<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>keagungan ajaran - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/keagungan-ajaran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 Jun 2018 03:23:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>keagungan ajaran - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 2)</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/07/31/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Jul 2017 09:56:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[#bhinneka]]></category>
		<category><![CDATA[#budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#ilovebhinneka]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3588</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>(Catatan: isi artikel ini merupakan opini dari sudut pandang narasumber non-Buddhis sehingga belum tentu sepenuhnya menggambarkan nilai-nilai Buddhis.) Dua agama dengan pengikut terbesar di Asia Tenggara adalah Islam dan Buddha. Dari total populasi 618 juta orang, 42 persen adalah Muslim dan 40 persen beragama Buddha. Lalu, 25 persen dari 1,6 miliar umat Muslim di dunia [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/07/31/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-2/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 2)</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/07/31/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-2/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 2)</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em>(Catatan: isi artikel ini merupakan opini dari sudut pandang narasumber non-Buddhis sehingga belum tentu sepenuhnya menggambarkan nilai-nilai Buddhis.)</em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dua agama dengan pengikut terbesar di Asia Tenggara adalah Islam dan Buddha. Dari total populasi 618 juta orang, 42 persen adalah Muslim dan 40 persen beragama Buddha. Lalu, 25 persen dari 1,6 miliar umat Muslim di dunia dan 38 persen dari 350 juta umat Buddha di dunia berada di Asia Tenggara. Namun, dialog antara dua agama ini sangat jarang terjadi sekarang ini. Untuk membahas permasalahan ini, anggota staf CRCS, Azis Anwar, mewawancarai Prof. Imtiyaz Yusuf, direktur Center for Buddhist-Muslim Understanding dari Mahidol University, Thailand. Beliau mendapatkan gelar Doktor di Temple University, tempat dia belajar di bawah bimbingan Ismail Raji al-Faruqi. Prof. Yusuf telah banyak menulis catatan ensiklopedia dan artikel-artikel harian, serta menjadi penulis tetap untuk surat kabar “Thai Newspaper”. Beberapa karyanya bisa diakses di akun academia.edu. Selama sesi antara di CRCS dari tanggal 15 Mei sampai 31 Juli, Prof. Yusuf mengajarkan mata kuliah Hubungan Muslim-Buddhis.</span></p>
<p><b>Bisakah Anda memberitahu kami secara singkat tentang sejarah umat Muslim di Thailand? Yang kebanyakan kami dengar hanyalah tentang Muslim Pattani.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Izinkan saya untuk bercerita sedikit tentang Pattani. Konflik Pattani pada dasarnya adalah antara orang Siam dan orang Melayu. Jika Anda pergi ke Pattani hari ini (dan saya tinggal selama 5 tahun di sana), mereka akan mengatakan bahwa mereka adalah orang Melayu yang berada di bawah orang Siam. Konflik terjadi antara dua kerajaan: kerajaan besar Siam dan kerajaan Pattani.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kini, secara historis di Siam, ada imigran Muslim dari Persia, India, dan sebagian Malaysia (Kedah dan Perlis). Saya membagi jenis Muslim di Thailand dengan cara berikut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di bagian selatan (Pattani, Yala, Narathiwat), yang dianeksasi oleh Siam sekitar 100 tahun yang lalu, penduduknya adalah Muslim berbahasa Melayu Thailand Selatan. Mereka mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Melayu dan tidak berbicara bahasa Thailand. Jadi, ada banyak lapisan dalam konflik Pattani: isu identitas etnis (Siam dan Melayu), bahasa (Thailand dan Melayu), dan agama. Masalah Pattani pada dasarnya adalah masalah dua identitas etno-religius.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di bagian selatan, ada orang Melayu; Muslim Thailand. Mereka adalah orang-orang dari Kedah dan Perlis yang bermigrasi ke Thailand karena alasan ekonomi; tidak ada perbatasan pada masa itu, dan mereka tidak memiliki kerajaan. Mereka datang ke Nakhon Sithammarat, Phuket, Phanga, Krabi, dll.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Bangkok, terdapat orang Persia, yang telah berada di sana selama 400 tahun, dari zaman Raja Narai (1633-1656). Juga ada Muslim Cham, yang bermigrasi dari Kerajaan Champa dan bekerja sebagai tentara Raja Chulalongkorn (1868-1910). Di Bangkok, ada daerah yang disebut Makkasan, dekat kedutaan Indonesia, di mana Muslim Makassar setiap tahunnya merayakan hari kelahiran Raja Chulalongkorn, karena dia memberi mereka perlindungan, dan karenanya mereka sangat berterima kasih kepadanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada daerah lain di Bangkok yang disebut Kampong Jawa, di mana orang Jawa bermukim. Jika Anda ingin makan makanan khas Jawa, pergilah ke sana. Anda tahu, salah satu putra Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah, salah satu organisasi Muslim terbesar di Indonesia) tinggal di Masjid Jawa di daerah ini. Orang ini datang bukan sebagai anak kyai; dia datang sebagai pembersih masjid. Perlahan, orang-orang tahu bahwa pria ini adalah putra Ahmad Dahlan. Dia kemudian memengaruhi beberapa pengusaha dan pembaharu Muslim Thailand terkemuka; salah satunya adalah ipar laki-laki saya, yang menerjemahkan Al-quran ke bahasa Thai.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penganut Salafi di Thailand (dan saya telah menulis makalah tentang ini) bukankah penganut Salafi-Wahhabi. Reformasi Salafi muncul di Bangkok pada tahun 1926 seiring dengan kedatangan seorang cendekiawan Muslim Indonesia bernama Ahmad Wahab, yang telah belajar di Mekah sebelum kembali ke Indonesia dan selanjutnya diasingkan ke Thailand. Ahmad Wahab diasingkan ke Thailand oleh otoritas Belanda karena keterlibatannya dengan gerakan reformis Muhammadiyah dan gerakan politiknya di Sarekat Islam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Bangkok, Ahmad Wahab, bersama-sama dengan Muslim Thailand yang berpikiran sama seperti Direk Kulsiriswad dan yang lainnya, membentuk asosiasi Ansorusunnah pada tahun 1930-an dan Jamiyatul Islam pada tahun 1950-an. Pengaruh religius dari kegiatan reformis Ahmad Wahab dalam Islam Thailand diperluas ke bagian utara dan selatan Thailand, yakni di kalangan Muslim berbahasa Thai Chiang Mai dan Chiang Rai di utara, serta Pak Prayoon di Provinsi Phatthalung dan Nakorn Sithammarat di selatan bagian atas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di Bangkok, ada juga komunitas Muslim India, yang terdiri dari orang Kerala dan Tamil. Dan mereka juga datang pada zaman Raja Chulalongkorn.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang, mari kita naik lagi, ke timur laut Thailand. Di sini, Anda memiliki Muslim Pathan. Mereka datang dari Afghanistan. Mereka adalah penganut mahzab Hanafi. Mereka adalah pejuang atau tentara yang dibawa ke sana oleh Inggris. Ada banyak usaha peternakan di sana. Sebagian besar industri halal di Thailand ada di tangan Muslim Pathan ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang, kita pergi ke utara, ke Chiang Mai dan Chiang Rai. Di sana, Anda akan menemukan dua jenis Muslim. Mayoritas adalah Muslim Tionghoa yang berasal dari Yunan, bagian selatan Tiongkok. Mereka adalah bagian dari Partai Kuomintang, loyalis Sun Yat Sen, yang melarikan diri ke Taiwan. Saat Mao Tse Tung mulai berkuasa di Tiongkok, orang-orang Muslim ini pertama-tama melarikan diri ke Myanmar, dan kemudian ke Chiang Mai dan Chiang Rai. Mereka juga penganut mazhab Hanafi. Dan mereka adalah yang paling berkembang di antara komunitas Muslim di Thailand. Yang lainnya adalah orang Benggala, yang mencari penghidupan dan bermigrasi dari Bengal ke Myanmar, lalu ke Thailand.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang-orang sering memikirkan Pattani, sementara hanya ada 44% Muslim di Thailand yang tinggal di Pattani. Sisanya tersebar di seluruh negeri. Di parlemen terakhir dari pemilu 2007, kami memiliki 23 anggota parlemen Muslim, dan hanya 11 dari mereka yang berasal dari Pattani.</span></p>
<p><b>Bisakah kita mengatakan bahwa konflik Pattani adalah sebuah pemberontakan?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini adalah pemberontakan, seperti di Kashmir, Papua, Palestina; Dan ini adalah konflik etno-religius. Mereka adalah nasionalis. Mereka ingin identitas Melayu-Muslim mereka dikenali. Ada kaum separatis, tetapi kebanyakan hanya menginginkan otonomi. Pemimpin gerakan ini adalah Haji Sulong yang, pada masa Phibunsongkhram, menyampaikan tujuh tuntutan kepada pemerintah Thailand. Hanya satu dari tujuh tuntutan ini yang terkait dengan agama. Sisanya tentang identitas etnis, bahasa, pemerintahan, administrasi, dan tuntutan politik lainnya.</span></p>
<p><b>Kapan pun ada pemberontakan seperti itu, dengan umat Muslim sebagai gerilyawannya, kelompok teroris seperti Al-qaeda atau ISIS biasanya ikut mengambil keuntungan. Apakah mereka datang ke Thailand?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak, mereka tidak bisa. Banyak orang Barat setelah 9/11 datang mencari teroris atau jihadis di Thailand Selatan, dan mereka tidak menemukan siapa pun. Muslim Pattani tidak menginginkan negara Islam. Mereka sangat jelas tentang ini. Mereka mengatakan: perjuangan kami bersifat nasionalis. Baca narasi mereka. Narasi mereka adalah tentang sejarah kerajaan Pattani masa lalu, bukan tentang negara Islam. Kerajaan Pattani memiliki tujuh perempuan sebagai sultanah (ratu) Pattani. Dalam sebuah negara Islam, bisakah Anda memiliki seorang ratu? Tidak.</span></p>
<p><b>Beralih ke negara di sebelah Thailand, apa persamaan antara kasus Thailand dan isu Rohingya di Myanmar?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada isu Rohingya, pertama-tama, ada unsur rasisme. Orang Rohingya adalah etnis Benggala. Mereka berasal dari Asia Selatan seperti saya, bukan Mongoloid seperti Anda. Myanmar terletak di perbatasan geografis tempat ras Arya berhenti dan ras Mongoloid muncul. Sebagian besar orang Rohingya berasal dari daerah Arakan/Chittagong, yang sekarang merupakan bagian dari Myanmar dan Bangladesh. Mereka bermigrasi ke Myanmar karena alasan ekonomi. Saat datang ke Myanmar, mereka menjadi beban ekonomi. Masyarakat setempat tidak menghendaki kedatangan orang luar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebelumnya, ada sebuah negara bernama Arakan. Negara bagian Arakan berbatasan dengan Chittagong, yang merupakan bagian dari Bangladesh. Tidak ada perbatasan pada masa itu. Ada seorang raja Buddhis Arakan dan ada Muslim Arakan. Mereka tinggal bersama untuk waktu yang lama karena tidak ada batas geografis. Kemudian, seorang raja Buddhis Burma menyerang negara Arakan dan mengalahkan raja Buddhis Arakan itu. Raja Buddhis Arakan ini kemudian melarikan diri ke daerah Benggala, ke Bangladesh (seperti yang kita sebut hari ini). Orang Benggala kemudian membantunya memenangkan takhtanya. Raja Arakan bersimpati pada orang Benggala. Banyak orang Benggala kemudian bermigrasi ke Arakan. Kemudian pedagang Arab masuk. Dan muncullah sebuah kelompok baru di Arakan yang kita kenal sebagai Muslim Arakan. Umat Muslim dan Buddhis hidup berdampingan. Jika Anda meneliti catatan historis pada periode itu, Anda akan mendapati bahwa raja Buddhis memiliki gelar Arab. Koin kerajaannya dibuat dalam bahasa Arab. Dia mengagumi budaya Muslim. Apa yang terjadi kemudian adalah Raja Burma menyerang Arakan lagi dan mengakhiri kerajaannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu, datanglah orang Inggris yang mengendalikan Arakan. Pemerintahan Inggris berakhir dengan kemerdekaan, dan dari sini muncul sebuah masalah: Muslim Arakan berada di bawah tekanan Burma. Burma adalah ras mayoritas di Myanmar. Mereka ingin menguasai semua kelompok etnis di Myanmar, jadi mereka ingin menguasai negara Arakan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebelum merdeka, Muslim Arakan saat itu berpikir bahwa jika mereka berada di bawah orang Burma, mereka akan menjadi tertindas. Maka, pemimpin Muslim Arakan berbicara dengan Muhammad Ali Jinnah, pendiri Pakistan. Ada Pakistan Timur dan Pakistan Barat. Pakistan Timur berada di sebelah Myanmar, yaitu Bangladesh. Pemimpin Muslim Arakan mengatakan bahwa mereka ingin pindah ke Pakistan Timur. Muhammad Ali Jinnah kemudian berbicara dengan Jenderal Aung San, ayah dari Aung San Su Kyi, seorang pemersatu bangsa seperti Sukarno. Jenderal Aung San berkata kepada Ali Jinnah: Tidak, orang-orang ini tidak perlu pergi ke Pakistan; mereka dilindungi oleh Myanmar, yang akan segera merdeka. Sayangnya, Jenderal Aung San terbunuh sebelum kemerdekaan Myanmar. Tentara kemudian mengambil alih Myanmar, dan mereka mengubah nama Arakan menjadi Rakhine. Mereka ingin menghapus identitas historis tentang koeksistensi Buddhis-Muslim.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Myanmar adalah negara yang keras. Selalu ada ketegangan antara Burma dan kelompok etnis lainnya. Tentara menjadikan Buddhisme sebagai identitas nasional. Mereka juga menginginkan Rakhine menjadi Buddhis. Orang Rakhine sebenarnya tidak menyukai orang Burma. Maka, terjadilah perang antara tentara Buddhis Rakhine, yang ingin memisahkan diri dari Myanmar, dengan tentara Burma. Sekarang, mereka telah dicuci otak bahwa negara Arakan adalah negara Muslim, yang sebenarnya tidak benar. Jadi, mereka pun melawan Rohingya. Inilah kemunculan identitas Rohingya. Umat Muslim mulai mengatakan bahwa kami adalah Muslim Arakan, bahwa kami adalah penduduk asli yang sah dari tanah ini, dan bahwa kami adalah Rohingya. Kata &#8220;Rohingya&#8221; akhirnya muncul.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, tentara Burma mengumumkan orang Rakhine sebagai satu-satunya penghuni sah wilayah Rakhine. Hal ini menyebabkan bangkitnya nasionalisme Rakhine melawan orang Rohingya. Kaum nasionalis Rakhine mulai berkata kepada Rohingya: Kamu orang Benggala. Orang Burma membagi dan memerintah tentara; mereka menciptakan konflik antara Buddhis Arakan dan Muslim Arakan. Mereka tidak memberikan status kewarganegaraan kepada orang Rohingya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, ada unsur rasisme, isu sejarah, dan legitimasi kewarganegaraan.</span></p>
<p><b>Bisakah kita menyederhanakan atau merangkum bahwa akar masalah Pattani dan Rohingya lebih berkaitan dengan pembangunan negara-bangsa modern?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ya, bagus sekali. Mereka melewatkan isu pembangunan negara-bangsa. Di Pattani, agama tidak menjadi masalah. Di Myanmar, Buddhisme dieksploitasi oleh orang Burma karena rasisme mereka. Biksu Ashin Wirathu (pemimpin spiritual gerakan anti-Muslim di Myanmar) mengatakan: lindungi ras Burma dari orang Rohingya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya belum memberitahukan hal ini kepada Anda: Inggris membawa banyak orang India ke Myanmar, karena Myanmar adalah bagian dari Kerajaan Inggris. Inggris membawa orang India untuk mengelola pemerintahan kolonial. Sekitar 54% dari populasi Rangoon (kelak disebut Yangon) adalah orang India. Ada dua kerusuhan etnis di Burma – pada tahun 1930 dan 1938 – terhadap orang India. Orang India ini, di antaranya adalah Muslim, adalah pedagang dan pemilik industri tekstil dan pertanian. Orang Burma membenci orang India. Ketika Myanmar mulai merdeka, sekitar 700.000 orang India disuruh kembali. Jadi, ada unsur ini dalam konflik Rohingya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apa yang sekarang dilakukan Wirathu adalah dia secara kolektif menganggap semuanya sebagai Muslim, bahwa semuanya merupakan ancaman bagi Myanmar. Semua dari mereka: kaum Rohingya, Muslim India, Muslim Tionghoa, dan Zarbadi (anak-anak hasil perkawinan antara orang Burma dan Muslim). Inilah rasisme atas nama agama.</span></p>
<p><b>Tampaknya, dalam hal kecenderungan terhadap kekerasan, Buddhisme bukanlah suatu pengecualian.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya memiliki istilah berhak-cipta untuk itu. Saya menyebutnya &#8220;ekstremisme tanpa kekerasan&#8221;. Biarawan tidak menyerang; Mereka tidak terlibat dalam kekerasan. Mereka dilatih untuk tidak melakukan kekerasan. Tapi, orang-orang seperti Wirathu bisa menghasut orang lain untuk melakukan kekerasan.</span></p>
<p><b>Bagaimana umat Buddhis membenarkan hal itu? Maksud saya, seperti dalam Islam, konsep jihad bisa digunakan untuk membenarkan kekerasan.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka tidak bisa. Mereka hanya bisa melegitimasinya dengan alasan nasionalisme. Tidak ada ruang dalam tradisi Buddhis untuk melegitimasi kekerasan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Raja Ashoka, yang diakui sebagai model raja Buddhis tanpa kekerasan, mengatakan bahwa dia akan menggunakan kekerasan untuk melindungi tanah airnya. Jadi, pertahanan itu sah, tapi bukan promosi kebencian, xenofobia ataupun terorisme yang berakar pada ketidakadilan, diskriminasi dan rasisme seperti yang kita lihat sekarang. Saat ini, kita menyaksikan perang agama nasionalis yang memiliki kategori yang berbeda. Artikel terbaru saya di koran Thailand, “The Nation” (yang telah diterbitkan ulang di situs CRCS), membicarakan tentang nasionalisme yang sekarang telah bersifat religius.</span></p>
<p><b>Pertanyaan terakhir, apa yang akan Anda sarankan, khususnya bagi kita di Indonesia, untuk menjembatani kesenjangan antara umat Muslim dan Buddhis?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya sangat menyukai Indonesia. Sebagai seorang muslim, saya bernapas dengan bebas di Indonesia yang demokratis. Indonesia memiliki budaya yang kaya dan merupakan negara demokratis terkemuka; negara Muslim terbesar. Indonesia memiliki peran penting untuk dimainkan: Anda harus mengajar di institusi pendidikan Anda tentang latar belakang budaya historis Anda, yaitu Hindu-Buddha. Anda harus membantu umat Muslim di Asia Tenggara tentang bagaimana cara hidup berdampingan dengan budaya lain. Ini adalah tantangan bagi Anda. Anda harus mempromosikan studi budaya, yang membahas tentang konfigurasi budaya Asia Tenggara, dan Anda harus melakukannya melalui pengetahuan lokal Anda, bukan teori Barat. Anda memerlukan sebuah studi sosial lokal yang dikembangkan untuk Nusantara, untuk hidup berdampingan antara Islam dan agama dan budaya Asia, terutama di ASEAN. Ini akan sangat membantu, dan Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk melakukan itu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Satu hal lagi. Saya bertemu Cak Nun tempo hari; saya diundang, dan menghabiskan 3 jam bersamanya. Dia mengatakan hal yang sangat menarik; Anda bisa meletakkan ini di transkrip Anda nanti. Saya mengajukan pertanyaan: mengapa umat Muslim Indonesia tidak mengenal latar belakang budaya Hindu-Buddha mereka? Dia berkata kepada saya: orang Indonesia adalah Muslim hasil adopsi. Artinya, mereka telah mengadopsi Islam tetapi melupakan identitas budaya Hindu-Buddha mereka. Mereka memiliki begitu banyak ajaran Hindu-Buddha, namun mereka tidak mengetahui isi budaya mereka.</span></p>
<p><b>Seperti?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seperti puasa. Apa arti kata ini? Mereka tidak tahu. Pesantren didasarkan pada model sekolah Buddhis; saya mengatakan ini di suatu tempat di koran saya. Anda memiliki sembahyang, surau, langgar; langgar adalah sebuah kata Hindu dan berarti Pura tempat orang pergi untuk berdoa. Jadi, mereka telah mengadopsi Islam, tetapi berhenti melanjutkan masa lalu mereka sendiri. Ini membuat Anda terlempar dari tanah air. Orang Indonesia harus tetap bertahan di tanah air Indonesia; tanah Prambanan, tanah Borobudur, tanah Sriwijaya.</span></p>
<p><em>Sumber: <a href="http://crcs.ugm.ac.id/news/11085/muslims-dont-study-buddhism-enough-an-interview-with-prof-imtiyaz-yusuf-part-2.html">Muslims Don&#8217;t Study Buddhism Enough: An Interview with Prof. Imtiyaz Yusuf (part 2)</a><br />
diterjemahkan oleh: Sansan Diana | disunting oleh: Stanley Khu</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/07/31/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-2/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 2)</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/07/31/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-2/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 2)</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 1)</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/07/10/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Jul 2017 09:22:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[#bhinneka]]></category>
		<category><![CDATA[#budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#ilovebhinneka]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan dharma]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3452</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>(Catatan: isi artikel ini merupakan opini dari sudut pandang narasumber non-Buddhis sehingga belum tentu sepenuhnya menggambarkan nilai-nilai Buddhis.) Dua agama dengan pengikut terbesar di Asia Tenggara adalah Islam dan Buddha. Dari total populasi 618 juta orang, 42 persen adalah Muslim dan 40 persen beragama Buddha. Lalu, 25 persen dari 1,6 miliar umat Muslim di dunia [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/07/10/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-1/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 1)</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/07/10/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-1/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 1)</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em>(Catatan: isi artikel ini merupakan opini dari sudut pandang narasumber non-Buddhis sehingga belum tentu sepenuhnya menggambarkan nilai-nilai Buddhis.)</em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dua agama dengan pengikut terbesar di Asia Tenggara adalah Islam dan Buddha. Dari total populasi 618 juta orang, 42 persen adalah Muslim dan 40 persen beragama Buddha. Lalu, 25 persen dari 1,6 miliar umat Muslim di dunia dan 38 persen dari 350 juta umat Buddha di dunia berada di Asia Tenggara. Namun, dialog antara dua agama ini sangat jarang terjadi sekarang ini. Untuk membahas permasalahan ini, anggota staf CRCS, Azis Anwar, mewawancarai Prof. Imtiyaz Yusuf, direktur Center for Buddhist-Muslim Understanding dari Mahidol University, Thailand. Beliau mendapatkan gelar Doktor di Temple University, tempat dia belajar di bawah bimbingan Ismail Raji al-Faruqi. Prof. Yusuf telah banyak menulis catatan ensiklopedia dan artikel-artikel harian, serta menjadi penulis tetap untuk surat kabar “Thai Newspaper”. Beberapa karyanya bisa diakses di akun academia.edu. Selama sesi antara di CRCS dari tanggal 15 Mei sampai 31 Juli, Prof. Yusuf mengajarkan mata kuliah Hubungan Muslim-Buddhis.</span></p>
<p><b>Kapan dan bagaimana pertemuan pertama kali antara Muslim dan Buddhis?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya akan mengatakan bahwa Indonesia adalah tanah Buddha. Borobudur, yang dibangun pada abad ke-9 pemerintahan dinasti Sailendra, mencerminkan tradisi Mahayana. Dua tradisi Buddhisme yang masuk ke Jawa adalah Mahayana dan Wajrayana. Therawada tidak masuk ke Indonesia. Therawada datang dari India ke Sri Lanka, Myanmar, Laos, Thailand, dan Kamboja. Tradisi Mahayana masuk ke Indonesia langsung dari Nalanda di India. Raja Sailendra selalu memberikan persembahan kepada universitas Buddhis yang tersohor ini. Dan, coba perhatikan bahasa yang Anda pakai setiap harinya.  Sekarang Anda sedang berpuasa, kan? </span><i><span style="font-weight: 400;">Puasa </span></i><span style="font-weight: 400;">berasal dari kata Sanskerta, yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">upawasa</span></i><span style="font-weight: 400;">. Anda banyak memakai kata-kata yang berasal dari bahasa Sanskerta.  Indonesia memiliki kebudayaan Hindu–Buddha yang kuat. Tetapi sayangnya, orang-orang melupakan atau mengabaikannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang, Anda bertanya kapan pertemuan pertama terjadi.  Ini terjadi pada abad ke-7, ketika umat Muslim datang ke tempat yang disebut Sindh, yang sekarang berlokasi di Pakistan. Mereka datang menjumpai kuil-kuil Buddhis dan para biksu.  Muhammad ibn Qasin (seorang jenderal dari dinasti Umayyad) adalah orang pertama yang datang ke sana. Dia menulis kepada Al-hajjaj ibn Yusuf (seorang gubernur Umayyad): Apa yang harus saya lakukan terhadap orang-orang yang bukan Muslim? Hal pertama yang Al-hajjaj ibn Yusuf katakan adalah: perlakukan mereka sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">Ahl Al-kitab </span></i><span style="font-weight: 400;">(orang-orang kitab; kategori yang secara umum merujuk pada umat Yahudi dan Kristen). Instruksi kedua adalah: jangan serang biksu mereka.  Ketiga: jangan hancurkan kuil-kuil mereka. Keempat: pungut </span><i><span style="font-weight: 400;">jizyah </span></i><span style="font-weight: 400;">dari mereka (</span><i><span style="font-weight: 400;">jizyah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah pajak per kapita bagi laki-laki merdeka yang bukan Muslim sebagai kompensasi atas perlindungan dan pembebasan dari wajib militer). Inilah cara Muslim memperlakukan Buddhis, jauh sebelum orang Barat mengenal Buddha.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tiga sarjana penting Muslim yang bergiat dalam sejarah dan agama komparatif membicarakan sosok Buddha dengan penuh penghargaan. Al-tabari (838-923) melaporkan bahwa patung-patung Buddha dijual di kuil Buddha yang bersebelahan dengan masjid Makh di pasar Bukhara, yang sekarang berlokasi di Uzbekistan. Muhammad ibn ‘Abd Al-karim Al-shahrastani (1086-1153), dalam sebuah bab berjudul Ara’ Al-hind (Pandangan Orang India) dalam kitab klasiknya yang berjudul Al-milal wa Al-nihal (Kitab Aliran Agama dan Filsafat), mempersamakan Buddha dengan tokoh Al-quran, Al-khidr, yakni seorang pencari pencerahan. Rashid Al-din Hamadani (1247-1318) dari kerajaan IIkhanid Persia menulis pengenalan tentang Buddhisme dalam Jami Al-tawarikh (Ikhtisar Kronik) dengan tujuan untuk membuat Buddhisme dapat diterima oleh Muslim.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari abad ke-12 sampai abad ke-15, pertemuan antara Islam dan peradaban Hindu-Buddha di Indonesia, Malaysia, dan Thailand ditandai oleh sesuatu yang bersifat mistis. Pondok pesantren tampaknya juga dipengaruhi oleh tradisi dari kuil-kuil Hindu-Buddha.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beberapa penerjemah Al-quran mengatakan bahwa Buddha disebutkan dalam Al-Quran.</span></p>
<p><b>Dhul-Kifli?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Dhul-Kifli disebutkan di dalam Al-quran dan biasanya ditafsirkan sebagai Nabi Ibrani: Yehezkiel. Tetapi, beberapa pihak menghubungkannya dengan Buddha, karena kata “Kafil” boleh jadi adalah “Kapilawastu”, kota kuno di mana Siddhartha Gautama dilahirkan dan dibesarkan)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dhul-Kifli dan Wat-ini (surah ke-95 dari Al-quran)! </span><i><span style="font-weight: 400;">Wat-tini waz-zaytun; wa turi sinin; wa hadhal-baladi ‘l-amin </span></i><span style="font-weight: 400;">(dengan buah ara dan zaitun; dan dengan gunung Sinai; dan dengan kota teraman (Mekkah). Surah ini lebih penting dari Dhul-Kifli. Terdapat empat simbol dalam surah ini.  </span><i><span style="font-weight: 400;">Az-zaytun</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah Isa (Yesus), </span><i><span style="font-weight: 400;">Sinin</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah Musa. </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-balad al-amin</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah Nabi Muhammad. Bagaimana dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">tin</span></i><span style="font-weight: 400;">? Tidak ada buah ara di Arabia. Di sisi lain, Buddha mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi, sejenis buah ara yang nama lainnya adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">ficus religiosa.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika Anda pergi ke beberapa sarjana, seperti Muhammad Hamidullah (1908-2002, seorang sarjana hukum Islam berkebangsaan India dan pengarang lebih dari 250 buku), mereka berargumen bahwa Buddha disebutkan secara simbolik di dalam Al-quran. Allah mengatakan dalam Al-quran, </span><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Laqad arsalna rusulan min qablika”</span></i> <span style="font-weight: 400;">(Kami telah mengirimkan utusan sebelum Engkau, beberapa Kusebutkan, beberapa tidak Kusebutkan)</span><span style="font-weight: 400;"> (</span><i><span style="font-weight: 400;">lam naqsus ‘alayk, </span></i><span style="font-weight: 400;">mengacu pada QS 40:78).  Dan Allah mengatakan bahwa mereka (para nabi) datang kepada orang-orang yang berbicara dalam bahasa mereka masing-masing.</span></p>
<p><b>Saat ini, Muslim melihat Buddhis melakukan ritual di depan sebuah patung dan beranggapan bahwa mereka adalah penyembah patung tersebut, yang mana dapat dilihat sebagai </b><b><i>syirik</i></b><b> atau pemujaan berhala.  Apa pendapat Anda tentang ini?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua gagasan tentang </span><i><span style="font-weight: 400;">tawhid</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">syirik</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah konsep Islam. Dalam Buddhisme, tidak ada </span><i><span style="font-weight: 400;">syirik</span></i><span style="font-weight: 400;">. Pergilah dan tanyakan kepada umat Buddhis (dan saya telah bertanya kepada mereka berjuta kali): apa yang Anda lakukan ketika memberikan penghormatan pada patung tersebut? Mereka mengatakan: kami memberikan penghormatan pada ajaran Buddha; kami tidak memberikan penghormatan pada patung tersebut. Buddha sendiri mengatakan, ”Aku bukan Tuhan,” dan ini jugalah yang dikatakan oleh Nabi Muhammad. Umat Buddhis tidak menyembah patung atau batu. Gagasan ihwal </span><i><span style="font-weight: 400;">syirik</span></i><span style="font-weight: 400;"> berasal dari konsep monotheistik sebuah agama.  Jadi, Buddhis bukan pemuja berhala. Buddha sendiri menolak dewa-dewa Hindu.</span></p>
<p><b>Umat Buddhis tidak memiliki Tuhan. Benarkah?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Umat Buddhis bukan atheis. Buddha hanya mengatakan bahwa Tuhan tidak penting, bahwa manusialah yang penting.  Beliau berada di India, tempat eksisnya sistem kasta. Jadi, beliau tidak mempermasalahkan konsep Tuhan. Hal yang paling penting adalah menolong sesama manusia yang menderita akibat eksploitasi dari sistem kasta Brahmana. Masalahnya adalah bagaimana Anda menyelamatkan umat manusia. Sekali lagi, Buddha sendiri mengatakan bahwa beliau bukan Tuhan. Beliau adalah seorang pengajar, seorang guru.</span></p>
<p><b>Dalam salah satu makalah Anda tentang Islam dan Buddhisme, Anda membicarakan tentang konsep realitas tertinggi dalam Buddhisme, dan Anda menganggap hal ini sebagai sesuatu yang sejajar dengan konsep Tuhan dalam agama monotheistik.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Buddha mengatakan bahwa ada sesuatu yang Abadi, yang Tak Dilahirkan. Tanpa adanya sesuatu yang Tak Dilahirkan ini, takkan ada apa pun yang bisa eksis.</span> <span style="font-weight: 400;">Inilah yang disebut Dharma, yang bermakna Hukum Abadi, Realitas Tertinggi. Dharma dan Tuhan adalah sama. Allah juga kekal. Dharma bukan sesosok individu. Allah juga bukan sesosok individu. Masalahnya adalah: umat Muslim berpikir bahwa Allah adalah sesosok individu karena mereka terpengaruh oleh tradisi Kristen yang telah mempersonifikasikan sosok Tuhan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah memiliki sifat yang merupakan bagian dari esensi-Nya. Dan sifat-Nya adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">bila kayfa</span></i><span style="font-weight: 400;">; mereka tidak memiliki kualitas yang identik dengan kualitas manusia.  Sekarang, jika Anda melihat Buddhisme, Anda akan menemukan Dharma, Ajaran Abadi yang dipelajari oleh para guru. Dharma adalah Tuhan bagi mereka; sama halnya, Allah adalah Tuhan bagi umat Muslim.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Masalahnya adalah: kita telah mengabaikan studi Buddhisme. Di masa lampau, di Jawa, Muslim dan Buddhis dapat berdialog bersama karena kesamaan antara </span><i><span style="font-weight: 400;">tawhid</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">sunyata</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">tawhid</span></i><span style="font-weight: 400;">, Allah tidak memiliki bentuk. </span><i><span style="font-weight: 400;">Sunyata</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga tidak mempunyai bentuk. Inilah alasan mengapa orang Jawa dapat menjadi Muslim, bukan karena jihad atau alasan lainnya; ada kecocokan antara </span><i><span style="font-weight: 400;">tawhid</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">sunyata</span></i><span style="font-weight: 400;">. Al-quran juga mengatakan tentang </span><i><span style="font-weight: 400;">ummatan wasatan </span></i><span style="font-weight: 400;">(bangsa tengah); syariah Islam adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">wasatiyya </span></i><span style="font-weight: 400;">(menjadi moderat). Buddhisme juga memiliki </span><i><span style="font-weight: 400;">Majjhima-pattipada</span></i><span style="font-weight: 400;"> (jalan tengah).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lebih jauh, Buddhisme yang masuk ke Indonesia adalah aliran Mahayana. Dalam Mahayana, konsep tentang Bodhisatwa sangatlah penting. Bodhisatwa adalah orang yang akan mencapai pencerahan tetapi menunda pencerahannya demi menolong banyak orang. Dalam Islam, ada konsep yang sama: </span><i><span style="font-weight: 400;">al-insan al-kamil</span></i><span style="font-weight: 400;">.  Persamaan lainnya adalah konsep </span><i><span style="font-weight: 400;">Nur Muhammad</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan konsep </span><i><span style="font-weight: 400;">Tathagata</span></i><span style="font-weight: 400;">, Buddha yang tercerahkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, terdapat banyak persamaan. Masalahnya adalah: umat Muslim tidak cukup banyak mempelajari Buddhisme. Muslim memiliki sejarah yang panjang dengan Kristen dan tak ada banyak kedamaian di antara mereka, sementara di sini, di Asia Tenggara, di negara-negara ASEAN, Muslim dan Buddhis menjadi populasi mayoritas, sekitar 40-40 persen, tetapi keduanya tidak saling mengenal satu sama lain. Dalam 900 tahun koeksistensi Islam dan Buddhisme, dari abad ke-12 sampai abad ke-21, dengan sangat menyesal saya katakan bahwa tidak ada satu pun sarjana Muslim di Asia Tenggara yang mendalami Buddhisme.</span></p>
<p><b>Melanjutkan penjelasan Anda, mengapa umat Muslim di Asia Tenggara tidak lagi mempelajari Buddhisme?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sejak masa penjajahan, umat Muslim mengalami masalah perebutan kekuasaan.  Muslim yang memerintah, termasuk di Asia Tenggara, tiba-tiba kehilangan kekuasaan karena direbut oleh Belanda, Inggris, Prancis, dan lainnya. Tradisi untuk mempelajari agama lain tidak dapat berkembang karena ruang tersebut telah hilang, terisi oleh orang asing yang mengacaukan kebudayaan dan institusi pendidikan Muslim. Umat Muslim kemudian tidak lagi mempelajari agama Asia seperti Buddhisme, Shaiwaisme, Konfusianisme, dan Taoisme karena ketiadaan waktu; Muslim kehilangan kekuatan mereka. Buddhis juga kehilangan kekuatan mereka. </span><i><span style="font-weight: 400;">Dhammaraja</span></i><span style="font-weight: 400;"> (raja Buddhis) terakhir di Myanmar (sebagai salah satu kerajaan Buddhis yang penting) telah diasingkan oleh Inggris ke India. </span><i><span style="font-weight: 400;">Dhammaraja</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari kerajaan Buddhis lain juga telah dilengserkan atau diasingkan. Satu-satunya </span><i><span style="font-weight: 400;">Dhammaraja</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang tersisa adalah Thailand; mereka tidak dijajah dan masih memiliki tradisi </span><i><span style="font-weight: 400;">Dhammaraja</span></i><span style="font-weight: 400;">. Thailand adalah negara Buddhis terbesar di Asia Tenggara.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sisi lain, para penjajah membuat agama menjadi identitas etnik. Agama menjadi bersifat etnik.  Jika Anda orang Melayu, maka Anda adalah Muslim.  Jika Anda orang Siam, maka Anda adalah Buddhis. Jika Anda orang Burma, maka Anda adalah Buddhis.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, masalah kita adalah: di satu sisi, studi antar agama telah diabaikan, dan di sisi lainnya, telah terjadi etnifikasi agama. (<em>bersambung</em>)</span></p>
<p><em>Sumber: <a href="http://crcs.ugm.ac.id/news/11079/muslims-dont-study-buddhism-enough-an-interview-with-prof-imtiyaz-yusuf-part-1.html">Muslims Don&#8217;t Study Buddhism Enough: An Interview with Prof. Imtiyaz Yusuf (part 1)<br />
</a>diterjemahkan oleh: Sansan Diana | disunting oleh: Stanley Khu</em></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/07/10/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-1/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 1)</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/07/10/umat-muslim-tidak-cukup-banyak-mempelajari-buddhisme-wawancara-dengan-prof-imtiyaz-yusuf-bagian-1/">Umat Muslim Tidak Cukup Banyak Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Prof. Imtiyaz Yusuf (bagian 1)</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
