<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>dhamma - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/dhamma/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Jan 2025 09:09:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>dhamma - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tulku: Kupas Fenomena &#8220;Buddha Hidup&#8221; dalam Buddhisme Tibet</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2025/01/21/tulku-kupas-fenomena-buddha-hidup-dalam-buddhisme-tibet/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Jan 2025 08:50:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=9852</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam Buddhisme Tibet, kita akan menemukan istilah "tulku", sebuah gelar untuk orang-orang yang diyakini sebagai emanasi para Buddha.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/01/21/tulku-kupas-fenomena-buddha-hidup-dalam-buddhisme-tibet/">Tulku: Kupas Fenomena “Buddha Hidup” dalam Buddhisme Tibet</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/01/21/tulku-kupas-fenomena-buddha-hidup-dalam-buddhisme-tibet/">Tulku: Kupas Fenomena &#8220;Buddha Hidup&#8221; dalam Buddhisme Tibet</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<h2 id="h-sosok-steven-seagal">Sosok Steven Seagal</h2>



<p>Steven Seagal adalah bintang Hollywood yang baru saja berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengan banyak tokoh, mulai dari sesama artis sampai presiden. Ternyata, Pak Steven ini bukan artis biasa. Pada tahun 1997, Steven Seagal dikenali sebagai <strong>tulku</strong> kelahiran kembali dari Chungdrag Dorje, guru Buddhis tradisi Nyingma (salah satu aliran tertua Buddhisme Tibet) dari Biara Palyul. Emang apa sih yang dimaksud dengan &#8220;tulku&#8221;?</p>



<h2>Tulku =  Buddha You Can Meet?</h2>



<p>Tulku dalam bahasa <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/10/bedah-buku-tibet-sebuah-hikayat/">Tibet</a> merujuk pada Nirmanakaya, yaitu tubuh emanasi Buddha dalam wujud fisik yang bisa kita lihat langsung. </p>



<p>Orang-orang bergelar “tulku” adalah mereka yang diyakini sebagai emanasi para Buddha. Meski telah mencapai pencerahan, para tulku ini memilih untuk tetap lahir di samsara demi menuntun semua makhluk keluar dari penderitaan karena welas asihnya yang luar biasa.</p>



<p>Pernah berpikir kenapa ada anak yang dari kecil udah akrab sama kalkulus, padahal baru pertama kali diajari? Itu salah satu contoh karma yang dibawa dari kehidupan lampau. Para tulku juga membawa arus kesinambungan batin yang sama dari kehidupan lampaunya. </p>



<p>Di Tibet, seorang tulku yang diakui secara resmi biasanya akan mengambil peran &amp; tanggung jawab pendahulunya di biara, khususnya untuk melestarikan ajaran atau praktik Dharma tertentu yang dulu ia kuasai. Untuk itu, seorang tulku tentunya harus dididik sejak kecil agar memiliki kualitas batin dan kemampuan yang dibutuhkan.</p>



<h2>The Dark Side of Tulku System</h2>



<p>Tidak semua tulku ditemukan sejak kecil dan sempat dilatih untuk menjadi Guru Dharma. Ada juga yang memilih beraktivitas dengan cara lain untuk berkarya demi kepentingan banyak orang. Steven Seagal mungkin salah satunya.</p>



<p>Karena sosok tulku biasanya sangat dihormati, “sistem” tulku ini punya risiko besar:</p>



<ul><li>Ada yang mengaku-ngaku sebagai tulku demi keuntungan pribadi</li><li>Proses pencarian tulku kadang dipengaruhi oleh kepentingan politik.</li><li>Ada kasus penyalahgunaan kekuasaan oleh tulku berstatus resmi, mulai dari yang sebatas dugaan sampai terbukti termasuk tindak kriminal.</li></ul>



<h2>Analogi Buddha dan Para Tulku</h2>



<p>Buddha dan para tulku ibarat bulan purnama terpantul di air dalam tempayan. Bulan itu sangat jauh, tapi kita bisa melihat pantulannya dari dekat. Namun, kalau airnya keruh atau beriak, bulannya tak akan terlihat jelas.</p>



<p>Contoh zaman now-nya adalah nonton film di layar HP. Gambar resolusi 8k pun akan terlihat blur di gawai yang kurang canggih, apalagi kalau sampai layarnya rusak. Kalau para tulku tidak belajar, merenung, dan meditasi sampai meraih realisasi nyata, kita tidak akan bisa melihat kualitas Buddha dari mereka.</p>



<h2>Tulku Belum Tentu Bisa Jadi Guru</h2>



<p>Di zaman kemerosotan ini, meski pernah menjadi guru Dharma luar biasa di kehidupan lampaunya, tidak semua tulku bisa memberikan pengajaran Dharma. Bahkan ada yang memilih untuk menempuh jalur lain yang tidak terlihat berkaitan dengan Buddhadharma.</p>



<p>Jadi, dalam Buddhisme, status tulku tidak termasuk dalam kriteria memilih guru Dharma! Yang lebih penting adalah silsilah ajaran yang jelas, kualitas bajik, dan welas asih terhadap para murid yang dibimbing. Guru yang bisa menunjukkan Dharma sejati &amp; menyentuh hati kita sehingga mau berjuang mengembangkan batin adalah Buddha yang sesungguhnya melebihi tulku mana pun! Tetapi, ada nggak sih sosok tulku sekaligus guru yang dekat dengan Indonesia?</p>



<h2>Guru Dagpo Rinpoche</h2>



<p><a href="https://lamrimnesia.org/2018/09/04/4107/">Guru Dagpo Rinpoche</a> merupakan kelahiran kembali dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Sriwijaya. Sejak 1989, Beliau sudah rutin ke Indonesia. Selama lebih dari 30 tahun, Beliau berusaha mengembalikan ajaran welas asih Nusantara ke negeri kita. Beliau juga tidak bertemu presiden atau selebriti dan hanya masuk berita seperlunya saja.</p>



<p>Baca lebih lanjut mengenai Beliau dalam: <a href="https://www.google.co.id/search?tbo=p&amp;tbm=bks&amp;q=inauthor:%22Dagpo+Rinpoche%22&amp;source=gbs_metadata_r&amp;cad=5">Kitab Kumpulan Pengajaran Dharma dan Cara Praktik Dharma oleh Guru Dagpo Rinpoche</a></p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2025/01/21/tulku-kupas-fenomena-buddha-hidup-dalam-buddhisme-tibet/">Tulku: Kupas Fenomena “Buddha Hidup” dalam Buddhisme Tibet</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2025/01/21/tulku-kupas-fenomena-buddha-hidup-dalam-buddhisme-tibet/">Tulku: Kupas Fenomena &#8220;Buddha Hidup&#8221; dalam Buddhisme Tibet</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/editor-lamrimnesia/">Editor Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dharma vs Paham Apokaliptik</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2022 12:39:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[kalideres]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan setelah mati]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7560</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kematian satu keluarga di Kalideres diduga berkaitan dengan paham apokaliptik. Merenungkan ini bisa membantu kita paham mengapa Buddha mengajari kita untuk memikirkan kehidupan mendatang.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Kevin Chow</p>



<p>Belakangan ini, kita banyak disuguhi berita-berita yang membuktikan bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Mulai dari berita pandemi dan perang yang masih berlangsung di kancah global hingga berita di skala nasional berupa bencana alam, kasus pembunuhan polisi, hingga kasus-kasus lainnya yang terkadang membuat kita bertanya-tanya: “Kok bisa gitu ya?”. Untuk kasus-kasus tertentu, kita membaca berita tersebut dan berusaha untuk mencerna apa yang sedang terjadi karena terlihat tidak masuk akal. Mungkin, kita sempat berada di satu titik di mana kita berpikir bahwa apakah ini benar-benar mereka (yang terlibat dalam kasus tersebut) yang tidak beres atau kita sebagai pembaca yang gagal memahami perspektif mereka.&nbsp;</p>



<h4><strong>Misteri Kematian Keluarga di Kalideres </strong></h4>



<p>Sebut saja salah satu kejadian yang masih hangat dan baru terjadi di Kalideres, Jakarta. Dilaporkan bahwa satu keluarga yang beranggotakan empat orang ditemukan tewas di dalam rumah. Berdasarkan otopsi singkat yang telah dilakukan oleh pihak kepolisian, para korban tersebut diduga tewas karena kelaparan dan tidak ditemukan makanan dalam lambung dari seluruh anggota keluarga tersebut. Penyelidikan lebih lanjut menyatakan bahwa keluarga tersebut hidup berkecukupan yang setidaknya mampu menepis anggapan bahwa mereka bunuh diri karena tidak mampu membeli makanan. Tidak ditemukan juga adanya tanda-tanda kekerasan atau tindak kriminal. Hingga saat ini, motif kematian ini masih belum terungkap. Perlu ditekankan disini bahwa penyebab dan motif adalah dua hal yang berbeda.&nbsp;</p>



<p>Seorang Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala menilai bahwa keyakinan apokaliptik bisa menjadi salah satu dugaan akan motif dari dari kasus ini. Dikutip dari <a href="https://www.kompas.tv/article/348465/diduga-penyebab-kematian-satu-keluarga-di-kalideres-kriminolog-ui-sebut-apokaliptik-apa-itu?page=all&amp;_ga=2.31919483.434489381.1669235055-927954307.1665961131">KompasTV</a>, kata “apokaliptik” berasal dari bahasa Yunani ‘<em>apokalyptien</em>’ yang memiliki arti mengungkapkan sesuatu yang jauh. Kata tersebut diserap ke bahasa Inggris menjadi <em>apocalypse</em> atau di bahasa Indonesia apokalips. Berdasarkan <a href="https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/apokalips">Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)</a>, apokalips memiliki dua makna, yakni wahyu; penyingkapan dan kehancuran dunia pada akhir zaman. Secara singkat, pemahaman ini membicarakan persepsi soal kehancuran dunia di akhir zaman. Beberapa contoh penganutnya misalnya sekte <a href="https://www.bbc.com/news/world-asia-35975069">Aum Shinrikyo</a> yang mendalangi serangan gas sarin di Jepang pada tahun 90-an dan kelompok <a href="https://israeled.org/christian-extremists-denied-entry-to-israel/">Concerned Christian</a> asal Amerika Serikat yang sempat dideportasi dari Israel karena dugaan percobaan terorisme.</p>



<h4><strong>Menguji Pemahaman Apokaliptik</strong></h4>



<p>Dari sini, kita akan mulai membahas poin-poin yang cukup menarik dari paham apokaliptik ini dan mengujinya berdasarkan pemahaman Buddhisme yang telah dibahas pada artikel sebelumnya, yaitu <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">keyakinan akan adanya kehidupan mendatang setelah kematian</a>. Koordinator Prodi S2 Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Airlangga (Unair) berpendapat bahwa para pengikut paham apokaliptik ini ingin meninggalkan dunia sebelum adanya penghakiman atau munculnya kiamat. Para penganut paham tersebut berspekulasi bahwa mereka lebih baik mengakhiri hidup dengan “lebih terhormat” sebelum terjadinya kiamat yang dianggap sebagai hukuman dari Tuhan.&nbsp;</p>



<p>Kita semua tahu bahwa cepat atau lambat, kita semua pasti akan menghadapi yang namanya <a href="https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/">kematian</a>. Pertanyaannya adalah apakah mengakhiri hidup kita sendiri karena putus asa akibat perasaan keterbatasan diri dan rasa putus asa terhadap sistem kehidupan yang ada merupakan tindakan yang tepat dan bijaksana? Apakah dengan mengakhiri hidup kita saat ini maka segala sesuatu akan selesai begitu saja dan tinggal menghadapi “penghakiman” dari Tuhan? Jika “penghakiman” dari Tuhan tersebut berbentuk surga dan neraka, apakah kita memiliki kesempatan untuk berpindah alam dari nereka ke surga (begitu juga sebaliknya) setelahnya atau kita akan selamanya berada di salah satu alam tersebut tanpa ada kemungkinan untuk keluar dari sana? Jika memang masa kehidupan kita di salah satu alam tersebut bersifat kekal dan apabila kita jatuh ke alam neraka karena perbuatan jahat kita lebih banyak daripada perbuatan baik yang telah kita lakukan selama hidup kita, apakah berarti semua perbuatan baik yang pernah kita lakukan semasa hidup kita menjadi sia-sia begitu saja karena pada akhirnya kita akan terjatuh dan menderita di alam neraka selamanya tanpa ada kesempatan untuk keluar?&nbsp;</p>



<p>Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat berkaitan erat dengan konsep karma dan pemahaman kita bahwa kehidupan yang kita jalani itu tidak hanya sekali ini saja. Buddhisme percaya bahwa setelah kematian, kita akan terus menjalani kehidupan yang lain secara berulang-ulang apabila kita tidak pernah melakukan sesuatu untuk menghentikan akar dari proses ini. Walaupun kepercayaan-kepercayaan lain juga menyatakan bahwa mereka meyakini adanya kehidupan setelah kematian berupa kelahiran di surga dan neraka, Buddhisme menekankan pada kata kunci “berulang-ulang” yang menyiratkan bahwa kehidupan kita tidak hanya akan berakhir di antara surga atau neraka itu selamanya, melainkan akan ada kehidupan lain lagi setelahnya.</p>



<p>Setidaknya, ini bisa menjustifikasi <a href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">konsep karma</a> yang telah kita pelajari bahwa segala sesuatu yang telah kita perbuat akan selalu menjadi sebab yang akan berbuah pada suatu hasil. Didukung oleh konsep kelahiran yang berulang setelah kematian, kita akan menyadari bahwa setidaknya kita masih diberi kesempatan untuk melakukan suatu tindakan yang akan menjadi sebab untuk berbuahnya karma bajik yang pernah kita pupuk di masa lalu. Mengambil contoh makhluk yang terlahir di alam neraka karena karma buruknya yang lebih banyak, kita tidak bisa serta-merta langsung menghakimi bahwa ia sepenuhnya salah dan semua perbuatan bajik yang pernah ia lakukan semasa hidupnya tidak ada nilainya sama sekali. Dengan adanya kehidupan selanjutnya setelah kelahirannya di alam neraka, setidaknya ia masih diberi kesempatan untuk merasakan buah dari karma bajik sebagai akibat dari perbuatan baiknya di masa lampau.&nbsp;</p>



<h4><strong>Kenapa Pemahaman akan Kehidupan Mendatang Menjadi Sangat Penting?</strong></h4>



<p>Pemahaman yang benar akan kehidupan mendatang menjadi sangat penting bagi kita karena kita jadi termotivasi untuk meninggalkan segala sesuatu yang bersifat tidak bajik dan terus berusaha untuk kebajikan dalam hal apapun yang bisa kita lakukan. Semua itu kita lakukan semata-mata karena kita tahu bahwa segala perbuatan tersebut tidak hanya akan berdampak pada kehidupan saat ini saja, melainkan pada kehidupan kita yang akan datang juga. Paling tidak, pemahaman ini juga akan menyelamatkan kehidupan kita saat ini sehingga kita tidak terjerumus ke paham-paham sesat yang mengaburkan pandangan benar dan logika kita seperti para penganut paham apokaliptik tersebut.&nbsp;</p>



<p>Jadi, kita harus terus belajar sehingga kita bisa semakin mengasah kemampuan kita dalam membedakan mana hal yang benar dan salah sehingga tidak mudah terjatuh ke pandangan yang keliru. Gimana sih cara belajarnya? Salah satunya adalah tentu saja dengan terus belajar Dharma, baik itu dari mengikuti pengajaran Dharma langsung, membaca buku-buku Dharma, atau minimal membaca semua <a href="https://lamrimnesia.org/category/wacana/artikel/">artikel dari Lamrimnesia</a> (setelah baca artikel, cari tahu lebih lanjut, ya!). Jadi, yuk kita bareng-bareng mempelajari, merenungkan, dan mempraktikkan semua Dharma di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari!</p>



<h4><strong>Referensi:</strong></h4>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche<br><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a> oleh Je Tsongkhapa<br><a href="https://www.kompas.com/tren/read/2022/11/15/163000965/apa-itu-apokaliptik-disebut-penyebab-kematian-keluarga-di-kalideres-?page=all">Apa itu Apokaliptik, Disebut Penyebab Kematian Keluarga di Kalideres</a> &#8211; Kompas.com<br><a href="https://www.unair.ac.id/benarkah-kematian-keluarga-di-kalideres-dipengaruhi-paham-apokaliptik-ini-tanggapan-pakar-unair/">Benarkah Kematian Keluarga di Kalideres Dipengaruhi Paham Apokaliptik? Ini Tanggapan Pakar Unair</a> &#8211; unair.ac.id</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/30/dharma-vs-paham-apokaliptik/">Dharma vs Paham Apokaliptik</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2022 07:34:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[alam rendah]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan setelah mati]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7506</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Mau tahu seperti apa rasanya lahir di neraka, hantu kelaparan, atau binatang? Buddha punya jawabannya dan kita perlu merenungkannya. Jangan diabaikan!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Kevin Chow</p>



<p>Pernah ga sih kalian ketemu teman atau orang yang hidupnya YOLO banget gitu? YOLO itu adalah singkatan dari <em>You Only Live Once.&nbsp;</em></p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“Eh, kok lu tiap minggu <em>check out</em> keranjang Shopee mulu, sih? Gak ada niat buat hemat gitu?”<br>“Yaelah bro, kita YOLO aja lah. Ngapain hidup harus serius-serius amat, sih.”</p></blockquote>



<p>Orang-orang dengan prinsip seperti ini berpikiran bahwa kita hanya hidup sekali saja. Sebenarnya, slogan ini bisa memiliki makna positif maupun negatif tergantung pada penggunaannya. Pada konteks percakapan sebelumnya, tentu saja ini merupakan contoh pemaknaan YOLO secara negatif, yang artinya ia hanya sibuk berfoya-foya menghabiskan uang untuk membeli sesuatu yang belum tentu berguna. Padahal, uangnya mungkin bisa saja ditabung atau diinvestasikan dan kemudian digunakan untuk hal-hal yang lebih berguna di masa mendatang. Jika kita melihat sudut pandang yang lebih positif, slogan YOLO juga bisa memotivasi kita untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat selama kita masih mampu bernapas untuk membuat hidup kita menjadi lebih bermakna.&nbsp;</p>



<p>Tapi <em>guys</em>, sebelum kita terjun lebih dalam tentang YOLO ini, kita perlu menelusuri keabsahan dari kata-kata gaul ini. Apakah benar bahwa kita hanya hidup sekali saja? Pernahkah kita berpikir bahwa setelah kehidupan ini berakhir, apakah semuanya akan selesai begitu saja? Jika memang begitu adanya, berarti semua perbuatan yang telah kita lakukan di kehidupan ini tidak akan membawa akibat apa pun dong? Terus, kenapa bisa ada orang yang terlahir di keluarga kaya, sedangkan yang lainnya terlahir di keluarga miskin? Lah, siapa dong yang nentuin kalo gitu? Apabila dilanjutkan, akan semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul nantinya. Jika kalian penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kalian bisa menguliknya lebih lanjut di artikel “<a href="https://lamrimnesia.org/2021/10/08/utang-karma-samsara-dan-squid-game/">Utang Karma, Samsara, dan Squid Game</a>”.</p>



<h4><strong>Kehidupan Setelah Mati</strong></h4>



<p>Secara singkat, kita (terutama Buddhis) meyakini bahwa hidup tidak hanya sekali saja. Setelah kematian, kita akan dilahirkan kembali ke alam yang lebih tinggi atau alam rendah. Sayangnya, kita tidak bisa dengan bebas memilih untuk dilahirkan ke alam yang mana karena itu semua bergantung pada karma yang telah kita perbuat. Jika selama kehidupan ini kita lebih banyak memupuk karma yang bajik, kita akan memiliki kesempatan untuk terlahir kembali di alam manusia atau pun alam yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika kita lebih banyak mengumpulkan ketidakbajikan, maka kita akan otomatis terjatuh ke alam rendah. Kemungkinan ini menjadikan perenungan akan penderitaan di alam rendah sebagai tahapan penting setelah <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/">merenungkan tentang kematian</a> dalam instruksi Lamrim (Tahapan Jalan Menuju Pencerahan) karena dapat menjadi dorongan kuat untuk melanjutkan praktik Dharma ke tahapan yang selanjutnya.</p>



<h4><strong>Tiga Alam Rendah</strong></h4>



<p>Berbicara tentang alam rendah, Buddhisme mengategorikan alam-alam tersebut menjadi tiga bagian, yakni alam neraka, binatang, dan hantu kelaparan.&nbsp;</p>



<p>Untuk alam neraka sendiri, setidaknya ada empat pembagian lagi, yaitu neraka besar, neraka berdekatan, neraka dingin, dan neraka sebagian. Bahkan jika kita ingin membahas lebih detail lagi, setiap neraka tersebut masih ada pembagiannya lagi loh! Jika teman-teman ingin mengetahui lebih lanjut tentang pembagiannya, bisa dibaca lebih lanjut di buku “<a href="https://play.google.com/store/books/details?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche (hal. 222-248). Satu hal yang pasti, tidak ada satu pun alam neraka yang nyaman untuk ditempati.&nbsp;</p>



<p>Jika kalian pernah merasakan perihnya tersayat oleh pisau atau mungkin tidak sengaja tertusuk oleh jarum, maka kalian bisa membayangkan bahwa penderitaan di alam neraka jauh berkali-kali lipat lebih sakit dibandingkan itu. Mungkin agak sulit jika kita membayangkan diri kita yang sedang dipotong-potong dengan pisau atau dilempar ke dalam tungku besi panas yang penuh dengan kobaran api. Jika kalian pernah menggoreng sesuatu dan tidak sengaja terkena percikan minyak panasnya, nah itulah bagian yang sangat amat kecil dari keseluruhan penderitaan di alam neraka! Bukan, kita bukan sedang membahas cerita tentang psikopat atau semacamnya. Tapi, memang benar begitulah mengerikannya penderitaan di alam neraka.&nbsp;</p>



<p>Di atas neraka, ada alam hantu kelaparan. Secara umum, penghuni alam ini memiliki tiga jenis penderitaan. Yang pertama adalah halangan eksternal untuk mendapatkan makanan/minuman. Misalnya, ketika mereka menemukan mata air saat sedang kehausan, air tersebut tiba-tiba akan hilang saat mereka akan meminumnya. Kemudian, ada yang disebut sebagai halangan internal, contohnya hantu-hantu yang memiliki perut buncit tapi mulut mereka hanya seukuran mata jarum sehingga sangat sulit untuk menyantap makanan. Terakhir adalah penderitaan berupa halangan di dalam makanan/minuman itu sendiri karena apapun yang mereka santap akan berubah menjadi kobaran api.&nbsp;</p>



<p>Nah, selanjutnya kita membahas tentang penderitaan di alam binatang. Kebetulan, para binatang ini tinggal di alam yang sama dengan kita sebagai manusia sehingga kita bisa mengamati dengan jelas bagaimana kehidupan mereka. Syukur-syukur jika kita kebetulan bisa terlahir sebagai anjing atau kucing yang tinggal di rumah keluarga yang kaya sehingga kita bisa mengonsumsi Royal Canin setiap hari. Namun, seberapa besar sih kemungkinan kita bisa terlahir sebagai salah satu dari binatang peliharaan tersebut? Bayangkan jika kita terlahir sebagai ayam yang harus disembelih untuk dikonsumsi, sebagai singa di hutan yang harus saling berburu mangsa untuk bertahan hidup, atau sebagai ikan di perairan lautan dalam yang bahkan kita sendiri tidak tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana. Secara umum, para binatang ini mengalami penderitaan berupa saling memakan satu sama lain, dungu dan bodoh, kepanasan dan kedinginan, kelaparan dan kehausan, serta dieksploitasi.</p>



<h4><strong>Kita Bisa Kena!</strong></h4>



<p>Setelah kita mengetahui semua bentuk penderitaan di alam rendah, kita perlu merenungkan bahwa dengan kondisi kita saat ini, sangat mungkin sekali bagi kita untuk terjatuh ke salah satu dari alam tersebut setelah kita meninggal nanti. Jika kita ingin hitung-hitungan peluang kita untuk terjatuh ke alam rendah ini, cukup ingat kembali kembali aktivitas apa saja yang sudah kita lakukan selama 24 jam terakhir, baik dari pikiran, ucapan, dan perbuatan. Apakah batin kita sudah cukup bajik hari ini atau kita malah sibuk iri dengan kesuksesan orang lain, kesal dengan bos kita yang ngomel terus di kantor, atau bahkan masih menyimpan dendam dengan mantan kita? Ketika aktivitas kita masih didominasi oleh hal-hal yang tidak bajik, sebenarnya itu merupakan sinyal kuat bahwa alam rendah akan menjadi destinasi kelahiran kita selanjutnya.&nbsp;</p>



<p>Kita juga bisa membandingkan jumlah makhluk yang terlahir di alam rendah dan alam manusia. Cukup hitung berapa banyak jumlah semut di satu sarang, tak terhitung! Ada berapa banyak sarang semut di dunia ini? Itu baru jumlah semut. Kita belum menghitung jumlah spesies binatang lainnya yang tak terhingga banyaknya. Apalagi jika kita menambahkan total seluruh makhluk yang terlahir di setiap kategori dari alam neraka hingga hantu kelaparan. Sudah terbayangkan seberapa besar kemungkinan kita untuk terpeleset ke alam rendah tersebut?</p>



<p>Dengan memahami penderitaan di alam rendah, seharusnya kita bisa memunculkan rasa takut yang akan memotivasi kita untuk mengurangi segala aktivitas tidak bajik yang sudah menjadi kebiasaan dalam hidup kita. Mumpung kita masih terlahir sebagai manusia, kita masih memiliki kemampuan untuk menciptakan sebab-sebab yang bajik untuk menghindari kejatuhan terlahir di alam rendah. Apabila kita sudah terlanjur lahir di alam rendah tersebut, akan sangat sulit bagi kita bahkan hanya untuk sekadar memikirkan tentang Dharma karena sepanjang saat kita hanya akan merasakan penderitaan dan penyiksaan tiada akhir.&nbsp;</p>



<p>Jadi, selagi kita masih diberi kesempatan hari ini, yuk kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya karena <em>you don’t only live once</em>!</p>



<h4><strong>Referensi:</strong></h4>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche<br><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a> oleh Je Tsongkhapa</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/11/23/benarkah-you-only-live-once-yolo/">Benarkah You Only Live Once (YOLO)?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Spoiler Alert &#8211; Ini Dia Proses Kematianmu</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2022 07:58:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7067</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Apa sih yang terjadi setelah mati dalam agama Buddha? Ini dia proses kematian yang perlu kita pelajari dan persiapkan dari sekarang.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert – Ini Dia Proses Kematianmu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert &#8211; Ini Dia Proses Kematianmu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>oleh Silvi Wilanda</p>



<p>Akhir-akhir ini kematian terasa lebih dekat. Kabar-kabar duka yang jadi sorotan publik seperti Ratu Elizabeth II, Reza Gunawan, dan yang sebelumnya Brigadir Yoshua muncul di mana-mana. Aktivitas pencarian informasi pun menjadi ramai, mulai dari pencarian biografi tokoh tersebut, perannya dalam masyarakat, bagaimana kronologi kematiannya, serta lainnya. Namun, sebenarnya ada satu hal lain yang luput dari pencarian informasi kita, yakni bagaimana proses kematian itu sendiri.&nbsp;</p>



<p>Pernahkah terlintas dalam pikiran kita, kematian itu seperti apa? Bagaimana prosesnya? Ke mana kita pergi setelah mati? Bagaimana kita bisa terlahir kembali? Sebagai umat Buddha yang meyakini hukum karma dan konsep kelahiran kembali, ini adalah hal penting untuk direnungkan dan dimeditasikan. Setelah sebelumnya membahas tentang <a href="https://lamrimnesia.org/tag/kematian/">merenungkan kaitan kematian dengan hidup kita dari berbagai sisi</a>, proses kematian inilah yang seterusnya perlu kita renungkan dalam Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (Lamrim).</p>



<p>Jadi, seperti apa proses kematian itu? Berikut adalah cuplikan <em>spoiler-</em>nya:</p>



<h4><strong>Penyebab Kematian&nbsp;</strong></h4>



<p>Buddha menjelaskan ada 3 sebab utama kematian, yaitu:</p>



<ol><li>Habisnya masa kehidupan kita.</li></ol>



<p>Saat kita terlahir kembali, kita “terlempar” ke kehidupan selanjutnya dengan jangka hidup yang pasti. Seseorang hanya bisa hidup sepanjang jangka hidupnya ini saja, tidak bisa lebih, tapi sangat bisa habis sebelum waktunya. Sebab kedua dan ketiga di bawah ini adalah penyebab bagaimana seseorang bisa meninggal sebelum jangka hidupnya berakhir.&nbsp;&nbsp;</p>



<ol start="2"><li>Habisnya karma baik kita.</li></ol>



<p>Selain jangka hidup, kita juga membutuhkan karma baik untuk dapat tetap melangsungkan kehidupan. Jika karma baik kita habis sebelum jangka hidup kita berakhir, kita bisa meninggal. Untuk itu, penting bagi kita untuk menghemat tabungan karma baik kita dengan menghindari gaya hidup mewah dan rajin melakukan kebajikan.&nbsp;</p>



<ol start="3"><li>Hadirnya kondisi yang tidak menguntungkan.&nbsp;</li></ol>



<p>Selain habisnya karma baik, kematian sebelum jangka hidup berakhir juga bisa disebabkan karena hadirnya kondisi yang tidak menguntungkan. Untuk itu, penting juga mendedikasikan kebajikan kita agar kita terhindar dari sebab kematian ini.&nbsp;</p>



<h4><strong>Pikiran Terakhir Menjelang Kematian</strong></h4>



<p>Saat menjelang kematian, pikiran terakhir kita berupa pikiran baik, buruk, atau netral. Jika pikiran yang muncul adalah pikiran baik, kita akan merasa damai, bahagia, dan seolah-olah melihat cahaya putih. Namun, jika pikiran buruk yang muncul, kita akan merasa takut, khawatir, dan seolah-olah melihat kegelapan. Pikiran terakhir menjelang kematian juga dapat diketahui dari hilangnya panas tubuh. Jika pikiran kita baik, maka panas tubuh akan hilang berangsur-angsur dari kaki hingga ke bagian tengah tubuh. Jika pikiran kita tidak baik, maka panas tubuh akan hilang dari kepala menuju bagian tubuh bawah.&nbsp;</p>



<p>Pikiran terakhir menjelang kematian ini sangat penting karena akan memengaruhi kehidupan kita yang selanjutnya. Jika pikiran terakhir kita buruk, kita akan terlahir di alam rendah. Begitu juga sebaliknya, jika pikiran terakhir kita baik, maka kita akan terlahir di alam bahagia. Meski semua orang ingin memiliki pikiran terakhir yang baik, namun kemungkinan besar pikiran terakhir yang muncul saat menjelang kematian adalah hal yang paling sering kita lakukan. Mengingat kita masih lebih sering melakukan ketidakbajikan, maka sangat mungkin pikiran buruklah yang datang saat kematian tiba.</p>



<p>Untuk itu, penting bagi kita untuk membiasakan diri untuk berpikir bajik, khususnya melatih diri kita untuk mengambil perlindungan kepada Triratna dengan sungguh-sungguh. Saat mengambil perlindungan, kita perlu membangkitkan kengerian akan kelahiran di alam rendah dan keyakinan bahwa Triratna dapat menolong kita. Selain itu, kita juga bisa melatih diri untuk memeditasikan penampakan objek suci, seperti Buddha, Istadewata (Awalokiteshwara/Kwan Im, Arya Tara, Manjushri, dan lain sebagainya), ataupun Guru kita sendiri. Harapannya dengan latihan akan hal ini, kita bisa mengambil perlindungan sekaligus membayangkan wujud suci menjelang kematian tiba.&nbsp;</p>



<h4><strong>Perpisahan Unsur Pembentuk Tubuh</strong></h4>



<p>Saat terlahir, 4 unsur pembentuk tubuh kita (tanah, air, api, dan udara) bersatu dengan arus batin kita. Dalam proses kematian, hal yang sebaliknya yang terjadi. Unsur-unsur tubuh ini berpisah hingga akhirnya batin kita kehilangan dasar fisiknya.&nbsp;</p>



<p>Unsur yang pertama kali akan terpisah adalah tanah. Saat unsur tanah mulai terpisah, tubuh kita akan terasa kehilangan energi dan merasakan sensasi seolah-olah tenggelam ke dalam tanah. Unsur kedua yang akan terpisah adalah air. Saat unsur air mulai terpisah, mulut kita menjadi mengering, bibir atas menjadi keriting, dan lubang hidung terjepit. Unsur ketiga yang terpisah adalah api dengan tanda panas tubuh kita akan menghilang dan warna tubuh kita akan memucat. Unsur yang terakhir terpisah adalah angin dengan tanda kita akan sulit bernapas.&nbsp;</p>



<p>Setiap ada unsur yang terpisah, kita juga merasakan pengalaman internal yang sesuai dengan sifat alami karma yang sedang mempengaruhi kita. Jika karmanya tidak bajik, maka kita akan mendengar atau melihat sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, jika di bawah pengaruh karma bajik, maka kita akan mendengar atau melihat sesuatu yang menyenangkan.&nbsp;</p>



<p>Setelah semua unsur terpisah, kesadaran kasar kita berakhir dan terganti dengan kesadaran halus. Tingkat pertama kesadaran halus dinamakan “penampakan putih”, penglihatan kita sepenuhnya putih seperti langit polos yang hanya disinari cahaya bulan. Tingkat kedua kesadaran halus disebut “peningkatan merah” menyerupai langit musim gugur yang berwarna merah. Tingkat terakhir kesadaran halus disebut “pencapaian hampir hitam”, penglihatan kita gelap penuh seperti langit yang gelap tanpa cahaya apapun.&nbsp;</p>



<p>Kesadaran halus pun pada akhirnya akan hilang dan digantikan kembali dengan kesadaran luar biasa halus yang dinamakan “cahaya jernih kematian”. Pada tahap ini, kita melihat musim semi yang bersih dengan langit biru pekat nan murni yang bebas dari cahaya matahari dan bulan. Dalam terminologi Buddhis, inilah momen kematian yang sesungguhnya.</p>



<p>Saat tahap “cahaya jernih kematian” berakhir, maka proses kelahiran kembali akan dimulai. Proses yang sebaliknya terjadi, yaitu “pencapaian hampir hitam”, “peningkatan merah”, dan selanjutnya. Proses ini bertepatan dengan kelahiran kita di alam bardo terlebih dahulu.&nbsp;&nbsp;</p>



<h4>Kelahiran di Alam Bardo&nbsp;</h4>



<p>Saat berhadapan dengan kematian, kita juga memiliki kemelekatan terhadap diri. Kemelekatan akan diri ini dimiliki oleh semua makhluk, bahkan para Arya sekalipun, hanya saja seorang Arya mampu mengendalikan kemelekatan tersebut. Hanya mereka yang telah mencapai tingkatan Arahat yang mampu menaklukkan kemelekatan terhadap diri ini.&nbsp;</p>



<p>Kemelekatan akan diri ini muncul karena pembiasaan yang sudah terjadi sejak masa kehidupan lampau yang tak terhingga. Kita dihinggapi rasa takut yang amat sangat terhadap kemungkinan bahwa diri kita akan lenyap setelah meninggal nanti. Rasa takut ini kemudian mendorong kita untuk terlahir kembali di alam bardo.&nbsp;</p>



<p>Di alam bardo, kita memiliki bentuk tubuh jasmani yang sama dengan tubuh kita di kehidupan mendatang. Tubuh jasmani tersebut terbentuk dari angin yang sangat halus dan tidak padat seperti tubuh manusia sehingga memungkinkan makhluk bardo untuk lebih mudah bergerak. Misalnya saja, jika makhluk bardo memikirkan suatu tempat, maka tubuhnya akan bergerak menuju arah tempat yang dipikirkannya itu.&nbsp;</p>



<p>Dalam Sutra Barisan Tangkai juga dikatakan bahwa warna tubuh alam bardo menyesuaikan dengan kehidupan mendatangnya. Jika makhluk bardo akan terlahir di neraka, tubuhnya hitam seperti batu bara. Jika akan terlahir sebagai setan kelaparan, tubuhnya seperti air. Jika akan terlahir sebagai manusia atau alam menyenangkan lainnya, tubuhnya akan berwarna emas. Jika akan terlahir sebagai dewa, tubuhnya akan berwarna putih.&nbsp;</p>



<p>Tidak ada waktu minimal makhluk bardo bisa ada di alam bardo. Kapanpun makhluk bardo menemukan tempat untuk terlahir kembali, ia akan segera meninggalkan alam bardo. Biasanya, makhluk bardo cenderung memilih tempat kelahiran selanjutnya sesuai dengan hal-hal yang akrab dan disukainya.&nbsp;</p>



<p>Sedangkan, masa hidup maksimal makhluk bardo di alam bardo adalah 49 hari. Setelah setiap periode 7 hari, makhluk bardo yang tidak menemukan tempat kelahirannya kembali, akan mati untuk kemudian terlahir kembali di alam bardo. Proses ini berlangsung selama 7 kali sehingga total periode hidup makhluk bardo adalah 49 hari. Hal inilah yang mendorong adanya upacara pengumpulan kebajikan selama 49 hari bagi kerabat yang telah meninggal.&nbsp;</p>



<h4><strong>Kesimpulan</strong></h4>



<p>Begitulah kurang lebih bagaimana proses kematian terjadi. Setelah mengetahui <em>spoiler</em>-nya, perasaan apa yang muncul dalam dirimu? Takut? Semakin melekat dengan hidup? Atau biasa saja? Jika takut, kita harus jadikan rasa itu pecutan untuk bisa segera mempersiapkan kematian dengan lebih baik. Jika semakin melekat dengan hidup, kita harus terus merenungkan kematian agar kemelekatan bisa terkikis sedikit demi sedikit. Jika kita merasa biasa saja, kita semakin perlu untuk bergiat diri merenungkan proses kematian. Terlepas dari perasaan yang muncul, kita perlu segera bergegas mempersiapkan kematian kita karena mau tidak mau kita harus mengalami kematian itu, cepat atau lambat.&nbsp;</p>



<p>Referensi:“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari</a>” karya Guru Dagpo Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert – Ini Dia Proses Kematianmu</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/10/06/spoiler-alert-ini-dia-proses-kematianmu/">Spoiler Alert &#8211; Ini Dia Proses Kematianmu</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenali Sahabat Sehidup Semati yang Sesungguhnya</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/08/26/mengenali-sahabat-sehidup-semati-yang-sesungguhnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2022 03:24:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=7007</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Buddhis tak perlu galau kalau nggak ketemu soulmate alias sahabat sehidup semati. Satu-satunya hal yang “pasti” adalah kematian pasti datang dan hanya Dharma yang bisa mendampingi.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/08/26/mengenali-sahabat-sehidup-semati-yang-sesungguhnya/">Mengenali Sahabat Sehidup Semati yang Sesungguhnya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/08/26/mengenali-sahabat-sehidup-semati-yang-sesungguhnya/">Mengenali Sahabat Sehidup Semati yang Sesungguhnya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Akhirnya kita sampai juga ke poin ketiga sekaligus poin terakhir dari perenungan tentang kematian dalam <a href="https://lamrimnesia.org/apa-itu-lamrim/">Lamrim</a>. Poin yang dibahas pada artikel ini adalah tidak ada yang bisa kita andalkan saat kematian tiba kecuali Dharma. Setelah kita menyadari bahwa <a href="https://lamrimnesia.org/2022/06/03/ojol-atau-ajal-mana-yang-datang-duluan/">kematian bisa datang lebih dulu dibanding pesanan ojol</a>, kita harusnya mulai memilah-milah mana yang sebenarnya hal paling penting yang harus kita perjuangkan dari sekarang.&nbsp;</p>



<p>Ketika tiba-tiba malam ini kita mati, setidaknya kita sudah siap dan tidak menyesal karena kita telah mengumpulkan satu hal yang sangat-sangat berguna untuk kita bawa ketika bertemu dengan ‘Raja Kematian’. Apakah itu harta kekayaan kita? Keluarga, teman, dan pacar kita? Atau bahkan mungkin tubuh kita sendiri karena tubuh kita inilah yang selalu menemani kita sejak kita lahir? <em>No, no</em>! Sayangnya, jawabannya bukanlah ketiga hal tersebut. Lah, kenapa begitu? Makanya, yuk simak penjelasannya!</p>



<ol><li><strong>Sekaya apa pun kita, duitnya gak bisa dibawa mati</strong></li></ol>



<p>Selama hidup, kita capek-capek kerja ngumpulin duit buat beli <em>sports car</em> yang keren, <em>gadget</em> keluaran terbaru biar gak ketinggalan zaman, atau tas <em>branded</em> biar bisa tampil lebih percaya diri di depan teman-teman. Namun, setelah mati nanti, apakah semua barang-barang tersebut bisa ikut bersama kita juga? Ya enggak lah. Apakah semua uang yang telah kita kumpulkan selama hidup kita bisa kita bawa saat kematian kita? Tentu juga tidak. Saat kematian tiba, semua harta dan kekayaan yang telah kita simpan ibarat di-<em>reset</em> kembali. Tidak ada satu rupiah pun yang bisa menolong kita di kehidupan berikutnya.</p>



<ol start="2"><li><strong>Kita akan mati dalam kesendirian walaupun teman-teman dan keluarga mengelilingi ranjang kematian kita</strong></li></ol>



<p>Selama ini, kita selalu berpikir bahwa mungkin pacar atau istri kita adalah orang yang paling setia menemani kita sampai kapan pun. Nyatanya, dia tidak akan bisa menolong kita saat ajal kita tiba. Lalu, kita berpikir bahwa sahabat kita mungkin akan lebih setia dibanding pacar kita. Hal ini juga mustahil karena mereka juga tidak akan berdaya saat kita menghadapi proses kematian. Terakhir, kita sangat yakin bahwa orang tua yang telah melahirkan, membesarkan, dan menyayangi kita dengan sepenuh hati tidak akan mengkhianati kita. Sayangnya, hal ini juga sia-sia. Pada akhirnya, tidak ada satu orang pun dari mereka yang bisa mencegah kita dari kematian. Mentok-mentok, mereka cuma bisa berkumpul mengelilingi ranjang kematian kita dengan menggenggam tangan kita sambil menangis. Tetap saja kita akan melewati proses kematian sendirian ditengah kerumunan orang-orang kesayangan kita.</p>



<ol start="3"><li><strong>Bahkan tubuh kita yang sangat setia ini pun tidak bisa menemani kita setelah kematian 🙁</strong></li></ol>



<p>Setelah tidak ada satu barang atau orang pun yang bisa kita percaya untuk menemani kita melewati proses kematian, kita merasa sangat putus asa. Lalu, kita sadar kalau satu-satunya hal yang bisa kita andalkan dalam menghadapi ajal kita adalah diri kita sendiri. Iya, tubuh kita ini yang sudah bersama dengan kita sejak kita dilahirkan ke dunia. Tubuh yang selama ini kita rawat dengan penuh kasih sayang. Tubuh yang selalu kita beri makan ketika ia lapar, yang selalu kita lindungi saat kedinginan atau kepanasan, dan yang selalu kita rawat agar ia tidak sakit. Dengan segala usaha kita, kita sangat yakin bahwa tubuh kita ini juga akan memberikan imbalan yang setimpal kepada kita saat kita meninggal. Namun tampaknya, kita juga tetap dikhianati oleh tubuh ini karena nyatanya ia juga tidak bisa diandalkan untuk menghadapi kematian.</p>



<p>Sebenarnya tubuh kita ini sangat berharga karena melalui tubuh ini, kita bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang berguna untuk mencapai kebahagiaan atau memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Sayangnya, tubuh kita ini memiliki batas waktu. Setelah meninggal, tubuh kita ini akan menjadi tidak berguna sama sekali. Oleh karena itu, selama masih hidup, kita harus memanfaatkan tubuh manusia ini sebaik-baiknya (baca: <a href="https://lamrimnesia.org/2020/10/26/kamu-manusia-apa-kamu-punya-8-permata-ini/">Kamu Manusia? Apa Kamu Punya 8 Permata ini?</a>) karena kita tidak bisa membawa tubuh kita ini ke kehidupan selanjutnya. Jika kita gagal memanfaatkannya, tubuh ini akan benar-benar tidak berguna saat kita sudah terkapar di ranjang kematian.</p>



<p>Jika bukan harta, teman-teman dan keluarga, atau bahkan diri kita sendiri yang bisa kita andalkan untuk menghadapi kematian, terus apa dong? Jawabannya adalah praktik Dharma kita! Mengapa hanya praktik Dharma yang bisa diandalkan? Karena melalui praktik Dharma, ibarat menyiapkan bekal, kita bisa menanam benih-benih berupa karma bajik yang akan mengarahkan kita pada pencapaian kualitas-kualitas baik pada kehidupan selanjutnya. Percaya deh, praktik Dharma pasti tidak akan mengkhianati kita kok! Saat kematian tiba, Dharma inilah yang akan menjadi penunjuk jalan kita.&nbsp;</p>



<p>Sebenarnya, praktik Dharma dan mengingat kematian itu sendiri adalah dua poin yang sangat berhubungan satu sama lain. Akar dari praktik Dharma adalah mengingat kematian. Kematian jugalah yang merupakan salah satu hal yang memacu kita untuk praktik Dharma.</p>



<p>Kita perlu sadar bahwa kematian itu pasti, waktunya tidak pasti, dan hanya Dharma–sahabat sehidup semati kita yang sesungguhnya–yang bisa kita andalkan saat kematian. Ketika kita merenungkan kematian, secara otomatis kemelekatan kita terhadap hal-hal duniawi juga akan berkurang karena kita menyadari betul bahwa tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut yang berguna saat ajal kita tiba selain praktik Dharma. Oleh karena itu, ayo kita mulai praktik Dharma dari sekarang sebelum kita menghadap ‘Raja Kematian’!</p>



<h4><strong>Referensi:</strong></h4>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche<br><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a> oleh Je Tsongkhapa<br><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari: Apa yang Bisa Kuperbuat?</a> oleh Dagpo Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/08/26/mengenali-sahabat-sehidup-semati-yang-sesungguhnya/">Mengenali Sahabat Sehidup Semati yang Sesungguhnya</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/08/26/mengenali-sahabat-sehidup-semati-yang-sesungguhnya/">Mengenali Sahabat Sehidup Semati yang Sesungguhnya</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ojol atau Ajal, Mana yang Datang Duluan?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/06/03/ojol-atau-ajal-mana-yang-datang-duluan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2022 09:26:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6947</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Belakangan ini banyak banget berita yang mengingatkan kita akan ketidakpastian kematian. Nggak ada jaminan ajal nggak akan menjemput sebelum pesanan ojol datang. Masih mau nunda-nunda persiapan kematian?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/06/03/ojol-atau-ajal-mana-yang-datang-duluan/">Ojol atau Ajal, Mana yang Datang Duluan?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/06/03/ojol-atau-ajal-mana-yang-datang-duluan/">Ojol atau Ajal, Mana yang Datang Duluan?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Masih seputar kematian, artikel ini akan membahas poin kedua dari perenungan tentang kematian, yakni waktu kematian yang tidak pasti. Sebelumnya, kita telah membahas bahwa <a href="https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/">kematian itu pasti datang</a>. Eitsss, tapi nih, walaupun kita udah tahu bahwa kematian itu fix bakal datang, sayangnya kita tidak akan pernah tahu kapan waktu itu akan tiba. Kita tidak akan pernah tahu ajal siapa yang akan tiba duluan, entah itu orang tua kita, teman kita, atau kita sendiri!</p>



<p>Bayangkan, hari ini berjalan seperti hari normal pada biasanya. Tepat pada pukul 12 siang, kita sedang beristirahat dari hiruk-pikuk kerjaan kantor pagi ini. Karena sudah waktunya jam makan siang, kita memutuskan untuk memesan makanan plus segelas kopi kekinian dari tempat favorit kita lewat ojek <em>online</em>. Habis klik <em>order</em>, udah deh kita tinggal nunggu si abang ojeknya datang ke tempat kita. Benar-benar tidak ada yang salah dari momen tersebut. Aktivitas ini berlalu seperti hari-hari sebelumnya.</p>



<p>Namun, selagi menunggu, apakah kita bisa yakin seratus persen bahwa pesanan kita akan tiba duluan dibandingkan ajal kita? Buset, seram juga ya kalo pikiran ini secara <em>random</em> terlintas di otak kita. Kalau mendadak mati hari ini, kita nggak bakal sempat buat ngelakuin semua <em>plan </em>yang udah kita rencanain sebelumnya. Belum sempat jalan-jalan ke luar negeri, belum sempat ngebahagiain orang-orang yang kita sayangi, atau bahkan sekadar ketemuan untuk terakhir kalinya dengan orang-orang terdekat buat <em>say goodbye</em>. Atau mungkin kita juga nggak sempat minta maaf sama orang-orang yang dulu pernah kita sakiti. Itu pastinya akan membuat kita sangat menyesal.&nbsp;</p>



<p>Lebih parahnya lagi, kita juga sama sekali nggak tahu kita bakal terlahir di mana pada kehidupan berikutnya. Mending kalau kita cukup beruntung berkat koleksi karma bajik kita yang mencukupi, jadi bisa terlahir kembali sebagai manusia (baca: <a href="https://lamrimnesia.org/2020/12/02/lebih-langka-dari-ssr-nilai-besar-kelahiranmu-sebagai-manusia/">Lebih Langka dari SSR! Nilai Besar Kelahiranmu sebagai Manusia</a>). Tapi gimana kalau ternyata karma buruk kita lebih banyak? Atau kita lagi stres, atau syok dan nggak terima karena mati mendadak, terus pikiran jadi dikuasai hal-hal negatif saat mati sehingga kita terlempar ke alam rendah? Hiiy… Seram…</p>



<p>Itulah alasan kenapa kita harus banget praktik Dharma dari sekarang! Praktik tersebut akan menjadi bekal bagi kita buat mempersiapkan kehidupan kita selanjutnya.</p>



<p>Namun, karena pikiran kita masih sangat ‘batu’, kita masih aja kepedean. Ah, nanti aja baru mikirin Dharma. Toh gak mungkin kita mati hari ini banget. Aneh-aneh aja sih! Ya kali tiba-tiba kita bisa mati mendadak, padahal pesanan makanan kita aja belum tiba.&nbsp;</p>



<p>Walau seram, kalau dipikir-pikir ulang, ya memang sangat mungkin sekali, loh! Bisa aja tiba-tiba kita kena serangan jantung terus semua seketika <em>lewat</em> begitu aja. Atau bisa jadi karena <em>stroke,</em> gagal ginjal, atau kepleset di tangga terus jatuh kena kepala. Cukup kita <em>list</em> aja semua sebab kematian yang datangnya emang serba mendadak tanpa izin dulu sama kita. Siapa yang tahu, toh?</p>



<p>Makanya, kita perlu banget buat merenungkan tiga poin berikut ini biar kita selalu siap menghadapi waktu kematian yang tidak pasti ini.</p>



<ol><li><strong>Dukun paling sakti pun nggak bisa meramalkan berapa lama sisa hidup kita di dunia ini</strong></li></ol>



<p>Kematian itu akan datang menghampiri siapapun tanpa mengenal umur, jenis, kelamin, jabatan, dan lainnya. Banyak sekali di antara kita yang sangat percaya diri dengan merencanakan segala sesuatu untuk dilakukan sepuluh atau dua puluh tahun kedepan dan berusaha mengejar tujuan itu mati-matian tanpa sadar bahwa mereka bisa saja mati keesokan harinya.&nbsp;</p>



<p>Merencanakan segala sesuatu itu tidak salah loh, ya! Yang salah adalah memperjuangkan rencana tersebut dengan mengerahkan semua energi kita ke arah tersebut tanpa memikirkan apa yang harus kita lakukan jika kematian tiba lima menit lagi.</p>



<p>Waktu kematian tiap seseorang itu memang seperti sebuah misteri. Jika saja kita tahu bahwa kita akan mati di umur delapan puluh tahun, mungkin saja kita bisa membuat sebuah rencana untuk bersenang-senang sepuas mungkin sampai kita berumur enam puluh tahun, lalu berusaha untuk praktikin Dharma dengan niat ‘menghapus dosa’ yang sudah kita lakukan selama enam puluh tahun ke belakang di sisa umur kita yang tinggal dua puluh tahun lagi.&nbsp;</p>



<p>Sayangnya, nggak gitu cara kerjanya kematian. Dia datang pada waktu yang tidak pasti untuk memotivasi kita dalam memanfaatkan waktu setiap saat dengan sebaik-baiknya sehingga tidak ada satu momen pun yang kita sia-siakan dan kelak akan membuat kita menyesal.</p>



<ol start="2"><li><strong>Hal-hal yang bikin makin ‘cepat mati’ lebih banyak dibanding yang bikin panjang umur</strong></li></ol>



<p>Simpelnya, kita itu lebih gampang buat mati dibandingkan memiliki umur yang panjang. Ketika kita naik kendaraan, baik itu motor, mobil, kapal, ataupun pesawat, akan selalu ada potensi berbahaya yang menyebabkan kita mati. Bahkan ketika kita sedang berada di tempat yang paling aman pun seperti di rumah kita, bencana bisa saja mampir dalam bentuk kebakaran, gempa, rumah roboh, dan lainnya.&nbsp;</p>



<p>Aktivitas-aktivitas yang kita anggap sebagai sesuatu yang bisa memperpanjang hidup kita juga bisa menjadi ancaman. Sebut saja makan dan minum. Jika kita salah makan atau minum, atau makan terlalu banyak, atau terlalu sedikit, tentu saja itu akan membawa penyakit baru yang berujung pada mempercepat waktu kematian kita. Ah, sudahlah, mungkin kita sudah bisa menerka-nerka <em>ending</em> dari kisah ini.&nbsp;</p>



<p>Terus, olahraga yang kelihatannya membuat tubuh kita menjadi sehat juga bisa menyebabkan kita cedera yang ujung-ujungnya mempercepat waktu kematian kita. Salah makan obat atau kekeliruan dalam perawatan medis, misalnya, juga dapat menghasilkan akibat yang tidak diinginkan oleh kita semua.&nbsp;</p>



<p>Artinya, faktor-faktor penopang kehidupan itu sangat sedikit sekali dibandingkan faktor-faktor yang dapat menunjang kematian kita. Ternyata, kita itu sebenarnya sangat rentan banget buat mati!</p>



<ol start="3"><li><strong>Tubuh kita itu rapuh banget. Ketusuk duri dikit aja kita udah kelabakan</strong></li></ol>



<p>Tubuh kita itu merupakan kumpulan dari sistem kerja organ yang sangat kompleks. Ketika ada satu bagian saja yang tidak berfungsi dengan baik, itu bisa jadi salah satu penyebab kematian kita. Kelamaan kena sinar matahari aja rasanya kulit kita udah terbakar. Kelamaan di bawah AC dikit aja kita juga udah bersin-bersin. Belum lagi kalau kita ngomongin kanker, tumor, sesak napas, dan sederet penyakit-penyakit berat lainnya.&nbsp;</p>



<p>Satu-satunya alasan kita sekarang masih bisa hidup dengan normal adalah napas yang keluar masuk lewat hidung kita. Ketika napas itu sendiri sudah berhenti bekerja, ah sudahlah, biarkan saja episodenya bersambung ke kehidupan selanjutnya.&nbsp;</p>



<p>Itulah tiga poin tentang ketidakpastian waktu kematian yang harus membuat kita siaga setiap saat jikalau waktu itu datang tiba-tiba di suatu momen saat kita sedang lengah. Jadi, jangan lupa ya untuk mempersiapkan diri kita setiap saat!</p>



<p><strong>Referensi:</strong><br><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche<br><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a> oleh Je Tsongkhapa<br><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari: Apa yang Bisa Kuperbuat?</a> oleh Dagpo Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/06/03/ojol-atau-ajal-mana-yang-datang-duluan/">Ojol atau Ajal, Mana yang Datang Duluan?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/06/03/ojol-atau-ajal-mana-yang-datang-duluan/">Ojol atau Ajal, Mana yang Datang Duluan?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cepat atau Lambat, Nomor Antrean Kematian Kita Pasti Dipanggil</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 May 2022 10:30:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6927</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dharma sang Buddha selalu mengingatkan kita untuk tidak mengingkari kematian yang pasti terjadi. Kita justru diajari cara merenungkan kepastian kematian ini agar hidup ini jadi lebih berarti.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/">Cepat atau Lambat, Nomor Antrean Kematian Kita Pasti Dipanggil</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/">Cepat atau Lambat, Nomor Antrean Kematian Kita Pasti Dipanggil</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Jika sebelumnya kita telah membahas tentang <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/">manfaat mengingat kematian</a>, kita juga harus tahu bagaimana cara mempraktikkannya dengan tepat. Mengingat kematian itu bukan sekadar berpikir, “Oh ya, kayaknya sore ini aku bisa saja mati karena serangan jantung atau tertabrak mobil (amit-amit walaupun sangat mungkin untuk terjadi, <em>like who knows?</em>)”. Mungkin, cara ini bisa jadi langkah awal bagi kita untuk memulai. Namun, ada sudut pandang yang jauh lebih luas dan dalam untuk dipertimbangkan sehingga bisa lebih ‘menampar’ kita dan menyadarkan bahwa bisa saja ajal kita tiba lebih dulu dibandingkan pesanan ojek <em>online</em> kita lima menit yang lalu.&nbsp;</p>



<p>Terus, terus, apa saja sih yang harus kita renungkan? Nah! Secara umum, ada tiga poin besar yang bisa kita pikirkan, loh! Ketiga poin itu adalah:</p>



<ol><li>Kematian itu pasti akan datang, <em>fix</em> pake banget!</li><li>Terus, kapan ya kita bakal mati? <em>Yo ndak tau kok tanya saya</em>. Kita nggak bakal bisa tau kapan kita mati 🙁</li><li>Pas kita mati, ga ada satu pun hal yang bisa kita andalkan, kecuali Dharma</li></ol>



<p>Lalu, setiap poin diatas terbagi lagi menjadi tiga bagian. Jika dijumlahkan, berarti ada sembilan poin yang bisa dan harus banget kita renungkan. Di artikel ini, kita bakal bahas tiga bagian pertama, yaitu yang berhubungan dengan kepastian kematian.&nbsp;</p>



<ol><li><strong>Kematian itu pasti akan datang dan gak bisa dihindari, </strong><strong><em>guys</em></strong><strong>! Udah siap belum?</strong></li></ol>



<p>Nggak peduli sebanyak banyak harta seorang milyuner, setampan atau secantik apa paras artis korea, ataupun seberapa tinggi jabatan para bos-bos besar, ajal pasti datang menjemput. Jelas-jelas kita udah dikasih tahu <em>spoiler</em> dari <em>ending</em> hidup kita. Anehnya, kenapa kita masih santai-santai ya? Padahal kalau dikasih <em>spoiler</em> dari film yang pengen banget kita nonton, kita bisa “naik darah” dan memutuskan untuk nonton sesegara mungkin.&nbsp;</p>



<p>Kita mau lari ke mana pun, nggak ada tempat yang bisa melindungi kita dari kematian. Saat ini, kita hanya sedang menunggu giliran saja untuk dipanggil oleh ‘Raja Kematian’. Hanya saja, kita tidak tahu kita dapat nomor antrean berapa. Sejujurnya, hal ini bisa bikin bingung. Kita harus merasa bahagia atau sedih? Sedih karena kematian pasti akan datang atau bahagia karena kebetulan kita belum girliran? Sebenarnya dua-duanya nggak salah sih&#8230;</p>



<p>Satu hal yang pasti, mau kita betulan mati hari ini atau nggak, berpikir “sangat mungkin bagi kita untuk mati hari ini” sama-sama bermanfaat buat kita. Kemungkinan pertama, kalau kita mati betulan, setidaknya kita nggak kaget lagi dan benar-benar siap menghadapinya. Kemungkinan kedua, kalaupun kita nggak jadi mati hari ini (bisa saja malah besok), kita telah memanfaatkan hari ini dengan baik.&nbsp;</p>



<p>Kalau sebelumnya kita terlalu pelit untuk berdana misalnya, karena ingat bisa mati kapan saja dan harta nggak bisa dibawa mati, kita bisa punya sedikit niat untuk melakukannya. Ini saja sudah membuahkan karma bajik loh, <em>guys</em>! Bakal lebih baik lagi kalau niat tersebut benar-benar dilakukan.&nbsp;</p>



<p>Kalau sebelumnya kita punya banyak musuh atau membenci banyak orang, maka di hari itu, kita akan berusaha untuk memaafkan dan meminta maaf kepada orang-orang yang pernah kita sakiti sebelumnya dan berharap semoga mereka selalu mendoakan segala hal yang baik untuk kita jika kita meninggal di hari itu.&nbsp;</p>



<p><em>See</em>? Tidak ada ruginya kan bila kita merenungkan bahwa kematian itu pasti akan datang, bahkan mungkin hari ini juga. Bisa saja kita mati lima menit setelah selesai membaca artikel ini, satu jam setelahnya, ataupun seterusnya. Atau, kita juga bisa merasa cukup beruntung karena ajal kita belum tiba saat ini berkat karma bajik kita yang masih terus berbuah. Turut bermudita bila memang opsi kedualah yang sedang terjadi pada kita saat ini.</p>



<ol start="2"><li><strong>Gak kayak </strong><strong><em>billing </em></strong><strong>warnet, umur kita gak bakal bisa ditambah, malah berkurang terus</strong></li></ol>



<p>Sadar nggak sih kalau begitu kita lahir ke dunia ini, saat itu juga kita sebenarnya mulai berjalan menuju kematian? Di hari pertama kita lahir saja umur kita sudah berkurang satu hari. Berarti, ungkapan bahwa umur kita selalu berkurang satu tahun di hari ulang tahun kita juga merupakan pernyataan yang valid.</p>



<p>Sadar nggak sih kalau sebenarnya garis batas antara kehidupan dan kematian itu cuma sebatas napas yang kita hirup dan hembus setiap saat? Garis ini tipis sekali. Sebentar saja kita gagal saja untuk menghirup atau menghembus napas, kita sudah mengalami perpindahan fase menuju kematian (beda cerita kalau memang sengaja menahan napas, ya!). Oleh karena itu, kita juga harus sadar bahwa sisa waktu hidup kita akan terus berkurang dan tergerus dengan setiap tarikan napas kita.&nbsp;</p>



<p>Sayangnya, rentang hidup kita tidak bisa diperpanjang, gak kaya <em>billing </em>warnet atau jam karaoke yang tinggal minta tambah waktu ke operator di depan. Bahkan, nggak ada yang benar-benar bisa memastikan bahwa besok pagi kita masih bisa sanggup untuk bangun dari tidur kita malam ini. Namun tampaknya, kita selalu terlalu percaya diri bahwa besok kita masih bisa bangun tidur seperti biasa karena selama ini keadaan normalnya begitu. Kalau kita terus berpikir seperti itu, siap-siap aja dapat kejutan di malam ini ataupun malam-malam berikutnya. Kita nggak akan pernah tahu malam keberapa yang akan jadi malam terakhir kita bisa tidur nyenyak di kasur empuk kesayangan.</p>



<ol start="3"><li><strong>Waktu praktik Dharma gak ada, tapi jalan sama gebetan mah gas terus, bos!</strong></li></ol>



<p>Setelah dibangunkan oleh realita tentang kematian itu pasti, apakah hati kita sudah mulai tergerak untuk melakukan sesuatu? Jika iya, apa sih yang harus kita lakukan? Jawabannya simpel. Ya, praktik Dharma, dong!&nbsp;</p>



<p>Coba kita ingat-ingat lagi jadwal kegiatan kita dalam satu hari penuh. Setiap orang memiliki jatah waktu yang sama dalam satu hari, yakni 24 jam. Mungkin jadwal setiap orang bisa berbeda-beda, tapi kita bisa mengambil contoh dari jadwal kebanyakan orang pada umumnya.&nbsp;</p>



<p>Kita bangun pukul 6 atau 7 pagi. Saat bangun, kita langsung cek HP, <em>scroll-scroll</em> medsos dulu. Lalu, kita bersiap-siap untuk mandi, sarapan, dan berangkat kerja/sekolah (+ les tambahan sepulang sekolah). Dengan asumsi kegiatan <em>nine-to-five</em>, kita menyelesaikan urusan pekerjaan/sekolah seharian dan pulang kembali ke rumah. Di rumah, kita beres-beres, makan, lalu main HP, nonton TV, ngerjain PR atau tugas sekolah/kantor yang belum selesai. Setelah selesai, kita ngantuk dan pergi tidur untuk melanjutkan aktivitas yang kurang lebih sama keesokan harinya.&nbsp;</p>



<p>Dengan alasan kita sudah berusaha keras untuk bekerja/belajar dari hari Senin sampai Jumat, kita memutuskan untuk mengikuti tren kekinian dengan melakukan <em>self healing</em> ala-ala saat <em>weekend</em> tiba. Syukur-syukur kalau lagi <em>mood</em>, kita memutuskan untuk ke wihara saat hari Minggu (atau ikut kebaktian <em>online</em> karena wihara tutup pas PPKM). Jadi, sebenarnya kapan sih kita melakukan praktik Dharma-nya? Kalau dalam sehari kita bisa tidur cukup kurang lebih selama delapan jam (sepertiga dari hari kita), dengan asumsi umur kita hanya 60 tahun, artinya kita sudah menghabiskan waktu selama 20 tahun hanya untuk tidur saja, lho! Sisanya, hari-hari kita pun selalu diisi oleh kegiatan duniawi. Memangnya kita sudah cukup percaya diri kalau tiba-tiba kita mati malam ini?&nbsp;</p>



<p>Saat masih muda, kita berpikir praktik Dharma itu prioritas nomor sekian dibanding rutinitas di atas. Masa muda kan saatnya mengejar semua mimpi-mimpi kita (katanya, sih). Kalau udah tercapai semua, kita bisa menikmati masa tua dengan tenang, pasti bisa fokus praktik Dharma. Ternyata eh ternyata, fisik kita sudah nggak kuat lagi untuk bergerak. Kemampuan untuk belajar juga sudah menurun karena faktor usia. Akhirnya, kita malah menyesali kenapa kita nggak mulai praktik Dharma saat masih muda dulu. Banyak nih yang pengalamannya begini.&nbsp;</p>



<p>Jadi, setelah sadar kalau umur kita ada batasnya, kita juga harus ingat bahwa nggak ada waktu yang lebih tepat buat praktik Dharma selain sekarang! Kalau kita selalu merasa nggak punya waktu buat praktik Dharma, tapi siaga kalau diajak jalan sama gebetan, kita perlu mengecek ulang apa yang sedang terjadi sama diri kita. Bisa jadi karena motivasi kita menjalani hidup ini belum benar-benar kokoh. Untuk mengulik lebih jauh soal “motivasi hidup” ini, silakan baca artikel “<a href="https://lamrimnesia.org/2017/01/23/mengubah-niat-jadi-motivasi/">Mengubah Niat Jadi Motivasi</a>” ya!</p>



<p>Nah, itulah tiga poin yang harus kita renungkan terkait kepastian kematian. Perlu diingat kembali bahwa tujuan dari penulisan artikel atau perenungan poin-poin di atas bukan untuk menakut-nakuti kita (walaupun bisa jadi kita memang perlu agak ditakut-takutin sih, hehe)! Tujuan utamanya adalah hanya untuk mengingatkan bahwa cepat atau lambat, kematian itu pasti akan datang menghampiri kita.&nbsp;</p>



<p>Jadi, apakah kita sudah siap untuk menghadapi hari datangnya kematian, bahkan jika hari itu adalah hari ini?</p>



<p><strong>Referensi:</strong></p>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p><a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a> oleh Je Tsongkhapa</p>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari: Apa yang Bisa Kuperbuat?</a> oleh Dagpo Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/">Cepat atau Lambat, Nomor Antrean Kematian Kita Pasti Dipanggil</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/05/23/cepat-atau-lambat-nomor-antrean-kematian-kita-pasti-dipanggil/">Cepat atau Lambat, Nomor Antrean Kematian Kita Pasti Dipanggil</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Merenungkan Kematian Selain dengan Kesedihan</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/02/08/cara-merenungkan-kematian-selain-dengan-kesedihan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2022 12:42:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6770</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Kalau mikirin kematian melulu, kok rasanya jadi sedih, takut, cemas, pesimis… Eits, menurut ajaran Buddha, merenungkan kematian pun ada tekniknya biar bisa bikin kita bahagia, bukan makin merana.</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/08/cara-merenungkan-kematian-selain-dengan-kesedihan/">Cara Merenungkan Kematian Selain dengan Kesedihan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/08/cara-merenungkan-kematian-selain-dengan-kesedihan/">Cara Merenungkan Kematian Selain dengan Kesedihan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Selama pandemi, banyak dari kita yang kehilangan kerabat dekat maupun teman. Mungkin banyak di antara kamu semua yang sudah melewati masa-masa sedih itu. Munculnya virus varian baru dan peningkatan kasus belakangan ini pun membuat kita harus siap-siap menghadapi kehilangan yang baru.</p>



<p>Sedih sih, tapi apakah lantas kamu perlu mengubur dalam-dalam memori itu?&nbsp;</p>



<p>Buddhisme memiliki pandangan yang lain tentang kematian. Alih-alih menghilangkan rasa sedih dengan melupakan peristiwa-peristiwa kematian, justru kita diajarkan untuk merenungkannya sesering mungkin. Dalam Lamrim atau Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, dijelaskan berbagai kerugian tidak mengingat kematian dan manfaat mengingat kematian. Lebih jauh, kita perlu merenungkan kematian untuk mengembangkan kebijaksanaan berhubung memang begitulah jalannya kehidupan.&nbsp;</p>



<h4><strong>Kenyataan bahwa kematian tidak akan terelakkan</strong></h4>



<p>“<em>Anicca</em> – segala sesuatu yang terbentuk adalah tidak kekal”. Misalnya jasmani manusia yang terbentuk dari darah, daging, tulang, dan sebagainya, akan berubah dari momen ke momen. Artinya tubuhmu setiap momen selalu berubah, entah selnya, ada rambut yang rontok, ada oksigen yang berubah jadi karbon dioksida. Perubahan dari momen ke momen ini disebut juga ketidakkekalan halus. Ketidakkekalan yang lebih kelihatan contohnya adalah kematian ini, karena semua makhluk yang terlahir (artinya terbentuk dari kondisi misalnya menyatunya sperma &amp; sel telur) memang memiliki jangka hidupnya masing-masing.</p>



<h4><strong>Apakah merenungkan kematian membuatmu sedih?</strong></h4>



<p>Merasa sedih saat merenungkan kematian merupakan hal yang wajar. Namun, di balik itu, kesadaran-kesadaran kecil yang didapatkan dari situ justru bisa membuatmu semakin kuat menjalani kehidupan. Kesedihan perlu disalurkan dan diseimbangkan dengan merenungkan kematian menggunakan metode yang tepat. Tujuan akhirnya adalah kamu bisa melihat kematian dan fenomena lainnya sebagaimana adanya.&nbsp;</p>



<h4><strong>Poin-poin perenungan kematian</strong></h4>



<p>Jadi, apa yang harus direnungkan? Berikut adalah 9 poin yang diajarkan oleh Guru Atisha:</p>



<p><strong>Kematian itu pasti</strong>, ada tiga poin yang direnungkan:</p>



<ul><li>Saat kematian datang, tidak ada yang dapat menghalangi</li><li>Usia kita tidak pernah bertambah dan terus berkurang</li><li>Waktu hidup yang digunakan untuk mempraktikkan Buddhadharma sangat sedikit</li></ul>



<p>Dengan merenungkan bahwa kematian itu pasti akan datang dan waktu untuk mempraktikkan Buddhadharma sedikit, maka keyakinanmu bahwa kematian itu pasti akan datang semakin kuat. Kamu juga akan terdorong agar segera bergerak karena tidak memiliki banyak waktu lagi di dunia ini.</p>



<p><strong>Waktu kematian tidak pasti,</strong> ada tiga poin yang direnungkan</p>



<ul><li>Masa hidup manusia tidaklah pasti akibat zaman kemerosotan</li><li>Faktor penyebab kematian sangat banyak, dan penopang kehidupan sangat sedikit</li><li>Tubuh manusia sangatlah rapuh</li></ul>



<p>Dengan merenungkan bahwa kamu bisa mati kapan saja, kamu akan termotivasi untuk mempraktikkan Dharma saat ini juga selagi masih ada kesempatan.</p>



<p><strong>Saat mati, segala hal tidak dapat menolong selain Dharma, </strong>ada tiga poin yang direnungkan</p>



<ul><li>Kekayaan tidak dapat menolong</li><li>Keluarga dan teman-teman tidak dapat menolong</li><li>Tubuh kita tidak dapat menolong</li></ul>



<p>Dengan merenungkan bahwa kekayaan, keluarga dan teman-teman, bahkan tubuh akan ditinggalkan setelah kematian, maka kamu akan mulai memilah mana hal-hal yang menjadi prioritas, mana yang berguna untuk jangka panjang (bahkan sampai kehidupan berikutnya).&nbsp;</p>



<p>Sembulan poin di atas bisa menjadi penyemangatmu untuk mempraktikkan Dharma dengan sungguh-sungguh. Misalnya saat kamu bermalas-malasan atau mengantuk saat meditasi. Dengan mengingat kembali hal-hal di atas, semangatmu akan muncul lagi, seperti mahasiswa yang belajar sangat giat ketika tahu bahwa besok akan ada ujian.&nbsp;</p>



<h4><strong>Memahami kematian, menumbuhkan empati dan kebijaksanaan</strong></h4>



<p>Kunci mengingat kematian tanpa merasa sedih atau duka berlebih adalah kebijaksanaan untuk melihat suatu fenomena sebagaimana adanya. Di satu sisi, kematian memang menyedihkan karena kita kehilangan seseorang yang dicintai. Namun, di sisi lain, mengingat kematian memberikan gairah pada hidup kita, bahwa kita harus melakukan hal ini dan itu sekarang juga sebelum kematian datang.</p>



<p>Teman-teman yang sepenuhnya sadar tentang hal ini setelah kehilangan kerabat dekat dapat melihat betapa naturalnya proses kematian sehingga dapat berempati pada orang lain yang sedang merasakan kedukaan yang sama. Dari situ, merenungkan kematian juga dapat memberikan “kebijaksanaan kecil” berupa pemahaman terhadap ketidakkekalan.&nbsp;</p>



<p>Ketika disatukan dengan 9 poin terkait kematian yang dijabarkan di atas, pemahaman ini akan membuat kita tergerak untuk fokus melatih batin kita agar bisa menghadapi kematian dengan tenang tanpa penyesalan. Kita pun bisa dengan jelas memilah prioritas hidup dan menggunakan sisa waktu yang kita miliki sebaik mungkin untuk mewujudkan kebahagiaan sejati, bukan yang sementara.</p>



<p>Namun, untuk mendapatkan pemahaman itu, jangan tunggu sampai maut menghampiri orang yang kamu kenal. Siapa tahu, ternyata kamu duluan yang didatangi!&nbsp;</p>



<p>Penulis: BESTRELOAD</p>



<h4><strong>Referensi:</strong>&nbsp;</h4>



<p>“<a href="https://dagporinpoche.id/ajaran/tahapan-jalan/menjadi-buddhis/kematian-ketidakkekalan/meditasi-9-poin-kematian/#1551787374402-b0b9b5c7-5285">Meditasi 9 Poin Kematian</a>” &#8211; dagporinpoche.id</p>



<p>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a>” oleh Phabongkha Rinpoche</p>



<p>“<a href="https://store.lamrimnesia.com/product/lamrim-chenmo-jld-1-harbolnas/">Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan: Lamrim Chenmo Jilid 1</a>” oleh Je Tsongkhapa</p>



<p>“<a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari: Apa yang Bisa Kuperbuat?</a>” oleh Dagpo Rinpoche</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/02/08/cara-merenungkan-kematian-selain-dengan-kesedihan/">Cara Merenungkan Kematian Selain dengan Kesedihan</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/02/08/cara-merenungkan-kematian-selain-dengan-kesedihan/">Cara Merenungkan Kematian Selain dengan Kesedihan</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Siapa Sangka Ingat Kematian Bisa Bikin Bahagia?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2022 03:40:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[It's Lamrim It's Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6697</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Orang biasanya menghindari membahas kematian. Tapi, bagi seorang Buddhis, ingat kematian merupakan salah satu kunci kebahagiaan. Kok bisa? Apa manfaatnya mengingat kematian?</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/">Siapa Sangka Ingat Kematian Bisa Bikin Bahagia?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/">Siapa Sangka Ingat Kematian Bisa Bikin Bahagia?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>“Pernahkah kalian melihat jadwal harian orang-orang yang seperti berikut:</p>



<p>6.00 A.M — Bangun</p>



<p>6.10 A.M — Olahraga Ringan</p>



<p>6.30 A.M — Mandi</p>



<p>6.40 A.M — Mikirin Kematian</p>



<p>6.45 A.M — Sarapan</p>



<p>Lah lah sebentar sebentar. Itu kenapa ada satu jadwal yang <em>nyempil</em> ya? <em>What?</em> Mikirin tentang kematian? Ngapain sih? Ada-ada aja deh nih orang.</p>



<p>Selama ini, kematian selalu diidentikkan dengan kesedihan dan kepasrahan. Akibatnya, topik ini selalu menjadi hal yang sangat tabu untuk dibahas, terutama bagi kita sebagai masyarakat Indonesia. Ketika kita ngomongin tentang kematian, orang-orang akan langsung menghindarinya, seolah-olah hal itu bisa langsung menjadi kenyataan dalam beberapa waktu ke depan, atau bahkan hari itu juga. Tapi, banyak orang yang tidak sadar&#8230;&nbsp; Bukankah datangnya kematian merupakan hal yang sangat mungkin?</p>



<p>Terus menerus lari dari kenyataan bahwa kematian suatu waktu akan tiba untuk ‘menyapa’ kita bukanlah sebuah solusi yang bijak. Toh semua orang juga pasti akan mati, bukan? Daripada capek-capek kabur terus, kenapa pola pikirnya nggak kita balik aja? Kita bisa menjadikan kematian sebagai teman kita untuk berlatih dalam praktik spiritual masing-masing.</p>



<p>Kedengarannya sih ngeri-ngeri sedap ya&#8230; Bukannya malah nambah stres kalau kita malah mikirin mati mulu?&nbsp;</p>



<p>Eitsss&#8230; Siapa sih yang bilang gitu? Buktinya, seperti yang telah dibahas pada artikel Lamrimnesia sebelumnya yang berjudul “<a href="https://lamrimnesia.org/2021/02/09/tabu-ngomongin-kematian-sampai-kapan-lari-dari-kenyataan/">Tabu Ngomongin Kematian? Sampai Kapan Lari dari Kenyataan?</a>”, masyarakat Bhutan sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia aja secara teratur mengingat kematian lima kali sehari. Iya, <strong>lima kali sehari</strong>, guys! Apa jangan-jangan ini benar-benar merupakan kunci rahasia yang bikin mereka bisa menjadi salah satu negara paling bahagia di dunia? Bisa jadi! Karma Ura, direktur dari <em>Center for Bhutan Studies</em>, menuturkan bahwa orang Barat begitu takut akan kematian karena mereka terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menghindarinya. Ini tidak berarti bahwa masyarakat Bhutan berpura-pura untuk tidak memiliki ketakutan akan kematian. Sebaliknya, mereka belajar untuk menghadapi ketakutan itu dan menerima kenyataan sehingga hal tersebut dapat menetralkan kecemasan mereka.</p>



<h4><strong>Kematian Sebagai Motivasi Hidup</strong></h4>



<p>Megan Brineau, M.A., seorang psikoterapis dari New York, juga merasa bahwa memikirkan tentang kematian membawa manfaat yang cukup mendalam bagi kehidupan seseorang. Praktik tersebut bisa lebih memotivasi kita untuk merasa lebih ‘hidup’. Bayangkan saja apabila kita hidup abadi dan tahu bahwa akan selalu ada hari esok yang menanti. Kita akan selalu merasa punya waktu dan tidak akan merasakan urgensi untuk segera bertindak demi mencapai tujuan-tujuan kita. Selain itu, memikirkan kematian juga membantu kita dalam mengapresiasi momen sekarang dan hidup lebih <em>mindful</em>. Bayangkan saja apabila kita mati besok, pasti kita akan benar-benar memanfaatkan waktu hari ini dengan baik. Pada intinya, mengingat kematian akan membuat kita memilah mana sebenarnya hal yang paling penting dalam hidup kita untuk diprioritaskan. Apakah itu harta? Keluarga? Teman? Karir? Atau mungkin kualitas spiritual?</p>



<h4><strong>Manfaat Mengingat Kematian</strong></h4>



<p>Jika sebelumnya artikel “<a href="https://lamrimnesia.org/2021/03/04/bukan-cuma-tugas-hidup-juga-ada-deadline-nya/">Bukan Cuma Tugas, Hidup Juga Ada Deadline-nya!</a>” udah membahas tentang betapa ruginya kita kalau kita tidak mengingat kematian, maka artikel kali ini akan membahas secara spesifik tentang manfaat yang bisa dirasakan dari mengingat kematian dari sudut pandang Buddhisme. Kitab-kitab Lamrim (Tahapan Jalan Menuju Pencerahan) membeberkan secara detail <strong>enam manfaat dari mengingat kematian:</strong></p>



<ol><li><strong>Manfaat memberikan nilai besar pada praktik kita </strong>&#8211; Coba bayangin kalau besok kita pasti akan mati, maka hari ini kita pasti akan buru-buru baca mantram dan semua skrip doa yang selama ini tidak kita acuhkan selama kebaktian minggu di vihara *ups. Kita akan langsung jadi orang yang baik banget dalam sekejap karena umur kita yang tinggal sehari.</li><li><strong>Manfaat memberikan kekuatan besar pada praktik kita </strong>&#8211; Selama ini kita selalu muluk-muluk berdebat tentang kekosongan, nirvana, dan hal-hal lainnya yang masih jauh di luar jangkauan kita. Bukannya engga boleh sih, tapi kita juga harus sadar apakah hal itu memang benar-benar membawa kita jadi lebih rajin buat praktik Dharma? Kalo masih belum, mending kita ganti topiknya jadi tentang kematian, pasti akan lebih mengena karena kematian emang hal yang paling jelas ada di sekitar kita dan selalu membayang-bayangin kita setiap saat.&nbsp;</li><li><strong>Manfaat karena penting di awal praktik kita </strong>&#8211; Pas ingat kalo mungkin aja nanti sore kita mati (memang sangat mungkin terjadi sih), kita pasti bakalan panik. Jadinya, kita lebih termotivasi buat sesegera mungkin buat bikin kebajikan.</li><li><strong>Manfaat karena penting di pertengahan praktik kita </strong>&#8211; Buat yang sering bikin kebajikan tapi niatnya setengah-setengah, pasti ga bakal fokus selama bikin kebajikannya. Misalnya pas lagi dengerin ceramah Dharma di vihara pas hari Minggu, pasti malah pada sibuk <em>scroll-scroll </em>IG atau Tiktok. Boro-boro dengerin Bhante nya ngomongin tentang apa di depan, eh kita malah sibuk <em>chattingan</em> sama pacar kita yang lagi jauh entah dimana. Kalau disentil sama ‘malaikat pencabut nyawa’ yang tiba-tiba duduk di sebelah kita, kita bakal langsung fokus tuh pasti buat dengerin Dharma-nya.</li><li><strong>Manfaat karena penting di akhir praktik kita </strong>&#8211; Pada akhirnya, kita bakal fokus untuk <em>stay</em> dengerin ceramah Bhantenya sampai selesai deh~. Kita bakal dapet karma baik yang lebih besar karena motivasi dan tindakan kita yang sudah benar dan lengkap.</li><li><strong>Manfaat karena kita dapat menghadapi kematian dengan kegembiraan dan kebahagiaan </strong>&#8211; Karena kita udah terbiasa buat lebih sering-sering mikirin tentang kematian daripada mikirin tentang mantan mulu ~eh, jadinya kita gabakal takut saat kematian itu benar-benar tiba hari itu juga. Dengan begitu, ga bakal ada rasa penyesalan karena kita udah praktik Dharma dengan baik dan benar.</li></ol>



<p>Jadi, sekarang kita tidak perlu kaget lagi ya kalau melihat jadwal harian seperti yang di atas barusan. Ga perlu muluk-muluk. Lima menit sehari saja sudah sangat cukup kok bagi kita untuk merenungkan kematian. Apabila kita sudah semakin terbiasa, mungkin kita bisa mengikuti cara yang dilakukan oleh masyarakat Bhutan, merenungkannya hingga lima kali sehari. Tentu saja itu akan membuat hidup kita menjadi jauh lebih bahagia dan bermakna.&nbsp;</p>



<p>Untuk menutup artikel ini, saya ingin mengutip satu kalimat favorit saya yang dilontarkan oleh Joe dalam film <em>Soul </em>yang diproduksi oleh <em>Walt Disney Pictures</em>:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“<em>I’m just afraid that if I died today, my life would have amounted to nothing.”</em></p></blockquote>



<p>Oh iya, teman Joe yang bernama Twenty-Two juga memberikan satu kutipan yang menginspirasi saya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“<em>Is all this living really worth dying for?</em>”</p></blockquote>



<p>Penulis: Kevin Chow</p>



<p><strong>Referensi:</strong></p>



<p><a href="https://play.google.com/store/books/details/Phabongkha_Rinpoche_Pembebasan_di_Tangan_Kita?id=QWKIDwAAQBAJ">Pembebasan di Tangan Kita Jilid II</a> oleh Phabongkha Rinpoche<br><a href="https://play.google.com/store/books/details/Dagpo_Rinpoche_Jika_Hidupku_Tinggal_Sehari?id=95eWDwAAQBAJ">Jika Hidupku Tinggal Sehari: Apa yang Bisa Kuperbuat?</a> oleh Dagpo Rinpoche<br><a href="https://www.grunge.com/243731/why-you-should-think-about-death-five-times-a-day/">“Why you should think about death five times a day”</a> oleh Felix Behr<br><a href="https://matadornetwork.com/bnt/want-happy-think-death/">“Want to be happy? Think about death more.”</a> oleh Dayana Aleksandrova<br><a href="https://www.mindbodygreen.com/0-14057/5-reasons-thinking-about-death-will-make-your-life-better.html">“5 Reasons Thinking About Death Will Make Your Life Better”</a> oleh Megan Bruneau, M.A.</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/">Siapa Sangka Ingat Kematian Bisa Bikin Bahagia?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/17/siapa-sangka-ingat-kematian-bisa-bikin-bahagia/">Siapa Sangka Ingat Kematian Bisa Bikin Bahagia?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Dharma dari Pohon</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2022/01/10/belajar-dharma-dari-pohon/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[itsupport]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2022 04:55:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[bodhicitta]]></category>
		<category><![CDATA[buddhis]]></category>
		<category><![CDATA[buddhisme]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://lamrimnesia.org/?p=6692</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Hidup selaras dengan alam adalah bagian dari ajaran Buddha. Menanam pohon dan memelihara hutan bisa jadi praktik Dharma karena memberi manfaat bagi banyak makhluk. DI Hari Pohon Sedunia ini, yuk belajar Dharma dari pohon!</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/10/belajar-dharma-dari-pohon/">Belajar Dharma dari Pohon</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/10/belajar-dharma-dari-pohon/">Belajar Dharma dari Pohon</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Tahukah Sahabat? Saat ini kita sedang krisis ruang terbuka hijau! Jumlah hutan di Indonesia terus berkurang karena deforestasi atau penebangan hutan dan kebakaran hutan. Di kota-kota juga pohon semakin jarang terlihat. Padahal, kita butuh hutan dan pohon demi memperoleh oksigen, sumber air, sumber pangan, dan habitat bagi berbagai jenis makhluk hidup. Selain itu, kita juga bisa belajar Dharma dari pohon, lho!!&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>



<h4><strong>Belajar Dharma dari Pohon</strong></h4>



<p>Belajar Dharma semakin mudah di masa kini berkat teknologi yang semakin maju. Kita bisa baca buku Dharma di Google Play Books, aplikasi Kabar Dharma, atau menggunakan berbagai website. Tapi tanpa teknologi pun, kita bisa juga belajar Dharma melalui tanaman yang tumbuh di sekitar kita. Buddha sangat sering memberi nasihat dengan pepohonan sebagai perumpamaan. Kita pun bisa belajar darinya.</p>



<p>Misalnya, dalam Dhammapada syair 377, Buddha berkata,</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>”S<em>eperti tanaman Vassika (pohon melati yang merambat) menggugurkan bunga-bunganya sendiri yang layu kering, begitu pula hendaknya engkau, O Bhikkhu, membuang nafsu dan dendam.</em>”</p></blockquote>



<p>Meski syair tersebut ditujukan kepada para biksu di masa Buddha Sakyamuni, kita sebagai umat awam juga bisa mempelajari, merenungkan, dan mempraktikkan makna yang tersirat dari ucapan Buddha ini.&nbsp;</p>



<p>Dengan mengamati tanaman, manusia dapat memahami perlunya membuang segala hal buruk dalam diri. Seperti pohon melati rambat yang tumbuh seraya menggugurkan bunganya sendiri ketika sudah layu dan kering, manusia juga perlu membuang keserakahan, kesombongan, dan kebencian dalam diri agar dapat terus tumbuh hingga meraih pencerahan tertinggi.</p>



<p>Tak hanya membuang keburukan dalam diri, dalam Dhammapada syair 162, Buddha juga mengajarkan agar kita tidak menjadi benalu yang merugikan makhluk lain:</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>“<em>Orang yang berkelakuan buruk adalah seperti tanaman menjalar maluva yang melilit pohon sala. Ia akan terjerumus sendiri, seperti apa yang diharapkan musuh terhadap dirinya</em>.”</p></blockquote>



<p>Kita memang makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa makhluk lain, tapi janganlah kita menjadi benalu, cuma mengambil tapi tidak pernah memberi. Kita tetap harus menjadi manusia yang bisa berdiri sendiri dan berguna untuk banyak makhluk. Siapapun yang menjadi benalu bagi orang lain sama saja menjerumuskan diri sendiri dalam penderitaan.</p>



<h4><strong>Hai, Buddhis, yuk Tanam Pohon!</strong></h4>



<p>Pohon yang amat bermanfaat ini ternyata terus berkurang dari hari ke hari akibat kebakaran dan penebangan hutan. Kalau sampai habis, bagaimana nasib kita? Bisa-bisa bumi semakin panas, bencana alam makin sering berdatangan, sumber makanan menipis, dan 80% keanekaragaman hayati kehilangan habitat.</p>



<p>Agar kita tidak sampai kehilangan hutan dan pepohonan, kita harus mulai menanam pohon dan memelihara hutan dari sekarang!</p>



<blockquote class="wp-block-quote"><p>Buddha juga pernah berkata dalam Vanaropa sutta (SN 1:47), “<em>mereka yang membangun taman atau hutan, orang-orang yang membangun jembatan, tempat untuk minum dan sumur; mereka yang memberikan tempat tinggal. bagi mereka, jasa selalu meningkat pada siang dan malam hari. Mereka adalah orang-orang yang menuju ke surga, mantap dalam Dharma, memiliki moralitas</em>.”</p></blockquote>



<p>Dalam kutipan Sutta tersebut, Buddha sangat menganjurkan kita untuk membangun hutan dan taman, tentunya termasuk menanam pohon. Dengan melakukan hal tersebut, berarti kita memberi manfaat kepada makhluk lain dan mementingkan keberlangsungan hidup mereka. Ini termasuk praktik Dharma.&nbsp;</p>



<p>Kita bisa ikut menanam pohon dan melestarikan hutan dari sekarang. Kebetulan banget, tanggal 10 Januari diperingati sebagai Hari Sejuta Pohon Sedunia! Selain menanam sendiri, kita juga bisa cari-cari lembaga yang punya program penanaman pohon atau reboisasi hutan.</p>



<p>Di Hari Sejuta Pohon Sedunia ini, ayo kita ramai-ramai menjaga alam dengan menanam lebih banyak pohon. Pohon yang kita tanam dan rawat ini akan menghasilkan oksigen demi kelangsungan hidup penghuni bumi. Burung, ulat, semut, dan berbagai makhluk hidup lainnya akan memperoleh tempat tinggal. Bahkan kita bisa mengingatkan orang lain dengan Dharma, bahwa kita lahir sebagai manusia yang berharga yang bisa memberikan berjuta manfaat bagi semua makhluk!</p>



<p>Penulis: Junarsih</p>



<h4><strong>Referensi:</strong></h4>



<p>Tirto.id<strong> &#8211; “</strong><a href="https://tirto.id/10-januari-memperingati-hari-tritura-dan-hari-sejuta-pohon-sedunia-f82S">10 Januari Memperingati Hari Tritura dan Hari Sejuta Pohon Sedunia</a>”</p>



<p>Forestdigest.com<strong> </strong>&#8211; “<a href="https://www.forestdigest.com/detail/1438/luas-hutan-indonesia">Mengapa Data Luas Hutan Berbeda-beda</a>”</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2022/01/10/belajar-dharma-dari-pohon/">Belajar Dharma dari Pohon</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2022/01/10/belajar-dharma-dari-pohon/">Belajar Dharma dari Pohon</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/itsupport/">itsupport</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
