<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>praktik bodhisatwa - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/praktik-bodhisatwa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Apr 2020 08:45:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.12</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>praktik bodhisatwa - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kalau Buddha Bikin Resolusi Tahun Baru, Isinya Apa, Ya?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2018/01/08/kalau-buddha-bikin-resolusi-tahun-baru-isinya-apa-ya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[dharmapatriot]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jan 2018 11:00:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[2018]]></category>
		<category><![CDATA[bijaksana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran manusia]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<category><![CDATA[welas asih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3885</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh: Toni Bernhard J.D. Ajaran Sang Buddha berhasil diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan sekitar lima abad lamanya. Ajaran-ajarannya kemudian diabadikan dalam sekumpulan tulisan yang kita sebut sebagai ceramah-ceramah Buddha. Dalam menyajikan resolusi-resolusi ini, saya mencoba menuliskan kata-kata beliau tersebut melalui sisi pandang orang pertama; tidak lupa juga mengadaptasi gaya tulisan supaya tulisan ini [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/01/08/kalau-buddha-bikin-resolusi-tahun-baru-isinya-apa-ya/">Kalau Buddha Bikin Resolusi Tahun Baru, Isinya Apa, Ya?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/01/08/kalau-buddha-bikin-resolusi-tahun-baru-isinya-apa-ya/">Kalau Buddha Bikin Resolusi Tahun Baru, Isinya Apa, Ya?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/dharmapatriot/">dharmapatriot</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh: Toni Bernhard J.D.</p>
<p>Ajaran Sang Buddha berhasil diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan sekitar lima abad lamanya. Ajaran-ajarannya kemudian diabadikan dalam sekumpulan tulisan yang kita sebut sebagai ceramah-ceramah Buddha. Dalam menyajikan resolusi-resolusi ini, saya mencoba menuliskan kata-kata beliau tersebut melalui sisi pandang orang pertama; tidak lupa juga mengadaptasi gaya tulisan supaya tulisan ini lebih mudah dibaca dan diterapkan sebagai resolusi menyambut tahun baru. Isi tulisan ini tetap sesuai dengan ceramah-ceramahnya.</p>
<p><strong>Resolusi Buddha:</strong></p>
<p><strong>1. Saya tidak akan mempercayai apapun hanya karena saya telah mendengarnya dan dirumorkan banyak orang. Saya tidak akan mempercayai apapun hanya karena diajarkan oleh guru-guru dan orang-orang tua. Tetapi setelah melalui observasi dan analisis, ketika saya memahami sendiri bahwa sesuatu, jika dijalankan dan dipraktekkan, akan membawa saya menuju kebaikan dan kebahagiaan sekali untuk selamanya, saya akan menerimanya dan hidup sesuai dengannya.</strong></p>
<p>Ini adalah kutipan pendek dari ceramah terkenal yang disebut <em>Kalama Sutta</em>. Sang Buddha menyuruh kita untuk bertanggungjawab atas kehidupan kita sendiri – untuk mengecek sendiri segala sesuatu (bahkan termasuk ajaran-Nya) dan tidak langsung menerimanya mentah-mentah. Barulah jika kita sudah memutuskan bahwa menjalankan dan menghayati sesuatu akan menguntungkan bagi semua makhluk, yuk hidup sesuai hal itu!</p>
<p><strong>2. Sebelum berbicara, saya akan merenungkan apakah apa yang akan saya katakan itu benar, baik, dan bermanfaat.</strong></p>
<p>Tiga hal ini disarikan dari pedoman yang diberikan Buddha dalam Ucapan Bijaksana. Berikut penjabaran lebih lanjut tentang ketiga aspek ini dalam buku saya, <em>How to Be Sick:</em></p>
<p>Membuat semua ucapan kita benar, baik, dan bermanfaat memang merupakan sebuah perintah yang cukup sulit untuk dijalankan, tetapi kita dapat mengatur niatan untuk menjaga ketiga kualitas tersebut dalam pikiran sebelum kita membuka mulut&#8230; Saya menemukan bahwa seringkali mudah untuk memenuhi dua dari kriteria tersebut, tetapi mungkin tidak tiga-tiganya sekaligus. Contohnya, mungkin benar bahwa seorang teman telah tidak menyapa dalam waktu satu bulan, tetapi akankah bermanfaat jika kita langsung mengkonfrontasinya tentang itu? Sebelum mengirimkan sebuah surel “Kenapa sih kamu tidak ada kabar selama ini?”, jika kita mengganti niatan konfrontasi dengan niatan bertanya (“Bagaimana kabarnya?”), maka komunikasi tersebut dapat saja menjadi baik dan bermanfaat. Bisa saja teman tersebut tidak berkabar karena dia sedang mempunyai banyak pekerjaan atau masalah keluarga, sehingga memberikan kita kesempatan untuk menjawab dengan welas asih dan dukungan alih-alih ego pribadi.</p>
<p><strong>3. Kebencian tidak akan pernah berakhir dengan kebencian; kebencian berakhir dengan ketidakbencian. Ini adalah kebenaran sejak zaman dulu. Saya tidak akan ikut serta dalam kebencian.</strong></p>
<p>“Kebencian tidak akan pernah berakhir dengan kebencian; kebencian berakhir dengan ketidakbencian” adalah kutipan yang sangat terkenal dari <em>Dhammapada</em>. Kita mungkin merasa mudah saja untuk setuju dengan separuh pertama, tetapi paruh kedua cenderung lebih sulit direalisasikan. Contohnya Nelson Mandela yang dikurung selama 27 tahun dalam penjara sebelum akhirnya dibebaskan tanpa menyimpan rasa getir atau kemarahan, justru beliau keluar dengan penuh lapang dada. Itulah yang membuatnya dapat banyak menyembuhkan luka-luka di Afrika Selatan dan menginspirasi orang-orang di seluruh dunia untuk mengikuti jalan kedamaian.</p>
<p><strong>4. Apapun yang terus saya kejar dengan pikiran dan renungan saya akan menjadi kecenderungan kesadaran saya, sehingga saya akan mengawasi pikiran dan cara-caranya dengan penuh perhatian.</strong></p>
<p>Di butir ini, Sang Buddha mengajarkan kita untuk waspada terhadap pikiran karena setiap pikiran kita bisa menimbulkan konsekuensi. Kita mungkin tidak dapat mengontrol pikiran yang tiba-tiba muncul di benak kita, tetapi kita bisa belajar untuk tidak sembrono bertindak berdasarkan pikiran-pikiran tersebut &#8212; apalagi jika akibatnya akan membawa keburukan bagi kita sendiri atau orang lain. Contohnya, jika orang lain mendapatkan sesuatu yang sangat kita inginkan, rasa iri mungkin langsung terbesit di hati; tetapi dengan latihan mental, kita dapat belajar untuk cukup mengobservasinya sebagai fakta alih-alih terus “menguber” hal tersebut – misalnya dengan mengarang pikiran negatif seperti “ih dia nggak pantas mendapatkannya; akulah yang pantas!”</p>
<p>Hal ini justru akan memperkuat iri hati yang dirasakan hingga menjadi “kecenderungan kesadaran” dan kita bisa terjerumus menjadi seorang penuh iri hati yang ujungnya mengantarkan diri kita sendiri pada penderitaan dan ketidakbahagiaan.</p>
<p><strong>5. Saya tidak akan memikirkan tentang kesalahan orang lain atau apa yang telah atau belum mereka lakukan. Alih-alih, saya akan memikirkan tentang apa yang saya sendiri telah atau belum lakukan.</strong></p>
<p>Resolusi ini sudah cukup jelas.</p>
<p><strong>6. Sebagaimana batu kokoh bergeming terhadap terpaan angin, saya juga akan bergeming terhadap pujian maupun celaan</strong></p>
<p>Beberapa pengikut Buddha mengejek seorang bhiksu karena postur tubuhnya pendek. Ketika Sang Buddha mendengar bahwa bhiksu tersebut tidak menunjukkan kemarahan apapun, beliau menyatakan bahwa bhiksu tersebut tetap bergeming baik terhadap pujian maupun celaan, seperti sebuah batu.</p>
<p>Dalam ceramah lainnya, Sang Buddha menyatakan bahwa akan selalu ada pujian dan celaan di dunia ini, jadi saya menginterpretasikan perumpamaan batu tersebut sebagai bahwasannya apa yang penting bagi kita adalah reaksi dan respon kita terhadap pujian dan celaan yang kita dapat. Akankah kita terlempar kesana kemari oleh angin yang timbul dari perkataan-perkataan orang, atau akankah kita tetap bergeming dan menyadai bahwa pujian dan celaan bukanlah yang akan membawakan kedamaian dan kebahagiaan bagi kita?</p>
<p><strong>7. Saya akan mengembangkan dan membina pikiran saya.</strong></p>
<p>Sang Buddha berkata, “Sama seperti pohon balsam yang paling lunak dan liat dari semua pohon, dengan cara yang sama, Aku tidak melihat segala sesuatu apapun, yang ketika dikembangkan dan dibina, dapat selunak dan seliat pikiran.” Ini kabar baik! Hal ini berarti bahkan ketika kita tidak dapat meringankan penderitaan fisik, kita dapat terus mengembangkan dan membina pikiran kita untuk meringankan penderitaan mental.</p>
<p>Para ahli saraf sering merujuk pada plastisitas otak. Hal ini sama dengan yang disebut Buddha sebagai “lunak dan liat”. Karena otak kita teramat sangat liat, kita dapat belajar untuk menjaga benak kita dari pikiran atau emosi negatif sebelum mereka berkembang dan akhirnya terwujud dalam ucapan atau tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Kita juga dapat belajar untuk membina pikiran dan emosi yang lembut juga menyembuhkan, seperti welas asih dan kebaikan.</p>
<p>Sebagai manusia kita memiliki kemampuan unik untuk mengembangkan dan membina pikiran kita. Saya sendiri juga telah membuat resolusi di tahun baru ini untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini untuk berkembang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Sumber: <a href="https://www.psychologytoday.com/blog/turning-straw-gold/201112/new-year-s-resolutions-the-buddha-might-have-made">https://www.psychologytoday.com/blog/turning-straw-gold/201112/new-year-s-resolutions-the-buddha-might-have-made </a></em></p>
<p><em>diterjemahkan oleh: Elvan Adiyan Wijaya | disunting oleh: Raka</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/01/08/kalau-buddha-bikin-resolusi-tahun-baru-isinya-apa-ya/">Kalau Buddha Bikin Resolusi Tahun Baru, Isinya Apa, Ya?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/01/08/kalau-buddha-bikin-resolusi-tahun-baru-isinya-apa-ya/">Kalau Buddha Bikin Resolusi Tahun Baru, Isinya Apa, Ya?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/dharmapatriot/">dharmapatriot</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Welas Asih</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Oct 2017 12:11:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[keluar dari samsara]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3715</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Kyabje Lama Zopa Rinpoche Dikutip dari seminar tentang cara mengembangkan welas asih dan menawarkan pelayanan yang sempurna kepada orang lain, diberikan oleh Kyabje Lama Zopa Rinpoche di Kasih Hospice, Selangor, Malaysia, pada tanggal 14 Mei 2006. Disunting oleh Sandra Smith. Menundukkan Kemarahan Membawa Damai Selamat malam. Maaf. Selamat sore. Waktu saya bercampur aduk. Saya [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">oleh: Kyabje Lama Zopa Rinpoche</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Dikutip dari seminar tentang cara mengembangkan welas asih dan menawarkan pelayanan yang sempurna kepada orang lain, diberikan oleh Kyabje Lama Zopa Rinpoche di Kasih Hospice, Selangor, Malaysia, pada tanggal 14 Mei 2006. Disunting oleh Sandra Smith.</span></i></p>
<p><strong>Menundukkan Kemarahan Membawa Damai</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selamat malam. Maaf. Selamat sore. Waktu saya bercampur aduk. Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada semua orang karena telah datang ke sini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anda berada di sini untuk belajar tentang welas asih dan untuk membantu dunia. Ada dorongan yang luar biasa, ada kebutuhan besar untuk membantu makhluk hidup yang tidak memiliki kebahagiaan dan yang terus-menerus menderita. Mereka sangat membutuhkan bantuan Anda. Terima kasih banyak untuk orang-orang yang datang ke sini, yang niatnya adalah untuk memberi manfaat kepada orang lain dan untuk belajar tentang cara melakukannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya harus meminta maaf atas kebiasaan saya untuk datang terlambat. Semua sudah lama menunggu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama, saya ingin menyebutkan apa yang telah dibaca, apa yang saya dengar, tentang dunia yang penuh dengan bencana atau penderitaan, dunia dengan begitu banyak masalah. Apakah welas asih kita dapat melakukan sesuatu untuk membantu? Itulah yang saya dengar. Saya ingin menyebutkan ini untuk memulai sesi kali ini. Sesuatu yang logis. Sangat logis.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dikatakan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Bodhicaryawatara</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Lakon Hidup Bodhisatwa) karya guru besar India, Shantidewa, bahwa jika Anda ingin menutupi seluruh dunia dengan karpet kulit, jika Anda ingin menutupi semua semak duri yang tumbuh di dunia ini, takkan ada cukup kulit untuk menutupinya agar Anda bisa berjalan dengan kaki telanjang tanpa terluka sedikit pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi, jika Anda memakai sepatu kulit, maka ke mana pun Anda pergi, ke bagian dunia mana pun yang Anda kunjungi, semak duri takkan bisa melukai kaki Anda. Jika Anda mengenakan sepatu yang memiliki sol kulit, duri takkan bisa melewati sepatu untuk melukai kaki Anda. Ke mana pun Anda pergi, duri takkan menembus masuk ke dalam kaki Anda.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, jika batin Anda berhasil ditundukkan atau dijinakkan – maka kemarahan, ketidaktahuan, kemelekatan, keinginan, pikiran yang tidak puas, dan semua sikap negatif yang menyamar dan mengganggu – maka takkan ada lagi musuh di dunia; Anda tak dapat lagi menemukan musuh di dunia. Ketika kemarahan, khayalan, dan sikap negatif yang menyamar dan mengganggu dihilangkan, takkan ada tempat di mana Anda bisa menemukan musuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tanpa menjinakkan pikiran Anda dengan melatih hati yang baik, belas kasih untuk orang lain, tentu saja, kemarahan muncul. Tanpa menjinakkan pikiran, dengan khayalan ini, maka tidak masalah berapa banyak musuh luar yang Anda bunuh, tidak pernah selesai. Tidak ada akhir, tidak ada akhir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada dasarnya, jika Anda membunuh satu orang yang merugikan Anda, maka teman-temannya akan menjadi musuh Anda. Mereka menjadi musuh bagi Anda. Lalu, teman-teman mereka akan menjadi musuh bagi Anda. Kemudian, dari sana, seluruh masyarakat, ratusan, puluhan ribu orang, populasi seluruh negara akan menjadi musuh Anda.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada umumnya, dalam perang, ratusan ribu orang terbunuh, meski biasanya konflik hanya dimulai antara dua orang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita hanya berbicara tentang kehidupan ini, masalah dalam kehidupan ini. Efek yang Anda dapatkan dari membunuh musuh sebenarnya jauh lebih buruk daripada itu. Anda ingin memiliki kedamaian abadi, tapi Anda lebih banyak merasakan bahaya dari orang lain. Bahkan jika Anda tidak menerima kerugian sekarang, tahun ini, Anda akan menerimanya nanti, di tahun-tahun lainnya. Mereka akan membahayakan Anda. Mereka akan memendam dendam dan Anda akan mendapat bahaya nanti.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, berhubung ada kesinambungan dari arus kesadaran, kesadaran akan tetap eksis bahkan setelah tubuh Anda hancur atau berhenti berfungsi. Kita bisa mengingat apa yang kita lakukan kemarin, kita bisa mengingat seperti apa kehidupan kita kemarin karena ada kesinambungan dari arus kesadaran dari hari kemarin sampai hari ini. Dari tahun lalu hingga saat ini, ada kesinambungan dari arus kesadaran. Kesadaran tahun lalu berlanjut, dan kesadaran hari ini merupakan kesinambungan dari itu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah sebabnya kita bisa mengingat tahun lalu dan masa kecil kita. Beberapa orang bahkan punya kejernihan batin untuk bisa mengingat momen paling awal dari kelahiran mereka. Kebanyakan orang tidak bisa mengingatnya, tapi beberapa orang bahkan bisa mengingat momen ketika mereka pertama kali keluar dari kandungan ibu mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beberapa orang bahkan bisa mengingat momen ketika mereka berada di rahim ibu – ini adalah orang-orang yang memiliki batin yang sangat jernih, yang tidak terpengaruh oleh banyak kotoran batin, yang memiliki batin yang sangat berkembang. Mereka yang memiliki batin seperti ini bisa mengingat proses konsepsi di rahim ibu. Mereka ingat saat-saat ketika mereka berada di rahim ibu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sama halnya, mereka bisa mengingat kehidupan lampau mereka. Sebelum kesadaran terjadi di rahim ibu, mereka sudah punya ingatan. Mereka ingat di mana mereka dan apa yang mereka lakukan di masa lalu. Mereka yang memiliki batin seperti ini – orang-orang dengan kewaspadaan yang tinggi – dapat melihat masa lalu dan masa depan, tidak hanya pengalaman mereka sendiri, tapi juga pengalaman orang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, tanpa menundukkan emosi negatif seperti amarah, kita akan terus-menerus merasakan bahaya dari orang lain di masa depan. Apa yang kita lakukan dalam kehidupan ini akan menghasilkan konsekuensi panjang yang akan kita alami dalam rangkaian kehidupan mendatang. Dalam ratusan, ribuan kehidupan, kita akan mengalami kerugian dari orang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita hanya memikirkan satu kehidupan ini saja, kita sama sekali tidak akan memiliki kedamaian. Artinya, bahkan jika kita tidak menerima bahaya dari orang lain, semata memikirkan kehidupan saat ini takkan menghasilkan kedamaian dan kebahagiaan batin. Batin kita akan merasa bersalah dan tidak bahagia. Ini terutama terjadi saat kematian datang menjemput. Ketika saat itu tiba, kita akan merasa bahwa kita memiliki kehidupan yang sangat menyedihkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, Shantidewa menasihati kita untuk mengembangkan welas asih, kesabaran, dan kualitas positif lainnya. Ketika batin kita telah dijinakkan atau ditundukkan, ketika kemarahan dan emosi negatif lainnya ditundukkan, ini sama seperti menghancurkan semua musuh sekaligus.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini bisa menjadi bahan renungan kita. Musuh dibuat oleh batin kita. Musuh berasal dari batin kita. Label &#8220;musuh&#8221; berasal dari kemarahan kita. Saat kita marah, label &#8220;musuh&#8221; pun muncul.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat kemarahan muncul, kita melihat seseorang sebagai musuh. Tapi, begitu kita merenungkan dan memunculkan welas asih, kesabaran, dan kualitas positif sejenis kepada orang itu, maka kemarahan kita pun lenyap dalam satu jentikan jari. Orang itu bukan lagi musuh; kita tidak melihat orang itu sebagai musuh pada momen berikutnya. Dengan kesabaran, kita melihat orang itu sebagai yang paling baik, sosok yang paling berharga. Kita merasa orang itu sangat berharga dalam hidup kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan orang yang tidak meyakini reinkarnasi atau hukum karma juga akan mengiyakan poin ini. Dengan melatih kualitas-kualitas positif terhadap orang yang kita sebut musuh, kita dapat mengurangi kemarahan kita padanya; kita dapat mengembangkan lebih banyak kesabaran, lebih banyak welas asih padanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian, terhadap keluarga, pasangan, dan anak-anak kita, kita dapat mengembangkan lebih banyak welas asih, bersikap lebih sabar lagi pada mereka. Kita bisa membuat kemarahan kita semakin berkurang. Ia akan berkurang tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun setelahnya. Dalam 6-7 tahun, kita mungkin hampir takkan pernah marah lagi. Bahkan jika kemarahan muncul, ia hanya akan berlangsung 2-3 detik dan kemudian hilang. Ia tidak berlangsung lama seperti sebelumnya. Ia sangat jarang muncul, dan tidak bertahan lama. Ia muncul selama beberapa detik, lalu lenyap.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita akan memiliki hubungan yang sangat baik, harmonis, dan damai dengan keluarga kita, dengan teman-teman kita. Ada begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tidak marah pada orang lain. Alih-alih marah kepada mereka, kita memiliki kesabaran dan pikiran positif, pikiran yang bahagia. Kita memiliki pikiran yang sehat, pikiran yang damai dan bahagia. Kita memunculkan semua kualitas positif ini, dan kita mengembangkan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bukan saja kita tidak menyakiti orang lain, tapi kita juga menguntungkan mereka. Melalui batin yang positif, kesabaran dan (terutama) welas asih pun muncul. Bukan saja kita tidak menyakiti orang lain, kita akan membantu mereka dengan penuh welas asih. Jadi, alih-alih merugikan orang lain, kita menguntungkan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah yang terjadi. Kita membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan bagi keluarga kita. Dan karena kita tidak marah, kita tidak menyakiti orang lain, dan mereka tidak marah kepada kita. Kita tidak menyebabkan mereka marah kepada kita, kita tidak menyebabkan mereka menyakiti kita. Kita tidak menyebabkan mereka menciptakan karma negatif karena kita, terhadap kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sama halnya, kita akan membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup kita. Kita membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan bagi kehidupan anggota keluarga, suami atau istri, atau anak-anak, atau siapa pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu saja, semua orang menginginkan itu. Kita semua ingin keluarga kita mencintai kita, bahagia bersama kita. Kita tidak ingin ada yang marah kepada kita, menyakiti kita, memperlakukan kita dengan buruk, atau mengkritik kita. Kita tidak menginginkan semua itu. Kita tidak ingin keluarga kita merasa tidak bahagia, memiliki pikiran negatif, marah kepada kita dan terlibat dalam karma negatif, yang semua itu harus mereka tanggung akibatnya. Kita tidak ingin mereka menanggung penderitaan dalam bentuk apa pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak hanya itu. Terhadap semua manusia di negara tempat kita berada, kita juga tidak marah kepada mereka; kita tidak menyakiti mereka. Dengan hati yang baik, dengan kesabaran, jutaan orang di negara kita akan menerima begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan dari diri kita, dari kesabaran kita, dari welas asih kita. Semua manusia di dunia ini, dan semua makhluk lainnya, termasuk binatang, tidak akan menerima bahaya dari kemarahan kita. Semua makhluk tidak akan mendapat bahaya dari kita. Mereka akan menerima begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan dari kita. Tiadanya bahaya adalah kedamaian.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan jika kita tidak terlibat dalam pelayanan tambahan atau memberi manfaat kepada orang lain, ketiadaan amarah adalah kedamaian dan kebahagiaan yang akan mereka terima dari kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita berbicara melampaui konteks kehidupan di dunia ini, maka bisa dikatakan bahwa makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya di dunia-dunia yang lain juga tidak akan mendapat bahaya dari kita jika kita mengembangkan kesabaran dan welas asih. Jika kita berhenti menyakiti orang lain dengan mengembangkan pikiran yang sabar dan berwelas asih, maka dari kehidupan ke kehidupan, makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya akan menerima kedamaian dan kebahagiaan dari kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, semua kedamaian dan kebahagiaan inilah yang bisa kita hasilkan, yang dimulai dari keluarga kita, kemudian negara kita, kemudian dunia ini, dan akhirnya semua makhluk hidup di seluruh alam semesta. Kita bisa menawarkan ini karena kita melatih kesabaran dan welas asih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang tertentu yang memiliki kemarahan terhadap kita, yang merugikan kita, takkan kita balas dengan kemarahan yang sama jika kita mengembangkan kesabaran dan welas asih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siapa yang membantu kita mengembangkan kualitas yang luar biasa dan tak ternilai ini di dalam diri kita? Siapa yang membantu kita mengembangkan kualitas ini sehingga akhirnya kita bisa memberi kedamaian dan kebahagiaan bagi semua makhluk hidup? Mereka yang memiliki kemarahan terhadap kita, yang menyiksa kita, yang merugikan kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka memberi kita kesempatan dan membantu kita untuk menghasilkan kualitas yang tak ternilai ini di dalam batin, sehingga kita akhirnya dapat menawarkan semua kedamaian dan kebahagiaan ini kepada makhluk hidup lain yang tak terhitung jumlahnya dari kehidupan ke kehidupan. Oleh karena itu, mereka sangat berharga. Tidak ada ucapan terima kasih yang dapat mengungkapkan perasaan syukur kita atas hal ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tak perlu berbicara tentang kehidupan mendatang. Dalam kehidupan saat ini saja, kita dapat menawarkan begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan melalui kesabaran dan welas asih kepada keluarga dan negara kita dan seluruh dunia. Kita bisa membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan kepada mereka. Itu sangat luar biasa. Itu akan mencapai tujuan hidup kita. Itulah arti sebenarnya dari kehidupan, sesuatu yang membuat hidup menjadi berharga.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semuanya karena kebaikan dari orang yang telah marah kepada kita, yang merugikan kita. Karena kemarahan dan tindakan buruk mereka, kita diberi kesempatan untuk melatih batin kita, untuk melatih kesabaran dan welas asih, untuk menawarkan begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan kepada dunia, kepada makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya katakan sebelumnya bahwa tiadanya bahaya itu sendiri adalah kedamaian dan kebahagiaan. Kemudian selain itu, kita menawarkan pelayanan kepada orang lain, jadi ada tambahan kebahagiaan dan kedamaian. Ini semua karena kebaikan musuh kita. Oleh karena itu, melatih batin dengan orang tersebut membantu kita memiliki kedamaian dan kebahagiaan dalam keluarga dan kehidupan kita. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua ini adalah jawabannya. Inilah yang bisa kita lakukan untuk membantu dunia. Semuanya berasal dari pihak kita, yang tidak ingin membahayakan dunia dan penghuninya terlebih dahulu. Mulai satu per satu, dengan satu manusia atau dengan binatang yang paling dekat dengan kita. Dari sini, kita bisa berkembang lebih dan lebih, untuk membawa kebahagiaan kepada orang lain, untuk tidak menyakiti orang lain, dan untuk memberi mereka kebahagiaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk melakukan semua itu, kita perlu mengubah batin  kita. Kita perlu mengubah kemarahan menjadi kesabaran, menjadi welas asih bagi orang lain. Apa yang dikatakan Shantidewa sangat benar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalau kita tidak memiliki kemarahan, maka ke mana pun kita pergi – Timur atau Barat, di rumah atau di luar, di kantor, ke mana pun kita pergi &#8211; kita tidak dapat menemukan musuh. Sebaliknya, dengan memiliki kemarahan, kita akan menemukan musuh di mana pun kita berada. Bahkan di pusat meditasi, bahkan di sebuah biara, bahkan di dalam gua sekali pun, kita akan menemukan musuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika kita memiliki kemarahan terhadap seseorang, kita melihat orang itu sebagai sosok yang sangat tidak diinginkan. Kita tidak menyukai orang itu; ia adalah seseorang yang tidak ingin kita lihat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi pada momen berikutnya, ketika kita memikirkan kebaikan orang itu – yang telah memungkinkan kita untuk melatih kesabaran dan welas asih – kita akan melihatnya dengan cara yang benar-benar berlawanan dari sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang ini sebelumnya tidak diinginkan; kita tidak ingin melihatnya. Ia tidak diinginkan. Tapi sekarang, ia adalah orang yang paling berharga dan paling baik. Tidak ada ucapan terima kasih yang cukup untuk membalas kebaikannya. Ia lebih baik daripada seseorang yang memberi kita satu miliar dolar atau satu juta dolar. Kebaikan miliknya berbeda. Kebaikannya adalah sesuatu yang kita rasakan sangat mendalam di hati kita. Sekarang, ia menjadi sangat berharga; ia adalah seseorang yang harus kita miliki dalam hidup kita. Kita merasa sangat berbeda dari sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang, kita bisa melihat bahwa tidak ada musuh; tidak ada musuh yang ada secara inheren. Orang lain tidak berubah. Kitalah yang mengubah batin kita; orang lain tidak berubah. Masih ada kemarahan orang itu di sana. Jika tidak, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk melatih kesabaran. Jika batin orang lain berubah terhadap kita, jika ia menghentikan kemarahannya, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kesabaran kita. Jadi sebenarnya, di mana pun kita berada, kita tidak memiliki musuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika teman-teman kita tidak marah kepada kita, jika teman-teman kita mencintai kita, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk melatih kesabaran dengan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua makhluk hidup datang dalam tiga cara: baik sebagai teman, musuh, atau orang asing. Makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya adalah musuh, atau orang asing, atau teman. Jika makhluk hidup adalah orang asing, maka juga tidak ada kesempatan untuk melatih kesabaran dan menenangkan kemarahan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pikirkan, &#8220;Di negara ini, di dunia ini, di antara makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya – mereka yang tercerahkan dan belum tercerahkan, mereka yang terbebas dari penderitaan dan tidak terbebas dari penderitaan, para makhluk biasa – mereka yang memiliki kemarahan terhadap saya adalah satu-satunya yang memberi saya kesempatan untuk mengembangkan batin saya, untuk menguntungkan semua makhluk hidup di seluruh dunia. Inilah satu-satunya pihak yang memungkinkan saya menjinakkan batin saya.&#8221;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, orang ini menjadi sangat berharga. Ketika kita melihat kebaikan musuh, kita tidak ingin musuh menderita; kita ingin membebaskan musuh dari penderitaan. Welas asih pun muncul untuk musuh kita. Ini hanya satu contoh. Jika kita bisa mengembangkan welas asih kepada musuh kita, maka akan mudah untuk mengembangkannya kepada orang asing atau teman. Akan sangat mudah untuk mengembangkan welas asih kepada mereka. Yang paling sulit adalah mengembangkan welas asih kepada musuh.</span></p>
<p><em>diterjemahkan oleh: Deny Hermawan</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lawan Hate Speech dengan LOVE SPEECH!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/09/25/lawan-hate-speech-dengan-love-speech/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Sep 2017 05:03:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[hate speech]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[love speech]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan samsara]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[sharelove]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3709</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Hati-hati. Saat setiap orang memiliki akses untuk menyuarakan pendapatnya ke publik lewat media sosial, informasi yang sebenarnya bersifat opini atau cenderung subjektif mudah saja tersebar kemana-mana tanpa ada saringan, tanpa  kita sadari seringkali informasi tersebut bersifat bohong ataupun merugikan pihak-pihak tertentu atau yang biasa dikenal dengan hate speech (ujaran kebencian). Masalahnya apa? Adalah karena sifat [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/09/25/lawan-hate-speech-dengan-love-speech/">Lawan Hate Speech dengan LOVE SPEECH!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/09/25/lawan-hate-speech-dengan-love-speech/">Lawan Hate Speech dengan LOVE SPEECH!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hati-hati. Saat setiap orang memiliki akses untuk menyuarakan pendapatnya ke publik lewat media sosial, informasi yang sebenarnya bersifat opini atau cenderung subjektif mudah saja tersebar kemana-mana tanpa ada saringan, tanpa  kita sadari seringkali informasi tersebut bersifat bohong ataupun merugikan pihak-pihak tertentu atau yang biasa dikenal dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">hate speech </span></i><span style="font-weight: 400;">(ujaran kebencian). Masalahnya apa? Adalah karena sifat dasar manusia yang cenderung defensif saat menerima pemahaman yang berbeda dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">belief system</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang dimiliki, maka </span><b>saat massa menerima </b><b><i>hate speech </i></b><b>reaksinya hanya ada 2 macam</b><span style="font-weight: 400;">: </span></p>
<ol>
<li><b>Jika berbeda pandangan</b><span style="font-weight: 400;">: maka muncul rasa penolakan, dan rasa ingin membalas</span></li>
<li><b>Jika sama pandangan</b><span style="font-weight: 400;">: Atas dasar poin 1, maka orang akan cenderung impulsif untuk </span><i><span style="font-weight: 400;">share</span></i><span style="font-weight: 400;"> apapun yang sepihak dengannya, tanpa menilai objektifitas dari informasi tersebut dengan lebih saksama. </span></li>
</ol>
<p><b>Hasilnya adalah lingkaran balas-membalas yang berputar semakin membesar</b><span style="font-weight: 400;"> seperti bola salju yang bergulir, menunjukkan bahwa tanpa intervensi, </span><i><span style="font-weight: 400;">hate speech</span></i><span style="font-weight: 400;"> akan terus membesar seiring dengan semakin terpolarisasinya masyarakat. Tak heran jika </span><i><span style="font-weight: 400;">hate speech </span></i><span style="font-weight: 400;">ini bisa menjadi bisnis, karena secara bawah sadar kebencian ini semakin membesar dalam diri masing-masing orang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seumpama perang, maka dalam perang informasi ini pasti ada yang menang dan kalah, </span><b>efek dari </b><b><i>hate speech </i></b><b>ini dalam jangka panjang adalah kebohongan yang lama-kelamaan menjadi fakta</b><span style="font-weight: 400;"> yang diterima oleh masyarakat (tentunya dari mayoritas/pihak yang menang). </span><b>Sekali lagi, hati-hati!</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi apa yang harus dilakukan? </span><b>Ingat bahwa kebencian tak akan hilang jika dilawan dengan kebencian</b><span style="font-weight: 400;">, sebaliknya seluruh agama menganjurkan bahwa kejahatan seharusnya dibalas dengan kebaikan. Ya, seluruh agama, penulis sudah cek, jadi kadang ironis ketika balas membalas kebencian bahkan dilakukan atas nama agama. Kembali ke poin awal,</span><b> arus </b><b><i>hate speech </i></b><b>bisa dilawan, yaitu dengan membiasakan diri dengan menyebarkan </b><b><i>love speech</i></b><b>!</b></p>
<p><b>Berikut ini adalah cara melawan hate speech &amp; menyebarkan </b><b><i>love speech</i></b><b> di sosial media:</b></p>
<p><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3711 aligncenter" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech.png" alt="" width="2000" height="2100" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech.png 2000w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-600x630.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-286x300.png 286w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-975x1024.png 975w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-768x806.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-1463x1536.png 1463w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-1950x2048.png 1950w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-150x158.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-450x473.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-1200x1260.png 1200w" sizes="(max-width: 2000px) 100vw, 2000px" /></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8211;  </span><b>BACA:</b><span style="font-weight: 400;"> ketika melihat sebuah postingan, jangan hanya baca judul terus langsung bereaksi. baca dulu baik-baik isinya<br />
</span><span style="font-weight: 400;">&#8211; </span><b>RENUNGKAN:</b><span style="font-weight: 400;"> setelah membaca, renungkan isi postingan tersebut. apakah isinya positif atau negatif? apakah bermanfaat jika dishare? apakah membawa kebahagiaan atau menimbulkan kemarahan?<br />
</span><span style="font-weight: 400;">&#8211; </span><b>SHARE:</b><span style="font-weight: 400;"> jika post tersebut menimbulkan kebahagiaan dan nilai2 positif lainnya, sebarkan!<br />
</span><span style="font-weight: 400;">&#8211; <strong>REJOICE</strong></span><b>:</b><span style="font-weight: 400;"> bersukacitalah karena telah turut menyebarkan </span><i><span style="font-weight: 400;">love speech</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan membuat dunia lebih baik</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk orang-orang yang membaca artikel ini mungkin berpikir ini gombal atau klise. Tapi ingat, sama seperti kebencian, kebaikan hati juga bisa menular, setiap individu harus ingat bahwa satu orang adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat, setiap diri kita bisa membawa dunia menjadi baik atau buruk. </span></p>
<p><b>Lalu, kalau mau nyebarin </b><b><i>love speech, </i></b><b>harus mulai dari mana?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kamu bisa mulai dengan ikutan </span><i><span style="font-weight: 400;">campaign </span></i><span style="font-weight: 400;">SHARE LOVE dari Lamrimnesia! Setiap pagi, Lamrimnesia akan mengirimkan gambar dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">quote</span></i><span style="font-weight: 400;"> positif penuh cinta via facebook, instagram, whatsapp, dan line square Lamrimnesia dengan tag </span><b>#sharelove #lamrimnesia</b><span style="font-weight: 400;">. </span><b>Share/repost</b> <i><span style="font-weight: 400;">love speech </span></i><span style="font-weight: 400;">dari Lamrimnesia ini lewat semua akun sosmedmu!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kamu juga bisa membuat </span><i><span style="font-weight: 400;">love speech</span></i><span style="font-weight: 400;"> kreasimu sendiri, bisa dalam bentuk gambar, tulisan, video, pokoknya apapun yang bisa dibagikan dan bernilai positif! </span><b>Kirimkan </b><b><i>love speech</i></b><b> karyamu</b><span style="font-weight: 400;"> ke line square Lamrimnesia (bit.ly/lamsquare) untuk dibagikan ke lebih banyak orang lewat sosmed-sosmed Lamrimnesia!</span></p>
<p><b>Mari jauhkan diri dari </b><b><i>hate speech </i></b><b>dan mulai membudayakan </b><b><i>love speech</i></b><b> sekarang juga!</b></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/09/25/lawan-hate-speech-dengan-love-speech/">Lawan Hate Speech dengan LOVE SPEECH!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/09/25/lawan-hate-speech-dengan-love-speech/">Lawan Hate Speech dengan LOVE SPEECH!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dana Dharma: Bentuk Dana Tertinggi</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/09/05/dana-buku-dharma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Sep 2017 06:18:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3689</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Sankhapala Jayawardhana Mendengar nama Buddha Dipankara, Petapa Sumedha membangkitkan keyakinan yang sangat kuat kepada Buddha Dipankara. Setelah bertemu, Buddha Dipankara meramalkan bahwa petapa Sumedha akan mencapai Kebudhaan yang lengkap sempurna pada masa kerajaan Kapilawastu, yang dipimpin oleh Raja Sudodhana dan Ratu Mahamaya. Petapa Sumedha akan dilahirkan sebagai seorang pangeran bernama Siddharta Gautama dan akan [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/09/05/dana-buku-dharma/">Dana Dharma: Bentuk Dana Tertinggi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/09/05/dana-buku-dharma/">Dana Dharma: Bentuk Dana Tertinggi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Sankhapala Jayawardhana</p>
<p>Mendengar nama Buddha Dipankara, Petapa Sumedha membangkitkan keyakinan yang sangat kuat kepada Buddha Dipankara. Setelah bertemu, Buddha Dipankara meramalkan bahwa petapa Sumedha akan mencapai Kebudhaan yang lengkap sempurna pada masa kerajaan Kapilawastu, yang dipimpin oleh Raja Sudodhana dan Ratu Mahamaya. Petapa Sumedha akan dilahirkan sebagai seorang pangeran bernama Siddharta Gautama dan akan menikah dengan Yasodhara dan akan mempunyai putra bernama Rahula.</p>
<p>Sejak diramalkan oleh Buddha Dipankara, Petapa Sumedha dengan penuh semangat dan keyakinan mengumpulkan sebab-sebab untuk mencapai Kebuddhaan. Sebab-sebab yang dimaksud disini adalah, Petapa Sumedha mengumpulkan kebajikan untuk menyempurnakan Paramita. Ada 10 paramita yang harus disempurnakan Petapa Sumedha. Beliau menyempurnakan paramita ini selama 4 Asankheya dan 100 ribu kalpa. Sungguh waktu yang sangat lama.</p>
<p>Cerita-cerita mengenai perjalanan sejak Petapa Sumedha diramal sampai kehidupan terakhirnya sebagai Pangeran Setaketu, banyak diceritakan di Jataka. Berbagai jenis alam kehidupan telah beliau lalui, Karena beliau bertekad untuk mencapai Kebuddhaan, tentunya karma yang beliau kumpulkan adalah karma bajik, sehingga tidak heran jika alam kehidupan yang beliau alami sebagian besar adalah sebagai manusia yang penuh kemasyhuran, atau sebagai biksu ataupun alam dewa. Ada juga kelahiran Beliau sebagai binatang, seperti kelinci, burung, gajah dan sebagainya. Namun, dalam kelahiran beliau sebagai binatang pun, beliau diceritakan tetap bisa mengumpulkan kebajikan dengan mengorbankan nyawanya sendiri untuk memberi persembahan.</p>
<p>Yang pertama dari 10 paramita adalah Dana. Dana paramita berarti kesempurnaan paramita? Bagaimana paramita bisa dikatakan sempurna? Menyempurnakan Dana Paramita bukanlah berarti bahwa kita harus mengentaskan kemiskinan semua makhluk. Hal ini adalah tidak mungkin, karena setelah berpuluh-puluh Buddha lahir dan parinibanna pun, kita masi menemukan yang namanya kemiskinan dan penderitaan. Kemiskinan belum tuntas hingga hari ini. Lalu bagaimana seseorang dikatakan telah sempurna Dana Paramita nya?</p>
<p>Tindakan berdana yang sesungguhnya adalah tindakan batin yang ingin memberikan tubuh, kekayaan dan akar-akar kebajikan. Praktik ini dibagi ke dalam tiga jenis: (1) memberikan benda-benda materi, (2) memberikan kebebasan dari rasa takut , dan (3) memberikan Dharma.</p>
<p><strong>(1) Memberikan benda-benda materi</strong></p>
<p>Benda-benda materi yang dimaksud disini mulai dari harta benda kita sampai dengan berdana tubuh kita sendiri. Intinya adalah kerelaan memberi yang sempurna. Ketika batin sudah rela memberi, bahkan nyawa kita sendiri pun rela untuk kita berikan (cerita jataka tentang kelinci yang melompat ke api). Sampai saat itu terjadi (merelakan nyawa), kita harus terus berlatih mulai dari memberi benda-benda materi yang sanggup kita berikan. Sebuah aspirasi untuk bisa memberikan tubuh kita suatu hari ini nanti hingga mencapai Nibanna haruslah selalu di bangkitkan dalam batin ketika memberi benda-benda materi.</p>
<p><strong>(2) Memberikan kebebasan dari rasa takut</strong></p>
<p>Bentuk berdana ini termasuk perbuatan seperti memberikan kebebasan pada mereka yang menderita di penjara, menolong mereka yang terancam bahaya tenggelam, dan menyelamatkan serangga- serangga dan binatang-binatang lain selama musim panas dan dingin ketika mereka terancam bahaya kepanasan atau kedinginan.<br />
Kita tidak perlu mencari jauh-jauh kesempatan untuk membebaskan makhluk hidup dari ketakutan. Praktik semacam ini bahkan bisa dipraktikkan pada kutu yang ditemukan di tubuh kita. Juga sangat mudah membebaskan serangga dari bahaya tenggelam. Yang harus kita lakukan hanyalah mengulurkan tangan kita.</p>
<p><strong>(3) Memberikan Dharma</strong></p>
<p>Memberikan Dharma meliputi semua tindakan mengajar— bahkan menafsirkan empat baris bait—dengan motivasi yang baik, kepada mereka yang ingin mendengarkan, dan menjelaskan makna kitab suci kepada murid kita. Praktik ini tidak harus berupa ceramah resmi yang diberikan di wihara. Di antara jenis praktik memberi yang lainnya, praktik memberikan Dharma merupakan bentuk tertinggi dari praktik berdana.<br />
Kenapa dikatakan memberi Dharma adalah bentuk tertinggi dari praktik berdana? Alasannya adalah karena praktek berdana Dharma bisa membebaskan kita dari samsara dan mencapai Nibanna sedangkan praktek memberi materi dan membebaskan dari rasa takut hanya memberikan manfaat yang sementara.</p>
<p>Lalu bagaimana kita mempraktikkan Dana Dharma yang tertinggi ini? Bagaimana kalau kita tidak punya kemampuan untuk mengajarkan Dharma? Berdana Dharma tidak harus dilakukan dengan mengajarkan Dharma. Segala hal yang berkaitan dengan tujuan untuk menyebarkan Dharma adalah Dana Dharma. Mengajak teman ke wihara untuk mendengar Dharma, memberikan nasihat Dharma kepada teman adalah Dana Dharma juga.</p>
<p>Satu Dana Dharma yang mudah untuk dilakukan adalah Dana Buku Dharma. Kalau kita berdana 100 buku Dharma, dan buku ini di baca oleh 100 umat Buddha atau 100 Biksu, maka manfaat Dana Dharma kita akan menjadi luar biasa. Jika setelah membaca buku Dharma yang kita danakan ini, umat/biksu tersebut membangkitkan rasa menolak samsara yang kuat, bayangkan karma baik yang akan kita peroleh. Jadi, selama buku tersebut masih digunakan, maka kita masih tetap akan mendapatkan karma baik dari berdana buku Dharma tersebut.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Di bulan Kathina ini, Lamrimnesia membuka kesempatan berdana buku Dharma kepada Sangha. Kami berharap dengan buku Dharma ini, para anggota Sangha dapat mendapatkan pengetahuan Dharma dan realisasi yang kelak dibagikan kepada kita. Yuk simak petunjuknya di tautan berikut: http://lamrimnesia.org/2017/09/05/kathina-dana/</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/09/05/dana-buku-dharma/">Dana Dharma: Bentuk Dana Tertinggi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/09/05/dana-buku-dharma/">Dana Dharma: Bentuk Dana Tertinggi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memberi Makan Buddha &#8211; Persembahan Makanan Dalam Buddhisme</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/03/20/memberi-makan-buddha-persembahan-makanan-dalam-buddhisme/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Mar 2017 06:39:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[offering]]></category>
		<category><![CDATA[persembahan]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2999</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BARBARA O&#8217;BRIEN Persembahan makanan adalah salah satu ritual tertua Buddhisme, sekaligus yang paling umum. Makanan diberikan kepada para biksu pada waktu pindapata, juga dipersembahkan pada dewa-dewa pelindung Tantra dan hantu kelaparan. Pemberian makanan adalah tindakan mulia yang mengingatkan kita agar tidak tamak atau egois. Persembahan Pindapata kepada Biksu Penganut Buddhisme generasi awal tidak membangun [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/20/memberi-makan-buddha-persembahan-makanan-dalam-buddhisme/">Memberi Makan Buddha – Persembahan Makanan Dalam Buddhisme</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/20/memberi-makan-buddha-persembahan-makanan-dalam-buddhisme/">Memberi Makan Buddha &#8211; Persembahan Makanan Dalam Buddhisme</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BARBARA O&#8217;BRIEN</p>
<p>Persembahan makanan adalah salah satu ritual tertua Buddhisme, sekaligus yang paling umum. Makanan diberikan kepada para biksu pada waktu pindapata, juga dipersembahkan pada dewa-dewa pelindung Tantra dan hantu kelaparan. Pemberian makanan adalah tindakan mulia yang mengingatkan kita agar tidak tamak atau egois.</p>
<p><strong>Persembahan Pindapata kepada Biksu</strong></p>
<p>Penganut Buddhisme generasi awal tidak membangun kuil. Mereka malahan merupakan tunawisma yang meminta-minta (<em>pindapata</em>) untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Benda pribadi yang mereka miliki hanya jubah dan mangkuk.</p>
<p>Hari ini, di negara yang didominasi Theravada seperti Thailand, biksu masih mengandalkan pindapata untuk makanan mereka. Para biksu meninggalkan kuil pagi-pagi sekali. Mereka berbaris rapi, biksu tertua di depan, membawa mangkuk minta-minta mereka. Orang-orang awam menunggu mereka, terkadang sambil membungkuk, dan meletakkan makanan, bunga, atau dupa dalam  mangkuk-mangkuk mereka.</p>
<p>Para biksu tidak berbicara, bahkan tidak mengucapkan terima kasih. Pemberian pindapata tidak dianggap kegiatan amal. Pemberian dan penerimaan pindapata menciptakan hubungan spiritual diantara kehidupan kuil dan komunitas awam. Orang awam memiliki tanggung jawab menopang aspek fisik para biksu, dan para biksu memiliki tanggung jawab menopang aspek spiritual komunitas tersebut.</p>
<p>Praktek pindapata sudah menghilang dari kebanyakan negara Mahayana, meskipun biksu-biksu Jepang setiap beberapa waktu melakukan ‘takuhatsu’, diambil dari kata permintaan (taku) dan mangkuk (hatsu).</p>
<p>Terkadang para biksu mengucap sutra sebagai ganti pemberian. Biksu-biksu Zen kadang muncul dalam kelompok-kelompok kecil, mendaraskan “ho” (dharma) selagi mereka berjalan untuk menunjukkan bahwa mereka membawakan dharma.</p>
<p>Biksu yang mempraktikkan takuhatsu memakai topi jerami besar yang menutupi sebagian wajah mereka. Topi ini juga menghalangi mereka melihat wajah orang-orang yang melakukan pemberian.</p>
<p>Tidak ada pemberi dan penerima, hanya pemberian dan penerimaan. Ini menyucikan tindakan pemberian dan penerimaan tersebut.</p>
<p><strong>Persembahan Makanan Lain</strong></p>
<p>Persembahan makanan seremonial juga merupakan praktek Buddhisme umum. Ritual dan doktrin spesifik di baliknya berbeda dari satu aliran ke aliran lain. Makanan bisa ditinggalkan begitu saja di altar dengan penghormatan kecil, atau dilakukan dengan mewah diiringi pendarasan mantra dan posisi membungkuk seluruh badan. Bagaimanapun detilnya, seperti juga pemberian makanan kepada para biksu, persembahan makanan pada altar adalah tindakan untuk menghubungkan diri dengan dunia spiritual. Tindakan ini dimaksudkan untuk melepas ego dan membuka hati terhadap kebutuhan orang lain.</p>
<p>Dalam Zen, dikenal juga konsep untuk mempersembahkan makanan pada para hantu kelaparan. Dalam upacara makan formal pada sesshin, sebuah mangkuk persembahan akan diteruskan secara estafet ke semua orang yang mengikuti jamuan makan. Semua orang mengambil sepotong kecil makanan dari piring mereka, menyentuhkannya ke dahi, kemudian meletakkannya ke mangkuk persembahan. Mangkuk itu kemudian diletakkan secara simbolis di altar.</p>
<p>Hantu kelaparan mewakili segala ketamakan dan kemelekatan diri yang mengikat kita pada kekecewaan dan kesedihan kita. Dengan memberikan sesuatu yang kita inginkan, kita melepas ikatan dari kemelekatan dan keinginan pribadi untuk memikirkan orang lain.</p>
<p>Pada akhirnya, makanan yang dipersembahkan akan ditinggalkan di luar untuk burung dan hewan liar.</p>
<p>Sumber: https://www.thoughtco.com/feeding-the-buddha-449750 | Diterjemahkan oleh Lisa Santika Onggrid</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/20/memberi-makan-buddha-persembahan-makanan-dalam-buddhisme/">Memberi Makan Buddha – Persembahan Makanan Dalam Buddhisme</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/20/memberi-makan-buddha-persembahan-makanan-dalam-buddhisme/">Memberi Makan Buddha &#8211; Persembahan Makanan Dalam Buddhisme</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Banyak-Banyak Persembahan Buat Apa? Memangnya Buddha Terima?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/03/14/banyak-banyak-persembahan-buat-apa-memangnya-buddha-terima/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Mar 2017 09:09:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[offering]]></category>
		<category><![CDATA[persembahan]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2910</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD Kamu pasti sering melihat altar di Vihara atau di tempat sembahyang keluargamu. Di atas meja altar tersebut kamu pasti sering melihat adanya buah, air, bunga, dan lainnya, pernahkah muncul pertanyaan di benakmu: itu untuk apa ya? Buddha sendiri merupakan adalah makhluk yang telah tercerahkan dengan sempurna, jadi apakah Beliau masih butuh benda-benda materi [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/14/banyak-banyak-persembahan-buat-apa-memangnya-buddha-terima/">Banyak-Banyak Persembahan Buat Apa? Memangnya Buddha Terima?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/14/banyak-banyak-persembahan-buat-apa-memangnya-buddha-terima/">Banyak-Banyak Persembahan Buat Apa? Memangnya Buddha Terima?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD</p>
<p>Kamu pasti sering melihat altar di Vihara atau di tempat sembahyang keluargamu. Di atas meja altar tersebut kamu pasti sering melihat adanya buah, air, bunga, dan lainnya, pernahkah muncul pertanyaan di benakmu: itu untuk apa ya? Buddha sendiri merupakan adalah makhluk yang telah tercerahkan dengan sempurna, jadi apakah Beliau masih butuh benda-benda materi seperti itu? Tentunya tidak, tapi Buddha memiliki cita-cita agung membebaskan semua makhluk dari penderitaan, jadi persembahan ini merupakan ritual yang dimaksudkan untuk membebaskan kita dari penderitaan, kok bisa? Begini penjelasannya.</p>
<p>Jika kamu pergi ke wihara tentu saja kamu akan menemui banyak tradisi atau ritual, mulai dari anjali, namaskara, puja, dan juga persembahan yang baru kita bahas. Pada dasarnya ritual merupakan alat yang digunakan oleh banyak orang dan sudah terbukti berhasil, untuk mewariskan suatu nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh suatu ajaran, maka dari itu kamu bisa melihat bahwa ada banyak macam ritual dari berbagai tradisi Buddhis, yaitu persembahan yang bervariasi tergantung tradisi, namun praktik persembahan memiliki makna yang luhur yang terkandung di dalamnya.</p>
<p><strong>Praktik persembahan melatihmu untuk mengikis kemelekatan akan ‘aku’</strong></p>
<p>Saat kamu memberikan suatu milikmu pada pihak lain, kamu berlatih untuk mengikis kemelekatan, ini adalah salah satu manfaat dari memberi. Manusia pada dasarnya memiliki sifat pelit jika harus mengeluarkan waktu, uang, tenaga, ataupun pikiran untuk orang lain, karena kita senantiasa melekat pada aku; mobil-ku, HPku, rumahku, ideku, identitasku, pekerjaanku, dan lainnya. Coba bayangkan jika kamu kehilangan hal-hal itu, tentunya kamu akan menjadi sangat menderita. Semua hal cenderung ingin kamu dapatkan untuk dirimu sendiri, dan ‘aku’ ini tidak akan pernah terpuaskan, inilah sumber penderitaan.</p>
<p>Memberikan persembahan melatihmu sedikit demi sedikit agar saat kamu kehilangan hal-hal di atas, penderitaan yang kamu rasakan bisa berkurang. Maka dari itu, latihan memberi dimulai dari yang paling mudah dulu yaitu benda materi.  Memberi persembahan merupakan penawar bagi kemelekatanmu karena merupakan kebalikan total dari pikiran yang melekat,sehingga akan timbul rasa bersyukur dan cepat puas atas apa yang kamu miliki.</p>
<p><strong>Mengapa memberikan persembahan pada Sang Triratna?</strong></p>
<p>Praktik persembahan yang dibahas disini adalah persembahan yang ditaruh di atas altar, lantas kamu mungkin bertanya, mengapa persembahan pada Sang Triratna, bukan objek lain yang lebih nyata? Karena ketika kamu mempersembahkan sesuatu pada Sang Triratna, kamu akan mengingat kualitas-kualitas Sang Triratna yang tiada banding, yang bisa membebaskan semua makhluk dari penderitaan, yang memiliki kebijaksanaan, cinta kasih, dan kemampuan untuk menolong. Dengan memberikan persembahan pada objek yang terunggul ini, kamu membangkitkan rasa hormat dan cinta pada mereka, kamu juga menginspirasi pikiranmu untuk mencapainya, rasa inilah yang mengumpulkan potensi positif yang luar biasa besar, maka dari itu dikatakan bahwa Sang Triratna adalah ladang kebajikan yang terunggul.</p>
<p>Ketika kamu memiliki rasa hormat yang besar pada satu objek, secara alamiah kamu akan memiliki insting untuk memberikan mereka sesuatu karena kamu ingin membuat suatu koneksi terhadap objek itu. Maka dari itu yang membutuhkan persembahan ini adalah dirimu sendiri yang membutuhkan kebajikan, bukan Sang Triratna, karena Buddha sendiri sudah terbebas dari segala penderitaan. Dengan melakukan persembahan pada Sang Triratna, sebaiknya kamu meletakkan rasa baktimu pada mereka dan berterima kasih karena Sang Triratna merupakan sumber kebahagiaanmu.</p>
<p><strong>Praktik persembahan melatih sikapmu dalam memberi.</strong></p>
<p>Saat memberikan sesuatu pada seseorang kamu akan berpikir “apa gunanya?”, “apakah orang ini pantas?” atau setelah memberi kamu mengharapkan terima kasih dan muka bahagia pada orang yang kamu beri, atau pemberian itu akan mempengaruhi reputasimu, kamu mempertimbangkan sejuta alasan dan kemungkinan dalam banyak situasi, hasilnya kamu lama berpikir dan pusing sendiri. Ini artinya kamu memiliki batasan internal/dalam dirimu saat memberi. Dengan praktik persembahan, kamu dapat melatih diri untuk tidak berekspektasi saat memberikan sesuatu, karena pikiran negatif-negatifmu sendirilah yang menghalangi kamu dalam mengembangkan Dana Paramita. Apakah Dana Paramita bisa berkembang? Ya, kamu pasti punya pengalaman “senang” setelah memberi bukan karena efek eksternal (seperti ucapan terima kasih), tapi seperti “Oh, hal ini sangat baik untuk dilakukan”. Semakin luas kamu bisa membangkitkan rasa ini ketika memberi, artinya dana paramitamu sudah berkembang.</p>
<p>Contoh sikap yang salah saat melakukan persembahan saya temui di kehidupan saya sehari-hari, misalnya pada saat sembahyang Imlek, ada tradisi bahwa harus ada persembahan jeruk bali di altar. Kebetulan orang tua saya yang mendapat giliran membeli, mereka berpendapat, “Jangan beli jeruk bali deh, pahit, mending beli jeruk yang manis saja biar nanti kita makan lebih enak.” Ini adalah contoh sikap dalam persembahan yang keliru, karena harusnya inti dari persembahan adalah belajar untuk melepas, walaupun ujung-ujungnya diturunkan juga. Saat orang tua saya berpikir bahwa jeruk tersebut akan dimakan setelah selesai sembahyang, secara tidak sadar mereka telah melekat pada jeruk itu. Maka dari itu sebaiknya kita berpikir bahwa persembahan di altar bukan untuk diri sendiri, karena saat kita mempersembahkan sesuatu, jika kita tahu bahwa ketika diturunkan persembahan itu untuk diri kita sendiri, maka secara halus kemelekatan itu muncul. Saya menyarankan lebih baik persembahan di altar, ketika diturunkan, kita sudah <em>set</em> bahwa itu sebisa mungkin untuk orang lain (misal air untuk siram tanaman atau <em>snack</em>/buah untuk teman), dengan begitu motivasi kita menjadi lebih murni.</p>
<p><strong>Bermacam-macam ritual yang dilakukan di Buddhis memiliki satu tujuan, yaitu mengubah batin.</strong></p>
<p>Makna dari persembahan bisa menjadi sangat luas. Setiap elemen persembahan memiliki makna sendiri misalnya lilin untuk mengembangkan kebijaksanaan dan bunga tentang perenungan ketidakkekalan, dupa, pelita, air, buah, makanan, dsb. Sama seperti banyaknya ritual yang kamu kenal di Buddhis, kamu harus ingat bahwa esensi dari semua ritual ini adalah untuk mengubah batinmu menjadi lebih baik. Buddha mengajarkan 84.000 pintu Dharma untuk mengakomodir kebutuhan orang-orang, artinya semua ini merupakan bagian dari suatu proses latihan yang ujungnya adalah untuk mencapai pencerahan.</p>
<p>Sumber: Buddhism for Beginners</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/14/banyak-banyak-persembahan-buat-apa-memangnya-buddha-terima/">Banyak-Banyak Persembahan Buat Apa? Memangnya Buddha Terima?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/14/banyak-banyak-persembahan-buat-apa-memangnya-buddha-terima/">Banyak-Banyak Persembahan Buat Apa? Memangnya Buddha Terima?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kiat Kece ala Bodhisatwa #6 &#8211; Prajna Paramita</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/03/04/kiat-kece-ala-bodhisatwa-6-prajna-paramita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Mar 2017 19:35:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[paramita]]></category>
		<category><![CDATA[prajna]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[wisdom]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2869</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Pernah nggak punya teman yang super bijak, saat galau semua orang curhat ke dia dan seolah mendapat &#8216;pencerahan&#8217;? Dia pasti di kehidupan lampaunya melatih prajna atau kebijaksanaan! Sering ada yang bilang, &#8220;Jadi orang jangan terlalu baik, nanti ditipu orang.&#8221; Pernyataan ini kurang tepat. Orang ditipu bukan karena dia terlalu baik, tapi karena kurang bijak! Lewat [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/kiat-kece-ala-bodhisatwa-6-prajna-paramita/">Kiat Kece ala Bodhisatwa #6 – Prajna Paramita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/kiat-kece-ala-bodhisatwa-6-prajna-paramita/">Kiat Kece ala Bodhisatwa #6 &#8211; Prajna Paramita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone size-medium wp-image-2870" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16938774_1933004970261064_648188723716016831_n-300x180.png" alt="" width="300" height="180" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16938774_1933004970261064_648188723716016831_n-300x180.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16938774_1933004970261064_648188723716016831_n-600x360.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16938774_1933004970261064_648188723716016831_n-768x461.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16938774_1933004970261064_648188723716016831_n-150x90.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16938774_1933004970261064_648188723716016831_n-450x270.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/16938774_1933004970261064_648188723716016831_n.png 960w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Pernah nggak punya teman yang super bijak, saat galau semua orang curhat ke dia dan seolah mendapat &#8216;pencerahan&#8217;? Dia pasti di kehidupan lampaunya melatih prajna atau kebijaksanaan!</p>
<p>Sering ada yang bilang, &#8220;Jadi orang jangan terlalu baik, nanti ditipu orang.&#8221; Pernyataan ini kurang tepat. Orang ditipu bukan karena dia terlalu baik, tapi karena kurang bijak! Lewat paramita pertama hingga kelima, Buddha mengajarkan kita untuk menja<span class="text_exposed_show">di orang baik, berdana, menjaga moralitas, dst, dan untuk menyempurnakannya, kita juga harus menjadi bijak. Dengan demikian,perbuatan baik kita akan bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang banyak. Cara melatih prajna juga tidak sulit, bisa mulai dari rajin mendengarkan ceramah Dharma dan membaca teks Dharma sambil direnungkan.</span></p>
<div class="text_exposed_show">
<p>Yuk sama-sama melatih prajna!</p>
</div><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/kiat-kece-ala-bodhisatwa-6-prajna-paramita/">Kiat Kece ala Bodhisatwa #6 – Prajna Paramita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/04/kiat-kece-ala-bodhisatwa-6-prajna-paramita/">Kiat Kece ala Bodhisatwa #6 &#8211; Prajna Paramita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kiat Kece ala Bodhisatwa #5 &#8211; Samadhi Paramita</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/02/24/kiat-kece-ala-bodhisatwa-5-samadhi-paramita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Feb 2017 18:34:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[paramita]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[samadhi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2842</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Pernahkah kamu mau melakukan sesuatu, eh ada yang ngajak ngobrol, terus lupa apa yang tadinya mau kamu lakukan? Atau kamu lagi meditasi, tapi dikit-dikit kepikiran malam ini mau makan apa dan ga bisa konsen? Kamu bukan kurang aqua, tapi kurang samadhi atau ketenangan batin! Samadhi haruslah dilatih secara rutin, sedikit demi sedikit. Awalnya memang sulit, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/24/kiat-kece-ala-bodhisatwa-5-samadhi-paramita/">Kiat Kece ala Bodhisatwa #5 – Samadhi Paramita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/24/kiat-kece-ala-bodhisatwa-5-samadhi-paramita/">Kiat Kece ala Bodhisatwa #5 &#8211; Samadhi Paramita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Pernahkah kamu mau melakukan sesuatu, eh ada yang ngajak ngobrol, terus lupa apa yang tadinya mau kamu lakukan? Atau kamu lagi meditasi, tapi dikit-dikit kepikiran malam ini mau makan apa dan ga bisa konsen? Kamu bukan kurang aqua, tapi kurang samadhi atau ketenangan batin!</p>
<p>Samadhi haruslah dilatih secara rutin, sedikit demi sedikit. Awalnya memang sulit, tapi lama-kelamaan pasti konsentrasi kita bisa meningkat. Ketenangan batin<span class="text_exposed_show"> pun dapat tercapai. </span></p>
<div class="text_exposed_show">
<p>Yuk kita melatih samadhi sama-sama!</p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone size-medium wp-image-2843" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/16939669_1929585123936382_3707004311701302058_n-300x180.png" alt="" width="300" height="180" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/16939669_1929585123936382_3707004311701302058_n-300x180.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/16939669_1929585123936382_3707004311701302058_n-150x90.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/16939669_1929585123936382_3707004311701302058_n-450x270.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/16939669_1929585123936382_3707004311701302058_n.png 480w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
</div><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/24/kiat-kece-ala-bodhisatwa-5-samadhi-paramita/">Kiat Kece ala Bodhisatwa #5 – Samadhi Paramita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/24/kiat-kece-ala-bodhisatwa-5-samadhi-paramita/">Kiat Kece ala Bodhisatwa #5 &#8211; Samadhi Paramita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kiat Kece Ala Bodhisatwa #4 &#8211; Viriya Paramita</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/02/21/kiat-kece-ala-bodhisatwa-4-viriya-paramita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2017 04:25:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[paramita]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2815</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Viriya atau upaya bersemangat adalah sifat luhur yang harus kita latih agar dapat meraih kesuksesan. Kita pasti pernah bertemu orang yang energinya seolah tak habis-habis, semua pekerjaannya selalu berjalan lancar. Orang itu pasti melatih viriya paramita di kehidupannya yang lampau. Ingin jadi seperti mereka? Yuk sama-sama melatih viriya paramita!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/21/kiat-kece-ala-bodhisatwa-4-viriya-paramita/">Kiat Kece Ala Bodhisatwa #4 – Viriya Paramita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/21/kiat-kece-ala-bodhisatwa-4-viriya-paramita/">Kiat Kece Ala Bodhisatwa #4 &#8211; Viriya Paramita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-2816 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/virya.png" width="1280" height="768" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/virya.png 1280w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/virya-600x360.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/virya-300x180.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/virya-1024x614.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/virya-768x461.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/virya-150x90.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/virya-450x270.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/virya-1200x720.png 1200w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /></p>
<p>Viriya atau upaya bersemangat adalah sifat luhur yang harus kita latih agar dapat meraih kesuksesan. Kita pasti pernah bertemu orang yang energinya seolah tak habis-habis, semua pekerjaannya selalu berjalan lancar. Orang itu pasti melatih viriya paramita di kehidupannya yang lampau.</p>
<p>Ingin jadi seperti mereka? Yuk sama-sama melatih viriya paramita!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/21/kiat-kece-ala-bodhisatwa-4-viriya-paramita/">Kiat Kece Ala Bodhisatwa #4 – Viriya Paramita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/21/kiat-kece-ala-bodhisatwa-4-viriya-paramita/">Kiat Kece Ala Bodhisatwa #4 &#8211; Viriya Paramita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kiat Kece Ala Bodhisatwa #3 &#8211; Ksanti Paramita</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/02/21/kiat-kece-ala-bodhisatwa-3-ksanti-paramita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2017 04:21:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[paramita]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2811</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sifat ketiga yang harus dilatih agar kece seperti para Buddha dan Bodhisatwa adalah melatih kesabaran. Kesabaran tidak hanya berarti kita tidak boleh marah pada orang lain, tapi kita juga tidak boleh marah pada diri kita sendiri dan kekurangan-kekurangan kita. Kita harus bisa bersabar menghadapi setiap kesulitan yang kita alami dalam hidup. Saat kita ingin marah, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/21/kiat-kece-ala-bodhisatwa-3-ksanti-paramita/">Kiat Kece Ala Bodhisatwa #3 – Ksanti Paramita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/21/kiat-kece-ala-bodhisatwa-3-ksanti-paramita/">Kiat Kece Ala Bodhisatwa #3 &#8211; Ksanti Paramita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-2812 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/ksanti.png" width="1280" height="768" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/ksanti.png 1280w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/ksanti-600x360.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/ksanti-300x180.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/ksanti-1024x614.png 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/ksanti-768x461.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/ksanti-150x90.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/ksanti-450x270.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/02/ksanti-1200x720.png 1200w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><br />
Sifat ketiga yang harus dilatih agar kece seperti para Buddha dan Bodhisatwa adalah melatih kesabaran. Kesabaran tidak hanya berarti kita tidak boleh marah pada orang lain, tapi kita juga tidak boleh marah pada diri kita sendiri dan kekurangan-kekurangan kita. Kita harus bisa bersabar menghadapi setiap kesulitan yang kita alami dalam hidup.</p>
<p>Saat kita ingin marah, kita bisa berhenti sejenak, menarik napas, dan memperkirakan untuk/ruginya jika kita membiarkan amarah itu meraja lela. Dampak yang paling mudah terlihat adalah wajah.</p>
<p>Oh ya, Tahukah kamu, melatih kesabaran bisa] membuat kita menjadi rupawan!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/21/kiat-kece-ala-bodhisatwa-3-ksanti-paramita/">Kiat Kece Ala Bodhisatwa #3 – Ksanti Paramita</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/02/21/kiat-kece-ala-bodhisatwa-3-ksanti-paramita/">Kiat Kece Ala Bodhisatwa #3 &#8211; Ksanti Paramita</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
