<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ILR2018 - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/ilr2018/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Jan 2019 11:05:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>ILR2018 - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>DAY 10 &#8211; Tahun Baru Motivasi Baru</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2019/01/04/day-10-tahun-baru-motivasi-baru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Jan 2019 09:30:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[ILR2018]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4277</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanpa terasa, Indonesia Lamrim Retreat 2018 telah mencapai hari terakhir. Pada hari pertama di tahun baru, 1 Januari 2018, Y. M. Biksu Bhadra Ruci mengajak seluruh peserta retret untuk mengawali tahun baru ini dengan membuat kebajikan besar. Kebajikan apa itu? Tak lain tak bukan adalah kebajikan dari membangkitkan Bodhicita, tekad untuk mencapai Kebuddhaan demi menolong [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/04/day-10-tahun-baru-motivasi-baru/">DAY 10 – Tahun Baru Motivasi Baru</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/04/day-10-tahun-baru-motivasi-baru/">DAY 10 &#8211; Tahun Baru Motivasi Baru</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanpa terasa, Indonesia Lamrim Retreat 2018 telah mencapai hari terakhir. Pada hari pertama di tahun baru, 1 Januari 2018, Y. M. Biksu Bhadra Ruci mengajak seluruh peserta retret untuk mengawali tahun baru ini dengan membuat kebajikan besar. Kebajikan apa itu? Tak lain tak bukan adalah kebajikan dari membangkitkan Bodhicita, tekad untuk mencapai Kebuddhaan demi menolong semua makhluk.</p>
<p>Sesi hari ini diawali dengan meditasi 6 Praktik Pendahuluan, diikuti dengan perenungan Bodhicita. Suhu Bhadra Ruci membimbing kita setahap demi setahap berdasarkan topik-topik Lamrim, khususnya teks &#8220;Instruksi Guru yang Berharga&#8221; karya Phabongkha Rinpoche yang telah dipelajari selama 11 hari retret berlangsung. Pertama-tama kita diingatkan betapa beruntungnya kita dilahirkan sebagai manusia dengan segala kebebasan dan keberuntungan yang memungkinkan kita untuk belajar dan mempraktikkan Buddhadharma. Namun, tubuh manusia yang kita miliki ini tidak akan bertahan selamanya. Kematian itu pasti, tapi waktunya tidak pasti sementara ancaman penderitaan alam rendah telah menanti. Buddha, Dharma, dan Sangha mampu melindungi kita dari ancaman tersebut. Mereka juga telah menunjukkan jalan untuk memastikan kebahagiaan di kehidupan mendatang, yaitu bertumpu pada hukum karma dan akibat-akibatnya.</p>
<p>Dengan berlindung pada Triratna dan menghindari ketidakbajikan serta berbuat bajik sesuai hukum karma, kita dapat terhindar dari penderitaan di kehidupan mendatang. Sayangnya tak ada jaminan bahwa kita tidak akan jatuh lagi ke alam rendah. Bahkan di alam tinggi pun kita masih menderita karena ketidakpastian, ketidakpuasan, meninggalkan tubuh berulang kali, terlahir kembali berulang kali, perubahan status berulang kali, dan tiadanya teman sejati. Kita akan mengalami itu semua berulang-ulang karena karma dan klesha yang memaksa kita untuk terus terlahir kembali dan terjebak di samsara. Di sini kita harus menumbuhkan rasa penolakan terhadap samsara. Namun, kita juga diingatkan bahwa bukan hanya kita yang mengalami penderitaan tersebut. Orang tua kita juga menderita. Tak terhingga banyaknya makhluk yang pernah berjasa bagi hidup kita juga menderita. Semua makhluk yang pernah menjadi orang tua kita di kehidupan lampau sejak waktu tak bermula juga menderita. Oleh karena itu, kita harus bertekad untuk mengemban tanggung jawab menolong mereka semua agar bebas dari samsara dengan mencapai Kebuddhaan. Tekad inilah yang disebut Bodhicita. Kebajikan dari membangkitkan Bodhicita ini amatlah besar karena objeknya amat luas dan besar, yaitu semua makhluk yang tak terhingga jumlahnya.</p>
<p>Setelah perenungan Bodhicita, Suhu Bhadra Ruci kembali mengajak kita semua merenung sebelum menutup sesi dengan pelimpahan jasa. Beliau mengibaratkan tubuh manusia kita bagaikan sebuah rumah sakit. Ketika membangun rumah sakit, kita menerima dua kebajikan: ketika membangun rumah sakit dan ketika rumah sakit itu digunakan oleh orang-orang. Demikian pula tubuh kita ini &#8216;dibangun&#8217; oleh orang tua kita. Ketika kita menggunakan tubuh ini untuk berbuat kebajikan, orang tua kita juga menerima karma baik karena telah membuat sesuatu yang digunakan untuk mengumpulkan kebajikan. Yang menerima karma baik ini bukan hanya orang tua kita di kehidupan saat ini, tapi juga semua orang tua kita dari kehidupan lampau. Di hari ini, kita semua membuat kebajikan yang amat besar dari membangkitkan Bodhicita. Dengan demikian, tak terhingga makhluk yang pernah menjadi orang tua kita juga menerima kebajikan yang amat besar. Inilah bentuk bakti yang sesungguhnya. Rasa bakti dan sukacita atas kebajikan besar inilah yang harus kita pertahankan dalam batin saat membacakan bait-bait dedikasi untuk melimpahkan kebajikan bagi semua makhluk.</p>
<p>Sebagai penutup, Suhu Bhadra Ruci berpesan agar di tahun 2019 ini kita lebih banyak menggunakan hati alih-alih terlalu banyak berpikir dengan logika saja sehingga menghambat praktik spiritual kita. Beliau juga mengajak kita untuk mengurangi sikap mementingkan diri sendiri dan lebih banyak memikirkan orang lain.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/04/day-10-tahun-baru-motivasi-baru/">DAY 10 – Tahun Baru Motivasi Baru</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/04/day-10-tahun-baru-motivasi-baru/">DAY 10 &#8211; Tahun Baru Motivasi Baru</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rekapitulasi Indonesia Lamrim Retreat 2018</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2019/01/03/rekapitulasi-indonesia-lamrim-retreat-2018/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2019 14:11:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[ILR2018]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4273</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Baca rekapitulasi materi Indonesia Lamrim Retreat 2018 dengan mengetuk tautan dibawah ini : Opening (Motivasi) https://lamrimnesia.org/2019/01/03/motivasi-budayakan-belajar-tak-sekadar-nonton-ceramah/ &#160; DAY 1 https://lamrimnesia.org/2018/12/30/mengejar-kebahagiaan-sejati-bukan-mengejar-cashback/ &#160; DAY 2 https://lamrimnesia.org/2018/12/30/dharma-ikut-kita-atau-kita-ikut-dharma/ &#160; DAY 3 https://lamrimnesia.org/2019/01/03/ilusi-samsara-itu-bernama-kebahagiaan/ &#160; DAY 4 https://lamrimnesia.org/2019/01/03/kehadiran-guru-spiritual-yang-patut-disyukuri/ &#160; DAY 5 https://lamrimnesia.org/2019/01/03/merenung-sebelum-mati/ &#160; DAY 6 https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-6-triratna-pelindung-yang-kekuatannya-tak-terhingga/ &#160; DAY 7 https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-7-jebakan-itu-bernama-zona-nyaman/ &#160; DAY 8 https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-8-tinggalkan-zona-nyaman-raihlah-pencapaian/ &#160; DAY 9 https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-9-ibu-ibu-kita-yang-tak-terhingga-jumlahnya/ DAY 10 DAY [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/rekapitulasi-indonesia-lamrim-retreat-2018/">Rekapitulasi Indonesia Lamrim Retreat 2018</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/rekapitulasi-indonesia-lamrim-retreat-2018/">Rekapitulasi Indonesia Lamrim Retreat 2018</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><strong>Baca rekapitulasi materi Indonesia Lamrim Retreat 2018 dengan mengetuk tautan dibawah ini :</strong></p>
<ul>
<li>Opening (Motivasi)</li>
</ul>
<p><a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/motivasi-budayakan-belajar-tak-sekadar-nonton-ceramah/">https://lamrimnesia.org/2019/01/03/motivasi-budayakan-belajar-tak-sekadar-nonton-ceramah/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>DAY 1</li>
</ul>
<p><a href="https://lamrimnesia.org/2018/12/30/mengejar-kebahagiaan-sejati-bukan-mengejar-cashback/">https://lamrimnesia.org/2018/12/30/mengejar-kebahagiaan-sejati-bukan-mengejar-cashback/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>DAY 2</li>
</ul>
<p><a href="https://lamrimnesia.org/2018/12/30/dharma-ikut-kita-atau-kita-ikut-dharma/">https://lamrimnesia.org/2018/12/30/dharma-ikut-kita-atau-kita-ikut-dharma/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>DAY 3</li>
</ul>
<p><a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/ilusi-samsara-itu-bernama-kebahagiaan/">https://lamrimnesia.org/2019/01/03/ilusi-samsara-itu-bernama-kebahagiaan/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>DAY 4</li>
</ul>
<p><a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/kehadiran-guru-spiritual-yang-patut-disyukuri/">https://lamrimnesia.org/2019/01/03/kehadiran-guru-spiritual-yang-patut-disyukuri/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>DAY 5</li>
</ul>
<p><a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/merenung-sebelum-mati/">https://lamrimnesia.org/2019/01/03/merenung-sebelum-mati/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>DAY 6</li>
</ul>
<p><a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-6-triratna-pelindung-yang-kekuatannya-tak-terhingga/">https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-6-triratna-pelindung-yang-kekuatannya-tak-terhingga/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>DAY 7</li>
</ul>
<p><a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-7-jebakan-itu-bernama-zona-nyaman/">https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-7-jebakan-itu-bernama-zona-nyaman/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>DAY 8</li>
</ul>
<p><a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-8-tinggalkan-zona-nyaman-raihlah-pencapaian/">https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-8-tinggalkan-zona-nyaman-raihlah-pencapaian/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>DAY 9</li>
</ul>
<p><a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-9-ibu-ibu-kita-yang-tak-terhingga-jumlahnya/">https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-9-ibu-ibu-kita-yang-tak-terhingga-jumlahnya/</a></p>
<ul>
<li>DAY 10</li>
</ul>
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="Xd6sLdBa2h"><p><a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/04/day-10-tahun-baru-motivasi-baru/">DAY 10 &#8211; Tahun Baru Motivasi Baru</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="&#8220;DAY 10 &#8211; Tahun Baru Motivasi Baru&#8221; &#8212; Lamrimnesia" src="https://lamrimnesia.org/2019/01/04/day-10-tahun-baru-motivasi-baru/embed/#?secret=K5qXvl0OX2#?secret=Xd6sLdBa2h" data-secret="Xd6sLdBa2h" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/rekapitulasi-indonesia-lamrim-retreat-2018/">Rekapitulasi Indonesia Lamrim Retreat 2018</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/rekapitulasi-indonesia-lamrim-retreat-2018/">Rekapitulasi Indonesia Lamrim Retreat 2018</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DAY 9 &#8211; Ibu-Ibu Kita Yang Tak Terhingga Jumlahnya</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-9-ibu-ibu-kita-yang-tak-terhingga-jumlahnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2019 13:59:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[ILR2018]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4269</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di hari ke-8 Indonesia Lamrim Retreat 2018, welas asih agung menjadi topik utama. Sebelum masuk ke sana, Y. M. Biksu Bhadra Ruci tak lupa mengajak kita semua membangkitkan motivasi. Ada beberapa alasan yang membuat batin kita tidak berkembang, antara lain adalah belum memahami topik ajaran secara bertahap dengan benar, tidak menganggap diri sebagai pasien yang [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-9-ibu-ibu-kita-yang-tak-terhingga-jumlahnya/">DAY 9 – Ibu-Ibu Kita Yang Tak Terhingga Jumlahnya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-9-ibu-ibu-kita-yang-tak-terhingga-jumlahnya/">DAY 9 &#8211; Ibu-Ibu Kita Yang Tak Terhingga Jumlahnya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di hari ke-8 Indonesia Lamrim Retreat 2018, welas asih agung menjadi topik utama. Sebelum masuk ke sana, Y. M. Biksu Bhadra Ruci tak lupa mengajak kita semua membangkitkan motivasi. Ada beberapa alasan yang membuat batin kita tidak berkembang, antara lain adalah belum memahami topik ajaran secara bertahap dengan benar, tidak menganggap diri sebagai pasien yang memerlukan obat Dharma, serta masih terbuai dengan kenikmatan samsara. Selama kita masih terbuai dan tidak lelah dengan samsara, maka kita tidak akan merasa butuh Dharma. Hal ini dikarenakan kita masih memegang sifat yang mementingkan “aku” yang sangat kuat.</p>
<p>Sifat mementingkan “aku” ini begitu mengerikan. Selama kita memiliki sifat ini, kita hanya mengakui diri kita, kita seolah-olah merasa sebagai peran utama, merasa kita adalah pusat dari alam semesta. Kita sudah seperti Tuhan! Asal dari sifat mementingkan diri sendiri ini adalah karena klesha yang begitu kuat, ego yang begitu kuat. Kalau klesha atau ego ini sangat kuat, bisa-bisa kita terkena penyakit mental seperti depresi, bipolar, dan sebagainya. Analoginya adalah klesha kita awalnya sebesar ulat, lalu berkembang menjadi cacing, ular, dan kemudian naga yang pada akhirnya menelan kita.</p>
<p>Untuk dapat membangkitkan penolakan terhadap samsara, maka kita perlu memegang basis atau dasar praktik kita, yaitu 4 kebenaran mulia, 12 mata rantai, dan akar samsara (karma dan klesha). Penolakan pribadi terhadap samsara ini harus timbul. Jika tidak, maka kita tidak dapat menumbuhkan motivasi untuk menolong semua makhluk atau bahkan jika kita mampu menumbuhkan motivasi, itu hanyalah ucapan tanpa makna semata.</p>
<p>Untuk dapat menekan ego dan sifat mementingkan “aku”, kita harus berupaya untuk membangkitkan motivasi untuk menolong semua makhluk (Bodhicita). Untuk membangkitkan Bodhicita, maka tahapannya adalah dimulai dari melihat semua makhluk setara, kemudian menganggap semua makhluk adalah ibu-ibu kita, mengingat kebaikan mereka, membalas kebaikan mereka, mengembangkan cinta kasih, mengembangkan welas asih, mengbangkitkan niat, dan kemudian akan timbullah Bodhicita.</p>
<p>Kita perlu melihat orang lain dengan keseimbangan batin: melihat semua makhluk setara, baik yang merupakan orang yang kita sayangi, orang yang kita anggap netral, maupun orang yang kita anggap musuh. Semua makhluk memiliki hak yang sama untuk ditolong. Jika kita tidak dapat melihat semua makhluk adalah setara, artinya ego kita masih sangat besar. Kita membeda-bedakan makhluk berdasarkan hubungannya dengan &#8220;aku&#8221;. Dengan kata lain, kita masih mempertahankan sifat mementingkan “aku”.</p>
<p>Setelah melihat semua makhluk setara, kita juga perlu melihat semua makhluk sebagai ibu kita. Semua makhluk pernah menjadi ibu kita karena kita telah lahir selama tak terhingga kehidupan. Ibu kita bukan saja dalam bentuk kelahiran manusia. Ibu kita di kehidupan lampau yang tak terhingga bisa saja merupakan ibu ayam, ibu bebek, ibu gajah, dan bukan tak mungkin ibu kita di masa lampau itu sedang terlahir di neraka sekarang. Ibu kita seperti seorang nenek tua dan gila yang sebentar lagi akan masuk ke jurang yang sangat dalam. Tua karena sudah terlahir tak terhingga kehidupan dan gila karena melakukan banyak hal yang keliru. Jurang yang sangat dalam melambangkan samsara yang memiliki kedalaman yang tak terukur. Untuk itu, kita tidak boleh bersantai-santai sekarang. Kita harus bergerak untuk menolong mereka!</p>
<p>Tidak hanya ibu kita, semua makhluk juga turut berkontribusi bagi kehidupan kita. Misalnya sekarang kita memiliki kondisi yang nyaman untuk belajar Dharma dikarenakan kebaikan hati semua makhluk. Untuk dapat belajar Dharma dengan baik, kita butuh makan dengan baik. Kita dapat makan dengan baik dikarenakan jasa dari para petani, pengangkut kebutuhan makanan, supir distribusi kebutuhan makanan kita, serta pemasak makanan. Segala hal yang mendukung kehidupan kita adalah berkat kebaikan hati semua makhluk tanpa terkecuali. Kita berutang kepada semua makhluk. Kita harus membalas kebaikan semua makhluk. Kemudian, cinta kasih dan welas asih pun akan berkembang sehingga niat untuk membantu semua makhluk</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-9-ibu-ibu-kita-yang-tak-terhingga-jumlahnya/">DAY 9 – Ibu-Ibu Kita Yang Tak Terhingga Jumlahnya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-9-ibu-ibu-kita-yang-tak-terhingga-jumlahnya/">DAY 9 &#8211; Ibu-Ibu Kita Yang Tak Terhingga Jumlahnya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DAY 8 &#8211; Tinggalkan Zona Nyaman, Raihlah Pencapaian</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-8-tinggalkan-zona-nyaman-raihlah-pencapaian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2019 13:54:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[ILR2018]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4266</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Memasuki hari terakhir sesi pengajaran Indonesian Lamrim Retreat 2018, Y. M. Biksu Bhadra Ruci kembali mengawali sesi dengan mengajak peserta membangkitkan motivasi dengan mengingat kelahiran tubuh manusia yang berharga ini. Kita seringkali menganggap bahwa konsep aku, diri, batin ini kekal, padahal tidak ada jaminan bahwa kita akan hidup di esok hari. Kita harus menghadapi ketidakkekalan [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-8-tinggalkan-zona-nyaman-raihlah-pencapaian/">DAY 8 – Tinggalkan Zona Nyaman, Raihlah Pencapaian</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-8-tinggalkan-zona-nyaman-raihlah-pencapaian/">DAY 8 &#8211; Tinggalkan Zona Nyaman, Raihlah Pencapaian</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Memasuki hari terakhir sesi pengajaran Indonesian Lamrim Retreat 2018, Y. M. Biksu Bhadra Ruci kembali mengawali sesi dengan mengajak peserta membangkitkan motivasi dengan mengingat kelahiran tubuh manusia yang berharga ini. Kita seringkali menganggap bahwa konsep aku, diri, batin ini kekal, padahal tidak ada jaminan bahwa kita akan hidup di esok hari. Kita harus menghadapi ketidakkekalan dan kematian. Kondisi ini juga diperparah dengan cara pandang kita yang sudah dicemari oleh karma dan klesha kita. Jadi kita harus segera mencari cara untuk melatih batin kita, paling tidak agar kehidupan masa yang akan datang lebih baik, sampai pada mencapai pencerahan sempurna.</p>
<p>Penderitaan yang diterima seseorang bergantung pada sensitif atau tidaknya batin orang tersebut. Jika batin itu sensitif maka penderitaan yang diterima semakin besar. Banyak orang yang tidak menyadari hal ini karena batin sudah menjadi fosil yang lebih purba dari dinosaurus. Ego kita sudah sangat keras karena telah dipupuk sejak waktu yang tak bermula. Semua ini penyebabnya cuma satu, yaitu sikap mementingkan diri sendiri.</p>
<p>Ini berlawanan dengan apa yang harus kita kembangkan, yaitu Bodhicita. Jika belum bisa mengembangkan Bodhicita, setidaknya kita harus mengikis ego. Ego atau sikap mementingkan diri sendiri itu adalah penyebab semua masalah yang terjadi di dunia. Karena masing-masing orang mementingkan diri sendiri, maka terjadilah friksi, konflik, dan perang. Maka dari itu, semua ritual dan praktik-praktik yang dilakukan di Buddhis semua bertujuan untuk mengikis ego. Suhu Bhadra Ruci memberikan contoh praktik Choe Tag yang dilakukan di Nepal, yaitu praktik memberikan kebahagiaan pada makhluk-makhluk di kuburan seperti setan, gandarva, dsb. Praktik seperti itu memang terlihat keren dan eksotis dari luar, akan tetapi tidak semudah itu dalam melakukannya. Kita seharusnya jangan naif dan sok mempraktikkan ritual-ritual karena kebanyakan dari kita sebenarnya belum siap berhadapan dengan ego kita.</p>
<p>Belajar Buddhadharma dengan serius itu butuh keberanian: berani mengambil keputusan yang berat (misalnya menjadi biksu) dan berani hidup sengsara. Guru-guru Kadampa menyatakan bahwa hidup yang nyaman justru tidak mendukung praktik Dharma. Ajaran Buddha justru bisa mengubah kondisi tragis/buruk untuk meningkatkan kondisi batin. Contohnya adalah biksu-biksu Tibet yang dipenjara oleh pemerintah Cina. Mereka mampu menjadikan siksaan dan penderitaan mereka di penjara menjadi latihan transformasi batin. Bagaimana itu bisa terjadi? Itu karena penderitaan merupakan latihan yang bisa mengikis ego kita. Caranya adalah dengan menerapkan metode &#8220;tonglen&#8221; atau &#8220;terima kasih&#8221;, sebuah ajaran Buddhis asli dari Indonesia yang membuat guru-guru besar Buddhis di masa lampau datang ke Nusantara di masa lampau untuk mempelajarinya.</p>
<p>Suhy Bhadra Ruci menjelaskan secara singkat cara visualisasi metode &#8220;terima kasih&#8221; ini. Saat kita merasa sakit, pikirkan bahwa banyak makhluk yang seperti kita juga menderita sakit yang sama seperti kita sekarang ini (bahkan bisa lebih berat). Kita harus merasa sakit karena jika tidak, kita tidak bisa berempati, tidak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh makhluk lain tersebut. Setelah membayangkan seluruh penderitaan yang sama dari makhluk-makhluk, kita bayangkan bahwa penderitaan itu berkumpul menjadi satu awan hitam. Bayangkan kita menerima awan hitam ini masuk ke dalam jantung hati kita, berkumpul menjadi satu titik hitam yang terkonsentrasi, kemudian kita berpikir bahwa titik hitam ini disambar petir dan hilang. Praktik ini harus disertai dengan perasaan yang kuat. Jika tidak,praktik ini hanya menjadi sebuah ilusi. Hasilnya tentu tidak mungkin didapat secara instan. Ego kita baru akan terasa berkurang jika kita sudah sering mempraktikkan hal ini.</p>
<p>Sesi kedua yang merupakan sesi terakhir dari Indonesian Lamrim Retreat dilanjutkan dengan pembahasan tentang enam paramita yang harus dipraktikkan ketika kita sudah membangkitkan Bodhicita. Beliau mengemukakan bahwa orang Indonesia seharusnya menjadikan enam paramita sebagai praktik harian. Konsep enam paramita mudah dibahas, apalagi diungkapkan dengan sajak-sajak yang indah seperti yang dijelaskan pada Bodhicaryawatara (Lakon Hidup Bodhisatwa) karya Shantidewa. Meski demikian, praktik ini sulit dilakukan karena dasarnya ini adalah motivasi agung (membebaskan semua makhluk dari samsara). Seseorang haruslah memiliki rasa penolakan samsara dari motivasi menengah untuk bisa mempelajari motivasi agung. Masalahnya banyak dari kita yang masih menyukai dunia dan tidak menganggap bahwa hidup itu penderitaan. Suhu Bhadra Ruci juga memberikan uraian bahwa praktik Bodhisatwa bukan mengendalikan hal-hal eksternal, tetapi mengendalikan batin. Seperti yang diungkapkan pada kata-kata: “Kulit yang bisa menutupi seluruh bumi adalah kulit yang berada di kakiku”, dengan mengendalikan batin sendiri kita bisa mengatasi masalah yang ada di luar diri kita.</p>
<p>Di penghujung sesi, dijelaskan dengan singkat tentang jalan Vajrayana/Tantrayana. Lamrim atau &#8220;Tahapan Jalan Menuju Pencerahan&#8221; disebut ‘jalan umum’ untuk mencapai Kebuddhaan, sedangkan Vajrayana disebut ‘jalan khusus’. Untuk mempraktikkan Vajrayana, dibutuhkan dasar berupa realisasi akan ke-14 topik Lamrim. Tanpa realisasi penolakan samsara dan Bodhicita, praktik Vajrayana hanya akan menjatuhkan kita ke neraka. Suhu Bhadra Ruci juga memberikan analogi berikut: Vajrayana hanyalah teknik memasak, bahan!6@ masakan adalah 14 topik Lamrim, apinya adalah energi tubuh kita, dan kokinya adalah batin kita. Jadi semua ajaran memiliki peranan pada hasil masakan yang nanti kita akan makan, apakah jadi enak, belum matang, atau gosong.</p>
<p>Di sesi terakhir ini Suhu Bhadra Ruci memberikan sedikit kata penutup. Beliau sangat senang bisa menyelesaikan sesi pengajaran ini karena energi positif yang bisa dihasilkan dari tradisi pengajaran Dharma bisa membawa perubahan positif bagi bangsa Indonesia. Jiwa orang yang tadinya kasar dan penuh ego dapat berubah menjadi penuh welas kasih setelah sekumpulan orang bersama-sama belajar Dharma dengan penuh keseriusan. Beliau pun mengajak seluruh peserta untuk mendedikasikan sesi ini untuk umur panjang Guru-guru, penyebaran Buddhadharma, dan perdamaian dunia.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-8-tinggalkan-zona-nyaman-raihlah-pencapaian/">DAY 8 – Tinggalkan Zona Nyaman, Raihlah Pencapaian</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-8-tinggalkan-zona-nyaman-raihlah-pencapaian/">DAY 8 &#8211; Tinggalkan Zona Nyaman, Raihlah Pencapaian</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DAY 7 &#8211; Jebakan Itu Bernama &#8216;Zona Nyaman&#8217;</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-7-jebakan-itu-bernama-zona-nyaman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2019 13:48:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[ILR2018]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4263</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di dalam Lamrim, terdapat 3 motivasi atau tingkatan pemahaman praktisi, yaitu motivasi kecil, motivasi menengah, dan motivasi agung. Di hari ke-7 Indonesia Lamrim Retreat 2018, Yang Mulia Biksu Bhadra Ruci kembali mengingatkan kita tentang ketiga motivasi tersebut. Penjelasannya secara berurutan dari motivasi kecil hingga motivasi agung adalah: aspirasi untuk memperoleh bentuk kelahiran yang membahagiakan di [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-7-jebakan-itu-bernama-zona-nyaman/">DAY 7 – Jebakan Itu Bernama ‘Zona Nyaman’</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-7-jebakan-itu-bernama-zona-nyaman/">DAY 7 &#8211; Jebakan Itu Bernama &#8216;Zona Nyaman&#8217;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Di dalam Lamrim, terdapat 3 motivasi atau tingkatan pemahaman praktisi, yaitu motivasi kecil, motivasi menengah, dan motivasi agung. Di hari ke-7 Indonesia Lamrim Retreat 2018, Yang Mulia Biksu Bhadra Ruci kembali mengingatkan kita tentang ketiga motivasi tersebut. Penjelasannya secara berurutan dari motivasi kecil hingga motivasi agung adalah: aspirasi untuk memperoleh bentuk kelahiran yang membahagiakan di kelahiran mendatang, aspirasi untuk terbebas dari samsara, dan aspirasi mencapai Kebuddhaan demi semua makhluk.</p>
<p>Seseorang memasuki tingkatan motivasi yang lebih tinggi ketika level pemahaman maupun pandangan spiritual seorang praktisi telah meningkat. Jika di motivasi awal praktisi Dharma fokus pada mengumpulkan kebajikan dan mengurangi ketidakbajikan demi kebahagiaan di kehidupan mendatang, praktisi motivasi menengah sudah setingkat lebih lanjut. Di tahap ini, pembebasan dari samsara telah direalisakan dalam batin. Pencapaian besar ini tentu tidak datang dari langit begitu saja, melainkan merupakan buah upaya yang luar biasa besar melalui analisis dan perenungan lebih lanjut mengenai topik lamrim yang telah dipelajari dan juga berkah dari guru spiritual. Tidak bisa dan tidak masuk akal sama sekali jika seorang praktisi ingin memperoleh pencapaian ini jika ia hanya bermalas-malasan, merasa nyaman, dan bahkan terlena oleh kenikmatan duniawi.</p>
<p>Dunia dengan segala kenikmatan indra adalah sebuah zona nyaman. Jika seorang praktisi Dharma terlena dan terperangkap di zona nyaman ini, bukan saja tidak ada perkembangan dan pencapaian yang bisa diraih, batin praktisi tersebut juga dapat merosot pada kehidupan mendatang. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan kita membawa kualitas diri kita dari setiap kehidupan ke kehidupan selanjutnya. Jika pada kehidupan sekarang kapasitas seseorang berada pada level tertentu, maka di kehidupan selanjutnya ia pun akan membawa kualitas dengan level tersebut. Tidak mungkin lebih. Maka, jika pada kehidupan sekarang seseorang bermalas-malasan, tidak akan ada perkembangan batin yang akan dibawa sebagai bekal kehidupan selanjutnya. Bahkan, akan sangat mungkin jika batin yang dibawa ke kehidupan selanjutnya merosot dikarenakan buaian kenikmatan duniawi. Untuk itu, kita perlu berupaya, banyak belajar, banyak merenung, banyak menganalisa untuk menaikkan kapasitas sehingga dapat keluar dari samsara. Hal inilah yang disebut dengan praktik Dharma yang sesungguhnya.</p>
<p>Selama seorang mahluk terlahir di alam samsara, tidak peduli apapun bentuk kelahirannya, makhluk tersebut pasti akan merasakan 6 penderitaan samsara secara umum, yaitu: (1) ketidakpastian, (2) ketidakpuasan, (3) keharusan meninggalkan tubuh berulang kali, (4) keharusan terlahir kembali berulang kali, (5) status yang berubah, dan (6) tiadanya teman sejati. Ini semua terjadi dan menyiksa kita bahkan ketika kita terlahir di alam tinggi sekalipun. Selama kita tidak menghentikan siklus tumimbal lahir, kita akan terus mengalami penderitaan tersebut dan tidak menemukan jalan keluar.</p>
<p>Salah satu hal yang turut berkontribusi membuat kita tidak bisa melihat bahwa hidup merupakan penderitaan adalah peran orang tua yang terlalu memanjakan anaknya. Ibarat kisah anak kota dan anak desa; anak desa terbiasa main di luar, terluka, dan kehilangan sehingga terbiasa dengan kenyataan kenyataan bahwa hidup ini menderita, sedangkan anak kota tinggal di rumah ditemani oleh kotak bercahaya alias televisi atau gadget dan hanya melihat dunia rekaan, bukan realita yang sesungguhnya. Fenomena tetaplah sebuah fenomena. Meskipun, fenomena yang dilihat oleh anak desa dan anak kota sama, namun hal yang dirasakan oleh kedua anak tersebut adalah berbeda. Ketika tumbuh dewasa, anak desa bisa lebih kuat menghadapi kondisi yang tak menyenangkan sementara anak kota rawan jatuh depresi karena tak terbiasa dengan kegagalan dan kehilangan.</p>
<p>Terkadang, ada juga fenomena menyakitkan yang membuat batin kita tidak berkembang. Untuk itu, pelajaran bahwa hidup adalah penderitaan sangat diperlukan. Kita masih hidup dengan konsep yang kita buat sendiri. Kita berjuang mati-matian untuk konsep ini. Kita sangat melekat erat padanya dan ketika konsep tersebut runtuh maka kita pun akan runtuh karena konsep ini tidak pasti.</p>
<p>Kita masih berada di alam menderita karena penderitaan tersebut adalah buah dari karma kita. Karma memaksa kita untuk memikul skandha yang mencengkeram. Dengan skandha ini, kita lahir dengan wadah yang bergantung pada alam kehidupan dan memikul penderitaan. Karma dihasilkan oleh klesha atau faktor mental pengganggu, faktor mental yang ketika muncul akan membuat batin kita resah dan bergejolak. Karma tanpa klesha tak akan menghasilkan buah, tapi klesha tanpa karma akan mendorong kita membuat karma baru sehingga kita harus kembali terlahir untuk mengalami akibatnya. Jadi, selama klesha masih ada, kita akan terus berputar-putar dalam samsara. Terdapat 6 klesha utama, yaitu kemelekatan, kemarahan, kesombongan, kebodohan, keragu-raguan, dan pandangan salah. Semua klesha muncul karena adanya pandangan akan &#8220;aku&#8221; yang dapat berdiri sendiri. &#8220;Aku&#8221; ini sesungguhnya tidak eksis, namun kita mencengkeram keberadaannya dan menjadikannya pusat dari alam semesta. Kita pun menuntut agar &#8220;aku&#8221; ini disenangkan, dilayani, dan menjadi lebih dari &#8220;yang lain&#8221; sehingga memunculkan kemarahan, kecemburuan, kemelekatan, dan sebagainya yang membuat kita menderita. Ketika kita bisa mengatasi pandangan salah ini, klesha kita akan terhenti dan kita pun bisa terbebas dari samsara. Hal ini bisa dicapai salah satunya dengan cara melatih sila untuk mendisiplinkan batin kita agar berfokus pada objek-objek bajik dan menjauh dari objek yang tak bajik sehingga klesha-klesha yang biasanya muncul dengan cepat dapat berkurang dan melemah perlahan-lahan.</p>
<p>Sebagai penutup sesi, Suhu Bhadra Ruci mengajak kita semua untuk memperluas fokus kita agar melihat lebih dari sekedar bajik dan tak bajik (motivasi kecil), tapi juga mulai memikirkan cara menghentikan samsara atau tidak (motivasi menengah). Kita harus benar-benar merealisasi topik motivasi menengah ini, harus paham penderitaan samsara sehingga kita dapat memahami penderitaan semua makhluk dan pada akhirnya dapat menolong semua makhluk untuk bebas dari samsara (motivasi agung).</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-7-jebakan-itu-bernama-zona-nyaman/">DAY 7 – Jebakan Itu Bernama ‘Zona Nyaman’</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-7-jebakan-itu-bernama-zona-nyaman/">DAY 7 &#8211; Jebakan Itu Bernama &#8216;Zona Nyaman&#8217;</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DAY 6 &#8211; Triratna, Pelindung yang Kekuatannya Tak Terhingga</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-6-triratna-pelindung-yang-kekuatannya-tak-terhingga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2019 13:44:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[ILR2018]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4259</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Memasuki sesi pengajaran hari ke-6 Indonesia Lamrim Retreat 2018, Y. M. Biksu Bhadra Ruci mengajak kita untuk merenungkan: apa yang kerap kali kita lakukan ketika memulai hari? Mandi? Makan? Adakah dari diri kita yang memulai hari dengan merenungkan kelahiran sebagai manusia yang berharga? Walaupun kemungkinan untuk terlahir sebagai manusia sangat langka, bagaikan kura-kura buta di [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-6-triratna-pelindung-yang-kekuatannya-tak-terhingga/">DAY 6 – Triratna, Pelindung yang Kekuatannya Tak Terhingga</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-6-triratna-pelindung-yang-kekuatannya-tak-terhingga/">DAY 6 &#8211; Triratna, Pelindung yang Kekuatannya Tak Terhingga</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Memasuki sesi pengajaran hari ke-6 Indonesia Lamrim Retreat 2018, Y. M. Biksu Bhadra Ruci mengajak kita untuk merenungkan: apa yang kerap kali kita lakukan ketika memulai hari? Mandi? Makan? Adakah dari diri kita yang memulai hari dengan merenungkan kelahiran sebagai manusia yang berharga?</p>
<p>Walaupun kemungkinan untuk terlahir sebagai manusia sangat langka, bagaikan kura-kura buta di dalam samudra yang memunculkan kepalanya setiap 100 ribu tahun sekali dengan kepalanya tepat keluar di atas sebuah cincin, kita sering menyepelekan hal ini dengan mengabaikan praktik Dharma. Bagi kita, praktik yang serius hanyalah duduk di depan altar untuk sembahyang dan mengharap berkah datang kepada kita. Kemudian melanjutkan aktivitas keseharian, kembali bekerja, dan menghabiskan waktu. Kita selalu meletakkan Dharma dan aktivitas keseharian seperti minyak dan air. Tidak hanya itu, kita bahkan sering membuat kesalahan besar dengan membeda-bedakan Dharma dan memandang rendah Dharma yang tampak berbeda dari yang kita pelajari. Padahal kitalah yang tidak punya cukup pengetahuan akan keseluruhan Dharma Sang Buddha yang amat luas dan ditujukan untuk berbagai jenis murid. Akibatnya, kita cenderung merasa sudah tahu segalanya dan tidak pernah merasa butuh untuk belajar dan berpraktik Dharma. Tentu saja hal tersebut juga membuat kita tidak pernah secara aktif dan konkret mengembangkan batin. Selain itu, Dharma pun sulit bertumbuh apalagi berkembang, sebab guru spiritual hanya dianggap sebagai orang biasa. Hal tersebut membuat kita sulit mencapai kemajuan batin dan tidak mampu menumbuhkan faktor mental bajik. Saat kita ingin mempraktikkan Dharma, kita pun sering luput dari mencoba untuk memposisikan diri sebagai seorang pasien yang membutuhkan pertolongan. Tak aneh bila kemudian, praktik yang kita lakukan menjadi tidak murni.</p>
<p>Bila kita cermati, praktik Dharma yang ingin kita lakukan semakin ternoda dengan semakin mudahnya segala sesuatu di dunia ini. Dengan berkembangnya teknologi, kita selalu berusaha membuat indra kita nyaman. Misalnya, sibuk memperhatikan konten-konten media sosial, hanya ingin berada di ruangan ber-AC, dan masih banyak lagi. Usaha-usaha tersebut lantas menjadi bahan bakar bagi kita untuk terus mengupayakan ambisi-ambisi duniawi yang kita miliki tanpa diiringi dengan praktik pengembangan batin. Kita tidak sadar bahwa kenyamanan indrawi yang kita rasakan menyebabkan timbulnya kemelekatan yang bersemayam dalam batin. Kita melupakan bahwa hidup dengan memiliki jasmani manusia bagaikan buih sabun, yang sangat lemah dan sangat cepat menghilang. Hal tersebut dikatakan demikian sebab faktor yang mendukung kehidupan seperti makan pun bisa menjadi faktor kematian. Kita juga lupa bahwa ketika mati kelak, semua hal yang mati-matian kita perjuangkan—harta, reputasi, dan kesenangan indrawi lainnya tidak bisa kita bawa ke kehidupan berikutnya. Saat mati, harta tak akan bisa beranjak bahkan seinci pun, terlebih mengantar kepergian kita. Teman-teman yang berusaha kita senangi di kala hidup hanya akan mengantar kematian kita di persimpangan jalan. Keluarga yang kita sayangi sepanjang hayat, hanya bisa mengantarkan kita hingga ke depan kubur kita kelak. Tubuh dan jasmani, yang tak pernah sedetik pun meninggalkan kita bahkan akan kita tinggalkan ketika tiba waktunya bagi kita untuk mati. Hanya karma baik dan buruklah yang akan menemani kita ketika kita mati. Sayangnya, kita terlalu terlena, kurang mengumpulkan kebajikan dan memelihara ketidakbajikan, dan pada akhirnya menjerumuskan diri sendiri ke alam rendah.</p>
<p>Oleh karena banyaknya ketertarikan kita terhadap hal yang tidak bajik, kita butuh bergegas menyelamatkan batin sebelum kematian menjemput. Sebagaimana telah disebutkan pada hari-hari sebelumnya, kita butuh bertumpu dan berbakti pada guru spiritual—sosok yang mampu memberikan berkah bagi batin kita dengan membuat kita sadar dan ‘bangun’ untuk keluar dari penderitaan yang kita alami. Di samping itu, dengan merenungkan kematian yang pasti dan bertumpu pada metode yang bisa membuat kita mencapai kehidupan berikut yang lebih bahagia, barulah kita bisa terbebas dari alam rendah. Metode tersebut adalah dengan mencari perlindungan. Mencari perlindungan artinya kita pergi untuk mencari dan mengambil perlindungan di luar diri kita yang sulit untuk mengembangkan kualitas bajik.</p>
<p>Untuk bisa mencari perlindungan, kita harus dengan cermat dan tepat mengenali objek mana yang layak untuk kita jadikan sebagai perlindungan dan mana yang tidak. Untuk mengenalinya, kita harus merenungkan bahwa semua makhluk di dunia ini—teman, keluarga, musuh, orang yang disukai maupun tak disukai—tanpa terkecuali, mengalami penderitaan. Adanya karma-karma buruk yang terus menerus kita lakukan membuat kita terus terjebak dalam samsara, mengalami lahir-tua-sakit-mati yang terus berulang, yang akhirnya membuat penderitaan yang kita alami tidak terhingga. Untuk bisa mengatasi penderitaan tak berhingga, tentulah dibutuhkan sebuah kemampuan yang bisa menyamai hal tersebut. Hanya dengan kemampuan untuk menolong yang juga tak berhinggalah, kita bisa memperoleh perlindungan yang sesungguhnya.</p>
<p>Buddha-lah sosok yang memiliki kemampuan menolong tak berhingga, yang dengan welas asihnya mengajarkan Dharma untuk mengeluarkan kita dari samsara. Namun sosok Buddha sering kali lenyap dalam batin kita karena bayangan akan sebesar apa pertolongan yang mampu diberikan Buddha sudah tidak ada sehingga kita tidak pernah meminta pertolongan kepada Buddha. Padahal, dengan menyatakan perlindungan dan bertrisaranalah kita bisa terhindar dari kelahiran di alam rendah. Untuk itulah, demi menghidupkan kembali Buddha dalam batin ini, kita perlu memupuk banyak karma bajik dan menumbuhkan keyakinan kita terhadap Buddha, Dharma, dan Sangha. Hal ini misalnya, bisa kita lakukan dengan membuat tsa-tsa Buddha agar menimbulkan aspirasi untuk bisa mendapatkan kualitas yang sama bajiknya dengan Buddha, sekaligus menumbuhkan pikiran bajik berupa keyakinan dalam batin kita dan orang-orang yang melihat wujud Buddha yang kita buat. Potensi-potensi karma bajik ini pun dapat kita arahkan sehingga menjadi sebab untuk matangnya kualitas-kualitas layaknya Buddha dalam batin.</p>
<p>Buddha telah bersabda bahwa pulau pelindung bagi diri kita sendiri adalah diri sendiri. Itu bukan berarti kita tidak perlu berlindung kepada Triratna. Ketika berlindung pada Triratna, Buddha melindungi kita dengan menunjukkan jalan Dharma yang harus kita tapaki untuk bisa terhindar dari kelahiran alam rendah bahkan terbebas dari samsara, jalan yang kita lalui dengan ditemani  dan dibimbing oleh Sangha. Namun, pada akhirnya, kita yang memegang kendali dan kebebasan untuk bertindaklah yang akan memutuskan akan seperti apa kita kelak di kelahiran berikut. Alam rendah atau kelahiran kembali yang berharga sebagai manusiakah yang akan kita pilih? Berlindung pada diri sendiri yang dimaksud Sang Buddha berarti kita dengan kesadaran pribadi menyambut perlindungan Buddha dengan mempraktikkan Dharma yang Beliau ajarkan.</p>
<p>Apapun keputusan yang kita capai nantinya, kita harus merenung dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai di kemudian hari, kita menyesal telah menyengsarakan diri kita di kehidupan berikut dengan menyia-nyiakan kebebasan dan keberuntungan yang kita miliki saat ini.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-6-triratna-pelindung-yang-kekuatannya-tak-terhingga/">DAY 6 – Triratna, Pelindung yang Kekuatannya Tak Terhingga</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/day-6-triratna-pelindung-yang-kekuatannya-tak-terhingga/">DAY 6 &#8211; Triratna, Pelindung yang Kekuatannya Tak Terhingga</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MOTIVASI &#8211; Budayakan Belajar, Tak Sekadar &#8220;Nonton&#8221; Ceramah</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2019/01/03/motivasi-budayakan-belajar-tak-sekadar-nonton-ceramah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2019 13:33:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[ILR2018]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4255</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanpa terasa satu tahun telah berlalu sejak saya terakhir menginjakkan kaki di Jakarta untuk mengikuti Indonesia Lamrim Retreat. Video recap retret tahun 2016 dan 2017 yang ditayangkan di awal malam pembukaan juga memperkuat rasa nostalgia. Tahun ini pun lebih dari 400 orang kembali berkumpul di Gedung Prasadha Jinarakkhita, Jakarta, untuk mengisi akhir tahun dengan belajar, [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/motivasi-budayakan-belajar-tak-sekadar-nonton-ceramah/">MOTIVASI – Budayakan Belajar, Tak Sekadar “Nonton” Ceramah</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/motivasi-budayakan-belajar-tak-sekadar-nonton-ceramah/">MOTIVASI &#8211; Budayakan Belajar, Tak Sekadar &#8220;Nonton&#8221; Ceramah</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanpa terasa satu tahun telah berlalu sejak saya terakhir menginjakkan kaki di Jakarta untuk mengikuti Indonesia Lamrim Retreat. Video recap retret tahun 2016 dan 2017 yang ditayangkan di awal malam pembukaan juga memperkuat rasa nostalgia. Tahun ini pun lebih dari 400 orang kembali berkumpul di Gedung Prasadha Jinarakkhita, Jakarta, untuk mengisi akhir tahun dengan belajar, merenungkan, dan memeditasikan Dharma.</p>
<p>Indonesia Lamrim Retreat 2018 bersama Yang Mulia Biksu Bhadra Ruci akan berlangsung selama 12 hari, tepatnya pada tanggal 21 Desember 2018-1 Januari 2019. Bahannya adalah &#8220;Instruksi Guru yang Berharga&#8221; karya Phabongkha Rinpoche. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Y. M. Biksu Bhadra Ruci belum mulai masuk ke topik tersebut di sesi pertama pada tanggal 21 malam. Di &#8220;malam motivasi&#8221; ini, Beliau memulai dengan membekali kami para peserta dengan satu hal yang amat penting: cara belajar Dharma.</p>
<p>Yang Mulia Biksu Bhadra Ruci yang akrab disapa &#8220;Suhu&#8221; pertama-tama mengingatkan kami tentang alasan adanya kegiatan Indonesia Lamrim Retreat, yaitu melestarikan budaya belajar Buddhadharma&#8211;belajar serius dalam artian secara aktif melatih diri, tak hanya duduk diam, sembahyang, dan meditasi. Beliau juga mengatakan bahwa belajar bukan sekadar mendengar ceramah. Ketika menyaksikan penceramah yang mahir dan asyik, kita akan mendengarkan dengan semangat, bahkan terlena mendengar cerita-cerita yang disampaikan. Saat itu kita tak ubahnya menonton tontonan di youtube. Saat itu kita tidak sedang belajar Dharma. Bagian ini cukup membuat saya (dan mungkin banyak peserta lain juga) merasa tertohok berhubung salah satu hal yang membuat saya bersemangat mengikuti retret dengan Y. M. Suhu adalah kepiawaian Beliau menyelipkan berbagai cerita untuk menjelaskan topik ajaran.</p>
<p>Yang Mulia Suhu kemudian memberikan kiat jitu belajar Dharma, yaitu mencatat pemahaman yang kita dapatkan saat mendengarkan ajaran. Saat mendengarkan guru mengajar, pasti ada poin sangat mengena bagi kita. Poin ini harus kita catat. Setelah sesi, kita buka kembali catatan kita dan tanyakan lagi pada diri sendiri, benarkah poin yang kita catat tersebut? Seperti apa diri kita jika dibandingkan dengan poin tersebut? Dari situ kita bisa mengukur diri kita sendiri yang sesungguhnya. Hasil perenungan ini kita tambahkan ke catatan kita. Di titik ini kita sudah menjadi lebih sadar dengan kualitas diri kita beserta apa-apa saja yang perlu kita perbaiki sesuai dengan Dharma yang kita pelajari. Penemuan diri ini merupakan suatu kemajuan, tapi mungkin hanya bertahan 3-4 hari sebelum kita kembali ke kebiasaan lama. Saat menyadari hal tersebut, kita tentu bisa memunculkan tekad untuk berubah. Tekad ini bisa bertahan beberapa bulan sampai akhirnya kita harus mendegarkan Dharma dalam suasana retret lagi. Proses ini bisa berlangsung berkali-kali dan memakan waktu bertahun-tahun, tapi itu tak jadi soal selama kita terus memperkuat tekad untuk berubah.</p>
<p>Yang Mulia Suhu mengajak kami semua untuk mengisi malam ini dengan merenungkan untuk apa kami mengikuti retret. Tujuan belajar Dharma seharusnya adalah menjadi bahagia. Lagi-lagi kita harus bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah bahagia? Jangan sampai kita seperti orang kebanyakan yang tak sadar bahwa dirinya tak bahagia. Belajar Dharma adalah kesempatan yang tepat untuk mengidentifikasi apa yang membuat kita tak bahagia. Dari situ, kita bisa pelan-pelan mengubah diri dan cara pandang kita untuk mengatasi ketidakbahagiaan itu sesuai dengan cara Sang Buddha.</p>
<p>Yang Mulia Suhu juga mengingatkan kami agar tidak menjadi wadah yang terbalik, kotor, atau bocor. Wadah terbalik berarti kita menolak Dharma yang kita dengar mentah-mentah. Wadah kotor berarti mendengarkan ajaran dengan motivasi yang salah atau sambil memegang teguh pandangan sendiri sehingga muncul keraguan terhadap Dharma atau bahkan pandangan salah. Wadah yang bocor berarti kita gagal mengingat apa yang diajarkan. Cara mengatasinya bisa dengan mencatat seperti yang dijelaskan di awal tadi.</p>
<p>Setelah memastikan kita menjadi wadah yang bersih dan terbuka dalam belajar Dharma, kita juga harus belajar dengan motivasi yang kuat dan sikap yang tepat. Tanyakan pada diri kita, dari mana datangnya segala macam ketidakbahagiaan atau permasalahan yang kita alami sehari-hari? Itu karena kita membawa &#8216;penyakit&#8217; dalam bentuk gangguan batin (klesha). Dari situ kita datang sebagai seorang pasien yang sekarat mencari obat Dharma dari dokter yang mahir, yaitu guru yang mengajarkan Dharma. Kita tidak akan mendapat apapun jika mengikuti retret dengan batin yang mengomel atau sekadar ingin tahu untuk membanding-bandingkan ajaran. Namun, jika kita datang dengan tulus ingin menyembuhkan diri kita dengan Dharma, satu kalimat sederhana saja bisa sangat bermanfaat dan mengubah hidup jadi lebih baik.</p>
<p>Terakhir, Yang Mulia Suhu menjelaskan bahwa ada satu hal penting lagi yang kita butuhkan agar bisa belajar Dharma, yaitu kebajikan. Bahkan untuk bernapas saja kita butuh kebajikan, apalagi untuk menuntaskan upaya besar untuk mengubah diri kita? Oleh karena itu, di ILR 2018 ini, hari pertama retret di 22 Desember 2018 alam diisi dengan rangkaian puja untuk mengumpulkan kebajikan sebanyak mungkin, bahan bakar untuk belajar selama 12 hari ke depan. Ritual yang dilakukan tidak besar, namun kebajikan yang dibangkitkan akan besar. Kebajikan ini akan membuat hati kita lebih terbuka dan leluasa berbicara sehingga dapat dengan lebih mudah menerima Dharma dan mencapai perubahan yang nyata dalam hidup kita.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/motivasi-budayakan-belajar-tak-sekadar-nonton-ceramah/">MOTIVASI – Budayakan Belajar, Tak Sekadar “Nonton” Ceramah</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/motivasi-budayakan-belajar-tak-sekadar-nonton-ceramah/">MOTIVASI &#8211; Budayakan Belajar, Tak Sekadar &#8220;Nonton&#8221; Ceramah</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DAY 5 &#8211; Mari Merenung Sebelum Mati</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2019/01/03/merenung-sebelum-mati/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2019 05:03:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[ILR2018]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4246</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanpa terasa, sesi pengajaran Indonesia Lamrim Retreat 2018 telah memasuki hari ke-5. Y. M. Biksu Bhadra Ruci kembali mengingatkan bahwa kita lahir dengan tubuh manusia yang berharga, namun tidak ada jaminan memperolehnya lagi di masa yang akan datang karena sehari-hari kita cenderung lalai dalam menghimpun sebab-sebabnya. Oleh karena itu, kita harus menggunakan sebaik mungkin tubuh [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/merenung-sebelum-mati/">DAY 5 – Mari Merenung Sebelum Mati</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/merenung-sebelum-mati/">DAY 5 &#8211; Mari Merenung Sebelum Mati</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tanpa terasa, sesi pengajaran Indonesia Lamrim Retreat 2018 telah memasuki hari ke-5. Y. M. Biksu Bhadra Ruci kembali mengingatkan bahwa kita lahir dengan tubuh manusia yang berharga, namun tidak ada jaminan memperolehnya lagi di masa yang akan datang karena sehari-hari kita cenderung lalai dalam menghimpun sebab-sebabnya. Oleh karena itu, kita harus menggunakan sebaik mungkin tubuh manusia ini, memanfaatkan kelahiran ini untuk memperoleh esensi kelahiran sebagai manusia.</p>
<p>Tubuh manusia sangat rapuh, sangat mudah sakit. Di luar jasmani ini maupun di dalam tubuh ada banyak faktor-faktor yang merusak tubuh. Kita hanya bisa bertahan karena masih memiliki potensi karma baik berupa umur/sisa hidup. Yang masih menopang hidup kita ini tidak lain adalah berkah guru spiritual kita. Maka kita harus menggunakan sisa waktu yang kita punya dengan tubuh manusia ini untuk menciptakan sebab-sebab kelahiran yang baik di kehidupan mendatang.</p>
<p>Setiap orang memiliki tingkatan dan kapasitas berbeda. Orang yang tertarik pada praktik spiritual sebenarnya bukan orang yang sangat saleh atau religius, melainkan orang yang merasa butuh mengembangkan batin. Sebaliknya, orang yang lebih tertarik pada materi cenderung mengutamakan kenyamanan dan tak memikirkan kehidupan akan datang.</p>
<p>Tujuan dari belajar Dharma adalah untuk menemukan jawaban dari tujuan hidup kita. Setelah bertumpu pada guru spiritual, dalam tahapan selanjutnya guru akan menuntun kita menuju tujuan hidup tersebut. Jika kita bertemu Buddha, jangan meminta &#8220;berkah&#8221; saja, tapi minta juga untuk &#8220;dituntun&#8221;. Ingat, guru spiritual adalah perwujudan semua Buddha sehingga jelas memang yang kita butuhkan adalah &#8220;tuntunan&#8221; dalam jalan spiritual alias tujuan hidup kita.</p>
<p>Dalam Instruksi Guru yang Berharga, seorang murid dibimbing untuk mengembangkan batin. Pertama-tama, murid dibimbing untuk melatih batin pada jalan yang dijalankan bersama makhluk berkapasitas kecil. Tahapan ini dibagi dua: mengembangkan sikap peduli terhadap kehidupan mendatang dan bertumpu pada metode mencapai kebahagiaan dalam kehidupan mendatang.</p>
<p>Kenyataannya kita mencari uang setengah mati seumur hidup untuk ujung-ujungnya diserahkan kepada rumah sakit. Kalaupun kita berusaha keras mengejar materi, ujung-ujungnya kita akan mati dengan penyesalan. Mengapa tidak lebih memperhatikan kesiapan batin untuk menghadapi kematian?</p>
<p>Kita tidak pernah punya waktu mengurus batin dan sibuk mengurus hal-hal eksternal saja. Sehari-hari kita habiskan untuk tidur, kerja, makan, ngobrol, bermalas-malasan. Benar-benar tidak ada waktu untuk mengolah batin.</p>
<p>Kita tidak pernah memperjuangkan &#8220;kebahagiaan sejati&#8221; dan selalu terseret arus kehidupan. Kita tidak pernah serius mengamati bahwa kita sebenarnya tidak bahagia. Bahkan ketika kita melakukan kebajikan pun kita lakukan tanpa rasa sehingga hanya menghasilkan karma netral.</p>
<p>Kita tak pernah memikirkan kehidupan mendatang karena tidak pernah mengingat kematian. Kita selalu merasa umur kita masih panjang. Saat sudah sekarat, kita pun sibuk mencari-cari cara agar tidak mati. Berjuang untuk tetap hidup dengan berjuang untuk tidak mati berbeda dari segi motivasi. Berjuang untuk tetap hidup mengimplikasikan kita ingin memperpanjang hidup untuk memanfaatkannya dengan baik, memperbaiki sisa hidup agar dapat menerima kematian dengan baik. Berjuang untuk tidak mati cenderung mengimplikasikan kita menolak kematian, tidak siap menerima kematian tersebut.</p>
<p>Setelah kematian, ada kemungkinan kita jatuh ke alam rendah. Itu bukan berarti Guru dan Buddha akan menghukum kita dengan ancaman-ancaman penderitaan setelah kematian untuk para pendosa. Mereka hanya memberi tahu apa yang benar dan apa yang salah, serta menasihati kita untuk melakukan apa yang benar. Yang &#8220;menghukum&#8221; kita adalah karma kita sendiri. Semua orang yang menyadari keadaan hidupnya akan memilih untuk membekali diri dengan karma bajik karena jika tidak kita semua hanya akan membuang-buang waktu.</p>
<p>Butuh &#8220;modal&#8221; atau karma baik bagi kita untuk bisa menyadari pentingnya kehidupan yang akan datang. Jika kita sejak awal tidak memiliki modal ini dan tidak mampu memahami apapun yang berbau spiritual atau Dharma, kita sepatutnya khawatir tentang keadaan ini. Jangan seperti monyet (batin yang bodoh) yang menyandera mobil mewah (tubuh manusia) milik orang (batin yang bijak). Mobil itu seharusnya bisa digunakan untuk hal berarti, namun menjadi tak berguna bagai sampah akibat dikendalikan monyet.</p>
<p>Penderitaan dalam hidup sesungguhnya terjadi karena kita selalu bergantung pada hal-hal yang tak pasti. Kita akan kelimpungan jika meletakkan harapan dan kepercayaan pada sesuatu yang tidak bisa diharapkan maupun dipercaya seperti harta, sanak keluarga, dan sebagainya. Semua itu selalu berubah. Seharusnya kita berpegang pada satu hal yang pasti, yaitu kematian. Jika kita senantiasa mengingat kematian, kita akan ingat bahwa waktu yang kita miliki terbatas sehingga akan berjuang lebih keras dan bersemangat dalam mengisi hidup dengan kebajikan. Kita tidak perlu beli tiket mahal-mahal untuk ikut seminar-seminar motivasi, cukup merenungkan kematian dan merealisasikannya. Hal itu otomatis akan memotivasi kita untuk praktik Dharma.</p>
<p>Cara merenungkan kematian adalah pertama-tama kita harus merenungkan bahwa kematian itu pasti, tapi waktunya tidak pasti. Tidak hanya itu, apapun kecuali Dharma tidak berguna saat kematian. Kekayaan akan sia-sia, teman dan kerabat sia-sia, tubuhmu sendiri pun sia-sia.</p>
<p>Apakah kita siap mati? Apakah kita bisa jaga batin tidak takut, tidak panik, tidak melekat pada hal duniawi seperti harta, anak, istri, dan sebagainya, bisa tidak marah pada keadaan tubuh yang melapuk? Praktik Dharma bukan sekedar sembahyang, retret, dan sebagainya. Praktik Dharma adalah melatih batin agar siap untuk menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, salah satunya adalah kematian.</p>
<p>Melekat pada sesuatu berarti menyukai suatu objek di momen pertama, lalu tidak mau berpisah dengan objek itu di momen berikutnya. Ketika mati, umumnya kita tidak menerima dan marah terhadap keadaan tersebut karena kita melekat, tidak rela melepas apa yang kita miliki dalam kehidupan ini. Tidak percaya? Coba bayangkan kita terbaring kaku dalam peti mati, di depan peti kita sudah tersusun foto, tempat dupa, dan sesaji, dikelilingi sanak keluarga kita yang menangis melolong-lolong. Setelah perenungan mendalam, barulah kita akan menyadari betapa nyatanya kematian dan menemukan semangat baru untuk berjuang dalam Dharma demi mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian itu.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/merenung-sebelum-mati/">DAY 5 – Mari Merenung Sebelum Mati</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/merenung-sebelum-mati/">DAY 5 &#8211; Mari Merenung Sebelum Mati</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DAY 4 &#8211; Kehadiran Guru Spiritual yang Patut Disyukuri</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2019/01/03/kehadiran-guru-spiritual-yang-patut-disyukuri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2019 04:57:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[ILR2018]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4243</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Apakah kita memiliki rasa percaya diri bahwa kita telah membawa banyak kebajikan saat kematian datang? Dapat dihitungkah seberapa besar modal yang sudah kita miliki untuk bertemu Dharma kembali di kelahiran mendatang?” Pertanyaan di atas terlontar dari mulut Y. M. Biksu Bhadra Ruci sebagai pembuka sesi pengajaran Indonesia Lamrim Retreat 2018 hari keempat, 26 Desember 2018. [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/kehadiran-guru-spiritual-yang-patut-disyukuri/">DAY 4 – Kehadiran Guru Spiritual yang Patut Disyukuri</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/kehadiran-guru-spiritual-yang-patut-disyukuri/">DAY 4 &#8211; Kehadiran Guru Spiritual yang Patut Disyukuri</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Apakah kita memiliki rasa percaya diri bahwa kita telah membawa banyak kebajikan saat kematian datang? Dapat dihitungkah seberapa besar modal yang sudah kita miliki untuk bertemu Dharma kembali di kelahiran mendatang?”</p>
<p>Pertanyaan di atas terlontar dari mulut Y. M. Biksu Bhadra Ruci sebagai pembuka sesi pengajaran Indonesia Lamrim Retreat 2018 hari keempat, 26 Desember 2018. Respons alamiah kemudian muncul dalam bentuk sebuah paksaan yang bersifat segera untuk memanggil seluruh memori tentang apa yang telah saya perbuat selama ini menggunakan tubuh yang ternyata sangat potensial dan mampu membawa kita menuju pembebasan. Sudah sepatutnya kita berterimakasih kepada Yang Mulia Suhu karena melalui welas asihnya, kita dari hari ke hari ‘dibangunkan’ oleh Beliau secara perlahan dari buaian klesha dan ketidaktahuan akan betapa pentingnya memaksimalkan keberuntungan yang didapat atas kelahiran sebagai manusia.</p>
<p>Untuk mencapai intisari atau esensi dari kehidupan berharga sebagai manusia, Yang Mulia Suhu berkata bahwa kita harus memproyeksikan diri pada kehidupan mendatang agar kita tidak terlahir kembali di alam yang rendah. Cara yang dapat ditempuh salah satunya adalah melalui jalan spiritual yang mampu mengasah batin kita untuk dapat menyikapi dengan baik berbagai fenomena yang terjadi di sekeliling kita. Perlu disadari juga bahwa fenomena selalu muncul awalnya selalu dalam bentuk yang netral, sedangkan batin dan karma yang kita bawa lah yang berperan untuk ‘mewarnai’ fenomena tersebut. Maka dari itu, kita perlu menaruh perhatian pada ego yang sering kali muncul mendominasi setiap kali kita mencerap sebuah fenomena, terutama penderitaan.</p>
<p>Analogi menarik mengenai realita bahwa ego dapat membawa kita pada penderitaan yang lebih dalam diberikan oleh Yang Mulia Suhu lewat contoh perumpamaan berikut ini: ketika kita berada dalam lingkaran api, semakin kita melolong kesakitan maka semakin panas kita rasakan api tersebut membakar tubuh kita. Ego kita memunculkan sikap bahwa kita tidak boleh menderita, kita harus selalu dalam kondisi bahagia, dan aneka persepsi subjektif lainnya. Batin yang menolak bahwa diri ini tidak terbebas dari penderitaan bisa jadi merupakan hasil dari kualitas karma yang pada akhirnya mempengaruhi tingkat kemampuan kita dalam melihat sebuah masalah. Oleh karena waktu tak akan menunggu kita, implikasinya adalah tiada kata menunda untuk menuntaskan satu per satu penderitaan yang nyatanya selalu kita bawa ke kelahiran berikutnya.</p>
<p>Sebenarnya, secara praktis seluruh halangan yang telah dikemukakan di atas dapat dikikis lewat sikap bertumpu pada guru spiritual. Sebelumnya, ada tahapan-tahapan yang harus kita lalui agar pondasi sikap bertumpu yang kita bangun mampu berdiri dengan kokoh di mana salah satu bentuk pondasi itu bernama keyakinan. Kita harus melihat guru spiritual yang hadir di depan kita sebagai seluruh Buddha, terlepas dari realita bahwa guru spiritual kita benar ataupun bukan seorang Buddha serta berbagai kekurangan yang dimiliki oleh sang guru. Yang Mulia Suhu berkata bahwa hambatan yang sering kali ditemui saat kita berupaya melihat guru spiritual sebagai seorang Buddha adalah kita kadang melihat menggunakan kacamata klesha: memusatkan perhatian pada kekurangan yang dimiliki oleh guru alih-alih melihat kualitas positif beliau. Kita membuat berbagai persepsi subjektif berkenaan dengan kualitas guru spiritual yang belum tentu benar jika kita melakukannya tanpa pengetahuan dan kebijaksanaan. Atau kita dengan berani memilah guru spiritual mana yang akan kita datangi sebelum memohon ajaran dharma. Padahal, yang menjadi penentu seberapa banyak berkah yang dapat kita terima tergantung dari cara kita memandang guru spiritual. Adapun fakta lain yang harus kita sadari adalah kita tidak akan pernah bisa melihat atau merasakan wujud samboghakaya yang berada dalam tubuh guru spiritual selama kebajikan yang kita kumpulkan masih minim.</p>
<p>Jika demikian adanya, apakah bisa kita bisa memupuk keyakinan bahwa guru spiritual yang saat ini menuntun kita adalah jelmaan Buddha? Jawabannya adalah sangat bisa. Yang Mulia Suhu mencontohkan bentuk probabilitas yang dapat kita cerna secara logis yaitu melalui konsep tubuh Tathagata di mana setiap satu wujud tubuh, mengandung batin, ucapan dan jasmani. Jika batin muncul dalam satu titik, maka ucapan dan jasmani akan turut hadir di titik tersebut. Jika kita pinjam konsep ini dengan mengganti tiga kualitas (batin, ucapan dan jasmani) dengan emanasi sang Buddha yang masuk dalam wujud guru spiritual, maka secara langsung kualitas sang Buddha turut tercermin pada guru spiritual kita. Tanpa kita pinta, Sang Buddha dengan kebaikan hatinya hadir melalui frekuensi yang sama dengan kita (sebagai manusia) dan beremanasi di dalam tubuh guru spiritual. Sehingga kita bisa tarik sebuah teori bahwa tidak ada alasan untuk tidak bersyukur ketika Buddha melalui guru spiritual hadir menolong kita dan mengajarkan Dharma dengan cara berdialog dalam tubuh sesama manusia. Jika kita mampu menerapkan analogi ini untuk membentuk keyakinan pada guru spiritual, Yang Mulia Suhu berujar hal ini pertanda kita telah berhasil mencapai sebuah realisasi kecil dalam perjalanan spiritual kita.</p>
<p>Guru spiritual tidak pernah absen berperan dalam setiap segala pencapaian yang kita raih, termasuk pencapaian terlahir dalam tubuh manusia yang merupakan bentuk buah karma dari jalinan hubungan baik antara murid dengan guru spiritual di kehidupan lampau. Ini alasan lain yang sangat ditekankan oleh Yang Mulia Suhu di penghujung sesi pengajaran Dharma hari ini, mengapa kita harus yakin bahwa guru spiritual kita merupakan seorang Buddha. Jika kita benar-benar bangun dan sadar akan sosok Buddha yang hadir lewat guru spiritual, maka di penghujung perjalanan spiritual kita nanti, sang guru akan menjemput kita di gerbang pintu keluar dari samsara, bagaikan menarik kelua seonggok jarum yang dari tumpukan jerami. Praktik bertumpu kepada guru spiritual pernah menjadi bagian dari peradaban Nusantara dan masih bisa ditemukan di pelosok-pelosok, namun sudah sangat pudar. Hal ini sangat disayangkan oleh Yang Mulia Suhu karena secara tidak langsung meminimalisir kemungkinan kita untuk mencapai Kebuddhaan melalui penyatuan dengan guru spiritual kita. Akhir kata, Yang Mulia Suhu mengingatkan kembali bahwa sudah seyogyanya bahwa bagi siapapun terutama bagi orang-orang yang telah belajar Dharma, khususnya dengan metode Lamrim, harus bersikap menghargai dan menaruh pandangan benar bahwa guru spiritual merupakan jelmaan Buddha agar kita dapat mencicipi nektar kebahagian sejati.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/kehadiran-guru-spiritual-yang-patut-disyukuri/">DAY 4 – Kehadiran Guru Spiritual yang Patut Disyukuri</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/kehadiran-guru-spiritual-yang-patut-disyukuri/">DAY 4 &#8211; Kehadiran Guru Spiritual yang Patut Disyukuri</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DAY 3 &#8211; Ilusi Samsara Itu Bernama Kebahagiaan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2019/01/03/ilusi-samsara-itu-bernama-kebahagiaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2019 04:46:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2018]]></category>
		<category><![CDATA[ILR2018]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=4237</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sesi pengajaram Indonesia Lamrim Retreat 2018 telah memasuki hari ketiga. Sebagaimana menjadi kebiasaan dalam pembuka sesi pengajaran Dharma tiap harinya, Y. M. Biksu Bhadra Ruci tak lelah mengajak kita semua untuk mensyukuri keberuntungan kelahiran yang kita dapat dalam tubuh manusia yang berharga. Tentu pengulangan ini dilakukan oleh Yang Mulia Suhu dengan sebuah tujuan bajik: menyadarkan [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/ilusi-samsara-itu-bernama-kebahagiaan/">DAY 3 – Ilusi Samsara Itu Bernama Kebahagiaan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/ilusi-samsara-itu-bernama-kebahagiaan/">DAY 3 &#8211; Ilusi Samsara Itu Bernama Kebahagiaan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sesi pengajaram Indonesia Lamrim Retreat 2018 telah memasuki hari ketiga. Sebagaimana menjadi kebiasaan dalam pembuka sesi pengajaran Dharma tiap harinya, Y. M. Biksu Bhadra Ruci tak lelah mengajak kita semua untuk mensyukuri keberuntungan kelahiran yang kita dapat dalam tubuh manusia yang berharga. Tentu pengulangan ini dilakukan oleh Yang Mulia Suhu dengan sebuah tujuan bajik: menyadarkan kita akan kualitas diri yang dimiliki saat ini (terangkum dalam poin 8 kebebasan dan 10 keberuntungan/18 permata). Lantas yang menjadi pertanyaan adalah: apakah benar selama ini kita tidak pernah sadar dengan kualitas kita miliki? apa yang harus kita lakukan jika kita belum sadar maupun telah merasa sadar? Lalu apa benefit yang dapat dipetik ketika kita sudah meraih kesadaran tersebut? Melalui kebaikan hati Yang Mulia Suhu, hari ini kita dituntun untuk merefleksikan  aneka pertanyaan di atas lalu membedah pertanyaan tersebut bersama-sama secara mendalam lewat sudut pandang Dharma yang bermuara pada topik ajaran pentingnya bertumpu pada guru spiritual.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di awal sesi, Yang Mulia Suhu menekankan bahwa fenomena pertama yang harus kita sadari adalah kebahagiaan itu langka. Pernyataan ini harus menjadi konsensus bersama agar kita dapat beralih dan memahami fenomena selanjutnya, yaitu kita senantiasa hidup dalam lingkaran penderitaan. Fakta untuk menjustifikasi fenomena ini adalah kenyataan bahwa kondisi batin kita bekerja secara fluktuaktif, menyebabkan tidak ada satu pun kondisi yang hakiki. Sering kali sesuatu yang kita labeli sebagai bentuk kebahagiaan justru akan membawa kita pada penderitaan. Sebagai contoh sederhana yang dapat kita temui dalam keseharian kita adalah ketika kita makan, kita menikmati makanan tersebut dengan lahap hingga kita kenyang dan kemudian berakhir dengan perut yang sesak.  Atau kita seringkali menafikan penderitaan yang kita alami dengan menyibukkan diri keluar batin kita dengan segala aktivitas yang bersifat duniawi. Kita tidak menganggap tubuh yang kita miliki ini sebagai sebuah bentuk kelahiran yang berharga, di mana sebenanya tubuh ini sangat memiliki banyak potensi, tidak hanya berguna untuk mencari materi jika kita memahami setiap nestapa yang mendera diri kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Buddhisme secara esensial mengajarkan kita untuk selalu melihat ke dalam batin kita, duduk diam menyelami diri untuk mencerap dengan baik semua fenomena yang terjadi di sekeliling kita agar kita dapat benar-benar menyadari penderitaan yang kita alami dan bentuk ‘penawar’ apa yang kita butuhkan. Konsekuensi  yang timbul apabila kita tak pernah sadar, maka kita tidak bisa mengetahui sebab dari penderitaan yang kita alami, selayaknya hukum sebab-akibat yang bekerja dalam sistem karma. Selain itu, manfaat lain yang dapat kita terima dari sikap refleksi adalah potensi dari dalam diri kita akan mudah muncul sehingga kita dapat  menggunakannya sebagai ‘perahu’ untuk  mencapai segala sesuatu yang kita inginkan. Namun, Yang Mulia Suhu juga menjelaskan terdapat beberapa hal yang menghambat potensi ini tidak dapat muncul, di antaranya adalah merasa diri tidak mampu dan membuang waktu lewat kegiatan yang tidak berguna. Oleh karena itu, kita tidak boleh berdiam diri dan butuh usaha lebih untuk memaksa potensi tersebut sampai keluar jika kita tidak ingin selalu dalam kondisi hidup yang stagnan dan menderita di kehidupan selanjutnya. Seperti yang telah dianalogikan oleh Yang Mulia Suhu bahwa biarkan potensi yang kita miliki ‘meledak’ dan berkembang seperti sebuah ledakan bom nuklir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dapatkah kita melihat ke dalam batin kita dengan mudah sehingga kita mampu menapaki jalan spiritual secara tepat? Yang Mulia Suhu menjelaskan hal ini niscaya terjadi jika kita menempuh cara bertumpu pada guru spiritual. Tanpa instruksi dari guru spiritual, maka kita akan kesulitan menangani hambatan-hambatan yang muncul dalam perjalanan panjang spiritual yang akan kita lalui, baik karena faktor internal (misal: klesha) ataupun eksternal yang tak dapat kita duga. Singkat kata, kita akan semakin lama mencapai Kebuddhaan. Oleh karena itu peran guru spiritual sangatlah krusial dalam pengajaran dharma, di mana kita harus melihat guru spiritual yang ada di depan kita merupakan ‘jembatan’ autentik yang merupakan jelmaan dari seluruh Buddha. Guru spiritual dengan murah hati membagikan realisasi yang telah diraih kepada kita sebagai murid beliau. Maka dari itu, dengan bersikap hormat pada guru spiritual maka secara otomatis kita turut menanamkan respek pada seluruh Buddha yang kemudian menghasilkan kebajikan besar dan karma baik untuk mengantar kita menuju Kebuddhaan. Keyakinan pada guru spiritual serta motivasi yang tepat perlu ditanamkan secara matang sedari awal, terlebih disaat kita memutuskan untuk memasuki jalan spiritual menuju Kebuddhaan karena akan mempengaruhi kekokohan keyakinan bertumpu terhadap guru spiritual kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kita tidak bisa menganggap jalinan hubungan antara murid dan guru spiritual dapat bekerja seperti dalam sistem barter atau resiprositas; apa yang telah kita beri harus setimpal dengan apa yang kita dapatkan dari guru spiritual. Lebih pantas jika kita menempatkan diri sebagai pasien yang datang membutuhkan pertolongan dari guru spiritual yang kita anggap sebagai dokter pembawa obat yang bernama Dharma. Yang Mulia Suhu sangat menyayangkan fenomena hilangnya sikap menghormati guru yang dijunjung tinggi oleh tradisi filosofi timur karena gempuran filosofi barat di era modern saat ini, salah satunya termanifestasi dalam anggapan bahwa Kebuddhaan dapat dibeli dengan materi. Anggapan ini juga dapat muncul jika kita salah menaruh motivasi untuk mendapatkan ajaran Dharma. Kita harus datang kepada guru spiritual untuk memohon ajaran secara jujur; dengan urgensi kebutuhan (need) tertentu bukan mau (want). Kita harus memiliki kualitas hubungan murid dan guru spiritual yang baik dan menjaganya agar selalu terhubung dengan guru-guru silsilah yang memegang akar dari realisasi Dharma.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di akhir sesi, Yang Mulia Suhu mengakui bahwa ajaran bertumpu pada guru spiritual bukanlah perkara yang mudah untuk dicerna namun bukan berarti mustahil dilakukan. Bertumpu pada guru spiritual dapat diaplikasikan menggunakan metode tertentu: membutuhkan logika untuk menalar ajaran yang kemudian diasah melalui perasaan lalu dihadapkan pada ego yang kita miliki. Sikap-sikap yang harus dipelihara sebagai seorang murid sepeti ulet, tidak berpihak dan berprasangka, memiliki rasa hormat pada guru, mendengarkan instruksi dengan penuh perhatian, dan lain sebagainya pun harus secara konsisten kita terapkan saat bertumpu pada guru spiritual. Jika kita telah sukses mencerap dengan baik ajaran bertumpu pada guru spiritual, Yang Mulia Suhu mengatakan bahwa kemudahan akan kita raih untuk mencerap topik-topik Lamrim yang lain secara sendirinya.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/ilusi-samsara-itu-bernama-kebahagiaan/">DAY 3 – Ilusi Samsara Itu Bernama Kebahagiaan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2019/01/03/ilusi-samsara-itu-bernama-kebahagiaan/">DAY 3 &#8211; Ilusi Samsara Itu Bernama Kebahagiaan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
