<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>dharma - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/dharma/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Jan 2025 09:09:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>dharma - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tulku: Kupas Fenomena &#8220;Buddha Hidup&#8221; dalam Buddhisme Tibet</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/01/21/tulku-kupas-fenomena-buddha-hidup-dalam-buddhisme-tibet/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Jan 2025 08:50:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9852</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam Buddhisme Tibet, kita akan menemukan istilah "tulku", sebuah gelar untuk orang-orang yang diyakini sebagai emanasi para Buddha.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/01/21/tulku-kupas-fenomena-buddha-hidup-dalam-buddhisme-tibet/">Tulku: Kupas Fenomena “Buddha Hidup” dalam Buddhisme Tibet</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/01/21/tulku-kupas-fenomena-buddha-hidup-dalam-buddhisme-tibet/">Tulku: Kupas Fenomena &#8220;Buddha Hidup&#8221; dalam Buddhisme Tibet</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<h2 id="h-sosok-steven-seagal">Sosok Steven Seagal</h2>



<p>Steven Seagal adalah bintang Hollywood yang baru saja berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengan banyak tokoh, mulai dari sesama artis sampai presiden. Ternyata, Pak Steven ini bukan artis biasa. Pada tahun 1997, Steven Seagal dikenali sebagai <strong>tulku</strong> kelahiran kembali dari Chungdrag Dorje, guru Buddhis tradisi Nyingma (salah satu aliran tertua Buddhisme Tibet) dari Biara Palyul. Emang apa sih yang dimaksud dengan &#8220;tulku&#8221;?</p>



<h2>Tulku =  Buddha You Can Meet?</h2>



<p>Tulku dalam bahasa <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/10/bedah-buku-tibet-sebuah-hikayat/">Tibet</a> merujuk pada Nirmanakaya, yaitu tubuh emanasi Buddha dalam wujud fisik yang bisa kita lihat langsung. </p>



<p>Orang-orang bergelar “tulku” adalah mereka yang diyakini sebagai emanasi para Buddha. Meski telah mencapai pencerahan, para tulku ini memilih untuk tetap lahir di samsara demi menuntun semua makhluk keluar dari penderitaan karena welas asihnya yang luar biasa.</p>



<p>Pernah berpikir kenapa ada anak yang dari kecil udah akrab sama kalkulus, padahal baru pertama kali diajari? Itu salah satu contoh karma yang dibawa dari kehidupan lampau. Para tulku juga membawa arus kesinambungan batin yang sama dari kehidupan lampaunya. </p>



<p>Di Tibet, seorang tulku yang diakui secara resmi biasanya akan mengambil peran &amp; tanggung jawab pendahulunya di biara, khususnya untuk melestarikan ajaran atau praktik Dharma tertentu yang dulu ia kuasai. Untuk itu, seorang tulku tentunya harus dididik sejak kecil agar memiliki kualitas batin dan kemampuan yang dibutuhkan.</p>



<h2>The Dark Side of Tulku System</h2>



<p>Tidak semua tulku ditemukan sejak kecil dan sempat dilatih untuk menjadi Guru Dharma. Ada juga yang memilih beraktivitas dengan cara lain untuk berkarya demi kepentingan banyak orang. Steven Seagal mungkin salah satunya.</p>



<p>Karena sosok tulku biasanya sangat dihormati, “sistem” tulku ini punya risiko besar:</p>



<ul><li>Ada yang mengaku-ngaku sebagai tulku demi keuntungan pribadi</li><li>Proses pencarian tulku kadang dipengaruhi oleh kepentingan politik.</li><li>Ada kasus penyalahgunaan kekuasaan oleh tulku berstatus resmi, mulai dari yang sebatas dugaan sampai terbukti termasuk tindak kriminal.</li></ul>



<h2>Analogi Buddha dan Para Tulku</h2>



<p>Buddha dan para tulku ibarat bulan purnama terpantul di air dalam tempayan. Bulan itu sangat jauh, tapi kita bisa melihat pantulannya dari dekat. Namun, kalau airnya keruh atau beriak, bulannya tak akan terlihat jelas.</p>



<p>Contoh zaman now-nya adalah nonton film di layar HP. Gambar resolusi 8k pun akan terlihat blur di gawai yang kurang canggih, apalagi kalau sampai layarnya rusak. Kalau para tulku tidak belajar, merenung, dan meditasi sampai meraih realisasi nyata, kita tidak akan bisa melihat kualitas Buddha dari mereka.</p>



<h2>Tulku Belum Tentu Bisa Jadi Guru</h2>



<p>Di zaman kemerosotan ini, meski pernah menjadi guru Dharma luar biasa di kehidupan lampaunya, tidak semua tulku bisa memberikan pengajaran Dharma. Bahkan ada yang memilih untuk menempuh jalur lain yang tidak terlihat berkaitan dengan Buddhadharma.</p>



<p>Jadi, dalam Buddhisme, status tulku tidak termasuk dalam kriteria memilih guru Dharma! Yang lebih penting adalah silsilah ajaran yang jelas, kualitas bajik, dan welas asih terhadap para murid yang dibimbing. Guru yang bisa menunjukkan Dharma sejati &amp; menyentuh hati kita sehingga mau berjuang mengembangkan batin adalah Buddha yang sesungguhnya melebihi tulku mana pun! Tetapi, ada nggak sih sosok tulku sekaligus guru yang dekat dengan Indonesia?</p>



<h2>Guru Dagpo Rinpoche</h2>



<p><a href="https://lamrimnesia.org/2018/09/04/4107/">Guru Dagpo Rinpoche</a> merupakan kelahiran kembali dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Sriwijaya. Sejak 1989, Beliau sudah rutin ke Indonesia. Selama lebih dari 30 tahun, Beliau berusaha mengembalikan ajaran welas asih Nusantara ke negeri kita. Beliau juga tidak bertemu presiden atau selebriti dan hanya masuk berita seperlunya saja.</p>



<p>Baca lebih lanjut mengenai Beliau dalam: <a href="https://www.google.co.id/search?tbo=p&amp;tbm=bks&amp;q=inauthor:%22Dagpo+Rinpoche%22&amp;source=gbs_metadata_r&amp;cad=5">Kitab Kumpulan Pengajaran Dharma dan Cara Praktik Dharma oleh Guru Dagpo Rinpoche</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/01/21/tulku-kupas-fenomena-buddha-hidup-dalam-buddhisme-tibet/">Tulku: Kupas Fenomena “Buddha Hidup” dalam Buddhisme Tibet</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/01/21/tulku-kupas-fenomena-buddha-hidup-dalam-buddhisme-tibet/">Tulku: Kupas Fenomena &#8220;Buddha Hidup&#8221; dalam Buddhisme Tibet</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Dharma Lewat OST Wicked</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/11/28/belajar-dharma-lewat-ost-wicked/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Nov 2024 10:23:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9614</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Belajar Dharma tidak hanya melalui pengajaran dan membaca buku, kita dapat mempelajari Dharma lewat lirik lagu di film Wicked.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/28/belajar-dharma-lewat-ost-wicked/">Belajar Dharma Lewat OST Wicked</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/28/belajar-dharma-lewat-ost-wicked/">Belajar Dharma Lewat OST Wicked</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><em style="font-weight: bold;"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">What is this feeling</mark></strong></em><em><strong> </strong>so sudden and new</em><br><em>I felt the moment I laid eyes on you</em><br><em>My pulse is rushing, my head is reeling</em><br><em>My face is flushing, oh, what is this feeling?</em><br><em>Fervid as a flame, <strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">does it have a name?</mark></strong></em></p>



<p>Pernahkah kita berusaha mengenal diri kita &amp; emosi-emosi yang muncul di batin kita sampai sedetail ini? Padahal udah diajarin lho sama Buddha, termasuk mana yang perlu dikembangin, mana yang perlu dilawan, lengkap dengan penawar-penawarnya.</p>



<p>Ketika kita nggak kenal diri kita dan emosi apa yang muncul di batin kita, kita bakal bikin diri kita dan banyak orang menderita. Sebaliknya, kalau kita udah mengenal diri dan bisa mengendalikan batin, kita bisa memberi manfaat ke banyak orang. Sama kayak Elphaba yang bikin kerusakan kalau ngamuk, tapi jadi sakti ketika udah bisa menerima dan mengendalikan diri!</p>



<p>Baca juga: <a href="https://play.google.com/store/books/details/Citta_Cetasika_Mengenal_Batin_dari_Kacamata_Buddhi?id=3-ejEAAAQBAJ&amp;gl=US">Citta &amp; Cetasika</a> dan <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/healing-emotions/">Healing Emotions</a>.</p>



<p></p>



<p><em>One short day,</em><strong><em> </em></strong><em>this</em><strong><em> <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">precious human rebirth</mark></em></strong><br><em>One short day full of so much to do</em><br><em>Every way that you look in the city</em><br><em>There’s something exquisite</em><br><em>you’ll want to visit</em><br><em>Before<mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color"> </mark></em><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color"><em>your life’s</em></mark></strong><em> through</em></p>



<p>Kelahiran kita sebagai manusia yang sangat berharga ini seperti satu hari yang singkat di Emerald City. Banyak banget yang menarik untuk dilakukan, tapi waktu kita terbatas karena kematian bisa datang kapan aja. Pastinya kita nggak mau dong pergi sebelum melakukan sesuatu yang berarti?</p>



<p>Seperti Elphaba &amp; Glinda yang datang ke Emerald City dengan tekad untuk mewujudkan cita-cita mereka, kita juga harus manfaatin kelahiran kita sebagai manusia sebaik-baiknya untuk mewujudkan cita-cita penerangan sempurna!</p>



<p>Baca juga: <a href="https://play.google.com/store/books/details?id=Us38DwAAQBAJ">Kemuliaan Kelahiran sebagai Manusia</a>, <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/ini-yang-harus-kuperbuat/">Ini yang Harus Kuperbuat</a>, dan <a href="https://play.google.com/store/books/details?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari</a>.</p>



<p></p>



<p>&#8220;<em>Something has changed within me</em><br><em>Something is not the same</em><br><em>I’m through with playing by the</em><br><strong><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">rules of cyclic existence</mark></em></strong><br><em>Too late for second guessing,</em><br><em>too late to go back to sleep</em><br><em>It’s time to </em><strong><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">trust Triratna</mark></em></strong><em>,</em><br><em>close my eyes, and leap</em><br><em>It’s time to try </em><strong><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0)" class="has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color">defying samsara!</mark></em></strong></p>



<p>Kita ini jauh lebih beruntung dari Elphaba. Tak perlu bisa sihir dan ketemu Wizard untuk tahu samsara ini “jahat”. Kita juga punya guru yang baik, tulus mikirin kebahagiaan kita, dan sudah duluan menunjukkan penderitaan di balik “baiknya” kenikmatan sesaat.</p>



<p>Elphaba aja bisa ninggalin kesempatan untuk berkuasa dan dipuja-puja demi kebahagiaan kaum yang tertindas. Buddha, Guru kita, sudah melakukannya teladan ini berulang kali, sejak ribuan tahun yang lalu. Kapan kita mulai ikutin teladan Beliau dengan serius berjuang demi kebahagiaan semua makhluk?</p>



<p>Baca juga: <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/12-aktivitas-agung-sang-begawan/">12 Aktivitas Agung Sang Begawan</a>, <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lakon-hidup-sang-penerang/">Lakon Hidup Sang Penerang</a>, dan <a href="https://store.lamrimnesia.com/product/janji-setia-bodhisatwa/">Janji Setia Bodhisatwa</a>.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/11/28/belajar-dharma-lewat-ost-wicked/">Belajar Dharma Lewat OST Wicked</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/11/28/belajar-dharma-lewat-ost-wicked/">Belajar Dharma Lewat OST Wicked</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Apr 2024 04:31:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Berlindung]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh cinta]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[Tiratana]]></category>
		<category><![CDATA[Tisarana]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9040</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Sikap yang kita muncul saat sedang jatuh cinta itu sama seperti sikap yang harus kita timbulkan sewaktu kita berlindung (Tisarana) kepada Triratna. Triratna telah memiliki segala kualitas terunggul dan amat mahir menolong kita terbebas dari samsara. Hal ini seharusnya membuat kita kagum dan hormat kepada Triratna. Selanjutnya, kita juga seharusnya menjadi bersemangat setiap kali mengingat kualitas-kualitas agung Triratna beserta manfaat-manfaat yang kita peroleh dari melakukan Tisarana. Dengan demikian, seperti orang yang jatuh cinta, bukankah wajar apabila seharusnya kita juga ingin menyenangkan Triratna?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Selama kita hidup sebagai manusia, rasanya paling tidak kita pernah sekali merasakan jatuh cinta. Entah karena tingkah sang dambaan hati yang lucu, wajahnya yang rupawan, ataupun sekadar karena terlanjur nyaman. Meskipun terlihat bervariasi, namun jatuh cinta ini seringkali berawal dari <strong>kekaguman</strong> kita kepada seseorang. Lalu, ketika kita jatuh cinta pun rasa-rasanya kita jadi<strong> lebih ceria</strong> dalam menjalani hari. Kita juga jadi <strong>bersemangat</strong> setiap kali membicarakannya dan rela melakukan apapun agar dapat menyenangkannya.</p>



<p>Ternyata, setelah dipikir-pikir lagi, sikap yang kita muncul saat sedang jatuh cinta itu sama seperti sikap yang harus kita timbulkan sewaktu kita berlindung (Tisarana) kepada Triratna. Argumen ini bukan tanpa alasan, ya. Apabila kita renungkan dengan lebih mendalam, Triratna telah memiliki <strong>segala kualitas terunggul dan amat mahir menolong kita terbebas dari samsara.</strong> Hal ini seharusnya membuat kita<strong> kagum dan hormat </strong>kepada Triratna. Selanjutnya, kita juga seharusnya <strong>menjadi bersemangat </strong>setiap kali mengingat kualitas-kualitas agung Triratna beserta manfaat-manfaat yang kita peroleh dari melakukan Tisarana. Dengan demikian, seperti orang yang jatuh cinta, bukankah wajar apabila seharusnya kita juga ingin menyenangkan Triratna?</p>



<p>Salah satu cara untuk menyenangkan Triratna adalah dengan menjaga Tisarana melalui praktik sila-sila Tisarana yang penuh kesadaran dengan konsisten. Nah setelah sebelumnya terdapat penjelasan tentang sila-sila penghindaran, dalam kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas terkait sila-sila penguatan, yang merupakan kelanjutan dari sila-sila pribadi berdasarkan risalah Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan. Berikut adalah sila-sila penguatan Tisarana.</p>



<ol><li><strong>Menganggap Semua Bentuk yang Melambangkan Buddha sebagai Buddha yang Sebenarnya</strong><br>Seperti kita yang melihat foto orang yang kita sayangi sebagai bentuk yang nyata, berharap seolah-olah ia ada di hadapan kita saat ini, demikian juga dengan sila penguatan Tisarana yang pertama. Seseorang yang telah Tisarana kepada Buddha harus menganggap semua bentuk fisik yang melambangkan Buddha sebagai Buddha yang sebenarnya. Hal ini mencakup rupang yang rusak atau yang bentuknya kurang sempurna, maupun yang dibuat dari bahan yang kurang berkualitas.<br><br>Banyak dari kita yang lebih tertarik kepada rupang yang terbuat dari logam atau rupang yang berasal dari India karena lebih perlente dan seolah-olah lebih mampu untuk membangkitkan keyakinan. Di sisi lain, kita cenderung menghindari rupang yang terbuat dari tanah liat dan bahkan membuang rupang yang telah rusak dan hancur, karena dianggap kurang menarik dan hanya mampu untuk membangkitkan sedikit keyakinan. Padahal keyakinan adalah aspek internal yang seharusnya dibangkitkan oleh diri sendiri, bukan bergantung kepada bentuk dari objek eksternal. Terlebih lagi menurut Guru-Guru Lamrim terdahulu, tindakan membuang rupang dari rumah seseorang sama saja dengan membuang kebajikan itu sendiri.</li></ol>



<ol start="2"><li><strong>Menghormati Bahkan Satu Huruf Tulisan sebagai Permata Dharma</strong><br>Ketika kita mendapatkan <em>chat</em> via WhatsApp maupun kartu ucapan ulang tahun dari orang yang kita sayangi, pastinya kita akan memperhatikan pesan tersebut dengan penuh penghayatan, mulai dari kata per kata atau bahkan sampai memperhatikan huruf dan tanda bacanya dengan detail. Demikian juga dengan sila penguatan Tisarana yang kedua ini, yakni kita harus menghormati setiap huruf sebagai Permata Dharma. Mengapa? Sebabnya, tanpa satu huruf tersebut, kita tidak akan mungkin untuk belajar Dharma sama sekali.<br><br>Meskipun terdengar mudah, nyatanya kita akan sangat mudah menemukan pelanggaran sila ini dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kita mungkin sering meletakkan buku di lantai, melangkahi buku sewaktu terburu-buru, menggunakan ludah di tangan untuk membalik halaman buku yang lengket, dsb. Padahal, tindakan ini merupakan bentuk tindakan yang tidak menghormati Dharma. Dikatakan juga dalam buku ‘Pembebasan di Tangan Kita’ Jilid II, bahwa sikap tidak menghormati Dharma dan Guru Dharma merupakan penyebab seseorang untuk menjadi bodoh secara intelektual pada kehidupan-kehidupan yang akan datang.</li></ol>



<ol start="3"><li><strong>Menghormati Bahkan Sepotong Kain dari Jubah Seorang Biksu sebagai Permata Sangha</strong><br>Pada umumnya, kita pasti pernah mengajak orang yang kita sayangi untuk menghabiskan waktu bersama ke tempat-tempat yang kita anggap menarik. Uniknya, terkadang kita turut menyimpan berbagai memento untuk mengingat dan menghargai momen tersebut, seperti menyimpan tiket bioskop, foto, aksesoris, dsb. Barang-barang itu kemudian akan begitu kita hargai dan jaga dengan penuh. Nampaknya, hal ini mirip dengan sila penguatan Tisarana yang ketiga. <br><br>Pada sila ini, kita harus memperlakukan Sangha dengan sangat hormat. Tidak hanya kepada sosoknya semata, tetapi juga menghormati bahkan sepotong kain merah atau kuning dari jubah Sangha yang terjatuh ke tanah maupun potongan kain dengan warna yang menyerupai jubah Sangha. Mengapa demikian? Sebabnya, sila ini membantu kita untuk mengingat kembali dan menyadari perbedaan utama antara Sangha dengan umat awam, yaitu dalam aspek jumlah sila yang diambil. Tentunya, kita harus menghormati Sangha, karena Sangha telah berkomitmen untuk melatih diri dengan cara mengambil sila yang jauh lebih banyak daripada kita.</li></ol>



<p><strong>Penutup</strong><br>Meskipun terlihat sederhana, penerapan sila-sila Tisarana, khususnya sila-sila penguatan, dalam kehidupan sehari-hari ini tidak mudah, lho!! Setelah membaca penjelasan singkat di atas, mungkin juga akan timbul pertanyaan di dalam diri sendiri, seperti “Apakah kita mampu melaksanakan sila-sila Tisarana secara konsisten dengan kesadaran penuh? Apakah kita mampu mengeluarkan usaha dalam Tisarana sama besarnya atau bahkan lebih besar daripada saat kita berjuang mendapatkan cinta?”&nbsp;</p>



<p>Apabila memang dirasa belum mampu, janganlah berkecil hati. Sebagai langkah awal, kita dapat mulai melatih membiasakan diri menerapkan sila-sila penguatan Tisarana yang telah disebutkan sebelumnya setahap demi setahap. Perlu diingat juga bahwa selayaknya kita yang jatuh cinta (seperti di film-film), tidak semua ekspresi cinta perlu dibuktikan dalam bentuk yang mewah maupun meriah, justru hal-hal sederhana yang konsisten merupakan sebuah perwujudan cinta yang sesungguhnya dan tentunya lebih romantis, bukan?</p>



<p>Referensi:<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/25/tisarana-kala-berlindung-bagaikan-jatuh-cinta/">Tisarana: Kala Berlindung Bagaikan Jatuh Cinta</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Apr 2024 04:11:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Berlindung]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[sangha]]></category>
		<category><![CDATA[Sila-Sila Berlindung]]></category>
		<category><![CDATA[Sila-Sila Tisarana]]></category>
		<category><![CDATA[Tiratana]]></category>
		<category><![CDATA[triratna]]></category>
		<category><![CDATA[trisarana]]></category>
		<category><![CDATA[umat Buddha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9018</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam bahasa Inggris, kalimat “Buddham saranam gacchami” diterjemahkan sebagai ‘I go to the Buddha for refuge’.Terjemahan tersebut jika diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Aku pergi berlindung kepada Buddha’. Kata “pergi” ini penting karena menunjukan makna bahwa kita memerlukan sebuah aksi aktif untuk mencapai perlindungan. Berdasarkan Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, untuk menjaga agar Tisarana kita menjadi aksi nyata dan tidak menjadi ‘omon-omon’ semata, seorang praktisi harus menjalankan sila-sila Tisarana.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="wp-block-quote"><p>Buddham saranam gacchami,<br>Dhammam saranam gacchami,<br>Sangham saranam gacchami.</p></blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>I go to the Buddha for refuge,<br>I go to the Dhamma for refuge,<br>I go to the Sangha for refuge.</p></blockquote>



<p>Dalam bahasa Inggris, kalimat “<em>Buddham saranam gacchami</em>” diterjemahkan sebagai ‘<em>I <strong>go to</strong> the Buddha for refuge</em>’.Terjemahan tersebut jika diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Aku <strong>pergi </strong>berlindung kepada Buddha’. Ya, ada kata “pergi” dalam terjemahan tersebut, berbeda dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang biasa kita temui, yaitu “Aku berlindung kepada Buddha”.</p>



<p>Meskipun tampak sepele, namun hilangnya kata “pergi” menimbulkan miskonsepsi yang signifikan terhadap konsep Tisarana yang pernah kita pelajari di sekolah maupun vihara selama ini. Kata “pergi” ini penting karena menunjukan makna bahwa kita memerlukan sebuah aksi aktif untuk mencapai perlindungan, bukan hanya ‘omon-omon’ semata, lebih-lebih supaya terlihat sebagai seorang Buddhis saja.</p>



<p>Sebenarnya, tanpa perlu kita beri rayuan maupun janji-janji manis, Sang Buddha telah memiliki welas asih yang tidak terbatas dan tidak berubah kepada semua makhluk. Selain itu, Sang Buddha juga mampu berada di mana saja dan kapan saja. Berdasarkan hal itu, tentu saja Sang Buddha jelas selalu mau dan mampu untuk memberikan perlindungan kepada kita serta semua makhluk. Namun, layaknya matahari yang senantiasa bersinar namun tak mampu menembus goa gelap; perlindungan Sang Buddha juga tidak dapat kita peroleh jika kita tidak mengarahkan usaha kita sendiri untuk pergi berlindung.</p>



<p>Lebih spesifik lagi, dalam kaitannya dengan Tisarana, aspek ‘aksi’ inilah yang membedakan hasil akhir dari Tisarana seorang Buddhis. Berdasarkan Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, untuk menjaga agar Tisarana kita menjadi aksi nyata dan tidak menjadi ‘omon-omon’ semata, seorang praktisi harus menjalankan sila-sila Tisarana. Nah, dalam kesempatan kali ini, mari kita bahas sedikit sila-sila penghindaran, yang merupakan bagian dari sila-sila pribadi seorang praktisi yang sudah mengambil perlindungan!</p>



<ol><li><strong>Tidak Menyatakan Perlindungan kepada Objek Selain Sang Triratna</strong><br>Ketika seseorang telah memahami alasan untuk Tisarana, mengenali kualitas-kualitas terunggul Sang Triratna, dan memahami manfaat-manfaat dari Tisarana; maka akan sangat aneh apabila ia juga menyatakan perlindungan kepada objek-objek dengan kualitas yang lebih rendah, seperti dewa-dewi duniawi, naga, dan makhluk-makhluk halus kuat lainnya. Perlu diperhatikan kembali bahwa <strong>kita boleh </strong>saja untuk berdoa dan memberikan persembahan kepada mereka, terutama jika kita membutuhkan bantuan dalam mempraktikkan Dharma. Namun, kita <strong>tidak boleh</strong> menyatakan perlindungan kepada mereka, karena ketika kita memegang dua objek Tisarana yang berbeda, maka kita akan menghancurkan nilai Tisarana kita pada Sang Triratna dan mengeluarkan kita dari komunitas Buddhis.</li><li><strong>Tidak Menyakiti Makhluk Lain</strong><br>Apabila memang kita benar bersungguh-sungguh menyatakan Tisarana kepada Sang Triratna, maka sudah sewajarnya kita meneladani kualitas Sang Buddha yang selalu memancarkan welas asih kepada semua makhluk. Terlebih lagi berdasarkan hukum karma, salah satu akibat dari membunuh atau menyakiti makhluk lain adalah terlahir di alam menderita, sesuatu yang amat kita takuti. Oleh karena itu, jangan dengan sengaja menyakiti makhluk lain, bahkan melalui tindakan seperti meminta pajak berlebihan kepada sesama manusia maupun memaksa hewan untuk membawa beban berlebih.</li><li><strong>Tidak Bergabung dengan Non-Buddhis</strong><br>Untuk menjaga keyakinan dan meningkatkan Tisarana, kita dianjurkan untuk tidak bergaul dengan orang-orang yang meragukan kebenaran Sang Triratna dan hukum karma, serta dengan orang-orang yang mengkritik bahwa ajaran-ajaran yang kita pelajari selama ini merupakan karangan yang dibuat oleh para biksu maupun guru yang licik. Sila ini menjadi sangat penting, khususnya bagi kita yang belum memiliki keyakinan yang kokoh, karena apabila kita tetap bergaul dengan mereka, ditakutkan kita akan terpengaruh oleh pemahaman salah yang mereka miliki. Sila ini juga sesuai dengan salah satu bait dalam Mangala Sutta, yaitu:</li></ol>



<p class="has-text-align-center">“Tak bergaul dengan orang-orang dungu,<br>bergaul dengan para bijaksana,<br>dan menghormat yang patut dihormat,<br>itulah berkah utama.”</p>



<p><strong>Penutup</strong><br>Tisarana telah menjadi salah satu hal yang umum dalam kehidupan umat Buddha. Namun apabila kita dapat meluangkan waktu sejenak untuk melihat keseharian kita, mari renungkan pertanyaan ini: Apakah kita telah melakukan Tisarana dengan baik dan benar? Apakah Tisarana kita telah menjadi aksi yang aktif dan bukan hanya ‘omon-omon’ saja? Jika memang kita masih belum melaksanakan Tisarana dengan maksimal, maka lekaslah bergerak saat ini juga! Sebabnya,Tisarana tidak akan pernah memberikan hasil apabila tidak ada aksi nyata untuk meraihnya. Pertama-tama, yuk latih diri untuk menjalani sila-sila yang telah disebutkan di atas!</p>



<p>Referensi:<br>Terjemahan Tisarana dalam bahasa Inggris dalam halaman accesstoinsight.org<br>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2024/04/15/tisarana-bukan-cuma-omon-omon/">Tisarana: Bukan Cuma ‘Omon-omon’</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Buddhis Kirim Peluk Jauh untuk Timnas Sepak Bola Indonesia</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2023/03/31/peluk-untuk-timnas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[volunteer lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Mar 2023 12:04:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[timnas indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[timnasu20]]></category>
		<category><![CDATA[u20]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=8039</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/03/31/peluk-untuk-timnas/">Buddhis Kirim Peluk Jauh untuk Timnas Sepak Bola Indonesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/volunteer/">volunteer lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="819" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30-819x1024.png" alt="" class="wp-image-8040" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30-819x1024.png 819w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30-768x960.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30-150x188.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30-450x563.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30-600x750.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-30.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8041" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-31.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8042" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-32.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8043" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-33.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="820" height="1024" src="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34-820x1024.png" alt="" class="wp-image-8044" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34-820x1024.png 820w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34-240x300.png 240w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34-768x959.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34-150x187.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34-450x562.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34-600x749.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2023/03/image-34.png 1081w" sizes="(max-width: 820px) 100vw, 820px" /></figure><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2023/03/31/peluk-untuk-timnas/">Buddhis Kirim Peluk Jauh untuk Timnas Sepak Bola Indonesia</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2023/03/31/peluk-untuk-timnas/">Buddhis Kirim Peluk Jauh untuk Timnas Sepak Bola Indonesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/volunteer/">volunteer lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dharma vs Paham Apokaliptik</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2022 12:39:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[kalideres]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan setelah mati]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7560</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kematian satu keluarga di Kalideres diduga berkaitan dengan paham apokaliptik. Merenungkan ini bisa membantu kita paham mengapa Buddha mengajari kita untuk memikirkan kehidupan mendatang.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Kevin Chow</p>



<p>Belakangan ini, kita banyak disuguhi berita-berita yang membuktikan bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Mulai dari berita pandemi dan perang yang masih berlangsung di kancah global hingga berita di skala nasional berupa bencana alam, kasus pembunuhan polisi, hingga kasus-kasus lainnya yang terkadang membuat kita bertanya-tanya: “Kok bisa gitu ya?”. Untuk kasus-kasus tertentu, kita membaca berita tersebut dan berusaha untuk mencerna apa yang sedang terjadi karena terlihat tidak masuk akal. Mungkin, kita sempat berada di satu titik di mana kita berpikir bahwa apakah ini benar-benar mereka (yang terlibat dalam kasus tersebut) yang tidak beres atau kita sebagai pembaca yang gagal memahami perspektif mereka.&nbsp;</p>



<h4><strong>Misteri Kematian Keluarga di Kalideres </strong></h4>



<p>Sebut saja salah satu kejadian yang masih hangat dan baru terjadi di Kalideres, Jakarta. Dilaporkan bahwa satu keluarga yang beranggotakan empat orang ditemukan tewas di dalam rumah. Berdasarkan otopsi singkat yang telah dilakukan oleh pihak kepolisian, para korban tersebut diduga tewas karena kelaparan dan tidak ditemukan makanan dalam lambung dari seluruh anggota keluarga tersebut. Penyelidikan lebih lanjut menyatakan bahwa keluarga tersebut hidup berkecukupan yang setidaknya mampu menepis anggapan bahwa mereka bunuh diri karena tidak mampu membeli makanan. Tidak ditemukan juga adanya tanda-tanda kekerasan atau tindak kriminal. Hingga saat ini, motif kematian ini masih belum terungkap. Perlu ditekankan disini bahwa penyebab dan motif adalah dua hal yang berbeda.&nbsp;</p>



<p>Seorang Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala menilai bahwa keyakinan apokaliptik bisa menjadi salah satu dugaan akan motif dari dari kasus ini. Dikutip dari <a href="https://www.kompas.tv/article/348465/diduga-penyebab-kematian-satu-keluarga-di-kalideres-kriminolog-ui-sebut-apokaliptik-apa-itu?page=all&amp;_ga=2.31919483.434489381.1669235055-927954307.1665961131">KompasTV</a>, kata “apokaliptik” berasal dari bahasa Yunani ‘<em>apokalyptien</em>’ yang memiliki arti mengungkapkan sesuatu yang jauh. Kata tersebut diserap ke bahasa Inggris menjadi <em>apocalypse</em> atau di bahasa Indonesia apokalips. Berdasarkan <a href="https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/apokalips">Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)</a>, apokalips memiliki dua makna, yakni wahyu; penyingkapan dan kehancuran dunia pada akhir zaman. Secara singkat, pemahaman ini membicarakan persepsi soal kehancuran dunia di akhir zaman. Beberapa contoh penganutnya misalnya sekte <a href="https://www.bbc.com/news/world-asia-35975069">Aum Shinrikyo</a> yang mendalangi serangan gas sarin di Jepang pada tahun 90-an dan kelompok <a href="https://israeled.org/christian-extremists-denied-entry-to-israel/">Concerned Christian</a> asal Amerika Serikat yang sempat dideportasi dari Israel karena dugaan percobaan terorisme.</p>



<h4><strong>Menguji Pemahaman Apokaliptik</strong></h4>



<p>Dari sini, kita akan mulai membahas poin-poin yang cukup menarik dari paham apokaliptik ini dan mengujinya berdasarkan pemahaman Buddhisme yang telah dibahas pada artikel sebelumnya, yaitu <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">keyakinan akan adanya kehidupan mendatang setelah kematian</a>. Koordinator Prodi S2 Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Airlangga (Unair) berpendapat bahwa para pengikut paham apokaliptik ini ingin meninggalkan dunia sebelum adanya penghakiman atau munculnya kiamat. Para penganut paham tersebut berspekulasi bahwa mereka lebih baik mengakhiri hidup dengan “lebih terhormat” sebelum terjadinya kiamat yang dianggap sebagai hukuman dari Tuhan.&nbsp;</p>



<p>Kita semua tahu bahwa cepat atau lambat, kita semua pasti akan menghadapi yang namanya <a href="https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/">kematian</a>. Pertanyaannya adalah apakah mengakhiri hidup kita sendiri karena putus asa akibat perasaan keterbatasan diri dan rasa putus asa terhadap sistem kehidupan yang ada merupakan tindakan yang tepat dan bijaksana? Apakah dengan mengakhiri hidup kita saat ini maka segala sesuatu akan selesai begitu saja dan tinggal menghadapi “penghakiman” dari Tuhan? Jika “penghakiman” dari Tuhan tersebut berbentuk surga dan neraka, apakah kita memiliki kesempatan untuk berpindah alam dari nereka ke surga (begitu juga sebaliknya) setelahnya atau kita akan selamanya berada di salah satu alam tersebut tanpa ada kemungkinan untuk keluar dari sana? Jika memang masa kehidupan kita di salah satu alam tersebut bersifat kekal dan apabila kita jatuh ke alam neraka karena perbuatan jahat kita lebih banyak daripada perbuatan baik yang telah kita lakukan selama hidup kita, apakah berarti semua perbuatan baik yang pernah kita lakukan semasa hidup kita menjadi sia-sia begitu saja karena pada akhirnya kita akan terjatuh dan menderita di alam neraka selamanya tanpa ada kesempatan untuk keluar?&nbsp;</p>



<p>Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat berkaitan erat dengan konsep karma dan pemahaman kita bahwa kehidupan yang kita jalani itu tidak hanya sekali ini saja. Buddhisme percaya bahwa setelah kematian, kita akan terus menjalani kehidupan yang lain secara berulang-ulang apabila kita tidak pernah melakukan sesuatu untuk menghentikan akar dari proses ini. Walaupun kepercayaan-kepercayaan lain juga menyatakan bahwa mereka meyakini adanya kehidupan setelah kematian berupa kelahiran di surga dan neraka, Buddhisme menekankan pada kata kunci “berulang-ulang” yang menyiratkan bahwa kehidupan kita tidak hanya akan berakhir di antara surga atau neraka itu selamanya, melainkan akan ada kehidupan lain lagi setelahnya.</p>



<p>Setidaknya, ini bisa menjustifikasi <a href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">konsep karma</a> yang telah kita pelajari bahwa segala sesuatu yang telah kita perbuat akan selalu menjadi sebab yang akan berbuah pada suatu hasil. Didukung oleh konsep kelahiran yang berulang setelah kematian, kita akan menyadari bahwa setidaknya kita masih diberi kesempatan untuk melakukan suatu tindakan yang akan menjadi sebab untuk berbuahnya karma bajik yang pernah kita pupuk di masa lalu. Mengambil contoh makhluk yang terlahir di alam neraka karena karma buruknya yang lebih banyak, kita tidak bisa serta-merta langsung menghakimi bahwa ia sepenuhnya salah dan semua perbuatan bajik yang pernah ia lakukan semasa hidupnya tidak ada nilainya sama sekali. Dengan adanya kehidupan selanjutnya setelah kelahirannya di alam neraka, setidaknya ia masih diberi kesempatan untuk merasakan buah dari karma bajik sebagai akibat dari perbuatan baiknya di masa lampau.&nbsp;</p>



<h4><strong>Kenapa Pemahaman akan Kehidupan Mendatang Menjadi Sangat Penting?</strong></h4>



<p>Pemahaman yang benar akan kehidupan mendatang menjadi sangat penting bagi kita karena kita jadi termotivasi untuk meninggalkan segala sesuatu yang bersifat tidak bajik dan terus berusaha untuk kebajikan dalam hal apapun yang bisa kita lakukan. Semua itu kita lakukan semata-mata karena kita tahu bahwa segala perbuatan tersebut tidak hanya akan berdampak pada kehidupan saat ini saja, melainkan pada kehidupan kita yang akan datang juga. Paling tidak, pemahaman ini juga akan menyelamatkan kehidupan kita saat ini sehingga kita tidak terjerumus ke paham-paham sesat yang mengaburkan pandangan benar dan logika kita seperti para penganut paham apokaliptik tersebut.&nbsp;</p>



<p>Jadi, kita harus terus belajar sehingga kita bisa semakin mengasah kemampuan kita dalam membedakan mana hal yang benar dan salah sehingga tidak mudah terjatuh ke pandangan yang keliru. Gimana sih cara belajarnya? Salah satunya adalah tentu saja dengan terus belajar Dharma, baik itu dari mengikuti pengajaran Dharma langsung, membaca buku-buku Dharma, atau minimal membaca semua <a href="https://lamrimnesia.org/category/wacana/artikel/">artikel dari Lamrimnesia</a> (setelah baca artikel, cari tahu lebih lanjut, ya!). Jadi, yuk kita bareng-bareng mempelajari, merenungkan, dan mempraktikkan semua Dharma di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari!</p>



<h4><strong>Referensi:</strong></h4>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche<br><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a> oleh Je Tsongkhapa<br><a href="https://www.kompas.com/tren/read/2022/11/15/163000965/apa-itu-apokaliptik-disebut-penyebab-kematian-keluarga-di-kalideres-?page=all">Apa itu Apokaliptik, Disebut Penyebab Kematian Keluarga di Kalideres</a> &#8211; Kompas.com<br><a href="https://www.unair.ac.id/benarkah-kematian-keluarga-di-kalideres-dipengaruhi-paham-apokaliptik-ini-tanggapan-pakar-unair/">Benarkah Kematian Keluarga di Kalideres Dipengaruhi Paham Apokaliptik? Ini Tanggapan Pakar Unair</a> &#8211; unair.ac.id</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2022 07:34:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[alam rendah]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan setelah mati]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7506</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Mau tahu seperti apa rasanya lahir di neraka, hantu kelaparan, atau binatang? Buddha punya jawabannya dan kita perlu merenungkannya. Jangan diabaikan!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Kevin Chow</p>



<p>Pernah ga sih kalian ketemu teman atau orang yang hidupnya YOLO banget gitu? YOLO itu adalah singkatan dari <em>You Only Live Once.&nbsp;</em></p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Eh, kok lu tiap minggu <em>check out</em> keranjang Shopee mulu, sih? Gak ada niat buat hemat gitu?”<br>“Yaelah bro, kita YOLO aja lah. Ngapain hidup harus serius-serius amat, sih.”</p></blockquote>



<p>Orang-orang dengan prinsip seperti ini berpikiran bahwa kita hanya hidup sekali saja. Sebenarnya, slogan ini bisa memiliki makna positif maupun negatif tergantung pada penggunaannya. Pada konteks percakapan sebelumnya, tentu saja ini merupakan contoh pemaknaan YOLO secara negatif, yang artinya ia hanya sibuk berfoya-foya menghabiskan uang untuk membeli sesuatu yang belum tentu berguna. Padahal, uangnya mungkin bisa saja ditabung atau diinvestasikan dan kemudian digunakan untuk hal-hal yang lebih berguna di masa mendatang. Jika kita melihat sudut pandang yang lebih positif, slogan YOLO juga bisa memotivasi kita untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat selama kita masih mampu bernapas untuk membuat hidup kita menjadi lebih bermakna.&nbsp;</p>



<p>Tapi <em>guys</em>, sebelum kita terjun lebih dalam tentang YOLO ini, kita perlu menelusuri keabsahan dari kata-kata gaul ini. Apakah benar bahwa kita hanya hidup sekali saja? Pernahkah kita berpikir bahwa setelah kehidupan ini berakhir, apakah semuanya akan selesai begitu saja? Jika memang begitu adanya, berarti semua perbuatan yang telah kita lakukan di kehidupan ini tidak akan membawa akibat apa pun dong? Terus, kenapa bisa ada orang yang terlahir di keluarga kaya, sedangkan yang lainnya terlahir di keluarga miskin? Lah, siapa dong yang nentuin kalo gitu? Apabila dilanjutkan, akan semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul nantinya. Jika kalian penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kalian bisa menguliknya lebih lanjut di artikel “<a href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a>”.</p>



<h4><strong>Kehidupan Setelah Mati</strong></h4>



<p>Secara singkat, kita (terutama Buddhis) meyakini bahwa hidup tidak hanya sekali saja. Setelah kematian, kita akan dilahirkan kembali ke alam yang lebih tinggi atau alam rendah. Sayangnya, kita tidak bisa dengan bebas memilih untuk dilahirkan ke alam yang mana karena itu semua bergantung pada karma yang telah kita perbuat. Jika selama kehidupan ini kita lebih banyak memupuk karma yang bajik, kita akan memiliki kesempatan untuk terlahir kembali di alam manusia atau pun alam yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika kita lebih banyak mengumpulkan ketidakbajikan, maka kita akan otomatis terjatuh ke alam rendah. Kemungkinan ini menjadikan perenungan akan penderitaan di alam rendah sebagai tahapan penting setelah <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/">merenungkan tentang kematian</a> dalam instruksi Lamrim (Tahapan Jalan Menuju Pencerahan) karena dapat menjadi dorongan kuat untuk melanjutkan praktik Dharma ke tahapan yang selanjutnya.</p>



<h4><strong>Tiga Alam Rendah</strong></h4>



<p>Berbicara tentang alam rendah, Buddhisme mengategorikan alam-alam tersebut menjadi tiga bagian, yakni alam neraka, binatang, dan hantu kelaparan.&nbsp;</p>



<p>Untuk alam neraka sendiri, setidaknya ada empat pembagian lagi, yaitu neraka besar, neraka berdekatan, neraka dingin, dan neraka sebagian. Bahkan jika kita ingin membahas lebih detail lagi, setiap neraka tersebut masih ada pembagiannya lagi loh! Jika teman-teman ingin mengetahui lebih lanjut tentang pembagiannya, bisa dibaca lebih lanjut di buku “<a href="https://play.google.com/store/books/details?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche (hal. 222-248). Satu hal yang pasti, tidak ada satu pun alam neraka yang nyaman untuk ditempati.&nbsp;</p>



<p>Jika kalian pernah merasakan perihnya tersayat oleh pisau atau mungkin tidak sengaja tertusuk oleh jarum, maka kalian bisa membayangkan bahwa penderitaan di alam neraka jauh berkali-kali lipat lebih sakit dibandingkan itu. Mungkin agak sulit jika kita membayangkan diri kita yang sedang dipotong-potong dengan pisau atau dilempar ke dalam tungku besi panas yang penuh dengan kobaran api. Jika kalian pernah menggoreng sesuatu dan tidak sengaja terkena percikan minyak panasnya, nah itulah bagian yang sangat amat kecil dari keseluruhan penderitaan di alam neraka! Bukan, kita bukan sedang membahas cerita tentang psikopat atau semacamnya. Tapi, memang benar begitulah mengerikannya penderitaan di alam neraka.&nbsp;</p>



<p>Di atas neraka, ada alam hantu kelaparan. Secara umum, penghuni alam ini memiliki tiga jenis penderitaan. Yang pertama adalah halangan eksternal untuk mendapatkan makanan/minuman. Misalnya, ketika mereka menemukan mata air saat sedang kehausan, air tersebut tiba-tiba akan hilang saat mereka akan meminumnya. Kemudian, ada yang disebut sebagai halangan internal, contohnya hantu-hantu yang memiliki perut buncit tapi mulut mereka hanya seukuran mata jarum sehingga sangat sulit untuk menyantap makanan. Terakhir adalah penderitaan berupa halangan di dalam makanan/minuman itu sendiri karena apapun yang mereka santap akan berubah menjadi kobaran api.&nbsp;</p>



<p>Nah, selanjutnya kita membahas tentang penderitaan di alam binatang. Kebetulan, para binatang ini tinggal di alam yang sama dengan kita sebagai manusia sehingga kita bisa mengamati dengan jelas bagaimana kehidupan mereka. Syukur-syukur jika kita kebetulan bisa terlahir sebagai anjing atau kucing yang tinggal di rumah keluarga yang kaya sehingga kita bisa mengonsumsi Royal Canin setiap hari. Namun, seberapa besar sih kemungkinan kita bisa terlahir sebagai salah satu dari binatang peliharaan tersebut? Bayangkan jika kita terlahir sebagai ayam yang harus disembelih untuk dikonsumsi, sebagai singa di hutan yang harus saling berburu mangsa untuk bertahan hidup, atau sebagai ikan di perairan lautan dalam yang bahkan kita sendiri tidak tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana. Secara umum, para binatang ini mengalami penderitaan berupa saling memakan satu sama lain, dungu dan bodoh, kepanasan dan kedinginan, kelaparan dan kehausan, serta dieksploitasi.</p>



<h4><strong>Kita Bisa Kena!</strong></h4>



<p>Setelah kita mengetahui semua bentuk penderitaan di alam rendah, kita perlu merenungkan bahwa dengan kondisi kita saat ini, sangat mungkin sekali bagi kita untuk terjatuh ke salah satu dari alam tersebut setelah kita meninggal nanti. Jika kita ingin hitung-hitungan peluang kita untuk terjatuh ke alam rendah ini, cukup ingat kembali kembali aktivitas apa saja yang sudah kita lakukan selama 24 jam terakhir, baik dari pikiran, ucapan, dan perbuatan. Apakah batin kita sudah cukup bajik hari ini atau kita malah sibuk iri dengan kesuksesan orang lain, kesal dengan bos kita yang ngomel terus di kantor, atau bahkan masih menyimpan dendam dengan mantan kita? Ketika aktivitas kita masih didominasi oleh hal-hal yang tidak bajik, sebenarnya itu merupakan sinyal kuat bahwa alam rendah akan menjadi destinasi kelahiran kita selanjutnya.&nbsp;</p>



<p>Kita juga bisa membandingkan jumlah makhluk yang terlahir di alam rendah dan alam manusia. Cukup hitung berapa banyak jumlah semut di satu sarang, tak terhitung! Ada berapa banyak sarang semut di dunia ini? Itu baru jumlah semut. Kita belum menghitung jumlah spesies binatang lainnya yang tak terhingga banyaknya. Apalagi jika kita menambahkan total seluruh makhluk yang terlahir di setiap kategori dari alam neraka hingga hantu kelaparan. Sudah terbayangkan seberapa besar kemungkinan kita untuk terpeleset ke alam rendah tersebut?</p>



<p>Dengan memahami penderitaan di alam rendah, seharusnya kita bisa memunculkan rasa takut yang akan memotivasi kita untuk mengurangi segala aktivitas tidak bajik yang sudah menjadi kebiasaan dalam hidup kita. Mumpung kita masih terlahir sebagai manusia, kita masih memiliki kemampuan untuk menciptakan sebab-sebab yang bajik untuk menghindari kejatuhan terlahir di alam rendah. Apabila kita sudah terlanjur lahir di alam rendah tersebut, akan sangat sulit bagi kita bahkan hanya untuk sekadar memikirkan tentang Dharma karena sepanjang saat kita hanya akan merasakan penderitaan dan penyiksaan tiada akhir.&nbsp;</p>



<p>Jadi, selagi kita masih diberi kesempatan hari ini, yuk kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya karena <em>you don’t only live once</em>!</p>



<h4><strong>Referensi:</strong></h4>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche<br><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a> oleh Je Tsongkhapa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Spoiler Alert &#8211; Ini Dia Proses Kematianmu</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2022 07:58:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7067</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Apa sih yang terjadi setelah mati dalam agama Buddha? Ini dia proses kematian yang perlu kita pelajari dan persiapkan dari sekarang.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert – Ini Dia Proses Kematianmu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert &#8211; Ini Dia Proses Kematianmu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Silvi Wilanda</p>



<p>Akhir-akhir ini kematian terasa lebih dekat. Kabar-kabar duka yang jadi sorotan publik seperti Ratu Elizabeth II, Reza Gunawan, dan yang sebelumnya Brigadir Yoshua muncul di mana-mana. Aktivitas pencarian informasi pun menjadi ramai, mulai dari pencarian biografi tokoh tersebut, perannya dalam masyarakat, bagaimana kronologi kematiannya, serta lainnya. Namun, sebenarnya ada satu hal lain yang luput dari pencarian informasi kita, yakni bagaimana proses kematian itu sendiri.&nbsp;</p>



<p>Pernahkah terlintas dalam pikiran kita, kematian itu seperti apa? Bagaimana prosesnya? Ke mana kita pergi setelah mati? Bagaimana kita bisa terlahir kembali? Sebagai umat Buddha yang meyakini hukum karma dan konsep kelahiran kembali, ini adalah hal penting untuk direnungkan dan dimeditasikan. Setelah sebelumnya membahas tentang <a href="https://lamrimnesia.org/tag/kematian/">merenungkan kaitan kematian dengan hidup kita dari berbagai sisi</a>, proses kematian inilah yang seterusnya perlu kita renungkan dalam Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (Lamrim).</p>



<p>Jadi, seperti apa proses kematian itu? Berikut adalah cuplikan <em>spoiler-</em>nya:</p>



<h4><strong>Penyebab Kematian&nbsp;</strong></h4>



<p>Buddha menjelaskan ada 3 sebab utama kematian, yaitu:</p>



<ol><li>Habisnya masa kehidupan kita.</li></ol>



<p>Saat kita terlahir kembali, kita “terlempar” ke kehidupan selanjutnya dengan jangka hidup yang pasti. Seseorang hanya bisa hidup sepanjang jangka hidupnya ini saja, tidak bisa lebih, tapi sangat bisa habis sebelum waktunya. Sebab kedua dan ketiga di bawah ini adalah penyebab bagaimana seseorang bisa meninggal sebelum jangka hidupnya berakhir.&nbsp;&nbsp;</p>



<ol start="2"><li>Habisnya karma baik kita.</li></ol>



<p>Selain jangka hidup, kita juga membutuhkan karma baik untuk dapat tetap melangsungkan kehidupan. Jika karma baik kita habis sebelum jangka hidup kita berakhir, kita bisa meninggal. Untuk itu, penting bagi kita untuk menghemat tabungan karma baik kita dengan menghindari gaya hidup mewah dan rajin melakukan kebajikan.&nbsp;</p>



<ol start="3"><li>Hadirnya kondisi yang tidak menguntungkan.&nbsp;</li></ol>



<p>Selain habisnya karma baik, kematian sebelum jangka hidup berakhir juga bisa disebabkan karena hadirnya kondisi yang tidak menguntungkan. Untuk itu, penting juga mendedikasikan kebajikan kita agar kita terhindar dari sebab kematian ini.&nbsp;</p>



<h4><strong>Pikiran Terakhir Menjelang Kematian</strong></h4>



<p>Saat menjelang kematian, pikiran terakhir kita berupa pikiran baik, buruk, atau netral. Jika pikiran yang muncul adalah pikiran baik, kita akan merasa damai, bahagia, dan seolah-olah melihat cahaya putih. Namun, jika pikiran buruk yang muncul, kita akan merasa takut, khawatir, dan seolah-olah melihat kegelapan. Pikiran terakhir menjelang kematian juga dapat diketahui dari hilangnya panas tubuh. Jika pikiran kita baik, maka panas tubuh akan hilang berangsur-angsur dari kaki hingga ke bagian tengah tubuh. Jika pikiran kita tidak baik, maka panas tubuh akan hilang dari kepala menuju bagian tubuh bawah.&nbsp;</p>



<p>Pikiran terakhir menjelang kematian ini sangat penting karena akan memengaruhi kehidupan kita yang selanjutnya. Jika pikiran terakhir kita buruk, kita akan terlahir di alam rendah. Begitu juga sebaliknya, jika pikiran terakhir kita baik, maka kita akan terlahir di alam bahagia. Meski semua orang ingin memiliki pikiran terakhir yang baik, namun kemungkinan besar pikiran terakhir yang muncul saat menjelang kematian adalah hal yang paling sering kita lakukan. Mengingat kita masih lebih sering melakukan ketidakbajikan, maka sangat mungkin pikiran buruklah yang datang saat kematian tiba.</p>



<p>Untuk itu, penting bagi kita untuk membiasakan diri untuk berpikir bajik, khususnya melatih diri kita untuk mengambil perlindungan kepada Triratna dengan sungguh-sungguh. Saat mengambil perlindungan, kita perlu membangkitkan kengerian akan kelahiran di alam rendah dan keyakinan bahwa Triratna dapat menolong kita. Selain itu, kita juga bisa melatih diri untuk memeditasikan penampakan objek suci, seperti Buddha, Istadewata (Awalokiteshwara/Kwan Im, Arya Tara, Manjushri, dan lain sebagainya), ataupun Guru kita sendiri. Harapannya dengan latihan akan hal ini, kita bisa mengambil perlindungan sekaligus membayangkan wujud suci menjelang kematian tiba.&nbsp;</p>



<h4><strong>Perpisahan Unsur Pembentuk Tubuh</strong></h4>



<p>Saat terlahir, 4 unsur pembentuk tubuh kita (tanah, air, api, dan udara) bersatu dengan arus batin kita. Dalam proses kematian, hal yang sebaliknya yang terjadi. Unsur-unsur tubuh ini berpisah hingga akhirnya batin kita kehilangan dasar fisiknya.&nbsp;</p>



<p>Unsur yang pertama kali akan terpisah adalah tanah. Saat unsur tanah mulai terpisah, tubuh kita akan terasa kehilangan energi dan merasakan sensasi seolah-olah tenggelam ke dalam tanah. Unsur kedua yang akan terpisah adalah air. Saat unsur air mulai terpisah, mulut kita menjadi mengering, bibir atas menjadi keriting, dan lubang hidung terjepit. Unsur ketiga yang terpisah adalah api dengan tanda panas tubuh kita akan menghilang dan warna tubuh kita akan memucat. Unsur yang terakhir terpisah adalah angin dengan tanda kita akan sulit bernapas.&nbsp;</p>



<p>Setiap ada unsur yang terpisah, kita juga merasakan pengalaman internal yang sesuai dengan sifat alami karma yang sedang mempengaruhi kita. Jika karmanya tidak bajik, maka kita akan mendengar atau melihat sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, jika di bawah pengaruh karma bajik, maka kita akan mendengar atau melihat sesuatu yang menyenangkan.&nbsp;</p>



<p>Setelah semua unsur terpisah, kesadaran kasar kita berakhir dan terganti dengan kesadaran halus. Tingkat pertama kesadaran halus dinamakan “penampakan putih”, penglihatan kita sepenuhnya putih seperti langit polos yang hanya disinari cahaya bulan. Tingkat kedua kesadaran halus disebut “peningkatan merah” menyerupai langit musim gugur yang berwarna merah. Tingkat terakhir kesadaran halus disebut “pencapaian hampir hitam”, penglihatan kita gelap penuh seperti langit yang gelap tanpa cahaya apapun.&nbsp;</p>



<p>Kesadaran halus pun pada akhirnya akan hilang dan digantikan kembali dengan kesadaran luar biasa halus yang dinamakan “cahaya jernih kematian”. Pada tahap ini, kita melihat musim semi yang bersih dengan langit biru pekat nan murni yang bebas dari cahaya matahari dan bulan. Dalam terminologi Buddhis, inilah momen kematian yang sesungguhnya.</p>



<p>Saat tahap “cahaya jernih kematian” berakhir, maka proses kelahiran kembali akan dimulai. Proses yang sebaliknya terjadi, yaitu “pencapaian hampir hitam”, “peningkatan merah”, dan selanjutnya. Proses ini bertepatan dengan kelahiran kita di alam bardo terlebih dahulu.&nbsp;&nbsp;</p>



<h4>Kelahiran di Alam Bardo&nbsp;</h4>



<p>Saat berhadapan dengan kematian, kita juga memiliki kemelekatan terhadap diri. Kemelekatan akan diri ini dimiliki oleh semua makhluk, bahkan para Arya sekalipun, hanya saja seorang Arya mampu mengendalikan kemelekatan tersebut. Hanya mereka yang telah mencapai tingkatan Arahat yang mampu menaklukkan kemelekatan terhadap diri ini.&nbsp;</p>



<p>Kemelekatan akan diri ini muncul karena pembiasaan yang sudah terjadi sejak masa kehidupan lampau yang tak terhingga. Kita dihinggapi rasa takut yang amat sangat terhadap kemungkinan bahwa diri kita akan lenyap setelah meninggal nanti. Rasa takut ini kemudian mendorong kita untuk terlahir kembali di alam bardo.&nbsp;</p>



<p>Di alam bardo, kita memiliki bentuk tubuh jasmani yang sama dengan tubuh kita di kehidupan mendatang. Tubuh jasmani tersebut terbentuk dari angin yang sangat halus dan tidak padat seperti tubuh manusia sehingga memungkinkan makhluk bardo untuk lebih mudah bergerak. Misalnya saja, jika makhluk bardo memikirkan suatu tempat, maka tubuhnya akan bergerak menuju arah tempat yang dipikirkannya itu.&nbsp;</p>



<p>Dalam Sutra Barisan Tangkai juga dikatakan bahwa warna tubuh alam bardo menyesuaikan dengan kehidupan mendatangnya. Jika makhluk bardo akan terlahir di neraka, tubuhnya hitam seperti batu bara. Jika akan terlahir sebagai setan kelaparan, tubuhnya seperti air. Jika akan terlahir sebagai manusia atau alam menyenangkan lainnya, tubuhnya akan berwarna emas. Jika akan terlahir sebagai dewa, tubuhnya akan berwarna putih.&nbsp;</p>



<p>Tidak ada waktu minimal makhluk bardo bisa ada di alam bardo. Kapanpun makhluk bardo menemukan tempat untuk terlahir kembali, ia akan segera meninggalkan alam bardo. Biasanya, makhluk bardo cenderung memilih tempat kelahiran selanjutnya sesuai dengan hal-hal yang akrab dan disukainya.&nbsp;</p>



<p>Sedangkan, masa hidup maksimal makhluk bardo di alam bardo adalah 49 hari. Setelah setiap periode 7 hari, makhluk bardo yang tidak menemukan tempat kelahirannya kembali, akan mati untuk kemudian terlahir kembali di alam bardo. Proses ini berlangsung selama 7 kali sehingga total periode hidup makhluk bardo adalah 49 hari. Hal inilah yang mendorong adanya upacara pengumpulan kebajikan selama 49 hari bagi kerabat yang telah meninggal.&nbsp;</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Begitulah kurang lebih bagaimana proses kematian terjadi. Setelah mengetahui <em>spoiler</em>-nya, perasaan apa yang muncul dalam dirimu? Takut? Semakin melekat dengan hidup? Atau biasa saja? Jika takut, kita harus jadikan rasa itu pecutan untuk bisa segera mempersiapkan kematian dengan lebih baik. Jika semakin melekat dengan hidup, kita harus terus merenungkan kematian agar kemelekatan bisa terkikis sedikit demi sedikit. Jika kita merasa biasa saja, kita semakin perlu untuk bergiat diri merenungkan proses kematian. Terlepas dari perasaan yang muncul, kita perlu segera bergegas mempersiapkan kematian kita karena mau tidak mau kita harus mengalami kematian itu, cepat atau lambat.&nbsp;</p>



<p>Referensi:“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari</a>” karya Guru Dagpo Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert – Ini Dia Proses Kematianmu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert &#8211; Ini Dia Proses Kematianmu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenali Sahabat Sehidup Semati yang Sesungguhnya</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/08/26/mengenali-sahabat-sehidup-semati-yang-sesungguhnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2022 03:24:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7007</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Buddhis tak perlu galau kalau nggak ketemu soulmate alias sahabat sehidup semati. Satu-satunya hal yang “pasti” adalah kematian pasti datang dan hanya Dharma yang bisa mendampingi.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/08/26/mengenali-sahabat-sehidup-semati-yang-sesungguhnya/">Mengenali Sahabat Sehidup Semati yang Sesungguhnya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/08/26/mengenali-sahabat-sehidup-semati-yang-sesungguhnya/">Mengenali Sahabat Sehidup Semati yang Sesungguhnya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Akhirnya kita sampai juga ke poin ketiga sekaligus poin terakhir dari perenungan tentang kematian dalam <a href="https://lamrimnesia.org/apa-itu-lamrim/">Lamrim</a>. Poin yang dibahas pada artikel ini adalah tidak ada yang bisa kita andalkan saat kematian tiba kecuali Dharma. Setelah kita menyadari bahwa <a href="https://lamrimnesia.org/2022/06/03/ojol-atau-ajal-mana-yang-datang-duluan/">kematian bisa datang lebih dulu dibanding pesanan ojol</a>, kita harusnya mulai memilah-milah mana yang sebenarnya hal paling penting yang harus kita perjuangkan dari sekarang.&nbsp;</p>



<p>Ketika tiba-tiba malam ini kita mati, setidaknya kita sudah siap dan tidak menyesal karena kita telah mengumpulkan satu hal yang sangat-sangat berguna untuk kita bawa ketika bertemu dengan ‘Raja Kematian’. Apakah itu harta kekayaan kita? Keluarga, teman, dan pacar kita? Atau bahkan mungkin tubuh kita sendiri karena tubuh kita inilah yang selalu menemani kita sejak kita lahir? <em>No, no</em>! Sayangnya, jawabannya bukanlah ketiga hal tersebut. Lah, kenapa begitu? Makanya, yuk simak penjelasannya!</p>



<ol><li><strong>Sekaya apa pun kita, duitnya gak bisa dibawa mati</strong></li></ol>



<p>Selama hidup, kita capek-capek kerja ngumpulin duit buat beli <em>sports car</em> yang keren, <em>gadget</em> keluaran terbaru biar gak ketinggalan zaman, atau tas <em>branded</em> biar bisa tampil lebih percaya diri di depan teman-teman. Namun, setelah mati nanti, apakah semua barang-barang tersebut bisa ikut bersama kita juga? Ya enggak lah. Apakah semua uang yang telah kita kumpulkan selama hidup kita bisa kita bawa saat kematian kita? Tentu juga tidak. Saat kematian tiba, semua harta dan kekayaan yang telah kita simpan ibarat di-<em>reset</em> kembali. Tidak ada satu rupiah pun yang bisa menolong kita di kehidupan berikutnya.</p>



<ol start="2"><li><strong>Kita akan mati dalam kesendirian walaupun teman-teman dan keluarga mengelilingi ranjang kematian kita</strong></li></ol>



<p>Selama ini, kita selalu berpikir bahwa mungkin pacar atau istri kita adalah orang yang paling setia menemani kita sampai kapan pun. Nyatanya, dia tidak akan bisa menolong kita saat ajal kita tiba. Lalu, kita berpikir bahwa sahabat kita mungkin akan lebih setia dibanding pacar kita. Hal ini juga mustahil karena mereka juga tidak akan berdaya saat kita menghadapi proses kematian. Terakhir, kita sangat yakin bahwa orang tua yang telah melahirkan, membesarkan, dan menyayangi kita dengan sepenuh hati tidak akan mengkhianati kita. Sayangnya, hal ini juga sia-sia. Pada akhirnya, tidak ada satu orang pun dari mereka yang bisa mencegah kita dari kematian. Mentok-mentok, mereka cuma bisa berkumpul mengelilingi ranjang kematian kita dengan menggenggam tangan kita sambil menangis. Tetap saja kita akan melewati proses kematian sendirian ditengah kerumunan orang-orang kesayangan kita.</p>



<ol start="3"><li><strong>Bahkan tubuh kita yang sangat setia ini pun tidak bisa menemani kita setelah kematian 🙁</strong></li></ol>



<p>Setelah tidak ada satu barang atau orang pun yang bisa kita percaya untuk menemani kita melewati proses kematian, kita merasa sangat putus asa. Lalu, kita sadar kalau satu-satunya hal yang bisa kita andalkan dalam menghadapi ajal kita adalah diri kita sendiri. Iya, tubuh kita ini yang sudah bersama dengan kita sejak kita dilahirkan ke dunia. Tubuh yang selama ini kita rawat dengan penuh kasih sayang. Tubuh yang selalu kita beri makan ketika ia lapar, yang selalu kita lindungi saat kedinginan atau kepanasan, dan yang selalu kita rawat agar ia tidak sakit. Dengan segala usaha kita, kita sangat yakin bahwa tubuh kita ini juga akan memberikan imbalan yang setimpal kepada kita saat kita meninggal. Namun tampaknya, kita juga tetap dikhianati oleh tubuh ini karena nyatanya ia juga tidak bisa diandalkan untuk menghadapi kematian.</p>



<p>Sebenarnya tubuh kita ini sangat berharga karena melalui tubuh ini, kita bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang berguna untuk mencapai kebahagiaan atau memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Sayangnya, tubuh kita ini memiliki batas waktu. Setelah meninggal, tubuh kita ini akan menjadi tidak berguna sama sekali. Oleh karena itu, selama masih hidup, kita harus memanfaatkan tubuh manusia ini sebaik-baiknya (baca: <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/26/kamu-manusia-apa-kamu-punya-8-permata-ini/">Kamu Manusia? Apa Kamu Punya 8 Permata ini?</a>) karena kita tidak bisa membawa tubuh kita ini ke kehidupan selanjutnya. Jika kita gagal memanfaatkannya, tubuh ini akan benar-benar tidak berguna saat kita sudah terkapar di ranjang kematian.</p>



<p>Jika bukan harta, teman-teman dan keluarga, atau bahkan diri kita sendiri yang bisa kita andalkan untuk menghadapi kematian, terus apa dong? Jawabannya adalah praktik Dharma kita! Mengapa hanya praktik Dharma yang bisa diandalkan? Karena melalui praktik Dharma, ibarat menyiapkan bekal, kita bisa menanam benih-benih berupa karma bajik yang akan mengarahkan kita pada pencapaian kualitas-kualitas baik pada kehidupan selanjutnya. Percaya deh, praktik Dharma pasti tidak akan mengkhianati kita kok! Saat kematian tiba, Dharma inilah yang akan menjadi penunjuk jalan kita.&nbsp;</p>



<p>Sebenarnya, praktik Dharma dan mengingat kematian itu sendiri adalah dua poin yang sangat berhubungan satu sama lain. Akar dari praktik Dharma adalah mengingat kematian. Kematian jugalah yang merupakan salah satu hal yang memacu kita untuk praktik Dharma.</p>



<p>Kita perlu sadar bahwa kematian itu pasti, waktunya tidak pasti, dan hanya Dharma–sahabat sehidup semati kita yang sesungguhnya–yang bisa kita andalkan saat kematian. Ketika kita merenungkan kematian, secara otomatis kemelekatan kita terhadap hal-hal duniawi juga akan berkurang karena kita menyadari betul bahwa tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut yang berguna saat ajal kita tiba selain praktik Dharma. Oleh karena itu, ayo kita mulai praktik Dharma dari sekarang sebelum kita menghadap ‘Raja Kematian’!</p>



<h4><strong>Referensi:</strong></h4>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche<br><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a> oleh Je Tsongkhapa<br><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari: Apa yang Bisa Kuperbuat?</a> oleh Dagpo Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/08/26/mengenali-sahabat-sehidup-semati-yang-sesungguhnya/">Mengenali Sahabat Sehidup Semati yang Sesungguhnya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/08/26/mengenali-sahabat-sehidup-semati-yang-sesungguhnya/">Mengenali Sahabat Sehidup Semati yang Sesungguhnya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Workshop IWTCF 2022: Ubah Hidup dengan Warisan Spiritual Wellness Sriwijaya</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/08/05/workshop-iwtcf-2022-ubah-hidup-dengan-warisan-spiritual-wellness-sriwijaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2022 04:38:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[IWTCF]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<category><![CDATA[meditasi terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[NDBF]]></category>
		<category><![CDATA[NDBF 4.0]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7013</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ungkapan "terima kasih" ternyata menyimpan rahasia spiritual wellness Nusantara yang telah berusia lebih dari 1000 tahun. Rahasia ini diungkap oleh Co-Founder Ayurjnana Wellness Johnson Khuo dalam workshop "Thank You" Meditation, Legacy of Suwarnadwipa Dharmakirti of Sriwijaya di Indonesia.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/08/05/workshop-iwtcf-2022-ubah-hidup-dengan-warisan-spiritual-wellness-sriwijaya/">Workshop IWTCF 2022: Ubah Hidup dengan Warisan Spiritual Wellness Sriwijaya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/08/05/workshop-iwtcf-2022-ubah-hidup-dengan-warisan-spiritual-wellness-sriwijaya/">Workshop IWTCF 2022: Ubah Hidup dengan Warisan Spiritual Wellness Sriwijaya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Ungkapan &#8220;terima kasih&#8221; ternyata menyimpan rahasia <em>spiritual wellness</em> Nusantara yang telah berusia lebih dari 1000 tahun. Rahasia ini diungkap oleh Co-Founder Ayurjnana Wellness Johnson Khuo dalam <em>workshop</em> &#8220;Thank You&#8221; Meditation, Legacy of Suwarnadwipa Dharmakirti of Sriwijaya di Indonesia. <em>Workshop</em> yang digelar pada 5 Agustus 2022 ini merupakan bagian dari Indonesia Wellness Tourism Conference &amp; Festival (IWTCF) 2022, <em>side event </em>KTT G20 yang digelar di Hotel Alila Solo, 5-7 Agustus 2022.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/8AIn_pRS9aNFm8uyoy1uWNZTsKkFj8VHaxR0J3aDmW2uMTm5sqK6LY8WaQ4HxFJgeMFSxqjdLuprKCepqzdagjtgcmMINuPgllYa0kDsI7LkXsmE481EzO7BQqPZIJH9OUOTYe0-ONRl1SkeiL9DPNxhsdZttVlWIA3ui0uvLQUst-Vztlgb1CAFSw" alt=""/></figure>



<p>Selama kurang lebih 60 menit, Johnson membimbing 20 peserta <em>onsite</em> dan 41 peserta <em>online</em> dalam meditasi yang bertujuan untuk mengubah cara pandang, dari yang mementingkan diri sendiri menjadi mementingkan semua makhluk, untuk mengatasi akar segala permasalahan dan mengembangkan welas asih universal yang menjangkau semua tanpa bias.</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;Saya terima penderitaan dan kekalahanmu, saya kasihkan kebahagiaanku padamu,&#8221; tutur Johnson ketika menerangkan makna rahasia di balik ungkapan &#8220;terima kasih&#8221;.</p></blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;Semua konflik di dunia bersumber dari kita ingin menang sendiri, yang lain <em>sakarepmu lah</em>&#8230; Semua perseteruan kecil rumah tangga sampai global dunia bersumber dari situ,&#8221; terang Johnson lebih lanjut, &#8220;Jadi, dengan konsep terima kasih ini, keseluruhan pola pikir ini kita ubah, kita jungkirbalikkan.&#8221;</p></blockquote>



<p>Meditasi &#8220;Terima Kasih&#8221; bersumber dari ajaran Guru Suwarnadwipa Dharmakirti, guru Dharma dari Sriwijaya abad X yang dulu mengajar ribuan biksu di Candi Muaro Jambi. Pada masa itu, praktik ini amatlah langka sehingga pencari Dharma dari seluruh dunia datang ke Sriwijaya guna menerima ilmu ini dari Guru Suwarnadwipa, termasuk pandit besar Nalanda dan reformator Buddhisme Tibet, Atisha Dipamkara Srijnana. Proses meditasinya sendiri berbeda dengan meditasi yang populer karena melibatkan penalaran dan perenungan untuk mentransformasi pola pikir menjadi lebih positif alih-alih sekadar memperhatikan objek tertentu untuk relaksasi.</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/LwbkbcY3VB9agr9MKaTAbYVj529Kcyp-7aiZ2tlGjakTZRtuNVDcXahzQ_gh9tuXmZ6uZfA_qEytjWjRzEpnQRxqxpfrWskoegoeQH3z76LSGsN6TSJGgqkS7ZzsUk3htvNvTkxrJqm6jKJkLdGsFCzF1TM5jaDLMpsyGMhe3BmPIY0K7jGQBI5D6w" alt=""/></figure>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;Kita percaya orang Indonesia itu sangat resisten, baik di hadapan resesi, hiperinflasi, entah apa lagi. Kalau kita percaya pada karma kolektif, karena praktik cinta kasih dan welas asih inilah yang selama ini berabad-abad melindungi kita,&#8221; Johnson menambahkan.</p></blockquote>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>&#8220;Orang Indonesia ramah-tamah, murah senyum, semua merupakan hasil pembiasaan selama berabad-abad. Meski teorinya sudah hilang digerus waktu sampai baru sekarang kita temukan kembali, di alam bawah sadar, itu yang membuat orang Indonesia seperti ini.&#8221;</p></blockquote>



<p>Meski bersumber dari filsafat Buddhis, meditasi ini bisa diterapkan oleh semua kalangan. Peserta yang hadir juga berasal dari berbagai agama, berbagai daerah, mulai dari yang awam hingga yang mahir.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/FW6emp_XGKop7GFmxCN3lpXkNVqmNSzditd3HIeDhkpC1nPj_e793m1A8RZv9gY5cnT5HTLcVf5pty4FKmhzRpiuHMvhwMUAQM4R7TVDKl484koxVMZ6IIP5nUgxaNamkHBMZ396eF5DPfLrdZ_bf2zldjkQuCxdBnbaMXijIm-ew9s6lWjpC7Q8wQ" alt=""/></figure>



<p>“Tertarik ikut karena capek banget sama kehidupan,” kisah Nita, salah satu peserta <em>workshop </em>asal Salatiga, “Dengan ikut <em>workshop </em>ini, saya mendapatkan kedamaian dan cara menghadapi orang yang saya benci.&#8221;<br>Siaran <em>online</em><em>workshop </em>ini difasilitasi oleh Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN/Lamrimnesia) sebagai bagian dari festival literasi Nusantara Dharma Book Festival (NDBF) 4.0. Dalam festival ini, <em>workshop</em> meditasi &#8220;Terima Kasih&#8221; bergabung dengan belasan <em>workshop</em>, <em>talkshow</em>, bedah buku, dan bazar yang memperkenalkan budaya literasi era Sriwijaya, yaitu belajar, merenung, dan meditasi, untuk meraih <em>spiritual wellness</em>. Harapannya, budaya literasi ini bisa menjadi solusi pemulihan Indonesia dan dunia dari pandemi. Rangkaian NDBF 4.0 berlangsung pada tanggal 2-14 Agustus 2022 dan dapat diikuti secara daring dari seluruh Indonesia melalui situs ndbf.lamrimnesia.com.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/08/05/workshop-iwtcf-2022-ubah-hidup-dengan-warisan-spiritual-wellness-sriwijaya/">Workshop IWTCF 2022: Ubah Hidup dengan Warisan Spiritual Wellness Sriwijaya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/08/05/workshop-iwtcf-2022-ubah-hidup-dengan-warisan-spiritual-wellness-sriwijaya/">Workshop IWTCF 2022: Ubah Hidup dengan Warisan Spiritual Wellness Sriwijaya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
