<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>review film Buddhis - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/review-film-buddhis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Apr 2025 12:28:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>review film Buddhis - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kelahiran, Kematian, dan Kemanusiaan dalam Film Mickey 17</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/04/15/review-buddhis-mickey-17/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2025 11:04:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[review film Buddhis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9921</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ada banyak hal yang bisa kita temukan dari meneliti spiritualitas Buddhis dalam film Mickey 17 karya Bong Joon Ho.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/04/15/review-buddhis-mickey-17/">Kelahiran, Kematian, dan Kemanusiaan dalam Film Mickey 17</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/04/15/review-buddhis-mickey-17/">Kelahiran, Kematian, dan Kemanusiaan dalam Film Mickey 17</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Apa rasanya mati? Dialog ini saya rasa cukup sering ditanyakan kepada Mickey, tokoh utama dalam film Mickey 17. Hal ini menarik bagi saya; menarik karena tanpa kita sadari sepenuhnya, kita sendiri sering mati dan lupa bagaimana rasanya mati. Bisa jadi bagi yang tidak percaya reinkarnasi, hal ini tentu tidak menjadi permasalahan utama. Namun, bagaimana rasanya terus berputar dalam lingkaran hidup dan mati? Itu adalah pertanyaan utama bila film ini kita hubungkan dengan spiritualitas Buddhis.&nbsp;</p>



<p>&#8220;Mickey 17&#8221; adalah film karya sutradara Bong Joon Ho yang terkenal sebagai sineas yang kerap menyoroti isu kesenjangan kelas dan lingkungan dalam kemasan <em>dark comedy</em> dan percampuran berbagai genre. Film ini mengikuti perjalan tokoh bernama Mickey Barnes yang mendaftar menjadi seorang &#8220;<em>expendable</em>&#8220;<strong> dalam upaya menemukan planet baru untuk dihuni manusia. Sebagai seorang &#8220;<em>expendable</em>&#8220;, Mickey melakukan berbagai tugas berbahaya yang mengancam nyawa. </strong>Ingatan Mickey secara rutin diunggah ke dalam semacam mesin penyimpanan dan setiap kali ia mati, Mickey yang baru akan dicetak ulang dan diisi dengan ingatan terakhir yang disimpan di mesin tersebut. Teknologi cetak ulang manusia ini tentunya sempat memicu pro dan kontra. Pemerintah pun memutuskan bahwa cetak ulang manusia diperbolehkan dengan batasan tertentu: terbatas 1 orang &#8220;<em>expendable</em>&#8221; demi menyukseskan misi mencari planet baru dan hanya boleh dilakukan ketika orang tersebut dipastikan sudah meninggal. Jika sampai ada kejadian ada 2 orang yang sama di satu waktu, salah satunya harus dieksekusi. </p>



<p>Dalam Mickey 17, menariknya, “<a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/03/menghargai-kehidupan-sebagai-manusia-yang-sangat-berharga/">kelahiran</a>” digambarkan sebagai mesin print 3D manusia berbentuk lingkaran putih dengan aksen warna biru yang mencetak manusia dalam posisi mendatar. Sedangkan, <a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/tabu-ngomongin-kematian-sampai-kapan-lari-dari-kenyataan/">kematian </a>dalam film ini ditunjukkan dengan lingkaran lubang menuju bawah tempat aliran lava panas menanti untuk membakar habis apapun yang dijatuhkan dari atas. Bagi saya, ini adalah penggambaran yang sangat menarik dari pembuat film. Kelahiran digambarkan prosesnya mendatar, seolah menandakan kehidupan kita bisa jatuh ke bawah, naik ke atas, atau netral-netral aja dan mendatar, tidak ada yang tahu. Sebaliknya, bila kita mati, hampir bisa dipastikan kita akan jatuh ke <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">alam rendah</a>, diwakilkan oleh alam neraka panas. Mickey sudah sering kali digambarkan dalam film sudah sering melewati kedua lingkaran ini hidup-mati terus menerus bagaikan dua lingkaran dalam simbol tanpa batas (<em>infinity</em>).</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1024" height="553" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Mickey17TrailerRobmainimgTW01-1024x553.webp" alt="" class="wp-image-9924" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Mickey17TrailerRobmainimgTW01-1024x553.webp 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Mickey17TrailerRobmainimgTW01-300x162.webp 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Mickey17TrailerRobmainimgTW01-768x415.webp 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Mickey17TrailerRobmainimgTW01-1536x829.webp 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Mickey17TrailerRobmainimgTW01-150x81.webp 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Mickey17TrailerRobmainimgTW01-450x243.webp 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Mickey17TrailerRobmainimgTW01-1200x648.webp 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Mickey17TrailerRobmainimgTW01-600x324.webp 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/Mickey17TrailerRobmainimgTW01.webp 2000w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Mesin cetak manusia &#8211; sumber: <a href="https://www.firstshowing.net/2024/full-trailer-for-bong-joon-hos-sci-fi-mickey-17-with-robert-pattinson/">firstshowing.net</a></figcaption></figure>



<p>Kejadian tak diinginkan akhirnya terjadi ketika Mickey ke-18 tanpa sengaja sudah dicetak ulang sementara Mickey ke-17 belum dipastikan kematiannya. Di sini kita dapat melihat dengan jelas, walaupun wajah, bentuk badan, golongan darah, dan bahkan ingatan bisa diduplikasi, namun kesadaran tiap individu akan berbeda. Pada akhirnya Mickey ke-17 juga meminta maaf secara batin kepada Mickey-Mickey lain yang telah meninggal; meminta maaf karena selama ini dia menyangka bahwa mereka semua memiliki satu kesadaran, satu jiwa/roh yang sama, padahal tidak demikian. </p>



<p>Kejadian tak terduga yang menghadirkan Mickey 18 ini membuatnya sadar bahwa walau mereka semua sama namun tidak serupa, dan setiap kesadaran itu unik. Ini tentu menarik untuk kita renungkan bahwa tiap kehidupan walau nampaknya sama, tapi tiap kesadaran itu unik adanya. Bahkan dalam pandangan ajaran Buddha kesadaran kita berubah tiap momennya, tidak harus menunggu kematian tiba! </p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="576" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-1-1024x576.png" alt="" class="wp-image-9925" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-1-1024x576.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-1-300x169.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-1-768x432.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-1-1536x864.png 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-1-150x84.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-1-450x253.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-1-1200x675.png 1200w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-1-600x338.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-1.png 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Mickey 18 &amp; Mickey 17 &#8211; sumber: <a href="https://www.whattowatch.com/watching-guides/mickey-17-cast-plot-and-everything-we-know-about-the-robert-pattinson-sci-fi-movie">whattowatch.com</a></figcaption></figure>



<p>Satu lagi yang menarik adalah adanya kehidupan di luar angkasa. Hampir sebagian besar film baik dari Asia maupun Hollywood selalu menggambarkan bahwa kehidupan di luar angkasa (alien) itu pasti jahat dan berusaha memusnahkan manusia. Namun, tidak begitu jadinya dalam film ini, alien dalam film ini memang digambarkan sebagai makhluk dengan wujud mengerikan, jalannya merayap, dan bisa berkomunikasi satu sama lain dengan bunyi-bunyi aneh. Akan tetapi, alien ini tampak sangat menghargai kehidupan. Bahkan ketika Mickey membutuhkan pertolongan, mereka begitu saja menolongnya dan tidak mengharapkan imbalan apapun. Alien ini memegang prinsip hukum <a href="https://play.google.com/store/books/details/Karma_Akibatnya?id=OZiWDwAAQBAJ&amp;hl=en-US">karma </a>versi mereka dengan sangat ketat. Ketika salah satu dari mereka dibunuh oleh manusia, maka mereka juga meminta hal serupa juga dilakukan terhadap manusia. Setelah “karma” itu terbayar, tidak ada rasa dendam atau niat jahat lagi kepada manusia dan bahkan mereka bisa hidup berdampingan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="683" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-9927" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-2-1024x683.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-2-300x200.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-2-768x512.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-2-150x100.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-2-450x300.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-2-600x400.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2025/04/image-2.png 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Para alien di Mickey 17 &#8211; sumber: <a href="https://arstechnica.com/culture/2025/03/review-mickey-17s-dark-comedic-antics-make-for-a-wild-cinematic-ride/">arstechnica.com</a></figcaption></figure>



<p>Pada akhirnya film ini penuh dengan gaya sutradara Bong Joon Ho yg selalu menekankan isu lingkungan hidup ditambah bumbu perbedaan status sosial dan budaya. Namun, kali ini dia juga menyertakan permasalahan etika dan moral dengan aturan yang memang tertulis namun penerapannya dalam keseharian seringkali abu-abu tergantung seberapa besar keuntungan yang didapat oleh penegak aturannya. Film ini jadi semakin menarik bila dikombinasikan dengan pemahaman spiritual, terutama pemahaman Buddhadharma, dan direnungkan oleh tiap individu. Hasilnya tentu beragam, tapi akan menarik bila didiskusikan bersama untuk pemahaman Buddhadharma yang lebih lengkap lagi.</p>



<p>Penulis: Chatresa7</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/04/15/review-buddhis-mickey-17/">Kelahiran, Kematian, dan Kemanusiaan dalam Film Mickey 17</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/04/15/review-buddhis-mickey-17/">Kelahiran, Kematian, dan Kemanusiaan dalam Film Mickey 17</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Review Film Yuni (2021): Remaja Hilang Arah, Bisakah Triratna Menuntun?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/08/06/review-buddhis-film-yuni/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Aug 2024 16:39:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[review film Buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[Tisarana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9251</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Selain mengisahkan persoalan gender, perkawinan anak, dan berbagai isu sosial serius lainnya, film "Yuni" menunjukkan hubungan rumit antara remaja dan tujuan hidup. Apa jawaban Buddhis?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/review-buddhis-film-yuni/">Review Film Yuni (2021): Remaja Hilang Arah, Bisakah Triratna Menuntun?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/review-buddhis-film-yuni/">Review Film Yuni (2021): Remaja Hilang Arah, Bisakah Triratna Menuntun?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Selain mengisahkan persoalan gender, perkawinan anak, dan berbagai isu sosial serius lainnya, film Yuni menunjukkan hubungan rumit antara remaja dan tujuan hidup.</p>



<p>Semasa sekolah, kita terbiasa diatur, entah oleh sekolah, oleh orang tua dan kerabat, atau oleh lingkungan pertemanan kita. Tiba-tiba, ketika masa SMA hampir berakhir, kita dituntut membuat keputusan yang luar biasa besar. Mau kuliah, langsung kerja, atau menikah? Kalau kerja, mau kerja apa? Kalau kuliah, mau di mana, jurusan apa? Keputusan itu seolah-olah akan menentukan nasib kita seumur hidup.</p>



<h2 id="h-katanya-bebas-memilih-tapi">Katanya bebas memilih, tapi&#8230;</h2>



<p>Film “Yuni” menunjukkan dilema ini beserta segala kepelikannya dengan sangat apik. Yuni harus memilih, mau kuliah atau menikah? Orang-orang di sekitarnya menganggap menikah adalah kodrat, tidak peduli betapa banyak pernikahan usia dini dalam komunitas mereka yang kandas atau mengambang di atas kebohongan.&nbsp;</p>



<p>Orang tua Yuni mendukung Yuni untuk membuat keputusan sendiri, meraih kebahagiaannya sendiri. Namun, ketika Yuni mencari dukungan untuk melanjutkan pendidikan, mereka juga tak berani meyakinkan. Sang ibu lebih banyak mendengar kisah sarjana gagal. Ia pun balik bertanya, Yuni sendiri mau jadi apa?</p>



<p>Yuni pun tak bisa menjawab. Sebenarnya dia tahu dia mau jadi apa. Ia ingin bermusik. Namun, mungkin baginya kehidupan dan keyakinan orang-orang di sekitarnya lebih nyata daripada informasi di internet. Cita-citanya adalah jalan yang belum pernah ditempuh oleh siapapun yang ia kenal. Ia tidak pernah menemukan peta yang bisa mengantarkannya meraih cita-cita itu. Alhasil, alih-alih hidup dengan tujuan yang jelas dan melangkah dengan pasti, Yuni berulang kali membuat keputusan atas dasar desakan keadaan. Setiap keputusan itu pun saling menjegal sehingga ia makin jauh dari apa yang ia impikan.</p>



<h2>Stereotipe generasi &amp; krisis tujuan</h2>



<p>Remaja seusia Yuni seringkali dituding labil, suram, tujuan hidup tak jelas. Label-label seperti &#8220;generasi Z&#8221;, &#8220;generasi alpha&#8221;, dan sebagainya membuat kita tanpa sadar menggeneralisasi sekelompok besar manusia yang punya beragam latar belakang, beragam sifat, dan beragam cara memaknai kehidupan. Ketika mereka bertindak impulsif dan tidak bisa menjalani hidup yang terencana (sesuai standar kita), kita menguliahi mereka dengan ucapan, “Kalian harusnya begini, kalian harusnya begitu, nanti kalau sudah kerja, kalian akan rasakan sendiri, bla… bla…, bla…” tanpa berusaha memahami apa yang sebenarnya membuat mereka tersesat dan kebingungan.</p>



<p>Parahnya lagi, bisa jadi kita yang sudah lebih tua&#8211;sudah kuliah, bekerja, ataupun berkeluarga&#8211;ternyata sama tersesatnya dengan mereka!</p>



<p>Krisis tujuan hidup tidak berakhir di penghujung bangku sekolah. Tuntutan untuk segera memutuskan membuat krisis itu tertunda. Krisis itu pun kembali menghantam di usia 20-30-an dalam bentuk <em>quarter life crisis</em> dengan gejala beragam: kehilangan semangat, kecemasan, keragu-raguan, kesepian, dan sebagainya. Kita kira tujuan hidup kita jelas: ada yang ingin menjalani profesi tertentu, mencapai jenjang karir tertentu, ingin berkeluarga, ingin punya properti, dan sebagainya. Namun, saat kita mulai berjuang untuk meraihnya, kita menemukan bahwa ketidakpastian dunia ternyata lebih kuat dibanding usaha kita. Atau kalaupun kita “menang” melawan keadaan, setelah berhasil mencapai tujuan-tujuan itu, kita merasa hampa.</p>



<p>Sama seperti Yuni yang kesulitan menjadi musisi karena tidak tahu jalannya, kita juga kesulitan bahagia karena tidak tahu jalannya.</p>



<p>Namun, berbeda dengan Yuni yang tidak punya teladan ataupun panduan untuk jadi musisi, kita masih punya teladan dan panduan untuk menjadi bahagia. Kita bahkan punya teman yang bisa mendampingi kita, yang berjuang bersama kita untuk meraih kebahagiaan itu.</p>



<h2>Kita punya Triratna</h2>



<p>Buddha dan para guru Dharma adalah teladan yang sudah berhasil meraih kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang mereka raih tidak akan berkurang ketika sudah tercapai atau dihantam badai. Kebahagiaan yang mereka raih melampaui jenjang karir apapun, melampaui harta sebanyak apapun, dan merangkul bukan hanya pasangan hidup, beberapa anak, dan kerabat, tapi semua makhluk.&nbsp;</p>



<p>Dharma adalah panduan meraih kebahagiaan yang terbukti manjur. Langkah-langkahnya jelas. Bahkan ada <a href="https://lamrimnesia.org/apa-itu-lamrim/outline-lamrim/">peta Dharma</a> dilengkapi dengan titik-titik persinggahan yang perlu kita singgahi satu demi satu sehingga jalan panjang menuju kebahagiaan sejati tak terasa begitu panjang. </p>



<p>Ketika kita masih di titik awal, tujuan pertama yang harus kita jangkau adalah kebahagiaan di kehidupan mendatang. Begitu sampai di sana, kita bisa melihat titik singgah selanjutnya, yaitu berakhirnya siklus tumimbal-lahir alias samsara. Ketika sampai di sana, jalan menuju penerangan sempurna terbentang di depan kita. Bahkan ada kendaraan ekspres Vajrayana yang bisa mengantarkan lebih cepat sampai tujuan asal punya ongkos bodhicita yang kokoh.</p>



<p>Terakhir, Film Yuni juga menunjukkan kebersamaan dengan teman-teman yang telah berbagi suka dan duka dengannya sebagai gambaran kebahagiaan. Sama halnya dengan Sangha–komunitas spiritual yang sama-sama mempraktikkan Dharma sang Buddha–yang merupakan <em>support system</em> kita selama mengarungi samsara. Ketika peran Buddha dan Dharma mulai melemah, teman-teman se-Dharmalah yang bisa menjadi pegangan bagi kita. Sangha adalah ruang aman yang menerima kita apa adanya, tanpa penghakiman, sambil menjaga kita untuk tetap menapaki jalan.</p>



<p>Baca juga: <a href="https://play.google.com/store/books/details/Gungthang_Rinpoche_III_TRISARANA?id=BFrxDwAAQBAJ&amp;hl=en_US">Trisarana, Gerbang Memasuki Ajaran</a></p>



<p>Jika kamu <em>relate</em> dengan kegalauan Yuni, merasa tersesat, kebingungan, cemas akan masa depan, atau meragukan jalan yang sedang kamu tempuh, ingatlah bahwa ada Triratna yang bisa selalu kamu andalkan.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/review-buddhis-film-yuni/">Review Film Yuni (2021): Remaja Hilang Arah, Bisakah Triratna Menuntun?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/08/06/review-buddhis-film-yuni/">Review Film Yuni (2021): Remaja Hilang Arah, Bisakah Triratna Menuntun?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Film BISING &#8211; Merenungkan Cara Mengolah Emosi</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/11/28/review-film-bising/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[karina chandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Nov 2023 04:23:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[mental wellness]]></category>
		<category><![CDATA[review film Buddhis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=8658</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dari bunyi knalpot, lahirlah film pendek “Bising", yang kemudian jadi awal perenungan tentang cara Buddhis mengolah emosi.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/11/28/review-film-bising/">Film BISING – Merenungkan Cara Mengolah Emosi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/11/28/review-film-bising/">Film BISING &#8211; Merenungkan Cara Mengolah Emosi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Rusuhnya bunyi knalpot di jalan raya adalah latar belakang di balik pembuatan film pendek “Bising (<em>Chorus of the Wounded Birds</em>)” yang memenangkan penghargaan dalam Kompetisi Nasional 2023 di <em>Minikino Film Week 9th The National &amp; International Awarding Event</em>, di Bali (23/9). Film yang panjangnya hanya 12 menit ini ternyata berhasil membuat saya merenung cukup panjang.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img loading="lazy" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/UmpKVtCpQVBBDFEm-MD18Sm0k49iUk9pO07XAyg39K9i9E7IF-EIvdmm_dGoIiEZjTKuooXpIqQPzYGQq9clY2Epz6EaMDeqIZqPOpjKeEW1HzJH6EOM-HThcopdbcKgret456-giNK03NmNMWq5xw" alt="Poster film Bising" width="566" height="800"/><figcaption><em>Poster film “Bising”, sumber: jaff-filmfest.org</em></figcaption></figure></div>


<p>Film “Bising” bercerita tentang sebuah bengkel yang “unik”. Kenapa unik? Karena selain bisa servis kendaraan, <em>spoiler alert, </em>bengkel ini juga menyediakan “jasa” melampiaskan emosi untuk pria-pria yang frustrasi.</p>



<p>“Tempat memperbaiki mesin dipakai untuk memperbaiki manusia,” tutur sutradara film Amar Haikal di pemutaran kompilasi film pendek bertajuk “Kompilasi Berpacu dalam Emosi”, bagian dari acara 2023: Revisited di Teater Sjuman, Jakarta, 22 November 2023 lalu.</p>



<p>Kebanyakan orang yang tinggal di kota-kota besar tentu pernah dibuat kesal oleh suara motor ngebut dengan bunyi knalpot yang sengaja dibuat bising. Tidak larut dalam kekesalan itu, Amar berpikir lebih lanjut: apa yang membuat orang membuat kebisingan seperti itu? Ia pun mencari tahu dengan mengobrol dengan orang-orang di berbagai bengkel hingga mendapatkan sebuah kesimpulan yang kemudian ia kembangkan menjadi film: mereka hanya butuh didengar.</p>



<p>“Laki-laki jarang memiliki <em>emotional outlet,</em>” terang Amar, “Tidak semua orang punya media bercerita. Lalu ke mana suara itu pergi?”</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img loading="lazy" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/eB8XOY8yDaCb14jynUx1lMgtD83C-MceK9YrPLhGC2Wlz9Z7pfdJQdmF0XcX0eLKAIira4DfOC8GS_azqIUr1YBJm1Kqduq_nNQmXjkZgkdLze7SH3Xf2XtV94pTWh_X1h3tnQL21rsEubbQ_pxONg" alt="Kru film Bising &amp; film pendek lain yang ditayangkan dalam Revisited 2023" width="800" height="603"/><figcaption><em>Kru film “Bising” &amp; film pendek lain yang ditayangkan dalam Revisited 2023</em></figcaption></figure></div>


<p>Amar kemudian menjelaskan betapa laki-laki krisis ruang aman untuk bercerita tentang emosi yang mereka alami. Semua itu tertahan hingga suatu saat itu bisa meledak. Seandainya laki-laki punya kesempatan untuk mengenali dan mengakui rasa sedih, rasa kecewa, rasa marah, dan berbagai emosi lain dalam kehidupan mereka sehari-hari, ledakan yang bersifat negatif tentu tidak akan terjadi. Bahkan, semua emosi itu bisa disalurkan dengan cara yang positif.</p>



<p>“Jika ingin didengar, jika harus seberisik ini agar sesama lelaki bisa saling mendengar, maka biarlah,” ujar Amar menutup penjelasannya.</p>



<h2 id="h-emosi-terpendam"><strong>Emosi Terpendam</strong></h2>



<p>Menonton film “Bising” membuat saya berpikir. Ketika kita sibuk beraktivitas dari hari ke hari, perasaan kita seringkali terabaikan. Coba sekarang kita berhenti sejenak, lalu tanya pada diri sendiri, emosi apa saja yang kita rasakan hari ini? Bagaimana kita bereaksi terhadapnya? Kemungkinan besar kita tidak ingat lagi. Saya sih tidak ingat.</p>



<p>Apalagi di zaman modern seperti ini, begitu punya waktu untuk diri sendiri, saya refleks akan buka HP, mengisi waktu dengan <em>scrolling </em>medsos atau melihat hal-hal lain yang membuat saya berhenti memikirkan apa yang saya alami.</p>



<p>Selain waktu dan distraksi, rasa-rasanya ada satu hal lagi yang menjauhkan kita dari perasaan kita sendiri.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Perempuan harus lemah lembut.” </p><p>“Laki-laki harus tegas dan keras.” </p><p>“Pegawai baru harus penuh semangat.” </p><p>“Seorang pimpinan harus sabar.”</p></blockquote>



<p>Berbagai macam <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/21/mengakhiri-kata-orang-tentang-perempuan/">tuntutan</a> membuat kita tanpa sadar “menyangkal” emosi dan pikiran yang muncul. Seiring dengan bertambah banyaknya emosi yang dipendam ini, kita makin kesulitan mengendalikan diri. Kita jadi sensitif, mudah tersinggung atau marah ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita. Reaksi kita mendahului akal sehat.</p>



<p>Curhat dengan teman bisa menjadi salah satu cara mengeluarkan emosi terpendam yang besar, tapi tidak selalu memberikan solusi. Salah-salah, rasa kesal, marah, atau sedih semakin bertambah ketika kita mengulang kejadian itu di pikiran kita untuk diceritakan kembali.</p>



<p>Secara khusus, laki-laki kondisinya lebih parah. Jangankan mengenali atau menceritakan apa yang mereka rasakan, <em>toxic masculinity </em>yang sudah terbentuk selama berabad-abad membuat banyak laki-laki merasa mereka tidak boleh merasakan emosi-emosi tertentu, apalagi mengekspresikannya.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img loading="lazy" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/lpqQjYwhAmeOBQAFNd6tCdevRFsvqWs9sLcXnt7xTr6xV9aDylI-4HL8m2xdLNFauDi9RO1NzoUmSSRr4jKSgdXv43UVUQ-NYxlljFvdyH-gldKSbH_wuqkaRezChhcFRZRRFOQTbBLEXfIkhvRYCA" alt="cuplikan film Bising" width="800" height="448"/><figcaption><em>Suasana dalam bengkel tempat segala emosi bebas meledak di balik bisingnya knalpot, sumber: jaff-filmfest.org</em></figcaption></figure></div>


<p>Mungkin ini yang berusaha disampaikan oleh tim pembuat film “Bising”, bahwa penting sekali untuk mengakui dan mengeluarkan emosi-emosi terpendam agar kita bisa merasa lega. Namun, pertanyaannya, bagaimana caranya supaya kita bisa melakukan hal tersebut?</p>



<h2><strong>Emosi dan Karma</strong></h2>



<p>Segala hal yang kita alami adalah buah karma kita. Ketika pengalaman itu tidak menyenangkan, artinya karma buruk kita sedang berbuah. Ketika pengalaman itu menyenangkan, artinya karma baik kita sedang berbuah. Respon emosional kita terhadap pengalaman-pengalaman itu juga tentu sangat berkaitan dengan karma yang telah kita timbun sejak waktu tak bermula serta kondisi lain yang menyertainya. Inilah sebabnya setiap orang bisa punya preferensi dan <em>trigger</em> yang beragam. Misal: ada yang menderita ketika makan makanan pedas, tapi ada juga yang menjadi senang. Atau ada yang menjadi marah ketika ditegur, tapi ada juga yang senang.</p>



<p>Lebih lanjut, emosi yang terpicu ketika kita mengalami sesuatu akan membuat kita menghimpun karma baru. Mengeluh karena kesakitan adalah sebuah karma. Sekadar memikirkan betapa kita membenci atau menyukai sesuatu juga merupakan karma pikiran. Ketika kita tidak mengenali dan mengolah emosi yang muncul, akan ada begitu banyak karma-karma yang kita himpun tanpa kita sadari. Jika emosi tersebut muncul dari kebencian, kemelekatan, atau ketidaktahuan, minimal karma buruk pikiran akan muncul. Lalu, karena karma berlipat ganda dengan pesat, maka karma buruk itu juga terus berlipat ganda.&nbsp;</p>



<p>Mungkin inilah yang terjadi ketika seseorang meledak akibat terus-terusan memendam emosi. Rasa kesal, marah, kecewa berlipat ganda di dalam diri, membentuk karma yang terus berlipat ganda setidaknya di level pikiran. Karma buruk pikiran kita berlipat ganda, penderitaan kita pun berlipat ganda, akhirnya kita tak lagi mampu menahan penderitaan tersebut dan meledak dengan berbagai cara.</p>



<p>Satu-satunya cara untuk menghentikan hal tersebut adalah dengan mengenali si emosi, mengenali sebab dan pemicunya, dan mengakuinya, seperti para pemuda dalam film “Bising” yang menyadari kekecewaan atau kemarahan mereka, lalu datang ke bengkel untuk mengeluarkan segalanya.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img loading="lazy" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/fc0qmegvLiP52CD1vMvMzy2YtjXorTFmO4EuRCrI3VLW2aXjGPcTVEsz4UKgcdo7OdELM1cECcL7YjGh5sOf-zo2uK3CR-GDAdjGdJRzfMBltPqTlWArCA-7ydRWRT9dvW4KOTWt-TPtZdz9MOMNnw" alt="" width="800" height="451"/><figcaption><em>Tentu lebih baik membakar kertas daripada membakar kebajikan dengan marah, sumber: jaff-filmfest.org</em></figcaption></figure></div>


<h2><strong>Cara Buddhis Mengolah Emosi</strong></h2>



<p>Di dunia nyata, entah di mana kita bisa menemukan bengkel tempat melampiaskan emosi seperti di film “Bising”. Apalagi ketika emosi itu dikeluarkan dengan mengamuk dan mengumpat, bisa jadi amarah kita memuncak dan kita membuat karma buruk baru. Lantas, bagaimana sebaiknya kita mengola emosi kita?</p>



<p>Saya pernah mengikuti sebuah pelatihan tentang manajemen emosi. Di situ, saya “diuji” untuk menuliskan emosi apa saja yang saya kenali. Setelah itu, pelatih menunjukkan sebuah diagram berisi banyak sekali kata-kata. Itu semua adalah beragam emosi yang bisa dikenali manusia. Ketika dibandingkan dengan daftar yang saya tulis dari “ujian” sebelumnya, terlihat bahwa saya bahkan hanya tahu segelintir emosi dari begitu banyak varian yang ada. Tanpa pengetahuan tentang jenis-jenis emosi, bagaimana kita bisa mengakuinya, apalagi mengeluarkannya dengan positif?</p>



<p>Metode Buddhis untuk terlebih dahulu belajar, lalu merenungkan apa yang dipelajari, dan membiasakan batin alias memeditasikan hasilnya menjadi sangat relevan. Jika kita mempelajari berbagai jenis emosi dan cara menyikapinya, kita bisa mengambil waktu untuk merenung,&nbsp; mengingat kembali apa-apa saja yang pernah kita alami dan rasakan, lantas mencocokkannya dengan apa yang telah kita pelajari. Dengan mengenali itu semua, kita bisa tahu cara terbaik untuk mengekspresikannya. Lebih lanjut, ketika kita sudah terbiasa, kita bahkan bisa mengenali emosi-emosi itu saat mereka muncul.</p>



<p>Namun, sebelum itu, dari mana kita bisa belajar? Buddha yang telah memahami rahasia alam semesta sudah menjelaskan cara kerja batin, termasuk berbagai macam emosi, dalam topik batin dan faktor-faktor mental. Itu bisa menjadi titik awal bagi kita semua untuk mengolah emosi kita menjadi sesuatu yang lebih positif.</p>



<p><em>Baca juga: Review game <a href="https://lamrimnesia.org/2023/02/01/a-space-for-the-unbound-petualangan-menyelam-ke-dalam-batin/">&#8220;A Space for the Unbound&#8221;</a>, contoh hasil olah emosi yang positif.</em></p>



<p>Misalnya, Buddha memaparkan bahwa kemarahan adalah salah satu faktor mental negatif (klesha akar). Kemarahan ini didefinisikan sebagai sebuah reaksi yang harus kita derita, yang disebabkan orang lain atau sebuah objek, atau kepedihan akibat penderitaan itu sendiri, atau oleh sebab-sebab penderitaan. Ketika direnungkan, inilah yang sangat sering saya rasakan ketika mendapat pekerjaan tambahan tiba-tiba–perasaan tidak menyenangkan yang membuat saya ingin mengumpat.&nbsp;</p>



<p>Dijelaskan pula bahwa kemarahan ini menghasilkan akibat buruk: lahir di alam rendah, menghancurkan kebajikan, dan mendorong kita untuk berpikir, berucap, dan bertindak dengan cara yang negatif. Jika dibiarkan, itu semua akan memperbanyak karma buruk saya, yang kemudian akan berbuah menjadi penderitaan yang lebih besar.</p>



<p>Cara mengatasinya adalah menerapkannya adalah hening sejenak, memberi jarak antara diri saya dan kejadian yang membuat saya marah, lalu menyadari bahwa pekerjaan tambahan itu adalah buah karma yang tidak bisa saya hindari. Namun, saya bisa melampauinya dengan mengerjakan pekerjaan tersebut, “menuntaskan” buah karma buruk saya sambil sebisa mungkin meminimalisasi karma buruk baru.</p>



<h2><strong>Mencari Waktu dan Ruang Aman</strong></h2>



<p>Seperti yang sudah disebutkan di awal, kita sebagai manusia modern kekurangan waktu untuk memproses hal-hal yang terjadi dalam diri kita. Kita perlu berupaya, benar-benar menyisihkan sedikit waktu untuk menggali isi hati kita, mengakuinya, menerimanya. Kita juga perlu bahan pembelajaran yang dapat diandalkan agar kita tahu cara menangani permasalahan tersebut.&nbsp;</p>



<p>Lebih lanjut, film “Bising” menunjukkan pentingnya memiliki ruang aman untuk berbagi, teman-teman senasib yang dapat saling berempati, membuat kita merasa tidak sendiri, tidak menghakimi, juga sosok pemandu yang bisa melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tepat untuk kita renungkan, yang bisa kita andalkan ketika kita merasa putus asa.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image is-resized"><img loading="lazy" src="https://lh7-us.googleusercontent.com/RD2Y7SM1nMlCk3Zfm81wbm7f9AkxSyvwa_gSOq_gmfXSAXzvJ6VtkytB-G1bdzbYvalnFM5RrswajE1N4KiPJ7FAUPTuWG6WEUrnu1jHdSHjA_LH-vfWGbkrAjz2017cj5tjcsL7zhI6WqC73vZw8w" alt="" width="800" height="451"/><figcaption><em>Perasaan senasiblah yang mungkin menggerakkan si pemilik bengkel untuk menggali masalah yang dialami pelajar yang mencari “jasa”-nya, lalu membukakan ruang untuknya meski ia sendiri sedang dirundung masalah juga, sumber: jaff-film.org</em></figcaption></figure>



<p>Saya pribadi mendapatkan ini semua dalam penyunyian Dharma seperti <a href="http://instagram.com/lamrimretreatid">Indonesia Lamrim Retreat</a>. Ada Guru Dharma yang memberikan bahan belajar sekaligus melontarkan berbagai pertanyaan yang membantu saya untuk merenungkan kembali apa yang terjadi pada diri saya. Juga ada sahabat-sahabat Dharma yang menjalani aktivitas yang sama. Ketika retret berakhir, saya keluar dengan cara pandang baru yang memungkinkan saya untuk menjalani rutinitas sambil benar-benar merasakan dan mengolah segala emosi yang saya alami.</p>



<p>Di masa sekarang, tentu ada bermacam-macam kegiatan dan komunitas <em>support group</em> untuk <em>emotional release </em>meski aksesnya belum merata. Mengikuti komunitas baru dan kegiatan baru juga seringkali membutuhkan keberanian dari sisi kita. Saya rasa di sinilah konsep Sangha dalam artian “komunitas” berperan–sebuah komunitas yang sama-sama berkomitmen untuk mempelajari, merenungkan, dan memeditasikan Dharma untuk menjadi orang yang lebih baik tentu bisa menjadi ruang aman untuk berlatih mengelola emosi. Bersama dengan Buddha sebagai Guru dan Dharma sebagai jalan, ketiga perlindungan bisa menuntun kita untuk melepaskan emosi dengan cara yang positif.</p>



<p><em>Film pendek “Bising (Chorus of the Wounded Birds)” bisa ditonton sebagai bagian dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival, 25 November–2 Desember 2023, di situs </em><a href="https://klikfilm.com/v4/watch/102-5545?minisite=3"><em>KlikFilm</em></a><em>.</em></p>



<h4>Referensi:</h4>



<ol><li>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Citta_Cetasika_Mengenal_Batin_dari_Kacamata_Buddhi?id=3-ejEAAAQBAJ&amp;gl=US">Citta &amp; Cetasika: Mengenal Batin dari Kacamata Buddhis</a>” karya Guru Dagpo Rinpoche &amp; Drepung Thrisur Lobsang Tenpa Rinpoche</li><li>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=kWKIDwAAQBAJ&amp;gl=US">Pembebasan di Tangan Kita</a>” Jilid III karya Phabongkha Rinpoche</li></ol><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/11/28/review-film-bising/">Film BISING – Merenungkan Cara Mengolah Emosi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/11/28/review-film-bising/">Film BISING &#8211; Merenungkan Cara Mengolah Emosi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/karina/">karina chandra</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
