<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mudita - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/mudita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Sep 2020 03:48:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>mudita - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Belajar Mudita di Media Sosial</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/08/14/belajar-mudita-di-media-sosial/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2020 04:04:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[kaum rebahan]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[mudita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5419</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Rebahan sambil main medsos  memang rawan bikin kemalasan dan iri hati menumpuk, tapi kamu bisa mengubahnya jadi bajik dengan mudita! Caranya gimana? Yuk baca!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/08/14/belajar-mudita-di-media-sosial/">Belajar Mudita di Media Sosial</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/08/14/belajar-mudita-di-media-sosial/">Belajar Mudita di Media Sosial</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Hidup kita sering kali kita buat seperti pelajaran matematika. Banyak hal dalam hidup, kita coba kuantifikasi sedemikian rupa supaya kita bisa meraba “permukaan” kehidupan dan mencengkeram rencana kita supaya tidak terlalu jauh mengawang. Masalahnya, sudahkah kita mencoba untuk menghitung berapa persen kita habiskan kehidupan kita untuk hal baik? Mungkin ada yang sudah, mungkin ada yang belum karena matematika bukan pelajaran favoritnya waktu sekolah.</p>



<p>Oleh karena itu, untuk yang belum, mari kita bermain hitung-hitungan yang lebih simpel daripada persentase. Berapa lama kita bisa berbuat kebajikan dengan maksimal, lengkap, dan tanpa tercemar hal buruk dalam satu hari penuh?</p>



<h5><strong>Mari Berhitung…</strong></h5>



<p>Dalam sehari, kita punya 24 jam. Delapan jam (mungkin kurang atau lebih sedikit) kita habiskan untuk beristirahat. Anggaplah waktu yang kita habiskan untuk makan, mandi, buang air, berdandan, bergaya di depan cermin, dan mengurus diri memakan waktu 3 jam. Kemudian hampir separuh di antara 24 jam, mungkin 8-9 jam kita habiskan untuk bekerja. Artinya, sudah hampir 20 jam kita habiskan untuk kegiatan-kegiatan tersebut. Kita lalu berpikir keras mengenai apa yang akan kita lakukan di sisa 4 jam yang kita miliki. Sudah lelah bekerja dan beraktivitas, tentu kita ingin memakai 4 jam tersebut untuk bersenang-senang. Seperti yang sudah kita ketahui, salah satu kegiatan paling populer untuk membuang waktu sekaligus mendapatkan “informasi” adalah dengan bermain media sosial. Anggaplah kita punya banyak akun yang harus kita urus dan pelihara agar tetap diperhatikan oleh orang lain. Ada Facebook, Twitter, Instagram, dan banyak lainnya sehingga seakan-akan kita punya banyak anak yang harus kita rawat.</p>



<h5><strong>Apa yang terjadi selama 4 jam kita menggunakan media sosial?</strong></h5>



<p>Sebenarnya, sisa waktu yang kita miliki mau kita gunakan untuk apa itu terserah. Yang jadi masalah adalah bagaimana kita menggunakan waktu luang kita supaya kita tidak lagi menambah-nambah “dosa” dan sebaliknya, menambah-nambah kebaikan. Maksudnya apa? Maksudnya, sebagai contoh adalah bagaimana kita menghabiskan 4 jam yang notabene kita gunakan untuk panjat sosial di media sosial bisa kita maksimalkan jadi aktivitas bajik. Selama 4 jam kepo dan asyik dengan gawai kita, besar kemungkinan kita akan melihat <em>post</em> teman kita yang baru saja promosi jabatan, memenangkan hadiah dalam kompetisi bergengsi, atau sedang memamerkan kehidupan mewahnya di media sosial. Ada kecenderungan bagi kita untuk merasa iri, kesal, dongkol dengan pencapaian mereka.&nbsp;</p>



<p><em>“Kenapa ya dia bisa menang lomba itu? Hmm, ya mungkin karena lombanya nggak keren-keren amat.”</em></p>



<p><em>“Ah, jalan-jalan lagi ke luar negeri. Enak, ya, bisa ngehabisin duit orang tua.”</em></p>



<p>Itu hanya sedikit contoh dari sekian banyak kalimat negatif yang mungkin berseliweran seperti kondisi jalanan saat hari mudik tiba. Ini dia yang membuat kita terus menerus menumpuk karma buruk. Bagaimana tidak? Sudah 3 jam kita habiskan untuk kegiatan yang berkekuatan netral. Selama 8-9 jam kita bekerja, habis juga waktu kita untuk mengoceh, mengomel (mungkin sedikit mengumpat), sambil <em>ngedumel </em>soal “kapan kerjaan ini selesai”, “kapan bisa pulang ke rumah”, walau mungkin ada 20-30 menit kita berhasil membangkitkan pikiran bajik soal beruntungnya kita bisa terlahir sebagai manusia yang berharga. Tambah pula 4 jam yang tadinya hendak kita habiskan untuk memuaskan panca indera yang selalu haus malah kita gunakan untuk iri sana dan iri sini.</p>



<h5><strong>Percaya nggak 4 jam itu bisa kita ubah jadi bajik?</strong></h5>



<p>Empat jam itu haruslah kita ‘kawal’ agar waktu yang biasanya kita buang percuma itu bisa jadi lebih berharga, bukannya malah semakin busuk. Kita semua mafhum kalau karma itu berbuahnya sejak dalam pikiran. Itulah mungkin yang menginspirasi Pramoedya Ananta Toer untuk mengatakan: berlakulah adil sejak dalam pikiran. Kembali lagi kepada pernyataan bahwa karma berbuah sejak dalam pikiran, ada satu kabar baik bahwa meskipun fisik kita tidak selalu sukses dalam melengkapi jalan karma putih, turut berbahagia (<em>rejoice</em>)—bermudita—atas sukacita yang dialami orang lain bisa membantu kita mengumpulkan karma bajik. Kalau kita mau kuantifikasi seperti yang biasanya kita lakukan, banyak sekali keuntungan dari bermudita. Pertama, tidak banyak waktu yang perlu kita habiskan untuk hal ini. Sebab, tidak ada hal istimewa yang perlu kita lakukan untuk bisa bermudita. Kedua, tidak perlu juga banyak usaha yang kita lakukan. Iya kan? Toh, yang melakukan perbuatan baiknya adalah pihak lain, kemudian kita hanya merasa senang dengan hal baik yang sudah dilakukan.</p>



<p>Enaknya lagi, bermudita ini sebenarnya tidak perlu kita buat-buat dan tidak sulit juga untuk kita bangkit-bangkitkan. Sebab, kita sudah sangat akrab dengannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, senatural-naturalnya adat buruknya manusia, ada hal baik yang timbulnya juga alami tanpa perlu berpura-pura. Contoh, saat kita sebagai teman yang baik datang untuk merayakan pasca sidang skripsinya sahabat kita. Kita paham betul rasa sengsara revisi berulang kali yang harus kita lalui sebelum bisa dinyatakan sarjana. Melihat sahabat yang sudah sama-sama berhasil melewati kedurjanaan drama tugas akhir, sudah barang tentu timbul dalam hati nurani kita perasaan seperti, “Ah, akhirnya dia berhasil juga!” Timbul rasa senasib sepenanggungan dan sedikit rasa bangga karena saat ini sahabat kita sudah sama-sama berdiri di tempat yang sejajar dengan kita. Perasaan senang yang seperti itu, yang bisa muncul dengan alamiah dan murni karena sifat kemanusiaan kita, tanpa perlu sok-sok baik karena merasa perlu berbuat baik. Itulah sebabnya kita kemudian datang membawa bunga, makanan, dan tulisan-tulisan selamat pada teman kita. Sesederhana itu lho. Sesederhana karena kita merasa senang juga dengan apa yang mereka lakukan. Mudah kan?</p>



<p>Kabar baik berikutnya, hukum karma bisa menjadi sangat baik pada kita. Cukup dengan melihat satu <em>post</em> perbuatan baik, kita bisa mendapat karma bajik yang luar biasa. Dengan bermudita, kita bisa memperoleh 50% dari karma kebajikan yang diperbuat oleh orang tersebut. Bayangkan, berapa besar karma kebajikan yang bisa kita peroleh dengan bermudita atas perbuatan baik berdana kepada satu negara dan kepada ladang kebajikan terunggul, sang Triratna?</p>



<p>Bukan maksud tulisan ini untuk mengajakmu hitung-hitungan, mengajakmu pura-pura senang, atau mengajakmu jadi serakah. Kalau memang tidak bisa bermudita atas perbuatan baik orang lain, ya tidak perlu juga dipaksa. Kan bisa toh, kalau kita <em>scroll </em>menjauh dari <em>post</em> yang kiranya menyebalkan supaya perasaan jengkel kita tidak mendahului pikiran waras kita. Kita juga kan tahu sama tahu kalau tidak cuma karma baik, karma buruk pun berbuah sejak dalam pikiran. Ikut keki karena melihat perbuatan buruk orang lain <s>seperti dalam sinetron</s> juga memberikan kita 50% dari karma buruk yang dilakukan orang tersebut. Namun, kita juga berkesempatan untuk menumbuhkan empati yang sebenarnya sudah ada bibitnya pada tiap insan—mencoba menghayati pengalaman pribadi agar bisa dengan tulus bermudita pada perbuatan baik orang lain. Bayangkan betapa baiknya hal ini!</p>



<h5><strong>Kesimpulan</strong></h5>



<p>Empat jam yang sangat singkat dalam 24 jam bisa kita gunakan untuk bermain media sosial secara lebih bijak dan bajik. Empat jam yang tadinya cuma kita pakai untuk hal duniawi, untuk memuaskan “aku” bisa berubah jadi sesuatu yang juga menyenangkan makhluk lain, sebagaimana teman kita akan sangat senang ketika tahu bahwa kita pun merayakan keberhasilannya dalam sidang skripsi. Empat jam dalam media sosial bisa kita buat jadi lebih bermakna dengan bermudita dibandingkan sibuk menggunjingkan kehidupan orang lain. Untuk kita, kaum yang sebenarnya lebih suka rebahan saat disuruh berbuat baik, bisa memanfaatkan 1/6 waktu dalam sehari untuk berbuat baik sambal tetap rebahan tentunya amat menguntungkan dan menggiurkan untuk dilakukan.&nbsp;</p>



<p>Menjawab pertanyaan di awal tulisan, ada 4 jam yang bisa kita gunakan untuk berbuat baik secara maksimal, lengkap, dan tanpa tercemar hal buruk. Kalau masih juga sulit, 20 menit pun jadi. Dan ini adalah jawaban yang kita peroleh bersama-sama. Jadi, kalau ada dari kita yang merasa kurang pintar matematika, benci pelajaran matematika semasa sekolah, coba bercermin lagi, deh. Ternyata kita lumayan bisa matematika kan? Buktinya kita baru saja menghitung bersama-sama. Boleh tuh kita rayakan dengan bermudita!</p>



<p><strong>Referensi:</strong></p>



<ol><li>&#8220;<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">Pembebasan di Tangan Kita</a>&#8221; Jilid II karya Phabongkha Rinpoche</li><li>&#8220;<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Catur_Brahmawihara?id=BZiWDwAAQBAJ">Catur Brahmawihara</a>&#8221; karya Guru Dagpo Rinpoche</li><li>&#8220;<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Karma?id=seGMDwAAQBAJ">Karma</a>&#8221; karya Guru Dagpo Rinpoche</li></ol><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/08/14/belajar-mudita-di-media-sosial/">Belajar Mudita di Media Sosial</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/08/14/belajar-mudita-di-media-sosial/">Belajar Mudita di Media Sosial</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tips Imlek Bahagia Nan Bajik Ala Buddhis</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/01/25/tips-imlek-bahagia-nan-bajik-ala-buddhis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jan 2020 06:11:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[chinese new year]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[imlek]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[mudita]]></category>
		<category><![CDATA[tips bajik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4711</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh Silvi Wilanda Imlek merupakan momen yang paling dinanti-nanti bagi yang merayakan. Banyak hal yang sayang dilewatkan ketika Imlek, seperti misalnya memakai baju baru, berburu angpao, berkumpul bersama keluarga besar, mengunjungi rumah kerabat, kembali bernostalgia dengan kampung halaman, dan sebagainya. Momen-momen ini merupakan momen yang berharga dan membahagiakan. Tapi, terkadang momen ini juga malah bisa [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/01/25/tips-imlek-bahagia-nan-bajik-ala-buddhis/">Tips Imlek Bahagia Nan Bajik Ala Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/01/25/tips-imlek-bahagia-nan-bajik-ala-buddhis/">Tips Imlek Bahagia Nan Bajik Ala Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh Silvi Wilanda</p>



<p>Imlek merupakan momen yang paling dinanti-nanti bagi yang merayakan. Banyak hal yang sayang dilewatkan ketika Imlek, seperti misalnya memakai baju baru, berburu angpao, berkumpul bersama keluarga besar, mengunjungi rumah kerabat, kembali bernostalgia dengan kampung halaman, dan sebagainya. Momen-momen ini merupakan momen yang berharga dan membahagiakan. Tapi, terkadang momen ini juga malah bisa berubah 180 derajat menjadi momen yang tidak menyenangkan atau bahkan terlewati begitu saja karena ‘tercemar’ motivasi yang tidak baik. Untuk itu, kita perlu mempersiapkan diri kita terlebih dahulu untuk melewati Imlek dengan bahagia dan bahkan memanfaatkannya untuk mengumpulkan kebajikan. Berikut adalah beberapa tips sederhana yang bisa kita praktikkan.&nbsp;</p>



<p>Pertama, kita perlu mempersiapkan diri kita ketika dihadapkan dengan keadaan yang tidak menyenangkan. Misalnya saja, saat salah satu anggota keluarga kita terlalu memberikan perhatian berlebih (kepo) atau memberikan komentar yang tidak menyenangkan. Sebisa mungkin jangan langsung bereaksi dengan negatif. Jika ada kekesalan muncul, coba pikir-pikir lagi. Apakah komentar itu memang ditujukan untuk menyerang kita atau jangan-jangan hanya bentuk perhatian? Mungkin yang memberi komentar hanya ingin tahu kabar kita, tapi tidak cukup mengenal kita sehingga hanya bisa mengomentari hal-hal umum seperti karir, tubuh, atau pasangan. Kita seharusnya bahagia dan bermudita cita karena ternyata ada orang lain yang peduli terhadap kebahagiaan kita. Jadi, alih-alih membalasnya dengan kesal ataupun sedih, kita bisa membalas hal tersebut dengan jawaban-jawaban kreatif yang lucu seraya memberikan senyuman. Jika kita benar-benar tidak nyaman, kita bisa memberi tahu dengan cara yang halus, tidak dengan emosi atau marah. Saat diberi komentar yang tidak menyenangkan, kita juga bisa memanfaatkannya untuk melatih diri kita dalam mempraktikkan kesabaran. Kita juga perlu mengingat bahwa orang yang memberikan komentar tidak menyenangkan tersebut juga sedang dikendalikan oleh klesha (kekotoran batin) sehingga tidak tepat bagi kita untuk marah terhadap orang tersebut.&nbsp;</p>



<p>Kedua, kita perlu menghindarkan diri kita dari menyakiti orang lain. Hiruk-pikuk keramaian saat Imlek kadang memancing kita untuk lengah dalam bertindak. Misalnya, kita bisa saja menggosipkan orang lain saat sedang asyik berbincang-bincang bersama keluarga. Beberapa di antara kita juga mungkin akan merasa iri hati ketika teman atau saudara kita yang lain memperoleh angpao yang lebih banyak dibanding kita. Hal-hal tersebut kadang kita lakukan tanpa kita sadari. Untuk itu, kita perlu menjaga kewaspadaan diri dan mengubah bentuk tindakan negatif tersebut menjadi tindakan positif. Menggosipkan orang lain dapat kita ubah menjadi memuji kualitas orang lain dan iri hati terhadap hasil angpao teman atau saudara kita kita ubah menjadi bermudita cita melihat kebahagiaan teman atau saudara kita tersebut.&nbsp;</p>



<p>Terakhir, kita dapat mengumpulkan kebajikan sebanyak-banyaknya. Dibanding menambah karma buruk kita karena kesal atas perlakuan orang lain ataupun melakukan hal negatif, kita sebenarnya bisa memanfaatkan Imlek sebagai kesempatan untuk berbuat baik, bahkan kita bisa mengajak serta keluarga ataupun teman kita untuk berbuat bajik. Misalnya, kita bisa mempersembahkan setiap makanan Imlek yang kita makan kepada Triratna terlebih dahulu, mendoakan kebahagiaan para leluhur ketika melakukan sembahyang meja abu leluhur, ataupun mengucapkan “<em>gong xi fa cai</em>” dengan motivasi membahagiakan orang lain dengan tulus. Kita juga bisa mengajak keluarga dan teman kita untuk turut berbuat baik, misalnya menyumbangkan pakaian lama kita (yang sudah berganti dengan pakaian Imlek baru), melakukan <em>fangsheng</em>, sembahyang ke wihara, ataupun menyisihkan sebagian hasil perburuan angpao untuk didanakan.</p>



<p>Jika kita berhasil melakukan tips-tips di atas tersebut, maka bukan hanya kita saja, tapi orang lain juga dapat turut berbahagia ketika melewati momen Imlek. Momen Imlek kita menjadi terasa spesial dan tidak terlupakan karena kita berbahagia bersama orang banyak. Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal positif lainnya yang dapat kita lakukan saat Imlek. Nah, selamat mempersiapkan momen Imlek membahagiakan dan bajik versi kalian ya! Selamat Tahun Baru Imlek! <em>Gong Xi Fat Chai</em>!</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/01/25/tips-imlek-bahagia-nan-bajik-ala-buddhis/">Tips Imlek Bahagia Nan Bajik Ala Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/01/25/tips-imlek-bahagia-nan-bajik-ala-buddhis/">Tips Imlek Bahagia Nan Bajik Ala Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
