<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>julid - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/julid/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Apr 2020 08:52:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>julid - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menyumpahi Orang Celaka, Karma Burukkah? &#8211; Jalan Karma Niat Jahat</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2020/04/20/menyumpahi-orang-celaka-karma-burukkah-jalan-karma-niat-jahat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2020 08:52:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[corona]]></category>
		<category><![CDATA[coronavirus]]></category>
		<category><![CDATA[COVID]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[julid]]></category>
		<category><![CDATA[karma pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[niat jahat]]></category>
		<category><![CDATA[virus corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4880</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Entah udah pekan keberapa sejak COVID-19 masuk Indonesia, kayaknya lebih banyak kabar buruk yang beredar daripada kabar baik. Coba, sudah berapa kali lihat trit di Twitter atau Facebook yang isinya foto tukang timbun masker atau pake APD (Alat Pelindung Diri) lengkap cuma belanja ke supermarket? Belum lagi share-an berita yang disertai caption yang memprotes pemerintah [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/20/menyumpahi-orang-celaka-karma-burukkah-jalan-karma-niat-jahat/">Menyumpahi Orang Celaka, Karma Burukkah? – Jalan Karma Niat Jahat</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/20/menyumpahi-orang-celaka-karma-burukkah-jalan-karma-niat-jahat/">Menyumpahi Orang Celaka, Karma Burukkah? &#8211; Jalan Karma Niat Jahat</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Entah udah pekan keberapa sejak COVID-19
masuk Indonesia, kayaknya lebih banyak kabar buruk yang beredar daripada kabar
baik. Coba, sudah berapa kali lihat trit di Twitter atau Facebook yang isinya
foto tukang timbun masker atau pake APD (Alat Pelindung Diri) lengkap cuma
belanja ke supermarket? Belum lagi <em>share-</em>an berita yang disertai <em>caption
</em>yang memprotes pemerintah atau memprotes orang yang protes ke pemerintah…
Wuih…</p>



<p>Daripada berapa banyak berita buruk yang
kita lihat, sebenarnya ada pertanyaan yang lebih penting: Apa yang kita lakukan
waktu melihat berita buruk itu?</p>



<p>Kalau berita buruk itu bisa berhenti di
kamu atau menggerakkan hatimu untuk menolong orang lain atau berbuat baik, kita
harus bersuka cita. Tapi kalau yang kamu lakukan adalah menekan tombol <em>share
</em>dan ikut-ikutan menyumpahi… Itu tandanya kita harus hati-hati! Sangat
mungkin bahwa alih-alih orang yang kamu sumpahi akan mengalami kemalangan
seperti yang kamu harapkan, malah kamu yang jadi menderita entah di kehidupan
ini atau kehidupan mendatang!</p>



<p>Seperti yang sudah dibahas di artikel
sebelumnya, keinginan untuk menyakiti orang lain atau berharap orang lain
menderita termasuk karma hitam niat jahat. Tanpa kita sadari, karma buruk niat
jahat sangat mudah untuk muncul. Padahal ini merupakan satu dari 10 jalan karma
hitam (<em>akusala kamma</em>) yang bisa menjadi sebab kelahiran di alam rendah
atau memperoleh penderitaan. Tanpa ada orang yang bersikap egois gara-gara
panik COVID-19 pun kita gampang banget menyumpahi yang jelek-jelek di kehidupan
sehari-hari. Ini biasa terjadi saat barang kita dicuri atau saat kita atau
keluarga kita dilukai. &nbsp;Saat itu terjadi,
pemikiran spontan yang muncul adalah mengharapkan orang yang melakukannya
mendapat balasan. Ini juga sering terjadi saat ada ‘<em>public enemy</em>’
seperti pelaku tindak criminal dan koruptor yang ramai diberitakan di televisi
atau medsos, semua orang ramai-ramai membagikan berita dengan nada menghujat
dan mendoakan para pelaku mengalami penderitaan. </p>



<p>Mengharapkan kemalangan menimpa orang lain
adalah salah satu bentuk karma pikiran niat jahat, tapi apa yang membuat karma
niat jahat ini menjadi lengkap? Berikut adalah analisisnya menurut aspek karma:</p>



<ol><li><strong>Dasar</strong>: seseorang atau sesuatu yang kita anggap tidak menarik atau tidak menyenangkan</li><li><strong>Pemikiran,</strong> terbagi tiga:<br>> Identifikasi: objek yang dipikirkan tepat sesuai dengan dasar<br>> Motivasi: niat untuk menyakiti, membahayakan, atau berharap agar objek yang dituju mengalami kemalangan, misalnya mengharapkan orang lain meninggal atau kehilangan sesuatu<br>> Klesha: salah satu dari tiga jenis klesha utama, yaitu kemelekatan, kebencian, dan ketidaktahuan.</li><li><strong>Tindakan:</strong> memiliki keinginan yang lebih kuat agar hal yang buruk menimpa objek yang dituju </li><li><strong>Penyelesaian:</strong> mengambil keputusan bahwa hal buruk tersebut harus benar-benar terjadi atau bertekad mewujudkan hal buruk tersebut.</li></ol>



<p>Suatu niat jahat menjadi sempurna ketika
kita menginginkan orang lain menderita dengan disertai sikap batin berikut ini:</p>



<ol><li>Sikap membenci yang
secara kuat mencengkeram suatu sebab yang membuatmu ingin seseorang menderita,
misalnya ada orang yang pernah melukaimu sehingga kamu sangat membencinya dan
kamu yakin kamu berhak membalasnya karena tindakannya itu;</li><li>Ketidaksabaran atau
tidak tahan dengan penderitaan yang disebabkan orang lain pada dirimu;</li><li>Rasa benci yang amat
kuat karena mengingat dan mengulang-ulang sebab kebencianmu, misalnya
berkali-kali mengatakan dalam hati, “Gara-gara Tengkulak X borong semua masker,
aku jadi nggak kebagian, aku akan mati kena COVID-19 gara-gara dia,” lalu
berkali-kali pula mengingat segala macam penderitaan yang kamu alami karenanya
sehingga rasa bencimu menjadi sangat kuat.</li><li>Pikiran penuh dengki atau
keinginan balas dendam, misalnya berpikir, “Alangkah bagusnya kalau Tengkulak X
kena COVID-19, biar tahu rasa!” Pikiran seperti ini muncul setelah kamu
berkali-kali memikirkan ‘dosa’ Tengkulak X terhadapmu dan merasa kamu berhak
membalasnya atau dia pantas menderita.</li><li>Batinmu sepenuhnya
dikuasai oleh niat jahat, sedikit pun tidak menyadari bahaya niat jahat itu
terhadap dirimu sendiri, tanpa rasa malu atau bersalah sedikit pun, dan sama
sekali tidak punya keinginan untuk menghindari niat jahat tersebut.</li></ol>



<p>Punya lima sikap di atas terhadap penimbun
masker atau penimbun sembako mungkin kasus ekstrem, tapi bukan nggak mungkin
sesuatu yang sangat buruk terjadi pada kita (amit-amit) yang bikin kita
mendendam sampai mengembangkan 5 sikap itu. Keinginan untuk balas dendam atau
mengharapkan orang lain menderita tanpa disertai kelima sikap itu juga termasuk
dalam niat jahat sederhana. Jadi, penting banget bagi kita buat belajar tentang
karma ini, direnungkan, dan dimeditasikan agar melekat di batin kita sehingga
ketika muncul pikiran niat jahat, kita siap menangkap dan menghentikannya saat
itu juga.</p>



<p>Setelah mengetahui proses lengkapnya karma
niat jahat di atas, apa yang bisa kita lakukan? Hal simpel yang bisa dilakukan
pada awalnya adalah memunculkan sikap malu dan takut (<em>hiri</em> dan <em>ottapa)</em>
atau menyesal ketika pikiran niat jahat muncul di batin kita. Perkuat keyakinan
terhadap hukum karma, bahwa penderitaan maupun kebahagiaan orang yang menyakiti
kita sepenuhnya tergantung pada karma mereka dan sebaliknya penderitaan dan
kebahagiaan kita juga bergantung pada karma kita. Kalau kita nggak mau
menderita, tentunya kita harus memperbanyak kebajikan dan menghindari karma
buruk, bukannya menambah karma buruk dengan membiarkan niat jahat berkembang. Ketika
kita sudah bisa menerima penderitaan yang kita alami, kita juga bisa coba merenungkan
apa yang membuat orang lain melakukan sesuatu yang merugikan kita dari sudut
pandang kesalingbergantungan dan membangkitkan welas asih kepada mereka. </p>



<p class="has-text-align-right"><em>Baca cara mengembangkan welas asih ala Awalokiteshwara <a href="https://lamrimnesia.org/2017/02/24/praktik-penyempurnaan-welas-asih/">di sini</a>!</em></p>



<p>Akhir kata, ketika pikiranmu mulai
mendoakan pencuri <em>handphone</em>-mu jatuh miskin dan dipenjara puluhan tahun
atau jempolmu siap menyumpahi penimbun masker kena COVID-19, coba berhenti dan
tarik napas panjang. Lalu, ganti ‘doa jahat’-mu menjadi doa yang baik dan
tulus, misalnya semoga dengan menjual <em>handphone-</em>mu, si pencuri bisa
keluar dari kesulitan keuangan dan bertobat atau semoga penimbun masker bebas
dari rasa panik dan ketakutan akan COVID-19 dan tergerak untuk menyumbangkan
masker timbunannya ke rumah sakit.</p>



<p>Sumber: </p>



<ol><li>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Karma?id=seGMDwAAQBAJ">Karma</a>” oleh Dagpo Rinpoche</li><li>“<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/pembebasan-di-tangan-kita/">Pembebasan di Tangan Kita</a>” oleh Phabongkha Rinpoche</li><li>“<em>Steps on The Path to Enlightenment</em>” oleh Geshe Lhundup Sopa </li></ol><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2020/04/20/menyumpahi-orang-celaka-karma-burukkah-jalan-karma-niat-jahat/">Menyumpahi Orang Celaka, Karma Burukkah? – Jalan Karma Niat Jahat</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2020/04/20/menyumpahi-orang-celaka-karma-burukkah-jalan-karma-niat-jahat/">Menyumpahi Orang Celaka, Karma Burukkah? &#8211; Jalan Karma Niat Jahat</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
