<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>offering - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/offering/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Apr 2020 08:45:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.12</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>offering - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Memberi Makan Buddha &#8211; Persembahan Makanan Dalam Buddhisme</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/03/20/memberi-makan-buddha-persembahan-makanan-dalam-buddhisme/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Mar 2017 06:39:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[offering]]></category>
		<category><![CDATA[persembahan]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2999</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BARBARA O&#8217;BRIEN Persembahan makanan adalah salah satu ritual tertua Buddhisme, sekaligus yang paling umum. Makanan diberikan kepada para biksu pada waktu pindapata, juga dipersembahkan pada dewa-dewa pelindung Tantra dan hantu kelaparan. Pemberian makanan adalah tindakan mulia yang mengingatkan kita agar tidak tamak atau egois. Persembahan Pindapata kepada Biksu Penganut Buddhisme generasi awal tidak membangun [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/20/memberi-makan-buddha-persembahan-makanan-dalam-buddhisme/">Memberi Makan Buddha – Persembahan Makanan Dalam Buddhisme</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/20/memberi-makan-buddha-persembahan-makanan-dalam-buddhisme/">Memberi Makan Buddha &#8211; Persembahan Makanan Dalam Buddhisme</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BARBARA O&#8217;BRIEN</p>
<p>Persembahan makanan adalah salah satu ritual tertua Buddhisme, sekaligus yang paling umum. Makanan diberikan kepada para biksu pada waktu pindapata, juga dipersembahkan pada dewa-dewa pelindung Tantra dan hantu kelaparan. Pemberian makanan adalah tindakan mulia yang mengingatkan kita agar tidak tamak atau egois.</p>
<p><strong>Persembahan Pindapata kepada Biksu</strong></p>
<p>Penganut Buddhisme generasi awal tidak membangun kuil. Mereka malahan merupakan tunawisma yang meminta-minta (<em>pindapata</em>) untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Benda pribadi yang mereka miliki hanya jubah dan mangkuk.</p>
<p>Hari ini, di negara yang didominasi Theravada seperti Thailand, biksu masih mengandalkan pindapata untuk makanan mereka. Para biksu meninggalkan kuil pagi-pagi sekali. Mereka berbaris rapi, biksu tertua di depan, membawa mangkuk minta-minta mereka. Orang-orang awam menunggu mereka, terkadang sambil membungkuk, dan meletakkan makanan, bunga, atau dupa dalam  mangkuk-mangkuk mereka.</p>
<p>Para biksu tidak berbicara, bahkan tidak mengucapkan terima kasih. Pemberian pindapata tidak dianggap kegiatan amal. Pemberian dan penerimaan pindapata menciptakan hubungan spiritual diantara kehidupan kuil dan komunitas awam. Orang awam memiliki tanggung jawab menopang aspek fisik para biksu, dan para biksu memiliki tanggung jawab menopang aspek spiritual komunitas tersebut.</p>
<p>Praktek pindapata sudah menghilang dari kebanyakan negara Mahayana, meskipun biksu-biksu Jepang setiap beberapa waktu melakukan ‘takuhatsu’, diambil dari kata permintaan (taku) dan mangkuk (hatsu).</p>
<p>Terkadang para biksu mengucap sutra sebagai ganti pemberian. Biksu-biksu Zen kadang muncul dalam kelompok-kelompok kecil, mendaraskan “ho” (dharma) selagi mereka berjalan untuk menunjukkan bahwa mereka membawakan dharma.</p>
<p>Biksu yang mempraktikkan takuhatsu memakai topi jerami besar yang menutupi sebagian wajah mereka. Topi ini juga menghalangi mereka melihat wajah orang-orang yang melakukan pemberian.</p>
<p>Tidak ada pemberi dan penerima, hanya pemberian dan penerimaan. Ini menyucikan tindakan pemberian dan penerimaan tersebut.</p>
<p><strong>Persembahan Makanan Lain</strong></p>
<p>Persembahan makanan seremonial juga merupakan praktek Buddhisme umum. Ritual dan doktrin spesifik di baliknya berbeda dari satu aliran ke aliran lain. Makanan bisa ditinggalkan begitu saja di altar dengan penghormatan kecil, atau dilakukan dengan mewah diiringi pendarasan mantra dan posisi membungkuk seluruh badan. Bagaimanapun detilnya, seperti juga pemberian makanan kepada para biksu, persembahan makanan pada altar adalah tindakan untuk menghubungkan diri dengan dunia spiritual. Tindakan ini dimaksudkan untuk melepas ego dan membuka hati terhadap kebutuhan orang lain.</p>
<p>Dalam Zen, dikenal juga konsep untuk mempersembahkan makanan pada para hantu kelaparan. Dalam upacara makan formal pada sesshin, sebuah mangkuk persembahan akan diteruskan secara estafet ke semua orang yang mengikuti jamuan makan. Semua orang mengambil sepotong kecil makanan dari piring mereka, menyentuhkannya ke dahi, kemudian meletakkannya ke mangkuk persembahan. Mangkuk itu kemudian diletakkan secara simbolis di altar.</p>
<p>Hantu kelaparan mewakili segala ketamakan dan kemelekatan diri yang mengikat kita pada kekecewaan dan kesedihan kita. Dengan memberikan sesuatu yang kita inginkan, kita melepas ikatan dari kemelekatan dan keinginan pribadi untuk memikirkan orang lain.</p>
<p>Pada akhirnya, makanan yang dipersembahkan akan ditinggalkan di luar untuk burung dan hewan liar.</p>
<p>Sumber: https://www.thoughtco.com/feeding-the-buddha-449750 | Diterjemahkan oleh Lisa Santika Onggrid</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/20/memberi-makan-buddha-persembahan-makanan-dalam-buddhisme/">Memberi Makan Buddha – Persembahan Makanan Dalam Buddhisme</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/20/memberi-makan-buddha-persembahan-makanan-dalam-buddhisme/">Memberi Makan Buddha &#8211; Persembahan Makanan Dalam Buddhisme</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>It&#8217;s Lamrim It&#8217;s Buddhism #5: Persembahkan Makananmu pada Triratna</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/03/17/its-lamrim-its-buddhism-5-persembahkan-makananmu-pada-triratna/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Mar 2017 06:28:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[itslamrimitsbuddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[offering]]></category>
		<category><![CDATA[persembahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2959</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kita pasti pernah diajari untuk berdoa sebelum makan. Sebenarnya apa sih yang seharusnya kita doakan? Salah satunya adalah mempersembahkan makanan kita kepada Triratna. Ini merupakan salah satu dari sila Trisarana yang berfungsi untuk mengurangi kemelekatan kita dan mengembangkan dana paramita atau kemurahan hati. Dengan ingat mempersembahkan makanan kepada Triratna sebelum makan, kita juga akan teringat [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/17/its-lamrim-its-buddhism-5-persembahkan-makananmu-pada-triratna/">It’s Lamrim It’s Buddhism #5: Persembahkan Makananmu pada Triratna</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/17/its-lamrim-its-buddhism-5-persembahkan-makananmu-pada-triratna/">It&#8217;s Lamrim It&#8217;s Buddhism #5: Persembahkan Makananmu pada Triratna</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kita pasti pernah diajari untuk berdoa sebelum makan. Sebenarnya apa sih yang seharusnya kita doakan? Salah satunya adalah mempersembahkan makanan kita kepada Triratna. Ini merupakan salah satu dari sila Trisarana yang berfungsi untuk mengurangi kemelekatan kita dan mengembangkan dana paramita atau kemurahan hati. Dengan ingat mempersembahkan makanan kepada Triratna sebelum makan, kita juga akan teringat untuk<span class="text_exposed_show"> menyetel motivasi kita, yaitu makan untuk memberi kekuatan pada tubuh agar bisa terus bekerja demi kebahagiaan diri sendiri dan semua makhluk.</span></p>
<div class="text_exposed_show">
<p>Jadi, begitu makanan datang jangan langsung hap, ya! Hihihi~</p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone size-medium wp-image-2960" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17309649_1939234659638095_7239166905541115950_n-300x300.png" alt="" width="300" height="300" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17309649_1939234659638095_7239166905541115950_n-300x300.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17309649_1939234659638095_7239166905541115950_n-336x336.png 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17309649_1939234659638095_7239166905541115950_n-150x150.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17309649_1939234659638095_7239166905541115950_n-450x450.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/03/17309649_1939234659638095_7239166905541115950_n.png 480w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
</div><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/17/its-lamrim-its-buddhism-5-persembahkan-makananmu-pada-triratna/">It’s Lamrim It’s Buddhism #5: Persembahkan Makananmu pada Triratna</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/17/its-lamrim-its-buddhism-5-persembahkan-makananmu-pada-triratna/">It&#8217;s Lamrim It&#8217;s Buddhism #5: Persembahkan Makananmu pada Triratna</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Banyak-Banyak Persembahan Buat Apa? Memangnya Buddha Terima?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/03/14/banyak-banyak-persembahan-buat-apa-memangnya-buddha-terima/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Mar 2017 09:09:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[offering]]></category>
		<category><![CDATA[persembahan]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=2910</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD Kamu pasti sering melihat altar di Vihara atau di tempat sembahyang keluargamu. Di atas meja altar tersebut kamu pasti sering melihat adanya buah, air, bunga, dan lainnya, pernahkah muncul pertanyaan di benakmu: itu untuk apa ya? Buddha sendiri merupakan adalah makhluk yang telah tercerahkan dengan sempurna, jadi apakah Beliau masih butuh benda-benda materi [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/14/banyak-banyak-persembahan-buat-apa-memangnya-buddha-terima/">Banyak-Banyak Persembahan Buat Apa? Memangnya Buddha Terima?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/14/banyak-banyak-persembahan-buat-apa-memangnya-buddha-terima/">Banyak-Banyak Persembahan Buat Apa? Memangnya Buddha Terima?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh BESTRELOAD</p>
<p>Kamu pasti sering melihat altar di Vihara atau di tempat sembahyang keluargamu. Di atas meja altar tersebut kamu pasti sering melihat adanya buah, air, bunga, dan lainnya, pernahkah muncul pertanyaan di benakmu: itu untuk apa ya? Buddha sendiri merupakan adalah makhluk yang telah tercerahkan dengan sempurna, jadi apakah Beliau masih butuh benda-benda materi seperti itu? Tentunya tidak, tapi Buddha memiliki cita-cita agung membebaskan semua makhluk dari penderitaan, jadi persembahan ini merupakan ritual yang dimaksudkan untuk membebaskan kita dari penderitaan, kok bisa? Begini penjelasannya.</p>
<p>Jika kamu pergi ke wihara tentu saja kamu akan menemui banyak tradisi atau ritual, mulai dari anjali, namaskara, puja, dan juga persembahan yang baru kita bahas. Pada dasarnya ritual merupakan alat yang digunakan oleh banyak orang dan sudah terbukti berhasil, untuk mewariskan suatu nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh suatu ajaran, maka dari itu kamu bisa melihat bahwa ada banyak macam ritual dari berbagai tradisi Buddhis, yaitu persembahan yang bervariasi tergantung tradisi, namun praktik persembahan memiliki makna yang luhur yang terkandung di dalamnya.</p>
<p><strong>Praktik persembahan melatihmu untuk mengikis kemelekatan akan ‘aku’</strong></p>
<p>Saat kamu memberikan suatu milikmu pada pihak lain, kamu berlatih untuk mengikis kemelekatan, ini adalah salah satu manfaat dari memberi. Manusia pada dasarnya memiliki sifat pelit jika harus mengeluarkan waktu, uang, tenaga, ataupun pikiran untuk orang lain, karena kita senantiasa melekat pada aku; mobil-ku, HPku, rumahku, ideku, identitasku, pekerjaanku, dan lainnya. Coba bayangkan jika kamu kehilangan hal-hal itu, tentunya kamu akan menjadi sangat menderita. Semua hal cenderung ingin kamu dapatkan untuk dirimu sendiri, dan ‘aku’ ini tidak akan pernah terpuaskan, inilah sumber penderitaan.</p>
<p>Memberikan persembahan melatihmu sedikit demi sedikit agar saat kamu kehilangan hal-hal di atas, penderitaan yang kamu rasakan bisa berkurang. Maka dari itu, latihan memberi dimulai dari yang paling mudah dulu yaitu benda materi.  Memberi persembahan merupakan penawar bagi kemelekatanmu karena merupakan kebalikan total dari pikiran yang melekat,sehingga akan timbul rasa bersyukur dan cepat puas atas apa yang kamu miliki.</p>
<p><strong>Mengapa memberikan persembahan pada Sang Triratna?</strong></p>
<p>Praktik persembahan yang dibahas disini adalah persembahan yang ditaruh di atas altar, lantas kamu mungkin bertanya, mengapa persembahan pada Sang Triratna, bukan objek lain yang lebih nyata? Karena ketika kamu mempersembahkan sesuatu pada Sang Triratna, kamu akan mengingat kualitas-kualitas Sang Triratna yang tiada banding, yang bisa membebaskan semua makhluk dari penderitaan, yang memiliki kebijaksanaan, cinta kasih, dan kemampuan untuk menolong. Dengan memberikan persembahan pada objek yang terunggul ini, kamu membangkitkan rasa hormat dan cinta pada mereka, kamu juga menginspirasi pikiranmu untuk mencapainya, rasa inilah yang mengumpulkan potensi positif yang luar biasa besar, maka dari itu dikatakan bahwa Sang Triratna adalah ladang kebajikan yang terunggul.</p>
<p>Ketika kamu memiliki rasa hormat yang besar pada satu objek, secara alamiah kamu akan memiliki insting untuk memberikan mereka sesuatu karena kamu ingin membuat suatu koneksi terhadap objek itu. Maka dari itu yang membutuhkan persembahan ini adalah dirimu sendiri yang membutuhkan kebajikan, bukan Sang Triratna, karena Buddha sendiri sudah terbebas dari segala penderitaan. Dengan melakukan persembahan pada Sang Triratna, sebaiknya kamu meletakkan rasa baktimu pada mereka dan berterima kasih karena Sang Triratna merupakan sumber kebahagiaanmu.</p>
<p><strong>Praktik persembahan melatih sikapmu dalam memberi.</strong></p>
<p>Saat memberikan sesuatu pada seseorang kamu akan berpikir “apa gunanya?”, “apakah orang ini pantas?” atau setelah memberi kamu mengharapkan terima kasih dan muka bahagia pada orang yang kamu beri, atau pemberian itu akan mempengaruhi reputasimu, kamu mempertimbangkan sejuta alasan dan kemungkinan dalam banyak situasi, hasilnya kamu lama berpikir dan pusing sendiri. Ini artinya kamu memiliki batasan internal/dalam dirimu saat memberi. Dengan praktik persembahan, kamu dapat melatih diri untuk tidak berekspektasi saat memberikan sesuatu, karena pikiran negatif-negatifmu sendirilah yang menghalangi kamu dalam mengembangkan Dana Paramita. Apakah Dana Paramita bisa berkembang? Ya, kamu pasti punya pengalaman “senang” setelah memberi bukan karena efek eksternal (seperti ucapan terima kasih), tapi seperti “Oh, hal ini sangat baik untuk dilakukan”. Semakin luas kamu bisa membangkitkan rasa ini ketika memberi, artinya dana paramitamu sudah berkembang.</p>
<p>Contoh sikap yang salah saat melakukan persembahan saya temui di kehidupan saya sehari-hari, misalnya pada saat sembahyang Imlek, ada tradisi bahwa harus ada persembahan jeruk bali di altar. Kebetulan orang tua saya yang mendapat giliran membeli, mereka berpendapat, “Jangan beli jeruk bali deh, pahit, mending beli jeruk yang manis saja biar nanti kita makan lebih enak.” Ini adalah contoh sikap dalam persembahan yang keliru, karena harusnya inti dari persembahan adalah belajar untuk melepas, walaupun ujung-ujungnya diturunkan juga. Saat orang tua saya berpikir bahwa jeruk tersebut akan dimakan setelah selesai sembahyang, secara tidak sadar mereka telah melekat pada jeruk itu. Maka dari itu sebaiknya kita berpikir bahwa persembahan di altar bukan untuk diri sendiri, karena saat kita mempersembahkan sesuatu, jika kita tahu bahwa ketika diturunkan persembahan itu untuk diri kita sendiri, maka secara halus kemelekatan itu muncul. Saya menyarankan lebih baik persembahan di altar, ketika diturunkan, kita sudah <em>set</em> bahwa itu sebisa mungkin untuk orang lain (misal air untuk siram tanaman atau <em>snack</em>/buah untuk teman), dengan begitu motivasi kita menjadi lebih murni.</p>
<p><strong>Bermacam-macam ritual yang dilakukan di Buddhis memiliki satu tujuan, yaitu mengubah batin.</strong></p>
<p>Makna dari persembahan bisa menjadi sangat luas. Setiap elemen persembahan memiliki makna sendiri misalnya lilin untuk mengembangkan kebijaksanaan dan bunga tentang perenungan ketidakkekalan, dupa, pelita, air, buah, makanan, dsb. Sama seperti banyaknya ritual yang kamu kenal di Buddhis, kamu harus ingat bahwa esensi dari semua ritual ini adalah untuk mengubah batinmu menjadi lebih baik. Buddha mengajarkan 84.000 pintu Dharma untuk mengakomodir kebutuhan orang-orang, artinya semua ini merupakan bagian dari suatu proses latihan yang ujungnya adalah untuk mencapai pencerahan.</p>
<p>Sumber: Buddhism for Beginners</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/03/14/banyak-banyak-persembahan-buat-apa-memangnya-buddha-terima/">Banyak-Banyak Persembahan Buat Apa? Memangnya Buddha Terima?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/03/14/banyak-banyak-persembahan-buat-apa-memangnya-buddha-terima/">Banyak-Banyak Persembahan Buat Apa? Memangnya Buddha Terima?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
