<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>dukkha - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/dukkha/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Dec 2019 17:15:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>dukkha - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tips Anti Gagal Move On Ala Buddhis</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2019/12/30/tips-anti-gagal-move-on-ala-buddhis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Dec 2019 08:01:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[#harimoveonnasional]]></category>
		<category><![CDATA[#isyana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dukkha]]></category>
		<category><![CDATA[haripatahhatinasional]]></category>
		<category><![CDATA[ketidakkekalan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[move on]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4672</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Dharma Chandra Artikel ini ditayangkan dalam rangka memperingati #HariPatahHatiNasional, semoga bisa membantumu move on dari Isyana dan melahirkan #HariMoveOnNasional. Semua orang pasti pernah gagal move on. Bukti pertama, coba baca kalimat-kalimat berikut: “Aku capek, badan aku lemes tapi masih kuat kok buat ngedobrak pintu hati kamu.” “Itu mantan apa harta karun? Kok kenangannya masih [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/12/30/tips-anti-gagal-move-on-ala-buddhis/">Tips Anti Gagal Move On Ala Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/12/30/tips-anti-gagal-move-on-ala-buddhis/">Tips Anti Gagal Move On Ala Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Dharma Chandra</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p><em>Artikel ini ditayangkan dalam rangka memperingati #HariPatahHatiNasional, semoga bisa membantumu </em>move on <em>dari Isyana dan melahirkan #HariMoveOnNasional.</em></p></blockquote>



<p>Semua orang pasti pernah gagal <em>move on.</em> Bukti pertama, coba baca kalimat-kalimat berikut:</p>



<p><em>“</em><em>Aku capek, badan aku lemes tapi masih kuat kok buat ngedobrak pintu hati kamu.”</em></p>



<p><em>“Itu mantan apa harta karun? Kok kenangannya masih aja dikubur dalam hati yang paling dalam.”</em></p>



<p><em>“Meskipun banyak luka tercipta, tapi yang namanya mantan itu selalu bikin kangen, aaa perih :'(“</em></p>



<p>Kalau kamu tertawa, berarti kamu tau perasaannya.</p>



<p>Bukti kedua adalah kamu yang baca artikel ini dan tertarik dengan judul ini. Pasti di dalam lubuk hatimu, ada kerinduan untuk merasakan kembali kegagalan itu. Itu tandanya apa? Jangan-jangan kamu SUKA GAGAL <em>MOVE ON</em>.&nbsp;</p>



<p>Maksudku, secara batin, orang itu gampang sekali terbuai oleh perasaan dan kenangan. Dalam ajaran Buddha, kondisi ini ada istilah kerennya, yaitu tabungan karma mental (batin).&nbsp;</p>



<p><strong>Apa itu karma mental?</strong>&nbsp;</p>



<p>Gampangnya begini, yang namanya karma dibagi jadi tiga kategori: karma pikiran, ucapan dan perbuatan. Nah, karma pikiran atau sering juga disebut karma mental adalah karma yang kita perbuat melalui pikiran kita. Jika timbul niat untuk berbuat baik atau buruk dalam batin kita, maka kita sudah ‘berbuat’ karma mental tersebut.</p>



<p><strong>Apa efeknya karma mental? Kan enggak ada yang dirugikan?</strong></p>



<p>Kita semua pernah menyakiti dan telah tersakiti oleh orang lain bukan? PASTI PERNAH baik disengaja maupun tidak disengaja ya. Contoh, menghina (meskipun tidak terucap) orang lain karena tasnya KW, atau menertawakan teman atau orang tua yang <em>kudet</em> alias kurang <em>update</em>. Aku yakin seyakin-yakinnya kalau setiap drama dalam hidup setiap orang dan itu menorehkan bekas di dalam batin setiap pihak yang terlibat. Berapa banyak jumlahnya? Tidak terhitung pastinya. Buktinya kita selalu merasakan <em>mood </em>atau perasaan yang berganti-ganti setiap momen, kebanyakan tidak terlalu menyenangkan. Itulah buah karma mental.&nbsp;</p>



<p><strong>Kita suka ‘memelihara’ perasaan buah karma mental kita, termasuk gagal </strong><strong><em>move on.</em></strong></p>



<p>Nah, kenapa gagal <em>move on</em> ini dipelihara? Karena ada kecenderungan kita nyaman berkubang dalam&nbsp; kesedihan, kegalauan dan romantisme. Disitulah letak kenikmatan berkubang tadi. Ibarat minuman yang memabukkan, perasaan gagal <em>move on</em> ini sebenarnya adalah jebakan batin.</p>



<p>Kita bisa membuat daftar “1001 Alasan Gagal <em>Move On</em>”, tapi hanya Buddha yang bisa memberikanmu alasan akarnya, yaitu CINTA DIRI SENDIRI. Cinta di sini bukan dalam artian <em>self-love </em>positif yang membuatmu percaya diri dan bisa berguna bagi orang banyak, melainkan ego yang sedemikian besar sehingga kamu menempatkan kepentingan dirimu di atas kepentingan orang lain. <em>The only one that matters is yourself. </em>Ini adalah bentuk ‘cinta diri sendiri’ yang tidak bermanfaat, malah merugikan.</p>



<p>Contoh alasan gagal <em>move on</em> paling terkenal seantero dunia ini adalah TERLANJUR SAYANG. Bagi saya, gagal<em> move on</em> itu tidak mungkin karena kamu sayang sama si dia. Buktinya apa? Ketika kamu melihat dia bersama dengan orang lain dan dia bahagia, apakah kamu bisa merasa bahagia? Atau yang terjadi ada perasaan tidak terima, “Kenapa dia bisa bahagia bersama dengan orang itu, tidak bersama dengan DIRIKU?”&nbsp;</p>



<p>BINGO! Ini bukti kamu lebih CINTA DIRI SENDIRI daripada mencintai si dia! Atau memang karena si yayang itu sangat bagus sekali kualitasnya sehingga kita menyesal sedalam samudera karena tidak bisa bersamanya.&nbsp;</p>



<p>Hellooo… Ibarat sungai mengalir, ketika satu titik berlalu maka titik itu menjadi tidak valid lagi. Dia sudah pergi, buat apa disesal-sesali? Karena takut sendiri?&nbsp; Kita tidak bisa memutarbalikkan waktu, tetapi kita masih ada sekarang dengan kondisi yang sehat walafiat, lengkap panca indera, dan kita masih memiliki orang-orang yang memikirkan kita tanpa balas pamrih sedikit pun. Kalaupun kita tidak memiliki siapa pun di dunia ini, coba lihat lagi baik-baik, pasti ada seseorang yang bersama kita, minimal ada MUSUH kita atau orang netral di sekitar kita.</p>



<p>Satu hal yang perlu kita sadari adalah mengakui bahwa kondisi itu adalah hasil buah karma dan berlalulah dia. Selesai. Nah, selanjutnya baru terapkan beberapa saran berikut ini:</p>



<p><strong>Tips Anti-Gagal <em>Move On:</em></strong></p>



<p><strong>1.  Berdamai dengan kenyataan.</strong></p>



<p>Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Pengalaman tersakiti adalah pelajaran melepas sekaligus menerima diri, bahwa kita adalah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan. Belajar bersyukur dengan apa yang ada di depan mata kita, saat ini, momen ini. Fokus.</p>



<p><strong>2. Bersyukur dengan pengalaman pahit tersebut.</strong></p>



<p><em>What does not kill you makes you stronger.</em> Memang rasanya seperti diiris-iris, tapi ingat ketika kita jatuh waktu kecil dan kita bangkit lagi. Kita sudah semakin kuat bukan? Sama halnya ketika kita tersakiti. Justru kita semakin kuat dan naik satu tingkatan lebih tinggi di dalam perjalanan kehidupan kita.</p>



<p><strong>3. Bergabunglah dengan teman-teman positif.</strong></p>



<p>Jangan bergabung dengan teman-teman yang mengulang kembali atau mengorek luka terlalu dalam. Bergabunglah dengan komunitas yang mengajak dirimu untuk melakukan kebajikan baik di kondisi suka maupun duka karena hanya dengan kebajikan, perasaan tidak menyenangkan dapat pulih kembali.</p>



<p><strong>4.</strong> <strong>Ambil waktu sendiri dan tingkatkan kapasitas hati.</strong></p>



<p>Cara yang paling baik memanfaatkan kondisi gagal <em>move on</em> yaitu ketika kita menerima diri kita dan mengatakan kita perlu meningkatkan kapasitas hati kita yang masih terbatas. Kita siap membuka diri untuk belajar apapun, terutama belajar Dharma, demi masa depan kita. Ini adalah saatnya kita berinvestasi terhadap diri kita sendiri dalam jangka waktu yang panjang. Pilihan yang sangat cerdas, bukan!</p>



<p>Semoga artikel ini berguna bagi kamu-kamu yang sedang merasakan gagal <em>move on</em>. Mari kita ubah kondisi ini layaknya Buddha mengubah anak panah yang hendak menyerbunya menjadi hujan bunga dan berkah. Mari ubah Gagal <em>Move on</em> menjadi <em>Turn Our Life On</em>!<br></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/12/30/tips-anti-gagal-move-on-ala-buddhis/">Tips Anti Gagal Move On Ala Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/12/30/tips-anti-gagal-move-on-ala-buddhis/">Tips Anti Gagal Move On Ala Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Dec 2017 06:01:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[anatta]]></category>
		<category><![CDATA[anicca]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[dukkha]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimretreatid]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3877</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Samsara adalah penderitaan. Hal tersebut adalah tema besar dari sesi retret yang diberikan oleh Biksu Bhadra Ruci pada tanggal 30 Desember 2017. Entah terlahir di alam rendah maupun alam tinggi, kelahiran merupakan sebuah penderitaan. Parahnya, kita selalu berpikiran bahwa kita tidak mungkin terjatuh ke alam rendah. Salah satu bukti bahwa kita hampir pasti terlahir di [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Samsara adalah penderitaan. Hal tersebut adalah tema besar dari sesi retret</span> <span style="font-weight: 400;">yang diberikan oleh Biksu Bhadra Ruci pada tanggal 30 Desember 2017. Entah terlahir di alam rendah maupun alam tinggi, kelahiran merupakan sebuah penderitaan. Parahnya, kita selalu berpikiran bahwa kita tidak mungkin terjatuh ke alam rendah. Salah satu bukti bahwa kita hampir pasti terlahir di alam rendah adalah dengan melihat batin. Lihatlah sifat klesha</span> <span style="font-weight: 400;">apa yang paling dominan dan dekat dengan kehidupan keseharian kita. Salah satu cara pertama untuk menghindari kelahiran di alam rendah adalah dengan mengembangkan rasa takut terhadap hal tersebut. Sangat penting untuk kita sadari bahwa ketika pertama kali dilahirkan, jam menuju kematian kita sudah ditekan dan kita hanya menunggu jam itu berbunyi. Setelah itu, kita perlu paham betul dan yakin bahwa kelahiran sebagai manusia merupakan kelahiran yang paling berharga. Oleh sebab itu tidak tepat jika dikatakan bahwa agama Buddha adalah agama yang pesimis. Topik mengenai kematian harus dijadikan motivasi bagi kita untuk mempertahankan kelahiran tersebut. Kematian bukanlah topik yang harus dihindari karena dengan merealisasi hal tersebut, kita bisa menghargai kelahiran kita. Hal ini karena jika kita tidak bisa melihat kelahiran dan kematian sebagai penderitaan, maka akan sulit untuk membangkitkan rasa menolak samsara. Samsara pada dasarnya amat sulit untuk kita tolak sebab batin kita selalu pergi dan melekat pada suatu obyek dan fenomena yang bersifat netral, misalnya uang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika tiba waktunya ajal menjelang, cobalah bayangkan hal apa yang sebenarnya kita takutkan? Kita acap kali takut akan meninggalkan hal-hal yang saat ini berada bersama dan menjadi milik kita. Kita memikirkan harta, sahabat, sanak keluarga, dan segudang hal lainnya yang berharga bagi kita. Padahal saat mati, hal apa yang bermanfaat bagi kita? Seperti biasanya, Biksu Bhadra Ruci memberikan sebuah perumpamaan untuk menjawab hal tersebut. Manusia ibarat memiliki empat orang istri. Ketika mengantar kepergian kita, istri pertama hanya mengantar peti mati kita hingga ke depan pintu. Sementara istri kedua kita mengantar hingga perempatan jalan menuju kuburan. Untunglah istri ketiga mengantar hingga kita tiba di kuburan. Namun, hanya istri keempatlah yang benar-benar mengikuti hingga kita masuk ke dalam kuburan. Melalui kisah di atas, istri pertama adalah harta dan materi yang selama ini kita kejar. Istri kedua adalah teman-teman yang kita tinggalkan. Istri ketiga merupakan perlambang dari keluarga kita, entah itu ayah, ibu, istri atau suami, anak, dan sanak saudara yang dekat dengan kita. Tak ada satupun dari mereka yang mampu membagi dan menanggung beban kematian kita. Hanyalah istri keempat, yaitu karma dan kebajikan kitalah yang akan menemani kita bahkan hingga kehidupan-kehidupan berikut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kaitannya dengan samsara, Biksu Bhadra Ruci mengajak kita untuk merefleksikan hal apa yang sebenarnya membuat kita tidak sadar akan kepastian kematian dan masih terlena dalam samsara. Selama ini, kita selalu berpikir bahwa kita takut akan kondisi yang tidak aman. Kita khawatir kita tidak punya cukup uang untuk menghidupi kita dalam beberapa hari atau beberapa tahun ke depan. Apakah benar demikian? Sebab jikalau kita memang takut akan kondisi yang tidak aman, kita seharusnya lebih takut mati dan jatuh ke neraka dibandingkan memikirkan kondisi keuangan kita saat ini. Kita takut tidak bisa hidup dengan nyaman dibandingkan dengan kehilangan rasa aman. Kita takut kita tidak bisa mendapatkan makanan enak, tempat tinggal nyaman ber-AC. Kita takut tidak bisa memenuhi tuntutan jasmani yaitu tuntutan dari “aku”. Kita sangat takut tidak bisa melayani ego kita. Dengan kata lain, kita tidak memiliki keyakinan yang teguh terhadap hukum karma, Triratna, dan bahkan pada segala hal yang kita praktikkan. Selama ini kita terbelenggu oleh karma dan klesha yang merantai skandha.</span> <span style="font-weight: 400;">Jika tanaman bisa tumbuh dengan bantuan pot, maka tempat tumbuh karma kita terletak pada perasaan. Kita butuh pembebasan, yaitu kondisi di mana kita telah terlepas dari belenggu tersebut. Perasaan pembebasan tersebut diibaratkan Biksu Bhadra Ruci seperti saat Indonesia merdeka dari imperialisme penjajah.  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk bisa mengembangkan rasa muak terhadap samsara, kita perlu memahami kerugian samsara. Secara umum, samsara memiliki arti mengembara. Samsara bukanlah kondisi yang akan membawa kita kepada kebahagiaan sejati. Bahkan dalam bahasa Indonesia, kata sengsara diserap dari kata samsara. Agar bisa memperoleh kebebasan dari penjara, narapidana harus terlebih dahulu berkeinginan untuk bebas. Hal ini karena ketika rasa tersebut timbul, maka narapidana akan mencari segala macam cara untuk bisa segera terbebas dari hal tersebut. Begitu pula halnya dalam memperjuangkan kebebasan dari samsara. Kita harus pertama kali mengembangkan rasa muak terhadap samsara. </span><span style="font-weight: 400;">Seperti kata Je Tsongkhapa, </span><b>kita tidak dapat mencapai aspirasi terbebas dari samsara tanpa merenungkan dukkha.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">aspirasi untuk bebas dari samsara datang dari mengetahui kerugian samsara. Untuk mengetahui kerugian samsara, </span><b>kita perlu menelusuri sebab dukkha dan menapaki jalan untuk menghentikan hal tersebut.</b><span style="font-weight: 400;"> Hal ini mirip dengan kondisi kita ketika kita sakit. Saat sakit, kita perlu memahami dan mempelajari sebab-sebab penyakit tersebut dan mencari obat yang tepat untuk menyembuhkan penyakit. Ironisnya, tidak mudah memahami penderitaan samsara oleh karena rasanya yang nikmat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seringkah kita berpikir bahwa terlahir di alam surga lebih menyenangkan dibandingkan terlahir sebagai manusia? Padahal ketika tiba waktunya karma kebajikan telah kita habiskan di alam surga, kita akan dengan segera terjatuh ke alam rendah. Jika kita bisa naik, maka akan sangat mudah untuk terjun bebas ke bawah. Hal ini merupakan sebuah contoh untuk menjelaskan cacat samsara karena harus </span><b>jatuh dari status tinggi ke status rendah</b><span style="font-weight: 400;">. Banyak sekali kita menemukan orang-orang yang mula-mula kaya kemudian jatuh miskin kemudian merasa menderita dan tidak dapat menerima kenyataan. Contoh seperti ini menunjukkan bahwa keadaan kita saat ini bisa dengan mudah berubah pada tiap momen yang berlalu. Kondisi ini terus berulang kali terjadi dan jika yang kita rasakan hanya perasaan lelah tanpa rasa kapok, tidak akan ada perubahan yang bisa terjadi dalam diri. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cacat lainnya dalam samsara adalah karena sifatnya yang </span><b>penuh ketidakpastian</b><span style="font-weight: 400;">. Dalam satu waktu, kita mungkin terlahir bahagia namun di kali lain hidup bisa berubah menjadi sangat menyengsarakan. Sebagai contoh, hubungan kita dengan orang tua, teman, musuh, dan lainnya bisa saling berkebalikan dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya. Pada suatu masa, istri yang sangat kita sayangi bisa terlahir sebagai ikan yang kita makan dan musuh yang sangat kita benci bisa terlahir sebagai putra yang kita timang-timang sepanjang hari. Samsara juga cacat karena tidak memberikan kepuasan. Ketika kita mendapatkan 1 Rupiah, kita menginginkan 10 Rupiah. Namun saat kita mendapatkan 10 Rupiah, kita tetap tak bisa merasa puas. Kita terus menerus menginginkan hal yang lebih setiap kali mendapatkan sesuatu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita juga </span><b>tidak memiliki teman sejati</b><span style="font-weight: 400;"> selama di samsara. Tepat ketika kita bangun hingga tertidur, lahir dan mati, manusia selalu menjalani semuanya sendirian. Pada akhirnya, dikatakan dalam teks <a href="http://store.lamrimnesia.com/product/lakon-hidup-sang-penerang/">Lakon Hidup Sang Penerang (<em>Bodhisatwa-caryawattara</em>)</a> apalah guna orang-orang tercinta yang hanya bisa merintangi?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di samping itu, </span><b>kita juga harus meninggalkan tubuh kita berulang kali</b><span style="font-weight: 400;">. Tak peduli telah berapa kali terlahir sebagai dewa di surga, kita harus mengalami kelahiran lagi di tempat-tempat seperti neraka. Kita telah terlahir selama tak terhingga jumlahnya di setiap alam kehidupan, namun tak ada satupun yang mampu membawa kita kepada sesuatu yang berkelanjutan. Tak ada satupun obyek yang tidak pernah kita miliki sebelumnya dalam samsara. Namun lagi-lagi, tak ada satupun dari hal tersebut yang mampu kita andalkan. </span></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Saking banyaknya kelahiran telah kita lalui, bahkan samudra-samudra di dunia tak mampu menampung air mata yang tumpah karena patah hati. Masih maukah kita jatuh cinta dan patah hati berulang kali dan terjebak dalam samsara tiada akhir?</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal penting yang tak boleh luput untuk direnungkan adalah fenomena lahir, tua, sakit, dan mati. Kita sering kali tidak merasa bahwa hal-hal tersebut merupakan penderitaan sebab kita buta. Kita tidak sadar bahwa hal tersebut adalah masalah bagi diri kita. Kita sering mengejar sesuatu yang semu tanpa memahami betul konsep dan karakter hal-hal yang kita kejar. Persepsi dan realita yang kita alami kerap kali memiliki jarak yang jauh sehingga kita selalu menderita dan dikecewakan. Akan tetapi, kita tidak sadar bahwa kita terus dikecewakan sehingga kita terus mengejar hal tersebut bagaikan kuda yang mengenakan kacamata kuda dengan batang yang digantung sayuran di depan matanya. Ia akan terus mengejar sayuran yang ada di depannya tanpa mengetahui bahwa harapan untuk mendapatkannya tak akan pernah tercapai. Lebih dari itu, perasaan senang yang selama ini kita anggap merupakan kebahagiaan pada akhirnya bukanlah kebahagiaan. Hal ini dikarenakan kondisi yang bisa membuat kita merasakan perasaan senang tersebut tidak ajeg. Saat kita duduk terlalu lama di atas bantal duduk, kita merasa pegal kemudian pindah ke sofa. Namun ketika kita beranggapan bahwa kita merasa nyaman duduk di sofa, mulai timbullah masalah lainnya seperti merasa panas dan lain sebagainya. Ketika timbul rasa senang, maka sudah dapat dipastikan ketidaksenangan akan mengikuti. Lantas di mana lagi rasa senang yang tadinya kita rasakan berada? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berjuanglah dengan sungguh-sungguh dalam mencapai kebebasan samsara di tengah kehidupan yang mengelabui kita dalam segala kenikmatannya. Biksu Bhadra Ruci mengingatkan kita mengenai bagaimana samsara dengan mudahnya menjebak kita bagaikan kukusan bertingkat enam. Kita hanya bisa terus naik, turun, naik, turun, berputar, tanpa pernah bisa benar-benar keluar dari kukusan tersebut. Lihat dan pahamilah esensi samsara dan kehidupan. Ketika tiba saatnya kita bisa merasakan muak terhadap kekayaan dan segala jenis tipu muslihat kebahagiaan samsara, saat itulah kita bisa yakin bahwa kita telah menolak samsara dan meniti jalan menuju kebahagiaan sejati.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.<br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry (082163276188)</i></b></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/31/ilr-2017-berhadapan-dengan-samsara-yang-tak-pasti/">ILR 2017: Berhadapan dengan Samsara yang Tak Pasti</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
