<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>penderitaan samsara - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/penderitaan-samsara/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 May 2023 06:32:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>penderitaan samsara - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sering Kehilangan Barang? Coba Terawang Kehidupan Lampaumu…</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2018/01/16/sering-kehilangan-barang-coba-terawang-kehidupan-lampaumu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jan 2018 10:28:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[akibat karma]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[mencuri]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi awal]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi menengah]]></category>
		<category><![CDATA[past life]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3901</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang pemuda dari keluarga yang amat sederhana. Walau berkekurangan, ia kadang ‘beruntung’ menemukan buah-buahan jatuh atau hewan ternak yang tersesat di pekarangannya. Ia menganggap itu semua adalah berkah dari langit untuknya. Jika ada orang yang datang ke rumahnya mencari ayam atau ternak lain yang hilang, ia bilang tidak ada atau [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/01/16/sering-kehilangan-barang-coba-terawang-kehidupan-lampaumu/">Sering Kehilangan Barang? Coba Terawang Kehidupan Lampaumu…</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/01/16/sering-kehilangan-barang-coba-terawang-kehidupan-lampaumu/">Sering Kehilangan Barang? Coba Terawang Kehidupan Lampaumu…</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure id="attachment_3905" aria-describedby="caption-attachment-3905" style="width: 800px" class="wp-caption aligncenter"><img class="wp-image-3905 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri.jpg" alt="" width="800" height="800" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri.jpg 800w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri-450x450.jpg 450w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption id="caption-attachment-3905" class="wp-caption-text">Merasa sering kehilangan barang tiba-tiba? Jangan-jangan sebabnya ada di kehidupan lampau&#8230;</figcaption></figure>
<p><em>Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang pemuda dari keluarga yang amat sederhana. Walau berkekurangan, ia kadang ‘beruntung’ menemukan buah-buahan jatuh atau hewan ternak yang tersesat di pekarangannya. Ia menganggap itu semua adalah berkah dari langit untuknya. Jika ada orang yang datang ke rumahnya mencari ayam atau ternak lain yang hilang, ia bilang tidak ada atau tidak tahu. Ia tidak merasa dirinya mungkin telah mengambil ternak orang lain. Toh ternak yang ia ambil datang sendiri ke rumahnya.</em></p>
<figure id="attachment_3904" aria-describedby="caption-attachment-3904" style="width: 800px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3904 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri.jpg" alt="" width="800" height="800" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri.jpg 800w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri-450x450.jpg 450w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption id="caption-attachment-3904" class="wp-caption-text">Mungkinkah ini kamu di kehidupan lampau? Hmmm&#8230;</figcaption></figure>
<p>Kisah di atas adalah salah satu contoh tindakan karma hitam MENCURI atau mengambil barang yang tidak diberikan. Berdasarkan hukum karma, setiap tindakan akan menghasilkan akibat. Akibat ini belum tentu berbuah saat itu juga, tapi bisa juga bulan depan, tahun depan, bahkan kehidupan yang akan datang.</p>
<p><strong>Sebenarnya apa saja sih akibat dari karma mencuri?</strong></p>
<p>Kalau kamu mengalami hal-hal berikut, maka bisa jadi cerita di atas adalah kehidupan lampaumu…</p>
<ol>
<li><strong>Lahir di alam neraka, sebagai setan kelaparan, atau binatang</strong></li>
</ol>
<p>Kalau kamu bisa baca artikel ini, udah pasti nggak mengalami akibat yang satu ini. Kelahiran di alam rendah adalah <strong>akibat yang matang sepenuhnya </strong>dari <strong>karma buruk yang lengkap</strong>. Kamu harus bermudita karena bebas dari akibat ini dan terlahir sebagai manusia sekarang, juga harus berusaha agar tidak mengalaminya di kehidupan mendatang!</p>
<ol start="2">
<li><strong>Pernah kecurian, ditodong, kehilangan barang</strong></li>
</ol>
<p>Mencuri menyebabkan orang lain merasa kehilangan. Maka, sesuai hukum sebab-akibat, pelakunya juga akan merasakan akibat berupa kehilangan. Kalau di kehidupan sekarang kamu pernah dirampok atau ditodong orang, mungkin kamu juga pernah melakukannya pada orang lain di kehidupan lampau.</p>
<p>Selain itu, kalau sering kehilangan barang-barang kecil seperti bolpen atau uang nyelip, mungkin kamu sering melakukan ‘pencurian’ yang tidak kamu sadari seperti lupa mengembalikan barang pinjaman, mengambil uang yang kamu temukan di jalan, dan lain-lain.</p>
<p>Akibat ini disebut sebagai <strong>akibat yang sesuai dengan tindakan</strong>.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Tanpa sadar mengambil barang orang, atau sering merasakan dorongan ingin mengambil barang orang lain</strong></li>
</ol>
<p>Pernah dengar istilah ‘kleptomania’? Itu sebutan untuk ketidakmampuan menahan dorongan untuk mencuri, bahkan saat seseorang sebenarnya tidak butuh atau mampu membeli barang tersebut. Ini juga merupakan bentuk lain dari <strong>akibat yang sesuai dengan tindakan</strong>.</p>
<p>Kita menghafal sesuatu dengan mengulang hal tersebut berkali-kali bukan? Begitu pula dengan karma yang dilakukan berkali-kali, kita akan jadi ‘hafal’ dengan karma tersebut dan cenderung mengulanginya lagi di lain waktu, hingga di kehidupan mendatang. Kalau di kehidupan lampau kita terbiasa mencuri, kita akan memiliki kecenderungan untuk melakukannya lagi di kehidupan ini.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Hidup di daerah miskin atau rawan kejahatan</strong></li>
</ol>
<p>Tindakan kita juga menentukan seperti apa tempat kita tinggal dan beraktivitas. Kalau daerah tempat tinggalmu sering masuk berita karena banyak rampok atau begal, bisa jadi itu adalah <strong>akibat yang menentukan lingkungan</strong> dari karma mencuri.</p>
<p>Dengan mempelajari akibat-akibat di atas, kita akan lebih bisa menerima permasalahan yang kita alami sekarang. Kalau kita ditodong atau kecurian, kita bisa melatih diri untuk tidak menambah karma buruk dengan dendam pada orang yang menodong atau mencuri dari kita. Sebaliknya, kita bisa menyadari bahwa kita baru saja mengalami satu akibat dari karma buruk kita. Bahkan bisa juga mengembangkan welas asih pada orang-orang yang mencuri dari kita. Dan yang paling penting, kita bisa membangkitkan tekad untuk berusaha menghindari mengambil barang yang tidak diberikan sehingga tidak perlu mengalami akibat-akibat tersebut di masa mendatang.</p>
<p><em>&#8212;</em></p>
<p>Sumber: Pembebasan di Tangan Kita karya Phabongkha Rinpoche, Karma karya Dagpo Rinpoche</p>
<p>&#8212;</p>
<p><em>Di atas disebutkan bahwa kelahiran di alam rendah adalah akibat dari karma hitam yang lengkap. Seperti apa sih karma lengkap itu? Tunggu di artikel Lamrimnesia pekan depan!</em></p>
<p><strong>&nbsp;</strong></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/01/16/sering-kehilangan-barang-coba-terawang-kehidupan-lampaumu/">Sering Kehilangan Barang? Coba Terawang Kehidupan Lampaumu…</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/01/16/sering-kehilangan-barang-coba-terawang-kehidupan-lampaumu/">Sering Kehilangan Barang? Coba Terawang Kehidupan Lampaumu…</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lawan Hate Speech dengan LOVE SPEECH!</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/09/25/lawan-hate-speech-dengan-love-speech/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Sep 2017 05:03:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[hate speech]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[love speech]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan samsara]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[sharelove]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3709</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Hati-hati. Saat setiap orang memiliki akses untuk menyuarakan pendapatnya ke publik lewat media sosial, informasi yang sebenarnya bersifat opini atau cenderung subjektif mudah saja tersebar kemana-mana tanpa ada saringan, tanpa  kita sadari seringkali informasi tersebut bersifat bohong ataupun merugikan pihak-pihak tertentu atau yang biasa dikenal dengan hate speech (ujaran kebencian). Masalahnya apa? Adalah karena sifat [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/09/25/lawan-hate-speech-dengan-love-speech/">Lawan Hate Speech dengan LOVE SPEECH!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/09/25/lawan-hate-speech-dengan-love-speech/">Lawan Hate Speech dengan LOVE SPEECH!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hati-hati. Saat setiap orang memiliki akses untuk menyuarakan pendapatnya ke publik lewat media sosial, informasi yang sebenarnya bersifat opini atau cenderung subjektif mudah saja tersebar kemana-mana tanpa ada saringan, tanpa  kita sadari seringkali informasi tersebut bersifat bohong ataupun merugikan pihak-pihak tertentu atau yang biasa dikenal dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">hate speech </span></i><span style="font-weight: 400;">(ujaran kebencian). Masalahnya apa? Adalah karena sifat dasar manusia yang cenderung defensif saat menerima pemahaman yang berbeda dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">belief system</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang dimiliki, maka </span><b>saat massa menerima </b><b><i>hate speech </i></b><b>reaksinya hanya ada 2 macam</b><span style="font-weight: 400;">: </span></p>
<ol>
<li><b>Jika berbeda pandangan</b><span style="font-weight: 400;">: maka muncul rasa penolakan, dan rasa ingin membalas</span></li>
<li><b>Jika sama pandangan</b><span style="font-weight: 400;">: Atas dasar poin 1, maka orang akan cenderung impulsif untuk </span><i><span style="font-weight: 400;">share</span></i><span style="font-weight: 400;"> apapun yang sepihak dengannya, tanpa menilai objektifitas dari informasi tersebut dengan lebih saksama. </span></li>
</ol>
<p><b>Hasilnya adalah lingkaran balas-membalas yang berputar semakin membesar</b><span style="font-weight: 400;"> seperti bola salju yang bergulir, menunjukkan bahwa tanpa intervensi, </span><i><span style="font-weight: 400;">hate speech</span></i><span style="font-weight: 400;"> akan terus membesar seiring dengan semakin terpolarisasinya masyarakat. Tak heran jika </span><i><span style="font-weight: 400;">hate speech </span></i><span style="font-weight: 400;">ini bisa menjadi bisnis, karena secara bawah sadar kebencian ini semakin membesar dalam diri masing-masing orang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seumpama perang, maka dalam perang informasi ini pasti ada yang menang dan kalah, </span><b>efek dari </b><b><i>hate speech </i></b><b>ini dalam jangka panjang adalah kebohongan yang lama-kelamaan menjadi fakta</b><span style="font-weight: 400;"> yang diterima oleh masyarakat (tentunya dari mayoritas/pihak yang menang). </span><b>Sekali lagi, hati-hati!</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi apa yang harus dilakukan? </span><b>Ingat bahwa kebencian tak akan hilang jika dilawan dengan kebencian</b><span style="font-weight: 400;">, sebaliknya seluruh agama menganjurkan bahwa kejahatan seharusnya dibalas dengan kebaikan. Ya, seluruh agama, penulis sudah cek, jadi kadang ironis ketika balas membalas kebencian bahkan dilakukan atas nama agama. Kembali ke poin awal,</span><b> arus </b><b><i>hate speech </i></b><b>bisa dilawan, yaitu dengan membiasakan diri dengan menyebarkan </b><b><i>love speech</i></b><b>!</b></p>
<p><b>Berikut ini adalah cara melawan hate speech &amp; menyebarkan </b><b><i>love speech</i></b><b> di sosial media:</b></p>
<p><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3711 aligncenter" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech.png" alt="" width="2000" height="2100" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech.png 2000w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-600x630.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-286x300.png 286w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-975x1024.png 975w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-768x806.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-1463x1536.png 1463w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-1950x2048.png 1950w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-150x158.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-450x473.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/09/how-to-lovespeech-1200x1260.png 1200w" sizes="(max-width: 2000px) 100vw, 2000px" /></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8211;  </span><b>BACA:</b><span style="font-weight: 400;"> ketika melihat sebuah postingan, jangan hanya baca judul terus langsung bereaksi. baca dulu baik-baik isinya<br />
</span><span style="font-weight: 400;">&#8211; </span><b>RENUNGKAN:</b><span style="font-weight: 400;"> setelah membaca, renungkan isi postingan tersebut. apakah isinya positif atau negatif? apakah bermanfaat jika dishare? apakah membawa kebahagiaan atau menimbulkan kemarahan?<br />
</span><span style="font-weight: 400;">&#8211; </span><b>SHARE:</b><span style="font-weight: 400;"> jika post tersebut menimbulkan kebahagiaan dan nilai2 positif lainnya, sebarkan!<br />
</span><span style="font-weight: 400;">&#8211; <strong>REJOICE</strong></span><b>:</b><span style="font-weight: 400;"> bersukacitalah karena telah turut menyebarkan </span><i><span style="font-weight: 400;">love speech</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan membuat dunia lebih baik</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk orang-orang yang membaca artikel ini mungkin berpikir ini gombal atau klise. Tapi ingat, sama seperti kebencian, kebaikan hati juga bisa menular, setiap individu harus ingat bahwa satu orang adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat, setiap diri kita bisa membawa dunia menjadi baik atau buruk. </span></p>
<p><b>Lalu, kalau mau nyebarin </b><b><i>love speech, </i></b><b>harus mulai dari mana?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kamu bisa mulai dengan ikutan </span><i><span style="font-weight: 400;">campaign </span></i><span style="font-weight: 400;">SHARE LOVE dari Lamrimnesia! Setiap pagi, Lamrimnesia akan mengirimkan gambar dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">quote</span></i><span style="font-weight: 400;"> positif penuh cinta via facebook, instagram, whatsapp, dan line square Lamrimnesia dengan tag </span><b>#sharelove #lamrimnesia</b><span style="font-weight: 400;">. </span><b>Share/repost</b> <i><span style="font-weight: 400;">love speech </span></i><span style="font-weight: 400;">dari Lamrimnesia ini lewat semua akun sosmedmu!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kamu juga bisa membuat </span><i><span style="font-weight: 400;">love speech</span></i><span style="font-weight: 400;"> kreasimu sendiri, bisa dalam bentuk gambar, tulisan, video, pokoknya apapun yang bisa dibagikan dan bernilai positif! </span><b>Kirimkan </b><b><i>love speech</i></b><b> karyamu</b><span style="font-weight: 400;"> ke line square Lamrimnesia (bit.ly/lamsquare) untuk dibagikan ke lebih banyak orang lewat sosmed-sosmed Lamrimnesia!</span></p>
<p><b>Mari jauhkan diri dari </b><b><i>hate speech </i></b><b>dan mulai membudayakan </b><b><i>love speech</i></b><b> sekarang juga!</b></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/09/25/lawan-hate-speech-dengan-love-speech/">Lawan Hate Speech dengan LOVE SPEECH!</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/09/25/lawan-hate-speech-dengan-love-speech/">Lawan Hate Speech dengan LOVE SPEECH!</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>It&#8217;s Lamrim it&#8217;s Buddhism #6 &#8211; Hindari 8 Angin Duniawi</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/04/07/lamrim-buddhism-6-hindari-8-angin-duniawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Apr 2017 15:34:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[anginduniawi]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[itslamrimitsbuddhism]]></category>
		<category><![CDATA[keluar dari samsara]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3091</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>&#8220;Am I truly seeking good or just seeking attention?&#8221; Kutipan di atas berasal dari drama musikal Wicked, adaptasi dari dongeng the Wizard of Oz. Kutipan ini mengajak kita merenung, saat kita melakukan suatu tindakan bajik, apakah kita benar-benar melakukannya untuk kebaikan atau hanya ingin dipuji, menghindari celaan, atau alasan la in yang ada di gambar [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/04/07/lamrim-buddhism-6-hindari-8-angin-duniawi/">It’s Lamrim it’s Buddhism #6 – Hindari 8 Angin Duniawi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/04/07/lamrim-buddhism-6-hindari-8-angin-duniawi/">It&#8217;s Lamrim it&#8217;s Buddhism #6 &#8211; Hindari 8 Angin Duniawi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>&#8220;Am I truly seeking good or just seeking attention?&#8221;</p>
<p>Kutipan di atas berasal dari drama musikal Wicked, adaptasi dari dongeng the Wizard of Oz. Kutipan ini mengajak kita merenung, saat kita melakukan suatu tindakan bajik, apakah kita benar-benar melakukannya untuk kebaikan atau hanya ingin dipuji, menghindari celaan, atau alasan la in yang ada di gambar di bawah ini?</p>
<div class="text_exposed_show">
<p>Buddha mengajarkan bahwa apapun yang kita lakukan barulah disebut praktik Dharma jika terbebas dari pengaruh 8 angin duniawi. Karenanya, sebelum berbuat bajik, kita harus ingat untuk menyetel motivasi kita agar tidak terpengaruh oleh angin-angin tersebut! Yuk sama-sama berlatih!</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Jangan lewatkan kedatangan Drepung Tripa Khenzur Rinpoche, filsuf ahli pemangku takhta Drepung, salah satu biara terbesar di Tibet yang membawahi 5.000 biksu, bulan April-Mei 2017 via Lamrimnesia!<br />
Info Lengkap: <a href="http://lamrimnesia.org/KR2017" target="_blank" rel="nofollow noopener">lamrimnesia.org/KR2017</a><br />
Untuk info lebih lanjut, hubungi:<br />
Aprianti +62853-7524-2326<br />
Erlina +62856-4306-1337</p>
</div><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/04/07/lamrim-buddhism-6-hindari-8-angin-duniawi/">It’s Lamrim it’s Buddhism #6 – Hindari 8 Angin Duniawi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/04/07/lamrim-buddhism-6-hindari-8-angin-duniawi/">It&#8217;s Lamrim it&#8217;s Buddhism #6 &#8211; Hindari 8 Angin Duniawi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Umat Buddhis Ambisius?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/04/03/apakah-umat-buddhis-ambisius/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Apr 2017 11:37:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan samsara]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3080</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh: Ven.Thubten Chodron (18 Juni 2011) Saat pertama kali seseorang memulai praktik Dharma, seringkali mereka bertanya: “Menurut Buddhisme, kemelekatan adalah sikap yang mengganggu. Jika saya mengurangi kemelekatan saya, apa yang akan terjadi pada ambisi saya? Apakah saya akan menjadi lesu dan menjadi kurang termotivasi untuk melakukan apapun? Apa yang akan terjadi pada karir saya?” Demikian [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/04/03/apakah-umat-buddhis-ambisius/">Apakah Umat Buddhis Ambisius?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/04/03/apakah-umat-buddhis-ambisius/">Apakah Umat Buddhis Ambisius?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh: Ven.Thubten Chodron (18 Juni 2011)</p>
<p>Saat pertama kali seseorang memulai praktik Dharma, seringkali mereka bertanya: “Menurut Buddhisme, kemelekatan adalah sikap yang mengganggu. Jika saya mengurangi kemelekatan saya, apa yang akan terjadi pada ambisi saya? Apakah saya akan menjadi lesu dan menjadi kurang termotivasi untuk melakukan apapun? Apa yang akan terjadi pada karir saya?” Demikian pula, mereka akan bertanya: “Apakah ambisi diperlukan saat kita mengerjakan acara terkait Dharma dan melakukan kerja relawan di pusat Dharma? Bagaimana kita memastikan positifnya usaha kita?”</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang sangat bagus, dan untuk menjawabnya kita harus membedakan antara ambisi yang konstruktif dan destruktif. Ambisi, sama seperti hasrat, memiliki dua aspek, bergantung pada motivasi dan objek yang dituju.</p>
<p>Ambisi negatif mengejar kesuksesan dan kenikmatan duniawi dengan motivasi yang egois. Ambisi positif mencari tujuan yang bermanfaat melalui salah satu dari tiga tingkat motivasi Dharma: untuk memiliki kelahiran yang baik di masa mendatang, untuk terbebas dari penderitaan karena kelahiran berulang-ulang, dan untuk mencapai pencerahan sempurna demi membantu semua makhluk dengan cara yang paling efektif.</p>
<p>Ketika membicarakan halangan pertama pada praktik Dharma sejati &#8211; kemelekatan pada kebahagiaan saat ini saja &#8211; Buddha berbicara mengenai hasrat atau ambisi untuk memiliki harta, uang, ketenaran, pujian, penerimaan oleh pihak lain dan kenikmatan indrawi seperti makanan, musik dan hubungan seksual. Karena hasrat kita begitu kuat untuk mendapatkan kenikmatan yang kita pikir akan diberikan hal-hal tersebut, kita sering menyakiti, memanipulasi, atau menipu orang lain agar kita dapat mendapatkan kenikmatan tersebut. Bahkan, meskipun kita berusaha mendapatkan hal-hal tersebut tanpa menyakti makhluk lain secara langsung, batin kita masih terkunci pada kondisi jangka pendek: mencari kebahagiaan dari orang lain dan objek eksternal yang tidak dapat memberikan kita kebahagiaan sejati. Oleh karenanya, waktu yang seharusnya kita gunakan untuk mengembangkan cinta kasih, welas asih, dan kebijaksanaan malah dialihkan untuk mencari sesuatu yang tidak dapat memuaskan kita pada jangka panjang. Untuk mendapatkan kebahagiaan sejati, kita harus mengurangi ambisi tersebut terlebih dahulu, melihatnya sebagai kerugian &#8211; karena ia menciptakan masalah dalam hubungan kita dengan orang lain dan menanam jejak karma negatif pada arus batin kita &#8211; dan kedua, menyadari bahwa hal-hal yang dikejar oleh ambisi duniawi tidak dapat menghasilkan kebahagiaan jangka panjang. Kita tahu bahwa ada banyak sekali orang kaya dan terkenal yang hidupnya diliputi kesedihan dan menderita karena masalah emosional dan alkoholisme.</p>
<p>Seiring dengan upaya kita mengurangi ambisi duniawi, akan muncul ruang di batin kita untuk bertindak dengan welas asih dan kebijaksanaan. Hal ini adalah ambisi positif. Welas asih &#8211; aspirasi agar semua makhluk terbebas dari penderitaan &#8211; dapat menjadi motivator yang kuat pada setiap tindakan. Welas asih dapat menggantikan amarah yang selama ini memotivasi kita saat kita melihat ketidakadilan sosial, dan menginspirasi kita untuk bertindak menolong orang lain. Selain itu, ambisi konstruktif yang dijiwai dengan kebijaksanaan mampu menilai secara cermat akibat jangka panjang dan pendek dari tindakan kita. Secara ringkas, melalui latihan yang konsisten, kekuatan dari ambisi egois kita untuk kenikmatan duniawi akan berubah menjadi kekuatan untuk mempraktikkan Dharma dan bermanfaat bagi makhluk lain.</p>
<p>Sebagai contoh, andaikan ada seseorang bernama Sam yang sangat melekat pada reputasinya. Dia ingin orang-orang berpikir baik tentang dia dan berbicara baik mengenai dia, tidak karena dia memang peduli pada mereka, namun karena dia ingin mereka memberikan dia sesuatu, untuk melakukan sesuatu bagi dirinya, dan untuk memperkenalkan dia pada orang-orang terkenal dan berkuasa. Dengan motivasi ini, dia berbohong, menutupi kekurangannya, berpura-pura memiliki kelebihan yang tidak dia miliki, atau memiliki interaksi yang sesungguhnya palsu. Atau, dia bahkan dapat melakukan sesuatu yang tampak baik, seperti berbicara baik mengenai seseorang, namun tujuan sebenarnya adalah untuk memenuhi keinginan egoisnya saja.</p>
<p>Jika dia berhenti dan merenungkan, “Apa hasil dari sikap dan tindakan tersebut? Apakah mencapai apa yang dituju ambisiku benar-benar membawa kebahagiaan bagiku?” Sam akan menyadari bahwa sebenarnya dia menciptakan lebih banyak masalah bagi dirinya dan orang lain melalui penipuan dan manipulasi yang ia lakukan. Meskipun pada awalnya dia dapat membodohi orang-orang, pada akhirnya dia akan gagal dan mereka akan menemukan motif dasar dari semua tindakannya, dan kehilangan kepercayaan padanya. Kalaupun dia berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan dan awalnya menikmatinya, hal tersebut tidak akan benar-benar memuaskannya dan malah akan memberikannya masalah baru. Selain itu, dia juga menciptakan karma negatif yang menjadi sebab dari masalah di masa depan. Dengan merenung seperti ini, ambisi duniawi yang ia miliki akan berkurang dan akan ada tempat untuk berpikir secara jernih. Dengan merenungkan kesalingbergantungan yang ia miliki dengan semua makhluk, Sam akan mengerti bahwa kebahagiaannya dan orang lain tidaklah terpisahkan. Bagaimana mungkin dia berbahagia jika orang-orang di sekitarnya menderita? Bagaimana mungkin dia memerhatikan kebahagiaan orang lain jika dia mengabaikan kebahagiaannya sendiri? Setelahnya, dia akan dapat terlibat dalam berbagai kegiatan dengan motivasi yang lebih baru dan realistis, serta memerhatikan dirinya sendiri dan orang lain.</p>
<p>Seiring upaya kita meninggalkan ambisi duniawi, kita dapat mengerjakan tugas dan karir kita menggunakan motivasi baru. Dengan ambisi duniawi, kita melekat pada gaji dan semua yang kita ingin beli melalui gaji itu, serta selalu mencemaskan reputasi kita di tempat kerja dan bagaimana mendapatkan promosi yang kita inginkan. Saat kita menyadari bahwa perolehan hal-hal tersebut takkan membuat kita berbahagia selamanya ataupun memberikan makna bagi hidup kita, maka kita dapat merasa rileks. Perasaan ini bukanlah sebuah kemalasan, karena saat ini terdapat ruang dalam batin kita untuk sikap yang lebih altruistik dan tujuan jangka panjang yang memotivasi kerja kita. Sebagai contoh, setiap pagi sebelum berangkat kerja, kita dapat berpikir, “Saya ingin menawarkan pelayanan pada klien dan kolega saya. Tujuan saya bekerja adalah untuk memberikan manfaat bagi mereka dan memperlakukan mereka dengan kebaikan dan hormat.” Bayangkan bagaimana lingkungan kerja kita akan berubah jika ada satu orang saja – kita – yang bertindak dengan niat tersebut!  Kita dapat juga berpikir, “Apa pun hal yang terjadi hari ini &#8211; bahkan saat saya mendapatkan kritik atau sedang stres &#8211; Saya akan menggunakannya untuk mempelajari batin saya dan mempraktikkan Dharma.” Kemudian, jika hal yang tidak menyenangkan terjadi pada saat kerja, kita dapat memerhatikan batin kita dan mencoba memberikan penawar Dharma pada emosi negatif seperti amarah. Jika kita tidak berhasil mendamaikan batin kita saat hal itu terjadi, kita dapat mengevaluasi apa yang telah terjadi dan menerapkan penawar Dharma ketika tiba di rumah, yakni dengan melakukan meditasi untuk melatih kesabaran. Dengan cara ini, kita dapat merasakan bahwa melepas ambisi duniawi akan membuat kita lebih baik, lebih rileks, sehingga kita pun menjadi lebih efisien dalam pekerjaan kita. Dan yang menarik, hal-hal tersebut adalah kualitas yang akan membawa kita pada reputasi yang lebih baik, dan bahkan promosi, meskipun kita tidak menginginkannya secara langsung!</p>
<p>Terkadang, jika kita tidak berhati-hati, ambisi duniawi kita seringkali bercampur dengan kegiatan Dharma. Sebagai contoh, kita dapat tergoda untuk menjadi seseorang yang penting di mata guru spiritual kita, dan menjadi cemburu atau bahkan bersaing dengan sesama murid untuk mendapatkan perhatian guru kita. Bisa saja kita ingin menjadi seseorang yang berpengaruh di pusat studi Dharma, sehingga semua hal yang berlangsung  berjalan sesuai dengan ide kita dan kita pun mendapatkan kredit atas segala sesuatu yang dicapai. Kita bisa saja ingin memiliki banyak rupang Buddha, buku Dharma, dan potret guru spiritual kita yang indah dan mahal sehingga kita bisa memamerkannya pada teman-teman Buddhis kita. Kita dapat juga ingin memiliki reputasi sebagai meditator yang baik atau seseorang yang telah mendapatkan banyak inisiasi dan menyelesaikan beberapa retret.</p>
<p>Dalam kasus ini, meskipun objek-objek dan orang-orang di sekitar kita terkait dengan Buddhisme, motivasi kita tidaklah berlandaskan Buddhisme. Apa yang terjadi adalah ambisi duniawi yang sama, hanya saja menjadi lebih mematikan karena semua itu justru berfokus pada objek Dharma. Sangatlah mudah untuk terperangkap pada jebakan ini. Kita berpikir bahwa dengan bekerja di kelompok dharma, pergi ke sesi pengajaran, atau memiliki objek Buddhis, kita telah mempraktikkan Dharma. Hal ini tidaklah sesederhana itu. Motivasi untuk mendapatkan reputasi, kepemilikan dan berbagai hal untuk mendapatkan kebahagiaan saat ini akan mengotori tindakan kita. Kita harus berulang kali memerhatikan motivasi kita sehingga kita dapat membedakan apakah motivasi kita termasuk ke dalam kategori duniawi atau Dharma. Seringkali, kita mendapatkan motivasi yang bercampur: kita memang memedulikan Dharma dan ingin melayani orang lain, namun kita juga ingin usaha kita dinilai, dihargai, dan mendapatkan pengakuan atau remunerasi sebagai imbalannya. Adalah hal yang normal jika motivasi kita tercampur seperti ini, karena kita memang belum mencapai pencerahan. Jika kita menyadari bahwa motivasi kita telah tercampur atau ternoda oleh keinginan duniawi, maka kita perlu merenungkan kerugiannya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dan segera mengembangkan salah satu dari tiga motivasi Dharma.</p>
<p>Tujuan praktik kita bukanlah untuk terlihat berpraktik Dharma, tetapi untuk mempraktikkannya secara nyata. Mempraktikkan Dharma berarti melakukan transformasi batin kita. Hal ini terjadi dalam batin kita. Patung, buku, pusat studi Dharma, dan semua yang terkait adalah hal-ihwal yang menolong kita dalam mewujudkan ini. Semua itu adalah alat yang menolong kita untuk membuat tujuan kita menjadi nyata; mereka bukanlah praktik itu sendiri. Oleh karenanya, untuk berkembang di sepanjang jalan ini, kita harus selalu menyadari batin dan perasaan internal kita dan memeriksa apakah mereka mencari ambisi dan hasrat duniawi yang bersifat egois dan sempit. Jika ternyata memang demikian, kita dapat mengubah mereka menjadi ambisi dan hasrat positif untuk tujuan yang lebih mulia, seperti kebahagiaan orang lain, pembebasan dari kelahiran kembali, dan pencerahan sempurna seorang Buddha. Dengan terus-menerus melakukan hal ini, manfaat yang diraih oleh diri kita dan orang lain niscaya akan semakin nyata.</p>
<p><em>(Sumber: <a href="http://thubtenchodron.org/2011/06/ambition-motivation/">thubtenchodron.org</a> | diterjemahkan oleh Andri Kurnia)</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/04/03/apakah-umat-buddhis-ambisius/">Apakah Umat Buddhis Ambisius?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/04/03/apakah-umat-buddhis-ambisius/">Apakah Umat Buddhis Ambisius?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jalan Tengah Stres</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2016/09/29/jalan-tengah-stres/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2016 09:33:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[keluar dari samsara]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan samsara]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://localhost/smartmag/?p=2338</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh Judy Lief Hidup penuh dengan hal yang membuat stres. Walau banyak orang menyatakan bahwa kehidupan modern jauh lebih menekan daripada zaman dahulu, saya merasa sangsi. Makhluk hidup selalu harus berjuang demi keberlangsungan hidup, pangan, dan papan. Selalu ada tekanan untuk menemukan pasangan dan meneruskan keturunan. Anda dapat mengatakan bahwa pertanyaan tentang penderitaan, atau tekanan, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/jalan-tengah-stres/">Jalan Tengah Stres</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/jalan-tengah-stres/">Jalan Tengah Stres</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em>Oleh Judy Lief</em><b></b></p>
<aside class="sc-pullquote alignright">Apakah stres harus selalu dihindari? Dapatkah kita produktif saat stres? Apa gejala dan penangkal stres? Guru Buddhis Judy Lief menjelaskan stres dan pendapat ajaran Buddha tentangnya.</aside>
<p>Hidup penuh dengan hal yang membuat stres. Walau banyak orang menyatakan bahwa kehidupan modern jauh lebih menekan daripada zaman dahulu, saya merasa sangsi. Makhluk hidup selalu harus berjuang demi keberlangsungan hidup, pangan, dan papan. Selalu ada tekanan untuk menemukan pasangan dan meneruskan keturunan.</p>
<p><span id="more-2338"></span></p>
<p>Anda dapat mengatakan bahwa pertanyaan tentang penderitaan, atau tekanan, dan bagaimana menyikapinya sungguh pokok dalam Buddhisme. Inilah pertanyaan yang mendorong Buddha memulai perjalanannya, dan sepanjang perkembangannya ajaran Buddha telah mempelajari topik ini dari segala lapisan dan sudut pandang.</p>
<p>Bak peneliti medis, cendekiawan dan praktisi Buddhisme telah mendaftar detail-detail sindrom ini untuk mengobati gejalanya dan menemukan penangkalnya yang terampuh.</p>
<p>Jadi, apa itu stres dan bagaimana pendapat ajaran Buddhisme tentang cara menyikapinya? Bagaimana seharusnya kita bereaksi terhadap stres? Apakah kita harus selalu menghindarinya atau bisakah kita tetap produktif selagi mengalaminya? Sejauh apa stres berakar dalam kehidupan, atau semuanya hanya ciptaan kita sendri? Apa saja gejalanya dan apa pula penangkalnya?</p>
<p><b>Perasaan tertekan</b></p>
<p>Perasaan stres dapat dianggap sebagai sekelompok sensasi tak mengenakkan. Kita bisa jadi merasakan stres dalam bentuk tekanan, kekhawatiran, atau perasaan takut pada ruang tertutup. Kadang ada begitu banyaknya tantangan yang menghadang hingga kita seolah merasa tenggelam. Kita merasa tak sanggup, terkuasai oleh semuanya seperti kapal karam. Stres menyudutkan kita seolah tiada jalan keluar. Kita membatu, serasa tercekik oleh kekhawatiran yang membuncah. Saat stres, rasanya tak ada udara. Tak ada ruang. Tak ada kebebasan atau kesegaran. Dalam pengaruh stres, apa yang sebelumnya mudah bisa menjadi seperti mustahil dan ke manapun kita menoleh, rasanya tak ada jalan keluar. Dalam stres kita merasa kalut, seolah kita tengah ditarik hingga hampir putus.</p>
<p>Saat kita merasa tertekan, badan kita terasa tegang seolah menyusut. Secara mental, pemikiran kita semakin kaku dan tak mengalir luwes. Secara emosional, kita resah dan takut. Sedikit saja gangguan dapat membuat kita meledak penuh amarah. Bisa jadi pula kita malah menarik dan menutup diri. Kita lupa cara bernapas, seolah-olah seluruh badan kita adalah segumpal rasa sakit yang berdenyut-denyut.</p>
<p>Saat anda mulai memikirkan segala hal yang dapat membuat anda tertekan, anda tak akan berhenti. Awalnya mungkin persoalan yang dekat seperti kebutuhan membayar sewa atau mencari pekerjaan. Hanya dengan membaca koran, daftar itu bisa dengan cepat bertambah dengan masalah dunia seperti kelaparan, perang, kelebihan populasi, dan kerusakan lingkungan. Kita bahkan bisa menggunakan rasa resah dan tertekan yang kita rasakan terhadap masalah dunia ini sebagai semacam sertifikat bukti bahwa kita peduli, punya empati, dan sensitif.</p>
<p>Ketika kita mengalami stres, kita berusaha mencari seseorang atau sesuatu untuk disalahkan. Kita mengasumsikan bahwa pasti ada faktor luar yang menyebabkan kita merasa seburuk ini, dan bila kita menghilangkan faktor ini maka segalanya akan baik-baik saja. Jika memang ada faktor luar yang berlaku, kita memang bisa menghilangkannya begitu saja. Kita bisa berhenti menemui orang yang mengesalkan kita atau berhenti menyetujui hal yang dapat membuat kita berada di situasi tak mengenakkan. Tetapi, banyak situasi yang tak bisa kita apa-apakan, tak peduli betapapun situasi semacam itu menekan kita.</p>
<p><b>4 Macam Harapan dan Rasa Takut</b></p>
<p>Ada banyak peta dan geografi stres dalam ajaran Buddhis. Karena dianggap penting untuk berkomitmen melakukan apapun yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan taraf hidup semua makhluk, kita harus paham bagaimana kita sering menjebak diri dalam berlapis-lapis tekanan yang tak perlu, dan bagaimana kita mulai bisa keluar dari jebakan ini.</p>
<p>Untuk memulai, kita harus melihat apa yang melandasi tekanan emosional. Tekanan emosional digambarkan sebagai pola pikir yang mengakar. Karena terlalu banyak pikiran inilah kita membuat situasi tertekan semakin buruk. Dalam kebingungan kita, bukannya mengubah situasi atau sikap, kita malah menuang minyak ke dalam api.</p>
<p><i>Adalah satu hal untuk menyadari apa yang ingin kita tarik dan buang, dan adalah hal lain untuk menjadi terobsesi agar semua hal berjalan sesuai keinginan dan menjadi takut apabila terjadi hal yang berbeda.</i></p>
<p>Secara klasik, hal ini dijelaskan sebagai siklus harapan dan rasa takut yang tiada akhir, yang mendominasi kehidupan sehari-hari kita dari satu momen ke momen yang lain, dari awal hingga akhir. Filsuf Buddhis Nagarjuna menjelaskan harapan dan rasa takut dalam apa yang dinamainya 8 fokus duniawi: harapan untuk kebahagiaan dan rasa takut akan penderitaan; harapan untuk ketenaran dan rasa takut akan ketidakberartian; harapan untuk pujian dan rasa takut akan kecaman; serta harapan mendapat untung dan rasa takut akan kerugian. Singkatnya, tanpa berkesudahan, kita menghabiskan hidup setengah mati berusaha menahan sebagian hal dan membuang hal lain.</p>
<p>Anda mungkin bertanya: apa salahnya memilih kebahagiaan daripada kesedihan atau memilih pujian daripada kecaman? Bukankah yang kita inginkan memang mengejar kebahagiaan? Bukankah jelas bahwa untung lebih baik daripada rugi? Adalah satu hal untuk menyadari apa yang ingin kita tarik dan buang, dan adalah hal lain untuk menjadi terobsesi agar semua hal berjalan sesuai keinginan dan menjadi takut apabila terjadi hal yang berbeda. Masalahnya, harapan selalu bertalian erat dengan pasangannya, rasa takut. Mustahil satu hal muncul tanpa hal yang lain. Ketika kita terperangkap dalam siklus harapan dan rasa takut ini, kita selalu tegang sehingga bahkan pengalaman terbaik kita pun dihantui rasa waswas.</p>
<p><b>Kebahagiaan vs. Penderitaan</b></p>
<p>Dalam bentuk pertama harapan dan rasa takut, kita memandang segala sesuatu dalam bentuk kebahagiaan dan penderitaan, kesenangan dan kepedihan. Kita mengharapkan kebahagiaan, namun begitu mendapatkannya, muncullah rasa takut kehilangan. Karena rasa takut ini, kita berusaha menggenggam kebahagiaan begitu eratnya hingga kebahagiaan itu sendiri berubah menjadi sebentuk kepedihan. Begitu penderitaan muncul, pikiran positif macam apapun tak bisa mengusirnya. Semakin kita mengharapkan sebaliknya, semakin sengsaralah kita.</p>
<p><b>Ketenaran vs. Ketidakberartian</b></p>
<p>Dalam bentuk kedua harapan dan rasa takut, kita terobsesi pada ketenaran dan takut akan ketidakberartian diri. Kita berlomba-lomba mencapai puncak, lapar akan penghargaan, dan begitu kita tak mendapatkannya kita merasa kesal dan gampang tersinggung. Ketika kita menyadari betapa keras kita harus berusaha agar terlihat sebagai seorang yang istimewa, ketakutan kita akan ketidakberartian meningkat. Di belakang topeng ketenaran, kita menderita karena merasa diri kita kosong dan kesepian.</p>
<p><b>Pujian vs. Kecaman</b></p>
<p>Dalam bentuk yang ketiga, kita terobsesi pada pujian dan takut akan kecaman. Kita harus terus-menerus disemangati atau kita mulai meragukan nilai diri. Ketika kita tak memburu pujian, kita sibuk menutupi kesalahan kita agar tak ketahuan. Namun, tak pernah ada cukup pujian untuk memuaskan kita, dan kita tak pernah bebas dari perasaan ingin lebih. Hanya jika kita sempurnalah baru kita bisa terus-menerus mendapatkan pujian, namun sekalipun berusaha menggapainya, kita tak pernah berhasil meraihnya. Satu kesalahan kecil saja dapat memicu ketakutan kita lagi.</p>
<p><b>Untung vs. Rugi</b></p>
<p>Akhirnya, dalam jenis terakhir kita terobsesi pada untung-rugi. Kita menginvestasikan harapan tinggi pada tiap situasi, dan mengharapkan apabila terjadi peningkatan, maka kondisinya akan tetap demikian. Begitu menggodanya harapan ini hingga kita melupakan bagaimana mudahnya situasi dapat berbalik. Baru saja kita merayakan kesuksesan diri, kita jatuh terpuruk dan sekali lagi dicengkeram ketakutan. Harapan kita hancur dan kita takut kalau kita akan terus, terus jatuh. Secara sinambung,, segala sesuatu terlihat penuh harapan di satu detik dan musnah di detik berikutnya, dan apapun yang terjadi, kita merasa khawatir.</p>
<p>Siklus harapan dan rasa takut ini memenuhi pikiran kita dan merampas tenaga kita. Tak peduli apapun yang terjadi, kita merasa hal yang lebih baik atau berbeda dapat terjadi. Tak peduli seperti apapun kita, kita merasa bisa jadi lebih baik atau berbeda. Tak pernah ada yang cukup baik, sehingga kita tak pernah merasa tenang.</p>
<p><b>6 Pola Stres</b></p>
<p>Cara lain memandang stres adalah melalui anekdot 6 tingkat alam. 6 alam ini adalah alam dewa, alam asura (musuh kaum dewa), alam manusia, alam binatang, alam setan kelaparan, dan alam neraka. Mereka mewakili dunia pengalaman yang kita bentuk dari ketidakacuhan kita, yang kita tinggali dalam rasa takut. Mereka mewakili dunia yang penuh jerih-payah, dan tak peduli seberapa kerasnya kita berjerih-payah, kita tak pernah mendapatkan yang kita inginkan. Dikatakan bahwa kita berpindah dari satu dunia ke dunia lain terus-menerus dan sulit melepaskan diri. Setiap alam punya fokus, bentuk stres,  dan pola harapan-rasa takut masing-masing. Meski kita terperangkap dalam salah satu alam ini, tetap ada cara melepaskan diri dari kemelekatan yang menjerat dan menyebabkan stres dan penderitaan kita.</p>
<p><b>Alam Dewa dan Tekanan untuk menjadi Perfeksionis</b></p>
<p>Alam dewa merujuk ke dunia yang penuh keadaban. Alam ini penuh kebahagiaan spiritual, kesenangan material, atau kepuasan psikologis. Kebanggaan dan ketidakacuhan adalah bahan dasarnya, sehingga anda dapat larut dalam ilusi ‘semuanya serba-aku’. Berada dalam alam ini bak mimpi yang jadi nyata. Namun ketika anda mendapat segala yang anda impikan, anda cemas segalanya akan lenyap. Anda mungkin membangun persembunyian, entah dalam bentuk pusat retret spiritual, komunitas tertutup, atau dunia imajinasi. Namun, untuk tetap mempertahankan pulau kesempurnaan yang demikian, anda harus menutup mata dari penderitaan. Anda harus menutup hati karena tak ingin merusak suasana yang melingkupi anda atau merasakan hal tak mengenakkan barang sedikit pun, seperti apa pun itu. Oleh karenanya, anda tak mengacuhkan segala sesuatu yang mengancam kondisi kesenangan ini.</p>
<p><i>Semakin anda perhatian pada cacat dalam rencana, semakin luas sudut pandang anda. Dengan pemikiran yang lebih lapang, pola pikir mengejar segala sesuatu larut menjadi ketidakberartian.</i></p>
<p>Rasanya seolah alam ini stresnya sedikit sekali, tetapi di bawah permukaan kebanggaan spiritual dan kedamaian, mengalirlah sungai ketakutan. Anda harus menggenggam diri anda erat-erat untuk memperpanjang pengalaman istimewa anda dan menghalanginya berkurang. Anda berharap pengalaman transendental anda akan terus berlanjut, tapi juga takut anda tak mampu bertahan. Masalahnya, begitu anda menciptakan area terlindung dan memagarinya, entah secara harfiah atau psikologis, anda tak hanya harus berjuang mempertahankannya, namun stres juga akan muncul karena anda tahu pengalaman anda adalah sesuatu yang dibuat-buat, tidak nyata. Namun, ada masa ketika anda melepas usaha itu dan muncullah sesuatu yang baru. Semakin anda perhatian pada cacat dalam rencana, semakin luas sudut pandang anda. Dengan pemikiran yang lebih lapang, pola pikir mengejar segala sesuatu larut menjadi ketidakberartian.</p>
<p><b>Alam Asura dan Tekanan untuk Mengadu Kehebatan</b></p>
<p>Alam asura ditandai dengan iri hati, ketergesaan, dan jiwa kompetitif. Dalam alam ini, anda tak pernah puas dengan apa yang anda miliki jika anda melihat ada yang punya lebih. Anda berjuang sepanjang waktu, takut berhenti barang sejenak, takut posisi anda akan dilampaui seseorang. Anda hanya dapat mengukur diri sendiri dalam perbandingan dengan orang lain di depan dan di belakang.</p>
<p>Ini bagaikan lari di mesin <i>treadmill</i>, namun anda tak bisa berhenti. Anda terus berlomba dan melihat segala sesuatu sebagai urusan menang-kalah. Terbakar kecemburuan, anda terkungkung dalam jiwa kompetitif, terjebak dalam pacuan pencapaian tanpa jeda.</p>
<p>Jika anda terus terobsesi kesuksesan dan kegagalan, menang dan kalah, gerakan anda akan terbatasi dan dipenuhi tekanan. Namun, ada kalanya apa yang anda lakukan sudah jelas, dan segalanya menjadi lebih mudah dan efektif. Hal ini memberi anda kesempatan mengintip kemungkinan-kemungkinan lain dalam melakukan sesuatu, cara-cara lain untuk bekerja lebih terampil dan dengan usaha lebih sedikit.</p>
<p><b>Alam Manusia dan Tekanan karena Kurangnya Kepercayaan Diri</b></p>
<p>Alam manusia adalah alam hasrat dan kebutuhan akan hubungan. Anda merasa tak utuh dan selalu mencari cara mengisi kekosongan itu. Ketika merasa kesepian, anda berusaha menghubungkan diri dengan orang lain, namun begitu hubungan terbentuk, anda merasa terperangkap dan kecewa. Ketika anda menemukan seseorang yang bisa ‘nyambung’, anda mempertimbangkan apakah anda bisa menemukan orang yang lebih baik. Apapun yang anda lakukan, anda merasa ada sesuatu yang lebih baik yang anda lewatkan.</p>
<p>Di alam manusia, anda terpacu oleh kebutuhan dan kehendak. Anda mengkhawatirkan sosok anda dalam pandangan orang lain dan terobsesi pada ketenaran anda. Walau anda membentuk hubungan-hubungan dengan aneka kepentingan, tak ada yang stabil. Anda selalu merasa tak aman, pikiran anda melompat dari satu hal ke hal lain. Di atas semua itu, anda terlalu banyak berpikir, sehingga segalanya semakin rumit. Di alam manusia, anda tak lagi merasa utuh dan takut pada kerentanan diri anda.</p>
<p>Jika anda kerap mencari pengakuan dari luar, anda akan terus dirundung perasaan tertekan. Namun, dari waktu ke waktu, ada saatnya pemahaman spontan terpercik dalam diri anda. Pemahaman ini begitu jelasnya sehingga anda tak lagi butuh pengakuan dari luar. Anda menemukan bahwa anda tak perlu selalu meragukan diri sendiri. Anda dapat menghargai apa yang anda rasakan meski anda tahu mungkin ada hal yang lebih bagus di luar sana.</p>
<p><b>Alam Hewan dan Tekanan karena Kebiasaan</b></p>
<p>Di alam hewan, anda membentuk kebiasaan yang membosankan dan rutin, namun anda kekurangan imajinasi untuk melakukan hal di luar itu dan takut berubah. Anda terpaku pada cara anda dan merasa terancam dengan usulan baru. Anda mungkin mendapat inspirasi untuk berubah sesekali, namun kemalasan dan kelembaman menghentikan anda. Anda tak ingin terjebak, tapi tetap saja anda melakukan hal yang sama berulang-ulang. Anda dipenuhi ketidakacuhan dan takut mencoba hal yang berbeda dari biasanya, meski hal yang biasanya ini kurang memuaskan. Anda menciptakan birokrasi yang penuh peraturan dan prosedur tak jelas.</p>
<p>Seseorang dalam alam ini mungkin terlihat tenang dan mapan, namun ini bukanlah kemapanan yang sesungguhnya. Ini bak bantal pelindung yang melindungi mereka dari energi dan intensitas kehidupan. Keterjebakan dalam alam hewan kadang bisa terasa nyaman, namun rasa itu kemudian akan menjadi berat dan menekan, dan anda takut bahwa hal ini takkan pernah berubah.</p>
<p>Stres dalam alam ini tidak tajam, namun tumpul. Kebiasaan badan dan pikiran anda terasa padat dan liat. Ada energi yang membekukan pemikiran. Sekalipun segalanya terasa sesak, kadang terasa ada bukaan dan sesuatu yang tajam menembusnya. Anda mulai mengerti sengsaranya perasaan ini, yang diperkuat oleh perasaan negatif dan kehilangan yang dimunculkan oleh ketidakacuhan anda pada hal-ihwal di sekeliling anda.</p>
<p><b>Alam Setan Kelaparan dan Tekanan karena Tak Pernah Merasa Puas</b></p>
<p>Di alam setan kelaparan, anda mau lebih, lebih banyak lagi, tapi tak pernah merasa puas. Tak peduli betapa banyaknya kekayaan bertimbun, anda tetap merasa miskin. Selalu ada uang lebih yang harus didapat, lebih banyak kekuatan, lebih banyak pengaruh yang bisa anda raih. Jika anda tak bisa bergaul dengan yang terbaik dan terhebat, anda merasa kosong. Anda ditopang keserakahan dan selalu merasa lapar. Tanpa segala harta anda yang mengiringi, anda merasa telanjang, sehingga anda terus menambah lebih banyak lagi. Ada kesenangan dalam memiliki segala yang paling baik dan banyak, namun tak ada titik perhentian dan tak ada kepuasan yang sebenarnya, tak peduli seberapa banyaknya hal-ihwal yang telah anda kumpulkan.</p>
<p>Di alam setan kelaparan, ada kontras kuat antara kemiskinan di dalam dan kekayaan di luar. Kebutuhan memuaskan kelaparan di dalam dapat mendominasi hidup anda, tapi anda dapat keluar dari pola ini dan menyeimbangkan keadaan di dalam dan di luar diri, sehingga penghargaan yang anda berikan pada kekayaan di luar diimbangi dengan pengertian terhadap kekayaan di dalam.</p>
<p><b>Alam Neraka dan Tekanan karena Pertikaian Tiada Henti</b></p>
<p>Di alam neraka, anda selalu diliputi amarah. Anda membuat musuh di mana-mana, dan anda selalu bertengkar. Anda selalu resah, defensif, siap menyalak. Anda takut jika anda bersantai, anda akan terancam atau dihancurkan, sehingga anda selalu menyerang lebih dulu. Diri anda seolah panas bagai bara atau beku bagai es. Dipenuhi kebencian, anda menciptakan konflik dan pertikaian dalam berbagai skala. Anda ketakutan dan dipenuhi kepedihan seperti tikus yang tersudut, dan anda hanya bisa terus menyerang.</p>
<p>Campuran rasa benci, pedih, dan marah ini membuat kita sulit bernapas. Melihat dunia dalam pengertian aku vs. mereka, siapapun yang tak setuju dengan anda akan langsung menjadi musuh anda. Kemarahan dan keinginan bertikai ini terus tumbuh. Namun, ada kalanya anda terlepas dari neraca ekstrim ini. Anda keluar dari medan pertempuran dan menikmati perasaan apapun yang anda alami.</p>
<p><b>3 Pelaku</b></p>
<p>Mesin penggerak segala jenis stres ini terdiri dari 3 pelaku: keterpakuan pada ego, kemelekatan emosional, dan kebiasaan rutin. Jika anda merenungkan amarah anda, kemiskinan mental, jiwa kompetitif, dan keserakahan, anda akan menemukan ketiganya di sana. Jika anda menyelidiki siklus harapan-ketakutan yang anda rasakan, akan anda temukan bahwa merekalah penyebabnya.</p>
<p>Tiga serangkai ini bak mafia internal yang menuntut uang keamanan tiap hari. Begitu kita lupa diri dan hanya akrab dengan keakuan yang dinamakan ‘saya’, ’aku’, atau ’diri saya’, kita mengeluarkan segala negativitas kita – segala hasrat, ketidakacuhan, kebencian, dll. Begitu semua energi ini terlepas, kita mulai melakukan hal bodoh dan riskan. Kita menuai konsekuensi dari hal yang kita lakukan, dan siklusnya akan dimulai dari awal lagi karena kita akan bereaksi dengan cara yang riskan pula.</p>
<p>Pada dasarnya, sampai kita bisa menembus akar penopang-penopang utama dari stres yang kita alami dalam kehidupan, kita akan terus terlempar dari harapan ke rasa takut dan siklus 6 alam. Tingkat stres kita akan pasang-surut sehingga kita akan mengalami masa baik dan buruk, namun selalu akan ada stres yang bersembunyi dalam segala hal yang kita lakukan.</p>
<p><b>Stres dan Perkembangan</b></p>
<p>Mengenal stres tak hanya sekadar untuk mengurangi stres kita dan menjadi santai. Stres dalam jumlah tertentu dibutuhkan untuk berkembang, dan terkadang kita harus sengaja memosisikan diri kita di situasi yang akan membuat kita tertekan. Mudah sekali mencampuradukkan antara kepuasan atau kedamaian dengan kedamaian-semu dari kelembaman dan ketakutan untuk berubah. Guru besar seperti Nagarjuna dan Sakya Pandita mengatakan bahwa untuk belajar kita harus mendorong diri sendiri, dan untuk berkembang kita harus melepaskan diri dari kemudahan. Menurut Nagarjuna, ”Jika anda ingin kemudahan, korbankanlah pembelajaran. Jika anda ingin belajar, korbankanlah kemudahan.” Sakya Pandita menulis, ”Saat belajar, mereka yang bijak akan menderita; Tanpa memaksakan diri, mustahil menjadi bijak”. Kenyataannya, tak ada yang namanya hidup yang bebas stres. Hidup adalah pergerakan, dan pergerakan diliputi tekanan. Tanpa stres, takkan ada jalan, kebijaksanaan, dan pencapaian. Ironisnya, tanpa stres, kita tak bisa merasa nyaman.</p>
<p><i>Menurut</i> <i>Nagarjuna, ”Jika anda ingin kemudahan, korbankanlah pembelajaran. Jika anda ingin belajar, korbankanlah kemudahan”.</i></p>
<p>Chögyam Trungpa Rinpoche mendorong murid untuk mencari ‘sisi tajam’ dari sebuah pengalaman. Semua ini menunjukkan bahwa meski stres biasanya menjadi halangan, ia dapat pula menjadi katalis pertumbuhan. Trungpa Rinpoche secara rutin memosisikan muridnya di luar zona nyaman mereka dan mendorong mereka melakukan hal yang sama atas inisiatif sendiri. Ia terutama sekali mengkritik pendekatan yang selalu mencari kenyamanan (memakai baju longgar yang nyaman, berdiam di rumah ber-AC, atau menerima segala sesuatu begitu saja). Ia mengajarkan bahwa ketidaknyamanan bukan sesuatu yang mesti dianggap menyebalkan, melainkan justru sebagai pengingat tentang pentingnya menjaga disiplin berkelanjutan.</p>
<p>Kita tak hanya harus membiarkan diri kita kadang-kadang tertekan, namun juga harus bisa membiarkan orang lain belajar dengan cara yang sama. Sulit melihat seseorang bergumul sendiri tanpa merasa khawatir dan ingin membantu. Seringkali, anda memang harus membantu. Tapi, realitas tak selalu semudah itu. Contohnya, saya dengar bahwa bila anda merasa kasihan pada kupu-kupu yang tengah berusaha melepaskan diri dari kepompongnya, dan anda ingin memudahkannya dengan membantunya keluar, kupu-kupu ini akan keluar sebagai sosok yang lemah dan mungkin sekali mati. Kupu-kupu butuh stres yang akan mendorongnya keluar sendiri untuk menjadi kuat dan mengeringkan sayap-sayapnya. Sama halnya, seorang tukang kebun ulung memberitahu saya bahwa ketika menanam tumbuhan muda, akan lebih baik bila tak memberinya penopang. Ia berkata bahwa apabila si tunas harus bertahan dari angin dan cuaca, akarnya akan menjadi lebih kuat dan sehat. Dengan contoh ini, sekali lagi, ada pengakuan bahwa perkembangan membutuhkan stres atau rasa sakit. Bunga dalam rumah kaca atau anak yang terlalu dimanja tak punya keterampilan yang cukup untuk bertahan hidup.</p>
<p><b>Jalan Tengah Stres</b></p>
<p>Jelaslah bahwa stres dalam jumlah tertentu adalah bagian alami kehidupan, namun seberapa banyak dan stres seperti apa? Bagaimana kita bisa menangani sesuatu yang menantang namun tak berlebihan?</p>
<p>Tradisi Buddhis mengakui realitas stres dan ketidaknyamanan. Penggambaran tentang stres, kepedihan, dan penderitaan yang mengiringi kita baik secara individual maupun kolektif dari awal sampai akhir adalah sesuatu yang realistis (meski tak membuat nyaman). Ajaran sederhana dari kebenaran agung yang pertama, kebenaran tentang penderitaan, mungkin justru yang paling sulit dimengerti dan diterima. Kita terus mengira bahwa dengan memperbaiki ini-itu, mengubah ini-itu, kita dapat menghindarinya. Kita terus berpikir bahwa kalau saja kita lebih pintar, lebih cantik, lebih kaya, lebih berkuasa, tinggal di suatu tempat lain, lebih muda, lelaki, perempuan, lahir di keluarga lain – dan lain sebagainya – maka keadaan akan berubah. Tapi, keadaan akan tetap sama; segala sesuatu akan tetap seburuk sekarang juga! Karena tidak realistis bila mengharapkan kehidupan yang bebas stress, dan hal inipun memang tak baik juga, lebih masuk akal untuk belajar menghadapi stres yang akan muncul.</p>
<p>Dalam mengatasi stres kita harus mempertimbangkan kondisi yang tengah dihadapi dan bagaimana kita akan menyikapinya. Kadang kita bisa menghilangkan sebab dan kondisi yang membuat kita stres, tapi kadang tidak demikian. Karena itu, penting untuk bisa membedakan antara keduanya. Jika kita bisa mengubah situasi kita jadi lebih baik, kita harus melakukannya. Tak ada gunanya meratapi apa yang tak bisa kita ubah. Dalam situasi ini, kita harus mengubah sikap.</p>
<p><i>Jika pengalaman kita memang demikian adanya, kita dapat melihat bahwa dunia tak sedang berusaha menzalimi kita, dan tak pula mengonfirmasi perbuatan kita. Semuanya hanya hasil dari pertalian sebab dan kondisi.</i></p>
<p>Kita harus bisa realistis dan jujur pada diri sendiri sehingga takkan menahan diri saat berbuat sesuatu, sementara di sisi lain, kita juga takkan melakukan sesuatu yang sia-sia. Dalam memandang situasi eksternal, kita tak perlu menutupi masalah atau memandang dunia dengan secara naif. Namun, anda juga tak perlu melarutkan diri dalam segala permasalahan dunia yang anda temukan di berita, atau terpaku pada segala keburukan yang anda temui di kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Ketika seseorang bertanya pada guru besar Kamboja, Mahagosananda, ihwal caranya mempertahankan keceriaan dan ketenangannya dalam rezim Khmer Merah yang kejam dan mengerikan, ia tersenyum dan berkata, ”Hidup itu ada naik-turunnya”. Ada ajaran mendalam dalam pernyataan ini. Jika kita bersikap begitu, kita bisa melepas harapan-harapan besar kita tentang bagaimana seharusnya hidup kita berjalan. Kita akan jadi lebih bebas dalam menyikapi apapun yang kita hadapi. Jika pengalaman kita memang demikian adanya, kita dapat melihat bahwa dunia tak sedang berusaha menzalimi kita, dan tak pula mengonfirmasi perbuatan kita. Semuanya hanya hasil dari pertalian sebab dan kondisi.</p>
<p>Sikap ini berbeda dari sikap pasif atau keterputusan dalam artian sikap acuh tak acuh, kepasrahan, dan fatalisme yang negatif. Sebaliknya, sikap ini membentuk interaksi cerdas dengan dunia, yang tak sekadar reaktif, yang realistis dan tak mengawang-awang. Meminjam ujaran dari Guru besar Mahayana, Shantideva, “Ketika anda bisa berbuat sesuatu, maka lakukanlah. Kenapa harus cemas? Ketika anda tak punya kemampuan atau situasi tak mendukung untuk berbuat apapun, kenapa cemas?” Khawatir dan stres takkan membantu siapapun.</p>
<p><b>Melatih Batin dan Hati</b></p>
<p>Yang saya sukai dari Buddhisme adalah kepraktisan dan optimismenya. Anda mungkin jenis orang yang gampang sekali mengalami stres, atau bisa jadi berkulit lebih tebal, atau bahkan tak sadar dengan keadaan sekitar. Yang jelas, anda takkan terjebak stres hanya karena terlahir dengan stres. Tak peduli di titik mana anda mulai, anda bisa memperbaiki hubungan anda dengan stres ke arah yang lebih baik. Hal ini tak bisa terjadi dengan sekadar berharap atau berpura-pura menjadi orang lain, tapi hanya dengan melatih batin dan membuka hati.</p>
<p><i>Tak peduli di titik mana anda mulai, anda bisa memperbaiki hubungan anda dengan stres ke arah yang lebih baik. Hal ini tak bisa terjadi dengan sekadar berharap atau berpura-pura menjadi orang lain, tapi hanya dengan melatih batin dan membuka hati.</i></p>
<p>Perkakas utama untuk melatih jiwa adalah praktik pikiran berkesadaran. Melalui praktik ini, anda belajar menenangkan pikiran dan menjinakkannya. Selagi anda memusatkan pikiran pada napas, anda menjadi semakin akrab dengan pikiran anda sendiri. Pikiran menjadi lebih kokoh, seolah beratnya bertambah dan tak lagi mudah goyah oleh terpaan-terpaan ringan. Amat menenangkan untuk tahu bahwa di tengah segala kerusuhan yang berlangsung dalam hati, dalam naik-turunnya kehidupan, selalu ada yang stabil dan bisa diandalkan terkait batin anda. Ketika keadaan menjadi sulit dan stres mulai mengambil alih diri anda, anda dapat menarik kekuatan dari dalam.</p>
<p>Bersama dengan pikiran berkesadaran, ada pula cara melatih hati agar menjadi lebih terbuka dan penuh welas asih. Praktik welas asih menarik anda dari diri sendiri dan mengingatkan anda tentang orang lain. Ketika anda merasa tekanan menghimpit dan menarik diri anda, anda bisa melawan godaan untuk menutup diri. Anda dapat melihat keadaan sekitar dan, melalui welas asih, meraih sudut pandang yang lebih luas.</p>
<p>Stres bertambah kuat ketika pikiran anda melayang dan tak stabil, dan semakin terasa ketika anda terpaku pada diri dan masalah-masalah anda sendiri. Praktik pikiran berkesadaran dan welas asih memberi anda jalan mengatasi permasalahan semacam ini. Tidaklah realistis untuk mengharapkan hidup yang bebas stres, namun ada kemungkinan besar untuk mengubah cara anda menyikapinya. Stres memunculkan kebiasaan buruk di dalam batin dan hati. Daripada menganggapnya sebagai musuh, anggaplah stres sebagai guru, dan bersyukurlah padanya.</p>
<p><em>(Sumber: Lionsroar.com | diterjemahkan oleh Lisa Santika Onggrid)</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/jalan-tengah-stres/">Jalan Tengah Stres</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/jalan-tengah-stres/">Jalan Tengah Stres</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
