<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>keluar dari samsara - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/keluar-dari-samsara/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 Jun 2018 03:32:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>keluar dari samsara - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kekuatan Welas Asih</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Oct 2017 12:11:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[compassion]]></category>
		<category><![CDATA[keluar dari samsara]]></category>
		<category><![CDATA[praktik bodhisatwa]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3715</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh: Kyabje Lama Zopa Rinpoche Dikutip dari seminar tentang cara mengembangkan welas asih dan menawarkan pelayanan yang sempurna kepada orang lain, diberikan oleh Kyabje Lama Zopa Rinpoche di Kasih Hospice, Selangor, Malaysia, pada tanggal 14 Mei 2006. Disunting oleh Sandra Smith. Menundukkan Kemarahan Membawa Damai Selamat malam. Maaf. Selamat sore. Waktu saya bercampur aduk. Saya [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">oleh: Kyabje Lama Zopa Rinpoche</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Dikutip dari seminar tentang cara mengembangkan welas asih dan menawarkan pelayanan yang sempurna kepada orang lain, diberikan oleh Kyabje Lama Zopa Rinpoche di Kasih Hospice, Selangor, Malaysia, pada tanggal 14 Mei 2006. Disunting oleh Sandra Smith.</span></i></p>
<p><strong>Menundukkan Kemarahan Membawa Damai</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selamat malam. Maaf. Selamat sore. Waktu saya bercampur aduk. Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada semua orang karena telah datang ke sini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anda berada di sini untuk belajar tentang welas asih dan untuk membantu dunia. Ada dorongan yang luar biasa, ada kebutuhan besar untuk membantu makhluk hidup yang tidak memiliki kebahagiaan dan yang terus-menerus menderita. Mereka sangat membutuhkan bantuan Anda. Terima kasih banyak untuk orang-orang yang datang ke sini, yang niatnya adalah untuk memberi manfaat kepada orang lain dan untuk belajar tentang cara melakukannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya harus meminta maaf atas kebiasaan saya untuk datang terlambat. Semua sudah lama menunggu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama, saya ingin menyebutkan apa yang telah dibaca, apa yang saya dengar, tentang dunia yang penuh dengan bencana atau penderitaan, dunia dengan begitu banyak masalah. Apakah welas asih kita dapat melakukan sesuatu untuk membantu? Itulah yang saya dengar. Saya ingin menyebutkan ini untuk memulai sesi kali ini. Sesuatu yang logis. Sangat logis.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dikatakan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Bodhicaryawatara</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Lakon Hidup Bodhisatwa) karya guru besar India, Shantidewa, bahwa jika Anda ingin menutupi seluruh dunia dengan karpet kulit, jika Anda ingin menutupi semua semak duri yang tumbuh di dunia ini, takkan ada cukup kulit untuk menutupinya agar Anda bisa berjalan dengan kaki telanjang tanpa terluka sedikit pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi, jika Anda memakai sepatu kulit, maka ke mana pun Anda pergi, ke bagian dunia mana pun yang Anda kunjungi, semak duri takkan bisa melukai kaki Anda. Jika Anda mengenakan sepatu yang memiliki sol kulit, duri takkan bisa melewati sepatu untuk melukai kaki Anda. Ke mana pun Anda pergi, duri takkan menembus masuk ke dalam kaki Anda.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, jika batin Anda berhasil ditundukkan atau dijinakkan – maka kemarahan, ketidaktahuan, kemelekatan, keinginan, pikiran yang tidak puas, dan semua sikap negatif yang menyamar dan mengganggu – maka takkan ada lagi musuh di dunia; Anda tak dapat lagi menemukan musuh di dunia. Ketika kemarahan, khayalan, dan sikap negatif yang menyamar dan mengganggu dihilangkan, takkan ada tempat di mana Anda bisa menemukan musuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tanpa menjinakkan pikiran Anda dengan melatih hati yang baik, belas kasih untuk orang lain, tentu saja, kemarahan muncul. Tanpa menjinakkan pikiran, dengan khayalan ini, maka tidak masalah berapa banyak musuh luar yang Anda bunuh, tidak pernah selesai. Tidak ada akhir, tidak ada akhir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada dasarnya, jika Anda membunuh satu orang yang merugikan Anda, maka teman-temannya akan menjadi musuh Anda. Mereka menjadi musuh bagi Anda. Lalu, teman-teman mereka akan menjadi musuh bagi Anda. Kemudian, dari sana, seluruh masyarakat, ratusan, puluhan ribu orang, populasi seluruh negara akan menjadi musuh Anda.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada umumnya, dalam perang, ratusan ribu orang terbunuh, meski biasanya konflik hanya dimulai antara dua orang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita hanya berbicara tentang kehidupan ini, masalah dalam kehidupan ini. Efek yang Anda dapatkan dari membunuh musuh sebenarnya jauh lebih buruk daripada itu. Anda ingin memiliki kedamaian abadi, tapi Anda lebih banyak merasakan bahaya dari orang lain. Bahkan jika Anda tidak menerima kerugian sekarang, tahun ini, Anda akan menerimanya nanti, di tahun-tahun lainnya. Mereka akan membahayakan Anda. Mereka akan memendam dendam dan Anda akan mendapat bahaya nanti.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, berhubung ada kesinambungan dari arus kesadaran, kesadaran akan tetap eksis bahkan setelah tubuh Anda hancur atau berhenti berfungsi. Kita bisa mengingat apa yang kita lakukan kemarin, kita bisa mengingat seperti apa kehidupan kita kemarin karena ada kesinambungan dari arus kesadaran dari hari kemarin sampai hari ini. Dari tahun lalu hingga saat ini, ada kesinambungan dari arus kesadaran. Kesadaran tahun lalu berlanjut, dan kesadaran hari ini merupakan kesinambungan dari itu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah sebabnya kita bisa mengingat tahun lalu dan masa kecil kita. Beberapa orang bahkan punya kejernihan batin untuk bisa mengingat momen paling awal dari kelahiran mereka. Kebanyakan orang tidak bisa mengingatnya, tapi beberapa orang bahkan bisa mengingat momen ketika mereka pertama kali keluar dari kandungan ibu mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beberapa orang bahkan bisa mengingat momen ketika mereka berada di rahim ibu – ini adalah orang-orang yang memiliki batin yang sangat jernih, yang tidak terpengaruh oleh banyak kotoran batin, yang memiliki batin yang sangat berkembang. Mereka yang memiliki batin seperti ini bisa mengingat proses konsepsi di rahim ibu. Mereka ingat saat-saat ketika mereka berada di rahim ibu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sama halnya, mereka bisa mengingat kehidupan lampau mereka. Sebelum kesadaran terjadi di rahim ibu, mereka sudah punya ingatan. Mereka ingat di mana mereka dan apa yang mereka lakukan di masa lalu. Mereka yang memiliki batin seperti ini – orang-orang dengan kewaspadaan yang tinggi – dapat melihat masa lalu dan masa depan, tidak hanya pengalaman mereka sendiri, tapi juga pengalaman orang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, tanpa menundukkan emosi negatif seperti amarah, kita akan terus-menerus merasakan bahaya dari orang lain di masa depan. Apa yang kita lakukan dalam kehidupan ini akan menghasilkan konsekuensi panjang yang akan kita alami dalam rangkaian kehidupan mendatang. Dalam ratusan, ribuan kehidupan, kita akan mengalami kerugian dari orang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita hanya memikirkan satu kehidupan ini saja, kita sama sekali tidak akan memiliki kedamaian. Artinya, bahkan jika kita tidak menerima bahaya dari orang lain, semata memikirkan kehidupan saat ini takkan menghasilkan kedamaian dan kebahagiaan batin. Batin kita akan merasa bersalah dan tidak bahagia. Ini terutama terjadi saat kematian datang menjemput. Ketika saat itu tiba, kita akan merasa bahwa kita memiliki kehidupan yang sangat menyedihkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, Shantidewa menasihati kita untuk mengembangkan welas asih, kesabaran, dan kualitas positif lainnya. Ketika batin kita telah dijinakkan atau ditundukkan, ketika kemarahan dan emosi negatif lainnya ditundukkan, ini sama seperti menghancurkan semua musuh sekaligus.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini bisa menjadi bahan renungan kita. Musuh dibuat oleh batin kita. Musuh berasal dari batin kita. Label &#8220;musuh&#8221; berasal dari kemarahan kita. Saat kita marah, label &#8220;musuh&#8221; pun muncul.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat kemarahan muncul, kita melihat seseorang sebagai musuh. Tapi, begitu kita merenungkan dan memunculkan welas asih, kesabaran, dan kualitas positif sejenis kepada orang itu, maka kemarahan kita pun lenyap dalam satu jentikan jari. Orang itu bukan lagi musuh; kita tidak melihat orang itu sebagai musuh pada momen berikutnya. Dengan kesabaran, kita melihat orang itu sebagai yang paling baik, sosok yang paling berharga. Kita merasa orang itu sangat berharga dalam hidup kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan orang yang tidak meyakini reinkarnasi atau hukum karma juga akan mengiyakan poin ini. Dengan melatih kualitas-kualitas positif terhadap orang yang kita sebut musuh, kita dapat mengurangi kemarahan kita padanya; kita dapat mengembangkan lebih banyak kesabaran, lebih banyak welas asih padanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian, terhadap keluarga, pasangan, dan anak-anak kita, kita dapat mengembangkan lebih banyak welas asih, bersikap lebih sabar lagi pada mereka. Kita bisa membuat kemarahan kita semakin berkurang. Ia akan berkurang tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun setelahnya. Dalam 6-7 tahun, kita mungkin hampir takkan pernah marah lagi. Bahkan jika kemarahan muncul, ia hanya akan berlangsung 2-3 detik dan kemudian hilang. Ia tidak berlangsung lama seperti sebelumnya. Ia sangat jarang muncul, dan tidak bertahan lama. Ia muncul selama beberapa detik, lalu lenyap.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita akan memiliki hubungan yang sangat baik, harmonis, dan damai dengan keluarga kita, dengan teman-teman kita. Ada begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tidak marah pada orang lain. Alih-alih marah kepada mereka, kita memiliki kesabaran dan pikiran positif, pikiran yang bahagia. Kita memiliki pikiran yang sehat, pikiran yang damai dan bahagia. Kita memunculkan semua kualitas positif ini, dan kita mengembangkan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bukan saja kita tidak menyakiti orang lain, tapi kita juga menguntungkan mereka. Melalui batin yang positif, kesabaran dan (terutama) welas asih pun muncul. Bukan saja kita tidak menyakiti orang lain, kita akan membantu mereka dengan penuh welas asih. Jadi, alih-alih merugikan orang lain, kita menguntungkan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah yang terjadi. Kita membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan bagi keluarga kita. Dan karena kita tidak marah, kita tidak menyakiti orang lain, dan mereka tidak marah kepada kita. Kita tidak menyebabkan mereka marah kepada kita, kita tidak menyebabkan mereka menyakiti kita. Kita tidak menyebabkan mereka menciptakan karma negatif karena kita, terhadap kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sama halnya, kita akan membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup kita. Kita membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan bagi kehidupan anggota keluarga, suami atau istri, atau anak-anak, atau siapa pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu saja, semua orang menginginkan itu. Kita semua ingin keluarga kita mencintai kita, bahagia bersama kita. Kita tidak ingin ada yang marah kepada kita, menyakiti kita, memperlakukan kita dengan buruk, atau mengkritik kita. Kita tidak menginginkan semua itu. Kita tidak ingin keluarga kita merasa tidak bahagia, memiliki pikiran negatif, marah kepada kita dan terlibat dalam karma negatif, yang semua itu harus mereka tanggung akibatnya. Kita tidak ingin mereka menanggung penderitaan dalam bentuk apa pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak hanya itu. Terhadap semua manusia di negara tempat kita berada, kita juga tidak marah kepada mereka; kita tidak menyakiti mereka. Dengan hati yang baik, dengan kesabaran, jutaan orang di negara kita akan menerima begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan dari diri kita, dari kesabaran kita, dari welas asih kita. Semua manusia di dunia ini, dan semua makhluk lainnya, termasuk binatang, tidak akan menerima bahaya dari kemarahan kita. Semua makhluk tidak akan mendapat bahaya dari kita. Mereka akan menerima begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan dari kita. Tiadanya bahaya adalah kedamaian.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan jika kita tidak terlibat dalam pelayanan tambahan atau memberi manfaat kepada orang lain, ketiadaan amarah adalah kedamaian dan kebahagiaan yang akan mereka terima dari kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita berbicara melampaui konteks kehidupan di dunia ini, maka bisa dikatakan bahwa makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya di dunia-dunia yang lain juga tidak akan mendapat bahaya dari kita jika kita mengembangkan kesabaran dan welas asih. Jika kita berhenti menyakiti orang lain dengan mengembangkan pikiran yang sabar dan berwelas asih, maka dari kehidupan ke kehidupan, makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya akan menerima kedamaian dan kebahagiaan dari kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, semua kedamaian dan kebahagiaan inilah yang bisa kita hasilkan, yang dimulai dari keluarga kita, kemudian negara kita, kemudian dunia ini, dan akhirnya semua makhluk hidup di seluruh alam semesta. Kita bisa menawarkan ini karena kita melatih kesabaran dan welas asih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang tertentu yang memiliki kemarahan terhadap kita, yang merugikan kita, takkan kita balas dengan kemarahan yang sama jika kita mengembangkan kesabaran dan welas asih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siapa yang membantu kita mengembangkan kualitas yang luar biasa dan tak ternilai ini di dalam diri kita? Siapa yang membantu kita mengembangkan kualitas ini sehingga akhirnya kita bisa memberi kedamaian dan kebahagiaan bagi semua makhluk hidup? Mereka yang memiliki kemarahan terhadap kita, yang menyiksa kita, yang merugikan kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka memberi kita kesempatan dan membantu kita untuk menghasilkan kualitas yang tak ternilai ini di dalam batin, sehingga kita akhirnya dapat menawarkan semua kedamaian dan kebahagiaan ini kepada makhluk hidup lain yang tak terhitung jumlahnya dari kehidupan ke kehidupan. Oleh karena itu, mereka sangat berharga. Tidak ada ucapan terima kasih yang dapat mengungkapkan perasaan syukur kita atas hal ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita tak perlu berbicara tentang kehidupan mendatang. Dalam kehidupan saat ini saja, kita dapat menawarkan begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan melalui kesabaran dan welas asih kepada keluarga dan negara kita dan seluruh dunia. Kita bisa membawa begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan kepada mereka. Itu sangat luar biasa. Itu akan mencapai tujuan hidup kita. Itulah arti sebenarnya dari kehidupan, sesuatu yang membuat hidup menjadi berharga.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semuanya karena kebaikan dari orang yang telah marah kepada kita, yang merugikan kita. Karena kemarahan dan tindakan buruk mereka, kita diberi kesempatan untuk melatih batin kita, untuk melatih kesabaran dan welas asih, untuk menawarkan begitu banyak kedamaian dan kebahagiaan kepada dunia, kepada makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya katakan sebelumnya bahwa tiadanya bahaya itu sendiri adalah kedamaian dan kebahagiaan. Kemudian selain itu, kita menawarkan pelayanan kepada orang lain, jadi ada tambahan kebahagiaan dan kedamaian. Ini semua karena kebaikan musuh kita. Oleh karena itu, melatih batin dengan orang tersebut membantu kita memiliki kedamaian dan kebahagiaan dalam keluarga dan kehidupan kita. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua ini adalah jawabannya. Inilah yang bisa kita lakukan untuk membantu dunia. Semuanya berasal dari pihak kita, yang tidak ingin membahayakan dunia dan penghuninya terlebih dahulu. Mulai satu per satu, dengan satu manusia atau dengan binatang yang paling dekat dengan kita. Dari sini, kita bisa berkembang lebih dan lebih, untuk membawa kebahagiaan kepada orang lain, untuk tidak menyakiti orang lain, dan untuk memberi mereka kebahagiaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk melakukan semua itu, kita perlu mengubah batin  kita. Kita perlu mengubah kemarahan menjadi kesabaran, menjadi welas asih bagi orang lain. Apa yang dikatakan Shantidewa sangat benar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalau kita tidak memiliki kemarahan, maka ke mana pun kita pergi – Timur atau Barat, di rumah atau di luar, di kantor, ke mana pun kita pergi &#8211; kita tidak dapat menemukan musuh. Sebaliknya, dengan memiliki kemarahan, kita akan menemukan musuh di mana pun kita berada. Bahkan di pusat meditasi, bahkan di sebuah biara, bahkan di dalam gua sekali pun, kita akan menemukan musuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika kita memiliki kemarahan terhadap seseorang, kita melihat orang itu sebagai sosok yang sangat tidak diinginkan. Kita tidak menyukai orang itu; ia adalah seseorang yang tidak ingin kita lihat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi pada momen berikutnya, ketika kita memikirkan kebaikan orang itu – yang telah memungkinkan kita untuk melatih kesabaran dan welas asih – kita akan melihatnya dengan cara yang benar-benar berlawanan dari sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang ini sebelumnya tidak diinginkan; kita tidak ingin melihatnya. Ia tidak diinginkan. Tapi sekarang, ia adalah orang yang paling berharga dan paling baik. Tidak ada ucapan terima kasih yang cukup untuk membalas kebaikannya. Ia lebih baik daripada seseorang yang memberi kita satu miliar dolar atau satu juta dolar. Kebaikan miliknya berbeda. Kebaikannya adalah sesuatu yang kita rasakan sangat mendalam di hati kita. Sekarang, ia menjadi sangat berharga; ia adalah seseorang yang harus kita miliki dalam hidup kita. Kita merasa sangat berbeda dari sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang, kita bisa melihat bahwa tidak ada musuh; tidak ada musuh yang ada secara inheren. Orang lain tidak berubah. Kitalah yang mengubah batin kita; orang lain tidak berubah. Masih ada kemarahan orang itu di sana. Jika tidak, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk melatih kesabaran. Jika batin orang lain berubah terhadap kita, jika ia menghentikan kemarahannya, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kesabaran kita. Jadi sebenarnya, di mana pun kita berada, kita tidak memiliki musuh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika teman-teman kita tidak marah kepada kita, jika teman-teman kita mencintai kita, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk melatih kesabaran dengan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua makhluk hidup datang dalam tiga cara: baik sebagai teman, musuh, atau orang asing. Makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya adalah musuh, atau orang asing, atau teman. Jika makhluk hidup adalah orang asing, maka juga tidak ada kesempatan untuk melatih kesabaran dan menenangkan kemarahan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pikirkan, &#8220;Di negara ini, di dunia ini, di antara makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya – mereka yang tercerahkan dan belum tercerahkan, mereka yang terbebas dari penderitaan dan tidak terbebas dari penderitaan, para makhluk biasa – mereka yang memiliki kemarahan terhadap saya adalah satu-satunya yang memberi saya kesempatan untuk mengembangkan batin saya, untuk menguntungkan semua makhluk hidup di seluruh dunia. Inilah satu-satunya pihak yang memungkinkan saya menjinakkan batin saya.&#8221;</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, orang ini menjadi sangat berharga. Ketika kita melihat kebaikan musuh, kita tidak ingin musuh menderita; kita ingin membebaskan musuh dari penderitaan. Welas asih pun muncul untuk musuh kita. Ini hanya satu contoh. Jika kita bisa mengembangkan welas asih kepada musuh kita, maka akan mudah untuk mengembangkannya kepada orang asing atau teman. Akan sangat mudah untuk mengembangkan welas asih kepada mereka. Yang paling sulit adalah mengembangkan welas asih kepada musuh.</span></p>
<p><em>diterjemahkan oleh: Deny Hermawan</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/10/09/kekuatan-welas-asih/">Kekuatan Welas Asih</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>It&#8217;s Lamrim it&#8217;s Buddhism #6 &#8211; Hindari 8 Angin Duniawi</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/04/07/lamrim-buddhism-6-hindari-8-angin-duniawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Apr 2017 15:34:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[anginduniawi]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[itslamrimitsbuddhism]]></category>
		<category><![CDATA[keluar dari samsara]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3091</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>&#8220;Am I truly seeking good or just seeking attention?&#8221; Kutipan di atas berasal dari drama musikal Wicked, adaptasi dari dongeng the Wizard of Oz. Kutipan ini mengajak kita merenung, saat kita melakukan suatu tindakan bajik, apakah kita benar-benar melakukannya untuk kebaikan atau hanya ingin dipuji, menghindari celaan, atau alasan la in yang ada di gambar [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/04/07/lamrim-buddhism-6-hindari-8-angin-duniawi/">It’s Lamrim it’s Buddhism #6 – Hindari 8 Angin Duniawi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/04/07/lamrim-buddhism-6-hindari-8-angin-duniawi/">It&#8217;s Lamrim it&#8217;s Buddhism #6 &#8211; Hindari 8 Angin Duniawi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>&#8220;Am I truly seeking good or just seeking attention?&#8221;</p>
<p>Kutipan di atas berasal dari drama musikal Wicked, adaptasi dari dongeng the Wizard of Oz. Kutipan ini mengajak kita merenung, saat kita melakukan suatu tindakan bajik, apakah kita benar-benar melakukannya untuk kebaikan atau hanya ingin dipuji, menghindari celaan, atau alasan la in yang ada di gambar di bawah ini?</p>
<div class="text_exposed_show">
<p>Buddha mengajarkan bahwa apapun yang kita lakukan barulah disebut praktik Dharma jika terbebas dari pengaruh 8 angin duniawi. Karenanya, sebelum berbuat bajik, kita harus ingat untuk menyetel motivasi kita agar tidak terpengaruh oleh angin-angin tersebut! Yuk sama-sama berlatih!</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Jangan lewatkan kedatangan Drepung Tripa Khenzur Rinpoche, filsuf ahli pemangku takhta Drepung, salah satu biara terbesar di Tibet yang membawahi 5.000 biksu, bulan April-Mei 2017 via Lamrimnesia!<br />
Info Lengkap: <a href="http://lamrimnesia.org/KR2017" target="_blank" rel="nofollow noopener">lamrimnesia.org/KR2017</a><br />
Untuk info lebih lanjut, hubungi:<br />
Aprianti +62853-7524-2326<br />
Erlina +62856-4306-1337</p>
</div><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/04/07/lamrim-buddhism-6-hindari-8-angin-duniawi/">It’s Lamrim it’s Buddhism #6 – Hindari 8 Angin Duniawi</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/04/07/lamrim-buddhism-6-hindari-8-angin-duniawi/">It&#8217;s Lamrim it&#8217;s Buddhism #6 &#8211; Hindari 8 Angin Duniawi</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jalan Tengah Stres</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2016/09/29/jalan-tengah-stres/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2016 09:33:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[keluar dari samsara]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan samsara]]></category>
		<category><![CDATA[samsara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://localhost/smartmag/?p=2338</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Oleh Judy Lief Hidup penuh dengan hal yang membuat stres. Walau banyak orang menyatakan bahwa kehidupan modern jauh lebih menekan daripada zaman dahulu, saya merasa sangsi. Makhluk hidup selalu harus berjuang demi keberlangsungan hidup, pangan, dan papan. Selalu ada tekanan untuk menemukan pasangan dan meneruskan keturunan. Anda dapat mengatakan bahwa pertanyaan tentang penderitaan, atau tekanan, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/jalan-tengah-stres/">Jalan Tengah Stres</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/jalan-tengah-stres/">Jalan Tengah Stres</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em>Oleh Judy Lief</em><b></b></p>
<aside class="sc-pullquote alignright">Apakah stres harus selalu dihindari? Dapatkah kita produktif saat stres? Apa gejala dan penangkal stres? Guru Buddhis Judy Lief menjelaskan stres dan pendapat ajaran Buddha tentangnya.</aside>
<p>Hidup penuh dengan hal yang membuat stres. Walau banyak orang menyatakan bahwa kehidupan modern jauh lebih menekan daripada zaman dahulu, saya merasa sangsi. Makhluk hidup selalu harus berjuang demi keberlangsungan hidup, pangan, dan papan. Selalu ada tekanan untuk menemukan pasangan dan meneruskan keturunan.</p>
<p><span id="more-2338"></span></p>
<p>Anda dapat mengatakan bahwa pertanyaan tentang penderitaan, atau tekanan, dan bagaimana menyikapinya sungguh pokok dalam Buddhisme. Inilah pertanyaan yang mendorong Buddha memulai perjalanannya, dan sepanjang perkembangannya ajaran Buddha telah mempelajari topik ini dari segala lapisan dan sudut pandang.</p>
<p>Bak peneliti medis, cendekiawan dan praktisi Buddhisme telah mendaftar detail-detail sindrom ini untuk mengobati gejalanya dan menemukan penangkalnya yang terampuh.</p>
<p>Jadi, apa itu stres dan bagaimana pendapat ajaran Buddhisme tentang cara menyikapinya? Bagaimana seharusnya kita bereaksi terhadap stres? Apakah kita harus selalu menghindarinya atau bisakah kita tetap produktif selagi mengalaminya? Sejauh apa stres berakar dalam kehidupan, atau semuanya hanya ciptaan kita sendri? Apa saja gejalanya dan apa pula penangkalnya?</p>
<p><b>Perasaan tertekan</b></p>
<p>Perasaan stres dapat dianggap sebagai sekelompok sensasi tak mengenakkan. Kita bisa jadi merasakan stres dalam bentuk tekanan, kekhawatiran, atau perasaan takut pada ruang tertutup. Kadang ada begitu banyaknya tantangan yang menghadang hingga kita seolah merasa tenggelam. Kita merasa tak sanggup, terkuasai oleh semuanya seperti kapal karam. Stres menyudutkan kita seolah tiada jalan keluar. Kita membatu, serasa tercekik oleh kekhawatiran yang membuncah. Saat stres, rasanya tak ada udara. Tak ada ruang. Tak ada kebebasan atau kesegaran. Dalam pengaruh stres, apa yang sebelumnya mudah bisa menjadi seperti mustahil dan ke manapun kita menoleh, rasanya tak ada jalan keluar. Dalam stres kita merasa kalut, seolah kita tengah ditarik hingga hampir putus.</p>
<p>Saat kita merasa tertekan, badan kita terasa tegang seolah menyusut. Secara mental, pemikiran kita semakin kaku dan tak mengalir luwes. Secara emosional, kita resah dan takut. Sedikit saja gangguan dapat membuat kita meledak penuh amarah. Bisa jadi pula kita malah menarik dan menutup diri. Kita lupa cara bernapas, seolah-olah seluruh badan kita adalah segumpal rasa sakit yang berdenyut-denyut.</p>
<p>Saat anda mulai memikirkan segala hal yang dapat membuat anda tertekan, anda tak akan berhenti. Awalnya mungkin persoalan yang dekat seperti kebutuhan membayar sewa atau mencari pekerjaan. Hanya dengan membaca koran, daftar itu bisa dengan cepat bertambah dengan masalah dunia seperti kelaparan, perang, kelebihan populasi, dan kerusakan lingkungan. Kita bahkan bisa menggunakan rasa resah dan tertekan yang kita rasakan terhadap masalah dunia ini sebagai semacam sertifikat bukti bahwa kita peduli, punya empati, dan sensitif.</p>
<p>Ketika kita mengalami stres, kita berusaha mencari seseorang atau sesuatu untuk disalahkan. Kita mengasumsikan bahwa pasti ada faktor luar yang menyebabkan kita merasa seburuk ini, dan bila kita menghilangkan faktor ini maka segalanya akan baik-baik saja. Jika memang ada faktor luar yang berlaku, kita memang bisa menghilangkannya begitu saja. Kita bisa berhenti menemui orang yang mengesalkan kita atau berhenti menyetujui hal yang dapat membuat kita berada di situasi tak mengenakkan. Tetapi, banyak situasi yang tak bisa kita apa-apakan, tak peduli betapapun situasi semacam itu menekan kita.</p>
<p><b>4 Macam Harapan dan Rasa Takut</b></p>
<p>Ada banyak peta dan geografi stres dalam ajaran Buddhis. Karena dianggap penting untuk berkomitmen melakukan apapun yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan taraf hidup semua makhluk, kita harus paham bagaimana kita sering menjebak diri dalam berlapis-lapis tekanan yang tak perlu, dan bagaimana kita mulai bisa keluar dari jebakan ini.</p>
<p>Untuk memulai, kita harus melihat apa yang melandasi tekanan emosional. Tekanan emosional digambarkan sebagai pola pikir yang mengakar. Karena terlalu banyak pikiran inilah kita membuat situasi tertekan semakin buruk. Dalam kebingungan kita, bukannya mengubah situasi atau sikap, kita malah menuang minyak ke dalam api.</p>
<p><i>Adalah satu hal untuk menyadari apa yang ingin kita tarik dan buang, dan adalah hal lain untuk menjadi terobsesi agar semua hal berjalan sesuai keinginan dan menjadi takut apabila terjadi hal yang berbeda.</i></p>
<p>Secara klasik, hal ini dijelaskan sebagai siklus harapan dan rasa takut yang tiada akhir, yang mendominasi kehidupan sehari-hari kita dari satu momen ke momen yang lain, dari awal hingga akhir. Filsuf Buddhis Nagarjuna menjelaskan harapan dan rasa takut dalam apa yang dinamainya 8 fokus duniawi: harapan untuk kebahagiaan dan rasa takut akan penderitaan; harapan untuk ketenaran dan rasa takut akan ketidakberartian; harapan untuk pujian dan rasa takut akan kecaman; serta harapan mendapat untung dan rasa takut akan kerugian. Singkatnya, tanpa berkesudahan, kita menghabiskan hidup setengah mati berusaha menahan sebagian hal dan membuang hal lain.</p>
<p>Anda mungkin bertanya: apa salahnya memilih kebahagiaan daripada kesedihan atau memilih pujian daripada kecaman? Bukankah yang kita inginkan memang mengejar kebahagiaan? Bukankah jelas bahwa untung lebih baik daripada rugi? Adalah satu hal untuk menyadari apa yang ingin kita tarik dan buang, dan adalah hal lain untuk menjadi terobsesi agar semua hal berjalan sesuai keinginan dan menjadi takut apabila terjadi hal yang berbeda. Masalahnya, harapan selalu bertalian erat dengan pasangannya, rasa takut. Mustahil satu hal muncul tanpa hal yang lain. Ketika kita terperangkap dalam siklus harapan dan rasa takut ini, kita selalu tegang sehingga bahkan pengalaman terbaik kita pun dihantui rasa waswas.</p>
<p><b>Kebahagiaan vs. Penderitaan</b></p>
<p>Dalam bentuk pertama harapan dan rasa takut, kita memandang segala sesuatu dalam bentuk kebahagiaan dan penderitaan, kesenangan dan kepedihan. Kita mengharapkan kebahagiaan, namun begitu mendapatkannya, muncullah rasa takut kehilangan. Karena rasa takut ini, kita berusaha menggenggam kebahagiaan begitu eratnya hingga kebahagiaan itu sendiri berubah menjadi sebentuk kepedihan. Begitu penderitaan muncul, pikiran positif macam apapun tak bisa mengusirnya. Semakin kita mengharapkan sebaliknya, semakin sengsaralah kita.</p>
<p><b>Ketenaran vs. Ketidakberartian</b></p>
<p>Dalam bentuk kedua harapan dan rasa takut, kita terobsesi pada ketenaran dan takut akan ketidakberartian diri. Kita berlomba-lomba mencapai puncak, lapar akan penghargaan, dan begitu kita tak mendapatkannya kita merasa kesal dan gampang tersinggung. Ketika kita menyadari betapa keras kita harus berusaha agar terlihat sebagai seorang yang istimewa, ketakutan kita akan ketidakberartian meningkat. Di belakang topeng ketenaran, kita menderita karena merasa diri kita kosong dan kesepian.</p>
<p><b>Pujian vs. Kecaman</b></p>
<p>Dalam bentuk yang ketiga, kita terobsesi pada pujian dan takut akan kecaman. Kita harus terus-menerus disemangati atau kita mulai meragukan nilai diri. Ketika kita tak memburu pujian, kita sibuk menutupi kesalahan kita agar tak ketahuan. Namun, tak pernah ada cukup pujian untuk memuaskan kita, dan kita tak pernah bebas dari perasaan ingin lebih. Hanya jika kita sempurnalah baru kita bisa terus-menerus mendapatkan pujian, namun sekalipun berusaha menggapainya, kita tak pernah berhasil meraihnya. Satu kesalahan kecil saja dapat memicu ketakutan kita lagi.</p>
<p><b>Untung vs. Rugi</b></p>
<p>Akhirnya, dalam jenis terakhir kita terobsesi pada untung-rugi. Kita menginvestasikan harapan tinggi pada tiap situasi, dan mengharapkan apabila terjadi peningkatan, maka kondisinya akan tetap demikian. Begitu menggodanya harapan ini hingga kita melupakan bagaimana mudahnya situasi dapat berbalik. Baru saja kita merayakan kesuksesan diri, kita jatuh terpuruk dan sekali lagi dicengkeram ketakutan. Harapan kita hancur dan kita takut kalau kita akan terus, terus jatuh. Secara sinambung,, segala sesuatu terlihat penuh harapan di satu detik dan musnah di detik berikutnya, dan apapun yang terjadi, kita merasa khawatir.</p>
<p>Siklus harapan dan rasa takut ini memenuhi pikiran kita dan merampas tenaga kita. Tak peduli apapun yang terjadi, kita merasa hal yang lebih baik atau berbeda dapat terjadi. Tak peduli seperti apapun kita, kita merasa bisa jadi lebih baik atau berbeda. Tak pernah ada yang cukup baik, sehingga kita tak pernah merasa tenang.</p>
<p><b>6 Pola Stres</b></p>
<p>Cara lain memandang stres adalah melalui anekdot 6 tingkat alam. 6 alam ini adalah alam dewa, alam asura (musuh kaum dewa), alam manusia, alam binatang, alam setan kelaparan, dan alam neraka. Mereka mewakili dunia pengalaman yang kita bentuk dari ketidakacuhan kita, yang kita tinggali dalam rasa takut. Mereka mewakili dunia yang penuh jerih-payah, dan tak peduli seberapa kerasnya kita berjerih-payah, kita tak pernah mendapatkan yang kita inginkan. Dikatakan bahwa kita berpindah dari satu dunia ke dunia lain terus-menerus dan sulit melepaskan diri. Setiap alam punya fokus, bentuk stres,  dan pola harapan-rasa takut masing-masing. Meski kita terperangkap dalam salah satu alam ini, tetap ada cara melepaskan diri dari kemelekatan yang menjerat dan menyebabkan stres dan penderitaan kita.</p>
<p><b>Alam Dewa dan Tekanan untuk menjadi Perfeksionis</b></p>
<p>Alam dewa merujuk ke dunia yang penuh keadaban. Alam ini penuh kebahagiaan spiritual, kesenangan material, atau kepuasan psikologis. Kebanggaan dan ketidakacuhan adalah bahan dasarnya, sehingga anda dapat larut dalam ilusi ‘semuanya serba-aku’. Berada dalam alam ini bak mimpi yang jadi nyata. Namun ketika anda mendapat segala yang anda impikan, anda cemas segalanya akan lenyap. Anda mungkin membangun persembunyian, entah dalam bentuk pusat retret spiritual, komunitas tertutup, atau dunia imajinasi. Namun, untuk tetap mempertahankan pulau kesempurnaan yang demikian, anda harus menutup mata dari penderitaan. Anda harus menutup hati karena tak ingin merusak suasana yang melingkupi anda atau merasakan hal tak mengenakkan barang sedikit pun, seperti apa pun itu. Oleh karenanya, anda tak mengacuhkan segala sesuatu yang mengancam kondisi kesenangan ini.</p>
<p><i>Semakin anda perhatian pada cacat dalam rencana, semakin luas sudut pandang anda. Dengan pemikiran yang lebih lapang, pola pikir mengejar segala sesuatu larut menjadi ketidakberartian.</i></p>
<p>Rasanya seolah alam ini stresnya sedikit sekali, tetapi di bawah permukaan kebanggaan spiritual dan kedamaian, mengalirlah sungai ketakutan. Anda harus menggenggam diri anda erat-erat untuk memperpanjang pengalaman istimewa anda dan menghalanginya berkurang. Anda berharap pengalaman transendental anda akan terus berlanjut, tapi juga takut anda tak mampu bertahan. Masalahnya, begitu anda menciptakan area terlindung dan memagarinya, entah secara harfiah atau psikologis, anda tak hanya harus berjuang mempertahankannya, namun stres juga akan muncul karena anda tahu pengalaman anda adalah sesuatu yang dibuat-buat, tidak nyata. Namun, ada masa ketika anda melepas usaha itu dan muncullah sesuatu yang baru. Semakin anda perhatian pada cacat dalam rencana, semakin luas sudut pandang anda. Dengan pemikiran yang lebih lapang, pola pikir mengejar segala sesuatu larut menjadi ketidakberartian.</p>
<p><b>Alam Asura dan Tekanan untuk Mengadu Kehebatan</b></p>
<p>Alam asura ditandai dengan iri hati, ketergesaan, dan jiwa kompetitif. Dalam alam ini, anda tak pernah puas dengan apa yang anda miliki jika anda melihat ada yang punya lebih. Anda berjuang sepanjang waktu, takut berhenti barang sejenak, takut posisi anda akan dilampaui seseorang. Anda hanya dapat mengukur diri sendiri dalam perbandingan dengan orang lain di depan dan di belakang.</p>
<p>Ini bagaikan lari di mesin <i>treadmill</i>, namun anda tak bisa berhenti. Anda terus berlomba dan melihat segala sesuatu sebagai urusan menang-kalah. Terbakar kecemburuan, anda terkungkung dalam jiwa kompetitif, terjebak dalam pacuan pencapaian tanpa jeda.</p>
<p>Jika anda terus terobsesi kesuksesan dan kegagalan, menang dan kalah, gerakan anda akan terbatasi dan dipenuhi tekanan. Namun, ada kalanya apa yang anda lakukan sudah jelas, dan segalanya menjadi lebih mudah dan efektif. Hal ini memberi anda kesempatan mengintip kemungkinan-kemungkinan lain dalam melakukan sesuatu, cara-cara lain untuk bekerja lebih terampil dan dengan usaha lebih sedikit.</p>
<p><b>Alam Manusia dan Tekanan karena Kurangnya Kepercayaan Diri</b></p>
<p>Alam manusia adalah alam hasrat dan kebutuhan akan hubungan. Anda merasa tak utuh dan selalu mencari cara mengisi kekosongan itu. Ketika merasa kesepian, anda berusaha menghubungkan diri dengan orang lain, namun begitu hubungan terbentuk, anda merasa terperangkap dan kecewa. Ketika anda menemukan seseorang yang bisa ‘nyambung’, anda mempertimbangkan apakah anda bisa menemukan orang yang lebih baik. Apapun yang anda lakukan, anda merasa ada sesuatu yang lebih baik yang anda lewatkan.</p>
<p>Di alam manusia, anda terpacu oleh kebutuhan dan kehendak. Anda mengkhawatirkan sosok anda dalam pandangan orang lain dan terobsesi pada ketenaran anda. Walau anda membentuk hubungan-hubungan dengan aneka kepentingan, tak ada yang stabil. Anda selalu merasa tak aman, pikiran anda melompat dari satu hal ke hal lain. Di atas semua itu, anda terlalu banyak berpikir, sehingga segalanya semakin rumit. Di alam manusia, anda tak lagi merasa utuh dan takut pada kerentanan diri anda.</p>
<p>Jika anda kerap mencari pengakuan dari luar, anda akan terus dirundung perasaan tertekan. Namun, dari waktu ke waktu, ada saatnya pemahaman spontan terpercik dalam diri anda. Pemahaman ini begitu jelasnya sehingga anda tak lagi butuh pengakuan dari luar. Anda menemukan bahwa anda tak perlu selalu meragukan diri sendiri. Anda dapat menghargai apa yang anda rasakan meski anda tahu mungkin ada hal yang lebih bagus di luar sana.</p>
<p><b>Alam Hewan dan Tekanan karena Kebiasaan</b></p>
<p>Di alam hewan, anda membentuk kebiasaan yang membosankan dan rutin, namun anda kekurangan imajinasi untuk melakukan hal di luar itu dan takut berubah. Anda terpaku pada cara anda dan merasa terancam dengan usulan baru. Anda mungkin mendapat inspirasi untuk berubah sesekali, namun kemalasan dan kelembaman menghentikan anda. Anda tak ingin terjebak, tapi tetap saja anda melakukan hal yang sama berulang-ulang. Anda dipenuhi ketidakacuhan dan takut mencoba hal yang berbeda dari biasanya, meski hal yang biasanya ini kurang memuaskan. Anda menciptakan birokrasi yang penuh peraturan dan prosedur tak jelas.</p>
<p>Seseorang dalam alam ini mungkin terlihat tenang dan mapan, namun ini bukanlah kemapanan yang sesungguhnya. Ini bak bantal pelindung yang melindungi mereka dari energi dan intensitas kehidupan. Keterjebakan dalam alam hewan kadang bisa terasa nyaman, namun rasa itu kemudian akan menjadi berat dan menekan, dan anda takut bahwa hal ini takkan pernah berubah.</p>
<p>Stres dalam alam ini tidak tajam, namun tumpul. Kebiasaan badan dan pikiran anda terasa padat dan liat. Ada energi yang membekukan pemikiran. Sekalipun segalanya terasa sesak, kadang terasa ada bukaan dan sesuatu yang tajam menembusnya. Anda mulai mengerti sengsaranya perasaan ini, yang diperkuat oleh perasaan negatif dan kehilangan yang dimunculkan oleh ketidakacuhan anda pada hal-ihwal di sekeliling anda.</p>
<p><b>Alam Setan Kelaparan dan Tekanan karena Tak Pernah Merasa Puas</b></p>
<p>Di alam setan kelaparan, anda mau lebih, lebih banyak lagi, tapi tak pernah merasa puas. Tak peduli betapa banyaknya kekayaan bertimbun, anda tetap merasa miskin. Selalu ada uang lebih yang harus didapat, lebih banyak kekuatan, lebih banyak pengaruh yang bisa anda raih. Jika anda tak bisa bergaul dengan yang terbaik dan terhebat, anda merasa kosong. Anda ditopang keserakahan dan selalu merasa lapar. Tanpa segala harta anda yang mengiringi, anda merasa telanjang, sehingga anda terus menambah lebih banyak lagi. Ada kesenangan dalam memiliki segala yang paling baik dan banyak, namun tak ada titik perhentian dan tak ada kepuasan yang sebenarnya, tak peduli seberapa banyaknya hal-ihwal yang telah anda kumpulkan.</p>
<p>Di alam setan kelaparan, ada kontras kuat antara kemiskinan di dalam dan kekayaan di luar. Kebutuhan memuaskan kelaparan di dalam dapat mendominasi hidup anda, tapi anda dapat keluar dari pola ini dan menyeimbangkan keadaan di dalam dan di luar diri, sehingga penghargaan yang anda berikan pada kekayaan di luar diimbangi dengan pengertian terhadap kekayaan di dalam.</p>
<p><b>Alam Neraka dan Tekanan karena Pertikaian Tiada Henti</b></p>
<p>Di alam neraka, anda selalu diliputi amarah. Anda membuat musuh di mana-mana, dan anda selalu bertengkar. Anda selalu resah, defensif, siap menyalak. Anda takut jika anda bersantai, anda akan terancam atau dihancurkan, sehingga anda selalu menyerang lebih dulu. Diri anda seolah panas bagai bara atau beku bagai es. Dipenuhi kebencian, anda menciptakan konflik dan pertikaian dalam berbagai skala. Anda ketakutan dan dipenuhi kepedihan seperti tikus yang tersudut, dan anda hanya bisa terus menyerang.</p>
<p>Campuran rasa benci, pedih, dan marah ini membuat kita sulit bernapas. Melihat dunia dalam pengertian aku vs. mereka, siapapun yang tak setuju dengan anda akan langsung menjadi musuh anda. Kemarahan dan keinginan bertikai ini terus tumbuh. Namun, ada kalanya anda terlepas dari neraca ekstrim ini. Anda keluar dari medan pertempuran dan menikmati perasaan apapun yang anda alami.</p>
<p><b>3 Pelaku</b></p>
<p>Mesin penggerak segala jenis stres ini terdiri dari 3 pelaku: keterpakuan pada ego, kemelekatan emosional, dan kebiasaan rutin. Jika anda merenungkan amarah anda, kemiskinan mental, jiwa kompetitif, dan keserakahan, anda akan menemukan ketiganya di sana. Jika anda menyelidiki siklus harapan-ketakutan yang anda rasakan, akan anda temukan bahwa merekalah penyebabnya.</p>
<p>Tiga serangkai ini bak mafia internal yang menuntut uang keamanan tiap hari. Begitu kita lupa diri dan hanya akrab dengan keakuan yang dinamakan ‘saya’, ’aku’, atau ’diri saya’, kita mengeluarkan segala negativitas kita – segala hasrat, ketidakacuhan, kebencian, dll. Begitu semua energi ini terlepas, kita mulai melakukan hal bodoh dan riskan. Kita menuai konsekuensi dari hal yang kita lakukan, dan siklusnya akan dimulai dari awal lagi karena kita akan bereaksi dengan cara yang riskan pula.</p>
<p>Pada dasarnya, sampai kita bisa menembus akar penopang-penopang utama dari stres yang kita alami dalam kehidupan, kita akan terus terlempar dari harapan ke rasa takut dan siklus 6 alam. Tingkat stres kita akan pasang-surut sehingga kita akan mengalami masa baik dan buruk, namun selalu akan ada stres yang bersembunyi dalam segala hal yang kita lakukan.</p>
<p><b>Stres dan Perkembangan</b></p>
<p>Mengenal stres tak hanya sekadar untuk mengurangi stres kita dan menjadi santai. Stres dalam jumlah tertentu dibutuhkan untuk berkembang, dan terkadang kita harus sengaja memosisikan diri kita di situasi yang akan membuat kita tertekan. Mudah sekali mencampuradukkan antara kepuasan atau kedamaian dengan kedamaian-semu dari kelembaman dan ketakutan untuk berubah. Guru besar seperti Nagarjuna dan Sakya Pandita mengatakan bahwa untuk belajar kita harus mendorong diri sendiri, dan untuk berkembang kita harus melepaskan diri dari kemudahan. Menurut Nagarjuna, ”Jika anda ingin kemudahan, korbankanlah pembelajaran. Jika anda ingin belajar, korbankanlah kemudahan.” Sakya Pandita menulis, ”Saat belajar, mereka yang bijak akan menderita; Tanpa memaksakan diri, mustahil menjadi bijak”. Kenyataannya, tak ada yang namanya hidup yang bebas stres. Hidup adalah pergerakan, dan pergerakan diliputi tekanan. Tanpa stres, takkan ada jalan, kebijaksanaan, dan pencapaian. Ironisnya, tanpa stres, kita tak bisa merasa nyaman.</p>
<p><i>Menurut</i> <i>Nagarjuna, ”Jika anda ingin kemudahan, korbankanlah pembelajaran. Jika anda ingin belajar, korbankanlah kemudahan”.</i></p>
<p>Chögyam Trungpa Rinpoche mendorong murid untuk mencari ‘sisi tajam’ dari sebuah pengalaman. Semua ini menunjukkan bahwa meski stres biasanya menjadi halangan, ia dapat pula menjadi katalis pertumbuhan. Trungpa Rinpoche secara rutin memosisikan muridnya di luar zona nyaman mereka dan mendorong mereka melakukan hal yang sama atas inisiatif sendiri. Ia terutama sekali mengkritik pendekatan yang selalu mencari kenyamanan (memakai baju longgar yang nyaman, berdiam di rumah ber-AC, atau menerima segala sesuatu begitu saja). Ia mengajarkan bahwa ketidaknyamanan bukan sesuatu yang mesti dianggap menyebalkan, melainkan justru sebagai pengingat tentang pentingnya menjaga disiplin berkelanjutan.</p>
<p>Kita tak hanya harus membiarkan diri kita kadang-kadang tertekan, namun juga harus bisa membiarkan orang lain belajar dengan cara yang sama. Sulit melihat seseorang bergumul sendiri tanpa merasa khawatir dan ingin membantu. Seringkali, anda memang harus membantu. Tapi, realitas tak selalu semudah itu. Contohnya, saya dengar bahwa bila anda merasa kasihan pada kupu-kupu yang tengah berusaha melepaskan diri dari kepompongnya, dan anda ingin memudahkannya dengan membantunya keluar, kupu-kupu ini akan keluar sebagai sosok yang lemah dan mungkin sekali mati. Kupu-kupu butuh stres yang akan mendorongnya keluar sendiri untuk menjadi kuat dan mengeringkan sayap-sayapnya. Sama halnya, seorang tukang kebun ulung memberitahu saya bahwa ketika menanam tumbuhan muda, akan lebih baik bila tak memberinya penopang. Ia berkata bahwa apabila si tunas harus bertahan dari angin dan cuaca, akarnya akan menjadi lebih kuat dan sehat. Dengan contoh ini, sekali lagi, ada pengakuan bahwa perkembangan membutuhkan stres atau rasa sakit. Bunga dalam rumah kaca atau anak yang terlalu dimanja tak punya keterampilan yang cukup untuk bertahan hidup.</p>
<p><b>Jalan Tengah Stres</b></p>
<p>Jelaslah bahwa stres dalam jumlah tertentu adalah bagian alami kehidupan, namun seberapa banyak dan stres seperti apa? Bagaimana kita bisa menangani sesuatu yang menantang namun tak berlebihan?</p>
<p>Tradisi Buddhis mengakui realitas stres dan ketidaknyamanan. Penggambaran tentang stres, kepedihan, dan penderitaan yang mengiringi kita baik secara individual maupun kolektif dari awal sampai akhir adalah sesuatu yang realistis (meski tak membuat nyaman). Ajaran sederhana dari kebenaran agung yang pertama, kebenaran tentang penderitaan, mungkin justru yang paling sulit dimengerti dan diterima. Kita terus mengira bahwa dengan memperbaiki ini-itu, mengubah ini-itu, kita dapat menghindarinya. Kita terus berpikir bahwa kalau saja kita lebih pintar, lebih cantik, lebih kaya, lebih berkuasa, tinggal di suatu tempat lain, lebih muda, lelaki, perempuan, lahir di keluarga lain – dan lain sebagainya – maka keadaan akan berubah. Tapi, keadaan akan tetap sama; segala sesuatu akan tetap seburuk sekarang juga! Karena tidak realistis bila mengharapkan kehidupan yang bebas stress, dan hal inipun memang tak baik juga, lebih masuk akal untuk belajar menghadapi stres yang akan muncul.</p>
<p>Dalam mengatasi stres kita harus mempertimbangkan kondisi yang tengah dihadapi dan bagaimana kita akan menyikapinya. Kadang kita bisa menghilangkan sebab dan kondisi yang membuat kita stres, tapi kadang tidak demikian. Karena itu, penting untuk bisa membedakan antara keduanya. Jika kita bisa mengubah situasi kita jadi lebih baik, kita harus melakukannya. Tak ada gunanya meratapi apa yang tak bisa kita ubah. Dalam situasi ini, kita harus mengubah sikap.</p>
<p><i>Jika pengalaman kita memang demikian adanya, kita dapat melihat bahwa dunia tak sedang berusaha menzalimi kita, dan tak pula mengonfirmasi perbuatan kita. Semuanya hanya hasil dari pertalian sebab dan kondisi.</i></p>
<p>Kita harus bisa realistis dan jujur pada diri sendiri sehingga takkan menahan diri saat berbuat sesuatu, sementara di sisi lain, kita juga takkan melakukan sesuatu yang sia-sia. Dalam memandang situasi eksternal, kita tak perlu menutupi masalah atau memandang dunia dengan secara naif. Namun, anda juga tak perlu melarutkan diri dalam segala permasalahan dunia yang anda temukan di berita, atau terpaku pada segala keburukan yang anda temui di kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Ketika seseorang bertanya pada guru besar Kamboja, Mahagosananda, ihwal caranya mempertahankan keceriaan dan ketenangannya dalam rezim Khmer Merah yang kejam dan mengerikan, ia tersenyum dan berkata, ”Hidup itu ada naik-turunnya”. Ada ajaran mendalam dalam pernyataan ini. Jika kita bersikap begitu, kita bisa melepas harapan-harapan besar kita tentang bagaimana seharusnya hidup kita berjalan. Kita akan jadi lebih bebas dalam menyikapi apapun yang kita hadapi. Jika pengalaman kita memang demikian adanya, kita dapat melihat bahwa dunia tak sedang berusaha menzalimi kita, dan tak pula mengonfirmasi perbuatan kita. Semuanya hanya hasil dari pertalian sebab dan kondisi.</p>
<p>Sikap ini berbeda dari sikap pasif atau keterputusan dalam artian sikap acuh tak acuh, kepasrahan, dan fatalisme yang negatif. Sebaliknya, sikap ini membentuk interaksi cerdas dengan dunia, yang tak sekadar reaktif, yang realistis dan tak mengawang-awang. Meminjam ujaran dari Guru besar Mahayana, Shantideva, “Ketika anda bisa berbuat sesuatu, maka lakukanlah. Kenapa harus cemas? Ketika anda tak punya kemampuan atau situasi tak mendukung untuk berbuat apapun, kenapa cemas?” Khawatir dan stres takkan membantu siapapun.</p>
<p><b>Melatih Batin dan Hati</b></p>
<p>Yang saya sukai dari Buddhisme adalah kepraktisan dan optimismenya. Anda mungkin jenis orang yang gampang sekali mengalami stres, atau bisa jadi berkulit lebih tebal, atau bahkan tak sadar dengan keadaan sekitar. Yang jelas, anda takkan terjebak stres hanya karena terlahir dengan stres. Tak peduli di titik mana anda mulai, anda bisa memperbaiki hubungan anda dengan stres ke arah yang lebih baik. Hal ini tak bisa terjadi dengan sekadar berharap atau berpura-pura menjadi orang lain, tapi hanya dengan melatih batin dan membuka hati.</p>
<p><i>Tak peduli di titik mana anda mulai, anda bisa memperbaiki hubungan anda dengan stres ke arah yang lebih baik. Hal ini tak bisa terjadi dengan sekadar berharap atau berpura-pura menjadi orang lain, tapi hanya dengan melatih batin dan membuka hati.</i></p>
<p>Perkakas utama untuk melatih jiwa adalah praktik pikiran berkesadaran. Melalui praktik ini, anda belajar menenangkan pikiran dan menjinakkannya. Selagi anda memusatkan pikiran pada napas, anda menjadi semakin akrab dengan pikiran anda sendiri. Pikiran menjadi lebih kokoh, seolah beratnya bertambah dan tak lagi mudah goyah oleh terpaan-terpaan ringan. Amat menenangkan untuk tahu bahwa di tengah segala kerusuhan yang berlangsung dalam hati, dalam naik-turunnya kehidupan, selalu ada yang stabil dan bisa diandalkan terkait batin anda. Ketika keadaan menjadi sulit dan stres mulai mengambil alih diri anda, anda dapat menarik kekuatan dari dalam.</p>
<p>Bersama dengan pikiran berkesadaran, ada pula cara melatih hati agar menjadi lebih terbuka dan penuh welas asih. Praktik welas asih menarik anda dari diri sendiri dan mengingatkan anda tentang orang lain. Ketika anda merasa tekanan menghimpit dan menarik diri anda, anda bisa melawan godaan untuk menutup diri. Anda dapat melihat keadaan sekitar dan, melalui welas asih, meraih sudut pandang yang lebih luas.</p>
<p>Stres bertambah kuat ketika pikiran anda melayang dan tak stabil, dan semakin terasa ketika anda terpaku pada diri dan masalah-masalah anda sendiri. Praktik pikiran berkesadaran dan welas asih memberi anda jalan mengatasi permasalahan semacam ini. Tidaklah realistis untuk mengharapkan hidup yang bebas stres, namun ada kemungkinan besar untuk mengubah cara anda menyikapinya. Stres memunculkan kebiasaan buruk di dalam batin dan hati. Daripada menganggapnya sebagai musuh, anggaplah stres sebagai guru, dan bersyukurlah padanya.</p>
<p><em>(Sumber: Lionsroar.com | diterjemahkan oleh Lisa Santika Onggrid)</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/jalan-tengah-stres/">Jalan Tengah Stres</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2016/09/29/jalan-tengah-stres/">Jalan Tengah Stres</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
