<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>motivasi menengah - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/motivasi-menengah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 May 2023 06:32:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>motivasi menengah - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Cinta Ternoda Klesha, Deritanya Tiada Akhir</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/02/17/cinta-ternoda-klesha-deritanya-tiada-akhir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2022 10:32:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi menengah]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<category><![CDATA[valentine buddhis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6807</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Konon cinta deritanya tiada akhir. Dari sudut pandang Buddhis, cinta belum menderita. Namun, seringkali cinta kita ternoda klesha dan menjadi sebab penderitaan tiada akhir di samsara.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/17/cinta-ternoda-klesha-deritanya-tiada-akhir/">Cinta Ternoda Klesha, Deritanya Tiada Akhir</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/17/cinta-ternoda-klesha-deritanya-tiada-akhir/">Cinta Ternoda Klesha, Deritanya Tiada Akhir</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Hari Valentine tak lepas dari kisah-kisah romantis antara sepasang kekasih yang tersebar dalam film, buku novel, drama Korea, bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Pastinya kita tidak asing dengan kalimat berikut ini:&nbsp;</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Aku cinta kamu, nggak mau kehilangan kamu.” </p></blockquote>



<p>Romantis sekali, bukan? Kalau seseorang yang kita sukai menyampaikan itu kepada kita, tidakkah kita melayang, merasakan kupu-kupu dalam perut, dan kepikiran sepanjang malam?&nbsp;</p>



<p>Jatuh cinta atau kasmaran pada awalnya bagai memakan gulali yang begitu manis, cukup sesuap dua suap, atau satu buah gulali. Lama kelamaan, rasa gulali itu tidak akan selezat pada kali pertama menyuap. Setelahnya, kenyataan kembali menarik kita ke tanah, di saat kita sudah terbang melayang.</p>



<p>Namun, perasaan kasmaran yang penuh dengan euforia tersebut kadang-kadang membuat kita kecanduan. Walau kenyataan telah menampar&#8211;entah saat ditolak atau doi “berubah” dari bayangan kita&#8211;kita masih memburu rasa kasmaran tersebut, ingin perasaan indah itu selalu ada. Dan bagaimana jika perasaan itu kelebihan batas; karena menginginkan perasaan itu selalu ada, harus selalu bersama dengan dia, hingga kesal dan marah apabila dia bisa saja meninggalkan kita, bahkan merasa terancam dengan kemungkinan kehilangan dia? Kalimat “Aku cinta kamu, nggak mau kehilangan kamu,” malah menjadi bumerang. Tidak ingin kehilangan adalah hal yang mustahil terjadi karena bertemu dan berpisah adalah hal yang mutlak terjadi dalam lingkaran samsara ini.&nbsp;</p>



<p>Makanya kita harus berhati-hati. Perasaan kita ini dapat berangsur membuat hubungan menjadi beracun, istilahnya “<em>toxic relationship”. </em>Istilah ini pertama kali digunakan oleh Lillian Gllas dalam bukunya, Toxic People (1995). Gllas menggunakan &#8220;<em>toxic relationship</em>&#8221; untuk menggambarkan hubungan yang dibangun di atas konflik, persaingan, dan kebutuhan seseorang mengendalikan orang lain. <em>Toxic relationship</em> memiliki banyak jenis. Cairo West Mag mencontohkan di antaranya terjadi kebohongan, manipulasi, memanfaatkan, peremehan, pengkhianatan, atau ketidakpercayaan.</p>



<p>Sudah beredar banyak kasus mengenai <em>toxic relationship</em> yang begitu menakutkan. Banyak pula film-film yang menggambarkan potret <em>toxic relationship </em>seperti film Posesif, Story of Kale, dan lain sebagainya. Kasus-kasus yang paling parah bahkan menimbulkan korban jiwa. Seperti yang terjadi baru-baru ini, seorang guru meninggal dibunuh mantan suaminya yang ingin rujuk tetapi ditolak. Pelaku mengaku merasa cemburu karena korban dikabarkan dekat dengan laki-laki lain, sampai-sampai ia nekat menusuk mantan istrinya di depan sekolah hingga tewas.&nbsp;</p>



<p><em>Baca juga: “</em><a href="https://lamrimnesia.org/2018/03/06/menghadapi-fenomena-pelakor-dengan-welas-asih/"><em>Menghadapi Fenomena Pelakor dengan Welas Asih</em></a><em>”</em></p>



<h4><strong>Klesha Hasrat</strong></h4>



<p>Kita dapat melihat bagaimana perasaan kasmaran di awal dapat berangsur menjadi tragedi. Hal itu terjadi karena rasa tertarik yang berlebihan terhadap keindahan dan kenikmatan, sehingga muncul rasa melekat terhadapnya. Celakanya, banyak yang menganggap itu adalah cinta. Dalam Buddhisme, kita mengenal fenomena ketertarikan dan keinginan memiliki yang begitu kuat ini sebagai salah satu klesha atau kotoran batin, yaitu hasrat.&nbsp;</p>



<p>Kita perlu mengetahui bahwa klesha, baik itu klesha hasrat, kemarahan, kesombongan, ketidaktahuan, ataupun keraguan, tidak hanya merugikan kita dalam kehidupan ini dengan menimbulkan luka batin dan luka fisik. Lebih parahnya lagi klesha-lah yang menyebabkan kita terus terjebak dalam lingkaran samsara untuk waktu tak berujung. Dengan kata lain, kita bakal lahir-mati berulang kali dan lagi-lagi mengalami derita cinta tiada akhir. Kok bisa?</p>



<p>Klesha dan karma adalah yang memunculkan dukkha. Klesha mendorong kita untuk mengumpulkan karma yang suatu saat akan mendatangkan akibat. Selama kita masih punya klesha, kita pasti masih harus terlahir kembali untuk mengalami buah dari karma itu. Lain ceritanya kalau kita sudah mengatasi klesha seperti para arahat dan Buddha. Karena klesha sudah tidak ada, karma cuma akan jadi benih mandul di dalam tanah yang tidak bisa tumbuh. Ia pun tidak bisa terus-terusan menyebabkan penderitaan baru.</p>



<p>Klesha hasrat sendiri timbul ketika kita merasa objek-objek seperti kekayaan, tubuh orang lain, makanan dan minuman, bahkan pasangan, dan seterusnya, menarik dan kita tidak ingin terpisahkan darinya. Begitu dia sudah muncul, kita jadi ingin selalu berhubungan dengan objek tersebut; nafsu keinginan kita tumbuh semakin kuat dan hasrat semakin sulit untuk diatasi.&nbsp;</p>



<p>Hasrat yang kuat mendorong kita mulai mengumpulkan karma baik melalui pikiran, ucapan, ataupun tindakan. Mulai dari berkhayal tentang si dia, menelepon atau kirim <em>chat</em> setiap lima menit sekali, atau ekstremnya seperti kasus pembunuhan guru yang diceritakan tadi. Dan karena karma berlipat ganda dengan pesat dan salah satu akibatnya adalah kecenderungan mengulangi, kita pun terjebak dalam hasrat yang makin menggebu-gebu dan melakukan lebih banyak tindakan atas dasar hasrat itu sampai ke kehidupan-kehidupan berikutnya.</p>



<p>Hasrat itu sebenarnya sangat menipu. Contohnya ketika kita jatuh cinta, kita melihat pasangan kita begitu sempurna, sehingga kita tidak ingin berpisah dengan dia dan kesenangan yang ditimbulkan olehnya. Padahal pastinya pasangan kita tidaklah sempurna. Jika memang dia memiliki semua kualitas baik seperti yang kita bayangkan, maka setiap orang pasti juga merasakan hal yang sama terhadap dia. Namun, tentu tidak demikian. Hanya kitalah yang melekat terhadapnya. Parahnya lagi, karena hasrat membuat kita merasa “senang”, kita jadi gagal membangkitkan rasa muak terhadap samsara dan terjebak terus dalam kelahiran berulang.</p>



<h4><strong>Mengatasi Hasrat yang Meracuni Hubungan</strong></h4>



<p>Klesha hasrat ini sangat sulit untuk diatasi. Jika klesha lain ibarat noda pada kain, hasrat itu noda minyak yang mudah meresap dan sulit untuk dibersihkan. Artinya, batin kita seperti meresap ke dalam objek, dan akibatnya, akan sangat sulit untuk memisahkan batin dengan objek.&nbsp;</p>



<p>Dalam buku Pembebasan di Tangan Kita Jilid 3, klesha hasrat dapat diatasi dengan&nbsp; mempraktikkan meditasi kejelekan, misalnya merenungkan gambar mayat dalam berbagai tahap pembusukan. Tujuannya adalah menyadarkan diri kita bahwa objek apapun yang kita hasrati itu sebenarnya tidak kekal.</p>



<p>Saat kita terobsesi kita terhadap kualitas baik yang dimiliki oleh orang lain, khususnya objek yang kita lekati, bisa saja hanya merupakan hasil kerja klesha hasrat kita. Ketika kenyataan ternyata tidak sesuai dengan “kacamata” klesha Hasrat kita, kita tidak perlu kecewa, marah, hingga merugikan orang lain atau bahkan menghilangkan nyawa orang lain akibat klesha hasrat kita yang menggebu-gebu. Makanya kita perlu melakukan berbagai upaya untuk menyadarkan diri kita terhadap realita, bahwa si dia yang kita “cintai” bisa dan akan terus berubah, sama dengan segala hal di dunia ini.</p>



<p>Setelah kita menyadari hal tersebut, kita tidak akan lagi terobsesi ingin memiliki orang itu, juga tidak kecewa berlebih saat dia berbeda dari apa yang kita harapkan. Klesha hasrat kita akan berkurang dan dari situ, barulah kita bisa benar-benar mencintai dia, yaitu dengan tulus mengharapkan dan memberikan kebahagiaan untuknya.</p>



<p>Selain itu, kita perlu menyadari melihat bahwa di dunia ini ada begitu banyak makhluk yang sama-sama berharga dan berhak bahagia. Dengan kata lain, kita juga bisa melatih cinta kasih yang lebih besar, yaitu cinta kasih bagi semua makhluk yang tanpa syarat.&nbsp;</p>



<p>Penulis: Victoria</p>



<p><strong>Referensi</strong>:</p>



<p>“Pembebasan di Tangan Kita” Jilid II oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Memahami_Duka_dan_Terbebas_Darinya?id=oqOqDwAAQBAJ">Memahami Dukkha dan Terbebas Darinya</a>” oleh Guru Dagpo Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/17/cinta-ternoda-klesha-deritanya-tiada-akhir/">Cinta Ternoda Klesha, Deritanya Tiada Akhir</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/17/cinta-ternoda-klesha-deritanya-tiada-akhir/">Cinta Ternoda Klesha, Deritanya Tiada Akhir</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Oct 2021 08:49:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi menengah]]></category>
		<category><![CDATA[purifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<category><![CDATA[squid game]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6345</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Gara-gara terjerat utang uang, ratusan orang terjerat dalam permainan mematikan bernama Squid Game. Di dunia nyata, utang karma menjerat kita dalam Samsara Game yang tak kalah menyiksa.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Cumi-cumi, cumi-cumi apa yang paling nyeremin? Jelas Permainan Cumi-Cumi, alias “permainan” paling naik daun di Netflix, Squid Game!&nbsp;</p>



<p>Squid Game adalah serial Netflix yang mengisahkan Seong Gi-Hun yang kesulitan secara finansial dan karena kesulitannya tersebut memutuskan untuk mengikuti permainan bersama dengan 455 pemain lainnya untuk memenangkan uang sebesar 45,6 Miliar Won. Permainannya adalah variasi permainan masa kecil di Korea yang relatif mudah. Hanya saja apabila kalah, taruhannya adalah nyawa. Setiap satu nyawa terbang, maka uang akan bertambah, dan uang tersebut akan menjadi milik pemenang dari seluruh permainan tersebut.&nbsp;</p>



<h4><strong>Kita Semua Punya Utang Karma dan Terancam di Squid Game Bernama Samsara&nbsp;</strong></h4>



<p>Hal yang mendorong para pemain Squid Game untuk mengikuti permainan-permainan mematikan tersebut adalah karena mereka semua terjebak dalam utang yang tidak sanggup mereka bayar. Jadi langsung terpikir, aduh pokoknya gak boleh ngutang deh sama orang! Karena sedikit-sedikit pasti jadi bukit. Dan akhirnya gak bisa terbayarkan lagi. Mereka terjebak dalam utang sampai akhirnya rela mengikuti permainan mematikan, utang dibayar dengan darah, siapa tahu bisa terbebas dari utang walaupun taruhannya itu nyawa… Ngeri banget, ya?&nbsp;</p>



<p>Namun, apa bedanya para pemain Squid Game dengan kita, para makhluk yang terjebak dalam samsara dan memiliki utang karma yang bejibun? Faktanya, saat ini kita masih mondar-mandir dalam samsara untuk membayar utang-utang karma kita. Kita tidak ada bedanya dengan pemain Squid Game. Kita tetap memilih berada dalam permainan samsara ini dengan segala “kesenangan”-nya, seperti pemain Squid Game yang memilih mengikuti permainan untuk kesenangan dalam bentuk uang. Padahal pemain Squid Game tahu taruhannya adalah penderitaan, seperti kita juga tahu samsara inilah penderitaan.&nbsp;</p>



<p>Para pemain Squid Game rela mati untuk membayar utang-utangnya, seperti kita yang terus terjebak dalam lingkaran samsara dan mengalami kematian berulang kali, jatuh ke alam rendah, naik ke alam tinggi, membayar utang karma, dan tidak luput membuat utang karma baru.</p>



<h4><strong>Kita Punya Utang Karma seperti Utang Pemain Squid Game</strong></h4>



<p>Squid Game dan samsara adalah serupa tapi tak sama. Tak terhingga banyaknya makhluk yang mau-mau saja terlarut di dalamnya. Kita sudah lahir dan mati berkali-kali sampai tak terhitung lagi jumlahnya. Artinya karma kita juga tidak terhitung, dan sampai sekarang kita pun membuat utang karma buruk baru dan entah kapan akan “ditagih”. Tiba-tiba jadi terpikir, utang karma buruk berkalpa-kalpa yang harus dibayar satu per satu… Tidak akan bisa dihindari.&nbsp;</p>



<p>Karma itu pasti. Kita percaya atau tidak percaya, karma berlaku untuk semua. Karma itu juga berkembang dengan pesat. Jadi, utang karma bisa ada bunganya! Sekecil apa pun karma, buruk maupun baik, dampaknya bisa berlipat ganda dan salah satu akibatnya berupa kecenderungan mengulangi. Persis kayak menanam satu biji stroberi, hasilnya bisa belasan buah stroberi di satu pohon, dan di setiap buah ada ratusan biji stroberi lagi yang bisa tumbuh jadi tanaman baru. Sebanyak itulah “utang” karma kita bisa berlipat-ganda! Terpikir gak dikejar-kejar oleh rentenir karma tanpa ampun dan ditagih untuk melunasi selama dalam samsara ini?&nbsp;</p>



<p>Dan pastinya, karma tidak hilang begitu saja. Misalnya ketika orang melakukan pencopetan seperti Kang Sae-Byeok di Squid Game. Si gadis Korea Utara yang panjang tangan ini kemudian berdana, lalu berharap karma baik berdana akan menutupi karma buruk pencopetan yang ia lakukan. Eits, bukan begitu cara karma bekerja. Memangnya tukaran kado?</p>



<p>Lantas, bagaimana caranya melunasi utang karma kita yang berdarah-darah ini? Kita sudah pasti menuai apa yang telah kita tabur. Kita juga tidak akan mengalami akibat dari karma yang tidak kita lakukan. Hal buruk yang menimpa kita sekarang bukan tanpa sebab dan tidak datang dengan sendirinya, melainkan disebabkan oleh karma yang kita lakukan sebelumnya. Apalagi kita juga dapat merenungkan sekarang, apakah lebih banyak perbuatan baik atau buruk yang kita lakukan sepanjang kita hidup? Dalam hati sebagian besar dari kita sudah tahu jawabannya, lebih mudah untuk melakukan perbuatan buruk dibanding perbuatan baik karena klesha yang mencengkeram kita. Dan kita juga tahu bahwa timbunan perbuatan buruk hanya akan menyesatkan kita kepada kelahiran kembali di alam rendah. Padahal kini kita punya kelahiran sebagai manusia yang dapat mendorong kita keluar dari lingkaran samsara ini, dan bahkan Kebuddhaan sebagai tujuan akhir.&nbsp;</p>



<p>Jadi, timbunan karma kita begitu besar karena sudah tidak terhitung berapa banyak kita telah lahir dan mati. Begitu banyak pula karma buruk baru yang kita timbun setiap harinya di kehidupan ini. Bagaimana caranya kita bisa keluar dari lingkaran samsara dan mencapai Kebuddhaan? Rasanya hal itu semakin mustahil. Namun, sebenarnya kita sebagai manusia punya potensi untuk menyelamatkan posisi kita yang terdesak ini!</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/dD7GvhFOKlh7anYttegn-Iz0Uu7DfEK8TnHbu26jqL6lSbzM0EpB6W_Y-UsIBbign9eRJtjgWGEDfknqNftIG4n4B1NUjfY12nv-_8W4dSKGq7OVxkh9iWFIXCyLykzy_YVLvws=s0" alt="A picture containing text, person

Description automatically generated"/></figure>



<h4><strong>Untungnya Utang Karma Bisa “Dicicil”</strong></h4>



<p>Kita sudah sadar kalau kita lebih banyak bikin karma buruk dibanding karma baik. Artinya kemungkinan besar kita akan jatuh ke alam rendah, kehilangan kesempatan berharga sebagai manusia ini untuk membebaskan diri dari “utang” berupa hidup di samsara ini.&nbsp;</p>



<p>Gawatnya lagi, kematian itu pasti dan kita gak akan tahu kapan dia akan datang dan memaksa kita pindah ke kehidupan berikutnya. Kesempatan kita untuk mengembangkan kebajikan sebelum karma-karma buruk kita berbuah di kehidupan selanjutnya dapat berakhir dengan mudah tanpa diduga. Siap tidak siap, kematian datang begitu saja menjemput. Bisa besok, bulan depan, bisa 10 tahun lagi. Begitu kematian menjemput, kita gak bisa lari. Kalau utang karma buruk kita masih menggunung seperti sekarang, <em>fix</em> banget alam rendah menanti.</p>



<p>Makanya, mumpung kita masih hidup sebagai manusia hari ini, kita harus “mencicil” pembayaran utang karma tak bajik mulai dari sekarang! Tapi, bagaimana caranya?</p>



<p>Caranya adalah praktik purifikasi! Praktik ini adalah sebuah usaha menetralkan karma buruk yang diajarkan Sang Buddha, khususnya karma yang mendorong ke alam rendah. Mengapa menetralkan? Karena kita tidak dapat serta-merta menghapus semua karma buruk kita. Praktik purifikasi memandulkan karma buruk kita, seperti benih yang dibakar hingga tidak dapat lagi menghasilkan buah, benihnya masih ada tetapi tidak memiliki potensi lagi untuk tumbuh. Tujuan utama dari praktik purifikasi adalah menetralkan karma sehingga tidak lagi menghasilkan efek pematangan, ibarat besi yang ditempa; besi yang masih panas memiliki kemampuan membakar kita, tetapi besi yang sudah didinginkan aman-aman saja kalau dipegang.&nbsp;</p>



<h4><strong>Cara Mencicil Utang Karma Tanpa Ikut Squid Game</strong></h4>



<p>Terdapat beberapa metode purifikasi, tetapi apa pun metode yang kita pilih, dasarnya tetap sama, yaitu menerapkan Empat Kekuatan berikut ini:</p>



<ol><li>Kekuatan penyesalan: penyesalan yang sangat tulus dan mendalam atas perbuatan buruk yang kita lakukan.</li><li>Kekuatan penawar: perbuatan bajik dengan tujuan untuk menetralkan karma buruk.</li><li>Kekuatan menahan diri: kesungguhan untuk tidak mengulangi perbuatan buruk yang sama.</li><li>Kekuatan basis: mengambil perlindungan dan membangkitkan bodhicita.</li></ol>



<p><a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/07/jalan-keluar-dari-karma-buruk/"><em>Baca juga: Jalan Keluar dari Karma Buruk</em></a></p>



<p>Jadi, pertama-tama, sangat penting untuk memulai praktik purifikasi dengan perasaan menyesal yang kuat. Perasaan ini datang dari keyakinan kita terhadap hukum karma, bahwa karma buruk akan menghasilkan penderitaan. Karena kita tidak mau menderita dan ingin bahagia, kita pastinya akan menyesali sebab penderitaan alias karma buruk yang telah kita buat. Kemudian, kita perlu membuat lebih banyak karma baik. Kebajikan ini akan menjadi kekuatan bagi kita untuk bisa mengendalikan batin agar tidak membuat lebih banyak karma buruk</p>



<p>Kita juga perlu membangkitkan tekad tidak mengulangi kesalahan di masa depan. Kalau terlalu sulit dan agak mustahil untuk berhenti sepenuhnya, kita bisa setidaknya berjanji untuk menahan diri dalam batas waktu tertentu. Terakhir, kita mengambil perlindungan dan membangkitkan bodhicita untuk memastikan basis dalam latihan, mengambil perlindungan kepada objek yang tepat sebagai tempat berlindung dan membangkitkan bodhicitta untuk kebahagiaan semua makhluk.&nbsp;</p>



<p>Ada 6 aktivitas bajik yang bisa menjadi penawar utama dalam praktik purifikasi ini, yaitu melafalkan Sutra (khususnya Sutra Penyempurnaan Kebijaksanaan/Prajnaparamita Sutra), merenungkan kesunyataan, melafalkan mantra, membuat gambar Buddha, memberi persembahan kepada Buddha, dan melafalkan nama-nama Buddha.&nbsp;</p>



<p><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/ini-yang-harus-kuperbuat/"><em>Pelajari beragam kekuatan penawar di sini!</em></a></p>



<p>Kita mungkin bertanya, bagaimana melafalkan nama Buddha tertentu memungkinkan memurnikan karma kita? Efek ini sebenarnya berasal dari aspirasi bodhicita yang ditumbuhkan Buddha. Karena mereka telah berikrar untuk menjadi Buddha demi kepentingan semua makhluk, melafalkan nama mereka menjadi salah satu cara untuk membantu semua makhluk memurnikan tumpukan karma negatif. Wah, luar biasa sekali ya welas asih Buddha..&nbsp;</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-KUQTIKNk4n1ZDXJmgugYZsrrmFCY0c2isyXTSuvaY470F5XSU8vcm9f83I0EmRUWkhln6e_O9KhRwCM6e1kq7Z8ErkDwYjitNFt9SdswwgUqsmaf4NCkwT8VVxYcyNlQoDMgnM=s0" alt="A picture containing text, ground, outdoor, person

Description automatically generated"/></figure></div>



<p>Namun, di luar 6 aktivitas bajik ini, segala perbuatan baik yang dilakukan dengan tujuan menetralkan karma buruk juga bisa menjadi kekuatan penawar, misalnya seperti jadi relawan di rumah sakit atau panti jompo.&nbsp;&nbsp;</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Nah teman-teman, setelah kita mengetahui bahwa kita dapat mulai “mencicil” utang karma kita dengan menetralkan mereka, kita harus mulai semangat nih untuk mempraktikkan purifikasi, biar kita tidak harus mengikuti permainan “Squid Game” dalam samsara ini. Jangan contoh Seong Gi-Hun dan kawan-kawannya, ya! Biar makin jelas, baca juga buku-buku tentang karma, praktik purifikasi, dan topik-topik Dharma lainnya. Semangat!</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/WX0Zn13xRD2IyLY9lMgBrm64UnMZKCLANdZyoziflBUoDpjuyXTqasveTIrmgmhCBpvs2Kf7hXbbtubnNxXtEJ15GzKjTVciCblDgfQjO8KLl7pjaWhviIPa1Yp1mQdqLj6S5OI=s0" alt="A picture containing text, person

Description automatically generated"/></figure></div>



<p>Referensi: <br>1. “<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari</a>” &#8211; Guru Dagpo Rinpoche<br>2. “<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/ini-yang-harus-kuperbuat/">Ini yang Harus Kuperbuat</a>” &#8211; Y.M. Biksu Bhadra Ruci</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>3P &#8211; Resep Bebas Stres Menghadapi Pandemi Ala Buddhis</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2021/08/31/3p-resep-bebas-stres-menghadapi-pandemi-ala-buddhis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2021 12:05:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[4 Kebenaran Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Bebas Stres]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi menengah]]></category>
		<category><![CDATA[Nusantara Dharma Book Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Pandemi COVID-19]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6243</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Memiliki pandangan benar, menjaga pola hidup, dan menjaga kebiasaan hidup adalah kunci anti cemas dan stres menghadapi pandemi COVID-19 ala Buddhis</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/31/3p-resep-bebas-stres-menghadapi-pandemi-ala-buddhis/">3P – Resep Bebas Stres Menghadapi Pandemi Ala Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/31/3p-resep-bebas-stres-menghadapi-pandemi-ala-buddhis/">3P &#8211; Resep Bebas Stres Menghadapi Pandemi Ala Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Junarsih</p>



<p>Tak hanya kesehatan fisik, tapi kesehatan mental menjadi barang yang sangat memprihatinkan di kala pandemi yang tak kunjung usai. Kehilangan pekerjaan dan sulit mendapat pekerjaan kembali membuat mental banyak orang terguncang, sehingga mereka merasa khawatir tidak bisa menghidupi diri sendiri dan keluarga. Tak sedikit juga masyarakat yang cemas akan tertular virus corona dan bahkan khawatir akan meninggal tiba-tiba dalam kondisi mengembang tanggung jawab.</p>



<p>Perasaan cemas dan khawatir akan rasa sakit dan kemudian meninggal ini sebenarnya bisa kita atasi kalau kita sebagai umat Buddha memahami konsep 4 Kebenaran Mulia. Sayangnya, yang menjadi umat Buddha sendiri pun masih merasakan kecemasan dan kekhawatiran terhadap pandemi. Hal ini diungkapkan oleh Y.M Bhikkhu Nyanasila Thera (Sekretaris Jenderal Sangha Agung Indonesia) dalam acara NDBF 3.0 yang saya ikuti pada Kamis (19/8) lalu.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Pada curhat yang belum terpapar takut terpapar, yang sudah terpapar takut mati. Gimana kita sebagai seorang Buddhis membantu mengatasi masalah mental. Kenapa kita mengalami stres dan cara menanganinya di masa pandemi seperti ini?” tutur Y.M. Bhikkhu Nyanasila Thera.</p></blockquote>



<p>Penuturan Sekretaris Jendral SAGIN ini sangat menarik karena kita sebagai seorang Buddhis diajak untuk mengatasi masalah kesehatan mental. Lebih lanjut Beliau menjelaskan pengertian dari stres.</p>



<h4><strong>Stres Itu Apa?</strong></h4>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Stres adalah gangguan atau kekacauan mental karena faktor dari luar yang mengakibatkan kecemasan, kemarahan, ketakutan. Dalam Buddhis disebut perasaan yang tidak menyenangkan, bentuknya kecemasan, kekhawatiran, kegelisahan.”</p></blockquote>



<p>Dari penjelasan Y.M Bhikkhu Nyanasila Thera ini, saya jadi berpikir, wah jangan-jangan saya juga sedang mengalami kecemasan dan kekhawatiran yang terpendam selama ini. Bukan khawatir tertular virus, tapi saya khawatir tiba-tiba meninggal sedangkan di sisi lain masih ada keluarga yang harus diurus. <em>Mumet</em>.</p>



<h4><strong>Faktor Penyebab Stres</strong></h4>



<p>Kemumetan saya terjawab ketika mendengar penjelasan Y.M Bhikkhu Nyanasila Thera tentang alasan seorang umat Buddha merasa cemas tertular virus corona dan takut akan kematian. Menurut Beliau, seseorang bisa menjadi stres karena 2 faktor, yaitu tidak mampu memahami hukum kehidupan tentang perubahan dan menolak hukum perubahan itu sendiri&#8211;maunya seperti dulu kala, tidak mau ada perubahan.</p>



<p>Jadi, kenapa kita menolak perubahan? Jawabannya seperti penjelasan Y.M Bhikkhu Nyanasila Thera yang saya tuliskan di awal, yaitu kita belum memahami konsep 4 Kebenaran Mulia&#8211;adanya <em>dukkha</em>, penyebab munculnya <em>dukkha</em>, jalan keluar dari <em>dukkha</em>, dan lenyapnya <em>dukkha</em>.&nbsp;</p>



<p>Y.M Bhikkhu Nyanasila Thera menerangkan bahwa penolakan terhadap adanya pandemi, kematian, dan hal lain yang tidak menyenangkan adalah contoh dari&nbsp; <em>dukkha</em>. Ketidakmampuan kita untuk menerima pandemi inilah yang menimbulkan ketidakpuasan sehingga menyebabkan penderitaan yang berujung pada stres.&nbsp;</p>



<h4><strong>Resep Mengatasi Stres</strong></h4>



<p>Untuk menangani stres karena pandemi ini, Beliau menuturkan 3 resep jitu, yaitu 3P. Pertama, <strong>pola pandang benar</strong> dengan menerima keadaan bahwa sekarang kita sedang diguncang pandemi. Kalau sudah memiliki pandangan benar, kita bisa mengubah <strong>pola hidup</strong> agar dapat beradaptasi dengan kondisi pandemi ini. Adaptasi ini berupa pemberlakuan PPKM agar aktivitas di luar rumah dapat dikendalikan. Setelah kita bisa beradaptasi, saatnya kita melakukan <strong>pola kebiasaan </strong>sehari-hari dengan mengatur kegiatan supaya lebih produktif saat di rumah aja. Nah, di sini kita belajar untuk memulai kebiasaan baru yang tidak biasa kita lakukan dan bisa mengembangkan diri kita, seperti meditasi pagi, puja pagi, dan lebih fokus dengan aktivitas sehari-hari.&nbsp;</p>



<p>Nah, dari sesi bersama Y.M Bhikkhu Nyanasila Thera ini, saya memperoleh pengetahuan yang luar biasa tentang penerimaan kondisi dengan apa adanya, terutama saat pandemi ini. Pandemi datang secara alami, jadi ya kita harus menerimanya. Seperti hujan yang datang tidak tepat pada waktunya, kita pun harus menerimanya, bukan menolaknya. Hal utama yang harus kita lakukan agar tidak hidup cemas dan stres di kala pandemi ini adalah dengan mencoba untuk beradaptasi dan mempraktikkan resep 3P (pola pandang benar, pola hidup, dan kebiasaan).</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2021/08/31/3p-resep-bebas-stres-menghadapi-pandemi-ala-buddhis/">3P – Resep Bebas Stres Menghadapi Pandemi Ala Buddhis</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2021/08/31/3p-resep-bebas-stres-menghadapi-pandemi-ala-buddhis/">3P &#8211; Resep Bebas Stres Menghadapi Pandemi Ala Buddhis</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tiga Jenis Motivasi Praktisi Dharma</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/12/08/tiga-jenis-motivasi-praktisi-dharma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2020 09:47:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi agung]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi awal]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi menengah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=5716</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kalau kamu merasa praktik Dharma sekadar kewajiban dan berat untuk dilakukan, mungkin motivasimu belum tepat. Yuk gali di sini!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/08/tiga-jenis-motivasi-praktisi-dharma/">Tiga Jenis Motivasi Praktisi Dharma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/12/08/tiga-jenis-motivasi-praktisi-dharma/">Tiga Jenis Motivasi Praktisi Dharma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Silvi Wilanda</p>



<p>Dharma adalah ajaran Buddha yang perlu kita praktikkan. Tapi sebenarnya apa sih yang mendorong kita untuk mempraktikkan Dharma? Kita perlu memiliki motivasi yang jelas untuk mempraktikkan Dharma agar praktik yang kita lakukan jadi berarti, sehingga kita bisa semakin semangat dan serius mempraktikkan Dharma. Praktik Dharma dilakukan tidak hanya karena kita adalah seorang Buddhis yang meyakini Dharma adalah ajaran yang baik. Motivasi kita mempraktikkan Dharma seharusnya lebih jauh dan lebih mendasar lagi, yakni untuk mencapai kebahagiaan.</p>



<p>Meskipun motivasi mendasar dari mempraktikkan Dharma adalah mencapai kebahagiaan, setiap praktisi Dharma tidaklah memiliki pemaknaan kebahagiaan yang sama. Pemaknaan kebahagiaan yang berbeda-beda ini didasari dari kapasitas batin yang berbeda-beda dari tiap praktisi. Sang Buddha sendiri membabarkan Dharma dengan berbagai metode yang berbeda sesuai dengan kapasitas batin setiap mahkluk yang mendengarkan ajaran. Berangkat dari hal ini, maka dalam tradisi <a href="https://lamrimnesia.org/2019/06/14/lamrim-in-a-nutshell/">Lamrim</a>, motivasi para praktisi Buddhis dikategorikan menjadi tiga jenis tingkatan motivasi, yakni motivasi awal, motivasi menengah, dan motivasi agung. Motivasi awal untuk mencapai kebahagiaan di kehidupan mendatang, motivasi menengah untuk mencapai kebahagiaan sejati bagi diri sendiri, serta motivasi agung untuk mencapai kebahagiaan sejati bagi diri sendiri dan semua makhluk. </p>



<p>Meskipun ketiga jenis motivasi disebutkan secara bertingkat, tidaklah pantas untuk memandang suatu motivasi lebih rendah dibanding motivasi yang lainnya. Ketiga jenis motivasi ini bukan soal mana yang lebih rendah dan lebih tinggi, melainkan penggambaran kesinambungan batin setiap praktisi. Jika dianalogikan, ketiga jenis motivasi ini layaknya tingkatan pendidikan formal: SD, SMP, dan SMA. Tingkatan SD tidaklah pantas jika dianggap lebih rendah dan dipandang sebelah mata dibanding tingkatan SMP dan SMA. Ketiganya hanya soal kesinambungan pendidikan setiap individu. Setiap makhluk yang ingin memulai tahapan pendidikan formal tentunya harus melalui tingkatan SD terlebih dahulu. Setelah menempuh pendidikan di tingkat SD, seseorang individu baru bisa beranjak ke tingkat SMP hingga kemudian ke tingkat SMA. Dengan kata lain, tingkatan pendidikan SMA hanya bisa dicapai jika seseorang individu telah memperoleh bekal pendidikan di bangku SMP dan SD. Untuk itu, ketiganya masing-masing tidak pantas dinilai lebih rendah atau tinggi, ketiganya hanya tahapan yang saling berhubungan dan mendukung antara yang satu dengan yang lainnya.&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Kemudian, untuk menentukan motivasi praktik Dharma yang tepat bagi kita, kita perlu secara jujur melakukan refleksi atas kapasitas diri kita. Dengan mengakui kapasitas dan tingkatan batin kita secara jujur, maka kita bisa tahu titik mulai kita untuk mulai berlatih mengembangkan kapasitas batin kita. Beranjak dari titik mulai itulah kita bisa secara bertahap mengembangkan kapasitas batin kita.&nbsp;</p>



<h4><strong>Motivasi Awal – Mencapai Kebahagiaan di Kehidupan Mendatang</strong></h4>



<p>Praktik Dharma paling minimum adalah praktik yang didasari pada motivasi awal, yakni aspirasi untuk mencapai kebahagiaan di kehidupan mendatang. Motivasi ini merupakan motivasi minimal yang dibutuhkan untuk mengubah suatu tindakan menjadi praktik Dharma. Aktivitas yang terlihat sangat sekuler sekalipun adalah praktik Dharma jika didasari dengan motivasi ini. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena praktik Dharma memiliki manfaat dan potensi luar biasa yang melampaui tujuan mengejar kebahagiaan di kehidupan sekarang saja. Praktik Dharma adalah bukan soal kebahagiaan sesaat saja (seperti misalnya kehidupan saat ini yang bisa saja terenggut kapan saja oleh kematian), melainkan soal kebahagiaan yang berjangka panjang (paling minimal adalah kebahagiaan bagi kehidupan kita yang mendatang). Hal ini selaras dengan perkataan Geshe Tolungba, “Saudaraku, sungguh-sungguh suatu kebajikan jika menjalankan praktik dana. Tetapi akan menjadi lebih baik jika kamu mempraktikkan Dharma.” Jadi, sekali lagi praktik Dharma bukan soal melakukan kebaikan saja, tapi juga didasari oleh motivasi untuk mencapai kebahagiaan di kehidupan mendatang.&nbsp;</p>



<p>Dengan demikian, tolok ukur seorang praktisi yang sudah memiliki motivasi awal adalah memiliki keyakinan tidak tergoyahkan pada konsep kelahiran kembali serta ketidaklekatan pada kehidupan saat ini. Dua hal ini adalah hal paling mendasar untuk bisa membangkitkan aspirasi mencapai kebahagiaan di kehidupan mendatang.&nbsp;</p>



<p>Selain itu, untuk benar-benar bisa mengupayakan kebahagiaan di kehidupan mendatang, kita juga perlu memaknai dan memanfaatkan potensi kehidupan kita saat ini sebaik-baiknya. Sekarang ini kita memiliki bentuk kelahiran manusia yang bebas dari berbagai halangan dan diberkahi berbagai keberuntungan untuk mempraktikkan Dharma. Kita telah bertemu dengan ajaran Buddha, hidup di masa masih banyak komunitas yang mempraktikkan Dharma, tidak memiliki cacat fisik atau mental, dan lain sebagainya. Tentunya kelahiran manusia ini tidak hanya berharga, namun juga sulit diraih. Banyak bentuk kelahiran yang ada, kita bisa terlahir di alam rendah sebagai makhluk neraka, berbagai jenis hantu kelaparan, berbagai jenis spesies<em> </em>binatang, atau juga terlahir di alam berbahagia sebagai asura, dan dewa. Semua bentuk kehidupan ini merupakan bentuk kehidupan yang tidak ideal untuk mempraktikkan Dharma karena merupakan bentuk kelahiran dengan kondisi yang ekstrim, yakni terlalu menderita dan terlalu berbahagia. Ketika terlalu menderita, jelas kita kesulitan untuk mempraktikkan Dharma. Begitu juga sebaliknya, ketika terlalu berbahagia, kita tidak akan tertarik untuk mempraktikkan Dharma. Jika kita tidak mempraktikkan Dharma, tentu kita tidak memiliki bekal karma baik sehingga hanya ada himpunan karma buruk yang tersisa sehingga penderitaan yang setia menemani kita. Untuk itu, berangkat dari hal ini, bentuk kebahagiaan mendatang yang amat ideal adalah kelahiran kembali sebagai manusia yang bebas dan beruntung seperti sekarang.</p>



<p>Untuk memastikan kita tetap terlahir sebagai manusia dengan kebebasan dan keberuntungan, khususnya tidak jatuh ke dalam bentuk kelahiran alam menderita, kita perlu mengarahkan setiap kebajikan kita untuk kehidupan mendatang, mempraktikkan berlindung serta menjaga sila. Dengan berlindung kepada Triratna, kita menghimpun karma baik yang sangat besar sehingga kita bisa memiliki cukup karma baik untuk terlahir dalam bentuk kelahiran yang membahagiakan serta mempurifikasi segala bentuk karma buruk yang memungkinkan kita terlahir di alam rendah. Kita juga bisa terhindar dari melakukan perbuatan tak bajik dengan menjaga sila.&nbsp;</p>



<h4><strong>Motivasi Menengah – Mencapai Kebahagiaan Sejati untuk Diri Sendiri</strong></h4>



<p>Meraih kebahagiaan di semua kehidupan mendatang sebenarnya belum cukup. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena kebahagiaan ini bersifat semu, tidak sejati, tidak stabil, dan tidak aman.&nbsp;</p>



<p>Selama kita masih belum terbebaskan dari samsara dan siklus kelahiran kembali, kita masih memiliki potensi untuk terlahir di alam menderita atau terlahir di alam dewa dan asura. Sangat mungkin bagi kita untuk terlahir dalam bentuk kelahiran yang tidak kita inginkan karena kita masih memiliki tabungan karma buruk yang belum berbuah sejak waktu yang tak bermula serta klesha untuk terus melakukan perbuatan buruk. Kita akan terus merasa tidak aman selama berada di alam samsara karena di setiap bentuk kehidupan kita, kita masih perlu terus berjuang untuk bentuk kehidupan kita di masa mendatang.</p>



<p>Selanjutnya, meski misalnya kita dapat memastikan kita selalu terlahir sebagai manusia (meskipun ini adalah hal yang mustahil, karena seorang Bodhisatwa pun tidak lepas dari bentuk kelahiran di alam rendah), hal ini juga tidaklah cukup. Kehidupan manusia yang merupakan bentuk kehidupan yang terunggul sekalipun juga tidak terhindar dari penderitaan, seperti misalnya tidak ada yang pasti dan benar-benar memuaskan. Misalnya status dan teman kita bukanlah hal yang pasti. Semuanya senantiasa berubah. Ataupun lagi meski misalnya mereka memiliki kecenderungan untuk tidak berubah, kematian akan memisahkan kita dari mereka. Sejatinya, sifat alami samsara adalah penderitaan. Pemikiran kita yang keliru melihat penderitaan samsara ini sebagai kebahagiaan.</p>



<p>Berangkat dari hal ini, kita perlu membangkitkan aspirasi untuk mencapai kebahagiaan sejati, tidak hanya sebatas memperoleh kebahagiaan di kehidupan kita yang mendatang. Untuk itu, tolok ukur motivasi menengah ini adalah ketidakmelekatan terhadap kenikmatan samsara yang berarti tidak hanya tidak melekat pada kehidupan ini saja, melainkan juga tidak melekat pada kehidupan mendatang.&nbsp;</p>



<p>Untuk bisa mengembangkan motivasi menengah ini, kita perlu merenungkan sifat alami dari samsara yang penuh ketidakpastian dan ketidakpuasan. Kita bisa memulai perenungan ini ketika kita dihadapi dengan masalah. Bukan hanya lebih memahami sifat alami samsara, beban penderitaan masalah kita juga terasa lebih ringan jika merenungkan samsara dalam masalah keseharian kita.&nbsp;</p>



<h4><strong>Motivasi Agung – Mencapai Kebahagiaan Sejati untuk Semua Makhluk</strong></h4>



<p>Anggaplah kita sudah meraih kebahagiaan sejati untuk diri kita. Namun, bagaimana dengan orang tua kita, sahabat kita, dan tak terhingga banyaknya makhluk di dunia? Kita juga perlu membantu dan memastikan semua makhluk untuk memperoleh kebahagiaan sejati juga. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena kita berutang pada setiap kebaikan yang diberikan oleh semua makhluk.&nbsp;</p>



<p>Di sepanjang masa kelahiran kita sejak waktu yang tak bermula, semua makhluk sudah pernah menjadi bagian dari hidup kita. Mereka pernah menawarkan kebaikan kepada kita, menjadi orang yang terkasih, dan bahkan menjadi ibu-ibu kita. Dalam kehidupan sekarang saja, kenyamanan yang kita miliki tidak pernah lepas dari bantuan orang lain. Misalnya, baju yang kita pakai, nasi yang kita makan, pendidikan yang kita peroleh, gadget yang kita miliki, dan lain sebagainya; tidak lepas dari jasa dan kebaikan hati banyak makhluk.&nbsp;</p>



<p>Tidak hanya itu, karma baik yang kita himpun juga tidak lepas dari jasa dan kebaikan semua makhluk. Untuk dapat berbuat baik, kita berhutang kepada makhluk yang merupakan objek kebajikan kita. Misalnya saja, perbuatan berdana pelita kepada anggota Sangha merupakan bentuk karma baik yang tergantung pada banyak&nbsp; makhluk. Pertama, orang yang mengajarkan kita manfaat berdana pelita; kedua, orang-orang yang berjasa membuat pelita; serta yang terakhir, Sangha itu sendiri sebagai objek kebajikan kita.</p>



<p>Berangkat dari hal ini, maka motivasi agung adalah aspirasi untuk mencapai kebahagiaan sejati bagi diri sendiri dan semua makhluk. Ini adalah motivasi yang terunggul. Setiap hal kecil yang dilakukan dengan motivasi ini memiliki kekuatan dan potensi yang luar biasa dan tak terbatas karena motivasi ini adalah mempersembahkan kebahagiaan yang sejati dan terunggul demi semua makhluk yang tak terbatas.&nbsp;</p>



<p>Saat ini kita memiliki kelahiran sebagai manusia yang sangat berharga. Dikatakan sangat berharga karena dua alasan. Pertama, dikatakan berharga karena kehidupan manusia ini memiliki potensi luar biasa yang tak terbayangkan. Kedua, dikatakan berharga karena kehidupan ini amatlah singkat jika dibandingkan dengan bentuk kelahiran yang lainnya sehingga setiap momen dari kelahiran manusia adalah sangat berharga. Dengan merenungkan hal ini, kita perlu memaksimalkan potensi dan momen kehidupan sebagai manusia dengan menjadikan aktivitas harian kita sebagai praktik Dharma sehingga mendatangkan makna dan kebahagiaan bagi hidup kita. Untuk itu, kita perlu mulai serius lagi merancang hidup kita dengan menemukan motivasi Dharma yang paling sesuai serta mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari kita. Nah, coba lihat ke dalam dirimu, sudah sampai mana kapasitas batinmu? Manakah motivasi yang paling sesuai dengan dirimu?&nbsp;</p>



<h5>Referensi:</h5>



<p>Dagpo Rinpoche. 2012. <a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Lamrim?id=YPBoDwAAQBAJ">LAMRIM: Buddhisme yang Lengkap dan Sistematis</a>. Penerbit Kadam Choeling. </p>



<p>Lamrimnesia.org. (30 Mei 2017). <a href="https://lamrimnesia.org/2017/05/30/bagaimana-dan-mengapa-mengikuti-jalan-buddhis-bertahap/">&#8220;Bagaimana dan Mengapa Mengikuti Jalan Buddhis Bertahap&#8221;</a>.</p>



<p>Lamrimnesia.org. (6 Juni 2017). &#8220;<a href="https://lamrimnesia.org/2017/06/06/motivasi-tingkat-awal/">Motivasi Tingkat Awal</a>&#8220;</p>



<p>Lamrimnesia.org. (13 Juni 2017). <a href="https://lamrimnesia.org/2017/06/13/motivasi-tingkat-menengah-dan-agung/">&#8220;Motivasi Tingkat Menengah dan Agung</a>&#8220;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/08/tiga-jenis-motivasi-praktisi-dharma/">Tiga Jenis Motivasi Praktisi Dharma</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/12/08/tiga-jenis-motivasi-praktisi-dharma/">Tiga Jenis Motivasi Praktisi Dharma</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sering Kehilangan Barang? Coba Terawang Kehidupan Lampaumu…</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2018/01/16/sering-kehilangan-barang-coba-terawang-kehidupan-lampaumu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jan 2018 10:28:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[akibat karma]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[mencuri]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi awal]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi menengah]]></category>
		<category><![CDATA[past life]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3901</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang pemuda dari keluarga yang amat sederhana. Walau berkekurangan, ia kadang ‘beruntung’ menemukan buah-buahan jatuh atau hewan ternak yang tersesat di pekarangannya. Ia menganggap itu semua adalah berkah dari langit untuknya. Jika ada orang yang datang ke rumahnya mencari ayam atau ternak lain yang hilang, ia bilang tidak ada atau [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/01/16/sering-kehilangan-barang-coba-terawang-kehidupan-lampaumu/">Sering Kehilangan Barang? Coba Terawang Kehidupan Lampaumu…</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/01/16/sering-kehilangan-barang-coba-terawang-kehidupan-lampaumu/">Sering Kehilangan Barang? Coba Terawang Kehidupan Lampaumu…</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><figure id="attachment_3905" aria-describedby="caption-attachment-3905" style="width: 800px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3905 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri.jpg" alt="" width="800" height="800" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri.jpg 800w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/present-mencuri-450x450.jpg 450w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption id="caption-attachment-3905" class="wp-caption-text">Merasa sering kehilangan barang tiba-tiba? Jangan-jangan sebabnya ada di kehidupan lampau&#8230;</figcaption></figure></p>
<p><em>Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang pemuda dari keluarga yang amat sederhana. Walau berkekurangan, ia kadang ‘beruntung’ menemukan buah-buahan jatuh atau hewan ternak yang tersesat di pekarangannya. Ia menganggap itu semua adalah berkah dari langit untuknya. Jika ada orang yang datang ke rumahnya mencari ayam atau ternak lain yang hilang, ia bilang tidak ada atau tidak tahu. Ia tidak merasa dirinya mungkin telah mengambil ternak orang lain. Toh ternak yang ia ambil datang sendiri ke rumahnya.</em></p>
<p><figure id="attachment_3904" aria-describedby="caption-attachment-3904" style="width: 800px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3904 size-full" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri.jpg" alt="" width="800" height="800" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri.jpg 800w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri-300x300.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri-336x336.jpg 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri-600x600.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri-150x150.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri-768x768.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2018/01/past-mencuri-450x450.jpg 450w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption id="caption-attachment-3904" class="wp-caption-text">Mungkinkah ini kamu di kehidupan lampau? Hmmm&#8230;</figcaption></figure></p>
<p>Kisah di atas adalah salah satu contoh tindakan karma hitam MENCURI atau mengambil barang yang tidak diberikan. Berdasarkan hukum karma, setiap tindakan akan menghasilkan akibat. Akibat ini belum tentu berbuah saat itu juga, tapi bisa juga bulan depan, tahun depan, bahkan kehidupan yang akan datang.</p>
<p><strong>Sebenarnya apa saja sih akibat dari karma mencuri?</strong></p>
<p>Kalau kamu mengalami hal-hal berikut, maka bisa jadi cerita di atas adalah kehidupan lampaumu…</p>
<ol>
<li><strong>Lahir di alam neraka, sebagai setan kelaparan, atau binatang</strong></li>
</ol>
<p>Kalau kamu bisa baca artikel ini, udah pasti nggak mengalami akibat yang satu ini. Kelahiran di alam rendah adalah <strong>akibat yang matang sepenuhnya </strong>dari <strong>karma buruk yang lengkap</strong>. Kamu harus bermudita karena bebas dari akibat ini dan terlahir sebagai manusia sekarang, juga harus berusaha agar tidak mengalaminya di kehidupan mendatang!</p>
<ol start="2">
<li><strong>Pernah kecurian, ditodong, kehilangan barang</strong></li>
</ol>
<p>Mencuri menyebabkan orang lain merasa kehilangan. Maka, sesuai hukum sebab-akibat, pelakunya juga akan merasakan akibat berupa kehilangan. Kalau di kehidupan sekarang kamu pernah dirampok atau ditodong orang, mungkin kamu juga pernah melakukannya pada orang lain di kehidupan lampau.</p>
<p>Selain itu, kalau sering kehilangan barang-barang kecil seperti bolpen atau uang nyelip, mungkin kamu sering melakukan ‘pencurian’ yang tidak kamu sadari seperti lupa mengembalikan barang pinjaman, mengambil uang yang kamu temukan di jalan, dan lain-lain.</p>
<p>Akibat ini disebut sebagai <strong>akibat yang sesuai dengan tindakan</strong>.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Tanpa sadar mengambil barang orang, atau sering merasakan dorongan ingin mengambil barang orang lain</strong></li>
</ol>
<p>Pernah dengar istilah ‘kleptomania’? Itu sebutan untuk ketidakmampuan menahan dorongan untuk mencuri, bahkan saat seseorang sebenarnya tidak butuh atau mampu membeli barang tersebut. Ini juga merupakan bentuk lain dari <strong>akibat yang sesuai dengan tindakan</strong>.</p>
<p>Kita menghafal sesuatu dengan mengulang hal tersebut berkali-kali bukan? Begitu pula dengan karma yang dilakukan berkali-kali, kita akan jadi ‘hafal’ dengan karma tersebut dan cenderung mengulanginya lagi di lain waktu, hingga di kehidupan mendatang. Kalau di kehidupan lampau kita terbiasa mencuri, kita akan memiliki kecenderungan untuk melakukannya lagi di kehidupan ini.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Hidup di daerah miskin atau rawan kejahatan</strong></li>
</ol>
<p>Tindakan kita juga menentukan seperti apa tempat kita tinggal dan beraktivitas. Kalau daerah tempat tinggalmu sering masuk berita karena banyak rampok atau begal, bisa jadi itu adalah <strong>akibat yang menentukan lingkungan</strong> dari karma mencuri.</p>
<p>Dengan mempelajari akibat-akibat di atas, kita akan lebih bisa menerima permasalahan yang kita alami sekarang. Kalau kita ditodong atau kecurian, kita bisa melatih diri untuk tidak menambah karma buruk dengan dendam pada orang yang menodong atau mencuri dari kita. Sebaliknya, kita bisa menyadari bahwa kita baru saja mengalami satu akibat dari karma buruk kita. Bahkan bisa juga mengembangkan welas asih pada orang-orang yang mencuri dari kita. Dan yang paling penting, kita bisa membangkitkan tekad untuk berusaha menghindari mengambil barang yang tidak diberikan sehingga tidak perlu mengalami akibat-akibat tersebut di masa mendatang.</p>
<p><em>&#8212;</em></p>
<p>Sumber: Pembebasan di Tangan Kita karya Phabongkha Rinpoche, Karma karya Dagpo Rinpoche</p>
<p>&#8212;</p>
<p><em>Di atas disebutkan bahwa kelahiran di alam rendah adalah akibat dari karma hitam yang lengkap. Seperti apa sih karma lengkap itu? Tunggu di artikel Lamrimnesia pekan depan!</em></p>
<p><strong>&nbsp;</strong></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2018/01/16/sering-kehilangan-barang-coba-terawang-kehidupan-lampaumu/">Sering Kehilangan Barang? Coba Terawang Kehidupan Lampaumu…</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2018/01/16/sering-kehilangan-barang-coba-terawang-kehidupan-lampaumu/">Sering Kehilangan Barang? Coba Terawang Kehidupan Lampaumu…</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Serba-Serbi Lamrim bagian 3: Motivasi Tingkat Menengah dan Agung</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/06/13/motivasi-tingkat-menengah-dan-agung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Jun 2017 11:33:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[#lamrim #lamrimnesia #buddha #buddhism #tripitaka #dhamma #dharma #apaitulamrim]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi agung]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi menengah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3265</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Dr. Alexander Berzin Baca juga Serba-Serbi Lamrim bagian 1: Bagaimana dan Mengapa Mengikuti Jalan Buddhis bertahap Baca juga Serba-Serbi Lamrim bagian 2: Motivasi Tingkat Awal Ulasan bagian sebelumnya: Kita telah berbicara tentang jalan spiritual yang bertahap, di mana kita pada dasarnya berupaya untuk memperluas dan meningkatkan motivasi kita mulai dari lingkup yang lebih kecil [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/06/13/motivasi-tingkat-menengah-dan-agung/">Serba-Serbi Lamrim bagian 3: Motivasi Tingkat Menengah dan Agung</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/06/13/motivasi-tingkat-menengah-dan-agung/">Serba-Serbi Lamrim bagian 3: Motivasi Tingkat Menengah dan Agung</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Dr. Alexander Berzin</p>
<p><em>Baca juga <a href="http://lamrimnesia.org/2017/05/30/bagaimana-dan-mengapa-mengikuti-jalan-buddhis-bertahap/">Serba-Serbi Lamrim bagian 1: Bagaimana dan Mengapa Mengikuti Jalan Buddhis bertahap<br />
</a>Baca juga <a href="http://lamrimnesia.org/2017/06/06/motivasi-tingkat-awal/">Serba-Serbi Lamrim bagian 2: Motivasi Tingkat Awal</a></em></p>
<p><u>Ulasan bagian sebelumnya:</u></p>
<p>Kita telah berbicara tentang jalan spiritual yang bertahap, di mana kita pada dasarnya berupaya untuk memperluas dan meningkatkan motivasi kita mulai dari lingkup yang lebih kecil sampai menjadi sempurna. Dengan cara ini, tiap tingkatan dibangun berdasarkan tingkatan sebelumnya.</p>
<p>Kita juga melihat bahwa ada 2 cara untuk menjalani perkembangan ini. Kita bisa mengikuti versi ‘Dharma-Ringan’, yang fokusnya adalah meningkatkan kehidupan saat ini dan membuat hidup kita menjadi sedikit lebih baik. Bagi kebanyakan dari kita, inilah titik tolaknya. Namun, pemahaman tradisional bahkan tak mempertimbangkan tingkatan ini karena ia berasumsi pada keyakinan ihwal adanya kelahiran kembali yang tanpa awal dan akhir. ‘Dharma-Sejati’, seperti halnya Coca-Cola yang ‘asli’, berbicara tentang perkembangan dalam konteks kelahiran kembali.</p>
<p>Kita melihat bahwa motivasi tingkat awal, berikut semua tingkat lainnya, memiliki sebuah tujuan, alasan untuk mencapai tujuan, dan emosi di baliknya yang mendorong kita mencapai tujuan tersebut. Di tingkat awal, kita berusaha memperbaiki kehidupan mendatang kita, memastikan bahwa kita terus memiliki kelahiran manusia yang berharga sehingga bisa terus mengembangkan diri untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Kita menyadari sulitnya mencapai tujuan tertinggi dalam kehidupan saat ini saja. Dibutuhkan waktu dan kerja keras yang banyak untuk mencapainya. Alasan kita mencoba dan terus memiliki kelahiran kembali yang lebih baik adalah agar kita bisa terus menyusuri sang jalan.</p>
<p>Inilah yang akan kita lakukan ketika tujuan meraih kelahiran kembali sebagai manusia yang berharga tercapai. Kita tak sedang berbicara tentang pergi ke surga dalam kehidupan kita berikutnya dan hanya bersenang-senang. Dalam lingkup ini, emosi yang mendorong kita untuk mencari kelahiran kembali yang lebih baik adalah ketakutan akan kelahiran kembali yang lebih buruk. Dalam kelahiran kembali yang lebih buruk, kita takkan punya kesempatan untuk berupaya dan meningkatkan diri. Tapi, kita punya keyakinan bahwa ada cara untuk menghindari hal ini. Kita membahas ini dalam artian semacam ‘arah yang aman’, atau ‘berlindung’. Arah ini pada dasarnya adalah mencoba dan sepenuhnya menghentikan segala keterbatasan dan aspek negatif yang menyertai aktivitas mental kita, terutama menyangkut perilaku kita. Selain itu, kita ingin bertindak dengan cara yang membangun. Kita melakukannya dalam konteks menghargai kehidupan manusia yang berharga yang kita miliki, dan dengan pemahaman bahwa kita pasti akan kehilangan kehidupan yang berharga ini pada saat kematian. Kematian pasti akan datang dan kita tak tahu kapan ini akan terjadi.</p>
<p><u>Bahkan Kelahiran Kembali yang Terbaik Pun Tak memuaskan</u></p>
<p>Dengan motivasi tingkat menengah, kita bahkan menganalisanya lebih jauh. Bahkan jika kita memiliki kelahiran kembali yang lebih baik, atau bahkan kelahiran kembali sebagai manusia yang berharga, takkan ada kepuasan apabila kita terus hidup seperti itu. Hidup akan terus berjalan dengan sifatnya yang naik-turun tanpa kepastian ihwal apa yang akan kita rasakan di saat berikutnya. Kita mungkin senang sekarang, tapi di menit berikutnya kita bisa tiba-tiba merasa hidup kita kurang bermakna, sedih, atau bahkan depresi. Hal-hal terkecil dapat membuat kita marah, dan tentu saja kita punya masalah yang terus berulang – dalam tiap kehidupan kita harus melalui kelahiran dan menjadi bayi yang tak punya kendali terhadap fungsi tubuh kita; kita perlu belajar berjalan dan berbicara, dan melakukan ini terus-menerus akan benar-benar membosankan; kita harus pergi ke sekolah, dan siapa yang ingin melalui hal ini lagi?! Kita harus mencari pasangan dan pekerjaan, dan sekali lagi menghadapi penyakit, usia tua, dan kematian, yang tak hanya akan menerpa diri kita tapi juga orang-orang yang kita cintai.</p>
<p>Bahkan dengan kehidupan manusia yang berharga ini, ada begitu banyak hal yang tak memuaskan, dan semua masalah emosional kita akan tetap ada. Kita merasa marah dan kesal, dan kita menjadi serakah. Kita punya kemelekatan besar terhadap orang dan benda-benda. Kita merasa naif terhadap hukum sebab-akibat maupun realitas, dan karenanya bertindak dengan cara yang bodoh, seperti berpikir bahwa cara kita bertindak dan berbicara takkan berpengaruh pada orang lain. Kita sering berperilaku seolah-olah orang lain tak benar-benar ada dan memiliki perasaan. Hal ini benar-benar naif, bukan?</p>
<p>Semua masalah ini akan terus berlanjut dan kita akan mengalami pasang-surutnya kelahiran kembali yang berharga ini. Ada juga saat di mana kita mengalami keberuntungan dan pada akhirnya tak beruntung, mengalami kelahiran kembali yang lebih baik dan pada akhirnya memburuk. Hal ini hanya akan berjalan terus-menerus. Inilah yang kita maksud dengan ‘eksistensi atau kelahiran kembali yang berulang tak terkendali’, yang dalam bahasa Sanskerta disebut ‘samsara’.</p>
<p><u>Penolakan terhadap Samsara: Menyasar Pembebasan dengan Tekad untuk Bebas</u></p>
<p>Dengan motivasi tingkat menengah, tujuan yang ingin kita capai adalah pembebasan dari kelahiran kembali. Kesadaran mental kita tak punya awal dan akhir, dan kita tak ingin melanjutkan siklus kelahiran kembali yang berulang tak terkendali ini, yang tampaknya takkan pernah berakhir. Ketika kita berkata ‘tampaknya takkan pernah berakhir’, ini berarti bahwa siklus ini akan berjalan selamanya jika kita tak melakukan apapun tentangnya. Kita harus mengakhirinya dan mengalami penghentian sejati dari samsara. Mengapa? Karena kita ingin menghentikan penderitaan. Bahkan jika masalah yang datang tak begitu mengerikan, kita masih ingin menghentikan masalah ini. Inilah alasan kita ingin mencapai pembebasan.</p>
<p>Dalam bahasa Sanskerta, pembebasan disebut ‘nirwana’, dan emosi yang mendorong kita ke arah ini biasa disebut ‘penolakan terhadap samsara’. Ini bukan terjemahan terbaik, tapi pada dasarnya ia mengacu ke tekad yang sangat kuat untuk bebas. Dengan penolakan, kita memutuskan bahwa kita sudah cukup mengalami penderitaan ini. Kita muak dengannya, dan pada tingkat yang lebih dalam kita benar-benar merasa bosan dengan semua ini. Cukuplah sudah: kita ingin bebas.</p>
<p><u>Bersedia Menanggalkan Emosi-Emosi Pengganggu (Klesha) Kita</u></p>
<p>Kita bisa melihat bahwa untuk bebas, kita perlu menyingkirkan sebab dari semua penderitaan dan masalah kita. Kita benar-benar bersedia untuk tak hanya menyingkirkan penderitaan, namun juga sebabnya. Kita tak berbicara tentang menyerahkan es krim atau cokelat atau sesuatu seperti itu. Ini adalah pemahaman yang sangat sederhana ihwal penolakan. Apa yang menjadi tekad kita adalah membebaskan diri dari amarah, keserakahan, dan kemelekatan terhadap segala hal. Dalam kasus cokelat, kita perlu melepaskan kemelekatan kita terhadapnya, yang pada dasarnya disebabkan oleh kualitas baik dari cokelat yang kita lebih-lebihkan. Misalnya, kita berpikir, “Ini adalah hal terindah dan terenak di dunia, dan ini akan membuat saya bahagia, luar biasa bahagia!” Jika cokelat benar-benar mampu melakukan hal ini, maka semakin kita memakannya, kita akan menjadi semakin bahagia. Tapi, tak peduli seberapa gandrungnya kita pada cokelat, kita akan jatuh sakit jika memakannya terus-menerus, dan takkan ingin melihatnya lagi.</p>
<p>Hal ini benar-benar mendalam, dan sangatlah sulit untuk benar-benar ingin melepaskan diri kita dari kemelekatan, amarah, dan sebagainya. Kita seharusnya tak meremehkannya. Hal ini ibarat lelucon ihwal seseorang yang membenturkan kepalanya ke dinding dan takut untuk berhenti karena tak tahu apakah keadaan akan menjadi lebih buruk atau lebih baik ketika ia berhenti membenturkan kepalanya; karena telah terbiasa, kita akan terus membenturkan kepala kita ke dinding. Tentu saja ini adalah contoh yang ekstrim. Contoh yang lebih umum mungkin adalah ketika kita berada dalam suatu hubungan yang tak sehat dengan seseorang tapi ragu-ragu untuk memutuskannya karena takut menjadi jomblo. Akibatnya, kita menjaga hubungan yang tak sehat ini, dan akhirnya merasa sengsara.</p>
<p>Hal ini sangat umum, bukan? Kita tak ingin mengatakan hal-hal tertentu pada orang-orang tertentu karena takut mereka akan meninggalkan kita. Kita tak sedang berbicara tentang pengalaman aneh apapun di sini, melainkan hanya tentang hal-hal yang telah kita alami sepanjang waktu.</p>
<p><u>Apakah Pembebasan dari Kelahiran Kembali yang Berulang Tak Terkendali Adalah Sesuatu yang Mungkin, dan Apakah Saya Mampu Mencapainya?</u></p>
<p>Untuk mencapai tujuan pembebasan dan (pada akhirnya) pencerahan, pertama-tama kita harus tahu bahwa tujuan ini mungkin dicapai, dan tata cara mencapainya. Ini adalah topik yang rumit dan, karena sulit untuk menunjukkan bahwa mereka adalah tujuan yang bisa dicapai oleh kita semua, banyak orang yang melewatkannya. Ini adalah kesalahan besar, karena jika kita tak benar-benar yakin bahwa kita dapat mencapainya, mengapa pula kita mesti repot-repot berusaha menyasarnya? Ini ibarat diri kita yang baru saja memainkan sebuah permainan dan pada akhirnya mencapai satu titik di mana kita berkata bahwa permainan tersebut konyol, dan menyerah.</p>
<p>Kita harus menyelidiki secara mendalam topik hakikat-Buddha (faktor-faktor yang memungkinkan tercapainya pembebasan dan pencerahan), kemurnian alamiah batin, dan sebagainya. Apakah emosi pengganggu dan kebingungan kita adalah bagian fundamental dari batin kita? Jika ya, ini berarti bahwa mereka akan tetap berada di sana setiap saat. Jika tidak, apakah mereka bersifat sementara dan bisakah mereka dilenyapkan sehingga takkan pernah kembali lagi?</p>
<p>Pertanyaan dan perdebatan tentang hal ini mutlak diperlukan. Ini jelas bukan sesuatu yang harus diterima dengan iman buta. Bahkan, akan semakin baik bila kita semakin mempertanyakannya, karena kita perlu menghapus segala keraguan dan memiliki keyakinan yang kuat terhadap apa yang kita lakukan. Apakah kita harus menunggu sampai kita 100% yakin? Nah, ini bukan pertanyaan yang mudah. Bagaimana kita bisa tahu kapan kita benar-benar yakin? Mungkin butuh waktu yang sangat lama untuk menjadi yakin.</p>
<p>Jika kita berpikir bahwa semua ini omong-kosong, maka jelas upaya kita akan sia-sia. Tapi, ketika kita merasa bahwa semua ini mungkin adanya, maka kita dapat melanjutkan upaya kita. Bagaimanapun, kebenaran semua hal ini harus didasarkan pada semacam akal sehat, dan bukan karena iman buta, atau karena ‘guru saya bilang begitu’. Buddha sendiri berkata, “Jangan percaya pada apa yang saya katakan hanya karena iman terhadap saya, tapi ujilah perkataan saya layaknya ketika anda membeli emas”. Kita perlu penyelidikan untuk melihat apakah sesuatu itu memang benar adanya.</p>
<p><u>Menjadi Yakin terhadap Kelahiran Kembali: Kasus Serkong Rinpoche dalam 2 Masa Kehidupan</u></p>
<p>Memunculkan keyakinan akan adanya kelahiran kembali (sebagai semacam fakta) bisa menjadi proses yang sangat panjang. Saya bisa berbagi pengalaman pribadi karena saya telah mempelajarinya selama bertahun-tahun. Saya telah belajar Buddhisme selama lebih dari 45 tahun, dan di beberapa titik, terkait mengapa kelahiran kembali itu masuk akal, saya yakin bahwa saya telah mencapai pemahaman intelektual yang berasaskan nalar. Tapi, yang benar-benar meyakinkan saya pada tingkat emosional adalah hubungan saya dengan guru saya dalam 2 masa kehidupan. Namanya adalah Serkong Rinpoche, dan ia adalah salah satu guru dari Y.M. Dalai Lama; saya merasa sangat beruntung telah menjadi murid yang amat dekat dengannya. Saya menemaninya selama 9 tahun, di mana saya menjadi penerjemah sekaligus sekretaris pribadinya. Saya mengatur dan turut serta dalam semua perjalanan luar negerinya, serta bekerja sangat erat dengannya. Ia meninggal pada tahun 1983, dan terlahir serta ditemukan kembali dalam sistem Tibet yang dikenal dengan nama ‘Tulku’.</p>
<p>Ia sekarang berusia 25 tahun dan saya masih memiliki hubungan yang amat dekat dengannya, mirip dengan hubungan yang saya miliki dengan sosoknya di kehidupan sebelumnya. Tentu saja sekarang usia kami terbalik!</p>
<p>Saya pertama kali bertemu dengan Serkong Rinpoche yang baru ketika ia baru berusia 4 tahun, dan ketika saya pertama kali masuk ke ruangannya, penjaganya bertanya padanya, “Apakah anda tahu siapa ini?” “Jangan bodoh, tentu saja saya tahu siapa dia“ adalah jawabannya. Dari awal, dari dirinya selaku bocah berusia 4 tahun, ia sangat dekat dan menyayangi saya, jauh dibandingkan dengan orang lain. Sampai ia tumbuh dewasa pun situasinya tetap sama.</p>
<p>Pada berbagai kesempatan, kami menyaksikan video-video dari kehidupannya yang lampau, dan ia akan berkata pada saya – dan ia tak pernah bicara omong-kosong dengan saya – “Oh, saya ingat pernah mengatakan itu”. Selain semua logika dan penalaran, pengalaman inilah yang benar-benar membantu saya melampaui perasaan ‘yah, mungkin, mungkin&#8230;’. Pengalaman ini memberi saya kepastian.</p>
<p>Semua ini tak mudah. Apakah pembebasan memang mungkin dicapai? Apakah hakikat batin benar-benar murni? Bahkan jika kita memahaminya secara rasional, pemahaman emosional menuntut kita untuk masuki jauh lebih dalam. Namun, perlahan-lahan, kita bisa mengupayakannya.</p>
<p><u>Kebingungan ihwal Realitas selaku Sebab Kelahiran Kembali yang Berulang Tak Terkendali</u></p>
<p>Dengan tingkat motivasi menengah dalam Lamrim, kita punya penjelasan yang sangat rinci tentang mekanisme kelahiran kembali dengan 12 mata rantai yang saling bergantungan. Ini adalah nama untuk menyebut sebuah mekanisme yang sangat rumit, yang berkaitan dengan seluruh isu karma, buah karma, dan sebagainya. Kita perlu memahami secara mendalam aneka jenis emosi pengganggu seperti amarah dan keserakahan, bagaimana mereka muncul, dan apa yang melandasi mereka. Dengan cara yang sangat sederhana, saya menamai faktor-faktor yang melandasi aneka emosi ini sebagai ‘kebingungan’, yang membuat kita bingung ihwal pengaruh perilaku kita pada orang lain dan diri sendiri. Lebih dalam lagi, kita bingung ihwal bagaimana kita benar-benar ada, bagaimana orang lain ada, dan bagaimana segala sesuatu menjadi ada.</p>
<p>Pada dasarnya, kita punya kecenderungan untuk berpikir bahwa hal-ihwal ada dengan sendirinya, menjadi ada dengan daya mereka sendiri, dan terpisah dari segala sesuatu yang lain seolah-olah mereka terbungkus plastik. Bahkan kalaupun kita berpikir bahwa hal-ihwal itu saling terkait satu sama lain, yang mungkin ada di benak kita adalah hal-ihwal yang masing-masing terbungkus plastik tapi terhubung oleh tongkat. Ada banyak level kesubtilan yang perlu kita pahami terkait cara mustahil hal-ihwal menjadi ada. Kita perlu memahami secara tepat apa yang mustahil, dan apa yang diproyeksikan oleh kebingungan kita pada orang-orang dan hal-ihwal.</p>
<p><u>Kesunyataan: Ketiadaan Total dari Cara Mustahil Hal-ihwal Menjadi Ada</u></p>
<p>Apa yang perlu kita pahami adalah ‘kesunyataan’, yang bermakna ketiadaan total; sesuatu yang sama sekali tak ada. Apa yang tak ada merupakan rujukan nyata dari proyeksi-proyeksi yang mustahil. Mereka tak mengacu pada apapun yang nyata.</p>
<p>Kita dapat memakai contoh Santa Claus. Anggaplah kita melihat seseorang berjanggut putih panjang yang mengenakan setelan merah, dan ia terlihat seperti apa yang biasa kita namai ‘Santa Claus’. Kita pikir ia adalah Santa Claus. Tapi mengapa? Nah, karena ia terlihat seperti Santa Claus. Namun, penampilan dari Santa Claus tak mengacu pada apapun yang nyata, karena sebenarnya tak ada Santa Claus yang nyata. Inilah yang dibahas oleh kesunyataan: ketiadaan Santa Claus yang nyata yang berkorespondensi dengan penampilan orang ini. Kita tentunya tak menyangkal bahwa memang ada seorang laki-laki di sana, dan bahwa ia kebetulan mirip Santa Claus. Kita hanya menjelaskan bahwa orang ini tampil di hadapan kita dengan cara yang menipu. Walau sepertinya mirip Santa Claus, orang ini bukan Santa Claus, karena memang tak ada Santa Claus.</p>
<p>Pikiran kita bekerja seperti ini sepanjang waktu. Kita memproyeksikan segala macam omong-kosong, seperti orang ini adalah orang yang paling cantik, atau orang itu adalah orang yang paling mengerikan, atau kita adalah karunia Tuhan bagi dunia, atau sebaliknya, bahwa kita benar-benar tak berguna. Kita memproyeksikan hal-hal ini seolah-olah kita atau mereka ada begitu saja dengan sendirinya, benar-benar tak bersangkut-paut dengan segala sesuatu yang lain, seolah-olah ini adalah fakta yang benar dan tak berubah.</p>
<p>Pada kenyataannya, tak ada yang seperti itu. Bahkan, hal ini mustahil, berhubung segala sesuatu itu ada karena hubungannya dengan hal-hal lain. Y.M. Dalai Lama selalu memakai contoh jari-jari kita. Apakah jari keempat kita besar atau kecil? Nah, ia lebih besar ketimbang jari kelima, tapi lebih kecil ketimbang jari tengah. Jadi, apakah ia besar atau kecil? Tak ada jawaban pasti, karena ia hanya menjadi besar atau kecil dalam kaitannya dengan hal-hal lain. Ini benar-benar tergantung pada hal-hal lain, dan juga pada konsep kita tentang apa itu besar dan apa itu kecil. Saya pikir anda tentunya paham.</p>
<p>Pada motivasi tingkat menengah ini, kita berupaya menyingkirkan kesalahpahaman mendasar ini dengan meraih pemahaman tentang kesunyataan. Adalah kebingungan kita yang menyebabkan kelahiran kembali yang berulang tak terkendali, karena kebingungan mengaktifkan karma dan akibatnya, seperti yang dijelaskan dalam mekanisme rumit dari 12 mata rantai yang saling bergantungan.</p>
<p><u>Perlunya Konsentrasi dan Disiplin Moral</u></p>
<p>Untuk meraih pemahaman tentang kesunyataan, kita perlu memiliki konsentrasi. Untuk mengembangkan konsentrasi, kita perlu memiliki disiplin moral. Contoh yang bisa kita pakai adalah menebang pohon. Pemahaman adalah ibarat kapak tajam, tapi, agar bisa benar-benar menebang pohon, kita perlu selalu menebang di tempat yang sama. Terus menebang di tempat yang sama adalah ibarat konsentrasi. Untuk benar-benar bisa mengambil kapak, mengayunkan, dan menebangnya di tempat yang sama, kita butuh kekuatan. Kekuatan ini berasal dari disiplin moral, yakni berhenti melakukan tindakan buruk.</p>
<p>Motivasi tingkat menengah juga menyajikan set-set sumpah yang bisa diambil, yang meliputi sumpah penuh atau pemula dari biksu/i, atau sumpah perumah tangga untuk laki-laki atau perempuan. Perumah tangga mengacu ke seseorang yang tak menjalani kehidupan selibat di biara, tapi juga tak berarti bahwa anda memiliki keluarga; hal ini mengacu ke orang yang belum menikah juga. Di India kuno, hal ini cukup langka, berhubung perumah tangga hampir selalu memiliki keluarga. Sumpah biara dan perumah tangga ini secara kolektif disebut ‘Sumpah Pembebasan Pribadi’, karena tujuannya adalah membebaskan diri sendiri. Sumpah ini membantu kita menghindari berbagai jenis perilaku yang mungkin dimotivasi oleh emosi pengganggu, yang akan mengganggu latihan meditasi dan hal-hal positif sejenisnya.</p>
<p>Mengambil sumpah sebenarnya sangat penting. Mengapa? Karena ketika kita mengambil sumpah untuk tak lagi melakukan sesuatu, ini membebaskan kita dari kebingungan. Misalnya, bayangkan bahwa kita sedang berusaha untuk berhenti minum minuman keras atau merokok. Setiap kali kita sedang bersama dengan orang-orang yang minum atau merokok, kita memiliki keraguan terkait apakah kita juga mesti ikut-ikutan atau tidak. Bahkan jika kita benar-benar mencoba untuk berhenti, kita harus selalu membuat keputusan tiap kali situasi ini terjadi; hal ini cukup menantang (kalau tak mau dibilang membuat tertekan).</p>
<p>Jika kita bersumpah, maka kita telah mencapai final. Kita telah membuat keputusan, “Saya takkan minum, saya takkan merokok”, atau hal-hal semacamnya. Karena kita telah membuat keputusan, maka takkan menjadi masalah jika semua orang di sekitar kita minum atau merokok. Alih-alih sebagai pembatas atau hukuman, mengambil sumpah benar-benar dapat memberikan kita banyak kekuatan dan membebaskan kita dari kebingungan, terutama terkait hal-hal yang akan menghalangi tercapainya pembebasan akhir kita.</p>
<p>Dalam ajaran Buddha, sama sekali tak ada kewajiban untuk mengambil sumpah apapun. Hal ini harus dipahami. Tak ada yang bisa berkata bahwa anda harus mengambil sumpah ini atau itu, atau bahwa anda harus menjadi seorang biksu/i dan tinggal di biara. Namun, jika kita benar-benar serius ingin mendapatkan pembebasan dari samsara dan membersihkan diri untuk selamanya dari amarah, kemelekatan, keserakahan, dan sebagainya, mengambil sumpah tertentu pasti akan memudahkan upaya ini. Mungkin saat ini kita belum siap, dan tentunya hal ini tak masalah. Kita perlu menilai diri dan situasi kita sendiri dengan jujur.</p>
<p>Inilah motivasi tingkat menengah. Meski konsentrasi dan kesunyataan adalah bagian darinya, keduanya belum dibahas secara utuh di sini. Topik-topik ini sepenuhnya akan dibahas dalam motivasi tingkat agung.</p>
<p><u>Motivasi Tingkat Agung: Memikirkan Semua Makhluk</u></p>
<p>Dengan motivasi tingkat agung, pikirkan bahwa kita bukan satu-satunya makhluk di alam semesta ini. Ada orang lain, dan mereka semua juga berada dalam situasi yang sama seperti kita. Mereka juga menderita dan mesti melalui kelahiran kembali yang berulang tak terkendali. Kita ingin kebahagiaan yang stabil dan menghindari penderitaan, dan begitu juga dengan orang lain. Kita semua benar-benar setara dalam hal ini. Ini berlaku bukan hanya untuk saya dan beberapa orang terpilih, tapi juga tiap makhluk. Kita semua saling berhubungan dan saling bergantung satu sama lain. Kita tak muncul dengan sendirinya. Bahkan, kita tak bisa bertahan hidup dengan hanya mementingkan diri sendiri.</p>
<p>Ada beberapa metode yang benar-benar cukup canggih untuk memperluas kapasitas hati kita agar mampu menganggap semua orang setara. Kita telah menyinggungnya sedikit sebelumnya ketika kita berbicara tentang mengganggap semua makhluk sebagai ibu kita dari kehidupan-kehidupan sebelumnya dan sebagai sosok yang telah sangat baik kepada kita. Ada versi ‘Dharma-Ringan’ di mana kita bisa melihat bagaimana orang lain bisa bertindak bak seorang ibu dalam mengurus kita. Namun, hal ini memiliki keterbatasan, berhubung sulit untuk menerapkannya pada teman kita: nyamuk.</p>
<p><u>Cinta kasih (Metta)</u></p>
<p>Untuk mulai memperluas kapasitas hati kita, kita mulai dengan mengembangkan apa yang disebut ‘cinta kasih’. Prosesnya sebenarnya dimulai dengan menyetarakan semua orang – di mana kita tak lagi hanya tertarik pada beberapa orang, hanya menyukai orang-orang tertentu, dan acuh tak acuh terhadap sisanya. Kita berupaya untuk menjadi terbuka pada semua orang, dan atas dasar ini, kita menyadari keterkaitan kita dengan semua orang. Hal ini bisa dikembangkan melalui penalaran bahwa tiap orang telah menjadi ibu kita dan sangat baik pada kita dalam kehidupan-kehidupan sebelumnya, atau hanya dengan mengakui bahwa segala sesuatu yang kita nikmati dan manfaatkan berasal dari hasil kerja orang lain. Coba lihat saja lantai di bawah kita, bangunan tempat kita berada, air yang kita minum; apakah kita pernah berpikir dari mana semua hal tersebut datang? Bagaimana air dan makanan kita bisa sampai di sini? Semua itu berasal dari pekerjaan orang lain, upaya dari semua orang di sekitar kita. Kita semua setara. Sangatlah tak logis bila kita hanya berupaya untuk kepentingan diri sendiri, karena untuk benar-benar menguntungkan diri sendiri, kita harus menguntungkan semua orang.</p>
<p>Atas dasar ini, kita mampu mengembangkan cinta kasih yang sama terhadap semua orang. Cinta kasih ini didefinisikan sebagai keinginan agar tiap makhluk berbahagia dan memiliki sebab-sebab kebahagiaan tersebut. Hal ini tak ada hubungannya dengan cinta romantis, yang biasanya tercampur dengan banyak kemelekatan. Ketika kita berkata, “Saya mencintaimu”, ini biasanya berarti, “Saya membutuhkanmu. Jangan pernah meninggalkanku. Saya tak bisa hidup tanpamu”. Ketika kita tak mendapatkan perhatian yang diinginkan dari orang lain, atau ketika mereka mengatakan sesuatu yang buruk, maka dengan segera perkataan kita berubah menjadi, “Aku tak mencintaimu lagi”.</p>
<p>Dalam Buddhisme, jenis cinta kasih yang dibicarakan di atas sama sekali tak ada hubungannya dengan bagaimana orang lain bertindak atau apa yang mereka lakukan terhadap kita. Ini semata hanya keinginan: “Semoga anda bahagia”. Ibaratkanlah orang lain sebagai bagian dari tubuh kita. Kita tentunya ingin agar semua jari kaki kita berbahagia, bukan hanya sebagian dari mereka (tak peduli apa yang jari-jari ini lakukan terhadap kita).</p>
<p><u>Welas Asih (Karuna)</u></p>
<p>Dengan cinta kasih, kita kemudian mengembangkan ‘welas asih’. Ini adalah keinginan agar orang lain terbebas dari penderitaan dan sebab-sebab penderitaan tersebut. Hal ini tak hanya mengacu pada tingkat penderitaan yang dangkal (semisal naik-turunnya kehidupan), tapi juga pada jenis penderitaan yang lebih dalam (seperti kelahiran kembali yang berulang tak terkendali). Memiliki welas asih tak berarti bahwa kita memandang rendah orang lain dan merasa kasihan pada mereka, seperti ketika kita berkata, “Oh, makhluk yang kasihan”. Welas asih Buddha didasarkan pada rasa hormat dan pemahaman bahwa adalah mungkin bagi semua orang untuk terbebas dari penderitaan dan sebab-sebabnya. Hal ini bukan hanya keinginan baik ataupun kata-kata indah. Dengan welas asih, kita mulai mengambil tanggung jawab untuk menciptakan sebuah keadaan yang bebas dari penderitaan. Butuh banyak keberanian di sini.</p>
<p>Ketika kita mengembangkan apa yang dikenal sebagai ‘welas asih agung’, welas asih kita ditujukan secara merata kepada semua makhluk; kita memperhatikan mereka semua layaknya seorang ibu yang mengasihi anak semata wayangnya. Perasaan welas asih agung juga berisi keinginan untuk melindungi tiap makhluk agar tak lagi mengalami penderitaan apapun.</p>
<p><u>Tekad Luar Biasa</u></p>
<p>Langkah selanjutnya yang harus kita lakukan adalah mengembangkan ‘tekad luar biasa’, yakni keputusan yang kuat untuk mengambil tanggung jawab bukan hanya untuk membantu orang lain sekenanya atau bahkan lebih dari sekenanya, tapi juga untuk membantu mereka semua mencapai pencerahan seorang Buddha. Kita tak sekadar berniat untuk melakukannya, tapi telah membuat keputusan: kita pasti akan melakukannya.</p>
<p><u>Bodhicitta: Mencapai Pencerahan demi Semua Makhluk</u></p>
<p>Tahap terakhir dari urutan ini adalah mengembangkan ‘bodhicitta’ berdasarkan cinta kasih, welas asih, dan tekad luar biasa. Kita sadar bahwa satu-satunya cara terbaik untuk membantu semua makhluk adalah apabila kita sendiri mencapai ke-Buddha-an. Tapi, agar aspirasi ini menjadi realistis, kita perlu memahami apa itu Buddha, bagaimana Buddha bisa dan tak bisa membantu makhluk lain. Ingat, seorang Buddha bukanlah Tuhan maha kuasa yang dapat menjentikkan jarinya dan membuat penderitaan semua makhluk lenyap. Seorang Buddha pasti bisa menunjukkan orang lain jalan dan memberi mereka inspirasi, tapi tetap saja, kita sendirilah yang harus berjerih-payah. Tak ada orang lain yang bisa membuat kita memahami realitas; kita sendirilah yang harus memahaminya.</p>
<p>Jadi, dengan dorongan cinta kasih dan welas asih, bodhicitta berfokus pada pencerahan kita di masa depan. Ini adalah pencerahan kita sendiri, bukan pencerahan dari Buddha Shakyamuni atau pencerahan lainnya secara umum. Pencerahan kita belum terjadi, namun berdasarkan faktor-faktor hakikat-Buddha dalam arus mental kita, ia dapat dan akan terjadi. Faktor-faktor ini mencakup hakikat dasarnya yang tak tercemar, berikut semua potensi dan kemungkinannya. Kita berfokus pada pencerahan yang belum terjadi ini, dengan maksud untuk mencapainya kelak sehingga dapat memberikan manfaat kepada makhluk lain sebanyak mungkin. Dalam perjalanan menuju pencerahan, kita juga berniat untuk memberikan manfaat kepada makhluk lain sebanyak mungkin.</p>
<p>Inilah bodhicitta. Ia adalah keadaan dan batin yang sangat luas, dan jangan salahpahami ia sebagai sebatas meditasi cinta kasih dan welas asih. Bodhicitta tak hanya sebatas itu. Cinta kasih dan welas asih adalah landasannya, namun bodhicitta jauh, jauh lebih luas.</p>
<p><u>6 Kesempurnaan</u></p>
<p>Seperti yang kita lihat, tujuan motivasi tingkat agung adalah mencapai ke-Buddha-an sehingga kita dapat membantu makhluk lain sebanyak mungkin. Kita didorong oleh cinta kasih, welas asih dan tekad luar biasa. Namun, bagaimana kita bisa benar-benar mencapai pencerahan ini? Pertanyaan ini membawa kita ke ‘6 kesempurnaan’, yang dalam bahasa Sanskerta disebut ‘6 paramita,’ atau yang biasanya saya terjemahkan sebagai ‘6 sikap luas’. Saya lebih suka istilah ini karena jangkauan yang luas bermakna bahwa sikap ini membawa kita ke jalan pencerahan seorang Buddha. Bagi sebagian orang, menggunakan istilah ‘kesempurnaan’ membuatnya terdengar seolah-olah mereka harus menjadi sempurna (padahal mereka tidak), sehingga mereka merasa rendah diri. Ini bukan perasaan yang seharusnya ditimbulkan oleh istilah ini.</p>
<p><u>Kemurahan Hati (Dana)</u></p>
<p>Inilah sikap pertama yang perlu kita kembangkan, di mana kita tak hanya memberikan barang-barang material kepada orang lain, tapi juga saran, ajaran, dan kebebasan dari rasa takut. Bahkan jika kita tak punya apapun untuk ditawarkan, kita bisa menumbuhkan sikap bersedia memberikan apapun yang diperlukan orang lain. Hal lain yang bisa kita tawarkan adalah cara kita memperlakukan orang lain. Karena kita telah mengembangkan keseimbangan batin, hal ini berarti bahwa orang lain tak perlu takut kepada kita. Kita takkan marah pada orang lain, melekat pada mereka, atau ingin mendapatkan sesuatu dari mereka. Kita takkan mengabaikan orang lain atau menolak mereka ketika mereka melakukan sesuatu yang tak kita sukai. Selain itu, kita akan sungguh-sungguh mencoba membantu mereka. Ini sebenarnya merupakan hadiah luar biasa yang dapat kita berikan kepada seseorang, hadiah luar biasa yang kita kembangkan dengan kemurahan hati.</p>
<p><u>Disiplin Moral (Sila)</u></p>
<p>Inilah sikap kedua yang perlu kita kembangkan, di mana kita berupaya untuk tak melakukan hal-hal yang merusak, melainkan berfokus ke hal-hal yang membangun. Kita punya disiplin untuk belajar, bermeditasi, dan benar-benar membantu orang lain. Kita tak merasa terlalu lelah untuk membantu seseorang, dan tak mengabaikan orang lain hanya karena kita tak merasa ingin membantu mereka.</p>
<p><u>Kesabaran (Ksanti)</u></p>
<p>Inilah sikap ketiga yang perlu kita kembangkan, di mana kita mampu menanggung penderitaan dan kesulitan tanpa merasa marah atau kesal. Berupaya melatih diri sendiri sekaligus orang lain bukanlah hal yang mudah, dan kebanyakan orang sama sekali tak mudah untuk ditolong. Mereka akan menyulitkan kita, dan kita butuh kesabaran agar tak menjadi marah. Ada banyak metode untuk mengembangkan kesabaran, seperti halnya dengan semua sikap yang lain.</p>
<p><u>Tekad Luar Biasa (Virya)</u></p>
<p>Inilah sikap keempat yang perlu kita kembangkan, di mana kita tak pernah menyerah, tak peduli betapa pun sulitnya keadaan. Sikap ini adalah ibarat semangat yang gagah berani. Selain tak menyerah, kita juga bersukacita dalam membantu orang lain, dan benar-benar senang bila berkesempatan untuk membantu. Ada banyak petunjuk tentang cara mengembangkan sikap ini (termasuk mengetahui kapan kita harus bersantai dan beristirahat). Jika kita mendorong diri terlalu keras, kita takkan bisa membantu siapapun. Terkait hal ini, ada banyak metode untuk mengatasi aneka jenis kemalasan dalam diri kita, yang akan mencegah kita dalam upaya melatih diri sendiri dan membantu orang lain.</p>
<p><u>Stabilitas Mental (Samadhi)</u></p>
<p>Inilah sikap kelima yang perlu kita kembangkan, di mana kita melatih keseimbangan batin. Sikap ini tak hanya mencakup konsentrasi, tapi juga stabilitas emosional. Apa yang ingin kita miliki adalah keadaan batin yang stabil, yang tak berada di bawah pengaruh pikiran yang mengembara, yang tak hinggap ke objek-objek yang menarik hati, atau yang tak merasa bosan dan mengantuk. Batin yang demikian tetap terpusat pada apapun yang kita ingin fokuskan. Misalnya, ketika seseorang berbicara kepada kita, batin kita tak berkeliaran memikirkan hal-hal lainnya. Kita juga dalam keadaan stabil dalam artian bahwa kita tak punya emosi-emosi yang mengganggu stabilitas batin kita; kita tak lagi uring-uringan. Ini berarti bahwa kita tak terlalu sensitif atau tak sensitif, melainkan seimbang dan stabil.</p>
<p><u>Kebijaksanaan (Prajna)</u></p>
<p>Inilah sikap keenam yang perlu kita kembangkan, di mana kita mampu membedakan antara tata cara hal-ihwal eksis dan apa saja yang mustahil. Ini adalah kesadaran yang sangat spesifik, sehingga istilah ‘kebijaksanaan’ tampak terlalu samar-samar. Secara khusus, kita berbicara tentang kesadaran untuk mengetahui apa saja yang musthail, yang melibatkan pemahaman tentang kesunyataan. Kita sadar bahwa hal-hal tertentu adalah konyol, mustahil, dan tak mengacu pada apapun.</p>
<p>Kita berlatih dengan praktik dan metode ini untuk mengembangkan 6 paramita, tujuan kita, motivasi kita, tekad kita, dan bodhicitta. Semua ini termasuk dalam lingkup motivasi tingkat agung.</p>
<p><u>Kesimpulan</u></p>
<p>Dengan motivasi tingkat awal sebagai landasannya, melalui motivasi tingkat menengah kita sadar bahwa kita masih akan terus menderita bahkan jika kita terlahir kembali dalam kondisi yang lebih baik. Kita masih akan mengalami berbagai masalah, harus sakit dan mati, dan kemudian harus mengulangi semuanya berulang kali. Menjadi bosan dengan semua ini, kita paham bahwa tak ada yang spesial dari seluruh kelahiran kembali yang berulang tak terkendali ini, sehingga kemudian muncul tujuan dalam diri untuk terbebas dari semua ini.</p>
<p>Ketika kita lanjut ke motivasi tingkat agung, kita berhenti berpikir tentang diri sendiri sebagai satu-satunya orang penting – pusat alam semesta. Kita sadar bahwa semua makhluk (termasuk kita) sama-sama menginginkan kebahagiaan dan ingin menghindari penderitaan. Tak hanya itu, kita melihat bahwa semua makhluk, baik di kehidupan sebelumnya maupun dalam kehidupan saat ini, telah bersikap luar biasa baik kepada kita. Tanpa mereka, kita takkan bisa makan atau minum, membaca atau menulis, pergi ke toko-toko, menikmati film, atau melakukan apapun. Dari sudut pandang ini, akan menjadi amat memalukan bagi kita untuk mengabaikan kebaikan mereka, sehingga pada gilirannya, kita pun menjadi tergerak oleh welas asih dan cinta kasih kepada mereka, dan pada akhirnya mengembangkan bodhicitta (di mana kita ingin mencapai pencerahan demi memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi semua makhluk).</p>
<p><em>Sumber: <a href="https://studybuddhism.com/en/tibetan-buddhism/path-to-enlightenment/the-graded-path/introduction-to-the-graded-path">studybuddhism.org</a> | diterjemahkan oleh: Jepry | disunting oleh: Stanley Khu</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/06/13/motivasi-tingkat-menengah-dan-agung/">Serba-Serbi Lamrim bagian 3: Motivasi Tingkat Menengah dan Agung</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/06/13/motivasi-tingkat-menengah-dan-agung/">Serba-Serbi Lamrim bagian 3: Motivasi Tingkat Menengah dan Agung</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
