<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>cara mendengarkan dharma - Lamrimnesia</title>
	<atom:link href="https://lamrimnesia.org/tag/cara-mendengarkan-dharma/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Pathway to Everlasting Happiness</description>
	<lastBuildDate>Tue, 04 Sep 2018 06:25:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>

<image>
	<url>https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2016/09/cropped-l-polos-32x32.png</url>
	<title>cara mendengarkan dharma - Lamrimnesia</title>
	<link></link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>ILR 2017: Sebenarnya Kita Sakit Apa Sih?</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/26/ilr-2017-sebenarnya-kita-sakit-apa-sih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2017 00:30:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[cara mendengarkan dharma]]></category>
		<category><![CDATA[dhamma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3829</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dalam dua hari pertama Indonesia Lamrim Retreat 2017, Biksu Bhadra Ruci berkali-kali menganalogikan Dharma sebagai obat bagi batin kita. Masih berkaitan dengan pembahasan bab ketiga Lamrim tentang cara mendengarkan Dharma, beliau juga menyebutkan bermacam-macam ‘penyakit’ kita yang bisa diobati dengan mendengarkan Dharma. Sakit Kurang Motivasi Kita memiliki kelahiran sebagai manusia yang bebas dan beruntung. Kita [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/26/ilr-2017-sebenarnya-kita-sakit-apa-sih/">ILR 2017: Sebenarnya Kita Sakit Apa Sih?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/26/ilr-2017-sebenarnya-kita-sakit-apa-sih/">ILR 2017: Sebenarnya Kita Sakit Apa Sih?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam dua hari pertama Indonesia Lamrim Retreat 2017, Biksu Bhadra Ruci berkali-kali menganalogikan Dharma sebagai obat bagi batin kita. Masih berkaitan dengan pembahasan bab ketiga Lamrim tentang cara mendengarkan Dharma, beliau juga menyebutkan bermacam-macam ‘penyakit’ kita yang bisa diobati dengan mendengarkan Dharma.</span></p>
<ul>
<li><b>Sakit Kurang Motivasi</b></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita memiliki kelahiran sebagai manusia yang bebas dan beruntung. Kita bisa bertemu Buddhadharma dan mempelajarinya dengan leluasa. Sayangnya, kita menganggap keberuntungan tak ternilai ini biasa-biasa saja, malah menyia-nyiakannya. Kita tidak sadar kalau kita bisa mati kapan saja, tersiksa di alam rendah selama berkalpa-kalpa, eh saat akhirnya bisa jadi manusia lagi, malah lahir di zaman purba yang tak ada Dharma. Kita tidak sadar betapa </span><i><span style="font-weight: 400;">urgent-</span></i><span style="font-weight: 400;">nya kita mempelajari Dharma sekarang mumpung memiliki modal yang amat langka. Akibatnya, kita tidak punya motivasi yang kuat untuk belajar Dharma. Kita jadi kurang menghargai kesempatan belajar Dharma dan cenderung bersikap dengan tidak tepat. Kelahiran kita yang amat berharga pun terancam sia-sia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk mengatasi penyakit ini, kita harus kembali merenungkan apa yang kita punya: kelahiran manusia yang bebas dan beruntung. Berapa banyak sih orang yang bisa seperti kita, punya waktu dan kesempatan sembilan hari </span><i><span style="font-weight: 400;">full</span></i><span style="font-weight: 400;"> mendengarkan Dharma? Masa kita sia-siakan? Belum lagi umur kita selalu berkurang. Kematian bisa datang kapan saja. Jika kita tidak mempersiapkan diri memperbaiki batin kita dengan mendengarkan Dharma dari sekarang, apa jadinya kita di kehidupan mendatang? </span></p>
<ul>
<li><b>Sakit Kurang Keyakinan</b></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Kurangnya keyakinan kita terhadap Triratna menyebabkan kita tidak mendengarkan Dharma dengan sikap yang benar. Dari keyakinan muncul rasa hormat dan sayang. Jika kita yakin Buddha, Dharma, dan Sangha bisa menolong kita, kita tentunya akan bersikap penuh hormat kepada mereka. Kita akan sangat menghargai setiap sesi pengajaran Dharma yang bisa kita hadiri dan bersikap sepantasnya serta mempraktikkannya.</span></p>
<ul>
<li><b>Sakit Kurang Konsentrasi</b></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Di penjelasan tentang cara sesungguhnya mendengarkan Dharma dalam teks Lamrim, kita diingatkan untuk menghindari sikap yang salah ibarat tiga jenis cacat pada wadah. Cacat jenis pertama adalah wadah terbalik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika kita tidak benar-benar konsentrasi saat sesi pengajaran Dharma, apapun yang diajarkan tidak akan masuk ke batin kita. Saat pikiran kita melayang memikirkan macam-macam, Dharma yang diajarkan guru hanya terdengar sayup-sayup. Batin kita ibarat wadah terbalik, tak peduli apapun Dharma yang dituangkan, sedikit pun tak ada yang tertampung.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Solusinya sudah dibahas di hari sebelumnya. Kita harus duduk diam, mendengarkan Dharma dengan seksama dan penuh hormat. Bagaimanapun juga, yang kita dengarkan adalah ajaran yang bisa menyelamatkan kita dari penderitaan. Bukankah sudah sepantasnya kita mengeluarkan usaha ekstra untuk menghormati dan meresapinya?</span></p>
<ul>
<li><b>Sakit Angkuh</b></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini berhubungan dengan jenis cacat wadah kedua, yaitu wadah yang kotor. Kadang kita dengan sombongnya datang ke sesi pengajaran Dharma hanya untuk ‘mengetes’ atau mencari-cari kesalahan orang yang memberikan pengajaran Dharma. Kita datang dengan memegang kuat pandangan bahwa kita sendiri sebenarnya sudah cukup berilmu, lalu menolak semua ajaran yang tidak kita sukai. Karena kita datang dengan batin penuh kotoran keangkuhan, Dharma yang dituangkan ke batin kita tercemar dan menjadi racun bagi kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk mencegah ini terjadi, kita harus introspeksi diri. Jika memang kita sudah berpengetahuan banyak dan tak butuh Dharma, tentunya kita sudah pencerahan. Tapi buktinya kita masih di samsara. Kita masih butuh belajar. Belajar itu sendiri tak ada yang menyenangkan. Ibarat batu giok yang tak diasah, tak mungkin bisa jadi perhiasan. Dalam belajar Dharma, kita akan dihadapkan dengan banyak kesulitan dan mendengar banyak hal yang tidak menyenangkan, barulah kita bisa berubah menjadi orang yang lebih baik.</span></p>
<ul>
<li><b>Sakit Lupa</b></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Jenis cacat wadah ketiga yang harus dihindari adalah wadah yang bocor. Ini adalah kondisi ketika kita tidak bisa mempertahankan ajaran yang kita dengar, masuk kuping kiri lalu keluar kuping kanan. Dharma yang kita dengar pun tak bisa memberi manfaat bagi diri kita.</span></p>
<ul>
<li><b>Sakit Tak Bisa Puas</b></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Kelanjutan dari menghindari tiga jenis cacat sebuah wadah, cara mendengarkan Dharma yang sesungguhnya adalah mengamati sikap yang bermanfaat dari enam pemikiran. Dengan kata lain, ada enam macam pemikiran yang yang harus kita kembangkan agar bisa mendengarkan Dharma dengan efektif. Dari enam pemikiran tersebut, yang pertama adalah menyadari bahwa diri kita adalah pasien yang sakit. Masalahnya, kita sendiri tidak sadar kita sakit apa. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu penyakit terbesar kita di samsara adalah tak bisa puas. Kita terus mengejar karir, harta, ambisi, dan sebagainya. Ketika sudah mendapatkannya, kita masih ingin lagi dan lagi. Kita berjuang seperti itu karena mengira kebahagiaan berada di luar diri kita sehingga harus kita kejar. Padahal, objek di luar diri kita bukan kebahagiaan. Kitalah yang mengomentari objek tersebut sebagai ‘menyenangkan’, ‘tidak menyenangkan’, atau netral. ‘Komentar’ ini pun beda antara orang yang satu dengan lainnya. Jika benar kebahagiaan tersebut terletak pada objek di luar, bukankah harusnya semua orang harusnya merasakan kebahagiaan yang sama? Misalnya jika kita senang melihat mawar berwarna putih dan sebab kebahagiaan adalah mawar putih tersebut, berarti semua orang yang melihat mawar putih juga akan merasa bahagia. Dunia ini akan dipenuhi mawar putih karena bisa membuat semua orang bahagia. Namun, kenyataannya tidak demikian. </span><span style="font-size: 14px;">Di dunia ada berbagai jenis barang yang semuanya dibuat untuk membahagiakan kita dan jenisnya ada banyak. Artinya semua orang berusaha mencari kebahagiaannya sendiri-sendiri dengan membuat barang pemuas sesuai dengan selera masing-masing. Karena kepuasan orang berbeda-beda, dapat disimpulkan bahwa</span><span style="font-size: 14px;"> bahagia atau tidak adalah tergantung pada diri setiap orang, bukan tergantung objek di luar diri kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kenyataannya, kebahagiaan berasal dari dalam diri kita. Jika kita memiliki batin yang matang, kita bisa melihat semua fenomena apa adanya. Kita pun bisa legowo, puas, lapang dada menerima realita. Ketika kita sudah bisa menerima realita, kita tidak lagi menderita. Kita pun bisa bahagia. Sayangnya amatlah sulit mencapai kematangan batin seperti itu. Kita sendiri tidak sadar bahwa kita menderita sakit dari kegagalan kita untuk merasa puas. Jika kita tidak sadar kita sakit, mana mungkin kita mau mencari obat? Jika kita tidak sadar kita menderita, mana mungkin kita bisa mendengarkan Dharma dengan benar?</span></p>
<p>&#8212;</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ternyata ada banyak sekali penyakit yang kita derita, tapi obatnya sudah di depan mata. Sisanya tergantung dari kita sendiri, maukah kita mendengarkan Dharma dengan sikap yang benar agar bisa ‘menyembuhkan’ sakit batin kita?</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.<br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry  (082163276188)</i></b></p>
<p><strong>Foto-Foto:</strong></p>
<figure id="attachment_3831" aria-describedby="caption-attachment-3831" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img class="wp-image-3831 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-1024x684.jpg" alt="" width="702" height="469" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-scaled-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0884-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3831" class="wp-caption-text">Persembahan mandala untuk memohon pengajaran Dharma</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3834" aria-describedby="caption-attachment-3834" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3834 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-1024x682.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-1024x682.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09348-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3834" class="wp-caption-text">Berdiri saat guru memasukin ruangan, salah satu bentuk sikap hormat terhadap Dharma dan guru Dharma</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3832" aria-describedby="caption-attachment-3832" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3832 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-1024x684.jpg" alt="" width="702" height="469" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-scaled-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0961-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3832" class="wp-caption-text">Happy bertemu obat Dharma di ILR 2017</figcaption></figure>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/26/ilr-2017-sebenarnya-kita-sakit-apa-sih/">ILR 2017: Sebenarnya Kita Sakit Apa Sih?</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/26/ilr-2017-sebenarnya-kita-sakit-apa-sih/">ILR 2017: Sebenarnya Kita Sakit Apa Sih?</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILR 2017: Jangan Sampai Obat Dharma Menjadi Racun</title>
		<link>https://lamrimnesia.org/2017/12/25/ilr-2017-jangan-sampai-obat-dharma-menjadi-racun/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Lamrimnesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Dec 2017 00:35:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Lamrim Retreat 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[cara mendengarkan dharma]]></category>
		<category><![CDATA[ILR 2017]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan dharma]]></category>
		<category><![CDATA[lamrim]]></category>
		<category><![CDATA[lamrimnesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://lamrimnesia.org/?p=3820</guid>

					<description><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<p>Dharma adalah obat bagi batin. Namun, jika tidak ‘dikonsumsi’ dengan benar, obat pun bisa berubah jadi racun. Peringatan ini mengawali hari kedua Indonesia Lamrim Retreat 2017 bersama Biksu Bhadra Ruci, tanggal 24 Desember 2017. Dharma adalah ajaran untuk mengubah batin kita agar menjadi orang yang lebih baik. Jangan sampai kita mendengarkan Dharma bukannya untuk memperbaiki [...]</p>
<p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/25/ilr-2017-jangan-sampai-obat-dharma-menjadi-racun/">ILR 2017: Jangan Sampai Obat Dharma Menjadi Racun</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/25/ilr-2017-jangan-sampai-obat-dharma-menjadi-racun/">ILR 2017: Jangan Sampai Obat Dharma Menjadi Racun</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia - Pathway to Everlasting Happiness</a></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-size: 14px; color: #606569;">Dharma adalah obat bagi batin. Namun, jika tidak ‘dikonsumsi’ dengan benar, obat pun bisa berubah jadi racun.</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Peringatan ini mengawali hari kedua Indonesia Lamrim Retreat 2017 bersama Biksu Bhadra Ruci, tanggal 24 Desember 2017. Dharma adalah ajaran untuk mengubah batin kita agar menjadi orang yang lebih baik. Jangan sampai kita mendengarkan Dharma bukannya untuk memperbaiki diri, tapi malah sekedar untuk bahan ceramah atau mengritik orang lain. Selama berada di samsara, kita tak punya pilihan mau terlahir seperti apa karena karma dan klesha yang dihimpun sejak kehidupan lampau. Jasmani kita rapuh, sedikit saja ketidaknyamanan membuat kita terganggu. Parahnya lagi, pikiran buruk seringkali muncul di batin, awalnya seukuran ulat, lama-lama sebesar ular, hingga tumbuh menjadi naga dan menelan kita. Satu-satunya cara mengatasinya adalah dengan mendengarkan Dharma dan mengarahkannya kepada diri kita sendiri. Ceret hati kita harus terisi penuh dengan Dharma yang direnungkan, dan dipraktikkan. Barulah kemudian kita bisa membagikannya dengan orang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah mengingatkan kita untuk membangkitkan motivasi yang benar dalam mendengarkan Dharma, Biksu Bhadra Ruci mulai melanjutkan penjelasan Baris-Baris Pengalaman karya Je Tsongkhapa, khususnya yang termasuk bab kedua dalam kurikulum Lamrim, yaitu <strong>keagungan ajaran yang disajikan untuk membangkitkan rasa hormat terhadap instruksi</strong>. Setelah memastikan bahwa kita belajar sumber Dharma yang benar, kita juga harus yakin terhadap keunggulan Dharma itu sendiri, khususnya Lamrim yang mencakup keseluruhan Dharma dengan susunan yang runut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Keagungan pertama, semua ajaran Buddha bebas dari pertentangan</strong>. Kadang kita melihat aliran tertentu menganggap aliran lain sesat atau inferior, padahal jika kita mampu melihat keseluruhan struktur ajaran Buddha, kita akan paham bahwa semua aliran tersebut memiliki letak dan fungsi masing-masing dalam keseluruhan tahapan praktik menuju pencapaian Kebuddhaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Keagungan kedua, semua kitab dikenali sebagai instruksi pribadi</strong>. Jika dipelajari dan dipraktikkan dengan benar, Dharma akan mengubah kita menjadi lebih baik dan lebih bahagia. Masalahnya, apakah kita sudah menerima keseluruhan Dharma sebagai instruksi untuk kita praktikkan? Seringkali, kita malah pilih-pilih, hanya mau mempraktikkan instruksi yang menyenangkan kita. Jika ada instruksi yang tidak kita sukai, kita akan mati-matian mencari </span><i><span style="font-weight: 400;">second opinion&#8211;</span></i><span style="font-weight: 400;">ke dukun lah, peramal lah, dan sebagainya. Padahal, Buddha mengajarkan Dharma untuk mengubah kita, jadi tidak mungkin isinya hanya menyenangkan kita. Jika semua instruksi yang kita terima menyenangkan hati kita, kita bukanlah praktisi Dharma, melainkan praktisi Mara!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Keagungan ketiga, pemikiran mendasar Sang Buddha dengan mudah dipahami</strong>. Sudah sangat jelas bahwa Dharma berasal dari pemikiran Sang Buddha. Lalu, <strong>keagungan keempat adalah kita bisa bebas dari kesalahan besar menolak Dharma.</strong> Ketika kita bisa melihat ajaran Buddha sebagai sebuah tahapan latihan yang urut, kita tidak akan lagi membeda-bedakan ajaran, misalnya mengatakan, “Ini ajaran untuk Pratyeka, bukan untuk Bodhisatwa”. Dengan berkata demikian, kita telah melakukan kesalahan besar menolak Dharma. Namun, jika kita familiar dengan struktur Lamrim, kita akan tahu bahwa semua merupakan ajaran Buddha yang harus dipelajari secara berurutan, tergantung praktisi Dharma seperti apa diri kita ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Praktisi Dharma ada tiga jenis. Yang pertama adalah praktisi yang belajar Dharma untuk kebahagiaan di kehidupan mendatang. Jika kita bodoh di kehidupan ini, maka kita harus berjuang, mengandalkan prinsip hukum karma untuk menciptakan sebab-sebab agar tidak jadi bodoh lagi di kehidupan mendatang. Jika tidak, makin bodohlah kita di kehidupan mendatang. Apakah kita sudah sampai di tahap ini?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Praktisi jenis kedua adalah praktisi yang telah menolak samsara. Kita ibarat sebuah telur dengan enam lubang indera di cangkangnya yang mencerap fenomena di luar cangkang, lalu batin kita mengomentari fenomena tersebut. Kita berpindah pindah dari senang menjadi tidak senang ataupun netral. Walau berhasil mendapatkan kehidupan mendatang yang lebih baik, kita terus lahir dan mati lagi, dan setiap kali kita mencari kebahagiaan, tapi kita tetap tidak bisa menemukan kebahagiaan yang sejati. Semua hal tidak kekal dan terus berubah karena merupakan kumpulan dari bagian-bagian yang tak berinti. Setiap kebahagiaan yang kita temukan pun akan berubah menjadi penderitaan. Inilah samsara. Ketika menyadari hal ini, akan muncul rasa muak terhadap samsara. Lalu, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyadari penderitaan tersebut? Atau jangan-jangan kita masih menganggap ‘nikmat’ samsara lebih banyak daripada penderitaannya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang ketiga adalah praktisi yang menolak samsara sekaligus berusaha menyelamatkan makhluk lain dari samsara tersebut. Kita bisa bebas dari samsara, tapi bagaimana dengan orang tua kita dan makhluk lain? Praktisi di tahap ini pun membangkitkan bodhicitta, tekad untuk menjadi Buddha agar bisa menolong semua makhluk keluar dari samsara. Mungkinkah kita mencapai tahapan ini jika belum sepenuhnya menolak samsara?</span></p>
<figure id="attachment_3358" aria-describedby="caption-attachment-3358" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3358 size-medium" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n-300x300.png" alt="" width="300" height="300" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n-300x300.png 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n-336x336.png 336w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n-600x600.png 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n-150x150.png 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n-768x768.png 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n-450x450.png 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/07/18813907_1981124885449072_7296266952369840936_n.png 960w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-3358" class="wp-caption-text"><a href="http://lamrimnesia.org/2017/05/30/bagaimana-dan-mengapa-mengikuti-jalan-buddhis-bertahap/">Baca penjelasan lengkap tentang tiga jenis praktisi Lamrim di sini.</a></figcaption></figure>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah mengetahui tentang tiga kategori praktisi di atas, kita harus merenung. Sudah sampai manakah kita? Jika kita tidak termasuk dalam ketiganya dan hanya peduli pada kehidupan saat ini saja, maka kita bukanlah praktisi Dharma!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Bab berikutnya dalam Lamrim adalah cara mendengarkan dan mengajarkan Dharma</strong>. Seperti yang telah dijelaskan di awal, Dharma yang tidak didengarkan dengan benar dapat menjadi racun bagi kita, semakin banyak yang didengar, hati kita malah semakin membatu. Oleh karena itu, sangatlah penting mendengarkan Dharma dengan cara yang benar. Pertama, kita harus ingat manfaat dari mendengarkan Dharma, yaitu menghapuskan ketidaktahuan kita dan menggantinya dengan pengetahuan akan kebenaran. Kedua, kita harus bersikap hormat terhadap Dharma dan guru yang mengajarkan Dharma. Poin ini tertanam dalam berbagai tradisi pengajaran Dharma yang kita ikuti sekarang, seperti bernamaskara dan duduk di lantai. </span></p>
<blockquote class="modern-quote full"><p><span style="font-weight: 400;">Melalui tradisi tersebut, kita ditempatkan di posisi murid yang siap mendengarkan ajaran. Ego kita dikikis sehingga dapat menerima Dharma dan mau mempraktikkannya.</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika mendengarkan Dharma dengan seksama, kita menerima informasi dan mengingatnya. Informasi tersebut tertoreh di arus kesadaran kita. Ketika jasmani kita mati, informasi yang telah tertoreh tersebut akan terbawa ke kehidupan selanjutnya bersama arus kesadaran kita. Ketika kita menerima Dharma, kita juga harus membandingkannya dengan diri kita sendiri. Apakah hidup kita sudah sesuai dengan ajaran tersebut? Jika belum, kita harus bisa jujur dan mengakuinya lalu menarik kesimpulan untuk berubah, jangan malah berkilah dan mengabaikannya. Kemudian, kita harus membiasakan batin kita dengan kesimpulan tersebut dengan memeditasikannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Agar dapat mengingat Dharma seperti itu, kita harus bisa duduk diam, mendengar dengan perhatian penuh. Jika kita tidak berusaha mencurahkan seluruh perhatian kita untuk mendengarkan Dharma, ajaran tidak akan menempel di batin kita, melainkan hanya lewat sambil lalu. Jika kita tidak bisa mengingat Dharma yang kita dengar, maka kita tidak punya bahan untuk merenung, apalagi meditasi. Sebanyak apapun kita bermeditasi dan melakukan pengumpulan kebajikan lainnya, batin kita tidak akan berubah jika kita tidak bisa mengingat Dharma dan menggunakannya untuk menganalisis batin kita. Dharma gagal menjadi obat bagi batin kita. Meditasi dan ritual-ritual pun hanya menjadi pelarian untuk mendapatkan ketenangan sesaat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk menutup sesi, Biksu Bhadra Ruci mengajak kita mempraktikkan langsung Dharma yang telah kita ‘dengar’ sepanjang sesi. Kita semua diajak untuk merenung sejenak, perhatikan napas, rasakan bagaimana waktu kita terus berkurang. Kita berkesempatan mendengarkan Dharma selama dua hari, sudahkah kita menggunakannya sebagai obat untuk batin kita? Kita juga telah hidup sekian lama dan waktu kita di kehidupan ini terus berkurang. Apakah kita telah memanfaatkan waktu tersebut dengan tepat, atau malah menyia-nyiakannya?</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Sesi pengajaran dharma Indonesia Lamrim Retreat 2017 dapat diikuti melalui livestreaming.</span></i><i><span style="font-weight: 400;"><br />
</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Untuk mendapatkan akses livestreaming, hubungi: </span></i><b><i>Merry  (082163276188)</i></b></p>
<p><strong>Foto-Foto:</strong></p>
<figure id="attachment_3822" aria-describedby="caption-attachment-3822" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3822 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-1024x683.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-1024x683.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-scaled-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09176-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3822" class="wp-caption-text">Menyambut guru Dharma dengan hormat, contoh praktik cara mendengarkan Dharma.</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3823" aria-describedby="caption-attachment-3823" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3823 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-1024x682.jpg" alt="" width="702" height="468" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-1024x682.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-600x400.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-768x512.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-1536x1024.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-2048x1365.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC09227-1200x800.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3823" class="wp-caption-text">Peserta retret mendengarkan pengajaran Dharma dengan antusias.</figcaption></figure>
<figure id="attachment_3821" aria-describedby="caption-attachment-3821" style="width: 702px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="wp-image-3821 size-large" src="http://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-1024x684.jpg" alt="" width="702" height="469" srcset="https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-1024x684.jpg 1024w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-scaled-600x401.jpg 600w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-300x200.jpg 300w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-768x513.jpg 768w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-1536x1025.jpg 1536w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-2048x1367.jpg 2048w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-150x100.jpg 150w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-450x300.jpg 450w, https://lamrimnesia.org/wp-content/uploads/2017/12/DSC_0770-1200x801.jpg 1200w" sizes="(max-width: 702px) 100vw, 702px" /><figcaption id="caption-attachment-3821" class="wp-caption-text">Sesi review dan perenungan di malam hari.</figcaption></figure><p>The post <a href="https://lamrimnesia.org/2017/12/25/ilr-2017-jangan-sampai-obat-dharma-menjadi-racun/">ILR 2017: Jangan Sampai Obat Dharma Menjadi Racun</a> first appeared on <a href="https://lamrimnesia.org">Lamrimnesia</a>.</p><p><a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/2017/12/25/ilr-2017-jangan-sampai-obat-dharma-menjadi-racun/">ILR 2017: Jangan Sampai Obat Dharma Menjadi Racun</a><br />
<a rel="nofollow" href="https://lamrimnesia.org/author/listya/">Redaksi Lamrimnesia</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
