap. Jika si pelaku mati duluan, maka jalan karmanya tidak lengkap. </li></ol>



<p>Jadi kalau suka makan kepiting segar itu
membunuh bukan? Berdasarkan pengalaman saya, kecuali kepiting kemasan atau
impor yang sudah dibekukan, biasanya kepiting biasanya akan disajikan <em>fresh</em>
dan baru dibunuh pada saat dipesan. Kalau coba diceklis dari 4 unsur di atas,
apa memenuhi? Berikut penjabarannya:</p>



<ol><li>Basis: kepiting hidup <strong>V</strong></li><li>Pemikiran: <strong>V</strong><ul><li>Identifikasi: kita memilih kepiting yang mau dimakan  <strong>V</strong></li><li>Motivasi: kita mau makan kepiting itu, berarti kita mau kepiting itu mati agar bisa dimakan. <strong>V</strong></li><li>Klesha: keinginan untuk makan yang enak termasuk kemelekatan. <strong>V</strong></li></ul></li><li>Tindakan: pesanan kita adalah ‘perintah’ bagi koki untuk membunuh kepiting.  <strong>V</strong></li><li>Penyelesaian: kepiting mati dan kita menyantapnya, nyam-nyam enak… <strong>V</strong></li></ol>



<p>Jadi jawabannya: iya, pesan kepiting segar
di restoran adalah jalan karma membunuh lengkap. </p>



<p>Akibat dari jalan karma yang lengkap adalah kita mendapatkan 3 akibat sekaligus dari perbuatan karma ini yaitu: karma yang matang sepenuhnya, serupa dengan penyebabnya, dan karma yang menentukan lingkungan, seperti pembahasan sebelumnya di <a href="https://lamrimnesia.org/2020/01/28/sering-sakit-sakitan-jangan-jangan-kamu-masih-sering-melakukan-hal-ini/">sini</a>.</p>



<p>Jadi gimana dong kalo masih suka kepiting? Masalahnya
bukan di kepitingnya, bro, tapi di perbuatan membunuhnya. Sang Buddha menaruh
pembunuhan sebagai sila pertama karena akibat karmanya yang paling berat
dibandingkan karma-karma yang lain. Lebih baik menahan nafsu sedikit sekarang
dibandingkan harus menerima akibatnya kemudian kan? </p>



<p>Kembali lagi, Buddha mengajarkan praktik
sila sebagai sebuah latihan yang dilakukan setahap demi setahap. Hal ini
mungkin memang rawan menjadi ‘alasan’ untuk menuruti klesha seperti dilema yang
sudah disebutkan di awal. Namun, kita baru saja maju selangkah dalam latihan
kita. Dari yang awalnya tidak mau mencari tahu tentang karma makan kepiting
agar bisa terus makan tanpa rasa bersalah, sekarang kita sudah membedah
tindakan ‘makan kepiting segar’ sesuai dengan konsep karma lengkap sehingga
kita tahu bahwa tindakan tersebut tidak hanya menyakiti kepiting, tapi juga
akan mendatangkan akibat yang tidak menyenangkan bagi kita yang melakukannya.
Kita sudah maju satu langkah. Semoga dari sini kita dapat terus mengambil
langkah-langkah berikutnya hingga bisa menyempurnakan praktik kita!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/02/03/jalan-karma-suka-makan-seafood-kepiting-apakah-termasuk-karma-membunuh/">Jalan Karma: Suka Makan Seafood Kepiting, Apakah Termasuk Karma Membunuh?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/02/03/jalan-karma-suka-makan-seafood-kepiting-apakah-termasuk-karma-membunuh/">Jalan Karma: Suka Makan Seafood Kepiting, Apakah Termasuk Karma Membunuh?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sering Sakit-sakitan? Jangan-jangan Kamu masih Sering Melakukan Hal ini</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/01/28/sering-sakit-sakitan-jangan-jangan-kamu-masih-sering-melakukan-hal-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Jan 2020 09:11:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[ILIB]]></category>
		<category><![CDATA[itslamrimitsbuddhism]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[karma membunuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4716</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Semua orang pastinya ingin sehat dan panjang umur. Berbagai cara dilakukan mulai dari olah raga, menjaga makan, minum vitamin, dan menjaga kebersihan. Hal-hal ini mungkin tidak berasa bagi kamu-kamu yang masih muda, tapi coba lihat deh orang tuamu, mereka sangat peduli dengan tubuh mereka yang semakin hari semakin menua, yang sudah tidak sebugar saat mereka [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/01/28/sering-sakit-sakitan-jangan-jangan-kamu-masih-sering-melakukan-hal-ini/">Sering Sakit-sakitan? Jangan-jangan Kamu masih Sering Melakukan Hal ini</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/01/28/sering-sakit-sakitan-jangan-jangan-kamu-masih-sering-melakukan-hal-ini/">Sering Sakit-sakitan? Jangan-jangan Kamu masih Sering Melakukan Hal ini</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Semua orang pastinya ingin sehat dan panjang umur. Berbagai cara dilakukan mulai dari olah raga, menjaga makan, minum vitamin, dan menjaga kebersihan. Hal-hal ini mungkin tidak berasa bagi kamu-kamu yang masih muda, tapi coba lihat deh orang tuamu, mereka sangat peduli dengan tubuh mereka yang semakin hari semakin menua, yang sudah tidak sebugar saat mereka muda dulu. Saat kita semua sibuk menjaga tubuh kita agar sehat, seringkali kita menjadi lupa bahwa menurut Buddhis, tubuh yang sehat, tidak mudah sakit, dan panjang umur merupakan suatu akibat dari perbuatan kita sebelumnya. Ini adalah hukum karma.</p>



<p>Bagi kamu yang belajar Buddhadharma, pastinya sudah tahu bahwa kesehatan dan panjang umur seseorang ditentukan oleh karma masa lampau, yaitu menghindari pembunuhan. Itulah sebabnya ada tradisi <em>fangsheng </em>di agama Buddha, yaitu melepas makhluk hidup yang akan dimakan atau tidak bebas (seperti burung, lele, dan binatang lainnya) yang berguna sebagai penghimpun karma baik kebalikan dari membunuh makhluk hidup. Dalam kasus ini, apakah kamu sudah menghindari pembunuhan atas makhluk hidup selama ini? </p>



<p>Mari kita simak akibat-akibat karma dari membunuh dibawah ini:</p>



<ol><li><strong>Lahir di alam-alam yang menderita</strong>: merupakan <strong>akibat karma yang matang sepenuhnya dari membunuh</strong>. Kita akan terlahir di alam binatang, hantu kelaparan, ataupun neraka tergantung dari seberapa berat karma membunuh yang kita lakukan.</li></ol>



<ul><li><strong>Berumur pendek atau sakit-sakitan</strong>: merupakan <strong>akibat karma yang serupa dengan penyebabnya</strong>, karena kita membuat makhluk lain sakit dan berumur pendek juga. Selain itu, dalam proses pembunuhan, tentunya juga ada rasa sakit yang dirasakan makhluk lain. Oleh karen aitu, kita juga akan menerima akibat yang serupa.</li></ul>



<ul><li><strong>Memiliki kecenderungan untuk membunuh</strong>: merupakan <strong>akibat karma yang serupa dengan penyebabnya berdasarkan perbuatan</strong>. Karena kita sering melakukan pembunuhan, kita akan merasa wajar untuk melakukan pembunuhan lagi. Sama seperti tukang jagal yang sudah terbiasa melakukan pembunuhan di kesehariannya, membunuh hewan-hewan yang lebih kecil pun akan terasa wajar baginya.</li></ul>



<ul><li><strong>Lahir di tempat yang makanannya tidak sehat dan obat-obatnya tidak mujarab</strong>, atau tidak mendukung kesehatan: <strong>akibat karma yang menentukan lingkungan</strong>. Dengan melakukan pembunuhan, maka kita juga akan berada di lingkungan yang bisa menyebabkan umur kita pendek, misalnya tinggal di kota yang penuh polusi sehingga kita terkena sakit paru-paru kronis atau memiliki fasilitas kesehatan yang tidak memadai sehingga sulit sembuh jika sakit.</li></ul>



<p>Kalau kamu bisa membaca artikel ini, kamu pasti sudah bebas dari akibat jenis pertama, tapi bagaimana dengan yang lain? Kita tidak tahu seberapa panjang sisa umur kita, tapi yang gampang sakit mungkin sudah merasakannya. Ada juga orang yang sering sakit kecil-kecilan seperti batuk, pilek, dan sebagainya tapi kesulitan menemukan obat yang cocok. Mungkin itulah tanda-tanda bahwa kamu pernah melakukan karma buruk membunuh di kehidupan lampau.</p>



<p>Mungkin kamu akan mengatakan, “Ah, tidak mungkin, sseumur hidup aku tidak pernah membunuh, kok! Memangnya aku Jack the Ripper?” </p>



<p>Menghindari pembunuhan tidak semudah itu, <em>Ferguso</em>. Seringkali kita semua meremehkan latihan ini dengan berpikir bahwa makhluk yang kecil tidak apa-apa dibunuh. Hal ini seringkali menjadi kebiasaan yang sudah kita bawa dari dulu. Contoh paling gampang adalah nyamuk. Ketika kamu diganggu olehnya, tubuh kita seakan memiliki refleks untuk memukulnya. Bisa juga semut. Sering kita merasa mereka mengganggu karena sering masuk-masuk ke makanan. Ibu kita yang mengurus rumah tangga sering menghadapi hal-hal seperti ini dan sudah biasa melakukan pembunuhan pada serangga. Contoh kasus membunuh juga adalah ketika kamu memesan seafood segar di restoran. Kamu tahu kan kalau yang dimaksud ‘segar’ adalah bahan makanannya baru dibunuh saat kamu memesan? Hal ini juga merupakan karma membunuh, lho, karena kamu menjadi penentu langsung berakhirnya nyawa si ikan itu. </p>



<p>Nah, sekarang sudah tahu kan kalau penyebab kamu sering sakit-sakitan sekarang adalah perbuatan membunuh di masa lalu? Lalu sekarang apa yang bisa diperbuat? Dengan mengerti dan meyakini hukum karma ini, selain kamu bisa berusaha lebih giat untuk melatih diri menghindari pembunuhan, membuat makhluk lain lebih bahagia dan tidak menderita. Dengan demikian, kamu juga menjaga dirimu sendiri dari akibat-akibat buruk karma seperti yang dijelaskan di atas. </p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/01/28/sering-sakit-sakitan-jangan-jangan-kamu-masih-sering-melakukan-hal-ini/">Sering Sakit-sakitan? Jangan-jangan Kamu masih Sering Melakukan Hal ini</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/01/28/sering-sakit-sakitan-jangan-jangan-kamu-masih-sering-melakukan-hal-ini/">Sering Sakit-sakitan? Jangan-jangan Kamu masih Sering Melakukan Hal ini</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
